NSSI-07


kembali | lanjut >>

I.

Dengan lebih berhati-hati lagi Mahesa Jenar merangkak semakin dekat dengan orang-orang berkuda. Untung mereka terlalu asyik menyaksikan pertempuran di lembah, sehingga kehadiran Mahesa Jenar sama sekali tak mereka ketahui.

Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, seperti harimau yang menerkam mangsanya, Mahesa Jenar sambil menggeram meloncati Lembu Sora yang sama sekali tidak menduganya.

Karena itu, ia sama sekali tidak bersiaga, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Segera Mahesa Jenar mendekapnya dan karena dorongan kekuatan loncatannya maka Mahesa Jenar telah mendorong Lembu Sora sehingga keduanya jatuh berguling dari atas kuda.

Mahesa Jenar yang telah memperhitungkan setiap gerakannya dengan saksama, segera dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebaliknya, Lembu Sora menjadi bingung, dan untuk beberapa saat ia seperti kehilangan pikirannya.

Lembu Sora menjadi sadar ketika lengan Mahesa Jenar yang kuat telah melingkari lehernya. Cepat tangan kanannya bergerak meraba hulu kerisnya yang terselip di lambung. Tetapi ia menjadi terkejut ketika keris itu sudah tidak ada.

Ketika Lembu Sora berusaha untuk mencapai tangkai pedangnya, tiba-tiba terasa ujung sebuah senjata tajam melekat di punggungnya. Tahulah ia sekarang bahwa orang yang mendorongnya telah berhasil pula menghunus kerisnya. Segera Lembu Sora menggigil karena marah, matanya merah menyala dan nafasnya mengalir bertambah cepat.

”Orang gila manakah yang telah melakukan pekerjaan terkutuk ini?” kata Lembu Sora sambil menggeram.

Sementara itu, orang-orang lain yang menyaksikan kejadian yang hanya sekejap itu menjadi tertegun. Sesaat mereka pun menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang dilakukan.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar menjawab, ”Akulah, Mahesa Jenar.”

”Kau orang Pandanaran…,” desis Lembu Sora semakin marah, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab setiap ia bergerak, keris yang menempel di punggungnya itu terasa semakin menekan.

”Ya,” jawab Mahesa Jenar singkat.

”Aku sudah menduga bahwa kau tidak berani berlaku sebagai seorang jantan,”  sambung Lembu Sora.

“Aku hanya dapat berlaku jantan terhadap orang jantan pula,” jawab Mahesa Jenar.

“Kau kira aku tidak mampu membunuhmu kalau kau menyerang aku berhadapan?” kata Lembu Sora hampir berteriak.

“Aku tidak peduli, tetapi membinasakan kakak kandung dengan caramu itu, adalah bukan laku seorang jantan. Kau bermaksud membinasakan pasukan Demak itu, dengan harapan Gajah Sora yang tertuduh berbuat khianat dengan menipu dan kemudian menjebak. Adakah itu laku seorang jantan?”

“Aku sedang berusaha membebaskannya,” jawab Lembu Sora.

Mahesa Jenar memang sudah menduga bahwa Lembu Sora pasti akan beralasan demikian. Karena itu ia meneruskan, ”Membebaskan Ki Ageng Gajah Sora dan kemudian tidak memberinya tempat menetap karena ia akan selalu diburu oleh alat-alat negara?

”Ki Ageng Lembu Sora, kau tidak usah banyak bercerita. Sekarang perintahkan orang-orangmu untuk menarik laskarmu yang menyerang pasukan Demak itu.”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terkedjut bukan buatan. Karena itu pula maka darahnya menjadi semakin mendidih membakar hatinya.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu telah mulai memiliki kesadarannya kembali. Dan bersamaan dengan itu pula mereka menjadi cemas sebab sebagian dari mereka telah mengenal siapakah Mahesa Jenar, bahkan Lawa Ijo, Wadas Gunung, Jaka Soka dan Sima Rodra telah mengetahui sampai di mana kekuatan Mahesa Jenar.

”Mahesa Jenar…” jawab Lembu Sora, ”Kau jangan mencoba-coba menakut-nakuti aku dengan permainanmu yang licik itu. Kau kira aku dapat kau paksa dengan caramu yang murahan ini?”

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi keris di punggung Lembu Sora itu semakin menekan, sehingga ia terpaksa menahan napas.

Kawan-kawan Lembu Sora hanya dapat menyaksikan semuanya itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka sama sekali tak berani berbuat sesuatu, sebab dengan demikian berarti riwayat Lembu Sora akan berakhir.

Meskipun demikian, Lawa Ijo telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa Lembu Sora, katanya sambil tertawa dalam, ”Tuan, Rangga Tohjaya yang perwira. Aku telah mengenal dan merasakan betapa dahsyatnya ilmu Tuan yang dinamakan Sasra Birawa. Tetapi meskipun demikian aku yakin kalau Tuan tak dapat mengalahkan kami semua ini sekaligus

”Lawa Ijo…” jawab Mahesa Jenar, ”Aku tidak merasa bahwa aku akan dapat mengalahkan kalian. Yang penting bagiku sekarang adalah Ki Ageng Lembu Sora memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari pertempuran. Setelah itu, aku tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan diriku. Tetapi mudah-mudahan Ki Ageng Lembu Sora akan menjadi pelindungku yang baik.”

”Kau gila!” bentak Lembu Sora. ”Lepaskan aku, dan marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.”

”Itu adalah soal yang mudah,” sahut Mahesa Jenar, ”Tetapi perintahkan orang-orangmu menarik diri.”

Mendengar kata-kata itu Lembu Sora menjadi semakin marah, sampai dadanya serasa akan pecah. Apalagi ketika ujung keris itu serasa semakin menekan punggungnya.

Akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menuruti permintaan Mahesa Jenar. Ditatapnya satu persatu wajah-wajah yang kaku tegang di sekitarnya tanpa mendapatkan suatu kesan apapun juga. Kemudian berkatalah ia kepada salah seorang yang berkuda itu, ”Berilah tanda untuk menarik pasukan.”

Orang yang diajaknya berbicara itu rupanya ragu-ragu. Beberapa kali ia memandang berkeliling, dan seolah-olah ia minta penjelasan dari setiap orang yang berada di situ. Tetapi setiap wajah yang ditatapnya hanyalah mengesankan kebimbangan dan ketegangan. Sampai akhirnya ia memandang wajah Jaka Soka. Hanya wajah inilah yang berkesan lain. Mahesa Jenar yang pada saat itu juga memandang Jaka Soka, melihat suatu perasaan yang aneh. Apalagi ketika kemudian ia berkata kepada orang yang memandangnya untuk mendapat penjelasan itu, katanya, ”Jenawi, tak usah kau beri tanda untuk menarik pasukan”

Semuanya yang mendengar kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu menjadi terkejut. Lebih-lebih Lembu Sora sendiri, sampai ia membentak kepada Jaka Soka, ”Apakah maksudmu?”

Tampaklah senyum menghias bibir Jaka Soka. Sedang matanya yang redup itu memandang Lembu Sora dengan sinar yang aneh. Pandangan yang demikianlah yang pernah menarik Mahesa Jenar dalam suatu perjalanan menyeberang hutan Tambakbaya. Meskipun wajah Jaka Soka itu cukup tampan dan bersih, namun wajah yang demikian bagi Mahesa Jenar tidaklah lebih atau kurang daripada wajah iblis yang paling berbahaya.

Mereka menjadi bertambah terkejut lagi ketika mereka mendengar jawaban Jaka Soka atas pertanyaan Lembu Sora, ”Maksudku… Ki Ageng, tak usah laskar Ki Ageng itu ditarik. Biarlah mereka membinasakan pasukan Demak itu. Dengan demikian bukankah benar kata Rangga Tohjaya atau Mahesa Jenar itu, bahwa Ki Ageng Gajah Sora tak akan mendapat tempat lagi di dunia ini, sebab selalu akan diburu oleh alat-alat negara. Syukur kalau segera ia dapat tertangkap dan dihukum mati.”

”Aku tidak berkata tentang Kakang Gajah Sora,” potong Lembu Sora, ”Tetapi tentang aku sendiri.”

Kembali Jaka Soka tersenyum, katanya, ”Kalau kau juga mati karena Mahesa Jenar, adalah baik sekali bagi kami. Dengan demikian saingan kami telah berkurang satu orang lagi”

”Tutup mulutmu,” bentak Lembu Sora sambil menggigil karena marah yang tak tertahankan lagi, sambungnya, ”Kalau aku dapat lepas dari tangan pengecut ini, aku ingin meremas mulutmu itu Jaka Soka.”

Kembali terdengar Jaka Soka berkata di sela-sela senyumnya, ”Jangan marah Ki Ageng, dan jangan menyesal atas nasib jelek yang kau alami.”

Tubuh Lembu Sora, menjadi semakin menggigil, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa oleh tekanan keris Mahesa Jenar. Sedang kawan-kawannya yang lain pun tidak kalah terkejutnya mendengar kata-kata Jaka Soka itu, sampai terdengar Uling Kuning yang kasar berkata, ”Tidakkah kau dapat diam Ular Laut gila?”

Mendengar kata-kata Uling Kuning itu, malahan Jaka Soka tertawa lembut, jawabnya, ”Jangan berpura-pura Uling Kuning”

”Atau akukah yang harus menutup mulutmu?” potong Uling Kuning.

Jaka Soka agaknya tidak senang mendengar kata-kata Uling Kuning yang kasar itu, sehingga ia memutar kudanya menghadap Uling Kuning, katanya, ”Cobalah kalau kau mau”

  Uling Kuning ternyata betul-betul orang yang kasar dan terburu nafsu. Hampir saja ia mendera kudanya menyerang Jaka Soka kalau saja kakaknya, Uling Putih tidak mencegahnya, katanya, ”Kenapa kau perlu mendengarkan omongan orang gila itu?

Terdengarlah Lawa Ijo menyambung, ”Alangkah beraninya kalian. Tetapi apa yang dapat kalian perbuat atas orang itu. Orang yang sudah jelas menghalangi usaha kami?”

Sejenak kemudian mereka semuanya saling berdiam diri. Otak mereka bekerja keras untuk dapat mencapai suatu penyelesaian tanpa merugikan diri sendiri. Tetapi kesepian yang tegang itu kemudian tersobek oleh suara Mahesa Jenar yang lantang, ”Aku tidak peduli apakah kalian ini sebenarnya sedang bersekutu atau sedang bersaing. Tetapi sekali lagi aku minta, tariklah pasukan penyerang itu.” Ia mengakhiri kata-katanya sambil menekankan kerisnya lebih keras lagi. Terdengar Ki Ageng Lembu Sora berdesis perlahan. Kemudian katanya, ”Kalian tak akan dapat berbuat sesuatu atas tanah ini serta segala isinya tanpa aku. Karena itu jangan halangi Jenawi memberi tanda untuk menarik pasukan.”

Semua mata kemudian tertuju kepada Jaka Soka yang masih dalam keadaan siaga untuk menghadapi Uling Kuning. Tetapi sesaat kemudian tampaklah kembali sebuah senyuman di bibirnya. Senyum iblisnya. Katanya, ”Rupa-rupanya kalian lebih senang berpura-pura, meskipun kalian sudah tahu akhir dari peristiwa ini. Baik mengenai tanah perdikan Banyu Biru maupun mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Apakah kalian kira bahwa pertemuan akhir tahun itu nanti akan dapat memberi kepuasan kita semuanya? Itu adalah omong kosong yang besar. Kalian tahu pasti bahwa Kyai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten itu akan menuntut kematian demi kematian, sampai akhirnya ia jatuh di tangan orang yang terkuat diantara kita, bahkan guru-guru kita atau pendekar-pendekar angkatan tua itu. Meskipun demikian aku akan tetap hadir di pertemuan akhir tahun, yang sebenarnya tak berarti apa-apa itu. Nah sekarang aku tidak mempunyai urusan lagi di sini. Aku akan pergi saja, dan pulang ke Nusakambangan.”

Setelah berkata demikian segera ia memutar kudanya dan menderanya. Kuda itu segera meloncat dan berlari, seperti gila, diikuti oleh dua orang berkuda yang berlari menyusulnya. Kedua orang itu pasti pembantu-pembantu kepercayaannya.

Sejenak kemudian orang yang bernama Jenawi itu bergerak maju. Sekali lagi ia masih memandangi setiap wajah yang ada disitu. Sesudah tidak ada kesan-kesan lain, maka segera ia mengambil sebuah bundaran logam yang mengkilap. Dengan bermain-main sinar matahari yang memantul dari logam itu, ia sebenarnya sedang memberikan aba-aba ke arah bukit di seberang tempat pertempuran itu.

Ternyata tanda-tanda yang dikirim lewat logam yang mengkilap itu dapat sampai ke alamatnya. Dan karena itulah kemudian dari balik gerumbul-gerumbul di lereng sebelah, terdengar suara sangkakala mengumandang dengan nyaringnya. Itulah aba-aba kepada para laskar Lembu Sora yang bergabung dengan laskar-laskar para tokoh hitam untuk mengundurkan diri. Tetapi yang terbanyak dari laskar penyerang itu adalah laskar Lembu Sora, sebab dialah yang merasa paling berkepentingan dengan tanah perdikan Banyubiru.

Sebentar kemudian segera tampaklah perubahan pada pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya di lembah. Pasukan gabungan yang menyerang pasukan Demak itu segera berpencaran dan mengundurkan diri cerai berai. Sebab sebenarnya mereka merasakan betapa dahsyatnya bertempur pasukan-pasukan Wira Tamtama, Wira Jala Pati, Nara Manggala, Manggala Sraya, dan lebih-lebih kesatuan Manggala Pati yang mengawal Sang Saka Gula Kelapa.

Karena itu ketika mereka mendengar tanda untuk mengundurkan diri, maka dengan tidak perlu diulang lagi, mereka telah saling berebut dahulu meloncat menjauhi prajurit-prajurit Demak yang bertempur dengan semangat yang tinggi sebagai pengemban kewajibannya, melindungi ketenteraman negara.

Sekali lagi bulu tengkuk Mahesa Jenar rasa-rasanya tegak berdiri, ketika dilihatnya bendera-bendara Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega tetap berkibar dengan megahnya, memagari Sang Saka Gula Kelapa.

Pasukan Demak yang menyaksikan penyerang-penyerangnya berlari cerai berai, ternyata sama sekali tidak berusaha untuk mengejar atau menghancurkan dengan senjata-senjata jarak jauh. Tetapi ketika pertempuran itu telah reda segera pasukan Demak itu mengubah gelarnya menjadi Gedong Minep kembali. Dan dalam gelar ini mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Demak. Beberapa orang dari prajurit Demak itu segera merawat kawan-kawan mereka yang terluka, malahan ada beberapa diantaranya yang gugur, untuk dibawa bersama-sama dengan mereka.

Melihat kenyataan itu, meskipun korban dari kedua belah pihak itu sama sekali tak seimbang, tetapi terlukanya seorang saja dari prajurit Demak telah dapat menjadi sebab murkanya Sultan Demak. Dan pasti Gajah Sora yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala kemurkaan itu. Mengenangkan hal itu jantung Mahesa Jenar berdenyut semakin cepat. Dan karena kenangannya yang melambung itu pulalah, maka ia menjadi lengah.

Sebenarnya Lembu Sora bukan pula orang yang dapat diremehkan. Bagaimanapun ia adalah putra Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora. Karena itu ia pun cukup mempunyai kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan.

Ketika tekanan ujung keris Mahesa Jenar tiba-tiba mengendor, tahulah Lembu Sora bahwa perhatian Mahesa Jenar hampir seluruhnya tertuju kepada pasukan-pasukan di lembah. Entahlah, ia sedang menekuri kekalahan pasukan gabungan itu, atau sedang berbangga hati karena pasukan Demak masih tampak segar bugar, atau ia sedang mengenangkan nasib Gajah Sora. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahesa Jenar telah meninggalkan sikap hati-hati. Karena itu Lembu Sora ingin mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang hanyut dalam arus kenangannya yang mengawang, tiba-tiba Lembu Sora yang mempunyai kekuatan besar sekali itu, menjatuhkan dirinya setelah dengan cepat sekali ia merenggut lengan Mahesa Jenar yang melingkar di lehernya. Demikian ia berguling di tanah, demikian kakinya menyambar perut Mahesa Jenar yang agak kurang bersiaga.

Demikian keras tendangan Lembu Sora, juga karena Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian akan terjadi, maka segera ia terdorong ke belakang beberapa langkah. Hanya karena keuletan serta pengalamannya maka ia tidak sampai jatuh terlentang. Malahan, meskipun mendadak, perut Mahesa Jenar terasa mual dan sakit, namun ia segera dapat menguasai keseimbangannya kembali. Meskipun demikian hatinya berguncang karena terkejut. Juga orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi terkejut pula, tetapi cepat mereka dapat menanggapi keadaan.

Karena itu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar surut beberapa langkah, serta segera dapat menguasai dirinya kembali, mereka tidak mau memberi kesempatan sama sekali. Lebih-lebih Lawa Ijo yang tahu pasti sampai dimana kedahsyatan tangan Mahesa Jenar. Maka sebelum Mahesa Jenar dapat menguasai diri sepenuhnya, Lawa Ijo mendera kudanya, langsung menyerang Mahesa Jenar dengan tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang putih mengkilap.

Tetapi ia menjadi gugup ketika dilihatnya, dalam sekejap Mahesa Jenar telah berdiri dengan marahnya. Di atas satu kakinya, tangan kirinya menyilang dada sedang tangan kanannya terangkat tinggi- tinggi. Lawa Ijo telah mengenal unsur gerak Mahesa Jenar yang demikian itu. Maka ketika ia telah hampir sampai di hadapan Mahesa Jenar, dengan kebingungan dan tanpa perhitungan ia meloncat dari kudanya. Meskipun gerakannya itu sama sekali tak dihitungkan dengan saksama, namun ia berhasil menyelamatkan nyawanya. Sebab pada saat itu benar-benar karena marah yang tak tertahankan Mahesa Jenar telah memutuskan untuk melawan orang-orang itu dengan Sasra Birawa yang menjadi andalannya. Tetapi pada saat ia mengayunkan ilmunya, Lawa Ijo dengan gugup telah menjatuhkan dirinya, sehingga tangannya tidak berhasil menghancurkan dada Lawa Ijo. Tetapi pukulan Mahesa Jenar itu telah mengenai punggung kuda Lawa Ijo, yang kemudian dengan dahsyatnya kuda itu memekik tinggi, tetapi sekejap kemudian seperti batu saja jatuh terguling tak bernafas lagi. Tulang belakang kuda itu patah serta beberapa tulang iganya remuk.

Melihat kedahsyatan pukulan Mahesa Jenar, semua yang menyaksikan terguncang hatinya. Namun tak ada pilihan lain dari mereka itu, kecuali melawan bersama-sama. Maka dengan menggeram dahsyat Sima Rodra segera menyerang dengan tombak pusakanya dan bersamaan dengan itu sepasang Uling Rawa Pening pun telah mengayunkan cambuknya. Cepat Mahesa Jenar meloncat undur untuk menghindari tombak Sima Rodra yang menyambar dengan dahsyatnya. Dan pada saat itu pula Lembu Sora telah mencabut pedangnya yang berukuran luar biasa besarnya. Tetapi meskipun ia masih belum berani mendekat. Baru ketika Lawa Ijo telah bersiaga pula, mereka menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda-beda. Sebenarnya untuk menghadapi sekian banyak tokoh-tokoh sakti itu Mahesa Jenar merasa bahwa tenaganya tidak akan mencukupi. Tetapi apapun yang terjadi, pantang ia menghindari. Karena itu, segera ia menghimpun segenap kekuatan yang ada padanya untuk dapat memberikan perlawanan yang sebesar-besarnya. Dengan ayunan yang deras sekali, Lembu Sora mengarahkan pedangnya ke leher Mahesa Jenar, dan bersamaan dengan itu pula Lawa Ijo menusuk ke arah lambung, untuk menangkap gerakan Mahesa Jenar apabila ia menghindari sambaran pedang Lembu Sora dengan merendahkan diri. Tetapi ternyata Mahesa Jenar sama sekali tak menghindar dengan merendahkan diri, bahkan dengan loncatan yang keras ia menerkam Lawa Ijo. Gerakan ini sangat mengejutkannya, sehingga dengan cepat ia menarik pisaunya dan segera pisau itu dipergunakannya untuk melindungi dirinya dengan gerakan-gerakan yang berputar. Tetapi Mahesa Jenar pun segera mengurungkan serangannya. Sementara itu pedang Lembu Sora yang berat telah berdesing di belakang punggungnya. Cepat ia memutar tubuhnya dan dengan dahsyatnya tangan Mahesa Jenar menyusul arah gerakan pedang itu, dengan sisi telapak tangannya yang berlandaskan ilmunya Sasra Birawa. Ternyata akibatnya adalah hebat sekali. Pedang Lembu Sora adalah bukan pedang sewajarnya. Tetapi adalah pedang yang dibuat khusus untuknya, dengan ukuran yang tidak lazim, serta dari baja pilihan. Tetapi demikian sisi telapak tangan Mahesa Jenar menyentuh punggung pedang itu, terdengarlah gemeretak pedang itu patah dan disusul dengan keluhan tertahan. Terasa betapa nyerinya tangan Lembu Sora sampai pangkal pedang itu terlempar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kedahsyatan ilmu Sasra Birawa itu mampu mematahkan pedangnya. Ketika ia melihat kuda Lawa Ijo jatuh dan mati, ia masih belum begitu kagum, meskipun hal itu telah mengejutkannya pula. Apalagi ia tidak segera dapat menyaksikan bahwa pukulan Mahesa Jenar itu telah meremukkan tulang-tulang iga kuda itu.  Karena terkejut, heran dan kagum campur-aduk, juga pada saat itu ia teringat ceritera ayahnya tentang beberapa orang sahabatnya, diantaranya adalah Ki Ageng Pengging Sepuh yang terkenal dengan ilmu Sasra Birawa, Lembu Sora menjadi seperti terpaku di tempatnya. Kesempatan itulah yang akan dipergunakan oleh Mahesa Jenar. Ia sudah tidak dapat memaafkan lagi kesalahan Lembu Sora yang sudah sampai hati mengkhianati kakaknya. Maka segera ia bersiaga dan bersiap meloncat ke arah Lembu Sora dengan pukulan mautnya. Tetapi keadaan segera berubah dan berselisih dengan rencananya. Mahesa Jenar pernah melawan Wadas Gunung bersama dengan kira-kira 20 orang sekaligus, dan dengan suatu keyakinan yang penuh ia akan dapat mengalahkan mereka. Sekarang ia berhadapan tidak lebih dari 8 atau 9 orang. Tetapi mereka bukanlah Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking, Bagolan dan sebagainya. Mereka yang dihadapi sekarang adalah Lawa Ijo, Suami Isteri Sima Rodra, Sepasang Uling dan Lembu Sora. Karena itu keadaannya akan sangat jauh berbeda.

Pada saat itu, pada saat ia telah mengambil suatu kepastian akan dapat membalaskan sakit hati Gajah Sora, mendadak ketika ia hampir meloncat, menyerbulah kuda Suami-Istri Soma Rodra seperti gila menerjangnya. Dan bersamaan dengan itu pula meluncurlah dua buah sinar putih dari tangan Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Meskipun mereka tidak pernah bertempur berpasangan, tetapi karena ilmu mereka cukup tinggi, mereka dengan mudahnya saling menyesuaikan diri dan saling mengisi. Demikianlah Sima Rodra dan sebagainya telah bekerja mati-matian untuk menyelamatkan Lembu Sora.

Mengalami serangan-serangan yang hampir bersamaan itu, Mahesa Jenar terpaksa mengurungkan serangannya. Dengan merendahkan diri dan memutar tubuhnya sekaligus, ia berhasil menghindari serangan dua pisau Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Tetapi pada saat itu kuda suami-istri Sima Rodra telah demikian dekatnya. Untuk menghindarkan diri dari injakan kaki kedua ekor kuda itu, Mahesa Jenar terpaksa berguling-guling beberapa kali. Dengan gerakannya itu, Mahesa Jenar berhasil menyelamatkan dirinya, tetapi serangan berikutnya telah mendatanginya pula. Dengan cara yang sama dengan Sima Rodra, Uling dari Rawa Pening menyerang berpasangan pula. Serangan itu tidak kurang hebatnya. Ditambah lagi dengan sepasang cambuk yang berdesing-desing di udara. Agar tidak terinjak oleh kaki-kaki kuda itu, Mahesa Jenar melenting jauh dan berusaha untuk tegak di atas kedua kakinya. Tetapi malang bagi Mahesa Jenar. Ternyata ia terlalu jauh meloncat, sehingga ketika ia tegak berdiri, ia telah berada tepat di tepi jurang. Dan celakanya, tanah tempat ia berpijak itu runtuh. Seperti terseret Mahesa Jenar dengan cepatnya meluncur ke dalam jurang yang sangat dalam.

Peristiwa itu sama sekali tak terduga oleh siapapun. Karena itu, mereka yang menyaksikan jadi terperanjat. Serentak mereka berlarian ke tepi jurang itu untuk melihat Mahesa Jenar tergulung ke bawah, dan sebentar kemudian hilang ditelan semak-semak dan batang-batang ilalang yang tumbuh di tepi-tepi jurang itu.

Mahesa Jenar sendiri merasa, seolah-olah telah terhisap oleh suatu kekuatan raksasa sehingga tidak ada kemungkinan untuk melawannya. Sesaat setelah ia terguling, masih dilihatnya semua benda bergerak dengan cepatnya ke atas, seolah-olah hendak terbang ke arah matahari yang dengan megahnya mengapung di langit.

Tetapi sesaat kemudian terasalah dirinya membentur sesuatu yang sangat keras sehingga seolah-olah Mahesa Jenar terputar melintang dengan kepala ke bawah. Sesaat kemudian ia menjadi sangat pening, pemandangannya semakin kabur dan kabur. Akhirnya ia tidak tahu lagi apakah yang terjadi seterusnya.

Lawan-lawan Mahesa Jenar yang berada di atas jurang itu, setelah debar jantung mereka tenang kembali, menjalarlah perasaan lega di dalam dada mereka. Sebab apabila mereka terpaksa bertempur, meskipun mereka bekerja bersama, pasti akan jatuh korban diantara mereka, sebelum mereka dapat bersama-sama membinasakan Mahesa Jenar.

Meskipun demikian, mereka merasa betapa panas hati mereka, karena dengan tindakannya yang luar biasa itu, Mahesa Jenar telah menggagalkan maksud mereka untuk menghancurkan tentara Demak, atau setidak-tidaknya membuat tentara itu lumpuh, sehingga dengan demikian hukuman yang akan dijatuhkan kepada Gajah Sora pasti sangat berat. Tetapi dengan serangan yang tak begitu berarti itu, masih ada kemungkinan bagi Gajah Sora untuk mengelakkan diri, atau malahan diantara para prajurit Demak itu dapat memberikan keterangan bahwa serangan itu bukan dari Laskar Banyubiru.

Tetapi bagaimanapun, usaha mereka ada juga hasilnya meskipun hanya sedikit. Yang pasti adalah bahwa Gajah Sora untuk beberapa saat tidak berada di Banyubiru. Keadaan ini pasti akan dapat dipergunakan sebagai modal untuk melaksanakan rencana-rencana yang akan disusun kemudian.

Karena itu, ketika sudah tidak ada lagi yang akan mereka lakukan, serta mereka telah yakin bahwa Mahesa Jenar tidak akan mungkin menyelamatkan diri dalam keadaan yang demikian, maka segera mereka meninggalkan tempat itu. Selanjutnya mereka menuju ke tempat yang telah mereka tentukan sebagai tempat berkumpul bagi segenap laskar gabungan.

Namun bagaimanapun, kata-kata Uling Laut dari Nusakambangan, Jaka Soka sebagai seorang pemimpin Bajak Laut yang sangat ditakuti, membekas pula di dalam otak mereka. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten pasti akan menuntut kematian demi kematian, sampai kedua pusaka itu jatuh ke tangan orang yang terkuat. Dan wajarlah apabila orang yang terkuat itu kemudian dapat merajai golongannya.

Demikianlah hampir sepanjang jalan tak seorang pun dari mereka yang mengucapkan kata-kata. Mereka sedang sibuk menaksir-naksir diri, menaksir-naksir kekuatan gerombolan masing-masing serta orang-orang mereka yang dapat mereka percaya. Sebab, akhirnya dalam tata pergaulan yang tak terikat oleh hukum itu, kekuatan jasmaniahlah yang akan dapat menentukan siapakah yang berkuasa.

Sementara itu, Laskar Banyubiru yang menarik diri kembali, telah sampai di alun-alun Banyubiru. Wanamerta, Panjawi, Arya Salaka dan beberapa pimpinan laskar yang lain segera menghadap Nyai Ageng Gajah Sora dan menceriterakan apa yang telah terjadi. Nyai Ageng mendengarkan cerita itu dengan berdiam dan menundukkan kepala. Tetapi kemudian nampaklah butiran-butiran airmata setetes demi setetes jatuh di pangkuannya. Sebenarnya ia adalah seorang wanita yang tabah, yang sadar akan kedudukan suaminya sebagai seorang kepala daerah perdikan yang sekaligus menjadi panglima laskarnya. Namun mengalami peristiwa kali ini, Nyai Ageng Gajah Sora tidak dapat menahan airmatanya. Bahkan kemudian didekapnya Arya Salaka, anak laki-laki satu-satunya, dan kemudian kepala anak itu ditekankan ke dadanya seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi.

Maka setelah cukup mereka memberikan laporan mereka, Wanamerta dan kawan-kawannya segera mohon diri untuk memberikan beberapa keterangan kepada laskar Banyubiru yang masih berkumpul di alun-alun, dan yang kemudian akan dibubarkan. Tetapi dalam keadaan ini Wanamerta sadar bahwa Banyubiru harus tetap mempertinggi kewaspadaan, dan bahkan Wanamerta telah mengambil keputusan untuk mengadakan persiapan yang lebih saksama dengan mengadakan latihan-latihan keprajuritan.

Sementara itu, matahari tetap beredar dalam garis perjalanannya. Angin pegunungan yang sejuk bertiup semakin sore semakin kencang, menggoyang pepohonan dan merontokkan daun-daun kuning yang telah tidak dapat berpegangan lebih erat lagi.

Pada saat itu, ketika Arya sedang duduk bertopang dagu di atas tangga pendapa rumahnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor kuda abu-abu lengkap dengan pelananya, tetapi tanpa penunggangnya. Kuda itu berjalan perlahan-lahan memasuki halaman.

Arya kenal betul bahwa kuda itu adalah kuda yang dipergunakan oleh Mahesa Jenar, karena itu segera ia berlari ke pintu gerbang untuk menengok apakah Mahesa Jenar masih berada di luar halaman. Tetapi di luar gerbang itu sama sekali tak ada seorangpun kecuali dua orang laskar yang sedang berkawal.

”Kau lihat kuda ini, Kakang?” tanya Arya kepada salah seorang.

”Ya, aku melihat,” jawab orang itu.

”Tanpa penunggang?” tanya Arya lagi, menegaskan.

”Ya,” jawab orang itu pula, ”Kuda itu datang tanpa penunggangnya.”

Segera Arya menjadi sangat cemas. Apakah yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar? Segera ia meloncat ke atas punggung kuda itu dan dilarikan ke arah timur untuk melihat barangkali Mahesa Jenar langsung pergi ke mata air tempat ia biasa mandi. Tetapi hatinya menjadi kecewa ketika di sanapun ia tidak melihat orang yang dicarinya. Dengan perasaan yang semakin cemas segera Arya kembali ke pendapa. Setelah itu ia meloncat turun, langsung berlari ke pringgitan, dimana Wanamerta yang belum sampai hati meninggalkan rumah itu, sedang tidur untuk melepaskan lelah.

”Eyang Wanamerta…!” teriak Arya, ”Lihatlah ke halaman.”

Wanamerta terkejut mendengar Arya berteriak. Segera ia meloncat ke halaman dan apa yang dilihatnya adalah seekor kuda abu-abu tanpa penunggang.

Wanamerta pun kenal kuda itu, maka iapun menjadi terkejut dan kemudian cemas. Katanya, ”Adakah kuda ini datang tanpa penunggangnya?”

”Ya, Eyang,” jawab Arya. ”Kuda itu datang tanpa penunggang.”

”Dimanakah Anakmas Mahesa Jenar?” gerutu Wanamerta seolah-olah kepada diri sendiri.

”Aku telah mencarinya ke belik tempat Paman Mahesa Jenar sering mandi dan tidur di bawah beringin di lereng sebelah, tetapi di sana Paman tidak ada,” sahut Arya.

Wajah Wanamerta tampak berkerut-kerut. Ia agaknya sedang berpikir dan kecemasan. Sesaat kemudian dipanggilnya pengawal gerbang, perintahnya, ”Panggil Adi Pandan Kuning, Sawungrana, Bantaran serta Panjawi. Suruhlah mereka membawa anak buah masing-masing 10 orang. Kami akan mencari Anakmas Mahesa Jenar. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan anakmas itu.”

Yang disuruhnya segera melangkah pergi dengan tergesa-gesa ke kandang kuda, dimana kudanya ditambatkan. Dan sebentar kemudian orang itu telah meluncur di atas punggung kudanya seperti dilemparkan.

Sebentar kemudian orang-orang yang dipanggil itu telah lengkap berkumpul di pendapa. Mereka mendengar keterangan singkat dari Wanamerta bahwa kuda abu-abu yang dipergunakan Mahesa Jenar telah kembali tanpa penunggangnya. Karena itu dicemaskan kalau Mahesa Jenar telah menemui sesuatu kecelakaan. Padahal hadirnya Mahesa Jenar di Banyubiru pada saat itu, pada saat Ki Ageng Gajah Sora tidak ada, sangat diperlukan untuk melindungi tanah perdikan yang sedang kehilangan pemimpinnya, serta terancam bahaya dari segala penjuru itu.

Setelah mengadakan pembicaraan sebentar, maka dibagilah pekerjaan mereka. Bantaran dan anakbuahnya tetap berada di halaman itu, Sawungrana menjadi penghubung di antara halaman itu dengan rombongan pencari yang terdiri dari Wanamerta sendiri, Pandan Kuning, Panjawi dan anak buahnya. Mereka masing-masing telah menyiapkan alat-alat untuk mengirimkan tanda-tanda bahaya apabila setiap saat diperlukan. Sementara itu para penjaga pun telah diperintahkan untuk memukul tanda supaya setiap laskar Banyubiru tetap dalam keadaan siap.

Ketika segala sesuatunya telah siap, maka segera rombongan itu berangkat, disusul dengan rombongan Sawungrana dengan arah yang sama, tetapi dengan kecepatan yang lebih kecil. Mereka pertama-tama menuju ke tempat mereka melihat Mahesa Jenar yang terakhir kalinya, yaitu pada saat pasukan Banyubiru akan ditarik kembali dari daerah pertempuran.

Sampai di tempat itu segera beberapa orang berusaha untuk mendapatkan jejak kaki kuda. Dan ketika jejak itu diketemukan maka mereka mencoba untuk mengikuti dengan harapan dapat memecahkan teka-teki hilangnya Mahesa Jenar.

”Mudah-mudahan kuda itu hanya nakal saja sehingga penunggangnya ditinggalnya lari,” desis Wanamerta perlahan-lahan. Tetapi nyata bahwa dibalik kata-katanya itu tersembunyi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat.

Dengan tekunnya mereka mencoba untuk mengikuti terus jejak seekor kuda yang mereka sangka adalah kuda yang dipakai oleh Mahesa Jenar, sebab arah kuda ini berbeda dengan arah kuda-kuda yang lain dari laskar Banyubiru. Kalau jejak kuda yang lain berjalan ke arah barat, maka jejak yang seekor berjalan kearah timur. Mereka menemukan jejak ini berhenti di sebuah tempat yang agak tinggi, dan yang kemudian melingkar menuju ke sebuah bukit di sebelah lembah.

Tetapi mereka akhirnya menemukan jejak itu terputus. Dan tahulah mereka bahwa kuda itu telah ditambatkan di sebatang pohon. Dari tempat itu disebarlah beberapa orang untuk menyelidik beberapa tempat dengan suatu harapan bahwa mereka akan menjumpai Mahesa Jenar sedang mencari kudanya.

Tetapi yang mereka jumpai adalah mengejutkan sekali. Beberapa orang yang tersebar itu ada yang sampai pada bekas daerah pertempuran antara pasukan Demak dengan laskar Lembu Sora. Di situ, mereka menemukan beberapa bekas darah, senjata senjata yang tertinggal dan sebagainya. Sedang orang lain, yang juga mencari Mahesa Jenar telah sampai di atas gundukan tanah, dan mereka pun menjumpai bekas-bekas perkelahian. Seekor kuda ditemukan telah mati. Yaitu kuda Lawa Ijo yang telah dibunuh oleh Mahesa Jenar dengan tangannya.

Wanamerta mendengar semua laporan itu dengan dahi yang berkerut-kerut. Otaknya berputar seperti baling-baling. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun dari apa yang telah disaksikan oleh anak buahnya. Tetapi yang pasti adalah keadaan telah menjadi semakin gawat. Dan sesuatu dapat terjadi atas Banyubiru. Maka terlintaslah dalam angan-angannya bahaya dari segala penjuru siap untuk menerkam tanah perdikan yang seolah-olah sedang lumpuh itu.

Setelah beberapa saat mereka tak mendapatkan suatu hasil apapun, mereka segera kembali dengan hati gelisah.

Pada malam hari itu juga beberapa pemimpin Banyubiru segera mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan segala segi yang mungkin terjadi pada keadaan seperti itu. Akhirnya, setelah mereka membahas beberapa masalah, sampailah mereka pada suatu keputusan, bahwa satu-satunya kemungkinan, apabila keadaan memaksa, mereka akan minta bantuan kepada Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit. Sebab dalam pertimbangan mereka, Ki Ageng Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa Lembu Sora sendiri ternyata memegang peranan penting dalam kekisruhan-kekisruhan yang terjadi.

Hilangnya Mahesa Jenar, terutama bagi Arya Salaka, terasa menekan sekali dalam dadanya. Ia telah kehilangan ayahnya, dan kemudian orang yang dipercaya oleh ayahnya untuk mengasuh serta menjadi gurunya dalam olah kanuragan. Disamping itu Mahesa Jenar adalah kawan bermain-main yang menyenangkan. Itulah sebabnya maka kemudian ia menjadi pendiam dan selalu bermenung.

Ibunya yang tidak kalah sedihnya, namun yang selalu berusaha untuk menghiburnya, kadang-kadang menjadi sangat cemas melihat perkembangan Arya dari hari ke hari. Ia lebih senang menyendiri dan pergi ke tempat-tempat yang sepi. Kadang-kadang malahan ia sama sekali tidak mau tidur di dalam rumah, tetapi untuk beberapa malam Arya Salaka tidur dihalaman belakang. Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya juga telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menggugah kegembiraan Arya, tetapi usaha mereka sama sekali tak berhasil. Sehingga akhirnya mereka hanya dapat menyaksikan dengan hati cemas atas sifat-sifat Arya yang telah berubah itu.

———-oOo———-

II

Dalam pada itu, apa yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar?

Pada saat Mahesa Jenar terpelanting ke dalam jurang, ia menjadi tidak sadarkan diri dan tidak tahu apakah yang telah terjadi. Tetapi pada saat ia membuka matanya, ia telah berada di dalam sebuah pondok yang kecil, beratap daun ilalang. Pada saat itu kepalanya rasanya telah retak, dan perasaan nyeri telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ketika Mahesa Jenar mencoba untuk bergerak, sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan main. Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bergerak dan bangun. Yang dapat dilakukannya pada saat itu hanyalah menggerakkan kepalanya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Tetapi di dalam rumah itu tak dilihatnya barang apapun kecuali bale-bale tempat ia terbaring, paga bambu dengan sebuah kendhi dan jlupak minyak di atasnya, cangkul di sudut, dan parang pemotong kayu terselip di dinding.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah langkah perlahan-lahan memasuki ruang itu. Dan muncullah dari pintu samping, seorang tua yang rambutnya telah memutih, berdahi lebar dan berhidung besar. Wajahnya tampak kasar dan terbakar oleh panas matahari. Tetapi mata orang itu memancarkan sinar kejujuran dan kebaikan hatinya.

Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar telah membuka matanya, tampaklah ia tersenyum lebar. “Nah, Angger…, rupa-rupanya Angger telah sadar,” katanya.

Segera Mahesa Jenar tahu bahwa orang itulah yang telah menemukan dan menolongnya pada saat ia pingsan. Meskipun dengan masih agak sukar Mahesa Jenar menjawab perlahan. “Ya bapak.”

Orang itu mengangguk, lalu duduk di bale, sambungnya, “ jangan angger bergerak dahulu. Biarlah kekuatan angger pulih.”

Mahesa Jenar tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menganggukkan kepalanya. Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum lebar.

Mahesa Jenar mencoba mengamati orang itu lebih seksama. Kecuali berdahi lebar dan berhidung lebar, memang orang itu sama sekali tidak tampan. Tetapi tubuhnya adalah tubuh idaman bagi setiap lelaki. Mungkin karena ia harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya setiap hari, maka badannya masih tampak segar dan kuat. Ototnya kokoh menjalar hampir ke seluruh bagian tubuhnya. Orang tua itu meskipun tidak begitu tinggi, tetapi tidak pula tergolong pendek.

Rupanya orang yang telah ditolongnya itu sedang mengamat-mati dirinya. Kembali senyumnya yang lebar menghiasi bibirnya yang tebal. Katanya, “Adakah sesuatu yang aneh pada diriku?.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar pertanyaan orang itu. Karena itu ia segera dengan perlahan-lahan menggelengkan kepala.

“Angger..,” sambung orang tua itu, “usahakanlah supaya angger dapat tidur. Jangan berfikir hal yang dapat mengganggu ketentraman perasaan angger. Di sini angger dapat beristirahat seenaknya, sebab tidak ada orang lain yang tinggal di sini kecuali aku seorang diri.”

Kembali Mahesa Jenar mencoba mengangguk.

“Bagus,” orang tua itu melanjutkan, “tidurlah. Atau barangkali angger mau minum.”

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, orang itu telah melangkah keluar rumah menyambar kendi diatas pagar, dan sebentar lagi ia telah masuk kembali. Dengan perlahan dan sangat cermat ia menuangkan air kendi kedalam mulut Mahesa Jenar. Sebenarnya memang leher Mahesa Jenar terasa kering sekali. Seakan-akan sisi lehernya telah lekat menjadi satu. Dengan air yang dituangkan kedalam mulutnya, maka lehernya terasa menjadi sejuk. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi segar. Meskipun demikian ia masih belum mampu untuk bangun.

“Jangan coba untuk bangun dahulu,” orang tua itu melarangnya. “Tidurlah. Aku akan mencari kayu, merebus air, barangkali angger suka air jeruk.”

Sesudah berkata demikian orangitu segera melangkah pergi. dan tinggallah Mahesa Jenar seorang diri, berbaring didalam ruangan kecil yang kosong itu. Otaknya yang telah dapat bekerja dengan wajar, sedikit demi sedikit dapat mengenal kembali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak lumat terbanting kedalam jurang. Sebab kalau tidak ia pasti sudah binasa. Sebab bagaimanapun dahsyatnya kekuatan Sasra Birawa yang dimilikinya, namun untuk melawan tujuh orang sekaligus, agaknya ada diluar batas kemampuannya.

Kemudian oleh angin yang menghembus lewat pintu disamping tempat berbaring Mahesa Jenar, serta tubuhnya yang terasa sudah agak segar, maka Mahesa Jenar akhirnya jatuh tertidur.

Ketika ia terbangun, dilihatnya orang tua itu telah duduk di sampingnya. Tangannya memegang seberkas lontar. Tanpa menoleh kepada Mahesa Jenar orang tua itu mulai membaca naskah yang tertulis di dalam lontar itu. Maka segera menggemalah lagu bait demi bait dari kidung yang berisikan sebuah cerita yang agaknya menarik hati.

Pada saat itu tubuh Mahesa Jenar telah mulai terasa agak kuat. Karena itu ia telah dapat berusaha untuk duduk dibelakang orang tua yang sedang membaca lontar itu, yang seakan-akan tidak memperhatikannya.

Bagian pertama dari cerita itu menggambarkan tentang dua orang sahabat yang pergi merantau untuk berguru kepada seorang sakti. Meskipun kedua orang itu hanyalah sahabat saja, namun mereka telah merasa dirinya lebih dari dua orang bersaudara. Karena itu apapun yang terjadi selalu mereka tanggung bersama.

Akhirnya sampailah mereka kesuatu lembah yang amat sepi. Lembah yang sama sekali tak pernah disentuh oleh kaki manusia. Disana dijumpainya seorang petapa yang telah menjauhkan diri dari kehidupan. Ia hanya tinggal mengabdikan sisa hidupnya untuk menyembah Yang Maha Agung.

Kedua orang sahabat itu kemudian menyerahkan hidup matinya kepada sang petapa sakti. Petapa yang telah menjauhkan diri dari kesibukan manusia itu semula ragu.

Tetapi karena kesadaran akan pembinaan kebajikan, akhirnya kedua orang itu diterima menjadi muridnya. Diajarinya mereka berdua tentang berbagai ilmu lahir dan batin. Jaya Kawijayan dan olah kanuragan sehingga kedua sahabat itu kemudian menjadi dua orang yang gagah perkasa.

Petapa sakti itu mengharap agar kedua pemuda itu dapat melanjutkan dharma bhaktinya kepada tata pergaulan manusia membina kebajikan dan memusnahkan kejahatan.

Adapun petapa sakti itu, tak seorang pun yang pernah mengenal wajahnya, serta nama yang sebenarnya. Sebab ia selalu memakai topeng yang sangat kasar buatannya, berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan.

Mendengar nama Pasingsingan disebutkan, Mahesa Jenar terkejut bukan main. Tanpa disengaja ia mengulangi nama itu sampai orang itu terkejut dan berhenti.

Perlahan-lahan ia menoleh kepada Mahesa Jenar, dan ketika ia melihat Mahesa Jenar duduk di belakangnya, lagi-lagi orang itu tersenyum lebar. “Rupanya Angger telah berangsur baik, dan telah dapat duduk pula, “ katanya.

“Begitulah, Bapak,” jawab Mahesa Jenar.

“Tetapi agaknya, adakah yang menarik perhatian Angger dalam ceritera ini?” tanya orangtua itu kemudian. Tetapi ketika Mahesa Jenar akan menjawab terdengar orang itu melanjutkan, “Aku pernah mendengar kata orang bahwa lagu dapat dipergunakan untuk banyak tujuan. Dalam peperangan, lagu dapat membangkitkan semangat bertempur dan berkorban. Seorang prajurit yang telah kehilangan semangat, akan bangkit keberaniannya apabila ia mendengar sangkakala dalam irama yang menggelora. Sebaliknya, lagu akan sangat berguna pula dalam waktu bercinta.” Orang itu berhenti berbicara. Kemudian terdengarlah ia tertawa berderai. “Anakmas pasti pernah bercinta,” katanya tiba-tiba. Perkataan itu mengejutkan Mahesa Jenar. Tanpa disengaja ia menggelengkan kepala. Melihat Mahesa Jenar menggeleng, orangtua itu mengerutkan keningnya, dan dengan nada keheranan ia bertanya, “Angger belum pernah bercinta?”

Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah oleh pertanyaan itu. Tetapi sekali lagi tanpa disengaja ia menggelengkan kepalanya pula.

Orangtua itu kemudian mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah aku berkata tentang masalah yang lain.” Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya, “Kata orang, lagu dapat pula menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit. Nah, tadi aku mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang sedang Angger derita, meskipun suaraku sama sekali tak merdu dan lagunya pun barangkali banyak yang salah.”

“Terima kasih, Bapak,” sahut Mahesa Jenar. “Mungkin karena lagu itu pula aku jadi berangsur baik. Tetapi isi ceritera yang Bapak lagukan itu pun sangat menarik perhatianku.”

“Angger juga tertarik pada ceritera-cerita semacam itu?” katanya pula. “Kalau begitu kita mempunyai persamaan kesenangan. Tetapi, sampai sekarang aku masih belum mengenal siapakah Angger ini sebenarnya?”

Oleh pertanyaan orangtua itu, barulah Mahesa Jenar menyadari kekakuan hubungannya dengan orang itu. Sebab masing-masing masih belum saling mengenal namanya. Karena itu, ketika orangtua itu menanyakan namanya, segera dijawabnya. “Namaku Mahesa Jenar, Bapak…, dan siapakah Bapak ini pula?”

“Akh, aku adalah orang yang sama sekali tak berarti. Tetapi meskipun demikian, baiklah Angger mengenal namaku.” Ia berhenti sebentar untuk menarik nafas, kemudian melanjutkan, “Namaku adalah Ki Paniling.”

Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya sambil mengulangi nama itu. Kemudian ia bertanya pula, “Ceritera yang Bapak baca sangat menarik perhatianku. Dari manakah ceritera itu Bapak dapatkan?”

Kening orangtua itu berkerut kembali. Agaknya ia sedang mengingat-ingat. Tetapi kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia menjawab, “Aku tidak ingat lagi Angger, di mana dan kapan aku mendapatkan naskah itu. Tetapi aku kira itu adalah salinan dari naskah-naskah yang ada di mana-mana. Jadi bukanlah berisikan suatu ceritera yang sedemikian menarik hati.”

Bagaimanapun, keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui sebanyak-banyaknya tentang isi naskah itu, yang telah menyebut-nyebut nama Pasingsingan, namun ia selalu berusaha untuk menguasai diri. Sebab ia masih belum tahu benar dengan siapakah ia berhadapan. Meskipun menilik sikap, kesederhanaan, cara berpikir serta hal-hal lain, orang itu bukanlah orang jahat, namun ia tidak dapat meninggalkan sikap hati-hati.

“Masih panjangkah ceritera itu?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Tidak,” jawab Ki Paniling, “Angger ingin membaca sendiri?”

Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya. Ki Paniling kemudian menyerahkan lontar yang dibacanya itu kepada Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar kemudian menjadi kecewa ketika kelanjutan dari ceritera itu hanyalah tinggal beberapa bait saja, yang menceriterakan tentang keperkasaan dua orang murid Pasingsingan yang seakan-akan dapat terbang seperti burung rajawali. Adapun nama dari kedua orang itu, yang dianggap lebih tua karena memiliki beberapa kelebihan adalah Radite, sedang yang muda disebut Anggara.

“Tidakkah Bapak mempunyai kelanjutan ceritera ini?” tanya Mahesa Jenar dengan penuh keinginan untuk mengetahui.

Orangtua itu mengangguk-angguk sejenak, lalu berkata, “Menurut ingatanku, aku ada mempunyai tiga jilid dari naskah itu. Tetapi cobalah nanti Bapak cari, barangkali sedang dipinjam orang selagi mereka punya keperluan.” Kemudian orangtua itu berdiri, sambil melangkahkan kaki ke luar ia berkata, “Istirahatlah Angger. Bapak akan mencari jilid kedua dan ketiga dari kitab itu.” Lalu hilanglah orangtua itu di balik pintu.

Mahesa Jenar heran mendengar kata-kata Ki Paniling. Kemanakah ia akan mencari kedua jilid yang lain? Adakah di sekitar rumah ini? Atau rumah-rumah orang lain?

Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekeliling tempat itu. Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengingsar tubuhnya ke tepi tempat pembaringannya. Ketika dirasa bahwa tulang-tulangnya telah tidak begitu nyeri lagi, maka dengan sangat hati-hati ia mencoba berdiri. Ia merasa gembira sekali, bahwa agaknya kekuatannya telah berangsur-angsur menjadi baik dan ia sudah tidak merasakan kesulitan apa-apa untuk berjalan. Karena itu perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar melangkah ke luar rumah. Ia menjadi agak bingung ketika sampai di halaman. Ia tidak dapat lagi mengetahui dengan pasti, di manakah utara dan di mana selatan. Ketika memandang ke arah matahari terbit, Mahesa Jenar juga agak keheran-heranan. Ia dapat memastikan bahwa pada saat itu hari masih pagi. Kalau demikian maka ia telah melampaui satu malam berada di dalam pondok Ki Paniling.

Kemudian dengan tubuh yang masih belum sehat benar, Mahesa Jenar melangkah lebih jauh lagi. Ia semakin bertambah heran ketika di depan halaman Ki Paniling itu terdapat sebuah jalur desa. Maka keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekitarnya menjadi semakin besar. Setapak demi setapak Mahesa Jenar melangkah menuruti jalan kecil itu, sehingga kemudian barulah ia percaya bahwa sebenarnya ia telah dirawat oleh seorang yang sama sekali bukan orang yang terasing, tetapi orang biasa. Mungkin seorang petani miskin yang tinggal di dalam sebuah kampung kecil bersama-sama dengan orang-orang miskin lainnya.

Tetapi disamping itu, timbullah suatu masalah lain di dalam kepalanya.

Mahesa Jenar ingat betul bahwa ia telah terperosok ke dalam jurang yang dalam. Apa yang diketahuinya, daerah itu daerah pegunungan yang berhutan dan bersemak-semak. Jadi tidaklah mungkin bahwa ia telah menggelinding sampai tempat yang didiami oleh manusia. Memang mungkin pada saat itu Ki Paniling sedang mencari kayu, misalnya, lalu menemukannya. Tetapi membawa seseorang sebesar dirinya di tempat yang bergunung-gunung dan bertebing-tebing curam adalah sangat sulit. Sedang daerah ini adalah suatu dataran yang rata, meskipun masih juga dikitari hutan dan pegunungan. Dengan demikian maka pertanyaan-pertanyaan Mahesa Jenar menjadi semakin berbelit-belit di kepalanya.

Setelah Mahesa Jenar berjalan beberapa jauh, terasa kakinya amat penat. Kekuatannya baru sebagian kecil saja yang dimilikinya kembali. Karena itu ia berhasrat kembali saja ke rumah Ki Paniling.

Tetapi baru saja ia memutar tubuhnya, tiba-tiba terdengarlah suara ramah, “Adi Darba, itulah kemanakanku yang baru datang kemarin siang.”

Segera Mahesa Jenar memandang ke arah suara itu. Dilihatnya Ki Paniling sedang bercakap-cakap dengan seorang petani lain, seorang yang bertubuh agak kekurus-kurusan. Dan seperti kebiasaan para petani, wajahnya memancarkan isi dadanya dengan terbuka.

Orang yang dipanggil Darba itu kemudian tertawa. Tertawanya terdengar seperti suara air yang memancar dari mata airnya. Bersih dan tanpa maksud-maksud yang tidak wajar.

“Kemenakanmu tampak begitu tampan dan gagah, Kakang Paniling, aku jadi agak heran,” katanya dengan jujur.

Ki Paniling tersenyum lebar, jawabnya, “Aku tidak tahu, bagaimana aku dapat mempunyai kemenakan segagah dia”

Kemudian kedua orang itu sama-sama tertawa. Mau tidak mau Mahesa Jenar berusaha untuk tertawa pula, serta mengangguk hormat kepada mereka.

“Mahesa Jenar…,” kata Paniling, yang memanggilnya tanpa sebutan seperti lazimnya orang memanggil kemenakannya. “Inilah pamanmu Darba. Ia termasuk salah seorang cikal bakal kampung ini sesudah aku. Sebab akulah yang tertua yang datang di sini, kemudian beberapa orang berturut-turut ikut serta menebas hutan dan membangun perkampungan kita ini. Bukan begitu Darba?”

Darba tertawa kembali. Jawabnya, “Pasti aku harus membenarkan katamu. Sebab tak seorang pun yang akan menyangkal bahwa kaulah yang datang pertama kali di daerah ini.”

Mendengar jawaban kawannya itu, kembali bibir-bibir tebal di bawah hidung Ki Paniling yang besar itu bergerak-gerak dan tersenyum lebar.

“Sekarang, singgahlah sebentar, Darba,” ajak Paniling.

“Terimakasih. Masih banyak yang akan aku kerjakan pagi ini. Mengairi sawah dan memasak gula,” jawab Darba. “Aku juga masih nderes tiga pohon lagi.”

“Bagus,” sahut Paniling. “Kalau masak, gulamu nanti antarlah kami buat minum air jahe.”

“Tentu, tentu…” potong Darba, yang lalu melangkah pergi setelah mengangguk kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar melihat keakraban pergaulan dalam hidup sederhana itu dengan perhatian yang luar biasa. Alangkah jauh bedanya dengan pergaulan orang-orang kota yang banyak dibumbui oleh sikap berpura-pura.

Setelah petani yang bernama Darba itu hilang di kelokan jalan, segera Ki Paniling melangkah mendekati Mahesa Jenar sambil berkata gembira, “Rupanya angger telah banyak mendapat kemajuan. Sukurlah kalau Angger telah dapat berjalan-jalan. Maafkanlah kalau aku terpaksa menyebut Angger sebagai kemenakanku. Hal itu hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu. Sebab di padepokan kecil ini segala sesuatu yang tak berarti dapat saja menjadi peristiwa yang besar.”

“Tak apalah, Bapak,” jawab Mahesa Jenar. “Mana saja yang baik untuk Bapak, akan baik pula untukku.”

“Bagus, bagus…” sahut Ki Paniling, “Sekarang marilah kita pulang, Angger masih jangan terlalu banyak bergerak.”

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi segera ia melangkah mengikuti Ki Paniling.

Sebentar kemudian mereka telah sampai ke pondok Ki Paniling. Mahesa Jenar langsung dipersilakan berbaring untuk memulihkan kekuatannya, sedang Ki Paniling segera menyalakan api serta mengupas jagung.

Kembali terasa angin yang semilir mengusap tubuh Mahesa Jenar. Dan karena kesegaran dan kepenatan yang bercampur-baur, akhirnya sekali lagi Mahesa Jenar jatuh tertidur.

Ia menjadi terbangun ketika didengarnya hiruk-pikuk di halaman. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya, tetapi untuk menjaga diri segera ia bangkit, dan memperhatikan keadaan dengan saksama. Di luar, didengarnya beberapa suara orang laki-laki menyebut-nyebut namanya. Tetapi kemudian ia menjadi tersenyum sendiri, namun juga dihinggapi oleh perasaan gelisah. Orang-orang itu ternyata adalah sahabat-sahabat Ki Paniling yang telah mendengar kabar bahwa kemenakannya datang mengunjungi kampung mereka yang kecil dan terpencil ini. Karena itulah mereka memerlukan datang untuk mengucapkan selamat datang serta menyampaikan salam perkenalan.

Ki Paniling sendiri agaknya menjadi kerepotan untuk memberi penjelasan kepada sahabat-sahabatnya, tentang kemenakannya. Tetapi rupanya ia cerdik juga. Supaya tidak ada salah keterangan dengan Mahesa Jenar, sengaja ia berbicara keras-keras dengan harapan bahwa dongengannya itu didengar pula oleh Mahesa Jenar. Katanya, “Adik-adik sekalian, kemenakanku ini datang dari daerah yang jauh sekali. Ia pada saat-saat yang lampau telah pergi merantau hampir ke seluruh sudut bumi. Yang terakhir ia mengabdikan dirinya di pusat kerajaan. Yaitu pada Sultan Demak. Di sana ia menjadi seorang prajurit yang gemblengan”

Kemudian terdengar suara orang-orang itu bergumam. Agaknya mereka menyatakan perasaan kagum terhadap salah seorang prajurit kerajaan yang sudi berkunjung ke kampung kecil itu. Malahan seorang diantaranya berkata, “Anehlah kau Bapak Paniling. Kenapa kau mempunyai kemenakan yang menjabat sebagai prajurit Demak, tetapi kau hidup miskin bersama-sama dengan kami di sini?”

Mendengar pertanyaan itu, terdengar Ki Paniling tertawa. Jawabnya, “Yang menjadi prajurit bukanlah aku, tetapi kemenakanku.”

“Kalau begitu banyaklah yang sudah dilihatnya,” kata yang lain, “Dapatkah kiranya kita mendengar ceriteranya?”

“Tentu, tentu…, apabila ia sudah bangun,” jawab Ki Paniling. “Tetapi jangan tanyakan tentang kedudukannya sebagai prajurit, sebab ia telah mengundurkan diri.”

“Mengundurkan diri?” tanya mereka hampir berbareng.

“Ya,” jawab Paniling.

“Kenapa?” tanya mereka kembali.

Paniling diam sejenak. Baru kemudian ia dapat menjawab, “Sampai hal yang sekecil-kecilnya kalian ingin tahu?”

“Itu bukan kecil soalnya,” jawab salah seorang, “Tetapi adalah masalah yang besar. Seorang prajurit bagi kami adalah seorang yang luar biasa. Kalau sampai ia mengundurkan diri, pasti ada hal-hal yang luar biasa.”

Kembali terdengar Paniling tertawa. Jawabnya, “Otakmu mengkilap seperti batu akik. Bagus, kau takut kalau kemenakanku itu menjadi buruan, atau dipecat karena kejahatan? Bagus, dengarlah, ia mengundurkan diri karena perbedaan pokok mengenai kepercayaan. Ia tidak mau menentang kawan-kawan seperjuangannya dalam satu pertentangan jasmaniah. Karena itu lebih baik ia mengundurkan diri, meskipun dengan demikian bukan berarti masa kebaktiannya terhenti pula. Ia tetap berjuang untuk kesejahteraan kawula Demak”

Kemudian terdengarlah orang-orang di luar rumah itu bergumam puas. Tetapi tidak demikianlah perasaan Mahesa Jenar yang justru menjadi bergolak hebat. Keterangan Ki Paniling itu bagi Mahesa Jenar bukanlah sekadar kebetulan semata-mata. Tetapi adalah suatu ceritera yang tepat seperti apa yang dialaminya. Karena itu dadanya jadi bergoncang.

Bersamaan dengan itu muncullah sebuah kepala di ambang pintu. Sedemikian tiba-tiba sehingga Mahesa Jenar menjadi terkejut. Hampir saja ia meloncat menangkapnya, tetapi untunglah dalam sekejap kepala itu telah lenyap kembali disusul dengan suara seseorang, “Kakang Paniling, kemenakanmu telah bangun.”

“He….” jawab Paniling, “Bagus, kalau begitu kalian dapat menemuinya, tetapi jangan lupa kepada pesan-pesanku.”

Sesaat kemudian beberapa orang telah melangkah masuk. Salah satu diantaranya segera membentangkan sebuah tikar pandan yang kasar, dan di atas tikar itulah segera mereka duduk. Mau tidak mau Mahesa Jenar harus duduk pula di atas tikar pandan itu. Meskipun demikian ia tidak dapat meninggalkan kewaspadaan, meskipun hanya sekejap. Ia tidak tahu jenis sarang apa pula yang sekarang sedang dimasukinya.

Maka mulailah sahabat-sahabat Paniling saling berebutan memperkenalkan diri mereka serta bertanya-tanya. Bertanya tentang hal-hal yang kadang-kadang menggelikan bagi Mahesa Jenar. Dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan itu, sebenarnya Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka benar-benar petani-petani miskin yang sebagian besar masih sangat rendah pengetahuannya. Memang ada satu dua diantaranya yang pernah pula merantau, tetapi pengalaman yang didapatnya pun sama sekali tak berarti. Kalau demikian, akhirnya Mahesa Jenar mengambil kesimpulan, bahwa yang sebenarnya kurang wajar adalah Ki Paniling sendiri. Memang sejak semula ia telah bertanya-tanya dalam hati tentang orang ini. Bagaimana ia dapat sampai ke pondoknya, dan bagaimana ia sengaja menyebut-nyebut Pasingsingan, lagi pula ia dapat menebak dengan tepat tentang dirinya, bahkan tentang kedudukannya sebagai bekas prajurit pun diketahuinya pula.

Karena itu ia menjadi gelisah. Untunglah bahwa pertemuan itu tidak berlangsung terlalu lama. Setelah matahari sampai pada titik puncaknya, segera mereka mohon diri, pulang ke rumah masing-masing. Yang terakhir meninggalkan ruangan itu adalah Darba. Dengan tertawa pendek ia berkata, “Mahesa Jenar, datanglah sekali-sekali ke pondokku meskipun tidak lebih baik dari pondok ini. Aku juga hidup seperti pamanmu, Paniling. Berbeda dengan orang lain di sini yang hidup berkeluarga, dengan anak-istri. Tetapi kami, aku dan pamanmu, hidup sebatang kara.”

“Baiklah, Paman,” jawab Mahesa Jenar mengangguk. Tetapi, matanya yang tajam menangkap sinar yang gemerlapan dalam mata petani yang kekurus-kurusan itu. Sinar itu bukanlah sinar mata seorang petani miskin. Rupa-rupanya dua orang ini harus mendapat perhatian sepenuhnya. Tetapi Mahesa Jenar pun adalah orang yang berotak cemerlang. Karena itu segala sesuatu diperhitungkannya dengan cermat. Juga terhadap kedua orang ini, ia bersikap sangat hati-hati.

Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak mempunyai prasangka yang jelek terhadap Paniling maupun Darba. Sebab cahaya mata mereka serta pancaran wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan sesuatu kepalsuan. Tetapi meskipun demikian ia memperhitungkan pula kemungkinan-kemungkinan yang sebaliknya. Malahan kadang-kadang timbul dugaannya, apakah salah seorang diantaranya itu adalah Pasingsingan?

Setelah semua orang, juga Darba telah meninggalkan rumah itu, segera Paniling menyodorkan beberapa jagung rebus beserta gula kelapa yang masih baru kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar yang memang merasa lapar segera menerimanya dan dengan lahapnya ia menghabiskan bagiannya. Setelah itu tidak banyak yang mereka percakapkan. Apalagi Paniling segera pergi ke kebun untuk menyiangi tanaman-tanamannya.

Baru ketika matahari telah hilang di balik batas antara siang dan malam, serta Paniling telah menyalakan oncor jarak, mereka duduk di atas satu-satunya tempat pembaringan yang ada di dalam ruang itu.

Tiba-tiba tanpa ditanya Paniling berkata tentang kitabnya, “Angger, ternyata kedua jilid dari kitab itu belum aku ketemukan. Aku tanyakan kesana-kemari, agaknya belum aku jumpai siapakah yang telah meminjamnya. Apakah Anakmas tertarik sekali dengan ceritera itu?”

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan menjawab pertanyaan itu. Namun demikian katanya, “Aku sangat tertarik kepada ceriteranya, Bapak.”

Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambungnya, “Ceriteranya memang menarik. Tetapi ceritera itu adalah ceritera biasa saja sebenarnya.”

“Ya,” jawab Mahesa Jenar tiba-tiba. Ia sedang mencoba untuk memancing pikiran orang tua itu. “Aku juga pernah mendengar ceritera yang hampir sama.”

Orang itu tampak agak terkejut, tetapi sebentar kemudian kesan itu telah hilang kembali. Malahan ia tersenyum sambil menjawab, “Angger juga pernah mendengar? Di mana…?”

“Di Banyubiru,” sahut Mahesa Jenar.

“Banyubiru…? Dekat Rawa Pening?” tanya Paniling.

“Ya, kenapa?” tanya Mahesa Jenar pula.

“Akh, ceritera itu sampai tersiar demikian jauhnya,” jawab Paniling.

“Demikian jauhnya?” Mahesa Jenar yang sekarang keheranan.

Ki Paniling kembali mengernyitkan alisnya. Dan kembali pula ia tersenyum lebar.

“Bukan jauh sekali,” katanya kemudian, “Tetapi buat ceritera yang tak berharga itu, adalah suatu kehormatan besar apabila sampai tersiar ke daerah-daerah yang agak jauh.”

Terasa bagi Mahesa Jenar ada sesuatu yang dapat ditangkapnya dari kata-kata Paniling, karena itu segera ia menyahut, “Kalau ceritera itu sampai di sini, bukankah telah tersebar ke tempat yang lebih jauh lagi?”

Paniling terkejut mendengar jawaban Mahesa Jenar. Tetapi hanya sekejap, karena hanya sesaat kemudian ia telah tertawa sambil berkata, “Mungkin, mungkin Angger benar.”

Mahesa Jenar tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi, karena itu ia ingin mendesak lebih lanjut. “Ki Paniling, aku juga pernah mendengar ceritera tentang Pasingsingan itu di Banyubiru. Cobalah Ki Paniling sudi mendengarkan ceritera yang aku dengar itu untuk diperbandingkan dengan kelanjutan dari ceritera Ki Paniling yang tercecer, dari kitab jilid 2 dan 3. Adakah persamaannya ataukah hanya persamaan nama melulu.”

Mahesa Jenar melihat orang tua itu menjadi agak gelisah, tetapi ia tidak mau kehilangan kemungkinan untuk menyentuh-nyentuh perasaan Ki Paniling yang paling dalam. Dengan demikian ia akan segera tahu dengan siapa ia berhadapan. Dengan kawan atau lawan. Maka segera Mahesa Jenar melanjutkan, “Menurut ceritera yang tersebar luas di Banyubiru, tidak saja yang tertulis di lontar-lontar, tetapi bahkan telah menjadi ceritera rakyat yang tersebar dari mulut kemulut, mengatakan bahwa Pasingsingan sama sekali bukanlah seorang yang baik hati, bukan seorang yang pasrah diri kepada Yang Maha Agung, ia sama sekali tidak mengagungkan kebajikan, apalagi mempunyai dua orang murid yang bernama Radite dan Anggara. Tetapi Pasingsingan adalah orang yang sama sekali berlawanan dengan sifat-sifat itu. Ia mempunyai murid-murid yang sama jahatnya dengan dirinya sendiri, yang menamakan dirinya sebagai nama pahlawan, yaitu Lawa Ijo, Wadas Gunung dan Watu Gunung. Yang sama dengan ceritera Bapak adalah bahwa Pasingsingan itu memang sakti, namun ia telah mempergunakan kesaktiannya untuk kejahatan, merampok, membunuh, merampas isteri orang, me…. “

Bohong!” tiba-tiba Paniling berteriak keras. Wajahnya jadi tegang dan merah. Mahesa Jenar terkejut mendengar teriakan itu. Cepat ia hendak bangkit ketika dilihatnya wajah Paniling menyala. Mahesa Jenar sadar bahwa hal yang tak dikehendaki bisa terjadi. Karena itu ia cukup waspada.

Tiba-tiba tangan Ki Paniling terjulur untuk menangkap baju Mahesa Jenar. Cepat ia mengelak, dan dengan gerakan kuat ia menerkam Paniling. Mahesa Jenar tidak mau didahului oleh orang tua yang masih belum diketahui siapakah dia dan sampai dimanakah kekuatannya.

Dengan menangkap orang tua itu, Mahesa Jenar bermaksud memaksanya untuk menjelaskan siapakah sebenarnya dirinya itu.

Tetapi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang ketika ia sama sekali tak berhasil menyentuh Ki Paniling dalam tempat yang demikian sempitnya. Bahkan tiba-tiba terasa tangannya terpilin dan lenyaplah segenap kekuatannya yang memang belum pulih seluruhnya. Tetapi bagaimanapun ia merasa bahwa Paniling mempunyai kekuatan yang jauh di atas kemampuannya. Bahkan andaikata kekuatannya samasekali tak terganggu sekalipun. Namun orang tua itu akan dapat dengan mudah menangkapnya.

Mengalami peristiwa itu, Mahesa Jenar segera teringat kepada pertemuan-pertemuannya dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana yang juga sama sekali tak diduganya. Dengan demikian ia dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa orang ini pun pasti tergolong angkatan itu pula. Kalau saja orang ini Pasingsingan, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya.

Tetapi tiba-tiba terasa tangkapan pada tangannya itu semakin kendor, semakin kendor, bahkan akhirnya dilepaskan. Dan dengan keheran-keheranan Mahesa Jenar melihat Ki Paniling itu membanting diri diatas bale-bale, yang kemudian dengan kedua telapak tangannya menutupi mukanya.

Mahesa Jenar jadi ragu dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tetapi suatu kelegaan telah membersit di hatinya. Sebab jelas orangtua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya.

Setelah beberapa saat suasana ruangan sempit itu dicengkam oleh kesepian yang tegang, maka perlahan-lahan Ki Paniling mengangkat mukanya. Muka yang tadi tampak merah membara, kini menjadi pucat keputih-putihan. Bahkan dari matanya memancar sinar duka.

Mahesa Jenar jadi merasa bahwa ia telah berbuat sesuatu yang menyebabkan orangtua itu susah. Maka katanya, “Maafkan aku, Bapak, barangkali aku telah berbuat suatu kesalahan.”

Tiba-tiba Ki Paniling tersenyum lebar, namun senyumnya adalah senyum yang pahit. “Tidak, Angger…, Angger tidak berbuat suatu kesalahan. Tetapi akulah yang bodoh. Sebagai orang tua aku telah berbuat sesuatu yang memalukan. Tetapi itu ada sebabnya.”

Mata orangtua itu semakin membayangkan kedukaan yang dalam. Hanya kadang kadang saja ia memandang kepada Mahesa Jenar, tetapi kemudian kembali matanya menatap ke titik-titik, jauh tak terhingga. Lewat pintu rumah kecil yang belum ditutup itu, terasa angin malam menghembus halus, menggoyang-goyang nyala pelita jarak yang melemparkan cahaya suram ke segenap arah.

Untuk beberapa lama mereka berdua masih berdiam diri. Perlahan-lahan Mahesa Jenar pun kemudian duduk kembali di samping Ki Paniling.

“Angger…” kata Ki Paniling kemudian memecah sepi, “Maksudku hanya ingin mengatakan bahwa ceritera yang Angger dengar itu sama sekali tidak benar. Atau barangkali lebih baik aku katakan bahwa ceritera itu tidak sama dengan ceritera di dalam kitab-kitabku. Mungkin benar kata Angger bahwa kedua ceritera itu ditulis oleh orang yang tidak sama, hanya kebetulan nama tokoh-tokohnya sajalah yang bersamaan.”

“Demikianlah Bapak,” jawab Mahesa Jenar, “ceritera itu bukanlah tidak mungkin bersamaan nama, “.

“Ceritera yang aku baca, Angger…” kata Paniling, “Pasingsingan adalah orang yang baik hati. Menjunjung tinggi keluhuran budi, serta pasrah diri kepada Yang Maha Agung.”

“Dapatkah aku mendengar ceritera itu, Bapak? tanya Mahesa Jenar.

Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau,”

Mahesa Jenar kurang mengerti kepada kata-kata Paniling itu. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu, sampai akhirnya Paniling berkata kembali, “Baiklah Angger…, aku tidak tahu apakah ada gunanya kalau aku berceritera. Sebab kau bukanlah anak-anak yang mudah tertidur karena dongeng-dongeng yang menyenangkan serta mengasyikkan.”

Mahesa Jenar menundukkan kepala mendengar kata-kata Ki Paniling yang rupa-rupanya sudah mengetahui maksudnya, memancing-mancing keterangan tentang dirinya.

Angger Mahesa Jenar…,” kata Ki Paniling lebih lanjut, “Bagian kedua dari ceritera itu mengatakan bahwa setelah kedua murid Pasingsingan itu menjadi dua orang yang hampir mumpuni, maka Pasingsingan ingin menyerahkan jabatannya, meskipun jabatan itu disandangnya atas kemauan sendiri, kepada muridnya yang tua. Tetapi pada saat itu datanglah seorang yang mengaku murid Pasingsingan yang tertua, yang merasa berhak untuk mengenakan tanda-tanda kebesaran gurunya, yaitu jubah abu-abu, topeng yang kasar dan yang terutama adalah sebuah belati panjang berwarna kuning emas berkilau-kilauan, yang disebut Kyai Suluh, serta cincin bermata batu akik merah menyala yang dinamai Akik Klabang Sayuta. Hampir tak ada orang yang dapat melawan kesaktian belati panjang serta akik Klabang Sayuta itu.”

Sampai sekian terasa punggung Mahesa Jenar meremang. Ia kenal semua benda-benda yang disebutkan itu. Ia pernah melihat Pasingsingan memegang sebuah pisau belati yang berwarna kuning gemerlapan pada saat orang itu hendak bertempur melawan Ki Ageng Pandan Alas, yang juga terpaksa menarik pusakanya Sigar Penjalin. Sedang akik Klabang Sayuta yang beracun itu, tidak saja ia pernah melihat, tetapi ia pernah merasakan betapa dahsyatnya. Kalau saja di dalam darahnya tidak mengalir bisa Ular Candrasa, entahlah apa yang terjadi atasnya.

  Ki Paniling kemudian melanjutkan ceritanya, “Tetapi agaknya Pasingsingan tidak begitu terkena hatinya kepada bekas muridnya yang telah lama meninggalkannya. Karena itu ia tetap pada pendiriannya, menyerahkan semua tanda-tanda jabatannya kepada Radite. Maka pada suatu hari, dengan tidak diketahui oleh siapapun, Pasingsingan telah lenyap. Tetapi jubah abu-abu serta semua miliknya itu ditinggalkannya di dalam ruang tidur Radite. Dan sejak itulah Radite kemudian mengembara dengan nama Pasingsingan untuk mengamalkan kebajikan demi kesejahteraan hidup umat manusia. Dalam pengembaraan itu pula ia berkenalan dengan tokoh-tokoh sakti yang lain, yang juga berusaha untuk menegakkan kebajikan bagi kesejahteraan umat mahusia. Diantara sahabatnya terdapat seorang yang bernama Kiai Ageng Pengging Sepuh, yang kemudian mempunyai seorang murid yang menjadi Prajurit Pengawal Raja bernama Rangga Tohjaya.”

Kembali punggung Mahesa Jenar meremang. Bahkan kali ini keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia jadi agak bingung. Ternyata Paniling telah hampir mengetahui keseluruhan dari perjalanan hidupnya. Ia akhirnya malu sendiri, ketika ia merasa bahwa pancingan-pancingannya terasa berhasil untuk memaksa Paniling berceritera. Tetapi agaknya orangtua itu telah dapat menebak seluruh isi hatinya.

“Adapun Anggara…” Ki Paniling meneruskan, “Telah diserahi tugas untuk menunggui tempat pertapaan Pasingsingan. Dan orang itu pun dengan setia melakukan kewajibannya.”

“Tetapi…” sambung Ki Paniling dengan nada yang merendah, “Peredaran roda tidak selamanya menempuh jalan datar. Radite akhirnya bertemu dengan murid tertua dari Pasingsingan, yang menamakan dirinya Umbaran. Dari segi keperwiraan jasmaniah, maka Umbaran ada di bawah kepandaian Radite.
Ki Paniling berhenti sebentar. Terasa bahwa nafasnya berangsur cepat. Wajahnya tampak semakin pucat sedang matanya semakin sayu. Kemudian ia kembali melanjutkan ceritanya, “Karena itu Umbaran tidak dapat memaksa Radite untuk menyerahkan tanda-tanda kebesaran gurunya. Namun demikian ada saja jalan yang dapat ditempuhnya. Dan ini termuat pada bagian ketiga dari kitab ini. Bagian yang paling menyedihkan.”

Kembali Ki Paniling berhenti sejenak, kemudian meneruskan ceritanya lagi, “Bagaimanapun juga Radite adalah manusia biasa. Meskipun ia telah mengenakan jubah abu-abu, topeng dan pusaka-pusaka lainnya, namun ia tidak dapat melapisi hatinya dengan baja. Hatinya masih saja hati manusia yang lunak dan lemah. Itulah sebabnya ia pada suatu saat jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan inilah sumber dari segala malapetaka. Ketika Umbaran mengetahui, maka segera ia berusaha memikat hati gadis itu. Memang Umbaran memiliki wajah yang tampan, sehingga akhirnya dengan tidak banyak kesulitan ia berhasil menguasai hati gadis itu sepenuhnya. Sedang di lain pihak, hati Radite telah bulat-bulat berada di dalam genggaman gadis itu.”

Akhirnya…” lanjut Ki Paniling, “Terjadilah sesuatu yang memalukan sekali. Radite dan Umbaran mengadakan suatu perjanjian tukar-menukar. Inilah yang gila. Dan itu sudah terjadi.” Mahesa Jenar menjadi terkejut ketika nada suara Paniling jadi meninggi. Hampir berteriak ia berkata, Itu sudah terjadi, dan tak dapat dicabut kembali. Tetapi kemudian seperti orang yang tersadar, Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali dengan nada yang rendah ia meneruskan, “Radite dan Umbaran mengadakan perjanjian. Radite mendapat gadis itu, sedang Umbaran mendapat tanda-tanda kebesaran dari Pasingsingan. Maka berlangsunglah tukar-menukar itu tanpa saksi, selain Anggara yang dengan sedih berusaha mencegahnya. Tetapi tukar-menukar itu tetap berlangsung, dengan hati jantan dan tanggung jawab bagi Radite. Itulah sebabnya maka ia akan mentaati perjanjian itu untuk seterusnya.”

“Tetapi kemudian, menyusullah kejadian yang semakin menghimpit hati. Radite sebenarnya sangat menyesal atas perjanjian itu. Namun di hadapan gadis yang kemudian menjadi istrinya, ia selalu menyembunyikan penyesalan itu. Kemudian ia harus mengalami kejadian yang dahsyat, yang barangkali merupakan hukuman alam. Gadis yang memang sebenarnya sama sekali tak mencintainya itu, sebab hatinya telah terampas oleh Umbaran, akhirnya menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kejadian ini merupakan pukulan yang maha dahsyat dalam kehidupan Radite yang telah gagal itu. Gagal dalam pengabdiannya kepada umat manusia dan gagal dalam pemanjaan nafsu pribadi.

Paniling berhenti berkata. Wajahnya menjadi semakin pucat. Dan tiba-tiba di matanya tampak mengembang sebutir air mata.

Mahesa Jenar kini telah menjadi jelas. Jelas dengan siapa ia sedang berbicara. Karena itu tiba-tiba ia berdiri dan membungkuk hormat. Katanya, “Jadi tuanlah sebenarnya yang berhak menyebut diri Pasingsingan.”

Paniling mengangkat mukanya. Ia mencoba tersenyum, meskipun betapa pedihnya. Dengan terputus-putus ia menjawab, “Tak usah kau sebut itu. Bukankah hal itu yang kau ingin ketahui?”

“Bukankah segala sesuatu masih belum terlambat?” kata Mahesa Jenar kemudian, “Tuan masih dapat menghentikan perbuatan-perbuatan jahat dari Umbaran, yang kemudian bernama Pasingsingan itu?”

Paniling atau sebenarnya bernama Radite itu menggelengkan kepalanya. “Tidak dapat. Sebab pada suatu kali, datanglah Guru kepadaku. Meskipun aku sama sekali tidak dapat melihatnya, tetapi aku kenal suaranya. Ia berkata kepadaku, Radite…, nama Pasingsingan telah kau korbankan. Kau tak perlu bersusah payah untuk memperbaikinya kembali. Sebab sekali nama itu ternoda, buat selamanya tak akan dapat menjadi bersih, sebersih semula. Karena itu biarkanlah nama itu bernoda untuk seterusnya. Sebab setiap kali nama itu disebutkan, setiap kali kau akan teringat kepada kesalahanmu.”

Itu adalah hukumanku yang paling berat. Hukuman yang hampir tak tertanggungkan. Karena itu kemudian aku menyembunyikan diri. Menjauhkan diri dari setiap kemungkinan untuk dapat mendengar nama Pasingsingan. Tetapi bagaimanapun juga bendungan itu akan tembus pula. Dan aku sedang mencari saluran untuk mengatakan seluruh gelora yang bergulung-gulung di dalam dadaku. Sampai pada suatu kali aku temukan kau. Aku kenal kau karena caramu bertempur melawan 7 orang di bukit sebelah Banyubiru. Aku mendengar salah seorang menyebutmu Rangga Tohjaya. Dan aku pernah pula mendengar nama Rangga Tohjaya sebagai prajurit pengawal raja.”

Kembali mereka berdiam diri dalam kesibukan angan-angan masing-masing.  Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu dan yang telah berhasil mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Karena itu tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimanakah kalau ada seorang lagi yang menyatakan dirinya sebagai Pasingsingan?”

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Ki Paniling terkejut bukan buatan sehingga wajahnya berubah hebat. Dengan pandangan yang mengandung seribu macam pertanyaan, ia berkata, “Adakah orang lain yang kau kenal sebagai Pasingsingan pula?”

Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang pernah dilihatnya pada saat hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dan tentang orang yang berjubah abu-abu yang mengambil kedua keris itu.

Paniling mendengarkan ceritera Mahesa Jenar dengan wajah tegang. Alisnya tampak berkerut-kerut. Akhirnya ia bertanya, “Kau lihat orang itu bertopeng pula?”

“Itu yang tidak aku ketahui,” jawab Mahesa Jenar.

Tampaklah wajah Paniling semakin tegang. Pikirannya bekerja keras namun ia pun agaknya tidak dapat menduga, siapakah yang telah berjubah abu-abu itu.

Tiba-tiba bertanyalah Mahesa Jenar, “Tuan, bolehkah aku mengetahui, di manakah murid yang seorang lagi dari Pasingsingan itu?

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajah Paniling agak mengendor. Bahkan kemudian ia tersenyum lebar. “Adakah kau menduga bahwa murid yang satu itu menamakan diri Pasingsingan pula?

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Memang mula-mula ia mempunyai dugaan bahwa hal itu mungkin sekali. Tetapi setelah ia menerima pertanyaan itu, ia menjadi ragu, jawabnya, “Bukan maksudku untuk berkata demikian, Tuan.”

Kalau kau mempunyai dugaan yang demikian pun adalah wajar sekali” jawab Paniling, “tetapi sayang bahwa dugaan itu meleset, sebab Anggara itu berada di sini pula

Mendengar jawaban Paniling, segera Mahesa Jenar teringat kepada sinar mata yang berkilat-kilat dari orang yang menamakan dirinya Darba. Karena itu segera ia menjawab pula, “Apakah yang menamakan dirinya Paman Darba itulah orangnya?”

Belum lagi Paniling menjawab, terdengarlah suara tertawa di luar, di depan pintu, sampai Mahesa Jenar agak terkejut. Kedatangan seseorang sampai jarak yang demikian dekatnya tanpa diketahui adalah suatu hal yang jarang terjadi. Ketika Mahesa Jenar menoleh ke arah pintu, dilihatnya orang yang menamakan dirinya Darba itu telah berdiri di sana dengan wajah bening, sebening air yang memancar dari mataairnya. Kemudian Darba berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri mengulangi kata-kata Paniling, “Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau.”

Kemudian terdengar Paniling berkata, “Kepadanya tak perlu kita menyembunyikan diri. Aku percaya bahwa orang semacam Mahesa Jenar akan dapat memegang rahasia, seperti ia memegang rahasia kerajaan.”

“Kau akan merahasiakannya Mahesa Jenar?” tanya Darba.

“Akan aku coba, Tuan” jawab Mahesa Jenar.

“Juga kepada Kakang Pandan Alas dan Kakang Sora Dipayana? Bukankah tadi kau berceritera tentang hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun kedua tokoh itu ikut pula mempertahankannya?”

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Kalau ia bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Ki Ageng Sora Dipayana, apakah ia harus merahasiakan pula tentang Pasingsingan…?

Melihat kebingungan Mahesa Jenar, berkatalah Darba, “Kepada kedua orang itu, juga kepada Titis Anganten, Pangeran Gunung Slamet, kau tidak usah merahasiakan. Kalau mereka akan melenyapkan Pasingsingan adalah urusan mereka, bukankah begitu Kakang?”

Tiba-tiba wajah Paniling kembali menjadi tegang. Ia tidak segera menjawab kata-kata Darba. Pandangannya jauh lewat pintu yang masih menganga itu langsung menembus gelapnya malam.

Kemudian kembali suara Darba terdengar diantara tertawanya, “Kakang Paniling, masihkah kau ingin mengadakan perhitungan dengan Umbaran? Aku kiranya hanya akan mengotori tanganmu saja dengan darah yang telah digenangi kejahatan. Apalagi kau terikat kepadanya dengan sebuah perjanjian aneh itu, untuk seterusnya tidak saling mengganggu. Kenapa kau tidak memerintahkan aku saja untuk menyelesaikan masalah ini? Bukankah aku tidak terikat oleh suatu apapun?” Tiba-tiba wajah Darba yang bening itu berubah, seolah-olah menjadi batu padas yang maha keras.

“Sabarlah Darba,” jawab Paniling yang wajahnya masih setegang tadi, “Aku kira akan datang saatnya.”

Wajah Darba perlahan-lahan menjadi lunak kembali. Dengan langkah yang perlahan lahan pula ia duduk di samping Mahesa Jenar. Katanya, “Kakang Paniling kagum melihat caramu bertempur melawan 7 orang yang termasuk orang-orang kuat. Memang Kakang Pengging Sepuh telah hampir tercermin seluruhnya di dalam dirimu. Kalau kau kelak dapat mengendap ilmu Sasra Birawa sehingga mendapat bentuk yang lebih masak lagi, aku kira kau akan menjadi tepat seperti bayangan Kakang Pengging Sepuh yang mengagumkan.”

Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepalanya mendengar pujian itu, tetapi bersamaan dengan itu pula segera ia teringat kepada nasib Banyubiru yang dalam keadaan lumpuh itu.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri. Paniling dan Darba tak berkata-kata pula. Baru beberapa lama kemudian berkatalah Mahesa Jenar, “Dan sekarang ke-7 orang yang mengeroyokku itu sedang merencanakan kehancuran Banyubiru.”

Paniling dan Darba tampak mengerutkan kening nya. Kemudian kata Paniling, “Perencana dari peristiwa Banyubiru itu bukanlah orang bodoh. Karena itu kaupun harus sangat berhati-hati untuk melawannya. Apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu, melawan 7 orang sekaligus, adalah perbuatan yang terlalu berani. Kalau kau tewas dalam pertarungan semacam itu, maka kau sudah tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Sedang agaknya kau tak pernah berfikir untuk menghindar. Untunglah bahwa aku berhasil menggugurkan tanah yang kau injak, ketika kau berdiri terlalu ke tepi, dengan sebuah lemparan. Sehingga kau dengan tak usah merasa melarikan diri dari gelanggang, telah dapat terselamatkan, meskipun kau harus menggelinding ke dalam jurang.”

Dada Mahesa Jenar terasa berdesir mendengar kata-kata Paniling. Agaknya orang tua itulah yang telah berusaha menyelamatkan nyawanya. Dengan demikian maka tanpa disengaja ia berkata dengan gemetar, “Terima kasih Tuan, terima kasih atas pertolongan itu.”
Namun, di dalam hati Mahesa Jenar memancarlah perasaan kagum yang tak terhingga. Dengan satu lemparan, Radite menggugurkan tanah tempat ia berpijak.

Paniling tersenyum lebar, jawabnya, “Aku juga pernah mengalami masa muda. Masa darah kita menggelora, dimana kita kadang-kadang kehilangan kemampuan untuk mengakui kekurangan diri.”

Terasa oleh Mahesa Jenar kebenaran kata-kata Paniling. Memang dalam saat yang demikian terasa alangkah kecilnya apabila seseorang menghindarkan diri dari arena. Tetapi apabila benar-benar ia dapat ditewaskan, maka untuk selanjutnya ia tak akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, adalah suatu keuntungan bahwa ia masih hidup.

“Mahesa Jenar…” kata Paniling kemudian, “Memang sebaiknya kau kembali ke Banyubiru. Ketahuilah bahwa kau sekarang ini berada di hutan Pudak Pungkuran. Perjalanan ke Banyubiru dapat kau tempuh kira-kira dalam satu hari. Tetapi kau tidak perlu tergesa-gesa. Kau pulihkan dahulu kekuatanmu. Di sini aku mempunyai beberapa jenis akar yang dapat menolong menambah lancar aliran darah serta menambah kesegaran tubuhmu.”

Mahesa Jenar segera menyatakan terima kasihnya. Dengan demikian ia dapat beristirahat untuk beberapa saat di rumah Ki Paniling.

  ———-oOo———

 

III

Beberapa hari kemudian setelah tubuhnya terasa pulih kembali, serta keadaan telah memungkinkan, maka Mahesa Jenar mohon diri kepada Paniling untuk kembali ke Banyubiru. Paniling dan Darba yang merasa pentingnya kehadiran Mahesa Jenar di tanah perdikan yang kehilangan pemimpin itu, segera mengizinkannya, diiringi beberapa pesan dari seorang tua yang telah banyak makan garam, kepada seorang pemuda yang darahnya masih cepat mendidih. Disamping itu, Paniling juga memesannya untuk tidak berkata apa-apa tentang Pasingsingan apabila tidak dianggapnya perlu sekali. Sebab sampai saat itu, belum ada orang lain yang pernah mengenal wajah asli dari Pasingsingan, apalagi Pasingsingan tua, guru Radite, yang pada saat itu, baik Radite maupun Anggara tidak tahu apakah Pasingsingan masih hidup ataukah sudah tidak ada lagi.

Maka pada suatu pagi yang cerah, diiringi oleh kicauan burung-burung liar, Mahesa Jenar melangkah dengan segarnya menuju ke Banyubiru.

Bagaimanapun ia merasa bahwa ia ingin segera sampai. Sebenarnya daerah Banyubiru, yang paling menarik bagi Mahesa Jenar adalah Arya Salaka. Kepada anak ini Mahesa Jenar menaruh perhatian sepenuhnya. Apalagi sejak ayahnya Ki Ageng Gajah Sora, menyerahkan Arya kepadanya dalam olah kanuragan. Maka seolah-olah ia telah dibebani suatu tanggungjawab. Apabila kelak pada waktunya Arya dewasa, dengan tidak memiliki sesuatu yang pantas dipakai sebagai pegangan bagi seorang kepala daerah perdikan, maka ialah yang paling dapat disalahkan.

Mengenangkan hal itu, tiba-tiba saja Mahesa Jenar ingin segera sampai ke Banyubiru. Karena itu segera ia mempercepat langkahnya. Tetapi karena ia menempuh suatu perjalanan yang belum pernah dilalui sebelumnya, dan hanya dikenalnya dari ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Paniling, maka perjalanannya tidak dapat terlalu cepat. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengenali jalan-jalan dan tempat-tempat seperti yang disebut oleh Paniling.

Dengan demikian maka ia tidak dapat mencapai Banyubiru dalam sehari. Meskipun matahari telah tenggelam di langit, Mahesa Jenar dengan perlahan-lahan tetap melanjutkan perjalanannya. Apalagi ketika dari jarak yang agak jauh, remang-remang di hadapannya hanya taburan bintang-bintang. Mahesa Jenar melihat bayangan hitam yang membujur seperti seorang raksasa yang baru berbaring. Itulah pegunungan Telamaya. Karena itu maka Mahesa Jenar seakan-akan merasa terhisap oleh pegunungan itu, serta rasa rindunya kepada Arya Salaka semakin menjadi-jadi. Segera ia pun mempercepat langkahnya. Rasanya Mahesa Jenar sudah tidak sabar lagi terhadap kakinya yang sudah mulai lelah.

Tetapi ketika ia sudah semakin dekat, tiba-tiba dadanya berdentam keras sehingga tubuhnya menjadi gemetar. Dari kota Banyubiru Mahesa Jenar melihat nyala api yang semakin lama semakin besar.

Sekarang Mahesa Jenar menjadi benar-benar tidak sabar lagi. Seperti seekor kijang yang sedang diburu, Mahesa Jenar meloncat dan kemudian berlari sekencang kencang ke arah api yang menyala-nyala. Apalagi sebentar kemudian didengarnya suara tanda bahaya menggema memenuhi seluruh daerah pegunungan Telamaya.

Dengan nafas yang terengah-engah akhirnya Mahesa Jenar berhasil memasuki kota. Ia berjalan hati-hati sekali. Beberapa kali ia melihat orang-orang berkuda berlari hilir-mudik. Beberapa orang sudah dikenalnya sebagai laskar Banyubiru. Tetapi beberapa yang lain sama sekali belum pernah dilihatnya. Untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diingini, Mahesa Jenar selalu berusaha menyembunyikan dirinya di balik bayang-bayang pepohonan atau di samping rumah-rumah. Sekali-sekali ia berlari dari satu tempat kelain tempat sambil mendekati tempat kebakaran. Ketika Mahesa Jenar berhasil mendekati tempat itu, dilihatnya laskar Banyubiru terlibat dalam satu pertempuran dengan laskar yang sama sekali belum dikenalnya. Pertempuran itu berlangsung dengan serunya, sehingga kedua belah pihak telah kehilangan ikatan kesatuannya. Mereka seolah-olah bertempur tanpa pimpinan. Dari jarak yang agak dekat akhirnya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa pasukan Banyubiru berada di bawah pimpinan Bantaran, yang agaknya merasa terdesak. Bantaran sendiri bertempur seperti harimau luka, tetapi musuhnya terlampau banyak.

Sebentar kemudian terdengar derap pasukan yang berlari dari arah barat. Dan muncullah laskar bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana. Pasukan ini pun segera melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit itu.

Dengan datangnya bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana, tampak laskar Banyubiru dapat mencapai keseimbangan kembali. Bahkan agaknya sebentar kemudian mereka akan segera dapat menguasai keadaan.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. Sehilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, apakah kira-kira yang masih mereka cari di Banyubiru? Teringatlah Mahesa Jenar kepada kedudukan Arya Salaka. Ayahnya yang dibawa ke Demak untuk waktu yang tak ditentukan, bahkan karena serangan laskar Lembu Sora atas pasukan Demak, mempunyai kemungkinan yang lebih tak menyenangkan bagi Gajah Sora. Ia menyerahkan kekuasaan Banyubiru kepada Arya. Ini berarti suatu rintangan langsung bagi Lembu Sora untuk dapat menguasai Banyubiru.

Karena itu, Mahesa Jenar segera memperhitungkan setiap kemungkinan. Ia memang agak heran bahwa daerah yang tak berarti di pinggiran kota ini menjadi tujuan serangan lawan. Rumah yang sama sekali tidak penting kedudukannya, kecuali banjar-banjar desa, juga bangunan-bangunan lain yang juga tidak begitu berarti.

Mengingat hal itu, maka segera Mahesa Jenar mengambil kesimpulan, bahwa serangan ini hanyalah suatu usaha untuk menarik perhatian semata-mata. Sedang tujuan yang sebenarnya adalah tempat lain. Mendapat pikiran yang demikian, Mahesa Jenar menjadi bertambah gemetar. Ia menjadi cemas atas keselamatan Arya. Karena itu segera ia meloncat dan berlari dari satu tempat yang terlindung ke tempat yang lain menuju ke rumah Gajah Sora, sehingga beberapa saat kemudian ia telah dapat mendekati rumah itu. Sebenarnyalah bahwa apa yang dicemaskan itu benar-benar terjadi. Mahesa Jenar mendengar keributan di halaman rumah itu. Agaknya telah terjadi suatu pertempuran pula. Perlahan-lahan ia menyusur regol samping, dan dilihatnya Wanamerta dan Pandan Kuning serta beberapa orang sedang bertempur menghadapi lawan yang jumlahnya berlipat dua. Apalagi diantara para penyerang itu terdapat pula beberapa orang yang termasuk berilmu cukup tinggi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menjadi agak bimbang. Apakah ia harus melibatkan diri, ataukah masih harus ditunggunya perkembangan seterusnya.

Tetapi segera Mahesa Jenar dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melontar keluar lewat pintu belakang. Bayangan dari seorang anak yang masih belum dewasa. Cepat Mahesa Jenar mengenal, itulah Arya.

Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, dilihatnya Arya merapatkan dirinya pada dinding di sebelah pintu. Sesaat kemudian muncullah bayangan lain meloncat keluar dari pintu itu pula. Tetapi demikian bayangan itu melangkahkan kakinya keluar ambang, demikian Arya dengan tangkasnya menusuk lambungnya, sehingga dengan tidak dapat berbuat sesuatu orang itu terlempar dan roboh mati. Sedang tangan Arya dengan eratnya menggenggam tombak Kyai Bancak.

Tetapi kemudian dari pintu itu muncullah beberapa orang bersama-sama. Agaknya mereka melihat seorang kawan mereka yang dapat dibunuh oleh Arya, sehingga mereka meloncat keluar dengan kesiagaan penuh. Karena itu, ketika Arya menusuk orang yang pertama, segera tampaklah orang itu menangkis serangan Arya dengan sebuah pedang pendek, sehingga Arya terputar setengah lingkaran.

Tetapi agaknya Arya bukan anak yang bodoh. Maka demikian serangannya gagal, segera ia meloncat untuk melarikan diri. Sayang bahwa orang yang mengejarnya cukup banyak segera mengepungnya.

Tampaklah Arya Salaka yang sama sekali belum cukup dewasa itu menjadi bingung.

Tetapi belum lagi orang-orang yang mengepungnya sempat bertindak, melayanglah sebuah bayangan lain, yang langsung menyerang orang-orang itu. Tubuhnya tampak ringan tetapi kuat dan tangkas. Orang itu adalah Panjawi, seorang yang masih muda, tetapi telah memiliki ketangkasan yang cukup. Dengan pedang di tangan, Panjawi bergerak menyambar-nyambar seperti burung layang. Dalam waktu yang singkat, beberapa orang telah menjadi korbannya.

Orang-orang yang mengepung Arya itu segera mengalihkan perhatiannya. Mereka bersama-sama segera menyerang Panjawi. Tetapi Panjawi adalah orang yang cukup tangkas, sehingga beberapa orang itu sama sekali tak berhasil mendesaknya. Apalagi beberapa saat kemudian berdatanganlah beberapa orang laskar Banyubiru yang segera membantu Panjawi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menarik nafas lega. Ia juga merasa kagum kepada Panjawi. Meskipun anak itu masih harus banyak berlatih, namun ia memiliki dasar-dasar yang baik dan kuat.

Tetapi sejenak kemudian, Mahesa Jenar terkejut mendengar sebuah siulan nyaring. Ia pernah mendengar bunyi yang demikian itu. Bunyi siulan dari gerombolan Lawa Ijo. Dan apa yang sedang dipikirkan itu adalah benar. Sebab sesaat kemudian ia melihat bayangan yang melayang dari sebuah pohon langsung menyerang Panjawi. Untunglah bahwa Panjawi cukup tangkas untuk menghindari serangan itu, sehingga bayangan itu tidak berhasil mengenainya. Bahkan demikian Panjawi meloncat menghindar, demikian kembali ia meloncat menyerang bayangan itu dengan pedangnya. Serangan Panjawi ternyata cukup cepat, sehingga bayangan itu tidak sempat menghindar. Dengan sebuah pisau belati panjang, ia menangkis pedang yang mengarah ke dadanya. Terdengarlah suatu dentangan nyaring. Dan ternyata kekuatan mereka seimbang. Dalam pada itu, Mahesa Jenar segera mengenal bahwa bayangan yang meloncat dari atas pohon itu adalah Wadas Gunung.

Segera terjadilah pertempuran yang sengit antara Wadas Gunung dan Panjawi, sedang di lain pihak terjadi pula pertempuran yang hiruk-pikuk antara laskar Banyubiru melawan laskar-laskar penyerang.  Pada saat itu, pada saat mereka sedang sibuk mempertahankan hidup masing-masing, tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam dapat melihat bayangan lain yang datang mengendap-endap ke arah Arya Salaka yang masih saja mengawasi pertempuran itu dengan mata yang menyala-nyala. Ia sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri, sebab ia yakin bahwa Panjawi serta laskarnya akan dapat memenangkan pertempuran itu. Bahkan dengan girangnya ia melihat pertempuran itu seperti melihat tontonan yang sangat menarik.

Dengan berdebar-debar Mahesa Jenar mengikuti gerak gerik orang itu. Melihat caranya bergerak, Mahesa Jenar dapat meyakini bahwa ia pasti memiliki ilmu yang cukup tinggi. Karena itu Mahesa Jenar tidak mau menonton saja. Ia pun kemudian dengan mengendap-endap pula mendekati Arya Salaka dari arah lain. Untunglah bahwa ia lebih dahulu dapat melihat bayangan itu sehingga dengan demikian ia dapat lebih berhati-hati. Ternyata sampai sedemikian jauh bayangan itu belum mengetahui bahwa dari arah lain pula seseorang yang sedang mendekati Arya Salaka.

Setelah jarak mereka tidak lagi begitu jauh, terasa di dalam dada Mahesa Jenar jantungnya berdesir keras. Ia mengenal dengan pasti siapakah orang itu. Dan ia tahu pasti pula apakah yang akan dilakukannya terhadap Arya. Pedang yang terlalu besar dan panjang di tangan orang itu telah menambah pula keyakinan Mahesa Jenar. Orang itu tidak lain adalah Ki Ageng Lembu Sora.

Pada kesempatan yang pendek itu, berputarlah otak Mahesa Jenar. Sebenarnya, pada saat itu ia mendapat kesempatan untuk membuat perhitungan dengan Lembu Sora, dengan alasan yang tepat. Tetapi mengingat pesan Paniling, apakah pada saat itu, orang-orang lain, seperti Uling Rawa pening, Sima Rodra, Lawa Ijo dan sebagainya tidak berada pula di tempat itu? Karena itu seharusnya ia tidak melawan mereka bersama-sama. Mengingat hadirnya Wadas Gunung, maka kemungkinan hadirnya Lawa Ijo adalah besar sekali. Karena itu terjadi suatu pertentangan di dalam diri Mahesa Jenar. Perasaannya ingin membawanya ke dalam suatu perhitungan jasmaniah yang menentukan. Tetapi pikirannya yang telah dipengaruhi oleh pertimbangan dan nasehat Paniling mengajaknya untuk berbuat lain.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar dapat berpikir secara wajar, sehingga ditemukannya suatu pemecahan yang tidak terlalu berbahaya.

Pada saat itu, Lembu Sora telah dekat benar dengan Arya Salaka yang dengan tombak di tangan masih saja perhatiannya terikat pada pertempuran yang sengit antara Panjawi dan Wadas Gunung, serta laskar Banyubiru melawan laskar-laskar yang menyerangnya.

Ternyata Lembu Sora sudah tidak mau membuang waktu lagi. Meskipun mula-mula ia tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya dengan suatu gerakan yang dahsyat ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya. Meskipun demikian, karena anak yang berdiri di hadapannya itu, bagaimanapun juga adalah kemenakannya, maka pada saat pedangnya terayun deras, Lembu Sora memejamkan matanya.

Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika pedangnya sama sekali tak menyentuh apapun. Bahkan ia sendiri telah tertarik oleh kekuatannya serta ayunan pedangnya sehingga hampir saja ia tertelungkup. Pada saat Lembu Sora berusaha untuk menguasai dirinya, dilihatnya sebuah bayangan yang melayang menyusup regol samping dan hilang di dalam gelap malam. Cepat Lembu Sora meloncat menyusulnya, tetapi ia sama sekali tidak dapat lagi melihat bayangan yang telah hilang bersama-sama dengan hilangnya Arya Salaka, beserta tombak tanda kebesaran Banyubiru, Kyai Bancak. Pada saat yang tepat, ternyata Mahesa Jenar telah berhasil menarik Arya dan langsung dibawanya lari. Ia masih mempunyai kelebihan waktu beberapa saat dari Lembu Sora yang sedang memperbaiki keseimbangannya pada saat ia terbawa oleh pedangnya yang terayun deras. Karena itu Lembu Sora sudah tidak berhasil untuk dapat mengejarnya.

Pada saat itu, dada Lembu Sora terguncang luar biasa. Kegagalannya pada saat yang menentukan itu sangat menyakitkan hatinya. Hampir saja ia menjadi mata gelap dan menghancurkan Banyubiru serta seluruh isinya. Tetapi otaknya yang licin telah menyelamatkannya. Cepat ia menyelinap, dan dengan kudanya yang tangkas ia berlari kencang-kencang kembali ke Pamingit. Setelah dengan rahasia ia memberikan aba-aba kepada laskar gabungan itu untuk segera meninggalkan Banyubiru, diikuti pula oleh sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, untuk kemudian dengan laskar murni dari Pamingit.  Lembu Sora akan datang kembali, dengan dalih untuk memberi perlindungan kepada daerah perdikan, yang dikuasai oleh kakaknya, yang terpaksa tidak dapat menjalankan kewajibannya.

Arya Salaka yang merasa dirinya ditangkap oleh seseorang tanpa diketahui dari mana arahnya, menjadi terkejut sekali. Dengan gerak diluar kesadarannya ia menusuk orang yang menangkapnya dengan tombaknya, tetapi orang itu sangat tangkasnya, sehingga tombaknya malahan telah dirampasnya.

Dengan demikian Arya menjadi marah dan cemas. Segera ia meronta untuk melepaskan diri. Tetapi ketika ia hampir saja berteriak-teriak, didengarnya orang itu berkata, “Jangan ribut Arya, kita bersembunyi untuk beberapa saat.

Arya terperanjat mendengar suara itu, suara yang telah dikenalnya. “Paman Mahesa Jenar?” desisnya.

“Ya,” jawab Mahesa Jenar singkat.

Mendengar jawaban itu, hati Arya Salaka segera menjadi sejuk seperti disiram embun. Ketakutan, kecemasan dan kebingungan yang menusuk-nusuk dadanya seketika itu lenyap seperti asap ditiup angin.

Beberapa saat kemudian, setelah Mahesa Jenar merasa aman dari kemungkinan dapat diketemukan oleh Lembu Sora dan laskarnya, segera memberhentikan langkahnya. Nafasnya berjalan cepat, serta jantungnya berdetakan karena perasaan-perasaan yang bercampur-baur di dalam kepalanya.

Setelah mereka berdua agak tenang, berkatalah Mahesa Jenar, “Arya, tahukan kau siapakah yang telah menyerang Banyubiru?

“Tidak Paman,” jawab Arya.

“Kapankah serangan itu mulai?” tanya Mahesa Jenar pula.

“Sejak matahari terbenam. Tiba-tiba saja terjadi kerusuhan-kerusuhan di dalam kota. Untunglah bahwa Kakek Wanamerta segera bertindak untuk mengatasi keributan. Meskipun demikian ternyata para penyerang itu berkekuatan besar sekali, sehingga untuk keselamatan selanjutnya, Kakek Wanamerta merasa perlu atas persetujuan beberapa pemimpin yang lain serta atas persetujuan Ibu untuk mengirimkan permintaan bantuan ke Pamingit, kepada Paman Lembu Sora, sebab kalau kerusuhan itu berlarut-larut tidak dapat teratasi, maka Banyubiru akan semakin rusak.

Mendengar keterangan Arya Salaka itu, bergolaklah hati Mahesa Jenar. Ternyata para pemimpin Banyubiru sama sekali masih belum mengetahui bahwa sumber dari segala bencana itu justru Lembu Sora sendiri. Puncak dari kejahatannya adalah suatu usaha untuk membinasakan Arya Salaka. Padahal saat itu, para pemimpin Banyubiru datang minta perlindungan kepadanya.

“Arya…,” kata Mahesa Jenar kemudian, “Ketahuilah bahwa jiwamu terancam. Karena itu sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara waktu.” Mahesa Jenar tidak meneruskan kata-katanya. Ia menjadi ragu, apakah sebaiknya ia harus mengatakan terus terang tentang apa yang terjadi sebenarnya, ataukah ia harus berkata lain.

Arya Salaka menjadi keheran-heranan mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Apakah kepentingan orang-orang kita itu membunuhnya? Tetapi baru saja, apa yang telah terjadi, agaknya memang benar. Beberapa orang telah mengejar-ngejar Arya Salaka, dengan senjata terhunus.

Arya menarik nafas panjang. Otaknya yang masih belum cukup masak itu belum dapat menangkap masalah-masalah yang terlalu sulit. Karena itu ia tidak berpikir lebih lanjut. Apalagi sekarang ia sudah merasa bahwa dirinya telah mendapat perlindungan.

Ketika melihat wajah Arya yang seolah-olah masih bersih dari segala macam prasangka, Mahesa Jenar tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya, oleh karena kekhianatan pamannya.

Dengan melihat kenyataan itu, ada kemungkinan timbul suatu luka yang berbahaya pada jiwa kanak-kanaknya. Mungkin ia akan kehilangan seluruh kepercayaan pada seseorang. Apalagi orang lain, sedang pamannya sendiri telah melakukan kejahatan terhadap dirinya.

Karena itu, Mahesa Jenar harus berkata lain kepada Arya Salaka, meskipun maksudnya adalah sama. Mengajak Arya Salaka untuk sementara bersembunyi. Katanya, “Arya…, mungkin orang-orang jahat sedang berusaha untuk menangkapmu. Sebab kau sekarang adalah penjabat kepala daerah perdikan Banyubiru. Dengan menangkap kau, orang-orang itu akan mengharapkan keuntungan. Mungkin kau akan dijadikan tanggungan atas suatu pemerasan terhadap Banyubiru. Tetapi juga ada kemungkinan yang lebih berbahaya lagi bagi dirimu, yaitu menghendaki jiwamu.

Arya Salaka mengangguk-angguk, tetapi jawabannya sangat memusingkan Mahesa Jenar, katanya, “Aku tidak perlu takut, Paman, sebab sebentar lagi Paman Lembu Sora pasti akan datang. Dengan adanya Paman Lembu Sora beserta laskarnya serta hadirnya Paman Mahesa Jenar di Banyubiru, maka aku kira tak akan ada seorang pun lagi yang berani mengganggu tanah kami.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia mendapat kesulitan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Justru adanya Lembu Sora di Banyubiru itulah maka bahaya dapat datang setiap saat bagi Arya Salaka. Setelah berpikir beberapa saat berkatalah Mahesa Jenar, “Arya, kalau mereka menyerang dengan terang-terangan maka laskar Banyubiru dan Pamingit pasti akan dapat menghalaunya, tetapi untuk menangkap atau berbuat hal-hal jahat lainnya terhadapmu, adalah seribu satu cara yang dapat ditempuh. Karena itu menurut pertimbanganku, sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara. Selama itu, selama keadaan belum memungkinkan, kau tidak perlu menampakkan diri terhadap siapapun. Aku akan berusaha untuk menghubungi pemimpin-pemimpin Banyubiru, selama kau di dalam persembunyian. Selama itu, kau sempat belajar beberapa hal yang perlu bagi keselamatanmu. Bukankah ayahmu minta kepadaku untuk melatihmu dalam olah kanuragan?”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, serta kesempatan baginya untuk memperdalam pengetahuannya dalam berbagai ilmu, Arya menjadi gembira. Maka jawabnya, “Baiklah Paman…, kalau Paman mempertimbangkan demikian. Tetapi Ibu pasti akan selalu mencari aku dan mencemaskan keselamatanku.”

“Bagus Arya, pada suatu saat kau akan kembali ke tanah ini, dan kau akan memelihara tanah ini sebagai tanah pusaka. Kau harus menjadikan tanah ini tanah harapan bagi masa depan. Bukankah ayahmu selalu mengharap kau menjadi seorang pahlawan?”

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya menjadi cerah seperti bintang pagi yang berkilau-kilau, karena kebesaran hatinya.

“Kepada ibumu,” Mahesa Jenar melanjutkan, “aku akan selalu berusaha menyampaikan setiap berita tentang dirimu.”

Sekali lagi Arya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sesaat kemudian keadaan menjadi sepi. Dengan pancainderanya yang tajam, Mahesa Jenar sedang mengamati keadaan.

Maka setelah menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sudah tidak ada lagi bahaya yang mengancam, serta hiruk-pikuk pertempuran sudah tidak terdengar lagi, berkatalah ia kepada Arya, “Arya…, agaknya keadaan telah bertambah baik. Meskipun demikian, kau harus berusaha untuk tidak menampakkan diri. Baik kepada para pemimpin Banyubiru maupun kepada ibu serta rakyatmu. Siapa tahu bahwa masih ada musuh-musuh yang bersembunyi, yang akan dapat menjebak atau menyerang kau dari jarak jauh. Karena itu marilah untuk sementara kita tinggalkan tanah ini dengan suatu keyakinan bahwa kau pasti akan kembali dalam keadaan aman dan sentosa.”

Arya Salaka tidak menjawab kata-kata Mahesa Jenar. Wajahnya jadi tampak suram. Bagaimanapun juga, untuk meninggalkan tanah kelahiran, kampung halaman, dimana setiap hari ia bermain-main, dimana setiap hari ia meneguk airnya, serta segala-galanya yang ia cintai, adalah berat sekali bagi seorang anak seumur Arya Salaka.

Agaknya Mahesa Jenar dapat menebak perasaan Arya, maka sambungnya, “Lupakanlah semuanya, Arya. Kau hanya pergi untuk sementara, dengan suatu kepastian bahwa kau akan kembali.”

Kembali Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya menjadi bertambah suram. Katanya, “Mudah-mudahan Ibu selamat. Serta mudah-mudahan Ibu segera mengetahui bahwa akupun selamat.”

“Aku akan segera berusaha untuk memberitahukan itu, Arya,” potong Mahesa Jenar.

“Tetapi pohon jeruk yang aku pelihara dan aku siram setiap hari itu kini sudah mulai berbunga,” jawab Arya.

Mahesa Jenar menjadi terharu mendengar kata-kata Arya yang memancar dari hatinya yang tulus. Tetapi yang lebih merisaukan hati Mahesa Jenar adalah, bahwa besok Lembu Sora akan datang untuk melindungi Banyubiru serta berusaha menelan tanah serta segala isinya.

Tetapi bagaimanapun, menyelamatkan Arya adalah tugas yang pertama-tama harus dilakukan. Sebab Arya adalah satu-satunya pewaris tanah perdikan Banyubiru, yang justru karena itulah maka jiwanya selalu terancam. Karena itu, Mahesa Jenar menganggap perlu untuk segera meninggalkan daerah ini sebelum Lembu Sora datang dan memerintahkan untuk mengaduk seluruh sudut Banyubiru. Pasti Lembu Sora akan berbuat demikian, dengan alasan untuk keselamatan Arya Salaka. Tetapi tidak mustahil bahwa kepada laskar Pamingit ia memerintahkan untuk menemukan Arya dalam keadaan mati. Bukankah dengan demikian Ki Ageng Lembu Sora bebas dari segala prasangka? Sedang apabila yang menemukan laskar Banyubiru serta membawa Arya kembali, umurnya pasti tidak akan panjang pula.

Mendapat pertimbangan itu maka segera Mahesa Jenar mengajak Arya untuk berangkat. “Arya, kita jangan menunggu terlampau lama. Marilah kita berangkat selagi kesempatan ada. Siapa tahu bahwa keadaan akan berkembang ke arah yang tidak kita harapkan.”

“Marilah Paman,” jawab Arya dengan wajah sayu.

Mahesa Jenar menjadi tambah terharu ketika didengarnya Arya mengatupkan giginya rapat-rapat. Ternyata anak itu sedang berusaha untuk membendung perasaan harunya meninggalkan kampung halaman. Namun bagaimanapun juga tampaklah bahwa matanya menjadi basah oleh air mata. Mata seorang anak yang masih seharusnya mendapat kasih sayang ayah-ibunya. Tetapi karena keadaan, ia harus berpisah dengan ayah-ibu yang ia cintai.

Pada saat itu bulan yang tinggal seperempat bagian telah muncul di langit sebelah timur. Cahayanya yang merah tembaga tersebar meremangi seluruh pegunungan Telamaya yang sepi, namun mengerikan. Sebab setiap hati dari penduduk Banyubiru diselubungi oleh kecemasan dan ketakutan. Hilangnya Gajah Sora dari daerah ini, ternyata sangat mempengaruhi semangat mereka.

Dalam keremangan bulan yang samar-samar itu, Mahesa Jenar menggandeng Arya berjalan dengan sangat hati-hati menyusup semak-semak untuk menjauhi kota.

“Kita pergi ke mana Paman?” tanya Arya tiba-tiba.

Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Ia sendiri belum pernah berpikir ke mana Arya akan diajak pergi. Tiba-tiba ia teringat kepada suatu daerah terpencil yang dicikal-bakali oleh Ki Paniling dan Darba. Yaitu daerah di hutan Pudak Pungkuran. Ia mengharapkan Ki Paniling akan mengizinkan ia tinggal untuk sementara bersama Arya di sana. Maka kemudian jawabnya, “Kita pergi ke Pudak Pungkuran, Arya.”

“Pudak Pungkuran?” ulang Arya. Ia belum pernah mendengar sama sekali daerah itu. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Sebenarnya Mahesa Jenar ingin membawa Arya untuk pergi sejauh-jauhnya. Sebab menurut perhitungan Arya, semakin jauh dari Banyubiru, jiwa Arya pasti akan semakin aman. Tetapi untuk sementara ia tetap terikat kepada Banyubiru, kepada Rawa Pening. Sebab meskipun agaknya sudah semakin hambar, namun pertemuan akhir tahun dari golongan hitam akan tetap dilaksanakan.

Kemudian setelah itu Mahesa Jenar dan Arya Salaka tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sedang disibukkan oleh pikiran masing-masing. Pikiran tentang keadaan kini serta masa datang. Sedangkan pikiran Mahesa Jenar diganggu oleh Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi andaikata kedua keris itu untuk seterusnya tidak dapat diketemukan? Tidakkah ada seseorang yang kelak dapat melangsungkan kejayaan Demak? Sebab menurut kepercayaan, siapa yang kuat memiliki kedua keris itulah, yang kuat pula menerima wahyu kraton.

Pikiran-pikiran Mahesa Jenar dirisaukan pula oleh kenyataan adanya dua garis keturunan yang sama-sama berhak atas tahta. Yaitu putra-putra Sultan Demak sekarang, sedangkan yang lain adalah putra almarhum Sekar Seda Lepen yang dalam keadaan belum dewasa telah mewarisi Kadipaten Jipang, bernama Penangsang. Penangsang sebenarnya memiliki kesempatan yang besar untuk menduduki tahta, seandainya ayahnya tak terbunuh. Meskipun demikian tidak mustahil kalau pada suatu saat ia akan menuntut pula haknya serta mengadakan perhitungan dengan pembunuh ayahnya. Pada saat yang demikianlah akan terjadi suatu perjuangan yang hebat. Kalau mereka sama-sama percaya bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten adalah sumber kekuatan untuk menerima wahyu kraton, maka perjuangan untuk mendapatkan kedua pusaka itu pun akan menjadi bertambah ramai.

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar dari angan-angannya oleh suara derap kuda yang mendatanginya. Segera ia menghentikan langkahnya dan dengan saksama memperhatikan suara itu. Ternyata suara itu semakin lama semakin dekat tepat ke arahnya, sepanjang jalan hutan yang sempit. Karena itu, segera ia menarik Arya untuk segera bersembunyi, sebab ia masih belum tahu siapakah para penunggangnya.

Beberapa saat kemudian terdengar derap itu menjadi tidak secepat tadi. Agaknya jalan kuda itu diperlambat ketika menyusup jalan sempit serta banyak rintangan sulur-sulur pepohonan liar. Ternyata penunggang kuda itu lebih dari 3 atau 4 orang.

Mahesa Jenar dan Arya Salaka yang bersembunyi di dalam semak, segera menahan nafas ketika kuda-kuda itu hampir lewat di depannya. Tiba-tiba terdengar salah seorang berkata, “Kakang, ke mana kita akan mencari?”

“Entahlah,” jawab yang lain. “Mencari seseorang di daerah yang seluas ini adalah sulit sekali.”

“Tidak mungkinkah anak itu dilarikan ke Demak untuk melaporkan segala sesuatu yang terjadi kepada Sultan?” kata yang lain pula.

Telah diperintahkan untuk memotong jalan.

“Dan itu tak mungkin dilakukan,” sahut yang lain lagi. “Kalau orang yang melarikan anak itu bukan orang yang bodoh, ia pasti tidak akan pergi ke Demak. Sebab tidak akan ada gunanya. Kecuali kalau dapat ditunjukkan bukti-buktinya, atau yang berkepentingan tertangkap pada saat itu. Apalagi Sultan sedang murka kepada Gajah Sora.”

Setelah itu, tak terdengar lagi suara mereka. Sedang derap kuda itu semakin lama terdengar semakin jauh dan kemudian menghilang.

Ketika sudah tidak ada tanda-tanda yang membahayakan lagi, segera Mahesa Jenar bangkit dan menggandeng Arya untuk berjalan kembali. Mahesa Jenar agak terkejut ketika dirasanya tangan Arya gemetar. Segera ia dapat menduga perasaan anak itu. Meskipun ada juga perasaan takut, tetapi pasti Arya menjadi marah sekali mendengar percakapan orang-orang itu. Ketika baru tiga-empat langkah mereka berjalan, mendadak Mahesa Jenar menghentikan langkahnya. Ia mendapat suatu pikiran bahwa jalan ini pasti merupakan jalan yang berbahaya. Orang-orang tadi dapat dengan segera kembali dan mungkin ada orang lain yang mencari lewat jalan ini pula. Karena itu segera ia mempertimbangkan untuk mengambil jalan lain. Ia tidak mau menanggung akibat tertangkapnya Arya, apabila ia tidak dapat melawan orang-orang yang mencarinya.

“Arya…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Ternyata jalan ini adalah jalan yang berbahaya. Karena itu marilah kita ambil jalan lain.”

Arya tidak menjawab, tetapi ia hanya menganggukkan kepalanya.

Maka, karena pertimbangan itu, segera Mahesa Jenar dan Arya Salaka membelok menyusup hutan untuk mengambil jalan lain.

Mereka berjalan dengan agak tergesa-gesa. Mahesa Jenar mengharap untuk dapat segera sampai ke Pudak Pungkuran dan menitipkan Arya di sana. Setelah itu ia akan berusaha dengan bersembunyi menemui Wanamerta dan ibu Arya, untuk membeberkan peranan Lembu Sora yang sebenarnya.

Ternyata Arya pun adalah anak yang betah berjalan. Meskipun tampaknya ia agak lelah, ketika Mahesa Jenar mengajaknya beristirahat anak itu menolak. Maka mereka pun berjalan terus di dalam gelapnya malam.

Mahesa Jenar memang pernah pergi ke Pudak Pungkuran. Dan ia telah pula mengenal jalan dari tempat itu ke Banyubiru. Tetapi sekarang untuk menghindari bahaya, ia menempuh jalan lain. Jalan yang belum pernah dilewatinya. Karena itu ia menjadi agak bingung dan kesulitan untuk menemukan arah yang tepat di dalam gelap serta di dalam hutan yang belum pernah dijamahnya.

Maka kemudian ketika fajar menyingsing, serta melemparkan warna kemerahan ke segenap penjuru, insyaflah Mahesa Jenar bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang sama sekali tidak mengarah ke Pudak Pungkuran.

Karena itu dengan hati berdebar-debar ia berkata, “Arya.., agaknya aku telah kehilangan jurusan untuk mencapai Pudak Pungkuran.”

Arya memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang tidak mengerti. “Lalu ke mana kita pergi, Paman?”

Mahesa Jenar menarik nafas. Dengan hilangnya arah Pudak Pungkuran, ia tidak lagi mempunyai suatu tujuan tertentu lagi. Karena itu ia menjawab, “Arya, tujuan bukanlah hal yang penting bagi kita. Kemanapun kita akan pergi, adalah sama saja. Sebab akhirnya kita akan kembali lagi ke Banyubiru. Karena itu, jangan dirisaukan tujuan kita.”

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi badannya sudah bertambah letih. Meskipun demikian Arya masih belum mau untuk beristirahat. Karena itu kembali mereka berjalan menyusur hutan yang tidak begitu lebat. Meskipun perlahan-lahan, namun mereka setapak demi setapak tetap maju.

Ketika matahari sudah mencapai ujung pepohonan, hutan yang ditempuh itu sudah semakin menipis. Sejenak kemudian tuntaslah hutan itu. Mahesa Jenar dan Arya Salaka segera menempuh padang rumput yang tidak begitu luas untuk segera sampai ke daerah yang didiami orang.

Di sinilah mereka beristirahat. Orang-orang yang membangun daerah itu menjadi pedesaan, ternyata adalah orang-orang yang ramah dan baik hati. Yang menerima Mahesa Jenar dan Arya Salaka sebagai seorang perantau beserta anaknya, dengan senang hati.

Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak dapat untuk seterusnya menetap di tempat itu, sebab menurut pertimbangannya, tempat itu masih terlalu dekat dengan Banyubiru. Karena itu ketika ia beserta Arya telah beristirahat satu malam, mereka minta izin kepada penduduk desa itu untuk segera meneruskan perjalanan. Terpaksa Mahesa Jenar membohongi orang-orang desa itu, dengan mengatakan arah yang bertentangan dengan arah yang sebenarnya hendak ditempuh, untuk menghindari orang-orang yang mencari mereka, kalau-kalau menanyakan kepada penduduk, apabila mereka sampai di tempat itu.

Pada hari berikutnya Mahesa Jenar sampai pula pada sebuah desa yang lain. Penduduk desa ini terdiri dari orang-orang yang baik hati dan ramah pula. Mereka menerima Mahesa Jenar dengan senang hati, serta dengan gembira mereka menerima Mahesa Jenar sebagai warga baru di desa itu. Di daerah ini Mahesa Jenar merasa, bahwa keamanan Arya telah dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu ia pun menyatakan diri sebagai keluarga baru serta dengan bekerja keras ia pun segera membangun perumahan serta menebas hutan untuk tanah pertanian, sebagaimana dilakukan oleh setiap pendatang. Di tempat kediamannya yang baru itu Mahesa Jenar dianggap tidak lebih dari seorang petani biasa. Seorang yang seperti kebanyakan penduduk di desa itu, yang datang untuk sekadar dapat memperbaiki nasibnya dengan mengolah tanah yang sedikit lebih subur dibanding daerah mereka semula.

Demikianlah Mahesa Jenar dan Arya Salaka telah memulai dengan suatu penghidupan baru, sebagai seorang petani yang bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Setiap pagi mereka pergi ke ladang, menggarap tanah seperti yang dikerjakan oleh orang lain pula.

Tetapi disamping itu, yang tak seorang pun mengetahuinya adalah, di dalam setiap kesempatan, terutama apabila matahari telah terbenam, Mahesa Jenar dengan tekunnya menuntun Arya dalam berbagai ilmu. Tidak saja olah kanuragan, tetapi juga tata pergaulan, kesusasteraan dan sebagainya. Lebih dari itu, Mahesa Jenar juga selalu memberi petunjuk-petunjuk tentang keluhuran budi dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, juga sedikit mengenai ilmu keprajuritan dan siasat. Sedikit demi sedikit, namun pasti, Arya setiap saat tumbuh menjadi seorang pemuda yang perkasa serta memiliki berbagai macam pengetahuan.

———-oOo———-

 

IV

Sementara itu terjadilah berbagai perubahan di Banyubiru. Pada malam Arya dilarikan oleh Mahesa Jenar, Wanamerta telah mengutus beberapa orang untuk minta perlindungan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Ketika utusan Wanamerta sampai di Pamingit, Lembu Sora justru baru berada di Banyubiru, sehingga utusan itu terpaksa menunggu untuk beberapa lama. Baru beberapa saat kemudian Ki Ageng Lembu Sora dengan tergesa-gesa datang kembali. Tentu saja ia sama sekali tidak mengatakan bahwa ia baru datang dari Banyubiru.

Mendengar permintaan utusan Wanamerta itu, hati Lembu Sora menjadi gembira sekali. Tanpa berpikir lagi segera ia menyanggupinya. Pada saat itu pula Ki Ageng Lembu Sora segera mengumpulkan pasukannya, pasukan murni dari Pamingit, yang dianggapnya pilihan serta dapat dipercaya. Ia sendiri kemudian berangkat memimpin orang-orangnya untuk melindungi perdikan Banyubiru. Tetapi ketika pasukan itu sampai, keadaan telah reda. Para penyerang telah menarik diri.

Meskipun demikian, dalam pertemuan yang diadakan oleh Lembu Sora dengan para pemimpin Banyubiru, karena kelincahan Lembu Sora, maka dicapai suatu persetujuan bahwa selama Gajah Sora belum kembali, serta Arya Salaka belum diketemukan, Banyubiru langsung berada di bawah pemerintahan Lembu Sora di Pamingit. Tetapi untuk kelancaran tata pemerintahan, Lembu Sora diberi wewenang untuk menempatkan beberapa orangnya di Banyubiru.

Inilah titik permulaan dari kemunduran secara menyeluruh bagi Banyubiru. Sebenarnya perjanjian perlindungan itu tidak menyenangkan hati beberapa orang diantara para pemimpin Banyubiru. Wanamerta sendiri akhirnya menyesal pula. Apalagi pemuda-pemuda yang mempunyai cita-cita buat masa depannya, yaitu Bantaran dan Panjawi. Untuk sementara mereka tidak berbuat apa-apa. Sebab mereka tahu bahwa bagaimanapun Lembu Sora adalah seorang yang perkasa. Yang memiliki ilmu seperti yang dimiliki oleh kakaknya, meskipun dalam tingkatan yang lebih rendah.

Dalam pada itu, diam-diam Lembu Sora selalu berusaha untuk menemukan Arya. Kepada orang-orang Banyubiru, ia memerintahkan mencari anak itu sebagai pewaris tanah perdikan, sedang kepada orang-orangnya yang dipercaya, diperintahkannya untuk menemukan Arya dan membunuhnya. Sebab selama anak itu masih hidup, rasa-rasanya masih saja ada duri di dalam dagingnya. Karena apabila tiba-tiba Arya muncul, maka akan terjadilah suatu perjuangan yang lebih berat lagi. Apalagi Arya membawa tanda kebesaran Banyubiru, yaitu tombak pendek yang bernama Kyai Bancak, sebuah pusaka yang menjadi kebanggaan Gajah Sora. Itulah sebabnya ia bekerja mati-matian untuk membinasakannya.

Disamping Arya Salaka, masih ada pula hal-hal yang sangat merisaukan Ki Ageng Lembu Sora, yaitu pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Ia sadar sepenuhnya, apabila pada suatu saat ada kemungkinan ia berhadapan dengan sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, sebagai lawan yang akan saling membinasakan. Pertolongan ayahnya, Ki Ageng Sora Dipayana, belum tentu dapat diharapkan. Apalagi kalau ayahnya itu mengetahui bagaimana ia telah menyingkirkan kakaknya, Ki Ageng Gajah Sora.

Karena itu, usahanya yang pertama adalah memperkuat diri. Ia selalu berusaha memperbesar pasukannya dengan biaya yang besar, tanpa mempedulikan tata penghidupan rakyat yang menjadi semakin sempit. Cita-citanya tidak hanya menguasai seluruh daerah perdikan yang dulu berada di bawah pemerintahan ayahnya, tetapi kelak bila ia berhasil mendapat Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, maka kekuatan itu sangat diperlukan. Dengan kedua pusaka itu ia akan mempunyai kemungkinan terbesar menerima wahyu kraton. Dengan demikian ia akan dengan mudahnya dapat menghancurkan kekuatan Demak.

Tetapi meskipun demikian ia masih selalu berusaha bahwa tokoh-tokoh golongan hitam akan dapat dijadikan landasan kekuatan pula, sesuai dengan kepercayaan mereka, bahwa barang siapa yang telah memiliki kedua keris pusaka itu akan dianggap sebagai pemimpin mereka. Itulah sebabnya maka Lembu Sora selalu banyak memberi keleluasaan bergerak kepada sekutu-sekutunya, di daerahnya sendiri serta daerah perlindungannya.

Disamping itu, Lembu Sora juga selalu berusaha mencari Arya Salaka, sekaligus memerintahkan untuk mendapatkan keterangan mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Sementara itu waktu berjalan terus tanpa henti-hentinya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Maka semakin dekatlah waktu yang akan diselenggarakan tokoh-tokoh hitam untuk mendapatkan seseorang yang dapat menjadi pemimpin mereka. Tetapi rasanya nafsu mereka sudah jauh berkurang sejak mereka mengetahui dengan pasti bahwa keris-keris pusaka yang mereka harapkan telah lenyap serta jatuh ke tangan seseorang yang tak dikenal.

Demikianlah akhirnya bulan terakhir itu datang juga. Pada saat itu Mahesa Jenar kemudian bersedia pula untuk menyaksikan pertemuan itu, meskipun ia sadar bahwa untuk melihatnya pasti akan sangat sulit. Karena itu ia harus berangkat beberapa hari sebelum purnama naik, untuk mendapatkan keterangan di mana pertemuan itu berlangsung. Menurut keterangan yang pernah didengar Mahesa Jenar, dalam pertemuan itu Uling Putih serta Uling Kuning akan bertindak sebagai tuan rumah. Karena itu menurut perkiraan Mahesa Jenar, pertemuan itu akan dilangsungkan di sekitar daerah Rawa Pening. Mahesa Jenar juga pernah mendapat petunjuk tentang sarang Uling itu, yaitu di dalam rimba di ujung rawa yang menjorok ke utara.

Mahesa Jenar semula mengharap bahwa menyaksikan pertemuan itu ia akan dapat mengukur kekuatan tokoh-tokoh golongan hitam. Tetapi sebenarnya sekarang tanpa menyaksikan pun ia sudah mendapat gambaran jelas tentang kekuatan mereka, bahkan tentang orang-orang angkatan tua yang berdiri di belakang mereka.

Tetapi bagaimanapun, Mahesa Jenar tetap berkeinginan menyaksikan pertemuan itu.

Maka, setelah mendekati waktu yang ditentukan, Mahesa Jenar pun segera mempersiapkan diri. Sebenarnya yang agak memusingkan kepalanya, adalah Arya Salaka. Ia sebenarnya agak keberatan untuk meninggalkan anak itu. Tetapi sebaliknya, membawa Arya adalah sangat berbahaya pula. Tetapi akhirnya Mahesa Jenar menganggap bahwa lebih aman bagi Arya, serta lebih ringan pula tanggung-jawabnya apabila Arya ditinggal saja di rumah, dengan pesan agar anak itu tidak membahayakan dirinya sendiri. Sebaiknya selama Mahesa Jenar pergi, ia tidak usah pergi keluar rumah untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Demikianlah maka pada suatu hari, sepekan sebelum purnama naik, Mahesa Jenar berangkat untuk melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya, setelah ia menitipkan Arya kepada penduduk, serta pamit kepada mereka itu, bahwa ia akan mengunjungi orang tuanya di daerahnya yang lama.

Dengan memakai pakaiannya yang kumal, Mahesa Jenar mengharap bahwa dirinya tidak segera dapat dikenali. Karena itu pula ia selalu menghindari setiap pertemuan dengan orang-orang Banyubiru. Apabila kehadirannya sampai diketahui orang, maka usahanya akan menjadi terhalang. Apalagi kalau hal itu sampai terdengar Ki Ageng Lembu Sora, yang pasti menduganya telah lenyap, ketika ia tergelincir ke dalam jurang.

Tetapi sebelum itu Mahesa Jenar masih harus berusaha untuk bertemu dengan seseorang yang telah berjanji kepadanya untuk bersama-sama ke Rawa Pening, yaitu Ki Dalang Mantingan.

Usahanya mula-mula adalah mencari tempat yang kira-kira akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu. Hampir setiap saat ia bersembunyi di semak-semak di sekitar daerah Rawa Pening yang menjorok ke utara. Meskipun di daerah itu nampaknya tidak ada jalan, tetapi Mahesa Jenar dapat mengenal bahwa ada sebuah lorong rahasia yang sengaja dikaburkan dengan semak-semak dan pepohonan kecil lainnya. Tetapi ia sama sekali belum berani untuk memasuki lorong itu, sebelum mendapat beberapa kenyataan yang tidak terlalu membahayakan.

Pada hari kedua, Mahesa Jenar melihat seseorang berkuda memasuki lorong itu. Orang itu bertubuh tegap kekar. Matanya bersinar-sinar. Hidungnya melengkung, serta dagunya jauh menggantung di bawah mulutnya. Menilik wajahnya, Mahesa Jenar menduga bahwa orang yang demikian itu, dapat berbuat sesuatu tanpa tanggung-tanggung. Ia dapat menjadi kejam seperti iblis. Melihat orang itu lewat, Mahesa Jenar menahan nafas. Ia masih belum pernah mengenalnya. Di pinggang orang itu tergantung sebuah pedang. Meskipun demikian, Mahesa Jenar dapat mengenal bahwa orang itu pasti anggota gerombolan Uling Rawa Pening, karena orang itu mengenakan ikat pinggang kulit lebar, bergambar sepasang Uling yang saling membelit.

Hal itu bagi Mahesa Jenar adalah sangat menguntungkan. Ketika suara derap kudanya sudah tak terdengar lagi, dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar keluar dari persembunyiannya, untuk kemudian menyusuri lorong itu, mengikuti bekas telapak kaki kuda yang baru saja lewat.

Ia mengharap dengan demikian akan dapat mendekati, setidaknya mendekati sarang gerombolan Uling Rawa Pening.

Ternyata bahwa lorong itu sengaja dibuat berkelok-kelok. Beberapa kali Mahesa Jenar menganggap bahwa seterusnya daerah itu sangat sulit dilewati, namun dengan menerobos semak yang tipis saja, ia sampai pada tempat yang tidak lagi ada kesukaran-kesukaran untuk dilaluinya.

Demikianlah Mahesa Jenar dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan selalu mengikuti jejak kuda yang dinaiki oleh orang yang belum dikenalnya.

Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar tidak jauh di hadapannya lamat-lamat suara orang tertawa. Cepat ia menghentikan langkahnya, dan segera menyelinap ke semak-semak. Sesaat kemudian suara tertawa itu berhenti, tetapi kemudian terdengar orang bercakap-cakap perlahan-lahan. Karena itu Mahesa Jenar tidak dapat menangkap isi percakapan mereka.

Dengan sangat hati-hati, Mahesa Jenar berusaha untuk mendekati orang yang sedang bercakap-cakap itu. Tetapi ketika ia telah menjadi bertambah dekat, suara percakapan itu telah berhenti. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih mendengar salah seorang berkata, “Silahkan Kakang Sri Gunting…, kudamu telah lelah sekali.”

Dengan demikian tahulah Mahesa Jenar, bahwa orang yang berkuda itu adalah Sri Gunting. Orang pertama di dalam gerombolan Uling Rawa Pening sesudah sepasang Uling itu sendiri.

Sejenak kemudian, terdengar kembali suara langkah kuda Sri Gunting disusul dengan langkah kuda lain ke arah yang berlawanan. Sesaat kemudian Mahesa Jenar melihat orang lain lewat di depannya. Orang itu pernah dikenalnya beberapa waktu yang lalu. Ia adalah Yuyu Rumpung, yang bersama-sama dengan Gemak Paron berusaha untuk mencuri kedua pusaka kraton di Bukit Tidar.

Mahesa Jenar sama sekali tidak mempedulikan orang itu lewat. Tetapi dengan demikian ia harus semakin hati-hati. Ternyata lorong itu memang merupakan pintu masuk ke sarang Uling Rawa Pening. Pantaslah kalau jalan itu selalu dirondai dengan cermat.

Beberapa langkah kemudian, kembali Mahesa Jenar mendengar suara orang bercakap-cakap. Juga perlahan-lahan. Tetapi agaknya lebih dari dua orang. Ketika Mahesa Jenar berhasil mengintip dari jarak yang agak jauh, dilihatnya Sri Gunting sedang bercakap-cakap dengan dua-tiga orang yang bersenjatakan tombak. Tetapi juga kali ini ia tidak mendengar isi percakapan mereka, sampai akhirnya Sri Gunting meneruskan perjalanannya.

Sampai sekian, Mahesa Jenar tidak berani lagi menuruti jejak kuda itu secara langsung. Sebab kemungkinan untuk bertemu orang-orang gerombolan Uling akan bertambah besar. Meskipun andaikata ia dapat memenangkan perkelahian melawan tiga-empat orang, namun dengan demikian kedatangannya sudah diketahui lebih dahulu.

Karena itu Mahesa Jenar berusaha untuk mengikuti kuda Sri Gunting dari semak-semak di sekitar lorong itu, meskipun kadang-kadang ia harus merangkak-rangkak menerobos pohon-pohon liar serta sulur-sulur dan tumbuh-tumbuhan merambat lainnya. Dugaan Mahesa Jenar bahwa penjagaan semakin lama semakin rapat ternyata benar. Beberapa langkah kemudian kembali terdapat beberapa orang penjaga. Dengan demikian, Mahesa Jenar mengharap bahwa tidak lama lagi ia akan sampai ke sarang sepasang Uling Rawa Pening.

Ketika Mahesa Jenar maju lagi, tiba-tiba sampailah ia pada daerah tumbuh-tumbuhan yang rapat sekali. Pohon-pohon berduri tumbuh rapat diseling dengan tanaman-tanaman menjalar dan beberapa tanaman yang sangat gatal apabila menyinggung tubuh, misalnya pohon rawe, serta pohon-pohon yang mengandung lugut dari jenis bambu.

Melihat kerapatan pepohonan itu, Mahesa Jenar tertegun sebentar. Ketika ia memandang ke arah Sri Gunting, yang juga maju dengan perlahan-lahan di atas kudanya, dilihatnya ia membelok menyusur tanaman-tanaman berduri itu ke arah timur. Perlahan-lahan dan sangat hati-hati Mahesa Jenar berusaha untuk mengikutinya. Beberapa langkah kemudian tampaklah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi, tetapi daunnya sangat lebat. Dibalik pohon itulah Mahesa Jenar melihat Sri Gunting menghilang. Tahulah kini Mahesa Jenar bahwa pohon-pohon yang tumbuh rapat sekali itu, memang sengaja diatur demikian, sehingga merupakan benteng hidup yang mengelilingi pusat sarang Uling Rawa Pening. Gerombolan yang mempunyai nama tidak kalah menggetarkan daripada nama Lawa Ijo, yang ditakuti di daerah pantai utara.

Sampai di situ, Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat mengikuti Sri Gunting untuk seterusnya. Ia tidak mau tergesa-gesa menyusup pohon yang rimbun itu, sebab ia masih belum mengetahui apakah kira-kira yang berada di belakangnya. Mungkin setelah menyusup pohon itu, langsung akan memasuki sebuah gardu perondan, atau malah sampai ke barak Uling sendiri.

Karena itu, Mahesa Jenar terpaksa berhenti di semak-semak sambil beristirahat. Ia mencoba memutar otak, bagaimana dapat memasuki, setidak-tidaknya mengetahui keadaan di dalam sarang itu.

Akhirnya Mahesa Jenar menemukan cara juga. Meskipun ia tidak pasti akan dapat masuk, tetapi ia akan mendapat gambaran tentang keadaan dibalik benteng tanaman itu. Sebagai seorang prajurit, ia pernah mendapat latihan panjat-memanjat, menggantung, dan berayun dengan tali yang cukup tinggi. Dengan hati-hati, Mahesa Jenar pun segera memanjat. Dari pohon yang tidak terlalu besar, menjalar ke pohon lain, sehingga akhirnya Mahesa Jenar berada di atas dahan sebuah pohon yang memungkinkan ia dapat melihat keadaan di dalam, keadaan pusat sarang sepasang Uling.

Ternyata di dalam benteng itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu luas. Di pinggir-pinggir lapangan tampaklah beberapa rumah. Menurut dugaan Mahesa Jenar, rumah-rumah itu terlalu sedikit untuk dapat didiami oleh anak buah Uling yang banyak jumlahnya. Karena itu, di tempat lain pasti masih ada tempat-tempat tinggal serupa itu. Di lapangan itu Mahesa Jenar melihat Sri Gunting berkuda melintas. Kemudian ia berhenti di depan salah satu dari rumah-rumah yang berjajar di pinggir lapangan. Seorang telah menerima kudanya, lalu mengikatnya pada sebuah pohon, sedang Sri Gunting sendiri langsung memasuki rumah itu. Beberapa saat kemudian dilihatnya Sri Gunting keluar lagi. Dipanggilnya dua orang laskarnya, kemudian berjalan melintas lapangan dan menyusup ke balik sebuah pohon. Pohon itulah rupanya pintu keluar-masuk benteng yang tadi juga dilewati Sri Gunting. Ternyata dibalik pohon itu sama sekali tidak terdapat sebuah gardu. Memang beberapa orang tampak mengawalnya, sebagai pengawal pintu gerbang. Ketika Mahesa Jenar sedang sibuk menduga-duga, di manakah pertemuan akan dilangsungkan, tiba-tiba dilihatnya keluar dari salah satu diantara rumah-rumah itu, dua orang yang bertubuh tinggi, tetapi tidak begitu besar. Berwajah runcing dan berhidung tajam. Itulah sepasang Uling Rawa Pening, yang di tangan mereka selalu tergenggam sebuah cemeti besar. Di belakang mereka berjalan Sri Gunting dan dua orang lainnya. Melihat mereka, mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa menahan nafas. Bagaimanapun kedua orang itu termasuk dalam tingkatan yang cukup tinggi, sehingga pancaindera mereka pun tajam pula.

Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar melihat orang-orang mereka menyediakan kuda, lalu dengan kuda-kuda itu Uling Rawa Pening beserta tiga orang yang mengiringinya, pergi melintasi lapangan dan menyusup pohon yang merupakan pintu gerbang benteng itu, untuk kemudian muncul di luar benteng.

Mahesa Jenar jadi menduga-duga. Kemanakah mereka pergi? Cepat ia turun dengan sangat hati-hati. Tetapi ketika sepasang Uling itu menyusur benteng ke arahnya, ia jadi diam, dan bersembunyi dibalik daun-daun yang agak rimbun, apalagi ketika mereka lewat dekat di bawahnya. Tetapi, adalah suatu keuntungan, ketika Mahesa Jenar mendengar mereka bercakap-cakap. Terdengar Uling Putih berkata, “Jadi kau yakin bahwa tempat itu telah disiapkan dengan baik?”

Terdengar Sri Gunting menjawab, “Sudah, Ki Lurah. Cuma satu-dua barak yang belum siap benar.”

“Bagus!” Uling Putih meneruskan, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya akan hadir dalam pertemuan itu.

“Tidakkah mereka akan berpihak?” sela Uling Kuning.

“Tidak, mereka pasti akan menghargai nama mereka masing-masing,” jawab Uling Putih.

Setelah itu mereka tidak berkata-kata lagi. Baru kemudian terdengar Sri Gunting mengatakan sesuatu, tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar lagi.

Dengan mendengar percakapan mereka, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan bahwa pertemuan tokoh-tokoh hitam itu nanti, tidak akan dilakukan di dalam benteng itu, tetapi di tempat lain. Hal ini mungkin atas pertimbangan-pertimbangan keselamatan benteng itu atau untuk tetap merahasiakan sarang gerombolan Uling Rawa Pening.

Karena itu segera Mahesa Jenar turun dan bergantungan pada sebuah sulur. Demikian ia sampai di tanah, cepat-cepat ia berusaha untuk dapat mengikuti kuda sepasang Uling itu. Untuk itu Mahesa Jenar tidak banyak menemui kesulitan. Kecuali ia sudah mengenal jalan sempit yang menuju keluar dari benteng, juga kuda-kuda itu tidak dapat berjalan cepat di jalan yang banyak rintangan itu.

Beberapa ratus langkah kemudian, rombongan Uling membelok meninggalkan lorong semula dan menempuh jalan lain yang lebih sulit. Namun bagaimanapun juga Mahesa Jenar tetap dapat mengikutinya, meskipun kadang-kadang ia harus berlari-lari kecil, merangkak, meloncat dan merunduk, sehingga akhirnya Mahesa Jenar melihat di depannya terbentang sebuah padang rumput yang luas. Di pinggir padang itu sedang dibangun beberapa barak yang sebagian masih dikerjakan. Itulah tempat yang akan dipergunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Mengingat apa yang akan terjadi di lapangan itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar juga.

Kemudian teringatlah ia kepada Ki Dalang Mantingan. Apakah orang itu sudah datang di daerah Rawa Pening ataukah belum. Dan mungkinkah Ki Dalang Mantingan dapat menemukan tempat pertemuan itu. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar merasa perlu untuk berusaha menemui Ki Dalang Mantingan sebelum mereka menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh hitam itu.

Beberapa lama kemudian, setelah sepasang Uling itu berkeliling dan memeriksa barak-barak yang sedang diselesaikan itu, mereka pun pergi meninggalkan padang rumput itu kembali ke dalam benteng mereka.

Mahesa Jenar pun menganggap bahwa ia tidak perlu terlalu lama lagi tinggal di situ. Ia masih mempunyai beberapa waktu menjelang hari yang ditentukan, untuk dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling tempat itu, serta untuk menemui Ki Dalang Mantingan.

Sementara itu, langit telah bertambah samar-samar. Matahari telah menghilang di bawah garis pertemuan bumi dan langit. Perlahan-lahan malam yang kelam turun menyeluruh, sedang di langit bintang-bintang timbul berebutan. Tetapi tidak lama kemudian, cahaya kuning memulai perjalanannya. Seolah-olah memberi peringatan kepada Mahesa Jenar bahwa dua hari menjelang, purnama penuh akan menyinari padang terbuka yang akan menjadi ajang pertemuan tokoh-tokoh dari golongan hitam.

Perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar menyusup menjauhi padang rumput itu. Dengan mengenal daerah di sekitarnya, maka ia akan menjadi lebih aman. Gajah Sora pernah memperingatkan kecerobohannya pada saat ia memasuki sarang Harimau Gunung Tidar. Karena itu ia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi.

Setelah puas, Mahesa Jenar berputar-putar, dan segera menyusur tepi Rawa Pening, untuk mencapai daerah Banyubiru. Mungkin Mantingan masih berada di sekitar daerah itu, atau ia juga sedang berusaha untuk menemukan tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan. Terhadap Mantingan, sebenarnya Mahesa Jenar masih agak was-was. Ia memang cukup berilmu. Tetapi berhadapan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, Mantingan masih kalah setingkat. Ia pernah berkelahi dengan Mantingan, juga pernah berkelahi dengan tokoh-tokoh hitam, sehingga ia mempunyai ukuran dalam memperbandingkan kemampuan mereka.

Tetapi yang belum pernah dilihatnya, bagaimana Mantingan menggerakkan trisulanya yang terkenal itu. Mudah-mudahan keahliannya menggunakan trisula akan dapat menandingi Lawa Ijo dengan pisau belatinya, atau Jaka Soka dengan tongkat hitamnya. Namun Mahesa Jenar yakin, bahwa waktu yang sedikit menjelang kepergiannya ke Rawa Pening, Mantingan pasti telah mendapatkan sesuatu dari gurunya, Kiai Ageng Supit. Kiai Ageng Supit adalah tokoh sakti yang tidak begitu dikenal, karena orang itu tidak banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang menonjol di luar padepokannya. Tetapi muridnya, Mantingan, dalam setiap kesempatan selalu berusaha untuk menunjukkan jasanya kepada masyarakat di sekitarnya. Mungkin gurunya sengaja memerintahkannya berbuat demikian untuk mewakilinya.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar yang sedang berangan-angan, terkejut. Di tepi rawa itu ia melihat bayangan dua orang yang sedang berkelahi dengan dahsyatnya. Mahesa Jenar menjadi menduga-duga, siapakah mereka itu. Karena itu segera dengan hati-hati ia pun mendekatinya.

Semakin dekat Mahesa Jenar dengan orang yang sedang bertempur itu, debar hatinya menjadi semakin keras pula. Di dalam sinar bulan yang hampir purnama itu Mahesa Jenar dapat melihat dengan jelas, bahwa kedua-duanya adalah pasti orang-orang yang berilmu tinggi.

Tiba-tiba debar jantung Mahesa Jenar berubah menjadi degupan yang menghentak-hentak dadanya. Di dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan itu tampaklah berkilat-kilat sinar yang memantul dari senjata orang yang sedang bertempur itu. Senjata yang cukup dikenalnya, yaitu trisula.

Karena itu cepat Mahesa Jenar mengetahui bahwa salah seorang dari mereka adalah Mantingan. Maka, Mahesa Jenar segera berusaha untuk semakin mendekat lagi. Tetapi sekali lagi detak jantungnya menyentak dan berdegupan dengan riuhnya, ketika ia melihat lawan Mantingan itu bersenjata bola besi yang diikat di ujung rantai. Juga senjata itu pernah dikenalnya. Yaitu senjata andalan dari kawan seangkatannya, seorang perwira dalam pasukan pengawal raja, yang bertubuh gemuk pendek, yakni Gajah Alit.

Mahesa Jenar menjadi agak keheran-heranan. Apakah kerja Gajah Alit di sini?

Melihat cara Mantingan berkelahi, Mahesa Jenar menjadi kagum. Alangkah cepatnya ia mendapat kemajuan. Langkahnya jauh lebih lincah dari beberapa saat yang lalu, ketika ia harus menghadapinya sebagai lawan, serta unsur-unsur geraknya menjadi banyak dan berbahaya. Tetapi yang lebih mengagumkan Mahesa Jenar adalah cara Mantingan mempergunakan trisulanya. Ketiga ujung trisula itu seolah-olah berubah menjadi tangan-tangan besi yang siap menangkap dan membunuh setiap tubuh apapun yang tersinggung olehnya. Mahesa Jenar melihat bahwa sebenarnya Mantingan, pasti sudah menerima ilmu-ilmu baru dari gurunya. Tangannya yang satu lagi selalu bergerak, menjulur, dan trisulanya mendesing-desing menimbulkan sambaran-sambaran angin yang menakutkan. Karena itu, sekarang Mahesa Jenar tidak berwas-was lagi terhadap Mantingan. Dengan ilmunya itu Mantingan sudah dapat disejajarkan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka, Sima Rodra dan sepasang Uling dari Rawa Pening. Seandainya dirinya tidak memiliki pengalaman yang lebih banyak, serta mendapat kesempatan untuk memiliki Aji Sasra Birawa, maka untuk dapat mengalahkan Mantingan dengan trisulanya adalah terlalu sulit. Tetapi lawan Mantingan itu bukan orang kebanyakan pula. Ia adalah setingkat pula dengan Mahesa Jenar tanpa aji Sasra Birawa. Bahkan mungkin sepeninggal Mahesa Jenar, Gajah Alit yang dipercaya untuk mengisi kedudukannya.

Ketika trisula Mantingan dengan dahsyat mematuk-matuk hampir ke segenap bagian tubuh Gajah Alit, maka Gajah Alit segera memutar senjata seperti baling-baling. Angin yang dingin meniup dengan sejuknya, diiringi dengan bunyi yang berdesing-desing.

Karena itu, karena kekuatan mereka seimbang serta hampir mencapai tingkat tertinggi, maka pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Mahesa Jenar kemudian menjadi cemas ketika dilihatnya bahwa agaknya pertempuran itu telah mencapai puncaknya. Masing-masing telah mengeluarkan segala kemampuan yang ada untuk membinasakan lawannya. Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi ragu. Kalau ia melerai mereka, maka Gajah Alit pasti akan mengenalnya. Tetapi bila dibiarkan, pertempuran itu pasti akan membawa korban.

Selagi Mahesa Jenar termangu-mangu, pertempuran itu menjadi semakin sengit. Trisula Mantingan bergerak dengan cepatnya seperti petir menyambar-nyambar, sedang senjata Gajah Alit berputar semakin cepat pula sehingga yang tampak hanyalah bayangan hitam yang bergulung-gulung mengerikan, seperti awan gelap yang hendak melanda dengan dahsyatnya.

Beberapa kali rantai berkepala bola besi Gajah Alit berhasil melilit senjata lawannya, tetapi ia sama sekali tak berhasil merampasnya. Bahkan kadang-kadang mereka sampai lama berputar-putar, tarik-menarik senjata masing-masing, sehingga akhirnya terpaksa mereka berusaha untuk mengurai lilitan rantai itu.

Demikian senjata mereka terurai, demikian senjata-senjata itu kembali berputar, menyambar dan menusuk-nusuk dengan dahsyatnya.

Melihat semuanya itu akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk melerai mereka. Karena itu segera ia meloncat maju mendekati arena pertempuran itu sambil berteriak nyaring, “Tahan dirimu masing-masing. Hentikan pertempuran ini.”

Tetapi agaknya mereka yang bertempur itu sama sekali tak mendengarnya, sebab pendengaran mereka dikacaukan oleh bunyi senjata mereka yang berdesing-desing dan berdentangan saling beradu. Sedang perhatian mereka seluruhnya tertumpah pada upaya mempertahankan jiwa masing-masing.

Karena itu sekali lagi Mahesa Jenar berteriak, lebih keras dari semula sambil meloncat lebih dekat lagi, “Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit, hentikan pertempuran.”

Baru ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebut, mereka menjadi terkejut. Apalagi, ketika mereka lihat seseorang mendekat, Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng meloncat surut, dan dengan herannya memandang kepada Mahesa Jenar yang kemudian meloncat diantara mereka. Tetapi untuk sesaat mereka tidak segera mengenal siapakah yang telah melerai mereka itu, sampai Mahesa Jenar berkata, “Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit…. Adakah sesuatu yang tidak wajar, sehingga kalian terpaksa bertempur?”

Mantingan dan Gajah Alit, segera mengenal suara itu. Karena itu hampir berbareng mereka menyebut nama Mahesa Jenar.

“Ya,” jawab Mahesa Jenar, “inilah aku”.

Mendengar jawaban itu, segera mereka berloncatan maju sambil berebutan memberi salam.

“Kemanakah kau selama ini, Kakang?” tanya Gajah Alit, “Kau begitu saja menghilang seperti hantu.”

Mahesa Jenar tidak segera menjawab pertanyaan ini, tetapi malahan ia bertanya, “Kenapa kalian bertempur?”

Mantingan dan Gajah Alit kemudian saling berpandangan. Memang sebenarnya mereka tidak mempunyai suatu alasan yang kuat, kecuali mereka sebenarnya hanya saling curiga.

Aku tidak tahu kakang,” jawab Gajah Alit sambil tersenyum-senyum. Wajahnya yang bulat itu masih saja memancarkan kejenakaannya.

“Kami sebenarnya tidak mempunyai urusan,” jawab Mantingan.

“Lalu apakah sebabnya?” tanya Mahesa Jenar heran.

“Sebenarnya kami belum saling mengenal,” jelas Mantingan.

 Mendengar kata-kata itu, barulah Mahesa Jenar sadar bahwa sebaiknya ia memperkenalkan kedua orang yang baru saja bertempur itu.

Dengan mengenal siapakah mereka masing-masing, hati Mantingan maupun Gajah Alit bergetaran. Bagi Mahesa Jenar, Gajah Alit adalah seorang perwira prajurit pengawal raja, yang pasti seorang prajurit pilihan. Sebaliknya nama Mantingan pernah didengar oleh Gajah Alit, sebagaimana Mahesa Jenar dahulu juga sudah mendengarnya, sebagai seorang yang telah berhasil membinasakan tiga orang perampok yang menamakan diri mereka Samber Nyawa.

Di dalam hati Mantingan merasa bersyukur bahwa ia masih tetap dapat mempertahankan dirinya terhadap Gajah Alit. Andaikata ia masih belum menerima ilmu Pacar Wutah dari gurunya, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya. Dan karena ilmu itulah maka Mantingan menjadi seorang yang perkasa. Gurunya sengaja memberikan ilmu itu sebagai bekal perjalanannya yang akan sangat berbahaya.

Sejenak kemudian, kembali terdengar Mahesa Jenar bertanya kepada Mantingan dan Gajah Alit, “Apakah urusan kalian, sehingga kalian sampai mempertaruhkan nyawa kalian?”

Gajah Alit tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sebaliknya Mantingan mencoba untuk memberi penjelasan. Katanya, “Entahlah Adi, tetapi kami tadi telah berjumpa di temat ini. Karena barangkali kami sama-sama tidak mau mengatakan keperluan kami, maka kami menjadi saling curiga. Aku mengira bahwa orang itu adalah salah seorang anggota golongan hitam, barangkali ia pun mengira aku demikian pula, sehingga akhirnya kami berkelahi. Mula-mulai kami tidak bersungguh-sungguh tetapi akhirnya kami jadi mata gelap.”

Mendengar keterangan Ki Dalang Mantingan, Mahesa Jenar tersenyum. Memang kadang-kadang kita harus mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh, seperti apa yang pernah dialaminya di Prambanan dan Pucangan.

“Benarkah begitu, Adi Gajah Alit?” Mahesa Jenar menegaskan.

“Begitulah, Kakang,” jawab Gajah Alit, “Sebab kami belum pernah saling mengenal. Untunglah bahwa Kakang Mahesa Jenar sempat melerai kami. Kalau tidak, barangkali ada bangkai Gajah tanpa belalai jadi makanan Gagak.”

Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Segera terdengar Mantingan berkata, “Tuan terlalu merendahkan diri. Bersyukurlah aku, kalau sekarang aku masih sempat memandang bulan.”

“Aku tidak dapat mengatakan,” potong Mahesa Jenar, “Siapakah yang lebih unggul diantara kalian. Karena itu kalian akan menjadi kawan yang baik bagiku di sini, di dekat sarang sepasang Uling Rawa Pening.” Mahesa Jenar diam sebentar, kemudian ia meneruskan, “Apakah sebenarnya kepentingan Adi Gajah Alit kemari?”

Gajah Alit menarik nafas. Ia akan menjawab, tetapi agak ragu-ragu sambil memandang Ki Dalang Mantingan, sampai Mahesa Jenar mendesaknya, “Katakanlah. Kakang Mantingan adalah orang yang tahu membawa masalah.”

“Kakang….” Gajah Alit memulai, “Kedatanganku adalah atas perintah Sultan. Sebab terdengar keterangan dari penjabat-penjabat rahasia, bahwa di sekitar rawa ini akan terjadi suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Karena itu aku mendapat perintah untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita itu. Maka dikirimkannyalah aku kemari.”

Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi kalangan istana sudah mendengar akan adanya pertemuan tengah bulan ini?”

“Ya,” Jawab Gajah Alit, “Bahkan aku tidak seorang diri.”

“Kau tidak seorang diri?” ulang Mahesa Jenar.

“Aku dikirim bersama dengan Kakang Paningron.” Gajah Alit meneruskan.

Mendengar kata-kata Gajah Alit itu hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar juga. Paningron adalah salah seorang perwira dari jabatan rahasia. Ilmunya tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki oleh Gajah Alit.

“Di manakah Adi Paningron sekarang?” tanya Mahesa Jenar.

“Sejak senja kami berpisah,” jawab Gajah Alit. “Kami berusaha untuk menemukan tempat pertemuan Golongan Hitam itu. Tengah malam kami akan bertemu. Kalau malam ini tempat itu belum kami temukan, besok kami masih harus bekerja keras.”

Sesaat kemudian Mahesa Jenar jadi ragu. Kalau dari penjabat rahasia telah dapat mengetahui keberadaannya, maka ada kemungkinan dirinya dipanggil menghadap. Kepada Gajah Alit, ia masih mungkin untuk memintanya tidak berkata apa-apa tentang dirinya. Tetapi bagaimana dengan Paningron?

Agaknya Gajah Alit dapat menangkap perasaan Mahesa Jenar. Karena itu ia berkata, “Kakang Mahesa Jenar tidak perlu khawatir tentang Kakang Paningron. Ia adalah seorang penjabat yang baik, tetapi juga bukan jenis orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain.”

Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar tertawa pendek. “Kau pandai menebak perasaan orang Adi. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.”

“Percayakan itu padaku,” tegas Gajah Alit.

“Baiklah…” kata Mahesa Jenar, “Kalau demikian aku bersamamu menunggu kedatangannya. Juga adalah suatu keuntungan bahwa kau tidak berjalan bersama-sama dengan Adi Paningron. Sebab dengan demikian mungkin kalian telah menangkap Kakang Mantingan yang pergi seorang diri.”

Mendengar percakapan itu Mantingan tertawa pula, serta diantara tertawanya terdengar ia berkata, “Aku pun tidak pergi seorang diri, Adi.”

“He…?” Mahesa Jenar dan Gajah Alit agak terkejut mendengar itu.

“Dengan siapa Kakang pergi?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku pergi bersama Kakang Wiraraga, kakak seperguruanku,” jawab Mantingan.

  Mahesa Jenar dan Gajah Alit berbareng mengangguk-angguk. Terlintaslah dalam angan- angan mereka, bahwa kakak seperguruan Mantingan setidak-tidaknya adalah setingkat dengan Mantingan. Dan memang sebenarnyalah demikian. Kakak seperguruannya itu pun baru saja menerima ilmu Pacar Wutah berbareng dengan Mantingan, menjelang keberangkatan mereka. Meskipun Wiraraga lebih lama menekuni pelajaran gurunya, tetapi karena sifatnya yang pendiam dan jarang-jarang keluar dari padepokan seperti gurunya, maka Mantingan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Karena itu, keperkasaan Mantingan tidaklah kalah dengan kakak seperguruannya itu.

Dalam perjalanannya yang berbahaya itu, Ki Ageng Supit tidak sampai hati melepaskan Mantingan pergi sendiri, sebab ia pernah mendengar siapa saja yang tergolong dalam lingkaran hitam. Karena itu ia minta Wiraraga menyertainya.

“Di manakah kakak seperguruan Kakang itu?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Seperti juga Adi Gajah Alit, Kakang Wiraraga memisahkan diri sejak kemarin. Malam ini kami berjanji akan bertemu. Meskipun tempat yang kita cari itu masih belum dapat kami temukan.”

“Mudah-mudahan Kakang Paningron tidak bertemu dan bertempur dengan kakak seperguruan Kakang Mantingan,” sela Gajah Alit sambil tertawa lucu.

“Mudah-mudahan,” jawab Mahesa Jenar. “Kalau demikian…” lanjut Mahesa Jenar, “Aku tunggu di sini. Kalian cari kawan-kawan kalian itu, dan bawalah mereka kemari. Tempat pertemuan itu tak usah kalian cari-cari lagi.”

“Kenapa?” tanya Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng.

“Carilah kawan-kawan kalian,” desak Mahesa Jenar, “dan cegahlah kalau mereka benar-benar bertemu dan bertempur seperti kalian tadi. Aku menunggu kalian di sini.”

Kemudian terdengar Gajah Alit tertawa riuh. “Untunglah aku bertemu Kakang di sini. Melihat gelagatnya pasti Kakang Mahesa Jenar telah menemukan tempat itu.”

“Tepat!” sambung Mantingan, “Aku juga menduga demikian.”

Mahesa Jenar pun kemudian tertawa. “Mungkin kalian benar, karena itu kalian harus cepat-cepat menemukan kawan-kawan kalian.”

“Baiklah,” jawab mereka berbareng.

Ketika mereka telah tidak tampak lagi, segera Mahesa Jenar mencari tempat untuk beristirahat. Direbahkannya dirinya di atas sebuah batu besar, sambil memandang bulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit.

Untuk beberapa lama pikirannya sempat melayang mondar-mandir dari waktu ke waktu, dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain.

Menjelang tengah malam, Mahesa Jenar mendengar langkah orang mendekati tempatnya berbaring. Cepat ia bangkit dan memandang ke arah suara itu. Tetapi kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat bayangan dua orang mendekatinya, serta keduanya membawa senjata ciri perguruan Ki Ageng Supit, yaitu trisula. Jelaslah bagi Mahesa Jenar bahwa kedua orang itu pasti Mantingan dan Wiraraga.

Maka demikian kedua orang itu sampai di hadapan Mahesa Jenar, demikian Mantingan memperkenalkan kakak seperguruannya kepada Mahesa Jenar dengan sebutan Rangga Tohjaya.

Mendengar nama itu segera Wiraraga membungkuk hormat sambil berkata, “Berbesarlah hatiku dapat berkenalan dengan seseorang yang pernah menggemparkan istana, karena berhasil menggagalkan pencurian pusaka di gedung perbendaharaan. Juga yang telah banyak menyelamatkan rakyat dari gangguan kejahatan.”

Mendengar pujian itu Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula. Katanya, “Terimakasih Kakang, tetapi perguruan Kakang adalah perguruan yang terkenal pula. Karena itu seharusnya akulah yang merasa beruntung berkenalan dengan Kakang.”

Kembali Wiraraga mengangguk. Wajahnya yang ketua-tuaan itu tampak tersenyum-senyum. Meskipun umurnya tidak terpaut banyak dari Mantingan, tetapi nampaknya Wiraraga telah jauh lebih tua. Rambutnya telah mulai ditumbuhi uban. Matanya memancar lembut, tetapi dalam. Tubuhnya kekar meskipun tidak begitu tinggi. Wiraraga memang benar-benar seorang pendiam. Tidak banyak ia berkata-kata. Ia lebih senang mendengarkan Mantingan berbicara daripada ia sendiri yang berbicara. Maka karena sifat-sifatnya itulah maka Wiraraga nampak jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah Gajah Alit datang pula bersama-sama dengan Paningron. Bagi Paningron, kehadiran Mahesa Jenar di situ sangat mengejutkan. Agaknya Gajah Alit belum memberitahukan lebih dahulu, sehingga suasana kemudian menjadi riuh.

Setelah pertemuan itu menjadi lebih tenang, barulah mereka berbicara tentang tokoh-tokoh hitam yang akan mengadakan pertemuan pada purnama penuh yang akan datang, serta tempat pertemuan mereka.

Dengan teliti Mahesa Jenar memberikan gambaran tentang lapangan yang akan dipergunakan, serta memberitahukan bahwa dalam pertemuan itu akan hadir Pasingsingan dan Sima Rodra. Dua orang angkatan tua yang setingkat dengan guru-guru mereka. Karena itu mereka harus sangat berhati-hati.

Dalam pertemuan itu mereka memutuskan untuk pada saat itu juga pergi ke tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu serta seterusnya mengatur agar setiap saat tempat itu dapat diawasi bergiliran.

Demikianlah maka segera mereka berlima pergi bersama untuk melihat keadaan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka lakukan.

Sejak saat itu, mulailah rombongan Mahesa Jenar itu mengadakan pengawasan dengan teliti berganti-ganti. Mereka telah berhasil menemukan tempat yang sangat baik.  Tempat itu agak menjorok ke atas, tetapi ditumbuhi pepohonan yang agak lebat. Dari tempat itu, mereka akan dapat melihat apa saja yang terjadi di lapangan rumput yang terbentang di hadapannya. Meskipun pada siang hari, tempat itu akan tetap merupakan tempat yang tersembunyi. Mereka yang sedang bertugas mengadakan pengawasan harus memanjat sebuah pohon yang tak begitu tinggi, namun berdaun rimbun. Sedang yang lain dapat dengan aman beristirahat tidak lebih dari dua puluh langkah dari tempat itu, sambil menikmati ketupat sambal, bekal yang dibawa oleh Mantingan atau jadah jenang alot, bekal Gajah Alit.

Pada siang hari itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat betapa orang-orang Uling Rawa Pening berusaha keras menyelesaikan pekerjaan mereka, bahkan pada malam harinya pun pekerja-pekerja itu tetap melakukan tugas mereka sampai barak-barak itu siap dipergunakan.

Maka pada hari berikutnya, menjelang purnama penuh, tampaklah di tempat itu kesibukan-kesibukan yang padat. Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menjelang hari sepenggalah.

Ketika matahari telah mencapai puncaknya, maka mulailah penjagaan-penjagaan sekeliling tempat itu semakin ditertibkan. Sri Gunting sendiri yang memimpinnya. Beberapa orang telah diperintahkan untuk meronda keliling, serta beberapa orang lagi ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap perlu.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berani lagi berbuat seenaknya. Sebab setiap saat ada kemungkinan para peronda melintasi tempat mereka bersembunyi. Karena itu, daripada mereka harus selalu memperhatikan keadaan di sekeliling mereka, maka mereka lebih menganggap aman apabila mereka semuanya memanjat pohon. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah menegangkan urat syaraf mereka.

Berdasarkan atas pikiran itu, maka segera mereka berlima memilih tempat mereka masing-masing. Tidak terlalu dekat satu sama lain, tetapi juga tidak terlalu jauh.

Beberapa saat, perasaan mereka dihinggapi oleh ketegangan yang semakin lama semakin memuncak, karena mereka harus menunggu suatu peristiwa yang cukup penting. Sedang di bawah mereka beberapa peronda sudah lebih dari dua kali lewat hilir-mudik. Namun untunglah bahwa tak seorang pun dari mereka merasa perlu untuk menyelidiki dahan-dahan kayu di atas mereka.

 ———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 8

Koleksi Ki Arema

Editing oleh Ki Arema

kembali | lanjut >>

6 Tanggapan

  1. gen njing…..!!!

  2. Geng Ndlu ….!!!

  3. lanjutttttt….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s