SUNdSS-23


<<kembali | lanjut >>

NAMUN dalam pada itu, Empu Sanggadaru yang ragu-ragu, tidak dapat menahan hatinya lagi. Karena itu maka ia pun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Ampun Tuanku. Bukan maksud hamba untuk mengurangi niat Tuanku. Tetapi hamba hanya ingin menyarankan, agar Tuanku melakukannya di siang hari. Jika harimau itu datang sebelum gelap, hamba tidak akan bersikap lain kecuali mempersilahkan Tuanku melakukannya, karena hamba yakin bahwa Tuanku akan dapat membunuh seekor harimau yang betapapun juga besarnya. Hamba masih ingat, bahwa Tuanku adalah seorang pemburu yang jauh lebih baik daripada hamba. Namun barangkali ketuan hambalah yang menyebabkan pengalaman hamba menjadi lebih banyak dari Tuanku.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tuanku. Hamba mohon, jangan Tuanku melakukannya di malam hari.”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Tentu kau membujukku agar aku melakukannya di siang hari karena harimau itu tentu tidak akan datang sebelum gelap.”

“Sungguh bukan maksud hamba Tuanku.”

“Aku mengerti Empu. Kau ingin mencegah aku melakukannya. Dan aku mengerti, bukan semata-mata karena kau merasa lebih baik daripadaku. Tetapi benar-benar kau mencemaskan nasibku setelah kau sendiri mengalaminya dan terluka hampir di seluruh tubuhmu.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar tidak dapat mengelak lagi, agar ia tidak benar-benar dituduh merendahkan anak muda yang sedang berada di puncak pemerintahan Singasari itu.

Bahkan Lembu Ampal pun rasa-rasanya menjadi bertambah bingung. Nampaknya Ranggawuni benar-benar tidak dapat dicegahnya lagi.

Meskipun demikian ia masih mencobanya. Katanya, “Tuanku sebaiknya memperhatikan setiap saran. Empu Sanggadaru bukan seorang pemburu yang baru kemarin berada di antara binatang buas. Ia mengenal sifat dan watak binatang, di siang hari dan di malam hari. Tuanku. Ada beberapa perbedaan di antara kehidupan seekor binatang dengan kehidupan kita. Apalagi kelengkapan jasmaniah seekor harimau jauh berbeda dengan kelengkapan jasmaniah manusia. Di malam hari mata soekor harimau seolah-olah menjadi lebih tajam. Sedang penglihatan kita di malam hari menjadi sangat terbatas.”

Ranggawuni masih saja tertawa. Katanya, “Terima kasih paman. Aku tidak melihat kesempatan yang serupa dikesempatan lain. Sekali lagi, yang paman cemaskan itu mungkin tidak akan terjadi, karena tidak ada seekor harimau pun yang datang di tempat ini. Tetapi jika seekor harimau itu datang, barulah paman dapat memikirkan semua kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Hamba mengerti Tuanku. Tetapi Tuanku adalah pusar perhatian seluruh rakyat Singasari. Mungkin di Singasari ada seribu atau lebih pemburu yang tidak setangkas Tuanku. Tetapi hamba tidak akan membuang waktu untuk mencegahnya, karena mereka tidak merupakan tumpuan harapan seluruh rakyat.”

Ranggawuni berpikir sejenak. Namun kemudian jawabnya “Apakah paman sudah memastikan bahwa aku akan dapat dibunuh oleh harimau itu?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan Lembu Ampal, sehingga ia termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya terbata-bata “Tentu tidak Tuanku. Tentu bukan itulah yang hamba maksudkan. Tetapi……”

Rangguwuni tertawa lagi sambil berkata, “Teruskan paman. Atau barangkali aku dapat meneruskannya? Bukankah paman.ingin mengatakan bahwa kemungkinan itu ada?”

Lembu Ampal tidak menjawab, tetapi kepalanya sajalah yang terangguk-angguk.

“Paman” berkata Ranggawuni, “Tentu aku masih ingin tetap hidup. Aku masih ingin mengabdikan diriku bagi Singasari. Karena itulah, maka paman jangan cemas. Aku mengharap mudah-mudahan aku dapat menangkap harimau itu. dengan cara yang sama, yang dilakukan oleh Empu Sanggadaru.”

“O, anak keras kepala.” geram Lembu Ampal di dalam hati. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya. Yang terloncat dari bibirnya adalah, “Tetapi Tuanku, bukankah hamba dan adinda tuanku diperkenankan menyaksikan perkelahian itu dari dekat?”

“Terserahlah kepada paman. Paman dapat melihat dari dekat, jika hal itu terjadi. Jika setelah semalam suntuk kita menunggu, dan tidak ada seekor tikus pun yang mendekat, maka paman sudah tentu tidak akan dapat melihat perkelahian yang manapun juga.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Katanya, “Jika tuanku memang sudah berniat bulat untuk melakukannya, maka kami tidak akan dapat berbuat apa-apa, kecuali menyaksikan apa yang akan terjadi.”

“Ya. Dan yang akan terjadi itu masih tergantung sekali dengan hadir atau tidaknya harimau yang seekor lagi itu.”

“Baiklah tuanku.” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “Namun sebagai pengalaman dapatlah hamba katakan, bahwa harimau ini sangat buas dan liar. Sehingga aku pun harus berkelahi dengan buas dan liar pula.”

“Aku mengerti paman. Aku sudah melihat bagaimana paman membanting harimau itu pada sebatang pohon.”

“Ya. Dan di siang hari semuanya itu dapat hamba lakukan dengan mudah. Tetapi hamba tidak tahu, apakah hamba dapat melakukannya di malam hari.”

“Aku akan mencobanya. Sudahlah. Marilah kita beristirahat sejenak. Malam nanti aku akan berada di tempat ini, atau di tempat aku mengintai perkelahian Empu Sanggadaru itu.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk.

“Marilah. Aku minta biarlah harimau itu berada di tempatnya. Barangkali ada orang yang dapat kau perintahkan untuk menungguinya agar tidak diganggu oleh binatang buas yang lain. Tetapi apabila datang seekor harimau loreng yang lain, maka aku minta orang yang menungguinya dapat memberikan isyarat. Aku akan segera datang. Karena aku akan beristirahat di tempat yang tidak terlalu jauh.”

“Di lapangan rumput itu tuanku?” bertanya Empu Sanggadaru.

“Tidak. Itu terlampau jauh. Aku akan berada di sekitar tempat ini bersama adinda Mahisa Campaka dan paman Lembu Ampal.”

Empu Sanggadaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Hamba akan berada di lapangan kecil itu. Tetapi malam nanti hamba akan berada di sini.”

“Baiklah. Nah, siapakah yang akan menunggui harimau ini, dan isyarat apakah yang akan diberikan?”

“Kami membawa beberapa panah sendaren tuanku. Dan biarlah cantrik hamba itulah yang menjaganya.” jawab Empu Sanggadaru.

“Dan seorang kawan hamba.” sahut Empu Baladatu.

“Terima kasih. Aku akan beristirahat sejenak sambil menunggu harimau itu di siang hari atau di malam hari.”

Empu Sanggadaru pun kemudian mohon diri bersama Empu Baladatu sementara cantriknya yang seorang dan pengawal Empu Baladatu menjaga tubuh harimau yang mati itu.

“Nanti aku akan menyuruh kawanmu itu menggantikanmu dan pengawal Baladatu.” berkata Empu Sanggadaru kepada cantriknya.

Cantrik itu mengangguk-angguk. Sebenarnya ia segan sekali untuk duduk menunggui harimau mati itu. Tetapi jika itu yang dikehendaki, apalagi atas perintah tuanku Ranggawuni, maka ia tidak akan dapat ingkar.

Dalam pada itu, ternyata Ranggawuni dan Mahisa Campaka berada tidak jauh dari tempat itu bersama Lembu Ampal. Untuk mengisi waktu maka mereka telah menangkap beberapa ekor burung yang akan dapat mereka pergunakan untuk makan mereka sehari itu.

Demikian pula Empu Sanggadaru. Karena bekal yang dibawa hanyalah untuk hari itu saja, maka iapun berusaha untuk menangkap beberapa jenis binatang buruan kecil yang dapat dipergunakannya untuk makan mereka selama mereka belum mendapatkan binatang buruan yang cukup besar. Sasaran yang paling mudah bagi mereka adalah burung-burung yang berterbangan di pepohonan. Burung yang cukup besar dan banyak. Baik Empu Sanggadaru maupun Ranggawuni dan Mahisa Campaka adalah pembidik-pembidik yang baik sehingga setiap kali panah mereka tentu mengenai sasarannya.

Dalam pada itu, perhatian Empu Baladatu ternyata tertuju kepada Ranggawuni dan Mahisa Campaka, la sebenarnya menjadi kagum terhadap kedua anak-anak muda itu. Agaknya mereka benar-benar dua orang anak muda yang memiliki kepercayaan pada diri sendiri dan kemampuan yang dapat dibanggakan meskipun nampaknya keduanya cukup rendah hati. Sedangkan pengawalnya yang seorang itu pun agaknya seorang yang benar-benar telah masak dalam olah kanuragan.

“Singasari memiliki kekuatan yang besar sekali.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “Tetapi jika puncak kekuasaannya dapat dilenyapkan, maka tentu akan terjadi kelumpuhan pada pemimpin-pemimpin yang lain.”

Memang kadang terbersit keinginan Empu Baladatu untuk menangkap dan menguasai kedua anak muda itu. Dengan demikian ia akan dapat memaksakan beberapa kehendaknya terhadap Singasari. Namun agaknya hal itu tidak akan mungkin dapat dilakukannya. la bertiga dengan kedua pengawalnya tentu tidak akan dapat berbuat banyak melawan kedua anak muda itu beserta Lembu Ampal.

Karena itu, ia mengharap agar sesuatu terjadi atas Ranggawuni dengan harimau itu. Tanpa Ranggawuni hati Mahisa Campaka tentu sudah menjadi hambar.

Sementara itu, Empu Sanggadaru dan cantriknya yang seorang telah mendapatkan beberapa ekor burung Dengan demikian maka mereka pun kemudian menjadi sibuk. Empu Baladatu dan seorang pengawalnya pun ikut pula membantu, mencabuti bulu burung itu dan kemudian menyalakan api untuk memanggangnya.

Hal yang serupa dilakukan pula oleh Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal sambil menunggu isyarat dari kedua orang yang menunggui harimau itu.

Tetapi sampai matahari menjadi semakin rendah, tidak ada seekor binatang pun yang mendekati harimau mati itu. Apalagi seekor harimau.

Menjelang senja, maka Empu Sanggadaru telah mengirimkan cantriknya yang seorang dan pengawal Empu Baladatu yang lain untuk menggantikan kedua kawanya dengan pesan dan pengalaman seperti yang harus dilakukan oleh kedua kawannya yang lain.

“Malam nanti aku akan berada di sana pula.” berkata Empu Sanggadaru.

Sementara itu, Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu sempat beristirahat sejenak. Namun kemudian mereka pun segera mempersiapkan diri pula. Nampaknya cahaya langit menjadi semakin merah dan hutan itu pun menjadi semakin suram.

“Mudah-Mudahan harimau itu tidak sepasang.” desis Empu Sanggadaru meskipun ia tidak yakin pada kataknya.

Empu Baladatu sama sekali tidak menjawab. Apalagi ia justru mengharap harimau itu sepasang dan yang seekor akan datang di malam hari mendekati betinanya yang telah terbunuh.

Ketika gelap mulai turun, Empu Sanggadaru pun memberikan berapa pesan kepada cantrik dan pengawal Empu Baladatu yang harus menunggui kuda-kuda mereka. Meskipun tempat itu merupakan tempat yang terbuka, sehingga jarang sekali didatangi oleh binatang buas yang besar, namun mereka harus tetap berhati-hati.

“Bukan saja terhadap binatang-binatang buas, tetapi berhati-hati pulalah terhadap ular-ular berbisa.” pesan Empu Sanggadaru.

Demikianlah maka Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu segera menuju ke daerah perburuan yang mendebarkan itu. Di tempat yang ditentukan, mereka menunggu sejenak kedatangan Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

Ternyata keduanya bersama Lembu Ampal pun segera datang pula. Agaknya Ranggawuni benar-benar akan melakukan niatnya menangkap harimau jantan yang mungkin akan dalang itu tanpa melukainya.

“Tetapi tuanku.” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “Di samping segala pertimbangan yang telah tuanku dengar, apakah tuanku tidak mempertimbangkan pula jejak kaki kuda yang kita lihat di sekitar tempat ini?”

Ranggawuni mengerutkan keningnya. Seperti Empu Sanggadaru dan kawan-kawannya, Ranggawuni pun sudah mengetahui jejak kaki-kaki kuda itu, tetapi seperti Empu Sanggadaru pula, mereka sama sekali tidak mengetahui, siapakah yang telah mendahului mereka berburu di hutan itu.

“Kenapa kita harus memperhitungkan mereka?” bertanya Ramggawuni.

“Jika mereka mempunyai maksud-maksud tertentu?”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Hutan ini adalah hutan yang terbuka. Tentu siapa pun boleh berburu di sini. Dan orang-orang itu tentu pemburu-pemburu seperti kita. Mungkin mereka baru pertama kalinya berburu di hutan ini. Tetapi mungkin pula sudah beberapa kali, tetapi kita tidak pernah berada dalam masa perburuan yang sama.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Agaknya Ranggawuni benar-benar tidak dapat dicegah lagi dengan cara apapun juga.

Karena itulah maka harapan satu-satunya bagi Empu Sanggadaru adalah, bahwa tidak ada seekor harimau pun yang akan datang ke tempat itu.

Dengan tegangnya, maka mereka pun kemudian mencari tempat persembunyian masing-masing menunggui bangkai harimau yang masih tetap di tempatnya. Mereka telah bersiap-siap mengusir binatang-binatang lain yang mendekatinya, selain seekor harimau loreng pula.

Untuk beberapa lama mereka duduk diam sambil berangan-angan. Sementara itu, suara malam di dalam hutan yang lebat itu menjadi semakin riuh. Suara belalang, cengkering dan burung-burung malam bersahut-sahutan tidak hentinya. Sekali terdengar gonggong anjing hutan dan keluh burung hantu. Namun kemudian lamat-lamat terdengar aum seekor harimau.

Mereka yang duduk mengintai bangkai harimau itu menjadi semakin tegang. Malam rasa-rasanya bertambah panjang dan kelam. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, tatapan mata mereka sama sekali tidak menembus rimbunnya dedaunan, sehingga hampir tidak sebuah binatang pun yang nampak.

“Malam yang kelam.” desis Empu Sanggadaru di hatinya, “Apakah dalam kegelapan semacam ini, tuanku Ranggawuni akan bertempur melawan seekor harimau sebesar dan segarang harimau yang terbunuh itu?”

Ada semacam penyesalan yang melonjak di hatinya. Tetapi justru karena Empu Sanggadaru sama sekali tidak mengira bahwa Ranggawuni dan Mahisa Campaka hadir di tempat itu, maka ia telah membunuh harimau itu dengan caranya.

Tetapi agaknya ia pun akan mempertimbangkan tiga empat kali lagi untuk melakukannya di gelapnya malam seperti malam itu.

Sejenak mereka masih menunggu.

Di siang hari mereka kadang-kadang mendapatkan pertanda bahwa seekor harimau berada di dekat mereka.

Jika di udara, tidak ada burung yang berterbangan dan tidak ada seekor kera pun yang nampak di pepohonan, maka seseorang harus berhati-hati. Jika tidak seekor harimau, maka yang ada di sekitar tempat itu adalah seekor ular yang besar.

Tetapi di malam hari, mereka tidak melihat pertanda itu dimana burung-burung dan kera sudah berada di sarang masing-masing.

Namun dalam pada itu, selagi mereka berangan-angan rasa-rasanya angin bertiup semakin dingin. Sesuatu yang tidak mereka ketahui sebabnya, serasa telah meraba bulu tengkuk.

Tetapi agaknya Ranggawuni cepat dapat menangkap firasat itu. Bahkan ia telah mengambil suatu kepastian, bahwa seekor harimau sedang mendekati bangkai harimau di pinggir belumbang itu.

Sejenak kemudian, maka mereka yang berada di sekitar hutan itu pun menjadi berdebar-debar. Seperti firasat yang telah menyentuh perasaan Ranggawuni, sebenarnyalah seekor harimau dengan ragu-ragu sedang mendekati bangkai harimau yang sengaja dibiarkan di tempatnya.

Ranggawuni bergeser setapak, lapun kemudian bersiaga. Masiada kemungkinan lain, kecuali pasangan harimau itulah yang telah berusaha mencari betinanya yang tidak kembali ke sarangnya.

Empu Sanggadaru dan Lembu Ampal menahan nafas. Mereka tidak mempunyai cara apapun untuk mencegah Ranggawuni. Mereka sadar sepenuhnya, bahwa yang akan dilakukan oleh Ranggawuni adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Tetapi gejolak darah muda yang mengalir di dalam dada telah mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang justru berbahaya itu.

Sesaat kemudian Ranggawuni telah menggamit Lembu Ampal, seolah-olah ia memberikan isyarat bahwa saatnya untuk bertindak telah tiba.

“Hati-hatilah tuanku.” desis Lembu Ampal karena ia merasa tidak dapat berbual apa-apa lagi. Sekilas terbayang olehnya Mahisa Agni yang tidak ada di tempatnya. Jika terjadi sesuatu atas Ranggawuni maka Mahisa Agni tentu akan menyalahkannya pula. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang cukup untuk mencegahnya.

Sesaat kemudian Ranggawuni itupun bangkit berdiri. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati harimau yang agaknya sedang merenungi betinanya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tetapi ternyata pendengaran harimau itu begitu tajamnya. Meskipun Ranggawuni sudah memperhitungkan angin, namun desir kakinya lelah mengejutkan harimau itu.

Terdengar harimau itu menggeram. Ketika harimau itu berpaling, nampaknya sepasang matanya bagaikan menyala kebiru-biruan.

Terasa dada Ranggawuni berdesir. Mata harimau itu bagaikan memancar menyilaukannya. Demikian pula orang-orang lain yang berada di sekitar tempat itu. Mereka bahkan merasa ngeri untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi.

Mahisa Campaka yang tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu atas harimau itu, menggamit kakandanya. Tetapi ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun dari sikapnya, Ranggawuni mengerti, bahwa adindanya itu minta agar ia berhati-hati.

Demikianlah, maka Ranggawuni pun bergeser semakin dekat dengan hairmau yang termangu-mangu. Namun suaranya menjadi semakin keras, bahkan kemudian terdengar harimau loreng yang besar itu mengaum dengan dahsyatnya.

Bersamaan dengan gema yang memantul dari pekatnya hutan itu, Ranggawuni meloncat semakin dekat. Tangannya yang cekatan lelah bersilang di dadanya. Meskipun di lambungnya terselip sebilah pisau belati, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menariknya.

Sejenak kemudian Ranggawuni itupun telah berhadapan dengan harimau loreng yang ragu-ragu itu. Namun ketika ia yakin bahwa yang ada di hadapannya itu adalah mahluk yang lain, maka sekali lagi harimau itu mengaum.

Ranggawuni pun telah bersiaga sepenuhnya, la mengerti betapa garangnya harimau itu. Apalagi di malam hari.

Orang-orang yang menyaksikan kedua mahluk yang sudah siap untuk bertempur itu menjadi berdebar-debar. Nenurut pengertian mereka, seekor harimau mempunyai pandangan yang jauh lebih tajam dari mata manusia di malam hari. Apalagi malam yang kelam di tengah-tengah hutan yang pekat.

Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, tidak dapat memperhatikan dengan jelas apa yang telah terjadi. Tetapi dalam kegelapan itu mereka melihat bayangan harimau itu merunduk.

Lembu Ampal menjadi gemetar. Bahkan rasa-rasanya ia sendiri ingin segera meloncat mendahului menerkam harimau itu, sebelum harimau itu meloncat menerkam Ranggawuni.

Tetapi Lembu Ampal tidak berani melakukannya. Jika ia berbuat demikian, kemudian dengan pisau belati sepasang di kedua tangannya ia membunuh harimau itu, maka ia tentu akan mendapat hukuman. Jika bukan badaniah tentu hukuman batiniah yang tentu akan terasa lebih berat, la bahkan mungkin akan diusir dari istana.

Itulah sebabnya, ia hanya dapat berdoa, mudah-mudahan yang maha Agung melindungi Ranggawuni yang masih sangat muda itu.

Dalam kegelapan malam, mereka yang berada di sekitar tempat itu melihat remang-remang harimau itu mulai bergerak. Tetapi yang nampak hanya samar-samar sekali. Itupun hanya mereka yang memiliki tatapan mata yang sangat tajam.

Tetapi Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu sempat pula melihat gerak harimau itu. Betapa perkasanya di antara geramnya yang mendirikan bulu roma.

Namun dalam pada itu, sesuatu telah melonjak di dalam hati Empu Baladatu. Seolah-olah harapannya akan segera dapat terlaksana. Ranggawuni akan dikoyak-koyak oleh harimau yang ganas itu.

“Tentu Mahisa Campaka tidak akan bertahan lama. la akan mengalami kejutan batin yang tidak akan dapat diatasinya.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.

Tetapi ada satu yang tidak diketahui oleh orang-orang yang mencemaskan nasib Ranggawuni. la memiliki ilmu yang seolah-olah merupakan inderanya yang keenam. Dengan latihan-latihan yang berat, sebenarnyalah ia seolah-olah melihat, meskipun tidak dengan mata wadagnya, apa saja yang akan dilakukan oleh harimau yang garang itu.

Dalam pada itu, sejenak kemudian setiap hati menjadi tergetar karenanya. Harimau itu mengaum sekali lagi sambil meloncat menerkam Ranggawuni. Tetapi Ranggawuni benar-benar telah bersiaga. Dengan tangkasnya ia bergeser ke samping sehingga harimau itu tidak berhasil menyentuhnya.

Seperti yang dilakukan oleh Empu Sanggadaru maka Ranggawuni pun segera meloncat ke punggung harimau itu. Kedua tangannya segera memeluk leher harimau itu dan jarinya dengan kuatnya mencengkam bulu-bulunya.

Harimau itu terkejut. Ketika benda yang terasa melekat di punggungnya itu tidak segera hilang, maka harimau itupun menjadi marah. Dengan garangnya ia mengibaskan dirinya, bahkan kemudian sambil meloncat dan berguling-guling. Tetapi Ranggawuni yang berpegangan kuat sekali itu sama sekali tidak terlepaskan.

Berbeda dengan Empu Sanggadaru yang sebelah tangannya memegang sepotong galib asem, Ranggawuni sama sekali tidak memegang apapun juga. Karena itulah maka ia dapat lebih erat berpegangan pada leher harimau itu.

Betapapun juga harimau itu berusaha, namun ia tidak berhasil melemparkan Ranggawuni dari punggungnya.

Dengan tegang Empu Sanggadaru, Empu Baladatu dan Lembu Ampal memperhatikan perkelahian itu. Seorang cantrik dan pengawal Empu Baladatu tidak dapat mengikutinya dalam keseluruhan. Kadang-kadang mereka sama sekali tidak melihat apa yang terjadi. Hanya kadang-kadang saja mereka dapat merasakan, betapa dahsyatnya perkelahian itu.

Setiap kali terdengar harimau itu menggeram dan bahkan mengaum. Suaranya bagaikan gemuruhnya banjir. Namun Ranggawuni masih tetap melekat di punggung harimau itu.

Tetapi di gelapnya malam, harimau itu telah terbentur-bentur pada batang-batang kayu yang besar dan kokoh.

Betapapun kuatnya tangan Ranggawuni, namun karena gerak harimau yang marah itu bagaikan angin pusaran yang berputar-putar tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya, maka lambat laun telah menjadi kendor pula.

Tetapi Ranggawuni menyadarinya. Ia sudah melihat apa yang terjadi pada Empu Sanggadaru ketika orang itu berkelahi membunuh harimau loreng yang betina itu.

Karena itulah maka ia menjadi lebih berhati-hati, Ia tidak ingin memukul harimau itu dengan apapun juga. Ia ingin membiarkan harimau itu menjadi lelah sendiri dan kehilangan segenap tenaganya.

Tetapi ternyata bahwa kekuatan harimau itu jaub lebih besar dari yang diduganya. Sehingga dengan demikian, iapun dapat mengukur kekuatan jasmaniah Empu Sanggadaru. Apalagi selelah Empu Sanggadaru mengetrapkan ilmunya, sehingga ia mampu mengangkat harimau betina itu, memutarnya di atas kepala dan membenturkannya pada sebatang pohon yang besar.

“Aku tidak akan berbuat seperti yang sudah dilakukan oleh Empu Sanggadaru.” berkata Ranggawuni.

Itulah sebabnya ia justru berusaha berpegangan semakin kuat. Setiap kali ia membetulkan kedua tangannya yang menggenggam bulu-bulu leher, bahkan kulit leher harimau itu.

Tetapi ternyata bahwa harimau itu tidak segera menjadi lelah. Ia masih berguling-guling dan melonjak-lonjak dengan dahsyatnya, untuk melemparkan mahluk yang melekat di punggungnya.

Tetapi harimau itu tidak segera berhasil. Betapapun ia berusaha, namun yang melekat di punggungnya itu seolah-olah telah menyatu pada kulit dagingnya.

Meskipun demikian, benturan-benturan pada pepohonan, batu-batu dan semak-semak, seolah-olah telah menggoreskan luka-luka di seluruh tubuh Ranggawuni. Justru bukan oleh kuku-kuku harimau itu, tetapi oleh kulit-kulit kayu, ranting-ranting yang berpatahan dan ujung-ujung batu yang runcing.

Luka-luka itu semakin lama semakin terasa pedih, sedangkan harimau itu masih juga belum berhenti. Apalagi kemudian harimau itu berusaha untuk melontarkan mahluk di punggungnya itu. dengan kaki belakangnya.

Ranggawuni akhirnya menyadari, bahwa ia tidak akan dapat bertahan dengan caranya. Harimau itu masih tetap kuat dan tangkas, seakan-akan tenaganya sama sekali tidak berkurang. Jika ia masih tetap pada caranya, maka mungkin sekali, ia akan menjadi lelah lebih dahulu daripada harimau loreng itu.

Namun sama sekali tidak terbersit niat pada Ranggawuni untuk melukai harimau itu dengan senjata. Karena itulah, akhirnya Ranggawuni harus mengambil cara lain. Apalagi mengenai kulitnya dan menggoreskan luka pada kulitnya.

Untuk beberapa saat Ranggawuni masih bertahan. Dan dalam pada itu, mereka yang menyaksikan perkelahian itupun menjadi semakin tegang.

Meskipun mereka tidak melihat karena pekatnya malam di hutan yang lebat itu, namun mereka dapat membayangkan, bahwa tubuh Ranggawuni tentu sudah menjadi merah oleh darahnya.

Tetapi tidak seorang pun yang dapat berbuat apapun juga. Mereka hanya dapat berdiri membeku. Sekali-sekali Lembu Ampal meraba pisau berburunya yang terselip di lambung. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Mahisa Campaka yang tidak mendapat kesempatan untuk berkelahi dengan harimau itu menjadi tegang. Bahkan lambat laun menjadi khawatir juga melihat bayangan yang seolah-olah berputaran dan melonjak-lonjak. Sementara dedaunan nampak bagaikan ditiup angin prahara. Suara ranting-ranting yang berpatahan dan batu yang terlontar, membuat hatinya semakin kecut.

Ranggawuni sedang berusaha, bagaimanakah cara yang sebaiknya untuk menaklukkan harimau itu tanpa melukainya dengan senjata. Namun untuk tetap diam di atas punggung harimau itu, ia yakin, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Karena itulah, maka Ranggawuni pun kemudian mempergunakan tangannya untuk menyerang harimau itu. Tidak dengan sepotong galih asem. Tetapi dengan sisa telapak tangannya.

Sekali-sekali jika ia mendapat kesempatan, maka tangan kanannya pun melepaskan leher harimau itu, dan dengan dahsyatnya menghantam kening.

Ternyata pukulan tangan Ranggawuni telah berpengaruh atas harimau lawannya. Ketika sisi telapak tangan Ranggawuni mengenai dahi harimau itu, di antara kedua matanya, maka harimau itu pun menggeram dengan dahsyatnya sambil meloncat mengejut.

Ternyata loncatan itu benar-benar tidak diduga oleh Ranggawuni. Apalagi ia telah melepaskan sebelah tangannya. Itulah sebabnya, maka iapun telah terlempar pula dari punggung harimau yang melonjak dengan dahsyatnya itu.

Ternyata Ranggawuni masih mampu menguasai dirinya, la jatuh pada kedua kakinya yang merendah pada lututnya.

Sejenak Ranggawuni melihat harimau yang merasa telah kehilangan beban itu. Agaknya harimau itu tidak mau membiarkan lawannya mendapat kesempatan. Dengan serta merta ia sekali lagi mengaum sambil menerkam dengan kedua kaki depannya.

Ranggawuni tidak sempat meloncat untuk mengelakkan diri. Karena itu ia harus segera berbuat sesuatu.

Itulah sebabnya, maka iapun segera menjatuhkan dirinya menelentang. Dengan demikian maka harimau itu seolah-olah telah membujur tepat di atasnya dengan kedua kaki depannya terjulur lurus kedepan.

Namun pada saat itu, ketika kaki-kaki harimau itu hampir saja merobek wajah Ranggawuni yang menelentang di tanah, maka tiba-tiba saja sebuah kekuatan yang tidak terkira besarnya telah melemparkan harimau itu.

Ternyata Ranggawuni masih sempat mempergunakan kedua kakinya yang tepat menghantam perut harimau itu. Demikian besarnya kekuatan kaki Ranggawuni sehingga harimau itu telah terlempar ke udara. Sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Agaknya harimau itu telah membentur sebuah dahan yang besar di atasnya.

Terdengar sebuah auman yang maha dahsyat. Harimau itu kemudian meluncur dengan derasnya. Dengan menggeliat, harimau itu berusaha jatuh pada keempat kakinya.

Namun benturan yang telah terjadi agaknya telah menyakitinya. Bahkan kesakitan yang amat sangat, sehingga karena itu pulalah, maka harimau itu tidak lagi dapat menguasai tubuhnya sebaik-baiknya.

Dengan demikian, maka setelah benturan itu terjadi, dan harimau itu terlempar kembali ke tanah, ia tidak berhasil berdiri pada keempat kakinya. Yang terjadi adalah, harimau itu jatuh miring pada pundaknya.

Harimau yang kesakitan itu meronta. Tetapi tenaganya ternyata telah jauh berkurang. Apalagi ketika kemudian sebuah pukulan sisi telapak tangan mengenai tengkuknya. Tidak hanya satu kali. Tetapi beberapa kali.

Harimau itu menjadi semakin lemah. Bahkan seolah-olah telah kehilangan keseimbangannya sehingga ketika harimau itu mencoba berdiri, maka setelah terhuyung-huyung sejenak, maka harimau itu pun kemudian terjatuh dengan lemahnya, meskipun masih saja menggeram dan sekali-sekali mengaum dengan dahsyatnya. Namun suaranya tidak lagi melambangkan kegarangannya. Bahkan seolah-olah yang terdengar adalah suatu rintihan kesakitan yang memelas.

Ranggawuni yang hampir di seluruh tubuhnya telah digores luka-luka oleh kuku harimau dan batu-batu karang serta, ranting yang berpatahan, kemudian berdiri tegak di sisi harimau yang sedang merintih itu. Dengan berdiri di atas kedua kakinya yang renggang, ia telah siap untuk mengakhiri perkelahian yang dahsyat dan mendebarkan jantung itu. Perlahan-lahan tangan kananya telah terangkat. Dengan sebuah ayunan ilmunya yang dilontarkan dengan kekuatan yang tidak sepenuhnya, ia akan dapat mematahkan tulang belakang harimau itu dan mematikannya tanpa melukainya.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu telah berdiri mematung. Bahkan nafas mereka seolah-olah telah, berhenti mengalir. Mahisa Campaka, Lembu Ampal, Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui manusia biasa, dapat melihat meskipun hanya remang-remang apa yang telah terjadi. Sedangkan cantrik dan pengawal Empu Baladatu, dengan susah payah mencoba pula untuk mengerti, bagaimana akhir dari perkelahian itu.

Dengan tegang orang-orang yang berada di sekitar tempat itu menunggu, apakah yang akan dilakukan oleh Ranggawuni. Lembu Ampal yang mengerti sebaik-baiknya kemampuan tangan Ranggawuni, apalagi dalam kekuatan ilmu puncaknya, agaknya tidak akan perlu mengulangi lagi. Bahkan mungkin tulang-tulang harimau itu akan remuk dan demikian juga, keutuhan kulitnya akan menjadi cacat.

Namun setelah beberapa saat lamanya mereka menunggu Ranggawuni tidak juga mengayunkan tangannya. Bahkan tangan itu perlahan-lahan telah mengendor, dan akhirnya terkulai di sisi tubuhnya.

Lembu Ampal menajdi cemas melihat sikap Ranggawuni itu Dengan serta merta, hampir di luar sadarnya ia belari-lari mendekatinya. Dengan suara yang tinggi ia bertanya, “Ampun tuanku, apakah yang telah terjadi sebenarnya?”

Ranggawuni berpaling. Didalam kegelapan malam, ternyata ketajaman penglihatan mata hati Ranggawuni dapat melihat kecemasan yang sangat di wajah Lembu Ampal.

Meskipun tidak begitu jelas, namun Lembu Ampal melihal dan mendengar Ranggaawuni tertawa perlahan. Namun suara tertawanya itu telah membuat hati Lembu Ampal menjadi tenang.

“Paman.” berkata Ranggawuni, “Aku telah melumpuhkan harimau itu tanpa melukai kulitnya.”

“Ya, ya tuanku.”

“Tetapi ternyata aku tidak dapat membunuhnya. Kau dengar harimau itu merintih?”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba tuanku. Hamba mendengar.”

“Aku ingin harimau itu tetap hidup. Aku akan membawanya kembali ke istana dan jika kita berhasil mengobatinya, maka ia akan tetap hidup meskipun di dalam kandang besi.”

“O.” Lembu Ampal menarik nafas, “Bagaimana jika harimau ini segera pulih kembali?”

“Kita akan mencari tali janget yang kuat. He, bukankah kita sudah membawa janget meskipun semula tidak kita sediakan untuk mengikat harimau itu.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk.

“Mumpung harimau itu masih lemah sekali.” berkata Ranggawuni, “Marilah, berikan tali itu paman.”

Lembu Ampal yang memang sudah membawa beberapa perlengkapan berburu segera mengikat harimau itu dibantu: oleh Ranggawuni dan orang- orang yang lain yang kemudian mendekat pula.

Harimau itu masih saja mengaum dengan dahsyatnya. Bahkan sekali-sekali berusaha menggigit dengan giginya yang tajam.

Tetapi tubuhnya memang masih terlampau lemah, sehingga akhirnya keempat kakinya pun telah terikat erat, dengan janget rangkap tiga.

Betapapun juga harimau itu mencoba untuk meronta, tetapi tali janget itu memang terlampau kuat, sehingga harimau itu tidak akan mungkin dapat memutuskannya. Apalagi jangkau giginya tidak sampai kepada tali yang mengikat keempat kaki harimau itu.

“Meskipun besok kekuatan harimau itu mungkin pulih, tetapi harimau itu tentu tidak akan dapat memutuskan tali janget itu.” berkata Ranggawuni kemudian.

“Ya. Tuanku.”Jawab Lembu Ampal, “Janget itu kuat sekali.”

“Baiklah paman.” berkata Ranggawuni kemudian, “Marilah harimau itu kita bawa menyingkir.” Lalu, katanya kepada Empu Sanggadaru, “Empu bawa pulalah harimaumu. Kita sudah tidak akan mengintai jenisnya lagi di sini.”

“Hamba, tuanku.” jawah Empu Sanggadaru. Namun kemundian katanya, “Ampun tuanku. Ternyata kali ini, tuanku pulalah yang menang. Aku berhasil menangkap harimau itu tampa melukainya, tetapi setelah menjadi bangkai. Tetapi tuanku berhasil menangkap tanpa melukainya, dan bahkan masih tetap hidup. Mungkin harimau itu akan dapat sembuh dan pulih kembali setelah beberapa hari berada dalam kandang. Jika di padepokan hamba terdapat seekor harimau loreng raksasa yang sudah dikeringkan, maka di halaman istana Singasari terdapat seekor harimau loreng raksasa yang jantan, dalam keadaan yang masih hidup.”

Ranggawuni tersenyum. Jawabnya, “Namun kau tetap orang yang pertama yang berhasil menangkap harimau sebesar itu, namun aku pun berbangga pula, bahwa aku adalah orang kedua.”

“Tetapi hasil tangkapan yang tuanku lakukan adalah jauh lebih bernilai dari yang aku dapatkan.”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Terserahlah kepada setiap penilaian. Tetapi marilah, kita akan beristirahat. Aku akan tidur.”

“Tetapi, apakah tuanku tidak terluka?”

“O.” Ranggawuni mulai meraba, tubuhnya. Terasa cairan yang hangat membasahi beberapa bagian dari kulitnya. Meskipun dalam kegelapan yang pekat, namun Ranggawuni segera mengetahui, bahwa kulitnya telah dilumuri dengan darahnya sendiri.

“Agaknya kulitku memang terluka.” jawabnya.

“Marilah kakanda.” berkata Mahisa Campaka, “Sebaiknya luka itu kita obati.”

“Kita akan pergi ke lapangan kecil itu. Kita akan membuat perapian yang besar, sehingga dengan demikian kita akan dapat melihat keadaan luka-lukaku.” berkata Ranggawuni.

Demikianlah maka kelompok kecil itupun kemudian Beriringan pergi kelapangan kecil di hutan yang lebat itu. Dengan memanggulnya dengan dahan kayu, mereka membawa dua ekor harimau loreng. Yang seekor sudah menjadi bangkai sedangkan yang seekor masih hidup.

Namun ternyata bahwa membawa harimau yang masih hidup itulah yang jauh lebih sulit, karena setiap kali harimau itu meronta dan mengaum keras sekali.

Namun Mahisa Campaka, Lembu Ampal dan Ranggawuni sendirilah yang memanggul harimau yang masih hidup itu. Mereka menolak bantuan yang akan diberikan oleh cantrik Empu Sanggadaru dan pengawal Empu Baladatu.

“Bawalah harimaumu.” berkata Ranggawuni, “Aku akan membawa harimauku.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa.

Ketika mereka sampai di lapangan rumput yang sempit di hutan yang lebat itu, mereka melihat kedua orang yang mereka tinggalkan masih tetap berjaga-jaga. Keduanya berdiri dengan tegak dengan senjata di tangan, ketika mereka mendengar langkah-langkah mendekat. Namun mereka pun kemudian bergembira setelah mereka mengetahui, siapakah yang telah datang.

“Bukan main.” desis kedua orang itu, “Tuanku Ranggawuni berhasil menangkap harimau itu hidup-hidup.”

Sejenak kemudian, maka mereka pun segera mencari dahan kering dan ranting-ranting yang bertebaran. Perapian yang memang sudah ada, tetapi terlampau kecil, segera mereka tambah dengan kekayuan dan rerumputan kering.

Nyala apipun segera menjilat tinggi. Dengan demikian maka mereka pun segera dapat melihat dengan jelas luka-luka yang terdapat di seluruh tubuh Ranggawuni.

“Tunku harus segera diobati.” berkata Lembu Ampal.

Ranggawuni tidak menolak ketika kemudian Lembu Ampal membersihkan luka-lukanya yang terdapat hampir di seluruh tubuhnya. Namun yang sebagian besar justru bukan oleh kuku-kuku macan yang garang itu, tetapi oleh batu-batu padas, dahan-dahan yang patah dan benturan pada pepohonan.

Empu Sanggadaru yang mengalami luka-luka serupa, bahkan lebih parah, membantu pula mengoleskan obat yang di bawa oleh Lembu Ampal.

Dalam pada itu, Empu Baladatu duduk di ujung perapian dengan jantung yang bergejolak. Rasa-rasanya darahnya beredar semakin cepat menghentak-hentak urat nadinya.

“Bukan main.” desisnya di dalam hati, “Tuanku Ranggawuni ternyata memang orang yang luar biasa. Tentu Tuanku Mahisa Campaka juga memiliki kelebihan seperti itu la menarik nafas dalam. “Lalu apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Agni tentu akan membuatku pingsan.”

Karena itu, maka rasa-rasanya Empu Baladatu telah dihadapkan pada suatu kenyataan yang pahit bagi cita-citanya. Ia menganggap bahwa ilmu hitam yang disadapnya, pada puncaknya adalah ilmu yang paling kuat di seluruh permukaan bumi. Ia telah mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dengan suatu keinginan untuk menjadi orang yang paling kuat dan tidak terkalahkan.

Namun kini ia telah menghadapi kenyataan yang lain. Empu Baladatu yang merasa dirinya telah cukup tua, baik umurnya, maupun saat-saat berguru dan mempelajari ilmu kanuragan, ternyata tidak melampaui kemampuan anak-anak muda yang tentu masih jauh lebih pendek saat-saat berguru dan berlatih daripada dirinya.

“Apakah aku mampu berkelahi melawan seekor harimau dengan tangan tanpa senjata apapun juga, dan menangkapnya hidup-hidup seperti yaang dilakukan oleh tuanku Ranggawuni “ pertanyaan itu telah mengganggunya setiap saat. Apalagi jika ia mulai membayangkan. Mahisa Agni yang diketahuinya sebagai salah seorang guru Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

“Agaknya tidak berlebih-lebihan jika beberapa orang mengatakan bahwa ilmu Gundala Sasra yang matang, dapat meluluhkan gunung dan mengeringkan lautan.” berkata Empu Baladatu di dalam hati.

Sejenak ia mencoba menimbang. Apakah ilmu hitamnya yang matang dapat melakukan seperti yang mungkin dilakukan oleh ilmu Mahisa Agni itu.

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam cahaya perapian yang kemerah-merahan ia melihat Ranggawuni merentangkan tangannya, dan membiarkan Lembu Ampal mengobati luka-lukanya yang tergores di seluruh tubuhnya.

“Yang pasti, tuanku Ranggawuni tidak memiliki ilmu kebal.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “Sehingga sebenarnya masih mungkin untuk melakukan sesuatu atasnya. Tetapi aku kira racun tidak akan banyak manfaatnya, karena iapun tentu memiliki obat penawarnya.”

Empu Baladatu termangu-mangu sejenak. Sekilas terbersit niatnya untuk merunduknya jika pada suatu saat kedua anak muda itu sedang tertidur.

“Tetapi apakah Lembu Ampal itu juga akan tidur mendengkur di sebelahnya tanpa kesiagaan sama sekali?” bertanya Empu Baladatu kepada diri sendiri.

Namun tidak ada jawaban yang didapatkannya dari dirinya sendiri, selain keragu-raguan dan bahkan kemudian hampir sebuah sikap putus asa.

“Tidak.” Ia mencoba membentakkan dirinya dari perasaan putus asa itu, “Masih akan aku ketemukan jalan. Masih ada waktu. Aku seharusnya memang tidak tergesa-gesa. Menurut orang yang dapat aku yakini kebenaran katanya, ilmu hitam adalah ilmu yang paling kuat di seluruh muka bumi meskipun harus mengorbankan kemanusiaan seutuhnya. Tetapi barangkali aku memang masih harus berjuang lebih lanjut untuk mencapai tingkatan yang sempurna itu.”

Empu Baladatu tidak sempat merenungi dirinya dan ilmunya lebih lama lagi. Ketika kemudian Lembu Ampal selesai mengobati Ranggawuni, maka merekapun kemudian duduk dalam suatu lingkaran mengelilingi api yang semakin besar menggapai-gapai ke udara.

“Tuanku.” bertanya Lembu Ampal kemudian, “Jika tuanku tetap pada rencana, maka baru beberapa hari lagi para pengawal akan menjemput tuanku.”

“Ya. Aku tetap pada rencana.”

“Tetapi bagaimanakah dengan harimau itu? Harimau itu tentu merasa haus, lapar dan mungkin juga rasa sakit karena janget yang mengikat keempat kakinya dengan eratnya. Jika harimau itu kemudian meronta-ronta, apalagi terus-menerus dalam waktu beberapa hari, maka apakah tidak mungkin kaki kaki haramu itu akan terluka. Jika demikian maka usaha tuanku untuk mendapatkan seekor harimau yang kulitnya tidak cacat akan sia-sia.”

Ranggawuni mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Mahisa Campaka sejenak. Lalu, “Kemungkinan itu memang ada. Tetapi bagaimanakah sebaiknya? Jika aku memperpendek waktu perburuan ini, bagaimana mungkin kita dapat kembali ke Singasari dalam keadaan seperti ini? Membawa seekor harimau sebesar itu tanpa orang lain?”

“Tuanku juga tidak membawa tanda-tanda kebesaran sama sekali.”

“O, itu tidak penting. Tetapi bagaimanakah harimau itu harus kita bawa? Jika harimau itu kita sangkutkan pada punggung seekor kuda, maka kuda itu tentu bagaikan menjadi gila. Bahkan mungkin punggungnya akan terkelupas digigit oleh harimau itu. Tetapi jika kita harus memanggulnya sepanjang jalan yang panjang ini, tentu akan mengalami kesulitan pula.”

“Mungkin kita dapat minta bantuan tuanku.” berkata Lembu Ampal.

“He?” Wajah Ranggawuni menjadi cerah, “Apakah begitu Empu Sanggadaru?”

“Tentu tuanku. Hamba akan dengan senang hati membantu tuanku, membawa harimau itu ke istana Singasari. Bahkan hamba tidak akan berkeberatan untuk menyerahkan diri hamba dan harimau yang telah barhasil hamba tangkap bagi hiasan pula di istana Singasari.”

“O.” Ranggawuni tertawa, “Kita sudah membaginya dengan adil. Kau seekor dan aku seekor.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa Ranggaawuni tentu akan menolak, karena sifat-sifatnya yang keras tetapi luhur.

Karena itu, Empu Sanggadaru tidak memaksanya. Katanya kemudian, “Baiklah tuanku. Jika tuanku bermurah hati, mengijinkan hamba memiliki harimau yang seekor itu.”

“Kenapa tidak? Bukankah kau sendiri yang mendapatkannya.”

“Tetapi hutan ini adalah tlatah Singasari. Jika tuanku menghendaki, apapun yang ada di dalam wilayah Singasari adalah milik tuanku.”

“Itu tidak benar.” jawab Ranggawuni dengan wajah yang bersungguh-sungguh, “Singasari bukan milik Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Ranggawuni adalah milik seluruh rakyat Singasari, meskipun pemilikan secara khusus diatur menurut adat, sehingga dengan demikian rakyat tidak berebutan atas sesuatu barang.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah demikian tuanku. Taunku adalah seorang Maharaja yang sangat bijaksana.”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Bertanyalah kepada Mahisa Campaka. Bukan akulah yang bijaksana. Agaknya memang demikian yang seharusnya.”

“Tetapi ada yang berpendapat lain tuanku. Seolah-olah seisi negara itu adalah milik seorang raja.”

“Itu adalah perkecualian. Bukan ketentuannya yang merupakan perkecualian yg harus diakui. Tetapi raja yang bersikap demikian itulah yang merupakan seorang raja yang berbuat menyimpang dari keharusan seorang Raja.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sebenarnyalah tidak salah yang hamba katakan. Tuanku memang sangat bijaksana. Terapi baiklah jika tuanku tidak ingin mendengar hamba mengucapkannya sekali lagi.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Yang bamba tunggu adalah perintah tuanku tentang, harimau itu.”

“Besok kita akan membawanya kembali ke Singasari. Kita akan memanggulnya berganti-ganti melalui jalan-jalan sempit.” berkata Ranggawuni.

“Tuanku.” berkata Lembu Ampal kemudian, “Sebenarnya tuanku dapat minta pertolongan Empu Saanggadaru dengan cara yang lain.”

Ranggawuni mengerutkan keningnya.

“Tuanku dapat minta bantuan seorang cantriknya, pergi ke istana dan menyampaikan perintah tuanku, agar beberapa orang pengawal yang telah ditemukan sebelumnya menjemput tuanku.”

Ranggawuni memandang Mahisa Campaka sekilas. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa usul Lembu Ampal itu adalah yang paling baik. Seandainya ia minta Lembu Ampal sendiri pergi ke istana, tentu Lembu Ampal tidak akan bersedia. Bukan karena ia tidak bersedia menjalani perintahnya, namun tentu tidak mau meninggalkannya dan Mahisa Campaka berdua saja bersama para pemburu yang masih belum dikenalnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Empu Baladatu berkata, “Tuanku adalah bijaksana sekali jika tuanku memberikan perintah kepada para pengawal untuk menjemput tuanku dan harimau yang masih hidup itu. Tetapi apakah dengan demikian para pengawal mempercayai utusan yang belum dikenal itu.”

Ranggawuni termangu sejenak.

“Apakah hal itu tidak akan dapat menimbulkan kesulitan para cantrik yang tidak tahu menahu itu?” desak Empu Baladatu. Selanjutnya, “Karena itu adalah yang paling baik untuk pergi ke istana memanggil para pengawal adalah pamanda tuanku.”

“Apakah aku yang kau maksud?” bertanya Lembu Ampal.

“Ya.”

Lembu Ampal memandang Ranggawuni dan Mahisa Campaka berganti-ganti. Namun seperti yang diduga oleh Ranggawuni. Maka Lembu Ampal pun berkata, “Hamba tidak akan meninggalkan Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka.”

“O.” desis Empu Baladatu, “Aku tidak mengira bahwa pamanda tuanku Ranggawuni adalah seorang yang sangat berhati-hati. Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka adalah anak-anak muda yang pilih tanding. Bahkan mungkin tidak ada seorangpun yang dapat mengimbangi kekuatannya. Kakang Empu Sanggadaru juga tidak. Apa yang perlu dicemaskan? Jika orang lain yang harus pergi, maka itu akan berarti membuang waktu yang tidak berarti, karena pada saatnya, harus ada orang lain yang sudah dikenal untuk memanggil para pengawal.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Memang mungkin sekali terjadi bahwa cantrik itu tidak akan dipercaya, dan bahkan mungkin dapat menimbulkan kesulitan padanya. Namun ada cara lain yang lebih baik. Jika tuanku Ranggawuni menyetujui maka sebaiknya kita bertiga kembali saja ke istana besok pagi-pagi benar. Aku kemudian akan kembali dengan para pengawal untuk mengambil harimau ini. Jadi pertolongan yang kami perlukan dari Empu Sanggadaru adalah sekedar menunggui harimau ini.”

Empu Baladatu tidak menyangka bahwa cara itulah yang justru diusulkan oleh Lembu Ampal. Namun sebelum ia menjawab Ranggawuni justru bertanya, “Apakah kita akan berjalan kaki?”

“Jika Empu Sangadaru tidak berkeberatan, kita dapat meminjam kuda-kuda mereka. Aku akan membawanya dan mengembalikannya kemari.”

Sejenak Ranggawuni termenung. Pendapat Lembu Ampal itu sangat menarik. Tetapi dengan demikian maka berarti bahwa perburuan selanjutnya telah dihentikan.

Dalam pada itu Empu Baladatu pun menjadi berdebar-debar. Jika demikian, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk melakukan sesuatu selama masa perburuan itu. Namun kemudian iapun berkata kepada diri sendiri, “Apa yang dapat aku lakukan sekarang. Agaknya sikap kakang Sanggadaru meragukan sekali. Mungkin aku tidak akan dapat membujuknya dalam waktu yang dekat dan pendek. Karena itu biar sajalah mereka kembali dan kami meneruskan perburuan ini.”

Dalam pada itu, Empu Sanggadaru pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah tuanku. Jika tuanku menghendaki. Biarlah hamba bersama adik hamba menunggu harimau-harimau itu di sini sampai saatnya para prajurit datang mengambilnya.”

“Hanya harimau yang masih hidup itulah yang akan aku bawa ke istana.”

“Hamba tuanku.” jawah Empu Sanggadaru.

Empu Baladatu tidak mempunyai rencana apapun lagi dalam waktu yang dekat, karena ia masih belum menemukan tanda-tanda yang meyakinkannya, bahwa kakaknya akan bersedia membantunya.

“Besok pagi-pagi benar kami akan meninggalkan hutan perburuan ini.” berkata Ranggawuni, “Dan aku sependapat dengan paman Lembu Ampal.”

“Silahkan tuanku. Jika tuanku sudi mempergunakan kuda hamba, maka hamba akan menyerahkannya dengan bangga.”

“Terima kasih. Agaknya kali ini aku tidak akan dapat berhuru sesuai dengan rencanaku. Justru karena aku kasihan melihat harimau itu. Tentu ia akan kehausan dan lapar. Tetapi dalam keadaan seperti itu, maka ia tidak akan dapat makan dan minum secukupnya.”

Empu Baladatu hanyalah menganggukkan kepalanya saja.

“Nah.” berkata Ranggawuni kemudian, “Aku akan beristirahat. Mungkin Adinda Mahisa Campaka juga lelah dan akan beristirahat pula, sampai saatnya kita akan kembali ke Singasari.”

“Aku tidak berbuat apa-apa kakanda.” jawab Mahisa Campaka.

“Tetapi menunggu adalah pekerjaan yang barangkali lebih menjemukan dari melakukan sesuatu, sehingga kau pun mememerlukan beristirahat pula.”

Mahisa Campaka tertawa. Jawabnya, “Baiklah, aku akan beristirahat. Masa perburuan kali ini bukan saja masa yang paling pendek bagiku, tetapi juga yang paling sepi, karena aku ternyata kali ini tidak berbuat apa-apa.”

Namun dalam pada itu, selagi mereka. masih berbincang, terdengar seekor burung menggelepak di atas dahan. Hampir berbareng mereka menengadahkan kepala kelangit. Ternyata bahwa langit telah menjadi merah oleh fajar yang bakal merekah.

“Ternyata aku tidak sempat beristirahat.” desis Ranggawuni, “Aku harus segera mempersiapkan diri dan kembali ke Kotaraja, agar para prajurit segera dapat mengambil harimau itu.”

“Ya tuanku. Silahkan tuanku berkemas. Sebaiknya kita justru segera berangkat, sehingga tuanku akan segera dapat beristirahat di istana.”

Ranggawuni mengangguk-angguk, sementara Mahisa Campaka dengan malasnya berkata, “Mamba akan mohon agar kakanda sudi mengajak hamba untuk berburu pada waktu yang dekat.”

“Tentu adinda. Aku akan segera merencanakan masa perburuan yang baru.”

Demikianlah maka Ranggaawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal pun segera mempersiapkan diri. Mereka akan segera kembali ke Kotaraja, agar harimau yang terikat itu dapat diselamatkan, dan dapat hidup di dalam kandang di halaman istana Singasari.

Namun dalam pada itu, ketika matahari telah naik, serta Ranggawuni dan adindanya Mahisa Campaka beserta Lembu Ampal telah siap, terdengar derap beberapa ekor kuda.

“Tuanku.” desis Lembu Ampal, “Hamba mendengar derap beberapa ekor kuda.”

Ranggawuni mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku juga mendengar.”

“Agaknya itu adalah kuda-kuda yang jejaknya kita lihat kemarin “ desis Empu Sanggadaru.

Semuanya justru kemudian terdiam. Derap kuda itu agaknya semakin lama menjadi semakin dekat.

“Jangan sebut aku Maharaja Singasari jika yang datang orang yang tidak kita kenal.” desis Ranggawuni.

Semua Orang memandang kepadanya. Namun kemudian merekapun mengangguk-angguk kecil.

Sejenak kemudian muncullah tiga orang berkuda mendekati beberapa orang yang duduk di rerumputan menunggui dua ekor harimau. Yang seekor telah menjadi bangkai, sedang yang seekor masih hidup, tetapi terikat erat-erat dengan janget yang rangkap.

Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa orang pemburu yang telah berhasil mendapatkan dua ekor harimau, maka kuda-kuda merekapun tiba-tiba saja menjadi lambat dan berhenti.

“He, siapakah kalian.” tiba-tiba seorang yang masih muda di atas punggung kuda yang paling depan itupun bertanya.

Sejenak orang-orang yang berada di lapangan rumput sempit itu termangu-mangu. Baru kemudian Empu Sanggadaru menjawab, “Kami adalah pemburu yang memang sering melakukan pemburuan di hutan ini. Agaknya Ki Sanak orang-orang baru di sini.”

Ketiga orang itu berpandangan sejenak. Namun kemudian yang paling depan dari mereka menyahut, “Ya. Kami orang orang baru pertama kali berburu di daerah ini. Tetapi kami memang pemburu yang menjelajahi hutan-hutan lebat bukan saja di sekitar Kotaraja.”

“Siapakah kalian Ki Sanak?” bertanya Empu Sanggada.

Anak muda yang berada di tengah sudah membuka mulutnya untuk menjawab. Tetapi yang dipaling depan cepat mendahului.

“Apakah kepentinganmu mengetahui tentang kami? Kami adalah pengembara yang berburu di segala tempat dan medan. Namaku tidak berarti apa-apa bagimu, karena aku yakin kau belum pernah mendengarnya, seperti aku juga belum pernah mendengar namamu, meskipun sikap dan terutama pakaianmu telah meyakinkan aku, bahwa kau memang seorang pemburu.”

“Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu tentang diriku Ki Sanak, Aku adalah Empu Sanggadaru. Seorang yang tinggal di padepokan yang tidak jauh dari hutan ini. Kerjaku sehari-hari memang berburu sehingga aku harus membuat perlengkapan berburu yang memadai.”

“Tetapi kenapa tidak semua orang-orangmu memakai pakaian, buru seperti yang kau pakai?”

“Yang terpenting dari kesulitannya adalah terlalu sedikit belulang yang bagus untuk dijadikan pakaian seperti yang aku pakai sekarang. Alasan yang lain, mereka tidak tahan, karena memakai pakaian kulit harimau memang terlalu panas. Tetapi bagiku ini adalah suatu kebanggaan.” Empu Sanggadaru menjawab.

Anak muda yang berkuda dipaling depan mengangguk Katanya, “Ternyata kau lebih beruntung dari padaku. Aku belum mendapat seekor binatangpun selain seekor rusa kecil yang sudah kami jadikan santapan kami sejak kemarin.”

“O, kamipun baru mendapatkan dua ekor harimau.”

Orang-orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun sementara itu Empu Sanggadaru masih bertanya, “Kau belum menjawab Ki Sanak, siapakah kalian sebenarnya?”

Sekali lagi anak muda yang berkuda dipaling depan mendahului ketika yang berada di belakangnya sudah siap untuk menjawab, “Kami adalah perantau yang tidak banyak dikenal. Namaku Rute. Kedua kawanku ini adalah Tanca dan Sasak.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Namun ia melihat perubahan wajah kedua orang yang berkuda di belakang anak muda yang menyebut tiga buah nama itu, sehingga baik Empu Sanggadaru maupun orang-orang lain yang bersamanya, segera mengetahui bahwa nama-nama itu bukanlah nama yang sebenarnya.

Tetapi mereka sama sekali tidak mempedulikannya, karena mereka memang dapat saja berpapasan di jalan dengan orang yang bernama siapapun juga.

Namun dalam pada itu, ternyata kedua ekor harimau itu sangat menarik perhatian ketiga pemburu berkuda itu. Sehingga mereka seolah-olah tidak melepaskan tatapan mara mereka kepada harimau-harimau itu.

“Ki Sanak.” tiba-tiba anak muda yang berkuda dipaling depan berkata, “Apakah kedua ekor harimau itu juga akan kalian bawa pulang?”

“Ya, tentu Ki Sanak.”

“Menarik sekali, bahwa kalian berhasil menjerat harimau itu dan menangkapnya hidup-hidup.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Ya. Semalam suntuk kami memasang jaring. Yang seekor terpaksa kami bunuh, karena berhasil melepaskan diri dari jaring kami.”

Anak muda berkuda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Bukan kau pemburu-pemburu yang memang pekerjaanmu berburu?”

“Ya, ya anak muda.”

“Lalu untuk apakah hasil buruanmu itu?”

“O.” Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku adalah pengumpul binatang buruan. Kulitnya, tulang-tulangnya dan bahkan aku mengeringkannya jika malang buruan kami dapat kami tangkap utuh.”

Anak muda itu mengangguk. Lalu katanya, “Jika demikian tentu kalian juga mendapatkan nafkah kalian dari perburuan yang kalian lakukan.”

“Tidak seluruhnya Ki Sanak, karena kami juga bertani di padepokan kami.”

“Bagus. Nah, sekarang, kami ingin memiliki salah seekor harimau buruanmu itu. Apakah aku dapat membelinya? Aku ingin menyimpannya dan mengeringkannya. Seorang saudaraku memiliki kemampuan untuk mengeringkan binatang, karena ia mengetahui reramuan yang dipergunakan untuk itu.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya, lalu jawabnya, “Maaf Ki Sanak. Kami pada dasarnya memang seorang pemburu yang sebagian besar hidup kami, kami habiskan untuk berada di tengah-tengah hutan seperti sekarang ini. Tetapi bukan maksud kami untuk menjual hasil buruan kami, karena kami. adalah orang-orang yang senang akan hasil buruan kami bagi perhiasan rumah kami. Selebihnya adalah kebangggaan kami untuk menempatkan hasil-hasil buruan kami itu sebagai pajangan, dan dikagumi oleh tamu-tamu kami.”

Anak muda yang berkuda dipaling depan itu berpaling memandang kedua orang kawannya. Anak muda yang seorang lagi kemudian berkata, “Kau dapat memberikan harga berapa saja asal masih cukup wajar. Kami mengagumi kemampuanmu menangkap dua ekor harimau itu sekaligus. Padahal kami datang lebih dahulu daripadamu. Jika kami mengambil seekor maka kalian masih mempunyai seekor yang sama besarnya dan sama garangnya.”

Empu Sanggadaru memandang Ranggawuni sejenak. Namun sebenarnya ia hanya sekedar ingin meyakinkan, karena sudah pasti bahwa permintaan itu tidak akan dapat dipenuhinya.

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan kepalanya kemudian terangguk kecil, karena seolah-olah ia pun dapat membaca maksud Empu Sanggadaru.

“Ki Sanak.” berkata Empu Sanggadaru kemudian kepada ketiga orang itu, “Sayang sekali, bahwa kami tidak akan dapat memenuhi permintaanmu. Kami dengan bangga akan dapat mengeringkan sepasang harimau ini. Jantan dan betina. Namun kami masih juga ingin mencoba untuk menyembuhkan harimau jantan ini dari kejutan saat ia terperangkap, agar kemudian dapat kami pelihara di samping yang sudah mati. Tetapi apabila tidak mungkin, maka terpaksa kemipun akan mengeringkannya dan memasangnya di depan pintu pringgitan.”

Anak muda yang berkuda dipaling depan mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Jangan mempersulit keadaan. Aku akan memberikan imbalan. Aku tidak hanya akan sekedar merampas.”

“Kami tahu Ki Sanak. Tetapi kami minta maaf.”

Anak muda yang berkuda di belakangnyapun berkata, “Apakah keberatanmu? Kau dapat mencari harimau yang lain.”

“Sulit sekali untuk menemukan harimau sebesar ini Ki Sanak.” jawab Empu Sanggadaru, “Karena itu, kami tidak akan dapat melepaskannya.”

“Kalian memang keras kepala. Apakah kalian sama sekali tidak berniat untuk mendapatkan uang cukup? Dan kemudian memasuki hutan ini lebih dalam lagi dan mendapatkan harimau yang lebih besar?”

“Tidak.”

“Persetan.” geram anak muda yang berkuda dipaling depan, “Kalian keras kepala. Buat apa sebenarnya kalian berburu, jika hanya akan kau timbun di dalam rumahmu saja tanpa menghasilkan apa-apa?”

“Itu urusan kami.” tiba-tiba Empu Baladatu yang lebih panas menjawab. Ia tidak sabar lagi melihat anak-anak muda yang baginya terlalu sombong, sedang seorang yang nampaknya lebih tua sama sekali tidak berbicara apa-apa.

Mendengar jawaban Empu Baladatu, anak muda yang berada di tengah itu mengerutkan keningnya. Dengan geram ia berkata, “Kau jangan membentak pemburu gila. Kau sangka kami ini pengemis yang datang untuk minta-minta belas kasihan. Jika kalian berkeberatan, sudahlah. Tetapi jangan menganggap kami seperti binatang yang diusir dengan kasar.”

“Kami muak melihat tingkah laku kalian.” geram Empa Baladatu. Sementara itu Empu Sanggadaru sempat menggamitnya agar adiknya tidak bersikap terlalu kasar, karena di antara mereka yang sedang berburu itu terdapat Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

Tetapi Empu Baladatu memang bukan seorang yang dapat menyabarkan diri. Karena itu, maka iapun justru mengibaskas tangannya sambil berkata, “Biar sajalah. Aku benci melihat anak-anak muda yang sombong. Ia merasa dirinya terlampau kaya dan dapat membeli apa saja dengan uangnya.”

“Tutup mulutmu.” bentak anak muda yang dipaling depan, “Aku masih mencoba menyabarkan diri.”

“Aku tidak perlu kesabaranmu. Pergilah, dan jangan memaksa kami menjual hasil buruan kami, sebab dengan demikian kalian hanya akan menimbulkan kemarahan kami.”

“Kau mencoba mengusir kami? Kau mengira bahwa kami takut melihat tampangmu. Meskipun kalian beramai-ramai dapat menangkap sepasang harimau sebesar itu, karena kami akan dapat melumatkan kepalamu dengan sentuhan tanganku.”

Empu Baladatu pun tiba-tiba menjadi marah. Namun Empu Sanggadarulah yang melangkah maju sambil berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Kita tidak akan mengadakan pembicaraan jual beli. Kami persilahkan Ki Sanak mencari langsung ke jantung hutan ini. Mungkin di tengah-tengah hutan yang lebat ini, masih akan dapat dipertemukan harimau sebesar harimau-harimau itu.”

“Kami tidak bernafsu sekali untuk mendapatken seekor harimau.” jawab anak muda yang berkuda dipaling depan, “Tetapi jangan bersikap seperti seorang pahlawan di medan perang menghadapi lawannya yang sudah menyerah.”

“Pergilah.” Empu Baladatu masih membentak. Ternyata bahwa .bentakan itu benar-benar telah membakar hati anak muda yang berkuda di tengah. Karena itu sekali lagi anak muda itu mengancam, “Jika kau tidak mau menutup mulutmu, aku akan membungkamnya.”

“Setan alas.” geram Empu Baladatu, “Cobalah kau lakukan. Aku akan dapat mengelupas kulitmu seperti pisang.”

Kata-kata itu benar-benar telah mengejutkan ketiga orang berkuda itu. Ternyata mereka telah pernah mendengar istilah yang diucapkan oleh pemburu itu. Namun dengan demikian, maka mereka pun kemudian menjadi berhati-hati.

“Marilah.” tiba-tiba orang yang paling tua di antara mereka berkata, “Kita tinggalkan mereka. Sudah mereka katakan, bahwa mereka tidak akan menjual hasil buruan mereka.”

Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun sekali lagi yang tua itu berkata, “Marilah. Kita akan mencari sendiri.”

Namun kedua anak muda itu masih belum beranjak dari tempatnya, Bahkan wajah mereka menjadi merah membara karena kemarahan yang semakin memuncak.

Sejenak suasana menjadi tegang. Baik yang berada di punggung kuda, maupun yang berdiri di atas tanah saling berdiam diri dengan tegangnya.

Agaknya kedua anak muda yang berkuda itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahannya, sehingga nampaknya mereka benar-benar akan bertindak kasar. Tetapi Empu Baladatu pun tidak lagi dapat menahan hatinya, sehingga ia pun, siap untuk bertempur dengan caranya.

Sementara itu Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal memandang ketiga orang berkuda itu dengan saksama. Dari sorot matanya dan sikapnya, mereka yakin bahwa ketiga orang itu memang bukan orang kebanyakan.

Dalam pada itu, dalam ketegangan yang semakin memuncak, orang yang paling tua dari ketiga orang berkuda itu berkata sekali lagi, “Tidak pantas kita berkelahi di sini tanpa sebab yang meyakinkan. Jika ada orang yang melihat peristiwa ini, maka akan mudah menimbulkan salah duga. Mereka tentu mengira bahwa kita, akan merampas harimau hasil buruan mereka, meskipun sebab yang sebenarnya adalah sikap yang kasar dan menghina. Tetapi alasan itu tentu kurang meyakinkan.”

Anak muda yang berkuda dipaling depan menggeletakkan giginya. Sementara Empu Baladatu telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang memuncak, Ranggawuni telah memberikan isyarat kepada Lembu Ampal untuk mendekat. Kemudian iapun berbisik di telinganya, “Cegahlah perkelahian yang mungkin dapat terjadi.”

Lembu Ampal pun kemudian mengangguk sambil berdiri. Tepat pada saatnya ia mendekati anak-anak muda itu sambil berkata, “Kami minta maaf Ki Sanak. Mungkin sikap kami terlampau kasar. Tetapi itu sudah menjadi sifat seorang pemburu. Karena itu, jika bagi kalian, sifat itu kurang menyenangkan, maka biarlah sekali lagi aku minta maaf.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Bahkan iapun kemudian menambahkan, “Kami terbiasa hidup dalam kekeras lebatnya hutan dan binatang-binatang buas yang hanya mengagungkan kekuatan sebagai lambang kekuasaan. Kami memang minta maaf atas kekasaran kami.”

Tetapi Empu Baladatu memotong, “Apakah kami membiarkan mereka menghina kami kakang?”

“Tentu bukan maksudnya menghina.” sahut Lembu Ampal, “Biarlah mereka lewat. Mereka tidak akan memaksa untuk mengambil harimau-harimau hasil buruan kita.”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengerti sikap kakaknya dan Lembu Ampal. Sekilas dipandanginya Ranggawuni dan Mahisa Campaka yang sama sekali tidak menunjukkan gejolak perasaannya sama sekali.

“Orang-orang cengeng.” geram Empu Baladatu di dalam hatinya. Namun ia masih tetap menahan diri, karena ia tahu pasti, bahwa yang ada di hadapannya itu adalah seorang Maharaja yang bukan saja memiliki kewibawaan, tetapi juga memiliki kemampuan yang tidak ada taranya seperti yang sudah dilihatnya sendiri.

Tetapi justru karena itu ia bergumam di dalam hatinya “Tetapi kenapa ia terlampau cengeng sehingga menghadapi orang-orang gila yang sombong itu, mereka justru menghindari perselisihan Menghadapi orang-orang yang demikain itu seharusnya justru memancing perselisihan, sehingga kemudian sekaligus menghancurkan mereka tanpa ampun.”

Tetapi kata-kata itu hanya melingkar di dalam dadanya saja, karena Empu Baladatu tidak dapat mengucapkannya.

Dalam pada itu ketiga orang berkuda itu termangu-mangu. Dari tatapan matanya, ketiganya melihat perbedaan yang memancar pada sorot mata Lembu Ampal dari pemburu-pemburu yang kasar itu, terutama orang yang telah mengucapkan kata-kata yang telah menyetuh jantungnya.

Karena itu, ketika orang tertua di antara mereka sekali lagi mengajaknya meninggalkan tempat itu, maka anak-anak muda itupun menggeretakkan giginya sambil menarik kendali kudanya.

“Keparat.” desis yang paling depan.

“Sudahlah.” potong yang tertua, “Kita akan mencari sendiri kelak.”

Anak-anak muda itu tidak menyahut. Sementara itu yang tertua itupun berkata, “Kami akan pergi. Bukan tujuan kami untuk berburu. Jika kami singgah, sebenarnya kami hanyalah ingin memberikan selingan dalam kehidupan kami yang barangkali sangat menjemukan. Meskipun demikian bukan berarti bahwa kami bukan pemburu, karena kamipun sudah terbiasa berburu meskipun tidak di sini Tetapi kali ini memang kami tidak sedang berburu.”

“Silahkan.” jawab Lembu Ampal, “Mungkin lain kali kalian dapat kembali lagi kemari dan menemukan harimau sebesar itu.”

Orang yang tertua itu mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Kudanyapun segera bergerak mengikuti kedua ekor kuda yang lain.

Ketika ketiga ekor kuda itu sudah hilang di balik dedaunan, maka seorang anak muda di antara ketiga penunggang kuda itupun berkata, “Aku sudah pernah mendengar kata-kata seperti yang diucapkan oleh pemburu gila itu.”

“Ya.” Jawab yang tertua di antara mereka, “Kita tidak akan dapat melupakannya. Kata-kata itu selalu diucapkan oleh orang-orang yang berilmu hitam.”

“Hem.” yang lain menggeram, “Aku adalah seorang yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam disamping Mahisa Bungalan. Aku sudah berniat untuk membunuh mereka semuanya.”

“Mereka berjumlah jauh lebih banyak dari kita. Dan aku melihat sikap yang berbeda dari antara mereka itu.”

Anak muda itu menggeram. Agaknya hatinya benar-benar bergejolak melihat orang berilmu hitam di hutan yang lebat itu.

“Angger Linggadadi.” berkata orang tua itu, “Kita tidak boleh sekedar terbakar oleh perasaan. Kita harus mempertimbangkan banyak segi menghadapi orang-orang berilmu hitam itu.”

“Apa salahnya jika aku bertindak saat itu. Kita berjumlah tiga orang. Diantara kita ada kakang Linggapati.”

Orang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Linggapati sendiri nampaknya juga sedang berusaha untuk menahan gejolak perasaannya.

“Angger Linggadadi.” berkata orang tua itu, “Aku tidak sempat menghitung dengan baik. Tetapi aku kira ada tujuh orang yang menunggui dua ekor harimau itu.”

“Apakah kita bertiga tidak dapat membunuh ketujuh orang berilmu hitam itu. Mungkin satu dua di antara mereka adalah orang-orang terpenting di dalam lingkungan mereka. Tetapi tentu yang lain sama sekali tidak berarti bagi kita.”

“Itu adalah kata-kata hati yang terbakar oleh kemarahan dan kebencian. Tetapi sebaiknya, biar sajalah mereka berkeliaran. Jika mereka bertemu dengan Mahisa Bungalan, biarlah Mahisa Bungalan menyelesaikannya.”

“Dan setiap orang akan berterima kasih kepada Mahisa Bungalan itu. Sementara kita menyia-nyiakan kesempatan.”

“Jika terjadi sesuatu atas kita, tidak akan menguntungkan kita sendiri, sedangkan jika kita berhasil membunuh mereka semuanya, kita tidak akan mendapatkan apapun juga.”

Dalam pada itu Linggapati berkata, “Kita sebaiknya memang membiarkan mereka berkeliaran di hutan itu.”

“Kenapa?” bertanya Linggadadi.

“Kita masih harus menyiapkan diri dan menyimpan kemampuan kita untuk tujuan yang lebih besar daripada sekedar membiarkan hati kita dibakar oleh kebencian kepada orang-orang berilmu hitam. Sebutan pembunuh orang berilmu hitam itu agaknya telah menyeretmu kepada sikap yang tidak terkendali meskipun akupun hampir saja kehilangan pengamatan diri karena sikap orang itu tentang harimaunya. Tetapi baiklah untuk sementara kita melupakannya.”

Linggadadi menarik nafas. Namun iapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kita akan menunggu hingga pada suatu saat yang tepat.”

“Mudah-mudahan mereka sudah binasa oleh Mahisa Bungalan. Jika Mahisa Bungalan merintangi usaha kita merambas jalan ke tahta Singasari, kitalah yang akan membinasakannya.”

Demikianlah merekapun kemudian berusaha untuk melupakan orang-orang yang ditemuinya di hutan itu. Dengan hati yang kosong mereka meneruskan perjalanan mereka meninggalkan lapangan sempit di hutan itu dan menelusuri lorong setapak menuju ke udara terbuka.

Namun dalam pada itu, agaknya perburuan yang pendek itu telah menarik perhatian, sehingga Linggapatipun kemudian bergumam, “Jika ada waktu yang lain, berburu agaknya memang sangat menarik.”

“Ya.” berkata Linggadadi, “Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan perburuan kali ini. Terapi agaknya waktu terlampau sempit.”

Linggapati mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang harus segera kembali. Mudah-mudahan kehadiran kita yang lambat di rumah tidak menumbuhkan kegelisahan.”

Namun ketika di perjalanan keluar itu mereka melihat seekor kijang melintas, maka tiba-tiba saja timbul keinginan Linggadadi untuk mengejarnya.

“Sudahlah.” berkata Linggapati, “Mungkin kita akan terseret kembali jauh ke dalam hutan ini.”

Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengejar binatang buruan itu. Namun demikian ia berkata, “Kakang Linggapati Apakah kita dapat berhenti sebentar di mulut lorong itu. Aku masih ingin mendapatkan seekor binatang buruan. Aku ingin membawa kepalanya kembali dan mengeringkannya mumpung kita berada di hutan perburuan yang agak lebat dan menyimpan banyak binatang.”

“Kenapa tidak kau lakukan atas binatang yang kita langkap itu?”

Linggadadi termenung sejenak, lalu, “Tiba-tiba saja keinginan itu timbul setelah aku melihat dua ekor harimau itu. Aku berharap bahwa ada seekor harimau yang dapat kita ketemukan di sini.”

“Jarang sekali harimau berkeliaran dibagian tepi hutan. Biasanya harimau berada agak ke tengah.” Tetapi harimau yang lapar mungkin pula justru keluar hutan. Bahkan ada harimau yang terpaksa berburu binatang peliharaan.”

“Tetapi jarang sekali terjadi.”

“Kita umpankan seekor dari kuda-kuda kita.”

“Lalu, bagaimana dengan perjalanan kembali?” bertanya orang yang paling tua.

“Kita tidak benar-benar membiarkan kuda kita diterkam harimau. Aku akan menunggunya dan membunuh harimau itu dengan pisau belati.”

“Bagaimana jika sama sekali tidak ada harimau di daerah ini. Sementara itu kira menunggu sampai jemu?”

“Kita akan membatasi waktu. Sampai tengah hari. Jika tidak ada seekor binatangpun yang kita dapatkan, kita meneruskan perjalanan. Tidak harus seekor harimau. Tetapi apa saja yang lewat dan dapat kita tangkap.”

Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menolak keinginan adiknya untuk membawa seekor binatang buruan.

Tetapi menunggu binatang buruan dibagian hutan yang sudah semakin menepi, tentu tidak akan banyak memberikan harapan.

“Tidak akan banyak binatang yang kita temui di sini.” berkata orang yang tertua, “Mungkin seekor kijang, mungkin rusa atau kancil. Tetapi tentu bukan seekor harimau.”

“Apapun juga. Aku ingin membawa kepalanya pulang. Aku ingin mengeringkannya dan memasangnya pada dinding bilik dalam. Itu hanyalah suatu permulaan. Disaat-saat mendatang, aku akan berburu lebih sering untuk mendapatkan binatang lebih banyak lagi. Mungkin seekor harimau loreng, harimau kumbang atau seekor banteng.”

Linggapati yang kemudian mengekang kudanyapun kemudian berkata, “Kita akan berhenti di sini Kita akan mengikat kuda kita dan duduk menunggu sampai tengah hari.”

“Kita akan masuk agak ke dalam. Jika jalan sempit ini sering dilalui para pemburu, maka tidak akan seekor binatang pun yang akan lewat di sini. Seekor kuda kita, akan kita ikat di dekat sebuah gerumbul yang lebat. Sementara itu aku akan memanjat sebatang pohon di dekatnya, agar aku sempat menerkam harimau yang terpancing oleh kuda itu.”

Linggapati tersenyum. Katanya, “Kali ini bukannya seekor harimau yang menerkam mangsanya. Tetapi seekor harimau akan diterkam oleh seseorang.”

Linggadadi pun tertawa pula. Namun katanya, “Tetapi aku tentu akan berhasil membunuhnya jika ada seekor harimau yang mendekat.”

Demikianlah maka merekapun segera mempersiapkan diri. Mereka menuntun kuda mereka memasuki gerumbul-gerumbul di pinggir jalan sempit itu.

“Biarlah ketiganya saja kita umpankan.” berkata linggapati, “Sehingga kita tidak perlu menunggu dua ekor yang lain.”

“Bagus.” desis Linggadadi, “Jika ada angin bertiup ke hindung seekor harimau, maka harimau itu tentu akan mencarinya dan menemukannya. Itu berarti bahwa kita akan mendapatkan seekor harimau pula tanpa membeli dari orang-orang dungu itu.”

Namun dalam pada itu, selagi mereka bersiap untuk mengumpankan kuda-kuda mereka, mereka telah mendengar derap kaki kuda mendekati, sehingga dengan demikian, merekapun menjadi termangu-mangu karenanya.

“Siapakah mereka?”desis Linggadadi.

“Entahlah.” jawab kakaknya. “Aku akan melihatnya.”

Linggapatipun kemudian menyusup kembali mendekati jalan sempit yang baru saja dilaluinya. Dari balik gerumbul ia menunggu, karena ia ingin melihat siapakah yang akan lewat.

Dalam pada itu, ketika Ligngapati, Linggadadi dan seorang pengiringnya telah meninggalkan Empu Sanggadaru, maka Ranggawuni dan Mahisa Campakapun meneruskan niatnya untuk mendahului bersama Lembu Ampal. Mereka kemudian akan memerintahkan beberapa orang perajurit untuk mengambil harimau yang masih hidup itu. Mungkin dengan sebuah pedati. Meskipun sebenarnya keduanya masih ingin berburu lebih lama lagi, namun mereka berniat memelihara harimau itu di istana sehingga harimau itu tidak mati di perjalanan jika terlalu lama menunggu para prajurit yang akan menjemputnya.

Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa Linggapati dan Linggadadi akan berhenti sebelum mencapai ujung lorong di mulut hutan.

Karena itulah, maka mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa diperjalanan itu, tiba-tiba saja mereka telah dihentikan oleh seseorang yang meloncat dari dalam gerumbul ditepi jalan setapak itu.

“Ha.” berkata Linggapati, “Kau lentu salah seorang dari orang-orang berilmu hitam itu.”

Ranggawuni terkejut. Tetapi ia sempat menarik kekang kudanya dan berhenti beberapa langkah di hadapan Linggapati. Sementata itu, Linggadadi dan pengiringnyapun telah berada di sebelah Linggapati pula.

“Kenapa hal ini kau lakukan?” bisik pengiringnya.

“Aku ingin mengurangi jumlah orang berilmu hitam. Agaknya yang lewat ini adalah sebagian dari mereka. Tetapi yang lewat ini tidak akan pernah dapat keluar dari hutan ini dan bertemu kembali dengari kawan-kawannya. Sementara jika kawannya menyusulnya, kami akan membinasakannya pula. Tentu masih ada empat orang di tempat mereka berhenti menunggui harimau mereka itu.”

Ranggawuni dan Mahisa Campaka termangu-mangu. Namun dalam pada itu. Lembu Ampal melangkah maju sambil bertanya, “Kenapa kau sebut orang berilmu hitam?”

“Tentu kau akan ingkar. Atau mungkin kau akan menyebut perguruanmu dengan sebutan perguruan berilmu putih. Tetapi kami tidak akan dapat kau kelabui, bahwa kau adalah orang-orang yang disebut berilmu hitam itu.”

Lembu Ampal menjadi semakin heran. Namun kemudian iapun bertanya, “Ciri-ciri apakah yang kau kenali pada kami, sehingga kalian menyebut kami demikian?”

“Ada atau tidak ada ciri itu pada kalian, tetapi kalian adalah orang berilmu hitam. Kalian tidak akan ingkar, karena kami mengetahui dengan pasti. Kami adalah orang-orang yang disebut pembunuh orang berilmu hitam.”

“O.” Lembu Ampal mengerutkan keningnya.

“Namaku Mahisa Bungalan.”

Nama itu benar-benar telah mengejutkan Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal. Karena itu justru mereka sejenak mematung memandang orang yang menyebut dirinya. Mahisa Bungalan itu.

Linggadadi yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan itu tertawa sambil berkata, “Nah, kau mulai gemetar mendengar nama itu. Mahisa Bungalan, pembunuh orang berilmu hitam.”

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia bertanya, “Tetapi bukankah kau tadi menyebut nama lain? Kau tadi tidak mengatakan bahwa namamu adalah Mahisa BungaIan yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam.”

“Aku menghindari sebutan dan gelar itu. Tetapi ketika aku yakin bahwa kalian adalah orang-orang berilmu hitam, maka aku tetah memperkenalkan diriku yang sebenarnya.”

“Ada dua orang yang mendapat gelar Pembunuh orang berilmu Hitam. Mahisa Bungalan dan Linggadadi.” desis Lembu Ampal.

“Akulah Linggadadi.” jawab Linggapati tanpa berpikir panjang.

Ketika orang yang termangu-mangu itupun menjadi yakin. Bahkan yang dihadapi adalah orang-orang yang memang mempunyai dendam kepada orang-orang berilmu hitam, siapapun mereka itu. Namun dengan demikian, maka Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal menyadari, hahwa ketiga orang itu tidak benar ingin memusuhinya sebagai Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal.

“Ki Sanak.” berkata Lembu Ampal, “Tentu ada salah paham. Kami sebenarnyalah bukan orang-orang yang dapat disebut berilmu hitam, karena kami termasuk orang-orang yang sama sekali tidak berilmu. Kami adalah pemburu sejak kami kanak-kanak. Ilmu yang ada pada kami semata-mata adalah ilmu yang turun temurun, bagaimanakah cara kami menjerat dan menangkap binatang dengan alat-alat yang paling sederhana.”

“Persetan.” geram Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan, “Terapi Mahisa Bungalan dan Linggadadi tidak akan dapat dikelabuhi. Memang setiap orang berilmu hitam segera menjadi ketakutan mendengar nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi.”

“Tetapi.” Tiba-tiba saja Ranggawuni menjawab, “Apakah pada suatu saat Mahisa Bungalan dan Linggadadi akan dapat bekerja bersama-sama dalam satu kelompok seperti yang tengah aku hadapi sekarang ini?”

“Kenapa tidak.” jawab Linggapati, “Kami bersama telah membinasakan orang-orang berilmu hitam dimana-mana.”

“Tetapi yang dikenal di Singasari adalah Mahisa Bungalan yang melakukan tugasnya seorang diri. Ia tidak pernah dilihat orang bersama-sama dengan orang lain, kecuali kadang-kadang dengan ayahnya yang bernama Mahendra.”

“Ya, ayah memang bernama Mahendra. Kedua adiknya bernama Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Jika kalian ada yang sempat melarikan diri, kalian dapat menyebut namaku dan aku tidak akan ingkar jika kalian mecari aku di rumahku. Aku, ayahku dan adik-adikku siap untuk membunuh kalian bersama seluruh perguruanmu.”

“Dan bagaimana dengan Linggadadi? “ bertanya Mahisa Campaka.

“Jika kalian dapat menemukan Mahisa Bungalan, maka kalianpun akan dapat menemukan Linggadadi.” jawab Linggapati.

Lembu Ampal yang heran melihat tingkah laku orang-orang itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak, siapapun namamu. Agaknya kita telah salah paham. Kami menyadari bahwa kalian adalah orang-orang yang membenci orang-orang berilmu hitam. Dan agaknya kamipun demikian. Tetapi sebaiknya kalian menyebutkan, apakah sebabnya maka kalian menganggap kami orang-orang berilmu hitam.”

“Tidak ada kesempatan untuk banyak berbicara. Aku tahu, kau berusaha untuk memperpanjang waktu dan menunggu kawan-kawanmu yang barangkali sebentar lagi akan lewat pula di jalan ini.”

“Tidak. Mereka tidak akan lewat di jalan ini. karena kuda-kuda mereka sedang aku pergunakan. Kami bertiga tidak mempergunakan kuda saat kami pergi berburu.”

“Jangan berbicara ngaya wara. Mana mungkin kalian itu tidak membawa kuda.”

“Kami memang membawa kuda. Tetapi kuda-kuda itu telah kami titipkan kepada kawan-kawan kami yang mendahului kami. Maksud kami, dengan demikian kami tidak akan dibebani keharusan menjaga kuda-kuda kami.”

“O, itu adalah ceritera yang sama sekali tidak menarik sedang kawan-kawan kalian tetap juga menunggui kuda-kudanya.” bentak Linggadadi, “Sudahlah. Kami akan membunuh kalian apapun yang kalian katakan. Kami tetap dalam sikap kami, sesuai dengan gelar yang telah kami dapatkan Pembunuh orang berilmu Hitam.”

“Kami sudah mencoba memberi peringatan, bahwa kalian telah salah menilai kami.” desis Mahisa Campaka.

“Itu adalah sekedar suatu usaha untuk menyelamatkan diri. Aku pernah memhunuh lima orang berilmu hitam. Mereka juga ingkar bahwa mereka adalah orang-orang berilmu hitam, karena mereka dan juga kalian, sama sekali tidak merasa bahwa ilmu yang kau pelajari itu adalah ilmu yang sama sekali bertentangan dengan perikemanusian. Apalagi karena kalian sudah mempersiapkan diri untuk suatu tujuan yang lebib besar, menghancurkan pemerintahan.”

Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal menjadi heran dan bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah sebenarnya orang-orang itu.”

Tetapi mereka tidak sempat untuk berbicara lebih banyak lagi karena orang-orang itu agaknya benar-benar akan menyerang.

Lembu Ampal pun kemudian mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya, karena yang bersamanya itu adalah dua orang yang sedang memerintah Singasari. Setelah mengikat kudanya sendiri pada sebatang pohon perdu, maka iapun kemudian kendali kuda kedua anak muda itu dan mengikatnya pula seperti kudanya.

“Kami sudah bersiap.” berkata Ranggawuni kemudian, “Tetapi kami masih mencoba untuk memperingatkan, bahwa kalian tidak sedang berhadapan dengan orang-orang berilmu hitam.”

Linggadadi menggeram. Katanya, “Jangan menyesal jika kalianpun akan mati seperti kawan-kawanmu yang lima dan barangkali yang lain-lain lagi.”

“Kalian .telah melakukan kesalahan ganda.” berkata Mahisa Campaka, “Kami bukannya orang-orang berilmu hitam, dan yang pasti kami tidak sedang berhadapan dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Aku tidak dapat mengatakan, apakah salah seorang dari kalian benar-benar bernama Linggadadi yang bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.”

Linggapati termangu-mangu sejenak. Namun Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan itupun berteriak, “Jika kalian mengenal orang lain yang bernama Mahisa Bungalan, aku tidak peduli. Tetapi Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam itu adalah aku.”

Mahisa Campaka menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang itu sama sekali tidak lagi dapat diajak berbicara. Sehingga karena itu, tidak ada cara lain kecuali mempertahankan diri dari kemarahan orang-orang itu.

Namun demikian, maka Lembu Ampal masih berkata, “Jika di antara kalian tidak ada yang menyebut nama Mahisa Bungalan, mungkin kami percaya, bahwa kalian benar-benar bermaksud baik, dan kami pun akan dapat memberikan lebih banyak keterangan tentang diri kami. Tetapi karena salah seorang dari kalian menamakan diri Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam, maka kami menjadi ragu-ragu, apakah kalian benar-benar tidak bermaksud buruk.”

Sejenak Linggadadi tertegun. Tetapi hatinya benar-benar telah menjadi gelap. Nafsunya untuk membunuh orang yang dianggapnya berilmu hitam itu sudah tidak dapat terbendung lagi. Karena itulah maka ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Aku tidak sempat berbicara lebih lama lagi. Kalian harus segera kami musnahkan. Kemudian akan menyusuli kawan-kawan kalian yang masih ada di padang perburuan itu. Dengan demikian sekaligus kami akan mendapatkan dua ekor harimau yang kami inginkan itu.”

“Jika soalnya adalah harimau itu, maka apakah sudah sepantasnya kalian berusaha membunuh sesama?”

“Aku tidak peduli apapun tanggapanmu. Aku akan tetap membunuh orang-orang yang tidak mengenal perikemanusiaan.”

“Dengan cara yang tidak berperikemanusiaan pula?”

“Persetan.” Linggadadi melangkah maju. Demikian pula Linggapati dan pengiringnya yang nampak ragu-ragu. Tetapi iapun ternyata tidak mempunyai pilihan lain, karena kedua anak-anak muda itu benar-benar akan bertempur melawan orang-orang yang dianggapnya berilmu hitam itu.

Ranggawuni dan Mahisa Campaka pun telah bersiap pula. Meskipun mereka tidak saling berjanji, tetapi Ranggawuni seolah-olah telah menempatkan diri melawan anak muda yang menyebut dirinya bernama Linggadadi, dan Mahisa Campaka telah bersiap-siap melawan anak muda yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan.

Sementara itu dengan segan, pengiring Linggapati pun telah bersiap pula melawan Lembu Ampal yang nampak ragu-ragu juga.

Tetapi Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan itu ternyata benar-benar bernafsu membunuh lawannya. Dengan garangnya ia mempersiapkan diri. Dan sejenak kemudian maka iapun telah mulai menyerang Mahisa Campaka.

Mahisa Campaka sudah siap menghadapi serangan itu, sehingga dengan demikian, serangan itu sama sekali tidak mengejutkannya. Dengan sigap ia menghindari serangan itu.

Namun demikian, seperti juga pada Ranggawuni dan Lembu Ampal, Mahisa Campaka pun merasa bahwa tidak sepantasnya ia kehilangan akal seperti lawan-lawannya, karena ia masih tetap menduga, bahwa yang terjadi adalah sebuah salah paham saja.

Tetapi menghadapi serangan yang kemudian membadai, Mahisa Campaka tidak akan dapat selalu bertahan dan menghindar Pada suatu saat iapun akan sampai pada suatu batas yang tidak dapat dihindarinya lagi. Untuk mengurangi tekanan lawannya, maka iapun harus melawannya pula.

Dalam pada itu, Linggapati pun telah menyerang Ranggawuni pula. Serangannya merupakan amukan badai yang sangat berbahaya, karena Linggapati ingin dengan segera, menyelesaikan perkelahian itu. Jika terjadi apapun juga dengan adiknya dan pengiringnya, maka jika ia sudah terlepas dari lawannva, maka ia akan dapat membantunya.

Tetapi lawannya adalah Ranggawuni yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Karena itulah maka serangannya tidak segera dapat menundukkan lawannya. Bahkan kadang-kadang Linggapati menjadi heran, bagaimana mungkin lawannya dapat dengan mudah melepaskan diri dari belitan serangannya yang sangat cepat dan berbahaya.

“Ternyata orang; ini adalah orang-orang berilmu hitam dari tingkat yang lebih tinggi daripada mereka yang aku jumpai di dalam pasar itu.” berkata Linggapati di dalam hatinya.

Di lingkaran perkelahian yang lain. Lembu Ampal bertempur dengan orang yang paling tua di antara ketiga orang itu, masih juga tetap ragu-ragu. Ia berpendapat bahwa ketiga orang-orang itu hanyalah sekedar salah paham. Mereka tentu tidak mengira bahwa orang-orang yang sedang dilawannya itu adalah Maharaja dan Ratu Anghabaya.

Tetapi Lembu Ampal tidak berani mengatakan hal itu kepada lawannya, karena pesan Ranggawuni sendiri, bahwa kepada orang yang tidak dikenal, jangan sekali-kali menyebutkan kenyataan tentang dirinya.

Karena itu, maka yang dilakukan oleh Lembu Ampal hanyalah sakedar bertahan. Ia tidak bernafsu untuk mencelakai lawannya karena pertimbangan-pertimbangan yang masih meragukan.

Namun di lingkaran perkelahian yang lain, Linggadadi yang sudah terlanjur menyebut namanya dengan Mahisa Bungalan, yang ternyata telah menumbuhkan persoalan tersendiri itu, bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya, karena ia tetap menganggap bahwa lawannya adalah orang berilmu hitam yang harus dibinasakan, karena orang berilmu hitam itu akan dapat mengganggu rencananya. Orang berilmu hitam itu mempunyai tujuan yang akan dapat mencairkan tujuan Linggadadi yang utama, menguasai segenap kekuasaan di Singgasana Singasari.

Linggapati yang memperhitungkan semua rencananya dengan cermat untuk jangka waktu yang panjang itu, merasa sangat terganggu dengan hadirnya orang-orang dari golongan lainyang disebut berilmu hitam itu. Karena itu. maka orang-orang berilmu hitam itu memang harus dibinasakan.

“Tetapi ternyata membinasakan mereka tidak semudah yang aku duga.” berkata Linggadadi di dalam hatinya. Apalagi setelah ia bertempur beberapa saat melawan Ranggawuni.

Meskipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda, bahwa lawannya akan dapat, ditundukkannya.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Linggapati dan Linggadadi telah memeras segenap kemampuan yang ada padanya untuk menguasai lawannya.

Sementara itu, Mahisa Campaka dan Ranggawuni yang semula masih dengan sadar, mempertahankan diri dari serangan lawannya dengan pertimbangan, bahwa lawannya hanyalah sekedar salah menilai dirinya, semakin lama menjadi semakin kehilangan kesabaran. Mereka adalah anak-anak muda seperti juga Linggapati dan Linggadadi, sehingga karena itu, maka ketika keringat mereka telah mulai membasahi kulit, merekapun menjadi semakin garang pula.

Untuk sekedar mempertahankan diri dari serangan lawannya yang membadai, terasa semakin lama menjadi semakin sulit. Karena itu, maka pertahanan yang paling baik dalam keadaan yang demikian adalah berganti menyerang pula.

Darah muda di dalam tubuh kedua orang pemimpin tertinggi di Singasari yang sedang tidak mengenakan tanda-tanda kebesarannya itupun menjadi semakin panas. Bahkan akhirnya telah mendidih ketika serangan lawannya terasa mulai menyentuh tubuhnya. Bukan saja sekedar untuk mempertahankan dirinya, namun tanggung jawabnya atas Singasari yang besar itulah yang terutama mendorong mereka untuk kemudian bertempur dengan kemampuan yang ada pada mereka. Dan kemampuan raksasa yang sulit untuk dicari bandingnya.

Semula, ketika Linggapati berhasil menyentuh tubuh Ranggawuni, ia merasa bahwa saat yang menentukan akan segera tiba. Jika orang-orang yang dilawannya itu benar-benar orang berilmu hitam, maka mereka akan segera mengerahkan kemampuan terakhirnya. Suatu ciri dari orang-orang berilmu hitam adalah bertempur dalam lingkaran yang dapat membuat lawannya menjadi bingung, dan kemudian dengan kejam menyobek kulit korbannya sehingga seolah-olah terkelupas.

Karena itu, maka Linggapati pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Namun yang kemudian dihadapinya adalah berbeda sekali dengan gambaran di dalam kepalanya. Lawannya itu sama sekali tidak menjadi buas dan liar, kemudian berlari-lari melingkar sambil berteriak-teriak dengan kerasnya. Tetapi lawannya itu justru nampaknya menjadi semakin tenang. Namun dalam ketenangannya itu. terasa bahwa kekuatan ilmunya menjadi semakin mapan.

“Gila.” desis Linggapati, “Apakah benar bahwa mereka bukan orang-orang berilmu hitam.”

Linggapati tidak sempat menilai lawannya lebih lama lagi. Serangan Ranggawuni terasa semakin mendesaknya. Gerak yang mantap dan cepat, membuatnya kadang-kadang kehilangan pengamatan diri. Berkali-kali ia kehilangan kesempatan untuk menempatkan diri sebaik-baiknya, sehingga karena itu, maka setiap kali Linggapati itu meloncat jauh-jauh surut, untuk mendapat kesempatan menyiapkan perlawanan berikutnya.

Ranggawuni tidak tergesa-gesa memburu lawannya. Bahkan nampaknya ia sama sekali tidak bernafsu untuk mengalahkan lawannya. Namun demikian, serangan-serangan yang dilontarkannya bagaikan amukan angin prahara.

“Apakah aku berhadapan dengan anak jin.” desis Linggapati di dalam hatinya, ketika keadaannya menjadi semakin sulit.

Demikian pula agaknya dengan Linggadadi. Ternyata bahwa Masiha Campaka dapat bergerak secepat loncatan kilat di udara. Bahkan sudah mulai terasa, bahwa serangannya akan langsung mengarah kesasaran yang meyakinkan.

Linggadadi benar-benar menjadi heran, la pernah beberapa kali bertempur melawan orang-orang berilmu hitam. Namun kali ini ia berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak diduganya. Ia menyangka bahwa anak-anak muda itu adalah orang-orang berilmu hitam yang memiliki tingkat ilmu tidak lebih dari yang pernah dibunuhnya. Namun ternyata, bahwa anak-anak muda itu justru sudah mulai menguasainya.

“Apakah anak-anak ini termasuk murid-murid yang paling baik dari lingkungan orang-orang berilmu hitam itu?” Pertanyaan itu bukan saja mengganggu Linggadadi. tetapi juga Linggapati.

Bahkan pengiringnya yang tua itupun merasa heran karena tingkah lawannya. Ternyata bahwa Lembu Ampal sama sekali tidak bertempur dengan sungguh-sungguh. Karena ia sendiri juga ragu-ragu, maka perkelahian antara kedua orang-orang tua itu nampaknya menjadi semakin lama semakin lamban. Bahkan merekapun kemudian berusaha untuk dapat memperhatikan perkelahian kedua anak-anak muda yang menyebut diri mereka pembunuh orang-orang berilmu hitam itu, melawan dua orang yang sebenarnya masih diragukan.

Apalagi setelah berkelahi beberapa lama, sama sekali tidak nampak pada kedua anak-anak muda yang mereka sangka berilmu hitam itu, ciri-ciri dari ilmu hitam yang memang pernah mereka kenal.

Namun Linggapati dan Linggadadi sudah terlanjur terlibat dalam pekelahian yang sengit dengan Ranggawuni dan Mahisa Campaka yang sama sekali tidak mengenakan ciri-ciri kebesaran mereka.

Dalam pada itu. perkelahian itupun menjadi semakin seru. Ranggawuni dan Mahisa Campaka sama sekali tidak mau mempertaruhkan diri mereka dan, tanggung jawab mereka atas Singasari. Karena itu, maka agar mereka tidak hancur di dalam perkelahian itu, maka merekapun mulai mendesak lawan masing-masing.

“Gila.” desis Linggapati sambil menghentakkan segenap ilmunya. Tetapi Ranggawuni sama sekali tidak dapat disentuhnya lagi, sehingga dengan demikian ia menjadi yakin, bahwa ilmu lawannya itu masih lebih baik dari ilmunya.

Tetapi Linggapati tidak berputus asa Ia masih ingin menguasai lawannya dengan kekuatan daya tahan tubuhnya. Ia akan mampu bertempur untuk waktu yang lama dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Tetapi ternyata bahwa melawan Ranggawuni, Linggapati benar-benar telah memeras tenaganya. Ia tidak dapat menahan diri untuk menyimpan tenaganya agar ia mampu bertempur untuk waktu yang panjang. Setiap kali bahkan ia harus meloncat surut sejauh-jauhnya untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki keadaannya.

Ranggawuni mulai mengetahui, bahwa lawannya sudah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri apabila ia mendesak terus. Apalagi dengan puncak ilmunya. Namun Ranggawuni sama sekali tidak bermaksud demikian. Ia mengetahui bahwa yang terjadi adalah salah paham. Namun ia masih tetap curiga, bahwa lawannya itu telah menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi, pembunuh orang-orang berilmu hitam.

“Mungkin dengan menyebut nama-nama itu mereka ingin menakut-nakuti kami.” berkata Ranggawuni di dalam hatinya.

Sementara itu Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan itupun semakin terdesak pula. Agaknya sifat Mahisa Campaka agak lebih keras dari Ranggawuni, sehingga karena itu, maka tekanan ilmunya terasa menjadi sangat berat bagi Linggadadi. Berkali-kali Linggadadi terpaksa berloncatan menjauhi lawannya. Namun setiap kali Mahisa Campaka selalu berhasil mencapainya. Beberapa kali sentuhan serangan Mahisa Campaka telah mengenai lawannya.

Karena desakan yang tidak terelakkan lagi, maka Linggadadi tidak dapat berbuat lain. kecuali menarik senjatanya. Ia sadar, bahwa dengan demikian, perkelahian itu menjadi semakin berbahaya baginya, karena lawannya pun tentu akan berberbuat serupa.

Ternyata dugaan itu adalah tepat. Mahisa Campaka tidak membiarkan terdesak karena lawannya benar-benar menguasai senjatanya dengan baik. Karena itu, maka sejenak kemudian, Mahisa Campaka pun telah menarik senjatanya pula. Tetapi senjatanya tidak lebih dari sebuah pisau belati.

Linggadadi yang semula telah ragu-ragu menilai lawannya sebagai orang berilmu hitam, tiba-tiba seakan-akan mendapat keyakinan baru atas lawannya, karena lawannya itu bersenjata sebilah pisau belati.

“Mereka mengupas kulit lawannya dengan pisau-pisau belati.” katanya di dalam hati.

Dengan demikian, maka perkelahian itupun menjadi semakin sengit. Tebasan, senjata kedua belah pihak telah mematahkan dahan-dahan kayu di sekitar mereka. Gerumbul-gerumbul perdu bagaikan diratakan dengan rerumputan yang terinjak-injak oleh kaki mereka yang sedang berkelahi.

Linggapati pun kemudian tidak dapat bertahan, sekedar bertempur dengan tangannya, betapapun ia percaya kepada kemampuan jarinya. Karena itulah, maka seperti Linggadadi maka iapun telah mencabut senjata kepercayaannya pula. Namun juga seperti Mahisa Campaka, Ranggawuni pun telah mencabut pisau belatinya.

“Kau benar-benar orang berilmu hitam yang aku cari.” geram Linggapati, “Karena kau bersenjata sebilah pisau belati.”

Ranggawuni menjadi heran. Tetapi iapun menjawab, “Ini adalah senjata yang paling umum bagi seorang pemburu.”

Tetapi Linggapati sama sekali tidak menghiraukannya. Serangannya justru menjadi semakin .garang. Bahkan Linggapati telah bersiap menghadapi lawannya, seandainya lawannya itu akan mempergunakan ilmunya yang paling kasar. Berlari-lari melingkar dengan ujung pisau yang teracu, kemudian menyayat korbannya sehingga lukanya arang kranjang.

Namun ternyata bahwa Ranggawuni tidak berbuat demikian. Ia masih saja bertempur dengan caranya. Sama sekali tidak menunjukkan kekasaran, apalagi yang liar. Meskipun terasa ilmunya semakin mendesak lawannya, namun sikap dan geraknya adalah sikap dan gerak dari seseorang yang memiliki kewibawaan yang agung.

Karena itulah, maka orang yang sedang bertempur melawan Lembu Ampal, yang mendapat kesempatan terbanyak untuk menilai lawannya, menjadi semakin heran. Bahkan ia pun kemudian yakin, bahwa lawan mereka itu sama sekali bukan orang-orang yang disebut berilmu hitam itu.

Semakin seru perkelahian itu, Linggapati dan Linggadadi semakin terdesak. Meskipun lawannya hanya membawa senjata-senjata pendek, tetapi rasa-rasanya ujung pisau belati itu sudah menyentuh kulitnya. Bahkan ketika Linggadadi kehilangan kesempatan sama sekali untuk menghindar dan menangkis, ujung senjata lawannya telah tergores di kulitnya. Hanya segores kecil. Namun setitik darah mulai menetes.

“Ia mulai melukai aku.” geram Linggadadi di dalam hatinya. Namun lawannya itu tidak belari-lari berputar-putar dan melukai tubuhnya disegala permukaan kulitnya. Bahkan ketika titik darah itu telah diusapnya, lawannya nampaknya tidak hernafsu lagi untuk melukainya. Namun demikian Mahisa Campaka masih saja mendesak terus, sehingga Linggadadi merasa seolah-olah di hutan yang lebat dan luas itu tidak ada lagi tempat yang aman untuk berpijak.

Sententara itu, Lembu Ampal yang bertumpur dengan ragu-ragu, masih sempat bertanya kepada lawannya, “Ki Sanak. Kenapa anak-anak muda itu bernafsu sekali menganggap kami orang orang berilmu hitam?”

Lawannya meloncat surut. Katanya, “Benar-benar salah paham. Aku yakin bahwa kalian bukan orang-orang yang kami maksud.”

“Jika demikian, apakah kau dapat menghentikan perkelahian itu?” bertanya Lembu Ampal.

Orang itu menjadi ragu-ragu. Tetapi Lembu Ampal tidak menyerangnya lagi. Seolah-olah ia sengaja memberi kesempatan kepada lawannya untuk memberiperingatan kepada kawan-kawannya.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata meskipun dengan ragu-ragu, “Apakah perkelahian; ini harus diteruskan?”

Linggadadi dan Linggapati yang mendengar kata-kata itupun melangkah surut. Terasa sesuatu menyentuh hati. Pertanyaan serupa itu, agaknya memang sudah tumbuh dihati mereka, sejak mereka melihat, bagaimana cara lawannya mempergunakan pisau belatinya, yang sama sekali; berbeda dengan cara yang pernah dilakukan oleh orang-orang berilmu hitam.

Karena lawannya menghindar, maka Ranggawuni dan Mahisa Campaka pun menghentikan serangannya pula. Mereka memang tidak bernafsu untuk menghancurkan lawannya itu pada segala kesempatan. Karena itu, maka merekapun membiarkan lawannya mengambil jarak.

“Agaknya perkelahian ini tidak akan berarti apa-apa jika kita teruskan.” berkata orang tertua dari ketiga orang yang tidak menyebut nama mereka itu, karena lawannya pasti bahwa yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan itu adalah orang yang sama sekali tidak bernama Mahisa Bungalan.

“Jadi apa maksudmu?” bertanya Mahisa Campaka.

“Agaknya kami keliru. Kalian benar-benar bukan orang berilmu hitam.”

“Kami sudah mengatakan sejak semula. Bahwa kami bukan orang berilmu hitam.” Jawab Ranggawuni.

“Ya. Kami kemudian yakin setelah kami melihat tata gerak dan sikap kalian.”

“Bagaimana dengan tata gerak ilmu kami?” tiba-tiba saja Mahisa Campaka bertanya, “Apakah mirip dengan tata gerak dari ilmu Mahisa Bungalan?”

Orang yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan termangu-mangu.

“Sebenarnya kami dapat berbuat lebih baik jika salah seorang dari kalian tidak menyebut dirinya Mahisa Bungalan, pembunuh orang-orang berilmu hitam.” desis Mahisa Campaka.

“Kenapa?” bertanya Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan. Seperti yang pernah dilakukan jika orang-orang berilmu hitam itu ada yang berhasil melepaskan dirinya, maka dendamnya akan tertumpah kepada Mahisa Bungalan. Tetapi karena agaknya Linggapati berpendapat lain, semata-mata didorong oleh nafsunya untuk memusuhi orang-orang berilmu hitam, maka iapun telah menyebut dirinya Linggadadi pembunuh orang-orang berilmu hitam pula.

Ranggawuni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Sudah tentu mungkin sekali dua orang mempunyai nama yang sama. Tetapi jika kau menyebut nama dan gelar yang sama, maka kami pun menjadi bingung karenanya. Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam, tentu bukan dua atau tiga orang.”

“Apa kau kenal dengan Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam? Barangkali ada orang lain yang mengaku bernama dan bergelar demikian untuk kepentingan tertentu.”

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita tidak mempunyai alasan yang kuat untuk bermusuhan. Hanya sekedar curiga. Sebenarnyalah kami juga menaruh curiga pada nama dan gelarmu.”

Linggapati dan Linggadadi termangu-mangu sejenak. Sementara itu kawan mereka sudah lebih tua menyahut, “Sudahlah. Jangan dihiraukan tentang persamaan nama dan gelar itu. Tetapi, seterusnya kita akan saling mengakui, bahwa kita telah terjerumus ke dalam suatu kesalah pahaman.”

“Sebenarnya salah paham itu tidak perlu terjadi.” Mahisa Campaka yang paling muda di antara ketiga orang yang dituduh orang-orang berilmu hitam itu menjawab, “Kami sudah memberi tahukan sejak kami kalian hentikan dan sebelum perkelahian terjadi.”

“Ya. Itu adalah suatu kekhilafan.” jawab lawannya yang sudah seusia Lembu Ampal.

“Hampir saja kami menyelesaikan perkelahian ini dengan kekerasan pula.” Sambung Mahisa Campaka.

Wajah Linggadadi yang masih muda pula menjadi merah. Tetapi kawannya yang tua menjawab, “Kemungkinan semacam itu memang dapat saja terjadi di sepanjang jalan yang sempit ini. Tetapi baiklah kami minta maaf.”

Mahisa Campaka masih akan menjawab. Tetapi Lembu Ampal mendahului, “Sekarang, apakah yang akan kalian lakukan setelah kalian mengetahui dan yakin bahwa kami bukan orang berilmu hitam?”

“Kami akan menghentikan niat kami untuk membunuh kalian.” jawab Linggapati.

Namun Mahisa Campaka menyahut, “Salah Ki Sanak, siapapun namamu. Seandainya kalian berniat untuk melakukannya, aku yakin bahwa kalian tidak akan mampu, karena menurut perhitunganku, kalianlah yang tentu akan terbunuh.”

Lembu Ampal segera memotong, “Tetapi kita akan menghindarkan pertentangan lebih jauh.”

“Ya.” jawab orang yang setua Lembu Ampal itu, “Kami akan mempersilahkan kalian berjalan terus.”

“Apakah kau akan mengganggu kawan-kawan kami yang masih ada di hutan itu?”

“Tentu tidak.”

“Sebaiknya kalian jangan mengganggu mereka. Apalagi menyangka mereka termasuk orang-orang berilmu hitam Empu Sanggadaru itu mungkin tidak akan memaafkan kalian. Ia adalah orang yang mempunyai ilmu tanpa tanding.”

“Bukan karena ilmunya itu jika kami mengurungkan niat kami.” Linggapati menyahut, “Betapapun tingginya ilmu seseorang, aku tidak akan gentar. Tetapi justru karena ia bukan orang berilmu hitam.”

“Jadi kau berpendirian bahwa kau tetap merasa dirimu orang tidak terkalahkan setelah kita bertempur beberapa lama?” potong Mahisa Campaka yang muda itu.

“Sudahlah.” sahut Lembu Ampal, “Jika kalian tidak ingin memusuhi kami, biarlah kami meneruskan perjalanan kami.”

Ketiga orang lawan yang meragukan itu termangu-mangu sejenak. Orang yang tertua di antara mereka berkata, “Silahkan Ki Sanak melanjutkan perjalanan. Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, perkenankanlah kami bertanya, siapakah kalian ini sebenarnya.”

“Seperti kalian tidak menyebut diri kalian yang sebenarnya, maka kamipun merasa tidak terikat pada kuwajiban untuk menyatakan diri kami.” jawab Ranggawuni.

“Kami menyebut nama kami yang sebenarnya.” putong Linggapati.

Tetapi Ranggawuni menggeleng. Katanya, “Tidak. Kalian tidak menyebut nama kalian yang sebenarnya. Kami tahu bahwa baik Mahisa Bungalan, maupun Linggadadi adalah pembunuh orang-orang berilmu hitam. Tetapi kamipun tahu bahwa keduanya tidak akan berada di dalam lingkungan yang sama seperti ini.”

Wajah Linggadadi dan Linggapati menjadi merah.

“Tetapi sudahlah.” Ranggawuni melanjutkan, “Aku sependapat bahwa tidak ada gunanya meneruskan perselisihan tanpa sebab yang pantas ini. Kita akan berpisah tanpa mengenal diri kita masing-masing yang sebenarnya. Tetapi satu hal yang boleh kalian ketahui, bahwa kami tahu pasti, bahwa yang menyebut Mahisa Bungalan adalah sama sekali bukan Mahisa Bungalan pembunuh orang-orang berilmu hitam, karena sebenarnyalah bahwa putera Ki Mahendra bukanlah orang yang sedang kami hadapi sekarang ini.”

“Persetan.” geram Linggadadi.

Namun orang yang tertua di antara mereka berkata, “Baiklah. Mungkin kita masih akan bertemu pada kesempatan yang lain. Pada kesempatan yang lebih baik. Perkenalan yang diawali dengan sikap bermusuhan memang tidak menyenangkan. Mungkin dikesempatan lain. kita akan dapat bertemu dalam suasana yang lebih baik.”

“Mudah-mudahan.” jawab Lembu Ampal, “Sekarang, kami minta diri. Pesan kami, jangan mencoba mengganggu kawan-kawan kami jika kalian tetap pada keinginan kalian untuk tidak berselisih dengan kami.”

“Kami memang tidak ingin mengalami salah paham yang lebih parah lagi.” jawab orang yang setua Lembu Ampal itu.

Demikianlah, maka Lembu Ampal pun kemudian mengajak kedua anak-anak muda itu meninggalkan hutan itu. Sejenak kemudian mereka berloncatan ke atas punggung kuda yang mereka pinjam itu dan berpacu meninggalkan lawan-lawannya yang sebenarnya akan dapat mereka kuasai. Namun ketiga orang yang sedang menyelubungi diri masing-masing dengan penyamaran itu, menganggap hal itu tidak menguntungkannya. Apalagi orang-orang itu adalah orang-orang yang agaknya dengan mati-matian memusuhi orang-orang berilmu hitam. Bahkan mereka tidak segan-segan meminjam nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi, pembunuh orang berilmu hitam.

Karena itu, ketiga orang itu merupakan teka-teki yang sulit bagi Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal. Namun demikian, mereka masih tetap menganggap bahwa orang-orang itu pada suatu saat akan dapat membantu mereka melawan orang-orang berilmu hitam, karena mereka sama sekait tidak mongerti latar belakang dari tindakan ketiga orang itu.

“Kita akan menghubungi Mahisa Bungalan.” berkata Ranggawuni.

“Mereka masih dalam perjalanan.” jawab Lembu Ampal.

“Kami mengharap, mereka akan segera kembali. Jika Mahisa Bungalan mengetahui apa yang telah terjadi. maka ia tentu akan merasa tersinggung karenanya.”

Tiba-tiba saja Lembu Ampal berdesis, “Apakah justru mereka itulah orang-orang berilmu hitam?”

Tetapi Ranggawuni menggelengkan kepalanya, “Aku yakin, mereka bukan berilmu hitam itu.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Mahisa Bungalan akan dapat banyak memberikan pendapatnya tentang orang-orang itu. Mudah-mudahan orang-orang itu tidak benar-benar tidak mengganggu Empu Sanggadaru yang sedang menunggui harimau-harimau itu.”

Demikianlah maka ketiga orang itupun kemudian berpacu terus langsung menuju ke istana Singasari. Karena mereka sama sekali tidak mempergunakan tanda-tanda kebesaran, maka tidak seorangpun yang mengetahui, bahwa mereka bertiga adalah orang-orang terpenting dalam pemerintahan yang baru berkembang di Singasari itu.

Bahkan para penjaga gerbang di istana pun tidak dapat mengenal mereka. Karena itu, maka para prajurit pun segera menghentikan mereka dan dengan curiga bertanya, siapakah mereka bertiga itu.

Lembu Ampal lah yang meloncat turun dari kudanya dan berkata, “Apakah kalian benar-benar tidak mengenal kami?”

Para prajurit itu menggeleng.

“Kau harus mengenal aku, meskipun yang dua orang anak muda itu belum.” berkata Lembu Ampal.

Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka tiba-tiba saja mendesak maju sambil berdesis, “Senapati Lembu Ampal.”

Lembu Ampal tersenyum. “Kau mengenal aku.”

Prajurit itu mengangguk dalam-dalam. Namun dalam pada itu, seorang perwira yang masih muda dengan tergesa-gesa datang pula menemui mereka. Dengan cemas tiba-tiba saja ia mengangguk dalam-dalam kepada kedua orang yang masih berada di punggung kudanya. Katanya, “Ampun tuanku, apakah ada sesuatu yang terjadi di luar rencana. Bukankah belum saatnya hamba menyusul ke hutan perburuan seperti yang tuanku titahkan?”

Ranggawuni memandang perwira muda itu sambil tersenyum. Jawabnya sambil menggeleng, “Tidak. Tidak ada sesuatu yang terjadi.”

“Tetapi tuanku telah datang jauh lebih cepat dari waktu yang tuanku tentukan.”

Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan segera memberi tahukan kepadamu. Aku akan masuk dahulu.”

Para prajurit yang berada di regol mulai memandang Ranggawuni dan Mahisa Campaka dengan saksama. Barulah kemudian mereka sadar, bahwa mereka memang berhadapan dengan Maharaja dan Ratu Angabhaya dari Singasari.

Dengan serta merta para prajurit itu pun segera mengangguk hormat dengan, hati yang gelisah. Seolah-olah mereka telah melakukan kesalahan meskipun sama sekait tidak mereka sengaja.

“Tidak apa-apa.” berkata Ranggawuni seolah-olah melihat perasaan para prajurit itu. “Kalian tidak melakukan kesalahan apapun juga.”

Ranggawuni, Mahisa Campak dan Lembu Ampal pun segera memasuki gerbang istana diiringi oleh perwira muda itu.

Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal pun segera menghilang di dalam bangsal, agar tidak terlalu banyak prajurit dan hamba istana yang melihat dengan keheran-heranan, bahwa Ranggawuni Mahisa Campaka dan Lembu Ampal tidak mengenakan pakaian yang sepantasnya. Bahkan mereka lebih mirip dengan seorang pemburu di hutan-hutan.

Baru kemudian Ranggawuni memanggil perwira muda itu untuk menghadap dan memberitahukan apa yang telah terjadi.

Perwira muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi hamba harus mengambil harimau itu tuanku?”

“Ya Bawalah sebuah pedati. Dengan demikian, kau tidak akan mengalami kesulitan di perjalanan, karena harimau itu agaknya cukup buas, sedangkan aku ingin harimau itu tetap hidup dan dipelihara di halaman ini. Mungkin kelak kita akan mendapatkan jenis binatang yang lain, yang akan dapat mengisi halaman istana ini pula.”

“Hamha tuanku. Hamba akan mempersiapkannya.”

“Segeralah berangkat, agar orang-orang yang menunggui binatang itu tidak terlalu lama dan menjadi jemu. Paman Lembu Ampal akan menyertai kalian, agar Empu Sanggadaru tidak ragu-ragu untuk memberikan harimau itu kepada kalian.”

“Hamba tuanku. Baiklah hamba mempersiapkan diri bersama para prajurit. Hamba akan mengumpulkan mereka, dan pada saatnya, hamba akan menghadap lagi untuk mohon diri.”

“Kau dapat langsung berhubungan dengan paman Lembu Ampal yang seterusnya akan memimpin kalian sepanjang perjalanan ke hutan itu. Dan paman Lembu Ampal sudah ngetahui, apakah yang harus dilakukannya.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia harus bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang kurang baik jika orang-orang yang mencegatnya itu masih mendendam.

Karena itu, maka Lembu Ampal pun berpesan kepada perwira yang akan membawa sekelompok prajurit mengambil harimau di hutan itu, agar yang dibawanya itu adalah prajurit-prajurit pilihan.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan Lembu Ampal berkata, “Tidak ada apa-apa. Hanya sekedar sikap berhati-hati.”

Demikianlah maka sekelompok kecil prajurit Singasari segera dipersiapkan, membawa sebuah pedati ke hutan perburuan. Namun di perjalanan itu, Lembu Ampal berkata berterus teng kepada perwira muda, bahwa di saat Ranggawuni dan Mahisa Campaka kembali ke Singasari, mereka telah bertemu dengan orang-orang yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.

“Tetapi apakah mereka benar-benar Mahisa Bungalan dan Linggadadi?” bertanya perwira muda itu.

“Tentu bukan Mahisa Bungalan.” jawab Lembu Ampal, “Tetapi aku tidak tahu pasti, apakah yang seorang memang Linggadadi.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Jika kita harus bertemu dan terjadi salah paham pula, mungkin aku dan para prajurit mengambil sikap lain dari sikap tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka. Mungkin juga akan berbeda dengan sikap Senapati Lembu Ampal.”

“Apakah yang akan kau lakukan?”

“Kami agaknya lebih senang menangkap mereka. Atau jika gagal membunuh mereka, karena bagiku mereka sudab jelas, mempunyai niat buruk. Jika tidak, mereka tidak akan mempergunakan nama yang bukan namanya, atau justru nama yang lain sama sekali.”

“Mungkin. Tetapi mungkin juga karena mereka benar menyangka babwa kami adalah orang-orang berilmu hitam, sehingga mereka merasa perlu untuk menakut-nakuti kami.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin. Tetapi jika mereka mengganggu kami, apa boleh buat.”

“Aku kira, seandainya kita bertemu, mereka akan mempunyai sikap yang lain melihat prajurit-prajurit Singasari yang lengkap dengan tanda-tanda keprajuritannya.”

Perwira itu menyahut, “Mudah-mudahan.”

Lembu Ampal tidak berbicara lagi tentang orang-orang yang mengaku bernama Mahisa Bungalan itu. Namun demikian, ia masih tetap berhati-hati. Apalagi jika ketiga orang itu ternyata mempunyai kawan-kawan yang lain yang dapat dikumpulkannya dengan cepat.

Dalam pada itu, pedati yang ditarik dengan dua ekor lembu itu berjalan lamban sekali. Tetapi para prajurit Itu tidak dapat memaksa lembu-lembu mereka berlari secepat derap kaki kuda.

Dalam pada itu, Linggapati, Linggadadi dan seorang pengiringnya pun menjadi bimbang sepeninggal Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal. Dengan ragu-ragu merekapun kemudian mengurungkan niatnva untuk mencari seekor harimau atau binatang buruan yang lain. Namun demikian mereka masih berada di hutan itu untuk beberapa lama sambil membicarakan ketiga orang yang mereka anggap aneh itu.

“Agaknya mereka benar-benar bukan orang berilmu hitam.” berkata Linggapati.

Linggadadi mengerutkan keningnya.

“Kau pernah bertemu langsung dengan beberapa orang di antara mereka.” berkata Linggapati, “Lebih banyak dari yang pernah aku temui. Dengan demikian kau dapat mempunyai gambaran yang lebih banyak tentang sikap dan ciri-ciri mereka.”

“Aku juga menjadi ragu-ragu.” berkata Linggadadi. Dalam pada itu, pengiringnya memotong, “Tetapi mereka bukanlah orang-orang yang jahat. itu aku pasti. Jika aku dapat berkata terus terang, maka sebenarnyalah mereka mempunyai cukup kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dapat mengakibatkan bencana bagi kami.”

“Tidak.” teriak Linggadadi, “Itu adalah kekhawatiran orang-orang tua yang sama sekali tidak beralasan.”

Namun Linggapati menyahut, “Aku tidak membantah. Agaknya mereka memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Setidak-tidaknya mereka tidak akan dapat kami kalahkan, jika mereka tidak lengah atau melakukan kesalahan.”

Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi akhirnya iapun berkata, “Aku mengakui bahwa mereka memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi aku masih menganggap bahwa ilmu mereka belum berada di atas ilmu kita.”

Pengiringnya memandang Linggadadi sejenak. Namun ia tidak membantah, karena ia mengerti, bahwa sebenarnya di dalam hati Linggadadipun telah terbersit pengakuan bahwa ketiga orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Untuk beberapa saat lamanya mereka tetap berada di hutan itu meskipun nafsu Linggadadi untuk mendapatkan seekor binatang buruan telah lenyap. Namun hatinya yang bergejolak membuatnya seolah-olah mematung di tempatnya. Sekali-sekali Linggadadi membayangkan orang-orang yang lain, yang tidak ikut bersama ketiga orang itu meninggalkan hutan. Memang timbul keinginan untuk melihat mereka. Tetapi keinginan itupun segera disingkirkannya jauh-jauh. Ia tidak mau mengalami keadaan yang. sama. Apalagi baginya, nampaknya orang yg. memakai pakaian pemburu dari kulit harimau itu, lebih meyakinkan dari anak-anak muda yang baru saja meninggalkan hutan itu.

“Apakah kita tidak akan pergi dari hutan ini?” bertanya Linggapati kemudian.

Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Kesan tentang perkelahiannya dengan anak-anak muda itu benar-benar telah mencengkam hatinya. Betapapun juga ia berusaha menutupi kekecewaan dan kekurangannya di hadapan pengiringnya, namun seperti juga Linggapati, ia tidak dapat ingkar kepada diri sendiri, bahwa sebenarnya anak-anak muda itu memiliki ilmu yang tidak akan dapat dikalahkannya.

Namun, darahnya yang panas oleh umurnya yang masih muda, membuatnya untuk berusaha menutupi kekurangan itu sejauh dapat dilakukan.

Namun ternyata bahwa kakaknya, Linggapati, telah berterus terang, bahwa ilmu anak-anak muda itu telah melampaui ilmu mereka.

“Jadi, apakah yang akan kita lakukan sekarang kakang?” bertanya Linggadadi, “Apakah kita akan kembali untuk beberapa lamanya sebelum kita mulai lagi dengan perburuan kita atas orang-orang berilmu hitam seperti yang kita rencanakan?”

Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya, kita akan kembali untuk menenangkan hati dan membuat rencana yang lebih bening. Jika kita tenggelam dalam perburuan ini, kita akan terpisah dari orang-orang yang selama ini merupakan dasar kekuatan kita.”

“Tetapi dengan demikian, orang-orang berilmu hitam akan menjadi leluasa untuk melakukan kejahatan-kejahatan dan perampokan-perampokan. Mereka agaknya tidak saja menangkap orang-orang yang mereka kehendaki, yang menurut pendengaran kita, sejak ilmu itu berkembang dimasa lampau, dipergunakan untuk korban bagi kelanggengan ilmu mereka, namun mereka juga telah merampok harta benda untuk bekal perkembangan ilmu mereka dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka.”

“Ya.” jawab kakaknya, “Mudah-mudahan sementara kita menyusun rencana yang lebih baik, Mahisa Bungalan benar-benar telah melakukan tugasnya, membunuh orang-orang berilmu hitam, sehingga mereka tidak lagi berkeliaran. Kami berkepentingan dengan lenyapnya orang-orang berilmu hitam, agar Singasari menjadi tenang. Dalam ketenangan itu kita akan mengembangkan diri di luar kecurigaan Singasari.”

“ Bagaimana jika Mahisa Bungalan tidak berbuat apa-apa pula sehingga orang-orang berilmu hitam itu justru semakin berkembang di seluruh Singasari? Kecuali dengan demikian mereka akan merupakan sentuhan-sentuhan yang membuat Singasari semakin kuat, maka mereka pun merupakan bencana bagi kami di hari kemudian.”

“Tentu kita tidak akan melepaskannya sama sekali. Kita hanya akan beristirahat untuk waktu yang pendek sambil menyusun diri. Tetapi jika keadaan memburuk bagi kita, maka kita akan segera bertindak cepat.”

Linggadadi mengangguk-angguk. Memang untuk herbuat sesuatu tanpa melihat perkembangan keadaan secara menyeluruh, agaknya tidak akan menghasilkan, sesuatu yang bermanfaat.

Demikianlah setelah mereka berbincang cukup lama, dan sekaligus beristirahat setelah mereka memeras tenaga bertempur melawan tiga orang yang tidak mereka kenal, maka merekapun segera berkemas.

“Kita akan melalui Kotaraja.” berkata Linggapati, “Sekaligus melihat apakah ada perkembangan yang menarik perhatian. Mungkin di Kotaraja kita mendengar, apa saja yang pernah dilakukan oleh Mahisa Bungalan yang sesungguhnya, sehingga dengan demikian kita akan dapat menyesuaikan diri.”

Linggadadi pun ternyata sependapat pula, sehingga ketiganya kemudian menempuh perjalanan langsung menuju ke Kotaraja yang tidak terlampau jauh.

Tidak banyak yang mereka percakapkan di sepanjang jalan, karena angan-angan masing-masing yang berkembang jauh melampaui kemungkinan yang dapat dilakukan oleh wadag mereka. Kadang-kadang angan-angan itu dapat memberikan beberapa kepuasan tertentu, namun dalam kesadaran yang kemudian membangun mereka, terasa betapa kekecewaan telah menerkam mereka.

Dalam perjalanan itu, mereka kemudian tertegun ketika mereka melihat dari kejauhan iring-iringan prajurit Singasari dalam jumlah yang kecil dengan sebuah pedati di antara mereka.

“Apakah ada seorang puteri yang ingin bercengkerama dengan sebuah pedati?” tiba-tiba saja Linggapati berdesis.

Linggadadi mengerutkan keningnya. Katanya, “Nampaknya sekelompok prajurit yang mempunyai tugas yang khusus. Tetapi kenapa mereka melalui jalan ini, jalan yang menuju ke hutan yang jarang sekali dijamah orang itu?”

“Mereka tentu akan bertemu dengan orang-orang yang dalam hutan itu?”

“Mereka tentu akan bertemu dengan orang-orang yang dalam ciri-ciri ucapannya sebagai orang berilmu hitam itu.” desis Linggadadi kemudian.

Yang lain menjadi termangu-mangu. Namun kemudian Linggapati berkata, “Siapapun mereka, tetapi kami telah meyakinkan diri, bahwa mereka bukan orang-orang berilmu hitam. Setelah kita bertempur, maka kita sama sekali tidak melihat ciri-ciri dari ilmu hitam itu pada mereka.”

Linggadadi tidak menjawab. Bahkan merekapun kemudian harus menepi ketika para prajurit itu menjadi semakin dekat. Namun ketiga orang itu terperanjat ketika ketika mereka melihat salah seorang dari para prajurit itu adalah orang yang telah mereka kenal sebelumnya. Meskipun nampak perubahan pada bentuk pakaian dan pertanda kebesaran yang dipakainya, namun mereka bertiga sama sekali tidak melupakannya, bahwa yang berada dipaling depan, di samping seorang perwira muda adalah salah seorang dari yang telah bertempur melawan mereka.

Tetapi orang itu kini mengenakan pakaian dan tanda-tanda kebesaran seorang perwira prajurit Singasari. Bahkan seorang Senapati besar yang tentu berkedudukan tinggi dan berjabatan penting.

Linggapati yang berada di paling depan berpaling. Dilihatnya wajah adiknya yang tegang. Demikian juga pengiringnya yang telah setua perwira yang telah mereka kenal itu.

“Siapakah sebenarnya orang itu.” desis Linggadadi.

Linggapati menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Jika ia seorang perwira, siapakah dua orang anak muda yang telah berburu bersamanya?”

“Apakah mata kita yang telah menjadi rabun dan melihat orang itu sebagai seseorang yang pernah kita, kenal?”

“Ya. Mungkin wajahnya sajalah yang mirip.”

“Tetapi kita akan melihat, apakah ia mengenal kita atau tidak.”

“Bagaimana jika ia masih mengenal kita, namun kemudian menjatuhkan perintah kepada para prajuritnya untuk menangkap kita?”

“Kita bukan tikus piti.”

Ketiga orang itupun menjadi tegang. Dengan tatapan yang tajam mereka memandang perwira yang nampaknya sudah mereka kenal itu.

Mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat. Dengan tegang mereka memandang perwira yang berada di paling depan bersama seorang perwira muda itu.

Terasa dada meteka berdesir, ketika ternyata perwira itu mengangkat tangannya dan memberikan isyarat agar iring-iringan itu berhenti. Sejenak Linggapati tercenung. Namun kemudian iapun bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan da pat terjadi.

Lembu Ampal yang memimpin iring’an prajurit Singasari itu masih mengenal dengan baik ketiga orang yang telah bertempur melawannya bersama kedua pimpinan tertinggi Singasari. Karena itu, maka iapun kemudian mendekati ketiga orang itu lebih dekat lagi. Namun yang nampak di wajahnya adalah sebuah senyuman yang bersih.

Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Menurut pertimbangannya, perwira itu tidak akan berbuat sesuatu atas mereka bertiga. Apalagi kekerasan.

“Ki Sanak.” berkata Lembu Ampal kemudian, “Apakah kalian masih mengenal aku?”

“Ya.” jawab Linggapati.

“Inilah kenyataanku sebenarnya. Bukan maksudku untuk membanggakan diri di hadapan Ki Sanak bertiga. Bahkan aku kira Ki Sanak sudah tidak ada di sini, atau sama sekali aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu di pinggir kota ini.”

Linggapati mengangguk hormat. Katanya, “Kami mohon maaf. Kami sama sekali tidak mengetahui bahwa Ki Sanak adalah seorang perwira yang barangkali justru berkedudukan tinggi.”

“Sama sekali bukan seseorang yang berkedudukan tinggi. Tetapi aku memang seorang prajurit.” Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Aku kira Ki Sanak sudah jauh. Rasa-rasanya kami sudah terlalu lama meninggalkan hutan itu. Menyiapkan pedati kemudian pergi ke hutan itu dengan sangat lamban karena di antara kami terdapat sebuah pedati.”

Linggapati mengangguk. Jawabnya, “Kami masih berada di hutan itu agak lama. Kami memerlukan waktu untuk merenungi apa yang baru saja terjadi. Dan ternyata bahwa kami telah melakukan kesalahan, karena kami telah menyangka, bahwa Ki Sanak, yang ternyata seorang prajurit, adalah orang-orang berilmu hitam.”

(Bersambung ke jilid 24)

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s