SUNdSS-12


<<kembali | lanjut >>

DENGAN demikian, maka Panglima prajurit itu kini berpindah lawan. Ia tidak lagi melawan Panglima Pasukan Pengawal. Tetapi ia memilih lawannya yang baru. Lembu Ampal.

Karena itulah maka Senapati yang bertempur bertiga me¬lawan Panglima Pelayan Dalam, segera mengatur diri. Seorang dari mereka segera melepaskan arena pertempuran itu dan ter¬jun melawan Panglima Pasukan Pengawal bersama seorang kawannya.

Dalam pada itu, ternyata perhitungan Panglima lawan Lembu Ampal itu salah. Ia menganggap bahwa Lembu Ampal ada¬lah seorang Senapati yang tidak memiliki ilmu yang cukup un¬tuk melawannya. Ia menganggap bahwa Lembu Ampal masih berada selapis di bawahnya seperti kebanyakan Senapati yang lain.

Namun, setelah bergaul dengan Witantra, Mahendra, Mahisa Agni dan menjadi kawan berlatih Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, Lembu Ampal ternyata telah berubah. Ia kini me¬miliki ilmu yang lebih tinggi dari perhitungan lawannya.

“Gila, iblis manakah yang mengajari kau berkelahi?” teriak Panglima itu.

“Sekedar untuk membela diri.” sahut Lembu Ampal. Lawannya menggeram. Dengan sepenuh tenaga ia menco¬ba mendesak Lembu Ampal.

Namun ternyata kemudian bahwa kemampuan Panglima itu memang masih lebih tinggi dari Lembu Ampal. Meskipun Lembu Ampal masih akan tetap mampu menjaga dirinya, teta¬pi untuk bertempur dalam waktu yang tidak terbatas, maka Lembu Ampal akan mengalami kesulitan.

Tetapi untuk sementara Lembu Ampal masih tetap berta¬han. Sekilas bahkan ia masih sempat melihat kedua Panglima yang lain bertempur masing-masing melawan dua orang Senapati.

Ternyata keduanya pun masih mengalami kesulitan. Teta¬pi untuk beberapa saat mereka pun pasti akan dapat bertahan. Apalagi mereka kemudian tidak lagi harus bertempur mela¬wan kekuatan yang berlebih-lebihan. Masing-masing dari kedua Panglima itu tinggal melawan dua orang lawan. Sedangkan para pe¬ngawal kedua Panglima itu masih mampu membantu mereka sejauh-jauh dapat mereka lakukan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang bertempur di bagian lain dari halaman itu, berusaha untuk menghisap lawan sebanyak-banyaknya. Ia menyadari bahwa orang-orang Rajasa dan Sinelir ter¬desak di mana-mana. Karena itu, maka Mahisa Agni dan para pe¬ngawalnya berusaha untuk mengurangi tekanan itu dengan melumpuhkan lawan yang mereka jumpai.

Namun sekali-sekali Mahisa Agni menjadi bimbang. Ia sendiri tidak dapat mengerti akan tingkah lakunya sendiri. Bahkan kemudian ia jatuh pada suatu kesimpulan, bahwa di dalam ke¬adaan yang memaksa akhirnya seseorang harus memilih, mengorbakan yang dianggapnya kurang baik bagi yang lebih baik.

Demikianlah Mahisa Agni mengorbankan orang-orang yang ti¬dak akan banyak berguna lagi bagi Singasari dengan harapan untuk menemukan hari depan yang lebih baik bagi negara yang sedang berkembang itu. Meskipun Mahisa Agni tidak ingin melumpuhkan lawannya dengan membunuh mereka, namun adalah di luar kemampuannya untuk menghindarinya sama se¬kali.

Ketika kemudian Mahisa Agni melihat seakan-akan ada arus yang sedang memasuki halaman, ia pun mengerti bahwa bebe¬rapa orang telah berhasil memasuki halaman itu dan memban¬tu orang-orang Rajasa dan Sinelir yang mengalami tekanan. Karena itu, maka hatinya pun menjadi semakin tenang, dan karena itu, korban yang jatuh oleh tangannya pun menjadi berkurang.

Perlahan-lahan namun pasti Mahisa Agni langsung mendekati bangsal Tohjaya. Betapapun ketatnya pertahanan yg berlapis-lapis, namun Mahisa Agni selalu mendesak maju. Apalagi kare¬na prajurit yang membentengi bangsal itu pun sudah susut, ka¬rena mereka harus berpencaran di seluruh halaman.

Tetapi selagi Mahisa Agni menjadi semakin dekat dengan bangsal itu, maka datanglah penghubung yang telah dipesan oleh Panglima Pelayan Dalam untuk menjumpai Mahisa Agni. Dengan nafas terengah-engah ia pun berkata, ”Aku harus mencari tuan di seluruh halaman ini.”

“Apakah kau membawa pesan?”

“Ya.”

“Apakah pesan itu?”

“Panglima Pelayan Dalam mengirimkan pesan, bahwa Panglima Prajurit yang setia kepada tuanku Tohjaya itu berkeliaran di halaman. Tingkah lakunya sama sekali tidak dapat dibatasi, sehingga menimbulkan korban yang tiada terhitung jumlahnya.”

“Dimana ia sekarang?”

“Bertempur melawan Panglima Pasukan Pengawal.”

Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Ia sudah menjadi sema¬kin dekat dengan bangsal Tohjaya. Ia ingin memasuki bangsal itu lebih dahulu dari para prajurit dan Panglima. Jika Pangli¬ma Pelayan Dalam itulah yang pertama-tama menemukannya, ma¬ka nasib Tohjaya agaknya akan menjadi sangat buruk. Kedua Panglima itu sudah menyimpan dendam di dalam hati. Kecuali penyesalan bahwa mereka sudah terlibat dalam usaha pembu¬nuhan Anusapati yang kemudian menempatkan Tohjaya pada tahta Singasari, juga karena sikap dan tingkah laku Tohjaya yang sangat menyakitkan hati.

Namun ternyata bahwa kedua Panglima itu kini berada di dalam kesulitan.

“Bagaimanakah imbangan kekuatan itu?” bertanya Mahisa Agni kemudian, ”Apakah Panglima Pasukan Penga¬wal selalu terdesak?”

“Ya tuan Panglima prajurit yang setia kepada tuanku Tohjaya itu bersama dengan empat orang Senapati yang dise¬but berhati iblis itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Senapati itu me¬mang benar-benar berhati iblis. Ia tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali. Kematian lawannya dimedan perang merlupakan permainan yang menyenangkan baginya.

Karena itu, Mahisa Agni pun kemudian berpikir sejenak. Bangsal Tohjaya sudah tidak begitu jauh lagi. Tetapi Pangli¬ma Pasukan Pengawal itu memang memerlukan pertolongan.

Sejenak Mahisa Agni memperhatikan pertempuran di sekitar halaman bangsal Tohjaya yang diputari dengan sebuah kolam yang justru dibuat oleh Anusapati. Ternyata pengawal-pengwal Tohjaya masih cukup kuat untuk bertahan. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, ”Baiklah. Aku akan pergi mendapatkan Panglima-panglima yang sedang bertempur itu.”

Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni pun kemudian memba¬wa pengawalnya menuju ke arena pertempuran para Panglima itu. Beberapa kali Mahisa Agni harus menghalau lawan-lawannya yang mencoba menyergapnya. Tetapi, tidak seorang pun Senapati yang berusaha untuk menahannya setelah mereka me¬lihat bahwa orang itu adalah Mahisa Agni.

“Biarlah Panglima menundukkannya.” berkata Senapati-senapati yang memimpin kelompok-kelompok yang se¬dang bertempur di halaman itu.

Di sepanjang halaman itu Mahisa Agni sempat melihat, bahwa kekuatan pelindung Tohjaya masih cukup besar. Jika tidak ada bantuan yang menambah kekuatan orang orang Rajasa dan Sinelir, maka pertempuran di halaman itu tentu akan memerlukan waktu yang sangat panjang. Bahkan mungkin di malam hari.

Sementara itu, maka pertempuran menjadi semakin seru. Lembu Ampal yang kemudian mengambil alih lawan Panglima Pasukan Pengawal itu pun harus bertempur dengan sekuat lenaga. Panglima itu memang memiliki kelebihan yang pada suaiu saat akan dapat menentukan akhir dari pertempuran itu.

Ternyata bahwa ketahanan Lembu Ampal yang harus memeras tenaganya itu pun semakin lama menjadi semakin susut. Lebih cepat dari lawannya. Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu memiliki ketahanan yang menga¬gumkan. Sekian lama ia bertempur namun tenaganya sama sekali tidak berkurang.

Ketika Lembu Ampal merasakan bahwa nafasnya mulai sendat, maka seakan-akan ia merasa bahwa akhir dari pertempuran itu sudah dekat. Pengawalnya sekali-sekali dapat juga membantunya. Namun mereka agaknya mempunyai lawan masing-masing. Pengawal Panglima dan keempat Senapati iblis itu pun bertempur dengan garangnya, bahkan mendekati cara bertempur para Senapati yang ganas, dan bahkan seolah-olah menjadi liar dan buas.

Lembu Ampal yang menjadi semakin letih itu terkejut ketika ia mendengar keluhan tertahan. Ketika ia berusaha untuk melihatnya, maka hatinya menjadi berdebaran. Ia meli¬hat seleret luka tergores dilengan Panglima Pelayan Dalam yang bertempur melawan dua orang dari keempat Senapati berhati iblis itu.

Dengan sigapnya Panglima itu meloncat surut. Beberapa orang pengawal mencoba melindunginya. Tetapi justru sebuah tusukan langsung menembus dada seorang pengawal yang terlampau tergesa-gesa meloncat maju.

Tetapi Lembu Ampal tidak dapat berbuat apapun juga karena ia sendiri harus memeras segenap kemampuannya untuk mempertahankan diri.

Panglima Pelayan Dalam yang terluka itu menggeram. Kemarahannya telah membakar jantungnya sehingga wajahnya menjadi merah semerah darah yang menitik dari lukanya.

Meskipun luka itu tidak terlampau dalam, tetapi luka itu agaknya telah mengganggunya. Bukan saja perasaan nyeri yang menyengat, tetapi terlebih-lebih lagi adalah gangguan perasaan yang sangat mempengaruhinya. Kemarahan, dendam dan kecemasan bercampur baur membuat nalarnya kadang-kadang menjadi buram.

Sementara itu, Panglima Pasukan Pengawal pun harus ber¬tempur mati-matian. Ia pun terdesak terus, sehingga semakin lama menjadi semakin dekat dengan dinding halaman. Jika ia tersudut pada dinding itu, dan kedua Senapati lawannya menyerang bersama-sama. maka tidak ada harapan lagi baginya untuk dapat keluar dari lingkaran maut.

Ternyata bahwa Senapati-Senapati yang disebut berhati iblis itu memang memiliki kelebihan dari Senapati-Senapati yang lain.

Lembu Ampal yang bertempur dengan memeras segenap kemampuannya masih dapat bertahan. Tetapi ia pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi lawannya sampai saat terakhir dari pertempuran itu. Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu benar-benar seorang yang memiliki ke¬mampuan melampaui sesamanya, karena itulah maka Lembu Ampal pun menjadi sangat cemas. Ia melihat Panglima Pelayan Dalam yang terluka dan ia pun melihat Panglima Pasukan Pengawal yang terdesak ke dinding.

Terasa jantung Lembu Ampal bergetar ketika ia kemudian melihat, sebuah serangan pedang yang mendatar telah me¬nyentuh tubuh Panglima Pasukan Pengawal pula. Terdengar ia pun berdesis. Dengan tangan kirinya ia meraba dadanya. Segumpal darah telah memerah di telapak tangannya.

Sementara itu terdengar salah seorang Senapati yang di¬sebut berhati iblis itu tertawa. Katanya, ”Kalian telah terluka semuanya. Sebentar lagi kalian akan mati. Kalian akan menye¬sal pada saat ajal itu datang. Tetapi sudah terlambat. Tidak ada yang dapat kau lakukan selain pasrah diri kepada kematian.”

Panglima Pasukan Pengawal itu pun menggeram. Ia tidak mempedulikannya. Meskipun dadanya telah terluka, tetapi ia masih berusaha untuk mempertahankan dirinya.

Namun, baik Panglima Pelayan Dalam, maupun Pangli¬ma Pasukan Pengawal agaknya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Darah mereka mengalir semakin banyak dari luka, sehingga ketahanan tubuh mereka pun menjadi semakin berku¬rang.

Tetapi sebelum kedua Panglima itu harus menyerahkan nyawanya, maka tiba-tiba pertempuran di sekitar mereka pun tersibak. Ketika mereka yang sedang bertempur di arena itu berpaling, mereka melihat seseorang yang sudah mulai beru¬bah pada janggut dan kumisnya. Bahkan rambutnya yang ber¬juntai di bawah ikat kepalanya pun telah menjadi keputih-pu¬tihan pula.

Hampir diluar sadarnya, Lembu Ampal berdesis, ”Panji Pati-pati.”

Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu tiba-tiba saja menggeram. Katanya, ”Inikah Panji Pati-Pati itu?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku Witantra. Memang beberapa orang menyebutku Panji Pati-Pati.”

“Apakah kau juga berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”

“Aku telah melindunginya ketika keduanya lari dari kejaran maut atas perintah tuanku Tohjaya. Kemudian Lembu Ampal yang mendapat perintah membunuh tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka pun berada di rumahku pula. Kini kami bersama-sama datang untuk menempatkan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka kembali pada kedu¬dukannya.”

“Gila.” geram Panglima itu, ”Kau kira bahwa kau akan berhasil? Sebentar lagi orang-orangmu, orang-orang Rajasa dan Sinelir akan tumpas dihalaman ini. Jika kau ingin menyaksikan, maka sebaiknya kau menunggu di tepi. Sebab jika kau ikut berada di arena, maka kau pun akan mati.”

Witantra mengerutkan keningnya. Sekilas ia melihat ke¬dua Panglima yang bertempur melawan Senapati-Senapati yang disebut berhati iblis itu menjadi semakin terdesak, se¬hingga katanya kemudian kepada Lembu Ampal, ”Lembu Ampal, serahkau Panglima ini kepadaku. Kau dapat menolong Panglima Pasukan Pengawal yang terluka itu. Agaknya luka¬nya lebih parah dari Panglima Pelayan Dalam.”

Lembu Ampal surut selangkah. Tetapi agaknya lawannya tidak membiarkannya. Dengan serta-merta ia pun meloncat me¬nyerang.

Namun yang terjadi adalah sebuah benturan yang dah¬syat. Diluar dugaan, Witantra pun telah meloncat pula mem¬bentur senjata lawannya pula. Sebuah pedang pendek yang lurus dan tebal.

Benturan ilu telah menggoncangkan hati Panglima yang setia kepada Tohjaya. Ia tidak menduga, bahwa dengan gerak yang tiba-tiba saja, Witantra mampu menahan kekuatannya. Karena itu, maka ia pun harus memperhitungkan lawannya itu sebaik-baiknya.

Sesaat Panglima itu memandang Witantra. Kemudian sambil melangkah maju ia berkata, ”Ternyata kau lebih baik dari Lembu Ampal. Menggembirakan sekali, bahwa aku men¬dapat lawan yang pantas.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap meng¬hadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu Lembu Ampal telah terlepas dari ikatan perkelahian dengan Panglima itu. Dengan demikian maka ia¬ pun kemudian bebas memilih lawannya. Seperti yang dikata¬kan oleh Witantta, maka ia harus membantu Panglima yang sudah terluka itu.

Dengan pasti Lembu Ampal pun mendekati arena pertem¬puran itu. Ketika ia kemudian meloncat dengan senjata teracu, maka ia pun berkata kepada para pengawal yang mencoba membantu Panglimanya, ”Tinggalkan arena ini. Bantulah Panglima Pelayan Dalam yang juga sudah terluka. Bertempurlah dalam kelompok yang ketat. Cobalah memisahkan Se¬napati yang seorang dengan yang lain.”

Beberapa orang pengawalpun kemudian melangkah su¬rut dan beralih di arena yang lain, bergabung dengan para pengawal Panglima Pelayan Dalam.

Lembu Ampal dengan segera mengambil alih salah seorang dari kedua Senapati yang bertempur melawan Panglima Pasukan Pengawal.

Dengan demikian maka Panglima Pasukan Pengawal itu pun menjadi agak lapang. Tekanan lawannya terasa jauh berkurang.

Namun sayang sekali, bahwa karena luka-lukanya, maka ia pun menjadi semakin lama semakin lemah. Darah yang mengucur dari tubuhnya seolah-olah telah melepaskan sebagian dari tenaganya pula.

“Bertahanlah.” berkata Lembu Ampal, ”Aku akan menyelesaikan yang seorang ini. Kemudian aku akan memban¬tumu.”

Panglima Pasukan Pengawal itu tidak menjawab. Ia ber¬tempur dengan sisa tenaganya yang semakin tipis.

Sebenarnya Panglima Pasukan Pengawal itu mempunyai beberapa kelebihan dari lawannya. Tetapi lukanya benar-benar telah mengganggu, sehingga sesaat kemudian ia telah terdesak kembali. Setiap kali ia sudah berusaha berlindung di balik beberapa orang pengawal yang membantunya.

Tetapi prajurit-prajurit lawannya pun tidak mau melepas¬kannya pula. Mereka berusaha untuk mendesak pengawal itu dari sisi Panglimanya.

Dibagian lain, Panglima Pelayan Dalam yang masih harus, melawan dua orang Senapati, benar-benar telah kehilangan ke¬sempatan. Lukanya pun terasa nyeri meskipun tidak separah Panglima Pasukan Pengawal. Pengawal-pengawalnya yang be¬rusaha membantunya tidak banyak dapat menahan arus serang¬an kedua Senapati itu, karena prajurit-prajurit lawannyapua bagaikan mengerumuni mereka disegala arah.

Pada saat ia kehilangan segala kesempatan untuk bertahan, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali pasrah kepada Yang Maha Agung. Jika umurnya memang sampai pada batasnya, maka ia tidak akan dapat mengelak.

Namun pada saat yang paling sulit itu rasanya setitik em¬bun telah membasahi hatinya yang serasa telah menjadi kering. Tiba-tiba saja seseorang telah berdiri di arena pertempuran itu. Ketika kedua Senapati lawannya menyerangnya bersama-sama dengan serangan yang menentukan, maka serangan itu telah membentur kekuatan vang seakan-akan tidak tertembus lagi.

Ternyata Mahisa Agni telah berdiri diarena itu.

“Setan alas.” geram salah seorang Senapati yang dise¬but berhati iblis, ”Kenapa kau mencampuri pertempuran ini. Pertempuran di antara kesatria Singasari?”

“Yang terjadi di halaman ini adalah perang brubuh. Karena itu, aku akan melawan setiap orang yang berdiri di seberang. Kau pun dapat melawan siapa saja tanpa memilih.”

“Pengecut. Menepilah. Jika tidak, maka kaulah yang akan segera terbunuh. Bukan Panglima yang licik itu.” Senapati itu membentak, ”Sebenarnya kau dapat hindarkan diri dari bencana ini. Tetapi jika kau berkeras, apaboleh buat.”

Mahisa Agni memandang kedua Senapati itu. Ada sesua¬tu yang rasa-rasanya mendorongnya untuk bertindak keras ter¬hadap kedua Senapati seperti lazimnya yang terjadi di arena pe¬perangan. Apalagi Mahisa Agni menyadari bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang menurut beberapa orang disebut berhati iblis.

“Aku masih memberimu kesempatan.” teriak salah se¬orang dari mereka.

Kesombongan orang itu telah menambah kebencian Ma¬hisa Agni kepada sifat-sifat mereka. Meskipun pada dasarnya Mahisa Agni bukan seorang yang haus akan kematian lawan-lawannya, tetapi Senapati-Senapati itu memang harus diperlakukan khusus. Tidak ada lagi harapan untuk dapat mengubah sifat mereka. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi Mahisa Ag¬ni untuk menghilangkan sifat-sifatnya dengan melenyapkan mereka.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian telah, berke¬tetapan hari untuk melawan keduanya. Dengan penuh kewas¬padaan ia melangkah maju sambil berkata, ”Marilah. Lakukanlah yang menurut pendapat kalian paling baik kalian lakukan. Aku telah memutuskan untuk mengambil alih lawan Panglima yang telah terluka itu.”

“Kau memang gila.” teriak salah seorang Senapati itu.

Dalam pada itu Panglima Pelayan Dalam itu pun menjadi termangu-mangu. Meskipun ia percaya akan kelebihan Mahi¬sa Agni, tetapi dua orang Senapati yang bertempur bersama itu tentu merupakan musuh yang cukup berat baginya.

Dalam pada itu, salah seorang Senapati itu telah melon¬cat menyerangnya. Namun dengan sigapnya Mahisa Agni ber¬geser menghindari. Ketika serangan yang kedua dari Senapati yang lain meluncur mengarah kedadanya, maka ia pun menang¬kis serangan itu dengan senjatanya.

Benturan-benturan yang terjadi benar-benar telah mengejutkan Se¬napati itu. Mahisa Agni ternyata memang seorang yang memi¬liki kelebihan dari mereka berdua.

Dalam pada itu, Witantra pun masih bertempur dengan Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu. Agaknya Witantra menjadi ragu-ragu untuk mengambil sikap. Apakah Panglima itu pantas dibinasakan atau sekedar dilumpuhkan.

Namun kemudian Witantra melihat bahwa agaknya Ma¬hisa Agni telah bertempur bersungguh-sungguh. Ia melihat Mahisa Agni yang tegang mengambil sikap tanpa menunggu perkembangan perlawanan kedua Senapati itu.

“Mahisa Agni akan langsung bertindak terhadap ke¬duanya.” berkata Witantra di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa bagi Mahisa Agni, keduanya harus segera dilenyapkan. Halaman itu harus segera dibersihkan agar pertempuran itu tidak menjadi berlarut-larut. Orang-orang yang sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk dapat berubah, harus segera dibinasakan.

Witantra pun agaknya dapat menangkap perasaan yang tersirat di dalam sikap dan tatapan mata Mahisa Agni yang bagaikan bara.

Dengan demikian maka Witantra pun merasa wajib me¬ngimbanginya. Memang orang-orang itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang seke¬dar mengejar kepentingan pribadi. Saat Tohjaya menguntungkan bagi mereka, maka mereka pun dengan gigih merpertahankannya. Tetapi jika Tohjaya tidak mereka perlukan lagi, maka ia akan segera dilemparkannya. Jika ada orang lain yang mere¬ka anggap lebih baik, maka pengkhianatan tidak akan banyak dipertimbangkan lagi.

Dengan demikian, maka Witantra pun segera bersikap. Ia ingin segera mengakhiri pertempuran itu.

Dalam pada itu, Lembu Ampal pun tidak lagi dapat didesak oleh lawannya. Lembu Ampal ternyata cukup mampu melawan seorang Senapati betapapun garangnya. Ternyata Sena¬pati yang disebut berhati iblis itu seorang diri bukan merupa¬kan iblis yang tidak terkalahkan.

Namun Panglima Pelayan Dalam yang terluka itu harus mengerahkan sisa tenaganya untuk tetap bertahan. Tetapi lawannya yang hanya seorang itu tidak terlampau berbahaya la¬gi baginya.

Sebenarnyalah bahwa Witantra dan Mahisa Agni dapat menentukan akhir dari pertempuran itu seperti yang mereka kehendaki. Apalagi dibagian lain di halaman itu. orang-orang Rajasa dan Sinelir yang ada di luar dinding telah berturut-turut memasuki halaman. Ternyata bahwa pintu gerbang kota telah dapat ditembus sehingga pasukan dari Iuar pun dengan arus yang tidak tertahan telah memenuhi kota.

Dalam ketegangan itulah hadir pula seorang yang memi¬liki ilmu yang hampir tidak terlawan oleh prajurit-prajurit yang setia kepada Tohjaya. Ternyata Mahendra yang memim¬pin pasukan dari arah lain, telah memasuki halaman istana pu¬la. Ia sempat melihat bagaimana Witantra bersiap untuk meng¬akhiri pertempuran.

Disaat terakhir itu ia melihat Panglima Pelayan Dalam yang terluka menjadi semakin terdesak. Bukan karena ilmu lawannya yang melampaui ilmunya, tetapi karena darah yang mengalir dari lukanya, maka ia pun menjadi semakin lama semakin lemah.

Pada saat yang gawat, Mahendra tanpa disadari telah memperhatikannya. Seleret kecemasan menyentuh dadanya, sehing¬ga ia pun segera meloncat mendekatinya, tepat pada saat sebu¬ah serangan yang dahsyat mengarah kedada Panglima itu.

Mahendra yang mampu bergerak secepat lidah api me¬nyambar dilangit itu, sempat menyambar leher Senapati yang menyerang Panglima itu. Kemudian melemparkannya dengan sekuat tenaganya.

Senapati itu sama sekali tidak menyangka bahwa ada orang yang dapat berbuat demikian. Karena itu, ia pun sama sekali tidak bersiap menghadapi serangan Mahendra.

Yang dirasakannya adalah sambaran pada tengkuknya, kemudian sebuah kekuatan yang tidak terlawan telah melontarkannya.

Sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Senapati yang tidak menyangka akan mendapat serangan itu ternyata telah membentur dinding halaman.

Sekilas ia masih dapat melihat wajah Mahendra. Kemudi¬an dengan suara parau ia menggeram, ”Pengecut, licik.”

Tetapi suaranya pun segera terputus. Agaknya kepalanya tidak dapat menahan benturan yang dahsyat itu, sehingga otak¬nya telah terguncang.

Senapati itu hanya dapat menggeliat sekali. Kemudian ia¬ pun menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Ternyata Mahendra yang datang terakhir telah membu¬nuh lawannya lebih dahulu dari yang lain. Sekilas ia mengedarkan tatapan matanya. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia melihat kedua Panglima yang terluka itu. Sedangkan disisi yang lain Lembu Ampal masih bertempur de¬ngan gigihnya.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Witantra bertempur. Ia memang agak lebih muda dari Witan¬tra. Dan agaknya sifatnya pun agak berbeda. Ia tidak telaten melihat Witantra bertempur. Hampir saja ia ikut campur. Na¬mun agaknya Witantra pun memang sudah berniat mengakhiri pertempuran itu.

Diarena yang lain, Mahisa Agni pun sudah sampai pada tekanan yang menentukan. Serangannya memang tidak dapat dibendung lagi. Kedua lawannya yang berusaha saling mengi¬si ternyata telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.

Sekilas pedang Mahisa Agni menyambar. Yang terasa oleh salah seorang Senapati itu hanyalah sebuah goresan dilehernya. Namun kemudian terasa nafasnya seolah-olah telah kehilangan jalan. Dan ia pun terjerembab dengan tanpa dapat bertahan sama sekali.

Senapati yang lain pun tidak dapat berbuat apa pun ketika serangan berikutnya mengarah kelambungnya. Meskipun ia mencoba untuk meloncat surut, tetapi ujung pedang Mahisa Agni mengejarnya terus, seolah-olah pedang itu dapat terjulur menjadi panjang sekali.

Hampir bersamaan dengan Senapati yang kedua itu, ada¬lah Panglima yang tetap setia kepada Tohjaya. Betapa ia memeras kemampuannya, namun lawannya adalah Witantra. Se¬orang yang memiliki kelebihan di dalam segala segi.

Karena itu, maka sejenak kemudian nampaklah bahwa perlawanannya tidak berarti lagi bagi Witantra. Sebuah serang¬an yang dahsyat telah melandanya, seperti angin pusaran yang tidak dapat dihindarinya lagi.

Panglima itu adalah Pangliima yang berbangga atas ke¬mampuannya. Tetapi ternyata ada orang lain yang mampu mengatasinya. Dan orang itu bukan Mahisa Agni, karena baginya hanya Mahisa Agnilah orang yang disegani selama ini. Dan ternyata Mahisa Agni telah membinasakan dua orang penga¬walnya. Sedang orang yang tidak dikenalnya, dengan mudah sekali membunuh Senapati pengawalnya yang lain dengan membenturkannya pada dinding.

“Iblis mana sajakah yang telah masuk kedalam tubuh mereka.” geram Panglima itu di dalam hatinya.

Dalam saat terakhir itu ternyata Witantra masih sempat berkata, ”Panglima, sayang sekali bahwa pintu telah tertutup bagimu.”

“Persetan.”

“Disaat terakhir, bertaubatlah. Mungkin masih ada kesempatan.“

“Jangan banyak bicara.”

Witantra benar-benar tidak mempunyai kesempatan. Ka¬rena itu memang tidak ada pilihan lain daripada membinasakannya.

Dengan demikian maka Witantra menjadi tidak ragu-ragu lagi. Bahkan kemudian hampir tidak dapat dilihat dengan mata wadag, serangannya tiba-tiba saja telah mencengkam sisa hi¬dup Panglima yang sampai saat terakhirnya setia kepada Toh¬jaya karena baginya Tohjaya adalah sandaran yang paling ba¬nyak memberikan harapan kepadanya. Baginya, memang tidak ada pilihan lain kecuali mempertahankan Tohjaya, atau harus mati di peperangan. Adalah imbangan yang sudah dipilihnya di dalam garis hidupnya. Mukti atau mati.

Sejenak kemudian, Witantra sudah berdiri tegak di sisi ma¬yat Panglima itu. Sekilas ia memandang Mahisa Agni dan Mahendra yang termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian melangkah saling mendekati.

“Pasukan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cem¬paka sudah ada di dalam kota.” desis Mahendra kemudian.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihat¬nya mayat yang terbujur lintang di halaman itu. Sementara Lembu Ampal masih harus menyelesaikan seorang lawannya.

“Memang tidak ada jalan yang lebih cepat dari perang ini.” berkata Mahisa Agni, ”Tetapi perang ini telah menelan korban tak terhitung jumlahnya.”

Witantra termangu-mangu. Tetapi korban memang ter¬lampau banyak.

Sementara itu, Lembu Ampal telah berhasil mengalahkan lawannya. Dengan demikian maka ia pun kemudian berkumpul pula bersama Mahisa Agni. Witantra dan Mahendra.

“Apa yang sekarang kita lakukan?” bertanya Witantra.

Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Kemudian kata¬nya, ”Kita masih belum sampai ke bangsal induk istana ini. Tentu tuanku Tohjaya berada di sana dengan pengawalan yang kuat. Kita harus datang kepadanya, menemuinya dan memaksa¬nya menyerahkan pimpinan Kerajaan Singasari kepada tuanku Ranggauwuni dan Mahisa Cempaka.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Apakah kau kira Tohjaya akan dengan suka rela melakukan¬nya.”

“Mahisa Agni.” berkata Lembu Ampal, ”Kita sudah sampai di sini. Jika tuanku Tohjaya berkeberatan, maka tidak ada pilihan lain daripada memaksanya. Tentu saja dengan se¬gala akibatnya.”

Mahisa Agni memandang Witantra dan Mahendra ber¬ganti-ganti. Nampak di wajah mereka membayangkan ketegangan yang menghentak-hentak jantung. Ada semacam perten¬tangan di dalam diri mereka masing-masing.

Tetapi jalan itu adalah jalan yang sudah direncanakan. Tohjaya memang harus disingkirkan. Jika ia berkeras untuk bertahan, maka Tohjaya akan dapat mengalami nasib seperti Panglima dan Senapati-Senapati yang setia kepadanya itu.

Dalam pada itu, agaknya mereka memang tidak ada pili¬han. Karena itulah maka kemudian Lembu Ampal bersama dengan Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra mempersiapkan diri untuk menuju ke bangsal induk tempat tinggal Tohjaya. yang dikelilingi oleh kolam dan dijaga oleh prajurit segelar sepapan.

Pertempuran di halaman itu masih berlangsung dengan se¬ngit di beberapa bagian. Tetapi sudah menjadi semakin berat sebelah. Prajurit-prajurit Singasari yang mempertahankan Tohjaya sudah terdesak karena jumlah lawannya menjadi semakin banyak. Bahkan di beberapa bagian setiap tawaran untuk me¬nyerah, pasti mereka terima dengan, serta merta karena mereka yakin, bahwa mereka tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.

Namun demikian, ketika Lembu Ampal dan pasukannya mendekati bangsal Tohjaya, mereka masih mendapat perlawanan yang gigih. Beberapa saat mereka harus bertempur. Teta¬pi karena di dalam pasukannya terdapat Mahisa Agni, Witan¬tra, Mahendra dan para Panglima yang meskipun sudah terlu¬ka, maka perlawanan para penjaga bangsal itu pun tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Perlahan-lahan mereka terdesak, se¬hingga pertahanan itu pun akhirnya menjadi pecah. Prajurit-prajurit itu pun berlarian meninggalkan arena. Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan. Di segala sudut telah berjaga-jaga orang-orang Rajasa dan Sinelir, disertai prajurit-prajurit yang datang dari luar halaman istana.

Rasa-rasanya halaman istana itu memang sudah penuh de¬ngan orang-orang yang mengenakan tanda lawe berwarna putih di pergelangan tangannya. Karena itu, maka prajurit yang mempertahankan kedudukan Tohjaya itu pun tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghentikan perlawanan mereka dan me¬nyerah.

Sekelompok demi sekelompok, para prajurit itu pun me¬lemparkan senjata mereka. Tidak ada harapan lagi bagi mere¬ka, apalagi untuk menang, sedang untuk melarikan diri pun rasa-rasanya sudah tidak ada jalan.

Dalam pada itu dengan berdebar-debar Lembu Ampal mendekati bangsal tempat tinggal Tohjaya. Mahisa Agni tidak dapat melepaskannya sendiri. Jika ia memasuki bangsal itu dan menemukan Tohjaya, mungkin gejolak perasaannya akan me¬ledak. Karena itu, maka ia selalu berada di samping Lembu Ampal pada saat mereka mendekati bangsal yang dikelilingi oleh sebuah kolam.

Meskipun nampaknya sudah tidak ada prajurit yang berjaga-jaga di sekitar bangsal itu, tetapi mereka yang mendekati pintu bangsal itu masih tetap berhati-hati. Tohjaya tentu tidak akan dengan mudah menyerah. Di dalam bangsal itu pasti ma¬sih ada sepasukan prajurit pilihan, yang barangkali seperti para pengawal Mahisa Agni, berkalung sehelai kain putih dilehernya dan pasrah untuk mati di dalam peperangan.

Tetapi rasa-rasanya bangsal itu terlalu sepi.

Lembu Ampal yang menjadi tegang merayap mendekati bangsal itu didampingi oleh Mahisa Agni. Kemudian beberapa orang lain mengikutinya.

“Sepi sekali.” desis Lembu Ampal.

Mahisa Agni pun menjadi curiga. Katanya, ”Seakan-akan bangsal itu memang sudah kosong.”

Lembu Ampal tidak sabar lagi. Ia pun kemudian melon¬cat berlari di atas jembatan kolam yang mengelilingi bangsal itu diikuti oleh Mahisa Agni dan orang-orang yang lain.

Dengan serta merta Lembu Ampal mendorong pintu yang tertutup sehingga pintu itu berderak keras sekali.

Wajah Lembu Ampal menjadi tegang. Dengan nada yang dalam ia berdesis, ”Kosong. Bangsal ini sudah kosong.”

Beberapa orang pun kemudian berlari-larian memasuki bangsal itu dan melihat segala ruang yang ada. Bangsal itu memang sudah kosong.

“Di paseban.” teriak Lembu Ampal, ”Mungkin Tohja¬ya ingin tetap duduk di atas tahta sampai kesempatan yang pa¬ling akhir.”

“Atau di bangsal ibundanya.” teriak Panglima Pasukan Pengawal.

“Marilah kita bagi.” berkata Mahisa Agni, ”Kakang Witantra dan Mahendra ke bangsal tuan puteri Ken Umang bersama para pengawal. Sedang aku akan mengikuti Lembu Ampal ke paseban.”

Demikianlah maka mereka pun telah membagi diri. Yang sebagian mengikuti Lembu Ampal dan Mahisa Agni sedang yang lain mengikuti Mahendra dan Witantra.

Dengan hati-hati mereka mendekati kedua bangsal itu pa¬da saat yang hampir bersamaan. Seperti ketika mereka mema¬suki bangsa! yang dikelilingi oleh kolam itu, maka mereka pun masih saja selalu berhati-hati. Di sana sini prajurit yang setia kipada Tohjaya masih saja berkeliaran meskipun perlawanan mereka sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Witantra yang mendekati bangsal Ken Umang, tiba-tiba saja tertegun ketika ia melihat tuan puteri Ken Umang berada di depan pintu bangsalnya. Ia sama sekali tidak berada di antara para pengawal dan emban. Seorang diri ia mendapatkan pasukan yang mendekati bangsalnya.

“Kakang.” desis Mahendra, ”Bukankah perempuan itu Ken Umang?”

“Ya.” sahut Witantra.

“Apakah maksudnya?”

“Aku tidak tahu.”

Mahendra termangu-mangu sejenak. Dan Witantra pun kemudian berkata, ”Aku akan mendekatinya.”

Witantra pun kemudian memberikan isyarat kepada pra¬jurit prajuritnya, agar mereka berhenti ditempat masing-ma¬sing. Bersama Mahendra ia pun melangkah mendekati perem¬puan yang sudah berada di halaman itu.

”Tuan puteri.” sapa Witantra, ”Kemanakah tuan putri akan pergi?”

Ken Umang memandang Witantra sejenak. Lalu ia pun bertanya, ”He. siapakah kau?”

“Hamba Witantra tuan puteri.”

“Witantra, Witantra siapa?”

“Witantra. Tentu tuan Puteri ingat, bahwa hamba ada¬lah Witantra. Seorang bekas Panglima pada masa pemerintah¬an Akuwu di Tumapel. Tetapi itu sudah lama lampau. Sekarang hamba tidak lebih dari penghuni sebuah padepokan kecil yang terpencil.”

Ken Umang mengingat-ingat sejenak, lalu tiba-tiba saja ia tertawa, ”Witantra. Seorang Panglima masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.” ia berhenti sejenak, lalu, ”Jadi kau kakang Witantra ya?”

“Hamba luari puteri.”

Suara tertawa Ken Umang menjadi semakin tinggi. Ke¬mudian di sela-sela tertawanya ia berkata, ”Sekarang anakku telah menjadi seorang Maharaja yang paling perkasa di muka bumi. He Witantra, kau harus berlutut di hadapan tuanku Tohjaya. Sang Mahaprabu yang tiada duanya. Apalagi Mahisa Ag¬ni yang sombong itu. Ia harus berlutut dan mencium jari-jari kakiku.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpa¬ling kepada Mahendra dilihatnya Mahendra memandanginya pula.

Dalam pada itu, Ken Umang pun berkata, ”Witantra. Meskipun aku adalah adikmu, adik iparmu, tetapi aku mem¬punyai kedudukan yang jauh lebih tinggi daripadamu. Kau tidak dapat menolak bahwa kau harus berlutut dihadapanku.”

Witantra masih belum menjawab. Suara tertawa Ken Umang rasa-rasanya telah menggetarkan dadanya.

“He, dimana Mahisa Agni? Bawa ia kemari. Ia harus menebus kesombongannya di masa mudanya. Sekarang ia harus bertiarap dihadapanku. Aku akan menginjakkan kakiku di atas ubun-ubunnya. Ia tidak dapat menentang. Karena aku adalah Ibunda Maharaja di Singasari.”

Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Pada sorot matanya ia melihat, bahwa goncangan jiwa Ken Umang atas kegagalan usaha anaknya, untuk menguasai Singasari tidak dapat dikendalikan lagi. Apalagi hubungannya dengan Tohjaya yang di saat terakhir menjadi kurang baik.

“Tuan puteri.” berkata Witantra kemudian, ”Sebenar¬nyalah hamba akan datang untuk berlutut di hadapan putera tuan puteri. Tetapi dimanakah tuanku Maharaja Singasari?”

“Tentu tidak ada di sini.” jawab Ken Umang, ”Toh-jaya ada di bangsal paseban atau di bangsalnya sendiri. Ia tidak pantas lagi tinggal di bangsal yang buruk ini, karena ia adalah seorang Maharaja.” namun tiba-tiba wajah Ken Umang men¬jadi buram, ”Tetapi, tetapi aku tidak diperbolehkannya ting¬gal bersamanya. Aku telah berjuang dengan segala cara untuk menempatkannya di atas tahta Tetapi ia kemudian melupakan aku. Aku ibundanya. Cara apapun yang aku tempuh, cara apapun yang dapat menumbuhkan bibit kelahirannya, namun aku sudah melahirkannya dan membesarkannya. Aku sudah berjuang dan menempatkannya di atas tahta.”

Tiba-tiba saja Ken Umang menangis. Dengan serta merta ia menjatuhkan dirinya di atas rerumputan. Tanpa menghirau¬kan dirinya ia menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung seperti kanak-kanak yang ditinggalkan oleh ibunya pergi ketempat yang tidak diketahui.

“Tohjaya.” suaranya tiba-tiba meninggi, ”Kau telah mendurhakai ibumu. Kenapa kau persoalkan, bagaimana ibundamu berbasil meruntuhkan kekerasan hati Ken Arok saat itu. Kenapa kau persoalkan bahwa hal itu terjadi di saat ia sedang berburu di tengah-tengah hutan. Apa salahnya? Apakah kau menyangka bahwa hal itu hanya dapat terjadi atas binatang buas yang hidup di hutan-hutan itu sendiri. Tidak, kita pun ti-dak ubahnya binatang buas yang hidup di hutan. Siapa yang kuat, ialah yang berkuasa. Bukankah karena kau kuat dan da¬pat membunuh Anusapati kau dapat menjadi seorang raja? Kenapa kau kemudian mengingkarinya hanya karena yang ter¬jadi adalah peristiwa yang tidak kau setujui? Tidak ada seorang pun yang mengetahui, bahwa kau menjelma pada gairah yang tumbuh di tengah hutan perburuan. Kenapa kau seakan-akan menjadi muak karenanya.”

Witantra yang melihat dan mendengar keluhan itu mema¬lingkan wajahnya. Bagaimana pun juga, ia mempunyai sangkut paut dengan perempuan itu telah terguncang dan tidak dapat dikuasainya lagi.

Mahendra pun menundukkan wajahnya. Sekilas ia melihat para prajurit dan pengawal termangu-mangu di tempatnya. Muka mereka pun menjadi tertunduk seperti daun ilalang yang menjadi layu.

Tidak seorang pun yang dapat berbuat sesuatu. Semua ke¬bencian menjadi luluh dan larut seperti debu di dedaunan di sapu oleh hujan yang runtuh dari langit.

Ken Umang kemudian tidak hanya duduk bersimpuh di rerumputan. Tetapi ia pun kemudian menangis sambil menelengkupkan wajahnya di bawah kedua lengannya.

“Tohjaya. Tohjaya.” tangis itu semakin menyayat, ”Kenapa kau tinggalkan aku sendiri. Bukankah sebentar lagi se¬mua orang yang akan dapat mengusikmu sudah akan terbunuh tanpa kecuali? Ranggawuni, Mahisa Cempaka, Mahisa Wonga Teleng, Mahisa Agni, Ken Dedes dan semua anak-anaknya yang lain. Kau adalah satu-satunya pewaris atas Singasari.” tangisnya jadi meninggi, ”Tetapi jangan tinggalkan aku sendiri. Tohjaya.”

Pengakuan di luar sadar itu memang dapat menggetarkan jantung. Tetapi tidak seorang pun yang dapat terbakar hatinya. Yang tumbuh hanyalah perasaan iba dan kasihan. Seorang pu¬teri yang mempunyai kedudukan tertinggi di Singasari, ibunda Maharaja Tohjaya, tiba-tiba telah menjadi kehilangan kesa¬daran.

“Tuan Puteri.” Witantra melangkah mendekatinya, ”Tuan puteri jangan bersedih. Semuanya akan menjadi baik. Tuanku Tohjaya akan segera kembali menjemput tuan puteri. Bukankah tuanku Tohjaya tidak pergi terlampau jauh?”

“Ia telah melarikan diri bersama pengawal-pengawalnya. Aku hanya diberitahu oleh seorang penghubung. Ia tidak membawa aku serta. Ia telah meninggalkan aku sendiri.”

“Tidak tuan puteri. Masih banyak para pengawal di sekitar tuan puteri. Tuan puteri akan selalu aman dan mendapat perlindungan.”

Tiba-tiba tangis Ken Umang mereda. Ketika ia mengang¬kat wajahnya, nampak matanya menjadi merah dan liar.

“He, apakah kalian pengawal-pengawalku.”

“Hamba tuan puteri. Kami adalah pengawal tuan pu¬teri yang setia.”

Ken Umang memandang Witantra sejenak. Lalu matanya yang basah seakan-akan menjadi bersinar. Katanya, ”He, apa¬kah benar kalian pengawal-pengawalku yang setia?”

“Hamba tuanku.”

“Jika demikian, bawa aku menyusul anakku, Tohjaya, Maharaja Singasari.”

“Kemanakah tuanku Tohjaya pergi?”

“Ia pergi meninggalkan istana ini setelah ia mendapat berita bahwa Panglima prajurit yang setia kepadanya terbu¬nuh.”

“Tetapi bukankah istana ini telah terkepung? Tuan puteri. Kemanakah kita pergi, kita tentu akan tertahan oleh prajurit-prajurit yang mengepung istana ini.”

“Tetapi Tohjaya tentu dapat lolos. Di bangsal sebelah utara ada pintu rahasia yang menghubungkan bagian dalam bangsal itu dengan bagian luar istana ini.”

“Maksud tuan puteri, tuanku Tohjaya telah menemukan sebuah pintu rahasia?”

“Bukan menemukan. Tetapi Tohjaya lah yang membuat pintu rahasia itu.”

“Tuan puteri. Marilah, hamba akan mengantarkan tuan puteri melalui pintu rahasia itu. Apakah tuan puteri juga mengetahui pintu itu?”

“Akulah yang menganjurkannya membuat. Ketika Anusapati masih memerintah, maka Tohjaya membuat pintu rahasia ini sebelum membunuh Anusapati. Jika usahanya gagal, maka ia akan dapat lolos dari pintu itu. Ternyata pintu itu kini telah dipergunakannya.”

Witantra mengangguk-angguk. Lalu, ”Marilah tuan puteri. Kami akan mengawal tuan puteri menyusul tuanku Tohjaya.”

Ken Umang pun segera meloncat berdiri. Ia tidak menghi¬raukan lagi pakaiannya yang kusut dan tidak mapan. Berlari-lari seperti kanak-kanak menyongsong ibunya yang datang dari jauh, Ken Umang pergi ke bangsal sebelah.

Sebenarnyalah bahwa bangsal itu sudah dijaga oleh orang-orang Rajasa dan Sinelir. Tetapi atas isyarat Witantra, maka dibiarkannya Ken Umang lewat diikuti oleh Witantra. Ma¬hendra dan beberapa orang pengawal.

Sebenarnyalah, seperti yang dikatakan oleh Ken Umang, di dalam bangsal itu terdapat sebuah pintu rahasia. Sebuah pintu yang samar dan tidak akan dapat dikenal oleh siapapun juga. Pintu itu justru terdapat di bawah sehelai per¬madani yang indah yang datang dari seberang. Jika permadani itu disingkapkan, akan nampak sebuah pintu yang besar.

“Bukalah pintu itu.” perintah Ken Umang.

Beberapa orang pengawal berusaha membuka pintu yang berat, namun yang akhirnya terbuka juga. Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat sebuah lubang yang besar dengan sebuah tangga menurun yang dalam.

“Benar-benar suatu pintu rahasia yang hampir sempurna.” desis Witantra.

Namun kemudian ia pun berkata, ”Mahendra, jagalah tuan puteri. Aku akan melihat ke ujung pintu rahasia ini.”

Mahendra mengangguk. Katanya, ”Tetapi hati-hatilah kakang. Mungkin ada sesuatu yang tidak wajar. Jika kakang menjumpai suatu kesulitan, berilah isyarat.”

“Aku akan berhati-hati. Aku akan pergi dengan beberapa orang pengawal.”

Witantra pun kemudian bersiap utk menuruni tangga itu. Kepada Ken Umang ia berkata, ”Tinggallah tuan puteri di sini sejenak. Hamba akan melihat, apakah jalan ini aman bagi tuan puteri.”

“Ya, cepat.”

Witantra pun kemudian menuruni tangga itu. Dua orang pengawalnya telah mendapatkan dua buah obor yang dapat dipergunakan untuk menerangi jalan rahasia yang dalam.

“Jalan ini cukup mendapatkan udara.” berkata Witan¬tra, ”Ternyata obor-obor itu tidak menjadi suram.”

“Ya.” sahut pengawalnya, ”Tentu jalan ini tidak ter-lampau panjang.”

Meskipun menyusur lubang yang menjadi semakin, sempit. Tetapi cukup untuk berjalan terbungkuk-bungkuk. Beberapa tiang menahan papan-papan kayu yang melintang dibagian atas lubang itu. Tetapi agaknya lubang itu memang cukup kuat.

Dihadapan kaki Witantra. ia memang melihat jejak yang baru. Bahkan ia menemukan beberapa titik darah dan satu dua senjata yang terjatuh.

“Mereka mundur dengan tergesa-gesa.” berkata Wi¬tantra.

“Ya. Dan mereka tidak sempat menutup pintu rahasia ini dengan baik, sehingga kami akan dapat mengikutinya.”

Ternyata seperti yang mereka duga, jalan rahasia itu me¬mang tidak terlampau panjang. Beberapa saat kemudian mereka telah merasakan udara di dalam lubang itu bergerak.

“Kita sudah dekat dengan mulut goa ini.” desis Wi-tantra.

Ternyata beberapa saat kemudian, mereka melihat cahaya yang buram, dan sejenak kemudian, mereka telah sampai pada sebuah lubang.

Perlahan-lahan mereka naik pada tangga yang curam. Ketika Witantra kemudian menjulurkan kepalanya, maka ia¬ pun berdesis, ”Sebuah pintu rahasia yang sempurna.”

Ternyata, bahwa mereka telah keluar dari lubang itu di dalam sebuah gerumbul yang lebat, sehingga lubang itu memang sama sekali tidak nampak dari tempat di sekitarnya.

“Kita berada dimana sekarang ini?” bertanya Witan¬tra ketika mereka telah berada di luar pintu.

Beberapa orang pengawalnya pun segera mencoba menge¬nali tempat itu. Dua tiga orang mencoba menerobos gerumbul itu.

“Mereka berjalan ke arah ini.” berkata salah seorang pengawalnya.

“Ya. Mereka menuju ke jurusan ini. Marilah kita men¬coba mengikutinya.” berkala Witantra kemudian.

Para pengawalnya pun kemudian mengikutinya ketika Witantra mengikuti jejak kaki yang meninggalkan lubang jalur rahasia itu, menerobos gerumbul-gerumbul liar yang cukup lebat.

Akhirnya mereka sampai ketepi gerumbul-gerumbul liar itu. Demikian mereka muncul, maka seorang prajurit berteriak, ”Kita berada di pinggir kota. Jalan itu adalah jalan langsung menuju ke alun-alun.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya, ”Ya. Aku seka¬rang mengetahui dengan tepat, dimana kita berada. Agaknya Tohjaya berhasil muncul di belakang pasukan kita yang sudah mengepung istana, sehingga ia berhasil meloloskan diri.”

“Kita harus mengejarnya. Kita dapat mengikuti jejak¬nya dengan jelas, karena mereka sama sekali tidak sempat menghapus jejak. Bahkan titik-titik darah masih dapat kita lihat di sini.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak se¬gera pergi. Katanya kemudian kepada pengawalnya, ”Pergi¬lah menghadap Mahisa Agni. Katakan apa yang kau lihat di sini.”

“Baik. Dan kemudian apakah tuanku Mahisa Agni ha¬rus datang kemari?”

“Sebaiknya ia melihat jejak ini. Biarlah ia mengambil keputusan.”

Pengawal itu pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke istana untuk menyampaikan laporan tentang jalan rahasia. Tetapi agaknya jalan dibawah tanah itu jauh lebih dekat dari jalan yang menuju ke alun-alun. Apalagi ia masih harus me¬lalui sisa-sisa pertempuran yang barangkali masih belum me¬reda sama sekali, sehingga di sana-sini masih ada pertempuran yang dapat mengganggu perjalanannya.

Karena itu, ia tidak memilih jalan yang menuju ke alun-alun itu, tetapi ia kembali melalui jalan rahasia di bawah tanah.

Demikianlah dengan obor di tangan, ia muncul kembali di bangsal darimana ia memasuki jalan itu.

“Bagaimana.” Mahendra yang masih tetap menunggui Ken Umang bertanya.

Pengawal itu termangu-mangu. Apalagi ketika tiba-tiba saja Ken Umang berteriak, ”Ayo katakan, apa yang kau ketemukan? Apakah kau bertemu dengan anakku, Maharaja Singa¬sari?”

Pengawal itu menjadi bingung. Mahendra pun termangu-mangu sejenak, namun ia kemudian bertanya mendahului jawaban pengawal itu, ”Tuan Puteri. Kami memang sedang menyelidiki segala kemungkinan. Biarlah kami memanggil kawan-kawan kami agar perjalanan kami menjadi lebih aman.”

Ken Umang mengerutkan keningnya.

“Apakah musuh masih terlampau banyak?” bertanya Mahendra.

Pengawal yang semula menjadi bingung itu pun kemudian mengangguk-angguk sambil menjawab, ”Ya. ya tuan puteri. Musuh terlampau banyak di ujung jalan rahasia ini.”

“Tunggulah di sini sebentar tuan puteri.” berkata Mahen¬dra, ”Hamba akan keluar bangsal ini sebentar.”

Ken Umang menjadi sangat gelisah.

“Duduklah sebentara tuan puteri.”

“Tetapi bagaimana dengan puteraku Tohjaya.”

“Tuanku Tohjaya berhasil melalui musuh yang banyak itu. Tuanku Tohjaya sekarang pergi ke tempat yang aman.”

Ken Umang mengangguk-angguk. Lalu katanya, ”Tetapi kau harus cepat. Aku tidak dapat bersabar lagi untuk menyusul anakku.”

Mahendra tidak menjawab. Ia pun kemudian pergi ke luar bangsal itu bersama pengawal yang baru saja datang melalui pintu rahasia itu.

Kemudian kepada Mahendra dilaporkannya semua yang dilihat dan pesan Witantra untuk menemui Mahisa Agni.

“Pergilah kepada Mahisa Agni. Cepat. Tetapi aku harus menyingkirkan Ken Umang lebih dahulu. Jika ia melihat Ma¬hisa Agni, maka persoalannya akan bergeser.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya.

“Kau tidak perlu mengetahui sebabnya. Tuan puteri Ken Umang agaknya sedang terganggu syarafnya sehingga kadang-kadang ia menjadi lupa sama sekali akan dirinya dan orang-orang yang pernah dikenalnya. Kecewa, pedih dan sakit hati sudah agak lama mencengkamnya. Dan kini goncangan terakhir adalah sebab utama yang telah membuatnya terganggu ingatannya.”

“Jadi, apakah aku harus menunggu?”

“Tidak perlu. Pergilah kepada Mahisa Agni. Sebaiknya ia melalui jalan rahasia ini. Tetapi jika ia mendapatkan bebe¬rapa ekor kuda, maka ia dapat mempergunakannya.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Katanya, ”Apa¬kah kuda-kuda yang ada di halaman istana ini telah dilepaskan semuanya?”

“Aku tidak tahu.”

“Tentu masih ada. Tidak seorang pun yang mengganggu kuda-kuda itu, sedangkan tuanku Tohjaya tentu tidak dapat mempergunakan seekor pun dari kuda-kuda itu.”

“Cobalah. Tetapi aku harus menyingkirkan tuan puteri. Jika kau tidak berhasil mendapatkan kuda maka kau akan menempuh jalan ini agar tidak terlampau jauh ketinggalan. Aku tidak akan pergi, karena halaman ini masih memerlukan pengawasan.”

Demikianlah, penghubung itu pun kemudian mencari Mahisa Agni ke paseban. Agaknya pertempuran di halaman Istana itu sudah hampir selesai seluruhnya. Beberapa orang prajurit yang tidak bersenjata lagi telah menyerahkan diri di berbagai tempat.

Ketika Mahisa Agni yang masih berada di paseban mende¬ngar laporan itu, maka ia pun terperanjat. Beberapa saat ia berada di paseban. Lembu Ampal sedang mencari keterangan, dimanakah kira-kira Tohjaya berada. Dalam pada itu, laporan itu mengatakan bahwa Tohjaya berhasil lolos dari halaman istana.

“Baiklah.” berkata Mahisa Agni, ”Aku akan segera menghadap kakang Witantra. Biarlah Mahendra berada di halaman istana. Masih akan timbul bermacam-macam persoalan di sini. Halaman ini memang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.”

“Apakah tuanku memerlukan kuda.” bertanya penghu¬bung itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, lalu, ”Jika kau berhasil mendapatkannya barang lima atau enam ekor, aku akan berkuda.”

Sejenak kemudian penghubung itu pun membawa bebe¬rapa orang pengawal untuk mencari kuda. Ternyata di kandang kuda yang disediakan bagi para prajurit, sama sekali sudah tidak diketemukan seekor kuda pun karena kuda-kuda itu telah dipergunakan oleh pasukan berkuda keluar halaman istana, ketika prajurit-prajurit di luar halaman mendapat serangan. Tetapi pasukan berkuda itu tidak kembali lagi dengan kuda-¬kuda mereka. Sebagian besar dari mereka telah tertangkap dan terbunuh. Yang lain menyerah, dan ada satu dua di antara mereka yang lari tanpa tujuan.

Tetapi, penghubung itu masih mencarinya terus ke kandang kuda di belakang bangsal induk. Ternyata di kandang itu masih ada beberapa ekor kuda yang dapat dipergunakannya.

Dengan tergesa-gesa kuda itu pun disiapkannya. Kemu¬dian kuda yang masih ada empat ekor itu pun dibawanya kepa¬da Mahisa Agni, sementara pengawal yang lain telah menda¬patkan kuda pula dari Mahisa Wonga Teleng.

Demikianlah Mahisa Agni akhirnya dapat mengumpulkan tujuh ekor kuda. Setelah memberikan beberapa pesan, maka ia pun minta diri kepada Lembu Ampal.

Mahendra masih ada di bangsal tuan puteri Ken Umang. “Terserahlah kepada kalian untuk mengawasi isi halaman ini. Aku akan menjumpai kakang Witantra. Seterusnya aku akan berusaha mengikuti jejak tuanku Tohjaya.”

“Bagaimana dengan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”

“Aku akan menghadap sejenak dan bertanya apakah keduanya akan pergi bersamaku.”

“Keduanya sudah berada di dalam kota, di tempat yang sudah ditentukan.”

“Beritahukan kepada Mahendra. bahwa aku pergi ber¬kuda. Karena itu aku tidak melalui jalan rahasia itu.”

Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan halaman istana. Gerbang halaman sudah berhasil dibuka dan sudah dikuasai oleh pasukan yang mempergunakan gelang lawe wenang di pergelangan tangannya.

Sejenak kemudian tujuh ekor kuda itu pun berpacu di sepanjang jalan kota. Bekas-bekas pertempuran masih berserakkan di sana-sini. Beberapa orang sedang berusaha mengumpul¬kan korban yang berceceran di mana-mana.

Mahisa Agni mengusap dadanya yang berdebaran. Banyak nyawa yang melayang. Pembunuhan terjadi di mana-mana di dalam peperangan tanpa pertimbangan lagi.

Tetapi semuanya itu telah terjadi. Setiap orang mengerti dan kadang-kadang dengan tulus hati mengutuk kekejaman perang yang pernah terjadi. Tetapi setiap kali peperangan itu timbul lagi. Orang-orang yang mengutuk perang itu akhirnya terlibat dalam peperangan baru yang juga mengakibatkan kematian dan penderitaan tiada taranya.

Dalam pada itu, Mahisa Agni masih berpacu terus ber¬sama pengawal-pengawalnya dan seorang penghubung yang mengenal tempat Witantra menunggu. Mereka langsung me¬nuju ke tempat yang sudah ditentukan. Tempat yang sudah disediakan buat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Kedatangan Mahisa Agni yang tergesa-gesa itu mereka songsong dengan dada yang berdebar-debar. Sebelum Mahisa Agni berkata sesuatu, Mahisa Cempaka sudah mendahuluinya, ”Apa yang sudah terjadi paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana dengan pamanda Tohjaya? Bukankah pamanda Selamat?”

Mahisa Agni memandang kedua anak-anak yang masih sangat muda itu dengan hati yang tertegun-tegun. Keduanya ternyata masih diterangi dengan cinta kasih sehingga bagai¬mana pun juga mereka masih berharap pamandanya selamat, meskipun Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengetahui, Toh¬jaya telah memerintahkan Lembu Ampal untuk membunuh mereka. Dan terlebih-lebih lagi Tohjaya telah membunuh Anusapati pula.

Mahisa Agni pun kemudian melaporkan serba singkat ten¬tang apa yang terjadi. Dikatakannya pula bahwa Witantra sedang menunggu di ujung pintu rahasia itu.

“Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Apakah tuanku juga ingin mengikuti jejak pamanda tuanku yang telah meninggalkan istana?”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka saling berpandangan sejenak, dan akhirnya keduanya menganggukkan kepalanya.

Mahisa Agni pun kemudian memerintahkan menyiapkan kuda bagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka serta beberapa orang pengawal.

“Kita akan pergi menemui Witantra di ujung pintu rahasia itu. Kita akan membawa beberapa ekor kuda untuknya tuanku. Kita akan berusaha menyusul pamanda tuanku.” berkata Witantra.

“Jika kita dapat menyusul, apakah yang akan kalian lakukan atas pamanda Tohjaya?”

“Tidak apa-apa tuanku, selain menyerahkan kekuasaan dengan baik kepada tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Kemudian berjanji tidak akan mengganggu peme¬rintahan untuk selanjutnya.”

“Setelah pamanda berjanji?”

“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, ”Kita akan memikir¬kannya kemudian. Tetapi percayalah, bahwa kami tidak akan berbuat apa-apa tanpa perintah tuanku. Sebab jika ada dendam kepada keduanya, maka dendam yang terbesar tentu tersimpan di hati tuanku berdua. Jika tuanku sama sekali tidak menden-dam, maka orang lain sama sekali tidak berhak untuk mela¬kukannya.”

“Baiklah paman.” berkata Ranggawuni kemudian, ”Kita akan segera pergi.”

Demikianlah maka sekelompok pengawal berkuda mengi¬kuti Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pergi mendapatkan Witantra bersama Mahisa Agni dan prajurit penghubung yang mengetahui pintu rahasia yang menghubungkan bagian dalam dan luar istana itu. Selain kuda yang mereka pergunakan, maka kelompok itu juga membawa beberapa ekor kuda bagi Witantra dan beberapa orang pengawalnya.

Dalam pada itu, maka Mahendra yang ada di dalam istana, sibuk menyabarkan Ken Umang yang mulai gelisah. Kegelisah¬an yang menyulitkan. Karena Ken Umang tidak lagi dapat menahan gelojak perasaan karena gangguan ingatannya, maka ia pun kemudian berteriak-teriak. Menangis melolong-lolong, namun kemudian tertawa berkepanjangan.

“Anakku akan menguasai seluruh bumi.” katanya di sela-sela derai tertawanya, ”Semua orang akan berlutut di hadapannya. Juga Mahisa Agni. Ia akan dipaksa untuk mencium telapak kakiku. Dan aku tidak akan mencuci kakiku yang kotor.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika ia kemudian melihat Ken Umang tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

“Ia benar-benar kehilangan dirinya sendiri.” berkala Mahendra kepada seorang pengawal yang ada disisinya.

“Ya. Selama ini hatinya digelorakan oleh nafsu ketamak¬an tiada taranya. Pada saat seperti ini, semuanya yang seakan dapat diendapkan itu, teraduk tanpa dapat dikendalikan lagi.”

Demikianlah maka Mahendra dan beberapa orang penga¬wal hanya dapat menyaksikan Ken Umang dalam sikapnya yang tidak terkendali itu. Kadang-kadang tertawa, namun ke¬mudian menangis berguling-guling seperti kanak-kanak.

Sekali-sekali Mahendra mencoba menyabarkannya juga. Tetapi hanya untuk sesaat, karena jiwa yang sakit itu tiba-tiba telah meledak pula.

Karena kemudian Mahendra mengetahui bahwa Mahisa Agni tidak akan melalui lubang rahasia itu, maka ia tidak memaksa Ken Umang untuk menyingkir. Karena menurut penilai¬an Mahendra, jika Ken Umang melihat Mahisa Agni, maka dendam dan kebenciannya akan memuncak dan sulit untuk di tenteramkan lagi.

Sementara itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang diantar oleh Mahisa Agni telah sampai ketempat Witantra yang menunggu. Sejenak keduanya dan Mahisa Agni melihat, betapa pintu dari jalan rahasia itu muncul ke atas permukaan tanah di dalam gerumbul yang cukup rinbun.

“Jadi, apakah yang akan kita lakukan?” bertanya Ranggawuni.

“Menurut pendapat hamba.” berkata Witantra, ”Kita akan mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh tuanku Tohjaya. Kita harus dapat menyusulnya dan mohon agar dengan suka rela menyerahkan kekuasaannya.”

Ranggawuni mengerutkan keningnya.

“Bagaimana jika mereka kita biarkan saja pergi?” bertanya Mahisa Cempaka.

“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, ”Hamba berpenda¬pat, bahwa tuanku Tohjaya sebaiknya dapat kita ketemukan. Dengan demikian kita akan dapat berbicara dan menjelaskan persoalan yang sebenarnya. Tetapi jika kita tidak berhasil menjumpainya, maka Tuanku Tohjaya akan menganggap bahwa ki¬ta akan selalu memusuhinya. Bahkan mungkin tuanku Tohja¬ya menduga bahwa tuanku berdua akan membalas dendam dan membunuhnya.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-angguk lemah.

“Karena itu tuanku.” berkata Mahisa Agni kemudian, ”Adalah sudah sebaiknya kita menyusulnya dan memberikan penjelasan yang sejauh-jauhnya sehingga tuanku Tohjaya da¬pat mempercayainya.”

“Baiklah paman.” berkata Ranggawuni, ”Jika demi¬kian, maka sebaiknya kita pun segera berangkat. Bukankah pamanda Tohjaya hanya berjalan kaki saja?”

“Ya. Tetapi siapa tahu bahwa di sepanjang perjalanannya pamanda tuanku mendapatkan beberapa ekor kuda.” sahut Mahisa Agni.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian mempersiapkan diri untuk pergi bersama Witantra dan Mahisa Agni diikuti oleh beberapa orang pengawal. Mereka masih belum tahu kekuatan yang ada bersama Tohjaya. Mungkin sekelompok kecil. Tetapi mungkin juga pasukan yang kuat.

“Jika keadaan memaksa, maka kita harus mengambil sikap.” berkata Witantra.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka saling berpandangan sejenak, lalu, ”Apakah maksud paman?”

“Jika kekuatan tuanku Tohjaya ternyata jauh melam¬paui pasukan kecil ini. maka kita wajib menyelamatkan diri. Tetapi menilik jejaknya, pasukan itu tidak terlampau kuat.” berkata Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan kita tidak salah duga.” sahut Witantra, lalu, ”Tetapi menilik jejaknya, jumlah mereka memang tidak terlampau banyak.”

Demikianlah pasukan kecil itu mengikuti jejak pasukan yang meninggalkan Singasari. Sekali-sekali mereka mendapatkan tanda bahwa ada orang-orang yang terluka di dalam pasu¬kan yang sedang mereka ikuti itu. Kadang-kadang nampak da¬rah berceceran. Bahkan kadang-kadang mereka dapat menemu¬kan senjata yang tergolek di tanah.

“Jika seorang prajurit masih mampu menggenggam sen¬jata maka senjata itu tidak akan dilepaskan.” berkata salah seorang pengawal.

Dengan demikian, maka pasukan yang sedang mengikuti jejak itu mengambil kesimpulan, bahwa ada orang-orang yang sudah sangat parah, sehingga tidak mampu lagi membawa sen¬jatanya.

Tiba-tiba, pasukan itu terhenti ketika mereka melihat se¬sosok tubuh yang tergolek di tepi jalan. Mahisa Agni yang berjalan di depan, perlahan-lahan mendekatinya. Ia tidak dapat dengan tergesa-gesa melihat tubuh yang terbaring itu. Mungkin ia justru akan dapat dijebak dan diserang dengan tiba-tiba.

Tetapi ternyata tubuh itu benar-benar sudah tidak berda¬ya. Darah mengalir dari luka yang menganga di lambungnya.

Ketika Mahisa Agni berjongkok di sisi tubuh yang lemah itu, maka iring-iringan itu pun berhenti.

“Apakah kau salah seorang dari pengawal tuanku Tohjaya yang sedang menyingkir dari istana?” bertanya Mahisa Agni.

Orang itu memandang Mahisa Agni dengan tatapan mata yang sayu. Kemudian ketika bibirnya bergerak, terdengar sua¬ranya parau, ”Ya. Aku adalah pengawalnya.”

“Apakah kau terluka di pertempuran yang terjadi di halaman istana?”

Prajurit yang terluka itu menganggukkan kepalanya.

“Apakah kau tahu, siapakah kami?”

“Ya. Kalian adalah pengkhianat yang telah memberon¬tak kepada tuanku Tohjaya.”

“Apakah tuanku Tohjaya mengatakan demikian?”

“Setiap orang yang setia kepada Singasari mengatakan demikian.”

“Dan kau bersedia mati dalam kesetiaanmu kepada Si¬ngasari atau kepada tuanku Tohjaya.”

“Tuanku Tohjaya adalah satu dengan Singasari.”

“Bagaimana dengan tuanku Anusapati? Apakah kau belum pernah mendengar, bagaimana tuanku Tohjaya merebut kedudukannya.”

“Aku tidak peduli.” wajah orang itu menjadi merah padam. Namun tiba-tiba tubuhnya menjadi semakin lemah. Matanya sudah setengah terpejam.

“Aku akan mencoba mengobati lukamu.” berkata Wi¬tantra, ”Setidak-tidaknya menahan aliran darah.”

Tetapi sekali lagi orang itu menghentakkan kepalanya dan bangkit bertelekan sikunya, ”Jangan sentuh aku pengkhianat.”

Witantra mengerutkan keningnya. Katanya, ”Dengarlah. Apakah kau pernah mendengar nama tuanku Anusapati?”

“Aku tidak peduli.”

“Cobalah kau kenang masa pemerintahannya yang pen¬dek itu. Cobalah kau membuat perbandingan dengan masa pe¬merintahan tuanku Tohjaya dalam waktu yang hampir sama.”

Orang itu tiba-tiba menjadi lemah dan hampir saja kepa¬lanya yang tidak tertahankan lagi terantuk tanah. Tetapi Ma¬hisa Agni cepat menyambarnya.

“Dengarlah.” berkata Mahisa Agni, ”Jika kau sempat membuat pertimbangan, siapakah yang sebenarnya memberon¬tak terhadap kekuasaan yang sebenarnya di Singasari? Tuanku Tohjaya telah membunuh tuanku Anusapati.”

“Anusapati telah membunuh tuanku Sri Rajasa.”

“Kau yakin?”

“Menurut tuanku Tohjaya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mau berbantah dengan orang yang sudah menjadi sangat lemah. Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, ”Baiklah. Tetapi dimanakah tuanku Tohjaya sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

“Kami melihat jejaknya. Maksud kami baik. Barangkali kau dapat memberi penjelasan? Apakah tuanku Tohjaya naik kuda atau berjalan kaki?”

Prajurit itu tidak mau menjawab. Tubuhnya menjadi se¬makin lemah dan wajahnya bertambah pucat.

Perlahan-lahan Witantra mendekatinya. Dicobanya mena¬burkan obat diatas luka orang itu. Namun diluar dugaannya, orang itu justru meronta sambil berteriak, ”Pergi, pergi peng¬khianat.”

Witantra tidak menghiraukannya. Ia masih saja menaburkan obatnya.

Tetapi agaknya luka orang itu memang terlampau parah dan darah sudah terlampau banyak yang mengalir, sehingga karena itu, ia sudah sangat lemah.

Meskipun demikian ia masih saja tetap bergumam, ”Kau pengkhianat seperti Anusapati yang membunuh Rajasa.”

Witantra tidak menjawab. Ditungguinya orang itu seje¬nak. Jika lukanya dapat tertolong, maka apabila ia tidak dapat mengikuti jejak Tohjaya seterusnya, orang itu barangkali da¬pat memberikan sedikit petunjuk.

Tetapi luka itu sudah terlambat mendapat pengobatan. Karena itu, maka dengan tatapan kebencian perlahan-lahan orang itu kehilangan nafasnya, sehingga akhirnya ia pun me¬ninggal dunia.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Orang itu me¬mang sudah tidak mungkin lagi diselamatkan.

“Marilah kita ikuti jejak itu seterusnya.” berkata Ma¬hisa Agni, ”Kita harus menemukannya dan menyelesaikan persoalan Singasari sebaik-baiknya agar perang tidak berke¬panjangan di hari-hari mendatang.”

Demikianlah maka kelompok itu pun melanjutkan perja¬lanan tanpa mendapat gambaran apapun tentang pengikut-pengikut Tohjaya. Apalagi tentang kekuatan dan jumlah orang-orangnya.

“Sampai di sini mereka masih tetap berjalan kaki.” ber¬kata Witantra.

“Jika mereka kemudian mendapatkan kuda di perjalanan, kita akan dapat memperhitungkan kekuatannya menilik jejaknya.” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-angguk. Namun mereka harus te¬tap berhati-hati.

Dalam pada itu. sebenarnyalah Tohjaya berusaha untuk menyingkir menjauhi istana. Ia berhasrat untuk menyusun ke¬kuatan dan melawan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Toh¬jaya masih berniat untuk tetap menguasai tahta Singasari.

Dengan sejumlah pengikutnya Tohjaya yang terluka diu¬sung dengan tandu. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa di sepanjang jalan padesan yang sempit. Setiap kali tandunya ter¬guncang Tohjaya berteriak memaki-maki prajurit-prajuritnya yang mengusung tandu itu.

“Kalian telah gila. Aku terluka. Kalian harus berjalan dengan baik. Setiap goncangan membuat lukaku semakin sakit. Darah semakin banyak mengalir dari lukaku.”

Prajurit-prajuritnya sama sekali tidak berani berbuat apa¬pun juga. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa tetapi selalu berusaha agar tandu itu tidak terguncang.

Ketika mereka sampai di ujung sebuah padesan terpencil, maka Tohjaya pun menghentikan tandunya. Ketika ia berpaling hatinya menjadi tenang. Prajurit yang mengawalnya cukup ba¬nyak sehingga merupakan sebuah barisan yang cukup pan¬jang.

“Kita berhenti di sini.” berkata Tohjaya, ”Aku ingin beristirahat.”

“Tetapi sebaiknya tuanku beristirahat di seberang pade¬san ini.” berkata seorang Senapati yang mengawalnya, ”De¬ngan demikian, jika ada pasukan yang mengikuti jejak kita, mereka tidak segera dapat melihat apabila mereka muncul diu¬jung bulak.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berteriak, ”Apakah kau takut menghadapi orang-orang Rajasa dan Sinelir?”

“Tidak tuanku. Tetapi sekedar sikap berhati-hati.”

Tohjaya termenung sejenak. Namun kemudian dengan wajah tegang ia berkata, ”Kita pergi ke ujung lain dari pade¬san ini. Senapatiku sudah menggigil mendengar nama orang-orang Rajasa dan Sinelir.”

Tidak ada yang menjawab. Prajurit-prajurit yang mengu¬sung tandu itu pun segera mengangkat tandu Tohjaya dan membawanya melalui lorong di padesaan kecil itu sampai ke u¬jung yang lain.

Kepada beberapa orang prajurit Senapati itu memerintah¬kan untuk berjaga-jaga di ujung lorong.

“Aku mempunyai firasat bahwa mereka akan mengejar kita. Kita tidak sempat melenyapkan jejak.”

“Apakah mereka akan dapat menemukan lorong rahasia di bawah tanah itu?”

“Tidak mustahil. Mereka akan menjelajahi setiap sudut ruangan bangsal yang manapun juga. Tetapi mungkin juga ada orang yang melihat iring-iringan ini dan dengan sengaja berkhianat.”

Demikianlah maka beberapa orang prajurit sambil berlin¬dung mengawasi bulak panjang yang terbentang di hadapan mereka. Dengan demikian mereka dapat melihat setiap orang yang muncul di ujung bulak di kejauhan, sementara Tohjaya beristirahat di padesan itu.

Tanpa minta ijin kepada pemilik-pemiliknya yang ketaku¬tan dan bersembunyi di dalam gubug-gubug kecil, prajurit-prajurit yang lelah itu telah memanjat batang-batang kelapa. Air¬nya dapat diminum dan kelapa-kelapa yang masih muda itu pun dikunyahnya sekedar mengisi perut.

Bahkan, kemudian bukan saja kelapa dan buah-buahan. Tetapi beberapa orang prajurit telah masuk ke dalam dapur dan mengambil makanan apa pun yang ada di dalam dapur itu.

Namun dalam pada itu, prajurit-prajurit yang berjaga-ja¬ga di ujung lorong telah melihat debu yang berhamburan. Kemudian nampak beberapa ekor kuda muncul dan maju perla¬han-lahan.

“Itulah mereka?” bertanya salah seorang prajurit yang berjaga-jaga itu.

Kawannya menjadi berdebar-debar. Di kejauhan mereka melihat sekelompok orang-orang berkuda yang nampaknya memang sedang mencari jejak.

“Cepat laporkan.” berkata yang seorang kepada yang lain, ”Aku dan beberapa prajurit tetap berada di sini.”

Salah seorang dari prajurit-prajurit itu pun segera berlari-lari menyampaikan laporan tentang sekelompok pasukan berkuda yang telah menyusul mereka.

“Pasukan berkuda yang mana?” bertanya seorang Senapati.

“Maksudku orang-orang berkuda.”

Senapati itu termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun memberanikan diri mendekati Tohjaya yang sedang beristirahat. Dengan ragu-ragu ia mencoba untuk mengatakan laporan yang disampaikan oleh prajurit itu. Tetapi ia harus sangat ber¬hati-hati, karena Tohjaya agaknya benar-benar telah berubah menjadi seorang yang cepat sekali tersinggung, marah dan ber-tindak seakan-akan di luar sadarnya.

“Tuanku.” berkata Senapati itu, ”Beberapa orang prajurit yang mengawasi bulak itu menyampaikan laporan.”

Tohjaya yang lelah dan terluka itu mengerutkan kening¬nya. Dan tiba-tiba saja ia membentak, ”Coba, katakan sekali lagi.”

Senapati itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus menyampaikan berita itu.

“Tuanku, di ujung bulak nampak sekelompok orang-orang berkuda menuju ke arah ini.”

“Gila.” teriak Tohjaya, ”Kenapa mereka menuju ke-mari?”

“Agaknya mereka menemukan jejak kita.”

“Bodoh sekali. Dungu dan gila. Kenapa jejak kita dapat dikenali?”

Senapati itu menjadi bingung.

“Persetan dengan pencari jejak itu.”

“Tetapi mereka benar-benar menuju ke arah ini tuanku.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin beristirahat di sini.”

Senapati itu menjadi semakin bingung. Lalu katanya, ”Tetapi bagaimana jika benar-benar datang?”

“Apakah kau sudah menjadi lumpuh. Usir mereka.”

“Tuanku.” berkata Senapati itu, ”Hamba akan berusaha mengusir mereka. Tetapi demi keselamatan tuanku, apakah ti¬dak sebaiknya tuanku melanjutkan perjalanan. Jika mereka telah terusir, maka tuanku akan dapat beristirahat lebit tenang lagi.”

“Jadi, kau mengganggu istirahatku kali ini?” Tohjaya berteriak semakin keras.

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian ia ber¬kata, ”Hamba akan menurut segala perintah tuanku. Apakah yang harus hamba lakukan sekarang tuanku?”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menyadari bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk menyela¬matkan diri. Sikap Senapati yang seakan-akan menyerahkan se¬galanya kepadanya itu justru membuat Tohjaya menjadi bim¬bang.

Akhirnya ia pun berteriak, ”Kita berjalan terus.” Lalu katanya kepada Senapati, ”Bagi orang-orangmu. Sebagian ikut bersamaku, yang lain jebak orang-orang berkuda itu di sini. Kau tentu dapat memperhitungkan jumlah yang kau perlukan untuk membinasakan orang-orang berkuda itu.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, ”Baiklah tuanku. Hamba akan melakukannya.”

Senapati itu pun kemudian memerintahkan beberapa orang prajurit menyiapkan tandu. Sejenak kemudian perjalanan Toh¬jaya itu pun dilanjutkannya, dikawal oleh prajurit-prajurit pili¬han dengan senjata telanjang di tangan.

Namun dalam pada itu, wajah-wajah mereka menjadi se¬makin kuyu. Bahkan beberapa orang di antaranya telah sampai pada batas ketahanan jiwanya. Mereka menjadi putus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tetapi mereka berjalan terus. Betapapun sulitnya. Jalan yang mereka lalui semakin lama menjadi semakin sempit dan berbatu-batu.

Dalam pada itu. Senapati pengiring Tohjaya itu dengan tergesa-gesa pergi kemulut lorong. Ia ingin melihat sendiri, seberapa banyak orang-orang berkuda yang menyusul perjala¬nannya.

Sekilas ia melihat, bahwa orang-orang berkuda itu jum¬lahnya tidak begitu besar. Tetapi ia pun mengerti bahwa mere¬ka tentu terdiri dari orang-orang pilihan.

“Mungkin Mahisa Agni ada di antara mereka.” berkata Senapati itu.

Karena itu, maka diperintahkannya sebagian besar dari prajuritnya untuk tinggal di padukuhan itu.

“Kalian harus menahan orang-orang berkuda itu. Ka¬lian tidak boleh ragu-ragu. Mereka harus kalian binasakan sampai orang yang terakhir.” berkata Senapati itu, ”Aku akan melanjutkan perjalanan mengawal tuanku Tohjaya. Ka¬mi akan menunggu kalian di padukuhan berikutnya. Jika kalian sudah berhasil, kalian harus segera menyusul kami.”

Prajurit-prajurit itu pun kemudian diserahkannya kepada seorang pemimpin kelompok yang berpengalaman. Orang itu memiliki kemampuan yang cukup, sehingga menurut penilaian Senapati itu. maka pemimpin kelompok dengan pasukannya itu akan dapat menyelesaikan tugasnya.

Setelah memberikan perintah itu, maka Senapati itu pun dengan tergesa-gesa menyusul Tohjaya yang mendahuluinya. Rasa-rasanya ia sedang melepaskan seorang bayi dipinggir su¬mur yang dalam. Cemas, ragu-ragu dan kadang-kadang ketakutan mengenang masa yang mendatang.

Dalam pada itu Tohjaya telah meninggalkan padesan yang baru saja disinggahinya. Ia pun kemudian juga diburu oleh kecemasan. Apabila orang-orang Rajasa dan Sinelir sem¬pat memburunya, maka mereka tentu akan melepaskan dendam¬nya kepadanya, karena ia sudah membunuh beberapa orang di antara mereka dan menyisihkan mereka dari tugas-tugasnya.

Dalam pada itu Mahisa Agni dan Witantra bersama Rang¬gawuni. Mahisa Cempaka dan pengiring-pengiringnya sudah menjadi semakin dekat dengan padesan yang sudah siap me¬nyambut mereka. Di balik dinding batu dan pepohonan, prajurit-prajurit pengawal Tohjaya telah menunggu dengan senjata di tangan. Apabila pasukan yang mendatang itu mendekat, dan memasuki regol, maka prajurit-prajurit itu akan menyergap mereka, seperti seekor tikus yang sudah ada di dalam perangkap.

Mahisa Agni dan Witantra yang berkuda di ujung pasu¬kannya maju terus perlahan-lahan sambil mengamati jejak di depan kaki kudanya. Jejak yang masih sangat jelas nampak.

“Semakin lama kita menjadi semakin dekat dengan me¬reka.” berkata Mahisa Agni, ”Ternyata dengan jejak yang menjadi semakin jelas.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya, ”Jejak ini ten¬tu baru saja ditinggalkan oleh pengawal-pengawal tuanku Tohjaya. Kita memang sudah berada pada jarak yang sangat de¬kat.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Diangkatnya kepalanya dan memandangi regol padukuhan kecil yang ada di hadapannya.

“Padukuhan itu nampaknya terlampau sepi.” berkata Mahisa Agni, ”Tidak ada anak-anak yang bermain-main di u¬jung desa. Dan tidak ada seorang pun yang berada di sawah di sekitar padesan itu.”

“Tentu mereka menjadi ketakutan. Tuanku Tohjaya ba¬ru saja lewat padukuhan itu.”

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Dipandanginya padukuhan itu dengan saksama. Seakan-akan ia ingin melihat langsung kebalik pepohonan dan dinding batu yang mengitari padukuhan itu.

Tetapi ternyata tatapan mata Mahisa Agni dan Witantra memang sangat tajam, dibantu oleh firasatnya. Karena itu, ma¬ka setelah mereka menjadi semakin dekat, mereka pun telah di¬ganggu oleh keragu-raguan untuk meneruskan perjalanan.

‘Witantra.” berkata Mahisa Agni, ”Aku melihat ujung senjata yang berkilat di balik pepohonan.”

Wirantra menganggukkan kepalanya. Katanya, ”Aku juga melihat sesuatu. Beberapa buah ranting kecil bergerak-ge¬rak tidak sewajarnya. Jika angin bertiup dan menggerakkan ranting-ranting itu, maka kita akan melihat gerak yang seira¬ma Tetapi dedaunan itu bergerak dengan kesan yang lain.”

Mahisa Agni menarik kekang kudanya sehingga kudanya pun berhenti beberapa puluh langkah didepan regol. Dengan isyarat ia menghentikan seluruh iring-iringan.

“Kenapa kita berhenti di sini pamanda?” bertanya Ranggawuni.

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ditatapnya paduku¬han dihadapannya dengan tanpa berkedip.

Dan Mahisa Agni pun kemudian yakin bahwa ia melihat sesuatu. Ia melihat ujung senjata mencuat dari balik dinding batu. Dan ia melihat dedaunan yang bergerak tidak wajar se¬perti dikatakan oleh Witantra.

“Kita menghadapi sesuatu tuanku.” berkata Mahisa Agni, ”Dibalik dinding batu itu telah menunggu sekelompok prajurit. Kita tidak tahu berapa besar kekuatan mereka.”

“Jadi maksud pamanda?”

“Tuanku berdua harus terhindar dari bahaya. Aku yakin bahwa di antara mereka yang menunggu kita tidak ada yang berkuda. Karena itu, tuanku berdua sebaiknya berada di ekor pasukan. Jika jumlah mereka terlampau besar, kita harus menghindar. Dan tuanku harus lebih dahulu terhindar dari tangan mereka.”

“Kita melarikan diri?”

“Bukan melarikan diri tuanku.” Witantralah yang me¬nyahut, ”Tetapi kita menghindari lawan yang tidak terlawan. Itu bukan cacat atau cela bagi prajurit di peperangan. Memang berbeda halnya jika kita berperang tanding, atau menurut pertimbangan tidak ada jalan keluar dari kesulitan itu. Maka kita akan melawan sampai nafas kita yang terakhir.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu seje¬nak. Lalu, ”Jadi, apa yang harus kami kerjakan?” bertanya Ranggawuni.

“Tuanku berdua berada di bagian belakang dari pasukan ini. Bukan suatu sikap yang licik. Tetapi tuanku berdua masih terlalu muda untuk mengatasi kesulitan di medan perang yang tidak seimbang.”

“Jika keadaannya seimbang?”

“Terserahlah kepada tuanku. Tetapi sebaiknya tuanku tidak berada di peperangan.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu se¬jenak. Tetapi mereka percaya bahwa Mahisa Agni dan Witan¬tra memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup ten¬tang medan. Karena itu mereka tidak membantah lagi. Diiri¬ngi oleh empat orang pengawal terpilih keduanya pun kemudi¬an menempatkan diri di ekor pasukan.

“Kita harus maju perlahan-lahan.” berkata Mahisa Agni.

“Kita jangan memasuki regol itu.” desis Witantra.

“Ya. Kita akan berada di luar regol dan memancing me¬reka meloncati dinding batu. Dengan demikian kita akan mengetahui, setidak-tidaknya mendapat gambaran dari kekuatan mereka.”

“Jika jumlah mereka membahayakan tuanku Ranggawu¬ni dan Mahisa Cempaka, apa salahnya kita menyelamatkannya lebih dahulu sebelum kita akan menghadapinya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Beberapa langkah me¬reka maju lagi mendekati regol padukuhan yang sepi itu.

Dalam pada itu, prajurit yang menunggu di balik dinding batu dan pepohonan menjadi termangu-mangu. Sebagian dari mereka melihat dengan jelas, bahwa yang ada dipaling depan adalah Mahisa Agni. Bahkan ada satu dua orang yang dengan berdebar-debar menyebut, ”Yang seorang itu adalah Panji Pati-pati.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku pernah melihatnya. Aku pernah bertugas mengi¬kuti Panglima Pelayan Dalam ke Kediri dan melihat orang yang mendapat kuasa dari Mahisa Agni itu.”

“Kau pernah menjadi Pelayan Dalam?”

“Tidak. Tetapi aku pernah diperbantukan mengawal tunggul kerajaan.”

Yang lain tidak menyahut lagi. Tetapi hati mereka telah dirayapi oleh perasaan gelisah dan cemas. Mahisa Agni bagi para prajurit telah dikenal sebagai orang yang tidak teratasi. Ia adalah imbangan dari tuanku Sri Rajasa.

“Tetapi apakah ia dapat melawan sejumlah orang seka¬ligus.” prajurit-prajurit itu menenteramkan diri mereka. Me¬reka merasa bahwa jumlah mereka lebih banyak dari para pe¬ngawal yang datang bersama Mahisa Agni dan Witantra itu.

Namun demikian, rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu. Jika Mahisa Agni memasuki regol, maka orang-orang yang ada di sebelah menyebelah regol itu akan melontarkan tombak mereka serentak.

“Sebagian mereka akan terbunuh pada serangan yang pertama.” berkata para prajurit itu di dalam hati.

Tetapi Mahisa Agni tidak membawa pasukannya masuk melalui regol padukuhan itu.

Sejenak Mahisa Agni duduk diam di atas kudanya. Na¬mun dalam pada itu suasana menjadi tegang. Orang-orang bersembunyi di balik dinding batu dan pepohonan rasa-rasanya su¬dah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Nafas mereka se¬olah-olah menjadi sesak, dan tubuh mereka bagaikan terhimpit oleh ketegangan yang semakin memuncak.

Tetapi pasukan yang mendatang itu masih tetap diam di luar regol.

“Apakah mereka sudah mengetahui bahwa kami menunggu di sini.” desis seorang prajurit kepada orang yang diserahi memimpin kelompok itu.

“Mungkin.” Jawabnya, ”Tetapi aku belum yakin.”

”Kita masih harus menunggu?”

“Ya.”

“Darahku hampir membeku.”

”Sebentar lagi kalian akan mendapat kesempatan men¬cucurkan darah dari tubuh mereka.”

Prajurit itu terdiam. Dan mereka memang masih harus menunggu beberapa lama, sehingga mereka menjadi benar-benar tidak tahan lagi.

Dalam pada itu, prajurit dan pengawal yang menyertai Mahisa Agni pun menjadi gelisah pula. Mereka sudah terlalu lama menunggu di atas punggung kuda. Tetapi mereka me¬ngerti bahwa di hadapan mereka tentu ada bahaya yang me¬nunggu.

Dari mulut ke mulut mereka mendengar bahwa di balik dinding batu itu telah menunggu sepasukan prajurit. Jika me¬reka memasuki regol, maka senjata akan berhamburan membu¬nuh mereka sebelum sempat melawan.

Karena itulah, setiap prajurit yang ada di punggung kuda itu pun mencoba memperhatikan dengan saksama, apakah yang ada dihadapan mereka.

Satu dua orang di antara mereka pun kemudian dapat me¬lihat daun pedang yang berkilat, ujung tombak yang bergeser dan ranting-ranting yang bergetar tanpa disentuh angin.

“Ya. Maut sudah menunggu kita dibalik dinding itu.” desis salah seorang dari mereka.

Ternyata sikap para prajurit dan pengawal di luar regol itu memberikan pertanda bahwa sebenarnya mereka telah mengetahui bahwa mereka telah ditunggu di balik dinding batu.

Karena itu, maka pemimpin prajurit yang sudah me¬nunggu itu harus membuat pertimbangan. Apakah mereka akan tetap berdiam diri menunggu sampai waktu yang tidak terbatas. Atau mereka harus menyerang keluar regol.

Dalam kebimbangan itu, Mahisa Agni telah membuat suatu gerakan yang mencurigakan mereka. Para prajurit itu melihat Mahisa Agni menunjuk kearah lain dari regol padukuh¬an itu, seolah-olah Mahisa Agni sedang mencari jalan lain yang dapat mereka tempuh.

Mahisa Agni dan Panji Pati-pati itu sedang membicara¬kan kemungkinan untuk mencari jalan lain. “Mungkin mereka akan menerobos sawah dan ladang. Kemudian melingkari pa¬dukuhan ini.” berkata seorang prajurit.

“Jika demikian mereka akan langsung menyusul tuan¬ku Tohjaya.”

“Apakah kita akan berdiam diri.”

Derap kaki kuda itu tentu akan lebih cepat dari kaki-kaki kita meskipun kita memintas dan berlari di jalur jalan ini.

Prajurit-prajurit itu termangu-mangu.

“Kita tidak boleh membiarkan mereka.” berkata pe-mimpin kelompok itu.

“Jadi?”

“Kita harus keluar dari padukuhan ini dan menyerang mereka.”

“Itu lebih bagus. Kita tidak tersiksa dengan menunggu tanpa batas.” gumam yang lain.

Dengan demikian, maka pemimpin prajurit yang menung¬gu dibalik dinding itu pun segera memberikan isyarat. Mereka harus mempersiapkan diri dan menyerang serentak.

“Jangan bingung menghadapi kaki-kaki kuda.” ber¬kata pemimpinnya.

Prajurit-prajuritnya tidak membantah. Meskipun mereka menyadari bahwa mereka harus bertempur sambil memperhati¬kan derap kaki kuda. Namun mereka sama sekali tidak gentar.

Sejenak kemudian maka pemimpin kelompok itu pun sege¬ra meneriakkan aba-aba yang disambut oleh prajurit-prajurit¬nya. Sebuah teriakan yang mengumandang telah menggelegar seolah-olah akan meruntuhkan langit.

Bersamaan dengan itu. para prajurit itu pun segera berlon¬catan dari balik dinding batu, kemudian berlari-larian menyerang dengan senjata terhunus.

Mahisa Agni. Witantra dan para prajurit berkuda me¬mang menunggu saat yang demikian. Karena itu, maka demi¬kian mereka mendengar aba-aba, maka mereka pun segera ber¬geser.

Kuda-kuda mereka seakan-akan bergerak menjauhi lawan nya. Mahisa Agni dan Witantra memberikan isyarat agar pasukan kecil itu mundur. Tetapi tidak begitu jauh, karena Ma¬hisa Agni pun segera memerintahkan pasukannya berhenti.

Pasukan berkuda itu pun kemudian melihat sekelompok prajurit berlari-larian ke arah mereka. Ternyata bahwa jumlah para pengawal Tohjaya itu cukup banyak, sehingga untuk se¬saat Mahisa Agni dan Wintantra masih harus berbicara.

“Apakah kita akan dapat mengatasi jumlah itu?” bertanya Witantra.

“Aku berharap demikian kakang.” sahut Mahisa Agni, ”Jika kita dapat mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya maka kita akan mendapat kesempatan untuk menggun¬cangkan keberanian mereka.”

“Kita memencar?” bertanya Witantra.

“Ya. Dan kemudian maju serentak seperti dalam gelar perang yang besar.”

“Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”

“Di belakang kita.”

Witantra tidak menyahut. Tetapi ia pun mengangguk sambil memberi isyarat kepada Mahisa Agni untuk segera melaksanakannya.

Mahisa Agni pun kemudian maju beberapa langkah. Di¬angkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi, kemudian tangan itu direntangkannya kesamping.

Isyarat itu diulanginya sampai tiga kali, sehingga anak buahnya mengerti sepenuhnya apa yang harus dilakukannya.

Witantra lah yang kemudian datang kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk memberitahukan kepada mereka, agar mereka dan empat orang pengawal terpilih berada di be¬lakang gelar yang dibuat oleh Mahisa Agni.

Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun berderap. Para pe¬nunggangnya tidak lagi menghiraukan sawah dan ladang di sebelah menyebelah jalan. Mereka membawa kuda-kuda mere¬ka dalam sebuah deretan yang lengkung mengarah kepada prajurit-prajurit lawan yang berlari-larian.

Mahisa Agni dan Witantra berada pada jarak beberapa langkah di dalam deretan yang lengkung itu.

Sesaat Mahisa Agni menunggu. Dari kejauhan ia melihat prajurit-prajurit yang berlari-larian itu menjadi ragu-ragu. Mereka tidak lagi menghambur dengan kecepatan sepenuhnya. Tetapi langkah mereka sudah mulai tertahan.

Mahisa Agni memandang Witantra sejenak. Witantra mengerti bahwa Mahisa Agni minta pertimbangannya, sehingga karena itu. maka ia pun segera menganggukkan kepalanya.

Mahisa Agni pun kemudian berteriak nyaring, mengatasi suara hiruk pikuk prajurit-prajurit Singasari yang sedang berlari-larian menyerang itu.

Serentak setiap orang di dalam gelar berkuda itu pun menggerakkan kendali kuda masing-masing, sehingga dalam seke¬jap kuda-kuda itu pun segera berderap maju. Sedang di atas punggung kuda-kuda itu penunggang-penunggangnya menga¬cungkan senjata-senjata telanjang dengan dada tengadah.

Pasukan berkuda dalam gelar lengkung itu benar-benar telah mendebarkan jantung prajurit-prajurit Singasari. Apala¬gi ketika kuda-kuda itu berlari semakin cepat mengarah ke¬pada mereka.

“Jangan takut.” teriak pemimpin kelompok prajurit-prajurit Singasari itu.

Tetapi derap yang laju dari sekelompok pengawal ber¬kuda itu benar-benar membuat mereka cemas. Jika mereka ti¬dak menepi maka kaki-kaki kuda itu akan segera menginjak tubuh mereka dan membenamkan kepala mereka kedalam lumpur.

“Bunuh kuda-kuda mereka lebih dahulu.” teriak pe¬mimpin prajurit itu.

Tetapi derap kuda lawan benar-benar mempengaruhi ke¬tabahan hati mereka. Apalagi ketika mereka mendengar Mahisa Agni meneriakkan aba-aba dan disahut oleh beberapa orang di antara mereka seolah-olah mereka sudah mengumandangkan lagu kematian bagi para prajurit-prajurit itu.

Ternyata bahwa usaha Mahisa Agni untuk menggertak la wannya berhasil. Meskipun jumlah prajurit-prajurit itu lebih banyak dari pasukan pengawal Mahisa Agni, tetapi mereka menjadi kecut melihat sederetan pasukan berkuda berderap menuju ke arah mereka.

Dengan demikian, maka ketika pasukan berkuda itu men¬jadi semakin dekat, maka di luar kemampuan pemimpin prajurit itu untuk menahannya, maka prajurit-prajuritnya pun te¬lah tercerai berai.

Meskipun demikian, prajurit-prajurit itu tidak berlari-larian tanpa tujuan. Ternyata mereka hanya sekedar menyingkir dari gilasan kaki-kaki kuda yang berderap maju itu.

Tetapi, pasukan berkuda itu ternyata tidak segera berlalu tanpa berbuat apa-apa. Tiba-tiba saja gelar itu pun pecah dan kuda-kuda itu pun menghambur menyerang prajurit-prajurit Singasari itu dengan garangnya.

Prajurit-prajurit Singasari itu terkejut mengalami serang¬an yang demikian. Apalagi lawan mereka menyambar dengan garangnya di atas punggung kuda, seolah-olah berpuluh-puluh ekor garuda yang menukik bersama-sama dari udara.

Demikianlah penunggang-penunggang kuda itu me¬nyambar dengan senjata-senjata mereka. Setiap orang yang di¬lalui disisinya merasakan sengatan yang panas pada tubuh me¬reka, kemudian barulah mereka sadar, bahwa sebuah luka te¬lah menganga.

Serangan yang tiba-tiba itu benar-benar telah merusak ke¬tabahan hati prajurit-prajurit Singasari itu. Meskipun sebagian dari mereka segera berhasil menguasai diri dan membalas se¬rangan-serangan itu dengan pagutan ujung senjata ke arah pe¬nunggang-penunggang kuda itu namun sebagian yang lain sa¬ma sekali sudah tidak berdaya.

Yang terluka parah pun segera menyingkir dari medan yang kisruh. Mereka tidak mau menjadi sampah yang terinjak-injak oleh kaki kuda yang berlari-larian melingkar mengham¬burkan debu yang bergulung-gulung naik ke udara.

Pertempuran yang seru pun segera berkobar. Meskipun jumlah prajurit-prajurit Singasari yang mengawal Tohjaya semula lebih banyak, tetapi pada benturan yang pertama, mereka sudah jauh berkurang, sehingga pertempuran berikutnya pun mereka tidak mampu mempergunakan segenap kekuatan yang sebenarnya sudah mereka sediakan.

Apalagi, lawan mereka adalah pengawal-pengawal berku¬da yang bertempur di atas punggung kuda yang berlari-larian menyambar-nyambar. Sekali-sekali kuda-kuda itu datang menyerang, kemudian menghambur menjauh.

Meskipun demikian, prajurit-prajurit Singasari itu ka¬dang-kadang berhasil juga melontarkan tombaknya, dan menghunjam pada punggung pengawal berkuda itu, sehingga pengawal itu pun terlempar pula dari kudanya.

Tetapi, setiap kematian dari seorang pengawal, membuat kawan-kawannya menjadi garang, sehingga akhirnya perang itu hampir kehilangan bentuknya, bahwa yang berselisih itu adalah mereka yang memiliki nalar budi dan peradaban yang kadang-kadang mereka bangga-banggakan.

Semakin lama, kedua belah pihak pun menjadi semakin ka¬sar. Bahkan mendekati liar dan buas. Senjata-senjata mereka menjadi merah oleh darah dan sorot mata mereka pun menjadi merah oleh kemarahan yang meluap di dalam dada.

Mahisa Agni dan Witantra bertempur dengan gigihnya. Namun keduanya masih tetap sadar, bahwa yang penting bukanlah jumlah kematian yang dapat mereka timbulkan.

Karena itulah, maka Mahisa Agni dan Witantra sama se¬kali tidak berusaha membunuh sebanyak-banyaknya, meskipun mereka berusaha melumpuhkan setiap lawan yang mereka jumpai.

Semakin lama pertempuran itu berlangsung, maka men¬jadi semakin jelas, bahwa prajurit Singasari yang mengawal Tohjaya itu pun menjadi semakin lemah. Mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Dalam pada itu, Ranggawuni dam Mahisa Cempaka yang oleh Mahisa Agni disisihkan, melihat pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar.

Sebenarnya mereka tidak dapat berdiam diri menyaksikan pertempuran yang membawa beberapa orang korban. Tetapi mereka tidak dapat melanggar pesan Mahisa Agni.

Sebenarnyalah, bahwa Mahisa Agni menghendaki kedua¬nya tidak terlibat dalam pertempuran itu. Jika salah seorang dari mereka terluka, maka akibatnya sangat merugikan Singa¬sari dalam keseluruhan.

Karena itu. keduanya masih harus tetap mendapat perlin¬dungan sebaik-baiknya dalam suasana yang demikian. Apabila mereka sudah cukup dewasa sepenuhnya dan sudah cukup masak, maka sudah sewajarnyalah bahwa keduanya harus dapat menjadi Senapati di setiap medan perang.

Dengan dada yang berdebar-debar Ranggawuni dan Ma¬hisa Cempaka menyaksikan pertempuran yang sengit itu. Setiap kali mereka melihat senjata yang menghunjam ke dalam tu¬buh siapa pun juga, terasa kulit mereka meremang.

“Sebenarnyalah bahwa peperangan adalah ajang pembu¬nuhan.” berkata Ranggawuni di dalam hatinya.

Dalam pertempuran itu ia dapat menyaksikan bagaimana seseorang berusaha membinasakan orang lain. Bagaimana seo¬rang dengan tatapan mata penuh dendam dan kebencian me¬nyerang langsung dengan ujung senjata kepada orang lain. Kemudian dengan geram menyaksikan darah yang terhambur dari luka.

Mahisa Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Ia pun men jadi ngeri melihat manusia saling berbunuhan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus tetap berada di tempatnya sambil menyaksikan pembunuhan-pembunuhan itu berlangsung.

“Membunuh atau dibunuh.” desis Mahisa Cempaka kepada diri sendiri.

Dan di peperanganlah manusia telah kehilangan kemanu¬siaannya.

Demikianlah, pertempuran itu berlangsung semakin dah¬syat. Namun yang sejenak kemudian mulai nampak tanda-tanda, siapakah yang akan menguasai medan selanjutnya.

Kuda-kuda masih berlari-larian menyambar. Dan lawan mereka semakin berkurang. Tetapi, di sekitar arena itu bertebar¬an sosok mayat yang terbujur lintang. Dibagian lain, orang-orang yang terluka mengerang kesakitan.

Mahisa Agni dan Witantra pun masih tetap di atas pung¬gung kudanya. Kuda mereka masih tetap berlari-larian. Teta¬pi senjata mereka sudah tidak mematuk-matuk lagi. Lawan pa¬sukan pengawal berkuda itu sudah hampir tidak berdaya sama sekali.

“Menyerah sajalah.” teriak Mahisa Agni, ”Agaknya itu lebih baik bagi kedua belah pihak.”

Beberapa orang dari para prajurit itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena luka-lukanya. Yang lain terbu¬nuh dan beberapa orang lagi sudah melemparkan senjata me¬reka.

Tetapi masih ada di antara mereka yang bertempur tanpa mengenal menyerah. Dengan putus asa mereka melawan setiap pengawal berkuda yang mendekatinya. Mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali mati, karena mereka mengira bahwa apabila mereka menyerah, akhirnya mereka akan dihukum picis di simpang empat di pusat kota.

Mahisa Agni agaknya dapat mengerti perasaan itu, se¬hingga beberapa kali ia menyerukan agar mereka meletakkan senjata.

“Kami tidak akan memperlakukan kalian dengan landasan dendam dan kebencian. Jika kalian menyerah, maka ka¬lian akan diperlakukan sewajarnya, sebagaimana seorang pra¬jurit yang menyerah di peperangan.” berkata Mahisa Agni lantang.

Tetapi pertempuran masih berlangsung terus. Satu dua di antara mereka berhasil melarikan diri dan hilang dipadukuhan. Sedang yang lain baru menghentikan perlawanan mereka ketika mereka sudah kehilangan kemampuan sama sekali. Di antara mereka harus terbaring karena luka yang tergores di tubuhnya. Yang lain sudah tidak lagi dapat bernafas karena jan¬tung mereka tertembus senjata.

“Mereka adalah orang-orang yang keras kepala.” desis Ranggawuni, ”Sayang sekali bahwa mereka tidak mau melihat kenyataan bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”

Mahisa Cempaka menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jika Tohjaya merebut tahta Singasari dengan membunuh Anu¬sapati dan beberapa orang pengawal saja, maka kini tahta itu menuntut korban yang jauh lebih banyak.

“Tetapi, Singasari memang harus diselamatkan.” berka¬ta Mahisa Cempaka di dalam hatinya. Kemudian, ”Namun ha¬rus beralaskan korban yang sekian banyaknya. Bukan saja di sini, tetapi di halaman istana dan di sekitarnya.”

Kekalahan prajurit-prajurit Singasari itu benar-benar di luar perhitungan nalar mereka. Yang masih hidup di antara mereka, harus mengakui, bahwa Mahisa Agni memang seorang yang luar biasa. Bahkan bukan saja ia seorang diri, tetapi di dalam pasukannya terdapat seorang lagi yang seolah-olah bu¬kan orang kebanyakan. Ia mampu bertempur melampaui sepu¬luh orang sekaligus.

Dengan demikian, maka jumlah prajurit yang jauh lebih banyak dari pasukan pengawal berkuda itu, sama sekali tidak dapat menghentikan mereka. Apalagi membinasakan.

Sejenak kemudian Mahisa Agni dan Witantra telah me¬ngumpulkan tawanan mereka. Yang masih mampu menolong kawan-kawannya, berusaha untuk membawa mereka ke tepi ja¬lan yang menuju keregol padukuhan dihadapan mereka.

“Korban telah jatuh.” berkata Mahisa Agni kepada mereka, ”Tetapi tidak ada yang dapat menghalangi tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk mengambil kekuasa¬an dari tangan tuanku Tohjaya karena sebenarnyalah mereka lebih berhak atas tahta itu. Bukan saja karena hak, tetapi sela¬ma tuanku Tohjaya memerintah, maka Singasari menjadi semakin suram dan hampir kehilangan cahayanya sama sekali.”

Prajurit-prajurit yang sudah tidak berdaya itu hanya da¬pat mendengarkan saja.

Dan Mahisa Agni melanjutkan, ”Kita masih akan me¬ngubur kawan-kawan kita yang telah gugur. Apakah ia berpi¬hak kepada tuanku Tohjaya atau tuanku Ranggawuni dan tu¬anku Mahisa Cempaka. Namun arti yang sebenarnya dari peperangan ini, Singasari telah kehilangan putera-puteranya yang terbaik dimanapun ia berdiri. Setiap pertentangan antara diri sendiri, maka akibatnya akan terasa sangat parah.”

Prajurit-prajurit yang telah tidak berdaya lagi itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Apapun yang akan diperlaku¬kan atas mereka, mereka sama sekali tidak akan dapat menolak.

“Sekarang.” berkata Mahisa Agni kemudian, ”Kalian dapat menatap wajah mereka yang berhak atas Singasari itu. Kalian tentu pernah melihatnya beberapa waktu yang lampau. Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”

Prajurit-prajurit itu menjadi berdebar-debar. Ketika me¬reka mengangkat wajah mereka, barulah mereka menyadari, sebenarnyalrh bahwa anak-anak muda yang berada di luar are¬na adalah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Namun agaknya kini mereka tidak berhak lagi bersujud dibawah kakinya. Sebentar lagi Ranggawuni dan Mahisa Cem¬paka itu tentu akan berteriak mengucapkan hukuman yang ha¬rus mereka jalani, seperti saat Tohjaya berteriak menjatuhkan hukuman utas orang-orang Rajasa dan Sinelir.

Tetapi tanpa mereka duga-duga, Ranggawuni telah meloncat turun wari kudanya, disusul oleh Mahisa Cempaka. Perlahan-lahan mereka melangkah mendekati orang-orang yang sudah tertawan itu.

Karena itulah, maka para pengawalnya pun dengan terge¬sa-gesa telah meloncat turun pula. Demikian juga Mahisa Agni dan Witantra yang tidak mengira bahwa Ranggawuni dan Ma¬hisa Cempaka akan berbuat demikian.

Karena itu mereka harus tetap berhati-hati. Jika dendam yang membara di dalam dada prajurit-prajurit itu masih belum padam, maka akan dapat terjadi mala petaka atas kedua anak-anak muda itu.

Dengan penuh kewaspadaan, maka Mahisa Agni dan Witantra pun segera berada di sebelah menyebelah kedua anak-anak muda yang memandang para prajurit yang terluka dari kedua belah pihak itu dengan penuh haru.

“Kalian adalah korban-korban ketamakan kami.” ber¬kata Ranggawuni, ”Tetapi kami minta kalian menjalaninya dengan ikhlas, karena sebenarnyalah bahwa kami mempunyai cita-cita atas Singasari yang besar ini.”

Para prajurit yang semula mengawal Tohjaya menjadi he¬ran, karena sikap itu. Mereka tidak melihat sikap yang kasar dan sombong dari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang te¬lah memenangkan perang itu. Mereka sama sekali lain dengan Tohjaya yang selama ini memerintah Singasari.

Tetapi mereka tidak segera mempercayai sikap yang pertama kali mereka lihat itu. Mungkin sikap itu sekedar sikap pura-pura. Tetapi besok jika mereka telah berada di dalam kota, dan apabila telah berada di atas tahta, maka sikapnya akan se¬gera berubah.

“Seperti sikap tuanku Tohjaya.” berkata prajurit-pra¬jurit itu di dalam hati.

Dalam pada itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian berjalan di antara prajurit-prajurit yang terluka dikedua belah pihak. Betapa pedihnya hati kedua anak-anak mu¬da itu. Prajurit-prajurit itu telah menjadi korban untuk kepentingan beberapa orang saja yang sedang berebut tahta.

Tetapi di dasar hati kedua anak-anak muda itu setiap kali terdengar suara Mahisa Agni, ”Yang penting, bukan sekedar merebut warisan kedudukan. Tetapi bagaimana dengan Singa¬sari yang besar ini.”

Dan kedua anak-anak muda itu mencoba menenangkan hati mereka. Namun bagaimanapun juga korban telah berjatuhan. Beberapa orang. Bukan hanya satu dua.

Dalam pada itu Mahisa Agni dan Witantra mulai menja¬di gelisah. Masih ada tugas yang harus mereka lakukan. Menelusuri jejak Tohjaya selanjutnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun berkata, ”Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Kita tidak dapat berhenti sampai di sini. Kita masih harus mengikuti jejak tuan¬ku Tohjaya dan berbicara dengannya. Mudah-mudahan tuanku Tohjaya dapat mengerti, sehingga tidak akan jatuh korban lagi tanpa arti sama sekali.”

Ranggawuni termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, ”Baiklah paman. Tetapi bagaimana dengan prajurit-prajurit ini?”

“Mereka akan dibawa kembali ke Singasari. Beberapa orang pengawal akan menunggui mereka di sini. Sedang dua orang yang lain akan pergi melaporkan peristiwa ini kepada Lembu Ampal. Ia harus mengirimkan pengawal dan pedati untuk membawa mereka yang terluka dan mengubur mereka yang terbunuh.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-angguk¬kan kepalanya. Namun Ranggawuni pun kemudian bertanya, ”Siapakah yang akan pergi ke Singasari?”

Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun ia pun ke¬mudian menunjuk dua orang untuk segera menghubungi Lem¬bu Ampal.

“Sampaikan pesanku kepada paman Lembu Ampal.” berkata Ranggawuni, ”Jangan mengambil tindakan apapun terhadap prajurit-prajurit yang tertawan. Ia mempersilahkannya menunggu kedatanganku.”

Demikianlah dua orang utusan itu segera berpacu kem¬bali ke Singasari untuk melaporkan yang telah terjadi itu kepada Lembu Ampal.

Sepeninggal kedua orang itu, maka Mahisa Agni dan Witantra pun mempersiapkan pengawalnya pula. Beberapa orang harus menunggui prajurit-prajurit yang terluka dan tertawan Meskipun prajurit-prajurit yang tertawan itu sudah tidak ber¬senjata lagi, namun mereka tetap berbahaya. Karena itu, ma¬ka tidak ada cara lain daripada mengikat tangan-tangan me¬reka.

“Kenapa mereka harus diikat?” bertanya Mahisa Cempaka.

“Mereka dapat melawan. Pengawal kita tidak cukup banyak untuk menjaga mereka. Jika sebagian besar dari para pengawal ini tinggal, maka perjalanan kitalah yang akan menjadi berbahaya.” jawab Witantra.

“Tetapi mereka sudah menyerah. Mereka tidak akan berbuat apa-apa lagi.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia meman¬dang Mahisa Agni yang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Mungkin mereka memang tidak akan berbuat apa-apa tuanku. Tetapi ada kemungkinan yang lain pula.”

“Kemungkinan yang mana?”

“Mereka mengingkarinya. Jika mereka merasa kuat untuk melawan para pengawal yang ada, maka mereka akan da¬pat berbahaya.”

“Ah, kalian memang terlampau berprasangka. Mereka adalah manusia seperti kita. Kata-katanya tentu dapat diper¬caya. Jika kita sudah ingkar akan janji yang kita nyatakan de¬ngan kata-kata atau sikap, maka harga kita sebagai manusia tidak akan berarti lagi.”

Witantra mengerutkan keningnya. Sedang Mahisa Agni pun menyahut, ”Ampun tuanku. Kadang-kadang kita berbu¬at sesuatu yang tidak masuk akal seperti yang kita lakukan ini. Tetapi pengalaman telah megajari kami untuk berhati-hati menghadapi sikap seseorang. Tuanku adalah kesatria yang hampir sempurna sehingga tuanku tidak akan ingkar akan janji dan kesanggupan. Tetapi orang lain mungkin berbeda.”

Mahisa Cempaka menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Aku tidak mengerti.”

“Pada suatu saat tuanku akan melihat, bahwa hati-hati seperti ini ada gunanya. Tuanku adalah orang yang paling jujur dan penuh kasih sayang, sehingga tuanku menganggap setiap orang berbuat serupa. Tetapi tidak tuanku. Dan itulah yang membedakan antara tuanku dan tuanku Tohjaya. Antara seorang prajurit dan prajurit yang lain.”

Mahisa Cempaka termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menyahut lagi.

Para pengawal pun kemudian melakukan perintah untuk mengikat beberapa orang tawanan yang masih berbahaya pa¬da sebatang pohon di ujung padesan itu. Kemudian beberapa orang pengawal berkuda harus mengawasi mereka sambil menunggu prajurit-prajurit dan pengawal-pengawal yang akan datang dari kota untuk mengambil mereka.

Sementara, yang lain menunggui para tawanan dan orang orang yang terluka, maka Mahisa Agni dan Witantra pun segera mengatur pengawal-pengawal yang lain bersama tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk meneruskan perjalanan.

“Apakah perjalanan kita masih panjang?” bertanya Ranggawuni.

“Ya.” sahut Mahisa Agni, ”Agaknya tuanku Tohjaya menjadi semakin jauh karena kita harus berhenti bertempur. Bahkan mungkin kita masih memerlukan waktu yang lama.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi mungkin pu¬la sebaliknya. Karena tuanku Tohjaya menyangka bahwa kita sudah dapat dihancurkan, maka mereka tidak tergesa-gesa lagi.”

Ranggawuni mengangguk-angguk.

“Karena itu, marilah tuanku. Kita segera mengikuti jejak itu untuk selanjutnya. Tidak mustahil bahwa kita harus bertempur lagi di perjalanan.”

Ranggawuni masih mengangguk-angguk. Tetapi ia sudah mendapat keterangan dari para tawanan, bahwa kekuatan Tohjaya sudah menjadi sangat tipis. Sebagian besar dari pasukan¬nya sudah ditinggalkan dengan perhitungan, bahwa mereka akan dapat menghancurkan orang-orang Rajasa dan Sinelir yang menyusulnya berkuda itu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Demikianlah maka sejenak kemudian Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun segera meneruskan perjalanan. Mahisa Agni dan Witantra berada diujung pasukan kecilnya. Setiap kali mereka menemukan kelapa muda yang berceceran. Agak¬nya para prajurit yang mengawal Tohjaya telah membawa beberapa butir kelapa muda yang diminum dan bahkan dima¬kan di sepanjang perjalanan mereka.

Dengan demikian maka mereka sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi, bahwa jejak mereka akan dapat diikuti oleh lawannya.

“Mereka menyangka bahwa kekuatan kita sudah dapat dihancurkan.” desis Mahisa Agni.

“Ya.” jawab Witantra, ”Mereka tidak lagi berusaha untuk menyamar jejak mereka. Bahkan mungkin dengan se¬ngaja mereka memberikan isyarat kepada pasukan mereka yang mereka sangka akan segera menyusul.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak memberikan banyak tanggapan lagi. Dengan jejak yang jelas itu, maka perjalanan mereka pun menjadi semakin cepat.

Tetapi mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Setiap mereka akan memasuki padukuhan, maka mereka berhenti sejenak dan memperhatikan padukuhan itu dengan saksama. Bahkan kadang-kadang mereka harus mengirimkan satu dua orang pengawal untuk mendahului melihat-lihat apakah dae¬rah yang akan mereka lalui cukup aman.

Namun dalam pada itu, selagi iring-iringan itu maju te¬rus melalui sebuah padukuhan yang sepi, karena penghuni-penghuninya yang ketakutan menutup pintu rumah-rumah mereka setelah mereka melihat pasukan yang mengawal Tohja¬ya melalui padukuhan itu, tiba-tiba Mahisa Agni dan pasukan¬nya mendengar jerit panah sendaren yang mendaki langit. Suara panah itu bagaikan meraung dengan kerasnya mengu¬mandang sampai ke tempat yang jauh.

“Sebuah isyarat.” desis Mahisa Agni.

Tanpa mendapat perintah lagi, beberapa ekor kuda pun segera memencar. Mereka mencari ke segenap sudut padesan untuk menemukan orang yang telah melepaskan anak panah sendaren itu.

Tetapi mereka tidak menemukan siapapun.

“Orang itu tentu sudah menyusup masuk ke dalam sa¬lah sebuah rumah yang tertutup pintunya.” berkata Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-angguk sambil berkata, ”Agak¬nya mereka meragukan, apakah prajurit-prajuritnya akan ber¬hasil. Karena itu mereka telah meninggalkan satu atau dua orang untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Panah itu tentu memberitahukan bahwa prajurit-prajurit yang menghen¬tikan perjalanan kita telah gagal.”

“Apakah arti selanjutnya?” bertanya Ranggawuni.

“Perjalanan kita akan bertambah sulit tuanku. Mung¬kin mereka meninggalkan sepasukan prajurit lagi untuk menghentikan kita. Tetapi mungkin pula mereka akan menyamar jejak yang mereka tinggalkan sehingga kita akan menjadi se¬makin sukar untuk mengikutinya.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu se¬jenak. Lalu katanya, ”Kenapa mereka berusaha menghindari kita?”

“Kita adalah lawan mereka. Adalah wajar jika mereka menghindar dan bersembunyi.”

Ranggawuni tidak berkata apa pun lagi. Namun dari wa jahnya memancar kebimbangan yang mencengkam.

“Mahisa Agni.” berkata Witantra, ”Agaknya perja-lanan kita akan menjadi panjang. Karena itu, sebaiknya kita segera mengirimkan satu atau dua penghubung ke kota. Lembu Ampal supaya mengirimkan sepasukan pengawal berkuda untuk menyusul kita. Apabila perjalanan kita ini menjadi se¬makin panjang dan berbahaya, kita tidak terpencil.”

“Dengan demikian maka pasukan itu agar membawa bekal se¬cukupnya untuk perjalanan kita selanjutnya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni pun menyetujui penda¬pat Witantra. Ia pun kemudian mengirimkan dua orang untuk kembali ke Singasari, menjemput beberapa orang pengawal dan perbekalan.

“Agaknya tuanku Tohjaya sudah menempatkan praju¬rit sandinya untuk mengawasi perjalanan kita. Kini pengawas itu sudah melepaskan isyarat dengan panah sendaren.” ber¬kata Mahisa Agni kepada penghubung itu, ”Dengan demiki¬an maka kita akan menempuh perjalanan yang lebih sulit, karena tuanku Tohjaya tentu akan berusaha menyamarkan je¬jaknya.”

Sejenak kemudian maka kedua orang itu pun segera ber¬pacu kembali ke Singasari. Ketika ia lewat di padukuhan be¬kas tempat pasukan pengawal berkuda itu bertempur dengan prajurit-prajurit pengawal Tohjaya, ia masih melihat tawanan-tawanan terikat.

“Apakah prajurit dari Singasari belum juga datang?” bertanya salah seorang dari kedua penghubung itu.

“Belum.” jawab salah seorang yang menjaga tawanan-tawanan dan orang-orang yang terluka. ”Tentu sebentar la¬gi. Kau akan bertemu dengan mereka di perjalanan.”

Ternyata yang dikatakan oleh pengawal itu benar. Ke¬dua penghubung itu pun kemudian bertemu dengan prajurit-prajurit Singasari. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit yang pergi untuk mengambil para tawanan dan orang-orang yang terluka.

Kedua penghubung itu berpacu terus menuju ke Singa¬sari untuk mengambil beberapa orang yang akan pergi me¬nyusul Mahisa Agni dan Witantra yang sedang mengawal Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menyusul Tohjaya.

Sebenarnyalah bahwa Tohjaya dan pengawal-pengawalnya telah menangkap isyarat berganda yang dikirimkan le¬wat panah sendaren.

Karena itu, maka Tohjaya pun menjadi sangat gelisah, sehingga ia menjadi semakin bingung dan selalu marah. Ti¬dak habis-habisnya ia membentak-bentak dan mengumpat.

Sementara itu, beberapa orang pengawalnya yang menya¬dari bahaya yang mengikutinya, telah memerintahkan menghapuskan jejak mereka sebaik-baiknya. Setiap kali mereka jus¬tru memilih jalan yang memintas dan sulit.

“Gila, kalian akan membunuh aku dengan melalui ja¬lan rusak ini.” teriak Tohjaya, ”Tubuhku terguncang-gun¬cang dan lukaku bertambah-tambah sakit.”

“Tuanku.” berkata Senapati yang mengawalnya, ”Ternyata bahwa usaha kita menghancurkan pasukan berkuda itu gagal. Panah sendaren yang kita dengar itu memberitahu¬kan kepada kita, bahwa pasukan pengawal itu telah melanjut¬kan pengejaran.”

“Gila, bodoh, dungu. Apa kerja prajurit-prajurit yang sekian banyaknya itu? Apakah mereka perempuan-perempu¬an cengeng yang hanya pandai merengek?”

“Mereka tentu sudah berjuang sebaik-baiknya tuanku, karena mereka benar-benar orang-orang yang setia kepada tuanku seperti kami di sini.”

“Bohong. Kalian adalah orang-orang pandir dan tamak, jika kalian tidak mengetahui bahwa aku membawa sebu¬ah peti berisi emas dan perhiasan, kalian tentu tidak mau me¬ngikuti aku sampai ketempat ini.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian tentu akan merampok perhiasan-perhiasan yang telah aku ambil dari ibunda Ken Umang dan yang sebagian aku ambil dari gedung perbendaharaan.”

“Ampun tuanku, sebenarnyalah hamba tidak bermimpi untuk memiliki perhiasan itu walau hanya sebutir permata sekalipun.”

“Bohong. Bohong.” Tohjaya semakin berteriak-teriak sehingga tandunya berguncang-guncang. Tetapi guncangan itu telah membuatnya menjadi semakin marah.

Senapati itu pun terdiam. Ia tidak berani lagi membantah. Agaknya Tohjaya benar-benar telah hampir kehilangan akal.

Sementara itu, beberapa orang prajurit mulai berpikir la¬in. Salah seorang prajurit muda bertanya kepada dirinya sendi¬ri, ”Apakah gunanya aku mengikuti tuanku Tohjaya. Aku masih muda. Dan aku tidak melihat kemungkinan apapun yang dapat dicapai oleh tuanku Tohjaya selain menyelamatkan diri. Adalah sulit sekali baginya untuk menghim pun kekuatan kare¬na sifat-sifatnya.”

Tetapi karena Senapati dan beberapa orang pemimpin ke¬lompok nampaknya masih tetap setia kepada Tohjaya, maka prajurit muda itu tidak berani berbuat apapun juga, kecuali berjalan tersuruk-suruk mengikuti iring-iringan yang semakin lama semakin dalam menyusup kejalan-jalan sempit dan sulit. Sementara beberapa orang di antara mereka berusaha untuk menghapuskan jejak.

Dengan demikian maka perjalanan Mahisa Agni dan pasukannya pun menjadi semakin sulit pula. Mereka harus dengan teliti mengamati jalan yang akan dipilihnya. Disetiap persim¬pangan, beberapa orang meloncat turun dan memperhatikan setiap batang rumput dengan saksama.

Daun-daun yang berserakan, ranting-ranting yang patah dan rerumputan yang terinjak kaki, tidak luput dari setiap pengamatan. Beberapa orang yang berpengalaman mengenali je¬jak berada didepan bersama dengan Witantra dan Mahisa Agni.

“Mereka berhasil menghapus jejak sebaik-baiknya.” berkata Witantra, ”Hanya dengan ketelitian sajalah kita akan berhasil memilih jalan yang benar.”

Karena itulah maka para peneliti jejak itu telah bekerja sebaik-baiknya.

Namun dengan demikian maka mereka menjadi semakin lambat maju. Kadang-kadang mereka harus berhenti untuk be¬berapa lema sambil menilai jejak yang mereka amati.

Meskipun demikian, Mahisa Agni dan pasukannya selalu menempuh jalan yang ternyata benar. Karena itu, maka mereka pun maju terus sambil meninggalkan jejak, agar pasukan yang akan menyusul dapat mengikuti mereka tanpa kesulitan apapun juga.

Dalam pada itu, Tohjaya yang lelah menjadi semakin mu¬dah tersinggung. Setiap kali ia selalu membentak-bentak tan¬pa sebab. Jika prajurit-prajuritnya berjalan lambat, ia menjadi marah dan berteriak, ”Apakah kalian ingin segera mati? Di belakang kita pengkhianat-pengkhianat itu sedang berusaha menyusul kita. Kalian mendengar panah sendaren? Prajurit-prajurit yang kita tinggalkan ternyata adalah prajurit-prajurit yang bodoh, dungu tetapi tamak. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain membunuh diri.”

Senapati yang memimpin prajurit-prajurit pengawal itu sama sekali tidak menjawab betapapun hatinya tersinggung. Ia menyadari bahwa keadaan Tohjaya sangat tidak menguntung¬kan. Karena itu yang ada di dalam hatinya sebenarnya bukan lagi harapan untuk menyelamatkan Tohjaya agar kelak ia men¬dapat hadiah yang sebesar-besarnya karena ia mengetahui bah¬wa Tohjaya telah berhasil menyelamatkan sepeti perhiasan emas, intan dan berlian. Apalagi kesetiaan kepada raja yang di¬anggapnya akan dapat melindunginya di dalam segala keadaan Tetapi yang sebenarnya ada di dalam hati Senapati itu kemudi¬an adalah justru perasaan belas kasihan. Belas kasihan kepada Tohjaya yang sejak lahir sama sekali tidak mengenal kesulitan macam apapun juga. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang selalu memanjakannya. Memuji dan menyayanginya.

Tetapi, kini tiba-tiba saja ia dilemparkan ke dalam keada¬an yang sangat gawat. Keadaan yang diliputi oleh kecemasan, kebimbangan dan bahkan ketakutan.

Karena itulah maka Senapati itu sama sekali tidak meng¬hiraukan apa saja yang dikatakan oleh Tohjaya. Ia mencoba untuk membuat hatinya masih dapat bertahan menghadapi keada¬an itu.

“Senapati.” berteriak Tohjaya kemudian, ”Kau harus berbuat sesuatu untuk mengatasi keadaan.”

“Hamba tuanku.” jawab Senapati itu, ”Hamba me-mang sedang mencari jalan.”

Tohjaya terdiam. Ia mencoba untuk mengerti. Tetapi piki¬rannya rasa-rasanya justru menjadi semakin kalut.

Apabila kemudian para pengawalnya berjalan semakin ce¬pat, karena Tohjaya sendiri yang menghendaki. Namun ternya¬ta dengan demikian tubuhnya menjadi tergoncang-goncang, maka ia pun menjadi marah pula dan berteriak, ”Gila. Apakah kalian menjadi pengecut dan menjadi ketakutan disusul oleh orang-orang berkuda itu, sehingga kalian berlari-lari. Aku lelah se¬kali. Aku ingin mengaso. Jika kalian mengguncang-guncang tandu ini, maka badanku menjadi bertambah sakit.”

Tidak seorang pun yang berani menjawab. Mereka hanya dapat memperlambat langkah mereka dan berjalan dengan sa¬ngat berhati-hati.

Karena kelelahan yang sangat, maka ternyata Tohjaya tanpa disadarinya dapat juga tertidur di dalam tandunya meskipun hanya sejenak. Dalam keadaan yang demikian, orang-orang yang mengusung tandunya menjadi sedikit berlega hati, karena mereka dapat berjalan seenaknya. Tidak terlalu tergesa-gesa dan tidak dibentak-bentak. Tetapi jika kemudian Tohjaya ter-bangun, maka mulai lagilah suaranya yang lantang menggetar¬kan telinga mereka.

Betapapun segannya, Senapati yang memimpin pasukan pengawal itu pun mencoba mendekatinya dan berkata, ”Tuanku, apakah tidak lebih baik bagi tuanku untuk beristi¬rahat sambil tidur barang sekejap? Tubuh tuanku akan men¬jadi segar. Jika kita nanti akan melintasi sungai yang bening, tuanku dapat membersihkan diri. Dengan demikian maka keadaan tuanku tentu akan menjadi lebih baik.”

Tohjaya merenung sejenak. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Sebenarnya Tohjaya ingin juga tidur agak lama. Bukan sekejap diluar sadarnya. Tetapi pikirannya yang sedang ka¬cau kadang-kadang terasa sangat mengganggunya, sehingga ia hanya dapat tertidur sekedar matanya terpejam. Namun sekejap kemudian ia pun segera terbangun dengan dada yang berdebaran.

Ternyata langit pun semakin lama menjadi semakin bu¬ram. Matahari yang sudah teramat rendah di ujung Barat pun segera menghilang di balik cakrawala.

“Tuanku.” berkata Senapati yang memimpin pasu-kan pengawal Tohjaya, ”Sebaiknya kita beristirahat. Setiap orang di dalam iring-iringan kita sudah mendapat bagiannya mengusung tandu tuanku. Mereka menjadi lelah, sehingga perlu beristirahat barang sejenak.”

Tohjaya memandang wajah Senapati itu di dalam keremangan ujung malam. Kemudian ia pun berteriak, ”Aku tidak peduli, apakah kalian menjadi lelah atau tidak. Aku¬lah yang memerintahkan kalian untuk berhenti atau berja¬lan terus.”

Senapati itu tidak menyahut. Tetapi kepalanya menun¬duk dalam-dalam.

“Lain kali kau tidak dapat memerintah aku seperti itu. Tetapi buat kali ini, aku penuhi permintaanmu. Hanya kali ini.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Prajurit-praju¬rit di dalam iring-iringan itu benar-benar sudah sangat lelah dan perlu beristirahat.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Tohjaya sendiri telah men¬jadi sangat lelah, sehingga ia memang merasa perlu untuk beristirahat.

Sementara itu, pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Agni pun harus berhenti pula. Di dalam kegelapan malam yang kemudian menyeluruh di atas tanah Singasari, mereka ti¬dak dapat lagi mengenali jejak yang harus mereka telusuri.

“Kita bermalam di padukuhan itu.” berkata Mahisa Agni.

Ranggawuni mengangguk kecil. Tetapi ia pun kemudian bertanya, ”Apakah pamanda Tohjaya di malam begini berja¬lan terus atau juga berhenti?”

“Aku kira mereka pun akan berhenti.” sahut Witantra, ”Para prajuritnya tentu lelah. Dan tuanku Tohjaya sendiri tidak akan dapat duduk di atas tandu sehari semalam tanpa beristirahat sama sekali.”

Ranggawuni tidak menyahut lagi. Ia pun kemudian tidak menolak untuk beristirahat pada sebuah padukuhan kecil.

Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawal telah mendapat tugas untuk berjaga-jaga. Bagaimanapun juga mereka tidak boleh kehilangan kewaspadaan.

Kedatangan pasukan berkuda yang mengiringi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu semula telah menimbulkan ketakutan yang amat sangat pada penghuni padukuhan itu. Tidak seorang pun yang membuka pintu rumahnya meskipun mereka mendengar derap kaki di halaman.

Karena itulah maka Mahisa Agni terpaksa mengetuk pintu rumah salah seorang dari mereka. Sehingga betapapun ke¬takutan mencengkam hati, tetapi penghuni rumah itu dengan tangan gemetar telah membuka pintu rumahnya.

“Ampun tuanku.” orang itu duduk bersimpuh dimuka pintu ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri dimuka pintu itu bersama beberapa orang pengawalnya, ”Hamba tidak bersalah. Hamba tidak pernah berbuat apa-apa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Kenapa kau menjadi ketakutan? Aku juga tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya akan minta bantuanmu sekedarnya.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dan Mahisa Agni pun berkata pula, ”Aku hanya ingin minta kerelaanmu un¬tuk menerima kami bermalam barang semalam. Tentu bukan kami seluruhnya. Hanya dua tiga orang sajalah yang akan bermalam di rumahmu. Yang lain biarlah berada di halaman dan di gardu-gardu. Mereka adalah prajurit yang biasa tidur di sembarang tempat.”

(bersambung ke jilid 13).

Koleksi: Ki Ismoyo

Scanning: Ki Arema

Retype/Proofing: Ki Mahesa

Editing: Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s