PBM-12


<<kembali | lanjut >>

PERJALANAN ke Kediri itu sendiri sudah merupakan perjalanan yang cukup jauh. Namun ternyata bahwa Ki Wastu pun seorang perantau yang berpengalaman pula. Karena itulah, maka meskipun perjalanan itu cukup jauh dan ditempuhnya seorang diri, namun ia sama sekali tidak menjadi segan karenanya. Apabila perjalanan itu adalah perjalanan yang dianggapnya sangat penting.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti ternyata merengek pula untuk dapat ikut dalam perjalanan itu. Di Kediri mereka akan bertemu dengan kakaknya dan dengan paman-pamannya.

Tetapi Mahendra melarangnya. Ia masih belum sampai hati melepaskan kedua anak yang masih sangat muda itu. meskipun mereka pun telah dibekalinya dengan ilmu kanuragan.

Ketika Ki Wastu telah berada di Kediri pula, maka ia pun segera menawarkan maksudnya kepada Bungalan seperti yang dikatakan oleh Mahendra.

Ternyata dengan serta merta Mahisa Bungalan telah menerimanya, meskipun ia sadar, bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang berat, yang mungkin akan mengalami akibat yang gawat pula.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh ayahnya, maka ia ingin melengkapi pengalamannya sebelum ia memasuki tugas-tugas keprajuritan.

Ternyata Mahisa Agni dan Witantra pun tidak berkeberatan. Dengan beberapa pesan, maka mereka pun telah melepaskan Mahisa Bungalan untuk pergi bersama Ki Wastu.

“Berhati-hatilah“ pesan Pangeran Kuda Padmadata, “guruku adalah seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa”

“Mudah-mudahan kami tidak bertemu Pengeran” berkata Ki Wastu.

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk lemah. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia menjadi cemas. Jika di dalam perjalanan itu mereka bertemu dengen Ki Dukut Pakering, yang mungkin masih disertai satu dua pengikutnya, maka keduanya akan mengalamai nasib yeng kurang baik.

Tetapi Ki Wastu dan Mahisa Bungalan bukannya orang yang tidak berilmu. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan pula.

Demikianlah, maka kemudian Ki Wastu dan Mahisa Bungalan itu pun meninggalkan Kediri, manuju ke sebuah padepokan kecil yang agak jauh dari kota. Mereka harus berkuda melalui daerah pegunungan. Dan mereka pun harus bermalam sampai dua malam di perjalanan.

Tetapi keduanya sudah memiliki pengalaman perantauan. Karena itu perjalanan mereka, bukannya persoalan lagi. Perjalanan yang demikian sudah terlalu sering mereka lakukan, meskipun sesuai dengan jalur masing-masing. Bahkan pada permulaan perjalanan itu. Mahisa Bungalan telah mendapatkan kesegaran baru di dalam dirinya, Ketika ia memasuki daerah yang berlembah kehijau-hijauan di-atas tanah berpadas yang kemerah-merahan.

Mahisa Bungalan telah pernah menempuh perjalanan jauh. Berkuda, bahkan berjalan kaki. Namun ia tidak jemu-jamunya mengagumi alam yang cantik meskipun tidak terlalu ramah.

Sekali-sekali kuda-kuda mereka berjalan dengan hati-hati menuruni tebing. Namun kemudian berlari di lembah-lembah yang hijau menyusuri jalan yang rata. Agaknya jalur jalan antara padukuhan telah menjadi semakin ramai dilalui orang. Kadang-kadang mereka bertemu dengan pedati yang merangkak dengan lambannya. Namun kadang kadang mereka pun berpapasan dengan kuda yang berpacu dengan tergesa-gesa.

Tetapi mereka tidak selalu berjalan melalui jalan yang rata. Sekali-sekali mereka harus menempuh jalan sempit yang melintasi. Agaknya Ki Wastu sudah pernah menempuh perjalanan serupa sebelumnya. Ia pernah melintas dari Kediri sampai ke padepokan saudara seperguruannya itu.

Bahkan akhirnya Mahisa Bungalan bertanya, “Apakah Ki Wastu sudah mengenal jalan yang akan kita tempuh?“

“Tentu ngger. Aku memang pernah pergi ke Kediri pada saat-saat Pangeran Kuda Padmadata masih belum dicengkam oleh bayangan kekuasaan gurunya. Aku pernah melintasi jalan ini, dan agaknya aku masih dapat mengingat beberapa cirinya. Maskipun kadang-kadang aku menjadi ragu-ragu. Tetapi agaknya jalan yang kita tempuh sekarang adalah jalan yang benar” jawab Ki Wastu.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Bahkan seandainya jalan itu adalah jalan yang salah sekalipun, maka mereka berdua tentu akan dapat menemukan padepokan yang mereka cari.

Di malam pertama, keduanya harus bermalam di lereng sebuah bukit. Mereka tidak berusaha untuk sampai ke padukuhan dan mohon agar diperkenankan untuk bermalam di banjar. Agaknya sebuah lekuk di lereng bukit, telah dapat mereka pergunakan untuk beristirahat. Apalagi tidak jauh dari lekuk itu terdapat sebuah mata air yang meskipun hanya kecil saja, tetapi sudah cukup untuk memberi kuda mereka minum. Sementara rerumputan yang hijau di sekitarnya dapat memberi makan kuda-kuda mereka sekenyang-kenyangnya.

Meskipun tidak saling berjanji, namun kedua-duanya seakan-akan sudah saling bersetuju untuk tidur bergantian. Yang mula-mula tidur adalah Mahisa Bungalan. Baru ketika Mahisa Bungalan terjaga, maka Ki Wastu lah yang merebahkan dirinya di atas batu-batu padas.

Tetapi keduanya terkejut ketika mereka mendengar kuda mereka meringkik. Dengan sigapnya Mahisa Bungalan dan Ki Wastu bangkit dan meloncat keluar dari lekuk lereng gunung.

Tetapi mereka tidak melihat seseorang

“Tetapi seekor binatang buas” berkata Ki Wastu, “di lereng bukit ini, sering terdapat binatang buas yang barangkali terpaksa keluar dari hutan sebelah karena mereka tidak mendapat makan. Mungkin mereka tidak lagi dapat mengintai dan kemudian menerkam seekor kijang. Bahkan kelinci-kelinci pun telah lari bersembunyi sejak petang hari”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun percaya bahwa kuda-kuda mereka agaknya telah mencium bau binatang buas di sekitarnya.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian tidak lagi berada di dalam lekuk lereng bukit. Betapapun terasa dingin menyentuh kulitnya, tetapi ia tidak akan menunggu sampai seekor harimau meloncat menerkam kudanya. Meskipun mungkin ia akan dapat mengusirnya, tetapi jika kudanya telah terluka, maka akibatnya akan dapat menyulitkannya.

Ki Wastu yang baru sempat beristirahat sejenak itu pun kemudian berbaring di luar lekuk bukit itu. Ia pun tidak sampai hati membiarkan kuda mereka ketakutan.

Sekali-sekali mereka masih mendengar kuda mereka meringkik dengan gelisahnya. Namun Mahisa Bungalan pun kemudian membelai surinya dan menenangkannya. Kedua ekor kuda itu seakan-akan mengerti, bahwa keduanya berada dibawah perlindungan tuannya. Karena itu, maka kuda-kuda itu pun menjadi tenang dan tidak lagi meringkik ketakutan.

Ketika fajar menyingsing, maka barulah kedua orang itu yakin, bahwa sebenarnyalah seekor harimau telah mendekati tempat itu. Mereka dapat melihat jejak kaki harimau itu di sekitar mata air tidak terlalu jauh dari tempat mereka bermalam.

“Agaknya harimau itu sedang haus” gumam Ki Wastu, “dan ternyata mata air ini adalah mata air yang terdekat dari hutan itu”

“Ah” sahut Mahisa Bungalan, “tentu di hutan itu ada juga mata air” jawab Mahisa Bungalan, “bahkan di bawah pohon-pohon raksasa itu biasanya terdapat belumbang meskipun kecil”

Ki Wastu mengangguk-angguk. Tetapi adalah satu, kenyataan, bahwa di sekitar mata air itu terdapat jejak harimau.

Namun Ki Wastu pun mengangguk-angguk ketika Mahisa Bungalan berkata, “Mungkin bau kuda-kuda itu tercium oleh seekor harimau. Ketika harimau itu mendekat, maka dijumpainya mata air itu”

Demikianlah setelah berbenah diri, maka keduanya pun segera melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka masih cukup jauh. Dan mereka pun masih harus bermalam di perjalanan.

Tetapi pada malam kedua, mereka tidak bermalam di lereng bukit, atau di tengah-tengah hutan. Tetapi keduanya memilih untuk bermalam di sebuah padukuhan. Dengan senang hati Ki Buyut memberikan tempat bagi mereka di banjar padukuhan.

Berbeda dengan saat-saat mereka bermalam di lekuk sebuah lereng bukit. Di banjar, mereka dapat bermalam dengan tenang, karena di banjar itu pula, beberapa orang anak muda berkumpul. Bahkan mereka berdua telah dijamu pula oleh Ki Buyut dengan makan dan minum secukupnya.

Demikianlah, dipagi hari berikutnya, Ki Wastu dan Mahisa Bungalan meninggalkan padukuhan itu dengan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada Ki Buyut dan isi padukuhan itu yang telah memberikan tempat bermalam bagi mereka.

Dalam pada itu, perjalanan Ki Wastu dan Mahisa Bungalan pun manjadi semakin dekat dengan tujuan. Sebuah padepokan kecil yang terpencil, seolah-olah dengan sangaja memisahkan diri dari tata hubungan kehidupan sesama.

“Itu adalah padepokan Pucang Wungu” berkata Ki Wastu kepada Mahisa Bungalan ketika mereka menuruni bukit kecil, menghadap ke sebuah lembah yg subur. Sebuah padukuhan kecil terletak di tengah tengah bulak, dihubungkan dengan sebuah jalur jalan duri jalan yang mereka lalui.

“Itukah padepokan yang kita tuju?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Ternyata aku masih dapat menemukannya meskipun sudah cukup lama aku tidak mengunjunginya” desis Ki Wastu.

“Apakah sudah lama sekali?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Sebetulnya juga belum. Tetapi karena aku telah terlibat dalam persoalan yang merampas segenap perhatianku, maka rasa-rasanya aku sudah lama sekali terpisah dari sanak kadang”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berdesis, “Padepokan yang sejuk. Tetapi kedatangan kita akan membawa udara yang panas bagi penghuninya”

“Apaboleh buat” berkata Ki Wastu, “agaknya itu lebih baik daripada tiba-tiba saja padepokan itu menjadi terbakar hangus”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Namun ia benar-benar merasa, betapa padepokan itu merupakan tempat yang tenang dan tenteram.

Demikianlah maka kedua orang itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Perlahan-lahan mereka menuruni tebing bukit kecil itu menuju ke padepokan yang disebut padepokan Pucang Wungu.

Kedatangan Ki Wastu memang telah mengejutkan penghuninya. Seorang yang rambutnya telah memutih, namun yang tubuhnya masih nampak sigap dan tangkas, dengan tergesa-gesa telah mendatanginya.

“Kau Wastu” desisnya.

Ki Wastu mengangguk hormat. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku telah datang lagi ke padepokan yang tenang dan damai ini kakang”

“Marilah Wastu. Marilah. Naiklah ke pendapa. He, siapakah anak muda itu? Muridmu?“ bertanya saudara seperguruan Ki Wastu itu.

“Ah, bukan kakang. Sama sekali bukan. Ia adalah seorang anak muda yang mumpuni. Yang memiliki ilmu yang lebih baik dari anak muda yang manapun” jawab Ki Wastu.

“Ah” sahut Mahisa Bungalan, “tentu tidak. Ki Wastu selalu memuji. Tetapi dengan demikian, aku akan kehilangan kenyataan tempat berpijak jika aku benar-benar merasa diriku terlalu besar”

“Siapakah namamu ngger?“ bertanya saudara seperguruan Ki Wastu.

“Namaku Mahisa Bungalan” jawab Mahisa Bungalan, lalu, “dengan sebutan apakah jika aku memanggil kakek?“

Orang tua berambut putih itu mengerutkan keningnya. Namun Ki Wastu tertawa sambil berkata, “Ia juga memanggilku kakek ketika kami pertama kali bertemu“

Orang berambut putih itupun tertawa. Lalu jawabnya, “Panggil aku Ki Kasang Jati”

Mahisa Bungalan mengangguk sambil menyahut, “Terima kasih. Dengan demikian, aku tidak lagi akan memanggil kakek”

Orang tua itu tersenyum. Sekali lagi ia mempersilahkan, “Marilah, naiklah ke pendapa”

Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Beberapa saat Ki Wastu dan Ki Kasang Jati saling menanyakan keselamatan masing-masing. Kemudian dengan nada penuh harap ia berkata, “Bukankah kau akan tinggal di padepokan ini untuk beberapa lama?“

Ki Wastu mengangguk. Meskipun terasa keragu-raguannya, namun ia menjawab, “Ya kakang. Aku berada di padepokanmu untuk beberapa lamanya”

“Baiklah. Baiklah. Jika demikian aku tidak akan bertanya keperluanmu datang ke padepokan ini. Tentu kau hanya sekedar ingin menengok aku” berkata Ki Kasang Jati.

“Ya. Aku hanya ingin sekedar bertamu. Sudah lama aku tidak berkunjung kemari. Bagiku, kakang adalah pengganti guru yang sudah tidak ada lagi”

“Ah, kau memang suka mumuji. Setelah unak muda itu, maka sekarang kau memuji aku. Mungkin aku dapat kau anggap sebagai pengganti guru, karena ketuaanku. Karena aku sudah terlalu lama hidup sehingga umurku pun semakin bertambah-tambah. Tetapi dalam hal ilmu, kita hampir tidak ada bedanya”

“Mungkin aku memang memuji. Tetapi kakang senang merendahkan diri seperti anuk muda ini pula.

Mereka pun tertawa. Pertemuan itu nampaknya benar benar memberikan kesan kegembiraan setelah cukup lama mereka berpisah.

Ki Wastu pun ternyata tidak tergesa-gesa menyampaikan maksudnya. Ia berada di padepokan itu bersama Mahisa Bungalan. Di hari pertama, sudah terasa, betapa tenangnya hidup di padepokan itu. Beberapa orang cantrik bekerja dengan rajin dan gembira. Tanaman pohon buah-buahan mereka pun nampak subur dan rimbun. Buahnya bergayutan seoleh-olah akan mamatahkan ranting dan dahan-dahannya.

Namun demikian, Ki Wastu yang gelisah oleh beban perasaannya, merasa masih, belum lapang dadanya, jika ia belum mengatakan keperluannya datang ke padepokan itu. Karena itulah, maka pada hari kedua, ketika mereka duduk di pendapa bersama Mahisa Bungalan, Ki Wastu berniat untuk menyampaikan.

“Apapun tanggapan kakang Kasang Jati” berkata Ki Wastu di dalam hatinya. Lalu, “Namun aku tidak akan dapat menyembunyikannya lebih lama lagi. Bukan saja karena kegelisahan perasaanku, namun ada kemungkinan lain yang dapat terjadi dengan tiba-tiba di padepokan ini”

Karena itu, maka Ki Wastupun kemudiun bertekad untuk segera menyampaikan keperluannya. Sebelum justru guru Pangeran Kuda Padmadata lah yang telah mendahului.

Dengan agak ragu-ragu, maka Ki Wastu pun kemudian berkata, “Kakang, sebenarnyalah bahwa kedatanganku kemari, selain berkunjung karena sudah terlalu lama aku tidak datang kemari, juga membawa pesan yang barangkali penting bagi kakang”

Ki Kasang Jati tersenyum. Katanya, “Aku sudah mengira, bahwa kau tentu mempunyai keperluan, jika tidak, kau tentu sudah melupakan orang tua yang tidak berharga ini”

“Ah, jangan begitu kakang” jawab Ki Wastu, “kakang adalah orang tuaku, guruku dan tempat aku bersandar”

“Kau sudah memuji lagi. Tetapi baiklah. Katakan, apakah keperluanmu?“

Ki Wastu beringsut sejenak. Kemudian katanya, “Apa kah kakang masih ingat kepada Pangeran Kuda Padmadata”

Orang tua itu mengerutkan keningnya, sementara, Ki Wastu menjelaskan, “Pangeran yang pernah mengambil anak perempuanku menjadi isterinya”

“O, tentu. Aku ingat. Nah, bagaimana kabarnya Pangeran itu sekarang?“ bertanya Ki Kasang Jati.

“Dan apakah kakang mengetahui bahwa Pangeran Kuda Padmadata itu murid Ki Dukut Pakering” bertanya Ki Wastu pula.

Ki kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Aku sudah mengetahuinya. Ia adalah murid Ki Dukut Pakering”

“Dan kakang masih ingat, hubungan yang buruk antara kakang dan Ki Dukut Pakering itu?“ bertanya Ki Wastu pula.

“Aku berusaha untuk melupakannya. Apakah arti permusuhan diantara orang tua-tua. yang pada saat yang pendek akan segera kembali kepada penciptanya” jawab Ki Kasang Jati.

Dada Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Ternyata tanggapan Ki Kasang Jati dan Ki Dukut Pakering agak bertentangan terhadap masa-masa lampau mereka. Agaknya Ki Dukut masih selalu mengingat permusuhan yang tajam sejak masa jauh sebelum mereka menjadi tua. Sedangkan Ki Kasang Jati telah berusaha untuk melupakannya.

Sejenak Ki Wastu termangu-mangu. Bahkan kebimbangan yang sangat telah mencekam jantungnya.

Tetapi kemudian ia bertekad untuk segera menyampaikannya, justru karena sikap Ki Kasang Jati. Jika orang tua itu tidak mengetahui sikap sebenarnya dari Ki Dukut, maka mungkin sekali pada suatu saat ia akan dihadapkan pada keadaan yang sangat membingungkan.

Karena itu, maka Ki Wastu pun kemudian berkata, “Kakang, kedatanganku kemari agaknya ada hubungannya dengan kedua orang murid dan guru itu”

“Kenapa dengan mereka?“ bertanya Ki Kasang dengan kerut-merut di kening.

Keragu-raguan masih nampak di wajah Ki Wastu. Sekilas ia memandang Mahisa Bungalan. Namun Mahisa Bungalan tidak memberikan kesan apapun kepadanya.

Baru sejenak kemudian, Ki Wastu itupun berkata, “Kakang, mungkin terkejut mendengar ceriteraku. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku tidak berbohong. Anak muda ini akan dapat menjadi saksi”

“Katakanlah” desis Ki Kasang Jati.

Ki Wastu bergeser lagi setapak. Kemudian dengan bahasa yang patah-patah iapun menceriterakan, apa yang diketahuinya tentang Ki Dukut Pakering serta sikapnya terhadap Pangeran Kuda Padmadata.

Ki Kasang Jati mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Setiap kali nampak kerut-merut dikeningnya. Bahkan kadang-kadang wajah itu menjadi sangat tegang.

Namun ketika Ki Wastu selesai dengan ceriteranya, maka Ki Kasang itu berkata, “Wastu. apakah kau bukan sekedar salah paham menanggapi peristwa itu? Darimana kau mengetahui bahwa Ki Dukut sudah bersikap demikian buruknya”

“Aku mendengar sebagian dari Pangeran Kuda Padmadata” jawab Ki Wastu.

“Dan kau mempercayainya begitu suja? Mungkin sebagian ceriteranya adalah benar, tetapi mungkin sebagian lagi hanyalah untuk mendukung ceritera yang sebenarnya itu”

“Tidak kakang. Bertanyalah kepada anak muda ini. Untunglah bahwa aku bersedia singgah di Kediri untuk membawanya serta. Jika tidak, mungkin aku sama sekali tidak mempunyai saksi untuk menyatakan kebenaran dari ceriteraku”

Ki Kasang mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bertanya, “Apakah benar ngger. Apa saja yang kau ketahui tentang Ki Dukut Pakering?“

“Maaf Ki Kasang Jati” jawab Mahisa Bungalan, “aku tidak tahu apapun juga tentang Ki Dukut Pakering. Tetapi aku mangetahui serba sedikit kebenaran ceritera Ki Wastu. Aku tahu bagaimana anak perempuannya mengalami perlakuan yang keji. Aku tahu bagaimana Ki Dukut telah membuat jaring-jaring yang sangat rapat. Dan aku tahu, apa yang dialami Pangeran Kuda Padmadata itu di istananya sendiri, karena paman Mahisa Agni telah mengabdi di istana itu pula”

“Dengan demikian, maka kalian sampai pada kesimpulan, bahwa yang berbuat demikian itu adalah Ki Dukut Pakering?“ bertanya Ki Kasang.

“Kakang” berkata Ki Wastu, “puteri yang ikut menjadi alat pemerasan itulah yang mula-mula mengatakannya. Kemudian diperkuat dengan gejala-gejala yang dapat dirasakan oleh Pangeran Kuda Padmadata. Sehingga karena itu, maka aku percaya, bahwa sumber malapetaka itu adalah Ki Dukut Pakering. Namun selebihnya dari dendamnya yang tersimpan, iapun telah didorong oleh ketamakannya melihat kekayaan Pangeran Kuda Padmadata itu melimpah, yang kelak akan jatuh ke tangan orang yang dibencinya.

Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam, wajahnya menjadi muram. Dengan nada dalam, iapun kemudian berkata, ”Jika demikian, maka akulah yang paling bersalah sehingga anak perempuanmu itu mengalami nasib yang sangat buruk. Bahkan hampir saja merampas jiwanya”

“Tidak. Bukan maksudku menyalahkan kakang.” potong Ki Wastu dengan serta merta, “aku hanya mengatakan, bahwa kebencian Ki Dukut terhadap kakang Kasang telah mempengaruhi caranya berpikir menanggapi keadaan muridnya. Tetapi sudah barang tentu ada pengaruh lain yang harus diperhitungkan. Tentu adik Pangeran Kuda Padmadata itu pun mula-mula terkejut dan tidak mau melihat kenyataan bahwa kakaknya telah kawin dengan seorang pidak pedarakan. Kekecewaan ini bertemu dengan keangkuhan, ketamakan dan kedengkian.”

Ki Kasang Jati mengangguk-angguk. Katanya kemudian hampir kepada diri sendiri, “Aku tidak mengira, bahwa permusuhan yang sudah aku usahakan untuk melupakan itu, masih saja berakibat buruk. Bukan atas diriku sendiri, tetapi atas orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah.”

“Kakang” bertanya Ki Wastu kemudian, “sebaiknya kakang tidak usah menyesali diri sendiri. Kini anakku telah bebas, dan bahkan mendapat perlindungan yang sangat baik di Istana Singasari, diawasi oleh Ki Mahendra, ayah angger Mahisa Bungalan ini.” Ki Wastu berhenti sejenak, lalu, “kedatanganku kakang, sebenarnya hanyalah ingin memberikan isyarat kepada kakang.”

“Terima kasih” jawab Ki Kasang Jati. Lalu, “Aku mengerti. Kegagalan Ki Dukut atas rencananya yang menyangkut muridnya, dan kegagalannya menyingkirkan puteri itu, mungkin akan menumbuhkan rencananya yang lain. Sasarannya adalah aku.”

“Ya, ya kakang. Aku memang ingin mengatakan demikian.”

“Terima kasih Wastu” desis Ki Kasang Jati, “aku sudah tua. Aku kira aku sudah tidak pantas lagi turun ke dalam arena perselisihan apapun sebabnya. Karena itu, jika Ki Dukut datang, biarkan ia mendapatkan apa yang dicarinya. Jika ia ingin melepaskan dendamnya, biarlah ia melakukannya.”

“Aku sudah mengira” berkata Ki Wastu, “Kakang adalah orang yang baik, murah hati dan barangkali seorang yang tidak banyak menghiraukan nasibnya sendiri.”

Tetapi, di samping itu kakang pun harus bertindak adil. Adil terhadap diri sendiri dan adil terhadap hubungan kakang dengan orang lain. Jika kakang membiarkan dendam itu membakar diri kakang, itu sama sekali bukan sikap yang adil. Kakang sudah membiarkan kejahatan berlaku atas seseorang, meskipun seseorang itu kakang sendiri. Tetapi mungkin kejahatan itu akan menjalar terhadap orang lain yang lebih buruk lagi, apabila orang itu sama sekali tidak tahu menahu. “

Ki Kasang Jati mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berkata, “Kau pandai memaksa aku untuk berpikir Wastu. Tetapi dengan melepaskan dendamnya kepadaku, maka aku kira ia sudah puas. Ia tidak akan lagi mencari sasaran yang lain.”

“Tetapi dendamnya telah berkembang dengan ketamakan dan kedengkian. Ia tidak akan puas dengan pelepasan dendamnya yang lama saja. Ia kini tentu mendendam Pangeran Kuda Padmadata pula, serta keinginannya untuk menguasai harta bendanya tentu tidak akan dapat segera dilupakannya.”

Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenungi keadaannya. Sekilas terbayang, apa yang pernah terjadi, sehingga dendam telah menyala antara dirinya dengan orang yang bernama Ki Dukut Pakering. Ki Kasang Jati sama sekali tidak mengira, bahwa dendam itu justru akan membakar anak perempuan dari adik seperguruannya, sehingga hampir saja perempuan itu menjadi hangus bersama anak laki lakinya. Bahkan Pangeran Kuda Padmadata sendiri, hampir saja menjadi korban pula.

Kini nampaknya, kegagalan kegagalan itu telah menggiring Ki Dukut Pakering untuk menemukan sasarannya yang semula meskipun hanya sekedar untuk melepaskan amukan kekecewaan dan kebencian.

“Tetapi apakah benar, bahwa dendam itu akan terhenti sampai pada pelepasan atas diriku?” bertanya Ki Kasang Jati kepada diri sendiri.

Tetapi, pertanyaan itu telah membuka pertimbangan pertimbangannya yang lain. Justru itulah, yang dikehendaki oleh Ki Wastu, agar kejahatan yang membakar perasaan Ki Dukut Pakering itu tidak menjalar.

“Wastu,” berkata Ki Kasang Jati kemudian, “aku mengerti maksudmu. Tetapi apakah kata orang, jika orang-orang tua yang sudah berusaha untuk mendekatkan diri kepada asalnya, kepada Sangkan Paraning Dumadi ini masih harus berselisih dan bahkan mungkin masih harus mempergunakan kekerasan pula”

“Kakang” jawab Ki Wastu, “mungkin aku adalah orang yang lebih kasar dari Kakang. Aku sudah bertempur mempertahankan anak perempuanku. Bahkan angger Mahisa Bungalan ini serta ayah dan paman-pamannya telah mempergunakan pula untuk mencegah menjalarnya kejahatan”

“Mereka adalah orang-orang yang memang mempunyai kewajiban sebagai seorang Kesatria. Apalagi mereka adalah orang-orang yang berada dalam lingkungan keprajuritan”

“Tetapi apakah menurut pendapat kakang, membiarkan kejahatan itu terjadi, juga termasuk kebajikan? Juga termasuk jalan menuju ke Sangkan Paranging Dumadi? Apakah dengan demikian kakang sudah menunaikan tugas pengabdian kakang justru karena kakang mendapatkan kurnia kelebihan dalam olah kanuragan?“ bertanya Ki Wastu.

“Wastu” berkata Ki Kasang Jati, “sejak dahulu aku selalu merasa terdesak apabila aku harus berbantah dengan kau. Tetapi biarlah aku mengakuinya. Aku memang harus mendengarkan pendapatmu. Aku akan mencoba mempertimbangkannya”

“Kakang masih akan mempertimbangkannya?“ berkata Ki Wastu.

Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Kau selalu saja mendesak, Wastu. Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan mempertimbangkannya lagi. Aku akan berbuat sesuatu untuk menjaga diri”

Ki Wastu menundukkan kepalanya. Katanya dengan nada dalam, hampir kepada diri sendiri, “Maaf kakang. Sebenarnya aku hanya didorong oleh kecemasanku, bahwa sesuatu telah terjadi atas kakang dan padepokan ini, tanpa ngetahuinya lebih dahulu”

Aku mengerti maksudmu Wastu” desis Ki Kasang Jati.

Ki Wastu tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya masih tertunduk. Sementara itu, Mahisa Bungalan hanya dapat mendengarkan percakapan dua orang kakak beradik seperguruan itu.

Dalam pada itu, Ki Kasang Jati pun kemudian berkata, “Wastu, dengan demikian, maka aku justru minta agar kau tetap tinggal di sini untuk sementara. Mungkin yang kau katakan itu segera terjadi, sehingga kau sempat menyaksikannya. Mungkin kau akan dapat menemukan jalan keluar jika sebenarnyalah seperti yang kau katakan. Apalagi jika Ki Dukut membawa orang-orang lain yang sebenarnya tidak bersangkut paut dengan padepokan ini”

“Baiklah kakang, aku akan tinggal di sini untuk beberapa saat. Tetapi tentu tidak terlalu lama. Di Singasari anak perempuan dan cucuku tentu selalu menunggu, kapan mereka mendapat kesempatan untuk keluar dari lingkungan istana yang kurang dimengertinya. Meskipun ia mendapat perlindungan sebaik-baiknya, tentu ia akan lebih kerasan tinggal di luar lingkungan istana”

Ki Kasang Jati mengangguk. Jawabnya, “Jika yang kau perhitungkan itu benar-benar akan terjadi, maka tentu tidak akan terlalu lama lagi hal itu akan terjadi”

Dengan demikian, maka Ki Wastu dan Mahisa Bungalan masih tetap akan tinggal beberapa lama di padepokan kecil yang tenang itu. Namun yang karena kedatangan mereka, telah menjadi goncang. Meskipun Ki Kasang Jati sama sekali tidak memberitahukan apapun kepada cantrik-cantriknya, namun suasana itu nampaknya terasa oleh beberapa orang yang berada di padepokan itu pula.

Namun agaknya, apa yang dikatakan oleh Ki Wastu itu benar-benar mulai membayangi padepokan kecil itu. Pada suatu sore ternyata salah seorang cantrik melaporkan kepada Ki Kasang Jati, “Ki Kasang Jati, ketika aku pulang dari sawah, aku melihat dua orang yang melintas di jalan sebelah. Beberapa saat lamanya mereka berhenti mengamati padepokan ini dari jarak yang tidak terlalu dekat. Keduanya tidak mengetahui, bahwa aku yang bekerja di sawah dan sedang berada di dalam gubug, adalah penghuni padepokan ini. Atau barangkali keduanya justru tidak melihat aku, karena aku sudah duduk di dalam gubug.

“Apa salahnya” bertanya Ki Kasang Jati, “mungkin keduanya sedang mencari seseorang, atau bahkan keduanya mamang mencari padepokan ini. Mungkin sanak kadangnya ada yang tinggal di padepokan ini, atau untuk keperluan yang lain”

Cantrik itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin sekali. Aku tidak tahu, kenapa aku tiba-tiba saja telah mencurigainya”

Ki Kasang Jati mengerutkan keningnya. Agaknya seperti yang dirasakannya, suasana di padepokannya memang sudah berubah karena kehadiran Ki Wastu dan Mahisa Bungalan. Namun iapun mengerti, bahwa Ki Wastu dan Mahisa Bungalan datang ke padepokan itu dengan maksud yang baik.

Dengan demikian, maka Ki Kasang Jati memang harus mulai menyatakan sikapnya kepada para cantriknya. Ia tidak dapat membiarkan orang-orang yang tinggal di padepokan itu berteka-teki tanpa petunjuk arah sama sekali.

Karena itu, maka pada hari berikutnya, Ki Kasang Jati telah memanggil dua orang Pututnya untuk diajak berbincang bersama Ki Wastu dan Mahisa Bungalan.

Dengan hati-hati Ki Kasang Jati memberikan kemungkinan yang dapat terjadi di padepokan kecil itu. Sebenarnya ia sendiri sudah berusaha melupakan permusuhan yang sudah terlalu lama tanpa ujung pangkal itu. Namun pada suatu saat, ia memang harus melihat kenyataan, bahwa permusuhan itu belum padam sama sekali. Pada suatu saat, karena terpercik oleh peristiwa yang terjadi di Kediri, maka api yang telah tidak lagi berasap itu, bagaikan disiram dengan minyak.

Kedua Putut itu pun mendengarkan keterangan Ki Kasang Jati dengan saksama. Mereka menarik nafas dalam dalam ketika Ki Kasang Jati berkata, “Tetapi semuanya itu adalah salahku. Betapa hatiku ternyata telah ternoda oleh sikapku sendiri. Jika padepokan ini dimaksudkan untuk menjauhkan diri dari segala macam kekasaran duniawi, maka aku masih juga mengajarkan olah kanuragan kepada kalian berdua. Ternyata pada suatu saat, seolah-olah kita semuanya telah dituntut untuk mampertanggung jawabkannya”

Kedua Putut itu mengangguk-angguk.

“Nah” berkata Ki Kasang Jati kemudian, “bagaimanapun juga kita tidak akan dapat ingkar, bahwa salah satu dari sifat kita, adalah mempertahankan hidup kita. Karena itu, kita tidak bersalah jika kita bertahan di dalam lingkungan kita sendiri, jika ada pihak yang ingin merusak ketenangan padepokan ini”

Kedua Putut itu masih mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Guru. Agaknya memang demikian. Kita berhak untuk mempertahankan diri, sebagaimana yang guru ajarkan. Seperti juga kita makan dan minum, agar kita akan tetap hidup”

Ki Kasang Jati tersenyum. Katanya, “Baiklah, jika kau memang menempatkan pengertian itu pada keadaan yang kita hadapi sekarang. Cobalah sampaikan kepada kawan-kawanmu dengan hati-hati, agar mereka tidak salah paham dan menjadi sangat gelisah karenanya”

“Ya guru. Aku akan mencoba. Tetapi sudah seharusnya kita bersiaga manghadapi kemungkinan yang betapapun pahitnya, yang memang jarang sekali terjadi atas padepokan ini” jawab salah seorang Pututnya.

Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Dua orang muridnya yang tertua itu dapat mengerti persoalannya dengan jelas. Tetapi beberapa orang cantrik yang lain, mungkin akan mempunyai tanggapan yang berbeda.

Tetapi kedua orang Putut itu akan dapat mewakilinya. Mereka dalam hidup sehari-hari adalah satu dengan para cantrik, meskipun sebenarnya kedua orang Putut itu dapat juga disebut guru dari para cantrik yang lain. Namun setiap orang padepokan itu menganggap bahwa guru mereka adalah Ki Kasang Jati. Sementara para Putut Itu adalah saudara tua mereka.

Demikianlah, padepokan kecil yang tenang itu benar-benar telah di panasi dengan ketegangan yang semakin memuncak. Ternyata cantrik-cantrik yang lain pun melaporkan bahwa mereka melihat orang-orang yang tidak dikenal dan mencurigakan di sekitar padepokan itu”

“Baiklah” berkata Ki Kasang Jati, “kalian harus menyadari, bahwa bukan Wastu dan angger Mahisa Bungalan inilah yang membawa ketegangan, di sini. Bahkan mereka telah mendahului datangnya ketegangan itu dengan memberitahukan kepada isi padepokan ini. Dengan demikian, maka datang atau tidak datang Wastu dan angger Mahisa Bungalan, kita akan menghadapi ketegangan ini dan sekaligus sentuhan yang kasar,” Ki Kasang Jati berhenti sejenak, lalu katanya kemudian, “tetapi ingat, kalian tidak perlu mengatakan, bahwa ada dua orang tamu di padepokan ini. Anggaplah Wastu dan angger Mahisa Bungalan sebagai keluarga sendiri. Sebut sajalah mereka sebagai saudara-saudara kalian”

“Kenapa?” bertanya salah seorang dari para cantrik.

“Tidak apa-apa. Tetapi dengan demikian, maka tidak akan menimbulkan sikap khusus bagi mereka yang berniat buruk terhadap padepokan ini” jawab Ki Kasang Jati.

Para Putut dan cantrik itu pun mengerti maksud Ki Kasang Jati. Karena itu. maka mereka pun berusaha untuk tidak menyebut sama sekali tentang dua orang yang berada di padepokannya, yang mereka ketahui bahwa salah seorang dari kedua orang itu adalah adik seperguruan Ki Kasang Jati sendiri.

Sebenarnyalah bahwa perhitungan Ki Wastu dan Mahisa Bungalan tidak terlalu jauh dari kebenaran. Ki Dukut Pakering benar-benar telah mendekati padepokan Ki Kasang Jati dengan dendam yang membara. Karena ia tidak mempunyai orang-orang yang dapat dipercaya lagi selain seorang pengikutnya saja, maka ia pun telah berhubungan dengan beberapa orang yang telah dikenalnya untuk membantunya.

“Ada seorang yang mumpuni di padepokan itu” berkata Ki Dukut, “ tetapi orang itu adalah musuhku. Musuh bebuyutan. Aku akan menyelesaikannya, sementara kalian dapat berbuat menurut kehendak kalian atas para pengikutnya. Mungkin ada satu dua Putut pilihan, tetapi jarak kemampuannya tentu terpaut panjang dari Ki Kasang Jati sendiri”

“Apakah Ki Dukut yakin?“ bertanya salah seorang yang bersedia membantunya.

“Kenapa tidak? Aku mengenal padepokan itu sejak lama” jawab Ki Dukut.

“Apakah tidak mungkin telah terjadi perubahan dengan cepat? Selama Ki Dukut tidak melihat padepokan ini, maka banyak peristiwa dapat terjadi?” bertanya orang lain yang diajaknya untuk melakukannya rencananya.

“Kita akan dapat mengamatinya untuk beberapa lama” jawab Ki Dukut, “agar kita dapat menyakinkan, bahwa kerja kita akan berhasil dengan baik”

“Itu adalah cara yang paling baik” berkata orang lain, “kita akan melihat padepokan itu dalam keadaannya sekarang. Bukan beberapa saat yang lampau”

Dengan damikian, maka Ki Dukut dan beberapa orang yang telah diajaknya melaksanakan rencananya, telah mengamati padepokan itu. Dengan cermat mereka berusaha untuk mengamati, apakah ada sesuatu yang dapat dianggapnya gawat

Ternyata bahwa kehadiran Ki Wastu dan Mahisa Bungalan yang lebih dahulu dari Ki Dukut, telah lepas dari pengamatan orang-orang yang bermaksud buruk itu.

Tetapi dalam pada itu, ternyata tidak semua orang yang berada dipihak Ki Dukut mengerti persoalan yang sebenarnya. Ada diantara mereka yang telah tertipu. Ternyata Ki Dukut yang mereka kenal mempunyai murid dua orang Pangeran itu dapat mempergunakan keadaannya itu untuk mengelabuhi beberapa orang pemimpin padepokan untuk berdiri dipihaknya.

Meskipun beberapa orang pemimpin padepokan itu bukannya orang yang dapat disebut memiliki ilmu yang pinunjul, namun dengan jumlah yang cukup banyak, maka Ki Dukut akan dapat dengan mudah menghancurkan padepokan itu, sementara orang-orang yang membantunya itupun pada saatnya akan mengalami nasib buruk pula.

Dengan janji yang memberikan banyak harapan, dan apalagi mereka yang merasa berkewajiban untuk melakukan kebajikan atas Pangeran Kuda Padmadata yang malang, maka beberapa orang telah bersedia berdiri dipihak Ki Dukut dengan rencananya yang gila. Menghancur kan padepokan itu dengan segenap penghuninya.

“Mereka telah menghancurkan keluarga Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Dukut dengan orang-orang yang bersedia membantunya, “bahkan adiknya. Pangeran Kuda Rukmasanti telah terbunuh. Perampokan itu memang keji. Tetapi tentu bukan sekedar perampokan biasa. Ki Wastu, saudara seperguruan Ki Kasang Jati merasa kehilangan martabatnya ketika ia harus melihat kenyataan, bahwa anak perempuannya tidak diperlukan lagi oleh Pangeran Kuda Padmadata. Meskipun Pengeran yang baik hati itu telah memberikan terlalu banyak pada saat isterinya itu ditinggalkannya di padukuhan, namun dendam telah menyala di hatinya. Dan ia berhasil menipu beberapa orang untuk membantunya. Kematian Pangeran Kuda Rukmasanti sangat menyakitkan hati kakaknya dan hatiku sendiri. Karena aku tidak mengetahui rumah Ki Wastu, maka aku akan membuat perhitungan dengan orang yang telah membantunya berbuat jahat”

Orang-orang yang sudah bersedia membantunya itu mendengarkan keterangan Ki Dukut dengan saksama. Tetapi mereka agak heran mendengar keterangan bahwa Ki Dukut masih belum mengetahui rumah Ki Wastu, yang anak perempuannya pernah menjadi isteri muridnya.

Agaknya Ki Dukut dapat melihat keragu-raguan itu. Maka katanya kemudian, “Bukan berarti bahwa aku belum pernah melihat tempat tinggalnya, tetapi orang itu telah pergi meninggalkan rumah dan halamannya. Ia menyadari bahwa ia telah melakukan sesuatu yang akan dapat menimbulkan persoalan pada dirinya, sehingga akhirnya ia talah bersembunyi Persembunyiannya itulah yang belum dapat aku ketemukan”

Orang-orang yang berada dipihak Ki Dukut tanpa mengerti keadaan yang sebenarnya itu mengangguk-angguk. Ceritera Ki Dukut nampaknya memang menyakinkan Bahkan Ki Dukut itu berkata kepada mereka, “Pangeran Kuda Padmadata tentu akan sangat berterima kasih kepada kalian. Sementara kalian mengetahui bahwa Pangeran itu adalah Pangeran yang kaya raya”

“Itu tidak penting” berkata seseorang, “tetapi membebaskan Pangeran itu dari kecemasan, bayangan-bayangan yang suram dan ketidak-pastian atas hari depannya itulah yang telah mendorong kami untuk membantu Ki Dukut. Bukan berarti bahwa kami memiliki kemampuan melampaui Ki Dukut Pakering sendiri, tetapi mungkin tenaga kami yang tidak berarti itu akan dapat meringankan tugas Ki Dukut di padukuhan itu”

“Terima kasih” sahut Ki Dukut, “betapapun tinggi ilmu orang yang menyebut dirinya Kasang Jati itu, maka biarlah aku akan melumpuhkannya. Sementara kalian akan dapat menguasai para cantriknya yang tidak banyak berarti”

Demikianlah maka rencana untuk memasuki padepokan kecil itu telah disusun dengan rapi. Menurut pengamatan mereka, tidak ada yang perlu mendapat perhatian khusus pada padepokan itu. Tidak ada kecemasan bahwa Ki Kasang Jati telah mendatangkan orang-orang yang kuat yang akan dapat melindungi padepokannya yang mulai dibayangi oleh keburaman itu.

“Kita tinggal menentukan waktu” berkata Ki Dukut Pakering.

“Jangan terlalu lama” berkata salah seorang yang bersedia membantunya, “aku tidak mempunyai waktu terlalu banyak, karena aku harus segera berada kembali di padepokanku”

“Ya“ yang lain menyahut, “kasihan Pengeran yang malang itu. Jika kita berhasil memasuki padepokan itu, mungkin kita akan dapat memaksa satu dua orang untuk menunjukkan, dimanakah rumah orang yang bernama Ki Wastu itu”

“Baiklah” berkata Ki Dukut Pakering, “semakin cepat memang semakin baik. Besok kita akan mengadakan pengamatan terakhir. Kita akan langsung menyusun rencana, kapan kita akan memasuki padepokan itu”

Demikianlah seperti yang dikatakan, di keesokan harinya, maka Ki Dukut dan seorang yang mewakili beberapa orang yang telah menyatakan bersedia membantu Ki Dukut telah mengadakan pengamatan terakhir pada padukuhan kecil itu. Seperti di hari-hari sebelumnya, maka mereka tidak melihat sesuatu yang baru pada padepokan itu. Mereka melihat beberapa orang cantrik bekerja seperti biasa. Mereka melihat, tidak seorang pun dari para cantrik yang menunjukkan kesiagaan yang berarti.

“Dengan demikian tugas kita tidak terlalu berat. Bukankah tugas kami hanyalah mencegah, agar Ki Dukut sempat berhadapan dengan Ki Kasang Jati?“ bertanya orang yang menyertainya.

“Ya. Tetapi jika diperlukan, maka kalian dapat membantu aku menangkap orang itu, karena aku ingin dapat menangkapnya hidup-hidup. Sudah barang tentu bahwa jika terpaksa sekali, aku akan membunuhnya. Namun apabila masih mungkin, aku ingin dapat mendengar beberapa jawab atas pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan di dalam hati ini”

Orang yang menyertainya mengangguk-angguk. Ia semakin yakin akan kebersihan hati Ki Dukut, ketika Ki Dukut berkata, “Sebenarnyalah bahwa kematian bukan akhir dari persoalan ini. Aku, dan tentu juga Pangeran Kuda Padmadata tidak menginginkan kematiannya. Karena sebenarnyalah bahwa dendam bukanlah tujuan terakhir, meskipun betapa sakitnya hati Pangeran yang kehilangan adiknya itu, dan aku yang telah kehilangan muridku”

“Kita akan berusaha” jawab orang yang menyertainya, “tetapi kita tidak dapat menentukan“ ia berhenti sejenak, lalu jadi, apakah kita sudah dapat menentukan saat untuk memasuki padepokan itu?”

“Setelah kita amati beberapa hari. maka nampaknya kita akan segera dapat melakukannya. Aku akan berbicara dengan kawan-kawan kita, apakah sebaiknya malam nanti kita melakukannya” berkata Ki Dukut

“Aku tidak berkeberatan. Malam nanti kita memasuki padepokan kecil itu lewat regol. Kita minta Ki Kasang Jati menyerah dan mengakui kesalahannya, sehingga ia sebaiknya tidak melawan untuk dihadapkan kepada Pangeran Kuda Padmadata, serta sekaligus menunjukkan dimana Ki Wastu bersembunyi” berkata orang yang menyertainya, “mudah-mudahan Ki Dukut mengerti, bahwa dengan demikian, para cantriknya akan selamat”

“Bagus” sahut Ki Dukut. Namun ia berkata selanjutnya, “tetapi ia adalah orang yang keras hati dan kepala. Tetapi biarlah kita melihat”

“Kita harus segera membuat rencana sebaik-baiknya” berkata kawannya, “marilah, kita akan menyusunnya sekarang. Malam nanti kita masuki padepokan itu”

Ki Dukut pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Sayang bahwa kita harus mengguncang ketenangan padepokan itu. Tetapi yang isinya sama sekali bukanlah seperti wadah yang kasat mata”

Bersama dengan beberapa orang yang sudah menyatakan kesediaannya untuk membantu, maka Ki Dukut Pakering telah menyusun rencananya. Sebelum tengah malam mereka akan memasuki padepokan kecil itu. Ki Dukut Pakering sendiri akan menghadapi Ki Kasang Jati, agar ia dapat dengan hati-hati berusaha menangkapnya hidup-hidup.

“Tetapi jika ia berkeras hati untuk mempertahankan kesalahannya, apa boleh buat” berkata Ki Dukut, “namun, jika masih mungkin, sementara aku tidak berhasil menangkapnya hidup-hidup. Aku akan memerlukan pertolongan kalian, justru karena aku menginginkannya, hidup-hidup“

“Kami sudah menyatakan kesediaan kami” jawab salah seorang dari mereka yang berada diantara Ki Dukut Pakering, “karena itu, kami akan membantunya apa saja yang kalian perlukan. Sebenarnyalah kami menganggap bahwa rencanamu untuk menangkap hidup-hidup adalah rencana yang paling baik”

“Ya. Marilah kita bersiap sambil berdoa. Semoga yang Maha Agung akan selalu berada bersama kita” berkata Ki Dukut, “sehingga apa yang kita kerjakan tidak ber tentangan dengan kehendaknya. Namun aku percaya, bahwa niat yang baik, akan mendapat jalan yang rancak pula”

Demikianlah, maka Ki Dukut dan kawan-kawannya pun telah bersiap menjelang gelap. Bagaimanapun juga. mereka harus mempersiapkan diri untuk bertempur. Mereka akan bertempur tanpa menjatuhkan korban jiwa apabila mungkin. Tetapi jika justru jiwa mereka sendiri terancam, maka mungkin sekali mereka terpaksa membunuh. Namun pembunuhan yang mereka lakukan telah mereka perhitungkan sebaik-baiknya, bahwa mereka telah melakukan satu tugas kemanusiaan yang besar. Jika Ki Kasang Jati itu tidak ditangkap, atau bahkan jika terpaksa dibunuh, maka tindakan-tindakannya yang melanggar segi peradaban manusia akan semakin menjalar. Bahkan ia sudah berani berbuat jahat terhadap seorang pangeran dari Kediri dan membunuh Pangeran Kuda Rukmasanti.

Dengan demikian, maka kawan-kawan Ki Dukut itu merasa diri mereka berpinjak pada alas kebenaran, sehingga mereka sama sekali tidak ragu-ragu untuk bertindak.

Ketika malam turun, maka Ki Dukut telah menentukan arah yang akan mereka tempuh. Menurut perhitungan Ki Dukut, maka mereka tidak perlu datang sambil mengendap-endap. Tetapi mereka akan dapat langsung memasuki regol dan menyerang padepokan itu dari depan dengan dada tengadah sebagaimana seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki.

“Kita akan menjaga, agar tidak ada korban yang jatuh. Baik di antara kita, maupun di antara mereka. Tetapi kita sudah berpijak pada ujung tanduk. Mungkin kita akan terluka, tetapi mungkin pula kita terpaksa melukai” desis Ki Dukut pada saat mereka siap untuk berangkat.

Kawan-kawan Ki Dukut itu hanya mengangguk-angguk. Mereka menganggap bahwa Ki Dukut adalah orang yang paling mengetahui persoalannya, sehingga karena itu, maka mereka menyerahkan segala rencana sebagian terbesar kepada Ki Dukut.

Pada saat yang sudah ditentukan, maka sekelompok orang yang dipimpin oleh Ki Dukut Pakering telah menyusuri jalan-jalan setapak menuju ke padepokan kecil tempat tinggal Ki Kasang Jati. Padepokan yang dalam keadaan sehari-hari nampak tenang dan tidak dibayangi oleh sifat-sifat permusuhan. Namun tiba-tiba beberapa orang bersenjata telah mendatangi padepokan itu dengan jantung yang panas.

Ki Dukut yang berjalan di paling depan pun masih saja dibayangi oleh keragu-raguan. Jika maksudnya tersingkap, maka ia akan kehilangan kepercayaan dari kawan-kawannya. Bahkan mungkin orang-orang itu akan dapat menjadi orang yang sangat berbaya baginya.

Semakin dekat mereka dengan padepokan kecil itu, maka jantung Ki Dukut Pakering itu pun berdegup semakin keras.

Dalam pada itu, padepokan kecil yang dipimpin oleh Ki Kasang Jati itupun tidak pernah meninggalkah kewaspadaan. Selama padepokan itu dibayangi oleh orang-orang yang tidak mereka kenal, yang nampaknya selalu mengamat-amati padepokan kecil itu, maka orang-orang di padepokan itupun merasa, bahwa mereka harus berhati-hati. Karena itulah, maka setiap malam, beberapa orang selalu berjaga-jaga di halaman depan, meskipun mereka sengaja tidak berada di regol. Bahkan mereka dengan sengaja berada di tempat yang terlindung dari cahaya lampu di pendapa dan di regol halaman.

Setiap malam, regol dan seluruh halaman itupun selalu mendapat mengawasan mereka. Kedua orang Putut di padepokan itu berganti-ganti memimpin para cantrik yang bertugas meronda. Setiap malam mereka berganti berjaga-jaga. Jika yang seorang tidur di gandok, maka yang lain berada diantara para cantrik yang bertugas.

Sementara itu, selain kedua orang Putut yang bertugas berganti-ganti itu, Mahisa Bungalan dan Ki Wastupun selalu bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun Ki Kasang Jati sendiri nampaknya tidak begitu menghiraukan ketegangan yang setiap saat terasa semakin memuncak, namun iapun tidak meninggalkan kewaspadaan. Bahkan kadang-kadang Ki Kasang Jati sendiri keluar dari ruang dalam di tengah malam, berjalan menyusuri sudut-sudut halaman dan menyapa para peronda di serambi, atau di sudut-sudut yang terlindung,

Dengan demikian, maka setiap saat regol padepokan itu tidak pernah terlepas dari pengamatan para cantrik meskipun dari jarak yang tidak terlalu dekat. Namun lampu minyak regol itu cukup terang, apabila seseorang memasuki regol halaman itu, tentu akan dapat mereka lihat.

Karena itulah, maka ketika Ki Dukut mendekati regol dan menganggap regol itu sepi tidak terjaga, maka dengan dada yang berdebaran, para cantrik pun melihat dengan jelas, beberapa orang telah melangkahi tlundak pintu regol halaman padepokan itu.

Para cantrik yang mengamati regol itupun saling menggamit sebagai isyarat. Ternyata bahwa mereka semuanya telah melihat, beberapa orang memasuki halaman padepokannya.

“Bukan sekedar dugaan” berkata para cantrik itu di dalam hatinya.

Namun mereka terkejut ketika mereka melihat, tiba-tiba saja Ki Kasang Jati telah berada di sebelah mereka sambil berbisik, “Aku akan menyapa mereka. Bangunkan kawan-kawanmu. Beritahukan Ki Wastu dan Mahisa Bungalan yang berada di dalam”

Para cantrik itu tidak bertanya lagi. Beberapa orang pun kemudian berdiri dan tanpa ragu-ragu mereka melangkah ke gandok dan yang lain masuk ke ruang dalam.

Ternyata bayangan para cantrik itu dapat dilihat oleh Ki Dukut Pakering. Sejenak itu justru termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa kedatangannya telah dilihat oleh beberapa orang penghuni padepokan itu.

“Gila” geramnya di dalam hati, “apakah ada iblis yang memberitahukan kepada meraka”

Namun kemudian iapun melanjutkan, “Persetan. Meskipun mereka mengetahui kehadiran kita, tidak akan ada kekuatan yang cukup untuk membendung kedatangan kita”

Karena itu, maka Ki Dukut pun sama sekali tidak merubah rencananya. Ia melangkah terus ke tengah-tengah halaman padepokan Ki Kasang Jati.

Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar seseorang menyapanya, “Selamat malam Ki Dukut Pakering. Kami sudah menunggu kedatanganmu di padepokan kecil ini”

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Dari kegelapan ia melihat bayangan seseorang diikuti oleh dua orang di belakangnya. Beberapa langkah di hadapan Ki Dukut, orang itu berhenti samhil berkata lebih lanjut, “Kunjunganmu merupakan kehormatan yang sangat besar bagi kami”

“Persetan Kasang Jati. Aku datang untuk membuat perhitungan. Kau sudah terlalu banyak membuat aku menahan hati. Tetapi yang kau lakukan terakhir, sehingga aku harus mengorbankan muridku adalah sudah sampai pada batasnya. Aku datang untuk menghukummu. Bukan lagi untuk berbicara panjang lebar”

“Aku sudah mengerti apa yang telah terjadi” sahut Ki Kasang Jati, “apakah tidak ada cara yang lebih baik dari yang kau lakukan sekarang?“

“Menyerahlah Ki Kasang Jati” berkata Ki Dukut tanpa menjawab pertanyaan Ki Kasang Jati, “kau akan aku bawa menghadap pada pimpinan pemerintahan di Kediri. Kau harus mendapat pengadilan. Jika kau merasa tidak bersalah, kau tentu tidak akan berkeberatan, karena dengan demikian kau akan segera dilepaskan. Tetapi jika kau bersalah, maka hukuman akan menjadi jauh lebih ringan daripada kau berusaha hendak melawan”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Ki Dukut Pakering” jawab Ki Kasang Jati, “karena itu, jelaskanlah, apa yang akan kau lakukan”

“Aku tidak akan banyak berbicara” geram Ki Dukut, “kesalahanmu kau dekap di dadamu. Sekarang menyerahlah. Perintahkan semua orang di dalam padepokan ini menyerah, agar aku dan kawan-kawanku yang sebenarnya tidak ingin mempergunakan kekerasan ini tidak perlu bertindak lebih kasar”

“Aku tidak berkeberatan” berkata Ki Kasang Jati, “tetapi sebut sebabnya”

“Persetan” berkata Ki Dukut. Lalu katanya kepada kawan-kawannya, “Apa kita masih dapat menunggu lebih lama lagi dengan pembicaraan yang tidak berkeputusan, Atau kita tangkap saja orang ini, kemudian kita bawa ke Kediri?“

Ternyata ada juga diantara kawan-kawan Ki Dukut yang-tidak sabar. Katanya, “Marilah, kita tangkap saja orang ini. Tentu sulit untuk mendengarkan pengakuannya selagi ia masih bebas. Tetapi jika ia sudah tidak berdaya, apalagi di hadapan yang memerintah di Kediri, ia akan mengaku segala kesalahannya”

“Sebenarnya aku masih ingin berbuat lebih itu lagi” berkata Ki Dukut, “Tetapi apa boleh buat, ia memaksa aku mempergunakan kekerasan”

Sebenarnyalah Ki Dukut tidak ingin berbantah lebih lama. Dengan demikian, maka ia akan membuka kemungkinan bagi mereka yang datang bersamanya untuk menilik keadaan. Karena itu, maka kemudian katanya, “Baik. Jangan menyesal jika dalam usahaku menangkapmu, kulitmu tersentuh jari-jariku. Atau bahkan mungkin salah satu orang cantrikmu tergores oleh kuku kawan-kawanku yang datang bersamaku sekarang atas nama keadilan pemerintahan di Kediri”

Ki Kasang Jati masih akan menjawab. Tetapi Ki Du sudah meloncat mendekatinya. Katanya, “Marilah. Memencarlah. Orang-orang di padepokan ini tidak terlalu banyak”

Mereka yang datang bersama Ki Dukut pun segera bergeser. Meskipun ada satu dua orang yang terpaksa memikir kembali pembicaraan antara kedua orang itu, namun ternyata mereka tidak mempunyai kesempatan terlalu banyak. Orang-orang yang menghuni padepokan pun ternyata sudah berpencar pula.

“Ki Dukut“ Ki Kasang masih ingin berbicara, “jangan tergesa-gesa”

“Hanya ada dua pilihan” sahut Ki Dukut denhan serta merta, “menyerahlah, atau kami terpaksa menangkapmu dan mengikatmu. Kami akan membawamu seperti membawa seorang penjahat yang paling buas. Meskipun sebenarnya kau lebih berbahaya dari penjahat itu, namun aku masih lebih hormat kepadamu”

Ki Kasang Jati masih akan menjawab. Tetapi sekali lagi Ki Dukut meloncat mendekat, sehingga Ki Kasang Jati terpaksa mengurungkan kata-kata yang sudah ada dibibirnya Ia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tiba-tiba saja dapat dilakukan oleh Ki Dukut Pakering.

Pada saat itu, maka kawan-kawan Ki Dukut pun segera memencar. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa ia telah mengambil langkah yang keliru, karena mereka terlalu percaya kepada Ki Dukut yang mereka anggap sebagai seorang yang selain memiliki ilmu yang tinggi ia seorang guru dari dua orang kakak beradik yang mempunyai pengaruh di Kediri. Sehingga karena itu, maka mustahil bahwa orang yang demikian akan menyesatkan mereka ke dalam kerja yang salah.

Demikianlah, ketika kawan-kawannya sudah berencar, maka Ki Dukut itupun berkata lantang, “Siapa yang ingin selamat, menyerah sajalah. Kami bermaksud baik. Kami hanya memerlukan Ki Kasang Jati. Tidak orang lain. Karena itu, siapa yang ingin selamat, jangan melibatkan diri ke dalam persoalan ini”

Namun yang terdengar adalah jawaban dari salah sorang Pututnya, “Kami adalah murid-muridnya. Kami akan berbuat apa saja bagi guru kami, dan bagi padepokan kami”

Ki Dukut kemudian menggeram. Tetapi jawaban itu kemungkinkannya untuk meneriakkan aba-aba, “Baiklah kawan-kawan. Kita sudah tahu, bagaimana sikap orang orang yang masih ingin aku hormati. Tetapi ternyata mereka tidak lebih dari sekelompok orang-orang yang telah jatuh ke dalam lumpur yang paling rendah. Tidak ada cara lain yang dapat kita tempuh selain menangkap mereka hidup-hidup, atau jika tidak ada cara lain. maka kematian adalah akibat yang sangat wajar dari sikap dan pandangan hidup mereka”

Ki Kasang Jati benar-benar tidak sempat untuk memberikan penjelasan. Tetapi ia sudah mulai curiga, bahwa orang-orang yang datang bersama Ki Dukut Pakering bukanlah orang-orang yang memang bermaksud jahat.

Namun, apabila mereka mempergunakan kekerasan juga, maka tidak ada cara lain kecuali menyelamatkan diri. Baru kemudian, apabila keselamatan itu telah didapatkannya, barulah akan datang kesempatan untuk memberikan penjelasan. Tetapi jika mereka tidak berhasil menyelamatkan diri. maka kesempatan untuk memberikan penjelasan itupun sama sekali tidak akan didapatkannya.

Demikianlah, maka para cantrik itu pun berpencar pula. Dua orang Putut yang terbaik di antara murid-murid Ki Kasang Jati itupun berpencar pula. Seorang di sisi kiri dari pendapa bersama beberapa orang cantrik, yang lain di sisi kanan.

Dalam pada itu, Ki Dukut ingin segera menyelesaikan rencananya. Ketika orang-orangnya telah berpencar, maka tiba-tiba saja ia sudah mulai menyerang Ki Kasang Jati sambil menggeram, “Sebaiknya kau menyerah”

Ki Kasang Jati mengelak. Ia masih sempat berbicara, “Aku tidak tahu, apakah yang sedang kau kerjakan sekarang”

Karena orang-orang yang berdiri di pihaknya sudah memencar, maka Ki Dukut itupun menggeram, “Dendam tidak akan dapat padam sebelum pecah nyawamu. Kau sumber bencana bagi perguruanku, sehingga akhirnya seorang dari kedua muridku itu terbunuh”

“Aku sudah tahu. Tetapi bagaimana mungkin kau dapat mempengarui orang-orang itu, sehingga mereka masih juga berpihak kepadamu?“ bertanya Ki Kasar Jati.

“Mereka adalah orang-orang yang waskita. Mereka melihat kebenaran yang sejati” berkata Ki Dukut lantang, agar orang-orang yang tidak terlalu jauh daripadinya dapat mendengarkannya.

Ki Kasang Jati menggigit bibirnya, ia tidak dapat berteriak melampaui suara Ki Dukut Pakering. karena lawannya itu pun kemudian mengerahkan segenap kemampuanya untuk menyerangnya.

Ki Dukut Pakering, guru dari Pangeran Kuda Padmadata dan adiknya. Kuda Rukmasanti, memang seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Ia mampu bergerak secepat tatit di langit. Namun ia memiliki kekuatan seperti runtuhnya bukit-bukit batu menimpa jurang dan lurah yang dalam.

Karena itu. maka Ki Kasang Jati harus berhati-hati Pertempuran di antara keduanya bukannya baru terjadi untuk yang pertama kali. Keduanya telah bertempur beberapa kali. Setiap kali, tidak seorang pun yang dapat menyebut dirinya memenangkan perkelaian.

Tetapi kedatangan Ki Dukut itu bukanlah sendiri. Jika berhasil mengalahkan para cantrik dan murid-murid Kasang Jati dengan mempergunakan tangan beberapa orang yang bersedia membantunya itu, maka Ki Kasang tentu akan terpengaruh sehingga ia pun akan menyerah atau terbunuh.

Ki Dukut tidak begitu merisaukan para pengikutnya, musuh terbesarnya telah dapat diselesaikan, maka yang lain baginya tidak akan banyak berarti. Ia akan dapat menjumpai mereka seorang demi seorang. Jika ada diantara mereka yang menuntut pertanggungan jawabnya, maka orang itu justru akan diselesaikan sama sekali.

Demikianlah, maka pertempuran antara kedua orang ng memiliki ilmu yang tinggi dan yang saling mengenal menjajagi itu, dengan segera meningkat dengan dahsyatnya. Keduanya tidak lagi berusaha untuk mengetahui kuatan dan kelemahan lawannya, karena sebenarnyalah duanya telah saling mengetahuinya.

Yang mereka lakukan kemudian hanyalah menjaga, agar mereka tetap menyadari keadaan diri. Mereka tidak mudah terpancing oleh gejolak perasaan sehingga mereka akan melakukan sesuatu yang tidak perlu. Imbangan kekuatan sangat mereka perlukan, sehingga mereka tidak akan melepaskan tenaga mereka tanpa arti sama sekali.

Sementara itu, di halaman itu pun telah menyala berapa lingkaran pertempuran. Para cantrik memang tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Tetapi dua orang Putut yang terbaik dari antara murid Ki Kasang Jati itu memang harus diperhitungkan.

Tetapi kedua orang itu tidak dapat melawan semua orang yang kemudian menghambur di sebelah menyebelah pendapa. Meskipun kedua Putut itu dengan garangnya menahan lawan-lawannya, tetapi yang lainpun segera mendesak para cantrik sehingga mereka terdorong surut.

“Bertahanlah atas nama padepokan ini” teriak salah seorang Putut, “sebentar lagi aku akan datang membantu”

“Menyerahlah“ salah seorang lawannyapun berteriak, “itu akan lebih baik daripada kalian harus bertempur. Kemungkinan yang paling buruk pun dapat kita hindari”

“Kami berpijak di tempat kami sendiri” sahut salah seorang Putut, “jika kalian ingin berbicara dengan kami, keluarlah dari padepokan ini. Baru kita akan dapat berbicara dengan wajar dan dalam kedudukan yang sama”

Kawan-kawan Ki Dukut pun tidak menjawab lagi. Merekapun segera mendesak para cantrik semakin jauh. Tetapi mereka yang bertempur melawan kedua orang Putut itu pun harus mengerahkan segenap kemampuan mereka. Ternyata kedua orang Putut itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mereka adalah murid-murid terbaik dari Ki Kasang jati yang mumpuni.

Tetapi para cantrik tidak dapat bertahan lebih lama. Lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang berpengalaman, sehingga mereka pun segera terdesak semakin jauh, semakin jauh sampai ke seketeng.

Namun tiba-tiba imbangan pertempuran itu telah berubah. Di antara para cantrik itu tiba-tiba saja terdapat seseorang yang berilmu tinggi. Dengan garangnya orang itu bertempur. Dalam gelapnya malam, lawan-lawan mereka tidak dapat melihat, siapakah orang yang muncul dari seketeng dan langsung mendesak mereka dengan kemampuan yang mendebarkan.

Karena itu, maka pertempuran di depan seketeng itu pun berlangsung semakin sengit. Ternyata dua tiga orang sekaligus merasa mendapat tekanan karena salah seseorang yang tiba-tiba saja telah berada di depan seketeng.

“Siapa kau?“ bertanya salah seorang kawan Ki Dukut Pakering.

“Aku cantrik padepokan ini seperti saudara-saudaraku,” yang lain jawab orang itu.

”Tetapi adalah mustahil bahwa di antara para cantrik telah terdapat orang yang memiliki ilmu yang mengejutkan.”

Karena itu, maka pertempuran di dalam gelap di depan seketeng itupun berlangsung dengan sengitnya. Beberapa orang kawan Ki Dukut harus bertempur melawan orang yang memiliki ilmu yang mengejutkan itu. Orang itu mampu meloncat dengan cepat, menyerang dengan tiba-tiba dan bahkan kakinya seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah.

Para cantrik yang semula merasa terdesak itupun menjadi heran. Namun mereka pun segera mengerti, bahwa orang itu adalah tamu-tamu Ki Kasang Jati.

Sebenarnyalah bahwa Ki Wastu dan Mahisa Bungalan telah membagi diri. Yang seseorang berada di sebelah kanan pendapa, sedang lainnya berada di sebelah kiri. Ketika mereka melihat para cantrik terdesak, maka mereka pun segera turun ke arena lewat seketeng sebelah menyebelah.

Kawan-kawan Ki Dukut pun menjadi heran bahwa di antara para cantrik terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang mengejutkan. Dua orang Putut yang bertempur di sebelah pendapa itupun telah membuat mereka heran. Apalagi tiba-tiba saja di antara para cantrik terdapat orang-orang yang segera dapat mendesak mereka.

Karena itulah, maka baik Mahisa Bungalan maupun Ki Wastu segera berhadapan dengan lawan yang tidak hanya seorang. Sementara para cantrik berkesempatan untuk bertempur berpasangan.

Karena itu, maka para cantrik tidak lagi merasa terdesak dan tidak lagi merasa terlalu sulit untuk bertahan.

Mahisa Bungalan ternyata mendengar semua pembicaraan antara Ki Dukut dan Ki Kasang Jati. Ia memang menjadi curiga, apakah kawan-kawannya juga memiliki sifat seperti orang itu. Agaknya Ki Dukut telah menunjukkan sikap yang kurang wajar. Ia tidak berterus terang dengan segala peristiwa yang telah terjadi.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia bertanya kepada-lawannya, “Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki di padepokan ini?“

“Menyerahlah” geram lawannya, “kau akan mengetahui, apa yang pernah dilakukan oleh gurumu, jika kau benar-benar cantrik padepokan ini”

“Aku memang cantrik padepokan ini. Tetapi sebut kesalahan guruku” desis Mahisa Bungalan.

“Jangan memancing belas kasihan kami” berkata lawannya, “tetapi jika kau menyerah, maka kau akan mendapat perlakuan yang baik. Kami dapat berbuat baik, Tetapi kami dapat juga berbuat kasar Bahkan kami pun dapat berbuat sesuatu, sehingga akan jatuh korban. Mungkin kawan-kawanmu, tetapi mungkin korban itu adalah kau sendiri”

“Atau kau” desis Mahisa Bungalan, “jika jatuh korban di antara kami, maka kami adalah korban dalam tugas seorang cantrik yang setia kepada gurunya dan kepada padepokannya. Kami akan menjadi korban yang tidak sia-sia. Tetapi jika kau mati, apakah sebenarnya arti kematianmu”

“Persetan“ lawannya menyerang semakin dahsyat sambil menggeram, “Kau benar-benar tidak mau menyerah”

Tetapi Mahisa Bungalan pun ternyata mulai menjadi jemu. Karena itu, ketika ia bertempur semakin keras, maka lawannyapun menjadi semakin sulit menghadapinya, meskipun mereka sudah bertempur berpasangan.

“Gila” geram lawannya di dalam hati, “orang ini agak aneh“

Namun adalah suatu kenyataan, bahwa cantrik yang seorang itu adalah cantrik yang sangat mendebarkan jantung karena tata geraknya yang membayangkan ilmu yang tinggi dan mapan.

Tetapi di lingkaran pertempuran yang lain, terdapat pula seorang cantrik yang mumpuni. Meskipun nampaknya orang itu sudah agak tua. Tetapi ia sudah mengejutkan lawan-lawannya. Dengan tangkasnya ia bertempur di antara beberapa orang lawannya, sehingga para cantrik yang lain mempunyai kesempatan untuk membenahi diri setelah mereka terdesak beberapa saat lamanya.

Kehadiran Mahisa Bungalan dan Ki Wastu benar-benar telah mempengaruhi keadaan. Kawan-kawan Ki Dukut yang semula dengan cepat menguasai keadaan, rasa-rasanya telah membentur dinding pertahanan yang sangat kuat. Di samping dua orang Putut padepokan itu yang tangguh dan tanggon, maka masih ada dua orang cantrik yang bertempur ditempat terpisah, namun memiliki kemampuan yang luar biasa. Bahkan semakin lama kawan-kawan Ki Dukut menjadi ragu-ragu, apakah dua orang itu benar-benar cantrik dari padepokan kecil itu.

Namun dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Ki Dukut yang bertempur dengan penuh dendam, berusaha untuk dapat mendesak lawannya, meskipun ia sadar, bahwa untuk melakukannya, akan sangat terpengaruh oleh keadaan dalam keseluruhan. “Tetapi sebentar lagi, kawan-kawanku akan menguasai keadaan” berkata Ki Dukut di dalam hatinya, “ jika orang ini telah mati, maka tidak sulit bagiku untuk mengatasi tikus-tikus kecil ini, “

Ki Dukut merasa, bahwa usahanya akan segera berhasil. Kematian Ki Kasang Jati, akan mengurangi tekanan batinnya karena kegagalan rencananya, bahkan dengan terbunuhnya Pangeran Kuda Rukmasanti. Jika kawan-kawannya telah berhasil menghalau para cantrik, maka mereka tentu akan segera membantunya, atau setidak-tidaknya akan mempengaruhi tekad berlawanan Ki Kasang Jati.

Tetapi ternyata bahwa kawan-kawan Ki Dukut itu tidak segera dapat menguasai halaman padepokan kecil itu. Bahkan semakin lama pertempuran di halaman itu rasa-rasanya menjadi semakin sengit. Agak berbeda dengan apa yang diperhitungkan oleh Ki Dukut. Ia mengira bahwa yang akan terjadi, hanyalah sekedar menakut-nakuti, kemudian menangkapi atau menghalau cantrik-cantrik yang tidak berarti, meskipun sudah diperhitungkan pula bahwa ada satu dua diantara mereka yang akan nampu memberikan perlawanan.

“Putut-putut itu agaknya memiliki kemampuan yang tinggi pula” geram Ki Dukut di dalam hatinya.

Sebenarnya Putut-putut di padepokan itu memiliki kemampuan yang cukup untuk menahan lawan-lawannya. Tetapi jumlah lawan-lawannya memang cukup banyak, sehingga para cantrik untuk beberapa saat telah terlesak. Tetapi ternyata kemudian, bahwa kawan-kawan Ki Dukut Pakering itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka telah membentur kekuatan di luar kemampuan mereka.

Perlahan-lahan Mahisa Bungalan, Ki Wastu dan para cantrik telah berhasil mendesak lawannya. Demikian pula dua orang Putut dari padepokan itu pun mampu bertahan meskipun harus mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Sementara itu, ternyata Ki Dukut sendiri tidak berhasil mendesak lawannya. Ternyata keseimbangan kemampuan mereka masih tetap seperti yang beberapa tahun yang lalu. Masih seperti setiap kali mereka bertemu dan bertempur.

“Gila” geram Ki Dukut, “nampaknya kau masih juga ingat mempertahankan namamu”

“Tidak Ki Dukut. Tetapi adalah wajar bahwa aku ingin mempertahankan umurku”

“Persetan. Perguruanmu yang hampir punah ini tentu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Apabila apabila kau sekarang mati di halaman ini” desis Ki Dukut.

“Kau salah” sahut Ki Kasang, “jika aku mati, ada muridku yang akan melanjutkan cabang perguruan kecil ini. Ia akan segera datang dan tinggal di antara para cantrik. Sebelum muridku yang sudah sempurna memiliki ilmuku itu datang, kedua Putut yang hampir mencapai tingkat tertinggi itupun akan dapat bertahan untuk beberapa saat lamanya”

“Omong kosong” bentak Ki Dukut, “kedua cantrikmu itu pun akan mati pula sekarang, mungkin akan lebih dahulu daripadamu”

“Ia akan dapat bertahan” sahut Ki Kasang. Sekilas Ki Dukut memang melihat, bahwa pertempuran di sebelah-menyebelah pendapa itu masih berlangsung dengan sengitnya, Ia pun manyadari, bahwa kawan-kawannya tentu tidak segera dapat menguasai kedua Putut dan para cantrik, sehingga karena itu ia mengumpat di dalam hati, “Orang-orang dungu, jika mereka sudah berani menyebut dirinya pemimpin padepokan, kenapa mereka sama sekali tidak dapat menguasai dua orang Putut dan beberapa orang cantrik kecil”

Tetapi kenyataan itu sudah terjadi. Kawan-kawannya tidak segera berhasil menguasai cantrik-cantrik kecil yang dipimpin oleh dua orang Putut itu.

“Jangan menyesal kawan-kawanmu” berkata Ki Kasang Jati yang seolah-olah melihat kekesalan di hati lawannya, “mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Apalagi jika aku sempat memanggil muridku yang sudah putus segala macam ilmu, yang tidak jauh berbeda dengan aku sendiri, dan seorang muridku yang lain, yang meskipun belum sempurna seperti kakak seperguruannya, tetapi aku kira akan dapat dengan mudah menghalau orang-orangmu, karena ia telah memiliki ilmu jauh lebing tinggi dari kedua Putut yang sekarang ada disini”

“Persetan” geram Ki Dukut, “soalnya adalah waktu. Akhirnya akan datang saatnya, kau berlutut di bawah kakiku dengan kepala tunduk. Aku akan memenggal lehermu dengan tanganku sendiri”

Ki Kasang Jati tidak menjawab. Tetapi ia harus mengimbangi tekanan lawannya yang didorong oleh dendam dan kebencian yang tiada taranya.

Namun bagaimanapun juga. Ki Ki Dukut ternyata tidak mampu merubah dirinya menjadi seorang yang memiliki ilmu yang melampaui lawannya yang telah menjadi bebuyutan.

Karena itu, maka pertempuran antara kedua orang itupun justru menjadi semakin dahsyat. Ternyata Ki Kasang Jati dan Ki Dukut Pakering adalah dua orang yang memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya. Demikian sengitnya pertempuran di antara keduanya, maka seolah-olah di halaman padepokan itu telah terjadi angin prahara yang berputaran. Dedaunan pun bagaikan diguncang, sehingga lembaran-lembaran yang mulai menguningpun telah berguguran di tanah.

“Luar biasa” desis Ki Wastu yang melihat pertempuran itu.

Ki Kasang Jati adalah saudara tua seperguruannya. Tetapi ternyata bahwa ia telah meninggalkan kemampuan ilmunya agak jauh. Agaknya Ki Kasang Jati dalam padepokannya telah sempat menyempurnakan ilmunya jauh lebih baik dari Ki Wastu. yang dalam waktu yang lama telah direpotkan oleh anak perempuannya.

Mahisa Bungalan yang sempat melihat pertempuran itu sekilas juga mengagumi kemampuan kedua orang yang sedang bertempur itu. Ia telah mengalami pertempuran dengan murid Ki Dukut Pakering. Meskipun ia berhasil mengalahkannya, tetapi iapun harus mengerahkan puncak ilmunya, sehingga dengan demikian ia dapat menduga, betapa tinggi tingkat ilmu Ki Dukut Pakering dan Ki Kasang Jati.

Namun demikian, Mahisa Bungalan masih yakin, seandainya pamannya Mahisa Agni dan Witantra atau ayahnya ada di tempat itu, maka mereka tidak akan berada di bawah tataran ilmu kedua orang yang sedang bertempur itu.

Dalam pada itu, oleh perhatiannya yang terpecah, maka Mahisa Bungalan tidak berusaha mendesak lawannya. Namun ketika ia hampir saja dikenai oleh lawannya yang bertempur tidak hanya seorang melawan seorang itupun bagaikan menjadi sadar akan keadaannya. Dengan serta merta iapun meloncat dan memperbaiki kedudukannya.

Mahisa Bungalan mulai memperhatikan lawannya seorang demi seorang. Meskipun malam terjadi semakin gelap, tetapi ia menjadi semakin jelas melihat lekuk-lekuk wajah lawannya.

Mahisa Bungalan terkejut ketika ia melihat seseorang meloncat menghadapinya bersama beberapa orang yang lain, setelah beberapa lamanya lawan lawannya tidak berhasil mendesaknya. Dengan suara berat orang itu berkata, “Yang seorang ini harus dapat kita kuasai lebih dahulu. Baru kita akan menguasai para cantrik yang tidak banyak berarti”

“Ya” sahut yang lain, “kita menangkap orang ini. Baru kita akan dangan mudah menundukkan para cantrik”

Sejenak Mahisa Bungalan harus memperkuat pertahanannya. Namun kemudian ia sempat memperhatikan orang yang baru dalam lingkaran pertempuran melawannya itu.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak segera menyapanya Ia ingin menyakinkan, apakah yang dilihatnya itu benar-benar orang yang pernah dikenalnya.

Namun dalam pada itu, orang itupun agaknya telah terkejut pula. Bahkan nampak pada tata geraknya, bahwa ia menjadi ragu-ragu. Tetapi seperti Mahisa Bungalan, orang itupun agaknya ingin menyakinkan, siapakah sebenarnya orang yang sedang dihadapinya.

Dalam pada itu, Ki Wastupun bertempur dengan garangnya pula. Meskipun ia tidak segarang Ki Kasang Jati. Tetapi ia memiliki beberapa kesamaan. Tata geraknya dan langkah sikapnya. Bahkan dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Wastupun telah bertempur dengan dahsyatnya.

Lawan-lawannya menjadi semakin heran. Di padepokan itu ada seorang cantrik yang luar biasa. Yang jauh melampaui para cantrik yang lain, bahkan melampaui kedua Putut kebanggaan Ki Kasang Jati.

Tetapi lawan-lawan Ki Wastu tidak sempat terlalu banyak membuat pertimbangan-pertimbangan. Berbeda dengan Mahisa Bungalan, maka Ki Wastu sama sekali tidak terganggu oleh pengenalannya terhadap salah seorang lawannya.

Karena itu, maka ia pun kemudian justru berhasil mendesak lawannya yang bertempur berpasangan. Dengan loncatan-loncatan yang cepat, ia dapat membuat lawan-lawannya menjadi bingung. Bahkan ketika seorang lagi mendekatinya dan melibatkan diri, mereka masih tetap tidak dapat menguasainya.

Ki Wastu yang berloncatan itu sekali-kali sempat meninggalkan lawan-lawannya, membantu para cantrik yang harus berjuang dengan sepenuh kemampuannya melawan orang-orang yang tidak mereka kenal itu. Namun karena orang-orang terpilih telah bertempur melawan salah seorang dari tamu padepokan itu, maka tugas mereka pun tidak lagi terasa terlalu berat. Mereka masib mempunyai harapan untuk dapat tetap bertahan dalam keadaan mereka.

Ki Dukut dan Ki Kasang Jati benar-benar telah sampai kepuncak ilmu masing-masing. Tidak ada lagi yang dapat mengekang mereka melepaskan ilmu tertinggi mereka: Betapapun Ki Kasang Jati berusaha mengendalikan hatinya, tetapi menghadapi lawan yang benar-benar ingin membunuhnya, maka lambat laun kesabarannya pun menjadi semakin susut, sehingga akhirnya, Ki Kasang Jati tidak lagi berpikir untuk dapat mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya.

“Jika aku masih saja dibayangi oleh keseganan dan sikap yang terlalu ramah terhadap tamu yang seorang ini, maka akulah yang benar-benar akan terbaring inati di halaman ini. Bahkan mungkin orang gila ini benar-benar akan memenggal leherku dan membawanya bagi pemuas dendamnya” berkata Ki Kasang Jati di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka iapun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Agaknya ia memang memilih bertahan meskipun ia harus membunuh lawannya dari pada ia sendirilah yang akan terbunuh di dalam pertempuran yang sengit itu.

Pada saat pertempuran antara Ki Kasang Jati dan Ki Dukut Pakering menjadi semakin sengit, maka tiba-tiba saja Mahisa Bungalan meloncat mundur dari antara lawannya untuk mengambil jarak. Dengan suara bergetar ia kemudian menyebut sebuah nama, “Ki Selabajra”

Orang yang disebut Ki Selabajra itupun tertegun. Dengan ragu-ragu ia melangkah maju sambil berdesis, “Apakah benar penglihatanku. Bukankah kau angger Mahisa Bungalan”

“Ya. Aku Mahisa Bungalan”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pantas. Kami bertiga, berempat, bahkan sepuluh orang dari kami tidak akan dapat mengalahkannya.

“Ah. itu sangat berlebih-lebihan” desis Mahisa Bungalan.

Dengan serta merta pertempuran itu pun terhenti. Tidak saja mereka yang mengepung Mahisa Bungalan, tetapi mereka yang bertempur dengan para cantrikpun telah berhenti juga.

“Kenapa kau berada di padepokan ini ngger?“ bertanya Ki Selabajra, “jika aku belum mengenalmu, maka aku tidak akan heran bahwa seseorang dapat terlibat dalam perbuatan yang betapapun jahatnya. Tetapi karena aku sudah mengenalmu, maka aku menjadi heran, bahwa angger Mahisa Bungalan dapat terlibat disini, di-padepokan yang kotor dan penuh dengan dosa”

“Siapa yang mengatakannya Kiai?“ bertanya Mahisa Bungalan, “aku justru yang bertanya, kenapa Kiai terlibat ke dalam tindakan yang sama sekali tidak dilandasi oleh peradaban yang betapapun sederhananya”

“Apakah kau sudah jatuh ke dalam lembah yang hitam atau justru karena kau tidak mengetahui apa yang telah terjadi?“ bertanya Ki Selabajra.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah yang Kiai maksud?“

“Ki Kasang Jati, orang yang sebelumnya sangat kami takuti dan kami hormati, meskipun kami tahu, betapa dendam menyala di hatinya terhadap Ki Dukut Pakering, ternyata adalah orang yang sama sekali tidak dilandasi oleh sifat-sifat kemanusiaan yang wajar”

“Kenapa?“ bertanya Mahisa Bungalan.

Namun dalam pada itu, sebelum Ki Selabajra menjawab, terdengar Ki Dukut berteriak, “Kenapa kalian berhenti? Tangkap semua orang di padepokan ini. Aku akan menangkap orang yang dianggap gegedug ini”

“Kami tidak mempunyai waktu ngger” berkata Ki Selabajra, “jika angger memang tidak ingin terlibat lebih jauh, aku mohon angger meninggalkan tempat ini. Sebab jika Ki Dukut telah menguasai Ki Kasang Jati, maka akan datang waktunya, kau harus melawannya”

“Ki Selabajra” berkata Mahisa Bungalan, “seandainya demikian, aku tidak pernah merasa gentar menghadapi Ki Dukut Pakering. Meskipun aku tahu, bahwa ia adalah orang yang pilih tanding. Tetapi coba katakan Kiai, kenapa Kiai berada dipihaknya? Apakah Kiai tidak tahu sama sekali apa yang telah terjadi di Kediri?“

“Kematian muridnya? Pangeran Kuda Rukmasanti?“ bertanya Ki Selabajra.

“Jadi Kiai tahu? Dan apakah Kiai juga tahu, siapa yang membunuhnya dan apa sebabnya?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Tentu sekelompok orang yang dipimpin oleh Ki Kasang Jati yang ditangisi oleh adik seperguruannya, karena Pangeran Kuda Padmadata tidak lagi dapat menganggap anak perempuan saudara seperguruan Ki Kasang Jati itu sebagai isterinya. Ketamakan itulah yang telah mendorongnya melakukan perbuatan melampaui batas kewajaran, karena persoalannya sebenarnya bukan menilai dengan pembunuhan yang kemudian dilakukannya” berkata Ki Selabajra.

Dada Mahisa Bungalan tergetar mendengar jawaban Ki Selabajra, katanya, “Bukan aku yang salah pilih Kiai. Tetapi Kiai dan barangkali kawan-kawan Kiai. Yang membunuh Pangeran Kuda Rukmasanti adalah dirinya sendiri, perbuatannya sendiri, meskipun aku adalah lantarannya, sehingga kepalanya telah membentur ompak batu”

“Jadi angger Mahisa Bungalan yang telah membunuhnya?“ bertanya Ki Selabajra.

“Ya. Dan aku tahu pasti persoalannya, karena yang aku lakukan justru demi keselamatan kakak kandungnya. Pangeran Kuda Padmadata” jawab Mahisa Bungalan.

“Bohong“ tiba-tiba saja Ki Dukut berteriak, “jangan dengar kata-katanya. Orang itu terlibat terlalu jauh dalam pembunuhan itu”

“Memang aku yang membunuhnya” sahut Mahisa Bungalan. Lalu, “Ki Selabajra. jika kau tidak percaya maka kau dapat bertanya kepada Pangeran Kuda Padmadata itu sendiri. Seorang Pangeran yang hampir saja menjadi korban ketamakan gurunya sendiri”

“Bohong. Bohong” teriak Ki Dukut.

Namun Ki Dukut tidak dapat mencegah Mahisa Bungalan berkata selanjutnya. Apalagi ketika Ki Kasang Jati justru menekannya semakin berat sambil berkata, “Teruskan ngger, biarlah semua orang mendengarnya. Wastu, berhentilah sebentar. Biarlah lawan-lawanmu mendengar penjelasan angger Mahisa Bungalan”

“Bohong, jangan percaya. Perbuatan licik semacam ini memang sudah aku duga sebelumnya” teriak Ki Dukut.

“Aku berkata sebenarnya” jawab Mahisa Bungalan, “sekarang Pangeran Kuda Padmadata masih hidup dan dalam keadaan segar bugar. Kalian dapat menemuinya dan bertanya, apakah yang pernah terjadi atasnya, di istananya dan atas orang-orang yang paling dekat dengan dirinya”

“Omong kosong“ Ki Dukut masih saja berteriak.

“Aku datang bersama mertua Pangeran Kuda Padmadata yang hampir saja menjadi korban ketamakan gurunya itu”

Ki Dukut Pakering bergetar semakin keras. Bukan saja karena ia harus mengerahkan segenap kemampuannya melawan musuh bebuyutan, tetapi kata-kata Mahisa Bungalan itu benar-benar telah mempengaruhi orang-orang yang datang bersamanya.

Ternyata bahwa berkembangnya keadaan itu telah mendebarkan jantung Ki Dukut Pakering. Rasa-rasanya tidak mungkin lagi baginya untuk mempertahankan kebohongannya di hadapan orang yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan, karena ternyata ia adalah orang yang telah membunuh Pangeran Kuda Rukamasanti yang bertempur di dalam sebuah ruangan di istana Pangeran Kuda Padmadata. Apalagi ternyata di padepokan itu terdapat juga mertua Pangeran Kuda Padmadata itu sendiri.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Bungalan berkata seterusnya, “Marilah kita berbicara. Kita akan saling memberikan alasan atas sikap dan tindakan kita masing-masing”

“Persetan“ Ki Dukut Pakering berteriak. Ia mencoba mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan hentakkan yang kuat dan cepat ia menyerang Ki Kasang Jati yang agak terkejut karenanya. Namun ia masih sempat menghindar itu dengan loncatan panjang surut.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah diluar dugaannya. Demikian Ki Kasang Jati meloncat surut, maka tiba-tiba saja Ki Dukut itupun telah meloncat sambil bersuit nyaring. Bagaimanapun juga ia masih teringat kepada seorang pengikut setianya. Dengan isyarat itu, maka ia telah memberitahukan kepadanya, agar ia meninggalkan arena yang rasa-rasanya akan menjadi semakin panas baginya.

Sejenak kemudian, maka Ki Dukut itupun telah meloncati dinding padepokan, karena ia tidak sempat berlari melalui regol. Demikian juga pengikutnya yang setia itupun segera menghilang dibalik dinding. Demikian” cepatnya, sehingga beberapa orang hanya dapat menyaksikannya saja.

Tetapi Ki Kasang Jati memang sengaja tidak mengejarnya. Meskipun mungkin ia akan dapat menyusulnya tetapi lebih baik baginya untuk membiarkan Ki Dukut Pakering itu pergi meninggalkan padepokannya.

Mahisa Bungalan dan Ki Wastu pun termangu-mangu. Meraka pun tidak mengejarnya pula, karena Ki Kasang Jati sama sekali juga tidak berusaha untuk menangkap lawannya itu.

“Biarlah ia pergi” berkata Ki Kasang Jati, “meskipun itu berarti bahwa aku harus selalu bersiap-siap menunggu kedatangannya”

Tidak seorang pun yang menjawab. Beberapa orang yang datang bersama Ki Dukut itupun menjadi semakin berdebar-debar. Jika orang-orang di padepokan itu kemudian meneruskan pertempuran, maka mereka tidak akan lagi mampu bertahan. Ki Kasang Jati yang memiliki ilmu yang luar biasa itu, tentu tidak akan terlawan oleh siapapun diantara mereka.

Namun dalam pada itu, terdengar Ki Selabajra bertanya kepada Mahisa Bungalan, “Angger Mahisa Bungalan. Ternyata Ki Dukut Pakering telah meninggalkan kami begitu saja. Hal ini memang menarik perhatian kami. Bahkan telah menumbuhkan kecurigaan kami. Sekarang, aku kira kami tidak mempunyai pilihan lain daripada berbicara dengan kalian”

“Bagus” berkata Mahisa Bungalan, “aku kira Ki Kasang Jati juga tidak akan berkeberatan, karena ia tidak mempunyai persoalan apapun juga dengan kalian”

Ki Kasang Jati. yang mendengar percakapan itu pun menyahut, “Aku akan mempersilahkan kalian naik ke pendapa. Kita akan menyarungkan senjata kita, dan kita akan berbicara tentang persoalan yang sedang kita hadapi”

Sejenak suasana padepokan itu menjadi hening. Namun kemudian terdengar suara Mahisa Bungalan memecah kesepian, “Silahkan. Marilah kita berbicara”

Orang-orang yang menggenggam senjata itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian mereka pun menyarungkan senjata mereka seperti yang dikatakan olah Ki Kasang Jati. Meskipun dengan ragu-ragu, namun mereka pun kemudian naik ke pendapa.

Meskipun demikian, masih ada juga kecurigaan di antara mereka. Tanpa diatur mereka telah duduk pada pihak mereka masing-masing.

Ki Kasang Jati yang agaknya telah dapat menduga, apa yang terjadi dengan orang-orang yang telah membantu Ki Dukut Pakering itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Agaknya kita telah terdorong ke dalam satu perbuatan yang tidak kita inginkan. Aku yakin bahwa Ki Sanak semuanya tidak akan bermaksud buruk dalam tindakan yang kalian lakukan ini. Tetapi sayang, bahwa kalian telah terperosok ke dalam kelicikan sikap Ki Dukut Pakering”

“Apa yang sebenarnya terjadi?” bertanya seseorang yang bertubuh tinggi.

“Seperti yang sudah dikatakan oleh angger Mahisa Bungalan” jawab Ki Kasang Jati.

“Siapakah Mahisa Bungalan itu?“ orang itu bertanya pula.

“Inilah orangnya” jawab Ki Kasang Jati sambil menunjuk Mahisa Bungalan, “ia adalah orang yang paling tahu tentang peristiwa yang terjadi di istana Pangeran Kuda Padmadata itu. Dan orang yang di sebelahnya adalah Ki Wastu, mertua Pangeran Kuda Padmadata yang dikatakan oleh Ki Dukut, seolah-olah ia telah merencanakan perbuatan keji terhadap Pengeran Kuda Padmadata dengan bantuanku”

“Apakah kalian tidak melakukannya?“ orang bertubuh tinggi itu mendesak.

“Jangan bernada mengadili kami” sahut Mahisa Bungalan, “kalian harus mendengar kebenaran dari peristiwa itu. Tetapi jangan bersikap seperti itu, seolah-olah kalian berhak berbuat demikian terhadap kami”

Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Bungalan dengan tatapan mata yang tegang. Kata-kata Mahisa Bungalan itu terasa menyinggung perasaannya.

“Mahisa Bungalan” berkata orang itu, “kami datang untuk menghukum kalian. Kau, Ki Kasang Jati dan orang yang sebenarnya kami cari adalah Ki Wastu, mertua dari Pengeran Kuda Padmadata. Karena itu, maka untuk mengurungkan niat kami, kalian harus dapat memberikan bukti-bukti bahwa kalian memang tidak bersalah. Jika dengan demikian, kami telah mengadili kalian, maka sebenarnyalah kami ingin melakukannya sekarang. Baru jika ternyata kalian memang tidak bersalah, maka tidak akan melanjutkan niat kami menghukum kalian”

Jantung Mahisa Bungalan bergetar semakin cepat Tiba-tiba saja darah mudanya bergejolak, sehingga iapun menjawab, “Jika kalian memang datang untuk menghukum kami, lakukanlah. Baru kemudian setelah kami menyakinkan kalian, bahwa kalian tidak akan dapat berbuat demikian, baru kau akan berbicara, seperti seorang Senapati di hadapan prajurit-prajurit yang telah ditaklukan”

“Persetan” geram orang bertubuh tinggi itu.

“Apakah kalian akan mencoba?” bertanya Mahisa Bungalan. Wajah-wajah itu pun menjadi tegang. Namun tantangan Mahisa Bungalan itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Di antara mereka tidak ada lagi orang yang akan mampu mengimbangi Ki Kasang Jati, meskipun seandainya ada di antara mereka, atau beberapa orang bersama-sama, dapat melawan Mahisa Bungalan.

Namun dalam pada itu, Ki Kasang Jati berkata, “Aku kira itu tidak perlu sama sekali. Baiklah kita mulai mengurai segala peristiwa yang pernah terjadi. Dangan demikian, barulah kita akan mengambil kesimpulan dan sikap. Jika setelah kami menceriterakan segala yang kami ketahui dan kalian menilainya, barulah kita akan menentukan, apakah kalian tetap pada pendirian kalinan untuk menghukum kami, atau kalian akan mengambil sikap lain”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Dangan nada datar ia berkata, “Memang sebaiknya kita melihat peristiwa yang telah terjadi. Aku adalah orang tua perempuan yang telah menjadi isteri Pangeran Kuda Padmadata yang tentu telah dihasut oleh Ki Dukut Pakering. Yang gagak disebutnya kuntul. dan yang kuntul disebutnya gagak. Karena itu, agar tidak seperti timbangan yang berat sebelah, maka jika kalian telah mendengar satu ceritera dari Ki Dukut, dengarkanlah kini ceritera lain dalam sentuhan yang sama”

Orang-orang yang berada di pendapa itu mengangguk. Meskipun orang bertubuh tinggi itu masih nampak tegang, namun ia tidak menyahut lagi.

Ki Selabajra yang kemudian berkata, “Silahkan. Kami memang ingin mendengar ceritera dari pihak yang lain”

Ki Kasang Jati mengangguk-angguk sambil menjawab, “Demikianlah. Kalian tentu saja sudah cukup mempunyai pengalaman, sehingga akan dapat menimbang baik dan buruk. Biarlah angger Mahisa Bungalan sajalah yang menceriterakan, apa yang diketahuinya sejak awal sampai ia berada di padepokan ini”

“Silahkan ngger” desis Ki Selabajra, “aku masih mempunyai kepercayaan kepadamu”

Orang bertubuh tinggi di antara kawan-kawan Ki Dukut itu mengerutkan keningnya. Sekilas ia memandang wajah Ki Selabajra. Kemudian iapun memandangi wajah Mahisa Bungalan yang tegang.

Sejenak kemudian, Mahisa Bungalan itupun segera berceritera tentang segala peristiwa yang berhubungan dengan Pangeran Kuda Padmadata yang diketahuinya. Sejak tanpa sengaja ia telah terlibat langsung sampai akhirnya ia telah melibatkan pula paman-pamannya dan bahkan telah menitipkan anak perempuan Ki Wastu itu ke dalam lingkungan istana Singasari.

Orang-orang yang duduk di pendapa itu mendengarkan ceritera Mahisa Bungalan dengan hati yang bergejolak. Kadang-kadang tegang, kadang-kadang haru namun kadang-kadang mereka telah merasa tersinggung pula.

“Gila” geram salah seorang dari mereka, “ kita sudah ditipu oleh Ki Dukut”

Namun orang yang bertabuh tinggi itupun berdesis, “Apakah kalian percaya kepada ceritera anak muda ini?“

“Aku percaya“ Ki Selabajra lah yang menjawab, “Aku masih mempercayainya seperti yang sudah aku katakan”

“Apakah kau pernah mengenalnya sebelumnya?“ bertanya orang bertubuh tinggi itu.

“Pernah. Ia pernah tinggal di padepokanku meskipun tidak terlalu lama” jawab Ki Selabajra.

Orang bertubuh tinggi itu tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Bagiku, ceritera itu akan dapat didasari oleh sikap dan kepentingan masing-masing. Lebih baik jika kita mendengar ceritera dari kedua belah pihak pada saat yang bersamaan. Maksudku kedua belah pihak berada di satu lingkaran pertemuan. Baru kita mendengar ceritera itu secara adil”

“Jangan bodoh” sahut seorang yang bertubuh gemuk, “dengan demikian yang ada bukannya sebuah pembicaraan, tetapi tentu sebuah perkelaian”

Orang bertubuh tinggi itu menjadi tegang. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

“Begitulah Ki Sanak” berkata Ki Kasang Jati, “kalian sudah mendengar apa yang kami ketahui tentang peristiwa yang kalian dengar pula dari Ki Dukut tetapi dengan urutan kejadian dan desar berpijak yang berbeda. Terserah kepada kalian. Sebagian dari kalian telah menyatakan percaya kepada ceritera angger Mahisa Bungalan, sementara ada yang bersikap lain, kami tidak akan dapat memaksa. Terserahlah. Dan terserah pula sikap apa yang akan kalian ambil. Kami akan melayani dengan senang hati. Yang percaya, atau yang tidak percaya kepada ceritera itu”

Suasana telah menegang. Meskipun kata-kata Ki Kasang Jati itu diucapkan dengan ramah tamah dan senyum, tetapi tantangan bagi mereka yang masih berkeras hati untuk menganggap padepokan kecil itu telah melakukan banyak kesalahan, benar-benar telah mendebarkan.

Namun suasana itu pun kemudian telah dipecahkan dengan desah Ki Selabajra, “Kita telah tertipu”

Beberapa orang lainnya pun menarik nafas dalam-dalam pula. Bagi mereka yang melihat kenyataan di sekitar mereka, maka mereka akan menyadari bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan di padepokan itu, seandainya mereka tidak mempercayai ceritera Mahisa Bungalan. Namun bersama Ki Wastu dan Ki Kasang Jati, nampaknya yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu memang meyakinkan.

“Jika demikian, kita memang telah tertipu” berkata seorang yang bertubuh gemuk, “sehingga dengan demikian, apa salahnya jika mohon maaf kepada Ki Kasang Jati?“

“Ah” sahut Ki Kasang Jati, “kita masing-masing dapat saja membuat kekhilafan. Karena itu, jika hal itu sudah kita sadari, maka kita masing-masing tentu akan saling memaafkan”

“Terima kasih” desis Ki Selabajra, “untunglah bahwa di sini kami dapat bertemu dengan angger Mahisa Bungalan. Jika kami datang lebih dahulu daripadanya, mungkin keadaan akan berbeda”

“Ya. Mungkin kalian telah mencincang kami dan seisi padepokan ini” sahut Ki Kasang Jati.

“Bukan maksud kami” sahut orang yang bertubuh gemuk, “kami datang untuk menangkap Ki Kasang Jati dan membawanya kepada yang berhak untuk mengadili kesalahan yang kami kira benar-benar telah dilakukan oleh Ki Kasang Jati”

Tetapi orang bertubuh tinggi itu masih berkata, “Dan kita masih belum mendapat bukti yang meyakinkan, bahwa yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu benar”

Mahisa Bungalan memandang orang itu dengan tegang. Katanya kemudian, “Apakah kau bersedia datang kepada Pangeran Kuda Padmadata?“

“Buat apa?“ desis orang bertubuh tinggi itu.

“Untuk mendengar keterangannya, apakah yang aku katakan ini benar atau justru keterangan Ki Dukut itulah yang benar” jawab Mahisa Bungalan.

“Aku tidak terlalu bodoh untuk mengumpankan kepalaku ke mulut seekor harimau” geram orang itu.

“Kenapa? Apakah kau takut Pangeran Kuda Padmadata akan berbuat sesuatu atasmu” bertanya Mahisa Bungalan.

“Bukan Pangeran itu. Tetapi di perjalanan menuju Kediri, kau dapat saja berbuat curang dan mencelakai aku” jawab orang bertubuh tinggi.

Mahisa Bungalan menggeretakkan giginya. Darah mudanya seakan-akan telah mendidih di jantungnya. Namun Ki Kasang Jati berkata menengahi, “Sudah aku katakan. Terserahlah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Bahkan kamipun telah bersedia melayani sikap apapun yang akan kalian ambil”

Orang bertubuh tinggi itulah yang menggeram. Katanya, “Aku lebih percaya kepada Ki Dukut Pakering. Ia adalah guru Pangeran Kuda Padmadata. Dan yang dikatakannyapun lebih wajar dari ceritera Mahisa Bungalan yang seolah-olah dapat berbuat apa saja melampaui kewajaran orang lain. Aku tidak percaya bahwa Ki Dukut akan sampai hati mengorbankan muridnya. Yang lebih masuk akal bagiku adalah niat buruk Ki Wastu karena anak perempuannya tidak lagi dikehendaki oleh Pangeran Kuda Padmadata dan ditinggalkannya di padukuhan terpencil dari Kota Raja. Tetapi bahwa kemudian dengan bantuan Ki Kasang Jati telah membuat huru-hara itulah yang memang pantas untuk dihukum”

“Kau ternyata seorang yang teguh hati” sahut Ki Kasang Jati mendahului Mahisa Bungalan yang telah bergeser setapak, “aku menghargai sikapmu. Tetapi bahwa kau telah mengeraskan hati pada kekeliruan itulah pantas disesalkan. Namun demikian, aku tidak berkeberatan atas sikapmu. Pada suatu saat kau akan melihat kebenaran”

“Bukan keras hati” potong Mahisa Bungalan, “tetapi keras kepala. Jika kau yakin akan tanggapanmu atas segala peristiwa itu, apa yang akan kau lakukan?“

“Tidak ada” jawab orang bertubuh tinggi itu, “karena aku hanya seorang diri”

“Gila” geram Mahisa Bungalan, “yang berceritera tentang peristiwa yang tidak kau percaya itupun hanya aku seorang diri”

Wajah orang bertubuh tinggi itu menegang. Namun kemudian dengan geram ia berkata, “Kau akan bersikap seperti seorang laki-laki?“

“Aku sudah bersikap seperti seorang laki-laki. justru aku bertempur berhadapan dengan dua tiga orang sekaligus. Nah, apakah kau akan bersikap jantan pula“ Mahisa Bungalan sudah terlalu sulit mengendalikan perasaannya.

Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata, “Persoalannya harus dibatasi. Tetapi sebenarnya kita tidak akan memaksa kalian untuk percaya”

“Aku harus meyakinkan, apakah orang yang bernama Mahisa Bungalan dan mengaku dapat membebaskan anak perempuan Ki Wastu ini benar-banar seorang laki-laki, atau hanya seorang pemimpin”

Mahisa Bungalan menggeram. Agaknya orang bertubuh tinggi itu tidak percaya akan kemampuannya.

“Apakah ia tidak berada di arena pertempuran melawan para cantrik, putut dan aku sendiri?“ bertanya Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Namun agaknya sikap itu menunjukkan, bahwa ia benar-benar ingin mengetahui tataran kemampuan Mahisa Bungalan yang sebenarnya.

“Apakah yang sebenarnya kau kehendaki?“ tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.

Orang bertubuh tinggi itu menggeram. Dipandanginya Ki Kasang Jati dan Ki Wastu sejenak. Kemudian katanya, “Aku tidak akan menyangsikan lagi jika Ki Kasang Jati yang menceriterakan dan mengalami peristiwa itu. Mungkin hal itu juga dapat dilakukan oleh Ki Wastu, saudara seperguruan Ki Kasang Jati. Tetapi tidak oleh seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan, yang memang pernah aku dengar berada di padepokan Kenanga”

Mahisa Bungalan menggeretakkan giginya. Katanya dengan suara bergetar, “Kau siapa? Ternyata kau pernah mendengar namaku sebelumnya. Tatapi jika demikian, kenapa kau seolah-olah tidak mengenalku sama sekali?”

“Aku hanya mendengar namamu dari seorang gadis bernama Ken Padmi” desis orang bertubuh tinggi Itu.

“Cukup“ Ki Selabajra lah yang kemudian memotong, “masalahnya akan berkembang ke arah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ki Dukut Pakering dan Ki Kasang Jati di padepokan ini”

“Ada Ki Selabajra” berkata orang bertubuh tinggi itu, “aku benar-benar ingin mengetahui kebenaran berita tentang kebesaran namanya. Ternyata iapun telah dengan sombong menyebut kemampuan diri tanpa malu-malu”

“Bukan maksudku” geram Mahisa Bungalan, “jika aku menceriterakan semua peristiwa yang telah terjadi itu semata-mata karena aku ingin meyakinkan, bahwa yang dikatakan oleh Ki Dukut itu tidak benar”

“Apapun alasanmu” potong orang bertubuh tinggi itu, “tetapi kau adalah orang yang paling sombong yang pernah aku dengar dan yang pernah aku kenal namanya”

“Baiklah” jawab Mahisa Bungalan, “jika itu yang kau kehendaki, aku tidak berkeberatan”

“Tidak ada gunanya” potong Ki Selabajra, “persoalan yang kau katakan, terlalu dicari-cari dan tidak akan berarti apa-apa”

“Biarlah aku melakukannya Ki Selabajra” jawab orang bertubuh tinggi itu, “dengan demikian, semua yang pernah aku dengar bukannya sekedar ceritera”

“Kaulah yang sombong” potong seorang yang bertubuh gemuk, “kau akan membuang waktu dan tenaga tanpa arti”

“Itu persoalanku sendiri” jawab orang bertubuh tinggi itu.

“Aku tahu” jawab orang bertubuh gemuk, “ tetapi terserahlah. Aku dan kawan-kawan yang lain tidak ikut campur”

“Ini adalah suatu sikap yang gila” geram Ki Selabajra, “kau ternyata lebih gila dari orang lain yang pernah dikenal di padepokan Kenanga”

“Mungkin Ki Selabajra. Tetapi dengan, demikian Ki Selabajra akan yakin terhadap kemampuanku” desis orang bertubuh tinggi itu, “aku tidak hanya sekedar dapat mengalahkan murid-murid Ki Selabajra yang tidak berarti apa-apa itu. Tetapi juga orang yang namanya pernah di sebut-sebut oleh orang-orang di padepokan Ki Selabajra dan yang agaknya tidak pernah dilupakan oleh Ken Padmi”

“Cukup” potong Ki Selabajra.

Namun ternyata bahwa perasaan Mahisa Bungalan telah tersinggung karenanya. Karena itu maka katanya, “Aku siap, apapun yang harus aku lakukan”

“Bagus” sahut orang bertubuh tinggi yang dengan serta merta telah bangkit dan melangkah turun dari tangga pendapa.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Ki Wastu dan Ki Kasang Jati, “Maaf, agaknya aku telah terseret ke dalam satu persoalan yang kurang aku mengerti. Tetapi biarlah aku melayaninya”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil menepuk bahu Mahisa Bungalan ia berkata, “Berhati-hatilah. Tanpa bekal apapun ia tidak akan berbuat demikian. Aku melihat betapa ia memiliki kemampuan dalam pertempuran melawan salah seorang Putut terpercaya dari padepokan ini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang bertubuh tinggi itu telah bertempur melawan seorang Putut dari padepokan Ki Kasang Jati di lingkaran pertempuran yang terpisah dari arena, pertempuran Mahisa Bungalan.

Sejenak kemudian Mahisa Bungalan pun talah bangkit pula diikuti beberapa orang yang lain. Sementara Ki Selabajra mendekatinya sambil bergumam, “Buatlah ia jera. Tetapi aku mohon baginya, agar kesombongannya diampuni”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling memandang wajah Ki Selabajra, terbayang kecemasan yang sangat pada sorot matanya.

Tanpa menjawab sama sekali Mahisa Bungalan pun kemudian turun pula ke halaman diikuti oleh beberapa orang yang memasuki padepokan itu bersama Ki Dukut serta kedua orang Putut terpercaya dari padepokan itu. Para cantrikpun ternyata beringsut pula mendekat, berdiri pada sebuah lingkaran yang memagari Mahisa Bungalan dan orang yang bertubuh tinggi itu.

“Kalian menjadi saksi” berkata orang bertubuh tinggi itu, “aku akan menunjukkan kepada Mahisa Bungalan, bahwa nama yang ditinggalkan di padepokan Ki Selabajra bukanlah nama yang pantas dikagumi dan selalu dikenang oleh penghuni-penghuninya. Jika ia dapat sekedar menunjukkan, kelebihannya terhadap seorang gadis, maka bagiku, itu bukannya satu kelebihan yang sebenarnya bagi seorang laki-laki”

Mahisa Bungalan menggeram. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah bersiap. Betapapun dinginnya malam, namun dikening mereka telah mengembun keringat yang membasah.

Ki Kasang Jati yang berdiri di sebelah Ki Wastu menjadi berdebar-debar juga. Tetapi ia tidak mengerti, perkembangan apakan yang sebenarnya terjadi di hati mereka, sehingga tiba-tiba saja mereka seolah-olah telah berdiri sebagai lawan yang saling mendendam.

Ki Selabajra menjadi berdebar-debar. Ternyata ia lebih banyak mengetahui persoalan yang berkembang di dalam hati kedua orang itu. Apalagi karena orang bertubuh tinggi itu telah menyebut nama Ken Padmi.

“Tidak aku duga sama sekali” berkata Ki Selabajra di dalam hatinya, “bahwa aku akan menjumpai peristiwa ini”

Namun Ki Selabajra tidak dapat mencegahnya lagi. Kedua orang itu telah berkata berkeras hati untuk menunjukkan bahwa masing-masing adalah seorang laki-laki yang memiliki harga diri.

Sejenak kemudian, keduanya telah mulai bergeser. Ketika Mahisa Bungalan merendah, maka orang bertubuh tinggi itu telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Pertempuran yang sengitpun segera terjadi. Orang bertubuh tinggi itu ingin menyelesaikan pertempuran itu dalam waktu yang singkat. Semakin singkat maka ia akan semakin meyakinkan bagi orang lain, bahwa Mahisa Bungalan bukanlah orang yang harus di kagumi.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak membiarkan dadanya dipecahkan oleh lawannya. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk menghindari setiap serangan. Betapa cepatnya orang bertubuh tinggi itu bergerak namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan mampu mengimbanginya.

Agak berbeda dengan orang bertubuh tinggi itu, Mahisa Bungalan tidak bernafsu, untuk mengalahkan lawannya secepat-cepatnya. Meskipun ia juga ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kelebihan dari lawannya, tetapi ia mempunyai cara yang berbeda. Di hadapan Ki Wastu, Ki Kasang jati dan Ki Selabajra, Mahisa Bungalan tidak dapat membiarkan perasaannya bergejolak tidak terkendali. Bagaimanapun juga ia masih harus memperlihatkan, bahwa orang-orang itu akan menilai sikap dan perbuatannya. Bahkan bukan mereka sajalah yang akan menilainya, tetapi yang mereka lihat itu akan merambat lewat mulut kemulut, sehingga akan terdengar oleh banyak orang lain yang pernah mengenalnya Ki Wasku akan bercerita kepada paman-pamannya Mahisa Agni danWitantra, dan bahkan kepada ayahnya dan tentu akan terdengar pula oleh Pangeran Kuda Padmadata. Sedangkan lewat Ki Selabajra maka kemungkinan benar, seorang gadis yang disebut-sebut oleh orang bertubuh tinggi dan bernama Ken Padmi itupun akan mendengar pula, bagaimana ia mengalahkan lawannya tanpa bersikap kasar.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan telah mengambil sikap tersendiri. Ia tidak ingin mengalahkan lawannya dalam waktu yang singkat, tetapi ia ingin menunjukkan bahwa lawannya yang telah mengerahkan segenap kemampuannya itu dapat dikalahkannya tanpa membasahi tubuhnya dengan keringat.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun kemudian tidak terlalu banyak membalas-serangan dengan serangan. Hanya pada saat-saat ia terdesak, maka ia pun berusaha untuk memperbaiki keadaannya dengan beberapa serangan. Selebihnya, ia lebih banyak bertahan dan menghindar.

Dengan caranya Mahisa Bungalan ingin membiarkan lawannya kehabisan tenaga dan berhenti dengan sendirinya. Dengan demikian maka setiap orang akan dapat menilai, bahwa bagi Mahisa Bungalan orang bertubuh tinggi itu tidak banyak berarti.

Namun ternyata orang bertubuh tinggi itu telah mengerahkan segenap kemampuannya pada serangan-serangan pertamanya. Seperti yang dikehendaki, ia ingin menjatuhkan lawannya dalam waktu sekejap. Kemudian dengan bangga ia akan menepuk dada sambil berkata, “Inilah Mahisa Bungalan yang disebut-sebut orang. ia dapat aku kalahkan sebelum sepenginang”

Tetapi ternyata bahwa usahanya itu tidak segera berhasil. Orang bertubuh tinggi itu merasa bahwa ia selalu berhasil mendesak lawannya. Hanya sekali-kali saja ia harus menghindar dan meloncat surut. Namun kemudian ia berhasil menekan lawannya tanpa banyak mendapat perlawanan kecuali loncatan-loncatan menghindar dan sekali-kali serangan balasan yang tidak berarti.

Ki Selabajra yang berdiri di tepi arena itu menjadi berdebar-debar. Ia memang melihat orang bertubuh tinggi iu selalu mendesak lawannya. Dan iapun melihat betapa Mahisa Bungalan berloncatan menghindar. Namun demikian tidak satu kalipun orang bertubuh tinggi itu berhasil menyentuh tubuh Mahisa Bungalan.

Untuk beberapa saat, orang bertubuh tinggi itu masih menunjukkan kemampuannya. Sekali-sekali Mahisa Bungalan dengan sengaja memberikan kemungkinan kepada lawannya. Namun apabila lawannya mulai menyerangnya, maka iapun segera bergeser menghindar.

Namun dalam pada itu, kemarahan lawannya bagaikan telah membakar rongga dadanya. Ia masih belum menyadari, apa yang sebenarnya terjadi. Yang bergejolak di hatinya adalah harga dirinya yang memaksanya untuk bertempur melawan Mahisa Bungalan.

Tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat mengalahkannya. Meskipun menurut perhitungannya, Mahisa Bungalan pun tidak dapat mengalahkan pula. Pada saat-saat terakhir, maka tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Setiap kali mengayunkan tangan atau kakinya, maka iapun telah terhuyung-huyung sehingga orang bertubuh tinggi itu harus berjuang untuk mempertahankan keseimbangannya.

Dengan demikian, maka orang itu akhirnya merasa, bahwa kesempatan untuk mengalahkan Mahisa Bungalan telah habis sama sekali. Apabila mengalahkan dengan cepat untuk membuktikan bahwa ia memiliki banyak kelebihan dari anak muda itu.

Tetapi bagaimana juga, ia masih mempunyai kebanggaan bahwa Mahisa Bungalan tidak dapat mengalahkannya. Sehingga dengan demikian, ia akan dapat menepuk dada. bahwa orang yang memiliki nama yang dikagumi di padepokan Kenaga itu sama sekali tidak lebih dari dirinya sendiri.

Meskipun demikian, keinginannya untuk mengalahkan lawannya ternyata tidak dapat dikekangnya. Ketika Mahisa Bungalan dengan dada terbuka tegak di hadapannya, maka dengan serta merta ia telah melangkah maju sambil menjulurkan tangannya menghantam dada anak muda yang nampaknya lengah itu.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak membiarkan dadanya dikenai lawannya. Karena itu, maka iapun bergeser hanya setapak surut, sehingga tangan orang bertubuh tinggi itu tidak mengenainya.

Namun karena jarak itu nampaknya hanya demikian dekatnya, maka orang bertubuh tinggi itu telah memburunya Selangkah ia memaksa kakinya melangkah dan sekali lagi ia mengayunkan tangannya dengan sisa tenaga yang ada padanya. Ia merasa bahwa serangan berikutnya itu tentu tidak akan luput lagi, sehingga karena itu, maka dikerahkannya segenap tenaga dan justru berat badannya.

Mahisa Bungalan tidak bergeser surut. Tetapi ia meloncat kesamping. Karena itulah maka orang bertubuh tinggi itu telah terseret oleh hentakkan tangannya dan berat badannya sendiri, sehingga iapun terhuyung-huyung jatuh tertelungkup.

Kedua tangannya berusaha menahan berat badannya. Tetapi ketelahan yang sangat telah memaksanya untuk menyentuh tanah dengan wajahnya yang berkeringat.

Ketika kemudian ia mengangkat wajah itu, maka wajah itu telah dilekati debu yang kelabu kehitam-hitaman.

Orang itu tertatih-tatih berdiri sambil menggeram. Dengan lengannya ia mengusap wajahnya yang kotor itu. Namun kemudian ia masih sempat menggeram, “Kita akan bertempur dengan sisa tenaga kita sampai salah seorang dari kita yakin telah memenangkan pertempuran ini”

Mahisa Bungalan yang berdiri tegak memandanginya dengan tajamnya. Agaknya di mata orang bertubuh tinggi itu, Mahisa Bungalan pun telah kehabisan tenaga. Namun sebenarnyalah meskipun keringat Mahisa Bungalan juga membasahi seluruh tubuhnya, namun ia masih menyimpan sebagian besar dari tenaganya.

Untuk beberapa saat Mahisa Bungalan termangu-mangu. Ia bergeser selangkah ketika lawannya itu menyerangnya. Sekali lagi orang itu terjerembab. Dan sekali lagi ia berusaha untuk bangkit sambil menggeretakkan giginya.

“Apakah kau masih belum puas?“ tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.

“Kau menyerah?“ bertanya orang bertubuh tinggi itu.

“Jangan gila” geram Mahisa Bungalan, “seharusnya kau dapat menilai keadaan. Kaulah yang harus mengakui kekalahan. Kemudian perkelahian ini dapat kita hentikan”

“Jangan mengigau” geram orang bertubuh tinggi itu, “jika kau sudah tidak mampu lagi bergerak, menyerahlah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin membuktikan bahwa kau tidak lebih baik dari aku. dan bahwa kau sudah aku kalahkan”

“Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan, “sebenarnya aku tidak bernafsu untuk menunjukkan kemenanganku atasmu. Tetapi kau sudah menyebut nama seorang gadis di padepokan Kenanga. Kaupun telah menyebut berapa orang-orang padepokan itu mengenal namaku. Karena itu, aku memang wajib mempertahankannya. Dan ternyata kau adalah orang yang tidak tahu diri”

“Cukup. Jika kau masih berkicau lagi, aku akan menyobek mulutmu” bentak orang bertubuh tinggi itu.

“Ki Sanak. Cobalah melihat kenyataanmu. Dengan sentuhan jariku aku dapat membantingmu jatuh”

Orang itu ternyata menjadi semakin marah. Dengan serta merta ia berusaha menyerang Mahisa Bungalan. Tetapi Mahisa Bungalan yang sudah jemu bermain-main tidak membiarkan orang itu tersuruk dan jatuh. Namun demikian ia terhuyung-huyung di hadapannya, maka iapun segera menangkap tengkuknya sambil menggeram, “Cobalah melawan. Aku dapat membenturkan kepalamu pada dinding batu itu. Atau dengan satu pukulan aku dapat memecahkan tulang kepalamu ini”

Orang itu meronta. Tetapi tangkapan tangan Mahisa Bungalan bagaikan himpitan sebuah bukit padas. Bahkan terasa tangan itu semakin lama semakin menghimpit tengkuknya.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi kian tegang. Ada di antara mereka yang tidak mengetahui dengan pasti, apa yang telah terjadi, sehingga merekapun telah terkejut melihat akhir dari pertempuran itu. Mereka menyangka bahwa Mahisa Bungalan pun telah menjadi sangat telah dan kehabisan, tenaga. Namun ternyata bahwa justru pada saat terakhir, Mahisa Bungalan telah berubah manjadi sangat garang.

Tetapi beberapa orang memang telah mengetahui, bahwa Mahisa Bungalan ingin mengalahkan lawannya dengan caranya. Ia ingin menunjukkan bahwa seolah-olah ia membiarkan saja lawannya sehingga ia telah menyerah kepada keadaan.

Sebenarnyalah bahwa orang bertubuh tinggi itu sudah tidak berdaya sama sekali. Ketika Mahisa Bungalan menggerakkan tengkuknya, tubuhnya bagaikan terombang-ambing tanpa dapat bertahan sama sekali.

Akhirnya Mahisa Bungalan pun melepaskannya dengan mendorongnya sedikit ke samping. Namun dorongan yang sedikit itu ternyata telah membantingnya jatuh.

Terdengar orang itu menyeringai. Namun kemudian sambil mengumpat ia berusaha untuk meloncat bangkit. Namun demikian ia berdiri pada lututnya, maka iapun telah teriatuh kembali dengan lemahnya.

“Bangkitlah” geram Mahisa. Bungalan yang berdiri tegak selangkah disampingnya, “apakah kau masih belum melihat kenyataan ini”

Sorot mata orang itu bagaikan bara api yang menyala oleh kemarahan yang tidak terkendali. Tetapi tubuhnya benar-benar telah kehabisan tenaga. Ia tidak lagi mampu bangkit, apalagi berdiri bertolak pinggang seperti Mahisa Bungalan.

“Aku dapat mematahkan lehermu setiap saat aku kehendaki” geram Mahisa Bungalan, “ tetapi aku ingin agar kau yakin, bahwa kau bukan apa-apa bagiku”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya anak muda itu benar-benar telah menjadi sangat marah. Ia tidak pernah melihat Mahisa Bungalan demikian sombongnya. Seakan-akan dengan sengaja ia ingin menunjukkan betapa dirinya adalah seorang anak muda yang luar biasa.

Dalam pada itu Ki Selabajra lah yang kemudian melangkah maju sambil berkata, “Aku tidak pernah sangsi, bahwa demikianlah akan jadinya. Tetapi agaknya anak itu tidak akan percaya sebelum ia mengalaminya”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat orang yang bertubuh tinggi itu seakan-akan telah kehabisan tenaga. Tulang belulangnya seakan-akan telah dilolosi dari tubuhnya. Namun demikian, sorot matanya masih memancarkan dendam dan kebencian, sehingga karena itulah, maka kemarahan Mahisa Bungalan tidak segera susut karenanya. Dengan jantung yang berdentangan ia menggeram, “Nah, katakan sekarang. Apa yang dapat kau lakukan? Apakah kau masih akan mengatakan, bahwa aku tidak berarti apa-apa bagimu?“

Orang bertubuh tinggi itu sama sekali tidak menjawab. Sementara Ki Selabajra yang berkata, “Maafkan anak itu ngger”

Wajah Mahisa Bungalan masih menegang. Justru sekilas ia membayangkan seorang gadis yang cantik, yang telah, dapat menyentuh perasaan. Seorang gadis padepokan yang bernama Ken Padmi, yang namanya justru telah disebut-sebut oleh orang bertubuh tinggi yang telah dikalahkannya itu.

Ki Selabajra kemudian mendekati orang bertubuh tinggi itu. Kemudian katanya, “Kau tidak dapat mengingkari kenyataan. Ternyata kau memang bukan apa-apa bagi Mahisa Bungalan. Lihatlah. Pada saat kau sudah kehabisan tenaga, angger Mahisa Bungalan sama sekali tidak nampak susut kemampuannya. Ia masih tetap seperti saat kalian mulai menjajagi kemampuan masing-masing”

Orang bertubuh tinggi itu tidak menjawab. Tetapi ketika Ki Selabajra membantunya untuk berdiri, maka orang bertubuh tinggi itu telah mengibaskan tangannya sambil menggeram, “Aku dapat berdiri sendiri”

“Cobalah” desis Ki Selabajra, “berdirilah”

Orang itu duduk sambil bertelekan pada kedua tangannya. Ketika ia memandang berkeliling, dan melihat wajah-wajah yang tegang, terdengarlah ia menggeram. Tetapi akhirnya ia benar-benar harus melihat kenyataan. Tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Seandainya Mahisa Bungalan ingin berbuat sesuatu, ia benar-benar sudah tidak mampu melawannya lagi.

Tetapi ia tidak mau mengakuinya di hadapan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu. Apapun yang akan terjadi, ia tetap mengeraskan hatinya tanpa menyatakan kekalahannya.

Mahisa Bungalan masih berdiri tegak. Namun sikap Ki Selabajra telah mengurangi panasnya bara di dalam hatinya.

“Sudahlah ngger” desis Ki Wastu kemudian ditelinganya, “biarlah ia bertahan pada kesombongannya. Tetapi ia tidak dapat menipu dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa atas anak muda yang bernama Mahisa Bungalan”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Terserahlah kepada orang itu. Kadang-kadang aku juga merasa perlu untuk menyombongkan diri”

“Angger benar” berkata Ki Wastu, “tetapi apakah setelah setiap orang mengetahui kemenangan angger, angger masih harus menyombongkan diri?“

Mahisa Bungalan termangu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Orang itu terlalu tinggi hati. Aku merasa sangat kesal menghadapinya“

“Tetapi angger menghadapi masalah-masalah yang agaknya jauh lebih penting dari orang itu“ desis Ki Wastu, “agaknya Ki Kasang Jati juga menunggu, apakah perkelahian ini dapat dianggap sudah selesai”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berhasil menenangkan hatinya. Sekilas dilihatnya orang yang keras hati dan keras kepala itu. Tetapi iapun kemudian berdesis, “Aku tidak peduli lagi apa yang akan dilakukannya”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam.

“Jika demikian, kau dapat meninggalkan orang itu apapun yang dilakukannya” desis Ki Wastu.

Mahisa Bungalan bergeser setapak. Kemudian katanya kepada Ki Kasang Jati, “ Aku tidak mempunyai kepentingan lagi terhadapnya”

“Baiklah ngger” berkata Ki Kasang Jati, “marilah, aku mempersilahkan kalian naik ke pendapa. Kita dapat duduk dengan tenang, berbicara dengan baik tanpa prasangka. Kita sudah berhasil melenyapkan salah sangka yang ditimbulkan oleh Ki Dukut, sehingga kita tidak ingin terlibat ke dalam persoalan yang tidak ada artinya sama sekali”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Sementara Ki Wastu berdesis, “Marilah, kita naik ke pendapa”

Ki Kasang Jati, Ki Wastu diikuti oleh beberapa orang yang ada di halaman itu naik ke pendapa, sementara Mahisa Bungalan untuk beberapa saat masih memandang lawannya yang ternyata tidak dapat melupakan sikapnya yang sangat menjengkelkan. Tetapi Mahisa Bungalan sudah bertekad untuk tidak mempedulikannya lagi.

Ki Selabajra lah yang terakhir naik ke pendapa. Ia masih berada di halaman bersama orang bertubuh tinggi itu. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Marilah, naiklah ke pendapa, perasaan apapun yang ada di dalam hatimu”

Orang itu tidak menjawab.

“Kita adalah tamu-tamu yang deksura dan tidak tahu diri. Kita datang dengan niat buruk. Tetapi kita sekarang mendapat tanggapan yang sangat baik dari Ki Kasang Jati. Sama sekali bukan karena wibawa kita, karena kita tidak akan mampu berbuat apa-apa di hadapannya, apalagi di sini ada angger Mahisa Bungalan dan saudara seperguruan Ki Kasang Jati itu”

Orang itu tetap tidak menjawab.

“Marilah” desak Ki Selabajra, “sikapmu dapat membuat hati orang yang betapapun sabarnya menjadi panas. Dan hal itu sama sekali tidak menguntungkanmu. Atau, kau akan terlempar ke dalam suatu keadaan yang asing di tempat ini karena pokalmu sendiri”

Orang itu sempat memikirkan kata-kata Ki Selabajra. Karena itu, maka iapun kemudian beringsut dan berdesis, “Silahkan naik. Aku akan menyusul”

“Kita naik ke pendapa bersama-sama” berkata Ki Selabajra.

Orang itu tidak membantah lagi. Iapun kemudian berjalan tertatih-tatih. Namun ia memaksa diri untuk tegak sebaik-baiknya, seolah-olah ia sama sekali tidak mengalami kesulitan karena kekalahannya. Sejenak kemudian orang-orang yang berdatangan di padepokan itu telah duduk di pendapa. Meskipun suasananya tidak begitu akrab, tetapi semakin lama mereka menjadi semakin mengerti yang satu dengan yang lain.

Orang-orang yang datang bersama Ki Dukut memang merasa, bahwa orang yang bernama Ki Kasang jati itu agaknya, tidak akan dapat melakukan seperti yang dikatakan oleh Ki Dukut Pakering. Menilik sikap dan kata-katanya, maka Ki Kasang adalah orang yang sudah jauh lebih mengendap dari pada mereka yang lain, yang berada di pendapa itu, termasuk juga Ki Dukut Pakering sendiri.

Untuk beberapa saat mereka masih berbincang dan melihat keadaan mereka dari berbagai segi. Akhirnya, mereka berkesimpulan untuk melupakan saja apa yang pernah terjadi.

“Tidak ada dendam dan pembalasan” berkata Ki Kasang Jati, “kami di sini mengerti, bahwa kalian tidak bermaksud buruk”

“Terima kasih” desis salah seorang dari mereka yang datang padepokan itu atas permintaan Ki Dukut, “kami merasa, betapa sejuk hati Ki Kasang Jati. Kami benar-benar merasa bersalah telah datang ke padepokan ini. Ketika kami mendengar permintaan Ki Dukut dengan alasan-alasannya yang nampaknya sangat kuat, ditambah karena menurut penglihatan kami, Ki Dukut adalah guru dari Pangeran Kuda Padmadata, maka kami sama sekali tidak mengira bahwa kami telah terjebak ke dalam suatu keadaan yang salah sama sekali”

“Sudahlah” berkata Ki Kasang Jati, “sekali lagi aku minta, agar semuanya dapat kita lupakan. Justru kehadiran kalian telah menambah jumlah saudara-saudara kami di sini. Yang semula kita sama sekali tidak saling mengenal, maka kini kami mempunyai saudara yang lebih banyak. Pada suatu perjalanan yang mungkin kami lakukan, maka kami akan mendapat tempat persinggahan yang lebih banyak dari masa sebelumnya”

“Sikap Ki Kasang Jati sangat menyentuh perasaan kami” berkata Ki Selabajra, “ternyata di sini kami menjumpai cermin yang dapat menunjukkan cacat di dalam hati kami. Betapa dungunya kami, dan betapa kasarnya sikap dan tindakan kami. Namun seperti yang Ki Kasang Jati katakan, kami akan sangat senang menerima Ki Kasang Jati apabila benar-benar Ki Kasang Jati sempat singgah di padepokan kami”

Ki Kasang Jati tertawa. Katanya, “Aku sudah tua. Tetapi sekali timbul keinginan di dalam hati untuk melakukan perjalanan agar di saat terakhir aku sempat melihat betapa luasnya bumi Kediri dan Singasari, dan terlebih-lebih lagi betapa besarnya ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa”

“Kami menunggu” desis Ki Selabajra, “juga kami menunggu kehadiran angger Mahisa Bungalan. Aku sama sekali tidak menduga bahwa di sini kita akan bertemu.

Kehadiran orang-orang yang tidak diundang itu, akhirnya telah berada dalam suasana yang lain sama sekali dengan saat kedatangan mereka. Para cantrik yang semula telah terlihat ke dalam pertempuran, betapapun lemahnya mereka, kemudian harus menjamu mereka yang duduk di pendapa itu.

Tetapi karena Ki Kasang Jati nampaknya benar-benar telah melupakan apa yang baru saja terjadi, maka para cantrik pun telah berusaha pula melakukannya, meskipun ada satu dua diantara mereka yang telah terluka. Namun dengan obat-obatan yang ada di padepokan itu, mereka telah diobati sebaik-baiknya oleh kawan-kawan mereka.

Ternyata bahwa orang-orang yang semula bermaksud melakukan hukuman itu telah berada di pedukuhan itu dalam suasana yang sebaliknya. Mereka segera dapat menyesuaikan diri dan benar melupakan apa yang telah terjadi.

Namun, orang yang bertubuh tinggi itu benar-benar tidak dapat melupakan apa yang telah dialaminya. Ia tidak dapat melupakan orang yang bernama Mahisa Bungalan itu. Persoalannya sama sekali tidak lagi berhubungan dengan Ki Kasang Jati. Tetapi persoalannya akan menyangkut nama seorang gadis. Ken Padmi.

Meskipun demikian, orang bertubuh tinggi itu tidak dapat mengingkari kenyataan. Ia sudah dikalahkan oleh Mahisa Bungalan. Bahkan iapun kemudian menangkap kesan dari pembicaraan setiap orang, bahwa Mahisa Bungalan tidak bertempur dengan sepenuh kemampuannya. Jika Mahisa Bungalan berniat mengalahkannya dalam sekejap, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Hari berikutnya orang-orang itu masih tetap berada di rumah Ki Kasang Jati. Namun dalam pembicaraan merekapun menyadari bahwa dalam keadaan yang demikian Ki Dukut Pakering justru akan berkisar, mengarahkan dendamnya kepada mereka.

“Tetapi ia tidak mempunyai pengikut lagi” berkata Ki Selabajra, “jika kita mempersiapkan seisi padepokan kita masing-masing, maka kita berharap akan dapat bertahan melawannya. Betapapun juga ia bukan iblis yang tidak terkalahkan”

“Bagaimanapun juga, kita semuanya memang harus mempersiapkan diri” berkata salah seorang dari mereka, “pada suatu saat mungkin kita akan saling berhubungan. Agaknya Ki Dukut Pakering adalah orang yang licik dan dapat berbuat apa saja untuk kepentingannya tanpa menghiraukan orang lain”

Ki Kasang Jati akhirnya melihat, betapa orang yang bernama Ki Dukut Pakering itu dapat menimbulkan ketakutan di beberapa tempat. Bagaimanapun juga, ia adalah orang yang berbahaya. Orang yang merasa hidupnya telah diguncang oleh kegagalan demi kegagalan, sehingga apa yang dilakukan kemudian, tentu hanya sekedar luapan dendam dan kebencian.

“Orang itu akan menjadi seekor ular berbisa di sebuah taman yang banyak dikunjungi oleh mereka yang ingin menemukan ketenangan yang ceria” berkata Ki Kasang Jati kemudian, “atau seperti seekor harimau di hutan rindang yang dihuni oleh rusa dan kijang”

“Ya. Ki Kasang Jati benar“ orang yang bertubuh gemuk itu menyahut, “mungkin kita dapat mempersiapkan seluruh isi padepokan kami untuk menghadapinya. Tetapi sekali waktu kita dapat bertemu di perjalanan. Atau tiba-tiba saja ia menjumpai salah seorang dari kita di tengah-tengah sawah dan pategalan selagi kita bekerja”

“Kau benar Ki Sanak” sahut seorang yang lain.

Sementara itu, Ki Kasang Jati merasa betapa kecemasan telah tersebar. Maka dengan nada yang berat ia berkata, “Kita memang harus berburu di hutan rindang, tetapi sangat luas”

“Tepat” sahut Ki Wastu, “aku tidak berani mengatakannya, meskipun aku sudah memikirnya. Kita memang harus pergi berburu. Kita tidak dapat menunggu seekor demi seekor kijang dan rusa itu binasa diterkam oleh seekor harimau yang garang”

“Tetapi daerah perburuan itu terlampau luas” berkata Ki Kasang Jati.

“Kita tidak sendiri” sahut Mahisa Bungalan, “kita akan dapat membagi diri dalam beberapa kelompok. Terlebih-lebih lagi, Pangeran Kuda Padmadata di Kediri, tentu akan dapat membantu kita. Pasukan pengawalnya cukup banyak. Sementara paman-pamanku, paman Mahisa Agni, paman Witantra dan ayahku, Mahendra, tentu akan bersedia membantu dengan caranya. Mungkin tidak akan dapat melakukannya sepenuhnya seperti yang dapat kita lakukan. Tetapi di mana mereka berada akan dapat menjadi lubang-lubang jerat baginya”

Orang-orang yang berada di pendapa itu nampak tertarik sekali dengan pendapat Mahisa Bungalan. Apalagi ketika Mahisa Bungalan menyebut beberapa nama, bahkan nama Pangeran Kuda Padmadata, murid Ki Dukut Pakering sendiri.

Sebenarnyalah bahwa yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu dapat memberikan sedikit ketenangan bagi mereka yang dicemaskan oleh dendam Ki Dukut Pakering. jika benar beberapa nama itu akan dapat membantu mereka, maka Ki Dukut pun tentu memperhitungkan segala kemungkinan. Apalagi jika kemudian para pengawal di Kediri atau bahkan sepasukan prajurit Singasari akan dapat ikut serta menjaring ular berbisa itu.

“Kami akan segera kembali” berkata Mahisa Bungalan, “kami akan segera mulai dengan perburuan itu. Sebelumnya kami minta setiap padepokan dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan”

“Kami akan melakukannya” berkata Ki Selabajra, “meskipun aku seorang diri tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Dukut. Tetapi seluruh isi padepokan kami, mungkin masih harus diperhitungkan oleh orang yang luar biasa itu. Apalagi jika kita memang sudah benar-benar bersiap”

“Kita harus memperhitungkan waktu sebaik-baiknya” desis Ki Kasang Jati. Karena itu, maka angger Mahisa Bungalan pun harus segera bertindak”

Mahisa Bungalan mengerti, bahwa Ki Dukut bukan seorang yang bermalas-malas menunggu kesempatan datang kepadanya. Tetapi Ki Dukut Pakering adalah orang yang memburu kesempatan. Ia bertindak cepat dan tegas. Selebihnya, Ki Dukut sama sekali tidak mempertimbangkan cara apakah yang akan dipergunakannya untuk memenuhi maksudnya. Ia tidak mempunyai pertimbangan kemanusiaan dan apalagi pertanggungan jawab bagi masa langgengnya.

Karena itu, maka ia pun harus bertindak cepat pula untuk mengimbangi langkah yang akan diambil oleh Ki Dukut Pakering. Sehingga iapun memutuskan untuk segera kembali ke Kediri dan menyampaikan masalah yang dijumpainya di padepokan Ki Kasang Jati itu kepada Pangeran Kuda Padmadata.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan telah mulai diganggu lagi dengan nama seorang gadis yang pernah dijumpainya. Nama yang tiba-tiba telah disebut oleh seorang yang bertubuh tinggi, yang tanpa alasan yang dapat dimengertinya, seolah-olah telah mendendamnya.

Karena itulah, maka pada satu kesempatan yang khusus ia telah bertanya kepada Ki Selabajra. siapakah sebenarnya orang yang bertubuh tinggi itu.

Ki Selabajra sudah mengira, bahwa pada suatu kesempatan Maisa Bungalan tentu akan bertanya kepadanya tentang orang bertubuh tinggi, yang justru telah menyebut pula nama Ken Padmi.

Karena itu ketika pada saat mereka sempat berbicara berdua dan Mahisa Bungalan benar-benar bertanya tentang orang bertubuh tinggi itu, Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam sambil menjawab, “Ia orang baru di padepokanku. ngger”

“Apakah ia juga murid Ki Selabajra?“ bertanya Mahisa Bungalan kemudian.

“Bukan. Ia bukan muridku. Ia memiliki kemampuan yang hampir seimbang dengan kemampuanku” jawab Ki Selabajra.

“Jadi. siapakah orang itu?“ desak Mahisa Bungalan. Ki Selabajra mengerutkan keningnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Aku tidak tahu, di mana ia mengenal Ken Padmi. Tetapi akhirnya ia datang ke padepokanku. Ia memang mengatakan, bahwa ia ingin berguru kepadaku, tetapi aku mengerti, bahwa ia memiliki ilmu yang cukup tinggi menurut tataran padepokanku. Sehingga karena itu, maka aku minta ia berada di padepokan bukan sebagai murid”

“Ia berasal dari mana?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Ia juga anak padepokan. Tidak terlalu jauh dari padepokanku. Mungkin ia pernah melihat Ken Padmi di sawah, di pasar atau entah di mana. Keduanyapun kemudian berkenalan, juga entah di mana dan sejak kapan. Namun akhirnya orang bertubuh tinggi itu telah berusaha untuk selalu berada di dekat Ken Padmi” berkata Ki Selabajra.

Dan tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya, “Apakah Gemak Werdi masih sering beradu di padepokan?“

Pertanyaan itu ternyata teluh menyentuh perasaan Ki Selabajra. Bagaimanapun juga, agaknya Mahisa Bungalan masih juga dapat mengenang apa yang pernah dialaminya lahir dan batin di padepokannya.

Karena itu, dengan nada dalam ia bertanya, “Ia jarang sekali datang ke padepokan, ia merasa dirinya telah terasing karena kedatangan anak yang sombong itu”

Mahisa Bungalan menarik nafas panjang. Sementara itu, Ki Selabajra berkata, “Tetapi bagaimanapun juga yang telah terjadi, dan apapun yang sudah dikatakan oleh Ken Padmi tentang dirinya dan orang-orang yang berhubungan dalam sentuhan batin dengan gadis itu, namun ia masih tetap selalu menyebut nama angger Mahisa Bungalan” Ki Selabajra berhenti sejenak, lalu, “Aku mohon maaf ngger. Aku memang orang tua yang tidak tahu diri dan terlebih-lebih lagi tidak tahu malu. Aku sudah mengatakan sesuatu tentang anak gadisku, yang sebenarnya sama sekali tidak pantas. Tetapi aku ingin bersikap jujur menghadapi kenyataan jiwa anak gadisku itu. Angger tentu dapat meraba, bahwa orang yang sombong itu pernah mendengar nama angger dari Ken Padmi. Bukankah itu sudah pertanda, bahwa ia masih selalu menyebut nama angger”

“Mungkin sekali Ki Selabajra. Mungkin ia masih selalu menyebut namaku. Tetapi Mahisa Bungalan dalam ceriteranya adalah seorang yang berhati kelam, melampaui kelamnya malam tanpa bulan tanpa bintang”

“Jika demikian, maka orang itu tidak akan dengan serta merta membenci dan bahkan seolah-olah ia sudah mendendammu” jawab Ki Selabajra. Namun kemudian, “Tetapi sekali lagi aku minta maaf. Mungkin angger menganggap bahwa aku sudah merendahkan anak gadisku dengan menjajakannya kepada angger. Tidak ngger. Aku mengerti sikap angger. Aku hanya ingin mengatakan apa yang aku ketahui tentang anak gadisku itu”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti pula apa yang dikatakan oleh Ki Selabajra. Namun iapun seolah-olah telah tersentuh kembali oleh getar perasaannya yang sudah didesaknya jauh kedasar hati.

-oo0dw0oo-

Bersambung jilid 13

Sumber DJVU : Dino
Convert & Edit : Dino
Ebook oleh : Dewi KZ

Edit ulang oleh Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

6 Tanggapan

  1. Sementara gandok PBM-11 tidak bisa dibuka untuk editing, kekurangan rontal PBM-11 (yang rupanya terpotong saat upload) saya ttipkan di box comment ini. mohon maaf atas ketidaknyamanan ini;   lanjutan PBM-11 “Ya” jawab Witantra, “karena itulah, maka segalanya masih harus dipersoalkan. Pangeran Kuda Padmadata mungkin akan berhadapan dengan orang-orang yang justru lebih berbahaya dari orang-orang yang nampak dan membayanginya selama ini. Mungkin orang-orang yang tersembunyi itu merasa bahwa tidak ada lagi kesempatan yang dapat dilakukannya, selain dengan kekerasan terbuka, sementara mereka adalah orang-orang yang pilih tanding” Mahendra mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Untunglah bahwa perempuan dan anak laki-lakinya itu telah dititipkan ke dalam istana Singasari, sehingga mereka berada dalam perlindungan para prajurit. Mungkin orang-orang yang tersembunyi itupun tidak akan tinggal diam. Mungkin mereka pun akan mempergunakan perempuan dan anak laki-lakinya itu sebagai bahan untuk mematahkan perlawanan Pangeran Kuda Padmadata atas segala maksudnya” “Tetapi jika yang mereka maksudkan adalah warisan, maka mereka tidak akan mendapatkan saluran lagi” berkata Witantra kemudian, “tidak ada perempuan yang dapat disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata, dan tidak ada orang yang dapat disebut saudara kandungnya lagi” “Kecuali dengan kekerasan” desis Mahendra. “Maksudmu, perampokan?” berkata Witantra. Mahendra mengangguk, sementara Witantra berkata, “Jika demikian, para pengawal di istana ini yang tentu akan dibangun lagi oleh Pangeran Kuda Padmadata, akan lebih mudah menghadapinya. Betapa besar kekuatan mereka, maka isyarat yang disembunyikan, akan terdengar dari gardu-gardu perondan para pengawal kota. Mereka akan segera datang membantu sehingga perampokan itu akan dapat digagalkan” Witantra mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mungkin akan dicari cara lain. Namun sebaiknya Pangeran Kuda Padmadata tidak meninggalkan kewaspadaan menghadapi segala kemungkinan yang mungkin kasar, tetapi mungkin juga dengan halus” “Tetapi puteri itu dapat diselamatkan oleh Mahisa Agni” desis Mahendra, “ia akan dapat menjadi sumber keterangan yang mudah-mudahan dapat mengungkapkan persoalan ini sampai tuntas” Keduanya pun kemudian kembali ke serambi. Mereka masih melihat Ki Wastu berada di tempatnya, mengawasi orang-orang yang duduk dengan lesu. “Bagaimana?” bertanya orang tua itu. Witantra menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak menemukannya” Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menyadari, bahwa persoalan yang mereka hadapi memang belum selesai. Tetapi, ia tidak mengatakan sesuatu. Ia menunggu perkembangan terakhir dari pembicaraan orang-orang yang berada didalam. Meskipun ia adalah mertua Pangeran, tetapi Ki Wastu merasa dirinya tidak lebih dari orang padesan yang tidak berhak untuk berbuat sesuatu selain me nunggu dan menjalankan perintah yang akan diterimanya. Dalam pada itu, maka Witantra dan Mahendra pun telah masuk kembali ke dalam bilik yang sudah menjadi porak poranda itu. Mereka melihat puteri yang ketakutan itu duduk di sudut, dijaga oleh Mahisa Agni dengan tubuh gemetar. Sementara Pangeran Kuda Padmadata berdiri di samping tubuh adiknya yang membeku. “Tidak ada seorang pun yang dapat aku ketemukan” berkata Witantra. “Tentu bukan orang kebanyakan” desis Mahisa Agni, “bahwa ia berhasil mendekati pintu itu tanpa diketahui oleh seorang pun, merupakan pertanda bahwa ia termasuk orang yang pilih tanding” Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya perempuan yang pernah disebut sebagai isterinya itu dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Katakan, siapakah orang yang berada di belakang kalian, yang hampir saja membunuhmu itu?” Puteri itu masih menggigil. Namun Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Jangan takut puteri. Puteri akan aman di sini, karena di sini ada beberapa orang pengawal dan usaha itu telah digagalkan, sehingga tidak akan ada orang yang berani mencoba lagi” Puteri itu masih ragu-ragu. Wajahnya masih pucat, dan bibirnya nampak bergetar oleh ketakutan yang sangat. Tetapi Puteri itu tidak segera mengatakan, nama yang dikehendaki oleh Pangeran Kuda Padmadata. Bahkan puteri itu telah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil terisak. “Puteri” berkata Mahisa Agni, “jika puteri mengatakannya, maka beban di dalam dada puteri akan menyusut. Seolah-olah beban itu sudah puteri letakkan. Bukankah puteri sudah mengatakan, bahwa hukuman apapun tidak lagi menggetarkan jantung puteri, jika hukuman itu harus puteri lakukan, kecuali apabila puteri harus menanggung malu di hadapan rakyat Kediri?” Puteri itupun mengangguk kecil. “Nah, katakan” desis Mahisa Agni, “dengan demikian maka kesalahan dari peristiwa ini tidak akan memberati pundak puteri, sehingga puteri akan di arak berkeliling kota sebelum dibawa ke tiang gantungan” “O” desahnya. “Katakan” desak pangeran Kuda Padmadata. Karena puteri itu masih berdiam diri, maka Pangeran Padmadata lah yang kemudian menyebut sebuah nama, “Apakah paman Herbuntala, ayahmu itulah yang telah menggerakkan hatimu untuk melakukan pengkhianatan ini?” Puteri itu menggelengkan kepalanya. “Jika bukan ayahmu, siapa? Dan apakah ayahmu tidak tahu menahu akan segala muslihatmu itu?” “Tidak Pangeran” jawab puteri itu sambil menangis, “ayahanda sudah terlalu tua untuk melakukannya” “Jadi siapa?” Pangeran Kuda Padmadata sudah hampir kehilangan kesabaran. Lalu katanya, “Baiklah. Jika tidak ada orang lain, maka kau adalah pangkal dari segala yang telah terjadi. Kau akan menanggung segala kesalahan dan dosa itu seluruhnya, karena adikku sudah mati” “Pangeran dapat menghukum mati hamba sekarang juga” tangis puteri itu. “Bukan aku” suara Pangeran Kuda Padmadata semakin keras, “tetapi penguasa di Kediri. Mungkin kau tidak saja diarak keliling kota sebelum digantung, tetapi kau akan diikat di simpang empat pusat kota, agar setiap orang dapat melihat betapa seorang puteri yang cantik, tetapi hatinya sekelam hati iblis” “Jangan Pangeran jangan. Ayahanda akan tersiksa melampaui yang hamba derita sendiri” minta puteri itu. “Apaboleh buat. Jika kau tidak mau menyebut nama orang yang bertanggung jawab atas segala kejadian ini” Sejenak puteri itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata ampun pengeran. Hamba tidak kuasa untuk mengatakannya, karena hamba takut akan mengalami kutuknya. Tetapi carilah orang yang paling dekat dengan Pangeran dan kakanda Kuda Rukmasanti dalam hubungan ilmu kanuragan” Wajah Pangeran Kuda Padmadata menegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku tidak mempunyai saudara seperguruan yang lain, kecuali adimas Kuda Rukmasanti. Mungkin guru mempunyai murid yang lain diluar pengetahuanku. Tetapi aku tidak mengenalnya” “Tidak Pangeran” desis puteri yang ketakutan itu, “memang tidak ada muridnya yang lain kecuali Pangeran berdua kakak beradik seperti yang dikatakan oleh kakanda Pangeran Kuda Rukmasanti” “Jadi, jadi siapakah yang kau maksud? Siapa?” Pangeran Kuda Padmadata yang tidak sabar lagi itu telah mengguncang tubuh puteri itu. Hampir saja Pangeran itu meremas lengan puteri itu, jika Mahendra tidak menggamitnya, ketika puteri itu menyeringai menahan sakit yang menyengat lengannya yang digenggam kuat-kuat oleh Pangeran Kuda Padmadata. “Siapa?” Pangeran itu berteriak. Puteri itu masih terisak. Tetapi ia berdesis, “Siapakah orang yang hamba maksud itu. Tuan tentu dapat menyebutnya” “Guru sendiri. Guru sendiri” Pangeran Kuda Padmadata benar-benar telah berteriak, “benar begitu? Atau kau memang harus dipancung kepalamu jika kau berbohong?” “Ampun Pangeran” puteri itu menangis, “jangan dipaksa hamba menyebutkannya. Hamba tidak berani, karena hamba akan dikutuknya sehingga hamba akan dapat menjadi seekor kelinci, atau seekor katak, atau seekor binatang melata yang paling hina dalam jenis hamba, atau hamba akan dapat menjadi gila dan kehilangan akal dan ingatan, sehingga hamba akan berkeliaran di sepanjang jalan tanpa mengenal malu sama sekali” “Tidak” teriak Pangeran Kuda Padmadata, “tidak ada orang yang dapat mengutuk orang lain menjadi seekor binatang jika ia sendiri berhati binatang. He, apakah benar? Kau tidak usah menyebutnya. Jika benar, anggukkan kepalamu” Puteri itu ragu-ragu. Namun akhirnya ia mengangguk kecil. Namun dalam pada itu, meledaklah tangisnya betapapun ia mencoba menahan. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas. Tubuhnya gemetar seperti orang kedinginan. Betapa ketakutan yang sangat telah mencekamnya. Tetapi Mahisa Agni kemudian berkata, “Puteri, apakah puteri pernah melihat, bagaimana ia mengutuk seseorang menjadi seekor binatang?” Puteri itu ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian menggeleng. “Nah, itu adalah pertanda, bahwa ia tidak dapat melakukannya. Mungkin ia dapat membuat orang lain menjadi gila dengan cara yang khusus. Tetapi bukan dengan kutukan. Aku dapat membuat orang lain kehilangan ingatan dengan reramuan obat-obatan, tetapi juga dengan mengganggu syaraf pada simpul-simpul yang paling peka. Jika tuan puteri tidak percaya, aku dapat mencobanya” Puteri itu memandang Mahisa Agni dengan tatapan mata yang buram. Tetapi ia mengangguk lemah. Di sela-sela bibirnya yang gemetar terdengar ia berdesis, “apakah benar demikian?” “Ya. Seandainya ia mencoba melakukannya, maka kita akan dapat mencoba menghindar” jawab Mahisa Agni. Puteri itu mencoba menenangkan hatinya. Tetapi ia masih pucat dan gemetar. “Ya Pangeran. Guru Pangeran Kuda Rukmasanti. Ia telah mengatur segalanya” desis puteri itu dengan ragu-ragu. “Jadi, benarkah guru telah melakukannya?” sekali lagi Pangeran Kuda Padmadata bertanya. “Ya Pangeran. Guru Pangeran Kuda Rukmasanti. Ia telah mengatur segalanya” desis puteri itu dengan ragu-ragu. Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Di antara getar jantungnya, ia berkata terbata-bata, “Aku tidak menduga bahwa guru dapat bertindak sedemikian jauhnya. Aku sudah merasa, bahwa guru lebih dekat dengan Kuda Rukmasanti. Meskipun pada mulanya tidak ada bedanya antara kami berdua. Tetapi di saat-saat terakhir terasa, bahwa guru lebih banyak berada bersama Kuda Rukmasanti. Bahkan kadang-kadang aku merasa ditinggalkan. Karena itulah, maka aku ragu-ragu, meskipun aku saudara yang lebih tua bukan saja dalam umur, tetapi juga dalam olah kanuragan, namun aku tidak yakin bahwa ilmuku lebih baik dari ilmu Kuda Rukmasanti. Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Mahisa Bungalan termangu-mangu mendengarkan keterangan Pangeran Kuda Padmadata itu. Selanjutnya Pangeran itu berkata, “Agaknya puncak dari sikap guru itu tercermin pada peristiwa yang pahit yang aku alami untuk beberapa lama. Hampir saja aku menjadi putus asa, bahwa aku tidak akan dapat keluar lagi dari istana ini sebagai seorang yang bebas. Bahkan aku mengira, bahwa isteri dan anakku itu tidak akan mampu lagi aku selamatkan” “Semuanya sudah lewat Pangeran” desis Mahisa Agni. “Belum. Masih ada yang dapat terjadi. Ternyata guru masih belum menganggap bahwa peristiwa ini telah selesai. Gurulah yang agaknya telah mencoba membunuh puteri. Untunglah bahwa usaha itu dapat digagalkan” “Mudah-mudahan segalanya akan dapat menjadi semakin terang” desis Witantra. “Tetapi aku tidak tahu, kenapa sikap guru demikian tidak adil. Aku merasa bahwa aku tidak pernah berbuat kesalahan. Mungkin aku tidak mempunyai kesempatan sebanyak yang dilakukan oleh adimas Rukmasanti” Namun dalam pada itu, semua orang telah berpaling ke pintu ketika mereka mendengar suara, “Hambalah yang menyebabkannya Pangeran” Pangeran Kuda Padmadata terkejut. Dengan serta merta ia bangkit dan melangkah mendekat, “Ki Wastu” “Ya, hambalah ini Angger Pangeran” jawab orang tua itu. “Marilah Ki Wastu” Pangeran Kuda Padmadata mempersilahkan. “Biarlah hamba disini Pangeran. Hamba mengawasi orang-orang yang berada di serambi itu” jawab Ki Wastu. “Tetapi apa hubungannya guru dengan Ki Wastu, sehingga Ki merasa, bahwa Ki Wastu adalah penyebab dari kebencian guru kepadaku” “Sebenarnya itu tidak perlu terjadi” berkata Ki Wastu, “semuanya sudah dilupakan oleh orang yang aku anggap guruku. Agaknya orang yang Pangeran sebut sebagai guru Pangeran itu adalah musuh bebuyutan dengan orang yang aku anggap sebagai saudara tua seperguruanku, yang kemudian aku anggap sebagai pengganti guruku” “O” Pangeran Kuda Padmadata terkejut, “adalah kebetulan sekali Pangeran. Ketika Pangeran mengambil anakku menjadi isteri Pangeran dan Pangeran tinggalkan di padesan untuk waktu yang lama, hamba sudah merasa, bahwa ada hubungannya dengan orang yang Pangeran sebut guru itu. Pada saat itu Pengeran masih selalu datang ke padukuhan hamba. Tetapi pada suatu saat Pangeran bagaikan melupakan kami. Selain seorang yang Pangeran tinggalkan bersama kami, maka seolah-olah hubungan kita sudah terputus sama sekali. Sehingga akhirnya datang malapetaka itu. Orang yang tuanku tinggalkan itu ternyata adalah seorang yang sangat setia. Tetapi akhirnya ia terbunuh oleh orang-orang yang telah mengambil anak perempuan hamba itu dan kemudian menyembunyikannya. Sementara itu mereka masih saja mengancam keselamatan hidup cucu hamba yang lahir dari anak perempuan hamba itu, yang sebenarnya adalah putera Pangeran sendiri” Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tetapi guru tidak pernah mengatakan sesuatu tentang permusuhannya dengan saudara seperguruan Ki Wastu itu” “Mungkin ia menganggap hal itu tidak perlu dikatakannya. Sementara ia mempunyai cara dan pamrih ganda. Ia dapat melepaskan dendamnya karena Pangeran telah berhubungan dengan musuh bebuyutannya, tetapi juga dapat mengharapkan harta peninggalan yang akan Pangeran wariskan kepada Pangeran Kuda Rukmasanti dan puteri yang disebut isteri tuanku ini” “Aku mengerti” desis Pangeran Kuda Padmadata, “jika segalanya berjalan lancar, maka umurku pun tidak akan panjang. Aku akan mereka lenyapkan, meskipun mereka tentu berusaha untuk melenyapkan jejak. Mungkin kematian yang mereka rencanakan, akan memberikan kesan, bahwa aku mengalami kecelakaan. Mungkin aku akan mengalami sakit beberapa hari lamanya, atau alasan-alasan lain yang dapat mereka lakukan. Namun puteri itupun tidak akan menikmati kemenangannya. Ia akan tersisih, sehingga segalanya akan jatuh ke tangan guru. Mungkin Kuda Rukmasanti akan ikut menikmatinya pula sebagai murid terdekat. Atau puteri itu pun akan dapat ikut serta memiliki jika ia diperlukan oleh Kuda Rukmasanti” Terdengar puteri itu terisak tertahan-tahan. Namun iapun kemudian berkata, “Aku memang seorang perempuan yang tidak berharga Aku tidak akan dapat mencuci tanganku, seolah-olah aku sama sekali tidak bersalah” “Aku akan menyerahkan kau kepada paman Herbuntala. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan guru sampai tuntas. Aku akan mencarinya kemana guru pergi” geram Pangeran Kuda Padmadata. “Jangan serahkan aku kepada ayahanda” tangis puteri itu. “Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau tidak mau diserahkan kepada penguasa di Kediri. Dan kau juga tidak mau diserahkan kepada ayahandamu. Jadi kau mau apa?” tiba-tiba saja Pangeran Kuda Padmadata membentaknya. Puteri itu menjadi semakin ketakutan. Sementara Pangeran itu berkata, “aku tidak akan mengatakan sesuatu kepada paman Herbuntala” “Tetapi ayahanda menyangka bahwa aku akan tinggal di rumah ini sebagai isteri Pangeran suara puteri itu gemetar. “Itu tidak mungkin. Bukankah Rukmasanti yang selalu datang menjemputmu jika kau pulang. Dan Rukmasanti pula yang mengantarmu?” geram Pangeran Kuda Padmadata. “Ya Pangeran. Tetapi atas nama Pangeran Kuda Padmadata” “Jika kau tidak mau kembali ke rumahmu lalu kau mau kemana lagi?” “Biarlah hamba di sini, meskipun hamba harus menjadi juru pengangsu atau juru madaran” tangis perempuan itu. “Persetan” wajah Pangeran Kuda Padmadata menjadi merah, “kau harus kembali. Jika kau ingin menjaga namamu, maka katakan kepada ayahmu, bahwa kaulah yang telah minta aku mengantarmu pulang. Katakan kepada ayahmu, bahwa aku sudah membohongimu. Ternyata aku sudah mempunyai isteri dan anak. Biarlah paman Herbuntala marah kepadaku dan mengutukku” “Tidak. Pangeran tidak bersalah. Aku tidak akan dapat mengatakannya kepada ayahanda demikian” “Terserah kepadamu, apa yang akan kau katakan. Tetapi kau hanya mempunyai dua pilihan. Aku serahkan kepada penguasa di Kediri yang akan menghukummu, atau aku kembalikan kau kepada orang tuamu” Puteri itu tidak dapat membantah lagi. Ia tidak mempunyai pilihan lain, sehingga karena itu, maka iapun harus pasrah kepada nasibnya. Betapa penyesalan telah mencekamnya. Betapa rendah budinya dan betapa ringkih hatinya. Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun kemudian memerintahkan membenahi keadaan yang telah terserak-serak tidak menentu. Demikian juga mereka harus menyelenggarakan mayat Pangeran Kuda Rukmasanti. Kepada orang-orang yang tidak lagi dapat berbuat apa-apa itu, Pangeran Kuda Padmadata berpesan, agar mereka tidak usah menceriterakan apa yang telah terjadi Mereka akan diampuni, sepanjang mereka mengerti, bahwa yang telah mereka lakukan itu adalah kesesatan. “Aku tidak akan sampai hati membiarkan nama adikku tercemar” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “Karena itu, kalian yang pernah menjadi pengikutnya dan berpengharapan untuk mendapatkan keuntungan apapun juga, harus membantuku. Aku akan mengatakan bahwa rumah ini telah didatangi oleh sekelompok perampok. Kita semuanya telah bertempur. Dan adikku telah terbunuh. Dengan demikian, namanya tidak akan direndahkan oleh orang-orang Kediri. Ingat, jika penguasa di Kediri mengetahui, bahwa adikku pernah melakukan kesalahan yang harus dihukum, maka tentu akan dilakukan pengusutan. Kalian, yang pernah menjadi pengikutnya akan diseret pula ke tiang gantungan. Tetapi aku berpendirian lain. Siapa yang menyesali kesalahannya dan tidak akan melakukannya lagi, maka aku akan mengampuninya” Beberapa orang yang berada di serambi itu menundukkan kepalanya. Ketika pekatik muda itu mencoba mengangkat wajahnya, tiba-tiba saja terpandang olehnya Mahisa Agni. Pekatik muda itu cepat-cepat menundukkan kepalanya ketika ia melihat Mahisa Agni justru tersenyum kepadanya. Demikianlah, maka malam itu juga istana Pangeran Kuda Padmadata telah disibukkan dengan penyelenggaraan mayat Pangeran Kuda Rukmasanti dan pengawal yang telah terbunuh. Tetapi seperti yang dipesankan oleh Pangeran Kuda Padmadata, tidak seorang pun yang berani mengatakan, apakah yang sebenarnya telah terjadi, agar mereka tidak terseret ke tiang gantungan karena mereka telah terlibat ke dalam kesalahan itu. Bahkan kepada mereka yang tidak tahu menahu tentang peristiwa itu, tetapi melihat pertengkaran yang telah terjadi antara kakak beradik itu pun telah mendapat pesan pula dari Pangeran Kuda Padmadata agar mereka tidak menceriterakan lain dari yang dipesankannya. “Jika tidak, kalian pun tentu akan diusut. Satu persatu kalian akan dipanggil untuk didengar keterangannya oleh para prajurit” berkata Pangeran Kuda Padmadata Sehingga dengan demikian, maka penghuni istana itupun merasa takut untuk menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sementara itu, maka Pangeran Kuda Padmadata telah mempersilahkan Mahisa Agni. Witantra, Mahendra, Ki Wastu dan Mahisa Bangalan untuk masuk keruang dalam. Puteri yang ketakutan itu pun telah dipersilahkan masuk ke dalam bilik di ruang dalam yang terlindung rapat, sehingga tidak seekor lalatpun yang akan dapat mengganggunya, ditunggui oleh embannya yang juga gemetar karena ketakutan. Sementara orang-orang yang tidak terlibat, abdi istana Pangeran itu yang sudah berada menghambakan diri, diperintahkannya mengawasi kawan-kawanya yang ternyata adalah para pengikut Pangeran Kuda Rukmasanti. Meskipun demikian, orang-orang di serambi itu benar-benar tidak berani lagi berbuat sesuatu, Mereka yang mendapat tugas menyelenggarakan mayat-mayat itu pun tidak berani berusaha untuk berbuat lain, Jika orang-orang yang mengawasi itu berteriak, maka yang akan keluar adalah orang-orang yang luar biasa yang sedang berada di ruang dalam. Yang paling muda di antara mereka ternyata telah mampu membunuh Pangeran Kuda Rukmasanti, yang mereka anggap orang yang tidak terkalahkan. Dipagi harinya, maka seluruh Kediripun telah mendengar apa yang terjadi. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Pangeran Kuda Padmadata, bahwa yang terjadi itu adalah satu kecelakaan, Sekelompok perampok telah memasuki istana itu. Dalam pertempuran yang terjadi, maka Pangeran Kuda Rukmasanti telah terbunuh. “Dua orang perampok itupun telah terbunuh pula” berkata Pangeran Kuda Padmadata sambil menunjuk mayat dua orang yang sehari-hari nampaknya seperti dua orang pengawalnya yang paling setia, namun orang yang baginya justru paling memuakan. Lebih memuakkan dari adiknya yang telah berkhianat itu. Sementara itu, maka seperti yang sudah dikatakannya, orang yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu pun telah diserahkannya kembali kepada orang tuanya, demikian upacara penyelenggaraan mayat itu sudah selesai. Tetapi ternyata bahwa puteri itu tidak ingin merendahkan nama Pangeran Kuda Padmadata. Yang dikatakannya kepada ayahnya, bahwa ia sebenarnya telah ditekan oleh perasaan takut yang sangat untuk berada di istana itu. Meskipun ia sadar, bahwa pada suatu saat ayahnya akan bertanya, kapan ia akan kembali kepada suaminya, Namun ia akan mendapat kesempatan untuk memikirkannya. Mungkin ia dapat berterus terang setelah berjarak waktu. Mungkin ayahnya akan marah dan menghukumnya, Tetapi keadaannya tentu sudah berubah. Namun dalam pada itu, yang kemudian menjadi pembicaraan Pangeran Kuda Padmadata adalah persoalan yang tentu masih akan berkepanjangan. Gurunya tentu tidak akan tinggal diam, karena rencana jahatnya telah diketahui oleh Pangeran Kuda Padmadata. “Ki Wastu” berkata Pangeran itu ketika mereka duduk di serambi samping istana setelah keadaan mereda, dan suasaa di istana itu telah berjalan wajar, meskipun agaknya lain bagi Pangeran Kuda Padmadata sendiri, “Apakah tidak mustahil bahwa dendam guru akan dijatuhkan kepada anak perempuan Ki Wastu serta anak laki-lakinya?” “Mereka sudah berada di bawah perlindungan para prajurit di Singasari Pangeran” jawab Ki Wastu. Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Namun masih nampak kecemasan di wajahnya. Bahkan kemudian katanya, “Apakah para prajurit di Singasari itu menyadari, bahwa perempuan itu terancam bahaya yg dapat menyergapnya dengan segala cara. Mungkin seseorang mengaku akan mengunjunginya karena ia saudaranya, atau mungkin dengan cara apapun juga, sehingga memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan niatnya yang jahat. “Mudah-mudahan para prajurit tetap waspada” sahut Mahendra. Namun akhirnya ia berkara, “Pangeran Aku kira memang lebih baik jika aku kembali. Aku akan dapat memberikan beberapa peringatan kepada prajurit-prajurit di Singasari. Karena menurut perhitungan, lebih baik jika isteri Pangeran itu untuk sementara tidak berada di istana ini. Orang yang Pangeran katakan sebagai guru itu, tentu masih akan tetap berusaha melakukan sesuatu. Meskipun mungkin ia sudah melepaskan niatnya untuk memiliki harta dan benda yang ada di istana ini, tetapi dendamnya akan menuntut pembalasan” Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Tetapi ia adalah isteriku. Akulah yang paling berkewajiban untuk melindunginya. Anak itu pun adalah anakku. Biarlah aku mempertanggung jawabkannya” “Sebaiknya kita melihat keadaan yang tentu masih akan berkembang Pangeran” berkata Witantra, “aku setuju jika Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari. Aku dan Mahisa Agni akan berada disini. Mungkin Pangeran masih memerlukan aku” Pangeran Kuda Padmadata berpikir sejenak. Sementara Mahisa Bungalan bertanya, “Bagaimana dengan aku paman?” Witantra memandang anak muda itu sambil berkata, “Kau akan menentukan sikapmu. Meskipun aku mengatakannya, namun agaknya lebih suka memilih sendiri. Jika kau menganggap perantauanmu sudah selesai, maka kau dapat kembali ke Singasari. Tetapi jika kau masih ingin melihat kelanjutan dari peristiwa ini kau dapat tinggal di sini” Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku akan tinggal di sini. Tetapi tidak di istana ini” “Lalu dimana?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata. “Di rumah Ki Daredu. Aku sudah kerasan tinggal di rumah itu. Mungkin untuk beberapa lamanya aku akan menunggu perkembangan keadaan di rumah Ki Daredu” Tetapi Witantra menggeleng. Katanya, “Yang kita hadapi bukan kanak-kanak. Sebaiknya kau berada di sini untuk beberapa saat sampai segalanya nampak lebih jelas. Guru Pangeran Kuda Padmadata tentu bukan orang kebanyakan. Ia tentu memiliki sesuatu yang jauh melampaui Pangeran Kuda Rukmasanti itu” Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam.,Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Terserah kepada paman” “Nah, baiklah kita akan melihat perkembangan keadaan. Biarlah Mehendra dan Ki Wastu segera kembali ke Singasari” gumam Witantra, Demikianlah, Maka pembicaraan itu pun telah mengambil kesimpulan, agar Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari. Mereka harus memberitahukan segala persoalannya kepada para prajurit di Istana Singasari. Dengan demikian, maka perhatian mereka kepada perempuan itu akan memberikan pertimbangan, agar perlindungan kepadanya menjadi lebih baik. Bahkan jika diijinkan oleh pimpinan prajurit pengawal, maka biarlah Ki Wastu berada didekat anak perempuan dan cucunya, agar ia akan dapat bertindak langsung jika terjadi sesuatu, sementara ia dapat mengharapkan bantuan para prajurit. “Tidak mustahil guru Pangeran Kuda Rukmasanti itu akan mengambil jalan yang licik. Ia dapat memberikan uang atau bentuk suap yang lain kepada para pengawal untuk mendapat kesempatan bertemu dengan orang yang seharusnya dilindungi itu. Ia akan dapat saja memberikan seribu satu alasan, sehingga para pengawal yang menerima suap itu tidak mengetahui, bahwa orang yang mungkin mengaku saudaranya,mungkin mengaku utusan dari siapa pun, namun yang sebenarnya akan dapat membunuh pada kesempatan yang sangat kecil sekalipun” berkata Mahendra. Ki Wastu mengangguk-angguk. Agaknya sebaiknya memang demikian apabila ia mendapat ijin dari yang berwenang dalam pasukan pengawal istana itu. “Sementara itu” berkata Mahendra lebih lanjut, “aku dapat kembali kepada kedua anak-anakku yang bengal itu. Mereka tentu sudah menunggu dan mengumpat setiap saat karena aku terlalu lama pergi” Ki Wastu pun mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berkata, “Ki Mahendra ternyata mendapat kurnia yang tiada taranya dari Yang Maha Agung. Putera-putera Ki Mahendra ke-tiga-tiganya dapat dibanggakan” “Aku selalu mengucapkan terima kasih kepada kemurahan Tuhan Yang Maha Penyayang. Namun sebenarnyalah bahwa anak-anakku itu adalah anak-anak yang bengal” “Mereka memiliki ilmu yang luar biasa pada umurnya yang masih sangat muda. Ketika aku melihat, bagaimana Mahisa Bungalan mempertahankan diri dari orang-orang yang berusaha membunuhnya, pada saat pertama kali aku melihatnya, aku hampir tidak percaya akan penglihatanku atas kemudian anak itu” “Ki Wastu selalu memuji. Tetapi Ki Wastu juga telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi Mahisa Bungalan” jawab Mahendra. “Tidak ada artinya baginya. Hanya sekedar melengkapi ilmu geraknya” sahut Ki Wastu. Demikianlah, maka ketika Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari, mereka sempat singgah di rumah Ki Daredu. Kepada orang tua itu Mahendra mengatakan, bahwa segalanya telah selesai. Ia tidak perlu merasa cemas lagi” “Aku tidak mengerti, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Istana Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Daredu. “Tidak ada apa-apa. Seperti berita yang barangkali pernah kau dengar, bahwa rumah itu telah dirampok oleh sekelompok penjahat yang merasa sangat kuat kedudukannya. Tetapi untunglah pada saat itu Mahisa Agni dan Kakang Witantra berada di istana itu” jawab Mahendra. Tetapi Ki Daredu tertawa sambil berkata, “Jadi aku harus mempercayainya?” Mahendrapun tersenyum. Jawabnya, “Terserah Kepadamu Ki Daredu” Ki Daredu masih tertawa sambil mengangguk-angguk., “Baiklah. Aku akan mempercayainya. Tetapi aku tahu bahwa Tuanku Mahisa Agni dan Tuanku Witantra pernah memegang kekuasaan tertinggi Singasari di Kediri. Akupun mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di istana itu seperti yang pernah dikatakan oleh Tuanku Mahisa Agni sebelumnya. Tetapi sebaiknya aku memang tidak mengatakannya kepada siapapun” Mahendra dan Ki Wastupun tertawa. Pekatik tua itu agaknya bukannya orang yang terlalu bodoh, sehingga ia pun dapat mengerti beberapa persoalan yang dilakukan oleh Mahisa Agni. Namun, bahwa segala sesuatu telah selesai dilakukan oleh Mahisa Agni dan Witantra, membuat hati Ki Daredu menjadi tenang. Beberapa hari lamanya, iapun mengalami ketegangan. Yang dilakukan oleh Mahisa Agni tentu bukannya sesuatu yang tidak akan dapat menyangkut banyak pihak. Demikianlah, maka Mahendra dan Ki Wastu pun meninggalkan Kediri, kembali ke Singasari. Bagaimanapun juga, mereka merasa cemas, bahwa guru Pangeran Kuda Rukmasanti itu akan mencari sasaran dendamnya kepada anak perempuan Ki Wastu, mungkin mengambilnya untuk dipergunakan sebagai alat memaksakan kehendaknya kepada Pangeran Kuda Padmadata seperti yang pernah terjadi. Sepeninggal Mahendra dan Ki Wastu, maka Mahisa Agni dan Witantra telah ditempatkan di tempat yang khusus di dalam istana Pengeran Kuda Padmadata. Tetapi karena Mahisa Agni dan Witantra masih tetap ingin dianggap sebagai orang-orang yang tidak banyak berarti, maka iapun telah memilih tempat diluar lingkungan bangunan induk istana Pangeran Kuda Padmadata. Meskipun Mahisa Bungalan pernah mengatakan pada saat hatinya terbakar oleh kemarahannya dihadapan Pangeran Kuda Rukmasanti, tetapi hanya orang-orang tertentu sajalah yang telah mendengar bahwa ia adalah Mahisa Agni dan Witantra yang pernah mewakili kekuasaan Singasari di Kediri. Sementara orang-orang itu telah dipesan untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kedua orang itu. Dalam kehidupan sehari-hari di istana, Mahisa Agni dan Witantra, mencoba untuk meluluhkan diri ke dalam keluarga besar yang mulai tenang itu. Dalam pada itu, selagi Pengeran Kuda Padmadata sibuk dengan usaha penyelamatan keluarganya, sebelum mereka merasa aman untuk membawanya ke istana, maka seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni sedang dicekam oleh kekecewaan. Bahkan kecemasan bahwa rahasianya telah terbuka. “Ia tentu akan mengatakannya” geramnya. Namun ia tidak mempunyai cara untuk mencegahnya. Dalam pada itu, seorang pengikutnya yang terdekat duduk dengan kepala tunduk diatas amben yang besar, sementara orang yang berilmu mumpuni itu berjalan hilir mudik didalam bilik itu. “Ada beberapa orang gila di rumah Kuda Padmadata” orang itu bergeremang, “tidak banyak yang mengetahui siapa mereka. Tetapi agaknya mereka pulalah yang telah berhasil membebaskan isteri Pangeran gila itu” Orang yang menundukkan kepalanya itu mengangguk angguk kecil. Katanya kemudian, “Tetapi belum terlambat Masih ada kesempatan untuk membunuhnya atau mencari kembali sampai kita dapatkan perempuan dan anak laki-lakinya itu” “Jika Pangeran itu mati, maka tidak banyak lagi artinya atas harta benda yang dimilikinya. Tetapi aku kini telah dibakar oleh dendam. Aku tidak mau berpikir lagi. Yang penting bagiku adalah kematiannya. Ada atau tidak ada gunanya lagi bagiku” “Kita masih dapat mengumpulkan kekuatan” berkata pengikutnya. “Tetapi aku kehilangan muridku yang paling baik. Pangeran Kuda Rukmasanti. Ada juga setan yang mampu mengalahkannya” geramnya, “bukannya saja seorang. Tetapi aku yakin, bahwa beberapa orang yang ada di istana itu, tentu memiliki ilmu yang tinggi. Setidak-tidaknya mereka dapat mengimbangi ilmu murid-muridku. Tetapi dalam jumlah empat atau lima orang, maka sulit bagiku untuk mengatasinya. Aku tidak sempat memanggil orang lain diantara kalian” “Sekarang masih ada waktu” berkata pengikutnya. “Aku sudah kehilangan dua orang muridku yang paling baik. Kuda Rukmasanti sudah jelas, ia terbunuh. Sedang Padmadata benar-benar telah berkhianat. Ia telah membuat jalur hubungan dengan iblis yang paling terkutuk itu. Langsung atau tidak langsung. Sengaja atau tidak sengaja” “Kita dapat berbuat cepat” berkata pengikutnya. Orang yang dibakar oleh dendam itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tinggal satu-satunya muridku. Itupun agak terasing dari kedua muridku yang berdarah bangsawan itu, sehingga kau tidak nampak sebagai saudara seperguruannya. Tetapi aku yakin, justru karena itu, maka kau telah menempa dirimu sebaik-baiknya meskipun jarang dibawah pengawasanku langsung” “Aku sedang mencoba untuk dapat menjadi murid di padepokan kecil itu” berkata pengikutnya. Jangan sebut lagi padepokan itu. Aku tidak akan kembali ke sana. Kuda Padmadata telah pernah datang ke padepokan itu. Ia akan dapat datang kesana mencari aku dengan membawa beberapa orang pilihan” guman orang yang sedang mendendam itu. “Ki Dukut Pakering” berkata pengikutnya, “jika demikian, maka apakah yang akan kita lakukan sekarang?” “Untuk sementara aku akan tinggal di pondok ini. Aku akan membuat hubungan dengan beberapa orang kawan-kawanku, Aku sudah hampir kehilangan kesempatan karena kegagalan-kegagalan yang terjadi. Semula aku masih dapat menjanjikan sebagian dari kekayaan Pangeran gila itu, jika kelak jatuh ketanganku lewat adik dan perempuan yang disebut isterinya itu. Tetapi kini aku tidak akan dapat mengatakan demikian, sementara beberapa pihak telah kehilangan kepercayaan kepadaku” desah orang yang disebut Dukut Pakering itu. “Tetapi masih dapat diusahakan dengan banyak cara” berkata pengikutnya. “Sudah banyak orang yang terbunuh, meskipun itu karena kebodohan mereka sendiri. Menurut keterangan yang aku dengar, satu orang diantara orang-orang yang me nolong isteri Pangeran yang gila itu, telah membunuh beberapa orang sekaligus” “Kesahalan-kesalahan itu akan dapat dipakai sebagai pengalaman” berkata Pengikutnya. Lalu, “Sebaiknya Ki Dukut masih berusaha menghubungi beberapa orang yang dapat dipercaya” “Itu memerlukan waktu. Tetapi dendamku tidak susut lewat waktu-waktu yang betapapun panjangnya. Padmadata harus mati dengan cara apapun juga. Mungkin aku harus menunggu saat yang paling baik. Tapi rasa-rasa nya aku sudah tidak sabar lagi” “Segalanya dapat dibicarakan” berkata Pengikutnya, “tetapi siapakah yang masih mungkin dihubungi dalam hal ini” “Ada dua tiga orang. Mereka masih mempunyai hubungan ilmu dengan aku. merekapun orang-orang yang tidak ada tandingnya. Tetapi mereka tentu mempunyai syarat-syarat yang harus aku penuhi. Itulah yang masih belum dapat aku ramalkan” berkata Dukut Pekering. “Apakah tidak ada semacam kesetia kawanan meng hadapi persoalan ini? Seperti juga jika pada saat lain, salah seorang dari mereka mengalami kesulitan?” “Mungkin juga” berkata Dukut Pekering, “tetapi aku harus dapat menyakinkan mereka, bahwa aku telah dihinakan. Bahwa aku telah diperlakukan dengan licik dan tidak adil” “Apakah mereka orang-orang yang berpegang pada keadilan dan mungkin kebenaran?” bertanya Pengikutnya. Ki Dukut Pakering menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengerti. Tetapi kebenaran itu sendiri bukannya sesuatu yang mutlak seperti juga keadilan. Setiap orang dapat memberikan batasan sesuai dengan kepentingannya” Pengikutnya mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya yang terjadi itu adalah sesuatu yang sangat pahit yang harus ditelan oleh Ki Dukut Pakering, yang sebelumnya sangat dihormati orang. Sebagai seorang guru dari kakak beradik Pangeran Kuda Padmadata dan Kuda Rukmasanti, maka ia adalah orang yang disegani. Ia memang mempunyai ilmu pada tingkat yang sulit dicapai oleh orang kebanyakan. Namun pada suatu saat, ia tidak dapat tegak lagi dalam kedudukannya. Hatinya telah digoyahkan oleh dendam dan kebencian. Namun kemudian juga nafsu dan ketamakan. Semula ia kecewa kerena Pangeran Kuda Padmadata di luar sadarnya telah berhubungan dengan orang yang paling dibencinya, bahkan kemudian Pangeran Kuda Padmadata telah kawin dengan seorang perempuan padukuhan yang masih mempunyai jalur hubungan meskipun tidak langsung dengan orang yang paling dibencinya itu. Namun akhirnya, warna-warna hatinya yang sebenarnya telah mencair pula mengaliri sikapnya. Ia tidak saja berusaha untuk menjauhkan Pangeran Kuda Padmadata dari orang yang paling dibencinya itu. Tetapi ia mulai melihat kekayaan yang tersimpan di dalam istana Pangeran Kuda Padmadata. Seorang Pangeran yang memiliki hutan khusus dengan tanaman peliharaan yang dapat mendatangkan kekayaan, karena ia menamani jenis-jenis kayu yang bergetah arum. Dengan cara yang tidak kasat mata, maka ia memperalat adik kandung Pangeran Kuda Padmadata untuk menguasainya. Bukan saja orangnya, tetapi juga segala kekayaannya. Bahkan telah diaturnya untuk memasukkan seorang perempuan yang hampir sederajat untuk disebut sebagai isterinya tanpa dapat menolak, karena isteri Pangeran itu yang sebenarnya telah dikuasainya. “Tetapi ternyata hadir orang-orang gila yang tidak dikenal itu” geramnya didalam hati. Sebenarnya bahwa kehadiran Mahisa Bungalan yang tidak diduga-duga itu telah merusak segala rencananya. Apa yang sudah dimulainya, ternyata pecah berserakkan. Perempuan yang dapat dipergunakannya untuk memaksakan kehendaknya atas Pengeran Kuda Padmadata itu telah terlepas dari tangannya. Betapapun diusahakannya namun korban-korban jugalah yang jatuh. Sedang perempuan itu bagaikan telah hilang ditelan bumi. Setelah kegagalan-kegagalan itulah maka kini harus mulai lagi dari permulaan sekali meskipun tujuannya sudah berbeda. Kini ia telah digerakkan oleh dendam yang tidak tertahankan, seperti dendamnya kepada saudara tua seperguruan Ki Wastu itu. Seorang pengikutnya yang semula tidak diperhitungkannya, kini menjadi satu-satunya orang yang setia kepadanya. Bersama seorang pengikutnya itulah maka Ki Dukut Pakering mulai dengan usahanya melepaskan dendamnya. Setelah beberapa saat lamanya ia berada di pondok kecil milik pengikutnya itu, maka mulailah ia mencari hubungan dengan orang-orang yang pernah dikenalnya. Namun dalam pada itu, ada juga semacam kerinduannya untuk melihat bekas padepokannya yang tidak lagi dihuninya, karena ia mempunyai perhitungan tertentu setelah ia gagal menguasai muridnya yang tua. “Apakah Ki Dukut akan kembali ke padepokan itu?” bertanya pengikutnya. “Tidak. Aku hanya ingin melihatnya. Mungkin aku akan mendapatkan semacam kesan atau bahkan mungkin aku akan mendapat ilham daripada padepokan itu, apakah yang sebaiknya aku lakukan” jawab Ki Dukut Pakering. Demikianlah, maka ia telah mengajak pengikutnya untuk berjalan mendekati padepokannya. Mereka menempuh jalan yang jarang dilalui orang, karena Ki Dukut merasa seolah-olah setiap orang telah mengetahui apa yang telah dilakukan. Dengan hati yang ragu-ragu, mereka telah mendekati sebuah bukit kecil. Dari atas bukit itu mereka akan dapat melihat, jalur jalan menuju ke padepokannya yang juga terletak di atas sebuah bukit kecil yang lain. Namun jantung Ki Dukut itu serasa berhenti berdetak. Dari tempatnya ia melihat beberapa ekor kuda berpacu menuju ke padepokan kecilnya. “Siapakah mereka?” bertanya pengikutnya. “Setan itu” geram Ki Dukut” Tentu yang dipaling depan itu adalah Kuda Padmadata” “Apakah maksudnya?” bertanya pengikutnya pula. “Tentu ia mencari aku. Ia membawa beberapa orang pengawal” “Hanya lima orang” desis pengikutnya, “apakah Ki Dukut tidak berniat membalas dendam sama sekali. Merekalah yang datang kepedepokan ini” Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Meskipun hanya lima orang, tetapi aku tidak tahu, siapakah mereka. Mungkin salah seorang dari mereka adalah orang yang telah membebaskan isteri Pangeran gila itu dengan membunuh beberapa orang sekaligus. Bukan berarti aku takut kepadanya, tetapi aku harus belajar dari pengalaman, agar aku tidak gagal lagi, dan apalagi mati tanpa arti sama sekali” Pengikutnya mengangguk-angguk. Dari kejauhan ia memandang derap beberapa ekor kuda menuju ke padepokan kecil yang telah menjadi kosong itu. Di muka regol. Ki Dukut dan pengikutnya melihat kuda-kuda itu berhenti. Tanpa berpencar mereka telah meloncat turun dan memasuki regol. Selanjutnya, dari kejauhan mereka tidak melihat orang-orang yang memasuki regol padepokan itu lagi. “Mereka tidak akan menemukan apa-apa” berkata Ki Dukut, “tetapi sikap deksura dari Padmadata membuat darahku semakin mendidih. Aku semakin bernafsu mencincangnya meskipun ia pernah menjadi muridku yang baik” Pengikutnya mengangguk-angguk. Namun tatapan matanya masih saja mengarah ke padepokan kecil itu. Tetapi iapun tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang telah memasuki regol padepokan itu sambil menuntun kuda mereka. Dalam pada itu, Pengeran Kuda Padmadata bersama Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan diikuti oleh seorang pengiring, telah memasuki padepokan yang pernah dihuni oleh Ki Dukut Pakering. Namun padepokan kecil itu ternyata telah kosong. Mereka tidak menjumpai seorangpun berada di padepokan itu. “Semuanya telah pergi” berkata Pangeran Kuda Padmadata. Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara Witantra dan Mahisa Bungalan telah melihat-lihat ke bagian samping dari padepokan itu. Mungkin sesuatu dapat dijumpainya, atau barangkali ada semacam petunjuk yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk menelusuri jejak Ki Dukut Pakering. “Agaknya orang tua itu menyadari, bahwa pada suatu saat aku akan datang ke padepokan ini” berkata Pangeran Kuda Padmadata. “Mungkin Pangeran” sahut Mahisa Agni, “tetapi mungkin pula orang tua itu ingin menghalau kegelisahan hatinya” “Tetapi usahanya untuk membunuh puteri itu adalah pertanda, betapa ia telah dicengkam oleh kecemasan dan ketakutan. Dengan demikian, maka ia tidak akan berani lagi berada di padepokan ini” Mahisa Agni pun mengangguk-angguk. Ketika ia pun kemudian memutari padepokan itu menyusul Witantra dan Mahisa Bungalan, maka ia pun melihat, betapa padepokan kecil itu pernah terpelihara dengan baik. Padepokan itu agaknya memang tidak banyak berpenghuni. Hanya ada beberapa pondok kecil meskipun cukup baik. Karena padepokan itu adalah dari seorang guru yang mempunyai dua orang murid Pangeran yang cukup kaya di Kediri. “Sayang sekali jika padepokan ini diterlantarkan” berkata Mahisa Agni. “Siapakah yang berani memakai padepokan ini?” desis Witantra, “meskipun guru Pangeran Kuda Padmadata itu sudah tidak tinggal disini, tetapi jika ada orang lain yang berani memilikinya, maka ia tentu akan dianggapnya musuh yang harus disingkirkan” Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian. Karena itu, untuk sementara padepokan ini akan kosong” “Tidak ada lagi yang akan menyirami tanaman-tanaman itu” berkata Mahisa Bungalan. Lalu iapun mengeluh, “Burung-burung di dalam sangkar itu mati kelaparan. Agaknya sudah sejak beberapa hari padepokan ini ditinggalkan” “Masih ada yang hidup” berkata Mahisa Agni, “mungkin pada suatu saat orang itu atau pengikutnya telah datang dan memberi sekedar minum makan kepada burung burung didalam sangkar itu. Tetapi keadaannya sudah tidak terlalu baik” Mahisa Bungalan pun kemudian membuka pintu sangkar burung-burung yang masih hidup. Betapa lemahnya mereka, namun burung-burung itupun kemudian berterbangan. Satu dua di antara mereka hinggap di pinggir belumbang yang airnya nampak jernih meskipun dikotori oleh dedaunan yang gugur dari rantingnya. Sementara yang lain telah hinggap pada pelepah pisang. Beberapa tandan buah pisang memang nampak menguning di batangnya. Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya lehernya ikut menjadi sejuk ketika ia melihat beberapa ekor burung yang minum air belumbang yang segar, kemudian terbang mencari buah-buahan yang bertebaran di kebun padepokan itu. Dalam pada itu, maka ketika mereka sudah melingkari padepokan itu dari sudut kesudut, maka mereka pun kemudian naik kependapa. Masih ada sehelai tikar pandan yang putih terbentang. Meskipun Mahisa Bungalan harus mengibaskan beberapa kali karena debu, namun tikar itu adalah tikar yang masih baik. Orang-orang itu pun kemudian beristirahat sambil duduk di pendapa. Pangeran Kuda Padmadata dapat bercerita serba sedikit, pada saat-saat ia belajar ilmu kanuragan pada Ki Dukut Pakering di padepokan itu. Ketika ia sudah menguasai dasar-dasar ilmunya, maka iapun kembali ke Kediri. Ki Dukut lah yang kemudian selalu datang untuk meningkatkan dan mematangkan ilmunya. Sehingga akhirnya pada suatu saat terasa oleh Pangeran Kuda Padmadata, bahwa gurunya agak berbeda sikap terhadapnya dan terhadap adiknya. Pangeran Kuda Rukmasanti. “Tinggal sebuah kenangan yang manis” berkata Pangeran Kuda Padmadata. Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan dapat merasa, betapa perasaan kecewa telah mencekam jantung Pangeran Kuda Padmadata. Padepokan itu agaknya memang pernah memberinya nafas kehidupan yang sejuk. Tetapi kemudian, ternyata bahwa gurunya telah membantingnya pada suatu keadaan yang hampir menyeretnya pada keputus-asaan dan bahkan akhir hidup yang sangat pahit. Dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Padmadata dan beberapa orang yang menyertainya duduk dipendapa padepokan kecil itu, maka Ki Dukut Pakering memperhatikan padepokannya dengan hati yang bergejolak. Sekali-sekali terdengar ia mengumpat. Namun kemudian katanya, “Apa saja yang mereka kerjakan di padepokan itu? Apakah mereka akan merampok sisa-sisa perabot yang masih ada. Atau mereka akan membakarnya?” Pangikutnya tidak menyahut. Namun ia pun tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh beberapa orang yang sedang berada di dalamnya. Namun demikian, kedua orang itu sama sekali tidak ingin mendekat dan melihat ke dalamnya. Mereka tidak mau mengalami nasib yang buruk, karena menurut perhitungan Ki Dukut Pakering, orang yang datang itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika ia terlibat dalam satu perselisihan, maka Ki Dukut tidak yakin, bahwa ia akan dapat membebaskan dirinya. Sementara ia harus mempertanggung jawabkan segala peristiwa yang pernah terjadi di istana Pangeran Kuda Padmadata. Ternyata Pangeran Kuda Padmadata tidak terlalu lama berada di padepokan itu. Setelah ia yakin, bahwa padepokan itu telah ditinggalkan oleh seluruh penghuninya, maka Pangeran Kuda Padmadata pun segera bersiap-siap untuk kembali ke istananya. “Kita harus berusaha mengerti, atau setidak-tidak nya mengetahui arah kepergian Ki Dukut” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “apakah ia benar-benar ingin meninggalkan daerah ini, atau ia hanya sekedar bersembunyi dengan menyimpan dendam dihatinya” “Kemungkinan yang terakhir itulah” sahut Mahisa Bungalan. Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian” “Tetapi untuk menemukannya adalah pekerjaan yang sangat sulit. Bahkan menemukan lacaknyapun agaknya memerlukan waktu dan kerja yang tekun” desis Mahisa Agni. “Benar” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “dan aku harus melakukannya. Jika aku tidak menemukan suatu keyakinan bahwa orang itu tidak akan dapat menggangguku lagi, maka aku masih akan tetap ragu-ragu untuk menjemput isteriku ke Singasari” “Memang sebaiknya Pangeran tidak tergesa-gesa” berkata Witantra, “semuanya memang harus jelas. Jika tidak demikian, maka selesai isteri Pangeran itu sudah berada disini, keadaan yang gawat itu masih akan mencekam istana Pangeran, maka akan dapat timbul kesulitan” Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Marilah kita kembali. Kita tidak menemukan sesuatu disini” Orang-orang yang ada di padepokan kecil itupun segera meninggalkan regol halaman, kembali ke Kediri. Sementara itu, Ki Dukut Pakering masih saja berada di atas bukit kecil yang tidak begitu jauh dari pedepokannya. Beberapa kali ia mengumpat. Namun kemudian katanya, “Marilah, Kita melihat, apa yang mereka lakukan di padepokan itu” Ki Dukut dan pengikutnya itupun segera menuruni tebing yang rendah turun ke jalan yang menuju ke padepokan itu. Dengan ragu-ragu merekapun kemudian memasuki regol yang masih terbuka. Terasa jantung Ki Dukut itu menjadi berdebar-debar. Ada juga keseganan meninggalkan padepokan yang sudah mapan, dengan kebun bunga dan kebun buah-buahan. Beberapa tandan pisang telah mulai menguning. Buah-buahan yang tumbuh subur. “Pangeran itu memang anak setan. Nyawanya ternyata cukup liat, sehingga rencana yang nampaknya sudah hampir selesai dengan sempurna itu telah gagal” geram Ki Dukut, “tetapi yang harus dibunuh bukannya Pangeran itu saja, tetapi semuanya. Orang-orang gila yang telah melibatkan diri itu pun harus mati dicincang” “Apakah Ki Dukut dapat mengetahui salah seorang dari mereka?” bertanya pengikutnya. “Sampai saat ini belum. Tetapi aku segera akan mengetahuinya. Jangan kau kira bahwa orang-orang kita yang telah dikalahkan seluruhnya akan berkhianat. Kita akan dapat mencari hubungan dengan mereka. “Apakah mereka masih dapat dipercaya?” desis pengikutnya, “mereka tentu mengetahui, bahwa harapan untuk mendapatkan kekayaan Pangeran Kuda Padmadata telah pudar sama sekali. Dengan demikian, mereka pun tidak dapat mengharapkan apapun juga dengan tugas-tugas yang akan kita berikan kepada mereka” “Mungkin,” sahut Ki Dukut, “tetapi mereka pun tentu ingin hidup mereka lebih panjang. Mereka yang tidak mau menjalankan perintah, berarti nyawanya akan kita lenyapkan” Pengikutnya menarik nafas dalam-dalam. Dengan cara yang demikian, memang mungkin sekali untuk memaksa satu dua orang di antara mereka untuk tetap mematuhi perintah Ki Dukut. Tetapi hubungan dengan orang-orang dalam, bukan berarti tidak mengandung bahaya. Pengkhianatan masih akan dapat terjadi sehingga akan dapat menyulitkan keadaan Ki Dukut yang sudah terjepit itu. Namun dalam pada itu, Ki Dukut pun berkata, “Tetapi kecuali mempergunakan orang-orang yang masih berada di istana itu, aku akan tetap mencari hubungan beberapa orang kawanku. Mungkin aku memerlukan waktu barang dua tiga pekan. Tetapi itu akan lebih baik jika aku tempuh dengan cara yang lain” Pengikutnya mengangguk-angguk. Iapun berpendapat bahwa jalan yang paling baik adalah mencari bantuan kepada orang-orang yang dianggap mempunyai kemungkinan untuk melakukan niatnya. Satu-satunya jalan untuk menguasai harta benda Pangeran Kuda Padmadata adalah dengan merampoknya Orang-orang yang masih berada di istana itu akan dapat di bujuk, mungkin dengan di takut-takuti, tetapi mungkin juga dengan janji bahwa mereka akan mendapat sebagian dari hasil rampokan itu, jika mereka dapat membantu terlaksananya” berkata Ki Dukut. Pengikutnya mengangguk-angguk, sementara Ki Dukut Pakering pun dengan wajah buram berdesis, “ Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa akhirnya, aku hanya akan menjadi seorang perampok. Tetapi akupun akan tetap menjaga harga diriku. Aku tidak merampok petani-petani miskin atau saudagar ternak di padukuhan. Tetapi aku merampok seorang Pangeran gila yang bernama Kuda Padmadata, yang karena dendam tiada taranya. Bahkan kemudian membunuhnya sekali” Nampak diwajah Ki Dukut, betapa kemarahan dan dendam menyala dihatinya. Sambil menggeretakkan giginya ia berkata, “Kita kembali. Pondok kecil itu ternyata jauh lebih baik dari padepokan ini. Kita harus mulai dengan modal yang ada dan dapat kita pergunakan” “Maksudmu iblis itu sendiri” bertanya Ki Dukut. “Ya Ki Dukut. Kita dapat mulai dari iblis itu sendiri. Kemudian adik seperguruannya. Ayah perempuan itu. Baru kemudian sampai pada sasarannya” Pengikutnya sama sekali tidak menjawab. Namun iapun kemudian mengikutinya ketika Ki Dukut dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan yang pernah dihuninya beserta beberapa orang pengikutnya. Dengan darah yang bergejolak di jantungnya, Ki Dukut berjalan menyelusuri jalan yang pernah setiap hari dilaluinya, keluar masuk padepokannya. Dalam pada itu. Di perjalanan kembali kepondok kecilnya, Ki Dukut telah menganyam gagasan. Apakah yang sebaiknya dilakukan lebih dahulu. Apakah ia akan menghubungi orang-orang yang akan dimintanya untuk membantu membunuh Pangeran yang pernah jadi muridnya itu, ataukah ia harus mengambil langkah-langkah lain. “Ki Dukut,” bertanya pengikutnya itu, “bukankah ada sumber kebencian Di Dukut kepada Pangeran Kuda Padmadata? Tentu bukan tiba-tiba saja Ki Dukut membencinya, kemudian bersama Pangeran Kuda Rukmasanti merencanakan segalanya yang telah terjadi itu” “Ya” berkata Ki Dukut, “iblis itulah yang menumbuhkan kebencianku kepada Kuda Padmadata yang kemudian mengambil seorang isteri dari padukuhan. Seandainya perempuan yang diambil itu bukannya anak perempuan tikus kecil itu, aku kira aku tidak akan membencinya. Karena Kuda Padmadata termasuk seorang murid yang patuh. Tetapi ternyata bahwa ia sama sekali tidak menghiraukan peringatanku ketika ia mengambil gadis padesan itu. Apalagi ketika aku mengetahui bahwa perempuan itu adalah anak dan adik seperguruan iblis buruk itu” Pengikutnya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi apakah dengan demikian, Ki Dukut tidak mulai saja dari sumber kebencian itu” “Maksudmu iblis itu sendiri?” bertanya Ki Dukut. “Ya Ki Dukut. Kita dapat mulai dari iblis itu sendiri. Kemudian adik seperguruannya. Ayah perempuan itu. Baru kemudian sampai kepada sasarannya. Perempuan dan anak laki-lakinya, terakhir barulah Pangeran Kuda Padmadata” “Tidak yang terakhir,” potong Ki Dukut, “aku ingin memperlihatkan kematian Pangeran gila itu kepada isteri dan anak laki-lakinya” “Jika demikian, apakah Ki Dukut tidak mulai saja dari orang yang telah menjadi sumber kebencian Ki Dukut. Mungkin tidak terlalu sulit untuk melakukannya. Jika Ki Dukut mendapat satu dua orang kawan, maka orang itu, betapapun saktinya, tentu akan dapat dikalahkan. Memang agak berbeda dengan Pangeran itu sekarang. Mungkin ia sedang dikerumuni oleh orang-orang yang memiliki kelebihan” desis pengikutnya. “Ya. Kuda Padmadata sedang cukerumuni oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi bodoh dan dungu. Apa yang mereka dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa, mereka melindungi Pangeran dan istrinya itu” geram Ki Dukut. “Tetapi apakah mungkin mereka keluarga atau hubungan perguruan dengan orang tua dari perempuan yang diambilnya itu?” bertanya pengikutnya. “Aku tidak tahu” jawab Ki Dukut, “tetapi agaknya mereka orang lain, mungkin mereka adalah petugas-petugas dari Singasari, atau orang-orang lain sama sekali. Namun dalam pada itu, pendapat pengikutnya itu memang menarik perhatian. Jika ia tidak segera dapat menghukum Pangeran Kuda Padmadata, maka ia akan mulai dari ujung yang lain. Ia akan dapat menelusuri kebenciannya kepada musuh bebuyutannya. Kemudian ke-kepada orang tua perempuan padukuhan itu. Baru kemudian ia akan sampai kepada perempuan dan anak laki-lakinya atau Pangeran Kuda Padmadata sendiri, yang ke-matiannya ingin ditunjukkannya kepada isterinya yang diambilnya dari padukuhan itu. Bahkan tiba-tiba saja Ki Dukut berkata, “Aku akan memikirkannya” “ Apa Ki Dukut?” bertanya pengikutnya. “ Aku tidak harus mulai dengan Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Dukut, “ aku akan membunuh iblis itu lebih dahulu. Mungkin aku akan sulit melakukannya karena mungkin aku dan iblis itu mempunyai kemampuan seimbang. Namun aku akan datang kepadanya dengan beberapa orang tertentu, aku harus yakin bahwa ia akan mati. Kemudian aku akan merambat kepada orang-orang yang lebih dekat lagi dengan Pengeran Kuda Padmadata itu” “Tetapi apakah Ki Dukut tahu, dimanakah orang-orang itu tinggal atau mungkin padepokannya?” bertanya pengikutnya. “Aku sudah mengetahuinya. Tetapi perempuan dan orang tuanya itulah yang tidak aku ketahui dimana mereka sekarang berada” geram Ki Dukut, “namun demikian, aku akan mulai dari orang yang dapat aku ketemukan dengan mudah” Pengikutnya tidak menyahut lagi. Tetapi iapun mengikutinya saja dengan langkah yang semakin cepat. Ternyata Ki Dukut Pakering benar-benar telah memikirkan, bahwa ia akan mengambil langkah yang lain Ia sudah merasa tidak lagi akan dapat menguasai harta benda Pangeran Kuda Padmadata seperti yang diperhitung kan. Karena itu, yang kemudian menyala di dadanya bukan lagi ketamakannya kepada harta benda, tetapi dendamnyalah yang seakan-akan telah membakar jantung. Ketika keduanya sampai kepondok kecil tempat tinggal mereka untuk sementara, maka Ki Dukut masih mengulangi pembicaraan itu. Bahkan kemudian seakan-akan ia telah mengambil keputusan, untuk mengamati padepokan kecil tempat tinggal musuh bebuyutannya itu. “Alangkah buruk nasibnya” berkata Ki Dukut, “tiba-tiba saja aku datang untuk melepaskan dendam dan kebencianku kepadanya. Mungkin ia tidak menduga sama sekali. Bermimpi pun tidak. Atau bahkan ia sudah dibayangi oleh mimpi buruk” Pengikutnya mengerutkan keningnya ketika ia melihat Ki Dukut itu tertawa tertahan-tahan. Sambil mengangguk-angguk ia berkata pula, “Kenapa baru sekarang aku menyadarinya, bahwa dengan demikian aku akan mendapat kepuasan ganda. Meskipun bukan karena aku dapat membunuh Pangeran Kuda Padmadata dan mendapat harta bendanya, tetapi aku telah membunuh orang yang paling aku benci sebelum aku membunuh muridku yang gila itu” Dengan demikian, maka Ki Dukut itu pun telah memalingkan untuk sementara perhatiannya kepada musuh bebuyutannya. Ia tidak lagi dengan tergesa-gesa ingin membunuh Pangeran Kuda Padmadata, karena menurut perhitungannya, orang-orang yang telah melibatkan diri itu tentu masih tetap berada di istana itu untuk sementara. “Biarlah mereka terlena dengan Pangeran yang gila itu” berkata Ki Dukut, “aku akan mengambil jalan lain” Namun demikian, pada saat Ki Dukut memutuskan untuk menghubungi beberapa orang yang dikenalnya dengan baik untuk melaksanakan maksudnya, maka pada saat itu, Mahendra dan Ki Wastu telah berada di Singasari Bersama Mahendra, maka Ki Wastu pun telah masuk ke dalam lingkungan istana untuk menengok anak perempuan Ki Wastu dan cucunya ternyata mereka mendapat tempat yang cukup baik dan perlindungan seperlunya, apalagi pesan itu diberikan oleh Mahisa Agni. “Untuk sementara kau akan tetap tinggal disini” berkata Ki Wastu kepada anak perempuannya. “Kenapa ayah?” bertanya anak perempuannya itu, “aku berterima kasih kepada para prajurit di Singasari yang telah melindungi aku dan memperlakukan aku dengan sebaik-baiknya. Tetapi aku di sini tidak lebih dari seekor burung yang hidup didalam sangkar. Aku mendapat makan secukupnya. Aku mendapat pakaian dan bahkan aku mendapat apa saja yang aku perlakukan. Tetapi bukan kali demikian yang seharusnya dilakukan oleh seorang perempuan. Aku sudah merindukan panasnya api di dapur. Aku sudah mulai dibayangi oleh keinginan untuk mengambil air sumur mengisi pakiwan dengan kelenting. Aku adalah seorang perempuan yang seharusnya bekerja seperti kebanyakan srempuan. Tetapi disini aku tidak sempat melakukannya, justru karena kebaikan hati dan mungkin juga belas kasihan” Mahendra menarik nafas, dalam-dalam. Katanya, “jangan memikirkan sesuatu yang dapat memberati perasaan. Kami sudah bertemu dengan Pangeran Kuda Padmadata. Segalanya akan segera selesai. Namun sementara ini, Pangeran itu masih dibayangi oleh dendam dan kebencian, justru dari gurunya sendiri. Karena itu. maka untuk sementara kau masih perlu mendapat perlindungan khusus. Perlindungan yang sebaik-baiknya tidak akan dapat kau peroleh di rumahku misalnya, karena orang-orang yang mendendam Pangeran Kuda Padmadata itu akan dapat bertindak dengan cara yang paling kasar sekalipun” Perempuan itu dapat mengerti. Tetapi kadang-kadang ia merasa sulit untuk mengendalikan perasaannya. Bahkan tanpa disadarinya, matanya menjadi basah Terdengar ia berdesah, “ Ayah, sampai kapan aku harus mengalami himpitan perasaan seperti ini?” “Anakku” jawab Ki Wastu, “sebenarnyalah langit sudah menjadi merah oleh fajar. Sebentar lagi, pagi akan datang. Tetapi kau tidak akan dapat mempercepat putaran waktu. Karena itu, kau harus tetap bersabar” Perempuan itu menunduk dalam-dalam. Titik air matanya telah membasahi pangkuannya. Namun ia mencoba untuk tetap menahan hati dan mengerti, pesan ayahnya. Karena iapun menyadari, betapa ayahnya, dan orang-orang yang semula tidak dikenalnya sama sekali, telah mempertaruhkan nyawanya, untuk melindunginya. Dalam pada itu, untuk sementara, Ki Wastu tetap berada di rumah Mahendra. Ia menunggu mungkin sesuatu akan terjadi di Kediri atau di Singasari. Namun sementara itu, Ki Wastu pun telah memikirkan saudara seperguruannya. Sumber kebencian guru Pangeran Kuda Padmadata kepada muridnya itu adalah karena saudara tua seperguruannya itu, sehingga kebencian itu lelah mengalir pula kepada Pangeran yang malang itu. Yang hampir saja menjadi korban. Namun ternyata bahwa yang berbicara, bukan saja dendam dan kebencian, tetapi juga nafsu dan ketamakan atas harta benda Pangeran yang kaya raya itu. “Ki Mahendra” berkata Ki Wastu pada suatu saat, “aku merasa kurang lengkap, jika persoalan ini tidak aku sampaikan kepada kakak seperguruanku, yang kemudian aku anggap sebagai pengganti guruku. Ia adalah sumber dari kebencian Ki Dukut Pakering, guru Pangeran Kuda Padmadata itu. Jika ia mengetahui persoalan ini, mungkin ia akan dapat ikut memecahkannya. Dengan demikian kecemasan kecurigaan dan keragu-raguan ini akan dapat segera diatasi” Mahendra mengangguk-angguk. Iapun sependapat dengan Ki Wastu. Namun demikian, ia masih bertanya, “Tetapi Ki Wastu, apakah dalam waktu dekat, saudara seperguruan Ki Wastu itu perlu diberi tahu? Atau justru apabila segala sudah selesai, sehingga tidak perlu melibatkannya ke dalam kegelisahan pula” “Mungkin juga demikian. Tetapi jika ia sudah mengetahuinya, maka ia akan dapat ikut mengambil sikap,” bertanya Ki Wastu, “bahkan mungkin ia akan dapat memberikan jalan penyelesaian” Mahendra masih mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, apakah yang sebaiknya kita lakukan?” “Ki Mahendra” berkata Ki Wastu kemudian, “aku kira tidak ada jalan lain kecuali, aku harus menemuinya di padepokannya. Menyampaikan segala persoalan yang berkembang atas anak perempuanku, sehingga berakhir dengan kematian Pangeran Kuda Rukmasanti” “Perjalanan itu tetap cukup jauh Ki Wastu. Apakah Ki Wastu akan menempuh perjalanan itu sendiri” “Aku kira aku tidak berkeberatan untuk menempuh perjalanan itu sendiri. Meskipun mungkin aku kembali bersama dengan saudara seperguruanku itu” sahut Ki Wastu kemudian. “Mungkin ada kawan lain yang dapat pergi bersama! Ki Wastu” berkata Mahendra, “jika Ki Wastu mau singgah di Kediri, meskipun barangkali akan bertambah sedikit jauh, namun Mahisa Bungalan akan dapat menemanimu” Ki Wastu mengerutkan keningnya. Ia telah mengenal anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Ia telah mengetahui tingkat kemampuan anak muda itu. Bahkan ternyata Mahisa Bungalan telah berhasil mengalahkan Pangeran Kuda Rukmasanti. “Tetapi apakah ia masih bersedia mengorbankan waktunya untuk kepentingan orang yang tidak mempunyai sangkut paut sama sekali dengan anak muda itu?” bertanya Ki Wastu, lalu, “kami bukan sanak bukan kadang. Kamipun tidak mempunyai hubungan perguruan. Adalah karena sikap yang luhur sajalah, maka angger Mahisa Bungalan, dan bahkan kemudian seluruh keluarganya, termasuk ayah dan paman-pamannya, telah terlibat pula ke dalam persoalan ini” Mahendra tersenyum. Katanya, “Ki Wastu. Memang seharusnya Mahisa Bungalan sudah dipanggil oleh Sang Maha Prabu di Singasari untuk memasuki lingkungan keprajuritan. Tetapi agaknya Mahisa Bungalan ingin melengkapi pengalamannya lebih dahulu. Jika ia sudah berada di dalam lingkungan keprajuritan, maka ia adalah seorang prajurit yang tidak dapat pergi kemana saja sesuai dengan keinginannya. Karena itu, untuk sementara ia masih mohon waktu, agar ia diperkenankan melengkapi bekalnya sebelum ia memasuki tugas-tugas yang berat dari seorang prajurit di Singasari yang besar ini” Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tetapi untuk mencari pengalaman, seharusnya angger Mahisa Bungalan tidak terlalu dekat berjalan menyentuh bahaya. Mungkin ia ingin melihat kota-kota lain dan tata kehidupan yang lebih lengkap. Tetapi tidak bermain-main dengan nyawanya” “Sentuhan-sentuhan pada bahaya yang gawat itulah yang diinginkannya, meskipun aku harus berdoa siang dan malam, agar’ia selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa”
  2. E…., lha masih kepotong lagi.

    ini lanjutannya:

    Ki Wastu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menyadari bahwa aku sedang berbicara dengan ayah seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Akupun sadar, bahwa pembicaraan ini sekaligus merangkum pengertian, bahwa Ki Mahendra tidak berkeberatan sama sekali jika aku menawarkan kepada angger Mahisa Bungalan, apakah ia bersedia untuk ikut bersamaku, pergi ke padepokan saudara seperguruanku itu”

    “Ki Wastu benar. Justru aku masih ingin memberikan kesempatan kepada anakku. Mudah-mudahan dengan tugas tugas ini menjadi puas dan segera bersedia memasuki lingkungan keprajuritan yang sudah lama tersedia baginya” berkata Mahendra.

    Dengan demikian, maka keduanya pun telah sepakat, bahwa Ki Wastu akan memberitahukan segala yang telah terjadi kepada saudara seperguruannya, yang menjadi pusat dendam Ki Dukut Pakering, sehingga akibatnya telah menyentuh Pangeran Kuda Padmadata, muridnya sendiri. Sehingga hampir saja hidupnya telah dikorbankan. Sementara itu Ki Wastu pun akan singgah pula di Kediri untuk menyampaikan maksudnya kepada Mahisa Bungalan, apabila ia tidak berkeberatan untuk ikut serta dalam perjalanan yang agak panjang.

    -oo0dw0oo-

    Bersambung jilid 12

    Sumber DJVU : Dino
    Convert & Edit : Dino
    Ebook oleh : Dewi KZ
    Tiraikasih Website
    http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
    http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com

  3. Yg jd pemikiran skrg adalah bgmn menularkan, rada senang dan bangga dgn sejarah bangsa sendiri, ada pepatah tak kenal maka tak sayang, sy mulai dgn anak2 mncrtkn bgmn gagahnya para nenek moyang kita bertahan membangun kejayaan dan kebesaran kebanggaan nusantara. Saya sgt terharu dgn hebatnya para pendahulu.

    betul ki Harun
    Yang baik patut diteladani dan yang tidak baik lupakan saja, eh… nggak ding, perlu diingat sebagai bagian dari sejarah untuk mengaca diri agar tidak mengikutinya.

  4. Yg PBM-11 terakhirnya kok banyak yang kepotong ya, kangmas?

  5. Yg PBM-11 terakhirnya kok banyak yg kepotong ya, kangmas?

    Perasaan sudah diperbaiki
    Saya coba cek lagi dengan buku aslinya, mohon waktu nggih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s