PBM-05


<<kembali | lanjut >>

Gemak Werdi” berkata Makerti kemudian, “aku sudah berusaha. Tetapi pengaruhku atasmu memang sangat terbatas. Kau sudah merasa cukup dewasa, sehingga aku tidak perlu lagi mencampuri persoalanmu, seperti juga pernah kau katakan sebelum kau pergi ke Watan”

“Setiap kali kau selalu berbicara tentang Watan. Aku sudah mengakui, bahwa Mahisa Bungalan lah yang telah menyelamatkan aku. Aku pun mengerti, bahwa Mahisa Bungalan telah menyelamatkan padepokan ini. Tetapi apa yang dapat kita katakan atas orang yang tidak menghiraukan padepokan ini lagi? Yang telah pergi jauh tanpa berpaling? Apakah kau kira sebaiknya Ken Padmi datang kepadanya, merunduk dan menangisi kepergian anak muda itu, dan membasuh kakinya dengan air mata?”

Makerti menggeleng lemah. Katanya, “Kau mengerti yang aku maksudkan. Tetapi kau sengaja membaurkannya dengan pengertian yang berbeda. Karena itu, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Terserah kepadamu yang telah cukup dewasa. Yang telah dapat mengetahui baik dan buruk, dan yang telah dapat berdiri di atas sikap yang bertanggung jawab”

“Terima kasih. Jika kau tidak mengganggu aku lagi, maka kau benar-benar seorang yang mengerti tentang aku”

“Aku mengerti tentang kau” sahut Makerti, “tentang sikapmu dan tentang kekacauan pikiranmu. Aku mengerti bahwa kau telah memberikan arti yang lain terhadap penilaianku atas sikapmu”

“Terserah kepada paman. Apapun yang kau katakan, aku tidak akan berkeberatan. Tetapi aku akan tetap tinggal di sini seperti saat aku belum meninggalkan padepokan ini. Meskipun aku sudah menyelesaikan masa berguru dengan menyadap semua ilmu guru, tetapi aku baru mengenalnya dan belum memahaminya. Karena itulah maka aku tidak dapat berbuat banyak ketika aku berada di Watan”

“Apapun yang kau katakan, tidak mengubah penilaianku atas dirimu. Aku pun mengerti bahwa kau tidak mempedulikan lagi penilaian orang lain atas dirimu. Tetapi aku pun berhak berbuat seperti yang kau lakukan”

Gemak Werdi justru tertawa. Katanya, “Terima kasih. Kapan kau akan kembali?”

“Aku akan kembali secepatnya. Aku masih mempunyai pekerjaan di rumah” jawab Makerti.

“Secepatnya. Kapan secepatnya itu?”

“Dua atau tiga pekan lagi” jawab Makerti.

“Kau gila. Dua atau tiga pekan adalah waktu yang sangat panjang”

“Ah, jangan bermain-main. Tiga empat atau lima pekan adalah waktu yang sama sekali tidak berarti bagiku. Aku tentu sudah tidak letih lagi. Dan aku akan berpacu kembali Semalam aku akan menginap di rumah Ki Buyut di perjalanan”

Wajah Gemak Werdi menjadi tegang. Katanya Kau jangan mencoba mengganggu aku paman”

“Jangan hiraukan aku. Aku dapat menentukan diriku sendiri, sesuai dengan kehendakku dan yang paling baik bagiku sendiri. Kita masing-masing dapat menentukan sikap tanpa keterikatan. Kita masing-masing dapat menilai apa saja tanpa saling membicarakan dan saling menegur”

Gemak Werdi menggeram. Ia mengerti, bahwa Makerti sudah kehilangan kesabaran. Tetapi ia pun menjadi semakin keras menghadapi sikap itu, ia tidak mau mundur lagi barang selangkah.

Karena itu, maka Katanya, “Baik paman. Kita akan menempuh jalan kita masing-masing. Aku menempuh jalanku sendiri, dan kau menempuh jalanmu. Tetapi

jika kau berusaha membentur aku, maka aku pun akan berbuat apa saja menurut kehendakku pula”

Makerti menarik nafas dalam-dalam. Ia masih menyadari keadaannya dan hubungan kadang yang ada. Karena itu, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Kita akan menempuh jalan kita masing-masing”

Gemak Werdi pun kemudian tidak menjawab lagi.

Ditinggalkannya Makerti yang kecewa. Namun Gemak Werdi tidak akan berubah sikapnya. Ia tidak melihat jalan lain yang dapat dilaluinya. Seolah-olah ia melihat pintu yang sudah terbuka, sehingga ia tinggal melangkah masuk, meloncati tlundak yang rendah.

Makerti hanya dapat menekan dadanya yang serasa pepat. ia merasa tidak ada perlunya lagi berada di padepokan Kenanga. Ia tidak mau selalu digelisahkan melihat sikap Gemak Werdi. Tetapi ia pun tidak ingin mengkhianatinya dengan menghubungi langsung Ki Selabajra dan memberikan beberapa keterangan yang akan dapat menimbulkan kakecewaan yang mendalam pada Gemak Werdi.

Karena itu, maka tidak seperti yang dikatakannya, maka di hari berikutnya, Makerti telah menghadap Ki Salabajra untuk minta diri.

Gemak Werdi menjadi heran mendengar Makerti minta diri secepatnya. Perubahan sikap itu telah menumbuhkan berbagai macam tanggapan. Dengan gelisah Gemak Werdi mencoba menebak, apa yang akan dilakukan oleh Makerti selanjutnya.

“Apakah ia akan menemui Mahisa Bungalan di padepokan Watu Kendeng?“ pertanyaan itu telah mengganggunya.

Sementara itu, maka Ki Selabajra telah bertanya telah bertanya pula kepadanya, “Gemak Werdi. Apakah kau juga akan kembali?”

Gemak Werdi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Guru. jika guru berkenan, aku masih akan tinggal beberapa hari lagi di padepokan ini. Pengalaman yang baru saja terjadi telah memaksa aku untuk berpikir, agar aku mencari kesempatan mematangkan ilmuku yang semula dengan bodoh aku anggap sudah cukup, aku berniat untuk menekuninya lebih lama lagi”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagus Gemak Werdi. Kau masih muda. Kau masih mempunyai kesempatan yang panjang. Sejak semula aku sudah mengatakan, bahwa yang kau miliki baru dasar-dasar ilmu perguruan ini. Ketika kau bertemu dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan, maka kau merasa bahwa ilmumu itu terlampau kecil dibandingkan dengan ilmu yang dimilikinya. Bahkan Gagak Branang pun telah berhasil mengejutkan kau dan juga aku. Karena sebenarnyalah bahwa ilmu yang ada padaku, tidak akan dapat menjangkau bahkan hanya mendekati ilmu anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu”

Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam. ternyata gurunya sama sekali tidak berkeberatan bahwa ia tetap tinggal di padepokan itu untuk beberapa saat, seperti pada saat ia masih berguru.

Makerti yang duduk dengan kepala tunduk hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian dadanya menjadi bagaikan pepat. Ia mengerti ketidak jujuran Gemak Werdi. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya karena beberapa macam sebab.

“Mudah-mudahan pada suatu saat ki Selabajra dapat melihat dan mengambil sikap. Tetapi jika Gemak Werdi kemudian dapat diterima baik, oleh Ken Padmi dan Ki Selabajra, maka biarlah segalanya itu terjadi. Tetapi jika hal itu dilakukan dengan licik, maka malanglah nasib gadis padepokan Kenanga itu” berkata Makerti kepada diri sendiri. Ia sudah memutuskan untuk tidak mencampurinya lebih jauh. Ia tidak ingin terlibat dalam persoalan yang sangat pribadi itu. Baik atau buruk.

Karena itu, maka Makerti pun berniat benar-benar untuk meninggalkan padepokan itu dengan segera. Beberapa orang murid padepokan Kenanga dan bahkan Ken Padmi sendiri, masih mencoba menahannya. Tetapi Makerti sudah berniat bulat untuk kembali ke rumahnya.

Dengan setengah hati, Makerti pun kemudian minta diri kepada Gemak Werdi yang masih akan tinggal. Tetapi ia sama sekali tidak memberikan pesan apapun juga. Ia sudah bertekad untuk tidak mencampuri persoalannya, apapun yang akan dilakukan.

Ketika Makerti meninggalkan padepokan Kenanga, ada juga niatnya untuk singgah kepadukuhan Watu Kendeng. Namun niat itu pun diurungkannya. Ia akan menjadi bingung jika pada suatu ketika Mahisa Bungalan bertanya tentang Ken Padmi yang sedang tersinggung perasaannya itu.

Karena itu, maka terdorong oleh keburaman hati. maka Makerti pun segera berpacu. Ia tidak ingin bemalam di perjalanan. Meskipun ia harus menempuh perjalanan hampir sehari semalam, ia akan melakukannya.

Tetapi Makerti tidak ingin menyiksa kudanya. Ia justru lebih memperhatikan kudanya daripada dirinya sendiri. Karena itu, maka di-saat-saat tertentu, ia pun berhenti untuk memberi kesempatan agar kudanya dapat beristirahat, makan secukupnya dan minum air jernih.

Sementara Makerti dalam perjalanan kembali ke padepokan Kenanga, Mahisa Bungalan telah dicengkam pula oleh kegelisahan. Untuk sementara ia masih dapat memaksa diri tinggal di padepokan Watu Kendeng. Tetapi keinginannya untuk meneruskan perjalanan sulit untuk dibendungnya lagi. Apalagi ia telah didesak oleh suatu keinginan untuk menyampaikan persoalannya kepada ayahnya, Mahendra. Bahwa ia telah berhubungan dengan seorang gadis dari padepokan kecil bernama Ken Padmi.

“Mudah-mudahan aku masih mendapat kesempatan” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya, “aku akan mohon agar Ki Watu Kendeng sempat menyampaikan pesan, bahwa sebenarnya Mahisa Bungalan hanya sekedar mohon penundaan waktu”

“Tetapi Jika hatinya telah patah, maka sulit untuk dapat direkat kembali” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Tetapi ia masih tetap berpengharapan, bahwa hal itu akan dapat terjadi kelak”

Namun demikian dengan hati berdebar-debar ia berkata kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan tidak ada orang lain yang merenggutnya dengan cara apapun juga”

Namun betapapun juga ia mencoba menahan diri, akhirnya sampai juga pada saatnya, ia harus minta diri. Dengan ragu-ragu ia pun menyampaikan niatnya untuk melanjutkan perantauannya sebelum ia harus kembal ke Singasari. Dengan memaksa diri ia pun telah menyampaikan pesannya, bahwa ia masih berharap untuk dapat kembali ke padepokan Kenanga dengan orang tuanya seperti yang dikatakannya, meskipun ia tidak akan melupakan Ki Watu Kendeng pun akan menyertainya.

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengerti bahwa saat yang demikian tentu akan datang. Jika Mahisa Bungalan bersedia tinggal beberapa saat di Padepokannya, itupun telah membuatnya berbesar hati. Karena itu maka ia tidak akan dapat menahannya lagi.

Selama Mahisa Bungalan berada di padepokannya, ia sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya, bahkan ia berusaha untuk membuatnya berbesar hati pula dengan pembicaraannya tentang gadis padepokan Kenanga. Tetapi yang justru berakhir dengan kesalah pahaman. Namun demikian, Ki Watu Kendeng masih juga bersedia untuk berbicara dengan Ki Selabajra. Ia ingin sekali lagi menjelaskan persoalan yang sebenarnya tentang Mahisa Bungalan.

“Mudah-mudah Ken Padmi dapat mengerti, “ berkata Ki Watu Kendeng.

“Aku mohon maaf, bahwa itu harus terjadi. Tetapi aku benar-benar berniat baik. Karena aku adalah seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tuaku” berkata Mahisa Bungalan.

“Aku mengerti Mahisa Bungalan” jawab Ki Watu Kendeng, “karena itu, aku pun akan berusaha”

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun kemudian minta diri, meninggalkan padepokan Watu Kendeng, melanjutkan perantauannya seperti yang ingin dilakukannya sejak ia meninggalkan Singasari.

Tetapi sebelum ia berangkat, maka langkahnya tertegun ketika seekor kuda memasuki halaman padepokan Watu Kendeng.

“Gemak Werdi” desis Mahisa Bungalan. Ki Watu Kendeng yang telah mengenal anak muda itu pun kemudian memersilahkannya naik ke pendapa.

“Apakah kau akan pergi Mahisa Bungalan?“ bertanya Gemak Werdi setelah ia duduk di pendapa.

“Ya Gemak Werdi. Aku akan meninggalkan padepokan Watu Kendeng” jawab Mahisa Bungalan.

“Bukankah ia memang seorang perantau” sahut Ki Watu Kendeng.

Gemak Werdi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika demikian maka dugaan kami memang benar”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Dugaan tentang apa ngger?”

“Mahisa Bungalan memang tidak bersungguh-sungguh” jawab Gemak Werdi.

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Sambil beringsut setapak ia bertanya, “Apakah membawa pesan dari Ki Selabajra?”

“Ya Ki Watu Kendeng. Berdasarkan atas pertimbangan yang matang, maka aku diutusnya datang kemari. Lebih baik segalanya menjadi jelas daripada masih merupakan teka-teki yang tidak tertebak”

“Aku tidak mengerti” desis Ki Watu Kendeng. Gemak Werdi termenung sejenak. Kemudian katanya, “Ki Watu Kendeng. Aku datang untuk menyampaikan sebuah keputusan”

“Keputusan tentang apa ngger?“ bertanya Ki Watu kendeng.

“Tentang Mahisa Bungalan” jawab Gemak Werdi.

Dada Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak mendahului Ki Watu Kendeng. Betapapun juga ia menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Ki Watu Kendeng kepada Gemak Werdi. Apakah yang akan kau katakan tentang Mahisa Bungalan itu ngger? Aku kira masalahnya demikian penting, sehingga apakah Ki Selabajra menganggap, bahwa kau seorang diri sudah cukup untuk mewakilinya?”

Gemak Werdi mengerutkan keningnya. Kemudian Katanya, “Kenapa kau bertanya demikian Ki Watu Kendeng. Aku adalah muridnya. Apakah aku tidak berhak menjadi utusannya dalam segala hal”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin demikian ngger. Tetapi baiklah, apakah yang akan kau sampaikan?”

“Ki watu Kendeng. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu penting. Aku mendapat pesan dari Ki Selabajra atas permintaan anaknya Ken Padmi, agar segala hubungan diputuskan. Masing-masing tidak usah saling berharap dan menganggap bahwa antara keduanya, maksudku Mahisa Bungalan dan Ken Padmi adalah sebagai dua orang bersaudara. Kakak beradik. Tanpa hubungan yang lain lagi” berkata Gemak Werdi kemudian.

Wajah Mahisa Bungalan terasa menjadi panas. Tetapi ia masih saja menahan diri. dan membiarkan Ki Watu Kendeng menjawab, “Angger Gemak Werdi. Menurut penerimaanku, hal ini adalah hal yang penting. Bukannya tidak penting seperti yang angger katakan”

“Maksudku Ki Watu Kendeng, bahwa yang aku sempaikan ini bukannya persoalan yang perlu diperbincangkan lagi. Adalah berbeda dengan persoalan yang justru baru mulai dibicarakan. Itu adalah hal yang sangat penting. Tetapi sekedar menyampaikan sebuah keputusan yang seolah-olah telah disepakati terlebih dahulu oleh kedua belah pihak, maka persoalannya tidaklah sepenting persoalan yang pertama”

“Angger keliru” berkata Ki Watu Kendeng, “tidak ada yang telah menyepakati hal itu. Bahwa Ken Padmi menjadi salah paham, itu sudah ketahui. Tetapi antara aku dan Ki Selabajra masih terikat suatu kesediaan untuk saling berbicara tentang hal ini. Itulah yang agak mengharapkan, kenapa tiba-tiba saja ia mengutus seorang muridnya. Meskipun aku tidak menolak pembicaraan yang disampaikan lewat angger Gemak Werdi”

Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mohon maaf Ki Watu Kendeng. Tetapi pesan guruku sudah jelas. Bahwa tidak ada pembicaraan apapun lagi. Yang ada adalah hubungan keluarga yang lebih akrab. Hubungan antara kakak beradik”

Ketika Mahisa Bungalan beringsut setapak, maka dengan tergesa-gesa Ki Watu Kendang berkata, “Angger Mahisa Bungalan. Aku harap, angger tidak cepat salah paham seperti Ken Padmi, karena justru Ken Padmi adalah seorang gadis. Bagaimanapun juga, aku masih merasa berkewajiban untuk berbicara dengan Ki Selabajra”

Mahisa Bungalan yang sudah hampir menyahut, seakan-akan harus menelan kata-katanya kembali ke dalam ke rongkongannya. Namun justru karena itu, maka dadanya serasa menjadi sesak.

“Angger Gemak Werdi” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “aku telah menerima angger dengan senang hati. Semua pesan telah aku terima dan aku mengerti. Namun demikian, pada suatu saat aku akan mohon waktu kepada Ki Selabajra untuk dapat sekedar berbicara tentang masalah yang pelik ini”

Wajah Gemak Werdi justru menegang. Dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Tidak akan ada gunanya. Ki Selabajra sudah memutuskan. Karena itu, agaknya tidak akan dapat ditarik kembali”

Jawaban itu justru sangat menarik perhatian Mahisa Bungalan. Semula ia sudah hampir kehilangan pengamatan diri dan akan terperosok ke dalam sikap yang gelap. Namun justru karena sikap Gemak Werdi, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Gemak Werdi, aku mohon maaf bahwa aku pun akan ikut berbicara”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia melihat wajah Mahisa Bungalan yang jernih, ia membiarkan saja anak muda itu berkata, “Aku adalah orang yang paling berkepentingan dengan pesan Ki Selabajra. Aku mengerti, betapa hati seorang gadis cepat menjadi patah. Tetapi aku berharap, bahwa Ken Padmi tidak akan berbuat demikian”

“Sayang Mahisa Bungalan” jawab Gemak Werdi, “harapanmu itu tidak akan berarti apa-apa. Ken Padmi sudah memutuskan, tidak akan berhubungan dengan Mahisa Bungalan kecuali sebagai seorang kakak yang telah menyelamatkannya dari bencana yang paling pahit bagi seorang gadis”

“Ternyata ia ingat peristiwa itu” sahut Mahisa Bungalan, “tetapi apakah salahnya jika aku masih akan mencoba menunggu sampai hatinya luluh”

Gemak Werdi termangu-mangu sejenak. Agaknya ia tidak menyangka bahwa Mahisa Bungalan akan bersikap demikian. Namun Gemak Werdi pun kemudian berkata, “Mahisa Bungalan. Sebenarnya aku tidak akan sampai hati mengatakannya. Tetapi karena nampaknya masih belum mengerti, maka baiklah aku katakan bahwa saat ini. Ken Padmi telah menemukan jodohnya. Jodoh yang sesuai dengan gadis itu dan disetujui pula oleh orang tua masing-masing. Meskipun anak muda itu tidak memiliki kemampuan seperti Mahisa Bungalan, namun justru karena itu, ia berharap, bahwa anak muda itu akan bersikap sungguh-sungguh dan tidak sekedar mengisi saat-saat hatinya kosong”

Wajah Mahisa Bungalan menegang sejenak. Demikian pula Ki Watu Kendeng. Bahkan ternyata bahwa perasaan Ki Watu Kendang lah yang telah bergejolak sehingga dengan serta merta ia menjawab, “Itu tidak mungkin ngger. Aku masih harus bertemu dan berbicara dengan Ki Selabajra”

“Sudahlah Ki Watu Kendeng” berkata Gemak Werdi, “jangan mengusik kebahagiaan Ken Padmi yang telah menemukan seseorang yang paling sesuai di dalam hidupnya”

“Siapakah orang itu?“ tiba-tiba saja Ki Watu Kendeng bertanya.

“Aku sendiri kurang mengerti. Aku hanya mendapat perintah dari Ki Selabajra untuk menyampaikan hal ini kepada Ki Watu Kendeng. Mungkin anak muda itu masih mempunyai sangkut paut hubungan darah. Tetapi biarlah aku tidak memberikan jawaban, karena aku memang tidak mengerti”

Nafas Ki Watu Kendeng tiba-tiba saja menjadi terengah-engah seolah-olah orang tua itu baru saja melakukan pekerjaan yang sangat berat. Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan sendiri masih tetap dapat menguasai dirinya. Bahkan ia masih dapat berkata dengan sareh, “Baiklah Gemak Werdi. Jika itu sudah menjadi keputusan. Bagiku keputusan itu adalah keputusan sepihak, sehingga tidak berlaku bagi pihak aku dan Ki Watu Kendeng. Bagiku, harapan itu masih tetap aku junjung. Aku akan pulang ke Singasari, mengabarkan hal ini kepada orang tuaku. Orang tuaku akan datang ke padepokan ini, dan bersama-sama dengan Ki Watu Kendeng menghadap Ki Selabajra menyampaikan-persoalan yang bagiku merupakan persoalan yang sangat besar”

“Itu hanya akan membuang waktu saja, “ potong Gemak Werdi.

“Aku tidak memperhitungkan waktu, karena waktu itu dapat aku petik tanpa kesulitan apapun juga. Aku adalah seorang perantau yang mempunyai waklu berlimpah-limpah. Ayahku pun bukan seorang seorang yang sibuk dengan tugasnya”

“Tetapi kerja yang tidak ada gunanya, apakah masih akan dilakukan?“ bertanya Gemak Werdi.

“Aku meragukan, apakah yang akan aku lakukan itu sama sekali tidak akan berarti”

“Seandainya kau dapat mengusik perasaan Ken Padmi yang sudah hidup tenang dengan suaminya, apakah itu bukan berarti bahwa kau telah merampas kedamaian hatinya? Itulah pertanda cintamu kepada seorang gadis?“ bertanya Gemak Werdi.

“Aku tidak sedungu yang kau sangka. Aku dapat berbuat sesuatu tanpa melukai hati seseorang. Tetapi baiklah, segala yang dipesankan kepadamu telah kami terima di padepokan ini. Sampaikan hormatku kepada Ki Selabajra dan salamku kepada Ken Padmi. Selama yang kau katakan itu belum terjadi, maka aku masih akan berbuat sesuatu. Dan untuk mengetahui apakah hal itu sudah terjadi atau belum, bukankah persoalan yang mudah sekali?“ berkata Bungalan kemudian.

Dada Gemak Werdi menjadi berdebar-debar. Ternyata tidak mudah baginya membakar hati Mahisa Bungalan Ia menyangka, bahwa Mahisa Bungalan pun akan menjadi marah dan dengan serta merta memutuskan segala hubungan. Tetapi Mahisa Bungalan tidak berteriak, “Aku adalah seorang laki-laki. Aku akan dapat mencari jauh lebih baik dari gadis padepokan Kenanga itu” Bahkan ternyata Mahisa Bungalan seolah-olah tidak lagi menghargai dirinya sendiri dan merendahkan diri untuk tetap merangkak didepan regol padepokan Kenanga.

“Aneh” berkata Gemak Werdi di dalam hatinya. Tetapi kegelisahan yang sangat telah melanda perasaannya. Jika benar Ki Watu Kendeng dan bahkan mungkin Mahisa Bungalan sendiri akan datang ke padepokan Kenanga, maka akibatnya tentu akan parah baginya.

Yang tidak diketahui oleh Gemak Werdi, bahwa sikap Mahisa Bungalan adalah justru karena kecurigaannya. Dengan menahan hati Mahisa Bungalan seakan-akan tidak menghargai dirinya sendiri. Jika di saat ia mendengar pembicaraan Gemak Werdi yang mula-mula darahnya sudah mulai bergejolak, namun kemudian justru ia berhasil menahan hatinya.

Betapapun juga Gemak Werdi menahan kegelisahannya, tetapi Mahisa Bungalan dapat menangkapnya barang sekilas di wajah anak muda itu. Dengan demikian maka kecurigaannya pun menjadi semakin menyala di dalam dadanya. Meskipun Mahisa Bungalan tidak mengetahui dengan pasti latar belakang dari sikap Gemak Werdi, namun seperti yang dikatakannya, ia bukannya seorang yang sangat dungu, sehingga ia pun mulai mencurigai Gemak Werdi sebagai seorang anak muda. Tetapi Mahisa Bungalan tidak ingin berselisih dengan anak muda itu. Baginya Gemak Werdi bukannya apa-apa. Tetapi perselisihan dengannya hanyalah akan menimbulkan kesulitan. Jika bukan kesulitan lahir, tentu kesulitan batin.

Gemak Werdi yang merasa salah hitung itu, akhirnya mencoba juga untuk memutuskan segala hubungan Mahisa Bungalan dengan Ken Padmi dan padepokan Kenanga. Katanya, “Terserahlah kepadamu Mahisa Bungalan. Aku sudah berusaha melakukan kewajibanku sebagai seorang padepokan Kenanga, atau orang lain untuk kepentinganmu, aku tidak tahu, apakah Ki Selabajra masih dapat melakukan tugas dengan baik. Dan apakah dengan demikian Ki Selabajra masih akan menganggapmu sebagai seorang anak muda yang tahu diri”

Mahisa Bungalan benar-benar telah berhasil menguasai dirinya. Karena itu jawabnya, “Apapun anggapan atasku, akan aku terima dengan senang hati. Sejak semula aku memang merasa seorang yang tidak berharga. Itulah sebabnya aku di Watan bersikap seperti perasaanku. Aku memang orang yang tidak pantas diperhitungkan. Bahkan aku mulai berpikir, apakah Ki Selabajra pun mulai menganggap demikian terhadapku. Tetapi aku bukan seorang yang mudah berputus asa”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti, kenapa Mahisa Bungalan benar-benar telah merendahkan dirinya tanpa ragu-ragu.

Tetapi dengan demikian, Gemak Werdi justru menjadi semakin berdebar-debar. Ia sudah berusaha untuk membuat hati Mahisa Bungalan panas dan patah. Tetapi ternyata ia gagal.

Dengan cemas akhirnya Gemak Werdi minta diri. Kedatangannya ke Watu Kendeng membuatnya justru menjadi bingung. Ia berharap untuk selanjutnya Mahisa Bungalan tidak akan mengganggu perasaan Ken Padmi lagi. tetapi yang terjadi sama sekali tidak seperti yang diharapkan.

“Anak muda yang tidak tahu malu” katanya di dalam hati.

Sementara itu Mahisa Bungalan pun berkata, “Salamku kepada Ki Selabajra dan Ken Padmi. Aku hari ini meninggalkan Watu Kendeng untuk datang kembali pada saat yang lain”

Wajah Gemak Werdi menjadi tegang, tetapi ia menjawab, “Semuanya akan aku sampaikan kepada Ki Selabajra. Dengan demikian Ki Selabajra akan lebih mengenalmu sebagai seorang anak muda yang lain dari yang dibayangkannya semula”

“Sayang, bahwa ia mendapat kesan yang salah tentang aku. Tetapi inilah aku yang sebenarnya. Tidak tahu diri, tidak berharga dan mungkin bukannya anak muda yang diharapkan”

Gemak Werdi tidak menjawab, ia pun kemudian meninggalkan Watu Kendeng dengan hati yang gelisah.

Sementara itu, Mahisa Bungalan yang sudah siap untuk berangkat, terpaksa kembali duduk di pendapa. Namun ia sudah berniat tidak akan menunda lagi perjalanan.

“Aku ingin minta penjelasan sebelum kau berangkat Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng, “aku tidak mengerti sikapmu. Semula aku menjadi cemas bahwa kau tidak akan dapat mengendalikan diri. Namun kemudian justru akulah yang hampir tidak dapat menahan hati, sementara kau benar-benar telah merendahkan dirimu sendiri. Aku tahu, bahwa kau memang seorang yang rendah hati. Seorang yang dengan sengaja merendahkan diri. Tetapi tidak dihadapan seorang gadis dan orang tuanya. Jika kau menganggap dirimu seorang perantau, karena kau ingin menyadap kehidupan ini sedalam-dalamnya. Dengan wajah seorang perantau, kau lebih banyak melihat dan mendengar tanpa kecurigaan orang lain. Tetapi apakah sikap itu berlaku juga dalam hubunganmu dengan Ken Padmi. Jika seorang gadis sudah menolakmu, apakah kau masih juga ingin bersimpuh di bawah kakinya”

Mahisa Bungalan tersenyum Jawabnya, “Aku kurang yakin akan pesan yang disampaikan oleh Gemak Werdi. Apakah pesan itu benar-benar diucapkan oleh Ki Selabajra, atau sekedar ucapan Gemak Werdi sendiri”

Ki Watu Kendeng mengerutkan dahinya. Sejenak ia seolah-olah merenungi jawaban Mahisa Bungalan itu. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Mungkin kau benar Mahisa Bungalan. Mungkin Gemak Werdi tidak berbuat jujur terhadapmu”

“Agaknya memang demikian” sahut Mahisa Bungalan kemudian, “sejak aku bertemu dengan anak muda itu untuk pertama kalinya di Watan, aku sudah mempunyai kesan yang kurang mantap terhadapnya. Sekarang, kecurigaanku menjadi semakin tebal karena sikap dan kata-katanya”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk, kemudian ia pun bertanya, “Jadi, apakah yang akan kau lakukan?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya, “Aku akan meneruskan perjalanan, tetapi aku masih mohon agar Ki Watu Kendeng pada suatu saat berbicara dengan Ki Selabajra. Tetapi aku juga mohon agar Ki Watu Kendeng tidak dengan semata-mata mempersoalkan kedatangan Gemak Werdi. Jika benar yang dilakukan Gemak Werdi itu atas perintah Ki Selabajra, maka Ki Selabajra sendiri tentu akan menyebutnya. Tetapi jika tidak, maka sebaiknya Ki Watu Kendeng tidak usah mengatakannya, agar Gemak Werdi tidak mendapat cela di hadapan gurunya”

Ki Watu Kendeng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Katanya, “Aku tahu bahwa kau tidak ingin mencelakai Gemak Werdi. Itu adalah suatu sikap yang baik. Tetapi sikap itu tidak akan dapat memperbaiki tingkah laku Gemak Werdi. Jika karena hal itu Gemak Werdi dihukum oleh gurunya, maka bukannya hukuman dan keprihatinan Gemak Werdi itulah yang kita inginkan, tetapi dengan hukuman itu, tingkah lakunya akan berubah. Mudah-mudahan ia menjadi baik dan jera melakukan kesalahan untuk seterusnya”

Tetapi Mahisa Bungalan menggeleng. Katanya, “Sebaiknya kita mencari jalan lain. Sebenarnya aku sependapat dengan Ki Watu Kendeng. Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, perlu mendapat peringatan. Mungkin berat, mungkin ringan. Tetapi masalahnya justru menyangkut anak gadis Ki Selabajra sendiri, sehingga ada kemungkinan Ki Selabajra tidak lagi dapat berdiri tegak di atas pandangan yang adil”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Lalu kalanya, “Baiklah Mahisa Bungalan. Aku akan mencoba melakukan segala pesanmu. Aku akan mencari waktu yang paling baik untuk bertemu dengan Ki Selabajra. Aku tidak akan datang ke padepokannya, agar Gemak Werdi tidak menjadi sangat gelisah jika benar ia telah melakukan kesalahan. Tetapi aku berharap, bahwa aku akan dapat bertemu dengan Ki Selabajra pada saat-saat yang tidak terlalu lama”

Mahisa Bungalan pun kemudian sekali lagi minta diri untuk melanjutkan perjalanan perantauannya, setelah ia menjelaskan maksudnya, serta memastikan pendiriannya kepada Ki Selabajra.

Dengan berat hati, orang-orang padepokan Watu Kendeng telah melepasnya pergi. Mereka seolah-olah telah kehilangan sekali lagi sepeninggal Kuda Pramuja.

Mahisa Bungalan pun sebenarnya merasa berat pula meninggalkan padepokan itu. Ia mengerti, bahwa Ki Watu Kendeng yang telah kehilangan anaknya itu, hatinya benar-benar menjadi kosong. Baginya hari depan padepokannya dan hari depannya sendiri adalah gelap. Apalagi apabila ia mengingat, bahwa tidak ada lagi orang yang dapat melanjutkan keturunannya dan melestarikan ilmunya seutuhnya. Sampai saat terakhir, ia tidak melihat bahwa salah seorang muridnya akan dapat menggantikan kedudukannya kelak, apabila ia sudah menjadi tua dan pikun.

Namun dalam pada itu, Ki Watu Kendeng sendiri akhirnya telah menemukan sandaran yang paling baik bagi hidupnya, la tidak melihat yang lain kecuali pasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Apakah yang akan terjadi padanya, dan apakah yang akan dialami oleh masa-masa mendatang sepeninggalnya bagi padepokannya, diserahkannya bulat-bulat kepada Yang Maha Agung.

Sementara itu, Mahisa Bungalan yang meninggalkan padepokan Watu Kendeng, berjalan dengan langkah yang ragu-ragu. Setiap kali ia menoleh, memandang padepokan yang menjadi semakin jauh dan akhirnya seakan-akan tenggelam di bawah cakrawala.

Namun, meskipun padepokan Watu Kendeng sudah tidak nampak lagi di matanya, tetapi kesan tentang padepokan itu tidak terhapus dari hatinya, seperti juga Mahisa Bungalan tidak dapat melupakan padepokan Kenanga.

“Tetapi apakah aku masih mungkin datang ke padepokan itu lagi“ keluhnya.

Kadang-kadang ia merasa menyesal, bahwa ia sudah mencampuri persoalan Gemak Werdi di Watan. Bukan karena ia sudah menolong dan menyelamatkan Gemak Werdi, tetapi bahwa ia kemudian datang ke padepokan Kenanga, sehingga ia dapat bertemu dengan Ken Padmi itulah yang telah menumbuhkan penyesalan. Bahwa akhirnya pertemuannya dengan, gadis Padepokan Kenanga itu hanya akan menumbuhkan kenangan pahit di dalam hidupnya kemudian.

Tetapi Mahisa Bungalan masih tetap berharap, la benar-benar tidak yakin bahwa yang dikatakan oleh Gemak Werdi itu benar-benar pesan Ki Selabajra.

“Orang tua itu tentu tidak akan tergesa-gesa mengambil sikap meskipun ada juga salah paham” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya, seolah-olah ia ingin menghibur perasaannya sendiri.

Mahisa Bungalan sama sekali tidak menghiraukan panas matahari yang semakin terik di langit. Ia juga tidak menghiraukan orang-orang yang berpapasan dan memperhatikannya. Mahisa Bungalan berjalan saja dengan kepala tunduk dan angan-angannya yang membumbung tinggi, menyusuri mega-mega di langit yang biru bersih.

Dalam pada itu, Gemak Werdi yang kembali ke padepokan Kenanga pun telah menjadi semakin dekat. Tetapi kegelisahannya pun rasa-rasanya menjadi semakin menyala di dalam hatinya. Seolah-olah ia akan dihadapkan pada suatu pertemuan yang akan dihadiri oleh Mahisa Bungalan dan beberapa orang lain yang akan minta pertanggungan jawab kepadanya.

“Akulah yang bodoh” katanya di dalam hati.

Anak muda itu menyesal bahwa ia sudah melakukan kesalahan karena ketergesa-gasaannya. Ia kurang mendalami sifat dan watak Mahisa Bungalan sehingga ita telah tergelincir mengambil kesimpulan yang salah. Mahisa Bungalan tidak mudah menjadi mata gelap dan kehilangan nalar. Justru ia merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang yang batinnya tidak memiliki pengaruh apapun juga.

Dengan gelap, Gemak Werdi mencoba membuat perhitungan. Tetapi rasa-rasanya tidak ada jalan keluar dari persoalan yang sudah terlanjur dilontarkannya. Jika benar-benar Ki Watu Kendeng berusaha menemui Ki Selabajra dan menanyakan masalah Ken Padmi, maka perbuatanku itu akan segera diketahuinya” berkata Gemak Werdi di dalam hatinya.

Demikian kegelisahan mencengkam jantungnya, sehingga ia berdesis, “Apakah aku akan berterus terang saja kepada Ken Padmi aku sudah melakukan sesuatu atas namanya, tetapi di luar pengetahuannya? Mungkin ia akan marah kepadaku, tetapi tentu akan malu mencabut kata-katanya, bahwa ia tidak akan menerima Mahisa Bungalan kapan pun anak muda itu akan datang”

Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. “Jika Ken Padmi kemudian justru mengatakannya kepada Ki Selabajra. maka ia tentu akan sangat marah kepadaku” katanya di dalam hati.

Dalam pada itu, selagi ia merenungi keadaannya Gemak Werdi telah dikejutkan oleh derap kaki kuda. Ketika ia berpaling, dilihatnya dua orang penunggang kuda sedang menyusulnya.

“Ki Sanak” terdengar salah seorang dari kedua orang itu memanggilnya.

Dengan hati yang berdebar-debar Gemak Werdi pun kemudian berhenti. Sejenak ia dirambati olah perasaan, cemas melihat kedua orang yang menyusulnya itu. Namun kemudian ia seolah-olah terbangun dari mimpinya dan menyadari dirinya sendiri. Bahwa ia adalah Gemak Werdi. Murid terbaik dari perguruan Kenanga.

Karena itu, maka ia pun telah mengadakan dadanya menunggu kedua orang yang menyusulnya itu.

Beberapa langkah di hadapannya Gemak Werdi, kedua orang itu. Tetapi keduanya agaknya tidak menunjukkan maksud yang kurang baik terhadapnya.

Salah seorang dari kedua itu pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Apakah kau berasal dari padukuhan di ujung bulak ini dan berdekatan degan padepokan Kenanga?”

Gemak Werdi mengerutkan keningnya. Meskipun kedua orang itu nampaknya tidak bermaksud buruk terhadapnya, tetapi pertanyaan itu menegangkan hatinya pula. Justru karena kecurigaan yang timbul maka Gemak Werdi pun kemudian menjawab, “Aku bukan dari padukuhan sebelah. Tetapi aku orang padukuhan Kriyan, di seberang bulak kecil di balik padukuhan itu. Tetapi tidak terlalu jauh dari padepokan Kenanga”

Orang-orang itu saling berpandangan sejenak, Kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kau pernah mendengar peristiwa yang mengerikan yang terjadi di padepokan Kenanga?

“Ya, Saudara muda Ki Watu Kendeng telah terbunuh”

“Tepat, Berita itulah yang aku dengar. Apakah kau tahu pasti, siapakah pembunuhnya? Apakah Ki Selabajra dari padepokan Kenanga?”

Gemak Werdi mengerutkan keningnya. Tetapi ia justru bertanya, “Menurut pendengaran kalian, sipakah yang telah membunuhnya?”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari keduanya menjawab, “Pertempuran yang kemudian terjadi seolah-olah adalah perang brubuh. Tetapi di antara orang-orang padepokan Kenanga hadir seorang asing yang memiliki kemampuan melampaui Gagak Branang”

“Tepat“ Gemak Werdi lah yang menjawab. Dan tiba-tiba saja tumbuh satu pikiran di dalam kepalanya. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian bertanya, “Siapa kah kalian berdua?”

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi salah seorang dari mereka justru bertanya, “Ki Sanak. Apakah kau mengenal orang asing itu? Dan apakah ia masih berada di padepokan Kenanga?”

Gemak Werdi segera mengetahui bahwa yang dimaksud tentu Mahisa Bungalan. Ia pun kemudian dapat mereka maksud kedua orang yang berwajah garang itu. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Orang asing itu menjadi terkenal karenanya, justru karena ia dapat membunuh Gagak Branang. Dengan bangga karena ia dapat membunuh Gagak Branang. Dengan bangga ia menyebut kemenangannya sebagai suatu peristiwa yang banyak dilakukannya sebelumnya”

“Gila. Siapakah orang itu sebenarnya”

“Ia sudah meninggalkan padepokan Kenanga. Ia singgah di padepokan Watu Kendeng. Tetapi agaknya ia sudah meninggalkan padepokan itu pula. Aku tidak tahu, kemana orang itu akan pergi memawa kebanggaannya. Tetapi ia memang seorang perantau”

“Apakah hubungannya dengan Ki Selabajra atau Ki Watu Kendeng yang justru kakak dari Gagak Branang itu sendiri”

“Tidak ada hubungan apa-apa. la adalah suatu ciri dari orang-orang yang berbangga karena kemenangannya”

Kedua orang itu menegang. Nampak pada wajah mereka sesuatu yang bergejolak di dalam hati. Justru karena itu maka Gemak Wesdi berkata, “Menurut pendengaranku, bukan saja Gagak Branang yang terbunuh. Tetapi ada lagi saudara-saudara seperguruannya”

“Ya. Itulah yang menyakitkan hati” geram salah seorang dari mereka.

“Siapakah kau Ki Sanak? Apakah kau mempunyai kepentingan tertentu?“ bertanya Gemak Werdi kemudian.

“Ya. Aku adalah saudara tertua dari perguruan kami. Aku tidak ikhlas melepaskan kepergian Gagak Branang dengan saudara-saudara seperguruan kami yang lebih muda, seolah-olah perguruan kami adalah perguruan yang pantas dihinakan dan direndahkan harga dirinya”

Tiba-tiba dada Gemak Werdi menjadi berdebar-debar. Di luar sadarnya ia berkata, “Kalian akan menuntut balas?”

“Ya. Aku ingin tahu, dimana orang itu berada sekarang”

Sejenak Gemak Werdi termangu-mangu. Ia tidak tahu, apakah yang sebaiknya dilakukan. Tiba-tiba saja terdengar bisikan lembut di telinga hatinya yang paling dalam, “Jangan tunjukkan”

Tetapi jika terbayang wajah Ken Padmi, maka seolah-olah ia mendapatkan pemecahan dari satu teka-teki yang maha sulit baginya.

Karena Gemek Werdi tidak segera menjawab, maka salah seorang dari kedua orang itu bertanya sekali lagi, “Kau tahu dimana ia sekarang?”

Perlahan-lahan Gemak Werdi manggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu, Ki Sanak. Apa yang aku ketahui, adalah sekedar menurut kata orang”

Keduanya mengangguk-angguk. Yang seorang berkata, “Terima kasih Tentu ia belum jauh dari Watu Kendeng. Aku harus pergi ke padepokan itu dan bertanya kemana orang itu pergi”

Gemak Werdi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Ia tidak berada di Watu Kendeng. Aku tidak dapat membayangkan, apakah ia akan singgah pula ke tempat itu”

“Kenapa?”

Gemak Werdi menjadi bingung. Dalam kebingungannya itu ia berdesis, “Tentu aku tidak tahu apakah yang sebenarnya dilakukannya. Tetapi apakah mungkin ia justru berada di tempat saudara tua dari orang yang telah dibunuhnya” Namun ketika panas di hatinya menyala, maka ia melanjutkan, “Tetapi semuanya memang mungkin. Kematian anak Ki Watu Kendang karena pokal Gagak Branang akan memberikan suasana yang aneh bagi padepokan itu”

“Ya. Demikianlah menurut pendengaranku. Karena itu, aku akan pergi ke Watu Kendeng dan bertanya apakah orang-orang Watu Kendeng tahu, kemanakah Mahisa Bungalan pergi”

Gemak Werdi tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan. Bahkan ia pun menjadi bingung apakah yang sudah diucapkan. Dengan demikian, maka akhirnya ia berkata, “Selanjutnya terserah kepada kalian. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang itu. Kemana ia pergi dan apa pula hubungannya dengan Ki Watu Kendeng”

“Keteranganmu sudah cukup. Terima kasih. Aku akan pergi ke padepokan Watu Kendeng”

Gemak Werdi tidak menjawab. Ia melihat kedua orang itu mulai menggerakkan kendali kudanya dan berbalik untuk pergi ke Watu Kendeng.

Pada saat yang demikian itulah, rasa-rasanya ada yang menggelitik hati Gemak Werdi. Seolah-olah ia melihat cara yang paling baik untuk menyingkirkan Mahisa Bungalan. Kedua orang itu tentu orang-orang yang memiliki kemampuan tidak kurang dari Gagak Branang. Bahkan tentu melampauinya. Jika keduanya bertemu dengan Mahisa Bungalan dan bertempur berpasangan, maka akan sulitlah bagi Mahisa Bungalan untuk melepaskan dirinya.

Gemak Werdi mengangkat wajahnya. Ia melihat kedua ekor kuda itu mulai berlari. Tetapi ternyata mulutnya tidak berteriak untuk mengatakan kemanakah Mahisa Bungalan sebenarnya pergi. Setidak-tidaknya berusaha untuk membakar kedua orang itu agar ia memburu Mahisa Bungalan.

Sejenak Gemak Werdi termangu-mangu. Ia berdiri dalam kebimbangan. Ada keinginannya untuk menyusul dan mengikuti orang-orang itu untuk mendorong mereka membunuh Mahisa Bungalan. Tetapi akhirnya ia berdesis, “Bukan aku yang melakukannya. Terserahlah apa yang akan terjadi”

Namun ia tidak dapat ingkar, bahwa ia memang berharap agar keduanya dapat bertemu dengan Mahisa Bungalan dan membunuhnya. Tetapi jika itu terjadi, bukan karena kesalahannya atau karena ia telah mendorongnya untuk melakukan demikian.

Pertentangan di dalam hatinya itu terasa sangat menggelisahkan. Tetapi kedua orang itu sudah semakin jauh Meraka dengan dendam yang membara di hati, ingin bertemu dan membuat perhitungan dengan orang yang telah membunuh adik-adik seperguruannya. Bukan hanya seorang, tetapi beberapa orang.

Tetapi kadang-kadang timbul juga kecemasan di hatinya, seandainya Mahisa Bungalan masih berada di Watu Kendeng, maka ia tentu mengalami kesulitan.

“Mudah-mudahan ia sudah pergi dan tidak bertemu dengan kedua orang itu” desisnya. Namun kemudian, “Jika ia bertemu juga, terserahlah. Bukan salahku. Jika ia mati karenanya, aku tidak tersentuh oleh kesalahan apapun, dan tidak akan terpercik oleh akibat apapun juga”

Akhirnya Gemak Werdi menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Persetan. Yang akan terjadi biarlah terjadi. Aku tidak peduli dan tidak terlibat ke dalamnya“

Untuk beberapa saat lamanya, Gemak Werdi masih berada di tempatnya. Tatapan matanya mengikuti debu yang berhamburan menyusuri bulak panjang., “Terserah, terserah“ ia bergumam sambil menggerakkan kendali kudanya dan melanjutkan perjalanannya yang tinggal pendek.

Tetapi ketika ia memasuki padepokannya, ia telah dicengkam oleh perasaan bersalah. Apalagi ketika ia melihat Ken Padmi jalan melintas longkangan pergi ke dapur. Rasa-rasanya ia merasa berdosa, bahwa ia telah melakukan suatu akal yang licik. Bahkan yang sama sekali tidak berusaha melindungi ketika dua orang yang berbahaya sedang mencari Mahisa Bungalan.

Ketika kudanya telah ditambatkannya, maka dengan tergesa-gesa Gemak Werdi langsung pergi ke biliknya. Dengan keringat yang membasah di seluruh tubuhnya, ia duduk di bibir pembaringan sambil memandang ke dirinya sendiri. Seolah-olah ia sedang membuat suatu perhitungan tetang apa yang baru saja dilakukan.

“Apakah aku sudah gila?“ geramnya.

Namun sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak berbuat apa-apa. Jika nasib Mahisa Bungalan baik, maka ia tidak akan bertemu dengan kedua orang itu. Mungkin Mahisa Bungalan telah menjadi semakin jauh dari padepokan Watu Kendeng, karena ketika aku datag. ia sudah bersiap-siap untuk pergi. Tetapi jika karena kedatanganku kepergiannya tertunda, dan ia bertemu dengan kedua orang itu, maka nasibnyalah yang memang sangat buruk. Semuanya sama sekali tidak terpengaruh oleh perjumpaanku dengan kedua orang itu”

Betapapun kegelisahan masih saja membayanginya, tetapi Gemak Werdi tidak dapat berbuat lain, kecuali berusaha melupakannya, dan menghapusnya dari setiap kesan yang dapat menumbuhkan kecurigaan.

Dalam pada itu, kedua orang yang sedang mencari Mahisa Bungalan itu telah berpacu menuju ke Padepokan Watu Kendeng. Mereka berharap, bahwa Ki Watu Kendeng akan dapat membantu mereka menunjukkan dimana Mahisa Bungalan berada.

“Mungkin orang-orang Watu Kendeng akan menyembunyikannya atau melindunginya” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku memang mempunyai dugaan yang demikian. Meskipun Gagak Branang itu adiknya, tetapi menurut pendengaranku, Gagak Branang telah menjadi sebab kematian anak Ki Watu Kendeng yang semula akan dipergunakan oleh Gagak Branang sebagai umpan untuk memancing gadis Padepokan Kenanga”

“Tetapi kita dapat berbuat banyak. Watu Kendeng bukan apa-apa bagi kami. Kalau pergi, kita akan membongkar gubug terakhir dari padepokan itu”

Kawannya tidak menjawab. Keduanya pun berpacu lebih cepat menuju ke padepokan Watu Kendeng.

Namun tiba-tiba saja salah seorang dari keduanya berkata, “Gadis Kenanga itu menurut pendengaranku memang sangat cantik”

Kawannya tersenyum. Katanya, “Itulah yang telah membuat Gagak Branang menjadi gila. Tetapi lebih gila lagi adalah anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu. Ia telah membunuh Gagak Branang. Dan karena kehadirannya, maka saudara-saudara seperguruanku yang lain pun telah terbunuh pula. Tanpa Mahisa Bungalan, maka padepokan Kenanga dan Watu Kendeng. tidak akan mampu berbuat apa-apa. Gadis Kenanga itu tentu telah berhasil dibawa oleh Gagak Branang”

“Jika telah dibawa oleh Gagak Branang, apa keuntunganmu?”

Kawannya tertawa. Katanya, “Gadis itu sudah berada di padepokan kita. Kenapa kau bertanya seolah-olah kau tidak tahu apa yang telah terjadi di padepokan kita?”

Kawannya tertawa. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “He, apakah tanpa Gagak Branang, kita tidak dapat membawa gadis itu?”

Yang lain mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja laju kudanya menjadi berkurang. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Ya. Tanpa Gagak Branang, kita pun dapat mengambil gadis padepokan Kenanga itu”

“Yang mana yang akan kita lakukan lebih dahulu. Mahisa Bungalan, atau gadis Kenanga itu?”

Namun kawanya menggeretakkan giginya, “Mahisa Bungalan. Gadis itu tidak akan pergi kemana-mana. Besok atau lusa atau nanti setelah Mahisa Bungalan terkapar mati. Kita akan membawa kepalanya sebagai hadiah bagi padepokan Kananga. Sebagai gantinya, kita akan membawa gadis Kenanga bersama dengan kita. Begitu?”

Yang lain tertawa. Kuda mereka yang berpacu semakin lambat telah berpacu lagi secepat angin. Semakin lama kedua orang itu pun menjadi semakin dekat dengan padepokan Watu Kendeng. Rasa-rasanya kuda mereka berlari terlalu lamban, meskipun orang-orang yang berpapasan telah berloncatan menepi karena kuda-kuda yang berpacu.

“Orang-orang gila” berkata seseorang yang hampir saja terlempar ke dalam parit setelah cangkulnya lepas dari tangannya.

“Orang kesurupan” sahut kawannya yang sedang menunggui air disawah, “jika kaki kudanya tergelincir, maka kepalanya akan pecah terbentur batu jalan”

“Mereka seolah-olah tidak menghargai lagi nyawanya dan juga nyawa orang lain. Seseorang yang terlanggar oleh kuda yang berpacu akan terlempar dan mungkin sekali akan terbunuh”

Dengan geram orang-orang itu memandang kuda-kuda yang berpacu dan kemudian hilang di tikungan. Namun masih terdengar orang itu bergeramang dengan marah. Untung lah bahwa kedua orang itu tidak mendengarnya, dan orang-orang di pinggir jalan itu tidak tahu siapa mereka yang berpacu itu.

Dalam pada itu, maka kedua orang yang berpacu itu pun telah memasuki jalan yang menuju ke padepokan Watu Kendeng. Dengan hati yang berdebar-debar, maka keduanya pun mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas diri mereka apabila benar Mahisa Bungalan berada di padepokan Watu Kendeng.

Ketika keduanya sampai ke regol padepokan, maka keduanya telah berhenti. Sejenak mereka termangu-mangu memandang pintu regol yang meskipun tidak tertutup, tetapi tidak terbuka seluruhnya.

“Apa yang akan kita katakan kepada Ki Watu Kendeng?“ desis yang seorang.

“Bagaimanakah kira-kira tanggapannya terhadap orang yang telah membunuh adiknya itu?”

“Tetapi adiknya itu telah menyebabkan kematian anaknya Anak kandungnya” sahut yang lain.

Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah seorang berkata, “Yang paling baik. kita akan mengaku sebagai sahabat Mahisa Bungalan. Mudah-mudahan Ki Watu Kendeng tidak mencurigai kita”

Yang lain mengangguk-angguk. Lalu ”Marilah. Apapun yang akan kita hadapi, telah kita sengaja untuk melakukannya”

Keduanya pun kemudian menuntun kudanya memasuki regol. Seorang penghuni padepokan yang segera melihat ke hadiran kedua orang itu segera menghampirinya dan bertanya, “Apakah keperluan Ki Sanak berdua?”

Keduanya telah memaksa diri mereka untuk mengangguk dengan hormat dan ramah, “Kami akan menghadap Ki Watu Kendeng”

“O. silahkan, silahkan naik ke pendapa” orang itu mempersilahkan. Ia menyangka bahwa kedua orang itu tentu mempunyai niat yang baik, karena keduanya nampak sopan dan ramah.

Sejenak keduanya menunggu. Kemudian Ki Watu Kendeng pun keluar dari ruang dalam dan menemui mereka. Seperti sikap yang telah ditunjukkannya kepada para cantrik, maka terhadap Ki Watu Kendeng pun orang itu sangat hormat pula.

Sejenak kemudian, setelah Ki Watu Kendeng duduk bersama mereka, maka salah seorang dari kedua orang itu pun langsung bertanya, apakah Mahisa Bungalan masih berada di padepokan Watu Kendeng.

“Siapakah kalian berdua Ki Sanak?”

“Aku adalah kawan-kawan baiknya Ki Watu Kendeng. Meskipun kami berdua hanya mengenalnya dalam perantauan seperti yang sama-sama kami lakukan, namun rasa-rasanya kami telah menjadi saudara laki-lakinya. Mungkin karena sifat-sifat kami yang bersamaan dan kegemaran kami yang serupa, menjelajahi desa, seolah-olah menghitung jumlah pintu rumah yang tersebar di seluruh Singasari ini”

Melihat sikap yang ramah dan sopan, Ki Watu Kendeng sama sekali tidak mencurigainya. Sehingga karena itu, maka ia pun berkata seperti yang sebenarnya. Mahisa Bungalan telah meninggalkan padepokan Watu Kendeng.

“Apakah Ki Watu Kendeng dapat menunjukkan, kemanakah Mahisa Bungalan itu pergi?“ bertanya salah seorang dari mereka.

Ki Watu Kendeng menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu Ki Sanak. Mahisa Bungalan adalah seorang perantau. Mungkin ia pergi ke daerah yang belum dikenalnya sama sekali. Tetapi mungkin ia akan kembali ke Singasari karena persoalan khusus tentang dirinya”

Kedua orang itu semakin tertarik. Apalagi ketika Ki Watu Kendeng tanpa curiga menceriterakan hubungan Mahisa Bungalan dengan Ken Padmi, sehingga kemungkinan terbesar, Mahisa Bungalan akan pulang ke rumahnya untuk minta kepada orang tuanya, agar mereka datang ke padepokan Kenanga.

“Tetapi, tidak mustahil bahwa Mahisa Bungalan masih akan memilih jalan yang panjang untuk sampai ke Singasari”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka pun kemudian berkata, “Tetapi nampaknya Mahisa Bungalan masih belum terlalu jauh”

“Tentu belum. Dan anak muda itu hanya berjalan kaki” jawab Ki Watu Kendeng.

“Baiklah Ki Watu Kendeng. Kami akan mencarinya. Kami akan kecewa sekali, jika kami tidak dapat menemukannya. Kami bertiga telah mendapat, undangan untuk menghadiri sebuah peralatan perkawinan dari seorang puteri Buyut yang pernah kami tolong bersama-sama”

“Mudah-mudahan Ki Sanak berdua dapat menemukannya” berkata Ki Watu Kendeng kemudian.

Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka segera minta diri untuk menyusul Mahisa Bungalan yang pergi tanpa diketahui arahnya. Ketika keduanya telah keluar dari padepokan, maka salah seorang dari keduanya berkata, “Tentu bukan arah padepokan Kenanga. Tidak ada arah lain, kecuali arah yang bertentangan dengan arah padepokan Kenanga. Agaknya kita tidak akan terlalu sulit untuk menemukan orang itu. Apalagi ia hanya berjalan kaki”

“Tetapi kesulitan kita pertama-tama adalah karena kita tidak mengenal orang yang bernama Mahisa Bungalan Seandainya kita menemukannya, atau justru melampauinya, kita tidak akan mengetahuinya”

“Kau memang bodoh. Bukankah kita akan dapat membedakan, seorang yang pergi ke sawah dan seorang pejalan yang akan menempuh jarak tidak terbatas”

Kawannya kemudian tersenyum. Jawabnya, “Ya. Kita akan dapat membedakannya. Kita pun dapat bertanya apakah seseorang bernama Mahisa Bungalan atau bukan”

Sejenak kemudian, maka keduanya telah menentukan arah. Mereka yakin, bahwa Mahisa Bungalan tidak akan kembali ke padepokan Kenanga, sehingga keduanya pun telah mengambil jalan yang menuju ke arah sebaliknya.

Ternyata bahwa Mahisa Bungalan memang belum terlalu jauh. Ia berjalan perlahan-lahan menyusuri bulak-bulak panjang. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa dua orang sedang berpacu menyusulnya. Karena itu, maka ia berjalan saja tanpa prasangka apapun. Bahkan ia masih sempat memandang dengan kagum hijaunya tanaman padi di sawah, hijaunya padukuhan dan hijaunya lereng-lereng gunung.

Mahisa Bungalan masih sempat pula berhenti memandangi burung-burung pipit yang berwarna merah darah terbang berputaran. Burung pipit yang berwarna aneh itu sangat digemarinya sejak ia masih kanak-anak. tetapi burung pipit yang demikian memang jarang terdapat.

Beterapa padukuhan telah dilaluinya tanpa beristirahat. la sudah terbiasa berjalan melalui jalan yang bagaikan membara dibakar terik matahari. Tetapi juga berjalan di basahnya embun yang dingin bagaikan membekukan darahnya.

Padukuhan demi padukuhan dilaluinya, la berjalan saja menyusuri jalan yang dilaluinya sejak ia meninggalkan padepokan Watu Kendeng. Ia belum ingin membelok melalui jalan-jalan sempit, la masih menyusuri jalan yang satu itu juga dari satu padukuhan ke padukuhan berikutnya.

Di sudut-sudut padukuhan Mahisa Bungalan menjumpai beberapa buah kedai yang menjajakan makanan dan minuman. Tetapi ia sama sekali tidak tertarik untuk singgah. Perjalanannya bukannya perjalanan yang akan ditempuh dalam waktu setengah bahkan satu hari. Tetapi untuk waktu yang lama. Berhari-hari.

Dalam pada itu, di luar sadarnya, bahwa ia telah mempermudah usaha dua orang saudara seperguruan Gagak Branang yang sedang mencarinya, kedua orang berkuda itu pun berpacu menyusuri jalan yang sudah dilalui oleh Mahisa Bungalan. Sehingga pada suatu saat Mahisa Bungalan tentu akan dapat disusulnya.

Kepada orang-orang yang dijumpainya di perjalanan. atau di kedai-kedai. kedua orang itu kadang-kadang memerlukan bertanya, apakah mereka bertemu dengan seorang anak muda yang sedang berjalan menempuh jarak yang sangat jauh.

Ada kalanya, seorang petani yang duduk di bawah sebatang pohon menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku melihat seorang anak muda yang berjalan kaki, tetapi sudah agak lama. Sebelum aku mulai bekerja, aku melihatnya. Sekarang aku sedang menunggu anakku membawa makan dan minum. Karena itu, anak muda itu tentu sudah berjalan jauh”

Tanpa mengucapkan terima kasih, kedua orang itu melanjutkan perjalanan mereka. Kadang-kadang timbul juga keragu-raguan, bahwa Mahisa Bungalan telah memilih sebuah jalan simpang, karena ia memang tidak mempunyai tujuan.

“Marilah. Mudah-mudahan kita akan dapat menemukannya. Kita akan bertanya kepada orang-orang yang kita jumpai. Seandainya hari ini kita tidak menemukannya, besok kita akan memutari semua padukuhan di daerah ini. Nampaknya ia memang belum terlalu jauh”

Keduanya pun berpacu semakin cepat. Di sebuah kedai keduanya berloncatan turun dan bertanya dengan kasar, apakah orang dikedai itu melihat seorang anak muda yang lewat.

Tetapi karena Mahisa Bungalan memang tidak singgah, maka orang-orang di dalam kedai itu pun menggelengkan kepalanya. Apalagi sikap kedua orang itu memang tidak menyenangkan.

“Orang-orang gila semacam mereka tidak usah dilayani” desis seorang bertubuh raksasa dengan kumis sebesar kepalan tangan.

Tidak seorang pun yang menanggapi kata-katanya. Orang itu adalah orang yang paling disegani di seluruh padukuhan. Karena itu, tidak seorang pun yang kemudian berani menjawab pertanyaan kedua orang berkuda yang kasar itu.

Tetapi agaknya salah seorang dari kedua orang berkuda itu mendengar kata-kata orang bertubuh raksasa yang memang dengan sengaja memancing persoalan. Orang berkumis itu menjadi tidak senang melihat sikap kedua orang itu.

“Orang gila itu sangat menjengkelkan” desis orang berkumis itu.

Tetapi kawannya berkata, “Kau telah terjerat untuk melayani tikus-tikus kecil semacam itu. Waktu kita akan terbuang sia-sia. Sementara buruan kita akan hilang”

Orang berkumis itu mendengar juga kata-kata orang berkuda itu. Wajahnya menjadi merah dan kumisnya bagaikan tegak berdiri. Dengan lantang ia berkata, “Kedua orang gila itu tidak menyadari, dengan siapa ia berhadapan”

Orang-orang di dalam kedai itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang segera berusaha menyingkir. Mereka sudah mengenal tabiat orang bertubuh raksasa dan berkumis lebat itu. Tidak seorang pun yang berani mencegah tingkah lakunya. Bahkan makan dan minum tanpa membayar sekalipun. Meskipun hal itu hampir tidak pernah dilakukan, karena ia bukannya seorang yang kekurangan.

“Marilah“ ajak salah, seorang dari kedua orang berkuda itu, “kita akan kehilangan waktu”

Tetapi agaknya temannya yang seorang benar-benar merasa tersinggung. Katanya, “Aku hanya memerlukan waktu sekejap untuk memilin kumisnya”

Orang berkumis lebat itu tiba-tiba saja telah meloncat keluar sambil membentak, “Berjongkoklah dan minta ampun kepadaku, agar aku tidak memutar lehermu”

Tetapi salah seorang dari kedua orang berkuda itu justru tertawa sambil berkata, “Kau jangan bergurau Ki Sanak”

“Persetan“ orang berkumis itu menggeram, “cepat, berjongkoklah dan minta ampun”

Orang-orang yang menyaksikan dari kejauhan menjadi berdebar-debar. Seorang yang rambutnya telah memutih berkata, “Kenapa tidak segera dilakukannya sebelum orang itu dibanting sampai pingsan. Agaknya ia masih bernasib baik, bahwa ia diberi kesempatan untuk minta ampun”

Namun dalam pada itu, salah seorang dari kedua orang berkuda itu justru berkata, “Kau jangan membuat aku tertawa di sini karena tingkah lakumu yang jenaka itu. Berhentilah melawak. Aku akan meneruskan perjalananku. Tugasku masih banyak”

Kemarahan orang berkumis itu telah memuncak. Ia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat selangkah sambil mengayunkan tinjunya ke wajah orang yang dianggapnya telah menghinanya itu.

Tetapi orang berkumis itu terkejut bukan kepalang. Bahkan orang-orang yang menyaksikan pun terkejut sehingga beberapa orang telah tertarik karenanya.

Demikian tinju itu terjulur lurus ke wajah orang berkuda itu, maka orang itu pun telah bergeser. Sambil merendahkan diri ia berputar setengah lingkaran sekaligus menangkap tangan yang terjulur itu. Demikian cepatnya, bahwa tiba-tiba saja orang berkumis itu bagaikan terangkat dan terlempar ke udara.

Yang terdengar kemudian adalah orang kesakitan ketika tubuh raksasa itu terbanting di tanah. Punggungnya bagaikan patah dan jantungnya seakan-akan berhenti berdetak.

Orang berkuda itu dengan tenang mendekatinya. Tiba-tiba saja ia menggapai rambut orang berkumis itu sambil berkata, “Berhati-hatilah dengan lidahmu orang dungu. Sebenarnya aku ingin mencabuti kumismu. Sayang, aku mempunyai tugas yang penting hari ini”

Sambil menghentakkan kepala orang itu, maka orang berkuda itu pun segera pergi meninggalkannya. Namun masih terdengar ia menggeram, “Biasanya aku membunuh orang yang menghinaku. Tetapi orang berkumis itu nampaknya orang yang sangat dungu, sehingga menimbulkan belas kasihanku padanya”

Ketika kedua ekor kuda itu kemudian berpacu, maka orang berkumis itu berusaha untuk bangkit. Mula-mula ia bertelekan pada sikunya. Kemudian perlahan-lahan ia duduk di tanah.

Ketika pemilik kedai itu datang untuk menolongnya maka orang berkumis itu pun membentak, “Pergi. Kau kira aku tidak dapat berdiri tanpa pertolonganmu”

Karena pemilik kedai itu masih saja berdiri termangu-mangu maka orang itu pun membentak, “Pergi. Pergi. Atau kau pun ingin aku banting seperti orang berkuda itu. Eh. maksudmu akulah yang sudah dibantingnya. Eh, tidak. Aku tidak apa-apa. Kenapa ia melarikan diri sebelum aku pilin lehernya?”

Pemilik kedai itu menjadi ketakutan. Karena itu, maka ia pun segera beringsut pergi, sementara dengan susah payah.

Sejenak kemudian, ketika ia sudah berhasil berdiri sambil berpegangan pagar, maka ia pun menengadahkan wajahnya sambil berkata lantang, “He, jangan melarikan diri. Marilah, majulah bersama-sama”

Tetapi kedua ekor kuda itu telah menjadi sangat jauh sehingga penunggangnya tentu tidak akan mendengar lagi tantangannya.

Namun tiba-tiba orang berkumis itu menjadi berdebar-debar. Orang-orang itu memiliki ilmu yang luar biasa. Jika mereka juga memiliki ilmu Sapta Pangrungu maka mereka akan mendengar tantangannya itu pula. Jika demikian, mungkin sekali yang seorang, yang agaknya seorang pemarah, akan datang kembali, membantingnya dan barangkali benar-benar akan mencabuti kumisnya sampai habis dihadapan banyak orang.

Karena itu, maka tiba-tiba saja orang berkumis itu melangkah tertatih-tatih meninggalkan kedai itu pulang ke rumahnya.

“Siapakah kedua orang berkuda itu“ orang-orang yang kemudian dengan cemas kembali ke kedai itu saling berbisik.

“Entahlah” desis yang lain, “nampaknya mereka orang-orang kasar. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa kepada orang yang telah menghinanya, bahkan telah sesumbar dan menyuruh mereka berjongkok sambil minta ampun”

Yang lain menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau membicarakan lagi orang-orang berkuda yang aneh.

Tetapi yang lain lagi berkata, “Ia mencari seseorang”

“Ya” desis yang lain, “ia mencari seseorang”

“Yang dicari adalah seorang anak muda,” seorang yang lain berdesis, “nampaknya orang itu ingin membuat perhitungan dengan orang yang dicarinya itu, menilik sikap dan ketergesa-gesaannya. Kasihan anak muda yang dicarinya itu. Jika ia diketemukan, maka nasibnya tentu akan menjadi jauh lebih buruk lagi. Mungkin ia akan dibantingnya beberapa kali sampai tulang-tulangnya patah. Kemudian dicekiknya dan diinjaknya sampai setengah mati”

“Aku melihat seorang anak muda lewat” berkata seseorang dengan tiba-tiba.

“Kau melihatnya?“ bertanya pemilik kedai itu.

“Ya. Tetapi sudah agak lama. Namun demikian, karena ia hanya berjalan kaki, mungkin ia akan segera dapat disusul oleh kedua orang berkuda itu. Alangkah malang nasibnya”

Orang-orang itu pun kemudian terdiam. Mereka mulai membayangkan, apa yang akan terjadi, jika kedua orang itu benar-benar berhasil menyusul seorang anak muda yang berjalan dengan kepala tunduk melalui jalan padukuhan mereka.

Sementara itu, Mahisa Bungalan masih saja berjalan menyusuri bulak dan pedukuhan. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa demikian ia meninggalkan Watu Kendeng, maka kesulitan sudah menyusulnya.

Ketika Mahisa Bungalan sudah berjalan jauh. dan matahari pun terasa bagai membakar tubuhnya, justru setelah melampaui titik puncaknya, maka langkah Mahisa Bungalan pun menjadi semakin lamban. Ia berjalan di atas rerumputan di pinggir jalan. Kadang-kadang menyusup di bawah pepohonan yang tumbuh di tepi parit di sepanjang bulak panjang.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak berhenti, ia berjalan saja seperti tidak merasa betapa panas menyengat tubuhnya.

Ketika matahari telah condong turun ke Barat dan sinarnya mulai lunak, Mahisa Bungalan berhenti di bawah sebatang pohon preh di pinggir jalan. Sebatang pohon preh yang besar dan rimbun, yang seolah-olah telah tumbuh di tempat itu ratusan tahun. Sementara di bawah pohon itu nampak sebuah batu yang besar yang nampaknya menjadi tempat sesaji.

Terasa tubuh Mahisa Bungalan menjadi segar. Sambil bersandar batang yang besar itu, ia memandang jalan yang panjang, yang terbentang di hadapannya. Tetapi memang sudah dikehendakinya. Ia akan menempuh jalan yang amat panjang, sebelum ia memilih jalan kembali ke Singasari.

Sekilas masih terbayang padepokan Kenanga dan Watu Kendeng yang ditinggalkannya. Rasa-rasanya ia tidak akan dapat mengusir kenangannya atas gadis dari padepokan Kananga itu. Meskipun ia tidak terlalu lama tinggal bersamanya; tetapi rasa-rasanya ia sudah terbelenggu oleh bukan saja wajahnya yang lembut, tetapi sikap dan tingkah lakunya.

“Tetapi sayang” berkata Mahisa Bungalan kepada diri sendiri, “ada sesuatu yang membayangi hubungan yang nampaknya sangat manis itu. Tetapi aku memang tidak akan dapat meninggalkan orang tuaku dalam masalah yang penting bagi kehidupanku kelak”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia masih tetap berharap, bahwa hubungan itu akan dapat disambungnya kembali. Sikap dan perbuatan Gemak Werdi menurut penilaian Mahisa Bungalan, justru akan merugikan diri sendiri, karena menilik pengamatannya, tidak ada perasaan apapun juga pada Ken Padmi. Jika benih itu memang ada, maka tentu sudah nampak bersemi karena Gemak Werdi berada di padepokan itu jauh sebelum ia mengenalnya. Tetapi nampaknya, memang tidak ada sentuhan pada hati Ken Padmi.

Tetapi Mahisa Bungalan yang sedang merenung itu beringsut ketika ia melihat seorang laki-laki tua mendekati pohon preh yang besar itu. Punggungnya sudah agak bongkok, serta rambutnya telah memutih. Ada bebarapa lembar kumis dan janggut yang telah putih ula tumbuh tidak teratur di sekitar mulutnya. Namun ketika orang itu mendekat, dan tersenyum kepadanya, nampak giginya yang putih-masih utuh tanpa cacat.

“Oh, nampaknya ada seseorang pula di bawah pohon ini” berkata orang tua itu.

“Ya, kek” jawab Mahisa Bungalan, “aku ingin menumpang berteduh. Apakah kakek pemilik sawah di sebelah ini?“

“O, bukan, bukan anak muda. Sawahku ada di ujung itu, di sebelah hutan perdu. Aku adalah orang yang datang akhir di padukuhan ini. Dan aku harus membuka sawah di ujung. Meskipun agaknya hutan perdu itu cukup luas, tetapi tenagakulah yang hanya cukup untuk membuka secabik sawah yang sekedar cukup untuk makan” jawab orang tua itu.

“O, jadi kakek bukan yang justru cikal bakal di padukuhan ini?”

Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Bukan anak muda. Aku adalah seorang perantau di masa muda. Aku kira aku tidak akan menjadi tua dan memerlukan tempat tinggal yang tetap menjelang akhir hayatku”

“Pada suatu hari kakek menyadari akan hal itu” sahut Mahisa Bungalan.

Orang tua itu tertawa pendek. Nampaknya ia senang mendengar jawaban Mahisa Bungalan. Karena itu, maka ia pun duduk di sebelah anak muda itu sambil berkata, “Kau akan pergi ke mana anak muda, sehingga agaknya kau sudah menempuh perjalanan yang jauh?“

“Aku adalah seorang perantau seperti kakek ketika masih muda” jawab Mahisa Bungalan.

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Kau senang bergurau ngger. Ketika aku masih muda, aku juga senang sekali bergurau. Sayang, rasa-rasanya aku cepat menjadi tua. Sementara orang-orang setua aku di padukuhanku tidak lagi senang bergurau”

“Dan kakek selalu berkumpul dengan anak-anak muda saja?”

Orang tua itu tertawa berkepanjangan. Jawabnya, “Aku ingin dapat berbuat begitu. Tetapi rasa-rasanya malu juga untuk setiap sore berada di gardu-gardu atau di sudut-sudut padukuhan dalam kelompok-kelompok kecil dengan anak-anak muda yang sedang bergurau”

“Tetapi dengan demikian kakek akan menjadi awet muda”

Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Tetapi aku sudah terlanjur tua. He, apakah aku akan menjadi awet muda?”

Mahisa Bungalan pun tersenyum juga. Orang itu di masa mudanya tentu seorang yang periang.

“Anak muda” berkata orang tua itu kemudian, “apakah kau menuju ke tempat tertentu dalam perantauanmu, atau sekedar berjalan mengikuti langkah-langkah kakimu?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu memang agak membingungkan. Seolah-olah ia pun kemudian bertanya kepada diri sendiri, apakah ia akan segera kembali kepada orang tuanya karena masalah Ken padmi, ataukah ia masih akan merantau mengikuti langkah kakinya saja.

Karena Mahisa Bungalan tidak segera menjawab, maka orang tua itu pun bertanya lagi, “He, apakah kau tidak mendengar pertanyaanku?”

“Aku mendengar” jawab Mahisa Bungalan, “dan aku sedang memikirkannya, apakah aku sudah punya rencana atau sekedar berjalan mengikuti langkah kakiku saja”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Kau memang lucu. Aku senang berbicara dengan kau anak muda”

Mahisa Bungalan pun tertawa. Katanya, “Aku benar-benar menjadi bingung. Tetapi aku memang harus memikirkannya sekarang”

“Baiklah. Pikirkanlah. Tetapi dengan demikian aku mengambil kesimpulan bahwa kau pergi kemana saja tanpa tujuan. Bahkan kau tidak peduli sampai kemana saja kaki mu melangkah” berkata orang tua itu.

“Mungkin kakek benar” jawab Mahisa Bungalan, “aku pergi kemana saja tanpa mengerti arah dan tanpa memilih tujuan”

“Bagus. Kau benar-benar seorang perantau. Kau tentu seorang yang keras hati“ orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi mungkin juga karena kau benar-benar orang kesrakat”

Kata-kata itu benar-benar menggelikan. Sekali lagi Mahisa Bungalan tertawa. Namun jawabnya, “Aku memang orang kesrakat, kek”

“Jika demikian, tinggalan di sini bersamaku. Kita bersama-sama mengerjakan sawah. Hasilnya cukup untuk dimakan. Tanah di ujung bulak masih luas. Kita akan dapat membuka hutan perdu itu menjadi tanah pertanian. Di musim hujan kita menanam padi, dan di musim kering kita menanam palawija”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tawaran itu sangat menarik, ia dapat tinggal beberapa lamanya di padukuhan itu. Tetapi apakah waktunya cukup panjang untuk menunggu satu dua musim. Sementara ia harus segera kembali ke Singasari.

“He, kau melamun lagi?“ desak orang tua itu.

“Aku sedang berpikir, kek. Apakah aku lebih senang bekerja di sawah atau berjalan saja menyusuri bulak dan padukuhan”

“Jika. kau ingin berjalan saja, apakah yang akan kau makan di sepanjang perjalananmu?”

“Kadang-kadang aku menemukan orang-orang yang baik hati. Kadang-kadang aku diperkenankan bermalam di banjar dan mendapat makan dan minum dari Ki Buyut dipadukuhan itu”

“Uh, nampaknya kau pemalas anak muda. Jangan kau biasakan menjadi peminta-minta begitu. Bekerjalah. Kau akan makan hasil keringatmu sendiri. Alangkah nikmatnya”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah begitu?”

Orang tua itu dengan serta merta menjawab, “Tentu, tentu begitu” .

“Kek, apakah tidak lebih senang untuk tidak usah bekerja apa-apa tetapi mendapat makan dan minum secukupnya?”

“Karena belas kasihan?”

“Karena belas kasihan atau karena kemurahan hati orang lain? Apakah bedanya?”

“Uh, anak malas. Jika kau benar-benar berpendirian demikian, maka kau adalah orang yang paling dungu di dunia ini. Kau masih muda. Apakah kau tidak pernah memikirkan hari depan?”

Mahisa Bungalan tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

“Apa saja yang kau lakukan. Cobalah berpikir, apakah pada suatu saat kau tidak ingin kawin, mempunyai istri dan anak?”

Mahisa Bungalan tertawa. Katanya, “Menyenangkan sekali, merantau dengan istri dan anak-anak”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun tertawa pula terbahak-bahak. Namun diantara derai tertawanya, orang tua itu berkata, “Anak muda, aku menjadi tidak tahu. Siapakah yang dungu di antara kita. Kau atau aku”

Mahisa Bungalan tertawa berkepanjangan. Orang tua itu mempunyai sifat-sifat khusus yang menarik. Meskipun ia belum mengenalnya sebelumnya, tetapi seolah-olah ia sudah lama menjadi kawan yang karib.

Namun dalam pada itu, percakapan mereka terhenti. Lamat-lamat mereka mendengar derap kaki kuda mendekat. Semakin lama semakin dekat.

“Siapakah mereka kek?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Darimana aku tahu. Aku berada di sini kemudian dari padamu. Seharusnya akulah yang bertanya, barang kali kau mengetahui siapakah orang-orang berkuda itu?“ jawab orang tua itu.

“Ah, apa urusanku dengan orang-orang berkuda. Biarlah mereka lewat”

“Bagus. Apakah urusan kita dengan orang-orang berkuda itu. Biarlah mereka lewat.

Orang tua itu pun kemudian bersandar pada pohon preh yang besar itu sambil memandangi rimbunnya dedaunan di ujung-ujung ranting. Hampir tidak terdengar ia berdesah, “Berapa ratus tahun umur pohon ini?”

Mahisa Bungalan berpaling. Tetapi ia tidak menjawab. Ia pun bersandar pula seperti orang tua itu.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Namun ternyata keduanya memperhatikan derap kaki kuda yang menjadi semakin lama semakin dekat. Tetapi seperti yang telah mereka katakan, bahwa mereka berdua tidak mempunyai kepentingan apapun dengan orang-orang berkuda itu.

Tetapi ternyata bahwa orang-orang berkuda itulah yang agaknya mempunyai kepentingan dengan kedua orang yang duduk di bawah pohon preh itu. Ternyata ketika kedua orang berkuda itu melihat mereka, maka derap kuda itu pun menjadi berangsur perlahan-lahan.

Beberapa langkah dari pohon preh itu, maka kedua ekor kuda itu pun berhenti. Kedua penunggangnya memandang kedua orang itu dengan kerut merut di dahinya.

Mahisa Bungalan dan orang tua itu berpaling sekilas. Tetapi mereka pun kemudian melemparkan pandangan mata mereka kembali ke kejauhan.

“Ki Sanak“ tiba-tiba saja salah seorang penunggang kuda itu bertanya, “siapakah kalian berdua”

Orang tua itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun menjawab ”Aku adalah penghuni pedukuhan sebelah. Aku sedang beristirahat. Punggungku hampir patah mengayunkan cangkul di sawah”

Orang berkuda itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat orang tua itu sebagai seorang petani. Tetapi anak muda yang duduk bersandar pohon preh itu sangat menarik perhatiannya, sehingga orang berkuda itu pun bertanya, “Siapa yang seorang?”

“Anakku” berkata orang tua itu, “ia menyusulku ke sawah. Setelah menyelesaikan kerjanya di rumah, ia akan membantuku bekerja di sawah”

Kedua orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Matanya yang tajam melihat, bahwa anak muda itu bukannya seorang petani yang siap untuk bekerja di sawah. Tetapi nampak bahwa anak muda itu adalah seseorang yang sedang dalam perjalanan.

Karena itu, tiba-tiba saja salah seorang dari kedua orang berkuda itu bertanya, “Siapakah nama anakmu, kek?“

Pertanyaan itu mengejutkannya. Ia belum memikirkan nama anak muda yang diakunya sebagai anaknya itu.

Kedua orang berkuda itu ternyata menangkap kebingungan orang tua itu. Maka tiba-tiba saja salah seorang dari keduanya berkata lantang, “Kau adalah Mahisa Bungalan”

Mahisa Bungalan terkejut. Sejenak ia termangu-mangu. Namun ia tidak dapat mengelak lagi. Orang itu sudah menyebut namanya. Tentu keduanya mempunyai kepentingan. Jika ia tidak mengaku bernama Mahisa Bungalan dan berhasil mengelabui kedua orang itu, maka mungkin ada orang lain yang sama sekali bukan Mahisa Bungalan akan mengalami perlakuan yang tidak sewajarnya, karena orang itu disangka Mahisa Bungalan.

Karena itu, maka dengan masih duduk bersandar pohon preh Mahisa Bungalan menjawab ”Ya, aku Mahisa Bungalan. Apakah kau mempunyai kepentingan dengan Mahisa Bungalan?“

Kedua orang itu menegang sejenak. Sejenak mereka saling berpandangan. Kemudian seperti berjanji, maka keduanya pun segera meloncat turun dari punggung kuda masing-masing dan menambatkannya pada pohon-pohon perdu di pinggir jalan.

Melihat sikap kedua orang itu, Mahisa Bungalan pun menjadi tegang. Ia mendapat firasat buruk tentang kedua orang itu. Karena itu, meskipun ia masih tetap duduk, namun ia sudah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Sejanak kedua orang itu termangu-mangu. Selangkah mereka maju mendekat. Kemudian katanya, “Mahisa Bungalan. Kami berdua mempunyai kepentingan denganmu. Berdirilah dan kemarilah”

“Katakanlah. Apakah kau kira aku tidak dapat mendengar kata-katamu dan tempat ini?“ jawab Mahisa Bungalah yang menjadi semakin curiga.

Dalam pada itu, orang tua yang berada di dekat Mahisa Bungalan itu pun berkata ”Aku tidak mengerti. Apakah yang sedang kalian lakukan. Nampaknya kalian sedang membicarakan persoalan yang kurang menyenangkan. Tetapi nampaknya kalian baru saja saling mengenal”

“Jangan ikut campur kakek tua. Kau sudah melakukan kesalahan. Kau mengaku anak muda itu anakmu. Karena itu, maka kau sudah pantas dianggap ikut bersalah. Dan kau pun sudah dapat dibebani dengan hukuman yang setimpal. Tetapi karena kau orang tua, menyingkir sajalah. Biar kami menyelesaikan persoalan kami dengan anak muda yang tidak tahu diri itu”

Orang itu itu menjadi gemetar. Tetapi ia masih berkata, “Terserahlah kepada kalian. Tetapi setiap persoalan tentu dapat dipecahkan dengan baik, tanpa ketegangan dan tidak dengan sikap yang garang seperti orang hendak berkelahi”

Di luar dugaan, salah seorang dari kedua orang berkuda itu menjawab ”Kami memang akan berkelahi”

“O“ orang tua itu tiba-tiba saja berdiri, “jangan di sini. Pergilah. Orang-orang pedukuhan itu akan menjadi ketakutan. Mereka akan menderita untuk berhari-hari karena ada orang berkelahi di sini”

“Tutup mulutmu kakek tua. Aku tidak peduli. Dan aku tidak melihat orang lain kecuali kau berdua”

“Mereka sedang beristirahat. Waktu begini memang waktunya beristirahat. Tetapi sebentar lagi, beberapa orang akan turun lagi ke sawah”

“Aku tidak peduli. Jika kau masih juga berbicara saja mencampuri persoalan kami, maka aku akan menyobek mulutmu sampai ke telinga”

Orang itu menjadi ketakutan. Karena itu, ia sama sekali tidak menjawab. Bahkan tubuhnya yang gemetar menjadi semakin gemetar.

Mahisa Bungalan pun kemudian berdiri pula. Selangkah ia maju sambil bertanya ”Ki Sanak. Aku belum mengenal kalian. Tetapi agaknya kalian mempunyai persoalan yang amat penting. Apakah yang sebenarnya kalian kehendaki?“

“Baiklah Mahisa Bungalan” berkata orang berkuda itu, “karena kau berterus terang tentang dirimu, biarlah aku pun langsung menyebut persoalannya. Kami berdua adalah saudara seperguruan Gagak Branang”

“O“ Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, “aku sudah tahu. Kau akan menuntut balas atas kematian saudaramu?”

“Ya. Itu sudah menjadi kewajibanku”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua orang itu dengan tajamnya. Pada wajah mereka memang nampak api dendam yang menyala.

“Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “apakah kau tidak bertanya kepadaku, kenapa Gagak Branang terbunuh pada saat itu? Dengan demikian, maka kau akan dapat membuat pertimbangan. Apakah sudah sepantasnya kematian Gagak branang harus dibela mempertaruhkan nyawa”

“Jangan kau gurui anak muda. Aku sudah tahu segalanya. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Karena itu menyerah sajalah. Aku tidak hanya kehilangan Gagak Branang. Tetapi juga saudara-saudara seperguruanku yang lain, yang mati juga pada saat itu. Kau adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian mereka”

“O“ tiba-tiba saja orang tua itu berkata dengan suara gemetar, “jadi kau seorang pembunuh anak muda?”

“Aku memang telah membunuh, kek. Tetapi aku mempunyai alasan yang cukup kuat, kenapa aku harus membunuh. Karena itu, maka sudah sepantasnya, bahwa kematian orang-orang itu diusut dan dipertimbangkan. Apakah mereka masih perlu dibela”

“Cukup” sahut salah seorang dari kedua saudara seperguruan Gagak Branang. Lalu, “Kita tidak usah mempersoalkan apa-apa lagi. Kami datang untuk membunuhmu. Menyerahlah, supaya jalan kematianmu cukup lapang untuk kau lalui. Jika kau melawan, maka kau akan mengalami siksa di saat yang paling akhir dari hidupmu”

“Cobalah mengerti” berkata Mahisa Bungalan, “mungkin kau mendapat keterangan yang salah tentang saudara seperguruanmu”

“Tidak. Ia sudah bertindak benar. Ia mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan seorang perempuan cantik dari padepokan Kenanga. Itu adalah sifat seorang laki-laki jantan. Perempuan harganya sama dengan hidupnya. Dan aku pun mengerti, bahwa perempuan dari padepokan Kenanga itu agaknya memang sangat cantik. Karena itu, sudahlah. Menyerahlah. Tundukkan kepalamu di pinggir jalan, di atas parit itu. Aku akan memenggal lehermu dan biarlah darahmu membasahi rerumputan, dan kepalamu menjadi hantu gelundung pringis di bawah pohon preh yang memang sudah nampak mengerikan ini. Tubuhmu akan menjadi makanan burung gagak dan anjing-anjing liar dari hutan perdu itu”

“O, mengerikan sekali” teriak orang tua yang gemertar.

“Ya. Memang mengerikan. Tetapi itu masih lebih baik daripada aku menyeretnya di belakang kaki kudaku sehingga kulitnya terkelupas. Kemudian menyiramnya dengan air asam dan garam”

“O, sungguh-sungguh mengerikan. Apakah seseorang akan dapat berbuat demikian terhadap sesama?”

“Kenapa tidak? Ia sudah membunuh saudara-saudara seperguruanku. Ia harus mendapat hukuman yang setimpal”

“Tidak mungkin. Itu tidak mungkin“ orang tua itu hampir berteriak.

“Tutup mulutmu kakek tua, supaya kau tidak ikut aku bantai bersamanya”

Orang tua itu menutup mulutnya. Namun nafasnya masih saja memburu lewat lubang hidungnya.

Sementara itu, Mahisa Bungalan merasa, bahwa kedua orang itu tidak akan dapat diajaknya berbicara lagi. Karena itu, maka tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan, kecuali mempertahankan diri.

Karena itu, maka katanya kepada kakek tua itu, “Kek, silahkan menyingkir. Agaknya aku benar-benar harus berkelahi”

“Jangan berkelahi ngger. Pergi sajalah. Kaulah yang menyingkir”

“Kakek gila” teriak salah seorang dari kedua orang itu, “ia tidak akan dapat menyingkir. Jika anak itu lari, kami akan mengejarnya dan menangkapnya. Kemudian mengikatnya di belakang kaki kuda. Satu dari kuda kami ke Utara, yang lain ke Selatan, sehingga tubuhnya akan terbelah, karena kami akan mengikat satu kakinya pada setiap ekor kuda”

“O, itu tidak mungkin. Tidak mungkin”

“Sudahlah kek” berkata Mahisa Bungalan, “pergilah. Aku akan menghadapi segala kemungkinan. Aku memang sudah membunuh saudara-saudara seperguruannya karena tingkah laku mereka yang kasar dan liar”

Orang tua itu menjadi semakin gemetar, sementara Mahisa Bungalan melangkah maju setapak.

“Marilah. Aku tidak akan lari. Jika itu yang kau kehendaki, maka aku pun akan melakukannya” berkata Mahisa Bungalan.

Kedua orang itu pun segera bersiap. Mereka menyadari bahwa Mahisa Bungalan adalah seorang yang perkasa. Gagak Branang tidak dapat mengimbangi kemampuannya.

Namun kedua orang itu merasa yakin, bahwa mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah dari Gagak Branang Semetara itu mereka dapat bertempur berpasangan. Dengan demikian, maka mereka pun yakin akan dapat mengalahkan Mahisa Bungalan betapapun tinggi kemampuannya.

Orang tua itu pun kemudian bagaikan melekat batang preh yang besar itu dengan ketakutan. Tetapi ia tidak lari. Ia tetap berada di tempat itu. Bahkan nampaknya ia sengaja atau tidak sengaja, akan menyaksikan pertempuran yang akan segera terjadi antara Mahisa Bungalan dan kedua saudara seperguruan Gagak Branang yang telah kehilangan saudara-saudara seperguruannya itu. Pertempuran yang dahsyat dan mempertaruhkan hidupnya untuk melepaskan dendam yang membakar jantung.

Sementara itu, Mahisa Bungalan dan kedua lawannya pun telah bersiap. Selangkah mereka bergeser. Namun wajah mereka telah menjadi tegang oleh degup jantung yang memburu.

Kedua orang saudara seperguruan Gagak Branang itu pun kemudian berpencar. Mereka mencari arahnya masing-masing, sementara Mahisa Bungalan berdiri dengan tegangnya. Kakinya yang terbuka agak merendah pada lututnya, sementara tangannya telah bersilang di dadanya.

Sejenak kemudian, tiba-tiba saja bagaikan kilat, justru Mahisa Bungalanlah yang meloncat menyerang. Kakinya menyambar seperti sayap seekor burung raksasa yang menukik dengan dahsyatnya.

Namun lawannya yang memang sudah siap itu berhasil menghindarinya. Ia tidak langsung menyerang karena Mahisa Bungalan meluncur dan kemudian meloncat dengan langkah yang panjang.

“Luar biasa” desis kedua orang lawanya di dalam hati. Meskipun serangan Mahisa Bungalan tidak menyentuh tubuh lawannya, tetapi angin yang berdesir seolah-olah mampu menggoyahkan kedudukan mereka.

Sejenak kemudian, kedua lawan Mahisa Bungalan itulah yang bersiap untuk menyerang. Hampir berbareng mereka meloncat mendekat. Ternyata keduanya benar-benar dapat menempatkan diri, bertempur berpasangan. Ketika yang seorang menyerang Mahisa Bungalan, dan Mahisa Bungalan sempat mengelakkannya, hampir saja ia terjebak pada serangan lawannya yang seorang lagi. Untunglah bahwa ia memiliki kemampuan bergerak yang luar biasa, sehingga meskipun ia harus menjatuhkan diri, namun ia dapat membebaskan diri dari sergapan jari-jari lawannya yang hampir saja mencengkeram pundaknya.

Melihat serangan itu. Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Lawannya yang mengaku saudara seperguruan Gagak Branang yang seorang itu mempunyai cara tersendiri. Seandainya ia benar saudara seperguruan Gagak Branang, namun tentu ia telah mengembangkan ilmunya sesuai dengan pengalamannya sendiri Dengan berdebar-debar Mahisa Bungalen melihat jari-jari lawannya yang terbuka, siap untuk mencengkeramnya.

“Jari-jari itu tentu berbahaya sekali” geram Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Ia sadar, bahwa jika jari-jari itu sempat menyentuh tubuhnya, maka segumpal dagingnya tentu akan terlepas dari tulang-tulangnya.

Tetapi Mahisa Bungalan pun mampu bergerak cepat sekali. Ia segera meloncat berdiri. Bahkan dengan tiba-tiba saja ia menyerang lawannya yang sedang berputar, menyesuaikan diri dengan kedudukan kawannya. Serangan itu demikian tiba-tiba, namun lawannya masih juga sempat mengelak. Justru pada saat itu, lawannya yang dengan jari-jari terkembang telah menerkamnya pula. Namun Mahisa Bungalan yang sudah mengenal cara serangan yang menggetarkan itu, berhasil bergeser ke samping. Bahkan dengan kerasnya, tangannya terayun mengarah tengkuk lawannya.

Tetapi lawannya pun cukup tangkas, sehingga serangan itu pun dapat dielakkannya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu semakin lama telah menjadi semakin seru. Kedua orang lawan Mahisa Bungalan itu bertempur dengan garangnya. Yang seorang dengan jari-jari terkembang, seolah-olah jari-jari seekor harimau yang sangat garang dengan kuku-kukunya yang tajam, yang siap menyobek kulit lawannya. Sementara yang seorang berloncatan dengan cepat dan tangkas. Tangannya bergerak dengan cepat dan serangannya datang dengan tiba-tiba, kemudian meloncat menjauhinya dengan cepat pula, seolah-olah Mahisa Bungalan harus bertempur dengan bayangan yang tidak terasa oleh tangannya.

Karena itulah, maka Mahisa Bungalan harus mengerahkan kemampuannya. Ia sadar, bahwa dua orang saudara tua seperguruan Gagak Branang, tentu orang-orang yang memiliki kelebihan. Bahkan keduanya tentu memiliki kelebihan dari Gagak Branang sendiri. Sehingga dengan demikian, maka ia harus berhati-hati Ia harus memelihara keseimbangan perasaan dan nalarnya. Ia harus bertempur bukan saja dengan kemampuan tenaganya, tetapi juga dengan perhitungan nalarnya sehingga setiap geraknya bukannya sekedar menghambur-hamburkan tenaga tanpa arti. Apalagi Mahisa Bungalan sadar, bahwa melawan kedua orang itu. ia harus mampu mempertahankan ketahanan nafas dan tenaganya untuk waktu yang mungkin cukup lama.

Demikianlah, maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Orang tua yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia berdiri saja berpengangan batang pohon preh yang besar itu.

Tetapi selain orang tua itu, tidak seorang pun yang melihat pertempuran itu. Adalah kebetulan sekali, bahwa tidak ada seorang pun yang pergi ke sawah pada saat yang demikian. Apalagi bukan saatnya menunggui padi dan mengairi tanaman sehingga kebanyakan dari para petani lebih senang beristirahat di rumah sambil menganyam dinding bambu atau barang-barang lain keperluan mereka sehari-hari.

Sementara itu, perkelahian yang terjadi di bawah pohon preh itu pun benar-benar merupakan pertempuran yang sangat dahsyat. Kedua lawan Mahisa Bungalan adalah orang-orang yang menguasai ilmu yang keras, bahkan kasar. Yang seorang benar-benar bagaikan seekor harimau yang sedang marah. Bukan saja jari-jarinya mengembang dan serangan-serangannya yang bagaikan binatang buas menerkam lawannya, nemun kadang-kadang terdengar pula seolah-olah ia mengaum dengan dahsyatnya.

“Gila” geram Mahisa Bungalan, “apakah orang ini telah mempergunakan kekuatan dan gaya seekor harimau? Apakah benar ada harimau jadi-jadian atau ilmu olah kanuragan yang bersumber pada kekuatan seekor harimau?”

Tetapi sebagai seorang yang memiliki kemampuan kanuragan, Mahisa Bungalan pun menyadari, bahwa dengan mempelajari gerak dan kebiasaan binatang, maka seseorang dapat memperkaya tata gerak pada ilmunya, dan akan dapat berbahaya bagi lawannya.

Pertempuran itu pun semakin lama meningkat semakin sengit. Kedua orang yang mengaku saudara seperguruan Gagak Branang itu bertempur semakin keras dan kasar. Yang seorang bagaikan seekor harimau yang. garang, sedangkan yang lain bagaikan burung elang yang menyambal di langit. Bukan saja kukunya yang tajam, tetapi tiba-tiba saja serangannya bagaikan paruh yang mematuk dengan dahsyatnya.

Mahisa Bungalan harus menyesuaikan dirinya. Ia menghadapi dua orang lawan dengan kemampuannya masing-masing, namun yang nampaknya mereka mampu bekerja bersama sebaik-baiknya.

Mahisa Bungalan sendiri, memiliki kemampuan yang menggetarkan hati kedua lawannya. Betapa dahsyatnya mereka menyerang dengan cara masing-masing, namun mereka sama sekali tidak berhasil melukai lawannya. Kuku-kuku yang garang pada jari-jari yang berkembang dari lawannya yang kadang-kadang mengaum seperti seekor harimau, serta patukan paruh yang tajam runcing yang menyambar-nyambar seperti seekor burung elang, masih belum mampu memecahkan beteng pertahanan Mahisa Bungalan.

Untuk mengimbangi kekerasan lawannya, Mahisa Bungalan justru bergerak secepat burung sikatan di rerumputan. Cepat, cekatan dan kadang-kadang tidak dapat diduga oleh kedua lawannya yang garang. Loncatan-loncatan kecil dan sentuhan-sentuhan yang tidak begitu keras, telah mulai terasa di tubuh lawannya Meskipun sentuhan-sentuhan itu tidak mempunyai akibat apapun juga, tetapi kedua lawannya menjadi semakin cemas. Dengan demikian berarti, bahwa Mahisa Bungalan lah yang lebih dahulu mampu menembus pertahanan kedua orang saudara seperguruan itu.

Mahisa Bungalan yang telah berhasil menyentuh tubuh lawannya, telah membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Jika semula sekedar menjajagi kecepatan geraknya, maka kemudian ia mulai mempertimbangkan, bagaimana mungkin ia dapat memperlemah kedudukan lawannya.

Itulah sebabnya, maka Mahisa Bungalan pun kemudian mulai memperhatikan unsur kekuatan jari-jarinya. Ia tidak hanya akan menyentuh lawannya. Tetapi ia mulai mempergunakan kekuatan ujung jari-jarinya pada bagian-bagian yang lemah pada lawannya. Namun ia pun tidak akan segan mempergunakan sisi telapak tangannya dalam kesempatan yang terbuka.

Tetapi agaknya, Mahisa Bungalan mendapat kesempatan yang sangat kecil. Sebagian besar dari kemampuannya dipergunakannya untuk menghindari serangan lawannya. Namun sekaligus dengan serangan-serangannya yang mengejutkan.

Ketika seorang lawannya menerkamnya dengan dahsyatnya sambil mangaum seperti seekor harimau, maka Mahisa Bungalan sempat mengelak. Ia pun meloncat ketika serangan dari lawannya yang kedua menyambarnya. Namun sekaligus Mahisa Bungalan mampu menyusup di antara keduanya dalam loncatan panjang, sementara jari-jarinya berhasil masuk mematuk rusuk lawannya yang garang seperti seekor harimau. Mahisa Bungalan tidak lagi mencoba menyentuhnya saja. Tetapi ia benar-benar telah mempergunakan kekuatannya yang tersalur pada ketiga jari-jarinya. Sehingga karena itu, maka terdengar lawannya mengaduh pendek. Ia merasa tulang iganya bagaikan retak. Karena itulah, maka ia pun segera meloncat surut, sebelum Mahisa Bungalan memasukkan serangannya yang kedua.

Nemun pada saat Mahisa Bungalan siap untuk memburu, lawannya yang lain telah menyerangnya pula. Dengan sepenuh kekuatannya, ia meluncur dengan kaki terjulur ke samping, sehingga Mahisa Bungalan harus bergeser menghindar sebelum ia sempat memburu lawannya yang seorang. Namun anak muda itu terkejut, ketika tiba-tiba saja tangan lawannya itu berkembang menyambarnya.

Meskipun Mahisa Bungalan sudah beringsut dan mampu menghindar dari serangan kaki lawannya, namun tangannya yang tiba-tiba mengembang itu telah mengejutkannya. Dengan cepat ia mencoba mengelak. Tetapi tangan itu masih juga sempat menyambar pundaknya, sehingga Mahisa Bungalan terputar setengah lingkaran.

Pada saat itu, lawannya yang lain telah sempat memperbaiki keadaannya. Dengan garangnya ia meloncat menerkam. Kedua tangannya terjulur lurus kedepan

Mahisa Bungalan yang terputar itu pun menyeringai menahan sakit di pundaknya. Apalagi ketika ia melihat serangan itu datang, justru saat ia belum dapat memperbaiki keseimbangannya.

Karena itu, Mahisa Bungalan justru menjatuhkan dirinya. Dangan demikian kedua tangan dengan jari-jari ter kembang itu tidak berhasil menerkam dan mengoyak dagingnya. Namun sementara itu, Mahisa Bungalan telah melenting dengan tumpuan tangan dan punggungnya. Kakinya bagaikan terlontar menghantam dada lawannya yang tidak berhasil mencengkeram dagingnya.

Sekali lagi orang itu terdorong surut sambil mengeluh pendek. Tetapi Mahisa Bungalan pun telah terlempar pula jatuh berbaring di tanah. Namun dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melenting untuk berdiri, tepat ketika serangan lawannya yang lain menyambarnya.

Tetapi Mahisa Bungalan telah menduganya. Karena Itu, ia masih sempat meloncat sambil merendahkan diri menghindari serangan lawannya yang mengarah ke dadanya.

Dalam pada itu, ternyata lawannya yang segarang harimau itu telah berhasil disakitinya. Ketika ujung jari-jarinya telah dapat membuat tulang iga lawannya itu bagaikan retak, sementara serangan kakinya, membuat napasnya menjadi sesak. Namun demikian pundaknya sendiri pun terasa sakit karena sentuhan serangan tangan lawannya yang telah memutarnya sehingga hampir saja ia kehilangan keseimbangan.

Di saat berikutnya, Mahisa Bungalan menjadi semakin berhati-hati. Tetapi ia melihat lawannya yang seorang seolah-olah telah kehilangan sebagian dari kekuatannya. Sakit di dada dan gangguan pernafasannya, agaknya membuatnya lebih berhati-hati pula.

Sementara itu, orang tua yang melihat perkelahian itu pun bagaikan membeku di tempatnya. Bahkan nafasnya bagaikan telah terhenti pula di kerongkongan.

Mahisa Bungalan yang memiliki kekuatan dan kecepatan bergerak yang mengagumkan itu, harus mengakui, bahwa melawan dua orang, yang masing-masing memiliki kelebihannya pula, harus mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya. Jika ia melakukan kesalahan, maka ia tidak akan dapat meninggalkan tempat itu lagi, karena lawannya tentu akan memperlakukannya tanpa ampun lagi.

Mahisa bungalan menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua lawannya itu telah menarik senjatanya. Keduanya benar-benar sudah dibakar oleh kemarahan yang tidak terkendali. Dengan senjata masing-masing, keduanya benar-benar ingin membantai Mahisa Bungalan di bawah pohon preh yang besar itu.

Sejanak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia melihat sebilah parang didekat orang tua yang berdiri ketakutan. Ia tidak ingat lagi, apakah ketika orang tua itu datang, ia memang membawa sebilah parang. Tetapi yang diketahuinya, adalah bahwa ada parang di dekat kaki orang tua itu.

Dengan serta merta, Mahisa Bungalan telah meloncat memungut parang itu. Meskipun sekedar parang pembelah kayu, bukan senjata yang khusus untuk bertempur, namun agaknya memadai juga daripada ia sama sekali tidak membawa senjata apapun.

Perkelahian berikutnya adalah perkelahian yang sangat dahsyatnya. Senjata kedua saudara seperguruan Gagak Branang itu benar-benar bagaikan bayangan tangan-tangan maut yang sedang berusaha memungut nyawa Mahisa Bungalan dari tubuhnya.

Namun Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia mempelajari berbagai macam ilmu mempergunakan berbagai senjata bahkan apapun yang dapat digenggamnya.

Kini tangannya menggenggam parang pembelah kayu. Dan parang itu pun ternyata telah berubah menjadi senjata yang sangat dahsyat di tangan anak muda yang perkasa itu.

Kedua murid Gagak Branang pun menjadi heran melihat kemampuan lawannya yang muda itu. Behkan di dalam hati mereka berkata, “Pantas bahwa Gagak Branang tidak dapat berbuat apa-apa melawan anak muda itu dan terbunuh bersama beberapa orang saudara seperguruan kami yang lain”

Namun dalam pada itu, kedua orang itu masih berusaha untuk dapat menyelesaikan tugas mereka sebaik-baiknya. Orang yang garang seperti harimau tetapi sudah tersentuh tangan Mahisa Bungalan itu, rasa-rasanya tidak dapat melepaskan diri dari himpitan sesak nafasnya. Meskipun demikian, dalam hentakkan ilmunya, ia masih juga merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Mahisa Bungalan.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan harus benar-benar memeras segenap kemampuan yang ada. Keringatnya yang mengalir dari setiap lubang dikulitnya, telah membasahi seluruh tubuhnya. Bahkan pakaian pun telah kuyup pula.

Namun demikian, rasa-rasanya sanjata kedua lawannya selalu memburunya, kemana ia berkisar. Bahkan semakin lama manjadi semakin dekat, sehingga akhirnya, Mahisa Bungalan tidak kuasa lagi untuk menghindarkan diri dari sentuhan ujung senjata lawannya itu.

Ketika terasa pedih menyengat kulitnya, Mahisa Bungalan menggeram. Ia sadar, bahwa lawannya telah melukainya.

Ternyata bahwa luka itu telah membuat Mahisa Bungalan semakin marah. Ia tidak lagi mempunyai pertimbangan lain, kecuali pengakuan diri, bahwa ia adalah murid Mahendra dan sekaligus anak laki-lakinya, yang memiliki paduan Witantra dan Mahisa Agni yang perkasa.

Itulah sebabnya, maka yang kamudian mengalir lewat tata geraknya adalah segenap ilmu yang ada pada dirinya dan yang telah luluh menjadi ilmu yang jarang ada tanding annya.

Desakan dari dalam itu, seolah-olah telah mempertegas sikap dalam dirinya, bagaikan mengalir seperti banjir bandang. Kakuatannya yang melampaui kekuatan orang kebanyakan itu, bagaikan telah berlipat ganda pula.

Sayang, bahwa yang ada di dalam genggaman tangan Mahisa Bungalan adalah sebuah parang pembelah kayu. Itulah sebabnya maka dalam banturan yang bagaikan guntur berlaga di langit, maka parangnya lah yang telah pecah-pecah pada tajamnya. Dan bahkan semakin lama menjadi semakin banyak.

Namun demikian, senjata itu masih tetap berbahaya di tangan Mahisa Bungalan. Sekali-sekali ia berhasil menyusup di antara kedua sanjata lawannya. Bahkan ia pun kemudian berhasil menyentuh lawannya dengan parangnya pula.

Sejenak kemudian, maka goresan di tubuh Mahisa Bungalan pun telah bertambah pula. Satu membujur dan segores lagi melintang. Bahkan kemudian terasa luka-luka itu menjadi sangat pedih oleh keringatnya sendiri.

Namun kemarahannya yang membakar jantungnya, telah mendorongnya untuk bertempur semakin garang. Selagi lawannya yang bagaikan seekor harimau itu menerkamnya dengan senjatanya, maka ia pun masih sempat mengelak dan meloncat ke samping, Namun pada saat yang sama, lawannya yang lain telah mengayunkan senjatanya mendatar, menyambar kepalanya. Sekali lagi ia harus menghindar.

Tetapi Mahisa Bungalan bukannya sekedar membungkukkan badannya. Dengan parangnya, ia berhasil manyentuh senjata lawannya pada arah putarannya, sehingga justru mendorong lawannya ke samping. Pada saat yang tidak terduga-duga, maka tangan Mahisa Bungalan pun terjulur lurus dengan parang yang sudah menjadi bergerigi oleh pecah-pecah di bagian tajamnya.

Tetapi lawannya masih sempat melenting, sehingga parang itu tiduk menyentuhnya. Namun pada saat itulah, lawannya yang lain telah meloncat mematuk dengan garangnya langsung mengarah kening.

Muhisa Bungalan terkejut oleh serangan itu. Ia tidak dapal menghindar lagi, Karena itu, maka ia pun langsung menangkis serangan ilu, meskipun ia sadar, bahwa ia tidak dapat membenturkan parangnya, karena parangnya memang bukan senjata yang khusus dibuat unluk bertempur.

Mahisa Bungalan berhasil memukul senjata lawannya sebelum senjata itu menyentuhnya. Senjata itu meleset sejengkal dan tidak menyentuhnya. Tetapi pada saat itu, senjata yang lain lelah menyambarnya mendatar.

Yang dilakukan oleh Mahisa Bungalan kemudian adalah menjatuhkan dirinya, sehingga senjata ilu berdesing di atas tubuhnya. Hampir saja mengenai kepalanya.

Sekejap kemudian Mahisa Bungalan pun lelah melenting berdiri sambil mempersiapkan senjatanya menghadapi segala kemungkinan. Namun demikian ia berjejak di atas tanah, senjata lawannya yang lain lelah menyambarnya.

Mahisa Bungalan masih sempal menggeliat. Tetapi ia lidak dapat membebaskan dirinya sama sekali dari sentuhan senjata lawannya. Karena itu, maka ia pun menyeringai ketika terasa lambungnya disengat oleh perasaan nyeri.

“Gila” geramnya.

Dan bersamaan dengan itu, maka Mahisa Bungalan pun bagaikan menjadi wuru. Ia mengerahkan segenap ilmunya pada senjatanya yang kurang memadai. Namun dengan demikian, kecepatannya bergeraklah yang lelah membingungkan lawannya. Meskipun ia harus berhadapan dengan dua orang, tetapi dengan melenting dan berloncatan, keduanya benar-benar menjadi bingung karenanya.

Meskipun Mahisa Bungalan telah lerluka, telapi serangan-serangannya bagaikan badai yang mengamuk. Sekali-sekali Mahisa Bungalan menyerang, kemudian menjauhkan dirinya, sementara sekejap kemudian ia lelah melenting mengayunkan parangnya.

Yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang membingungkan. Orang tua yang menyaksikan pertempuran ilu berdiri tegak tanpa berkedip, sementara, Mahisa Bungalan yang terluka itu mengamuk seperti seekor banteng.

Yang dilihat oleh orang tua itu kemudian adalah sangat mendebarkan. Ketiga orang yang bertempur itu, seolah-olah lelah mandi keringat dan darah. Ketiganya telah terluka semakin parah, sementara mereka masih saja bertempur dengan sengitnya.

Orang yang segarang harimau itulah yang menjadi semakin lemah. Nafasnya masih saja terasa mengganggu, sementara darahnya yang semakin banyak mengulir, membuatnya kehilangan sebagian besar tenaganya.

Tetapi Mahisa Bungalan pun lelah mencucurkan darahnya pula sehingga kecepatannya bergerak pun menjadi semakin menurun.

Namun akhirnya orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat, akhirnya Mahisa Bungalan berhasil mengatasi segata kesulitannya. Orang tua ilu melihat, orang yang segarang harimau itu. adalah orang yang pertama-tama kehilangan kemampuan untuk bertempur lebih lama lagi. Darahnya yang semakin banyak mengalir, membuatnya semakin lamban. Sehingga akhirnya, meskipun dengan menghentakkan kekuatannya, Mahisa Bungalan berhasil meloncat dengan ayunan parang yang dilambari segenap sisa kekuatannya itu.

Terdengar orang itu berteriak tertahan. Parang Mahisa Bungalan yang menjadi bergerigi ilu lelah menyobek lambungnya.

Namun sementara ilu, ternyata bahwa kawannya telah berhasil mempergunakan kesempatan di saat Mahisa Bungalan dengan patukan senjatanya.

Mahisa Bungalan tidak sempat mengelak. Senjata lawannya lelah mengenai pundaknya, sehingga di tubuh Mahisa Bungalan itu telah menganga sebuah luka lagi yang parah.

Mahisa Bungalan terdorong surut selangkah, terasa pundaknya menjadi nyeri dan panas. Sementara ia melihat lawannya yang juga sudah menjadi lemah itu, masih berusaha untuk memburunya dan sekali lagi menyerang dengan sergapan maut.

Wajah Mahisa Bungalan terasa menjadi panas. Matanya menjadi kabur dan kekuatannya pun bagaikan semakin lenyap.

Namun demikian Mahisa Bungalan masih dapat melihat dengan jelas, lawannya itu siap untuk menerkamnya sekali lagi dengan serangan yang menentukan.

Dalam pada itu, orang tua yang menyaksikan pertempuran itu menjadi gemetar. Ia melihat salah seorang dari ketiga orang yang terlibat dalam pertempuran itu sudah terbaring di tanah. Darahnya mengalir tanpa dapat ditahankannya lagi. Sekali-sekali ia masih melihat orang itu menggeliat menahan sakit.

Sejenak orang tua itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia tidak tahan lagi melihat orang yang terbaring ilu. Perlahan-lahan ia melangkah mendekatinya. Dicobanya untuk menahan darah yang mengalir dari luka-lukanya. Tetapi luka itu sudah terlalu parah Darahnya seolah-olah tidak lagi dapat dipampatkan, mengalir dari luka-luka yang menganga di beberapa bagian dari tubuhnya.

Akhirnya, orang tua itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Orang itu ternyata sudah tidak dapat ditolongnya lagi. Sebuah tarikan nafas terakhir orang itu telah menandai ujung dari hidupnya yang penuh dengan bayangan yang kelam.

“Mati” desis orang tua itu.

Sejenak orang tua itu mengangkat wajahnya. Ia masih melihat Mahisa Bungalan dan seorang lawannya bertempur pada saat-saat terakhir. Keduanya sudah menjadi sangat lemah, dan bahkan keduanya seolah-olah sudah tidak mampu lagi berbuat sesuatu.

Namun lawan Mahisa Bungalan masih bernafsu untuk menyelesaikan pertempuran itu. Kemarahannya telah membakar nalar dan perhitungannya.. Apalagi ia sadar, bahwa kawannya yang seorang itu telah terbunuh pula, sementara dendamnya karena kematian Gagak Branang dan beberapa orang yang lain masih belum dapat ditebusnya.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya jantungnya bagaikan membara, dan darahnya seakan-akan telah mendidih di seluruh tubuhnya. Dengan sisa tenaganya, ia berusaha untuk menyerang Mahisa Bungelan yang telah menjadi sangat lemah pula.

Ketika senjata mereka beradu, maka keduanya terdorong selangkah surut. Keduanya terhuyung-huyung dan hampir kehilangan keseimbangan. Tetapi kemarahan yang luar biasa telah mendorong lawan Mahisa Bungalan untuk mengayunkan senjatanya sekali lagi menyambar kepala Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan masih sempat merendahkan diri sementara senjata lawannya terayun dengan derasnya. Tetapi justru lawannya itulah yang kemudian terseret oleh ayunan tangannya sendiri.

Mahisa Bungalan melihat lawannya kehilangan keseimbangannya. Dengan serta merta ia pun mengayunkan parangnya. Dengan sisa tenaganya yang ada, ia menyerang tepat mengenai lambung lawannya yang sedang kehilangan kemampuannya untuk menghindar dan menangkis.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Mahisa Bungalan masih melihat lawannya itu terdorong, dan kemudian terbanting jatuh. Mahisa Bungalan masih melihat lawannya itu menggeliat. Namun semakin lama menjadi semakin kabur.

Di saat ia menghentakkan kekuatannya yang tersisa, ternyata dari luka-lukanya darah pun bagaikan dihentakkan mengalir dengan derasnya. Karena itu, maka tubuh Mahisa Bungalan menjadi semakin lemah. Matanya menjadi berkunang-kunang. Semakin lama semakin gelap. Akhirnya Mahisa Bungalan tidak ingat lagi apa yang telah terjadi. Semuanya menjadi kelam ketika ia pun kemudian terjatuh di tanah. Pingsan.

Mahisa Bungalan sadar, ketika terasa titik-titik air yang segar di bibirnya. Perlahan-lahan Mahisa Bungalan mambuka matanya. Mula-mula ia seakan-akan hanya melihat kabut yang buram. Namun semakin lama semakin jelas.

Ternyata yang mula-mula dilihatnya adalah wajah orang tua yang dijumpainya di bawah pohon preh. Tetapi orang tua itu tidak sendiri. Ia pun kemudian melihat beberapa wajah yang lain. yang memandanginya dengan tegang.

“Kakek” desis Mahisa Bungalan, “dimanakah aku sekarang?”

“Di rumahku anak muda. Kau berada di rumahku” Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas teringat olehnya, dua orang yang berusaha membunuhnya Namun yang kemudian berhasil dilumpuhkannya.

“Minumlah ngger” desis orang tua itu sambil menitikkan beberapa tetes air segar di bibirnya pula.

Terasa ia mencoba untuk bergerak, betapa terasa tubuhnya itu sakit dan nyeri.

“Jangan bergerak anak muda” berkata orang tua itu.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya beberapa wajah yang ada di sekitarnya dengan penuh pertanyaan di dalam hati.

“Anak muda” berkata orang tua itu, “orang-orang ini adalah tetangga-tetanggaku. Ketika aku melihat akhir dari perkelahian yang mengerikan itu, aku tidak tahan lagi. Aku segera berlari memanggil orang-orang terdekat. Dan mereka pun segera berdatangan. Dua orang yang menyamun angger itu sudah tidak dapat ditolong lagi jiwanya. Mereka telah mati. Sementara keadaan angger sendiri sangat mengkhawatirkan”

Mahisa Bungalan berdesis ketika perasaan nyeri menggigit kulitnya.

“Kedua orang itu sudah dibawa ke banjar dan akan diselenggarakan sebagaimana seharusnya” berkata orang tua itu, “sementara kami berusaha untuk mengobatimu anak muda, dengan reramuan yang dapat kami mengerti sesuai dengan kebiasaan kami di padukuhan ini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam, betapapun terasa tubuhnya bagaikan ditusuk dengan seribu duri. Namun nampaknya orang-orang yang ada di seputarnya adalah orang-orang yang benar-benar ingin menyelamatkan dengan obal-obat yang dapat mereka ramu.

Ketika orang-orang itu melihat Mahisa Bungalan yang mulai menyadari keadaannya, maka nampak wajah-wajah mereka pun menjadi terang. Seorang yang berwajah sayu, mengangguk-angguk sambil tersenyum. Tanpa mengucapkan katapun, ia kemudian beringsut dan keluar dari ruangan itu. Beberapa orang yang lain pun mengikutinyu pula, sehingga akhirnya ruangan itu terasa menjadi semakin lapang. Udara seakan-akan menjadi bertambah segar, sehingga pernafasan Mahisa Bungalan seolah-oleh menjadi semakin lancar.

“Beristirahatlah” berkata orang tua itu, “jangan memikirkan apa-apa lagi. Semuanya sudah teratasi dan tetangga-tetangga kami yang baik sudah mengurus segalanya. Di sudut pembaringanmu itu adalah bungkusan kecil yang kau bawa. Kami sama sekali tidak melihat dan apalagi membukanya. Mungkin sebilah keris, atau barangkali barang-barang lainnya”

“Terima kasih kek” desis Mahisa Bungalan.

Orang itu mengangguk-angguk. Kemudian dengan dua orang yang masih tinggal di dalam bilik itu, ia pun melangkah pergi sambil berdesis, “Tidurlah. Kami berada di luar pintu. Jika perlu kau dapat memanggil kami. Dan kami pun akan selalu menengokmu setiap kali”

“Terima kasih“ sekali lagi Mahisa Bungalan berdesis. Sepeninggal orang-orang yang menungguinya, maka Mahisa Bungalan pun mencoba memperbaiki keadaannya. Ia mengatur pernafasannya sebaik-baiknya agar perasaan sakitnya menjadi berkurang dan daya tahannya akan meningkat sampai kemampuan yang tertinggi yang mungkin dapat dicapai dalam keadaannya yang demikian.

Ternyata semakin lama tubuh Mahisa Bungalan terasa semakin baik Obat-obatan yang diramu oleh kakek itu menurut pengertiannya dan orang-orang di sekitarnya, dapat membantunya serba sedikit. Meskipun obat-obat yang disuapkan pada luka-lukanya terasa pedih, dan obat yang diteteskan di bibirnya terasa pahit, namun obat-obat itu sangat berguna bagi Mahisa Bungalan. Darahnya tidak lagi mengalir sementara pernafasannya menjadi semakin teratur pula.

Ketika angin terasa mengusap tubuhnya lewat sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat, maka terasa badan Mahisa Bungalan menjadi bertambah segar. Oleh letih yang mencengkam lahir dan batinnya, maka perlahan-lahan mata Mahisa Bungalan mulai terpejam, Sesaat ia tertidur dan melupakan perasaan sakit di seluruh tubuhnya.

Orang tua yang berada di luar pintu itu masih saja nampak gelisah. Tetangga-tetangganya sudah meninggalkannya pulang ke rumah masing-masing. Sementara yang lain, anak-anak muda padukuhan itu sedang sibuk mengurusi mayat yang mereka dapatkan di bawah pohon preh, yang menurut kakek tua itu, dua orang yang akan menyamun anak muda yang pingsan itu.

Dengan hati-hati orang tua itu melangkah masuk ke dalam bilik. Ia berusaha agar langkahnya tidak membangunkan Mahisa Bungalan Sejenak ia berdiri termangu-mangu Ketika tangannya terjulur untuk menyentuh keningnya, orang tua itu mengurungkannya. Ia ingin mengetahui apakah Mahisa Bungalan menjadi panas. Tetapi ia tidak ingin membangunkan anak muda yang sempat tertidur di dalam keadaannya yang sulit itu.

Namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan hanya dapat tidur sejenak. Ia pun kemudian dengan gelisah membuka matanya. Menyeringai menahan nyeri yang mulai terasa lagi menggigit dagingnya.

“Tidurlah dengan tenang” desis orang tua itu, “kau tidak akan terganggu di sini. Kedua orang itu telah kau binasakan. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Sementara di sekitar tempat ini banyak anak-anak muda yang berjaga-jaga. Meskipun mereka tidak memiliki ilmu yang cukup, tetapi jumlah mereka cukup banyak, sehingga tidak akan ada orang yang akan mengganggumu”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebaliknya dari yang dikatakan oleh orang tua itu. Jika benar anak-anak muda padukuhan itu ingin melindunginya, sementara masih ada saudara seperguruan Gagak Branang yang lain yang mendendamnya, maka tentu akan jatuh korban yang sangat banyak diantara anak-anak muda padukuhan itu.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak mengatakannya. Mulutnya masih terlalu malas untuk berbicara terlalu banyak. Bahkan ia pun kemudian hanya berdiam diri sambil kadang-kadang menahan pedih pada luka-lukanya.

Mahisa Bungalan hanya berdesis saja. Tetapi di dalam hati ia mengeluh, “Bagaimana mungkin aku dapat melupakan perasaan sakit ini”

Namun demikian. Mahisa Bungalan sama sekali tidak menjawab.

Sejenak kemudian orang tua itu pun duduk di atas sebuah dingklik kayu di sebelah pembaringannya. Orang tua itupun. kemudian tidak mengajaknya berbicara lagi. Dibiarkannya Mahisa Bungalan berbaring diam, sementara orang tua itu sendiri agaknya sedang sibuk dengan angan-angannya.

Orang tua itu bangkit ketika ia mendengar langkah mendekati pintu. Kemudian seorang anak laki-laki membawa sebuah mangkuk memasuki bilik itu sambil berkata, “Kakek, makanan sudah masak”

“Bagus, bagus” sahut orang itu perlahan-lahan, “letakkan di atas geledeg itu. Bukankah masih terlalu panas untuk dimakan”

Anak itu tidak menjawab. Diletakkannya mangkuk berisi bubur cair itu di atas geledeg di dalam bilik itu.

“Kau sebaiknya makan ngger” berkata orang tua itu, “tetapi, biarlah bubur itu agak dingin”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Terdengar suaranya parau, “Kakek terlalu baik”

“Ah, apakah yang sudah aku lakukan? Bukankah wajar sekali? Aku tidak berbuat satu kebaikanpun, kecuali memang sudah sewajarnya demikian” jawab orang tua itu.

Mahisa Bungalan tidak menjawab lagi.Tetapi di dalam hatinya ia merasa berhutang budi kepada orang tua itu.

Ternyata kemudian setelah makanan itu menjadi agak dingin, dengan telaten orang tua itu menyuapnya ke dalam mulut Mahisa Bungalan. dengan demikian, maka tubuh Mahisa Bungalan itu pun merasa semakin segar pula. Tetapi ketika titik-titik keringat mengembun di tubuhnya, luka-lukanya terasa menjadi bertambah nyeri dan pedih.

Namun demikian, kekuatan Mahisa Bungalan yang seolah-olah telah terhisap habis itu, perlahan-lahan mulai tumbuh. Darahnya yang serasa berhenti mengalir, mulai bergerak lagi lewat urat-urat di dalam dagingnya.

“Makanlah sebanyak-banyak dapat kau makan” berkata orang tua itu.

Tetapi Mahisa Bungalan belum dapat menelan terlalu banyak. Tetapi yang sedikit ilu benar-benar lelah memberikan kekuatan dan meningkatkan daya tahannya yang rasa-rasanya hampir lenyap sama sekali.

Ketika Mahisa Bungalan kemudian menggeleng, maka orang tua itu berkata, “Baiklah. Sekarang cobalah untuk tidur lagi”

Mahisa Bungalan pun berdesis, “Terima kasih kakek. Aku akan mencoba untuk dapat tidur lagi barang sekejap”

Orang tua itu pun kemudian meninggalkan Mahisa Bungalan seorang diri sambil menyingkirkan sisa makanan. Tetapi agaknya orang tua itu pun telah meramu pula obat yang kemudian dipipisnya sendiri bagi Mahisa Bungalan.

Demikianlah, Mahisa Bungalan berada di bawah perawatan kakek tua itu untuk beberapa hari. Bermacam-macam obat telah diberikan sehingga lambat laun, keadaan Mahisa Bungalan pun menjadi berangsur baik.

Ketika Mahisa Bungalan telah dapat bangkit dan berjalan keluar biliknya, maka ia pun mulai mengenal rumah kakek tua itu. Ternyata di dalam rumah itu tinggal dua orang saja. Kakek tua itu dan seorang anak laki-laki yang disebutnya sebagai cucunya.

Anakku laki-laki tinggal ditempai yang jauh. Dalam perantauannya ia menemukan bakal isterinya, sehingga akhirnya mereka kawin. Dan anak ini adalah anak mereka yang pertama. Aku membawanya untuk mengawani aku tinggal di sini” berkata orang tua itu.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Bahkan hatinya merasa tersentuh oleh ceritera kakek tua itu tentang anaknya. Seolah-olah ia telah menyindirnya, bahwa di perantauan seorang laki-laki muda telah bertemu dengan bakal isterinya.

Beberapa hari kemudian, maka keadaan Mahisa Bungalan pun berangsur baik. Ia bukan saja sudah dapat keluar dari biliknya, tetapi ia sudah dapat berjalan-jalan di halaman dan bahkan turun ke jalan kecil di muka rumah kakek tua itu.

Dari hari kehari, maka akhirnya Mahisa Bungalan pun rasa-rasanya telah menjadi keluarga sendiri dari padukuhan itu. Tetangga-tetangga kakek tua yang menolongnya itu pun semakin lama menjadi semakin akrab pula. Di sore hari, kadang-kadang Mahisa Bungalan ikut bersama beberapa orang padukuhan itu, duduk-duduk di pojok padukuhannya. Mereka berbincang tentang berbagai macam keadaan padukuhan mereka. Dari masalah musim sampai ke masalah gadis-gadis yang tidak lagi mau mempelajari kidung. Mereka lebih senang tidur dan bermalas-malasan atau justru berkejar-kejaran di terangnya bulan.

“Gadis-gadis sekarang tidak menghiraukan dirinya yang sudah menjadi dewasa. Mereka masih saja seperti kanak-anak yang berkejar-kejaran sambil berteriak-teriak. Tetapi mereka malas untuk duduk dan mencoba melagukan kidung” berkata seorang ayah dari dua orang gadis yang meningkat dewasa.

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian pembicaraan itu pun telah bergeser pula ke masalah-masalah yang lain.

Tetapi tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bertanya kepada Mahisa Bungalan, “Angger, bagaimana mungkin angger dapat bertemu dengan dua orang penyamun di bawah pohon preh itu. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Daerah ini adalah daerah yang sangat aman dan tenang. Namun tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang menggoncangkan kami. Apalagi kedua penyamun itu datang dan mencegatmu di siang hari”

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Sekilas dipandanginya orang tua yang telah menolongnya. Ia tidak tahu pasti, apa saja yang telah dikatakan oleh orang tua itu kepada tetangga-tetangganya.

Tetapi karena orang tua itu tetap diam, akhirnya Mahisa Bungalan pun menjawab, “Aku tidak tahu, bagaimanakah keadaan di daerah ini sebelumnya, tetapi inilah yang aku alami. Tiba-tiba saja aku sudah berhadapan dengan dua orang yang tidak aku kenal sebelumnya dan memaksa aku untuk mempertahankan diriku”

“Untunglah bahwa kau adalah seorang yang memiliki tenaga yang luar biasa, sehingga kau dapat mengalahkan kedua penyamun itu” berkata yang lain.

Mahisa Bungalan tidak menjawab lagi. Semakin banyak ia memberikan keterangan, akan dapat memancingnya ke dalam pembicaraan yang menyulitkannya.

Ternyata orang tua yang menolong Mahisa Bungalan itu sama sekali tidak menyambung pembicaraan tentang kedua penyamun itu Sehingga dengan demikian, maka pembicaraan itu pun tidak berkepanjangan.

Tetapi hal itu agaknya telah menimbulkan persoalan tersendiri bagi orang tua itu di rumahnya. Ketika orang tua itu kemudian pulang bersama dengan Mahisa Bungalan, dan mendapatkan cucu laki-lakinya telah tertidur nyenyak, maka orang tua itu pun kemudian mengajak Mahisa Bungalan duduk di serambi depan rumahnya.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu ngger” berkata kakek tua itu.

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun pergi juga ke serambi depan mengikuti orang tua itu.

Sejenak mereka duduk sambil berdiam diri, Seakan-akan dedaunan menyusuri dahan-dahan yang terguncang perlahan-lahan. Orang tua yang duduk di amben bambu di serambi itu nampak menjadi bersungguh-sungguh. Di bawah obor lampu minyak di sudut rumahnya, Mahisa Bungalan melihat, bahwa orang tua itu benar-benar ingin membawa suatu masalah baginya.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak ingin bertanya lebih dahulu. Ia menunggu saja, apa yang akan dikatakan oleh orang tua itu kepadanya.

Namun untuk beberapa saat, orang tua itu masih berdiam diri. Tatapan matanya merayap ke kejauhan, menyusup di antara gelapnya malam. Sekali-sekali nampak wajahnya menegang. Namun kemudian terdengar ia berdesah perlahan-lahan.

“Padukuhan ini adalah padukuhan yang sepi ngger” desis orang tua itu perlahan-lahan.

Mahisa Bungalan berpaling. Dipandanginya wajah orang tua itu sejenak. Kemudian jawabnya, “Tetapi padukuhan ini benar-benar sebuah padukuhan yang tenang kek. Penghuninya hidup rukun dan ramah. Mereka merasa satu keluarga besar yang diikat oleh lingkungan dan keadaan”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Padukuhan ini seolah-olah sebuah rumah yang besar dari satu keluarga yang hidup rukun”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun demikian ia melihat sesuatu yang asing pada tatapan mata orang tua itu.

Beberapa saat Mahisa Bungalan menunggu. Dan orang tua itu pun berkata perlahan-lahan, “Kedatanganmu ke padukuhan ini, semula memberikan harapan kepadaku ngger. Tetapi ternyata aku harus malu kepada diriku sendiri”

“Apakah yang kau maksud kek?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Apaboleh buat. Aku memang harus mengatakannya kepadamu. Siapapun kau sebenarnya, tetapi penilaianku atasmu dalam waktu yang pendek ini telah menumbuhkan kepercayaanku, bahwa kau termasuk orang yang berusaha untuk memberikan pengabdian kepada sesama. Kau tentu bukan orang yang sejalan dengan kedua orang yang terbunuh itu, meskipun aku juga belum mengenal mereka” berkata orang tua itu pula.

Mahisa Bungalan hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak tahu arah pembicaraan orang tua itu.

“Angger” berkata orang itu pula, “ketika aku melihat kau duduk di bawah pohon preh, maka aku pun berusaha untuk mengenalmu. Menilik sikap dan keadaan lahiriahmu, maka kau tentu orang yang memiliki kelebihan. Itulah sebabnya, maka aku berusaha untuk mengenalmu. Aku berharap, bahwa kau adalah orang yang baik dan dapat dipercaya. Dalam pembicaraan yang singkat, aku memang mendapat kesan yang demikian, sehingga harapanku pun menjadi semakin besar”

“Apakah yang sebenarnya kakek harapkan?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Baiklah aku berterus terang. Aku berharap, bahwa aku akan mendapatkan seorang kawan”

“Kawan?“ Mahisa Bungalan mengulang.

“Ya. Seorang kawan. Aku sedang mengemban kewajiban yang dibebankan oleh keluargaku. Ketika aku melihatmu, maka aku ingin minta bantuanmu untuk melakukan kewajiban ini. Aku ingin membuatmu anak muda yang mampu membantuku. Aku ingin mengajarimu barang satu dua langkah olah kanuragan” orang tua itu berhenti sejenak, Lalu, “tetapi itu adalah angan-anganku sebelum kau terluka parah”

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Di luar sadarnya ia bertanya, “Kakek menjadi kecewa karena aku sama sekali tidak mempunyai bekal dalam olah kanuragan? Kakek kecewa setelah melihat aku jatuh pingsan?“

“Ya. Aku kecewa sekali” berkata orang tua itu.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Demikianlah yang ada padaku kek. Memang sama sekali tidak berarti. Dan aku pun harus mengakui, bahwa aku tidak akan mampu mengemban tugas yang betapapun ringannya”

Tiba-tiba saja orang tua itu tertawa. Sekilas membayang kembali sifat orang tua yang agaknya memang periang itu. Namun kemudian kembali wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Katanya, “Angger salah mengerti. Yang aku maksud, aku menjadi sangat kecewa bahwa aku tidak akan dapat mengajarimu olah kanuragan dan kemudian membantuku”

“Memang tidak ada kemungkinan sama sekali padaku kek”

Sekali lagi orang tua itu tertawa. katanya pula, “Itulah yang lucu dan membuatku malu kepada orang yang memiliki ilmu yang tinggi, kemudian sengaja atau tidak. sengaja, kau telah membunuhnya, maka aku pun sadar, bahwa bukan aku yang pantas mengguruimu, tetapi akulah yang harus berguru kepadamu”

“Ah“ Mahisa Bungalan berdesah, “kakek memang suka bergurau. Tetapi kali ini, kakek telah membanting aku ke dalam suatu pengakuan akan kekerdilanku”

“Sama sekali tidak ngger. Aku berani bersikap demikian terhadapmu, karena aku tahu, kau bukan saja seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, tetapi kau juga seorang yang berjiwa seluas lautan”

“Jangan memuji kakek. Katakanlah yang sebenarnya”

“Aku sudah mengatakah yang sebenarnya. Kau ternyata memiliki kemampuan jauh di atas dugaanku. Karena itu, justru aku mulai ragu-ragu, apakah aku akan dapat mohon pertolongan itu kepadamu. Karena dengan keadaanmu yang aku lihat pada perkelahianmu itu, maka tentu kau adalah seseorang yang sudah mengemban tugas sekarang ini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dulam. la menjadi semakin yakin, bahwa orang tua itu memang orang yang suka bergurau. Untuk menyatakan persoalan yang sungguh-sungguh itu pun ia sempat pula untuk bergurau.

Tetapi Mahisa Bungalan percaya, bahwa orang tua itu berkata dengan sungguh-sungguh menurut caranya. Orang tua itu agaknya benar-benar memerlukan pertolongan. Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun berkata, “Kek, jika benar kakek memerlukan kawan untuk menjalankan kewajiban kakek yang dibebankan oleh keluarga kakek, cobalah, barangkali aku yang tidak memiliki bekal apapun juga ini, akan dapat membantu”

“Ah, kau aneh anak muda” sahut orang tua itu, “sudah aku katakan, kau tentu mengemban tugas yang penting”

“Seandainya demikian, tugasku tidak dibatasi oleh waktu. Karena itu, jika memang diperlukan, aku dapat berbuat sesuatu menurut kemampuanku. Asal aku tidak harus terikat di tempat ini selama-lamanya”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tugas itu cukup menggelisahkan”

“Apakah yang kakek maksud?“

“Anak itu. Cucuku”

“Bagaimana dengan anak itu?“ bertanya Mahisa Bungalan dengan sungguh-sungguh.

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Mahisa Bungalan yang justru menjadi tegang.

“Anak muda” berkata orang tua itu, “jika aku mengatakan sesuatu kepadamu, maka aku sudah mempertaruhkan nyawaku. Jika sikapku ini keliru, maka aku harus mempertanggung-jawabkannya dengan seluruh hidupku”

“Kakek membuat aku berdebar-debar”

“Aku juga menjadi berdebar-debar” jawab orang tua itu, “tetapi aku sudah berniat untuk mengatakannya”

Mahisa Bungalan menjadi bingung. Tetapi ia tidak berkata apapun juga. Ia menunggu, apa yang akan dikatakan oleh orang tua itu selanjutnya.

“Angger” berkata orang tua itu, “jika aku salah pilih, dan ternyata angger adalah justru orangnya yang sedang memburu anak itu, maka nasibnya akan menjadi sangat buruk”

Wajah Mahisa Bungalan benar-benar menjadi tegang. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah maksud kakek, bahwa sedang memburu anak itu?“

“Jika. Sekali lagi, jika angger ini justru orang yang mendapat tugas, atau mendapat upah, atau dengan alasan apapun juga, justru sedang memburu anak yang aku sembunyikan itu, maka aku sudah membuka satu pintu pagar bagi langkah maut dan akibatnya aku harus mempertaruhkan segala-galanya untuk mempertahankannya”

“Aku menjadi semakin bingung kek”

“Tentu, jika kau bukan orang yang aku maksud kau menjadi bingung. Tetapi jika kau adalah orang yang aku maksud, maka kau tentu berpura-pura bingung”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam, lebih baik baginya untuk diam dan mendengarkan keterangan orang tua itu.

“Angger“ orang itu berkata lebih lanjut, “baiklah aku berterus terang, bahwa anak itu adalah cucuku yang lahir dari anak perempuanku”

Mahisa Bungalan mendengarkan ceritera itu dengan seksama.

“Nyawanya kini ada dalam bahaya” berkata orang tua itu selanjutnya, “kelahirannya tidak disukai oleh keluarga ayahnya. Dan ibunya telah menjadi korban ketidak-sukaan mereka”

“Apa yang telah dilakukan terhadap ibu anak itu?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku kurang mengerti. Tetapi ibunya bagaikan hilang ditelan bumi. Aku tidak tahu, dimanakah ibunya kini berada. Namun yang aku tahu, di tengah malam anak itu datang kepadaku diantar oleh seorang pelayan”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai menangkap persoalan yang diceriterakan oleh orang tua itu, Tetapi ia masih menunggu orang tua itu meneruskan ceriteranya.

“Pelayan itu menyerahkan cucuku kepadaku. Tetapi kami tidak dapat melepaskan diri dari kejaran orang yang marah itu. Ketika mereka datang menyusul, maka terpaksa aku mempertahankan cucuku. Demikian pula pelayan yang setia itu. Tetapi ia bernasib buruk. Ia terbunuh dalam perkelahian yang tidak seimbang. Sehingga aku terpaksa melarikan diri menyelamatkan cucuku itu”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk di luar sadarnya. Sementara ia terkejut ketika orang tua itu berkata, “Nah, sekarang katakan. Apakah kau termasuk salah seorang, atau orang yang diupah, atau dengan alasan apapun, ikut memburu cucuku yang aku ajak bersembunyi di sini?”

Sejenak Mahisa Bungalan memandang wajah orang tua itu. Namun dalam sekilas ia melihat, bahwa pada mata itu memancar sesuatu yang tidak dilihatnya selama ia berada di rumahnya.

Ia melihat semacam bara yang membakar hati orang tua itu. Kemarahan, kebencian dan tanggung jawab. Bahkan pada bara api itu ia melihat, bahwa orang tua itu sama sekali tidak gentar terhadapnya, meskipun orang tua itu sudah melihat, bagaimana ia membunuh dua orang yang mangejarnya dengan dendam karena kematian Gagak Branang.

Karena itu, ketajaman rabaan batin Mahisa Bungalan segera mengetahui, bahwa orang tua itu bukannya orang tua yang ketakutan di bawah pohon preh seperti yang dilihatnya. Sebenarnyalah bahwa orang tua itu tentu memiliki bekal yang dapat dipergunakannya untuk menghadapinya apabila perlu.

Namun bagaimanapun juga, Mahisa Bungalan masih menganggap bahwa orang tua itu adalah orang tua yang suka bergurau. Orang tua yang sebenarnya seorang periang.

Karena itu, maka sambil menjajaginya Mahisa Bungalan berkata, “Kakek tua. Apakah dengan sikap itu, kakek telah menantang aku?”

-oo0dw0oo-

Bersambung jilid 6

Sumber DJVU : Dino

Convert & Edit : Dino

Ebook oleh : Dewi KZ

edit ulang oleh Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s