PBM-04


<<kembali | lanjut >>

TETAPI, kengerian yang sangat telah menusuk perasaannya. Sekilas ia melihat saudara-saudara seperguruannya yang masih terbaring di tanah. Sekilas terbayang saat-saat mereka mendekati padepokan itu. Ia masih sempat dengan sengaja tertawa untuk menakut-nakuti orang-orang padepokan Kenanga dan Watu Kendeng. Saudara-saudara seperguruannya masih sempat menghitung pendok dan timang emas bertretes berlian. Masih terbayang, bagaimana bibirnya mencibir kemampuan orang-orang Padepokan Kenanga dan Watu Kendeng.

Kini mereka sudah terbaring diam. Menjadi mayat.

Hentakan-hentakan perasaan-perasaan itu bergelora di dalam dadanya. Kengerian, kecemasan bahkan ketakutan telah bercampur baur. Apalagi cahaya sorot mata Mahisa Bungalan yang marah. Dalam keremangan cahaya obor, nampak mata itu bagaikan marahnya bara yang menyala dalam kegelapan.

Dengan keris di tangan Mahisa Bungalan melangkah mendekat. Tanpa meninggalkan kewaspadaan, Mahisa Bungalan mengacukan kerisnya. Ia sadar, bahwa lawannya mempergunakan senjata panjang. Tetapi dengan keris di tangannya, ia telah mengalahkan dua orang dari orang-orang yang ingin mengguncang ketenangan padepokan Kenanga dan Watu Kendeng.

“Setan” geram saudara-saudara Seperguruan Gagak Branang itu, “kau harus mampus”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi setapak demi setapak ia maju terus. Matanya masih bercahayakan kemarahannya.

Lawannya yang bingung dan cemas itu melangkah surut. Dalam gejolak perasaan yang menghentak-hentak, wajah itu seakan-akan menjadi kabur, dan bahkan telah berubah. Mata itu menjadi semakin merah. Bahkan bayangan kehitaman di lekuk-lekuk wajah Mahisa Bungalan seolah-olah membayangkan lobang-lobang pada tulang tengkoraknya.

“Gila” orang itu berteriak.

Tetapi Mahisa Bungalan masih melangkah maju. Ketakutan yang tidak terkendali telah mencengkam hati orang itu. Perlahan-lahan wajah Mahisa Bungalan dipandangan mata lawannya telah berubah menjadi wajah hantu yang sangat mengerikan. Lubang-Lubang tengkorak yang kehitam-hitaman. Gigi yang menjorok putih dan bara yang menyala disela-sela Lubang-Lubang tengkorak itu.

“Pergi, pergi” tiba-tiba orang itu berteriak semakin keras, “kau hantu keparat. Pergi atau aku akan memcahkan tengkorakmu itu”

Mahisa Bungalan tidak mengerti, apa yang bergejolak di dalam hati lawannya. Karena itu, dengan keris teracu dan sikap yang penuh kewaspadaan ia masih melangkah maju juslru karena lawannya melangkah surut.

“Pergi hantu keparat. He, iblis, kenapa kau mengganggu aku he, selagi aku akan membunuh orang-orang padepokan Kenanga dan Watu Kendeng”

Mahisa Bungalan sama sekali tidak menjawab. Ia masih melangkah maju. Tetapi ia tertegun ketika ia melihat perubahan wajah lawannya yang nampak benar-benar nampak ketakutan.

Dengan teriakan yang semakin keras ia berkata, “Jangan ganggu aku iblis. Aku akan menumpas orang-orang padepokan Kenanga dan Watu Kendeng. Pergi ke sarangmu. Pergi, pergi”

Suaranya menggelegar di kelamnya malam, seolah-olah telah mengguncang langit. Wajahnya nampak menjadi semakin ketakutan sementara pedangnya menjadi gemetar.

“Kenapa kau berteriak” tiba-tiba saja Mnhisa Bungalan bertanya.

Jawaban itu terdengar bagaikan guruh yang meledak di tengkorak iblis yang berdiri di hadapannya. Karena itu, maka orang itu justru menjadi semakin ketakutan. Sambil mengayunkan pedangnya tanpa arah ia berteriak, “Jangan mendekat”

“He, apa yang kau lihat?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kau, kau” teriak orang itu, “kau iblis yang bangkit dari neraka yang paling jahanam. He, apakah orang-orang padepokan Kenanga dan Watu Kendeng adalah sahabat-sahabat iblis keparat ini?”

“Lihatlah, siapa aku” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kau ibljs. Iblis yang paling laknat”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Ia melihat wajah lawannya benar-benar dibayangi oleh ketakutan dan kengerian yang tiada taranya. Karena itu, Mahisa Bungalan justru menjadi ragu-ragu. Selangkah ia maju mendekat sambil berkata, “Kau dibayangi oleh ketakutan yang amat sangat. Kenapa kau tidak menyerah saja?”

“Gila. Gila. He, jangan ganggu aku. Jangan ganggu aku. Aku tidak pernah mengganggumu. Aku bertempur dengan jantan melawan orang-orang Kenanga dan Watu Kendeng”

“Aku orang padepokan Kenanga” desis Mahisa Bungalan.

“O, jadi kau iblis dari padepokan Kenanga? Jadi padepkoan ini ditunggui iblis tengkorak seperti kau ini?”

Mahisa Bungalan masih akan menjawab. Tetapi orang-orang itu benar-benar telah dicengkam oleh ketakutan dan kengerian tiada taranya. Karena itu, tanpa menyadari keadaan dirinya, ia pun segera berputar dan melangkah untuk melarikan diri.

Tetapi malang baginya, kakinya tiba-tiba telah menyentuh tubuh kawannya yang telah terbaring di tanah. Demikian terkejutnya, sehingga ia pun meloncat tanpa pengendalian diri sehingga, seolah-olah ia telah terpelanting beberapa langkah.

Ketika kemudian terdengar jerit menyayat, maka semua orang bagaikan mematung memandangi tubuh itu menggeliat. Ternyata tanpa dikehendakinya, senjatanya telah menghunjam di tubuhnya sendiri di saat ia terpelanting jatuh.

Di pendapa Ken Padmi mematung, sejenak ia berdiri tanpa berbuat sesuatu. Dipandanginya mayat-mayat yang berserakan di halaman.

Namun sejenak kemudian, ketika ia melihat ayahnya berdiri di bawah tangga, tiba-tiba saja ia berlari sambil memekik, “Ayah, ayah”

Ki Selabajra berpaling, ia terkejut ketika ia tiba-tiba saja anaknya sudah memeluknya sambil menangis. Di antara sedu sedannya ia berkakta, “Ayah, kenapa semuanya ini harus terjadi?”

Ki Selabajra membelai kepala anaknya. Ia mengerti persoalan apakah yang bergejolak di dalam dada anak gadisnya itu.

“Ayah” Ken Padmi meneruskan, “Aku sudah membunuh mereka. Langsung atau tidak langsung”

“Sudahlah” ayahnya mencoba menenangkannya., “Jangan menyalahkan diri sendiri, yang terjadi adalah suatu akibat. Kita akan dapat mencari sebabnya. Tetapi sebab itu, tentu bukannya yang bersumber pada karunia yang kau terima tanpa kau kehendaki. Jika kau menyalahkan dirimu sendiri, maka kau telah bersalah kepada Sang Penciptamu, yang telah menciptakan seluruh isi alam ini”

Ken Padmi tidak menyahut. Tetapi ia tidak sependapat dengan ayahya sepenuhnya. Karena itu, maka tangisnya pun tidak segera mereda.

“Marilah” berkata Ki Selabajra kemudian, “Kita akan mengurai peristiwa ini pada kesempatan lain. Sekarang biarlah kita menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Yang nampak dimata kita sekarang ini. Yang terbunuh itu harus mendapat perawatan”

Ken Padmi justru terisak semakin dalam. Ia justru tidak berani lagi memandang ke halaman. Meskipun ia sendiri menyandang pedang di lambung, namun rasa-rasanya yang terjadi itu memang sangat mengerikan.

“Bawalah ia masuk” berkata Ki Selabajra kepada kemanakannya, “panggillah pemomongnya. Biarlah ia mencoba membujuknya agar ia melihat yang telah terjadi dengan tenang”

Saudara sepupu Ken Padmi pun kemudian menuntunnya masuk ke ruang dalam. Setelah Ken Padmi berbaring di pembaringannya, maka saudara sepupunya itu pun memanggil seorang perempuan tua yang menjaga dan melayani Ken Padmi sejak masih kanak-kanak.

Tetapi ternyata perempuan tua itu pun menjadi ketakutan, sehingga suaranya pun gemetar.

Ken Padmi mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara pemomongnya yang gemetar dan ketakutan itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun gadis itu pun kemudian mengusap air matanya sambil duduk di bibir pembaringannya.

“Jangan takut bibi” desisnya. Masih terdengar isaknya di sela-sela kata-katanya, “tidak ada yang perlu di cemaskan lagi”

“Ya, ya ngger” sahut perempuan itu, “kau seharusnya tidak menangis. Aku menjadi semakin ketakutan.

“Aku tidak menangis bibi” sahut Ken Padmi.

“Ah” perempuan tua itu beringsut, “tetapi baiklah. Kau memang tidak menangis”

Ken Padmi termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian mengusap matanya yang masih saja basah. Seolah-olah air matanya masih saja mengembun di pelupuknya, betapapun ia berusaha menahannya sehingga demikian ia mengusap, pelupuknya telah menjadi basah kembali.

Sementara itu, di pendapa, orang-orang padepokan Watu Kendeng telah dipersilahkan untuk naik. Dengan kepala, tunduk, Ki Watu Kendeng mengangkat anaknya dan membaringkannya di pendapa, sementara orang-orang padepokan Kenanga telah menyelenggarakan empat sosok mayat yang lain.

“Aku telah kehilangan banyak sekali malam ini” berkata Ki Watu Kendeng dengan kepala tunduk, “anakku telah mati, sementara adikku pun telah terbunuh”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun kepalanya pun kemudian tertunduk dalam-dalam.

Tetapi Ki Watu Kendeng melanjutkan, “Tetapi iu adalah kesalahanku. Aku telah menjadi sangat dungu dengan sikapku. Agaknya Kuda Pramuja telah dibujuk oleh pamannya untuk berbuat di luar kehendaknya sendiri. Sehingga karena itu, aku telah kehilangan kedua-duanya. Aku sama sekali tidak mengira bahwa adikku telah terbius dengan sikap iblis itu. Bahkan ia telah menyeret saudara-saudara seperguruannya ke padepokan ini”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menemukan kalimat apapun juga untuk menanggapi. Karena itu, maka ia tidak mengatakan sesuatu selain memandang tubuh Kuda Pramuja dengan sedih.

“Ki Selabajra” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “biarlah aku kembali ke padepokan dengan membawa anakku yang terbunuh. Aku akan mengurusnya sebagaimana seharusnya. Keluargaku tentu akan terkejut dan bersedih. Tetapi mereka akan mengetahui sebab-sebabnya. Aku tidak akan menutupi apa yang telah terjadi sebenarnya” ia berhenti sejenak, lalu, “sementara adikku pun akan aku bawa pula ke padepokan Watu Kendeng. Sedangkan yang lain, apabila Ki Selabajra juga berkeberatan untuk mengurusnya, kami akan membawanya pula ke Watu Kendeng, karena sumber peristiwa ini adalah aku dan adikku”

Ki Selabajra beringsut setapak. Kemudian Katanya, “Biarlah kami mengurusnya di sini Ki Watu Kendeng. Hanya apabila kau kehendaki, biarlah putera dan adikmu sajalah yang kau bawa kembali sebagai keluargamu, sementara yang lain, akan kami selenggarakan sebaik-baiknya di padepokan ini”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia menjawab, “Terima kasih. Hatimu memang sangat lapang” Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam Namun kemudian ia pun berpaling memandang Mahisa Bungalan yang masih tertunduk dalam-dalam.

Sejenak Ki Watu Kendeng memandang Mahisa Bungalan yang gelisah. Dengan nada dalam orang itu berkata, “Ki Sanak. Kau adalah orang luar biasa. Kau telah membunuh adikku dan beberapa orang saudara seperguruannya”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Justru karena darahnya telah mulai teratur seperti dentang jantungnya yang mereda, maka ia mulai melihat, apa yang telah dilakukannya. Karena itu, maka katanya tersendat, “Aku mohon maaf, Ki Watu Kendeng. Dalam keadaan yang demikian, sulitlah bagiku untuk mengendalikan diri, sehingga aku terpaksa membunuh orang-orang yang barangkali masih dapat diperbaiki sifat dan tabiatnya”

“Kau tidak bersalah” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “kau sudah berbuat sebaik-baiknya. Tidak ada seorang pun yang akan dapat menghindarkan diri. dari gejolak perasaan menghadapi peristiwa seperti ini. Seandainya aku mampu, akulah yang akan membunuhnya. Tetapi ia terlalu berat bagiku, sehingga aku tidak mampu berbuat apa-apa atas adikku sendiri yang ternyata telah menempuh jalan sesat. Aku tidak banyak mengetahui umurnya yang memang sudah dewasa. Namun ternyata bahwa ia telah hidup dalam dunia yang kelam dan penuh noda”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi, biarlah aku tidak selalu dibayangi oleh teka-teki. Sebelum aku kembali ke Watu Kendeng, perkenankanlah aku bertanya, siapakah anak muda ini sebenarnya. Apakah benar ia pekatik padepokan Kenanga seperti yang dikatakannya. Jika benar demikian, alangkah kuncaranya padepokan ini, yang mempunyai seorang pekatik yang memiliki kemampuan yang tidak ada tandingnya”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

Dalam pada itu, Ki Selabajra pun kemudian menyahut, “Aku pun menjadi heran, bahwa tiba-tiba saja ia sudah berada di padepokan ini. Beberapa hari yang lalu, ia sudah minta diri dan meninggalkan padepokan ini untuk tujuan yang tidak tentu. Namun tiba-tiba saja ia berada di padepokan ini lagi, pada saat yang tepat”

Mahisa Bungalan tidak segera menjawab. Wajahnya nampak ragu-ragu. Perlahan-lahan ia mencoba memandang orang-orang yang berada di sekitarnya. Makerti, Gemak Werdi, para murid di padepokan Kenanga dan Watu Kendeng. Ternyata mereka semuanya sedang memandanginya dengan penuh keheranan.

“Ah” ia berdesah di dalam hati.

“Angger Mahisa. Bungalan” berkata Ki Selabajra kemudian, “bagaimana ceriteranya, bahwa angger telah berada di sini pada saat yang gawat ini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya sambil menunduk, “Hanya secara kebetulan saja, Ki Selabajra”

Tetapi Ki Selabajra berkata, “Kebetulan yang sangat kebetulan. Nyawa kami telah kau selamatkan, meskipun angger Kuda Pramuja harus menjadi korban. Tetapi jika tidak secara kebetulan kau berada di padepokan ini, maka korban akan menjadi semakin banyak. Mungkin orang-orang padepokan Watu Kendeng dan padepokan Kenanga telah habis ditumpas oleh orang-orang yang sangat garang itu”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam, “Tetapi pertanyaan masih belum terjawab” berkata Ki Watu Kendeng, “siapakah anak muda itu sebenarnya”

“Bertanyalah kepadanya” sahut Ki Selabajra, “aku kira dalam keadaan seperti ini, ia tidak akan mengingkari dirinya sendiri”

Mahisa Bungalan mengangkat wajahnya sejenak. Ketika dipandanginya wajah Ki Selabajra, dilihatnya orang tua mengangguk kecil.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tidak dapat ingkar lagi. Diceriterakannya bagaimana ia berada di padepokan itu kembali setelah ia meninggalkan beberapa hari yang lalu. Ia pun menyinggung serba sedikit tentang dirinya meskipun tidak seluruhnya.

“Mengagumkan” desis Ki Watu Kendeng. Lalu, “Ki Selabajra. Biarlah aku mendahului mengatakan niatku yang tiba-tiba saja muncul di rongga dadaku. Malam ini aku telah kehilangan anakku. Satu-satunya anak laki-laki. Karena itu, biarlah aku menuntut ganti. Aku akan memohon kepada anak muda yang bernama Mahisa Bungalan ini, agar ia bersedia aku anggap sebagai pengganti anakku yang hilang”

Mahisa Bungalan terkejut. Sesaat ia mengangkat kepalanya tegak-tegak sambil memandang Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra berganti-ganti. Namun kemudian kepalanya itu pun tertunduk lagi.

Sementara itu, terdengar Ki Selabajra berkata, “Semuanya terserah kepada angger Mahisa Bungalan. Jika ia bersedia, maka beruntunglah Ki Watu Kendeng, karena kau akan mendapatkan ganti, meskipun nilainya berbeda”

“Aku ingin mendengar, apakah anak muda itu bersedia menjadi anakku” gumam Ki Watu Kendeng.

Mahisa Bungalan masih tetap termangu-mangu. Namun ia tidak akan sampai menyakiti hati orang tua yang baru saja kehilangan anak laki-lakinya itu. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Ki Watu Kendeng. Aku mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Kiai terhadapku, dengan mengambil aku sebagai anak angkat. Mudah-mudahan Kiai tidak akan kecewa di hari kemudian, karena aku adalah seorang perantau yang tidak berhari sama sekali, yang sebenarnya tidak pantas untuk menjadi keluarga Ki Watu Kendeng”

“Kau jangan terlalu merendahkan diri” sahut Ki Watu Kendeng, “tetapi kesediaanmu telah sedikit menghapus duka hati ini”

Mahisa Bungalan tidak segera menyahut. Tetapi ia mulai memikirkan akibat dari kesediaannya itu. Apakah maksud Ki Watu Kendeng itu hanya sekedar mengakunya sebagai anak, atau bahkan dengan akibat yang lebih luas. Misalnya, ia harus tinggal bersamanya, dan berbuat benar-benar seperti anaknya.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak tergesa-gesa ingin mendapatkan ketegasan, karena hal itu akan dapat dibicarakannya kemudian.

Namun yang menjadi pikirannya kemudian, bagaimana ia harus bersikap terhadap Ki Selabajra. Mahisa Bungalan tidak dapat ingkar lagi, bahwa ada sesuatu yang membelit hatinya di padepokan itu. Ken Padmi baginya, merupakan seorang gadis yang lain dengan gadis-gadis yang pernah dikenalnya.

Di Singasari ia mengenal banyak gadis-gadis, bahkan gadis-gadis yang tinggal di istana sekalipun. Tetapi ia tidak pernah merasakan suatu sentuhan batin seperti yang dialaminya di padepokan itu.

Tetapi segalanya itu masih saja disimpannya di dalam hati. Pada saatnya ia akan menentukan sikap, sesuai dengan keadaan yang akan dihadapinya.

Dalam pada itu, maka Ki Watu Kendeng pun kemudian minta diri. Ia merasa didesak oleh keadaan yang tidak dikehendaiknya itu untuk segera kembali dan menyelesaikan penyelenggaraan mayat anak dan adiknya.

“Apakah tidak sebaiknya besok pagi saja Ki Watu Kendeng?” bertanya Ki Selabajra.

“Mumpung malam hari. Tidak banyak orang yang akan melihat bahwa kami telah membawa dua tubuh yang sudah membeku” jawab Ki Watu Kendeng.

Ki Selabajra tidak dapat menahannya lagi. Karena itu maka katanya Terserahlah kepada kebijaksanaan Ki Watu Kendeng. Aku hanya dapat menyatakan ikut berduka cita atas segala yang telah terjadi, di luar keinginan kami pula”

“Agaknya nasib benar-benar tidak akan dapat dihindari” sahut Ki Watu Kendeng, “tetapi aku tidak boleh kehilangan akal karenanya. Aku pun tidak boleh meratapi tanpa henti, sehingga dengan demikian seolah-olah aku tidak mau mengerti maksud Tuhan Yang Maha Kuasa”

“Ki Watu Kendeng benar-benar seorang yang berjiwa samodera. Dengan demikian, maka Ki Watu Kendeng akan menerima ketenangan di dalam hidupnya” gumam Ki Selabajra, “selebihnya aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Biarlah ketiga mayat yang lain akan kami selenggarakan di sini sesuai dengan seharusnya”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Namun kemudian Katanya, “Sesuai dengan permohonanku, apakah Mahisa Bungalan dapat ikut bersamaku?”

Wajah Ki Selabajra menegang sejenak. Namun kemudian ia berpaling kepada Mahisa Bungalan. Katanya, “Terserahlah kepada angger Mahisa Bungalan”

Jantung Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Ia masih ingin tetap berada di padepokan Kenanga. Meskipun ia sudah meninggalkan padepokan itu, dan kemudian kembali dengan diam-diam pada saat yang gawat itu, namun rasa-rasanya jika ia jujur terhadap dirinya sendiri, maka ia masih ingin berada di padepokan itu.

Karena itu, maka ia pun menjadi bingung. Apakah jawab yang paling baik yang harus dikatakannya.

Dalam pada itu, Ki Watu Kendeng telah mendesaknya, “Bagaimana pendapatmu Mahisa Bungalan? Bukankah wajar jika kau kembali bersama kami ke padepokan Watu Kendeng? Dengan demikian, maka kau sudah menampung sebagian dari kepahitan perasaan kami, seisi padepokan Watu Kendeng”

Sejenak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun kemudian ia terpaksa menjawab, “Ki Watu Kendeng. Aku mengucapkan terima kasih. Tetapi perkenankan aku tinggal di padepokan ini. Aku masih harus membantu Ki Selabajra untuk menyelenggarakan ketiga sosok mayat itu. Bagaimana pun juga, aku ikut bertanggung jawab atas kematian mereka”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada datar, “Baiklah. Jika kau masih belum dapat pulang bersama kami, aku harap kau akan segera menyusul. Jangan biarkan kepedihan kami semakin berlaruti-larut”

Mahisa Bungalan menjadi bingung. Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa ia akan menjadi penghuni padepokan Watu Kendeng, sehingga dengan demikian akan bertentangan dengan niatnya untuk melihat daerah yang luas sebelum ia kembali ke Singasari, mengikat diri ke dalam satu Lingkungan. Tetapi Mahisa Bungalan tidak mempersoalkannya itu. Saat Ki Watu Kendeng masih diliputi oleh kegelapan hati karena peristiwa yang bagaikan telah merobek dadanva itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Watu Kendeng pun minta diri. Ken Padmi yang berada di dalam biliknya, dipanggil ke pendapa untuk melepas kepergian Ki Watu Kendeng sambil membawa mayat anak dan adiknya., “Bebaskan hatimu dari peristiwa ini, Ken Padmi. Bagaimanapun juga, kau sama sekali tidak bersalah. Yang sebenarnya terjadi adalah pergolakan yang kelam di dalam lingkungan keluargaku sendiri. Sayang sekali, bahwa kau justru terlibat di dalamnya di luar kehendakmu sendiri” berkata Ki Watu Kendeng saat ia minta diri, “Mudah-mudahan kau akan tetap hidup dengan tenang dan wajar di hari mendatang”

Ken Padmi menundukkan kepalanya. Pesan itu justru hampir saya memecahkan bendungan air matanya kembali. Namun ia bertahan sekuat-kuatnya untuk tidak menangis.
DALAM pada itu, maka Ki Watu. Kendeng dan para pengiringnya pun telah bersiap-siap untuk kembali ke padepokan mereka dengan hati yang sangat pedih. Kematian adiknya tidak terlalu terasa menyengat jantung. Tetapi kematian Kuda Pramuja benar-benar telah meremas perasaan.

Ketika semuanya sudah siap, maka iring-iringan itu pun mulai bergerak. Gelap malam sama sekali tidak menghalangi mereka. Kedua sosok tubuh yang beku itu pun telah diletakkan diatas punggung kuda pula. Kuda-kuda mereka sendiri, yang saat mereka berangkat keduanya masih dapat memegang kendali sendiri. Tetapi ketika kembali ke padepokan, maka kedua ekor kuda itu harus dituntun oleh orang lain.

Orang-orang padepokan Kenanga pun melepas mereka dengan hati yang trenyuh. Mereka mengerti betapa pedihnya hati Ki Watu Kendeng. Selain kehilangan anak dan adiknya, maka ia pun tentu merasa sangat pahit menghadapi peristiwa yang tidak diperhitungkannya. Tiba-tiba adik laki-lakinya itu telah kehilangan pertimbangan, sehingga ia telah melakukan perbuatan yang tercela.

Sepeninggal orang-orang dari padepokan Watu Kendeng, maka orang-orang padepokan Kenanga pun telah sibuk dengan kewajiban mereka. Meskipun saudara-saudara seperguruan Gagak Branang itu di masa hidup mereka, telah menumbuhkan bencana yang sangat besar, terutama dengan kematian Kuda Pramuja namun setelah mereka menjadi mayat, maka seolah-olah semua hutang itu pun telah lunas mereka bayar.

Sementara para murid dan cantrik dari padepokan Kenanga sibuk dengan ketiga sosok mayat itu, Mahisa Bungalan yang termangu-mangu duduk diatas bebatur gandok kanan. Dengan kening yang berkerut ia memandang orang-orang yang sibuk di bawah cahaya obor yang hilir mudik dibawa para cantrik yang ikut membantu mengurus mayat-mayat itu.

“Kematian yang sia-sia” desis Mahisa Bungalan. Di luar sadarnya ia telah memandang ketangannya. Jari-jarinya yang berkembang masih dinodai dengan titik-titik darah yang membeku. Tetapi keris yang dipergunakannya telah dikembalikannya kepada Makerti.

Dalam saat ia masih termangu-mangu, Mahisa Bungalan itu terkejut ketika ia melihat bayangan seseorang di atas tanah yang memanjang, bergerak mendekatinya. Ketika itu ia berpaling, dilihatnya Ken Padmi berdiri termangu-mangu, “O” desis Mahisa Bungalan sambil bangkit berdiri.

“Apakah yang kau renungkan?” bertanya Ken Padmi di luar sadarnya, sekali lagi Mahisa Bungalan memandang noda-noda darah di tangannya.

“Kau belum membasuh tangan dan kakimu?” bertanya Ken Padmi.

“Belum Ken Padmi. Mungkin aku masih akan membantu mereka yang mengurus mayat itu. Karena itu, aku masih belum membersihkan diri”

Ken Padmi mengangguk-angguk.

“Aku masih dilekati oleh keringat dan debu. Lebih dari itu, aku masih dikotori oleh noda-noda darah” desis Mahisa Bungalan kemudian.

Ken Padmi mengerutkan keningnya. Namun diluar dugaan Mahisa Bungalan, tiba-tiba saja Ken Padmi menunduk sambil berdesis, “Aku minta maaf Mahisa Bungalan. Jika kau merasa ternoda oleh kematian mereka, maka akulah yang bersalah”

Mahisa Bungalan terkejut Dengan serta merta ia menjawab, “Bukan maksudku”

“Mungkin kau memang tidak bermaksud mengatakan demikian. Tetapi akulah yang wajib merasa. Kau telah terseret dalam persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentinganmu. Untunglah bahwa tidak terjadi sesuatu dengan kau. Jika sekiranya, kau mengalami sesuau, maka akulah sumber dari malapetaka itu”

“Tidak. Tidak Ken Padmi. Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan demikian. Aku benar-benar ingin mengatakan, bahwa aku masih belum membersihkan diri sehingga tubuhku menjadi kotor. Tidak ada sangkut pautnya dengan siapakah yang bersalah, dalam hal ini”

Ken Padmi justru menjadi semakin tunduk. Dengan nada yang dalam dan tertahan-tahan ia berkata, “Aku memang terlalu bodoh untuk mengerti. Sekali lagi aku minta maaf Mahisa Bungalan”

Mahisa Bungalan benar-benar menjadi bingung, la tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Karena itu, maka ia pun kemudian hanya berdiri saja tegak seperti patung.

Untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Ken Padmi berdiri dengan kepala tunduk, sedangkan Mahisa Bungalan menjadi sangat gelisah oleh ketidak tahuannya atas sikap Ken Padmi.

Baru sejenak kemudian Ken Padmi berkata, “Sudahfah. Aku akan kembali ke ruang dalam. Jika kau sudah selesai, mandilah agar kau tidak merasa bernoda darah dan kematian”

Hampir saja Mahisa Bungalan. menjawab. Untunglah bahwa ia segera menyadari, bahwa jawabnya itu akan dapat menyinggung perasaan Ken Padmi. Karena itu, ia hanya berkata di dalam hati, “Noda darah dan kematian tidak akan terhapus meskipun aku akan mandi seribu kali sehari”

Tetapi yang terucap dari mulutnya adalah, “Silahkan Ken Padmi. Kau memang memerlukan istirahat badan dan jiwani. Seperti yang dikatakan oleh Ki Watu Kendeng, lupakan segalanya, karena yang terjadi benar-benar di luar kehendak dan kuasamu untuk menghindarinya.

Ken Padmi menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Namun ketika ia memandang wajah Mahisa Bungalan, anak muda itu pun sedang memandanginya.

Cepat-cepat Ken Padmi melemparkan pandangannya. Bahkan kemudian ia pun segera meninggalkan Mahisa Bungalan yang termangu-mangu.

Sejenak Mahisa Bungalan berdiri mematung. Dipandanginya saja Ken Padmi yang kemudian hilang di balik sudut gandok. Beberapa lama ia masih tetap berdiri. Terasa debar jantungnya bagaikan semakin. cepat. Ada kesan yang khusus di dalam hatinya dari sikap gadis itu. Meskipun Ken Padmi menyandang pedang, tetapi ia benar-benar seorang gadis perasa.

Dalam pada itu, di luar sadarnya, dari jarak yang agak jauh Gemak Werdi memandanginya dengan tajam. Tetapi anak muda itu kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah. Rasa-rasanya ia sedang melepaskan sebuah gelembung getah jarak yang terbang dihanyutkan angin.

Gemak Werdi terkejut ketika pundaknya digamit oleh Makerti. Sejenak keduanya berpandangan. Namun kemudian Gemak Werdi melangkah meninggalkan tempatnya.

Makerti yang lebih tua daripadanya menarik nafas panjang. Ia mengerti perasaan yang bergejolak di dalam hati Gemak Werdi dan Mahisa Bungalan. Makerti pun mengerti, kenapa tiba-tiba saja Mahisa Bungalan berada di padepokan itu, meskipun ia tidak mengerti bagaimana hal itu terjadi. Yang diketahuinya adalah bahwa Mahisa Bungalan tidak dapat meninggalkan Ken Padmi dengan ikhlas. Karena itu, seolah-olah ia masih saja selalu membayanginya meskipun ia sudah minta ijin meninggalkan padepokan itu. Dengan demikian Mahisa Bungalan masih sempat mengetahui dan melihat, apa yang telah terjadi.

Sejenak Makerti lah yang kemudian termangu-mangu. Ia melihat Mahisa Bungalan melangkah ke belakang, dan hilang dibalik sudut belakang rumah padepokan.

Para cantrik sudah selesai membaringkan ketiga sosok mayat di pendapa. Besok jika hari menjadi terang, maka ketiga sosok mayat itu akan diselenggarakan sebagaimana seharusnya.

Makerti pun kemudian meninggalkan tempatnya pula. Ia pun segera membersihkan diri seperti para penghuni padepokan itu yang lain. Di antara mereka adalah Mahisa Bungalan yang sejak saat itu telah berada di padepokan Kenanga kembali.

Mahisa Bungalan yang kemudian berada di pendapa bersama beberapa orang yang lain, menunggui mayat yang terbaring bergeser setapak, ketika Makerti duduk di sebelahnya. Beberapa saat mereka berbicara tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Separti pendapat orang-orang padepokan itu yang lain. Padepokan Kenanga tentu sudah menjadi karang abang, jika Mahisa Bungalan tidak tiba-tiba raja berada di antara mereka.

“Sudahlah” desis Mahisa Bungalan, “jangan sebut itu lagi”

Makerti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru berkata, “Bagaimana dengan Ki Watu Kendeng? Bukankah ia mengharap kau datang ke padepokannya?”

Mahisa Bungalan merenung sejenak. Ia memang harus mulai memikirkan suatu sikap tentang kesediaannya menjadi anak angkat Ki Watu Kendeng. Kesediaannya itu akan membawa suatu akibat sikap dan perbuatan.

Tiba-tiba saja ada perasaan segan yang mencengkamnya untuk meninggalkan padepokan Kenanga. Betapa pun ia mencoba untuk ingkar terhadap dirinya sendiri, namun akhirnya ia harus mengakui bahwa hatinya telah tertambat kepada gadis yang bernama Ken Padmi itu, sehingga seolah-olah ia pun telah terikat pula oleh padepokan Kenanga yang hampir saja mengalami bencana itu.

Ketika kemudian Ki Selabajra pun ikut duduk di pendapa, maka pembicaraan mereka telah berkisar. Mereka kembali membicarakan peristiwa yang menggetarkan jantung, yang telah menjamah padepokan yang terhitung tenang itu.

Beberapa saat lamanya, meraka masih berbincang di pendapa. Namun menjelang matahari terbit, beberapa orang dipersilahkan untuk beristirahat Hanya beberapa orang murid dan cantrik sajalah yang masih menunggui mayat di pendapa.

“Apakah mereka masih mempunyai saudara-saudara seperguruan?” bertanya salah seorang cantrik.

“Mungkin sekali” jawab kawannya.

“Bukankah masih ada kemungkinan saudara-saudara seperguruannya itu mendendam kita di sini?

“Mungkin sakali” jawab kawannya lagi.

“Apakah tidak mungkin pada suatu saat mereka datang dengan kekuatan berlipat?” kawannya bertanya pula.

“Mungkin sekali”

“He, apakah kau tidak mempunyai jawaban lain?” kawannya tiba-tiba membentak.

“Kenapa kau marah? Aku menjawab sebenarnya. Mungkin sekali. Mungkin sekali semua itu dilakukan. Bahkan bukan saja saudara-saudara seperguruan, tetapi gurunya dapat berbuat demikian pula”

“Guru Gagak Branang?”

Cantrik itu menjadi tegang. Katanya, “Jika benar demikian, apakah anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu akan dapat mengimbangi kemampuan guru Gagak Branang itu”

“He, kau kira anak muda itu tidak mempunyai guru? Jika ia merasa tidak mungkin mengimbangi seseorang, ia tentu akan mengadu kepada gurunya”

“Itu kalau sempat. Kalau tidak?”

“Kalau tidak, ia pun terbujur di pendapa seperti itu”

“Ah” geram kawannya, “kau gila. Apakah hal itu akan dapat terjadi atas anak muda itu?”

“Mungkin sekali”

“Apalagi yang mungkin sekali?”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Untuk beberapa saat lamanya mereka tidak berbicara lagi. Diluar sadar, mereka memandang ketiga sosok mayat yang terbaring diam itu.

Ketika kemudian matahari terbit, maka orang-orang padepokan Kenanga telah menjadi sibuk. Mereka pada hari itu juga akan mengadakan upacara menyelenggara kan ketiga sosok mayat itu sebaik-baiknya meskipun dengan sederhana.

Namun pada hari itu juga. Padepokan Watu Kendeng pun menjadi sibuk. Mereka pun akan menyelenggarakan upacara menyelenggarakan kedua sosok mayat. Bagaimana juga, setelah maninggal, Ki Watu Kendeng tidak sampai hati menyia-nyiakan adiknya. Bahkan sejauh-jauh mungkin Ki Watu Kendeng masih berusaha menutupi kekurangan adiknya.

Namun yang buruk itu ternyata cepat sekali di dengar oleh banyak orang. Betapapun Ki Watu Kendeng berusaha menutupinya, namun orang-orang yang mengiringinya ke Padepokan Kenanga telah menyaksikan dan mengerti, apa yang telah terjadi.

Sedangkan mereka tidak dapat menahan diri untuk menceriterakan apa yang mereka saksikan itu kepada kawan-kawannya, kepada saudara-saudaranya, dan bahkan kepada siapapun y ang mereka temui.

Karena itu, bagaimanapun juga, maka sikap orang padepokan Watu Kendeng dan orang-orang padukuhan di sekitarnya terhadap kedua sosok mayat itu jauh berbeda. Mereka menghormati mayat Kuda Pramuja, tetapi mereka memandang pun segan terhadap mayat Gagak Branang.

Demikianlah, maka padepokan Watu Kendeng diliputi oleh suasana berkabung. Agak berbeda dengan suasana yang diliputi padepokan Kenanga. Meskipun kedua padepokan itu sama-sama menyelenggarakan beberapa sosok mayat, namun dalam ikatan dan keadaan yang berlainan.

Bagi padepokan Watu Kendeng, maka yang terjadi itu benar-benar merupakan peristiwa yang pahit, sementara bagi padepokan Kenanga ada sepercik kebanggaan karena kehadiran Mahisa Bungalan yang telah berhasil mengalahkan orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang tanpa Mahisa Bungalan akan dengan mudah menghancurkan padepokan mereka.

Ketika kemudian matahari turun ke Barat, setelah kesibukan di padepokan Kenanga selesai, maka mereka dengan segera melupakan apa yang telah terjadi. Para cantrik sudah dapat bergurau lagi diantara mereka. Bahkan murid-murid Ki Selabajra pun sudah sempat lagi berada di dalam sanggar untuk meneruskan latihan-latihan mereka.

Sedangkan pada saat yang sama, orang-orang padepokan Watu Kendeng masih tetap berada dalam suasana berkabung. Setiap penghuni padepokan Watu Kendeng masih tetap menundukkan kepala dengan sedih.

Mahisa Bungalan yang masih berada di padepokan Kenanga melihat suasana yang cepat berubah itu. Namun nampaknya agak lain dengan Ken Padmi. Gadis itu masih tetap diliputi oleh suasana yang muram. Meskipun kematian yang terjadi itu tidak menyangkut sanak kadangnya, tetapi Ken Padmi masih saja merasa di bayangi oleh kesalahan. Ia merasa menjadi penyebab, bahwa semuanya itu telah terjadi.

Namun selain merasa bersalah, ada sesuatu perasaan yang terselip di hatinya. Jika ia sadar, bahwa Mahisa Bungalan masih berada di padepokan Kenanga, maka tiba-tiba hatinya serasa menjadi sejuk. Ia tidak mengerti dengan pasti, apakah ia memang telah tertarik kepada anak muda itu. Namun sebagai seorang gadis ia selalu menghindari pertanyaan itu meskipun tumbuh di hatinya sendiri.

Ketika di luar kehendaknya, ia berpapasan dengan Mahisa Bungalan di longkangan, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika Mahisa Bungalan kemudian ternyata berhenti sambil memandangnya.

Rasa-rasanya kaki Ken Padmi menjadi sangat berat. Hampir di luar sadarnya ia pun telah berhenti pula.

Sejenak keduanya termangu-mangu. Keringat dingin telah mengalir di tengkuk Ken Padmi. Dan bahkan Mahisa Bungalan untuk sejenak telah menjadi kebingungan, apakah yang akan dilakukannya.

Namun akhirnya ia berhasil menguasai perasaannya. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Apakah kau sudah sempat beristirahat Ken Padmi?”

Ken Padmi memandang Mahisa Bungalan hanya sekilas. Jawabnya, “Kaulah yang harus beristirahat. Kaulah yang telah banyak berbuat bagi kami seisi padepokan ini”

Mahisa Bungalan tersenyum. Betapapun gelisah hatinya. Katanya, “Aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi kaulah yang nampak letih sejak semalam”

“Aku tidak letih” sahut gadis itu singkat.

Untuk sejenak Mahisa Bungalan seolah-olah telah kehilangan kalimat untuk mulai lagi dengan sebuah pembicaraan. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Ken Padmi, agaknya aku tidak akan dapat lama di padepokan ini”

Ken Padmi terkejut. Diluar sadarnya ia memandang Mahisa Bungalan dengan kerut merut di keningnya.

“Apakah kau akan segera pergi lagi seperti beberapa waktu yang lampau?” bertanya Kan Padmi.

“Seharusnya aku memang pergi seperti yang aku lakukan selama ini. Aku adalah seorang perantau” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi agaknya aku harus tinggal beberapa lamanya di padepokan Watu Kendeng”

“Kenapa?” bertanya Ken Padmi.

“Bukankah kau sudah mendengar pula, bahwa aku telah diangkat menjadi anak Ki Watu Kendeng menggantikan Kuda Pramuja? Aku mengerti, betapa sakitnya hati orang tua itu. Karena itu, aku tidak sampai hati menolaknya. Dan aku pun akan berada di padepokannya untuk beberapa saat selama ia masih berduka”

Ken Padmi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Mahisa Bungalan memang sudah menyediakan dirinya untuk diangkat sebagai anak oleh Ki Watu Kendeng. Demikian dalam pengertiannya, bahwa orang tua itu sedang berduka, karena ia telah kehilangan anaknya. Kematian Kuda Pramuja bukannya kematian yang sewajarnya seperti kebanyakan kematian-kematian yang pernah terjadi. Tetapi kematian Kuda Pramuja adalah karena persoalan yang justru merupakan noda yang kelam bagi keluarga Ki Watu Kendeng.

“Ken Padmi” tiba-tiba saja terdengar Mahisa Bungalan berdesis, “aku besok akan mohon diri kepada Ki Selabajra. Kepada Makerti, kepada Gemak Werdi dan kepadamu”

Ken Padmi menundukkan kepalanya. Dengan nada yang dalam ia menjawab, “Mudah-mudahan jarak dari Watu Kendeng tidak akan menjadi lebih panjang lagi, Mahisa Bungalan, ada kecemasan di dalam hatiku, bahwa setelah Watu Kendeng, kau akan berjalan semakin jauh lagi”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang datar ia menjawab, “Seharusnya aku memang akan berjalan semakin jauh Ken Padmi. Aku akan menjauhi segala tempat. Aku akan mendekati segala tempat pula. Karena itu, aku akan berada di mana-mana, tetapi juga tidak berada di mana-mana”

“Setiap katamu membuat aku semakin bingung. Tetapi kau dengar suara hatiku meskipun aku tidak mengatakannya”

Mahisa Bungalan menahan nafasnya. Kata-kata itu telah mendebarkan jantungnya.

Namun dalam pada itu, ketika Ken Padmi menyadari pengakuannya, meskipun samar-samar wajahnya menjadi merah. Sebagai seorang gadis ia telah berkata terlalu jauh dalam hubungan antara manusia.

Karena itu, maka wajahnya menjadi semakin tunduk. Keringat dinginnya telah mengalir membasahi segenap tubuhnya.

Mahisa Bungalan melihat kegelisahan itu. Meskipun ia sendiri merasa canggung, namun ia tidak dapat membiarkan perasaan gelisah itu mencengkam perasaan Ken Padmi semakin dalam-dalam.

“Ken Padmi” berkata Mahisa Bungalan, “aku dengar suara hatimu. Namun suara itu telah luluh dengan suara hatiku sendiri”

“Ah” Ken Padmi berdesah. Tidak ada yang dapat dikatakannya lagi. Bahkan kemudian ia pun berlari masuk di longkangan itu.

Baru kemudian Mahisa Bungalan melangka meninggalkan tempatnya memasuki biliknya di gandok

Tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat duduk dengan tenang. Pembicaraaanaya yang singkat dengan Ken Padmi telah menggelisahkan hatinya.

Tetapi adalah di luar pengetahuan Mahisa Bungalan, bahwa Ki Selabajra telah melihat pembicaraan itu dari sela-sela pintu seketeng, bagian belakang. Meskipun hanya sekilas, dan tidak ada keinginannya untuk melihat dan mendengarkan pembicaraan kedua anak muda itu, namun Ki Selabajra telah mendapat keyakinan, bahwa ada sesuatu yang saling menyentuh pada kedua anak muda itu.

“Aku tidak tahu, apakah aku menjadi senang atau justru gelisah dan cemas” berkata Ki Selabajra kepada diri sendiri, “aku senang jika benar-benar keduanya pada suatu ketika akan bertemu dalam hidup kekeluargaan. Mahisa Bungalan adalah anak muda yang luar biasa. Anak muda yeng memiliki ilmu yang tinggi, tetapi tetap rendah hati dan berusaha menempuh jalan hidupnya yang lurus. Tetapi aku menjadi gelisah dan cemas, bahwa dalam perantauannya, Mahisa Bungalan akan menemukan paristiwa yang dapat mengaburkan perasaan itu, apalagi kemudian terhapus sama sekali, sementara Ken Padmi masih tetap terikat kepada kesetiaan akan janji meskipun baru diucapkan di dalam hatinya sendiri. Namun janji di dalam hati justru akan dapat mengikatnya tanpa batas kesaksian orang lain” Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, “Yang dapat aku lakukan hanyalah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Pemurah. Sebagai orang tua, aku tidak boleh menutup mata atas kenyataan ini”

Dalam pada itu, selagi Ki Selabajra merenung anak gadisnya, maka Mahisa Bungalan masih saja dicengkam oleh kegelisahan. Bahkan kemudian ia pun keluar lagi dari biliknya, dan berjalan dengan ragu-ragu ke Sanggar.

Dengan kegelisahannya, ia menunggui murid-murid Ki Selabajra yang sedang melatih diri. Mereka mengulang apa yang pernah mereka pelajari. Mereka mencoba mengembangkan apa yang telah mereka sadap dari gurunya, Ki Selabajra.

Kehadiran Mahisa Bungalan membuat mereka menjadi segan. Tetapi Mahisa Bungalan berkata, “Teruskan. Jangan hiraukan aku. Anggaplah bahwa aku tidak ada di dalam sanggar ini”

Murid-murid Ki Selabajra itu saling berpandangan sejenak. Namun keseganan itu agaknya masih belum mereke singkirkan dari hati mereka.

“Teruskanlah. Aku juga pernah pada suatu saat seperti kalian. Belajar dan mencoba mengulang-ulang, kemudian mencari bentuk perkembangannya”

Betapapun segan dan canggungnya, namun akhirnya mereka pun talah melanjutkan latihan mereka. Mula-mula dengan ragu-ragu, namun perlahan-lahan mereka dapat mengesampingkan perasaan itu, sehingga latihan itu pun menjadi semakin lama semakin cepat pula.

Tetapi ternyata bahwa latihan itu tidak dapat merampas seluruh perhatian Mahisa Bungalan. Meskipun ia tetap berada di dalam sanggar, namun angan-angannya kadang-kadang telah terbang jauh ke dalam dunia harapan.
Karena itulah, maka ia seolah-olah terkejut ketika tiba-tiba saja latihan-latihan itu telah berakhir di malam yang telah larut.

Semalam suntuk Mahisa Bungalan harus menunggu dengan gelisah di dalam biliknya. Ia menjadi berdebar-debar ketika terdengar kokok ayam jantan menjelang fajar menyingsing.

Namun ia sudah membulatkan tekadnya untuk pergi ke Watu Kendeng. Ia tidak ingin berada terlalu lama di padepokan Kenanga. Bagaimana pun juga, ia harus menjaga agar hubungannya dengan Ken Padmi yang seolah-olah telah mereka akui tanpa kata-kata, dapat menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, sehingga mungkin akan dapat mengurangi penilaian mereka terhadap keluhuran budi anak perempuan Ki Selabajra, yang bagi orang-orang di padepokan Kenanga dan sekitarnya, Ki Salabajra merupakan orang yang paling mereka hormati di samping Ki Buyut.

‘Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian mempersiapkan bukan saja badannya, tetapi juga hatinya. Ia harus minta diri dan pergi ke padepokan Watu Kendeng. Apapun yang akan dialaminya di Watu Kendeng, akan diterimanya sejauh dapat dilakukannya. Ia akan menjadi anak yang baik bagi Ki Watu Kendeng, meskipun sejak semula Mahisa Bungalan harus meyakinkan, bahwa ia tidak akan dapat tinggal terlalu lama di padepokan itu.

Ketika kemudian Mahisa Bungalan duduk bersama KI Selabajra di pendapa, setelah mereka selesai dengan membenahi diri masing-masing, maka Mahisa Bungalan pun segera mengutarakan maksudnya untuk minta diri meninggalkan padepokan Kenanga.

“Demikian tergesa-gesa?” bertanya Ki Selabajra.

“Aku harus memenuhi kesanggupanku. Aku akan pergi ke Watu Kendeng agar Ki Watu Kendeng tidak terlalu lama menunggu” jawab Mahisa Bungalan.

Ki Selabajra tidak dapat menahan Mahisa Bungalan terlalu lama. Ia sendiri mendengar, betapa Ki Watu Kendeng yang kehilangan anak dan adiknya itu menginginkan Mahisa Bungalan untuk menggantikan anaknya yang terbunuh itu.

Karena itu, maka Ki Selabajra pun telah melepaskan Mahisa Bungalan dengan hati yang berat. Setiap kali ia selalu teringat kepada anak gadisnya yang tentu akan menjadi gelisah pula sepeninggal Mahisa Bungalan.

“Mungkin untuk satu dua hari saja” berkata Ki Selabajra di dalam hatinya, “tetapi mungkin pula berbulan-bulan. Bahkan ia akan tetap menunggu untuk waktu yang tidak tertentu”

Namun bagaimanapun juga akhirnya Mahisa Bungalan pun minta diri untuk meninggalkan padepokan itu. Kepada Makerti, kepada Gemak Werdi dan kepada para murid, para cantrik dan seluruh penghuni padepokan, termasuk Ken Padmi, Mahisa Bungalan pun kemudian minta diri.

“Apakah kau memerlukan seorang penunjuk jalan” bertanya Ki Selabajra.

“Tidak” jawab Mahisa Bungalan, “petunjuk arah yang aku terima sudah cukup bagiku. Aku akan dapat segera menemukannya”

Tetapi agaknya Ki Selabajra tidak ingin membiarkan Mahisa Bungalan berjalan kaki. Karena itu, maka ia pun kemudian menyerahkan seekor kuda yang paling baik yang ada di padepokan itu untuk dipergunakan oleh Mahisa Bungalan.

Meskipun Mahisa Bungalan lebih senang untuk meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki sambil mengamati keadaan di sepanjang jalan yang dilaluinya, sesuai dengan keinginannya untuk melihat sebanyak-banyaknya sebelum ia mengikat diri dalam tugas kewajiban yang lebih mapan, namun ia tidak menolak pemberian Ki Selabajra.

Karena itulah, maka ia pun kemudian meninggalkan padepokan Kenanga dengan berkuda. Tetapi juga dengan hati yang sangat berat.

Ketika kudanya mulai berderap, sekali lagi ia berpaling. Ia hampir tidak melihat orang-orang yang berdiri berjajar di muka regol. Yang dilihatnya adalah Ken Padmi yang berdiri bersandar uger-uger pintu regol memandanginya dengan wajah yang muram.

Namun sejenak kemudian, maka Mahisa Bungalan itu pun mempercepat lari kudanya, meskipun ia tidak berpacu terlalu kencang.

Demikian Mahisa Bungalan keluar dari batas dinding padepokan, tiba-tiba saja ia telah teringat kepada ceritera tentang ibunda Anusapati yang bernama Ken Dedes. Permaisuri Tunggul Ametung, yang kemudian menjadi permaisuri Ken Arok yang memecah tahta Kediri itu pun mulanya adalah seorang gadis padepokan. Betapa gadis yang bernama Ken Dedes itu pun pernah menumbuhkan banyak persoalan diantara anak-anak muda bukan saja dari padepokan, tetapi juga anak-anak muda dari daerah yang jauh.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ceritera tentang Ken Dedes memang tidak dapat disembunyikan lagi. Bagaimana Akuwu Tunggul Ametung telah memaksa gadis itu dan membawanya ke Tumapel. Meskipun semula hal itu dilakukan karena pengaruh seorang anak muda yang bernama Kuda Sempana, namun akhirnya Ken Dedes itu menjadi permaisuri di Tumapel.

“Ah” desah Mahisa Bungalan. Namun ia pun melihat, bahwa gadis padepokan Kenanga itu pun telah memancing persoalan di antara anak-anak muda meskipun diluar kehendaknya sendiri.

“Agaknya aku pun telah terlibat pula ke dalamnya” berkata Mahisa Bungalan kepada diri sendiri.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Seolah-oleh ia melihat dua peristiwa yang berbeda, tatapi mempunyai latar belakang yang hampir sama.

“Apakah peristiwa semacam itu terjadi di seluruh sudut bumi dan terjadi di segala jaman?” pertanyaan itu telah timbul di hati Mahisa Bungalan.

Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia. bergumam, “Selagi masih ada manusia dengan segala sifat-sifatnya, maka persoalan antara mereka masih akan tetap terjadi”

Mahisa Bungalan pun kemudian mencoba menghapus angan-angannya tentang peristiwa yang menggelisahkan itu, serta tentang gadis padepokan Kenanga yang seolah-olah telah mencengkam hatinya. Ia mencoba memperhatikan alam yang cerah di sekitarnya. Matahari yang bersinar dengan terang memandikan pepohonan dan dedaunan yang hijau segar. Angin lembut yang mangguncang pepohonan perlahan-lahan. Di antara dahan-dahan terdengar burung liar berkicau dengan riang, seriang anak-anak yang berlari-larian di pematang.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dilintasinya jalan di bulak yang panjang di antara hijaunya tanaman.

Dalam pada itu, di padepokan Kenanga, sepeninggal Mahisa Bungalan, Ken Padmi telah masuk ke dalam biliknya. Meskipun ia tidak berbaring di pembaringan, namun ia lebih banyak duduk sambil marenung. Ia benar-benar tidak dapat ingkar dari kenyataan di dalam dirinya. Kepergian Mahisa Bungalan yang kedua kalinya itu benar-benar telah membuat hatinya terasa pedih.

Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ia tidak kuasa untuk menahannya, dan apalagi minta agar Mahisa Bungalan tetap tinggal di padepokannya.

Ki Selabajra pun melihat keadaan anak gadisnya. Ia ikut merasakan kepedihan karena perpisahan itu. Tetapi ia pun tidak ingin mendahului segala-galanya. Ia tetap diam dan menunggu perkembangan berikutnya, meskipun ia akan selalu memperhatikan keadaan anaknya dengan seksama.

Tidak seorang pun dari penghuni padepokan Kenanga yang menegur Ken Padmi dengan tingkah lakunya itu.

Ki Selabajra yang memasuki biliknya dan mencoba untuk mengajaknya makan barsama tidak berhasil mendorong gadis itu keluar dari biliknya.

“Kepalaku pening ayah” berkata Ken Padmi.

“Jika demikian, berbaringlah. Kau harus minum obat pipisan, agar kau segera sambuh” berkata ayahnya.

Tetapi Ken Padmi menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak ingin minum obat. Nanti akan sembuh dengan sendirinya”

Ki Selabajra tidak memaksanya. Namun keadaan anak gadisnya itu cukup menggelisahkannya pula. Apalagi ia tidak akan dapat memperhitungkan apa yang akan dilakukan Mahisa Bungalan. Jika Mahisa Bungalan itu seorang anak muda yang tinggal di padukuhan atau padepokan yang tidak terlalu jauh, maka kemungkinan kelanjutan dari hubungannya dengan anak gadisnya masih dapat diharapkan. Tetapi Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang berasal dari daerah yang jauh, yang merantau tanpa tujuan, sekedar untuk memperluas pengalamannya. Jika anak muda itu kembali ke asalnya, apakah ia masih akan ingat lagi kepada padepokan-padepokan terpencil ini. Apakah ia masih tetap mengenangkan seorang gadis padepokan yang bodoh dan tidak berpengetahuan.

“Kasihan anakku” tiba-tiba saja di luar sadarnya orang tua itu berdesis kepada diri sendiri.

Sementara itu Mahisa Bungalan pun semakin jauh dari padepokan Kenanga. Sebagai seorang perantau yang berpengalaman, maka petunjuk yang diterimanya di Padepokan Kenanga, arah jalan menuju ke padepokan Watu Kendeng, telah cukup baginya. Ia tidak menemui kesulitan sama sekali. Beberapa ciri yang diberitahukan kepadanya oleh orang-orang padepokan Kenanga segera dikenalnya.

Namun demikian, semakin dekat Mahisa Bungalan dengan padepokan Kenanga, hatinya manjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah ia sedang menuju ke sebuah pintu gerbang dari daerah asing yang akan menjadi tempat tinggalnya, meskipun hanya sementara.

“Aku akan memasuki daerah yang mendebarkan” berkata Mahisa Bungalan kepada diri sendiri.

Tetapi akhirnya kudanya pun berderap mendekati regol sebuah padepokan yang tidak banyak berbeda dengan padepokan Kenanga. Padepokan kecil yang bagi lingkungannya merupakan daerah yang cukup menjadi pusat perhatian. Padukuhan padukuhan di sekitar padepokan Watu Kendeng, seperti juga padepokan Kenanga, menganggap pemimpin padepokan itu sebagai seorang yang terhormat dan memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Ketika Mahisa Bungalan mendekati pintu gerbang, rasa-rasanya ia masih menyentuh perasaan duka yang sangat mendalam dari isi padepokan itu.

Beberapa orang penghuni padepokan Watu Kendeng yang melihat seseorang mendekati regol segera menyongsongnya. Mereka yang tidak ikut pergi ke padepokan Kenanga masih belum pernah melihat anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Karena itu, mereka menganggap seorang asing telah datang ke padepokan mereka.

Tetapi ketika salah seorang yang ikut ke Padepokan Kenanga melihat kehadirannya, maka dengan tergesa-gesa manyampaikan hal itu kepada Ki Watu Kendeng.

“Anak itu sudah datang?” bertanya Ki Watu Kendeng.

“Ya Kiai. Ia sudah datang” jawab orang yang melaporkan.

“Dengan siapa?”

“Sendiri, “

“Sendiri?” Ki Watu Kendeng mengulang. Namun ia pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke pendapa.

Mahisa Bungalan masih berdiri termangu-mangu sambil memegangi kendali kudanya. Ketika ia melihat Ki Watu Kendeng, maka ia pun segera membungkuk hormat”

“Terimalah kudanya, he, terimalah kuda anakku” berkata Ki Watu Kendeng kepada seorang cantrik yang berdiri termangu-mangu di halaman.

Dengan tergesa-gesa cantrik itu pun menerima kendali kuda Mahisa Bungalan dan menuntunnya ke belakang.

“Marilah Mahisa Bungalan” Ki Watu Kendeng mempersilahkan, “akhirnya kau datang juga ke rumah yang buruk ini”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian naik ke pendapa dan duduk di atas sehelai tikar pandan yang putih yang terbentang di antara tiang-tiangnya yang berukir, meskipun sederhana.

Dalam pada itu nampaklah betapa gembiranya hati Ki Watu Kendeng dalam saat-saat ia berkabung, sepeninggal anak dan adiknya. Kedatangan Mahisa Bungalan dapat menjadi sedikit penawar, meskipun bagaimana juga, nilainya tidak akan dapat mengimbangi anaknya sendiri bagi Ki Watu Kendeng. Meskipun segala sesuatunya pada Mahisa Bungalan berlipat ganda dari Kuda Pramuja, tetapi bagi Ki Watu Kendeng, Kuda Pramuja adalah anak muda yang paling berharga baginya, karena anak itu adalah belahan kulit dagingnya sendiri.

Namun kehadiran Mahisa Bungalan akan dapat menjadi sekedar pengisi kekosongan di relung hatinya.

Seperti kebiasaan, maka Ki Watu Kendeng itu pun bertanya tentang keselamatan Mahisa Bungalan dan orang-orang yang ditinggalkan di padepokan Kenanga. Kemudian baru ia bertanya tentang kaadaan padepokan itu karena peristiwa terakhir yang telah terjadi.

Mahisa Bungalan kemudian menceriterakan dengan singkat, apa yang telah terjadi. Ia meninggalkan padepokan Kenanga setelah semuanya dapat dianggap selesai.

“Tinggalah di sini Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kandang, “kau akan mendapat tempat seperti kau tinggal di rumahmu sendiri. Meskipun barangkali rumah ini lebih buruk dari rumahmu, dan apalagi rumah-rumah yang lain di Kota Raja, tetapi hendaknya kau kerasan tinggal di sini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Tentu ia tidak akan membantah. Tetapi ia menjadi cemas, bahwa kelak ia akan sulit untuk meninggalkan padepokan itu. Ia dapat saja memaksa pergi, tetapi jika hal itu akan membuat hati orang itu pedih maka ia pun akan menjadi ragu-ragu pula.

“Biarlah akan aku pikirkan kelak” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Demikianlah, maka sejak saat itu, Mahisa Bungalan berada di padepokan Watu Kendeng. Seperti di padepokan Kenanga, maka padepokan itu pun tidak banyak dipengaruhi oleh masalah-masalah yang rumit seperti yang dikenalnya di Singasari. Orang-orang Watu Kendeng perhatiannya tidak berkisar terlalu jauh dari sawah, pategalan, ternak dan sedikit masalah mengenai pakaian. Selebihnya, bebeberapa orang telah mempelajari olah kanuragan. Seperti Ki Selabajra maka Ki Watu Kendeng adalah orang pertama di padepokannya serta daerah di sekitarnya.

“Kau dapat berbuat banyak di sini apabila kau sempat” berkata Ki Watu Kendeng, “kau mempunyai ilmu linuwih. Mungkin sehitamnya kuku dapat kau berikan kepada orang-orang Watu Kendeng”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Permintaan itu memang wajar sekali. Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun selalu saja dibayangi oleh keinginannya untuk meneruskan perantauannya. Ia ingin menjelajahi daerah yang luas. Pada saatnya ia akan kembali ke Singasari, kepada ayah dan keluarganya. Kemudian menerima pengangkatannya menjadi seorang prajurit di Singasari.

Dalam pada itu, selama berada di padepokan Watu Kendeng, Mahisa Bungalan telah berusaha menyesuaikan dirinya. Seperti para murid dan para cantrik, pagi-pagi benar ia sudah bangun dan mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Jika matahari naik, seperti penghuni-penghuni yang lain, Mahisa Bungalan pun pergi pula ke sawah dan pategalan.

Adalah diluar dugaan, bahwa pada suatu ketika, selagi Mahisa Bungalan berada di sawah, Ki Selabajra telah berada di padepokan Watu Kendeng, Tidak banyak yang dibicarakan, karena Ki Selabajra pun tidak lama berada di padepokan Watu Kendeng. Ketika Mahisa Bungalan kembali dari sawah, ia mendapatkan Ki Selabajra sudah hampir minta diri untuk kembali ke padepokan Kenanga berkata Ki Selabajra.

“Terima kasih” jawab Mahisa Bungalan, “Ternyata Ki Selabajra masih ingat kepadaku”

Ki Selabajra tertawa. Katanya, “Bagaimana aku dapat melupakanmu. Kau adalah orang yang pertama-tama mengalahkan aku. Hampir saja aku menjadi mata gelap. Untunglah aku segera menyadari kesalahanku”

“Apa yang kalian bicarakan?” bertanya Ki Watu Kendeng. Ki Selabajra tertawa. Katanya, “Kedatangannya hampir saja membuatku marah tanpa terkendali. Tetapi akhirnya aku menjadi sangat malu kepada diriku sendiri. Apalagi setelah Mahisa Bungalan dapat mengalahkan Gagak Branang”

“Ah” desah Mahisa Bungalan, “Ki Selabajra hanya sekedar bermain-main”

“Bermain-main?” bertanya Ki Selabajra, “kau kira bahwa aku tidak sudah mengerahkan segenap kemampuan lahir dan batin, sementara kaulah yang hanya bermain”

Mahisa Bungalan tersenyum. Ketika ia memandang wajah Ki Watu Kendeng yang keheran-heranan, hampir ia tidak dapat menahan tertawanya.

“Suatu permainan yang kurang menarik” tiba-tiba Ki Selabajra berdesis, “tetapi kesannya tidak akan terlupakan sepanjang umurku”

“Aku tidak mengerti” desis Ki Watu Kendeng.

“Kelak kau akan mengerti” sahut Ki Selabajra.

Mahisa Bungalan hanya tersenyum-senyum saja menyaksikan wajah Ki Watu Kandeng. Agaknya ia benar-benar heran mendengar pembicaraan Ki Selabajra dengan Mahisa Bungalan.

Namun dalam pada itu, Ki Selabajra pun kemudian minta diri. Keperluannya datang ke Watu Kendeng agaknya telah selesai sepeninggal Ki Selabajra, Mahisa Bungalan hampir di luar sadarnya bertanya, “Apakah ada kepentingan khusus, sehingga Ki Selabajra telah datang ke padepokan ini?”

Ki Watu Kendeng menggeleng. Jawabnya, “Tidak Bungalan. Dan kau sudah mendengar sendiri, bahwa ia datang karena ia ingin sekedar menengokmu”

Mahisa Bungalan tidak bertanya lebih banyak lagi. Seandainya ada keperluan lain dari Ki Selabajra, maka nampaknya keduanya menganggap bahwa Mahisa Bungalan tidak perlu mengetahui persoalan itu.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan tidak bertanya lebih banyak lagi. Ia menganggap bahwa ia tidak berkepentingan apa pun dengan kedatangan Ki Selabajra itu.

Ternyata bahwa Ki Watu Kendeng memang tidak memberitahukan apa pun juga kepadanya. Sepeninggal Ki Selabajra, seolah-olah tidak terjadi suatu pembicaraan apapun antara keduanya, sehingga tidak ada kesan yang dapat dibacanya pada sikap maupun wajah Watu Kendeng.

Mahisa Bungalan pun tidak menghiraukan ketika Ki Watu Kendeng memanggil beberapa orang pembantunya untuk berbicara di dalam sanggarnya. Seolah-olah pembicaraan mereka sekedar pembicaran yang tidak, terlalu penting, yang menyangkut masalah padepokan Watu Kendeng itu.

Ternyata pula bahwa disaat berikutnya Ki Watu Kendeng tidak mengatakan sesuatu kepadanya. Bahkan sampai hari berikutnya. Ki Watu Kendeng bersikap seperti biasanya tanpa menyebut sama sekali pembicaraannya dengan Ki Salabajra.

Namun, ketika matahari turun ke Barat, dan Watu Kendeng mulai dibayangi oleh malam yang gelap, Ki Watu Kendeng telah memanggil Mahisa Bungalan di pendapa.

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Ia sudah hampir melupakan kunjungan Ki Selabajra. Namun agaknya kedatangan itu bukan tanpa tujuan apapun juga, seperti yang sudah diduganya.

Ketika Mahisa Bungalan sudah duduk di pendapa, maka rasa-rasanya ia dihadapkan pada suatu sikap yang sangat kaku, yang belum pernah nampak pada Ki Watu Kendeng.

Sejenak Ki Watu Kendeng duduk diam menghadapi semangkuk minuman hangat. Bahkan ketika ia berbicara, yang diucapkannya hanyalah kata-kata pendek, “Minumlah Mahisa Bungalan”

Mahisa Bungalan yang juga menghadapi semangkuk minuman pun telah mengangkat mangkuknya pula dan meneguknya. Namun rasa-rasanya ia pun menjadi gelisah, justru karena sikap Ki Watu Kendeng.

Setelah minum seteguk, ia masih, harus menunggu beberapa saat pula, karena Ki Watu Kendeng rasa-rasanya baru mengatur kata-kata yang akan diucapkannya.

Baru kemudian terdengar suaranya dalam, “Mahisa Bungalan. Memang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sebagai seorang ayah yang ingin berbicara dengan anaknya”

Debar jantung Mahisa Bungalan terasa semakin cepat memukul dinding hatinya. Sekilas dipandanginya wajah Ki Watu Kendeng yang tunduk. Namun kemudian Mahisa Bungalan pun menundukkan kepalanya pula.

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng pula, “sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau sudah dapat menempatkan dirimu, benar-benar seperti anakku sendiri?”

Mahisa Bungalan menjadi bingung. Untuk sejenak ia diam termangu-mangu. Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu.

“Maksudku, apakah kau benar-benar menerima aku sebagai ayah angkatmu dengan ikhlas?”

Betapapun juga akhirnya Mahisa Bungalan menjawab

“Ya Ki Watu Kendeng. Aku, menerima kebaikan hati Ki Watu Kendeng dengan ikhlas”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang dalam ia melenjutkan, “Terima kasih atas sikapmu itu Mahisa Bungalan”

Mahisa Bungalan menjadi termangu-mangu. Namun untuk beberapa saat Ki Watu Kendeng justru terdiam.

Agaknya ada kegelisahan juga di dalam hatinya. Untuk beberapa saat lamanya keduanya justru saling berdiam diri. Keduanya menundukkan kepala memandangi air hangat di dalam mangkuk masing-masing. Sekali-sekali tangan Mahisa Bungalan menyentuh mangkuknya. Namun ia tidak mengangkatnya dan meneguknya lagi.

Jantung Mahisa Bungalan justru merasa semakin cepat berdentang justru dalam kediaman. Rasa-rasanya pendapa itu menjadi sangat tegang. Kediaman Ki Watu Kendeng menimbulkan berbagai macam tanggapan. Tetapi Mahisa Bungalan sama sekali tidak dapat menebak, apa yang sedang dipikirkan oleh Ki Watu Kendeng. Namun ia mencoba untuk menghubungkannya dengan kedatangan Ki Selabajra di padepokan itu.

Untuk sejenak keduanya masih berdiam diri. Namun akhirnya setelah Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam, akhirnya ia berkata, “Mahisa Bungalan. Ada yang penting yang ingin aku katakan kepadamu sebagai seorang ayah kepada anaknya. Aku tidak dapat ingkar, bahwa kedatangan Ki Selabajra bukannya tanpa masalah. Aku telah lebih dahulu datang ke padepokan Kenanga tanpa setahumu. Sehari kemudian, Ki Selabajra telah datang pula ke padepokan ini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam.

“Dengarlah” berkata Ki Watu Kendeng, “sebagai orang tua, maka aku mempunyai keinginan-keinginan tertentu. Beberapa saat yang lampau, aku pernah datang kepada Ki Selabajra, untuk menyampaikan niatku yang pernah aku katakan sebelumnya meskipun saat itu tidak bersungguh-sungguh. Aku ingin mengikat hubungan antara padepokan ini dengan padepokan Kenanga dengan ikatan kekeluargaan. Tetapi kau tahu sendiri, apakah yang telah terjadi dengan anakku dan adikku”

Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Tetapi keinginan itu tidak pernah pudar dari dadaku. Itulah sebabnya, maka aku telah datang pula ke padepokan Kenanga untuk melanjutkah pembicaraan itu”

Mahisa Bungalan menjadi heran. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Ia masih ingin mendengarkan saja kelanjutannya keterangan Ki Watu Kendeng.

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng, “ketika aku mendapat keyakinan bahwa niat itu tentu akan dapat dilanjutkan, maka pembicaraanku dengan Ki Selabajra pun menjadi bersungguh-sungguh. Setelah aku datang sekali kepadanya, ia telah membalas kunjunganku dengan membawa kemungkinan yang sangat menggembirakan”

Sejenak Mahisa Bungalan mengangkat wajahnya. Namun wajah itu pun telah tertunduk lagi.

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “ternyata bahwa niat kami untuk mengikat kedua padepokan ini dengan ikatan kekeluargaan, telah kita setujui bersama. Karena itu, aku akan datang sekali lagi ke padepokan Kenanga untuk melamar anak gadisnya yang bernama Ken Padmi itu”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Dadanya berdebar semakin cepat. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Tetapi, apakah Kuda Pramuja masih mampunyai saudara laki-laki?”

“Aku masih mempunyai seorang anak laki-laki Mahisa Bungalan” jawab Ki Watu Kendeng.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya, samantara Ki Watu Kendeng berkata selanjutnya, “Agaknya kali ini Ken Padmi tidak akan menolak seperti yang pernah dilakukannya atas Kuda Pramuja”

Terasa keringat dingin mulai mengalir di punggung Mahisa Bungalan. Tetapi ia masih menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Ki Watu Kendeng seterusnya.

Ternyata dugaan Mahisa Bungalan tidak meleset. Dengan suara sendat, akhirnya Ki Watu Kendeng berkata, “Mahisa Bungalan. Aku akan datang ke padepokan Kenanga untuk melamar Kan Padmi bagi anak angkatku”

Wajah Mahisa Bungalan menjadi merah meskipun ia sudah menduganya. Sejenak ia tarbungkam oleh gejolak di dalam dadanya. Ada sepercik kegirangan melonjak di hatinya. Betapapun juga, ia tidak dapat ingkar, bahwa ia memang tertarik kepada gadis itu.

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “aku sudah mempersiapkan segalanya yang sebenarnya memang sudah siap sejak Kuda Pramuja masih hidup. Lusa aku akan pergi ke padepokan Kenanga bersama beberapa orang tua serta membawa kau serta. Sekali lagi aku akan melamar anak Ki Selabajra. Dan kali ini, aku yakin, bahwa segalanya akan berlangsung dengan baik”

Mahisa Bungalan tidak segera menjawab. Ia mulai memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Ia mulai menilai dirinya, menilai keadaannya dalam keseluruhan.

“Jangan terlalu banyak pertimbangan” berkata Ki Watu Kendeng, “kau sudah dewasa penuh. Kau adalah seorang anak muda yang tidak ada duanya. Karena itu, maka sudah sepantasnya kau mempunyai sisihan, dan aku pun akan melangsungkan niatku untuk menyelenggarakan peralatan perkawinan anakku dengan penuh kegembiraan”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi keringat dinginnya semakin deras mengalir. Pertimbangan-pertimbangannya justru menjadi semakin banyak. Ia tidak ingin berbuat suatu kesalahan yang akan berakibat pahit baginya.

“Kau diam saja Mahisa Bungalan. Meskipun aku sudah dapat menebak perasaanmu, tetapi kau wajib mengatakan. Dengan mendengar jawabmu, hatiku akan menjadi lapang. Dan yang kemudian akan aku kerjakan, tentu menjadi semakin lancar pula”

Mahisa Bungalan beringsut setapak. Dengan nada yang berat ia menjawab, “Aku mengucapkan terima kasih Ki Watu Kendeng”

“Kau tidak usah mengatakannya” potong Ki Watu Kendeng, “aku hanya ingin mendengar, apakah lusa kau bersedia pergi bersama kami”

Mahisa Bungelan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya, “Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi aku minta maaf yang tiada taranya. Sebenarnya aku akan sangat berbesar hati akan kebaikan hati dan kesempatan itu. Tetapi, adalah di luar kuasaku untuk dapat langsung menerimanya. Karena itu, aku mohon untuk dapat dipertimbangkan sebaik-baiknya”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Apakah yang harus dipertimbangkan lagi?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat keheranan membayang di wajah Ki Watu Kendeng. Agaknya sikapnya sama sekali tidak dapat dimengerti.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan telah dapat menebak seluruhnya. Apakah yang sebenarnya telah terjadi. Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra tentu sudah membicarakan hubungannya dengan Ken Padmi. Mungkin Ki Selabajra pernah melihat atau mendengarnya. Apakah hal itu didengarnya dari para penghuni padepokan Kenanga, ataukah karena hal itu telah dilihatnya sendiri, atau justru karena pengakuan Ken Padmi.

Dengan demikian, maka baik Ki Selabajra maupun Ki Watu Kendeng tentu menganggap bahwa persoalannya akan dapat dilaksanakan dengan lancar tanpa kesulitan apapun juga.

Namun Mahisa Bungalan mempunyai pertimbangan lain. Betapa beratnya ia menyatakan pertimbangannya, karena ia sadar, bahwa hal itu tentu akan sangat mengecewakan kedua orang tua yang pada saat-saat terakhir bersikap sangat baik kepadanya. Bahkan Ki Watu Kendeng telah dengan penuh harapan, mengangkatnya sebagai anak setelah anak laki-lakinya terbunuh karena perbuatan pamannya.

Karena Mahisa Bungalan tidak segera menjawab, maka Ki Watu Kendeng mendesaknya, “Mahisa Bungalan. Coba katakan, apakah yang harus dipertimbangkan lagi?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah orang tua itu sejenak. Namun kemudian sambil menundukkan kepalanya ia berkata, “Ki Watu Kendeng. Berulang kali aku katakan, bahwa aku sangat berterima kasih atas perhatian Ki Watu Kendeng kepadaku. Tetapi menyangkut masalah hidup berkeluarga, maka aku tidak akan dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tergesa-gesa”

Wajah Ki Watu Kendeng menegang. Sejenak ia justru terdiam, namun kemudian Katanya, “Mahisa Bunglan, aku memang sudah mengira, bahwa kau menghormati hubungan kekeluargaan ini dengan Sungguh-sungguh. Kau bukan semacam orang yang dengan mudah membiarkan perasaan mengembara tanpa kendali. Tetapi dalam hal ini, kami yang tua-tua pun sudah mempertimbangkan sebaik-baiknya. Bahkan kami yang tua-tua ini tidak melepaskan perasaan anak-anak muda yang akan langsung terlibat di dalam masalah ini. Karena itulah maka kami telah berbuat dengan hati-hati dan penuh pertimbangan”

Mahisa Bungalan menarik keningnya. Ketegangan yang mencengkam dadanya rasa-rasanya menjadi semakin menghunjam jantung.

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “Seperti yang aku katakan. Aku sudah bertemu dengan Ki Selabajra. Aku sudah berbicara panjang tentang hubungan antara kedua padepokan ini. Tentang anak gadisnya, dan tentang dirimu sendiri. Menurut pembicaraan kami, maka rasa-rasanya tidak akan ada masalah yang akan dapat menghambat persoalan ini”

Mahisa Bungalan menjadi semakin gelisah. Tetapi betapapun juga beratnya, akhirnya ia berkata, “Ki Watu Kendeng. Sekali lagi aku mohon maaf. Bukan berarti aku menolak, tetapi sebaiknya kita tidak tergesa-gesa membicarakan masalah ini”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Dengan tajam ia memandang wajah Mahisa Bunglaan yang tunduk. Kemudian dengan nada suara keheranan ia berkata, “Aku tidak mengerti, Mahisa Bungalan. Aku tidak mengerti. Aku membicarakan masalah ini dengan Ki Selabajra seperti aku membicarakannya tentang anak kandungku sendiri. Aku sama sekali tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang dicar-cari atau sekedar mengisi kekosongan hati. Tetapi aku bersungguh-sungguh seperti Ki Selabajra bersungguh-sungguh. Sebab Ki Selabajra akan melepaskan anak perempuannya yang akan menjalani masa hidupnya yang panjang di kemudian hari”

Mahisa Bungalan beringsut setapak. Sementara Ki Watu Kendeng berkata, “Apakah masih ada keragu-raguanmu. bahwa kau masih belum benar-benar menempatkan dirimu sebagai anakku di sini?”

“Bukan, bukan itu Ki Watu Kendeng” dengan serta merta Mahisa Bungalan menjawab, “aku tidak bermaksud demikian” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Ki Watu Kendeng, perkenankanlah aku berbicara tentang diriku. Aku adalah seorang anak laki-laki yang meningkat dewasa. Yang meninggalkan rumah dan keluargaku karena aku ingin merantau untuk mencari bekal bagi hari depanku. Karena itu, bagaimanapun juga, aku tidak akan dapat melepaskan diri dari hubungan keluarga dengan ayah bundaku sendiri. Dalam hubungan yang besar dan suci ini, aku harus berbicara dahulu dengan ayah dan seluruh keluargaku, dan pamanku berdua, yang dalam perjalanan hidupku, mempunyai arti yang sangat penting. Itulah sebabnya, mengapa aku menjadi ragu-ragu. Aku sama sekali tidak akan menolak. Terus terang, bahwa aku dan Ken Padmi memang telah terjalin hubungan halus yang tidak terucapkan dengan kata-kata. Tetapi justru karena masalahnya adalah masalah yang besar, itulah sebabnya, aku harus menjadi sangat berhati-hati”

Wajah Ki Watu Kendeng menengang sejenak. Tetapi kemudian orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah aku akan gagal lagi?”

“Bukan begitu Ki Watu Kendeng” sahut Mahisa Bungalan, “tetapi aku mohon, perasaanku ini dapat dimengerti. Aku masih mempunyai keluarga dan orang tua. Kepada mereka aku harus minta ijin dan restunya”

Ki Watu Kendeng memandang Mahisa Bungalan dengan mata yang sayu. Tetapi ia pun kemudian mengangguh-angguk. Katanya, “Aku mengerti Mahisa Bungalan. Dan aku pun merasa, bahwa aku hanyalah orang yang sekedar menumpang mengaku anak. Hakku memang berbeda dengan hak orang tuamu sendiri”

Dada Mahisa Bungalan bergetar. Ia melihat kekecewaan yang sangat membayang di wajahnya. Baru saja hatinya teluka oleh sikap adiknya, yang menyebabkan kematian anak laki-lakinya. Kini ia dikecewakan oleh sikap anak angkatnya.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak dapat berbuat lain. Jika ia menerima maksud Ki Watu Kendeng, membawanya ke padepokan Kenanga dan melamar Ken Padmi, maka jika hal itu didengar oleh ayahnya, maka ayahnya pun akan menjadi sangat kecewa. Ia tahu, bahwa ayahnya tidak akan bersikap keras terhadapnya, apalagi melarangnya. Meskipun hatinya kecewa, tetapi ia tentu tidak akan mengurungkannya. Namun dengan demikian, maka ia adalah seorang anak yang tidak mengerti akan dirinya. Ia adalah anak yang melukai hati orang tuanya.

Dalam hal itu ternyata Mahisa Bungalan masih sempat memperhitungkan, yang manakah yang lebih baik baginya. Apakah ia mengecewakan Ki Watu Kendeng atau ia harus mengecewakan orang tuanya sendiri.

Sementara itu, karena Mahisa Bungalan tidak menjawab, bahwa menundukkan kepalanya dalam-dalam, Ki Watu Kendeng berkata, “Angger Mahisa Bungalan. Jika kau berkeberatan, biarlah aku sendiri datang ke padepokan Kenanga. Aku akan menyampaikan keberatanmu kepada Ki Selabajra yang tentu akan menjadi sangat kecewa pula. Bahkan mungkin, ia akan menjadi putus asa dan kehilangan harapan”

“Ki Watu Kendeng” jawab Mahisa Bungalan kemudian, “aku mohon, Ki Selabajra dapat mendengai alasanku. Aku sama sekali tidak menentang maksud itu. Bahkan aku sendiri menginginkannya. Tetapi aku tidak dapat meninggalkan orang tuaku” Mahisa Bungalan berhenti sejenak, lalu, “bahkan jika diperlukan segera, aku akan menghubungi orang tuaku untuk menyampaikan masalah ini langsung kepada Ki Selabajra”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Terasa betapa hatinya menjadi sangat kecewa. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Ya, Mahisa Bungalan. Agaknya memang orantuamulah yang berhak melakukannya. Karena itu, agar Ki Selabajra tidak terlalu gelisah menunggu, aku akan datang kepadanya besok, dan menyampaikan kepadanya, bahwa kau tidak dapat memenuhi permintaanku kali ini”

“Tetapi Ki Watu Kendeng” berkata Mahisa Bungalan dengan serta merta, “aku mohon, agar alasan yang aku kemukakan akan dapat disampaikan selengkapnya, sehingga Ki Selabajra tidak akan salah mengerti”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Betapapun wajahnya dibayangi oleh perasaannya yang kecewa, namun ia mengangguk sambil menjawab, “Baiklah Mahisa Bungalan. Aku akan berusaha agar aku dapat menyebutkan alasanmu seperti yang kau maksudkan. Mudah-mudahan tidak ada salah paham dan salah mengerti. Dan mudah-mudahan tidak ada parasaan kecewa dan sakit hati”

Dada Mahisa Bungalan terasa semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka katanya kemudian, “ Ki Watu Kendeng. Sekali lagi aku mohon maaf. Dan aku pun mohon maaf kepada Ki Selabajra, bahwa aku terpaksa menunda masalah ini” Ki Watu Kendeng mengangguk lemah. Katanya, “Aku akan mencoba”

“Tetapi sama sekali aku tidak akan mengingkarinya” sambung Mahisa Bungalan.

“Ya. Aku mengerti. Aku mengerti” suara Ki Watu kendeng menjadi parau.

Mahisa Bungalan menjadi semakin tunduk. Ia tidak sampai hati memandang wajah orang tua yang kecewa itu. Tetapi ia sama sakali tidak kuasa merubah sikap dan pendiriannya, karena hal itu akan menyangkut hubungannya sebagai anak terhadap orang tuanya.

Sejenak keduanya saling berdiam diri, sehingga pendapa itu menjadi sepi. Angin yang lembut semilir melintas pendapa mengusap kulit.

Sejenak kemudian, maka Ki Watu Kendeng pun berkata dengan suara yang dalam, “Mahisa Bungalan. Yang ingin aku sampaikan sudah aku sampaikan. Dan kau pun sudah mengatakan apa yang harus kau katakan. Karena itu, jika kau ingin beristirahat, beristirahatlah. Besok aku akan pergi ke Padepokan Kenanga untuk menyampaikan persoalanmu kepada Ki Selabajra. Mudah-mudahan aku dapat mengatakan seluruh pengertian dari kata-katamu. Dan mudah-mudahan Ki Selabajra dapat mengertinya pula”

Mahisa Bungalan mengangguk dalam-dalam. Katanya, “Sampaikan permohonan maafku. Jika hal ini harus terjadi, sebenarnya hanyalah penundaan sesaat saja. Segalanya akan segera aku selesaikan seperti yang Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra kehendaki”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti”

Mahisa Bungalan pun kemudian minta diri. Dengan hati yang bergejolak ia memasuki biliknya. Namun agaknya matanya sama sekali tidak dapat dipejamkannya. Kegelisahan yang sangat terasa menyesak di dadanya.

Malam yang kelam terasa terlelu lama berjalan. Betapa malasnya suara ayam jantan yang berkokok menjelang fajar. Namun akhirnya matahari pun mulai mengusik gelapnya malam. Ketika langit menjadi merah di timur, Mahisa Bungalan seperti biasanya, keluar dari biliknya dan melakukan kerja separti yang dilakukan oleh para penghuni padepokan yang lain.

Tetapi, nampaknya anak muda itu tidak gembira seperti biasanya. Ada semacam kemuraman yang nampak di wajahnya. Namun setiap kali Mahisa Bungalan selalu, mencoba menyembunyikannya di balik senyumnya yang. buram.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Watu Kendeng semalam, maka ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, orang tua itu pun telah bersiap-siap untuk pergi ke padepokan Kenanga.

Dua orang muridnya yang terpercaya telah dibawanya untuk menemaninya di perjalanan. Bukan karena Ki Watu Kendeng cemas bahwa ia akan bertemu dengan kawan-kawan atau saudara-saudara seperguruan adiknya yang telah terbunuh, karena agaknya kematiannya tidak menumbuhkan goncangan dikalangan perguruannya, justru karena adiknya telah melepaskan diri dari ikatan perguruannya setelah ia merasa cukup dewasa dengan ilmunya, tetapi Ki Watu Kendeng memerlukan kawan berbincang di sepanjang jalan, karena kadang-kadang teraba bahwa dadanya menjadi sesak oleh kekecewaan yang tidak dapat diatasinya dengan sikap apapun juga, justru karena ia pun dapat mengerti, alasan Mahisa Bungalan sebagai seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tuanya. Di samping perasaan kecewa dan pahit, Ia pun memuji, di dalam hatinya, betapa anak muda itu mampu menempatkan dirinya, benar-benar sebagai seorang anak yang dapat diharapkan oleh kedua orang tuanya. Seorang anak yang setia, mengerti dan bakti. Betapa ia digoncang oleh perasaannya sebagai seorang anak muda, sementara kesempatan telah terbuka baginya, namun ia masih ingat kewajiban seorang anak kepada orang tuanya.

Namun demikian, Ki Watu Kendeng pun digelisahkan oleh pertemuan yang segera akan dilakukannya dengan Ki Selabajra di padepokan Kenanga. Masalah yang nampaknya sudah selesai dan matang itu, ternyata telah men jadi pecah berserakan.

Mahisa Bungalan yang ikut melepas Ki Watu Kendeng sampai diregol halaman, melihat, betapa suramnya wajah Ki Watu Kendeng, meskipun seperti dirinya sendiri, orang tua itu masih juga mencoba tersenyum.

“Aku akan mencoba menjelaskan alasanmu seperti yang kau katakan kepadaku” berkata Ki Watu Kendeng ketika ia sudah siap meninggalkan padepokannya.

“Terima kasih” desis Mahisa Bungalan dengan hati yang berdebar-debar.

Sepeninggal Ki Watu Kendeng, Mahisa Bungalan selalu berdoa di dalam hati, agar tidak terjadi salah paham antara Ki Selabajra dengan Ki Watu Kendeng, yang selama ini nampaknya telah menjadi dua orang sahabat yang baik.

“Tetapi aku tidak kuasa untuk mengambil keputusan yang lain” berkata Mahisa Bungalan kepada diri sendiri.

Sepeninggal Ki Watu Kendeng, Mahisa Bungalan berusaha melupakan kegelisahannya dengan melakukan kerja sehari-hari. Namun setiap kali ia masih saja selalu diganggu oleh bayangan dan angan-angan tentang perjalanan Ki Watu Kendeng. Namun kadang-kadang angan-angannya pun membumbung kedunia khayalan yang baur antara senyum Ken Padmi yang bening dengan wajah Ki Selabajra yang kecewa dan marah.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak dapat berbuat apapun juga, kecuali sekedar menunggu. Dan ia pun dengan gelisah telah menunggu di padepokan Watu Kendeng.

Dalam pada itu, di perjalanan ke padepokan Kenanga. Ki Watu Kendeng telah dibebani oleh kegelisahan perasaan pula. Ia dengan susah payah berusaha menyusun kata-kata, bagimana ia akan menyampaikan masalah yang sedang dihadapinya itu kepada Ki Selabajra yang semula sudah sepakat untuk menyusun suatu acara yang menurut orang-orang tua itu, paling baik bagi Mahisa Bungalan dan Ken Padmi. Namun yang ternyata rencana itu harus dibatalkannya.

Sekali-sekali KI Watu Kendeng berbincang pula dengan pengiringnya yang berduka di sampingnya. Tetapi pengiring nya itu lebih banyak hanya mengangguk-angguk, mengiakan dan kadang-kadang berdesah seperti dirinya sendiri.

Karena itu, maka ia tidak menemukan jalan lain yang dapat ditempuhnya.

Semakin dekat perjalanan mereka dengan padepokan Kenanga maka hati Ki Watu Kendeng manjadi semakin gelisah. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kewajiban yang harus dilakukannya. Ia telah melakukan pembicaraan sebagai ayah angkat Mahisa Bungalan. Dan kini ia pun akan datang ke padepokan Kenanga sebagai ayah angkat anak muda itu.

Namun betapapun juga kegelisahhan mencengkam jantungnya, akhirnya kuda Ki Watu Kendeng telah memasuki regol padepokan Kenanga. Bersama para pengiringnya mereka meloncat turun dan kemudian menuntun kuda mereka melintasi halaman.

Beberapa orang cantrik padepokan Kenanga itu pun dengan tergesa-gesa menyongsoongnya. Menerima kendali kuda mereka dan menambatkannya pada tonggak yang tersedia di pinggir halaman padepokan itu.

Ki Selabajra yang kemudian diberitahu akan kehadiran Ki Watu Kendeng itu pun dengan tergesa-gesa telah keluar ke pendapa. la terkejut, karena kedatangan Ki Watu Kendeng ternyata lebih cepat dari yang sudah mereka bicarakan.

“Marilah, silahkan Ki Watu Kendeng” Ki Selabajra mempersilahkan, “kedatanganmu telah mengejutkan aku. Tetapi duduklah lebih dahulu”

Ki Watu Kendeng pun kemudian duduk di pendapa bersama kedua pengiringnya. Sejenak mereka saling bertanya tentang keselamatan masing-masing, sementara minuman dan makanan pun telah dihidangkan.

Baru kemudian, setelah para tamu itu minum seteguk dan makan makanan sepotong, Ki Watu Kendeng berkata, “Aku memang datang lebih awal dari yang kita sepakati bersama”

“Itulah yang mengejutkan aku” jawab Ki Selabajra, “nampaknya ada sesuatu yang penting yang akan kau sampaikan kepadaku sebelum hari yang kita tentukan itu tiba”

Ki Watu Kendeng mengangguk. Tetapi rasa-rasanya bibirnya menjadi sangat berat untuk mengatakan, apakah keperluannya yang sebenarnya datang kepadepokan itu. Ki Selabajra heran melihat sikap Ki Watu Kendeng. Bahkan kemudian mulai terasa, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

Karena itu, maka Ki Selabajra pun kemudian bertanya, “Ki Watu Kendeng. Agaknya ada sesuatu yang telah terjadi, yang tidak sesuai dengan pembicaraan yang pernah kita buat sebelumnya”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Agaknya memang demikian. Tetapi sebenarnya aku agak sulit untuk menyampaikannya, karena hal itu sama sekali berada di luar dugaanku”

Ki Selabajra memandang wajah Ki Watu Kendeng dengan tajamnya. Mulai terasa debar jantungnya seolah-olah menjadi semakin cepat. Dengan nada datar ia berkata, “Katakanlah Ki Watu Kendeng Aku ingin segera mendengarnya. Apapun yang akan kau katakan, agaknya lebih baik segera aku dengar daripada membuat jantungku berdentangan”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan hati-hati ia berkata, “Ki Selabajra. Yang sudah kita bicarakan, sudah aku sampaikan kepada Mahisa Bungalan. Aku telah merencanakan membawanya kepadamu. Aku kira ia akan menjadi sangat gembira dan berterima kasih kepadaku. Tetapi ternyata ia berbuat lain meskipun tidak menolaknya”

Wajah Ki Selabajra menjadi tegang. Dengan bimbang ia bertanya, “jadi anak muda itu tidak menjadi gembira karenanya? Apakah sebenarnya yang dikehendakinya?”

“Aku melihat secerah harapan di wajahnya. Tetapi ternyata ia adalah anak muda yang terlalu baik. Betapapun inginnya ia menerima tawaranku, tetapi ia akhirnya terpaksa menolaknya. Bukan persoalan pokoknya, tetapi sekedar soal pelaksanaannya”

“Apakah yang diinginkannya” bertanya Ki Selabajra., “Ia merasa dirinya seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tuanya. Karena itulah, maka segala sesuatunya, harus dibicarakannya lebih dahulu dengan orang tuanya sendiri. Bukan orang tua angkat seperti aku”

Wajah Ki Selabajra menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Jadi, kita harus menunggu orang tuanya datang kepadamu kemudian datang kepadaku?”

“Agaknya ia bermaksud demikian” jawab Ki Watu Kendeng.

“Ah” desah Ki Selabajra, “apakah benar ia bersikap seperti yang dikatakannya? Apakah ia tidak sekedar mencari alasan untuk ingkar?”

“Bagaimana mungkin ia akan ingkar. Bukankah ia sendiri merasa terikat hatinya di padepokan ini? Hanya karena perasaan bakti seorang anak terhadap orang tuanya sajalah yang telah menghambatnya, sehingga ia tidak dengan serta-merta menerima ajakanku datang ke padepokan ini”

Wajah Ki Selabajra menjadi semakin tegang. Dengan suara yang tersendat-sendat ia berkata, “Ki Watu Kendeng. Aku tahu, bahwa kau adalah orang yang terlalu baik. Kau dengan penuh pengertian menghadapi kenyataan, anakku masih belum dapat menerima lamaran anakmu pada waktu itu. Kau sama sekali tidak menjadi sakit hati, apalagi berusaha memaksakan kehendakmu tentang hal itu. Kau pun akhirnya memaafkan adikmu yang menyebabkan kematian anak laki-lakimu setelah ia meninggal dengan menyelenggarakan mayatnya sebaik-baiknya. Adalah jarang dijumpai didunia ini orang yang berhati longgar seluas lautan seperti kau”

“Aku tidak tahu apa hubungannya dengan Mahisa Bungalan. Justru kau memuji aku dengan berlebih-lebihan. Apakah kau bermaksud mengangkat aku setinggi ujung pohon kelapa, kemudian membantingkan aku jatuh di atas batu hitam?”

“Tidak. Bukan maksudku” jawab Ki Selabajra dengan serta-merta, “aku hanya ingin mengatakan, bahwa agaknya kau sudah berbuat terlalu baik pula atas Mahisa Bungalan. Mungkin ia tidak bersikap seperti yang kau katakan. Mungkin ia memang tidak ingin datang bersamamu untuk melamar anakku. Kebaikan hatimulah yang menyusun alasan, seolah-olah Mahisa Bungalan lah orang yang sangat baik hati itu, yang sangat setia dan bakti kepada orang tuanya”

“Ah itu tidak Ki Selabajra. Aku tidak mengada-ada. Yang aku katakan, adalah apa yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan kepadaku” sahut Ki Watu Kendeng.

“Jika demikian Ki Watu Kendeng maka sekali lagi adalah justru karena kau orang yang sangat baik. Karena kau tidak pernah berkata tidak jujur, maka kau anggap setiap orang pun jujur pula seperti kau sendiri”

“Aku tidak tahu maksudmu, Ki Selabajra. Kau masih saja selalu memuji aku, sehingga aku menjadi bingung karenanya” demikian, itu bukan berarti bahwa lahir dan batinnya sejalan. Mungkin ia berkata seperti apa yang kau katakan. Tetapi sebenarnya ia hanyalah ingin mengingkarinya saja tanpa menyakiti hatimu”

“Jangan berprasangka buruk Ki Selabajra. Mahisa Bungalan adalah anak yang baik. Yang menurut pendapatku, ia tidak akan dengan sengaja menipu aku. Aku melihat kejujuran pada nada kata-katanya seperti pada sorot matanya”

“Karena itu, apakah kita harus menunggu sampai kapan anak itu kembali ke rumahnya, menemui orang tuanya, kemudian membawanya kemari?” bertanya Ki Selabajra.

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Agaknya memang begitu Ki Selabajra”

“Waktu yang diperlukan itu kira-kira berapa tahun? Atau bahkan melampaui sisa umurku yang masih ada?”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, betapa Ki Selabajra menjadi sangat kecewa akan peristiwa itu. Menurut keterangannya, saat Ki Selabajra bertemu dengannya beberapa waktu yang lewat, hubungan antara Ken Padmi dan Mahisa Bungalan nampaknya tidak akan diragukan lagi. Sepeninggal Kuda Pramuja, maka sebaiknya gadis yang sudah dewasa itu segera mendapatkan jodohnya, agar tidak terjadi persoalan yang dapat menumbuhkan benturan kekerasan pula. Karena Ki Selabajra sadar, bahwa jika anak gadisnya itu masih saja hidup sendiri, maka kemungkinan-kemungkinan yang menggelisahkan masih saja dapat terjadi. Tetapi jika anak gadisnya sudah tidak lagi seorang gadis yang meningkat dewasa, seperti bunga yang sedang mekar, maka kemungkinan itu tidak akan terjadi lagi.

Tetapi tiba-tiba harapan yang sudah teranyam itu telah pecah sama sekali karena sikap Mahisa Bungalan yang tidak terduga sebelumnya.

Dalam pada itu, Ki Watu Kendeng pun kemudian berkata, “Ki Selabajra. Aku kira ia tidak memerlukan waktu yang lama. Seperti yang kau katakan, aku merasakan pengakuannya, bahwa ia merasa dirinya terikat oleh anak gadismu. Karena itu, ia pun tentu akan berusaha menyelesaikan persoalannya secepat mungkin”

“Jika orang tuanya tidak setuju? Atau orang tuanya telah menentukan calon isterinya?” bertanya Ki Selabajra.

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Jika demikian, maka persoalannya menjadi lain. Dan Ki Watu, Kendeng tidak berani memberikan tanggapan, karena hal itu akan dengan mudah menimbulkan salah paham.
Karena Ki Watu Kendeng tidak menjawab, maka Ki Selabajra pun berkata pula, “Karena itu, Ki Watu Kendeng. Sebaiknya aku tidak usah menunggu. Ki Watu Kendeng akan dapat bertanya kepadanya, apakah ia bersedia atau tidak. Jika ia memang bersedia, biarlah ia datang. Jika ia tidak bersedia datang, maka aku tidak akan terikat sama sekali dengan anak muda itu”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Tetapi, sebelum ia menjawab, tiba-tiba saja pintu berderit. Kedua orang tua itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat Ken Padmi berdiri di muka pintu dengan wajah yang merah. Dengan suara lantang ia berkata, “Ayah tidak adil. Ayah memberi kesempatan laki-laki itu menyatakan pendapatnya. Tetapi ayah tidak bertanya lebih dahulu kepadaku, seperti yang pernah terjadi, saat Kuda Pramuja datang melamarku”

Ki Selabajra tergagap. Ia tidak mengira bahwa anak gadisnya mendengar, dan bahkan langsung mencampuri persoalan itu.

“Ken Padmi” berkata Ki Selabajra, “berikan kesempatan kepadaku untuk membicarakan sesuatu yang paling baik bagimu dan bagi masa depanmu”

“Ayah sudah bersikap benar pada saat Kuda Pramuja datang melamar. Ayah saat itu bertanya kepadaku, bagaimana tanggapanku atas lamaran itu. Dan aku saat itu menjawab, bahwa aku masih belum merasa tertarik pada hidup berkeluarga”

“Ya, ya. Tetapi jangan kau ulang-ulang lagi hal itu”

“Aku tahu, bahwa ingatan itu pahit bagi Ki Watu Kendeng. Tetapi aku hanya ingin memperbandingkan sikap ayah dengan sikap ayah sekarang. Seharusnva ayah bertanya kepadaku” sambung Ken Padmi.

“Aku tidak mengerti maksudmu” sahut ayahnya.

“Seharusnya ayah bertanya kepadaku. Bukan memutuskan masalah ini sendiri”

“Aku sudah mengetahui sikapmu Ken Padmi, sehingga karena itu aku merasa tidak perlu bertanya kepadamu lagi”

“Tidak. Ayah tidak mengetahui sikapku yang sebenarnya” berkata Ken Padmi.

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya, “Kemarilah Ken Padmi. Duduklah. Dan katakanlah maksudmu yang sebenarnya”

Ken Padmi pun kemudian datang mendekat dan duduk di samping ayahnya. Dengan suara bergetar ia pun kemudian berkata, “Ayah. Seharusnya ayah bertanya kepadaku, apakah aku bersedia menerimanya jika anak muda itu pada saatnya datang kemari”

“Ken Padmi. Apakah aku masih harus bertanya?”

“Tentu ayah” sahut Ken Padmi, “Dan jika ayah bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab, bahwa aku masih tetap berpendirian seperti saat Kuda Pramuja melamarku. Aku sama sekali belum tertarik untuk hidup berkeluarga. Dan bahkan mungkin aku akan menentukan sikapku lebih tegas lagi. Aku tidak akan menerima lamaran Mahisa Bungalan seandainya ia datang”

“Ken Padmi” desis ayahnya.

Ken Padmi justru terdiam. Namun nampak di wajahnya ketegangan yang memuncak. Bahkan kemudian dengan suara yang parah ia berkata, “Ayah tidak adil. Kenapa ayah membicarakan masalah itu di luar pengetahuanku. Ayah mengharap anak muda itu datang, tetapi ayah tidak tahu, betapa hatiku menjadi sakit. Aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya. Dan aku menolak seandainya ia benar-benar datang”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Ken Pedmi pun segera bangkit berdiri dan berlari ke ruang dalam, langsung masuk ke dalam biliknya.

Dibantingnya dirinya di pembaringannya. Betapapun ia bertahan, namun akhirnya tangisnya pun telah meledak.

Ki Selabajra yang menyusul anak gadisnya itu pun kemudian duduk di sisinya dengan wajah menunduk. Untuk beberapa saat ia duduk berdiam diri. Dibiarkannya tamunya duduk di pendapa. Tetapi tamunya pun mengerti, sehingga karena itu, maka Ki Watu Kendeng pun telah menunggu dengan gelisah. Bukan karena ia ditinggalkan oleh Ki Selabajra, tetapi ia pun ikut memikirkan sikap Ken Padmi yang kurang dimengertinya.

Dalam pada itu, maka Ki Selabajra pun mencoba untuk menenangkan anaknya yang terisak, “Ken Padmi. Katakanlah yang sebenarnya. Apakah yang kau kehendaki”

“Sudah aku katakan, ayah” jawab Ken Padmi, “ aku tidak mau menerima seandainya Mahisa Bungalan datang melamarku”

“Itulah yang membingungkan aku”

“Agaknya ayah sudah membicarakan dengan Ki Watu Kendeng sebelum ayah bertanya kepadaku. Dan apakah justru ayah telah menawarkan aku kepada Ki Selabajra yang baru saja kehilangan anaknya, agar ia datang membawa Mahisa Bungalan kemari?”

“Kau salah paham Ken Padmi. Yang aku lakukan justru karena aku melihat, bahwa kau telah berhubungan batin dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu”

“Itu tidak benar, “ Ken Padmi hampir berteriak.

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Ken Padmi tentu sudah tersinggung oleh sikap Mahisa Bungalan. Seandainya Mahisa Bungalan tidak bersikap demikian, dan ia benar-benar datang pada hari yang ditentukan, Ki Selabajra yakin, bahwa Ken Padmi tentu akan menerimanya dengan senang hati.

Tetapi semuanya telah terlanjur. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi atas sikap anak gadisnya. Dan agaknya Ken Padmi pun akan tetap berpendirian demikian, jika kelak Mahisa Bungalan benar-benar datang bersama orang tuanya.

Dalam kegelisahan itu, Ki Selabajra masih mencoba meredakan ledakan Perasaan Ken Padmi, “Ken Padmi. Cobalah kau menguasai perasaanmu. Cobalah kau timbang buruk dan baiknya, untung dan ruginya. Aku memang tidak dapat berbuat apa-apa jika memang kau sudah mengambil keputusan. Yang aku harapkan adalah, bahwa kau jangan tergesa-gesa menentukan sikap. Aku mengerti, bahwa perasaanmu sedang bergejolak. Lebih baik kau menenangkan hatimu dan baru kemudian menentukan sikap”

“Aku tidak sedang bingung ayah. Hatiku jernih. Dan aku memang tidak mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Aku tidak akan menerimanya kapa pun juga ia datang”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Jika sedang dalam keadaan demikian, ia tidak akan dapat berbicara apapun juga dengan anak gadisnya itu. Karena itulah, maka ia pun kemudian berkata, “Ken Padmi. Aku masih mempunyai tamu di pendapa. Bagaimanapun juga aku berharap kau bersikap dewasa menghadapi setiap keadaan”

Ken Padmi tidak menjawab. Tetapi isaknya sama sekali masih belum mereda. Bahkan ketika ayahnya kemudian hilang di balik pintu, maka tangisnya telah meledak kembali, betapapun gadis itu mencoba bertahan.

Ki Selabajra yang kembali ke pendapa menarik nafas dalam-dalam. Kepada Ki Watu Kendeng ia berkata, “Gadis itu mendengar percakapan kita. Ia merasa tersinggung akan sikap Mahisa Bungalan, karena seolah-olah Mahisa Bungalan tidak memperhatikannya”

“Aku mohon maaf Ki Selabajra” berkata Ki Watu Kendeng, “kedatanganku telah membuat hati gadismu menjadi gelap”

“Bukan salahmu Ki Watu Kendeng. Bahkan yang kau lakukan menurut pertimbanganku justru sudah benar. Kau memberitahukan hal itu kepadaku, sebelum sampai waktunya. Dengan demikian kami sudah mengetahuinya lebih dahulu, sehingga kami tidak tersentak olah peristiwa ini. Hati kami tentu akan menjadi lebih parah, jika baru pada saat yang sudah ditentukan, kau memberitahu akan hal ini”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tetapi bagaimanapun juga, aku merasa bersalah. Aku kurang memperhatikan sikap dan warna hati Mahisa Bungalan yang sebenarnya. Aku merasa ia adalah anakku sendiri”

“Akulah yang paling bersalah dalam hal ini” sahut Ki Selabajra, “akulah yang menganggap bahwa masalahnya demikian mudahnya. Aku mengira bahwa hubungan antara kedua orang anak muda itu sudah pasti. Ternyata bahwa Mahisa Bungalan mempunyai pertimbangan lain meskipun seperti yang aku ketahui, hatinya mamang sudah tertambat kepada Ken Padmi”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi bagaimanakah pertimbanganmu, jika datang saatnya Mahisa Bungalan bersama orang tuanya berkunjung ke padepokan ini?”

“Itulah yang masih harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Saat ini Ken Padmi benar-benar belum dapat diajak berpikir. Ia tenggelam dalam arus perasaannya. Mudah-mudahan pada saatnya aku akan dapat melunakkan hatinya, karena aku tahu perasaannya yang sebenarnya”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Masih ada waktu untuk mencobanya. Mudah-mudahan hatinya tidak mengeras dan tidak dapat diluluhkan kembali”

“Aku masih mempunyai harapan Ki Watu Kendeng” jawab Ki Selabajra, “mudah-mudahan aku berhasil. Ia adalah anakku. Dan aku ingin akan terjadi jalan kehidupan yang paling baik baginya. Bagi masa yang masih panjang”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Suaranya dengan nada datar, “Mudah-mudahan. Aku menyesal bahwa hal ini sudah terjadi”

“Kita akan berdoa. Namun aku mohon hal ini dapat disampaikan kepada Mahisa Bungalan dengan hati-hati, sehingga tidak menimbulkan salah paham. Ia harus mengerti, dan aku harap ia tidak tersinggung pula seperti Ken Padmi”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Pada saat Ki Selabajra menyadari, bahwa anak gadisnya telah tersinggung pula, maka ia justru dapat mengendalikan perasaan sendiri. Seperti Mahisa Bungalan, maka Ki Selabajra pun berpesan, agar yang terjadi itu tidak menyinggung perasaan pihak yang lain.

Agaknya ada penyesalan juga di hati Ki Selabajra bahwa ia tidak mengendalikan diri, sehingga pembicaraannya dengan Ki Watu Kendeng telah terdengar oleh anak gadisnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Watu Kendeng pun minta diri. Sekali lagi ia minta maaf, bahwa yang telah mereka rencanakan bersama terpaksa tidak dapat berlangsung saperti yang mereka harapkan.

“Kita telah bersama-sama melakukan kesalahan” berkata Ki Selabajra.

“Mudah-mudahan pada suatu saat, kesalahan kita akan dapat kita perbaiki” jawab Ki Watu Kendeng, “aku kira masih ada kesempatan. Jika gejolak hati sudah mereda, mudah-mudahan kita semuanya akan dapat mempergunakan pikiran yang jernih dan tidak tergesa-gesa”

Ki Selabajra mengangguk-angguk. Namun masih nampak kekecewaan membayang di wajahnya.

Sejenak Ki Watu Kendeng masih termangu-mangu. Tetapi kemudian bersama pengiringnya, mereka meninggalkan padepokan Kenanga yang menjadi muram karenanya.

Di perjalanan pulang, Ki Watu Kendeng tidak banyak berbicara. Sekali-kali terdengar ia berdesah. Rasa-rasanya kegelisahannya terlalu dalam mencengkam jantungnya.

Sepeninggal Ki Watu Kandeng, maka rasa-rasanya padepokan Kenanga benar-benar disaput oleh keburaman Ken Padmi masih berada di dalam biliknya sambil menangis. Sementara para murid Ki Selabajra yang lain dan para cantrik serta penghuni lainnya, telah saling memperbincangkan apa yang telah terjadi di padepokan itu.

Dalam keburaman itu, maka Ki Selabajra telah memanggil murid-muridnya yang lelah meninggalkan perguruannya, tetapi yang pada saat itu masih berada di padepokan Kenanga sejak mereka dipanggil untuk membantu mengatasi kesulitan, sejak Ki Selabajra diancam olah Gagak Branang.

Maskipun Ki Salabajra pun mengerti, bahwa kedua muridnya itu telah mendengar pula apa yang terjadi, tetapi ia masih juga menceriterakan pembicaraannya dengan Ki Watu Kandeng.

Untuk beberapa saat lamanya, Makerti dan Gemak Werdi masih tetap berada di padepokan Kenanga. Ki Selabajra masih memperhitungkan kemungkinan yang pahit, jika masih ada saudara seperguruan Gagak Branang yang ingin menuntut balas kematiannya di padepokan Kananga.

Makerti dan Gamak Werdi pun telah mendengar peristiwa yang telah terjadi. Bahwa pembicaraan antara Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra yang seolah-olah sudah matang itu, ternyata telah pecah berserakan. Dengan kepala tunduk keduanya menghadap Ki Salabajra yang masih dicengkam kegelisahan.

“Apa katamu Makerti?” bertanya Ki Selabajra.

Makerti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya, “Aku tidak melihat maksud buruk dari Mahisa Bungalan, guru. Justru ia telah membuktikan, bahwa ia adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Anak yang demikian, pada dasarnya adalah anak yang setia, tahu diri dan mengerti sangkan paran kehadirannya di dunia”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Mungkin kau benar. Tetapi nalarku agaknya terlampau sulit untuk mengimbangi kekecewaanku. Kenapa ia tidak melakukannya seperti yang diminta oleh ayah angkatnya, Ki Watu Kendeng. Baru kemudian ia menyampaikannya kepada orang tuanya”

“Guru benar” sahut Gemak Werdi, “sebaiknya Mahisa Bungalan datang memenuhi rencana yang sudah tersusun itu. Baru kemudian ia datang kepada orang tuanya sendiri, menyampaikan persoalannya. Jika orang tuanya mendengar penjelasannya tanpa ada yang disembunyikan, maka orang tuanya tentu tidak akan menolaknya”

Makarti mengerutkan keningnya, sementara Gamak Werdi meneruskan, “Guru, apakah hal itu bukannya sekedar alasan Mahisa Bungalan untuk menolak rencana yang sudah tersusun itu”

“Aku kira tidak Gemak Werdi” potong Makerti, “Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang jujur. Jika ia tidak menghendaki, maka ia akan dapat berkata berterus terang. Apa yang ditakutkan? Ia memiliki kelebihan dari kita semuanya. Apakah kita akan dapat marah kepadanya, dan memaksakan kehendak kita atasnya? Jika kita mencoba berbuat demikian, maka kitalah yang harus mengalami nasib seperti Gagak Branang”

“Bukan begitu” jawab Gamak Werdi, “ia masih segan mempergunakan kelebihan itu. Jika mungkin, ia tentu akan ingkar tanpa menimbulkan benturan kekerasan, meskipun ia mempunyai keyakinan untuk menang. Dengan demikian, jika ia pada suatu saat berubah pendirian, maka ia masih sempat untuk datang dan memperbaiki sikapnya itu”

“Kau terlalu berprasangka buruk Gemak Wardi” sahut Makerti.

“Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Aku mangatakan sesuai dengan perhitungan. Mudah-mudahan aku keliru” berkata Gemak Werdi selanjutnya.

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Katenya, “Sudahlah. Kita memang dapat menilai sesuai dengan tanggapan kita masing-masing, yang satu dengan lainnya akan berbeda. Tetapi biarlah kita melihat perkembangan sikap Ken Padmi. Ia agaknya tersinggung sekali sehingga hatinya bagaikan patah sama sekali.

Makerti manarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kebenaran sikap Mahisa Bungalan. Ki Watu Kendeng memang bukan orang tuanya. Ia pun mengerti, bahwa Ki Watu Kendeng ingin sedikit menghibur hatinya yang pahit, dengan memberikan usulan yang menurut perhitungan akan sangat menyenangkan hati Mahisa Bungalan.

Tetapi, ternyata bahwa ada yang dilupakan. Mahisa Bungalan adalah seorang anak yang terikat hubungan keluarga yang erat dengan orang tuanya sendiri.

Karena itu, yang terjadi justru sebaliknya dari yang diharapkan oleh Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra. Ken Padmi ternyata telah benar-benar tersinggung, sehingga hatinya bagaikan patah.

Dalam pada itu, Ki Selabajra pun kemudian berkata, “Beristirahatlah. Kita akan berdoa, agar yang terjadi kemudian adalah hal yang baik saja. Satu-satunya harapan kita untuk dapat merubah keadaan adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Karena kita sandiri tidak melihat jalan apapun juga yang dapat kita tempuh”

Makerti dan Gemak Werdi pun kemudian meninggalkan Ki Selabajra yang masih beberapa saat lamanya duduk sendiri menghadapi semangkuk minuman hangat. Dipandanginya minuman yang mangkuknya kadang-kadang diguncangkannya dengan jari-jarinya. Di air yang gelisah itu, ia seolah-olah melihat hatinya yang gelisah pula.

Dalam pada itu, Gemak Werdi yang pargi ke gandok bersama Makerti bergumam seolah-olah kepada dirinya sendiri, “Aku memang sudah mengira”

Makerti berpaling kepadanya. Dengan nada datar ia bertanya, “Apa yang telah kau duga?”

“Mahisa Bungalan” jawabnya pendek.

“Kenapa dengan Mahisa Bungalan?” bertanya Makerti pula.

“Ia menganggap kita semuanya tidak lebih dari permainan yang menyenangkan”

Makerti mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kau menganggap demikian?”

“Sejak ia melihat aku pertama kali, ia sudah mempermainkan aku dengan sikapnya yang aneh-aneh. Ia membiarkan aku tersudut Kemudian ia membantu dengan membebaskan aku dari kesulitan. Dengan demikian setiap orang akan menganggap aku orang yang paling buruk, paling malang dan barangkali perlu dikasihani. Ialah yang datang dengan kejutan yang mendebarkan jantung. Seorang yang nampaknya sangat lemah, miskin dan hampir kelaparan, tiba-tiba telah menjadi seorang kesatria yang menyelamatkan aku dengan belas kasihan”

Makerti menarik nafus dalam-dalam. Katanya, “Kau memang seorang perasa Gemak Werdi. Tetapi aku kira, sama sekali bukan maksudnya. Ia memang perantau. Ia ingin mangetahui kehidupan ini apa adanya. Tanpa menimbulkan persoalan-persoalan baru dan goncangan-angan yang tidak diinginkannya. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri melihat peristiwa yang terjadi atasmu saat itu”

Gemak Werdi memandang Makerti sekilas. Namun ia pun kemudian memalingkan wajahnya. Meskipun ia tidak lagi mengatakan sesuatu tentang Mahisa Bungalan, namun Makerti dapat membawa gejolak perasaan anak muda itu.

Ia pun pernah tersinggung karena sikap Mahisa Bungalan. Lebih dari itu, Makerti pun mengerti, bahwa sebenarnya Gemak Werdi pun selalu memperhatikan Ken Padmi sejak ia masih berada di padepokan itu.

Tetapi Makerti tidak menyebutnya. Ia mencoba menahan diri, karena ia adalah orang yang lebih tua dari Gemak Werdi, sehingga ia pun harus dapat menjaga perasaan anak muda itu.
Meskipun demikian, Makerti menjadi cemas juga melihat pertumbuhan perasaan Gemak Werdi itu. Jika perasaan itu kemudian berkembang tanpa kendali, maka hal itu akan dapat menyulitkan dirinya sendiri. Apalagi apabila pada suatu saat, keresahan hati Ken Padmi menjadi reda, dan ia dapat menerima kehadiran Mahisa Bungalan kembali di hatinya, maka Gemak Werdi akan mendapatkan goncangan yang sulit untuk diobatinya. Ia akan dapat terseret oleh arus perasaannya seperti Gagak Branang meskipun dalam bentuk yang berbeda, “Mudah-mudahan kecemasanku tidak beralasan” berkata Makerti kepada diri sendiri.

Sementara itu, sesaat setelah Ki Watu Kendeng sampai di padepokannya, dan setelah ia beristirahat sejenak, maka ia pun memanggil Mahisa Bungalan untuk memperbincangkan keadaannya.

Rasa-rasanya ia tidak lagi dapat menahan persoalan itu di dalam dadanya yang menjadi pepat. Apapun akibatnya, ia ingin segera menumpahkan sesak jantungnya kepada orang yang berkepentingan.

Mahisa Bungalan pun menjadi berdebar-debar melihat ketegangan di wajah Ki Watu Kendeng. Ia sudah menduga, bahwa hal itu akan dapat menumbuhkan salah paham. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali yang telah dikatakannya kepada Ki Watu Kendeng. Jika benar ia menuruti permintaan Ki Watu Kendeng, datang melamar Ken Padmi tanpa setahu ayahnya Mahendra, maka akibatnya akan dapat kurang baik baginya. Meskipun mungkin Mahendra hanya akan mengangguk-angguk sambil berdesah, tetapi akan terbayang betapa orang tua itu kecewa, bahwa anaknya tidak lagi minta pertimbangannya untuk menentukan peristiwa yang sangat penting di dalam hidupnya.

Sejenak Mahisa Bungalan duduk termangu-mangu sambil menundukkan wajahnya. Dengan gelisah ia menunggu, apakah yang telah terjadi di padepokan Kenanga, “Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “aku sudah sampai di Padepokan Kenanga dan bartemu dengan Ki Selabajra”

Mahisa Bungalan monjadi semakin tunduk. Dengan gelisah ia menunggu, apa yang akan dikatakan olah Ki Watu Kendeng itu selanjutnya.

Ki Watu Kendeng pun terdiam sejenak. Melihat sikap Mahisa Bungalan, maka Ki Watu Kendeng tidak akan dapat menuduhnya, bahwa sengaja berbuat demikian karena maksud yang kurang baik. Dugaannya justru semakin kuat bahwa Mahisa Bungalan adalah benar-benar anak muda yang tahu diri dan berbakti kepada orang tuanya.

Karena itu, Ki Watu Kandeng justru menjadi bimbang. Apakah yang akan dikatakannya kepada Mahisa Bungalan.

Tetapi Ki Watu Kendeng pun sadar, bahwa ia tidak boleh hanya berdiam diri dan membiarkan Mahisa Bungalan berteka-teki. Karena itu, maka katanya kemudian, “Angger Mahisa Bungalan. Aku sudah menemui Ki Selabajra. Aku mengatakan apa yang kau pesankan dengan hati-hati”

Mahisa Bungalan mengangkat wajahnya sejenak. Namun kemudian ia menunduk kembali.

Dalam pada itu, Ki Watu Kendeng pun mengatakan apa yang telah disampaikannya kapada Ki Selabajra. Dengan hati-hati ia menceriterakan akibat dari keterangannya. Bahkan ia tidak dapat menyembunyikan kenyataan tentang Ken Padmi. Menurut Ki Watu Kendeng, hal itu memang lebih baik diketahui sama sekali oleh Mahisa Bungalan, agar ia dapat mempersiapkan diri menghadapi masa datangnya. Jika ia tidak mengetahuinya, dan pada suatu saat ia akan terbentur pada kenyataan yang demikian, maka hatinya tentu akan menjadi lebih sakit lagi. Apalagi apabila ia sudah datang bersama orang tuanya.

Mahisa Bungalan mendengarkan keterangan Ki Watu Kandeng dengan hati yang berdebar-debar. Meskipun ia sudah menyangka, namun sikap Ken Padmi telah membuat hatinya menjadi pedih. Betapapun juga, jika benar hati gadis itu menjadi patah orang, ia tentu akan merasa kehilangan. Jika ia tidak dapat datang ke padepokan Kenanga itu bukannya karena ia bermaksud buruk, apalagi sekedar mempermainkan perasaan gadis itu dengan sikap pura-pura atau sekedar mengisi kekosongan hati.

Tetapi Mahisa Bungalan harus menerima akibat itu. In sadar, bahwa ia memang harus tetap pada sikapnya, menunda lamarman itu sampai saatnya sampai ayahnya sendiri akan melakukannya.

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng, “aku sudah mencoba mengatakan dengan baik dan sesuai dengan tanggapanku atas sikapmu. Tetapi gadis yang kecawa itu agaknya telah salah paham. Namun aku berdoa, mudah-mudahan hatinya akan menjadi luluh dan menerima hal ini justru dari sisi yang baik”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan Ki Watu Kendeng. Salah paham memang mudah terjadi dalam hal seperti ini. Aku menyesal apabila mereka tetap menganggap bahwa aku telah mempermainkan perasaan mereka. Terutama Ken Padmi sendiri”

“Aku mengerti” sahut Ki Watu Kendeng.

“Namun pada saatnya aku akan menjelaskan apabila mereka masih bersedia mendengarkan”

“Hal itu agaknya memang perlu kau lakukan Mahisa Bungalan. Tetapi jangan sekarang. Hati mereka masih panas. Mungkin justru akan memperdalam kesalah-pahaman ini”

“Ya, Ki Watu Kendeng. Aku akan datang pada saat yang aku anggap baik. Tetapi aku tidak tahu, kapan hal itu akan aku lakukan”

“Kau memang harus sabar ngger. Kau harus menunggu sampai badai ini menjadi reda. Tetapi kelak kau pun harus membuktikan bahwa kau tidak sekedar menghembuskan angin yang akan lenyap tanpa bekas”

Mahisa Bungalan mengangguk dalam-dalam. Katanya, “Aku akan membuktikan, Ki Watu Kendeng”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Meskipun ia masih tetap digelisahkan oleh hubungan yang rasa-rasanya menjadi agak renggang dengan padepokan Kenanga. Namun ia masih mempunyai harapan bahwa segala sesuatunya akan dapat diperbaiki”

“Aku percaya” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, bahwa semuanya masih belum terlambat. Waktu akan mendinginkan hati gadis itu. Jika tidak ada pihak yang ikut campur, maka segalanya akan menjadi baik lagi” Mahisa Bungalan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam Tetapi ia tidak menjawab.

Sejenak keduanya hanya berdiam diri. Dengan penuh pengertian Ki Watu Kendeng memandangi anak muda yang menunduk itu. Betapa hatinya menjadi pedih menghadapi kenyataan yang pahit, la tidak dapat menempuh jalan sesuai dengan sekedar menyenangkan diri sendiri.

Baru sejenak kemudian Ki Watu Kendeng berkata, “Tabahkan hatimu Mahisa Bungalan. Kau bukan seorang gadis seperti Ken Padmi. Karena itu, hatimu tentu tidak akan sehalus perasaan Kan Padmi yang mudah tersentuh”

Mahisa Bungalan mengangguk sambil berkata, “Aku akan mencoba mengerti apa yang telah terjadi Ki Watu Kendang”

“Sekarang, beristirahatlah. Aku harap, bahwa kau tetap kerasan di sini”

Mahisa Bungalan mengangguk kecil. Namun mulai timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Sampai kapan aku harus barada di sini?”

Tetapi pertanyaan itu masih disimpannya di dalam hatinya. Meskipun ia sadar, bahwa pada suatu saat pertanyaan itu tentu akan terlontar, karena ia masih mengemban kewajiban yang dibebankan oleh dirinya sendiri, menjelang tugas yang lain yang akan diembannya pada suatu saat.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Bungalan pun meninggalkan Ki Watu Kendeng yang kemudian duduk sendiri. Batapapun juga peristiwa itu tidak dapat begitu saja lewat dari perasaannya. Untuk waktu yang lama Mahisa Bungalan tentu akan masih dibayangi oleh peristiwa itu. Bahkan ia sudah bertekad untuk memulihkan hubungannya dengan gadis padepokan Kenanga itu.

Ketika satu dua hari lewat, rasa-rasanya kegelisahan Mahisa Bungalan menjadi semakin mencengkam jantungnya. Meskipun demikian ia masih tetap berusaha untuk menahan diri. Ia masih berusaha untuk tetap tinggal di padepokan Watu Kendeng, betapapun keadaannya. Di malam hari matanya bagaikan tidak dapat terpejam. Di siang hari, rasa-rasanya ia selalu diburu oleh ketegangan dan kegelisahan.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian muncoba menenggelamkan diri ke dalam kerja di padepokan itu. Dengan sungguh-sungguh ia belajar berbagai macam pekerjaan anyaman. Dari anyaman belarak kelapa sampai ke anyaman bambu yang diserut halus. Dari membuat icir untuk menangkap ikan, sampai pada membuat tenong tempat makanan dan ceting tempat nasi.

Sementara itu, di padepokan Kenanga, Ken Padmi tidak dapat menyembunyikan luka di hatinya. Di pagi hari, ketika ia bangun dari tidur, nampak matanya yang kemerah-merahan bagaikan membengkak. Senyumnya sama sekali telah lenyap dari bibirnya, dan sebagian waktunya telah di habiskannya di dalam biliknya saja. Namun di sore hari, ketika senja mulai membayang, ia telah hilang di balik pintu sanggar yang diselaraknya dari dalam. Ia seolah-olah tidak memberi kesempatan lagi kepada murid-murid Ki Selabajra di sore hari, karena Kan Padmi melepaskan luka di hatinya dengan mesu diri dan berlatih olah kanuragan.

Ki Selabajra menjadi sangat cemas melihat keadaan anaknya. Ia sadar bahwa anaknya menjadi kacewa. Tetapi ia cemas bahwa hatinya telah dibakar oleh dendam, sehingga olah kanuragan akan menjadi cara yang tidak terpuji untuk melepaskan sakit hatinya.

Tetapi untuk beberapa saat, Ki Selabajra membiarkun anak gadisnya berlaku demikian. Bahkan ia pun berpesan kepada murid-muridnya yang lain, agar mereka tidak mengganggunya dan mencari tempat lain untuk berlatih.

Sementara itu, Gemak Werdi dan Makerti yang masih berada di padepokan menjadi cemas pula. Makerti mula-mula telah menyatakan keinginannya kepada Gemak Werdi untuk kembali. Tetapi agaknya Gemak Werdi masih belum sampai hati meninggalkan gurunya dalam keadaan yang demikian.

“Kegelisahannya itu dapat membuatnya kehilangan akal” berkata Gemak Werdi kepada Makerti.

Makerti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku kira Ki Selabajra cukup dewasa. Tetapi jika kau menganggap bahwa sebaliknya kita menemaninya untuk berapa hari lagi, aku pun tidak berkeberatan”

“Kita akan melihat perkembangan keadaan. Satu atau dua hari saja lagi” sahut Gemak Werdi.

Dalam pada itu, agaknya Gemak Werdi telah mempunyai rencana sendiri. Selagi Ken Padmi terlempar dari angan-angan dan harapan yang melambung tinggi, dan jatuh terbanting ke dalam jurang yang dalam, maka ia pun berusaha hadir di dalam kehidupan batin gadis itu.

Ada saja yang dilakukannya untuk menarik perhatian Ken Padmi yang sedang murung. Kadang-kadang, seolah-olah di luar kehendaknya, Gemak Werdi berpapasan di muka longkangan dengan Ken Padmi yang akan pergi ke pakiwan. Kadang-kadang mereka bertemu di tempat lain. pada saat yang berbeda.

Adalah seakan-akan tidak sengaja, ketika Ken Padmi pergi ke Sanggar, tiba-tiba saja ia terkejut. Ketika ia akan menyelarak pintu dari dalam, ternyata Gemak Werdi sudah berada di dalam sanggar.

“Apa kerjamu disitu?” bertanya Ken Padmi dengan suara datar.

“Aku mencoba mendalami ilmuku Selama ini aku tidak pernah mendalami ilmuku. aku hanya mempergunakannya saja sesuai dengan apa adanya”

“Aku akan mempergunakan sanggar ini, sendiri”

Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk ia berkata, “Silahkan, aku mempergunakannya sebelum kau pergunakan”

“Terima kasih” berkata Ken Padmi singkat.

“Tetapi” kata-kata Gemak Werdi penuh keragu-raguan, “menurut pendapatku, berlatih sendiri dan berpasangan, akan jauh berbeda. Hasilnya lebih mantap jika tidak berlatih seorang diri. Biasanya aku berlatih dengan paman Makerti. Tatapi saat ini paman Makerti sedang letih. Karena itu, aku berlatih seorang diri”

Ken Padmi tidak tertarik sama sekali kepada keterangan itu. Jawabnya, “Aku lebih senang berlatih sendiri”

Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah, aku akan pergi”

Gemak Werdi pun kemudian meninggalkan sanggar itu, dan membiarkan Ken Padmi barlatih sendiri. Tetapi Gemak Werdi tidak pernah mundur. Ada saja usahanya untuk dapat bertemu dan berbicara satu dua patah kata. Sikapnya yang lembut dan kata-katanya yang ramah lambat laun terasa menyentuh perasaan Ken Padmi yang sedang pedih.

Diluar sadarnya, maka Ken Padmi pun mulai berbincang satu dua kata dengan Gemak Werdi mengenai ilmu padepokan Kenanga. Seolah-olah mereka tidak sesuai pendirian. Namun Gemak Werdi sudah mengalah dan seakan-akan ia menyadari kesalahannya. Bahkan ia seakan-akan selalu mengakui dan minta maaf akan kesalahannya.

Makerti yang melihat sikap Gemak Werdi itu menjadi berdebar-debar. Ia mangerti, bahwa perasaan itu memeng sudah tersimpan di hati Gemak Werdi sejak mereka belum mengenal anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Namun Gemak Werdi merasa dirinya masih belum saatnya untuk berbuat sesuatu.. Kehadiran Mahisa Bungalan telah agak menjauhkannya dari angan-angan itu. Namun angan-angan itu kini rasa-rasanya telah tumbuh kembali di hatinya.

Meskipun pembicaraan yang satu dan dua kali dilakukan oleh Gemak Werdi dan Ken Padmi itu selalu berkisar pada ilmu yang sedang mereka pelajari, namun kesempatan yang demikian itu telah membesarkan hati Gemak Werdi. Bahkan pada suatu saat, Ken Padmi tidak menolak ketika Gemak Werdi bersedia untuk membantunya berlatih kanuragan di dalam sanggar.

Makerti yang melihat perkembangan itu menjadi semakin gelisah, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sekali ia pernah mencoba untuk memberikan nasehat kepada Gemak Werdi, agar ia tidak kehilangan akal. Namun Gemak Werdi sambil tersenyum menjawab, “Aku tidak berbuat apa-apa paman. Ia adalah murid terbaik di padepokan ini. Bukankah dengan demikian aku akan dapat ikut meningkatkan ilmuku pula”

Alasan itu memang wajar sekali nampaknya. Tetapi Makerti mengerti, bahwa sebenarnya Gemak Werdi sama sekali bukan mementingkan peningkatan ilmunya. Tetapi kesempatan untuk bersama Ken Padmi yang sedang mengalami goncangan batin itulah yang menjadi tujuan utamanya.

Gemak Werdi yang dalam olah kanuragan berada di tataran yang lebih rendah dari Ken Padmi, berusaha untuk dapat berbuat sebaik-baiknya. Dengan sungguh-sungguh ia membantu Ken Padmi dalam latihan-latihan yang dilakukannya untuk mengisi kesepian di hatinya. Namun seperti yang di katakannya, kecuali kesempatan untuk berada bersama-sama dengan Ken Padmi di sanggar, maka ia pun dapat memanfaatkan saat-saat itu untuk mematangkan ilmunya pula.

Kegelisahan Makerti tidak tertahankan lagi melihat perkembangan keadaan itu. Seolah-olah ingin menghadap Ki Selabajra dan menyampaikan kegelisahannya itu kepadanya

Tetapi ia masih mampu menahan diri. Ia mencoba untuk mencari jalan lain yang sebaik-baiknya.

Karena itulah, maka sekali lagi ia mencari kesempatan untuk berbicara dengan Gemak Werdi.

“Paman, aku sudah cukup dewasa. Aku sudah dapat menilai, apakah yang sebaiknya aku lakukan” berkata Gemak Werdi ketika Makerti berusaha untuk memberinya peringatan.

“Benar, Gemak Werdi. Kau memang sudah cukup dewasa, tetapi apakah setiap orang yang sudah cukup dewasa tidak pernah melakukan suatu kekhilafan” jawab Makerti.

“Aku sudah mempelajari baik-baik, apakah yang aku lakukan sekarang. Aku menganggap bahwa yang aku lakukan itulah yang sebaik-baiknya”

“Kau harus menyadari, bahwa hubungan antara Ken Padmi dan Mahisa Bungalan adalah hubungan yang mendasar. Karena itu, maka hubungan yang damikian akan tidak mudah mereka lupakan. Seandainya ada kabut yang membayanginya, tetapi itu sifatnya tentu hanya sementara”

“Aku tidak akan mengganggu hubungan itu paman. Aku sedang memperdalam ilmu kanuragan yang pernah aku pelajari di padepokan ini”

“Jangan selalu menghindari keadaan yang sebenarnya Gemak Werdi. Aku ingin berbicara dengan sungguh-sungguh Karena itu, maka marilah kita berpangkal kepada keadaan yang sebenarnya” berkata Makerti kemudian.

Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya, “Paman. Sebaiknya paman tidak usah ikut serta berbicara tentang diriku”

“Gemak Werdi” berkata Makerti, “aku selalu memberimu peringatan meskipun kau tidak pernah mendengarkannya. Ketika kau pergi ke Watan untuk menghalau Ki Lambun, aku pun sudah memberimu peringatan. Tatapi kau tidak mengacuhkannya, sehingga hampir saja kau menjadi korban karenanya. Untunglah bahwa saat itu hadir seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Dan kau sekarang justru telah melakukan kesalahan yang lebih besar. Bukankah kau melihat, apa yang telah terjadi atas Gagak Branang?”

Gemak Werdi tertawa. Katanya, “Jika ingin pulang, pulanglah. Segala yang terjadi akan menjadi tanggung jawabku”

“Kau benar-benar sudah menjadi gila”

“Tidak paman. Hubungan antara Mahisa Bungalan dengan Ken Padmi sudah putus. Ken Padmi sudah mengatakan, bahwa ia tidak akan dapat menerima Mahisa Bungalan dengan alasan apapun juga”

“Itulah yang sedang dicari jalan” berkata Makerti, “orang-orang tua berusaha untuk memulihkan hubungan itu, kau sedang mencari keuntungan dari peristiwa itu. Kau ingin mendapatkan ikannya disaat air sedang keruh”

Makerti menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Gemak Werdi justru tertawa. Katanya, “Paman menganggap aku masih kanak-anak. Biarkan saja apa yang aku lakukan. Aku mengerti sepenuhnya, jangan menasehati aku saperti paman menasehati para cantrik yang baru datang di padepokan ini”

“Gemak Werdi” berkata Makerti dengan nada dalam dan datar, “jangan merusak usaha orang-orang tua untuk memulihkan kembali hubungan antara Mahisa Bungalan dan Ken Padmi”

“Siapa yang merusak? Aku sedang berusaha membuat hati gadis itu menjadi jernih. Aku harus melakukan sesuatu agar Ken Padmi tidak membunuh diri. Tidak kehilangan akal dan nalar. Tidak menjudi gila atau mengalami peristiwa-peristiwa lain yang mengerikan”

“Bukan itu Gemak Werdi” Makerti menggeleng, “kau masih saja berusaha mengelabui aku. Aku sudah melihat apa yang sebenarnya kau lakukan. Itulah yang aku keberatan”

Gemak Werdi menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku berbuat atas pertimbangan yang masak. Sudahlah paman. Pulanglah. Memang sudah waktunya kau meninggalkan padepokan ini. Biarlah aku tetap di sini untuk sementara, sehingga karena itu. maka ilmuku akan meningkat dengan pesat”

Makerti menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Gemak Werdi yang sudah diracuni olah perasaan yang tidak terkendali, sulit untuk diajak menilai tingkah lakunya sendiri.

Karena itu, betapapun berat hatinya, ia terpaksa melepaskan usahanya, karana jika ia ingin memaksakan pendapatnya, maka ia tentu akan berselisih dengan Gemak Werdi, sehingga akan dapat menimbulkan akibat yang tidak dikehendakinya.

Dengan demikian, maka Makerti seolah-olah merasa tidak ikut mencampuri persoalan itu. Ia lebih baik menghindar dan tidak terlibat dalam kaadaan yang bagaimanapun juga.

-oo0dw0oo-

(Bersambung Ke Jilid 5)

Sumber DJVU : Dino
Convert & Edit : Dino
Ebook oleh : Dewi KZ

edit ulang oleh Ki Area

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s