PBM-02


<<kembali | lanjut >>

SEBENARNYA aku ingin tahu pasti, apakah anak muda yang kau sebut sombong itu mampu menahan ilmuku”

“Bagaimana cara yang akan guru tempuh”

“Panggil anak itu. Jika ia masih kuat bertahan, ia tentu akan keluar dari biliknya”

Sejenak Gemak Werdi termangu-mangu. Dipandanginya pintu rumah Ki Buyut yang tertutup sehingga mereka hanya dapat berdiri di pringgitan. Sejenak kemudian, maka Gemak Werdi itu pun berdesis, “Paman Makerti. Paman Makerti”

“Jangan takut. Berteriaklah. Tetapi kenapa Makerti yang kau panggil?”

“Jika anak itu ada bersama paman Makerti, maka ia tentu akan keluar juga dari dalam biliknya”

“Sebut namanya”

“Aku ragu-ragu. Apakah namanya itu adalah namanya sebenarnya”

Guru Gemak Werdi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Berteriaklah. Tidak akan ada orang yang mendengar”

Gemak Werdi pun kemudian memanggil semakin keras.

Dalam pada itu, Makerti yang berada di dalam bilik bersama Mahisa Bungalan menjadi termangu-mangu. Ia mendengar Gemak Werdi memanggilnya. Tetapi setiap kali Mahisa Bungalan selalu menggeleng untuk menahan agar Makerti tidak bergerak.

Akhirnya Makerti mengerti maksud Mahisa Bungalan. Biarlah gurunya dan Gemak Werdi menganggap bahwa mereka berdua telah tertidur nyenyak.

Gemak Werdi masih mengulangi beberapa kali memanggil Makerti. Namun sama sekali tak ada seorang pun yang menyahut dari dalam.

“Mereka tentu sudah tertidur nyenyak” berkata Gemak Werdi, “apakah kita akan memecah pintu dan masuk ke dalam?”

“Untuk apa?” bertanya gurunya.

“Bukankah guru ingin menjajagi kemampuan anak muda itu?”

“Bukankah aku sudah melakukannya. Ia tidak mampu melawan ilmuku. Ternyata bahwa pengetahuannya tidak terlalu tinggi. Mungkin ia memiliki kekuatan jasmaniah yang besar, tetapi itu tidak akan berarti apa-apa melawan ilmuku”

“Jadi, apakah maksud guru seterusnya?”

“Aku akan kembali ke padepokan”

“Jadi hanya begini?” bertanya Gemak Werdi.

“Lalu apa lagi. Aku sudah mengetahui tingkat ilmunya. Itu sudah cukup bagiku”

“Tetapi ia sudah menghina aku guru. Menghina perguruanku. Apakah kita akan membiarkannya menganggap bahwa perguruan kita tidak berarti apa-apa”

Gurunya termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Seperti perhitunganku, mereka besok akan meneruskan perjalanan ke padepokan. Aku akan menemuinya dan melihat sikapnya selanjutnya. Tentu ada sebabnya kenapa Makerti justru memihak kepada anak muda itu”

Gemak Werdi menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat memaksa gurunya untuk berbuat sesuatu.

“Marilah” ajak gurunya, “kita sudah mengetahui kemampuan anak itu”

Gemak Werdi menjadi kecewa. Ia ingin membuat Mahisa Bungalan menjadi jera. Tetapi gurunya tidak mau bertindak lebih jauh daripada sekedar menjajagi kemampuan anak muda itu. Karena itu, dengan wajah yang buram, ia mengikuti gurunya meninggalkan pendapa rumah Ki Buyut. Namun ia masih mencoba mengajak gurunya sekali lagi, “Guru, tetapi apakah kita tidak membuktikan bahwa keduanya memang ada di sini. Mungkin kedua ekor kuda itu bukan milik paman Makerti dan anak muda itu”

“Aku yakin Gemak Werdi” jawab gurunya, “tentu Makerti dan anak muda itulah yang datang dan menginap disini. Sandainya kau masih ragu-ragu, maka besok jika mereka sudah berada di padepokan kita akan dapat bertanya kepada mereka”

“Dan kita membiarkan perguruan kita dihinakannya” gumam Gemak Werdi.

Tetapi gurunya tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian menuju kegelapan dan mengambil kudanya yang diikat di luar regol halaman rumah Ki Buyut.

Gemak Werdi tidak dapat menahannya lagi. Ia pun kemudian meloncat ke punggung kudanya ketika gurunya telah melakukannya.

Sejenak kemudian, maka kedua ekor kuda itu pun telah berderap dalam kegelapan. Tetapi tidak seorang pun yang tinggal di sekitar rumah Ki Buyut yang mendengarnya karena mereka semuanya sedang tertidur nyenyak.

Sepeninggal Gemak Werdi dan gurunya, maka Mahisa Bungalan pun menarik nafas dalam-dalam. Dilepaskannya tangan Makerti sambil berkata, “Pengaruh ilmu itu tentu akan mengendor”

Makerti menarik nafas dalam-dalam. Terasa padanya, bahwa pengaruh ilmu gurunya itu memang semakin samar, sehingga perasan kantuknya pun menjadi semakin lenyap pula meskipun perlahan-lahan.

“Mahisa Bungalan, “ berkata Ki Makerti kemudian., “kau memang seorang anak muda yang luar biasa. Bukan saja karena kau berhasil melawan ilmu guru yang tidak ada taranya, tetapi kau masih dapat membagi daya tahanmu untuk membantuku. Bukankah itu berarti bahwa kau mempunyai kekuatan ganda yang dapat menangkis ilmu yang dahsyat itu. Tetapi lebih daripada itu, kau ternyata dapat menguasai perasaanmu sehingga kau tidak kehilangan kesabaran dan meloncat keluar di saat kau mendengar percakapan antara guru dan Gemak Werdi”

Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Aku sudah sering menghadapi persoalan yang lebih menyakiti perasaan. Dan aku sudah belajar untuk menahan diri agar aku tidak terjerumus ke dalam keadaan yang tidak aku kehendaki”

Makerti mengangguk-angguk. Katanya, “Kita besok akan meneruskan perjalanan. Mudah-mudahan guru pun dapat menahan diri betapapun Gemak Werdi membuat ceritera apapun tentang kau dan aku”

Mahisa Bungalan tersenyum hambar. Jawabnya, “Mudah-mudahan. Tetapi gurumu tentu bukan anak kecil lagi yang dengan mudah dapat dibakar perasaannya”

Makerti mengangguk-angguk. Tetapi nampak keragu-raguan membayang di wajahnya, sehingga Mahisa Bungalan bertanya, “Apakah kau meragukan sikap gurumu?”

Sejenak Makerti termenung. Kemudaan perlahan-lahan ia menyahut, “Sifat guru sulit untuk diketahui. Ia kadang seorang yang sabar dan mengerti perasaan yang keadaan orang lain. Tetapi kadang-kadang ia seorang pemarah dan tiba-tiba saja memusuhi seseorang tanpa sebab. Dalam pada itu guru benar-benar orang yang luar biasa. Ia menguasai ilmu pedang dengan sempurna. Ia termasuk seorang yang sulit dicari tandingnya dalam ilmu kajiwan”

“Aku mengerti akan kelebihan gurumu. Baru saja kita merasakan kedahsyatan ilmunya. Itu pun tentu belum seluruhnya, karena gurumu menganggap bahwa yang sedikit itu sudah cukup bagi orang lain”

Makerti ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Kau benar Mahisa Bungalan”

“Tetapi aku datang ke padepokanmu justru untuk memberikan penjelasan, aku kira, tidak akan terjadi sesuatu. Gurumu akan mendengarkan penjelasan kita. Sebab kita pun tidak akan berani berbuat sesuatu terhadapnya selain memberikan keterangan”

Makerti mengangguk-angguk. Ia sudah melihat, betapa Mahisa Bungalan dapat menahan hati dalam keadaan yang panas sekalipun. Karena itu, maka keduanya tanpa mengganggu Ki Buyut yang masih tertidur nyenyak, segera membaringkan diri pula di pembaringan. Sejenak mereka masih dihanyutkan oleh angan-angan masing-masing tentang Gemak Werdi dan gurunya. Namun sejenak kemudian keduanya pun telah tertidur pula dengan nyenyak, meskipun bukan karena pengaruh sirep.

Pagi-pagi benar keduanya telah terbangun dan mempersiapkan diri. Ki Buyut dan keluarganya telah menjamu mereka dengan makan pagi pula seperti biasanya. Kemudian melepaskan mereka berdua pergi deringan mengantar mereka sampai ke regol.

“Ki Buyut orang yang sangat baik, “ desis Mahisa Bungalan.

“Ya. Ia orang baik terhadap siapapun juga. Bukan hanya aku dan Gemak Werdi sajalah yang diperkenankan menginap di rumahnya atau di banjar padukuhannya. Tetapi setiap orang yang memerlukan, penginapan, maka pintu rumahnya atau banjar padukuhannya selalu terbuka. Bahkan seperti yang kita alami, maka mereka pun mendapatkan jamuan seperlunya”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, sementara kudanya berpacu semakin lama semakin cepat menuju ke padepokan Gemak Werdi, yang juga disebut padepokan Kenanga karena di padepokan itu terdapat banyak pohon bunga kenanga yang jika sedang berbunga, baunya yang harus memenuhi seluruh padepokan, bahkan kadang-kadang dibawa angin sampai ke pedukuhan terdekat.

“Perjalanan kita tidak lagi sejauh perjalanan di hari pertama” berkata Makerti, “sebelum tengah hari kita sudah berada di jalan lurus ke padepokan itu”

“Maksudmu dengan jalan lurus?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Dari padukuhan terakhir, telah dibuat sebuah jalan yang panjang menuju ke padepokan itu yang merupakan sebuah bulak yang panjang pula”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu jalan yang terlindung oleh bayangan pepohonan di sebelah menyebelah jalan”

“Ya. Apakah kau pernah mengunjungi padepokan itu?”

Mahisa Bungalan menggeleng. Jawabnya, “Belum. Aku belum pernah pergi ke padepokan itu. Aku hanya berangan-angan saja”

Makerti mengangguk-angguk. Memang banyak terdapat jalan semacam itu. Jalan yang sejuk dilindungi oleh bayangan pepepohonan yang rimbun”

Kuda mereka berdua pun berpacu menyusuri jalan panjang. Kadang-kadang ditengah-tengah bulak, namun kemudian menyusup padukuhan yang tersebar di antara sawah yang terbentang luas.

Seperti pulau-pulau berwarna hijau diantara kuningnya bulir padi yang menjadi semakin tua dan semakin runduk.

“Padukuhan itu adalah padukuhan terakhir” berkata Makerti.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia mengangkat wajahnya, memandang matahari yang hampir mencapai puncak langit. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Makerti, maka sebelum matahari tegak di atas kepala, maka mereka telah berada di ujung jalan menuju ke padukuhan Kenanga.

“Jalan ini panjang sekali” berkata Mahisa Bungalan.

“Sebenarnya juga tidak begitu panjang. Tetapi karena jarak antara padukuhan ini dengan padepokan Kenanga hanya diantarai oleh satu bulak saja, maka nampaknya bulak ini menjadi sangat panjang.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ketika mereka memasuki jalan yang panjang itu, terasa jantungnya mulai berdebar-debar. Namun demikian Mahisa Bungalan tetap berharap bahwa kedatangannya tidak menumbuhkan salah paham dengan guru Gemak Werdi.

“Makerti adalah saksi yang dapat memberikan penjelasan tentang apa yang telah terjadi. Meskipun nampaknya Gemak Werdi adalah muridnya yang terdekat, tetapi Makerti adalah muridnya pula, yang tentu juga akan didengar keterangannya” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Namun demikian, ketika mereka mulai mendekati regol padepokan itu, maka debar jantung Mahisa Bungalan memang terasa semakin cepat. Bahkan Makerti pun menjadi berdebar-debar. Tubuhnya berkeringat dan sikapnya menjadi sangat gelisah.

“Kita sudah sampai” desis Makerti ketika mereka sudah berada beberapa langkah saja dari pintu gerbang yang terbuka lebar.

Dalam pada itu, seseorang telah menyampaikan laporan kehadiran dua orang memasuki regol padepokan kepada Gemak Werdi dan gurunya.

“Mereka sudah datang guru” berkata Gemak Werdi.

“Bukankah perhitungan kita hampir tepat. Saat beginilah keduanya akan sampai di padepokan” desis gurunya.

“Dan guru tidak menyambutnya dengan sikap seorang pimpinan padepokan yang sedang tersinggung karena sikap anak muda itu?” bertanya Gemak Werdi

“Sudah aku katakan. Aku memang akan memberinya sedikit pelajaran. Tetapi kesalahan yang dilakukan oleh anak muda itu bukanlah karena kesengajaannya menghina padepokan ini. Menurut penilaianku ia justru bermaksud baik. Tetapi, bahwa ia telah mengecilkan arti kehadiranmu di hadapan orang banyak itulah kesalahannya yang perlu mendapat teguran. Dan aku akan meyakinkan anak itu, bahwa bagi padepokan ini, ia tidak berarti apa-apa. Ia harus tahu, bahwa ilmunya masih harus mendapat banyak peningkatan agar ia pantas menegurmu di hadapan orang banyak”

“Apa yang akan guru lakukan?”

“Meyakinkan, bahwa ilmunya masih sangat kecil dibandingkan dengan ilmu dari padepokan ini” jawab gurunya.

“Guru akan turun sendiri?”

Gurunya tertawa. Katanya, “Apakah kau rela aku turun menghadapi anak muda itu?”

Gemak Werdi termangu-mangu.

“Dengan demikian berarti bahwa akulah yang telah merendahkan diri dan merendahkan harga diri padepokan ini”

“Jadi, maksudi guru?”

“Saudara seperguruanmu. Anak gadisku sendiri yang akan menunjukkan kepada anak muda yang datang itu, bahwa bagi perguruan ini, ia bukan apa-apa. Justru anakku adalah seorang gadis”

Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam. Namun nampak kegelisahan membayang di wajahnya yang basah oleh keringat.

“Kenapa bukan orang lain guru?”

“Siapa yang kau maksud? Di sini muridku hanya dua orang. Yang satu adalah kau sendiri. Apakah kau ingin mencoba mengalahkannya?”

Wajah Gemak Werdi menjadi merah.

“Sudahlah. Jangan cemas. Ilmunya lebih lengkap dari ilmumu. Ia adalah anakku yang menyadap ilmuku sejak ia mulai dapat berjalan. Meskipun umurnya lebih muda dari umurmu, tetapi masa bergurunya jauh lebih panjang dari waktu yang kau pergunakan”

Gemak Werdi menundukkan kepalanya. Ia mengakui, bahwa gadis itu memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dan ilmunya. Meskipun umurnya masih muda, tetapi karena sejak kanak-kanak ia sudah mulai menerima tuntunan dalam olah kanuragan, maka ilmu yang dimilikinya hampir setingkat dengan kelengkapan ilmu gurunya. Tetapi sudah barang tentu, gadis itu masih harus mematangkannya.

Namun dengan demikian, bukan saja anak muda yang sombong itulah yang akan tersinggung karenanya. Tetapi ia sendiri akan dihadapakan pada suatu kenyataan, bahwa ilmu seorang gadis padepokan itu jauh lebih baik dari ilmunya. Jika gadis itu nanti berhasil menundukkan anak muda yang sombong itu, maka anak muda itu pun akan memandangnya dengan tersenyum, bahwa kekalahannya dari seorang gadis bukannya ia seorang diri, tetapi anak padepokan itu sendiri, ternyata tidak dapat menyamainya.

Tetapi Gemak Werdi tidak mempunyai pilihan lain. lebih senang melihat anak muda yang sombong itu dikalahkan dan merunduk dengan pucat dan gemetar serta mengakui kesalahannya daripada kegelisahannya sendiri karena kemenangan gadis itu.

“Sudahlah” berkata gurunya, “tamu itu tentu sudah duduk di pendapa. Marilah, kita akan menemuinya dan memikirkan semua rencana”

“Tetapi” Gemak Werdi ragu-ragu.

“Gadis itu. sudah siap. Semuanya sudah diatur sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Makerti dapat memberikan sedikit peringatan sebelumnya kepada kawannya yang sombong itu, bahwa ia akan menjumpai seseorang murid dari padepokan ini yang memang dihormati sebagaimana ia harus menghormati padepokan ini”

Gemak Werdi tidak menjawab. Meskipun kepalanya terangguk-anggul kecil.

Keduanya pun kemudian bangkit dan melangkah menuju ke pendapa. Ternyata bahwa Makerti dan Mahisa Bungalan telah duduk di pendapa seperti yang diduga oleh guru Gemak Werdi.

Ketika keduanya membuka pintu pringgitan, maka Makerti dengan tergesa-gesa telah membungkuk dalam-dalam sambil berdesis, “Hormatku bagi guru”

Gurunya mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih tetap berdiri, sedang Gemak Werdi berdiri termangu-mangu di belakangnya.

“Anak muda itukah yang kau sebut Gemak Werdi?” bertanya gurunya.

“Gemak Werdi mengangguk. Jawabnya, “Ya guru”

Gurunya memadang Mahisa Bungalan yang tunduk. Kemudian terdengar ia bertanya, “Siapa namamu anak muda yang perkasa. Yang dengan sadar telah menunjukkan keperkasaannya”

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Tetapi ia mengangguk hormat sambil menjawab, “Namaku Mahisa Bungalan, Kiai”

“Nama yang bagus. Pantas menilik ujud dan sikapmu” berkata guru Gemak Werdi, “kau seorang anak muda yang gagah pideksa. Tampan dan sopan. Tetapi sedikit sayang, bahwa sikapmu itu hanyalah sikap pura-pura”

Mahisa Bungalan terkejut. Ia merasa bahwa Gemak Werdi tentu sudah sampai kepada keterangan yang menyakitkan hati gurunya, meskipun hal itu sudah direkayasa. Namun ia masih mengharap bahwa gurunya tidak tidak terpengaruh oleh keterangan yang belum dibuktikannya.

Makerti yang sudah mengenal gurunya menjadi berdebar-debar. Gurunya adalah seseorang yang tidak mudah terpengaruh, sehingga ia menentukan sikapnya sesuai dengan tanggapannya atas setiap peristiwa. Dengan demikian, maka jika gurunya saat itu sudah bersikap, maka sulitlah baginya untuk dapat merubahnya, meskipun ia mengetahui bahwa gurunya mempunyai tanggapan yang keliru karena keterangan yang salah pula atas sesuatu peristiwa.

Meskipun demikian, Makerti berusaha jaga untuk memberikan penjelasan. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Guru, apakah aku diperbolehkan memberikan sedikit keterangan tentang peristiwa yang telah terjadi? Kedatangan kami berdua memang sengaja untuk memberikan penjelasan tentang sikap kami. Mungkin guru telah mendengar keterangan dari Gemak Werdi. Supaya bukan keberangan yang berat sebelah, maka biarlah kita berbicara tentang peristiwa yang barangkali tidak menyenangkan hati guru”

Orang tua yang berdiri di muka pintu peringgitan itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Makerti dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Makerti, aku kira aku tidak menerima keterangan yang salah. Bukankan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu pernah mengaku bernama lain, dan bersikap seperti seorang perantau yang tidak berarti? Tetapi tiba-tiba saja ia menunjukkan kemampuannya yang luar biasa ketika ia melihat Gemak Werdi dan kau sendiri mengalami kesulitan. Bukankah begitu?”

Sekali lagi Makerti terkejut. Bahkan Mahisa Bungalan sendiri menjadi semakin tegang mendengar kata-kata guru Makerti itu.

Apalagi ketika kemudian orang tua itu tertawa. Katanya, “ Aku kira aku tidak salah menilai peristiwa itu. Bukankah benar begitu Makerti?”

Makerti menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia mengangguk sambil menjawab, seolah-olah di luar sadarnya, “Ya, ya guru”

Tetapi dalam pada itu Gemak Werdi beringsut sambil berkata, “Bukan itu saja guru. Yang penting adalah sikapnya yang telah menyinggung perguruan kita”

Gurunya masih tertawa. Katanya, “Jangan hiraukan Gemak Werdi. Bagi kita anak muda itu tidak terlalu berharga untuk diperhitungkan dari segi olah kanuragan. Aku melihat kepura-puraannya tetapi yang karena maksud baiknya, ia telah menyatakan dirinya”

Gemak Werdi menjadi semakin heran mendengar kata-kata gurunya. Seolah-olah ia justru telah memuji anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu, meskipun penilaiannya atas kemampuan kanuragan atas anak muda itu sangat rendah.

Tetapi dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun merasa sentuhan itu. Ia menjadi semakin ketat menjaga perasaannya. Ketajaman nalarnya telah mulai melihat, dari arah mana guru Gemak Werdi itu akan mulai menegurnya. Mungkin dengan halus, tetapi pada suatu saat, akan dapat pula terjadi kekerasan.

Dalam pada itu, guru Gemak Werdi itu pun berkata selanjutnya, “Anak muda, jangan takut. Aku tidak akan marah”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia semakin berhati-hati agar ia tidak dihanyutkan oleh perasaannya.

Selangkah guru Gemak Werdi itu maju sambil tersenyum. Katanya, “Kemarahan tidak akan ada artinya apa-apa bagiku selain mendatangkan penyesalan, karena sentuhan kemarahanku atasmu anak muda, akan membuat kau pingsan dan bahkan mungkin jantungmu akan berhenti berdetak”

Mahisa Bungalan mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia memaksa dirinya untuk mengangguk sambil berkata, “Terima kasih Kiai. Sejak aku masuk ke halaman padepokan, aku memang sudah menjadi gemetar. Sekarang mendengar bahwa Kiai tidak marah, itu membuatku diriku menjadi sedikit menjadi tenang”

Guru Gemak Werdi mengerutkan keningnya. Sementara Mahisa Bungalan bertanya, “Ampun. Kiai. Jika demikian bukankah berarti bahwa tidak ada perasaan apa-apa lagi antara aku dan Gemak Werdi?”

Orang itu termangu-mangu. Sejenak ia tertegun diam melihat Sikap Mahisa Bungalan. Ternyata anak itu dapat menahan perasaannya, sehingga ia dapat menjaga sikap dan kata-katanya. Namun ia juga mempunyai dugaan lain, bahwa Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang dungu, yang sama sekali tidak mengetahui maksudnya.

Untuk meyakinkan diri maka guru Gemak Werdi itu berkata, “Ya, ya anak muda. Memang tidak ada perasaan apa-apa lagi antara kau dan Gemak Werdi, karena Gemak Werdi mengerti, bahwa kau sama sekali tidak menyadari apa yang lelah kau lakukan. Bahwa kau dalam hal ini memang tidak berpura-pura, tetapi benar-benar karena tidak mengerti bahwa tingkah lakumu itu menimbulkan gelak tertawa. Untunglah bahwa Gemak Werdi mengerti sepenuhnya apa yang dihadapinya sehingga ia tidak mengambil sikap apapun terhadapmu. Ia meninggalkan kau dalam kebanggaanmu, untuk menjaga agar kau tidak terjerumus ke dalam kekecewaan”

Perasaan Mahisa Bungalan benar-benar menjadi sakit. Ketika ia berpaling memandang Makerti, maka nampak Makerti sedang berpikir. Ia pun telah menyadari, gurunya telah menggelitik perasaan Mahisa Bungalan, sehingga ia pun mulai menyadari, arah yang akan dilalui oleh gurunya.

Tetapi ternyata bahwa Mahisa Bungalan yang muda itu masih dapat menahan hati. Sekali lagi ia mengangguk dalami sambil berkata, “Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih Kiai bahwa Gemak Werdi tidak mengambil sikap apapun terhadapku sehingga aku tidak mendapat malu di hadapan orang banyak”

Gegak Werdi yang mulai mengetahui cara gurunya mengungkat agar Mahisa Bungalan tergetar mendengar jawaban itu. Agaknya Mahisa Bungalan tidak terbakar karenanya.

Justru karena, itu, hati guru Gemak Werdi lah yang mulai menjadi hangat justru karena sikap rendah hati Mahisa Bungalan. Guru Gemak Werdi itu pun menjadi heran. Anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu sama sekali tidak merasa tersinggung. Bahkan anak itu justru mengucapkan terima kasih kepadanya. Namun dalam pada itu, ternyata sesuatu telah terjadi di luar dugaan Mahisa Bungalan. Di saat ia berjuang untuk mempertahankan keseimbangan jiwanya, tiba-tiba saja telah muncul seorang gadis dalam pakaian yang tidak biasa dipergunakan oleh gadis-gadis padukuhan.

“Ayah” berkata gadis itu, “aku tidak sabar menunggu lagi. Anak muda itu ternyata sangat dungu, sehingga ia sama sekali tidak mengetahui maksud ayah. Ia sama sekali tidak merasa tersinggung kehormatannya. Bahkan ia sempat mengucapkan pujian atas sikap kakang Gemak Werdi. Bukankah itu suatu kedunguan yang tidak ada taranya? Apakah ayah akan membiarkannya berdiri di atas sikapnya yang dungu itu?”

Guru Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ada dua hal yang menarik hatiku pada anak muda itu”

“Sudahlah ayah. Sebaiknya kita berterus terang. Ayah merasa tersinggung atas sikapnya yang telah merendahkan kakang Gemak Werdi. Ia sudah menghalang-halangi kakang Gemak Wardi melakukan tugas kemanusiaan. Lebih daripada itu, padepokan ini merasa tersinggung, seolah-olah memerlukan pertolongannya. Karena itu, kita, seisi padepokan ini akan meyakinkan kepada anak muda itu, bahwa ilmu yang ada di padepokan ini tidak kalah dari ilmu di perguruan manapun juga. Juga tidak kalah dari ilmu yang dipunyai oleh anak muda yang ternyata bernama Mahisa Bungalan itu”

Hati Mahisa Bungalan menjadi semakin berdebar-debar. Sementara gadis itu berkata terus, “Sekarang, lekas katakan kepadanya, bahwa akulah yang akan menunjukkan bahwa padepokan ini tidak dapat direndahkan. Tidak usah kakang Gemak Werdi. Aku, seorang gadis yang lebih muda dari kakang Gemak Werdi akan dapat membuktikan bahwa siapa pun harus mengakui kemampuan ilmu dari padepokan ini”

Guru Gemak Werdi menjadi berdebar-debar pula. Ia tidak mempunyai pilihan lain daripada memenuhi permintaan anak gadisnya, karena ia memang sudah mempersiapkannya sebelumnya. Namun demikian, anak Muda itu benar-benar telah menarik perhatiannya, sehingga katanya, “Baiklah. Kau berhak meyakinkan tamu kita akan tingkat kemampuan padepokan ini, “Lalu katanya kepada Mahisa Bungalan, “ Mahisa Bungalan, seperti yang aku katakan, anak gadisku akan memberimu keyakinan kemampuan ilmu yang dimilikinya. Sekedar meyakinkan. Bukan maksudku untuk menghukummu, karena kau tidak melakukan kesalahan yang sungguh-sungguh atas muridku Gemak Werdi.”

Tetapi sekali lagi orang-orang yang ada di pendapa itu terkejut. Mahisa Bungalan mengangguk hormat sambil berkata, “Kiai, tanpa perbuatan apapun, aku sudah yakin, bahwa ilmu yang ada di padepokan ini tidak kalah dari tingkat ilmu di manapun juga.

Gemak Werdi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menggeletakkan giginya. Namun yang menjawab adalah gadis itu, “Keyakinanmu tidak meyakinkan aku. Kau sudah benar-benar yakin, atau kau telah dihinggapi oleh perasaan takut melihat kenyataan yang ada di sini sekarang. Meskipun kau belum melihat sesuatu, suasana di padepokan ini telah membuatmu gemetar.

Sekali lagi semuanya terkejut mendengar jawaban Mahisa Bungalan, “Aku sudah gemetar sejak aku berada di perjalanan. Semakin dekat dengan gerbang padepokan ini, aku menjadi semakin ketakutan. Tetapi aku memaksa diriku bersama Ki Makerti untuk datang juga ke padepokan ini karena aku ingin memberikan keterangan agar persoalan yang terjadi itu tidak berlarut-larut”

Gemak Werdi menjadi tidak sabar lagi. Dengan lantang ia berkata, “Guru. Lihatlah. Bukankah itu bukan lagi suatu sikap rendah bati. Tetapi itu justru merupakan kesombongan yang tiada taranya. Ia menganggap perguruan ini tidak bernilai sama sekali untuk dilayani”

Tetapi gurunya justru tertawa. Katanya, “Pendapatmu ada juga benarnya Gemak Werdi. Karena itu, aku tetap pada pendirianku, bahwa Mahisa Bungalan harus mengalami suatu sentuhan peristiwa yang akan meyakinkannya, bahwa perguruan ini adalah perguruan yang patut dihormatinya Melawan atau tidak melawan ketenutan ini akan berlaku. Ukuran batas kesakitan yang akan dialaminyalah yang akan menentukan, apakah ia benar-benar sudah yakin tentang kemampuan perguruan ini”

“Kiai” desis Mahisa Bungalan.

Tetapi guru Gemak Werdi memotongnya, “Tidak ada perosalan lagi yang akan kita bicarakan. Bersiaplah. Kau akan menghadapi anak gadisku di arena”

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Namun ia pun menyadari, betapapun penilaian guru Gemak Werdi atasnya, namun ada juga sikap sombong pada orang itu. Ia mempercayakan nama perguruannya kepada anak gadisnya.

Namun, Mahisa Bungalan pun menjadi berdebar-debar. Jika tidak ada kelebihannya, tentu bukan gadis itulah yang ditunjuk oleh gurunya untuk meyakinkannya, bahwa perguruan Kenaga itu adalah perguruan yang memiliki kemampuan tidak kalah dengan perguruan lainnya.

“Bersiaplah anak muda” berkata guru Gemak Werdi itu, “turunlah ke halaman, supaya kau tidak diseret oleh cantrik-cantrik yang akan menonton perkelahian yang akan berlangsung dengan jujur di halaman”

Mahisa Bungalan memandang Makerti sejenak. Namun agaknya Makerti tidak mempunyai pilihan apapun juga, sehingga karena itu, ia pun telah mengangguk kecil. Betapapun segannya, namun Mahisa Bungalan harus turun pula ke halamam. Sejenak ia memandang Gemak Werdi. Tetapi anak muda itu memalingkan wajahnya, seolah-olah ia tidak dapat menahan tatapan mata Mahisa Bungalan yang mengejeknya, bahwa justru seorang gadis yang harus meyakinkan kepadanya, bahwa perguruan Kenanga adalah perguruan pantas dihormati.

Ketika mereka telah berada di halaman, beberapa orang cantrik pun ikut pula berkerumun. Mereka berdiri dalam sebuah kelompok di sudut, sementara Gemak Werdi dan gurunya berdiri di sebelah mereka. Makerti dengan wajah yang tegang berada di sisi yang lain, sementara anak gadis yang akan bertanding dengan Mahisa Bungalan telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Mahisa Bungalan berdiri termangu-mangu. Ketika tanpa di sadari ia memandang wajah gadis itu, tiba-tiba saja tersirat sesuatu di hatinya. Wajah gadis itu nampak secerah matahari di langit. Sinar matanya bagaikan berpendar dalam pelupuknya. Tetapi Mahisa Bungalan menjadi tersipu-sipu ketika ia menyadari bahwa ia sudah berdiri di arena yang ditonton oleh beberapa pasang mata.

“Nah, anak muda” berkata guru Gemak Werdi, “bersiaplah. Kau akan mengalami perlakuan yang mungkin tidak kau senangi. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, aku tidak ingin menghukummu. Aku hanya ingin meyakinkan, bahwa kau tidak akan dapat menganggap perguruan ini per-guruan yang tidak masuk dalam hitungan”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi dengan gerak naluriah, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya. Sepercik keseganan telah menghambatnya untuk melayani gadis itu di arena. Hampir saja ia mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan padepokan itu betapapun ia harus menanggung malu.

Namun tiba-tiba terbayang wajah ayahnya dan kedua adik-adiknya, seolah-olah memberikan kesadaran kepadanya, bahwa ia tidak berdiri seorang diri. Jika orang-orang padepokan itu dengan harga diri yang tinggi tidak mau tersinggung oleh sikap yang mereka anggap merendahkan martabat mereka, maka apakah Mahisa Bungalan akan mengorbankan nama perguruannya dengan membiarkan dirinya mendapat malu.

“Ayahku adalah Mahendra” geram Mahisa Bungalan, “aku pernah berguru kepada ayah, kepada paman Witantra yang kebetulan memiliki arus ilmu yang sama dengan ayah, Tetapi aku juga pernah mendapat banyak petunjuk dari paman Mahisa Agni. Apakah dengan demikian aku akan membiarkan nama mereka tercemar disini, bahwa murid Mahendra yang kebetulan adalah ayahku sendiri, murid Witantra dan Mahisa Agni, tidak mampu berbuat sesuatu di sebuah perguruan yang terasing?”

Tiba-tiba saja darah Mahisa Bungalan bagaikan menjadi hangat Keragu-ragunya tiba-tiba telah lenyap meskipun ia masih tetap melihat seorang gadis cantik yang berdiri di arena.

Perubahan yang terjadi di dalam diri Mahisa Bungalan, agaknya telah membayang di wajahnya. Guru Gemak Werdi yang memperhatikan gerak jiwa Mahisa Bungalan itu mengerutkan keningnya. Kini ia melihat anak muda itu yang sebenarnya. Mahisa Bungalan nampaknya tidak lagi berusaha mengekang perasaannya, sehingga ia benar-benar akan berdiri di arena sebagaimana dirinya.

Guru Gemak Werdi itu termangu-mangu sejenak. Anak muda yang mulai berdiri tegak itu telah mendebarkan jantungnya. Kaki Mahisa Bungalan yang merenggang, dan punggungnya yang tidak membungkuk-bungkuk lagi, tatapan matanya yang pasti dan tangannya yang tidak lagi tergantung lemas di sisi tubuhnya, membayangkan bahwa Mahisa Bungalan memang seorang anak muda yang berilmu tinggi.

Meskipun demikian, guru Gemak Werdi itu masih tetap yakin akan anak gadisnya. Ia tahu pasti, bahwa anak gadisnya memiliki ilmu melampaui Gemak Werdi dan Makerti. Seluruh kemampuan yang ada padanya telah dialirkan ke dalam perbendaharaan ilmu gadis itu. Meskipun ia sadar, bahwa gadis itu masih harus- mematangkannya di dalam perjalanan hidupnya, tetapi tidak ada seorang anak muda pun yang menyimpan bekal sebanyak anak gadisnya menurut perhitungannya.

“Ia adalah aku sendiri” berkata guru Gemak Werdi itu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, gadis itu pun telah bersiap sepenuhnya. Setapak ia bergeser. Wajahnya masih tetap cerah. Dipandanginya Mahisa Bungalan dengan tatapan matanya yang tajam.

Namun, ada sesuatu yang kurang pada gadis itu menurut Mahisa Bungalan. Dari sikap, tatapan matanya dan senyum di sudut bibirnya, Mahisa Bungalan dapat membaca, bahwa gadis itu mendapat petunjuk yang salah dari ayahnya. Ayahnya tentu memberitahukan kepada gadis itu, bahwa tidak ada orang lain yang mampu mengimbanginya. Apalagi anak-anak muda yang sebaya. Itulah sebabnya, maka nampaknya gadis itu kurang berhati-hati.

Meskipun demikian Mahisa Bungalan tidak mau menganggap gadis itu lebih lemah daripadanya. Ia tetap berhati-hati dan selalu berusaha menguasai diri dan perasaannya, betapapun ia menyadari nama perguruannya tidak harus dikorbankan.

Sikap gadis itu ternyata kemudian pada langkah-langkah berikutnya. Dengan kurang berhati-hati ia mengulurkan tangannya menyerang Mahisa Bungalan, seolah-olah seperti ingin menyentuh sebarang tonggak mati.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Ia harus memperingatkan bahwa sikap itu sama sekali tidak menguntungkanya. Jika Mahisa Bungalan salah langkah, maka akan sangat berbahaya bagi gadis itu sendiri. Karena itu, dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang maka Mahisa Bungalan sama sekali tidak bergerak. Ia membiarkan tangan gadis itu menyentuh tubuhnya seperti yang dikehendaki.

Justru karena Mahisa Bungalan tidak berkisar sama sekali, maka gadis yang menyerangnya itu pun terkejut. Tetapi ia tidak dapat menarik serangannya, Karena tangannya itu pun telah menyentuh tubuh Mahisa Bungalan yang berdiri tegak seperti patung.

Sentuhan itu benar-benar telah membangunkan gadis itu dari dugaan yang salah tentang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu. Ia sama sekali tidak membayangkan, bahwa Mahisa Bungalan memiliki daya tahan yang luar biasa. Meskipun gadis itu sudah menduga, bahwa Mahisa Bungalan memiliki kelebihan dari Gemak Werdi, namun ia sama sekali tidak mengira, bahwa jarak (?) itu telah membuatnya menjadi berdebar-debar.

Karena itulah, maka gadis itu pun menjadi sangat berhati-hati. Ia mulai membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu menghadapi Mahisa Bungalan.

Guru Gemak Werdi itu pun terkejut bukan buatan. Ia melihat anaknya menyerang. Ia menjadi bingung melihat sikap Mahisa Bungalan yang sama sekali tidak menghiraukan serangan itu. Namun kemudian, ia pun menyadari, bahwa Mahisa Bungalan memiliki kelebihan yang harus diperhitungkan dengan bersungguh-sungguh.

Sejenak kemudian, maka gadis itu pun telah bersiap. Ia tidak lagi menganggap Mahisa Bungalan anak muda yang sekedar berbangga karena kelebihan-kelebihan kecil dari orang lain. Tetapi ia kini menganggap bahwa Mahisa Bungalan benar-benar lawan yang cukup berat.

Sejenak keduanya masih saling berpandangan, seolah-olah masing-masing masih ingin mengetahui kemampuan lawannya. Namun sejenak kemudian, gadis padepokan Kenaga itu pun segera meloncat menyerang dengan kakinya yang terjulur lurus.

Mahisa Bungalan menyadari, bahwa serangan yang berikut ini bukannya sekedar gerakan yang tidak berarti. Karena itulah maka ia tidak membiarkan dirinya disentuh lagi oleh serangan itu.

Dengan cepat Mahisa Bungalan bergeser sambil memiringkan tubuhnya Namun ternyata bahwa ia tidak hanya sekadar ingin menghindar. Ketika kaki lawannya masih terjulur lurus tanpa menyentuhnya, maka Mahisa Bungalan dengan cepat pula telah memukul pergelangan kaki gadis itu.

Gadis itu sama sekali tidak menyangka bahwa Mahisa Bungalan akan menyerang pergelangan kakinya. Karena itu, gerakan yang sederhana dan tiba-tiba itu kurang diperhatikannya. Namun tiba-tiba saja terasa pergelangan kakinya disengat oleh perasaan sakit.

“Gila” ia bergumam. Selangkah ia meloncat mundur. Tetapi ia pun segera bersiap menghadapi serangan Mahisa Bungalan yang menyusulnya.

Mahisa Bungalan ternyata telah memburunya. Lebih cepat dari loncatan lawannya. Karena itu, maka demikian kaki lawannya menyentuh tanah, maka kaki Mahisa Bungalan pun telah menginjak jari-jarinya.

Ada niat Mahisa Bungalan mendorong lawannya di saat kakinya sedang terinjak. Dengan demikian, maka keseimbangan lawannya tentu akan terganggu. Bahkan jika Mahisa Bungalan menghantamnya dengan serangan sikunya, maka lawannya tentu akan jatuh terguling di arah kaki yang terinjak itu.

Tetapi ternyata Mahisa Bungalan tidak berbuat demikian. Meskipun tangannya telah bergerak, namun ia mengurungkan niatnya dan bahkan ia pun telah meloncat menjauh.

Yang dilakukan oleh Mahisa Bungalan itu benar-benar telah mendebarkan jantung guru Gemak Werdi Ia melihat anak gadisnya seolah-olah dihadapkan pada suatu ilmu yang tidak dapat dimengertinya. Demikian cepat, sederhana tetapi kadang-kadang aneh sekali.

“Anak itu akan dapat bertempur menyabung nyawa dengan benturan-benturan kekerasan. Tetapi dengan permainan itu, ia menjadi bingung” berkata guru Gemak Werdi itu dalam hatinya.

Tetapi agaknya bukan saja guru Gemak Werdi itulah yang berpikir demikian. Gadis itu sendiri menganggap bahwa gerakan yang aneh dari lawannya itu hanya mungkin dilakukan, karena ia belum bertempur dengan kemampuannya yang utuh.

Itulah sebabnya, maka gadis itu telah merubah sikapnya. Jika semula ia hanya ingin meyakinkan Mahisa Bungalan, bahwa perguruan itu pun mempunyai kemampuan yang cukup untuk menghadapi orang-orang lain dari luar padepokan, maka kemudian gadis itu di luar sadarnya telah bertekad untuk bertempur dengan segala kemampuan yang ada padanya.

Sejenak kemudian, maka gadis itu pun benar-benar telah mempersiapkan diri. Ia tidak mau mengekang diri lagi Karena itulah, maka ia pun kemudian memusatkan segenap kemampuannya untuk melawan Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar melihat sikap gadis itu. Agaknya ia benar ingin bersungguh-sungguh. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, gadis itu ingin mengalahkan lawannya.

Selagi Mahisa Bungalan menilai lawannya, maka dengan serta merta gadis itu telah menyerangnya. Sebuah patukan jarinya yang lurus mengembang mengarah ke pundak. Demikian cepat dan kerasnya, sehingga Mahisa Bungalan terpaksa meloncat surut.

Tetapi serangan itu tidak terhenti. Sambil meloncat maka gadis itu telah menyerang pula dengan tangannya yang lain dengan cara yang sama, sehingga Mahisa Bungalan terpaksa undur selangkah lagi. Namun pada saat itulah gadis itu berputar. Kakinya dengan derasnya telah menyambar lambung Mahisa Bungalan.

“Bukan main” desis Mahisa Bungalan. Gadis itu mampu bergerak cepat sekali. Namun Mahisa Bungalan masih dapat bergerak lebih cepat, sehingga serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Namun serangan beruntun yang dilakukan demikian cepatnya, tetapi tanpa menyentuh lawannya itu benar-benar telah memberikan gambaran, siapakah sebenarnya lawan gadis itu. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, maka lawannya masih saja beringsut dan bergeser. Nampaknya Mahisa Bungalan masih belum bersungguh-sungguh.

Pada saat yang demikian itu, barulah ayah gadis itu menyadari Ia terlalu tergesa-gesa mengambil sikap hanya sekedar memperhitungkan keterangan muridnya. Kini setelah ia dihadapkan pada kenyataan itu, maka ia pun menyesal telah melibatkan anak gadisnya ke dalam persoalan yang sebenarnya bukan persoalan yang sederhana.

Beberapa saat kemudian ia masih mengamati anak gadisnya yang bertempur. Serangannya benar-benar datang membadai dengan tingkat tertinggi ilmu padepokan Kenanga. Kaki gadis itu bagaikan tidak berjejak di atas tanah, Demikian ringan tubuhnya, seperti kapas yang dipermainkan angin pusaran.

Tetapi jantungnya bagaikan berdetang semakin cepat Dalam serangan yang membadai itu, lawan anak gadisnya masih saja mampu menghindarinya dengan langkahi yang nampaknya sederhana.

“Gila” geram ayah gadis itu, “ilmu iblis manakah yang disadapnya”

Jantungnya bagaikan semakin cepat berdentang ketika ia melihat Mahisa Bungalan mulai membalas dengan serangan-serangan. Agaknya anak muda itu akhirnya tidak ingin menjadi sasaran tanpa berbuat sesuatu. Pada kesempatan yang terbuka, maka mulailah Mahisa Bungalan dengan serangannya.

Adalah mengejutkan sekali bagi gadis itu, bahwa tiba-tiba saja punggungnya telah tersentuh sisi telapak tangan Mahisa Bungalan, meskipun tidak dengan sepenuh tenaga, justru pada saat gadis itu meloncat menyerang. Agaknya dengan kecepatan yang tidak dapat diimbanginya, Mahisa Bungalan telah menghindar kesamping dan sebuah ayunan tangannya telah memukul gadis itu dari belakang.

Tetapi daya dorong tangan Mahisa Bungalan tidak menyebabkan gadis itu jatuh terjerembab. Meskipun sesaat, keseimbangan gadis itu terganggu. Namun sejenak kemudian ia berhasil memperbaiki keadaannya.

Pada saat yang demikian Mahisa Bungalan sudah siap untuk meloncat menyerang pundak gadis itu. Tetapi tiba-tiva saja terpandang wajahnya yang cantik dan lembut, sehingga di luar sadarnya ia telah mengurungkan niatnya.

Justru pada saat itu, lawannya telah menyerangnya selagi Mahisa Bungalan termangu-mangu. Kaki gadis itu terjulur lurus mengarah ke lambungnya.

Namun seakan-akan gerak Mahisa Bungalan telah luluh dengan gerak naluriahnya. Meskipun ia tidak menyadari sepenuhnya, namun ia telah bergeser mengelak. Bahkan di luar kehendaknya, Mahisa Bungalan lah menangkap kaki gadis itu.

Mahisa Bungalan telah siap mengangkat kaki gadis itu, dan kemudian dengan kakinya menebas kaki gadis itu yang lain, sehingga dengan demikian gadis itu tentu akan jatuh, sementara dengan putaran pada pergelangan kaki dan lipatan yang mapan, maka Mahisa Bungalan akan dapat menguasai lawannya. Hanya dengan gerak yang cepat dan tidak terduga, serta dilambari dengan kekuatan jasmaniah yang sangat besar sajalah maka tu akan dapat melepaskan diri.

Namun ternyata tangkapan Mahisa Bungalan pada kaki gadis itu, telah mengejutkan lawannya, sehingga di luar sadarnya gadis itu terpekik.

Mahisa Bungalan pun terkejut. Justru karena ia tetap sadar bahwa lawannya adalah seorang gadis, maka tiba-tiba saja ia telah melepaskan tangkapannya pada kaki gadis itu dan dengan serta meloncat surut.

Gadis itu terhuyung-huyung sejenak. Namun kemudian wajahnya menjadi merah padam. Ada sentuhan pada perasaannya sebagai seorang gadis. Jika Mahisa Bungalan benar-benar melontarkan kakinya dan menjatuhkannya dalam tangkapan kaki, maka tentu jantungnya akan berhenti mengalir. Bukan karena perkelahian itu, tetapi adalah karena ia seorang gadis, sedangkan lawannya adalah seorang anak muda. Mereka berdua masih belum dibatasi oleh dendam dan pandangan yang gelap karena persoalan yang bersungguh-sungguh, yang benar-benar telah membunuh perasaan dasar mereka.

Melihat sikap gadis itu, maka Mahisa Bungalan menjadi ragu-ragu. Dengan demikian, maka pertempuran itu pun tiba-tiba saja telah terhenti.

Yang terjadi semuanya itu tidak lepas dari pengawasan ayah gadis itu. Ia melihat betapa anak gadisnya mengalami kesulitan, bukan saja di arena perkelahian. Tetapi nampaknya ia juga mengalami kesulitan perasaan justru karena sikap Mahisa Bungalan.

Namun hal itu agaknya telah menyinggung perasaannya. Di samping penyesalannya karena ia telah melibatkan anak gadisnya yang sedang meningkat dewasa itu, ia pun menyesal, bahwa dengan demikian, maka niatnya untuk menunjukkan kelebihan dari perguruannya telah menjadi kabur karena ternyata anaknya tidak mampu mengimbangi tingkat ilmu anak muda itu.

“Anak muda itu harus mendapat peringatan yang sungguh-sungguh” berkata ayah gadis itu di dalam hatinya. Karena itu, maka agar nama perguruannya tidak menjadi semakin lemah di mata Mahisa Bungalan, ayah gadis itu pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Cukup. Cukup buat kalian. Selanjutnya, biarlah aku sendiri yang mengurus anak muda itu”

Semua orang terkejut atas keputusan itu. Bahkan Makerti telah bergeser sambil berdesis, “Guru. Guru sendiri yang akan melakukannya?”

Guru Makerti itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Makerti sejenak. Kemudian Mahisa Bungalan yang termangu-mangu. Katanya kemudian, “Ya. Aku akan menunjukkan bagaimana seharusnya ia menghormati perguruan ini. Ternyata anak gadisku mempunyai pertimbangan tersendiri. Ia telah dibebani perasaan belas kasihan kepada anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu, sehingga ia tidak dapat berbuat seperti yang aku katakan kepadanya, agar ia meyakinkan anak muda itu, bahwa perguruan ini bukannya perguruan yang lemah dan mengharapkan belas kasihannya”

Mahisa Bungalan menjadi termangu-mangu. Ia melihat sorot mata yang dalam pada orang tua itu. Menilik sikap dan geraknya, menilik ketajaman ilmu yang dilontarkannya di tempat ia menginap, dan menilik kata-katanya, maka ia tentu akan melakukan seperti yang dikatakannya. Dan ia pun tentu benar-benar memiliki kemampuan yang mengagumkan.

Tetapi Mahisa Bungalan pun kemudian kembali kepada kesadarannya, bahwa ia tidak berdiri atas namanya sendiri. Tetapi ia berdiri atas nama perguruannya pula. Itulah sebabnya, maka ia pun segera mempersiapkan diri. Ketika guru Gemak Werdi itu melangkah ke arena, maka ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi sekali lagi Mahisa Bungalan tertarik kepada sikap gadis yang baru saja melawannya. Demikian ia bergeser dan arena, maka tatapan matanya yang tajam menyala itu pun segera menjadi luluh. Wajahnya tidak lagi terangkat dengan carikan di ujung bibirnya. Tetapi wajah itu menjadi agak menunduk.

“Apakah ia mengalami perubahan perasaan atau kekecewaan yang mempengaruhi sikapmu?” pertanyaan itu tumbuh di hati Mahisa Bungalan, “ atau barangkali ia memang hidup di atas dua dunia yang berbeda”

Tetapi Mahisa Bungalan tidak dapat berangan-angan terus. Tiba-tiba saja guru Gemak Werdi itu berkata menghentak, “Bersiaplah. Aku ingin menunjukkan kepadamu, bagaimana kau harus menghormati kami disini”

Mahisa Bungalan mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun bergeser sambil menyilangkan tangannya di dada.

Sejenak kemudian mereka masih saling berdiam diri. Ketika lawannya bergeser, Mahisa Bungalan pun bergeser pula. Namun sejenak kemudian, lawannya telah mulai menyerang. Tangannya terjulur lurus. Seperti sikap anak gadisnya maka jari-jarinya pun terkembang lurus mengarah ke dada.

Mahisa Bungalan tidak berani membiarkan lawannya menyentuhnya. Ia bergeser selangkah. Ia pun kemudian menjajagi kesikapan lawannya dengan serangan kaki.

Ternyata lawannya cukup cepat. Sebuah loncatan kecil telah membebaskannya dari garis serangan Mahisa Bungalan. Bahkan kemudian ia pun mulai meloncat dengan serangan yang lebih bersungguh-sungguh.

Mahisa Bungalan pun merasakan tekanan yang menjadi semakin berat. Ia sadar, bahwa lawannya menjadi semakin bersungguh-sungguh dalam perkelahian itu. Dengan demikian, maka itu pun telah meningkatkan pula perlawannya, untuk menyesuaikan diri agar ia tidak segera terdesak.

Sikap Mahisa Bungalan membuat lawannya menjadi semakin cepat bergerak. Bahkan lawannya mulai melepaskan unsur-unsur geraknya yang semakin rumit.

Tetapi, ia menjadi heran. Ketika ia sudah mulai pada tingkat ilmu yang lebih tinggi, anak muda itu masih tetap dapat mengimbanginya.

“Anak ini benar-benar anak aneh” gumamnya, “aku sudah berada pada tingkatan yang hampir sampai ke puncak ilmuku”

Sementara itu Mahisa Bungalan pun selalu berusaha untuk mempertahankan dirinya. Ia tidak mau mempertaruhkan nama ayahnya, nama pamannya Witantra dan nama Mahisa Agni. Itulah sebabnya, setiap tingkatan ilmu lawannya, diimbanginya pula dengan tataran yang lebih tinggi.

Akhirnya, guru Gemak Werdi mencoba untuk melepaskan beberapa unsur gerak tertinggi yang ada padanya. Ia pun tidak mau mempertaruhkan namanya. Apalagi ia sudah terlanjur terjun sendiri ke dalam arena perkelahian itu.

Ketika serangan lawannya datang semakin cepat, maka Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Apakah ia pun harus mengimbanginya. Dengan demikian, maka perkelahian itu semakin lama akan menjadi semakin bersungguh-sungguh.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak dapat membiarkan pundaknya disakiti, atau perutnya menjadi mual. Selebihnya ia harus tetap mempertahankan nama perguruannya. Dengan demikian, maka seperti yang diduga oleh Mahisa Bungalan, perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Beberapa unsur gerak tertinggi dari ilmunya, telah dilepaskan oleh guru Gemak Werdi. Namun ia masih belum dapat menguasai lawannya yang masih muda itu.

Karena itulah, maka hatinya menjadi semakin panas. Meskipun ia termasuk orang yang sudah cukup usia dan perasaannya pun cukup mengendap, namun digelitik oleh kenyataan, hatinya pun menjadi panas.

Beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat setiap gerak menjadi semakin cepat dan keras. Bahkan akhirnya, mereka melihat, keduanya telah benar-benar terlibat dalam perkelahian yang sengit.

Mahisa Bungalan tidak dapat menghindari kenyataan itu. Serangan lawannya datang bagaikan badai yang semakin dahsyat, sehingga ia pun telah sampai pula kepada ilmunya ditataran tertinggi.

“Anak gila” geram guru Gemak Werdi, “ternyata ia benar-benar mampu mengimbangi ilmuku. Ia berada pada tataran yang jauh lebih tinggi dari dugaanku”

Dengan demikian maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin meningkat. Guru Gemak Werdi itu pun kemudian telah dipengaruhi oleh perasaannya, sehingga pengekangan dirinya menjadi semakin mengendor.

Sementara itu justru Mahisa Bungalan lah yang masih selalu berusaha menguasai perasaannya. Ia masih dalam tingkat mengimbangi lawannya. Setiap kali lawannya meningkatkan tekanannya, maka Mahisa Bungalan pun meningkatkan pertahanannya pula.

Setelah bertempur untuk waktu yang cukup lama, tetapi tidak seujung jarinya pun yang sempat menyentuh kulit Mahisa Bungalan, maka hati lawannya pun menjadi mendidih pula karenanya. Di hadapan para murid dan cantrik di padepokan itu, ia harus menunjukkan bahwa ia adalah seorang guru yang mumpuni. Apalagi atas anak muda yang namanya masih belum dikenal itu. Karena itu, maka ketika segala usahanya untuk menguasai Mahisa Bungalan tidak berhasil, maka guru Gemak Werdi pun sampai pada puncak kemampuannya. Ia tidak lagi dapat mengekang diri menghadapi Mahisa Bungalan yang luar biasa.

Makerti, Gemak Werdi dan anak gadis yang telah menjajagi kemampuan Mahisa Bungalan itu pun menjadi berdebar-debar. Mereka melihat gurunya telah meningkatkan ilmunya sampai puncak tertinggi

“Apakah Mahisa Bungalan akan dapat bertahan lebih lama lagi” Berkata Makerti di dalam hatinya.

Namun sementara itu, Gemak Werdi yang. meskipun juga berdebar-debar, namun ia memang berharap bahwa Mahisa Bungalan akan melihat kenyataan, bahwa perguruannya adalah perguruan yang tidak dapat direndahkan.

Sementara itu, Mahisa Bungalan telah benar-benar terdesak. Lawannya telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Perguruan yang dinamainya Perguruan Kenanga itu benar-benar harus mempertahankan harga dirinya.

Mahisa Bungalan yang masih selalu mengekang dirinya, benar-benar telah terdesak. Bahkan, karena ia hanya berusaha untuk mengelak dan menghindar, akhirnya ia kehilangan kesempatannya.

Kecepatan bergerak lawannya telah mendorongnya pada Suatu keadaan yang tidak tertahankan lagi Ketika serangan lawannya di puncak ilmunya itu datang membadai, maka Mahisa Bungalan tidak lagi berhasil mengelakkan setiap serangannya.

Ketika Mahisa Bungalan mulai tersentuh tangan lawannya, maka terasa kulitnya menjadi pedih. Sentuhan-sentuhan yang mula-mula tidak terlalu keras. Tetapi yang semakin lama semakin terasa sakit. Bukan saja pada wadagnya, tetapi juga pada hatinya.

Ketika selintas Mahisa Bungalan melihat wajah-wajah yang tegang di pinggir arena, maka hatinya pun tergetar. Kesadaran dirinya pun menjadi semakin bergelora di dalam hatinya. Dan suatu tekad telah meledak diliatinya, “Aku tidak mau menjadi tontonan di sini”

Itulah sebabnya, maka Mahisa Bungalan pun kemudian benar-benar telah menempatkan diri sebagai lawan dalam sebuah perang tanding”

Sikapnya yang terpancar dari tekad yang pasti itu telah mengejutkan lawannya pula. Nampaknya anak muda itu menjadi semakin garang dan semakin keras.

Sambil menggeram Mahisa Bungalan pun meloncat dalam kesiagaan sepenuhnya. Ia tidak lagi sekedar menghindar dan mengelaki Ia tidak mau disakiti oleh lawannya, dan ia tidak mau menjadi tontonan karena pimpinan perguruan itu ingin menunjukkan kelebihannya di hadapan orang-orangnya.

Yang terjadi kemudian adalah sebuah pertempuran yang sangat dahsyat. Betapapun tinggi ilmu guru Gemak Werdi, namun yang dihadapinya adalah Mahisa Bungalan. Meskipun masih muda, tetapi Mahisa Bungalan adalah perasan dari ilmu yang tiada taranya. Ia adalah orang yang pernah membunuh pimpinan tertinggi di Mahibit yang menentang pemerintahan Singasari.

Karena itu, maka pertempuran itu pun telah menyala dengan dahsyatnya. Bagaimana pun juga, akhirnya kemarahan Mahisa Bungalan pun telah digelitik oleh kedaan, seolah-olah ia telah dihadapkan pada seorang yang dapat menentukan apa saja atas dirinya.

Guru Gemak Werdi benar-benar terkejut menghadapi kenyataan itu. Tetapi ia pun tidak dapat melangkah surut. Ia sudah bertekad untuk menunjukkan kelebihan perguruannya, namun lawannya pun telah bertekad untuk mempertahankan harga dirinya.

Pertempuran yang semula terjadi dalam batas yang sempit itu pun telah bergeser. Semakin lama semakin luas. Langkah mereka menjadi semakin panjang, dan kekuatan yang terlontar pun menjadi semakin besar.

Hempasan serangan Mahisa Bungalan seolah-olah telah menimbulkan angin pusaran. Setiap sentuhan serangan lawannya, telah dibalasnya pula. Setiap kali keduanya telah terlihat dalam putaran yang membingungkan.

Namun ternyata bahwa maksud guru Gemak Werdi untuk menunjukkan harga diri padepokannya itu semakin lama justru menjadi semakin kabur. Meskipun orang terpenting di padepokan itu telah turun ke arena, namun yang dihadipinya benar-benar seorang yang tiada taranya.

Dalam beberapa benturan yang kemudian terjadi, maka keduanya mulai dapat mengerti, kekuatan yang sebenarnya dari kedua belah pihak. Karena itulah, maka guru Gemak Werdi itu pun tidak akan dapat mengelakkan diri dari kenyataan, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang berkekuatan raksasa.

Tetapi harga diri orang tua itu tidak mau menjadi semakin parah menghadapi Mahisa Bungalan. Ia benar-benar telah mengerahkan puncak ilmunya dan bahkan kemudian segenap tenaga cadangan yang dapat dihimpunnya. Tenaga yang justru mempunyai kekuatan berlipat dari kekuatan wajarnya.

Itulah sebabnya kemudian di arena itu bagaikan telah bertiup badai yang dahsyat mengguncang dedaunan dan dahan-dahan.

Orang-orang yang semula berada di sekitar arena itu pun telah berpencaran. Mereka berloncatan menjauh ketika langkah-langkah kedua orang yang bertempur itu menjadi semakin panjang. Bahkan mereka kemudian tidak lagi menghiraukan tanaman di halaman. Pohon bunga soka dan ceplok piring telah berserakkan rata dengan tanah. Bahkan pohon kemuning di pinggir halaman Itu pun telah rontok, bukan saja bunganya, tetapi juga daunnya. Dahan-dahannya pun berparahan dan berjatuhan di tanah.

Benturan demi benturan tidak dapat dielakkan. Serangan yang dahsyat saling berbenturan.

Betapapun juga orang tua itu mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia tidak dapat memaksa anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu menjadi lumpuh. Bahkan anak muda itu pun semakin lama justru menjadi semakin garang.

Mahisa Bungalan yang berjuang bukan saja membebaskan diri dari serangan lawan, tetapi juga bertahan untuk tidak hanyut oleh arus perasaannya, lambat laun menjadi semakin panas pula darahnya, Ia masih jauh lebih muda dari guru Gemak Werdi itu, sehingga karena itu, maka jika orang tua itu tidak lagi mampu mengekang diri, apalagi Mahisa Bungalan yang muda.

Ternyata bahwa guru Gemak Werdi memang memiliki pengalaman yang luas dalam olah kanuragan, sesuai dengan umurnya. Namun demikin, Mahisa Bungalan yang muda itu agaknya tidak pula kalah dalam pengalaman. Mahisa Bungalan adalah anak muda yang sudah terbiasa berpetulang. Melihat daerah yang jauh dan menempuh perjalanan yang gawat. Sudah banyak lawan yang dihadapinya, sehingga sudah banyak pula ilmu yang dikenalnya.

Itulah sebabnya, maka ketika ia tidak lagi dapat menguasai dirinya, maka ia pun telah melepaskan segenap tenaga cadangan yang ada padanya pula.

Benturan ilmu tertinggi itu telah membuat padepokan kecil itu bagaikan berguncang.

Dengan marah guru Gemak Werdi telah mempergunakan segenap kekuatan yang ada menyerang dada Mahisa Bungalan dengan kelima jarinya yang rapat terbuka. Namun Mahisa Bungalan masih sempat mengelak dengan loncatan kecil. Dengan cepat dan keras Mahisa Bungalan telah melontarkan serangan dengan kakinya yang berputar mendatar mengarah lambung. Tetapi lawannya pun sempat meloncat surut Dengan sekuat tenaga lawannya memukul pergelangan kaki Mahisa Bungalan. Namun Mahisa Bungalan tidak membiarkan kakinya kesakitan. Ia menarik kakinya dalam setengah putaran. Kemudian tiba-tiba saja ia melenting seperti seekor bilalang. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak sempat mengelak. Yang dapat dilakukannya adalah memiringkan tu-buhnya dan menangkis serangan itu dengan sikunya.

Benturan yang dahsyat tidak dapat dielakkan. Agaknya Mahisa Bungalan tidak lagi membatasi tenaganya. Karena itulah, maka lontaran tenaga sepenuh kekuatannya itu telah mendorong lawannya beberapa langkah.

Guru Gemak Werdi itu pun terhuyung-huyung karenanya. Hampir saja ia tidak berhasil menguasai keseimbangannya. Namun ketika Mahisa Bungalan memburunya, ia berhasil melenting beberapa langkah. Demikian kedua kakinya menjejaki tanah, maka ia pun telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Mahisa Bungalan yang memburunya telah melihat kesiagaan lawannya. Namun sekali lagi Mahisa Bungalan berusaha membenturkan kekuatannya. Sekali dengan sepenuh kekuatannya ia meloncat menyerang dengan kaki lurus mendatar.

Lawannya tidak mau membenturkan kekuatannya. Ia sempat mengelakkan, sehingga Mahisa Bungalan meluncur sejengkal disisinya. Namun pada saat itulah justru orang tua itu telah berusaha menyerang Mahisa Bungalan dengan hentakkan jarinya yang rapat mengembang pada lambungnya.

Mahisa Bungalan menggeliat, sehingga ia berhasil berkisar dari garis serangan lawannya. Namun lawannya sempat pula merubah arah tangannya sambil meloncat memburu.

Mahisa Bungalan lah yang kemudian tidak sempat mengelak. Tetapi ia menyadari serangan yang datang ke dadanya. Sambil menarik tubuhnya miring kekiri, ia memukul tangan lawannya. Tetapi ternyata lawannya sudah memperhitungkannya. Tangannya ditariknya, namun kemudian sikunyalah yang menyerang, justru kening Mahisa Bungalan.

Dengan sigap Mahisa Bungalan menahan serangan itu dengan tangan kirinya. Namun ternyata serangan itu sangar kuatnya, sehingga meskipun sudah dilambari dengan tangat kirinya, namun serangan itu berhasil menyentuh keningnya.

Serangan itu tidak membuat keningnya menjadi sakit, meskipun kepalanya terdorong sejengkal. Namun sentuhan itu membuat hati Mahisa Bungalan menjadi semakin panas. Itulah agaknya ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya. Sebelum lawannya menarik sikunya, maka Mahisa Bungalan telah meloncat ke samping mengambil ancang-ancang. Dengan kecepatan yang luar biasa, maka ia pun kemudian menghantam lawannya dengan punggung kepalan tangannya mendatar setinggi punggung.

Serangan itu begitu tiba-tiba. Lawannya berusaha untuk memiringkan tubuhnya dan menangkis serangan itu. Tetapi ia terlambat. Meskipun bukan punggungnya, tetapi pundaknyalah yang telah terhantam oleh kekuatan Mahisa Bungalan yang tiada taranya.

Lawannya itu pun menyeringai kesakitan. Bahkan sekali lagi ia terdorong ke samping. Selagi ia masih terhuyung-huyung, maka kaki Mahisa Bungalan sekali lagi bergeser, menghantam paha lawannya dari samping.

Orang tua itu tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. la tidak dapat ingkar lagi, bahwa ia harus jatuh berguling. Namun dengan sigapnya ia pun telah melenting berdiri dengan kesiagaan sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Namun pada saat itu pulalah datang serangan Mahisa Bungalan bagaikan badai menghantam gerumbul perdu di padang terbuka. Demikian dahsyatnya, sehingga lawannya yang sudah berada di puncak kemampuannya itu tidak mampu bertahan lagi. Kekuatan Mahisa Bungalan benar- kekuatan yang tidak terlawan. Meskipun Mahisa Bungalan belum mempergunakan puncak ilmu pamungkasan yang diterimanya dari ayahnya dan Mahisa Agni yang telah luluh dalam dirinya, namun ternyata bahwa lawannya, meskipun sudah tertahan oleh tangannya yang bersilang itu, telah melemparkanya beberapa langkah surut. Kemudian rasa-rasanya keseimbangannya pun telah lenyap sehingga ia pun kemudian berputar sekali dan jatuh terjerembab.

Yang terjadi itu benar-benar mengguncangkan dada setiap orang yang menyaksikan, terutama murid-murid dari perguruan Kenanga. Mereka harus melihat kenyataan, bahwa gurunya terjatuh dan dengan susah payah berusaha untuk bangkit.

Anak gadisnya yang berdiri termangu-mangu, tiba-tiba saja telah meloncat maju sambil berkata lantang, “Kau tidak dapat dimaafkan lagi”

Mahisa Bungalan tertegun. Apalagi ketika kemudian Gemak Werdi telah melangkah maju pula diikuti oleh beberapa orang cantrik. Bahkan yang mengguncangkan dada Mahisa Bungalan adalah justru Makerti telah berdiri menghadapinya pula sambil berkata, “Yang kau lakukan adalah sudah keterlaluan Mahisa Bungalan. Aku adalah muridnya, yang siap untuk menuntut balas”

Mahisa Bungalan berdiri tegak seperti patung. Namun ia mencoba untuk melihat kenyataan yang mengepungnya. Murid-murid dari perguruan Kenanga.

“Apaboleh buat” tiba-tiba saja ia menggeram, “aku bukan tontonan di sini Bukan pula sasaran untuk sekedar melepaskan kekecewaan karena kedunguan Gemak Werdi yang terjadi di Watan itu. Aku adalah Mahisa Bungalan yang juga mempunyai harga diri seperti kalian. Jika semuanya memang tidak dapat dicegah lagi, maka harga diriku adalah nyawaku”

Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan setiap dada. Apalagi ketika nampak oleh mereka sorot mata Mahisa Bungalan yang bagaikan memancarkan api Namun mereka pun berkata pula di dalam hati masing-masing, “Harga diriku juga bernilai seperti nyawaku”

Sejenak kemudian Mahisa Bungalan telah berdiri di dalam sebuah lingkaran. Para murid dari padepokan itu telah mengepung di tiga penjuru berdiri Gemak Werdi, Makerti dan anak gadis pimpinan padepokan Kenanga yang telah dijatuhkan oleh Mahisa Bungalan.

Dalam pada itu Mahisa Bungalan pun telah mempersiapkan dirinya. Ia tidak lagi mempunyai bermacam-macam pertimbangan. Bahkan ia pun tidak lagi berusaha mengekang diri seandainya sentuhan tangannya akan berakibat maut bagi siapa pun juga.

Setiap jantung pun terasa berdegup semakin cepat. Ketegangan menjadi semakin memuncak pula. Namun pada saat Mahisa Bungalan siap meloncat menyerang setiap orang yang mengepungnya, tiba-tiba terdengar suara dalam nada yang dalam, “Tunggu, tunggulah”

Semua orang tertegun. Ketika mereka kemudian berpaling, dilihatnya guru Gemak Werdi itu berdiri tertatih-tatih mendekati arena.

Mahisa Bungalan beringsut setapak. Ia menjadi curiga, bahwa orang tua itu pun akan ikut beramai-ramai mengeroyoknya pula.

Namun orang itu pun berkata, “Hentikan permusuhan ini”

Semua orang menjadi termangu-mangu, sementara orang tua itu berkata, “Hentikan. Kita sudah kehilangan pengamatan diri menghadapi anak muda itu. Ternyata bahwa kita tidak akan dapat mengingkari kenyataan bahwa perguruan kita yang kecil ini bukanlah apa-apa baginya”

Para murid menjadi heran, sementara orang tua itu meneruskan, “Pada saat-saat terakhir dari permainan angger Mahisa Bungalan. terbukti betapa tinggi ilmu yang dimilikinya. Meskipun kita penghuni seluruh padepokan ini bersama-sama melawannya termasuk aku sendiri, namun kita tidak akan dapat berbuat banyak. Aku yakin, bahwa di atas kekuatannya yang baru saja kita saksikan, angger Mahisa Bungalan masih mampu melepaskan ilmu yang jauh lebih dahsyat lagi. Ilmu yang akan dapat membakar seluruh padepokan ini menjadi hangus”

Murid-muridnya mendengar keterangan gurunya itu dengan bersungguh-sungguh. Mereka memang sudah melihat, betapa anak muda itu berhasil merobohkan gurunya. Namun mereka tidak menyadari kekuatan apakah yang masih tersimpan pada anak muda itu, yang akan dapat dilontarkannya setiap saat jika keadaan memaksa. Kekuatan ilmu yang seolah-olah dapat meruntuhkan gunung.

Selagi para muridnya masih dicengkam oleh ketidak-pastian, maka orang tua itu pun kemudian mendekati Mahisa Bungalan sambil berkata, “Angger Mahisa Bungalan, aku mohon maaf atas sambutanku yang kurang baik di padepokan ini. Tetapi ketahuilah, bahwa ternyata kami telah menerima kunjungan seorang anak muda yang tidak ada duanya”

Mahisa Bungalan masih berdiri tegak bagaikan patung, la masih diliputi oleh kecurigaan menghadapi seluruh penghuni padepokan itu. Sementara itu, orang tua itu meneruskan, “Semalam, ketika aku menjajagi ketahanan ilmu angger ternyata aku sudah salah hitung. Aku kira angger benar-benar tidak mampu mengatasi lontaran ilmuku. Tetapi agaknya karena kebodohanku sajalah, maka aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi”

Mahisa Bungalan masih tetap berdiam diri. Ia masih belum dapat melepaskan diri dari suasana yang baru saja mencengkam padepokan itu. Apalagi Mahisa Bungalan masih melihat murid-murid padepokan itu masih tetap bersiaga, termasuk Makerti.

Namun sekali lagi guru mereka itu berkata, “Kalian tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Cepat, tinggalkan tempat ini, dan pergilah merebus air dan menanak nasi. Kalian dapat menangkap dua ekor ayam yang paling gemuk untuk menjamu tamu kita”

Para cantrik masih termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian bergeser seorang demi seorang, sehingga akhirnya yang tinggal hanyalah Gemak Werdi, Makerti dan gadis yang masih tetap memandang Mahisa Bungalan dengan curiga.

“Kemarilah. Duduklah di pendapa” ajak orang tua itu.

Melihat sikapnya, Mahisa Bungalan lambat laun ditumbuhi juga kepercayaan kepadanya, bahwa ia tidak akan berbuat jahat. Sehingga karena itu, maka ia pun kemudian mengikutinya naik ke pendapa.

Makerti yang mengikutinya di belakang berdesis di telinga Mahisa Bungalan, “Aku mohon maaf. Aku tidak dapat melihat guruku mengalami kesulitan”

Mahisa Bungalan tersenyum Katanya, “Aku mengerti. Kau adalah murid yang baik”

Sejenak kemudian mereka pun telah duduk di pendapa mengelilingi minuman hangat yang dihidangkan. Dengan nada datar orang tua Itu pun kemudian berkata, “Angger Mahisa Bungalan. Ternyata kami salah menilai angger. Meskipun aku sudah menduga bahwa angger memang memiliki kemampuan, tetapi ternyata yang ada sangat jauh dari perhitunganku semula”

Mahisa Bungalan tidak menjawab.

“Perkenankanlah kami memperkenalkan diri. Aku adalah seorang tua yang memimpin padepokan ini. Orang menyebutku Ki Kenanga, namun kadang-kadang juga disebut Ki Selabajra. Gadis itu adalah anakku yang disebut Amrik yang juga kadang-kadang dipanggil Ken Padmi. Sedangkan dua orang muridku yang lain tentu sudah kau kenal”

Mahisa Bungalan mengangguk hormat. Katanya, “Terima kasih Kiai. Aku senang sekali dapat berkenalan dengan Kiai”

“Sekali lagi aku minta maaf atas penerimaan yang tidak ramah ini”

“Aku juga minta maaf Kiai. Mungkin kedatanganku telah mengguncangkan ketenangan padepokan ini, meskipun maksudku bukan demikian”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku mengerti. Aku pun menyadari bahwa yang kau lakukan bukannya dengan sengaja menghina perguruan ini. Tetapi rasa-rasanya adalah terlalu berat untuk menerima belas kasihan dari seseorang yang belum kami kenal”

“Aku melakukannya tanpa maksud buruk”

“Karena itulah, maka yang ingin kami lakukan sebenarnya hanyalah sekedar menunjukkan harga diri. Namun agaknya perasaan ini tidak lagi dapat kami kuasai.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Pengakuan yang jujur itu telah membuat penilaiannya atas orang-orang padepokan itu pun agak berubah.

“Karena itu ngger” berkata Ki Kenanga yang juga sering disebut Ki Selabajra, “anggaplah yang terjadi itu betul-betul suatu kekhilafan”

“Marilah kita lupakan Kiai. Jika maksud kedatanganku kemari sudah dapat dimengerti, aku sudah mengucapkan beribu terima kasih”

“Kami mengerti Ngger. Bahkan lebih daripada itu. Ternyata meskipun usia angger masih jauh lebih muda dari umurku, namun angger adalah seorang yang telah dewasa lahir dan batin”

Mahisa Bungalan mengangkat wajahnya sejenak. Namun diam sambil menundukkan kepalanya ia bergumam, “Jangan memuji Kiai. Aku tidak lebih dari yang ada ini”

“Yang ada itulah yang luar biasa” sahut Ki Selabajra, “aku ingin mohon agar angger bersedia bermalam di sini untuk satu dua malam”

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada Makerti, maka sorot mata Makerti pun seolah-olah telah mempersilahkannya pula. Karena itu maka katanya, “Terima kasih Kiai. Jika Kiai sudi menerima aku bermalam”

“Tentu, tentu ngger. Aku senang sekali menerima angger bermalam di sini”

Mahisa Bungalan mengangkat wajahnya pula sejenak, seolah-olah ia ingin tahu, apakah orang tua itu berkata dengan jujur. Namun nampak pada sorot matanya, maka yang dikatakannya itu benar-benar terloncat dari hatinya. Nampaknya ia benar-benar menerima Mahisa Bungalan bermalam dengan senang.

Ketika kemudian beberapa jamuan makan dihidangkan, maka Mahisa Bungalan pun minta diri untuk mencuci tangan dan kakinya di sumur, di halaman samping padepokan itu.

Pada saat Mahisa Bungalan turun itulah, Makerti telah menceriterakan, bahwa sebenarnya Mahisa Bungalan sama sekali tidak dicengkam oleh ilmu yang dilontarkan Ki Selabajra semalam. Mahisa Bungalan sama sekali tidak tertidur nyenyak sehingga tidak menyadari apa yang telah terjadi.

“Dan kau juga mampu melepaskan diri dari pengaruh ilmuku?” bertanya guru Makerti.

“Sebenarnya aku tidak mampu lagi guru. Tetapi ketika Mahisa Bungalan memegang tanganku, rasa-rasanya ada semacam arus yang hangat mengalir ke seluruh tubuhku, sehingga aku dapat bertahan diri dari pengaruh ilmu guru yang sebenarnya tidak terlawan itu”

“Jadi kau juga telah dibebaskan dari pengaruh ilmu itu oleh Mahisa Bungalan?”

“Ya guru”

Ki Selabajra itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Makerti sejenak. Kemudian Gemak Werdi dan anak gadisnya yang menunduk.

“Jika demikian, ia benar-benar anak muda yang luar biasa. Ia tentu memiliki ilmu yang belum pernah kita ketahui dan tidak dapat kita bayangkan tingkat kemampuannya” berkata orang tua itu.

Pembicaraan itu pun segera terputus, karena Mahisa Bungalan telah datang kembali, dan duduk diantara mereka. Sejenak kemudian mereka pun telah menikmati hidangan makan bersama.

Meskipun sudah tidak ada masalah lagi diantara mereka, namun rasa-rasanya masih saja ada jarak antara Gemak Werdi dan Mahisa Bungalan. Anak muda itu masih saja dibayangi oleh sikap Mahisa Bungalan di Watan Di hadapan banyak orang, Mahisa Bungalan telah memperkecil arti kehadirannya.

“Kenapa ia tidak dengan tulus membantuku” pertanyaan itulah yang selalu mengganggunya, “Bahkan ia telah memperkecil arti kehadiranku di padukuhan itu. Seharusnya orang-orang Watan merasa bahwa aku telah membebaskan mereka dari tingkah laku yang jahat dari Ki Lambun dan orang-orangnya”

Namun Gemak Werdi menahan semuanya itu di dalam hatinya. Ia sadar, bahwa gurunya sudah mulai terpengaruh oleh anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu. Apalagi setelah anak muda itu menunjukkan kemampuannya. Bahkan gurunya menganggap bahwa Mahisa Bungalan memiliki ilmu yang tatarannya tidak dapat dibayangkan.

Seperti yang diminta oleh Ki Selabajra, maka Mahisa Bungalan telah tinggal untuk dua tiga hari di padepokan kecil itu. Dengan demikian, maka Makerti pun tidak segera pulang ke rumahnya. Ia pun tinggal pula di padepokan itu untuk mengawani Mahisa Bungalan. Demikian pula Gemak Werdi.

Namun dalam pada itu, yang sangat mengherankan Mahisa Bungalan adalah gadis yang bernama Ken Padmi itu. Ketika ia melihat gadis itu untuk pertama kalinya, ia menganggap bahwa gadis itu adalah gadis yang sombong. Ia dengan dada tengadah telah menantangnya memasuki arena perkelahian atas nama perguruannya.

Tetapi yang dilakukan itu agaknya adalah sekedar perintah ayahnya. Dalam pergaulan sehari-hari, ternyata gadis itu adalah gadis yang luruh. Hampir setiap saat ia selalu menundukkan kepalanya. Langkahnya lembut dan sorot matanya terasa lunak.

Pada malam pertama Mahisa Bungalan berada di padepokan itu, ia telah melihat, bahwa sebenarnya padepokan itu termasuk padepokan yang tenang. Namun agaknya karena Ki Selabajra terlalu yakin akan perguruannya yang terpencil itu, sehingga beberapa orang muridnya yang kurang perbendaharaan pengalaman, menganggap bahwa perguruan itu adalah perguruan yang terbaik di seluruh muka bumi. Mereka sudah menerima ilmu cukup dari padepokan ini menganggap bahwa mereka akan dapat berbuat apa saja terhadap orang lain.

Meskipun Ki Selabajra tidak mengajarkan kejahatan, tetapi satu dua orang muridnya yang merasa dirinya tidak terkalahkan itu, kadang-kadang dapat menyulitkan diri mereka sendiri. Seperti yang telah dilakukan oleh Gemak Werdi yang hampir saja merenggut nyawanya sendiri, karena di luar perhitungannya ia telah bertemu dengan orang yang bernama Ki Lambun yang memiliki ilmu yang tinggi pula.

Tanpa mengajukan permintaan, Ki Selabajra telah memberi kesempatan kepada Mahisa Bungalan untuk menyaksikan latihan-latihan bagi dua orang murid pada tataran tertinggi dari perguruan Kenanga. Jika mereka sudah dapat menguasai ilmu pada tataran tertinggi itu, maka mereka berdua akan dapat dilepas seperti Gemak Werdi.

“Keduanya memiliki dasar yang sangat baik” desis Mahisa Bungalan ketika Ki Selabajra minta pendapatnya tentang kedua orang muridnya.

“Mereka akan menjadi seorang anak muda yang mengagumkan seperti Gemak Werdi” berkata Ki Selabajra, “tetapi mereka tentu tidak banyak berarti bagi angger Mahisa Bungalan”

Mahisa Bungalan tidak menyahut.

Dalam pada itu, kedua murid Ki Selabajra itu memperlihatkan, bahwa cara yang ditempuh oleh orang tua itu untuk menurunkan ilmunya, termasuk cara yang baik menurut penilaian Mahisa Bungalan. Meskipun tidak seluruh yang ada di dalam perbendaharaan pengetahuan Ki Selabjra dituangkan, namun keduanya, seperti juga Gemak Werdi dan Makerti, mendapat kemungkinan untuk mengembangkan ilmunya sebaik-baiknya. Seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan dan kecerdasan pikiran, akan dapat mengembangkan ilmunya setinggi-tingginya.

Adalah di luar dugaannya, bahwa pada saat itu tiba-tiba saja Ken Padmi masuk ke dalam sanggar. Tetapi gadis itu terkejut ketika ia melihat Mahisa Bungalan ada di dalam sanggar itu pula. Dengan tergesa-gesa ia berbalik dan melangkah keluar. Tetapi ayahnya memanggilnya, “Kemarilah Duduklah di sini”

Gadis itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian mendekati ayahnya dan duduk disebelahnya pula.

“Setelah keduanya selesai, maka akan datang giliranmu”

“Ah” tiba-tiba saja gadis itu berdesah, “aku tidak ingin berlatih malam ini”

“Kenapa?” bertanya ayahnya.

Gadis itu menjadi gelisah. Di luar sadarnya, teringat olehnya saat Mahisa Bungalan menangkap kakinya Jika saja anak muda itu ingin memperolok-olokkannya, ia tentu dapat melakukannya saat itu.

Rasa-rasanya tubuh gadis itu meremang dan wajahnya pun menjadi kemerah-merahan.

Untuk sesaat gadis yang duduk di sebelah ayahnya itu hanya menundukkan kepalanya saja. la sama sekali tidak berani berpaling. Apalagi kepada Mahisa Bungalan.

Dalam pada itu kedua murid yang sudah hampir menyelesaikan ilmunya itu berlatih semakin cepat. Akhirnya keduanya sampai pada tingkat tertinggi dari ilmu yang pernah dipelajarinya.

“Cukup” berkata Ki Selabajra, “kalian dapat beristirahat.

Keduanya mengangguk dalam-dalam. Kemudian keduanya pun keluar dari sanggar.

Yang ada di dalam sanggar itu kemudian hanyalah Ki Selabajra, Mahisa Bungalan dan Ken Padmi menunduk. Sejenak mereka berdiam diri. Namun kemudian Ki Selabajra pun berkata kepada anak gadisnya, “Bagaimana dengan kau?”

Gadis itu menggeleng lemah Suaranya hanya terdengar seperti berbisik, “Aku tidak ingin berlatih sekarang ayah”

“Kenapa tidak anakku. Di padepokan ini, kau adalah muridku yang memiliki ilmu paling lengkap dan kemampuan yang paling tinggi. Tidak ada seorangpun, meskipun ia seorang laki-laki, yang dapat mengimbangimu dalam kecepatan bergerak dan ketrampilan ilmu pedang. Karena itu, aku ingin kau menunjukkan kemampuan itu kepada angger Mahisa Bungalan”

Ken Padmi tetap menggelengkan kepalanya meskipun ia tidak menjawab.

“Anakku” berkata ayahnya, “aku mengerti, bahwa kau menjadi sangat malu setelah kau menyadari, bahwa ilmu yang paling sempurna di padepokan ini, masih jauh dibawah kemampuan angger Mahisa Bungalan. Aku, orang yang dianggap paling mumpuni disini, ternyata sama. sekali tidak berarti apa-apa. Namun justru karena itu, kau tidak perlu malu kepadanya”

Ken Padmi masih menunduk.

“Cobalah”

Gadis itu masih saja menggelengkan kepalanya.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa anak gadisnya menjadi malu bukan karena perbandingan ilmunya yang jauh lebih rendah dari Mahisa Bungalan. Tetapi gadis itu malu justru karena ia seorang gadis.

Karena itu, maka Ki Selabajra pun tidak memaksanya, Mahisa Bungalan masih akan berada di padepokan itu untuk satu atau dua hari, sehingga ia masih dapat berharap, bahwa pada suatu saat, Mahisa Bungalan akan melihat anak gadisnya menunjukkan puncak kemampuannya. Bukan untuk me-nyombongkan diri, namun dengan harapan, bahwa Mahisa Bungalan akan dapat memberikan beberapa petunjuk bagi kemajuan ilmu anak gadisnya itu.

Maka ketika Ki Selabajra menyadari bahwa pakaian anak nya sudah basah oleh keringat, berkata, “Jika demikian, kau boleh pula meninggalkan ruangan ini. Tetapi pada suatu saat, kau akan menunjukkan betapa dungunya orang terbaik di padepokan ini”

Ken Padmi ragu-ragu untuk bangkit Tegapi akhirnya, ketika ayahnya mengangguk kepadanya, ia pun melangkah keluar dari ruangan itu. Demikian ia sampai keluar pintu, maka rasa-rasanya kakinya menjadi ringan, sehingga langkahnya menjadi semakin cepat.

Tetapi langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Gemak Werdi. Sejenak keduanya saling memandang. Namun kemudian Gemak Werdi bertanya, “ Darimana kau Padmi?”

Ken Padmi termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Dari Sanggar kakang Gemak Werdi, “

“Siapa yang berada di sanggar?”

“Ayah dan Mahisa Bungalan”

“Apa yang mereka lakukan?” bertanya Gemak Werdi.

“Mahisa Bungalan melihat kawan-kawan kita berlatih” jawab Ken Padmi

“Termasuk kau?”

Ken Padmi menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak berbuat. apa-apa. Ketika aku masuk, aku tidak mengerti bahwa Mahisa. Bungalan ada di dalam bersama ayah”

Gemak Werdi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun meneruskan langkahnya turun ke halaman.

“Kemana kau?” Ken Padmi masih bertanya.

Gemak Werdi menggeleng. Jawabnya, “Tidak kemana-mana. Aku hanya akan berada di halaman saja”

Ken Padmi tidak bertanya lagi. Ia pun kemudian masuk ke ruang dalam langsung ke dalam biliknya. Dengan serta merta ia pun merebahkan dirinya di pembaringannya.

Untuk beberapa saat Ken Padmi masih berangan-angan. Sekilas ia membayangkan, betapa anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu memiliki kemampuan tiada taranya. Meskipun umurnya masih sebaya dengan Gemak Werdi, namun ia sudah dapat mengalahkan ayahnya yang juga gurunya dalam olah kanuragan.

“Dari mana ia mendapatkan ilmu itu?” pertanyaan itulah yang mengganggunya, namun kemudian, “tetapi tentu dari sumber yang jernih. Nampaknya ia bukan orang yang sombong, keras kepala atau orang-orang yang merasa dirinya paling besar di seluruh dunia ini. Ia nampaknya seorang yang rendah hati. Jika ayah tidak memaksa, maka ia sama sekali tidak ingin menunjukkan kemampuannya. Bahkan ayah dahululah yang telah kehilangan pengamatan diri di arena. Tetapi yang terjadi adalah jauh dari yang dimaksudkan.”

Ken Padmi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menjadi sangat malu mengenang, bahwa ia berdiri dengan wajah tengadah, mengumpati anak muda itu sebagai anak yang dungu. Saat itu ia pun yakin, akan dapat menunaikan tugas yang diberikan oleh ayahnya, mengajari anak muda yang baru datang itu untuk menghormati padepokan ini.

Beberapa saat lamanya gadis itu berangan-angan. Penyesalan, malu dan berbagai macam perasaan campur baur. Bahkan ia pun tidak dapat ingkar lagi, bahwa ia mengagumi Mahisa Bungalan sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tiada bandingnya, yang dilakukan itu belum merupakan puncak dari kemampuannya yang sebenarnya.

Lambat laun, semua bayangan diangan-angannya itu menjadi kabur. Sehingga akhirnya ketika matanya terpejam, maka yang nampak adalah sebuah mimpi yang indah.

Dalam pada itu, Ki Selabjra dan Mahisa Bungalan masih berada di sanggar. Sejenak mereka masih berbicara tentang berbagai macam persoalan olah kanuragan. Sehingga dengan demikian maka Ki Selabajra menjadi semakin yakin, bahwa Mahisa Bungalan memang seorang anak muda yang luar biasa.

Ketika kemudian malam menjadi semakin dalam, dan padepokan itu menjadi sepi, maka Ki Selabajra telah mempersilahkan Mahisa Bungalan untuk beristirahat.

Di gandok sebelah kiri, Mahisa Bungalan dipersilahkan beristirahat bersama Makerti. Untuk beberapa saat mereka masih berbicara tentang peristiwa yang pernah mereka alami. Di Watan dan di padepokan itu.

“Kau adalah murid yang setia” berkata Mahisa Bungalan, “Dalam keadaan yang gawat kau telah menentukan sikap terpuji. Kau berdiri di pihak perguruanmu”

Makerti tersenyum betapapun kecutnya. Katanya, “Untunglah bahwa guru menyadari keadaannya dan keadaan murid-muridnya. Jika tidak, mungkin kepalaku sudah terbelah”

“Ah” desis Mahisa Bungalan, “apakah kau mempunyai kesan bahwa aku adalah seorang pembunuh?”

“Memeng tidak Mahisa Bungalan. Tetapi dalam keadaan terpaksa, dan untuk membela diri, mungkin seseorang yang bukan seorang pembunuh akan dapat membunuh lawannya” sahut Makerti.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Ia tidak membantah karena hal itu memang dapat terjadi.

Untuk beberapa saat mereka masih berbicara. Namun akhirnya Mahisa Bungalan pun merebahkan dirinya di amben bambu sambil berdesis, “Di Watan aku tidur di Banjar padukuhan. Di sini aku mendapat kehormatan tidur di gandok” namun kemudian sambungnya, “itu bukan berarti bahwa aku tidak mendapat kehormatan di Watan. Sikap Ki Buyut sangat baik dan mudah-mudahan Watan akan tetap dalam suasana yang baik setelah Ki Lambun menyadari keadaannya”

Makerti pun kemudian berbaring pula. Namun angan-angannya masih terbang hilir mudik beberapa saat. Namun kemudian matanya pun terpejam seperti Mahisa Bungalan. Sehingga beberapa saat kemudian, keduanya pun telah tertidur nyenyak.

Pagi-pagi benar, ketika langit menjadi merah, Mahisa Bungalan telah terbangun. Ketika ia bangkit, dilihatnya Makerti pun telah membuka matanya pula. Tetapi nampaknya Makerti masih malas untuk meninggalkan pembaringannya, sehingga Mahisa Bunglan pun kemudian meninggalkannya di dalam bilik seorang diri.

Dengan tarikan nafas panjang, Mahisa Bungalan merasakan sejuknya udara pagi. Meskipun langit masih suram, namun di halaman beberapa ekor ayam telah turun. Suara burung liar yang berkicau di dahan pepohonan rasa-rasanya bagaikan kidung menyambut datangnya hari baru.

Mahisa Bungalan pun kemudian turun ke halaman pula. Dilihatnya seorang cantrik sedang menyapu di sudut. Sementara yang lain sedang sibuk dengan kerja masing-masing. Dengan ragu-ragu Mahisa Bungalan pun pergi ke pakiwan. Untuk menghangatkan badannya, maka ia pun kemudian pergi ke sumur untuk menimba air, mengisi tempayan di pakiwan.

Beberapa saat lamanya ia menarik senggot turun dan melepaskannya naik. Kemudian menuang air di dalam upih ke dalam tempayan di pakiwan.

Namun tiba-tiba saja ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat dalam keremangan dini hari, seorang gadis pergi mendekatinya. Namun tiba-tiba saja langkah gadis itu terhenti. Wajahnya menegang sejenak ketika ia menyadari bahwa yang sedang menimba air itu adalah Mahisa Bungalan.

“O” terdengar gadis itu berdesah, “aku kira, aku kira kakang Gemak Werdi atau paman Makerti atau anak-anak padepokan ini”

Mahisa Bungalan pun menjadi bingung sesaat. Namun kemudian ia memaksa diri untuk menjawab, “Apakah ada bedanya? Aku terbiasa melakukannya pula di rumahku. Juga selama aku berada di banjar padukuhan di Watan”

“Tetapi, tetapi disini banyak anak-anak padepokan yang dapat melakukannya” desis Ken Padmi.

“Ah” sahut Mahisa Bungalan, “tidak ada bedanya. Biarlah aku mengisi jambangan di pakiwan itu. Apakah kau akan mandi?”

Ken Padmi menundukkan kepalanya. Ia merasa bingung, apakah yang sebaiknya dilakukan, sehingga karena itu, maka ia berdiri saja sambil menundukkan kepalanya.

Tetapi gadis itu terkejut ketika Mahisa Bungalan melepaskan senggot timba sambil berkata, “Jambangan telah penuh. Silahkan kau mandi lebih dahulu. Aku akan melihat-lihat kebun padepokan ini”

“O” Ken Padmi masih bingung. Ia tidak tahu, apakah yang akan dikatakannya. Namun ia pun kemudian melihat Mahisa Bungalan meninggalkan sumur dan berjalan ke kebun di belakang padepokan.

Sejenak Ken Padmi masih termangu-mangu. Namun ia hampir terlonjak ketika ia mendengar suara seseorang, “Apakah yang kau renungkan, Ken Padmi?”

“Tidak, tidak apa-apa” desisnya gagap.

Makerti tersenyum. Sementara Ken Padmi meneruskan, “Kau mengejutkan aku, paman Makerti”

“O, sejak kapan kau menjadi demikian mudah, terkejut dan menjadi gagap?” bertanya Makerti.

Ken Padmi menundukkan wajahnya yang menjadi kemerahan. Sementara Makerti berkata, “Jika kau akan mandi, mandilah. Aku akan mengawani Mahisa Bungalan melihat-lihat kebun belakang”

Ken Padmi tidak menjawab. Tetapi ketika Makerti meninggalkannya, ia memadanginya dari belakang sehingga hilang di balik sudut rumahnya.

Sejenak gadis itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian masuk ke dalam pakiwan untuk mandi. Betapa sejuknya air di jambangan, yang rasa-rasanya lebih sejuk dari pagi sebelumnya.

Namun dalam pada itu, percakapannya yang pendek dengan Mahisa Bungalan itu rasa-rasanya telah memecahkan batas antara keduanya. Dengan demikian keduanya merasa telah berkenalan, sehingga keduanya tidak lagi. merasa canggung untuk menyapa jika mereka berpapasan.

Sikap dan sifat Ken Padmi ternyata telah mengikat Mahisa Bungalan untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu. Bahkan ketika Makerti dan Gemak Werdi minta diri untuk kembali ke rumah masing-masing, Mahisa Bungalan tidak menolak permintaan Ki Selabajra untuk tinggal barang satu dua hari di padepokan itu.

“Kau ragu-ragu meninggalkan padepokan itu Gemak Werdi?” bertanya Makerti diperjalanan, beberapa saat setelah mereka memasuki bulak.

Gemak Werdi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia menjawab, “Tidak paman. Aku tidak ragu-ragu”

Makerti mengangguk-angguk. Ia melihat sesuatu dalam tatapan mata Gemak Werdi. Tetapi ia tidak bertanya apapun juga. Ia yakin bahwa yang tersangkut itu akan hilang karena kesadaran diri Gemak Werdi.

Sebagai seorang yang lebih tua Makerti mengerti, bahwa ada sesuatu perasaan yang menyentuh hati anak muda itu terhadap Ken Padmi di padepokan Kenanga. Namun agaknya Gemak Werdi pun menyadari keadaannya, sehingga ia telah memandang kemungkinan yang luas yang dapat terjadi di padepokan itu.

Sementara itu, Mahisa Bungalan telah mencoba menyesuaikan dirinya dengan kehidupan di padepokan kecil itu. Semakin lama ia menjadi semakin tidak canggung lagi. Pagi-pagi ia bangun dan melakukan pekerjaan seperti murid-murid padepokan yang lain. Bahkan kadang-kadang ia pun telah pergi ke sawah pula bersama para cantrik.

Dalam pada itu, batas antara Mahisa Bungalan dengan Ken Padmi pun menjadi semakin kabur Meskipun mereka seakan-akan hanya bertemu sekejap dan berbicara sepatah, tetapi pertemuan itu pun menjadi semakin sering.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak akan tetap berada di padepokan itu. Ia sadar, bahwa ia akan meninggalkan padepokan itu pada suatu saat. Dan ia pun mulai memikirkan untuk melanjutkan perjalanannya yang tanpa tujuan, sebelum ia menetap pada waktu ikatan tugas keprajuritan.

Itulah sebabnya, maka betapapun ia kerasan tinggal di padepokan itu, namun ia pun mulai menyatakan niatnya untuk meneruskan perjalanan kepada Ki Selabajra.

“Jangan tergesa-gesa ngger. Tinggallah barang satu dua bulan disini” berkata orang tua itu.

Mahisa Bungalan tersenyum. Jawabnya, “Maaf Kiai. Aku tidak dapat mengingkari maksud perjalananku sejak aku meninggalkan kampung halamanku. Aku ingin pergi menjelajahi daerah yang luas untuk mengembangkan pengalamanku sebelum aku mengikat diri pada suatu tugas tertentu”

“Tugas apakah yang angger maksudkan?” bertanya Ki Selabajra.

“Apa saja. Bukankah pada suatu saat aku harus mempunyai pegangan hidup tertentu? Tetapi rasa-rasanya bekal hidup ini tidak lengkap tanpa pengenalan lingkungan yang agak luas”

Ki Selabajra mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa agaknya demikianlah panggilan hidup Mahisa Bungalan. Sehingga karena itu, maka sudah barang tentu ia tidak akan dapat menahannya lebih lama lagi.

Namun dalam pada itu, sebagai orang tua ia melihat sesuatu yang menyentuh hati Mahisa Bungalan di padepokan itu. Tetapi Ki Selabajra tidak berani mengatakannya. Meskipun diam-diam ia memperhatikan hubungan antara Mahisa Bungalan dan anak gadisnya, tetapi perkenalan mereka masih terlalu singkat, sehingga jika hal itu memang terjadi, maka keduanya tentu baru tersentuh oleh pengenalan lahiriah.

“Pada suatu saat Mahisa Bungalan akan meninggalkan padepokan ini,” berkata Ki Selabajra di dalam hatinya, “sebulan dua bulan ia akan tetap mengingat padepokan ini, dan mungkin juga Ken Padmi. Tetapi perjalanannya yang semakin jauh dan pengenalannya yang semakin banyak, maka la tentu akan segera melupakannya. Demikian pula agaknya dengan Ken Padmi. Ia melihat sepintas seorang anak muda yang mengagumkan. Namun jika anak muda itu telah tidak dilihatnya lagi, maka ia pun akan melupakannya”

Karena itulah maka Ki Selabajra tidak begitu memperhatikan hubungan antara anak gadisnya dengan Mahisa Bungalan. Ia menganggap bahwa yang terjadi itu hanyalah sentuhan perasaan sesaat dari seorang anak muda dan seorang gadis padepokan.

Apalagi ketika pada suatu saat, Mahisa Bungalan benar-benar telah minta diri kepadanya. Ketika mereka berada di dalam sanggar setelah menyaksikan latihan yang berat di malam hari, maka Mahisa Bungalan pun menyampaikan maksudnya, bahwa, di keesokan harinya ia akan melanjutkan perjalanannya.

Ki Selabajra mengangguk-angguk. Saat yang demikian memang pasti akan datang. Setelah beberapa kali ia minta agar Mahisa Bungalan menunda keberangkatannya, maka agaknya ia sudah tidak akan dapat mencegah keberangkatan anak muda itu lagi meninggalkan padepokan Kenanga,

Demikianlah, ketika fajar menyingsing, maka Mahisa Bungalan pun telah mempersiapkan dirinya. Betapa segarnya ia mandi di pancuran, di belakang padepokan. Apalagi Mahisa Bungalan tahu, bahwa sudah menjadi kebiasaan Ken Padmi untuk mandi di dini hari, sehingga ia tidak mau mengganggunya mempergunakan pakiwan, meskipun seakan-akan di luar kehendaknya sendiri, Mahisa Bungalan telah menimba air dan mengisi jambangan pakiwan itu sehingga penuh.

Ketika matahari mulai naik ke punggung bukit, maka Mahisa Bungalan pun telah siap. Sekali lagi minta diri kepada Ki Selabajra untuk meneruskan perjalanan.

“Tolong, sampaikan salamku kepada Makerti dan Gemak Werdi” berkata Mahisa Bungalan kemudian.

Ki Selabajra mengangguk-angguk. Namun katanya, “Aku masih ingin menahan sesaat keberangkatan angger. Aku mempersilahkan angger menunggu makan pagi yang sudah disiapkan”

Agaknya Ken Padmi pun telah mengetahui dari ayahnya, bahwa Mahisa Bungalan akan meninggalkan padepokan itu. Karena itu, ketika ia menghidangkan makan dan minuman panas, setiap kali ia memandang sekilas wajah anak muda itu, seolah-olah ia ingin memahatkan bentuk wajah itu di dalam dinding ingatannya untuk selama-lamanya.

Tetapi sebagai seorang gadis, Ken Padmi tidak dapat berbuat lain. Betapapun hatinya bergejolak, namun setiap kali ia hanya dapa menundukkan wajahnya dan sekali-sekali mencuri pandang. Namun apabila kebetulan tatapan mata mereka bertemu, maka wajahnya menjadi merah, dan seolah-olah telinganya tersentuh bara api tempurung.

Namun bagaimanapun juga, tidak seorang pun yang dapat mencegah keberangkatan Mahisa Bungalan. Bahkan kemudian hampir seisi padepokan telah mengantarkannya sampai ke regol.

Ketika Ki Selabajra sedang berbicara dengan seorang muridnya, maka Ken Padmi berbisik di telinga Mahisa Bungalan yang berjalan di hadapannya, “Apakah kau tidak akan kembali ke padepokan ini?”

Mahisa Bungalan berpaling. Di luar sadarnya, tiba-tiba saja Mahisa Bungalan menyahut, “Tentu. Pada suatu saat aku akan kembali ke padepokan ini”

Pembicaraan itu terputus. Ken Padmi pun memperlambat langkahnya, sehingga jaraknya dari Muhisa Bungalan menjadi semakin panjang, karena ayahnya sudah mulai mendekati Mahisa Bungalan lagi.

Namun dalam pada itu, meskipun tidak terucapkan, seolah-olah Ken Padmi telah berkata dengan sepenuh hati, “Aku akan menunggu kedatanganmu kembali”

Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian benar-benar meninggalkan padepokan itu. Dengan mengucapkan banyak terima kasih ia pun kemudian minta diri kepada segenap isi padepokan yang mengantarkanya sampai ke pintu. Kemudian, betapapun beratnya, namun Mahisa Bungalan telah mengayunkan kakinya meneruskan perjalanannya.

Baru ketika Mahisa Bungalan hilang ditikungan, maka orang-orang padepokan itu melangkah memasuki regol halaman.

Ki Selabajra tidak melepaskan perhatiannya kepada anak gadisnya yang tidak dapat menyembunyikan perasaan kecewanya. Tetapi seperti yang pernah terbersit di hatinya, bahwa perasaan itu tentu hanya perasaan sesaat.

“Sebentar saja ia akan melupakannya. Demikian juga angger Mahisa Bungalan” berkata Ki Selabajra di dalam hatinya.

Sementara itu, diperjalanannya, Mahisa Bungalan pun merasa gelisah. Seolah ada yang menahannya untuk tetap tinggal di padepokan itu. Namun Mahisa Bungalan pun menggeretakkan giginya. Katanya kepada diri sendiri, “Aku tidak boleh terganggu oleh perasaan yang lemah ini. Aku harus meneruskan perjalanan yang sudah aku rencanakan sebelumnya”

“Langkah Mahisa Bungalan rasa-rasanya menjadi semakin panjang. Ia ingin segera menjadi semakin jauh dari padepokan yang tidak sengaja telah mempersilahkannya singgah.

Beberapa saat kemudian Mahisa Bungalan memaksa dirinya untuk mengalihkan perhatiannya kepada keadaan di sekitarnya. Sawah yang hijau. Air yang tergenang memberikan warna yang segar. Di kejauhan nampak beberapa buah padepokan yang bagaikan beberapa buah pulau yang hijau kehitam-hitaman.

“Daerah ini termasuk daerah yang subur” desisnya sambil memandangi beberapa orang yang sibuk bekerja di sawah.

Ketika kemudian matahari melampaui puncak langit, maka terasa lehernya menjadi haus. Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian singgah di sebuah halaman rumah di padepokan yang kemudian dilaluinya untuk minta seteguk air.

“Silahkan” pemiliknya mempersilahkannya dengan ramah, “di sudut padukuhan ini pun telah disediakan jambangan air bagi orang-orang yang kepanasan di perjalanan”

“O” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, “aku mohon maaf”

Ketika Mahisa Bungalan merasa lehernya menjadi segar kembali, maka setelah mengucapkan terima kasih, maka ia pun meneruskan perjalanannya. Tetapi di luar padukuhan itu, ketika ia melalui bayangan di bawah sebatang pohon preh yang rimbun, maka timbullah keinginannya untuk beristirahat sejenak.

Sambil duduk di alas akar yang bagaikan jam raksasa mencengkeram bumi, Mahisa Bungalan bersandar pada batangnya yang besar. Angin yang sejuk mengusap wajahnya yang kotor oleh debu. Namun Mahisa Bungalan tidak membiarkan dirinya menjadi mengantuk. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya dengan saksama.

Namun dalam pada itu, maka perhatiannya tertarik kepada segumpal debu yang berhamburan. Ia melihat beberapa ekor kuda menuju ke arahnya. Karena itulah, maka ia pun kemudian bergeser agar tidak menarik perhatian beberapa orang berkuda yang tentu akan lewat di jalan itu pula.

Sejenak kemudian, maka beberapa ekor kuda itu pun menjadi semakin dekat. Ternyata bahwa bukan orang-orang berkuda itulah yang tertarik kepada Mahisa Bungalan, tetapi justru Mahisa Bungalan lah yang tertarik kepada mereka. Karena itu, meskipun ia duduk bergeser, namun akhirnya ia menjengukkan kepalanya untuk melihat, siapakah orang-orang berkuda itu.

Tiba-tiba saja hatinya menjadi ber-debar-debar. Di antara mereka terdapat seorang anak muda dengan pakaian yang baik dan terawat. Bahkan nampaknya ia memang dengan sengaja mengenakan pakaian yang lain dari pakaiannya sehari-hari. Sementara pengiringnya pun mempergunakan pakaian yang baik-baik pula.

“Nampaknya mereka bukan orang-orang bepergian seperti kebanyakan orang bepergian” gumam Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Dadanya justru berdesir ketika ia melihat orang-orang berkuda itu disapa oleh seorang petani yang sedang bekerja di sawah. Tetapi jarak itu sudah agak jauh, sehingga Mahisa Bungalan tidak mendengar dengan jelas apakah yang dikatakan oleh orang-orang berkuda itu. Namun yang dilihatnya kemudian, kuda-kuda itu sudah berpacu kembali.

“Nampaknya mereka datang dari padukuhan di sekitar tempat ini” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Ternyata Mahisa Bungalan tidak dapat menahan perasaan ingin tahunya. Sekali-sekali dipandanginya petani yang sedang bekerja di sawahnya itu.

“Agaknya petani itu mengenal orang-orang berkuda itu” desisnya.

Karena Mahisa Bungalan tidak dapat menahan perasaan ingin tahunya, maka ia pun kemudian berjalan mendekati petani yang sedang bekerja di sawah itu.

Kedatangannya membuat petani itu heran. Apalagi ketika Mahisa Bungalan bertanya, “Ki Sanak, apakah aku boleh bertanya tentang orang-orang berkuda itu?”

Petani itu mengerut keningnya. Dengan heran ia bertanya pula, “Siapakah kau Ki Sanak?”

“Aku adalah seorang perantau yang tidak mempunyai tujuan. Aku lewat jalan ini seperti aku lewat jalan-jalan yang belum pernah aku kenal sebelumnya”

Petani itu meletakkan cangkulnya. Dengan tatapan mata yang tajam ia bertanya, “Apakah kepentinganmu dengan orang-orang berkuda itu?”

“Tidak ada kepentingan apa-apa Ki Sanak. Tetapi nampaknya mereka tidak sedang dalam perjalanan biasa”

Petani itu nampak menjadi bimbang. Lalu katanya, “Kau tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Kau tidak mengenal daerah ini, sehingga tidak ada sangkut paut segelugut pun dengan orang-orang berkuda itu, juga dengan aku”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Ia sudah terlanjur mengatakan keasingannya dengan daerah ini. Dan ia pun telah menyebut dirinya sebagai seorang perantau. Dengan demikian maka ia memang tidak mempunyai kepentingan apapun dengan orang-orang berkuda itu.

Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Bungalan ingin menyebut dirinya bukan sebagai orang yang asing sama sekali dengan daerah jni. Karena itu maka katanya kemudian, “Ki Sanak. Aku memang orang yang asing dengan daerah ini. Aku memang seorang perantau. Namun meskipun sedikit sekali ada juga sentuhannya dengan daerah ini, karena aku masih keluarga meskipun agak jauh dengan daerah padepokan Kenanga”

“He?” petani itu terbelalak, “kau mempunyai hubungan darah dengan Ki Selabajra di padepokan Kenanga?”

“Ya. Apakah Ki Sanak mengenal paman Selabajra?”

“Aku mengenalnya meskipun tidak secara pribadi dan akrab. Tetapi aku pernah bertemu. Tetapi lebih daripada itu, namanya memang sudah dikenal oleh banyak orang. Juga oleh orang-orang dari padukuhan ini” petani itu berhenti, lalu, “tetapi jika demikian, kau seharusnya mengetahui siapakah orang-orang itu. He, apakah kau sudah terlalu lama tidak berkunjung ke padepokan Kenanga?”

“Aku baru saja dari padepokan Kenanga meskipun hanya beberapa hari. Baru hari ini aku meninggalkan padepokan itu, karena aku akan meneruskan perantauanku, meskipun paman Selabajra menahanku”

Petani itu termangu-mangu. Kemudian katanya, “Aneh Agaknya Ki Selabajra benar-benar tidak ingin mengumumkan hubungannya dengan padepokan Watu Kendeng”

“Aku tidak mengerti” desis Mahisa Bungalan.

“Apakah Ki Selabajra tidak pernah menyebut padepokan Watu Kendeng yang terkenal itu?”

“Tidak Ki Sanak”

Petani itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aneh Jika kau datang dari padepokan itu, apalagi hari ini, kau tentu mengetahui serba sedikit tentang orang-orang berkuda itu. Kecuali jika kedatangan mereka ke padepokan Kenanga memang tidak memberitahukan terlebih dahulu”

“Apakah hubungan mereka dengan padepokan Kenanga?”

“Itulah yang aneh jika keluarga padepokan itu sendiri tidak mengetahui” jawab petani itu.

Mahisa Bungalan menjadi semakin ingin tahu. Karena itu, maka ia pun mendesaknya, “Jika kau mengetahui Ki Sanak, apakah salahnya jika kau mengatakannya?”

“Anak muda, rumahku tidak terlalu jauh dari padepokan Watu Kendeng. Karena itu, aku pernah mendengar serba sedikit keinginan keluarga Watu Kendeng untuk menjadi keluarga dari padepokan Kenanga”

Dada Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Sementara petani itu berkata selanjutnya, “Apakah kau mengetahui bahwa Padepokan Kenanga mempunyai seorang anak gadis?”

“Ya. Ken Padmi” sahut Mahisa Bungalan. Petani itu mengangguk-angguk. Dengan menyebut nama gadis itu, petani itu pun menjadi semakin percaya bahwa Mahisa Bungalan memang seorang yang mempunyai hubungan dengan Kenanga.

Maka katanya selanjutnya, “Nah, jika kau mengetahui bahwa padepokan Kenanga mempunyai seorang gadis, maka kau tentu dapat menduga, apakah hubungan kedatangan orang orang berkuda dari padepokan Watu Kendeng itu ke padepokan Kenanga”

“Apa maksudmu Ki Sanak?”

“Ah, bukankah sudah jelas? Padepokan Watu Kendeng mempunyai seorang anak muda yang tampan dan memiliki ilmu yang mantap mewarisi seluruh ilmu padepokan Watu Kendeng. Sedangkan padepokan Kenanga mempunyai seorang gadis yang memiliki kelebihan dari gadis kebanyakan, karena gadis padepokan Kenanga mewarisi ilmu yang temurun dari ayahnya”

Tiba-tiba saja dada Mahisa Bungalan menjadi bergejolak. Keterangan itu membuatnya berdebar-debar, seolah-olah jantungnya berdenyut semalkin cepat. Namun dengan susah payah ia berusaha untuk melenyapkan kesan itu dari wajahnya.

Meskipun demikian, kata-katanya pun kemudian menjadi gagap, “Baik, baiklah Ki Sanak. Aku minta diri. Aku mengucapkan terima kasih atas keterangan Ki Sanak”

Petani itu pun mengangguk sambil menjawab, “Itulah yang aku dengar dari orang-orang padepokan Watu Kendeng. Aku tidak tabu pasti, apakah yang aku dengar ini benar atau salah”

Mahisa Bungalan pun kemudian minta diri. Dengan langkah yang ragu-ragu ia meneruskan perjalanan. Namun rasa-rasa-nya hatinya lidak tenang karena ia telah mendengar keterangan petani di sawah itu tentang kedatangan orang-orang Watu Kendeng ke Padepokan Kenanga.

Karena itu, beberapa langkah kemudian ia berhenti. Dari kejauhan ia melihat petani itu bekerja kembali di sawahnya.

“Apakah benar-benar kata-katanya” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Meskipun ia sudah berusaha menjawab, “Benar atau tidak benar, apakah hubungannya dengan perjalananku?. Aku akan meneruskan perjalanan. Yang terjadi di padepokan itu adalah urusan orang-orang padepokan itu sendiri”

Namun bagaimanapun juga ia tidak dapat mengingkari kegelisahannya. Bahkan ketika kemudian ia melihat petani itu beristirahat di gubugnya, ia berkata kepada diri sendiri, “Aku akan membuktikan, apakah yang dikatakannya itu benar”

Tetapi Mahisa Bungalan tidak mau dilihat oleh petani itu. Karena itulah, maka ia telah mencari jalan lain, menuju ke Padepokan Kenanga.

Pengalamannya merantau telah membawanya melalui sebuah jalan sempit dan kemudian menelusuri pematang menuju ke sebatang pohon yang dilihatnya dari kejauhan. Ia mengenal pohon itu tumbuh di pinggir jalan yang dilaluinya dari Padepokan Kenanga sehingga jika ia sudah mencapai pohon itu, maka ia akan dapat dengan mudah mengikuti jalan kembali ke padepokan itu.

Meskipun ada kemungkinan petani disawah itu melihatnya dari kejauhan saat-saat ia menelusuri pematang, tetapi agaknya petani itu tidak akan dapat mengenalinya atau karena petani itu tidak akan memperhatikannya lagi.

Langkah Mahisa Bungalan yang gelisah itu semakin lama menjadi semakin cepat. Ia sadar, bahwa kaki-kaki kuda akan dapat melangkah lebih cepat dari kakinya. Namun ia berjalan terus menuju ke Padepokan Kenanga.

“Aku akan mencapai padepokan itu di malam hari” berkata Mahisa Bungalan kepada diri sendiri, “tetapi itu lebih baik daripada aku tidak melibat sama sekali, apakah yang akan terjadi di padepokan itu”

Oleh kegelisahannya, Mahisa Bungalan berjalan tanpa berhenti menuju ke padepokan yang baru ditinggalkannya di pagi hari. Meskipun ia baru sekali melalui jalan ke arah sebaliknya, namun ia mengenal jalan itu dengan baik, sehingga ia tidak akan mudah tersesat.

Sementara itu, beberapa orang berkuda itu benar-benar sekelompok orang dari padepokan Watu Kendeng. Seperti yang dikatakan oleh petani di tengah sawah, itu, orang-orang Watu Kendeng memang sedang menuju ke padepokan Kenanga.

Tetapi kedatangan mereka memang tildak diberitahukan lebih dahulu kepada Ki Selabajra, sehingga orang-orang padepokan Kenanga tidak mengira bahwa pada hari itu, orang-orang dari padepokan Watu Kendeng akan datang dengan maksud tertentu, bukan sekedar kunjungan dari sebuah padepokan ke padepokan yang lain.

Karena itulah, maka ketika sekelompok orang-orang berkuda itu mendekati regol Padepokan Kenanga, maka orang-orang di padepokan itu terkejut karenanya. Seorang cantrik dengan tergopoh-gopoh menyongsong orang-orang berkuda itu dan bertanya, siapakah mereka.

“He, apakah kau tidak mengenal kami?” orang-orang Watu Kendeng itu justru bertanya.

Cantrik itu terheran-heran. Sementara salah seorang Watu Kendeng itu meneruskan, “Kami datang dari padepokan Watu Kendeng”

“O” cantrik itu meng-angguk, “silahkan. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Selabajra”

Cantrik itu pun kemudian berlari-lari masuk ke ruang dalam mencari Ki Selabajra. Dengan nafas terengah-engah ia mengatakan bahwa di luar sekelompok tamu dari Watu Kendeng telah datang.

Tetapi Ki Selabajra tersenyum, “Aku sudah melihatnya. Silahkan mereka duduk di pendapa. Aku akan berganti pakaian sepantasnya untuk menerima mereka”

Cantrik itu kemudian dengan tergesa-gesa mendapatkan sekelompok tamu dari Watu Kendeng itu dan mempersilahkannya naik ke pendapa Sementara itu, beberapa orang murid yang lain telah mengamati tamu mereka dari jarak yang jauh di halaman padepokan. Namun karena tamu itu nampaknya datang dengan maksud baik, maka mereka pun telah kembali ketugas masing-masing.

Sejenak kemudian, maka Ki Selabajra pun keluar dari ruang dalam memasuki pendapa. Sambil tersenyum cerah, ia pun kemudian duduk menemui tamunya yang sudah duduk di atas tikar yang terbentang.

Seperti kebiasaan mereka pun memenuhi sapa adat. Mereka saling mempertanyakan keselamatan masing-masing dan keluarga yang mereka tinggalkan. Sementara itu Ki Watu Kendeng telah memperkenalkan para pengiringnya.

Sementara itu, para cantrik pun kemudian telah mempersiapkan jamuan bagi para tamu yang ada di pendapa.

Setelah mereka menerima jamuan yang dihidangkan, serta setelah mereka minum seteguk dan makan sepotong makanan, maka mulailah mereka memasuki pembicaraan yang sebenarnya.

“Ki Watu Kendeng” bertanya Ki Selabajra dari padepokan Kenanga, “sebenarnya kedatangan kalian di padepokan ini agak mengejutkan hatiku. Sukurlah jika kalian hanya sekedar menengok keselamatan kami. Tetapi jika ada keperluan lain, maka hati kami dari padepokan ini menjadi berdebar-debar karenanya”

Ki Watu Kendeng tersenyum pula. Jawabnya, “Kami minta maaf Ki Kenanga, bahwa kedatangan kami agaknya telah merisaukan hati keluarga padepokan ini. Adalah kesalahan kami, bahwa kami tidak memberitahukan terlebih dahulu kedatangan kami ini”

Ki Selabajra mengangguk-angguk. Katanya, “Kunjungan kalian sangat menggembirakan hati kami”

“Terima kasih” sahut Ki Watu Kendeng, “selebihnya, selain karena kami ingin menengok keselamatan keluarga di padepokan ini, kami ingin melanjutkan pembicaraan yang pernah kita lakukan beberapa saat yang lalu”

Ki Selabajra mengerutkan keningnya. Seolah-olah ia sedang mengingat, pembicaraan yang manakah yang dimaksud oleh Ki Watu Kendeng itu.

“Ki Watu Kendeng” desis Ki Selabajra dengan kerut-merut di kening, “aku minta maaf, bahwa mungkin sudah menjadi sifat orang-orang tua. Aku kurang dapat mengingat lagi, pembicaraan yang manakah yang kau maksud itu?”

Wajah Ki Watu Kendeng menegang sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum pula sambil menjawab, “Mungkin kau benar, bahwa orang-orang tua memang menjadi pelupa. Mungkin aku juga sudah lupa pula, apakah hal ini pernah kita bicarakan. Tetapi seingatku, aku pernah mengatakannya

Ki Selabajra mengangguk-angguk. jawabnya, “Ya, memang mungkin. Tetapi persoalan yang manakah yang kau maksud?”

Sekali lagi wajah Ki Watu Kendeng menegang. Namun ia pun berusaha dengan susah payah untuk menghapus kesan itu dari wajahnya. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Kenanga. Daripada pembicaraan ini akan berkepanjangan karena kau masih harus mengingat-ingat masalahnya, baiklah aku mengulanginya saja. Kedatanganku kemari, adalah karena aku didesak oleh anakku. Ia pernah mendengar bahwa kita telah bersetuju, bahwa pada suatu saat kita akan mempertemukan anak-anak kita dalam hubungan keluarga”

Wajah Ki Selabajra menjadi merah. Tetapi seperti Ki Watu Kendeng, ia pun berusaha untuk melenyapkan kesan itu dari wajahnya. Bahkan kemudian ia mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Katanya, “Aku benar-benar sudah menjadi pikun Ki Watu Kendeng. Rasa-rasanya aku benar-benar orang yang tidak mampu lagi mengingat sesuatu yang pernah terjadi” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi apakah aku masih diperkenankan mohon bertanya, apakah aku memang pernah bersetuju dengan Ki Watu Kendeng mengenai hal yang sangat penting ini”

“Ah” rasa-rasanya betapa sulitnya untuk menahan diri, “bukankah kita pernah berbicara tentang anak-anak kita. Bukankah kita pernah menyinggung masa depan padepokan kita. Dan bukankah kira pernah berbincang panjang lebar tentang segala sesuatu yang menyangkut keluarga kita masing-masing. Jika kau masih belum teringat saat-saat itu, biarlah aku berceritera tentang sebuah pertemuan di padepokan Serut Sari”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku minta maaf. Aku minta maaf sebesar-besarnya. Sekarang aku ingat segalanya. Kita pernah bertemu dalam pembicaraan yang menyenangkan di padepokan Serut Sari. Kita pernah berbicara tentang keluarga kita masing-masing. Aku ingat, ketika kita berbicara bahwa kita mempunyai anak kita masing-masing. Kau seorang anak laki-laki dan aku seorang anak perempuan”

“Nah, bukankah kita sudah bersepakat, bahwa kita akan mengikat diri dalam suatu ikatan keluarga yang besar?” bertanya Ki Watu Kendeng, “anakku pernah bertemu dengan anakmu meskipun hanya sepintas di perjalanan, saat anakku pergi berburu. Ceriteranya tentang anak gadismu, mengingatkan aku pada pembicaraan kita itu”

Ki Selabajra menanik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ki Watu Kendeng. Aku tidak ingkar, bahwa aku pernah mengatakan alangkah senangnya untuk mengikat diri dalam satu keluarga. Tetapi aku tidak bermaksud mengambil suatu keputusan saat itu. Bukankah anak gadisku yang akan menjalani hubungan yang paling akrab, karena ialah yang akan menerima lamaran anak laki-lakimu. Karena itu, sebagai orang tua, aku akan mengarahkan perhatiannya kepada anakmu. Dan aku akan bertanya kepadanya, apakah ia dapat menerima lamaran ini”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah sakap yang bijaksana. Sebaiknya kau memang bertanya kepada anak gadismu. Perkawinan bukan hubungan antara dua orang tanpa ikatan batin. Karena itu, maka aku akan menjunjung tinggi keputusan anak gadismu itu”

“Terima kasih” desis Ki Selabajra, “aku sangat berterima kasih atas sikapmu itu”

Namun dalam pada itu, anak muda yang berada diantara mereka yang datang dari Watu Kendeng itu nampak menjadi gelisah. Sekali-sekali ia mencoba memandang Ki Watu Kendeng. Tetapi orang itu sama sekali tidak berpaling kepadanya.

“Karena itu Ki Watu Kendeng” berkata Ki Kenanga, “aku akau mempersilahkan kalian bermalam barang satu atau dua malam. Aku akan bertanya kepada anakku, apakah ia sudah suap untuk memasuki dunia kekeluargaan”

Ki Watu Kendeng menjadi termangu-mangu. Dalam keragu-raguan itulah ia berpaling memandang pengikut-pengikutnya seorang demi seorang, seakan-akan ia ingin bertanya, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang memberikan kesan yang meyakinkan. Setiap orang menjadi ragu-ragu dan tidak mengerti apa yang sebaiknya dilakukan

Karena itu, maka Ki Watu Kendeng pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Tetapi Ki Kenanga, jarak antara padepokan kita tidak terlalu jauh. Apakah tidak sebaiknya aku kembali ke padepokan. Sepekan atau dua pekan lagi, aku dan datang kemari”

Ki Kenanga mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia memandang wajah seorang anak muda yang datang diantara orang-orang Watu Kendeng itu. Dan Ki Selabajra pun segera mengetahui, bahwa anak muda itu tentu anak laki-laki Ki Watu Kendeng, yang ingin memperisteri Ken Padmi.

Dalam pada itu, Ki Kenanga pun kemudian menjawab, “Segalanya terserah kepada Ki Watu Kendeng. Tetapi jika kau akan bermalam di padepokan kecil ini, kami akan mengucapkan terima kasih atas kesediaan itu”

Ki Watu Kendeng tersenyum, katanya, “Aku dapat datang setiap saat. Biarlah hari ini kami kembali ke Watu Kendeng. Sepekan lagi aku akan datang. Mudah-mudahan aku akan dapat mendengar keputusan anak gadismu. Meskipun demikian, aku mohon, agar niat ini akan dapat terjadi dengan baik dan selamat, meskipun sekali lagi aku mengerti, bahwa siapapun tidak akan dapat memaksa kesediaan sebuah hati, Tetapi setidak-tidaknya yang tua-tua dapat berdoa untuk kepentingan anak-anaknya.

“Ya, ya Ki Watu Kendeng. Pengertian sepenuhnya itu agaknya telah membesarkan hati kami. Seperti aku katakan, aku akan berusaha sebaik-baiknya”

Untuk beberapa saat kemudian, Ki Watu Kendeng masih berada di pendapa padepokan Kenanga. Meskipun keperluannya telah selesai, tetapi ia masih sempat berbicara panjang lebar tentang berbagai macam keadaan di padepokan masing-masing. Tentang sawah dan ladang, tentang musim dan tentang binatang- binatang liar.

Sementara itu, anak muda Watu Kendeng itu rasa-rasanya menjadi semakin gelisah. Ia duduk saja sambil menunduk, sementara ayahnya dapat berbincang dan kadang-kadang tertawa berkepanjangan.

Baru ketika kemudian mereka mendapat jamuan makan, anak muda itu sempat bergeser mendekati ayahnya. Sambil berbisik ia bertanya, “Jadi, kita masih harus menunggu beberapa hari lagi?”

Ayahnya berpaling kepadanya dengan kerut-merut di dahinya. Jawabnya, “Tentu Pramuja. Itu sudah lajim. Ki Selabajra akan bertanya lebih dahulu kepada anak gadisnya, apakah ia bersedia atau tidak”

“Jika tidak?” desak anaknya.

“Apaboleh buat. Kita tidak akan dapat memaksakan kehendak kita atas Ken Padmi”

Anak muda itu menggeretakkan giginya. Dengan wajah yang merah padam ia berkata, “Ayah jangan terlalu lemah. Kita dapat menekan Ki Kenanga agar ia memberikan anak gadisnya”

“Yang akan kawin bukan Ki Kenanga. Tetapi anak gadisnya, Ken Padmi”

“Ayahnya mempunyai wewenang untuk menentukan jodoh anak gadisnya” tiba-tiba seseorang berdesis di belakang Ki Watu Kendeng.

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Orang yang berdesis itu adalah adiknya. Adik kandungnya.

“Kau jangan memberikan pandangan yang salah kepada anakmu. Aku sudah memenuhi permintaannya melamar gadis Padepokan ini. Tetapi aku bukan seseorang yang tidak tahu adat, sehingga aku akan memaksakan kehendakku atas orang lain”

Adik kandung Ki Watu Kendeng itu tertawa. Katanya, “Kakang memang seorang yang baik hati. Tetapi kebaikan kakang adalah gambaran dari kelemahan hati kakang”

Ki Watu Kendeng tidak sempat menjawab. Dalam pada itu, maka Ki Selabajra pun kemudian mempersilahkan tamunya untuk makan bersama-sama.

Baru setelah mereka selesai makan dan beristirahat sejenak, maka Ki Watu Kendeng pun kemudian minta diri untuk kembali ke padepokannya.

“Aku akan kembali dalam waktu sepekan. Aku akan menerima segala keputusan Ki Selabajra setelah diperbincangkan dengan gadis yang akan menjalaninya”

“Baiklah Ki Watu Kendeng Kami sangat menghargai kesudian Ki Watu Kendeng berkunjung ke padepokan ini. Betapa besar rasa terima kasih kami, tidak dapat kami katakan disini”

Namun dalam pada itu, Pramuja menjadi semakin gelisah. Sejak ia bertemu Ken Padmi di perjalanan ketika ia pergi berburu, serta setelah sempat berbicara satu dua patah kata dalam pertemuan yang tidak sengaja itu, hatinya bagaikan di cengkam oleh bayangan wajah gadis padepokan Kenanga itu.

Tetapi ayahnya sudah terlanjut minta diri dan ia tidak akan dapat memaksa ayahnya untuk berbuat lain. Betapapun kecewa hatinya, namun ia pun kemudian ikut pula mohon diri dan mengikuti ayahnya kembali ke padepokannya.

“Jangan gelisah” tiba-tiba saja pamannya berbisik di telinganya.

Kuda Pramuja menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sempat bertanya lebih banyak lagi, karena orang-orang padepokan Kenanga yang mengantar mereka sampai ke regol.

Baru di perjalanan, ia mendekati pamannya sambil bertanya, “Apakah maksud paman sebenarnya?

“Pramuja” desis pamannya, “ayahmu memang orang yang sangat baik. Ia bukan jenis orang yang dapat memaksakan kehendaknya atas orang lain. Tetapi itu memang kelemahannya, sehingga seakan-akan ia menerima saja nasib buruk sekalipun yang menimpanya dan menimpa anaknya. Ia tidak akan berusaha apapun juga seandainya lima hari lagi Ki Kenanga itu menjawab, “Maaf Ki Watu Kendeng. Anakku tidak mau”

“Jadi bagaimana menurut paman?” bertanya Kuda Pramuja.

“Aku akan berusaha Pramuja” jawab pamannya., “aku akan menempuh jalanku sendiri. Mudah-mudahan aku berhasil, meskipun aku harus sedikit menakut-nakuti orang”

Kuda Pramuja termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah orang-orang dari padepokan Kenanga itu dapat ditakut-takuti paman? Mereka memiliki murid-murid pilihan yang akan dapat mempertahankan sikap dan pendirian mereka, jika terjadi kekerasan”

Pamannya tertawa. Tetapi ia segera terdiam ketika ia melihat beberapa orang pengiring berpaling kepadanya. Bahkan Ki Watu Kendeng pun berpaling pula sambil bertanya, “Ada apa?”

“Tidak kakang. Tidak ada apa-apa. Aku sedang mengajari Pramuja untuk menjadi seorang suami yang baik kelak” jawab adiknya.

Ki Watu Kendeng pun tersenyum. Tetapi ia tidak tahu apakah sebenarnya yang dibicarakan oleh anak dan adiknya itu.

Dalam pada itu, Pramuja pun bertanya, “Bagaimana pendapat paman tentang orang-orang padepokan Kenanga?”

“Mereka memang mengagumkan bagi orang-orang padukuhan terpencil. Juga mungkin masih harus diperhitungkan oleh orang-orang dari perguruan Watu Kendeng. Tetapi bagiku, mereka bukan apa-apa Pramuja. Jika aku sekedar menyadap ilmu Watu Kendeng, barangkali aku masih juga seperti ayahmu. Baik hati dan membiarkan kepentingan diri sendiri tersisihkan. Tetapi yang semuanya itu sebenarnya hanyalah gambaran dari kelemahan hati”

Kuda Pramuja mengangguk-angguk. Ia mencoba mengerti keterangan pamannya. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apa yang akan paman lakukan untuk itu?”

Pamannya tersenyum. Jawabnya, “Serahkan kepadaku. Aku akan melakukannya tanpa sepengetahuan ayahmu”

“Apa yang akan paman lakukan itu?”

Pamannya masih saja tersenyum. Sambil menggeleng ia berkata, “Aku belum tahu”

“Paman merahasiakannya?”

Pamannya memandang Pramuja sambil menahan tertawanya. Katanya, “Mudah-mudahan aku berhasil. Aku memang harus menunjukkan bahwa padepokan Watu Kendeng bukannya padepokan yang lemah, dan bukan pula yang lemah lembut menghadapi persoalan- persoalan penting bagi hidup seorang penghulunya”

Kuda Pramuja tidak mendesak lagi. Tetapi ia percaya bahwa pamannya akan dapat menyelesaikan persoalannya. Pamannya tentu berhasil mempengaruhi sikap dan keputusan Ki Kenanga untuk memberikan anak gadisnya kepada anak padepokan Watu Kendeng.

Demikianlah, maka kuda-kuda itu pun berlari tidak terlalu kencang di bulak panjang. Sementara itu Kuda Pramuja masih saja selalu dibayangi oleh kegelisahannya, bahwa maksudnya, akan urung karena sikap ayahnya.

“Untunglah ada paman di sini” katanya di dalam hati.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang berjalan kembali ke padepokan Kenanga sudah menjadi semakin dekat. Ia terkejut ketika dari kejauhan ia melihat beberapa ekor kuda berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah perjalanannya.

“Orang-orang Watu Kendeng” desisnya.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan kemudian menepi dan duduk di belakang sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan bulak.

Ketika iring-iringan orang berkuda itu telah lewat, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berdiri termangu-mangu. Sambil memandangi debu yang berhamburan ia berdesis, “Ternyata mereka tidak terlalu lama berada di padepokan Kenanga. Tetapi apakah dengan demikian pertanda bahwa sudah ada pembicaraan sebelumnya, sehingga kedatangannya itu hanyalah sekedar mematangkan persoalan saja?”

Mahisa Bungalan justru menjadi semakin gelisah. Sementara langit telah menjadi semakin buram. Seburam hari anak muda itu.

-oo0dw0oo-

Bersambung ke jilid 3

Sumber DJVU : Dino
Convert & Edit : Dino
Ebook oleh : Dewi KZ

edit ulang oleh Ki Area

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s