NSSI-15


<< kembali | lanjut >>

I.

Adapun Radite dan Anggara, ketika melihat orang yang berjubah itu tegak di hadapan mereka seperti patung, terlonjaklah dada mereka. Tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi bergetar dan nafas mereka menjadi semakin cepat beredar. Karena pada tubuh yang tegak mematung di hadapannya itu, seolah-olah terpancarlah suatu kenangan atas masa silam. Suatu kenangan dari masa yang gemilang dari seorang yang menamakan dirinya Pasingsingan. Ya, pada saat Radite berhak mengenakan jubah yang berwarna abu-abu, seorang yang berhak mengenakan topeng yang meskipun kasar dan jelek namun dari padanya terpancar suatu harapan bagi setiap orang yang menyaksikannya. Karena dibalik wajah yang kasar dan jelek itu tersembunyi suatu pengabdian yang luhur tanpa pamrih. Tetapi keluhuran serta kemurnian pengabdian itu kemudian menjadi lebur. Dan setelah itu nama Pasingsingan menjadi hancur. Nama Pasingsingan dengan cepatnya meluncur hanyut ke dalam lumpur, karena pokal seorang saudara seperguruannya yang bernama Umbaran. Tiba-tiba kembali Radite terlempar pada suatu anggapan, bahwa dirinyalah sumber dari segala bencana dan noda yang kemudian melekat dan mengotori jubah abu-abu, topeng yang kasar dan jelek namun mamancarkan harapan damai serta nama yang menggetarkan, ”Pasingsingan.

Dan sekarang di hadapannya berdiri seseorang yang mengingatkannya kepada dirinya beberapa tahun yang silam. Tetapi yang pasti baginya orang yang berjubah itu bukanlah Umbaran. Sebab bagaimanapun saktinya Pasingsingan, yang berasal dari orang yang bernama Umbaran itu, namun tidaklah mungkin ia mampu menciptakan suasana sedemikian seramnya.

Dalam pada itu, tiba-Tiba Radite teringat akan sumber dari nama Umbaran. Sumber dari mahluk-mahluk yang kemudian menyebut dirinya Pasingsingan. Teringatlah ia pada saat ia menerima warisan jubah abu-abu serta segala kelengkapannya yang demikian saja berada di dalam ruang tidurnya. Teringatlah ia ketika orang yang mewariskan benda-benda itu kemudian lenyap tak berbekas. Yang kemudian datang kembali ketika nama Pasingsingan itu telah ternoda dan berkata kepadanya ”Bahwa tak ada gunanya untuk mencoba memperbaiki nama yang telah terbenam didalam arus ketamakan, kedengkian dan kejahatan.”

Radite adalah seorang tua yang mempunyai mata hati yang tajam. Demikian pula adiknya, Anggara. Karena itu tiba-tiba tergoreslah suatu tanggapan batin yang tak dapat diketahui dari mana datangnya yang mengatakan padanya, bahwa kemungkinan satu-satunya orang yang berdiri di hadapannya itu adalah gurunya Pasingsingan Sepuh. Karena itu, seperti orang berjanji, Radite dan Anggara tiba-tiba bersama-sama berjongkok dan membungkukkan kepala mereka dengan takzimnya.

Orang yang berjubah abu-abu itu mundur beberapa langkah ke belakang. Wajahnya yang kosong dan pucat, sama sekali tak menampakkan sesuatu kesan. Apalagi didalam gelap malam, wajah itu seolah-olah sama sekali tidak bergerak.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengarlah suara Radite serak, ”Guru… ampunkanlah kami, atas segala ketikdaksopanan kami. Sebab kami sama sekali tidak menduga bahwa kami masih berhak untuk memandang wajah guru karena dosa-dosa kami.”

Orang yang berjubah abu-abu itu terdengar menggeram. Lalu terdengarlah suaranya seolah-olah bergulung-gulung di dalam perutnya, ”Radite dan Anggara, demikianlah, sejak aku kau kecewakan, aku memang sudah berhasrat untuk tidak menjumpaimu lagi. Sebab setiap aku memandang wajahmu, tergoreslah kembali luka di hati ini. Bagaimanapun aku berusaha untuk bersikap sebagai seorang yang berjiwa besar, namun ternyata aku bukanlah orang yang berjiwa demikian. Meskipun aku tidak membebankan semua kesalahan kepadamu, namun dengan menghindari pertemuan itu, aku berhasrat untuk melupakan segala-galanya yang pernah terjadi. Melupakan gelar Pasingsingan yang sudah sejak berpuluh tahun sebelumnya dipupuk dan disiangi, untuk kemudian dapat berkembang dengan harumnya. Tetapi, kemudian karena sifat-sifat yang sebenarnya alami dari setiap manusia, maka semuanya itu menjadi hancur. Sifat-sifat alami yang tanpa kesadaran serta pengarahan yang benar, maka kaburlah batas antara manusia yang berakal budi dengan mahluk-mahluk lainnya, yang hanya mengenal sifat-sifat alami melulu sebagai naluri.”

Radite dan Anggara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Mereka sama sekali tidak berani menatap wajah orang yang berdiri di hadapannya. Mereka merasakan benar-benar betapa kata-kata orang itu langsung menembus jantung mereka. Dan karena kata-kata itu pula kemudian Radite dan Anggara menjadi yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak mungkin ada orang lain yang dapat berbuat, bersikap dan berkata kepadanya sedemikian itu selain Pasingsingan Sepuh. Karena itu maka sekali lagi Radite menundukkan kepalanya sambil berkata parau, ”Guru, telah sekian lama aku menanti, bahwa pada suatu saat aku akan dapat membersihkan dosa-dosaku dengan menjalani hukuman yang dapat guru jatuhkan kepadaku. Dan sekarang aku mendapat kesempatan untuk bertemu. Karena itulah aku mohon, guru sudi berbuat sesuatu atas diriku sebagai suatu pernyataan penyesalanku yang tiada terhingga.”

Radite…” jawab orang yang berjubah itu, ”Pengakuan atas kesalahan yang tiada dibuat-buat, yang diucapkan dengan jujur dan ikhlas adalah suatu hukuman yang seberat-beratnya. Sebab, hukuman bukanlah sekadar menyakiti, menyiksa atau penderitaan-penderitaan lain. Tetapi tujuan dari pada hukuman yang sebenarnya adalah mencegah terulangnya kesalahan itu. Kalau seseorang, dengan ikhlas dan jujur telah mengakui kesalahannya dan berusaha dengan sepenuh hati untuk tidak berbuat kesalahan-kesalahan lagi, maka menurut pendapatku tidak adalah hukuman lain yang wajib ditimpakan atasnya.”

Sekali lagi kata-kata orang berjubah itu meresap ke dalam setiap relung dada Radite maupun Anggara, seperti meresapnya rasa sejuk dari percikan air yang telah wayu sewindu. Meskipun demikian, karena beban perasaan yang terasa sangat berat menghimpit hati, Radite mencoba sekali lagi mendesak, ”Guru, bukankah hal yang demikian setidak-tidaknya akan dapat menjadi suri tauladan, bahwa Radite mengalami hukuman atas kesalahannya? Sebab apabila ada kesalahan yang lepas dari hukuman, maka ada kemungkinan orang lain akan melakukan hal yang sama dengan harapan untuk membebaskan diri pula dari setiap hukuman.”

Terdengarlah orang yang berjubah itu tertawa lirih. Jawabnya, ”Radite, aku tahu bahwa kau ingin mengurangi tanggungan perasaanmu. Tetapi ketahuilah, bahwa dengan penyesalan serta keikhlasanmu mengakui kesalahanmu itu adalah hukuman yang sudah cukup berat. Sedang apabila ada orang lain yang dengan sengaja berbuat kesalahan, kepadanyalah hukuman harus dibebankan, bahkan dua kali lipat dari yang seharusnya.”

Radite menjadi terdiam. Untuk beberapa saat suasana kembali dicekam oleh kesepian. Dalam pada itu timbul pulalah berbagai pertanyaan di dalam dada Radite dan Anggara. Kalau gurunya pada saat yang tiba-tiba tanpa diduga-duganya itu hadir di hadapannya, apakah maksudnya? Ia tidak ingin memberi hukuman kepadanya, sebaliknya gurunya itu telah bertekad untuk tidak menjumpainya lagi. Tetapi sekarang orang itu ada disini. Baru kemudian teringatlah oleh Radite bahwa disampingnya ada orang lain dari perguruan lain. Yaitu Mahesa Jenar dan orang yang menamakan dirinya Tumenggung Surajaya. Apakah kedatangan gurunya itu ada sangkut-pautnya dengan mereka itu?.

Karena itu kemudian bertanyalah ia, ”Guru, kalau demikian apakah aku berhak mempersilahkan guru untuk singgah ke dalam pondokku?”

Terdengar orang berjubah itu tertawa pendek. Lalu sahutnya, ”Radite, kau agaknya terlalu cemas melihat bayanganmu sendiri. Bagiku, dosamu tidak sebesar yang kau duga sendiri. Sudah aku katakan bahwa kalau aku tidak ingin menjumpaimu lagi itu karena kekerdilan jiwaku sendiri. Jiwa orang tua yang merindukan masa lampau itu tetap menjadi kebanggaannya. Bahkan kalau mungkin, menjadi kebanggaan setiap orang”

Tetapi, Radite dan Anggara. Ternyata apa yang cemerlang di masa lampau tidaklah selalu yang cemerlang masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan ini akhirnya harus aku yakini meskipun tidak semua yang berasal dari masa lampau itu harus dilupakan dan disisihkan. Namun satu hal yang bagiku tetap harus tak berubah dari masa ke masa. Dari masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Bahwa apa yang kita lakukan seharusnya kita abdikan dengan penuh kasih dan cinta kepada manusia dan kemanusiaan. Bukan sebaliknya manusia dan kemanusiaan kita abdikan pada diri kita, pada kepentingan kita pribadi. Demikianlah manusia akan mencerminkan kasih dan cinta Tuhan.”

Tidak hanya Radite dan Anggara yang meresapi kata-kata orang berjubah itu. Juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendengarkan kata demi kata dengan seksama. Sehingga untuk sesaat mereka lupa pada kepentingan mereka sendiri.

Sementara itu terdengar orang berjubah itu meneruskan, “Dan karena itulah agaknya aku datang kemari. Kalau pada saat-saat lampau tak sepantasnya orang-orang muda menyeret orang-orang tua ke dalam satu persoalan, namun sekarang ternyata aku terseret kemari karena pokal anak-anak muda.”

Radite dan Anggara terkejut mendengar kata-kata itu. tanpa disengaja mereka menoleh kepada Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang masih duduk disamping mereka. Namun ketika didengarnya kata-kata orang berjubah itu, mereka pun mengangkat wajah mereka.

Dan orang berjubah itu pun meneruskan, ”Aku terpaksa datang kemari karena aku tidak mau

Radite dan Anggara menjadi semakin tercengang. Sedangkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa menundukkan wajah. Dalam pada itu terdengar kelanjutan kata-kata orang berjubah itu, ”Nah Radite… katakanlah kepadaku sekarang, apakah kau menyimpan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten…?”

Bukan main terkejutnya. Tidak hanya Radite dan Anggara. Tetapi juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Dengan tergagap terdengar Radite menjawab, ”Guru, aku sama sekali tidak menyimpan kedua pusaka itu. seandainya demikian, buat apakah kiranya kedua pusaka itu bagiku?”

Orang berjubah itu menoleh kepada Mahesa Jenar dan bertanya kepadanya, ”Aku dengar, kau berkeras menuduh bahwa kedua pusaka itu berada di tempat ini.”

Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu. Karena itu dengan ragu-ragu ia menjawab, ”Ya Tuan… memang aku menyangka bahwa kedua keris itu berada di sini.”

”Nah…” jawab orang berjubah itu, ”Radite dan Anggara telah menjawab bahwa kedua pusaka itu tidak berada di tempat ini. Kau harus percaya, sebab sepengetahuanku, Radite dan Anggara tidak pernah berbohong.”

Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Sesekali ia menoleh kepada Kebo Kanigara. Tetapi Kebo Kanigara agaknya sedang berpikir. Karena itu akhirnya Mahesa Jenar terpaksa menjawab, ”Tuan… memang sebenarnya aku tidak ingin menemukan keris itu di sini.”

”Lalu apakah maksudmu sebenarnya…?” desak orang berjubah itu.

Sekali lagi Mahesa Jenar ragu. Sedangkan Radite dan Anggara pun menjadi bingung. Ia tidak mengerti arah jawaban Mahesa Jenar. Mahesa Jenar sendiri, yang mula-mula sudah merencanakan segala sesuatu dengan lengkap dan urut, namun di hadapan orang berjubah abu-abu itu semuanya menjadi terpecah-pecah kembali. Seolah-olah ia kehilangan ingatan atas segala rencana yang telah disusunnya bersama Kebo Kanigara. Meskipun demikian satu hal yang dapat dijadikan pegangan. Orang berjubah abu-abu itu kini sudah datang.

Karena itu ia tidak perlu berbelit-belit lagi. Dan ketika ia melihat Kebo Kanigara mengangguk kecil, berkatalah Mahesa Jenar, “Tuan yang berjubah abu-abu, kalau aku datang kemari dan memaksakan suatu perselisihan kepada Paman Radite dan Paman Anggara, sebenarnya adalah karena Tuan. Sebab sejak semula aku pun sudah percaya bahwa kedua keris itu sama sekali tidak berada di tempat ini, tetapi berada pada seseorang yang sakti, yang mengenakan jubah abu-abu mirip dengan jubah yang pernah dan selalu dipakai oleh Pasingsingan.”

Radite dan Anggara tersentak bersama-sama mendengar kata-kata itu. Mula-mula jantungnya berdebar-debar, tetapi kemudian jantung itu menjadi seolah-oleh berhenti bekerja. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Bagaimanapun mereka menyadari bahwa sementara ini mereka telah dipergunakan oleh Mahesa Jenar untuk memancing kehadiran gurunya. Tetapi sebelum ia sempat berkata sesuatu, terdengarlah Mahesa Jenar berkata kepada mereka, ”Paman berdua… ampunkan kami. Kami sama sekali tidak bermaksud menyakiti hati Paman berdua. Apalagi sampai ada pertempuran yang sebenarnya antara hidup dan mati. Apa yang kami lakukan benar-benar suatu permainan yang berbahaya. Namun penuh dengan tanggungjawab atas kedua pusaka yang hilang itu.”

Perasaan aneh menjalar dalam dada Radite dan Anggara. Bahkan kemudian mereka tidak tahu, bagaimana seharusnya mereka menanggapi kejadian itu. Dalam keadaan yang demikian terdengarlah orang berjubah itu tertawa lirih. Katanya, ”Aku kagum pada kecerdasanmu Mahesa Jenar. Rupanya kau pernah mendengar bahwa Radite dan Anggara adalah murid Pasingsingan. Kau pernah melihat bahwa orang yang membawa kedua keris itu pun berjubah abu-abu seperti Pasingsingan. Nah, kau yakin bahwa apabila kau bertempur melawan Radite dan Anggara, pastilah orang berjubah abu-abu itu datang meleraimu. tetapi bagaimana kalau aku berpendirian, biarlah kau berdua dibinasakan oleh Radite dan Anggara?”

Hampir saja Mahesa Jenar menjawab bahwa ia berusaha untuk tidak terbinasakan, karena keseimbangan yang telah dicapainya setelah ia mesu raga. Sedangkan Kanigara adalah seorang yang cukup sakti untuk mengimbangi Radite. Tetapi niat itu diurungkan, karena dengan demikian, meskipun ia tidak bermaksud apa-apa, agaknya akan nampak bahwa ia menyombongkan dirinya.

Dan karena beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, orang berjubah abu-abu itu meneruskan, seolah-olah mengerti perasaan Mahesa Jenar. “Atau kalau kalian merasa bahwa kesaktian kalian berimbang, bagaimanakah kalau seandainya aku tidak mengetahui apa yang terjadi di sini?”

Karena perkataan itu, seolah-olah Mahesa Jenar mendapat tuntunan untuk menjawabnya, “Tuan… aku yakin bahwa Tuan akan mengetahui apa yang akan terjadi di sini. Sebab kehadiran Tuan pada pertempuran di Gedangan, serta usaha Tuan untuk menyempurnakan tata nadi Arya Salaka menunjukkkan kepadaku bahwa Tuan selalu hadir di dalam saat-saat yang gawat. Sedangkan aku yakin pula bahwa Tuan tidak akan membiarkan salah satu pihak dari kita yang sedang bertempur menjadi binasa. Sebab Paman Radite dan Paman Anggara adalah murid-murid Tuan yang terpercaya. Meskipun akhirnya Tuan merasa perlu untuk menjauhinya, namun Tuan tidak akan tega sampai sejauh-jauhnya. Sebaliknya, apakah Tuan dapat melihat kami, aku dan Kakang Kebo Kanigara, binasa…?”

“Kenapa tidak…?” terdengar orang berjubah itu menyahut.

“Kalau demikian…” tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, “Tuan pasti tidak akan melerai kami. Membiarkan kami bertempur terus. Dan apabila kami binasa, selesailah persoalan Tuan, tetapi kalau kami menguasai keadaan, Tuan akan datang membantu Paman Radite dan Paman Anggara, tetapi ternyata yang terjadi tidaklah demikian.”

“Kau yakin bahwa aku tidak akan berbuat demikian?” jawab orang berjubah abu-abu itu.

“Bukankah kau masih berada di tempat ini, dan aku masih belum berbuat sesuatu? Nah, agaknya kau telah mempercepat tindakan-tindakan yang akan aku lakukan. Ketahuilah bahwa kau benar. Aku datang untuk membantu Radite dan Anggara membinasakan kalian berdua.”

Radite dan Anggara menjadi semakin bingung. Persoalan yang agaknya menjadi semakin berbelit-belit. Ia menjadi bertambah terkejut lagi ketika tiba-tiba Kebo Kanigara tertawa. Tiba-tiba saja ia menemukan sifat-sifat yang sudah sangat dikenalnya pada orang berjubah abu-abu itu. Karena itu tiba-tiba pula ia berkata hampir berteriak, “Nah, Tuan yang berjubah abu-abu… lakukanlah apa yang Tuan kehendaki. Namun aku ingin meninggalkan pesan buat anakku Arya Salaka di Padepokan Karang Tumaritis.”

Orang berjubah itu terdiam. Bahkan tampak beberapa jengkal ia surut ke belakang. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak kenal Arya Salaka dari Karang Tumaritis. Kalau yang kau maksud itu adalah anak yang pernah aku tolong, memperbaiki tata nadinya, maka aku tidak ada hubungan sama sekali dengan anak itu.”

Sekarang Mahesa Jenar sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Karena itu maka ia ikut berteriak, “Nah, Tuan… aku yakin bahwa Tuan tidak berani mengganggu kami. Sebab di belakang kami berdiri seorang yang maha sakti pula seperti Tuan, yang bermukim di gunung Karang Tumaritis, bernama Panembahan Ismaya. Seorang Panembahan yang sangat gemar mengumpulkan dan menyimpan hampir segala jenis topeng-topeng serta pahatan kayu.”

Sekali lagi Radite dan Anggara terkejut. Bahkan darahnya seolah-olah mengalir semakin cepat, ketika ia mendengar Mahesa Jenar berkata, bahwa seolah-olah menantang gurunya. Di samping itu ia menjadi heran pula bahwa ada orang lain yang disebut maha sakti, apalagi sampai gurunya tidak berani bertindak karena orang itu. Dan sSetelah perasaan mereka terguncang-guncang untuk kesekian kalinya, kembali Radite dan Anggara menjadi tercengang ketika tiba-tiba gurunya tertawa. Tertawa hampir terkekeh-kekeh. Dalam keadaan yang demikian semakin jelaslah, betapa tua usia orang yang berjubah abu-abu itu.

Katanya kemudian, “Mahesa Jenar, adakah orang yang kau sebutkan maha sakti itu gurumu?”

“Bukan,” jawab Mahesa Jenar, “Tetapi Panembahan Ismaya adalah seorang Panembahan yang tak ada duanya di kolong langit ini. Aku sangat tertarik pada topeng-topengnya yang beraneka ragam. Ada yang kasar dan jelek, namun penuh menyimpan watak yang sejuk damai. Tetapi ada pula yang tampak cerdik, namun jauh dari sifat-sifat kesombongan. Dan salah satu yang sangat menarik bagiku adalah yang Tuan pakai sekarang ini.”

Orang berjubah abu-abu itu terdengar menggeram. Namun sama sekali tidak menakutkan. Bahkan kemudian katanya kepada Radite dan Anggara, “Anak-anakku, agaknya kalian menjadi pening mendengar kata-kata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tetapi biarkanlah mereka berkicau sesukanya.”

Radite dan Anggara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka sebenarnya ingin penjelasan. Disamping itu tiba-tiba mereka mendengar nama Kebo Kanigara disebut-sebut. Baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh gurunya. Karena itu terdengarlah Radite berkata, “Benar Bapa, aku benar-benar menjadi pening. Namun sudilah kiranya Bapa memberi penjelasan.”

Orang berjubah abu-abu itu tertawa. Katanya, “Radite, sebaiknya aku kau persilahkan masuk ke dalam pondokmu dahulu bersama kedua tamu-tamumu yang aneh ini.”

Radite kemudian merasa diingatkan atas kewajibannya sebagai tuan rumah. Karena itu dipersilahkannya gurunya beserta kedua tamu yang membingungkan itu masuk ke dalam rumahnya. Setelah mereka duduk melingkari lampu minyak jarak, diatas sebuah bale-bale yang besar, mulailah orang berjubah itu berkata, ”Radite dan Anggara… kau kenal aku karena kau adalah murid-muridku yang seolah-olah telah merupakan bagian dari hidupnya sendiri. Tetapi kau melihat wajahku selalu tertutup oleh sebuah topeng yang kasar dan jelek, yang kemudian dipakai oleh Umbaran. Dan karena itulah agaknya kau belum pernah melihat wajahku yang sebenarnya. Meskipun demikian, dengan wajah yang lainpun kau segera dapat mengenal aku pula. Demikian pula agaknya Kebo Kanigara yang meskipun aku mengenakan pakaian yang belum pernah dilihatnya, namun karena pergaulan kami yang sudah lama, maka iapun segera dapat mengenal aku pula. Sedangkan Mahesa Jenar, akan segera mengenal aku karena perhitungan-perhitungan otaknya yang cemerlang. Sehingga karena pokalnya kau benar dapat dipancingnya malam ini. Dan kalian adalah umpan-umpannya.”

Radite dan Anggara memang sudah merasakan hal itu. Namun peristiwa seterusnya adalah terlalu aneh baginya. Apalagi orang yang disebut Kebo Kanigara, yang mula-mula menamakan dirinya Tumenggung Surajaya itupun telah banyak bergaul dengan gurunya. Apakah ia pun berguru pada orang yang dahulu bernama Pasingsingan itu? Tetapi kalau demikian, maka unsur-unsur pokok ilmu mereka pasti bersamaan. Sedangkan orang itu justru bersumber pada cabang perguruan Pengging.

Dalam pada itu, orang yang berjubah abu-abu itu agaknya mengerti akan isi hati Radite dan Anggara, karena itu ia meneruskan, ”Satu-satunya cara bagi Mahesa Jenar untuk dapat bercakap-cakap dengan orang yang berjubah abu-abu ini, yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri telah mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten dari Banyubiru, adalah dengan cara ini. Bertempur dengan murid-muridnya. Dengan demikian orang yang berjubah abu-abu ini pasti tidak hanya sekadar memperlihatkan diri untuk melerai atau memihak kepadanya saja, sebab lawan-lawannya adalah murid orang berjubah abu-abu itu sendiri.”

Tiba-tiba Radite menggeser duduknya ke dekat Mahesa Jenar dan menepuk bahunya keras-keras sambil berkata, ”O, ngger, ngger. Pandai benar kau buat hati orang tua kalang kabut. Hampir saja aku kehilangan pengamatan diri. Sebab persoalan yang Angger berdua paksakan kepada kami adalah langsung menyinggung luka hati yang paling parah. Itulah sebabnya aku tak dapat menahan diri lagi.”

”Maafkan kami Paman,” sela Kebo Kanigara, ”Sebab kami tahu betapa sabar dan alimnya Paman berdua, sehingga mula-mula kami menemui kesulitan untuk membuat paman berdua marah. Maka terpaksalah kami agak melampaui batas-batas kesopanan. Tetapi kami harap Paman percaya, bahwa bukanlah demikian maksud kami yang sebenarnya.”

Radite mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bertanyalah ia, ”Tetapi kenapa Angger menyinggung-nyinggung Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?”

”Sebab memang kedua keris itulah yang kami cari,” jawab Kebo Kanigara. ”Dan terhadap orang yang kami harapkan hadir kemudian, kami menaruhkan harapan sepenuhnya atas kedua pusaka itu. Karena orang yang berjubah abu-abu itupun tahu pasti bahwa kedua keris itu tidak berada di sini.”

Radite menarik nafas dalam-dalam, sedang Anggara pun kemudian tertawa lirih, katanya, ”Alangkah bingungnya aku kemudian. Baru sekarang aku menjadi jelas. Alangkah bodohnya orang-orang tua ini, yang hanya pantas untuk menjadi penunggu burung di sawah-sawah.”

”Tetapi…” tiba-tiba Radite menyela, ”Siapakah sebenarnya Angger ini, yang menamakan dirinya Tumenggung Surajaya, namun yang kemudian disebut oleh Bapa Guru dengan nama Kebo Kanigara…?”

Orang berjubah abu-abu itu tersenyum. Katanya, ”Itulah kesenangannya. Membingungkan orang lain dengan nama-nama yang dibuatnya. Ia pernah menamakan diri Putu Karang Jati waktu ia menemui Pandan Alas.”

”Pandan Alas…?” ulang Radite dan Anggara hampir berbareng. ”Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak…?”

”Ya,” jawab orang yang berjubah abu-abu itu. ”Dan sekarang ia menamakan dirinya Tumenggung Surajaya. Dan orang yang suka berganti nama itu tidak lain adalah seorang yang menganut ilmu perguruan Pengging. Sebagaimana kau lihat, Mahesa Jenar pun memiliki nama yang aneh pula. Di Gedangan mula-mula ia dikenal bernama Manahan. Barangkali memang demikianlah kebiasaan anak-anak Ki Ageng Pengging Sepuh.”

”Aku sudah menduga,” sela Radite, ”Bahwa Angger ini pasti seorang murid yang sempurna dari perguruan Pengging.”

”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah anak Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.”

Radite dan Anggara bersama-sama mengerutkan keningnya. Tahulah ia sekarang kenapa ia memiliki kesaktian yang mengagumkan. Yang dapat mengimbangi ilmu yang dimiliki oleh Radite sendiri.

Tetapi dalam pada itu terdengarlah Mahesa Jenar berkata, ”Tuan benar. Memang anak-anak perguruan Pengging suka berganti nama. Tetapi agaknya Tuan lupa bahwa seorang yang bernama Radite pernah bernama Pasingsingan dan pernah bernama Paniling. Seorang yang bernama Anggara pun memiliki nama lain, yaitu Darba. Tetapi lebih daripada itu, seorang lain yang pernah bernama pula Pasingsingan, ternyata memiliki nama yang lain, Panembahan Ismaya.”

Bagaimanapun juga, orang berjubah abu-abu itu tergeser beberapa jengkal. Namun wajahnya yang pucat sama sekali tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sinar pelita yang menggapai-gapai dengan gelisahnya, membuat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak di dinding.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Paniling dan Darba masih juga terkejut. Apakah sangkut-paut antara Pasingsingan dengan Panembahan Ismaya…?

Tiba-Tiba tampaklah orang berjubah abu-abu itu melepas ikat kepalanya. Dan karena itu tampaklah di bawah rambutnya yang telah memutih, suatu garis yang memisahkan antara kulit kepalanya dengan kulit wajahnya.

“Sekarang aku tidak perlu bersembunyi-sembunyi lagi,” bisiknya. “Sebab Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah mengetahui semuanya dengan jelas. Dan bagiku, sekarang sudah tidak ada gunanya lagi memiliki bermacam-macam nama dan kedudukan.”

Bersamaan dengan itu, terkelupaslah kulit yang tipis dari wajah orang berjubah abu-abu itu. Kulit kayu yang dipahatnya halus-halus menyerupai benar wajah seseorang. Terhadap topeng itu tak seorangpun yang terkejut. Apalagi Mahesa Jenar, yang jauh sebelumnya telah mengenal bahwa orang berjubah abu-abu itu tidak memiliki wajah sewajarnya, melainkan mengenakan topeng. Dan topeng itu jauh berbeda dengan topeng yang pernah dipakainya pada saat ia bernama Pasingsingan.

Dari balik topeng itu muncullah wajah orang berjubah abu-abu itu. Wajah seorang tua yang lunak damai. Meskipun berkerut-kerut namun kesegaran masih memancar dari wajahanya. Wajah yang sudah dikenal oleh Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Memang orang itulah Panembahan Ismaya.

Radite dan Anggara tiba-tiba merasa terharu. Terharu karena mereka berkesempatan mengenal wajah gurunya. Wajah yang selama ini menjadi teka-teki. Bahkan mereka menduga bahwa seumur hidup mereka tak akan sempat memandang wajah itu. Namun suatu hal yang mengejutkan mereka berdua, bahwa orang berjubah abu-abu itu tidaklah setua yang mereka duga. Umurnya tidak banyak terpaut banyak dengan umur mereka sendiri.

Meskipun demikian Radite dan Anggara membungkukkan kepalanya sambil berkata dengan hormatnya, “Bapa Guru… aku merasa mendapatkan suatu kurnia juga tiada taranya, bahwa Bapa Guru telah berkenan memberi kesempatan kepada kami untuk lebih mengenal Bapa.”

Orang yang berjubah abu-abu, yang pernah bernama Pasingsingan dan kemudian menjauhkan diri dari kesibukan dunia ramai di Bukit Karang Tumaritis dan bernama Panembahan Ismaya itu tersenyum. “Semua permulaan akan ada akhirnya. Hanya yang tidak bermula sajalah yang tidak akan berakhir. Yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Di hadapan kalian berempat aku merasa seolah-olah aku telah mencapai segala cita-cita serta idamanku, sejak aku menamakan diriku Pasingsingan.”

Ketika orang yang berjubah abu-abu dan menamakan dirinya Panembahan Ismaya dalam bentuknya yang lain itu berhenti sejenak, suasana menjadi hening. Tak seorang pun yang berkata-kata. Mereka sedang terbenam dalam arus perasaan masing-masing. Mereka mencoba menghubung-hubungkan apa yang pernah terjadi atas orang berjubah abu-abu itu sehingga ia terpaksa mempergunakan topeng hampir seumur hidupnya. Sedangkan sebagai Panembahan Ismaya, ia menyepi di sebuah bukit kecil dan menjauhkan diri dari pergaulan.

Tetapi tak seorangpun yang berani bertanya. Mereka takut kalau ada hal-hal yang dapat menyinggung perasaannya. Namun tanpa mereka duga, orang itu berkata dengan sendirinya, “Mungkin apa yang terjadi atas diriku agak mengherankan. Bertopeng seumur hidup dan menyepi hampir seumur hidup pula.”

Keterangan itu akan menarik bagi Radite dan Anggara. Bahkan juga bagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Tetapi tiba-tiba orang berjubah abu-abu itu membelokkan percakapan kepada Mahesa Jenar. Katanya, “Mahesa Jenar… sekarang kau sudah bertemu dengan orang yang berjubah abu-abu, yang mengambil kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru. Dan karena pengotak-atikmu bersama Kebo Kanigara, menghubung-hubungkan semua yang pernah kalian alami, akhirnya kalian mengambil kesimpulan bahwa orang berjubah abu-abu itulah Panembahan Ismaya. Lalu apakah keperluanmu dengan aku?”

Mahesa Jenar menelan ludahnya beberapa kali. Mula-mula ia agak bimbang untuk langsung menyampaikan keperluannya. Tetapi ia yakin bahwa sebenarnya orang tua itu pun sudah mengerti pula. Karena itu ia mencoba mengelak, “Tuan… apakah aku masih perlu mengatakan keperluanku? Aku kira Tuan telah mengetahui selengkapnya.”

“Mahesa Jenar…” jawab orang berjubah itu, “Lebih baik kau tidak mengira-ira. Katakanlah, dan aku akan menjadi jelas, tanpa kira-kira lagi.”

Sekali lagi Mahesa Jenar menelan ludahnya. Lalu dengan suara yang parau ia menjawab, “Tuan… sebenarnya aku hanya ingin mengetahui di manakah keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu berada.”

“Hanya itu…?” sahut orang berjubah itu.

“Dan apabila Tuan berkenan, aku ingin menerima kedua pusaka itu, kembali untuk menyelesaikan beberapa masalah antara aku dan kakang Gajah Sora di satu pihak, dan Pemerintahan demak di lain pihak.

“Hanya itu…? Hanya supaya kau dapat kembali ke Istana dan Gajah Sora dapat dibebaskan?”

“Tidak,” jawab Mahesa Jenar tergesa-gesa. “Bukan hanya itu. Tetapi aku tidak mau menyembunyikan pamrih itu supaya aku tidak menjadi penipu atas diri sendiri. Sebab apabila aku hanya mengatakan bahwa aku ingin mengembalikan kedua pusaka itu demi kelangsungan pemerintahan, maka aku telah menyembunyikan beberapa bagian darinya, yaitu pamrih pribadi.”

Orang berjubah abu-abu itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu jawabnya, ”Kau memang jujur dan berterus terang. Tetapi kau terlalu tergesa-gesa. Sudah beberapa kali aku isyaratkan kepadamu, bahwa sekarang ini sedang ada pertentangan yang tajam terjadi di Demak. Antara keturunan Sultan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Karena itu kau masih harus menilai siapakah diantara mereka yang patut mendapat sipat kandel itu. Kalau kau muncul sekarang dengan pusaka-pusaka itu, maka akibatnya akan menjadi lebih parah lagi. Mereka menjadi semakin bernafsu dalam pertentangan-pertentangan yang akan timbul. Kedua pusaka itu akan merupakan penyebab pula, karena mereka merasa perlu untuk memilikinya. Dengan demikian kau membantu menimbulkan persoalan-persoalan baru yang akan menambah ketegangan. Bahkan akan dapat menimbulkan pertumpahan darah diantara para perwira, bintara dan tamtama. Kalau demikian yang terjadi, maka tinggal menunggu besok atau lusa, Demak pasti akan binasa. Sebab yang akan berhadapan sebagai lawan dalam pertentangan itu adalah kekuatan-kekuatan Demak sendiri. Baik yang berpihak kepada keturunan Sekar Seda Lepen maupun yang berpihak kepada Sultan Trenggana. Setiap jiwa yang melayang karenanya adalah kerugian yang harus ditanggung oleh Demak sendiri.

Karena itu janganlah suasana menjadi bertambah tegang. Mudah-mudahan mereka dapat memecahkan persoalan itu dengan baik. Dengan musyawarah diantara kekuatan-kekuatan saka guru Demak sendiri.”

Mendengar keterangan itu, Mahesa Jenar menundukkan kepala dalam-dalam. Demikian pula Kebo Kanigara. Sedangkan Radite dan Anggara mendengarkan dengan penuh perhatian.

”Dengan demikian…” orang berjubah abu-abu itu meneruskan, ”Setiap orang Demak akan dapat mencurahkan tenaganya untuk kesejahteraan negeri. Membangun tempat-tempat ibadah dan pendidikan, surau-surau dan langgar. Disamping itu setiap prajurit Demak akan berkesempatan untuk menumpas habis golongan-golongan yang tidak senang melihat Demak menjadi bulat. Maka setelah itu akan terjalinlah kesatuan hati rakyat. Ketenteraman hidup dengan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tanpa mendapat gangguan dalam pangkuan tanah tumpah darah yang gemah ripah lohjinawi, tata titi tentrem kertaraharja, tanpa bibit-bibit pertentangan yang ditaburkan di hari ini, yang akan tumbuh dan menjadi lebat di hari kemudian.”

Ketika orang berjubah abu-abu itu berhenti, terdengarlah kokok ayam bersahutan menyambut datangnya fajar. Fajar yang tidak akan dapat ditunda oleh siapapun. Ia akan datang apabila saatnya datang. Biarpun ayam jantan tidak berkokok. Demikianlah kekuasaan Tuhan yang melampaui segenap kekuasaan yang ada.

Mahesa Jenar sadar akan ketergesaannya. Ia agaknya kurang dapat menanggapi setiap ajaran isyarat yang diberikan, baik oleh seorang yang berjubah abu-abu yang dijumpainya dahulu di jalannya yang hampir sesat dan kehilangan akal maupun oleh orang itu juga dalam pakaiannya sebagai seorang Panembahan.

Namun demikian masih saja ada beberapa hal yang belum dapat dipahami, apakah dengan diketemukannya keris itu justru tidak dapat menghentikan persengketaan antara dua golongan besar itu. Tetapi disamping itu timbul pula pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut di dalam dadanya. Juga di dada Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Demikian besar minat orang yang berjubah abu-abu itu terhadap persatuan dan kesatuan Demak, sehingga mustahil kalau ia tidak memiliki sangkut-paut yang sangat rapat dengan kedua golongan itu.

Meskipun demikian, meski berbagai pertanyaan bergelut di dalam dada setiap orang yang duduk di dalam lingkaran kecil itu, namun tak seorang pun yang menyatakannya. Agaknya orang berjubah abu-abu itu sudah merasa perlu untuk menyatakan dirinya tanpa satu pertanyaan pun.

Dalam sesaat orang tua berjubah itu berdiam diri, memandangi setiap wajah dari keempat orang yang dengan penuh minat mendengarkan ceritanya. Dan ketika sambaran matanya hinggap pada wajah Mahesa Jenar, tertangkaplah banyak sekali persoalan yang ingin dikatakannya. Namun tak sepatah katapun yang terloncat dari mulutnya. Orang tua yang berjubah abu-abu itu agaknya dapat merasakan persoalan-persoalan itu. Karena itu ia meneruskan, ”Mahesa Jenar… seandainya salah seorang dari mereka memiliki kedua keris itu sekalipun, tidaklah dapat dianggap sebagai suatu jaminan bahwa persengketaan mereka akan mereda. Sebab dengan memiliki kedua keris itu tidaklah berarti bahwa ia mutlak dapat memegang pemerintahan di Demak, selama jiwa orang itu masih belum menjadi luluh dengan jiwa kedua keris itu. Apabila seseorang telah benar-benar dapat menguasai, serta jiwa kedua keris itu luluh dalam dirinya, barulah ia mendapat sipat kandel yang sebenarnya. Selama masih ada jarak antara seseorang dengan keris itu, maka selama itu keris-keris yang keramat itu sama sekali tak akan berguna. Karena itulah maka meskipun orang yang berjubah abu-abu sebagaimana kau lihat, berhasil menyimpan kedua keris itu, seandainya, ia ingin memegang tampuk pemerintahan Demak, hal itu tidak akan dapat dicapainya. Sebab jiwa keris itu tidak dapat luluh ke dalam dirinya. Juga orang-orang dari golongan hitam itupun akan tidak mempunyai sesuatu arti, apabila mereka memiliki kedua pusaka Demak itu.” Kembali orang tua itu berhenti. Di luar, cahaya matahari pagi telah memercik hinggap di dedaunan. Burung-burung dengan riangnya berkicau bersahutan. Demikianlah Padepokan yang sepi itu seolah-olah telah terbangun dari tidurnya. Namun halaman-halaman rumah penduduk padepokan itu masih tampak sepi. Satu-dua orang yang telah muncul dari ambang pintunya, dengan tergesa-gesa pergi ke sungai, sedang yang lain dengan sibuknya menyalakan api untuk merebus air. Di sana-sini terdengar jeritan anak-anak kecil yang memanggil ibunya, ketika mereka terbangun dari tidurnya yang nyenyak, seolah-olah mereka kecewa kehilangan mimpi yang segar.

Dalam kecerahan pagi itu tampaklah orang-orang yang duduk di atas sebuah bale-bale besar di rumah Paniling masih belum berkisar dari tempatnya. Mereka masih dengan asiknya mendengarkan kisah dari orang tua yang berjubah abu-abu itu.

Sementara itu, tiba-tiba orang yang berjubah abu-abu itu berkata. ”Radite, biarlah aku melepaskan jubah abu-abuku, supaya orang-orang yang lewat di muka rumahmu ini tidak menjadi keheran-heranan melihat pakaianku yang tidak biasa di pedukuhanmu ini.”

Dengan tergoboh-gopoh Radite mempersilahkan orang tua itu masuk ke dalam sebuah ruangan untuk berganti pakaian. Untunglah bahwa hal itu segera dilakukan, sebab ketika matahari telah semakin naik di atas punggung-punggung perbukitan, tampaklah jalan-jalan pedukuhan itu mulai sibuk. Beberapa orang telah mulai turun ke sawah dengan binatang-binatang kesayangan mereka, menjelang saat tanam padi.

Demikianlah, ketika beberapa orang lewat di muka pondok di ujung pedukuhan itu, mereka melihat dua ekor kuda tertambat di halaman. Karena itu teringatlah mereka, bahwa kemarin mereka melihat dari celah-celah pintu mereka, dua orang berkuda lewat di jalan pedukuhan itu. Karena itu sesuai dengan watak-watak mereka yang sederhana dan penuh rasa kekeluargaan, mereka pun merasa berkepentingan pula dengan penunggang-penunggang kuda itu. Meskipun demikian mereka terheran-heran pula ketika mereka melihat bekas-bekas tanaman yang terinjak-injak di halaman.

Ketika beberapa orang menjenguk ke dalam rumah itu, dilihatnya beberapa orang duduk-duduk di atas bale-bale besar bersama-sama dengan Ki Paniling dan Ki Darba. Karena itu dengan ramahnya mereka menyambut kehadiran mereka. Dengan tergopoh-gopoh pula Paniling dan Darba mempersilakan mereka masuk dan memperkenalkan mereka yang masih dapat mengenal Mahesa Jenar. Karena itu terdengar suara orang itu. ”He, kakang Paniling bukankah ini kemanakanmu yang beberapa tahun yang lalu pernah datang kemari?”

Ki Paniling tersenyum lebar, jawabnya, ”Otakmu agaknya baik sekali. Ya, ialah kemenakan yang beberapa tahun yang lalu pernah datang kemari.”

Kemudian sambil tertawa-tertawa bangga atas pujian itu, orang itu bertanya seterusnya, ”Dan siapakah yang dua lagi?”

”Ia juga kemanakanku,” sahut Paniling, ”Dan yang satu lagi…” Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Bagaimana ia mesti menyebut gurunya. Untunglah bahwa gurunya segera menyahut, ”Aku adalah kakaknya. Ayah anak-anak ini.”

O…” terdengar beberapa orang bergumam. Lalu berkata salah seorang diantaranya, ”Selamatlah Kakang berkunjung ke pedukunan ini. Mudah-mudahan Kakang krasan pula, dan sudi singgah ke rumah tetangga-tetangga di sebelah.”

Pasti, pasti,” jawab guru Radite itu. ”Aku akan tinggal beberapa hari di sini. Dan aku akan singgah di rumah kalian apabila waktuku memungkinkan.

Demikianlah terjadi percakapan yang akrab dan semanak di antara mereka. percakapan yang sama sekali tidak dibumbui oleh maksud-maksud lain daripada apa yang mereka percakapkan. Penduduk pedukuhan itu sama sekali tidak mengenal cara-cara yang dilapisi oleh sifat berpura-pura. Dada mereka tak ubahnya seperti sebuah kitab lontar yang terbuka. Setiap orang yang berkepentingan akan langsung dapat membacanya kata demi kata. Demikianlah huruf itu membentuk kata-kata serta kalimat-kalimat. Demikianlah maksud serta isi dari kitab itu sebenarnya.

Tetapi mereka tidak lama berada di tempat itu. Karena sawah serta ladang mereka selalu menunggu. Menunggu uluran tangan para petani yang dengan setia dan tekun menggarapnya. Tanpa banyak persoalan. Mereka bekerja untuk memetik hasilnya. Karena itu mereka sadar bahwa apabila mereka tidak bekerja, maka mereka pun akan kelaparan. Dengan demikian mereka tidak pernah berpikir lain daripada kesejahteraan pedukuhan mereka, tergantung atas kesanggupan serta kemauan mereka bekerja.

Dan seandainya ada orang lain, yang berbelas kasihan memberi kepada pedukuhan itu kesejahteraan yang melimpang-limpah, maka pastilah itu bukan hal yang sewajarnya. Pastilah dengan demikian mereka mempunyai pamrih. Setidak-tidaknya orang-orang dari pedukuhan itu akan terikat oleh suatu perasaan berhutang budi. Dan dengan demikian hilanglah sebagian, meskipun hanya sebagian kecil, kemerdekaan serta kedaulatan mereka atas diri sendiri.

Karena itulah maka mereka bekerja keras dengan penuh kegembiraan dan terima kasih. Terima kasih kepada Tuhan yang telah melimpahkan tenaga dan tanah garapan bagi mereka.

Namun ketika mereka meninggalkan halaman rumah itu, ada juga yang sempat bertanya, ”Bapak Paniling, kenapakah tanaman-tanaman Bapak rusak bekas terinjak-injak?”

Paniling agak binggung untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi akhirnya diketemukan juga jawabnya. ”Akh, semalam kuda tamu-tamuku itu lepas dari ikatannya. Terpaksalah kami beramai-ramai menangkapnya.”

Mereka percaya saja pada keterangan itu. Bahkan beberapa orang menjadi geli karenanya. Tetapi apabila mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, pastilah mereka mempunyai tanggapan yang akan sangat jauh berbeda.

Demikianlah ketika para petani meninggalkan rumah Ki Paniling, kembali perhatian mereka tertuju kepada orang tua yang sekarang sudah tidak lagi mengenakan jubah abu-abu. Tetapi orang tua itu kini mengenakan baju lurik merah coklat serta ikat kepala yang kehijau-hijauan.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah mengenal wajah orang itu dengan baiknya sebagai seorang Panembahan. Tetapi kali ini, dalam pakaian yang lain, tidak seperti yang biasa dipakainya, yaitu jubah putih, tampaklah bahwa wajah itu menjadi semakin segar. Cahaya matanya tidak saja tampak dalam dan damai, seperti biasa, yang seolah-olah menjangkau jauh ke alam yang tidak kasat mata. Tetapi mata itu kini memancar dengan terangnya menyorot ke depan, ke masa yang akan datang. Ke masa yang tidak terlalu jauh. Maka seolah-olah terjadilah suatu paduan antara masa depan yang dekat dengan masa yang tak teraba oleh pancaindera.

Ketika suara sendau dan tawa para petani sudah hilang di kejauhan, orang tua itu agaknya merasa perlu untuk melanjutkan keterangannya. Karena itu ia mulai berkata, ”Anak-anakku sekalian. Demikianlah tuah dari kedua keris yang sedang kau cari itu. Ia baru bermanfaat bagi pemiliknya apabila jiwa keris itu sudah luluh dalam dirinya.

Pertandanya bahwa keris itu sudah luluh ke dalam diri pemiliknya, adalah bahwa keris itu kehilangan kecemerlangannya. Ia kuningan. Tetapi kedua keris itu menjadi tak ubahnya seperti besi biasa saja. Sama warnanya dengan sebuah pisau dapur saja. Sedang apabila jiwa kedua keris itu luluh pada diri seseorang, maka orang itu akan memiliki sifat-sifat khusus yang meresap ke dalam dirinya. Kyai Nagasasra mempunyai watak disuyuti oleh kawula. Dicintai dan disegani oleh rakyat. Dengan demikian ia akania akan memiliki unsur sifat-sifat kepemimpinan. Sifat-sifat yang demikian memang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Pancaran dari cinta kasih Tuhan, perikemanusiaan, memberi perlindungan kepada orang yang kehujanan dan kepanasan, memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, memberi tuntunan bagi yang kehilangan jalan.

Sedang Kyai Sabuk Inten mempunyai watak seperti watak lautan. Luas tanpa tepi. Menampung segala arus sungai dari manapun datangnya. Menerima dengan tadah banjir yang bagaimanapun besarnya. Namun gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatan dan kesediaan bergerak dan bahkan selalu bergerak. Watak yang demikianlah yang memungkinkan seseorang dapat menemukan yang belum pernah diketemukan. Dan karenanyalah kesejahteraan rakyatnya dapat dijamin. Kesejahteraan lahir dan batin. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengalirkan airnya yang ditampung dapat beriak dengan manisnya, namun dapat bergulung-gulung dengan dahsyatnya, seolah-olah lautan itu sedang mendidih.”

Orang tua itu berhenti sejenak. Ia memandang berkeliling lalu melemparkan sorot matanya yang damai itu lewat lubang pintu dan jatuh di atas tanah berdebu di halaman. Sekali-kali ia menarik nafasnya dalam-dalam. Seolah-olah ada sesuatu yang kurang pada tempatnya. Kemudian terdengarlah ia melanjutkan, ”Sayang, bahwa kedua keris itu masih harus dilengkapi dengan yang satu lagi. Kyai Sengkelat. Keris itupun sekarang sudah lenyap dari perbendaharaan istana.”

Kyai Sengkelat?” sela Mahesa Jenar hampir berteriak.

Orang tua itu mengangguk, jawabnya, ”Ya, Kyai Sengkelat. Tidak saja keris-keris itu tidak mau luluh pada diri seseorang, tetapi keris-keris itu ternyata lolos dari tempat penyimpanannya. Padahal Sengkelat pun tidak kalah pentingnya. Ia memiliki watak yang lengkap dari watak seorang prajurit. Prajurit yang setia dan patuh akan kewajibannya, yang bekerja dan berjuang bukan untuk kepentingan diri. Tetapi seorang prajurit akan berjuang untuk tanah tumpah darah serta rakyatnya, dengan penuh kejujuran dan tanpa pamrih, dalam lingkaran kebaktian dan cinta kasih Yang Maha Agung.”

Suasana kemudian menjadi hening sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan sendiri. Mahesa Jenar yang dengan bekerja keras dan mati-matian berusaha untuk menemukan Kyai Sabuk Inten, bahkan usahanya itu belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya, tiba-tiba ia mendengar bahwa Kyai Sengkelat pun sedang lolos dari simpanannya. Sedang Kebo Kanigara, sebagai seorang keturunan Brawijaya, menjadi sedih pula. Bagaimanapun juga, ia masih selalu merindukan kebesaran yang pernah dicapai oleh Majapahit dahulu.

Tiba-tiba terdengarlah Kebo Kanigara bertanya, ”Tuan, tidak adakah hulubalang Istana yang dapat berusaha untuk menemukan keris-keris itu?”

Orang tua itu kemundian tersenyum. Jawabnya, ”Tidak kurang banyaknya para prajurit Demak yang disebar ke segenap penjuru. Bukankah Mahesa Jenar pernah juga bertemu dengan Gajah Alit dan Panigron? Juga bukankah Arya Palindih pernah diutus ke Banyubiru untuk menemukan keris-keris itu? Bahkan sampai sekarangpun masih banyak dari para perwira Demak yang berkeliaran mencari pusaka-pusaka itu.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun jelas terbayang di dalam kepalanya, bahwa para prajurit Demak itu akan menjadi selalu kecewa, karena mereka tidak akan dapat menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Agaknya Kyai Sengkelat pun masih terlalu sulit untuk diketahui tempatnya.

Sebenarnya tidaklah terlalu banyak orang yang mengetahui hilangnya pusaka-pusaka itu. Sebab memang hal itu dirahasiakan. Yang boleh mengetahui hanyalah orang-orang terbatas saja. Tetapi ada di antara mereka yang bertugas, terutama dari pejabat-pejabat rahasia Demak sendiri, mempunyai pamrih atas pusaka-pusaka itu. Sebab mereka mempunyai pengertian yang salah, seolah-olah siapa saja yang memiliki pusaka itu, dengan sendirinya akan dapat menduduki tahta. Orang tua itu kembali membetulkan letak duduknya. Dan sekali-kali menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan, ”Padahal, segala sesuatu sangat tergantung kepada orang itu sendiri. Dan tergantung padanya pulalah pusaka-pusaka keraton itu dapat luluh atau tidak ke dalam dirinya. Itulah yang biasa disebut orang -wahyu-. Dan wahyu itu bukanlah semacam permainan dadu dengan mempertaruhkan keberuntungan, tetapi untuk dapat menerima wahyu maka seseorang harus mempersiapkan dirinya sebagai wadah dari watak dan sifat-sifat wahyu itu. Karena itulah maka untuk menerima wahyu seseorang harus bekerja keras, mesu raga dengan penuh keprihatinan.

Segala sesuatunya menjadi jelas bagi Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Tetapi justru karena itu Mahesa Jenar tidak lagi menjadi gelisah atas pusaka-pusaka keraton yang hilang itu. Sebab meskipun ia berada di tangan seseorang, seseorang yang mempunyai pamrih sekalipun, tidaklah ia akan selalu berhasil setelah memiliki kedua pusaka itu.

Meskipun demikian untuk meyakinkan diri sendiri, bertanyalah Mahesa Jenar, ”Tuan, aku sudah dapat memahami semua keterangan itu. Namun meskipun demikian, untuk menenteramkan perasaanku sendiri, aku ingin mendapat penjelasan yang pasti, apakah kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada pada Tuan.”

Sekali lagi orang itu tersenyum. Sambil mengangguk ia menjawab, ”Benar… Mahesa Jenar. Kedua keris itu ada padaku. Jangan takut. Bagiku kau adalah lantaran yang sebaik-baiknya untuk menyerahkan kembali kedua pusaka itu ke Demak kelak apabila kita sudah mendapat gambaran, siapakah yang paling sesuai untuk menjadi wadah dari wahyu itu. Meskipun demikian segala sesuatu masih tergantung atas kebenaran yang tertinggi. Adakah Tuhan memperkenankan atau tidak. Sebab Tuhan-lah Maha Penentu dari segala kejadian.”

Yang tiba-tiba menjadi persoalan di dalam otak Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara kemudian adalah Ki Ageng Gajah Sora. Ia akan dapat dibebaskan apabila kedua keris itu sudah dapat diketemukan. Sebab dengan demikian akan dapat dibuktikan apakah ia bersalah atau tidak. Sedang menurut orang tua itu, penyerahan kembai keris-keris itu masih memerlukan waktu. Lalu bagaimanakah yang akan terjadi dengan Gajah Sora itu…? Karena persoalan itu bertubi-tubi menghantam dinding kepalanya, akhirnya Mahesa Jenar memberanikan diri bertanya, ”Tuan… Masih ada sesuatu yang sangat mengganggu perasaanku, yaitu masalah Kakang Gajah Sora. Dengan demikian maka ia tidak akan segera mendapatkan penyelesaian.”

Orang tua itu, yang pernah mengenakan gelar Pasingsingan itu, mengerutkan keningnya. Persoalan itu bagi Banyubiru bukan persoalan yang kecil. Sebab persoalan itu bagi Banyubiru akan menentukan garis sejarah masa depan Banyubiru, meskipun tidak seluruhnya. Untunglah Gajah Sora meninggalkan seorang anak laki-laki yang dapat dibanggakan, Arya Salaka. Karena itu ia berkata, ”Mahesa Jenar… sebaiknya kalian tidak usah menunggu Gajah Sora. Bawalah Arya Salaka ke dalam tugas sucinya. Aku kira ia cukup mampu untuk melakukan, meskipun kau harus selalu berada di sampingnya. Sedangkan Ki Ageng Gajah Sora… serahkan saja kepadaku.”

Sekali lagi suatu pertanyaan membersit di dalam hati Mahesa Jenar, bahkan juga di dalam hati Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Mereka mendapatkan suatu firasat yang mengatakan bahwa orang tua itu bagaimanapun pasti mempunyai hubungan sambut rapat dengan Sultan Trenggana atau pemerintah Demak.

Akhirnya Kebo Kanigara tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk mengetahui keadaan orang tua itu lebih banyak lagi, sehingga kemudian ia berkata, ”Tuan, telah bertahun-tahun aku tinggal di Bukit Karang Tumaritis, bersama-sama dengan Tuan dalam kedudukan Tuan sebagai seorang Panembahan bergelar Panembahan Ismaya. Namun kemudian ternyata aku sama sekali masih belum mengenal Tuan. Sebab ternyata aku masih belum mengetahui apa yang Tuan lakukan apabila Tuan sampai berbulan-bulan meninggalkan padepokan kami. Juga ternyata karena keterangan-keterangan Tuan, aku malahan menjadi semakin banyak menyimpan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuan. Karena itu seandainya Tuan tidak keberatan sejalan dengan pernyataan Tuan untuk tidak berahasia lagi, khususnya terhadap kami, apakah Tuan tidak keberatan apabila Tuan menyatakan kepada kami siapakah Tuan serta dari manakah Tuan sebenarnya.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, berkatalah ia dengan suara yang dalam dan perlahan, ”Kebo Kanigara dan kalian yang lain… apakah ada perlunya aku menyatakan diri serta asal-usulku? Sebab apa yang sudah terjadi itu tidak akan banyak pengaruhnya bagi masa yang akan datang.”

Karena Mahesa Jenar pun ingin sekali mendengar keterangan itu, ia pun mendesaknya, ”Bahwa masa lampau selalu penting bagi masa kini maupun masa depan. Apa yang terjadi sekarang karena telah terjadi sesuatu pada masa-masa lampau. Karena itu kami tidak akan dapat meninggalkan angkatan dari masa lampau. Alangkah kerdilnya jiwa kami apabila kami memperkecil arti angkatan-angkatan sebelum kami. Meskipun bukan berarti bahwa kami akan selalu menggantungkan diri padanya. Namun pengalaman-pengalaman adalah mahaguru yang sangat baik. Hasil-hasil yang pernah dicapai serta cara-cara untuk mencapainya. Juga kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan adalah suatu cermin untuk mengenal cacat wajah sendiri.”

Kembali orang itu mengangguk-angguk. Matanya yang sejuk itu sekali lagi terlempar ke atas tanah berdebu di halaman. Matahari kini telah semakin tinggi menggantung di langit yang biru bersih. Daun-daun yang hijau segar tampak berkilat-kilat memantulkan cahayanya yang cerah.

———-oOo———-

II

Orang tua yang menamakan diri Panembahan ismaya itu masih berdiam diri. Tampaknya ia agak ragu-ragu. Namun akhirnya diceritakanlah kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan kedua muridnya itu tentang dirinya. ”Anak-anakku sekalian…. Baiklah aku menuruti permintaanmu. Tetapi jangan kau ceritakan kepada orang lain dari apa yang akan kau dengar.” Ia berhenti sejenak untuk mendapat kesan bahwa mereka yang akan mendengarkan ceritanya benar-benar tidak akan mengatakan kepada orang lain. Sejenak kemudian ia meneruskan, ”Yang mula-mula boleh kau ketahui, namaku yang sebenarnya yang diberikan oleh ayah dan ibuku, adalah Buntara, lengkapnya Raden Buntara.”

Mendengar nama itu, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan kedua muridnya bersama-sama tergerak hatinya. Bahkan tiba-tiba Kebo Kanigara mengangkat wajahnya serta memandang orang tua itu tajam-tajam. Memandang segenap bagian tubuhnya seolah-olah di dalamnya tersimpan sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Agaknya orang tua itu merasa betapa Kebo Kanigara tertarik pada namanya. Karena itu ia bertanya, ”Adakah sesuatu yang menarik dari nama itu, Kanigara…?”

Kanigara mengerutkan keningnya. Otaknya bekerja keras untuk mengingat-ingat nama-nama yang pernah didengarnya. Akhirnya seperti orang terperanjat ia menjawab, ”Ya… nama itu sangat menarik bagiku.”

Orang tua itu tersenyum, lalu katanya, ”Apakah yang menarik?

Kanigara kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir berteriak ia berkata, ”Raden Buntara, bukankah Raden Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan…?”

Sekali lagi orang tua itu tersenyum. Katanya, ”Kau pernah mendengar nama itu?

Ya,” jawab Kanigara, ”Aku pasti pernah mendengarnya. Ayahku pernah menyebut-nyebut nama itu.”

Tentu,” sahut orang tua itu. ”Ayahmu pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat dengan ayahmu itu.”

Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya,” kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali.

Raden Buntara mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, ”Kanigara, kau benar. Aku adalah orang yang kau maksud itu. Tetapi jangan panggil aku Eyang Buntara. Panggilah aku Panembahan Ismaya.”

Sekali lagi Kebo Kanigara membungkukkan kepala dengan takzimnya. Bahkan kemudian Mahesa Jenar, Radite dan Anggara pun membungkuk hormat. Hormat kepada seorang yang mereka segani. Tetapi lebih dari itu, orang tua itu ternyata adalah adik Baginda Brawijaya pamungkas.

Untuk sesaat suasana ditelan oleh kesepian. Berbagai perasaan muncul di dalam kepala masing-masing. Sehingga kemudian kesunyian itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya. ”Tetapi kemudian aku terlibat dalam berbagai persoalan, sehingga aku merasa perlu untuk mengasingkan diriku dari dunia ramai.” Sekali lagi orang tua itu berhenti untuk menarik nafas dan membetulkan duduknya. Kemudian disambungnya lagi, ”Ketika itu terjadi perbedaan paham yang bersumber pada perbedaan kepercayaan. Pada waktu itu aku sudah mencoba untuk meyakinkan bahwa kepercayaan bukanlah sumber yang tak dapat dibendung. Namun agaknya Sultan merasa bahwa ia lebih baik mengundurkan diri dari tahta serta meninggalkan istana. Tetapi Raden Patah pun sama sekali tidak mau memperkosa kekuasaan Majapahit. Karena itu sebelum Prabu Brawijaya itu menyerahkan kekuasaan. Dan ternyata Prabu Brawijaya memberikan izin itu, meskipun ia sudah berada di perjalanan.

Ketika Raden Patah kemudian memegang pimpinan kerajaan, dipindahkannya pusat kerajaan dari Majapahit ke Demak, sehingga dengan demikian berakhirlah suatu rangkaian pemerintahan yang berpusat di Majapahit.

Pada saat itu Prabu Brawijaya, diiringi oleh beberapa orang pergi berkelana dari satu tempat ke lain tempat. Beliau berjalan menyusur pantai selatan menuju arah matahari terbenam. Akhirnya sampailah beliau ke daerah Bukit Seribu, yang juga terkenal dengan nama Gunungkidul.

Meskipun aku adalah adik Brawijaya, namun umurku agak terpaut banyak daripadanya. Bahkan dengan Raden Patah pun agaknya aku tidak lebih tua. Karena itu, pada suatu saat Raden Patah memerintahkan kepadaku, bahwa ia mengharap dapat menerima kunjungan ayahanda Baginda. Bahkan mengharapkan Prabu Brawijaya menghentikan perantauannya dan menetap di suatu tempat yang dikehendakinya. Dengan susah payah aku menyusur bekas perjalanan Baginda. Bertanya dari suatu tempat ke tempat lain. Dengan demikian dapatlah banyak yang dilihat dan banyaklah yang dapat didengar, tentang hidup dan penghidupan. Tentang alam dan seluk-beluknya, untuk melengkapi pengetahuannya menjelang masa langgeng.

Tetapi terjadilah hal yang sama sekali tak terduga-duga. Seorang tumenggung yang ikut serta dalam rombongan Baginda merasa curiga atas kehadiranku. Tumenggung itu menyangka bahwa aku datang dengan pamrih. Kalau aku dianggap lawan yang harus dibunuh, maka aku tidak akan sakit hati. Tetapi yang tidak dapat aku terima adalah sangkaan yang bukan-bukan atas diriku dalam persoalan-persoalan yang memalukan. Ia menganggap bahwa aku sengaja mendekatkan diriku kepada Baginda untuk dapat mengetahui di mana kekayaan Baginda yang dibawa sebagai bekal perjalanan, disimpan. Ia menuduh bahwa aku ingin memiliki harta kekayaan itu. Dan yang lebih parah lagi, ia mempergunakan istrinya yang ikut serta dalam perjalanan itu untuk memancing persoalan. Dengan susah payah aku selalu mencoba untuk menghindarkan diri dari setiap bentrokan yang mungkin timbul. Namun ketika akhirnya aku ketahui bahwa sebenarnya ialah yang bermaksud jahat atas Baginda dan harta bendanya, aku tidak dapat membiarkannya.”

Panembahan Ismaya berhenti sejenak. Pandangannya yang jauh menatap cahaya matahari yang menari-nari di daun-daun dan ranting-ranting pepohonan di luar, seolah-olah mencari lembah peristiwa-peristiwa masa lalu pada bayang-bayang yang selalu bergerak di batang-batang kayu.

Kemudian, setelah menarik nafas panjang, ia kembali meneruskan, ”Kemudian akulah yang sengaja membuat persoalan. Atau tegasnya aku sengaja menanggapi persoalan-persoalan yang dibuatnya. Agaknya darah mudaku pada saat itu sangat mempengaruhi jalan pikiranku, sehingga karena itu aku telah membuat suatu kesalahan.

Seperti yang sekali dua kali pernah dilakukan, istri Tumenggung itu sengaja datang ke pondokku di belakang rumah yang dipergunakan sebagai pesanggrahan sederhana. Pada saat-saat sebelumnya, apabila perempuan itu datang, aku selalu pergi menghindar jauh-jauh. Sebab aku sudah dapat mengetahui maksud kedatangannya. Tetapi kali ini aku sengaja menemuinya. Aku ingin mendengar apa yang akan dikatakannya kepadaku, meskipun aku sudah dapat menduganya lebih dahulu. Ternyata dugaanku tidak jauh menyimpang. Perempuan itu mula-mula mencela suaminya, kemudian memuji-muji aku sebagai seorang pemuda yang gagah, tampan dan berani. Kemudian dengan solah yang dibuat-buat, ia mulai mengatakan tentang ketidakpuasannya terhadap suaminya, dan yang terakhir, yang tidak aku duga-duga bahwa sedemikian jauh pertentangan yang ingin dibuatnya, adalah perempuan itu minta tolong kepadaku, supaya aku membunuh suaminya. Tentu saja dengan pura-pura mengharap, supaya aku akan menggantikan suami itu.

Sayang” jawabku kepada perempuan itu berterus terang ”Aku sudah tahu permainan yang harus kau lakukan. Bukankah dengan demikian setiap orang akan menuduh aku merebut isteri orang. Suamimu mengharap aku akan menyerangnya. Siang atau malam, apabila laki-laki itu tampaknya sedang lengah. Namun sebenarnya ia telah siap membunuhku, sebab kau sudah memberitahukan kepadanya. Kalau laki-laki itu sudah berhasil melawan aku dalam suatu perkelahian, maka setiap orang akan meludah dihadapanku. Hidup atau mati.

Nah, kalau demikian katakanlah kepadanya. Kalau ia menghendaki suatu perkelahian, suruhlah ia menantang aku sebagai seorang laki-laki. Ada atau tidak ada persoalan.

Wajah perempuan itu menjadi merah. Tetapi agaknya ia memang perempuan yang cerdik. Aku mengharap ia akan marah, dan berlari menyampaikan kata-kataku kepada suaminya. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Wajahnya yang merah itu sesaat kemudian telah cerah kembali. Sambil tersenyum-senyum ia mendekati aku. Katanya ”Kau laki-laki jujur. Sayang kau masih terlalu muda untuk menanggapi persoalan. Agaknya Raden belum mengenal aku sungguh-sungguh.”

Mula-mula aku menjadi gemetar ketika tiba-tiba perempuan itu meraba tubuhku. Bahkan kemudian aku menjadi muak. Dan karena itulah aku berbuat kesalahan. Sebenarnya lebih baik sekali aku berlari jauh-jauh meninggalkan tempat itu. Tetapi aku tidak berbuat demikian. Ketika aku tidak dapat menahan perasaan muak yang bergolak di dalam dadaku, perempuan itu aku dorong keras-keras dan jatuh terbanting di lantai. Karena itulah maka tiba-tiba terdengar ia berteriak-teriak. Mula-mula aku menyangka bahwa ia berteriak karena kesakitan. Tetapi dugaanku itu ternyata keliru. Perempuan itu sama sekali tidak berteriak karena kesakitan. Ternyata beberapa saat kemudian terdengarlah langkah beberapa orang berlari-lari. Beberapa diantaranya langsung masuk ke dalam pondok. Hampir pecah kepalaku pada saat itu ketika aku mendengar perempuan itu berteriak ”Lelaki gila. Aku diseretnya kemari dengan kasarnya.” Semua mata terarah kepadaku. Diantaranya adalah sepasang mata laki-laki tamak, suami dari perempuan gila itu. Sambil menggeram mengerikan ia bertanya kepada isterinya dengan suara mengguntur. ”Hai perempuan rendah. Apa kerjamu disini?”

Dengan suara tergagap perempuan itu menjawab ”aku tidak sengaja datang kemari. Aku berjalan dihalaman untuk memetik sirih. Tetapi tiba-tiba aku diseret oleh laki-laki itu dengan laku seekor binatang kelaparan.”

Kembali laki-laki itu mengeram. Kemudian dengan pandang mata yang mengerikan pula ia bertanya kepadaku. ”Kau hinakan nama isteriku Raden. Sayang bahwa suaminya adalah seorang laki-laki yang mempunyai harga diri. Kalau kau inginkan dia, marilah kita selesaikan dengan cara seorang laki-laki.”

Aku menjadi ragu. Untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya agaknya sama sekali tidak ada gunanya. Karena itu aku mengambil keputusan untuk menerima tantangannya. Bukankah aku memang ingin membuat perhitungan dengan Tumenggung itu? Namun sayang, sangatlah sayang. Bahwa tak seorangpun yang mengerti keadaan sebenarnya. Tak seorangpun yang mengerti isi hatiku yang sesungguhnya, kecuali seorang jajar tua yang sangat setia kepada baginda. Dan jajar itu pulalah yang mengetahui segala seluk beluk pokal Tumenggung itu. Ia pulalah yang mendengar dengan telinganya sendiri, bagaimana Tumenggung itu mengadakan pertemuan-pertemuan dengan para Menteri yang sependapat dengan pikirannya. Tetapi ia hanyalah seorang jajar yang tidak berarti. Karena itu, apa yang didengar dan diketahuinya itu tak dapat dipercaya oleh siapapun meskipun ia sudah pernah mengajukannya kepada baginda lewat seorang bupati dalam yang boleh dipercaya. Bahkan akhirnya Bupati itu yang semula tertarik kepada ceriteranya berkata kepadanya ”Jajar, agaknya kau terlalu letih. Karena kau bermimpi buruk.”

Akulah orang yang pertama-tama menaruh perhatian sepenuhnya atas keterangannya. Ia langsung berkata kepadaku, kepada adik baginda. Ia mengharapkan keselamatan baginda dapat terjamin.

Akhirnya terjadilah perkelahian itu. Perkelahian yang ditunggui oleh beberapa orang saksi. Tumenggung itu agaknya yakin bahwa ia akan dapat membunuhku. Dengan demikian rencananya tidak akan terhalang. Ia memang pernah mengenal aku sebelumnya, dan aku pernah mengenalnya pula, sebagai seorang Tumenggung dalam susunan keprajuritan Majapahit. Justru dalam kesatuan pengawal raja.

Namun perkelahian itu berakhir sebaliknya. Akupun kemudian kehilangan pengamatan diri, sehingga tanpa aku sadari, laki-laki itu terbunuh oleh tanganku. Mula-mula aku merasa bhawa akibatnya tidak akan terlalu jauh. Aku akan berusaha meyakinkan, bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang diduga oleh banyak orang. Tetapi aku tidak mempunyai kesempatan.”

Untuk beberapa saat Panembahan Ismaya berhenti berceritera. Matanya yang memancar damai itu kemudian tampak sayu dan redup. Agaknya kenangan masa silam itu tidak begitu menyenangkan. Kemudian ia meneruskan. ”Ketika pertempuran itu berakhir beberapa orang sahabat Tumenggung itu mengangkat mayatnya pergi, sedang beberapa orang lain dengan pandangan yang aneh berkata kepadaku. ”Nah, Raden. Tuan sekarang berhak memiliki perempuan itu.”

Tentu saja aku terkejut. Karena itu aku jawab ”Aku tidak perlukan perempuan itu.”

Beberapa orang itu mencibirkan bibirnya. Kata salah seorang diantaranya . “Hm, agaknya tuan mau bermain-main saja dengan isteri orang. Tetapi kemudian tuan mengingkari kewajiban tuan.”

HAMPIR saja aku meloncat dan membunuh orang itu pula, kalau tidak tiba-tiba saja semua orang tegak memandang ke suatu arah dan hampir bersamaan membungkuk dengan hormatnya. Agaknya Baginda datang pula ke tempat itu. Pada saat itu keringat dingin telah mengaliri segenap tubuhku. Aku tidak tahu apakah sebenarnya maksud kedatangan baginda. Tetapi aku sudah menduga bahwa pasti ada hubungannya dengan perkelahian yang baru saja terjadi. Dan apa yang aku duga adalah benar. Baginda yang telah tampak sedemikian tuanya itu memandangku dengan sinar mata yang marah. Meskipun terdengar Baginda berkata-kata dengan sabar dan perlahan-lahan, namun bagiku setiap kata Baginda terdengar sebagai meledaknya guruh diatas kepalaku. Kata Baginda, ”Adikku… apakah yang terjadi adalah sama sekali diluar dugaanku. Aku bergembira bahwa salah seorang keluarga terdekatku sudi datang berkunjung kepadaku. Kepada orang yang sudah hampir dilupakan. Namun tiba-tiba kau membuat hatiku semakin parah karena kelakuanmu.”

Hampir menangis aku berjongkok di kaki Baginda. Dengan terputus-putus aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya tersimpan di dalam kepalaku.

Tetapi keteranganku itu agaknya terdengar aneh sekali. Meskipun Baginda tidak membantahnya, namun aku yakin bahwa Baginda sama sekali tidak percaya. Bahkan kemudian Baginda dengan berdiam diri meninggalkan tempat itu. Karena itulah aku menjadi semakin tersiksa. Tersiksa oleh berbagai perasaan yang menghujam hati.

Dengan terbunuhnya Tumenggung yang curang itu, menyebabkan gerombolannya semakin marah. Mereka kemudian tidak mau menunggu lebih lama lagi. Mereka menjadi takut kalau gerakan mereka akan segera diketahui. Disamping itu mereka agaknya takut pula kalau aku juga akan mengadakan gerakan untuk melawannya. Akhirnya terjadilah dimalam yang mengerikan itu. Beberapa orang prajurit kepercayaan raja mati terbunuh. Mereka disergap dengan tiba-tiba oleh gerombolan orang-orang tamak yang sudah hampir gila itu. Dalam keadaan yang demikian, sekali lagi aku kehilangan pengamatan diri. Kembali aku berbuat kesalahan. Bahwa aku tidak lebih dahulu menunggu perintah Baginda. Ketika aku mendengar keributan langsung aku menyerbu, melibatkan diri dalam perkelahian itu. Akibatnya, beberapa orang terbunuh. Orang-orang yang dengan sengaja ingin merebut harta kekayaan Baginda.

Namun agaknya apa yang aku lakukan itu tidak berkenan pula di hati Baginda. Bahkan beberapa orang dari pihak lain pun menyalahkan aku. Mereka takut kalau kepercayaan Baginda akan berkisar kepadaku. Sekali lagi Baginda berkata kepadaku dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Adikku Raden Buntara… aku tidak akan menyalahkan kau. Jiwa muda yang tersimpan didalam dadamu memang memerlukan penyaluran. Aku hanya ingin menunjukkan beberapa kenyataan kepadamu. Sebelum kau datang ke tempat ini pesanggrahanku yang terpencil ini, selalu diliputi oleh suasana damai. Tetapi dengan kehadiranmu di sini, keadaan menjadi lain. Terserahlah atas penilaianmu terhadap kenyataan itu.”

Aku menjadi semakin berduka atas pernyataan Baginda itu. Beberapa orang segera memencilkan aku seolah-olah akulah orangnya yang selalu membuat ribut. Satu-satunya sahabatku di tempat itu adalah jajar tua yang dapat mengetahui keadaan yang senyatanya. Ia melihat kenyataan yang sebenarnya. Dan hanya jajar tua itulah yang melihat, bahwa aku telah berjuang untuk keselamatan Baginda beserta rombongannya. Tetapi sekali lagi hatiku terluka. Lebih parah dari luka-luka yang terdahulu. Pada suatu pagi aku ketemukan jajar tua, sahabatku itu terguling di tanah di depan pondoknya tanpa nyawa. Sebuah luka menggores di lehernya. Pada saat itu darahku tiba-tiba mendidih. Hampir saja otakku tak dapat aku kendalikan lagi. Untunglah bahwa pengalaman pahit selama ini agaknya dapat mengekang segala tingkah lakuku. Dengan sedih aku mencoba untuk memberitahukan kematian itu kepada beberapa orang. Namun tak seorangpun menaruh perhatian kepada jajar tua yang dianggap sama sekali tak berarti itu. Bahkan karena ia benci kepadaku. Karena itu aku tak dapat berbuat lain daripada menguburkan mayat itu sendiri. Sendiri.

Dengan segala peristiwa yang sangat menyakitkan hati itulah kemudian aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu kembali ke Demak. Melaporkan apa yang sudah terjadi. Aku mengharap agar Sultan dapat menjernihkan suasana. Menjernihkan hubungan yang gelap antara aku dengan Baginda Brawijaya beserta orang-orang di sekitarnya.

Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak, beliau berkata, juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang. Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya, tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”

Dadaku hampir pecah mendengar tuduhan itu. Tetapi aku tidak dapat menyangkalnya. Satu-satunya orang yang mengetahui keadaan yang sebenarnya telah meninggal. Yaitu jajar tua yang bermuka jelek, namun berhati bersih sebersih air yang baru memancar dari sumbernya. Adapun nama dari jajar tua itu adalah Pasingsingan.”

Yang mendengarkan ceritera Panembahan Ismaya itu tersentak dalam duduknya. Mereka hampir bersamaan mengulangi nama itu. ”Pasingsingan.”

”Ya,” sahut Panembahan Ismaya. ”Jajar tua itulah yang sebenarnya bernama Pasingsingan. Aku pahatkan nama itu pada dinding-dinding hatiku.”

Mahesa Jenar, Kanigara dan kedua murid orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mahesa Jenar, Kanigara dan kedua murid orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Ketika aku sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk membersihkan namaku, maka aku menjadi sangat malu. Aku merasa bahwa wajahku tak patut lagi berada ditengah-tengah para satria Demak. Karena itulah maka akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari padanya. Mengasingkan diri di tempat yang jauh.”

Akhirnya aku menemukan suatu lembah yang pantas bagi tempat pengasinganku. Di lembah itulah akhirnya aku bertapa. Mencoba untuk mendapat imbangan dari segala perasaan yang menekan dadaku. Kalau kadang-kadang aku ingin melihat kesibukan manusia, aku datang ke desa-desa di sekitar lembah itu. Namun rasa-rasanya setiap orang muak memandang wajahku, sehingga akhirnya aku terpaksa mengenakan sebuah kedok. Demikianlah aku dengan prihatin hidup tidak sebagai manusia yang sewajarnya. Aku hidup benar-benar seperti seekor kelelawar. Yang muncul dalam saat-saat menusia tenggelam dalam mimpi. Bahkan akhirnya ada orang yang menyangka aku hantu. Hantu bertopeng dan berjubah abu-abu.

Namun demikian aku tetap percaya pada keadilan. Keadilan yang maha tinggi, yang terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku yakin, bahwa meskipun pada saat-saat itu aku seolah-olah hilang dari percaturan manusia, namun aku yakin, bahwa pada suatu saat aku akan kembali. Kembali ditengah-tengah pergaulan hidup. Meskipun bukan Buntara, tetapi setidak-tidaknya cita-citaku, berlanjut dari hidupku akan berada di tengah-tengah manusia dalam keadaan yang baik.

Akhirnya saat itu tiba. Ketika aku melihat seorang pemuda dalam perjalananku yang memang sering aku lakukan, beserta seorang anak laki-laki yang memiliki wajah yang cerah, tiba-tiba aku merasa bahwa padanya aku dapat menumpangkan harapan. Padanya aku ingin ikut serta dengan menyerahkan tekad untuk kembali berada di tengah manusia. Karena itulah aku selalu membayanginya. Kalau bukan aku sendiri, aku menyuruh Kanigara untuk mengikutinya. Apalagi ketika aku melihat, bahwa orang muda itu memiliki keturunan ilmu yang sama dengan Kanigara. Demikianlah akhirnya aku berhasil membawa Mahesa Jenar ke bukit kecil yang aku namakan Karang Tumaritis beserta muridnya Arya Salaka. Aku ingin memberinya bekal-bekal dalam usahanya menjelang hari-harinya yang akan datang. Tidak saja Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi juga berbagai macam ilmu sekadarnya.

Tetapi agaknya otaknya terlalu jernih. Sehingga bersama-sama dengan Kanigara ia justru memaksa aku untuk mempercepat membuka diri. Untunglah bahwa segala sesuatunya bagiku sudah terasa matang. Sehingga meskipun aku dipaksa untuk membuka diri, tidak banyaklah pengaruhnya bagi semua rencana-rencana yang sudah aku siapkan.

Yang mendengar ceritera itu seolah-olah terpaksa menahan napasnya. Ternyata bahwa Panembahan Ismaya telah lama membayangi Mahesa Jenar. Teringatlah Mahesa Jenar, pada saat ia hampir kehilangan akal, ia telah dicegat oleh laki-laki berjubah abu-abu itu untuk meluruskan kembali jalannya. Juga di pantai Tegal Arang, seseorang telah mengingatkan tekadnya untuk menemukan Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Dan orang itu agaknya bukan Panembahan Ismaya, tetapi Kebo Kanigara, dimana ia sempat menuntun Arya Salaka dalam beberapa hari untuk menjadikan anak itu bertambah masak. Tetapi ternyata Kebo Kanigara sendiri tidak mengerti keseluruhan dari tugasnya.

Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Dalam jarak yang cukup panjang, diantara masa-masa aku melenyapkan diri dari istana, sampai saat terakhir ini, banyaklah pengalaman yang aku jumpai. Bahkan terlalu banyak. Di dalam hidupku muncullah orang-orang seperti Umbaran, yang mula-mula aku sangka orang yang berhati baik, namun akhirnya, ternyata bahwa ia telah menambah hidupku menjadi semakin buruk. Kemudian datanglah Radite dan Anggara. Kepadanya aku mula-mula menaruh harapan. Tetapi kembali Umbaran merusak jalan hidup mereka. Sehingga Radite akhirnya tergelincir dan mengalami masa-masa seperti yang pernah aku alami. Mengasingkan diri di Pudak Pungkuran ini. Untunglah bahwa ia menemukan ruang gerak yang dapat menolong kepahitan masa lampaunya. Juga kemudian aku jumpai Kanigara dengan gadis kecilnya. Aku bawa ia ke Karang Tumaritis. Tetapi agaknya ia lebih cinta pada anak gadisnya daripada masa depannya sendiri. Sehingga seolah-olah, seluruh hidupnya telah diserahkan buat hari kemudian anaknya. Dan karena sifat kebapaan yang sedemikian dalamnya itulah, aku tidak sampai hati untuk memisahkannya dari anaknya, meskipun aku dapat menjamin masa depan anak itu. Karena itu, tugas yang aku bebankan padanyapun bukanlah tugas yang panjang-panjang. Sehingga ia akan selalu berada disamping gadis kecil yang sudah tak beribu lagi itu. Sehingga akhirnya aku dijumpai Mahesa Jenar beserta Arya Salaka. Meskipun dalam garis hubungan keluarga, ia tidak dekat Kanigara, namun karena ia berasal dari istana pula, maka aku mengharap agak banyak dari padanya. Mudah-mudahan Mahesa Jenar tidak akan menyia-nyiakan harapanku itu.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar merasa, suatu beban yang sangat berat terpikul di atas pundaknya. Beban yang masih samar-samar. Apakah yang harus ia lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan tua itu. Karena itu ia sambil membungkukkan kepalanya, bertanya kepadanya, ”Panembahan, apakah agaknya yang harus aku lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan itu?”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, ”Hampir setiap orang telah melupakan nama Buntara. Mereka yang sekali dua kali teringat nama itu, terutama bagi mereka yang telah lanjut usia, akan mencibirkan bibir mereka. Tetapi itu tidak penting. Sebagaimana tekadku sejak masa mudaku, bagiku yang penting adalah keselamatan negeri diatas segala-galanya. Demikianlah hendaknya kau Mahesa Jenar. Adalah suatu kebetulan bahwa aku dapat menyimpan pusaka-pusaka yang hilang itu, yang justru akan dapat membantu membina kesejahteraan negara, dengan menyerahkannya kepada orang yang tepat. Nah, Mahesa Jenar, pekerjaan yang aku harap dapat kau lakukan, adalah mengadakan penilaian atas kedua keturunan yang sudah aku katakan kepadamu, kelak. Tetapi itu tidak berarti bahwa kau hanya menjadi penonton saja, namun dalam saat-saat yang perlu, kau harus ikut pula.”

Dengan demikian segala sesuatu kini menjadi jelas, kenapa Panembahan Ismaya bernama Pasingsingan dan kenapa ia sangat menaruh perhatian atas tata pemerintahan Demak.

Setelah orang tua itu menarik nafas panjang, ia mulai lagi berkata, ”Mahesa Jenar, ternyata kau telah melakukan pekerjaan itu. Bahkan apabila kelak ada seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan, disuyudi oleh para kawula serta berjiwa seperti jiwa lautan, karena memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang akibatnya akan membawa kesejahteraan bagi tanah tumpah darah ini, sebagian adalah karena perjuanganmu. Perjuangan yang telah kau lakukan sejak lama. Perjuangan yang tak dikenal oleh siapapun. Sebab perjuangan yang kau lakukan adalah perjuangan yang khusus. Tetapi aku percaya akan kebesaran jiwamu. Meskipun namamu kelak tidak akan dipahatkan di batu-batu ataupun tertulis di lontar-lontar kitab babad, namun kaulah hakekat dari kemenangan itu.”

Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba bulu-bulu kuduk Mahesa Jenar meremang. Memang sejak semula ia sama sekali tidak bermimpi untuk mendapat tanda jasa di dadanya. Atau namanya digoreskan di pintu-pintu gerbang kota, serta di jalan-jalan raya. Yang diimpikan adalah kesejahteraan rakyat di bumi tercinta ini. Kesejahteraan lahir dan batin. Jasmaniah dan rohaniah.

Dalam pada itu, terdengar Panembahan Ismaya meneruskan, ”Karena itu Mahesa Jenar, sebagian besar dari pekerjaanmu itu sudah selesai. Kau tidak perlu lagi bersusah payah mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sebab kedua pusaka itu sudah di tanganku.

Sementara itu, kau dapat menyelesaikan pekerjaanmu yang lain. Kau telah berjanji kepada sahabatmu Ki Ageng Gajah Sora untuk menuntun anaknya. Nah, lakukanlah itu baik-baik. Bawalah anak itu pada suatu tugas yang besar. Memperoleh kembali tanah pusaka baginya. Sementara itu biarlah aku berusaha mendapatkan kembali kebebasan Gajah Sora itu.”

Kemudian ruangan itu menjadi hening. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas mereka yang duduk di dalamnya sambil mengurai gagasan masing-masing. Sehingga kemudian suasana itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya dalam nada yang jauh berbeda dari semula. Katanya, ”Nah, Paniling, Darba dan kedua kemanakannya. Aku sudah selesai berceritera. Sekarang berilah aku kesempatan untuk mengenal desamu yang sepi ini.”

Mendengar kata-kata itu Paniling seperti orang yang terbangun dari mimpi yang mengasyikkan. Dengan tergagap ia menjawab, ”Baik, baiklah Guru.”

”Jangan panggil aku Guru. Di sini aku adalah kakakmu,” potong Panembahan Ismaya. ”Namaku….” ia berhenti mengingat-ingat, lalu lanjutnya, ”Siapakah kau akan menyebut diriku kalau tetangga-tetanggamu bertanya namaku?”

Paniling tidak segera menjawab. Ia tidak tahu, nama apakah yang baik diterapkan pada orang yang menyebut dirinya kakaknya itu.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, ”Among Raga.”

Panembahan Ismaya tertawa, jawabnya, ”Ah, seolah-olah aku hanya mementingkan masalah-mnasalah jasmaniah belaka. Tetapi nama itu baik. Memang kau pandai mencari nama. Baiklah aku pakai nama itu di sini, meskipun isi kata itu sendiri tidak begitu mapan bagiku.”

Kanigara sadar, bahwa memang nama itu tidak begitu menyenangkan, namun ia masih juga membela diri. ”Tetapi Panembahan, bukankah nama itu akan menjadi aling-aling dari keadaan Paman yang sesungguhnya. Bukankah di sini Panembahan ingin menampakkan diri dalam ujud jasmaniahnya saja, tetapi bukan dalam ujud keseluruhan.”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, ”Baiklah, aku tidak keberatan.”

Demikianlah, untuk sehari-dua Panembahan Ismaya tinggal di rumah muridnya. Ia mencoba memenuhi harapan tetangga-tetangga Paniling, untuk sekali dua kali berkunjung ke rumah mereka berganti-ganti. Dengan penuh kesederhanaan Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bergaul dengan mereka.

Meskipun demikian, apabila malam datang, serta pondok di ujung padukuhan itu telah menutup pintunya, selalu terjadilah pembicaraan-pembicaraan yang jauh berbeda dengan setiap pembicaraan yang sederhana dengan para tetangga mereka. Tetapi di belakang pintu tertutup itu, Panembahan Ismaya selalu memberi kepada keempat orang yang terdekat dari padanya itu berbagai ilmu dan pengetahuan. Lahir dan batin. Bahkan diceriterakan pula bagaimana ia memiliki segala macam kesaktian. Memang sejak masa mudanya, ia selalu berusaha untuk mendapatkan berbagai macam ilmu. Sebab dalam kekisruhan yang terjadi, pada akhir kejayaan Majapahit, ia selalu mengira bahwa dengan kekuatan jasmaniah kejayaan itu dapat dibina kembali. Karena itulah ia mencoba untuk mendapatkan kekuatan-kekuatan itu. Setelah ia terpaksa meninggalkan lingkungan kesatriaan, usaha itu semakin diperdalam. Namun jiwanya telah berbeda. Ia ingin menemukan segala bentuk kekuatan untuk mencapai tujuan. Panembahan tua itu mengakui, bahwa mula-mula memang dikandung maksud untuk menunjukkan kebersihan dirinya dengan kekuatan. Ia ingin membuat hal yang aneh-aneh dengan memaksa orang untuk berlutut di hadapannya. Dan kepada orang-orang itu ia akan memaksakan kehendaknya. Meskipun dasar kehendak itu selalu baik dan bermanfaat bagi beberapa orang, namun cara-cara dan sifat kepahlawanan cengeng itu akhirnya tidak memberinya kepuasan. Dan akhirnya maksud-maksud itu sama sekali diurungkan. Bahkan semakin banyak ilmu yang dihirupnya, semakin jauhlah ia dari sifat-sifat itu. Dan akhirnya malahan ia membawa dirinya dengan luka-luka di hati untuk mengasingkan diri di lembah yang jauh dari lingkungan manusia. Di situlah ia menerima Umbaran sebagai muridnya, tetapi orang itu kemudian dimintanya meninggalkan tempat itu. Beberapa tahun kemudian datanglah Radite dan Anggara. Sehingga suatu saat, ia merasa bahwa ilmu-ilmu yang pernah dicapainya itu tak akan berarti apa-apa bagi manusia apabila tidak diamalkan. Dengan demikian ia mengharap Radite untuk mewakilinya dengan topeng dan jubah abu-abu. Dengan mempergunakan nama Pasingsingan, mulailah Radite mengamalkan ilmunya. Sedang Anggara untuk sementara dimintainya memelihara pertapaannya selama ia melenyapkan diri dari kedua muridnya untuk menyaksikan hasil pengamalannya dari jarak yang cukup jauh. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Radite kemudian tergelincir.

”Bagimu Mahesa Jenar…” akhirnya Panembahan Ismaya minta, ”Jadikanlah semua itu bekal bagimu.”

Demikianlah yang mereka lakukan dari hari ke hari. Bergaul dengan para petani disiang hari, dan menambah bekal hidup mereka di malam hari. Sehingga akhirnya, ketika Panembahan Ismaya memandang segala sesuatunya telah cukup, maka setelah ia bermohon diri kepada para tetangga, pergilah ia meninggalkan padukuhan Pudak Pungkuran mendahului Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, setelah ia berpesan kepada Radite. ”Radite, seseorang yang membiarkan kejahatan berlangsung tanpa berusaha untuk menghalang-halangi maka orang yang demikian itu dapat dianggap telah ikut membantu berlangsungnya kejahatan.”

Mula-mula Radite tidak mengerti maksud pesan itu. Tetapi beberapa waktu kemudian barulah ia sadar, bahwa ia sama sekali tidak berbuat sesuatu terhadap saudara seperguruannya yang terang-terangan telah melakukan berbagai kejahatan. Yaitu Umbaran. Karena itu, tiba-tiba ia merasa bahwa gurunya telah memaafkan segala kesalahannya, bahkan mempercayakan kepadanya, untuk menghentikan segala kejahatan yang selalu dilakukan oleh Umbaran dengan nama Pasingsingan. Hidup atau mati. Dengan demikian tiba-tiba beban yang selama ini menghimpit hatinya, seolah-olah berguguran, rontok tanpa bekas. Terasalah kemudian betapa ringan perasaannya kini. Dan dengan penuh tekad ia berjanji, bahwa ia akan melakukan pesan itu sebaik-baiknya.

Beberapa hari kemudian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera mohon diri pula, kembali ke Karang Tumaritis. Kebo Kanigara telah merasa sedemikian rindunya kepada putrinya yang ditinggalkannya beberapa hari, sedang Mahesa Jenar pun ingin segera menemui muridnya untuk mengajaknya memulai dengan suatu tugas yang berat, kembali ke Banyubiru.

———-oOo———-

III

Dalam perjalanan pulang, Mahesa Jenar dan kebo Kanigara memerlukan singgah sebentar di kota Banyubiru. Ketika malam turun perlahan-lahan di lereng-lereng bukit Telamaya, mereka berdua menambatkan kuda mereka agak jauh di luar kota. Dengan berjalan kaki mereka menyusuri jalan-jalan kota. Satu-dua masih tampak pintu rumah yang terbuka. Lampu minyak yang suram melemparkan cahanyanya berpencaran menusuk gelap malam. Bahkan di belakang regol halaman yang masih ternganga, masih tampak beberapa orang laki-laki duduk-duduk sambil bercakap-cakap.

Banyubiru dalam penglihatan Mahesa Jenar tidak banyak mengalami perubahan. Jalan-jalan yang itu-itu juga menjalar dari satu ujung ke ujung yang lain. Bangunan-bangunan tidak banyak bertambah, bahkan beberapa banjar tampak tak terpelihara. Tempat-tempat ibadah pun agaknya menjadi bertambah suram. Tetapi ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sampai di ujung jalan kota, mereka terkejut ketika mereka melihat obor terpancang di tengah-tengah lapangan. seperangkat gamelan telah siap pula di tempat itu. Beberapa orang telah mulai ramai mengerumuninya.

Dengan penuh keinginan untuk mengetahui, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendekati lapangan itu. Kepada seorang anak yang lewat di sampingnya, Mahesa Jenar bertanya, ”Apakah Banyubiru sedang ada perayaan?”

Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan heran. Kemudian anak itu malah ganti bertanya, ”Apakah Bapak bukan penduduk Banyubiru…?”

Mahesa Jenar ragu sebentar. Tetapi ia harus menjawab agar tidak menimbulkan kecurigaan. Karena itu katanya, Bukan, Nak. Aku bukan penduduk Banyubiru. Aku datang dari Pangrantunan.”

”Pangrantunan…?” Anak itu tiba-tiba terkejut.

Kembali Mahesa Jenar ragu. Namun ia mengangguk. ”Ya, kenapa…?”

”Tidak apa-apa,” jawab anak itu. ”Beberapa hari yang lalu beberapa orang Pangrantunan juga datang kemari. Mereka adalah saudara-saudara ibuku. Menurut paman-paman itu, Pangrantunan sekarang kembali kacau. Mereka ketakutan karena Simarodra tua sering mengunjungi pedukuhan itu. Apakah betul demikian…? Dan apakah betul Simarodra tua itu menuntut lebih banyak dari Simarodra dahulu?”

Betul, Nak…” jawab Mahesa Jenar sekenanya, namun karena itu ia ingin lebih banyak tahu. Karena itu ia bertanya, ”Siapakah pamanmu itu? Dan apakah yang dilakukan di sini…?”

”Pamanku bernama Reksadipa. Ia datang untuk melaporkannya kepada Ki Ageng Lembu Sora,” jawab anak itu.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu sahutnya, ”Hem… jadi kau kemenakan Kakang Reksadipa.” Kemudian Mahesa Jenar berhenti sebentar. ”Lalu apa katanya ketika ia kembali ke Pangrantunan?”

”Tidak apa-apa,” anak itu menjawab, “Tetapi Paman mengeluh. Katanya Ki Ageng Lembu Sora sedang akan mempertimbangkan. Tetapi itu tidak bijaksana. Sebab menurut Paman, keadaan sudah sangat gawat. Dan rakyat Pangrantunan sendiri tidak mampu untuk melawan mereka, meskipun rakyat Pangrantunan tidak takut.”

Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Memang letak Pangrantunan yang seolah-olah berhadapan dengan Gunung Tidar itu sangat tidak menguntungkan. Tetapi menghadapi hal sedemikian tidakkah Ki Ageng Lembu Sora Dipayana dapat berbuat sesuatu…? Namun kepada anak itu sudah pasti Mahesa Jenar tidak bertanya demikian. Karena itu ia bertanya tentang obor dan gamelan yang sudah siap di lapangan itu. Katanya, ”Nak, ada apakah dengan keramaian itu?”

”Itu bukan keramaian,” jawabnya. ”Dahulu Paman Reksadipa juga bertanya demikian. Gamelan itu memang setiap hari berada di sana. Orang-orang sekarang sedang bersenang senang karena panenan kemarin meskipun tidak memuaskan. Mereka setiap malam mengadakan tayub di lapangan itu.”

”Di lapangan terbuka…? Tiba-tiba Mahesa Jenar menyela.

”Ya,” jawab anak itu. ”Setiap orang boleh ikut. Kalau siang mereka mengadu ayam. Juga di tempat itu.”

O....” Tiba-tiba Mahesa Jenar mengeluh. Alangkah jauh kemunduran yang dialami oleh tanah perdikan ini.

Meskipun Kanigara tidak mengerti seluruh persoalan yang berputar di dalam kepala Mahesa Jenar, namun sedikit banyak ia pun mengerti. Tayub setiap malam dan mengadu ayam setiap hari adalah gejala-gejala kehancuran suatu daerah.

Ketika beberapa lama Mahesa Jenar berdiam diri, berkatalah anak itu, ”Sudahlah Paman, aku akan pulang. Hari telah malam.”

Anak itu tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar. Demikian ia selesai berbicara segera ia menghambur ke dalam gelap. Di kelokan jalan, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih melihat anak itu singgah di sebuah warung untuk membeli sesuatu.

”Itulah Kakang… gambaran Banyubiru saat ini. Suram dan mengerikan. Menyabung ayam di siang hari dan tuak di malam hari,” kata Mahesa Jenar kepada Kebo Kanigara.

Kesalahan yang tak boleh dibiarkan lebih lama lagi,” jawab Kebo Kanigara.

Kemudian kedua orang itu bersepakat untuk menyaksikan tari tayub yang sebentar lagi akan diselenggarakan di lapangan itu.

Demikianlah, ketika hari menjadi semakin gelap, di tanah lapang itu menjadi semakin banyak orang. Beberapa orang niyaga pun telah bersiap di belakang seperangkat gamelan. Sehingga sesaat kemudian suara gamelan telah mulai mengalun, menggoncang kesepian malam, yang kemudian disusul dengan suara waranggana memanjat tinggi. Namun terasalah bahwa suasananya bukanlah suasana yang sopan.

Sebentar kemudian ternyata bahwa memang demikianlah yang terjadi. Beberapa orang lelaki segera muncul di gelanggang. Menari dan berdendang. Sedang dari mulut mereka menyebar bau tuak. Disusul dengan munculnya beberapa orang ledek di tengah-tengah arena itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara duduk tidak seberapa jauh dari tempat itu. Namun mereka mencari tempat yang gelap, dimana cahaya obor tidak menyentuhnya, karena bayang-bayang beberapa orang yang berdiri menonton.

Ketika malam menjadi semakin dalam, suasana di tengah tanah lapang itu pun menjadi semakin riuh. Beberapa orang telah menjadi pening karena mabok. Bahkan beberapa orang telah kehilangan kesadaran dan berbuat hal-hal yang aneh-aneh di arena itu. Beberapa penari wanita yang telah terlatih melayani mereka dengan baiknya, sehingga suasana di arena itu betul-betul menjadi suasana gila-gilaan. Dalam keadaan yang demikian tidak mustahil kalau sampai terjadi bentrokan-bentrokan dan perkelahian-perkelahian diantara mereka, karena mereka telah kehilangan pengamatan diri.

Di tepi arena, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat beberapa orang yang sibuk berjualan. Apa saja yang dapat mereka jual. Makanan, minuman dan tembakau. Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian pada suasana yang berlangsung di sekitarnya. Yang penting bagi mereka adalah bahwa dagangan mereka laku, dan mereka mendapat uang sebanyak-banyaknya. Para penjual yang terdiri laki-laki dan perempuan, menghanyutkan diri saja dengan keadaan. Bersenda-gurau, berteriak-teriak melayani orang-orang mabok atau kelelahan. Namun orang itu tak sempat menghitung lagi berapa uang yang harus mereka bayarkan. Asal mereka menggenggam uang logam, mereka lemparkan begitu saja kepada penjualnya, perempuan-perempuan muda yang merajuk dengan manjanya.

Tetapi tiba-tiba mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sempat melihat seorang perempuan yang berdiri tegak agak di kejauhan. Nampaknya ia ragu-ragu untuk mendekati tempat itu. Tetapi kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju. Ketika ia menjadi semakin dekat, dan seleret sinar lampu para penjual menyambar wajahnya, tampaklah bahwa perempuan itu memiliki ciri-ciri yang lain dari setiap perempuan yang berada di tanah lapang itu. Wajahnya yang sayu pucat dan tubuhnya yang kekurus-kurusan, seolah-olah mencerminkan perasaannya yang sedih.

Ketika beberapa orang melihatnya, segera mereka melemparkan pandangan mata mereka. Tetapi ada juga orang yang dengan nada mengejek berteriak, ”Marilah Nyai. Apakah yang kau cari…?”

Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi segera matanya memandang berkeliling, kepada hampir semua orang yang berdiri di sekitar arena itu. Seakan-akan ia sedang mencari seseorang diantara wajah-wajah itu.

”Anakmu tidak berada di sini, Nyai,” teriak salah seorang, yang kemudian disusul dengan gelak tawa. ”Carilah anak itu di tengah rimba,” sambung suara yang lain. ”Mungkin ia berada bersama bapaknya.” Kembali terdengar suara bergelak-gelak.

Perempuan itu masih berdiam diri, berdiri seperti patung. Namun dengan demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat memandangnya lebih jelas. Dari sinar matanya, mereka dapat menduga bahwa karena sesuatu penderitaan, orang itu agaknya menjadi agak terganggu kesadarannya. Meskipun tidak begitu berat.

Ketika kemudian dilihatnya dari mata perempuan itu menitik butiran-butiran air. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi yakin bahwa sesuatu benar-benar telah menghimpit perasaannya. Ternyata mereka tidak perlu terlalu lama berteka-teki ketika terdengar seorang laki-laki berkata dengan kasarnya, ”Suamimu tak berani pulang, Nyai. Demikianlah hukuman bagi pemberontak. Dan bayimu yang mati itu tidak akan bisa hidup lagi. Apalagi ikut bersenang-senang bersama kami sekarang, tak ada tempat bagi laki-laki semacam suamimu itu.”

Air mata di wajah perempuan itu menjadi semakin deras. Agaknya ia dapat mengerti, bahwa suaminya tidak berada di tempat itu.

Kemudian terdengarlah suara lain yang bertanya, ”Siapakah dia?

Istri Penjawi,” jawab suara yang lain lagi.

O, karena itulah ia masih muda dan cantik,” sahut suara yang pertama. ”Kalau begitu kenapa tidak saja ia kau ajak menari…?”

”Tidak mau. Ia baru saja kematian bayinya. Mungkin dua tiga hari lagi,” sahut suara lain yang disusul dengan gelak tertawa orang banyak.

Diantara suara yang riuh, di sela-sela suara gamelan yang semakin menggila itu tiba-tiba terdengarlah suara yang berat mengatasi yang lain. Katanya, ”Aku tidak percaya kalau ia tidak mau. Ataupun kalau ia tidak mau, seret saja ia ke arena.”

Oleh suara yang berat itu, tiba-tiba semua terdiam. Dan semua mata memandang ke arah suara itu. Seorang yang tinggi besar dan berwajah kasar berdiri bertolak pinggang di pinggir arena. Sedang bola matanya dengan tajam memandang istri Penjawi itu seperti hendak meloncat dari kepalanya. Sambungnya, ”Ternyata ledek Banyubiru tak ada yang secantik ledek-ledek dari Pamingit. Dan perempuan itu agaknya akan bisa setidak-tidaknya menyamainya.”

Orang yang berwajah kasar itu maju beberapa langkah ke arah perempuan muda yang disebut istri Penjawi, yang kemudian menjadi ketakutan. Apalagi ketika orang itu meneruskan kata-katanya. ”Sayang bahwa wajah yang cantik itu tidak mendapat pemeliharaan.”

Ketika orang yang tinggi besar dan berwajah kasar itu melangkah terus, keadaan segera menjadi tegang. Tetapi beberapa orang yang mabok mulai tertawa-tawa kembali dan menganggp bahwa apa yang akan terjadi merupakan suatu tontonan yang menyenangkan. Namun beberapa orang lain, yang kepalanya juga sudah mulai pening-pening, segera merasa tersinggung. Bahkan seorang yang sudah setengah mabuk berteriak, ”Hei, monyet dari Pamingit. Jangan ganggu orang Banyubiru. Aku sendiri sudah lama jatuh cinta kepadanya. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan. Nah, sekarang suaminya mungkin sudah mampus ditelan macan. Karena itu, perempuan itu akan aku ambil sebagai istriku yang muda.”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu menoleh. Dilihatnya seseorang yang bertubuh sedang, namun kokoh kuat seperti orang hutan berjalan mendekatinya. Tampak bibir orang Pamingit itu bergerak-gerak mengejek. Kemudian terdengar ia menjawab, ”Jangan terlalu kasar berkelakar sahabat. Orang Banyubiru harus menghormati orang-orang Pamingit. Sebab Banyubiru sekarang berada di bawah pemerintahan Pamingit. Kalau kau tidak mau mati, jangan ganggu aku. Biarkan orang Pamingit berbuat sesuka hatinya. Bahkan istrimu pun kalau aku kehendaki harus kau serahkan.”

Mata orang Banyubiru yang kokoh kuat itu segera menyala marah. Dengan membentak-bentak ia menjawab, ”Jangan banyak mulut. Pergi atau kau akan segera jadi bangkai.”

Pertunjukan itu segera terhenti karena ribut-ribut yang terjadi. Beberapa ledek yang sedang menari-nari dengan tenangnya berjalan ke tengah-tengah jajaran gamelan dan duduk diantara para niyaga. Mereka sama sekali tidak menunjukkan perasaan cemas atau takut. Hal yang demikian sudah sering terjadi. Tetapi ketika mereka mendengar bahwa pertengkaran itu terjadi antara orang Pamingit dan Banyubiru, perhatian mereka agaknya tertarik juga.

Salah seorang ledek dengan memanjangkan lehernya, berusaha melihat mereka yang bertengkar, lalu bertanya, ”Siapakah yang bertengkar?

Terdengarlah seorang niyaga menjawab, ”Jiwala dengan orang Pamingit.”

Ketika ledek itu berhasil melihat orang Pamingit yang tinggi besar berwajah kasar itu, ia tertawa sambil menyubit kawannya. ”Hei, agaknya Si Saraban yang bertengkar dengan Jiwala. Apakah kau tidak membantunya…?”

Peduli apa?” jawab kawannya, seorang ledek yang berhidung pesek. ”Kemarin ia sanggup memberi aku uang, tetapi sampai sekarang ia tidak menepati janjinya.”

Sekali lagi mereka menjengukkan kepalanya. Lalu dengan mengerutkan keningnya, ledek yang berhidung pesek itu berkata, ”Gila. Bukankah mereka mempertengkarkan istri Penjawi itu?”

Sekali lagi kawannya mencubitnya sambil tertawa. ”He, kau agaknya mendapat saingan. Kalau Saraban menang, kaulah yang harus berkelahi melawan istri Penjawi itu.”

Kawannya tidak menjawab, tetapi ia semakin merengut.

Mendengar percakapan itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa menahan nafas. Tetapi hatinya mengeluh. Sampai sedemkian jauh orang-orang Banyubiru terperosok ke dalam jurang yang mengerikan.

Dalam pada itu, orang Banyubiru yang bernama Jiwala itupun sudah berdiri di hadapan Saraban. Dengan bertolak pinggang ia memandang orang Pamingit itu dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Sedang orang Pamingit itu mengawasinya dengan marah. Tetapi sebentar-sebentar mereka berdua terpaksa menengok ke arah perempuan yang kekurus-kurusan dan berdiri dengan gemetar di pinggir tanah lapang itu. Ternyata sedemikian ketakutan, sampai istri Penjawi itu tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dalam pada itu sekali lagi Saraban membentak, ”Pergi. Jangan halang-halangi aku.

Jiwala tidak menjawab, tetapi dengan tangkasnya ia menyerang perut Saraban. Namun agaknya Saraban pun bukan orang yang dapat diremehkan. Demikian tangan Jiwala terulur ke arah perutnya, dengan cepatnya ia memiringkan tubuhnya dan sekaligus kakinya menyambar dada lawannya. Jiwala yang sedang mabuk itu tidak sempat menghindarkan dirinya, sehingga terasa kaki orang yang bertubuh tinggi besar itu mendorong tubuhnya kuat-kuat. Demikianlah ia terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Agaknya tendangan orang Pamingit itu cukup keras, karena ternyata setelah bersusah payah berusaha barulah Jiwala dapat bangun. Namun ia sudah tidak berani lagi mendekati orang Pamingit yang bernama Saraban itu.

Melihat geraknya, segera Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tahu, bahwa orang Pamingit itu bukan lawan Jiwala. Menurut dugaan mereka, Saraban pasti termasuk orang yang cukup baik kedudukannya, bahkan mungkin ia adalah salah seorang pimpinan laskar Pamingit.

Perkelahian itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Sebab ketika Jiwala tidak berani lagi mendekati lawannya, tak seorang pun lagi yang mengganggu Saraban. Bahkan tiba-tiba terdengar seseorang berbisik. ”Salah Jiwala sendiri, kenapa ia melawan orang itu. Bukankah ia pengawal Ki Ageng Lembu Sora?”

Mendengar bisikan itu, dada Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berdesir. Tentulah orang Banyubiru itu tidak akan dapat mengalahkannya. Kemudian terdengarlah orang lain berbisik pula, ”Kalau Jiwala tidak sedang mabok, tentu ia tidak berani berbuat demikian.”

Demikianlah ternyata Saraban kemudian akan dapat berbuat sekehendak hatinya. Kembali dengan wajah yang menakutkan, ia memandang istri Penjawi yang berdiri gemetar. Ternyata ia benar-benar menjadi ketakutan dan kehilangan akal, sehingga ia sama sekali tidak berpikir untuk melarikan diri. Mula-mula ia mengharap bahwa ada orang yang menolongnya, tetapi dengan jatuhnya Jiwala, harapannya menjadi lenyap.

Mula-mula Saraban itu masih memandang berkeliling. Agaknya ia masih mencari lawan untuk menunjukkan kekuatannya. Ketika tak seorangpun yang berani mengganggu lagi, barulah setapak demi setapak ia mendekat.

Nyi Penjawi menjadi semakin ketakutan. Setapak ia mundur, tetapi dua tapak Saraban melangkah maju, sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, beberapa orang yang semula tertawa-tawa kini menjadi terdiam. Bagaimanapun juga, di dalam sudut hati mereka yang paling dalam, tersirat juga rasa kasihan. Kasihan kepada istri Penjawi yang sedang ditinggal suaminya menyingkir, karena Lembu Sora akan membinasakannya. Ditambah lagi, baru beberapa minggu ia kehilangan bayinya. Sekarang tiba-tiba seorang laki-laki berwajah kasar, dengan rakusnya ingin merampas kecantikannya. Apalagi orang itu adalah orang Pamingit.

Tetapi tak seorangpun yang berani berbuat sesuatu. Sebab tak seorangpun yang merasa mampu mengalahkan Saraban. Sedang untuk maju bersama-sama pun mereka tidak berani. Sebab dengan demikian, orang-orang Pamingit pasti akan beramai-ramai menyerang mereka. Meskipun sebenarnya mereka tidak bersalah, karena melindungi seseorang yang diperlakukan tidak adil, namun orang Pamingit dapat saja membuat alasan-alasan.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menyaksikan semua peristiwa itu dengan wajah yang tegang. Ketika Saraban tinggal beberapa langkah saja jaraknya dari Nyi Penjawi, Mahesa Jenar tidak dapat membiarkan hal yang kotor itu berlangsung. Tetapi ketika ia sudah bergerak, terasa Kebo Kanigara menggamitnya sambil berbisik, ”Duduklah Mahesa Jenar. Biarlah aku selesaikan masalah ini. Sebab belum ada di antara mereka yang mengenal aku. Sedang kau agaknya telah dikenal oleh beberapa orang di sini.”

Mendengar bisikan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar mengurungkan niatnya. Ia membiarkan Kebo Kanigara perlahan-lahan berdiri. Tetapi ketika selangkah ia maju, mereka bersama dikejutkan oleh sebuah suara yang berat parau dari kegelapan di belakang perempuan yang kekurus-kurusan itu. Katanya, ”Saraban, jangan berlagak jantan sendiri. Orang Banyubiru tidak semuanya berjiwa betina. Cobalah kau maju selangkah lagi, namamu akan terhapus dari deretan nama-nama pengawal Lembu Sora. Dan bangkaimu akan dikubur dengan segala macam kutuk dan caci.”

Saraban ternyata terkejut juga mendengar suara itu. Dengan tidak disadarinya sendiri, ia menghentikan langkahnya. Matanya yang liar dibukanya lebar-lebar untuk mengetahui, siapakah yang dengan sombong mencoba menghalang-halangi niatnya. Dalam pada itu, dari dalam gelap, muncullah sebuah bayang-bayang, yang dengan tetap melangkah maju. Sesaat kemudian tampaklah di bawah cahaya lampu yang samar, seorang laki-laki dengan mata yang menyala-nyala karena marah, berdiri diantara laki-laki yang bernama Saraban dengan perempuan yang kekurus-kurusan, yang sedang meneteskan air mata putus asa. Orang itu tidak setinggi dan sebesar Saraban. Namun tubuhnya tampak kuat seperti baja.

Ketika Saraban mengenal wajah orang itu, ia menggeram. Dan bersamaan dengan itu terdengar Mahesa Jenar berdesis sambil berdiri karena terkejut, ”Bantaran….”

Bantaran….” ulang Kebo Kanigara yang terpaksa menghentikan langkahnya. ”Siapakah dia?

Salah seorang kepercayaan Ki Ageng Gajah Sora yang bersama-sama dengan Penjawi terpaksa menyingkir dari Banyibiru.”

”Kalau begitu…” sahut Kanigara, ”Aku tak perlu mengganggunya.”

”Aku kira demikian,” jawab Mahesa Jenar.

Dengan demikian Kanigara mengurungkan langkahnya, tetapi mereka mencari tempat untuk menyaksikan peristiwa yang mendebarkan hati itu.

Dalam pada itu,  Bantaran masih tetap berdiri di muka Nyi Panjawai, dengan kaki renggang dan dada terbuka. Sesaat kemudian, tampaklah matanya beredar kesegenap arah. Memandang setiap wajah orang Banyu Biru yang berdiri di sekitarnya. Dan tiba-tiba saja orang-orang Banyu Biru yang kena sambaran matanya, dengan cepat menundukkan mukanya. Mereka seolah-olah merasa menda­pat teguran dari salah seorang pemimpin mereka. Meskipun beber:apa orang lebih senang menjelenggarakan sabungan ayam dan tari tayub daripada berjuang membebaskann tanah perdikan mereka, namun beberapa orang yang lain masih juga merasa malu atas kelakuan mereka itu.

Dan dari mulut Bantaran itu kemudian terdengar suaranya menggeram, ”Aku melihat kelakuan kalian. Hampir setiap malam aku berada di tempat ini. Dan hampir setiap malam aku melihat apa yang terjadi. Mabuk, judi, berkelahi di antara sesama karena hal-hal yang memalukan, dan menyabung ayam di siang hari. Dan puncak dari kebodohan kalian adalah membiarkan setan ini mengganggu isteri orang. Isteri kawan setiamu, yang sekarang sedang berjuang untuk kalian.”

Suasana menjadi sunyi diam. Tak seorang pun yang berani menatap wajah Bantaran yang merah menyala-nyala. Bahkan seandainya ada selembar daun kuning jang gugur, suaranya akan jelas terdengar seperti gemuruhnja guntur di langit.

Dalam pada itu, Saraban pun mendjadi marah pula. Ia pernah berkenalan dengan Bantaran. Karena itu ia tahu benar bahwa Ban­taran termasuk salah seorang yang sedanq dikejar-kejar oleh laskar Pamiingit, untuk disingkirkan. Karena itu, terdengarlah Sara­ban berteriak dengan suara yang gemuruh, ”Hai Bantaran. Ternyata kau benar-benar sombong. Kedatanganmu tidak saja sangat mengganggu kesenangan kami malam ini, tetapi akan serupa benar dengan serangga menjelang api. Nah agaknja malam ini aku akan mendapat dua hadiah yang berharga. Membunuh Bantaran dan mendapat isteri baru.”

Terdengar Bantaran menggeretakkain giginya. Namun perlahan­lahan ia menoleh kepada Nji Penjawi sambil berkata, ”Menying­kirlah Nyai, biarlah monyet ini aku selesaikan.

Njai Penjawi tak menjawab sepatah katapun. Namun, air matanya mendjadi semakin deras mengalir. Sementara itu Bantaran meneruskan. ” Suamimu selamat sampai sekarang. Mudah-mudahan ia kelak akan datang dengan pasukannja. Nah kalau demikian barulah orang tahu, siapakah Penjawi itu.

Jangan mengigau” bentak Saraban,

Mendengar bentakan itu, selanqkah Bantaran maju. la tidak merasa perlu untuk berdebat lebih lama. Tetapi terasa bahwa tak ada cara penyelesaian yanq lebih baik daripada bertempur dengan orang itu. Meskipun ia sadar, bahwa seandainya kehadirannya itu didengar oleh Lembu Sora dan laskar Pamingit yang lain, maka akibatnja akan sangat berbahaya.

Meskipun orang-orang yang berada di tanah lapang itu sudah hampir setiap hari menyaksikan perkelahian, namun kali ini suasananya
agak berbeda. Yang mereka lihat setiap hari adalah perkelahian
di antara orang-orang mabuk. Sedang sekarang mau tidak mau mereka
melihat pertengkaran langsung tidak saja karena Nyi Penjawi,
tetapi lebih daripada itu. Yaitu di antara orang Pamingit dan orang
Banyu Biru. Orang yang dengan penuh nafsu ingin menguasai dae­rah orang lain melawan orang yang mempertahankan daerah itu.

Maka, ketika selangkah lagi Bantaran maju, berpencaranlah orang-orang yang berada di tanah lapang itu ke tepi. Mereka semuanya mengetahui siapakah Bantaran, dan sebagian besar dari mereka pun mengetahui pula, siapakah Saraban. Karena itu tak seorang pun yang berani mendekati mereka berdua jang sudah bersiap untuk bertempur.

Demikianlah, sesaat kemudian, tanpa berkata sepatah pun lagi, Saraban meloncat dengan garangnya rnenjerang Bantaran, Namun Bantaran pun telah siap pula menyambutnya, sehingga tidak usah menunggu terlalu lama, pertempuran itu segera berlangsung dengan serunya. Saraban yang bertubuh tinggi besar itu ternyata mempunjai tenaga yang luar biasa besarnya, sedang Bantaran meskipun lebih kecil dan pendek, tetapi ia dapat bergerak dengan lincahnya. Dengan cepatnya ia meloncat dari satu arah ke arah jang lain. Karena itulah maka serangannya seolah-olah datang dari segala penjuru.

Mula-mula Saraban dapat selalu mengikuti arah gerak Bantaran. Bahkan sekali dua kali serangannya yang berbahaya dapat memaksa Bantaran melontar selangkah dua langkah mundur. Tetapi lama kelamaan kaki Bantaran semakin lincah melontar-lontarkan tubuh­nja kesana kemari, sehingga akhirnya Saraban menjadi bingung. Beberapa kali Bantaran berhasil memancing lawannya menghadap ke arah yang salah, sehingga dalam keadaan yang demikian, melon­catlah serangan-serangan Bantaran yanq dahsyat. Untunglah bahwa tubuh Saraban benar-benar keras seperti kayu. Sehingga untuk beberapa lama ia dapat bertahan. Namun karena serangan Bantaran itu datang bertubi-tubi bahkan kemudian seperti aliran air terjun, maka, akhirnyja terasalah bahwa Saraban mulai terpaksa bekerja mati-matian. Dan beberapa saat kemudian terpaksalah orang Pamingit yang bertiubuh tinggi besar itu mengeluh. Tetapi meskipun demikian, ia masih juga berusaha sekuat tenaganya untuk dapat mengimbanyi lawannya. Sekali dua kali tangannya yang besar dan berat itu terayun dengan kerasnja disusul dengan lontaran kakinya dibarenqi teriakan yang memekakkan telinga. Namun Bantaran selalu berhasil menghindar dan kemudian meloncat maju membalas menyerang. Meskipun tenaganja tidak sebesar orang Pamingilt itu, namun pukulannya yang selalu mengarah ke tempat-tempat yang ringkih, men­jakan Saraban terdesak terus.

Ketika Saraban lengah, tangan Bantaran berhasil masuk di an­tara kedua tangan lawannya yang bersilang, mengenai rahangnya.
Dengan kerasnya muka Saraban teranqkat disusul dengan sebuah
pukulan ke arah perut. Terdengarlah Saraban mengaduh pendek
sambil membungkukkan badannya. Pada saat itu, sekali lagi tangan Bantaran terayun deras sekali. Namun agaknya Saraban melihat arah sambaran tangan lawannya. Dengan sisa tenaganya ia menghindar ke samping. Dengan demikian serangan Bantaran tidak mengenai sasarannya. Bahkan tubuhnya terbawa beberapa langkah maju, terseret oleh ayunan tangannya. Saraban melihat kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga yang masih ada ia memukul tengkuk Bantaran. Namun Bantaran yang masih segar ternyata sudah dapat memperbaiki kedudukannya menghadapi serangan itu. Demikian tangan Saraban terjulur, dengan kecepatan kilat tangan itu ditangkapnya sambil memutar tubuhnya dan merendahkan diri. Bantaran menjangkau kepala Saraban dari atas pundaknya. Dengan menghentakkan kekuatan. Bantaran menarik orang Pamingit yang bertubuh besar itu, sehingga melontar dengan kerasnya, dengan kaki terputar ke atas. Kemudian dengan gemuruhnya tubuh Saraban terbanting di tanah.

Semua orang yang menyaksikan kesudahan dari perkelahian itu menahan nafasnya. Meskipun orang-orang Banyubiru menjadi cemas atas peristiwa itu, namun mereka di dalam hatinya bangga juga atas keunggulan orang Banyubiru atas orang Pamingit.

Bantaran yang telah berhasil menjatuhkan lawannya, berdiri dengan tegap di depan tubuh Saraban yang sudah tak berdaya lagi untuk bangkit. Sekali lagi ia memandang berkeliling, ke arah wajah-wajah orang Banyubiru yang berdiri di sekitar tempat perkelahian itu. Dan sekali lagi wajah-wajah orang Banyubiru itu terbanting di tanah yang ditumbuhi rumput dengan suburnya. Dalam pada itu terdengarlah suara Bantaran parau, ”Saudara-saudaraku, rakyat Banyubiru. Aku menyesal atas semua yang telah terjadi di tanah perdikan ini. Kalian ternyata telah terbius oleh pemanjaan nafsu yang tak terkendali. Tetapi dengan peristiwa ini, kalian tidak akan dapat untuk seterusnya berpangku tangan. Sebab kawan-kawan orang Pamingit itu tidak akan tinggal diam. Dan akibatnya akan dapat kalian rasakan. Untuk seterusnya kalian hanya dapat memilih, menangkap aku, lalu menyerahkan kepada Lembu Sora, yang dengan demikian kalian akan bebas dari pembalasan dendam, atau bangkit melawan kekuasaan Pamingit atas tanah kita sambil menunggu kehadiran pemimpin kita Ki Ageng Gajah Sora atau putranya Arya Salaka.”

Tak seorangpun yang menyatakan pendapatnya. Dan memang demikianlah perasaan mereka yang mendengar kata-kata Bantaran. Sebagian diantara mereka menjadi malu atas kelakuan mereka, tetapi memang ada juga diantaranya yang di dalam hatinya mengumpati Bantaran. Sebab dengan perbuatannya itu, pastilah akan terjadi hal-hal yang sama sekali tak dikehendaki. Orang-orang Pamingit pasti akan datang ke tempat itu dan mengaduknya. Menangkapi orang-orang yang dicurigainya, memukuli mereka tanpa alasan untuk melampiaskan dendam mereka.

Belum lagi gema suara Bantaran itu lenyap, tiba-tiba terdengarlah derap beberapa ekor kuda dengan kencangnya menuju ke tanah lapang itu. Mendengar derap yang berdatangan Bantaran tampak terkejut. Segera ia tahu apakah yang sebentar lagi akan terjadi. Meskipun demikian ia tetap tenang. Dan dengan tenang pula ia berkata lantang, ”Rupa-rupanya ada juga pengkhianat-pengkhianat di Banyubiru ini. Dan agaknya mereka telah melaporkan kehadiranku.”

Orang-orang yang berdiri di tanah lapang itu segera menjadi gelisah. Beberapa orang telah bersiap untuk melarikan diri. Tetapi mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan. Sebab dalam waktu yang sangat singkat, beberapa orang berkuda telah datang dan langsung mengepung tanah lapang itu di empat penjuru.

Bantaran masih dalam sikapnya yang tenang, memandang berkeliling. Kepada kira-kira sepuluh-duabelas orang yang masih berada di atas punggung kuda mereka. Wajah para penunggang kuda itu tampak garang-garang, sedang di tangan mereka masing-masing tergenggam senjata. Ada yang berupa tombak, pedang atau macam-macam senjata yang lain.

Dua orang diantara mereka, mendorong kuda mereka agak ke depan. Rupa-rupanya dua orang itu adalah pemimpin rombongan. Salah seorang daripadanya terdengar berteriak dengan suara yang nyaring, ”Hai orang-orang Banyubiru yang tak tahu diri. Katakanlah kepada kami, siapakah diantara kalian yang bernama Bantaran.”

Bantaran masih tegak di tempatnya. Tetapi karena kekacauan yang timbul, karena beberapa orang yang ingin melarikan diri, maka di sekitarnyapun telah berdiri beberapa orang dengan tubuh gemetar sehingga orang-orang berkuda itu tidak segera dapat melihat tubuh Saraban yang terkapar di tanah.

Suara pemimpin rombongan berkuda yang bergeletar memenuhi tanah lapang itu untuk beberapa lama tidak mendapat jawaban. Karena itu ia mengulangi, ”Ayo… katakanlah kepada kami, siapakah diantara kalian yang bernama Bantaran. Kalau tidak ada diantara kalian yang mau menunjuk batang hidungnya, maka semuanya yang berada di tanah lapang ini akan kami bawa. Sesudah itu janganlah kalian mengharap untuk bertemu kembali dengan anak istri kalian.” Bantaran menarik nafas dalam-dalam sambil menekan dadanya. Sudah tentu ia tidak menghendaki sekian banyak orang menjadi korban untuk dirinya. Meskipun demikian sekali dua kali tampaklah ia menoleh ke arah Nyi Penjawi yang berdiri tidak jauh di belakangnya.

AGAKNYA, Nyi Penjawi itulah yang memberati hati Bantaran. Sebagai seorang sahabat Penjawi, ia tidak akan tega melihat nama perempuan itu dinodai.

Sebelum Bantaran mengambil suatu sikap, tiba-tiba seorang diantara dua orang berkuda itu meloncat turun dan menyambar baju orang yang bertubuh sedang tetapi tampak otot-ototnya menonjol seperti orang hutan. Sambil membentak-bentak orang itu bertanya, ”Siapa namamu…?”

Dengan tergagap orang yang masih agak mabok itu menjawab, ”Gonjang, Tuan.

”Kenalkah kau dengan orang yang bernama Bantaran?” tanya orang Pamingit seterusnya.

Untuk beberapa saat Gonjang berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengarlah jawabannya di luar dugaan. Orang yang suka mabok dan berbuat tidak sepantasnya itu ternyata memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Sebagai orang Banyubiru ia merasa berkewajiban melindungi Bantaran. Karena itu jawabnya, ”Kenal Tuan. Aku kenal betul dengan orang itu.”

Nah kalau begitu tunjukkanlah orangnya kepada kami,” desak orang Pamingit itu.

Kemudian terdengarlah jawabnya yang mengejutkan hati orang-orang di tanah lapang itu. ”Sudah sejak berbulan-bulan ia tidak pernah menampakkan dirinya, Tuan. Karena itu aku tidak dapat menunjukkannya kepada Tuan.”

Tiba-tiba mata orang Pamingit itu seolah-olah akan meloncat dari batok kepalanya. Ternyata jawaban itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu ia menjadi marah sekali. Ketika tangannya yang memegang baju Gonjang diguncang-guncangkan, Gonjang pun ikut terguncang seperti sebatang pohon yang diputar-putar badai. Sambil membentak-bentak lebih kasar orang Pamingit itu sekali lagi bertanya, ”Ayo katakanlah kepada kami, yang mana diantara kalian yang bernama Bantaran.”

”Betul Tuan… ia tidak berada di sini sekarang,” jawab Gonjang tergagap.

”Bohong!” bentak orang Pamingit itu. ”Aku mendapat laporan bahwa ia berada di tanah lapang ini sekarang.”

”Nah, kenapa Tuan tidak bertanya kepada orang yang melaporkan itu saja…?” sahut Gonjang.

Orang Pamingit itu tidak menjawab lagi. Tetapi sebuah pukulan yang keras melayang ke wajah Gonjang. Dengan kerasnya orang itu terdorong ke belakang, dan kemudian terjatuh dengan kerasnya. Terdengarlah ia mengerang kesakitan. Namun meskipun demikian ia tidak juga menunjukkan siapakah diantara mereka yang bernama Bantaran.

Tetapi dalam pada itu, ternyata Gonjang adalah orang yang cerdik. Ia telah mencoba memancing orang Pamingit itu untuk menunjukkan kepada orang-orang Banyubiru, siapakah yang sebenarnya tidak berkhianat. Namun agaknya orang Pamingit itu pun telah berjanji untuk melindungi pengkhianat itu, sehingga orang itu tidak dibawanya serta.

Bantaran yang menyaksikan peristiwa itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia menjadi bimbang, justru karena ia sedang berusaha untuk melindungi istri Penjawi. Kalau saat itu ia dapat ditangkap, maka bila Saraban nanti sadar kembali, nasib istri Penjawi itupun sudah dapat dibayangkan. Sebab untuk melawan sepuluh orang berkuda itu agaknya di luar kemampuannya. Bantaran hampir mengenal satu demi satu orang-orang Pamingit yang akan menangkapnya. Temu Ireng, Talang Semut, Dadahan, dan orang-orang setingkatnya. Seandainya tak seorang diantara orang Banyubiru yang mau menunjukkannya, namun kalau orang-orang Pamingit itu meneliti satu demi satu orang yang berada di tanah lapang itu, meskipun makan waktu lama, akhirnya dirinya akan diketemukan juga. Sebab orang-orang Pamingit itu pun telah mengenalnya seperti ia mengenal mereka.

Belum lagi Bantaran mendapat suatu cara yang sebaik-baiknya, orang Pamingit itu telah menangkap seorang lagi. Seorang muda yang berwajah tampan, berkumis sebesar lidi. Pakaiannya terbuat dari kain lurik yang mahal. Tetapi demikian ia diseret ke depan, tubuhnya tiba-tiba serasa lumpuh. Dan ketika orang Pamingit itu membentaknya, ia menjadi pingsan.

Akhirnya Bantaran mengambil suatu ketetapan untuk menyatakan dirinya di hadapan orang-orang Pamingit itu sebelum jatuh korban lebih banyak lagi. Ia akan mencoba melawan dan menimbulkan kekacauan, sementara itu ia berharap Nyi Penjawi sempat melarikan diri. Tetapi ketika Bantaran bermaksud membisiki Nyi Penjawi tentang maksudnya itu, tiba-tiba diantara sekian banyak orang yang berdiri di tanah lapang itu muncullah seseorang yang bertubuh sedang, tegap dan berdada bidang. dengan suara yang berat namun penuh wibawa ia berkata nyaring, ”Hai, orang-orang Pamingit…. Inilah Bantaran.”

Semua yang berada di tanah lapang terkejut mendengar pengakuan itu. Untuk sesaat kembali tanah lapang itu menjadi hening sunyi. Sesunyi tanah pekuburan. Tetapi dalam pada itu semua mata bergerak ke arah seorang yang berjalan perlahan-lahan namun pasti, menyibak orang-orang yang berada di depannya, menuju ke arah dua orang yang agaknya memimpin rombongan orang-orang Pamingit itu. Ketika mereka melihat orang itu, sekali lagi mereka terkejut. Dan yang lebih terkejut adalah Bantaran sendiri. Orang-orang Banyubiru menjadi bertanya-tanya di dalam hati, siapakah orang yang telah dengan beraninya menamakan dirinya Bantaran di hadapan sepuluh orang Pamingit yang garang-garang itu…?

Tetapi, sesaat kemudian Bantaran menjadi sadar, bahwa seseorang telah mencoba melindunginya. Namun orang itu belum pernah dilihatnya.

Nyai…” bisik Bantaran kepada Nyi Penjawi, ”Adakah ia orang baru…?

Nyai Penjawi menggelengkan kepalanya. ”Aku belum pernah melihatnya, Kakang.

Bantaran menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menebak, siapakah orang yang telah mencoba menyelamatkan dirinya itu. Tetapi tiba-tiba ia menjadi cemas atas keselamatan orang itu. Dua orang pemimpin rombongan orang-orang Pamingit itu bukanlah orang yang dapat diajak berbicara. Mereka adalah Temu Ireng dan Talang Semut. Dua orang yang lebih suka mempergunakan tangannya daripada mulutnya. Apalagi pengakuan orang itu hanya akan mendatangkan bencana saja baginya. Sebab orang yang bernamaTemu Ireng dan Talang Semut itu telah mengenal siapakah orang yang bernama Bantaran, sehingga pengorbanannya akan menjadi sia-sia. Sebab akhirnya mereka masih akan mencari orang yang dikehendakinya. Karena itu Bantaran ingin meloncat maju untuk mencegah pengorbanan yang dianggapnya akan sia-sia saja.

Tetapi ketika ia sudah bersiap untuk meloncat dan berteriak, tiba-tiba seseorang menggamitnya. Ketika ia menoleh, ia terperanjat bukan kepalang, sampai ia tergeser dari tempatnya. Demikian terperanjatnya Bantaran, sampai beberapa saat ia tak dapat berkata-kata. Baru setelah debar jantungnya berkurang, terdengarlah ia berdesis, ”Tuan… Bukankah Tuan….”

”Ssst… jangan kau sebut nama itu,” potong orang yang menggamitnya.

Bantaran mengangguk angguk cepat. Namun ia masih agak bingung menanggapi kehadiran orang yang sama sekali tak disangka-sangka itu.

”Tuan…” sambungnya sambil tergagap, ”Kenapa Tuan tiba-tiba saja berada di tempat ini…?”

Orang itu, yang tak lain adalah Mahesa Jenar, tersenyum lebar. ”Bantaran… ketika sepuluh orang berkuda itu datang, kau agaknya tetap tenang. Tetapi ketika kau lihat aku, kau menjadi kebingungan.”

Bantaran mencoba memperbaiki jalan nafasnya sambil menjawab, ”Sebab bagiku kehadiran Tuan lebih berkesan di hati, daripada monyet-monyet dari Pamingit itu.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tertawa kecil. Kemudian katanya memperingatkan Bantaran pada keadaannya kini, ”Apalagi orang-orang Pamingit itu akan menangkap kau.”

Bantaran tersadar akan bahaya yang mengancam. Tetapi bersamaan dengan itu kembali ia teringat kepada orang aneh yang mengaku dirinya Bantaran itu. Karena di sampingnya sekarang ada Mahesa Jenar maka disampaikannya keheranannya itu kepadanya. ”Tuan, aku menjadi heran, ketika seseorang mengaku bernama Bantaran, dan dengan beraninya menghadapi Temu Ireng.”

Mahesa Jenar dan Bantaran bersama-sama mengangkat wajah, memandang ke arah orang yang menamakan dirinya Bantaran, yang sekarang telah dekat benar dengan Temu Ireng dan Talang Semut.

Dalam pada itu terdengar Bantaran meneruskan, ”Agaknya orang itu belum mengenal siapakah mereka berdua, ditambah dengan delapan orang lainnya.”

”Jangan risaukan orang itu,” sahut Mahesa Jenar.

Bantara menoleh sambil mengerutkan keningnya. ”Kenalkah Tuan dengan orang itu?”

Mahesa Jenar mengangguk, tetapi ia masih tetap memandang kepada orang yang menamakan diri Bantaran, yang sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Temu Ireng.

”Siapakah dia…?” desak Bantaran.

”Paman guruku,” jawab Mahesa Jenar singkat.

”O….” Suara Bantaran seolah-olah terpotong di kerongkongan. Baru kemudian ia meneruskan, ”Alangkah bodohnya aku. Kalau demikian sepuluh orang itu sama sekali tidak akan berarti.”

Mahesa Jenar tidak sempat memperhatikan kata-kata Bantaran, sebab pada saat itu ia melihat Temu Ireng melangkah maju. Kemudian terdengarlah suaranya mengguntur, ”Kaukah yang bernama
Bantaran…?”

Orang yang bediri di hadapannya, yang sebenarnya adalah Kebo Kanigara, menjawab dengan tenangnya, ”Ya, akulah Bantaran.”

Sekali lagi temu Ireng memandang orang yang berdiri di hadapannya itu tanpa berkedip. Kemudian terdengarlah ia tertawa terbahak-bahak, tertawa untuk menegaskan kemarahannya yang hampir memecahkan dadanya. Dan ketika suara tertawa itu tiba-tiba terhenti, terdengarlah ia berkata dengan kerasnya kepada kawannya yang masih berada di atas kudanya. ”Hai… Adi Talang Semut, agaknya mataku telah rusak. Coba katakan kepadaku, adakah orang ini Bantaran…?”

Orang-orang yang berada di tanah lapang itu hatinya menjadi tegang. Mereka sama sekali belum pernah mengenal orang aneh yang mengumpankan dirinya itu. Tetapi disamping itu, orang-orang yang mula-mula mengumpati Bantaran di dalam hati, menjadi malu. Kalau orang yang belum mereka kenal saja bersedia melindungi pemimpin Banyubiru itu, bukankah kewajiban orang Banyubiru sendiri untuk berbuat lebih banyak lagi?

Dalam pada itu Talang Semut tidak kalah marahnya. Ia mendorong kudanya maju mendekati Kebo Kanigara. Semakin dekat ia dengan Kanigara, semakin teganglah setiap wajah yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pula kalah tegangnya wajah Bantaran. Bahkan sampai ia menggigit bibirnya sendiri.

Talang Semut ternyata tidak menjawab pertanyaan Temu Ireng dengan kata-kata. Sedemikian marahnya ia, karena ia merasa dipermainkan oleh orang yang belum dikenalnya, yang disangkannya juga orang Banyubiru yang ingin melindungi pemimpinnya, sehingga Talang Semut merasa tidak perlu bertanya-tanya lagi. Maka ketika kudanya telah dekat benar dengan tubuh Kebo Kanigara, diangkatnya cambuknya tinggi-tinggi sambil menggeram keras.

Cambuk itu sekali menggeletar di udara, dan seterusnya dengan derasnya menyambar tengkuk Kebo Kanigara.

Hampir semua orang yang menyaksikan peristiwa itu seakan-akan berhenti bernafas. Talang Semut bagi orang Banyubiru tak ubahnya seperti hantu peminum darah. Sekali ia turun tangan, maka hampir dapat dipastikan bahwa korbannya tak akan dapat lagi melihat matahari terbit. Demikianlah mereka menyangka bahwa orang yang mengaku bernama Bantaran itu akan menjadi korban kemarahan Talang Semut.

Tetapi sekejap kemudian, dada mereka terguncang menyaksikan akibat perbuatan Talang Semut. Bahkan beberapa orang menjadi tak begitu percaya kepada mata mereka. Sebab apa yang mereka saksikan sama sekali diluar dugaan mereka.

Ketika cambuk itu melayang ke arah tubuhnya, Kebo Kanigara meloncat dengan tangkasnya, menangkap tangkai cambuk itu. Dengan keras sekali ia menariknya. Tetapi agaknya Talang Semut memegang cambuk itu sedemikian eratnya, sehingga cambuk itu tak terlepas dari tangannya. Tetapi ternyata kekuatan Talang Semut bukanlah tandingan Kebo Kanigara, sehingga ketika Kanigara menariknya lebih keras lagi, tubuh Talang Semut-lah yang ikut terseret dari kudanya. Karena Talang Semut tidak menduga, maka untuk sesaat ia kehilangan akal. Ketika ia sadar, tangan Kebo Kanigara telah memegang bagian depan bajunya sedemikian erat, dan sebuah pukulan melayang tepat ke arah pelipisnya. Semuanya itu berlangsung sedemikian cepatnya sehingga Talang Semut tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk membela diri. Yang terjadi kemudian adalah pelipisnya seolah-olah membentur dinding baja. Begitu kerasnya sehingga tiba-tiba saja matanya menjadi berkunang-kunang. Sesaat kemudian ia sama sekali tidak sadarkan diri, dan tubuhnya yang sudah tak berdaya itu jatuh terkulai di tanah. Pingsan.

Temu Ireng melihat peristiwa itu terjadi di depan hidungnya. tetapi ia seolah-olah terpukau oleh suatu kekuatan gaib. Bermimpi pun ia tidak. Bahwa ada orang yang dapat sedemikian mudahnya mengalahkan Talang Semut. Yang pernah didengar Temu Ireng adalah, orang yang paling sakti di Banyubiru adalah Ki Ageng Sora Dipayana. Dan orang yang telah melakukan suatu keajaiban itu adalah seorang yang masih terhitung muda. Tiba-tiba Temu Ireng sampai pada suatu kesimpulan bahwa hal itu terjadi atas kesalahan Talang Semut sendiri. Sebab agaknya ia kurang berhati-hati. Dengan demikian ia kehilangan kesiagaan diri. Karena itulah kemudian dengan menggeram Temu Ireng mencabut goloknya, dan dengan berteriak keras ia langsung menyerang Kebo Kanigara. Dalam pada itu Dadahan beserta kawan-kawannya telah menyaksikan bagaimana Talang Semut dijatuhkan oleh orang yang mengaku bernama Bantaran. Karena itu mereka tidak mau membiarkan Temu Ireng bertempur seorang diri. Dengan demikian mereka beramai-ramai menyerang Kebo Kanigara.

Namun Kebo Kanigara adalah seorang yang hampir sempurna dalam ilmunya. Ilmu tata berkelahi dari keturunan ilmu perguruan Pengging. Karena itu, meskipun kemudian empat orang menyerangnya bersama-sama dari atas punggung kuda, namun ia sama sekali tidak gugup. Bahkan kemudian dengan lincahnya ia menyambut setiap serangan yang datang.

Dengan demikian, terjadilah suatu pertempuran yang ribut. Empat orang berkuda bertempur melawan seorang yang meloncat-loncat dengan lincahnya diantara derap kaki kuda. Bahkan kemudian keempat penunggang kuda itu kadang-kadang menjadi bingung, karena kuda-kuda mereka saling melanggar. Sesekali kalau Kebo Kanigara sempat, ditusukkanlah jari-jarinya yang kuat itu ke perut salah satu kuda yang bersimpang-siur di sekitarnya, sehingga dengan terkejut kuda itu meringkik dan melonjak-lonjak.

Beberapa penunggang kuda yang lain masih berusaha untuk dapat mengawasi seluruh tanah lapang, supaya orang yang sesungguhnya dicari tidak melepaskan diri. Namun dalam pertempuran itu, orang-orang yang berada di tanah lapang menjadi kacau balau. Mereka berlarian kesana kemari tak tentu tujuan, menghindarkan diri dari kemungkinan terinjak oleh kaki-kaki kuda yang seolah-olah menjadi liar.

Dalam keadaan yang demikian itulah Mahesa Jenar berbisik kepada Bantaran, ”Bantaran… masih adakah keluarga Penjawi yang lain yang perlu diselamatkan dari kemarahan orang Pamingit kelak, atau barangkali keluargamu sendiri…?”

”Keluargaku… tidak Tuan. Mereka semua telah mengungsikan diri. Sedang keluarga Penjawi pun sudah tidak ada, kecuali seorang kakek, ayah Nyi Penjawi itu,” sahut Bantaran.

”Nah, kalau demikian, pergilah kepada kakek itu,” sambung Mahesa Jenar, ”Supaya ia tidak memikul tanggungjawab atas peristiwa ini. Sebab mungkin besok atau lusa, Saraban benar-benar menjadi gila. Juga orang-orang yang menjadi malu atas kekalahannya dari Paman Guru itu.”

Bantaran mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, ”Lalu bagaimanakah dengan Tuan dan Nyi Penjawi…?”

”Tinggalkan Nyi Penjawi ini padaku,” jawab Mahesa Jenar. ”Nanti kita dapat bertemu di tepi Sendang Putih. Kuda kami, kami tinggalkan di sana.”

Sekali lagi Bantaran mengangguk.

”Disamping itu…” lanjut Mahesa Jenar, ”Aku ingin mendapat keterangan darimu tentang pasukan-pasukan yang telah kau persiapkan bersama-sama dengan Penjawi. Mungkin sebentar lagi kita memerlukannya.”

”Baiklah Tuan,” sahut Bantaran.

”Hati-hatilah,” bisik Mahesa Jenar kemudian. ”Aku harap kita dapat bertemu sebelum fajar.”

Setelah berpesan kepada Nyi Penjawi, untuk mengikuti segala petunjuk Mahesa Jenar, Bantaran kemudian ikut serta menghanyutkan diri dalam kekacauan yang terjadi. Demikian pula Mahesa Jenar, dengan menggandeng Nyi Penjawi, berusaha mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari daerah tanah lapang yang terkutuk itu. Usaha Mahesa Jenar itu tidaklah terlalu sukar. Dalam puncak kekacauan, kelima orang berkuda yang berusaha mengawasi orang-orang di tanah lapang itu ternyata tidak dapat menguasai keadaan. Ditambah dengan usaha Kebo Kanigara menyeret titik pertempuran itu semakin ke tengah, sehingga keadaan menjadi semakin kacau. Akhirnya beberapa orang berbondong-bondong berlarian meninggalkan lapangan itu tanpa menghiraukan apapun juga.

Meskipun kelima orang Pamingit itu berusaha untuk tetap menahan orang-orang itu di lapangan, namun usaha mereka tidak berhasil. Bahkan akhirnya mereka terpaksa melepaskan orang-orang berlarian kesana kemari, karena kuda-kuda mereka seolah-olah menjadi gila di kejutkan oleh teriakan-teriakan orang-orang yang ketakutan.

Sesaat kemudian, lapangan itu telah menjadi kosong, kecuali Kebo Kanigara yang masih harus bertempur melawan orang-orang berkuda dari Pamingit itu. Apalagi kini kelima orang yang lain, yang tidak berhasil menahan orang-orang Banyubiru di lapangan, ingin menumpahkan kemarahan mereka kepada orang yang menamakan dirinya Bantaran. Sebab orang itulah sumber dari kekacauan dan kegagalan mereka menangkap Bantaran.

Dalam pada itu, Kebo Kanigara merasa bahwa tugasnya telah selesai. Ia yakin bahwa Bantaran dan Mahesa Jenar telah berhasil menyelamatkan Nyi Penjawi. Karena itu ia harus segera mengakhiri pertempuran.

Demikianlah Kebo Kanigara mulai bertempur dengan sepenuh tenaga. Ia tidak saja menghindari serangan-serangan orang Pamingit itu, tetapi iapun telah mulai menyerang mereka. Ketika seekor kuda dengan penunggangnya yang garang bersenjata sebilah pedang yang gemerlapan menyerangnya, Kebo Kanigara tidak saja menghindari serangannya, tetapi tiba-tiba iapun meloncat keatas punggung kuda itu. Lawan-lawannya yang menyaksikan perbuatannya menjadi heran, bahkan menjadi kebingungan untuk beberapa saat, lebih-lebih penunggang itu sendiri. Ketika ia masih belum sadar, terasalah sebuah pukulan yang dahsat mengenai tengkuknya. Sesudah itu, tubuhnya dengan kerasnya terlempar dari punggung kudanya dan seterusnya tak sadarkan diri. Sedang pedangnya yang gemerlapan kini telah berada di tangan Kebo Kanigara.

Maka mulailah Kebo Kanigara bertempur melawan delapan orang, tetapi kini dengan pedang ditangan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka Kebo Kanigara selalu dapat menempatkan dirinya pada keadaan yang menguntungkan. Dengan tangan kiri memegang kendali kuda, sedang dengan tangan kanan ia mengayun-ayunkan pedangnya berputar-putar dahsyat. Ia dapat mempergunakan hampir seluruh tanah lapang itu sebaik-baiknya. Sekali-sekali ia melarikan kudanya menjauhi lawan-lawannya. Kemudian dengan tangkasnya ia memutar kudanya cepat-cepat untuk menghadapi lawannya yang paling depan. Dengan demikian ia dapat memancing pertempuran melawan orang-orang Pamingit itu hampir satu persatu. Dan satu persatu pula mereka dapat dirobohkan. Pedang ditangannya itu seolah-olah merupakan patuk seekor burung garuda yang bertempur melawan delapan ekor serigala. Sekali-sekali garuda itu terbang tinggi, kemudian menukik cepat, dan dengan paruhnya yang runcing tajam, dibinasakannya serigala itu satu persatu. Demikianlah akhirnya pedang Kanigara itu telah berhasil melukai orang kelima dipundak kanannya. Demikian hebat luka itu, sehingga akhirnya seperti keempat orang yang lain, orang itu jatuh tersungkur ditanah, dengan tubuh lemas tak berdaya.

Kini tinggallah tiga orang lagi. Tentu saja ketiga orang itu mengerti bahwa lawannya bukanlah manusia setingkat mereka.

Kalau semula mereka, delapan orang, tidak mampu mengalahkannya, apalagi kini tinggal 3 orang lagi. Bagaimanapun juga beraninya orang-orang Pamingit itu, namun mereka harus melihat suatu kenyataan, bahwa mereka bertiga tidak akan mungkin memenangkan pertempuran itu.

Karena itu selagi nyawa mereka masih tinggal didalam tubuh, serta selagi darah mereka masih belum tertumpah, maka tidak ada cara lain yang lebih baik daripada menghindarkan diri dari tanah lapang itu secepat-cepatnya. Untunglah kalau mereka sempat datang kembali dengan membawa bantuan. Syukurlah kalau Sawung Sariti atau lebih-lebih Ki Ageng Lembu Sora sendiri, yang kebetulan sedang berada di Banyubiru dapat menyaksikan ketangkasan orang itu.

Maka setelah mereka masing-masing berpikir dan mengambil suatu keputusan, yang seolah-olah diatur bersama, maka ketika salah seorang daripadanya memutar kudanya dari tanah lapang itu sambil memperingatkan kawan-kawannya, bahwa lebih baik menyelamatkan diri serta membawa bantuan lebih banyak lagi, segera menghamburlah ketiga ekor kuda itu dengan penunggangnya meninggalkan Kebo Kanigara secepat mereka dapat.

———-oOo———-

IV

Kebo Kanigara memandang ketiga orang yang meninggalkan gelanggang itu sambil mengusap peluhnya. Kemudian matanya berkisar dari satu tubuh ketubuh yang lain, yang masih terkapar ditanah lapang itu. Ia mengharap agar kemudian kawan-kawan mereka segera datang dan merawat luka-luka mereka. Sebab Kebo Kanigara sama sekali tidak bermaksud membunuh mereka semua. Kalau diantara terpaksa ada yang menghembuskan napas penghabisan, itu adalah diluar kemauannya. Sebab dalam bermain dengan air, pastilah ada diantaranya yang terpercik dan menjadi basah karenanya.

Setelah itu, segera Kebo Kanigara teringat kepada Mahesa Jenar dan Bantaran. Dengan Mahesa Jenar ia berjanji untuk segera kembali ketempat kuda-kuda mereka tertambat. Karena itu sebelum keadaan menjadi lebih buruk, segera Kebo Kanigara meloncat dari kudanya, dan berlari lewat jalan semula, pergi ke Sendang Putih. Ia terpaksa menyusur jalan-jalan sempit dan halaman-halaman kosong seperti yang dilaluinya semula, karena ia tidak mengenal daerah dan jalan-jalan lain di Banyubiru. Tetapi dengan demikian, beruntunglah ia, karena sesaat kemudian lamat-lamat ia mendengar derap kuda, jauh lebih banyak dari semula, menuju ketanah lapang dimana ia baru saja bertempur. Karena itulah ia segera mempercepat larinya supaya tidak terkejar oleh orang-orang yang pasti akan mencarinya.

Baru ketia ia telah menyusup ke semak-semak, mengambil jalan yang memotong. Ia menjadi agak lega dan memperlambat larinya. Apalagi ia terpaksa berusaha mengenal kembali jalan setapak yang dilaluinya itu, supaya ia tidak tersesat.

Beberapa lama kemudian sampailah ia di tempat mereka berjanji untuk bertemu. Di situ telah menanti Mahesa Jenar, Bantaran, Nyi Penjawi dan seorang kakek tua ayah Nyi Penjawi.

Dengan tersenyum Mahesa Jenar menyambut kedatangan Kebo Kanigara, katanya, ”Sudah puaskah Kakang bermain-main dengan orang Pamingit?”

Sambil duduk di samping Mahesa Jenar, Kanigara menjawab sambil tersenyum pula, ”Mereka adalah kawan bermain yang baik. Orang-orang Pamingit itu ternyata ahli menunggang kuda.”

Dengan tersenyum pula Mahesa Jenar menjawab, ”Sayang mereka tidak dapat bermain-main dengan senjata sebaik mereka naik kuda.”

Kemudian dengan lesu Kanigara berkata seperti kepada diri sendiri, ”Aku terpaksa melukai beberapa orang diantaranya. Sebab aku tidak dapat bermain-main dengan senjata sebaik diantara mereka yang terbunuh.”

Mahesa Jenar sama sekali tidak menyahut. Ia tahu betul perasaan Kebo Kanigara, bahwa bukanlah pada tempatnya, dalam keadaan yang demikian, dimana ia tidak mempunyai persoalan langsung dengan orang-orang Pamingit itu, tangannya terpaksa menumpahkan darah. Tetapi dalam keadaan yang demikian, tak seorangpun yang akan dapat menyalahkannya. Apalagi Bantaran. Sebagai seorang pemimpin laskar Banyubiru, ia menjadi keheran-heranan, bahwa dalam pertempuran yang berlangsung itu, dimana seorang harus melawan 10 orang bersama-sama, masih juga menyesal kalau ia terpaksa membunuh lawannya.

Sesaat kemudian keadaan menjadi sunyi. Masing-masing membiarkan angan-angannya mengembara ke daerah yang berbeda-beda.

Kemudian terdengarlah kembali Mahesa Jenar berkata kepada Bantaran, ”Bantaran… aku masih ingin mendapat beberapa keterangan tentang laskarmu dan laskar Penjawi. Sebab mau tidak mau, apabila Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti tetap pada pendiriannya, kita akan memerlukannya.”

Bantaran menggeser duduknya, kemudian menjawabnya, ”Laskar kami sebenarnya tidaklah begitu banyak, Tuan. Apalagi sampai saat ini kami sama sekali tidak mendapat bimbingan yang baik. Apakah artinya kami berdua. Aku dan Penjawi. Sedang yang kami hadapi adalah Ki Ageng Lembu Sora dan putranya, Sawung Sariti. Sedangkan tingkat keterampilan kami tidaklah lebih daripada pengawal-pengawal Lembu Sora itu.”

”Tetapi bagaimanakah dengan tekad mereka…?” sela Mahesa Jenar.

”Itulah yang mendorong kami untuk tetap berjuang. Mereka ternyata bersedia menunggu pemimpin mereka. Ki Ageng Gajah Sora atau putranya, Arya Salaka yang hilang itu.”

”Bagaimanakah dengan Wanamerta?” Mahesa Jenar mencoba bertanya.

”Orang tua itupun telah meninggalkan Banyubiru.” jawab Bantaran. ”Tetapi kami belum mengetahuinya, di mana ia berada.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, ”Bantaran, agaknya Wanamerta benar-benar belum berhasil mencari hubungan dengan kalian. Ketahuilah bahwa Wanamerta telah berhasil menyusul putra Ki Ageng Gajah Sora.”

”Arya Salaka…?” potong Bantaran terkejut.

”Ya,” jawab Mahesa Jenar, ”Dan selama ini Arya salaka dalam keadaan selamat.”

”Syukurlah,” sahut Bantaran. ”Memang demikianlah berita yang pernah aku dengar, meskipun aku belum meyakini sebelumnya. Sekarang karena Tuan yang mengatakannya, maka aku dapat mempercayainya.”

Dari mana kau dengar berita itu?” tanya Mahesa Jenar.

”Aku tidak jelas sumbernya,” jawab Bantaran. ”Tetapi aku kira dari orang-orang Pamingit. Sebab aku dengar mereka sedang mencari untuk membunuhnya. Bahkan yang kami dengar Arya Salaka selalu bersama-sama dengan Tuan.”

Kembali Mahesa Jenar mengangguk=anggukkan kepalanya. Katanya, ”Berita itu benar. Hampir seluruhnya. Bahkan Sawung Sariti sendiri sudah untuk kedua kalinya berusaha membunuh Arya Salaka dengan tangannya.”

Mendengar keterangan itu, Bantaran mengangkat kepalanya. Bagaimanapun ia merasa tersinggung atas kelakuan Sawung Sariti. Maka katanya, ”Untunglah bahwa Arya Salaka dapat Tuan selamatkan.”

”Ia telah dapat menyelamatkan dirinya sendiri,” jawab Mahesa Jenar.

Bantaran menjadi heran mendengar jawaban itu. Sawung Sariti pada saat-saat terakhir telah menjadi seorang pemuda yang tangguh, berkat tuntunan kakeknya, Ki Ageng Sora Dipayana. Meskipun seandainya Arya Salaka mendapat tuntunan dari Mahesa Jenar, apakah anak itu akan dapat menyamai ketangguhan Sawung Sariti. Malahan, seandainya paman guru Mahesa Jenar itu yang mendidiknya, ia masih belum yakin bahwa Arya dapat menyamai Sawung Sariti. Sebab Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang sukar dicari tandingnya. Tetapi Bantaran tidak mau menanyakannya. Ia takut kalau-kalau dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan Mahesa Jenar.

Dalam pada itu Mahesa Jenar meneruskan, ”Yang penting bagimu Bantaran, peliharalah tekad dan kesetiaan laskarmu terhadap perjuangan yang telah dirintisnya. Dalam waktu yang singkat aku akan membawa Arya Salaka ke tengah-tengah mereka.”

Tiba-tiba dada Bantaran terasa seolah-olah mengembang karena kegembiraan. Kalau Arya Salaka berada di tengah-tengah mereka maka laskarnya akan menjadi laskar yang bertekad baja, yang tidak lagi memperhitungkan hidup dan mati yang memang diluar kekuasaan manusia.

Karena itu…” Mahesa Jenar meneruskan, ”Bersiaplah menghadapi masa yang menentukan.”

Baiklah Tuan,” jawab Bantaran mantap. ”Akan kami kabarkan hal ini kepada mereka supaya mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu mempunyai arti bagi tanah perdikan mereka.”

”Kalau demikian, ke manakah aku harus membawa Arya Salaka…?” sahut Mahesa Jenar.

Ke Gedong Sanga, Tuan,” jawab Bantaran cepat. ”Di sekitar candi itu kami menempatkan laskar kami.”

Baiklah. Dan beruntunglah aku dapat bertemu dengan kau di sini, sehingga aku mendapat banyak bahan untuk saat-saat terakhir.”

Demikianlah, mereka mengakhiri pembicaraan. Setelah sekali lagi Mahesa Jenar berjanji akan membawa Arya ke Candi Gedong Sanga, maka bersama dengan Kebo Kanigara ia minta diri untuk segera kembali ke Karang Tumaritis, dimana Arya Salaka pasti telah menunggunya. Bersamaan dengan itu, berangkat jugalah Bantaran lewat jalan-jalan hutan membawa istri Penjawi beserta ayahnya untuk berkumpul kembali dengan laskarnya, setelah beberapa hari ia berkeliaran di daerah sekitar Banyubiru untuk melihat perkembangan daerah itu.

Namun kali ini dengan bangga ia akan dapat berkata kepada laskarnya tentang apa yang disaksikannya di Banyubiru, pertemuannya dengan Mahesa Jenar yang tanpa diduga-duganya. Serta yang terakhir bahwa mereka boleh mengharap, dalam waktu singkat Mahesa Jenar akan membawa Arya Salaka ke tengah-tengah mereka.

Di perjalanan kembali ke Karang Tumaritis, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tak henti-hentinya memperbincangkan kemunduran-kemunduran yang terjadi di Banyubiru. Kemunduran dalam segala bidang. Namun mereka masih menduga-duga apakah sebabnya Ki Ageng Sora Dipayana masih berdiam diri.

Demikianlah mereka menempuh perjalanan, melintasi padang-padang rumput, hutan-hutan yang tidak begitu lebat, mendaki lambung-lambung bukit, serta menuruni lereng-lerengnya, untuk kemudian sampai ke daerah persawahan yang membentang luas di hadapan mereka, setelah mereka bermalam di bawah bentangan langit biru.

Sedang pedukuhan yang tampak di hadapan mereka, seperti pulau-pulau yang tersembul dari lautan, adalah pedukuhan Gedangan. Oleh hembusan angin yang cepat-cepat lambat, butir-butir padi yang sudah mulai menguning tampak seperti wajah lautan yang berombak-ombak. Jauh di ujung desa tampaklah beberapa puluh orang perempuan seperti semut yang terapung-apung, sudah mulai menuai padi.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat semuanya itu dengan wajah yang cerah. Mereka ikut bersama-sama dengan para petani Gedangan, merasa gembira bahwa hasil jerih payah mereka selama beberapa bulan kini sudah dapat dipetik hasilnya. Lebih daripada itu, Mahesa Jenar melihat benar-benar kemajuan yang telah dicapai oleh pedukuhan kecil ini dalam bidang pertanian.

Setelah puas memandang sawah yang terbentang di hadapan mereka itu, segera mereka menarik kekang kuda masing-masing, dan berjalanlah kuda-kuda mereka seenaknya. Burung-burung liar yang terkejut karena suara telapak kaki kuda itu, beterbangan terpencar-pencar. Sedang butiran-butiran padi yang penuh berisi, seolah-olah merundukkan batang-batang mereka kepada kedua orang yang baru datang itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bagi orang-orang Gedangan adalah orang-orang yang sangat dihormati. Karena mereka berdua telah banyak memberikan jasa mereka kepada pedukuhan kecil itu. Karena itu ketika seseorang melihat kehadiran mereka, ia segera berlari-lari melaporkannya kepada pejabat-pejabat pedukuhan, sehingga sesaat kemudian ributlah pendapa kelurahan Gedangan. Mereka segera bersiap-siap untuk menyambut kedatangan tamu-tamu mereka.

Ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sampai di halaman kelurahan, bahkan mereka menjadi terkejut. Mula-mula mereka heran, apakah yang terjadi di kelurahan itu sehingga banyak orang hilir-mudik kesana kemari. Tetapi ketika akhirnya mereka mengetahui duduk perkaranya, mereka menjadi geli. Hal yang sedemikian itu sebenarnya sama sekali tak mereka kehendaki. Sebab apa yang mereka lakukan tidak lebih dan tidak kurang daripada melakukan kewajiban mereka, sebagai manusia yang mengabdikan diri pada sumbernya serta hasil pancaran dari sumber itu.

Tetapi rakyat Gedangan itu menjadi kecewa ketika mereka mengetahui bahwa Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tidak dapat terlalu lama tinggal di pedukuhan mereka, sebab suatu kewajiban yang penting telah menanti. Mereka hanya dapat bermalam satu malam saja, untuk seterusnya mereka minta diri meneruskan perjalanan ke Karang Tumaritis. Sedangkan kuda-kuda yang dipinjamnya, masih belum mereka kembalikan, bahkan Mahesa Jenar telah berpesan apabila diperlukan mereka masih akan meminjamnya lebih banyak lagi nanti.

”Berapa ekor lagi yang akan Tuan perlukan…?” tanya Wiradapa.

”Lima atau enam ekor,” jawab Mahesa Jenar kepada Lurah Gedangan itu.

”Baiklah Tuan, kuda-kuda itu akan kami sediakan sejak hari ini,” sahut Wiradapa, dan seterusnya ia berkata, ”Kecuali itu, perkenankan kami mengundang Tuan berdua beserta sahabat dan putra-putra Tuan untuk mengunjungi pedukuhan kami ini pada akhir bulan.”

”Apakah keperluan kalian…?” tanya Mahesa Jenar.

Kami akan mengadakan upacara bersih desa. Sebagai pernyataan terimakasih dan kegembiraan kami atas karunia Tuhan yang telah menjadikan sawah-sawah kami bertambah subur serta tanaman-tanaman kami selamat dari gangguan hama.”

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersenyum. ”Baiklah,” jawab mereka hampir bersamaan.

Kemudian setelah itu, mumpung masih pagi, segera berangkat ke bukit kecil yang dinamai oleh penghuninya Karang Tumaritis.

Ketika matahari telah sampai di atas kepala mereka, sampailah mereka di atas bukit kecil itu. Perjalanan mereka di atas punggung kuda seakan-akan merupakan tamasya yang menyenangkan.

Kedatangan mereka disambut dengan meriah oleh penghuni bukit kecil itu. Para cantrik dan endang. Lebih-lebih lagi, betapa gembira hati Endang Widuri yang telah beberapa lama ditinggalkan oleh ayahnya. Untunglah bahwa saat itu ia sudah mempunyai kawan bermain yang dapat melayaninya, yaitu Rara Wilis. Arya Salaka pun menjadi sangat gembira. Sebab hanya dialah yang mengetahui, walaupun hanya sedikit, bahwa apa yang dilakukan oleh gurunya beserta Kebo Kanigara adalah tugas yang berbahaya.

Ketika mereka sudah beristirahat beberapa lama, bertanyalah Kebo Kanigara kepada anaknya, “Widuri, apakah Panembahan dalam keadaan sehat…?”

Dengan manjanya Widuri menjawab, “Yang aku ketahui, sepeninggal ayah, Panembahan mengurung dirinya di dalam sanggar sampai berhari-hari. Tak seorang pun yang diperkenankan ikut serta. Bahkan makanan pun telah dibawanya sendiri sejak Panembahan mulai dengan samadinya.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tahulah ia, dan juga Mahesa Jenar tahu, bahwa sebenarnya Panembahan Ismaya pada saat itu sedang pergi meninggalkan padepokan untuk menyusulnya ke Pudak Pungkuran, dimana ia bersama-sama dengan Mahesa Jenar sedang menemui Radite dan Anggara.

“Apakah beliau sekarang masih berada di dalam sanggar?” tanya Kanigara kemudian.

Widuri menggeleng. Jawabnya, “Sudah hampir seminggu Panembahan wudhar dari samadinya.”

Sambil memandang kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara berkata, “Kalau demikian, baiklah kita menghadap.”

Mahesa Jenar menyetujuinya pula. Dan ketika mereka sudah melangkah sampai luar pintu pondok, menyusullah Arya Salaka sambil berbisik, “Paman, Panembahan agak menyesal ketika aku katakan tentang kepergian Paman berdua.”

Kanigara dan Mahesa Jenar terhenti. Tetapi kemudian mereka berdua tersenyum. Jawab Kanigara, “Kami akan mencoba menjelaskan kepada Panembahan.”

“Mudah-mudahan Panembahan dapat mengerti,” sahut Arya Salaka.

Aku kira demikian,” sahut Mahesa Jenar. “Nanti sesudah kami menghadap, aku beritahukan kepadamu.”

Arya Salaka mengangguk, tetapi hatinya masih juga gelisah. Jangan-jangan Panembahan masih tetap kecewa terhadap gurunya serta Kebo Kanigara.tetapi ia sudah tidak berani bertanya lagi.

Ketika Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar sampai di rumah kediaman Panembahan Ismaya, Panembahan tua itu ternyata sedang duduk dihadap beberapa orang cantrik tertua. Agaknya ada sesuatu yang sedang mereka perbincangkan. Ketika dilihatnya kedatangan Kabo Kanigara dan Mahesa Jenar, maka dengan perasaan gembira mereka berdua disambutnya serta segera dipersilakan masuk.

Marilah Angger berdua… beberapa hari aku menjadi gelisah atas kepergianmu berdua. Syukurlah kalau kau berdua tidak menemui halangan sesuatu.”

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar mengangguk hormat, sebagai pernyataan bakti mereka kepada Panembahan tua itu.

“Agaknya kalian berdua menjadi gembira karena perjalanan itu…? Ternyata wajah kalian bertambah segar,” sambung Panembahan Ismaya.

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tidak menjawab. Mereka hanya menundukkan muka mereka. Sebab tak ada yang akan mereka katakan, karena Panembahan Ismaya telah mengetahui seluruhnya.
Tetapi tiba-tiba Panembahan Ismaya berkata kepada para cantrik, “Cantrik-cantrik sekalian… aku perkenankan kalian meninggalkan ruangan ini. Sediakanlah makan siangku. Aku ingin setelah ini makan bersama-sama dengan Kanigara dan Mahesa Jenar.”

Maka mundurlah para cantrik dari ruangan itu, untuk mempersiapkan makan siang Panembahan Ismaya.

Sepeninggal para cantrik, barulah Panembahan bertanya segala sesuatu mengenai perjalanan kembali Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Dan kepada Panembahan itu diceritakan pula bagaimana keadaan Banyubiru sekarang. Kemunduran dalam segala bidang, terutama kemunduran akhlak.

“Panembahan…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Menurut pertimbanganku, segala sesuatu yang terjadi di Banyubiru itu harus segera dihentikan, dengan mengembalikan Arya Salaka ke sana. Atau lebih-lebih kalau mungkin Kakang Gajah Sora.”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa ditagih janji, sebab merasa berkesanggupan untuk membebaskan Gajah Sora. Tetapi untuk melaksanakan kesanggupan itu agaknya tidak terlalu mudah. Karena itu ia menjawab, “Kau benar Mahesa Jenar. Bawalah Arya Salaka lebih dahulu. Aku masih belum dapat membebaskan ayahnya. Aku harap hal itu segera terjadi. Dan bukankah akan sangat menggembirakan kalau Gajah Sora nanti dapat kembali ke Banyubiru setelah Banyubiru dapat dipulihkan…? Dan apa yang terjadi sebelum itu, seolah-olah hanya suatu peristiwa dalam mimpi, meskipun mimpi yang menyedihkan.”

Mahesa Jenar masih merenungkan masalah-masalah yang akan dihadapinya. Kalau saja tidak ada persoalan yang lebih besar, yang akan langsung mempengaruhi pemerintahan Demak, maka cara yang semudah-mudahnya untuk membebaskan Ki Ageng Gajah Sora adalah menyerahkan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Tetapi ternyata cara itu tidak dapat ditempuhnya. Sebab Banyubiru bagi Demak hanyalah merupakan sebagian saja dari seluruh persoalan. Namun ia percaya kepada Panembahan Ismaya. Panembahan itu pasti akan menemukan suatu cara untuk membebaskan Gajah Sora. Dengan atau tanpa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Syukurlah kalau kalau nanti Gajah Sora dapat menjumpai tanah perdikan sudah pulih kembali, meskipun belum seluruhnya. Tetapi setidak-tidaknya Gajah Sora merasa bahwa ia kembali ke tanahnya sendiri, seperti pada saat ditinggalkan.

Kemudian diceritakan pula oleh Mahesa Jenar pertemuannya dengan Bantaran, salah seorang pemimpin laskar Banyubiru, serta pasukannya di sekitar Candi Gedong Sanga.

Akhirnya Panembahan Ismaya menyetujui permintaan Mahesa Jenar untuk mengajak Kanigara serta dalam usahanya mengembalikan Banyubiru ke dalam tangan Arya Salaka. Sebab tanpa orang-orang yang lebih tua itu, Arya Salaka tidak akan mampu melakukan pekerjaan berat itu.

“Tetapi kau jangan terlalu tergesa-gesa, Mahesa Jenar…” Panembahan Ismaya menasihati, “Sebab apa yang akan dilakukan oleh Arya Salaka adalah pekerjaan yang sulit. Mula-mula kau harus berusaha untuk menjelaskan masalahnya tanpa pertumpahan darah. Kau dapat membawa laskar yang dipimpin Bantaran hanya untuk membuat keadaan seimbang, supaya keseimbangan itu diperhitungkan pula oleh Lembu Sora. Sebab apabila ia hanya berhadapan dengan kalian berdua beserta Arya Salaka, maka mereka pasti akan berkeras kepala. Selain daripada itu, kau harus mempersiapkan Arya Salaka untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi. Lahir dan batin. Supaya dalam setiap keadaan hatinya tidak terguncang dan kehilangan keseimbangan.”

Demikianlah Mahesa Jenar mendapat banyak sekali bekal yang perlu baginya untuk memenuhi kesanggupannya kepada Ki Ageng Gajah Sora, pada saat orang itu pergi meninggalkan Banyubiru, dan menitipkan anaknya kepadanya.

Setelah makan siang bersama-sama dengan Panembahan Ismaya dan Kebo Kanigara, maka segera Mahesa Jenar minta diri untuk beristirahat. Namun demikian ia tidak dapat melepaskan diri dari persoalan-persoalan yang selalu membelit hatinya, persoalan Banyubiru.

Agaknya Arya Salaka pun hampir tidak sabar menanti Mahesa Jenar. Ketika ia melihat gurunya itu datang, segera ia bertanya, apakah Panembahan Ismaya marah kepadanya.

Dengan tersenyum Mahesa Jenar menjawab, “Panembahan bukanlah orang yang dapat marah. Apakah kau pernah melihat Panembahan marah?”

Arya menggeleng, tetapi ia menjawab, “Aku selalu cemas bahwa Panembahan akan marah untuk pertama kalinya kepada Paman dan Paman Kanigara.”

Mahesa Jenar tertawa kecil. Kemudian sahutnya, “Tidak. Panembahan tidak marah. Ia hanya memberi aku dan Kakang Kanigara nasihat. Dan nasihat-nasihat itu akan sangat berguna bagiku dan Kakang Kanigara.”

Sejak saat itu Mahesa Jenar mencoba untuk memberi penjelasan kepada Arya Salaka untuk melengkapi pengetahuannya tentang keadaan sebenarnya yang terjadi di Banyubiru. Karena Arya Salaka sekarang menurut anggapan Mahesa Jenar telah cukup siap untuk mengetahui segala-galanya, maka Mahesa Jenar kini tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Juga dijelaskan apa yang sekarang terjadi kalau keadaan yang demikian dibiarkan berlarut-larut.

Arya Salaka mendengarkan semua penjelasan itu dengan menekan dada. Ia telah dapat merasakan betapa jeleknya keadaan Banyubiru sepeninggal ayahnya.

Hampir setiap malam ia duduk bercakap-cakap dengan Mahesa Jenar, yang kadang-kadang ditemani Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Endang Widuri. Apa yang mereka percakapkan selalu berkisar pada masalah Banyubiru. Apalagi kalau Wanamerta berkesempatan untuk ikut serta berbicara. Banyak sekali cerita yang dapat membakar dada Arya Salaka. Sebagai orang tertua, yang pada saat Gajah Sora meninggalkan Banyubiru menerima tanda pemerintahan Pusaka Kyai Bancak, dan yang selajutnya kehadirannya di Banyubiru oleh Ki Ageng Lembu Sora sama sekali tidak diperhitungkan, bahkan disingkirkan dengan satu cara yang keji, ia benar-benar sakit hati.

Disamping semua penjelasan, untuk mempersiapkan Arya Salaka menghadapi keadaan-keadaan di Tanah Perdikan yang sudah kira-kira lima tahun ditinggalkan, ia selalu menerima pula tuntunan-tuntunan lahiriah. Setiap hari ia masih harus berlatih sekeras-kerasnya. Menambah pengetahuan tata pertempuran dan olah senjata. Dalam keadaan yang demikian, terasalah betapa perkembangan jasmaniah Arya Salaka menjadi bertambah cepat setelah orang aneh yang mengenakan jubah memijiti hampir seluruh tubuhnya pada suatu malam, setelah ia bertempur melawan Sawung Sariti. Untunglah bahwa di bukit kecil itu ia mempunyai banyak kawan berlatih. Endang Widuri yang memiliki cabang keturunan ilmu yang sama dengan ilmunya. Rara Wilis dari Perguruan Pandan Alas. Serta Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Meskipun sebenarnya Arya Salaka kadang-kadang bertanya di dalam hati tentang persamaan yang sedemikian dekatnya antara Kebo Kanigara dengan gurunya, Mahesa Jenar, namun pertanyaan itu tetap disimpannya. Sejalan dengan itu, kadang-kadang ia menjadi heran pula, bahwa ilmu gurunya sendiri agaknya menjadi jauh berkembang, seolah-olah berkembang dengan sendirinya. tetapi juga keheranan ini disimpannya di dalam hati.

Sudah tentu bahwa dalam keadaan demikian tidak saja Arya Salaka sendiri yang berhasil memperkuat dirinya lahir-batin, tetapi juga kawan-kawannya berlatih. Mereka ternyata saling menerima dan memberi. Ilmu pedang yang luar biasa lincahnya, dari perguruan Pandan Alas, dalam keserasiannya dengan ilmunya. Sebaliknya, keteguhan serta gerak-geraknya yang kuat dapat mempengaruhi keterampilan Rara Wilis. Sedangkan kenakalan Endang Widuri pun kadang-kadang dapat memberi banyak ilham kepada Arya, sehingga dalam ilmunya kadang-kadang sifat itu terungkap dalam gerak-gerak yang tampaknya tidak masuk akal dan kurang berhati-hati, namun sebenarnya mempunyai segi-segi yang mengelabuhi lawan.

Maka, ketika segala sesuatunya telah dirasa cukup, sampailah Mahesa Jenar pada taraf terakhir dari pekerjaannya menjelang keberangkatan mereka ke Banyubiru, yaitu mematangkan jiwa Arya Salaka menghadapi segala macam kemungkinan. Kemungkinan yang paling menyenangkan sampai kemungkinan terakhir yang dapat saja terjadi. Yaitu gugur dalam menunaikan kewajiban sucinya.

Tetapi jiwa Arya memang sudah mendapat tempaan yang luar biasa sejak bertahun-tahun terakhir. Kesulitan hidup yang hampir setiap hari dijalani, sulit lahir-batin, adalah bekal yang baik dalam pekerjaannya itu.

Disamping itu, Mahesa Jenar tidak pula lupa menunjukkan, bahwa apa yang akan dilakukan itu adalah suatu usaha. Usaha yang wajib diperjuangkan oleh manusia untuk mencapai cita-citanya, namun segala keputusan terakhir dari semua masalah, terletak ditangan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Demikianlah, akhirnya Mahesa Jenar menyampaikan segala macam persiapan dan anggapannya, bahwa segala sesuatunya sudah cukup, kepada Panembahan Ismaya. Bersamaan dengan itu, ia mohon diri bersama muridnya untuk menunaikan kewajibannya, serta sekali lagi ia mohon kepada Panembahan untuk mengizinkan Kebo Kanigara pergi bersamanya.

Panembahan Ismaya memandang Mahesa Jenar dengan hampir tak berkedip. Ini adalah suatu masalah yang paling rumit, yang selalu tumbuh hampir setiap saat. Alangkah menyedihkan, bahwa seseorang melakukan persiapan sampai seteliti-telitinya untuk melakukan tindakan kekerasan. Padahal, seharusnya setiap bentuk kekerasan pasti harus ditentang. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan kenyataan, bahwa diantara anak manusia di dunia ini masih saja ada yang sama sekali tidak menghiraukan kemanusiaannya, yang dengan segala macam cara, menindas manusia-manusia yang lain. Dan terhadap manusia-manusia yang demikian itu, wajarlah bahwa ada usaha-usaha untuk mencegahnya. Usaha terakhir pencegahan itu adalah dengan cara yang sama sekali menyimpang dari tuntutan cinta kasih manusia. Sebab kadang-kadang yang harus dilakukan adalah nampaknya berlawanan dengan ungkapan cinta kasih itu sendiri. Yaitu kekerasan, perkelahian dan bahkan kadang-kadang persoalan hidup dan mati.

Karena persoalan-persoalan yang sedemikian itulah, maka selalu timbul pertentangan di dalam diri. Pertentangan antara hakekat dari pengabdian diri terhadap manusia sebagai tempat untuk meletakkan pengabdian yang tertinggi dengan penuh cinta kasih sebagaimana Tuhan melimpahkan cinta kasihnya kepada manusia, serta kenyataan bahwa manusia itu sendiri telah menodainya. Di sinilah kadang-kadang dijumpainya persimpangan jalan antara tujuan dengan cara pengabdian. Namun demikian bukanlah segala cara dapat dibenarkan untuk mencapai tujuan. Sebab dalam hal yang demikian kaburlah batas antara tujuan yang hendak dicapai dengan mengorbankan tujuan itu sendiri, sebagai puncak pengabdian. Dalam hal yang demikian itu, apabila segala macam cara dapat dibenarkan, maka akan timbullah fitnah, kebiadaban, kekejaman dan kesewenang-wenangan, yang justru menghilangkan nilai tertinggi dan tujuannya, yaitu manusia.

Terhadap Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Panembahan Ismaya tidak tedheng aling-aling. Dan karena itulah maka Panembahan Ismaya sendiri masih mempergunakan dua bentuk selama ini. Orang berjubah abu-abu yang sakti dan seorang Panembahan yang menjauhkan diri dari daerah keduniawian.

Mendengar uraian itu Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan wajah mereka dengan takzimnya. Namun didalam dada mereka bergolaklah pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan. Pertanyaan tentang diri mereka, tentang Arya Salaka yang terusir dari Banyubiru, dan tentang hak yang sudah terampas dari tangannya.

Namun meskipun pertanyaan itu tidak terucapkan, agaknya Panembahan Ismaya dapat mengertinya. Karena itu katanya, “Karena itu Mahesa Jenar, kau harus dapat mencari keserasian dari cara dan tujuan pengabdian. Dan dari sinilah nanti akan tampak, bahwa seseorang memiliki ketinggian budi yang tidak sama. Ada orang yang berbudi luhur dan berjiwa besar dan ada orang yang berbudi rendah dan berjiwa kecil. Ada orang yang mengumandangkan nilai-nilai kemanusiaan, namun akan seribu satu macam semboyan, tetapi nilai-nilai kemanusiaan itu tercermin dalam tindak tanduknya sehari-hari. Seorang yang menganggap dirinya pendukung nilai-nilai kemanusiaan, tetapi ia mengorbankan manusia untuk mempertahankan kepentingan diri sendiri yang dipancangkannya di atas tumpukan bangkai-bangkai. Namun sebaliknya ada orang yang dengan berdiam diri membangun nilai-nilai itu dalam lingkungan yang jauh dari pamrih untuk mencemerlangkan diri.

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 16

Koleksi Ki Arema

Editing oleh Ki Arema

<< kembali | lanjut >>

9 Tanggapan

  1. HADIR aaaahh,

  2. Wahhh,,,,asyik juga yaa baca ulang NSSI,,,,,,,,yang aslinya buku tsb hanya 15 jilid,,,tapi dalam ruang baca SHMintardja kok jadi 29 jilid?,,,,,

    Betul Ki sanak
    NSSI cetakan ketiga dst sudah diringkas menjadi 15? atau 16 ya?
    Yang kami sajikan ini adalah cetakan pertama (sebagian cetakan kedua tetapi persis cetatkan pertama) terdiri dari 29 jilid.

  3. “Dan orang berjubah itu pun meneruskan, ”Aku terpaksa datang kemari karena aku tidak mau”

    Nasi jilid 15 no. 1 paragraf 19,,,, ini yg ganjil, sya mencari kalimat selanjutnya apa? Mohon bagi yg punya buku asli share ni! Terima kasih,,, masih misteri,,

    • Wow…. Om Hermawan cermat sekali membaca naskah ini. Ternyata memang ada bagian kalimat yang terpenggal. Mohon maaf nggih.

      Kalimat yang lengkap adalah:

      Dan orang berjubah itu pun meneruskan, ”Aku terpaksa datang kemari karena aku tidak mau melihat permainan yang berbahaya itu”
      Yang berikutnya sudah benar

      • Untuk membaca buku aslinya, silahkan download dari link berikut https://pelangisingosari.wordpress.com/halaman-unduh/6/

        Hanya saja naskah tersebut berformat dejavu *.djvu yang bisa dibaca dengan Djvu Viewer/Djvu reader. Karena wordpress tidak mengenal file djvu, maka saat upload diakali dengan mengubah ekstensi menjadi, *.doc, *.docx, *.ppt, *.pptx, *.pdf, atau yang lain. Untuk bisa dibaca, silahkan ganti ekstensi menjadi *.djvu

        • Terima kasih tuan pelangisingosari

          Semoga lontarnya bermanfaat

      • Terima kasih Tuan p.satman,,, cuma paraghraf yg hilang satu sepotong ini sangat bermasalah dlm membaca cerita nssi, seluruh cerita nssi tidak ada yg cacat kata2 selain di jilid ini, dan terlihat sngt canggung dan sangat bikin penasaran pembaca karena saking serunya cerita tersebut, sebab ada sikap radite dan anggara yg terkejut krna kata2 pasingsingan sepuh, tapi kata2 tersebut malah terpotong dalam kitab lontarnya,, terima kasih sudah memberi lanjutan potongan kata2nya, Tuan p satpam.
        Beda skali dengan cerita pdls,, banyak sekali dalam lontar2 pdls dlm bberapa jilid,, apalagi pdls jilid 45 paragraf paling akhir banyak kata2 yg hilang dan bikin buat penasaran jg, yaitu,,:
        ,,,,,,”””Sementara itu langkah Ken Arok pun terasa dibebani oleh berbagai macam perasaan. Kadang-kadang ia pun masih diliputi keragu-raguan, apakah keluarga Bango Samparan sudah melepaskan cara hidupnya yang sesat. Tetapi, …… (tidak jelas, teks tidak terbaca) kap Panji Bawuk, agaknya ia dapat mempercayai … (tidak jelas, teks tidak terbaca) bahwa anak muda itu telah benar bertekad memperbaiki jalan hidup (tidak jelas, teks tidak terbaca) nya sekeluarga.”,,,,,,,,,
        Tapi tidak seheboh dan sepenasaran nssi jilid 15, yg harus dicari kata2 sambungannya…
        Terima kasih tuan p satman
        Salam dr hermawan
        Saya tinggal di padukuhan ramai di utara dekat bekas kerajaan tarumanegara

Tinggalkan Balasan ke Mohamad Karim Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s