YANG TERASING-08


YANG TERASING

JILID 8

kembali | lanjut

YT-08WIYATSIH” potong ibunya, “apakah kau sadari kata-katamu?”

“Apakah bedanya bagiku?”

Ibunya menjadi cemas. Dipandanginya wajah Wiyatsih yang justru tersenyum-senyum.

“Aku tidak dapat mengerti jalan pikiranmu Wiyatsih” berkata ibunya kemudian.

“Jika aku harus kawin dengan orang yang tidak berarti bagiku, yang dihadapkan kepadaku sebagai suatu keharusan saja, bukankah akan sama saja bagiku siapapun orangnya?”

“Cukup, cukup” tiba-tiba ibunya membentaknya. Tetapi kemudian kedua tangannya menutup mulutnya, seakan-akan menahan luapan kemarahan yang masih akan meloncat. Namun sambil menarik nafas dalam-dalam Nyai Sudati itupun berdesah.

Puranti pun menggamit Wiyatsih pula sambil berdesis. Kata-kata Wiyatsih yang didorong oleh perasaan kecewa yang bergejolak dalam hatinya itu agaknya tidak dapat dikendalikannya lagi.

Tanjung yang duduk diantara mereka sama sekali tidak dapat berkata sepatah katapun. Kata-kata Wiyatsih itu baginya seakan-akan suatu sikap yang tegas, bahwa Wiyatsih sama sekali tidak tertarik kepadanya. Kekecewaan gadis itu memuncak ia tidak berbuat sesuatu ketika itu didatangi oleh beberapa orang perampok dan yang ternyata telah dibinasakan oleh Pikatan.

“Tetapi apakah yang dapat aku lakukan?” Tanjung itu bertanya kepada dirinya sendiri. Penolakan Wiyatsih itu bagaikan ujung duri yang menghunjam langsung di jantungnya.

“Wiyatsih” terdengar suara ibunya yang gemetar, “kenapa kau menjadi begitu kasar? Apakah kemampuanmu dalam oleh kanuragan itu mempengaruhi pula atas sikapmu dan dengan demikian kau menjadi kasar”

Wiyatsih terperanjat mendengar pertanyaan ibunya. Dengan serta merta ia menjawab, “Tidak ibu. Tidak ada hubungan apapun dengan oleh kanuragan. Tetapi kadang-kadang hal ini bagaikan jambangan yang penuh. Setiap titik yang dituangkan kepadanya pasti akan membuat isi jambangan itu meluap” Wiyatsih berhenti sejenak, lalu, “Dan hatiku sudah penuh dengan kekecewaan atas keadilan disekelilingku, rumah ini tidak memberikan kedamaian di hatiku. Tidak ada yang menarik bagiku. Tetapi ada yang menarik bagiku untuk merasakan kesejukan hubungan keluarga di rumah ini. Ibu tidak pernah mendengar kata-kataku tentang kerjaan yang ibu lakukan sehari-hari. Karena itu memang sudah menjadi pekerjaan ibu sejak aku masih kanak-kanak, maka aku tidak akan dapat mematahkannya begitu saja. Tetapi ibu juga tidak minta pertimbanganku atas kehadiran Tanjung didalam keluarga ini, meskipun pada sikap lahiriahnya ia sekedar membantu ibu. Itu pun bukanlah tidak sekedar demikian?” sekali lagi Wiyatsih berhenti. Nafasnya tiba-tiba menjadi tertahan-tahan oleh kerongkongannya yang serasa menjadi pepat. Namun ia memaksa untuk berbicara terus, “Apalagi kakang Pikatan sekarang sama sekali bukan kakang Pikatan yang dahulu” suara Wiyatsih terputus-putus oleh isaknya yang tidak tertahankan lagi. Dan tiba-tiba saja ia bergeser memeluk Puranti dan tanpa dapat ditahannya lagi, tangisnya pun meledak.

“Sudahlah Wiyatsih, kau terlalu dipengaruhi oleh perasaanmu. Tenanglah sedikit. Kau sudah belajar menguasai dirimu sendiri didalam kesulitan jasmaniah. Sekarang, kau pun harus mampu mengusai dirimu kesulitan rohaniah” berkata Puranti sambil memeluk gadis itu pula. Dengan lembut Puranti membelai rambut gadis yang sedang menangis itu. Sekilas dipandanginya wajah Nyai Sudati yang menunduk. Namun tampak di kilatan sorot matanya, bahwa pelupuk itu pun menjadi basah.

Nyai Sudati sama sekali tidak berkata apapun lagi. Betapa hatinya bergejolak, tetapi ia merasa iba juga mendengar tangis Wiyatsih yang seakan-akan melonjak dari dasar hatinya yang paling dalam.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia berkata kepada Puranti, “Bawalah ia ke biliknya”

“Baiklah” jawab Puranti sambil menganggukkan kepalanya, lalu katanya kepada Wiyatsih, “marilah Wiyatsih. Kau perlu menenangkan hati sejenak. Jangan kau biarkan perasaan ini melonjak-lonjak tidak terkendali”

Wiyatsih tidak menolak ketika tangannya dibimbing oleh Puranti itu meninggalkan pringgitan dan masuk kedalam biliknya.

Sepeninggal Wiyatsih Nyai Sudati menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Tanjung yang tertunduk. lalu katanya, “Maafkanlah anak itu Tanjung. Ia baru dicengkam oleh perasaan kecewa yang tidak terlawan. Tetapi aku berharap, setelah ia menjadi tenang, aku akan dapat berbicara lagi dengannya. Mudah-mudahan ia masih dapat berpikir bening”

Tanjung tidak menjawab. Tetapi matanya yang kemerah-merahan memancarkan sorot yang aneh. Karena itu, maka Nyai Sudati berkata lebih lanjut, “Apakah kau tidak mempercayai aku lagi, “

“Bukan begitu Nyai” jawab Tanjung dengan serta-merta, “tetapi aku memang merasa diriku terlampau kecil dihadapan Wiyatsih. Barangkali aku memang laki-laki yang tidak berharga, karena bagi Wiyatsih, laki-laki adalah Pikatan, kakaknya. Ia terlalu terikat oleh pengenalannya terhadap laki-laki yang berani, tangkas dan memiliki kemampuan olah kanuragan. Dan aku sama sekali tidak memilikinya. Aku sama sekali tidak mempunyai persamaan apapun dengan Pikatan”

“Tidak Tanjung” berkata ibunya, “seperti kau mendengarnya pula, Wiyatsih pun kecewa pula atas kakaknya sekarang”

“Tetapi bukan karena ia seorang laki-laki yang lemah seperti aku. Wiyatsih kecewa terhadap Pikatan karena Pikatan sekarang seakan-akan tidak menghiraukannya lagi”

“Mungkin kau benar Tanjung, namun aku masih mengharap bahwa semuanya dapat berlangsung dengan baik. Mudah-mudahan aku masih mempunyai pengaruh atas anakku sendiri”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali sudah tidak berpengharapan lagi meskipun ia berusaha untuk mencobanya. Kepercayaannya kepada diri sendiri yang ada padanya, seakan-akan telah larut sama sekali.

“Aku minta diri Nyai” tiba-tiba saja Tanjung bergumam seolah-olah untuk dirinya sendiri, “aku minta maaf”

“Kenapa kau minta maaf kepadaku?” bertanya Nyai Sudati.

“Ketika terjadi keributan di rumah ini, aku tidak dapat membantu sama sekali”

“O, aku mengerti Tanjung. Jika kau sadar, bahwa kau tidak akan dapat berbuat apa-apa, memang lebih baik bagimu untuk menghindari kesulitan”

Tanjung tidak menyahut. Namun ia bergeser surut dan kemudian berdiri sambil berkata, “Terima kasih. Aku minta diri”

Nyai Sudati mengantarnya sampai ke tangga pendapa. Kemudian dipandanginya Tanjung yang berjalan dengan lemahnya meninggalkan halaman rumah Nyai Sudati.

“Kasihan anak itu” berkata Nyai Sudati didalam hatinya, “ia anak baik, rajin dan tekun. Sayang, bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk membela dirinya sendiri, apalagi untuk menolong orang lain. Tetapi Wiyatsih harus menyadari, bahwa hal itu tidak terlampau penting. Jika ia memiliki uang, maka ia dapat mengupah orang lain untuk menjaga dirinya”

Ketika Tanjung lenyap ditelan daun pintu regol, maka Nyai Sudati pun melangkah masuk kembali ke pringgitan. Namun kini ia seakan-akan selalu dikejar oleh kegelisahan. Sikap kedua anak-anaknya benar-benar tidak dapat dimengertinya. Meskipun ternyata keduanya telah menyelamatkan semua miliknya, dikehendaki atau tidak, namun ada sesuatu yang terasa membatasinya dengan kedua anak-anaknya itu. Sedang diantara kedua anak-anaknya itupun terasa pula ada batas yang memisahkan mereka.

“Keluarga ini memang sudah terpecah-pecah” desis Nyai Sudati sambil mengusap air di matanya.

Dalam pada itu, tangis Wiyatsih sudah mereda, Puranti mencoba memberinya kekuatan untuk melawan kekecewaan yang seakan-akan bertumpuk didalam hatinya sehingga Wiyatsih yang masih muda itu tidak mampu menampungnya.

“Kau harus tabah” berkata Puranti, “Didalam hidup yang sebenarnya kelak, kau akan menjumpai masalah-masalah yang lain lebih pelik dan kadang-kadang seolah-olah tidak akan dapat terpecahkan. Karena itu, kau harus menghadapi setiap kesulitan dengan pertimbangan nalar”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap matanya yang basah.

“Kau tidak perlu menyakiti hati ibumu Wiyatsih” berkata Puranti, “pada suatu saat, jika kau berkeberatan, katakan saja langsung kepada Tanjung. Kau dapat menyebut alasan-alasan yang ada didalam dadamu tanpa menyinggung perasaannya jika kau dapat mengatakannya dengan mapan, setelah kau pertimbangan baik-baik, bukan sekedar dorongan perasaan yang meledak-ledak”

Wiyatsih mengangguk.

“Sudahlah, kau memang perlu beristirahat. Biarlah aku membantu ibumu jika ia memerlukannya, tinggallah didalam bilikmu dan cobalah renungi kata-kataku”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya pula.

“Berbaringlah. Kalau kau ingin tidur, tidurlah”

Sekali lagi Wiyatsih mengangguk.

Demikianlah maka hampir sehari-harian Wiyatsih tidak keluar dari biliknya. Ibunya menjadi agak cemas juga meskipun ia tidak mengatakannya. Jika Wiyatsih menjadi kecewa seperti Pikatan, meskipun alasannya berbeda, maka ia benar-benar akan kehilangan anak-anaknya. Hidupnya menjadi sepi dan tidak berarti. Usahanya melipat-gandakan kekayaannya pun tidak akan berarti pula

Namun demikian sama sekali tidak terbersit didalam ingatannya untuk menghentikan usahanya itu. Usahanya yang seolah-olah sudah mendarah daging baginya.

Yang mengambil alih pekerjaan Wiyatsih sehari itu adalah Puranti. Ternyata ia tidak kalah cekatan melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh seorang gadis, tanpa pedang di lambung dan dalam pakaian biasa. Puranti adalah seorang gadis yang cantik yang rajin dan cakap. Bahkan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh para pembantu dapat diselesaikannya. Mencuci mangkuk dan membersihkan lantai.

“Sudahlah ngger” berkata Nyai Sudati, “kau akan terlalu lelah”

“Aku sudah biasa melakukannya di padepokan” jawab Puranti, “bahkan kadang-kadang pekerjaan yang agak kasar”

Nyai Sudati hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun ia heran juga melihat sikap dan tandangnya.

Bahkan tanpa disadarinya ia mulai menghubung-hubungkan kehadiran gadis itu dengan Pikatan. “Pikatan pernah berada dan tinggal di rumah gadis itu menurut ceritera Wiyatsih. Tetapi kini keduanya tampaknya seolah-olah bermusuhan. Pikatan yang kecewa akan dirinya itu, seakan-akan tidak lagi dapat mempercayai seseorang” berkata Nyai Sudati didalam hatinya, “Namun apakah anak ini pula yang membuat Wiyatsih menjadi kasar?”

Tetapi Nyai Sudati sama sekali tidak melihat tanda-tanda kekasaran Puranti didalam pakaian seorang gadis dan melakukan kerja seorang perempuan.

Karena itu, maka Puranti bagi Nyai Sudati tetap merupakan sebuah teka-teki yang tidak segera dapat terjawab.

Ketika malam turun dan mulai menyelubungi padukuhan disekitar alas Sambirata, maka Puranti pun telah berada didalam bilik bersama Wiyatsih yang hanya mencuci mukanya saja tanpa mandi. Tubuhnya terasa lemah dan terlebih-lebih lagi hatinya.

“Apakah kau juga sudah mulai dihinggapi perasaan berputus-asa?” bertanya Puranti.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun bertanya, “Apakah aku sudah berputus-asa?”

“Mudah-mudahan tidak Wiyatsih. Kau masih mempunyai banyak kesempatan, seperti Pikatan juga masih mempunyai banyak kesempatan. Apakah persoalanmu dengan Tanjung itu akan sama artinya seperti cacat ditangan kanan Pikatan? Persoalan yang sebenarnya tidak banyak mempengaruhi jalan kehidupan kalian apabila kalian tidak segera dicengkam oleh putus-asa?”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Akhirnya ibumu akan mengerti. Dan kita berharap bahwa Pikatan pun pada suatu ketika akan menemukan dirinya kembali”

Wiyatsih masih mengangguk-angguk terus.

“Nah, sekarang tidurlah. Kau harus pergi ke sawah besok pagi benar, apabila kau jadi akan pergi ke Cangkring bersamaku”

“O” tiba-tiba Wiyatsih mengangkat wajahnya, “ya. aku akan ikut pergi ke Cangkring bersamamu”

“Mudah-mudahan kawanmu itu menyiram jagungmu di sore hari.

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Katanya, “Mudah-mudahan. Aku kira Kesambi pergi ke sawah di ujung bulak itu”

Dengan demikian Wiyatsih berhasil menggeser angan-angannya meskipun hanya sebagian, persoalan yang menyangkut dirinya dengan Tanjung dan dengan seluruh keluarganya yang rasa-rasanya seperti terpotong-potong. Ia mencoba membayang-kan jagungnya yang hijau dan untuk menenteramkan hatinya, ada juga baiknya ia pergi sekali-sekali kepadukuhan lain.

Menjelang tengah malam, keduanya sudah terbaring diam dipembaringan. Mata mereka terpejam dan nafas mereka berdesah dengan teratur.

Pada saat itulah Pikatan bangkit dari pembaringannya. Kini ia lah yang menjadi gelisah. Sejenak ia duduk sambil merenung. Namun kemudian ia menggeram didalam hatinya, “Tidak. Aku tidak boleh menggantungkan diri kepada perempuan”

Dengan hati-hati Pikatan pun kemudian berdiri. Namun ia menjadi ragu-ragu dan sejenak kemudian ia sudah duduk kembali dipembaringannya.

“Gila perempuan itu” katanya didalam hati, “ia tentu mengambil waktu seperti ini. Lewat tengah malam. Dan ternyata Wiyatsih memiliki kemampuan yang tinggi untuk menerima ilmu dari Pucang Tunggal itu. Jika pada suatu saat kemampuannya melampauiku, maka hidupku akan menjadi semakin tidak berarti lagi. Dan kelak Wiyatsih lah yang akan melindungi aku, sehingga aku akan tetap menjadi beban seorang perempuan setelah Puranti menyelamatkan aku, ibu menghidupi aku dan kemudian Wiyatsih menjadi pelindungku”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia mencoba mendengarkan suara didalam rumahnya. Namun ternyata sudah sepi.

“Aku memang terlalu bodoh. Hampir setiap saat aku tidur. Karena hanya didalam tidur aku melupakan pedih yang selalu menyengat hati. Dengan demikian aku tidak pernah menghiraukan suara apapun juga didalam rumah ini. Juga karena aku tidak menyangka sama sekali bahwa Puranti akan menyusul sampai ke rumah ini. Ternyata aku hampir terlambat menyadari keadaan ini. Barangkali, jika tidak ada perampok yang datang ke rumah ini Wiyatsih masih mencoba menyembunyikan kemampuannya sebelum ia menjadi sempurna sama sekali.

Tiba-tiba Pikatan itu pun berdiri. Sejenak ia memperhatikan keadaan didalam rumahnya lebih seksama lagi. Namun kemudian ia melangkah dengan hati-hati mendekati pintu biliknya.

Ia menjadi ragu-ragu sejenak ketika ia sudah meraba daun pintu itu. Tetapi ia mencoba memantapkan niatnya, sehingga sambil menggigit bibirnya ia mendorong daun pintu biliknya itu sehingga terbuka.

Dengan sangat hati-hati iapun pergi ke pintu butulan. Perlahan-lahan sekali, sehingga hampir tidak menimbulkan bunyi apapun ia membuka selarak pintu itu. Dan sejenak kemudian, Pikatan itu pun sudah menghambur di halaman belakang lewat longkangan.

Pikatan sama sekali tidak mengerti, bahwa Wiyatsih pun pernah berlatih di halaman belakang rumahnya. Namun demikian ia mereka-reka juga kemungkinan itu didalam hati. Setidak-tidaknya ketika Wiyatsih baru mulai. Sudah tentu Puranti tidak akan membawa Wiyatsih ke tempat yang lebih jauh dari kebun belakang yang menjorok agak jauh itu.

Meskipun demikian Pikatan masih juga agak ragu-ragu. Kini di rumah itu ada Puranti. Jika gadis itu mendengar ia keluar rumah, maka adalah kemungkinan yang paling besar terjadi, iapun akan mencoba untuk mengetahui, apa saja yang dilakukannya.

Karena itu, Pikatan tidak segera berbuat apa-apa. Ia hanya berdiri saja sambil mengangkat wajahnya, seakan-akan ingin menghirup udara yang sejuk dimalam hari.

Namun dalam pada itu, hatinya sedang bergolak. Yang terjadi itu merupakan penghinaan yang paling pahit baginya. Adiknya, Wiyatsih yang baru mulai belajar meloncat-loncat telah mencoba untuk menyelamatkannya berserta isi rumah seluruhnya.

“Aku yang hanya bertangan kiri ini pun tidak boleh tertinggal. Bukan saja dari Wiyatsih. Tetapi aku harus mampu menyamai kemampuan Puranti yang bertangan rangkap” tiba-tiba Pikatan menggeram.

Dengan demikian maka Pikatan pun bertekad untuk menempa diri dalam keadaannya. Meskipun dengan tangan sebelah, ia harus berhasil menebus penghinaan yang telah dialaminya.

“Bodoh sekali” ia menggeram. Selama ini ia telah menyia-nyiakan diri dan membiarkannya mendapat penghinaan dari siapapun juga dari Puranti, dari ayahnya dan orang-orang di sepanjang jalan kembali ke kampung halamannya, dari para penjahat dan yang terakhir dari adiknya sendiri. Meskipun ia berhasil membunuh para perampok yang hampir saja membinasakan Wiyatsih, namun ia masih harus banyak menempa diri untuk dapat mengalahkan Puranti.

Pikatan itu pun menggeretakkan giginya. Diangkatnya tangan kirinya dan dikembangkannya jari-jarinya. Dan tiba-tiba saja ia menggeram, “Tangan ini masih mampu menggerakkan senjata”

Dan tiba-tiba saja Pikatan meloncat. Ia ingin mengetahui, apakah kakinya masih selincah kakinya yang dahulu. Ia tidak sempat menilainya ketika ia membunuh beberapa orang penjahat sekaligus, yang menurut dugaannya, mereka bukannya lawan yang dapat dipakainya sebagai perbandingan, karena perampok-perampok itu adalah orang-orang yang sekedar tidak mampu berbuat lain dan sedikit memiliki ilmu olah kanuragan.

Sejenak Pikatan berloncat-loncatan. Terasa tubuhnya masih seringan sebelum tangannya menjadi cacat. Dan ia masih mampu bergerak setangkas saat-saat ia mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit.

“Satu-satunya cacat yang ada padaku adalah tangan kananku. Jika aku mampu memusatkan kekuatan dan kemampuanku ditangan kiri, maka aku akan dapat menyempurnakan ilmu lebih dalam dan matang. Aku tidak memerlukan lagi seorang guru. Semua tata gerak dasar sudah aku kuasai dan bahkan inti dari ilmu ini pun sudah aku pahami” gumam Pikatan kepada diri sendiri

Dengan demikian maka untuk beberapa saat lamanya Pikatan seakan-akan ingin mengenal dirinya kembali setelah sekian lamanya ia kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.
Dalam keasyikannya, Pikatan sama sekali tidak menyangka, bahwa sepasang mata sedang mengawasinya. Ketika ia turun dari tangga butulan, seseorang segera mengikutinya. Tetapi demikian tinggi ilmunya, sehingga Pikatan sama sekali tidak mendengar langkah dan desah nafasnya. Dan orang, itu adalah Puranti. Meskipun semula ia berbaring diam dengan desah nafas yang teratur, namun sebenarnya ia belum tertidur. Ia masih mendengar langkah kaki Pikatan yang berdesir di lantai. Ia masih mendengar betapa lemahnya selarak pintu butulan berderik, Sehingga karena itulah maka ia pun segera mengikutinya.

Sejenak Puranti menyaksikan Pikatan yang sedang mengenali dirinya kembali. Terasa sesuatu bergejolak didalam dada gadis itu. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja kerongkongannya serasa telah tersumbat dan pelupuk matanya menjadi panas dan basah

Puranti tidak melanjutkan kesaksiannya atas Pikatan yang masih berloncatan di halaman belakang. Dengan diam-diam ia pun segera kembali masuk kedalam rumah dan langsung pergi ke bilik Wiyatsih. Perlahan-lahan ia berbaring lagi disisi gadis yang sedang tertidur nyenyak itu, seolah-olah ia tidak pernah meninggalkannya.

Beberapa saat Puranti menunggu. Akhirnya ia mendengar lagi derik selarak pintu butulan. Dan sekali lagi ia mendengar desir kaki di lantai dan pintu bilik Pikatan yang terbuka.

“Ia telah kembali kedalam biliknya. Tetapi Pikatan tentu tidak hanya berusaha mengenal dirinya kembali. Ia pasti akan berusaha terus, sehingga ia memiliki kemampuan yang lebih baik dari kemampuannya selagi kedua tangannya masih utuh” berkata Puranti didalam hatinya.

Namun Puranti itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar langkah di ruang dalam. Agaknya Pikatan belum juga masuk kedalam biliknya dan bahkan langkah itu semakin mendekati pintu bilik Wiyatsih yang tidak dipalang.

Puranti menahan nafas ketika ia mendengar pintu biliknya berderit. Tetapi cepat-cepat ia menyadari keadaannya, sehingga nafasnya kembali mengalir dengan teratur lewat lubang-lubang hidungnya.

Pintu bilik itu hanya terbuka setebal jari. Hanya telinga yang sangat tajam sajalah yang dapat mendengarnya tanpa melihat bahwa pintu itu sudah terbuka. Dan Puranti pun menyadarinya bahwa mata Pikatan yang tajam sedang memandangnya. Tetapi Puranti tidak membuka matanya, desah nafasnya masih juga mengalir dengan teratur.

Sejenak Pikatan berdiri termangu-mangu. Ia sendiri tidak mengetahui, dorongan apakah yang sudah membawanya ke bilik adiknya.

Dari celah-celah pintu yang hanya renggang sedikit itu, Pikatan melihat kedua gadis yang sedang berbaring diam sambil memejamkan matanya. Adiknya, Wiyatsih yang manja dimasa kanak-kanaknya, bahkan kadang-kadang didukungnya dan dibawanya berlari-lari. Sedang yang seorang adalah seorang gadis dari padepokan Pucang Tunggal.

Seperti terjerat oleh sebuah pesona, Pikatan memandang wajah Puranti yang tenang yang nampaknya sedang tidur dengan nyenyaknya seperti wajah air yang diam.

Tanpa disadarinya Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu bukan adiknya dan bahkan bukan sanak kadangnya. Tetapi ia pernah tinggal bersama beberapa lamanya. Seperti adiknya, kadang-kadang Puranti itupun bersikap manja. Tetapi sifat Puranti hampir tidak dapat dikenalnya dengan pasti karena keberaniannya. Meskipun, demikian ia tidak menyangka, bahwa Puranti memiliki kemampuan yang melampaui kemampuannya, sehingga pada suatu saat ia harus menggantungkan nasibnya kepadanya, ketika ia terjebak di sarang perampok di Goa Pabelan, selagi ia menjalani pendadaran untuk menjadi seorang prajurit.
Tetapi selagi Puranti tidur nyenyak dalam pakaian seorang perempuan, Pikatan hampir tidak mengenalnya, bahwa gadis itulah yang telah bertempur melawan orang yang menamakan dirinya Hantu bertangan Api. Wajah itu nampak lembut dan Pikatan tidak dapat ingkar lagi, bahwa Puranti adalah seorang gadis yang cantik.

Namun tiba-tiba Pikatan menggeretakkan giginya. Ditinggalkannya pintu yang masih menganga meskipun hanya setebal jari itu. Didalam hati ia menggeram, “ Aku tidak mau dihinakannya. Aku adalah seorang laki-laki. Aku harus mampu melampaui kemampuannya”

Perlahan-lahan Pikatan pun kembali kedalam biliknya dan perlahan-lahan pula membaringkan dirinya dipembaringannya. Tetapi angan-angannya tidak terpejam bersama dengan matanya. Semakin rapat ia menutup matanya. Justru semakin jelas bayangan yang hilir mudik didalam angan-angannya. Terbayang wajah Puranti dengan segala macam bentuknya. Wajah seorang gadis yang cantik, yang tersenyum lembut kepadanya. Tetapi tiba-tiba senyum itu berubah menjadi sebuah senyuman yang penuh ejekan.

“Pikatan menghentakkan dirinya, sehingga terdengar derik pembaringannya. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya yang sedang bergejolak itu. Namun ia tidak segera dapat berhasil.

Dalam pada itu, ketika Puranti mendengar langkah Pikatan menjauh, terasa dadanya menjadi lapang. Perlahan-lahan dibukanya matanya dan dilihatnya pintu biliknya masih renggang. Tetapi Puranti tidak mengatupkannya. Dadanya masih terasa berdebaran. Gadis itu tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia merasa sangat gelisah ketika ia sadar bahwa Pikatan sedang memandanginya.

“Apakah ia akar mengusir aku dari rumah ini?” pertanyaan itu timbul juga didalam hatinya. Tetapi ada perasaan lain yang Puranti sendiri rasa-rasanya tidak berani mengakuinya sebagai suatu kuncup yang semakin berkembang.

Demikianlah kedua anak-anak muda itu hampir semalam suntuk tidak dapat tidur dipembaringan masing-masing. Rasa-rasanya ada getaran yang menghubungkan dasar hati mereka yang paling dalam. Baru ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, Puranti dapat terlena sejenak. Namun iapun segera terperanjat karena Wiyatsih bangkit meskipun perlahan-lahan.

“Kau tidur nyenyak sekali” desis Wiyatsih.

Puranti mengangguk, “Ya. Aku tidur semalam suntuk. Apakah kau tidak dapat tidur sama sekali?”

“Aku juga tidur nyenyak. Tetapi aku lebih dahulu bangun. Bukankah kita akan pergi ke sawah pagi-pagi benar sebelum kita pergi ke Cangkring.

“O” Puranti pun bangkit pula. Namun ia berdesis, “Masih gelap diluar. Apakah kau akan pergi sekarang”

“Jika kita mandi lebih dahulu, kita akan pergi disaat terang tanah”

“Kita mandi di sungai. Tentu belum ada orang sama sekali”

Wiyatsih memandang Puranti sejenak, namun kemudian ia tersenyum, “Mari, kita pergi ke sungai”

Keduanya pun kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar bilik. Tetapi rumah itu masih sepi. Ibunya agaknya masih tertidur nyenyak dibiliknya.

“Kita harus menunggu sampai ibu bangun. Jika tidak ibu pasti akan mencari kita dengan cemas”

“Kita pergi ke dapur. Kita pesan kepada orang-orang yang pasti sudah mulai merebus air. Aku mendengar suara senggot timba”

“O, baik Kita pergi ke dapur”

Keduanya pun kemudian pergi ke dapur. Ternyata seseorang memang sudah duduk di depan perapian sambil bertopang dagu merebus air.

Orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja keduanya sudah berdiri dibelakangnya, hampir saja ia terlonjak, jika Wiyatsih tidak menahannya sambil berkata, “Kenapa kau terkejut?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak menyangka sepagi ini kau datang ke dapur”

“Aku akan pergi ke Kali Kuning”

Orang itu menjadi terheran-heran.

“He. kenapa kau memandang aku seperti itu?”

“Kalian berdua akan pergi ke Kali Kuning?”

“Ya. Kami akan mandi”

“Tetapi, bukankah hari masih gelap?”

“Sebentar lagi matahari akan terbit”

“Kalian berani pergi berdua saja?”

“Kenapa?”

Orang itu mengangkat pundaknya. Katanya, “Kalian adalah gadis-gadis yang aneh. Tetapi kalian memang mempunyai alasan untuk tidak takut pergi ke Kali Kuning, karena kalian dapat berkelahi melawan penjahat.”

Wiyatsih tersenyum. Ditepuknya bahu orang itu sambil berkata, “Tolong, katakan kepada ibu jika ibu mencari kami berdua. Bilang kami pergi ke sungai untuk mandi”’

Orang itu menganggukkan kepalanya. Dipandanginya kedua gadis yang kemudian meninggalkannya itu dengan penuh kekaguman. Mereka adalah gadis-gadis cantik yang aneh. Belum pernah ia melihat dan mendengar bahwa ada gadis yang mampu berkelahi melawan perampok-perampok beradu muka seperti yang dilakukan oleh Wiyatsih. Meskipun ia memerlukan bantuan Pikatan, namun hal itu sudah cukup menggetarkan dada. Seandainya Wiyatsih harus berkelahi melawan satu orang saja dari mereka, maka Wiyatsih pasti tidak akan dapat dikalahkan.

Dalam pada itu langkah Wiyatsih dan Puranti terhenti sejenak ketika penjaga regol yang duduk dipendapa menyapanya.

“He, kalian, akan pergi kemana sepagi ini?”

“Mandi ke sungai”

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat membahayakan dirimu Wiyatsih. Hari masih gelap”

“Tidak apa-apa. Sebentar lagi matahari akan terbit. Jika aku kesiangan, aku tidak akan berani lagi mandi di sungai. Apalagi jika orang-orang padukuhan ini sudah mulai turun pula ke sungai”

“Tetapi jangan sekarang, tunggu sebentar lagi”

Wiyatsih tersenyum, Katanya, “Tolong katakan kepada ibu jika ibu mencari kami. Ada baiknya kami mandi di pagi-pagi benar seperti ini”

Penjaga regol itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kawannya yang sedang tidur bersandar tiang pun terbangun dan bertanya, “Kemana mereka pergi?”

“Ke sungai. Sebenarnya berbahaya bagi mereka”

“Biar saja. Mereka mempunyai bekal yang cukup untuk keluar padukuhan disaat semacam ini, bahkan ditengah malam sekalipun. Mereka tentu akan dapat menjaga diri mereka sendiri”

Kawannya tidak menyahut selain mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Sejenak kemudian Puranti dan Wiyatsih pun sudah menyelusuri Kali Kuning. Ternyata mereka tidak hanya sekedar mandi. Namun setelah mandi maka mereka pun segera ingat kepada jagung yang semakin tumbuh di ujung sawah yang kering di musim kemarau.

“He, marilah kita pergi ke sawah” ajak Puranti.

“Segar sekali mandi dini hari” desis Wiyatsih.

“Tetapi sudahlah. Kau akan kedinginan”

“Tidak, aku tidak kedinginan. Bahkan tubuhku serasa mendapatkan kekuatan baru”

“Betapa melimpahnya kekuatan bagi kita, tetapi didalam keadaan ini, jika kita tiba-tiba saja diserang, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Baiklah. Kita pergi ke sawah saja”

Keduanya pun segera berpakaian. Kemudian ketika bayangan pagi semakin jelas membayang di cakrawala, mereka pun berjalan menyusuri pematang pergi ke sawah mereka.

“Kita harus segera menyelesaikan pekerjaan kita” berkata Puranti, “aku ingin berangkat pagi-pagi, supaya kita sampai ke Cangkring sebelum hari menjadi panas sekali”

“Baiklah. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat”

“Aku akan membantu”

Dengan demikian, maka keduanya bekerja dengan tergesa-gesa. Tetapi jagung mereka cukup juga mendapat air. Apalagi keduanya mempertimbangkan bahwa mungkin pada sore hari nanti, jagung itu tidak akan mendapat air, karena belum pasti, bahwa mereka dapat kembali sebelum gelap.

Setelah mereka selesai menyiram jagung, maka mereka pun segera kembali. Seperti yang sudah mereka duga, ibunya dengan cemas menunggunya dipendapa.

“Kau membuat aku cemas Wiyatsih. Kemana kau sepagi ini?”

“Mandi ibu, lihat rambutku ini basah”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau berbuat aneh-aneh saja Wiyatsih. Jika kau ingin mandi sepagi begini, kenapa kau tidak mandi saja di pakiwan dengan air sumur yang hangat?”

“Mandi di kali selagi masih gelap, alangkah segarnya. Besok atau lusa aku akan pergi lagi bersama Puranti, senang sekali”

Sekali lagi ibunya menarik nafas. Katanya, “Jangan Wiyatsih. Banyak hal yang dapat terjadi. Aku percaya bahwa kau berdua memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri, tetapi bagaimanapun juga, kau harus berhati-hati”

Wiyatsih tidak menyahut lagi. Ia tidak ingin berbantah dengan ibunya. Karena itu ia pun menganggukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah katapun.

“Nah, pergilah ke dapur. Hangatkan badanmu. Kau pasti berendam didalam air, sehingga rambutmu pun ikut basah karenanya”

Sekali lagi Wiyatsih mengangguk. Lalu diajaknya Puranti pergi ke dapur.

“Wiyatsih, kita harus segera minta diri, mumpung masih pagi”

“Kita makan dulu di dapur. Tentu nasi sudah hampir masak”

“Sepagi ini?”

“Jika belum masak, kita makan nasi wadang. Kita panasi sebentar supaya perut kita tidak bertambah dingin”

Puranti tidak menjawab. Diikutinya saja Wiyatsih ke dapur, dan dibiarkannya berbuat sesuka hatinya.

Baru setelah mereka selesai dengan memanaskan nasi sisa kemarin, Wiyatsih berkata, “Marilah kita menemui ibu. Aku akan minta diri. Barangkali ibu sudah tidak marah lagi”

Namun ketika Wiyatsih menyampaikan niatnya. ibunya menjadi ragu-ragu.

“Kami berjalan di siang hari ibu. Kami kira, kami tidak akan menjumpai kesulitan apapun juga. Aku sudah terlanjur berjanji kepada Puranti”

“Kenapa Puranti pergi juga ke Cangkring?” bertanya Nyai Sudati.

Puranti pun menceriterakan sejenak, bahwa ia telah diambil anak oleh seorang janda miskin di Cangkring. Karena itu, supaya janda tua itu tidak gelisah, ia ingin menengoknya meskipun hanya sebentar.

Ibu Wiyatsih mengangguk-angguk sejenak. Kemudian katanya, “Kenapa kau tinggal padanya? Apakah kau tidak lebih baik tinggal disini?”

“Aku kasihan meninggalkannya sendirian. Meskipun aku akan sering berada disini, tetapi aku akan masih selalu pergi menengoknya”

“Tinggallah disini. Kau akan mengurangi bebannya”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Ia mengharap ibunya minta kepada Puranti agar perempuan miskin itu dibawanya saja ke rumah ini. Ternyata ibunya tidak berkata demikian. Dan Puranti memaklumi akan hal itu. karena Nyai Sudati adalah seseorang yang hemat. Bahkan sedikit kikir.

“Kau tidak perlu lagi hilir mudik. Karena itu, sebaiknya kau minta diri saja kepadanya dan perempuan itu akan hidup seperti saat-saat kau belum datang kepadanya”

“Aku kasihan kepadanya, ia sudah tua”

“Sebelum kau datang, bukankah ia sudah tua juga?”

Puranti mengangguk kecil. Tetapi ia menjawab, “Jika saja aku belum pernah mengenalnya. Tetapi aku sudah terlanjur tinggal padanya”

Nyai Sudati mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Terserahlah kepadamu. Tetapi aku minta Kau tinggal saja disini. Mungkin sepekan dua pekan sekali kau dapat menengoknya”

Puranti mengangguk pula. Jawabnya, “Aku akan memikirkannya”

“Baiklah. Cobalah kau pertimbangkan. Aku kira tempat ini akan lebih baik bagimu daripada di rumah janda tua dari Cangkring itu”

“Tentu. Tempat ini jauh lebih baik bagiku”

“Jadi kenapa kau tidak dapat memutuskannya sekarang bahwa kau akan tinggal disini?”

“Tetapi aku memikirkan orang tua itu”

“Ah” desah Nyai Sudati, “kenapa kau terikat kepadanya? Ia bukan sanak kadangmu. Ia orang lain bagimu”

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ditatapnya wajah Wiyatsih yang buram. Dan bahkan Wiyatsih itulah yang kemudian menyahut, “Itu adalah kata nuraninya, ibu. Ia menaruh iba kepada perempuan itu. Puranti tidak sekedar memikirkan dirinya sendiri. Bukan sekedar untuk kesenangannya sendiri”

Nyai Sudati mengerutkan keningnya. Namun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata, “Kau mencari kesulitan. Tetapi terserahlah” Lalu ia berpaling kepada Wiyatsih, “Bukankah kau akan segera kembali?”

“Ya ibu. Sebelum senja aku sudah tiba kembali di rumah ini”

“Jangan tertunda. Kau akan membuat aku gelisah”

“Tidak. Aku akan pulang pada waktunya bersama Puranti”

Demikianlah maka keduanya segera berangkat meninggalkan padukuhannya. Mereka berjalan sebagai gadis padesan yang lain. Ternyata bahwa Puranti dapat mempergunakan pakaian Wiyatsih, dan bahkan seakan akan keduanya memiliki ukuran yang sama.

“Wiyatsih” berkata Puranti ketika mereka telah berjalan ditengah bulak, “untuk sementara? aku tidak akan dapat tinggal di rumahmu”

Wiyatsih terkejut, sehingga tiba-tiba saja langkahnya terhenti, “Apa maksudmu?”

“Jangan bersungut-sungut dahulu. Kau lebih cantik jika tersenyum”

“Ah”

“Dengarlah. Aku mempunyai suatu kewajiban baru”

“Apa lagi yang akan kau lakukan?”

Puranti termangu-mangu sejenak. namun dikatakannya juga apa yang dilihatnya semalam tentang Pikatan.

“Jadi bagaimana? Bukankah kau akan dapat mengikutinya justru jika kau tinggal di rumahku?”

“Tentu sulit sekali. Pintu butulan itu hanya satu. Pada suatu saat Pikatan akan mengetahui bahwa aku mengikutinya. Jika ia masuk lebih dahulu daripadaku, maka aku tidak akan dapat masuk ke rumahmu. Atau jika aku mengikutinya keluar lewat butulan itu, sedang Pikatan masih berada di sekitar pintu tetapi diluar rumah tidak setahuku, ia akan segera mengetahui, bahwa aku mengamat-amatinya bukan sekedar malam itu”

“Jadi bagaimana rencanamu?”

“Aku akan tinggal ditempat yang lain. Mungkin aku akan tetap berada di Cangkring. Tetapi seperti ketika kau mulai dengan mengajarimu olah kanuragan, maka aku akan pergi ke padukuhanmu hampir setiap malam untuk melihat, apa yang dilakukan oleh Pikatan”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku yakin bahwa Pikatan tidak akan berlatih cukup di halaman belakang. Ia pasti akan mencari tempat lain, karena ia seorang laki-laki yang sudah memiliki bekal kemampuan yang cukup sebelum tangannya cacat. Ia pasti ingin mendapat kesempatan melepaskan ilmu yang paling dahsyat yang dapat dicapainya dengan tangan kirinya.

Wiyatsih-mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia bersungguh-sungguh, “Jika demikian, akulah yang tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk berlatih”

“Tentu tidak. Kau dapat berlatih di setiap saat. Seisi rumahmu sekarang sudah mengetahui bahwa kau memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Kau dapat dilewat senja. Demikian gelap malam mulai turun, kau dapat pergi ke halaman belakang, Kau tidak perlu lagi menghindar seandainya kedua penjaga regol itu ingin melihat kau berlatih. Dan waktu-waktu berikutnya. Pikatan lah yang akan mempergunakan. Karena Pikatan agaknya masih belum bersedia dengan terbuka, maka ia akan memilih waktu seperti yang pernah kita pergunakan”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti rencana yang akan dilakukan Puranti. Ia ingin mengikuti saat-saat Pikatan berlatih untuk mengetahui perkembangan kemampuannya.

“Apakah dengan demikian, kau tidak akan pernah datang lagi ke rumah kami di siang hari atau disaat-saat lain?”

“Tentu. Aku akan selalu mengunjungimu di siang maupun di malam hari. Tetapi jika aku berada di rumahmu, maka kesempatanku untuk mengikuti Pikatan terlampau sedikit. Atau bahkan dimalam itu, aku melepaskannya sama sekali”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti sepenuhnya keinginan Puranti. Dan bahkan ada sesuatu yang melonjak didalam hatinya. Perhatian Puranti terhadap kakaknya yang sudah cacat itu ternyata begitu besar.

“Mudah-mudahan mereka menemukan jalan” berkata Wiyatsih didalam hati.

Namun demikian ia bertanya, “Apakah sore nanti aku harus kembali seorang diri ke Sambi Sari”

“Aku akan mengantarkanmu”

“Kau akan segera kembali ke Cangkring?”

“Tidak. Aku akan bermalam di rumahmu sambil meyakinkan, apakah Pikatan benar-benar akan berlatih atau hanya sekedar dorongan perasaannya yang meledak hanya sesaat. Tetapi kemudian segera padam kembali.

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya menganggukkan kepala mereka lebih dalam lagi ketika mereka bertemu dengan seorang petani yang agaknya baru pulang dari pasar ternak yang terletak tidak terlalu jauh dari kademangan mereka.

Selanjutnya, tidak banyak lagi yang mereka percakapkan di sepanjang jalan. Apalagi ketika matahari mulai naik melampaui pepohonan. Sinarnya terasa gatal di wajah kulit.

Tetapi jarak yang mereka lalui bukannya jarak yang terlalu jauh, sehingga mereka pun segera melampaui daerah yang kering di musim kemarau dan memasuki sebuah pategalan. Tetapi dedaunan di pategalan itupun sudah mulai semburat kuning. Ranting-ranting yang gundul mencuat seperti tangan-tangan yang kurus kering menggapai-gapai kepanasan.

Namun sejenak kemudian mereka pun telah mulai memasuki daerah Cangkring.

Seperti Sambi Sari, Cangkring bukan pula daerah yang subur. Berbeda dengan daerah Temu Agal yang memiliki sebatang sungai yang tidak terlalu dalam. Airnya dengan mudah dapat diangkat naik kedaerah persawahan meskipun tidak cukup banyak. Namun ada sebagian dari sawahnya yang dapat ditanami di musim kemarau yang bagaimanapun juga keringnya.

“Apakah rumah biyung angkatmu itu masih jauh?” bertanya Wiyatsih.

“Tidak. Ia tinggal di ujung padukuhan kecil itu. Bukan di induk Kademangan”

“O” tiba-tiba Wiyatsih pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu perasaan apakah yang sebenarnya sedang bergolak.

“Aku akan mengejutkannya” berkata Puranti, “biyung angkatku pasti mengira bahwa aku sudah tidak akan kembali lagi kepadanya. Tetapi tiba-tiba aku datang justru membawa seorang kawan”

“Aku akan kau sebut sebagai apamu?”

“Adik. Adik angkat. Dan aku akan mengatakan bahwa aku mendapat pakaian ini darimu. Apalagi memang demikianlah yang sebenarnya”

“Apakah ia akan mempersoalkan pakaian?”

“Tentu. Aku tidak mempunyai pakaian yang sebagus ini” Puranti berhenti sejenak, lalu, “tetapi yang penting bagiku, aku akan mengatakan kepadanya, bahwa aku akan kembali dan tinggal bersamanya”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa Puranti memang berkepentingan untuk berbuat demikian, karena ia ingin mengamati perkembangan Pikatan untuk waktu yang tidak terbatas.

Ketika mereka berdua memasuki sebuah padukuhan kecil, maka Puranti pun segera berkata, “Itulah rumah ibu angkatku itu”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Rumah itu memang terlampau kecil ditengah-tengah halaman yang tidak begitu luas. dipagari oleh dinding batu yang rendah dan sebuah regol yang rusak.

“Ibumu memang miskin” desis Wiyatsih.

“Ya. Miskin dan tua.”

“Apakah ia tidak mempunyai sanak saudara?”

“Ada. Tetapi bukan keluarga dekat. Bahkan saudaranya itu pernah minta kepada biyung angkatku, agar ia mau tinggal bersamanya meskipun saudaranya itu pun bukan orang yang berada. Tetapi ibu angkatku segan meninggalkan halaman yang diwarisinya dari orang tuanya.

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa sebagian orang, terutama orang tua-tua, menganggap bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan kampung halamannya dan tanah warisan yang pernah diterimanya dari orang tua. Mereka menganggap peninggalan orang tua adalah pusaka yang harus dipertahankan mati-matian. Hidup atau mati, mereka akan tetap berada di tanah pusaka itu. Demikian juga agaknya dengan ibu Puranti itu. Apalagi saudaranya itupun adalah seorang yang miskin dan bukan keluarga dekat.

“Jika demikian” berkata Wiyatsih kemudian, “seandainya ibu mengharap ia tinggal di rumah kami pun, aku kira ia tidak akan mau meninggalkan rumahnya”

“Mungkin tidak” jawab Puranti.

“Apalagi kau bawa ke tempat yang jauh seperti yang pernah kau katakan. Ke padepokanmu”

“Mungkin persoalannya lain. Aku adalah anaknya. Dan aku akan mengurus tanah warisan itu”

“Apakah kau akan menerima tanah itu?”

“Sebenarnya aku tidak menghendaki. Apalagi mempunyai pamrih. Tetapi orang tua itu tidak mempunyai anak yang masih ada padanya”

“Bagaimana dengan saudara-saudaranya meskipun sudah agak jauh?, Bukankah mereka pun berhak atas warisan itu?”

Puranti menggeleng. Pembicaraan mereka terputus ketika mereka sudah berada didepan regol yang sudah rusak.

Namun tiba-tiba saja wajah Puranti berkerut. Ia melihat pintu rumah itu terbuka lebar. Biasanya ibu angkatnya tidak pernah berbuat demikian. Pintu itu meskipun terbuka, namun tidak lebih dari sejengkal.

“Apakah ada seorang tamu didalam?” tiba-tiba saja Puranti bergumam.

“Mungkin” sahut Wiyatsih” Aku mendengar suara laki-laki”

“Ya” Puranti pun mengangguk, “pasti ada seorang tamu. Mungkin saudaranya yang akan membawanya itu”

“Mungkin laki-laki yang melamarmu”

“Ah” Puranti berdesah. Namun mereka berdua pun melangkah terus memasuki halaman rumah yang sudah tua itu.

Di muka pintu, Puranti termangu-mangu. Ternyata ia mendengar suara laki-laki itu semakin keras. Bahkan hampir membentak-bentak.

“Aku tidak tahu kemana ia pergi, “ terdengar suara perempuan tua.

“Tentu kau sembunyikan” sahut laki-laki itu, “aku harus mendapatkan gadis itu. Jika tidak, aku akan berbuat kasar terhadapmu”

“Aku tidak tahu. Tetapi jika kau bebaskan kesalahan ini kepadaku, aku tidak akan menolak.”

“Gila” laki-laki itu menjadi semakin marah.

“Pada dasarnya ia datang ke rumah ini atas kemauannya sendiri dan sekarang ia pergi pula atas kemauannya”

“Jangan bohongi aku. Kalau kau ingin aku membelinya, aku akan membayar berapapun yang kau minta. Mungkin kau ingin aku menukarnya dengan sekandang ayam atau itik dan kambing atau jaminan hidup sampai akhir hayatmu.”

“Aku tidak memerlukan apa-apa lagi, Dan bukankah bebanmu sudah cukup berat dengan beberapa orang isteri?”

“Apa pedulimu. Aku masih mampu mencari uang sebanyak aku kehendaki”

“Tetapi gadis yang tinggal di rumah ini mempunyai sikap yang berbeda. Meskipun ia anak miskin yang terlantar dan berteduh dibawah rumah yang telah miring ini, namun agaknya ia tidak akan dapat dibeli dengan harga berapapun”

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s