YANG TERASING-02


YANG TERASING

JILID 2

kembali | lanjut

YT-02DALAM pada itu, pemimpin mereka, prajurit itu, sedang bertempur mati-matian melawan Hantu bertangan api yang muda, sedang Pikatan, seorang anak muda yang memiliki ilmu yang paling menonjol diantara calon prajurit itu, harus bertempur melawan Hantu yang tua, sehingga mereka berdua seolah-olah sudah terikat dengan lawan masing-masing, Meskipun mereka melihat kelemahan calon-calon prajurit yang lain, tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak.

Puranti yang masih berada diatas sebatang pohon benda, menyaksikan pertempuran itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia sama sekali tidak. menduga, bahwa penjahat yang bersarang di Goa Pabelan itu mempunyai kekuatan yang demikian besar. Jumlah mereka tidak hanya sepuluh orang seperti yang diperkirakan, tetapi lebih dari itu. Prajurit Demak yang membawa lima belas anak buah itu, ternyata tidak banyak yang berdiri bebas.

“Satu, dua, tiga” Puranti menghitung calon-calon prajurit yang berkesempatan bertempur berpasangan hanya tiga. Dengan demikian, maka jumlah perampok itu pasti tiga belas”
Dengan gelisahnya Puranti menyaksikan pertempuran itu. Sebenarnyalah bahwa pendadaran itu agak terlampau berat bagi para calon prajurit, meskipun mereka yang sampai pada pendadaran terakhir itu pastilah orang-orang pilihan, apalagi mereka telah mendapat beberapa petunjuk dan latihan keprajuritan. Mereka sudah mendapat latihan, bagaimana mereka bertempur didalam ikatan kesatuan selain peningkatan kemampuan seorang demi seorang.

Namun demikian, ternyata bahwa di dalam pertempuran itu, calon-calon prajurit Demak itu mengalami beberapa kesulitan

Prajurit yang memimpin pasukan kecil itupun menjadi cemas Ternyata petunjuk tentang gerombolan yang sampai di Demak agak meleset dari kenyataan. Menurut petunjuk yang diterima, anak buah Hantu bertangan api itu beserta para pemimpinnya tidak lebih dari sepuluh orang. Bahkan kadang-kadang kurang, karena tidak seluruhnya selalu berada di goa itu. Namun kini ternyata jumlah mereka lebih banyak dari itu, sehingga prajurit itu mengakui, bahwa pendadaran itu agak terlampau berat dan berbahaya.

Dalam pada itu, matahari merayap semakin tinggi di kaki langit sebelah Timur. Sinarnya mulai terasa menggigit kulit. Namun mereka yang berkelahi itu sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Mereka sedang bergulat diantara hidup dan mati. Ujung-ujung senjata mereka yang. berkilat-kilat berbenturan, dan bahkan satu dua diantara mereka, telah, menitikkan darah dari kulitnya.

Penjahat-penjahat itupun kemudian bertempur semakin garang dan buas. Mereka ber semakin keras memekakkan telinga. Mereka mengumpat-umpat semakin kotor dan kasar, seperti tata gerak mereka yang menjadi semakin kasar pula.

Ketika matahari sudah berada di ujung pepohonan, Puranti melihat, bahwa satu dua dari calon prajurit yang bertempur itu merasa mulai susut tenaganya. Hati mereka pun menjadi semakin kecil. Apalagi mereka yang sudah mulai tergores oleh ujung senjata.

Beberapa orang dari mereka mulai berpikir, “Apakah aku harus mati sebelum aku menjadi seorang prajurit?”

Ternyata pikiran itu telah menyusutkan gairah mereka. bertempur melawan penjahat-penjahat itu, sehingga dengan demikian justru mereka menjadi semakin terdesak.
Tetapi selain mereka yang berhati kerdil, ada juga beberapa calon prajurit yang menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri. “Ternyata mereka memang penjahat-penjahat yang buas. Mereka harus dimusnahkan,” Dan mereka yang berpendirian demikian, tidak memikirkan lagi, apakah dirinya sudah menjadi prajurit atau belum, namun sudah menjadi kewajiban setiap orang beradab untuk ikut serta melenyapkan kejahatan.

Pemimpin pasukan kecil itu pun bertempur dengan dahsyatnya pula, ternyata Hantu bertangan api yang muda pun memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan kakaknya. Hantu bertangan api itu benar-benar dapat menggetarkan hati prajurit Demak yang memimpin pasukan itu,

Tetapi Pikatan yang bukan saja mendapat pengetahuan keprajuritan, namun juga ilmu yang cukup matang, mampu bertahan dari serangan2 Hantu bertangan api yang tua. Ilmu yang dituntutnya selama beberapa tahun di padepokan terpencil itu ternyata kini besar sekali artinya baginya. Selain sebagai bekal untuk menjadi seorang prajurit, ilmu itupun mampu melindungi jiwanya dari tangan api penghuni Goa Pabelan itu.

Lambat laun namun pasti, Pikatan berhasil mendesak lawannya. Hantu bertangan api yang selama petualangannya tidak pernah terkalahkan, tiba-tiba ia mendapat lawan yang tidak diduganya. Jangankan sekelompok anak-anak seperti yang datang di mulut goanya, sedangkan beberapa orang pengawal Kademangan di sekitar goa itu pun tidak ada yang mampu menangkapnya.

Ternyata ilmu yang diterimanya dari Kiai Pucang Tunggal berhasil melampaui ketajaman ilmu Hantu penghuni Goa Pabelan itu. Ilmu yang ditekuni tanpa mengenal waktu selama beberapa tahun itu kini telah terbukti kemampuannya.

Namun dalam pada itu, tidak semua kawan2nya mampu bertahan. Tidak semua calon prajurit itu mempunyai tekad yang mantap. Ternyata ketika maut membayang, ada juga diantara mereka yang kehilangan segala macam cita-citanya yang pernah disusunnya melambung setinggi awan di langit.

Pemimpin pasukan yang bertempur melawan Hantu yang muda. itu agaknya melihat, beberapa anak buahnya mulai terdesak terus. Karena itu, maka ia pun segera berteriak, “He anak-anak. Jangan hiraukan kekasaran lawanmu. Mereka sekedar menutupi kekurangan mereka. Mereka bertempur tidak dengan kemampuan ilmu mereka, tetapi sekedar berteriak-teriak memekakkan telinga. Kalau kalian terpengaruh oleh teriakan2 kasar itu, maka kalian akan menjadi korban yang pertama-tama”

Teriakan prajurit itu ternyata telah membangkitkan gairah di hati beberapa orang yang mulai ragu-ragu. Namun demikian masih ada juga yang hatinya justru menjadi semakin kecil.
“Kalian adalah prajurit-prajurit” teriak prajurit itu selanjutnya, “setidak-tidaknya kalian harus berjiwa prajurit. Kalian menjadi harapan setiap orang untuk mendapatkan perlindungan. Kalau. kalian berhati sekecil menir, maka apakah yang dapat diharapkan dari kalian oleh rakyat yang ketakutan?”

Prajurit itu terdiam karena lawannya tiba-tiba mendesaknya. Selangkah ia, meloncat surut, namun kemudian ia segera berhasil memperbaiki kedudukannya, sehingga perkelahian itu menjadi seimbang pula.

Pikatan yang mendapat lebih banyak kesempatan dari prajurit itupun kemudian menyambung dengan suara lantang, seakan-akan menggema di daerah perbukitan itu, “Kesempatan ini adalah kesempatan yang pertama-tama, kita dapat untuk menunjukkan kesetiaan kita kepada rakyat yang telah menerima kehadiran kita diantara mereka. Kesetiaan kita kepada Demak yang besar dan kesetiaan kita kepada kasih diantara sesama. Disinilah kesempatan untuk berkorban bagi kesejahteraan rakyat, itu kita dapatkan. Karena itu, kita harus menghancurkan penjahat-penjahat di Goa Pabelan ini”

“Omong kosong, “ Hantu bertangan api yang tua itu berteriak

Pikatan tidak menghiraukannya. Tetapi ia berkata terus, “Marilah kita selamatkan rakyat kita dari kejahatan”

“Diam, diam” teriak Hantu, bertangan api itu.

“Kau takut mendengarnya?” bertanya Pikatan.

Hantu itu tidak. menjawab. Tetapi ia menyerang semakin garang.

Dalam pada itu Puranti yang masih berdiri diatas sebatang dahan di pohon benda menjadi semakin berdebar-debar. la mendengar lamat-lamat, suara Pikatan yang menggema seakan-akan menyelusur setiap lekuk perbukitan,

“Hem” ia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia semakin lama menjadi semakin cemas. Betapapun juga, namun calon-calon prajurit yang masih muda itu menjadi ragu-ragu juga untuk bertempur terus.

“Memang terlampau berat” desis Puranti.

Tiba-tiba wajahnya menegang ketika ia melihat perubahan yang terjadi di arena. Ternyata penjahat-penjahat itu tidak begitu menghiraukan lagi calon-calon prajurit yang lain, sehingga salah seorang dari mereka telah menyerahkan lawannya kepada kawannya. Meskipun kawannya, harus berkelahi melawan dua orang calon prajurit sekaligus, namun agaknya kemampuan dan kekasarannya masih dapat dibanggakan.

Ternyata orang yang jangkung dan timpang, namun dapat bergerak secepat burung sikatan itu mengambil keputusan lain. Ia tidak mau lagi berkelahi melawan calon-calon prajurit yang tidak banyak mempunyai pengaruh didalam perkelahian itu. Bahkan dengan mudahnya ia berhasil melukai seorang diantara mereka. Namun agaknya ia mempunyai perhitungan, bahwa apabila orang-orang. yang penting dari kelompok anak-anak muda yang telah berani menyerang goa mereka itu dibinasakan, maka yang lain pasti akan segera dapat mereka kuasai.

Sejenak orang yang jangkung itu memandang dua lingkaran perkelahian yang terjadi. Yang sepasang adalah Hantu bertangan api yang muda melawan seorang prajurit, sedang yang lain. Hantu yang tua melawan seorang anak muda yang perkasa.

Orang jangkung itu menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menilai perkelahian itu sejenak. Ternyata Hantu. yang muda itu masih mampu mengimbangi lawannya. Tetapi agaknya Hantu yang tua semakin lama menjadi semakin terdesak oleh lawannya.

“Setan manakah yang sudah merasuk kedalam anak muda itu” geram orang yang jangkung itu.

Perlahan-lahan ia maju mendekati perkelahian itu. Kemudian dengan lantangnya ia berteriak, “Aku akan ikut membinasakan anak itu. Barulah yang lain akan mendapat giliran”

Sebenarnyalah didalam keadaan yang wajar, Hantu bertangan api itu sama sekali tidak senang berkelahi berpasangan. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa lawannya kali ini adalah seorang anak muda yang perkasa. Itulah sebabnya maka ia tidak menolak meskipun ia tidak menjawab.

Orang jangkung itu melangkah semakin dekat. Sekali ia berpaling untuk melihat arena yang ditinggalkannya. Namun agaknya anak buahnya berhasil bertahan. Bahkan dengan kasarnya mereka sekali-sekali dapat mendesak calon-calon prajurit yang masih terlampau hijau untuk terjun didalam pertempuran yang liar serupa itu.

Orang jangkung itu tertawa. Kemudian sekali lagi ia berteriak, “Lawanmu adalah anak-anak ingusan. Hancurkan mereka, mereka tidak akan banyak memberikan perlawanan”

Tetapi diantara calon-calon prajurit itu ada juga yang berhati baja. Meskipun beberapa orang kawannya terdesak mundur, namun anak-anak muda yang sudah bertekad menyerahkan dirinya kedalam suatu pengabdian, sebagai prajurit atau bukan, sama sekali tidak gentar. Bahkan satu dua diantara mereka telah kehilangan pengamatan diri, sehingga untuk melawan orang-orang yang kasar itu, mereka pun telah menjadi, kasar pula.

Namun pengalaman yang jauh berbeda, mengakibatkan perkelahian itu kemudian menjadi berat sebelah. Calon-calon prajurit itu semakin lama benar-benar menjadi semakin terdesak. Beberapa orang telah terluka, meskipun mereka berhasil melukai lawan-lawan mereka pula.

Dengan demikian maka darah sudah mulai menitik diatas pasir tepian. Bahkan telah memerahi air yang memercik di sela-sela bebatuan.

Namun dalam pada itu, orang yang timpang itu pun menjadi semakin dekat dengan lingkaran perkelahian Pikatan. Sejenak ia memandang sikap dan tata gerak anak muda itu sambil menunggu kesempatan.

Puranti yang menyaksikan hal itu menjadi semakin cemas, la kini meragukan, apakah Pikatan dapat melawan dua orang itu sekaligus.

Dengan gelisahnya Puranti menghentak-menghentakkan kakinya pada dahan benda. Kadang-kadang ia bergeser maju sambil bergantung pada dahan diatasnya. Tetapi kemudian ia surut kembali bersandar pada batangnya.

Ia menekan dadanya dengan telapak tangannya ketika ia melihat orang yang timpang itu mulai menerjunkan dirinya melawan Pikatan. Sementara calon-calon prajurit yang lain masih juga berusaha bertempur dengan sekuat tenaga. Orang-orang yang mulai berkeriput tidak juga sempat meninggalkan arena itu, karena lawan mereka tidak memberi kesempatan. Karena itu, mau tidak mau mereka harus bertempur terus.

Beberapa orang diantara mereka yang berhati jantan, berusaha untuk menolong kawan-kawan mereka yang terdesak. Karena jumlah yang lebih banyak, maka beberapa orang dapat berloncatan membantu kawan-kawan mereka yang hampir kehilangan kesempatan mempertahankan dirinya.

Tetapi yang lebih mendebarkan jantung adalah perkelahian antara Pikatan melawan dua orang lawannya. Dua orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Tetapi Pikatan sama sekali tidak gentar. Dengan segenap kemampuan yang ada ia melawan dengan gigihnya. Senjatanya berputaran seperti baling-baling. Sedang kakinya dengan lincahnya melontarkan tubuhnya seperti memercik tanpa bobot.

Meskipun demikian, kemampuan Pikatan ternyata juga terbatas. Betapapun juga ia sempat melawan dan mengimbangi kecepatan ujung senjata lawan-lawannya, tetapi ia tidak dapat melawan kelelahan yang mulai merayapi otot-ototnya setelah ia memaksa diri mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya melampaui kewajaran tata gerak yang dapat dilakukan, karena ia menghadapi dua orang, lawan yang tangguh. Itulah sebabnya, maka lambat laun, Pikatan mulai terdesak.

Puranti yang bertengger diatas pohon itu pun menjadi terlampau gelisah. Kini seolah-olah ia berdiri di persimpangan jalan. Apakah ia akan membiarkan saja Pikatan menjadi korban penjahat Goa Pabelan, dan sudah pasti kemudian akan menyusul calon-calon prajurit yang lain? Tanpa Pikatan, maka Hantu bertangan api itu akan dapat membunuh calon-calon prajurit yang lain seperti menebas batang ilalang. Bersama dengan orang yang timpang itu, mereka sama sekali tidak akan menemui kesulitan apapun. Dalam sekejap maka calon-calon prajurit itu pasti akan menjadi, mayat disamping mayat Pikatan. Juga prajurit yang memimpin pasukan kecil itupun tidak akan dapat melepaskan dirinya. Ia tidak akan dapat memberikan laporan lagi kepada pimpinannya, tentang tugas yang kini dibebankan kepadanya itu.

Tetapi apabila ia ikut serta didalam perkelahian itu, apakah Pikatan tidak tersinggung karenanya. Pikatan tidak memberinya ijin untuk ikut. Ke Goa Pabelan meskipun hanya menonton dari kejauhan. Apalagi Pikatan adalah seorang yang berhati sekeras batu padas. Apa yang dikehendaki, akan dipertahankannya sampai kesempatan yang paling akhir. Kehadirannya di pertempuran itu pasti akan dianggap sebagai suatu pelanggaran atas kehendaknya.

Puranti menjadi ragu-ragu didalam kegelisahan yang semakin memuncak.

Tiba-tiba Puranti terpekik kecil. Namun tangannya segera menutup mulutnya. Tetapi biji matanya seakan-akan telah meloncat dari pelupuknya ketika ia melihat ujung senjata lawan. yang terjulur lurus menyentuh pundak kanannya. Senjata yang berada ditangan kiri Hantu bertangan api itu. Ternyata bukan saja tangan kanannya yang dapat menyengat lawannya sepanas bara api, tetapi tangan kirinya mampu menggerakkan senjatanya secepat ujung-ujung jari tangan kanannya.

Pikatan terlempar beberapa langkah surut sambil berusaha untuk mengambil jarak. Sejenak ia terhuyung-huyung, namun kemudian ia berhasil tegak kembali dengan mantap. Senjatanya yang menyilang didepan dadanya masih bersih, sebersih ketika senjata itu disarungkan disaat ia berangkat dari Demak.

“Aku harus membunuhmu” ia menggeram.

Tetapi orang yang jangkung itu tertawa melengking, “Lihat Tangan Api telah melukaimu. Agaknya kau adalah orang yang pertama kali dilukainya dengan senjata, karena kau adalah anak muda yang luar biasa. Lawan-lawannya yang terdahulu pasti berhasil dibinasakan dengan tangannya, dengan jari-jarinya. Tetapi kau tidak. Dan kau akan binasa dengan senjatanya”

“Marilah, marilah” desis Pikatan. Matanya menjadi merah oleh kemarahan yang memuncak.

Kini mereka tidak lagi menghiraukan, apakah penghuni Goa Pabelan itu bertangan api atau bertangan embun. Tetapi mereka telah bertempur dengan senjata. Ternyata ujung senjata yang tajam itu masih lebih berbahaya dari jari-jari. Hantu bertangan api itu.

Namun melawan dua orang, Pikatan benar-benar kehilangan kesempatan. Apalagi pundaknya telah terluka, dan luka itu bukan luka sekedar pada kulitnya.

Tangan kanannya serasa menjadi semakin lemah karenanya, dan bahkan kemudian seolah-olah menjadi lumpuh. Karena itu, maka Pikatan telah memindahkan senjatanya di tangan kiri.

Tetapi Pikatan bukan seorang yang kidal, sehingga bagaimanapun juga ia berlatih menggerakkan senjata dengan kedua tangannya, namun tangan kanannya lah yang lebih tangkas dari tangan kirinya.

Dan kini, ia harus melawan dua orang yang berilmu tinggi itu dengan tangan kirinya, setelah tangan kanannya mengalami luka.

Dengan demikian, maka Pikatan menjadi semakin terdesak karenanya. Ia merasa benar-benar didalam kesulitan. Tangan kirinya ternyata tidak setangkas tangan kanan, apalagi lukanya semakin lama terasa semakin pedih. Darah yang mengalir semakin banyak. Pikatan pun menjadi semakin lemah karenanya.

Dalam pada itu, calon-calon prajurit yang bertempur dengan anak buah Hantu bertangan api itu pun menjadi semakin lemah pula. Apalagi apabila mereka melihat, bahwa Pikatan juga sudah terluka. Harapan mereka kemudian hanyalah pada prajurit yang memimpin pasukan kecil itu. Tetapi sesudah Pikatan, maka prajurit itupun akan dibinasakan juga. Kemudian satu demi. satu, yang lain akan segera mengalami pembantaian pula.

Kenyataan itu semakin jelas. Para calon prajurit itu menjadi semakin terdesak. Setiap kali terdengar desah tertahan karena ujung senjata yang menyentuh tubuh mereka, meskipun satu dua diantara mereka berhasil pula melukai lawannya.

Akhirnya sampailah pada batas kemungkinan untuk tetap bertahan. Juga Pikatan yang menjadi semakin lemah, tidak lagi dapat menghindarkan diri dari kemungkinan terburuk yang dapat terjadi atasnya. Meskipun ia tidak menyesal karena ujung senjata lawannya yang akan menembus kulitnya namun ia merasa kecewa, bahwa ia tidak dapat mengemban tugas yang dibebankan kepada pasukan keeil ini. Dengan demikian maka penjahat di Goa Pabelan akan merasa dirinya semakin kuat. Mereka tidak begitu bodoh untuk menunggu, pasukan berikutnya yang pasti akan dipersiapkan dengan lebih baik lagi. Mungkin duapuluh orang prajurit pilihan yang untuk sementara ditarik dari medan di daerah Timur. Dengan demikian mereka pasti akan mencari tempat yang baru sebagai sarang. Dan mereka pasti akan menumbuhkan ketakutan dan kecemasan pula dilingkungan yang baru itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara Hantu bertangan api yang tua, “Dugaanmu salah anak muda. Aku tetap akan membunuhmu dengan tanganku. Tidak dengan senjataku. Kawan-kawanmu akan melihat bekas jari-jariku yang membakar nadi di lehermu.

Pikatan tidak menyahut. Ia sudah menyerahkan semuanya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Meskipun ia masih tetap berusaha melawan, namun ia sadar, bahwa apa yang terjadi bukanlah ditentukan oleh rencana manusia. Manusia hanya berusaha sejauh dapat dilakukan, namun keputusan yang terakhir dari setiap peristiwa adalah ditangan Kekuasaan Yang Tertinggi.

Demikianlah ketika saat-saat yang mendebarkan itu berlangsung, disaat-saat para calon prajurit itu kehilangan setiap harapan untuk dapat mempertahankan diri, tiba-tiba dari atas tanggul sungai mereka melihat sebuah bayangan yang melayang seperti seekor burung seriti. Begitu kakinya menjejak diatas sebuah batu yang besar, maka tiba-tiba saja ujung pedangnya sudah menyentuh pundak seorang anak buah Hantu bertangan api. Namun belum lagi yang lain menyadari keadaan itu, sekali lagi bayangan itu meloncat dan seorang lagi dari penghuni Goa Pabelan itu memekik kesakitan. Sambaran ujung pedang telah menyobek pundaknya.

Semua perhatian tiba-tiba telah dirampas oleh bayangan yang bagaikan terbang mengitari daerah pertempuran itu. Pada saat Pikatan terdorong jatuh dan tidak berdaya lagi melawan, ia melihat bayangan itu sudah berdiri disampingnya.

“Puranti” desis Pikatan.

Puranti memandanginya sejenak. Lalu berkata hampir berbisik, “Maaf kakang Pikatan. Aku berada di tempat ini juga. Tetapi biarlah aku memberikan alasanku nanti”

“Tetapi, apakah kau sadar, bahwa kau berhadapan dengan Hantu bertangan api?”

Puranti menganggukkan kepalanya.

Pikatan yang sudah terlampau lemah itu mencoba berdiri. Dipandanginya Puranti sejenak, kemudian lawan-lawannya. Pertempuran di lembah sungai itu seakan-akan terhenti sejenak. Pemimpin pasukan calon prajurit itupun menjadi heran. Meskipun berpakaian laki-laki tetapi mereka melihat dengan jelas, bahwa yang berdiri di samping Pikatan, menghadap Hantu bertangan api beserta seorang kawannya itu adalah seorang gadis.

“Tidak ada waktu untuk menonton aku” berkata Puranti, “kalian berdiri di peperangan. Betapapun kecilnya, yang terjadi adalah peperangan antara kebenaran dan kejahatan.
Marilah kita selesaikan perang ini dengan segenap kemampuan yang ada pada kita.”

Kata-kata Puranti yang melengking tinggi itu ternyata telah membuat setiap hati. Calon-calon prajurit yang kelelahan itu pun memegang senjata mereka semakin mantap. Lawan mereka telah berkurang. Setidak-tidaknya dua orang yang terluka itu tidak akan dapat berkelahi sepenuhnya.

“Puranti” Pikatan berdiri terlatih-tatih, “aku sudah terluka parah. Aku tidak lagi dapat, bertahan. Kenapa kau memberanikan diri berdiri di arena ini? Apa kau sangka aku akan dapat bertempur bersamamu atau melindungimu?”

“Aku harap kita dapat bertempur berpasangan. Tidak adil, bahwa kau harus melawan dua orang sekaligus”

Ternyata Hantu bertangan api sudah dapat menguasai perasaan herannya. Terdengar suaranya yang besar, “Apakah masih ada perhitungan keadilan didalam pertempuran semacam ini? Apakah kawan-kawanmu juga berbuat demikian?”

Tetapi sebelum Puranti menjawab, Pikatan berkata, “Puranti selagi masih ada sisa tenagaku, pergilah. Aku akan melawan keduanya sampai akhir hayatku. Sampaikan baktiku kepada Kiai Pucang Tunggal di Gajah Mungkur”

“Aku disini kakang Pikatan” jawab Puranti, “kita tidak mendapat kesempatan berdebat. Marilah kita teruskan”

“Puranti, dengar kata-kataku” Pikatan membentak, “pergi. Tinggalkan tempat ini”

Tetapi terdengar suara tertawa. Suara orang yang timpang, “Kau sangka begitu mudah untuk meninggalkan tempat ini? Kau seorang perempuan. Bagus sekali, karena didalam goa kami tidak ada seorang perempuan”

“Setan” geram Pikatan, dan sekali lagi ia membentak, “Puranti, pergi”

“Jangan” sahut orang yang timpang itu, “kau sudah datang kemari. Jangan hiraukan anak, yang akan mati itu. Eh, apakah kau isterinya?”

“Tutup mulutmu” bentak Pikatan.

“Marilah kita lihat” berkata Puranti, “apakah kau dapat memaksaku tinggal didalam goamu? Tidak seorang pun yang dapat mengatur aku sekarang. Aku datang atas kehendakku sendiri. Aku hanya dapat pergi apabila aku kehendaki. Apabila aku berkehendak untuk pergi, tidak ada seorang pun yang akan menghalangi aku”

Kata-kata itu benar-benar mendebarkan setiap jantung. Bukan saja orang yang timpang itu, tetapi Hantu bertangan api tua dan muda, bahkan Pikatan sendiri.

Dalam pada itu, prajurit yang memimpin pasukan kecil itu pun berkata, “Sebaiknya kau pergi. Kami adalah orang-orang yang memang sudah menyerahkan diri pada tugas ini”

“Sudah aku katakan, aku hanya akan pergi apabila aku menghendakinya. Tugas kita disini tidak berbeda. Kami bersama-sama ingin menghancurkan penjahat yang bersarang di Goa Pabelan ini. Aku pun berhak berbuat demikian, siapapun aku dan siapapun kalian.

“Piranti, pergilah selagi bisa”

“Beristirahatlah kakang Pikatan. Darahmu terlampau banyak mengalir”

“Tetapi, apakah yang akan kau lakukan?”

“Akulah yang akan melawan kedua orang ini”

“Puranti, apakah kau bermimpi. Kau masih terlampau kanak-kanak. sehingga kau tidak mengenal bahaya yang dapat terjadi atasmu disini”

Tetapi Puranti tidak menghiraukan lagi. Ia maju selangkah sambil menjulurkan pedangnya. Katanya, “Jangan mimpi. Ayo, kita mulai lagi, tiba-tiba Puranti berkata lantang, “Marilah. Kesempatan yang begini baik, belum tentu akan terulang lagi. Kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan kita kepada sesama, dan tanah pepunden ini”

Kata-katanya bagaikan sentuhan bara yang menyalakan api di setiap dada. Api yang sudah hampir padam sama sekali. Apalagi ketika Puranti berkata, “Kita akan mendapat perlindungan-Nya, karena kita berada di pihak yang benar”

Tanpa menunggu jawaban,. Puranti mulai menggerakkan pedangnya. Ia belum mulai menyerang, tetapi seakan-akan ia sedang menggelitik lawannya dengan ujung pedangnya.
Sikapnya benar-benar telah menggetarkan hati lawan-lawan Pikatan. Kedua orang itu berdiri termangu-mangu. Namun kemudian mereka merasa juga terhina. Pikatan, seorang anak muda yang perkasa itu telah dapat dilumpuhkan. Kini mereka berhadapan dengan seorang perempuan yang berpakaian, seperti laki-laki.

“Aku masih akan memberimu keringanan dan kesempatan” Hantu bertangan api itu berkata. Kawannya yang timpang menyambungnya, “Kau akan mendapat tempat didalam goa itu”

“Gila” Pikatan menggeram, “kau membuat hatiku semakin parah Puranti. Lebih parah dari lukaku”

Dada Puranti berdesir. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan Pikatan mati di peperangan itu. Karena itu, ia mencoba untuk tidak menghiraukannya lagi.

Sejenak kemudian, sekali lagi Puranti melangkah maju sambil menggerakkan pedangnya. Ketika orang yang timpang itu mulai membuka mulutnya sekali lagi, tiba-tiba saja Puranti meloncat dengan cepatnya. Hampir saja ujung pedangnya menyentuh bibir orang yang timpang itu. Untunglah ia masih sempat mengelak.

Sekali lagi. Kini Puranti lah yang menggantikan kedudukan Pikatan, Ia bertempur melawan dua orang yang telah berhasil mengalahkan Pikatan itu.

Prajurit yang memimpin pasukan kecil calon-calon prajurit itu menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika pertempuran sudah menyala kembali, maka ia pun berkata didalam hatinya, “Aku tidak mengundangnya. Tidak melibatkannya pula. Ia datang atas kemauannya sendiri, dan aku serta Pikatan sudah mencoba untuk mencegahnya”

Pikatan yang terluka menjadi termangu-mangu pula. Sejenak ia berniat untuk melindungi Puranti yang dianggapnya belum mengetahui benar-benar bahaya yang dapat mengancam jiwanya.

Namun kemudian anak muda itu telah terpukau melihat tata gerak Puranti. Gadis itu mampu bergerak secepat burung sriti di udara, seperti burung sikatan di rerumputan. Cepat, tangkas dan trengginas.

“Bagaimana mungkin Puranti dapat bertempur seperti itu” bertanya Pikatan didalam hatinya. Ia adalah murid Kiai Pucang Tunggal yang sudah beberapa tahun berada di padepokan Gajah Mungkur. Ia sudah mengenal Puranti sejak beberapa tahun itu. Namun ternyata pengenalannya sama sekali tidak lengkap. Ia tidak mengetahui, bahwa Puranti memiliki kemampuan yang mendebarkan jantung.

Sambil bersandar batu padas Pikatan menyaksikan bagaimana Puranti melawan kedua orang yang berilmu tinggi itu. Hampir tidak masuk akal, bahwa Puranti berhasil menguasai mereka meskipun Pikatan menganggap, bahwa kedua lawannya masih dipengaruhi oleh keragu-raguan dan keseganan.

Tetapi yang ternyata kemudian, harus diakui oleh Pikatan. Puranti sebagai seorang gadis, secara alamiah, tidak mempunyai kekuatan sebesar seorang laki-laki. Namun dengan latihan-latihan yang tekun, Puranti dapat mengisi kekurangannya itu dengan kecepatan bergerak dan kemampuan memanfaatkan arah gerak. Dorongan kekuatan lawan dan ayunan senjata mereka sendiri, kadang-kadang telah mendorong mereka kedalam suatu kesulitan. Penguasaan tenaga cadangan yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang dapat dilakukannya dengan hampir sempurna, sehingga seakan-akan kekuatan Puranti menjadi berlipat ganda karenanya.

Di bagian lain, calon-calon prajurit itupun seakan-akan telah dijalari oleh kekuatan baru. Apalagi lawan mereka sudah berkurang. Perlawanan dua orang yang dilukai oleh Puranti itu hampir tidak berarti lagi.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu menjadi berubah, meskipun lambat laun. Namun demikian, seorang calon prajurit yang terluka, tidak lagi dapat bertahan karena darah yang terlampau banyak mengalir. Perlahan-lahan ia. terjatuh diatas pasir.

Tetapi lawannya tidak sempat membunuhnya, karena tiba-tiba kawannya telah melindunginya. Meskipun orang yang melindungi itu pun sudah terluka, tetapi ia masih dapat bertempur dengan mantap.

Sebuah pekik kesakitan telah melengking diantara dentang senjata ketika seorang anak buah Hantu bertangan api itu jatuh di tanah. Ternyata sepucuk pedang telah menghunjam ke dadanya langsung menyentuh jantung.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin seru, meskipun masing-masing pihak seakan-akan telah menjadi susut kekuatannya. Namun kemudian datanglah saat-saat yang menentukan. Saat-saat mereka roboh karena kehabisan tenaga, namun juga karena senjata lawannya langsung menembus bagian-bagian tubuh yang menentukan.

Pemimpin pasukan calon prajurit itu masih juga diselubungi oleh kecemasan. Ia melihat satu-satu anak buahnya jatuh terkulai diatas, pasir, meskipun demikian juga lawan-lawan mereka. Namun dengan demikian ternyata, bahwa tugas ini adalah tugas yang terlampau berat bagi calon prajurit yang sedang melakukan pendadaran. Sekilas prajurit itu sempat memandang Pikatan. Agaknya anak muda itu tidak lagi kuat berdiri bersandar batu padas. Oleh darahnya yang mengalir dari lukanya, maka tubuhnya menjadi semakin lemah, sehingga akhirnya Pikatan itu jatuh tertunduk. Meskipun demikian, ia masih tetap mengikuti perkelahian antara Puranti melawan dua orang pemimpin penjahat yang bersarang di Goa Pabelan.

Pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang sangat dahsyat. Hampir semua orang di kedua belah pihak telah tidak berdaya lagi. Kalau masih ada satu dua yang berkelahi, maka tenaga mereka pun sudah tidak memadai. Kadang-kadang mereka terseret jatuh oleh ayunan senjata sendiri. Tetapi lawannya pun tidak segera dapat membunuhnya, karena kakinya seakan-akan terhunjam ke dalam pasir tepian.

Matahari di langit serasa membakar perbukitan yang tandus itu. Pasir-pasir tepian dan batu-batu menjadi panas membara, Sepanas hati mereka yang sedang menyabung nyawa di arena.

Prajurit yang memimpin pasukan kecil dari Demak, masih bertempur terus melawan Hantu Pabelan yang muda, sedang Puranti melawan dua orang pemimpin yang lain.

Namun demikian, meskipun Puranti harus melawan dua orang yang berilmu tinggi, ternyata ia tidak dapat segera dikuasai. Bahkan kelincahan dan kecepatannya bergerak kadang-kadang membuat kedua lawannya menjadi bingung.

“Setan betina” geram Hantu bertangan api yang tua siapakah yang telah mengajari kau berkelahi begitu dahsyatnya?”

Puranti tidak menjawab. Dengan pedangnya ia menyerang kedua lawannya berganti-ganti. Begitu cepatnya, sehingga kadang-kadang mereka tidak sempat memperhitungkan arah geraknya.

Pikatan melihat Puranti seperti didalam mimpi. Hampir-hampir ia tidak percaya pada penglihatannya. Namun apabila perasaan pedih menyengat lukanya, sadarlah ia bahwa sebenarnya hal itu memang terjadi. Puranti memang sedang berkelahi melawan dua orang pemimpin penjahat yang berada di Goa Pabelan.

Hampir tidak masuk akal, bahwa lambat laun justru Puranti-lah yang mampu mendesak lawannya. Orang yang tinggi jangkung dan timpang itu sama sekali tidak berdaya menghadapi putaran senjata Puranti. Ia hanya dapat bertahan dan membantu Hantu tua apabila ia terdesak. Kemudian meloncat menjauh menghindarkan diri dari serangan-serangannya yang bernafas maut.

Namun ternyata keseluruhan dari pertempuran itu telah membuat Puranti seakan-akan kehilangan kendali. Darah yang memerah di pasir tepian sungai kecil yang curam itu, membuat kemarahannya-pun menyala didalam dadanya. Ia melihat sendiri, betapa orang-orang yang tinggal di Goa Pabelan itu merupakan orang-orang yang ganas dan terlampau buas. Karena itu, selagi ia berada di goa itu, selagi ia tidak harus berkelahi sendiri, maka ia merasa wajib untuk menghentikan segala keganasannya.

Karena itulah maka Puranti telah melupakan dorongan apakah yang sebenarnya telah membawanya ke tempat itu. Ia tidak lagi sempat mempertimbangkan bahwa sebenarnya ia hanya sekedar ingin menyaksikan pendadaran calon-calon prajurit Demak. Tetapi gadis itu merasa bahwa kini datanglah saat baginya untuk melakukannya. Menumpas penjahat-penjahat di Goa Pabelan.

Karena itulah maka Puranti-pun Kemudian mengerahkan segenap ilmu yang pernah dipelajarinya dari ayah dan sekaligus gurunya. Kekuatan-kekuatan yang didalam kehidupannya sehari-hari merupakan kekuatan yang tersembunyi, telah dibangunkannya dan disalurkannya pada tangannya yang menggenggam senjata. Puranti sadar, bahwa senjatanya adalah senjata yang dapat dibanggakan, yang tidak akan mudah patah karena keseimbangan kekuatan yang melampaui kekuatan pedangnya.

Dengan demikian, maka perkelahian itupun segera mencapai puncaknya. Baik Puranti maupun kedua lawannya tidak lagi sempat menghiraukan apapun juga. Mereka tidak lagi dapat melihat bagaimana nasib anak buah penghuni Goa Pabelan, tetapi juga tidak lagi sempat mengetahui, bagaimanakah keadaan para calon prajurit Demak itu.

Namun dengan demikian, maka kedua lawan Puranti sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi untuk membela diri. Apalagi orang yang timpang itu, Setiap kali ia hanya dapat meloncat menghindar dan mencoba menangkis setiap serangan.

Tetapi serangan Puranti menjadi semakin cepat. Tidak saja seperti burung sikatan menyambar bilalang, tetapi benar-benar seperti loncatan tatit di udara. Sebelum lawannya menyadari apa yang dilakukan. ujung pedang Puranti telah menyentuh dadanya.
Demikianlah, orang yang jangkung dan timpang. itu akhirnya tidak lagi mampu mengimbangi kecepatan bergerak tangan Puranti. Ketika serangan Puranti menyentuh dadanya, ia terdorong surut.

Terdengar ia memekik tertahan. Namun orang itu tidak sempat menyelesaikan keluhannya, karena tikaman Puranti berikutnya tepat mengenai jantungnya.

Ketika Puranti menarik ujung pedangnya yang merah karena darah, orang itupun terjatuh di tanah tanpa dapat bangkit lagi untuk selama-lamanya.

Hantu bertangan api yang tua melihat hal itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa akan datang lawan yang begitu garangnya. Apalagi seorang perempuan.

Di pinggir arena perkelahian itu, Pikatan menahan nafasnya, Hatinya pun menjadi berdebar-debar. Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Luar biasa. Ternyata bahwa Kiai Pucang Tunggal masih juga condong untuk memberikan ilmunya kepada anaknya. Tidak kepada muridnya”

Tetapi hatinya sendiri membantah, “Itu adalah wajar sekali. Puranti sudah ada di perguruan itu sejak anak-anak. Sejak ia berlatih berdiri dan melangkah. Sejak itulah ayahnya pasti sudah mengakrabkan setiap gerak anak itu. Dan sekarang ternyata Puranti adalah seorang gadis yang aneh, yang justru menjadi seorang gadis yang tidak sewajarnya. Tidak seperti gadis-gadis yang lain”

Namun lebih daripada itu, Pikatan merasa malu kepada dirinya sendiri, bahwa selama ini ia selalu merasa melindungi gadis itu. Tetapi ternyata, didalam keadaan yang gawat itu, Puranti lah yang telah menyelamatkannya.

Pikatan merasa berterima kasih kepada gadis itu, yang seakan-akan telah menyelamatkan nyawanya. Ternyata Tuhan masih mengijinkannya untuk hidup lebih lama lagi.

Tetapi disamping perasaan terima kasihnya itu, menyelinap pula perasaan lain yang mengganggunya. Harga dirinya sebagai laki-laki telah diguncangkan oleh peristiwa ini. Adalah memalukan sekali apabila setiap kali ia akan mengatakan kepada diri sendiri, bahwa tanpa Puranti, nyawanya sudah tidak akan tertolong lagi.

Tiba-tiba Pikatan menggeram. Sejenak ia masih melihat Puranti mendesak lawannya yang tinggal seorang itu dengan dahsyatnya.

Dibagian perkelahian yang lain, prajurit yang memimpin pasukan kecil itu masih bertempur dengan gigihnya. Seolah-olah kedua-duanya memiliki ilmu yang seimbang, sehingga perkelahian yang dahsyat itu masih akan berlangsung lama. Keduanya telah mengerahkan segenap ilmu yang ada pada diri masing-masing. Desak mendesak, dan udara maut berputaran diantara mereka, seolah-olah sedang memilih, dimanakah ia akan hinggap.

Tetapi bagi Hantu yang tua, nasibnya seakan-akan memang sudah ditentukan. Puranti berhasil mendesaknya dengan dahsyat sekali. Bahkan meskipun Hantu yang tua itu mengerahkan segala macam ilmu yang diagungkannya selama ini.

Ia hanya dapat memperpanjang perlawanannya. Tetapi ia tidak lagi dapat menghindarkan diri dari cengkeraman maut, Gadis dari padepokan Gajah Mungkur itu seakan-akan tidak memberinya kesempatan lagi. Sambaran pedangnya yang mendatar, pada suatu saat telah menyobek dada Hantu yang selama ini tidak terkalahkan itu. Yang selama petualangannya telah menggetarkan bukan saja daerah di sebelah Timur Gunung Merapi, tetapi juga sampai ke pesisir Kidul dan kaki Gunung Lawu.

Darah yang memancar dari luka itu telah mengejutkannya. Hantu itu hampir tidak percaya bahwa perempuan itu benar-benar telah melukainya. Benar-benar telah berhasil menumpah-kan darahnya keatas pasir didepan mulut Goa Pabelan ini.

Namun justru karena ia termangu-mangu itulah, maka sekali lagi Puranti berhasil menghunjamkan ujung pedangnya langsung membelah jantungnya.

Hantu bertangan api itupun kemudian menggeliat dan ketika Puranti menarik pedangnya, ia pun jatuh menelungkup.

Dada Puranti bergetar menyaksikan hasil dari perlawanannya Sekali ia berpaling melihat orang jangkung yang timpang, dan kemudian dipandanginya lagi Hantu bertangan api yang sudah tidak bernafas lagi itu.

Tiba-tiba saja terasa sesuatu menggelegak didadanya. Seolah ia berteriak kepada dirinya sendiri, “Aku sudah membunuh. Aku sudah membunuh”

Puranti menjadi gemetar. Tertatih-tatih ia berjalan menepi. Seakan-akan ia tidak lagi mampu menahan tubuhnya lagi. Setelah ia memeras segenap tenaganya, melawan dua orang penjahat yang memiliki ilmu yang cukup tangguh, diguncang pula oleh kenyataan bahwa ia telah membunuh sesama, maka Puranti seakan-akan telah terlempar kedalam suatu keadaan yang sangat asing. Asing dan mengerikan sekali.

Ketika matanya menjadi berkunang-kunang, maka Puranti pun menyandarkan dirinya pada batu-batu padas. Sekilas ia melihat pedangnya yang kemerah-merahan oleh darah. Sambil memalingkan wajahnya, gadis itu masih berusaha menghunjamkan daun pedangnya itu kedalam pasir. Berulang-ulang. Ia mengharap, agar darah yang masih membasah itu akan terhapus.

Ternyata usahanya itu berhasil. Meskipun tidak sebersih seperti pada saat pedang itu belum menyentuh tubuh lawannya, namun daun pedangnya itu sudah tidak dilumuri lagi oleh darah yang merah membara

Karena keadaannya itulah, maka Puranti tidak sempat melihat apa yang terjadi dengan Hantu yang muda. Ternyata Hantu yang muda itu sempat melihat, bahwa kawan-kawannya sudah tidak berdaya lagi. Apalagi setelah kakaknya jatuh menelungkup, dan tidak bangkit lagi untuk seterusnya.

Maka Hantu yang muda itu pun tidak mempunyai harapan lagi. Meskipun lawannya masih belum berhasil mengalahkannya, bahkan senjata prajurit itu sama sekali belum menyentuhnya, tetapi ia harus menyadari keadaannya.

Hantu yang muda itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali berusaha menghindari perkelahian itu. Karena itu, ketika terbuka kesempatan, maka iapun segera meloncat surut. Kemudian dengan sisa tenaganya ia berlari meninggalkan arena. Prajurit itu masih berusaha mengejarnya sejenak. Tetap kemudian ia pun merasa bahwa tenaganya tidak akan cukup kuat lagi untuk berlari-larian diatas pasir dan bebatuan. Apalagi ketika ia sadar bahwa tidak ada seorang pun lagi yang dapat membantunya, Perempuan yang berhasil membunuh kedua lawannya, agaknya telah kehabisan tenaga. Tetapi bukan itu saja, goncangan perasaannya-lah yang telah membuatnya berdiri membeku bersandar batu padas.

Sejenak kemudian prajurit itu berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tetap sadar, apa yang sedang dihadapinya. Anak buahnya yang hampir semuanya terkapar tidak berdaya. Bahkan. mungkin satu dua diantara mereka sudah tidak bernyawa lagi. Namun ternyata pula anak buah Hantu bertangan api pun telah terbaring silang melintang Mungkin ada juga satu dua yang sudah terbunuh. Tetapi ada pula diantara mereka yang melarikan diri disaat-saat terakhir.

Prajurit itu masih melihat dua tiga anak buahnya yang masih mampu berdiri dan berjalan tertatih-tatih mendekatinya.

“Bagaimana dengan luka-luka kalian?” prajurit itu bertanya. Calon-calon prajurit itu menyeringai menahan sakit. Mereka pun kemudian duduk berserakan bersandar bebatuan di pinggir kali yang hanya mengalirkan airnya tidak lebih dalam dari mata kaki, tetapi yang dipagari oleh jurang yang sangat dalam.

Pemimpin pasukan itu menarik nafas dalam-dalam. Disana-sini beberapa sosok mayat tergolek diatas pasir. Diantaranya adalah calon-calon prajurit yang gagal dalam pendadaran itu. Bukan saja gagal melakukan tugas yang dibebankan kepadanya, tetapi gagal mempertahankan hidupnya.

“Bagaimanapun juga mereka adalah pahlawan-pahlawan” desis prajurit itu, “mereka telah berjuang untuk menegakkan ketenteraman dan kedamaian hati rakyat”

Tiba-tiba prajurit itu tersentak. Diantara mereka terdapat seorang perempuan yang dengan suka rela telah ikut serta di dalam perjuangan yang berat ini. Yang tidak kalah beratnya dari berperang di medan sepanjang pesisir, atau melawan musuh yang datang dari lautan sekalipun, musuh orang-orang asing yang agaknya mulai mengarahkan pamrih mereka pada kesuburan tanah ini.

“Bagaimana dengan kau?” bertanya prajurit itu.

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dengan nanar ia memandang keadaan sekelilingnya. Agaknya ada sesuatu yang dicarinya.

“Apakah kau melihat Pikatan?” Puranti bertanya. Prajurit itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Bukankah ia tadi berada disini?”

“Ya. Tetapi aku tidak melihatnya”

Prajurit itu menjadi berdebar-debar. Dipandanginya sebuah lekuk batu padas beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Disanalah Pikatan terduduk menyaksikan perkelahian yang masih berkobar.

“Ia duduk disana” desis Prajurit itu.

“Tetapi ia tidak ada. ditempatnya”

Wajah prajurit itupun menegang. Katanya, “Aku akan mencarinya”

“Jangan” cegah Puranti, “kau masih harus mengurus anak buahmu. Hampir semuanya terluka parah. Kau harus berbuat sesuatu atas mereka. Biarlah aku mencari Pikatan”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun Puranti telah mendesaknya, “Serahkan kakang Pikatan kepadaku”

“Siapakah kau sebenarnya? Agaknya kau sudah mengenal Pikatan dengan baik.”

“Aku saudaranya. Adik angkatnya”

“O” prajurit itu mengangguk-angguk, “tetapi ternyata kau mempunyai kemampuan melampaui Pikatan. Apalagi kau seorang perempuan.”

“Hanya suatu kebetulan” jawab Puranti, lalu, “silahkanlah. Anak buahmu memerlukanmu”

Prajurit itu mengangguk, “Baiklah. Dan kau?”

“Aku akan mencari kakang Pikatan”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandangi-nya saja Puranti yang kemudian tertatih-tatih melangkahkan kakinya, mencari Pikatan.

Prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya didalam hati, “Seorang perempuan yang aneh. Cantik, tetapi tandangnya seperti seekor macan betina”

Puranti pun kemudian mendekati batu padas, tempat Pikatan menyandarkan diri. Dilihatnya setitik darah membasahi bebatuan dan pasir yang putih.

“Agaknya dengan sengaja ia meninggalkan tempat ini” berkata Puranti didalam hatinya. Tetapi ia mendapat beberapa petunjuk. Selain jejak kakinya, juga titik-titik darah yang berceceran telah membawanya mengikuti arah Pikatan yang dengan diam-diam meninggalkan gelanggang.

“Kemanakah orang ini pergi?” Puranti bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Puranti tidak perlu menelusurinya terlampau jauh. Beberapa puluh langkah disebelah kelokan sungai, dilihatnya sesosok Tubuh yang terbaring diatas pasir. Namun dadanya menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya seseorang sedang berjongkok merenungi tubuh itu dengan saksama.

Perlahan-lahan Puranti mendekatinya. Semakin lama debar jantungnya menjadi semakin cepat. Kemudian terdengarlah orang yang merenungi tubuh yang terbaring itu berkata, “Kemarilah Puranti”

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Baiklah ayah. Tetapi kenapa ayah berada di tempat ini pula?”

Orang itu adalah Kiai Pucang Tunggal. Perlahan-lahan ia berpaling. Dilihatnya puterinya berjalan tertatih-tatih mendekatinya. .

“Kau lelah sekali. Tetapi goncangan perasaanmu lah yang paling dalam menusuk jantungmu, sehingga tampaknya kau seperti seorang yang tidak mempunyai sisa-sisa tenaga sama sekali”

Puranti mengangguk, “Ya ayah”

“Pikatan lah yang benar-benar terluka parah di pundaknya.” Puranti tidak menyahut. Ia sudah berjongkok pula disamping ayahnya.

“Apakah ayah menyaksikan seluruh pertempuran itu?” ia justru bertanya

Ayahnya mengangguk.

“Melihat kakang Pikatan terluka?” .

Sekali lagi orang tua itu mengangguk, “Aku datang tepat pada waktunya”

“Apakah ada sesuatu yang memaksa ayah datang kemari?”

“Sepeninggalmu, aku menjadi gelisah” jawab ayahnya, “apalagi ketika aku mendengar bahwa pasukan kecil itu benar-benar sudah berangkat dari Demak. Aku menjadi cemas, kalau-kalau guru orang yang disebut bernama Hantu bertangan api itu ada disini. Itulah sebabnya aku segera menyusulmu. Tetapi aku datang tepat disaat yang gawat. Disaat kau mengambil keputusan untuk ikut serta menerjunkan diri kedalam pertempuran itu”

“Dan ayah membiarkan semuanya itu terjadi? Calon-calon prajurit yang menjadi korban dan bahkan kakang Pikatan?”

“Sudah aku katakan. Aku datang pada saat kau mulai menerjunkan dirimu.” jawab ayahnya

“Karena itu aku mengambil keputusan untuk memberimu kesempatan. Ternyata kau berhasil”

“Tetapi calon-calon prajurit itu?”

“Aku pun hampir saja mencoba melindungi mereka. Tetapi pada saat kau berhasil membunuh seorang dari kedua lawanmu, tiba-tiba aku melihat Pikatan mulai bergeser. Aku tidak dapat menunggui pertempuran itu lebih lama lagi. Aku mencoba untuk mengikuti Pikatan. Ia terlampau lemah. Adalah berbahaya sekali baginya, apabila pada suatu saat ia bertemu dengan seorang dari penghuni goa ini. Dengan mudahnya ia akan dapat dibunuhnya”

“Ayah tidak melihat Hantu yang tua itu tersobek dadanya oleh pedangku?”

Kiai Pucang Tunggal menggeleng, “Tidak Puranti. Tetapi aku yakin, bahwa kau akan dapat mengatasi lawanmu itu, karena kau sudah berhasil membinasakan yang seorang”

“Dan ayah juga tidak tahu bahwa Hantu yang muda melarikan diri?”

“Melarikan diri? Jadi ia berhasil melarikan diri?” Puranti mengangguk.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam, Katanya Jika demikian, maka persoalan ini masih belum selesai. Ia akan menemui gurunya dan menceriterakan apa yang sudah terjadi disini”

“Maksud ayah, kemungkinan pembalasan dendam dari golongan mereka?”

Ayahnya mengangguk, “Ya” jawabnya, “dan itu bukan sekedar suatu kemungkinan. Tetapi hampir dapat diyakini”

Puranti termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Itu adalah akibat yang harus sudah diperhitungkan. Tetapi bukankah kita tidak perlu cemas ayah?”

Ayahnya menggeleng, “Tidak. Kita tidak usah cemas. Tetapi kerja ini menjadi kerja yang patah ditengah. Kerja yang belum selesai.”

Puranti tidak segera menjawab. Ditatapnya saja wajah Pikatan yang pucat dengan mata yang terpejam. Tetapi agaknya nafasnya sudah mulai mengalir sewajarnya.

Kiai Pucang Tunggal mengambil tabung dari kantung ikat pinggangnya, ia mencoba mengobati luka yang diderita oleh Pikatan. Ditebarkannya serbuk berwarna kekuning-kuningan ke pundak Pikatan.

“Lukanya terlampau dalam” desis Kiai Pucang Tunggal.

“Tetapi, bukankah luka itu tidak membahayakan jiwanya, Ayah”

“Secara langsung tidak” sahut ayahnya.

“Apakah maksud ayah?” Puranti menjadi berdebar-debar

Tetapi ayahnya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak apa-apa. Kita menunggu dia sadar. Kemudian membantunya berjalan meninggalkan tempat ini”

Puranti tidak bertanya lagi. Tetapi kata-kata ayahnya itu berkesan di hatinya. Lamat-lamat ia dapat membayangkan maksudnya, meskipun ia tidak dapat meyakini kebenarannya. Namun demikian, ia sadar, bahwa ayahnya tidak ingin memberinya penjelasan lebih jauh lagi.

Karena itu, maka Puranti pun hanya sekedar berjongkok saja disamping ayahnya. Sekali-sekali ditatapnya, wajah Pikatan yang pucat. Namun, tanpa sesadarnya ia mulai menilai wajah yang pucat itu sebagai wajah seorang anak muda.

Puranti menarik nafas dalam-dalam.

Ia mempunyai banyak kawan di padukuhannya. Laki-laki dan perempuan. Tetapi Pikatan sudah tinggal dan bergaul setiap hari untuk waktu yang lama. Meskipun sikapnya sehari-hari tidak lebih dan tidak kurang dari sikap seorang kakak, tetapi Puranti tahu dengan pasti, bahwa Pikatan bukanlah kakaknya.

Kini Pikatan mengetahui seluruhnya tentang dirinya. Selama beberapa tahun ia berusaha untuk menyembunyikan kelebihan-nya dari anak muda itu, agar ia tidak merasa dirinya kecil. Namun di dalam saat-saat yang gawat, maka ia tidak lagi mampu berbuat demikian. Itulah agaknya yang telah menyakiti hatinya, sehingga diam-diam Pikatan telah berusaha meninggalkannya. Tetapi darah yang mengalir dari lukanya, menyebabkannya pingsan.

Untunglah bahwa ayahnya melihat hal itu, sehingga dengan segera dapat memberikan pertolongan kepadanya.

Bersambung ke bagian 2

Satu Tanggapan

  1. Selesai jilid 2, sabar menanti untuk wedaran jilid 3.
    Makasih up loadnya, bisa menjadi teman setia menunggu waktu buka puasa tiba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s