TT-23


kembali | lanjut

TT-23DEMIKIAN ia turun tangga maka ia pun berteriak memanggil, “Ki Udyana, angger Wikan. Kalian dapat mempergunakan ini”

Ki Demang itu pun kemudian menyerahkan kedua bilah pedang yang berbeda bentuknya itu kepada Ki Udyana dan Wikan.

“Terima kasih” berkata Ki Udyana dan Wikan hampir berbareng sambil menerima pedang-pedang itu.

Sementara itu, ia pun memberikan tombak pendek yang dibawanya itu kepada Nyi Udyana, “ Nyi. Mungkin Nyi Udyana memerlukan senjata ini”

“Terima kasih, Ki Demang. Bagaimana dengan Ki Demang sendiri jika keadaan memaksa Ki Demang mempergunakannya”

“Keris ini” jawab Ki Demang.

Nyi Udyana adalah seorang yang berilmu tinggi yang dapat mempergunakan jenis senjata apa saja. Karena itu, maka tombak pendek itu ditangannya akan menjadi sangat berbahaya pula.

Sementara itu, Ki Udyana dan Wikan sudah bersenjata pula. Sementara orang bertubuh pendek itu menggeram, “Aku tidak pernah gagal. Golokku telah mengakhiri perlawanan serta membunuh puluhan orang. Mula-mula aku membuat lekukan di hulunya setiap aku membunuh. Tetapi setelah lebih dari sepuluh lekukan, aku menjadi tidak telaten lagi, karena orang yang aku bunuh pun menjadi semakin banyak”

“Apakah malam ini kau berpikir bahwa kau akan dapat membunuh lagi?”

“Ya. Kami akan membunuh kalian. Golokku yang sudah keluar dari wrangkanya, selalu saja minum darah orang-orang sombong seperti kalian berdua ini”

“Bagus. Jika demikian, maka seandainya aku harus membunuh kalian, maka aku tidak akan menyesal” sahut Wikan.

Orang bertubuh pendek itu pun mulai mengayunkan goloknya yang besar. Sementara Wikan masih menimang-nimang pedang yang diberikan oleh Ki Demang.

Menurut penglihatan Wikan, pedang itu adalah pedang yang bagus. Ukurannya pun sesuai bagi Wikan. Wikan melihat buatannya yang rumit. Pedang itu adalah pedang yang lurus, ujungnya runcing dan tajam di kedua sisinya.

Sedangkan pedang di tangan Ki Udyana adalah pedang yang tidak lurus meskipun hanya sedikit sekali lengkungan-nya. Tetapi pedang itu tidak tajam di kedua sisinya. Daun pedangnya justru agak kehitam-hitaman. Tetapi pedang itu adalah pedang yang dibuat khusus, karena pada daun pedangnya itu terdapat pamor yang berkeredipan.

Demikianlah, maka orang bertubuh pendek itu pun segera memberi isyarat kepada para pengikutnya untuk segera menyerang.

Seorang yang berjanggut panjang, berkumis lebat, yang beberapa giginya sudah patah meskipun orang itu belum nampak tua, telah berloncatan menyerang dengan senjata kapaknya. Namun dengan tangkasnya Wikan menangkisnya dengan pedangnya. Ketika pedang itu kemudian berputar, dan mematuk dengan cepat, maka orang itu pun terkejut. Ia tidak mengira bahwa secepat itu, pedang ditangan orang yang masih terhitung muda itu menggores lengannya.

“Bangsat kau” orang itu mengumpat kasar. Matanya memandanginya dengan tajamnya serta memancarkan dendam yang membara. Sentuhan ujung pedang yang melukai lengannya itu terasa sangat menyakitkan hati.

Demikianlah maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Senjata-senjata pun berputaran. Cahaya yang terpantul dari lampu minyak di pendapa nampak berkilat-kilat. Sedangkan bunga api yang terjadi dalam benturan-benturan yang keras, nampak berloncatan berhamburan.

Demikianlah pertempuran pun menjadi semakin cepat. Namun ternyata bahwa Ki Udyana dan Wikan mampu membuat lawan-lawan mereka menjadi bingung.

Orang yang bertubuh gemuk itu pun kemudian telah memikirkan satu cara yang licik untuk memaksa kedua orang yang bertempur itu meletakkan senjata mereka. Jika ia dapat menguasai Ki Demang atau perempuan yang kemudian membawa tombak pendek itu, maka kedua orang yang mengaku dari gerombolan Naga wulung itu akan menghentikan perlawanan.

“Mereka tentu hanya membual saja tentang gerombolan yang bernama Naga Wulung itu” berkata orang itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka orang bertubuh pendek sedikit gemuk itu telah membuat ancang-ancang untuk menerkam Ki Demang serta melekatkan goloknya di lehernya. Jika Ki Demang itu ternyata juga berilmu tinggi, sehingga mampu menghindar, maka ia harus dengan cepat menguasai perempuan yang membawa tombak itu. Ia harus melepaskan tombaknya serta menjadi tidak berdaya karena goloknya yang besar itu.

Demikianlah, maka ketika orang bertubuh pendek dan sedikit gemuk itu mendapat kesempatan, maka ia pun segera meloncat menyerang Ki Demang. Orang itu tidak ingin membunuh Ki Demang dengan serta-merta. Kecuali ia masih memerlukan Ki Demang itu sebagai perisai, ia pun masih menginginkan harta-benda Ki Demang itu.

Ki Demang memang terkejut. Meskipun ia sudah bersiaga dengan kerisnya, namun ternyata orang bertubuh pendek yang bergerak demikian cepatnya. Ketika Ki Demang berusaha menangkis ayunan golok yang besar itu, maka Ki Demang telah terkejut sekali. Keris di tangannya itu tergetar. Telapak tangannya menjadi panas seperti tersentuh bara.

Orang bertubuh pendek itu pun kemudian telah memutar goloknya. Tidak terlalu keras. Namun rasa-rasanya keris Ki Demang itu bagaikan terhisap, sehingga terlepas dari tangannya.

Tetapi orang bertubuh pendek itu tidak segera dapat menguasai Ki Demang untuk dijadikan perisai serta memaksa kedua orang yang bertempur di halaman itu melepaskan senjata mereka serta menyerah, sehingga dengan mudah orang bertubuh pendek itu akan membunuh mereka.

Tetapi orang bertubuh pendek itu terkejut. Tiba-tiba saja terasa goloknya telah bergetar. Untunglah orang bertubuh pendek itu cukup tangkas, sehingga orang itu pun bergeser surut, meloncat dari tangga pendapa dan langsung berdiri di halaman.

“Kau memang licik” berkata Nyi Udyana sambil menjulurkan tombak pendeknya, “Kau telah merunduk dan dengan tiba-tiba saja menyerang ki Demang. Nah, sekarang biarlah aku yang menghadapimu Ki Sanak”

“Perempuan yang tidak tahu diri. Dengar. Aku adalah pemimpin gerombolan Sapu Angin. Apa yang dapat kau lakukan dihadapanku,he?”

“Banyak. Antara lain membunuhmu”

Orang bertubuh pendek itu menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ia pun meloncat menyerang Nyi Udyana dengan goloknya yang besar. Ia telah gagal menguasai Ki Demang, tetapi ia tidak boleh gagal menguasi perempuan itu. Perempuan itu tentu akan dapat juga dijadikan perisai untuk menghentikan perlawanan kedua orang berilmu tinggi itu.

Tetapi ternyata bahwa orang bertubuh pendek itu tidak segera mampu menguasai perempuan yang bersenjata tombak itu.

Demikianlah keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Tetapi justru orang bertubuh pendek itulah yang segera telah terdesak. Tombak pendek Nyi Udyana berputaran dengan cepat. Sekali-kali menggapai ke arah dada. Namun kemudian dengan cepat terjulur mematuk lambung.

Orang bertubuh pendek itu pun kemudian menjadi semakin tidak sabar lagi. Apalagi ketika ia melihat empat orang pengikutnya yang bertempur di halaman semakin mengalami kesulitan.

Karena itu, maka orang bertubuh pendek itu sampai pada saat keputusan untuk mempergunakan senjata-senjata rahasianya.

Karena itu, tiba-tiba saja telah meluncur dua batang pisau belati kecil mengarah ke dada Nyi Udyana.

Tetapi Nyi Udyana bukanlah perempuan kebanyakan. Karena itu, maka dua buah pisau belati kecil yang mengarah ke dadanya itu, sama sekali tidak menggetarkan jantungnya. Kedua pisau belati yang meluncur itu berkilat memantulkan cahaya lampu minyak di pendapa, sehingga Nyi Udyana mampu dengan cepat menghindarinya.

Orang bertubuh pendek itu menggeram. Senjata rahasianya ternyata tidak mampu mengenai sasaran.

Meskipun demikian, orang itu masih mencoba menyerang Nyi Udyana dengan senjata rahasianya itu. Dua lagi pisau belati kecil telah meluncur dari tangannya. Demikian cepatnya, sehingga orang lain tidak sempat melihatnya.

Tetapi Nyi Udyana yang berilmu tinggi itu melihat dua pisau belati kecil itu meluncur.

Nyi Udyana sengaja tidak bergeser dari tempatnya. Tetapi tombak pendeknya dengan kecepatan yang sangat tinggi, memukul kedua pisau belati yang meluncur ke arahnya itu.

Orang bertubuh pendek dan mengaku pemimpin dari gerombolan Sapu Angin itu rasa-rasanya telah kehilangan akal. Ternyata di tempat yang jauh itu pun terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kemampuannya.

Karena itu, maka orang itu pun seakan-akan sudah tidak berpengharapan lagi. Orang yang bertubuh agak gemuk yang mengaku pemimpin dari gerombolan Sapu Angin itu tiba-tiba telah meneriakkan aba-aba yang tidak dapat di mengerti.

Meskki pun demikian, Ki Udyana, Nyi Udyana dan Wikan sudah menjadi curiga, bahwa orang-orang itu berniat melarikan diri dari arena pertempuran.

Sebenarnyalah, bahwa aba-aba itu adalah aba-aba bagi orang-orang yang mengaku dari gerombolan Sapu Angin itu untuk meninggalkan arena. Namun Ki Udyana itu pun tiba-tiba telah berteriak pula, “Cegah pemimpinnya agar tidak meninggalkan halaman ini”

Ketika kedua lawan Wikan meloncat, melarikan diri ke arah yang berbeda, Wikan tidak menghiraukannya lagi. Tetapi yang diperhatikannya adalah orang yang bertubuh gemuk itu.

Demikian pula Ki Udyana. Dibiarkannya kedua orang lawannya berloncatan meninggalkan arena pertempuran. Tetapi Ki Udyana sendiri segera berusaha untuk mencegah orang bertubuh gemuk itu agar tidak dapat melarikan diri.

Orang bertubuh gemuk itu mengumpat. Tiba-tiba saja Wikan telah berdiri dihadapannya. Ketika ia berbalik, maka Ki Udyana telah siap pula menghadapinya. Sedangkan ketika ia beringsut kesam-ping, Nyi Udyana berdiri dengan tombak pendek yang merunduk.

Orang bertubuh gemuk itu menjadi bingung. Sementara itu keempat orang kawannya sudah lari bercerai berai. Seorang diantara mereka berlari melalui regol halaman. Namun yang lain berlari meloncati dinding halaman. Seorang diantaranya berlari ke kebun belakang dan baru meloncat setelah ia berada diantara rumpun-rumpun bambu di kebun.

“Kau akan lari kemana?” bertanya Wikan.

“Licik” geram orang itu, “Kalian hanya berani bertempur bersama melawan aku seorang diri.

Ki Udyana, Nyi Udyana dan Wikannya tertawa. Dengan nada tinggi Wikan pun berkata, “Kau masih dapat juga bercanda, Ki Sanak”

“Aku bersungguh-sungguh. Siapa yang berani melawan aku seorang melawan seorang”

“Cara yang sudah terbiasa terdengar jika seseorang ingin membatasi jumlah lawannya dengan menggilitik harga dirinya. Tetapi harga diri kami tidak tergelitik. Kami tidak mempunyai banyak waktu. Kami ingin segera membunuhmu dan menyeret mayatmu ke depan gardu itu. Kami ingin anak-anak muda itu melihat bahwa gerombolan yang menamakan diri gerombolan Sapu Angin itu sama sekali tidak berarti apa-apa”

“Jadi kalian akan membunuhku?”

“Ya. Kami akan membunuhmu dengan cara kami”

“Cara yang bagaimana.?”

“Beramai-ramai. Ada beberapa orang anak muda yang sudah berada di halaman ini. Mereka akan menusuk perutmu, dadamu, lambungmu dan yang lain lehermu”

“Jangan. Jangan lakukan itu”

“Kau tidak dapat mencegahnya. Segala sesuatunya terserah kepada kami. Kami telah memenangkan pertarungan antara kelompok Sapu Angin dengan kelompok Panji Wulung” sahut Wikan.

“Naga Wulung. Kelompok kami bernama Naga Wulung” berkata Ki Udyana sambil tertawa.

Wikan pun tertawa pula. Katanya, “Ya. Naga Wulung. Aku lupa bahwa nama kelompok kami adalah Naga Wulung”

“Persetan. Sejak semula aku sudah tidak percaya”

“Nah, sekarang bersiaplah untuk mati dengan cara kami, cara orang-orang padukuhan ini membunuh gerombolan penjahat”

“Jangan bunuh aku. Aku mohon”

Wikan melangkah mendekat. Katanya, “Kenapa kau merengek seperti perempuan cengeng? Bukankah kau seorang pemimpin gerombolan yang ditakuti oleh orang-orang di seluruh Mataram menurut ceriteramu”

“Aku berbohong, aku mencoba untuk menakut-nakutimu”

“Apa pun yang kau lakukan, kau bersikap garang dan bahkan mengancam untuk membunuh kami. Bahkan kau telah mencobanya. Karena itu adalah tidak pantas jika kau menangis merengek seperti itu”

Tetapi orang itu ternyata tidak merasa malu. Ia masih saja merengek, “Ampuni aku. Jangan bunuh aku”

“Kau lihat anak-anak muda itu? Kau lihat orang yang berada di gardu. Nah, aku akan mengikatmu dan melemparkanmu kepada mereka”

“Jangan, jangan, “ orang itu menangis.

“Salahmu. Jika ada seorang saja diantara kawanmu yang dapat kami tangkap, maka keadaanmu akan menjadi lebih baik. Mungkin kau tidak akan mati”

“Mereka memang pengecut. Mereka lari begitu saja”

“Bohong. Kaulah yang memberi isyarat agar mereka lari”

“Aku minta ampun”

Ki Udyana pun kemudian berkata, “Ki Demang. Aku akan mengikat, orang ini. Pada saatnya orang ini akan diserahkan kepada prajurit Mataram. Mungkin besok Ki Demang dan Wikan akan dapat membawanya ke Kembangarum menemui Ki Rangga Kriyadipraja sekaligus menyerahkan orang ini”

“Jangan. Jangan serahkan aku kepada prajurit Mataram”

“Kau dapat memilih. Kami serahkan kepada prajurit Mataram atau malam ini kau kami serahkan kepada anak-anak muda itu”

Wajah orang itu menjadi pucat. Namun kemudian dengan suara bergetar ia berkata, “Aku minta ampun. Lepaskanlah aku, agar aku dapat pulang kepada keluargaku”

“Darimana kau belajar untuk mengungkit belas kasihan orang lain kepadamu? Sejalan dengan kemampuanmu merengek seperti perempuan cengeng” geram Wikan, “Sudahlah. Jangan mencoba untuk bermain-main lagi. Sekarang aku akan minta tali ijuk kepada Ki Demang. Aku akan mengikatmu di salah satu bilik di rumah ini. Besok aku dan Ki Demang akan membawamu ke Kembangarum.

Orang itu tidak dapat mengelak lagi. Ki Demang yang sejenak pergi ke belakang, kembali sambil membawa tali ijuk. Meskipun tali itu tidak begitu besar, tetapi tali itu cukup kuat.

Namun ketika orang itu akan dibawa ke gandok untuk diikat di dalam sebuah bilik di gandok itu, beberapa orang anak muda telah berada di halaman rumah Ki Demang. Mereka pun kemudian berteriak-teriak, “Serahkan orang itu kepada kami. Kami yang akan menyelesaikannya”

Orang itu menjadi gemetar. Jika ia jatuh ke tangan anak-anak muda itu, maka ia akan mengalami nasib yang sangat buruk.

Anak-anak muda itu akan memperlakukannya semena-mena, sementara orang-orang berilmu tinggi itu akan menungguinya. Jika ia mencoba melawan anak-anak muda itu, maka orang-orang berilmu tinggi itu akan segera turun tangan.

Tetapi hatinya menjadi sedikit tenang ketika Wikan pun berkata, “Maaf, anak-anak muda. Orang ini esok kami bawa kepada yang seharusnya menangani persoalannya”

“Tidak perlu” teriak seorang anak muda, “biarlah kami yang mengadilinya”

“Kalian tidak berhak melakukannya” jawab Wikan.

“Ki Demang berhak mengadilinya. Bukankah Ki Demang berhak menghukum seorang penjahat yang melakukan kejahatan di kademangan ini?”

“Untuk kejahatan-kejahatan kecil aku memang dapat menyelesaikannya sendiri” sahut Ki Demang, “Tetapi tindak kejahatan yang sudah membahayakan sendi-sendi kehidupan serta nyawa seseorang, bahkan dalam hubungan kerja besar para pemimpin di Mataram sebagaimana pasanggrahan itu, maka sudah sewajarnya jika kami menyerahkannya kepada prajurit Mataram. Para prajurit itu akan menghadapkan orang ini kepada perdata yang akan mengadilinya”

“Itu tidak perlu. Ki Demang hanya akan membuang-buang waktu saja”

“Anak-anakku” berkata Ki Demang selanjutnya, “persoalannya tidak hanya akan berhenti disini. Orang itu mungkin masih diperlukan untuk memberikan keterangan yang perlu. Mungkin ada gerakan yang lebih besar lagi dibelakang sikap mereka malam ini. Gerombolan Sapu Angin tentu mempunyai pendukung yang kuat di sarangnya. Agaknya orang ini masih kami perlukan”

Ternyata keterangan Ki Demang itu dapat dimengerti oleh anak-anak muda itu. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata, “Baiklah Ki Demang. Tetapi besok, jika orang itu tidak diperlukan lagi, serahkan orang itu kepada kami”

“Segala sesuatunya tergantung kepada yang menanganinya di Mataram. Tetapi aku akan menyampaikan permintaan kalian itu”

Anak-anak muda itu menjadi agak tenang. Bahkan Ki Demang pun kemudian berkata, “Sekarang, kembalilah ke gardu. Aku minta dua orang saja tinggal disini untuk menjaga orang dari gerombolan Sapu Angin ini. Meskipun demikian, yang lain pun harus bersiap-siap pula. Mungkin kawan-kawannya akan datang untuk membebaskannya”

Anak-anak muda itu pun kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Demang, kembali ke gardu. Dua orang di antara mereka tinggal di serambi gandok. Sementara itu, Wikan telah membawa orang yang mengaku gerombolan Sapu Angin itu ke dalam bilik di gandok itu.

Dengan tali ijuk, Wikan mengikat tangan orang bertubuh gemuk itu dibelakang punggungnya. Kemudian mengikat tangan itu pada sebatang tiang yang ada didalam bilik gandok itu.

“Kalau kau mempergunakan tenaga dalammu untuk mencoba memutuskan tali ijuk itu, maka tiang inilah yang akan roboh. Atapnya akan menimpa kepalamu sehingga setidaknya kau akan terluka parah. Beruntunglah jika kau dapat langsung mati. Tetapi dapat juga terjadi kekayuan di atap itu akan runtuh dan menusuk tubuhmu. Tetapi kau tidak segera mati”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia sempat mengamati atap gandok itu. Ia melihat tulang-tulang atap itu terbuat dari kayu jati tua pilihan. Demikian pula tiang yang ada di gandok itu. Namun susunan tulang-tulang gandok itu memang memungkinkan terjadi sebagaimana dikatakan oleh Wikan.

Sejenak kemudian Wikan pun meninggalkan orang yang bertubuh agak gemuk dan mengaku pemimpin dari gerombolan Sapu Angin itu. Namun ketika ia berada di luar, maka ia pun berkata kepada Ki Udyana perlahan, “Paman. Sebaiknya kita tidak meninggalkan tempat ini sampai esok pagi. Mungkin kawan-kawan orang itu masih akan kembali untuk membebaskannya. Sementara itu, di kademangan ini tidak ada kekuatan yang cukup memadai”

Ki Udyana mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baiklah. Malam ini kita akan tetap berada disini. Tetapi bagaimana rencanamu untuk ikut Ki Demang ke Kembang-arum?”

“Besok aku akan berangkat dari rumah Ki Demang ini saja, paman. Bukankah aku juga akan membawa orang itu?”

Ki Udyana pun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara kepada Ki Demang”

Ternyata Ki Demang merasa senang sekali bahwa ketiga orang berilmu tinggi itu bersedia berada di rumahnya malam itu.

“Kami se kademangan akan merasa tenang dengan kesediaan Ki Udyana, Nyi Udyana dan angger Wikan berada disini malam ini. Justru besok pagi angger Wikan dapat berangkat ke Kembangarum dari rumah ini”

Ki Demang pun segera mempersiapkan dua buah bilik bagi ketiga orang tamunya. Wikan mendapat bilik di sebelah bilik yang dipergunakan untuk menahan pemimpin gerombolan Sapu Angin. Sedangkan Ki Udyana dan Nyi Udyana telah disediakan bilik di gandok di sisi yang lain.

Namun ternyata di sisa malam itu, orang-orang dari gerombolan Sapu Angin itu tidak kembali lagi. Mungkin mereka benar-benar datang dari jauh, bahkan dari Mataram, sehingga mereka tidak sempat menghubungi kawan-kawan mereka untuk membebaskan orang yang mengaku sebagai pemimpin gerombolan Sapu Angin itu.

Pagi itu seperti yang direncanakan, maka Ki Demang dan Wikan pun sudah siap untuk pergi ke Kembangarum. Namun yang tidak mereka rencanakan sebelumnya, bahwa pagi itu mereka akan membawa seorang tawanan yang mengaku pemimpin dari gerombolan Sapu Angin yang telah berusaha merampok Ki Demang.

Demikian Ki Jagabaya datang, maka mereka bertiga pun segera berangkat ke Kembangarum dengan membawa pemimpin gerombolan Sapu Angin itu.

Sementara itu, Ki Udyana dan Nyi Udyana telah minta diri untuk kembali ke padepokannya.

“Apakah Ki Udyana dan Nyi Udyana tidak menunggu kedatangan kami di rumahku saja?” bertanya Ki Demang.

“Orang-orang yang berada di padepokan akan dapat menjadi sangat gelisah jika kami tidak segera pulang”

Ki Demang pun mengangguk-angguk. Sementara Wikan pun berkata, “Aku nanti juga akan segera pulang paman”

“Hati-hatilah” pesan Ki Udyana.

Sejenak kemudian maka mereka pun meninggalkan rumah Ki Demang ke arah yang berbeda. Ki Demang, Ki Jagabaya dan Wikan pergi ke Kembang-arum sambil membawa seorang tawanan, sementara Ki Udyana dan Nyi Udyana akan kembali ke padepokan.

Ki Rangga Kriyadipraja di Kembangarum memang agak terkejut melihat Ki Demang dan beberapa orang datang kepadanya, sambil menggiring seseorang yang terikat tangannya. Seorang prajurit telah mempersilahkan mereka naik ke pendapa dan duduk di pringgitan.

“Ki Demang telah mengejutkan aku” berkata Ki Rangga Kriyadipraja setelah duduk pula menemui Ki Demang.

“Maaf Ki Rangga. Kami tidak sempat memberitahukan lebih dahulu”

“Ada keperluan apa Ki Demang?”

Yang mula-mula dilaporkan adalah tentang orang yang mengaku pemimpin gerombolan Sapu Angin itu. Maksud kedatangannya serta ancaman-ancaman yang telah dilontarkan kepada Ki Demang”

Ki Rangga Kriyadipraja itu pun mengangguk-angguk. Katanya dengan nada datar, “ Jadi ada gerombolan penjahat yang ingin menunggangi rencana pembangunan pasanggrahan itu?”

“Ya, Ki Rangga”

Ki Rangga mengangguk-angguk, sementara Ki Demang pun berkata, “Selain persoalan gerombolan Sapu Angin, kami juga ingin menyampaikan beberapa laporan yang lain”

“Tentang pesanggrahan itu?”

“Ya, Ki Rangga. Tetapi kami mohon, agar orang ini dapat disingkirkan lebih dahulu”

Ki Rangga Kriyadipraja pun kemudian telah memerintahkan seorang prajurit untuk membawa orang yang meng aku pimpinan gerombolan Sapu Angin itu menying kir sambil berpesan, “Hati-hatilah dengan orang itu”

“Baik Ki Rangga” jawab seorang Lurah prajurit yang kemudian membawa orang yang mengaku pimpinan gerombolan Sapu Angin itu pergi.

Ternyata Lurah prajurit itu adalah seorang yang teliti. Diamatinya ikatan tangan orang itu dan kemudian, Ki Lurah itu telah mengikatnya tangannya dibelakang punggung itu dengan sebatang tiang di sebuah bilik yang berdinding kayu yang kokoh. Bilik yang memang diperuntukkan menahan orang-orang yang melakukan pelanggaran yang berat sebelum dijatuhkan hukuman bagi orang itu atau sebelum mereka dibawa ke Mataram.

“Jangan membuat ulah disini, Ki Sanak” pesan Lurah prajurit itu, “jika kau berbuat macam-macam, maka kau akan mengalami perlakuan yang lebih buruk lagi”

Orang yang mengaku pemimpin gerombolan Sapu Angin itu pun mengumpat didalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa dengan tangan terikat. Sementara itu, ia masih saja ingat pesan Wikan di rumah Ki Demang. Jika ia berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya itu dengan tenaga dalamnya, maka tiang itulah yang akan roboh. Atap bilik itu akan menimpanya dan bahkan mungkin kayu-kayu yang patah akan dapat menusuk tubuhnya.

Tetapi tali ijuk itu agaknya sangat kokoh, sehingga betapa pun ia mengerahkan tenaga dalamnya, namun tentu amat sulit untuk memutuskan tali-tali itu tanpa tajamnya senjata.

Namun orang itu agaknya memang sudah pasrah. Orang itu tidak akan mendapat bantuan dari siapapun. Kawan-kawannya dari gerombolan Sapu Angin tidak akan berani berusaha menolongnya, karena di tempat tinggal Ki Rangga Kriyadipraja itu juga merupakan barak sekelompok prajurit Mataram.

Demikian pimpinan gerombolan Sapu Angin itu disingkirkan, maka Ki Demang pun kemudian melaporkan tentang kegiatan Ki Panji Suranegara.

Wikan lah yang kemudian memberikan laporan tentang patok-patok yang telah dipasang dan kemudian telah dicabuti pula oleh cantrik-cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana.

“Baiklah, Ki Demang” berkata Ki Rangga Kriya dipraja, “aku akan menyelesaikan persoalan Ki Panji Suranegara. Aku akan memakai jalur yang lebih tinggi. Ki Tumenggung Yudapangarsa yang mendapat tugas langsung pembangunan pasanggrahan itu akan menghubungi Ki Panji Suranegara. Jika persoalannya masih belum selesai, maka persoalan ini akan diangkat ke jenjang yang lebih tinggi. Ki Tumenggung tentu akan melaporkan kepada Ki Patih. Ki Patihlah yang akan menyelesaikannya.

Ki Demang, Wikan dan Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Namun Wikan pun kemudian berkata, “Jadi, menurut Ki Rangga, kami dapat mempertahankan tanah-tanah kami”

“Bukankah sejak semuia aku sudah mengatakan, bahwa Ki Panji Suranegara tidak berhak mengambil tanah milik rakyat disekitar tempat pesanggrahan itu akan di bangun. Yang dilakukan itu sama sekali bukan atas ijin apalagi perintah dari In-gkang Sinuhun. Karena itu, maka kalian dapat mempertahankan-nya. Jika Ki Panji mempergunakan kekuatan prajurit Mataram, maka itu merupakan pelanggaran yang dapat menyeret Ki Panji ke hadapan perdata di Mataram”

Wikan mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga pun berkata, “Menurut pengertianku, Mataram sampai sekarang masih tetap berpegang pada tatanan dan paugeran, sehingga siapa yang melanggar tatanan dan paugeran, tentu akan ditindak. Sementara itu, aku yakin akan kejujuran Ki Tumenggung Yudapangarsa. Ki Tumenggung tentu akan berusaha menegakkan tatanan dan paugeran itu, apalagi menyangkut tugas yang dibebankan kepadanya. Sedangkan Ki Tumenggung Singaprana akan dapat dituduh sebagai seorang pemberontak jika ia tidak tunduk kepada tatanan dan paugeran”

“Terima kasih, Ki Rangga. Dengan demikian , maka kami akan dapat bertindak sesuai dengan keterangan Ki Rangga Kriyadipraja menghadapi Ki Panji Suranegara apabila ia masih akan melanjutkan niatnya, merampas tanah kami serta tanah milik rakyat”

“Lakukan. Tetapi jaga agar jangan sampai jatuh korban dikalangan rakyat. Jika jatuh korban, apa pun yang akan kami lakukan kemudian terhadap Ki Panji Suranegara, korban itu tidak akan bangkit kembali. Karena itu, jika terjadi kekerasan, maka hubungilah kami segera”

“Terima kasih, Ki Rangga. Kami akan melakukan segala pesan Ki Rangga”

“Untuk mengawasi lingkungan yang bergejolak itu, maka nanti aku akan mengirimkan tiga orang menyertai Ki Demang. Jika Ki Demang tidak berkeberatan, maka biarlah ketiga orang itu berada di rumah Ki Demang”

“Terima kasih, Ki Rangga. Jika Ki Rangga sempat meme-rintahkan beberapa orang prajurit berada di rumahku. Kami akan merasa tenang menghadapi beberapa persoalan. Termasuk persoalan dengan orang-orang Sapu Angin”

Demikianlah, maka Ki Rangga pun telah memerintahkan tiga orang perajurit untuk berkemas. Mereka akan berada di rumah Ki Demang beberapa lama, sehingga keadaan menjadi tenang. Sementara itu Ki Rangga Kriyadipraja akan melaporkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi disekitar tempat pesang-grahan itu dibangun ke Mataram segera.

Demikianlah, maka Ki Demang, Wikan dan Ki Jagabaya pun segera minta diri. Tiga orang prajurit yang akan pergi bersama mereka pun telah siap pula. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk berada di rumah Ki

Demang beberapa hari untuk mengikuti perkembangan keadaan disekitar tempat pasanggrahan itu akan dibangun.

Ki Rangga Kriyadipraja pun telah memberikan pesan-pesan kepada mereka, apa saja yang harus mereka perhatikan serta wewenang mereka untuk mengambil langkah-langkah yang perlu.

“Kalian bawa surat ketetapan yang telah disiapkan, agar kalian dapat menjalankan tugas kalian dengan tenang”

“Baik, Ki Rangga” jawab prajurit yang tertua, seorang Lurah yang akan bertanggung jawab atas tugas mereka bertiga.

Sejenak kemudian, maka Ki Demang, Wikan dan Ki Jagabaya pun segera minta diri. Mereka akan disertai oleh ketiga orang prajurit yang telah siap pula di halaman.

Keenam orang berkuda itu pun kemudian telah berderap menyusuri jalan-jalan bulak yang panjang. Namun jarak yang akan mereka tempuh tidak perlu jauh.

Dalam pada itu, ketika mereka menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk tempat tinggal Ki Demang, maka Wikan pun telah minta diri. Ia akan memisahkan diri kembali ke padepokan.

“Apakah angger tidak singgah dahulu di rumahku?” bertanya Ki Demang.

“Terima kasih, Ki Demang. Ketika orang prajurit itu akan dapat menyelesaikan semua masalah yang Ki Demang hadapi”

Namun Lurah prajurit itu pun menyahut, “Sepanjang wewenang kami, Ki Sanak”

“Tetapi wewenang Ki Lurah cukup luas”

“Jika masih dalam wewenang kami, maka kami tentu akan membantu kesulitan-kesulitan yang akan dialami oleh Ki Demang. Bukan saja dalam hubungannya dengan pesanggrahan yang akan dibuat itu. Tetapi juga berhubungan dengan apa saja”

“Bukankah dengan demikian, Ki Demang dan Ki Jagabaya sudah tidak sendiri atau hanya berdua bersama para bebahu lagi?”

Ki Lurah prajurit itu tersenyum. Sementara Ki Demang pun berkata, “Jika kami memerlukan angger dan Ki Udyana kami akan menghubungi padepokan”

“Silahkan Ki Demang. Tetapi sebaliknya jika perlu kami juga akan menghubungi Ki Demang serta Ki Lurah.

“Silahkan. Kami akan berusaha membantu sejauh kemampuan dan wewenang kami” jawab Lurah prajurit itu.

Mereka pun kemudian berpisah. Wikan pun segera melarikan kudanya ke padepokan. Semalam ia tidak tidur bersama Tatag. Rasa-rasanya ia sudah begitu lama tidak melihat anak nakal itu.

Demikian Wikan memasuki gerbang padepokannya, maka ia melihat Tatag sedang mengejar seekor anak kuda di halaman padepokan.

Wikan menarik nafas panjang. Ternyata Tatag dapat berlari sangat cepat. Agaknya kecepatan larinya akan dapat menyamai anak-anak yang jauh lebih besar dari padanya.

Wikan yang menuntun kudanya itu pun berhenti. Beberapa saat ia memperhatikan Tatag yang masih memburu seekor anak kuda itu, sehingga akhirnya Tatag dapat mendekatinya. Dengan tangkasnya Tatag memeluk leher kuda itu, kemudian meloncat naik ke punggungnya. Kuda itu masih berlari berputar-putar, tetapi Tatag seakan-akan telah melekat dipunggungnya. Bahkan akhirnya kuda itu pun berlari semakin lambat, sehingga akhirnya berhenti.

Beberapa orang cantrik berdiri termangu-mangu di pinggir halaman. Mereka nampak tegang. Sedangkan Tanjung berdiri di tangga pendapa. Jantungnya terasa berdebaran. Namun akhirnya Tanjung itu pun menarik nafas panjang. Ia melihat Tatag duduk di punggung kuda yang sudah tidak berlari-lari lagi.

Pada saat itulah Tatag melihat Wikan berdiri di depan pintu gerbang halaman padepokannya.

“Ayah” teriak Tatag yang masih duduk di punggung kudanya. Kuda ini sudah menjadi semakin besar. Aku mulai menjinakkannya dan mengajarinya menjadi kuda tunggangan yang patuh”

“Hati-hatilah, Tatag, “ pesan Wikan.

“Aku selalu berhati-hati, ayah. Lihat. Bukankah aku tidak apa-apa”

Wikan pun kemudian menuntun kudanya melintasi halaman. Seorang cantrik menerima kuda itu sambil bertanya, “Kau sudah pergi ke Kembangarum? Kakang Udyana mengatakan bahwa kau pergi ke Kembangarum bersama Ki Demang”

“Ya. Aku sudah pergi ke Kembangarum”

“Bukankah kita tidak dianggap bersalah?”

“Tidak. Kita tidak dianggap bersalah”

“Syukurlah. Mudah-mudahan tidak ada masalah yang timbul kemudian”

“Bukankah hari ini mereka tidak memasang patok lagi. Ketika aku lewat di bulak itu, aku tidak melihat seseorang disana atau patok-patok yang sudha terpasang”

“Tidak, kakang. Hari ini mereka tidak kembali”

Wikan pun mengangguk-angguk. Setelah menyerahkan kudanya, maka Wikan pun mendapatkan Tanjung yang berdiri di tangga pendapa bangunan utama padepokannya”

“Bukankah kakang baik-baik saja?” bertanya Tanjung.

“Aku baik-baik saja Tanjung. Bagaimana dengan kau dan seisi padepokan ini?”

“Baik kakang. Tidak ada apa-apa. Orang-orang Mataram itu hari ini tidak kembali”

“Yang memasang patok itu maksudmu?”

“Ya. Paman dan bibi tadi juga sudah melihat-lihat keadaan di sawah. Memang tidak ada apa-apa hari ini. Entah esok atau lusa. Mungkin orang-orang Mataram itu kembali untuk mencari bantuan”

“Mereka memang orang-orang Mataram, Tanjung. Tetapi menyebutnya dengan orang-orang Mataram, mungkin akan dapat salah paham. Karena perbuatan Ki Panji Suranegara itu tidak dapat diterima oleh orang-orang Mataram sendiri”

Tanjung mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Marilah, kakang. Silahkan. Paman dan bibi sedang berada di belakang”

Tetapi Wikan tidak naik ke pendapa. Ia pun langsung pergi kebiliknya diikuti oleh Tanjung. Namun Tanjung itu sempat berpesan kepada seorang cantrik, “Tolong, amati Tatag. Jangan sampai keluar pintu gerbang”

“Aku akan menutup pintu gerbang itu” sahut cantrik itu.

Sebenarnyalah cantrik itu pun kemudian telah menutup pintu gerbang. Ia melihat beberapa kali Tatag berpaling ke arah pintu itu. Anak itu dapat saja tiba-tiba melarikan kudanya keluar pintu gerbang.

Wikan pun kemudian telah menemui paman dan bibinya bersama Tanjung. Wikan telah melaporkan, apa yang telah dibicarakannya bersama Ki Demang dengan Ki Rangga Kriyadipraja.

“Hari ini Ki Rangga akan pergi ke Mataram. Mudah-mudahan masalah para pengikut Ki Panji Suranegara itu segera dapat diselesaikan”

Sebenarnyalah pada hari itu juga Ki Rangga Kriyadipraja telah pergi ke Mataram bersama beberapa orang pengawalnya. Mereka langsung pergi ke rumah Ki Tumenggung Yudapangarsa untuk memberikan laporan tentang perkembangan keadaan di tempat pasanggrahan itu akan dibangun”

“Nampaknya Ki Tumenggung Singaprana telah melangkah terlalu jauh. Namun nampaknya usahanya itu telah terbentur sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang yang disebut Ki Udyana yang telah dengan berani menentangnya, sehingga telah terjadi benturan kekerasan. Ketika Ki Panji Suranegara memasang patok-patok bambu atas tanah yang dikatakan akan diambil oleh Kangjeng Sinuhun di Mataram itu, maka para cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu telah melawan”

Ki Tumenggung Yudapangarsa menarik nafas panjang. Ia harus segera bertindak. Jika terjadi sesuatu di sekitar tempat pasanggrahan itu akan didirikan, lebih-lebih lagi jika terjadi kekerasan, maka peristiwa itu tentu akan menodai pasanggrahan itu sendiri. Kegelisahan dan barangkali dendam yang timbul dalam gejolak itu akan mempengaruhi suasana di pasang-grahan itu sendiri, sehingga keluarga Ingkang Sinuhun yang akan beristirahat di pasanggrahan itu akan kehilangan suasana tenteram dan damai yang diharapkannya di pasanggrahan itu.

Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan menemui Ki Tumenggung Singaprana. Aku akan mmta pertanggungan jawabnya. Jika Ki Tumenggung Singaprana akan melanjutkan niatnya, maka aku akan menunggu perintah Ki Patih. Apakah aku harus bertindak tegas sebagaimana seorang prajurit atau Ki Patih akan mencari jalan lain. Jika aku harus bertindak tegas, maka aku akan melakukannya. Kalau aku bertindak atas nama Kangjeng Sinuhun, maka aku tentu akan mendapat dukungan dari para Senapati yang lain yang ditunjuk oleh Ki Patih, sebagaimana seorang Senapati yang akan berhadapan dengan sekelompok pemberontak”

“Aku telah menempatkan tiga orang prajurit di rumah Ki Demang yang telah menyerahkan tanah untuk pasanggrahan itu. Ketiga orang prajurit itu akan selalu memantau perkembangan keadaan yang terjadi di sekitar lingkungan pasanggrahan itu”

“Ki Rangga. Aku minta Ki Rangga tidak segera kembali ke Kembangarum. Aku harap Ki Rangga tinggal di Mataram ini barang semalam. Nanti aku akan menemui Ki Tumenggung Singaprana”

“Jika Ki Tumenggung menghendaki, aku akan dapat ikut bersama Ki Tumenggung”

“Jangan Ki Rangga. Jika ada orang lain, mungkin Ki Tumenggung yang sudah terlanjur membuat langkah-langkah yang keliru itu akan bertahan justru karena harga dirinya. Ia akan merasa malu jika aku menunjuk kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Tetapi jika aku sendiri, maka keadaannya akan berbeda. Aku berharap agar Ki Tumenggung tidak merasa segan dan malu mengakui kesalahannya dan menarik orang-orangnya”

Ki Rangga Kriyadipraja mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, Ki Tumenggung. Aku akan pulang ke rumahku. Keluargaku tentu akan merasa senang jika aku bermalam di rumah malam ini. Baru besok aku akan kembali ke Kembangarum. Perintah Ki Tumenggung untuk menunggu hasil pembicaraan Ki Tumenggung adalah satu kebetulan bagiku”

“Biarlah para pengawal Ki Rangga berada di Barak”

“Mereka akan bermalam di rumahku, Ki Tumenggung. Mereka akan tidur di gandok sebelah menyebelah”

“Apakah tidak terlalu merepotkan Nyi Rangga?”

“Tidak, Ki Tumenggung. Mereka datang bersamaku. Biarlah mereka juga bermalam bersamaku”

“Baiklah. Terserah saja kepada Ki Rangga”

Sebenarnyalah malam itu Ki Rangga Kriyadipraja bermalam di Mataram. Selama Ki Rangga bertugas di Kembangarum, ia memang jarang-jarang pulang. Karena itu, maka kesempatan itu adalah kesempatan yang baik bagi Ki Rangga.

Sebenarnyalah malam itu, Ki Tumenggung Yudapangarsa telah menemui Ki Tumenggung Singaprana. Ki Tumenggung Yudapangarsa pergi seorang diri ke rumah Ki Tumenggung Singaprana, agar semua pembicaraan yang dilakukan dengan Ki Tumenggung Singaprana tidak dietahui oleh orang lain, sehingga perasaan dan harga diri Ki Tumenggung singaprana tidak tersinggung.

“Bukankah yang aku lakukan itu tidak mengganggu tugas kakang Tumenggung Yudapangarsa”

“Apakah Adi Tumenggung tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang yang adi Tumenggung tugaskan di lapangan?”

“Kenapa dengan mereka?”

“Apakah adi Tumenggung memang memerintahkan mereka mengambil tanah milik rakyat begitu saja?”

Ki Tumenggung Singaprana menarik nafas panjang. Katanya, “Kami memang ingin menguasai tanah yang ada di sekitar tempat pasanggrahan itu didirikan. Bukankah itu tidak mengusik kerja kakang Tumenggung? Siapa pun yang memiliki tanah disekitar pasanggrahan itu tidak penting bagi kakang. Bahkan jika lingkungan itu menjadi ramai, maka pasanggrahan itu pun akan menjadi semakin ceria pula suasananya.

“Tidak, adi. Bahkan sebaliknya, jika sekitar pasanggrahan itu diwarnai dengan benturan kepentingan dan apalagi jika jatuh korban dan menumbuhkan dendam, maka suasana pasanggrahan itu pun akan menjadi muram. Di sekitar pasanggrahan itu akan terdapat wajah-wajah buram penuh kebencian. Apalagi dipengaruhi oleh perbedaan tingkat kehidupan yang jauh antara mereka yang tinggal di pasanggrahan dan sekitarnya dengan orang-orang padesan. Apakah dengan demikian, suasana di pasanggrahan itu akan terasa ceria atau tenang dan tenteram?”

“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa, kakang. Biar saja mereka membenci dan mendendam. Tetapi mereka tidak lebih dari seekor kecoa. Jika mereka membuat keributan, kita akan menginjaknya sampai mereka tidak berdaya lagi”

Ki Tumenggung Singaprana menarik nafas panjang. Katanya, “Kami memang ingin menguasai tanah yang ada disekitar tempat pasanggrahan itu didirikan. Bukankah itu tidak mengusik kerja kakang Tumenggung? Siapa pun yang memiliki.

“Itulah pertimbangan adi Tumenggung?”

“Lalu apa lagi, kakang”

“Apakah orang-orang adi Tumenggung di lapangan pernah melaporkan apa yang telah terjadi dengan para cantrik dari padepokan di dekat pasanggrahan itu akan dibangun?”

“Aku memang pernah mendengarnya, kakang. Tetapi belum begitu jelas. Ada sebuah padepokan yang menentang orang-orangku yang berniat membuka lingkungan pemukiman di dekat pasanggrahan yang akan dibangun itu”

“Dan para prajurit Mataram tidak dapat menginjaknya seperti menginjak kecoa?”

“Kami belum dengan bersungguh-sungguh menanganinya, kakang. Tetapi orang-orang padepokan itu tentu orang-orang yang dungu. Jika mereka merelakan tanah mereka untuk menjadi daerah hunian orang-orang kaya dari Mataram, maka harga tanah di sekitarnya nanti tentu akan melonjak. Meskipun saat ini mereka mengorbankan beberapa bidang tanah, namun mereka akan memetik hasilnya berlipat ganda kelak”

“Mereka memerlukan tanah itu. adi. Mereka tidak akan menjualnya. Sekarang, nanti atau kelak. Karena itu, mereka tidak akan memikirkan bahwa kelak harga tanah akan melonjak tinggi”

“Bukankah itu karena mereka orang-orang dungu yang tidak dapat mempergunakan penalarannya. Jika harga tanah melonjak tinggi, maka mereka dapat menjualnya kelak dan membeli tanah di daerah yang sepi, di sebelah padang perdu yang pinggir hutan. Bukankah mereka akan mendapat tanah yang luasnya berlipat empat atau lima kali”

“Tanah yang mereka huni sekarang adalah tanah yang sudah jadi. Mereka tidak akan dengan mudah meninggalkannya dan mulai membuka lingkungan baru”

“Sudahlah kakang. Kakang tidak usah memikirkan nasib orang-orang pedesaan serta padepokan di sebelah menyebelah tempat pasanggrahan itu akan dibangun. Biarlah kami mengurusnya dan mengaturnya sendiri dengan para bekel dan demang di lingkungan itu. Seorang Bekel bahkan telah menjanjikan tanah yang sangat luas kepada orang-orangku yang ada di lapangan. Tanpa membelinya. Karena wawasan Ki Bekel yang luas serta penglihatannya ke masa depan. Daerahnya akan menjadi daerah yang ramai dan sejahtera. Anak-anak mudanya akan mendapatkan pekerjaan di lingkungan hunian baru itu. Sedangkan tanah yang tersisa harganya akan menjadi berlipat seratus kali”

“Ya. Mereka akan menjadi budak yang direndahkan, sedangkan tanah yang harganya berlipat seratus itu sudah bukan milik mereka lagi”

“Kakang. Kakang terlalu berlebihan menanggapi persoalan ini. Sudahlah, sebaiknya kakang memikirkan persiapan pembuatan pesanggrahan itu saja”

“Tidak, adi Tumenggung. Bukan terlalu berlebihan. Tetapi jika keadaan disekitar tempat aku akan mengalami kesulitan pula”

“Tidak ada lingkungan yang menjadi tidak aman. Aku yang akan menanggungnya, kakang. Sementara itu, beberapa pejabat yang aku hubungi sudah menyatakan persetujuannya. Bukankah aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan mengganggu tugas kakang Tumenggung Yudapangarsa”

“Sudah aku katakan. Apa yang adi Tumenggung Singaprana lakukan itu sudah berarti mengganggu tugas-tugas kami“ Ki Tumenggung Yudapangarsa itu pun berhenti sejenak, lalu katanya pula, “adi Tumenggung Singapura. Aku minta adi menghentikan keinginan adi untuk mengambil tanah milik rakyat disekitar tempat pesanggrahan itu akan dibangun”

“Jangan memaksa, kakang”

“Adi. Jika adi Tumenggung Singaprana masih tetap pada sikap adi, jangan-jangan akan dapat timbul peristiwa yang tidak kita inginkan diantara orang-orang Mataram sendiri”

Ki Tumenggung Singaprana tertawa pendek. Katanya, “Kakang. Aku sudah mendapat dukungan dari banyak orang. Para pejabat di Mataram sudah menyatakan, bahwa sikapku adalah sikap yang benar dan menarik untuk dilaksanakan”

“Tetapi kita mempunyai atasan adi?”

“Apakah mereka sempat mengurus kerja kecil-kecilan sebagaimana kita lakukan sekarang? Bukankah mereka sedang berpikir tentang daerah bang Wetan yang nampaknya ingin melepaskan diri dari pengaruh Mataram? Sementara itu”, para prajurit Mataram sudah mulai ditarik ke barak-barak di dalam Kotaraja, sehingga setiap saat mereka akan berangkat ke daerah Bang Wetan. Bukankah Mataram memerlukan puluhan ribu prajurit untuk melawan ke Timur itu kakang? Nah. Siapakah yang akan mengurus pembuatan pasanggrahan itu selain kakang yang sudah mendapat limpahan wewenang untuk itu. Karena itu, kakang. Sebaiknya kakang justru bergabung dengan kami”

“Aku tahu, adi. Tetapi bukankah dalam keadaan seperti ini, kita yang berada di belakang garis perang ini membantu membangun suasana yang baik, yang mendukung tugas besar ke daerah Timur itu?”

“Sudahlah kakang. Marilah kita mencari celah-celah yang dapat memberikan keuntungan bagi kita. Bukankah kita juga berhak mendapatkan keuntungan dari kerja yang akan kita lakukan, asal kita dapatkan dengan cara yang baik yang tidak merugikan orang lain?”

Ki Tumenggung Yudapangarsa pun dengan serta merta telah bertanya, “Apakah yang adi maksud dengan tidak merugikan orang lain serta dengan cara yang baik itu?”

“Maksudku, bahwa aku tidak merugikan kakang yang mendapat tugas untuk membangun pesanggrahan itu. Justru karena itu, kakang juga jangan mengganggu aku”

“Apakah adi merasa bahwa adi tidak merugikan rakyat disekitar lingkungan pembangunan pasanggrahan itu dengan mengambil tanah mereka?”

“Anggap saja bahwa aku tidak akan merugikan mereka. Aku akan membeli tanah itu dengan harga yang layak”

“Siapakah yang menentukan harga yang layak itu?”

Ki Tumenggung Singaprana tertawa pendek. Katanya, “Sudahlah kakang. Jangan terlalu hiraukan apa yang akan aku lakukan”

“Tidak adi. Aku tidak dapat tinggal diam. Segala sesuatunya yang terjadi di sekitar pasanggrahan itu, akan tetap mempengaruhi kerja kami. Jika yang terjadi itu hal-hal yang baik, maka pengaruhnya juga baik. Tetapi jika yang terjadi itu hal-hal yang kurang baik, maka pengaruhnya pun kurang baik pula”

“Maaf kakang. Aku akan tetap menghormati kakang sebagai seorang Tumenggung yang dalam segala hal lebih tua dari aku. Tetapi aku minta kakang biarkan saja yang akan aku lakukan”

Jantung Ki Tumenggung Yudaprana rasa-rasanya berdegup semakin cepat. Agaknya ia harus berbuat lebih jauh dari sekedar menemui dan berbicara dengan Ki Tumenggung Singaprana.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Yudapangarsa itu pun kemudian justru minta diri.

“Baiklah adi. Nampaknya kita akan berjalan di jalan kita masing-masing menurut kebijaksanaan kita masing-masing pula”

“Maaf kakang. Yang aku lakukan adalah satu kepentingan yang pribadi. Sebagai seorang prajurit, aku akan tetap menghormati kakang”

Telinga Ki Tumenggung Yudapangarsa terasa menjadi panas. Di perjalanan pulang, Ki Tumenggung tiba-tiba saja berniat singgah di rumah Ki Rangga Kriyadipraja.

Ki Rangga yang sudah berada di dalam biliknya terkejut ketika pintu pringgitan rumahnya di ketuk orang.

Dengan tergesa-gesa Ki Rangga pun melangkah ke pintu sambil bertanya, “Siapa diluar?”

“Aku Ki Rangga”

“Ki Tumenggung Yudapangarsa?”

“Ya”

Ki Rangga pun segera membenahi rambu, ikat kepala dan pakaiannya. Kemudian mengangkat selarak pintu pringgitan.

Yang berada di depan pintu memang Ki Tumenggung Yudapangarsa yang nampak gelisah.

“Silahkan Ki Tumenggung, silahkan” Keduanya pun kemudian duduk di pringgitan. Ketika Ki Rangga akan bangkit berdiri, Ki Tumenggung pun berkata, “Jangan merepotkan Nyi Rangga. Apalagi jika Nyi Rangga sudah tidur. Duduk sajalah Ki Rangga. Aku tidak lama. Aku hanya akan berceritera”

Ki Rangga pun kemudian duduk kembali.

“Ki Rangga, ternyata kita berhadapan dengan orang-orang yang keras kepala. Aku sudah bertemu dengan Ki Tumenggung Suranegara. Tetapi ternyata Ki Tumenggung Suranegara sudah bertekad untuk meneruskan niatnya, mengambil alih tanah yang ada disekitar lingkungan pasanggrahan itu akan dibangun. Hanya mungkin ada sedikit kemajuan berpikir pada Ki Tumenggung Singaprana. Agaknya ia tidak akan mengambil tanah itu begitu saja. Tetapi ia akan membeli tanah itu, meskipun dengan harga yang sangat murah.

“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Kita harus mengatasinya”

“Bagaimana dengan Ki Patih?”

“Ki Rangga. Kita memang sedang dalam keadaan yang sulit. Aku memang akan berbicara dengan Ki Patih. Tetapi aku harus menunggu saat terbaik. Ki Tumenggung Singaprana tahu pasti, bahwa Ki Patih sekarang sedang sangat sibuk. Demikian pula Kangjeng Sinuhun sendiri. Mataram sedang mempersiapkan keberangkatan pasukan yang sangat besar untuk pergi ke daerah Timur. Agaknya kita luput dari tugas itu, karena aku sudah terlanjur mengemban-tugas memimpin pembangunan pasanggrahan itu. Sebenarnya jika aku harus memilih, maka aku akan memilih untuk berada didalam pasukan yang besar itu daripada memimpin pembangunan sebuah pasanggrahan”

Ki Rangga Kriyadipraja menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Jika demikian, kita harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Ki Tumenggung”

“Besok aku akan memanggil Ki Rangga Surawiraga. Aku akan memerintahkannya berada di Kembang Arum bersama Ki Rangga kriyadipraja. Aku akan memerintahkannya untuk membawa pasukan yang masih tersisa setelah sebagian dari pasukannya akan ikut pergi ke Timur”

“Baik, Ki Tumenggung. Besok aku akan menyiapkan tempat bagi pasukan yang ada itu di Kembangarum. Aku akan berangkat malam ini kembali ke Kembangarum”

“Tidak usah malam ini, Ki Rangga. Bukankah Ki Rangga tadi sudah akan tidur? Tidur sajalah. Baru esok pagi Ki Rangga pergi ke Kembangarum. Bukankah masih ada waktu. Sekelompok prajurit yang akan dibawa oleh Ki Rangga Surawiraga paling cepat baru akan sampai ke Kembangarum esok sore”

Ki Rangga Kriyadipraja itu menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berkata, “Terima kasih Ki Tumenggung jika aku diijinkan kembali ke Kembangarum esok pagi”

Ki Tumenggung pun tersenyum sambil berkata, “Sudahlah. Aku akan pulang. Malam sudah menjadi semakin dalam”

Demikianlah Ki Tumenggung pun segera meninggalkan rumah Ki Rangga Kriyadipraja.

Demikian Ki Tumenggung meninggalkan regol halaman, maka Nyi Rangga telah berdiri di pintu pringgitan. Dengan kerut di dahi Nyi Rangga itu pun bertanya, “Kakang akan kembali ke Kembangarum malam ini?”

“Tidak Nyi. Tidak. Ki Tumenggung memerintahkan aku esok pagi kembali ke Kembangarum. Tidak malam ini”

Wajah Nyi Rangga pun menjadi cerah. Katanya, “Kakang tentu masih letih. Baru tadi kakang pulang dari Kembangarum”

Keduanya pun kemudian masuk kembali ke dalam. Pintu pun segera diselarak.

Sementara itu, Ki Tumenggung masih dalam perjalanan pulang. Sebenarnyalah ia menjadi sangat kecewa terhadap Ki Tumenggung Singaprana.

Sebenarnyalah di pagi hari berikutnya, Ki Tumenggung telah memanggil Ki Rangga Surawiraga. Ki Tumenggung itu pun segera menjelaskan apa yang telah terjadi di lingkungan pasanggrahan yang akan dibangun itu.

“Jadi apa yang harus aku lakukan Ki Tumenggung?” bertanya Ki Rangga Surawiraga.

“Bukankah masih ada beberapa kelompok prajurit yang tersisa di barakmu?”

“Masih ada Ki Tumenggung. Tetapi sebagian besar sudah berada dalam pasukan yang besar yang akan berangkat ke Timur, dipimpin langsung oleh Ki Tumenggung Wanengpati”

“Baik. Jika demikian, bawa sekelompok diantara prajuritmu yang tersisa itu. Kita harus mencegah Ki Tumenggung Singaprana mengambil alih tanah penduduk di lingkungan sekitar pasanggrahan itu akan di bangun”

Ki Rangga Surawiraga itu mengangguk-angguk. Dengan sikap seorang prajurit ia pun menjawab, “Baik, Ki Tumenggung”

“Kalian akan berangkat hari ini ke Kembangarum. Ki Rangga Kriyadipraja telah menyiapkan tempat bagi Ki Rangga Surawiraga serta sekelompok prajurit yang akan Ki Rangga bawa”

“Baik, Ki Tumenggung. Aku akan segera menyiapkan sekelompok prajurit dan membawanya ke Kembangarum bergabung dengan Ki Rangga Kriyadipraja”

Hari itu juga Ki Rangga Surawiraga pun segera mempersiapkan sekelompok prajurit yang akan dibawanya ke Kembangarum untuk bergabung dengan Ki Rangga Kriyadipraja.

Sementara itu, pada hari itu juga, pagi-pagi benar Ki Rangga Kriyadipraja serta beberapa orang pengawalnya telah mendahului kembali ke Kembangarum. Ki Rangga harus menyiapkan tempat bagi sekelompok prajurit yang akan bergabung dengan prajurit-prajuritnya di Kembangarum.

Prajurit Ki Rangga Kriyadipraja di Kembangarum hanya terdiri dari beberapa orang saja. Tugas mereka hanyalah mempersiapkan segala sesuatunya dalam hubungannya dengan pembangunan pasanggrahan itu. Karena itu, ketika timbul persoalan di luar persoalan yang langsung mengenai pembangunan pasanggrahan itu, para prajurit Ki Rangga Kriyadipraja tidak cukup memadai jumlahnya.

Karena itu, kedatangan sekelompok prajurit baru di Kembangarum akan sangat membantu tugas Ki Rangga Kriyadipraja.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Yudapangarsa, bahwa baru di sore hari sekelompok prajurit dibawah pimpinan Ki Rangga Surawiraga itu sampai di Kembangarum. Mereka langsung memasuki halaman rumah yang dipergunakan oleh Ki Rangga Kriyadipaja serta beberapa orang prajurit yang bertugas bersamanya.

Ketika sekelompok prajurit itu sampai di Kembangarum, maka Ki Rangga Kriyadipraja sudah selesai mempersiapkan barak bagi mereka. Kembangarum telah menyediakan banjar padukuhannya bagi kepentingan para prajurit itu.

Sejak hari itu, di Kembangarum telah tinggal sekelompok prajurit yang cukup banyak untuk dapat mengatasi persoalan yang mungkin timbul disekitar tempat pesanggarahan yang akan dibangun itu.

Ternyata bahwa persoalan itu timbul demikian cepatnya. Ki Rangga Kriyadipraja pun telah menerima laporan dari prajurit-prajuritnya yang berada di rumah Ki Demang, bahwa akan terjadi pengambil-alihan tanah di sebuah padukuhan.

“Padukuhan Randu Batang, Ki Rangga” berkata seorang prajurit yang berada di rumah Ki Demang.

Ki Rangga Kriyadipraja pun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku akan berbicara dengan Ki Rangga Surawiraga”

“Jika demikian, maka aku akan kembali ke rumah Ki Demang. Biarlah Ki Demang besok juga datang ke padukuhan Randu Batang”

“Bagaimana sikap Ki Bekel di Randu Batang?”

“Sikap Ki Bekel tidak jelas, Ki Rangga. Tetapi agaknya Ki Bekel sudah dipengaruhi oleh Ki Panji Suranegara. Bahkan Ki Bekel nampaknya sudah menekan rakyatnya untuk membiarkan tanah mereka dikuasai oleh Ki Panji Suranegara.

“Kita akan melihat esok”

“Tetapi rakyat Randu Batang akan menentangnya”

“Para prajurit yang dipimpin oleh Ki Rangga Surawiraga akan melindungi rakyat Randu Batang”

“Baik Ki Rangga”

Prajurit itu pun segera kembali ke rumah Ki Demang untuk memberitahukan keberadaan Ki Rangga Surawiraga di padukuhan Kembangarum.

Ketika malam tiba, terasa kegelisahan telah mencengkam rakyat Randu Batang. Anak-anak muda hilir mudik dari banjar ke gardu-gardu parondan. Sementara itu orang-orang tua berkumpul di banjar untuk berbicara tentang rencana pengambil alihan sebagian tanah milik rakyat padukuhan itu oleh Ki Panji Suranegara.

“Bukankah tanah itu tidak diambil begitu saja oleh Kangjeng Sinuhun di Mataram? Kangjeng Sinuhun yang memiliki tanah membeli negeri Mataram ini telah berbaik hati dengan bersedia tanahnya sendiri. Apalagi tanah itu akan dipergunakan oleh Kangjeng Sinuhun sendiri” berkata Ki Bekel.

“Bukankah tanah untuk pesanggrahan itu sudah disiapkan oleh Ki Demang? Tanah yang sudah cukup luas, yang menurut beberapa orang prajurit Mataram, bahwa tanah itu sudah cukup. Jadi buat apa Kangjeng Sinuhun mengambil tanah kami. Tanah garapan kami yang menjadi pilar hidup keluarga kami”

“Kau yang terlalu besar kepala” bentak Ki Bekel, “Kenapa kau merasa handarbeni bumi itu? Sebaiknya kau segera terbangun dari mimpimu. Tanah itu akan diambil kembali oleh yang punya. Bahkan yang punya itu telah berbaik hati membeli tanah itu dari kalian. Kalian yang sebenarnya tidak punya apa-apa”

“Ki Bekel. Harga yang ditawarkan itu tidak umum. Di tempat ini harga tanah seharusnya duapuluh-lima kali lipat dari harga yang ditawarkan oleh Ki Panji”

“Itu sudah jauh lebih baik daripada tanah itu begitu saja diambil kembali oleh yang punya. Ingat, Kangjeng Sinuhun yang akan mempergunakan tanah itu sebenarnya adalah yang punya tanah itu”

“Kami sudah menggarapnya turun-temurun, Ki Bekel”

“Kau harus berterimakasih dua kali lipat. Kau sudah diperkenankan menggarap sawah itu turun temurun. Jika tanah itu dihitung hasilnya dibagi dua antara yang menggarap dan pemiliknya, maka sudah berapa hutangmu kepada Kangjeng Sinuhun. Sekarang pun kau harus berterima kasih, karena yang punya tanah itu telah bersedia membelinya berapa pun harganya”

“Tetapi tanpa garapan itu, kami akan dapat menjadi kelaparan” berkata seorang laki-laki yang di kepalanya mulai tumbuh uban satu dua helai, “Ki Bekel tahu, anakku lima orang. Dirumahku selain lima orang anak, ada istriku, mertuaku laki-laki dan perempuan, serta ibuku sendiri. Sedang ayahku telah meninggalkan beberapa tahun yang lalu. Bahkana disamping mereka kadang-kadang adik iparku berada di rumahku pula. Sebulan atau dua bulan. Kalau aku kehilangan sawah itu, lalu darimana kami dapat makan”

“Kau akan menerima uang dari Kangjeng Sinuhun. Kau akan dapat mempergunakannya sebagai modal”

“Modal apa. Berapakah jumlah uang yang akan kami terima? Menurut hitunganku, jika tanahku dibeli dengan harga sebagaimana ditetapkan oleh Ki Panji itu, uang yang akan aku terima hanya cukup untuk membeli seekor anak kambing? Katakan kambing itu betina, barapa lama aku menunggu kambing itu beranak? Sementara itu, anak-anakku satu-satu akan mati kelaparan.

“Cukup” bentak Ki Bekel, “Kalian ternyata orang-orang yang terlalu mementingkan diri sendiri. Kalian menilai persoalan yang digelar dibumi ini dari sudut pandang diri sendiri, sehingga kalian sama sekali tidak memperhitungkan kepentingan orang lain. Kepentingan orang banyak dan bahkan kepentingan Kangjeng Sinuhun sendiri”

“Bukankah Kangjeng Sinuhun memiliki apa saja yang tidak dimilki oleh orang lain? Karena itu sebaiknya Kangjeng Sinuhun tidak merampas tanah kami” berkata seorang yang lain lagi.

“Sudahlah” Ki Bekel itu pun membentak lagi, “jangan berbicara lagi. Bicara kalian membuat aku menjadi mual. Dengar, separo dari tanah sendiri dan sebagian dari pelungguhku juga berada didalam patok bambu itu. Aku akan merelakannya.Tetepi kelah harga tanahku yang separo lagki akan berlipat lima puluh kali”

“Itu kalau masih ada tanah yang tersisa, Ki Bekel. Tetapi tanahku semuanya berada di dalam gawar lawe itu. Jadia, apa yang kelak bisa aku jual meskipun harga tanah berlipat seribu kali”

“Kau memang bodoh sekali. Pesanggrahan itu akan memberikan lapangan kerja, akan memberikan kemungkinan mengalirnya uang ke padukuhan ini untuk membeli kebutuhan sehari-hari”

Ketika seorang yang lain akan berbicara, Ki Bekel pun berkata hampir teriak, “Sudah, diam kalian semua. Tidak ada yang harus kita bicarakan disini. Semua sudah menjadi ketetapan yang hanya dapat dilaksanakan. Tanpa dibicarakan lagi”

Orang-orang padukuhan itu pun terdiam. Apalagi ketika Ki Jagabaya padukuhan Randu Batang itu bangkit berdiri dengan tangan bersilang di dadanya. Maka rakyat Randu Batang pun menjadi semakin ketakutan. Ki Jagabaya itu dahulu waktu mudanya adalah seorang gegedug yang ditakuti. Tetapi kemudian ia menyesali perbuatannya, sehingga menjadi orang yang baik. Karena itu, ketika diselenggarakan pemilihan seorang Jagabaya, maka orang itu pun terpilih.

Dengan terpilihnya Jabagaya baru itu, maka padukuhan Randu Batang menjadi aman. Orang yang akan melakukan kejahatan harus berpikir dua tiga kali, karena mereka harus berhadapan dengan Ki Jagabaya yang bekas gegedug yang menakutkan itu.

Namun pada saat-saat terakhir, bersama Ki Bekel, Ki Jagabaya mulai berhubungan dengan Ki Panji Suranegara. Rasa-rasanya janji-janji yang diberikan oleh Ki panji Suranegara dapat memberikan harapan bagi masa depan mereka yang panjang serta anak cucu mereka. Karena itu, maka Ki Bekel, Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu pun telah tergelincir dan kehilangan tanggung-jawab mereka selaku bebahu sebuah padukuhan yang harus mengadiakn hidupnya bagi rakyatnya.

Orang-orang yang berada di banjar itu pun terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Jagabaya itu berteriak, “Sekarang pulang. Pulang, semuanya harus pulang ke rumah masing-masing. Jangan berkeliaran di jalan-jalan atau di mulut jalan utama padukuhan ini”

Beberapa orang memang segera beringsut. Mereka menjadi ngeri melihat mata Ki Jagabaya yang menjadi semerah bara. Wajah Ki Jagabaya pun seakan-akan telah berubah sebagaimana waktu mudanya, pada saat-saat Ki Jagabaya masih menjadi gegedug yang ditakuti.

Karena orang-orang yang berada di banjar itu tidak segera beranjak pergi, maka ki Jagabaya pun berteriak lebih keras, “Pergi. Pergi. Atau aku harus memaksa kalian pergi?”

Orang-orang yang berada di banjar itu mulai bergerak. Satu-satu mereka pun meninggalkan pendapa banjar. Bahkan agaknya Ki Bekel dan Ki Jagabaya masih mengusir mereka agar mereka meninggalkan halaman banjar.

“Pulang. Pulang. Semua orang harus pulang. Jika aku menemukan mereka yang masih berkeliaran di jalan-jalan, maka aku akan memaksa mereka itu pulang. Kalau perlu dengan kekerasan”

Orang-orang Randu Batang itu pun terpaksa keluar dari halaman banjar, tetapi mereka tidak segera pulang. Mereka ternyata masih berkumpul di simpang empat di sebelah gardu.

“Aku tidak rela menyerahkan tanah itu, kang” berkata seorang laki-laki yang masih terhitung muda, “anakku sekarang sudah bertambah satu lagi. Jika aku kehilangan tanah itu, lalu apa yang akan kami makan sekeluarga”

“Ya” sahut yang lain, “daripada seluruh keluarga kami mati perlahan-lahan karena kelaparan, biarlah kami mati besok pagi”

Ternyata orang-orang padukuhan Randu Batang itu seakan-akan telah mendapatkan satu kekuatan baru untuk mempertahankan tanah mereka.

Demikianlah, maka hampir semalam-malaman orang-orang Randu Batang berada di beberapa tempat di padukuhan. Mereka yang semula menjadi ketakutan melihat mata Ki Jagabaya, rasa-rasanya menjadi semakin berani. Mereka didorong oleh tanggung-jawab mereka terhadap keluarga mereka yang akan kehilangan sumber kehidupan mereka sehari-hari.

Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu mengetahui bahwa orang-orang Randu Batang tidak segera pulang ke rumah masing-masing. Mereka tahu bahwa orang-orang Randu Batang masih berkumpul di beberapa tempat di padukuhan itu. Tetapi mereka tidak akan dapat mengusir mereka. Jika orang-orang itu kehabisan kesabaran, maka akan dapat terjadi benturan kekerasan. Sementara jumlah rakyat Randu Batang itu jauh lebih banyak dan bahkan berlipat ganda dari para bebahu.

Para bebahu pun mengangguk-angguk. Mereka memang agak ngeri juga menghadapi rakyat mereka jika rakyat mereka itu benar-benar kehabisan kesabaran. Karena itu, maka para bebahu itu menunggu dengan gelisah datangnya pagi hari. Kemudian Ki Panji Suranegara akan datang dengan beberapa orang prajuritnya.

Ketika langit menjadi merah, rakyat Randu Batang menjadi semakin gelsiah. Jika benar apa yang mereka dengar, maka pagi itu Ki Panji Suranegara akan datang. Mereka akan mengambil tanah rakyat Randu Batang yang berada di belakang gawar lawe yang sudah mereka pasang.

Rakyat Randu Batang memang tidak mencabuti patok-patok serta melepas gawar lawe. Ketika mereka akan melakukan itu, para bebahu segera mencegahnya.

Tetapi pada saat-saat yang menentukan, rakyat Randu Batang menjadi sekelompok orang-orang yang garang. Apalagi anak-anak mudanya. Sehingga dengan demikian, maka para bebahu merasa lebih baik menunggu kedatangan Ki Panji Suranegara.

Ketika kemudian keremangan fajar telah terkuak oleh cahaya matahari pagi, rakyat Randu Batang itu pun telah berada di sawah mereka yang telah dipasang patok dan gawar lawe. Tidak hanya mereka yang sawahnya terkena patok saja yang berkumpul, tetapi seluruh rakyat Randu Batang mereka ikut serta berkepentingan.

Seorang yang sawahnya berada di tempat yang agak jauh diseberang pedukuhannya berkata, “Sekarang tanahku masih aman. Tetapi jika mereka dibiarkan mengambil hak kita sesuka hati, maka sawahku itu pun tentu pada suatu saat akan mereka ambil pula. Karena itu kita sekarang harus mencegahnya.

Rakyat Randu Batang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Ki Demang dan beberapa orang bebahu kade-mangan telah datang ke padukuhan mereka. Orang-orang Randu Batang mengira, bahwa Ki Demang pun telah diperalat pula oleh Ki Panji Suranegara sebagaimana Ki Bekel.

Karena itu, ketika Ki Demang berjalan menuju ke arah mereka, tiga orang yang dituakan di padukuhan Randu Batang itu telah pergi menemui mereka.

“Selamat pagi Ki Demang” salah seorang dari ketiga orang itu menyapanya.

“Selamat pagi. Dimana Ki Bekel?” bertanya Ki Demang.

“Apakah Ki Demang akan menemui Ki Bekel?”

“Ya”

“Untuk apa? Apakah kalian tidak tahu, bahwa pagi ini Ki Panji Suranegara akan datang ke p adukuhan ini untuk mengambil alih beberapa bahu tanah padukuhanmu?”

“Kami tahu Ki Demang. Karena itu kami sekarang berada disini untuk menunggu kedatangan Ki Panji Suranegara”

“Apakah Ki Bekel tidak berbuat sesuatu”

“Maksud Ki Demang?”

“Apakah Ki bekel tidak berada di antara kalian sekarang?”

“Tidak, Ki Demang”

“Baik. Aku akan bertemu dengan Ki Bekel. Seharusnya ia berada diantara kalian. Seharusnya Ki Bekel berusaha untuk membatalkan pengambil alihan ini”

“Jadi menurut Ki Demang, Ki Bekel harus berusaha membatalkan pengambil alihan ini?”

“Ya. Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian datang untuk dengan suka rela menyerahkan tanah kalian yang telah mereka beli dengan harga yang rendah sekali itu?”

“Ki Demang tidak setuju dengan pembelian itu?”

“Tentu tidak. Aku datang untuk membantu Ki Bekel mencegah pembelian yang sama sekali tidak adil ini”

Orang itu pun menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Maaf Ki Demang. Kami sudah salah duga. Kami mengira bahwa Ki Demang datang untuk membantu Ki Bekel mengendalikan niat kami menentang pengambil alihan tanah kami”

“Apa yang kau katakan? Apakah Ki Bekel tidak merasa berkeberatan bahwa tanah kalian akan diambil?”

“Ki Bekel justru menekan agar kami bersedia melepaskan tanah kami yang dibeli dengan harga yang tidak pantas”

“Dimana Ki Bekel sekarang?”

“Semalam Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu berada di banjar”

“Besok Ki Panji Suranegara akan membawa beberapa orang prajurit. Mereka akan cukup banyak untuk menakut-nakuti orang-orang yang berniat melawan keinginan Ki Panji Suranegara itu” berkata Ki Bekel.

“Aku akan pergi ke banjar”

Ki Demang pun kemudian pergi ke banjar diiringi oleh para bebahu kademangan serta tiga orang prajurit yang mendapat perintah Ki Rangga Kriyadipraja berada di rumahnya.

Ketika ia berjalan melewati orang-orang Randu Batang yang berkerumun itu, maka mereka pun telah menyibak. Sementara itu orang yang telah berbicara dengan Ki Demang itu pun berteriak, “Ki Demang berada dipihak kita”

Orang-orang Randu Batang masih saja merasa ragu. .

Meskipun demikian, mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka biarkan Ki Demang serta para bebahu kademangan itu lewat.

Tiga orang yang menyongsong Ki Demang itu masih saja mengikutinya ke banjar. Mereka ingin tahu, apa yang akan dikatakan oleh Ki Demang kepada Ki Bekel.

Tetapi ketika Ki Demang dan para pengiringnya sampai di banjar, ternyata Ki Bekel dan para bebahu padukuhan Randu Batang telah tidak ada

“Mereka pergi ke mana?” bertanya Ki Demang.

Tetapi tidak seorang pun yang mengetahuinya. Ketika Ki Demang itu bertanya kepada penunggu banjar yang tua, maka orang tua itu pun tidak tahu.

“Ki Bekel dan para bebahu pergi begitu saja tanpa memberikan pesan apa-apa” berkata penunggu banjar itu.

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Kita kembali ke bulak”

Ketika Ki Demang kemudian meninggalkan banjar itu, maka para pengiringnya pun mengikutinya pula.

Ketika Ki Demang sampai ke bulak, maka Ki Demang itu pun terkejut. Di bulak itu Ki Panji Suranegara bersama sekelompok prajurit sudah siap menghadapi rakyat Randu Batang yang menentang niat mereka mengambil alih tanah rakyat Randu Batang dengan menancapkan tulisan-tulisan pada papan-papan kayu yang menyatakan bahwa tanah itu adalah tanah milik Ki Tumenggung Singaprana, seorang Senapati prajurit Mataram yang dengan setia mengabdi kepada Kangjeng Sinuhun.

Diantara para prajurit yang dipimpin oleh Ki Rangga Suranegara itu terdapat pula Ki Bekel dan para bebahu padukuhan Randu Batang.

Wajah Ki Demang menjadi tegang. Ia pun segera melangkah maju dan berdiri di hadapan rakyat Randu Batang, “Ki Bekel. Apa yang kau lakukan?”

Ki Bekel memandang Ki Demang dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Sebaiknya Ki Demang tidka usah ikut campur”

Namun terdengar dari sisi lain seseorang menyahut, “Bukankah Ki Demang yang memerintah di kademangan ini? Bukankah Ki Bekel berada di bawah perintahnya?”

Semua orang berpaling. Dari belakang rakyat Randu Batang itu muncul Ki Rangga Kriyadipraja bersama beberapa orang prajurit pengawalnya.

“Ki Rangga Kriyadipraja” berkata Ki Panji Suranegara, “Aku sudah memperingatkanmu, agar kau tidak mencampuri tugasku mengemban perintah Kangjeng Sinuhun. Perintah yang kau emban adalah membangun pasanggrahan, sementara kami harus menyiapkan tanah bukan saja bagi pasanggrahan itu, tetapi juga bagi para pemimpin di Mataram yang ingin membangun pasang-grahan-pasanggrahan kecil di sekitar pasanggrahan Kangjeng Sinuhun itu”

“Kau sudah cukup banyak berbicara Ki Panji Suranegara. Sekarang sudah waktunya omong-kosongmu itu diakhiri. Nah, kau lihat, yang keluar dari padukuhan itu adalah pasukan yang dipimnpin oleh Ki Rangga Surawiraga. Ki Panji Surawiraga akan mencegah niatmu yang kotor itu”

Ki Panji Suranegara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku tidak peduli. Tetapi tanah ini sudah kami beli. Uangnya sudah kami serahkan kepada Ki Bekel yang akan menyalurkan uang itu kepada para petani yang menggarap sawah ini”

“Kami tidak merelakan tanah kami” teriak seseorang.

“Kau dengar Ki Panji. Mereka tidak merelakan tanahnya” berkata Ki Rangga Kriyadipraja.

“Aku tidak peduli” jawab Ki Panji Suranegara.

Ternyata Ki Demang menjadi tidak telaten. Tiba-tiba saja melangkah kedepan. Kemudian Ki Demang itu pun mulai mencabut papan-papan yang bertuliskan bahwa tanah itu adalah milik Ki Tumenggung Singaprana.

Rakyat Randu Batang pun segera mengikutinya. Mereka beramai-ramai mencabuti papan-papan yang menyatakan bahwa tanah itu adalah tanah milik Ki Tumenggung Singaprana.

Tetapi pada saat itu pula para prajurit yang dipimpin Ki Suranegara itu pun telah berloncatan pula. Mereka membawa tongkat-tongkat pemukul yang terbuat dari potongan-potongan kayu dan rotan.

Dalam waktu dekat telah terjadi perkelahian antara orang-orang Randu Batang dengan para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara.

Dalam pada itu, Ki Rangga Kriyadipraja pun segera memberi isyarat kepada Ki Rangga Surawiraga untuk bergerak. Ki Rangga Surawiraga telah mendapat tugas yang diberikan oleh Ki Tumenggung Yudapangarsa, sehingga tindakan yang akan diambil oleh Ki Rangga Surawiraga adalah sah sebagai tindakan sekelompok prajurit Mataram.

Tetapi Ki Rangga Surawiraga itu tidak segera bertindak. Prajurit-prajuritnya hanya mengawasi saja apa yang telah terjadi. Prajurit-prajurit itu berdiri saja di jalan bulak seakan-akan justru menonton apa yang telah terjadi itu.

Ki Rangga Kriyadipraja menjadi heran. Karena itu, maka ia pun berlari-lari mendekati Ki Rangga Surawiraga.

“Ki Rangga, Ki Rangga dapat mencegah para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara Apa yang mereka lakukan itu sama sekali bukan atas nama tugas mereka sebagai prajurit. Tetapi mereka lakukan untuk kepentingan Ki Tumenggung Singaprana pribadi. Sedangkan Ki Rangga datang dengan membawa tugas dari Ki Tumenggung Yudapangarsa”

Tetapi Ki Rangga Surawiraga itu pun menjawab, “Aku tidak ingin prajurit-prajuritku berkelahi dengan prajurit-prajurit Mataram sendiri. Ki Rangga”

“Tetapi mereka sudah melakukan kesalahan. Mereka telah menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang yang ada di tangan mereka untuk kepentingan yang salah”

“Apa pun yang mereka lakukan, aku tidak akan berkelahi melawan mereka”

“Lalu apa artinya kedatangan Ki Rangga Surawiraga kemari?”

“Kami akan mempergunakan kekuatan kami untuk melawan para penjahat. Kamki akan melawan mereka yang akan merusak sendi-sendi kehidupan di Randu Batang. Jadi bukan untuk berkelahi antara prajurit Mataram dengan prajurit Mataram yang lain”

Wajah Ki Rangga Kriyadipraja menjadi merah. Ki Rangga Surawiraga benar-benar tidak mau memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk mencegah tindakan sewenang-wenang Ki Panji Suranegara.

“Ki Rangga Kriyapraja” berkata Ki Rangga Surawiraga” seharusnya Ki Rangga mencegah agar rakyat Randu Batang tidak melawan para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara

Perkelahian itu hanya akan merugikan orang-orang Randu Batang sendiri.

Ki Rangga Kriyadipraja menjadi sangat kecewa dan marah. Dengan geram ia pun berkata, “Ki Rangga Surawiraga. Di Randu Batang Ki Rangga disambut dengan baik. Bahkan Ki Rangga telah mendapat tempat yang terhormat. Orang-orang Randu Batang sangat berpengharapan bahwa Ki Rangga dan pasukan Ki Rangga dapat melindungi mereka. Tetapi ternyata Ki Rangga Surawiraga sama sekali tidak membantu orang-orang Randu Batang”

Ki Rangga Surawiraga itu justru tertawa. Katanya, “Apakah Ki Rangga Kriyadipraja senang melihat para prajurit Mataram berbenturan yang satu dengan yang lain?”

“Jadi, apa yang akan Ki Rangga Surawiraga lakukan jika Ki Rangga melihat prajurit Mataram yang melanggar hak rakyat Mataram sendiri?”

“Sudahlah Ki Rangga Kriyadipraja. Jangan terlalu memikirkan akibat perbuatan Ki Panji Suranegara yang bertindak atas nama Ki Tumenggung Singaprana. Biarlah mereka lakukan apa yang ingin mereka lakukan. Bukankah langkah-langkah mereka tidak akan mengganggu tugas Ki Rangga Kriyadipraja membangun pesanggrahan itu? Selama ini Ki Tumenggung Singaprana telah melakukan usaha bagi kesejahteraan prajurit Mataram serta tidak mengganggu tugas-tugas Ki Tumenggung Yudapangarsa”

“Bagus. Bagus Ki Rangga. Sekarang aku tahu bahwa Ki Rangga Surawiraga justru telah terlibat dalam usaha Ki Tumenggung Singaprana yang tidak sah itu. Agaknya Ki Tumengggung Yudapangarsa telah salah memilih Ki Rangga Surawiraga untuk melindungi rakyat Randu Batang dari kesewenang-wenangan Ki Tumenggung Singaprana”

Ki Rangga Surawiraga itu pun tertawa.

Ki Rangga Kriyadipraja tidak menunggu jawaban Ki Rangga Surawiraga. Ia pun segera berlari kembali ke arena benturan antara rakyat Randu Batang dengan para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara.

“Apa yang mereka katakan kepadamu Ki Rangga Kriyadipraja?” teriak Ki Panji Suranegara.

Ki Rangga tidak mendengarkan teriakan itu. Tetapi Ki Rangga Kriyadipraja pun segera menemui Ki Demang yang terlibat langsung dalam perkelahian itu.

Seleret garis merah menyilang di kening Ki Demang. Bahkan punggungnya, lengannya dan hampir seluruh tubuhnya merasa sakit oleh pukulan-pukulan tongkat kayu dan rotan.

“Perintahkan rakyatmu mundur, Ki Demang”

“Kami tidak akan merelakan tanah kami”

“Aku berjanji untuk menyelesaikannya kelak. Tanah itu tidak akan mereka bawa kemana-mana Tanah itu akan tetap berada di situ. Mereka tidak akan dapat membawa tanah kalian kemana-mana. Aku berjanji untuk mengurus pemilikan tanah itu lebih lanjut. Jika perlu ke tingkat yang lebih tinggi lagi di Mataram”

Ki Demang pun masih saja ragu-ragu. Tetapi hatinya pun bergetar pula melihat beberapa orang rakyatnya sudah tidak berdaya. Mereka terbaring sambil mengerang kesakitan. Kawan-kawan mereka hanya dapat membawa orang-orang itu kebelakang garis benturan antara rakyat Randu Batang dengan para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara”

“Jangan membiarkan rakyatmu semakin menderita Ki Demang. Perintahkan mereka mundur. Biarlah hari ini tanah itu dimiliki oleh Ki Tumenggung Singaprana. Tetapi tidak akan lebih dari dua pekan, maka tanah itu tentu sudah kembali kepada kalian”

Ki Demang sendiri sudah kesakitan di seluruh tubuhnya. Sementara itu para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara itu mengamuk dengan garangnya. Meskipun mereka hanya bersenjata tongkat kayu dan rotan, namun orang-orang yang terkena pukulannya pun menjadi sangat kesakitan.

“Bagaimana dengan para prajurit yang ada di banjar itu, Ki Rangga”

“Kita tidak dapat mengharapkan mereka. Mereka tidak mau berbenturan dengan sesama prajurit”

Ki Demang tidak mempunyai banyak kesempatan. Ia pun kemudian meneriakkan perintah kepada rakyat Randu Batang agar mereka menarik diri.

“Tinggalkan tempat ini” teriak Ki Demang.

Rakyat Randu Batang merasa bahwa mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa. Para prajurit yang terlatih itu segera mendesak mereka. Bahkan orang-orang yang sudah berlari-lari pun masih juga dikejar untuk dipukuli.

Namun beberapa orang masih sempat menolong kawan-kawan mereka. Ki Rangga Kriyadipraja dan beberapa orang prajuritnya yang jumlahnya tidak seberapa, telah berusaha untuk membantu orang-orang yang terluka dan membawa mereka ke padukuhan. Bagaimanapun juga, para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara itu tidak dapat bertindak terlalu kasar kepada para prajurit yang dipimpin oleh Ki Rangga Kriyadipraja, yang dengan tenang membantu membawa orang orang yang kesakitan.

Rakyat Randu Batang pun telah berlari bercerai berai. Sebagian besar dari mereka menjadi kesakitan. Ada yang kakinya bagaikan terasa retak. Ada yang giginya patah dan tanggal, sehingga mulutnya berdarah. Ada yang perutnya menjadi mual.

Rakyat Randu Batang yang berlari bercerai berai itu pun akhirnya berkumpul di sebelah padukuhan mereka, di sawah yang baru saja dipetik hasilnya serta dibabar batangnya. Sawah ditanami jagung itu menjadi seperti ara-ara yang cukup luas.

Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu tidak ada diantara mereka, karena mereka masih berada bersama para prajurit yang dipimpin oleh Ki Panji Suranegara.

Ternyata Ki Panji Suranegara itu masih sempat melambaikan tangannya kepada Ki Rangga Suranegara yang kemudian membawa prajurit-prajuritnya kembali ke Kembangarum.

Yang kemudian berada di sawah yang baru saja dipanen itu adalah Ki Demang dan para bebahu serta Ki Rangga Kriyadipraja serta para prajuritnya yang jumlahnya tidak seberapa

“Kali ini kita tidak berhasil” berkata Ki Demang, “Tetapi dengarkan janji Ki Rangga Kriyadipraja”

Ki Rangga pun kemudian berdiri di atas pematang dihadapan rakyat Randu Batang, “Saudara-saudaraku. Tanah itu hari ini dikuasai oleh Ki Panji Suranegara. Tetapi jangan cemas. Ki Panji Suranegara tidak akan dapat membawa tanah itu pergi. Karena itu, pemilikan tanah itu masih akan dapat diurus dan diselesaikan. Aku berjanji untuk membantu kalian mengembalikan pemilikan tanah itu kepada yang berhak. Di Mataram ini berlaku tatanan dan paugeran, sehingga seseorang tidak dapat bertindak sewenang-wenang dengan landasan kuasa dan kekuatannya. Tatanan dan paugeran itu akan berlaku bagi siapa saja. Termasuk bagi Ki Tumenggung Singaprana Karena itu, tenanglah. Kalian harus menahan diri”

“Apakah kami masih harus bersabar melihat tanah kami dirampas seperti itu?”

“Ya. Kalian harus sabar. Yang penting, tanah itu akan kembali kepada kalian. Jika kalian mengadakan perlawanan sebagaimana yang kalian lakukan tadi, maka hasilnya ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Ternyata Ki Rangga Surawiraga dengan alasan tidak ingin membenturkan prajurit-prajuritnya dengan sesama prajurit Mataram, tidak dapat membantu kalian”

“Sampai kapan kami harus bersabar Ki Rangga?” bertanya seorang yang lain.

“Aku akan mengurusnya. Yang penting bagi kalian, tanah itu akan kembali kepada kalian”

“Tetapi prajurit-prajurit itu tidak mau pergi”

“Pada saatnya mereka akan pergi”

“Sudahlah” Ki Demang pun berusaha menengahi, “Aku akan menjadi tanggungan bahwa Ki Rangga Kriyadipraja akan menepati janjinya. Tetapi kalian memang harus bersabar. Seperti yang dikatakan tadi, bahwa tanah itu pasti akan kembali kepada kalian. Hanya soal waktu saja”

“Tetapi kita juga berpacu dengan musim, Ki Demang. Tanaman kami di sawah kami itu sudah rusak diinjak-injak para prajurit dan bahkan kami sendiri ikut menginjak-injak. Hasilnya tentu tidak akan baik di musim panen mendatang. Apalagi jika sampai di musim panen itu, tanah kami masih mereka kuasai”

“Aku akan berusaha, agar sebelum musim panen tanah itu sudah berada kembali di tangan kalian”

“Janji Ki Rangga Kriyadipraja itu kami pegang”

“Ya. Aku akan berusaha sekuat tenagaku”

Demikianlah, maka Ki Demang pun kemudian telah menganjurkan agar rakyat Randu Batang itu pulang.

“Jangan bertindak sendiri-sendiri. Aku akan selalu berhubungan dengan Ki Rangga Kriyadipraja yang berada di padukuhan Kembangarum”

“Prajurit-prajurit yang menganggap mendapat tontonan yang mengasyikkan itu aku dengar juga tinggal di Kembangarum, Ki Demang” berkata seseorang.

“Ya. Mereka juga berada di Kembangarum. Tetapi segala sesuatunya nanti akan diselesaikan oleh Ki Rangga”

Rakyat Randu Batang itu pun kemudian pulang ke rumah mereka masing-masing. Yang masih kesakitan telah diantar oleh tetangga-tetangganya.

Namun peristiwa itu seakan-akan telah memutuskan hubungan antara rakyat Randu Batang dengan Ki Bekel dan para bebahu di Randu Batang. Rakyat Randu Batang sama sekali sudah tidak menghormati lagi Ki Bekel dan para bebahu yang justru berpihak kepada mereka yang ingin merampas tanah mereka.

Untuk melindungi Ki Bekel dan para bebahu dari kemarahan rakyatnya yang setiap saat dapat saja meledak, maka Ki Panji Suranegara telah menempatkan beberapa orang prajuritnya di ramah Ki Bekel di Randu Batang.

Meskipun demikian, meskipun tidak akan ada orang yang berani mengganggu keselamatan Ki Bekel, namun ternyata Ki bekel itu selalu saja dibayangi oleh kegelisahan. Ia tidak dapat bebas bergerak. Tetangga-tetangganya tidak lagi mau menyapanya. Bahkan jika Nyi Bekel pergi ke pasar, rasa-rasanya orang sepasar telah memalingkan wajah mereka.

Anak-anak Ki Bekel dan para bebahu itu pun telah dikucilkan oleh anak-anak Randu Batang. Mereka tidak dapat ikut bermain bersama anak-anak lain sebayanya. Jika anak Ki Bekel atau para bebahu mendatangi mereka, maka anak-anak yang sedang bermain pun berlari-larian pulang atau pindhah ke tempat lain.

Sementara itu, Ki Panji Suranegara yang telah merasa berhasil di Randu Batang, telah berusaha untuk meluaskan pengaruhnya. Yang kemudian menjadi hambatan bagi Ki Panji Suranegara adalah tanah yang dikuasai oleh padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana. Jika tanah itu sudah mereka kuasai, maka yang lain akan menjadi semakin mudah.

Ternyata Ki Tumenggung Singaprana yang mendapat laporan tentang padepokan itu pun berniat untuk menanganinya sendiri. Bahkan Ki Tumenggung itu ingin memanfaatkan para prajurit yang dipimpin Ki Rangga Surawiraga, yang berada di Kembangarum untuk membantunya, memaksa padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu untuk melepaskan sebagian dari tanahnya.

Bagi Ki Tumenggung Singaprana, maka Ki Rangga Surawiraga itu tidak akan mendatangkan kesulitan apa-apa. Ki Rangga Surawiraga adalah justru salah seorang yang telah berkomplot untuk menguasai tanah di sekitar pasanggrahan itu akan dibangun, sehingga kelak tanah itu dapat dijual dengan harga yang tinggi sekali. Jika pasanggrahan itu sudah jadi, maka tentu akan banyak orang-orang kaya di Mataram, termasuk para pejabat dan para pengusaha untuk mencari tanah di sekitar pasanggrahan itu.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga Kriyadipraja pun telah berada di Mataram pula untuk memberikan laporan kepada Ki Tumenggung Yudapangarsa.

“Ternyata Ki Rangga Surawiraga tidak dapat melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Ki Tumenggung Yudapangarsa kepadanya” berkata Ki Rangga Kiryadipraja.

Ki Tumenggung Yudapangarsa itu pun mengangguk-angguk. Kerut didahinya rasa-rasanya menjadi semakin dalam. Terbayang kemarahan diwajah yang dalam kesehariannya nampak selalu tenang dan sabar itu.

“Ki Rangga Kriyadipraja” berkata Ki Tumenggung Yudapangarsa kemudian, “Aku tentu tidak akan dapat menarik pasukan Ki Rangga Surawiraga”

“Kenapa?” bertanya Ki Rangga.

“Seandainya aku perintahkan mereka meninggalkan Kebonarum, mereka tentu tidak akan pergi. Ki Rangga Surawiraga akan tetap berada di Kembangarum. Mereka akan bekerja sama dengan Ki Panji Suranegara”

Ki Rangga Kriyadipraja itu pun mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Rangga Surawiraga telah siap menghadapi tuduhan apapun. Agaknya Ki Rangga Surawiraga pun menyadari benar, bahwa para pemimpin di Mataram sedang sibuk sekali. Perhatian mereka sedang terarah ke Bang Wetan, sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung Singaprana.

Tetapi Ki Tumenggung Yudapangarsa yakin, bahwa bagaimanapun juga tentu masih ada perhatian terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan rakyat di Mataram.

Karena itu, maka Ki Yudapangarsa pun kemudian berkata, “Ki Rangga Kriyadipraja. Kita memang sulit untuk dapat berbicara dengan Ki Patih dan apalagi dengan Kangjeng Sinuhun sendiri. Tetapi aku akan mencoba berbicara dengan raden Tumenggung Wreda Somadilaga. Raden Tumenggung Wreda sangat dekat dengan Ki Patih, sehingga jika Raden Tumenggung Wreda dapat mengusahakan waktu bagi kami untuk menghadapi Ki Patih”

“Baiklah, Ki Tumenggung. Kita memang harus bertindak cepat. Aku merasa kasihan kepada rakyat yang kehilangan tanahnya itu. Tanah itu bagi mereka adalah sumber kehidupan mereka sekeluarga, sehingga jika tanah mereka itu diambil oleh Ki Tumenggung Singaprana, maka mereka pun akan kehilangan sumber kehidupan mereka. Tidak hanya seorang saja, tetapi satu keluarga.

“Besok pagi kita akan menghadap Raden Tumenggung Wreda Somadilaga”

Sebenarnyalah dikeesokan harinya, mereka telah menghadap Raden Tumenggung Wreda Somadilaga. Seorang Senapati yang rambutnya sudah ubanan. Namun ia masih saja seorang Senapati yang tangguh di medan perang, serta seorang yang memiliki penalaran cemerlang di lingkungan pemerintahan.

Kedatangan Ki Tumenggung Yudapangarsa serta Ki Rangga Kriyadipraja telah disambut dengan akrab oleh Raden Tumenggung Wreda Somadilaga dan dipeprsilahkan duduk di pringgitan.

“Ada apa Ki Tumenggung Yudapangarsa dan Ki Rangga Kriyadipraja. Agaknya ada masalah yang penting yang perlu dibicarakan dengan segera”

“Maaf, Raden Tumenggung Wreda Somadilaga. Kami datang untuk menambah kesibukan Raden Tumenggung. Kami tahu, bahwa Raden Tumenggung tentu terlibat dalam kesibukan para pemimpin Mantram yang akan melat ke Timur. Namun kami masih saja mengganggu dengan persoalan-persoalan kecil yang tidak berarti, yang seharusnya dapat kami pecahkan sendiri”

Raden Tumenggung Wreda Somadilaga itu tersenyum. Katanya, “Semua persoalan yang terjadi di Mataram adalah persoalan kita, Ki Tumenggung. Karena itu, katakan. Persoalan apakah yang kalian hadapi sekarang, mumpung aku belum berangkat ke Bang Wetan”

“Jadi Raden Tumenggung Wreda Somadilaga juga akan berangkat ke Bang Wetan?”

“Ya. Aku juga diperintahkan untuk ikut berangkat ke Timur. Tetapi tidak apa-apa. Katakanlah. Jika aku dapat membantu memecahkan persoalan yang Ki Tumenggung hadapi, sementara masih ada waktu, aku akan melakukannya”

“Maaf Raden Tumenggung. Tetapi apaboleh buat, bahwa kami telah menambah kesibukan raden Tumenggung”

Raden Tumenggung itu pun tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Ki Tumenggung Yudapangarsa lah yang kemudian telah berceritera tentang tugasnya untuk membangun pesanggrahan. Kemudian timbul masalah karena Ki Tumenggung Singaprana telah melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan bertindak sewenang-wenang kepada rakyat disekitar pembangunan pasanggrahan yang akan dimulai bulan depan”

Raden Tumenggung Wreda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi Ki Tumenggung Singaprana memanfaatkan kesibukan para pemimpin Mataram sekarang ini untuk menyalahgunakan wewenangnya?”

“Demikianlah menurut tangkapan kami atas perbuatan Ki Tumenggung Singaprana ini. Sementara itu, telah banyak pula para pemimpin prajurit Mataram yang sudah terlibat dalam kelompok yang sesat di lingkungngan keprajuritan Mataram itu, Raden”

Raden Tumenggung Wreda Somadilaga itu menarik nafas panjang. Dengan nada rendah ia pun bergumam, “ Jadi ketika Ki Tumenggung Yudapangarsa memerintahkan seorang Rangga untuk melindungi rakyat Randu Batang, akibatnya justru sebaliknya?”

“Ya, Raden. Ki Rangga Surawiraga dan prajurit-prajuritnya jsutru hanya menonton apa yang terjadi dihadapan matanya”

Raden Tumenggung Wreda itu pun termangu-mangu sejenak. Seakan-akan kepada dirinya sendiri ia pun bergumam, “Jadi beberapa orang Senapati Mataram telah terbius oleh mimpi Ki Tumenggung Singaprana”

“Ya, Raden”

“Bagaimana dengan padepokan yang Ki Tumenggung cerite-rakan itu?”

“Satu-satunya lingkungan yang dapat memberikan perlawanan yang berarti hanyalah padepokan itu, Raden. Itu pun menurut Ki Tumenggung Singaprana, karena Ki Tumenggung belum menanganinya dengan sungguh-sungguh”

“Jadi, Ki Tumenggung masih akan menangani tanah padepokan itu? Sehingga dengan demikian, maka Ki Tumeng-gung masih akan kembali ke padepokan itu?”

“Menurut pendapatku, agaknya memang demikian, Raden. Ki Tumenggung Singaprana sendiri yang akan menanganinya. Menurut tanggapanku, Ki Tumenggung sendiri akan turun membawa prajurit-prajuritnya ke padepokan itu”

Raden Tumenggung Wreda Somadilaga itu pun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya Aku ingin menangkap basah Ki Tumenggung Singaprana itu. Mudah-mudahan aku masih sempat menyaksikannya. Aku berharap sebelum berangkat ke Bang Wetan, aku dapat melakukannya”

“Maksud Raden?”

“Satu permainan yang menarik. Aku kira kita masih belum akan berangkat dalam waktu sepekan ini. Aku akan menghubungi Ki Patih. Jika masih ada waktu, aku sendiri akan ikut dalam permainan yang menarik ini. Jika tidak, maka aku akan menunjuk seseorang yang dapat aku percaya sepenuhnya”

“Kami menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan Raden Tumenggung”

“Baik. Tunggulah. Aku akan memanggil Ki Tumenggung Wiratama. Ia seorang Tumenggung yang dapat dipercaya sebagaimana Ki Tumenggung Yudapangarsa. Ki Tumenggung Wiratama adalah seorang Senapati dari Pasukan Khusus yang pada saat-saat yang gawat selalu diperbantukan pada Pasukan Khusus Pengawal Raja. Karena itu, maka Ki Tumenggung Wiratama tidak akan ikut berangkat ke Timur, karena pasukannya setiap saat diperlukan disini. Nah, aku akan menghadap Ki Patih bersama Ki Tumenggung Wiratama itu”

“Terima kasih atas perhatian Raden Tumenggung Wreda Somadilaga. Jadi sekamg kami harus menunggu kehadiran Ki Tumenggung Wiratama”

“Ya. Aku akan memerintahkan seorang prajurit untuk memanggilnya. Bukankah Ki Tumenggung Yudapangarsa sudah mengenalnya?”

“Sudah, Raden. Aku sudah mengenal Ki Tumenggung Wiratama dengan baik”

“Tunggulah. Rumahnya tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan ia berada di rumah”

Raden Tumenggung itu pun kemudian meninggalkan pringgitan. Sejenak kemudian, seorang prajurit telah menuntut seekor kuda ke regol halaman. Di luar regol prajurit itu pun meloncat ke punggung kudanya dan melarikannya dengan cepat.

Ki Tumenggung Yudapangarsa dan Ki Rangga Kriyadipraja memang tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian, maka dua penunggang kuda telah berhenti didepan regol.

Beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung Wiratama pun telah duduk pula di pringgitan bersama Ki Tumenggung Yudapangarsa dan Ki Rangga Kriyadipraja, ditemui oleh Raden Tumenggung Wreda Somadilaga.

Setelah masing-masing mengucapkan salam, maka Ki Tumenggung Wratama pun berkata, “Aku memang agak terkejut, bahwa Raden Tumenggung Wreda Somadilaga memanggil aku”

Raden Tumenggung Wreda Somadilaga pun menyahut, “Aku mengundang Ki Tumenggung Wiratama untuk ikut dalam sebuah permainan yang menarik”

“Permainan apa, Raden?”

Raden Tumengggung Wreda pun kemudian minta Ki Tumenggung Yudapangarsa untuk mengulangi ceriteranya tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Singaprana.

Ki Tumenggung Yudapangarsa pun kemudian telah menceriterakan kembali, perbuatan sewenang-wenang Ki Tumenggung Singaprana, justru pada saat para pemimpin di Mataram tidak sempat memikirkan persoalan-persoalan kecil seperti pembangunan pesanggrahan itu.

“Tetapi yang mendesak bagi kami adalah penderitaan rakyat di Randu Batang. Kemudian tentu di padukuhan-padukuhan yang lain dan bahkan di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Betapa pun perlawanan yang diberikan dengan berani oleh penghuni padepokan itu, jika Ki Tumenggung Singaprana datang dengan kekuatan penuh, maka padepokan itu akan mengalami kesulitan”

“Jadi bagaimana menurut Raden Tumenggung?” bertanya Ki Tumenggung Wiratama.

“Tetapi bukankah Ki Tumenggung Wiratama tidak termasuk kelompok Ki Tumenggung Singaprana?” bertanya Raden Tumenggung sambil tertawa.

Ki tumenggung Wiratama pun tertawa pula. Katanya, “Sekali-sekali memang timbul keinginan untuk menjadi kaya seperti Ki Tumenggung Singaprana. Tetapi rasa-rasanya sifat prajurit yang melekat didadaku ini sulit untuk menerimanya”

Yang lain pun tertawa tertahan. Sementara Raden Tumenggung Wreda pun kemudian berkata, “Jika demikian, maka aku memang ingin mengajak Ki Tumenggung dalam permainan ini. Aku ingin menangkap basah Ki Tumenggung Singaprana jika masih ada waktu”

“Kapan Raden Tumenggung akan berangkat?”

“Belum ada yang tahu pasti. Perlawatan ke timur memerlukan persiapan yang sangat cermat. Sementara itu, beberapa kelompok prajurit yang mendahalui pejalanan untuk mempersiapkan perbekalan dan lain-lain yang diperlukan, masih belum mengirimkan utusan untuk memberikan laporan. Demikian pula para petugas sandi yang telah mendahului pergi ke Timur”

“Jadi Raden Tumenggung akan mengisi waktu yang sedikit itu untuk bermain-main dengan Ki Tumenggung Singaprana”

“Ya”

“Tetapi apakah kita berhak menangkap Ki Tumenggung Singaprana?”

“Aku akan menemui Ki Patih. Jika aku membawa Surat Perintah Ki Patih, maka segala sesuatunya akan dapat aku lakukan”

“Baik. Baik. Aku akan melakukan perintah ini berdasarkan perintah Raden Tumenggung Wreda Somadilaga yang akan membawa Surat Perintah dari Ki Patih”

“Nanti aku akan menghadap Ki Patih. Aku akan minta waktu sedikit untuk berbicara tentang tanah di Randu Batang dan sekitarnya. Termasuk tanah padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu”

“Segala sesuatunya akan kita tentukan esok pagi. Aku minta Ki Tumenggung Yudapangarsa dan Ki Rangga Kriyadipraja datang kemari esok pagi. Kita akan membicarakan, apa yang akan kita lakukan kemudian. Jika aku tidak mempunyai waktu lagi karena aku harus berangkat ke Timur, maka yang akan melaksanakan adalah Ki Tumenggung Wiratama sendiri dengan dasar Surat Perintah dari Ki Patih”

“Apakah aku besok juga harus menghadap kemari? bertanya Ki Tumenggung Wiratama.

“Nanti kita akan pergi bersama menghadap Ki Patih. Disela-sela kesibukannya, tentu masih ada waktu sedikit. Sementara itu aku akan mendapat kesibukan sambil menunggu saatnya berangkat”

Ki Tumenggung Yudapangarsa dan Ki Rangga Kriyadipraja itu pun kemudian minta diri. Esok pagi mereka harus menghadap Raden Tumenggung Wreda lagi untuk mendengarkan kepastian langkah-langkah yang akan diambil.

Hari itu Raden Tumenggung Wreda dan Ki Tumenggung Wiratama telah menghadap Ki Patih. Ternyata perhatian Ki Patih terhadap peristiwa di Randu Batang itu cukup besar. Meskipun Ki Patih itu disibukkan oleh rencana keberangkatan pasukan yang besar ke Timur, namun Ki Patih tidak berniat menelantarkan rakyat yang memerlukan perlindungan.

Karena itu, maka Ki Patih pun segera memerintahkan untuk mempersiapkan pertanda yang diperlukan untuk menangkap basah Ki Tumenggung Singaprana.

“Jika Raden Tumenggung Wreda Somadilaga masih ada kesempatan, aku tidak berkeberatan untuk mengizinkannya melakukan tugas ini. Tetapi jika waktunya terlalu sempit, maka yang akan melakukan tugas ini adalah Ki Tumenggung Wiratama dan Ki Tumenggung Yudapangarsa”

Dengan perintah Ki Patih, maka Raden Tumenggung Wreda Somadilaga serta Ki Tumenggung Wiratama pun segera mempersiapkan diri.

Di hari berikutnya, maka Ki Tumenggung Yudapangarsa serta Ki Rangga Kriyadipraja pun telah menghadap Raden Tumenggung Wreda Somadilaga untuk mendapatkan penjelasan.

Demikianlah, maka Raden Tumenggung Wreda Somadilaga, Ki Tumenggung Wiratama, Ki Tumenggung Yudapangarsa dan Ki Rangga Kriyadipraja pun telah merencanakan dengan cermat, apa yang harus mereka lakukan untuk menangkap basah Ki Tumenggung Singaprana.

“Rahasia ini jangan sampai terdengar oleh siapapun, karena jika Tumenggung Singaprana lewat petugas sandinya dapat mendengar, maka tugas kita akan menjadi semakin panjang. Bahkan mungkin Ki Tumenggung Singaprana itu akan dapat luput dari jeratan tatanan dan paugeran. Mungkin saja Ki Tumenggung sampai hati mengorbankan Ki Rangga Suranegara dan Ki Rangga Surawiraga. Sedangkan dirinya sendiri akan dapat lepas dari tuduhan apa pun karena sulit untuk membuktikan. Karena itu, aku ingin menangkap basah orang yang licik itu”

Segala sesuatunya pun kemudian telah disepakati. Mereka harus melakukan dengan cermat sehingga rencana mereka dapat berjalan sebagaimana mereka inginkan. Bahkan mereka telah mempersiapkan rencana berikutnya jika rencana utama mereka gagal.

Ki Tumenggung Yudapangarsa dan Ki Rangga Kriyadipraja pun segera minta diri. Ki Yudapangarsa dan Ki Ranggadipraja pun segera minta diri. Ki Yudapangarsa akan segera berbicara dengan orang-orang yang dipercaya sementara Ki Rangga Kriyadipraja akan segera kembali ke Kembangarum.

Ki Tumenggung Yudapangarsa pun menjadi lebih berhati-hati. Ia tidak mau terjebak lagi sebagaimana yang telah terjadi dengan Ki Rangga Surawiraga. Karena itu, maka segala sesuatunya dilakukan dengan seksama.

Ki Rangga Kriyadipraja yang telah berada kembali di Kembangarum telah menjalankan rencana yang telah mereka sepakati pula. Namun Ki Rangga sempat terkejut, bahawa Ki Panji Suranegara telah mengambil alih beberapa ratus bahu tanah di padukuhan Kasinungan sebagaimana di padukuhan Randu Batang.

“Ki Panji Suranegara memang gila” geram Ki Panji Kriyadipraja.

Hari itu juga, Ki Rangga Kriyadipraja pun telah pergi ke padepokan yang dipimpin oleh Ki Udayana. Mereka pun menghendaki pembicaraan beberapa lama, sehingga akhirnya mereka menemukan kesepakatan yang akan dapat mereka laksanakan.

Sepeninggal Ki Rangga Kriyadipraja,Ki Udyana telah berbicara dengan orang-orang penting di padepokan.

“Kita harus menyesuaikan diri dengan rencana yang telah disusun di Mataram itu” berkata Ki Udyana.

Para pemimpin padepokannya pun mengangguk-angguk. Mereka telah memahami segala sesuatunya yang harus mereka kerjakan untuk menyesuaikan diri dengan Raden Tumenggung Wreda Somadilaga.

Dalam pada itu, Ki Panji Somanegara masih saja berkeliaran dibeberapa padukuhan untuk membujuk para Bekel agar mau berkerja bersmanya. jika para Bekel monolak, maka Ki Panji itu mulai mengamcam dan menunjuk padukuhan Randu Batang dan padukuhan Kasinungan yang telah merelakan tanah-tanah mereka bagi Kangjeng Sinuhun yang akan membuat pasanggrahan tidak jauh dari padukuhan mereka.

“Kami akan mempertahankan tanah kami, Ki Panji”

“Apakah kau mampu?”

“Tentu. Kami akan bekerja sama dengan padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu”

“Padepokan itu pun akan segera menyerahkan tanahnya kepada kami. Kami sedang tawar-menawar mengenai harga tanah itu. Agaknya Ki Udyana akan memberikan tanah itu dengan harga yang lebih murah dari harga yang aku tawarkan kepada kalian”

“Aku tidak percaya Ki Panji. Mereka tentu akan mempertahankan tanah mereka”

Agaknya Ki Panji pun akan berpendapat bahwa tanah milik padepokan itulah yang harus lebih dahulu diambilnya, agar beberapa orang Bekel tidak berkiblat kepada padepokan itu.

Dipagi harinya, para penghuni padepokan itu justru telah membuat gerakan yang sangat menyinggung perasaan Ki Panji Suranegara. Para penghuni padepokan itu telah memasang patok-patok serta papan-papan yang ditulisi, “Milik padepokan. Tidak akan dijual kepada siapapun. Apalagi di rampas”

Tulisan-tulisan itu dibuat sangat mencolok dan dipasang di setiap kontak sawah milik padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu.

Ki Suranegara pun segera melaporkannya kepada Ki Tumenggung Singaprana yang dengan serta merta menggeram, “Aku sendiri akan mengambil alih tanah itu. Siapkan prajuritmu. Hubungi Ki Rangga Surawiraga. Selebihnya aku akan mengirimkan pasukan ke Randu Batang yang akan menjadi landasan kekuatan kita”

“Baik, Ki Tumenggung”

“Dalam waktu dua hari ini aku akan merampas tanah itu. Tetapi sementara itu, para prajurit yang akan-aku kirimkan ke Randu Batang tidak akan menarik perhatian. Mereka tidak akan berbaris dalam kelompok-kelompok kecil agar para pemimpin padepokan setan itu terkejut, bahwa tiba-tiba mereka berhadapan padepokan yang kuat”

“Rencana yang sangat menarik Ki Tumenggung. Segala sesuatunya akan aku persiapkan di Randu Batang dan di Kasinungan. Kedua orang Bekel dari padukuhan itu sudah menyatakan dukungannya bagi kita, sehingga kita tidak perlu merasa segan. Sementara itu, Rakyat Randu Batang dan Rakyat Kasinungan tidak akan berani berbuat apa-apa lagi”

Demikianlah, maka dalam waktu dua hari, Ki Tumenggung Singaprana telah mengirimkan sekelompok prajurit untuk memperkuat kedudukannya di Randu Batang dan Kasinungan. Sementara itu, Ki Rangga Surawiraga telah mempersiapkan pasukannya yang berada di Kembangarum. Bahkan tanpa segan-segan lagi Ki Rangga Surawiraga berkata kepada Ki Rangga Kriyadipraja yang juga berada di Kembangarum, “Ternyata jalan kita berbeda. Aku menawarkan kepada Ki Rangga Kriyadipraja untuk bergabung dengan kami. Jika tidak, sebagaimana kami tidak akan mengganggu Ki Rangga Kriyadipraja yang mempersiapkan pembangunan pasanggrahan itu”

Ki Rangga Kriyadirpaja itu pun menarik nafas panjang. Katanya, “Selama aku masih menjadi prajurit, Ki Rangga Surawiraga, aku akan tetap berpijak pada tugas-tugas keprajuritanku”

Ki Rangga Surawiraga pun tertawa. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Dalam pada itu, maka sekelompok prajurit Ki Tumenggung Singaprana telah berada di Randu Batang dan di Kasinungan selain mereka yang berada di Kembangarum. Namun keberadaan mereka pun segera diketahui oleh Ki Udyana yang telah membuat hubungan dengan orang-orang Randu Batang dan Kasinungan yang sebenarnya menolak keberadaan pasukan Ki Tumenggung Singaprana di padukuhan mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Para prajurit itu tidak saja akan membawa tongkat kayu dan rotan. Tetapi mereka benar-benar membawa tombak dan pedang.

Pada hari yang sudah ditentukan, maka Ki Tumenggung Singaprana sendiri sudah hadir diantara para prajuritnya. Dengan sengaja Ki Tumenggung Singaprana justru berada di Kembangarum. Ki Tumenggung dengan sengaja ingin memamerkan keberhasilannya kepada Ki Rangga Kiryadipraja yang tentu akan melaporkan kepada Ki Tumenggung Yudapangarsa.

Menjelang hari yang sudah ditentukan maka Ki Tumenggung Singaprana telah memerintahkan Ki Panji Suranegara untuk pergi ke padepokan. Kesempatan itu adalah kesempatan terakhir bagi padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Jika kesempatan terakhir itu disia-siakan, maka Ki Tumenggung Singaprana akan mempergunakan kekerasan untuk memiliki sebagian tanah padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu.

Kedatangan Ki Panji Suranegara diterima dengan baik oleh Ki Udyana dan Nyi Udyana. Ki Panji yang datang bersama dua orang pengawalnya itu pun dipersilahkan duduk dipringgitan bangunan utama padepokan.

“Kedatangan Ki Panji agak mengejutkan kami” berkata Ki Udyana, “Apakah Ki Panji mempunyai keperluan yang penting?”

“Tidak Ki Udyana. Tidak ada yang penting. Kedatanganku sekedar untuk menengok Ki Udyana, Nyi Udyana dan seluruh penghuni padepokan ini”

“Terima kasih, Ki Panji Suranegara. Kami semuanya baik-baik saja”

“Syukurlah. Mudah-mudahan kalian baik-baik saja untuk seterusnya”

“Terima kasih, Ki Panji”

“Disamping menengok keselamatan Ki Udyana berdua serta seluruh isi padepokan ini, kami juga ingin menyampaikan pesan Ki Tumenggung Singaprana. Salam Ki Tumenggung bagi Ki Udyana berdua serta para penghuni padepokan ini”

“Terima kasih, Ki Panji. Tolong sampaikan kepada Ki Tumenggung, bahwa kami mengucapkan terima kasih. Salam kami kepada Ki Tumenggung dan semua jajarannya.”

“Aku akan menyampaikannya, Ki Udyana“ Ki Panji itu berhenti sejenak. Kemudian katanya, “Selain salam bagi seluruh isi padepokan, Ki Tumenggung Singaprana juga memberikan pesan yang lain”

“Pesan apa Ki Panji”

“Ki Tumenggung Singaprana berpesan, agar Ki Udyana dan para penghuni padepokan ini mencabut papan-papan yang kalian pancangkan di tanah milik Ki tumenggung Singaprana. Besok Ki Tumenggung sendiri akan memancangkan patok-patok bambu yang beberapa waktu yang lalu, pernah kalian cabuti. Ki Tumenggung juga akan memasang gawar lawe. Supaya hubungan kita tetap baik, maka sebaiknya kita masing-masing menjaga diri agar tidak saling bersinggungan”

“Aku setuju, Ki Panji. Agar hubungan kita tetap baik, aku minta Ki Panji Suranegara serta Ki Tumenggung Singaprana menghormati milik kami. Kami memancangkan papan-papan itu di sawah kami sendiri. Kami tidak akan mengganggu Ki Panji Suranegara serta Ki Tumenggung Singaprana”

“Jangan begitu, Ki Udyana. Tanah itu bukan milik Ki Udyana. Tanah itu milik Kangjeng Sinuhun. Karena itu, maka sebaiknya papan-papan yang kalian paang itu kalian singkirkan”

“Ki Panji” berkata Ki Udyana kemudian, “Aku sudah melihat sendiri papan-papan yang dipancangkan di sawah saudara-saudara kita di padukuhan Randu Batang dan padukuhan Kasinungan. Papan itu tidak menyatakan bahwa tanah itu milik Kangjeng Sinuhun. Tetapi tulisan di papan itu menyatakan bahwa tanah di padukuhan Randu Batang dan padukuhan Kasinungan itu milik Ki Tumenggung Singaprana”

Ki Panji Suranegara pun tertawa. Katanya, “Kami hanya mengambil mudahnya saja. Tanah disini pun nanti akan kami nyatakan sebagai tanah Ki Tumenggung Singaprana, karena Ki Tumenggung Singaprana lah yang mendapat tugas dari Kangjeng Sinuhun”

“Ki Panji. Jangan memperbodoh kami. Kami tahu apa yang sebenarnya Ki Panji lakukan bersama Ki Tumenggung Singaprana. Karena itu maka sebaiknya Ki Panji menarik diri. Bukan saja dari tanah milik padepokan kami. Tetapi juga dari padukuhan Randu Batang dan padukuhan Kasinungan. Bukan malahan memperluas dosa Ki Panji terhadap rakyat padukuhan-padukuhan lain”

“Ki Udyana” berkata Ki Panji kemudian, “Aku tahu bahwa Ki Udyana sudah terkena racun dari Ki Rangga Kriyadipraja. Sebenarnyalah bahwa Ki Rangga Kriyadipraja sendirilah yang dengan serakah ingin memiliki tanah disekitar pasanggrahan yang akan dibuatnya. Karena itu pikirkan baik-baik, Ki Udyana. Esok pagi kami akan memasang patok-patok itu, serta gawar lawe untuk menyatakan bahwa tanah itu sudah diambil kembali oleh Kangjeng Sinuhun. Jika Ki Udyana tidak menyingkirkan papan-papan yang dipasang di sawah itu oleh penghuni padepokan ini, maka kamilah yang akan menyingkirkannya. Jangan mimpi untuk dapat melawan kami sekarang. Bahkan jika kalian melawan itu berarti bahwa kalian telah memberontak, bukan saja sawah-sawah itu yang akan kami ambil, tetapi kami berwenang menghancurkan padepokan ini”

“Ki Panji tentu tahu sikap seorang cantrik terhadap padepokannya. Kami akan mempertahankan padepokan kami dengan mempertaruhkan nyawa kami”

“Bagus” Ki Panji Suranegara itu pun tertawa, “Besok kita akan melihat, apa yang dapat kalian lakukan. Besok Ki Tumenggung Singaprana sendirilah yang akan menancapkan patok-patok itu di sawah kalian”

“Besok siang patok-patok itu dipasang, maka besok malam kami akan mencabutinya lagi. Demikian seterusnya. Karena tempat tinggal kami dekat dengan sawah itu, maka kami akan dapat melakukannya sampai kapanpun”

“Kau jangan menganggap bahwa kami hanya sekedar main-main, Ki Udyana. Jangan pula menganggap bahwa kami hanya sekedar mengancam. Tetapi kami akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Kami akan datang. Kami akan menancapkan patok-patok bambu itu”

“Kami pun tidak hanya sekedar mengancam Ki Panji. Besok kami akan datang mencabuti patok-patok bambu itu. Atau bahkan mencegah kalian menyingkirkan papan-papan yang telah kami pasang”

“Nampaknya kau memang menantang kami, Ki Udyana”

“Jika sikap kami itu Ki Panji terjemahkan sebagai satu tantangan, maka terserah saja. Tetapi yang pasti, bahwa kami tidak akan tunduk kepada Ki Panji Suranegara serta Ki Tumenggung Singaprana. Kecuali jika Ki Tumenggung itu membawa pertanda perintah dari Mataram atau Surat Ketetapan untuk mengambil tanah kami atas kehendak Kangjeng Sinuhun”

“Jadi pakaian seragam kami serta kedudukan kami masih belum meyakinkan Ki Udyana”

“Maaf, Ki Panji. Kami tidak mempercayai Ki Panji Suranegara serta Ki Tumenggung Singaprana”

“Baik. Jika demikian kami akan membuktikan besok, bahwa kami akan dapat melakukan sebagaimana kami katakan”

“Silahkan, Ki Panji. Tetapi kami pun akan membuktikan, apa yang kami nyatakan, bahwa kami akan mempertahankan milik kami”

Ki Panji Suranegara pun kemudian meninggalkan padepokan itu dengan wajah yang gelap. Bahkan ia pun menggeram, “Besok mereka akan tahu, bahwa Ki Tumenggung Singaprana dan Ki Panji Suranegara tidak dapat mereka permainkan”

“Ki Panji” berkata salah seorang pengawalnya, “Kenapa Ki Tumenggung tidak saja diminta langsung menyerang padepokan itu”

“Sebenarnya itu akan lebih baik. Tetapi agaknya Ki Tumenggung Singaprana ingin membasmi sawah yang menjadi sengketa itu dengan darah orang-orang yang berani melawannya. Biarlah orang-orang padukuhan disekitamya melihat, bahwa Ki Tumenggung benar-benar akan melakukan sebagaimana dikatakan. Jika hal itu dilakukan didalam padepokan, maka tidak banyak orang yang akan melihat kesungguhan Ki Tumenggung itu. Biarlah orang-orang yang mencoba untuk mengeraskan hatinya melihat, bahwa kematian kitu benar-benar terjadi atas mereka yang berani melawan prajurit Mataram”

Namun pengawal yang lain justru bertanya, “Apakah tindakan seperti ini dibenarkan oleh para pemimpin di Mataram?”

“Siapakah yang sekarang sempat memperhatikan? Para pemimpin sedang sibuk mempersiapkan pasukan yang besar yang akan pergi ke Timur. Mereka tentu tidak akan memperhatikan peristiwa-peristiwa kecil seperti ini”

Ketika pertemuan Ki Panji dengan Ki Udyana itu dilaporkan kepada Ki Tumenggung Singaprana yang kemudian telah berada di Randu Batang, maka Ki Tumenggung menjadi sangat marah. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Ki Panji, Ki Tumenggung Singaprana akan menghancurkan keberanian para cantrik di tengah-tengah sawah. Tidak di padepokannya.

“Aku tidak peduli seandainya ada diantara mereka yang benar-benar mati di perkelahian itu. Mereka harus mendapat sedikit pelajaran, bahwa seperti itulah akibat pemberontakan mereka terhadap prajurit Mataram”

Hari itu, perintah Ki Tumenggung Singaprana telah disampaikan kepada para prajurit yang berada di padukuhan Randu Batang, padukuhan Kasinungan dan padukuhan Kembang Aram. Mereka harus mempersiapkan diri pagi-pagi. Pada saat matahari terbit, mereka akan pergi ke sawah, menyingkirkan papan-papan yang telah dipasang oleh para penghuni padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu serta memasang patok-patok serta gawar lawe. Tetapi para prajurit itu harus siap menghadapi perlawanan para cantrik dari padepokan itu.

“Para cantrik adalah orang-orang gila yang nalarnya tidak dapat berkembang. Mereka hanya melakukan perintah gurunya apa pun isi perintah itu. Bahkan seandainya mereka diperintah untuk membunuh dirinya sendiri” berkata Ki Tumenggung Singaprana.

Ki Rangga Kriyadipraja yang berada di padukuhan Kembangarum telah berusaha untuk memperingatkan Ki Rangga Surawiraga, bahwa mereka telah menempuh jalan yang keliru.

Tetapi Ki Rangga Surawiraga justru mentertawakannya.

“Aku akan berada di sawah” berkata Ki Rangga Kriyadipraja, “Aku akan melihat apa yang terjadi”

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 24

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Mbah sepuh… boleh gak kalau cerita-cerita yang ada di blog ini saya shared lagi ke dalam blog saya… soal sumber saya akan sertakan tautan ke halaman ini. thanks untuk jawabannya

    silahkan saja
    yang penting sumbernya dicantumkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s