TT-21


kembali | lanjut

TT-21SEBENARNYALAH harapan mereka semula bertumpu pada Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak. Jika mereka berada di tengah-tengah para pengikutnya, maka mereka tentu tidak akan membutuhkan waktu terlalu lama. Mereka akan dengan cepat menghancurkan lawan-lawan mereka. Wora-wari Bang pun akan segera dapat mempergunakan sebutan Pembunuh Raksasa.

Tetapi yang terjadi kemudian, Wora-wari Bang telah tersangkut pada perlawanan murid bungsu Ki Margawasana.

Dengan semakin meningkatkan ilmunya, Wora-wari Bang berusaha untuk mendesak Wikan. Serangan-serangan kakinyalah yang kemudian menjadi semakin cepat dan berbahaya.

Namun Wikan pun mampu bergerak secepat lawannya. Setiap kali Wikan masih juga berhasil menghindar.

Namun ketika terjadi benturan yang tidak dapat dihindari karena serangan Wora-wari Bang yang cepat dan tiba-tiba, sehingga Wikan tidak sempat menghindar, sehingga Wikan harus menangkisnya, maka Wora-wari Bang pun terkejut. Benturan itu justru telah menggetarkannya, sehingga ia terdorong surut selangkah. Sementara itu Wikan masih tetap saja berdiri di tempatnya dengan satu kakinya yang ditariknya ke belakang serta merendah pada lututnya.

“Ternyata untuk melawan anak ini aku harus mengerahkan segenap kemampuanku”

Ketika kemudian mereka kembali bertempur, Wora-wari Bang benar-benar telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi.

Sementara itu Alap-alap Perak pun harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Ki Udyana adalah seorang yang pilih tanding.

Meskipun demikian, Alap-alap Perak itu masih berusaha membesarkan hatinya.

“Mungkin setahun yang lalu, aku masih belum mampu mengalahkan Ki Mina. Tetapi sekarang tentu berbeda. Ilmuku tentu sudah menjadi semakin tinggi sehingga dalam waktu singkat aku tentu akan dapat mengalahkannya dan membunuhnya. Sedangkan Wora-wari Bang itu pun akan segera melumatkan orang yang disebut murid bungsu Ki Margawasana”

Setelah membunuh murid bungsu Ki Margawasana, Alap-alap Perak berharap Wora-wari Bang itu akan segera bergabung bersamanya.

Tetapi jangankan membunuh murid bungsu Ki Margawasana. Untuk menembus pertahanannya dan menyentuh kulitnya pun Wora-wari Bang mengalami kesulitan.

Karena itu, semakin lama Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak itu semakin merasakan tekanan yang bertambah-tambah berat. Betapa pun mereka meningkatkan ilmu mereka, namun mereka tidak akan mampu mengatasi kedua orang murid Ki Margawasana itu. Sedangkan para pengikut Wora-wari Bang dan para pengikut Alap-alap Perak itu pun mengalami kegagalan pula untuk menguasai orang-orang dari perguruan Gajah Tengara. Raksasa-raksasa itu meskipun jumlahnya lebih sedikit dari lawan-lawan mereka, tetapi mereka memiliki kelebihan. Selain tubuh mereka yang tinggi besar, serta tenaga dan kekuatan mereka yang sangat besar, mereka pun menjadi berbesar hati dengan kehadiran dua orang yang semula tidak mereka kenal. Yang semula mereka curigai dan bahkan mereka dorong keluar dari pasar itu.

Namun ternyata keduanya adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Keduanya mampu mengimbangi Wora-wari Bang serta Alap-alap Perak.

Sementara itu, di sudut pasar, para murid dari perguruan Tapak Waja telah mendesak lawan-lawan mereka ke tengah-tengah pasar. Para pengikut Wora-wari Bang dan para pengikut Alap-alap Perak itu akhirnya harus mengikuti, bahwa orang-orang yang bekerja di bengkel pande besi itu adalah orang-orang yang berilmu pula, sehingga mereka tidak dapat begitu saja memaksakan kehendak mereka.

Meskipun kemarahan Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak seakan-akan telah membakar ubun-ubun mereka, namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang tidak akan dapat mereka kalahkan. Demikian para pengikut mereka. Para pengikut mereka pun akan sangat sulit untuk dapat mengalahkan murid-murid dari perguruan Gajah Tengara serta murid-murid dari perguruan Tapak Waja.

Karena itu, tiba-tiba saja Wora-wari Bang itu pun telah memberikan satu isyarat kepada seorang penghubungnya. Tiba-tiba saja penghubungnya itu telah meneriakkan aba-aba yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain kecuali oleh para pengikutnya serta para pengikut Alap-alap Perak yang menyertainya itu.

“Aba-aba sandi” desis Ki Udyana.

Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk memecahkan isyarat sandi itu.

Tiba-tiba arena pertempuran itu pun bergejolak. Beberapa orang pengikut Wora-wari Bang serta Alap-alap Perak tiba-tiba saja telah menyerang Ki Udyana dan Wikan. Beberapa ujung senjata terjulur dari segala arah.

Gerakan itu memang agak mengejutkan Ki Udyana dan Wikan. Sementara itu, Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak pun telah menghentakkan ilmunya pula.

Ki Udyana dan Wikan yang terkejut itu pun terdesak beberapa langkah surut. Namun mereka pun segera menemukan landasan perlawanan mereka yang mapan. Apalagi ketika para murid dari Gajah Tengara yang ditinggalkan lawan-lawannya, telah menyusul mereka.

Namun untuk beberapa saat, arena pertempuran itu pun bagaikan diaduk. Para pengikut Wora-wari Bang serta para-pengikut Alap-alap Perak itu telah membuat gerakan-gerakan yang tidak sewajarnya.

Ki Udyana dan Wikan pun menjadi curiga. Tetapi sebelum mereka menemukan jawab dari gejolak yang terjadi, maka Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak itu telah melompat meninggalkan arena pertempuran.

Ki Udyana dan Wikan pun terlambat sekejap. Namun yang sekejab itu telah dipergunakan oleh Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak dengan sebaik-baiknya.

Ternyata waktu yang sekejap itu telah membuat jarak yang panjang. Meskipun Ki Udyana dan Wikan memiliki kemampuan serta tenaga dalam yang tinggi, namun ternyata Ki Udyana telah memberi isyarat kepada Wikan, agar mereka tidak usah mengejar Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak.

Wikan pun telah mengekang diri. Meskipun ia yakin akan dapat mengejar Wora-wari Bang, tetapi karena Ki Udyana telah memberikan isyarat, sehingga pertempuran tidak melakukannya.

Sementara itu, pertempuran yang kacau itu pun menjadi semakin kacau ketika para pengikut Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak berlari-larian meninggalkan arena. Mereka berlari bercerai berai ke arah yang berbeda-beda.

Ternyata Ki Gajah Tengara pun telah memberikan isyarat kepada para muridnya untuk tidak memburu lawan-lawan mereka.

“Berbahaya bagi kalian. Jika kalian berusaha mengejar mereka, maka kalian akan dapat bertemu dengan Wora-wari Bang atau Alap-alap Perak yang tiba-tiba saja muncul.

Wikan menarik nafas panjang. Jika saja ia mengejar Wora-wari Bang, maka para murid Gajah Tengara itu tidak akan khawatir untuk mengejar para pengikutnya. Tetapi pamannyalah yang mencegahnya.

Sementara itu, para pengikut Wora-wari Bang dan para pengikut Alap-alap Perak yang bertempur melawan para murid dari Perguruan Tapak Waja pun semuanya telah melarikan diri pula.

Karena para murid Ki Gajah Tengara tidak memburu lawan-lawan mereka, maka para murid dari Perguruan Tapak Waja itu pun tidak mengejar lawan-lawan mereka pula.

Beberapa saat kemudian, maka para murid Ki Gajah Tengara dan para murid dari Perguruan Tapak Waja itu pun sudah berkumpul didalam pasar. Ternyata ada pula diantara mereka yang terluka. Bahkan parah. Tiga orang raksasa dan dua orang pande besi tidak dapat bangkit sehingga mereka memerlukan pertolongan saudara-saudara seperguruan mereka. Lima orang yang lain terluka pula di beberapa bagian dari tubuhnya. Meskipun luka mereka terhitung agak parah, tetapi mereka masih dapat menolong diri mereka sendiri. Sedangkan murid-murid yang lain, hampir semuanya telah terluka.

Namun mereka tidak dapat meninggalkan begitu saja para pengikut Wora-wari Bang dan pengikut Alap-alap Perak yang tertinggal. Tujuh orang terluka sangat parah. Bahkan seorang diantara mereka sama sekali sudah tidak dapat bergerak, bahkan tidak lagi dapat mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Lebih dari sepuluh orang diantara mereka yang tidak sempat meninggalkan arena. Bahkan seorang yang hanya terluka oleh goresan-goresan kecil tidak berusaha melarikan diri, karena adiknya terluka sangat parah. Adiknya itu pulalah yang seakan-akan tidak lagi mempunyai harapan untuk hidup.

Ki Gajah Tengara lah yang kemudian bertanya kepada orang yang hanya tergores kulitnya itu, “Kenapa kau tidak melarikan diri seperti kawan-kawanmu itu?”

“Aku tidak dapat meninggalkan adikku. Ketika aku membawanya, ibuku berpesan kepadaku agar aku menjaganya dengan baik”

“Ibumu tahu. bahwa kau telah bergabung dengan gerombolan Wora-wari Bang dan gerombolan Alap-alap Perak?”

“Tidak. Ibu tidak tahu. Yang ibu tahu, aku telah membawa adikku untuk mencari ilmu yang dapat menjadi bekal hidupnya dimasa datang”

“Kenapa kau bawa adikmu ke dalam gerombolan itu? Bukankah lebih baik jika kau tidak membawanya sama sekali?”

“Aku sangat menyesali apa yang telah aku lakukan Karena itu, sekarang aku tidak akan pergi”

“Kau tahu, bahwa kami dapat membunuhmu. Membunuh semua orang yang dapat kami tangkap dalam pertempuran ini”

“Aku tahu. Seandainya aku harus mati, aku mempunyai satu permintaan. Jika mungkin tolonglah adikku. Biarlah ia tetap hidup. Aku masih berpengharapan, bahwa ia akan menjadi orang yang baik. Adikku itu bukan aku. Sifat kita memang jauh berbeda. Bahkan bertolak belakang”

Ki Gajah Tengara itu pun menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya, “Aku akan membawa kawan-kawanmu yang terluka itu ke padepokanku. Aku akan berusaha mengobati mereka. Aku tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan jika mereka berkesempatan sembuh. Mungkin mereka akan dapat menilai semua perbuatan mereka dengan pertimbangan baik dan buruk. Tetapi sebaliknya mereka dapat pula mendendam sehingga mereka mencari kesempatan untuk membunuhku atau murid-muridku”

“Betapa rapuhnya hati kami, tetapi kami tentu masih mempunyai sepeletik sinar di dalam hati kami”

“Ternyata sepeletik sinar yang kecil sekali pun tidak ada di hati Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak. Tetapi aku tidak bermaksud mengatakan, bahwa kalian semua adalah orang-orang yang tidak mempunyai perasaan”

Demikianlah, Ki Gajah Tengara serta para muridnya dan para murid dari perguruan Tambak Waja itu pun segera merawat saudara-saudara mereka yang terluka. Lebih-lebih yang terluka parah. Bahkan mereka pun telah berusaha merawat para pengikut Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak itu pula. Tetapi dua orang yang terluka parah diantara para pengikut Wora-wari Bang tidak sempat mendapat perawatan. Karena luka mereka yang parah, maka keduanya pun telah meninggal.

Ki Gajah Tengara akhirnya minta bantuan petugas pasar itu yang baru berani mendekat setelah pertempuran selesai.

“Tetapi aku tidak dapat melakukannya sendiri” berkata petugas pasar itu”

“Bukankah kau orang padukuhan ini? Kau tentu dapat minta bantuan kepada tetangga-tetanggamu”

“Tetapi sekarang sudah bukan lagi masanya untuk minta bantuan begitu saja”

“Maksudmu?”

“Sekarang, hampir semua kerja diperhitungkan dengan uang”

Ki Gajah Tengara menarik nafas panjang. Ki Udyana lah yang kemudian mengeluarkan beberapa keping uang dari kantong bajunya sambil berkata, “Baik. Inilah. Bagi dengan semua kawan-kawanmu. Tetapi dengan begitu aku tahu, bahwa di sini, kepedulian terhadap sesamanya sudah hampir tidak berbekas”

“Ah, jangan begitu. Baik. Baik. Aku tidak minta apa-apa. Biarlah nanti tetangga-tetanggaku membantuku”

“Penolakanmu itu sudah tidak akan menghapus sifat dan watakmu yang sebenarnya. Karena itu, terimalah dan pergunakan sebaik-baiknya. Jika kau tidak mau menerimanya, maka aku akan memberikan kepada orang lain”

Petugas di pasar itu termangu-mangu. Namun ketika Ki Udyana mengulurkan tangannya, maka orang itu pun menerimanya pula.

“Nah, sekarang pergilah. Cari kawan. Ada dua orang yang harus kau kuburkan. Kemudian aku masih akan minta bantuanmu. Aku ingin meminjam pedati. Tetapi agaknya menurut pendapatmu. sudah tidak ada lagi orang yang bersedia meminjamkan pedatinya untuk kepentingan kemanusiaan sekalipun. Karena itu, aku akan menyewa tiga buah pedati untuk membawa orang-orang yang terluka ini ke Padepokan Gajah Tengara dan satu untuk dibawa ke perguruan Tapak Waja”

Petugas di pasar itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku akan mencoba untuk mencarinya”

Sementara itu sambil menunggu, maka Ki Gajah Tengara telah mengobati murid-muridnya serta murid-murid dari perguruan Tapak Waja yang terluka. Bahkan kemudian Ki Gajah Tengara juga mengobati para pengikut Wora-wari Bang dan pengikut Alap-alap Perak yang parah. Orang yang diaku sebagai adiknya dari orang yang hanya terluka goresan-goresan senjata di tubuhnya itu termasuk orang yang terluka sangat parah. Tetapi ia masih tetap bertahan hidup.

Baru beberapa saat kemudian, ada empat pedati yang datang ke pasar itu. Ki Udyana yang tidak mau terjadi perselisihan kemudian tentang sewa pedati itu, telah bertanya kepada seorang diantara para saisnya, “Berapa kami harus menyewa pedati itu?”

“Menyewa?”

“Bukankah aku tadi minta petugas di pasar ini untuk mencari pedati yang dapat disewa? Kami akan mengusung saudara-saudara kami yang terluka dalam perkelahian yang terjadi tadi”

“Kami tidak berbicara tentang sewa-menyewa Ki Sanak. Kami tahu bahwa Ki Sanak memerlukan pertolongan. Sedang kami mempunyai sesuatu yang dapat menolong serba sedikit. Karena itu, kami akan mengantarkan Ki Sanak tanpa berbicara tentang uang sewa”

Ki Udyana menarik nafas panjang.

“Maaf Ki Sanak. Perasaanku agak kehilangan keseimbangan setelah pertempuran tadi. Juga karena sikap petugas pasar itu. Menurut petugas pasar itu, sekarang hampir semua kerja diperhitungkan dengan uang”

“O” sais yang ternyata juga pemilik pedati itu mengangguk-angguk, “karena itulah agaknya Ki Sanak menganggap bahwa semua orang di sekitar pasar itu bersikap sama seperti petugas di pasar itu”

“Aku minta maaf” desis ki Udyana.

“Orang itu memang orang aneh, Ki Sanak. Ada beberapa orang petugas di pasar ini. Tetapi yang seorang itu memang lain dengan kawan-kawannya”

Namun segala sesuatunya pun kemudian diserahkan kepada Ki Gajah Tengara. Ki Udyana dan Wikan tidak dapat melibatkan diri terlalu dalam, sehingga ia akan tertahan lebih lama lagi.

Karena itu, maka Ki Udyana dan Wikan itu pun kemudian minta diri.

“Kami serahkan segala sesuatunya kepada Ki Gajah Tengara serta para murid dari perguruan Tambak Waja. Namun sebaiknya kalian juga membicarakannya lebih mendalam tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi”

“Ya, Ki Sanak, “ jawab Ki Gajah Tengara.

“Wora-wari Bang dan Alap-alap Perak ternyata tidak dapat kita singkirkan untuk selamanya. Karena itu, ada kemungkinan mereka datang kembali menemui kalian. Jika kalian tidak pagi-pagi menyusun kekuatan, maka kalian akan dapat dengan mudah dihancurkan oleh Wora-wari Bang serta Alap-alap Perak itu”

“Kami akan membicarakannya nanti, Ki Sanak. Selebihnya, kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan Ki Sanak. Jika saja Ki Sanak tidak kebetulan berada disini, maka kami tentu sudah menjadi ndeg pangamun-amun, dibantu oleh para pengikut Wora-wari Bang dan pengikut Alap-alap Jalatunda”

“Baiklah Ki Sanak” berkata Udyana kemudian, “aku akan meneruskan perjalanan kami. Mudah-mudahan kalian tidak mengalami bencana yang lebih besar. Mungkin dua perguruan, yaitu perguruan Gajah Tengara dan Perguruan Tapak Waja, harus menggabungkan kekuatan mereka”

“Ya, Ki Sanak”

Demikianlah, maka Ki Udyana dan Wikan pun kemudian meninggalkan pasar itu. Mereka pun mengambil kuda-kuda mereka. Kemudian kuda-kuda itu pun berderap berlari kencang di tengah-tengah bulak panjang.

Demikianlah, maka kedua orang itu pun telah menempuh perjalanan mereka yang panjang. Ternyata karena mereka telah terhambat di perjalanan cukup lama, maka mereka telah kemalaman di perjalanan.

“Kita selesaikan perjalanan kita yang tinggal sedikit” berkata Ki Udyana. “Tetapi kita akan beristirahat sebentar disini. Kuda-kuda kita tentu merasa letih”

Mereka pun beristirahat sejenak. Namun meskipun kemudian malam turun, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka sampai di padepokan.

Kedatangan Ki Udyana dan Wikan itu pun disambut gembira oleh para penghuni padepokan. Bahkan ada diantara mereka yang telah menjadi cemas, bahwa sesuatu telah terjadi. Namun ternyata kemudian keduanya telah pulang dengan selamat.

Malam itu, padepokan Ki Udyana menjadi malam yang ceria. Yang sudah tidur pun telah terbangun pula. Mereka menyambut kedatangan Ki Udyana dan Wikan. Beberapa orang cantrik pun segera pergi ke dapur. Namun padepokan itu pun kemudian dikejutkan oleh kotek ayam di kandang.

Ketika seorang cantrik berusaha menangkap seekor ayam, tiba-tiba ayam sekandang pun telah terbangun. Mereka berteriak-teriak sambil berterbangan didalam kandang.

“Jangan sembelih ayam” berkata Wikan, “Aku tahu, bahwa di dapur beberapa orang mentrik akan menyiapkan makan bagi kami berdua. Tetapi malam-malam begini tidak perlu menyembelih ayam. Beritahukan cantrik yang sedang menangkap ayam itu. Bukankah di petarangan terdapat beberapa butir telur?”

Malam itu, Wikan telah menyelamatkan jiwa seekor ayam yang seharusnya di sembelih untuk melengkapi lauk makan malamnya.

Ki Udyana pun agaknya sependapat dengan Wikan. Sambil tersenyum Ki Udyana pun berkata, “Bukankah terung di kebun belakang itu berbuah?”

Nyi Udyana tertawa. Katanya, “Baiklah. Apa saja yang disiapkan oleh para Mentrik”

Dalam pada itu, dari ruang dalam terdengar suara anak-anak yang memanggil-manggil, “Ayah, ayah”

Wikan pun segera menyongsongnya. Tatag berlari-lari mendekap ayahnya yang mengembangkan tangannya.

Tetapi Wikan yang tidak mengira bahwa tenaga Tatag yang mendekapnya itu akan mendorongnya, telah bergeser surut.

“Anak ini” berkata Wikan yang kemudian mengangkat anaknya kedalam gendongannya, “Kau menjadi berat sekali Tatag. Kau tentu terlalu banyak makan”

Tatag tertawa. Tetapi ia justru bertanya, “Ayah pergi lama sekali”

“Lama sekali? Bukankah hanya beberapa hari” Tanjung memandangi anaknya sambil tersenyum-senyum.

Dengan nada datar Tanjung pun berkata, “Kemarin Tatag berkelahi dengan anak lembu”

“Anak lembu?” ulang Wikan.

“Ya. Maksudnya tentu bergurau. Tetapi anak lembu itu menjadi kesakitan”

“Kau masih saja nakal Tatag?” berkata Wikan.

“Nanti aku berkelahi dengan ayah”

Wikan pun tertawa.

Demikianlah, setelah Ki Udyana dan Wikan bergantian mandi dan berbenah diri, maka mereka pun duduk di ruang dalam bersama Nyi Udyana. Tanjung dan para pemimpin padepokan yang lain.

“Jika kakang tidak terlalu letih, kami ingin segera mendengar kisah perjalanan kakang dan Wikan selama ini. Lalu bagaimana pula kabar tentang guru serta keluarga di Gebang” bertanya Nyi Udyana kemudian.

Ki Udyana menarik nafas panjang. Sambil memandang Wikan, Ki Udyana itu pun berkata, “Bukankah kita masih sempat untuk bercerita serba sedikit.

“Masih terlalu sore untuk tidur, paman”

“Baiklah. Kita akan bercerita tentang perjalanan kita”

Sementara itu, Tatag yang berbaring serta meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, ternyata sudah tertidur lelap.

“Apakah anak itu tidak kau letakkan di pembaringan dahulu?” bertanya Wikan.

Tetapi Nyi Udyana menyahut, “Biar saja ia tidur di pangkuan ibunya. Ia tidak akan terbangun mendengar kau menirukan suara gajah sekalipun.

Wikan tersenyum. Agaknya Nyi Udyana ingin segera mendengar pamannya berceritera.

Sebenarnyalah Ki Udyana pun segera berceritera dengan singkat, apa yang telah dialaminya bersama Wikan selama mereka ikut bersama gurunya, Ki Margawasana.

“Jadi guru tidak mengalami sesuatu?”

“Ya. Guru tidak mengalami sesuatu. Sampai saat ini guru berada dalam keadaan baik”

“Syukurlah. Sebenarnya aku melihat kegelisahan guru pada saat guru datang kemari. Aku tidak pernah melihat hal itu sebelumnya”

“Guru memang mengalami kegelisahan. Bukan karena guru menganggap lawannya berilmu sangat tinggi, sehingga tidak dapat diimbanginya. Tetapi bahwa seseorang sudah mulai berusaha untuk menjadi orang yang tidak terkalahkan itulah yang menggelisahkannya. Bahkan diluar kehendaknya, guru pun telah terlibat, sehingga guru harus bertanding dalam satu perang tanding untuk menentukan orang yang terbaik dan tidak terkalahkan”

Nyi Udyana mengangguk-angguk.

“Yang terjadi itu sebenarnya bertentangan dengan landasan sikap guru. Tetapi guru tidak dapat ingkar, sehingga guru memang harus tampil di Ngadireja”

Orang-orang yang mendengarkan ceritera Ki Udyana itu pun mengangguk-angguk. Mereka merasakan, betapa Ki Marga-wasana harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sikap batinnya. Tetapi Ki Margawasana tidak dapat menghindari-nya, karena Ki Margawasana telah dihadapkan pada satu langkah tanpa pilihan.

Namun Ki Udyana dan Wikan pun telah berceritera pula tentang Ki Sangga Geni. Nampaknya Ki Sangga Geni telah mengalami gejolak jiwani, sehingga menurut penglihatan Ki Udyana dan Wikan, Ki Sangga Geni telah berubah.

Nyi Udyana itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah. Jika Ki Sangga Geni masih mendendam, maka ia akan merupakan ancaman yang gawat bagi padepokan ini”

“Memang Nyi” sahut Ki Udyana, “namun yang penting, nampaknya Ki Sangga Geni akan berhasil menyelamatkan jiwanya, sehingga ia tidak lagi mengabdi kepada iblis.

Namun seisi padepokan itu pun masih juga harus berhati-hati menghadapi Alap-alap Perak dan Wora-wari Bang. Jika Alap-alap Perak berhasil membujuk lagi Ki Sangga Geni, maka keseimbangan pun akan segera berubah pula”

“Tidak” berkata Wikan kemudian dengan penuh keyakinan, “Ki Sangga Geni tidak akan berubah lagi. Siapa pun tidak akan dapat membujuknya. Bahkan iblis pun tidak lagi. Ki Sangga Geni telah menghancurkan sendiri iblis yang ada di kepalanya itu”“

Namun Ki Udyana dan Wikan masih belum berceritera tentang kitab yang diberikan oleh Ki Margawasana kepada mereka. Baru setelah pertemuan itu selesai, sehingga yang tinggal hanyalah Nyi Udyana dan Tanjung serta Tatag yang tidur di pangkuannya. Ki Udyana dan Wikan pun menceriterakan, bahwa Ki Margawasana telah membuka kemungkinan bagi keduanya untuk memasuki tataran tertinggi sebagaimana Ki Margawasana sendiri.

“Kami masih harus menjalani laku lagi, Nyi” berkata Ki Udyana, “sebenarnya aku merasa sudah terlalu tua. Tetapi karena tanggung jawab yang dibebankan kepadaku oleh guru, maka aku harus melakukannya. Tetapi harapan bagi masa depan berada di pundak Wikan”

“Jika itu kewajiban, kakang. Maka kakang tidak oleh merasa terlalu tua. Namun aku sependapat, bahwa Wikan adalah harapan dimasa mendatang”

“Ya. Wikan adalah harapan dimasa datang. Tetapi kita pun harus mempersiapkan Tatag bagi masa yang lebih panjang.

Nyi Udyana tersenyum. Katanya, “Ya. Tatag juga harus dipersiapkan. Ia memiliki bekal yang lengkap. Namun kita tidak boleh lengah dengan bekal jiwani selengkap bekal badaninya”

Demikianlah, sejak Ki Udyana dan Wikan kembali, maka rasa-rasanya padepokan mereka menjadi semakin hidup.

Wikan yang muda itu banyak mempunyai gagasan-gagasan mencoba berbagai macam cara untuk memperbaiki hasil sawah mereka. Gejolak jiwa mudanya ternyata mempunyai pengaruh yang sangat baik.

Namun Ki Udyana tidak melepasnya begitu saja. Dalam hal-hal tertentu, Ki Udyana masih juga berusaha untuk sedikit mengekangnya, sehingga Wikan tidak melenting terlalu jauh, lepas dari jangkauan para cantrik yang lain. Jika itu terjadi, maka justru akan ada jarak antara Wikan dengan para cantrik yang bahkan sebayanya.

Sementara itu, di sela-sela tugas-tugasnya di padepokan, maka Wikan dan Ki Udyana tidak lupa, melakukan pesan-pesan Ki Margawasana. Mereka menekuni laku sebagaimana harus dilakukan untuk menuntaskan ilmu mereka sampai ke puncak.

Kadang-kadang keduanya berlatih di sanggar tertutup. Namun kadang-kadang mereka menempa kemampuan mereka di padang terbuka, agak jauh dari padepokan dan jarang sekali di datangi orang.

Sebenarnyalah dengan bekal yang sama, bahkan dengan pengalaman yang lebih luas, Ki Udyana tidak dapat meningkatkan ilmunya secepat Wikan yang masih jauh lebih muda.

“Aku tidak bermaksud memujimu, Wikan. Tetapi sebenarnyalah bahwa masa depan padepokan kita terletak di bahumu. Jika guru memberi batasan waktu antara setengah sampai satu tahun, agaknya kau dapat menyelesaikannya kurang dari setengah tahun, sementara aku harus mengambil jarak waktu yang paling jauh. Mungkin setahun itu”

“Tidak. Paman tidak memerlukan waktu sepanjang itu. Seandainya paman memerlukan waktu lebih dari setengah tahun, namun kelebihannya tentu tidak akan terlalu banyak”

Ki Udyana tersenyum. Dengan ilmu pada tataran yang sama, namun dengan dukungan kewadagan yang lebih kuat, maka kemampuan yang sebenarnya pun akan berselisih meskipun hanya selapis yang sangat tipis.

Demikianlah, dari hari ke hari, maka banyak kemajuan yang dicapai oleh padepokan itu. Bahkan mereka telah dapat menjual berbagai macam hasil kerajinan serta hasil bumi untuk mendukung pembeayaan padepokan itu. Para cantrik yang memiliki ketrampilan sebagai pande besi pun telah dapat menjual berbagai macam alat pertanian yang buatannya tidak kalah dengan para pande besi yang lain. Sementara itu, setiap hari pasaran, para mentrik juga memasok beberapa ekor ayam kepada langganan-langganan mereka. Beberapa kedai yang berada di depan pasar.

Selain ayam, maka para cantrik juga memasok ikan air tawar. Gurameh, kakap dan bahkan ikan wader pari.

Dengan demikian maka padepokan Ki Udyana itu benar-benar menjadi sebuah padepokan yang mandiri dipandang dari beberapa sisi.

Para penghuni padepokan itu pun tidak terlalu memisahkan diri dari lingkungannya. Mereka merasa bahwa mereka adalah warga dari sebuah kademangan yang telah memberikan banyak dukungan kepada padepokan mereka. Ki Demang telah memberikan tanah, selain untuk membangun padepokannya, para cantrik juga dibenarkan untuk menebang hutan bagi tanah pertanian. Membendung sungai untuk menaikkan air ke tanah pertanian. Membuat belumbang untuk memelihara berbagai jenis ikan, serta satu lingkungan peternakan yang cukup luas.

Untunglah, bahwa kademangan itu memiliki lingkungan hutan yang luas memanjang sehingga Ki Demang dapat memberikan tanah yang cukup bagi padepokan Ki Udyana itu sejak saat berdirinya.

Karena itulah, maka penghuni padepokan itu seringkali terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Ki Demang.

Selain itu, memberikan kesempatan pertama bagi anak-anak muda di kademangan, jika ada diantara mereka yang ingin berguru di sebuah padepokan. Meskipun demikian mereka pun harus menempuh pendadaran lebih dahulu, karena mereka yang kurang memenuhi syarat, maka tinggal di padepokan akan terasa menyiksanya.

Kegemaran yang belum lama mulai muncul di padepokan itu adalah berburu. Sejak mereka belajar pada murid-murid paman guru mereka.

Semakin lama sekelompok cantrik telah menjadi pemburu-pemburu yang trampil dan berani.

Tetapi lambat laun, selagi di semua sisi yang tumbuh di padepokan itu menjadi semakin berkembang, kesenangan berburu itu justru menjadi semakin redup. Semakin besar, ternyata Tatag mempunyai sikap yang berbeda dengan para pemburu, sehingga beberapa orang pemburu yang baik, mulai mengurangi kegiatan mereka.

Tatag sendiri selalu ingin ikut, jika sekelompok cantrik akan berburu. Tetapi jika sudah sampai ke hutan, maka Tatag akan menghambat setiap usaha untuk mendapatkan seekor binatang buruan.

“Kenapa kita harus membunuhnya” bertanya Tatag yang sudah menjadi semakin besar.

“Bukankah seorang pemburu berusaha untuk dapat menangkap binatang buruannya?” sahut seorang cantrik.

“Biarlah mereka hidup dalam dunianya. Kita tidak perlu membunuhnya”

“Tetapi sudah menjadi takdir, bahwa binatang buruan akan dibunuh oleh para pemburu, sebagaimana ternak yang kita pelihara itu kita sembelih”

“Aku tidak pernah makan daging. Kakang tahu itu. Aku juga tidak pernah makan ikan yang ditangkap di kolam. Meskipun aku dapat mengerti, bahwa ternak yang dipelihara itu dapat saja disembelih untuk dimakan. Tetapi binatang di hutan ini hidup dalam lingkungan mereka”

“Mereka juga saling membunuh”

“Mereka hanya memenuhi kebutuhan untuk hidup mereka. Tetapi kita tidak. Kita dapat hidup tanpa membunuh binatang hutan”

Para cantrik itu saling berpandangan. Namun mereka menjadi heran melihat sikap Tatag. Bahkan cara berpikir Tatag yang tidak lagi mencerminkan cara berpikir anak-anak meskipun Tatag sudah menjadi semakin besar.

Ketika hal itu disampaikannya kepada Wikan, maka perhatian Wikan kepada Tatag pun menjadi semakin besar. Ketika Tatag masih bayi, ia sudah menarik perhatian banyak orang karena tangisnya. Demikian ia tumbuh maka ia menunjukkan sikap yang kadang-kadang sulit dimengerti oleh para cantrik. Kadang-kadang Tatag bersikap dan berpikir seperti orang dewasa. Namun para cantrik itu masih juga melihat Tatag bermain-main seperti kebanyakan kanak-kanak. Berlari-larian di halaman.

Tetapi sejak Tatag dapat berjalan, ia banyak bermain dengan binatang-binatang peliharaan. Kadang-kadang Tatag itu seakan-akan menghilang. Namun ternyata ia tidur diantara anak-anak kambing. Tatag pun menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap anak-anak ayam dan anak-anak itik yang baru menetas. Kadang-kadang Tatag mengikut seekor induk ayam yang menggiring anak-anaknya di halaman belakang.

Namun ketika Tatag menjadi semakin besar, maka ia pun mulai melakukan permainan yang berbahaya.

Ia tidak saja ingin selalu mengikuti para cantrik yang sedang berburu, meskipun ia akan lebih banyak mengganggu. Tetapi Tatag pun mulai pergi ke hutan sendiri.

Wikan dan Tanjung menjadi semakin sibuk mengamatinya. Bahkan Wikan telah menunjuk seseorang untuk selalu menemani Tatag agar Tatag tidak hilang.

Tetapi masih saja ada kesempatan bagi Tatag untuk pergi ke hutan sendirian.

Wikan dan Tanjung pun mengerti, bahwa Tatag sangat menyayangi berbagai macam binatang. Bahkan binatang apa saja. Tatag memang tidak mau makan daging apa saja. Bahkan ikan yang ditangkap di belumbang. Namun Tatag masih mau makan telur.

Bagi Tatag, binatang-binatang itu adalah sahabatnya.

“Ia tidak mempunyai kawan bermain yang sebaya” berkata Wikan kepada Tanjung ketika mereka melihat Tatag berlari-larian mengejar anak lembu.

“Ya. Yang ada disini adalah cantrik dan mentrik yang sudah dewasa. Agaknya Tatag tidak tertarik untuk bermain-main dengan orang-orang dewasa, sehingga Tatag lebih senang bermain dengan anak-anak binatang peliharaan itu”

“Apakah sebaiknya kita mencarikan Tatag seorang kawan yang sebaya?”

“Kemana?”

“Di padukuhan. Apakah kita dapat mengajak anak-anak sebaya dengan Tatag bermain di padepokan ini?”

Tanjung termangu-mangu sejenak. Namun baginya, tidak ada salahnya untuk mencobanya.

Ketika hal itu dikatakan oleh Tanjung kepada Nyi Udyana, maka ternyata Nyi Udyana pun setuju. Namun Nyi Udyana pun berpesan, “Tetapi cara membesarkan anak itu ada kalanya berbeda antara seorang dengan orang yang lain. Karena itu, jika kita mengajak anak-anak dari padukuhan, maka kita harus menjaga, agar kebiasaan anak-anak itu di rumah mereka dapat juga mereka lakukan disini. Mungkin waktu-waktu mereka makan, tidur, mandi dan sebagainya. Pada sore hari kita pun harus mengembalikan anak-anak itu kepada orang tuanya. Bahkan jika ada yang merajuk, maka kita harus berusaha untuk mengatasinya dengan baik sesuai dengan kebiasaan mereka di rumah”

Tanjung mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya, bibi. Tetapi bagaimana menurut bibi kalau kami mencobanya”

“Kita dapat mencoba untuk beberapa hari. Jika sesuai dengan keinginan kita tanpa mengganggu kebiasaan anak-anak itu, kita akan membuat tempat bermain khusus bagi Tatag dan kawan-kawan kecilnya itu”

Demikianlah, di hari-hari berikutnya, Wikan dan Tanjung berusaha mengadakan pengamatan terhadap kemungkinan untuk mengajak anak-anak sebaya dengan Tatag bermain di padepokan. Bahkan pada kesempatan lain, biarlah tatag yang datang bermain di padukuhan.

Agaknya beberapa orang tua tidak berkeberatan jika anaknya diajak bermain di padepokan.

“Di pagi hari, setelah makan, biarlah aku ajak anakku ke padepokan. Nanti pada saatnya makan siang, aku akan menjemputnya. Biarlah kakak perempuannya menemani dan mengawasinya selama ia berada di padepokan” berkata seorang ibu.

Demikianlah, maka beberapa hari kemudian, di padepokan itu telah dibuat secara khusus, sebuah lingkungan untuk bermain anak-anak sebaya dengan Tatag. Wikan telah membuat tiga buah ayunan bambu. Dibuatnya pula sebuah kotak kayu yang besar yang diisinya dengan pasir. Menurut dugaan Wikan, anak-anak senang bermain dengan pasir. Dibuatnya pula, kuda-kudaan dari kayu, glindingan, kitiran dan berbagai mainan kanak-kanak yang lain. Tetapi bahwa ada beberapa orang kakak perempuan yang masih juga remaja akan ikut menunggui adik-adik mereka, maka Tanjung pun telah menyediakan alat-alat untuk masak-masakan, pasaran dan alat-alat permainan gadis-gadis kecil yang lain.

Demikianlah, beberapa hari kemudian, padepokan Ki Udyana itu pun menjadi arena permainan kanak-kanak. Semula hanya ada satu dua orang anak sebaya Tatag yang bermain di padepokan itu. Tetapi satu dua orang anak lagi menyusul ikut bermain bersama Tatag.

Tatag memang menjadi senang mempunyai kawan bermain. Ia tidak lagi terlalu banyak berada di kandang kambing dan kandang lembu. Tidak pula berlama-lama menunggu induk ayam yang menggiring anaknya di halaman belakang.

Tetapi Tatag lebih banyak berada diantara kawan-kawannya yang sebaya, bahkan beberapa orang gadis kecil pun telah ikut bermain di padepokan itu.

Tetapi menjelang tengah hari, mereka pun telah pergi. Mereka pulang untuk makan siang. Kemudian di bersihkan kaki dan tangannya. Sebentar lagi mereka sudah berada di pembaringan.

Dengan demikian, maka Tatag pun telah sendiri lagi.

Tetapi bermain dengan anak-anak sebayanya itu agaknya semakin lama menjadi semakin menjemukan bagi Tatag. Rasa-rasanya mereka hanya bermain dengan gembira. Tidak ada tantangan yang harus dihadapinya yang dapat membangkitkan gairah dan dapat menghangatkan darahnya.

Demikianlah, ketika langit cerah, sementara anak-anak bermain dengan gembira di udara pagi yang segar, tiba-tiba saja seorang cantrik telah menemui Tanjung.

“Ada apa?”

“Tatag tidak ada di arena permainan”

“He?” Tanjung terkejut. Tetapi ia tidak ingin mengejutkan anak-anak yang sedang bermain. Karena itu, maka Tanjung itu pun hanya sekedar meyakinkan dirinya, bahwa Tatag tidak ada di arena permainan itu. Tetapi Tanjung tidak mengatakan apa-apa.

Namun Tanjung itu pun kemudian dengan tergesa-gesa menemui Wikan yang sedang berada di sanggar terbuka bersama beberapa orang cantrik.

“Ada apa?” bertanya Wikan.

Tanjung pun mendekatinya sambil berdesis, “Tatag tidak ada di arena permainan”

“He?”

Wikan pun kemudian meninggalkan sanggar itu dan menyerahkan para cantrik yang sedang berlatih kepada saudara-saudara seperguruannya.

Ketika Wikan sampai di arena permainan, ia melihat anak-anak sebaya Tatag bermain dengan gembira. Kakak-kakak perempuan mereka pun sibuk bermain pasaran dan permainan-permainan yang lain diawasi oleh dua orang mentrik.

“Kau tidak melihat Tatag?” bertanya Wikan kepada mentrik itu.

“Maaf, kakang. Ketika kami mulai bermain, Tatag ada diantara anak-anak itu. Kami berdua tidak tahu, kapan anak itu meninggalkan arena permainan. Demikian kami mengetahui bahwa Tatag tidak ada, maka aku minta seorang cantrik melaporkannya”

Wikan menarik nafas panjang. Ia tidak ingin menyalahkan para mentrik yang mengawasi anak-anak yang sedang bermain itu. Tatag memang anak yang nakal.

Beberapa saat Wikan mencari di padepokan. Di kandang-kandang ternak dan di halaman belakang, tetapi Tatag tidak ada.

“Kemana kita mencari kakang?” bertanya Tanjung dengan cemas..

Namun Ki Udyana pun berkata, “Anak itu sering pergi ke hutan. Marilah, kita lihat ke hutan, apakah Tatag ada di sana”

Dengan tergesa-gesa, Wikan dan Ki Udyana pun pergi ke hutan. Tatag yang sering ikut para cantrik yang sedang berburu, meskipun anak itu justru selalu mengganggu, memang pernah pergi ke hutan sendiri. Bahkan tidak hanya sekali.

Ki Udyana dan Wikan pun kemudian berlari-lari kecil melintasi bulak persawahan yang digarap oleh para cantrik. Kemudian menyeberangi padang perdu, yang dapat menjadi tanah cadangan dimasa depan jika diperlukan, meskipun masih harus diusahakan air yang lebih ajeg.

Ketika mereka sampai di pinggir hutan, Ki Udyana dan Wikan pun terkejut. Mereka melihat Tatag bermain dengan dua ekor anak harimau loreng dari jenis yang sangat besar.

“Tatag” panggil Wikan dengan jantung yang berdebaran.

Ketika keduanya melangkah semakin dekat, maka terdengar aum harimau menggetarkan jantung.

“Tidak apa-apa ayah” berkata Tatag.

“Induknya dapat marah”

“Tidak. Aku sudah bermain sejak tadi. Induknya tidak apa-apa. Aku pun kenal dengan induknya”“

Sebenarnyalah seekor induk harimau yang besar yang bergerak di belakang gerumbul-gerumbul perdu, kemudian berhenti dan berdiri di belakang Tatag. Matanya memancarkan sinar yang menggetarkan jantung.

Dengan gerak naluriah, Wikan dan Ki Udyana pun segera mempersiapkan diri. Jika harimau itu meloncat menerkam, maka mereka harus melawan dengan ilmu pamungkas mereka.

Tetapi Tatag pun kemudian melangkah mendekati induk harimau yang besar itu. Sambil mengusap lehernya, Tatag pun berkata, “Itu ayah dan kakekku. Mereka tidak akan mengganggu. Mereka bukan pemburu jahat yang sering membunuh binatang”

Induk harimau itu seakan-akan mengerti, apa yang dikatakan oleh Tatag. Perlahan-lahan induk harimau itu bergeser surut dan kemudian masuk ke dalam gerumbul-gerumbul liar di hutan itu.

Tatag pun kemudian mendorong kedua ekor anak harimau itu sambil berteriak, “Pergilah ke indukmu. Aku akan pulang”

Kedua ekor anak harimau itu pun kemudian berlari-lari dan menghilang di balik pepohonan hutan yang lebat

“Tatag” berkata Wikan kemudian, “ayo, pulang. Kawan-kawanmu bermain di padepokan. Sementara itu kau malah pergi meninggalkan mereka”

“Aku jemu bermain dengan mereka ayah. Mereka hanya dapat bermain ayunan, pasir, kuda-kudaan dan kejar-kejaran. Tidak ada permainan yang baru lagi yang lebih menarik. Disini aku dapat bermain dengan anak-anak harimau”

“Kenapa induk harimau itu tidak marah kepadamu?”

“Aku tidak mengganggu anak-anaknya. Ketika anak harimau itu terjepit sebatang dahan kayu yang roboh, akulah yang menolongnya. Induk harimau itu memang marah waktu itu, tetapi ketika ia melihat bahwa anak-anaknya terlepas setelah aku mengangkat dahan yang menjepitnya, maka induk harimau itu menjadi tenang.

Anak-anaknya berlari-larian mendapatkannya. Seekor diantaranya menjadi pincang. Tetapi sekarang sudah sembuh”

Wikan menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berkata, “Sekarang pulang Tatag. Kawan-kawanmu menunggu”

Tatag tidak membantah. Ia pun kemudian berjalan pulang bersama ayah dan kakeknya.

“Yang dilakukan Tatag adalah berbahaya sekali. Jika ia tidak berhasil menolong anak harimau itu, maka induknya yang marah tentu akan menerkamnya” berkata Ki Udyana.

“Ya, paman. Sementara itu, di hutan itu tentu tidak hanya ada seekor harimau yang anaknya telah ditolong oleh Tatag itu. Jika ada harimau yang lain, maka persoalannya tentu akan lain pula. Mungkin Tatag dapat memanjat pohon untuk menghindar. Tetapi jika yang datang macan kumbang, maka memanjat pun tidak akan berarti apa-apa. Macan kumbang itu akan dapat memburunya”

Tatag yang berjalan beberapa langkah di depan, namun yang mendengar pembicaraan itu pun memperlambat langkahnya sambil berkata, “Macan kumbang itu memang pernah datang, ayah”

“He?”

Tatag yang kemudian bergayut pada tangan ayahnya berkata, “Kemarin lusa, ketika aku sedang bermain dengan anak-anak harimau itu, seekor macan kumbang yang hitam lekam telah datang. Nampaknya macan kumbang itu mencoba untuk dengan diam-diam merunduk. Tetapi pertarungan sebentar. Macan kumbang yang agaknya telah terluka itu pun kemudian berlari masuk ke dalam hutan. Induk harimau itu tidak mengejarnya. Tetapi induk harimau itu melihat kedua anak-anaknya yang tidak apa-apa”

Ki Udyana berdesah. Katanya, “Bukankah berbahaya sekali jika kau berada di hutan itu, Tatag. Seharusnya kau tidak pergi ke hutan sendiri”

“Aku tidak mau bersama kakak-kakak yang sering berburu itu. Aku tidak mau memusuhi dan dimusuhi oleh binatang-binatang hutan ini, karena mereka memang bukan musuh kita”

“Bukankah mereka sekarang sudah tidak pernah berburu lagi sejak kau selalu mengganggu?”

Tatag tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Mereka menganggap aku mengganggu?”

“Ya”

Tatag masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Ketika mereka kemudian sampai di padepokan, maka Tatag pun segera bergabung dengan kawan-kawannya yang sebaya. Tetapi bagi Tatag, permainan dengan kawan-kawan sebayanya itu sudah tidak menarik lagi.

Namun dengan demikian, maka pengawasan terhadap Tatag itu pun menjadi semakin diperketat. Beberapa orang cantrik yang mendengar ceritera tentang macan kumbang itu pun menjadi cemas, bahwa bahaya yang tidak diduga akan dapat mengancam Tatag. Karena itu, baik mereka yang dipesan mau pun tidak, merasa mempunyai kewajiban untuk mencegah Tatag keluar dari padepokan.

Dengan demikian, meskipun agak menjemukan, maka Tatag pun setiap hari mencoba untuk dapat bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Tetapi permainan itu benar-benar terasa menjemukan. Namun jika para mentrik yang mendapat tugas untuk menemani anak-anak itu bermain, ikut berloncatan dan berkejaran, maka Tatag menjadi lebih gembira.

“Tenaga anak ini luar biasa” desis seorang mentrik yang hampir saja jatuh karena didorong oleh Tatag.

“Ya. Anak seumur Tatag sudah kuat mendukung seekor kambing domba yang besar”

“Bagaimana mungkin”

“Dimasa bayinya, tangisnya sudah mampu menggelarkan bangunan-bangunan yang ada di padepokan ini”

Bahkan para mentrik itu pun terkejut ketika mereka melihat bagaimana Tatag menirukan tatanan gerak olah kanuragan. Tatag yang masih belum pernah mendapat tuntunan olah kanuragan itu, ternyata sudah mampu menirukan beberapa unsur gerak yang justru agak rumit dilakukan oleh para cantrik dan mentrik

“He” bertanya seorang mentrik yang menemaninya bermain bersama anak-anak padukuhan, “Siapa yang mengajarimu?”

“Mengajari? Mengajari apa?”

“Kau dapat melakukan dengan baik. Unsur-unsur gerak yang terhitung rumit dapat kau lakukan dengan greget dan getar yang cukup kuat”

“Kenapa harus ada yang mengajari? Aku sering melihat kakek, nenek, ayah dan ibu berlatih. Para cantrik dan mentrik. Bukankah seharusnya aku dapat melakukannya pula”

“Tetapi harus ada yang menuntun dan membimbingmu, Tatag, agar kau tidak melakukan latihan-latihan yang dapat membahayakan dirimu sendiri”

“Apa yang membahayakan? Bukankah aku tidak apa-apa” Namun mentrik itu merasa perlu untuk melaporkan sikap Tatag itu kepada Tanjung, agar Tatag tidak justru mengalami kesulitan kelak.

Tanjung mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Terima kasih atas perhatianmu kepada Tatag. Anak itu memang harus lebih banyak mendapat perhatian”

Sebenarnyalah bahwa Tanjung tidak dapat tinggal diam. Ia pun-kemudian menyampaikannya kepada Wikan tentang Tatag yang sering menirukan unsur-unsur gerak dalam olah kanuragan yang kadang-kadang justru unsur-unsur gerak yang rumit.

“Baiklah. Jika demikian, biarlah kita justru memberikan kesempatan untuk berlatih”

“Apakah Tatag tidak terlalu kecil untuk berlatih secara bersungguh-sungguh kakang”

“Kitalah yang harus menyesuaikan diri. Kita tidak dapat memaksakan beberapa ketentuan sebagaimana yang kita trapkan kepada para cantrik dan mentrik yang sudah dewasa. Dengan anak-anak sebesar Tatag kita akan berlatih sambil bermain. Tetapi kita harus tetap menanamkan landasan bagi ilmunya dengan baik”

Tanjung mengangguk-angguk. Ia percaya kepada suaminya bahwa ia akan dapat membimbing Tatag lahir dan batinnya.

Tetapi ada kebiasaan Tatag yang membuat ibunya menjadi cemas. Tatag rasa-rasanya tidak telaten memakai baju. Setiap kali Tatag selalu membuka bajunya. Apalagi di siang hari ketika udara terasa panas menyengat.

“Kau harus memakai bajumu, Tatag” setiap kali ibunya memperingatkan

“Panas, ibu. Kakak-kakak para cantrik juga sering membuka bajunya jika udara terasa panas sekali”

“Tetapi kau masih terlalu kecil untuk membuka baju”

“Aku merasakan udara terlalu panas sebagaimana kakak-kakak pada cantrik”

“Tetapi kau dapat sakit jika kau terlalu sering membuka baju”

“Bukankah aku tidak terlalu sering membuka baju. Hanya jika udara sangat panas”

Tanjung menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak dapat mengatakan, bahwa ia harus menyembunyikan noda hitam yang melekat di dadanya itu.

“Noda itu akan dapat menimbulkan persoalan jika ada orang lain yang melihatnya”

Namun Tanjung itu menjawabnya sendiri, “Tetapi orang yang melihatnya itu tidak tahu menahu tentang toh hitam di dada anak itu”

Kadang-kadang Tanjung memang menjadi cemas. Mungkin seorang akan berkata kepada orang lain tentang toh di dada anak itu, sehingga akhirnya ceritera tentang toh di dada itu akan tersebar kemana-mana”

“Tetapi Tatag hanyalah seorang anak padepokan. Tidak akan ada orang yang menghiraukannya, “Tanjung mencoba menenteramkan dirinya sendiri.

Sebenarnyalah bahwa Tatag masih saja sering membuka bajunya. Selain membuka bajunya, ternyata Tatag masih juga sering pergi ke hutan sendiri. Anak itu dapat saja mencari kesempatan untuk keluar dari pintu regol padepokan tanpa dilihat orang, meskipun setiap cantrik dan mentrik merasa wajib untuk mengawasinya.

Padepokan itu bahkan pernah menjadi sibuk ketika menjelang senja Tatag tidak terdapat di padepokan. Setelah dicari kemana-mana Tatag tidak dapat diketemukan, maka ki Udyana dan Wikan mengambil kesimpulan bahwa Tatag tentu pergi ke hutan.

“Gelap mulai turun” berkata Ki Udyana, “Kita harus cepat pergi”

“Ajak beberapa orang cantrik yang sudah sering berburu”

“Tidak. Tatag tidak akan sependapat. Binatang-binatang hutan yang sudah terbiasa bermain dengan Tatag pun akan ketakutan melihat para pemburu itu”

“Tetapi mereka tidak akan berburu”

“Binatang hutan tidak dapat membedakan, apakah mereka datang untuk berburu atau tidak”

Ki Udyana dan Wikan pun segera turun dari pendapa dan bergegas pergi ke regol halaman padepokan.

Tetapi mereka tertegun ketika mereka melihat Tatag sudah berdiri di luar pintu regol. Tetapi Tatag tidak sendiri. Tiga ekor kera besar dari jenis yang paling garang berdiri di depan pintu itu pula.

“Terima kasih” berkata Tatag sambil menepuk bahu ketiga ekor kera yang besar itu berganti-ganti.

Ketiga ekor kera itu seakan-akan mengetahui, bahwa Tatag sudah berada di rumahnya. Karena itu, maka sejenak kemudian, ketiga ekor kera yang besar itu pun berlari-lari meninggalkan regol halaman padepokan.

“Tatag” nada suara Wikan meninggi, “Kau darimana?”

“Aku pergi mengunjungi ketiga orang kawanku itu, ayah”

“Mereka adalah jenis kera yang sangat berbahaya. Kera-kera itu berkelahi berkelompok. Jika seekor diantara mereka terganggu, maka jeritnya akan memanggil kawan-kawannya. Kadang-kadang sampai puluhan. Bahkan harimau pun menghindar jika mereka bertemu dengan jenis kera seperti itu. Hanya jika terpaksa saja harimau akan bertarung melawan mereka”

“Tidak ayah” sahut Tatag, “harimau itu tidak berkelahi melawan kera-kera bear itu, meskipun mereka tidak terlalu bersahabat”

“Bagaimana mungkin kau berkawan dengan kera-kera buas yang besar itu”

“Aku datang kepada mereka ayah. Jika aku tidak berbuat apa-apa, kera-kera itu pun tidak berbuat apa-apa

“Yang kau lakukan itu berbahaya sekali Tatag” berkata Ki Udyana.

“Asal kita baik kepada mereka, mereka pun baik kepada kita kek”

“Masuk” ayahnya pun tiba-tiba saja membentak. Tatag tidak menjawab. Ia pun kemudian berjalan sambil menundukkan kepalanya menuju ke biliknya.

“Dimana bajumu?” bertanya Wikan.

Ternyata Tatag melingkarkan bajunya di lambungnya.

“Kenapa tidak kau pakai bajumu?” bertanya ayahnya.

“Udaranya terasa panas sekali, ayah”

“Aku tidak merasakan udara yang panas itu”

Wikan memandang ayahnya dengan kerut di dahinya ia tahu ayahnya marah kepadanya. Karena itu, maka ia pun segera mengurai bajunya dan dipakainya.

“Kau tidak boleh terlalu sering membuka bajumu” berkata ayahnya dengan nada datar.

Tatag memandang ayahnya sekilas. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun sebenarnyalah tentang baju itu justru menjadi beban pikirannya. Ayahnya dan ibunya selalu memperingatkan agar ia tidak sering membuka baju. Ibunya selalu mengatakan, bahwa tanpa baju ia dapat menjadi sakit.

Tetapi selama ini ia tidak pernah menjadi sakit karena membuka bajunya.

“Ada apa dengan bajuku?” bertanya Tatag di dalam hatinya.

Namun kemudian Tatag pun telah melupakannya. Hanya pada saat-saat ayah atau ibunya berbicara tentang bajunya, maka pertanyaan itu telah melintas lagi di kepalanya.

Seperti yang dibicarakan oleh ayah dan ibunya, maka Wikan pun mulai mengajak Tatag bermain di sanggarnya. Wikan mulai memperkenalkan gerakan-gerakan yang sederhana untuk mengalasi penguasaan unsur-unsur gerak di kemudian hari.

Namun ternyata Tatag sudah dapat melakukan gerakan-gerakan yang lebih banyak. Bahkan kadang-kadang diluar dugaan ayahnya.

“Siapakah yang mengajarimu, Tatag?” bertanya ayahnya.

“Tidak ada ayah”

“Jadi, darimana kau mendapatkannya?”

“Bukankah aku sering melihat kakek, nenek, ayah dan ibu berlatih. Bahkan para cantrik dan mentrik? Bukankah aku hanya menirukan saja, bagaimana mereka menggerakkan tangan dan kaki”

Wikan menarik nafas panjang. Tatag memang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak yang lain. Pertanda dari kelebihannya itu dapat dikendalikannya dari tangisnya. Bahkan ada orang yang telah memburunya setelah orang itu mendengar tangis Tatag.

Ternyata kesediaan Wikan bermain dengan Tatag dan bahkan kadang-kadang kakek, nenek dan ibunya, telah membuatnya sangat bergairah. Permainan di dalam sanggar tertutup dan sanggar terbuka itu telah mengurangi keinginan Tatag untuk pergi ke hutan.

Meskipun demikian, sekali-sekali Tatag masih harus dicari dan diketemukan di hutan bermain-main dengan binatang-binatang liar.

“Ada yang aneh dalam kehidupan binatang liar di hutan itu” berkata Ki Udyana kepada Wikan pada suatu ketika.

“Kenapa paman?”

“Tatag dapat bersahabat dengan binatang-binatang buas, tetapi juga dengan kijang, menjangan dan bahkan kancil. Jika binatang-binatang itu bermain dengan Wikan, maka binatang-binatang buas tidak mau memburunya”

“Memang sulit untuk mengerti. Anak itu memang diliputi oleh rahasia yang sulit untuk ditebak sejak diketemukannya”

Ki Udyana menarik nafas panjang. Mereka berdua tidak melihat bagaimana anak itu diketemukan di muka pintu rumah Tanjung. Tetapi Tanjung telah menceriterakan kepada mereka, tentang anak yang menangis di depan pintu rumahnya itu.

Dengan demikian, maka Wikan, Tanjung dan bahkan Ki Udyana dan Nyi Udyana sangat memperhatikan Tatag yang tumbuh semakin besar dengan kebiasaan-kebiasaannya yang kadang-kadang sulit dimengerti.

Sementara itu, latihan-latihan olah kanuragan yang dibimbing oleh ayah, ibu, kakek dan neneknya itu dapat berjalan dengan lancar. Tatag tidak pernah mengeluh tentang waktu-waktu yang ditetapkan oleh ayahnya bagi Tatag untuk berlatih. Tatag menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.

Namun didalam olah kanuragan pun Wikan setiap kali menemukan unsur-unsur gerak yang aneh. Namun unsur-unsur gerak itu dapat luluh dengan lembutnya ke dalam ilmu yang diajarkan kepadanya oleh ayah, ibu, kakek dan neneknya.

Ki Udyana, Nyi Udyana, Wikan dan Tanjung, kadang-kadang harus membicarakan perkembangan ilmu Tatag secara khusus.

Sementara itu, Ki Udyana dan Wikan telah menyelesaikan laku yang harus dijalaninya, sehingga dengan demikian, didukung oleh landasan ilmunya, pengalamannya serta kecerdasan otaknya, maka Ki Udyana dan Wikan adalah orang-orang yang mumpuni. Bahkan mereka memiliki kelebihan dari Ki Margawasana karena mereka memiliki dukungan kewadagan yang lebih kokoh.

“Ada yang tiba-tiba muncul seakan-akan diluar sadarnya” berkata Wikan kepada pamannya.

“Ya. Menurut pengamatanku, Tatag yang sering berada di hutan itu, sadar atau tidak sadar, sering memperhatikan hubungan antara binatang hutan yang satu dengan yang lain. Bagaimana binatang yang kuat menguasai binatang yang lebih lemah. Tetapi Tatag pun sempat memperhatikan, bagaimana binatang-binatang yang lemah itu berusaha menyelamatkan diri dari gangguan binatang-binatang yang lebih kuat..

Kadang-kadang binatang yang lemah telah melakukan perlawanan yang tidak terduga-duga. Ketajaman nalurinya bahkan telah menyelamatkannya dari gigi-gigi tajam binatang buas.

Tatag memang sering sekali duduk di atas sebatang dahan sambil memperhatikan kehidupan binatang hutan. Meskipun sekali-sekali Tatag berhasil menyelamatkan nyawa seekor kancil karena seekor harimau urung menerkamnya, namun Tatag pun tahu, bahwa pada kesempatan yang lain, maka Harimau itu akan menerkamnya juga.

Tatag bahkan mengagumi seekor tikus tanah yang berhasil lepas dari mulut seekor ular yang sudah siap mematuknya. Tikus tanah itu justru membelakangi ular itu. Dengan kakinya tikus tanah itu pun menghamburkan tanah ke wajah ular itu, sehingga agaknya ada butir-butir tanah yang lembut masuk ke dalam mata ular itu. Dengan demikian, maka tikus tanah itu sempat melarikan diri dari terkaman gigi-gigi ular itu.

Apa yang dilakukan oleh binatang-binatang yang lemah untuk menyelamatkan diri itu, ternyata sangat menarik perhatian Tatag, sehingga diluar sadarnya, gerakan-gerakan seperti itu nampak sekilas dalam latihan-latihan yang dilakukannya bersama ayah dan ibunya serta kakek dan neneknya.

Namun Ki Udyana dan Wikan tidak menganggap hal itu membahayakan Tatag. Namun justru harus melakukannya dengan penuh kesadaran tentang gerakan-gerakan yang terpengaruh oleh gerak naluriah binatang-binatang yang lemah untuk menyelamatkan dirinya dari maut.

“Bukankah gerakan-gerakan itu lebih banyak merupakan gerakan untuk menyelamatkan diri yang tentu akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya? Bukan gerakan-gerakan yang keras untuk menyerang? Dengan demikian, maka Tatag tidak akan menjadi orang yang condong menyerang kepentingan orang lain. Ia akan lebih banyak bertahan untuk menyelamatkan diri”

“Tetapi Tatag tentu juga sering melihat binatang-binatang buas menyerang mangsanya”

“Gerakan semacam itu agaknya tidak menarik perhatiannya. Meskipun demikian, untuk membela diri serta melindungi diri, maka salah satu cara adalah menyerang.

Demikianlah, maka padepokan Ki Udyana itu pun tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan Tatag. Semakin meningkat umurnya, Tatag semakin memperlihatkan beberapa kelebihan dari kebanyakan orang. Selain tenaganya yang sangat besar, maka ia pun mampu bergerak sangat cepat. Sementara itu, tubuh Tatag pun tumbuh melampaui kebanyakan orang. Tubuhnya menjadi lebih tinggi dari kawan-kawan sebayanya yang tinggal di padukuhan, yang sekali-sekali masih datang mengunjungi Tatag. Dadanya pun nampak bidang. Lengannya kokoh dan kuat seperti lengah seekor harimau loreng dari jenis yang besar. Lehernya kuat seperti leher seekor banteng.

Tetapi Tatag tidak termasuk seorang pendiam. Anak itu pun suka sekali bergurau dan berkelakar, sehingga Tatag nampak sebagai seorang yang selalu gembira.

Ketika Tatag tumbuh remaja, maka Wikan sering mengajaknya melihat lihat kehidupan dunia dari beberapa sisi, sehingga Tatag itu jangan mendapat kesan bahwa padepokannya serta hutan yang berada di seberang padang perdu itulah wajah dunia ini seutuhnya.

Sekali-sekali Tatag telah datang berkunjung ke rumah Ki Bekel di padukuhan. Bahkan Tatag pun telah diperkenalkan kepada Ki Demang. Dibiarkannya Tatag Berada di padukuhan sampai dua tiga hari menginap di rumah kawan-kawan sebayanya yang sering datang bermain ke padepokan. Bersama kawan-kawannya itu Tatag datang mengenali berbagai masalah yang sering dihadapi dalam hidup ini.

Wikan dan Tanjung juga sering mengajak Tatag pergi ke pasar.

Kadang-kadang Tatag yang juga sudah memiliki sedikit ketrampilan sebagai pande besi itu juga ikut bekerja dengan beberapa orang cantrik di pasar. Para cantrik yang membuka tempat kerja pande besi di pasar itu, telah membantu mendukung pemenuhan kebutuhan sehari-hari bagi padepokannya. Selain itu, maka sehingga dengan ketrampilan itu, mereka akan dapat mencari nafkah dengan cara yang baik.

Namun setiap kali Tatag Keluar dari padepokan, apakah ia pergi kepadukuhan atau pergi ke pasar, ibunya selalu memperingatkan agar Tatag jangan sering membuka bajunya.

“Para cantrik yang bekerja sebagai pande besi di pasar itu pun selalu membuka baju mereka. Panasnya udara dan panasnya baju” kadang-kadang Tatag juga membela diri.

Tetapi ibunya menjawab, “Kau mempunyai kelemahan sejak kau lahir, Tatag. Kau tidak tahan terkena hembusan angin. Kau sering menjadi sakit dan bahkan kau dapat menjadi lemah”

“Justru karena itu, apakah tidak seharusnya aku membiasakan diri agar tubuhku tidak menjadi terlalu cengeng, ibu” jawab Tatag.

“Tidak Tatag” sahut ibunya, “Aku mengenalmu sejak kau lahir. Karena itu, dengar nasehat ibu”

“Baik ibu” Tatag itu mengangguk. Ia memang bukan seorang pembantah. Dalam banyak hal Tatag selalu patuh kepada ayah dan ibunya. Juga kepada kakek dan neneknya.

Meskipun demikian, Tatag sering juga lupa. Jika udara terasa panas menyengat, maka Tatag sering membuka bajunya. Bahkan pada waktu ia berada di pasar. Di usia remajanya, Tatag pun telah pernah diajak oleh ayah dan kakeknya pergi mengunjungi kakek gurunya, Ki Margawasana di Gebang. Gurunya sudah menjadi semakin tua. Rambutnya sudah menjadi putih seperti kapas.

Namun Ki Margawasana itu pun menjadi sangat gembira ketika ia mendapat laporan bahwa Ki Udyana dan Wikan telah selesai menjalani laku sebagaimana di perintahkan oleh gurunya.

Ki Margawasana pun ternyata menjadi sangat bangga melihat tumbuh dan berkembangnya Tatag yang sudah menjelang remaja.

“Luar biasa” gumam Ki Margawasana.

Tiba-tiba saja Ki Margawasana ingin mengetahui, sejauh manakah landasan ilmu yang telah dipelajari anak itu. Anak yang mempunyai bekal alami yang sangat menarik perhatian.

“Aku ajak anakmu ke sanggar Wikan”

“Silahkan guru. Justru guru akan dapat memberikan beberapa petunjuk bagi anak itu”

Tatag lah yang semula merasa ragu. Meskipun ia sudah mengenal kakek gurunya itu, tetapi ia tidak terbiasa berlatih bersamanya. Sejak ia mulai tumbuh, maka ia sudah terpisah dari Ki Margawasana yang telah meninggalkan padepokan dan menyepi di bukit kecilnya di Gebang itu.

Namun ketika Tatag sudah berada di sanggar, perlahan-lahan Tatag mulai membiasakan diri berlatih bersama Ki Margawasana, sehingga akhirnya Tatag pun menjadi terbiasa. Ia tidak lagi merasa terkekang setelah Ki Margawasana berhasil memancingnya untuk menunjukkan kemampuannya.

Ki Margawasana pun benar-benar menjadi heran. Tatag yang menjelang remaja itu, ternyata sudah memiliki bekal yang sangat jauh. Bahkan Ki Margawasana pun melihat sisipan-sisipan ilmu yang ternyata dapat luluh dan menyatu dengan ilmu yang dipelajarinya di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu.

Ketika mereka keluar dari sanggar, maka Ki Margawasana pun kemudian telah berbicara dengan Ki Udyana dan Wikan, sementara Tatag pergi ke pakiwan.

“Jika keringatmu sudah kering” berkata Ki Margawasana.

“Baik, kek” sahut Tatag sambil pergi ke sumur.

Namun Tatag yang masih basah oleh keringat itu tidak segera mandi. Ia masih berjalan-jalan di bawah pepohonan yang sejuk. Angin yang semilir perlahan, terasa membuat tubuhnya menjadi segar.

Ki Margawasana yang duduk di serambi depan bersama Ki Udyana dan Wikan itu pun berkata, “Anak itu benar-benar anak yang luar biasa. Bagaimana cara kalian mengasuhnya, sehingga di umurnya yang belum menginjak remaja penuh itu, ia sudah memiliki bekal ilmu yang demikian mapan”

“Kami menjadi sangat berhati-hati membimbingnya, guru” Ki Udyana lah yang menyahut, “anak itu memang luar biasa”

“Seperti yang pernah aku pesankan, agar kalian dapat membimbing anak itu dalam keseimbangan kebutuhan lahir dan batinnya. Jika keseimbangan itu terganggu, maka anak itu tidak akan tumbuh sebagaimana kita inginkan. Kalian harus memperkenalkan Tatag dengan alam dan lingkungannya. Tetapi kalian juga harus memperkenalkan Tatag dengan Pencipta Alam itu dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, maka ia akan merasakan satu dengan alam dalam kebulatan penciptaan itu”

Ki Udyana dan Wikan pun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Wikan pun berkata, “Kami akan berusaha sejauh-jauhnya guru”

“Mudah-mudahan kalian berhasil sehingga dengan demikian, maka kita sudah mempunyai tabungan bagi masa depan, seorang yang akan dapat memberikan banyak arti dari hidupnya kepada sesamanya. Karena jarang-jarang orang yang bersedia berbuat demikian, maka seorang pun diantara mereka akan mempunyai pengaruh dalam tatanan kehidupan ini”

Ki Udyana dan Wikan itu pun mengangguk-angguk. Mereka menyadari sepenuhnya tanggung jawab yang membebani pundak mereka atas perkembangan masa depan Tatag. Jika mereka gagal, maka Tatag yang memiliki banyak kelebihan dari kebanyakan anak-anak itu, akan dapat terperosok ke dalam bayangan kegelapan.

Demikianlah, untuk beberapa hari Tatag bersama ayah dan kakeknya berada di bukit kecil di sebelah gerbang itu. Ternyata bukit kecil yang sejuk, tenang dan terasa damai itu, membuat Tatag kerasan tinggal beberapa lama.

Namun kemudian, telah timbul pula kegelisahan di hati remaja itu. Di bukit kecil itu ia tidak menjumpai binatang-binatang buas yang berkeliaran. Ia tidak-dapat berkejaran dengan anak kijang. Tidak pula dapat berayun di sulur-sulur pepohonan liar dengan kera-kera yang besar dan berkesan bengis itu.

Karena itu, telah mulai timbul kejemuan di hati Tatag.

Meskipun demikian, Tatag tidak berkata apa-apa. Ia dapat mengisi kejemuannya dengan kesempatan yang diberikan oleh Ki Margawasana untuk berjalan-jalan mengelilingi bukit kecil itu. Bahkan kadang-kadang Ki Margawasana telah memberikan kesempatan untuk setiap kali berlatih bersamanya di alam terbuka, diantara pepohonan dan gerumbul-gerumbul perdu.

“Tatag” berkata Ki Margawasana pada suatu saat ketika mereka beristirahat dibawah sebatang pohon preh yang besar diantara pepohonan yang ada di atas bukit kecil itu, “Aku tidak akan merahasiakannya penglihatanku atas dirimu”

Tatag menjadi berdebar-debar.

“Kau mempunyai kesempatan yang lebih baik dari kebanyakan anak-anak sebayamu untuk mendapatkan ilmu yang akan sangat berarti bagi masa depanmu. Bukan saja ilmu yang menyangkut berbagai bidang ketrampilan, seperti pande besi, pertanian, peternakan dan sebagainya, tetapi juga dalam olah kanuragan”

Tatag mendengarkan kata-kata kakek gurunya itu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu Ki Margawasana pun berkata selanjutnya, “Dengan ilmu yang semakin tinggi, orang dapat menempatkan dirinya semakin mapan diantara sesamanya. Tetapi orang-orang yang tergelincir memilih jalan hidupnya menuju ke kehidupan langgeng justru akan menjadi orang yang semakin berbahaya bagi orang banyak”

Tatag mengangguk-angguk. Meskipun kadang-kadang ia masih sangat bersifat kekanak-kanakan sebagaimana kawan-kawan sebayanya, namun kadang-kadang Tatag bersikap seperti orang yang sudah dewasa. Sifat-sifat itu juga sudah dikenal dengan baik oleh ayah, ibu, kakek serta neneknya. Bahkan para cantrik pun kadang-kadang telah membicarakan sifat Tatag itu. Namun para cantrik itu kebanyakan sulit untuk mengerti, kenapa Tatag seakan-akan dapat bersikap ganda seperti itu.

Meskipun sifat itu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari ayah, ibu, kakek serta neneknya, namun mereka menjadi tidak terlalu khawatir, karena Tatag yang bersifat ganda itu tidak memiliki watak ganda. Ia tetap sebagai seorang penurut. Apakah ia sedang bersikap seperti kanak-kanak atau pada saat-saat ia bersikap seperti orang dewasa.

Demikian pula terhadap para cantrik mentrik dan lingkungannya. Ia tetap saja Tatag yang periang dan suka bergurau. Tatag yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap sesamanya dan lingkungannya.

Demikianlah setelah beberapa hari Tatag bersama ayah dan kakeknya berada di bukit kecil sebelah padukuhan Gebang itu maka mereka pun minta diri untuk kembali ke padepokan.

“Ibu dan neneknya tentu sudah menunggu Tatag pulang” berkata Wikan kepada gurunya.

Ki Margawasana tersenyum. Ia mengerti kerinduan seorang ibu dan nenek terhadap anak serta cucunya. Karena itu, maka Ki Margawasana pun tidak menahan mereka lebih lama lagi.

“Jadi kapan kalian akan pulang ke padepokan?”

“Esok pagi, guru” jawab Ki Udyana.

“Baiklah. Salamku buat seisi padepokan. Katakan kepada mereka, bahwa aku sudah menjadi semakin tua. Rasa-rasanya aku sudah tidak akan sempat mengunjungi padepokan itu lagi”

“Baik guru. Tetapi guru tentu masih akan sempat mengunjungi padepokan itu lagi. Jika guru ingin pergi ke padepokan, biarlah kami menjemputnya. Bukan karena mengkhawatirkan bahwa guru akan sendiri diperjalanan, tetapi agar guru tidak menjadi jemu dan kesepian sepanjang jalan”

Ki Margawasana tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku akan datang ke padepokan itu memberitahukan, kapan kalian harus menjemput aku kemari”

Ki Udyana dan Wikan pun mengerutkan dahinya. Namun kemudian mereka pun tertawa. Bahkan Tatag pun ikut tertawa pula. Ia senang mendengar canda kakek gurunya itu.

Sehari itu, Tatag telah mengelilingi bukit kecil di sebelah padukuhan Gebang itu. Ia sempat melihat-lihat berbagai jenis ikan yang berenang di kolam. Berbagai macam burung yang berterbangan serta berkicau dengan gembiranya. Ketika seekor elang dengan matanya yang tajam terbang tinggi di atas perbukitan itu, terdengar Tatag bersuit nyaring. Agaknya ia telah memberi isyarat kepada elang itu, agar elang itu tidak mengganggu binatang-binatang yang lebih kecil yang berada di bukit.

Ki Margawasana pun benar-benar menjadi heran. Tatag yang menjelang remaja itu, ternyata sudah memiliki bekal yang sangat jauh. Bahkan Ki Margawasana pun melihat sisipan-sisipan ilmu yang ternyata dapat luluh dan menyatu dengan ilmu yang dipelajarinya di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu.

Elang itu mendengar isyarat Tatag. Seakan-akan elang itu mengerti maksud Tatag. Karena itu, maka elang itu pun kemudian telah, terbang menjauh.

Ki Udyana dan Wikan pun menganggap bahwa Tatag itu dapat berbicara dengan berbagai macam binatang. Setidak-tidaknya Tatag dapat menyampaikan maksudnya dengan isyarat kepada binatang. Bahkan binatang yang sebelumnya belum dikenalnya.

Di hari berikutnya, ketika fajar membayang di kaki langit, maka Ki Udyana, Wikan dan Tatag pun telah siap untuk menempuh perjalanan pulang ke padepokan. Kuda-kuda mereka pun telah dipersiapkan pula. Pada saat matahari terbit, mereka akan meninggalkan bukit kecil di sebelah padukuhan Gebang itu.

Ki Margawasana pun kemudian melepas murid-muridnya serta Tatag meninggalkan bukit kecilnya di regol halaman rumahnya. Diatas punggung kuda, Tatag nampak lebih besar dan lebih tua dari remaja seumurnya.

Ki Margawasana pun kemudian menepuk lengan Tatag sambil berdesis, “Hati-hati Tatag. Bukan saja diperjalanan sampai ke padepokan. Tetapi juga diperjalanan hidupmu yang menurut tata lahirnya masih panjang”

“Baik kakek. Aku akan mengingatnya”

Demikianlah, ketika matahari kemudian terbit, mereka bertiga telah melarikan kuda mereka. Tidak terlalu cepat, menurut jalan setapak di bukit kecil itu. Baru kemudian ketika mereka sampai ke jalan datar yang lebih lebar, maka kuda-kuda itu pun berlari lebih cepat lagi.

Tatag yang remaja itu telah memiliki ketrampilan yang tinggi duduk di punggung kuda. Justru Tatag lah yang berkuda di paling depan. Baru kemudian ayah dan kakeknya.

“Jangan terlalu cepat, Tatag” pesan ayahnya lantang ketika mereka berkuda di bulak panjang.

Tatag berpaling sambil tertawa. Katanya, “Aku tidak telaten merayap seperti siput ayah”

“Di depan ada sebuah padukuhan. Kau harus memperlambat lari kudamu. Mungkin banyak orang lewat hilir mudik. Mungkin banyak anak-anak bermain”

“Baik ayah”

Tatag memang memperlambat lari kudanya. Meskipun demikian, sekali-sekali Tatag lupa menyentuh perut kudanya dengan cambuk kecilnya.

Demikianlah ketiga orang itu menempuh perjalanan yang panjang menuju ke padepokannya. Sementara mata-hari pun merayap semakin tinggi, sehingga akhirnya mencapai puncak langit.

Tatag semakin memperlambat lari kudanya. Ia. merasakan kudanya sudah menjadi letih. Karena itu, maka Tatag pun kemudian berkata kepada ayah dan kakeknya, “kuda-kuda kita sudah letih, ayah. Kasihan jika kita memaksanya berlari terus”

“Baiklah” berkata ayahnya, “kita akan beristirahat. Bukan hanya kuda-kuda kita yang mungkin haus dan lapar. Tetapi kita juga merasa haus”

Tatag tersenyum sambil bertanya, “Ayah dan kakek tentu mengenal kedai terbaik di sepanjang jalan ini. Bukankah ayah dan kakek sering mengunjungi kakek guru?”

“Ya. Tetapi kedai yang terbaik masih agak jauh. Meskipun demikian, di padukuhan di depan itu terdapat pasar yang cukup ramai. Di seberang pasar itu berderet kedai yang cukup baik”

Sebenarnyalah ketika mereka mendekati padukuhan itu, mulai terasa jalan menjadi lebih banyak dilalui orang. Orang yang pergi dan yang pulang dari pasar. Tetapi karena matahari sudah menjadi semakin tinggi dan bahkan melewati puncak langit, maka orang-orang yang berada di pasar itu sudah mulai menyusut.

Meskipun demikian, ketika mereka bertiga sampai di depan pasar, masih juga nampak kesibukan di pasar dan bahkan di jalan di depan pasar.

Seperti yang dikatakan oleh Wikan, maka beberapa buah kedai berjajar di seberang jalan didepan pasar itu. Mereka bertiga pun kemudian telah berloncatan turun. Mereka menuntun kuda mereka ke sebuah kedai yang terhitung besar di bandingkan dengan kedai yang lain. Di kedai itu agaknya terdapat penitipan kuda. Sekaligus memberikan minum dan makan bagi kuda-kuda yang letih.

Tatag lah yang kemudian mendahului ayah dan kakeknya memasuki kedai itu. Di pintu ia tertegun sejenak memperhatikan tempat-tempat duduk yang kosong di dalam kedai itu.

Di tengah-tengah kedai itu, ia melihat sepasang suami isteri dengan dua orang anak laki-laki. Yang kecil agaknya sedikit lebih tua dari Tatag. Yang satu lagi sudah menjelang dewasa.

Wikan dan Ki Udyana yang kemudian menyusul Tatag juga melihat sepasang suami isteri itu. Mereka juga melihat dua orang anak laki-laki yang ikut bersama mereka. Bahkan Wikan sempat bergumam didalam hatinya, “Anak itu tentu lebih tua dari Tatag. Tatag tumbuh lebih cepat dari anak-anak sebayanya, sehingga menilik ujudnya, Tatag itu seakan-akan sudah meningkat dewasa”

Tetapi Wikan pun mengenal sifat anaknya yang seakan-akan ganda itu. Kadang-kadang Tatag bersikap seperti orang yang sudah dewasa.

Sesaat kemudian, mereka pun sudah duduk didalam kedai itu. Seperti Wikan dan Ki Udyana, ternyata Tatag juga memilih tempat di sudut ruangan kedai itu.

Ketika seorang pelayan di kedai itu datang kepada mereka, maka dengan serta merta Tatag berpesan, “Dawet cendol”

Wikan pun menyambung, “Beri kami tiga mangkuk dawet cendol Ki Sanak. Kemudian tiga mangkuk nasi langgi”

“Aku tidak mau nasi langgi, ayah” berkata Tatag.

“Kau mau apa?”

“Nasi megana dengan pepes udang”

Wikan tersenyum. Katanya, “Baik”

Pelayan itu pun tersenyum pula. Ia pun kemudian meninggalkan Tatag, Wikan dan Ki Udyana yang duduk di sudut kedai itu untuk mempersiapkan pesanan mereka.

Baru beberapa saat kemudian pelayan itu kembali lagi untuk menghidangkan pesanan-pesanan Wikan.

“Sekarang duduk yang baik. Minum dawetmu dan makan nasi megana pesananmu itu”

Tatag pun kemudian duduk dengan baik. Bersama-sama dengan ayah dan kakeknya, Tatag pun kemudian minum dan makan nasi yang dipesannya.

Dalam pada itu, selagi mereka makan dan minum, tiba-tiba telah terjadi keributan di kedai itu. Beberapa orang berwajah garang telah memasuki kedai itu. Tiga orang diantara mereka pun kemudian berdiri di sekitar dua orang suami isteri yang datang bersama dengan dua orang anak laki-laki itu.

Seorang diantara orang-orang yang garang itu pun berkata, “Aku minta kau kembali ke rumah Ki Mertasana”

Laki-laki yang duduk bersama isteri dan dua orang anak laki-laki itu pun bertanya, “Kenapa aku harus kembali? Bukankah segala persoalan sudah aku selesaikan dengan kakang Mertasana.

“Masih ada beberapa persoalan yang belum selesai”

“Tidak. Semuanya sudah selesai. Kakang Mertasana juga sudah memberikan uangnya kepadaku. Apalagi?”

“Kau telah menipunya. Keris yang kau sebut mempunyai kasiat ganda itu, ternyata hanya bohong-bohongan saja. Keris itu tidak lebih dari besi karatan. Apalagi mempunyai kasiat ganda. Ujudnya saja lebih buruk dari pisau dapur.

“Ki Sanak. Kau ini bicara apa. Ketika kami bicarakan harga keris itu, maka kakang Mertasana telah melihatnya langsung. Keris itu telah dilihatnya dengan saksama. Harganya pun kemudian kami setujui. Bahkan harga keris itu sudah dibayar. Demikian pula harga barang-barang yang lain. Semuanya sudah melalui satu pembicaraan yang matang. Bagaimana mungkin kau katakan, bahwa aku telah menipunya. Seandainya aku akan menipu kakang Mertasana, tentu aku tidak akan mengajak isteri dan anak-anakku. Karena aku akan memperhitungkan segala kemungkinan yang dapat terjadi akibat penipuan itu. Tetapi aku datang dan berbicara dengan baik-baik. Kakang Mertasana pun menanggapinya dengan baik-baik. Kenapa tiba-tiba kalian berusaha mengeruhkan suasana. Bukan saja tuduhan Ki Sanak bahwa aku telah menipunya. Tetapi dengan demikian kau telah membuat hubunganku yang baik dengan kakang Mertasana menjadi cacat”

“Jika hubunganmu dengan Ki Mertasana cacat, maka itu tentu salahmu”

“Jangan mengada-ada Ki Sanak. Aku menjual barang-barangku karena aku terlanjur berbicara tentang tanah dengan pamanku. Aku akan membeli tanah milik paman. Karena aku tidak mempunyai uang tunai, maka aku telah menjual dua bilah keris kepada kakang Mertasana, karena aku tahu, kakang Mertasana adalah seorang penggemar keris. Bagaimana mungkin seorang yang mempunyai simpanan beberapa puluh keris seperti kakang Mertasana itu dapat tertipu. Bahkan seakan-akan sebelum keris itu di cabut dari wrangkanya, kakang Mertasana sudah tahu, ujud dan nilai dari keris itu”

“Sudahlah. Jangan banyak bicara. Sekarang ikut kami kembali ke rumah Ki Mertasana. Mumpung masih belum terlalu jauh”

“Tidak Ki Sanak. Aku tidak akan kembali. Jika benar kata-katamu bahwa kakang Mertasana merasa tertipu, biarlah ia datang kemari. Aku akan menunggunya disini”

“Apakah kau sudah gila? Kaulah yang menipunya. Tentu Ki Mertasana tidak akan mau datang kemari. Apalagi ini sebuah kedai. Bagaimana Ki Mertasana dapat berbicara tentang jual beli itu disini, dihadapan banyak orang”

“Ki Sanak. Aku tidak percaya bahwa Kakang Mertasana minta kau datang kepadaku untuk mengajak aku kembali. Bahkan aku pun menjadi curiga bahwa kau telah bekerja untuk kakang Mertasana. Aku tidak melihat kalian berada di rumah kakang Mertasana ketika aku tadi berada disana. Yang ada di rumah kakang Mertasana adalah adik iparnya yang kebetulan juga sedang berbicara tentang keris. Tetapi agaknya harganya tidak sesuai dan bahkan menurut kakang Mertasana bobot keris yang dibawa oleh adik iparnya itu kurang baik”

“Ki Sanak” berkata orang yang bertubuh agak pendek tetapi tangannya nampak kokoh, “Kau telah menyinggung harga diri kami. Jika kau curigai kami itu berarti Ki Sanak menuduh kami bahwa kami akan melakukan kejahatan. Itu sangat menyakitkan hati kami”

“Sekarang kembali sajalah kepada kakang Mertasana. Katakan bahwa aku menunggunya disini. Jika ia tidak bersedia datang kemari, maka aku akan meneruskan perjalanan. Pulang”

“Jangan memaksa kami menyeretmu menemui Ki Mertasana. Ki Mertasana sudah memerintahkan kepada kami, bahwa kami harus membawa Ki Sanak kembali kerumahnya. Karena itu, maka sebaiknya Ki Sanak kembali saja ke rumah Ki Mertasana tanpa harus dipaksa dengan kekerasan”

“Ki Sanak. Terus terang bahwa aku tidak percaya kepada Ki Sanak. Pergilah, jangan ganggu aku”

“Kau benar-benar telah menyinggung harga diri kami. Karena itu, maka kami akan membuat perhitungan dengan Ki Sanak setelah Ki Sanak menghadap Ki Mertasana”

“Sudah aku katakan, aku tidak akan kembali ke rumah Ki Mertasana. Jika kakang Mertasana memerlukan aku, aku akan menunggunya disini”

Orang-orang yang berwajah garang itu nampaknya tidak sabar lagi. Karena itu seorang diantara mereka pun berkata, “Kita tidak perlu banyak bicara. Kita seret saja orang itu ke rumah Ki Mertasana”

Tetapi orang yang duduk di kedai itu kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Jangan memaksa Ki Sanak. Aku tidak mau”

Ketika orang-orang itu bergeser, maka perempuan yang datang bersama laki-laki itu dan kedua anaknya telah merapat.

“Kakang. Apa yang akan terjadi? Kenapa kita tidak menuruti kemauan kakang Mertasana saja. Kembali menemuinya. Bukankah kita belum terlalu jauh dari rumahnya”

“Aku tidak mau dibohongi” berkata laki-laki itu.

“Bagus. Agaknya kau berniat untuk melawan kami” berkata orang yang bertubuh agak pendek itu.

“Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun. Tetapi aku pun tidak ingin dibodohi oleh siapapun”

Namun ketika orang-orang itu akan bergerak, laki-laki yang duduk dikedai bersama isteri dan anak-anaknya itu pun berkata, “Aku tidak ingin merusakkan perabot kedai ini. Tunggu aku diluar”

“Bagus” geram orang berwajah garang yang tubuhnya agak pendek itu.

Orang-orang berwajah garang itupun kemudian melangkah ke pintu. Satu-satu mereka pun turun ke halaman.

Ternyata orang-orang berwajah garang itu jumlahnya ada tujuh orang. Mereka pun kemudian berdiri berpencar di halaman.

Ketika laki-laki itu akan menyusul kehalaman, maka isterinya pun berpegang tangannya sambil berkata, “Marilah, kita ikuti saja mereka kakang. Kakang tidak akan dapat melawan tujuh orang itu”

“Aku tidak akan mau kembali, Nyi. Mereka bukan orang-orang yang bekerja kepada kakang Mertasana. Mereka adalah orang-orang jahat yang akan menjebak kita, karena mereka tahu, kita membawa uang cukup banyak dari hasil penjualan keris dan perhiasan-perhiasan itu. Tetapi jangan takut, aku akan menyelesaikan mereka.

Perempuan itu pun kemudian melepaskan suaminya. Namun kedua anak-anaknya lah yang kemudian mendekap ayahnya sambil menangis, “Jangan ayah. Ayah tidak usah turun ke halaman”

“Bersikaplah seperti laki-laki” berkata ayahnya.

Ayahnya tidak dapat ditahan lagi. Ia pun kemudian melangkah ke pintu.

Sejak orang itu berdiri di pintu sambil mengamati orang-orang yang berniat membawanya kembali itu. Ada tujuh orang. Namun laki-laki itu nampaknya tidak menjadi gentar.

Dengan langkah yang mantap laki-laki itu pun kemudian turun ke halaman. Sementara itu anak-anaknya pun telah memeluk ibunya sambil menangis terisak.

“Bagaimana dengan ayah, ibu”

“Berdoalah ngger” desis ibunya.

Orang-orang yang berada di kedai itu bagaikan telah membeku. Tidak seorang pun yang berani mencampuri persoalan itu, karena orang-orang berwajah garang itu akan dapat mengancam mereka.

Namun Tatag lah yang kemudian akan bangkit berdiri Tetapi dengan cepat Wikan menangkap lengannya sambil berdesis, “Kau akan kemana?”

“Apakah kita akan membiarkan orang itu berkelahi melawan tujuh orang ayah?”

“Kita akan melihat perkembangannya lebih dahulu. Mungkin orang itu berilmu sangat tinggi, sehingga orang itu tidak memerlukan bantuan sama sekali”

Tatag yang telah duduk kembali menarik nafas panjang. Katanya, “Ya. Kita akan melihat keadaan”

“Selesaikan dahulu nasimu itu”

“Aku sudah kenyang, ayah”

“Kita masih akan berjalan jauh”

Tatag menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun bangkit sambil berkata, “Aku hanya akan melihat, ayah”

“Bukankah itu bukan tontonan”

“Tetapi rasa-rasanya aku ingin tahu“ Lalu Tatag itu berbisik, “Kenapa anak-anaknya tidak mau membantu ayahnya? Justru menangis. Bukankah itu tingkah orang-orang cengeng”

“Kedua anak laki-lakinya mungkin tidak dibimbing untuk menguasai olah kanuragan”

“Soalnya bukan kemampuan dalam olah kanuragan. Tetapi keberanian. Meskipun mereka tidak mempunyai kemampuan dalam olah kanuragan, namun mereka memiliki keberanian, maka mereka akan dapat membantu ayahnya dengan cara apa pun juga”

“Sst. Sudahlah. Duduklah”

“Aku hanya ingin tahu, ayah. Aku berjanji untuk tidak berbuat apa-apa”

Wikan tidak dapat menahan lagi. Tatag itu pun kemudian telah pergi ke pintu. Tetapi di tengah-tengah ruang kedai itu, ia sempat mendekati kedua orang anak laki-laki yang menangis itu, “Kenapa kalian tidak membantu ayahmu? Ayahmu sendiri harus berkelahi melawan beberapa orang”

Kedua orang anak laki-laki yang sudah turun ke halaman itu hanya saling berpandangan sejenak”

Tatag pun kemudian telah berdiri di pintu. Namun diluar sadarnya, Tatag telah turun ke halaman pula. Wikan dan Ki Udyana tidak membiarkan Tatag sendirian di halaman. Mereka pun telah turun pula ke halaman dan berdiri di belakang Tatag.

“Tatag. Kenapa kau turun ke halaman?”

“Aku akan melihat apa yang akan terjadi”

Wikan pun terdiam. Tetapi ia menjaga Tatag agar tidak terlepas karena hanyut dalam arus perasaannya menanggapi peristiwa di kedai itu.

Dalam pada itu, orang-orang yang berwajah garang itu telah mengepung laki-laki yang dituduhnya menipu itu. Orang yang bertubuh pendek itu pun kemudian menggeram, “Kau telah membuat dirimu sendiri mengalami kesulitan. Bahkan jika kau tetap keras kepala, maka kau akan dapat mati di halaman ini”

“Jika aku mati, maka akan jelas bagi orang-orang yang menyaksikan perbuatan kalian, bahwa kalian menginginkan uang hasil penjualan keris dan perhiasan yang akan aku belikan tanah itu. Kalian tentu akan mengambil uang itu, kemudian meninggalkan aku disini”

“Persetan” geram orang itu, “Aku akan mencabut lidahmu”

Orang yang dituduh menipu itu pun kemudian telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Ketika tujuh orang itu bergerak mendekat, maka ia pun telah mengangkat kedua tangannya di depan dadanya. Kakinya sedikit merendah pada lututnya yang terbuka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang itu sudah terlibat dalam pertempuran. Orang-orang yang berwajah garang itu pun mulai berloncatan. Namun masih belum semua orang melibatkan dirinya. Orang yang bertubuh pendek itu dengan dua orang kawannya yang lain masih berdiri pada jarak beberapa langkah.

Pertempuran itu pun segera menjadi semakin sengit. Orang yang dituduh menipu itu bergerak dengan cepatnya. Kakinya berloncatan diantara keempat lawannya yang menyerangnya beruntun.

Serangan-serangan itu sekali-sekali memang dapat mengenainya. Tetapi orang itu pun segera dapat pula menembus pertahanan keempat orang lawannya. Seorang yang telah dikenai serangan kakinya, tergetar beberapa langkah surut. Namun ia pun segera memperbaiki keadaannya. Sejenak kemudian, orang itu pun sudah kembali terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Namun agaknya keempat orang yang bertempur melawan orang yang dituduh menipu itu, harus mengerahkan kemampuan mereka agar mereka dapat mengatasi perlawanannya yang keras.

Orang yang dituduh telah menipu Ki Mertasana itu pun telah mengerahkan kemampuannya pula. Tetapi menghadapi empat orang yang garang itu, semakin lama ia pun menjadi semakin terdesak.

Serangan-serangan empat orang yang garang itu semakin sering mampu menembus pertahanannya. Bahkan sekali-sekali orang itu telah terdorong beberapa langkah surut.

Dalam keadaan yang sulit itu, lawan-lawannya yang lain pun selalu memanfaatkan kesempatan. Serangan-serangan yang datang kemudian pun semakin sulit untuk dihindarkan.

Tatag yang menyaksikan perkelahian itu menjadi sangat gelisah. Bahkan tiba-tiba saja Tatag itu pun sudah berlari ke pintu. Ia melihat kedua anak laki-laki orang yang bertempur melawan empat orang itu masih saja menangis ketakutan.

“He. Apakah kau tidak dapat berbuat apa-apa?” bertanya Tatag hampir menjerit, “Kenapa tidak kau bantu ayahmu?”

Tetapi kedua anak laki-laki itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Mereka masih saja mendekap ibunya sambil menangis tersedu.

Tatag akhirnya tidak tahan lagi. Ia pun kemudian berkata kepada Wikan dan Ki Udyana, ”Ayah, kakek. Aku tidak dapat tinggal diam”

“Jangan tergesa-gesa bertindak Tatag. Kita harus tahu lebih dahulu, siapakah yang salah dan siapakah yang benar”

“Tentang yang salah dan yang benar dapat kita usut kemudian ayah. Tetapi bahwa satu orang harus bertempur melawan empat orang itu, sama sekali tidak adil”

“Lalu, kau mau apa?”

“Aku akan membantu orang yang harus bertempur melawan empat orang itu”

Ternyata Tatag tidak menunggu jawaban ayah dan kakeknya. Tiba-tiba saja ia sudah berlari mendekati orang yang harus bertempur melawan empat orang itu. Justru orang itu sedang tergetar beberapa langkah surut.

Dengan cekatan Tatag pun menahan tubuh orang itu sambil berkata, “Hati-hatilah. Aku berdiri di pihakmu. Kecuali jika kemudian kami mendapat kepastian bahwa kau benar-benar telah menipu orang yang bernama Ki Mertasana itu”

Orang itu berpaling. Ia terkejut melihat seorang anak remaja yang berdiri di arena pertempuran. Remaja yang sebaya, lebih sedikit atau kurang sedikit umurnya dari anak-anaknya.

“Kau mau apa ngger?” bertanya orang itu sambil meloncat menjauhi lawannya.

“Aku mau membantumu. Bertempur melawan orang-orang yang garang itu”

“Tetapi kami tidak sedang bermain-main ngger”

“Aku tahu. Aku pun tidak ingin ikut bermain-main Tetapi aku benar-benar ingin bertempur. Nanti, setelah pertempuran selesai, aku masih harus meyakinkan, siapa yang bersalah diantara kalian”

“Jika kau ragu, kenapa kau berdiri di pihakku?”

“Bukankah tidak adil, bahwa seorang diri harus bertempur melawan empat orang? Jika aku turun ke arena, maka setidaknya aku akan dapat mengurangi salah seorang lawan paman”

“Bocah edan” geram salah seorang yang berwajah garang, “Kalau kau mengalami cidera, itu adalah salahmu sendiri, karena kau bermain di dekat arena pertempuran”

“Ya. Aku akan mempertanggung-jawabkan sendiri apa yang telah aku lakukan ini”

Demikianlah maka tiba-tiba saja Tatag meloncat menyerang seorang diantara keempat orang yang sedang bertempur itu.

Orang itu terkejut. Serangan Tatag datang demikian cepatnya, sehingga orang itu tidak sempat mengelak.

Tetapi ia masih belum terlambat untuk menangkis serangan Tatag.

Karena itu, maka orang itu pun telah menyilangkan tangannya didadanya.

Yang terjadi benar-benar telah mengejutkan. Orang itu tidak mengira bahwa tenaga anak itu justru melampaui besarnya tenaganya sendiri. Karena itu, maka dalam benturan yang telah terjadi itu, lawannya Tatag itu pun telah tergetar dan bahkan terdorong beberapa langkah surut. Meskipun ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan keseimbangannya, namun akhirnya orang itu terjatuh pula.

Terasa tangan yang menyilang untuk melindungi dadanya itu ternyata tidak mampu menahan benturan serangan Tatag. Tangan itu justru telah menekan dadanya, sehingga rasa-rasanya seisi dada itu pun telah rontok didalam.

Orang itu mengaduh kesakitan. Namun susah payah orang itu pun berusaha untuk segera bangkit berdiri.

Tetapi demikian ia berdiri tegak, maka Tatag pun telah meloncat pula sambil mengayunkan, tangannya. Dengan kerasnya tangan Wikan itu pun telah memukul lambung lawannya, sehingga sekali lagi lawannya tergetar dan terjatuh pula.

Orang itu mengerang kesakitan. Ia tidak segera dapat bangkit. Apalagi Tatag masih saja menungguinya.

Tetapi Tatag tidak dapat berdiri saja menunggui lawannya yang terbanting jatuh. Seorang dari ketiga orang yang siap bertempur melawan orang yang disangka menipu itu telah meloncat menyerang Tatag. Kakinya terjulur lurus menyamping.

Namun Tatag bergeser selangkah. Tangannya dengan cepat menepis serangan itu sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai lawannya.

Tatag lah yang kemudian memanfaatkan keadaan itu. Orang yang menyerangnya tetapi tidak berhasil mengenai itu, sebelum sempat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, maka Tatag pun telah mendahului menyerangnya. Ia meloncat sambil berputar sekali. Sementara itu kakinya yang telah terayun mendatar menyambar kening orang yang masih belum mapan itu.

Serangannya telah melemparkan orang itu, Dengan derasnya ia terbanting di tanah. Terdengar orang itu mengaduh.

Ketika ia kemudian berusaha untuk bangkit, maka rasa-rasanya sendi-sendi tulangnya telah terlepas yang satu dengan yang lainnya.

Meskipun demikian, orang itu pun telah bangkit berdiri pula meskipun masih agak goyah.

Orang yang dituduh menipu itu pun menjadi sangat heran melihat anak itu. Anak itu nampaknya masih remaja. Tetapi ia mampu mengimbangi tingkat kanuragan orang-orang berwajah garang itu.

Sementara itu, orang-orang yang berwajah garang, yang masih belum melibatkan diri itu pun mulai bergeser mendekat. Dengan lantang orang yang bertubuh agak pendek itu berteriak, “He, kenapa kau mencampuri persoalan kami? Minggir, atau kau akan kehilangan hari-harimu yang seharusnya masih panjang”

“Aku akan berhenti jika pertempuran ini pun berhenti. Aku menganggap tidak adil, bahwa seorang harus bertempur melawan empat orang dan bahkan jika kalian melibatkan diri, lawannya. akan menjadi semakin banyak”

“Persetan. Tetapi itu adalah persoalan kami. Tidak seharusnya kau melibatkan diri”

“Keadilan adalah persoalan semua orang”

Tetapi orang bertubuh pendek itu membentak, “Kau tahu apa tentang keadilan, anak ingusan. Siapa yang pernah berbicara kepadamu tentang keadilan itu?”

“Entahlah. Aku sudah lupa” jawab Tatag.

Orang bertubuh pendek itu menjadi sangat marah. Karena itu, maka ia pun sekali lagi membentak, “Aku beri kau kesempatan terakhir. Jika kau tidak menghiraukannya, maka kau sudah tidak akan mempunyai kesempatan lagi. Dengar. Aku akan membu-nuhmu”

Tatag tidak menjawab. Tetapi ia pun mulai menyerang lawan-lawannya lagi.

Pertempuran pun menjadi semakin sengit. Orang yang dituduh menipu itu pun mencoba memperingatkan Tatag, “Terima kasih atas kepedulianmu, ngger. Tetapi sebaiknya jangan melibatkan diri. Orang tuamu tentu berkeberatan melihat kau terlibat dalam pertempuran seperti ini”

“Orang tuaku berdiri di depan kedai itu”

Orang yang dituduh menipu itu sempat memandang Wikan dan Ki Udyana yang berdiri termangu-mangu. Tetapi agaknya kedua orang itu tidak langsung berusaha mencegah anak yang melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Demikianlah, maka tiba-tiba saja Tatag telah meloncat menyerang seorang diantara keempat orang yang sedang bertempur itu. Orang itu terkejut. Serangan Tatag datang demikian cepatnya, sehingga orang itu tidak sempat mengelak.

Sebenarnyalah bahwa Tatag telah berloncatan dengan tangkasnya. Kaki dan tangannya bergerak dengan cepat menggapai tubuh lawannya. Ketika kakinya menghantam dada seorang diantara lawan-lawannya, orang itu pun telah terjatuh pula.

Namun akhirnya tiga orang yang semula hanya menyaksikan pertempuran itu, telah melibatkan dirinya pula. Namun dua orang yang lain, sudah menjadi semakin lemah. Tulang-tulangnya terasa sakit dimana-mana.

Namun keberadaan ketiga orang itu di arena pertempuran telah membuat Wikan dan Ki Udyana menjadi cemas. Karena itu, maka mereka berdua pun segera mendekati arena pertempuran itu. Mereka harus menjaga agar tidak terjadi apa-apa dengan Tatag.

Sebenarnyalah bahwa ketiga orang yang kemudian memasuki arena pertempuran itu adalah orang-orang yang sangat garang.

Ternyata bagaimanapun juga kelebihan yang ada pada diri Tatag, namun ia adalah seorang remaja. Karena itu, maka Untuk bertempur melawan orang-orang yang berwajah garang itu akhirnya Tatag pun mengalami kesulitan sebagaimana orang yang dianggap menipu itu.

Perlahan-lahan mereka semakin terdesak, apalagi orang-orang berwajah garang itu telah bertempur dengan keras dan kasar.

Wikan akhirnya tidak dapat membiarkan anaknya mengalami kesulitan yang semakin parah. Karena itu, maka Wikan pun kemudian melangkah memasuki arena sambil berkata, “Apakah pertempuran ini tidak dapat dihentikan sampai sekian saja? Persoalan akan dapat dibicarakan dengan baik. Aku berjanji untuk membantu mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya”

“Persetan dengan kalian. Sudah tidak ada jalan kembali bagi anak yang besar kepala itu. Ia sudah berada di dalam wuwu, sehingga ia akan kehilangan seluruh masa depannya”

“Bukan itu soalnya” sahut Wikan, “Tetapi apakah kalian memang sudah sepantasnya berkelahi?”

“Cukup. Bawa mayat anak itu pergi”

“Tunggu. Aku masih ingin bertanya. Apakah benar kalian bukan orang-orang yang bekerja untuk Ki Mertasana? Tetapi kalian berpura-pura bekerja untuknya dan memanggil Ki Sanak ini kembali, karena kalian akan merampok uangnya?”

“Jahanam kau. Kau sama gilanya dengan anak itu. Karena itu, kau pun akan mati seperti anak itu”

Wikan tidak mau menunggu lebih lama lagi. Tatag dan orang yang dituduh menipu itu sudah menjadi semakin terdesak.

Yang terjadi kemudian, sulit untuk dimengerti. Tiba-tiba saja tiga orang diantara mereka yang berwajah garang itu telah terpelanting jatuh sambil berteriak kesakitan. Bahkan ketiga-tiganya tidak segera dapat lagi bangkit berdiri. Belum lagi gejolak perasaan orang-orang itu mereda, maka dua orang diantara mereka pun telah terlempar pula. Dua orang yang memang sudah kesakitan sebelumnya karena serangan-serangan Tatag.

Dua orang yang lain, sama sekali sudah tidak berdaya. Tatag dan orang yang dituduh menipu itu pun dengan cepat menguasai mereka.

Orang yang dituduh menipu itu pun kemudian menarik baju lawannya itu sambil mengacukan keris di depan hidungnya, “Katakan. Apakah benar kau bekerja pada kakang Mertasana?”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi ketika bajunya diguncang serta kerisnya semakin melekat di hidung, maka orang itu pun dengan gagap menjawab, “Tidak. Kami tidak bekerja pada Ki Mertasana”

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?”

Orang itu terdiam. Namun orang yang dituduh menipu itu menekannya, ”Jika aku membunuhmu sekarang, tidak ada orang yang akan menyalahkan aku. Kita masih berada di arena pertempuran”

“Aku tidak tahu Soma Caplang”

“Siapakah Soma Caplang itu?”

Orang itu tidak berani menunjuk. Tetapi ia berdesis, “Orang yang bajunya kurungan berwarna biru tua itu”

Orang yang dimaksud adalah orang yang bertubuh agak pendek, yang terkapar bersandar bebatur pagar halaman kedai itu.

Orang yang dituduh menipu itu pun melepaskan baju orang yang telah menyebut nama Soma Caplang itu. Dengan serta-merta orang itu pun menarik baju Soma Caplang sambil melekatkan kerisnya di perutnya yang buncit.

“Katakan yang sebenarnya, apakah kau bekerja pada kakang Mertasana?”

“Tidak, Ki Sanak” suara orang itu pun bergetar, “Aku memang hanya menginginkan uangmu”

Orang yang dituduh menipu itu pun mendorong Soma Caplang hingga kepalanya membentur pagar.

“Aku minta ampun” Soma Caplang itu merengek.

Orang yang dituduh menipu itu pun tiba-tiba berkata, “Aku akan menemui kakang Mertasana. Aku akan menceriterakan apa yang telah terjadi di sini”

“Jangan. Jangan Ki Sanak” minta Soma Caplang.

“Kenapa?”

Soma Caplang tidak menjawab. Tetapi tubuhnya yang lemah kembali tersandar pada pagar halaman.

“Aku ikut” tiba-tiba saja Tatag menyahut.

“Ikut apa?” bertanya Wikan.

“Ikut pergi ke rumah Ki Mertasana”

“Untuk apa?”

“Untuk meyakinkan dugaanku. Aku menduga, bahwa orang-orang ini mempunyai hubungan dengan adik ipar Ki Mertasana”

“Tatag. Jangan asal bicara. Kau dapat menyinggung perasaan orang lain”

“Karena itu, aku akan ikut. Apakah dugaanku itu benar atau salah. Aku hanya ingin menguji ketajaman penggraitaku”

“Apa yang kau katakan itu? Kau seperti orang yang merancau saja”

Tetapi Tatag justru tertawa. Katanya, “Bukankah rumah Ki Mertasana tidak jauh ayah? Marilah, kita ikut menemuinya”

Ternyata Wikan dan Ki Udyana tidak dapat mencegahnya. Ketika orang yang dituduh menipu itu kemudian mengajak isteri dan anak-anaknya kembali menemui Ki Mertasana, maka Tatag pun ikut bersama mereka.

“Biarlah aku yang membayar harga makanan dan minuman Ki Sanak bertiga” berkata orang itu, “Aku mempunyai uang karena aku baru saja menjual keris dan beberapa potong perhiasan”

“Terima kasih, Ki sanak” sahut Ki Udyana, “Tetapi aku sudah terlanjur membayar”

Demikian maka mereka pun kemudian berjalan beriringan ke rumah Ki Mertasana. Kepada Soma Caplang, orang yang baru saja menjual kerisnya itu pun berkata, “Biarlah kakang Mertasana yang memberikan hukuman kepada kalian. Aku tahu, bahwa kakang Mertasana adalah orang yang tidak akan dapat kalian kalahkan. Apalagi ada beberapa orang yang bekerja untuknya di rumahnya. Tetapi mereka adalah orang-orang baik. Wajahnya tidak sekotor wajah kalian”

Kedatangan orang yang baru saja menjual kerisnya itu memang mengejutkan Ki Mertasana. Tetapi setelah semuanya dijelaskan, maka Ki Mertasana itu pun berkata, “Semuanya ini tentu tingkah adik iparku itu”

Yang dengan serta merta menyambutnya adalah Tatag, “Nah, bukankah dugaanku benar?”

Ki Mertasana mengerutkan dahinya. Sambil tersenyum ia pun bertanya, ”Apa yang benar, ngger?”

“Dugaanku, Ki Mertasana. Bahkan adik ipar Ki Mertasana terlibat. Nah, dimana rumah adik ipar Ki Mertasana”

“Tatag” berkata Wikan, “kau mau apa?”

Tatag menarik nafas panjang. Tetapi ia pun segera menundukkan wajahnya sambil menjawab, “Tidak, ayah. Aku tidak akan berbuat apa-apa lagi”

Wikan menarik nafas panjang. Sementara itu, orang yang telah menjual kerisnya itu pun berkata, “Kakang. Segala sesuatunya terserah kepada kakang. Kakang sudah tahu, apa yang terjadi. Anak ini yang kemudian juga ayahnya, telah menolongku melepaskan diri dari orang-orang yang akan menjebakku itu”

“Baiklah adi” sahut Ki Mertasana, “Aku akan menanganinya. Sekarang, biarlah dua orangku mengantar adi pulang. Jika orang-orang itu masih akan mengganggumu, biarlah orang-orangku itulah yang menyelesaikannya”

“Terima kasih kakang”

Sementara itu, Wikan, Ki Udyana dan Tatag pun telah minta diri pula. Namun Tatag masih juga berkata kepada anak-anak yang dianggapnya cengeng itu, “Lain kali, berbuatlah sesuatu. Jangan hanya dapat menangis. Anak-anak perempuan pun sekarang akan melibatkan diri untuk membantu orang-orang yang memerlukan bantuan mereka”

Kedua anak laki-laki yang cengeng itu hanya dapat menundukkan kepalanya Apalagi yang tertua diantara mereka. Ia sudah mendekati usia dewasanya. Tetapi dalam keadaan yang sulit, ia hanya dapat menangis.

Ketika Tatag pergi bersama ayah dan kakeknya, orang yang baru saja menjual kerisnya itu pun berkata, “Terima kasih atas bantuanmu, ngger. Terima kasih kepada semuanya”

“Ajari anak-anak itu untuk menjadi berani, paman” berkata Tatag.

“Baik, baik ngger. Aku akan mengajarinya” jawab ayahnya. Ibu anak-anak itu hanya dapat berdesis, “Terima kasih, terima kasih, ngger”

Demikianlah Tatag, Wikan dan Ki Udyana pun telah menuntun kudanya keluar dari regol halaman rumah Ki Mertasana. Sejenak kemudian, mereka telah melarikan kuda mereka untuk meneruskan perjalanan mereka yang masih agak panjang.

Ternyata Tatag telah meninggalkan kesan yang aneh bagi Ki Mertasana serta orang yang menjual kerisnya itu sekeluarga.

“Anak yang aneh” desis Ki Mertasana.

“Ya. Tetapi tentu orang tuanya juga aneh. Orang tuanya berhasil membimbing anak itu menjadi anak yang aneh. Ia bukan saja memiliki kemampuan yang tidak masuk akal dalam olah kanuragan. Tetapi cara berpikimya pun tidak lagi menganut cara berpikir anak-anak sebayanya Anak-anakku yang agaknya lebih tua dari anak itu, tidak akan mampu berpikir dan mengambil keputusan sehingga ia bersikap seperti yang dilakukannya itu”

Orang yang telah menjual kerisnya itu pun kemudian berkata kepada anak-anaknya, “Kalian lihat anak itu? Kalian tidak usah menjadi anak itu. Tetapi setidaknya kalian bertanya kepada diri kalian masing-masing, apa saja yang dapat kalian lakukan”

Kedua anaknya tidak menjawab. Memang ada rasa malu melintas di dalam hati mereka. Tetapi mereka memang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Agaknya mereka terlalu manja, sehingga mereka menjadi anak-anak yang canggung menghadapi kenyataan hidup yang kadang-kadang terasa berat.

Sementara itu, Ki Udyana, Wikan dan Tatag telah menjadi semakin jauh. Kuda-kuda mereka berlari kencang di bulak-bulak yang sepi. Tetapi jika mereka sampai di tempat yang agak ramai, maka perjalanan mereka menjadi lebih lambat.

Namun semakin lama mereka pun menjadi semakin dekat dengan padepokan mereka. Di perjalanan mereka masih juga berhenti sekali untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat. Mereka berhenti di tepi sebuah sungai kecil yang airnya sangat jernih. Kelompok-kelompok ikan wader pari nampak berenang menentang arus disela-sela bebatuan.

Tiba-tiba saja Tatag melepas pakaiannya. Tanpa mengatakan apa-apa, ia pun segera turun ke sungai.

“Segar sekali airnya kek” teriak Tatag yang berendam di air sungai kecil itu.

Ki Udyana dan Wikan hanya tersenyum-senyum saja di atas tanggul sambil menunggui kuda-kuda mereka yang makan rumput segar serta minum air yang jernih itu.

Ketika Wikan dan Ki Udyana melihat Tatag mandi sambil sekali-sekali berusaha menangkap ikan tetapi tidak pernah berhasil itu, mereka melihat Tatag sebagai anak-anak remaja yang lain. Ia menjadi gembira. Berlari-lari tanpa merasa malu, meskipun ia melepas seluruh pakaiannya.

Tetapi Wikan tetap saja menjadi cemas jika ia melihat noda hitam di dada Tatag. Noda hitam yang tidak lebih besar dari bunga kenikir itu.

Beberapa saat kemudian, agaknya Tatag sudah puas berendam sambil sekali-sekali berlari dan berguling di dasar sungai kecil itu. Ia pun segera berlari ke tepian. Beberapa saat ia berloncat-loncatan untuk mengibaskan titik-titik air yang bergayutan di tubuhnya. Baru kemudian Tatag pun memakai pakaiannya.

Sementara itu, kuda-kuda mereka pun sudah cukup lama beristirahat. Karena itu, demikian Tatag selesai berpakaian, maka mereka pun segera melanjutkan perjalanan.

Ternyata mereka sampai di padepokan setelah matahari tenggelam. Sedikit lewat senja mereka memasuki gerbang padepokan mereka.

“Kita terhambat agak lama dengan peristiwa yang menyangkut Ki Mertasana” berkata ki Udyana, “sehingga kita sambil di padepokan sesudah malam turun”

Wikan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikian mereka turun dari kuda serta menyerahkan kuda-kuda mereka kepada para cantrik, maka Tatag pun segera berlari mencari ibunya.

“Ibu, ibu”

Tanjung yang berada di belakang terkejut. Ia pun segera berlari pula. Rasa-rasanya Tatag sudah bertahun-tahun meninggalkannya.

Demikian Tatag bertemu dengan ibunya, ia pun segera berlari mendekapnya. Hampir saja ibunya jatuh terlentang. Untunglah Tanjung pun sigap, sehingga ia masih dapat mempertahankan keseimbangannya. Bahkan kemudian Tanjung itu pun telah memeluk Tatag.

Tatag itu pun tiba-tiba telah memanjat tubuh ibunya, sehingga seperti kanak-kanak, ia pun telah berada di gendongan ibunya.

“He, apa yang kau lakukan Tatag” berkata ibunya sambil menurunkan anak itu.

Tatag tertawa, katanya, “Lama sekali aku tidak bertemu dengan ibu. Aku menjadi rindu sekali”

“Ibu pun merindukanmu. Kau terlalu lama pergi” Tanjung pun kemudian berkata, “Nah, duduklah di depan. Bukankah ayah dan kakekmu datang bersamamu dan sekarang . duduk di depan”

“Ya, ibu”

“Setelah keringatmu kering, sebaiknya kau pergi ke pakiwan untuk mandi”

“Aku sudah mandi” jawab Tatag.

“Dimana?”

“Di jalan. Ketika kuda-kuda kami beristirahat di pinggir sungai yang airya sangat bening, maka aku pun mandi”

“Tetapi kau melanjutkan perjalananmu lagi. Keringatmu mengalir lagi. Apalagi kau juga belum berganti pakaian”

Tatag mengangguk. Namun ia pun kemudian berlari ke pendapa. Ayah dan kakeknya sudah duduk di pringgitan bersama dengan neneknya, serta beberapa pemimpin padepokan yang lain.

“Apakah perjalanan kakang, Wikan dan Tatag menyenang-kan?”

Yang dengan serta-merta menyahut adalah Tatag, “Ya, nek. Sangat menyenangkan. Kakek guru mempunyai rumah kecil di atas bukit di sebelah rumahnya di Gebang. Senang sekali berada di atas bukit. Kakek guru membuat lingkungannya seperti hutan. Tetapi agak terlalu bersih”

“Memang berbeda dengan hutan di sebelah padepokan ini, Tatag”

“Di hutan itu juga tidak ada binatang-binatang liarnya Yang banyak terdapat di hutan itu adalah berbagai macam jenis burung”

Ketika kemudian Tanjung keluar dari pintu pringgitan sambil membawa minuman, maka Tanjung pun berkata kepada Tatag, “Nah, sekarang kau mandi. Nanti ayah dan kakek tentu juga akan mandi”

Ketika malam menjadi semakin dalam, setelah Wikan dan Ki Udyana mandi dan berbenah diri, maka mereka pun duduk-duduk di ruang dalam, sementara makan malam pun telah dihidangkan.

Sambil makan bersama Nyi Udyana dan Tanjung, maka Wikan dan Ki Udyana pun telah menceriterakan perjalanan mereka mengunjungi guru mereka yang sudah menjadi semakin tua.

“Guru memang sudah tua” berkata Ki Udyana, “sebenarnya aku ingin minta guru tinggal bersama kami di padepokan ini. Tetapi guru tentu berkeberatan. Guru lebih senang tinggal di bukit kecil itu menunggu halaman peninggalan leluhurnya”

Nyi Udyana mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, bahwa orang-orang tua merasa lebih senang tinggal di tanah peninggalan orang-orang tua daripada di tempat yang lain.

Wikan pun kemudian telah berceritera pula tentang Tatag yang nakal.

“Guru ternyata bangga terhadap anak itu” berkata Wikan.

“Kepalanya akan menjadi semakin besar mendengar pujian itu” desis Tanjung. Namun ternyata Tatag yang berbaring di pangkuannya itu sudah tidur nyenyak.

“Ia belum makan” berkata Wikan.

“Sudah” sahut Tanjung, “ia mendahului makan. Katanya, ia sudah lapar sekali”

Wikan pun kemudian menceriterakan tanggapan gurunya terhadap Tatag.

“Guru sangat berpengharapan, bahwa Tatag akan dapat menjadi pemimpin di masa depan bagi padepokan ini. Tetapi di pundak kita telah diletakkan tanggung jawab bimbingan lahir dan batin atas diri Tatag”

Nyi Udyana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, Kelebihannya harus mempunyai arti yang baik bagi sesamanya. Jika terjadi sebaliknya, maka Tatag akan dapat menjadi bencana”

“Nampaknya sampai saat ini, Tatag dapat dikendalikan dengan baik. Kita memang harus berhati-hati mengantar Tatag ke masa depannya”

Demikianlah, setelah Ki Udyana dan Wikan selesai berceritera, maka giliran Nyi Udyana menyampaikan laporan tentang perkembangan terakhir bagi padepokannya.

Tidak terjadi sesuatu yang penting di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Namun ada sesuatu yang perlu diketahui oleh Ki Udyana dan bahkan seisi padepokan itu. Tidak jauh dari padepokan mereka akan dibuat jalan menuju ke padang rumput di sebelah kademangan. Padang rumput yang terletak di tepi sungai itu, akan dibangun menjadi tempat untuk peristirahatan beberapa orang pemimpin dari Mataram yang bertugas di lingkungan itu, yang membawahi beberapa kademangan.

“Akan di bangun sebuah pasanggrahan?” bertanya Ki Udyana.

“Ya. Hutan di dekatnya, akan menjadi hutan perburuan yang terlindung”

“Hutan perburuan?”

“Ya. Tetapi yang boleh berburu di hutan itu hanyalah mereka yang masih termasuk keluarga para pemimpin dari Mataram itu. Orang lain tidak akan diijinkan untuk berburu ke dalam hutan itu”

“Sebenarnya tidak akan ada masalah. Seandainya para pemburu tidak boleh berburu di hutan itupun, tidak akan menjadi persoalan. Masih banyak hutan yang besar, luas dan lebat. Yang dihuni oleh berbagai jenis binatang buas. Tetapi persoalannya adalah sikap Tatag terhadap binatang-binatang hutan. Jika pada suatu hari kelak, apalagi jika Tatag sudah menjadi semakin besar, Tatag sampai di hutan perburuan yang terlindung itu, maka akan dapat timbul persoalan. Tatag tentu akan menghalangi para pemburu di hutan perburuan yang dilindungi itu”

“Kita harus dapat mengendalikannya” berkata Nyi Udyana kemudian, “Tatag harus dapat menghargai sikap orang lain. Ia boleh saja bersikap. Tetapi jangan memaksa orang lain bersikap seperti dirinya jika orang lain itu memang tidak menyukainya. Asal yang satu tidak merugikan yang lain, maka biarlah perbedaan sikap itu tetap dihormati”

Wikan dan Tanjung pun mengangguk-angguk. Mereka memang harus mengendalikan Tatag dengan sebaik-baiknya agar Tatag kelak tidak menimbulkan kesulitan dalam hubungan antara padepokan itu dengan lingkungan di sekitarnya. Apalagi dengan Mataram yang memiliki kekuasaan yang sangat besar.

“Pasanggrahan itu sendiri akan berakibat baik bagi lingkungannya, kakang” berkata Nyi Udyana, “pasanggrahan itu tentu akan dapat menumbuhkan lapangan kerja bagi beberapa orang. Mungkin mereka yang berdagang sayuran dan bahan-bahan mentah lainnya. Mungkin diperlukan tenaga untuk membantu mengerjakan pekerjaan apa pun di dalam pesanggrahan itu. Atau kemungkinan-kemungkinan yang lain lagi”

“Tetapi ada kemungkinan lain bagi penghuni di sekitar tempat yang akan menjadi pasanggrahan itu. Tentu ada pengaruh tatanan kehidupan orang-orang besar yang merembes ke padesan. Jika pengaruh itu tidak dapat tersaring, maka akibatnya akan dapat menjadi kurang baik. Anak-anak muda yang terbiasa hidup dengan gaya seorang pemimpin akan berbeda dengan gaya hidup anak-anak muda yang harus bekerja keras di sawah dan kerja-kerja keras yang lain. Jika anak-anak padesan terpengaruh dengan gaya hidup mereka, maka kehidupan di sekitar pasanggrahan itu akan menjadi buram”

“Memang harus dicari keseimbangannya” desis Wikan, “Tetapi tidak akan mudah melakukannya semudah mengatakannya”

“Tetapi kita akan mencoba. Jika sentuhan-sentuhan itu dapat berlangsung dengan lembut, maka pengaruh timbal balik yang akan terjadi pun akan baik pula. Masing-masing berpijak pada landasan kehidupan masing-masing, sehingga tidak akan terjadi gejolak yang mengejutkan” sahut Ki Udyana.

“Bagaimana dengan sikap Ki Demang dan para Bekel di padukuhan-padukuhan? Apakah bibi pernah berbicara dengan mereka?”

“Agaknya Ki Demang menerima kehadiran pasanggrahan itu dengan harapan-harapan. Ki Demang sendirilah yang datang ke padepokan ini untuk memberitahukan tentang kemungkinan pembangunan pasanggrahan itu. Bahkan Ki Demang sudah menyatakan, bahwa kademangan akan menyediakan tanah yang dikehendaki. Padang rumput itu adalah padang yang luas, yang menurut pendapat Ki demang tentu sudah mencukupi. Termasuk pembangunan lingkungan di sekitar pasanggrahan itu sendiri”

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 22

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s