TT-19


kembali | lanjut

TT-19KALAU kau berkeras, aku akan membunuhmu disini, Ki Sangga Geni. Baru kemudian aku akan bertempur melawan Ki Margawasana di Ngadireja”

“Kau adalah orang sombong yang gila atau orang gila yang sombong. Kau tidak akan dapat membunuhku di-mana pun juga. Kalau kau menghendaki kita bertempur disini sekarang, marilah. Aku akan melayanimu”

“Tidak” potong ki Margawasana, “Kalian tidak akan bertempur lagi”

“Kenapa?” bertanya Ki Sangga Geni, “Kau menjadi cemas bahwa aku akan mati?”

Ki Margawasana menarik nafas panjang. Sebenarnyalah Ki Margawasana memperhitungkan, bahwa jika keduanya bertarung lagi, maka keadaannya tidak akan berubah. Mereka akan sampai pada puncak ilmu mereka, sehingga keadaan Ki Sangga Geni akan menjadi sangat parah, sedangkan Kiai Surya Wisesa pun akan terluka pula di bagian dalam tubuhnya seperti yang pernah terjadi”

Namun Kiai Surya Wisesa itu pun berkata, “Jika kau tidak mau pergi ke Ngadireja, Ki Margawasana, maka aku akan membunuhmu disini. Aku akan merusak bukit kecilmu ini. Bahkan aku tidak akan lari seandainya kalian bertempur berdua melawanku bersama dengan kedua orang murid Ki Sangga Geni itu pula”

Ternyata kesabaran Ki Margawasana pun ada batasnya. Ternyata perasaannya tertusuk pula oleh sikap dan kata-kata Kiai Surya Wisesa. Karena itu, maka Ki Margawasana itu pun kemudian berkata, “Baiklah Kiai Surya Wisesa. Memang harus ada orang yang menghentikan kesombonganmu itu. Aku akan pergi ke Ngadireja. akhir pekan aku akan siap di arena perang tanding itu”

“Bagus. Ternyata kau dapat juga bersikap jantan. Tetapi kenapa harus di akhir pekan?”

“Aku tidak akan pergi di hari-hari Respati, Sukra dan Tumpak. Aku akan pergi ke Ngadireja di hari Radite”

Kiai Surya Wisesa tertawa. Katanya, “Kau landasi langkah-langkahmu dengan perhitungan hari?”

“Tidak. Tetapi Radite adalah hari kelahiranku. Aku akan memperingati hari kelahiranku di sepanjang jalan ke Ngadireja”

“Terserah kepadamu. Aku akan menunggumu dua hari setelah hari itu. Kita akan berperang tanding pada hari Anggara”

“Baik. Aku akan penuhi undanganmu itu”

Kiai Surya Wisesa itu pun tertawa. Katanya, “Dengan membunuhmu dihadapan orang-orang Ngadireja, maka sempurnalah kerjaku untuk memantapkan kedudukanku sebagai orang terbaik di negeri ini”

“Kau terlalu picik, Kiai Surya Wisesa. Jika kau menang, maka kau akan menjadi orang terbaik di Ngadireja. Tidak di Mataram, karena di Mataram ada lebih dari seribu orang yang mempunyai ilmu lebih baik dari ilmumu”

“Lambat laun akan terbukti, bahwa akulah yang terbaik. Seorang demi seorang, para Senapati Mataram itu akan aku kalahkan. Aku telah menggenapi korban yang harus aku serahkan, sehingga tidak lagi kekuatan dan kuasa yang dapat mengalahkan aku”

“Korban apakah yang telah kau serahkan itu?”

“Aku tidak akan mengatakannya, karena kau akan dapat menjadi pingsan mendengarnya, karena kau tentu mengaku orang yang berbudi dalam aliran putihmu. Tetapi tentu tidak bagi Ki Sangga Geni. Bahkan aku berjanji, jika Ki Sangga Geni ingin berguru kepadaku, aku akan memberinya kesempatan asal ia dapat menyerahkan korban itu pula”

“Gila” geram Sangga Geni, “Jika Ki Margawasana gagal membunuhmu, akulah yang akan membunuhmu kelak”

Kiai Surya Wisesa itu pun tertawa berkepanjangan. Namun tiba-tiba Kiai Surya Wisesa itu beranjak pergi sambil berkata, “Aku akan pergi Ki Margawasana dan Ki Sangga Geni. Aku tunggu kau di hari Anggara”

Ki Margawasana tidak menjawab. Ia hanya memandangi saja ketika Kiai Surya Wisesa keluar dari regol halamannya.

Sepeninggal Kiai Surya Wisesa, Ki Sangga Geni pun bertanya, “Kenapa kau harus dipaksa pergi ke Ngadireja? Bukankah itu akan dapat menyusutkan namamu sendiri. Bukankah nama dan harga diri itu harus kau pertahankan dengan nyawamu?”

“Apakah artinya dengan nafsu buruk untuk mendapat pujian sebagai orang yang tidak terkalahkan? Aku akan mempertaruh-kan nyawaku untuk membantu orang yang sangat membutuhkan bantuanku. Tidak untuk mendapatkan gelar sebagai pembunuh terbaik di negeri ini”

“Apa salahnya membunuh jika ia berarti bagi kita?”

“Kita harus menterjemahkan kata berarti bagi kita itu dengan sebaik-baiknya, Ki Sangga Geni. Berarti bagi kita tidak harus diterjemahkan bagi kepentingan serta kepuasan diri sendiri semata-mata. Memang suatu ketika kita dapat melakukan pembunuhan itu, tetapi demi kepentingan dan keselamatan jiwa yang memerlukan perlindungan. Bagi keadilan dan kebenaran sejauh jangkauan nalarku.

“Cara berpikirmu terlalu rumit bagiku, Ki Margawasana. Tetapi itu terserah saja kepadamu”

Ki Margawasana menarik nafas dalam-dalam?, “Sudahlah. Aku tidak mau memikirkan lagi caramu berpikir. Aku ingin minum sekarang. Minumanku tentu sudah menjadi dingin” berkata Ki Sangga Geni sambil masuk ke ruang dalam.

Namun ketika kemudian Ki Margawasana pun duduk bersamanya, maka Ki Margawasana itu pun berkata, “Ki Sangga Geni. Aku memang akan berangkat ke Ngadireja di akhir pekan. Tetapi besok pagi-pagi sekali, aku sudah akan meninggalkan bukit kecil ini?”

“Kau akan pergi ke mana?”

“Kau tidak perlu tahu, Ki Sangga Geni”

“Aku ingin ikut pergi ke Ngadireja, Ki Margawasana. Apakah aku harus menunggumu disini sampai kau datang?”

“Tidak usah. Aku akan terus ke Ngadireja tanpa singgah lagi di bukit ini. Jika kau akan pergi ke Ngadireja dari bukit ini silahkan. Kau dapat tinggal disini sampai saatnya kau pergi”

“Kenapa kita tidak pergi bersama saja?”

“Aku masih harus menyelesaikan satu persoalan. Disamping itu, aku akan membawa seorang saksi dalam perang tanding ini. Aku tidak tahu, siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Jika aku dibunuh oleh Kiai Surya Wisesa, biarlah ada yang mengubur mayatku. Jika aku terluka, biarlah ada yang merawatku”

Ki Sangga Geni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kau akan membawa salah seorang muridmu?”

“Ya. Aku merasa perlu. Tidak untuk berbuat licik. Tetapi sekedar untuk menjadi saksi. Jika aku menang, saksi akan kemenanganku. Jika aku kalah, saksi akan kekalahanku”

Ki Sangga Geni itu pun menarik nafas panjang.

Sebenarnyalah, maka di hari berikutnya, pagi-pagi sekali, Ki Margawasana telah bersiap untuk menempuh perjalanan jauh. Disiapkan kudanya yang baik untuk menempuh perjalanan panjang.

Setelah minum minuman hangat, maka menjelang matahari terbit, Ki Margawasana itu pun meninggalkan bukit kecil di dekat padukuhan Gebang itu.

“Sebenarnya aku ingin ikut bersamamu. Tetapi agaknya kau ingin pergi sendiri” berkata Ki Sangga Geni.

“Ya. Aku memang ingin pergi sendiri. Kau tinggal saja disini seperti di rumahmu sendiri. Tidak ada orang disini. Di dapur ada beras dan kebutuhan-kebutuhan dapur lainnya. Jika ada kekurangannya kau dapat turun mengambilnya di rumahku di Gebang. Aku akan berpesan agar penunggu rumahku di Gebang menyediakan segala keperluanmu. Bahkan jika kau memerlukan pakaian”

Sepeninggal Ki Margawasana, Ki Sangga Geni duduk menyendiri. Ia sempat merenungi jalan kehidupan yang ditempuhnya. Beberapa hari ia melihat cara hidup Ki Margawasana yang agaknya terasa tenang dan tenteram sampai ia datang mengusik ketenangan itu. Bahkan kemudian kehadiran Kiai Surya Wisesa.

Ki Sangga Geni sempat memperbandingkan kehidupan Ki Margawasana dengan cara hidupnya sendiri. Umurnya tentu tidak jauh dari umur Ki Margawasana. Namun Ki Margawasana seakan-akan telah melampaui segala macam gejolak kehidupan sehingga memasuki dunianya yang damai.

Namun ia telah datang untuk mengaduk dan membuat wajah kehidupan Ki Margawasana itu bergejolak. Apalagi kemudian telah datang pula Ki Surya Wisesa.

Namun Ki Sangga Geni itu pun menggeram, “Tidak. Aku tidak mau hidup seperti kepompong di tempat yang sepi dan terasing ini. Aku harus mengisi waktuku dengan gerak dan bahkan gejolak”

Namun Ki Sangga Geni tidak dapat memungkiri rasa irinya terhadap ketenangan hidup di bukit kecil itu. Diantara pepohonan raksasa, burung-burung liar yang riuh bernyanyi di pagi dan sore hari. Sendang dengan berbagai macam ikan yang berenang di airnya yang jernih.

Sementara itu, Ki Margawasana telah melarikan kudanya menuju ke padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana. Ia ingin membawa satu atau dua orang muridnya untuk menjadi saksi pertarungan yang akan dilakukannya di Ngadireja melawan Kiai Surya Wisesa.

“Sebenarnya aku sudah tidak pantas melakukannya” berkata Ki Margawasana kepada dirinya sendiri di perjalanannya.

Tetapi Ki Margawasana tidak dapat mengelak lagi. Ia tidak mempunyai pilihan kecuali harus bertempur dimana pun juga. Namun kemudian telah timbul pula niatnya untuk berusaha menghentikan kesombongan Kiai Surya Wisesa. Karena sebenarnyalah apa yang dilakukan oleh Kiai Surya Wisesa itu tidak ubahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Sangga Geni.

Kedatangan Ki Margawasana di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu memang agak mengejutkan para murid-muridnya. Ia pun segera dipersilahkan duduk di pringgitan.

Para muridnya pun segera mengerumuninya. Ki Udyana dan Nyi Udyana, Wikan serta saudara-saudaranya yang lain.

“Selamat datang di padepokan ini, guru” Ki Udyana pun menyapanya ketika Ki Margawasana sudah duduk diantara murid-muridnya.

“Aku baik-baik saja Udyana. Bukankah kau, isterimu dan saudara-saudaramu baik-baik saja?”

“Kami dalam keadaan baik semuanya, guru”

“Bukankah padepokan ini berjalan sebagaimana seharusnya tanpa hambatan apa-apa?”

“Ya, guru. Segala sesuatunya berjalan dengan baik”

“Syukurlah. Mudah-mudahan untuk seterusnya keadaan padepokan ini selalu baik”

Pembicaraan mereka terhenti. Tatag pun berlari-lari kecil menuju ke pringgitan disusul oleh ibunya.

“Tatag, Tatag. Kau mau apa?”

Tatag tidak berhenti. Tatapi ia menghambur mendekati Wikan yang duduk di dekat Ki Udyana.

“Tatag” sapa Ki Margawasana, “kau sudah menjadi semakin besar Tatag, kau sudah pintar apa sekarang?”

Tatag termangu-mangu sejenak. Namun Wikan pun berbisik di telinganya, “Kakek guru”

Tatag mengerutkan dahinya.

“Kakek guru. Ayo, beri salam. Selamat datang kakek”

Tatag tertawa. Ia pun mencoba untuk mengucapkan beberapa kata yang tidak jelas. Sementara itu, Tanjung duduk di tangga pendapa.

“Kemarilah Tanjung. Mendekatlah“ panggil Nyi Udyana.

Tanjung pun kemudian bergeser mendekat ke pringgitan.

“Kau baik-baik saja, Tanjung? Anakmu sudah besar. Seperti tangisnya, geraknya pun mengisyaratkan bahwa anak ini mempunyai beberapa kelebihan”

“Nakalnya bukan main, guru”

“Anak nakal biasanya banyak akalnya, “

Beberapa saat kemudian, dua orang mentrik telah menghidangkan minuman hangat serta beberapa potong makanan.

Baru beberapa saat kemudian, setelah Ki Margawasana meneguk minuman serta makan sepotong makan, ia pun mulai berbicara tentang maksud kedatangannya.

Mula-mula Ki Margawasana berbicara tentang Ki Sangga Geni yang telah mematangkan ilmu iblisnya untuk membalas dendam atas kekalahannya saat ia datang ke padepokan itu bersama Ala-alap Perak. Namun kemudian diluar kehendaknya, Ki Margawasana telah terlibat dalam persoalan dengan Kiai Surya Wisesa.

“Ketika aku mencoba menyelamatkan Ki Sangga Geni, aku sama sekali tidak mengira, bahwa akhirnya aku akan terlibat dalam persoalan yang gawat dengan Kiai Surya Wisesa”

Murid-muridnya mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Ki Udyana mengangguk-angguk sambil mengerutkan dahinya.

“Anak-anakku. Di akhir pekan, pada hari Anggara aku berjanji untuk datang ke Ngadireja. Aku tidak dapat mengelakkan tantangan Kiai Surya Wisesa berperang tanding. Ki Surya Wisesa ingin mengatakan kepada orang-orang Ngadireja dan sekitarnya, bahwa ia adalah orang terkuat di Tanah ini. Tidak seorang pun yang dapat mengalahkannya. Setelah Ki Sangga Geni, maka akulah yang akan dipergunakan untuk landasan tempatnya berdiri sambil menepuk dada”

“Guru. Apakah guru bermaksud menugaskan salah seorang diantara kami untuk turun melayani perang tanding itu?” bertanya Ki Udyana.

Sambil menggeleng Ki Margawasana menjawab, “Tidak. Kiai Surya Wisesa adalah orang yang tuntas menyerap ilmu yang sangat tinggi. Karena itu, biarlah aku yang akan menghadapinya. Bukan berarti bahwa ilmuku sangat tinggi. Tetapi aku mempunyai banyak pengalaman yang akan dapat membantuku mengatasi segala macam kesulitan yang barangkali belum pernah kalian alami”

Murid-murid Ki Margawasana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Udyana pun bertanya, “Atau barangkali ada perintah guru yang lain?”

“Ya. Aku ingin dua orang diantara kalian pergi bersamaku ke Ngadireja. Tetapi mereka berdua tidak akan terlibat sama sekali. Mereka berdua hanya akan menjadi saksi. Jika aku mati dalam perang tanding itu, maka mereka berdua akan dapat membawa mayatku pulang. Aku ingin dikuburkan di bukit kecil di sebelah padukuhan Gebang.itu. Jika aku terluka parah, biarlah mereka berdua merawatku. Sedangkan kalau aku menang, biarlah mereka menjadi saksi kemenanganku”

“Jika orang itu atau jika ada pengikutnya yang curang?”

“Terserah kepada kedua orang yang akan pergi bersamaku itu. Mungkin mereka harus mencegahnya”

Ki Udyana mengangguk-angguk. Dengan agak ragu ia pun bertanya, “Siapakah yang akan guru perintahkan diantara kami untuk pergi ke Ngadireja bersama guru?”

“Aku akan mengajak Udyana dan Wikan. Sementara itu Nyi Udyana akan tetap berada di padepokan dan memimpin sendirian selama Ki Udyana pergi bersamaku”

Para murid Ki Margawasana itu pun mengangguk-angguk. Sebenarnyalah banyak diantara mereka yang ingin ikut bersama Ki Margawasana ke Ngadireja. Tetapi mereka tidak dapat merubah keputusan Ki Margawasana, bahwa yang akan pergi adalah Ki Udyana dan Wikan. Para murid Ki Margawasana pun menyadari, bahwa orang terkuat di padepokan itu memang Ki Udyana dan Wikan, meskipun Wikan adalah murid bungsu.

Karena itu, maka tidak seorang pun yang merasa iri akan keputusan Ki Margawasana itu.

Ternyata Ki Margawasana masih mempunyai kesempatan beberapa hari untuk mempersiapkan dirinya menghadapi Kiai Surya Wisesa. Karena itu, maka di malam hari Ki Margawasana itu selalu berada didalam sanggar seorang diri untuk mencapai tataran tertinggi dari ilmunya.

Tetapi di siang hari, Ki Margawasana juga mempersiapkan Udyana dan Wikan untuk memasuki satu tugas yang mempunyai beberapa kemungkinan. Mungkin mereka benar-benar tidak akan berbuat apa-apa. Namun mungkin mereka akan terjebak dalam satu keadaan yang sangat rumit dan berat untuk diatasi. Jika saja Kiai Surya Wisesa itu curang, maka mereka harus mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat.

“Tetapi menurut perhitunganku, Kiai Surya Wisesa yang terlalu yakin akan kemampuannya itu tidak akan berbuat curang. Kecuali jika aku mampu mengatasi ilmunya, sehingga dalam keadaan putus asa, kemungkinan buruk itu memang ada” berkata Ki Margawasana.

Namun Ki Margawasana pun mengingatkan Ki Udyana dan Wikan, bahwa di Ngadireja itu akan hadir juga Ki Sangga Geni.

“Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika aku menang dan bahkan jika aku kalah. Sikap dan tingkah laku Ki Sangga Geni memang sulit untuk diperhitungkan. Karena itu kalian pun harus berhati-hati dengan kehadiran Ki Sangga Geni. Perlu kalian tahu, bahwa Ki Sangga Geni pun telah menuntaskan laku untuk menguasai ilmu iblisnya”

Ki Udyana dan Wikan pun menyadari, bahwa tugas mereka adalah tugas yang berat. Mereka akan berhadapan dengan berbagai macam kemungkinan yang tidak dapat diduga-duga lebih dahulu.

Karena itu, maka Ki Udyana dan Wikan pun telah mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Beberapa petunjuk yang diberikan oleh Ki Margawasana untuk melengkapi puncak ilmu mereka, telah mereka pelajari dengan sebaik-baiknya dalam waktu yang terhitung singkat.

Di saat terakhir, Ki Margawasana pun berkata, “Mudah-mudahan dalam keadaan yang memaksa, kalian sudah dapat mengatasi ilmu iblis Ki Sangga Geni jika ia berniat memanfaatkan kesempatan”

Demikianlah maka pada hari yang sudah ditentukan, Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan pun telah bersiap untuk berangkat. Ketika cahaya matahari mulai membayang, maka Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan pun telah minta diri kepada seisi padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Sementara Ki Udyana pergi, maka Nyi Udyana lah yang akan memimpin padepokan itu, dibantu oleh beberapa orang murid tertua di padepokan itu.

Tatag yang ada didalam dukungan ibunya telah meronta untuk turun. Demikian ia diletakkan, maka Tatag itu pun segera berlari mendapatkan ayahnya.

Satu-satu Tatag sudah dapat mengucapkan kata-kata. Karena itu Tatag sudah dapat bertanya, apakah ayahnya itu akan pergi.

“Ya, Tatag. Ayah akan pergi. Kau tinggal bersama ibu di rumah. Kau tidak boleh nakal Tatag”

Tatag memandangi wajah Wikan yang berjongkok di hadapannya. Anak itu mengangguk-angguk kecil.

“Nah, sekarang pergi ke ibumu. Ayah akan berangkat.“ Tiba-tiba saja kedua tangan Tatag mendorong Wikan yang sedang berjongkok itu. Ternyata tenaga Tatag mengejutkan Wikan. Kedua tangannya itu terlalu kuat bagi seorang anak sebesar Tatag yang mengucapkan kata-kata pun baru satu dua, sehingga Wikan itu pun hampir saja terlentang jika kedua tangannya tidak cepat-cepat menahannya.

“Tatag” Tanjung pun berlari mendapatkan Tatag, “Kau tidak boleh nakal”

Tatag tertawa melihat Wikan yang hampir saja jatuh terlentang.

“Tangannya kuat sekali” desis Wikan.

“Kakang baru menyadarinya sekarang?” bertanya Tanjung.

“Ya”

“Kemarin Tatag mengangkat dan melemparkan kambing ke belumbang. Untunglah ada yang melihatnya sehingga kambing itu segera dapat tertolong”

“Kenapa Tatag menjadi nakal sekali”

“Tetapi ia tidak bermaksud menyakiti apalagi membunuh kambing itu. Ia hanya ingin bergurau. Setelah kambing itu dibawa naik oleh cantrik yang menolong, maka kambing itu pun dibawa Tatag ke pakiwan dan dimandikannya. Sekali-sekali dipeluknya kambing itu dan dielusnya kepalanya.

Wikan mengangguk-angguk. Sementara Ki Margawasana pun berkata, “Biarkan anak itu berkembang. Tetapi harus selalu mendapat pengawasan yang baik, agar ia tidak berbuat sesuatu yang berbahaya. Berbahaya bagi dirinya, dan berbahaya bagi orang lain”

“Ya, guru” jawab Tanjung.

“Nah, sekarang kami akan berangkat. Hari ini kami harus sudah berada di Ngadireja. Besok aku akan turun ke gelanggang”

Nyi Udyana pun kemudian menyahut, “Guru. Semoga Yang Maha Pencipta selalu melindungi guru”

“Aku minta kalian berdoa untukku”

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah memacu kuda mereka meninggalkan padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Sementara langit pun menjadi semakin terang. Sinar matahari mulai memancar. Sinarnya yang menyusup diantara dedaunan, jatuh keatas tanah yang basah oleh embun yang baru mulai terangkat naik. Masih nampak kabut menyaput bulak yang luas membatasi pandangan mata.

Tetapi beberapa saat kemudian, kabut itu pun semakin tersingkap.

Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan tidak berbicara terlalu banyak. Namun Ki Margawasana masih memberikan beberapa petunjuk kepada Ki Udyana dan Wikan tentang berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di Ngadireja.

Perjalanan ke Ngadireja adalah perjalanan yang panjang. Karena itu, maka sekali-sekali mereka harus berhenti untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat. Bahkan juga ketiga orang itu sendiri.

Di perjalanan ketiga orang itu menyempatkan diri untuk berhenti di sebuah kedai. Selain kuda-kuda mereka dapat beristirahat, maka ada petugas khusus di kedai itu yang dapat memberi makan dan minum kepada kuda-kuda itu dengan upah tersendiri.

Di perjalanan ketiga orang itu pun berusaha untuk menghindar dari segala persoalan, agar perjalanan mereka tidak terganggu.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka mereka memasuki Ngadireja menjelang senja. Mereka telah menempuh perjalanan panjang yang kadang-kadang harus melewati jalan-jalan sempit dan lorong-lorong yang rumit. Ketika mereka melewati kaki Gunung Sumbing dan kemudian Gunung Sindara, kadang-kadang mereka harus memanjat tebing yang terjal. Namun kemudian mereka menuruni lereng yang curam.

Di Ngadireja mereka memang agak kesulitan untuk mendapatkan sebuah kedai yang masih dibuka.

Namun akhirnya mereka menemukannya juga, justru sebuah kedai yang agak besar. Di wayah menjelang senja itupun-masih ada beberapa orang yang berada didalam kedai itu.

Ketiga orang itu pun kemudian berhenti di kedai itu untuk mencari minum dan makan.

Namun Wikan pun bertanya kepada pemilik kedai itu, “Apakah ada orang yang dapat membantu memberi makan dan minum bagi kuda-kuda kami?”

“Ada” jawab pemilik kedai itu. Lalu katanya kepada pelayannya, “Panggil Kimin”

Sejenak kemudian, maka ketiganya sudah duduk di dalam kedai itu, sementara kuda-kuda mereka pun telah mendapat makan dan minum pula.

Ketika ketiga orang itu mulai menghirup minuman mereka sambil menunggu pesanan makan, maka mereka telah mendengar beberapa orang yang saling berbincang di dalam kedai itu. Ternyata mereka sibuk berbicara tentang perang tanding yang esok akan berlangsung.

“Kiai Surya Wisesa akan berperang tanding lagi melawan orang yang mampu membuat angin pusaran pada saat ia menolong Ki Sangga Geni beberapa waktu yang lalu”

“Kenapa mereka bermusuhan? Apakah karena orang itu telah menolong Ki Sangga Geni?”

“Mungkin. Kiai Surya Wisesa merasa tersinggung. Seolah-olah ia tidak dapat mengatasi orang yang mampu membangunkan angin pusaran itu. Waktu itu Kiai Surya Wisesa memang sedang terluka”

“Orang itu hanya berani menghadapi Kiai Surya Wisesa yang sedang terluka”

“Karena itu, besok mereka akan turun ke arena. Kiai Surya Wisesa ingin membuktikan, bahwa ia adalah orang terkuat di tanah ini”

“Ya. Kiai Surya Wisesa adalah orang yang tidak terkalahkan. Kasihan orang yang besok akan turun untuk melawannya. Nampaknya orang itu harus menjadi korban nafsu Kiai Surya Wasesa yang ingin disebut orang yang ilmunya tertinggi di negeri ini”

“Untunglah bahwa Kiai Surya Wisesa tidak sejahat Kiai Pentog. Jika ia sejahat muridnya itu, maka hancurlah negeri ini. Bukan hanya orang-orang Ngadireja sajalah yang akan mengalami kesulitan, tetapi tentu orang di seluruh negeri”

“Ya. Untung sajalah. Tetapi entahlah jika kelak Kiai Surya Wisesa itu sudah diakui sebagai orang terkuat di negeri ini. Keberhasilan seseorang sering merubah sering dan wataknya”

“Mudah-mudahan sifat dan wataknya tidak berubah. Bukankah ia sendiri mengatakan, bahwa sebenarnya ia datang untuk menghentikan tingkah laku Kiai Pentog, muridnya yang murtad itu”

Kawannya berbicara itu mengangguk-angguk. Ternyata bahwa berita tentang perang tanding esok pagi di Ngadireja itu sudah tersebar sampai ke mana-mana. Bahkan disekitar Ngadireja. Orang-orang yang berada di dalam kedai itu, yang satu menyambung pembicaraan yang lain tentang perang tanding yang akan terjadi esok pagi.

Tiba-tiba saja Ki Udyana pun bertanya kepada seseorang yang duduk tidak terlalu jauh daripadanya, “Ki Sanak. Apakah Ki Sanak sempat menyaksikan perang tanding antara Kiai Surya Wisesa dengan Ki Sangga Geni?”

“Ya. Adalah kebetulan bahwa aku sempat menyaksikannya. Sebenarnya keduanya hampir seimbang. Tetapi akhirnya Ki Sangga Geni harus mengakui kemenangan Kiai Surya Wisesa. Beruntunglah Ki Sangga Geni, bahwa seseorang yang berilmu tinggi telah menyelamatkannya. Orang itulah yang esok akan turun ke gelanggang perang tanding melawan Kiai Surya Wisesa”

“Kenapa mereka harus berperang tanding?”

“Kiai Surya Wisesa ingin membuktikan, bahwa ilmu orang itu bukanlah ilmu yang tidak dapat dikalahkannya. Pada waktu itu Kiai Surya Wisesa sedang terluka di bagian dalam tubuhnya, sehingga ia tidak dapat mencegah orang itu membawa Ki Sangga Geni pergi. Namun kemudian setelah Kiai Surya Wisesa sembuh, ia telah menantang orang itu untuk bertarung dalam perang tanding”

Kiai Udyana mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya pula, “Siapakah menurut Ki Sanak yang akan menang esok?”

“Kiai Surya Wisesa adalah orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga sulit untuk dapat mengalahkannya. Tetapi agaknya orang yang menyelamatkan Ki Sangga Geni itu juga seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga sulit untuk-menebak, siapakah yang akan menang esok. Namun Kiai Surya Wisesa sudah bertekad untuk menjadi orang yang terkuat di negeri ini”

Ki Udyana pun mengangguk-angguk pula. Tetapi ia sudah tidak bertanya lagi.

Tetapi orang-orang didalam kedai itu masih saja berbicara tentang Kiai Surya Wisesa. Pada umumnya mereka menganggap bahwa sulit untuk dapat mengalahkannya.

Ki Udyana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Menarik sekali. Tiba-tiba saja aku berniat untuk menyaksikan perang tanding itu. Ki Sanak. Apakah ada penginapan di Ngadireja ini? Jika ada aku ingin menginap agar besok aku dapat menyaksikan perang tanding yang tentu akan sangat mendebarkan itu”

“Tidak ada penginapan khusus di Ngadireja ini, Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak dapat menginap di kedai ini asal Ki Sanak tidak menuntut tempat dan pelayanan yang berlebihan”

“Di kedai ini?”

“Ya. Tanyakan kepada pemiliknya”

Ki Udyana pun termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada Ki Margawasana, maka Ki Margawasana pun memberikan isyarat, bahwa Ki Margawasana tidak berkeberatan.

Karena Ki Margawasana mengangguk kecil, maka Ki Udyana pun segera bangkit. Ia pun segera pergi menemui pemilik kedai itu.

“Apakah benar kata Ki Sanak yang duduk di tengah itu, bahwa kami dapat bermalam disini?”

“Berapa orang Ki Sanak?”

“Tiga orang”

“Tetapi tempatnya terlalu sederhana. Memang ada satu bilik yang dapat kalian pakai untuk menginap. Ada sebuah amben yang agak besar yang dapat kalian pakai bertiga. Tetapi sekali lagi, tempatnya sangat sederhana”

“Tidak apa. Lalu berapa kami harus membayar?”

“Kalian tidak usah membayar”

“Tidak usah membayar? Jadi bagaimana?”

“Kalian memang tidak usah membayar. Tetapi aku minta kalian makan di kedai ini. Setidaknya esok makan pagi dan jika kalian tidak tergesa-gesa melanjutkan perjalanan, juga makan siang, “

“Tentu, kami tentu akan makan di kedai ini. Terima kasih. Jika demikian, maka kami minta ijin untuk menginap di kedai ini. Bukankah sekaligus ada yang memberi minum dan makan bagi kuda kami”

“Ya. Orangku akan merawat kuda kalian. Kalian hanya memberinya upah seikhlas kalian serta harga makanan kuda itu”

“Terima kasih”

Sebenarnyalah malam itu Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan bermalam di kedai itu. Seorang yang merawat kuda-kuda itu, membawanya ke belakang kedai.

Ternyata Ki Udyana cukup berhati-hati. Karena itu, maka Ki Udyana dan Wikan telah membagi tugas. Jika yang seorang tidur, yang seorang harus berjaga-jaga.

“Apakah aku tidak mendapat giliran?” bertanya Ki Margawasana.

“Guru harus beristirahat sebaik-baiknya. Besok guru akan turun ke gelanggang melawan orang yang berilmu sangat tinggi”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Jangan menjadi sangat tegang. Malam ini kita berdoa, mudah-mudahan besok aku dapat berbuat sebaik-baiknya menghadapi Kiai Surya Wisesa”

Ki Udyana mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya, guru”

Meskipun demikian, Ki Udyana dan Wikan telah mempersilahkan Ki Margawasana beristirahat sebaik-baiknya.

Tetapi sejak wayah sepi bocah, Ki Margawasana duduk bersamadi untuk mohon pertolongan dan perlindungan kepada Yang Maha Agung, bahwa esok pagi, Ki Margawasana itu harus turun ke gelanggang.

“Aku tidak mempunyai pilihan” desis Ki Margawasana.

Baru menjelang tengah malam Ki Margawasana itu pun membaringkan dirinya.

Ternyata Ki Margawasana yang telah mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Agung itu menjadi sangat tenang, sehingga dalam waktu singkat, Ki Margawasana itu pun telah tertidur.

Sementara itu, Ki Udyana telah minta agar Wikan tidur lebih dahulu. Baru di dini hari, Ki Udyana bergantian tidur.

Pagi-pagi sekali mereka bertiga telah terbangun. Bergantian mereka pergi ke pakiwan. Sementara itu, ternyata pemilik kedai itu sudah menyiapkan minuman hangat bagi mereka bertiga.

“Apakah kalian akan makan pagi sekarang atau nanti? Nampaknya kalian sudah bersiap-siap untuk pergi”

“Kami memang akan pergi Ki Sanak. Tetapi kami masih akan kembali. Kami titipkan kuda-kuda kami disini”

“Ki Sanak akan pergi kemana?”

“Kami tertarik untuk menyaksikan perang tanding yang. nanti akan berlangsung di Ngadireja ini. Sebenarnya kami semalam akan melanjutkan perjalanan. Tetapi kami mendengar tentang perang tanding yang akan berlangsung itu, sehingga kami memutuskan untuk menunda keberangkatan kami”

“Ya. Nanti memang akan terjadi perang tanding. Entahlah, apa yang mereka perebutkan sehingga mereka siap untuk mengorbankan nyawa mereka”

“Mereka berebut nama. Menurut orang yang duduk di tengah semalam, Kiai Surya Wisesa ingin disebut orang terbaik di negeri ini. Tentu saja terbaik dalam olah kanuragan”

“Apakah yang akan mereka dapatkan? Nama? Hanya nama itu saja?”

“Kebanggaan, kepuasan dan tentu saja penghormatan dari orang-orang Ngadireja dan sekitarnya. Bahkan orang-orang di seluruh negeri ini”

Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Agaknya banyak orang yang tertarik pada pertarungan yang mengerikan itu. Kebanggaan, kepuasan dan penghormatan dibelinya dengan mempertaruhkan nyawa. Tetapi aku kira masih ada pamrih lagi yang lebih jauh”

“Apa?”

“Pemegangnya akan ditakuti oleh orang-orang di seluruh negeri. Itu berarti, bahwa ia dapat mengambil apa saja yang diinginkan di Ngadireja ini”

Ki Udyana mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Meskipun segala sesuatunya tergantung sekali kepada orang yang memenangkan pertarungan itu karena pertarungan itu telah dipaksakan oleh satu pihak”

“Maksud Ki Sanak?”

“Tidak. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tetapi baiklah kami akan makan pagi saja lebih dahulu. Bukankah pertarungan itu akan berlangsung setelah matahari naik?”

“Jika demikian, silahkan. Silahkan duduk di kedai saja Ki Sanak”

Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan kemudian duduk di kedai yang pintu depannya masih belum dibuka. Tetapi agaknya segala sesuatunya sudah hampir siap. Masakan-masakan yang akan disediakan di kedai itu pun agaknya sudah masak pula.

Ketiga orang yang berada di kedai yang masih belum dibuka itu pun kemudian dilayani oleh seorang pelayan kedai itu sebagaimana seorang pembeli.

Setelah mereka selesai makan, maka mereka masih duduk-duduk minum minuman hangat sambil berbincang. Sementara itu, para pelayan kedai itu pun mulai membuka pintu-pintu depan kedai itu.

Nasi serta kelengkapannya masih nampak mengepul, sehingga orang-orang yang lewat di depan kedai itu pun berpaling. Mereka yang masih belum makan pagi menjadi tertarik dan sejak pintu mulai di buka, maka satu dua orang sudah mulai memasuki kedai itu.

Seorang yang berkumis lebat dengan golok yang besar tergantung di lambungnya, duduk tidak jauh dari Ki Margawasana. Namun nampaknya orang yang berwajah menyeramkan dan bertubuh raksasa itu cukup ramah. Sambil tertawa ia pun berkata, “Ternyata kalian bertiga telah datang lebih dahulu di kedai ini. Ketika aku akan masuk, aku merasa ragu. Aku merasa bahwa memasuki kedai sepagi ini masih belum pantas”

Ki Udyana lah yang menyahut, “Sejak bangun tidur, kami sudah kelaparan Ki Sanak”

Orang itu tertawa. Ia pun kemudian bertanya, “Apakah semalaman kalian menempuh perjalanan?”

“Tidak. Aku justru bermalam di kedai ini”

“Kau bermalam di kedai ini?”

“Ya”

“Pantas pagi-pagi kau kelaparan. Sejak kau sebelum bangun, maka hidungmu tentu sudah mencium bau masakan yang sedap sehingga membuat perutmu lapar”

“Ya. Agaknya memang demikian”

“Tetapi kalau aku boleh bertanya, apa yang. kalian lakukan disini?”

“Kami hanya orang lewat. Tetapi berita tentang perang tanding itu sangat menarik perhatian kami, sehingga kami pagi ini tidak meneruskan perjalanan. Kami ingin menyaksikan perang tanding itu. Mungkin akan sangat menarik. Seorang yang menurut kata orang bernama Kiai Surya Wisesa akan membuktikan kepada orang-orang di Ngadireja, bahwa ia adalah orang terbaik di negeri ini dalam olah kanuragan”

“Ya” orang bertubuh raksasa dan berkumis lebat melintang itu mengangguk-angguk, “Kiai Surya Wisesa memang orang terbaik. Aku belum pernah bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan setinggi Ki Surya Wisesa. Apalagi aku. Aku memelihara kumis dan membawa golok sekedar untuk menakut-nakuti orang. Tetapi aku tidak akan pernah berani memasuki gelanggang sebagaimana di buka oleh Kiai Surya Wisesa”

“Gelanggang apa maksud Ki Sanak”

“Pertarungan ini akan menentukan, siapakah orang terbaik di negeri ini. Bukankah begitu?”

Ki Udyana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kau benar”

“Ah, sudahlah. Aku terlalu lama mengganggu Ki Sanak. Silahkan makan dan minum. Aku juga akan makan dan minum sebelum nonton pertarungan yang tentu akan sangat menarik itu”

“Kami sudah selesai, Ki Sanak”

“Aku baru akan mulai”

Orang itu pun kemudian sibuk dengan minuman yang hangat serta makan yang masih mengepul.

Sementara itu, Ki Udyana pun berkata, “Silahkan menikmati makan dan minum di kedai ini Ki Sanak. Kami akan mendahului”

“Bukankah kalian bermalam di kedai ini?”

“Ya”

“Sementara itu, pertarungan antara kedua orang berilmu tinggi itu masih akan berlangsung agak lama”

“Ya. Masih ada waktu untuk melihat-lihat keadaan di Ngadireja”

“Ngadireja adalah tempat yang tidak terlalu ramai Ki Sanak. Jika hari ini kademangan ini menjadi ramai, karena hari ini akan berlangsung pertarungan antara dua orang yang berilmu sangat tinggi. Yang menang akan menyebut dirinya orang terbaik di negeri ini sampai datang orang lain untuk mengalahkannya”

“Ya. Kami hanya akan memanfaatkan waktu kami” Demikianlah ketiga orang itu pun meninggalkan kedai itu

untuk melihat-lihat. Namun mereka masih menitipkan kuda-kuda mereka di kedai itu.

“Tidak jauh bedanya dengan muridnya yang bernama Kiai Pentog itu guru. Kiai Pentog juga membunuh orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan dari dirinya. Bedanya, Kiai Pentog terjun langsung kedalam dunia kejahatan. Sedangkan nampaknya Kiai Surya Wisesa tidak langsung terjun. Mungkin Kiai Surya Wisesa mempunyai tangan-tangan yang tersembunyi untuk melakukan kejahatan berkata Wikan sambil menyusuri jalan-jalan di kademangan Ngadireja. Jalan yang biasanya tidak terlalu banyak dilalui orang. Tetapi hari itu, jalan itu terkesan jalan yang ramai.

Beberapa lama mereka berjalan-jalan di kademangan Ngadireja. Sementara itu matahari pun merayap semakin tinggi di langit.

“Marilah, kita lihat arena perang tanding itu, “ajak Ki Margawasana.

“Mari. Kita akan melihatnya” sahut Ki Udyana. Demikianlah mereka pun segera menuju ke arena tempat mereka akan berperang tanding. Ternyata persiapan Kiai Surya Wisesa kali ini lebih mantap daripada saat Kiai Surya Wisesa berperang tanding melawan Ki Sangga Geni. Saat itu, mereka melihat beberapa patok bambu yang dihubungkan dengan gawar lawe. Agaknya lingkungan didalam gawar lawe itulah Kiai Surya Wisesa akan melaksanakan perang tanding agar ruang pertarungan itu dapat dibatasi.

Ketika Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan sampai ditempat itu, maka suasananya masih belum terasa menjadi panas. Orang-orang yang mulai berkerumun nampaknya sudah siap bahwa mereka harus menunggu.

Namun ketiga orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya muncul dari antara orang banyak. Mereka tergesa-gesa mendapatkan Ki Margawasana dan kedua orang muridnya.

Sebelum Ki Margawasana bertanya apa-apa, Ki Sangga Geni itu pun berdesis, “Hati-hatilah Ki Margawasana”

“Kenapa?”

“Anak buah Kiai Surya Wisesa tersebar di mana-mana. Memang tidak terlalu banyak, tetapi mereka akan dapat mengacaukan pemusatan nalar budi Ki Margawasana”

“Mereka berada di mana?”

“Mereka berada di sekitar arena. Mereka berada diantara mereka yang akan menyaksikan perang tanding itu”

“Darimana kau tahu?”

“Aku sudah sejak dua hari berada disini. Aku berbicara dengan banyak orang. Ada diantara mereka yang dapat mengenali para murid Kiai Surya Wisesa. Sengaja atau tidak sengaja, sering terlontar dalam pembicaraan mereka di tempat-tempat ramai. Di pasar, di kedai-kedai atau di mana saja”

“Mereka tentu hanya akan menjadi saksi”

“Mudah-mudahan”

“Kiai Surya Wisesa yang ingin menjadi orang terbaik itu tentu tidak akan curang”

“Mungkin. Tetapi mungkin pula para pengikutnya akan melakukan sesuatu diluar pengetahuan Kiai Surya Wisesa sendiri”

Ki Margawasana mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas peringatanmu, Ki Sangga Geni. Tetapi bukankah kau sendiri akan menyaksikan perang tanding itu”

“Tentu. Jika kau tidak mampu membunuhnya, maka akulah yang akan membunuh Surya Wisesa”

“Jika ia berhasil membunuhku tetapi Kiai Surya Wisesa itu terluka parah?”

“Kau tentu berkeberatan jika aku memanfaatkan kesempatan itu. Kau tentu memilih untuk tidak berbuat apa-apa terhadap orang yang sedang tidak berdaya. Tetapi aku dapat berbuat banyak terhadap para pengikutnya. Apalagi jika mereka mulai menjadi curang”

“Aku sudah mengatakan kepada kedua orang muridku, jika mereka menjadi curang, apaboleh buat. Tetapi jika tidak, maka mereka hanya boleh bersaksi”

“Kau juga akan berkata begitu kepadaku?”

“Kau bukan muridku. Kau pun datang atas kemauanmu sendiri. Tetapi jika kau mau mendengarkan kata-kataku, maka sebaiknya kau pun melakukan sebagaimana dilakukan oleh murid-muridku. Bukan maksudku aku menyamakan kau dengan murid-murid dalam tataran ilmu. Tetapi hanya sekedar dalam menyikapi para pengikut Kiai Candra Geni”

Ki Sangga Geni menarik nafas panjang. Katanya, “Aku akan mempertimbangkannya”

“Kedudukanmu memang berbeda dengan murid-muridku. Murid-muridku tidak akan dapat menolak pesanku. Tetapi kau dan murid-muridmu dapat berbuat sesuai dengan kemauanmu sendiri. Kau dapat menerima pesanku, tetapi kau juga dapat menolaknya”

Ki Sangga Geni termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menyahut.

Dalam pada itu, matahari pun semakin lama menjadi semakin tinggi. Di sekitar gawar yang membentang menjadi batasan arena itu, tetapi pada jarak yang tidak terlalu dekat, beberapa orang telah menunggu peristiwa yang tentu akan sangat menarik, perang tanding antara dua orang yang berilmu tinggi untuk memperebutkan gelar orang terbaik di Ngadireja dan sekitarnya dan bahkan kemudian akan ditingkatkan menjadi orang terbaik di negeri ini.

Baru beberapa saat kemudian, orang-orang yang berada disekitar arena itu bagaikan bergetar, orang-orang yang berada disekitar arena itu bagaikan bergetar. Mereka saling berdesak untuk surut beberapa langkah.

Kiai Surya Wisesa bersama dua orang muridnya telah memasuki lingkungan perang tanding. Di dalam lingkaran kerumunan orang yang ingin menyaksikan perang tanding itu. Namun sebagian besar dari mereka yang ingin menyaksikan perang tanding itu sudah membawa bekal pilihan sendiri-sendiri, siapakah yang akan memenangkan pertarungan itu.

Mereka yang masih dibayangi ketakutan karena tingkah laku Kiai Pentog berharap agar Kiai Surya Wisesa tidak dapat memenangkan pertarungan itu. Tetapi mereka yang justru mempercayai, bahwa kedatangan Kiai Surya Wisesa di Ngadireja itu berniat untuk menghentikan polah tingkah Kiai Pentog, justru menganggap bahwa sudah sewajarnya bahwa Kiai Surya Wisesa akan memenangkan perang tanding. Dengan demikian, maka ia akan dapat berbuat sebaliknya dengan Kiai Pentog selagi ia berada di Ngadireja.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka Ki Margawasana yang semula masih berada diantara mereka yang berkerumun di tempat yang tidak begitu dekat dengan arena perang tanding itu pun telah mendekat ke arena pula, diikuti oleh Ki Udyana dan Wikan yang akan menjadi saksi, sebagaimana dua orang murid Kiai Surya Wisesa itu.

“Bagus” berkata Kiai Surya Wisesa, “ternyata kau datang juga Ki Margawasana”

“Aku sudah berjanji untuk datang. Karena itu. aku memang harus datang”

“Ternyata kau laki-laki juga. Aku kira kau akan membohongi aku. Tetapi ternyata kau benar-benar telah datang. Siapakah kedua orang yang datang bersamamu itu?”

“Keduanya adalah muridku”

“Muridmu? Jadi kau curiga bahwa aku akan berbuat curang dalam perang tanding ini?. Jadi kenapa kau harus membawa dua orang muridmu?”

“Jika kau juga membawa kedua orang muridmu itu, apakah itu berarti bahwa kau mencurigai aku?”

“Aku memang tidak mempercayai siapa pun didunia ini kecuali aku sendiri. Karena aku tidak akan pernah berbuat curang kepada siapa pun juga. Karena itu, maka tidak seharusnya kau mencurigai aku, meskipun aku mencurigaimu”

“Kau aneh. Tetapi baiklah. Aku juga akan menirukan sikapmu. Aku juga tidak mempercayai siapa pun juga kecuali diriku sendiri. Karena itu, maka aku membawa dua orang untuk menjadi saksi. Tetapi sebenarnya saksi bagiku terutama bukan karena aku tidak mempercayai orang lain, dalam hal ini kau. Tetapi kedua orang muridku condong untuk sekedar dapat memberikan kesaksian dari perang tanding ini. Kemudian jika aku mati dalam perang tanding ini, atau terluka parah, maka biarlah muridku itu membawa tubuhku pulang ke Gebang. Sebaliknya jika aku memang, biarlah kedua muridnya menyaksikan kemenangan gurunya dalam perang tanding melawan orang terbaik di negeri ini”

“Aku memang tidak berkeberatan dengan kedua saksimu itu. Bukankah itu baru disebut adil jika aku membawa dua orang saksi, kau juga membawa dua orang saksi. Aku pun tidak berkeberatan jika kau tidak mempercayai seorang pun termasuk aku”

“Baiklah. Bagaimanapun sikap kita, asal kita tetap memegang nilai-nilai kejujuran, maka tidak akan terjadi apa-apa selain perang tanding itu sendiri”

“Apakah kau sudah bersiap?”

“Aku sudah bersiap”

“Jika demikian, maka tidak ada lagi yang harus kita tunggu”

“Ya. memang tidak ada”

Kedua orang itu pun kemudian segera mempersiapkan diri di dalam arena yang agaknya sudah dibuat orang para murid Kiai Surya Wisesa. Tiang-tiang bambu yang dihubungkan dengan gawar lawe.

Beberapa saat kemudian, maka kedua orang yang beril-nu sangat tinggi itu pun telah mempersiapkan dirinya untuk melakukan perang tanding sebagaimana mereka kehendaki.

“Ki Margawasana” berkata Kiai Surya Wisesa, “lihatlah. Disekitar arena ini, meskipun mereka tidak berani mendekat, telah berkumpul banyak orang yang akan menyaksikan perang tanding ini. Karena itu, maka selain saksiku dua orang dan saksimu dua orang, maka mereka pun akan menjadi saksi, bahwa kau akan mati di arena pertarungan ini”

“Biarlah mereka melihat apa yang terjadi. Mungkin aku akan mati, tetapi mungkin kaulah yang mati”

Kiai Surya Wisesa tertawa. Katanya, “Kau benar. Biarlah mereka melihat apa yang terjadi. Mereka datang untuk menyaksikan kenyataan di arena, bukan sekedar dugaan-dugaan”

Orang-orang yang akan menyaksikan perang tanding meskipun tidak terlalu dekat itu, menjadi semakin tegang. Mereka melihat dua orang yang akan berperang tanding itu masih berbincang. Namun kemudian keduanya pun telah mengambil jarak.

Dalam pada itu, dua orang murid Kiai Surya Wisesa berdiri di kedua sudut arena, sementara murid Ki Margawasana berdiri di kedua sudut yang lain.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun mulai bergeser. Kiai Surya Wisesa pun mulai meloncat menyerang Ki Margawasana. Namun serangan-serangannya masih belum bersungguh-sungguh.

Demikian pula Ki Margawasana yang berloncatan menghindar dan bahkan kemudian menyerang. Tetapi nampaknya mereka baru mulai menjajagi kemampuan lawan.

Namun semakin lama, maka mereka pun bergerak semakin cepat. Serangan demi serangan telah mereka lancarkan. Namun pertahanan kedua orang itu pun nampaknya demikian rapatnya, sehingga sulit untuk menembus pertahanan masing-masing.

Diluar sadarnya, maka orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu telah bergeser setapak demi setapak maju, sehingga mereka pun kemudian menjadi lebih dekat lagi dari arena. Meskipun demikian, jika mereka sadar akan keberadaan mereka, maka mereka pun telah bergerak mundur lagi.

Ki Margawasana dan Kiai Surya Wisesa itu pun bergerak semakin cepat. Dengan tangkasnya mereka berloncatan. Kaki-kaki mereka seakan-akan tidak lagi menyentuh tanah.

Kedua orang murid Kiai Surya Wisesa dan kedua orang murid Ki Margawasana memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin sengit, sementara unsur-unsur gerak mereka pun menjadi semakin rumit.

Namun, agaknya kedua orang yang sedang berperang tanding itu masih sedang menjajagi kemampuan lawan. Karena itu, maka sekali-sekali mereka berloncatan menyerang, namun kemudian mereka pun melangkah surut untuk mengambil jarak.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu menjadi semakin berdebar-debar. Di mata mereka, pertempuran itu sudah menjadi sangat seru.

Namun murid-murid Kiai Surya Wisesa dan murid-murid Ki Margawasana masih dapat melihat dengan jelas, betapa keduanya masih belum meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi.

Tetapi ketika keringat sudah mulai membasahi pakaian mereka, maka gerakan mereka pun menjadi semakin cepat lagi. Bahkan orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu, tidak tahu lagi, apa yang sudah mereka lakukan.

Ki Sangga Geni dan kedua muridnya pun menyaksikan pertempuran itu dengan tegang. Ki Sangga Geni yang juga berilmu sangat tinggi itu dapat mengikuti dengan jelas, apa yang terjadi di arena perang tanding itu.

Tetapi Ki Sangga Geni justru menjadi gelisah, jika ia mengingat, siapakah yang seharusnya menang diantara keduanya.

Dari satu sisi, Ki Sangga Geni menginginkan Ki Margawasana itu terbunuh. Dengan demikian, ia tidak perlu lagi bersusah payah berperang tanding untuk mengalahkan dan membunuhnya. Ia pun tidak dapat dikatakan ingkar janji, karena ia sudah datang pada waktunya. Kalau sebelum saatnya tiba Ki Margawasana itu mati, itu sama sekali bukan salahnya.

Tetapi disisi lain, ia justru ingin Ki Margawasana itu tetap hidup. Jika Ki Margawasana mati karena tangan orang lain, maka ia tidak akan mendapat kepuasan. Ia ingin Ki Margawasana itu mati karena tangannya sebagaimana yang diucapkan pada saat ia dikalahkan oleh Ki Margawasana.

Namun ketika keduanya bertempur dalam tataran yang semakin tinggi, Ki Sangga Geni pun menjadi berdebar-debar.

Sebenarnyalah kedua orang itu bertempur dalam tataran ilmu yang semakin lama semakin tinggi. Keduanya saling menyerang dengan garangnya. Tangan Ki Surya Wisesa bergerak tarayun-ayun dengan cepat, sehingga tangan Ki Surya Wisesa itu seakan-akan tidak hanya terdiri dari dua lengan saja. Tetapi tangan Ki Surya Wisesa itu seakan-akan telah bertambah menjadi empat.

Tetapi Ki Margawasana itu mampu bergerak semakin cepat. Kecepatan tangan Ki Surya Wisesa telah diimbangi dengan kecepatan gerak Ki Margawasana, sehingga Ki Margawasana itu pun seolah-olah berada di mana-mana. Serangan-serangannya seolah-olah telah datang membadai dari segala arah, sehingga kadang-kadang Ki Surya Wisesa harus berloncat surut untuk mengambil jarak.

Demikianlah pertempuran diantara kedua orang yang berilmu sangat tinggi itu berlangsung terus. Keduanya bahkan bagaikan dua ekor burung terbang serta bertempur di udara, seperti dua ekor garuda yang berebut pengakuan sebagai raja yang menguasai angkasa.

Keduanya saling menyerang, mengelak dan bahkan terjadi pula benturan-benturan kekuatan diantara mereka.

Kiai Surya Wisesa benar-benar telah menguasai ilmunya sampai tuntas. Tetapi Kiai Surya Wisesa tidak tahu, bahkan Ki Margawasana justru telah melengkapi ilmunya sampai lembar terakhir dari sebuah kitab yang disimpannya rapat-rapat. Yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Bahkan oleh murid-muridnya sendiri.

Namun pada saat terakhir, Ki Margawasana sudah sampai kepada satu keputusan, bahkan Ki Udyana, bahkan muridnya yang bungsu itu sudah matang untuk mempelajarinya.

Itulah sebabnya, maka Ki Margawasana sudah mempersiap-kan kedua orang muridnya itu untuk pada suatu saat mewarisi kitabnya. Bahkan jika Ki Margawasana tidak dapat keluar dengan selama? dari perang tanding itu, maka ia sudah meninggalkan sepucuk surat kepada orang tua yang menunggui rumahnya di Gebang. Surat bagi Ki Udyana dan Wikan, yang memberitahukan kepada mereka tentang kitab  itu serta dimana kitab itu disimpan.

Demikianlah, maka perang tanding itu pun masih saja berlangsung dengan sengitnya. Sementara itu matahari pun bergerak perlahan-lahan melewati puncak langit. Kemudian perlahan-lahan pula bergeser semakin ke Barat.

Orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Mereka yang berdiri di panas matahari sekedar menyaksikan itu pun rasa-rasanya sudah menjadi sangat letih. Keringat mereka telah membasahi pakaian mereka. Leher mereka menjadi kering dan kulit mereka bagaikan telah menjadi hangus terpanggang panas matahari.

Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan, bagaimana dengan kedua orang yang sedang bertarung itu.

Ki Sangga Geni pun menjadi tegang. Ia tidak dapat menging-kari kenyataan yang ada di hadapannya, bahwa Ki Surya Wisesa memang memiliki kelebihan dari Ki Sangga Geni sendiri. Sementara itu, Ki Margawasana masih selalu dapat mengim-banginya.

“Jika aku yang harus bertempur melawan Ki Margawasana. kecil sekali kemungkinannya bahwa aku akan dapat mengalahkannya” berkata Ki Sangga Geni di dalam hatinya. Kenyataan yang dihadapinya itu telah memaksanya untuk mengaku dengan jujur, setidak-tidaknya kepada diri sendiri, bahwa ilmu Ki Surya Wisesa dan Ki Margawasana memang lebih tinggi dari ilmunya.

Dalam pada itu, maka debu pun telah berhamburan di arena. Tanah pun menjadi bagaikan dibajak. Hentakan-hentakan ilmu yang sangat tinggi, telah membuat keadaan disekitar arena itu menjadi bergetar semakin keras.

Serangan-serangan yang datang silih berganti telah membuat kedua orang itu sekali-sekali terpental, terpelanting dan jatuh berguling. Namun dengan cepat mereka meloncat bangkit serta segera kembali memasuki pertarungan yang semakin seru.

Benturan-benturan yang terjadi telah mengguncang pepohonan yang ada disekitar arena, menggugurkan daun-daunnya. Bahkan dahan-dahan yang kering pun berpatahan dan jatuh di tanah.

Namun bagaimanapun tinggi ilmu mereka berdua, namun mereka pun akhirnya harus mengakui pula keterbatasan mereka. Dukungan wadag mereka memang tidak selalu sejalan dengan kemauan mereka yang menyala.

Akhirnya, ketika matahari menjadi semakin condong ke Barat, mereka mulai merasakan, bahwa dukungan kewadagan mereka mulai menyusut setelah mereka mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka.

Kiai Surya Wisesa pun harus mengakui, bahwa tenaganya sudah mulai menyusut meskipun ia masih tetap berada dalam keadaan yang mantap.

Demikian pula Ki Margawasana. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa ada keterbatasan pada unsur kewadagannya. Karena itulah, maka baik Kiai Surya Wisesa maupun

Ki Margawasana harus segera berusaha menyelesaikan pertempuran itu.

Namun mereka tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Apalagi mereka merasakan tubuh mereka yang kesakitan betapa pun mereka meningkatkan daya tahan mereka. Serangan-serangan yang mampu menembus pertahanan lawan, telah membuat tulang-tulang mereka bagaikan menjadi retak.

Namun pada saat mereka harus menyadari keterbatasan mereka itu, Kiai Surya Wisesa justru harus lebih banyak bergeser surut. Serangan-serangan Ki Margawasana yang didukung oleh tenaga dalamnya yang tinggi, lebih banyak menembus pertahan-an Kiai Surya Wisesa daripada serangan-serangan Kiai Surya Wisesa.

“Gila Ki Margawasana” desis Ki Sangga Geni di luar sadarnya.

“Ada apa guru?” bertanya seorang muridnya.

“Aku harus mengakui kelebihan Ki Margawasana. Aku harus mengakui, bahwa aku tidak akan dapat mengimbangi ilmunya sebagaimana aku dikalahkan oleh Kiai Surya Wisesa”

Kedua muridnya mengangguk-angguk. Kedua orang muridnya itu pun dapat merasakan, bahwa kemampuan Ki Margawasana mampu mendesak Kiai Surya Wisesa.

Sementara itu, Ki Udyana dan Wikan pun menjadi sangat tegang. Keduanya tidak putus-putusnya berdoa didalam hati, agar guru mereka selalu mendapat perlindungan sehingga guru mereka dapat meninggalkan arena perang tanding itu dengan selamat.

Sementara itu, kedua orang murid Kiai Surya Wisesa yang berdiri di dua sudut arena itu menjadi lebih tegang lagi. Mereka pun mengerti, bahwa Kiai Surya Wisesa mulai terdesak.

Meskipun demikian mereka masih tetap berpengharapan. Kiai Surya Wisesa masih memiliki ilmu puncaknya yang akan dapat dipergunakannya untuk mengakhiri perlawanan Ki Margawisesa, sebagaimana Kiai Surya mengakhiri perlawanan Ki Sangga Geni.

Meskipun demikian, murid-murid Kiai Surya Wisesa itu sudah mempersiapkan diri mereka. Jika keadaan menjadi sulit dan tidak teratasi bagi Kiai Surya Wisesa, maka murid-muridnya harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya.

Agaknya harga diri Kiai Surya Wisesa hanya sebatas keselamatannya. Jika nyawanya terancam, maka Kiai Surya Wisesa pun telah melupakan harga dirinya.

Tetapi jika itu terjadi, jika Kiai Surya Wisesa harus melepaskan harga dirinya jika keselamatannya terancam, maka Kiai Surya Wisesa telah siap meninggalkan Ngadireja untuk mencari daerah baru yang akan dapat mengakui kelebihannya. Bahkan mengakui bahwa Kiai Surya Wisesa adalah orang terbaik di seluruh negeri ini.

Dalam pada itu, tidak hanya dua orang murid Kiai Surya Wisesa yang berada di sudut-sudut arena pertandingan. Tetapi murid-murid Kiai Surya Wisesa yang tersebar diantara mereka yang menyaksikan pertarungan itu pun telah mempersiapkan diri pula.

Kedua orang yang berada di sudut arena telah memberikan pesan, bahwa dengan gerakan-gerakan tertentu yang telah mereka sepakati, kedua orang murid Kiai Surya Wisesa itu memerintahkan agar saudara-saudara seperguruannya bersiap untuk melakukan sesuatu yang agaknya juga sudah direncanakan oleh para murid Kiai Surya Wisesa.

Ki Sangga Geni yang telah mencium rencana itu, sempat melihat dua orang murid Kiai Surya Wisesa yang mempersiapkan diri.

Tetapi ketika Ki Sangga Geni itu akan merayap mendekati mereka, timbul keragu-raguan di dalam hatinya.

“Kenapa aku harus ikut campur? Kenapa aku harus berusaha untuk menyelamatkan Ki Margawasana serta dua orang muridnya? Adalah lebih baik jika Ki Margawasana itu mati. Dengan demikian, aku tidak perlu lagi berperang tanding melawannya. Sementara ilmunya ternyata masih lebih tinggi selapis dengan ilmuku. Jika ia dapat memenangkan perang tanding ini, akan berarti bahwa ia telah mengalahkan Kiai Surya Wisesa, sementara aku sendiri tidak dapat mengalahkannya. Karena itu, jika Ki Margawasana itu selamat, maka akulah yang terancam akan mati dalam perang tanding yang telah kami sepakati”

Karena itu, maka Ki Sangga Geni pun berpura-pura tidak melihat kegelisahan kedua orang itu. Bahkan ketika mereka bergeser mendekat.

Ki Udyana dan Wikan justru lebih terikat kepada arena pertempuran itu daripada memperhatikan kedua orang murid Kiai Surya Wisesa. Itulah sebabnya kedua orang itu tidak melihat ketika seorang murid Kiai Surya Wisesa itu memberi isyarat, melanjutkan isyarat Kiai Surya Wisesa, agar murid-muridnya mulai melakukan sesuatu ketika dirasa bahwa sulit bagi Kiai Surya Wisesa untuk memenangkan perang tanding itu. Namun Kiai Surya Wisesa masih berharap jika perhatian Ki Margawasana terpecah, maka ia akan dapat mempergunakan kesempatan itu untuk menghancurkannya dengan ilmu pamungkasnya.

Tetapi Ki Margawasana sendiri justru mengetahui isyarat yang diberikan oleh Kiai Surya Wisesa. Karena itu, maka Ki Marga-wasana tidak ingin menjadi korban kecurangan lawannya. Karena itu, Ki Margawasana lah yang justru dengan cepat memancing agar Kiai Surya Wisesa segera mempergunakan Aji Pamungkas-nya.

Sebelum para murid Kiai Surya Wisesa sempat berbuat sesuatu untuk menarik perhatian Ki Margawasana, maka Ki Margawasana telah meloncat mengambil jarak. Ki Margawasana yang berhasil mulai mendesak lawannya itu justru mulai membuat ancang-ancang untuk melepaskan Aji Pamungkasnya meskipun Ki Margawasana sendiri mash belum tersudut sehingga tidak mempunyai kesempatan lagi.

Kiai Surya Wisesa terkejut. Ia tidak mengira bahwa Ki Margawasana secepat itu berniat untuk melepaskan Aji Pamungkasnya.

Tetapi Kiai Surya Wisesa tidak mempunyai kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Ia justru merasa terlambat memberikan isyarat kepada para muridnya untuk berbuat sesuatu yang dapat menarik perhatian Ki Margawasana.

Karena itu, untuk menghindari akibat yang lebih buruk lagi, maka Kiai Surya Wisesa pun segera mempersiapkan Aji Pamungkasnya. Dalam sekejap Kiai Surya Wisesa itu sudah siap dan dengan agak tergesa-gesa Kiai Surya Wisesa telah melontar-kan Ilmu Pamungkasnya. Kiai Surya Wisesa itu berniat untuk mendahului Ki Margawasana meskipun hanya sekejap.

Tetapi Ki Margawasana justru lebih siap dari lawannya. Karena itu demikian Kiai Surya Wisesa melontarkan Aji Pamungkasnya, maka Ki Margawasana pun telah melakukannya pula. Bukan ilmu angin pusarannya yang diluncurkannya, tetapi seleret sinar yang membentur Aji Pamungkas yang dilontarkan oleh Kiai Surya Wisesa.

Benturan yang dahsyat telah terjadi. Rasa-rasanya bumi pun telah terguncang. Pepohonan bergoyang sehingga ranting-ranting serta daun-daunnya yang kuning telah berguguran di tanah.

Ki Margawasana telah terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya terpelanting jatuh diluar arena perang tanding

Ki Udyana dan Wikan pun segera berlari mendekatinya. Mereka pun segera berjongkok disini tubuh Ki Margawasana.

Namun Ki Margawasana yang terpelanting jatuh terlentang itu masih mampu bangkit dan duduk dengan dibantu oleh Ki Udyana dan Wikan. Dari bibirnya meleleh darah yang segera menitik di pangkuannya.

“Guru” desis Ki Udyana.

Ki Margawasana itu pun kemudian duduk bersila, memusatkan nalar budinya untuk mengatur pernafasannya.

Disini lain, Kiai Surya Wisesa pun telah terlempar pula. Tubuhnya pun terbanting di tanah sebagaimana Ki Margawasana. Namun keadaan Ki Surya Wisesa pun nampaknya lebih parah dari Ki Margawasana. Kiai Surya Wisesa melontarkan Aji Pamungkasnya dengan tergesa-gesa, sehingga ia tidak sempat memanfaatkan segala tenaga dan kekuatan didukung oleh tenaga dalamnya sepenuhnya.

Para murid Kiai Surya Wisesa itu pun terkejut. Gurunya telah terpancing untuk segera melontarkan ilmunya ketika murid-muridnya yang harus memecah perhatian Ki Margawasana belum sempat berbuat apa-apa.

Ketika dua orang muridnya berjongkok disisinya, maka Kiai Surya Wisesa yang terluka parah itu mencoba untuk mengatakan sesuatu. Tetapi darah telah meleleh pula dari mulutnya.

“Guru. Guru” desis muridnya.

“Margawasana curang” desis Ki Surya Wisesa dengan susah payah, “Aku telah terpancing untuk melawan ilmunya dengan tergesa-gesa. Sementara itu kalian terlalu lamban untuk memancing perhatiannya.

“Segala sesuatunya berlangsung begitu cepat guru. Lebih cepat dari perkiraan kita. Isyarat guru pun baru saja guru berikan, sehingga segala sesuatunya menjadi terlambat”

“Bagaimana keadaan Ki Margawasana?”

“Ia juga terpental keluar dari arena, guru”

“Aku tidak mau mati sendiri. Bunuh Margawasana yang terluka parah itu. Ia tidak akan dapat melawan kalian. Lumatkan pula kedua orang muridnya. Ia hanya membawa dua orang bersamanya. Kerahkan saudara-saudara seperguruanmu”

“Baik, guru. Tetapi keadaan guru sendiri?”

“Biarkan aku. Tidak ada obat yang dapat mengobati isi dadaku yang sudah hancur sekarang ini”

“Tetapi…..”

“Kerjakan perintahku. Kerahkan saudara-saudaramu yang ada disini. bunuh Margawasana bersama kedua orang muridnya itu”

Kedua orang murid Kiai Surya Wisesa itu pun segera bangkit berdiri. Ia pun segera memberikan isyarat kepada saudara-saudara seperguruannya yang berada di sekitar arena, berbaur dengan orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu.

Sejenak kemudian telah berkumpul tujuh orang murid Kiai Surya Wisesa yang kemudian telah bergabung bersama dua orang murid terpercayanya.

“Apa yang harus kita lakukan, kakang. Yang terjadi ternyata berbeda dengan yang kita rencanakan. Rencana pertama mau pun rencana kedua”

“Lupakan rencana-rencana itu. Sekarang bunuh Margawasana dan kedua orang muridnya itu”

“Baik, kakang”

Kedelapan orang itu telah meninggalkan Kiai Surya Wisesa yang terbaring. Seorang lagi menunggui gurunya yang masih menyeringai menahan sakit.

Ki Udyana dan Wikan terkejut melihat sikap delapan orang yang mendatangi mereka. Panggraita mereka mengatakan, bahwa delapan orang itu berniat buruk atas mereka.

“Guru. Apa yang harus kami lakukan?” bertanya Ki Udyana.

“Jika mereka berniat buruk, apaboleh buat. Adalah hak kalian berdua untuk membela diri. Apa pun yang terjadi, biarlah terjadi. Mudah-mudahan Tuhan masih melindungi kita”

Orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu menjadi semakin berdebar-debar. Gejolak yang terjadi di jantung mereka satu benturan dua ilmu yang sangat tinggi itu terjadi masih belum mereda, mereka pun kemudian melihat, bahwa ternyata setelah perang tanding berakhir, masih ada peristiwa yang sangat menegangkan.

Sementara itu, diantara mereka yang menyaksikan perang tanding itu, Ki Sangga Geni menjadi sangat bimbang, apa yang akan dilakukannya. Ia melihat bahwa delapan orang murid Kiai Surya Wisesa itu tentu akan berniat buruk. Mereka tentu akan membunuh Ki Margawasana yang sudah tidak berdaya serta kedua orang muridnya. Meskipun Ki Sangga Geni mengerti, bahwa Ki Udyana dan Wikan adalah dua orang murid pilihan yang berilmu tinggi, namun melawan delapan orang murid Kiai surya Wisesa adalah kerja yang sangat berat. Murid-murid Kiai Surya Wisesa itu tentu juga orang-orang berilmu tinggi. Meskipun mungkin tingkat ilmu mereka tidak setinggi ilmu Kiai Pentog, namun delapan orang adalah satu kekuatan yang sangat berbahaya.

Namun dari dalam relung hatinya terdengar suara, “Biarkan saja Margawasana mati. Bukankah dengan demikian aku tidak akan perlu berperang tanding melawannya. Jika ia tetap hidup dan kemudian sembuh serta pulih kembali, maka akan sulit sekali untuk dapat mengalahkannya”

Karena itu, maka Ki Sangga Geni itu pun justru berniat untuk meninggalkan tempat itu. Kepada kedua orang muridnya ia pun berkata, “Mari kita pergi. Kita tidak berkepentingan lagi dengan apa yang terjadi selanjutnya”

“Tetapi orang-orang itu tentu akan membunuh Ki Margawasana serta kedua orang muridnya”

“Persetan dengan mereka” geram Ki Sangga Geni.

Tetapi di wajah kedua muridnya ia melihat keragu-raguan yang sangat. Nampaknya mereka merasa berkeberatan untuk meninggalkan Ki Margawasana dengan kedua orang muridnya dalam keadaan yang sangat sulit. Betapa pun tinggi ilmu kedua orang murid Ki Margawasana, namun untuk melawan delapan orang, maka mereka akan mengalami tekanan yang sangat berat. Kedelapan orang itu adalah saudara-saudara seperguruan Kiai Pentog yang pernah menguasai lingkungan Ngadireja dan sekitarnya.

Meskipun kedua orang muridnya itu tidak mengatakannya, tetapi Ki Sangga Geni itu seakan-akan mendengar mereka memperingatkan, bahwa Ki Margawasana itu pun pernah menyelamatkannya ketika maut sudah mengintipnya, disaat Ki Sangga Geni itu berperang tanding melawan Kiai Surya Wisesa itu pula.

Sejenak Ki Sangga Geni termangu-mangu. Sementara itu, Ki Udyana dan Wikan pun telah bangkit berdiri, sementara Ki Margawasana masih duduk bersila sambil memusatkan nalar budinya, mengatur pernafasannya untuk mengatasi kesulitan di bagian dalam tubuhnya.

Untuk beberapa saat Ki Sangga Geni masih belum mengambil sikap. Namun kedua muridnya masih belum beranjak dari tempatnya untuk mengikuti gurunya pergi meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba Ki Sangga Geni itu pun berpaling ke bekas arena perang tanding itu. Dilihatnya Ki Udyana dan Wikan telah mulai bertempur melawan kedelapan orang yang berniat untuk membunuh Ki Margawasana yang masih sangat lemah serta kedua orang muridnya itu.

Sejenak Ki Sangga Geni itu berdiri mematung. Namun tiba-tiba saja ia pun berkata sambil meloncat menuju ke bekas arena perang tanding itu, “Kita selamatkan Ki Margawasana”

Aba-aba itu tidak perlu diulangi lagi. Kedua orang murid-nya pun segera berlari mengikuti Ki Sangga Geni.

Ki Udyana dan Wikan harus mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk melindungi gurunya yang lemah. Keduanya berloncatan dengan tangkasnya. Namun adalah sangat sulit untuk menahan kedelapan orang yang sudah menghentak kemampuan mereka pula. Dengan geram mereka bertekad untuk membunuh Ki Margawasana itu lebih dahulu. Baru kedua orang muridnya.

Enam orang diantara mereka berusaha untuk mendesak Ki Udyana dan Wikan agar mereka menjauhi Ki Margawasana. Sementara itu, dua orang yang lain sudah siap untuk membunuh Ki Margawasana.

“Aku akan membunuh dengan membenamkan jari-jari tanganku ke dadanya” geram seorang diantara mereka. Karena itu, maka orang itu sama sekali tidak mempergunakan senjata apapun.

Sementara yang seorang lagi, “Biarkan aku memilin lehernya sampai tulang-tulang lehernya patah. Baru ia tahu, bahwa ia berhadapan dengan sebuah perguruan yang tidak ada bandingnya di bentangan pesisir Lor sampai pesisir Kidul.

Namun ternyata sulit sekali untuk mendesak Ki Udyana dan Wikan menjauh dari Ki Margawasana yang lemah. Keduanya berusaha untuk tetap bertahan saling membelakangi di depan dan di belakang Ki Margawasana.

Tetapi Ki Udyana dan Wikan pun akhirnya mengalami kesulitan.

Dalam keadaan yang hampir tidak teratasi, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak, “Bertahanlah murid-murid Margawasana. Aku berdiri di pihakmu”

Ketika mereka berpaling, mereka melihat Ki Sangga Geni bersama kedua orang muridnya berlari-lari mendekat.

Para murid Kiai Surya Wisesa itu menjadi berdebar-debar. Mereka tahu, siapakah Ki Sangga Geni itu. Mereka tahu, bahwa Ki Sangga Geni pernah berperang tanding melawan guru mereka. Meskipun guru mereka dapat mengatasinya, tetapi Ki Sangga Geni itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, Ki Sangga Geni serta kedua orang muridnya telah bergabung bersama Ki Udyana dan Wikan. Dengan demikian, maka pekerjaan Ki Udyana dan Wikan pun menjadi jauh lebih ringan.

Sebenarnyalah, pertempuran antara ke delapan murid Ki Surya Wisesa melawan Ki Sangga Geni bersama kedua orang-muridnya serta kedua orang murid Ki Margawasana itu menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah mengerahkan kemampuan mereka. Meskipun jumlah mereka berbeda, tetapi kemampuan mereka pun berbeda pula.

Karena itulah, maka Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya sempat mendesak para murid Kiai Surya Wisesa menjauhi Ki Margawasana.

Dalam pada itu, murid Kiai surya Wisesa yang menunggui gurunya yang terluka sangat berat itu pun menjadi semakin berdebar-debar.

Orang itu melekatkan kupingnya ke mulut Kiai Surya Wisesa ketika Kiai Surya Wisesa itu bertanya kepadanya dengan suara yang sangat perlahan, “Apakah Margawasana itu sudah mati?”

Murid Kiai Surya Wisesa itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun menjawab, “Sudah guru. Baru saja saudara-saudaraku membunuhnya”

“Kedua orang muridnya?”

“Mereka juga sudah mati”

Kiai Surya Wisesa itu tertawa. Tetapi suara tertawanya terputus. Nafasnya menjadi berdesakan dan akhirnya Kiai Surya Wisesa itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Guru, guru” muridnya itu mengguncang-guncang tubuh guru-nya. Namun Kiai Surya Wisesa sudah tidak dapat mendengarnya.

Muridnya itu menggeretakkan giginya. Ia pun segera bangkit berdiri. Diamatinya? beberapa orang saudara seperguruannya yang sedang bertempur itu. Namun kemudian sambil berteriak orang itu pun berlari, “Aku bunuh kau Margawasana”

Orang-orang yang sedang bertempur melawan para murid Kiai Surya Wisesa itu pun terkejut. Ketika Ki Udyana berpaling, maka dilihatnya orang yang semula menunggu Kiai Surya Wisesa itu berlari kearah Ki Margawasana yang sedang berusaha memper-baiki pernafasan serta peredaran darahnya dan tatanan urat syarafnya.

Karena itu, maka Ki Udyana pun segera meloncat meninggalkan lawan-lawannya dan menghadang orang yang berlari kencang sekali itu. Sementara lawan-lawannya telah diambil alih oleh Wikan, Ki Sangga Geni serta kedua orang muridnya.

Ki Udyana yang melihat orang itu berlari seperti seekor banteng yang terluka, telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bahkan Ki Udyana itu pun telah siap membenturkan kekuatan yang dilambari tenaga dalamnya yang tinggi melawan serangan orang yang berlari kencang itu.

Demikian orang itu menjadi semakin dekat, maka orang itu pun berteriak, “Minggir, atau kaulah yang akan mati”

Tetapi Ki Udyana tidak menepi. Ia bahkan sedikit memiringkan tubuhnya serta merendah pada lututnya.

Karena Ki Udyana tidak menepi, maka orang itu pun dengan kekuatan penuh telah menyerang Ki Udyana. Dengan ancang-ancang yang panjang, orang itu meloncat serta memiringkan tubuhnya. Kedua kakinya terjulur merapat mengarah ke dada Ki Udyana

Namun Ki Udyana yang berdiri dan memiringkan tubuhnya serta sedikit merendah pada lututnya itu, telah membentur serangan itu. Ki Udyana melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya yang dilipatnya di depan dadanya.

Benturan yang sangat keras telah terjadi. Ki Udyana itu pun tergetar beberapa langkah surut. Namun Ki Udyana masih tetap mampu mempertahankan keseimbangannya.

Sementara itu, orang yang menyerangnya dengan kedua kakinya itu pun berteriak kesakitan. Kedua kakinya bagaikan telah membentur lapisan baja yang sangat kokoh, sehingga tidak tergoyahkan oleh serangannya.

Orang itu tidak saja terpental. Namun kedua kakinya terasa bagaikan menjadi retak.

Demikian orang itu terbanting di tanah, maka ia pun menggeliat kesakitan, sehingga akhirnya orang itu pun menjadi pingsan.

Sejenak Ki Udyana berdiri tegak. Meskipun ia sudah melindungi dadanya dengan kedua tangannya yang bersilang didadanya, namun terasa dadanya menjadi sesak dan bahkan kedua tangannya itu pun terasa sakit.

Ki Udyana telah berusaha untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit dan sesak. Sehingga perlahan-lahan keadaannya menjadi lebih baik. Meskipun demikian, dada dan kedua tangannya itu masih saja terasa nyeri.

Tetapi Ki Udyana tidak dapat tinggal diam. Karena lawannya yang seorang itu pingsan, maka ia pun segera memasuki arena pertempuran itu kembali, meskipun Ki Udyana masih saja sambil berdesah menahan sakit.

Para murid Kiai Surya Wisesa itu segera menyadari bahwa gurunya tentu sudah meninggal sehingga saudara seperguruan-nya yang menungguinya bagaikan menjadi gila. Karena itu, maka mereka pun segera menghentakkan kemampuan mereka untuk segera mengakhiri pertempuran itu. Mereka harus membunuh Ki Margawasana serta murid-muridnya. Bahkan Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya yang telah mencampuri persoalan itu.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Ki Udyana yang meskipun dadanya masih merasa nyeri, serta Wikan, bertempur dengan kecepatan yang tinggi. Sementara itu, Ki Sangga Geni benar-benar merupakan seorang yang sangat garang.

Pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Tiba-tiba saja semua lawan-lawan kedua orang murid Ki Margawasana serta Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya itu telah terbaring berserakan.

Ketika Ki Margawasana kemudian telah menjadi lebih baik serta mulai berusaha untuk bangkit berdiri, ia pun bertanya, “Apa yang sudah terjadi?”

“Mereka memang berbuat curang guru. Kami. terpaksa berbuat sesuatu”

“Aku tidak berniat membunuh mereka” berkata Ki Sangga Geni, “Tetapi salah mereka sendiri. Daya tahan mereka terlalu rendah, sehingga ada diantara mereka yang mati. Tetapi ada yang pingsan. Entahlah. Aku tidak sempat memperhatikan mereka seorang demi seorang”

Ki Margawasana memang mendengar diantara mereka ada yang merintih. Bahkan dua orang pun kemudian telah menggeliat dan berusaha untuk bangkit.

“Nah, mereka masih hidup”

Ki Margawasana yang dibantu oleh Wikan pun berusaha mendekati orang yang berusaha untuk bangkit dan duduk di tanah, “ Inilah akhir dari perang tanding itu. Bagaimana dengan gurumu?”

“Aku belum sempat melihatnya kembali Ki Margawasana. Tetapi agaknya guru sudah meninggal”

Ki Margawasana menarik nafas panjang. Katanya, “Katakan kepadaku, apa untungnya perang tanding seperti ini. Jika benar gurumu meninggal, maka semuanya sudah tidak berarti lagi. Sebenarnya ia masih sangat diperlukan oleh murid-muridnya, seperti kalian dan saudara-saudara seperguruan kalian. Tetapi gurumu pergi terlalu pagi, sementara ilmu kalian masih belum cukup tinggi”

Orang itu tidak menjawab. Sementara Ki Margawasana pun berkata, “Nah, sekarang kau mempunyai tugas yang tidak pernah kau harapkan. Kau harus merawat saudara-saudara seperguruan-mu. Bahkan kau harus menyelenggarakan pemakaman gurumu. Bukankah semua itu tidak pernah kau impikan. Demikian pula saudara-saudara seperguruanmu. Kalian berguru untuk mendapatkan ilmu. Tetapi sekarang, apa yang kalian dapatkan?”

Orang itu sama sekali tidak menjawab. Namun pertanyaan-pertanyaan Ki Margawasana itu pun telah didengar pula oleh Ki Sangga Geni. Pertanyaan itu pun langsung menusuk ke jantungnya. Apa untungnya dengan perang tanding seperti yang baru saja disaksikannya. Yang kalah mati dan yang menang terluka berat di bagian tubuhnya. Bahkan mungkin sekali terjadi, kedua-keduanya tidak dapat tertolong lagi. Satu mati di tempat, yang lain mati karena luka-luka didalam tubuhnya yang tidak terobati.

Namun Ki Sangga Geni tidak berkata apa-apa.

Kepada murid Kiai Surya Wisesa, Ki Margawasana pun berkata, “Aku serahkan segala sesuatunya kepadamu. Kau adalah muridnya. Kau dibebani untuk mengurus segala sesuatunya berhubungan dengan kematian gurumu”

“Lalu apa yang akan Ki Margawasana lakukan?” bertanya murid Kiai Surya Wisesa.

“Pulang. Aku akan pulang ke rumahku”

“Tetapi Ki Margawasana telah memenangkan perang tanding ini. Itu berarti Ki Margawasana berhak disebut orang terbaik di negeri ini”

“Tidak. Tidak ada orang yang terbaik dalam olah kanuragan. Yang berilmu tinggi, tentu ada yang lebih tinggi. Yang terkuat sekali pun tentu mempunyai kelemahan-kelemahan yang pada suatu saat akan tertembus”

“Orang-orang Ngadireja tentu berniat menanggapi kemenangan ini”

“Tidak perlu. Tetapi pesanku, jika kelak ada orang yang bertingkah laku seperti Kiai Pentog, maka aku atau muridku yang terpercaya akan datang lagi ke Ngadireja”

Murid Kiai Surya Wisesa itu pun terdiam. Tetapi ia masih saja menahan kesakitan yang seakan-akan telah mencengkam seluruh bagian tubuhnya.

Sementara itu, Ki Wargawasana yang akan meninggalkan tempat itu, sempat melihat keadaan Kiai Surya Wisesa. Ternyata Kiai Surya Wisesa memang sudah meninggal.

“Sungguh. Akhir yang sangat tidak diharapkan” desis Ki Margawasana.

Namun sejenak kemudian, maka Ki Margawasana itu pun telah mengajak Ki Udyana dan Wikan meninggalkan arena perang tanding itu. Mereka masih akan singgah di kedai untuk mengambil kuda-kuda mereka.

Tetapi Ki Margawasana itu pun telah menemui Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya.

“Terima kasih, Ki Sangga Geni. Tanpa bantuanmu dan murid-muridmu, entahlah, apa yang terjadi padaku” berkata Ki Margawasana.

“Aku telah membayar hutangku, Ki Margawasana” berkata Ki Sangga Geni, “Kau pernah menyelamatkan aku. Dan sekarang aku membantu murid-muridmu untuk menyelamatkanmu”

“Ya. Ya. Tetapi sebenarnya sejak semula aku tidak pernah menganggap bahwa kau berhutang kepadaku. Pertolongan yang diberikan kepada sesamanya dengan ikhlas itu berbeda dengan hutang yang kita berikan kepada orang itu. Pertolongan yang diberikan dengan ikhlas tidak akan dihubungkan dengan tuntutan untuk dibayar kembali. Namun jika ternyata Ki Sangga Geni telah melakukannya, maka aku mengucapkan terima kasih”

“Sejak semula aku sulit mengikuti jalan pikiranmu. Tetapi entah apa yang kau pikirkan, namun aku merasa bahwa hutangku kepadamu sudah aku lunasi. Itu artinya menurut jalan pikiranku, kita berpijak pada kesempatan yang sama”

Ki Margawasana menarik nafas panjang. Katanya, “Kau masih memikirkan perang tanding itu lagi?”

“Ya. Tentu saja aku tidak dapat menantangmu selagi kau terluka di bagian dalam tubuhmu. Tetapi luka itu tentu akan segera sembuh. Mudah-mudahan sebelum batas waktunya, kau sudah sembuh, sehingga aku benar-benar dapat menepati janjiku. Aku datang untuk membunuh setahun setelah aku kau kalahkan”

Ki Margawasana menarik nafas panjang. Sementara itu, darah Wikan yang masih panas itu rasa-rasanya bagaikan mendidih kembali. Tetapi ia berusaha untuk menahan diri. Apalagi Ki Udyana, murid Ki Margawasana yang lebih tua itu pun tidak berkata apa-apa.

“Baiklah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Sekarang, apakah kau akan pulang dahulu atau langsung pergi ke Gebang, terserah saja kepadamu. Tetapi aku memerlukan waktu beberapa hari untuk menyembuhkan luka-luka dalamku”

“Ki Sangga Geni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku akan langsung pergi ke Gebang. Aku tidak mau kau katakan terlambat datang. Lebih baik aku menunggu. Jika terjadi kelambatan, itu karena keadaanmu. Kaulah yang bertanggung jawab atas kelambatan itu”

Ki Margawasana menarik nafas panjang. Ia pun tidak mengerti, apa pula yang sebenarnya dikejar oleh Ki Sangga Geni dengan tantangan perang tandingnya itu. Seharusnya Ki Sangga Geni mampu mengukur kemampuan dirinya. Jika Kiai Surya Wisesa yang dapat mengalahkan Ki Sangga Geni itu dapat dikalahkan oleh Ki Margawasana, maka apakah ia tidak dapat menarik perbandingan dari keadaan itu.

Tetapi Ki Margawasana tidak mau menjadi takabur. Jika kelak ia sembuh dan Ki Sangga Geni menyudutkannya untuk berperang tanding, maka ia tidak akan dapat meremehkan Ki Sangga Geni yang berguru kepada iblis itu.

“Baiklah Ki Sangga Geni. Silahkan mendahului ke Gebang. Kami bertiga datang dengan naik kuda. Sekarang kuda-kuda kami telah kami titipkan di sebuah kedai. Kami akan mengambil kuda-kuda kami lebih dahulu”

“Mungkin kalianlah yang akan sampai lebih dahulu di Gebang” berkata Ki Sangga Geni kemudian, “Kami hanya berjalan kaki”

“Tetapi agaknya kami akan bermalam semalam lagi di perjalanan, baru esok sore kami akan sampai di Gedang”

Ki Sangga Geni pun mengangguk-angguk. Katanya, “Siapa pun yang akan sampai di Gebang lebih dahulu bukan masalah. Akhirnya gala sesuatunya masih akan menunggu kau sembuh”

Ki Margawasana pun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku masih menunggu kesembuhanku sehingga segala sesuatunya menjadi pulih kembali”

Demikianlah, maka mereka pun berpisah. Ki Sangga Geni dengan murid-muridnya, Ki Margawasana pun bersama murid-muridnya pula.

Ketika Ki Sangga Geni dan kedua muridnya itu telah meninggalkan mereka, maka Wikan pun berkata, “Sombongnya Ki Sangga Geni, guru. Bukankah menurut guru, orang itu hampir mati karena perang tanding melawan Kiai Surya Wisesa itu”

“Ya”

“Bukankah dengan demikian seharusnya ia berpikir dua tiga kali untuk menantang guru berperang tanding”

“Tetapi jika itu sudah menjadi tekadnya, apaboleh buat” sahut Ki Udyana.

Wikan pun mengangguk-angguk. Sementara itu, kaki mereka pun telah melangkah perlahan-lahan menuju ke kedai tempat mereka menitipkan kuda mereka.

Dada Ki Margawasana masih terasa nyeri. Sementara tubuhnya masih sangat lemah.

Ketika mereka sampai di kedai tempat mereka menitipkan kuda mereka, mereka terkejut. Sambutan pemilik kedai itu menjadi sangat jauh berbeda. Ketika mereka melihat Ki Margawasana datang dengan langkah yang lemah, maka pemilik kedai itu pun dengan tergesa-gesa menyongsongnya.

“Marilah, beristirahat sajalah dahulu Ki Margawasana. Tidak di tempat semalam Ki. Margawasana bermalam. Tetapi marilah, aku persilahkan bermalam di gandok rumah kami”

“Darimana Ki Sanak mengetahui namaku?”

“Nama Ki Sanak sudah kami dengar sejak dua tiga hari yang lalu, Bahwa Kiai Surya Wisesa akan berperang tanding melawan Ki Margawasana. Tetapi kami tidak mengira bahwa Ki Margawasana yang semalam menginap di kedaiku itulah yang akan berperang tanding hari ini. Tetapi ternyata Ki Margawasana lah yang telah turun ke arena pertarungan itu dan bahkan memenangkan perang tanding sehingga Kiai Surya Wisesa telah terbunuh”

“Sebenarnya aku datang tidak berniat untuk membunuh, Ki Sanak. Tetapi aku tersudut sehingga aku tidak dapat berbuat lain. Betapa pun aku berusaha mengekang diri, tetapi ternyata aku masih merasa lebih penting mempertahankan nyawaku meskipun aku harus mengorbankan nyawa orang lain. Sengaja atau tidak sengaja. Tetapi bukan itulah yang penting”

“Apa pun niat kedatangan Ki Margawasana, namun Ki Margawasana telah menyelesaikan perang tanding untuk menentukan siapakah orang terbaik di negeri ini”

“Negeri mana? Kiai Surya Wisesa mengira kalau ia dapat mengalahkan aku, ia akan menjadi orang terbaik di seluruh negeri. Satu mimpi buruk yang jauh dari kenyataan. Di Mataram ada lebih dari sebangsal orang berilmu jauh lebih tinggi dari ilmuku. Di mana-mana ada orang-orang berilmu tinggi. Yang satu lebih tinggi dari yang lain. Yang lebih tinggi itu akhirnya dapat dikalahkan pula oleh orang lain yang tidak pernah disebut namanya, karena setiap kekuatan mengandung kelemahan”

“Apakah Ki Margawasana juga mengetahui kelemahan Kiai Surya Wisesa?”

“Seseorang tidak perlu mengetahui kelemahan orang lain. Tetapi kalau sudah dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, maka segala sesuatunya akan terjadi”

Pemilik kedai itu pun mengangguk-angguk. Namun kemudian orang itu pun mempersilahkannya lagi, “Marilah Ki Marga-wasana. Silahkan ke gandok kanan. Kami sudah mempersiapkan bilik di gandok kanan. Barangkali akan lebih sesuai dengan Ki Margawasana serta kedua orang pengiring itu”

“Keduanya adalah murid-muridku” sahut Ki Margawasana. Namun kemudian katanya, “Tetapi biarlah kami tetap saja berada di bilik yang semalam kami pergunakan. Kami tidak ingin pindah ke bilik lain”

“Tetapi bilik di gandok yang kami sediakan itu lebih luas dari bilik yang semalam. Ada dua pembaringan yang cukup besar di bilik itu”

“Sudahlah Ki Sanak. Aku hanya akan bermalam semalam saja lagi. Esok pagi-pagi aku akan meninggalkan Ngadireja”

“Aku mohon”

“Jangan Ki Sanak. Nanti aku menjadi gelisah dan bahkan menjadi tidak tenang. Biarlah aku menikmati ketenangan di bilik yang semalam”

Pemilik kedai itu tidak dapat memaksanya. Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan pun kembali ke biliknya yang semalam.

Demikian mereka memasuki bilik itu, maka Ki Margawasana yang lemah itu pun segera membaringkan dirinya.

Dengan tergesa-gesa pemilik kedai itu pun memerintahkan kepada pelayannya untuk menyediakan minuman hangat serta menyiapkan makan bagi mereka bertiga.

Ki Margawasana pun kemudian telah menghirup minuman hangat, sehingga tubuhnya pun terasa menjadi lebih segar. Ditelannya pula sebutir reramuan obat yang dibuatnya sendiri.

Pelayan itu pun kemudian mempersilahkan mereka bertiga untuk makan.

“Kami siapkan makan bagi Ki Sanak bertiga. Kami sudah memisahkan satu tempat di kedai dari para pengunjung yang lain”

Ki Margawasana tidak dapat menolaknya. Ia pun kemudian bangkit dari pembaringannya. Reramuan obat yang sudah diminumnya itu membuat keadaannya menjadi semakin baik.

Ketiganya pun kemudian duduk di tempat yang sudah terpisah di kedai itu. Tetapi ternyata kedai itu menjadi penuh. Bahkan banyak pula orang yang berada di luar kedai. Mereka ingin melihat orang yang telah berhasil mengalahkan Kiai Surya Wisesa, orang yang dianggap memiliki kemampuan yang tidak ada batasnya. Orang yang telah berhasil mengalahkan Ki Sangga Geni, sedangkan Ki Sangga Geni itulah yang telah membunuh Kiai Pentog. Sedangkan Kiai Pentog itu adalah murid Kiai Surya Wisesa.

Namun kerumunan orang di kedai dan bahkan diluar kedai itu membuat Ki Margawasana menjadi tidak tenang. Karena itu, maka ia pun minta agar makan dan minumnya di sediakan di dalam biliknya saja.

“Baik. Baik Ki Margawasana” jawab para pelayan.

Dengan sigapnya para pelayan itu pun telah memindahkan makan dan minuman Ki Margawasana serta para muridnya ke dalam biliknya.

Orang-orang yang ingin melihat ujud dari dekat orang yang sudah mengalahkan Kiai Surya Wisesa yang telah menyatakan diri orang terkuat di seluruh Ngadireja dan sekitarnya, bahkan di seluruh negeri itu, menjadi kecewa. Mereka tidak dapat melihat orang yang ternyata memiliki kelebihan dari Kiai Surya Wisesa.

Ki Margawasana memang bukan orang yang mabuk akan pujian. Karena itu, Ki Margawasana condong untuk menyingkir daripada .menjadi tontonan orang karena kemenangannya.

Tetapi menjelang malam, ketika Ki Margawasana itu mencoba untuk beristirahat sebaik-baiknya agar esok pagi ia dapat berkuda menempuh jarak yang jauh, ia tidak dapat ingkar lagi untuk menemuinya ketika Ki Demang di Ngadireja datang ke kedai itu.

Ki Margawasana yang masih lemah itu terpaksa menemuinya.

Ki Demang di Ngadireja itu datang untuk memperkenalkan dirinya. Ia mengucapkan selamat atas kemenangan Ki Margawasana atas Kiai Surya Wisesa.

“Sampai saat ini. Kiai Surya Wisesa memang tidak pernah merugikan rakyat Ngadireja, Ki Margawasana. Tetapi kami tetap saja ragu. Kiai Surya Wisesa adalah guru Kiai Pentog. Ia pun seorang pendendam. Ternyata beberapa waktu yang lalu, Kiai Surya Wisesa telah menantang Ki Sangga Geni untuk berperang tanding. Ia memenangkan perang tanding itu. Namun ia tidak berhasil membunuh Ki Sangga Geni, karena Ki Margawasana telah menyelamatkannya dan membawanya pergi. Karena itu, dendam Kiai Surya Wisesa ternyata beralih kepada Ki Marga-wasana. Ia tidak mau orang-orang Ngadireja salah paham dan menyangka bahwa Ki Margawasana memiliki ilmu yang lebih tinggi, karena waktu itu Kiai Surya Wisesa tidak berhasil merebut dan membunuh Ki Sangga Geni. Tetapi waktu itu, Kiai Surya Wisesa sedang terluka parah. Karena itu, ia ingin membuktikan bahwa ia adalah orang terbaik. Ia menantang Ki Margawasana untuk berperang tanding. Namun ternyata bahwa akhir dari perang tanding itu tidak sebagaimana dikehendaki oleh Kiai Surya Wisesa”

“Sebenarnya aku tidak menginginkan perang tanding ini, Ki Demang” sahut Ki Margawasana, “Tetapi aku telah didesak dan disudutkan untuk menerima tantangannya. Karena itu, aku terpaksa melayaninya. Namun ternyata bahwa aku lebih mencintai nyawaku sendiri daripada nyawa Kiai Surya Wisesa, sehingga aku harus menghentikan perlawanannya. Jika kemudian Kiai Surya Wisesa itu terbunuh, itu sama sekali tidak aku rencanakan”

“Tetapi bukankah sudah wajar sekali terjadi dalam perang tanding, bahwa salah seorang diantara mereka akan terbunuh?”

Kiai Margawasana menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Margawasana” berkata Ki Demang selanjutnya, “yang kami cemaskan kemudian adalah, jika murid-murid Kiai Surya Wisesa yang masih ada itu juga mendendam. Tetapi karena mereka tidak berani melawan Ki Margawasana serta murid-muridnya, maka dendamnya akan ditumpahkan kepada rakyat Ngadireja. Mereka akan dapat berbuat lebih buruk daripada apa yang pernah dilakukan oleh Kiai Pentog”

“Mudah-mudahan tidak Ki Demang. Tetapi jika itu terjadi, maka aku atau muridku yang aku pilih, akan berusaha mengatasi-nya. Untuk itu, setiap kali kami akan memantau keadaan di Ngadireja, langsung atau tidak langsung”

“Terima kasih, Ki Margawasana. Aku pun berharap bahwa para murid Kiai Surya Wisesa dapat mengerti keadaan yang sebenarnya, sehingga mereka tidak mendendam orang yang tidak mengerti persoalannya”

“Mudah-mudahan Ki Demang. Tetapi seperti yang aku katakan, kami akan memantau keadaan di Ngadireja beberapa lama”

Ki Demang itu pun mengangguk-angguk.

Demikianlah mereka untuk beberapa lama masih berbincang. Namun agaknya Ki Demang pun mengerti, bahwa Ki Margawasana masih sangat lemah, sehingga ia memerlukan beristirahat. Sementara itu, esok mereka akan menempuh perjalanan yang panjang.

Karena itu, maka Ki Demang itu pun segera minta diri meninggalkan kedai itu.

Baru kemudian Ki Margawasana itu benar-benar dapat beristirahat dengan tenang. Sementara malam pun menjadi semakin malam.

Ki Udyana dan Wikan telah membagi diri untuk bergantian tidur dan berjaga-jaga. Sementara Ki Margawasana akan beristirahat sebaik-baiknya.

Malam pun bergeser semakin dalam. Ngadireja pun telah menjadi tertidur lelap.

Di pagi-pagi sekali, Ki Margawasana serta kedua orang muridnya telah mempersiapkan diri. Meskipun Ki Margawasana masih merasa nyeri di dadanya, tetapi ia tidak dapat menunda lagi. Hari itu, Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan berniat untuk kembali ke Gebang. Tidak ke padepokan. Ki Udyana dan Wikan akan ikut mengantar Ki Margawasana yang belum sembuh itu kembali ke Gebang.

“Ada sesuatu yang akan aku katakan kepada kalian berdua setelah kita sampai ke Gebang” berkata Ki Margawasana.

Karena Ki Udyana tidak menepi, maka orang itu pun dengan kekuatan penuh telah menyerang Ki Udyana. Dengan ancang-ancang yang panjang, orang itu meloncat serta memiringkan tubuhnya. Kedua kakinya terjulur merapat mengarah ke dada Ki Udyana

Sebelum matahari terbit, mereka bertiga telah meninggalkan kedai itu. Pemilik kedai itu ternyata menolak ketika Ki Udyana akan membayar harga makan dan minuman mereka selama mereka berada di kedai itu. Bahkan upah bagi orang yang merawat kuda-kuda mereka.

“Terima kasih Ki Sanak. Bahwa Ki Sanak bersama Ki Margawasana bersedia singgah dan bahkan bermalam di kedaiku ini, rasa-rasanya sudah merupakan keberuntungan yang pantas aku syukuri”

Tetapi Ki Udyana pun kemudian telah meninggalkan sekeping uang perak.

“Jangan Ki Sanak. Apalagi sekeping uang perak. Itu nilainya banyak sekali. Dua kali lipat dari yang seharusnya Ki Sanak bayar. Itu pun aku sudah mengikhlaskannya. Sudah aku katakan, bahwa kesediaan Ki Margawasana singgah di kedaiku itu sudah merupakan kesempatan yang sangat baik bagi perkembangan kedaiku ini. Aku sangat merasa bersyukur karenanya”

Tetapi Ki Udyana tidak menghiraukannya. Ia tetap saja meninggalkan sekeping uang perak itu.

Demikianlah ketiga orang itu pun telah melarikan kuda mereka semakin jauh. Sementara itu, beberapa saat kemudian, beberapa orang telah berdatangan di kedai yang baru saja ditinggalkan oleh Ki Margawasana bersama kedua orang muridnya. Mereka tidak hanya ingin membeli makan dan minuman. Tetapi mereka berharap bahwa mereka dapat bertemu dengan Ki Margawasana”

Tetapi Ki Margawasana sudah menjadi jauh.

Demikianlah, Ki Margawasana dan kedua orang muridnya berharap bahwa mereka akan dapat mencapai Gebang pada hari itu juga, meskipun malam hari. Ki Margawasana tidak dapat memacu kudanya terlalu kencang. Tubuhnya masih belum pulih kembali, meskipun Ki Margawasana itu tidak lupa menelan reramuan obat-obatan yang sudah disediakan sejak ia berangkat dari Gebang.

Perjalanan yang ditempuh oleh ketiga orang itu adalah perjalanan yang panjang dan berat. Apalagi keadaan Ki Margawasana yang masih lemah.

Ternyata berita tentang perang tanding yang terjadi di Ngadireja itu telah menjalar sampai kemana-mana. Karena peristiwa itu terjadi sehari sebelumnya, maka berita tentang kematian Kiai Surya Wisesa oleh Ki Margawasana itu meluncur mendahului perjalanan Ki Margawasana.

Karena itu, ketika Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan berhenti di sebuah kedai yang sudah jauh dari Ngadireja, orang-orang di kedai itu pun telah membicarakan tentang perang tanding yang terjadi di Ngadireja.

Dengan sungguh-sungguh sambil membanggakan diri seorang diantara mereka yang berada di kedai itu pun berkata, “Pamanku melihat dengan mata kepalanya sendiri. Perang tanding yang terjadi di Ngadireja itu pun merupakan perang tanding yang sangat dahsyat. Meskipun perang tanding itu terjadi di siang hari, saat matahari memancar di langit, namun selama perang tanding itu berlangsung, maka langit pun menjadi muram. Matahari seakan-akan telah kehilangan panasnya. Dahan-dahan kayu yang besar-besar berpatahan dan runtuh ke bumi. Benturan-benturan ilmu yang terjadi di arena itu menggelegar bagaikan suara guruh dan petir yang sedang berlaga di udara. Bumi pun berguncang bagaikan terjadi gempa yang kerasnya tujuh kali lipat dari saat Gunung Merapi meletus”

“Apakah Ngadireja tidak menjadi berantakan kemarin? Apakah rakyat Ngadireja tidak menjadi ketakutan?”

“Tentu. Pasar pun tidak terdengar lagi kumandangnya. Semua orang berlari-larian karena takut. Apalagi mendung pun tiba-tiba menggantung di langit. Angin pusaran, tidak saja angin pusaran yang dilontarkan karena kekuatan ilmu Ki Margawasana, tetapi dimana-mana telah timbul pula angin pusaran karena ketidak seimbangnya kepadatan udara yang terjadi oleh perubahan pertanda alam yang tidak sewajarnya”

Semua orang di kedai itu mendengar ceritera orang itu dengan sungguh-sungguh. Namun Ki Margawasana sendiri, Ki Udyana dan Wikan justru menjadi gelisah.

Apalagi ketika ceritera itu semakin lama menjadi semakin menyeramkan sehingga rasa-rasanya Ki Margawasana dan kedua orang muridnya tidak kerasan duduk di kedai itu.

Demikian mereka selesai makan dan minum, maka ketiga orang itu pun segera pergi meninggalkan kedai itu.

“Mereka tentu orang-orang yang sangat sombong” berkata orang yang berceritera itu, “mereka tentu tersinggung mendengar ceriteraku, karena mereka merasa bahwa hanya mereka sajalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi aku doakan mereka dapat bertemu langsung dengan Ki Margawasana, sehingga mereka akan mendapatkan pengalaman yang sangat menarik bagi mereka bertiga”

Tiba-tiba seorang yang duduk disudut kedai dan menghadap ke halaman belakang kedai itu serta membelakangi orang-orang yang berada di kedai itu lainnya, bangkit berdiri. Ketika ia berbalik dan menggeram, maka orang-orang yang berada di kedai itu pun terdiam.

Orang itu bertubuh raksasa, berwajah menyeramkan dengan kumis lebat melintang dibawah hidungnya. Sebuah golok yang besar dan panjang tergantung di lambungnya.

Jantung orang-orang yang berada di kedai itu pun menjadi berdebaran. Apalagi orang yang berceritera tentang perang tanding di Ngadireja. Agaknya orang ini pun menjadi cemburu pula mendengar pujiannya atas kemampuan kedua orang yang berilmu sangat tinggi, yang berperang tanding di Ngadireja.

Namun orang berwajah menyeramkan dengan kumis melintang itu justru tertawa.

Meskipun demikian, orang-orang di dalam kedai itu masih juga termangu-mangu . Mereka tidak tahu pasti, kenapa orang itu tertawa.

Orang yang berceritera itu menjadi pucat ketika orang bertubuh raksasa dengan golok di pinggang itu melangkah mendekatinya. Sambil berdiri di belakangnya orang berwajah seram itu menepuk bahunya, “Kau berceritera tentang Ki Margawasana yang kemarin berperang tanding melawan Kiai Wisesa di Ngadireja?”

Orang yang berceritera itu mengangguk sambil menjawab dengan gagap, “Ya, ya, Ki Sanak”

“Kau tentu tidak melihat sendiri pertarungan itu. Bukankah kau mendengar ceritera itu dari pamanmu”

“Ya, Ki Sanak”

“Jadi kau belum pernah melihat orang yang bernama Ki Margawasana yang telah mengalahkan Kiai Surya Wisesa itu?”

“Belum Ki Sanak” sahut orang itu. Suaranya bergetar oleh debar di jantungnya yang menjadi semakin cepat. Namun, tiba-tiba saja orang itu berkata, “Tentu Ki Sanak. Aku tahu, siapakah Ki Margawasana itu meskipun aku belum melihatnya”

“Jadi seperti apa kira-kira Ki Margawasana itu?”

“Ki Sanak sendiri. Bukankah Ki Sanak itulah Ki Margawasana yang telah mengalahkan Kiai Surya Wisesa?”

Orang itu justru tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau memang telah menyinggung perasaan orang lain. Kau sendiri tidak melihat perang tanding itu. Tetapi kau sudah berceritera dengan mantap dan berkepanjangan. Dengar, aku bukan Ki Margawasana”

Wajah orang yang berceritera itu menjadi semakin pucat. Sementara orang yang bertubuh raksasa itu masih saja menepuk-nepuk bahunya. Agaknya orang itu benar-benar telah tersinggung. Apalagi ia telah salah menebak. Orang itu ternyata bukan Ki Margawasana.

“Ki Sanak” berkata orang berkumis lebat itu dengan nada yang berat. Sementara orang-orang yang berada di kedai itu menjadi berdebar-debar pula.

“Kau tadi telah berharap agar ketiga orang yang baru saja meninggalkan kedai ini bertemu dengan Ki Margawasana”

Orang itu mengangguk.

“Kau menganggap orang itu terlalu sombong dan tersinggung karena kau telah memuji kelebihan dua orang yang kemarin berperang tanding itu”

“Ya, Ki Sanak”

“Harapanmu itu tentu akan terpenuhi. Orang itu tidak hanya akan bertemu dengan Ki Margawasana di perjalanannya. Tetapi orang itu akan selalu berada bersama Ki Margawasana”

“Maksud Ki Sanak”

“Orang yang tertua diantara ketiga orang itulah yang kau sebut Ki Margawasana yang kemarin berperang tanding dan mengalahkan Kiai Surya Wisesa”

Orang yang berceritera itu terkejut. Bahkan ia pun dengan serta-merta bangkit berdiri, “Ah. Agaknya Ki Sanak bercanda”

“Tidak. Aku tidak bercanda. Memang orang itulah Ki Marga-wasana itu. Kemarin aku bertemu dengan orang itu. Aku juga tidak mengira bahwa orang itulah yang bernama Ki Marga-wasana. Aku bertemu di sebuah kedai, justru sebelum perang tanding itu berlangsung. Baru kemudian ketika aku menyaksikan perang tanding itu, barulah aku tahu, bahwa orang itulah yang bernama Ki Margawasana. Karena itu aku sengaja tidak menemuinya. Aku pun menjadi malu kepada diriku sendiri”

Keringat dingin mengalir di punggung orang yang berceritera itu. Namun orang berkumis lebat serta berwajah menyeramkan dengan golok yang besar tergantung di pinggang itu berkata sambil tertawa pendek, “Jangan gelisah. Orang itu orang baik. Ia tidak akan berbuat apa-apa. Demikian orang itu tidak melihat mukamu, ia tentu sudah melupakannya. Untunglah bahwa kau memujinya. Seandainya kau mengutuknya, ia pun tidak akan marah”

“Jadi benar orang itu Ki Margawasana?”

“Ya. Kedua orang yang lain itu adalah murid-muridnya”

Orang itu pun terduduk di lincak bambu. Orang-orang lain yang mendengar keterangan orang berwajah menyeramkan itu pun berdebar-debar pula.

“Nah. Ingat-ingat wajahnya. Jika sekali lagi kau bertemu dengan orang itu, maka bertanyalah kepadanya, apakah benar bahwa ia adalah Ki Margawasana”

“Tetapi apakah ia akan lewat jalan ini lagi dan apalagi singgah di kedai ini?”

“Tergantung keadaan di Ngadireja. Jika keadaan di Ngadireja kemudian tenang dan tidak terjadi gejolak, maka agaknya ia serta murid-muridnya tidak akan lewat jalan ini lagi. Tetapi jika terjadi gejolak di Ngadireja, mungkin sekali ia akan datang lagi untuk menenangkannya”

Orang yang berceritera tentang perang tanding itu pun nampak sangat gelisah. Sementara orang bertubuh raksasa, berkumis tebal melintang serta berwajah menyeramkan dengan golok yang besar itu pun tertawa pendek sambil berkata, “Jangan gelisah. Tidak akan ada apa-apa”

Orang bertubuh raksasa itu pun kemudian melangkah meninggalkan orang yang wajahnya menjadi semakin pucat serta keningnya menjadi basah oleh keringat itu, mendapatkan pemilik kedai. Ia pun membayar harga makan dan minumannya. Kemudian ia pun minta diri”

“Kemana Ki Sanak?” bertanya pemilik kedai itu.

“Kemana saja mengikuti langkah kaki”

Pemilik kedai itu tidak bertanya lagi. Dipandanginya saja orang yang bertubuh raksasa itu melangkah pergi.

Di dalam kedai itu, orang yang berceritera tentang perang tanding itu pun masih duduk sambil menyeka keringatnya yang membasah di keningnya, di dahinya, di lehernya dan di mana-mana.

Seorang yang rambutnya sudah keputih-putihan yang semula mendengarkan ceritera orang itu dengan sungguh-sungguh, berkata, “Sudahlah. Jangan diingat-ingat lagi. Seperti kata orang yang membawa golok tadi, untunglah kau memujinya. Setidak-tidaknya kau berceritera tentang kemampuannya yang sangat tinggi. Orang itu tidak akan marah kepadamu, meskipun seandainya ceriteramu tidak benar seperti apa yang terjadi”

“Tetapi paman memang berceritera kepadaku”

“Ya. Jika orang itu benar Ki Margawasana, ia pun mendengar bahwa yang kau katakan itu adalah apa yang kau dengan dari pamanmu”

Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun berkata di-dalam hatinya, “Untunglah aku tidak mencelanya. Aku justru memujinya”

Namun untuk beberapa saat orang itu masih saja nampak sangat gelisah.

Dalam pada itu, matahari pun sudah bergeser semakin ke Barat. Angin sore semilir lewat lereng bergunungan.

Ki Margawasana, Ki Udyana dan Wikan melarikan kuda mereka menyusuri bulak-bulak panjang. Bahkan di beberapa ruas jalan mereka melintas di pinggir hutan yang lebat. Sekali-sekali mereka harus memanjat naik diantara batu-batu padas, namun di tempat lain mereka dengan sangat berhati-hati menuruni lembah yang dalam. Namun kuda-kuda mereka adalah kuda yang terampil sehingga mereka dapat melewati jalur-jalur jalan yang rumit dengan selamat.

Tetapi mereka bertiga tidak dapat memacu kuda-kuda mereka dengan kecepatan yang sangat tinggi, karena keadaan Ki Margawasana yang masih lemah serta masih terasa nyeri di dadanya.

Meskipun demikian, mereka sampai ke Gebang agak lebih cepat dari perhitungan mereka. Sebelum senja, mereka telah sampai di rumah Ki Margawasana yang berada di Gebang.

Tetapi Ki Margawasana tidak bermalam di Gebang. Ia hanya singgah sebentar. Berbicara dengan orang tua yang menunggu rumah itu. Namun agaknya yang dibicarakan adalah persoalan yang cukup penting.

“Masih ada di tempatnya, Ki Margawasana” berkata orang itu.

“Apakah Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya telah datang?”

“Ya. Mereka datang sore tadi. Mereka singgah kemari untuk minta makan dan minum. Kemudian mereka naik ke bukit. Masih belum terlalu lama”

Ki Margawasana mengangguk-angguk. Sementara orang tua itu berkata, “Mereka tidak akan tahu”

“Ya. Aku kira mereka memang tidak akan tahu”

Ketiga orang itu pun kemudian segera naik pula ke bukit kecil itu.

Sebenarnyalah mereka menemukan Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya sudah berada di bukit. Ki Sangga Geni sendiri berbaring di sebuah lincak bambu yang terdapat d bawah sebatang pohon yang rindang. Sementara kedua orang muridnya tidak nampak bersamanya.

“Selamat datang Ki Margawasana. Karena aku yang datang lebih dahulu, maka akulah yang mempersilahkan kalian”

“Dimana kedua orang muridmu?” bertanya Ki Margawasana.

“Mereka sedang memancing ikan. Kami memerlukan lauk untuk makan malam nanti. Daripada menangkap ayam lebih baik kami memancing ikan dan mencuri telur di kandang.

Ki Margawasana tersenyum. Namun setelah mereka mengikat kuda-kuda mereka, maka Ki Margawasana dan kedua orang muridnya pun segera masuk ke dalam rumah kecil di atas bukit itu.

“Jangan takut kelaparan” berkata Ki Sangga Geni, “Muridku tadi menanak nasi cukup banyak. Kami sudah mengira bahwa kalian akan datang kemari malam ini. Tetapi ternyata kalian sudah berada disini menjelang senja”

“Terima kasih” jawab Ki Margawasana sambil melangkah kepintu.

Namun ketika Ki Udyana dan Wikan duduk di ruang dalam, Ki Margawasana itu pun langsung pergi ke biliknya.

Tetapi tidak lama kemudian, Ki Margawasana itu pun telah keluar lagi.

“Ada sesuatu yang aku simpan di bilikku” berkata Ki Marga-wasana.

“Bukankah yang guru simpan itu masih ada?” bertanya Ki Udyana.

“Ya. Aku simpan di tempat yang tersembunyi”

“Syukurlah. Apakah yang guru simpan di benda yang berharga sekali?” bertanya Wikan.

“Ya. Sangat berharga bagi kita. Bagi kalian berdua dan bagi perguruan kita”

Ki Udyana dan Wikan pun mengangguk-angguk.

“Nah, apakah kalian akan ke pakiwan. Pergilah lebih dahulu. Biarlah aku beristirahat sebentar”

“Baik guru” berkata Wikan.

Wikan lah yang kemudian pergi ke pakiwan. Sementara Ki Udyana menemani Ki Margawasana duduk di ruang dalam.

Ternyata di ruang dalam itu sudah terdapat minuman yang masih hangat, yang agaknya memang diperuntukkan bagi mereka bertiga.

“Kami tidak usah merebus air, guru. Kedua murid Ki Sangga Geni itu memang terampil di dapur disamping terampil bermain senjata”

Ki Margawasana itu tersenyum. Katanya, “Ya. Agaknya mereka pun akan mempersiapkan makan malam. Mungkin mereka akan membuat ikan panggang dan telur dadar”

Ki Udyana pun tertawa pula.

Setelah Wikan, maka Ki Udyana pun pergi ke pakiwan pula. Sementara itu, telah terdengar kesibukan di dapur. Dua orang murid Ki Sangga Geni sudah mulai sibuk mempersiapkan makan malam di dapur. Sedangkan Ki Sangga Geni pun telah masuk ke ruang dalam pula.

Wikan pun kemudian menyalakan dlupak minyak kelapa di ajuk-ajuk. Namun Wikan pun harus pergi ke dapur untuk mencari minyak kelapa untuk mengisi dlupaknya yang hampir kering.

Setelah beberapa lampu minyak kelapa menyala, maka Wikan pun telah ikut berada di dapur pula.

Di dapur sudah ada beberapa ekor ikan yang sudah di bersihkan. Beberapa butir telur. Beberapa genggam lembayung dan kacang panjang yang dipetik di kebun, disekitar belumbang.

“Kau akan membuat apa?” bertanya Wikan.

“Ada ikan, ada telur dan ada minyak kelapa”

Wikan mengangguk-angguk. Iapun kemudian melihat murid Ki Sangga Geni itu memecahkan telur-telur itu. Mengocoknya. Kemudian memasukkan ikan-ikan yang sudah dibersihkan itu ke dalam telur yang sudah di cocok itu. Sementara yang seorang lagi menyiapkan berbagai macam bumbu dapur untuk membuat sayur lembayung dan kacang panjang.

Ternyata Wikan masih harus belajar banyak dari murid-murid Ki Sangga Geni itu. Mereka nampak sudah terbiasa sekali mengerjakan pekerjaan dapur itu.

Sementara itu nasi pun hampir masak pula.

“Kau dapat menyenduk nasi itu dari kendil ke ceting bambu itu?” bertanya salah seorang murid Ki Sangga Geni itu.

“Tentu” jawab Wikan.

“Nah, sebentar lagi nasi masak”

“Baik” jawab Wikan sambil duduk di lincak panjang yang ada di dapur.

“Kenapa kau justru duduk disitu?” bertanya salah seorang murid Ki Sangga Geni.

“Bukankah masih harus menunggu”

“Sambil menunggu, kau dapat menyiapkan cetingnya, entong-nya dan jika kurang bersih, kau masih sempat mencucinya. Sudah beberapa hari tidak dipakai. Mungkin banyak debunya atau barangkali kotoran-kotoran yang lain”

“O” Wikan pun segera bangkit. Diambil ceting bambu serta entong kayu yang ternyata memang banyak dilekati debu, sehingga Wikan harus mencucinya.

Ketika segala sesuatunya telah siap, maka Wikan dan para murid Ki Sangga Geni itu pun segera mempersiapkan mangkuk dan kelengkapan yang lain dan membawanya ke ruang dalam.

Beberapa saat kemudian, maka enam orang duduk di amben yang cukup besar di ruang tengah untuk makan malam bersama.

Ternyata kedua orang murid Ki Sangga Geni itu memang terampil bekerja didapur. Masakan mereka pun cukup enak pula. Meskipun sederhana, tetapi karena mereka letih dan lapar, maka nasi hangat dengan lauk apa adanya itu pun terasa lezat sekali.

Setelah makan malam, maka agaknya Ki Sangga Geni memang menghindar pembicaraan dengan Ki Margawasana. Karena itu, setelah murid-muridnya menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang kotor yang baru akan dicuci esok pagi, Ki Sangga Geni pun berkata, “Sembuhkan sakit di dadamu. Karena itu kau harus banyak beristirahat. Biarlah Ki Udyana dan Wikan menutup pintu. Kami bertiga akan tidur di luar”

“Di luar? Dimana kalian akan tidur? Bukankah di sini ada amben yang Cukup besar yang dapat kalian pakai tidur bertiga”

“Biarlah Ki Udyana dan Wikan tidur di amben itu. Kami dapat tidur dimana-mana. Bukankah diluar banyak terdapat amben bambu. Di bawah pohon mlinjo itu juga ada. Di serambi depan juga ada lincak panjang. Di dekat belumbang itu juga ada lincak”

“Tetapi diluar dingin”

Ki Sangga Geni itu pun tertawa. Katanya, “Kami dapat tidur dimana-mana. Jangankan di lincak bambu. Kami dan barangkali juga kalian, dapat tidur diatas rerumputan kering atau diatas batu atau dimana saja, bahkan di basahnya embun malam”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Terserah saja kepada kalian bertiga”

Ki Sangga Geni dan kedua orang muridnya pun kemudian pergi keluar rumah. Seperti yang dikatakan oleh Ki Sangga Geni, ada beberapa lincak bambu yang bertebaran di halaman dan di kebun belakang. Bahkan di sanggar terbuka pun terdapat lincak panjang pula yang dapat dipakai untuk tidur.

Malam itu, Ki Margawasana memang ingin segera beristirahat. Setelah minum reramuan obat-obatan yang dibuatnya sendiri, maka Ki Margawasana pun segera masuk ke dalam biliknya.

Ki Udyana dan Wikan akan tidur di amben yang besar di ruang dalam. Namun seperti kebiasaan mereka, maka mereka akan tidur bergantian. Meskipun mereka berada di rumah gurunya, tetapi di luar ada tiga orang dari perguruan lain yang masih belum dapat dipercaya sepenuhnya.

Demikianlah, maka di hari-hari berikutnya, Ki Margawasana telah merawat dirinya sendiri di bantu oleh kedua orang muridnya, sehingga dari hari ke hari, keadaannya menjadi semakin baik, sehingga pada satu hari, Ki Margawasana pun telah menyatakan dirinya telah sembuh. Bahkan Ki Margawasana pun menganggap, bahwa tenaga dan kemampuannya pun telah menjadi pulih kembali.

Di setiap hari, menjelang fajar Ki Margawasana bersama kedua orang muridnya selalu berada di dalam sanggar terbukanya. Sekali-sekali Ki Sangga Geni pun menyaksikan ketiga orang itu berlatih. Nampaknya Ki Margawasana sama sekali tidak menjadi curiga bahwa Ki Sangga Geni akan mengamati kelemahan ilmunya.

Sebenarnyalah bahwa Ki Margawasana memang tidak melepaskan ilmunya yang terbaik. Ilmu yang disimpannya, sehingga hanya dalam kesempatan yang mendesak sajalah, ia akan mempergunakannya.

Namun setiap kali Ki Sangga Geni menyaksikan latihan-latihan yang dilakukan oleh Ki Margawasana serta kedua orang muridnya, jantungnya terasa berdebaran semakin cepat. Semakin lama ia semakin menyadari, bahwa Ki Margawasana adalah seorang yang mempunyai ilmu sangat tinggi.

Bahkan Ki Sangga Geni pun mengetahui pula, bahwa selain yang dilihatnya itu, Ki Margawasana tentu masih mempunyai ilmu yang tersimpan dan yang akan dapat mengakhiri perlawanan musuh-musuhnya.

Tetapi Ki Margawasana sendiri memang tidak merasa begitu penting untuk menyembunyikan ilmunya. Bahkan kepada Ki Sangga Geni ia pun berkata, “Bukankah kau sudah melihat tataran ilmuku seluruhnya pada saat kau menyaksikan aku berperang tanding melawan Kiai Surya Wisesa?”

Ki Sangga Geni hanya mengangguk-angguk.

“Kau akan dapat menakar dirimu, apakah kau akan dapat mengalahkan aku atau tidak” berkata Ki Margawasana lebih lanjut.

Dalam pada itu, ketika Ki Margawasana merasa bahwa dirinya sudah benar-benar sembuh dan bahkan pulih kembali, maka Ki Sangga Geni pun telah menemuinya pula.

“Ki Margawasana” berkata Ki Sangga Geni, “Aku berada di sini bukan sekedar menumpang makan dan tidur. Tetapi aku membawa pesan dari diriku sendiri sebagaimana pernah aku ucapkan setahun yang lalu”

“Jadi kau masih bermimpi untuk berperang tanding?” bertanya Ki Margawasana.

“Ya. Aku memang datang untuk berperang tanding. Aku tidak mau bertarung melawanmu pada saat kau masih belum sembuh sama sekali. Tetapi setelah kau sembuh sekarang dan bahkan merasa bahwa tenaga dan kemampuanmu sudah pulih kembali, maka aku akan memenuhi janjiku setahun yang lalu. Aku datang untuk berperang tanding, apa pun yang akan terjadi pada diriku. Bukankah seharusnya aku sudah mati setahun yang lalu? Selama perpanjangan hidupku karena kau tidak membunuhku setahun yang lalu, aku telah dapat menyempurnakan ilmuku. Aku juga telah dapat membunuh Kiai Pentog dan beberapa orang yang berilmu tinggi yang lain. Aku sudah sempat mengembara untuk menguji kemampuanku sehingga akhirnya aku yakin, bahwa aku akan dapat memasuki perang tanding untuk melawanmu”

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 20

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s