TT-17


kembali | lanjut

TT-17WORA-WORI BANG itu pun langsung berjongkok disamping Ajag Wereng yang mengerang kesakitan.

“Kakang, kakang. Siapa yang telah melukaimu?”

“Perempuan itu” desis Ajag Wereng. Suaranya terdengar sangat dalam.

“Perempuan tua itu?”

“Ya. Aku juga sudah melukainya”

”Bagus, aku akan membunuhnya”

Tetapi Wora-wari Bang itu tertegun. Ketika ia bangkit berdiri, maka dilihatnya Nyi Udyana, lawannya yang tidak dapat ditundukkannya itu telah berlutut disamping perempuan yang telah melukai bagian dalam tubuh Ajag Wereng.

Dalam pada itu, Nyi Udyana pun telah mencoba untuk meringankan luka-luka Nyi Leksana di pundaknya dengan menempelkan selembar kain di lubang-lubang luka itu untuk menekan agar darahnya tidak banyak keluar.

Tetapi Nyi Leksana itu mencoba tersenyum, meskipun harus menahan nyeri, “Aku tidak apa-apa. Aku memang terluka, tetapi luka ini sama sekali tidak berbahaya.

“Mbokayu. Sebaiknya mbokayu pergi ke barak di belakang. Marilah, aku akan mengantar mbokayu”

“Bagaimana dengan perempuan merah itu?”

Nyi Udyana termangu-mangu sejenak.

“Biarlah aku disini dahulu. Aku tidak apa-apa. Luka-luka ini hanya dapat menyakitiku. Tetapi tidak akan membunuhku”

Nyi Udyana menarik nafas panjang.

Sementara itu, Ajag Wereng yang terluka parah itu masih melihat Wora-wari Bang berdiri termangu-mangu. Sementara itu, matanya mulai menjadi kabur.

“Cepat. Bunuh perempuan itu. Ia sudah terluka parah. Kenapa kau masih ragu-ragu” bentak Ajag Wereng.

Namun dengan membentak-bentak itu, nafasnya menjadi semakin sesak. Bahkan segala-galanya menjadi semakin kabur di pandangan matanya. Sehingga akhirnya segala sesuatunya menjadi gelap.

“Wora-wari“ Ajag Wereng itu masih berdesis.

Wora-wari Bang itu kembali berjongkok. Namun ketika ia meletakkan tangannya di dada Ajag Wereng, maka ia tidak lagi merasakan desah nafasnya.

“Kakang, kakang“ nada suara Wora-wari Bang itu pun meninggi, “kakang. Jangan pergi, kakang”

Tetapi Ajag Wereng itu sudah tidak bernafas lagi.

Wora-wari Bang itu pun kemudian bangkit berdiri. Tanpa merasa takut, ia pun melangkah mendekati Nyi Leksana. Katanya, “Kau bunuh saudara seperguruanku”

Yang menjawab adalah Nyi Udyana, “Orang itu telah melukai mbokayuku. Luka yang cukup parah”

“Tetapi ia tidak mati”

“Kalau ia tidak membunuh saudara seperguruanmu itu, maka mbokayuku yang akan mati”

“Persetan dengan mbokayumu”

Nyi Udyana pun menjadi sangat marah pula. Ia pun melangkah maju sambil berkata, “Kau mau apa? Marilah, kita selesaikan pertarungan diantara kita. Siapakah diantara kita yang akan mati. Atau kau mau kita mengadu ilmu pamungkas kita. Ilmu siapakah yang lebih tinggi serta yang lebih kuat Yang mati biar segera mati, yang menang akan segera nampak kemenangannya”

“Iblis betina. Nyi, saudara seperguruanku sudah mati. Aku akan membawanya pergi. Aku akan menguburkannya. Tetapi dendam di hatiku tidak akan ikut terkubur. Ingat, bahwa aku Wora-wari Bang, pada suatu hari akan datang kepadamu untuk membunuhmu. Sekarang aku akan pergi. Tetapi jika kau tidak mempunyai keberanian untuk menunggu kedatanganku itu, perintahkan murid-murid perguruan ini untuk mengeroyokku”

“Kenapa harus mengeroyokmu, jika aku sendiri mampu membunuhmu?”

“Baik, baik. Kita akan bertempur lagi sampai tuntas”

Tetapi Nyi Leksana pun berkata, “Biarlah perempuan itu pergi dengan membawa tubuh saudara seperguruannya”

Nyi Udyana termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia pun berkata, “Bawa mayat itu pergi, kau pun boleh pergi”

“Kau tidak takut bahwa pada suatu saat aku datang membalas dendam kepada kalian?”

“Aku tidak pernah takut kepada kecoa. Memang menjijikkan. Tetapi aku dapat menginjaknya sampai lumat”

“Tutup mulutmu“ Wora-wari Bang itu berteriak.

“Sekali lagi aku peringatkan, kalau kau pergi, pergilah sekarang. Bawa mayat itu pergi”

Wora-wari Bang memandang Nyi Udyana dengan tajamnya. Tetapi mata Nyi Udyana pun bagaikan menyala.

Wora-wari Bang itu pun kemudian lelah memerintahkan kepada dua orang murid Ki Ajak Wereng untuk mengusung mayat itu keluar.

Seperti saat murid-murid Macan Ringut pergi, maka para murid padepokan Ki Udyana serta para murid Ki Wigati itu pun membiarkan saja mereka melintas di halaman. Bahkan kemudian bukan saja murid-murid Ajag Wereng, tetapi yang lain pun telah bergeser ke pintu gerbang dan sebagian dari mereka telah berlarian keluar.

Namun Sampar Angin tidak mempunyai kesempatan untuk pergi. Ki Leksana yang mengetahui bahwa isterinya terluka telah menjadi marah sekali. Karena ia pada waktu itu sedang bertempur melawan Sampar Angin, maka Sampar Angin lah yang menjadi sasaran kemarahannya, sehingga dalam waktu yang terhitung pendek, Sampar Angin itu telah kehilangan kesempatan sehingga akhirnya jatuh terjerembab di tanah. Mati.

Demikianlah, maka orang-orang yang menyerang padepokan Ki Udyana itu sudah kehilangan kesempatan. Sebagian besar dari mereka telah melarikan diri. Bahkan murid Alap-alap Perak pun sebagian telah meninggalkan halaman itu pula.

Sedangkan yang lain, yang merasa tidak akan mampu melawan lagi, telah menyerah dan menghentikan perlawanan.

Dalam pada itu, Alap-alap perak masih bertempur melawan Ki Udyana. Tetapi Alap-alap Perak pun tidak berpengharapan lagi. Apalagi setelah pertempuran di padepokan itu seakan-akan telah berhenti.

“Nah, Winenang. Apakah kau tidak dapat melihat kenyataan ini sehingga kau masih akan bertempur terus?”

“Aku melihat kenyataan ini, Udyana. Nah sekarang apa maumu. Kau akan membunuhku? Bunuh aku. Atau kau masih mempunyai keberanian untuk membiarkan aku hidup dan datang kepada untuk membalas dendam?”

“Apa maumu sebenarnya? Apakah kau ingin minta ampun dan mohon untuk tetap dibiarkan hidup?”

“Tidak. Aku tidak akan menyerah. Apalagi mohon ampun. Jika kau mau mengeroyokku dan membunuhku lakukanlah”

Namun Ki Udyana itu pun menjawab, “Winenang. Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Apalagi beramai-ramai membantaimu di halaman padepokanku ini. Mayatmu akan membuat padepokanku menjadi sangar. Karena itu, pergilah. Aku ingin membiarkan kau hidup. Jika kau mati sekarang, maka kau akan mati dalam genggaman dosa. Tetapi kalau kau masih hidup, maka kau masih mempunyai kesempatan untuk berseru kepada Yang Maha Agung, menyebut namanya dan mohon pengampun-an atas segala dosa-dosamu”

“Persetan. Kau sengaja ingin menghinaku, he?“

“Kalau aku ingin menghinamu, aku akan mempergunakan cara yang lain. Aku dapat mengikat tanganmu di belakang punggungmu. Kemudian mengikat lehermu dan menyeretmu sepanjang jalan menuju ke Mataram. Kau tidak akan mampu mencegahku jika aku berniat melakukannya. Murid-muridmu tidak akan mampu menolongmu. Bahkan sahabat-sahabatmu yang berilmu hitam itu, meskipun ada pula diantara mereka yang memang dibiarkan untuk tetap hidup, tidak akan dapat membebaskanmu. Siapa yang akan mencobanya, maka ia justru akan mengalami nasib seperti nasibmu”

“Iblis kau Udyana. Kau lakukan semuanya ini kecuali sebagai penghinaan terhadap aku dan perguruanku, kau juga ingin digelari seorang yang baik hati. Seorang pemurah dan yang dengan ikhlas memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi semuanya itu tidak lebih dari sebuah kedok belaka. Meskipun kau mempergunakan kedok wajah Panji Asmarabangun yang sedang tersenyum, tetapi wajahmu sendiri tetap saja wajah iblis yang taringnya bersimbah darah”

“Pergilah Alap-alap Perak. Jangan berceloteh lagi”

“Baik. Baik. Aku terima penghinaan ini. Tetapi pada suatu saat kau akan menyesali kesombonganmu ini. Akulah yang akan datang untuk membunuhmu serta menghancurkan padepokan ini. Aku akan mendapatkan apa yang aku cari. Satu perangkat lingkaran-lingkaran bertangkai dengan kelengkapannya, sehingga aku akan dapat membuat sebuah bukit menjadi bukit emas”

“Mimpilah dalam kegilaanmu itu, Winenang. Sebaiknya kau ingat akan namamu yang sebenarnya. Bukan Alap-alap Perak, tetapi namamu adalah Winenang. Nama yang tidak pantas disandang oleh sosok hitam seperti kau sekarang ini. Mungkin esok sudah tidak lagi”

“Cukup. Cukup. Sesorahmu nggeladrah seperti igauan orang sakit panas. Aku memang akan pergi. Tetapi aku akan kembali lagi pada suatu saat”

“Baiklah. Jika demikian kau hanya sekedar menunda waktu kematianmu. Pada hari pepesten itu kau akan kembali kepadaku, karena agaknya memang akulah lantaran yang harus mengantarmu ke alam yang langgeng, meskipun jika aku boleh memilih, aku akan menghindarinya”

“Kau memang seorang yang sangat sombong, Udyana. Kata-katamu bagaikan guntur yang mampu membelah langit. Tetapi meskipun kau dapat menangkap angin sekalipun, maka kau tidak akan pernah berhasil membunuhku. Akulah yang pada suatu saat datang untuk membunuhmu”

“Winenang, pergilah. Aku akan berdoa bagimu, semoga kau mendapat terang di hatimu. Aku pun berdoa bagi diriku sendiri, agar bukan aku yang harus menyelesaikan hidupmu di jagad pasrawungan ini”

“Cukup. Diamlah kau iblis”

Udyana memang terdiam. Sementara itu Alap-alap Perak itu pun berkata, “Aku akan pergi. Tunggu pada suatu saat aku akan kembali ke padepokan laknat ini”

Udyana tidak menyahut. Ketika kemudian Alap-alap Perak berserta beberapa orang muridnya yang setia menunggunya, meninggalkan padepokannya, ia menarik nafas panjang”

“Kau biarkan orang itu pergi, Udyana?“ bertanya Ki Wigati.

“Ya, paman”

Wigati menarik nafas panjang. Tetapi bukan hanya Ki Udyana yang melepaskan lawan-lawannya pergi. Mudah-mudahan yang terjadi di padepokan Udyana itu dapat menyentuh perasaan mereka. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka mereka akan menjadi orang-orang yang sangat berbahaya bagi padepokan Ki Udyana serta padepokan Ki Wigati.

Karena itu, maka kedua orang itu pun bertekad untuk benar-benar menjadikan murid-murid di perguruan mereka, orang-orang yang benar-benar tangguh, sehingga apabila ancaman dari orang-orang yang telah mereka usir dari padepokan Ki Udyana itu benar-benar akan kembali, mereka mampu mempertahankan diri.

Sebenarnyalah, bahwa pertempuran pun telah benar-benar selesai. Namun bukan berarti tugas mereka telah selesai. Mereka harus merawat orang-orang yang terluka, serta pada saatnya menguburkan para cantrik yang telah gugur. Bahkan lawan-lawan mereka yang terbunuh yang tidak sempat dibawa oleh saudara-saudara seperguruan mereka.

Selain mereka yang terbunuh dan tertinggal, ternyata ada juga beberapa orang yang terluka parah dan tertinggal pula. Mereka pun harus mendapatkan perawatan pula.

Ternyata para murid perguruan Ki Udyana dan para murid Ki Wigati itu memerlukan waktu yang panjang. Hari itu mereka telah mengumpulkan para korban yang terluka serta mereka yang terbunuh di pertempuran. Sampai malam turun ternyata mereka masih sibuk sekali. Esok mereka akan melakukan upacara pemakaman para murid dari perguruan Ki Udyana serta para murid Ki Wigati, sekaligus menguburkan lawan-lawan mereka yang tertinggal.

Bagaimanapun juga padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana serta perguruan Ki Wigati itu pun telah berkabung. Untunglah bahwa korban yang gugur terhitung tidak banyak. Tetapi mereka yang terluka dan bahkan terluka parah, cukup banyak.

Keluarga para cantrik yang menjadi korban, yang sempat dihubungi telah dihubungi oleh para murid Ki Udyana. Tetapi sebagian dari mereka datang dari daerah yang jauh, sehingga dengan terpaksa sekali keluarga mereka pun ditinggalkannya. Namun dengan tertib, Ki Udyana serta para muridnya telah memberikan pertanda di setiap batu nisan. Terutama nama-nama mereka yang telah gugur. Sementara itu, mayat-mayat mereka yang datang menyerang padepokan itu telah dikubur di tempat yang terpisah. Ada yang dapat diberi nama karena kawan-kawannya yang terluka parah sempat mengenalinya, tetapi sebagian yang lain, tidak.

Baru setelah berselang dua hari, rasa-rasanya segala macam tugas telah selesai. Para murid dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu tinggal merawat saudara-saudara seperguruan mereka serta para murid Ki Wigati yang terluka.

Namun suasananya di padepokan itu telah berubah.

Dalam pada itu, maka untuk mengucap sukur bahwa padepokan itu tidak berhasil di hancurkan oleh Alap-alap Perak serta kawan-kawannya, serta bahwa lambang pengalihan kepemimpinan di padepokan Ki Udyana itu dapat diselamatkan, sekaligus memenuhi tuntutan para murid Ki Wigati yang menagih janji, maka sekali lagi padepokan Ki Udyana itu menyelenggarakan upacara yang kali ini disebut sukuran.

“Nah, bukankah janji Ki Udyana sudah dipenuhi” berkata Ki Wigati kepada murid-muridnya, ketika Ki Udyana memerintahkan untuk menyembelih dua ekor lembu serta beberapa ekor kambing.

Upacara sukuran itu seakan-akan telah memulihkan keletihan dan bahkan sempat melupakan pedihnya luka-luka yang masih belum sembuh benar. Setelah mereka mengikhlaskan saudara-saudara mereka yang gugur maka mereka pun telah menatap kembali ke masa depan mereka.

Dalam upacara mengucapkan sukur itu, mereka pun telah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, agar mereka selalu mendapat perlindungan-Nya di kemudian hari.

Meskipun demikian, padepokan itu tidak kehilangan kewaspadaan. Murid-murid perguruan Ki Udyana ada saja yang harus dikorbankan untuk tidak ikut dalam upacara yang gembira itu, karena mereka harus bertugas menjaga keselamatan padepokan itu. Tetapi Ki Parama telah mengatur dengan baik, agar mereka dapat melakukannya bergantian.

Upacara sukuran itu seakan-akan merupakan ulangan dari upacara pernikahan Wikan dengan Tanjung. Bahkan upacara itu justru terasa lebih meriah karena kehadiran para murid dari K i Wigati. Selain keberadaan mereka di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu, maka kemungkinan kehadiran orang-orang yang berniat jahat, menjadi semakin kecil, sehingga seisi padepokan itu tidak terlalu berhati-hati.

Tatag agaknya telah ikut bergembira pula bersama mereka. Sambil berlari-lari kecil, meskipun kadang-kadang masih nampak goyah, Tatag ikut tertawa-tawa bersama mereka yang justru mentertawakannya.

“Apa yang beda pada anak ini” desis seorang murid Ki Wigati yang sebelumnya belum pernah melihat Tatag.

Sambil memegangi lengan Tatag yang kecil itu, saudara seperguruannya itu pun berdesis, “Apakah tulang-tulang anak itu terbuat dari baja?”

Yang lain pun mengangguk-angguk sambil tersenyum. Seorang yang melambaikan tangannya memanggilnya berkata, “Kemarilah. Nanti paman gendong mengelilingi padepokanmu”

Tatag tertawa. Tetapi ia justru berlari ke arah yang lain.

Tatag yang sudah dapat berjalan pada waktunya, sebagaimana kebanyakan anak-anak itu, ternyata agak terlambat untuk dapat berbicara. Tatag masih belum dapat mengucapkan kata-kata selain berucap, “Apak“ Yang maksudnya memanggil bapaknya.

Wikan memang seorang ayah yang baik. Ia tidak menganggap Tatag sebagai anak angkatnya. Sebagaimana Tanjung. Wikan pun menganggap anak itu sebagai anaknya sendiri.

Namun setiap kali ia melihat noda hitam di dada anak itu, maka Wikan mau pun Tanjung menjadi berdebar-debar. Mereka dibayangi oleh perasaan cemas, bahwa noda hitam di dada anak itu kelak akan menimbulkan persoalan. Mungkin saja ada orang yang tiba-tiba mengaku, bahwa Tatag itu adalah anaknya.

“Jangan kau pikirkan” berkata Nyi Udyana, “banyak orang yang mempunyai toh pada tubuhnya. Ada yang di dada, ada yang dilengan, ada yang di punggung. Karena itu mungkin saja ada dua orang yang mempunyai toh yang kehitaman itu di tempat yang sama. Selain itu, toh di dada Tatag itu akan selalu tertutup oleh bajunya”

Wikan dan Tanjung mengangguk-angguk kecil. Dengan nada datar Wikan berkata, “Bibi, aku sudah minta Tanjung menyingkirkan alas atau selimut Tatag selagi anak itu diketemukan. Tetapi nampaknya Tanjung agak keberatan. Ada hubungan yang sangat erat antara bayi yang diketemukan itu dengan selimut atau kain popok atau kain apa pun yang melekat pada bayi itu ketika ia diketemukan di depan pintu rumahnya”

“Aku dapat mengerti perasaan Tanjung, Wikan. Karena itu, biarlah alas atau selimut atau apa pun yang ada pada bayi itu atau di sekitarnya, tetap disimpan. Orang yang meletakkan bayi itu tidak akan melihat barang-barang itu”

Wikan menarik nafas panjang. Katanya, “Aku juga dapat mengerti bibi. aku hanya cemas, bahwa jika tidak dengan sengaja ada yang mengenalinya”

“Kalau barang-barang itu disimpan dengan baik, siapakah yang akan dapat melihatnya?”

Wikan menarik nafas panjang. Namun Wikan akhirnya tidak lagi mempersoalkannya.

Dalam pada itu, hari-hari pun menjadi pulih seperti hari-hari sebelum terjadi berbagai peristiwa di padepokan itu. Ki Wigati pun telah membawa murid-muridnya kembali ke padepokannya. Namun Ki Wigati dan Ki Udyana serta Ki Margawasana menyadari, bahwa mereka harus bekerja lebih keras. Meskipun jumlah murid-murid mereka tidak terlalu banyak, tetapi mereka harus menjadi murid-murid yang dapat dipercaya. Murid yang baik dalam olah kanuragan, tetapi juga murid yang baik dalam berbagai pengetahuan yang lain. Lebih daripada itu, mereka harus menjadi murid yang baik dalam tingkah laku dan perbuatan yang bersumber dari pikiran yang bersih pula.

“Dendam itu pada suatu saat agaknya akan benar-benar ditumpahkan” berkata Ki Margawasana, “karena itu, kalian harus benar-benar bersiap. Setiap murid yang sudah waktunya, sebaiknya diberi kepercayaan untuk memiliki ilmu yang tuntas, sehingga mereka akan dapat ikut melindungi padepokan ini. Tetapi tuntas dalam olah kanuragan, belum berarti tuntas didalam berbagai pengetahuan yang lain, apalagi dalam pembentukan watak. Seorang yang tuntas dalam oleh kanuragan, namun wataknya tidak terkendali, maka ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya”

Ki Wigati dan Ki Udyana mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mereka sadari benar kebenaran kata-kata Ki Margawasana itu. Semakin tinggi ilmu seseorang, jika ia tidak dikendalikan oleh watak yang baik, maka ia akan menjadi orang yang semakin berbahaya bagi banyak orang”

Sepeninggal Ki Wigati dan murid-muridnya, maka Ki Margawasana pun telah merencanakan untuk dalam dua tiga hari lagi meninggalkan padepokan itu.

“Apakah guru tidak tinggal di padepokan ini lebih lama lagi sehingga selapan hari?” bertanya Ki Udyana.

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Mungkin Nyi Purba serta kerabat yang lain akan tinggal selapan hari disini. Tetapi aku cukup beberapa hari lagi saja”

“Kenapa tergesa-gesa guru?”

“Bukankah aku tidak tergesa-gesa? Tetapi memang sudah waktunya aku pulang. Jika aku terlalu lama disini, maka aku menjadi semakin malas pergi. Aku akan kerasan lagi tinggal disini dan tidak mau pergi lagi”

“Bukankah itu lebih baik?”

“Lalu bagaimana dengan rumahku diatas bukit kecil ini?”

Ki Udyana menarik nafas panjang. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Sebaiknya guru tinggal saja disini lagi”

Ki Margawasana justru tertawa. Katanya, “Pada suatu hari, Tatag itu pun akan disapih” Ki Udyana pun tertawa pula.

Namun dalam pada itu, ternyata Nyi Purba serta anak dan menantunya juga tidak dapat berlama-lama di padepokan itu. Mereka tidak dapat terlalu lama meninggalkan rumah mereka.

“Bukankah kami masih harus mengurusi rumah, sawah dan pategalan yang kami tinggalkan” berkata Nyi Purba, “meskipun tidak begitu luas, tetapi tanah itu juga memerlukan penanganan”

“Ya Paman” berkata Wuni, “pada kesempatan lain, kami akan datang kembali. Tetapi tentu Wikan dan isterinya tidak akan keberatan datang mengunjungi kami”

“Tentu” jawab Wikan dengan serta-merta, “pada saat yang baik, aku tentu akan pulang”

“Tetapi padepokan ini akan menjadi sepi, jika guru, kemudian Nyi Purba beserta anak serta menantunya pulang”

Tetapi dalam pada itu, bahkan Ki Leksana dan Nyi Leksana pun lelah menyatakan diri pula untuk dengan terpaksa dalam waktu dekat akan meninggalkan padepokan itu pula.

“Bagaimana dengan mbokayu Wiyati dan Wandan?” bertanya Tanjung.

“Mereka akan pulang bersama kami“ Nyi Leksana lah yang menyahut.

“Biarlah mereka berdua tinggal beberapa lama di padepokan ini. Bukankah disini mereka akan mendapat banyak teman. Di padepokan ini ada beberapa orang mentrik”

Tetapi Wiyati lah yang menyahut, “Lain kali saja aku akan datang mengunjungi Tatag. Bahkan sebelumnya kami juga mengharap Wikan serta anak isterinya mengunjungi kami. Bukankah begitu paman dan bibi?”

“Ya” sahut Nyi Leksana dengan serta-merta, “Kalian. harus mengunjungi uwakmu ini. Nah, kalian dapat menyediakan waktu yang khusus untuk mengunjungi sanak kadang. Kau dapat meninggalkan padepokan ini untuk beberapa pekan sekaligus. Kau dapat mengunjungi ibumu, mbokayumu dan kami serta sanak kadang yang lain”

“Ya. Kami tentu akan menyisihkan waktu untuk itu” Wikan lah yang menyahut.

Sebenarnyalah, sanak kadang Wikan yang berada di padepokan itu, sebagaimana Ki Margawasana tidak dapat tinggal lebih lama lagi di padepokan, karena mereka mempunyai kepentingan serta kesibukan masing-masing. Karena itu, maka beberapa hari kemudian terasa padepokan Ki Udyana itu menjadi sepi. Ki Wigati bersama murid-muridnya telah lebih dahulu minta diri setelah mereka ikut bersukaria selain menyambut pernikahan Wikan dan Tanjung, juga rasa sukur atas keberhasilan mereka bersama seisi padepokan itu mengusir Alap-alap Perak serta kawan-kawannya, meskipun mereka juga harus menyesali kepergian beberapa orang diantara para cantrik dari padepokan Ki Wigati itu, yang telah gugur di pertempuran yang berlangsung di padepokan itu.

Namun bagi Ki Wigati serta para muridnya, apa yang mereka lakukan itu seakan-akan merupakan pelunasan hutang mereka kepada keluarga perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu.

Untuk menemani suami Wuni, maka Wikan telah minta dua orang saudara seperguruannya yang telah memiliki bekal kemampuan yang memadai, ikut mengantar Nyi Purba pulang. Sementara itu Ki Leksana, Nyi Leksana serta Wiyati dan Wan-dan, tidak memerlukan orang lain untuk menemani mereka pulang.

Sedangkan Ki Margawasana meskipun tidak memerlukan seseorang untuk mengantarnya, namun Ki Parama dan Ki Windu ternyata telah menemaninya di sepanjang perjalanan.

“Hanya agar guru tidak kesepian di perjalanan” berkata Ki Parama.

Dengan demikian, maka hari-hari pun untuk beberapa lama terasa sepi. Rasa-rasanya suasananya masih belum pulih sebagaimana suasana padepokan itu sehari-hari. Apalagi ada beberapa orang diantara penghuni padepokan itu yang sedang meninggalkan padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu.

Namun dengan demikian, Ki Udyana justru memerintahkan para cantrik di padepokan itu untuk tetap berhati-hati.

Mungkin yang tidak pernah mereka duga, dapat saja terjadi.

Namun ternyata tidak terjadi sesuatu di padepokan itu. Dari hari ke hari, maka suasana pun mulai menjadi pulih kembali. Apalagi setelah semua penghuni padepokan itu telah berada kembali di padepokan

Dengan demikian, maka kehidupan di padepokan itu akhirnya menjadi pulih kembali. Latihan-latihan serta kerja berlangsung sebagaimana seharusnya. Demikian pula para cantrik yang mempelajari berbagai bidang pengetahuan yang lain disamping oleh kanuragan.

Sebenarnyalah memenuhi pesan Ki Margawasana, seisi padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu benar-benar telah bekerja keras. Apalagi setelah beberapa orang yang telah dengan tuntas menyadap ilmu di perguruan itu meninggalkan padepokan. Maka yang tinggal harus segera mampu mengisi kekosongan itu.

“Mereka telah beberapa kali tertunda” berkata Ki Udyana, “Kita memang harus melepas mereka meninggalkan padepokan ini. Mereka akan pulang ke rumah mereka masing-masing atau mengembara mencari pengalaman baru untuk bekal hidup mereka di hari-hari mendatang. Mudah-mudahan mereka mampu mengamalkan ilmu yang telah mereka kuasai dengan baik, sehingga mereka akan dapat memberikan arti bagi kehidupan disekitarnya. Disamping melindungi orang-orang yang lemah serta memerlukan perlindungan, maka seharusnya mereka juga dapat memberikan masukan kepada orang-orang di sekitarnya, cara-cara terbaik untuk bertani, berternak serta pekerjaan-pekerjaan yang lain. Ilmu kanuragan bukan segala-galanya. Memperbanyak hasil bumi akan memberikan arti yang lebih luas bagi para petani”

Para cantrik yang mendengarkannya mengangguk-angguk. Mereka pun mulai menyadari tugas-tugas mendatang dalam tatanan kehidupan. Jika semula mereka hanya memandang satu sisi jika mereka memasuki sebuah perguruan, ilmu kanuragan, maka mereka pun kemudian mengerti, tentang sisi-sisi kehidupan yang lebih luas lagi.

Demikianlah, para pemula yang memasuki padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu pun kemudian bukan lagi menyebut dirinya murid Ki Margawasana. Mereka adalah murid-murid Ki Udyana, karena murid bungsu Ki Margawasana adalah Wikan.

Namun Wikan pun kemudian telah berdiri di antara mereka yang membantu Ki Udyana membimbing para cantrik. Sementara itu beberapa murid Ki Margawasana yang masih tertinggal karena keterlambatan mereka berhubung dengan sesuatu hal, harus diselesaikan oleh Ki Udyana. Meskipun demikian, mereka tetap saja saudara tua seperguruan dari Wikan yang memiliki kemampuan diatas mereka.

Dengan kerja keras, maka padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu semakin lama menjadi semakin besar. Meskipun bertambahnya murid tidak begitu melonjak, tetapi semakin hari, perguruan itu semakin menarik perhatian anak-anak muda.

Tetapi Ki Udyana tidak dapat menerima setiap orang yang ingin memasuki padepokan itu menjadi muridnya. Ada beberapa macam syarat yang berat yang dikenakan kepada mereka yang berniat ikut berguru di perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana. Antara lain, dasar-dasar kekuatan, daya tahan dan kelenturan tubuh. Kemauan dan alasan mereka berguru. Disamping itu, mereka adalah anak-anak muda dari keluarga yang jelas. Asal-usul latar belakang kehidupan keluarga mereka, serta tempat tinggal yang pasti.

Ki Udyana tidak ingin perguruannya disisipi oleh orang-orang yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan.

Sementara perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu berkembang semakin baik, maka Tatag pun tumbuh semakin besar pula. Kakinya menjadi semakin kokoh, sehingga Tatag tidak sering lagi terjatuh. Bahkan ia mulai dapat mengucapkan kata-kata selain memanggil ayahnya.

Namun tangis Tatag masih saja menarik perhatian. Tidak lagi karena suaranya yang keras dan berbeda dengan tangis anak-anak sebayanya yang lain, tetapi getar tangisnya rasa-rasanya mampu menembus menusuk sampai ke jantung mereka yang mendengarnya.

Meskipun seisi padepokan Ki Udyana itu sudah terbiasa mendengar tangisnya, namun suara tangis itu masih saja menggetarkan jantung mereka.

Namun dalam umurnya belum genap dua tahun, tingkah Tatag menjadi semakin menarik perhatian.

Ketika pada suatu saat, Wikan dan Tanjung menjadi bingung mencari Tatag serta menanyakan kepada setiap orang di padepokan itu, ternyata tidak seorang pun yang melihatnya.

Namun akhirnya, seorang cantrik yang sedang memberi makan rumput kepada sekelompok kambing di kandangnya, telah melihat Tatag tidur di kandang itu bersama dua ekor anak kambing.

“Kau nakal sekali Tatag” berkata ibunya, “kau baru saja dimandikan, maka kau telah berbaring di rerumputan kering di kandang kambing bersama anak-anak kambing itu., Bukankah kau menjadi kotor kembali? Sekarang kau harus mandi lagi”

Sebenarnya Tatag agak kurang senang mandi. Tetapi ia tidak dapat melawan kehendak ibunya. .

“Kalau kau masuk lagi ke dalam kandang, maka kau akan aku rendam di dalam jambangan di pakiwan”

Namun tiba-tiba saja Tatag itu tertawa

“Kenapa kau tertawa?”

Tatag masih saja tersenyum-senyum..

Setelah mandi dan berganti pakaian, maka Tatag pun di letakkan di pembaringannya. Tetapi Tatag tidak segera dapat tidur. Apalagi tidur nyenyak sebagaimana ia tidur di kandang kambing.

Dari hari ke hari, Tatag menjadi semakin menarik perhatian seisi padepokan itu. Ia mengenal setiap orang yang tinggal dipadepokan itu. Semua cantrik dan mentrik.

Sementara itu, bukan saja seisi padepokan yang dipimpin oleh KI Udyana yang telah bekerja keras untuk mengembangkan padepokannya, sehingga bukan saja ujud kewadagannya yang nampak menjadi semakin besar, tetapi juga isi dan bobot penghuni padepokan itu pun telah meningkat pula. Tataran kemampuan para cantriknya dalam berbagai macam pengetahuan disamping olah kanuragan pun telah meningkat pula. Sementara itu padepokan Ki Wigati pun telah berkembang dengan pesat pula.

Namun dalam pada itu, di Gebang, Ki Margawasana tidak pernah melupakan janji Ki Sangga Geni dari Gunung Sumbing yang akan datang menemuinya setahun lagi setelah pertemuan mereka di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu, pada saat hari pernikahan Wikan dengan Tanjung.

Karena Ki Margawasana yakin bahwa Ki Sangga Geni benar-benar akan menjalani laku untuk menyempurnakan ilmunya sebelum ia datang untuk menantang Ki Margawasana. Karena itu, maka Ki Margawasana yang sudah menjadi semakin tua itu pun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Ki Margawasana tidak mau menjadi korban keganasan Ki Sangga Geni yang telah menyempurnakan ilmunya itu.

Karena itu, maka Ki Margawasana pun telah berusaha untuk semakin memantapkan ilmunya yang sudah matang itu. Sebenarnyalah bahwa Ki Margawasana sudah sampai ke puncak kemampuan menurut jalur ilmu yang diyakininya. Namun Ki Margawasana masih mempunyai beberapa peluang untuk membuat ilmunya menjadi semakin kaya dengan unsur-unsur sorak yang rumit.

Karena itu, maka Ki Margawasana telah membuka kembali sebuah peti yang sebenarnya telah disimpannya di antara dinding biliknya di Gebang. Betapa pun hatinya merasa berat, namun Ki Margawasana terpaksa melakukannya pula agar ia tidak tertinggal dari Ki Sangga Geni.

Namun Ki Margawasana percaya, bahwa diatas awan masih ada awan. Bahkan ilmu yang terbaik pun tentu masih ada kelemahan-kelemahannya yang memungkinkan ilmu itu dapat diatasi.

Yang dilakukan oleh Ki Margawasana adalah berusaha agar jika benar Sangga Geni itu datang, Ki Margawasana tidak, mengecewakannya. Bahkan Sangga Geni itu tidak dengan semena-mena mengalahkannya.

Dengan jantung yang berdebaran, Ki Margawasana mengamati peti kayu yang diambilnya dari antara dinding biliknya itu. Kemudian dengan jantung yang berdebaran Ki Margawasana telah membuka peti itu perlahan-lahan.

Darah Ki Margawasana berdesir ketika ia melihat sebuah kitab yang tersimpan didalam peti itu. Kitab yang berisi tuntunan yang akan dapat melengkapi ilmunya yang sudah matang itu.

Sebelumnya, Ki Margawasana sengaja tidak mendalami bagian terakhir dari isi kitabnya. Masih ada laku yang tersisa.

Hal itu dilakukan oleh Ki Margawasana, karena bagian terakhir dari kitabnya itu memuat petunjuk laku untuk menguasai ilmu yang sangat tinggi, seakan-akan tidak terbatas. Seorang yang menguasai ilmu itu, jika tidak mempunyai keteguhan jiwa melampaui baja akan dapat tergelincir. Ia akan merasa menjadi manusia yang berdiri diatas sesamanya. Seseorang yang menguasai ilmu itu akan dapat merasa dirinya tidak terkalahkan.

Ki Margawasana memang merasa ragu. Ia merasa bahwa dirinya adalah manusia dalam keterbatasannya. Jika ia kehilangan kepribadiannya karena sesuatu sebab, maka ia akan dapat terlempar ke dalam kekuasaan iblis yang jahat. Jagadnya akan berputar membelakangi cahaya kebaikan.

Dalam keraguan dipandanginya kitabnya yang sudah beberapa tahun tersimpan. Namun jika Sangga Geni berhasil menguasai ilmu puncak melampaui segala ilmu, tanpa ada yang dapat mengimbanginya, itu pun akan sangat berbahaya pula. Laku terakhir yang akan dijalani oleh Sangga Geni tentu laku untuk menguasai ilmu yang sangat tinggi.

Ki Margawasana pun menarik nafas panjang. Jika ia kemudian berniat menguasai ilmu pada bagian terakhir kitabnya, maka ia harus memasang kendali terkuat bagi dirinya sendiri. Ia tidak boleh beringsut dari pijakannya, bahwa ia harus mempertanggung-jawabkan segala tingkah lakunya dihadapan Tuhan.

Namun akhirnya, Ki Margawasana itu pun memutuskan untuk mendalami bab terakhir dari kitabnya itu serta menjalani laku yang berat. Namun niat Ki Margawasana adalah semata-mata untuk meredam kemampuan Ki Sangga Geni yang tinggi, sehingga melampaui kemampuan sesamanya. Sementara itu, Ki Margawasana merasa wajib untuk ikut menjaga agar kelebihan Sangga Geni itu kemudian tidak mengguncangkan tatanan kehidupan, karena pertapa itu akan dapat mempergunakan ilmunya untuk kepentingan yang tidak seharusnya.

Sangga Geni akan dapat menghancurkan padepokan yang dipimpin oleh Udyana itu untuk mencari benda yang menurut dongeng yang tersebar diantara para pemimpin perguruan, dapat dipergunakan untuk membuat emas dari segala macam bahan. Batu, kayu, tanah, pasir dan karena itu, maka sebuah bukit pun akan dapat dibuatnya menjadi emas.

Meskipun demikian, Ki Margawasana pun tidak boleh terlepas sedikit pun dari keterkaitannya dengan Tuhan Yang Kuasa, agar ia sendiri tidak tersesat karena apabila ia mampu meredam tataran kemampuan Sangga Geni.

Ki Margawasana itu pun menarik nafas panjang.

Sejak hari itu, maka Ki Margawasana lebih banyak berada di atas bukit kecilnya. Ki Margawasana telah menjalani laku yang berat di antara pepohonan, bebatuan, belumbang serta mata airnya, lekuk-lekuk tanah serta tebing yang berbatu padas.

Setiap kali terdengar gemuruhnya batu-batu padas yang berguguran. Batu-batu hitam yang besar pecah berserakan. Satu dua batang pohon raksasa yang tumbang.

Meskipun demikian, Ki Margawasana masih tetap menyadari untuk memelihara keseimbangan alam di sekitamya.

Teriring doa yang dipanjatkannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, maka Ki Margawasana telah menempa diri dalam usianya yang sudah semakin tua itu untuk mencapai tataran yang lebih tinggi, dalam usahanya untuk mengatasi tataran kemampuan ilmu Ki Sangga Geni.

Dalam pada itu, sebenarnyalah, bahwa Ki Sangga Geni lelah menempuh laku dengan caranya. Cahaya yang hitam dari daerah kegelapan telah memberikan kekuatan yang tinggi kepada Ki Sangga Geni.

Didalam sebuah goa, Ki Sangga Geni bersamadi di hadapan sebuah patung yang besar, yang melukiskan wajah iblis yang sangat bengis. Di sebuah batu besar yang datar, yang berada di bawah wajah iblis itu, terdapat sebuah kitab yang sudah kumuh, namun yang masih dapat jelas di baca. Kitab yang memuat berbagai macam laku untuk mencapai tataran ilmu tertinggi.

Ki Sangga Geni benar-benar memanfaatkan waktunya yang setahun itu untuk menempa diri. Ilmu hitam yang terpancar dari kitab kumuh itu, benar-benar telah memberikan kekuatan dan kemampuan yang sangat tinggi kepadanya.

Ki Sangga Geni telah mempergunakan lekuk-lekuk didalam goa itu, serta tebing yang tinggi dan curam, jurang yang dalam dan hutan lereng gunung itu untuk menempa diri. Kemudian setiap kali Ki Sangga Geni duduk bersamadi di hadapan patung wajah iblis yang menyeramkan itu.

Hingga akhirnya, menjelang bulan ke sepuluh, Ki Sangga Geni merasa bahwa laku yang dijalaninya sudah tuntas.

Ketika ia bersamadi di hadapan wajah yang menyeramkan di dalam goa itu, maka mata wajah iblis itu seakan-akan telah membara. Cahaya yang kemerah-merahan yang dari mata wajah iblis itu seakan-akan telah menyorot langsung ke dadanya.

Getar yang dahsyat telah mengguncang dada Ki Sangga Geni. Sesaat seluruh tubuhnya merasa gemetar sehingga akhirnya Ki Sangga Geni itu jatuh terjerembab tidak sadarkan diri.

Tetapi itu tidak lama. Beberapa saat kemudian, Ki Sangga Geni itu pun segera menjadi sadar kembali.

Perlahan-lahan Ki Sangga Geni itu membuka matanya. Ketika ia bangkit, maka terasa tubuhnya menjadi ringan. Perlahan-lahan Ki Sangga Geni itu pun bangkit berdiri sambil menggerakkan tangannya melingkar.

Terasa bahwa sesuatu telah terjadi didalam dirinya. Ketika ia berpaling memandang patung wajah iblis yang terpampang di dinding goa, maka ia masih melihat seakan-akan bayangan kemerahan yang mulai redup di mala patung wajah iblis itu.

Ki Sangga Geni pun segera menyadari apa yang telah terjadi dari pada dirinya. Dengan demikian, maka ia pun yakin, bahwa ia telah berhasil menjalani laku sampai tuntas, sehingga ia benar-benar telah menguasai ilmu puncak sebagaimana tercantum didalam kitab yang telah lusuh itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Ki Sangga Geni itu berdiri tegak sambil mengangkat tangannya dengan jari-jari yang menggenggam. Dengan kerasnya Ki Sangga Geni itu pun berteriak sehingga goa itu pun seakan-akan telah terguncang oleh gempa bumi yang dahsyat. Bahkan patung wajah iblis yang terpampang di dinding goa itu pun rasa-rasanya telah ikut tertawa pula sekeras-kerasnya.

Akhirnya suara tertawa itu pun perlahan-lahan menjadi surut. Demikian suara tertawa itu lenyap, maka Ki Sangga Geni pun merasa bahwa ia tidak memerlukan kitabnya itu lagi. Semua ilmu yang tertulis didalamnya telah diserapnya, bahkan sampai pada bagian terakhir, ilmu yang tersisa karena ilmu itu terasa sangat rumit. Hanya karena dendamnya yang membakar jantung kepada Ki Margawasana sajalah, maka dengan tekad yang membara, Sangga Geni itu telah menyelesaikan bagian terumit dari keutuhan ilmunya.

Perlahan-lahan Ki Sangga Geni pun kemudian melangkah mendekati wajah patung iblis yang mengerikan itu. Diambilnya kitabnya yang lusuh itu. Kemudian dengan nada geram ia pun berkata, “Tidak seorang pun yang boleh memiliki ilmu setingkat dengan ilmuku. Sekarang atau pada waktu yang akan datang. Karena itu, Iblis yang Sakti yang disembah oleh segala makhluk yang memahami nilai hidupnya di bumi yang penuh dengan laknat ini, aku serahkan kembali kitabku kepadamu, agar tidak dapat jatuh ke tangan siapa pun juga”

Patung wajah iblis itu seakan-akan terdengar menggeram. Sementara itu, Ki Sangga Geni telah menempatkan kitab itu ke mulut patung wajah iblis itu.

Tiba-tiba saja asap yang tipis mengepul dari mulut patung itu. Kemudian api pun telah berhembus menjilat kitab di tangan Ki Sangga Geni itu.

Dalam sekejap kitab itu pun terbakar. Tetapi Ki Sangga Geni sama sekali tidak merasakan panas api yang membakar kitab lusuhnya itu.

Beberapa saat kemudian, maka kitab itu pun telah menjadi abu. Sementara itu Ki Sangga Geni pun segera berlutut dihadapan patung wajah iblis itu sambil berkata, “Terima kasih, Iblis yang Mulia. Aku akan. mengemban tugas-tugasmu untuk menjunjung kebesaran namamu di bumi ini. Aku akan menjadi raja segala, jahanam Tidak ada seriang pun yang mampu mengimbangi kemampuanku. Aku akan datang kepada Ki Margawasana untuk membalas dendam kekalahanku di padepokannya. Aku akan memenggal kepalanya dan membawanya kepadamu, Ya Iblis yang Mulia”

Terdengar gaung yang seakan-akan bergulung-gulung di dalam goa itu. Seakan-akan patung wajah itulah yang bergumam serta memberikan restu kepada Ki Sangga Geni.

Sejenak kemudian, Ki Sangga Geni itu pun telah keluar dari dalam goa. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka rasa-rasanya langit dan bumi serta segala isinya sudah berada di bawah telapak kakinya.

“Aku harus meyakinkan diriku, bahwa aku adalah orang yang terkuat di muka bumi ini.

Nama Ki Sangga Geni itu merasa bahwa ia masih mempunyai waktu hampir dua bulan dari janjinya untuk pergi menemui Ki Margawasana. Karena itu, maka dalam waktu itu, maka dalam waktu yang pendek itu, Ki Sangga Geni ingin meyakinkan dirinya, bahwa ilmunya adalah ilmu yang terbaik yang ada di muka bumi.

“Ada banyak sasaran” geram Ki Sangga Geni, “tetapi bukan sekedar tikus-tikus kecil seperti Udyana, Wigati, Alap-alap Perak atau sebangsanya. Aku harus menemukan lawan yang diyakini mempunyai kelebihan diantara segala orang yang berilmu tinggi”

Sebelum pergi menemui Ki Margawasana, maka Ki Sangga Geni berniat untuk menemui seorang pertapa yang sudah lama tidak terdengar namanya. Seorang pertapa yang sebenarnya berada pada garis yang sama dengan Ki Sangga Geni. Bahkan pertapa itu adalah kakak seperguruannya, yang sejak mereka masih berada di perguruan tidak pernah dapat dikalahkannya.

”Ia menjadi hantu di pesisir Utara” berkata Ki Sangga Geni didalam hatinya.

Ternyata Ki Sangga Geni berniat memburu pertapa yang juga berlindung di bawah kuasa ilmu itu. Ia ingin membuktikan, bahwa ia sudah berhasil memutuskan ilmunya sekaligus untuk meyakinkan dirinya, bahwa ia akan dapat mengalahkan Ki Margawasana”

Demikianlah, maka sekali lagi masih ada waktu. Ki Sangga Geni itu pun telah meninggalkan pertapaannya, menuju ke Utara.

Dalam perjalanannya menuju ke Utara, maka di sepanjang jalan, Ki Sangga Geni telah menaburkan banyak kematian. Keinginannya untuk meyakinkan bahwa ilmunya tidak terkalahkan, telah membuatnya menantang setiap nama yang mencuat di daerah yang dilewatinya.

Di Ngadireja, Ki Sangga Geni telah memporak-porandakan sebuah gerombolan yang sangat ditakuti oleh lingkungannya. Ketika Ki Sangga Geni itu singgah di sebuah kedai, maka didengarnya nama sebuah gerombolan yang seakan-akan lelah menguasai seluruh daerah Ngadireja dan sekitarnya.

Kiai Pentog, yang dipercaya lahir dari rahim seorang perempuan yang bersuamikan gendruwo dari Gunung Prau, adalah orang yang sangat ditakuti. Ujud orang itu memang sangat menakutkan, apalagi tingkah lakunya. Bersama gerombolannya, maka Kiai Pentog seakan-akan memiliki kekuasaan yang tidak tertandingi oleh Ngadireja dan sekitarnya.

Betapa kecutnya hati orang-orang Ngadireja jika mereka mendengar bahwa Kiai Pentog telah datang ke kademangan mereka. Kiai Pentog tidak saja minta upeti berupa uang dan perhiasan serta apa saja yang berharga. Tetapi setiap kali orang mendengar bahwa Kiai Pentog berada di Ngadireja, maka tidak ada perempuan muda yang berani keluar dari romannya. Apalagi gadis-gadis yang sedang meningkat dewasa. Kiai Pentog adalah hantu yang sangat menakutkan bagi perempuan. Lebih buruk lagi, bahwa beberapa orang pengikutnya telah berbuat menirukan pemimpinnya yang mereka bangga-banggakan itu.

Sudah lama penghuni kademangan Ngadireja, ingin hadirnya seorang yang dapat melepaskan mereka dari cengkeraman Kiai Pentog yang menakutkan itu. Tetapi tidak ada orang yang dapat melakukannya. Ketika ada juga yang mencobanya, maka yang terjadi benar-benar mengerikan. Dua orang kakak beradik yang merasa dirinya mumpuni, yang mencoba untuk melawan Kiai Pentog, telah dibantai dihadapan banyak orang tanpa ampun. Kedua orang kakak beradik itu tidak lagi berbentuk ketika keduanya ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan utama kademangan Ngadireja.

“Orang itu benar-benar anak gendruwo” desis seorang laki-laki ubanan.

“Sst. Jangan berkata begitu. Orang itu punya telinga di mana-mana. Mungkin di lincak ini pun ada telinganya” sahut laki-laki kurus yang duduk di sebelahnya sambil mengunyah makanannya.

“Jika dalam setahun ini tidak ada orang yang dapat membebaskan kita dari cengkeramannya, maka Ngadireja akan menjadi hutan kembali”

“Kenapa?“

“Semua penghuninya akan pergi mengungsi. Menyebar sampai kemana-mana”

Ki Sangga Geni yang baru makan di kedai itu mendengar pembicaraan kedua orang itu, meskipun mereka agak berbisik. Dengan ilmunya Aji Sapta Pangrungu, Ki Sangga Geni mampu mendengar dengan jelas, apa yang mereka bicarakan.

Karena itu, maka Ki Sangga Geni pun segera beringsut, duduk di dekat kedua orang yang sedang membicarakan orang yang dianggapnya anak genderuwo yang tinggal di lambung Gunung Prau itu.

Tetapi tidak mudah bagi Ki Sangga Geni untuk memancing keterangan dari kedua orang itu. Bahkan mula-mula kedua orang itu menganggap bahwa Ki Sangga Geni adalah salah seorang pengikut Kiai Pantog.

“Apa kataku” desis yang seorang, “dimana-mana terdapat telinga orang itu”

“Aku tidak menyebut namanya”

Namun Ki Sangga Geni pun berkata, “Jangan takut, Ki Sanak. Aku bukan salah seorang kaki tangan orang yang kalian bicarakan itu. Jika Ki Sanak berdua menginginkan ada orang yang bersedia membantu orang-orang Ngadireja membebaskan diri dari tangan orang yang kau sebut sangat menakutkan itu, maka aku akan bersedia membantu”

Kedua orang itu memandang Ki Sangga Geni dengan wajah yang tegang. Bahkan mereka pun kemudian memandang ke sekeliling mereka dengan kesan ketakutan.

“Ki Sanak” berkata Ki Sangga Geni kemudian, “katakan siapakah orang itu dan dimana tempat tinggalnya”

Kedua orang itu masih saja tetap ragu-ragu. Mereka tidak berani menyebut nama Ki Pantog yang sangat menakutkan itu.

“Sudahlah Ki Sanak” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “Jangan mencari perkara. Orang itu tidak terlawan”

“Aku akan mencobanya” jawab Ki Sangga Geni, “Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan, aku pun sudah tua, sehingga jika aku harus binasa oleh tangannya, aku tidak akan menyesal. Tetapi jika akulah yang membinasakan orang itu, maka akibatnya akan berarti bagi orang-orang Ngadireja”

Kedua orang itu masih saja ragu-ragu. Dengan nada dalam ia pun berkata, “Ki Sanak. Aku bukan seorang pemberani. Aku tidak berani mengatakan apa-apa tentang orang itu”

Ki Sangga Geni menarik nafas panjang. Katanya, “Baiklah. Jika Ki Sanak tidak berani mengatakan apa-apa tentang orang itu, biarlah aku memancingnya. Aku akan meneriakkan tantangan di sepanjang jalan di kademangan Ngadireja. Orang itu tentu akan mendengarnya dan akan datang kepadaku”

“Jangan Ki Sanak. Jangan korbankan dirimu. Kau hanya seorang diri. Kecuali jika kau seorang prajurit Mataram bersama dengan sepasukan anak buahmu”

“Aku bukan prajurit. Tetapi aku tidak takut menghadapi siapapun. Sudah aku katakan, bahwa aku sudah tua. Segala sesuatunya yang akan terjadi, biarlah terjadi”

Kedua orang itu pun terdiam. Mereka sudah mencoba memperingatkan. Tetapi jika orang itu tidak menghiraukannya, maka itu terserah saja kepadanya.

“Ki Sanak. Namaku Sangga Geni dari Gunung Sumbing. Katakan pada setiap orang, bahwa aku menantang orang yang sangat ditakuti di Ngadireja ini siapa pun orang itu”

Kedua orang itu menarik nafas panjang. Sementara orang-orang yang lain yang berada di kedai itu pun terkejut mendengar tiba-tiba saja seseorang yang mengaku bernama Sangga Geni itu telah sesumbar serta menantang orang yang paling ditakuti di Ngadireja ini.

Tetapi Sangga Geni pun kemudian berdiri dan berjalan mendekati pemilik kedai itu. Ia pun kemudian membayar harga makan dan minumannya. Ketika ia melangkah keluar pintu, maka di pintu kedai itu ia pun berkata lantang, “Sampaikan kepada orang yang paling ditakuti itu, bahwa aku tidak takut kepadanya. Aku berniat membantu orang-orang Ngadireja membebaskan diri dari pengaruhnya yang buruk itu”

Suasana di kedai itu justru telah mencengkam. Apalagi ketika Ki Sangga Geni itu berteriak di depan kedai itu kepada orang-orang lewat, “Siapakah yang mengenal orang yang paling ditakuti di Ngadireja? Katakan kepadanya, bahwa aku menantangnya”

Orang-orang yang mendengar suara Ki Sangga Geni itu menjadi sangat berdebar-debar. Bahkan Ki Sangga Geni itu pun kemudian turun ke jalan sambil berteriak, “Aku adalah Sangga Geni dari Gunung Sumbing. Aku datang ke Ngadireja untuk membebaskan orang-orang Ngadireja dari kekuasaan orang yang tidak berperi kemanusiaan”

Namun Ki Sangga Geni sendiri terkejut mendengar suaranya. Bahkan timbul pertanyaan didalam dirinya, “Apakah artinya berperi kemanusiaan?”

Tetapi ia pun segera menjawabnya sendiri, “Persetan dengan perikemanusiaan. Pokoknya aku bertempur dengan orang itu untuk menguji kemampuan ilmuku”

Ternyata sikap Ki Sangga Geni itu. telah menarik perhatian dua orang yang berwajah garang dengan golok yang besar terselip di lambungnya.

Ketika sekali lagi orang itu mendengar tantangan orang yang mengaku bernama Ki Sangga Geni itu, maka keduanya pun segera mendekatinya. Dengan garangnya seorang diantara mereka berkata, “Apa kepentinganmu sebenarnya dengan tantanganmu itu”

Ki Sangga Geni pun memandang kedua orang itu berganti-ganti. Dengan nada berat ia pun bertanya, “Siapakah kalian berdua, he?”

“Kami berdua adalah murid Kiai Pentog. Orang yang mungkin kau cari, karena Kiai Pentog adalah orang yang paling ditakuti di Ngadireja dan sekitarnya. Tidak seorang pun yang berani menyebut namanya, karena setiap lidah akan segera terbakar jika berani mengucapkan namanya”

“Siapa namanya?””bertanya Sangga Geni.

“Kiai Pentog”

“Kiai Pentog, Kiai Pentog. Aku akan menyebut namanya sepuluh kali. Tetapi lidahku tidak terbakar”

“Anak iblis kau. Kau berani menghina Kiai Pentog”

“Aku memang anak Iblis Yang mulia. Dengar, panggil Kiai Pentog yang sudah membuat rakyat Ngadireja sengsara. Aku ingin mengakhiri perbuatannya itu”

“Kau gila. Bukankah kau belum tahu siapa Ki Pentog itu”

“Aku tantang orang itu berperang tanding jika ia memang jantan serta memiliki keberanian sebesar namanya”

“Kau tidak usah mencari guruku. Sudah berada puluh orang yang dibunuhnya”

“Apakah gurumu menjadi ketakutan mendengar namaku, Ki Sangga Geni dari Gunung Sumbing”

“Kau memang sombong sekali. Biarlah kami berdua sajalah yang mengurusmu. Tidak perlu Kiai Pentog mendengar namamu. Kalian akan mati dengan cara yang lebih baik di tangan kami dari pada kalian mati di tangan Kiai Pentog. Di tangan Kiai Pentog kau akan dibantai menjadi sayatan-sayatan tubuh sebelum kau benar-benar mati”

“Pergilah” geram Ki Sangga Geni, “panggil gurumu. Kalian jangan ikut campur. Aku akan menghentikan tingkah gurumu yang selalu menakut-nakuti orang Ngadireja”

Kedua orang murid Kiai Pentog itu memang heran. Ada juga orang yang berani menantang guru mereka.

Bahkan orang-orang yang mengamati Ki Sangga Geni dari jarak yang agak jauh itu pun merasa heran pula. Meskipun demikian, mereka berpengharapan. Orang yang sudah berani menantang Kiai Pentog itu tentu bukan sembarang orang.

“Mudah-mudahan orang itu benar-benar mampu membebaskan Ngadireja dari cengkeraman manusia berhati binatang itu“ berharap orang-orang Ngadireja meskipun dengan ragu-ragu. Bahkan banyak diantara mereka yang mencemaskan keselamatan orang yang mengaku bernama Sangga Geni itu.

Dalam pada itu, kedua orang yang mengaku murid Kiai Pentog itu pun segera bergeser mendekat. Seorang diantara mereka berkala, “Panggil kawan-kawanmu sekarang, sebelum kau mati”

“Aku datang sendiri ke Ngadireja. Aku akan menantang Kiai Pentog untuk berperang tanding. Karena itu, aku tidak memerlukan seorang kawan pun. Kecuali jika Kiai Pentog yang namanya mampu menakut-nakuti orang Ngadireja itu tidak berani turun melawan aku di arena perang tanding”

“Persetan kau Sangga Geni. Kau harus mohon ampun atas kelancangan mulutmu menyebut nama guru. Apalagi kau sudah menantangnya. Karena itu, berlututlah dihadapan kami agar atas nama guru, kami mengampunimu”

Ki Sangga Geni itu tertawa berkepanjangan. Katanya disela-sela derai tertawanya, “Sudahlah. Pergilah. Sampaikan tantanganku kepada gurumu. Aku akan menunggu disini. Jika gurumu tidak berani datang, maka aku akan mencari ke persembunyiannya. Mungkin ia telah bersembunyi di dapur dengan mengenakan pakaian seorang perempuan untuk menyelamatkan dirinya dari tanganku”

Kedua orang murid Kiai Pentog itu telah kehabisan kesabaran. Keduanya pun segera melangkah semakin dekat. Seorang diantara mereka berkata, “Bersiaplah. Aku akan mengoyak mulutmu”

“Jadi kalian akan melawan aku? Dengar. Aku adalah Sangga Geni dari Gunung Sumbing. Tidak ada orang yang dapat mengalahkan aku yang telah berguru tuntas kepada Iblis Yang Mulia. Apalagi kecoa-kecoa kecil seperti kalian”

Telinga kedua orang itu bagaikan disentuh api. Seorang diantara mereka tidak lagi dapat menahan dirinya. Ia pun segera meloncat sambil menjulurkan tangannya ke arah mulut K i Sangga Geni.

Namun dengan gerakan yang sederhana Ki Sangga Geni telah mengelak, sehingga tangan orang yang menyerangnya itu tidak menyentuh bibirnya.

Namun seorang yang lain segera meloncat dengan kaki terjulur mengarah ke dada. Tetapi Ki Sangga Geni pun sempat . mengelak pula. Bahkan sambil merendah, Ki Sangga Geni menyapu kaki lawannya yang lain tempat ia bertumpu.

Orang itu pun terhempas jatuh. Sambil mengumpat orang itu pun segera meloncat bangkit. Tetapi demikian ia berdiri, kaki Sangga Geni lah yang telah menghantam tepat di arah jantung didalam dadanya.

Sekali lagi orang itu terpelanting dan jatuh terkapar di tanah. Sementara kawannya meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar mengarah ke kening Ki Sangga Geni.

Tetapi Ki Sangga Geni merendahkan kepalanya, sehingga kaki itu terayun diatas kepalanya tanpa menyentuhnya sama sekali. Sementara itu, justru kaki Ki Sangga Geni yang terjulur lurus menghantam lambung.

Murid Kiai Pentog itulah yang justru terlempar pula dan terbanting menimpa tanggul parit. Dan bahkan kemudian berguling kedalam parit yang mengalir. Airnya yang jernih pun memercik menghambur keatas tanggul.

Orang itu segera meloncat bangkit. Tetapi pakaiannya telah menjadi basah kuyup.

Kedua orang murid Kiai Pentog itu pun mengumpat-umpat kasar. Tetapi sebenarnyalah bahwa mereka memang tidak berdaya. Ketika keduanya berloncatan menyerang, maka keduanya pun telah terlempar lagi, terpelanting dan saling berbenturan.

Namun keduanya tidak mau segera mengakui kekalahan mereka. Mereka adalah murid-murid Kiai Pentog sehingga mereka tidak akan begitu mudahnya menyerah hanya setelah berkelahi sekejap.

Karena itu, maka keduanya pun segera menarik golok mereka.

“Jangan lakukan itu” berkata Ki Sangga Geni.

“Kau menjadi ketakutan melihat golokku?”

“Aku memang takut bahwa aku akan membunuh kalian

berdua. Jika perasaanku tidak terkendali, aku dapat berbuat apa saja, termasuk memenggal kepalamu. Karena itu, jangan mencoba bertempur dengan golokmu itu”

Namun keduanya tidak menghiraukannya. Keduanya pun segera berloncatan sambil memutar golok mereka.

Tetapi yang terjadi benar-benar membingungkan. Bukan saja orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu. Tetapi kedua orang murid Ki Pentog itu sendiri tidak tahu, bagaimana dapat terjadi, maka keduanya telah terluka oleh golok-golok mereka sendiri. Agaknya demikian mereka berdua menyerang, maka justru golok mereka masing-masing telah saling menyentuh saudara seperguruan mereka.

Keduanya pun telah terluka. Darah mengalir dari luka mereka yang dalam. Seorang terluka di bahunya sedangkan yang seorang di lambungnya.

Kedua orang itu pun segera menyadari, bahwa orang yang menyebut dirinya bernama Sangga Geni itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga mereka berdua tidak akan mampu mengimbanginya.

Dalam pada itu, Ki Sangga Geni pun tidak memburu mereka. Bahkan Ki Sangga Geni itu pun kemudian berdiri sambil bertolak pinggang. Katanya, “Nah. Pergilah. Jika kalian tidak mau pergi, maka aku akan membunuh kalian disini””

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Sangga Geni berkata selanjutnya, “Pergilah menemui gurumu. Katakan kepada Kiai Pentog, bahwa aku menantang untuk tanding. Aku akan berada disini esok pagi, pada wayah bedug. Aku akan bertarung melawan Kiai Pentog pada saat matahari mencapai puncak. Sekarang sekali lagi aku peringatkan, pergilah sebelum aku berubah pendirian. Sebelum aku berniat membunuh salah seorang diantara kalian”

Kedua orang yang sudah terluka itu tidak menjawab lagi. Keduanya pun kemudian meninggalkan tempat itu untuk menemui gurunya Kiai Pentog di sarangnya. Esok, wayah bedug, Kiai Pentog ditantang berperang tanding oleh Ki Sangga Geni di tempat itu.

Orang-orang Ngadireja pun menjadi gempar. Berita tentang perang tanding itu segera tersebar. Berbagai tanggapan diberikan oleh orang-orang Ngadireja, sehingga di hari itu, setiap orang yang berbicara dengan orang lain, tentu menyangkut perang tanding yang akan berlangsung esok wayah bedug.

Orang-orang tua, orang-orang yang masih terhitung muda, anak-anak muda dan remaja, bahwa perempuan pun berbicara tentang perang tanding yang akan berlangsung itu.

”Orang yang menantang perang tanding itu masih belum mengenal, siapakah lawannya berkata seorang laki-laki yang kumisnya sudah ubanan.

Seorang tetangganya pun menyahut sambil menarik nafas panjang, “Aku kasihan kepada orang itu. Agaknya orang itu adalah orang yang sombong, yang merasa dirinya memiliki ilmu yang tidak terkalahkan. Tetapi disini, ia akan bertemu dengan Kiai Pentog”

Seorang tetangganya yang lain pun berkata, “Seingatku, sudah lebih dari lima orang yang sengaja mencari Kiai Pentog. Tetapi mereka semuanya telah dibinasakan dengan cara yang sangat mengerikan”

Orang yang pertama pun menyahut, “Jangan sebut namanya. Lidahmu dapat terbakar. Orang itu memiliki kekuatan diluar kekuatan manusia sewajarnya, karena ia anak gendruwo dari Gunung Prau”

”Aku menyebut namanya tanpa berniat merendahkannya. Aku justru menganggapnya orang terkuat yang sulit untuk dikalahkan oleh siapa pun juga”

”Orang yang menyebut dirinya Sangga Geni itu adalah orang keenam. Ia akan mati dengan cara yang sangat menyakitkan sebagaimana kelima orang yang terdahulu”

Tetapi seorang yang duduk tidak terlalu jauh dari mereka pun menyahut, “Apakah kita tidak berharap, bahwa pada suatu ketika ada orang yang mampu membebaskan kita?“

“Tentu. Tetapi kita tidak dapat meranjak dari kenyataan, bahwa orang itu tidak terkalahkan. Orang-orang yang mempunyai keberanian untuk mencoba melawannya, akhirnya terpuruk kedalam nasib yang sangat buruk.

Orang-orang itu menarik nafas panjang. Kenyataan itulah yang memang telah terjadi. Jika kemudian tampil seorang lagi, maka akhirnya hanyalah membuat Kiai Pentog menjadi semakin garang.

Bahkan ada juga orang yang berniat memperingatkan Ki Sangga Geni, agar ia membatalkan niatnya untuk berperang tanding.

Ketika kemudian malam turun, tidak seorang pun tahu, dimana Ki Sangga Geni itu berada. Ia seakan-akan hilang begitu saja dari Ngadireja, sementara ia telah menantang Kiai Pentog untuk berperang tanding.

Tetapi ada juga orang yang justru berharap, Ki Sangga Geni itu tidak bersungguh-sungguh. Tetapi pada saatnya ia tidak berada di tempat.

Tetapi tidak kurang pula orang yang berharap beda. Seorang diantara mereka bergumam, “Dengan mudahnya orang itu mengalahkan dua orang yang menyebut dirinya murid Kiai Pentog. Jika demikian, apakah tidak berarti bahwa orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi?“

“Yang dikalahkan dengan mudah adalah murid Kiai Pentog. Mungkin keduanya murid pemula yang belum mampu berbuat apa-apa”

“Tetapi nampaknya mereka bukan kanak-kanak lagi“

“Ya. Tetapi ia baru saja berada di perguruan Kiai Pentog”

Demikianlah, jika saja dapat didengar bersama-sama, maka diatas Ngadireja itu tentu berdengung gaung yang menggelarkan langit, pembicaraan tentang perang tanding yang akan terjadi esok wayah bedug.

Dalam pada itu, ketika matahari terbit di Ngadireja di keesokan harinya, maka orang-orang Ngadireja telah sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka berniat untuk melihat, meskipun dari kejauhan, perang tanding yang akan terjadi antara Kiai Pentog dengan penantangnya, seorang yang menyebut dirinya Ki Sangga Geni dari Gunung Sumbing.

“Jika Kiai Pentog itu anak genderuwo dari Gunung Prau, apakah Ki Sangga Geni itu juga anak genderuwo dari Gunung Sumbing?“ bertanya seseorang.

“Entahlah” jawab tetangganya.

Sebenarnyalah mendekati wayah bedug, orang-orang Ngadireja, terutama laki-laki, telah bertebaran di sekitar tempat akan dilangsungkannya perang tanding. Menjelang wayah bedug, ternyata Ki Sangga Geni telah memenuhi janjinya. Ia telah hadir di tempat yang ditentukannya sendiri.

Mumpung belum wayah bedug, seseorang telah memberanikan diri mendekati Sangga Geni itu.

“Ki Sanak” berkata orang itu, “Kami seluruh rakyat Ngadireja menaruh harapan kepada Ki Sanak. Tetapi aku ingin memperingatkan kepada Ki Sanak, bahwa orang yang akan Ki Sanak hadapi adalah bukan orang sewajarnya. Ia adalah anak genderuwo dari Gunung Prau. Ia dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain”

“Terima kasih atas kepedulian Ki Sanak. Tetapi harap Ki Sanak mengetahui. Aku adalah anak iblis dari Gunung Sumbing. Tentu saja bukan anak menurut ujud kewadagan. Tetapi aku mendapatkan ilmu dari Iblis Yang Mulia. Sedangkan ceritera anak genderuwo itu sudah sering aku dengar sejak aku kecil. Ceritera tentang anak genderuwo itu sama sekali tidak benar. Mungkin anak itu lahir tanpa diketahui siapa ayahnya, sehingga orang-orang disekitarnya menganggapnya anak genderuwo”

“Ki Sanak. Seandainya seperti yang Ki Sanak katakan. Tetapi orang itu benar-benar orang yang bengis. Aku tahu, bahwa jika orang itu mendengar apa yang aku katakan kepada Ki Sanak, maka aku pun akan menjadi korbannya. Tetapi aku harap bahwa orang itu tidak mendengar. Masih ada waktu sebelum wayah bedug hari ini”

“Sudahlah Ki Sanak. Menyingkirlah. Jika harus menjadi korban, biarlah aku yang menjadi korban. Bukan kau dan bukan rakyat Ngadireja”

Orang itu menarik nafas panjang. Sementara itu Ki Sangga Geni pun berkata, “Menyingkirlah, agar kau tidak dianggap berkhianat oleh Kiai Pentog yang bengis itu”

Orang itu pun segera meninggalkan Ki Sangga Geni. Jika waktunya tiba, sedangkan ia masih berbincang dengan orang yang mengaku bernama Sangga Geni, maka ia memang dapat dituduh berkhianat.

Sementara itu, matahari pun beringsut semakin tinggi, sehingga akhirnya matahari itu pun sampai ke puncaknya.

“Tengah hari” desis Ki Sangga Geni, “Apakah orang yang bernama Kiai Pentog itu tidak mau datang?“

Namun ketika Ki Sangga Geni itu memandang berkeliling, maka Ki Sangga Geni itu melihat seorang yang bertubuh tinggi, besar, berdada lebar, berdiri di simpang empat beberapa puluh langkah dari tempat Ki Sangga Geni berdiri. Di belakangnya berdiri dua orang muridnya. Seorang diantara mereka memegang sebuah kapak yang besar. Kapak baja putih yang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Ki Sangga Geni pun kemudian bergeser. Diluar sadarnya Ki Sangga Geni pun meraba hulu pedangnya. Pedang yang daunnya berwarna ke hitam-hitaman dengan pamor yang berkerlipan dari pangkal sampai ke ujungnya.

Orang yang berdiri di simpang empat itu pun kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati Ki Sangga Geni. Semakin lama wajahnya menjadi semakin jelas. Seperti yang dikatakan orang, maka wajah orang itu nampak menakutkan.

Tetapi karena ketajaman penglihatan Ki Sangga Geni, maka ia pun berdesis, “Wajah itu penuh dengan cacat sehingga nampak menakutkan. Agaknya karena itulah maka orang itu disebut anak genderuwo. Sementara itu, Kiai Pentog itu sendiri mempunyai kepentingan dengan sebutan anak genderuwo itu, karena dengan demikian maka ia akan menjadi semakin ditakuti orang”

Ki Sangga Geni itu pun kemudian berdiri tegak, menunggu Kiai Pentog menjadi semakin dekat

Beberapa langkah di hadapan Ki Sangga Geni, Kiai Pentog itu pun berhenti. Dipandanginya Ki Sangga Geni dengan tajamnya, sehingga seakan-akan matanya yang cekung itu telah menyala.

“Kaukah yang menantang aku?“ bertanya Kiai Pentog kepada Ki Sangga Geni dengan suara yang parau. Namun suara yang parau itu ternyata telah menggetarkan udara disekitarnya. bahkan getaran itu bagaikan mengetuk-ketuk jantung didalam dada.

Orang-orang yang berada disekitar tempat itu pada jarak yang agak jauh, merasakan getar itu, sehingga dada mereka telah berguncang-guncang.

Ki Sangga Geni justru tertawa. Katanya, “Selamat siang Kiai Pentog. Aku memang ingin berkenalan dengan orang yang dengan kukunya mampu mencengkam kademangan Ngadireja dan sekitarnya, sehingga sangat ditakuti oleh sesama. Semua kemauannya harus terjadi dan bahkan kemauannya yang tidak wajar sekalipun”

“Ya. Semua yang aku kehendaki harus terjadi“ suaranya menjadi semakin parau, “sekarang kau datang untuk melintangkan diri di hadapan langkahku di Ngadireja dan sekitarnya ini”

“Benar” sahut Ki Sangga Geni, “Aku sudah muak mendengar ceritera tentang seorang yang dengan mutlak menguasai satu lingkungan tertentu, bukan dalam arti memberikan perlindungan tetapi justru sebaliknya”

“Sangga Geni. Apakah kau sadari apa yang kau lakukan sekarang ini?“

“Ya. Aku menyadari sepenuhnya. Aku berhadapan dengan seorang yang bernama Kiai Pentog, yang mengaku anak genderuwo dari Gunung Prau agar namanya semakin ditakuti. Orang yang telah memanfaatkan cacat di wajahnya untuk menambah wibawanya”

“Cukup” bentak Kiai Pentog, “agaknya kau memang belum mengenal aku dengan baik. Kau seharusnya tahu, bahwa beberapa orang yang datang sebelum kau datang, telah mengalami nasib buruk. Lebih dari lima orang telah aku bantai di Ngadireja dan sekitarnya. Tetapi aku tidak pernah merasa puas, karena mereka adalah orang-orang yang sekedar ingin menyombongkan diri. Aku benci kepada orang-orang seperti itu, sehingga aku hancurkan mereka menjadi debu. Sekarang aku berhadapan dengan orang yang juga menantang aku. Mudah-mudahan kau dapat sedikit memberikan imbangan jika kita benar-benar akan bermain. Tetapi jika tidak, maka kau akan mengalami nasib yang sama seperti orang-orang yang pernah datang kepadaku. Aku akan mengulitimu dan melemparkan tubuhmu kepada anjing-anjing liar”

“Aku sudah mendengar ceritera tentang kebengisanmu. Tentang keganasan sikapmu yang tidak berperikemanusiaan. Aku telah mendengar, bahwa sifatmu tidak kurang dari sifat binatang buas dan liar itu. Sekarang aku datang untuk menghentikannya. Aku datang untuk membunuhmu”

Kiai Pentog itu pun tertawa meledak. Di sela-sela derai tertawanya ia pun berkata, “Kau boleh bermimpi sekarang meskipun wayah bedug ndrandang seperti ini, sebelum kau sendiri terkapar di bawah teriknya matahari”

“Bagus. Kita akan melihat, siapakah yang bermimpi sekarang ini*”

Kiai Pentog itu pun melangkah maju lagi. Demikian pula Ki Sangga Geni.

“Jangan sesali kematianmu, Sangga Geni. Kau hanya sekedar akan ngundhuh wohing pakarti

Sangga Geni itu tidak menjawab lagi. Tetapi Sangga Geni itu sempat terkejut ketika ia mendengar Kiai Pentog itu

Sekali lagi orang itu terpelanting dan jatuh terkapar di tanah. Sementara kawannya meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar mengarah ke kening Ki Sangga Geni.

tiba-tiba tanpa ancang-ancang telah berteriak keras sekali.

Suaranya bergema melingkar-lingkar, mengumandang bagaikan mengguncang alam di sekitarnya.

Orang-orang Ngadireja yang berniat melihat perang tanding itu dari kejauhan telah memegangi dadanya dengan telapak tangan. Isi dadanya terasa telah terguncang oleh teriakan

Kiai Pentog yang seakan-akan telah mengguncang alam di sekitarnya itu.

Tetapi teriakan itu hanya sekedar mengejutkan saja bagi Ki Sangga Geni yang tidak mengira bahwa Kiai Pentog itu akan berteriak. Tetapi getar teriakan serta kumandangnya sama sekali tidak menggoyahkan jantungnya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah berhadapan. Bahwa teriakannya tidak menggetarkan jantung Ki Sangga Geni, merupakan peringatan bagi Kiai Pentog, bahwa lawannya kali ini memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

Tetapi Kiai Pentog tidak pernah membayangkan bahwa ada orang yang mampu mengimbangi kemampuannya. Bagi Kiai Pentog, maka ilmunya adalah ilmu yang tertinggi yang pernah di gapai oleh seseorang. Karena itu, maka semua orang yang mencoba melawannya akan dapat dikalahkannya, siapa pun orang itu. Bahkan pada suatu saat Kiai Pentog berniat untuk berhadapan dengan para pemimpin di Mataram.

Karena itu, siapa pun yang berada di hadapannya, beberapa saat lagi tentu akan terkapar mati di hadapannya.

Ki Sangga Geni yang terkejut itu segera dapat menguasai dirinya. Bahkan ia pun kemudian justru melangkah semakin dekat. Tiba-tiba saja kaki Ki Sangga Geni itu pun telah terjulur kearah lambung.

Kiai Pentog bergeser setapak. Tetapi menjadi tabiatnya, bahwa Kiai Pentog itu tidak senang jika ia didahului.

Karena itu, tanpa ancang-ancang maka Kiai Pentog itu pun segera meloncat menyerang seperti banjir bandang.

Sekali lagi Ki Sangga Geni terkejut. Sikap Kiai Pentog itu memang tidak banyak dilakukan orang. Namun Ki Sangga Geni yang menyimpan pengalaman sebangsal itu, dengan cepat mengelak dan bahkan kemudian menyesuaikan diri dengan serangan-serangan lawannya yang datang beruntun itu.

Bahkan Kiai Pentog lah yang kemudian terkejut, bahwa Ki Sangga Geni yang berloncatan surut itu, tiba-tiba saja telah melenting dengan cepat sambil mengayunkan tangannya mendatar.

Hampir saja tangan Ki Sangga Geni itu mengenai keningnya. Tetapi Kiai Pentog masih berhasil menarik dan memiringkan kepalanya, sehingga serangan Ki Sangga Geni tidak mengenainya. Meskipun demikian, Kiai Pentog yang kemudian meloncat mengambil jarak itu harus mengerutkan dahinya. Ia merasakan sambaran angin serangan Ki Sangga Geni yang tidak mengenainya itu bagaikan menyengat kulitnya.

“Gila orang ini” berkata Kiai Pentog didalam hatinya, “ternyata orang ini memiliki bekal yang cukup untuk datang menemuiku”

Karena itu, maka Kiai Pentog pun berkata, “Mudah-mudahan kau dapat memberikan sedikit kepuasan kepadaku. Selama ini aku tidak pernah mendapatkan lawan yang jangankan seimbang, sekedar memberikan perlawanan pun tidak mampu. Nampaknya kau agak berbeda Sangga Geni”

“Ya, Aku pun merasa bahwa di Ngadireja aku akan mendapat lawan yang mampu memberikan sedikit perlawanan. Sudah lama aku tidak menemukan orang seperti kau ini”

“Persetan Sangga Geni” geram Kiai Pentog, “kau jangan merasa dirimu mampu mengimbangi ilmuku. Kita baru mulai. Kita belum menyentuh tataran ilmu yang sesungguhnya. Terutama aku. Aku sedang melakukan sedikit pemanasan”

“Apakah kau kira aku sudah mulai? Bahkan rasa-rasanya aku mulai mengantuk”

Kiai Pentog pun menggeram. Namun kemudian ia mulai bergeser. Langkah-langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan tiba-tiba saja Kiai Pentog pun telah melenting sambil menjulurkan kakinya.

Dengan demikian, maka pertarungan yang sebenar-nya pun telah berlangsung. Keduanya segera meningkatkan ilmu mereka semakin lama semakin tinggi.

Namun Kiai Pentog harus mengakui, bahwa lawannya kali ini adalah seorang yang memiliki bekal yang memadai. Jika lawan-lawannya sebelumnya pada tataran yang sama telah terkapar dan tidak mampu memberikan perlawanan lagi, sehingga Kiai Pentog itu, dapat memperlakukan mereka sesuka hatinya, namun pada saat itu, lawannya masih saja mampu memberikan perlawanan yang dapat mengimbangi ilmunya.

Kedua orang yang datang bersama Kiai Pentog itu pun menjadi semakin tegang. Mereka tidak pernah melihat seseorang yang mampu memberikan perlawanan yang demikian gigihnya menghadapi Kiai Pentog. Apalagi ketika mereka melihat kaki Sangga Geni itu sempat menghantam lambung Kiai Pentog, sehingga Kiai Pentog itu tergetar surut selangkah.

“Gila orang ini” geram Kiai Pentog, “kau benar-benar tidak tahu diri. Kau telah melakukan kesalahan yang sangat besar, sehingga kau akan menyesalinya di saat-saat terakhir hidupmu. Kau akan menderita menjelang kematianmu. Aku akan mengikatmu dibawah grojogan”

Namun demikian mulut Kiai Pentog itu terkatub, Ki Sangga Geni itu meloncat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tubuhnya berputar dan kakinya terayun mendatar.

Tidak seorang pun pernah menduga, bahwa Kiai Pentog akan mendapat serangan yang demikian cepat dan kerasnya, sehingga Kiai Pentog itu tidak sempat mengelak atau menangkisnya.

Serangan kaki Ki Sangga Geni itu benar-benar mengenai kening Kiai Pentog, sehingga Kiai Pentog itu terpelanting dan jatuh ke samping.

Ki Sangga Geni tidak memburunya. Ia berdiri saja memandang saat Kiai Pentog itu meloncat bangkit sambil mengumpat-umpat kasar.

Sambil mengusap keningnya yang terasa nyeri Kiai Pentog itu pun menggeram, “Kau telah menyurukkan kepalamu di kandang serigala. Sebut nama orang tuamu sebelum aku akhiri hidupmu”

Ki Sangga Geni yang berdiri tegak itu pun menyahut, “Kau terlalu banyak bicara. Tetapi kau tidak mampu berbuat apa-apa”

Jantung Kiai Pentog itu pun serasa telah membara oleh kemarahan yang membakar seisi dadanya. Kiai Pentog itu pun kemudian berteriak keras sekali, sehingga rasa-rasanya seluruh kademangan Ngadireja itu terguncang.

Orang-orang yang memperhatikan pertarungan itu dari tempat yang jauh merasakan getar suara Kiai Pentog itu bagaikan menusuk dada, sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah menahan gejolak dada mereka dengan telapak tangan.

Demikianlah sesaat lagi, maka pertempuran pun telah berkobar lagi. Semakin lama semakin sengit. Kedua belah pihak telah berhasil menembus pertahanan lawan, sehingga serangan-serangan mereka mampu mengenai sasaran.

Ki Sangga Geni pun telah tergetar beberapa langkah surut ketika telapak tangan Kiai Pentog itu berhasil mengenai dadanya. Bahkan terasa dada Ki Sangga Geni itu menjadi sesak. Telapak tangan Kiai Pentog itu bagaikan tapak besi yang menghantam iga-iganya sehingga seakan-akan iga-iganya menjadi retak.

Tetapi dengan mengambil jarak, Ki Sangga Geni sempat menarik nafas panjang. Ditingkatnya daya lahan tubuhnya, sehingga rasa-rasanya nyeri didadanya itu pun dengan cepat berangsur hilang.

Kiai Pentog yang berusaha memburunya, segera melenting tinggi. Tubuhnya meluncur dengan kaki terjulur seperti sebatang lembing yang dilontarkan dengan kekuatan raksasa.

Tetapi Ki Sangga Geni dengan sengaja tidak menghindarinya. Ki Sangga Geni ingin menunjukkan kepada lawannya, bahwa ia pun memiliki kekuatan yang besar.

Karena itu, maka Ki Sangga Geni sengaja membentur serangan Kiai Pentog itu dengan menyilangkan tangannya di dadanya.

Yang terjadi adalah benturan kekuatan yang sangat besar. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Ki Sangga Geni menahan serangan yang sangat kuat itu. Namun Ki Sangga Geni pun telah tergetar selangkah surut. Terasa tangan dan bahkan dadanya menjadi sakit. Sekali lagi tulang-tulang iganya serasa menjadi retak. Namun dengan mengerahkan daya tahannya, maka nyeri itu pun perlahan-lahan dapat teratasi.

Sementara itu, Kiai Pentog pun telah terdorong surut beberapa langkah. Namun Kiai Pentog masih mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga Kiai Pentog itu tidak jatuh terlentang di tanah.

Meskipun demikian, maka kemarahan Kiai Pentog pun telah membakar ubun-ubunnya. Ternyata kali ini ia benar-benar menghadapi lawan yang sangat berat. Sebelumnya lawan-lawan Kiai Pentog tidak mampu bertahan sepenginang. Tetapi kali ini, Ki Sangga Geni itu bahkan mampu menggoyahkan pertahanannya.

Kiai Pentog yang marah itu mengumpat kasar. Ia pun kemudian memberi isyarat kepada orang yang menyertainya serta membawa kapaknya, yang agaknya adalah senjata andalannya.

“Sangga Geni” geram Kiai Pentog, “Aku akan merasa puas mendapat lawan yang cukup baik kali ini. Tetapi aku sudah jemu bermain terlalu lama. Sekarang aku akan sampai pada balas terakhir kesabaran ku. Aku akan membelah kepalamu dengan kapakku ini”

Ki Sangga Geni berdiri tegak dengan wajah yang tegang. Pandangan matanya bagaikan menyala memperhatikan kapak orang yang menyebut dirinya Kiai Pentog itu.

“Sangga Geni. Kau memperhatikan kapakku ini? Sebentar lagi aku akan membelah kepalamu menjadi sigar mrapat

Ki Sangga Geni termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun berkata, “Belum lagi kulitmu terluka, kau sudah menyiapkan senjata mu. Baiklah jika kau banggakan kapakmu itu, maka aku pun akan membanggakan pedangku. Tetapi bermain-main dengan senjata biasanya akan memperpendek umur salah seorang diantara kita. Tetapi agaknya kali ini, kaulah yang akan terkapar mati”

“Kau ternyata adalah orang yang paling sombong yang pernah aku temui. Tetapi karena itulah, maka kau adalah orang yang akan mengalami nasib paling buruk diantara mereka yang pernah dalang kepadaku”

Sangga Geni tidak menjawab. Tetapi ditangannya telah tergenggam pedangnya yang kehitam-hitaman dengan pamornya yang berkeredipan memantulkan cahaya matahari dari pangkal sampai ke ujungnya.

“Kau adalah orang yang paling malang, Kiai Pentog. Kau yang ditakuti oleh orang-orang Ngadireja dan sekelilingnya, akhirnya harus mati dihadapan mereka.

“Pedangku yang sudah aku tarik dari warangkanya ini, akan menjadi haus. Hanya darahmulah yang akan dapat mengobatinya”

“Gila kau Sangga Geni. Kau kira kau ini siapa? Kau benar-benar tidak mengenalku serta kapakku ini”

“Jadi kau ini siapa? Bukankah kau mengaku anak gendruwo dari Gung Prau? Tetapi pengakuanmu itu tidak dapat menakuti aku, karena dongeng itu adalah dongeng ngayawara, sekedar untuk membuat orang semakin takut kepadamu. Sementara itu, kau juga tidak mengenalku”

“Tetapi pada akhirnya, kau akan mengakui bahwa kau tidak akan berdaya menghadapi aku. Akulah yang akan membebaskan orang-orang Ngadireja dari cengkeraman tanganmu”.

Kiai Pentog tidak menjawab. Tetapi Kiai Pentog pun segera meloncat menyerang dengan kapaknya.

Tetapi dengan tangkasnya Sangga Geni menangkis ayunan kapak itu dengan pedangnya. Ketika kedua senjata itu beradu, maka bunga api pun telah memercik ke segala arah.

Demikianlah, maka keduanya telah melanjutkan pertarungan mereka. Keduanya telah menggenggam senjata masing-masing ditangan. Kiai Pentog yang bertubuh raksasa itu mengayun-ayunkan kapaknya yang besar dengan garangnya. Sementara itu, Ki Sangga Geni lelah memutar pedangnya, sehingga seakan-akan disekitar tubuhnya telah melingkar kabut tipis yang kehitam-hitaman.

Dengan demikian, maka pertarungan itu menjadi semakin menggetarkan jantung. Keduanya berloncatan dengan tangkasnya. Bahkan pertarungan itu sekali-sekali seakan-akan terjadi di udara. Seakan-akan keduanya mampu terbang dan bertarung dengan dahsyatnya.

Kedua orang yang datang bersama Kiai Pentog itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Mereka belum pernah melihat pertempuran yang demikian dahsyatnya. Setiap kali Kiai Pentog hanya memerlukan waktu tidak terlalu lama untuk menghentikan pertarungan serta menundukkan lawan-lawannya. Kemudian memperlakukannya sekehendak hatimu sehingga lawan-lawannya itu terbunuh.

Tetapi kali ini Kiai Pentog benar-benar harus mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi lawannya.

Namun betapa pun Kiai Pentog meningkatkan ilmunya, ternyata ia tidak mampu menghentikan perlawanan Ki Sangga Geni. Meskipun kapaknya berhasil melukai Ki Sangga Geni, tetapi ujung pedang Ki Sangga Geni pun telah menggores bahunya, lengannya dan bahkan dadanya.

Kemarahan Kiai Pentog telah sampai puncaknya. Tiba-tiba saja ia pun segera meloncat surut untuk mengambil jarak.

Ki Sangga Geni tidak memburunya. Ia menjadi ragu-ragu. Apa lagi ketika ia melihat Kiai Pentog itu menyerahkan kapaknya kepada pengikutnya.

Dengan demikian, Ki Sangga Geni pun sadar, bahwa Kiai Pentog akan mempergunakan ilmu pamungkasnya untuk mengakhiri pertempuran itu”

Karena itu, maka Ki Sangga Geni pun segera menyarungkan pedangnya. Ketika Kiai Pentog mengambil ancang-ancang, maka Ki Sangga Geni pun melakukannya pula.

Sejenak kemudian, tiba-tiba seakan-akan meluncur dari telapak tangan Kiai Pentog yang terbuka dan dihentakkannya menghadap kepada Ki Sangga Geni, gumpalan cahaya yang kemerah-merahan.

Namun pada saat yang hampir bersamaan, Ki Sangga Geni pun telah meluncurkan segumpal bulatan api yang merah keputihan seperti bara besi baja.

Kedua kekuatan ilmu yang sangat tinggi itu pun telah berbenturan. Gelombang getarnya seakan-akan telah saling mendorong dengan kekuatan yang sangat tinggi.

Benturan dua ilmu puncak yang sangat tinggi itu merupakan penentuan, siapakah yang terbaik dari kedua orang itu.

Ki Sangga Geni pun terdorong beberapa langkah surut. Dadanya bagaikan dihentak oleh segumpal batu padas, sehingga tulang-tulang iganya bagaikan berpatahan. Nafasnya pun menjadi sesak.

Sejenak Ki Sangga Geni itu pun terhuyung-huyung. Kemudian ia pun jatuh berlutut sambil menyangga tubuhnya dengan kedua belah tangannya. Dari sela-sela bibirnya, nampak darah yang meleleh, kemudian menitik di tanah.

Sementara itu, Kiai Pentog pun telah terdorong beberapa langkah surut. Ternyata bahwa ilmu Ki Sangga Geni masih selapis di atas ilmunya. Sehingga karena itu, maka Kiai Pentog tidak mampu mengatasinya meskipun ia sudah mengerahkan daya tahannya.

Kiai Pentog itu pun kemudian jatuh terjerembab di tanah.

Kedua orang pengikutnya pun segera berlari-lari mendekatinya. Mereka perlahan-lahan telah menelentangkan tubuh Kiai Pentog yang sudah tidak berdaya.

Bahkan sejenak kemudian, nafas Kiai Pentog itu pun menjadi semakin sendat, sehingga akhirnya, nafasnya itu pun berhenti mengalir.

Kedua orang pengikutnya menjadi sangat marah. Apalagi ketika mereka melihat Ki Sangga Geni yang berlutut dengan lemahnya.

”Kau telah membunuh guru. Kau pun harus mati pula” geram seorang diantara mereka.

Kedua Orang itu pun segera bangkit. Seorang diantaranya telah mengayun-ayunkan kapak Kiai. Pentog yang besar itu.

Namun langkah mereka terhenti. Seorang tua yang rambutnya sudah ubanan berkata lantang, “Sudah cukup. Pentog telah memetik buah dari tanamannya sendiri”

“Kiai, “ kedua orang itu pun bergumam, “Kiai berada disini?”

“Aku melihat apa yang terjadi. Kemarin ketika berita tentang perang tanding ini tersebar, telah timbul niatku untuk menyaksikannya. Karena yang terjadi adalah perang tanding, maka kalian tidak dapat ikut campur. Jika Pentog harus mati dalam perang tanding ini, maka itulah yang telah terjadi”

“Lalu, apa yang harus kami lakukan, Kiai?”

“Bawa tubuh itu pulang ke sarangnya. Nanti aku akan segera menyusul”

Kedua orang itu pun kemudian telah mengusung tubuh Kiai Pentog yang tinggi dan besar itu ke sarangnya.

Sementara itu, orang tua yang rambutnya telah memutih itu pun melangkah mendekati Ki Sangga Geni yang tertatih-tatih bangkit berdiri.

Kemenangan Ki Sangga Geni telah membuat orang-orang Ngadireja bersorak di dalam hati. Namun mereka kemudian menjadi tegang kembali ketika orang berambut putih itu melangkah mendekati Ki Sangga Geni yang nampaknya juga terluka di bagian dalam tubuhnya.

Tetapi agaknya orang berambut putih itu tidak bersikap bermusuhan dengan Ki Sangga Geni.

“Ki Sangga Geni” berkata orang itu, “Kau telah terluka. Sebaiknya kau beristirahat dahulu”

Ki Sangga Geni termangu-mangu sejenak. Ia memang terluka. Tetapi ia tidak tahu, dimana ia harus beristirahat.

“Kemenanganmu adalah kemenangan orang-orang Ngadireja. Karena itu, maka setiap orang Ngadireja akan dapat menerima-mu dengan senang hati”

Ki Sangga Geni menarik nafas panjang. Ia mencoba untuk mengurangi rasa sakitnya dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya.

“Marilah. Aku akan membawamu ke banjar”

“Kau siapa Ki Sanak?”

“Aku saudara sepupu orang yang menyebut dirinya Kiai Pentog. Pentog menyebutku kakang”

”Kau akan membalas dendam kematian Kiai Pentog?”

“Tidak. Yang kau lakukan adalah perang tanding. Aku harus menghormati kemenanganmu”

Ki Sangga Geni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itu telah membantu melangkah menuju ke banjar kademangan Ngadireja.

Dalam waktu singkat, maka para bebahu pun telah berada di banjar. Di halaman banjar pun telah berkumpul banyak orang. Sementara itu, orang berambut ubanan itu masih berada di banjar itu pula.

Tetapi orang itu berkata, “Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian”

Para bebahu masih saja nampak curiga. Sementara itu, Ki Sangga Geni duduk di pringgitan banjar kademangan. Seseorang telah memberikan minuman kepadanya.

Demikian Ki Sangga Geni meneguk minuman itu, terasa tubuhnya menjadi agar segar.

“Apa yang akan kau lakukan terhadapku, Ki Sanak?” bertanya Ki Sangga Geni kepada orang berambut ubanan itu.

“Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan berbuat apa-apa, karena yang kau lakukan adalah perang tanding. Tetapi aku pun dapat mengerti, bahwa kau telah mencurigai aku karena aku adalah kakak sepupu Kiai Pentog yang telah kau bunuh. Namun aku tidak akan menodai kejujuran dalam perang tanding yang sudah kau lakukan melawan Pentog:

“Terima kasih, Ki Sanak” berkata Ki Sangga Geni, “mudah-mudahan para murid Kiai Pentog pun dapat mengerti apa yang telah terjadi sebagaimana Ki Sanak”

“Aku akan menjelaskan kepada mereka” berkata orang berambut putih itu. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Sementara itu, jika Ki Sangga Geni tidak berkeberatan, aku akan mencoba mengobati luka-luka dalam Ki Sangga Geni. Agaknya luka-luka dalam Ki Sangga Geni memerlukan penanganan yang sungguh-sungguh”

“Terima kasih, Ki Sanak. Aku sudah membawa beberapa jenis obat sendiri. Aku akan mencoba mengobati luka-lukaku ini”

Orang berambut ubanan itu menarik nafas panjang. Namun ia pun menyadari, bahwa Ki Sangga Geni tentu tidak akan dapat dengan serta-merta mempercayainya.

Namun orang itu tidak ingin mempersoalkannya.

Sementara itu, maka orang-orang Ngadireja pun menjadi semakin banyak berdatangan. Seorang perempuan tiba-tiba saja telah berlari naik ke pringgitan. Ia pun menjatuhkan dirinya dihadapan Ki Sangga Geni sambil menangis. Katanya di sela-sela tangisnya, “Aku mengucapkan terima kasih, Ki Sangga Geni. Ki Sangga Geni telah menghukum orang yang telah menyiksa keluargaku. Anak perempuanku satu-satunya yang telah dibawa Kiai Pentog selama sepekan ke sarangnya telah pulang dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Ia telah kehilangan kesadarannya. Ia menjadi gila. Bahkan tiga hari setelah ia berada di rumah, ia telah membunuh diri”

Ki Sangga Geni menarik nafas panjang. Tangis perempuan itu ternyata telah menyentuh hatinya.

Tidak hanya perempuan itu saja yang telah menyatakan terima kasih mereka kepada Ki Sangga Geni. Kematian Kiai Pentog merupakan permulaan dari satu kehidupan baru di Ngadireja.

Meskipun Kiai Pentog mempunyai beberapa orang pengikut, tetapi orang-orang Ngadireja akan sanggup melakukan perlawanan terhadap mereka, karena mereka tidak lagi dipimpin oleh seseorang yang dipercaya anak genderuwo.

Tetapi orang berambut ubanan yang masih berada di banjar itu pun berkata, “Omong kosong. Pentog bukan anak genderuwo. Ia memang lahir cacat. Wajahnya nampak menakutkan. Itulah sebabnya laki-laki yang seharusnya menjadi ayahnya, tidak menghiraukannya lagi. Semula laki-laki itu sudah bersedia menikahi ibu Pentog yang dihamilinya. Tetapi anak itu telah lahir sebelum waktunya, justru saat-saat pernikahan dipersiapkan. Namun keadaan anak itu telah membuat laki-laki yang seharusnya menjadi ayahnya itu pergi. Sehingga dengan demikian, maka timbullah dongeng bahwa Pentog adalah anak genderuwo. Tetapi agaknya Pentog sendiri justru telah memanfaatkan dongeng tentang dirinya itu. Ia justru mengaku anak genderuwo dari Gunung Prau untuk membuat orang-orang Ngadireja semakin ketakutan”

“Ia benar-benar telah menjadi hantu di kademangan ini berkata seorang bebahu kademangan Ngadireja.

“Itulah yang dikehendakinya” jawab orang berambut ubanan itu, “latar belakang hidupnya telah membentuknya menjadi hantu yang sangat menakutkan itu. Hidupnya yang sulit. Bahkan anak itu seakan-akan telah dibuang oleh ibunya pula. Ia jatuh ke tangan seorang gegedug yang memimpin gerombolan perampok yang ganas dan kemudian membesarkannya. Sejak kecil Pentog selalu dibayangi oleh kebencian dan dendam yang ditanamkan oleh gegedug yang membimbingnya memasuki rimba kehidupan yang sangat garang. Ia tidak pernah merasakan cinta kasih ayah dan ibunya. Bahkan kakek dan neneknya menjadi ketakutan jika mereka melihat Pentog itu datang kepada mereka. Itulah sebabnya, maka Pentog telah mendendam kepada setiap orang dibumbui oleh cara hidup orang yang mengasuhnya, sehingga akhirnya Pentog menjadi seorang iblis yang sangat menakutkan”

“Ki Sanak sendiri bagaimana?” bertanya Ki Sangga Geni.

“Sejak sepekan aku berusaha menemuinya dan berbicara dengan Pentog. Tetapi gagal”

“Apakah Kiai Pentog itu masih mengenali Ki Sanak?

“Ia mengenalku dengan baik. Akulah satu-satunya keluarganya yang dikenalnya, aku datang untuk sekedar menengoknya. Tetapi Pentog justru berjalan semakin jauh. Tidak ada orang yang dapat membawanya kembali ke jalan yang benar. Jalan satu-satunya bagi Pentog adalah sebagaimana yang dijalaninya sekarang, yang telah ditunjukkan oleh Ki Sangga Geni”

Ki Sangga Geni menarik nafas panjang, sementara orang yang rambutnya ubanan itu berkata selanjutnya, “Pentog memang bersalah. Tetapi lingkungannya tentu juga ikut bersalah. Ibunya telah bersalah. Laki-laki yang seharusnya menjadi ayahnya tetapi justru meninggalkannya. Ibunya yang seakan-akan telah membuang anak itu. Kakek dan neneknya yang selalu menjauhinya. Pentog yang tidak mempunyai kawan bermain sejak kanak-kanak, karena anak-anak sebayanya menjadi ketakutan melihat wajahnya yang cacat”

Orang-orang yang mendengarkan ceritera orang berambut ubanan itu mengangguk-angguk. Namun yang penting bagi orang-orang Ngadireja adalah, bahwa mereka telah dibebaskan dari keganasan Kiai Pentog.

Satu dua orang yang sudah separo baya memang menaruh iba kepada orang yang menyebut dirinya Kiai Pentog itu. Namun apa yang dilakukan oleh Kiai Pentog sudah keterlaluan. Orang tua yang telah kehilangan anak perempuannya, suami yang isterinya direnggut dari sisinya serta perbuatan-perbuatan terkutuk lainnya, selain merampas harta benda serta apa saja yang dikehendakinya. Bukan saja di kademangan Ngadireja, tetapi daerah jelajah Kiai Pentog semakin lama menjadi semakin luas. Gegedug yang merasa daerahnya telah dirambah oleh Kiai Pentog telah datang Untuk melawannya. Tetapi mereka seakan-akan menjadi tidak berdaya. Orang-orang yang berniat menantang perang tanding melawan Kiai Pentog pun kemudian telah berakhir dengan sangat menyakitkan.

Namun tiba-tiba telah datang Ki Sangga Geni. Ternyata Ki Sangga Geni telah berhasil membunuhnya orang yang bernama Kiai Pentog, yang selama ini dianggap anak genderuwo dari Gunung Prau. Dongeng yang justru di-hembus-hembuskan oleh Kiai Pentog sendiri.

Dalam pada itu, Ki Sangga Geni telah mendapat penghormatan yang sangat tinggal di kademangan Ngadireja. Bahkan beberapa orang bebahu dari kademangan disekitar Ngadireja yang telah mendengar apa yang terjadi, di keesokan harinya telah berdatangan pula ke banjar kademangan Ngadireja untuk mengucapkan selamat kepada Ki Sangga Geni serta menyampaikan rasa terima kasihnya.

Sementara itu. Kiai Sangga Geni sendiri terpaksa tinggal di Ngadireja untuk dua tiga hari. Ia harus memulihkan tenaga serta kemampuannya. Ia harus menyembuhkan luka-luka didalam tubuhnya.

Selama Sangga Geni berada di Ngadireja, orang yang rambutnya ubanan, yang mengaku sepupu Kiai Pentog itu pun telah mengunjungi di setiap hari.

“Aku telah berhasil meredam dendam para pengikut Pentog” berkata orang itu, “Mereka bukan lagi sekelompok serigala yang buas dan liar. Kematian Pentog benar-benar telah membuat keberanian mereka menyusut, sehingga aku berharap bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi, mereka akan meninggalkan sarang mereka. Aku berharap bahwa mereka akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Pentog adalah cermin bagi mereka. Orang yang ilmunya demikian tinggi itu pun akhirnya masih ada yang melampauinya. Apalagi para pengikut Pentog yang menggantungkan dirinya kepada kemampuan Kiai Pentog”

“Sukurlah” berkata Ki Sangga Geni, “semoga mereka kembali ke jalan yang benar”

Namun Ki Sangga Geni sendiri menjadi berdebar-debar mendengar kata-katanya itu. Bahkan Ki Sangga Geni menjadi ragu, apakah mulutnya yang telah mengatakannya?

Setelah berada di banjar kademangan Ngadireja selama tiga hari, maka keadaan Ki Sangga Geni telah benar-benar pulih kembali. Luka dalamnya pun telah sembuh sama sekali. Ia tidak lagi merasa nyeri, di dadanya, serta pernafasannya pun telah menjadi lancar kembali.

Para bebahu di kademangan Ngadireja mencoba untuk menahannya barang dua tiga hari lagi. Tetapi Ki Sangga Geni pun berkata, “Aku masih mempunyai banyak beban di bahuku yang harus aku usung. Karena itu, maka aku terpaksa minta diri untuk melanjutkan perjalanan”

Pada saat Ki Sangga Geni meninggalkan kademangan Ngadireja, maka seakan-akan seluruh penghuni kademangan Ngadireja telah keluar dari rumahnya untuk mengucapkan selamat jalan serta hampir setiap mulut telah mengucapkan terima kasih kepadanya. Bahkan beberapa orang bebahu dari kademangan di sekitarnya pun telah datang pula untuk melepaskan kepergian Ki Sangga Geni. Agaknya Ki Sangga Geni telah mereka anggap sebagai pahlawan terbesar yang pernah hadir di kademangan Ngadireja dan sekitarnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Sangga Geni pun telah terlepas dari kademangan Ngadireja. ketika ia berpaling, ia masih melihat beberapa orang berkumpul di pintu gerbang kademangan memandanginya. Sementara itu, Ki Sangga Geni telah berjalan semakin cepat. Semakin lama semakin jauh.

“Gila orang-orang Ngadireja” geram Ki Sangga Geni.

Namun ia tidak dapat menghapus kesan yang telah tergores di hatinya. Begitu besar terima kasih orang-orang Ngadireja kepadanya karena ia telah membebaskan mereka dari ketakutan yang mencengkam mereka untuk waktu yang lama.

“Persetan dengan mereka” berkata Ki Sangga Geni, “Aku akan berbuat sebagaimana Kiai Pentog itu kapan saja aku ingin”

Tetapi tiba-tiba ia pun teringat ceritera orang yang rambutnya ubanan yang telah menceriterakan kehidupan Pentog di masa kecil, seolah-olah orang itu telah minta maaf atas nama Pentog atas segala kelakuan buruknya. Orang itu telah berniat membagi kesalahan sehingga tidak semua kesalahan akan bertimbun pada diri Kiai Pentog. Kehidupan yang pahit di masa kecilnya, kebencian dan dendam yang telah merasuk didalam jiwanya, sejak ia masih kanak-kanak telah membentuknya menjadi orang yang terganggu keseimbangan jiwanya.

“Apakah aku juga mengalaminya di masa kecilku?” bertanya Ki Sangga Geni kepada dirinya. Dicobanya untuk mencari-cari cacat yang ada didalam lingkungan keluarganya, agar ia mempunyai alasan bahwa ia melakukan hal-hal yang buruk itu bukan karena kesalahannya saja. Tetapi juga kesalahan lingkungannya.

Tetapi Ki Sangga Geni tidak dapat menemukannya. Ketika ia mencoba mengenang keluarganya, maka ternyata ayah dan ibunya sangat mengasihinya. Bahkan neneknya menjadi sakit-sakitan ketika nenek itu mendengar bahwa Sangga Geni telah terpengaruh oleh satu lingkungan kehidupan yang buruk. Ibunya hampir, saja pingsan ketika buat pertama kali ia mendengar anaknya itu berbuat jahat. Sementara kakeknya telah menjadi pendiam. Kakeknya seorang yang berpengaruh dalam lingkungannya, mereka telah kehilangan mukanya karena perbuatan cucunya.

Ketika ayahnya memanggilnya dan ingin berbicara tentang tingkah lakunya, maka Sangga Geni muda itu telah berani memaki-makinya.

Bahkan atas ajakan beberapa orang kawannya, Sangga Geni itu telah memasuki lingkungan perguruan yang sesat. Semakin lama ia menjadi semakin dalam terperosok ke dalam ilmu hitam.

“Persetan. Aku tidak peduli. Sekarang aku akan pergi ke Karawelang mencari kakang Naga Wereng. Aku akan menantangnya dalam perang tanding serta mengalahkannya. Jika kakang Naga Wereng mau menyerah maka kau tidak akan membunuhnya. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku telah berhasil mengusai ilmu kami sampai tuntas. Tetapi jika ia menjadi keras kepala dan harus mati, apa boleh buat” geramnya.

Sangga Geni itu pun kemudian tidak menghiraukan apa pun di perjalanannya. Ia hanya berhenti untuk minum dan makan jika ia haus dan lapar.

Di malam hari Ki Sangga Geni menghentikan perjalanannya di tengah malam. Ki Sangga Geni sempat tidur beberapa saat di sebuah gubug kecil di tengah sawah.

Ketika menjelang fajar, pemilik sawah itu turun untuk mengairi sawahnya, karena menurut kesepakatan dengan para tetangganya, hari itu ia mendapat bagian air menjelang fajar, maka Ki Sangga Geni yang telah terbangun pun segera meloncat turun dari gubug itu.

“Jika pemilik gubug itu marah, maka aku akan mengetuk kepalanya dan melubangi ubun-ubunnya dengan jari-jariku. Ia akan mati dan tidak akan dapat mengumpanku lagi“ geram Sangga Geni.

Pemilik sawah itu melangkah mendekati Sangga Geni. Namun orang itu ternyata tidak marah. Bahkan dengan ramah ia pun bertanya, “Ki Sanak tidur di gubugku semalam?”

“Ya” jawab Sangga Geni singkat

“Ki Sanak tentu sedang menempuh perjalanan jauh. Marilah, aku persilahkan Ki Sanak singgah. Barangkali ada seteguk minuman hangat yang dapat menyegarkan tubuh Ki Sanak”

“Gila orang ini. Kenapa ia tidak marah. Seharusnya ia marah dan mengumpati aku karena aku tidur di gubugnya. kemudian akulah yang membuatnya diam untuk selama-lamanya” geram Ki Sangga Geni didalam hatinya.

Karena Ki Sangga Geni tidak menjawab, maka petani itu pun kemudian berkata pula, “Aku tidak lama Ki Sanak. Aku hanya akan membuka pematang dan membendung air yang mengalir di parit itu. Aku segera dapat pulang. Nanti matahari sepenggalah aku harus menutup pematang itu kembali dan membuka agar air parit itu dapat mengalir untuk mengairi sawah sebelah”

Di luar sadarnya, maka Ki Sangga Geni pun menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Aku harus melanjutkan perjalanan. Aku tergesa-gesa. Aku minta maaf bahwa semalam aku tidur di gubug Ki Sanak tanpa minta ijin. Selanjutnya aku mengucapkan terima kasih”

“Tidak apa-apa Ki Sanak. Bukankah kau hanya menumpang tidur tanpa merugikan aku sama sekali”

Ki Sangga Geni itu pun kemudian minta diri untuk melanjutkan perjalanan.

Sambil meloncat tanggul parit dan turun ke jalan Ki Sangga Geni itu masih mengumpat, kenapa petani itu tidak marah ke padanya karena ia telah tidur di gubug itu.

Tetapi tiba-tiba saja telah timbul satu pertanyaan, “Apakah aku sekedar mencari sebab untuk berbuat onar? Bahkan membunuh seseorang yang tidak bersalah?”

Ki Sangga Geni itu pun menghentakkan kakinya, la menganggap pertanyaan itu sebagai sisi kelemahan di hatinya.

“Persetan. Jika aku ingin membunuh, aku akan membunuh. Ada atau tidak ada sebabnya”

Ki Sangga Geni itu pun segera menghentakkan kakinya. Ia berjalan semakin cepat menuju ke Karawelang untuk menemui saudara tua seperguruannya, Naga Wereng, yang belum pernah dikalahkannya meskipun sudah beberapa kali ia berkelahi dengan saudara tuanya itu.

Ki Sangga Geni yang berjalan semakin cepat itu merasa seakan langkah-langkahnya itu terlalu lamban, sehingga karena itu, maka Ki Sangga Geni itu pun berjalan semakin lama menjadi semakin cepat.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Ki Sangga Geni pun telah mendekati sebuah padepokan kecil yang berada di Karawelang yang juga disebut perguruan Karawelang. Padepokan yang hanya berisi beberapa orang itu nampak sepi.

Ki Sangga Geni berhenti sejenak di depan regol halaman padepokan kecil dan terpencil itu. Dengan ragu-ragu ia melangkah masuk.

Padepokan itu nampaknya sudah berubah. Halamannya nampak bersih dan terpelihara rapi.

“Apakah penghuninya sudah berganti?“ bertanya Ki Sangga Geni di dalam hatinya.

Ki Sangga Geni pun berjalan terus memasuki halaman padepokan itu.

Didepan bangunan Utama padepokan Karawelang, seorang cantrik menyongsongnya. Sambil mengangguk hormat cantrik itu bertanya, ”Selamat datang di padepokan kecil kami, Ki Sanak. Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, kami ingin tahu, siapakah Ki Sanak itu dan siapakah yang ingin Ki Sanak Temui”

Ki Sangga Geni mengerutkan dahinya. Ia ingin bertemu dengan seorang cantrik yang membentaknya dan kemudian mencoba mengusirnya. Tetapi cantrik ini nampaknya bersikap lembut.

Namun Ki Sangga Geni memang sengaja membuat perkara. Karena itu, justru Ki Sangga Geni lah yang bersikap kasar. Dengan lantang ia pun bertanya, “Bukankah ini padepokan Karawelang?”

“Ya, Ki Sanak”

“Aku ingin bertemu dengan Ki Rubaya yang kemudian menyebut dirinya Kiai Guntur Ketawang”

“Ki Sanak ingin bertemu dengan guru? Baiklah. Silahkan Ki Sanak naik dan duduk di pringgitan. Aku akan menyampaikannya kepada Guru. Tetapi siapakah nama Ki Sanak?”

“Katakan, namaku Sangga Geni”

“Baiklah, Ki Sangga Geni. Silahkan duduk”

Ki Sangga Geni yang memang berniat untuk membangkitkan persoalan itu segera naik ke pendapa dan duduk di pringgitan.

Sementara itu, cantrik yang menemuinya, lewat pintu seketeng langsung menghadap orang yang dicari oleh Ki Sangga Geni yang sedang duduk di serambi menikmati suara burung perkutut.

“Guru“ cantrik itu mengangguk hormat.

“Ada apa, Sumbaga?”

“Ada tamu, guru”

“Tamu? Siapa?”

“Dia mengaku bernama Sangga Geni”

“Sangga Geni? Jadi Sangga Geni datang kemari?”

“Ya, guru”

Wajah Ki Guntur Ketawang menjadi cerah. Ia pun segera bangkit berdiri. Tetapi Ki Guntur Ketawang ternyata tidak dapat lagi berdiri tegak tanpa disangga oleh sebatang tongkat kayu.

“Dimana ia sekarang?”

“Aku persilahkan duduk di pringgitan, guru”

“Sumbaga. Ki Sangga Geni adalah paman gurumu. Marilah, ikut aku menemuinya. Beri tahu adikmu Lumintu agar ia menyiapkan minuman dan makan untuk dihidangkan kepada pamanmu itu”

“Baik, guru”

Sumbaga pun berlari-lari kecil ke belakang untuk menemui Lumintu. Kemudian Sumbaga pun kembali lagi mendapatkan gurunya dan membimbingnya ke pringgitan.

Demikian mereka muncul di pintu pringgitan, maka Ki Sangga Geni pun segera bangkit berdiri. Tetapi wajahnya tidak seceria Ki Guntur Ketawang. Wajah Ki Sangga Geni yang ingin membuat persoalan sebagai alasan untuk menantang kakak seperguruan-nya untuk berperang tanding itu tetap saja nampak gelap.

“Adi“ demikian akrabnya sambutan Ki Guntur Ketawang mimpi apa aku semalam, bahwa adi telah datang mengunjungiku dari tempat yang jauh”

Sikap itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Ki Sangga Geni. Sikap kakak seperguruannya itu pun tidak lagi sebagaimana sikapnya dahulu. Sikapnya itu sudah berubah sebagaimana wajah dari padepokan kecilnya itu.

“Silahkan. Silahkan duduk adi“

Ki Sangga Geni itu pun kemudian duduk kembali bersama Ki Guntur Ketawang serta muridnya yang disebutnya bernama Sumbaga itu.

“Bagaimana kabarmu adi? Bukankah kau baik-baik saja?”

Ki Sangga Geni tidak ingin bersikap baik. Tetapi di luar sadarnya ia pun mengangguk sambil menjawab, “Aku baik-baik saja kakang. Bagaimana dengan kakang disini?“

“Aku pun baik-baik saja adi Sangga Geni. Nah, ini adalah salah seorang dari tiga orang muridku. Namanya Sumbaga. Ia adalah murid yang tertua”

“Jadi murid kakang hanya tiga orang?“

“Ya. Dahulu memang lebih dari tiga orang, adi. Tetapi yang lain telah pergi. Ada yang pergi untuk selamanya, tetapi ada yang pergi meninggalkan aku yang sudah mulai menjadi pikun ini“ Ki Guntur Ketawang berhenti sejenak, lalu katanya kepada Sumbaga, “ini pamanmu, Subaga. Ia adalah murid terbaik dari perguruan kami dahulu”

Ki Sangga Geni terkejut mendengar kakak seperguruannya itu menyebutnya sebagai murid terbaik. Sementara itu Ki Guntur Ketawang pun berkata selanjutnya, “meskipun aku adalah saudara seperguruannya yang lebih tua, tetapi aku tidak pernah dapat menyamainya. Jika aku berhasil meningkatkan ilmuku selapis, adi Sangga Geni sudah meningkatkan ilmunya dua lapis, sehingga jaraknya semakin lama menjadi semakin jauh” Ki Sangga Geni itu justru termangu-mangu. Seingatnya, ia tidak pernah mampu menyamai tataran kemampuan kakak seperguruannya itu. Sampai mereka dinyatakan telah menguasai ilmu yang utuh di perguruannya, sehingga tidak mengembangkannya saja sesuai dengan langkah yang akan diambil oleh masing-masing murid di perguruannya, ia masih saja merasa iri atas kelebihan kakak seperguruannya. Bahkan setelah beberapa tahun mereka meninggalkan perguruan, ketika timbul benturan kepentingan dengan kakak seperguruannya itu, sehingga mereka berdua terjerat dalam perang tanding, Sangga Geni masih belum dapat mengimbangi ilmu kakak seperguruannya itu. Namun waktu itu kakak seperguruannya itu tidak membunuhnya. Sangga Geni lah yang mengancam, bahwa pada suatu saat ia akan datang lagi untuk menantang berperang tanding serta akan membunuh kakak seperguruannya itu.

Tetapi ketika kemudian ia datang menemui kakak seperguruannya itu, maka rasa-rasanya segala-galanya telah berubah, bahkan kakak seperguruannya itu mengatakan, bahwa ia adalah murid yang terbaik.

Tetapi Ki Sangga Geni sudah bertekad untuk datang dan membuat perhitungan. Ia pun ingin menguji ilmunya, apakah ia sudah pantas untuk tampil lagi melawan Ki Margawasana.

Namun agaknya keadaan kakak seperguruannya itu telah berubah pula. Nampaknya Ki Guntur Ketawang itu mengalami keadaan kesehatan yang buruk atau mungkin cacat setelah ia bertempur dengan seorang yang berilmu tinggi.

“Kakang“ tiba-tiba saja Ki Sangga Geni itu pun bertanya, “Apakah hanya penglihatanku saja, atau keadaan kakang memang telah memburuk sehingga kakang harus berjalan dibantu oleh tongkat kakang, serta harus dibimbing?”

Ki Guntur Ketawang itu menarik nafas panjang. Katanya, “Aku telah mengalami masa-masa yang buruk, adi. Bukan maksudku mengeluh tentang keadaanku ini. Aku akan menerima keadaan apa pun yang harus aku sandang dengan senang hati. Tentu bukan maksud Yang Maha Agung untuk menyiksaku. Tetapi keadaanku ini merupakan kendali atas sikap hidupku”

“Kendali? Maksud kakang?”

“Kau tentu tahu adi, bahwa aku adalah orang yang sangat liar dan buas. Aku adalah hantu di pesisir Utara ini. Tidak ada orang yang dapat menghalangiku. Aku dapat berbuat apa saja, “Ki Guntur Ketawang itu pun terdiam sejenak, seakan-akan sedang mengingat apa yang pernah dilakukannya.

Sebenarnyalah Ki Guntur Ketawang adalah hantu di pesisir Utara. Namanya sangat ditakuti. Bahkan melampaui Kiai Pentog di Ngadireja.

Tangannya berlumuran darah orang-orang yang tidak bersalah. Bahkan perempuan dan kanak-kanak.

Tetapi Ki Guntur Ketawang itu tidak akan mampu melawan kuasa Yang Maha Kuasa. Ketika itu Ki Guntur Ketawang merampok seorang yang sangat kaya di Kaliwungu dengan hasil yang sangat besar, tetapi Ki Guntur Ketawang itu harus melewati pertempuran yang sengit melawan para pengawal orang yang sangat kaya raya itu.

Tiga orang kawannya telah terbunuh, sehingga Ki Guntur Ketawang itu menjadi sangat marah. Semua orang yang tinggal di rumah itu telah dibunuhnya. Bahkan perempuan dan kanak-kanak. Bahkan Ki Guntur Ketawang sempat menghancurkan semua perabot di rumah itu, sehingga tidak ada barang yang tersisa yang dapat dipergunakannya lagi.

Dengan kemarahan yang membakar jantungnya, Ki Guntur Ketawang meninggalkan tiga orang kawannya terbaring diantara mayat para pengawal dan seisi rumah orang yang sangat kaya itu.

Ki Guntur Ketawang yang masih saja mengumpat-umpat marah itu melarikan kudanya kencang sekali bersama dengan enam orang pengikutnya yang tersisa.

Tetapi di perjalanan kembali ke sarangnya itu, kuda Ki Guntur Ketawang telah terperosok ke dalam lubang gorong-gorong yang menyilang jalan. Gorong-gorong yang terbuat dari kayu serta sudah mulai menjadi rapuh.

Kuda Ki Guntur Ketawang itu kehilangan keseimbangan. Dengan derasnya kuda bersama penunggangnya itu telah terlempar ke dalam jurang yang dalam.

Tetapi yang tidak masuk di akal Ki Guntur Ketawang adalah, bahwa tidak seorang pun pengikutnya, yang berkuda dibelakangnya melihatnya ia terperosok dan terlempar kedalam jurang. Meskipun malam gelap serta jaraknya beberapa puluh langkah, tetapi seseorang yang berkuda di paling depan diantara para pengikutnya itu seharusnya melihatnya atau mendengar suara ringkik kudanya serta saat-saat ia terlempar ke dalam jurang.

Namun ternyata tidak seorang pun yang mengetahuinya.

Ki Guntur Ketawang sendiri waktu itu telah pingsan untuk beberapa lama. Ketika ia sadar, maka ia terkejut. Ki Guntur Ketawang itu berada di sebuah rumah kecil berdinding bambu dan beratap ilalang.

Seorang laki-laki tua dan anaknya yang masih remaja merawatnya dengan tekun. Mengobati luka-luka dengan dedaunan yang mereka cari di tebing jurang yang dalam itu.

“Sayang bahwa kuda Ki Sanak telah mati” berkata laki-laki tua itu.

Ki Guntur Ketawang memandang laki-laki tua itu dengan mata yang menyala. Katanya, “Kau biarkan kudaku mati? Kenapa kau tidak merawatnya dan mengobatinya?”

“Maaf Ki Sanak. Ketika aku ketemukan di jurang, kuda itu sudah mati. Tetapi Ki Sanak masih hidup, sehingga aku dan anakku ini berusaha merawat Ki Sanak serta mengobati luka-luka Ki Sanak dengan dedaunan”

“Setan tua. Kau biarkan kudaku mati. Buat apa kau merawatku? Kau kira tanpa kau rawat aku tidak dapat bangkit sendiri? Aku adalah seorang yang mempunyai nyawa rangkap. Tanpa campur tangan orang lain, maka mati pun aku dapat hidup lagi”

“Maaf Ki Sanak. Kami minta maaf atas kelancangan kami. Kami tidak mengetahui bahwa Ki Sanak mempunyai nyawa rangkap. Yang kami lakukan adalah berusaha menolong Ki Sanak. Kami benar-benar bermaksud baik. Tetapi jika yang kami lakukan tidak berkenan di hati Ki Sanak, kami minta maaf. Barang-barang yang Ki Sanak bawa telah kami kumpulkan pula, karena berserakan di jurang itu. Kami akan menyerahkannya kembali kepada Ki Sanak“ orang tua itu pun kemudian memerintahkan anaknya yang sudah remaja mengambil seikat bungkusan yang besar yang semula dibawa oleh K i Guntur Ketawang”

Ki Guntur Ketawang sendiri tidak tahu, apa saja yang telah dibawanya. Tetapi bungkusan benda-benda berharga yang dikumpulkan oleh orang tua itu, nampaknya masih utuh, meskipun seandainya ada satu dua benda-benda kecil atau perhiasan yang hilang di jurang itu.

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 18

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Wikan mungkin nama yang paling populer ditelinga sang Maestro SH Mintardja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s