TT-15


kembali | lanjut

TT-15Ki RINA-RINA tidak dapat meninggalkan perguruan. Di perguruan kami sedang ada seorang tamu yang juga ingin bertemu dengan Ki Margawasana”

“Siapa?”

“Tamu itu sedang terluka agak parah di bagian dalam tubuhnya. Karena itu, ia tidak dapat pergi kemana-mana. Ia sedang dalam pengobatan yang memerlukan waktu satu dua hari. Karena tamu itu juga berkepentingan dengan Ki Margawasana, maka aku diperintahkan untuk membawa Ki Margawasana menghadap guru”

Tiba-tiba saja ki Margawasana itu teringat ceritera Ki Udyana pada saat ia bertemu dengan para murid dari perguruan Tapak Mega. Karena itu, maka Ki Margawasana itu pun bertanya, “Angger. Kalian sama sekali tidak menunjukkan watak murid-murid Tapak Mega. Aku kenal dengan salah seorang murid Tapak Mega yang sifatnya sama sekali berlawanan dengan kalian. Apakah kalian mengenal Raden Mas Wiraga?

“Aku tidak mengenal orang-orang baru yang masih belum dapat berbuat apa-apa. Aku adalah kepercayaan guru yang hanya berhubungan dengan orang-orang terpenting di dalam maupun di luar perguruan”

“Ki Sanak. Sekarang aku yakin, bahwa kalian bukan murid dari perguruan Rina-rina. Kalian tentu orang lain yang berniat mengadu domba antar perguruan Tapak Mega dengan perguruan yang sekarang dipimpin oleh Ki Udyana. Bahkan dengan perguruan yang dipimpin oleh adi Wigati”

“Persetan dengan celotehmu itu. Ki Margawasana. Sekarang bersiaplah untuk pergi bersama kami. Jika kau menolak, maka kami akan memaksamu dengan kekerasan”

“Jangan begitu, ngger. Tidak baik untuk memaksakan kehendaknya. Apalagi dengan kekerasan. Bukankah kita dapat berbicara, manakah yang terbaik yang dapat kita lakukan daripada harus melakukan kekerasan terhadap sesama”

“Sudahlah. Pulanglah. Bukankah kalian sekedar utusan. Sampaikan jawabanku kepada orang yang mengutusmu”

“Sudah aku katakan, aku tidak dapat pergi sekarang. Aku justru minta Ki Rina-rina sajalah yang datang kemari”

“Tidak. Ki Margawasana sajalah yang pergi sekarang bersama kami. Ini perintah yang tidak dapat dibantah lagi”

“Tidak“ Wikan menjadi tidak sabar lagi. Ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Ki Sanak, pergilah. Jangan paksa guru dengan cara yang kasar dan tidak tahu adat itu. Bahkan Ki Rina-rina sendiri tidak akan berbuat sebagaimana kalian lakukan itu, karena Ki Rina-rina bukan orang sekasar kalian”

“Siapa kau?”

“Aku adalah murid Ki Margawasana. Karena itu, jika kalian ingin memaksa guru untuk pergi, maka kalian akan berhadapan dengan kami. Jika kalian dapat mengalahkan kami, barulah kalian dapat membawa guru menemui Ki Rina-Rina. Tetapi bahwa Ki Rina-rina memanggil guru itu pun sudah merupakan satu perintah yang tidak masuk akal”

“Cukup. Sebaiknya kau tidak turut campur”

“Aku adalah murid Ki Margawasana. Karena itu, aku berhak untuk mencampuri persoalan yang melibatkan guruku?”

“Aku hanya memberi kalian peringatan. Jika kami terpaksa mempergunakan kekerasan untuk memaksa Ki Margawasana, maka jika kalian ikut campur, maka justru kalianlah yang akan mati lebih dahulu. Mungkin Ki Margawasana dapat bertahan beberapa saat karena kemampuannya yang tinggi. Tetapi kalian akan segera terbaring di tanah. Mati. Karena itu, pikirkan baik-baik, apakah seumurmu itu sudah pantas untuk mati”

“Kalian semakin meragukan” sahut Ki Margawasana, “dan bahkan aku semakin yakin, bahwa kalian bukan murid Ki Rina-rina”

“Jangan banyak bicara lagi”

“Guru” berkata Wikan kemudian, “Tentu ada hubungannya dengan tingkah Alap-alap Perak yang mencegat perjalananku serta saudara-saudaraku. Alap-alap Perak yang tidak berdaya itu masih saja berusaha untuk membalas sakit hatinya. Kini ia tentu bekerjasama dengan iblis-iblis yang kasar itu untuk mencoba menggertak guru”

“Tutup mulutmu” teriak orang yang berdiri di pendapa itu, “Kau racuni otak gurumu dengan ceritera ngayawara itu”

“Kau menjadi semakin kasar dan tidak tahu unggah-ungguh. Ki Sanak. Pergilah. Atau kami harus mengusir kalian”

Kedua orang yang berada di pendapa itu tertawa. Seorang yang lain berkata, “Kau kira kau ini siapa, he? Kami adalah murid-murid dari perguruan terbesar di daerah ini. Perguruan Tapak Mega. Tidak ada orang yang dapat mengalahkan murid-murid dari perguruan Tapak Mega”

“Nah, sudah jelas guru” berkata Wikan, “murid-murid Tapak Mega tidak akan berkata begilu. Kakang Udyana mengenal beberapa diantara mereka”

Ki Margawasana itu pun mengangguk-angguk sambil berkala, “Sudahlah Ki Sanak. Kembalilah. Tidak ada gunanya kau memaksa kami. Hanya membuang waktu serta kerja yang sia-sia. Aku tidak akan pergi. Apalagi aku sudah yakin bahwa kalian bukan murid Tapak Mega. Meskipun aku tidak menyebut kalian darimana, tetapi kami icntu dapat menduganya”

“Persetan. Bersiaplah Ki Margawasana. Aku akan membawa-mu dengan paksa”

Ki Margawasana menarik nafas panjang. Namun Wikanlah yang kemudian berkata, “Turunlah ke halaman. Kita akan tahu, siapakah yang mulutnya saja yang besar”

“Bagus. Jangan melarikan diri lewal pintu butulan. Aku akan turun ke halaman”

Kedua orang itu pun kemudian turun ke halaman. Beberapa orang yang masih duduk di punggung kudanya pun berloncatan turun pula. Seorang yang bertubuh raksasa menggeram, “Jadi kakek tua itu tidak mau pergi ke perguruan Tapak Mega?”

Adalah diluar dugaan mereka kelika tiba-tiba Ki Rantam yang sudah berada di tangga pendapa itu bertanya, “Ki Sanak. Tolong sebut, dimana letak perguruan Tapak Mega itu”

Orang bertubuh raksasa itu memang menjadi bingung sesaat. Ia tidak mengira bahwa ia akan mendapat pertanyaan seperti itu.

“Nah, adalah aneh sekali bahwa murid perguruan Tapak Mega tidak tahu, dimana letak padepokannya”

“Tutup mulutmu. Kau adalah orang pertama yang akan mati”

Yang kemudian tertawa adalah Ki Rantam. Katanya, “Kau tidak berhak mencabut nyawa seseorang ki Sanak. Siapa tahu. bahwa hari ini kaulah yang sudah pasti akan mati, “

“Turunlah” geram orang itu.

Ki Rantam pun kemudian turun dari tangga pendapa Adalah tiba-tiba saja orang bertubuh raksasa itu meloncat menyerangnya.

Tetapi Ki Rantam tidak lengah. Karena itu, maka ia pun segera meloncat menghindar, sekaligus mengambil jarak dari orang-orang yang berada di halaman itu.

Orang bertubuh raksasa itu begitu bernafsu untuk segera mengakhiri perlawanan Ki Rantam. Namun justru karena itu, maka ketika ia meloncat menerkam Ki Rantam dengan menjulurkan kedua tangannya meraih leher, Ki Rantam itu menjatuhkan dirinya. Kedua kakinya pun dengan cepat, mengangkat tubuh raksasa yang seakan-akan terjerembab menimpanya.

Kekuatan kaki Ki Rantam ternyata besar sekali. Orang bertubuh raksasa itu terlempar dengan derasnya, justru menimpa sudut tangga pendapa.

Terdengar raksasa itu mengumpat kasar. Namun kemudian ketika ia mencoba untuk bangkit, ia harus menyeringai menahan sakit. Tulang punggungnya yang menimpa sudut tangga pendapa itu rasa-rasanya menjadi retak.

Ki Rantam yang juga sudah menahan kemarahannya itu tidak membiarkannya tetap tegak. Sambil berputar, kaki Ki Rantam itu terayun deras sekali menampar wajah raksasa itu, sehingga raksasa itu terguncang lagi. Bahkan sekali lagi Ki Rantam meloncat menyamping seperti lembing yang dilontarkan, kedua kakinya telah menghantam dada raksasa itu.

Raksasa itu berteriak. Namun tubuhnya terlempar dengan derasnya menghantam sebatang pohon belimbing tua yang besar.

Pohon belimbing itu terguncang. Buahnya yang rimbun melekat pada batangnya pun berguguran runtuh di tanah. Namun raksasa itu pun kemudian telah runtuh pula.

Ketika sambil mengerang ia mencoba berdiri, ternyata tubuhnya pun terkulai lagi bersandar pohon belimbing itu. Kulitnya terkelupas di beberapa tempat di bagian tubuhnya. Namun luka-lukanya yang paling parah, adalah justru luka-luka dalam tubuhnya.

Orang-orang yang datang bersamanya tidak sempat berbuat apa-apa. Semuanya itu terjadi dalam waktu yang terhitung singkat. Apalagi kawan-kawan raksasa itu tidak menduga, bahwa akan terjadi pertarungan yang sesingkat itu.

Ki Rantam pun kemudian berdiri di tengah-tengah halaman sambil berkata lantang, “Inikah murid perguruan Tapak Mega yang namanya tersebar dari pesisir Lor sampai ke pesisir Kidul? Nah, jika benar kalian murid-murid dari perguruan Tapak Mega, tunjukkanlah kelebihan kalian”

“Bagus” berkata orang yang nampaknya memimpin saudara-saudara seperguruannya itu, “Jangan membuang-buang waktu. Paksa mereka. Jika mereka tetap keras kepala, apaboleh buat. Bunuh saja mereka”

Orang-orang yang datang berkuda itu pun segera menyerang. Namun Ki Margawasana tidak segera melibatkan diri. Ia ingin melihat, apakah orang orang itu benar-benar datang dari pcrguaian Tapak Mega.

Namun baru sejenak mereka bertempur, Ki Margawasana pun segera mengetahui, bahwa orang-orang itu sama sekali bukan murid-murid dari perguruan Tapak Mega.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang datang berkuda itu segera menyadari, bahwa mereka telah berhadapan dengan orang-orang berilmu tinggi.

Orang yang memimpin saudara-saudara seperguruannya itu pun lelah berhadapan dengan Wikan. Ternyata orang itu adalah juga seorang yang berilmu tinggi. Namun orang itu tidak dapat segera menghentikan perlawanan murid bungsu Ki Margawasana itu. Bahkan semakin lama orang ilu pun menjadi semakin terdesak.

Ketika orang itu dengan sekuat tenaganya, menyerang kearah dada Wikan dengan kakinya, maka dengan tangkasnya Wikan itu pun mengelak. Bahkan tubuh Wikan itu pun kemudian berputar dengan kaki terayun mendatar, sehingga kaki Wikan itu menyambar kening lawannya.

Lawannya itu pun terpelanting jatuh berguling-guling. Namun ia masih mampu bangkit dengan cepat meskipun harus menyeringai menahan sakit.

“Jangan merasa menang lebih dahulu” geram orang itu, “Siapa yang mampu mengakhiri pertempuran ini dengan membunuh lawannya, maka barulah ia disebut menang.

“Jadi ukuran menang bagimu adalah membunuh lawan,
Ki Sanak”

“Ya”

“Bagus. Aku akan mempergunakan ukuran yang akan kau terapkan itu. Kau atau aku”

Demikianlah, maka keduanya pun bertempur semakin sengit. Namun”orang yang mengaku dari perguruan Tapak Mega itu, akhirnya tidak dapat menyembunyikan kelemahannya. Beberapa kali ia terdesak sehingga ia harus berloncatan mengambil jarak.

Tetapi ketika Wikan akan meloncat memburunya, maka ia pun tertegun. Tiba-tiba saja di tangan orang itu telah tergenggam sebilah pedang panjang.

“Kau akan mempergunakan pedang?“ bertanya Wikan.

“Kau mulai menjadi ketakutan? Tetapi kau sudah terlambat. Aku sudah mencabut pedangku dari sarungnya. Karena itu, maka pedangku harus dibasahi dengan darah”

“Aku mengerti. Bukankah ukuran menang atau kalah itu kematian?”

Wikan pun kemudian telah mencabut pedangnya pula. Digenggamnya hulu pedangnya dengan kedua belah telapak tangannya.

“Aku juga belajar ilmu pedang” berkata Wikan.

Lawannya termangu-mangu sejenak, la melihat Wikan begitu yakin akan dirinya. Anak muda itu menggenggam pedangnya dengan mantap.

Demikianlah maka keduanya pun terlibat dalam pertempuran yang semakin seru. Lawan Wikan tidak menduga, bahwa anak muda itu memiliki ilmu pedang yang tinggi.

Dalam pada itu, Wikan, Ki Rantam serta kedua murid Ki Wigati telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Sementara Ki Margawasana masih belum merasa perlu untuk melibalkan diri.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang mengaku dari perguruan Tapak Mega itu tidak mampu untuk memaksakan kehendaknya kepada Ki Margawasana agar Ki Margawasana bersedia pergi bersama mereka. Bahkan sebelum Ki Margawasana sendiri turun ke arena.

Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu, ternyata sangat sulit untuk diatasi. Bahkan setiap kali lawan-lawan merekalah yang harus terlempar dan terpelanting jatuh.

Ki Margawasana mengamati kedua orang muridnya dengan saksama. Agaknya mereka sudah mendapat kemajuan yang patut di banggakan. Apalagi Wikan. Murid bungsu Ki Margawasana. Ia masih muda sehingga kemungkinannya untuk berkembang lebih jauh, masih sangat luas. Wikan kelak tentu akan dapat meramu unsur-unsur gerak terbaik dari perguruannya, serta perguruan-perguruan yang lain.

Sementara itu, kedua orang murid Ki Wigati pun telah menguasai ilmu yang memadai pula, meskipun belum setataran dengan Wikan dan Ki Rantam. Namun ternyata lawan-lawan mereka pun tidak dapat menguasainya.

Beberapa saat kemudian maka lawan-lawan murid Ki Margawasana dan murid-murid Ki Wigati itu justru semakin terdesak. Mereka tidak mampu lagi mengimbangi ilmu mereka yang meningkat semakin tinggi. Orang-orang yang datang berkuda itu telah mencoba mempergunakan senjata mereka, tetapi senjata mereka itu justru telah mengundang mala petaka. Lawan Wikan itu pun ternyata tidak segera mampu menembus pertahanan anak muda itu. Namun sebaliknya, ujung pedangnya justru telah menggores lengan lawannya.

Lawannya itu pun meloncat selangkah surut. Ketika ia mengusap lengannya yang terasa pedih, maka terasa cairan yang hangat telah membasahi lengannya itu.

“Anak iblis” geram orang itu, “Kau lukai kulitku. Kau sakiti tubuhku. Maka tidak akan aku ampuni kau”

Wikan tertawa pendek sambil menjawab, “Kita sudah bertempur sejak tadi. Bahkan menurut pendapatmu, kemenangan itu hanya dapat diakui jika lawannya sudah terbunuh”

“Persetan dengan kau”

Serangan lawan Wikan itu pun kemudian datang seperti badai. Namun serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bahkan ketika Wikan menghentakkan pedangnya sambil meloncat maju selangkah, sekali lagi pedangnya menyeruak, menyusup diantara pertahanannya.

Kali ini ujung pedang Wikan menyentuh agak dalam justru di bahu orang itu. Lukanya menyilang itu segera meneteskan darah yang segar.

Orang itu menjadi marah sekali. Tetapi justru karena itu, maka penalarannya pun menjadi terbalut dalam bingkai kemarahannya, sehingga pandangan matanya menjadi kabur.

Tetapi sebelum keadaannya menjadi semakin parah, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang tertawa perlahan sambil berkata, “Ternyata murid-muridmu telah kau bekali ilmu dengan baik, Ki Margawasana”

Ki Margawasana yang masih belum melibatkan diri itu pun menjawab, “Aku sudah menduga, tentu ada yang tua yang datang kemari. Anak-anak tidak akan berani berbuat sebagaimana dilakukannya itu. Seberapa tinggi ilmu mereka, tetapi aku yakin, bahwa mereka telah bersandar kepada yang tua-tua itu”

“Penggraitamu memang tajam sekali, Margawasana. Seperti kau sendiri, ketika kau masih berguru serta belum menuntaskan ilmumu, kau sudah mendapat banyak kepercayaan dari gurumu untuk melakukan tugas-tugas yang berat. Sekarang murid-muridmu pun telah memiliki ilmu yang tinggi, selagi mereka masih berada didalam perguruanmu”

“Kau memuji Alap-alap Perak. Tetapi agaknya mereka telah sampai ke puncaknya, sehingga mereka tidak akan meningkat lagi”

“Jangan kau bodohi aku, Margawasana. Aku telah melihat sendiri, betapa kau mendapatkan murid-murid pilihan”

“Terima kasih atas pujianmu, Alap-alap Perak. Tetapi aku tidak terlalu berbangga karenanya”

Ketika orang yang disebut Alap-alap Perak itu meloncat turun di halaman, maka Wikan pun terkejut. Bukan orang itu yang disebut Alap-alap Perak, meskipun rambutnya sama-sama putih seperti perak.

“Guru” berkata Wikan, “Bukan itu orangnya yang disebut Alap-alap Perak”

“Yang datang ke padepokan Udyana serta yang bertempur melawan pamanmu Wigati, memang bukan orang itu. Orang yang ke padepokan itu adalah murid orang yang berdiri di halaman itu.

Wikan mengangguk-angguk. Namun ia pun sadar, bahwa orang itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Alap-alap Perak adalah orang yang berilmu tinggi. Sementara itu, ia adalah guru Alap-alap Perak.

“Muridmu tentu belum mengenal aku. Tetapi agaknya ia sudah mengenal Alap-alap muda”

“Ya. Ia sudah mengenal Alap-alap muda. Karena muridmu itu pernah datang ke padepokan kami. Tetapi waktu itu aku sudah tidak ada di padepokan”

“Ya, kau sudah berada di sini atau di bukit kecil itu”

“Nah. sekarang apa maumu, Alap-alap Perak tua”

“Margawasana. Aku telah menemukan surya-kanta yang tentu akan cocok dipasang di lingkaran yang besar itu. Karena ini. aku memerlukan lingkaran-lingkaran yang lebih kecil. Jika benda itu aku peroleh, maka aku akan dapat membual emas sesukaku. Aku dapat memenuhi rumahku dengan perabot-perabot dari emas?”

“Jika benar benda itu dapat kau pergunakan untuk membuat emas, maka benda itu akan merupakan sumber malapetaka di dunia ini. Setiap orang akan berusaha memperebutkan benda itu”

“Aku tidak peduli. Sekarang kita akan pergi ke padepokanmu. Aku akan mengambil benda itu”

“Dengarlah, Alap-alap Perak. Benda itu sama sekali tidak dapat kau pergunakan untuk membuat emas. Jangankan emas, besi pun tidak dapat”

“Kau jangan membohongi aku. Karena itu, marilah. Pulanglah ke padepokanmu. Perintahkan Mina menyerahkan benda itu”

“Jangan memaksa, Alap-alap Perak”

“Jika perlu aku memang akan memaksamu”

“Apakah kau lidak memperhitungkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atasmu di padepokanku itu. Murid-muridku yang sudah dapat aku andalkan cukup banyak”

“Kau bukan jenis seorang pengkhianat, Margawasana. Jika kau sudah berjanji, maka kau tidak akan mengingkarinya. Kalau kau sudah sepakat untuk menyerahkan benda itu, maka kau tentu akan melakukannya”

”Sayangnya aku tidak pernah menyatakan kesediaanku untuk menyerahkan benda itu, Alap-alap Perak. Jika pada waktu itu guru memerintahkan untuk mengambil kembali benda yang kau curi dari padepokanku itu, maka benda itu tentu merupakan benda yang sangat berharga bagi padepokan kami. Tetapi harga dari benda itu bukanya harga dalam hitungan uang. Tetapi benda itu sangat berharga karena merupakan lambang pergantian kepemimpinan di padepokanku”

“Hentikan omong kosongmu itu. Kau pertahankan benda itu karena benda itu dapat menjadikan benda apa saja menjadi emas. Jika benda itu menjadi lambang pergantian kepemimpinan di padepokanmu, itu adalah salah satu caramu untuk memberikan alasan, kenapa benda itu harus kau pertahankan”

“Alap-alap Perak. Kenapa kau tidak mempergunakan nalarmu. Jika benda itu memang dapat menjadikan apa saja menjadi emas, bukankah aku justru akan mempertahankan mati-matian?“

“Tetapi kau tidak mempunyai surya-kanta pada lingkaran yang lebih besar itu. Jika surya-kanta itu kau miliki, maka benda itu tidak akan kau sia-siakan hanya sebagai lambang perpindahan kepemimpinan. Tetapi setiap saat selama matahari masih nampak, kau akan membuatl emas dari semua benda yang kau ketemukan. Bahkan genting bangunan di padepokanmu pun akan terbuat dari emas”

“Aku tidak percaya bahwa benda itu dapat dipergunakan untuk membual emas. Jika kau ingin meyakinkan, bawa surya-kanta itu ke padepokan Udyana. Kau dapat mencobanya, apakah benda itu dapat dipergunakan untuk membuat emas”

“Aku bukan orang sebodoh kau, Margawasana. Jika aku membawa surya-kanta itu masuk ke padepokanmu maka yang akan terjadi, akulah yang akan mati terkapar di padepokanmu”

Keduanya pun kemudian telah bersiap di halaman rumah Ki Marggawasana yang luas itu. Keduanya telah bersiap untuk bertempur habis-habisan. Nampaknya Alap-alap Perak itu berniat untuk bertempur antara hidup dan mati.

“Baru saja kau mengatakan, bahwa aku bukan jenis pengkhianat. Apakah kau sudah lupa?”

“Margawasana. Nafsu keserakahan dapat merubah sifat seseorang. Jika kau tahu, bahwa benda itu dapat menjadikan benda apa saja menjadi emas, maka keserakahanmu tentu akan segera timbul. Kau tentu tidak lagi menghargai sifat-sifat luhurmu. Tetapi yang akan muncul adalah keserakahan dan ketamakanmu”

“Baiklah, Alap-alap Perak. Jika demikian, maka sebaiknya aku menolak saja untuk menyerahkan benda yang sangat berharga bagi padepokan kami itu kepada siapapun, karena benda itu memang tidak akan berarti apa-apa bagi siapapun”

“Kau telah menyakiti hatiku, Margawasana”

“Seharusnya kau tidak usah menjadi sakit hati. Tetapi jika kau memang harus menjadi sakit hati, maka biarlah bukan akulah yang mengalami”

Orang yang menyebut dirinya Alap-alap Perak itu pun menjadi tidak sabar lagi. Kemarahan telah membakar ubun-ubunnya. Meskipun ia masih mencoba menahan diri, namun akhirnya Alap-alap Perak itu  pun berkata, “Margawasana. Aku akan memaksamu. Jangan menyesali nasibmu yang buruk jika terjadi bencana atas dirimu. Aku sudah mencoba melakukannya dengan cara yang baik. Tetapi kau memang keras kepala. Karena itu, maka aku akan memaksamu”

“Kau tidak akan dapat memaksaku, Alap-alap Perak”

“Aku yakin bahwa kau masih seorang laki-laki sejati, Margawasana. Aku kira kau tidak akan berbual licik”

“Maksudmu?”

“Sekarang giliran kita bermain-main. Biarlah anak-anak tidak mengganggu kita”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Jika itu yang kau inginkan Alap-alap Perak, maka aku tidak mengelak. Meskipun sebenarnya keberadaanku disini berniat menjauhi kekerasan. Tetapi karena kau sudah datang kemari, maka aku akan melayaninya”

“Adik seperguruanmu telah melukai murid tertuaku pada bagian dalam dadanya cukup parah. Meskipun sebenarnya aku tidak ingin menumpahkan dendamku kepadamu, tetapi karena kau menjadi keras kepala, maka kaulah yang akan mendapatkan kesulitan. Aku ingin memaksamu menyerahkan benda itu, sekaligus aku ingin membalaskan dendam muridku tertua itu”

“Baiklah, Alap-alap Perak. Aku sudah siap. Keduanya pun kemudian telah bersiap di halaman rumah Ki Margawasana yang luas itu. Keduanya telah bersiap untuk bertempur habis-habisan. Nampaknya Alap-alap Perak itu berniat untuk bertempur antara hidup dan mati.

Murid-murid Ki Margawasana serta murid Ki Wigati pun berdiri termangu-mangu. Tetapi tanpa berjanji mereka berniat untuk menghalau murid-murid Alap-alap Perak itu dari halaman rumah Ki Margawasana.

“Bukankah dengan demikian, kami tidak mengganggu pertarungan antara Ki Maragawasana dengan Alap-alap Perak itu“

Dalam pada itu, maka Alap-alap Perak pun sudah mulai meloncat menyerang Ki Margawasana. Namun nampaknya serangan itu masih belum bersungguh-sungguh, sehingga Ki Margawasana hanya perlu bergerak, sedikit saja untuk menghindarinya.

Namun kemudian, serangan Alap-alap Perak itu menjadi semakin lama semakin garang.

Ki Margawasana menyadari, bahwa Alap-alap Perak adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Apalagi Alap-alap Perak yang satu ini termasuk angkatan diatas Ki Margawasana. Namun Ki Margawasana sendiri adalah orang yang tuntas berbagai ilmu kanurangan sehingga karena itulah, maka Ki Margawasana itu pun mampu mengimbangi kemampuan Alap-alap Perak.

Demikianlah pertarungan antara Alap-alap Perak dengan Ki Margawasana itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Agaknya mereka telah meningkatkan ilmu mereka semakin lama semakin tinggi, sehingga bergantian mereka saling mendesak.

Wikan, yang sudah berniat untuk melanjutkan pertarungan-nya dengan murid Alap-alap Perak pun tiba-tiba telah bergeser pula mendekati lawannya. Senjata yang digenggamnya telah mulai bergetar. Namun ketika Wikan itu akan mulai, maka terdengar Ki Margawasana itu pun berkata, “Wikan. Kau dan saudara-saudaramu akan menjadi saksi dari pertarungan ini. Biarkanlah orang-orang itu juga bersaksi.

Wikan mengurungkan niatnya. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali, ia sadar, bahwa gurunya tidak ingin Wikan dan saudara-saudaranya itu mempengaruhi perang tanding yang sedang dilakukannya.

“Bukankah dugaanku benar, Margawasana” desis Alap-alap Perak.

“Dugaan apa?” bertanya Ki Margawasana.

“Kau masih tetap seorang laki-laki sejati. Kau cegah murid-muridmu mempengaruhi pertarungan kita”

“Aku memerlukan saksi. Jika mereka bertempur, maka mungkin saja terjadi bahwa mereka akan memburu murid-muridmu sampai keluar regol halaman, karena murid-muridmu melarikan diri”

“Kau tidak perlu merendahkan murid-muridku, Ki Marga-wasana. Bukankah biasanya kau tidak pernah menyombongkan diri?”

“Semakin tua aku menjadi semakin sombong. Tetapi itu terdorong-oleh kebanggaanku atas murid-muridku”

“Persetan” geram Alap-alap Perak. Ia pun kemudian meloncat menyambar. Tangannya berusaha mencengkam leher Ki Margawasana. Tetapi Ki Margawasana pun sempat mengelak, sehingga kuku-kuku Alap-alap Perak itu tidak menghunjam di lehernya.

Demikianlah pertempuran pun menjadi semakin sengit. Ki Margawasana pun berloncatan dengan cepatnya, seakan-akan tubuhnya tidak mempunyai bobot sama sekali. Namun serangan-serangannya tetap saja mantap, seperti ayunan bola-bola besi yang berat.

Wikan dan saudara-saudaranya, serta murid-murid Alap-alap perak itu pun menyaksikan pertarungan itu dengan hati yang berdebaran.

Namun tidak segera dapat diduga, siapakah yang akan keluar sebagai pemenang.

Dengan garang, Alap-Alap Perak itu menyerang dengan jari-jari tangannya yang mengembang. Jari-jari tangan itu pun berusaha mencekam leher, dada dan bahkan bahu Ki Margawasana. Tetapi Ki Margawasana ternyata cukup tangkas. Ia masih mampu menghindari goresan kuku-kuku Alap-alap Perak yang tajam itu.

Bahkan Ki Margawasana masih juga mampu membalas serangan-serangan itu dengan serangan-serangannya yang tidak kalah berbahayanya. Ternyata kaki Ki Margawasana lebih berbahaya daripada tangannya. Ketika pertahanan Alap-alap Perak itu terbuka di bagian lambung, maka Ki Margawasana mampu memanfaatkannya dengan baik. Kakinya terjulur dengan cepat, menghantam lambung.

Alap-alap Perak pun lerdorong beberapa langkah surut. Tciapi ia masih mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga Alap-alap Perak itu tidak jatuh terguling.

Namun Ki Margawasana itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ketika Alap-alap Perak terhuyung-huyung serta sedang berjuang untuk berlahan agar ia lelap tegak berdiri, Ki Margawasana pun meluncur dengan derasnya. Kakinya terjulur menyamping langsung mengenai dada Alap-alap Perak.

Alap-alap Perak itu tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya. Tubuhnya terlempar dan jatuh berguling di tanah.

Alap-alap Perak itu pun segera meloncat bangkit sambil mengumpat, “Setan kau Margawasana. Kau telah membuat kesalahan yang besar sekali”

“Kenapa?“

“Kau lelah menyerang dadaku sehingga aku jatuh terguling. Itu adalah pantangan yang besar sekali. Setiap orang yang pernah menjatuhkan tubuhku, akan menyesalinya, karena aku tidak akan mengampuninya lagi”

Ki Margawasana pun tertawa. Katanya, “Kau masih saja suka bergurau, Alap-alap Perak. Apakah kira-kira aku memerlukan pengampunanmu?”

“Ternyata kaulah yang berubah. Aku kira kau masih saja rendah hati. Ternyata kau sekarang benar-benar menjadi sombong”

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa semakin tua aku menjadi semakin sombong”

Alap-alap Perak tidak menjawab. Namun tiba-tiba Alap-alap Perak itu meloncat menyerang. Tangannya terayun mendatar. Alap-alap Perak justru menyerang dengan punggung telapak tangannya yang jari-jarinya terbuka.

Ki Margawasana agak terlambat mengelak. Karena itu, maka tangan Alap-alap Perak itu telah menampar wajahnya.

Ki Margawasana lah yang kemudian terdorong surut. Tetapi ketika Alap-alap Perak memburunya, Ki Margawasana berhasil melenting tinggi. Sekali melingkar diudara, kemudian kedua kakinya pun menapak di tanah. Justru di belakang Alap-alap Perak.

Jantung Alap-alap Perak bagaikan tersentuh ujung duri. Sambil mengumpat kasar, Alap-alap Perak itu meloncat menyambar Ki Margawasana dengan jari-jari.

Ki Margawasana masih belum siap menerima serangan itu Karena itu, maka Ki Margawasana pun tidak sempat mengelak.

Jari-jari Alap-alap Perak itu pun sempat menyambar bahu Ki Margawasana.

Kuku-kuku Alap-alap Perak itu pun telah mengoyakkan baju serta menggores kulit di bahu Ki Margawasana. Ternyata buku-buku Alap-alap Perak telah dilapisi perak di ujung-ujungnya, sehingga ketika buku-buku jari-jari tangan Alap-alap Perak itu menggores bahu Ki Margawasana, maka di bahu itu pun terdapat goresan-goresan luka. Meskipun luka-luka itu tidak begitu dalam, namun dari luka-luka itu telah mengalir darah.

Ki Margawasana meloncat surut.

“Kau tidak yakin akan kekuatan bagian-bagian dari tubuhmu sendiri Alap-alap perak. Kau lapisi ujung kuku-kukumu dengan perak.

“Persetan kau Margawasana, kalau kau berniat memperguna-kan senjata, pergunakanlah. Murid-muridmu itu membawa pedang. Kau dapat meminjamnya”

“Aku belum memerlukannya. Aku masih mempercayai bagian-bagian dari tubuhku sendiri sebagai senjata yang terbaik”

“Kesombonganmu sudah keterlaluan. Bukan saja semakin tua kau menjadi semakin sombong. Tetapi ternyata Margawasana sekarang memang sudah berubah”

“Itu juga karena aku menjadi semakin tua”

Alap-alap Perak itu pun terdiam. Namun serangan-serangannya kemudian dalang seperti banjir bandang. Dengan melukai bahu Ki Margawasana, maka Alap-alap Perak merasa bahwa ia masih mempunyai kesempatan. Ia tentu akan dapat melukainya lagi.

Dengan demikian, maka pertarungan itu pun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak semakin meningkatkan ilmu mereka masing-masing.

Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati dan bahkan juga murid-murid Alap-alap Perak itu memperhatikan pertarungan itu dengan tegang. Mereka seakan-akan melihat, bagaimana guru mereka masing-masing memperagakan ilmu mereka sampai ke puncak.

Semakin lama, maka kedua belah pihak pun semakin sering berhasil menyusup penahanan lawan. Mereka menyemak dengan serangan-serangan mereka yang tiba-tiba.

Di tubuh Ki Margawasana pun semakin lama terdapat semakin banyak goresan-goresan kuku Alap-alap Perak. Darah pun semakin banyak mengalir membasahi pakaian Ki Margawasana. Di lengan, di lambung, di dada, di bahu dan bahkan di punggung. Pakaian Ki Margawasana pun telah terkoyak-koyak pula.

Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu pun menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun mereka mempunyai kesempatan, tetapi mereka tidak akan berani mengganggu Ki Margawasana yang sudah berpesan, agar mereka sekedar menjadi saksi dari pertarungan itu. Mereka tidak dapat ikut bertempur, karena pertarungan itu merupakan perang tanding antara keduanya.

“Kau akan segera kehabisan darah, Margawasana” geram Ala-alap Perak.

Ki Margawasana tidak menjawab. Tetapi nampaknya ia masih tetap mampu bertempur dengan kekuatan dan kemampuan penuh. Karena itulah, maka Alap-alap Perak pun menjadi semakin berpengharapan bahwa ia akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Tetapi ternyata tidak semudah itu untuk mengalahkan Ki Margawasana. Meskipun Ki Margawasana sudah terluka dimana-mana, tetapi ia masih saja berbahaya. Bahkan tenaga dan kemampuannya, seakan-akan menjadi semakin bertambah.

Ki Margawasana memang merasakan luka-lukanya yang dibasahi oleh keringatnya menjadi pedih. Tetapi luka-lukanya itu belum mempengaruhi kemampuannya. Darah memang sudah menetes, tetapi belum membuatnya menjadi lemah.

Namun dalam pada ilu, Alap-alap Perak masih nampak utuh. Kulitnya masih belum terluka. Darah masih belum mengalir dari kulitnya yang terkoyak.

Wikan dan saudara-saudara menjadi sangat tegang. Ia melihat dalam keremangan malam, dibawah cahaya lampu minyak yang redup dan hampir tidak terjangkau, darah yang merah di pakaian Ki Margawasana. Tetapi Wikan masih saja tetap berpengharapan, karena Ki Margawasana masih tetap bertempur dengan kekuatan dan kemampuan yang utuh.

Sementara itu, Alap-alap Perak yang masih belum terluka sama sekali itu, justru nampak kemampuannya mulai menyusut. Meskipun demikian, masih belum dapat ditebak, siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah.

Tetapi justru Alap-alap Peraklah yang nampak mulai mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, Alap-alap Perak yang telah berhasil menggoreskan luka-luka di tubuh Ki Margawasana pun mulai menjadi gelisah. Meskipun luka-luka hampir memenuhi tubuhnya, tetapi Ki Margawasana itu justru mulai mendesaknya.

“Gila orang ini” geram Alap-alap Perak, “seharusnya ia sudah mulai kehilangan tenaganya. Tetapi Margawasana ini justru semakin liar”

Dalam pada itu, lampu minyak di pendapa terayun di guncang angin, sehingga hampir saja padam. Pada saat itu, Alap-alap Perak itu bagaikan terbang menyambar dada Ki Margawasana. Namun Ki Margawasana sempat mengelak dengan merendahkan diri, sehingga tangan Alap-alap Perak itu tidak menyentuhnya. Namun demikian kaki Alap-alap Perak itu menyentuh tanah, maka Alap-alap Perak itu telah melenting dengan cepat. Dengan jari-jari yang mengembang tangan Alap-alap Perak itu sempat menggores punggung Ki Margawasana.

Beberapa goresan lagi telah menyilang panjang di punggung Ki Margawasana.

Namun ketika Alap-alap Perak itu membuat ancang-ancang menerkam Ki Margawasana, maka Ki Margawasana itu sudah melenting dengan cepatnya. Tubuhnya berputar sekali sementara kakinya terayun mendatar. Dengan derasnya kaki Ki Margawasana itu mengenai dada Alap-alap Perak, sehingga Alap-alap Perak itu terpental beberapa langkah. Sebelum Alap-alap Perak itu sempat meloncat dengan mengerahkan segenap kekuatan serta tenaga dalamnya. Kakinya yang terjulur menyamping tiba-tiba saja telah hinggap di dada Alap-alap Perak.

Alap-alap Perak itu pun terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya telah membentur sebatang pohon tanjung yang tumbuh disudut halaman.

Alap-alap Perak itu pun mencoba untuk mempertahankan keseimbangannya. Namun setelah terhuyung-huyung sejenak, maka Alap-alap Perak itu pun terkulai jatuh.

Bahkan kemudian darah segar telah mengalir dari sela-sela bibirnya.

Meskipun kulit tubuh Alap-alap Perak belum terluka, namun bagian dalam tubuhnya seakan-akan telah diremukkan oleh kekuatan serta kemampuan Ki Margawasana. Sebaliknya, luka-luka yang dialami oleh Ki Margawasana adalah luka-luka pada permukaan kulitnya. Tetapi bagian dalam tubuhnya masih tetap utuh. Jika terjadi luka didalam, maka luka itu tidak seberapa serta tidak berpengaruh sama sekali terhadap tenaga serta kemampuan Ki Margawasana.

Beberapa saat kemudian. Alap-alap Perak itu pun berhasil berdiri tegak lagi. Pakaiannya telah dibasahi oleh darah segar yang tertumpah dari mulutnya.

“Setan kau Margawasana” geram Alap-alap Perak, “ternyata kau memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa. Tetapi itu tidak berarti bahwa kau kebal terhadap segala macam ilmu. Karena itu, maka aku akan membunuhmu dengan Aji Mahabala”

“Jangan Alap-alap Perak. Kalau kau mau mendengarkan aku, kau jangan mempergunakan Aji Mahabala”

Alap-alap Perak itu tertawa berkepanjangan. Namun tertawanya itu pun terhenti, ketika dadanya rasa-rasanya bagaikan terbakar. Darah kembali mengalir lewat sela-sela bibirnya.

Tetapi dengan manahan nyeri di dadanya, Alap-alap Perak itu pun bertanya, “Kau menjadi ketakutan, Margawasana? Aji Mahabala memang Aji yang tidak terlawan”

“Alap-alap Perak. Bukan karena aku menjadi ketakutan. Tetapi aku pun pernah menjalani laku untuk menguasai Aji Mahabala”

“Kau curi ilmu itu dari perguruan Alap-alap Perak?”

“Tidak. Aji Mahabala bukan bersumber dari perguruan Alap-alap Perak, tetapi bersumber dari perguruan Sawo Kembar. Perguruan yang menjunjung tinggi kebenaran. Jika kau dalam keadaanmu yang terluka dalam, serta lebih daripada itu, untuk tujuan yang tidak seharusnya, maka Aji Mahabala akan berbahaya bagi orang yang akan mengetrapkannya”

“Kau mencoba menyelamatkan dirimu. Margawasana. Aku sudah menguasai Aji Mahabala, meskipun tidak terlalu sering aku pergunakan. Tetapi untuk melawan kemampuanmu, maka Aji Mahabala akan menyelesaikan pertempuran ini dengan segera”

“Kau yang terluka di dalam, tidak akan memiliki tenaga yang cukup untuk melontarkan Aji Mahabala itu. Seandainya kau tetap akan mempergunakan, maka kau tentu sudah mengetahui akibatnya”

“Persetan dengan igauanmu. Margawasana. Tubuhmu tentu akan lebur diterpa oleh Aji Mahabala”

“Dengarkan aku, Alap-alap Perak. Jangan kau pergunakan Aji itu”

“Persetan kau. Margawasana”

Alap-alap Perak tidak mau mendengarkan peringatan Ki Margawasana yang ternyata juga sudah menguasai Aji Mahabala. Dalam keadaan berputus-asa maka Alap-alap Perak itu pun segera mempersiapkan diri untuk mempergunakan Aji Mahabala.

Ki Margawasana tidak mempunyai waktu untuk mencoba mengetrapkan Aji yang sangat ditakuti itu. Sebenarnyalah bahwa ia menjadi ragu-ragu. Ia sadar, bahwa ia telah mempelajari ilmu Aji Mahabala untuk mengimbangi Alap-alap Perak yang ternyata telah mampu mencuri mengutip isi kitab tentang Aji Mahabala. Tetapi karena waktu itu, Alap-alap Perak merasa sangat tergesa-gesa, maka ada beberapa bab yang belum sempat dikutibnya. Karena itu, maka Alap-alap Perak itu masih belum menjalani beberapa bagian dari laku untuk menuntaskan Aji Mahabala.

Tetapi Ki Margawasana tidak sempat membuat berbagai macam pertimbangan. Karena itu, ketika Alap-alap Perak setelah membangun ancang-ancang, kemudian melepaskan Aji Mahabala, maka Ki Margawasana yang juga sudah menguasai Aji itu, justru lebih dalam, mengetahui dengan pasti pula, bagaimana ia harus menghindari serangan Aji Mahabala itu. Ki Margawasana sengaja tidak melawan kekuatan Aji Mahabala dengan Aji yang sama, karena dengan demikian, maka Alap-alap Perak itu akan menjadi debu karenanya. Selain Alap-alap Perak masih belum menguasai ilmu itu dengan tuntas, maka keadaan luka dalam Alap-alap Perak pun sudah sedemikian parahnya.

Sejenak kemudian, maka Alap-alap Perak itu pun telah meluncurkan kekuatan Aji Mahabala. Segumpal kabut yang sangat tipis meluncur dari telapak tangan Alap-alap Perak.

Namun dengan tangkasnya, Ki Margawasana itu pun telah menghindarinya.

Ternyata Aji Mahabala itu tidak dapat mengenai sasarannya. Dalam keadaan yang terluka parah di bagian dalam butuhnya, maka Aji Mahabala itu meluncur dengan lamban, sehingga Ki Margawasana dengan mudah dapat menyingkir dari garis serangan.

Namun ketika gumpalan awan tipis itu mengenai dinding halaman rumah Ki Margawasana, maka dinding itu bagaikan meledak. Sebuah lubang yang besar telah terbuka pada dinding halaman rumah itu.

Namun seperti yang dikatakan oleh Ki Margawasana, untuk melontarkan Aji Mahabala, maka Alap-alap Perak telah menghentakkan segenap tenaganya yang tersisa, sehingga dengan demikian, maka setelah meluncurkan Aji Mahabala, maka Alap-alap Perak itu pun terhuyung-huyung jatuh terjerembab di tanah.

Murid-muridnya pun berlari kearahnya. Mereka pun segera berjongkok di sekelilingnya. Seorang diantara mereka pun telah menelentangkan Alap-alap Perak dan meletakkan kepalanya di pangkuannya.

“Guru“ desis orang itu.

Alap-alap Perak membuka matanya. Ia mencoba untuk berbicara. Lambat sekali.

“Margawasana benar. Tenagaku sudah tidak cukup lagi untuk melepaskan Aji Mahabala”

“Bertahanlah guru. Kami akan membawa guru pulang”

Alap-alap Perak itu pun menggeleng. Katanya, “Tidak ada waktu lagi. Agaknya sudah sampai saatnya aku kembali kepada asalku”

“Jangan berkata begitu, guru. Aku akan mencari tabib terbaik yang akan dapat mengobati guru”

“Lukaku sangat parah. Bahkan aku telah membuat lukaku itu bertambah parah dengan melontarkan Aji Mahabala. Aku tidak mau mendengar peringatan Margawasana. Agaknya Margawasana juga menguasai Aji Mahabala itu”

“Marilah guru. Kita akan pergi berkuda”

Tetapi Alap-alap Perak itu pun menggeleng sambil berkata dengan suara yang semakin perlahan, “Tidak ada waktu lagi“

“Guru, guru“ orang yang meletakkan kepala Alap-alap Perak itu di pangkuannya itu pun berteriak semakin keras, “Guru”

Tetapi Alap-alap Perak sudah tidak mendengarnya lagi. Ia pun telah memejamkan matanya untuk selama-lamanya.

Orang yang kehilangan gurunya itu pun meletakkan kepala Alap-alap Perak. Ia pun segera bangkit berdiri. Sambil menuding kearah Ki Margawasana orang itu pun berkata, “Kau telah membunuh guru”

Ki Margawasana yang pakaiannya telah diwarnai oleh darahnya itu menggeleng sambil berkata, “Tidak, Ki Sanak. Bukan aku yang telah membunuhnya. Tetapi ia telah membunuh dirinya sendiri. Aku sudah memperingatkannya, tetapi ia tidak mau mendengarkannya”

“Apa pun yang terjadi, tetapi kaulah yang telah menyebabkannya. Kaulah yang telah memancing pertempuran. Jika kau mau menuruti perintahnya, maka tidak akan terjadi seperti ini”

Yang Menjawab adalah Wikan, “Guru tidak wajib memenuhi perintah Alap-alap Perak. Bahkan guru sudah berbaik hati memperintahkannya agar gurumu tidak mempergunakan Aji Mahabala. Tetapi Alap-alap Perak tidak mendengarkannya”

“Diam. Aku koyakkan mulutmu”

Wikan itu pun segera meloncat mendekati orang itu sambil berkata, “Bagus. Kau sudah melanggar banyak sekali pantangan di halaman rumah guru. Aku sudah siap untuk membunuhmu”

Murid Alap-alap Perak itu tiba-tiba menyadari, bahwa gurunya sudah tidak ada. Tidak akan ada lagi orang yang dapat melindungi mereka. Sedangkan mereka ternyata tidak akan dapat mengalahkan murid-murid Ki Margawasana itu. .

Untunglah bahwa Ki Margawasana itu pun berkata, “Pergilah. Jangan membuat kami kehilangan kendali”

“Baik. Aku sekarang akan pergi. Tetapi pada suatu saat, aku akan kembali lagi”

Ki Margawasana tidak menjawab. Dibiarkannya murid-murid Alap-alap Perak itu mengusung tubuh gurunya dan di letakkannya diatas punggung seekor kuda. Demikian pula mereka membantu saudara-saudara seperguruannya yang tertatih-tatih untuk naik ke punggung kudanya pula.

Sejenak kemudian, maka murid-murid Alap-alap Perak itu pun segera meninggalkan halaman rumah Ki Margawasana.

Demikian mereka pergi, maka Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu pun segera mendekati Ki Margawasana.

“Guru terluka cukup parah” berkata Wikan.

“Hanya luka dipermukaan” jawab Ki Margawasana.

“Tetapi luka-luka guru memerlukan pengobatan” sahut Ki Rantam.

Ki Margawasana tidak membantah. Ki Margawasana pun berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam rumahnya.

Sementara itu, orang tua yang menunggu rumah di Gebang itu pun telah membawa air hangat serta sepotong kain putih.

Ki Rantam lah yang kemudian membersihkan luka-luka Ki Margawasana. Ternyata goresan-goresan kuku perak dari Alap-alap Perak itu cukup dalam. Namun daya tahan Ki Margawasana itu pun cukup tinggi untuk dapat mengatasinya.

Setelah luka-luka itu dibersihkan, maka Ki Margawasana telah memberikan sebuah bumbung kecil yang berisi serbuk reramuan obat untuk memampatkan darah serta merapatkan luka-luka baru.

Ketika Ki Rantam menaburkan obat itu, maka Ki Margawasana berdesis menahan pedih. Namun lambat laun perasaan pedih itu pun menjadi hilang.

Beberapa saat kemudian, setelah Ki Margawasana serta kedua muridnya dan kedua orang murid Ki Wigati itu menjadi tenang, maka Wikan pun mulai bertanya, “Kenapa Alap-alap Perak itu menganggap bahwa lamoaug penyerahan kepemimpinan perguruan Udyana itu dapat dipergunakan untuk membuat emas, guru?“

“Entahlah, Wikan. Darimana Alap-alap Perak mendapatkan mimpi itu”

“Tetapi menurut pendapatku, kematian Alap-alap Perak belum berarti usaha untuk merebut benda itu, berakhir”

“Ya. Alap-alap Perak muda, yang datang ke perguruan Udyana bersama pamanmu Wigati, tentu masih akan tetap memburu benda itu. Karena itu, berhati-hatilah menjaganya. Mungkin sekali Alap-alap Perak-akan mengambilnya dengan cara yang sangat licik. Benda itu memang pernah dicuri, seperti orang mencuri perhiasan yang disimpan di dalam peti”

“Mungkin Alap-alap Perak itu benar-benar pernah bermimpi bahwa benda itu dapat dipergunakan untuk membuat emas”

“Mungkin. Tetapi mungkin Alap-alap Perak juga pernah mendengar dongeng tentang benda-benda yang dapat dipergunakan untuk membuat emas”

Wikan serta mereka yang lain pun mengangguk-angguk. Tetapi menurut penalaran mereka, tentu ada sumber ceritera tentang pembuatan emas itu.

“Guru” berkata Wikan kemudian, “Apakah mungkin dongeng itu sengaja dibuat untuk mengacaukan dunia olah kanuragan, agar perguruan yang satu saling berebut dengan perguruan yang lain, sehingga perguruan-perguruan itu menjadi saling bermusuhan”

“Mungkin sekali, Wikan. Ada orang-orang yang sengaja, membuat agar perguruan-perguruan yang ada itu saling bermusuhan. Mereka tidak ingin melihat perguruan-perguruan itu dapat hidup rukun dalam kedamaian. Mungkin juga karena mereka merasa iri terhadap perkembangan perguruan yang ada. Mungkin pula kecemasan bahwa kebesaran nama pergutuan mereka sendiri akan menjadi pudar karena kebesaran nama perguruan yang lain”

“Jika terjadi seperti tadi, guru” berkata Ki Rantam, “Bukankah kita tidak akan dapat mengelak lagi. Kita harus bertarung sehingga Alap-alap Perak terbunuh”

“Ya. Kita dihadapkan pada suatu keadaan tanpa pilihan. Kecuali jika kita ikuti perintah mereka. Dan bukankah hal itu tidak akan mungkin terjadi?“

“Ya, guru”

“Guru“ bertanya Wikan pula, “Apakah guru juga menguasai Aji yang disebutnya Aji Mahabala?“

“Ya” jawab Ki Margawasana, “Aku memang mempelajari Aji Mahabala. Sementara itu, Alap-alap Perak lewat seorang petugas sandinya dapat mengetahui dimana guru menyimpan kitab yang memuat Aji Mahabala itu. Pada suatu sat, Alap-alap Perak sempat mencurinya. Bersamaan waktunya dengan saat ia mencuri lambang penyerahan kekuasaan yai-g kita miliki itu. Sementara itu, ketika aku mengambil kembali benda itu sekaligus kitab yang memuat Aji Mahabala itu, Alap-alap Perak sedang berusaha untuk mengutip isinya. Tetapi ternyata kutipan itu masih belum lengkap. Ada sebagian laku yang tertinggal. Meskipun demikian, Aji Mahabala itu telah dikuasai oleh Alap-alap Perak, meskipun belum sempurna karena ada laku yang seharusnya dijalani”

“Tetapi guru sendiri tidak mengembangkan Aji Mahabala itu“ bertanya Ki Rantam.

“Tidak. Kakek gurumu juga tidak. Tetapi kakek gurumu telah menyusunnya kembali menjadi ilmu yang lebih baik dari Aji Mahabala itu. Ilmu itulah yang kalian kenal sebagai ilmu andalan perguruan Udyana sekarang ini”

“Apakah kelebihannya ilmu itu dengan Aji Mahabala, guru?”

“Aji Mahabala memerlukan waktu yang lebih banyak untuk melepaskannya. Aji Mahabala pun memerlukan dorongan tenaga dalam yang besar, sehingga dapat justru membahayakan diri sendiri, sebagaimana yang terjadi pada Alap-alap Perak?”

Yang mendengarkan keterangan Ki Margawasana itu pun mengangguk-angguk. Sedangkan Ki Margawasana itu pun berkata lebih lanjut, “Sedangkan kakek guru telah menyusun kembali Aji Mahabala itu menjadi kekuatan yang dalam sekejap dapat dilontarkan. Tidak memerlukan dorongan kekuatan tenaga dalam yang terlalu besar.

Dengan menyalakan tenaga oleh sentuhan-sentuhan pada simpul-simpul syaraf sebagaimana telah kalian pelajari dengan seksama, maka kalian tidak perlu menghabiskan tenaga kalian sehingga kalian menjadi tidak berdaya. Bahkan dalam keadaan yang parah, Aji Mahabala itu akan dapat mencabut nyawanya sendiri”

Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu pun mengangguk-angguk. Kedua orang murid Ki Wigati itu pun sedang dalam tataran mula untuk menguasai ilmu sebagaimana diturunkan oleh kakak gurunya. Karena Ki Wigati dan Ki Margawasana adalah saudara seperguruan.

Sementara itu, Ki Margawasana pun berkata selanjutnya, “Baiklah. Pada kesempatan lain, mungkin Ki Udyana dapat berceritera pula tentang Aji Mahabala itu”

Wikan tidak bertanya lebih jauh lagi. Demikian pula Ki Rantam yang sudah mempunyai sedikit gambaran tentang perkembangan Aji Mahabala.

“Guru” berkata Ki Rantam kemudian, “silahkan guru beristirahat. Darah telah banyak mengalir dari luka-luka di tubuh guru. Karena itu maka guru tentu perlu beristirahat.

“Baiklah. Aku akan beristirahat dahulu. Tetapi kalian pun perlu beristirahat pula”

“Ya, guru. Kami juga akan segera beristirahat”

Demikianlah, maka Ki Margawasana itu pun segera pergi ke biliknya. Tubuhnya memang kelihatan lemah. Jauh berbeda dengan saat Ki Margawasana itu menghadapi Alap-alap Perak. Agaknya Ki Margawasana memang harus mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk menghadapi Alap-alap Perak tua, yang memiliki ilmu yang tinggi itu.

Namun, demikian pertarungan itu selesai, maka segenap tenaganya seakan-akan telah terkuras habis.

Wikan, Ki Rantam dan kedua murid Ki Wigati itu untuk beberapa saat masih saja duduk di ruang dalam. Mereka masih berbincang tentang Alap-alap Perak dengan Aji Mahabala yang menggetarkan itu.

Kedua murid Ki Wigati yang meskipun masih pada tataran mula untuk menguasai ilmu Mahabala yang sudah disempurnakan itu, merasakan watak yang sangat berbeda dari Aji Mahabala itu sendiri.

“Tentu telah terjadi perubahan besar pada saat kakek guru memimpin padepokan Udyana“ desis Wikan.

“Ya. Tentu telah terjadi perubahan sifat dan watak dari perguruan ini. Tetapi bersukurlah kita, bahwa kita mengenali perguruan kita sebagai satu perguruan yang bersih sekarang ini sahut Ki Rantam.

“Perubahan itu tentu tidak lepas dari dukungan para murid pada masa guru masih menjadi murid dari perguruan ini”

Wikan itu pun mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja seorang diantara murid Ki Wigati itu pun berkata seakan-akan kepada diri sendiri, “Mungkin guru kurang tanggap terhadap perubahan yang terjadi, sehingga guru masih mudah dipengaruhi oleh Alap-alap Perak yang muda, sehingga guru telah datang ke padepokan Udyana”

“Mungkin sekali” sahut Ki Rantam, “tetapi bukankah sekarang paman Wigati telah benar-benar menghayati perubahan itu?”

“Ya. Agaknya guru pun telah benar-benar berubah sekarang”

Mereka yang masih duduk di ruang dalam itu pun terkejut ketika seorang tua memasuki ruangan itu sambil membawa minuman panas. Sambil meletakkan mangkuk minuman itu dihadapan mereka yang masih berbincang di ruang tengah, orang tua itu berkata, “Mari. Silahkan ngger. Kalian tentu memerlukan minuman segar malam ini, setelah kalian bertarung dengan orang-orang berkuda itu”

“Terima kasih, kek” jawab keempat orang itu hampir berbareng.

Untuk beberapa saat mereka masih berbincang sambil menghirup minuman hangat. Baru kemudian setelah malam menjadi larut, maka mereka pun pergi ke bilik mereka masing-masing.

Di keesokan harinya, maka keempat orang itu telah bangun pagi-pagi. Semalam mereka telah melupakan binatang buruan mereka, namun ketika mereka bangun, maka binatang buruan mereka itu sudah dikuliti, bahkan sudah dipanggang diatas api.

“Siapa yang telah mengulitinya?” bertanya Ki Rantam. Orangtua yang menunggu rumah di gebang itu tersenyum sambil menjawab, “Aku ngger”

“Terima kasih, kek. Kakek telah bersusah payah mengulitinya”

“Aku dahulu juga sering berburu. Aku tahu caranya menguliti binatang buruan. Aku tahu caranya memanggangnya. Nah, sekarang jika binatang buruan itu akan kalian bawa ke bukit, bawalah”

Ketika keempat orang itu ragu-ragu, Ki Margawasanalah yang berkata, demikian ia keluar dari pintu butulan, “marilah kita bawa hasil buruan kalian. Bukankah kalian masih akan pergi ke bukit Jatilamba”

“Ya, guru” jawab Wikan dan Ki Rantam bersama-sama.

Ketika matahari terbit, maka mereka telah selesai berbenah diri. Ki Margawasana telah nampak menjadi segar kembali. Tidak ada bekas kelelahan semalam.

Meskipun demikian, namun luka-luka goresan yang dalam dari kuku-kuku perak Alap-alap Perak masih belum kering. Diatas luka-luka itu masih ditaburkan serbuk ramuan obat-obatan.

Hari itu, Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati masih berada di Bukit Jatilamba. Baru keesokan harinya mereka akan pulang ke padepokan mereka masing-masing. Wikan dan Ki Rantam serta kedua orang murid Ki Wigati itu merasa perlu untuk segera melapor tentang kematian Alap-alap Perak yang tua. Mungkin sekali kematian Alap-alap Perak tua itu akan dapat menimbulkan masalah bagi padepokan mereka.

Sementara itu, Wikan pun bertanya kepada Ki Margawasana. Lalu bangaimana dengan guru?”

“Kenapa?”

“Jika Alap-alap Perak itu datang dengan semua murid-muridnya mengepung bukit Jatilamba ini?”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Mereka tidak akan melakukannya. Tetapi seadainya mereka juga melakukannya, maka aku mempunyai cara tersendiri untuk menghadapi mereka”

“Maksud guru?”

“Tentu tidak ada diantara mereka yang mampu berlari secepat aku. Karena itu, maka senjataku untuk menyelamatkan diri, aku rasa sudah yang terbaik diantara segala macam senjata”

Mereka yang mendengarnya termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun kemudian tersenyum.

Ketika malam turun, keempat orang itu masih sempat menikmati malam yang segar dibukit Jatilamba. Angin mengalir lembut, sehingga dedaunan bergoyang perlahan. Daun nyiur pun seakan-akan melambai menahan agar keempat orang itu tidak tergesa-gesa meninggalkan bukit kecil itu. Gemercik air yang mengalir dari belumbang turun ke dalam parit induk terdengar dalam iramanya sendiri.

“Kami akan berangkat esok pagi-pagi sekali guru. Seperti pada saat kami berangkat, maka di jalan pulang pun kami akan singgah di padepokan paman Wigati”

“Baiklah. Pesanku kepada pamanmu Wigati, berhati-hatilah menghadapi Alap-alap Perak yang licik. Kematian Alap-alap Perak yang tua, tentu akan menanamkan dendam di hati Alap-alap Perak yang muda itu. Dengan demikian, maka dendamnya kepada pamanmu Wigati tentu akan semakin berlipat”

“Baik guru” jawab Wikan.

Sementara itu kepada kedua orang murid Ki Wigati itu, Ki Margwasana berpesan pula, “Kau wajib mengingatkan jika gurumu tergelincir ke jalan yang tidak semestinya. Memang mungkin kalian akan dianggap berani menentang gurumu, tetapi setelah gurumu sempat merenungi, maka ia akan mengerti. Ia tentu tidak akan mengulangi kesalahannya sampai dua kali”

“Ya, uwa. Aku akan memberanikan diri jika guru tergelincir lagi”

Malam itu, rasa-rasanya keempat orang itu tidak ingin tidur. Rasa-rasanya mereka ingin merasakan segarnya udara dibukit Jatilamba itu.

Namun karena di keesokan harinya mereka akan menempuh perjalanan panjang, maka mereka pun lelah pergi ke bilik mereka lewat tengah malam.

Pagi-pagi sekali mereka telah terbangun. Mereka pun segera berbenah diri. Mereka pun telah menyiapkan kuda-kuda mereka pula.

Sebelum matahari terbit, maka mereka pun telah bersiap. Ki Margawasana pun telah bangun pula.

“Guru, kami mohon diri. Kami akan kembali ke padepokan. Paman Wigati dan kakang Udayana harus segera mengetahui apa yang telah terjadi disini” berkata Ki Rantam.

“Baiklah. Hati-hati di jalan. Adi Wigati dan Udayana pun harus berhati-hati pula menghadapi Alap-alap Perak yang licik dan licin. Alap-alap Perak muda itu sama-sama licik dan licinnya dengan Alap-alap yang tua itu”

“Baik uwa. Pesan akan kami sampaikan kepada guru” jawab seorang diantara kedua murid Ki Wigati itu.

Sementara itu, Wikan dan Ki Rantam  pun telah dipesan pula mawanti-wanti oleh Ki Margawasana.

Demikianlah ketika sinar matahari mulai mencuat di langit, maka keempat orang itu meninggalkan bukit kecil yang disebut Bukit Jatilamba itu.

Seperti yang dikatakannya, maka Wikan dan Ki Ran-tam pun ikut pula bersama kedua orang murid Ki Wigati itu. Mereka akan singggah di padepokan itu dan bermalam semalam. Baru di keesokan harinya mereka akan meneruskan perjalanan.

Wikan dan Ki Rantam memang berniat untuk lebih mempererat hubungan antara kedua perguruan yyang memiliki sumber ilmu yang sama itu.

Tidak ada hambatan yang berarti di perjalanan mereka. Sekali-sekali mereka pun berhenti untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.

Ketika mereka sampai di padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati, maka Ki Rantam itu pun dipersilahkan naik ke pendapa bangunan utama padepokan Ki Wigati.

“Apa kalian mendapatkan pengalaman baru di bukit Jatilamba itu?” bertanya Ki Wigati.

“Ya, guru. Pengalaman yang sangat berharga”

Ki Wigati mengerutkan dahinya. Nampaknya ia tertarik kepada keterangan salah seorang muridnya itu. Ki Wigati pun kemudian bertanya, “Pengalaman apa?“

“Ketika kami berada di Gebang selagi kami berburu kijang dihutan tidak terlalu jauh dari Gebang, Wikan telah tercebur kedalam pusaran lumpur yang berwarna kehitam-hitaman”

“Pusaran lumpur?“

“Ya, guru” jawab murid Ki Wigati itu. Ia pun kemudian berceritera tentang kubangan lumpur yang agaknya mengandung minyak itu.

Ki Wigati yang mendengarkan ceritera muridnya itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bergumam, “Sukurlah, bahwa jiwamu masih mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Penyayang, sehingga kau masih dapat bertemu lagi dengan gurumu, Wikan”

“Ya, paman. Satu pengalaman yang sangat mengerikan”

“Selain pengalaman itu, kami masih mendapat pengalaman lain yang tidak kalah menariknya, guru” berkata murid Ki Wigati yang lain.

“Pengalaman apa lagi”

“Pada saat kami berada di Gebang, telah mendatangi uwa Margawasana, setan Berambut Putih itu”

“Siapakah yang kau maksud?“

“Alap-alap Perak”

“Alap-alap Perak? Jadi Alap-alap Perak itu menyusul kalian ke Gebang?“

“Tetapi bukan Alap-alap Perak yang bertempur dengan guru waktu itu”

“Jadi Alap-alap Perak tua yang kau maksud?“

“Ya, guru. Tetapi diluar kehendaknya, uwa Margawasana telah menghentikan perlawanan Alap-alap Perak itu. Alap-alap Perak telah terbunuh oleh kekuatan ilmunya sendiri”

“Ilmu apa yang kau maksud?“

“Aji Mahabala”

Ki Wigati menarik nafas panjang. Katanya, “Aku sudah mengira. Alap-alap Perak masih belum menguasai Aji Mahabala itu sepenuhnya”

“Nampaknya justru uwa Margawasana yang telah menguasainya”

“Ya. Uwakmu memang sudah menguasai ilmu itu. Tetapi bagi kami, Aji Mahabala itu tidak berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah disusun kembali oleh kakek gurumu. Aji Mahabala yang bersumber dari peguruan Sawo Kembar itu memang ilmu yang dimaksudkan untuk melindungi orang-orang yang lemah yang memerlukan keadilan dan kebenaran. Tetapi Aji itu mempunyai banyak kelemahan, sehingga kakek gurumu telah menyusunnya kembali”

“Uwa Margawasana juga berkata begitu”

“Sebenarnya Alap-alap Perak pun sudah mencoba untuk menyusun kembali Aji Mahabala itu. Mengisi beberapa kekosongan karena Alap-alap Perak tua memang tidak berhasil mengutip seluruh isi kitab itu. Tetapi agaknya Alap-alap Perak tua itu belum berhasil. Ketika aku bertempur melawan Alap-alap Perak yang muda itu, aku masih melihat Aji Pemungkas yang dilontarkannya, unsur dari Aji Mahabala masih mewarnainya. Tetapi memang ada usaha untuk menyempurnakannya”

“Sekarang Alap-alap Perak tua itu sudah tidak ada guru”

Ki Wigati menarik nafas panjang. Katanya, “Ya. Alap-alap Perak tua itu sudah tidak ada. Tetapi dendam Alap-alap Perak muda itu tentu menjadi semakin bertimbun”

“Ya, guru. Uwa Margawasana juga berpesan, agar guru menjadi lebih berhati-hati. Uwa Margawasana juga berpesan kepada Wikan dan Ki Rantam untuk disampaikan kepada kakang Udyana, bahwa Alap-alap Perak itu akan menjadi orang yang sangat berbahaya. Bahkan agaknya perguruan Ki Rina-rina juga harus diberitahu kapan-kapan, karena ketika murid-murid Alap-alap Perak itu mendatangi uwa Margawasana, mereka menyebut diri mereka murid perguruan Ki Rina-rina”

“Alap-alap Perak tentu berniat mengadu domba antara beberapa perguruan. Betapa bodohnya aku, sehingga aku pun telah dapat dibujuknya pula. Untunglah bahwa kakangmu Udyana mewarisi sifat-sifat kakang Margawasana. Jika tidak, maka perguruan kita tentu tinggal namanya saja”

Pembicaraan mereka pun terhenti. Seorang cantrik tengah menghidangkan minuman hangat serta beberapa potong makanan.

Pembicaraan mereka pun kemudian beralih. Mereka mulai berbicara tentang binatang buruan di hutan. Tentang binatang peliharaan dan kemudian mereka berbicara tentang kuda.

Ki Wigati pun kemudian mempersilahkan kedua muridnya untuk membawa Wikan dan Rantam ke bilik yang disediakan bagi mereka.

“Jika kalian ingin pergi ke pakiwan, silahkan” berkata Ki Wigati, “kemudian kalian dapat beristirahat”

Seperti yang direncanakan, maka Wikan dan Ki Rantam bermalam semalam di padepokan Ki Wigati. Di keesokan harinya, keduanya di pagi-pagi benar telah bersiap untuk meneruskan perjalanan.

“Kenapa kalian begitu tergesa-gesa?“ bertanya Ki Wigati.

“Guru berpesan, agar kami segera menyampaikan kepada kakang Udyana berita tentang kematian Alap-alap Perak yang tua, paman”

Ki Wigati mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kau memang harus segera menyampaikan berita kematian itu. Meskipun aku kira Alap-alap Perak masih belum sembuh benar, tetapi orang itu mempunyai banyak akal yang licik”

Demikianlah, ketika langit menjadi semakin terang, Ki Rantam dan Wikan pun telah siap untuk meneruskan perjalanan mereka kembali ke padepokan.

“Hati-hatilah di jalan, “ pesan Ki Wigati.

“Ya, paman. Aku mohon doa dan restu paman”

“Aku akan berdoa bagi kalian”

Sejenak kemudian, Ki Rantam dan Wikan pun telah meninggal-kan padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati, kembali ke padepokan yang kemudian disebut padepokan Udyana.

Perjalanan mereka memang cukup jauh. Bahkan masih banyak ruas-ruas jalan yang sulit dilalui. Jalan-jalan setapak, lorong-lorong kecil, tebing-tebing yang curam dan kadang-kadang berbatu kerikil tajam. Namun ada juga ruas-ruas jalan yang rata, lebar dan bahkan beberapa ruas sudah dikeraskan dengan batu-batu kali serta setiap hari di lewati pedati.

Sedikit lewat tengah hari, Ki Rantam dan Wikan itu pun berhenti di pinggir sebuah sungai yang airnya nampak jernih. Ketika mereka menyeberang, maka kuda-kuda mereka pun telah minum air yang jernih itu. Nampaknya betapa segarnya.

“Aku jadi haus pula” berkata Wikan.

Ki Rantam pun tersenyum. Katanya, “Tetapi kita tentu tidak akan minum air sungai itu”

“Kalau ada belik di pinggir sungai itu, kita dapat minum”

“Di dekat pasar itu tentu ada mata air”

“Ya. Mata air sumur. Bahkan sudah direbus”

Keduanya tertawa. Ki Rantam  pun berkata, “Baiklah. Kita akan singgah untuk mencari minuman pula”

Keduanya  pun kemudian melanjutkan perjalanan setelah kuda-kuda mereka minum sepuasnya di sungai yang airnya jernih itu.

Beberapa saat kemudian, mereka memang melewati sebuah pasar. Tetapi lewat tengah hari, pasar itu sudah agak sepi. Meskipun demikian masih juga ada beberapa buah kedai yang pintunya masih terbuka. Agaknya mereka masih ingin menghabiskan dagangan mereka. Nasi serta beberapa jenis makanan.

Namun masih juga ada beberapa orang yang berada di dalam kedai-kedai itu. Nampaknya para pedagang yang berjualan di pasar yang sudah menjadi agak sepi itu. Mereka beristirahat sambil minum minuman hangat serta makan siang.

Ki Rantam dan Wikan pun kemudian berhenti di depan sebuah kedai kecil. Diikatnya kudanya di patok-patok yang nampaknya memang disediakan bagi para pembeli di kedai itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Rantam dan Wikan pun memasuki kedai kecil itu pula.

Namun mereka justru terkejut. Justru di kedai kecil itu terdapat lebih banyak pembeli daripada kedai-kedai yang lain.

“Tentu ada masakan yang khusus di sini” berkata Ki Rantam.

“Apa yang khusus itu?” bertanya Wikan.

“Aku belum tahu. Tetapi tentu ada yang menarik banyak orang itu”

Ketika pelayan kedai itu mendekati Ki Rantam dan Wikan untuk menanyakan apa yang mereka pesan, maka Ki Rantam pun bertanya, “Apa yang menarik di kedai ini? Tentu ada masakan khusus yang lain dari yang ada di kedai-kedai lainnya”

Pelayan itu tersenyum. Katanya, “Ada Ki Sanak. Kami menyediakan mangut belut”

“Mangut belut?”

“Ya“

Ki Rantam menarik nafas panjang. Namun Wikan berbisik di telinganya, “Aku tidak mau kakang pesan mangut belut. Aku takut pada belut”

“He?” Ki Rantam tertawa, “Kalau takut kepada belut, apalagi kepada ular”

“Ya, aku memang takut kepada ular dan binatang sejenisnya”

Ki Rantam masih saja tertawa sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Baik, baik. Kita tidak akan memesan mangut belut”

Ki Rantam pun kemudian telah memesan nasi liwet, dendeng ragi dan sambal terasi.

“Minumnya, Ki Sanak?”

“Dawet. Apakah disini ada dawet cendol?”

“Ada Ki Sanak. Jika Ki Sanak pesan dawet, akan kami sediakan”

“Pemanisnya legen atau sudah menjadi gula kelapa lalu dicairkan lagi?”

“Gula kelapa. Ki Sanak”

“Baiklah. Tidak apa-apa” sahut Wikan yang sudah kehausan.

Sejenak kemudian, maka pelayan itu pun menyiapkan pesanan Ki Rantam dan Wikan.

Namun tiba-tiba saja diluar dugaan mereka berdua yang sedang menunggu pesanan mereka, dua orang telah datang mendekatinya. Seorang diantara mereka berkata lantang, “Nah, inilah orang-orang dari perguruan yang baru-baru ini disebut perguruan Udyana. Perguruan yang semula di pimpin oleh Ki Margawasana dan yang kemudian dipimpin oleh Ki Mina yang berubah namanya menjadi Ki Udyana”

Ki Rantam dan Wikan terkejut. Dengan serta-merta Ki Rantam  pun bertanya, “Ki Sanak telah mengenal kami?“

“Tentu saja. Bukankah perguruan Udyana yang meskipun belum lama mempergunakan nama itu, sudah terkenal sampai kemana-mana sehingga hampir setiap orang mengenalnya”

”Jika itu yang kau maksud sebagai pujian, kami mengucapkan terima kasih”

“Aku tidak mengira, bahwa kalian hari ini lewat jalan ini dan singgah di kedai kecil ini”

“Siapakah kalian Ki Sanak?“

“Kalian tentu tidak mengenal kami. Kami adalah orang-orang yang sama sekali tidak berarti. Kami adalah murid-murid dari perguruan kecil. Aku adalah murid Alap-alap Perak. Dan sahabatku ini adalah murid dari perguruan Ki Rina-rina. Perguruan yang kemarin malam telah kau singgung harga dirinya”

“Kenapa?“

“Ki Margawasana telah sangat meremehkan Ki Rina-rina sebagai seorang pemimpin sebuah padepokan.

“Siapa yang meremehkan. Aku bersama guru kemarin malam ketika beberapa orang murid dari Alap-alap Perak datang menemui guru, Ki Margawasana”

“Aku melihat kalian berdua, bahwa kalian berdua bersama dengan guru kalian. Selain kalian berdua ada juga dua orang lainnya”

“Jika kau ada, kau dapat mengatakan bahwa kami telah meremehkan Ki Rina-rina. Apa yang telah kami lakukan pada waktu itu?“

“Kalian telah nyenyamah nama baik Ki Rina-rina. Kalian tentu tidak mengaku sekarang, karena disini ada murid Ki Rina-rina yang sebenarnya. Kalian memang sangat licik, sehingga kalian tentu akan mengingkarinya”

“Begitukah?“ bertanya murid dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Rina-rina itu.

“Jadi inilah salah satu caramu untuk menampar dengan meminjam tangan?“ bertanya Wikan. Kemudian katanya, “Sebaiknya kau tidak usah memfitnah kami. Jika kau menantang aku atau kakang Rantam aku atau kakang Rantam akan melayani. Tidak usah dengan cara seperti itu. Bukankah kau ingin perguruan Udyana dan perguruan Tapak Mega akan berbenturan?“

“Kalian benar-benar pengecut. Kalian sama sekali tidak berani bertanggung jawab atas sikap yang sudah ditunjukkan oleh gurumu terhadap guru Alap-alap Perak”

“Aku tidak akan ingkar, bahwa kemarin malam telah terjadi perselisihan antara gurumu dan guruku. Tetapi kenapa tiba-tiba kau sangkutkan persoalan itu dengan perguruan Tapak Mega?“

“Jangan banyak bicara, pengecut. Kalau kau tidak berani mengakui penghinaan yang telah kalian tujukan kepada Ki Rina-rina, sudahlah. Kau tidak usah membusungkan dadamu sebagai murid Margawasana”

“Bukankah kami berdua tidak membusungkan dada kami sambil menengadahkan wajah kami”

Murid Ki Rina-rina itu termangu-mangu sejenak. Namun agaknya orang itu bukan orang yang jantungnya mudah terbakar. Sebagai murid perguruan Tapak Mega, maka segala tingkah lakunya terkendali oleh ajaran-ajaran dari Ki Rina-rina.

“Akan kau biarkan saja orang-orang ini lepas dari tangan perguruan Tapak Mega?“ bertanya orang yang mengaku murid Alap-alap Perak itu.

“Aku masih belum jelas persoalannya” berkata murid perguruan Tapak Mega itu, “Tetapi sepengetahuan kami, kami memang tidak mempunyai persoalan dengan perguruan yang kau sebut sebagai perguruan yang berada di padepokan Udyana. Guru memang pernah berceritera, tentang perkembangan perguruan yang dipimpin oleh seorang yang dikenal baik oleh guru Ki Margawasana. Ki Margawasana nampaknya sudah menyerahkan kepemimpin dari padepokannya kepada Ki Udyana”

“Namanya Ki Mina. Adalah atas kemauannya sendiri mengganti namanya Udyana untuk membantu mengangkat wibawanya”

“Bukan atas kemauan kakang Udyana sendiri. Tetapi atas kehendak guru, Ki Margawasana”

“Omong kosong”

“Jadi Ki Udyana itu adalah orang yang bernama Ki Mina?“

“Ya”

Murid dari perguruan Tapak Mega itu termangu-mangu sejenak.

“Kenapa?“

“Seorang adik seperguruanku pernah mendapat pertolongan dari dua orang suami isteri yang rambutnya sudah ubanan. Ketika hal itu aku tanyakan kepada guru, guru menduga, bahwa kedua orang suami isteri itu adalah Ki Mina Jika benar, maka Ki Udyana adalah orang yang pernah menolong adik seperguruanku itu”

“Siapakah nama adik seperguruan Ki Sanak itu?“ bertanya Wikan.

“Seorang yang masih mempunyai darah keturunan bangsawan. Namanya Raden Wiraga atau Raden Mas Wiraga”

“Raden Mas Wiraga? Paman Udyana pernah menyebut nama itu dari perguruan Tapak Mega. Siapakah nama Ki Sanak?“

“Namaku Prasaja”

“Meskipun sederhana, tetapi bukankah nama itu dapat kau sebutkan?“

“Ya itu. Namaku Prasaja. Maksudku Prasaja itu adalah namaku. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa namaku itu sederhana.

“O“ Wikan dan Ki Rantam mengangguk-angguk, sementara Prasaja sendiri tersenyum. Namun murid Alap-alap Perak itu pun membentak, “Kau tidak perlu mengalihkan perhatian Prasaja. Kau harus minta maaf kepadanya atas pelakuan gurumu yang telah merendahkan nama baik Ki Rina-rina”

“Kami dan guru tidak melakukan kesalahan apa-apa, Ki Sanak. Kenapa kami harus minta maaf”

Namun Prrasaja itu pun kemudian berkata, “Aku percaya kepadamu Ki Sanak, “Lalu katanya kepada murid Alap-alap Perak itu, “sudahlah. Jangan dipersoalkan lagi”

“Kau sama sekali tidak mengambil tindakan apa-apa?”

“Aku yakin bahwa saudara-saudara seperguruan Ki Mina tidak akan melakukannya. Bahkan Ki Mina itu telah membantu adik seperguruanku dalam perselisihan yang tidak adil dengan orang-orang dari Alas Roban. Orang yang menyebut dirinya Alap-alap Alas Roban“ tiba-tiba saja murid Ki Rina-rina itu pun bertanya, “He, apakah alap-alap Perak itu mempunyai hubungan dengan Alap-alap Alas Roban?”

“Tidak. Tidak ada hubungan apa-apa antara Alap-alap Alas Roban dengan Alap-alap Perak. Nampaknya Alap-alap alas Roban itu telah mendapatkan ilham dari nama guru, alap-alap Perak. Karena perguruan mereka berada di Alas Roban, maka mereka menyebut diri mereka Alap-alap Alas Roban”

Murid Ki Rina-rina itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sudahlah. Biarkan saja. Jangan ganggu mereka”

“Apakah kau juga sudah menjadi pengecut sekarang?” bertanya murid Alap-alap Perak itu.

“Jangan berkata begitu. Nanti dapat terjadi salah paham diantara kita”

Prasaja, murid Ki Rina-rina itu pun kemudian melangkah meninggalkan Wikan dan Ki Rantam sambil berkata, “Silahkan menikmati mangut welut. Kedai ini mempuyai masakan khusus yang sangat digemari banyak orang. Mangut Welut”

“Terima kasih, Prasaja” sahut Wikan.

Murid perguruan Alap-alap Perak itu menjadi sangat kecewa. Ia tidak berhasil mengadu kedua perguruan itu. Karena itu, maka ia pun melangkah mengikuti Prasaja itu pula.

Namun dalam pada itu, demikian kedua orang murid dari perguruan Tapak Mega dan perguruan Alap-alap Perak itu pergi, maka Wikan dan Ki Rantam pun merasa heran, bahwa rasa-rasanya keduanya tinggal berdua saja di kedai itu.

Ketika pelayan kedai itu menghidangkan dawet cendol, Wikan pun bertanya, “Kemana orang-orang yang tadi ada di dalam kedai ini?”

“Mereka takut terjadi apa-apa. Mereka sudah pergi”

“Tetapi bukankah kau tidak dirugikan?”

“Tidak. Mereka membayar sebagaimana seharusnya. Namun agaknya dagangan kami tidak akan habis hari ini”

“Maaf. Bukan maksud kami menakut-nakuti para pembeli”

“Aku tahu. Bukan kalianlah yang bersalah”

Sambil menghirup dawet yang segar itu, Ki Rantam pun berkata, “Untunglah murid dari perguruan Rina-rina itu sempat berpikir. Jika tidak, maka kedai ini akan menjadi porak-poranda”

“Ya. Agaknya telah ditanamkan kebencian yang sangat mendalam pada murid-murid Alap-alap Perak itu kepada kita. Agaknya Alap-alap Perak benar-benar menginginkan lambang pengalihan kepimpinan itu” jawab Wikan.

“Mereka mengira, akan dapat membuat emas dengan alat itu”

“Tentu ada yang meniup-niupkan kabar itu, agar setiap perguruan menjadi saling berebutan”

Keduanya pun kemudian terdiam. Keduanya pun kemudian sibuk dengan nasi liwet mereka serta dawet cendol yang segar itu.

Demikian mereka selesai serta membayar harga makan dan minum mereka, maka keduanya pun segera minta diri.

Namun keberadaan murid dari Alap-alap perak serta murid dari perguruan Tapak Mega itu telah membuat keduanya berdebar-debar. Karena itu, maka mereka pun serasa ingin terbang untuk segera sampai di padepokan untuk segera memberitahukan persoalan yang mungkin akan mereka hadapi.

Disore hari keduanya pun telah memasuki gerbang padepokan mereka, keduanya pun menarik nafas panjang, bahwa tidak terjadi apa-apa di padepokan mereka.

Ki Udyana dan Nyi Udyana menemui mereka di pendapa bangunan utama padepokan Udyana. Keduanya pun menanyakan keadaan kedua orang murid Ki Margawasana itu.

“Kami dalam keadaan baik-baik saja kakang” jawab Ki Rantam, “bagaimana dengan padepokan ini?”

“Semuanya baik-baik saja. Tidak ada persoalan apa-apa yang gawat terjadi disini”

”Sukurlah kakang”

“Nah, sekarang mandi-mandilah dahulu. Nanti setelah kau berbenah diri, kita akan dapat berbicara panjang. Kau dapat berceritera tentang perjalananmu mengunjungi rumah guru di Gebang atau di Jatilamba”

“Baik, kakang. Biarlah kami membersihkan diri dahulu. Agaknya di perjalanan tubuh kami telah dilekati debu”

Wikan dan Ki Rantam itu pun kemudian turun kehalaman. Mereka pun segera pergi ke bilik mereka masing-masing.

Namun langkah Wikan tertahan oleh suara tangis. Agaknya Tatag sedang merajuk. Ia menangis keras-keras seperti biasanya.

Wikan pun mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa anak itu mengamuk?”

“Anak ini memang nakal sekali” sahut Tanjung, “semakin besar, anak ini menjadi semakin nakal”

Wikan pun kemudian menyentuh pipi Tatag dengan jari-jarinya.

Tatag berpaling kepada Wikan sejenak. Namun tangisnya pun tiba-tiba saja mereda, dan bahkan akhirnya ia pun terdiam.

“Anak nakal. Apa yang kau tangisi?” bertanya Wikan.

Tiba-tiba saja Tatag itu tertawa.

”Ia mulai menjadi manja” berkata Tanjung.

“Tentu anak itu belum tahu, bagaimana ia harus bermanja-manja” sahut Wikan.

Namun Tanjung pun kemudian bertanya, “Kapan kakang pulang?”

“Baru saja. Aku baru akan mandi. Keringat dan debu membuat tubuhku seperti berminyak”

“Bagaimana keadaan Ki Margawasana?”

“Guru dalam keadaan baik-baik saja, Tanjung”

“Kakang lama sekali berada di Gebang”

“Lama sekali? Bukankah aku hanya beberapa hari saja berada di Gebang?”

Tanjung tidak bertanya lagi. Katanya kemudian, “Silahkan kakang mandi dahulu. Kakang akan menjadi segar kembali”

Tanjung pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Namun kemdian ia pun telah pergi ke pakiwan.

Alangkah segarnya mandi setelah menempuh perjalanan panjang. Demikian pula Ki Rantam. Agaknya Ki Rantam juga tidak betah lagi tubuhnya dilekati debu yang tebal. Namun Ki Rantam masih sempat membakar tangkai padi untuk membuat landa merang. Dengan landa merang Ki Rantam mandi sambil keramas.

Di senja hari, Wikan dan Ki Rantam duduk pula di pendapa. Yang ikut duduk pula di pendapa adalah Ki Udyana dan Nyi Udyana, Ki Parama dan Ki Windu, serta beberapa orang cantrik.

Ki Rantam dan Wikan pun berganti-ganti menceriterakan apa yang sudah terjadi di Gebang dan di Jatilamba. Mereka menceriterakan bagaimana Wikan hampir saja terhisap oleh pasuran lumpur berminyak. Kemudian kadatangan murid-murid Alap-alap Perak. Kematian Alap-alap Perak tua serta perjumpaan mereka dengan murid Alap-alap Perak tua serta perjumpaan mereka dengan murid Alap-alap Perak bersama-sama dengan murid dari perguruan Tapak Mega yang dipimpin oleh Ki Rina-rina di pinggir Kali Bagawanta.

“Sebelumnya Alap-alap Perak itu sudah menghadang kami, paman. Tetapi Alap-alap Perak yang muda. Untunglah bahwa paman Wigati tanggap, sehingga paman Wigati sempat menyusul kami. Alap-alap perak itu telah dilukai oleh paman Wigati meskipun paman Wigati juga terluka. Tetapi tidak banyak pengaruhnya. Sedangkan Alap-alap Perak yang datang ke Gebang itu adalah Alap-alap Perak yang tua. Ia terbunuh oleh tingkahnya sendiri”

Ki Udyana, Nyi Udyana serta para cantrik yang mendengarkan ceritera perjalanan Wikan dan Ki Rantam itu mengangguk-angguk. Ternyata ada beberapa peristiwa penting yang telah terjadi.

“Dengan demikian, berarti dendam Alap-alap Perak itu menjadi semakin dalam” berkata Ki Udyana.

“Ya, paman. Guru pun berpesan, agar paman menjadi lebih berhati-hati. Alap-alap Perak itu agaknya memang belum sembuh, tetapi guru menganggap bahwa Alap-alap Perak itu licik dan banyak mempunyai akal. Karena itu, meskipun ia mungkin masih belum sembuh benar, tetapi ada saja yang dapat terjadi. Hampir saja kami berbenturan dengan murid dari perguruan Tapak Mega, yang dipimpin oleh Ki Rina-rina”

“Pesan guru itu akan sangat kami perhatikan. Tetapi bukankah pesannya kepada pamanmu Wigati juga kalian sampaikan?”

“Sudah paman. Kedua orang muridnya pun sudah menyampaikannya pula”

“Sukurlah. Dendam Alap-alap Perak memang tidak dapat diabaikannya”

Sementara itu, Ki Rantam pun berceritera pula tentang Aji Mahabala. Alap-alap Perak justru telah terbunuh karena pokalnya sendiri. Dalam keadaan yang sangat lemah, serta luka di dalam tubuhnya, Alap-alap Perak telah mengetrapkan Aji Mahabala, sehingga karena itu, maka aji Mahabala itu telah membunuh dirinya sendiri”

Ki Udyana mengangguk-angguk. Katanya, “Aji Mahabala adalah satu ilmu yang masih belum mapan. Apalagi waktu itu Alap-alap Perak yang tergesa-gesa itu belum sempat mengutip kitabnya sampai kata-kata terakhirnya. Karena banyak kekurangannya itulah maka kakek guru telah menyusunnya kembali menjadi ilmu yang lebih baik. Tidak terlalu berbahaya bagi dirinya sendiri”

“Namun nampaknya guru sudah menguasai Aji Mahabala itu”

“Ya. Guru sempat mempelajarinya justru sampai tuntas. Tetapi jika ada yang lebih baik, lebih cepat dan lebih lembut, bukankah sebaiknya kita mempergunakan yang lebih baik itu”

“Ya, kakang“desis Ki Rantam.

”Karena itu, maka sebaiknya kita harus menguasai ilmu itu sampai tuntas”

Yang duduk di pringgitan itu pun mengangguk-angguk. Mereka sadari, bahwa jika mereka mempelajari ilmu tidak sampai tuntas, maka ilmu itu kadang-kadang justru akan dapat merugikan diri sendiri, atau tidak akan banyak berguna, justru bagi orang banyak.

Ceritera yang disampaikan oleh Wikan dan Ki Rantam itu ternyata telah membuat Ki Udyana, Nyi Udyana dan seisi padepokan Udyana itu menjadi lebih berhati-hati. Alap-alap Perak yang tua, pada waktu itu, setelah gagal mengambil lambang penyerahan kepemimpinan itu dengan cara apapun, ternyata telah mencuri benda itu sebagaimana laku seorang pencuri tanpa malu-malu.

Untunglah bahwa akhirnya benda itu dapat diambil kembali.

Dalam pada itu, untuk beberapa lama, padepokan Udyana itu tidak mendapat gangguan apa-apa. Alap-alap Perak tentu harus berpikir dua tiga kali jika mereka harus mendatangi padepokan Udyana dengan maksud apa pun juga.

Namun beberapa pekan kemudian, Ki Rina-rinalah yang telah mendatangi padepokan Udyana. Cantrik yang sedang bertugas di gerbang padepokan pun segera melihat iring-iringan orang berkuda menuju ke pintu gerbang.

Cantrik itu pun segera melaporkan kedatangan beberapa orang berkuda itu kepada Ki Udyana yang segera pergi ke pintu gerbang.

Dari lubang di pintu gerbang yang dapat dibuka dan ditutup, Ki Udyana pun segera melihat, bahwa yang datang itu adalah Ki Rina-rina.

“Apalagi yang akan terjadi” desis Ki Udyana. Namun sementara itu, ia minta para cantrik pun bersiap-siap.

“Tetapi jangan berbuat sesuatu tanpa perintahku” berkata Ki Udyana.

Demikian beberapa orang berkuda itu berhenti di depan pintu, maka Ki Udyana pun telah memerintahkan untuk membuka pintu gerbang padepokan.

Ki Rina-rina dan beberapa orang pengiringnya pun segera berloncatan turun. Mereka menuntun kuda-kuda mereka memasuki pintu gerbang padepokan Udyana.

Namun Ki Udyana dan para penghuni padepokan itu tidak meninggalkan kewaspadaan, meskipun Ki Rina-rina itu sama sekali tidak menunjukkan sikap permusuhan.

“Marilah, silahkan naik, Ki Rina-rina“ Ki Udyana pun mempersilahkan mereka naik ke pendapa dan kemudian duduk di pringgitan.

Sesaat kemudian, Ki Rina-rina dan para pengiringnya telah duduk di pringgitan ditemui oleh Ki Udyana, Nyi Udyana dan para pembantu terdekatnya, termasuk Wikan.

Setelah mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Udyana itu pun telah bertanya pula, “Ki Rina-rina. Kedatangan Ki Rina-rina kepadepokan ini agak mengejutkan kami serta para cantrik dan mentrik. Mungkin Ki Rina-rina mempunyai keperluan yang penting atau sekedar ingin melihat keadaan padepokan kami yang kalang kabut ini”

Ki Rna-rina tersenyum. Katanya, “Aku tidak mempunyai keperluan yang penting Ki Udyana. Jika aku datang ke padepokan ini, aku hanya ingin menjernihkan keadaan. Aku baru saja tahu, bahwa Alap-alap Perak pernah mempergunakan setidaknya menyebut namaku dalam hubungan yang kurang baik dengan Ki Udyana dan Ki Margawasana. Karena itu. aku memerlukan datang untuk menjelaskan persoalannya”

”Maksud Ki Rina-rina?”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang keberadaan Alap-alap Perak tua di rumah Ki Margawasana. Jika pada saat itu, murid-murid Alap-alap Perak mengaku murid-murid dari Tapak Mega, maka aku datang untuk menyaatakan kebenaran. Murid-muridku sama sekali tidak ada yang aku perintahkan pergi ke Gebang, apalagi memanggil Ki Margawasana. Beberapa hari yang lalu, seorang muridku telah memberitahukan hal itu kepadaku. Muridku itu mempunyai seorang sahabat, murid Alap-alap Perak. Semula murid Alap-alap Perak itu berusaha untuk membenturkan murid perguruan Tapak Mega dengan murid dari padepokan Udyana. Untunglah bahwa benturan itu, tidak terjadi. Bahkan muridku itu akhirnya dapat menekan murid Alap-alap Perak untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi”

Ki Udyana pun mengangguk hormat sambil berkata, “Sebenarnya kami juga sudah berniat untuk datang ke perguruan Tapak Mega. Tetapi waktunya yang masih belum memungkinkan. Ternyata sekarang Ki Rina-rina sendiri telah datang kemari. Karena itu, kami mengucapkan terima kasih”

“Aku merasa berkewajiban, Ki Udyana. Jika persoalan ini tidak dijernihkan, aku mencemaskan bahwa pada suatu saat akan dapat menjadi sumber dari kesalah-pahaman”

“Ya, aku mengerti Ki Rina-rina. Karena itu, maka dengan ikhlas aku mengucapkan terima kasih”

“Nah. Untuk selanjurnya, aku akan sering memerintahkan murid-muridku datang kemari. Aku pun berharap para murid dari perguruan Udyana bersedia datang ke padepokan Tapak Mega”

“Tentu Ki Rina-rina. Ada diantara kami yang tentu pada saat-saat tertentu datang mengunjungi perguruan Tapak Mega di pinggir Kali Bagawanta”

Pembicaraan mereka pun terhenti ketika dua orang mentrik menghidangkan minuman dan beberapa potong makanan.

“Silahkan, Ki Rina-rina. Silahkan Ki Sanak semuanya, “Nyi Udyana pun telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk minum dan makan makanan sekedarnya.

Sambil menghirup minuman hangat. Ki Rina-rina pun berkata, “Semula aku masih saja ragu-ragu akan pengakuan murid Alap-alap Perak itu. Tetapi setelah Ki Wigati datang menemui aku, barulah aku yakin, bahwa laporan muridku itu benar. Justru karena itu, aku memerlukan datang kemari agar persoalannya menjadi jelas sehingga tidak akan timbul salah paham”

“Seharusnya akulah yang harus datang kepada Ki Rina-rina” berkata Ki Udyana.

“Apa bedanya? Yang penting kita dapat bertemu, sehingga kita dapat membicarakannya hingga tuntas”

Dengan demikian, maka agaknya tidak ada persoalan lagi yang akan dapat menimbulkan salah paham dibelakang hari. Meskipun dendam Alap-alap Perak tentu masih diusungnya untuk waktu yang tidak terbatas. Namun Alap-alap Perak tidak akan dapat mengadu domba antara perguruan Udyana dengan perguruan Tapak Mega.

Ki Udyana pun menjelaskan kepada Ki Rina-rina sumber persoalannya. Lambang penyerahan kepemimpinan perguruan Udyana itu dianggap oleh Alap-alap Perak dapat dipergunakan untuk membuat emas.

“Membuat emas?”

“Ya, Ki Rina-rina. Itulah sumber persoalan yang sebenarnya. Sedangkan guru menganggapnya mustahil. Ceritera tentang lambang penyerahan kepemimpinan perguruan Udyana yang dapat dipergunakan untuk membuat emas, itu, tentu sengaja ada yang meniup-niupkan agar terjadi kegelisahan diantara perguruan-perguruan yang ada. Sehingga akan dapat memancing permusuhan untuk waktu yang lama”

Ki Rina-rina itu tersenyum. Katanya, “Bagaimana mungkin Alap-alap Perak itu dapat diperbodoh begitu jauh”

Demikianlah, malam itu, Ki Rina-rina bermalam di padepokan Udyana semalam. Dikeesokan harinya, mereka minta diri kembali ke padepokan Tapak Mega.

Udara pun terasa menjadi semakin jernih di atas perguruan Udyana. Rasa-rasanya sudah tidak ada masalah lagi yang harus dicemaskan. Meskipun itu bukan berarti Ki Udyana dan Nyi Udyana kehilangan kewaspadaannya. Tetapi seisi padepokan itu dapat menghirup udara segar dengan merasa tenteram dan damai.

Dengan demikian maka kehidupan di padepokan itu semakin lama menjadi semakin cerah. Para cantrik dan mentrik bekerja dengan rajin diseti ap hari. Pada tahun-tahun pertama, para cantrik dan mentrik itu masih belum dipilah-pilahkan tugasnya. Mereka masih melakukan hampir segala macam pekerjaan di padepokan itu disamping langkah-langkah awal dalam olah kanuragan.

Baru di tahun kedua, para cantrik dan mentrik itu mulai mendapat tugas-tugas yang lebih khusus.

Dalam pada itu, hubungan Wikan dengan Tanjung pun menjadi semakin akrab. Ki Udyana dan Nyi Udyana sebenarnya tidak mempunyai keberatan apa-apa atas hubungan itu. Sejak Ki Udyana mengenal Tanjung, ia tidak melihat cacat yang menonjol pada perempuan itu, kecuali bahwa ia adalah seorang janda. Tetapi anak yang berada dalam dukungannya itu sebenarnya bukan anaknya sendiri. Anak itu adalah anak yang diketemukan didepan pintu rumahnya dan langsung dipungutnya menjadi anaknya yang dikasihinya seperti anaknya sendiri.

Tetapi Wikan masih mempunyai ibu. Karena itu, agar Ki Udyana dan Nyi Udyana tidak dianggap bersalah oleh Nyi Purba, maka Ki Udyana dan Nyi Udyana pun telah menghubungi Nyi Purba untuk memberitahukan hubungan antara Wikan dan Tanjung.

“Terus terang, Tanjung adalah seorang janda. Tetapi perkawinannya dengan suaminya yang pertama belum dikaruniai anak. Suaminya meninggal dalam usianya yang masih sangat muda. Sedangkan anak yang ada didukungannya itu adalah anak angkatnya yang diketemukan di muka pintu rumahnya” berkata Ki Udyana.

Nyi Purba menarik nafas panjang, katanya, “Segala sesuatunya terserah saja kepada kakang. Jika kakang menganggap baik, maka aku pun akan menganggapnya baik pula”

“Mudah-mudahan hubungan antara Tanjung dan Wikan itu akan berlangsung dengan baik, Nyi. Selama ini menurut pengamatanku, keduanya sudah saling menyesuaikan diri. Bahkan selama ini Tanjung pun sudah mendapat banyak sekali kemajuan di bidang olah kanuragan. Ia mendapat bimbingan khusus dari bibinya. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan merasa janggal lagi mendampingi Wikan yang disetiap harinya berada di padepokan”

“Aku tentu hanya dapat mengiakan saja, kakang”

“Baiklah. Pada saatnya aku akan menghubungi adi lagi. Namun setidak-tidaknya adi tidak akan terkejut atas hubungan antara Wikan dengan Tanjung”

Dengan demikian, maka beban perasaan Ki Udyana dan Nyi Udyana menjadi lebih ringan. Ia tidak akan dianggap melewati Nyi Purba jika pada suatu saat hubungan antara Wikan dan Tanjung menjadi semakin dekat dengan pernikahan.

Tetapi Wikan sendiri justru bertanya kepada Ki Udyana dan Nyi Udyana, “Kenapa paman dan bibi begitu tergesa-gesa memberi tahukan hubunganku dengan Tanjung kepada ibu?”

“Nyi Purba itu adalah ibumu, Wikan. Apa salahnya jika ibumu mengetahui persoalan-persoalan serta lika-liku dalam hidupmu. Menurut penglihatanku, hubunganmu dengan Tanjung sudah menjadi semakin rapat. Nampaknya kau dan Tanjung sudah saling menyesuaikan diri. Tatag pun nampaknya jinak pula kepadamu. Jika sudah-demikian, lalu apa lagi”

Wikan menarik nafas panjang. Ia memang tidak dapat mengingkari, bahwa menurut pendapatnya Tanjung adalah seorang perempuan yang baik. Ternyata Tanjung pun memiliki kecerdasan yang tinggi, sehingga ia mampu meningkatkan ilmu kanuragan yang dipelajarinya dengan cepat. Lebih cepat dari dugaan Nyi Udyana serta Wikan Sendiri.

Namun akhirnya Wikan pun telah menyampaikannya pula kepada Tanjung, bahwa Ki Udyana dan Nyi Udyana telah bertemu dengan ibunya.

Tanjung hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia tidak banyak memberikan jawaban selain beberapa kali hanya mengangguk saja.

“Terserah saja kepada kakang” berkata Tanjung kemudian, “Tetapi aku ingin mengingatkan kakang, bahwa aku bukan lagi seorang gadis”

“Aku tidak melupakannya, Tanjung. Tetapi jika kau berpisah dengan suamimu itu bukan kehendakmu dan bukan kehendak suamimu. Memang sudah waktunya kau berpisah karena Tuhanlah yang telah memisahkannya”

Tanjung tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja air yang jernih telah menitik dari matanya.

Meskipun ia seorang janda, tetapi Tuhan telah menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang baik. Bahkan seorang jejaka.

Dalam pada itu, Tatag pun semakin lama menjadi semakin besar. Pada tahun pertama, anak itu sudah mulai berlatih berjalan. Namun Tatag mempunyai kelainan dengan kebanyakan anak-anak. Tatag tidak melewati masa merangkak lebih dahulu. Tatag langsung saja ngongkok, duduk lalu bangkit berdiri dan berlari. Bagi Tatag nampaknya keseimbangannya lebih mapan berlari daripada berjalan perlahan-lahan. Itulah sebabnya, maka Tatag jarang sekali berjalan selangkah-selangkah. Biasanya demikian ia bangkit, maka ia langsung berlari menuju ke sasaran.

Dengan demikian, Tatag menjadi sering sekali jatuh terjerembab. Bahkan kadang-kadang dari hidungnya mengalir darah. Tetapi anak nakal itu tidak juga menjadi jera. Demikian ia bangkit lalu berlari. Sekali pernah Tatag yang berlari ke tangga pendapa itu tidak sempat menghentikan kakinya, sehingga anak itu terjerumus jatuh ke halaman.

Tatag pun menangis. Suara tangisnya masih juga menggetarkan jantung orang yang mendengarnya. Tangis itu terdengar agak lain dengan tangis anak-anak kebanyakan.

Dalam pada itu, setelah hubungan Tanjung dan Wikan menjadi semakin akrab, maka Ki Udyana dan Nyi Udyana tidak mempunyai alasan untuk menunda-nunda pernikahan mereka. Meskipun ketika Wikan dipanggil oleh Ki Udyana dan Nyi Udyana, Wikan masih juga merasa terkejut.

“Agaknya waktunya memang sudah sampai, Wikan” berkata Ki Udyana.

“Waktu apa, paman?”

“Hubunganmu dengan Tanjung. Umurmu pun sudah bertambah-tambah, sehingga sudah pantas bagimu untuk menikah”

Wikan menundukkan kepalanya.

“Nah, bagaimana menurut pendapatmu sendiri Wikan?”

“Aku menurut saja, paman”

“Baiklah. Jika demikian, aku akan menghubungi ibumu. Bagaimanapun juga, padepokan kita akan merayakan hari pernikahanmu, meskipun dengan cara yang sederhana saja. Tidak akan ada keramaian. Tidak akan ada pula tontonan di padepokan ini, kecuali upacara akad nikah yang memang harus dijalani dalam pernikahan itu”

“Ya. Paman. Aku sependapat dengan paman. Tidak ada keramaian dan apalagi tontonan. Bagaimanapun juga, kita belum dapat melupakan dendam Alap-alap Perak yang muda. Aku yakin, bahwa niatnya untuk memiliki lambang penyerahan kepemimpinan itu masih juga belum pudar” sahut Wikan.

Ki Udyana dan Nyi Udyana itu pun kemudian telah menemui Nyi Purba untuk mengutarakan niatnya agar Wikan dan Tanjung itu segera menikah.

“Terserah kepada kakang saja”

“Baiklah adi. Tetapi aku akan berbicara dengan seluruh keluarga”

“Semuanya akan menggantungkan persoalan kepada kakang. Wikan sendiri berada di padepokan kakang. Demikian pula Tanjung. Namun aku akan memberikan restuku kepada mereka”

“Baiklah adi. Tetapi seperti aku katakan kepada Wikan, bahwa segala sesuatunya akan berlangsung dengan sederhana saja”

“Aku sependapat, kakang. Kita bukan orang-orang yang berada. Bukan orang berkelebihan. Karena itu, memang sebaiknya segala sesuatunya berlangsung dengan sederhana saja asal segala syaratnya terpenuhi”

Dihari-hari berikutnya, maka Ki Udyana pun telah mengadakan persiapan-persiapan. Tetapi seperti yang dikatakannya segala sesuatunya akan berlangsung dengan sederhana.

Ki Udyana dan Nyi Udyana memutuskan untuk tidak mengundang siapa pun juga diluar penghuni padepokan Udyana, kecuali sanak kadang terdekat. Ki Udyana dan Nyi Udyana hanya mengundang saudara-saudara Wikan dan Wandan serta Ki Seruling Galih suami isteri yang telah membimbing Wiyati dan Wandan untuk menemukan satu kehidupan baru.

Disamping mereka Ki Udyana dan Nyi Udyana mohon agar Ki Margawasana bersedia pula untuk hadir. Namun Ki Udyana pun juga mengundang Ki Wigati meskipun pesan mawanti-wanti agar Ki Wigati tidak memberitahukannya kepada siapa-siapa.

“Aku sengaja tidak mengundang siapa-siapa” berkata Ki Udyana kepada Ki Wigati.

Ki Wigati tertawa. Katanya, “Seharusnya gurumu menyelenggarakan pernikahan murid bungsunya dengan sangat meriah”

“Suasananya masih belum memungkinkan paman”

“Apakah kau masih dibayang-bayangi oleh Alap-alap Perak muda?“

“Terus-terang masih, paman”

“Ia tidak akan berani melawanmu”

“Tetapi ia dapat membawa orang lain kemari”

“Baiklah. Jika itu pertimbanganmu. Aku berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapa-siapa”

“Terima kasih. Paman”

Hari-hari pun merambat semakin mendekati hari pernikahan Wikan dan Tanjung. Tetapi semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Tidak ada keramaian dan apalagi tontonan di padepokan itu.

Beberapa hari menjelang hari pernikahan, maka Nyi Purba, anaknya Wuni serta menantunya telah dijemput oleh Wikan sendiri. Kemudian Wiyati dan Wandan disertai oleh Seruling Galih suami isteri. Sedangkan Ki Margawasana datang dua hari menjelang pernikahan. Yang terakhir adalah Ki Wigati.

Namun diluar dugaan mereka, ternyata rencana pernikahan itu akhirnya terdengar pula oleh orang lain. Bagaimanapun juga, ada saatnya yang berbeda dari kebiasaan itu nampak. Para mentrik harus berbelanja lebih banyak dari biasanya. Sementara itu, kedatangan Nyi Purba dan beberapa keluarga yang lain telah menimbulkan berbagai pertanyaan.

Baru kemudian hal itu disadari oleh Ki Udyana dan Nyi Udyana. Meskipun para cantrik dan mentrik sudah dipesan, namun orang-orang diluar padepokan itulah yang telah menduga-duga.

Akhirnya saat-saat pernikahan itu pun telah sampai pula di telinga Alap-alap Perak muda yang menyimpan dendam di hatinya.

“Suatu kesempatan yang baik” berkata Alap-alap Perak, “pada saat orang-orang padepokan Udyana merayakan pernikahan itu, kita akan datang ke padepokan mereka. Pernikahan Wikan, murid bungsu Ki Margawasana. Ibunya, sanak saudaranya telah berada di padepokan itu”

Dengan cerdik Alap-alap Perak pun telah menghubungi beberapa orang sahabatnya dari lingkungan yang gelap serta membujuknya untuk menyerang padepokan itu.

“Apa keuntungan kami?“ bertanya seorang sahabatnya yang bertubuh raksasa.

“Padepokan Udyana adalah padepokan yang kaya. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan”

“Kau sendiri, apa yang ingin kau dapatkan?“

“Kau tentu sudah tahu, bahwa guru, Alap-alap Perak tua telah dibunuh oleh Ki Margawasana. Aku berniat datang ke padepokannya untuk membalas dendam sekaligus menjarah kekayaan yang ada di padepokan itu. Pada saat-saat pernikahan itu, mereka akan menjadi lengah”

Sahabatnya itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku memang sudah mendengar kalau padepokan Udyana adalah padepokan yang kaya. Didalamnya banyak terdapat emas. Tetapi jika kau juga ingin menjarah emas itu pula, maka ada kemungkinan aku tidak akan mendapat apa-apa”

“Jangan bodoh. Bagiku yang penting bukan emasnya. Tetapi dendamku yang telah membakar jantungnya sejak setahun yang lalu. Bahkan lebih lama lagi”

“Baiklah. Biarlah aku menghubungi bebeapa orang kawan kita yang lain”

“Bagus. Carilah kawan sebanyak-banyaknya”

“Tidak. Aku tidak akan mencari kawan sebanyak-banyaknya. Dengan demikian maka bagianku akan menjadi semakin sedikit. Aku akan memanggil kawan seperlunya saja”

“Seperlunya? Apakah kau tahu takaran seperlunya saja itu?“

“Kita tentu dapat menduga-duga kekuatan sebuah padepokan. Seberapa pun besarnya padepokan Udyana, namun kau dan aku tentu akan dapat menghancurkannya”

“Belum cukup. Di padepokan itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi”

“Baik. Baik. Aku akan mengajak tiga orang kawanku yang ilmunya tidak kalah dari ilmumu. Mereka pun mempunyai perguruan mereka masing-masing”

“Apakah tiga orang berilmu tinggi itu sudah cukup?“ desis Alap-alap Perak.

“Tentu sudah cukup. Tiga orang kawan-kawanku itu akan menjadi berlima bersama kau dan aku”

Alap-alap Perak itu termangu-mangu.

“Mereka pun tentu membawa pembantu-pembantu mereka yang terbaik.

Putut-putut mereka yang sudah dipercaya untuk mewarisi ilmu tertinggi”

Alap-alap Perak itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi jangan remehkan kekuatan padepokan Udyana”

“Aku tidak meremehkannya. Jika aku akan mengajak tiga orang sahabatku, itu karena aku sangat menghargai kemampuan orang-orang padepokan Udyana”

“Baiklah. Aku juga akan menghubungi kakang Sangga Geni. Mungkin kakang Sangga Geni mempunyai waktu untuk ikut pergi kepadepokan Udyana”

“Kau akan mengajak Sangga Geni?”

“Ya”

“Baiklah. Mungkin Sangga Geni akan bersedia pergi bersamamu. Ia sekarang sedang berada di kaki Gunung Sumbing”

“Aku tahu. Tetapi kakang Sangga Geni bukan seorang pemimpin padepokan, sehingga ia tidak mempunyai pengikut. Kalau ada pengikutnya hanya beberapa orang saja”

“Tetapi yang beberapa orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi”

“Baik. Aku akan pergi ke kaki Gunung Sumbing”

Dalam pada itu, akhirnya hari yang ditetapkan itu pun tiba. Tetapi pada saat-saat terakhir, perasaan Ki Udyana menjadi semakin tidak enak. Tiba-tiba saja jantungnya menjadi berde-baran tanpa sebab. Bahkan kadang-kadang Ki Udyana itu mengalami kegelisahan yang sangat dalam tidurnya.

Akhirnya di hari terakhir, Ki Udyana telah menyampaikan kegelisahannya itu kepada Ki Margawasana dan Ki Wigati.

“Kau terlalu memikirkan Alap-alap Perak, Udyana. Tetapi aku tidak akan menyalahkanmu. Kadang-kadang seseorang dapat saja menerima isyarat tertentu. Karena itulah, maka siapkan para cantrik dan mentrik sebaik-baiknya”

Namun dalam pada itu, Ki Wigati pun yang datang terakhir itu pun berkata, “Kakang. Aku memang datang terakhir. Perjalananku memang terlalu lamban, karena sebenarnya aku tidak sendiri”

“Tidak sendiri? Maksud adi?” bertanya Ki Margawasana.

“Aku datang bersama para cantriku”

“ He. Adi datang bersama murid-muridmu?”

“Ya”

“Dimana mereka sekarang?”

“Mereka berkemah di pinggir hutan”

“Kenapa tidak diajak kemari?”

“Hatiku juga merasa tidak enak, kakang. Aku merasakan dendam Alap-alap Perak itu mengalir bersama denyut nadinya keseluruh tubuhnya. Karena itu, aku pun merasa perlu untuk berjaga-jaga. Tetapi aku tidak ingin kegembiraan Wikan dan seisi padepokan ini terganggu. Karena itu, aku telah meninggalkan para cantrik itu agar mereka berkemah di hutan sebelah Barat. Memang tidak terlalu dekat. Tetapi jarak itu dapat ditempuh dalam waktu singkat. Aku sudah berpesan kepada mereka, bahwa dalam keadaan yang gawat, aku akan memberikan isyarat dengan panah sendaren. Sementra mereka menyerangi padang perdu serta bulak persawahan padepokan dapat bertahan untuk beberapa lama”

“Terima kasih, adi. Tetapi biarlah sebaiknya mereka datang saja kemari”

“Tidak sekarang, kakang. Biarlah mereka tetap disana. Besok saja setelah selesai dan tidak terjadi apa-apa, mereka akan aku panggil kemari. Tetapi untuk menjamu mereka, kakang memerlukan dua ekor lembu serta lima ekor kambing.

Ki Udyana yang gelisah itu sempat tertawa. Katanya, “Aku mempunyai berpuluh-puluh kambing paman”

“Tetapi untuk sementara biarlah mereka berada disana”

Ki Udyana menarik nafas panjang. Sementara itu Ki Wigati pun berkata, “Jika beberapa waktu yang lalu aku datang untuk merusak hubungan kita, maka sekarang aku datang untuk memperbaiki hubungan itu”

“Bukankah sudah tidak ada masalah lagi diantara kita?”

“Ya. Tetapi rasa-rasanya aku masih mempunyai hutang”

Ternyata bahwa Ki Wigati telah membawa murid-muridnya itu membuat Ki Udyana menjadi lebih tenang. Setidak-tidaknya ia mempunyai cadangan kekuatan meskipun di luar padepokannya.

Pada hari yang telah ditetapkan, maka segala sesuatunya telah dilangsungkan dengan hidmat. Upacara pernikahan itu berlangsung sesuai dengan keharusan yang berlaku dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

Namun dalam pada itu, Ki Udyana sebagaimana pesan Ki Margawasana, tidak menjadi lengah. Beberapa orang cantrik telah ditugaskan untuk mengamati lingkungan padepokan itu.

Beberapa orang cantrik memang menjadi kecewa, bahwa mereka tidak dapat menyaksikan upacara pernikahan itu. Tetapi mereka menyadari, bahwa pada saat itu, kemungkinan buruk dapat terjadi.

Itulah sebabnya, sejak menjelang fajar, beberapa orang telah menyebar disekitar padepokan. Namun mereka sudah diberitahu, bahwa yang ada di pinggir hutan disisi Barat adalah para murid Ki Wigati. Mereka justru ikut mengamati keadaan di sekitar padepokan Udyana itu.

Sampai siang hari, para cantrik itu tidak melihat bahwa sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi di padepokan Udyana. Karena itu, ketika para cantrik yang datang menggantikan mereka, para cantrik yang bertugas sebelumnya itu ada yang langsung menyatakan kekecewaan mereka bahwa mereka tidak dapat menyaksikan upacara pernikahan itu.

“Tidak ada apa-apa yang terjadi” berkata seorang cantrik.

“Tetapi kita memang harus selalu bersiaga”

“Seandainya aku tadi tidak berada disini, tetapi berada di padepokan ikut menyaksikan upacara pernikahan itu, bukankah tidak akan ada apa-apa yang terjadi”

“Tetapi kita dapat menjadi lengah” Pembicaraan mereka pun tiba-tiba terhenti. Di kejauhan mereka melihat sebuah iring-iringan panjang. Tidak hanya dari satu arah. Ketika mereka memandang ke arah yang lain, maka di arah lain juga terdapat iring-iringan pula.

“Nah. untunglah bahwa kita tidak lengah” berkata cantrik yang datang menggantikannya.

Cantrik yang bertugas sebelumnya itu pun diam. Namun wajahnya pun menjadi tegang.

Iring-iringan itu pun kemudian menuju ke pategalan yang menjadi garapan para cantrik padepokan Udyana. Agaknya orang-orang yang datang itu memperhitungkan, bahwa pada hari itu tidak akan iada seorang cantrik pun yang akan pergi ke sawah.

Sebenarnyalah bahwa iring-iringan itu pun kemudian telah beristirahat di pategalan itu. Memang seperti yang mereka perhitungkan, bahwa pada hari itu tidak ada orang yang pergi ke pategalan.

”Sekarang” berkata cantrik yang datang untuk menggantikan mereka yang bertugas sejak pagi-pagi sekali, “pulanglah. Laporkan apa yang kita lihat itu kepada Ki Udyana. Biarlah Ki Udyana mengambil sikap dengan cepat”

“Baik”

“Hati-hatilah. Kau jangan sampai terlihat oleh orang-orang itu. Jika mereka melihatmu, mereka akan memburumu dan akan mengulitimu hidup-hidup”

“Baik. Aku akan sangat berhati-hati”

Cantrik itu pun kemudian bergeser surut. Ia pun kemudian berguling di pematang. Sejenak kemudian maka cantrik itu pun telah merangkak di balik pematang.

Demikian cantrik itu sampai di padepokan, maka ia pun segera mencari Ki Udyana. Agaknya Ki Udyana dan Nyi Udyana masih sibuk berbincang dengan beberapa orang tamu dari luar padepokan itu.

“Ada apa?“ bertanya Ki Udyana.

“Aku minta waktu sebentar saja. Ada. laporan yang cukup penting yang harus segera aku sampaikan”

Ki Udyana itu pun bangkit berdiri dan mengikuti cantrik yang akan memberikan laporan itu.

Di longkangan, cantrik itu pun berkata, “Kakang. Orang-orang itu benar-benar datang”

“Orang-orang siapa?

“Aku tidak dapat menyebutnya . Tetapi ada iring-iringan yang datang, kemudian memasuki pategalan. Tidak hanya dari satu arah. Tetapi yang sudah, kami lihat, mereka datang dari dua arah”

Ki Udyana itu pun menarik nafas panjang . Ia pun kemudian memanggil Ki Rantam, Ki Parama dan Ki Windu. Ketiga orang itu pun segera datang menghampirinya.

“Adi bertiga, ada iring-iringan yang mendekati padepokan ini. Mereka sekarang berada di pategalan. Agaknya mereka akan beristirahat di pategalan. Mereka akan bergerak malam nanti”

“Jadi Alap-alap Perak benar-benar ingin memanfaatkan saat ini untuk membalas dendam?” desis Ki Rantam.

“Mereka mengira bahwa kita akan lengah saat ini” sahut Ki Windu.

“Ya. Mereka memperhitungkan bahwa kita telah melupakan Alap-alap Perak itu” berkata Ki Parama kemudian.

“Nah, sekarang adalah tugas kalian untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya, hati-hati. jangan menimbulkan kegelisahan. Kalian mempunyai banyak waktu. Secepatnya baru malam nanti mereka bergerak. Bahkan mungkin mereka akan mendekati padepokan esok menjelang fajar”

“Baik , kakang”

“Nah, aku akan kembali menemui keluarga Wikan itu”

“Silahkan, kakang”

Sejenak kemudian, maka Ki Udyana pun telah kembali menemui tamu-tamunya lagi. Tidak ada kesan apa pun yang membayang diwajahnya.

Ki Rantam, ki Parama dan Ki Windu memang mempunyai banyak waktu. Ia pun kemudian memanggil beberapa orang cantrik yang menjadi pemimpin-pemimpin kelompok saudara-saudara seperguruannya.

Dengan hati-hati Ki Rantam menjelaskan kemungkinan yang bakal terjadi malam nanti atau esok saat fajar menyingsing.

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 16

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s