TT-14


kembali | lanjut

TT-14SETELAH mereka menganggap cukup, serta kuda-kuda mereka sudah tidak letih lagi, maka keempat orang itu pun segera meninggalkan kedai itu. Kepada anak muda yang memberi makan dan minum kepada keempat ekor kuda itu, Ki Udyana pun telah memberinya beberapa keping uang pula.

Sejenak kemudian, maka keempat orang berkuda itu pun telah melanjutkan perjalanan mereka. Di jalan-jalan yang memungkin-kannya, kuda-kuda mereka berlari cepat. Sedangkan di jalan-jalan yang sulit, kuda-kuda itu merayap dengan sangat berhati-hati. Bahkan para penunggangnya terpaksa turun untuk menuntun kuda-kuda itu.

Sebelum mereka sampai ke padepokan Ki Wigati, mereka masih harus beristirahat lagi. Tetapi mereka tidak beristirahat di sebuah kedai. Tetapi mereka beristirahat di pinggir sebuah sungai kecil. Kuda-kuda itu dapat juga makan rerumputan segar di tanggul sungai kecil itu.

Sementara itu matahari telah turun mendekati punggung pebukitan. Namun sinarnya masih saja tersa menyengat kulit.

Dibawah sebatang pohon rindang, Ki Parama duduk bersandar batangnya. Angin terasa semilir sejuk, sedangkan gemericik air di sungai kecil itu memperdengarkan irama yang lembut.

Ki Udyana dan Nyi Udyana tersenyum. Ternyata Ki Parama telah memejamkan matanya.

“Agaknya sudah menjadi kebiasaannya” desis Ki Udyana ketika Ki Margawasana memperhatikan mata Ki Parama yang terpejam, “kemarin, adi Parama juga tertidur di perjalanan meskipun hanya sekejap”

Ki Margawasana pun tersenyum pula.

Namun tidak ada sesilir bawang, Ki Parama telah membuka matanya. Ia pun segera bangkit sambil mengusap matanya yang merah.

“Maaf, guru. Aku tiba-tiba saja tertidur”

“Tidak apa-apa. Kuda-kuda kita juga baru makan rerumputan segar” sahut Ki Margawasana sambil tertawa.

“Kemarin aku juga tertidur di pinggir jalan. Aku terbangun karena ada orang yang mengganggu calon pengantin yang mendapat perlindungan dari murid perguruan Tapak Mega”

“Udara dibawah bayangan dedaunan yang rimbun itu memang terasa sejuk sekali”

Ki Udyana dan Nyi Udyana hanya tersenyum saja melihat Ki Parama yang nampak gelisah itu.

Beberapa saat, mereka pun segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Di sungai kecil itu mereka melihat beberapa orang anak sedang membuka sebuah rumpon yang besar. Mereka sedang sibuk-menyingkirkan bebatuan serta slangkrah yang agaknya sudah cukup lama setelah anak-anak ilu melingkari rumpon itu dengan semacam pematang agar ikan yang bersembunyi didalamnya tidak dapat melarikan diri. Di pematang bagian bawah telah dipasang dua buah icir bambu untuk menjebak ikan yang gelisah setelah persembunyian mereka dibongkar.

”Senangnya masa, kanak-kanak” desis Ki Parama.

“Kau juga sering menutup rumpon seperti itu?“ bertanya Nyi Udyana.

“Ya. Bahkan di malam hari kami, aku dan kakakku, membuka pliridan di sungai sebelah rumahku. Rumahku juga berada di dekat sebuah sungai yang bahkan lebih besar dari sungai kecil ini”

Namun beberapa saat kemudian, keempat orang berkuda itu pun meninggalkan sungai kecil itu. Mereka melarikan kuda mereka semakin cepat. Mereka masih berharap bahwa sebelum senja mereka sudah sampai di padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati itu.

Matahari pun semakin lama menjadi semakin condong di Barat. Sinarnya pun tidak lagi teras membakar kulit. Beberapa bulak masih harus mereka lewati sebelum mereka memasuki sebuah lorong yang menuju ke sebuah padepokan yang letaknya memang agak terpisah dari daerah yang berpenghuni. Padepokan ilu seakan-akan merupakan lingkungan tersendiri yang diantarai oleh padang perdu. Namun padepokan itu mempunyai lingkungan pendukung yang memadai. Sawah dan pategalan. Peternakan. Belumbang untuk beternak ikan. Sementara itu, para cantrik di padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati itu mempunyai kebiasaan yang agak lain dengan para cantrik di padepokan yang semula dipimpin Ki Margawasana.

Sekelompok cantrik di padepokan Ki Wigati itu mempunyai kesenangan berburu binatang buas di hutan yang lebat yang berada tidak terlalu jauh dari padepokan mereka.

Demikianlah, perjalanan keempat orang itu pun akhirnya sampai ke ujung. Bahkan mereka ternyata sampai di tujuan sedikit lebih cepat dari dugaan mereka.

Ketika mereka sampai di pintu gerbang padepokan, maka Ki Parama pun segera mengetuk pintu gerbang itu.

“Siapa?“ terdengar seseorang bertanya dari balik pintu.

Namun sebelum Ki Parama menjawab, sebuah lobang kecil pada pintu gerbang itu pun telah terbuka. Sebuah wajah nampak menjenguk dari balik lubang kecil yang terbuka itu.

“Siapakah kalian?“ bertanya orang itu.

“Apakah kau belum mengenal aku?“ bertanya Ki Marga-wasana, “Aku sudah beberapa kali datang ke padepokanmu ini”

Tetapi agaknya orang itu belum mengenalnya sehingga Ki Margawasana pun berkata, “Aku, Ki Margawasana. Katakan kepada gurumu jika ia ada di padepokan”

Lubang di daun pintu gerbang itu pun tertutup kembali. Orang yang dibelakang pintu itu berkata kepada kawannya, “Pergilah menghadap guru. Katakan bahwa ada orang yang mencarinya. Namanya Margawasana”

“Baik, kakang” jawab suara yang lain.

Kedatangan Ki Margawasana di padepokan itu memang agak mengejutkan meskipun Ki Wigati juga sudah menduganya pula.

Dengan tergesa-gesa Ki Wigati menyongsong kakak seperguruannya itu. Setelah selarak pintu gerbang itu diangkat, maka Ki Wigati sendirilah yang telah membuka pintu gerbangnya.

“Kakang“ sapanya, “mari silahkan masuk kakang. sudah agak lama kakang tidak berkunjung kemari”

“Terima kasih, Wigati. Aku datang bersama Udyana suami isteri serta Parama. bukankah kau telah mengenal mereka”

“Ya, ya. Aku kenal mereka kakang. Marilah, masuklah”

Keempat orang itu pun kemudian menuntun kuda mereka memasuki halaman padepokan Ki Wigati yang terhitung luas.

Ki Wigati pun kemudian mempersilahkan keempat orang tamunya naik ke pendapa bangunan utama padepokannya. Mereka pun kemudian dipersilahkan duduk di pringgitan.

“Selamat datang di padepokanku, kakang. Serta semuanya yang menyertai kakang. Bukankah keadaan kakang sekeluarga serta seisi padepokan kakang baik-baik saja?”

“Ya Wigati. Kami selamat sampai ke padepokanmu. Keadaan keluarga yang kami tinggalkan pun baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaanmu disini?”

“Baik, kakang. Kami baik-baik saja”

“Sukurlah. Mudah-mudahan padepokanmu ini dapat semakin berkembang. Bukan hanya ujud lahiriahnya saja, tetapi juga berkembang sifat dan watak dari padepokanmu ini. Semakin dewasa, sifat dan watak padepokanmu ini tentu semakin mendekati tuntunan dan petunjuk guru kepada kita. Kepada murid-muridnya yang sekarang mendapat giliran untuk mewariskan tuntunan itu kepada angkatan yang lebih muda”

Ki Wigati menarik nafas panjang. Katanya, “Aku mohon doa dan restu kakang”

“Tentu aku akan berdoa bagimu dan bagi padepokanmu, adi Wigati. Tuhan Yang Maha Kuasa akan selalu membimbingmu”

“Terima kasih, kakang“ Ki Wigati termenung sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Maaf, kakang. Aku berterima kasih sekali bahwa kakang bersedia datang ke padepokanku. Bukan karena aku tidak tanggap, tetapi jika kakang berkenan, aku ingin bertanya, apakah kedatangan kakang Margawasana sekedar menengok keadaanku serta padepokanku yang baru tumbuh ini, atau kakang mempunyai keperluan yang lain”

Ki Margawasana pun menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan perasaannya yang bergejolak didadanya. Namun kemudian dengan suara yang sareh ia pun berkata, “Adi Wigati. Aku datang dengan Udyana suami isteri serta Parama, karena aku memang mempunyai sedikit kepentingan”

“Maksud kakang, Mina dan isterinya”

“Ya. Mina dan isterinya. Aku telah memberinya nama Udyana setelah aku menyerahkan kepemimpinan padepokanku kepadanya”

“Tetapi aku sudah terbiasa memanggilnya Mina, kakang. Aku masih belum terbiasa dengan nama baru yang kakang berikan kepadanya itu”

“Tidak apa-apa, adi. Tetapi untuk membiasakan sebutan itu serta membiasakan pendengaran adi, sebaiknya aku menyebutnya Udyana. Nanti adi Wigati pun akan terbiasa pula”

Wigati mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Silahkan saja kakang. Itu memang hak kakang Margawasana”

“Ya. Kami pun telah membuat jenang abang untuk meresmi-kan nama itu disamping upacara menyerahkan kepemimpinan padepokan kami yang juga kami sebut padepokan Udyana”

Ki Wigati mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya, kakang”

“Adi” berkata Ki Margawasana kemudian, “menurut Udyana dan Parama, baru-baru ini adi telah mengunjungi padepokan kami”

“Ya, kakang. Aku tidak akan ingkar. Aku telah datang ke padepokan yang sekarang dipimpin oleh Mina dan isterinya. Aku mempertanyakan hak mereka memimpin padepokan yang kakang tinggalkan”

“Apakah jawaban Udyana dan isterinya cukup memuaskan bagimu, adi”

“Maaf kakang. Aku ingin berkata sebenarnya. Disini Mina dan isterinya sekarang juga ada. Karena itu, apa yang aku katakan nanti bukan sekedar isapan jempol saja“ Ki Wigati itu berhenti sejenak, lalu, “Kakang. Ternyata Mina dan isterinya masih belum saatnya menerima beban tugas yang demikian berat. Mereka sama sekali belum dewasa menanggapi tugas mereka. Ketika aku datang dan menanyakan hak mereka, maka tanggapan mereka sangat buruk. Mereka mengira aku datang karena aku merasa iri. Mereka mengira bahwa aku akan merebut kedudukan mereka, sehingga sambutan mereka atas kedatanganku sangat menyinggung perasaanku. Sebenarnya aku tidak ingin berbuat apa-apa. Aku hanya curiga, bahwa kedudukan tertinggi di padepokannya itu didapatkannya dengan cara yang tidak sewajarnya. Misalnya dengan mengusir kakang Margawasana atau yang lebih buruk lagi dengan menyingkirkan kakang untuk selamanya. Bukankah itu wajar sekali? Sebagai adik seperguruan kakang, aku wajib menilai, apa yang sebenarnya telah terjadi di padepokan yang kemudian dipimpin oleh Mina dan isterinya. Aku tidak ingkar bahwa telah terjadi perselisihan diantara kami. Bahkan tindak kekerasan. Tetapi jika Mina dan isterinya bersikap wajar saja, tidak usah bersikap baik, maka tidak akan terjadi sesuatu. Jika saja Mina dan isterinya menerima kedatanganku sebagaimana seorang paman, maka tidak akan terjadi apa-apa”

Ki Margawasana mengangguk-angguk. Katanya, “Adi. Biarlah aku yang minta maaf kepadamu atas sikap Udyana dan isterinya. Kedatanganku kemari mudah-mudahan dapat memperjelas kedudukan Udyana. Aku memang menyerahkan kepemimpinan padepokan Udyana kepada mereka. Aku juga minta maaf, bahwa aku tidak memberitahukan kepadamu, sehingga harus terjadi salah paham. Nah, sekarang adi Wigati sudah menjadi jelas, bahwa mereka berdua menjadi pemimpin di padepokan Udyana itu karena aku menghendakinya”

“Jika saja kakang memberitahuku sebelumnya”

“Ya. Itu salahku. Karena itu, aku minta maaf kepadamu“ Ki Margawasana berhenti sejenak. Sementara itu, Ki Udyana dan Nyi Udyana nampak gelisah. Demikian pula Ki Parama yang tahu pasti, apa yang telah terjadi di padepokan mereka.

Sementara itu, Ki Margawasana pun bertanya, “Adi, apakah benar adi telah datang mengunjungi Udyana bersama dengan orang yang menyebut dirinya Alap-alap Perak?”

Ki Wigati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil menjawab, “Ya, kakang. Aku memang datang ke padepokanmu bersama Alap-alap Perak. Aku bertemu dengan orang itu di perjalanan. Ia pun minta ijin untuk ikut sekedar melihat letak padepokan kakang. Bukankah kakang sudah mengenal orang yang bergelar Alap-alap Perak itu?”

“Ya. Aku mengenalnya dengan baik“ jawab Ki Margawasana, “bahkan mungkin aku tidak akan pernah melupakannya. Bukankah kau tahu pula, siapa Alap-alap Perak itu?”

“Aku memang mengenalnya kakang”

“Bukankah kau tahu bahwa Alap-alap Perak itu mendendamku karena aku telah mengambil kembali benda yang sangat berharga bagi padepokan kita yang telah dicurinya itu? Adi Wigati waktu itu memang tidak ikut pergi ke sarang Alap-alap Perak itu. Tetapi adi tentu mengetahuinya”

Wigati menarik nafas panjang.

“Nah, benda yang pernah dicuri oleh Alap-alap Perak dan yang telah kami ambil kembali itu sekarang berada di padepokan Udyana. Benda itu bagi kami, nilainya memang tidak terkira. Agaknya Alap-alap Perak pun menilai benda itu sangat tinggi pula, sehingga ia sampai saat ini masih menginginkannya”

Wigati itu mengerutkan dahinya.

“Nah, adi Wigati. Alap-alap Perak itu sudah terlanjur mengatakan, bahwa ia datang ke padepokan Udyana untuk mengambil harta karun. Nah, sekarang kita tentu bertanya, apakah yang dimaksud dengan harta karun itu”

“Tidak“ jawab Wigati, “kami datang tanpa mempunyai niat apa-apa selain meyakinkan, apakah kakang benar-benar telah mewariskan padepokan itu kepada Mina dan isterinya”

“Jadi Alap-alap Perak itu tidak mengatakan kepadamu tentang harta karun itu?”

Wigati menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng sambil berkata, “Tidak”

Namun Nyi Udyana pun tiba-tiba saja menyela, “Jadi apa maksud paman mengatakan, bahwa dilingkungan padepokan itu terdapat kandungan yang tidak ternilai harganya?”

Wajah Ki Wigati menjadi semakin tegang. Dipandanginya Nyi Udyana dengan tajamnya. Suaranya pun menjadi bergetar, “Siapakah yang berkata seperti itu?”

“Paman” jawab Nyi Udyana.

“Bohong. Atau kau sengaja memfitnahku?”

“Kami sama sekali tidak ingin memfitnah paman” sahut Ki Udyana, “kami hanya ingin tahu. Sementara itu Alap-alap Perak telah mengatakan lebih jelas lagi. Ia menyebutnya sebagai harta karun yang tidak ternilai harganya yang terkandung didalam padepokan kami”

“Tidak” sahut Ki Wigati, “aku tidak berbicara tentang harta karun atau dengan istilah yang lain”

“Baiklah adi Wigati. Jika kau tidak menyebutnya, maka sebaiknya kau tahu, bahwa orang yang menyebut dirinya Alap-alap Perak itu memang ingin mendapatkan harta karun yang terkandung dibawah padepokan Udyana itu”

”Harta karun apa yang kakang maksud? Apakah kakang pernah menyembunyikan harta karun dari mana pun asalnya”

“Aku tidak menyembunyikan harta karun yang aku dapat dari mana-mana. Yang aku simpan adalah benda yang tidak ternilai harganya bagi padepokan Udyana”

“Kalau kakang tidak berkeberatan, apakah kakang dapat menyebutnya?“

“Tentu, adi Wigati. Benda yang aku maksud adalah lambang pewarisan kedudukan pemimpin tertinggi di padepokan Udyana. Sebagaimana guru mewariskan kepadaku dan saat aku mewariskannya kepada Udyana”

“Lima buah lingkaran kecil dan sebuah lingkaran yang lebih besar itu yang kakang maksud?“

“Ya. Bukankah benda itu sangat berharga bagi kita? Khususnya bagi perguruan Udyana”:

“Tetapi benda itu tidak berharga bagi orang lain”

“Tidak adi. Apakah kau belum pernah mendengar ceritera tentang sebuah surya-kanta yang seharusnya terpasang pada lingkaran yang besar itu? Dengan surya-kanta itu, maka jika sinar matahari membuat bayangan kelima lingkaran itu menyatu, maka segala benda yang disentuh oleh pusat nyala surya-kanta itu, akan menjadi emas”

Ki Wigati mengerutkan dahinya. Hampir diluar sadarnya ia pun bertanya, “Apakah ceritera itu benar, kakang”

“Tentu tidak. Bahkan surya-kanta itu pun tidak pernah ada. Mungkin Alap-alap Perak menemukan sebuah surya-kanta yang besar, sebesar lingkaran itu, ia ingin membuktikan, apakah benar benda yang tersimpan di padepokan Udyana itu benar-benar dapat dipergunakan untuk membuat emas. Jika benar demikian, maka Alap-alap Perak itu akan dapat membuat emas beberapa bangsal sesuka hatinya, karena ia dapat membuat apa saja menjadi emas”

Ki Wigati itu termangu-mangu sejenak. Nampaknya ia sedang merenungi kata-kata Ki Margawasana itu.

“Adi Wigati” berkata Ki Margawasana kemudian, “Jika demikian, maka aku ingin memperingatkan, jangan berhubungan lagi dengan Alap-alap Perak. Gurunya yang juga berambut putih dan bergelar Alap-alap Perak adalah orang yang licik. Alap-alap kecil ini pun tentu licik sekali pula. Jika kita lengah, maka kita akan dapat diadu domba. Alap-alap itulah yang kemudian akan memetik keuntungannya”

Keringat mengalir di punggung Ki Wigati. Wajahnya pun menjadi pucat, sementara jantungnya berdegup semakin cepat.

Dengan nada berat Ki Margawasana pun bertanya, “Apakah Alap-alap Perak itu masih ada disini?“

“Tidak, kakang. Alap-alap Perak itu sudah pergi. Tetapi ia berjanji akan datang lagi kemari. Ia masih belum melepaskan niatnya untuk menguasai harta-karun yang tersimpan di bawah padepokan yang kakang wariskan kepada Mina dan isterinya itu”

“Yang disebut harta-karun itu adalah benda yang memang sangat berharga itu, terutama bagi perguruan kita. Tetapi aku yakinkan kepadamu, bahwa dengan benda itu, tidak akan dapat dibuat emas seperti yang dilihat dalam mimpi Alap-alap yang licik itu”

Ki Wigati itu bagaikan membeku sejenak. Namun kemudian ia pun membungkuk dalam-dalam, sehingga dahinya hampir menyentuh tikar tempat mereka duduk.

“Kakang. Aku mohon ampun. Aku telah terbujuk oleh Alap-alap Perak, sehingga aku kehilangan kendali diri. Aku telah menyurukkan murid-muridku ke dalam maut. Bahkan murid-murid kakang pun tentu ada yang telah menjadi korban. Kakang, kakang pantas menghukum aku. Jika kakang menghendaki, hukumlah aku kakang. Aku tidak akan ingkar”

“Bangkitlah. Duduklah yang baik, adi. Kau memang bersalah. Tetapi kau kemudian menyadari, bahwa kau telah melakukan kesalahan itu. Dengan demikian, maka sebagian dari kesalahanmu sudah kau betulkan. Yang kemudian perlu kau lakukan, adi. Kau harus lebih berhati-hati. Kau memiliki kemampuan yang tinggi. Kau memiliki pengikut yang cukup banyak. Jika kau berjalan di jalan yang sesat, maka semua murid-muridmu akan ikut terjerumus ke jurang kesesatan pula”

Ki Wigati itu pun kemudian duduk sambil mengusap keringatnya yang membasahi kening dan dahinya. Dengan sungguh-sungguh ia pun berkata, “Kakang. Jika aku bertemu dengan Alap-alap Perak, aku akan membuat perhitungan dengan orang yang licik itu”

“Sudahlah. Kau tidak usah mendendamnya. Pada kesempatan lain, jika ia datang kepadamu dan membujukmu lagi, maka kau tahu, bagaimana kau harus menjawabnya”

“Ya, kakang”

“Hanya jika orang itu memaksamu dengan kekerasan, maka kau wajib membela dirimu. Bahkan kau dapat menjelaskan, bahwa lingkaran-lingkaran itu tidak dapat dipergunakan untuk membuat emas. Karena itu, sebaiknya Alap-alap Perak itu melupakannya”

“Baik, kakang. Aku mendengarkan pesanmu”

“Paman” berkata Ki Udyana kemudian, “Aku dan isteriku juga minta maaf kepada paman, bahwa kami sudah berani menentang perintah paman pada waktu itu”

“Ah, jangan begitu, Mina. Akulah yang harus minta maaf kepadamu. Bukankah kau tidak bersalah. Aku datang, menggertakmu dan bahkan melakukan kekerasan. Aku benar-benar sedang mabuk waktu itu karena bujukan orang yang menyebut dirinya Alap-alap Perak itu”

“Sebaiknya kita melupakannya paman”

“Ya. Kita melupakan dalam arti tidak saling mendedam. Tetapi pengalaman ini sangat berarti bagiku. Pengalaman yang tidak seharusnya aku lupakan. Agar aku tidak pernah mengulangi kesalahan itu lagi”

Demikianlah, maka segala sesuatunya telah dapat dijernihkan sampai tuntas. Tidak lagi ada perasaan dendam meskipun telah jatuh korban dalam benturan kekerasan yang terjadi di padepokan Udyana.

Bahkan malam itu, Ki Margawasana, Ki Udyana dan isterinya serta Ki Parama bermalam di padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati.

Ketika gelap malam turun, maka Ki Margawasana, Ki Udyana dan isterinya serta Ki Parama telah tertarik perhatiannya kepada beberapa orang murid Ki Wigati yang baru pulang dari hutan yang lebat tidak terlalu jauh dari padepokan mereka. Mereka adalah murid-murid Ki Wigati yang mempunyai kesenangan berburu.

”Menarik“ desis Ki Parama, “apa yang mereka dapatkan?”

Ki Wigatilah yang menjawab, “Nampaknya mereka mendapat dua, atau bahkan tiga ekor kijang”

“Satu kesenangan yang memiliki banyak sisi yang sangat berarti. Selain melatih ketangkasan, juga keberanian dan ketrampilan”

“Kadang-kadang ada diantara mereka yang mendapatkan binatang buas. Banyak harimau terdapat di hutan itu. Bahkan tidak hanya satu jenis harimau”

“Menarik sekali”

“Di bilik mereka terdapat berbagai macam kulit binatang. Kulit harimau, kerbau liar, tanduk rusa jantan dan bermacam-macam lagi”

“Aku ingin belajar berburu kakang“ tiba-tiba Ki Parama itu berdesis.

“Jika kau mau, kau dapat tinggal disini”

“Di dekat padepokan kami juga terdapat hutan yang masih lebat, paman. Jika saja ada saudara kami yang bersedia tinggal bersama kami beberapa bulan untuk membimbing kami pergi berburu. Ada binatang hutan yang sering mengganggu pategalan para petani. Bahkan ada binatang buas yang sering mencuri ternak di padukuhan-padukuhan”

“Binatang buas yang mencari makan di padukuhan itu tentu sedang dalam keadaan yang khusus. Mungkin seekor harimau tua yang sudah tidak mampu lagi memburu mangsanya di hutan. Mungkin pula sedang kelaparan, sedang kan binatang buruan yang lain sudah berlarian menjauh sebelumnya. Tetapi pada dasarnya, segala sesuatunya terjadi di dalam hutan itu. Satu putaran kehidupan tersendiri. Yang mana yang harus menjadi korban bagi yang lain agar tetap bertahan hidup. Meskipun demikian, binatang-binatang yang diburu itu pun tidak punah”

“Ya, paman“ Ki Parama mengangguk-angguk. Lalu katanya kemudian, “Jika kakang Udyana sependapat, serta paman Wigati setuju kami mohon agar paman mengirimkan dua orang diantara para murid paman untuk tinggal bersama kami”

Ki Wigati tersenyum. Katanya, “Nah, jika kakakmu tidak berkeberatan, aku akan memerintahkan dua orang pergi bersama kalian besok jika kalian pulang. Biarlah mereka berada di padepokanmu, sampai ada diantara kalian yang sudah terampil berburu”

“Tentu aku tidak tidak berkeberatan” sahut Ki Udyana

“Bahkan aku akan sangat berterima kasih, jika paman mengijinkannya”

Demikianlah mereka pun sepakat. Besok jika Ki Udyana dan isterinya serta Ki Parama pulang ke padepokan mereka, maka dua orang murid Ki Wigati yang mempunyai ketrampilan berburu akan ikut bersama mereka. Keduanya akan tinggal di padepokan Udyana beberapa lama sampai ada beberapa orang cantrik dari padepokan Udyana yang sudah menjadi terampil.

Malam itu, Ki Parama sempat menunggui bagaimana para pemburu itu mengulit hasil buruan mereka. Bahkan Ki Parama pun sempat melihat-lihat kulit binatang buruan yang berada di bilik para pemburu itu”

“Penghasilan tambahan” berkata salah seorang diantara para pemburu itu, “kulit-kulit binatang buruan ini laku dijual. Pada saat-saat tertentu datang para saudagar untuk membeli kulit binatang hasil buruan ini”

Ki Parama benar-benar menjadi tertarik untuk menjadi seorang pemburu.

“Orang seperti Ki Parama ini tentu akan cepat menguasai kemampuan berburu. Ki Parama sudah mempunyai modal yang sangat berharga. Kemampuan yang tinggi, ketahanan tubuh dan indera yang tajam. Mungkin yang masih harus dilatih adalah indera penciuman serta ketajaman panggraita bagi seorang pemburu”

“Aku akan tunduk kepada saudara kita yang akan membimbing kami nantinya” berkata Ki Parama.

Murid Ki Wigati yang menjadi pemburu itu tertawa.

Malam itu, Ki Wigati sempat meyakinkan murid-muridnya untuk melupakan peristiwa yang pernah terjadi di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana. Ki Wigati pun telah menjelaskan pula permasalahan yang telah timbul. Kepada murid-muridnya Ki Wigati dengan jujur mengakui kesalahannya, sehingga telah timbul korban diantara para muridnya.

“Kesalahan itu sepenuhnya terbebankan di pundakku. Akulah yang harus bertanggung-jawab. Karena itu, maka aku wajib datang menemui keluarga mereka yang telah gugur untuk mohon maaf”

Agaknya para murid pun dapat mengerti. Mereka memahami sikap gurunya. Mereka pun mengerti, bahwa Alap-alap Perak itulah yang telah datang menghasut gurunya untuk melakukan satu tindakan yang patut disesali. Sementara itu, gurunya pun telah menyesalinya pula.

Di keesokan harinya, maka Ki Margawasana, Ki Udyana, Nyi Udyana dan Ki Parama telah minta diri. Sementara itu memenuhi keinginan Ki Parama yang disetujui oleh Ki Udyana, maka dua orang murid Ki Wigati yang juga pemburu telah ikut bersama Ki Parama untuk tanggal di padepokan Ki Udyana untuk beberapa lama.

Namun beberapa orang berkuda itu mula-mula akan mengantar Ki Margawasana lebih dahulu pulang ke bukit kecil yang disebutnya Jatilamba di dekat padukuhan Gebang.

“Apakah aku perlu diantar pulang?“ bertanya Ki Margawasana.

“Maksud kami bukan mengantar guru” berkata Ki Udyana, “Tetapi karena kami berangkat dari tempat tinggal guru diatas bukit itu, maka kami pun akan kembali ke bukit Jatilamba itu lebih dahulu, sebelum kami pulang ke padepokan kami”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Kau masih tetap berpegang pada unggah-ungguh”

“Sebenarnyalah kami kerasan tinggal di bukit kecil itu, guru. Rasa-rasanya kami memang ingin pergi ke bukit itu”

Ki Margawasana pun tertawa pula.

Iring-iringan itu sampai ke bukit Jatilamba pada saat matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat. Karena itu maka Ki Margawasana pun minta mereka bermalam lagi di Bukit Jalilamba.

“Tentu saja kami tidak berkeberatan, “Ki Paramalah yang menjawab. Ia memang merasakan kesejukan dan ketenangan suasana di atas bukit kecil itu.

“Harus lebih banyak ditanam pohon-pohon besar di padepokan agar udaranya menjadi lebih sejuk dan segar” desis Ki Parama kepada diri sendiri. Tetapi ia pun benar-benar berniat untuk menanam pepohonan lebih banyak lagi.

“Lebih baik pohon buah-buahan yang dapat dipetik hasilnya” desis Ki Parama.

Setelah bermalam satu malam lagi di bukit kecil Jatilamba, maka kelima orang yang menyertai Ki Margawasana ke bukit kecil itu pun segera minta diri.

Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap. Sehingga sebelum matahari terbit, maka mereka pun sudah memegangi kendali kuda masing-masing.

“Sering-seringlah datang kemari Udyana suami isteri atau Parama atau siapa saja yang sempat. Jika ada waktu biarlah Wikan datang pula kemari”

“Baik, guru. Nanti akan aku sampaikan kepada Wikan demikian aku sampai di padepokan”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan yang terdiri dari lima orang telah meninggalkan bukit kecil yang terasa sejuk, segar diselimuti oleh suasana yang tenteram itu.

Demikian mereka turun dari bukit, maka Ki Parama pun bertanya, “Kakang. Apakah kita tidak jadi menemui Ki Rina-rina?”

“Tidak, adi. Sebenarnya aku juga ingat, bahwa paman Wigati pernah mengunjungi Ki Rina-rina, tetapi agaknya persoalannya sudah selesai. Jika kita mengunjungi Ki Rina-rina, justru mungkin akan timbul persoalan baru lagi”

Ki Parama itu pun mengangguk-angguk. Ketika kemudian mereka sampai di ngarai, maka kuda-kuda mereka pun berlari semakin cepat. Namun tidak semua ruas jalan dapat dilalui dengan lancar. Ada beberapa ruas yang agak sulit dilalui, sehingga kuda-kuda mereka pun berlari lamban sekali.

Ketika kuda-kuda mereka menjadi letih, haus dan lapar, maka mereka pun telah berhenti di pinggir sebuah sungai kecil. Mereka sengaja tidak berhenti di sebuah kedai, agar mereka tidak melihat peristiwa-peristiwa atau mendengar persoalan-persoalan yang menarik perhatian mereka, sehingga mereka tidak dapat ingkar; merasa wajib untuk melibatkan diri.

Di pinggir sungai kecil mereka dapat duduk di bawah pohon yang rindang sambil menunggui kuda-kuda mereka minum dan makan rerumputan segar.

Ketika seorang penjual dawet cendol lewat, maka Ki Parama pun telah menghentikannya. .

“Kakang penjual dawet. Kami kehausan kakang”

Penjual dawet itu pun kemudian berhenti di bawah sebatang pohon ketapang yang daunnya rimbun.

Ternyata bukan hanya Ki Parama sajalah yang kehausan. Tetapi semuanya telah minum dawet cendol masing-masing dua mangkuk.

“Legenmu enak sekali kang. Kau taruh potongan-potongan nangka di dalamnya”

Penjual dawet itu tersenyum. Katanya, “Ya, Ki Sanak. Ternyata banyak yang menyenanginya. Legen diberi potongan-potongan nangka sehingga terasa manisnya legen menjadi beda”

Berbeda dengan saat mereka berangkat, maka di perjalanan pulang tidak ada apa pun yang menghambat. Karena itu, maka perjalanan pulang itu pun terasa lebih cepat.

Ketika iring-iringan itu sampai di padepokan, maka Ki Udyana pun segera mengumpulkan murid-muridnya untuk menyampai-kan hasil perjalanan mereka menemui Ki Wigati.

“Aku minta keikhlasan kalian untuk melupakan peristiwa yang telah melukai hati kita. Persoalan antara kita dengan paman Wigati telah dianggap selesai tuntas”

Para cantrik di padepokan Udyana itu mengangguk-angguk. Wikan, Ki Windu dan Ki Rantam pun mengangguk-angguk pula. Ki Udyana telah memberikan penjelasan terperinci, sehingga para murid Ki Margawasana itu dapat mengerti. Apalagi guru mereka pun bersikap demikian pula.

Dengan demikian, maka kedua orang murid Ki Wigati itu pun dapat diterima di padepokan Udyana itu sebagai saudara mereka sendiri. Apalagi mereka memang bersumber dari aliran pereguruan yang sama.

Demikianlah, maka kehidupan di padepokan Udyana itu pun kemudian terasa semakin tenang. Hubungan dengan padepokan yang dipimpin Ki Wigati pun menjadi semakin akrab. Sementara itu Alap-alap Perak pun masih belum menampakkan dirinya lagi. Agaknya Alap-alap Perak itu telah mendengar bahwa hubungan antara perguruan yang dipimpin oleh Ki Wigati dengan padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu telah menjadi baik kembali setelah sempat terjadi benturan kekerasan di antara mereka.

Dua orang murid dari perguruan Ki Wigati itu pun telah mulai dengan tugas mereka. Beberapa orang murid dari perguruan Udyana yang tertarik untuk berburu, telah mendapat tuntunan dari kedua orang cantrik dari padepokan Ki Wigati.

Ternyata banyak di antara para cantrik yang tertarik untuk belajar berburu. Wikan, Ki Windu, Ki Rantam juga tertarik sebagaimana Ki Parama. Sementara itu, para cantrik yang sebenaranya sudah dapat meninggalkan padepokan karena mereka telah menuntut ilmu sampai selesai, ada pula yang tertarik untuk ikut berburu ke hutan.

“Ada hutan yang lebat tidak jauh dari padukuhanku” berkata Murdaka, “biarlah aku menunda kepergianku dari padepokan ini”

Kedua orang murid dari perguruan Ki Wigati itu pun dengan telaten mengajari para murid Ki Margawasana itu untuk mengenali dasar-dasar pengetahuan untuk berburu. Bagaimana mereka harus mengenali watak sasarannya, mengenal hutan, mengasah indera dan memperhatikan arah angin.

“Binatang buruan kita tidak boleh mengenal keberadaan kita dengan mencium bau tubuh kita yang dibawa angin. Jika binatang buruan kita itu mencium bau badan kita, maka mereka akan segera menghindar” berkata murid Ki Wigati itu.

Ternyata para murid dari perguruan yang dipimpin Ki udyana yang pada dasarnya sudah memiliki ketrampilan, penguasaan tubuh dan tenaga dalam itu pun dengan cepat mampu menguasai pengetahuan tentang perbuan, sehingga dalam waktu yang terhitung pendek, mereka sudah dapat disebut pemburu-pemburu yang baik.

Namun Ki Udyana pun selalu memperingatkan kepada mereka, bahkan mereka jangan menjadi mahluk yang memusnahkan mahluk hidup yang lain, “Sesama kita, binatang dan tumbuh-tumbuhan adalah bagian dari alam ini. Jenis mereka berhak untuk tetap ada, sehingga karena ilu, kita jangan memamerkan kelebihan kita karena kita mampu memusnahkan mahluk hidup yang lain. Jika kita berbuat demikian, maka kita akan banyak sekali dirugikan. Alam akan kehilangan keseimbangannya, sehingga akan mengganggu pusaran kehidupan pada saatnya juga akan mengganggu keseimbangan hidup manusia itu sendiri”

Dengan demikian, meskipun para murid dari perguruan Udyana itu memiliki kemampuan berburu yang tinggi namun mereka harus selalu menahan diri untuk tidak memusnahkan binatang liar di hutan.

Dengan demikian, setelah para murid dari perguruan Udyana itu cukup memiliki bekal untuk menjadi pemburu yang baik, maka kedua orang murid Ki Wigati itu pun telah minta diri.

“Sebenarnya kami kerasan tinggal disini. Disini kami pun dapat meningkatkan ilmu kanuragan kami, karena saudara-saudaraku disini juga bersumber dari aliran perguruan yang sama” berkata salah seorang diantara mereka.

“Kenapa tidak tinggal disini saja?“ bertanya Murdaka.

Kedua orang itu tersenyum. Seorang diantara mereka berkata, “guru tentu mengharap kami pulang. Karena itu, kami pun akan pulang. Pada kesempatan lain, kami akan sering berkunjung kemari”

Namun tiba-tiba saja Wikan pun berkata, “Nah, aku akan pergi bersama kalian”

“Kau akan kemana?“

“Aku akan mengunjungi padepokanmu. Tetapi yang penting aku akan pergi mengunjungi guru. Ketika paman Udyana pergi mengunjungi guru, guru minta aku datang ke bukit kecil tempat tinggal guru”

“Kau akan pergi sendiri?“

“Tidak. Aku belum pernah mengunjungi guru. Aku akan mengajak kakang Rantam. Kakang Rantam mengantar guru ketika guru pergi ke bukit kecil itu”

“Apakah kami boleh ikut lagi pergi ke bukti untuk menengok uwa guru Margawasana?“

“Tentu. Aku tentu tidak berkeberatan. Guru juga tidak. Meskipun demikian sebaiknya kalian berdua minta diri lebih dahulu dari paman Wigati”

“Baik. Jika kau singgah di padepokan kami, maka kami akan minta ijin kepada guru untuk bersamamu mengunjungi uwa Margawasana. Tempat itu terasa sejuk dan damai”

“Baik. Nanti aku akan menyampaikan kepada paman Udyana, bahwa aku akan pergi ke Bukit Jatilamba”

Demikianlah, maka pada sore hari, ketika Ki Udyana sedang duduk di serambi gandok bangunan utama padepokan-nyan, Wikan telah datang menemuinya.

“Ada pada, Wikan?“ bertanya Ki Udyana ketika ia melihat gelagat Wikan.

“Paman“ Wikan pun beringsut setapak, “Aku ingin minta ijin kepada paman”

“Minta ijin apa? Kau mau berburu?“

“Tidak paman. Ketika paman pulang dari rumah Guru, paman mengatakan bahwa guru perpesan agar aku datang mengunjunginya”

“Ya. Guru memang perpesan, agar kau datang mengunjunginya”

“Karena itu paman. Jika paman mengijinkan, serta kebetulan tidak ada tugas-tugas penting di padepokan ini, maka aku akan mengunjungi guru di Bukit Jatilamba”

Ki Udyana mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu akan tidak bekeberatan, Tetapi bukankah kau tidak akan pergi sendiri. Kau belum pernah pergi ke Bukit Jatlamba. Meskipun aku yakin, dengan memberikan ancar-ancar kepadamu, maka kau tentu akan menemukannya”

“Jika paman tidak berkeberatan, aku datang pergi mengunjungi guru bersama kakang Parama atau kakang Rantam.

“Pergilah dengan adi Rantam. Adi Parama baru saja mengunjungi guru bersamaku dan bibimu beberapa waktu yang lalu”

“Baik, paman. Aku akan minta kakang Rantam untuk pergi bersamaku. Selain kakang Rantam, kedua orang murid paman Wigati itu pun akan pergi bersamaku. Sebenarnya mereka akan kembali ke padepokan mereka, setelah kerja mereka disini dianggap selesai. Tetapi ketika mereka tahu, bahwa aku akan mengunjungi guru, agaknya mereka pun ingin pergi lagi ke Bukit Jatilamba. Tetapi mereka akan minta ijin lebih dahulu kepada paman Wigati”

“Jadi kau juga akan singgah dipadepokan paman Wigati?“

“Ya. Aku akan singgah. Baru dari padepokan paman Wigati, kami akan pergi ke Bukit Jatilamba”

“Baik. Pergilah. Aku sependapat bahwa kedua orang murid pamanmu Wigati itu harus minta ijin dahulu kepada guru mereka”

Malam itu, maka Wikan pun telah bertemu dan berbicara dengan Ki Rantam. Ternyata Ki Rantam pun menjadi gembira mendapat kesempatan untuk pergi mengunjungi Ki Margawasana.

“Besok lusa kita berangkai bersama kedua orang murid paman Wigati” berkata Wikan.

“Baiklah Wikan. Nanti aku akan bertemu dan minta ijin langsung kepada kakang Udyana. Demikian pula kedua orang murid Ki Wigati itu juga akan minta diri pula kepada Ki Udyana.

Di hari berikutnya, maka kedua orang murid Ki Wigati itu pun telah minta diri kepada seisi padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana. Kedua belah pihak merasa berat untuk berpisah setelah mereka berkumpul untuk beberapa bulan, sehingga sekelompok murid dari perguruan Ki Udyana itu benar-benar telah menjadi sekelompok pemburu yang tangguh.

Selain kedua orang ilu, maka Wikan dan Ki Rantam pun telah memberitahukan pula bahwa mereka akan pergi untuk beberapa hari. Mereka akan pergi mengunjungi Bukit Jatilamba, namun mereka pun akan singgah pula di padepokan Ki Wigati, karena kedua orang murid Ki Wigati itu berniat untuk ikut pergi ke Bukit Jatilamba.

Demikianlah, maka dihari berikutnya, sebelum matahari terbit, empat orang berkuda telah meninggalkan padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Ki Udyana, Nyi Udyana serta para pemimpin padepokan itu dan bahkan para cantrik telah melepas mereka di pintu gerbang padepokan.

Empat penunggang kuda itu pun kemudian telah melarikan kuda-kuda mereka. Tetapi karena jalan tidak begitu tidak begitu baik, maka mereka tidak dapat melarikan kuda mereka terlalu cepat.

Demikianlah keempat orang berkuda itu pun semakin lama menjadi semakin jauh. Ketika matahari kemudian terbit, maka mereka sudah melewati bulak-bulak panjang dan menyusup diantara padukuhan-padukuhan.

Ternyata perjalanan mereka tidak mendapat hambatan yang berarti. Mereka hanya berher>ti pada saat kuda-kuda mereka merasa letih.

Ketika di sore hari, mereka sampai di padepokan Ki Wigati, maka mereka pun disambut dengan baik oleh Ki Wigati sendiri serta para cantrik. Terutama Wikan dan Ki Rantam.

“Kami akan pergi mengunjungi guru, paman. Sekaligus kami ingin mengunjungi paman. Selebihnya kedua orang saudara kami dari padepokan ini yang baru pulang dari padepokan kami itu, ingin sekali lagi mengunjungi guru. Menurut mereka, bukit Jatilamba adalah tempat yang sejuk dan terasa tenang dan damai, sehingga ketika mereka berada di bukit kecil itu, maka rasa-rasanya mereka mendapat banyak kesempatan untuk merenungi diri.

Ki Wigati tersenyum. Katanya, “Baiklah, jika mereka ingin pergi ke bukit itu lagi. Tetapi bukankah mereka tidak akan mengikuti kalian ke padepokan kalian?”

Wikan tertawa. Katanya, “Paman dapat bertanya langsung kepada mereka”

Kedua orang cantrik itu pun tertawa pula. Seorang diantara mereka berkata, “Sebenarnya aku kerasan berada di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Tetapi dari bukit Jatilamba aku akan kembali ke mari. Tidak ke padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana. Para murid Ki Udyana sudah cukup trampil berburu. Bahkan mereka telah menjadi pemburu yang lebih baik dari kami disini”

“Tentu tidak” sahut Wikan, “Tetapi saudara-saudara kami memang sangat tertarik untuk dapat menjadi pemburu yang baik”

Malam itu Wikan dan Ki Rantam bermalam di padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati. Esok pagi mereka akan meneruskan perjalanan ke Bukit Jatilamba.

Pada kesempatan yang pendek ilu, Wikan dan Ki Rantamsari sempat melihat-lihat padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati. Ada beberapa persamaan dengan padepokannya sendiri. Agaknya ketika Ki Wigati membangun padepokannya, ia juga terpengaruh oleh padepokannya yang lama yang kemudian diserahkan kepada Ki Margawasana.

Meskipun Wikan hanya bcnnalam selama, namun terasa bahwa kehadirannya telah mempererat hubungan antara kedua padepokan ilu.

Dihari berikutnya, pagi-pagi sekali, Wikan, Ki Rantam serta dua orang murid Ki Wigati telah meninggalkan padepokan yang dipimpin oleh Ki Wigati ilu.

Mereka berempat melarikan kuda-kuda mereka di bulak-bulak panjang menuju ke Gebang untuk selanjutnya naik ke Bukit Jatilamba.

Tetapi perjalanan mereka tidak selancar perjalanan mereka dari padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana menuju ke padepokan Ki Wigati. Ketika mereka melewati lereng pebukitan yang sepi, tiba-tiba saja mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat di langit meluncur anak panah sendaren.

“Apa itu?” desis Ki Rantam.

“Agaknya anak panah sendaren” sahut Wikan.

“Ya. Anak panah sendaren. Anak panah itu tentu merupakan isyarat” sahut salah seorang murid Ki Wigati yang berkuda bersama Wikan dan Ki Rantam itu.

“Ya. Tentu isyarat. Karena itu berhati-hatilah Kita tidak mungkin menghindar lagi. Kita berada diantara tebing-tebing pegunungan”

Sebenarnyalah, sejenak kemudian dua orang telah meloncat dari belakang gerumbul perdu.

“Hanya dua orang” desis Ki Rantam.

Wikan menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berdesis, “Kakang. Lihat seorang diantara mereka”

Ki Rantam pun menyahut, “Orang yang menyebut dirinya Alap-alap Perak”

“Setan itu lagi”geram Wikan.

“Tetapi mereka hanya berdua”

“Yang melontarkan anak panah sendaren itu sebentar lagi akan datang pula kemari”

Ki Rantam pun mengangguk-angguk pula. Ia pun kemudian berpaling kepada kedua orang murid Ki Wigati, “Berhati-hatilah”

“Baik, kakang” jawab keduanya hampir berbareng.

“Mereka tentu mempunyai niat buruk”

“Kami siap melayani, apakah mau mereka”

Orang yang rambutnya sudah pulih seperti perak itu pun kemudian mengangkat tangan mereka untuk memberi isyarat agar keempat orang itu pun berhenti.

Wikan yang berada di depan pun kemudian menarik kendali kudanya, sehingga kudanya pun berlari semakin perlahan, sdiinga akhirnya berhenti sama sekali.

“Alap-alap Perak” desis Wikan.

“Setan alas. Kenapa kau berada disini?“ bertanya Alap-alap Perak itu.

“Kenapa jika aku berada disini?“ Wikan justru ganti bertanya.

“Baik. Bagiku kebetulan sekali kau berada disini sekarang. Agaknya memang sudah sampai waktunya kau mati”

“Apa yang akan kau lakukan?”-

“Sebenarnya kami ingin mencegat orang-orang perguruan yang dipimpin oleh Wigati itu. Wigati telah berkhianat, sehingga Wigati telah berdamai dengan Margawasana. Aku tidak mau melihat kenyataan itu. Aku masih tetap menginginkan hana karun yang tertanam di bawah padepokan yang sekarang dipimpin oleh Mina dan suami isteri. Karena pengkhianatan Wigati, maka aku harus melakukan sesuatu. Aku akan membunuh semua murid muridnya satu demi satu. Dua demi dua atau bahkan lima demi lima. Tetapi ternyata bersama murid Wigati, disini hadir pula murid-murid Margawasana. karena itu, biarlah aku membunuh kalian semuanya”

“Bagus, Alap-alap Perak. Kita tuntaskan pertarungan kita disini. Jika kau menginginkan, maka kita akan bertarung seorang melawan seorang. Biarlah yang lain menjadi saksi dari pertarungan kita itu”

Alap-alap Perak itu tertawa. Katanya, “Aku adalah orang yang memiliki ilmu yang tidak terbatas. Kau masih terlalu muda uniuk mati. Tetapi karena kesombonganmu, maka apa boleh buat. Aku tetap saja membunuhmu”

“Siapakah yang telah menyombongkan diri? Aku atau kau? Jika kita bertemu disini, Alap-alap Perak, kita bukannya orang yang belum saling mengenal. Aku telah menjajagi ilmumu, kau pun telah menjajagi ilmuku, sehingga kita tidak perlu berbicara ngayawara lagi”

“Persetan kau anak iblis. Jangan berbangga dengan kemampuanmu yang masih belum mapan itu. Jika kau berkeras untuk bertarung, maka umurmu benar-benar hanya sampai disini. Sebenarnya, yang akan menjadi sasaran kami adalah para murid Wigati yang berkhianat itu, sebelum akhirnya aku akan membunuh Wigati sendiri. Tetapi agaknya nasibmu memang lagi malang”

Tetapi Wikan seakan-akan tidak menghiraukannya. Ia pun segera meloncat turun dari kudanya. Demikian pula Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati. Mereka berempat pun kemudian telah menambatkan kuda-kuda mereka pada sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan.

“Anak muda” berkata Alap-alap Perak, “meskipun kau pernah menyakiti hatiku dan pantas dihukum, tetapi kau akan aku ampuni jika kau tidak ikut mencampuri persoalanku dengan murid-murid Wigati. Aku akan membunuh kedua orang murid Wigati itu. Jangan halangi aku. Maka aku akan membiarkanmu pergi”

“Alap-alap Perak. Aku tantang kau berperang tanding. Kau jangan hanya mengandalkan namamu yang tersebar dimana-mana, tetapi nama itu seperti segumpal udara yang hanyut oleh angin. Sekarang buktikan bahwa Alap-alap Perak adalah seorang yang berilmu sangat tinggi”

“Persetan kau, anak setan. Jangan sesali nasibmu yang malang. Aku benar-benar akan membunuhmu”

“Jika demikian” berkata Ki Rantam, “maka kami bertiga akan menjadi saksi bagi Wikan, sedangkan kau hanya mempunyai seorang saksi Alap-alap Perak”

“Anak muda ini tidak akan mempunyai saksi seorangpun”

“Kami ada bertiga disini”

“Kalian pun akan segera mati”

Sebelum Ki Rantam menjawab, maka mereka melihat beberapa orang berkuda melarikan kuda mereka seperti di kejar hantu. Ada diantara mereka yang membawa busur dan endong berisi anak panah.

“Tentu merekalah yang sudah melepaskan anak panah sendaren itu” berkata Ki Rantam.

“Ya. Mereka adalah orang-orangku. Mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi dan sama sekali tidak berjantung. Mereka adalah pembunuh-pembunuh yang keji. Mereka dapat mencengkeram dada seseorang dan dengan jari-jarinya mengambil jantungnya sambil tertawa-tawa” sahut Alap-alap Perak.

Namun jawaban Ki Rantam justru membuat Alap-alap Perak semakin marah, “Jika demikian maka mereka tidak sepantasnya tetap hidup. Mereka akan dapat melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi. Dan bahkan jauh lebih garang dari yang pernah dilakukannya itu”

“Siapa yang akan membunuh mereka?”

“Kami. Siapa lagi? Yang ada disini hanyalah kami berempat . Tetapi kami berempat merasa yakin, bahwa kami dapat melakukannya. Membunuh kau dan orang-orangmu itu”

Kemarahan bagaikan meledakkan dada Alap-alap Perak itu. Sementara itu beberapa orang berkuda itu pun telah menjadi semakin dekat.

Demikian orang-orang berkuda itu tinggal berjarak beberapa langkah saja, maka mereka pun berhenti pula. Mereka berloncatan lumn dari kuda-kuda mereka.

“Ternyata hanya dua orang diantara mereka berempat murid dari padepokan yang dipimpin oleh pengkhianat itu”

“Siapakah yang lain guru?” bertanya seorang diantara orang-orang berkuda itu.

“Mereka adalah murid-murid dari perguruan yang dipimpin oleh Mina dan isterinya. Keduanya adalah murid Margawasana”

“Tidak ada bedanya. Kita akan membunuh mereka semuanya”

“Ya. Kita akan membunuh mereka semuanya” sahut Alap-alap Perak, “mudah-mudahan justru dapat menimbulkan salah paham, Wigati menyangka murid-muridnya dibunuh oleh murid Margawasana, sementara Margawasana menyangka murid-muridnya dibunuh oleh murid-murid Wigati”

Tetapi Ki Rantam justru tertawa. Katanya, “Kau bermimpi Alap-alap Perak. Tidak ada lagi permusuhan diantara kami. Guru pun melihat kami berangkat bersama-sama. Sedangkan kakang Udyana pun melihat kami bersama-sama pula berangkat dari padepokannya. Jika kami berempat tidak sampai tujuan, maka siapakah yang membunuh dan siapakah yang dibunuh”

“Cukup“ bentak Alap-alap Perak, “Bersiaplah. Kalian akan segera mati”

Alap-alap Perak itu pun segera memberikan aba-aba, “Jangan membuang banyak waktu. Bunuh mereka semua. Tidak akan ada orang yang tahu, bahwa kamilah yang telah membunuh mereka berempat”

Alap-alap Perak serta orang-orang berkuda yang ternyata adalah murid-muridnya itu pun segera menebar, setelah mereka. Ternyata jumlah mereka cukup banyak. Alap-alap Perak, seorang yang sejak semula bersamanya, dan lima orang berkuda.

Tetapi Wikan, Ki Rantam serta dua orang murid Ki Wigati ilu lidak menjadi gentar. Kedua orang murid Ki Wigati itu adalah murid-murid yang sudah berada pada tataran yang tinggi. Kebiasaannya berburu pun telah membuatnya menjadi semakin malang menghadapi kesulitan. Mereka terbiasa menyesuaikan diri dengan keadaan yang mereka hadapi. Keadaan yang paling sulit sekalipun.

Meskipun demikian, mereka tidak boleh mengabaikan kenyataan, bahwa Alap-alap Perak sendiri sebagaimana pernah dijajagi kemampuannya oleh Wikan, adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

Dengan garangnya Alap-alap Perak pun kemudian menggeram, “Bunuh mereka. Jangan ragu-ragu. Kita akan melemparkan mayat mereka ke dalam jurang, sehingga tidak seorang pun yang akan dapat menemukannya”

Namun sebelum Alap-alap Perak dan orang-orangnya itu beranjak, terdengar suara tertawa yang bagaikan membelah tebing-tebing pebukitan.

“Ternyata kau memang licik, Alap-alap Edan” Orang-orang yang sudah bersiap untuk bertempur itu pun tertegun. Mereka mencoba mencari siapakah yang telah berbicara dengan suara yang mampu menggetarkan udara itu.

Baru kemudian, orang itu muncul dari balik gerumbul yang rimbun di lereng pebukitan.

“Iblis kau Wigati” geram Alap-alap.

Alap-alap Perak. Aku sudah curiga bahwa kau akan melakukannya. Ketika murid-murdiku yang akan berburu melihat beberapa orang berkuda, menyusul kedua muridku serta dua orang murid Mina itu, aku sudah menduga, bahwa akan terjadi peristiwa yang semakin meyakinkan bahwa kau adalah orang yang sangat licik”

“Apa maumu Wigati?” geram Alap-alap Perak.

“Ketika aku mendengar laporan tentang orang-orangmu itu, aku terpaksa menyusul kedua orang muridku dan dua orang murid Mina itu lewat jalan pintas di pebukitan itu. Untunglah, bahwa aku belum terlambat. Meskipun seandainya aku tidak datang kemari, belum tentu kau dapat mengalahkan Wikan. Bukankah kau sudah pernah menjajagi kemampuannya”

“Aku akan melumatkannya menjadi debu disini” geram Alap-alap Perak

“Nah, sekarang ada aku. Sebenarnya aku akan memenuhi pesan kakang Margawasana, agar aku tidak mendekat kepadamu, Alap-alap Perak. Meskipun kau telah menjerumuskan aku ke dalam pertentangan dan bahkan telah terjadi benturan kekerasan yang membawa korban dengan para murid kakang Margawasana, namun aku telah berniat untuk melupakannya. Tetapi ternyata bahwa kau telah membuat persoalan baru. Murid-muridku yang akan berburu menjadi curiga melihat murid-muridmu yang mengikuti kedua orang muridku dan kedua orang murid kakang Margawasana itu. Kemudian ternyata, bahwa kau memang berniat jahat”

“Aku tidak akan ingkar, Wigati. Tetapi jika hal ini aku lakukan, bukannya tidak beralasan. Kau telah mengkhianatiku. Kau telah membuat pernyataan damai dengan Margawasana. Padahal kau sudah berjanji kepadaku, untuk mengambil harta karun yang ada di bawah padepokan yang sekarang dipimpin oleh Mina itu”

“Jika kau tidak menipuku, mungkin aku juga tidak mengirikan kesepakatan kita. Yang kau sebut harta karun itu adalah benda pusaka peninggalan guruku. Benda berharga yang menjadi lambang laku temurunnya kekuasaan dari seorang pemimpin padepokan kepada pemimpin berikutnya. Kau mengira bahwa benda itu akan dapat kau pergunakan untuk membuat emas. Jika surya-kanta yang berbingkai lingkaran yang besar itu dapat diketemukan, maka kau akan dapat membuat emas berbangsal-bangsal. Tetapi ternyata dongeng tentang emas itu adalah dongeng ngayawara. Nah, Alap-alap Perak. Masih ada kesempatan untuk menghindari permusuhan yang lebih parah lagi diantara kita yang tentu akan melibatkan Mina pulang kedalamnya, karena dua orang yang akan kau bunuh itu adalah adik seperguruannya”

“Persetan semuanya itu. Aku sudah kepalang basah. Aku harus mendapatkan benda yang aku maui itu. Jika kau sempat terseret karena bujukanku itu adalah pertanda betapa rapuhnya hatimu. Betapa nafsu keserakahan masih menguasai dadamu. Jangan menyalahkan siapa-siapa. Mereka yang terbujuk oleh hasutan-hasutan sehingga melakukan pekerjaan yang akhirnya diangap salah itu adalah karena kelemahan ketahanan jiwaninya sendiri”

“Aku tidak akan ingkar, Alap-alap Perak. Aku akui. Tetapi justru karena pengakuanku itulah, maka aku berniat untuk berubah. Dengan menyadari semua kelemahan dan kesalahan, maka aku berniat menempuh hidup baru. Tentu tidak terlambat selagi aku masih sempat melakukannya. Nah, aku minta kau pun melakukannya pula. Batalkan saja niat burukmu. Biarlah keempat orang itu melanjutkan perjalanannya. Persoalan diantara kita pun akan kita anggap sudah selesai. Aku tidak akan mendendammu lagi”

Tetapi Alap-alap Perak itu tertawa berkepanjangan. Rambutnya yang putih, yang terurai menjulur dibawah ikat kepalanya, nampak berayun dihembus angin pembukitan yang kencang.

“Aku tidak peduli apakah kau mendendam atau tidak, Wigati. Justru kau telah datang pula kemari, maka aku akan membunuhmu pula. Jangan membebaskan keempat orang itu, kau pun tidak akan aku bebaskan”

“Alap-alap Perak. Apakah kau sekarang sudah pikun sehingga kau tidak lagi tahu bahwa aku pernah belajar ilmu kanuragan? Bahwa kau tidak mampu mengalahkan Wikan dan bahwa orang-orangmu yang ada sekarang tentu tidak akan lebih baik dari kau sendiri?”

“Mereka adalah murid-muridku terbaik, Wigati. Kau dan keempat orang ini memang bernasib buruk hari ini. Hari kematiannya yang tidak diduga-duganya”

Wigati itu pun kemudian melangkah mendekati Wikan sambil berkata, “Maaf Wikan. Mungkin kau sudah tidak sabar lagi menunggu kesempatan untuk membunuh Alap-alap edan ini. Tetapi biarlah kali ini aku yang menyelesaikannya. Kau, Rantam dan kedua orang muridku itu akan bertempur melawan murid-murid Alap-alap edan ini. Terserah kepadamu, apakah mereka akan kau biarkan melarikan diri dari arena pertarungan ini, atau terpaksa kau bunuh di tempat ini”

“Wigati” geram Alap-alap Perak, “Kau terlalu meremehkan aku”

“Aku hanya berbuat sebagaimana kau lakukan. Kau juga sangat meremehkan aku. Maka aku pun tentu akan meremeh-kanmu. Jika kau sedikit saja hormat kepadaku, maka aku pun akan menghormatimu. Bukankah itu sudah merupakan tatanan pergaulan yang berlangsung di dalam bebrayan agung?”

“Persolan dengan laianan hubungan hidup beberayan. Aku lidak peduli. Sekarang, pilihlah jalan kematianmu yang terbaik”

Ki Wigati tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi Alap-alap Perak.

Wikan memang menjadi sedikit kecewa, bahwa ia harus melepaskan Alap-alap Perak. Tetapi ia sadari, bahwa paman gurunya memang lebih pantas untuk menghadapinya. Karena itu, maka Wikan pun kemudian segera bersiap pula bersama Ki Rantam dan dua orang murid Ki Wigati itu untuk menghadapi murid-murid Alap-alap Perak itu.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka Alap-alap Perak itu sudah mulai menyerang Ki Wigati, sementara yang lain pun telah siap menghadapi dua orang murid Ki Margawasana dan dua orang murid Ki Wigati.

Dengan demikian, maka pertempuran pun tidak dapat dihindari lagi. Serangan-serangan Alap-alap Perak terhadap Ki Wigati datang bagaikan amuk angin prahara. Tetapi Ki Wigati sudah siap untuk menghadapinya. Karena itu, maka dengan tangkas pula Ki Wigati itu berloncatan menghindar tetepi juga menyerang.

Sementara itu, Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu pun telah siap pula menghadapi keenam orang yang disebut murid Alap-alap Perak itu.

Orang yang bersama Alap-alap Perak menghentikan Wikan dan ketiga orang yang bersamanya pergi ke Gebang itu pun berusaha untuk mendekati Wikan sambil berkata, “Anak muda. Ternyata kau adalah anak muda yang sangat sombong. Aku tidak mendapat kesempatan untuk menanggapi bicaramu ketika kau menantang guru. Kau kira guru itu siapa, sehingga kau berani menantangnya berperang tanding”

Wikan mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian menjawab, “Jika aku menantang Alap-alap Perak itu sama sekali bukan karena aku sekedar menyombongkan diri. Tetapi aku memang pernah bertempur melawan Alap-alap Perak. Pada saat itu aku dan Alap-alap Perak belum sempat menuntaskan pertarungan kami, karena paman Wigati menghentikan pertempuran secara keseluruhan”

Murid Alap-alap Perak itu tertawa. Katanya, “Kau masih mencoba untuk membuat dirimu seakan-akan seorang yang memiliki kemampuan yang pantas untuk melawan guru. Baiklah. Sekarang kita akan berhadapan. Siapakah diantara kita yang akan tetap hidup. Menjelang kematianmu kau akan menyadari, bahwa kau dihadapan guru bukan apa-apa”

Wikan tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun tetap bersiap
menghadapinya.

Sementara itu Ki Rantam sudah terlibat dalam pertempuran melawan dua orang murid Alap-alap Perak. Keduanya berusaha untuk dengan cepat mengakhiri perlawanan Ki Rantam agar mereka segera dapat membantu saudara seperguruannya yang bertempur melawan Wikan.

Tetapi ternyata keduanya telah membentur perlawanan yang sangat kokoh. Ki Rantam tidak segera dapat mereka tundukkan. Bahkan kemudian ternyata bahwa mereka berdua harus memeras tenaga dan kemampuan mereka untuk melawan serangan-serangan Ki Rantam.

“Setan alas” geram seorang diantara kedua lawan Rantam, “Siapa sebenarnya kau, he?“

“Aku murid Ki Margawasana. Kau tentu pernah mendengar nama itu. Gurumu telah mengenalnya dengan baik.

“Persetan kau“ kedua orang ilu pun berusaha dengan mengerahkan kemampuan mereka.

Hentakkan kemampuan kedua orang itu memang sempat mendesak Ki Rantam beberapa langkah surut. Namun Ki Rantam yang telah mendapat kepercayaan Ki Margawasana membantu-nya membimbing murid-muridnya-itu adalah seorang yang telah tuntas pula mewarisi ilmu gurunya.

Karena itu, maka sejenak kemudian, Ki Rantam pun telah benar-benar mapan, sehingga kedua orang lawannya tidak mampu lagi menggoyahkan pertahanannya.

Sementara itu, orang murid Ki Wigati pun harus mengerahkan kemampuan murid menghadapi tiga orang murid Alap-alap Perak. Dua orang murid Ki Wigati itu pun bertempur berpasangan melawan tiga orang lawan.

Ternyata keduanya mampu bertempur dalam satu keutuhan. Mereka seakan-akan tidak dua. Tetapi satu.

Dengan demikian maka ketiga orang murid Alap-alap Perang itu kadang-kadang menjadi bingung menghadapi kedua orang itu. Demikian cepat mereka bergerak, sehingga kadang-kadang keduanya nampak seolah-olah hanya seorang. Namun tiba-tiba saja keduanya terurai dalam jarak beberapa langkah sambil berputaran, sehingga mereka kedua itu seolah-olah telah berkembang menjadi tiga, bahkan empat orang.

Demikianlah maka di jalan sepi yang melintasi sela-sela lereng pebukitan itu telah terjadi pertarungan yang semakin lama semakin sengit. Alap-alap Perak yang merasa telah dikhianati oleh Ki Wigati itu pun berusaha untuk segera dapat melepaskan kemarahannya. Tetapi Alap-alap Perak pun sadar,

bahwa Ki Wigati bukan baru kemarin sore mendalami ilmu kanuragan.

Wikan yang bertempur melawan murid yang agaknya dekat sekali dengan Alap-alap Perak sebagai muridnya yang lerpercaya itu pun mulai menekan lawannya. Lawannya sama sekali tidak menduga, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga sulit untuk diimbangi.

Tetapi orang itu masih berpijak pada harga dirinya. Ia masih mencoba mengerahkan tenaga dan kemampuannya untuk melawan Wikan. Namun ternyata bahwa ia sama sekali masih belum mampu menembus pertahanan anak muda itu. Bahkan sebaliknya, justru Wikan lah yang telah beberapa kali berhasil menguak pertahanannya. Serangan-serangan Wikan lah yang semakin lama semakin henyak mengenainya.

“Anak iblis“ orang itu pun menggeram.

“Ada apa?“ bertanya Wikan.

“Diam. Atau aku koyakkan mulutmu”

Wikan justru tersenyum. Katanya, “Kenapa kau menjadi uring-uringan? Nah, kerahkan segenap ilmumu. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Dengan demikian, maka pertarungan diantara kita pun akan segera berakhir, siapa pun yang kalah dan siapa pun yang menang tidak menjaadi soal”

Orang itu menggeram. Tetapi ia memang mengerahkan segenap ilmunya. Serangan-serangannya menjadi semakin deras menerpa Wikan. Tetapi Wikan masih saja berhasil menghindar atau menangkis. Satu-satu serangan-serangannya memang ada pula yang berhasil mengenai tubuh Wikan. Tetapi serangan-serangan itu selalu saja dapat diatasi oleh ketahanan tubuh Wikan.

Tetapi serangan-serangan Wikan lah yang justru sangat sulit dihindari dengan cara apa pun juga.

Tekanan yang semakin lama terasa menjadi semakin berat itulah yang kemudian telah memaksa lawan Wikan itu mulai kehilangan harga dirinya. Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat kepada saudara seperguruannya untuk datang membantunya.

Ketika isyarat itu terdengar, maka Alap-alap Perak pun meloncat surut untuk mengambil jarak. Isyarat itu membuatnya menjadi cemas. Ia menyadari, bahwa seorang diri muridnya telah mengalami tekanan yang sangat berat.

Tetapi ternyata kedua orang yang bertempur melawan Rantam tidak dapat membantunya. Bahkan keduanya telah mengalami kesulitan meskipun mereka berdua hanya melawan satu orang saja.

Sementara itu, ketiga orang bertempur melawan sepasang murid Ki Wigati itu pun telah mengalami tekanan yang berat pula. Agaknya jika seorang dari mereka bergeser dari arena pertarungan itu untuk membantu seorang saudara seperguruannya yang bertempur melawan anak muda yang bernama Wikan. maka dua orang yang ditinggalkannya akan segera terdesak pula.

Tetapi salah seorang murid Ki Wigati itu pun berkata, “Lepaskan seorang saudaramu untuk membantu saudaramu yang lain, yang mengalami kesulitan bertempur melawan murid bungsu Ki Margawasana itu. Kami berdua berjanji akan menahan diri untuk beberapa lama. Tetapi jika ternyata saudaramu itu tidak sempat kembali bergabung dengan kalian berdua, maka kalian berdua pun akan mengalami nasib buruk pula”

“Aku akan memenggal kepalamu” geram murid Alap-alap Perak itu.

Namun demikian, sebenarnyalah seorang diantara mereka telah meninggalkan arena penarungan melawan kedua orang murid Ki Wigati. Dengan cepat orang itu pun berloncatan bersabung dengan saudara seperguruannya yang bertempur melawan Wikan.

Wikan meloncat mengambil jarak. Diperhatikannya lawannya yang baru itu dengan tajamnya.

“Kau sudah berdiri diambung kematian anak muda” geram lawannya yang telah memberikan isyarat kepada saudara seperguruannya, “Kami berdua akan dengan cepat menyelesai-kanmu. Kemudian kami akan segera menyelesaikannya yang lain”

Wikan tidak menjawab. Tetapi ia pun segera bergeser, ia sadar bahwa melawan dua orang itu ia harus lebih berhati-hati. Seorang diantara keduanya adalah murid terbaik Alap-alap Perak.

Tetapi Wikan yang muda itu pun benar-benar sudah matang dengan ilmunya, sehingga kedua orang itu sama sekali tidak membuatnya gentar.

Beberapa saat kemudian, maka kedua orang lawan Wikan itu pun sudah mulai berloncatan menyerang. Tetapi Wikan terlalu tangkas. Pertahanannya pun justru menjadi semakin rapat, sehingga serangan-serangan kedua orang lawannya itu masih saja tetap sulit untuk menembusnya.

Namun semakin lama, ketika kedua orang itu sudah dapat saling menempatkan diri mereka dengan baik, maka serangan-serangan mereka pun mulai dapat menembus pertahanan Wikan. Tetapi serangan-serangan Wikan pun sulit untuk dihindari oleh kedua lawannya. Wikan mampu bergerak demikian cepatnya, sehingga kedua orang lawannya itu pun berganti-ganti terguncang karena serangan-serangan Wikan.

Sementara itu, kedua orang murid Ki Wigati yang telah kehilangan seorang lawannya, bertempur seorang melawan seorang. Ternyata bahwa kematangan murid-murid Ki Wigati yang juga pemburu itu, telah menyulitkan lawannya. Apalagi mereka harus menghadapi lawan-lawan mereka seorang diri.

Kedua orang murid Ki Wigati itu tidak lagi bertempur berpasangan. Telapi mereka mereka telah mengambil jarak yang satu dengan yang lain.

Namun dengan demiian, maka lawan-lawan mereka pun lelah mengalami kesulitan. Sementara itu seorang saudaranya yang telah melibatkan diri bertempur melawan Wikan itu belum ada tanda-tandanya, bahwa mereka berdua akan segera menghentikan perlawanan Wikan.

Dalam pada itu, Alap-alap Perak itu pun masih bertempur dengan garangnya melawan Ki Wigati. Namun sebenarnyalah bahwa kematangan ilmu Ki Wigati telah sangat menyulitkan Alap-alap Perak. Tetapi petualangan Alap-alap Perak telah memberikan banyak sekali pengalaman kepadanya, sehingga pengalaman itu dapat menjadi bekal pula baginya.

Namun Ki Wigati lah yang kemudian mulai mendesak Alap-alap Perak.

Sementara itu, Ki Rantam pun telah semakin mendesak kedua orang lawannya pula. Meskipun mereka berdua, tetapi mereka merasa sangat sulit untuk mendapatkan lubang-lubang yang dapat disusupi pada pertahanan Ki Rantam.

Semakin lama maka keseimbangan pertempuran itu pun menjadi semakin jelas. Agaknya Alap-alap Perak telah memperhitungkan keadaan. Yang sebenarnya ditunggunya adalah murid-murid Ki Wigati yang akan dibunuhnya untuk melepaskan dendamnya karena Ki Wigati dianggapnya berkhianat. Tetapi tanpa di duganya, bahwa diantara murid Ki Wigati itu terdapat pula murid Ki Margawasana. Justru murid-murid Ki Margawasana yang telah mewarisi ilmu gurunya sampai tuntas. Sehingga dengan demikian, maka murid-muridnya pun segera mengalami kesulitan menghadapi lawan-lawan mereka.

Yang juga tidak diduganya adalah kehadiran Ki Wigati itu sendiri. Ki Wigati yang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga Alap-alap Perak sendiri merasa kesulitan untuk mengatasinya.

Semakin lama Alap-alap Perak itu pun menjadi semakin terdesak. Bahkan kemudian Alap-alap Perak itu seakan-akan sudah tidak mempunyai ruang gerak lagi.

Karena itu, maka Alap-alap Perak itu pun tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mempergunakan ilmu puncaknya. Jika ilmunya lebih tinggi dari ilmu Ki Wigati, maka ia akan dapat segera menghentikan perlawanan Ki Wigati, sehingga ia akan segera dapat membantu murid-muridnya yang semakin terdesak.

Tetapi Alap-alap Perak itu pun menyadari, bahwa Ki Wigati pun memiliki ilmu yang mapan pula, yang akan dapat dipergunakan untuk melawan ilmu yang akan dilontarkannya.

Meskipun demikian, Alap-alap Perak yang terlalu percaya akan kemampuan dirinya itu, berniat untuk mencobanya.

Karena itulah, maka beberapa saat kemudian, Alap-alap Perak itu pun justru telah meloncat mengambil jarak. Dengan cepat, Alap-alap Perak itu pun telah mempersiapkan dirinya, memusatkan nalar budinya yang sudah terasah sehingga ia hanya memerlukan waktu sekejap saja.

Dalam pada itu, Ki Wigati pun terkejut melihat sikap Alap-alap perak. Ia sadar, bahwa Alap-alap Perak telah sampai pada ilmunya yang tertinggi. Karena itu, maka Ki Wigati pun harus segera mempersiapkan diri untuk melawan ilmu puncak Alap-alap Perak itu.

Sesaat kemudian, maka Ki Winenang yang bergelar Alap-alap Perak itu pun telah melontarkan ilmu puncak mengarah ke dada Ki Wigati. Tetapi Ki Wigati tidak membiarkan tubuhnya menjadi Tumat karenanya. Ia pun segera melakukan hal yang sama. Melepaskan ilmu puncaknya pula.

Dua kekuatan ilmu yang tinggi pun telah berbenturan di udara. Demikian dahsyatnya, sehingga telah terjadi goncangan yang menggetarkan udara. Kekuatan ilmu itu pun telah saling mendesak dan memantul kembali ke sumbernya.

Tetapi ternyata bahwa keseimbangan ilmu itu pun berat sebelah. Ilmu yang dilontarkan Ki Wigati memiliki tenaga dan kekuatan yang lebih besar dari ilmu pamungkas yarig dilontarkan oleh Ki Winenang dan bergelar Alap-alap Perak. Karena itu, maka pantulan ilmunya setelah terjadi benturan, telah lerdorong pula oleh getar kekuatan ilmu Ki Wigati.

Terdengar keluhan tertahan. Alap-alap Perak itu pun terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya pun terbanting menimpa tebing padas pebukitan di sebelah jalan yang sepi itu.

Alap-alap perak itu pun terkapar di tanah. Sambil menyeringai kesakitan, maka Alap-alap perak itu pun menggeliat. Ia memang berusaha untuk bangkit. Tetapi tubuhnya menjadi sangat lemah, sehingga ia pun terjatuh kembali dan terbaring diam .

Pertempuran di jalan diantara lereng pebukitan itu tiba-tiba saja telah terhenti. Dua orang murid Ki Winenang dan bergelar Alap-alap Perak itu pun berlari-lari mendapatkan tubuh gurunya yang sangat lemah.

Namun daya tahan Alap-alap Perak itu cukup tinggi, sehingga bagian dalam tubuhnya tidak menjadi lumat karenanya.

Meskipun demikian, mereka tidak boleh mengabaikan kenyataan, bahwa Alap-alap Perak sendiri sebagaimana pernah dijajagi kemampuannya oleh Wikan, adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

Ki Wigati berdiri termangu-mangu. Ia pun harus mengeluh karena bagian dalam dadanya terasa nyeri sekali. Ketika benturan itu terjadi, Ki Wigati pun tergetar beberapa langkah surut.

Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu pun termangu-mangu sejenak. Tetapi kedua orang murid Ki Wigati itu pun segera telah berlari pula mendapatkan gurunya yang masih berdiri dengan kaki bergetar.

“Guru” desis seorang diantara keduanya, “bagaimana keadaan guru?“

Ki Wigati berusaha tersenyum. Katanya, “Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa”

“Silahkan menepi dahulu guru”

Kedua murid Ki Wigati itu telah menuntun gurunya menepi dan mempersilahkannya duduk diatas sebuah batu padas.

Wikan dan Ki Rantam berdiri tegak tanpa mengendorkan kesiagaannya. Dapat saja para murid Alap-alap Perak itu tiba-tiba saja berbuat curang dan licik.

Dalam pada itu, kedua murid Alap-alap Perak itu telah membantu Alap-alap Perak itu bangkit dan duduk di tanah.

Ki Wigati yang melihat Alap-alap Perak itu duduk, segera mencoba untuk bangkit berdiri. Ketika kedua orang muridnya akan membantunya, ia pun berdesis, “Aku dapat berdiri sendiri”

Ki Wigati memang dapat bangkit berdiri tanpa bantuan murid-muridnya. Bahkan Ki Wigati itu pun melangkah perlahan-lahan mendekati Alap-alap Perak yang masih sangat lemah.

“Kita sudah terluka di dalam Alap-alap Perak. Terserah kepadamu, apakah dalam keadaan seperti ini kita akan melanjut kan pertempuran. Atau kau masih berniat membunuh dua orang muridku dan dua orang murid kakang Margawasana. Jika kau masih tetap berniat melakukannya, maka yang akan mati adalah kau sendiri serta murid-murid kakang Margawasana dan kedua orang muridku itu”

“Bohong” teriak seorang murid Alap-alap Perak, “Kamilah yang akan membunuh kalian”

Meskipun dada Ki Wigati terasa nyeri, namun ia masih juga dapat tertawa sambil menjawab, “Apakah kau sempat memikirkan kata-kata yang kau ucapkan itu?“

Murid Alap-alap Perak itu mengerutkan dahinya. Sementara Ki Wigati berkata, “Bagaimana mungkin kau dapat membunuh kami. Apakah kau tidak melihat kenyataan yang kau dihadapi?, Atau kau memang ingin agar kami membuktikannya, bahwa kamilah yang akan membunuh kalian?“

Murid Alap-alap Perak itu termangu-mangu. Namun sebenarnyalah ia tidak dapat lari dari kenyataan yang dihadapinya, bahwa para murid Alap-alap Perak itu tidak akan mampu menghadapi murid-murid Ki Wigati dan murid-murid Ki Margawasana.

“Alap-alap Perak. Biarlah aku selalu mengingat pesan kakang Margawasana agar aku tidak mendendammu. Sekarang pergilah. Jangan ganggu murid-muridku dan murid-murid kakang Margawasana. Biarlah mereka melanjutkan perjalanan mereka”

Alap-alap Perak yang terluka dadanya itu tidak.menjawab. Namun wajahnya menjadi sangat tegang sekali. Dipandanginya wajah Ki Wigati dengan tajamnya.

Tetapi Alap-alap Perak itu sudah tidak dapat berbuat apaapa. Tubuhnya masih sangat lemah, sehingga yang dapat dilakukannya hanyalah memandangi Ki Wigati yang masih mampu berdiri tegak dan bahkan berjalan hilir mudik. Dengan demikian maka Alap-alap Perak itu tidak dapat ingkar, bahwa tingkat ilmu Ki Wigati memang lebih tinggi dari tingkat ilmunya sendiri.

“Alap-alap Perak” berkata Ki Wigati, “sekali lagi aku peringatkan kau, jangan ganggu murid-murid kakang Margawasana yang akan meneruskan perjalanan.

“Mereka akan pergi kemana?“ suara Alap-alap Perak itu pun terdengar perlahan.

“Mereka akan bepergian jauh”

“Kenapa kau tidak membunuhku?“ bertanya Alap-alap Perak pula.

“Sudah aku katakan, pengakuanku atas sifat dan watakku yang buruk itu telah menimbulkan perubahan di dalam diriku. Pada dasarnya aku pun bukan pembunuh. Guruku tidak mengajarkan agar aku menjadi pembunuh-pembunuh keji”

“Kau akan menyesal bahwa kau tidak membunuhku sekarang Wigati. Karena sikapmu itu merupakan satu penghinaan bagiku. Justru karena kau tidak membunuhku, kau telah menumpuk dendam baru diatas dendamku yang lama, dendam karena pengkhianatanmu”

“Terserah saja kepadamu. Jika pada suatu saat kau datang untuk membalas dendam, maka pada saat itu aku benar-benar akan membunuhmu. Kapan saja dan dimana saja”

“Persetan kau pengkhianat” geram Alap-alap Perak.

Tetapi Wigati tidak mendengarkannya lagi. Ia pun kemudian berkata kepada Wikan, Ki Rantam dan kepada kedua orang muridnya, “Pergilah. Lanjutkan perjalanan kalian”

“Bagaimana dengan guru?”

“Aku akan pulang. Bukankah tempat ini masih terhitung dekat dengan padepokan kita? Seperti pada saat aku datang, maka aku pun akan menempuh jalan pintas diatas pe-bukitan itu”?

“Apakah sebaiknya kami berdua menyertai guru pulang. Baru kemudian kami menyusul kakang Rantam dan Wikan”

“Atau kami semuanya kembali lebih dahulu ke padepokan. Nanti kita akan berangkat bersama-sama” sahut Wikan.

Tetapi Ki Wigati itu pun berkata, “Tidak. Tidak perlu. Pergilan melanjutkan perjalanan”

Kedua orang murid Ki Wigati dan kedua orang murid Ki Margawasana itu pun saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Wikan pun berkata, “Terma kasih, paman. Jika paman menghendaki kami melanjutkan perjalanan, maka kami akan melanjutkan perjalanan”

Sambil tersenyum Ki Wigati itu berkata, “Pergilah” Wikan. Ki Rantam dan kedua orang murid ki Wigati itu pun segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan. Mereka telah melepas kuda-kuda mereka. Namun mereka masih saja berdiri termangu-mangu.

“Baiklah. Kalian tentu menunggu aku meninggalkan lompat ini”

“Ya, guru” jawab kedua orang murid Ki Wigati itu hampir bersamaan.

Sejenak kemudian, Ki Wigati pun beranjak dari tempatnya sambil berkata, “Salamku buat kakang Margawasana”

“Baik, paman” sahut Wikan.

Ki Wigati itu pun kemudian meninggalkan tempat itu. Perlahan-lahan ia naik ke lereng bukit kecil. Kemudian melintas dan hilang di baalik bukit kecil itu.

“Cepat, pergilah” geram Alap-alap Perak kepada keempat orang yang akan menempuh perjalanan.

“Kami tidak tergesa-gesa Alap-alap Perak” jawab Ki Rantam.

“Jika kau tidak segera pergi, maka kalian akan menyesal. Kami akan membunuh kalian”

“Kau sudah tidak berdaya Alap-alap Perak. Demikian pula murid-muridmu. Mereka tidak mencegah kami, maka murid-muridmu itu sudah terbunuh”

“Omong kosong” teriak murid Alap-alap Perak yang terpercaya, yang menyertainya menghentikan Wikan dan saudara-saudaranya

Wikanlah yang menjawab, “Jadi apa maumu sebenarnya? Apakah sepeninggal paman Wigati, kita harus bertempur lagi? Jika itu yang kau kehendaki, maka kami pun tidak berkeberatan”

“Jika itu terjadi, aku akan membunuh kalian berempat” geram Alap-alap Perak.

“Jangan berceloteh begitu, Alap-alap Perak. Kau adalah seorang yang namanya sudah digelar dimana-mana. Karena itu, sebaiknya jika kau akan berbicara itu, kau pikir dua tiga kali”

“Iblis kau”

“Bagaimana mungkin kau dapat membunuh kami berempat. Untuk bangkit berdiri saja kau sudah mengalami kesulitan. Jika sekali lagi kau mencoba melepaskan ilmu pamungkasmu itu, maka nafasmu akan putus. Kau akan mati karena pokalmu sendiri. Apalagi jika salah seorang diantara kami membenturkan ilmu pamungkas pula. Maka umurmu akan segera berakhir”

“Cukup” teriak Alap-alap Perak. Namun orang itu pun harus menyeringai menahan sakit didadanya.

Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu pun segera meloncat ke punggung kuda. Sementara Ki Rantam masih berkata, “Untuk berteriak saja, dadamu sudah terasa betapa sakitnya. Sudahlah Alap-alap Perak. Beristirahatlah. Kami akan segera melanjutkan perjalanan”

Demikianlah, maka keempat orang itu pun kemudian melarikan kuda mereka meninggalkan Alap-alap Perak serta murid-muridnya itu.

“Mereka adalah iblis-iblis gila” geram Alap-alap Perak. Lalu katanya kepada murid-muridnya, “Wigati terluka di bagian dalam tubuhnya. Ia bukan lagi seekor harimau yang berbahaya. Tetapi ia tidak akan berani melepaskan ilmu puncaknya lagi karena jika itu dilakukannya, maka isi dadanya pun akan rontok”

“Maksud guru?”

“Kejar orang itu. Ia tidak dapat berlari cepat. Bawa orang itu kemari. Ia akan menyesali kesombongannya. Ia akan mati dengan cara yang paling tidak disukainya”

“Baik, guru”

Murid-muridnya itu pun kemudian telah bersiap untuk mengejar Ki Wigati yang meninggalkan tempat itu lewat diatas bukit kecil dan hilang di balik bukit. Karena keadaannya, maka orang itu tentu belum terlalu jauh.

Karena itu lima orang murid-muridnya telah berlari-lari kecil menyusuri lereng yang tadi dilalui oleh Ki Wigati. Sedangkan seorang muridnya tinggal menunggui Alap-alap Perak yang terluka di bagian dalam tubuhnya itu.

Beberapa saat kemudian, kelima orang muridnya telah berada di puncak bukit kecil itu. Yang terhampar dihadapan mereka adalah tanah pebukitan yang luas. Diatasnya terdapat gerumbul-gerumbul perdu liar bertebaran disana-sini.

Tetapi kelima orang murid Alap-alap Perak itu tidak melihat Ki Wigati.

“Seharusnya ia masih berada di atas padang itu” berkata salah seorang murid Alap-alap Perak itu.

“Ya. Orang itu tentu belum terlalu jauh. Apalagi karena keadaan tubuhnya yang telah terluka didalam. Tetapi orang itu sudah tidak kelihatan lagi”

“Apakah orang itu sejenis ibilis yang mempunyai Aji Penglimunan yang dapat hilang dari pandangan mata wadag?”

“Tidak. Orang itu tentu berada di salah satu gerumbul perdu itu”

“Apakah kita harus meneliti gerumbul-gerumbul perdu itu satu demi satu?”

“Ya”

“Sampai matahari terbenam kita tentu belum selesai, “

“Kita bagi diri. Kita akan melihat gerumbul-gerumbul yang ada di hadapan kita saja. Jika kita tidak menemukannya, kita akan kembali menghadapi guru”

“Guru akan menjadi sangat marah”

“Tetapi segala sesuatunya berada di luar kemampuan kita. Orang itu sudah hilang. Apa yang dapat kita lakukan?”

“Marilah kita menebar”

Kelima orang itu pun kemudian telah berpencar. Masing-masing menyibak gerumbul-gerumbul perlu dengan senjata-senjata mereka yang telanjang.

Tetapi mereka tidak menemukan Ki Wigati yang sedang terluka di bagian dalam dadanya.

Para murid Alap-alap Perak itu memerlukan waktu yang cukup lama. Namun mereka tetap saja tidak menemukannya. Bahkan jejaknya pun tidak dapat mereka lihat diatas pulang yang luas di pebukitan itu.

Baru kemudian, setelah mereka yakin tidak menemukannya, maka para murid Alap-alap Perak itu pun kembali menemui guru mereka.

“Bagaimana?“ bertanya Alap-alap Perak.

Murid yang tertua diantara mereka pun menjawab dengan suara sendat, “Ampun guru. Kami tidak dapat menemukan K i Wigati?“

“He. Sekian lama kalian mencarinya di balik bukit kecil itu, kalian tidak menemukannya?“

“Ampun guru. Kami sudah mengais setiap gerumbul perdu yang ada di padang itu dengan senjata kami. Tetapi kami tidak menemukan orang itu.

“Wigati bukan hantu. Bukan demit yang dapat menghilang dari pandangan”

“Ya, guru. Tetapi kami tidak dapat menemukannya”

“Kalian memang pengecut.Aku tahu tahu bahwa kalian tidak bersungguh-sungguh. Bahkan kalian lebih senang jika kalian tidak geram Alap-alap Perak itu, “Sudah aku katakan, bahwa orang itu sedang terluka di dalam dadanya. Ia tidak akan berdaya sama sekali. Jika kalian menemukannya, maka dengan mendorongnya dengan sebelah tangan, maka orang itu sudah akan terpelanting jatuh”

“Ampun guru. Kami sudah berusaha. Bahkan jejaknya pun tidak dapat kami ketemukan”

Alap-alap Perak itu menggeram. Katanya, “Kalian memang orang-orang yang tidak berarti sama sekali. Baiklah. Kali ini kalian aku ampuni. Tetapi jika hal seperti ini terjadi lagi,maka kalian harus dihukum”

“Terima kasih, guru” sahut mereka berlima hamper berbareng.

“Sekarang, kita akan kembali, “Lalu katanya kepada muridnya yang terpercaya, “Ambil kuda-kuda kita di belakang gumuk kecil itu”

“Baik, guru”

Sejenak kemudian, maka murid Alap-alap Perak yang lerpercaya itu sudah datang dengan dua ekor kuda.

Sejenak kemudian.maka murid Alap-alap Perak yang terpercaya ilu sudah datang dengan dua ekor kuda.

Dibantunya Alap-alap Perak yang terluka di bagian dalam tubuhnya itu naik ke punggung kudanya.

Sejenak kemudian.maka kuda itu pun sudah bergerak Tetapi kuda itu tidak berlari kencang. Tubuh Alap-alap Perak masih terasa sakit jika terguncang.

Ternyata bahwa jantung Alap-alap Perak itu telah ditumbuhi bulu sekadar ijuk. Bahwa Ki Wigati tidak membunuhnya itu sama sekali tidak meluluhkan hatinya. Alap-alap Perak itu sama sekali tidak berterima kasih kepadanya, bahkan dendamnya menjadi semakin bertimbun. Sikap Wigati itu dianggapnya telah merendahkan harga dirinya. Ki Wigati dengan sengaja telah menghinanya.

Karena itu, maka Alap-alap Perak itu telah berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa pada satu hari, ia akan membunuh Wigati. Tetapi sebelumnya, sebelum ia berhasil membunuh

Wigati, maka ia akan membunuh murid-murid Ki Wigati itu dan bahkan juga murid-murid Ki Margawasana.

Sementara itu, Ki Wigati sendiri masih berada di padang. Ia memang sudah menduga, bahwa Alap-alap Perak hatinya tidak akan tersentuh oleh sikapnya. Bahkan Alap-alap Perak justru akan merasa terhina. Karena itu, panggraitanya yang tajam telah memperingatkannya, agar ia menjadi lebih berhati-hati. Ki Wigati sudah mengira, bahwa Alap-alap Perak akan memerintah-kan murid-muridnya memanfaatkan kelemahannya itu.

Karena itu, maka Ki Wigati telah menyelinap tidak di gerumbul-gerumbul perdu yang rimbun atau di rumpun-rumpun ilalang yang lebat. Tetapi Ki Wigati yang telah mengenali lingkungan itu dengan baik, telah menyusup diantara batu-batu padas. Sebuah goa yang dangkal dengan mulut yang hampir tersumbat oleh bebatuan dan pohon perdu merupakan tempat yang baik baginya untuk bersembunyi.

Sebenarnya Ki Wigati masih merasa mampu menghadapi para murid Alap-alap perak. Tetapi dalam keadaan yang kurang menguntungkan itu, ia harus berbuat cepat. Ia harus segera menghentikan lawan-lawannya dengan membunuh mereka secepatnya.

Menurut pertimbangan Ki Wigati, maka lebih baik baginya untuk menghindar saja. Kecuali jika murid-murid itu menemukan persembunyiannya, sehingga ia terpaksa harus membela diri.

Baru ketika Ki Wigati itu yakin, bahwa murid-murid Alap-alap Perak yang dapat diamatinya dari persembunyiannya itu tidak menemukannya di rimbunnya gerumbul-gerumbul perdu, dan yang kemudian pergi, Ki Wigati itu muncul dari balik batu-batu padas yang berada didepan mulut goa kecilnya.

Ketika Ki Wigati sampai di pintu gerbang padepokannya, maka dua orang Putut telah mendapatkannya.

“Guru nampak pucat. Apa yang telah terjadi?”

“Tidak apa-apa” jawab Ki Wigati sambil berusaha untuk tersenyum, “Aku tidak apa-apa”

Kedua orang Putut ia pun terdiam. Tetapi mereka mengikuti langkah gurunya. Tetapi ketika Ki Wigati naik ke pendapa, kedua orang Putut itu berhenti di tangga. Seorang diantara mereka berkata, “Jika guru memerlukan sesuatu, panggil kami”

Ki Wigati mengangguk. Katanya, “Ya. Jika aku memerlukan, maka kalian akan aku panggil”

Ki Wigati yang memang terluka didalam tubuhnya itu pun langsung masuk ke dalam biliknya dan menyelaraknya dari dalam. Ki Wigati itu segera duduk di pembaringannya, mengatur pernafasannya serta memusatkan nalar budinya untuk mengatasi luka-luka dalamnya.

Pada saat Ki Wigati berada di dalam biliknya, maka Wikan, Ki Rantam serta kedua orang murid Ki Wigati telah memacu kudanya menuju ke Gebang. Agaknya perjalanan mereka menjadi panjang karena terhenti beberapa lama.

Diperjalanan mereka tidak menemui hambatan yang berarti lagi. Pada saat kuda-kuda mereka letih, maka mereka pun telah berhenti beberapa saat untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat, minum serta makan rerumputan segar.

Ketika mereka sampai di Gebang, maka mereka pun singgah pula di rumah Ki Margawasana. Tetapi ternyata Ki Margawasana berada di Bukit Jatilamba.

Dengan demikian, maka mereka berempat pun langsung menuju ke bukit Jatilamba.

Ki Margawasana menyambut kedatangan mereka berempat dengan gembira. Terutama kedatangan murid bungsunya itu. Mereka berempat pun segera dipcrsilahkan masuk ke dalam gubug kecilnya.

“Bagaimana keadaan kalian? Bukankah kalian baik-baik saja seita mereka yang kalian tinggalkan?”

“Kami baik-baik saja guru” jawab Wikan, “Yang kami tinggalkan juga baik-baik saja”

Kepada murid-murid Ki Wigati, Ki Margawasana pun bertanya pula, “Bagaimana keadaan gurumu?”

“Guru baik-baik saja, Ki Margawasana. Salam guru bagi Ki Margawasana” jawab seorang dari mereka.

“Terima kasih. Kelak jika kau kembali ke padepokanmu, sampaikan pula salamku kepada gurumu”

“Baik, Ki Margawasana. Aku akan menyampaikannya”

“Nah, sekarang duduklah. Aku akan merebus air”

“Tidak usahlah guru“ cegah Wikan, “biarlah nanti kami saja yang merebus sendiri. Sekarang guru duduk saja disini”

“Kau kira, kalau aku tidak menerima tamu, aku tidak merebus air sendiri?”

“Tetapi justru kami ada, biarlah kami saja yang melakukan nanti”

“Bukankah kalian haus?”

“Tidak guru. Di sepanjang jalan aku lihat hampir disetiap regol halaman terdapat gentong berisi air bersih yang memang disediakan bagi orang-orang lewat yang kehausan”

Ki Margawasana tersenyum.

“Di depan regol rumah guru di Gerbang juga ada gendi berisi air bersih yang disediakan di pinggir jalan”

“Ya“ Ki Margawasana masih saja tersenyum, “di kedai-kedai juga disediakan minuman dan bahkan makanan”

Yang mendengar canda itu pun tertawa pula.

Ki Margawasana yang urung beranjak dari tempatnya untuk pergi ke dapur itu pun segera mempertanyakan perjalanan mereka, “Kalian sebenarnya dari mana?“

“Kami dari padepokan, guru. Tetapi kami singgah semalam di padepokan paman Wigati. Kedua saudara kami ini perlu minta ijin kepada paman Wigati. Sementara itu, aku pun ingin berkunjung di padepokan Ki Wigati”

“Jadi sejak kalian pergi bersama Udyana dan isterinya itu, kalian baru pulang kemarin?“

“Ya, Uwa. Kami kerasan di padepokan Wikan. Ketika Wikan mengatakan akan pergi kemari, maka aku pun ingin ikut pula. Senangnya berada di tempat ini”

Ki Margawasana mengangguk-angguk. Katanya, “Kalian boleh berada disini beberapa hari. Sebenarnya aku tidak berkeberatan seandainya kalian ingin tinggal disini. Tetapi guru kalian tentu tidak akan mengijinkan”

Kedua murid Ki Wigati itu mengangguk-angguk. Sementara itu, Wikan sempat pula menceriterakan, bahwa perjalanan mereka telah diganggu oleh Alap-alap Perak.

“Untunglah paman Wigati tanggap atas laporan murid-muridnya yang akan pergi berburu, yang melihat beberapa orang berkuda demikian kami berangkat meninggalkan padepokan”

“Pamanmu sempat datang menemui Alap-alap Perak
itu?“

“Ya, guru” jawab Wikan yang dengan singkat melaporkan apa yang telah terjadi.

“Alap-alap Perak memang seorang yang tidak berperasaan sama sekali. Nampaknya hatinya tidak tersentuh, ketika adi Wigati menyatakan untuk tidak membunuhnya”

“Alap-alap Perak itu justru mengancam, guru” sahut Ki Rantam.

“Baiklah, Kalian memang harus berhati-hati menghadapi orang itu. Orang itu licik dan tanpa malu-malu melakukan apa saja untuk mencapai niatnya. Karena itu jangan abaikan ancamannya” kepada kedua murid Ki Wigati, Ki Margawasana berpesan, “Sampaikan kepada gurumu, bahwa gurumu jangan mengabaikan ancaman Alap-alap Perak itu, karena ia benar-benar akan melakukannya”

“Baik, Uwa. Aku akan menyampaikannya kepada guru. Ki Margawasana itu pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Sekarang kalian dapat beristirahat. Yang akan pergi ke dapur, pergilah ke dapur. Yang akan melihat-lihat, silahkan. Aku akan mengantarkan kalian”

Seorang murid Ki Wigati itu pun menyahut, “Biarlah aku pergi ke dapur, uwa. Wikan yang belum pernah datang kemari, akan dapat melihat-lihat bersama Ki Rantam jika ia tidak merasa letih”

“Bukankah kita akan tinggal disini untuk dua tiga hari” sahut Wikan, “biarlah besok saja aku melihat-lihat. Sekarang aku juga akan pergi ke dapur”

Ki Margawasana itu pun tersenyum. Dibiarkannya saja keempat orang itu berbuat sekehendak mereka sebagaimana mereka berada di rumah sendiri.

Ternyata seorang murid Ki Wigati itu pun terampil pula kerja di dapur. Sementara yang seorang lagi membantunya dengan cekatan pula. Sedangkan Wikan telah menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. Ketika Wikan mandi, maka Ki Rantam pun telah mengusung air untuk mengisi gentong di dapur.

Ki Margawasana sendiri duduk saja diruang dalam. Namun setiap kali murid Ki Wigati itu bertanya, dimana Ki Margawasana menyimpan bahan bahan mentahnya.

Ketika malam turun, maka Ki Margawasana serta tamu-tamunya duduk diruang dalam. Dihadapan mereka lelah dihidangkan makan malam seadanya.

“Ternyata kalian terampil pula di dapur” berkata Ki Margawasana sambil memperhatikan nasi yang masih mengepul, ikan mas yang ditangkap dibelumbang yang digoreng hingga kering. Sambal terasi dan sayur yang masih panas.

“Sayur apa ini?“ bertanya Wikan.

Salah seorang murid Ki Wigati itu tersenyum sambil menjawab, “Aku telah memetik sebuah pepaya gantung yang masih muda di belakang dapur itu”

Ki Margawasana pun kemudian mencicipi hidangan itu. Sambil mengangguk-angguk ia pun berkata, “Enak sekali. Aku yang setiap hari masak buat diriku sendiri, tidak dapat masak seenak ini”

“Ah, uwa memuji”

“Aku berkata sebenarnya. Hanya sedikit kurang garam”

Mereka yang sedang makan malam itu pun tertawa. Murid Ki Wigati itu pun segera bangkit dan pergi ke dapur.

“Kau mau kemana?“

Orang itu tidak menjawab. Tetapi sejenak kemudian, maka ia pun kembali sambil membawa garam yang sudah di lembutkan.

Yang lain pun tertawa pula.

Bagi mereka yang berada di bukit Jatilamba itu merasa bahwa mereka telah mendapat waktu beristirahat yang sebaik-baiknya.

Mereka dapat melupakan urutan waktu yang sangat padat Sejak mereka bangun tidur sampai saatnya mereka masuk ke biliknya

Di Bukit Jatilamba perasaan mereka tidak menjadi tegang menghadapi para pemula yang agak sulit mengikuti ajaran-ajaran yang diberikan. Baik mengenai olah kanuragan, mau pun mengenai pengetahuan yang lain.

Di bukit kecil itu mereka dapat meletakkan semuanya.

Di hari berikutnya, maka Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu telah melihat-lihat hampir semua sudut di bukit Jatilamba. Pohon jati raksasa satu-satunya, namun di sisi lain banyak pula terdapat pohon-pohon raksasa yang lain. Sedangkan di sepanjang jalan-jalan setapak terdapat pohon gayam yang berbuah disegala musim.

Mereka pun sempat melihat-lihat kolam yang berisi berbagai jenis ikan. Mereka pun sempat memperhatikan mata air yang deras, yang dipergunakan untuk mengairi belumbang-belumbang di bukit itu. Namun ternyata airnya melimpah dan mengalir ke bulak persawahan, sehingga orang-orang Gebang yang sawahnya mendapat air dari bukit kecil itu disegala musim, merasa sangat berterima kasih.

Di hari pertama mereka berada di bukit kecil itu, telah mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk melihat-lihat Sementara itu, kedua orang murid Ki Wigati yang melihat hutan yang tidak terlalu jauh dari bukit Jatilamba itu, telah terusik hatinya untuk pergi berburu.

Tetapi agaknya Wikan dan Ki Rantam pun ternyata tertarik pula. Keduanya telah mempelajari pula cara berburu dari kedua orang murid Ki Wigati itu.

“Kita minta ijin dahulu kepada guru” berkata Wikan.

“Kau sajalah yang minta ijin“ desis salah seorang murid
Ki Wigati.

Wikan tidak dapat mengelak. Ia pun segera menyampaikan maksudnya kepada Ki Margawasana.

“Hutan itu sangat lebat dan jarang sekali di datangi orang. Didalamnya terdapat berbagai macam binatang buas. Jika kalian akan melihat-lihat ke dalamnya, kalian harus sangat berhati-hati. Aku yang tinggal di Gebang sejak kanak-kanak belum pernah melihat orang berburu ke hutan itu”

“Kami akan berhati-hati guru. Kami tidak akan memasuki hutan itu terlalu dalam. Sementara itu kedua orang murid paman Wigati itu adalah pemburu-pemburu yang berpengalaman”

“Baiklah. Tetapi hati-hatilah”

Demikianlah, keempat orang itu pun segera mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa berburu. Sebagian dari peralat an itu mereka pinjam dari Ki Margawasana.

“Tidak ada apa-apa disini” berkata Ki Margawasana, “tetapi aku mempunyai beberapa jenis senjata yang aku simpan di Gebang”

“Jika guru berkenan…..” Wikan tidak melanjutkan kata-katanya.

“Kau akan mengajak aku pergi ke Gebang, begitu?”

Wikan tersenyum sambil menjawab, “Ya, guru”

Ki Margawasana pun tersenyum pula. Katanya, “Baiklah. Kita akan pergi ke Gebang. Aku tahu, bahwa kalian tidak dapat berburu dengan mengandalkan pedang kalian. Kalian harus membawa senjata yang dapat dilontarkan menyusul kecepatan lari binatang buruan kalian”

Demikianlah, maka mereka berlima pun pergi ke Gebang. Agaknya Ki Margawasana meninggalkan berbagai jenis senjatanya di Gebang.

Ketika mereka sampai di Gebang, maka Ki Margawasana pun mengajak mereka berempat ke sanggarnya. Sanggar yang sudah jarang sekali di pergunakan. Agaknya Ki Margawasana menyimpan senjata-senjatanya di sanggarnya.

Seorang yang sudah setua Ki Margawasana telah diserahi oleh Ki Margawasana untuk menjaga dan setiap kali membersihkan sanggarnya.

Ki Margawasana pun memperkenalkan orang tua itu sebagai saudara sepupunya yang sudah berpuluh tahun tinggal di. rumah itu pula.

“Biarlah mereka memilih kakang” berkata Ki Margawasana.

Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati itu terkejut ketika mereka memasuki sanggar Ki Margawasana yang sudah jarang dipergunakannya itu. Didalamnya terdapat segala jenis senjata. Bahkan jenis-jenis senjata yang sering dipergunakan oleh orang asing. Ada berbagai jenis pedang, tombak dan senjata-senjata yang hampir tidak pernah dipergunakan. Bahkan ada jenis senjata yang belum pernah mereka lihat.

“Inilah masa lampauku” berkata Ki Margawasana kepada keempat orang yang akan pergi berburu itu, “sekarang yang ada dibukit tidak lebih dari sebilah parang pembelah kayu, sumbat untuk mengupas sabut kelapa, serta pisau dapur untuk memotong sayur-sayuran”

Keempat orang itu pun kemudian dipersilahkan memilih, senjata apa saja yang mereka perlukan untuk berburu di hutan yang lebat itu.

Yang menarik perhatian kedua orang murid Ki Wigati adalah busur serta anak panahnya. Di sanggar itu terdapat beberapa buah busur yang beraneka bentuk dan warnanya.

“Pilihlah. Tetapi sebelumnya, cobalah. Didepan dinding di sisi Utara itu terdapat sasaran yang dapat kalian bidik. Kalian akan mendapatkan busur yang paling cocok bagi kalian masing-masing. Karena mungkin yang satu lebih senang mempergunakan busur yang lebih berat, sedangkan yang lain memilih yang ringan. Baru kalian dapat meminjam yang paling sesuai bagi kalian masing-masing”

Keempat orang itu pun kemudian memilih busur yang bergayutan di dinding sanggar. Mereka pun kemudian mencoba untuk mempergunakannya. Mereka pun kemudian.membidik sasaran yang tergantung di depan dinding disisi Utara dari sanggar itu.

“Dinding itu telah dirangkapi dengan kayu, anyaman rami dan damen”

Ternyata mereka berempat adalah pembidik-pembidik yang baik. Dengan pengetahuan berburu yang cukup, maka mereka adalah pemburu-pemburu yang ulung.

Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah memilih busur yang sesuai bagi mereka masing-masing. Ternyata bahwa persediaan busur Ki Margawasana mencukupi untuk mereka berempat, sehingga mereka tidak perlu bergantian mempergunakannya.

Sedangkan untuk melengkapi senjata berburu, mereka pun telah membawa lembing pula.

Beberapa saat kemudian, maka keempat orang itu pun segera berangkat ke hutan yang tidak terlalu jauh dari pebuki-tan. Satu diantara bukit-bukit kecil itu adalah bukit Jatilamba.

Namun sekali lagi Ki Margawasana berpesan, “Hati-hatilah. Meskipun kalian berpengalaman berburu, tetapi kalian belum mengenal hutan itu. Kalian belum mengenali jenis tanahnya yang gembur, berawa-rawa, sehingga terdapa banyak jenis ular berbisa. Saat ini angin bertiup dari Selatan k Utara. Perhatikan itu”

“Ya, guru”jawab Wikan.

Demikianlah, maka mereka berempat pun kemudian meninggalkan Gebang menuju ke hutan. Sementara itu, Ki Margawasana pun agaknya tidak segera kembali ke bukit kecilnya. Ki Margawasana akan menunggu para pemburu itu kembali ke Gebang.

Demikianlah, maka keempat orang yang akan berburu itu pun berjalan di pematang, kemudian turun ke jalan setapak menuju ke padang perdu. Sambil menjinjing lembing-lembing mereka, keempat orang itu berjalan menuju ke hutan.

Semakin dekat mereka dengan hutan yang lebat itu, maka mereka pun menjadi semakin jelas melihat keadaannya. Tanahnya memang gembur. Pepohonan raksasa tumbuh hampir berhimpitan, sedangkan dicelah-celahnya tumbuh pepohonan yang lebih kecil, gerumbul-gerumbul perdu serta semak-semak yang berduri.

“Hutan ini masih benar-benar liar” berkata salah seorang murid Ki Wigati yang sudah mempunyai pengalaman berburu cukup lama.

“Ya, “Yang lain mengangguk-angguk, “seperti pesan uwa Margawasana, kita memang harus sangat berhati-hati”

Mereka berempat pun kemudian mencari celah-celah yang dapat mereka pergunakan untuk memasuki hutan yang lebat itu.

Ternyata kedua orang murid Ki Wigati itu benar-benar pemburu yang sangat berpengalaman. Meskipun hutan itu sangat lebat dan belum pernah disentuhnya, namun dengan pengalaman yang luas, keduanya dapat menyusup semakin dalam.

Sejenak keduanya pun berhenti. Mereka mengangkat wajahnya sambil memperhatikan angin yang lembut.

Sebenarnyalah bahwa Wikan dan Ki Rantam yang juga sudah mengenal cara-cara berburu, juga dapat mencium bau binatang buruan. Namun mereka masih belum yakin sebagaimana kedua orang murid Ki Wigati.

“Kita berada di arah angin?” desis murid Ki Wigati, “Kita tunggu saja disini”

Keempat orang itu pun kemudian menyelinap dibelakang pepohonan untuk menunggu. Mereka berharap bahwa ada seekor binatang buruan yang melintas.

Sebenarnyalah sejenak kemudian mereka melihat beberapa ekor kijang yang melintasi gerumbul-gerumbul perdu menuju ke Utara.

Pada saat yang tepat, maka keempat orang itu pun telah menarik busurnya dan hampir berbareng mereka melepaskan anak panah mereka.

Serentak beberapa ekor kijang itu pun meloncat berlari. Namun baru beberapa langkah, dua ekor diantara mereka pun telah jatuh dan tidak dapat bangkit kembali.

Keempat orang itu pun dengan cepat berloncatan diantara pohon-pohon perdu menuju ke tempat dua ekor kijang yang terbaring diam itu. Agaknya pilihan keempat orang pemburu itu jatuh pada kedua ekor kijang muda yang gemuk itu, sehingga ditubuh masing-masing tertancap dua batang anak panah.

Namun Wikan yang ingin cepat-cepat sampai ke tempat kedua ekor kijang itu terbaring, telah memilih jalan pintas. Wikan pun berlari menyeberangi genangan air yang kental seperti lumpur, yang berwarna kehitam-hitaman.

“Wikan” teriak kedua murid Ki Wigati hampir berbareng, “jangan”

Tetapi terlambat. Wikan telah menceburkan kakinya keatas lumpur yang hitam itu.

Namun tiba-tiba saja tubuh Wikan ini bagaikan terhisap masuk ke dalam lumpur yang berwarna kehitam-hitaman itu.

Wikan berusaha dengan sekuat tenaga berenang menepi. Tetapi ternyata tenaganya yang terlatih, bahkan dengan mengerahkan tenaga dalamnyapun. Wikan tidak mampu bergeser menepi.

“Jangan bergerak Wikan. Jangan bergerak. Semakin banyak kau bergerak, maka kau akan menjadi semakin cepat tenggelam” teriak kedua orang murid Ki Wigati itu hampir berbareng.

Wikan mendengar teriakan itu. Ia pun tidak lagi berusaha berenang menepi. Tetapi ia berusaha untuk tetap diam.

Seorang murid Ki Wigati itu mencoba menjulurkan lembingnya dari tepi genangan lumpur yang hitam itu. Tetapi lembingnya terlalu pendek, sehingga tidak tergapai oleh Wikan. Sementara itu, yang seorang lagi telah berusaha memotong beberapa jalur sulur pepohonan liar di hutan itu.

Kemudian sulur-sulur itu diikatnya menjadi satu, disambung dan kemudian ujungnya dilemparkan kepada Wikan yang sudah hampir tenggelam sampai ke wajahnya.

Dengan cepat Wikan menggapai tali itu. Bertiga, tali itu ditarik dengan sekuat tenaga, sehingga akhirnya Wikan itu pun dapat diangkatnya menepi.

Tubuh Wikan yang menjadi lemah itu pun telah dibaringkannya di atas tanah yang lembab. Diusapnya lumpur yang hitam dari wajahnya. Namun pakaian Wikan pun sudah menjadi hitam lekam.

Baru sejenak kemudian Wikan pun bangkit dan duduk di tanah. Nafasnya masih terengah-engah. Sambil menyilangkan kaki dan tangannya, Wikan pun berusaha mengatur pernafasannya.

Hal itu merupakan satu pengalaman baru bagi Wikan. Di hutan didekat padepokannya, tanahnya tidak gembur dan apalagi ada kubangan yang dapat menghisap tubuh menusia dan tentu juga binatang yang tersesat. Namun agaknya binatang hutan itu justru sudah mengenali kubangan yang dapat menghisap tubuh mereka itu.

Baru beberapa saat kemudian, degup jantung Wikan telah pulih kembali. Nafasnya pun tidak lagi terengah-engah, sementara darahnya pun telah mengalir wajar.

“Aku merasakan, betapa ketakutan mencengkam jantungku” desis Wikan.

“Kau merasa takut?“ bertanya Ki Rantam.

“Ya. Dengan jujur aku harus mengaku. Lebih baik aku harus berhadapan dengan Alap-alap Perak daripada harus terjun lagi ke kubangan itu.

“Jadi kau juga mengenal ketakutan, Wikan“ bertanya salah seorang murid Ki Wigati.

“Tentu. Seseorang tentu mengenal rasa takut. Bahkan ketakutanku hampir saja tidak teratasi ketika wajahku mulai terendam air kubangan yang hitam dan kental itu. Untunglah bahwa aku masih mendengar teriakan untuk menangkap sulur yang kalian lemparkan itu, sehingga aku masih sempat menangkapnya dan menggenggamnya erat-erat”

“Satu pengalaman yang berharga” desis ki Rantam.

“Ya. Juga mengalami dicengkam oleh ketakutan yang hampir tidak tertasi”

“Jika keadanmu sudah baik, marilah kita pungut hasil buruan kita itu”

Wikan mengangguk. Ia pun kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Marilah”

Keempat orang itu pun kemudian mengambil dua ekor kijang yang telah berhasil mereka kenai dengan anak panah. Tetapi keempat orang itu pun memutuskan untuk kembali saja ke Gebang.

“Kita akan sampai ke Gebang menjelang senja“

“Ya. Kita tidak jadi bermalam di hutan. Pakaianku menjadi hitam dan agaknya tidak akan segera kering. Lumpur itu ternyata mengandung minyak” sahut Wikan.

Keempat orang itu tidak jadi bermalam di hutan dan memanggang hasil buruan mereka. Tetapi peristiwa yang terjadi atas Wikari itu seakan-akan telah mendesak mereka agar mereka kembali saja ke Gebang.

Ketika mereka sampai di Gebang pada saat matahari sudah menjadi sangat rendah, maka ternyata bahwa Ki Margawasana pun masih berada di Gebang.

”Apa yang terjadi atasmu, Wikan?“ bertanya Ki Margawasana yang nampak menjadi cemas.

“Aku hampir saja terhisap kubangan yang berwarna hitam, guru, “

Ki Margawasana menarik nafas panjang. Katanya, “Sukurlah bahwa kau dapat diselamatkan”

“Kedua murid paman Wigati itulah yang telah menyelamatkan aku”

“Tanpa bantuan orang lain, tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari kubangan itu. Betapa pun tinggi ilmu seseorang, namun orang itu tidak akan dapat keluar sendiri. Kubangan yang berwarna hitam itu tidak saja tidak dapat direnangi, tetapi kubangan itu memang menghisap. Di bawah kubangan itu berputar dan segala sesuatunya yang masuk ke dalamnya akan dihisap masuk ke dalam bumi”

“Mengerikan sekali, guru. Aku belum pernah merasakan ketakutan sejak kecil sebagaimana saat aku terperosok ke dalam kubangan itu”

“Itu wajar sekali Wikan, karena kubangan itu tidak akan dapat dilawan Sama sekali”

Wikan mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang mandilah. Bersihkan dirimu hingga semua lumpur hitam yang berbau minyak itu hilang”

“Nanti saja di bukit Jatilamba, guru”

“Tidak usah menunggu sampai di Jatilamba. Mandilah disini. Airnya Sama jernihnya dengan air bukit Jatilamba”

“Tetapi… “Wikan menjadi ragu-ragu.

“Pakailah pakaianku. Aku juga masih menyimpan pakaian disini”

Wikan tidak dapat menolak. Ia pun segera pergi ke pakiwan. Baru kemudian disadarinya, bahwa semakin lama kotoran yang melekat tubuhnya itu akan semakin sulit untuk dibersihkan. Jika ia menunggu sampai ke Jatilamba, maka akan sulitlah baginya untuk membersihkannya.

Ketika matahari terbenam, maka semuanya telah siap untuk kembali ke bukit Jatilamba. Tetapi Ki Margawasana berkata kepada mereka, “Kali ini, kita tidak akan makan di bukit kecil itu. Tetapi kita akan makan disini. Kalian pun akan menguliti hasil buruan kalian disini. Kita akan tidur disini. Besok pagi-pagi sekali kita akan kembali ke bukit kecil itu”

Tidak ada yang dapat menolak. Apalagi makan malam pun sudah dihidangkan. Jauh lebih baik dari makan yang dapat mereka siapkan sendiri di bukit kecil Jatilamba.

“Aku bukan orang yang mengasingkan diri dari kehidupan beberayan. Itulah sebabnya, sekali-sekali aku masih juga makan yang aku gemari sejak aku di padepokan”

“Terima kasih, guru” desis Ki Rantam.

“Nanti, setelah makan dan beristirahat, kalian dapat menguliti binatang buruan kalian disini”

“Ya, uwa” sahut salah seorang murid Ki Wigati. Demikianlah, maka mereka pun kemudian telah menghadapi makan malam di ruang dalam rumah Ki Margawasana yang besar di Gebang. Jauh lebih besar dari gubugnya di bukit Jatilamba.

Beberapa saat kemudian, pembicaraan pun telah terhenti. Mereka sedang sibuk menyuapi mulut mereka masing-masing.

Tetapi demikian mereka selesai maka terdengar derap beberapa ekor kuda di halaman. Nampaknya ada beberapa orang berkuda yang memasuki halaman rumah itu tanpa turun dari kuda mereka. Bahkan kuda-kuda itu pun berputar-putar di halaman sambil meringkik.

“Siapa mereka?“ desis Wikan.

”Entahlah. Biarlah aku menengoknya”

“Silahkan guru duduk saja. Biarlah aku yang keluar”

“Akulah yang punya rumah. Karena itu, mereka tentu sedang mencari aku”

Wikan tidak dapat mencegahnya. Ki Margawasana pun kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke pintu.

Sebelum Ki Margawasana sampai ke pintu, maka terdengar suara seseorang dengan kasar, “Ki Margawasana. Keluarlah”

“Baik, baik Ki Sanak. Aku sedang menuju ke pintu” jawab Ki Margawasana.

Namun dalam pada itu, Wikan, Ki Rantam dan kedua orang murid Ki Wigati pun telah bangkit berdiri pula dan menyusul Ki Margawasana ke pintu.

Demikian pintu pringgitan terbuka, maka mereka melihat dua orang berdiri di pendapa, sementara masih ada yang lain yang duduk dipunggung kudanya. Ada diantara kuda-kuda itu yang berputar-putar di halaman dengan penunggangnya masih berada di punggungnya.,

“Siapakah kalian?“ bertanya Ki Margawasana kepada kedua orang yang berdiri di pendapa itu.

“Apakah aku berhadapan dengan Ki Margawasana?”

“Ya” jawab Ki Margawasana.

“Dengar, Ki Margawasana” berkata salah seorang diantara dua orang yang berdiri di pendapa, “Aku mendapat perintah dari Ki Rina-rina untuk memanggil Ki Margawasana”

“Ki Rina-rina dari perguruan Tapak Mega?”

“Ya, Ki Rina-rina dari perguruan Tapak Mega”

“Kenapa Ki Rina-rina dari Tapak Mega itu memanggil
aku?”

“Bertanyalah kepada Ki Rina-rina. Aku tidak tahu. Aku hanya diperintahkan untuk memanggil Ki Margawasana. Selebihnya Ki Rina-rina sendirilah yang akan mengatakannya”

“Aneh, Ki Sanak. Adalah aneh jika Ki Rina-rina itu memanggil aku”

“Kenapa aneh? Ki Rina-rina berhak memanggil siapa saja yang dikehendakinya”

“Ki Sanak. Siapakah kalian berdua dan mereka yang berada di halaman itu?”

“Kami adalah murid-murid terpercaya Ki Rina-rina”

“Kalian murid-murid dari perguruan Tapak Mega?”

“Ya. Kami adalah murid-murid dari perguruan Tapak Mega”

Ki Margawasana itu pun menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berkata, “Angger para murid dari perguruan Tapak Mega. Adalah aneh sekali bahwa Ki Rina-rina memerintahkan kalian untuk memanggil aku. Aku tidak yakin bahwa Ki Rina-rina akan berbuat demikian. Ia tahu pasti, siapakah dirinya dan siapakah aku. Kami memang sudah saling berkenalan. Bahkan terhitung akrab. Karena itu, maka tidak mungkin Ki Rina-rina itu dengan sertamerta memanggil aku. Jika ia memerlukan aku, maka ia tentu akan datang kepadaku”

“Persetan kau kakek tua. Kau harus tahu diri. Guruku adalah seorang yang jauh memiliki kelebihan dari kau. Apalagi kau sekarang sudah tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Karena itu, maka sebaiknya kau tidak menolak panggilannya. Sekarang kau harus menghadap bersama kami”

“Angger berdua. Katakan kepada Ki Rina-rina, bahwa jika ia ingin menemui aku, aku berada di bukit Jatilamba. Biarlah ia pergi kemari. Aku akan menerimanya dengan senang hati”

“Kau mulai merendahkan guru, kakek tua. Guruku adalah orang besar yang pantas dihormati. Kau pun harus menghormatinya. Karena itu, kau harus pergi menghadap guru bersamaku sekarang”

“Aku hanya merasa aneh, bahwa Ki Rina-rina memanggilku. Hubungan yang tidak lajim dari dua orang sahabat yang setara. Umur kami pun hampir sebaya, bahkan agaknya aku sedikit lebih tua”

“Jangan terlalu banyak alasan. Sekarang bersiaplah. Jika kau tidak mempunyai kuda, aku sediakan kuda bagimu. Kecuali jika kau memang tidak dapat naik kuda”

“Kau membuat aku kebingungan. Tetapi jika benar Ki Rina-rina memanggil aku, maka katakan, bahwa aku sedang sibuk. Sekali lagi aku minta, sampaikan kepadanya, agar Ki Rina-rina sajalah yang datang kemari”

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 15

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s