TT-13


kembali | lanjut

TT-13YA

“Agaknya ia juga seorang yang berilmu tinggi”

“Aku pun akan segera turun, paman. Tetapi sementara itu Murdaka dan saudara-saudara seperguruan yang kemarin sudah dilepas akan dapat sangat membantu”

“Ya. Aku akan menempatkan mereka di halaman depan. Demikian pintu gerbang terbuka, maka mereka akan menghadapi arus murid-murid paman Wigati”

“Paman dapat memerintahkan kakang Parama, kakang Rantam dan kakang Windu untuk berkumpul di depan menghadapi murid-murid utama paman Wigati. Agaknya paman Wigati tidak akan mengambil jalan samping atau belakang. Mereka semuanya akan memasuki padepokan lewat pintu gerbang yang akan mereka pecahkan”

“Meskipun demikian, dinding di sisi kanan dan kiri serta dinding belakang harus tetap mendapat pengawasan” berkata Nyi Udyana.

“Tentu bibi. Tetapi tidak perlu kakang Parama, kakang Rantam dan kakang Windu. Para cantrik yang ada di sisi dan di belakang pun sebagian dapat ditarik ke halaman untuk menghadapi murid-murid paman Wigati yang jumlahnya hampir dua kali lipat”

“Ya. Aku sependapat, Wikan”

“Sekarang, silahkan paman dan bibi turun untuk menghadapi mereka setelah mereka berhasil memecahkan pintu. Aku dan beberapa orang cantrik yang bersenjata busur dan anak panah, akan menghambat mereka”

Ki Udyana dan Nyi Udyana pun segera turun dari panggungan. Sementara itu, beberapa orang cantrik yang sudah dipersiapkan segera memanjat naik.

Dalam pada itu, Ki Wigati, orang tua berambut putih, serta murid-murid Ki Wigati pun telah bergerak maju. Mereka menyerang padepokan Udyana itu dari arah depan. Mereka tidak membagi murid-murid Ki Wigati itu untuk menyerang lewat.sisi dan belakang padepokan.

Beberapa orang murid yang bertubuh tinggi dan kekar telah dipersiapkan mengusung balok kayu yang besar, yang akan dipergunakan untuk memecahkan pintu gerbang.

Ki Wigati pun kemudian berhenti beberapa langkah di depan pintu gerbang. Pasukannya pun telah berhenti pula.

“He, dimana Mina?” teriak Ki Wigati.

“Paman ada dibawah” jawab Wikan.

“Katakan kepadanya, jika ia tetap pada pendiriannya, maka aku akan memecahkan pintu”

“Bukankah paman Wigati sudah siap untuk membenturkan balok itu ke pintu gerbang. Aku yakin bahwa paman tentu akan berhasil, karena pintu gerbang itu memang tidak terlalu kokoh. Tetapi apa sebenarnya yang paman kehendaki, sehingga paman siap mengorbankan murid-murid paman? Mereka datang untuk berguru kepada paman. Untuk mendapatkan ilmu. Tetapi yang mereka dapatkan adalah bencana. Bahkan mungkin kematian. Bukan untuk apa-apa. Tetapi semata-mata untuk mendukung keinginan, paman untuk berkuasa”

“Cukup. Katakan kepada pamanmu, apakah paman dan bibimu itu mau pergi atau tidak”

“Tidak paman. Paman dan bibi Udyana sudah mengatakan dengan tegas dan tidak berubah-rubah, bahwa mereka tidak akan pergi”

“Setan alas” teriak Ki Wigati. Ia pun segera memberi isyarat kepada murid-muridnya untuk segera menyerang.

Demikianlah, maka orang-orang yang mengusung balok itulah yang pertama-tama bergerak. Mereka pun segera mengambil ancang-ancang.

Sejenak kemudian, maka beberapa orang yang bertubuh tinggi besar itu pun berlari-larian sambil mengusung balok di pundaknya.

Pada saat itulah, para cantrik di padepokan Udyana itu memungut busur dan anak panah mereka yang mereka letakkan di lantai panggungan.

Wikan telah menempatkan diri untuk memimpin para cantrik yang berada di atas panggungan di sebelah menyebelah pintu gerbang. Karena itu, Wikan harus mempertanggungjawabkan atas apa yang dilakukan oleh para cantrik itu.

Ketika orang-orang yang bertubuh tinggi besar dan kokoh berlari-lari sambil mengusung sebuah balok yang besar, maka Wikan pun segera mempersiapkan para cantrik yang bersenjata busur dan anak panah.

“Kita harus menghentikan mereka. Setidak-tidaknya meng-hambat mereka, sementara saudara-saudara kita di halaman mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya”

Para cantrik ilu pun segera bersiap. Ditrapkannya anak panah pada busurnya. Kemudian tali busurnya pun telah ditariknya.

Demikian orang-orang yang mengusung balok kayu itu menghampiri pintu gerbang, maka Wikan pun telah memberikan isyarat dengan mengangkat tangannya.

Serentak beberapa anak panah pun terlepas dari busurnya. Beberapa.diantara anak panah itu pun telah hinggap di tubuh orang-orang yang sedang mengusung balok itu.

Terdengar satu dua diantara mereka berteriak. Yang lain mengaduh sambil mengumpat.

Lima orang diantara mereka pun menjadi terhuyung-huyung dan bahkan ada diantara mereka yang terkena dadanya langsung jatuh terkulai di tanah.

Dengan demikian, maka keseimbangan mereka yang mengusung balok itu menjadi goyah. Beberapa orang yang lain berlari-lari dan menempatkan diri menggantikan saudara-saudara seperguruan mereka yang tidak lagi mampu berdiri tegak sambil mengusung balok yang besar itu.

Tetapi beberapa anak panah lagi telah meluncur dan mengenai beberapa orang diantara mereka. Anak panah yang meluncur dari panggungan di sisi kiri dan kanan pintu gerbang.

“Edan para cantrik di panggung itu” geram seorang murid Ki Wigati yang sudah sampai pada tataran yang agak tinggi.

Murid itu pun segera memerintahkan beberapa orang saudara seperguruannya untuk melindungi mereka yang sedang mengusung balok-balok kayu itu.

Meskipun demikian, masih ada juga orang-orang yang terpelanting jatuh karena anak panah yang mengenainya.

Tetapi usaha untuk melindungi para cantrik Ki Wigati yang mengusung balok itu pun ternyata cukup berhasil. Dengan pedang, tombak-tombak pendek, jenis-jenis senjata yang lain, mereka menepis anak panah yang meluncur dengan derasnya. Bahkan ada diantara mereka yang membawa perisai yang terbuat dari kayu atau besi atau jenis bahan-bahan yang lain.

Namun dengan, demikian, maka justru mereka yang melindungi itulah yang kemudian justru terkena oleh anak panah yang dilontarkan dari panggungan itu.

Meskipun demikian, tetapi orang-orang yang mengusung balok itu akhirnya berhasil membentur balok yang besar itu pada pintu gerbang padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana.

Sekali dua kali, pintu gerbang itu masih belum berhasil di pecahkan. Sementara itu satu dua orang yang mengusung balok iiu, masih saja harus melepaskan balok yang diusungnya itu karena ujung anak panah telah mematuk tubuh mereka. Sementara itu, saudaranya yang laih harus dengan cepat mengisi tempatnya agar balok kayu itu tetap dapat terangkat.

Sebenarnyalah ketika balok kayu itu telah berulang-ulang menghantam pintu gerbang padepokan Udyana itu, maka akhirnya selarak pintu pun mulai menjadi retak.

Ketika pintu berguncang, maka Ki Wigati pun berteriak, “Cepat, hentak terus. Dalam dua tiga hentakan lagi, pintu gerbang yang rapuh itu akan segera terbuka”

Sementara itu, orang-orang yang berada di halaman telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka pun melihat selarak pintu itu telah menjadi retak.

Ki Udyana dan Nyi Udyana pun segera memberikan isyarat bahwa beberapa saat lagi selarak pintu gerbang itu pun akan patah, sehingga pintu gerbang itu akan segera terbuka.

Di panggungan Wikan pun sudah memperhitungkan bahwa pintu gerbang itu tidak akan mampu bertahan terlalu lama. Meskipun demikian Wikan masih tetap berada di panggungan. Ia masih tetap memberikan aba-aba, agar saudara-saudara seperguruannya tetap mempergunakan busur dan anak panahnya untuk menghambat serta mengurangi jumlah lawan yang akan memasuki halaman padepokan.

Sebenarnyalah, beberapa orang cantrik murid Ki Wigati terpaksa mengusung saudara-saudara mereka yang terluka menepi. Jika pintu gerbang itu terbuka, maka arus para murid Ki Wigati ilu akan mengalir seperti banjur bandang melimpah ke halaman padepokan itu. sehingga mereka tidak akan sempat menghindari agar tidak menginjak-injak saudara-saudara mereka sendiri yang terluka oleh anak panah. Dan bahkan sudah ada diantara mereka yang terbunuh karena ujung anak panah yang menancap di dada mereka langsung menyentuh jantung.

Dengan demikian, sebelum pertempuran yang sebenarnya di mulai, maka jumlah mereka yang datang menyerang itu sudah berkurang.

Ketika selarak pintu gerbang itu terdengar berderak, maka Wikan pun cepat mengambil sikap. Diperintahkannya saudara-saudaranya dengan cepat turun dari panggungan. Mereka harus bersiap dengan busur dan anak panahnya, menyongsong lawan yang akan berdesakkan memasuki pintu gerbang yang segera akan terbuka.

Dengan cepat, maka saudara-saudara Wikan itu pun turun dari panggungan. Dengan isyarat Wikan pun memberikan aba-aba kepada para cantrik yang ada di panggung diseberang pintu gerbang untuk berbuat sama.

Demikianlah, sebelum pintu gerbang itu terbuka, para cantrik yang bersenjata busur dan anak panah itu pun sudah siap untuk menerima arus kedatangan para murid Ki Wigati setelah mereka berhasil memecahkan daun pintu gerbang yang memang tidak terlalu kuat untuk menahan hentakkan sebuah balok besar yang diusung oleh beberapa orang.

Seperti yang diteriakkan oleh Ki Wigati, maka dalam tiga hentakkan lagi, selarak pintu gerbang itu pun telah patah. Dengan demikian, maka pintu gerbang itu pun segera terdorong oleh para murid Ki Wigati sehingga terbuka.

Ki Wigati yang berada di belakang para cantrik bersama dengan orang yang berambut putih itu berteriak pula, “Kita akan mengambil alih padepokan itu. Siapa yang menentangnya, harus disingkirkannya”

Seperti arus air dari bendungan yang pecah, maka para cantrik dari perguruan Ki Wigati itu pun menerjang memasuki halaman padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana.

Namun pada saat itu pula, Wikan telah menjatuhkan perintah kepada saudara-saudara seperguruannya yang bersenjata busur dan anak panah untuk mulai menyerang.

Para murid Ki Wigati yang menyerbu masuk itu pun mengumpat. Anak panah yang meluncur dari busurnya itu sempat menghambat mereka. Beberapa orang pun terjatuh dan justru terinjak-injak oleh saudara-saudaranya sendiri. Tidak ada yang sempat mengusung mereka menepi karena arus mereka yang memasuki halaman itu memang sulit untuk dibendung.

Namun sekelopmpok murid Ki Wigati yang terampil, memperhitungkan keadaan, justru dengan cepat menyerbu ke arah mereka yang bersenjata busur dan anak panah. Dengan demikian, maka mereka tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk menyerang.

Sebenarnyalah, maka sekelompok murid Ki Wigati yang berlari-larian menyerang mereka yang bersenjata busur dan anak panah itu tidak dapat dihentikan. Beberapa orang memang terjatuh. Tetapi yang lain mengalir dengan cepat menyergap mereka.

Wikan pun telah meloncat menghadang mereka bersama dengan saudara-saudaranya yang telah meletakkan busur dan endong tempat anak panah. Mereka pun segera mencabut pedang-pedang mereka untuk menghadapi kelompok yang datang menerjang dengan garangnya.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah terjadi dengan sengitnya. Kedua belah pihak beralaskan ilmu dari aliran yang sama. Di satu pihak ilmu itu mengalir lewat Ki Margawasana, sedangkan di pihak yang lain mengalir lewat Ki Wigati. Keduanya adalah orang-orang terbaik dari aliran ilmu yang sama.

Dalam benturan kekuatan itu, murid-murid Ki Wigati nampaknya memang lebih banyak. Tetapi murid-murid Ki Margawasana yang kepemimpinannya di teruskan oleh Ki Udyana, memiliki kematangan ilmu yang lebih tinggi. Terutama beberapa orang Putut yang membantu Ki Margawasana dan kemudian membantu Ki Udyana memimpin padepokan itu. Sedangkan sekelompok murid yang sudah dianggap masak untuk meninggalkan padepokan, ternyata mengurungkan niatnya. Mereka memilih untuk berjuang bersama-sama saudara-saudara seperguruannya mempertahankan padepokan tempat mereka ditempa selama menyadap ilmu.

Dalam pada itu, pertempuran pun telah berkobar di mana-mana. Tidak hanya mereka yang semula bersenjata busur dan anak panah. Tetapi banjir bandang itu mengalir juga ke tengah-tengah halaman bangunan induk padepokan. Bahkan mengalir ke mana-mana.

Namun para murid padepokan Udyana itu pun segera menjadi mapan serta membendung arus serangan yang sengaja berniat menyusup ke segala sudut padepokan.

Tetapi para cantrik dari perguruan Udyana itu mengenali arena pertempuran itu lebih baik dari lawan mereka. Karena itu, maka longkangan-longkangan yang terdapat didalam padepokan itu, sudut-sudut barak serta lorong-lorong di sela-sela bangunan yang ada, justru telah menjebak para murid Ki Wigati yang dengan berani tetapi tanpa perhitungan berusaha menyusup sampai sejauh-jauhnya ke dalam padepokan itu.

Ketika mereka berlari-lari di lorong-lorong diantara barak-barak yang ada, mereka terkejut ketika tiba-tiba saja pintu-pintu barak terbuka. Beberapa orang cantrik dari perguruan Udyana itu menghambur keluar dengan ujung tombak yang merunduk. Demikian tiba-tiba sehingga mereka tidak mempunyai banyak kesempatan selain bergerak mundur. Dan bahkan murid-murid Ki Wigati itu harus berlari-larian di medan yang tidak begitu mereka kenal.

Sementara itu, di barak para murid perempuan di perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu, suasananya terasa sangat mencengkam. Mereka tidak dibenarkan keluar dari barak-barak mereka. Namun mereka berada dibawah perlindungan sekelompok cantrik yang sudah lebih banyak menguasai ilmu daripada mereka. Meskipun demikian, para mentrik itu juga telah menggenggam tombak pendek di tangan mereka. Jika ada satu dua orang yang berhasil menyusup memasuki lingkungan barak mereka, maka mereka pun tidak harus tinggal diam dan membiarkan ujung-ujung senjata lawan menusuk dada mereka.

Sedangkan disebuah bilik yang khusus, Tanjung menggendong anaknya erat sekali, sehingga kadang-kadang Tatag meronta karena nafasnya menjadi sesak. Tetapi Tatag itu tidak menangis. Seakan-akan ia mengetahui, bahwa suasana di padepokan itu sedang kalut, sehingga sebaliknya ia diam saja di gendongan ibunya. Namun di dinding bilik itu pun tersandar tombak pendek pula. Dalam waktu yang terhitung singkat, dengan latihan-latihan yang khusus, Tanjung telah memiliki ketrampilan dalam mempermainkan tombak pendeknya.

Jika seseorang yang lidak dikenalnya memasuki bilik itu, maka Tanjung pun akan dengan cepat menyambar tombak pendeknya.

Namun bilik Tanjung itu berada di dalam jangkauan pengawasan sekelompok cantrik yang melindungi barak para mentrik yang belum terlalu lama berada di padepokan itu.

Dalam pada itu, pertempuran di dalam padepokan itu pun berlangsung semakin sengit. Para murid Ki Wigati yang jumlahnya lebih banyak dalam hentakan pertama berhasil mendesak para cantrik dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Namun para murid dari perguruan Udyana itu secara pribadi memiliki kelebihan dari lawan-lawan mereka, sehingga beberapa saat kemudian, maka pertempuran itu pun seakan-akan telah mencapai kesembangannya.

Murid-murid Ki Wigati rasa-rasanya tidak lagi dapat bergerak maju. Sementara mereka yang berusaha menyusup mendahului kawan-kawannya justru mulai mengalami kesulitan. Kawan-kawan mereka tidak segera menyusul mereka, sementara itu, mereka harus menghadapi serangan-serangan para murid dari perguruan yang dipimpin Ki Udyana itu, yang datangnya bagaikan siluman. Mereka muncul dari sudut-sudut barak. Dari pintu-pintu yang tiba-tiba terbuka. Jika mereka terdesak, mereka pun tiba-tiba telah hilang diantara bangunan yang ada di padepokan uu. Tetapi tiba-tiba saja mereka muncul dan menyerang dari lambung.

Dalam pada itu, murid-murid terbaik dari kedua perguruan yang bersumber pada aliran yang sama itu pun telah bertemu. Namun Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu agaknya memang sulit untuk diredam. Mereka bertempur dengan garangnya seperti seekor harimau yang telah terluka.

Disisi lain, Murdaka dan saudara-saudara-seperguruannya yang seharusnya telah meninggalkan padepokan itu pun sulit sekali ditandingi oleh para murid Ki Wigati yang agaknya baru sedikit yang telah menuntaskan ilmunya di perguruan Ki Wigati. Bahkan, meskipun sama-sama menuntaskan ilmunya di perguruan yang mempunyai aliran yang sama, tetapi tataran kemampuan serta pengetahuannya ternyata tidak sama tinggi.

Murdaka yang telah berguru sampai tuntas itu pun telah bertempur dengan garangnya. Seorang putut dari perguruan Ki Wigati yang melihat Murdaka mendesak lawannya, telah mendekatinya sambil bertanya, “Kau siapa Ki Sanak? Kau mengamuk seperti seekor banteng ketaton”

Murdaka bergeser surut. Ia melihat seorang bertubuh raksasa berdiri di hadapannya.

“Namaku Murdaka. Kau siapa?“

“Aku Putut Permana. Aku adalah kepercayaan guru. Justru karena aku memiliki segala-galanya, hampir sebagaimana yang guru miliki”

“O. Jika demikian, maka kau adalah seorang yang berilmu sangat tinggi”

“Ya. Karena itu, minggirlah. Aku ingin bertemu dengan orang yang bernama Mina yang dengan sombongnya telah berganti nama dengan Udyana”

“Apakah kau belum pernah bertemu dengan berkenalan dengan kakang Mina?“

“Murid-murid Uwa Margawasana adalah murid-murid yang sombong. Nampaknya mereka sangat merendahkan murid-murid Ki Wigati, sehingga dengan demikian, maka kami yang berguru dari sumber yang sama, ternyata tidak akrab sama sekali”

“Jika demikian, maka sebaiknya kau tidak usah mencari kakang Mina yang sekarang disebut Udyana”

“Jadi, apakah aku akan dibiarkan membunuh para murid dari padepokan ini tanpa ada yang menghalangi sama sekali? Jika aku bertemu dengan kakang Mina, mungkin ilmu kami akan seimbang, sehingga aku merasa bahwa aku mempunyai kawan bermain yang sederajat disini”

“Jadi, pembicaraan ini kau sebut juga bahwa murid-murid Ki Margawasana yang menyombongkan diri?”

“Persetan. Minggirlah. Atau bersiaplah untuk mati”

“Sayang, apa pun yang terjadi, aku tidak akan minggir”

“Bagus. Ternyata murid-murid uwa Margawasana juga dapat dibanggakan keberanian. Entah ilmunya. Mungkin keberanian, kesombongan dan ilmunya sama sekali tidak seimbang”

“Mungkin. Mungkin pula sumber dari perguruan kita memang mengalir sifat sombong yang agak berlebihan. Jika kau sebut aku dan murid-murid Ki Margawasana sombong, maka bagaimana aku menyebutmu?“

“Cukup” bentak Putut Permana, “sekarang datang waktunya untuk membantaimu di padepokanmu sendiri”

Murdaka justru tertawa. Katanya, “Seorang kakak seperguruanku ada yang mempunyai nama mirip namamu. Kakang Perama. Tetapi ia tidak pernah membual seperti kau”

Putut Permana tidak menghiraukannya lagi Ia pun segera meloncat menyerang Murdaka. Tetapi Murdaka sudah bersiap sepenuhnya sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Dalam pada itu, Ki Parama, salah seorang yang telah membantu Ki Margawasana membimbing murid-muridnya dan yang kemudian telah membantu Ki Udyana pula, sedang berhadapan dengan seorang Putut pula. Dengan garangnya

Putut dari padepokan Ki Wigati itu berloncatan menyerang. Namun Ki Parama pun memiliki bekal yang lengkap untuk turun ke medan menghadapi seorang Putut yang memiliki ilmu dari aliran yang sama.

Di tengah-tengah halaman di depan bangunan utama padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu, Ki Wigati dan orang yang berambut putih itu berdiri tegak mengamati pertempuran yang sudah menjalar kemana-mana.

“Kita akan segera menguasai padepokan ini” berkata Ki Wigati”

“Jangan berceloteh dahulu” sahut orang yang berambut putih, “murid-muridmu sudah tidak dapat bergerak maju lagi”

“Untuk sementara. Tetapi beberapa saat lagi mereka akan memecahkan pertahanan anak-anak padepokan ini. Jumlah kita lebih banyak dari mereka. Tataran kemampuan murid-muridku tidak kalah dari murid-murid kakang Margawasana. Apalagi yang dicemaskan?”

“Berapa lama waktu.yang kau butuhkan?”

“Tidak lama. Murid-muridku yang lain telah berhasil menyusup masuk lebih dalam lagi. Merekalah yang akan segera menguasai seluruh padepokan ini”

Orang berambut putih itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Bagus. Mudah-mudahan perhitunganmu itu benar, sehingga kita tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk menguasai padepokan ini. Kita tidak perlu bertempur sampai senja turun”

“Tentu tidak. Nah, marilah kita ikut mempercepat penyelesaian dari pertempuran ini”

“Maksudmu kita akan ikut bertempur?”

“Ya. Kita akan ikut bertempur. Bukankah dengan demikian, pertempuran ini akan semakin cepat selesai? Aku ingin menemukan Mina yang sombong itu bersama isterinya. Aku tidak ingin kedua orang itu sempat melarikan diri dan luput dari tangan kita”

“Baiklah. Aku tidak berkeberatan. Tetapi jika kemudian aku membunuh seperti menebas batang ilalang, sehingga mayat akan bergelimpangan di halaman ini, kaulah yang bertanggung jawab”

“Aku pun akan melakukan hal yang sama. Biarlah Mina dan isterinya yang bertanggung-jawab”

Sebenarnyalah, maka kedua orang itu pun segera terjun ke medan. Keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Ki Wigati adalah adik seperguruan Ki Margawasana. Sementara itu kawannya yang berambut putih itu pun ternyata memiliki ilmu yang simbang dengan ilmu Ki Wigati.

Namun, langkah mereka pun segera terhenti. Ki Wigati mengerutkan dahinya ketika ia melihat sepasang suami isteri datang menemuinya di tengah-tengah kancah pertempuran itu.

“Kami sudah menunggu paman. Kami berdua akan mendapat kehormatan untuk menerima paman di padepokan kami”

“Bagus Mina. Aku kira kau dan isterimu sudah melarikan diri”

“Kami memang menunggu-paman. Kami berdua telah sepakat untuk menyambut kedatangan paman. Karena itu, maka kami tidak akan melarikan diri”

“Bagus. Aku ingin melihat, apa yang dapat kau lakukan, sehingga kau berani menolak perintahku meninggalkan padepokan ini”

“Kami adalah murid-murid Ki Margawasana, paman. Sekarang kami sengaja ingin mendapat petunjuk dari paman, mungkin paman dapat melengkapi iimu yang telah diajarkan oleh guru kepada kami. Sehingga dengan demikian, maka ilmu kami pun akan menjadi semakin mapan”

“Baik. Baik. Aku akan mengajarkan beberapa unsur dari ilmu yang tentu belum diajarkan oleh guru kalian. Tetapi demikian kalian mampu menambah ilmu kalian, mayat kalian pun akan terkapar di halaman padepokan yang pernah kau pimpin ini”

“Mudah-mudahan tidak, paman. Mudah-mudahan kami dapat memperkaya ilmu kami serta mempunyai kesempatan untuk mengajarkan kepada murid-murid kami”

Ki Wigati itu pun tertawa. Katanya, “Jangan bermimpi untuk dapat lepas dari tanganku, Mina. Tetapi itu adalah salahmu. Jika kau bersedia meninggalkan padepokan ini semalam, maka kau akan tetap hidup”

“Kami akan berusaha untuk mempertahankan hidup kami, paman. Tetapi kami tidak perlu meninggalkan padepokan ini”

“Kalian memang iblis buruk. Sebutlah nama orang tuamu, gurumu atau siapa saja orang-orang yang kau hormati sebelum kau mati, Mina. Demikian pula isterimu yang setia itu. Nampaknya ia ingin juga mati bersamamu”

“Paman. Kami hanya ingin menghormati paman, sehingga kami akan menyambut paman berdua”

“Bagus. Jangan banyak bicara lagi, kita akan mulai”

Ki Udyana dan Nyi Udyana segera mempersiapkan diri. Mereka sadar sepenuhnya, bahwa Ki Wigati adalah saudara seperguruan gurunya, Ki Margawasana. Karena itu maka mereka berdua tidak berani memandang ringan, sehingga keduanya telah sepakat untuk menghadapi bersama. Apalagi keduanya yakin bahwa murid-murid Ki Margawasana memiliki tataran yang lebih baik dari murid-murid Ki Wigati, sehingga meskipun terlibat keduanya dalam pertempuran melawan Ki Wigati, namun keduanya saudara-saudara seperguruan mereka akan dapat menempatkan diri mereka dengan sebaik-baiknya. Ki Udyana dan Nyi Udyana itu pun berpaca, bahwa Wikan akan dapat menemepatkan dirinya dengan baik.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Wigati itu pun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit melawan Ki Udyana dan Nyi Udyana yang mendapat kepercayaan dari guru mereka untuk melanjutkan kepemipinannya di perguruannya.

Sementara itu, orang yang berambut putih itu pun telah berloncatan di arena. Tetapi ia merasa terkejut pula, bahwa ia tidak dapat melakukan sebagaimana di katakannya. Ia tidak dapat membunuh murid-murid Ki Margawasana itu seperti menebas batang ilalang. Murid-murid Ki Margawasana itu ternyata memiliki kemampuan yang memadai untuk menyelamatkan nyawa mereka. Bahkan sekelompok diantara mereka telah dengan beraninya memberikan perlawanan yang tidak dapat diabaikan.

Namun tiba-tiba diantara murid-murid Ki Margawasana itu telah muncul seorang anak muda yang dengan tangkasnya melibatnya dalam pertempuran.

Orang berambut putih itu pun meloncat surut untuk mengambil jarak. Ia ingin memperhatikan lawannya yang seorang itu. Orang yang dianggap memiliki kelebihan dari yang lain.

“Kau telah mengejutkan aku, anak muda” desis orang berambut putih itu, “Kau siapa?“

“Aku juga murid perguruan ini, Ki Sanak. Namuku Wikan”

“Wikan. Sungguh nama yang baik. Ternyata kau seorang anak muda yang berilmu tinggi. Agaknya kau sudah berhasil menyerap ilmu Ki Margawasana dengan baik”

“Kau sendiri siapa Ki Sanak? Kau tentu bukan berasal dari perguruan paman Wigati”

“Kau benar. Aku bukan berasal dari perguruan Ki Wigati. Namaku Winenang”

“Tetapi apakah kepentingan Ki Winenang, sehingga hari ini Ki Winenang hadir bersama paman Wigaridi padepokan ini?“

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau tentu tidak mengetahui apa yang pernah terjadi disini. Ketahuilah, bahwa gurumu itu sama sekali bukan seorang yang bersih sebagaimana kau bayangkan. Gurumu adalah justru orang yang paling kotor di dunia ini”?

Wajah Wikan menjadi merah. Dengan geram ia pun bertanya, “Kenapa kau dapat berkata begitu, Ki Winenang”

“Kau masih sangat muda. Karena itu, kau tentu tidak tahu apa yang pernah terjadi pada waktu itu. Pada waktu lebih dari lima belas tahun yang lalu”

“Ada apa?“

Orang berambut putih itu tertawa. Katanya, “Waktu itu, gurumu dan sekelompok orang berilmu tinggi, telah mendatangi sarangku. Terus-terang, waktu itu aku adalah salah seorang dari sekelompok orang pemburu harta karun. Tetapi menurut pendapat kami, kami tidak merugikan siapa-siapa, karena harta karun yang kami buru adalah harta karun yang sudah tidak jelas lagi siapa pemiliknya. Hasil buruan kami itu, kami kumpulkan dan akan menjadi bekal hidup kami. Kami ingin di hari-hari tua kami, kami dapat hidup senang dengan menikmati hasil kerja keras kami itu. Tetapi ada diantara kami yang berkhianat. Pengkhianat itu telah membawa sekelompok orang untuk merampok kami. Pengkhianat itu pula yang telah menunjukkan dimana harta karun yang telah kami kumpulkan itu disimpan. Seorang diantara mereka yang datang merampok kami adalah Ki Margawasana. Bahkan kemudian, seorang demi seorang, Ki Margawasana telah membunuh kawan-kawannya, sehingga akhirnya, semua harta karun itu pun telah dimilikinya sendiri.

Ki Wigati tahu pasti apa yang dilakukan oleh kakak seperguruannya itu.Tetapi sekarang, aku datang untuk mengambil kembali harta karun itu. Harta karun itu telah disembunyikannya di padepokan ini. Itulah sebabnya aku bersedia bekerja sama dengan Ki Wigati untuk menguasai padepokan ini”

“Sebuah mimpi yang sangat mengerikan” sahut Wikan, “Kau kira aku mempercayai dongengmu itu, Ki Winenang”

“Kau tentu tidak akan mempercayainya. Bahkan murid-murid tertua dari padepokan ini pun tidak akan mempercayainya. Tetapi itulah kenyataan yang telah terjadi di sini”

“Omong kosong. Jika itu yang terjadi, kenapa kau atau paman Wigati tidak berkata berterus-terang kepada paman Udyana yang sekarang memimpin padepokan ini. Jika dapat dibuktikan, bahwa ada setumpuk harta karun di padepokan ini, maka barulah kami akan menelusuri kebenaran dongengmu itu. Tetapi jika tidak, maka semuanya itu hanyalah omong kosong saja. Omong kosong yang akan kalian pergunakan sebagai alasan untuk menguasai padepokan yang tumbuh semakin besar ini”

Orang itu tertawa. Katanya, “Terserah saja atas tanggapanmu. Tetapi itulah kenyataannya. Karena itu, kau tidak perlu bersusah payah ikut mempertahankan padepokan ini. Jika kau minggir, maka kau justru akan berpengharapan. Ki Wigati tentu tidak akan melupakanmu. Kau akan mendapat kedudukan yang baik kelak, serta ikut menikmati harta karun yang tentu akan kami ketemukan di padepokan ini.

“Tidak, Ki Winenang. Aku tidak mudah percaya dengan dongeng-dongeng yang menyebarkan fitnah seperti itu. Karena itu, maka jika kau berniat untuk meneruskan rencanamu bersama paman Wigati menguasai padepokan ini, maka aku akan mempertahankan sejauh dapat kau lakukan”

Ki Winenang menarik nafas panjang. Ketika ia memperhatikan keadaan disekelilingnya, maka pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya. Namun ketajaman penglihatannya, dapat menangkap isyarat, bahwa murid-murid Ki Margawasana memang memiliki kelebihan dari murid-murid Ki Wigati. Ki Winenang sempat melihat salah seorang kepercayaan Ki Wigati yang bertubuh raksasa bertempur melawan seorang cantrik di padepokan Ki Udyana itu, ”Anak muda itu namanya Murdaka” desis Wikan.

Ki Winenang terkejut. Dengan gagap ia pun menyahut, “Ya. Ya. Namanya Murdaka. Ia seorang anak muda yang berilmu tinggi”

“Lawannya yang bertubuh raksasa itu tidak akan dapat mengalahkannya”

Ki Winenang mengerutkan dahinya. Namun ia masih berharap bahwa putut yang bertubuh raksasa itu akan dapat mengalahkan lawannya.

“Anak muda” berkata Ki Winenang, “Aku masih memberimu kesempatan untuk menyingkir dari medan“

“Tidak, Ki Winenang. Aku tidak akan menyingkir”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“ Tentu saja menghentikanmu”

“Kau? Kau akan menghentikan aku?”

“Ya”

“Anak muda. Aku sudah pernah bertemu lebih dari seribu orang yang sangat sombong. Tetapi tidak ada yang kesombongan-nya menyamai kesombonganmu. Bahwa kau akan melawanku itu, bukankah itu satu lelucon yang tidak ada duanya di jaman ini”

“Kita akan melihat sejauh mana lelucon ini akan menjadi kenyataan”

“Bagus. Dengan satu ayunan tangan, maka kau akan mati”

Wikan pun segera mempersiapkan diri. Ia sadar, bahwa lawannya adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi sebagai murid bungsu Ki Margawasana yang sudah tuntas, maka Wikan akan menjajagi kemampuan lawannya yang berambut putih itu.

“Marilah anak muda. Lawan aku yang digelari orang Alap-alap Perak”

“Alap-alap perak” desis Wikan, “jadi kaukah Alap-alap Perak itu?”

“Ya, Apakah tiba-tiba saja aku menjadi ketakutan?”

“Tidak. Bagaimana aku dapat menjadi ketakutan. Nama itu belum pernah aku dengar”

“Bocah edan. Baiklah. Bersiaplah” Keduanya pun kemudian telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Alap-alap Perak itu memang tidak menduga, bahwa anak muda ilu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun Alap-alap Perak adalah orang yang selain memiliki ilmu yang tinggi, ia juga memiliki pengalaman yang sangat luas. Karena itu, maka Alap-alap Perak itu pun dengan cepat meningkatkan ilmunya.

Keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sangat seru. Keduanya telah semakin meningkatkan ilmunya ketataran yang lebih tinggi.

Demikianlah, maka pertempuran itu pun telah menyala di mana-mana. Namun dimana-mana segera terlihat, bahwa para murid Ki Wigati sulit untuk dapat mengimbangi kemampuan murid-murid Ki Margawasana. Bahkan dalam pertempuran antara kelompok-kelompok di sela-sela bangunan-bangunan yang berada di padepokan itu, meskipun jumlah murid-murid Ki Wigati dalam kelompok itu lebih banyak, tetapi mereka tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Mereka mulai melangkah surut ke arah induk pasukan mereka yang bertempur di halaman.

Ketika ada beberapa orang yang berhasil mencapai pagar bambu yang kokoh, yang membatasi barak para murid perempuan dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu, maka mereka yang bertugas melindungi barak para mentrik itu pun segera mengusir mereka, sehingga-mereka pun segera bergeser kembali ke induk pasukan mereka.

Sebenarnyalah bahwa keseimbangan pertempuran itu sudah menjadi semakin nyata. Para murid Ki Margawasana semakin menguasai medan.

Ki Wigati yang bertempur melawan Ki Udyana dan nyi Udyana pun menjadi semakin terdesak pula. Sebenarnyalah salah seorang saja diantara keduanya, tidak akan segera dapat ditundukkan oleh Ki Wigati. Tetapi Ki Udyana dan Nyi Udyana masih menghormati paman gurunya, sehinggga mereka menghadapinya berdua. Dengan demikian, jika Ki Wigati tidak dapat memenangkan pertempuran itu, ia tidak akan merasa sangat terhina, bahwa ia dapat dikalahkan oleh murid saudara seperguruannya dalam pertempuran seorang melawan seorang. Tetapi jika mereka bertempur berdua, maka Ki Wigati baru dapat dikalahkan oleh dua orang yang bertempur berpasangan.

Berbeda dengan Ki Wigati, maka Ki Udyana membiarkan Wikan bertempur seorang diri. Mereka tidak mengenal orang berambut putih itu. Karena itu, maka mereka tidak perlu harus menghormatinya dan menjaga perasaannya jika ia merasa terhina oleh kekalahan itu.

Sebenarnyalah murid bungsu Ki Margawasana itu adalah seorang murid yang seakan-akan telah memiliki apa saja yang dmiliki oleh gurunya. Meskipun pengalaman Wikan tidak seluas Ki Margawasana, namun Ki Margawasana telah memberikan wawasan yang sangat luas kepada Wikan. Justru karena Wikan adalah murid bungsunya, maka seakan-akan segala-galanya telah dituangkan kepadanya.

Bahkan Ki Margawasana yang menguasai beberapa aliran ilmu dari beberapa perguruan itu, telah menjadikannya bahan pembanding dan bahkan mampu mengisi kekurangan pada aliran ilmunya sendiri.

Dengan demikian, maka ilmu Wikan pun benar-benar telah matang dalam usianya yang masih muda itu. Apalagi Wikan sendiri telah dengan tekun menempa dirinya di dalam sanggar. Sanggar tertutup dan sanggar terbuka. Bahkan alam dan lingkungannya pun telah dijadikannya sebuah sanggar raksasa untuk mematangkan ilmunya itu.

Karena itu, maka Ki Winenang yang bergelar Alap-alap Perak itu menjadi heran, bahwa lawannya yang sangat muda itu mampu mengimbangi ilmunya.

Sementara itu, Ki Rantam dan Ki Sindu pun sangat sulit untuk dihentikan. Mereka bergerak dengan kecepatanyang sangat tinggi. Bahkan mereka sempat bergerak di dekat lingkaran pertempuran antara Wikan dengan Alap-alap Perak.

Namun Ki Ramtam dan Ki Windu sama sekali tidak mencemaskan Wikan, meskipun mereka sadari, bahwa lawan Wikan adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, serta memiliki pengalaman yang luas.

Tetapi pertempuran disekitar Ki Winenang itu agaknya mempengaruhinya pula. Bahwa para murid Ki Wigati mendapat tekanan yang sulit diatasi, telah membuat Ki Winenang menjadi berdebar-debar. Apalagi lawannya yang masih muda itu semakin lama menjadi semakin garang. Geraknya menjadi semakin cepat. Unsur gerakannya menjadi semakin lengkap pula. Rasa-rasanya sulit untuk mencari lubang-lubang kelemahan anak muda itu, sehingga dengan demikian, maka Ki Winenang itu merasa sangat sulit untuk menembus pertahanan Wikan.

Tetapi itu bukan berarti bahwa serangan Ki Winenang sama sekali tidak dapat mengenainya. Ketika kaki Ki Winenang itu menyusup pertahanannya dan mengenai dadanya, Wikan telah terlempar beberapa langkah surut. Namun dengan sekali melingkar berguling di tanah, maka ia pun segera melenting bangkit.

Tetapi Ki Winenang tidak melepaskannya. Demikian Wikan berdiri tegak, Ki Winenang itu pun telah meluncur seperti anak panah. Kedua kakinya, terjulur lurus mengarah ke dada.

Wikan sempat melihat serangan itu. Karena itu, maka ia pun segera merendahkan dirinya, sehingga tubuh Ki Winenang itu seakan-akan melayang di atasnya.

Namun Wikan lah yang kemudian memanfaatkan kesempatan itu. Demikian kedua kaki Ki Winenang menyentuh tanah, maka Wikan lah yang telah meloncat menyerangnya. Sambil meloncat, tubuh Wikan itu pun berputar. Kakinya terayun mendatar, menghantam kening Ki Winenang.

Ki Winenang lah yang terpelanting. Kemudian jatuh berguling. Tetapi Ki Winenang itu pun dengan cepat pula bangkit.

Demikianlah keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Wikan yang masih muda itu, memiliki tubuh yang kokoh, kuat dan mampu bergerak sangat cepat. Tetapi lawannya yang sudah berambut putih itu memiliki kematangan ilmu serta pengalaman yang sangat luas.

Sementara itu di tengah-tengah halaman di depan bangunan utama padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu, Ki Wigati bertempur dengan sengitnya melawan Ki Udyana yang bertempur bersama Nyi Udyana. Kedua pihak telah meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi.

Namun semakin terasa bahwa Ki Wigati mengalami tekanan yang semakin berat. Ternyata bahwa Ki Udyana dan Nyi Udyana benar-benar telah memiliki kemampuan ilmu sebagaimana Ki Margawasana sendiri.

Tetapi sepasang suami istri itu masih tetap menghormati paman gurunya, sehingga mereka menghadapinya bersama-sama agar tidak menumbuhkan kesan merendahkannya.

Sementara itu, pertempuran yang tersebar di mana-mana mulai menunjukkan bahwa murid-murid Ki Margawasana memang memiliki kelebihan dari murid-murid adik seperguruannya. Kesungguhan Ki Margawasana memimpin padepokannya yang kemudian dilanjutkan oleh Ki Udyana dan Nyi Udyana, ternyata tidak sia-sia. Ketika datang bahaya yang tiba-tiba saja menerkam padepokannya, mereka bukan saja dengan sepenuh hati berusaha mempertahankan padepokannya, namun mereka juga mempunyai bekal yang cukup memadai.

Memang tidak semua cantrik memiliki tingkat penguasaan ilmu yang setingkat. Tetapi Ki Udyana telah membagi kelompok-kelompok perlawanan yang merata, sehingga seolah-olah para cantrik di perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu memiliki ilmu yang-setingkat pada tataran yang tinggi.

Dengan demikian, maka kelompok-kelompok murid Ki Wigati kadang-kadang terkejut menghadapi murid-murid dari Ki Margawasana yang mereka ketahui, kakak seperguruanmu dari guru mereka.

Semakin lama lingkungan arena pertempuran pun menjadi semakin menyempit. Para murid Ki Wigati yang telah menyusup diantara barak-barak yang ada di padepokan itu, telah menjadi semakin terdesak. Mereka semakin bergeser surut mendekati induk pasukan mereka yang bertempur di halaman bangunan utama.

Mereka yang diharap oleh Ki Wigati menjadi ujung tombak dari serangan mereka untuk menguasai lingkungan yang luas di padepokan itu, ternyata telah gagal. Apalagi dukungan saudara-saudara seperguruan mereka tidak segera datang. Sehingga mereka merasa seakan-akan mereka telah dilepas di lebatnya hutan yang penuh dengan binatang buas.

Sebenarnyalah bahwa rencana Ki Wigati telah gagal. Murid-muridnya tidak segera berhasil menembus pertahanan para cantrik di padepokan yang diserangnya. Menurut rencananya, mereka akan segera datang membantu saudara-saudara seperguruan mereka yang telah lebih dahulu menerobos disela-sela bangunan-bangunan yang ada di padepokan itu.

Justru karena itu, maka murid-muridnya yang telah mendahului menerobos masuk itu telah mengalami kesulitan. Mereka semakin terdesak dan bahkan akhirnya mereka pun telah mengalir kembali ke induk pasukan mereka.

Ki Wigati yang bertempur melawan Ki Udyana dan isterinya, masih sempat melihat kegagalan rencananya itu. Karena itu, maka Ki Wigati pun segera meloncat surut untuk mengambil jarak sambil berteriak, “Menyebarlah. Kuasai setiap jengkal tanah di padepokan ini. Di lingkungan padepokan ini terdapat kandungan yang tidak ternilai harganya”

Ki Udyana yang tidak memburu Ki Wigati, bahkan justru memberi kesempatan kepada paman gurunya itu pun bertanya, “Kandungan apakah yang paman maksud?”

“Persetan kau Mina. Aku akan segera menghancurkan kau berdua. Kemudian aku akan membunuh semua cantrik di padepokan ini yang tidak mau tunduk kepada perintahku”

Ki Udyana itu pun masih juga bertanya, “Kandungan yang paman maksudkan itukah yang telah mendorong paman untuk menguasai padepokan ini?”

Ki Wigati tidak menjawab. Tetapi ia pun segera meloncat menyerang Ki Udyana dengan garangnya.

Ki Udyana yang selalu waspada itu tidak mengalami banyak kesulitan untuk menghindar. Bahkan Nyi Udyana lah yang kemudian telah meloncat menyerang. Justru Ki Wigati lah yang kurang cepat menghindari serangan Nyi Udyana, sehingga tangan Nyi Udyana yang terjulur itu sempat mengenai bahu Ki Wigati.

Ki Wigati terdorong surut beberapa langkah. Namun ia pun dengan cepat melenting. Kakinya terjulur mengarah ke lambung.

Nyi Udyana sempat meloncat kesamping. Kedua sikunya dipergunakannya untuk menangkis serangan paman gurunya.

Ketika benturan itu terjadi, Nyi Udyana tergetar selangkah surut. Namun kaki Ki Wigati pun terdorong sehingga Ki Wigati itu pun bergeser pula setapak.

Dalam pada itu, Murdaka pun telah berhasil mendesak lawannya. Murdaka yang telah tuntas dan bahkan sudah siap untuk meninggalkan padepokan itu pun bertempur dengan garangnya.

Lawannya, yang mengaku bernama Putut Permana, ternyata tidak mampu menundukkan Murdaka. Bahkan semakin lama Putut Permana itu pun menjadi semakin terdesak.

Meskipun demikian Putut Permana itu masih saja menggeram, “ Minggirlah. Aku ingin bertemu langsung dengan Mina. Aku ingin menunjukkan kepadanya, bahwa murid-murid Ki Wigati memiliki ilmu yang lebih tinggi dari murid-murid Ki Margawasana”

Murdaka tidak menjawab. Tetapi ia justru meningkatkan serangan-serangannya, sehingga Putut Permana itu pun menjadi semakin terdesak pula.

“Bocah edan. Baiklah. Bersiaplah”

Keduanya pun kemudian telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Alap-alap Perak itu memang tidak menduga, bahwa anak muda itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Dalam pada itu, para murid Ki Wigati pun semakin mengalami kesulitan. Ki Wigati tidak dapat menghindari kenyataan itu. Beberapa orang muridnya sudah jatuh menjadi korban. Semakin lama semakin banyak. Sementara itu, Ki. Wigati pun tidak pula dapat mengingkari kenyataan tentang dirinya sendiri. Bahkan Ki Wigati itu pun akhirnya menyadari, bahwa sebenarnya Ki Udyana dan isterinya itu tidak perlu bertempur bersama-sama untuk menghadapinya.

Kenyataan-kenyataan itulah yang telah membuat Ki Wigati sangat gelisah.

Ketika Ki Wigati berusaha untuk melihat keadaan Ki Winenang, maka Ki Udyana dan Nyi Udyana pun telah memberi-nya kesempatan pula. Dibiarkannya Ki Wigati mengambil jarak.

Sementara itu, Ki Winenang bertempur seperti orang mabuk. Bahwa ia tidak segera dapat mengalahkan anak yang masih sangat muda itu telah membuat perasaannya menjadi kacau. Marah, bingung, heran dan berbagai macam perasaan berbaur di dadanya.

“Anak iblis” geram Ki Winenang yang hampir kehilangan akal, “Aku akan meluluhkan tubuhmu jika kau masih tetap melawanku”

“Kita berada di medan, Ki Winenang. Lakukan apa yang dapat kau lakukan”

Ki Winenang menggeram.

Namun dalam pada itu, Ki Winenang itu pun sempat melihat Putut Permana semakin terdesak. Lawannya, Murdaka, memang memiliki beberapa kelebihan dari lawannya. Bahkan Putut Permana itu seakan-akan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menyerang. Beberapa kali serangan-serangannya tidak mampu menembus pertahanan Murdaka. Bahkan setiap kali serangannya telah dibalas dengan serangan pula.

Meskipun kedua orang itu memiliki ilmu dari sumber yang sama, namun agaknya ilmu Murdaka lebih matang dari ilmu Putut Permana. Bahkan unsur-unsur gerakan yang dimiliki Murdaka, meskipun sembernya sama, namun lebih beragam dan mempunyai watak yang lebih jelas.

Dengan demikian, maka Putut Permana yang merasa ilmunya mampu mengimbangi ilmu Ki Udyana itu, menjadi semakin kesulitan.

Karena itu, maka akhirnya Putut Permana itu sampai pada satu keputusan untuk mempergunakan ilmu puncaknya. Sebagai salah seorang putut dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Wigati, maka Putut Permana memang telah memiliki ilmu pamungkas yang tumurun lewat Ki Wigati.

Karena itu, dalam keadaan yang teredsak, maka Putut Permana itu pun tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun segera meloncat surut untuk mengambil jarak. Namun kemudian Putut Permana itu pun berdiri tegak. Ketika ia menarik satu kakinya sedikit kebelakang sambil merendah pada lututnya, maka Murdaka pun terkejut.

“Tunggu” teriak Murdaka.

Tetapi Putut Permana tidak mau mendengamya. Apa pun yang terjadi, ia sudah bertekad untuk melepaskan ilmu puncaknya.

Jantung Murdaka pun menjadi bergetar ketika ia melihat Putut Permana itu dengan tangan yang bersilang didadanya, menyentuh bahu kanan dan bahu kirinya dengan jari jemari tangannya.

Murdaka tidak mempunyai banyak kesempatan. Karena itu, maka dengan cepat ia pun melakukan hal yang sama.

Agaknya Putut Permana tidak begitu menghiraukan sumber ilmu lawannya yang sama dengan sumber ilmunya. Tetapi ketika ia melihat Murdaka melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukannya, maka Putut Permana itu agak terkejut juga.

Meskipun demikian, Putut Permana itu tidak mempunyai waktu lagi. Sejenak kemudian, maka Putut Permana itu telah menghentakkan ilmu untuk menyerang Murdaka.

Tetapi Murdaka bergerak cepat pula. Sebelum serangan Putut Permana sampai ke sasarannya, maka Murdaka pun telah melepaskan ilmu yang sama pula.

Satu benturan ilmu yang dahsyat telah terjadi. Getar dari benturan ilmu, serta pantulannya, telah meniti kembali, mengenai kedua orang yang telah melontarkannya.

Tetapi ilmu Murdaka memang selapis lebih tinggi dari Putut Permana. Karena itu, maka kekuatan ilmu yang mereka lontarkan dan saling berbenturan itu pun pengaruhnya tidak seimbang.

Murdaka terdorong beberapa langkah surut. Namun Murdaka tidak mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga Murdaka itu pun jatuh terlentang. Tetapi Murdaka masih mampu berusaha untuk bangkit berdiri. Meskipun kedua kakinya masih nampak goyah.

Sementara itu, Putut Permana telah terlempar pula. Tubuhnya terbanting jatuh dengan derasnya.

Putut Permana itu menggeliat. Tetapi Putut Permana tidak mampu untuk bangkit berdiri. Seisi dadanya rasa.-rasanya telah terbakar. Sementara itu tulang-tulangnya bagaikan berpatahan.

Putut Permana masih sempat melihat Murdaka yang bangkit berdiri dengan kaki yang goyah. Namun ketika Putut Permana itu berusha untuk bangkit, maka ia sudah tidak berdaya lagi.

Dua orang saudara seperguruannya pun segera terlari-larian mendekatinya. Keduanya pun kemudian telah memapah Putut Permana untuk dibawa menyingkir dari medan pertempuran.

Sementara itu, beberapa orang saudara seperguruan Murdaka pun telah mengerumuninya. Seorang diantara mereka pun segera membantu Murdaka untuk meninggalkan arena pertempuran. Sedangkan yang lain pun segera telah kembali memasuki medan.

Sementara itu, ketika seorang saudara seperguruan Murdaka yang juga sudah tuntas ilmunya, telah melepaskan ilmunya pula untuk membentur serangan lawannya, seorang murid Ki Wigati yang sudah mewarisi ilmu puncaknya namun masih belum mapan, maka murid Ki Wigati itu pun telah terpelanting pula. Bahkan demikian ia terbanting jatuh, maka ia pun langsung menjadi pingsan.

Dalam pada itu, maka keseimbangan pertempuran itu pun sudah berubah sama sekali. Perlahan-lahan para murid Ki Margawasana telah mendesak para murid Ki Wigati kearah pintu gerbang.

Sementara itu, Ki Winenang pun masih belum mampu menundukkan Wikan yang bertempur dengan garangnya. Kemudaannya telah membuat nampak semakin perkasa.

Dalam pada itu, Ki Rantam dan Ki Windu pun telah melepaskan lawan-lawan mereka pula, karena saudara-saudara seperguruannya telah mampu menangani mereka. Sementara itu Ki Rantam dan Ki Windu telah berdiri dibelakang Wikan yang masih bertempur melawan Alap-alap Perak.

Meskipun mereka tidak langsung melibatkan diri, tetapi keberadaan mereka telah membuat Ki Winenang menjadi berdebar-debar.

Dalam pada itu, Ki Wigati sempat memperhatikan keseimbangan pertempuran. Ia sudah mengorbankan beberapa orang muridnya. Ada yang terbunuh dan ada pula yang terluka cukup parah.

Sementara itu, Ki Wigati itu tidak lagi mempunyai harapan untuk dapat memenangkan pertempuran itu. Bahkan semakin lama pertempuran itu berlangsung, maka korban akan semakin banyak berjatuhan. Korban yang sudah diketahui akan sia-sia.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Ki Wigati itu pun meloncat surut untuk mengambil jarak. Ia pun kemudian berteriak keras-keras, “Berhenti bertempur. He, para muridku, berhentilah bertempur. Ambil jarak dari lawan-lawanmu. Aku minta Mina juga menghentikan saudara-saudara seperguruannya”

Ki Udyana termangu-mangu sejenak. Namun sambil mengangkat tangannya ia pun berteriak pula, “Berhenti. Berhenti bertempur. Tetapi jangan beranjak dari tempat kalian berdiri. Jangan sarungkan senjata kalian”

Para cantrik dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu pun berhenti pula. Tetapi mereka tetap mengacukan senjata mereka.

Wikan juga berloncatan surut. Ia pun kemudian berdiri diantara Ki Rantam dan Ki Windu. Sementara itu, Ki Parama berdiri tegak dengan jantung berdebaran. Ketika ia mendengar teriakan itu, ia baru saja membenturkan ilmu pamungkasnya untuk menghentikan serangan-serangan ilmu puncak putut yang bertempur melawannya.

Tetapi Ki Parama tidak tahu, apakah lawannya itu terbunuh atau tidak. Beberapa orang saudara seperguruan lawannya telah membawanya pergi.

Ki Udyana dan Nyi Udyana kemudian berdiri tegak di hadapan pamannya. Dengan nada ragu Ki Udyana itu pun bertanya, “Apa maksud paman menghentikan pertempuran?

“Kau memang keras kepala Mina. Aku sudah menghukummu. Kau harus selalu mengingatnya, bahwa aku dapat menghukum-mu lebih berat lagi. Sekarang aku masih memaafkanmu. Aku merasa bahwa hukumanku kali ini sudah cukup. Aku akan pergi. Tetapi jika sekali lagi kau berani melawan perintah pamanmu, maka aku benar-benar akan menghancurkan padepokanmu ini”

“Jadi sekarang paman akan pergi?”

“Ya”

“Begitu mudahnya paman keluar dari regol padepokan yang sudah paman rusakkan itu”

“Sudah aku katakan, hukumanmu sudah cukup untuk kali ini. Tetapi jika lain kali kau berani sekali lagi menentang perintahku, maka kau tidak akan aku maafkan lagi”

Ki Udyana termang-mangu sejenak. Sementara itu Nyi Udyana pun menyahut, “Paman tidak perlu memaafkan kami. Jika paman masih akan menghukum kami, kami persilahkan. Kami masih tetap siap menjalani hukuman paman itu”

“Aku masih mengingat bahwa kalian adalah murid-murid kakak seperguruanku. Jika saja aku tidak menghormati kakang Margasawana, maka aku akan menuntaskan hukuman atas kalian”

“Kenapa paman tidak melakukannya?“ bertanya Nyi Udyana.

Tetapi Ki Udyana pun berkata, “Terima kasih atas kemurahan hati paman. Lalu sekarang paman mau apa?“

“Aku akan pulang. Ingat-ingatlah bahwa aku masih tetap mampu menghukum kalian”

Nyi Udyana masih akan menjawab. Tetapi Ki Udyana menggamitnya sambil berkata, “Silahkan paman. Jika paman akan pergi, silahkan pergi. Perintahkan para murid paman untuk membawa kawan-kawannya yang tidak dapat atau tidak mampu pergi dari padepokan ini, karena kami tidak akan dapat merawat mereka”

“Setan kau Mina. Aku sudah tahu, bahwa aku harus membawa mereka pulang”

Ki Wigati pun kemudian telah memerintahkan para muridnya untuk berbenah diri. Mereka akan membawa saudara-saudara seperguruan mereka meninggalkan padepokan itu.

Sementara itu, matahari pun telah melampaui puncaknya. Sinarnya yang terik, seakan-akan telah membakar udara diatas padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Padepokan yang baru dilanda oleh pertempuran diantara mereka yang menyadap ilmu dari sumber yang sama.

Beberapa saat kemudian, iring-iringan pasukan .para murid Ki Wigati itu pun telah meninggalkan padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana. Iring-iringan yang parah, yang harus mengusung beberapa orang yang terbunuh dan terluka parah.

Ki Winenang yang bergelar Alap-alap Perak itu pun berjalan di sebelah Ki Wigati. Dengan nada tinggi ia pun berkata, “Inikah kemenangan yang kau janjikan itu? Aku sudah mempercayaimu. Aku telah mengatakan satu rahasia yang besar yang tersimpan di padepokan yang dipimpin oleh Ki Margawasana itu. Namun ternyata hasilnya hanyalah bualan yang tidak berarti apa-apa”

“Sebaiknya kau diam, Ki Winenang. Aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Tetapi aku masih salah menilai. Seharusnya aku tidak meninggalkan sebagian cantrik-cantrikku di padepokan. Seharusnya aku membawa mereka Semuanya”

“Itu hanya akan memperbanyak korban. Kemampuan murid Margawasana memang lebih tinggi dari murid-muridmu. Para putut yang selama ini kau banggakan, tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi murid-murid Margawasana. Apalagi murid-muridnya yang terpercaya. Sedangkan aku sendiri, sulit untuk mengalahkan seorang cantrik yang masih terlalu muda. Tetapi agaknya murid itu memang memiliki kelebihan dari saudara-saudara seperguruannya”

“Tetapi aku tidak berputus asa”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Pada suatu saat. Soalnya hanyalah waktu. Aku akan menguasai padepokan itu. Aku akan menguasai kandungan yang sangat berharga di padepokan itu”

“Yang sangat berharga itu tentu sudah dipindahkannya”

“Mereka tidak tahu, bahwa ada yang berharga di bawah padepokan mereka”

Ki Winenang terdiam. Ia sudah terlanjur menceriterakan-nya kepada anak muda yang tidak diduganya berilmu sangat tinggi itu. Tetapi Ki Winenang tidak mengatakannya.

Meskipun demikian, Ki Winenang sudah kehilangan harapan untuk dapat menemukan harta karun itu dibawah padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu.

“Anak muda itu tentu akan mengatakannya kepada pemimpin padepokan itu” berkata Ki Winenang didalam hatinya, “atau bahkan para murid tertua yang diserahi memimpin padepokan itu akan segera menemui Ki Margawasana untuk menanyakan kebenaran ceritera tentang harta karun itu”

Ki Winenang itu menarik nafas panjang. Meskipun tidak sepenuhnya benar, namun bahwa ada harta di padepokan itu, menurut Ki Winenang adalah benar. Tetapi asal usul harta benda itu tidak sebagaimana dikatakannya kepada anak muda yang berilmu tinggi itu.

Ki Winenang dan Ki Wigati itu pun kemudian saling berdiam diri untuk beberapa lama. Mereka berjalan sambil menundukkan kepalanya. Dibelakang mereka adalah iring-iringan para cantrik yang letih, terluka dan bahkan ada yang terbunuh.

Pada saat iring-iringan Ki Wigati, Ki Winenang serta murid-muridnya meninggalkan padepokan, maka Ki Udyana pun segera memimpin para cantrik untuk membenahi padepokan mereka. Bagaimanapun juga, pertempuran itu telah meninggalkan beberapa orang korban yang gugur di pertempuran. Selain mereka, beberapa orang telah terluka parah dan yang lain, bahkan hampir semua orang, terdapat goresan-goresan senjata di tubuh mereka.

Meskipun Ki Wigati itu akhirnya menarik diri bersama para muridnya dari padepokan, namun ada juga para cantrik yang menyesali sikap Ki Udyana yang sangat lunak. Seharusnya Ki Udyana bersikap agak keras, sehingga Ki Wigati benar-benar menjadi jera. Tidak seharusnya Ki Udyana membiarkannya saja Ki Wigati pergi melenggang lewat pintu gerbang yang telah dihancurkannya.

“Seharusnya kakang Udyana menahan paman Wigati” desis seorang cantrik.

“Untuk apa?“

“Kalau perlu malah bersama orang berambut putih itu. Mereka dipaksa pergi menghadap guru di tempat pengasingan dirinya. Ki Wigati harus minta ampun kepada guru dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi”

“Kakang Udyana tentu tidak akan sampai hati melakukannya. Bahkan mungkin guru pun akan marah kepada kakang Udyana jika ia memperlakukan paman guru seperti itu”

“Guru adalah orang baik. Kakang Udyana pun mewarisi sifat baiknya itu. Tetapi tentu tidak harus bersikap terlalu baik, karena sikap yang terlalu baik akan dapat merugikan diri sendiri pula pada akhirnya”

Saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Ketika seorang cantrik menyampaikan perasaan kecewanya kepada Wikan atas sikap Ki Udyana, maka Wikan pun ternyata sependapat, “Paman seharusnya tidak bersikap terlalu lemah. Pada hal paman Wigati masih saja bersikap sombong justru pada saat ia akan melarikan diri. Nanti aku akan bertanya kepada paman, kenapa paman memperlakukan paman Wigati begitu lunak”

“Seandainya orang berambut putih itu harus ditangkap, maka kami sudah siap melakukannya. Wikan, aku dan adi Windu” desis Ki Rantam yang menyaksikan langsung pertempuran antara Wikan melawan orang berambut putih itu, “Ia memang seorang berilmu tinggi. Tetapi kami beriga yakin akan dapat menangkapnya hidup-hidup”

Tetapi segala sesuatunya sudah terlanjur terjadi. Ki Wigati dan Ki Winenang yang bergelar Alap-alap Perak itu sudah berlalu.

Namun para cantrik di perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu mash sibuk. Mereka mengumpulkan saudara-saudara seperguruan mereka yang terluka parah. Bahkan ada juga diantara para cantrik yang gugur dalam pertempuran itu.

Ketika malam turun, seisi padepokan itu masih sibuk, sehingga Wikan masih belum sempat menemui pamannya dan bertanya tentang sikapnya yang sangat lunak itu.

Menjelang tengah malam, maka para cantrik yang letih itu pun telah beristirahat, selain mereka yang bertugas. Untuk sementara pintu gerbang yang rusak itu hanya sekedar di beri palang dengan potongan-potongan bambu yang diikat dengan ijuk.

Bagaimanapun juga para cantrik yang bertugas menjadi sangat berhati-hat. Mereka menganggap bahwa paman guru mereka serta orang berambut putih itu orang-orang yang licik, yang dapat berbuat apa saja di luar dugaan.

Karena itu, maka para cantrik yang bertugas mengawasi dengan ketat bukan saja gerbang yang tidak berdaun pintu, tetapi juga sekeliling padepokan.

“Mungkin saja mereka akan merayap kembali seperti laku seorang pencuri di malam hari” berkata seorang diantara para cantrik itu.

Para cantrik yang lain pun mengangguk-angguk pula.

Selain bertugas mengawasi keadaan, para cantrik itu pun bertugas pula merawat saudara-saudara mereka yang terluka parah. Para mentrik pun telah mendapat petunjuk khusus, bagaimana mereka harus memperlakukan saudara-saudara mereka yang terluka oleh Nyi Udyana.

Demikianlah, di pagi harinya, maka para cantrik di padepokan itu pun telah menyelenggarakan pemakaman bagi para cantrik yang gugur dalam pertempuran mempertahankan padepokan mereka. Keluarga para cantrik yang terjangkau dan sempat dihubungi, telah berdatangan. Meskipun mereka menyatakan melepas keluarga mereka dengan ikhlas, namun air mata mereka pun meleleh juga di pipi. Lebih-lebih ibu kakak serta adik perempuan mereka.

Ki Udyana ketika melepas para cantrik yang gugur untuk dibawa ke makam, telah minta maaf pula kepada keluarga mereka. Anak, adik atau kakak yang berada di padepokan itu, berniat untuk menuntut ilmu. Namun ternyata mereka harus mengorbankan nyawa mereka bagi padepokan tempat mereka menuntut ilmu.

Hari itu adalah hari yang kelabu bagi padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Isak, kecewa, penyesalan berbaur dengan pernyataan keikhlasan bukan saja dari keluarga mereka yang gugur, tetapi juga saudara-saudara Seperguruan mereka.

Tetapi perasaan kecewa dan penyesalan yang mendalam dari para cantrik di padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu sedikit terhibur, karena mereka tahu, bahwa korban yang harus diberikan oleh perguruan yang dipimpin Ki Wigati itu jauh lebih banyak lagi.

“Bukan karena kami berhasil membunuh lebih banyak orang. Tetapi bahwa hukuman itu harus mereka tanggungkan karena kesalahan yang telah mereka lakukan”

Dimalam berikutnya, setelah segala sesuatunya diselesaikan sebagaimana seharusnya, Wikan berniat untuk menghadap pamannya dan menanyakan sikap pamannya itu.

Tetapi ketika ia masuk ke ruang dalam bangunan utama padepokannya serta melihat pamannya duduk tepekur, serta bibinya yang masih mengusap matanya yang basah, niatnya, itu pun di urungkan. Meskipun Wikan itu pun kemudian duduk pula di ruang dalam, tetapi ia sama sekali tidak bertanya tentang sikap pamannya terhadap Ki Wigati.

Namun rasa-rasanya Ki Udyana itu dapat membaca suara hati Wikan. Karena itu, setelah Wikan duduk di sebelah bibinya, Ki Udyana itu pun berkata, “Banyak diantara para cantrik yang tidak mengerti kenapa aku membiarkan paman Wigati pergi”

Wikan memandang pamannya sekilas. Namun Wikan pun kemudian menunduk sambil berterus-terang, “Ya, paman. Aku juga tidak mengerti, begitu mudahnya paman Wigati pergi dari padepokan ini setelah ia membunuh beberapa orang saudara seperguruan kami”

“Wikan. Semula bibimu juga bertanya-tanya” berkata Ki Udyana selanjutnya, “Tetapi akhirnya bibimu sependapat bahwa kita memang harus melepaskan paman Wigati. Paman Wigati adalah adik seperguruan guru kita. Karena itu kita harus menghormatinya. Sementara itu, jika kita memaksakan kehendak kita, maka pertempuran tentu akan berlangsung lebih lama lagi. Korban yang jatuh tentu akan lebih banyak. Demikian pula saudara-saudara kita di padepokan ini. Bukankah kita tidak menginginkannya, Wikan. Dari pada kita menambah korban untuk menuruti perasaan marah kita, maka aku memutuskan untuk membiarkan paman pergi, Wikan. Bahkan aku sendiri semula juga tidak ingin membiarkan paman pergi begitu saja. Tetapi ketika aku melihat korban yang diusung menepi dan bahkan masih ada yang terbaring dibawah kaki mereka yang sedang bertempur, telah merubah pikiranku. Aku merasa lebih baik membiarkan paman pergi. Dengan demikian, maka kita tidak akan ada lagi korban yang akan jatuh. Sedangkan apa yang dikatakan oleh paman pada saat ia akan meninggalkan padepokan, sama sekali tidak aku dengarkan, agar hatiku tidak menyala lagi”

Wikan menarik nafas panjang.

“Wikan. Jika pertempuran itu berlanjut, maka dua tiga orang saudara seperguruan kita tidak akan kita jumpai lagi malam ini, menyusul mereka yang telah menjadi korban lebih dahulu”

“Apakah menurut paman, paman Wigati benar-benar merasa jera sehingga tidak akan datang lagi kemari?”

“Aku akan menemui guru. Aku akan minta pertimbangan guru apa yang sebaiknya aku lakukan menghadapi sikap paman Wigati”

“Menurut pendapatku, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi paman. Paman Wigati menjadi jera, atau paman Wigati justru mendendam”

“Wikan. Dalam benturan kekerasan kali ini, para murid paman Wigati banyak yang menjadi korban. Jauh lebih banyak dari saudara-saudara kita di padepokan ini. Mudah-mudahan hal itu membuat paman Wigati menjadi jera”

“Tetapi agaknya orang yang berambut putih, yang bernama Ki Winenang dan bergelar Alap-alap Perak itu akan dapat menggelitik paman Wigati untuk datang lagi. Bahkan mungkin paman Wigati akan datang bersama dengan perguruan lain”

“Kenapa kau berpendapat seperti itu”

“Menurut Ki Winenang, di bawah padepokan ini terdapat harta karun yang sangat banyak”

“He?”

Sementara itu Nyi Udyana pun dengan serta-merta bertanya pula, “Apa yang dikatakannya, Wikan?”

Wikan menarik nafas panjang. Meskipun dengan agak ragu, maka ia pun kemudian mengatakan sebagaimana dikatakan oleh Ki Winenang yang bergelar Alap-alap Perak.

Ki Udyana dan Nyi Udyana mendengarkannya dengan saksama. Kata demi kata.

Demikian Wikan selesai, maka Nyi Udyana pun berdesis, “Kami yang tua-tua ini tidak pernah mengetahuinya. Bahkan mendengar pun tidak. Jika peristiwa yang dikatakan itu terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu, maka aku tentu sudah berada di padepokan ini. Demikian pula pamanmu, Wikan”

“Ya. Ki Winenang itu tentu hanya memfitnah. Tetapi bahwa ia menyebut harta karun yang terpendam di padepokan ini, tentu ada maksudnya. Mungkin bukan harta yang sebenarnya. Bukan emas, perak atau intan dan berlian. Tetapi ada sesuatu yang berharga di padepokan ini” sahut Ki Udyana.

Wikan mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin paman benar. Di padepokan ini tentu dianggapnya ada sesuatu yang sangat berharga, meskipun bukan harta benda yang sebenarnya”

“Jika demikian, kita harus segera menemui guru” sahut Nyi Udyana.

“Ya. Besok kita akan berbicara dengan adi Parama, adi Rantam dan adi Windu. Kita akan mengajak salah seorang dari mereka untuk mengantar kita ke tempat tinggal guru”

“Paman. Apakah aku boleh ikut?”

“Sebaiknya kau tinggal di padepokan Wikan. Kau bantu kakakmu yang akan aku serahi memimpin padepokan ini pada saat aku pergi menghadap guru”

Sebenarnyalah bahwa Wikan menjadi agak kecewa. Sudah lama ia ingin pergi menghadap gurunya. Tetapi nampaknya, ia masih harus menunggu.

Tetapi Wikan tidak membantah. Ia tahu, bahwa padepokan itu tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Jika paman dan bibinya serta seorang dari kakak seperguruannya yang membantu pamannya memimpin padepokan tidak berada di tempat, maka sebaiknya ia memang tidak pergi.

“Mungkin esok lusa kami akan pergi, Wikan. Menurut pendapatku semakin cepat, semakin baik”

“Ya, paman. Segala sesuatunya akan segera menjadi jelas”

Untuk beberapa saat Wikan masih berbincang dengan paman dan bibinya. Namun kemudian Wikan pun minta diri untuk beristirahat.

Sepeninggal Wikan, Ki Udyana dan Nyi Udyana masih berbicara tentang harta karun itu. Bahkan Ki Udyana pun telah teringat pula kata-kata Ki Wigati kepada murid-muridnya, agar mereka segera menguasai seluruh padepokan. Karena dibawah padepokan ini terdapat kandungan yang tidak ternilai harganya.

“Kau ingat kata-kata paman Wigati itu?“ bertanya Ki Udyana kepada Nyi Udyana.

“Ya, kakang. Agaknya memang ada sesuatu yang dicari. Bukan sekedar ingin memiliki, menguasai dan memimpin padepokan ini. Mungkin yang dimaksud benar-benar harta benda sebagaimana dikatakan oleh Ki Winenang sesuai dengan keterangan Wikan. Tetapi mungkin pula dalam ujud yang lain. Pusaka atau benda-benda yang dianggap bertuah lainnya”

“Guru akan dapat memberikan keterangan”

“Besok lusa kita akan pergi menghadap guru. Biarlah adi Parama mengantar kita karena ia tahu, dimana guru itu tinggal. Kita akan menyerahkan pimpinan padepokan ini kepada adi Rantam, adi Windu dan Wikan. Meskipun Wikan terhitung muda, bahkan murid bungsu guru, tetapi ia memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh saudara-saudara seperguruannya”

Demikianlah, dihari berikutnya Ki Udyana dan Nyi Udyana telah berbicara dengan adik-adik seperguruannya yang membantunya memimpin padepokan itu. Kepada Ki Parama, Ki Udyana itu pun berkata, “Kita pergi untuk dua tiga hari. Kita akan menghadap guru untuk menyampaikan laporan tentang kedatangan paman Wigati serta murid-muridnya. Bahkan seorang berambut putih yang menyebut dirinya Ki Winenang bergelar Alap-alap Perak”

“Baiklah, kakang. Aku akan mengantar kakang esok pagi”

Hari itu Ki Udyana juga menemui adik-adik seperguruannya yang telah menuntut ilmu hingga tuntas. Mereka yang seharusnya sudah meninggalkan padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana itu. Tetapi ketika awan yang kelabu menyelubungi padepokan mereka, maka mereka pun sepakat untuk menunda kepergian mereka. Mereka sepakat untuk tetap berada di padepokan itu untuk beberapa pekan lagi. Bahkan ada diantara mereka yang berpendapat, bahwa mungkin sekali Ki Wigati akan datang lagi, justru akan mengajak perguruan yang lain.

“Paman Wigati tidak menjadi jera. Tetapi ia justru akan datang membawa dendam bersama perguruan yang lain. Mungkin perguruan orang yang menyebut dirinya Ki Winenang itu” berkata seorang diantara mereka yang sebenarnya sudah dapat meninggalkan padepokan karena sudah menuntaskan masa bergunanya.

“Memang mungkin sekali” sahut Wikan, “Kita memang harus tetap berhati-hati”

Sebenarnyalah sesuai dengan rencana, maka dikeesokan harinya Ki Udyana dan Nyi Udyana telah meninggalkan padepokan. Ia berpesan mawanti-wanti kepada mereka yang ditinggalkannya untuk tetap berhati-hati. Banyak kemungkinan dapat terjadi.

“Ya, kakang” jawab Ki Rantam, “Kami akan menjaga padepokan ini dengan baik”

Kepada Wikan Nyi Udyana pun berpesan, “Awasi para mentrik. Jaga pula Tatag dengan baik”

“Ya, bibi” sahut Wikan.

Ki Udyana dan Nyi Udyana pun telah minta diri kepada semua penghuni padepokan. Nyi Udyana pun telah berpesan dengan sungguh-sungguh kepada murid-murid perempuannya, agar mereka berbuat sebaik-baiknya sebagai murid perguruan yang dipimpin oleh Ki Udyana.

“Jangan nodai nama perguruan ini dengan cara apa pun juga“ pesan Nyi Udyana.

“Ya, guru” jawab para mentrik itu.

“Tanjung adalah kakak tertua diantara kalian. Ikuti petunjuk-petunjuknya. Bantu ia merawat anaknya yang nakalnya bukan main itu. Jangan tirukan kalau ia menangis”

Para murid perempuan itu tertawa. Mereka tahu, bahwa Tatag menjadi sangat marah kalau ada seseorang yang menirukan tangisnya.

Nyi Udyana pun tersenyum pula. Diciumnya anak yang diakunya sebagai cucunya itu sambil berkata, “Jangan membuat ibumu pusing ngger”

Tatag itu tertawa. Seakan-akan ia tahu pesan yang diucapkan oleh neneknya itu.

Demikianlah, maka Ki Udyana dan Nyi Udyana diantar oleh Ki Parama telah meninggalkan padepokannya menuju ke padukuhan Gebang. Jika Ki Margawasana tidak berada di Gebang, maka mereka harus ke Bukit Jatilamba. Namun jarak antara Jatilamba dan Gebang tidak begitu jauh.

Tetapi tidak sebagaimana kepergian Ki Margawasana ke Gebang beberapa waktu yang lalu. Ki Udyana, Nyi Udyana dan Ki Parama tidak menempuh perjalanan ke Gebang dengan berjalan kaki. Tetapi untuk menghemat waktu, maka mereka pun menempuh perjalanan mereka dengan berkuda. Dengan demikian mereka akan dapat menghemat waktu perjalanan lebih dari separonya.

Pagi-pagi selagi sinar matahari masih belum menyusup dedaunan dan jatuh di tanah, tiga ekor kuda berlari dengan kencang meninggalkan padepokan menuju ke Gebang.

Ketiga orang itu tidak menemui hambatan yang berarti di perjalanan. Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka mereka mulai mempertimbangkan apakah kuda-kuda mereka itu harus beristirahat.

“Baiklah kita beristirahat sebentar, kakang” berkata Ki Parama.

“Dimana kita dapat beristirahat?”

“Di tanggul kali itu. Kuda-kuda kita dapat minum dah makan rumput segar”

Ketiganya pun kemudian telah berhenti di pinggir sebuah sungai kecil. Mereka menambatkan kuda-kuda mereka di bawah sebatang pohon turi.

Ki Parama yang duduk bersandar sebatang pohon yang rindang, di semilirnya angin yang lembut, diluar sadarnya, matanya pun telah terpejam.

Ki Udyana dan Nyi Udyana yang melihat Ki Parama tertidur itu pun tersenyum. Matahari yang semakin tinggi panasnya semakin terasa menyengat. Karena itu, maka duduk dibawah sebatang pohon yang melindunginya dari sengatan sinar matahari, rasa-rasanya memang sulit untuk melawan kantuk. Apalagi angin berhembus perlahan mengusap wajah mereka.

“Biarkan saja” desis Ki Udyana. Nyi Udyana pun mengangguk-angguk.

Namun perhatian mereka pun kemudian tertarik pada sebuah iring-iringan di jalan itu. Seorang laki-laki muda yang menunggang kuda, diiringi oleh orang-orang yang pada umumnya berpakaian bagus dan rapi. Tetapi mereka hanya berjalan kaki.

Ki Udyana dan Nyi Udyana itu pun bangkit berdiri. Ketika iring-iringan itu lewat didepan mereka, maka Nyi Udyana pun berdesis, “Pengantin laki-laki. Pengantin itu tentu sedang menuju ke rumah Pengantin perempuan”

“Kenapa mereka memilih waktu yang kurang menguntungkan ini. Kenapa tidak tadi pagi sebelum matahari tinggi atau nanti setelah matahari turun. Mereka justru memilih disaat matahari hampir mencapai puncak”

“Bukankah keluarganya memperhitungkan saat terbaik. Keluarganya tentu memperhitungkan, saat matahari sampai di-mana mereka harus berangkat dari rumah.

“Kau lihat keringat di wajah anak muda yang naik kuda itu. Kau lihat pula, beberapa orang yang mengiringi itu berjingkat-jingkat saat mereka menginjak jalan yang panas, sehingga mereka harus memilih menginjak rerumputan yang tidak memanasi telapak kakinya.

Nyi Udyana tertawa. Katanya, “Ketika kau menikah, kau tidak datang ke rumah dengan naik kuda”

“Waktu itu aku tidak mempunyai kuda. Bahkan kambing pun aku tidak punya”

“Kalau kau punya kambing, apakah kau akan naik kambing?”

Ki Udyana tertawa.

Namun suara tertawanya pun segera terputus. Mereka melihat seorang anak muda yang melarikan kudanya diikuti oleh empat orang berkuda yang lain. Agaknya mereka sedang menyusul iring-iringan pengantin yang berjalan lambat, karena para pengiringnya tidak berkuda.

Ki Udyana dan Nyi Udyana tertegun. Mereka melihat sesuatu yang kurang wajar akan terjadi.

Sebenarnyalah, kelima orang berkuda itu menghentikan kuda mereka, demikian mereka berhasil menyusul iring-iringan itu. Seorang diantara mereka yang berkuda itu pun berkata lantang, “Berhenti. Berhentilah”

Iring-iringan itu pun segera berhenti. Orang berkuda yang menghentikan iring-iringan itu pun kemudian berkata lantang, “Dengarlah baik-baik. Yang akan pergi ke rumah pengantin perempuan bukan anak muda yang dungu itu. Anak muda yang tidak berani naik kuda sendiri, sehingga kendalinya harus dipegangi oleh orang lain. Tetapi yang akan menggantikannya adalah kemanakanku. Ia adalah anak muda yang pantas untuk menjadi pengantin laki-laki sore”

Seorang laki-laki bertubuh kekar, yang berjalan di sisi kuda yang ditumpangi pengantin laki-laki sambil memegangi kendalinya itu pun menyerahkan kendali kudanya kepada seorang yang lain. Orang yang bertubuh kekar itu pun melangkah mendekati orang berkuda yang menghentikan iring-iringan itu.

“Apa maksudmu?” bertanya orang bertubuh kekar itu.

“Aku sudah mengatakan dengan jelas. Yang akan pergi ke rumah Piyah adalah kemanakanku ini”

“Apa yang kau bicarakan itu? Bukankah sampai pada saat upacara yang akan dilaksanakan sore nanti, sudah dilalui beberapa tahap pembicaraan dan upacara-upacara pendahuluan? Anak muda ini sudah melakukan berbagai macam upacara. Sejak datang untuk memperkenalkan diri, nontoni asok tukon sampai upacara yang kcniarin dilakukan adalah padusan. Hari ini pengantin itu akan melakukan upacara nikah dan temu. Bagaimana mungkin begitu saja diganti oleh orang lain”

“Kami akan menukar berapa beaya yang telah kau keluarkan untuk melakukan upacara-upacara itu”

“Soalnya bukan berapa banyak beaya yang telah kami keluarkan. Tetapi kami sudah melewati tahap-tahap upacara itu sampai pada upacara terakhir yang akan dilakukan hari ini. Bukankah tidak mungkin untuk begitu saja digantikan oleh orang lain? Keluarga pengantin perempuan tidak akan mau menerima orang lain untuk menjadi suami Piyah yang sudah terlanjur menerima anak muda ini. Piyah pun agaknya sudah mantap pula dengan bakal suaminya itu”

“Tidak akan terjadi gejolak di rumah orang tua Piyah. Sekarang anak muda itu kembali. Biarlah kemanakanku ini yang akan berada didalam iring-iringan bersama kami berempat”

“Kenapa kalian tiba-tiba berniat mengganti pengantin laki-laki itu?” bertanya orang bertubuh kekar.

“Kau tidak perlu tahu. Yang penting, Piyah akan menjadi suami kemanakanku”

“Tidak. Aku tidak sependapat. Aku akan tetap membawa calon pengantin laki-laki ini ke rumah Piyah”

“Aku akan memaksa”.

Suasana pun menjadi tegang. Sementara itu, anak muda yang duduk di atas punggung seekor kuda itu hanya duduk diam sambil menundukkan wajahnya.

“Gila orang itu“ tiba-tiba saja terdengar gumam di belakang Ki Udyana. Ketika Ki Udyana dan Nyi Udyana berpaling, mereka melihat Ki Parama yang matanya masih agak kemerah-merahan.

“Ternyata kau terbangun juga adi” berkata Ki Udyana sambil tersenyum.

Ki Parama tersenyum pula. Katanya, “Udaranya terasa nyaman sekali dibawah pohon yang rindang itu. Agaknya aku tertidur untuk beberapa saat”

“Ya. Kau memang tertidur”

“Untung aku sempat melihat orang-orang gila yang akan menukar pengantin laki-laki itu dengan orang lain”

“Kita tunggu saja perkembangannya. Jangan kau campuri dahulu, adi”

Tetapi jangan-jangan aku terlambat”

“Tidak. Kau tidak akan terlambat seandainya calon pengantin itu sungguh-sungguh perlu pertolongan”

Ki Parama menarik nafas panjang.

Dalam pada itu, orang-orang berkuda itu pun telah berloncatan turun. Demikian pula anak muda yang akan menggantikan calon pengantin laki-laki itu.

Sambil bertolak pinggang, salah seorang dari keempat orang berkuda itu pun berkata, “Waktu kita tidak terlalu lama. Keluarga Piyah tentu sudah menunggunya. Karena itu, cepat, bawa laki-laki dungu itu pergi”

“Tidak” bentak orang yang bertubuh kekar, “Aku adalah pemimpin rombongan pengantar calon pengantin laki-laki ini. Karena itu aku bertanggung jawab bahwa calon pengantin laki-laki ini akan sampai ke rumah calon pengantin perempuan.

“Jika demikian, kami akan melakukannya dengan paksa. Kami akan membuat kau dan calon pengantin laki-laki itu pingsan. Aku perintahku semua pengiring tetap berada di tempatnya. Kalian harus mengiringi calon pengantin yang sebenarnya ini sampai ke rumah Piyah dan menunggui sampai upacara serah terima pengantin selesai. Selanjutnya kalian dapat pulang. Segala sesuatunya akan kami selesaikan dengan orang tua Piyah, sehingga upacara pernikahan sore nanti”

Beberapa orang laki-laki yang berada dalam iring-iringan itu pun serentak bergerak dan berdiri di sebelah menyebelah orang bertubuh kekar iiu. Seorang diantara mereka berkata, “Kami tidak akan mau menjalankan perintahku. Kami akan mempertahankan calon pengantin kami”

Keempat orang yang mengiringi anak muda itu pun menjadi marah. Apalagi anak muda yang akan menggantikan pengantin laki-laki itu. Mereka berlima pun kemudian telah menambatkan kuda mereka. Seorang diantara mereka berkata lantang, “Jika kalian mencoba melawan, maka kalian tentu akan menyesal. Kalau ada yang terbunuh diantara kalian, sama sekali bukan tanggung jawab kami. Kami sudah mencoba memperingatkan agar kalian tidak melibatkan diri.

“Kami tidak peduli. Tetapi kami tidak akan membiarkan calon pengantin laki-laki itu digantikan oleh orang lain“ berkala orang yang bertubuh kekar.

Namun salah seorang dari orang-orang berkudaitu pun berkata, “Bersiaplah. Kami akan memaksa kalian dengan kekerasan.

Sejenak kemudian, perkelahian pun telah terjadi. Ternyata orang yang bertubuh kekar, itu mampu memberikan perlawanan yang sengit. Namun orang-orang lain yang ikut dalam iring-iringan itu memang tidak banyak berarti bagi kelima orang berkuda itu, sehingga beberapa orang diantara mereka telah terpelanting jatuh. Yang lain bergeser surut menjauhi orang-orang berkuda yang garang itu.

“Nah, kakang” berkata Ki Parama, “Bukankah sudah waktunya untuk melibatkan diri”

Belum lagi Ki Udyana menjawab, mereka terkejut ketika mereka melihat, tiba-tiba saja calon pengantin laki-laki yang sejak semula duduk saja dengan kepala tunduk itu meloncat langsung dari punggung kuda. Tubuhnya berputar seperti gasing. Kemudian ia pun tegak berdiri di atas kedua kakinya dengan lunak.

Dengan geram ia pun berkata, “Siapa yang akan menggantikan aku menjadi calon pengantin laki-laki?”

Kelima orang berkuda itu tertegun sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka bertanya, “Siapa kau sebenarnya?”

“Aku sudah tahu, bahwa kalian akan melakukan hal ini. Karena itu, maka akulah yang kemudian menggantikan calon pengantin laki-laki itu. Sedangkan calon pengantin laki-laki yang sebenarnya sudah berada di rumah calon pengantin perempuan itu sejak tadi pagi”

“Iblis kau. Siapa kau sebenarnya?“ bertanya anak muda yang akan menggantikan calon pengantin laki-laki itu.

“Aku adalah saudara misan calon pengantin laki-laki itu. Sekarang, pergilah, jangan ganggu saudara misanku itu, atau kau akan berhadapan dengan aku”

“Setan alas. Kau kira kau ini siapa, he. Jadi atau tidak jadi aku menggantikan calon pengantin laki-laki, tetapi aku ingin mencincang kau disini”

“Jangan sombong. Kita buktikan, siapakah yang akan mampu mencincang lawannya”

Anak muda yang menjadi sangat kecewa dan marah itu tidak menunggu lagi. Ia pun segera menyerang anak muda yang berpura-pura menjadi pengantin laki-laki. Pertempuran pun segera berlangsung. Anak muda yang berpura-pura menjadi pengantin laki-laki itu bersama orang yang bertubuh kekar itu, melawan lima orang berkuda yang ingin mengganti calon pengantin laki-laki itu.

Ternyata kedua orang itu pun mampu mengimbangi lima orang lawannya. Kedua orang itu berloncatan mengambil jarak, namun kemudian mereka pun telah bergabung kembali dengan saling membelakangi?

“Nah, apakah kau akan turut campur?“ bertanya Ki Udyana kepada Ki Parama.

“Tidak kakang. Agaknya anak muda yang pura-pura menjadi calon pengantin laki-laki itu adalah murid dari Tapak Mega”

“Ya. Yang bertubuh kekar itu pun murid perguruan Tapak Mega pula”

“Kelima orang lawannya itu?“ desis Nyi Udyana.

Ki Udyana menggeleng. Katanya, “Aku tidak segera dapat mengenalinya. Mungkin perguruan mereka tidak lagi mengajarkan aliran murni dari sebuah perguruan. Atau setidak-tidaknya ciri-ciri dari sebuah perguruan. Sedangkan murid-murid Ki Rina-rina itu masih menunjukkan ciri-ciri perguruan Tapak Mega.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung beberapa lama. Ternyata bahwa kedua orang dari perguruan Tapak Mega itu mampu mengatasi lawan-lawan mereka, sehingga kelima orang itu pun akhirnya berlari meninggalkan arena dan berloncatan ke punggung kuda mereka.

Kedua orang dari perguruan Tapak Mega itu memang tidak mengejar mereka. Mereka membiarkan kelima orang itu kemudian melarikan kuda mereka seperti di kejar hantu.

Anak muda yang berpura-pura menjadi calon pengantin laki-laki serta orang yang bertubuh kekar itu pun kemudian telah menenangkan para pengiring yang gelisah.

“Nah, bukankah yang terjadi seperti yang telah kami beritahukan sebelumnya”

“Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan?“ bertanya seorang laki-laki yang sudah separo baya.

“Kita meneruskan perjalanan. Calon pengantin laki-laki yang sebenarnya itu tentu telah menunggu kedatangan kalian”

“Baiklah” berkata laki-laki separo baya itu, “Mudah-mudahan mereka tidak menjadi terlalu gelisah karena kelambatan kita”

“Mudah-mudahan” berkata anak muda yang berpura-pura menjadi calon pengantin laki-laki itu.

Namun dalam pada itu, sebelum mereka bergerak, Ki Udyana, Nyi Udyana dan Ki Parama pun telah mendekat. Dengan lunak Ki Udyana pun berkata, “Aku mengucapkan selamat atas keberhasilan angger mengelabuhi orang-orang itu. ngger”

Anak muda serta orang-orang dalam iring-iringan itu memandang ketiganya dengan curiga. Namun Ki Udyana pun berkata, “Salam buat Ki Rina-rina”

“Darimana Ki Sanak tahu, bahwa kami adalah murid-murid dari perguruan Tapak Mega yang dipimpin oleh Ki Rina-rina”

“Aku mengenal ciri-ciri dari aliran perguruan Tapak Mega ngger”

“Lalu sekarang, apa maksud Ki Sanak”

“Kami tidak mempunyai maksud apa-apa. Kami kebetulan berhenti di pinggir jalan untuk memberi kesempatan kuda-kuda kami minum dan makan. Ternyata di jalan ini lewat iring-iringan calon pengantin. Bahkan disusul dengan perselisihan sehingga timbul benturan kekerasan. Kami hanya menonton ngger. Kami tidak berniat apa-apa”

“Benar yang Ki Sanak katakan?“

“Aku mengerti bahwa angger mencurigai orang-orang yang tidak angger kenal seperti kami, karena angger baru saja mengalami perlakuan buruk dari sekelompok orang. Tetapi baiklah. Silahkan meneruskan perjalanan. Kami tidak mempunyai kepentingan apa-apa”

“Kalian bukan kawan-kawan dari kelima orang berkuda itu?“

”Bukan ngger. Bahkan jika angger tahu, kami ingin bertanya, siapakah mereka itu”

“Sudahlah. Kami tidak mempunyai banyak waktu. Kami akan meneruskan perjalanan. Yang terjadi hanyalah persaingan antara dua orang anak muda di padukuhan yang sama-sama mencintai seorang gadis. Kebetulan seorang diantara mereka saudara misanku. Itu saja”

Ki Udyana pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Silahkan. Salam buat Ki Rina-rina”

“Siapakah kalian sebenarnya?“

“Kami adalah keluarga dari sebuah perguruan yang dipimpin oleh Ki Margawasana”

“Ki Margawasana?“

“Ya”

“Guru pernah menyebut nama itu. Bahkan beberapa pekan yang lalu, seorang keluarga dari perguruan Ki Margawasana itu datang menemui guru”

“Siapa?“

“Namanya Ki Wigati”

“Ki Wigati? Ya. Itu adalah paman guruku”

“Siapa nama Ki Sanak. Jika aku bertemu dengan guru, aku akan menyebutnya. Mudah-mudahan guru mengenal nama itu”

“Namaku Mina. Ini adalah Nyi Mina dan yang seorang lagi adalah adik seperguruanku, Ki Parama”

“Baik. Aku akan sampaikan salam kalian kepada guru. Sekarang kami minta diri”

“Siapa namamu, anak muda?“

“Namaku Lumintu”

“Baiklah angger Lumintu. Silahkan melanjutkan perjalanan“

“Aku akan menyelamatkan pernikahan yang terganggu ini. Bukan karena calon pengantin laki-laki itu adalah saudara misanku, tetapi aku merasa wajib membantunya, siapa pun orangnya. Calon pengantin laki-laki ini agaknya benar-benar memerlukan bantuan berhadapan dengan seorang yang mendapat dukungan dari sekelompok orang yang memang sering mengganggu orang lain”

“Silahkan ngger. Mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak ada hambatan apa-apa lagi”

“Aku minta diri”

Anak muda itu pun kemudian bersama iring-iringannya telah melanjutkan perjalanan. Tetapi anak muda itu tidak lagi naik kuda. Kuda itu hanya dituntun saja tanpa ada seorang pun yang berada di punggungnya.

Sepeninggal anak muda perhatian Ki Udyana, Nyi Udyana dan Ki Parama pun segera berubah. Dengan sedikit bimbang Nyi Udyana pun berkata, “Jadi paman Wigati sudah mencoba menghubungi Ki Rina-rina dari perguruan Tapak Mega”

“Ini menarik, Nyi” sahut Ki Udyana, “Kita harus memberitahukan kepada guru. Agaknya usaha paman Wigati untuk menguasai padepokan kita itu bersungguh-sungguh”

“Paman datang beberapa pekan yang lalu, kakang” berkata Ki Parama, “mungkin sebelum paman datang ke padepokan kita”

“Ya. Mungkin sekali”

“Agaknya paman Wigati benar-benar telah termakan oleh fitnah yang dilontarkan oleh orang berambut putih yang menyebut dirinya Ki Winenang bergelar Alap-alap Perak itu.

“Ya. Kita memang harus segera bertemu dengan guru.

Demikianlah, maka ketiga orang itu pun segera melanjutkan perjalanan. Iring-iringan calon pengantin yang hanya pura-pura itu sudah menjadi semakin jauh. Di teriknya sinar matahari nampak debu yang putih menghambur di belakang iring-iringan itu.

Ki Udyana, Nyi Udyana dan ki Parama pun segera meneruskan perjalanan. Kuda-kuda mereka pun berlari semakin cepat. Rasa-rasanya mereka ingin segera sampai di Gebang.

Gebang memang sudah tidak terlalu jauh lagi. Lewat tengah hari mereka memasuki jalan yang langsung menuju ke padukuhan Gebang.

Ketiganya pun kemudian berhenti didepan sebuah regol halaman yang luas. Dengan nada dalam Ki Parama pun berkata, “Inilah rumah peninggalan dari orang tua guru”

“Rumah yang besar serta halaman yang luas” desis Nyi Udyana, “bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun aku menjadi muridnya, namun baru sekarang aku melihat rumah guru yang sebenarnya. Selama ini yang aku kenal hanyalah padepokan kita. Rasa-rasanya padepokan itu pulalah tempat tinggal guru sejak di lahirkan”

“Ternyata rumah peninggalan itu cukup besar. Halamannya pun cukup luas”

“Lebih dari yang dapat kita lihat, kakang” sahut Ki Parama, “tanah milik guru memang luas sekali. Bahkan bukit kecil itu adalah milik leluhur guru. Tetapi agaknya guru kurang berminat terhadap peninggalan yang sangat berharga jika dinilai dengan uang. Hidup guru terasa lebih berarti untuk tinggal di padepokan kita”

Ki Udyana dan Nyi Udyana mengangguk-angguk.

Demikianlah mereka bertiga pun menuntun kuda mereka memasuki halaman rumah yang luas itu.

Seorang yang melihat kedatangan mereka pun segera menyongsong dan bertanya, “Maaf Ki Sanak. Ki Sanak ingin bertemu dengan siapa?“

“Kami ingin menghadap Ki Margawasana, Ki Sanak” jawab Ki Udyana.

“Ki Margawasana tidak sedang berada disini, Ki Sanak. Sudah lebih dari sepekan, Ki Margawasana tidak turun”

“Jadi maksud Ki Sanak, Ki Margawasana berada di bukit Jatilamba?“

“Ya. Ki Margawasana berada di Bukit Jatilamba”

“Kalau begitu, biarlah kami langsung saja pergi ke bukit Jatilamba”

“Apakah Ki Sanak sudah tahu tempatnya? Jika belum, biarlah seseorang mengantarkan Ki Sanak”

“Sudah” jawab Ki Parama, “Aku pernah pergi ke bukit Jatilamba”

“Jika demikian, silahkan” Ketiga orang itu pun kemudian meninggalkan regol halaman yang luas itu dan langsung menuju ke bukit Jatilamba.

Ki Udyana dan Nyi Udyana sangat tertarik kepada lingkungan yang ada di sekitar bukit Jatilamba. Bukit kecil yang ditumbuhi oleh berbagai macam pohon raksasa yang umurnya tentu sudah berpuluh bahkan tentu ada yang sudah lebih dari seratus tahun. Namun di bukit itu hanya ada sebatang saja pohon jati, yang umurnya juga sudah terlalu tua.

Air yang bening yang gemericik di bawah bukit yang ternyata dapat mengairi beberapa bahu sawah di sekitar bukit Jatilamba itu, sehingga para petani merasa sangat berterima kasih kepada keluarga Ki Margawasana.

Demikianlah ketiga orang berkuda itu pun mulai mendaki bukit kecil itu. Di sebelah menyebelah lorong kecil itu berjajar pohon gayam yang sedang berbuah.

“Aku kerasan tinggal di sini, kakang” desis Ki Parama.

“Ya. Udaranya segar segar sekali. Kita seakan-akan berada di tengah-tengah hutan yang terpelihara rapi. Pohon-pohon raksasa itulah yang mengikat air hujan dan muncul kembali sebagai mata air di kaki bukit kecil ini” desis Ki Udyana.

Beberapa saat kemudian, mereka pun mendekati sebuah lingkungan yang dibatasi dengan pagar bambu. Ditengah-tengah lingkungan itu terdapat sebuah rumah kecil yang juga terbuat dari bambu.

Nyi Udyana itu pun menarik nafas panjang. Hampir diluar sadarnya Nyi Udyana pun berkata, “Kakang. Bukankah kita juga pernah mencoba tinggal di sebuah rumah bambu di satu lingkungan yang kita beri berpagar bambu. Disekeliling rumah kita terdapat berbagai macam tumbuh-tumbuhan. Tetapi bukan pohon-pohon raksasa seperti ini. Yang hidup di sekitar rumah kita itu adalah pohon buah-buahan. Pohon kelapa dan tanaman lain seperti kebanyakan tanaman di pategalan”

“Ya. Akhirnya kita tinggalkan rumah itu dan kita pun tinggal di padepokan. Bahkan kemudian kita telah dibebani tugas oleh guru untuk mengasuh padepokan itu”

Keduanya pun mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, mereka bertiga yang sudah sampai di regol halaman berpagar bambu itu segera meloncat turun. Merekapun menuntun kuda mereka memasuki halaman yang nampak berrsih dan terpelihara rapi.

Ketiganya terkejut ketika mereka tiba-tiba saja mendengar suara, “Agaknya karena kedatangan kalian inilah, maka burung prenjak berkicau sepanjang hari. Sejak fajar hingga sekarang”

Ketika mereka mengedarkan pandangan mereka, maka mereka melihat Ki Margawasana berjalan dari antara segerumbul tanaman di sebelah rumah bambu itu.

“Guru” desis ketiga orang itu hampir berbareng.

“Selamat datang di pondokku. Bagaimana keadaan kalian dan seisi padepokan?“

“Semuanya baik-baik saja guru” jawab Ki Udyana, “bagaimana dengan guru?“

“Aku baik-baik saja sebagaimana kalian lihat” jawab Ki Margawasana. Dipersilahkannya ketiga orang muridnya itu  pun kemudian masuk ke dalam pondok bambunya.

Sejenak kemudian, ketiganya sudah duduk di ruang tengah di temuj oleh Ki Margawasana.

“Guru sendiri saja disini?“

“Ya. Aku sendiri saja”

“Tidak ada orang yang melayani guru. Maksudku yang merebus air, menanak nasi, mencuci pakaian dan sebagainya?

Ki Margawasana itu pun tersenyum. Katanya, “Aku harus dapat melakukannya sendiri. Dan aku memang melakukannya. Jika ada orang lain yang melakukannya begitu, lalu apa yang harus aku kerjakan disini? Tidur, makan dan minum minuman hangat?“

Ketiga orang muridnya itu pun mengangguk-angguk, sementara Ki Margawasana sambil tersenyum berkata, “Kerja itu sangat menarik bagiku. Selain aku mempunyai kesibukan, kerja itu pun memberi kesempatan tubuhku bergerak. Menimba air, membelah kayu bakar, menyapu halaman dan mencuci pakaian”

“Ya, guru“ Ki Udyana pun mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang silahkan duduk. Aku akan merebus air bagi kalian”

“Tidak guru. Jangan. Biarlah aku saja yang pergi ke dapur”

“Kau belum pernah melihat dapur rumahku ini. Kau pun tidak tahu dimana aku meletakkan bahan-bahan mentahku. Kau tidak tahu dimana aku menyimpan gula kelapa dan lain-lain”

“Aku akan mencari, guru. Bukankah semuanya ada di dapur?“

“Baiklah. Kau tentu akan dapat menemukannya” Nyi Udyana pun kemudian segera pergi ke dapur. Sementara itu Ki Udyana dan Ki Parama masih duduk di ruang dalam bersama Ki Margawasana.

Ki Margawasana sempat menceriterakan lingkungan bukit kecilnya. Tentang sendang yang mata airnya terhitung deras. Kemudian dibuatnya belumbang untuk memelihara berbagai jenis ikan. Kemudian dibuatnya parit untuk mengalirkan air sendangnya yang melimpah ke tanah persawahan.

“Para petani tentu sangat berterima kasih kepada guru”

“Ya. Mereka memang berterima kasih kepadaku. Tetapi bukankah mata air yang timbul dari dalam tanah itu bukan karena kuasaku. Aku minta kepada mereka agar mereka pertama-tama berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”

Ki Udyana dan Ki Parama pun mengangguk-angguk.

Ki Margawasana juga bercerita tentang padang rumput di kaki bukit kecil itu.

“Aku membuat kandang ternak di padang rumput itu. Aku tidak perlu membawa ternakku digembalakan kemana-mana. Aku biarkan saja ternak itu berkeliaran di padang rumput. Di malam hari serta jika hari hujan, maka ternak-ternak itu akan berteduh di kandang”

“Apakah ternak-ternak itu tidak pergi jauh, guru?” bertanya Ki Parama.

“Aku membuat pagar bambu disekeliling padang rumput itu”

“Jadi guru memagari padang rumput?”

“Ya. Aku menghabiskan beberapa rumpun bambu” jawab Ki Margawasana sambil tertawa.

Pembicaraan itu pun terhenti. Nyi Udyana telah masuk ke ruang dalam sambil membawa beberapa mangkuk minuman hangat. Wedang sere dengan gula kelapa.

“Kau jangan pergi lagi. Nyi” berkata Ki Margawasana.

“Tidak guru. Aku akan ikut minum minuman hangat. Tentu segar sekali”

Ki Margawasana tertawa. Katanya, “Kau sendirilah yang membuat hidangan bagi dirimu sendiri” Yang lain pun tertawa pula.

“Justru akulah yang sekarang menjadi tamu” berkata Ki Margawasana pula.

“Ya guru. Tetapi maaf, bahwa aku telah lancang pada saat aku berada di dapur”

“Kenapa?“

“Aku telah menanak nasi, guru”

“He?”

“Kami memang mulai merasa lapar. Karena itu, ketika aku menemukan sebakul beras, maka aku pun segera menanak nasi seberuk peres”

“Ah, kau Nyi” desis Ki Udyana.

“Tidak apa-apa. Aku memang belum menanak nasi. Tadi pagi aku makan ketela bakar” sahut Ki Margawasana.

Tetapi Ki Margawasana itu pun kemudian berkata, “Tetapi biarkan saja Nyi. Nanti akan masak sendiri. Sekarang, kau duduk saja disini. Aku ingin tahu, apakah kalian mempunyai keperluan yang penting, atau kalian sekedar ingin mengunjungi rumahku ini”

“Guru“ Ki Udyanalah yang menjawab, “Kami menghadap guru untuk mengetahui tempat tinggal guru sekarang. Namun disamping itu, kami pun ingin menyampaikan laporan kepada guru tentang peristiwa terakhir yang terjadi di padepokan”

“Peristiwa apa?”

Ki Udyana pun kemudian telah melaporkan apa yang telah terjadi di padepokan. Kedatangan Ki Wigati yang kemudian telah menimbulkan benturan kekerasan diantara keluarga yang memiliki ilmu dari aliran yang sama. Dahi Ki Margawasana pun berkerut dalam. Ia mendengarkan laporan Ki Udyana dengan sungguh-sungguh. Kalimat, demi kalimat. Kata demi kata.

“Dalam benturan kekerasan itu telah jatuh korban pula, guru. Korban di kedua belah pihak”

“Sungguh satu peristiwa di luar dugaan. Kenapa tiba-tiba Wigati menjadi seperti orang kesurupan”

“Ia memang kesurupan, guru. Seorang yang berambut putih. Ia mengaku bernama Ki Winenang yang bergelar Alap-alap Perak”

“Alap-alap Perak?”

“Ya, guru”

“Jadi Alap-alap Perak ada di belakang peristiwa ini” Ki Margawasana menarik nafas panjang.

Sementara itu, Ki Udyana pun berkata, “Kami mohon maaf guru, bahwa kami akan menyampaikan pertanyaan yang dikatakan oleh Alap-alap Perak itu kepada Wikan tentang guru serta tentang padepokan kita”

“Apa katanya?”

“Guru. Menurut Alap-alap Perak, di bawah padepokan kita itu terdapat kandungan yang sangat mahal harganya. Paman juga mengatakan hal itu. Tetapi paman tidak mau berterus-terang, apakah yang dimaksud dengan kandungan yang tidak ternilai harganya itu. Sedangkan menurut Alap-alap Perak yang dikatakan kepada Wikan, dibawah padepokan itu telah guru sembunyikan harta karun yang tidak ternilai harganya”

Ki Margawasana menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Udyana berkata selanjutnya, “Alap-alap Perak mengaku, bahwa sekitar lima belas tahun yang lalu, guru telah datang ke sarangnya untuk mengambil harta karun yang telah dikumpulkannya. Bahkan menurut Alap-alap Perak, guru telah berusaha menguasai harta karun yang guru ambil bersama beberapa orang itu dengan melenyapkan kawan-kawan guru dalam perampokan itu”

“Itukah yang dikatakannya?”

“Ya guru. Tetapi tentu kami tidak dapat mempercayainya. Itulah sebabnya kami menghadap guru untuk mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi lima-belas tahun yang lalu, serta apa yang sebenarnya tersembunyi di padepokan kita. Tentu bukan harga karun yang sebenarnya sebagaimana dikatakan oleh Alap-alap Perak itu”

Ki Margawasana pun kemudian mengangguk-angguk. Ia pun kemudian mengusap keringatnya yang membasahi keningnya.

“Udyana suami isteri dan kau Parama. Ternyata Alap-alap Perak itu masih tetap mendendamku. Memang sekitar lima belas tahun yang lalu, aku bersama beberapa orang saudara seperguruanku mendapat tugas dari guruku untuk mengambil kembali, lambang pewarisan kedudukan pemimpin padepokan kami yang telah dicuri oleh Alap-alap Perak. Lambang pewarisan kedudukan itu berbentuk lingkaran yang berjumlah lima buah. Disamping yang lima buah itu terdapat sebuah lingkaran yang lebih besar. Dengan alat itu pula, aku telah melakukan upacara menyerahkan kedudukanku kepadamu, Udyana. Namun menurut kepercayaan Alap-alap Perak, serta desas-desus yang tersebar waktu itu, lingkaran yang besar itu merupakan lingkaran yang seharusnya merupakan bingkai dari sebuah surya-kanta yang besar. Jika Surya-kanta itu diketemukan, maka lewat kelima buah lingkaran yang ada, sinar matahari yang menembus surya-kanta dan membuat bayangan kelima lingkaran itu menyatu, maka segala benda yang disentuh pusat nyala surya-kanta itu akan dapat menjadi emas. Karena itulah, maka benda itu telah diincar oleh Alap-alap Perak dan dicurinya dari padepokan kami waktu itu. Namun guru tahu, bahwa benda itu telah dicuri dan berada di sarang Alap-alap Perak tua. Maksudku, guru Alap-alap Perak yang datang kepadamu itu. Guru pun memerintahkan kami sepuluh orang untuk mengambil benda itu. Diantara kami bersepuluh tidak terdapat Wigati yang waktu itu sedang mendapat tugas yang berbeda”

Ki Udyana, Nyi Udyana dan Ki Parama mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Mereka bertiga diluar sadar, telah mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Dengan nada berat Ki Udyana pun kemudian berkata, “Jadi, yang disebut harta karun yang tidak ternilai harganya itu adalah alat upacara penyerahan kekuasaan itu, guru”

“Ya. Mungkin sekarang Alap-alap Perak itu menemukan surya-kanta yang seharusnya berada dalam bingkainya, lingkaran yang besar itu. Agaknya ia yakin, bahwa ia akan dapat membuat emas dengan alat itu, sehingga ia telah membujuk dan mungkin membuat ceritera palsu kepada Wigati”

“Mungkin guru. Paman Wigati yang sikapnya rapuh itu dapat dengan mudah dipengaruhi oleh Alap-alap Perak, “Ki Udyana berhenti sejenak, lalu dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Tetapi apakah benar bahwa jika Surya-kanta itu diketemukan, maka lingkaran-lingkaran itu akan dapat dipergunakan untuk membuat emas?”

“Tentu tidak, Udyana. Nilai dari benda itu tidak pada kegunaannya. Tetapi kita pergunakan dalam satu upacara sebagai lambang mewarisan kekuasaan disamping sebilah keris sebagaimana aku serahkan kepadamu”

Ki Udyana itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Jika guru mengijinkan, biarlah aku menemui paman Wigati. Aku akan menjelaskan persoalan yang sebenarnya, agar paman Wigati tidak saja terus-menerus dibayangi oleh fitnah Alap-alap Perak itu”

Bukan hanya kau yang akan menemuinya, Udyana. Tetapi aku sendiri akan datang kepadanya. Malam ini kau bermalam saja disini. Esok pagi-pagi kita pergi ke padepokan Wigati. Mudah-mudahan dengan berkuda, menjelang malam kita sudah sampai ke padepokannya. Aku sendiri yang akan berbicara dengan Wigati. Mudah-mudahan Alap-alap Perak itu ada pula di padepokan itu, sehingga aku pun akan dapat memberikan penjelasan kepadanya. Jika benar ia menemukan Surya-kanta itu, maka biarlah ia mencoba, mempergunakan alat yang pernah dicurinya itu untuk membuat emas. Ia akan meyakini bahwa desas-desus itu adalah bohong sama sekali. Agaknya pada waktu itu memang ada pihak-pihak yang ingin menyingkirkan benda upacara itu dari padepokan kami. Dengan desas-desus itu, maka tentu banyak orang yang ingin mencurinya. Ternyata benda upacara itu benar-benar telah dicuri”

Ki Udyana menarik nafas panjang. Katanya, “Adalah kebetulan sekali jika guru sendiri berniat untuk menemui Ki Wigati”

“Ya. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat. Nanti sore kita pergi ke Gebang. Aku akan mengambil seekor kuda yang besok akant aku pakai menemui Wigati”

Dengan demikian, maka mereka berempat telah menetapkan, esok pagi-pagi sekali mereka akan berangkat ke padepokan yang dipimpin oleh K i Wigati.

Dalam pada itu, maka Nyi Udyana pun segera teringat kepada nasi yang sedang ditanaknya. Karena itu, setelah pembicaraan mereka selesai, maka Nyi Udyana pun segera pergi ke dapur. Ternyata api di perapiaan sudah hampir padam, sehingga Nyi Udyana harus mempergunakan seikat belarak kering untuk menyalakannya kembali.

Namun dalam pada itu, maka Ki Margawasana pun berkata kepada Ki Udyana dan Ki Parama, “Bantulah Nyi Udyana. Tangkaplah beberapa ekor ikan di belumbang untuk lauk, agar kita tidak makan nasi hangat hanya dengan garam saja”

Ki Udyana dan Ki Parama pun segera dibawa ke belumbang oleh Ki Margawasana. Tidak terlalu sulit untuk menangkap beberapa ekor ikan yang besar-besar yang hampir memenuhi beberapa belumbang.

“Aku jarang sekali menangkap ikan” berkata Ki Margawasana.

“Belumbang di padepokan kita berisi ikan cukup banyak, guru. Tetapi tidak sebanyak ini. Apalagi sekali-sekali belumbang di padepokan kita di panen ikannya”

Ki Margawasana tertawa. Sejak ia berada di padepokan, di padepokan itu telah dibuat beberapa belumbang untuk diisi dengan berbagai jenis ikan.

Menjelang sore, maka nasi serta lauknya, ikan gurameh serta dadar telur telah siap. Nyi Udyana pun telah membuat sambal pula untuk melengkapinya.

Demikianlah, maka Ki Udyana, Nyi Udyana dan Ki Parama malam itu bermalam di rumah kecil Ki Margawasana. Rumah yang dipergunakannya untuk mengasingkan diri, meskipun tidak sepenuhnya meninggalkan hidup beberayan. Namun di rumah kecil itu, Ki Margawasana berusaha untuk menemukan keheningan didalam dirinya. Dari rumah kecilnya itu Ki Margawasana berusaha mengambil jarak dari unsur-unsur keduniawian Meskipun ia tidak akan dapat meninggalkannya sepenuhnya, tetapi dengan jarak yang memadai, Ki Margawasana akan dapat melihat lebih jelas daripada jika ia masih berada di dalamnya,

Tetapi menjelang senja, mereka pun telah turun dan pergi ke rumah warisan yang berada di Gebang. Ki Margawasana akan mengambil seekor kuda yang esok pagi-pagi akan dipergunakannya pergi ke padepokan Ki Wigati.

Ketika Ki Udyana, Nyi Udyana dan Ki Parama sempat memasuki rumah Ki Margawasana yang berada di Gebang, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Rumah yang besar dan bagus buatannya itu telah ditinggalkannya dan hidup dengan cara yang sangat sederhana di atas bukit. Bahkan Ki Margawasana yang sudah menjadi semakin tua itu harus melayani dirinya sendiri.

“Seseorang sering memburu kebutuhan duniawi dengan berlebihan, guru. Ada orang yang ingin mempunyai rumah yang besar dan bagus, sehingga berbuat apa saja asal berhasil mengumpulkan uang untuk memenuhi keinginannya. Tetapi guru meninggalkan rumah seisinya, pelayanan serta segala macam kebutuhan dan tinggal di atas bukit kecil itu. Sementara kelengkapan duniawi ada dihadapan hidung guru”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Aku telah berusaha untuk tidak menikmati kesenangan duniawi ini. Kesengajaan untuk tidak menikmati kesenangan duniawi itulah yang merupakan laku bagiku untuk dapat membuka hatiku mengamati perjalanan waktuku. Aku tidak pernah menolak atau membelakangi semuanya ini. Tetapi aku sadari, bahwa ada diantara sesamaku yang tidak sempat memiliki seperti yang aku miliki”

Ketiga orang murid Ki Margawasana itu mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, ketika Ki Margawasana sedang sibuk mempersiapkan kudanya, maka seorang dari keluarganya yang tinggal di rumah itu mengatakan, bahwa pintu rumah itu seakan-akan tidak pernah ditutup bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya pintu pringgitan dan pintu seketeng, tetapi juga pintu lumbungnya.

“Orang-orang disekitar rumah ini yang kekurangan dapat mengambil padi di lumbung di belakang rumah ini seperti mengambil di lumbunnya sendiri”

Ketiga orang murid Ki Margawasana itu hanya dapat mengangguk-anguk saja. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Bukan hanya padi tetapi apa saja yang mereka perlukan yang ada di rumah ini dapat saja mereka pergunakan”

Orang seperti Ki Margawasana itulah yang dituduh oleh Alap-alap Perak pernah merampoknya dan bahkan kemudian menyingkirkan kawan-kawannya untuk menguasai seluruh hasil rampokannya itu sendiri.

Beberapa saat mereka berada di Gebang. Namun kemudian ketika hari mulai gelap, mereka pun telah kembali ke atas bukit.

Untunglah bahwa mereka yang berjalan beriringan itu adalah orang-orang yang memiliki penglihatan yang tajam, sehingga meskipun lorong yang mereka lewati itu gelapnya bukan main, namun mereka tidak terlalu banyak mengalami kesulitan.

Malam itu, ketiga orang murid Ki Margawasana itu pun bermalam di rumah bambunya. Mereka tidur di sebuah amben yang besar di ruang tengah. Sebuah lampu minyak menyala disudut ruangan. Cahayanya menggeliat di sentuh oleh angin yang menyusup lubang-lubang dinding bambu.

Terasa dingin malam seakan-akan sampai menusuk tulang. Terdengar gemerisik dedaunan yang bergoyang oleh hembusan angin malam.

Pagi-pagi sekali mereka bertiga pun sudah bangun. Ki Parama pun segera pergi ke sumur untuk menimba air. Sementara Nyi Udyana segera sibuk pula di dapur, sementara Ki Udyana membantu Ki Margawasana menyapu halaman depan yang ditaburi oleh dedaunan yang kuning yang runtuh semalam oleh goncangan angin yang agak keras.

Namun sebelum matahari terbit, mereka sudah selesai berbenah diri. Mereka pun telah minum minuman hangat dengan gula kelapa. Nyi Udyana telah merebus ketela pohon yang pagi-pagi tadi dicabutnya di halaman belakang.

Sebelum matahari terbit, maka mereka berempat pun telah meninggalkan bukit Jatilamba. Mereka menuruni lorong yang disebelah menyebelahnya ditumbuh pohon gayam.

“Siapa yang sering memetik buah gayam disebelah menyebelah lorong ini guru?“ bertanya Ki Parama.

“Anak-anak dari Gebang sering bermain sampai kemari. Merekalah yang sering memetik buah gayam. Tetapi mereka adalah anak-anak yang baik. Mereka selalu datang lebih dahulu kepadaku untuk minta ijin apa pun yang akan diambilnya di bukit ini dan sekitaranya. Bahkan jika mereka ingin mengail ikan. Tidak di belumbang tentu saja. Tetapi di parit yang menampung air sendang yang melimpah. Ternyata di parit-parit itu juga banyak terdapat ikan. Orang-orang yang mengairi sawahnya dari parit itu, juga sering panen ikan di samping panen padi atau jenis tanaman yang lain”

Ki Parama mengangguk-angguk. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya buah gayam itu bergayutan di cabang-cabangnya.

Beberapa saat kemudian, ketika mereka sudah berada di ngarai, maka mereka pun telah melarikan kuda mereka. Mereka akan menempuh perjalanan jauh. Jika saja tidak ada hambatan apapun, maka menjelang malam mereka sudah akan berada di padepokan Ki Wigati. Ruasruas jalan yang akan ditempuhnya masih ada yang agak sulit dilewati, sehingga perjalanan mereka akan menjadi sangat lambat. Tetapi ada ruas-ruas jalan yang sudah menjadi lebih baik, sehingga kuda-kuda mereka dapat berlari lebih cepat.

Di perjalanan itu, Ki Udyana sempat memberitahukan bahwa Ki Wigati ternyata telah menemui Ki Rina-rina dari perguruan Tapak Mega sebelum Ki Wigati datang ke padepokan yang dipimpin oleh Ki Udyana.

“Jadi Wigati sudah menemui Ki Rina-rina?”

“Ya, guru”

“Siapa yang mengatakan kepadamu?”

“Salah seorang murid Ki Rina-rina yang kebetulan kami jumpai di jalan. Murid Ki Rina-rina itu sedang berusaha menyelamatkan seorang anak muda yang akan menikah, tetapi diganggu oleh anak muda yang lain, yang didukung oleh sekelompok orang-orang upahan”

“Kalau perlu kita juga akan singgah di padepokan Ki Rina-rina di pinggir Kali Bagawanta. Kita minta penjelasan kepadanya, untuk apa Wigati menemuinya”

“Tetapi bukankah kita akan menemui paman Wigati lebih dahulu, guru?”

“Ya. Kita akan menemui Wigati lebih dahulu” Dalam pada itu, ketika matahari naik semakin tinggi, mereka berempat pun melarikan kuda mereka semakin cepat. Tetapi jika mereka sampai di ruas jalan yang sulit, maka kuda-kuda mereka pun merayap seperti siput.

Di tengah hari, ketika matahari sampai ke puncak, maka mereka berempat pun telah beristirahat di sebuah kedai di dekat pasar yang ramai. Mereka memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat. Seseorang yang bertugas di kedai itu telah memberikan makan dan minum kepada kuda-kuda yang mulai lelah itu.

Namun bukan hanya kuda-kuda mereka saja yang menjadi haus. Tetapi para penunggangnya pun menjadi haus pula. Bahkan meskipun belum terasa lapar, namun mumpung mereka sedang berhenti, mereka pun telah memesan makan pula.

Ternyata Ki Margawasana yang seakan-akan telah mengasingkan dirinya itu tidak menolak ketika Ki Udyana menawarkan minuman dan makan kepadanya.

Sambil menghirup minumannya, Ki Parama sempat mengedarkan pandangannya melihat-lihat beberapa orang yang berada di dalam kedai itu. Ternyata kedai itu termasuk kedai yang banyak dikunjungi orang. Mereka yang baru selesai berbelanja di pasar dan ingin beristirahat sebentar. Tetapi juga para pedagang yang menggelar dagangannya di pasar itu.

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 14

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s