TT-12


kembali | lanjut

TT-12JANGAN banyak bicara iblis betina. Seandainya kau lindungi lehermu dengan lapisan baja sekalipun, aku akan mengoyaknya”

Nyi Mina tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian bergeser selangkah maju.

Alap-alap itulah yang meloncat menyerangnya dengan garangnya. Kedua tangannya yang menggenggam gelang-gelang bergerigi itu terayun-ayun mengerikan.

Namun ketika gerigi gelang-gelangnya menyambar selendang Nyi Mina yang membalut tangan kirinya dari pergelangan hampir sampai ke siku itu, maka Alap-alap itu terkejut. Gerigi gelang-gelangnya itu bagaikan menggores keping baja yang sangat kuat.

Alap-alap itu terkejut. Ia baru menyadari bahwa selendang itu tentu bukan selendang kebanyakan.

Tetapi hanya tangannya dari pergelangan sampai ke-sikunya sajalah yang terlindung. Masih ada bagian-bagian lain di tubuh perempuan tua itu yang lemah, yang akan dapat digoresnya dengan gerigi gelang-gelangnya. Bahkan lehernya pun masih akan dapat dikoyaknya.

Dengan demikian, maka pertempuran diantara Nyi Mina melawan Alap-alap Alas Roban itu pun menjadi semakin sengit. Sementara itu, mereka yang menyaksikan pertempuran itu diluar arena, menjadi semakin tegang pula. Mereka tidak segera dapat menduga, siapakah yang akan dapat keluar dari areria pertempuran itu. Namun agaknya mereka telah benar-benar bertempur antara hidup dan mati.

Senjata yang berbahaya itu sudah mulai ikut berbicara, sehingga mendekatkan mereka yang bertempur itu kepada ke-matian. Tetapi siapakah yang akan mati itulah yang masih belum dapat diduga-duga. Agaknya mereka semuanya itu mempunyai kesempatan yang sama. Mereka masing-masing dapat memenangkan pertempuran itu, tetapi mereka pun dapat terlempar dan mati terbaring di halaman kedar itu.

Namun kemudian ternyata bahwa Nyi Mina itu telah membuat lawannya menjadi semakin gelisah. Selendangnya yang dibalutnya pada tangannya itu mampu menahan tajamnya gerigi gelang-gelang di kedua tangan Alap-alap Alas Roban.

Sementara itu, Ki Mina yang juga sudah tergores pula, bahkan di dadanya, meskipun hanya goresan yang tipis, namun bajunyalah yang terkoyak panjang menyilang.

Namun meskipun lukanya hanya tipis di kulitnya, tetapi darahnya telah mulai menodai bajunya yang terkoyak itu.

Kemarahan Ki Mina pun bagaikan membakar ubun-ubunnya. Tetapi seperti Nyi Mina, Ki Mina masih belum berniat melumatkan lawannya dengan ilmu pamungkasnya.

Karena itu, untuk melawan gerigi tajam pada gelang-gelang di kedua tangan Alap-alap itu, maka Ki Mina telah mengurai ikat kepalanya, sehingga rambutnya yang sudah ubanan itu tergerai menyentuh bahunya.

Seperti selendang Nyi Mina, maka ikat kepala Ki Mina itu bukan ikat kepala kebanyakan. Ketika gerigi tajam pada gelang-gelang Alap-alap Alas Kobar itu menyentuhnya, ikat kepala yang dibalutkan pada tangan Ki Mina sebagaimana selendang Nyi Mina tu, sama sekali tidak menjadi cacat Apalagi terkoyak, selembar benangnya pun tidak ada yang putus.

Dengan demikian maka Alap-alap Alas Roban itu menjadi semakin gelisah. Geriginya tidak mampu lagi menyentuh kulit Ki Mina yang bergerak semakin cepat. Menangkis dengan tangannya yang dibalut ikat kepalanya, bahkan serangan-serangannya justru semakin sering mengenainya.

Alap-alap Alas Kobar itu adalah orang-orang terpenting di perguruannya. Ia adalah orang-orang yang berada pada tataran teratas. Namun ia sama sekali tidak mampu mengatasi laki-laki tua yang tidak dikenalnya itu.

Karena itu, maka Alap-alap Alas Roban itu tidak ingin mati di tangan orang yang sama sekali tidak dikenal diantara orang-orang yang bernama besar. Dalam keadaan yang paling sulit itu, maka Alap-alap Alas Roban itu pun memutuskan untuk menghancurkan lawannya selagi ia masih sempat.

“Aku tidak mempunyai cara lain untuk menghancurkannya. Aku harus melumatkannya menjadi abu”

Namun Ki Mina tidak memberinya banyak kesempatan. Karena itu maka yang dilakukan oleh Alap-alap Alas Roban itu serba tergesa-gesa. Ia tidak sempat memusatkan nalar budinya secara utuh untuk melontarkan ilmu pamungkasnya.

Dengan demikian, maka ketika segumpal api meluncur dari kedua telapak tangannya yang menghentak, maka kekuatan Aji Raga Geni itu pun tidak berada pada puncaknya.

Ki Mina tidak berusaha melawan dengan ilmu puncaknya. Tetapi ia justru meloncat menghindari serangan itu. Namun sejenak kemudian tubuhnya meluncur seperti anak panah. Kakinya terjulur menyamping.

Ki Mina telah mengerahkan tenaga dalamnya dalam kekuatan Aji Sigar Bumi.

Serangan itu ternyata telah meruntuhkan perlawanan Alap-alap Alas Roban. Kaki Ki Mina yang mengenai dadanya itu telah mematahkan beberapa tulang iganya, sehingga Alap-alap Alas Roban yang terlempar dan terbanting jatuh itu tidak mampu berdiri lagi.

Terdengar erang kesakitan. Wajah Alap-alap Alas Roban itu menjadi pucat seperti kapas.

Berbeda dengan Ki Mina, ternyata kemarahan Nyi Mina tidak dapat diredam lagi. Luka di lengannya yang telah menitikkan darah itu membuatnya sangat marah. Karena itu, ketika Nyi Mina melihat lawannya melemparkan gelang-gelang yang bergerigi, kemudian memusatkan nalar budinya, maka Nyi Mina pun dengan cepat melakukannya pula.

Alap-alap Alas Roban yang bertempur melawan Nyi Mina mempunyai waktu yang lebih panjang dari saudara seperguruannya yang bertempur melawan Ki Mina. Tetapi Nyi Mina pun sempat mempersiapkan dirinya menghadapi ilmu puncak lawannya.

Demikianlah sejenak kemudian, kedua ilmu puncak itu pun telah meluncur. Benturan yang dahsyat telah terjadi. Namun ternyata bahwa Nyi Mina memiliki kekuatan ilmu pamungkas yang lebih tinggi dari lawannya. Itulah sebabnya, maka Alap-alap Alas Roban itu pun terpelanting jatuh. Tubuhnya membentur bebatur kedai yang disusun dari batu-batu hitam.

Kedai itu pun bagai digoncang gempa. Tetapi kedai itu tidak roboh karenanya.

Namun Alap-alap Alas Roban itu pun tidak mampu untuk bangkit lagi. Bukan hanya tulang-tulang iganya yang patah. Tetapi tulang kepalanya yang membentur batu bebatur kedai itu pun telah retak pula. Lebih dari itu, maka benturan kedua ilmu yang tinggi itu ternyata tidak teratasi oleh ketahanan tubuh Alap-alap-Alas Roban, sehingga bagian dalam tubuhnya seakan-akan telah terbakar hangus.

Ternyata bahwa Alap-alap Alas Roban yang bertempur melawan Nyi Mina itu telah kehilangan segala kesempatannya.

Nyi Mina berdiri termangu-mangu. Wajahnya menjadi sangat tegang. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam itu.

Ki Mina pun kemudian melangkah mendekatinya. Dengan lembut Ki Mina itu pun berkata, “Bukan salahmu Nyi”

“Aku telah membunuhnya, kakang”

“Dalam keadaan yang tersudut, maka kemungkinan itu akan dilakukan oleh setiap orang. Aku pun akan berbuat serupa pula”

“Kakang tidak membunuh lawan kakang”

“Aku masih mempunyai pilihan, Nyi. Sedangkan kau tidak lagi”

Nyi Mina termangu-mangu sejenak. Ia pun kemudian melangkah mendekati murid-murid dari perguruan Tapak Mega.

“Kami dapat membuat kalian mendapatkan kesulitan. Dengan terpaksa aku telah membunuh orang dari perguruan Alas Roban, justru pada saat perguruan itu mempunyai persoalan dengan kalian, murid-murid perguruan Tapak Mega”

“Bukan salah Nyai. Justru kami harus berterima kasih kepada Nyi dan Kiai yang telah menolong kami”

“Ngger” berkata Ki Mina, “persoalan ini harus segera diketahui oleh para pemimpin dari perguruan Tapak Mega. Maksudku, Ki Rina-rina. Bukankah Perguruan Tapak Mega masih dipimpin oleh Ki Rina-rina?“

“Ya, Kiai. Kiai kenal dengan guru?“

“Ya”

“Siapakah Kiai dan Nyai sebenarnya?“

Ki Mina menarik nafas panjang. Ketika ia berpaling kepada orang-orang dari Alas Roban, maka dilihatnya nyala api di mata mereka. Bahkan orang yang tulang-tulang iganya dipatahkannya itu seakan-akan ingin meloncat menerkamnya dan menelannya bulat-bulat.

Karena itu, maka katanya, “Pada saatnya kau akan mengerti. Kapan-kapan aku akan menemui gurumu, Ki Rina-rina. Tetapi sebelumnya Ki Rina-rina harus tahu, bahwa kau mempunyai persoalan dengan orang-orang dari perguruan Alas Roban, sehingga dengan demikian, maka kau akan mendapatkan perlindungan. Aku yakin, bahwa orang-orang yang memakai gelar Alap-alap Alas Roban harus berpikir sepuluh kali untuk memusuhi Ki Rina-rina dari pinggir Kali Bagawanta itu”

Raden Mas Wiraga menarik nafas panjang. Namun ia pun masih harus menyeringai menahan nyeri di bagian dalam dadanya.

“Sekarang pergilah Raden Mas. Biarlah orang-orang Alas Roban mengurus keluarga mereka yang terbunuh dan ter-luka. Tetapi adalah akibat yang sangat wajar, jika terjadi kematian diantara orang-orang Alas Roban yang haus darah itu. Bahkan orang-orang Alas Roban yang telah menjual harga dirinya dengan harga yang sangat murah, sehingga diinjak kepalanya pun mereka akan menyerahkannya jika mereka mendapat upah yang menurut mereka cukup memadai”

Raden Mas Wiraga itu termangu-mangu sejenak. Namun Ki Mina pun berkata, “Cepatlah Raden Mas. Hubungi Ki Rina-rina. Masalahnya bukan hanya kau dan saudara-saudara seperguruanmu. Tetapi keluargamu. Adikmu perempuan dan barangkali juga ayah dan ibumu serta seisi rumahmu semuanya”

“Baik, Kiai. Tetapi dibawah bayangan bukit gundul itu tinggal seorang kakak seperguruanku. Di sanalah aku lebih banyak tinggal daripada di padepokan Ki Rina-rina”

“Segera hubungan kakak seperguruanmu itu”

“Baik, Kiai”

Raden Mas Wiraga yang masih menahan sakit itu pun segera meninggalkan tempat itu bersama ketiga orang saudara seperguruannya yang juga masih belum mampu mengatasi keadaan mereka masing-masing sepenuhnya. Tetapi seperti kata Ki Mina, maka mereka harus segera pergi untuk menghubungi saudara tua seperguruannya untuk mendapat bantuan jika terjadi sesuatu.

Sepeninggal murid-murid dari perguruan Tapak Mega, maka Ki Mina pun berkata kepada orang-orang Alas Roban, “Terserah apa yang akan kau lakukan. Jika kau mendendam, jangan mendendam anak-anak dari Tapak Mega. Kami adalah orang-orang dari perguruan yang agaknya akan dapat kau kenali kemudian. Aku tidak berkeberatan untuk membuat perhitungan pada kesempatan lain”

Orang yang tulang-tulang iganya patah itu mengumpat kasar. Tetapi suaranya yang berbaur dengan rintihan kesakitan itu tidak terdengar jelas. Namun pada akhirnya orang itu berkata, “Kau akan menyesal bahwa kau tidak membunuhku sekarang”

“Aku memang tidak berniat membunuhmu. Isteriku juga tidak berniat membunuh. Tetapi saudara seperguruanmu itu tidak memberikan pilihan lain sehingga akhirnya justru saudara seperguruanmu itulah yang telah terbunuh”

“Persetan kau iblis. Tetapi pada akhirnya kau akan mati di tanganku”

Ki Mina tidak menanggapinya lagi. Ia pun kemudian berkata kepada Nyi Mina, “Marilah. Kita akan pergi”

“Apakah kita sudah membayar makan dan minuman kita?“

Ki Mina pun kemudian mencari pemilik kedai itu. Tetapi ternyata ia tidak menemukannya. Bahkan pelayan kedai itu pun sudah tidak nampak lagi di kedainya. Agaknya mereka merasa lebih baik menjauh daripada terlibat dalam kesulitan.

Ki Mina itu pun kemudian meletakkan uangnya di antara dagangan yang masih di gelar di kedai itu.

Namun agaknya orang-orang yang berada di luar kedai itu tidak menghiraukan pemilik dan pelayan kedai itu. Mereka  pun kemudian sibuk mengurus kelompok mereka sendiri. Seorang diantara mereka telah terbunuh oleh seorang perempuan tua. Yang lain terluka parah di bagian dalam dadanya. Tulang-tulang iganya menjadi retak. Yang lain lagi merasakan kesakitan di seluruh tubuh mereka.

Kematian seorang diantara dua orang yang menyebut dirinya Alap-alap Alas Roban yang datang kemudian itu telah membakar dendam di jantung mereka. Bahkan perguruan Alap-alap Alas Roban  pun akan mendendam sampai ke ujung rambut. Dua orang laki-laki perempuan tua yang berilmu sangat tinggi itu pun harus mereka ketemukan kelak. Kematian Alap-alap Alas Roban adalah salah satu penistaan yang tidak dapat dibiarkan berlalu begitu saja.

Namun dalam pada itu, Alap-alap Alas Roban yang muda, yang dikalahkan oleh Raden Mas Wiraga itu pun berdesis, “Jadi Raden Mas Wiraga itu murid dari perguruan Tapak Mega?“

Orang yang tulang-tulang ganya patah itu pun berdesis sambil menyeringai kesakitan, “Hati-hati dengan Ki Rina-rina. Tetapi perguruan Tapak Mega pun tidak dapat mencuci tangannya atas peristiwa ini”

“Ya. Kita berhadapan pula dengan murid-murid perguruan Tapak Mega di pinggir Kali Bagawanta”

“Untuk sementara, lupakan orang-orang Tapak Mega. Kita akan mencari dan menemukan kedua suami istri itu. Kita akan menyeret mereka keperguruan Alas Roban. Kita akan membuat keduanya benar-benar mengenal siapakah Alap-alap Alas Roban itu. Kematian paman gurumu itu sangat menyakitkan hati”

Dalam pada itu, Ki Mina dan Nyi Mina sudah berjalan semakin jauh meninggalkan kedai itu. Mereka masih, “akan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Jika menurut perhitungan mereka, mereka akan sampai di padepokan malam hari, ternyata mereka telah tertahan cukup lama di kedai itu, sehingga pada saat mereka masih berada di tempat yang jauh, matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat.

“Perjalanan kita terhambat cukup lama” desis Nyi Mina.

“Karena itu jangan sering mencampuri persoalan orang lain” sahut Ki Mina.

“Ah. Bukankah aku baru sekali ini melakukannya. Coba hitung, berapa kali kakang melibatkanjdiri dalam persoalan-persoalan orang lain”

Ki Mina tertawa. Katanya”Sudahlah. Kita nanti akan mencari tempat untuk bermalam demikian malam turun”

“Jika kita berniat bermalam di banjar padukuhan, maka orang-orang padukuhan tentu akan mencurigai kita. Pakaian kita terkoyak dan bernoda darah”

“Bukankah kita tidak harus bermalam di banjar? Kita dapat bermalam dimana saja. Besok pagi-pagi sekali kita akan melanjutkan perjalanan, agar sebelum tengah hari kita sudah sampai di padepokan”

Nyi Mina tidak menyahut Ketika ia menengadahkan wajahnya, matahari sudah menjadi semakin rendah.

“Apa salahnya jika malam turun kita tetap saja berjalan?“ bertanya Nyi Mina.

“Tidak apa-apa. Kita berjalan saja sampai kita benar-benar ingin beristirahat”

Demikianlah, keduanya sepakat untuk berjalan terus ketika malam mulai turun. Gelap malam tidak menghentikan langkah mereka. Ketajaman penglihatan mereka seakan-akan dapat menembus gelap malam yang bagaimanapun pekatnya.

Apalagi ketika ternyata langit bersih. Bintang-bintang yang tidak terhitung jumlah nampak berkeredipan di langit. Cahayanya membuat malam menjadi seakan-akan lebih terang.

Ki Mina dan Nyi Mina yang rambutnya sudah ubanan itu berjalan terus, seakan-akan mereka tidak mengenal letih. Kaki-kaki mereka menapak dengan mantap diatas jalan berbatu-batu padas. Tetapi telapak kaki mereka sama sekali tidak merasakan nyerinya ujung batu-batu padas serta kerikil-kerikil yang tajam yang menusuk.

Sekali-sekali terdengar mereka berbicara tentang perjalanan mereka, namun kemudian mereka berdua pun berdiam untuk beberapa lama.

Keduanya pun kemudian mulai merasakan udara malam yang dingin. Angin basah yang berhembus perlahan-lahan mengusap kulit wajah mereka menembus sampai ke tulang.

“Kau merasakan dinginnya malam, kakang?”

“Ya. Tetapi di punggungku keringat masih saja mengembun membasahi bajuku”

“Ya. Dengan gerak di perjalanan ini, dingin malam tidak terlalu mencengkam”

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin malam. Bintang-bintang sudah bergerak, bergeser k« arah Barat.

Ketika mereka melewati beberapa puluh patok disebelah sebuah padukuhan, maka terdengar suara kentongan dalam irama dara muluk”

“Tengah malam, kakang“ desis Nyi Mina.

“Ya. Sebaiknya kita berhenti. Kita beristirahat sampai dini hari. Kita akan melanjutkan perjalanan. Maka sebelum tengah hari kita tentu sudah sampai di padepokan”

“Baiklah, kakang. Kita akan mencari tempat terbaik untuk bermalam”

“Jika saja kita menemukan gubug ditengah sawah” desis KiMina.

Keduanya pun berjalan semakin lambat sambil memandang ke luasnya bulak di depan mata mereka. Jika saja mereka menemukan sebuah gubug untuk meletakkan tubuh mereka sampai dini.

Namun mereka tidak menemukan gubug di tengah-tengah bulak itu, sehingga akhirnya mereka berjalan mendekati sebuah padukuhan yang terhitung besar.
“Kita akan berjalan menyusuri pematang. Kita tidak akan melewati jalan utama padukuhan itu, Nyi. Kita tidak ingin diganggu oleh berbagai macam pertanyaan jarang-orang yang sedang meronda”

“Baik, kakang. Kita berjalan di luar padukuhan”

Keduanya pun kemudian menuruni tanggul parit di pinggir jalan. Mereka menghindari jalan yang menembus padukuhan itu, karena mereka tidak ingin mengalami kesulitan menjawab pertanyaan para peronda yang kadang-kadang merambat kemana-mana.

Tetapi baru beberapa langkah, mereka mendengar teriakan di padukuhan itu, “Tolong, tolong”

Keduanya pun berhenti dengan serta-merta. Teriakan itu semakin lama menjadi semakin dekat.

“Tolong, tolong”

“Nyi” desis Ki Mina, “bagaimana menuiui pendapatmu? Apakah kita sebaiknya peduli kepada teriakan-teriakan itu atau kita kokoh pada sikap kita untuk tidak mencampuri persoalan orang lain, siapa pun mereka?“

“Tunggu sebentar kakang. Suara itu adalah suara seseorang yang sangat ketakutan”

Ki Mina menarik nafas panjang.

Sejenak kemudian, mereka pun melihat seseorang berlari keluar dari regol padukuhan diburu oleh beberapa orang. Nampaknya orang yang diburu itu sudah tidak mungkin lolos. Masih terdengar orang itu berteriak, “Tolong, tolong. Aku bukan pencuri”

Namun tangan-tangan yang terjulur dari mereka yang mengejar orang itu telah menggapai bajunya. Karena itu, maka orang itu pun tidak dapat lari lagi. Tangan-tangan itu begitu kokoh mencengkamnya.

“Ampun, Ki Sanak. Ampun“ orang itu berlutut sambil menyembah, “Aku bukan pencuri”

“Kau mau apa sebenarnya?“ teriak seseorang.

“Aku akan menemui pamanku”

“Siapa nama pamanmu?“

“Yang aku tahu, aku memanggilnya paman Wekas”

“Tidak ada yang namanya paman Wekas di padukuhan ini. Kecuali itu sikapmu juga mencurigakan. Kau mengendap-endap di regol halaman rumah Ki Pameca. Orang yang dihormati di padukuhan itu. Orang tua yang banyak memberikan bimbingan kepada kami”

“Aku mencoba untuk meyakinkan, apakah regol itu regol rumah paman Wekas”

“Bohong. Katakan bahwa kau memang akan mencuri”

“Tidak. Aku mencari paman Wekas”

“Untuk apa kau cari rumah paman Wekas”

“Aku adalah cucu dari kakak paman Wekas itu. Aku akan mengabari kalau kakek sakit keras. Kakek selalu menyebut nama paman Wekas yang tinggal di padukuhan ini”

“Kau pernah mengunjungi pamanmu itu?”

“Belum. Baru malam ini. Justru karena kakek sakit keras”

“Kau berbohong anak muda” berkata orang yang bertubuh tinggi kekar, “Kau tentu salah seorang diantara pencuri yang setiap kali datang ke padukuhan ini. Kau tentu salah satu dari hama yang membuat seluruh isi padukuhan ini kehilangan kesabaran. Karena itu, maka kau akan menerima akibat dari perbuatanmu itu malam ini”

“Aku bukan pencuri. Aku mencari rumah paman Wekas. Aku mengamati regol halaman rumah itu karena ancar-ancar yang aku dapat dari nenek”

“Cukup“ tiba-tiba saja seorang yang gemuk menampar wajah anak muda yang berlutut dan gemetar ketakutan itu, “di padukuhan ini tidak ada orang yang bernama Wekas”

“Ada paman. Ada. Pamanku bernama Wekas. Ia tinggal di padukuhan ini. Bukankah ini padukuhan Karangmalang?“

“Ini memang padukuhan Karangmalang. Tetapi di Karangmalang tidak ada orang bernama Wekas, kau dengar”

“Pamanku tinggal disini”

Namun sekali lagi seorang yang bertubuh tinggi menamparnya.

“Aduh. Sakit paman”

“Sakit? Sakit“

“Ya, paman”

Tetapi orang itu justru sekali lagi memukul wajah anak muda itu, “Kami memang ingin menyakitimu. Sudah sejak sebulan lebih kami ingin menangkapmu. Ternyata baru malam ini kau dapat kami tangkap”

“Ampun, paman. Ampun“ anak muda itu membungkukkan kepalanya sampai menyentuh tanah, “Aku tidak akan berbuat jahat. Aku justru ditunggu nenek karena kakek selalu bertanya tentang paman Wekas”

“Bohong. Bohong“ beberapa orang pun berteriak, “kita hajar saja anak iblis itu”

“Gantung saja di halaman banjar”

“Ampun, jangan paman, jangan. Kakekku sakit keras. Nenekku menangis sehari penuh. Ayah dan ibu tentu kebingungan jika aku tidak kembali malam ini bersama paman Wekas”

“Persetan dengan paman Wekas” teriak yang lain, “penggal saja kepalanya dan tancapkan di regol banjar”

“Ampun, ampun. Aku tidak bersalah. Aku tidak mencuri apa-apa”

“Tentu sekarang kau tidak membawa barang bukti karena kau belum berhasil masuk ke rumah Ki Pameca”

“Tetapi aku memang tidak akan mencuri”

Ketika seorang lagi menendang punggung anak itu, maka beberapa orang pun mulai bergerak.

Namun dalam pada itu, terdengar suara tertawa. Tidak terlalu keras, tetapi getar suaranya bagaikan mengguncang setiap dada.

Orang-orang padukuhan Karangmalang itu pun bergeser surut beberapa langkah. Mereka mencoba menutup telinga mereka dengan telapak tangan mereka.

Namun suara tertawa itu pun segera berhenti. Dua orang laki-laki dan perempuan melangkah mendekat anak muda yang masih berlutut itu.

“Siapa namamu ngger?“ bertanya Nyi Mina.

Anak muda itu mengangkat wajahnya. Dalam keremangan malam ia melihat wajah seorang perempuan. Namun tidak begitu jelas.

“Namaku Raina, Nyai”

“Nama yang bagus. Kau lahir di siang hari?“

“Ya, Nyai”

“Raina Apakah kau akan mencuri?”

“Tidak Nyai. Tidak. Aku sama sekali tidak akan mecuri . Ayah dan ibu selalu menasehati agar aku tidak berbuat jahat”

Ki Mina lah yang kemudian berdiri menghadapi orang-orang padukuhan itu. Katanya, “Nah kalian dengar. Anak itu tidak akan mecuri”

“Tentu ia tidak akan mengaku. Tidak ada pencuri begitu saja mengakui perbuatannya. Baru setelah tulangnya patah-patah, ia akan mengaku”

“Itukah yang selalu kalian lakukan? Memaksa seseorang mengakui perbuatannya dengan cara seperti itu? Bahkan orang yang tidak bersalah sama sekali kalian paksa untuk mengaku melakukan kesalahan dan bahkan kejahatan?“

Orang-orang itu terdiam.

“Cara yang sangat buruk. Mungkin kalian dapat memaksa seseorang mengaku melakukan kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Dengan demikian seolah-olah kalian telah berhasil menangkap seorang penjahat Tetapi dengan demikian, maka kalian telah berdiri bertolak pinggang sambil menepuk dada atas kemenangannya yang sebenarnya tidak pernah kalian dapatkan. Karena apa yang kalian lakukan itu tidak akan dapat merubah kebenaran, bahwa orang yang tidak bersalah dan kalian paksa untuk mengaku bersalah itu, tetap seorang yang tidak bersalah”

Orang-orang itu masih saja berdiri termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka pun kemudian berteriak, “Omong kosong. Siapakah kalian berdua sebenarnya? Apa hubungan kalian dengan anak ini sehingga kalian membelanya. Atau barangkali anak ini adalah alat kalian untuk mengetahui siapakah yang pantas kalian datangi malam ini”

“Ya. Tentu kalianlah pencuri yang sebenarnya, anak itu tentu sekedar kau pakai sebagai alat untuk mengetahui sasaran yang akan kau datangi”

“Aku hanyalah orang lewat. Aku hanya ingin memperingatkan agar kalian tidak terbiasa untuk memaksa orang mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya dengan kekerasan. Seseorang yang tidak tahan menderita kesakitan, tentu akan mengaku sebagaimana kalian inginkan meskipun ia tidak pernah melakukannya”

“Cukup. Serahkan anak itu kepada kami, atau kalian berdua akan terlibat dalam persoalan ini karena anak ini memang anakmu atau cucumu atau siapa saja yang menjadi kaki iangSnmu. Dengan demikian, maka kalianlah pencuri yang sebenarnya .yang setiap kali mengganggu ketenangan padukuhan kami”

“Jangan menjadi mata gelap. Sebaiknya kalian bertanya lebih jelas, anak ini tinggal dimana dan lebih baik kalian antarkan anak ini mencari adik kakeknya yang sedang sakit itu”

“Cukup” bentak orang yang bertubuh tinggi, “Kalian bertiga akan kami tangkap dan kami seret ke banjar padukuhan. Biarlah rakyat padukuhan ini yang menenetukan, hukuman apakah yang-pantas kami berikan kepada kalian bertiga”

“Jangan menjadi terlalu buas. Aku mengerti, bahwa pencurian-pencurian yang sering terjadi di padukuhan ini membuat kalian menjadi sangat marah dan benci kepada pencuri itu. Tetapi itu bukan alasan untuk menuduh siapa saja yang kalian temui di malam hari sebagai pencuri itu”

“Cukup” teriak yang gemuk, “tangkap mereka dan paksa mereka pergi ke halaman banjar. Kita akan sama-sama menentukan hukuman bagi mereka”

“Kenapa harus ke banjar? Bukankah kita dapat menghukum mereka disini? Jika Ki Bekel mengetahui bahwa kita menangkap pencuri, maka Ki Bekel tentu akan mencegah kita untuk menghukum mereka”

“Kau benar. Kita tidak usah membawa ke banjar. Kita tidak usaha melapor kepada Ki bekel. Kita hakimi saja orang-orang itu sekarang”

“Ki Sanak semuanya” berkata Ki Mina, “Jangan berkata seperti itu. Jangan terbiasa menghakimi sendiri, meskipun seandainya terhadap orang yang bersalah sekalipun. Apalagi terhadap orang yang tidak bersalah”

“Jangan dengarkan. Tangkap ketiga orang itu. Kita akan menghukum mereka. Kita tidak mau setiap kali padukuhan ini diganggu oleh pencuri”

Ketika orang-orang itu bergerak, maka Ki Mina dan Nyi Mina pun telah bergeser pula sebelah menyebelah anak yang malang itu. Dengan lantang Ki Mina pun berkata, “Aku percaya kepada anak ini, bahwa ia tidak bersalah. Karena itu, maka apa pun yang akan terjadi, kami akan melindunginya”«

“Persetan” geram orang yang bertubuh kekar seperti seekor badak, “Aku akan mematahkan tulang-tulang tuamu yang sudah rapuh itu”

Ketika orang-orang itu mulai bergerak, maka Ki Mina pun tertawa. Suara tertawanya yang tidak begitu keras itu telah mengguncang udara di pinggir padukuhan itu. Getarannya yang tajam terasa menusuk sampai ke jantung.

Orang-orang padukuhan Karangmalang itu pun meragakan, betapa jantungnya bagaikan tertusuk-tusuk duri. Karena itu, maka mereka pun telah menutup telinga mereka dengan kedua belah telapak tangan mereka. Tetapi suara tertawa itu masih saja menusuk semakin pedih.

“Kalian tidak mempunyai daya tahan sama sekali” berkata Ki Mina di sela-sela suara tertawanya, “karena itu suara tertawaku akan dapat membunuh kalian semuanya jika aku mau”

Orang-orang Karangmalang itu masih saja merasa kesakitan. Meskipun mereka telah menutup telinga mereka, tetapi sama sekali tidak mengurangi tusukan-tusukan yang pedih di dada mereka.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang tua telah menyibak orang-orang Karangmalang yang kesakitan didada mereka itu. Dengan nada berat orang tua itu pun berkata, “Ki Sanak. Ternyata Ki Sanak adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi apakah Ki Sanak telah mempergunakan ilmu Ki Sanak itu pada tempatnya?”

“Ki Partadrana” desis orang-orang padukuhan itu. Orang-orang yang kesakitan di dadanya itu pun telah menengadahkan kepala mereka ketika mereka melihat seorang yang bertubuh sedang, berkumis tebal meskipun sudah nampak memutih. Orang itu adalah tetunggul orang-orang Karangmalang. Orang yang memiliki banyak kelebihan di bandingkan dengan orang kebanyakan.

“Ki Sanak. Ilmumu mampu menyakiti sekian banyak orang sekaligus. Mereka memang bukan orang-orang yang memiliki kemampuan apa-apa dalam olah kanuragan. Tetapi bukankah dengan demikian, Ki Sanak sudah melakukan satu kesalahan atau justru perguruanmu bukan satu perguruan yang baik, yang membekali murid-muridnya, apalagi yang nampaknya sampai tuntas seperti Ki Sanak itu dengan pesan-pesan kelakukan yang baik?”

Ki Mina memandang orang yang disebut Ki Partadrana itu dengan tajamnya. Kemudian Ki Mina itu pun berkata, “Ternyata juga ada orang yang berpikiran jernih di padukuhan Karangmalang ini”

”Apa maksudmu. Ki Sanak?“ bertanya Ki Partadrana.

“Kenapa baru sekarang Ki Partadrana datang kemari. Hampir saja anak ini menjadi korban keganasan orang-orang Karangmalang yang nampaknya menjadi haus darah”

“Kata-katamu tajam sekali. Ki Sanak”

“Tidak ada kata-kata yang lebih lunak yang dapat aku ucapkan. Sedangkan kau yang agaknya dituakan di Karangmalang juga dengan mudah menuduh aku memperguna-kan ilmuku tidak ada tempatnya, apakah itu adil?”

“Aku memang terlambat, karena aku baru saja pulang dari rumah Ki Bekel yang sedang sakit. Ki Bekel minta aku mengobatinya. Baru kemudian aku sempat datang kemari tepat pada waktunya, pada saat kau pamerkan ilmumu yang tinggi itu”

“Kau masih saja menuduhku dan menyinggung perasaanku. Sekarang bertanyalah kepada tetangga-tetanggamu, apa yang akan mereka lakukan terhadap anak ini. Kami berdua hanyalah orang lewat malam ini dalam perjalanan jauh. Tetapi kami tidak dapat membiarkan anak ini mengalami nasib yang sangat malang. Nah, apakah kau yang nampaknya mempunyai pengaruh yang besar di Karangmalang yang mengajari tetangga-tetanggamu menjadi bengis sehingga kehilangan rasa kemanusiaannya?”

“Apa yang telah terjadi?“

“Bertanyalah kepada tetangga-tetanggamu. Apakah kau juga termasuk seorang yang dengan cepat mengambil keputusan sebelum kau pelajari persoalannya dengan seksama?”

Orang yang disebut Ki Partadrana itu pun kemudian bertanya kepada orang-orang Karangmalang yang berdiri disekitamya, “Apa yang kalian lakukan terhadap anak muda itu?”

“Anak itu akan mencuri di rumah Ki Pameca. Ia mengendap-endap di regol halaman di malam yang telah larut. Selama ini kita sedang mengintai orang yang sering mencuri di padukuhan kami, Ki Partadrana. Agaknya anak itulah yang melakukannya. Karena itu, maka kami berniat menghukumnya”

“Nah, kau dengar Ki Sanak. Anak itu akan mencuri di rumah Ki Pameca. Bukankah wajar jika anak itu ditangkap”

“Seandainya benar anak itu akan mencuri, Ki Partadrana. Apakah kau juga membenarkan, bahwa mereka akan memukuli anak itu beramai-ramai. Bahkan ada yang mengancam untuk menggantungnya di halaman banjar atau ancaman yang lebih buruk lagi, dengan memenggal kepalanya dan menancapkannya di regol banjar. Mungkin ancaman itu tidak akan benar-benar dilakukan. Tetapi jika anak ini dipukuli oleh orang-orang sepadukuhan, maka anak ini akan mati. Sementara itu belum terbukti bahwa ia melakukan kejahatan apa-apa di padukuhan ini”

“Tetapi ia sudah mencoba melakukannya” teriak orang yang bertubuh gemuk.

Namun Ki Mina pun segera menyahut, “Tetapi kau belum bertanya kepada anak ini, Ki Partadrana. Kenapa ia datang ke Karangmalang. Kenapa ia berada di regol halaman rumah Ki Pameca”

Ki Partadrana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapunbertanya, “Siapa namamu?”

“Namaku Raina”

“Raina“ Ki Partadrana mengerutkan dahinya, “Kenapa kau datang kemari malam-malam?”

“Aku disuruh oleh nenek mencari adik kakekku yang menurut nenek tinggal di Karangmalang”

“Omong-kosong. Siapa pun dapat berkata seperti itu” teriak orang yang bertubuh tinggi.

“Siapakah nama adik kakekmu itu?”

“Menurut nenek, namanya paman Wekas”

“Wekas. Jadi adik kakekmu itu bernama Wekas?”

“Ya”

“Kenapa kau memanggilnya paman, sedang ia adalah adik kakekmu”

“Neneklah yang menyebutnya dengan paman Wekas”

“Kau pernah bertemu dengan pamanmu itu?”

“Sudah selagi aku masih kanak-kanak”

“Kau masih dapat mengenalinya sekarang?” Raina itu termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak segera menjawab.

Namun tiba-tiba saja Ki Partadrana itu melangkah mendekati Raina. Dipeganginya kedua lengannya dan ditariknya anak itu agar bangkit berdiri.

“Berdirilah, “

“Ampun, aku mohon ampun. Aku tidak akan berbual jahat”

“Tidak ada orang yang bernama Wekas di padukuhan ini, Ki Partadrana. Itu hanya sebuah ceritera bohong untuk menyelamatkan dirinya. Tentu ia sudah mendapat berbagai macam petunjuk dari ayah dan ibunya itu”

Namun Ki Partadrana itu pun kemudian melangkah mendekati Ki Mina dengan sikap yang jauh berbeda. Dengan kata-kata lembut orang itu berkata, “Ki Sanak, Aku mohon maaf. Aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Seharusnya aku berterima kasih kepadamu, bahwa Ki Sanak sudah menyelamatkan cucuku”

“Cucu Ki Pertadrana?”.

“Ya. Nama kecilku adalah Wekas. Tetapi sejak aku tinggal di Karangmalang, aku sudah bernama Ki Partadrana. Setelah aku menikah, dan berumah tangga sendiri disini, namaku adalah Ki Partadrana”

“Jadi Raina ini cucu kakak kandung Ki Partadrana”

“Ya. Ia adalah cucu kakak kandungku. Aku masih ingat nama itu, Raina. He, siapa nama kakekmu, ngger?”

“Ki Reja Salam”

“Ya. Kakakku memang bernama Ki Reja Salam. Nama kecilnya Salam. Setelah ia menikah, namanya adalah Rejawinangun. Tetapi tetangga-tetangga memanggilnya Ki Reja Salam”

Lalu katanya kepada Raina, “Raina, kemarilah ngger. Jangan panggil aku paman. Panggil aku Kakek. Kakek Wekas atau kakek Partadrana”

Raina termangu-mangu sejenak. Seakan-akan ia tidak percaya kepada kenyataan yang dihadapinya itu.

Ki Partadrana itu pun kemudian berdiri tegak menghadap tetangga-tetangganya sambil berkata, “Saudara-saudaraku. Anak ini adalah cucuku”

Tetangga-tetangga Ki Partadrana itu pun saling berpandangan. Jantung mereka pun terasa berdebaran. Mereka tahu, siapakah ki Partadrana itu. Seorang yang tidak ada duanya di padukuhan Karangmalang. Jika ia menjadi marah, maka akibatnya akan menjadi sangat buruk bagi mereka. Apalagi Ki Partadrana adalah orang yang mempunyai pengaruh yang besar atas Ki Bekel di Karangmalang. Bahkan atas Ki Demang dan para bebahu yang lain.

Namun Ki Partadrana itu pun kemudian berkata, “Sudahlah. Kita lupakan kejadian ini. Tetapi sebagai satu pengalaman, kita harus memetik manfaatnya. Kita memang tidak pantas untuk melakukan sebagaimana kita lakukan sekarang ini. Kita tidak pantas menuduh seseorang melakukan kesalahan. Apalagi memaksa seseorang mengaku melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak dilakukannya”

Orang-orang Karangmalang itu pun menundukkan wajahnya.

“Bayangkan, seandainya kalian tidak dicegah oleh kedua orang suami isteri ini, apa yang kira-kira telah terjadi atas anak muda ini. Anak muda. yang tidak melakukan sebagaimana kalian tuduhkan kepadanya. Tetapi ia harus menanggung akibat buruk itu. Bagaimana pula jika anak ini mati, justru pada saat ia mencari kakeknya”

Orang-orang Karangmalang itu terdiam sambil menundukkan kepala mereka.

“Ibu anak ini akan menangis siang dan malam. Ayahnya mungkin menjadi gila karenanya. Sedangkan neneknya yang, menyuruhnya pergi mencari adik iparnya itu akan dibenahi perasaan bersalah sepanjang umurnya yang tersisa. Perempuan tua itu akan tersiksa sampai saatnya ia masuk ke liang.kuburnya. Lalu bagaimana dengan kalian yang telah menghukum anak yang tidak bersalah itu? Apakah kalian tidak merasa bersalah sama sekali? Apakah kalian cukup minta maaf atas satu kenilafan sementara nyawa anak muda yang seharusnya mempunyai hari depan yang masih panjang ini terampas?”

Orang-orang Karangmalang itu bagaikan membeku di tempat mereka berdiri.

Ki Partadrana itu pun kemudian bertanya kepada Raina, “Kenapa nenek itu menyuruhmu mencari aku?”

“Kakek Reja Salam sakit keras. Kakek selalu menyebut nama paman. Nampaknya sakit kakek sudah menjadi semakin parah malam ini, sehingga nenek menyuruhku mencari paman di Karangmalang ini. Sayang aku tidak tahu bahwa nama paman sudah berubah”

“Panggil aku kakek, ngger”

“Ya, kek. Ternyata nama kakek sudah berubah”

“Baiklah. Aku akan pergi menemui kakekmu, kakang Reja Salam. Marilah singgah sebentar di rumahku. Rumahku tidak terlalu jauh dengan rumah Ki Bekel”

“Menurut ancar-ancar nenek, aku kira kakek tinggal di rumah yang aku datangi itu”

“Mungkin nenekmu sudah lupa dimana letak rumahku. Mbokayu sudah lama sekali tidak mengunjungi aku”

“Ya, kek”

Ki Partadrana itu pun kemudian berkata pula kepada Ki Mina dan Nyi Mina, “Ki Sanak berdua. Biarlah aku mempersilahkan Ki Sanak berdua untuk singgah barang sebentar”

“Terima kasih, Ki Partadrana. Kami akan melanjutkan perjalanan kami yang masih panjang”

“Hanya sebentar saja Ki Sanak. Aku pun akan segera pergi bersama anak ini menengok kakakku yang sedang sakit itu. Yang Maha Agung menganugerahi aku sedikit kemampuan tentang pengobatan. Jika saja Yang Maha Agung berkenan memperguna-kan aku untuk mengobati kakakku yang sakit itu”

Ki Mina dan Nyi Mina pun kemudian tidak menolak. Bersama Raina, maka mereka pun memasuki regol padukuhan, menyusuri jalan utama untuk singgah di rumah Ki Partadrana.

Sementara itu kepada orang-orang Karangmalang, Ki Partadrana itu pun berkata, “Renungi apa yang telah terjadi”

Sepeninggal Ki Partadrana orang-orang Karangmalang itu pun meninggalkan tempat itu. Ada diantara mereka yang sedang bertugas ronda, pergi ke gardu. Sedangkan yang lain pulang ke rumah masing-masing.

Sambil berjalan pulang, beberapa orang masih saja membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi.

“Untunglah, bahwa segala sesuatunya belum terlanjur” desis seorang yang berjanggu jarang.

“Kang Rejeb memang seorang yang brangasan. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa anak itu bersalah”

“Bukan hanya kang Rejeb. Kita semuanya bersalah” sahut seorang yang di rambutnya telah tumbuh uban.

“Ya, kita semuanya bersalah” sahut yang lain.

“Jika terjadi sesuatu dengan anak itu, maka Ki Partadrana tentu akan menjadi sangat marah. Dendamnya akan dapat membakar seluruh padukuhan. Ia akan dapat membalas anak-anak muda kita sepadukuhan ini dengan memperlakukan anak-anak itu sebagaimana kita memperlakukan anak yang bernama Raina tadi”

“Untunglah ada sepasang suami isteri yang berilmu tinggi itu lewat, dan sempat mencegah sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang lebih parah lagi”

“Orang itu memiliki ilmu yang sangat aneh. Suara tertawanya rasa-rasanya dapat membunuh kita sepadukuhan. Hanya Ki Partadrana yang agaknya mampu bertahan”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Setiap orang diantara mereka telah membayangkan peristiwa yang mengerikan akan terjadi, jika sepasang suami isteri itu tidak sempat mencegah mereka untuk menyakiti anak muda yang tidak bersalah itu.

Dalam pada itu, Ki Mina dan Nyi Mina yang berada di rumah Ki Partadrana sempat minum minuman hangat, sementara Ki Partadrana bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakaknya yang sedang sakit. Di siapkannya beberapa rera-muan yang mungkin akan dapat membantu kakaknya dan bahkan jika Yang Maha Agung memperkenankannya, dapat memperingan penyakitnya dan apalagi menyembuhkannya.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Partadrana pun telah bersiap. Ia pun segera minta diri kepada isterinya, sedangkan Ki Mina dan Nyi Mina pun telah minta diri pula kepada Nyi Partadrana untuk meneruskan perjalanan mereka.

Ternyata mereka tidak berjalan searah. Ki Partadrana dan Raina berjalan ke arah yang berbeda dengan Ki Mina dan Nyi Mina.

“Ucapkan terima kasih kepada mereka berdua” berkata Ki Partadrana kepada Raina.

Raina pun kemudian mengangguk hormat sambil berkata, “Aku mengucapkan terima kasih. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi pada diriku jika Kiai dan Nyai tidak menolongku”

“Sudahlah. Bukankah kewajiban seseorang untuk saling membantu. Pesanlah kepada kakekmu agar memperkenalkan nama kecilnya kepada tetangga-tetangganya, sehingga tidak akan menyulitkanmu lagi”

Ki Partadrana tertawa. Tetapi dibalik tertawanya, terasa jantungnya masih saja bergetar. Apa jadinya anak muda itu tanpa pertolongan kedua orang suami isteri itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Mina dan Nyi Mina telah meninggalkan regol halaman rumah Ki Partadrana, sementara sesaat kemudian Ki Partadrana pun telah pergi meninggalkan rumahnya pula. Didepan gardu, Ki Partadrana sempat berkata kepada para peronda, “Aku akan pergi sekitar dua tiga hari. Tolong, lindungi rumahku serta isinya. Dan perkenalkan namaku kepada orang-orang padukuhan ini. Nama kecilku, Wekas. Agar tidak terjadi salah paham lagi”

“Baik, Ki Partadrana” jawab beberapa orang di gardu itu hampir berbareng.

Namun sepeninggal Ki Partadrana, orang-orang di gardu itu masih saja membicarakan kesalah-pahaman yang terjadi. Tetapi bukan sekedar salah paham. Tetapi orang-orang padukuhan itu telah bertindak di luar tatanan dan paugeran.

Dalam pada itu, Ki Mina dan Nyi Mina pun telah keluar dari padukuhan itu pula lewat gerbang padukuhan di ujung jalan yang lain. Keduanya pun kemudian melangkah di dinginnya malam, di sumilirnya angin malam yang basah.

“Untunglah, segala sesuatunya belum terlanjur” desis Nyi Mina.

“Ya” sahut Ki Mina, “jadi ada juga gunanya kita mencampuri persoalan orang lain”

Nyi Mina tidak menyahut. Sementara Ki Mina tersenyum sambil berkata, “Dinginnya malam ini”

Keduanya pun kemudian berjalan lebih cepat untuk menghangatkan tubuh mereka. Namun tiba-tiba saja keduanya melihat sebuah gubug di tengah-tengah bulak.

“Gubug itu” desis Nyi Mina.

“Ya. Kita dapat beristirahat sampai fajar”

Keduanya pun kemudian meniti pematang menuju ke gubug yang berada di tengah-tengah bulak itu. Gubug yang kebetulan kosong.

“Agaknya lebih hangat bermalam di rumah Ki Partadrana” desis Ki Mina.

“Jika saja ia tidak pergi bersama Raina”

Namun gubug itu pun cukup memadai. Keduanya  pun kemudian dapat membaringkan tubuh mereka yang mulai terasa letih. Namun keduanya tidak berbareng tidur sehingga di sisa malam yang pendek itu mereka terpaksa tidur bergantian.

Pagi-pagi, ketika cahaya fajar nampak di langit, kedu-anya  pun telah bangkit. Rasa-rasanya malas juga untuk segera turun dan berjalan menyusuri pematang. Tetapi mereka tidak mau kesi angan.

Karena itu, maka mereka pun berbenah diri sejenak. Mereka berusaha menyamarkan baju mereka yang terkoyak dan bernoda darah meskipun sudah kering.

Karena itu, ketika mereka melewati sebuah sungai kecil, maka mereka pun segera turun ke sungai untuk mencuci wajah mereka.

Perjalanan ke padepokan sudah tidak terlalu jauh lagi. Mereka berharap bahwa sebelum tengah hari mereka sudah akan sampai di padepokan mereka. Padepokan yang sebenarnyalah telah menunggu kehadiran mereka. Keduanya sudah terlalu lama pergi, melampaui waktu yang diperkirakan.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka mereka pun telah berada di jalur jalan langsung menuju ke padepokan mereka. Sebuah padepokan yang akan diserahkan Ki Mina untuk menggantikan jabatan gurunya, memimpin padepokan itu.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka sebelum matahari mencapai puncaknya, maka mereka berdua telah berada di padepokan mereka.

Namun keduanya terkejut ketika demikian mereka memasuki regol halaman, ternyata Wikan sudah berada di padepokan itu.

“Wikan“ panggil Ki Mina.

Wikan yang sedang membersihkan halaman serta memotong ranting pohon perdu yang kurang rapi, terkejut dan berpaling.

“Paman“ Wikan pun kemudian menyongsong paman dan bibinya yang sudah berada di halaman, “bibi”

“Kau justru sudah berada disini”

“Ya. Paman. Aku justru datang lebih dahulu dari paman dan bibi”

Ki Mina dan Nyi Mina tersenyum. Namun sebelum mereka menjawab, Wikan telah lebih dahulu berkata, “Tentu banyak persoalan yang paman dan bibi temui di perjalanan. Sehingga paman dan bibi harus berhenti. Bahkan mungkin harus menunggu sehari dua hari”

“Kita mempunyai kebiasaan yang sama, Wikan. Tetapi bukan sekedar kebiasaan. Tetapi kita membawa pesan-pesan yang sama dalam menjalani kehidupan”

“Ya, paman, apalagi paman berjalan bersama bibi. Suatu kali paman yang tertarik pada satu persoalan, di waktu yang lain, bibilah yang tidak dapat meninggalkan satu peristiwa begitu saja tanpa mencampurinya” berkata Wikan sambil tertawa.

Ki Mina dan Nyi Mina pun tertawa pula.

“Nah, paman. Guru telah menunggu kedatangan paman. Marilah naik ke pendapa”

“Bukankah kami bukan tamu”? Dimanakah guru sekarang?“

“Guru sedang berada di sanggar. Akhir-akhir ini guru terlalu sering berada di sanggar seorang diri”

“Apakah guru marah karena kami terlalu lama pergi?“

“Tidak. Bukan itu. Guru sudah menduga, apa saja yang paman dan bibi lakukan, sehingga perjalanan paman dan bibi menjadi panjang”

“Lalu apa lagi?“

“Aku tidak begitu mengerti, paman. Karena itu, silahkan duduk saja lebih dahulu. Biarlah aku menyampaikannya kepada guru bahwa paman dan bibi sudah datang”

“Marilah kita pergi saja ke sanggar”

Tetapi sebelum mereka beranjak, maka beberapa orang yang melihat Ki Mina dan Nyi Mina pulang, segera mengerumuninya, sehingga keduanya tidak sempat pergi meninggalkan mereka.

Ki Mina dan Nyi Mina terpaksa duduk di pendapa untuk jnenerima saudara-saudara seperguruannya yang mengerumuni-nya.

Berganti-ganti saudara-saudara seperguruannya mengucap-kan selamat datang kepadanya. Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu pun telah hadir pula di pendapa.

“Wikan” berkata Ki Parama, “katakan kepada guru, bahwa kakang dan mbokayu Mina telah pulang. Di hari-hari terakhir, guru telah menunggu-nunggu”

“Baik, kakang“ Wikan pun kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke sanggar.

Ketika ia masuk ke dalam sanggar, Ki Margawasana duduk bersila beberapa langkah dari dinding justru menghadap ke dinding. Pada dinding itu terdapat sebuah lingkaran yang berwarna hitam. Didalam lingkaran itu terdapat lima lingkaran-lingkaran kecil yang berwarna putih.

Wikan tertegun di pintu sanggar yang telah dibukannya dari luar. Ia sudah beberapa kali melihat gurunya melakukan sikap seperti itu.

Ketika seleret cahaya masuk lewat pintu yang terbuka itu, gurunya pun bergeser dari tempatnya dan kemudian berpaling.

“Wikan“

“Ya, guru. Aku mohon maaf, bahwa aku telah mengganggu”

“Ada apa?“

“Paman dan bibi Mina telah datang”

“O. Dimana ia sekarang?“

“Di pendapa guru”

“Baik. Aku akan pergi ke pendapa“

“Apakah paman dan bibi harus menghadap guru di sanggar?“

“Tidak. Biarlah aku yang pergi ke pendapa. Bukankah saudara-saudaramu sudah menyambutnya?“

“Ya, guru”

“Baiklah. Tunggu. Aku akan keluar bersamamu” Keduanya pun kemudian keluar dari sanggar yang remang-remang itu. Ki Margawasana berjalan diiringi oleh Wikan di belakangnya.

Demikian Ki Margawasana keluar dari pintu pringgitan, maka Ki Mina dan Nyi Mina dan bahwa mereka yang berada di pendapa telah bangkit berdiri. Ki Mina dan Nyi Mina pun segera membungkuk hormat kepada gurunya yang tersenyum.

“Selamat datang, Ki Mina dan Nyi Mina”

“Selamat guru. Kami mohon maaf atas keterlambatan kami. Perjalanan kami menjadi terlalu lama”

Ki Margawasana tertawa pendek. Katanya, “Tetapi sekarang kalian sudah pulang dengan selamat”

“Ya, guru. Hormat kami berdua kepada guru”

“Terima kasih. Marilah, silahkan duduk”

Ki Mina, Nyi Mina dan saudara-saudara seperguruan pun telah duduk pula. Demikian pula Ki Margawasana sendiri.

“Jika kalian pulang lambat, tentu ada sebabnya” berkata Ki Margawasana kemudian.

“Ya, guru. Di perjalanan kami, bahkan di rumah saudara kami, telah terjadi peristiwa yang rasa-rasanya telah memaksa kami untuk mencampurinya”

Ki Margawasana itu pun mengangguk angguk. Katanya, “Aku sudah menduga. Tetapi itu bukannya satu kesalahan.

Kalian tentu tertarik untuk mencampuri peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan nurani kalian”

“Ya, guru”

“Aku mengerti. Bahkan kalian tentu akan menyesal seandainya kalian lewat saja tanpa berbuat apa-apa jika terjadi peristiwa yang bertentangan dengan nurani kalian”

“Ya, guru”

“Nah, ceriterakan, bahwa kalian sudah menyelesaikan tugas kalian untuk menyelamatkan sanak keluarga kalian itu.

“Sudah, guru. Kami sudah selesai. Sejak saat ini kami sudah dapat memusatkan perhatian kami kepada padepokan ini. Bahkan Wikan pun justru telah berada disini pula”

“Ya. Ia justru datang lebih dahulu dari kalian”

“Kami belum bertanya kepadanya, bagaimana dengan ibunya yang sendiri”

Ki Margawasana itu pun berpaling kepada Wikan sambil berkata, “Kau belum berceritera kepada pamanmu?“

“Belum guru. Aku sempat. Begitu paman datang, maka paman langsung dikerumuni oleh saudara-saudara kami”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Nah, katakan kepada pamanmu, bagaimana dengan ibumu”

“Paman, ternyata ibu memilih untuk sementara tinggal bersama Yu Wuni. Suami Yu Wuni akan mampu melindunginya, karena suami Yu Wuni adalah seorang yang berilmu tinggi. Ia pun seorang yang sangat-sangat baik terhadap Yu Wuni dan keluarganya. Bahkan yang beberapa saat yang lalu, ia bukan saja sangat baik, tetapi menurut pendapatku, ia justru seorang yang lemah”

“Tetapi bukankah sekarang telah berubah”

“Ya. Kakang telah berubah. Yu Wuni pun telah berubah pula”

Ki Mina menarik nafas panjang.

Dalam pada itu, Ki Margawasana pun kemudian berkata, “Nah, kalian berdua bukan tamu disini. Sekarang, beristirahatlah. Bilik kalian masih bilik kalian yang dahulu”

“Terima kasih guru”

Ki Mina dan Nyi Mina pun kemudian minta diri kepada saudara-saudara seperguruannya yang mengerumuninya. Mereka berdua ingin berbenah diri. Pergi ke pakiwan, berganti pakaian dan kemudian beristirahat.

Namun demikian mereka turun dari pendapa, Nyi Mina langsung mencari Tanjung. Katanya, “Aku sudah sangat rindu kepada Tatag. Apakah ia masih sering menangis?“

“Masih, bibi” jawab Wikan.

Ketika Nyi Mina menemukan Tatag, ia baru disuapi oleh ibunya. Namun langsung saja Nyi Mina seakan-akan merebut anak itu. Dipeluknya anak itu dalam gendongannya. Tidak puas-puasnya Nyi Mina menciumi anak yang kemudian meronta di tangannya.

“Seharusnya kau mandi dahulu” berkata Ki Mina, “berganti pakaian dan baru kau sentuh anak itu”

Tetapi Nyi Mina tidak mendengarkannya.

Namun Tatag yang meronta karena nafasnya menjadi sesak dalam dekapan Nyi Mina itu pun tiba-tiba menangis.

Tetapi Nyi Mina justru berkata, “Aku rindu sekali mendengar tangismu, Tatag. Seolah-olah aku mendengar tangis Raden Tutuka yang dilebur di kawah Candradimuka. Yang di rebus di panasnya kawah gunung serta dilempari dengan segala jenis senjata. Tetapi segala jenis senjata itu justru akan lebur menyatu dengan tubuhnya“ Nyi Mina berhenti sejenak, yang terdengar adalah tangis Tatag yang meninggi, “Kau pun akan menjadi seperti Raden Tutuka”

Ki Mina tertawa. Katanya, “Sudah, sudah. Berikan anak itu kepada ibunya”

Dalam pada itu Wikan pun berkata, “Tangis anak itulah yang rasa-rasanya menjadi padepokan ini semakin membara.

Ki Mina mengangguk-angguk. Wajahnya bahkan nampak bersungguh-sungguh.

Nyi Mina pun kemudian menyerahkan Tatag yang masih menangis kepada ibunya. Tetapi ia masih saja mencium sekali lagi sambil berkata, “Menangislah, menangislah. Tangismulah yang menjadikan padepokan ini semakin membara sepanas kawah candradimuka”

Tanjung menerima anaknya sambil tersenyum. Ia masih sempat berkata, “Selamat datang paman dan bibi”

“Kami baik-baik saja Tanjung” jawab Ki Mina, “Bukankah anak itu tidak apa-apa selama ini?“

“Tidak paman, Anak ini baik-baik saja”

“Nah, kami akan mandi dan berbenah diri” berkata Nyi Mina, “nanti aku datang lagi untuk mengambilnya”

“Paman dan bibi terlalu lama pergi” berkata Tanjung. Nyi Mina tertawa. Katanya, “Kami singgah di setiap rumah sepanjang perjalanan kami”

“Bukan aku saja yang mengajaknya berhenti” sahut Ki Mina.

Keduanya pun tertawa. Tanjung pun ikut tertawa pula.

Demikianlah, maka sejak hari itu, Ki Mina dan Nyi Mina telah berada di padepokannya kembali. Justru seisi padepokan itu telah bersiap-siap untuk melakukan upacara penyerahan kepemimpinan padepokan itu dari Ki Margawasana kepada Ki Mina.

Tidak ada seorang pun dari seisi padepokan yang mempersoalkan penyerahan itu atau bahkan tidak sependapat dengan keputusan Ki Margawasana.

Semua orang justru berpengharapan karena semua orang sudah mengenal dengan baik, Ki Mina dan Nyi Mina. Bahkan kemanakannya yang menjadi murid bungsu Ki Margawasana, Wikan.

Namun jika kepemimpinan padepokan itu diserahkan kepada Ki Mina, maka padepokan itu akan dapat menerima murid-murid baru lagi meskipun sebagaimana kebiasaan Ki Margawasana, yang agaknya akan di ikuti oleh Ki Mina, padepokan itu tidak terbiasa menerima murid terlalu banyak. Kebiasaan padepokan itu untuk setiap angkatan, hanya beberapa orang murid saja yang diterima lewat berbagai macam pendadaran. Bahkan kebiasaan Ki Margawasana adalah mendahulukan anak-anak muda yang tinggal tidak terlalu jauh dari padepokannya asal saja mereka juga mampu melampaui pendadaran sebagaimana disyaratkan.

Pada hari yang ditentukan, maka di pagi-pagi sekali, semua penghuni padepokan itu sudah bersiap. Ki Mina pun telah bersiap pula untuk memasuki sebuah upacara sederhana yang akan dilakukan oleh seisi padepokan itu.

Para murid padepokan itu telah berdiri di halaman padepokan sebelum matahari terbit. Ki Margawasana di bantu oleh Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu telah memasang lima buah lingkaran-lingkaran kecil yang disusun berurutan. Diluar kelima lingkaran itu terdapat sebuah lingkaran yang lebih besar.

Pada saat bayangan sinar matahari sudah membayang di langit, maka Ki Margawasana pun berdiri menghadap kepada kelima lingkaran yang ditata berurutan itu. Dibelakang Ki Margawasana berdiri Ki Mina yang akan menerima arus kepemimpinan itu.

Demikian matahari terbit, Ki Margawasana yang berada di sebelah Barat kelima lingkaran yang ditata berurutan membujur ke Barat itu pun segera menempatkan dirinya. Dalam pada itu, didadanya terdapat bayangan kelima lingkaran yang berjajar membujur ke Barat itu. Namun demikian matahari terbit dan merambat naik, maka kelima lingkaran itu pun menjadi saling mendekat, sehingga akhirnya bayangan kelima lingkaran itu telah menumpuk menjadi satu.

Pada saat itulah Ki Margawasana bergeser, sehingga bayangan yang sudah menyatu itu pun jatuh di dada Ki Mina.

Ki Mina memang agak terkejut. Ia tidak diberi tahu oleh Ki Margawasana, akibat dari kelima bayangan lingkaran yang sudah menyatu itu.

Demikian Ki Margawasana bergeser serta kelima bayangan lingkaran yang sudah menyatu itu jatuh ke dada Ki Mina, maka terasa dada Ki Mina bagaikan disengat api, sehingga Ki Mina itu berdesah tertahan. Panas didadanya itu pun kemudian terasa menjalar mengalir lewat darahnya keseluruh tubuhnya, sehingga seluruh tubuhnya menjadi panas.

Namun sejenak kemudian, panas di tubuhnya itu pun mulai menurun. Bayangan kelima lingkaran itu masih berada di dadanya. Namun sejalan dengan putaran matahari, maka bayangan kelima lingkaran yang semula menyatu itu pun telah menjadi renggang kembali.

Ki Margawasana pun kemudian berputar, membelakangi kelima lingkaran itu. Ia pun bergeser pula dan berdiri tepat di-hadapan Ki Mina.

Dalam pada itu, Ki Parama pun menyerahkan sebilah keris yang masih berada didalam warangkanya kepada Ki Margawasana yang kemudian menyerahkannya kepada Ki Mina. Sebilah keris yang besar dan panjang, melampaui ukuran keris kebanyakan.

Ki Mina pun segera berlutut. Diterimanya keris itu kemudian mengangkatnya diatas dahinya.

“Aku serahkan keris lambang kepemimpinan padepokan ini kepadamu”

“Guru” jawab Ki Mina, “Aku menerima penyerahan ini dengan ikhlas dan bertanggung jawab”

“Terima kasih. Segala sesuatunya mengenai padepokan ini kemudian aku serahkan kepadamu. Namun aku berharap bahwa isterimu akan membuat jenang gula kelapa dan kalian berdua merubah nama kalian sesuai dengan kedudukan kalian di padepokan ini”

“Aku mohon guru menentukan nama itu bagi kami berdua”

“Jika kau tidak berkeberatan, aku ingin memanggilmu Ki dan Nyi Udyana”

“Guru“ Ki Mina itu pun menunduk dalam-dalam, “Aku tidak pantas menerima anugerah nama itu. Udyana mempunyai arti yang jauh lebih indah dari apa yang nampak pada diriku dan isteriku”

“Aku mengerti, Mina. Tetapi aku berharap bahwa untuk selanjutnya padepokan ini pun dapat disebut padepokan Udyana yang dipimpin oleh Ki Udyana”

“Betapa beratnya aku dan isteriku harus memikul nama itu, Guru”

“Aku yakin, bahwa kau akan dapat mengusung beban itu. Nama itu akan menjadi cambuk bagimu dan bagi seisi padepokan ini, agar mereka tidak beranjak dari pesan-pesan yang pernah diberikan dan akan diberikan kepada mereka. Mudah-mudahan padepokan ini benar-benar menjadi petamanan yang asri dari segala macam bunga yang menyebarkan harumnya kehidupan yang ditandai dengan kasih sayang yang dirahmati oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Menolong orang yang berada dalam kesulitan, melindungi mereka yang lemah serta berada dalam penindasan”

Demikianlah, maka sejak hari penyerahan itu, maka Ki Mina resmi menjadi pemimpin padepokan itu. Seisi padepokan itu tidak lagi menyebutnya Ki Mina, tetapi mereka memanggil pemimpinnya yang baru dengan Ki Udyana. Karena seisi padepokan itu pada dasarnya adalah suadara seperguruan, maka mereka pun menyebut pemimpinnya yang baru itu dengan kakang Udyana.

Sedangkan padepokan itu pun telah disebut padepokan Udyana pula.

Hari-hari pun berjalan seperti biasa. Kehidupan di padepokan Udyana itu pun tidak mengalami perubahan dengan serta-merta. Ki Udyana masih saja melakukan tugas-tugasnya sebagaimana Ki Margawasana.

Seperti yang pernah dikatakannya, maka Ki Margawasana itu pun kemudian telah minta diri kepada Ki Udyana serta para penghuni padepokan itu untuk menyepi.

“Aku ingin lebih mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Pencipta, Udyana. Aku ingin berada di satu tempat yang memungkinkan aku menjalani laku sesuai dengan niatku itu”

“Guru akan pergi ke mana?“

“Aku akan pulang”

“Pulang kemana?“

“Aku akan pulang ke Gebang. Tetapi aku akan tinggal di sebuah bukit kecil tidak jauh dari Gebang, bukit Jatilamba. Di bukit itu terdapat sebuah goa yang terjadi karena gugusan air yang mengalir lewat batu-batu padas. Tetapi aku tidak akan tinggal di goa yang basah itu. Aku akan membuat sebuah gubug kecil dibawah sebatang kayu jati yang tumbuh diatas bukit itu”

“Bukankah Gebang berada di sebelah Barat Kali Bagawanta?”

“Ya”

“Guru akan mendekati padepokan Ki Rina-rina?”

“Tidak. Aku tidak ingin mendekati Ki Rina-rina. Tetapi aku memang memiliki tanah di Gebang, bukit Jatilamba itu pun tanah petinggalan kakekku. Di bukit itu tumbuh sebatang kayu jati raksasa yang umurnya jauh lebih tua dari umur kakekku. Sedang jika kakekku masih hidup sekarang ini, umurnya sudah lebih dari seratus tiga puluh tahun. Orang memperkirakan umur pohon jati itu sudahlebih dari dua ratus tahun”

“Kenapa guru tidak tinggal di padepokan ini saja?“

“Pada saat-saat tertentu aku akan datang ke padepokan ini. Sedangkan jika ada keperluan yang sangat penting, kau dapat memerintahkan satu atau dua orang cantrik menghubungi aku di seberang Kali Bagawanta itu”

Ki Udyana dan seisi padepokan itu tidak dapat mencegahnya lagi. Ki Wargawasana sudah memutuskan untuk benar-benar meninggalkan padepokannya .dan pergi menyepi, mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Pencipta. Dalam hening, Ki Margawasana akan dapat melihat lebih tajam lagi ke dalam dirinya sendiri serta lingkungannya.

“Bukan berarti bahwa aku akan memisahkan dari kehidupan sesama, Udyana. Aku tentu akan sering berada di Gebang pula. Tetapi sebagian besar waktuku, aku akan berada di bukit Jatilamba itu”

“Kapan guru akan berangkat?”

“Besok lusa.Sebelum matahari terbit”

“Biarlah aku mengantarkan guru sampai ke tujuan”

Ki Margawasana tertawa. Katanya, “Jangan menganggap aku seperti anak-anak. Kenapa harus diantar? Bukankah aku dapat berjalan sendiri”

“Bukan maksudku untuk melindungi guru. Tetapi dengan demikian, bukankah aku dapat melihat dimana guru tinggal. Aku akan tahu rumah Guru di Gebang. Aku pun aku tahu,? dimana letak bukit Jatilamba”

“Jika demikian, nalar juga pikiranmu itu, Udyana. Tetapi tentu tidak perlu kau sendiri yang harus pergi ke Bukit Jatilamba. Mungkin salah seorang atau dua orang cantrik”

“Kenapa aku tidak boleh menyertai perjalanan guru?”

“Kau sekarang seorang pemimpin padepokan Udyana. Sudah bukan waktunya lagi kau berkeliaran kemana-mana”

“Tetapi sebaiknya bukan anak-anak yang mengantar guru. Biarlah adi Parama dan adi Rantam pergi menyertai guru. Dengan demikian, jika kami dipadepokan ini mempunyai keperluan untuk menghadap guru, keduanya akan dapat melakukannya”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Ternyata kau sangat berhati-hati Udyana. Tetapi itu baik bagimu dan bagi padepokan ini. Baiklah. Besok lusa aku akan pergi bersama Parama dan Rantam ke Gebang”

“Biarlah aku panggil adi Parama dan adi Rantam”

“Baiklah. Tetapi kau sendiri harus selalu berada di padepokan ini, Udyana. Mungkin pada satu saat kau benar-benar harus pergi. Tetapi tentu tidak akan terlalu lama. Mungkin ada persoalan-persoalan penting yang harus segera dipecahkan. Mungkin ada bahaya yang besar yang mengancam padepokan ini yang harus ditanggapi dengan cepat. Nah, jika kau tidak berada dipadepokan, maka persoalannya akan berbeda dengan jika kau sendiri yang menanganinya”

“Ya, Guru. Aku mengerti”

“Nah, biarlah aku berbicara dengan Parama dan Rantam”

Ki Udayana pun kemudian telah memanggil Parama dan Rantam serta Windu untuk datang menghadap gurunya” Beberapa saat kemudian, mereka berempat telah menghadap Ki Margawasana. Bahkan kemudian murid bungsunya pun telah dipanggilnya pula.

“Besok lusa aku akan meninggalkan padepokan ini” berkata Ki Margawasana, “Aku akan berangkat pagi-pagi sekali”

Murid-muridnya yang menghadap itu pun mendengarkannya dengan saksama.

“Udyana menginginkan agar ada diantara kalian yang pergi bersamaku. Menurut Udyana mereka yang akan pergi bersamaku itu tidak untuk melindungi aku di perjalanan, tetapi mereka yang pergi bersamaku akan dapat mengetahui tempat tinggalku di Gebang, diseberang Kali Bagawanta. Mereka pun akan melihat bukit kecil yang disebut bukit Jatilamba. Di bukit itu aku akan menyepi, mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Bukan berarti bahwa aku akan memisahkan diri dari kehidupan sesama, karena aku masih akan sering pulang ke Gebang dan bahkan aku juga akan sering mengunjungi padepokan ini. Tetapi pada saat-saat tertentu, di Jatilamba aku dapat dalam hening menjalani laku untuk semakin mendekatkan diriku pada Tuhan Yang Maha pencipta”

Murid-muridnya masih tetap mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.

Baru kemudian Ki Margawasana pun berkata, “Menurut pertimbangan Udyana, Parama dan Rantam lah yang akan pergi bersamaku, sementara Windu dan Wikan akan tetap berada di padepokan bersama Udyana”

Parama dan Rantam mengangkat wajahnya sejenak. Namun sejenak kemudian mereka pun menunduk lagi. Dengan nada suara yang berat Parama pun berkata, “Kami akan mengemban tugas apa pun yang dibebankan kepada kami”

“Baiklah Parama. Bersiap-siaplah bersama Rantam. Kalian akan pergi bersamaku besok lusa ke Gebang dan kemudian ke bukit Jatilamba”

“Baik, guru” jawab keduanya hampir bersamaan.

“Sementara itu, Windu dan Wikan akan tetap berada di padepokan. Bersama para cantrik yang lain, kalian harus menjaga agar segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik, meskipun Parama dan Rantam tidak ada di padepokan. Lakukan apa yang diperintahkan oleh Ki Udyana yang sekarang memegang pimpinan di padepokan ini, sehingga segala sesuatunya akan berlangsung sebagaimana seharusnya”

“Baik, guru” jawab Windu dan Wikan berbareng. Demikianlah, pada hari-hari terakhir, Ki Margawasana masih sempat berbicara dengan murid-muridnya. Minta diri secara pribadi serta memberikan pesan-pesan terakhirnya.

Ketika hari yang ditentukan itu tiba, maka seluruh murid perguruan Udyana yang kemudian dipimpin oleh Ki Udyana itu berkumpul di halaman. Ki Margawasana masih berbicara beberapa patah kata kepada mereka.

“Bukan satu perpisahan.  Aku akan tetap sering datang kemari. Aku tidak dapat berpsiah dengari padepokan ini”

Ki Margawasana pun sempat minta diri kepada Nyi Udyana dan kepada Tanjung. Namun ketika Ki Margawasana itu menyentuh pipi Tatag, maka anak itu pun segera menangis sejadi-jadinya.

“Tidak biasanya begitu” desis Nyi Udyana, “Tatag sudah kenal dengan baik dengan Ki Margawasana. Tatag tidak pernah menjadi ketakutan jika Ki Margawasana datang kepadanya. Bahkan sekali-sekali Ki Margawasana itu pun telah mendukungnya”

Tetapi ketika Ki Margawasana menyentuhnya untuk minta diri, maka untuk itu pun menangis.

“Seolah-olah anak itu tahu, bahwa guru akan meninggalkan-nya” berkata Nyi Udyana.

“Jaga anak ini baik-baik. Tuntun ia melalui jalan yang benar. Tangisnya adalah pertanda keperkasaannya. Karena itu, maka kelak ia harus berpijak pada jalan kebenaran yang berkiblat kepada kebenaran”

“Ya, guru. Mohon doa restu, agar kami dapat mengasuhnya sebagaimana seharusnya”

Ki Margawasana mengangguk-angguk. Sementara itu Tanjung berusaha untuk menenangkan anaknya yang berada di gendongannya itu.

Namun Tanjung tahu benar bahwa anak itu bukan anaknya. Tanjung tidak tahu, jenis benih seperti apa yang kemudian tumbuh menjadi bayi itu. Apakah benih itu pernah dinodai oleh sifat-sifat buruk seseorang.

“Tetapi bayi adalah kain putih. Segala sesuatu tergantung kepada mereka yang akan menggoreskan garis dan warna dan bahkan bentuk pada kain yang putih itu” berkata Tanjung didalam hati.

Meskipun demikian ada juga kecemasan Tanjung akan sifat dan jenis kain yang berwarna putih itu sendiri. Apakah serat-seratnya lembut dan lunak, atau kaku dan tajam, sebagaimana tangis Tatag itu yang sudah dibawanya pada saat ia lahir. Tangis seperti itu tidak terdapat pada anak-anak yang lain.

“Semoga ramalan banyak orang itu benar, bahwa tangis Tatag adalah pertanda baik, asal ia diasuh dengan baik dan benar”

Beban itulah yang harus diusung oleh Tanjung. Tetapi di padepokan itu Tanjung tidak mengasuhnya sendiri. Nyi Udyana, Wikan dan bahkan Ki Udyana akan ikut mengasuhnya pula. Bahkan para cantrik yang ada di padepokan itu, rasa-rasanya menaruh perhatian yang khusus kepada Tatag.

Ketika langit menjadi semakin cerah, maka Ki Margawasana pun melangkah keluar dari gerbang padepokan diiringi oleh Parama dan Rantam. Sementara itu Ki Udyana, Nyi Udyana, Windu, Wikan serta Tandjung yang menggendong Tatag berdiri di pintu gerbang, sementaca para cantrik yang lain menebar di luar gerbang, sementara para cantrik yang lain menebar di luar gerbang. Mereka melepas guru mereka yang sudah bertahun-tahun menjadi pemimpin di padepokan itu.

Ki Margawasana menolak untuk membawa seekor kuda. Ia lebih senang berjalan kaki saja.

Sejak hari itu Ki Udyana pun sepenuhnya memimpin padepokan yang juga disebut padepokan Udyana. Padepokan yang diharapkan menjadi sebuah taman kebaikan dengan bunganya yang beraneka. Bunga yang diharapkan akan dapat menebarkan bau harum ke segala penjuru.

“Bunga yang kehilangan harumnya, maka ia adalah wadag yang kehilangan rohnya” berkata Ki Udyana kepada para cantrik di padepokannya.

Demikianlah dari hari ke hari, Ki Udyana berusaha untuk meningkatkan apa yang sudah ada di padepokannya. Tempat-tempat kerja dan tempat-tempat untuk berlatih. Yang terbuka mau pun yang tertutup.

Dalam pada itu, lewat sepekan, maka Ki Parama dan Ki Rantam pun sudah kembali. Mereka menceriterakan tentang rumah peninggalan leluhur Ki Margawasana. Bahkan tanahnya yang luas, yang meliputi bukit Jatilamba, bukit kecil yang dialasnya tumbuh sebatang saja pohon jati raksasa yang sudah berumur sangat tua. Namun pohon jati itu masih nampak subur. Dahan-dahannya, ranting-rantingnya dan bahkan tangkai daun-daunnya nampak masih tetap kokoh bertumpu pada akarnya yang jauh menghunjam ke dalam bumi di atas bukit kecil itu.

Tetapi diatas bukit itu tidak hanya terdapat sebatang pohon raksasa saja. Masih ada jenis pepohonan yang lain. Sebatang pohon preh, pohon cankring tua serta pohon nyam-plung sepasang. Bahkan ada beberapa pohon gayam yang berdiri berjajar di sebelah jalan setapak untuk naik ke puncak bukit kecil itu.

Di kaki bukit itu terdapat sendang yang airnya sangat jernih. Mata airnya terhitung deras. Luapannya mengalir mengairi sawah berbahu-bahu di sekitar bukit kecil itu.

“Sebuah tempat yang sangat menarik, kakang” berkata Ki Rantam, “rasa-rasanya aku tidak ingin beranjak dari tempat itu. Tetapi guru memerintahkan aku segera kembali ke padepokan”

“Menarik sekali. Pada kesempatan yang lain, aku akan pergi ke bukit Jatilamba itu” sahut Wikan.

“Kelak aku akan mengantarkanmu” sahut Ki Rantam.

“Benar kakang. Aku akan menagih janji itu”

“Tentu saja jika kakang Udyana mengijinkan”

Ki Udyana tersenyum. Katanya, “Tentu aku akan mengijinkan-nya. Bahkan aku sendiri juga ingin melihat tempat yang tentu sangat asri itu”

“Ya, kakang. Beberapa jenis tetumbuhan ada di atas bukit kecil itu. Namun guru tentu akan membersihkannya dan akan membuat sebuah gubug kecil di bawah pohon jati raksasa itu”

“Kalian tidak membantunya?”

“Guru memerintahkan kami kembali ke padepokan” sahut Ki Parama, “selebihnya, orang-orang Gebang ternyata bersikap sangat baik kepada guru. Mereka dengan suka rela akan membantu guru membangun rumah kecil itu. Mereka seakan-akan telah berhutang budi kepada guru. Air dari sendang dibawah kaki bukit itu, ternyata telah mengaliri sawah para petani yang tinggal di Gebang dan sekitarnya”

Ki Udyana pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Di bukit kecil itu guru membangun rumah kecilnya, sementara itu disini kita akan membangun padepokan peninggalannya”

Sebenarnyalah bahwa sebagaimana diharapkan para cantrik, keberadaan Ki Udyana di padepokan itu rasa-rasanya telah membawa kesegaran baru. Meskipun tidak dengan serta-merta dan tidak pula tergesa-gesa, Ki Udyana berusaha untuk melengkapi apa yang terasa kurang di padepokannya.

Ki Udyana telah membangun sebuah sanggar yang sangat berbeda dengan sanggar yang telah ada. Sanggar itu memang tidak terlalu besar, tetapi bangunannya nampak kokoh. Tiang-tiangnya yang tinggi menompang atapnya yang terbuat dari ijuk.

Wikan yang menganggap sanggar itu terlalu tinggi, bertanya kepada Ki Udyana, “Paman, apakah sanggar ini tidak terlalu tinggi dibanding dengan luasnya?”

“Sanggar ini memang harus tinggi, Wikan. Didalam sanggar ini tidak akan ada isinya apa-apa selain sebuah amben kecil di tengah-tengahnya. Jika seseorang duduk di amben kecil itu, maka akan merasa betapa rendahnya ia, betapa kecilnya dan betapa tidak berharganya”

Wikan menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia pun berdesis, “Aku mengerti paman”

“Mudah-mudahan sanggar itu akan dapat memperingatkan orang yang ada didalamnya untuk meredam kesombongannya. Jika dalam suasana yang hening seseorang merasa menghadap kepada Yang Maha Agung secara pribadi, maka ia akan menyadari, betapa ia tidak lebih dari sebutir debu dihadapan-Nya”

Wikan mengangguk-angguk. Sanggar yang satu itu adalah sanggar yang sangat khusus. Sedangkan sanggar-sanggar yang lain adalah bangunan yang penuh dengan segala macam peralatan untuk menempa diri dalam olah kanuragan. Tiang-tiang bambu yang berdiri tegak berjajar dengan ketinggian yang tidak sama. Tali-temali yang bergayutan di palang-palang bambu yang melintang dekat dengan atap bangunan. Segala jenis senjata yang bergantungan serta alat-alat yang lain. Sedangkan di sanggar terbuka, terdapat ayunan. Beban tubuh dari kayu dan bahkan besi. Pasir dalam tempayan raksasa yang sering dipanasi. Batu-batu kerikil tajam balok-balok kayu.

Tetapi suasananya menjadi sangat bertentangan dan bahkan bertolak belakang dengan suasana dalam sanggar yang satu itu.

“Harus ada keseimbangan, Wikan”

“Ya, paman“ Wikan itu pun mengangguk-angguk.

Demikian sanggar itu siap, maka Ki Udyana pun telah memperkenalkan sanggar yang satu itu kepada para cantrik. Mengenal ujud dan kegunaannya. Menembus ke kesadaran akan arti keseimbangan dalam kehidupan antara yang lahiriah dan yang batiniah.

“Aku berharap agar kalian mengenal dan siap untuk mempergunakan sanggar yang satu ini sebagaimana kalian mempergunakan sanggar-sanggar yang lain. Yang tertutup mau pun yang terbuka”

Ternyata bahwa pernyataan Ki Udyana itu mendapat tanggapan dari para cantrik di padepokan itu. Hampir setiap saat, sanggar itu pun berisi. Hanya satu orang. Bergantian.

Dalam pada itu, kehidupan di padepokan itu pun kian menjadi cerah. Para cantrik semakin menekuni kerja mereka. Berlatih, bekerja di berbagai bidang tugas. Yang menggarap sawah, yang berternak, yang memelihara ikan di kolam-kolam, mereka yang bekerja sebagai pande besi, sebagai undagi yang memelihara bangunan-bangunan di padepokan serta berbagai kerja yang lain, semakin mendalami tugas mereka masing-masing.

Dalam pada itu, maka Ki Udyana pun mulai melaksanakan pesan gurunya, untuk memperluas padepokannya. Jika Wikan adalah murid yang bungsu, itu adalah murid Ki Margawasana. Tetapi bukan murid bungsu dari padepokan Udyana.

Karena itu, maka Ki Udyana pun mulai menerima lagi beberapa orang untuk berguru di padepokannya. Seperti Ki Margawasana, maka Ki Udyana pun lebih mendahulukan anak-anak remaja dari padukuhan di sekitarnya sepanjang mereka dapat memenuhi pendadaran-pendadaran yang diselenggarakan oleh padepokan.

“Ada sepuluh orang remaja yang memenuhi syarat, kakang” berkata Ki Windu kepada Ki Udyana.

“Bagus, itu sudah cukup. Darimana sajakah mereka?”

“Sembilan orang berasal dari empat padukuhan disekitar padepokan kita. Sedangkan seorang berasal dari kademangan Panjatan”

“Panjatan juga tidak terlalu jauh dari padepokan ini. Baiklah. Apakah mereka semua sudah berada di padepokan?”

“Sudah kakang. Mereka masih akan berada di padepokan dua hari lagi. Selanjutnya, seperti biasanya mereka dapat pulang untuk waktu sepekan. Mereka perlu memberitahukan kepada orang untuk waktu sepekan. Mereka perlu memberitahukan kepada orang tua mereka, bahwa mereka diterima dan selanjutnya akan tinggal di padepokan ini”

“Baik. Nanti sore aku akan bertemu dengan mereka”

Demikianlah, maka kehidupan di padepokan Udyana itu menjadi semakin ramai. Sementara di padepokan itu pun secara khusus telah diterima pula beberapa orang mentrik. Gadis-gadis remaja yang terpilih lewat pendadaran-pendadaran khusus pun telah mulai mengisi padepokan Udyana itu.

Nyi Udyanalah yang bertanggung jawab atas para gadis remaja yang telah menyatakan diri menjadi mentrik di padepokan Udyana itu.

Sementara itu, hubungan antara Wikan dan Tatag pun menjadi semakin akrab. Anak itu sudah tidak segan-segan lagi mengulurkan tangannya kepada Wikan. Sedangkan Wikan pun sudah tidak canggung lagi untuk menggendongnya.

Namun bukan saja Wikan dan Tatag yang menjadi semakin akrab. Tetapi rasa-rasanya ada keterpautan perasaan antara Wikan dan Tanjung.

Nyi Udyana bahkan sangat berharap bahwa keduanya akan dapat menjadi pasangan yang serasi, meskipun Tanjung adalah seorang janda. Tetapi perpisahannya dengan suaminya yang pertama, yang belum terlalu lama menikah, bukan karena perceraian. Tetapi karena suami Tanjung itu meninggal dunia.

Namun yang agak mengherankan bagi Wikan adalah keinginan Tanjung untuk ikut berlatih olah kanuragan.

“Kenapa kau tertarik Tanjung?“

“Aku ingin anakku kelak juga memiliki sedikit ilmu olah kanuragan”-

“Bukankah tidak harus kau sendiri yang membimbingnya?“

“Benar, kakang. Tetapi jika aku serba sedikit mengetahuinya, maka aku tidak akan asing dengan sikap Tatag kemudian”

“Baiklah Tanjung. Aku akan berkata kepada bibi. Jika bibi setuju, maka aku pun tidak berkeberatan”

“Tetapi bukankah di sini sekarang juga ada beberapa orang mentrik?“

“Ya. Bahkan paman Udyana setuju jika kakang Parama, kakang Rantam dan mereka yang sudah berkeluarga, membawa isteri mereka masing-masing ke padepokan ini, sehingga mereka tidak perlu pada waktu-waktu tertentu pulang ke kampung halaman mereka”

“Bagaimana dengan Ki Windu?“

“Kakang Windu masih belum berkeluarga. Tetapi ia sudah dipertunangkan dengan sepupunya sendiri”

Tanjung mengangguk-angguk.

“Tolong kakang“ katanya kemudian, “Aku mohon kepada bibi”

“Baik. Aku akan berkata kepada bibi, bahwa kau ingin serba sedikit memiliki kemampuan olah kanuragan”

“Ya, kakang. Ternyata menurut pengalamanku, aku memerlu-kan perlindungan. Jika serba sedikit aku memiliki kemampuan olah kanuragan, maka aku tidak setiap kali memerlukan pertolongan orang lain”

Wikan itu pun mengangguk-angguk.

Ketika permintaan Tanjung itu disampaikan kepada Nyi Udyana, ternyata tanggapannya baik sekali. Bahkan Nyi Udyana itu pun langsung berkata kepada Wikan, “Panggil Tanjung kemari. Aku akan berbicara”

Tanjung menjadi berdebar-debar. Tetapi Wikan berkata kepadanya, “Agaknya bibi tidak berkeberatan”

Sebenarnyalah Nyi Udyana menyatakan, bahwa ia sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi Nyi Udyana itu pun masih juga bertanya, “Tanjung, apa yang telah mendorongmu untuk berlatih olah kanuragan?“

“Bibi. Bukankah Tatag kelak diharapkan untuk menjadi seorang anak muda yang memiliki kemampuan yang memadai? Untuk membentuknya menjadi seorang anak yang siap untuk ditempa dalam olah kanuragan, maka aku pun harus ikut mempersiapkannya. Aku tidak ingin menjadi orang asing bagi anakku”

“Apakah kau tidak dibayangi oleh dendam kepada siapa pun sehingga untuk membalas dendam kau merasa penting untuk menguasai ilmu kanuragan”

“Tidak bibi. Aku tidak mendendam siapapun?“

“Orang yang mengusirmu dari rumahmu?“

“Tidak, bibi. Aku tidak pernah mendendamnya”

“Kepada orang tua kandung Tatag?“

“Juga tidak. Tetapi memang ada sedikit kecemasan bahwa pada suatu saat Tatag akan diambilnya”

“Bukankah tidak ada yang mengetahui, dimana Tatag tinggal?“

“Tetapi ciri didadanya itu akan dapat mempertemukannya dengan orang tuanya yang sebenarnya”

“Biasakan Tatag memakai baju dengan dada tertutup”

”Ya, bibi. Tetapi selain daripada itu, menurut pengalaman yang sudah aku jalani, maka aku dan Tatag memang memerlukan perlindungan. Agar aku tidak selalu merepotkan orang lain, aku ingin dengan serba sedikit menguasai ilmu kanuragan, maka aku akan dapat melindungi diriku sendiri serta anakku”

Nyi Udyana tersenyum. Katanya, “Baiklah Tanjung. Kau akan menjadi muridku yang khusus. Wikan akan menjadi pembantuku untuk mengajarimu oleh kanuragan”

“Terima kasih, bibi”

“Kau akan mempunyai waktu latihan terpisah dari anak-anak perempuan yang telah memasuki lingkungan padepokan ini. Bukan hanya karena aku memerlukan cara yang khusus, tetapi umurmu terpaut dengan gadis-gadis remaja itu”

Demikianlah sejak hari itu, Nyi Udyana telah menyisihkan waktunya bagi Tanjung. Tanjung telah melakukan latihan-latihan tersendiri. Disela-sela kewajiban Nyi Udyana menangani gadis-gadis remaja yang telah berada di padepokan itu, maka waktunya diberikannya kepada Tanjung.

Namun justru Wikan lah yang lebih banyak menempa Tanjung meskipun ditunggui oleh Nyi Udyana. Nyi Udyana justru lebih banak mendukung Tatag pada saat-saat Tanjung sedang berlatih.

Ternyata Tanjung memiliki beberapa kelebihan. Selain kemauannya yang bersungguh-sungguh, maka ternyata tubuh Tanjung adalah tubuh yang sangat kokoh. Otaknya pun cerah sehingga setiap kali ia mendapatkan tuntunan unsur-unsur baru didalam ilmu kanuragannya, maka ia pun segera mampu menguasainya.

Tatag sendiri nampak begitu gembira jika ia melihat ibunya berlatih. Di dalam dukungan Nyi Udyana anak itu sering meronta sambil tertawa-tawa, seakan-akan ia mengetahuinya bahwa ibunya sedang membentuk dirinya menjadi seorang perempuan yang memiliki kelebihan.

Sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh Tanjung, maka kesempatan berlatih baginya pun menjadi semakin panjang. Nyi Udyana telah memerintahkan Wikan untuk membawa Tanjung ke sanggar terbuka, sementara Nyi Udyana sendiri mengayun Tatag dalam gendongannya, agar anak itu tertidur.

Jika Tatag tidur, maka ia pun dibaringkan di amben bambu didalam sanggar itu pula, sementara Nyi Wikan sendiri turun ke arena, untuk menempa Tanjung dalam olah kanuragan.

Kerja keras serta kemauan yang bersungguh-sungguh dilambati oleh niat yang mapan, ternyata Tanjung dengan cepat mencapai kemajuan-kemajuan, bahkan di luar duagaan Wikan dan Nyi Udyana.

Dalam pada itu, padepokan Udyana itu pun tumbuh dan mekar sebagaimana diharapkan. Murid-muridnya tidak hanya memiliki kemampuan yang semakin tinggi dalam olah kanuragan. Namun murid-murid dari perguruan Udyana itu juga memiliki ketrampilan. Beberapa orang diantara mereka telah ada yang meninggalkan padepokan dan kembali ke orang tuanya, karena mereka dianggap sudah menyelesaikan masa berguru di padepokan Udyana. Namun yang telah dianggap selesai itu adalah murid-murid yang lama, yang hadir di padepokan itu pada masa Ki Margawasana masih memimpin.

Namun yang melepas mereka dari padepokan adalah Ki Udyana, karena pemimpin padepokan itu sudah beralih tangan.

“Kalian harus menjadi orang-orang berguna didalam lingkungan kalian“ pesan Ki Udyana, “Jangan justru menjadi hama bagi sesama. Kalian harus selalu ingat pada saat-saat kalian melakukan pendadaran untuk memasuki padepokan ini sebagaimana juga dengan aku sendiri. Kalian pun harus selalu ingat akan segala pesan-pesan Ki Margawasana. Yang penting, lakukan sesuai dengan janji kalian. Karena jika tidak ada satunya kata dan perbuatan, maka sebenarnyalah kalian tidak mempunyai nilai yang pantas menurut pandangan sesama kalian”

Beberapa orang murid yang sudah menyelesaikan masa berguru mereka itu pun mengangguk-angguk. Janji yang pernah mereka ucapkan pada saat mereka memasuki padepokan ini, rasa-rasanya telah terngiang kembali di telinga batin mereka.

Di antara mereka yang akan meninggalkan padepokan itu dan kembali ke rumah mereka masing-masing adalah Murdaka.

Demikianlah maka murid-murid yang sudah di lepas itu, akan meninggalkan padepokan itu di keesokan harinya.

Secara khusus Murdaka pun telah menemui Wikan. Ia masih ingat apa yang telah dilakukannya terhadap Wikan, justru karena ia menjadi dengki atas keberhasilan Wikan. Namun ternyata bahwa ia tidak mampu dan tidak akan pernah mampu mengalahkan Wikan. Sementra itu, Wikan justru tidak membalas sikap dengkinya itu. Ia masih mampu mengekang diri, sehingga ia tidak menciderainya meskipun ia dapat melakukannya jika ia mau.

“Aku masih harus meyakinkan diriku, bahwa kau sudah memaafkan aku Wikan?”

Wikan tersenyum. Katanya, “Aku sudah lama melupakannya”

“Masalahnya bukan apakah kau masih ingat atau sudah lupa. Tetapi aku ingin meyakinkan diriku, bahwa kau sudah memaafkan aku”

Wikan tertawa. Sambil menepuk bahu Murdaka ia pun berkata, “Bukankah aku sudah memaafkanmu sejak peristiwa itu terjadi?”

“Terima kasih, Wikan. Aku mengundangmu untuk datang ke rumahku”

“Pada satu kesempatan aku akan datang ke rumahmu”

“Aku sangat berharap. Tetapi untuk beberapa lama aku berniat untuk mencari pengalaman dengan satu pengembaraan. Mudah-mudahan selama aku mengembara, aku menemukan nilai-nilai yang akan dapat berarti dalam hidupku kelak”

“Pengalaman adalah guru yang baik, Murdaka. Tetapi jangan pernah lupakan pesan guru dan pesan paman Udyana, sehingga keberadaanmu disatu tempat akan dapat memberikan kesejukan bagi sesama. Bukan sebaliknya”

“Aku akan selalu mengingatkan, Wikan”

Hari itu, para cantrik yang telah dilepas itu pun telah berbenah diri untuk meninggalkan padepokan Udyana. Hari itu adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk berkelakar, bersendau gurau dan saling menggoda diantara mereka dengan para cantrik yang masih akan tetapi tinggal.

Namun yang tidak pernah mereka duga-duga itu datang. Rasa-rasanya tidak ada mendung tidak ada angin, tiba-tiba saja hujan pun turun dengan derasnya.

Ki Udyana dan Nyi Udyana terkejut ketika seorang tua, yang sedikit lebih tua dari Ki Udyana datang dengan wajah yang buram serta sikap yang agak kasar.

Demikian ia memasuki gerbang halaman padepokan, orang itu berkata kepada cantrik yang menyongsongnya, “Aku akan bertemu dengan Mina”

“Paman guru Wigati”

“Ternyata kau masih mengenal aku. Dimana Mina?”

“Paman, silahkan duduk. Aku akan memanggil kakang Udyana”

“Siapa?“

“Kakang Udyana”

“Aku mencari Mina. Apakah kau tuli?“

“Paman guru. Guru telah memberikan nama baru kepada kakang Mina sejak ia menerima penyerahan kekuasaan atas padepokan itu”

“Nama baru?“

“Ya. Nama baru kakang Mina adalah Ki Udyana”

“Persetan dengan nama baru. Apakah kau kira pantas bagi Mina mengenakan nama itu? Mina adalah orang yang tumbuh dari antara batang ilalang. Ia tentu lebih pantas bernama Mina. Bukankah ayahnya pencari ikan di sepanjang sungai”

“Tetapi guru menghendaki lain”

“Cukup. Panggil Mina. Aku perlu bertemu dengan orang itu”

Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk hormat, “Baik, paman. Silahkan duduk di pringgitan”

Orang yang disebut Wigati itu pun segera naik ke pendapa. Tetapi ia tidak segera duduk di pringgitan. Ia masih saja berjalan hilir mudik di pendapa.

Bahkan orang itu terkejut ketika pintu pringgitan bangunan utama padepokan Udyana itu terbuka.

“Silahkan duduk, paman“ Ki Udyana mempersilahkan.

“Aku perlu berbicara denganmu, Mina” berkata Ki Wigati dengan nada tinggi.

“Baik paman. Tetapi silahkan duduk”

Ki Wigati itu pun kemudian duduk di pringgitan bersama Ki Udyana. Dengan ramah Ki Udyana itu pun bertanya, “Bagaimana kabar paman sekeluarga selama ini? Bukankah baik-baik saja?“

“Mina” berkata Ki Wigati seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Ki Udyana, “Aku datang untuk meluruskan kesalahan yang telah dilakukan oleh kakang Margawasana”

“Kesalahan yang mana, paman?” bertanya Ki Udyana.

“Jangan berpura-pura”

“Aku benar-benar tidak mengerti”

“Mina. Apakah matamu buta dan telingamu tuli sehingga kau tidak tahu kesalahan yang telah dibuat oleh kakang Margawasana disaat-saat terakhirnya memegang pimpinan di padepokan ini?“

“Maaf paman. Aku memang tidak mengetahuinya. Tetapi seandainya guru melakukan kesalahan, paman masih dapat menemuinya dan membicarakannya dengan guru. Ada dua orang saudaraku yang sudah mengetahui dimana guru berada demikian guru meninggalkan padepokan ini”

“Kenapa aku harus pergi kemana-mana? Bagiku, aku dapat langsung menemuimu dan membicarakannya tanpa kakang Margawasana. Aku akan berbicara sebagai orang kedua di padepokan ini setelah kakang Margawasana”

“Apa sebenarnya yang akan paman katakan?“

“Aku minta kau dan isterirnu pergi dari padepokan ini. Aku adalah adik seperguruan kakang Margawasana. Aku adalah orang kedua setelah kakang Margawasana. Tetapi kakang Margawasana telah melupakan aku. Bahkan kakang menganggap seakan-akan aku tidak ada. Jika kakang Margawasana merasa letih memimpin padepokan ini, kemudian kakang Margawasana ingin beristirahat, seharusnya kakang Margawasana menyerahkannya kepadaku. Tidak kepadamu. Kau pun harus tahu diri, bahwa kau tidak berhak untuk memimpin padepokan ini apalagi dengan mengganti nama dengan nama yang tidak akan dapat kau usung diatas kepalamu, karena nama itu sangat tidak pantas bagimu. Bagi anak pinggir kali anak seorang pencari ikan disela-sela batu padas di sepanjang sungai”

“Paman. Paman boleh menghina aku. Apalagi apa yang paman katakan itu benar, bahwa aku adalah anak pinggir kali, anak seorang pencari ikan, sehingga nama yang diberikan kepadaku sangat sederhana dan mencerminkan pergulatan ayahku setiap hari. Mina. Tetapi hendaknya paman jangan menyalahkan guru. Bukan berarti bahwa aku akan mempertahankan kedudukan yang diwariskan oleh guru kepadaku. Tetapi segala sesuatunya dapat dibicarakan dengan baik. Aku minta paman menemui guru. Biarlah aku dan adi Rantam atau adi Parama mengantar paman ke rumah guru di Gebang atau di Bukit Jatilamba. Paman dapat membicarakan dengan guru sampai tuntas. Jika aku dan isteriku harus pergi, maka kami akan pergi dari padepokan ini”

“Sudah aku katakan. Aku tidak perlu pergi kemana-mana. Sekarang aku perintahkan kau dan isterimu pergi. Ke beradaanmu disini kecuali tanpa hak sama sekali, kau juga sudah merusak tatanan padepokan ini. Menurut pendengaranku, isterimu telah menerima beberapa mentrik. Gadis-gadis remaja itu kau biarkan tinggal di padepokan ini bersama-sama dengan anak-anak muda”

“Paman. Jika itu kami lakukan, maka kami pun harus mempertanggung-jawabkannya. Isteriku bertanggung jawab terhadap gadis-gadis remaja yang berada di padepokan ini. Isteriku telah membangun dinding bambu yang kokoh dan tinggi, sebagai batas lingkungan para cantrik dengan para mentrik. Isteriku akan mempertanggungjawabkan mereka terhadap orang tua mereka, yang telah mempercayakan anak-anaknya berada di padepokan ini”

“Kau tidak usah omong-kosong seperti itu. Kenapa kau tidak melihat ke tengkukmu sendiri. Kau dan isterimu itu. Hubunganmu dan isterimu itu lelah menodai perguruan kita pada waktu itu”

“Tidak. Guru merestui hubungan kami. Guru pula yang menjadi salah seorang saksi pernikahan kami. Aku tahu, paman memang tidak setuju. Tetapi bukan karena tatanan padepokan ini menjadi kabur. Tetapi paman mempunyai maksud-maksud yang lain”

“Cukup. Kau lebih baik diam Mina, daripada aku mengoyak mulutmu”

“Sudahlah, paman. Aku tidak ingin terjadi perselisihan diantara keluarga sendiri. Jika paman menganggap guru bersalah, silahkan menemuinya. Aku akan bersedia mengantarkan paman”

“Aku tidak mau, kau dengar. Aku mau kau dan isterimu pergi. Hari ini juga. Akulah yang berhak atas padepokan ini, karena aku adalah orang kedua setelah kakang Margawasana”

“Tetapi paman harus bertemu dan berbicara dahulu dengan guru”

“Tidak perlu. Sekarang kemasi barang-barangmu dan tinggalkan tempat ini. Aku akan datang bersama murid-muridku untuk menempati padepokan ini. Padepokan ini cukup luas, sehingga akan dapat menampung murid-murid seisi padepokanku. Pada kesempatan yang lain, kami akan membawa barang-barang kami dan seisi padepokan kami kemari”

“Paman. Persoalannya tidak begitu sederhana. Jika paman membawa murid-murid seisi padepokan paman itu kemari, maka padepokan ini tentu tidak akan dapat menampung. Sekarang saja terasa padepokan ini sudah terlalu padat”

“Aku akan mengusir perempuan-perempuan itu dari padepokan ini”

“Jumlah mereka hanya sedikit, paman. Seandainya mereka harus pergi, pengaruhnya tidak akan terlalu banyak”

Seperti yang pernah dikatakannya, maka Ki Margawasana itu pun kemudian telah minta diri kepada Ki Udyana serta para penghuni padepokan itu untuk menyepi.

“Aku akan mengaturnya. Setiap bangunan di padepokan ini harus dimanfaatkan dengan baik. Bangunan utama ini dapat dipergunakan bagi para cantrik”

“Aku mohon paman tidak bertindak dengan tergesa- gesa. Bukankah hari-hari masih panjang, sehingga kita dapat berbicara dengan baik? Seandainya murid-murid paman harus ditampung di tempat ini, maka masih ada tanah-tanah yang kosong, sehingga masih dapat dibuat bangunan-bangunan baru. Tetapi tentu tidak dengan serta-merta, bahwa hari ini segala sesuatunya harus terlaksana”

“Jangan banyak bicara lagi, Mina. Waktuku tidak banyak. Aku beri kesempatan kau sehari ini. Malam nanti, kau dan keluargamu serta perempuan-perempuan yang ada di barak ini harus sudah pergi. Esok pagi-pagi, kami akan memasuki padepokan ini. kami akan mengatur penempatan para cantrik yang aku bawa kemari, serta cantrik-cantrik yang sudah berada di padepokan ini”

“Paman. Kita harus membicarakannya dengan baik, paman. Kita cari kemungkinan-kemungkinannya. Lebih daripada itu, paman harus berbicara dengan guru. Hal itu mutlak harus paman lakukan”

“Tidak perlu kau dengar. Hari ini kau harus pergi”

“Aku harus memikirkannya paman. Jika paman tidak mau menemui guru, biarlah aku yang akan melaporkannya”

“Tidak ada waktu. Waktumu hanya sehari ini”

“Jangan memaksa paman”

“Apa? Kau menolak? Kau tahu, siapa aku”

“Paman guruku”

“Kau harus tunduk kepadaku, seperti kau harus tunduk kepada gurumu”

“Aku akan melakukannya paman. Mina akan tunduk kepada paman. Tetapi keberadaanku disini sekarang adalah mengemban tugas yang dibebankan guru kepadaku. Jika perintah guru dan perinlah paman bertentangan, maka aku akan lebih mematuhi perintah guru”

“Maksudmu?”

“Guru memerintahkan agar aku memimpin padepokan ini sepeninggal guru. Aku hanya akan meninggalkan tugasku, jika guru sendiri yang memerintahkannya”

“Jadi kau tidak mau mendengarkan perintahku?“

“Maaf paman. Hanya guru yang dapat memerintahkan aku pergi dari padepokan ini”

“Keparat kau, Mina. Apakah aku harus mengusirmu dengan kekerasan?“

“Dengan cara apa pun aku tidak akan pergi”

“Kau menantang aku, Mina?“

“Tidak, paman”

“Jadi, kenapa kau tidak mau menjalankan perintahku”

“Ya hanya tidak mau begitu saja, karena bertentangan dengan perintah guru. Tetapi aku tidak menantang paman. Aku tahu, bahwa aku harus menghormati paman”

“Iblis laknat kau Mina. Terserah kepadamu. Jika esok pagi aku datang bersama murid-muridku dan kau masih berada di padepokan ini, maka aku akan mengusirmu dengan kekerasan. Jika kau tetap keras kepala, maka kau akan aku singkirkan meskipun bukan tujuanku untuk membunuhmu. Tetapi kau, isterimu dan perempuan-perempuan yang ada di padepokan ini harus bersih”

“Terserah saja kepada paman. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa hanya guru sajalah yang dapat mengusirku dari padepokan ini”:

Ki Wigati itu pun kemudian bangkit berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ki Wigati itu pun langsung melangkah meninggalkan Ki Udyana yang kemudian juga bangkit berdiri.

Ki Udyana turun dari pendapa. Tetapi ia tidak melepas pamannya sampai ke regol.

Demikian Ki Wigati pergi, maka Nyi Udyana segera menemui suaminya yang masih berdiri di halaman.

”Aku mendengarkan pembicaraan kakang dari balik pintu”

“Paman Wigati mencari perkara”

“Aku sependapat dengan sikapmu kakang”

“Kita tidak dapat bersikap lain”

“Jika esok pagi-pagi sekali paman datang bersama murid-muridnya?“

“Kita pertahankan padepokan ini. Kita harus menjunjung tinggi kepercayaan guru kepada kita”

“Bagus. Aku setuju”

“Aku akan memanggil adi Parama, Rantam dan Windu”

“Ajak Wikan ikut berbicara”

“Ya. Dan tentu kau sendiri”

Sejenak kemudian, para pemimpin di padepokan itu pun telah mengadakan pertemuan. Ki Udyana, Nyi Udyana, Ki Parama, Ki Rantam, Ki Wisnu dan Wikan.

Dengan singkat, Ki Udyana menceriterakan pertemuannya dan pembicaraannya dengan Ki Wigati.

“Ki Wigati sampai hati berbuat demikian?“ bertanya Ki Parama.

“Ya, di. Memang diluar dugaan. Tetapi paman telah benar-benar mengusir aku sekeluarga serta para mentrik dari padepokan ini. Paman esok pagi-pagi akan datang bersama cantrik-cantriknya dan menempatkan diri di padepokan ini. Paman nampaknya tidak peduli, apakah padepokan ini akan dapat menampung atau tidak”

“Bagaimana sikap kakang Udyana?“

“Aku mencoba minta paman menemui guru di Gebang. Jika perlu, biarlah aku mengantarkannya”

“Paman tidak bersedia?“

“Ya, paman tidak bersedia. Kepada paman aku telah mengatakan, bahwa yang dapat mengusirku dari padepokan ini hanyalah guru. Paman sama sekali tidak berhak melakukannya.”

“Kakang benar. Kita tidak akan melangkah surut. Jika esok pagi paman datang bersama murid-muridnya, maka kita akan menutup pintu gerbang padepokan ini. Tidak seorang pun diantara mereka boleh masuk” sahut Ki Rantam.

“Jika mereka memaksa dengan kekerasan?“ sahut Ki Windu.

“Kita akan mengusir mereka dengan kekerasan”

“Bagus” geram Ki Windu, “Kita juga mempunyai harga diri. Kecuali hak yang telah diberikan oleh guru kepada kita, maka kita pun harus menunjukkan sikap, bahwa orang lain tidak akan dapat memperlakukan kita dengan semena-mena”

Demikianlah, para pemimpin padepokan itu pun sepakat untuk mempertahankan padepokan mereka. Mereka tidak tahu, seberapa jumlah murid Ki Wigati dan seberapa pula tingkat ilmu mereka. Tetapi para penghuni padepokan Udyana itu tidak akan menyerah begitu saja.

Dengan demikian, maka Ki Udyana pun telah memanggil beberapa orang cantrik yang sudah terlanjur dilepas. Kepada mereka, Ki Udyana pun kemudian berkata, “Terserah kepada kalian. Apakah kalian benar-benar akan meninggalkan padepokan kalian esok, justru pada saat kita berada dalam keadaan yang gawat, atau kalian bersedia menunda keberangkatan kalian”

Yang menyahut adalah Murdaka, “Kita akan menunda keberangkatan kita, kakang. Kita akan melihat, apa yang akan dilakukan oleh paman Wigati dan murid-muridnya”

“Terima kasih Murdaka. Jika kalian berniat menunda keberangkatan kalian. Mungkin sekali, paman Wigati akan mempergunakan kekerasan yang harus kita lawan dengan kekerasan pula karena kita tidak mempunyai pilihan”

Dengan demikian, maka para penghuni padepokan Udyana itu pun telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Nyi Udyana pun telah menempatkan para mentrik di tempat yang terlindung. Mereka belum lama berada di padepokan, sehingga mereka masih belum dapat dilepaskan di arena jika benar-benar terjadi kekerasan. Agak lebih baik dari mereka adalah justru Tanjung yang mendapat bimbingan secara khusus oleh Nyi Udyana dan Wikan. Meskipun demikian, Tanjung masih belum waktunya untuk turun ke gelanggang. Apalagi ia mempunyai tugas khusus untuk menjaga Tatag.

Sementara itu, para cantrik yang lain pun telah memperbaiki pintu gerbang yang agak goyah. Mereka pun memperkuat selarak. Mereka sepakat untuk menutup pintu gerbang jika Ki Wigati datang dengan murid-muridnya. Untuk melindungi pintu gerbang, maka para cantrik pun telah membuat panggungan bambu di sebelah menyebelah pintu gerbang.

“Kita terpaksa mempersiapkan busur dan anak panah” berkata Ki Windu.

“Apaboleh buat. Bukan kitalah yang mendahuluinya. Kita berada di rumah kita sendiri. Jika mereka datang kemari dan berniat untuk menguasainya, maka merekalah yang bersalah”

Ki Udyana sendiri merasa sangat prihatin atas sikap pamannya itu. Mereka lahir dari akar ilmu yang sama. Kenapa tiba-tiba telah terjadi permusuhan yang langsung memungkinkan timbulnya benturan kekerasan.

“Apa yang sebenarnya di kehendaki oleh paman Wigati” desis ki Udyana ketika ia duduk bersama Nyi Udyana dan Wikan di serambi bangunan utama padepokannya.

“Menurut pendapatku paman, paman Wigati tentu mempunyai maksud tertentu. Bukan sekedar menguasai padepokan ini”

“Mungkin. Tetapi maksud yang tersembunyi itu agaknya memang sulit untuk diungkapkan. Mungkin ada seseorang yang berkepentingan untuk menimbulkan perselisihan diantara saudara seperguruan. Mungkin ada pihak yang tidak ingin melihat padepokan yang ditinggalkan oleh Ki Margawasana ini menjadi kokoh”

“Memang sulit untuk meraba kepentingan yang sesungguhnya dari sikap paman Wigati itu, kakang” sahut Nyi Udyana, “Mudah-mudahan besok kita mendapat penjelasan tentang hal itu”

Ki Udyana mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang harus menunggu”

Malam itu, para cantrik pun telah mendapat tugas baru. Bergantian mereka mengawasi setiap sudut padepokan. Dua orang cantrik berjaga-jaga diatas panggungan yang mereka buat di sebelah menyebelah pintu gerbang. Namun mereka pun telah membuat panggungan yang memanjang di sudut-sudut dinding padepokan.

Ki Udyana memang harus menjadi sangat berhati-hati. Mereka tidak tahu, kekuatan paman gurunya yang sebenarnya. Jika saja mereka datang dengan pasukan yang sangat besar, maka padepokan itu akan mengalami kesulitan. Namun Ki Udyana sudah bertekat untuk tidak beranjak dari padepokan itu. Demikian pula setiap orang penghuni padepokan itu. Apa pun yang akan terjadi, mereka harus mempertahankan padepokan mereka.

Malam itu, Ki Udyana dan Nyi Udyana justru sulit untuk dapat tidur. Meskipun mereka berbaring di pembaringan, namun rasa-rasanya mereka tetap saja gelisah.

Namun di dini hari, meskipun hanya sebentar, keduanya sempat juga memejamkan mata.

Menjelang fajar, mereka telah terbangun. Para cantrik justru telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Wikan pun telah berbenah. Demikian pula Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu. Sementara itu, di dapur pun api telah menyala pula.

Ketika bayangan fajar sudah nampak di langit, maka para cantrik pun telah selesai dengan makan pagi. Para pemimpin menganjurkan agar mereka makan sampai benar-benar kenyang tetapi tidak berlebihan.

“Kita tidak tahu, sampai kapan kita akan bertempur. Mungkin sehari penuh sehingga hari ini kita tidak sempat makan lagi”

Menjelang fajar, maka Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu pun sudah membagi diri di sisi kanan, sisi kiri dan mengawasi bagian belakang padepokan. Sedangkan Ki Udyana, Nyi Udyana dan Wikan akan berada di bagian depan.

Para cantrik yang sudah tuntas dan sebenarnya sudah dilepas untuk meninggalkan padepokan itu, telah mempersiapkan diri pula sebaik-baiknya. Jika pintu gerbang itu akhirnya harus terbuka, maka mereka pun harus siap menyongsong lawan mereka yang belum mereka ketahui, tingkat kemampuan mereka.

Namun Murdaka dan beberapa orang itu adalah murid-murid Ki Margawasana yang sudah menyelesaikan masa berguru mereka, sehingga mereka pun telah menguasai ilmu tertinggi dari padepokan Udyana.

Tetapi seisi padepokan itu harus tetap berhati-hati. Tidak seorang pun diantara mereka yang pernah mengetahui apalagi menjagi ilmu dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Wigati.

Namun mereka tahu pasti, bahwa sumber ilmu Ki Wigati tidak berbeda dari sumber ilmu Ki Margawasana yang kemudian mengalir kepada murid-muridnya.

Ketika langit menjadi semakin terang, maka Ki Udyana dan Nyi Udyana pun telah bersiap di halaman. Segala sesuatunya telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Suasana di padepokan itu memang menjadi sangat tegang. Selain para cantrik yang sudah siap menghadapi lawan, maka para cantrik dan mentrik yang masih belum waktunya turun kegelanggang masih harus tetap berada didalam barak mereka. Demikian pula Tanjung bersama Tatag, harus berada di biliknya pula. Beberapa orang cantrik yang sudah lebih tua diperintahkan untuk berjaga-jaga melindungi mereka.

Meskipun demikian, para cantrik dan mentrik itu sudah mempersiapkan senjata di lambung masing-masing. Dalam keadaan yang memaksa, maka mereka harus berusaha untuk melindungi diri sendiri. Karena selama mereka berada di padepokan itu,maka mereka telah mempelajari langkah-langkah pertama olah kanuragan.

Dalam pada itu, para cantrik yang berada di panggungan disebelah menyebelah pintu gerbang itu pun hampir berbareng memberikan isyarat kepada Ki Udyana dan Nyi Udyana.

“Lihatlah, ada apa di luar Wikan”

Wikan pun kemudian memanjat tangga panggung disebelah pintu gerbari| itu. Ketika ia berada diatas panggungan, maka dilihatnya Ki Wigati berjalan di padang rumput di luar padepokan itu, diiringi oleh murid-muridnya yang jumlahnya ternyata cukup banyak.

“Ada apa Wikan?“ bertanya Ki Udyana dari halaman.

“Paman dan murid-muridnya telah datang”

Ki Udyana dan Nyi Udyana itu pun segera memanjat naik pula. Keduanya saling berpandangan sejenak. Murid Ki Wigati yang dibawanya ternyata cukup banyak.

“Hampir dua kali lipat dengan murid-murid perguruan kita, Nyi” desis Ki Udyana.

Namun jumlah Nyi Udyana tegas, “Berapa pun jumlah mereka, kita tidak akan beranjak dari tempat ini, kakang”

“Ya, bibi, Jumlah mereka memang banyak. Tetapi tidak ada dua kali lipat dari jumlah saudara-saudara kita. Jumlah itu mash belum diatas batas kemampuan kita, paman”

“Mudah-mudahan”

“Aku yakin paman”

“Kita belum tahu kemampuan mereka seorang-seorang”

“Nampaknya mereka tidak sekokoh murid-murid perguruan ini. Lihat paman, sebagian dari mereka nampak kurus-kurus. Wajahnya pucat dan tidak bergairah sama sekali”

Ki Udyana dan Nyi Udyana tersenyum. Dengan nada datar Ki Udyana berkata, “Kau masih sempat berkelakar Wikan”

“Aku berkata sebenarnya menurut penilaianku, paman”

“Kurus dan pucat bukan ukuran bagi kemampuan seseorang. Jangan meremehkan orang lain, Wikan”

“Ya, paman“ suara Wikan pun merendah..

Dalam pada itu, Ki Wigati dan murid-muridnya pun menjadi semakin dekat dengan padepokan yang dinamai padepokan Udyana sesuai dengan nama pemimpinnya.

Beberapa patok dari pintu gerbang padepokan, iring-iringan itu pun berhenti. Ki Wigati bersama dua orang muridnya yang terpercaya melangkah mendekati pintu gerbang yang tertutup.

“Selamat pagi, paman, “ sapa Ki Udyana dari atas panggung di sebelah pintu gerbang.

Ki Wigati mengangkat wajahnya. Ia pun melihat Ki Udyana, Nyi Udyana, dan murid bungsu Ki Margawasana, Wikan, ada di atas panggungan itu pula.

“Mina” teriak Ki Wigati, “Kenapa kau masih belum pergi? Aku memberimu kesempatan terakhir. Kau dan isterimu harus pergi sekarang juga. Jika nanti wayah pasar temawon kau belum keluar dari gerbang padepokan ini, maka kami akan memasuki pintu gerbang ini dengan paksa. Kau harus menyadari, bahwa kami datang dengan kekuatan berlipat. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa. Aku mengetahui berapa banyak orang yang berada di dalam padepokanmu. Aku pun tahu, tingkat kemampuan kalian. Karena itu, aku datang dengan penuh keyakinan. Jika kau menolak pergi, maka padepokanmu dan saudara-saudara seperguruanmu akan menjadi korban. Kau tahu itu. Dan kau harus bertanggung-jawab”

“Paman“ berkta Ki Udyana, “Aku telah menerima penyerahan kepemimpinan di padepokan ini. Tentu saja aku tidak dapat pergi begitu saja. Karena itu, apa pun yang akan terjadi, kami berdua tidak akan meninggalkan padepokan ini”

“Jadi kau akan tetap bertahan?”

“Ya”

“Kau adalah orang yang sangat mementingkan dirimu sendiri. Kau sampai hati mengorbankan saudara-saudara seperguruanmu hanya karena kau ingin mempertahankan kedudukanmu”

“Paman telah memutar balikkan keadaan. Aku tidak akan pergi meninggalkan padepokan ini, justru karena aku merasa bertanggung jawab atas padepokan yang kepemimpinannya telah diserahkan kepadaku ini”

“Mina” teriak Ki Wigati, “Apa pun yang kau katakan, namun aku hanya memberimu waktu sampai wayah pasar temawon. Jika pada wayah pasar temawon kau dan isterimu tidak pergi, maka kau akan menyesali akibatnya”

“Paman tidak usah menunggu wayah pasar temawon. Sekarang pun aku sudah menjawab dengan tegas, bahwa kami tidak akan pergi. Karena itu, jika paman ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Kami sudah siap untuk mengatasinya”

“Edan kau Mina. Kau berani menantang aku, he? Bukankah kau masih waras?”

“Tentu paman”

“Iblis manakah yang merasuk ke dalam tubuhmu, sehingga kau berani menantang pamanmu?”

“Aku menjalankan kewajiban paman”

“Baik. Baik. Aku tidak akan menunggu sampai wayah pasar temawon. Aku akan memerintahkan murid-muridku untuk” memasuki padepokan ini dengan kekerasan. Semakin cepat semakin baik”

Ki Udyana tidak melihat kemungkinan lain. Pamannya benar-benar sudah kehilangan segala macam pertimbangan yang jernih.

Namun yang menarik perhatian Ki Udyana, Nyi Udyana dan Wikan adalah keberadaan seorang tua yang berambut, berkumis dan berjanggut putih di pasukan Ki Wigati. Ki Udyana dan Nyi Udyana apalagi Wikan, belum pernah mengenal laki-laki tua itu. Namun menilik sikapnya terhadap Ki Wigati, orang tua itu mempunyai pengaruh yang sangat besar.

“Siapakah orang tua itu paman?” bertanya Wikan.

“Aku belum tahu, Wikan. Tetapi agaknya orang tua itu berilmu sangat tinggi”

“Ya, paman. Orang tua itu agaknya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan paman Wigati”

“Apakah paman Wigati telah menjual padepokan kita kepada laki-laki tua itu?” desis Nyi Udyana.

“Tidak mustahil hal itu dilakukan oleh paman Wigati” sahut Wikan.

Ki Udyana menarik nafas panjang. Katanya, “Jika benar demikian, maka paman telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Bahkan paman telah berbuat nista dihadapan saudara tua seperguruannya”

Dalam pada itu, Ki Wigati telah melangkah kembali ke pasukannya. Orang tua berambut putih, berkumis dan berjanggut putih itulah yang menyambutnya.

Ki Udyana, Nyi Udyana dan Wikan tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Ki Wigati serta orang tua berambut putih itu. Namun kemudian Ki Wigati pun telah berbicara kepada murid-muridnya dengan sikap yang mendebarkan.

“Agaknya Ki Wigati telah memerintahkan kepada murid-muridnya untuk bergerak, paman” berkata Wikan.

“Ya. Mereka memang mulai bergerak”

“Silahkan paman dan bibi turun. Biarlah para cantrik yang sudah mempersiapkan busur dan anak panah naik ke panggungan.

Ki Udyana dan Nyi Udyana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian bertanya, “Hati-hatilah Wikan. Kau menghadapi orang yang berpengalaman serta berwawasan luas”

“Mereka akan memecahkan pintu gerbang paman. Agaknya mereka akan berhasil. Ada diantara murid-murid paman Wigati yang membawa sebuah balok yang besar, yang agaknya memang sudah dipersiapkan. Agaknya paman Wigati sudah memperhitungkan, bahwa paman dan bibi tidak akan meninggalkan padepokan ini, sehingga akan terjadi pertempuran”

“Ya. Mereka memang sudah membawa balok besar yang akan mereka pergunakan untuk memecahkan pintu gerbang kita. Mereka tentu akan berhasil”

“Karena itu, biarlah paman dan bibi berada di bawah. Jika mereka memasuki halaman padepokan, paman dan bibi dapat menahan orang tua itu serta paman Wigati”

“Kami memerlukan kau juga Wikan”

“Aku akan berada disini. sejauh dapat bertahan, paman”

“Kau lihat orang yang berdiri di belakang orang tua itu?”

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 13

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s