TT-11


kembali | lanjut

TT-11AKU adalah seorang prajurit, Ki Sudagar. Aku akan memberatkan namaku sebagai seorang prajurit daripada nyawaku”

Perkelahian  pun tidak dapat dihindarkan lagi. Ki Sudagar  pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk bergerak. Beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi telah bertempur melawan Ki Rangga Wiratenaya, sedangkan yang lain berusaha untuk menangkap Ki Jagabaya dan para bebahu yang telah berpihak kepada Ki Jagabaya. Sedangkan anak Ki Kebayan tua yang sudah siap untuk berkelahi, telah bertempur melawan orang-orang upahan Ki Sudagar.

Ternyata orang-orang upahan Ki Sudagar itu terlalu banyak. Meskipun Ki Rangga Wiratenaya seorang prajurit yang berilmu tinggi, tetapi menghadapi empat orang upahan Ki Sudagar yang juga berilmu tinggi, segera mengalami kesulitan. Demikian pula kedua orang Lurah prajurit yang menyertainya.

Meskipun demikian, namun Ki Rangga Wiratenaya itu telah mengerahkan segenap kemampuanya dan bertempur tidak mengenal menyerah.

Pertempuran yang tidak seimbang pun segera terjadi. Ki Jagabaya yang menjadi pingsan karena dipukul dengan tongkat besi di punggungnya, telah diseret ke sudut pringgitan banjar kademangan itu. Seorang bebahu yang lain pun segera jatuh pula terpelanting ke sudut pendapa. Tulang-tulangnya pun terasa berpatahan sehingga ia tidak dapat bangkit lagi dengan segera.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba timbul perubahan di arena pertempuran itu. Beberapa orang upahan terpelanting jatuh dan sulit untuk segera bangkit lagi. Yang lain terlempar membentur dinding halaman sehingga pingsan. Yang lain lagi mengerang kesakitan karena pedangnya sendiri telah menggores lambungnya.

Bahkan Ki Rangga Wiratenaya yang memiliki pandangan yang tajam mulai melihat perubahan yang telah terjadi itu.

Ki Sudagar pun merasakan perubahan yang tiba-tiba saja terjadi. Ia pun segera melihat empat orang yang telah melibatkan diri dalam pertempuran itu. empat orang yang tidak dikenal sama sekali. Bahkan Ki Kebayan muda yang bertempur di pihak Ki Sudagar pun tidak tahu pula, siapakah mereka itu.

Beberapa saat kemudian, Ki Sudagar pun menjadi sangat cemas. empat orang yang tiba-tiba berada di arena itu, telah menghancurkan perhitungannya. Bahkan dengan kehadirannya, Ki Rangga Wiratenaya telah berhasil mendesak lawan-lawannya. Demikian pula kedua orang Lurah prajurit yang menyertainya. Bahkan dua orang lawan Ki Rangga itu harus melepaskannya dan bertempur melawan salah seorang dari keempat orang yang tidak dikenal itu.

Namun Ki Sudagar pun tidak segera menyerah. Ketika ia melihat kesulitan yang agaknya tidak teratasi, maka ia pun segera berteriak, “Bunyikan kentongan”

Perintah itu telah menggetarkan halaman banjar. Orang-orang yang berada di halaman itu menyadari, bahwa suara kentongan itu akan berarti bencana bagi orang-orang yang tinggal di padukuhan-padukuhan di kademangari Kalisasak, karena orang-orang upahan Ki Sudagar akan melakukan tindak kekerasan di padukuhan-padukuhan. Seandainya orang-orang padukuhan bangkit karena suara kentongan, namun mereka tidak akan mampu mengatasi kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang upahan Ki Sudagar.

Dalam pada itu, seorang diantara kedua orang yang menunggui kentongan itu telah menggapai pemukulnya dan siap menabuh kentongan yang besar itu. Demikian suaranya mengumandang, maka orang-orang upahan Ki Sudagar itu akan segera bertindak.

Tetapi demikian orang itu mengangkat tangannya, maka orang itu pun berteriak. Ia pun melangkah surut selangkah. Dengan susah payah ia mencoba mempertahankan keseimbangannya. Tetapi akhirnya orang itu pun terjatuh, pemukul kentongan yang ada di tangannya itu pun terlepas.

Kawannya terkejut sekali. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian terdengar suara Ki Sudagar, “He, kenapa kau menjadi bingung. Ambil pemukul itu. Pukul kentongan itu dengan irama titir sekeras-kerasnya”

Orang itu pun seperti terbangun dari tidurnya. Dengan serta merta ia meloncat memungut pemukul kentongan itu. Tetapi demikian ia membungkuk untuk mengambil pemukul kentongan itu, maka sebuah tendangan yang sangat keras mengenai pantatnya, sehingga orang itu terjerumus dengan derasnya pula. Wajahnya yang tersuruk mencium tanah yang keras di halaman banjar itu pun terasa betapa pedihnya. Beberapa goresan telah membuat wajahnya itu bagaikan terkelupas.

Ki Sudagar itu mengumpat Seorang diantara orang yang tidak dikenal itulah yang kemudian berdiri menunggui kentongan itu.

“Bukankah suara kentongan ini akan menjadi pertanda bencana bagi rakyat Kalisasak?” berkata orang yang berdiri di dekat kentongan itu.

“Kau siapa?” bertanya Ki Sudagar.

“Kau tidak perlu tahu, siapa aku”

“Bukankah kau bukan orang Kalisasak?“

“Ya. Aku memang bukan orang Kalisasak”

“Kenapa kau ikut mencampuri urusan orang-orang Kalisasak”

“Persoalannya bukan sekedar persoalan orang-orang Kalisasak. Tetapi kau sudah memberontak terhadap Mataram. Karena itu maka semua orang yang merasa dirinya Kawula Mataram akan merasa berurusan”

“Fitnah. Aku tidak merasa memberontak terhadap Mataram”

“Kau sudah berani melawan Ki Rangga Wiratenaya yang datang mengemban perintah dari Mataram bersama dua orang prajurit. Bukankah itu merupakan satu pertanda, bahwa kau telah berani melawan Mataram?“

“Aku tidak berniat melawan. Aku hanya ingin bahwa yang datang kemari adalah Ki Panji Citrabawa. Bukan orang lain”

“Keinginan itu tentu dibayangi oleh sikapmu yang tidak jujur. Kau tentu mempunyai pamrih. Kau tentu sudah menemui Ki Panji Citrabawa. Kau tentu sudah berhasil membujuknya untuk melakukan kecurangan. Bahkan kau tentu sudah menyuapnya. Tetapi kau salah hitung. Ki Panji Citrabawa tentu melaporkan kepada atasannya akan tingkah lakumu itu. Meskipun Ki Citrabawa menerima suapmu, tentu sekedar untuk dijadikan bukti niat curangmu. Karena itu Mataram telah mengirimkan orang lain. Mataram telah mengirim Ki Rangga Wiratenaya”

“Persetan kau anak iblis. Kau tidak berhak berbicara seperti. Persoalan ini adalah orang-orang Kalisasak sehingga kau tidak perlu mencampurinya”

“Tetapi apakah orang-orangmu itu juga orang Kalisasak?”

Apakah kedua orang yang menunggui kentongan ini juga orang Kalisasak. Apakah orang-orang yang kau kirimkan ke padukuhan-padukuhan itu juga orang Kalisasak?“

Ki Sudagar itu menggeram. Sementara orang yang berdiri di dekat kentongan itu pun berkata, “Ingat Ki Sudagar. Bahwa aku mengenalmu. Aku tahu dimana rumahmu. Aku mengenal keluargamu dengan baik. Malam ini aku dan kawan-kawanku akan pergi. Tetapi besok aku akan berada diantara mereka yang akan memilih Demang di kademangan ini.

Mungkin kau dapat memanfaatkan orang-orangmu karena kau mampu mengupahnya. Mungkin kau dapat menaburkan uang untuk dapat menuai kemenangan esok. Tetapi kami tidak akan membiarkan kau berkuasa di Kalisasak. Jika kau besok terpilih menjadi Demang, maka umurmu tidak akan lebih dari tiga hari. Kami, dan seluruh murid perguruan kami akan datang untuk menghancurkanmu. Kami akan membunuh semua orang upahanmu. Kami akan membunuh keluargamu dan kami akan membunuhmu. Mungkin yang kami lakukan ini tidak sejalan dengan tatanan dan paugeran di Mataram. Mungkin Ki Rangga Wiratenaya akan mengambil sikap lain berpegangan kepada tatanan dan paugeran. Tetapi kami tidak. Kami pun telah siap untuk diburu oleh para prajurit Mataram karena kami telah menghukummu tanpa hak. Tetapi kami tidak mempunyai cara lain untuk menumpahkan sakit hati kami melihat caramu mendapatkan kemenangan”

Telinga Ki Sudagar itu bagaikan disentuh bara. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. empat orang yang tidak dikenal itu nampaknya bersungguh-sungguh.

Ki Rangga Wiratenaya pun berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi ancaman orang yang berdiri di dekat kentongan itu.

Dalam pada itu, orang-orang upahan Ki Sudagar yang ada di banjar itu sudah tidak berdaya. Sementara itu, seorang lain yang tidak dikenal itu pun kemudian berkata kepada Ki Sudagar” Ki Sanak. Panggil orang-orangmu yang berada di padukuhan-padukuhan. Mereka harus berkumpul disini. Kami ingin berbicara dengan mereka langsung”

Ki Sudagar itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja terbesit niatnya yang buruk. Jika orang-orang upahannya sudah berkumpul di halaman banjar, maka mereka akan merupakan kekuatan yang besar. Bersama mereka, maka Ki Sudagar akan dapat menghancurkan keempat orang yang tidak dikenal itu, sekaligus Ki Rangga Wiratenaya serta kedua orang prajurit yang menyertainya.

“Ternyata orang ini dungu juga” berkata Ki Sudagar didalam hatinya. Namun ia pun segera menyahut, “Baik, Ki Sanak. Aku akan memerintahkan orang-orangku untuk memanggil mereka yang tersebar di padukuhan-padukuhan”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Sudagar itu pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk pergi ke padukuhan. Diantara mereka masih ada yang berjalan dengan timpang. Ada yang masih menyeringai menahan sakit di punggungnya. Tetapi ada juga yang seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa atas dirinya.

Tetapi sementara itu Ki Rangga Wiratenaya itu pun melangkah mendekati orang yang tidak dikenalnya, yang minta agar Ki Sudagar itu memanggil orang-orangnya di padukuhan-padukuhan.

“Jika mereka berkumpul, mereka akan menjadi sangat berbahaya, Ki Sanak?”

“Tidak Ki Rangga. Meskipun mungkin ada diantara mereka yang berilmu tinggi, tetapi mereka tidak akan mampu melawan kita. Nanti, jika mereka sudah berkumpul dan ternyata mereka berniat melawan, maka kita akan memukul kentongan. Selain kita, maka rakyat kademangan ini tentu akan bangkit. Tidak akan ada lagi yang mengganggu mereka di padukuhan-padukuhan karena orang-orang upahan itu sudah berkumpul disini”

Ki Rangga Wiratenaya itu pun mengangguk-angguk Sementara itu, kedua orang prajurit yang menyertai Ki Rangga Wiratenaya itu pun telah membantu Ki Jagabaya dan para bebahu yang mengalami cidera di pertempuran. Namun perlahan-lahan keadaan mereka pun berangsur menjadi baik Bahkan Ki Jagabaya merasa bahwa keadaannya telah pulih kembali, sementara Ki Kebayan tua terbatuk-batuk di sudut pringgitan di tunggui oleh anaknya.

“Ayah duduk saja disini” berkata anaknya yang dahinya berdarah, “biarlah ayah tidak usah ikut berkelahi. Ayah sudah terlalu tua”

“Aku juga tidak berniat berkelahi” jawab ayahnya, “Tetapi seseorang telah memukul punggungku sehingga aku jatuh terjerembab. Ketika aku berusaha bangkit, tengkuklah yang dipukulnya.

Dalam pada itu, Ki Sudagar masih saja berdiri di halaman banjar. Sambil menunggu orang-orangnya dari berbagai padukuhan, Ki Sudagar pun berbicara dengan seorang diantara orang-orang yang diupahnya, “Orang itu berilmu tinggi. Tetapi ternyata ia orang yang lebih dungu dari seekor kerbau. Jika nanti kawan-kawanmu dari padukuhan-padukuhan itu datang, maka kalian semua akan bergerak serentak”

“Ya. Ya Aku mengerti, “ sahut orang upahan itu.

“Rawat kawan-kawanmu dan beritahukan kepada mereka agar mereka bersiap. Mereka yang keadaannya memungkinkan akan ikut bertempur lagi. Aku merasa sangat direndahkan. Hatiku telah sangat disakiti oleh keempat orang yang tidak aku kenal itu. Aku mendendam mereka lebih dari ketiga orang prajurit itu”

“Baik Ki Sudagar. Aku pun merasa harga diriku diinjak-injak. Meskipun aku orang upahan, tetapi aku tidak pernah mengingkari janji. Jika aku berkata ya, maka aku tentu akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Tetapi kali ini aku hampir saja gagal. Tetapi kebodohan orang itu masih memberi kami kesempatan untuk melumatkannya”

“Baik. Bersiaplah”

Orang itu mengangguk. Ia pun segera menemui kawan-kawannya seorang demi seorang. Membantu mereka yang mengalami kesulitan. Namun juga memberitahukan pesan Ki Sudagar bahwa mereka masih harus bangkit jika kawan-kawan mereka dari padukuhan-padukuhan itu berdatangan.

Dalam pada itu, atas persetujuan Ki Jagabaya, maka anak Ki Kebayan tua itu dengan diam-diam telah meninggalkan halaman banjar untuk menemui kedua orang calon Demang yang lain. Kemanakan Ki Demang yang telah meninggal itu serta sepupunya.

Ki Kebayan tua itu pun telah berpesan agar keduanya mempersiapkan diri. Mungkin keadaan akan menjadi semakin buruk malam ini.

“Aku tidak tahu, apakah mereka berdua sudah mengerti bahwa di banjar ini telah terjadi benturan kekuatan. Katakan kepada mereka. Sedangkan maksud orang-orang yang belum kita kenal, tetapi berpihak kepada kita itu untuk memanggil orang-orang upahan ki Sudagar, akan dapat berakibat buruk”

Dalam pada itu, Ki Jagabaya yang telah merasa dirinya pulih kembali itu pun telah mempersilahkan keempat orang yang belum dikenal itu untuk naik ke pendapa dan duduk di pringgitan.

“Ternyata dua diantara mereka adalah perempuan” desis Ki Jagabaya di dalam hatinya. Demikian pula orang-orang yang kemudian dapat melihat dengan jelas, keempat orang yang naik ke pendapa itu.

Namun seorang diantara mereka pun berkata, “Jika Ki Jagabaya berkenan, aku minta Ki Sudagar itu juga dipersi-lahkan untuk duduk bersama kami”

“Ki Sudagar?” bertanya Ki Jagabaga.

“Ya. Ia akan menjadi lebih berbahaya jika ia dibiarkan berada di halaman bersama orang-orangnya yang satu dua diantara mereka sudah menjadi berangsur baik”

Ki Jagabaya itu pun mengangguk-angguk. Kemudian setelah keempat orang itu duduk di pringgitan, Ki Jagabaya pun telah mempersilahkan Ki Sudagar untuk naik ke pendapa pula”

“Terima kasih, Ki Jagabaya. Aku akan menunggu orang-orangku disini. Jika aku tidak segera menemui mereka, mungkin mereka akan menjadi liar. Karena itu, aku harus segera menenangkan mereka.

Ki Jagabaya menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak memaksa. Bahkan Ki Jagabaya itu menyangka, bahwa Ki Sudagar sudah mulai melihat kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya.

“Mudah-mudahan ia menyesali kesalahannya, sehingga besok tidak akan terjadi lagi gejolak pada saat pemilihan dilaksanakan di banjar” berkata Ki Jagabaya didalam hatinya.

Ketika Ki Jagabaya akan naik ke pendapa, ia pun tertegun. Ia melihat kemanakan Ki Demang yang telah meninggal itu memasuki regol halaman. Seorang diri.

“Ada apa?” bertanya kemanakan almarhum Ki Demang itu.

“Naiklah. Silahkan duduk di pringgitan”

“Apakah ada kerusuhan di banjar? Kenapa aku tidak mendengar suara kentongan? Jika anak Ki Kebayan tua itu tidak datang ke rumah dan memberitahukan kepadaku apa yang terjadi, aku benar-benar tidak tahu. Aku sudah tidur nyenyak sekali”

“Marilah, silahkan naik”

Belum lagi kemanakan almarhum Ki Demang itu naik, maka seorang yang sudah ubanan memasuki regol halaman itu pula bersama seorang anak muda. Orang itu adalah sepupu Ki Demang yang sudah meninggal.

Kedua orang yang baru datang itu masing-masing juga telah mencalonkan diri untuk menjadi Demang di kademangan Kalisasak.

Orang yang sudah memasuki hari tuanya itu pun berjalan dengan cepat melintasi halaman. Meskipun rambutnya sudah memutih, tetapi orang itu masih tetap tegar.

Seperti kemanakan Ki Demang yang sudah meninggal, maka orang itu pun segera bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

“Silahkan naik ke pendapa” berkata Ki Jagabaya, “kita akan berbicara. Ada beberapa orang yang sudah berada di pringgitan. Diantara mereka adalah Ki Rangga Wiratenaya yang menggantikan Ki Panji Citrabawa”

Orang yang sudah ubanan itu mengangguk-angguk. Kepada kemanakan Ki Demang yang sudah meninggal itu ia pun bertanya, “Kau sudah lama?”

“Belum paman., Aku baru saja datang. Aku juga tidak mendengar bahwa telah terjadi keributan di banjar ini”

Mereka berdua serta seorang yang menyertai orang yang sudah ubanan itu pun segera naik ke pendapa. Mereka pun langsung pergi ke pringgitan serta duduk bersama orang-orang yang telah mendahuluinya. Diantara mereka yang duduk di pringgitan itu adalah Ki Kebayan muda yang dipaksa untuk ikut duduk di pringgitan itu pula.

Kedua orang yang mencalonkan diri untuk ikut dalam pemilihan Demang itu mendengarkan dengan saksama ketika Ki Jagabaya menjelaskan apa yang telah terjadi sejak awal

“Ki Sudagar mengharapkan bahwa yang datang adalah Ki Panji Citrabawa. Tetapi ternyata Mataram telah mengirimkan Ki Rangga Wiratenaya”

“Bukankah tidak ada bedanya?” sahut kemanakan almarhum Ki Demang.

“Ya. Bagi kami tidak ada bedanya, siapa pun yang mendapat perintah untuk datang menunggui serta bersaksi tentang pemilihan itu” sahut sepupu almarhum Ki Demang yang juga telah mencalonkan diri itu.

“Ya. Seharusnya demikian” sahut Ki Jagabaya, “tetapi ternyata tidak bagi Ki Sudagar. Mereka mengharap yang hadir adalah Ki Panji Citrabawa”

“Apa alasan Ki Sudagar?”

“Tidak ada alasan yang mapan kecuali bahwa pemilihan itu harus berlangsung sesuai dengan rencana. Karena rencananya yang akan datang adalah Ki Panji Citrabawa, maka Ki Sudagar menuntut agar yang datang dalam pemilihan itu juga Ki Panji Citrabawa.

“Tentu ada alasan yang lebih jauh” berkata sepupu almarhum Ki Demang yang rambutnya sudah ubanan itu, “sikap itu justru harus kita curigai”

“Sudah aku ceriterakan, bahwa kami tidak hanya sekedar mencurigai, tetapi kami dengan tegas menolak alasan Ki Sudagar untuk menunda pemilihan. Karena itu, maka pemilihan itu harus dilaksanakan esok pagi”

Sepupu almarhum Ki Demang itu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Sukurlah bahwa Ki Jagabaya sudah bertindak tegas. Tetapi perkenankanlah aku bertanya kepada Ki Sanak berempat. Bukan karena aku tidak berterima kasih atas bantuan Ki Sanak berempat. Tetapi apakah aku boleh bertanya, siapakah Ki Sanak berempat dan kenapa Ki Sanak tiba-tiba saja berada disini?“

Yang menjawab adalah Ki Leksana, “Tiba-tiba saja kami sudah berada disini Ki Sanak. Kami mendengar bahwa esok akan ada pemilihan Demang disini. Rasa-rasanya kami didorong oleh satu keinginan untuk menyaksikan pemilihan itu. Bukan sekedar pemilihannya, tetapi juga persiapannya”

“Apakah ada sangkut paut Ki Sanak berempat dengan kademangan kami?“

“Tidak. Kami tidak mempunyai sangkut paut. Tetapi aku telah mengenal baik almarhum Ki Demang Mertaraga”

“Ki Sanak mengenal baik kakang Demang Mertaraga?”

“Ya”

“Ki Sanak pernah mengunjungi kakang Demang?”

“Ya. Sebagai seorang sahabat baik, maka aku sering saling berkunjung dengan Ki Demang Mertaraga”

“Siapa Ki Sanak sebenarnya?”

“Aku kira kita memang pernah bertemu. Dengan Ki Jagabaya pun aku pernah bertemu sekali dua kali. Tetapi jika kalian lupa kepadaku, adalah wajar sekali. Ketika tadi aku melihat Ki Jagabaya, para bebahu yang satu dua aku kenal serta Ki Sanak yang datang kemudian, aku pun merasa agak lupa pula. Sudah lama aku tidak berkunjung ke Kalisasak. Itulah sebabnya aku tidak mendengar kabar bahwa Ki Demang Mertaraga sudah meninggal”

Sepupu Ki Demang itu pun mengingat-ingat. Demikian pula Ki Jagabaya. Akhirnya mcreka pun dapat mengingatnya bahwa mereka memang pernah bertemu dengan orang itu. Tetapi siapa?”

“Aku dapat mengingatnya” berkata Ki Kebayan tua, “Tetapi aku lupa nama Ki Sanak”

Ki Leksana tertawa. Sementara Ki Jagabaya pun berkata, “Ya. Aku dapat mengingat Ki Sanak. Aku memang pernah bertemu dengan Ki Sanak dirumah almarhum Ki Demang. Mertaraga”

Akhirnya Ki Lekasana pun berkata, “Namaku Lekasana.
Orang-orang Kalisasak itu mengangguk-angguk. Tetapi agaknya mereka memang sudah melupakan nama itu.

Tetapi Ki Lekasana justru merasa kebetulan bahwa orang-orang Kalisasak itu sudah melupakannya.

“Baiklah Ki Jagabaya” berkata Ki Lekasana kemudian
“namaku memang tidak penting. Tetapi percayalah bahwa aku datang karena aku merasa mempunyai ikatan persahabatan dengan almarhum Ki Demang Mertaraga. Karena itu rasa-rasanya aku juga ingin tahu, siapakah yang akan menggantikannya”

“Tetapi pemilihan itu baru akan dilaksanakan esok. Sedangkan malam ini Ki Sanak berempat sudah berada disini. Bagi kami, adalah kebetulan sekali, karena dengan demikian Ki Sanak berempat telah membantu kami dari kecurangan yang akan dilakukan oleh Ki Saudagar. Bahkan Ki Kebaya muda itu pun telah melibatkan diri pula.

Ki Kebayan muda itu hanya dapat menunduk dalam-dalam. Ia merasa telah melakukan kesalahan yang besar. Semula ia yakin, bahwa Ki Saudagar akan dapat mengusai keadaan. Tetapi ternyata yang terjadi adalah berbeda.

Diluar dugaan sadarnya Ki Kebayan muda itu memandangi keempat orang yang tidak dikenal itu sesaat. Sambil menundukkan kepalannya pula, Ki Kebayan muda itu bergere-mang didalam hatinya, “Jika saja keempat orang edan itu tidak ikut campur”

Dalam pada itu, di halaman beberapa orang upahan Ki Sudagar yang berada di beberapa padepokan terpenting sudah berdatangan. Ternyata mereka cukup banyak, sehingga Ki Jagabaya yang melihat kerumunan orang yang semakin banyak dihalaman itu berkata, “Mereka telah datang”

“Biarlah mereka berkumpul lebih dulu. Aku yakin bahwa Ki Saudagar akan mencoba memanfaatkan orang-orangnya untuk menanggulangi niatnya, memaksakan kehendaknya untuk membatalkan pemilihan itu. Tetapi bukankah kita sudah siap untuk menghadapi mereka sekarang? Kita akan membunyikan kentongan, agar orang-orang kademangan ini terbangun. Biarlah mereka mengerti, bahwa ternyata ada orang berniat buruk. Kelakuan Ki Sudagar itu akan menyusut suara yang sebenarnya akan memilihnya karena janji-janji, uang atau ancaman-ancaman”

“Tetapi bagaimana dengan orang-orang upahan itu? Mereka tidak terlalu berbahaya justru setelah mereka berkumpul. Disini ada kita. Ada kami berempat, Ki Tangga Wiratenaya dan kedua ora Lurah prajurit yang menyertainya. Disini ada kedua calon Demang yang lain dan beberapa ora anak muda yang sudah diberitahu oleh anak Ki Kebayan tua itu”

“Tetapi jumlah mereka terlalu banyak”

“Tidak apa-apa Asal kita berpegang pada tekad untuk menegakkan tatanan dan paugeran, maka segala sesuatunya akan dapat diatasi”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Sementara itu terdengar Ki Sudagar berkata lantang kepada orang-orangnya, “Nah, sekarang kalian sudah berkumpul. Kita akan sekali lagi bebicara dengan Ki Jagabaya agar pemilihan esok di batalkan”

Ki Leksana lah yang berdesis, “Nah, sekarang mereka telah berkumpul. Kita akan menangapi mereka dengan cara sebagaimana cara yang mereka pergunakan”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Orang-orang yang berkumpul di halaman itu agaknya terlalu banyak untuk dihadapi.

Sementara itu Ki Leksana pun berkata kepada Ki Mina, “Kaulah yang membunyikan kentongan, adi. Biarlah isterimu melindungimu. Sementara kami berdua akan bersama-sama Ki Rangga dan kedua orang prajurit itu mengejutkan mereka. Sementara itu, Ki Jagabaya dan yang lain akan bertahan untuk beberapa lama. Kentongan itu tentu akan segera memanggil orang-orang padukuhan induk ini”

Ki Mina mengangguk. Sementara itu Ki Rangga, kedua orang prajuritnya serta para bebahu itu pun mengangguk.

“Ki Jagabaya” teriak Ki Sudagar, “kemarilah. Dengarkan apa yang ingin aku katakan”

“Apalagi yang ingin kau katakan?”

“Aku tetap minta pemilihan Demang esok pagi dibatalkan”

Ki Jagabaya dan orang-orang yang berada di pringgitan itu pun segera bangkit berdiri. Mereka pun bergerak bersama-sama melintasi pendapa untuk menghadapi orang-orang yang sudah berkerumun di halaman.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun berkata, “Ki Sudagar. Bukankah sudah aku tetapkan, bahwa pemilihan Demang akan dilakukan esok pagi sebagaimana direncanakan. Bukankah kau tadi juga sudah tidak lagi menuntut pembatalan itu?”

“Kapan aku mencabut tuntutanku? Nah, sekarang mau tidak mau kau harus membatalkan pemilihan esok. Orang-orangku sekarang sudah berkumpul disini. Mereka akan melakukan apa yang akan aku perintahkan kepadanya”

“Tidak“ Ki Leksanalah yang menyahut, “Mereka tidak akan melakukan perintahmu. Bukankah mereka melakukan perintahmu karena kau mengupah mereka? Jika kau tidak dapat mengupah mereka, maka mereka tidak akan menjalankan perintahmu”

“Aku akan mengupah mereka sesuai dengan perjanjian kami”

“Omong kosong. Besok atau lusa, kalau bukan kami, prajurit Mataram akan datang menghancurkan rumah dan keluargamu karena kau sudah memberontak. Seandainya kau sempat melarikan diri, maka orang-orang upahanmu itulah yang akan memburumu karena kau tidak dapat mengupah mereka selain para prajurit yang akan menangkapmu. Rumahmu dan segala kekayaanmu pun akan dihancurkan sampai lumat”

“Sudah aku katakan, tidak seorang pun yang akan berani bersaksi. Jagabaya yang akan pergi ke Mataram bukan Jagabaya yang dungu itu”

“Memang tidak perlu ada yang pergi ke Mataram, karena malam ini dua orang sudah berangkat ke Mataram. Mereka telah diberi ancar-ancar oleh Ki Ranggga Wiratenaya, kepada siapa mereka harus menghadap. Mereka juga sudah diajari mengucapkan kata-kata sandi untuk meyakinkan bahwa mereka adalah utusan Ki Rangga Wiratenaya”

Wajah Ki Sudagar menjadi tegang. Namun tiba-tiba ia pun berteriak, “Persetan dengan dua orang yang pergi melapor itu. Sebelum mereka pulang, bahkan seandainya mereka datang bersama para prajurit Mataram, namun kalian telah terbantai disini. Aku telah selesai memenuhi janjiku kepada orang-orang upahanku”

“Tetapi lalu apa yang kau dapatkan dengan tindakan gilamu itu? Kau tidak akan mendapatkan kedudukan yang kau buru itu. Lalu apa gunanya kau menghamburkan uang jika kau tidak dapat berkuasa di Kalisasak dan bahkan kau akan meringkuk dalam penjara di Mataram untuk kemudian digantung dialun-alun sebagai pemberontak”

Tetapi Ki Sudagar itu sudah menjadi seperti orang gila yang tidak mampu lagi mempergunakan nalarnya. Katanya, “Tetapi aku akan mendapat kepuasan dengan membunuh kalian semuanya malam ini. Aku tidak perduli apa yang akan terjadi esok”

“Jika kau sudah tidak dapat lagi memberikan apa-apa kepada orang-orang upahanmu, maka akan datang saatnya, kau sendiri akan dibantai oleh mereka”

“Omong kosong. Mereka tidak akan melakukannya. Mereka adalah orang-orang yang setia”

“Baik. Baik. Jika demikian, terserah kepadamu. Apakah kita akan bertempur atau kau akan menyadari kesalahanmu dan tidak mengganggu pemilihan yang esok akan diselenggarakan”

“Persetan. Tetapi pemilihan Demang esok harus gagal”

Ki Leksana termangu-mangu sejenak. Ternyata Ki Sudagar adalah benar-benar orang yang keras kepala. Karena itu, maka tidak ada jalan lain yang harus ditempuh, selain dengan kekerasan.

Karena itu, maka Ki Leksana pun itu pun segera memberi isyarat kepada Ki Mina untuk membunyikan kentongan. Orang-orang upahan Ki Sudagar agaknya semuanya sudah ditarik ke halaman banjar itu.

Ki Sudagar tidak mengira bahwa yang pertama-tama akan dilakukan oleh keempat orang itu justru membunyikan kentongan. Karena itu Ki Sudagar itu terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Mina meloncat ke sudut serambi langsung memungut pemukul kentongan yang terjatuh dan memukulnya sekuat tenaga.

Dengan lantang Ki Sudagar itu pun berteriak, “hentikan, hentikan suara kentongan itu”

Tetapi suara kentongan itu telah mengumandang. Bahkan beberapa orang telah sempat mendengarnya. Meskipun ada diantara mereka yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi, tetapi suara kentongan dengan irama titir itu telah memberikan isyarat, bahwa sesuatu yang gawat telah terjadi. Apalagi suara kentongan yang pertama itu sudah dikenal oleh orang-orang kademangan Kalisasak. Suara kentongan di banjar kademangan.

Dalam pada itu, beberapa orang upahan Ki Sudagar itu pun segera berloncatan untuk berusaha menghentikan suara kentongan yang sudah terlanjur bergema diseluruh padukuhan induk. Bahkan di kejauhan, telah terdengar suara kentongan yang telah menyahut irama titir itu dengan irama titir pula. Tidak hanya satu. Tetapi dua, tiga dan bahkan menjalar kemana-mana.

Tetapi orang-orang upahan Ki Sudagar itu tidak sempat mencegah orang yang memukul kentongan. Seorang yang lain telah menyerang mereka dengan garangnya. Orang itu mampu bergerak dengan cepat sekali. Tangan dan kakinya terayun-ayun mengerikan.

Orang-orang yang berusaha mencegah pemukul kentongan itu, justru telah terlempar satu-satu.

Ki Sudagar yang marah itu pun kemudian berteriak, “Hancurkan semuanya. Pemilihan esok harus gagal. Kita harus menguasai keadaan sepenuhnya. Siapa yang menentang, singkirkan. Jangan sampai ketiga orang prajurit serta empat orang gila itu lolos. Kita juga akan menahan kedua orang calon Demang yang tidak dimaui oleh rakyat Kalisasak itu”

Pertempuran pun telah terulang kembali di halaman banjar. Sementara itu seorang diantara empat orang yang tidak dikenal itu berkata kepada Ki Rangga Wiratenaya, “Ki Rangga. Bukankah dengan demikian, kita telah menghisap semua orang yang diupah oleh Ki Sudagar dari padukuhan-padukuhan. Mereka telah berkumpul disini. Kita akan menangkap mereka semuanya dan memberikan peringatan yang keras kepada mereka”

Ki Rangga Wiratenaya mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti maksud Ki Sanak”

Dalam pada itu, suara kentongan dalam irama titir pun telah terdengar dimana-mana. Hampir semua laki-laki telah keluar dari rumahnya. Mereka tahu benar bahwa suara kentongan yang pertama kali mereka dengar adalah suara kentongan di banjar.

Karena itu, maka orang-orang itu pun segera pergi ke banjar.

Sejenak kemudian, maka banjar itu pun telah terkepung. Rakyat Kalisasak telah berkumpul di sekitar banjar. Tetapi karena mereka masih belum jelas apa yang terjadi, maka mereka masih belum bergerak. Orang-orang yang dituakan diantara mereka sedang berusaha untuk mencari keterangan.

Sementara itu, pertempuran di halaman banjar masih berlangsung. Namun suasananya sudah sangat berubah.

Orang-orang upahan yang berada di halaman itu menjadi gelisah. Menghadapi orang-orang yang tidak dikenal serta para prajurit serta para bebahu kademangan mereka sudah mulai mengalami kesulitan. Sementara itu halaman banjar itu telah dikepung oleh rakyat kademangan itu.

Dalam suasana yang sudah berubah itu, seorang diantara keempat orang yang tidak dikenal di kademangan itu, yang mengaku seorang yang telah akrab dengan Ki Demang yang telah meninggal, berbicara kepada Ki Jagabaya, “Sudah saatnya kau hentikan pertempuran ini. Gunakan pengaruh Ki Jagabaya untuk memaksa mereka yang berada di halaman itu menyerah. Di luar halaman kademangan ini, rakyat Kalisasak telah berkumpul untuk menunggu perintah”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berdiri di tangga banjar itu sambil berteriak, “Berhenti. Hentikan pertempuran”

Suara Ki Jagabaya itu bergetar di seluruh halaman banjar, seakan-akan menggoyang dahan dan daun-daun pepohonan.

Ternyata suara Ki Jagabaya yang diulang beberapa kali itu berhasil menghentikan pertempuran. Orang-orang upahan Ki Sudagar pun bergeser surut.

Sementara itu, beberapa orang yang berpengaruh diantara rakyat Kalisasak itu pun telah memasuki regol halaman itu pula.

“Ki Sudagar” berkata Ki Jagabaya, “orang-orangmu telah berkumpul disini. Kau sudah memanggil mereka kemari. Kami bermaksud berbicara baik-baik dengan mereka. Tetapi kau telah menyalah gunakannya. Kau perintahkan mereka untuk bertempur. Tetapi cara itu pun tidak akan berarti apa-apa Ki Sudagar. Menghadapi kami yang berada di halaman ini pun orang-orangmu sudah mengalami kesulitan. Apalagi jika orang-orang yang berada di luar halaman itu aku perintahkan untuk masuk”

Ki Sudagar itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Jika pertempuran itu diteruskan, sedangkan Ki Jagabaya memerintahkan orang-orang yang berada di luar itu masuk, maka orang-orangnya akan mengalami kesulitan. Bahkan kemarahan rakyat Kalisasak, “itu akan sangat sulit diredakan. Korban tentu akan berjatuhan. Dan bahkan Ki Sudagar sendiri mungkin akan menjadi korban pula jika para bebahu itu tidak melindunginya.

Dalam pada itu, maka Ki Jagabaya pun kemudian berkata, “Masih ada kesempatan bagi kalian. Kalian hanyalah orang-orang upahan. Kesalahan kalian tidak sebesar kesalahan Ki Sudagar. Meskipun kalian benar-benar telah berniat untuk melaksanakan perintah Ki Sudagar, namun pertanggungan-jawabnya masih ada pada Ki Sudagar. Meskipun segala sesuatunya terserah kepada Ki Rangga Wiratenaya”

Orang-orang yang berada di halaman itu pun bagaikan membeku. Ki Rangga Wiratenaya terkejut juga mendengar pernyataan Ki Jagabaya itu. Namun sebagai seorang prajurit, maka Ki Rangga harus cepat mengambil keputusan menghadapi persoalan yang datangnya begitu tiba-tiba.

Ki Rangga pun kemudian naik ke tangga pula sambil berkata, “Aku, Rangga Wiratenaya yang mendapat kepercayaan dari Mataram untuk datang menjadi saksi dari pemilihan Demang yang seharusnya di selenggarakan esok. Tetapi ternyata malam ini telah terjadi benturan kekerasan dengan orang-orang yang telah diupah oleh Ki Sudagar. Karena itu, maka aku berkesimpulan bahwa Ki Sudagar dengan sengaja telah menabur kerusuhan. Orang itu harus ditangkap. Aku akan membawanya ke Mataram esok pagi.

“Tidak” teriak Ki Sudagar, “Aku tidak bersalah. Aku berhak menyatakan sikap di kademanganku sendiri”

“Tetapi di kademangan ini ada tatanan dan paugeran. Kalau kau menganggap bahwa kekerasan dan kekuatan itu adalah tatanan dan paugeran, maka aku dapat melakukan apa saja atas kau sekarang ini, karena kau sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Orang-orangmu sudah dikalahkan. Jika masih ada yang berniat melawan, maka ia akan langsung dihukum di halaman ini. Orang itu akan aku lemparkan kepada rakyat Kalisasak yang berada di luar halaman agar merekalah yang menjatuhkan hukuman”

Wajah-wajah orang-orang upahan di halaman itu nampak dibayangi kecemasan. Daripada mereka harus dilemparkan kepada rakyat Kalisasak yang marah, maka lebih baik mereka itu langsung ditusuk dengan tombak di arah jantung.

Ternyata Ki Rangga Wiratenaya telah mengambil satu keputusan yang menentukan. Ki Rangga Wiratenaya akan membawa Ki sudagar ke Mataram. Keputusan tentang hukumannya akan ditentukan oleh yang bertugas di Mataram. Sementara itu, Ki Rangga yang datang hanya bertiga itu, telah memberi kesempatan kepada orang-orang upahan itu untuk pergi.

“Pulanglah. Tetapi hentikan kerja kalian yang buruk itu. Kalian telah menjual harga diri kalian untuk melakukan kekejaman atas sesama. Bahkan kalian tentu tidak akan segan-segan membunuh jika upahnya memadai. Dari Ki Sudagar, prajurit Mataram akan dapat menelusuri rumah kalian. Karena itu, jika kalian menyalahi petunjukku itu, maka kami akan bertindak tegas terhadap kalian atau keluarga kalian. Kalian tidak akan dapat lari dari tangan para prajurit Mataram. Kemana pun kalian akan lari, kami para prajurit Mataram tentu akan dapat menjangkaunya”

Namun Ki Sudagar itu pun berteriak, “Aku tidak mau dibawa ke Mataram”

“Aku tidak bertanya kepadamu apakah kau mau atau tidak mau. Tetapi aku akan memerintahkan kedua orang prajuritku untuk menangkapmu. Jika kau melawan, maka untuk memutuskan hukumanmu, kami tidak perlu lagi membawamu ke Mataram. Tetapi kami berhak untuk mengambil keputusan dan menjatuhkan hukuman itu disini. Jika orang-orang upahanmu akan mencoba melindungimu, maka mereka akan mengalami nasib yang lebih buruk dari nasibmu itu”

Ki Sudagar itu menggeretakkan giginya. Namun agaknya orang-orang upahannya merasa tidak akan mampu mengatasi lawan-lawan mereka. Karena itu, maka mereka pun hanya berdiri saja mematung.

Dalam pada itu, maka Ki Rangga Wiratenaya pun segera menjatuhkan perintah kepada kedua orang prajurit yang menyertainya, “Atas nama pemerintah Mataram, tangkap orang itu”

Kedua orang prajurit itu pun kemudian melangkah dengan pasti, mendekati Ki Sudagar. Ketika Ki Sudagar surut selangkah, maka seorang yang diantara mereka yang tidak dikenal namun yang mengaku telah mengenal baik Ki Demang yang sudah meninggal itu pun berkata, “Kau tidak dapat berbuat lain daripada mengikuti perintah Ki Rangga. Atau kau akan digantung disini”

Ki Sudagar memang tidak dapat berbuat lain. Ketika kedua orang itu menangkap lengannya sebelah menyebelah dan menariknya mendekati Ki Rangga Wiratenaya, orang itu tidak melawan.

Sementara itu Ki Rangga pun berkata, “Dengan demikian, maka haknya sebagai salah seorang calon Demang Kalisasak pun telah dicabut pula. Ia telah memasuki dunia kejahatan yang akan membawanya ke Mataram, sehingga esok pagi, orang ini tidak akan tampil dalam pemilihan Demang di Kademangan ini”

Orang-orang Kalisasak yang berada di regol pun mendengar pula pernyataan Ki Rangga itu. Mereka pun segera menyampaikan hal itu yang satu kepada yang lain kepada mereka yang berada di luar halaman.

Sementara itu, sepupu Ki Demang yang juga mencalonkan diri untuk menjadi Demang di Kalisasak, tiba-tiba telah menghampiri Ki Rangga itu sambil berkata, “Ki Rangga. Aku pun ingin menyatakan bahwa aku telah mengundurkan diri. Aku ingin memberi kesempatan kepada yang muda-muda untuk tampil memegang pimpinan di Kalisasak. Kemanakanku itu akan mempunyai wawasan yang lebih luas serta gerak yang lebih cepat dari aku yang sudah tua ini”

Ki Rangga Wiratenaya pun termangu-mangu sejenak.Ia tidak dapat segera mengambil keputusan. la pun segera berpaling kepada Ki Jagabaya sambil bertanya, “Bagaimana pendapat Ki Jagabaya?“

“Itu adalah haknya, Ki Rangga”

“Jika demikian, bukankah itu berarti bahwa esok hanya akan ada calon tunggal?“

“Ya”

Sebenarnyalah malam itu, Kalisasak seakan-akan telah mendapatkan seorang Demang yang baru. Jika hanya ada seorang calon, sedangkan sebagian besar dari rakyat Kalisasak tidak mempunyai keberatan apa-apa, maka hampir dapat dipastikan bahwa calon itulah yang akan terpilih menjadi Demang.

“Baiklah. Kita akan membicarakannya nanti” berkata Ki Rangga Wiratenaya, “sekarang, biarlah orang-orang upahan Ki Sudagar itu pergi. Tetapi ingat, bahwa aku adalah seorang prajurit Mataram. Hari ini aku memang hanya bertiga. Tetapi pada saat yang lain, aku dapat saja datang dengan pasukan segelar-sepapan. Jika itu terjadi, maka sikapku mungkin akan sangat berbeda dengan sikapku sekarang”

Sesaat orang-orang upahan yang berada di halaman itu termangu-mangu. Namun kemudian Ki Rangga itu pun mengulangi, “Pergilah. Jika ada kawanmu yang terluka dan tidak dapat pergi sendiri, bawa mereka”

Demikianlah, maka orang-orang upahan itu pun meninggalkan halaman banjar dengan kepala tunduk. Ketika mereka berjalan melewati orang-orang yang berdiri di luar banjar, mereka semakin menundukkan kepala mereka.

Ki Sudagar yang masih saja di pegangi oleh dua orang prajurit, berdiri dengan jantung yang berdegupan semakin keras. Dengan wajah pucat Ki Sudagar memperhatikan orang-orang upahannya yang pergi meninggalkan halaman banjar itu sampai orang yang terakhir.

Sementara itu, orang-orang yang semula berada di luar halaman banjar telah memasuki halaman pula. Mereka ingin tahu selengkapnya apakah yang terjadi di halaman banjar itu.

Sementara itu, Ki Rangga Wiratenaya pun telah membawa Ki Sudagar naik ke pendapa. Mereka pun kemudian duduk di pringgitan bersama dengan kedua orang calon yang lain.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun tiba-tiba saja berdesis, “Dimana orang-orang yang telah membantu kita itu?“

Para bebahu pun segera memandang berkeliling. Sementara Ki Kebayan tua bertanya, “Orang yang mengaku telah mengenal Ki Demang almarhum dengan baik?“

“Ya. Orang yang agaknya memang pernah aku kenal itu”

“Tadi mereka berada di halaman itu” desis bebahu yang lain.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun berkata, “Ki Sudagar. Bukankah sudah aku tetapkan, bahwa pemilihan Demang akan dilakukan esok pagi sebagaimana di rencanakan. Bukankah kau tadi juga sudah tidak lagi menuntut pembatalan itu?”

Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Rangga, maka Ki. Rangga pun segera bangkit, ”Kenapa kita melupakan mereka, sehingga kita tidak tahu kemana mereka pergi”

“Ya. Kita telah melupakan mereka. Ketika Ki Rangga memerintahkan menangkap Ki Sudagar, mereka masih ada di halaman. Bahkan seorang diantara mereka masih sempat memperingatkan Ki Sudagar” berkata Ki Jagabaya.

Namun kemana pun mereka mencari di sekitar halaman banjar, mereka tidak menemukannya. Kepada orang-orang yang kemudian berkumpul di halaman Ki Jagabaya pun bertanya, apakah mereka melihat empat orang yang bukan penghuni kademangan Kalisasak yang telah membantu para bebahu di Kalisasak serta para prajurit yang ditugaskan oleh Mataram untuk bersaksi dalam pemilihan Demang esok, menghadapi orang-orang upahan Ki Sudagar.

Tetapi tidak seorang pun yang melihat

Seorang yang juga dipanggil Ki Sudagar, tetapi sebutan itu masih ditambah dengan ternak untuk membedakan dengan Ki Sudagar batu permata yang sudah ditangkap itu, bertanya, “Siapakah yang mengupah mereka”

“Tidak ada yang mengupah. Mereka datang sendiri. Bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk membantu kita” jawab Ki Kebayan tua.

Ki Sudagar ternak itu mengangguk-angguk.

“Mereka melakukannya dengan suka-rela?“

“Ya”

“Masih ada juga orang yang peduli akan keadaan pihak lain yang kurang dikenalnya. Bahkan dengan suka-rela membantu dengan mempertaruhkan nyawanya”

Sebenarnyalah bahwa Ki Leksana, Nyi Leksana, Ki Mina dan Nyi Mina sudah meninggalkan halaman banjar. Demikian persoalan yang terjadi di banjar itu dianggap selesai, maka mereka pun segera meninggalkan halaman banjar itu.

“Besok kita tidak perlu melihat pemilihan itu. Orang yang akan terpilih sudah jelas” berkata Ki Leksana.

“Tetapi rasa-rasanya ingin juga melihat suasananya“ sahut Ki Mina, “justru malam ini terjadi keributan”

“Tetapi bukankah segala-galanya sudah jelas? Ki Sudagar itu tentu ditahan di belakang banjar. Sedangkan calon yang seorang sudah mengundurkan diri”

“Bukan tentang pencalonannya. Tetapi apakah benar bahwa tidak akan timbul, lagi masalah dengan Ki Sudagar?“

Ki Leksana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Besok kita akan melihat pemilihan itu. Tetapi jika demikian berarti malam ini kita tidak pulang agar kita tidak terlambat.

Yang lain pun mengangguk-angguk.

Sebenarnyalah keempat orang itu pun kemudian bermalam di sebuah padang perdu. Pagi-pagi sekali, mereka telah bangun untuk pergi ke sungai kecil yang melintasi padang perdu itu.

Namun mereka tertegun di tepian, ketika mereka melihat dalam keremangan pagi-pagi buta, sebuah iring-iringan orang-orang yang menyusuri tanggul sungai kecil itu.

“Siapakah mereka?“ desis ki Leksana.

“Nampaknya mereka sedang mulai dengan sebuah perjalanan untuk meninggalkan kademangan Kalisasak“ sahut Ki Mina.

“Ya“ Ki Leksana mengangguk-angguk.

“Agaknya mereka adalah orang-orang upahan Ki Sudagar itu” berkata Nyi Leksana.

“Ya. Mereka adalah orang-orang upahan Ki Sudagar. Lihat, ada diantara mereka yang berjalan pincang. Ada pula yang menyeret sebelah kakinya. Bahkan ada yang harus ditolong kawannya”

“Ya“ Ki Leksana pun mengangguk.

“Jika demikian, maka pekerjaan kita benar-benar telah tuntas. Jika mereka telah pergi, maka tentu tidak akan ada apa-apa lagi di Kalisasak. Ki Sudagar sendiri ada di tangan Ki Rangga Wiratenaya. Ia tentu akan dibawa ke Mataram. Perjalanan Ki Rangga pun tentu tidak akan menghadapi hambatan lagi karena orang-orang upahan Ki Sudagar telah pergi”

“Kalau demikian, maka tidak akan terjadi apa-apa lagi di Kalisasak. Pemilhan itu sebenarnya tidak perlu lagi”

“Tetapi agaknya orang-orang Kalisasak ingin memuaskan diri sendiri dengan kenyataan bahwa mereka semuanya telah memilih orang yang sama”

“Baiklah. Kita akan melihat pemilihan itu. Tetapi jangan ada orang yang menghubungkan keberadaan kita di Kalisasak hari ini dengan keberadaan kita semalam”

“Kita akan berpisah. Kakang bersama mbokayu, aku bersama isteriku” desis Ki Mina.

“Demikian pemilihan selesai, kita akan meninggalkan kademangan itu. Kita bertemu disini. Lalu kita pulang. Anak-anak akan menjadi gelisah jika kita pergi terlalu lama”

“Baik kakang”

Sebenarnyalah maka keempat orang yang kemudian berpisah itu sempat menyaksikan pemilihan Demang di banjar kademangan Kalisasak. Pemilihan yang didatangi bukan saja oleh orang-orang yang berhak memilih, tetapi anak-anak dan remaja pun telah pergi ke banjar. Mereka ingin melihat pemilihan yang sempat diwarnai oleh gejolak yang hampir saja berhasil menggagalkan pemilihan Demang itu.

Dengan demikian, maka dalam waktu yang dekat, seorang Demang telah terpilih disaksikan oleh utusan dari Mataram, Ki Rangga Wiratenaya.

Seorang Demang muda telah ditetapkan. Sambil menunggu Surat Kekancingan, yang menetapkan bahwa ia telah diangkat menjadi Demang di Kalisasak, maka Demang yang masih muda itu sudah dapat menjalankan tugas seorang Demang.

Dengan demikian, maka Ki Leksana dan Nyi Leksana serta Ki Mina dan Nyi Mina merasa tidak perlu lagi tetap berada di Kalisasak. Apalagi setelah orang-orang upahan Ki Sudagar itu pergi meninggalkan Kalisasak. Agaknya mereka benar-benar merasa terancam oleh Ki Rangga Wiratenaya.

Dengan demikian, maka keempat orang yang semalam telah melibatkan diri dalam gejolak yang terjadi di Kalisasak itu pun telah meninggalkan kademangan. Sebenarnyalah Ki Jagabaya di Kalisasak telah memerintahkan beberapa orang anak muda untuk mencari mereka. Tetapi mereka tidak menemukannya. Bahkan ketika keempat orang itu hadir di halaman banjar untuk melihat pelaksanaan pemilihan Demang itupun, tidak seorang pun mengetahui, bahwa orang-orang yang mereka cari itu berada di halaman banjar itu pula.

Dalam pada itu, ketika orang-orang Kalisasak meninggalkan halaman banjar karena pemilihan yang mereka lakukan telah selesai, maka keempat orang yang telah ikut bertempur di banjar kademangan Kalisasak itu pun telah menempuh perjalanan meninggalkan kademangan Kalisasak. Mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh.

Sebenarnyalah bahwa kedua orang anak Ki Leksana itu pun mulai menjadi gelisah. Lebih-lebih lagi karena kedua orang perempuan yang tinggal di rumahnya itu bukan saja menjadi gelisah, tetapi mereka menjadi ketakutan. Setiap kali mereka bertanya, kenapa Ki Leksana dan Ki Mina suami isteri masih belum pulang.

“Tidak akan terjadi apa-apa dengan ayah, ibu, paman dan bibi. Mereka mampu menjaga diri mereka sendiri. Mereka pun mengerti, jika yang dihadapinya sangat berbahaya dan bahkan tidak akan mampu diatasi, maka mereka akan mengurungkan niat mereka”

Untuk beberapa saat kedua orang perempuan itu menjadi tenang. Tetapi sejenak kemudian, mereka pun telah menjadi gelisah kembali.

Namun ketika Wiyati dan Wandan melihat kedua orang remaja itu membuat perapian dan menakar beras, maka mereka pun segera membantu.

“Kalian akan menanak nasi?” bertanya Wiyati. Anak Ki Leksana yang besar itu pun mengangguk sambil menjawab, “Ya, mbokayu”

Wiyati tersenyum. Katanya, “Biarlah aku yang menanak nasi”

“Kami sudah terbiasa melakukannya” sahut anak Ki Leksana yang tua.

“Tetapi sekarang ada aku dan Yu Wandan. Bukankah lebih pantas jika aku dan Yu Wandan yang melakukannya?”

Kedua orang anak Ki Leksana itu pun kemudian membiarkan Wandan dan Wiyati bekerja di dapur. Ternyata mereka tidak sekedar menanak nasi, tetapi mereka telah memasak pula. Dari kedua orang anak Ki Leksana itu, Wandan dan Wiyati mendapat beberapa petunjuk apa yang harus mereka lakukan. Memetik daun kacang panjang yang tumbuh dan merambat di pagar penyekat halaman di kebun belakang. Kemudian anak Ki Leksana yang besar itu telah memanjat dan memetik dua buah keluwih.

Hampir semua bahan dapat mereka peroleh di halaman dan kebun belakang untuk mereka masak. Bahkan mereka pun telah mengumpulkan sebakul kecil telur ayam yang mereka ambil dari pekarangan.

Dengan kesibukannya itu, Wandan dan Wiyati menjadi sedikit dapat melupakan paman dan bibinya yang pergi sejak semalam.

Tetapi ketika nasi sudah disenduk ke ceting bambu, serta sayur sudah dituang di mangkuk yang besar, maka keduanya kembali menjadi gelisah.

Ketika matahari telah sedikit melewati puncak, maka anak Ki Leksana yang besar telah mempersilahkan Wandan dan Wiyati untuk makan siang.

“Masakan mbokayu sendiri” berkata anak itu.

Tetapi Wiyati pun menjawab, “Kami makan nanti saja.
Kami menunggu paman dan bibi”

“Mbokayu tidak usah menunggu. Kami pun tidak menunggu. Kami juga akan makan”

“Sebaiknya kalian makan dahulu”

“Tidak. Kami akan makan bersama mbokayu berdua”

Akhirnya Wandan dan Wiyati terpaksa makan dahulu tanpa menunggu Ki Leksana dan Ki Mina suami isteri, karena kedua anak Ki Leksana itu mendesak mereka.

Sebenarnyalah bahwa keempat orang yang mereka tunggu itu tidak segera datang. Bahkan sampai matahari turun, mereka masih belum datang.

Wandan dan Wiyati menjadi semakin gelisah. Setiap kali mereka mempertanyakan, kenapa keempat orang itu masih belum pulang.

Kedua anak Ki Leksana itu mencoba untuk tidak menunjukkan kegelisahan mereka.

“Ayah dan ibu sudah terbiasa pergi untuk waktu yang lama” berkata anak Ki Leksana itu.

Namun kegelisahan mereka pun kemudian berakhir ketika keempat orang itu memasuki regol halaman rumah. Wandan, Wiyati dan kedua anak Ki Leksana yang sedang duduk diserambi gandok, segera melangkah turun dan menyongsong mereka.

“Bukankah paman dan bibi baik-baik saja?” bertanya Wiyati dengan serta merta.

”Tentu. Bukankah aku tidak apa-apa?“ jawab Ki Mina.

“Mbokayu berdua menjadi sangat gelisah” berkata anak Ki Leksana yang besar, “karena itu, aku pun telah dijalari kegelisahan mereka pula. Rasa-rasanya ayah, ibu, paman dan bibi pergi sangat lama”

Ki Leksana tertawa. Katanya, “Seharusnya kalian berusaha untuk memenangkan kedua orang mbokayu kalian, karena kalian laki-laki meskipun kalian masih remaja”

“Kami sudah berusaha”

“Justru kalian juga ikut gelisah”

“Nampaknya mereka tabah-tabah saja, paman” sahut Wiyati, “mungkin mereka sudah terbiasa. Tetapi aku belum”

Keempat orang yang baru datang itu tertawa. Nyi Leksana pun kemudian berkata, “Marilah kita masuk ke ruang dalam”

“Paman dan bibi tentu letih”

“Sedikit” sahut Nyi Mina, “Tetapi yang pasti kami kehausan”

“Kelaparan?” bertanya anak Ki Leksana yarig kecil.

“Tidak. Kami sudah makan di kedai. Kami pun sudah minum. Tetapi kami menjadi kehausan lagi”

Mereka pun kemudian beriringan naik ke pendapa dan langsung masuk ke ruang dalam. Mereka tertegun ketika mereka melihat nasi serta sayur dan lauknya sudah tersedia di ruang dalam.

“Siapa yang masak?” bertanya Nyi Leksana.

“Yu Wiyati dan Yu Wandan” jawab anak Ki Leksana yang tua.

“Terima kasih” desis Nyi Leksana, “ternyata kalian pandai juga masak”

“Tetapi entahlah, bagaimana rasanya”

“Meskipun aku tidak lapar, tetapi aku ingin makan lagi“ berkata Nyi Mina, “Tetapi aku akan mandi lebih dahulu”

Setelah bergantian keempat orang yang baru pulang dari bepergian itu mandi, maka mereka pun berkumpul di ruang dalam bersama mereka yang tidak di rumah. Delapan orang duduk di tikar pandan yang putih bergaris biru.

Sambil makan, anak Ki Leksana yang besar pun bertanya

“Apa yang menarik yang ayah, ibu, paman dan bibi lihat?”

“Kami melihat salah satu sisi sifat manusia yang menarik. Keserakahan. Bukan hanya keinginan untuk mempunyai harta benda yang banyak sekali, tetapi juga keinginan untuk berkuasa di satu lingkungan tertentu. Seorang saudagar yang kaya raya, ingin menjadi Demang. Karena Demang memiliki kewenangan atas satu lingkungan tertentu. Orang itu telah mempergunakan cara apa pun tanpa mengenal unggah-ungguh, tatanan dan paugeran, asal keinginannya dapat tercapai. Tentu saja bukan untuk tujuan yang baik. Tetapi sebaliknya. Kekuasaan yang diraihnya, sama sekali tidak diarahkannya untuk melindungi orang banyak. Tetapi justru untuk menekan orang banyak agar mengikuti kemauannya. Sedangkan dengan uangnya ia dapat menyusun kekuatan untuk mendukung kekuasaannya” sahut ki Leksana.

“Tentu orang seperti itu banyak mempunyai lawan, ayah bertanya anaknya yang tua.

“Ya. Tentu. Banyak orang yang merasa dirugikan. Tetapi orang seperti itu, biasanya selalu membangun dinding yang kuat disekitamya. Ia membayar orang-orang upahan untuk melindunginya serta untuk menakut-nakuti orang lain. Dengan demikian, maka ia akan dapat mengatasi musuh-musuhnya”

“Apakah orang itu berhasil untuk meraih kekuasaan?”

“Tidak. Seperti yang kau katakan, orang yang demikian itu tentu mempunyai banyak lawan. Diantaranya adalah para prajurit Mataram yang mendapat tugas di Kalisasak”

“Lalu apa yang ayah, ibu, paman dan bibi lakukan disana?”

“Kami hanya menonton sebuah lakon yang menarik tentang sifat-sifat manusia. Namun bagaimanapun juga orang-orang yang serakah itu akhirnya dapat dikendalikan”

“Lalu bagaimana orang itu diperlakukan?”

“Kami tidak tahu. Yang kami tahu, orang itu akan dibawa ke Mataram oleh prajurit Mataram yang bertugas di Kalisasak itu”

“Orang itu tentu akan diadili. Bukan begitu ayah?”

“Ya” jawab ayahnya. Namun kemudian katanya, “Sekarang suapi mulutmu. Yang lain sudah menghabiskan nasinya, kau masih belum mulai”

Anak itu tersenyum. Ia pun segera menyuapi mulutnya.

Malam itu seisi rumah itu pun dapat tidur dengan tenang. Wiyati dan Wandan tidak lagi merasa sangat gelisah karena kepergian Ki Leksana, Nyi Leksana, Ki Mina dan Nyi Mina.

Ketika matahari terbit, maka seisi rumah itu pun mulai terbangun. Wiyati dan Wandan mencoba menyesuaikan dirinya. Mereka segera membersihkan dapur, mencuci alat-alat dapur yang kotor. Sementara Nyi Leksana dan Nyi Mina menyiapkan minuman dan sekedar makanan. Sedangkan kedua anak laki-laki Ki Leksana sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Yang besar mengisi jambangan, sedangkan yang kecil menyapu halaman.

Ki Leksana dan Ki Mina yang duduk diserambi sempat memperhatikan kedua orang perempuan yang akan dititipkan di rumah itu. Agaknya mereka pun mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya.

“Mereka cukup rajin” berkata Ki Leksana, “Mudah-mudahan mereka benar-benar berniat untuk membangun masa depannya”

“Aku yakin bahwa mbokayu akan dapat mengarahkan hidup mereka yang meskipun sudah cacat, tetapi masih memiliki kemungkinan bagi masa depan mereka”

“Ya, adi. Mudah-mudahan mbokayumu mampu melakukannya.

Hari itu pula. Ki Mina dan Nyi Mina telah menyatakan bahwa esok mereka akan meninggalkan rumah Ki Leksana. Mereka akan kembali ke padepokan mereka, karena ada tugas yang lain sedang menunggu.

Ki Leksana dan Nyi Leksana tidak dapat mencegah mereka. Ketika Nyi Leksana mempersilahkan mereka beristirahat barang satu dua Hari lagi, maka Nyi Mina pun berkata, “Kami telah terlalu lama pergi, Yu. Guru memberi kami waktu dua tiga hari. Tetapi kami sudah jauh lebih lama pergi dari padepokan kami. Karena itu, maka semakin cepat kami pulang, akan menjadi semakin baik”

“Baiklah adi. Mudah-mudahan adi dapat mengemban tugas yang baru itu dengan baik”

“Kakang. Dalam keadaan yang rumit, aku akan selalu ingat kepada Seruling Galih. Selain keluarga perguruanku, maka aku berharap kakang Seruling Galih akan bersedia membantu”

“Tentu adi. Tetapi sebaiknya, jika aku menghadapi kesulitan, aku akan lari ke padepokanmu”

“Silahkan, kakang. Silahkan kakang sekeluarga datang ke padepokanku. Anak-anak tentu senang melihat-lihat keadaan padepokan.

“Pada kesempatan lain, aku tentu akan membawa mereka melihat-lihat keadaan padepokan itu”

Demikianlah, hari itu adalah hari terakhir bagi Ki Mina dan Nyi Mina berada di rumah Ki Leksana. Kehadiran mereka ternyata telah menggugah Ki Leksana dan Nyi Leksana yang seakan-akan telah mengasingkan dirinya. Meskipun demikian, Ki Leksana dan Nyi Leksana tetap akan sangat membatasi geraknya. Di padukuhan, mereka akan tetap menjadi petani kebanyakan yang tidak pernah diperhitungkan dalam banyak hal. Namun Ki Leksana memang termasuk orang yang dituakan karena umurnya yang memang sudah terhitung tua.

Tetapi Ki Leksana dan Nyi Leksana masih akan tetap menyembunyikan kemampuan mereka dari penglihatan tetangga-tetangganya.

Seperti direncanakan, maka dikeesokan harinya, Ki Mina dan Nyi Mina pun minta diri. Mereka meninggalkan Wiyati dan Wandan di rumah Ki Leksana dan Nyi Leksana untuk mulai dengan satu kehidupan baru sebagaimana kebanyakan perempuan padesan. Kehidupan yang sederhana dan diwarnai dengan kerja keras.

Ketika Ki Mina dan Nyi Mina meninggalkan rumah Ki Leksana, nampak mata kedua orang perempuan itu menjadi basah. Tetapi mereka masih mencoba untuk tetap tersenyum.

“Dengar semua petunjuk paman dan bibi, ngger“ pesan Nyi Mina kepada Wiyati dan Wandan.

“Ya, bibi” jawab keduanya hampir berbareng.

Pagi itu sebelum matahari terbit, keduanya pun telah meninggalkan rumah Ki Leksana. Mereka akan langsung menuju ke padepokan. Mereka telah pergi terlalu lama. Lebih lama dari waktu yang diperkirakan.

Ketika mereka keluar dari padukuhan dan berjalan di bulak panjang, maka embun masih nampak bergayutan di ujung dedaunan. Kabut yang tipis samar-samar membayangi pandangan. Di pepohonan terdengar burung-burung liar yang berkicau bersahutan, mengundang matahari yang masih tersembunyi.

“Segarnya udara ini” desis Ki Mina.

“Tetapi nanti di tengah hari, panasnya bagaikan membakar ubun-ubun” sahut Nyi Mina.

Ki Mina mengangguk.

Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan diseberang bulak, maka padukuhan itu pun telah terbangun pula. Telah ada orang yang keluar dari regol halaman rumahnya sambil membawa bakul di gendongannya.

“Orang itu tentu akan pergi ke pasar” desis Nyi Mina”Yang ada di bakul itu tentu hasil kebun yang akan dijualnya di pasar” sahut Ki Mina.

Ternyata pasar itu terletak di padukuhan berikutnya, setelah melintasi sebuah bulak panjang lagi. Ketika Ki Mina dan Nyi Mina sampai di tengah-tengah bulak itu, maka mereka pun melihat beberapa orang yang lain telah memasuki jalur jalan itu pula.

“Agaknya pasar yang akan mereka tuju cukup ramai” desis Ki Mina.

“Tetapi pasar itu tidak terletak di pinggir jalan yang akan kita lalui. Lihat, mereka berbelok ke kiri, sementara kita akan berjalan terus.

Ki Mina mengangguk-angguk. Katanya, “Bukankah kita juga tidak akan pergi berbelanja?”

“Memang tidak. Tetapi seandainya pasar itu terletak di pinggir jalan ini, kita akan dapat singgah sekedar untuk melihat-lihat”

“Bukankah di perjalanan kita, kita juga akan melewati beberapa pasar?”

“Ya”

Keduanya terdiam. Dikejauhan suara burung kutilang di atas sebatang pohon gayam terdengar melengking tinggi.

Ki Mina dan Nyi Mina itu pun berjalan semakin cepat. Ketika cahaya matahari mulai memancar di langit, maka mereka telah menjadi semakin jauh. Mereka menyadari, bahwa mereka akan berjalan sepanjang hari, bahkan hingga malam turun.

Jalan yang mereka lalui pun semakin lama menjadi semakin ramai. Kecuali mereka yang akan pergi dan pulang.dari pasar, maka para petani pun telah mulai turun ke sawah.

Jantung kedua orang itu ternyata masih juga tergetar ketika mereka melihat padi yang menguning di seluas bulak panjang. Di beberapa bagian, perempuan-perempuan telah turun ke sawah untuk ikut menuai.

Dalam ayunan semilirnya angin pagi, padi yang merunduk itu bergoyang bagaikan gelombang lembut di belumbang yang luas.

“Daerah ini sudah mulai panen” berkata Nyi Mina.

“Ya. Di lingkungan kita, masih kira-kira dua pekan lagi”

“Tanah ini nampaknya subur sekali. Padi yang penuh berisi merunduk dalam-dalam”

“Bukankah tanah padepokan kita juga subur?”

“Ya. Tanah kita juga subur”

“Musim tanam ini, padepokan kita agaknya menanam ketan terlalu banyak”

“Sebagian hasilnya dapat kita jual, kakang. Beras ketan sedikit lebih mahal dari beras biasa. Nampaknya hasil tanaman kita itu pun cukup baik”

Ki Mina mengangguk-angguk.

Demikianlah kedua orang itu melewati bulak demi bulak. Padukuhan demi padukuhan. Sementara langit pun menjadi semakin cerah karena matahari yang menjadi semakin tinggi memanjat langit.

Ketika matahari sedikit melewati puncaknya, maka kedua orang itu pun sepakat untuk berhenti di sebuah kedai. Sinar matahari yang menjadi semakin terik telah membuat mereka menjadi haus.

“Ada dawet cendol?” bertanya Ki Mina kepada pelayan yang mendatanginya.

“Ada Ki Sanak”

“Bagus. Berikan dua mangkuk dawet cendol dan dua mangkuk nasi”

“Nasi apa? Nasi tumpang, nasi langgi? Atau nasi sayur asam?”

Ki Mina termangu-mangu sejenak. Nyi Mina lah yang menyahut Nasi sayur asem”

“Ya, nasi sayur asem“ Ki Mina mengulang.

Sambil menunggu, kedua orang tua itu sempat memperhatikan orang-orang yang sudah berada di kedai itu. Tidak terlalu banyak, sehingga beberapa tempat duduk masih belum terisi.

Tetapi di tengah-tengah kedai itu, duduk empat orang yang nampaknya agak berbeda dengan orang-orang lain. Nampaknya keempat orang itu adalah orang-orang yang terhormat.

“Jangan pandang mereka” desis Nyi Mina.

“Kenapa?”

“Kakang hanya akan mencari perkara. Orang-orang yang nampaknya berbeda itu, sering melakukan hal yang aneh-aneh, sementara kakang tidak dapat tinggal diam”

Ki Mina tersenyum.

“Aku tidak akan mencampuri persoalan siapapun, Nyi” jawab Ki Mina.

“Ada benarnya juga Wiyati yang selalu cemas jika kakang berbicara tentang sesuatu. Misalnya tentang pemilihan Demang itu. Bukankah Wiyati benar, bahwa akhirnya kakang melibatkan diri pula”

“Bukankah kau juga ikut”

“Tetapi kakanglah yang memulainya”

“Untunglah bahwa kita justru menaruh perhatian. Jika tidak, maka kira-kira apa yang terjadi di padukuhan Kalisasak itu”

Nyi Mina mengangguk.

Ketika pesanan mereka dihidangkan, maka perhatian Ki Mina dan Nyi Mina pun segera beralih ke minuman panas serta nasi sayur asam yang terhidang itu.

Meskipun demikian sekali-sekali Ki Mina masih saja berpaling kepada empat orang yang seakan-akan orang-orang terhormat itu.

Namun mereka masih saja duduk dengan tertib sambil makan makanan yang mereka pesan serta menghirup minuman segar mereka.

Tetapi perhatian Ki Mina menjadi semakin tertarik ketika ia mendengar seorang diantara keempat orang itu berkata, “Agaknya mereka tidak datang hari ini, kangmas.”

“Mereka sudah sanggup. Mereka tentu akan datang. Mereka sendirilah yang menentukan hari dan tempat pertemuan ini”

“Tetapi matahari sudah melampaui puncaknya. Sebentar lagi matahari akan turun.

“Kita akan menunggu sebentar lagi. Jika mereka tidak segera datang, maka kita akan pergi. Kita hanya akan kehilangan waktu saja”

Ternyata beberapa saat kemudian, beberapa ekor kuda berderap menuju ke kedai itu. Demikian kuda-kuda itu berhenti di halaman maka beberapa orang pun berloncatan turun.

“Apakah mereka sudah datang?” bertanya seorang diantara orang-orang berkuda itu dengan berat.

“Sudah lurahe”

“Tetapi aku tidak melihat kuda-kuda mereka”

“Tetapi mereka sudah ada di dalam”

Nyi Mina yang melihat orang-orang berkuda itu datang dengan sikap yang mencurigakan, maka ia pun berkata, “Nah, kakang mulai tertarik kepada orang-orang berkuda itu. Mereka tentu orang-orang yang sudah ditunggu oleh keempat orang yang berpakaian rapi itu. Berpakaian seperti orang-orang terhormat. Jika ada persoalan diantara mereka, sebaiknya kakang tidak usah turut campur agar kita tidak tertahan lagi di perjalanan”

Ki Mina mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tersenyum, ”bukankah aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan mencampuri persoalan orang lain di sepanjang perjalanan kami ini?“

Nyi Mina menarik nafas panjang.

Dalam pada itu, enam orang berkuda itu pun segera memasuki kedai itu setelah mereka menambatkan kuda-kuda mereka.

Di pintu mereka berhenti sejenak. Namun kemudian mereka pun melihat keempat orang yang telah lebih dahulu berada di kedai itu.

“Nah, itu mereka” berkata seorang yang berkumis melintang.

Keenam orang itu pun segera mendekati keempat orang yang sudah duduk di dalam kedai itu. Dua diantara mereka, duduk bersama keempat orang yang berpakaian rapi itu. Sedangkan yang lain duduk di sebelahnya.

”Bagaimana Den Mas. Persoalannya sudah berkembang menjadi semakin luas”

“Persoalan apa?“ bertanya salah seorang diantara keempat orang yang berpakaian rapi itu.

“Den Mas masih pura-pura tidak tahu”

“Aku tidak pura-pura. Aku bertanya sebenarnya. Apa yang kau katakan itu?“

Sementara itu, ketika Ki Mina mendengarkan pembicaraan mereka, Nyi Mina pun berkata, “Jangan mendengarkan. Nanti kau tertarik lagi pada persoalannya”

“Siapa yang mendengarkan?”

“Kakang”

“Tidak. Aku tidak sengaja mendengarkannya”

“Kakang mau mengatakan, bahwa kakang mendengar dengan sendirinya. Jika demikian, marilah kita pergi”

“Nanti dulu. Kau lihat nasiku belum habis”

Nyi Mina pun mengangguk sambil berdesis, “Baiklah. Nasiku juga belum habis”

Dalam pada itu, orang yang berumis melintang itu pun berkata, “Jika Den Mas tidak tahu persoalannya, kenapa Den Mas datang kemaln?”

“Bukankah kalian minta kami datang kemari? Kaulah yang menentukan waktu yang tempatnya”

“Baiklah jika Den Mas berpura-pura. Pembicaraan tentang pernikahan Den Mas Jangkung dengan Den Ajeng Laras sudah dibicarakan oleh Raden Rangga Somadigda. Karena itu, kami minta Den Mas segera menentukan, kapan Raden Rangga Somadigda dapat datang menemui Raden Rangga Wiraprana”

“Edan. Aku ingin bertemu dengan Dimas Jangkung untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Perbuatan Dimas Jangkung sama sekali bukan perbuatan seorang laki-laki terhormat. Hampir saja Diajeng Laras menjadi korbannya. Jadi bukan membicarakan untuk menikahkan mereka berdua. Dimana Jangkung sekarang? Kenapa ia tidak ikut kemari?“

“Den Mas Jangkung tidak punya waktu. Kami diperkenan-kan datang mewakilinya. Den Mas Jangkung tetap akan memperisteri Den Ajeng Laras. Kapan ayah Den Mas Jangkung itu dapat datang menemui Raden Rangga Wiraprana, ayah Den Ajeng Laras untuk melamarnya? Semakin cepat semakin baik”

“Kau gila. Aku ingin bertemu dengan Dimas Jangkung sekarang untuk memberikan peringatan kepadanya”

“Jika Den Mas ingin menemui Den Mas Jangkung, silahkan datang menghadap di rumahnya. Den Mas Jangkung tidak mempunyai banyak waktu”

“Tidak. Kami tidak akan menghadap Dimas Jangkung. Aku lebih tua dari anak itu. Dalam urutan darah keluarga pun aku lebih tua. Karena, itu, Jangkung lah yang harus datang menemui aku”

“Den Mas memang lebih tua dipandang dari berbagai segi. Tetapi Den Mas tahu bahwa keluarga Deh Mas Jangkung jauh lebih terhormat dari keluarga Den Mas. Meskipun pangkat ayah Den Mas Jangkung sama dengan pangkat ayah Den Mas, meskipun mungkin kedudukan ayah Den Mas agak lebih tinggi tetapi Ki Rangga Somadigda adalah sebrang Rangga yang jauh lebih kaya dari ayah Den Mas.”

“Setan kau. Aku tidak peduli. Tetapi aku tetap akan memberi peringatan kepada Dimas Jangkung, bahwa ia tidak akan dapat mengganggu adikku lagi. Jika sekali lagi ia mengganggu Laras, maka aku akan berbuat lebih kasar lagi terhadap Dimas Jangkung”

Orang berkumis lebat itu tertawa. Katanya, “Apa yang dapat Den mas lakukan? Kami adalah sahabat-sahabat baik Den Mas Jangkung. Jika terjadi sesuatu atas anak muda itu, maka kami tidak akan dapat tinggal diam”

“Siapa sahabat-sahabat baik Dimas Jangkung?”

“Kami”

“Aku tahu bahwa kalian adalah orang-orang upahan. Kembalilah kepada Jangkung. Sekarang. Katakan bahwa aku menunggunya disini. Jika ia menolak, maka ia akan menyesali kesombongannya”

Orang berkumis tebal itu tertawa berkepanjangan, sehingga orang-orang yang ada di kedai itu seakan-akan telah terguncang-guncang.

Seberapa orang yang merasa sudah selesai makan dan minum pun segera meninggalkan kedai itu. Mereka sadar, bahwa jika suasana itu tidak tertolong, maka akan dapat timbul benturan kekerasan.

“Den Mas” berkata orang berkumis tebal itu, “jangan memutar balik keadaan. Den Mas Jangkung dan Den Ajeng Laras adalah dua orang yang saling mencintai. Tidak ada kekuatan apa pun yang akan dapat memisahkan mereka. Sebenarnya Raden Rangga Somadigda tidak setuju untuk mengambil Den Ajeng Laras menjadi menantunya. Masih banyak perempuan cantik yang dapat dipilih. Bahkan anak seorang Tumenggung sekalipun. Bahkan masih mengalir darah biru didalam tubuhnya. Tetapi karena Den Ajeng Laras sangat mencintai Den Mas Jangkung, Raden Rangga Somadigda tidak sampai hal untuk memisahkan kedua anak muda itu”

“Cukup. Cukup. Ini pikiran gila. Laras hampir membunuh dirinya karena malu oleh perbuatan Jangkung. Karena itu, bawa Jangkung kepadaku”

“Den Mas Mengancam?”

“Ya. Aku mengancam”

“Jangan begitu Den Mas. Jangan paksa kami untuk melakukan perbuatan yang bodoh karena kami memang orang-orang bodoh”

“Apa pun yang kau katakan, aku tetap inginkan Dimas Jangkung. Ia harus mengetahui sikapku. Ia harus tahu, bahwa ia tidak akan dapat berbuat semena-mena kepada gadis-gadis yang lemah”

“Den Mas. Jika Den Mas mengancam, maka kami tidak akan dapat tinggal diam. Sebelum Den Mas bertemu dengan Den Mas Jangkung, maka aku harus meyakinkan kepada Den Mas Jangkung Bahwa Den Mas sudah menjadi jinak dan tidak akan melakukan perbuatan liar dan bahkan buas lagi”

“Tidak. Aku harus bertemu dengan Dimas Jangkung”

“Den Mas. Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa. Den Mas hanya berempat. Itu pun kalau kawan-kawan Den Mas itu bersedia membantu Den Mas, karena jika mereka bersedia membantu Den Mas, maka nasib mereka akan menjadi sangat buruk. Mereka akan menyesal di sepanjang umurnya”

“Jangan sesorah. Sekarang kalian pergi. Bawa Jangkung kemari. Itu saja. Bukankah persoalannya sangat sederhana?”

“Jika Den Mas ingin segera bertemu dengan Den Mas Jangkung, ikut saja kami”

“Sudah aku katakan, aku tidak akan menemuinya di rumahnya. Aku memanggilnya untuk datang kemari. Tidak ada jalan lain”

“Sudahlah Den Mas. Sebaiknya Den Mas menyesuaikan diri saja. Raden Rangga Somadigda sudah bersia-siap untuk pergi melamar. Den Mas Jangkung dan Den Ajeng Laras tidak akan dapat dipisahkan lagi. Mereka saling mencintai sehingga hanya maut sajalah yang mampu memisahkan mereka”

“Cukup. Cukup. Pergi dan bawa Jangkung kemari. Ia harus menjadi jera”

“Den Mas. Pulanglah. Katakan kepada ayah Den Mas, bahwa Raden Rangga Somadigda akan datang. Sebaiknya Raden Rangga Wiraprana memberi tahukan, kapan ia dapat menerima”

“Cukup. Pergi. Pergi”

“Aku akan pergi. Tetapi Den Mas harus menyatakan kesediaan Den Mas memberitahukan kepada ayah Den Mas bahwa Raden Rangga Somadigda akan datang melamar”

“Tidak”

“Harus. Den Mas harus memberitahukan kepada ayah Den Mas. Ayah Den Mas pun harus menerima Raden Rangga Somadigda atau Den Ajeng Laras akan kami ambil dengan paksa”

“Apakah kau sudah gila?”

“Ya. Kami memang kumpulan orang-orang gila. Karena itu, jangan mencoba melawan kehendak Den Mas Jangkung”

Orang yang berpakaian rapi itu menjadi sangat marah. Wajahnya menjadi merah.

Ki Mina yang sudah menghabiskan makan dan minumannya pun menggamit Nyi Mina sambil berkata, “Marilah kita pergi. Agar aku tidak melibatkan diri dalam persoalan ini”

Tetapi Nyi Minalah yang menjawab, “Nanti dulu”

“Aku tidak mendengar pembicaraan mereka. Aku tidak tahu persoalan apa yang mereka hadapi. Karena itu, marilah kita pergi segera”

“Nanti dulu kakang. Persoalannya menyentuh hati. Agaknya telah terjadi pemaksaan kehendak atas seorang gadis”

“Kehendak apa? aku sudah memenuhi keinginanmu agar aku tidak mendengarkannya”

“Apakah kita akan membiarkan seorang gadis yang dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikehendaki? Bahkan agaknya seorang anak orang terhormat dan berkuasa serta mempunyai banyak uang dan sudah sering melakukan tindakan-tindakan kasar terhadap gadis-gadis”

“Jangan hiraukan”

“Kita tidak dapat membiarkannya”

Ki Mina tersenyum. Katanya, “Ternyata kali ini bukan aku yang menyebabkan kita mencampuri persoalan orang lain”

“Ah, kakang”

“Baiklah, Kita lihat, apa yang akan terjadi”

Dalam pada itu, orang yang disebut Den Mas itu pun menjadi sangat marah. Dengan garangnya ia membentak, “Pergi. Pergi. Panggil Jangkung kemari. Aku tidak mau berbicara dengan kalian. Kalian hanya orang-orang upahan yang tidak akan dapat menentukan apa-apa kecuali menjalankan perintah”

“Ya. Dan perintah itu mengatakan bahwa aku harus menjinakkan Den Mas sehingga Den Mas untuk selanjutnya tidak akan menghalangi lagi niat Den Mas Jangkung menikah dengan adik Den Mas. Den Ajeng Laras”

“Tidak ada orang yang dapat menjinakkan aku” Orang berkumis lebat itu pun kemudian beraling kepada seorang yang berkulit kuning. Bermata tajam seperti mata burung elang.

“Alap-alap Alas Roban. Lakukan tugas yang harus kau Lakukan. Jinakkan Den Mas Wiraga ini. Jika yang lain-lain akan melibatkan diri, biarlah kami yang menanganinya”

Orang yang disebut Den Mas Wiraga itu pun segera bangkit berdiri. Dengan lantang ia pun berkata, “Aku tidak ingin merusakkan isi kedai ini. Kita akan bertempur di halaman”

Orang berkulit kuning yang disebut Alap-alap Alas Roban itu tersenyum. Katanya, “Baiklah Den Mas. Aku akan menunggu di halaman.

Den Mas Wiraga itu pun kemudian telah melangkah keluar kedai itu dan turun di halaman. Ia pun langsung dihadapi oleh orang yang disebut Alap-alap Alas Roban”

Sementara itu, ketiga orang kawannya pun telah keluar pula dari kedai itu. Namun orang berkumis lebat serta kawan-kawannya segera bersiap menghadapi mereka.

“Kakang” desis Nyi Mina, “Jika benar orang itu Alap-alap Alas Roban, maka ia adalah orang yang sangat berbahaya”

“Mungkin anaknya. Atau muridnya atau siapa pun yang diberi hak untuk mempergunakan nama itu. Alap-alap Alas Roban yang sebenarnya tentu sudah lebih tua. Mungkin setua kita”

“Kita akan melihat. Mungkin orang yang disebut Den Mas Wiraga itu juga seorang yang berilmu tinggi”

Karena itu, maka kedua suami isteri itu pun telah turun ke halaman pula. Mereka tidak memperhatikan bahwa kedai itu telah kosong. Semua orang telah pergi meninggalkan kedai itu.

Yang ada di halaman tinggallah empat orang yang berpakaian rapi itu berhadapan dengan orang-orang yang datang berkuda.

“Kau tetap pada pendirianmu Den Mas. Kau tetap tidak merelakan adikmu menikah dengan Den Mas Jangkung?“ bertanya Alap-alap Alas Roban

“Den Mas. Jangan menyesal jika untuk seterusnya Den Mas tidak dapat berjalan terus. Mungkin Den Mas akan menjadi lumpuh atau mata Den Mas akan buta sebelah” berkata Alap-alap Alas Roban yang ternyata sikapnya justru tidak terlalu kasar.

Tetapi Nyi Mina berdesis perlahan, “Orang itu sangat berbahaya. Justru Alap-alap Alas Roban itu banyak tersenyum. Agak lembut dan sikapnya seakan-akan berlandaskan unggah-ungguh yang utuh”

“Ya. Orang itu sangat berbahaya. Orang itu memang Alap-alap Alas Roban. Ia memiliki semua sifat Alap-alap Alas Roban. Entahlah tingkat ilmunya”

Sementara itu Raden Mas Wiraga yang marah itu tidak menghiraukan ancaman Alap-alap Alas Roban. Nampaknya Raden Mas Wiraga juga seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga meskipun ia dihadapkan kepada Alap-alap Alas Roban, namun ia sama sekali tidak menjadi gentar.

Bahkan Raden Mas Wiraga itu pun berkata, “Alap-alap Alas Roban. Aku menyayangkan kebesaran namamu jika pada akhirnya kau hanya menjadi orang upahan”

Tetapi Alap-alap Alas Roban itu tertawa tertahan. Katanya, “Apa yang harus aku lakukan Den Mas? Meskipun aku menjadi orang upahan, tetapi tidak sembarang orang dapat mengupah aku. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang aku layani. Misalnya Raden Rangga Somadigda yang uangnya tidak dapat dihitung. Raden Rangga menyanggupi untuk membayarku seberapa saja aku minta. Bahkan seandainya aku minta uang sebakul penuh”

“Apakah bagimu hidup itu sama dengan uang?”

“Ya. Aku telah bertekad untuk berbuat apa pun juga dalam hidupku untuk mendapatkan uang”

“Dengan tidak menghiraukan harga diri?”

“Bahkan seandainya kepalaku dijadikan alas kaki pun akan aku lakukan jika upahnya memadai”

Raden Mas Wiraga menggeram. Ternyata ia berhadapan dengan seorang yang menghambakan dirinya kepada uang. Orang yang mempertaruhkan hidup matinya untuk mendapat-kan uang sebanyak-banyaknya.

Ki Mina dan Nyi Mina memperhatikan orang yang disebut Alap-alap Alas Roban itu dengan saksama. Tetapi mereka memang belum mengenal secara pribadi dengan orang yang disebut Alap-alap Alas Roban. Yang dikenalnya adalah cabang ilmu perguruan Alas Roban yang dipimpin oleh Alap-alap Alas Roban. Tetapi menurut dugaan mereka, Alap-alap Alas Roban yang dimaksud bukan orang yang akan bertempur dengan Raden Mas Wiraga itu. Tetapi agaknya orang itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Alap-alap Alas Roban yang sebenarnya, yang agaknya umurnya lebih tua dari orang itu.

Beberapa saat kemudian, Raden Mas Wiraga itu sudah bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan Alap-alap Alas Roban yang sudah mulai bergeser. Namun Alap-alap Alas Roban yang berkulit kuning dan bermata tajam seperti mata burung hantu itu masih saja tersenyum-senyum. Ia seakan-akan tidak sedang berhadapan dengan seorang lawan. Tetapi sedang bertemu dengan seorang kenalan yang sudah lama sekali tidak bertemu.

“Aku peringatkan sekali lagi Den Mas” berkata Alap-alap itu, “biarkan saja Den Mas Jangkung menikah dengan Den Ajeng Laras. Aku tahu dan semua orang tahu, jika ada utusan Den Rangga Somadigda untuk melamar, maka Den Rangga Wiraprana tentu akan memberikannya. Kecuali Den Wiraprana tahu bahwa aku berdiri di pihak Den Rangga Somadigda, tetapi menurut pendengaranku ayahanda Den Mas Wiraga itu juga dapat dipengaruhi dengan uang”

“Omong kosong. Ayah bukan orang yang dapat dibeli. Tetapi kalian tidak perlu berbicara dengan ayah. Aku akan menyelesaikan semua perkara”

“Den Mas tentu takut kalau Den Rangga yang sakit-sakitan itu akan mati karena lamaran Den Mas Jangkung itu”

“Cukup. Aku akan menyumbat mulutmu”

“Ingat Den Mas. Kau berhadapan dengan Alap-alap Alas Roban yang sangat ditakuti orang”

Sejenak kemudian, maka Alap-alap Alas Roban itu pun telah meloncat menyerang. Demikian cepatnya sehingga Raden Mas Wiraga itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa ia akan mendapat serangan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Karena itu, maka Raden Mas Wiraga itu tidak sempat menghindari. Meskipun ia berusaha menangkis serangan itu, namun tubuhnya tergetar juga sehingga ia bergeser surut dua langkah.

Raden Mas Wiraga itu menggeram. Ia pun segera meningkatkan ilmunya, sehingga mampu mengimbangi ketangkasan lawannya.

Keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Ternyata Raden Mas Wiraga memiliki bekal yang cukup untuk melawan orang yang disebut Alap-alap Alas Roban itu.

Di luar arena pertempuran, Ki Mina dan Nyi Mina memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Bahkan Ki Mina itu pun kemudian berdesis, “Ya. Bukankah kita mengenali unsur-unsur gerak orang yang mengaku Alap-alap Alas Roban itu?”

“Ya. Tetapi apakah kakang percaya bahwa orang itulah Alap-alap Alas Roban atau orang yang sudah mendapat kuasanya?”

“Mungkin ia belum sampai pada tataran puncak dari ilmu perguruan Alas Roban”

Nyi Mina mengangguk-angguk.

Pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Namun dengan demikian, Ki Mina dan Nyi Mina melihat semakin jelas, ciri-ciri justru dari kedua belah pihak. Mereka memang melihat ciri-ciri perguruan Alas Roban pada orang berkulit kuning, bermata tajam seperti mata burung hantu, serta setiap kali tersenyum itu. Namun ternyata mereka juga melihat ciri-ciri ilmu Raden Mas Wiraga.

“Tentu ada jalur dengan perguruan Tapak Mega di tepi Kali Bagawanta” berkata Ki Mina.

“Maksud kakang, perguruan Tapak Mega yang dipimpin oleh Uwa Rina-rina?”

“Ya”

Nyi Mina termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berdesis, “Ya. Aku melihat unsur-unsur gerak Uwa Rina-rina. Jika Raden Mas Wiraga itu bertubuh kecil dan lebih pendek, maka ia adalah bayangan Uwa Rina-rina itu sendiri”

“Tetapi darimana orang itu menyadap ilmu Tapak Mega dari tepi Kali Bagawanta itu”

“Tentu ada banyak cara. Mungkin orang itu pernah berguru ke perguruan Tapak Mega. Mungkin salah seorang murid perguruan Tapak Mega yang sudah tuntas sempat mendirikan sendiri perguruan yang tetap merupakan aliran arus ilmu dari perguruan Tapak Mega. Atau cara-cara lain”

“Tepat”

“Apa yang tepat?”

“Atau cara-cara lain”?

“Ah, kakang”

“Sst” desis Ki Mina.

Nyi Mina pun segera menumpahkan perhatiannya kepada pertempuran di halaman kedai itu.

Dilihatnya, ketiga orang yang bersama-sama duduk di dalam kedai itu bersama Raden Mas Wiraga itu mulai bersiap-siap. Namun orang berkumis lebat dan kawan-kawannya pun telah bersiap-siap pula.

“Ada harapan, Nyi”

“Harapan apa?”

“Ada harapan Raden Mas Wiraga memenangkan pertempuran itu”

“Ya. Tetapi agaknya mereka memang seimbang. Bedanya Raden Mas Wiraga lebih banyak mempergunakan otaknya dari lawannya”

“Ya. Itulah yang aku katakan bahwa ada harapan bagi Raden Mas Wiraga untuk memenangkan pertempuran itu”

Nyi Mina itu pun mengangguk-angguk.

Namun tanpa disengaja keduanya pun telah melihat di kejauhan beberapa orang tengah memperhatikan pertempuran itu. Agaknya tidak seorang pun yang mendekat. Mereka tidak ingin terpercik oleh permusuhan diantara kedua belah pihak yang bertempur itu.

“Ternyata kita hanya berdua saja berada di dekat arena ini, Nyi” berkata Ki Mina.

“Bukankah kita hanya menonton saja?”

“Tetapi kau sudah bersiap-siap untuk mencampuri persoalan orang lain. Bukankah itu akan memperlambat perjalanan kita”

“Ah, kakang”

Ki Mina sempat tertawa tertahan.

Sementara itu, pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Ternyata Raden Mas Wiraga semakin mendesak lawannya yang disebut Alap-alap Alas Roban itu. Serangan-serangan Raden Mas Wiraga semakin sering menembus pertahanan Alap-alap Alas Roban, sehingga beberapa kali Alap-alap Alas Roban itu terdesak surut.

Dalam keadaan yang semakin gawat, maka orang berkumis tebal itu nampak semakin gelisah. Apalagi ketika Alap-alap Alas Roban itu terlempar dan terbanting jatuh ketika serangan kaki Raden Mas Wiraga meluncur seperti anak panah menerobos pertahanannya tepat mengenai dadanya.

Orang berkumis lebat itu pun cepat berlari kearah Alap-alap Alas Roban. Namun Alap-alap Alas Roban itu sudah melenting berdiri dengan sigapnya.

“Aku tidak apa-apa” geram Alap-alap Alas Roban itu. Namun ia pun kemudian berkata, “Uruslah kawan-kawan Den Mas edan itu. Lumatkan mereka seperti aku akan melumatkan Den Mas yang malang ini. Dengan demikian ia tidak hanya sekedar akan nienjadi cacat. Tetapi untuk selama-lamanya ia tidak akan dapat mengganggu niat Den Mas Jangkung lagi”

Orang berkumis lebat itu pun menggeram. Ia pun kemudian memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk bersiap.

Tetapi ketiga kawan Raden Mas Wiraga itu pun segera mempersiapkan diri pula. Mereka sadar, bahwa mereka akan menjadi alat untuk memperlemah pertahanan jiwani Raden Mas Wiraga.

Namun dengan demikian, maka mereka pun bertekad untuk tidak mempengaruhi pertempuran diantara Raden Mas Wiraga melawan Alap-alap Alas Roban itu.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, orang berkumis lebat itu pun telah bergeser mendekati ketiga orang kawan Raden Mas Wiraga. Dengan lantang orang berkumis itu berkata, “Berjongkoklah. Tundukkan kepalamu. Kau akan mati dengan cara terbaik daripada kau harus mengerahkan tenaga dan kemampuanmu untuk melawan”

“Aku pernah mendengar kata-kata seperti itu lebih dari sepuluh kali. Tetapi mereka yang mengatakan itu selalu dapat aku kalahkan”

“Persetan kau”

“Kau kira aku belum berpengalaman menghadapi orang-orang gila seperti kalian?”

“Kau berani menyebut aku gila?”

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kalian adalah kumpulan orang-orang gila”

“Iblis kau” geram orang itu. Ia pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk menyerang.

Namun demikian mereka bergerak, ketiga orang kawan Den Mas Wiraga itu pun bergerak pula bersama-sama.

Dengan demikian, maka telah terjadi pula pertempuran yang sengit. Tiga orang kawan-kawan Raden Mas Wiraga itu ternyata bertempur dalam satu lingkaran. Mereka berloncatan silang menyilang, sehingga dengan demikian, mereka tidak berhadapan dengan lawan tertentu.

Agaknya cara itu telah sedikit mengacaukan perlawanan kawan-kawan orang berkumis lebat itu, sehingga mereka pun kadang-kadang harus berloncatan mengambil jarak.

Ki Mina yang berdiri di pinggir arena itu pun berdesis, “Mereka ternyata saudara seperguruan Raden Mas Wiraga”

“Ya. Namun agaknya tataran ilmu mereka masih sedikit di bawah ilmu Raden Mas Wiraga”

“Tetapi mereka akan dapat mengatasi lawan-lawan mereka”

Ternyata keempat orang itu merupakan sasaran yang sangat berat bagi orang-orang upahan itu. Yang paling mereka andalkan, Alap-alap Alas Roban, ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan, Raden Mas Wiraga. Sedangkan kawan-kawan orang berkumis lebat itu, meskipun jumlahnya lebih banyak, juga tidak mampu mengalahkan lawannya yang hanya bertiga.

Beberapa saat kemudian, maka Alap-alap Alas Roban itu pun menjadi semakin terdesak. Tenaganya bagaikan terkuras habis. Tubuhnya kesakitan di mana-mana, sedangkan tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak.

Meskipun demikian, Alap-alap Alas Roban itu tidak mau melihat kenyataan itu. Ia merasa dirinya tidak terkalahkan. Meskipun tubuhnya menjadi lemah dan tenaganya menjadi hampir tidak berdaya, namun Alap-alap Alas Roban itu masih mencoba melawan.

Ketika dengan sekuat sisa tenaga Alap-alap Alas Roban itu menjulurkan tangannya menyerang Raden Mas Wiraga, maka Raden Mas Wiraga itu pun bergeser selangkah kesamping, sehingga serangan Alap-alap Alas Roban itu tidak mengenai sasaran. Bahkan Alap-alap Alas Roban itu telah terseret oleh ayunan tangannya sendiri. Ketika kemudian Raden Mas Wiraga memukul punggungnya, maka Alap-alap Alas Roban itu pun segera jatuh terjerembab. Wajahnya tersuruk ke tanah berbatu-batu yang memang ditata di halaman kedai itu.

Terdengar Alap-alap Alas Roban itu mengaduh tertahan. Namun ia masih mencoba untuk bangkit berdiri.

Tetapi begitu ia berhasil tegak, maka seorang kawannya-lah yang terpelanting membentur bebatur kedai itu.

Orang itu masih mencoba untuk bangkit. Tetapi punggung-nya terasa bagaikan menjadi patah. Karena itu, maka ia pun telah terjatuh lagi di bebatur kedai itu.

Ternyata kawan-kawannya sudah tidak berdaya. Yang kemudian terlempar lagi dari arena adalah orang berkumis itu sendiri.

Raden Mas Wiraga pun kemudian berdiri bertolak pinggang. Wajahnya masih merah oleh kemarahan yang menyala didadanya. Nafasnya terengah-engah serta jantungnya pun seakan-akan berdegup semakin cepat.

“Nah, apa katamu Alap-alap edan?”

Alap-alap Alas Roban yang merasa dirinya tidak akan dapat dikalahkan itu menggeram marah pula. Dengan geram ia pun berkata, “Aku akan membunuhmu”

“Kau? Apakah kau masih mampu berdiri tegak”

“Setan kau“ Alap-alap Alas Roban itu melangkah maju mendekati Raden Mas Wiraga. Namun tubuhnya pun terhuyung-huyung. Hampir saja orang itu jatuh tersungkur lagi.

Sementara itu, kawan-kawannya yang bertempur melawan ketiga orang saudara seperguruan Raden Wiraga itu pun sudah tidak berdaya pula. Bahkan seorang diantara mereka menjadi pingsan.

“Alap-alap kerdil” berkata Raden Mas Wiraga, “Tidak ada gunanya bagiku untuk membunuhmu. Kau hanya orang-orang upahan. Jika aku membunuhmu, maka paman Rangga Somadigda tentu akan mengupah orang lain untuk melakukan hal yang sama. Karena itu, pergilah. Kembalilah kepada Dimas Jangkung. Katakan, jika ia tidak mau datang hari ini kemari, pada kesempatan lain, aku akan mencarinya. Aku akan membuat perhitungan dengan Jangkung itu langsung atau bahkan dengan ayahnya jika ayahnya mendukung kegilaan anaknya. Tidak perlu ayah yang menanganinya. Biar aku saja yang menyelesaikan. Meskipun paman Rangga Somadigda memiliki uang sebangsal agung, tetapi ia tidak akan dapat membeli adikku. Membeli keluargaku”

Namun demikian kata-kata Raden Mas Wiraga itu berakhir, maka terdengar dua orang yang bertepuk tangan. Dua orang yang tiba-tiba saja muncul dari balik sudut kedai itu.

“Bagus. Bagus sekali permainanmu Den Mas. Ternyata kau benar-benar seorang yang mumpuni. Kau telah dapat mengalahkan murid dari perguruan Alas Roban”

Orang yang disebut Alap-alap Alas Roban itu pun terkejut pula melihat kehadiran kedua orang itu. Dengan tergesa-gesa ia pun berjongkok sambil berdesis, “Guru. Aku belum mampu mengemban nama itu. Aku masih belum dapat mengalahkan orang ini”?

Kedua orang itu tertawa. Seorang diantaranya berkata, “Tidak apa-apa. Kau memang harus memperluas pengalaman-mu. Kali ini kau bertemu dengan murid-murid langsung atau tidak langsung dari perguruan Tapak Mega yang padepokan-nya berada di pinggir Kali Bagawanta yang didirikan oleh orang cebol itu.

“Ternyata aku dikalahkannya guru”

“Tidak apa-apa. Adalah wajar sekali jika pada suatu saat kau dikalahkan oleh orang-orang yang memiliki ilmu lebih masak dari aku sendiri”

“Ampun guru”.

“Tetapi orang yang telah berani menyakiti muridku ini memang harus dihukum”

Raden Mas Wiraga surut selangkah. Bahkan ketiga orang saudara seperguruannya pun bergeser pula mendekat

“Perguruan Tapak Mega memang perguruannya orang-orang yang didalam darahnya masih mengalir tetesan darah keturunan bangsawan meskipun akhir-akhir ini pintunya sudah dibuka pula bagi orang kebanyakan,“ Lalu katanya kepada murid-murid Tapak Mega, “Kalian tidak usah menyombongkan dirimu untuk melawanku. Jika kau masih ingin mencobanya, maka aku akan patahkan leher kalian berempat”

Tetapi keempat orang murid perguruan Tapak Mega itu tidak menjadi ketakutan. Mereka pun segera mempersiapkan diri menghadapi lawan yang tentu jauh lebih berat

“Kalian akan melawan?” bertanya orang itu. Tetapi yang seorang lagi berkata, “Sebaiknya jangan. Biarlah kami menjatuhkan hukuman sesuai dengan cara kami. Tetapi jangan mencoba menghalangi agar hukuman yang akan kami berikan tidak justru menjadi semakin berat”

Tidak ada yang menjawab. Tetapi keempat orang itu benar-benar telah bersiap.

Ketika kedua orang itu melangkah mendekat, maka keempat orang itulah yang justru menyerang lebih dahulu.

Tetapi kedua orang itu memang sangat tangkas. Mereka berloncatan dengan cepatnya, sehingga serangan keempat orang yang datang hampir bersamaan itu sama sekali tidak menyentuh mereka berdua.

Bahkan kedua orang itu masih sempat tertawa panjang. Seorang diantara mereka berkata, “Kalian sudah termasuk dalam bingkai orang-orang berilmu tinggi. Tetapi kalian berdua tidak akan dapat berbuat apa-apadi hadapan kami”

Sebelum salah seorang diantara keempat orang itu menjawab, maka seorang diantara kedua orang itu pun telah menjejak tanah.

Hentakkan kaki orang itu seakan-akan telah mengguncang halaman kedai itu. Namun sebelum keempat orang itu menyadari iapa yang telah terjadi, maka kedua orang itu telah bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan pandangan mata.

Tiba-tiba saja keempat orang murid Tapak Mega itu mengaduh. Dua orang itu ternyata telah menyerang dan langsung menguak pertahanan keempat orang murid Tapak Mega itu.

Sebelum mereka menyadari keadaan mereka, maka tiba-tiba seorang diantara kedua orang itu telah meloncat, menerkam Raden Mas Wiraga di bajunya. Ia pun menarik baju di bagian dada itu dengan kasarnya. Demikianlah Raden Mas Wiraga berdiri di depannya, maka sebuah pukulan yang keras sekali telah menyambar dagunya.

Sedangkan seorang yang lain telah menyerang ketiga orang kawan Raden Mas Wiraga.

Ketiganya sama sekali tidak berdaya untuk melawannya. Selain mereka sudah letih melayani kawan-kawan orang tebal itu, ilmu mereka memang terpaut jauh.

Dalam pada itu, maka keempat orang itu menjadi tidak berdaya. Sebuah pukulan yang keras telah melemparkan Raden Mas Wiraga sehingga rubuhnya membentur sebatang pohon duwet di halaman kedai itu. Tubuh itu pun kemudian terkulai lemah dibawah pohon duwet itu, sementara yang lain pun telah menjadi tidak berdaya.

Namun sekali lagi terdengar tepuk tangan.

Kedua orang itu pun segera berpaling. Mereka melihat dua orang laki-laki dan perempuan berdiri didekat pintu kedai itu.

“Luar biasa” berkata Ki Mina yang bertepuk tangan itu, “Aku mengikuti peristiwa ini sejak awal. Sejak murid-muridmu menantang empat orang murid langsung atau tidak langsung dari perguruan Tapak Mega itu”

“Kau siapa?“

“Yang jelas, aku bukan Alap-alap Alas Roban. Agaknya kaulah yang bergelar Alap-alap Alas Roban itu. Atau semua orang yang telah selesai menuntut ilmu di perguruan Alas Roban, akan mendapat gelar Alap-alap Alas Roban”

“Apa kepentinganmu dengan peristiwa ini?”

“Bukan apa-apa. Aku hanya menonton tontonan yang tidak berbobot sama sekali. Jelek”

“Persetan. Kau siapa, he? Begitu beraninya kau mencampuri urusanku”

“Kau pukuli orang-orang yang tidak berdaya itu. Nampaknya kau bangga dapat mengalahkan Den Mas Wiraga dan kawan-kawannya. Kau bangga telah dapat mengalahkan anak-anak ingusan itu didalam tataran olah kanuragan. Sementara itu, muridmu tidak berdaya menghadapi Raden Mas Wiraga. Untunglah bahwa Raden Mas Wiraga ternyata seorang yang sangat baik, yang tidak berniat membunuh muridmu. Seharusnya kau datang kepadanya untuk mengucapkan terima-kasih. Tetapi kau justru menyakitinya. Bukankah itu tidak pantas?”

“Apa urusanmu dengan Den Mas Wiraga. Bahkan seandainya aku membunuhnya. Bukankah kau bukan sanak dan bukan kadangnya?“

“Aku memang bukan sanak dan bukan kadangnya. Tetapi aku hanya malu melihat sepak terjangmu. Apalagi jika kau memang menyebut dirimu Alap-alap Alas Roban, karena Alap-alap Alas Roban yang pernah aku dengar namanya beberapa tahun yang lalu, sifatnya sangat berbeda dengan sifat kalian berdua, sehingga aku yakin bahwa kalian bukan orang yang pertama mempergunakan gelar Alap-alap Alas Roban”

“Apa pedulimu. Nah, karena kau sudah terlanjur mencampuri urusanku, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi”

“Maksudmu?”

“Nasib Den Mas Wiraga lebih beruntung dari nasibmu kakek dan nenek tua. Aku memang akan membiarkan Den Mas Wiraga itu hidup. Tetapi tidak kalian. Kalin telah langsung menyinggung perasaanku. Karena itu, maka kalian akan mati”

“Ah, begitu bengiskah orang Alap-alap Alas Roban?”

“Ya. Semua orang yang berani menodai nama baik perguruan Alas Roban harus mati”

“Kenapa kau tidak membunuh dirimu sendiri? Kalian berdua bukan saja telah menodai nama baik perguruan Alas Roban. Tetapi kaian berdua benar-benar telah mengotorinya dan bahkan merusak nama baik perguruan Alas Roban dengan tingkah lakumu. Kau ajari muridmu menjadi orang upahan. Kau ajari muridmu diperbudak uang, sehingga menurut katanya, ia akan bersedia memberikan kepalanya menjadi alas kaki asal mendapat imbalan yang sesuai. Benarkah begitu?“

“Siapakah yang berkata begitu kepadamu?”

“Muridmu yang telah dikalahkan oleh Raden Mas Wiraga itu”

“Itu fitnah guru”

“Disini ada saksi. Setidaknya Raden Mas Wiraga dan ketiga orang sudara seperguruannya”

“Mereka tentu sudah sepakat untuk memfitnahku. Mereka tentu akan mengatakan sebagaimana dikehendaki oleh orang tua itu”

“Aku tidak kenal dengan mereka”

“Omong kosong”

Tetapi orang yang dipanggilnya guru itu pun tertawa sambil berkata, “Kau tidak usah membantahnya atau bahkan membela diri. Aku tidak berkeberatan seandainya kau melakukannya. Aku pun akan melakukannya untuk mendapat-kan uang yang sesuatu”

Orang yang berkelahi dengan Raden Mas Wiraga itu termangu-mangu sejenak.

“Sudahlah. Kali ini ujianmu memang belum lulus. Kau masih perlu meningkatkan kemampuan serta memperluas pengalaman. Tetapi kami tidak akan berkeberatan jika kau memakai gelar Alap-alap Alas Roban untuk selanjutnya”

“Terima kasih, guru”

“Nah, sekarang aku akan mengurus kedua orang kakek dan nenek ini. Apa maunya sebenarnya”

Ki Mina dan Nyi Mina berdiri termangu di tempatnya seperti patung.

“Nah, sekarang sebaiknya kalian berdua ikut bersamaku. Aku akan mencekik kalian di pinggir kali. Kemudian melemparkan tubuh kalian yang renta itu ke dalam jurang”

“Aku tahu bahwa kau tidak sebodoh itu. Katakan saja bahwa kalian berdua menantangku. Tentu kami akan merasa lebih terhormat. Kecuali jika kalian sengaja menghinakan kami”

“Kau kira kalian berdua pantas untuk ditantang”

“Kenapa harus berbelit-belit. Jika kami berdua berani menegurmu, mencampuri urusanmu dan bahkan merendahkan kalian, maka kau tentu tahu artinya. Tetapi kenapa kalian masih saja berputar-putar”

“Bagus. Kami terima tantangan kalian. Apakah kau akan bermain sendiri atau bersama perempuan ini? Jika kau akan turun seorang diri, maka kau dapat memilih lawan salah seoranig diantara kami”

“Kami akan turun berdua. Kalian berdua. Kami tidak akan memilih siapa yang harus aku hadapi dan siapa yang harus dihadapi oleh isteriku”

“Sombongnya kau kakek tua. Meskipun ilmumu menggapai langit, namun tulang-tulangmu sudah rapuh semua. Sentuhan-sentuhan kecil akan dapat membuat tulang-tulangmu itu runtuh”

Ki Mina tertawa. Katanya, ”Kita akan mencobanya”

“Sekali lagi aku peringatkan Ki Sanak. Bahwa orang yang telah menodai nama perguruan Alas Roban sebagaimana yang kalian lakukan ini, apalagi berani melawan kami, maka kalian tidak akan pernah dapat meninggalkan arena dalam keadaan hidup”

“Kau berkata sungguh-sungguh?”

“Kau sangka aku hanya sekedar menakutimu?”

“Bukan begitu. Jika kau berkata bersungguh-sungguh, maka takaran yang kau pakai, akan aku pakai juga untuk memperlakukan kalian berdua”

Kemarahan yang bagaikan membakar ubun-ubun tidak dapat diredam lagi oleh kedua orang dari perguruan Alas Roban yang agaknya masing-masing juga bergelar Alap-alap Alas Roban.

Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata kepada yang lain, “Kali ini kita jumpai dua orang kakek dan nenek yang sangat sombong yang agaknya sudah menjadi jemu untuk hidup. Agaknya mereka sudah merasa terlalu lama tinggal di bumi ini, sehingga mereka ingin segera diantara ke alam lain”

“Baik, kakang. Aku akan memilin leher kakek tua itu. Perlakukan nenek itu dengan sedikit lembut”

Sebelum orang itu menjawab, Nyi Mina telah bergeser maju sambil berkata, “Sudahlah. Kita sudah terlalu banyak berbicara. Marilah kita mulai apa yang akan kita lakukan”

Alap-alap Alas Roban itu menggeram. Namun Nyi Mina dan Ki Mina pun telah bergeser mengambil jarak yang satu dari yang lain.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka mereka pun telah terlibat dalam pertempuran. Alap-alap Alas Roban itu ingin menyelesaikan lawannya dengan cepat untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang pinunjul.

“Sebelum mati, kau harus tahu, bahwa kami adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga sulit untuk dicari tandingnya” geram Alap-alap Alas Roban yang bertempur melawan Nyi Mina.

Tetapi justru serangan-serangan Nyi Minalah yang kemudian datang mebadai.

Sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Kedua belah pihak adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Alap-alap Alas Roban itu pun tidak mengira bahwa mereka akan bertemu dengan kakek-kakek dan nenek-nenek yang mampu mengimbangi ilmu mereka.

“He, siapakah kau sebenarnya kakek tua?” bertanya lawan Ki Mina sambil berloncatan. Sekali menyerang, kemudian meloncat surut untuk menghindar.

“Seharusnya kau dapat mengenali kami sebagaimana kami dapat mengenalimu Alap-alap dungu”

Alap-alap Alas Roban itu tidak bertanya lagi. Kedua tangannya pun kemudian mengembang seperti sayap-sayap burung alap-alap yang sedang memburu mangsanya di awang-awang.

Ki Mina pun semakin meningkatkan ilmunya pula. Ia pun tidak ingin terikat dalam pertempuran itu terlalu lama. Perjalanannya tinggal sedikit lagi. Rasa-rasanya orang tua itu ingin segara sampai di padepokan.

Pertempuran diantara Ki Mina dan Nyi Mina melawan kedua orang Alap-alap Roban itu semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang dari perguruan yang merasa diri mereka berilmu sangat tinggi itu pun menjadi semakin marah karena mereka tidak segera dapat menguasai lawannya. Apalagi Alap-alap yang harus bertempur melawan nenek-nenek tua itu. Ternyata nenek-nenek tua itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi pula. Tenaga dalamnya telah menjadi sangat mapan, sehingga dapat melontarkan tenaga yang sangat besar.

Alap-alap Alas Roban itu pun semakin meningkatkan ilmunya pula, sehinga ia mampu bergerak lebih cepat. Kakinya seakan-akan tidak lagi menyentuh tanah. Tubuhnya melayang melingkar-lingkar mengitari nenek tua yang justru menjadi semakin sedikit bergerak.

Nyi Mina yang berada di pusat putaran gerak Alap-alap Alas Roban itu pun sedikit merendah pada lututnya. Kedua tangannya berada di depan dadanya. Kakinya bergeser sedikit-sedikit menyesuaikan diri dengan keberadaan lawannya.

Alap-alap Alas Roban yang berputaran di seputar nenek tua itu pun tiba-tiba meloncat menyerang dari samping. Ia mencoba berusaha untuk menembus partahanan Nyi Mina yang kelihatannya terbuka di bagian lambung.

Tetapi di lambung perempuan tua itu seakan-akan terdapat perisai baja yang tebal. Demikian kaki. Alap-alap itu terjulur, maka dengan sedikit menarik sikunya, maka Nyi Mina telah merapatkan pertahanannya.

Ketika benturan itu terjadi, maka Nyi Mina pun tergetar selangkah mundur. Tubuhnya kemudian terhuyung. Namun dengan tangkasnya Nyi Mina berhasil mempertahankan keseimbangannya.

Sementara itu, lawannya yang serangannya membentur pertahanan yang kokoh telah tergetar pula selangkah surut. Alap-alap itu pun hampir saja terjatuh. Hanya karena ketrampilannya menempatkan diri saja maka ia tidak jatuh terlentang.

Tetapi Alap-alap itu merasakan getar di kakinya yang sekan-akan merambat naik menyusuri urat darahnya.

Tetapi dengan cepat Alap-alap itu menghentakkan kakinya ke bumi. Getar yang merambat itu seakan-akan telah runtuh ke tanah

Namun Alap-alap itu tidak mempunyai waktu untuk mengurangi peristiwa itu. Nyi Mina lah yang kemudian meloncat menyerangnya. Demikian ceptnya dan datangnya tidak terduga-duga. Perempuan tua itu meloncat. Tubuhnya berputar sambil mengayunkan satu kakinya menyambar wajah Alap-alap Alas Roban itu.

Alap-alap Alas Roban itu terkejut. Serangan itu datang begitu cepat. Lebih cepat dari kemungkinan yang dapat dilakukannya untuk menghindar atau menangkisnya.

Karena itu, maka kaki nenek tua itu pun telah menampar wajah Alap-alap itu dengan kerasnya. Demikian kerasnya sehingga Alap-alap itu terdorong beberapa langkah surut

Tetapi Nyi Mina tidak melepaskan kesempatan itu. Sekali lagi ia meloncat sambil memutar tubuhnya dengan kaki terayun mendatar.

Alap-alap itu ternyata tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Ketika serangan Nyi Mina itu mengenai keningnya, maka Alap-alap itu pun benar-benar tidak mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga Alap-alap itu terpelanting jatuh di halaman kedai yang dikeraskan dengan tatanan bebatuan.

Alap-alap itu dalam sekejap telah meloncat bangkit. Wajahnya menjadi merah oleh kemarahan yang membakar kepalanya. Nenek tua itu telah berhasil membantingnya jatuh di tanah.

“Iblis betina yang tidak tahu diri” geram Alap-alap itu kematianmu sudah berada di ambang. Berdoalah agar kau dapat memasuki dunia barumu dengan tenang”

Nyi Mina tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja perempuan tua itu telah meloncat sambil mengayunkan kakinya mengarah ke lambung.

Tetapi alap-alap itu masih sempat mengelak. Bahkan Alap-alap itulah yang kemudian meloncat sambil mengayunkan tangannya, menebas dengan sisi telapak tangannya yang terbuka serta jari-jarinya yang merapat mengarah ke leher nenek tua itu.

Nyi Mina masih sempat merendah. Bahkan tangannya masih sempat terjulur, menggapai lambung Alap-alap Alas Roban itu.

Demikianlah pertempuran antara Nyi Mina dan Alap-alap Alas Roban itu menjadi semakin sengit.

Diluar lingkaran pertempuran, Raden Mas Wiraga yang merasa dibantu oleh sepasang orang tua itu memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Demikian pula ketiga orang saudara seperguruannya. Mereka seakan-akan telah melupakan kesakitan di tubuh mereka sendiri.

Raden Mas Wirga serta ketiga orang saudara seperguruannya itu tidak mengira bahwa kedua orang kakek dan nenek itu ternyata mampu menandingi Alap-alap Alas Roban. Bahkan Alap-alap Alas Roban yang tua. Guru dari Alap-alap Alas Roban yang dapat dikalahkannya.

Ketika Raden Mas Wiraga itu melihat kedua orang kakek dan nenek itu memasuki kedai itu, ia tidak menaruh perhatian sama sekali. Namun ternyata keduanya adalah orang yang berilmu sangat tinggi”

Tetapi kemudian, ia menyaksikan orang itu telah menakar ilmu dengan Alap-alap Alas Roban.

Dalam pada itu, Ki Mina pun telah bertempur dengan sengitnya pula. Ternyata lawan Ki Mina itu bertempur dengan cara yang lebih garang. Ia menganggap bahwa melawan laki-laki tua yang tidak tahu diri itu, ia tidak periu mengekang diri lagi. Ia harus dengan cepat menghancurkan lawannya itu sebelum justru orang itulah yang akan menghancurkanya.

Karena itu, maka Alap-alap Alas Roban yang seorang lagi itu pun bertempur dengan keras dan kasar. Bukan saja tangan dan kakinya. Tetapi ternyata mulutnya pun telah melontarkan kata-kata yang keras dan kasar pula.

Orang itu tidak saja berteriak untuk memberikan tekanan pada tata geraknya, tetapi sekali-sekali juga mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor.

Alap-alap Alas Roban yang muda, yang telah diubah oleh Raden Rangga Somadigda bersama orang berkumis lebat serta kawan-kawannya itu semakin menjadi berdebar-debar. Mereka tidak yakin bahwa Alap-alap Alas Roban yang tua itu pun akan dapat menyelesaikan kedua orang lawan mereka yang sudah tua-tua itu. Tetapi orang-orang yang rambutnya sudah ubanan itu ternyata masih mampu bergerak dengan kecepatannya yang sangat tinggi.

Ketika Ki Mina berhasil menguak pertahanan lawannya, dengan menyusupkan kakinya tepat mengenai ulu hatinya, Alap-alap Alas Roban itu mengaduh tertahan. Namun ketika ia membongkokkan tubuhnya sambil dengan gerak naluriah memegangi perutnya, tiba-tiba saja Ki Mina itu pun telah menyerangnya pula. Dengan derasnya kakinya pun terayun menyambar wajah orang yang sedang kesakitan itu.

Ketika wajah Alap-alap itu terangkat, maka Ki Mina itu pun meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun dengan derasnya menyambar dagu Alap-alap itu. Demikian kerasnya sehingga alap-alap itu terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.

Tetapi Ki Mina tidak memburunya. Ki Mina itu pun kemudian berdiri beberapa langkah dari tubuh yang sedang berusaha bangkit itu.

“Cepat. Bangkit sebelum kakiku menginjak lehermu” Alap-alap itu pun segera bangkit meskipun mulutnya masih juga menyeringai kesakitan.

“Iblis tua yang tidak tahu diri” geram orang itu, “Aku akan segera membunuhmu”

Ki Mina tidak menjawab. Tetapi ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah terulang kembali. Alap-alap Alas Roban itu menyerang sambil menggeram marah. Namun di kedua belah tangannya telah tergenggam semacam lingkaran bergerigi tajam.

“Aku akan memotong lebermu dengan senjataku ini” Ki Mina bergeser selangkah surut Senjata itu memang sangat berbahaya. Sentuhannya saja akan dapat menyayat kulit daging. Bahkan memutuskan urat-urat nadi serta otot-otot ditubuhnya.

Karena itu, maka Ki Mina itu pun harus menjadi sangat berhati-hati.

“Kau menjadi ketakutan iblis tua” geram Alap-alap Alas Roban yan bertempur melawan Ki Mina.

“Jika aku menjadi ketakutan, aku akan lari dari tempat ini. Tetapi jika itu aku lakukan, maka yang akan menjadi tumpahan kemarahanmu adalah murid-murid langsung atau tidak langsung dari perguruan Tapak Mega itu.

“Persetan setan tua. Hari ini adalah harimu yang terakhir”

Ki Mina tidak menjawab lagi. Ketika Alap-alap itu bagaikan terbang menyambarnya, maka dengan tangkas pula Ki Mina itu pun mengelak.

Tetapi serangan-serangan alap-alap yang bersenjata lingkaran bergerigi di kedua tangannya itu menyerangnya seperti angin prahara.

Ternyata Alap-alap yang seorang lagi, yang bertempur dengan Nyi Mina telah mempergunakan senjata yang sama pula. Di kedua tangannya yang mengembang, namun kemudian terayun-ayun mengerikan telah tergenggam .semacam gelang-gelang yang bergerigi tajam.

Seperti Ki Mina, maka Nyi Mina pun harus bertempur dengan sangat berhati-hati.

Namun betapa pun Nyi Mina itu berloncatan menghindari sentuhan senjata lawannya, namun ketika gerigi gelang-gelang di tangan Alap-alap Alas Roban itu menyentuh lengannya, maka bukan saja baju Nyi Mina terkoyak. Tetapi lengan Nyi Mina pun telah tergores pula.
Nyi Mina itu pun terkejut. Dengan sigapnya ia meloncat beberapa langkah surut. Ketika tangan kanannya meraba lengan kirinya, maka terasa cairan yang hangat membasahi jari-jarinya. Darah.

Darah itu telah membuat Nyi Mina menjadi sangat marah. Ketika perasaan pedih menyengat di lukanya, maka Nyi Mina itu pun menggeram, “Kau telah melukai tubuhku dan melukai hatiku Alap-alap keparat”

Alap-alap Alas Roban itu tertawa. Meskipun tubuhnya itu kesakitan dimana-mana oleh serangan Nyi Mina yang berhasil menguak pertahanannya, namun dengan dada tengah ia pun berkata Nenek tua. Kali ini aku sudah berhasil menggores lenganmu. Nanti aku akan menggores lehermu. Kau tahu akibat dari goresan itu. Kau akan terbaring dengan darah yang tertumpah lewat luka-luka di lehermu itu sampai saatnya maut akan menjemputmu”

Nyi Mina tidak menjawab. Tetapi ia mengurai selendangnya yang melingkar di lambungnya.

Ternyata Nyi Mina tidak membalut lukanya dengan selendangnya, tetapi Nyi Mina justru membalut pergelangan tangan kirinya hampir sampai ke siku.

“Aku masih akan menjinakkanmu dengan cara ini Alap-alap jahanam. Aku masih belum berniat melumatkan tubuhmu. Tetapi jika dengan caraku ini kau masih tetap keras kepala, maka aku benar-benar akan membuatmu menjadi debu”

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 12

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Cerita bagus…penuh wejangan hidup saya suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s