TT-10


kembali | lanjut

TT-10TERNYATA penunggu banjar itu telah tertarik untuk benar-benar menemui Wandawa. Jika benar yang tinggal di padepokan di sebelah gumuk kecil itu adalah Wandawa, maka ia akan dapat berbicara tentang sikapnya.

“Jika aku bermaksud baik, maka ia tentu akan menanggapi dengan baik pula. Aku tidak pernah menyakiti hatinya. Anakku juga tidak pernah. Seingatku, anakku itu adalah kawan akrab Wandawa dua puluh tahun yang lewat.

Ketika niatnya itu disampaikan kepada isterinya, maka isterinya itu pun menjadi cemas.

“Wandawa sekarang adalah seorang yang garang, kakang” berkata isterinya.

“Tetapi ia bukan orang jahat, Nyi”

“Untuk apa kakang datang menemuinya? Bukankah kita tidak mempunyai kepentingan langsung dengan orang itu?”

“Aku ingin hubungannya dengan rakyat padukuhan ini menjadi lebih baik”

“Kakang tentu akan dianggapnya membela Tantiya dan Padni. Jika Wandawa menjadi mata gelap, maka kakang akan menjadi sasaran kemarahannya”

“Tidak, Nyi. Aku masih melihat sepercik kelembutan diantara sikapnya yang garang itu. Bukankah sejak semula Wandawa adalah seorang yang baik. Seorang yang lugu. Ia tidak pernah berpikir macam-macam. Ia bekerja dari pagi sampai petang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya”

“Karena itulah maka sikap Tantiya sangat menyakiti hatinya. Dendamnya telah mengendap di hatinya selama dua puluh tahun dan baru semalam dendam itu tertumpah”

“Aku berharap bahwa dengan demikian dendamnya sudah mereda. Sehingga dengan demikian ia dapat berpikir lebih jernih”

“Dengan siapa kakang akan pergi menemui Wandawa?”

“Dengan suami isteri yang membawa kedua anak perempuannya itu. Tetapi aku juga akan mengajak Mungguh untuk menemani aku pulang, karena kedua orang suami isteri itu akan langsung melanjutkan perjalanan”

“Tetapi hati-hatilah kakang. Wandawa sudah berubah”

“Bukankah aku dan Mungguh tidak pernah menyakiti hatinya?”

“Apakah ia masih sempat mengingat hubungan baik seperti itu, kakang”

“Tetapi niatku baik, Nyi. Aku ingin Wandawa meletakkan dendamnya, sehingga ia dapat berhubungan kembali dengan sanak kadang di padukuhan ini”

“Tetapi apakah Wandawa yang tinggal di padepokan itu benar-benar Wandawa yang kita kenal itu?”

“Mudah-mudahan Nyi. Tetapi seandainya bukan, tentu tidak akan menimbulkan masalah”

Isterinya tidak dapat mencegahnya. Agaknya suaminya menaruh perhatian yang sangat besar terhadap keadaan Wandawa yang dicengkam oleh perasaan sakit hati yang sudah bertahun-tahun itu.

“Jika saja kakang dapat membebaskannya” desis perempuan itu.

Sebenarnyalah, ketika fajar menyingsing, pada saat Ki Mina, Nyi Mina, Wandan dan Wiyati berbenah diri, maka penunggu banjar itu pun telah pergi ke rumah Mungguh, anaknya.

Mungguh yang masih tidur mendekur telah dibangunkan oleh isterinya.

“Bapak datang kemari mencarimu”

“Ada apa?” bertanya Mungguh sambil menguap.

“Entahlah”

“Apa yang dicarinya pagi-pagi buta ini“ Mungguh itu pun bergeremang.

Tetapi Mungguh terpaksa bangkit dari pembaringannya dan keluar dari biliknya.

“Ada apa ayah?” bertanya Mungguh yang masih berselimut kain panjangnya itu.

“Aku akan mengajakmu pergi sebentar”

“Kemana?”

“Ke balik bukit”

“Ke balik bukit? Ada apa?”

“Kita temui Wandawa”

“Wandawa yang kemarin hampir membunuhi orang-orang padukuhan ini atau Wandawa yang lain?”

“Wandawa yang itu. Yang semalam datang menggagalkan pernikahan anak Tantiya”

“Buat apa? Apakah kita ingin mengantarkan kepala kita kepadanya?”

“Tidak, Mungguh. Aku yakin bahwa kedatangan kita akan diterimanya dengan baik karena kita memang bermaksud baik”

“Apakah urusan kita dengan Wandawa?”

“Aku kasihan kepda Wandawa yang tentu merasa hidupnya selalu dicengkam oleh perasaan dendamnya, sehingga ia tidak akan pernah merasakan betapa kehidupan ini terasa ceria. Aku pun kasihan kepada Sindu yang tidak tahu menahu persoalannya, harus memikul akibatnya”

“Bukankah itu bukan urusan kita, ayah”

“Jika kita pergi menemui Wandawa itu adalah karena kepedulian kita terhadap sesama kita. Mungkin sesama kita justru merasa bahwa persoalannya telah dicampuri. Bahkan mungkin mereka merasa tersinggung. Tetapi niat kita baik. Itulah bekal kita”

Mungguh menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berkata, “Tetapi nanti malam kita sudah berada di rumah, ayah“

“Ya. Kita hanya pergi ke sebelah bukit”

“Memang hanya disebelah bukit. Tetapi jika kita pergi kesana, maka kita memerlukan waktu yang cukup panjang. Lewat matahari sepenggalah kita baru akan sampai”

“Bahkan mungkin lebih, Mungguh”

“Apakah kita akan merayap seperti siput”

“Kita akan berjalan bersama seorang laki-laki yang barangkali lebih tua dari aku. Seorang perempuan tua, isteri laki-laki itu, dan kedua orang anaknya perempuan.

“Kenapa kita harus berjalan bersama mereka?“

“Mereka bermalam di banjar semalam. Mereka kemalaman di perjalanan”

Mungguh menarik nafas. Katanya, “Pokoknya kita harus kembali sebelum senja. Aku sudah berjanji untuk pergi ke rumah Darsa”

“Darsa yang isterinya baru saja melahirkan?”

“Ya. Malam nanti aku sudah sanggup untuk mengaji dirumahnya bersama-sama beberapa orang”

“Kita sudah berada di rumah sebelum senja. Mungkin kita berjalan lambat saat kita berangkat. Tetapi kita akan berjalan lebih cepat saat kita pulang”

“Baiklah. Aku akan memberitahukan kepada isteriku. Kemudian mandi dan berbenah diri. Baru kita akan berangkat”

Pagi itu, sebelum matahari terbit, maka orang-orang yang akan menempuh perjalanan keseberang bukit kecil itu sudah meninggalkan padukuhan. Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, Mungguh hampir tidak telaten berjalan bersama dengan perempuan.

Tetapi ia tidak dapat berjalan mendahului mereka. Meskipun rasa-rasanya mereka merangkak perlahan sekali.

Ketika matahari sudah sepenggalah, mereka masih saja berjalan melingkar bukit kecil itu. Panas mulai terasa menggigit kulit. Keringat pun membasahi pakaian mereka yang berjalan di bawah panasnya matahari.

Baru menjelang tengah hari mereka sampai di seberang bukit.

Dihadapan mereka terhampar dataran yang cukup luas. Dataran yang diwarnai dengan hijaunya tanaman padi di sawah. Nampaknya tanah yang membentang sampai ke cakrawala itu adalah tanah yang subur.

“Dimanakah padepokan itu?“ bertanya penunggu banjar itu.

“Kita akan pergi ke padukuhan yang nampak di tengah-tengah ngarai itu. Mungkin orang-orang padukuhan itu dapat menunjukkan letak padepokan yang dipimpin oleh Ki Wandawa”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk, dikejauhan mereka melihat ada dua atau tiga padukuhan yang seakan-akan berdiri ditengah-tengah lautan yang hijau. Sedangkan sederet yang lain nampak memagari batas langit.

Mungguh itu mengeluh. Bukan karena letih. Tetapi karena mereka berjalan terlalu lambat.

Namun akhirnya mereka pun mendekati padukuhan yang terdekat.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, maka agaknya yang mereka dekati bukannya sebuah padukuhan kecil. Tetapi sebuah padepokan yang dikelilingi oleh pategalan yang luas, padang rumput yang digelar diantara pepohonan yang mulai tumbuh menjadi besar.

“Kita mendekati sebuah padepokan” berkata Ki Mina.

“Ternyata kita meniti jalan yang benar” desis penunggu banjar itu.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di pintu gerbang sebuah padepokan. Dua orang cantrik yang berjaga-jaga dibelakang pintu dengan ramah menyapa nereka.

“Siapakah Ki Sanak yang datang dalam iring-iringan kecil? apa pula keperluan Ki Sanak?“

“Kami ingin bertemu dengan Ki Wandawa“ jawab Ki Mina.

“Marilah. Silahkan. Aku akan menyampaikannya.

Iring-iringan itu pun kemudian dipersilahkan naik dan duduk di pendapa. Sementara itu, cantrik itu pun kemudian pergi ke ruang dalam untuk memberi tahukan kehadiran beberapa orang tamu.

Sejenak kemudian cantrik itu pun keluar pula ke pendapa sambil berkata, “Guru mempersilahkan Ki Sanak menunggu. Guru juga sedang menerima tamu di dalam”

“O“ Ki Mina lah yang menyahut, “Kami akan menunggu. Mudah-mudahan kami tidak mengganggu”

Namun mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, orang yang disebut Ki Wandawa itu pun telah keluar dari ruang dalam bersama seorang anak muda.

Ternyata mereka yang keluar dari ruang dalam itu terkejut. Sedangkan yang berada di pendapa pun terkejut pula.

Yang keluar dari ruang dalam bersama Ki Wandawa itu adalah Sindu. Calon pengantin yang telah digagalkan oleh Ki Wandawa itu. Sementara Ki Wandawa dan Sindu itu pun terkejut, bahwa yang datang itu diantaranya adalah penunggu banjar bersama anaknya, Mungguh.

“Aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini” berkata Ki Wandawa, “kedatanganmu mengejutkan aku Mungguh. Apalagi bersama paman dan empat orang tidak aku sangka-sangka akan singgah di padepokanku ini”

“Kau kenal dengan mereka Wandawa?“ bertanya penunggu banjar itu.

“Hanya seorang yang aku kenal, paman”

“Yang mana?”

“Laki-laki diantara ketiga orang perempuan itu”

“Kau kenal orang itu?”

“Aku mengenalnya, tetapi aku tidak mengenal namanya”

“Dimana kau mengenalnya?”

“Semalam. Orang itulah yang telah meredam ilmuku yang akan menghancurkan padukuhan itu”

“He? Apakah yang kau katakan itu bukan sekedar mimpimu?“

“Bukan paman. Orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Jika semula aku merasa tidak terkalahkan, tetapi demikian orang itu hadir, maka aku merasa betapa kecilnya aku ini”

“Tetapi ketika aku pulang dari rumah calon pengantin perempuan yang urung itu, orang ini ada di banjar, karena malam itu ia kemalaman dan bermalam di banjar padukuhan”

“Ia tidak sungguh-sungguh kemalaman. Tetapi aku sangat berterima kasih kepadanya, paman. Karena kehadirannya, maka jiwaku telah diselamatkannya”

“Apakah jiwamu terancam?”

“Ya. Jiwaku. Bukan nyawaku”

“Aku tidak mengerti”

“Tetapi aku belum mengucapkan selamat datang kepada paman dan Mungguh. Bukankah paman, Mungguh dan Ki Sanak semuanya baik-baik saja.”

Kami baik-baik saja Wandawa“ penunggu banjar itulah yang menjawab, “bagaimana dengan kau dan seisi padepokanmu?”

“Semuanya baik-baik saja paman”

“Sukurlah. Tetapi aku masih belum mengerti kenapa kau sebut orang ini berilmu sangat tinggi serta yang telah meredam ilmumu yang nggegirisi itu?”

Wandawa menarik nafas panjang. Katanya, “Aku sendiri tidak mengerti, kenapa orang itu mampu melakukannya“ Ki Wandawa pun kemudian bertanya kepada Ki Mina, “Ki Sanak. Semalam kau belum menyebutkan namamu”

Ki Mina tersenyum. Katanya, “Namaku Mina, Ki Sanak, Orang orang memanggilku Ki Mina. Perempuan ini adalah isteriku, sedang kedua orang yang lain adalah anak-anakku”

“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, Ki Mina. Aku pun berterima kasih pula atas kesediaan Ki Mina singgah di padepokanku yang sunyi ini”

“Aku berusaha sungguh-sungguh untuk dapat singgah. Bahkan aku telah mengajak seorang yang dianggap tua di padukuhanmu bersama anaknya”

“Kedatangan kalian semuanya memang tidak aku duga“ lalu katahya kepada Mungguh, “Mungguh. Sudah lama kita tidak bertemu. Kita sudah menjadi tua sekarang”

“Sudah sekitar duapuluh tahun Wandawa. Memang sudah lama.

….. (sepertinya ada yang terpenggal disini, pada buku aslinya, awal kalimat/paragraf  tidak lengkap) penghuni padukuhan, bahwa aku datang dengan cara yang sangat buruk. Aku benar-benar telah dibakar oleh gejolak perasaanku. Selama dua puluh tahun aku mengusung dendam diatas kepalaku, sehingga ketika aku melihat kesempatan itu, aku tidak dapat mengendalikan diri lagi. Aku telah berusaha untuk membalas dendam tanpa mempergunakan nalar budi”

“Semuanya sudah lewat, Wandawa. Ternyata tidak terjadi apa-apa”

“Ya. Tidak terjadi apa-apa. Tetapi pernikahan angger Sindu itu tetap batal”

“Sebenarnyalah aku tidak mengerti” berkata penunggu banjar itu, “apa yang sebenarnya telah terjadi semalam. Kau katakan bahwa Ki Mina lah yang telah meredam ilmumu yang mengerikan itu. Tetapi sekarang aku temukan angger Sindu ada disini”

“Pagi-pagi buta angger Sindu telah datang ke padepokan ini” berkata Ki Wandawa.

“Kenapa ia datang kemari? Apakah angger Sindu tidak merasa takut kepadamu atau angger Sindu memiliki ilmu melampaui tingkat ilmumu?”

“Tidak, kek. Tidak” jawab Sindu.

“Jadi apa yang telah kau lakukan?”

Sindu menarik nafas panjang. Sementara itu Wandawa lah yang berceritera, “Untunglah bahwa aku telah bertemu dengan Ki Mina sebelumnya, sehingga ketika angger Sindu datang kemari, tidak ada apa-apa yang terjadi”

“Untuk apa kau kemari, ngger?”

Ki Wanda lah yang kemudian berceritera kepada orang-orang yang duduk bersamanya. Ki Wandawa ternyata hampir semalam suntuk tidak dapat tidur. Hanya kadang-kadang saja ia terlena di pembaringannya. Matanya terpejam. Ingatan terbang sesaat. Namun sejenak kemudian ia telah terbangun lagi.

Rasa-rasanya seluruh tubuhnya terasa sakit oleh perasaannya yang sakit. Orang yang kemudian diketahuinya bernama Ki Mina itu telah menyalakan sepeletik sinar di dalam hatinya, sehingga ia mulai dapat melihat kembali baik dan buruk.

Wandawa ternyata menyesali sikapnya. Ia telah membuat seluruh padukuhan menjadi gelisah. Bahkan ia telah menimbulkan keresahan dan ketakutan.

Tetapi penyesalan itu tidak akan timbul seandainya ia tidak bertemu dengan seseorang yang kemudian diketahuinya bernama Ki Mina.

Di sisa malam itu benar-benar sulit bagi Ki Wandawa untuk dapat tidur. Baru di dini hari, Ki Wandawa itu terlena pula sesaat.

Namun baru sesaat Ki Wandawa itu tertidur, maka ia pun sudah dibangunkan oleh seorang cantriknya.

“Ada apa?“ bertanya Ki Wandawa.

“Sindu datang kemari, guru”

“Sindu. Sindu siapa?“

“He?“ tiba-tiba saja darahnya yang serasa sudah mengendap itu telah mendidih lagi. Wandawa tiba-tiba saja berprasangka buruk terhadap Sindu.

“Anak itu tentu akan menantangku berperang tanding” berkata Wandawa didalam hatinya.

Dengan tergesa-gesa Ki Wandawa pun keluar dari bangunan induk padepokannya untuk menemui Sindu yang sudah duduk di pringgitan.

Demikian Ki Wandawa keluar dari pintu pringgitan, maka Sindu pun tergesa-gesa berdiri. Kemudian anak muda itu pun mengangguk dalam-dalam.

“Hormatku bagi Ki Wandawa. Aku mohon maaf bahwa aku datangi terlalu pagi sehingga mengganggu saat Ki Wandawa beristirahat, “

Semula Ki Wandawa memang merasa heran, bahwa demikian cepatnya Sindu telah berada di padepokannya.

“Apakah anak ini memiliki Aji Sepi Angin?“ bertanya Ki Wandawa didalam hatinya.

Namun ketika terdengar suara seekor kuda di halaman, maka Ki Wandawa tahu bahwa Sindu tentu datang dengan naik kuda Dan bahkan ia telah memacu kudanya berlari sangat kencang.

Dengan nada tajam Ki Wandawa itu pun menyahut, “Kau tidak usah membungkuk hormat seperti kepada gurumu. Katakan, apa maumu datang kemari? Apakah kau menantang aku untuk berperang tanding?“

“Tidak, Ki Wandawa. Sama sekali tidak”

“Lalu apa maumu?“

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Ki Wandawa”

“Tentang apa? Tentang kedatanganku menggagalkan pernikahanmu?“

“Antara lain, Ki Wandawa. Tetapi aku sama sekali tidak akan menuntut apa-apa. Aku hanya ingin bertanya”

Ki Wandawa memandang Sindu dengan penuh kecurigaan. Tetapi Sindu sendiri tidak mengesankan permusuhan. Sindu masih saja berdiri sambil ngapu-rancang. Wajahnya menunduk. Pandangan matanya jatuh didepan ujung kaki Ki Wandawa.

Darah Ki Wandawa pun mulai mendingin. Meskipun demikian ia masih saja bersikap hati-hati.

“Duduklah” berkata Ki Wandawa.

Sindu pun kemudian duduk. Kepalanya masih tetap menunduk. Sedangkan Ki Wandawa duduk di hadapannya meskipun masih tetap menjaga jarak.

“Katakan. Apa maksudmu datang kemari?“

Sindu menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia mengangkat wajahnya. Namun kemudian wajah itu kembali menunduk.

“Ki Wandawa” berkata Sindu kemudian dengan suara yang berat, “Aku ingin bertanya, apakah kejadiannya benar seperti yang aku dengar semalam?“

“Kejadian apa?“

“Yang dilakukan oleh ayah dan ibuku” Pertanyaan itu ternyata telah menyentuh perasaan Ki Wandawa. Sekilas terngiang kembali kata-kata orang yang kemudian diketahuinya bernama Ki Mina, yang telah memancar terang di hatinya.

Dengan suara yang bergetar Ki Wandawa pun bertanya, “Untuk apa kau ingin mengetahui, apakah peristiwa itu benar terjadi atau tidak”

“Aku harus mengambil sikap, Ki Wandawa. Aku sudah dewasa sekarang. Aku bukan lagi bayi yang baru dilahirkan, yang tidak tahu apa-apa tentang keberadaannya”

“Kenapa kau tidak bertanya kepada ayah dan ibumu?”

“Apakah mereka dapat berkata jujur? Meskipun aku belum mencobanya bertanya kepada ayah, namun aku tidak yakin, bahwa ayah akan berkata jujur. Sedangkan ibu agaknya masih belum dapat mendengar pertanyaan tentang kebenaran peristiwa lebih dari duapuluh tahun yang lalu itu. Ketika aku bertanya di perjalanan pulang semalam, maka ibu hanya dapat menangis hingga nafasnya menjadi sesak”

Ki Wandawa termangu-mangu sejenak. Katanya, “Apakah kau yakin bahwa aku akan menjawab dengan jujur?“

“Aku berharap, Ki Wandawa. Setidak-tidaknya aku akan dapat memperbandingkan dengan jawaban ayahku nanti”

“Sindu. Pulanglah. Jangan kau ingat lagi peristiwa yang sudah terjadi semalam. Katakan kepada ayah dan ibumu, bahwa aku pun sudah melupakannya. Aku tidak akan mengganggumu lagi seandainya orang tuamu menyambung lagi pembicaraan tentang pernikahanmu. Katakan kepada calon mertuamu, bahwa aku minta maaf atas ketelanjuranku”

“Ki Wandawa, aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Wandawa untuk melupakan semuanya yang telah terjadi semalam. Tetapi Ki Wandawa belum menjawab pertanyaanku, apakah peristiwa lebih dari dua puluh tahun yang lalu itu benar-benar telah terjadi?”

Ki Wandawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sudahlah Sindu. Bukankah tidak ada gunanya lagi bagimu untuk mengetahui, apakah peristiwa lebih dari dua puluh tahun itu benar terjadi”

“Ada, Ki Wandawa. Aku akan dapat menilai kejujuran kedua orang tuaku”

“Itu tidak ada gunanya lagi, Sindu. Sudahlah. Pulanglah. Katakan kepada orang tuamu dan calon mertuamu, bahwa aku minta maaf kepada mereka dan seisi padukuhan”

Tetapi Sindu masih saja mendesaknya.

Tetapi sebelum Ki Wandawa menjawab, maka seorang cantrik telah menemui mereka sambil berkata, “Minumnya sudah kami sediakan di ruang dalam, guru”

“Baik. Terima kasih” sahut Ki Wandawa

Ketika cantrik itu meninggalkan pringgitan, Ki Wandawa pun berkata, “Marilah ngger. Masuklah. Kita akan minum minuman hangat di ruang dalam”

Sindu tidak menolak. Ketika Ki Wandawa bangkit dan pergi ke ruang dalam, Sindu pun telah mengikutinya.

Demikian mereka duduk, maka Ki Wandawa pun mempersilahkan, “Minumlah, mumpung masih hangat”

Sindu pun tidak menolak. Ia pun kemudian menghirup minuman hangat itu.

Sambil menyodorkan ketela yang direbus dengan legen kelapa yang masih mengepul, Ki Wandawa pun berkata, “Marilah. Makanlah. Kau tidak usah mencari kebenaran tentang peristiwa lebih dari duapuluh tahun yang lalu”

Sindu pun memungut ketela rebus yang masih hangat itu sambil berkata, “Aku akan menunggu disini sampai Ki Wandawa memberitahukan kebenaran itu”

Ki Wandawa menarik termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Marilah ngger. Makan dan minumlah. Ini adalah hasil yang dipanen sendiri oleh para cantrik. Pategalan kami cukup luas disamping berbahu-bahu sawah yang terhitung subur sesubur tanah di sekitar padukuhanmu”

Sindu masih juga makan ketela rebus dan sekali-sekali meneguk minuman hangat. Wedang sere dengan gula kelapa

“Kami menanam sere di kebun. Kami pun membuat gula kelapa sendiri. Di pategalan ada berpuluh batang pohon kelapa Ada beberapa batang yang diambil legennya untuk membuat gula kelapa”

“Menarik sekali, Ki Wandawa”

“Semuanya itu merupakan dukungan bagi padepokan kecilku ini”

“Ki Wandawa” bertanya Sindu kemudian, “apa pertimbangan Ki Wandawa sehingga Ki Wandawa membuat sebuah padepokan di sini, yang hanya berseberangan sebuah bukit kecil saja dari padukuhan kami?”

“Tidak apa-apa ngger. Tidak ada pertimbangan apa pun selain karena kami telah mendapatkan tanah yang cukup luas dan baik disini. Ki Demang Pulosari telah memberi ijin kepada kami untuk menjadikan padang perdu yang luas di pinggir hutan ini untuk digarap menjadi tanah pertanian. Bahkan Ki Demang sudah memberikan ijin kepada kami untuk membendung kali yang tidak begitu besar itu, agar kami dapat menaikkan airnya untuk mengairi sawah kami. Bahkan akhirnya kami menemukan mata air yang cukup besar di kaki bukit itu, yang airnya cukup deras untuk mengairi sawah dan ladang kami. Kami pun telah membuat beberapa belumbang untuk memelihara berbagai jenis ikan”

Sindu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah sejak semula Ki Wandawa sudah merencanakan untuk membalas dendam atas sakit hati Ki Wandawa oleh peristiwa dua puluh tahun yang lalu itu?”

Ki Wandawa memandang wajah Sindu sekilas. Namun Sindu itu pun segera menundukkan kepalanya

Dengan suara yang parau Ki Wandawa berkata, “Ya. Aku tidak dapat ingkar, bahwa aku memang mempunyai niat yang demikian“

“Jadi peristiwa lebih dari dua puluh tahun itu benar terjadi Ki Wandawa?”

Agaknya Ki Wandawa memang sulit untuk menghindari pertanyaan yang dilontarkan oleh Sindu itu. Bahkan Sindu seakan-akan selalu mengejarnya tanpa memberi kesempatan untuk mengelakkan diri.

Karena itu, maka akhirnya Ki Wandawa itu berkata, “Baiklah aku berkata jujur kepadamu, ngger. Peristiwa itu memang terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lampau. Hatiku telah disakiti oleh sikap ayah dan ibumu, sehingga lebih dari dua puluh tahun, aku disiksa oleh perasaan dendam yang mendalam. Sehingga seakan-akan aku hidup dalam dua pribadi yang bertentangan. Dari guruku aku mendapat tuntunan yang baik. Yang harus aku jabarkan dalam hidupku sehari-hari. Apalagi kemudian dihadapan murid-muridku. Namun disamping itu, hatiku telah dikotori oleh perasaan dendam yang tidak dapat aku singkirkan”

“Jadi ayah telah merampas ibu dari sisi Ki Wandawa pada saat pernikahan itu seharusnya dilakukan?“

“Sudahlah ngger. Sudahlah. Yang terjadi itu sudah terjadi. Apakah kita dapat kembali pada masa dua puluh tahun yang lalu untuk memperbaiki kesalahan itu? Tidak. Yang harus kita lakukan sekarang, adalah yang mungkin saja kita lakukan. Aku ingin memperbaiki kesalahanku yang telah aku lakukan semalam. Aku minta maaf kepada semuanya. Nah. Kembalilah. Mungkin esok atau lusa, pernikahanmu itu dapat kau lakukan. Aku berjanji, bahwa aku tidak akan mengganggunya lagi”

Namun Sindu itu pun menggeleng. Katanya, “Tidak, Ki Wandawa. Aku tidak akan segera pulang. Aku akan berada disini. Jika Ki Wandawa mengijinkan, aku akan berguru di padepokan ini”

“Jangan begitu, ngger. Aku tidak menolak kau berguru. disini. Tetapi tidak dengan cara ini. Pulanglah. Sebaiknya kau minta ijin kepada kedua orang tuamu. Tetapi jika kau kemudian menikah, apakah isterimu akan kau tinggalkan?”

“Aku tidak akan segera menikah, Ki Wandawa”

“Jangan, ngger. Hati anak-anak muda jangan cepat menjadi patah. Banyak sekali jalan kehidupan yang harus kau tempuh setelah melewati banyak sekali hambatan. Jika kau cepat menjadi patah karena hambatan-hambatan itu, maka kau akan ketinggalan. Sementara peristiwa demi peristiwa akan berlangsung terus. Mengalir tanpa henti-hentinya”

“Ki Wandawa. Peristiwa yang telah terjadi dua puluh tahun yang lalu, membuat hatiku menjadi hambar. Meskipun aku tidak akan dapat menyesali kelahiranku, tetapi pernikahan ayah dan ibu telah dilekati oleh noda yang tidak akan terhapus lagi. Aku tidak akan dapat ingkar, bahwa noda itu telah menitik pula kepadaku, meskipun aku tidak tahu apa-apa tentang peristiwa itu sendiri”

“Tidak, Sindu. Kau tidak terpercik oleh noda yang telah melekat pada ayah dan ibumu. Kau tidak bersalah. Kau pun tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri”

“Ki Wandawa. Bagaimana aku merasa diriku bersih, jika ayah dan ibuku itu telah dicemari oleh perbuatan yang nista?“

“Ayah dan ibumu tidak melakukan hal yang nista, Sindu. Mereka saling mencintai. Akulah yang salah menempatkan diriku pada waktu itu. Seandainya ibumu terpaksa harus menikah dengan aku, maka ibumu justru akan menikah tanpa cinta”

“Tetapi ayah dan ibu telah berbuat semena-mena terhadap Ki Wandawa pada waktu itu”

“Itu soal lain, ngger. Sebenarnya perbuatan semena-mena itu dapat saja dilakukan oleh ayahmu tanpa ada kaitannya dengan ibumu. Ayahmu dapat saja berbuat dengan semena-mena karena alasan yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan kelahiranmu. Karena itu, sudahlah. Lupakan yang telah terjadi itu. Aku menyesal sekali bahwa aku berniat menjadikan kau korban tanpa bersalah sama sekali. Dan itu aku akui, bahwa aku melakukannya didalam keadaan yang tidak terkendali”

Sindu menarik nafas panjang. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Ki Wandawa. Biarlah aku berada disini setidaknya untuk hari ini. Aku ingin mendapatkan ketenangan. Aku merasa bahwa padepokan ini adalah tempat yang sangat memungkinkan untuk mendapatkan ketenangan itu. Rasa-rasanya tempat ini dapat memisahkan aku dari kegelisahan dan bahkan keresahanku setelah aku mengetahui apa yang telah terjadi”

“Sudah aku katakan, lupakan apa yang telah terjadi itu”

“Aku tidak akan mungkin melakukannya jika aku pulang. Jika aku berada disisi ayah dan ibuku. Tetapi mungkin sekali aku dapat melakukannya disini”

Ki Wandawa menarik nafas panjang. Katanya, “Baiklah ngger. Jika kau ingin menenangkan hatimu hari ini disini. Tetapi selambat-lambatnya sore nanti kau harus sudah pulang. Ayah dan ibumu tentu menjadi sangat gelisah jika kau tidak pulang sebelum malam. Mungkin sekali mereka mengira bahwa kau telah hilang bukan karena kehendakmu sendiri. Kau tentu tahu, siapakah yang akan mendapat tuduhan itu”

Sindu termangu-mangu sejenak. Namun ia dapat mengerti, jika kedua orang tuanya menganggapnya hilang, mereka tentu akan menuduh Ki Wandawalah yang telah mengambilnya.

Karena itu, maka Sindu itu pun kemudian menjawab, “Baiklah, Ki Wandawa. Nanti setelah matahari turun di sisi. Barat, aku akan pulang”

Ki Wandawa itu pun kemudian mengakhiri ceriteranya. Dengan nada berat ia pun kemudian berkata, “Itulah yang telah terjadi, sehingga kalian dapat menjumpai Sindu ada disini sekarang ini. Ia baru akan pulang, di sore hari nanti. Disini Sindu merasa mendapatkan ketenangan”

Mungguh itu pun tiba-tiba saja berkata, “Kita nanti dapat pulang bersama-sama, Sindu”

Ayah Mungguh pun segera menyahut, “Sindu datang berkuda. Kita hanya berjalan kaki”

“Aku akan menuntun kudaku, kek” sahut Sindu. Penunggu banjar itu pun menarik nafas panjang. Katanya

“Wandawa. Sebenarnyalah aku datang kemari juga untuk berbicara tentang sikapmu terhadap keluarga Tantiya. Tetapi ternyata apa yang ingin aku sampaikan telah tercermin di-dalam sikapmu. Karena itu, maka sebenarnyalah bahwa seharusnya aku tidak perlu datang kemari”

“Bukan begitu paman. Setidak-tidaknya paman dapat melihat padepokanku ini. Dengan demikian maka hubungan kita tidak akan terputus”

“Aku memang berniat demikian, Wandawa. Kau tidak boleh terpisah dari padukuhanmu. Apalagi setelah kau berhasil menguasai perasaanmu, sehingga kau mampu meletakkan perasaan dendammu itu, karena sebenarnyalah bahwa dengan itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali permusuhan yang berkepanjangan”

“Paman benar. Aku pun kemudian meyakini bahwa dendam itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena itu, maka aku pun akhirnya memutuskan untuk meletakkan perasaan dendamku itu. Sentuhan-sentuhan Ki Mina malam itu ternyata merupakan peletik-peletik api yang memberikan terang di hatiku”

“Sukurlah. Aku ikut berbangga terhadapmu Wandawa. Bukan saja sikapmu, kesadaranmu dan pengakuanmu atas kesalahan yang telah kau lakukan. Jarang sekali seseorang berjiwa besar dan bersedia mengakui kesalahan-kesalahannya. Apalagi ia berada dalam keadaan yang lebih baik. Yang mampu menguasai serta mampu memaksakan kehendaknya”

“Ki Mina adalah orang yang pantas mendapat pujian itu, paman”

Penunggu banjar itu tersenyum. Katanya, “Aku memang orang bodoh. Orang yang tidak tahu apa-apa. Tuaku hanya karena kepenuhan umur. Bukan pengalaman dan keluasan wawasan. Aku mengira bahwa Ki Mina yang bermalam di banjar itu seorang yang memerlukan belas kasihan. Ternyata justru ia seorang yang berada diluar jangkauan nalarku”

“Itu berlebihan, Ki Sanak” sahut Ki Mina, “Tidak ada lebihnya apa-apa selain kesempatan. Aku mencoba memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya”

Demikianlah, mereka masih berbincang beberapa lama. Hidangan  pun datang beruntun meskipun sederhana saja. Selain minuman hangat, juga dihidangkan wajik ketan ireng serta uwi jero yang direbus. Kemudian terakhir, dipersilahkannya tamunya itu untuk makan di ruang dalam.

“Seadanya” berkata Ki Wandawa, “Adalah kebiasaan kami makan dengan dedaunan. Nasi tumpang adalah kegemaran kami. Mudah-mudahan semuanya juga menyukainya”

Sambil makan mereka masih berbicara tentang berbagai macam hal. Mungguh yang tidak mengira bahwa ia akan bertemu dengan Wandawa yang sudah sangat berubah itu banyak bertanya tentang jalan hidup sahabatnya yang sudah terlalu lama tidak pernah bertemu itu.

Demikianlah, setelah makan serta beristirahat sejenak, maka Ki Mina pun telah minta diri untuk melanjutkan perjalanan.

“Perjalanan kami masih agak jauh. Karena itu, kami? minta diri”

“Aku berharap bahwa Ki Mina, Nyi Mina dan kedua anak perempuan Ki Mina itu bersedia bermalam disini, meskipun hanya semalam. Jika Ki Mina meneruskan perjalanan, Ki Mina sekeluarga akan kemalaman pula diperjalanan”

Ki Mina itu pun tersenyum. Katanya, “Jika kami menunda-nunda keberangkatan kami, maka kami cemas bahwa baru sepekan lagi kami akan sampai tujuan”

Ki Wandawa pun tertawa. Katanya, “Apa salahnya? Bukankah satu perjalanan yang panjang, bahkan satu pengembaraan akan dapat memberikan pengalaman yang berkesan?”

“Kami berdua sudah kenyang dengan perjalanan dan pengembaraan itu”

“Aku percaya, Ki Mina. Karena itu, bagi Ki Mina dan Nyi Mina sekarang, perjalanan panjang dan lama akan mengingatkan kepada masa-masa yang pernah Ki Mina dan Nyi Mina jalani. Mungkin akan menghadirkan satu kenangan manis. Bukankah tidak ada lagi yang perlu dicemaskan di perjalanan? Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengganggu perjalanan Ki Mina dan Nyi Mina. Bahkan segerombolan penjahat yang ganas pun tidak akan berani mengusik”

Ki Mina dan Nyi Mina tertawa. Katanya, “Mungkin pada kesempatan lain. Tetapi kedua orang anakku ini tidak akan dapat aku ajak menempuh perjalanan seperti yang pernah aku lakukan”

“Mereka pun harus ikut menghayati pengalaman yang pernah diserap oleh ayah dan ibunya”

Ki Mina tertawa. Tetapi ia pun berkata, “Aku menginginkan anak-anakku hidup wajar”

“Apakah Ki Mina dan Nyi Mina tidak hidup wajar?”

Mereka yang mendengar pertanyaan itu tertawa. Namun
terasa betapa segores luka yang pedih di hati Nyi Mina bagaikan terusik kembali. Meskipun Ki Mina dan Nyi Mina hidup rukun, tetapi mereka tidak melahirkan keturunan yang akan dapat menyambung nama mereka di kemudian hari. Perkawinan mereka tidak dikaruniai seorang anak.

Namun agaknya Ki Mina dan Nyi Mina sudah pasrah. Di umur mereka yang menjadi semakin tua, maka mereka pun kemudian meyakini bahwa mereka memang tidak akan mempunyai anak.

Meskipun demikian, Ki Mina dan Nyi Mina itu masih juga bersukur, bahwa mereka pernah merasakan satu kehidupan keluarga yang baik. Mereka merasakan hidup sebagaimana keluarga-keluarga yang lain, meskipun tanpa anak. Tetapi mereka mempunyai kemanakan yang mereka anggap seperti anak mereka sendiri.

“Hidup kami masih lebih cerah di bandingkan dengan Ki Wandawa. Hidup Ki Wandawa tentu terasa sepi. Betapa pun ramainya padepokannya dengan riuhnya latihan para cantrik atau gurau mereka di saat-saat mereka beristirahat”

Ternyata Ki Mina tidak lagi dapat di cegah. Betapa pun Ki Wandawa minta agar mereka bermalam di padepokannya, namun Ki Mina tetap saja niatnya untuk meneruskan perjalanan.

“Pada kesempatan yang lain, kami akan singgah lagi di padepokan ini, Ki Wandawa”

“Kami, seisi padepokan ini sangat mengharapkan, Ki Mina“

Ki Mina tersenyum. Sementara itu penunggu banjar itu pun berkata, “Selamat jalan Ki Mina. Aku minta maaf atas kebodohanku. Kenapa aku tidak dapat melihat, siapakah yang bermalam di banjar semalam”

“Ayah selalu begitu” sahut Mungguh, “ayah selalu keliru menilai orang”

“Bukan begitu. Ki Mina lah yang menginginkan aku salah menilainya”

Ki Mina tertawa. Katanya, “Tidak ada yang salah menilai. Segala sesuatunya sudah benar”

Penunggu banjar itu pun tersenyum pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Mina, Nyi Mina bersama Wandan dan Wiyati telah minta diri untuk melanjutkan perjalanan. Mereka meninggalkan padepokan itu dengan kesan yang aneh. Ki Mina adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, tetapi ia adalah seorang yang rendah hati. Nyi Mina pun menurut penglihatan Ki Wandawa yang memiliki ketajaman penglihatan, adalah seorang perempuan yang pilih tanding. Namun dua orang perempuan yang berjalan bersamanya adalah perempuan-perempuan yang berbeda sekali dengan Nyi Mina. Jika kedua perempuan itu diaku sebagai anaknya, maka keduanya sangat berbeda dengan ibunya.

Namun sepeninggal Ki Mina, maka penunggu banjar itu serta anaknya juga segera minta diri.

“Kenapa tergesa-gesa?“

“Malam nanti aku harus membaca kitab suci di rumah Darsa. Isterinya baru saja melahirkan”

“Darsa? Darsa yang rumahnya disebelah simpang empat itu?“ bertanya Ki Wandawa.

“Ya”

Ki Wandawa menarik nafas panjang. Katanya, “Anak itu masih ingusan ketika aku masih tinggal di padukuhan. Ia sudah tumbuh dan menjadi dewasa, bahkan sudah mempunyai anak sekarang”

Mungguh tidak menjawab. Ia merasakan betapa sunyinya hidup Wandawa itu. Namun ia sudah berhasil mengisinya dengan kesibukan serta mendatangkan banyak anak baginya. Murid-murid sebuah perguruan tidak ubahnya dengan anak sendiri bagi seorang guru yang baik.

Ki Wandawa mengangguk-angguk kecil. Namun ia pun kemudian berkata kepada Sindu, “Ngger. Pulanglah bersama paman dan Mungguh. Jangan biarkan ayah dan ibumu menjadi sangat gelisah karena kepergianmu”

“Seharusnya ayah tidak perlu gelisah. Jika ayah mengetahui bahwa kudaku tidak ada, maka ayah tentu tahu, bahwa aku pergi berkuda. Aku pergi atas kemauanku sendiri”

“Tetapi ayah dan ibumu tidak tahu, kemana kau pergi. Bahkan mereka dapat membayangkan hal-hal yang kurang baik. Mereka dapat mengira bahwa kau menjadi berputus-asa karena pernikahanmu yang batal. Mereka dapat membayangkan hal-hal yang buruk terjadi atasmu. Mungkin karena kecewa, mungkin karena marah atau karena malu”

“Ya, ngger” berkata penunggu banjar itu, “sebaiknya kau pulang. Aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu“

“Sindu berkuda, ayah” berkata Mungguh.

Namun Sindu itu pun berkata, “Aku akan menuntun kudaku. Aku akan berjalan bersama paman Mungguh dan kakek.

“Nah, pada hari-hari yang lain, kau dapat datang lagi kemari setelah kau minta diri kepada ayah dan ibumu baik-baik, sehingga mereka tidak akan menjadi gelisah. Mereka yakin bahwa kau tidak akan aku bantai disini”

Sindu menarik nafas. Ia mencoba tersenyum. Tetapi senyumnya terasa hambar sekali.

“Baiklah Ki Wandawa. Aku akan pulangi Aku akan mengatakan kepada ayah dan ibu, apa yang sudah aku lihat dan aku dengar disini. Apa pula yang telah aku alami. Dengan siapa pula kami bertemu disini”

“Baiklah. Tetapi aku minta kau tidak usah mengungkit-ungkit lagi yang telah terjadi dihadapan ayah dan ibumu. Jika apa yang dilakukan oleh ayah dan ibumu itu satu kekhilafan, maka setiap orang dapat melakukan kekhilafan sebagaimana aku lakukan semalam. Karena itu, sudahlah. Lupakanlah apa yang pernah terjadi itu, sehingga persoalannya tidak justru menjadi berkepanjangan”

Sindu menarik nafas panjang. Ia pun kemudian mengangguk sambil bergumam, “Baik, Ki Wandawa. Aku akan mencobanya”

Demikianlah, maka Sindu itu pun kemudian meninggalkan padepokan di sebelah bukit itu bersama Mungguh dan ayahnya, penunggu banjar. Sindu tidak naik diatas punggung kudanya, tetapi ia justru menuntun kudanya dan berjalan bersama Mungguh dan ayahnya. Mereka berjalan dengan cepat. Jauh lebih cepat dari saat mereka berangkat menuju ke padepokan itu.,

Di sepanjang jalan, penunggu banjar itu memberikan banyak petunjuk kepada Sindu yang sebelumnya jarang sekali berhubungan. Sebelumnya, penunggu banjar itu tidak begitu banyak terlibat dalam lingkaran pergaulan dengan keluar Tantiya yang kaya. Jika kemudian penunggu banjar itu diminta ikut mengantar Sindu kerumah calon pengantin perempuan, karena penunggu banjar itu termasuk dalam deretan orang-orang yang dituakan di padukuhan itu.

Sindu sendiri hampir tidak pernah berhubungan dengan penunggu banjar itu mau pun dengan Mungguh. Tetapi peristiwa semalam telah menjadikan Sindu berubah. Rasa-rasanya Sindu telah terbentur dengan kenyataan yang pahit dari putaran kehidupan. Jika sebelumnya Sindu yang merasa dirinya anak seorang yang kaya dipadukuhannya itu dapat berbuat apa saja dengan uangnya maka sejak peristiwa yang terjadi semalam, rasa-rasanya segala sesuatunya telah berubah.

Sementara Sindu berjalan pulang bersama pehunggu banjar dan Mungguh, Ki Mina, Nyi Mina melanjutkan perjalanan mereka bersama Wandan dan Wiyati. Di sepanjang jalan, Wandan dan Wiyati yang tidak mengerti apa yang telah terjadi di padukuhan, bergantian bertanya kepada Ki Mina dan Nyi Mina, apa yang telah terjadi semalam di padukuhan.

“Kadang-kadang uang yang selalu diandalkan untuk mendapatkan apa saja yang diinginkan, sekali-sekali akan gagal pula berkata Ki Mina dengan suara datar.

Wandan dan Wiyati saling berpandangan sejenak. Di Mataram mereka mengorbankan harga diri mereka demi uang. Jika pada suatu saat uang itu tidak berarti lagi, maka habislah semuanya. Tidak akan ada yang tersisa lagi.

Dengan demikian, mereka pun menjadi semakin yakin, bahwa jalan yang mereka tempuh saat itu adalah jalan yang terbaik bagi mereka.

Sindu yang memiliki uang yang tidak terhitung jumlahnya, pada suatu ketika berniat untuk tinggal di sebuah padepokan yang sepi. Di sebuah tempat yang tidak terlalu terikat kepada uang. Di padepokan itu, uang dikendalikan oleh kuasa manusia, bukan sebaliknya, manusia dikendalikan oleh kuasa uang, sehingga apa pun akan dilakukannya untuk uang.

Demikianlah, maka Ki Mina dan Nyi Mina yang berjalan bersama Wandan dan Wiyati itu bergerak dengan lamban. Wandan dan Wiyati tidak dapat berjalan lebih cepat lagi. Bahkan diteriknya sinar matahari, mereka lebih banyak berlindung di bawah rimbunnya daun pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan, di semilirnya angin yang lembut.

Tetapi ketika senja mulai membayang, mereka masih belum sampai ke tempat tujuan. Karena itu, maka mereka masih harus bermalam semalam lagi di perjalanan.

Perjalanan yang lamban itu terasa menjadi semakin lamban lagi karenanya. Bahkan ketika mereka berniat minta ijih untuk bermalam di sebuah banjar, Wiyaati sempat bertanya, “Apakah paman akan terlibat lagi dalam satu persoalan di padukuhan itu?”

Ki Mina tertawa pendek, sementara Nyi Mina tersenyum sambil berkata, “Mudah-mudahan tidak, ngger. Biarlah nanti malam pamanmu itu tidur semalaman. Kecuali jika ada orang-orang yang berniat mengganggunya di banjar padukuhan”

Wandan dan Wiyati mengangguk-angguk. Dengan nada datar Wiyati pun berkata, “Untunglah bahwa kami tidak tahu apa yang melihat paman di padukuhan itu. Jika kami mengetahuinya, kami tentu menjadi ketakutan”

Ki Mina itulah yang kemudian menyahut, “Kadang-kadang kita harus melihat diri tanpa dapat kita hindaari, Wiyati. Jika kita melihat ketidak-adilan terjadi, mungkin orang yang kuat menindas yang lemah, mungkin kesewenang-wenangan, mungkin merampas hak orang lain dengan kekerasan, maka seharusnya kita tidak tinggal diam sepanjang kita mempunyai bekal untuk ikut melibatkan diri. Kalau ada kesempatan apa salahnya kita ikut serta mencegahnya, jika kita mampu melakukannya. Memang mungkin bahwa apa yang kita lakukan itu malahan dapat menimbulkan persoalan baru. Tetapi niat kita adalah niat yang baik”

Wiyati mengangguk-angguk. Bahkan Wandan pun juga mendengarkan dengan saksama.

Dalam pada itu, langit pun menjadi semakin buram. Bagi Ki Mina dan Nyi Mina, malam bukannya masalah. Tetapi tentu berbeda dengan Wandan dan Wiyati.

Karena itu, maka Ki Mina pun berkata, “Kita akan memasuki padukuhan yang terhitung besar di hadapan kita. Jika diperkenankan kita akan bermalam di banjar padukuhan itu”

“Apakah mungkin kita ditolak paman?“ bertanya Wiyati.

“Mungkin saja”

“Apakah ada orang yang sampai hati berbuat demikian?”

“Tentu ada alasannya. Mungkin baru terjadi kerusuhan di padukuhan itu, sehingga mereka curiga terhadap orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal. Atau ada alasan-alasan lain yang memaksa mereka untuk menjadi sangat berhati-hati”

Wiyati mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti keterangan Ki Mina itu, dan bahkan Wiyati pun kemudian telah mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan seandainya mereka harus ditolak untuk bermalam di padukuhan itu.

Beberapa saat kemudian, maka mereka berempat telah memasuki padukuhan yang terhitung besar di hadapan mereka. Ketika mereka memasuki gerbang padukuhan, mereka melihat lampu minyak sudah menyala di rumah-rumah sebelah menyebelah jalan.

“Dimana letak banjar itu paman?” bertanya Wiyati.

“Biasanya banjar padukuhan terletak di tepi jalan utama ini. Jika saja kita berjalan terus, kita akan sampai ke banjar. Kecuali jika banjar di padukuhan ini tidak berada di tepi jalan utama ini”

Namun sebelum mereka menemukan banjar padukuhan, mereka melihat dua orang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Ki Mina lah yang kemudian mendekati mereka sambil mengangguk dalam-dalam.

Kedua orang itu pun berhenti. Sementara Ki Mina pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Dimanakah letak banjar padukuhan ini?”

Kedua orang itu termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan. Baru kemudian seorang diantara mereka menjawab, “Disebelah simpang empat itu Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak ini siapa? Untuk apa Ki Sanak mencari banjar padukuhan?”

“Kami sedang dalam perjalanan, Ki Sanak. Kami ternyata kemalaman di perjalanan. Jika diperkenankan, kami akan bermalam di banjar padukuhan malam ini”

“O, tentu. Kenapa tidak? Pergilah ke banjar dan katakanlah kepada kakek penunggu banjar itu. Aku kira kakek Supa tidak akan berkeberatan”

“Terima kasih, Ki Sanak”

Kedua orang itu pun kemudian meneruskan langkah mereka, sementara Ki Mina pun mengajak Nyi Mina, Wandan dan Wiyati untuk menelusuri jalan utama itu.

“Banjar itu ada di sebelah simpang empat” desis Nyi Mina.

Beberapa saat kemudian, mereka berempat pun telah sampai di depan regol banjar padukuhan. Dengan sedikit ragu, mereka pun melangkah memasuki halaman banjar yang luas.

Seimbang dengan besarnya padukuhan, maka banjamya pun merupakan banjar yang besar dengan halaman yang luas.

Bangunannya meskipun tidak berlebihan, namun nampak kokoh.

Ternyata penunggu banjar itu pun seorang yang baik pula.

Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan diterima dengan baik. Penunggu banjar yang sudah tua itu pun tidak menolak mereka. Meskipun mereka hanya dapat menginap di serambi yang disekat dengan dinding bambu, namun mereka merasa bahwa mereka sudah diperlakukan dengan baik.

Apalagi kakek Supa itu telah memberi mereka minuman hangat pula dan bahkan kepada mereka telah dihidangkan ketela pohon rebus yang masih mengepul.

“Kebetulan Ki Sanak” berkata kakek Supa, “kebetulan kami merebus ketela pohon hasil tanaman kami sendiri. Silankan makan dan minum”

“Terima kasih, Ki Supa” jawab Ki Mina.

Ki Supa itu sendiri agaknya sudah lebih tua dari Ki Mina. Tetapi ia nampak masih cukup kuat menjalankan tugas-tugasnya di banjar itu.

Ketika malam menjadi semakin dalam, setelah wayah sepi bocah, Ki Supa justru telah menemui Ki Mina untuk berbincang-bincang. Karena mereka hampir sebaya, maka pembicaraan mereka pun nampaknya dapat saling menyesuaikan diri.

“Dua hari lagi, pemilihan itu akan dilaksanakan” berkata Ki Supa.

“Bukankah biasanya, untuk menggantikan seorang Demang, akan diangkat anaknya laki-laki?”

“Ki Demang yang meninggal dengan tiba-tiba sebulan yang lalu itu, tidak mempunyai anak, Ki Sanak. Padahal menurut uujudnya seharusnya Nyi Demang itu adalah perempuan yang subur. Di masa mudanya, Nyi Demang itu agak lebih gemuk dari sekarang setelah ia menjadi semakin tua”

“Bagaimana dengan Ki Demang?”

“Ki Demang adalah seorang laki-laki yang tegar. Tubuhnya tinggi besar. Ia adalah seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi serta tenaga yang sangat besar. Sampai hari tuanya, ia adalah seorang yang perkasa. Namun tiba-tiba saja Ki Demang itu sakit. Tidak lebih dari sepekan, Ki Demang itu tidak tertolong lagi jiwanya”

“Sakit apa yang diderita oleh Ki Demang itu?”

“Nafasnya menjadi sesak. Dadanya terasa sakit. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan. Namun kadang-kadang menjadi panas seperti dipanggang di atas api. Ketika di hari-hari terakhir keadaannya itu nampak membaik, namun Ki Demang itu justru meninggal”

“Umur berapa saat Ki Demang itu meninggal?”

“Delapan puluh delapan”

“Delapan puluh delapan?”

“Ya”

Ki Mina mengangguk-angguk. Katanya, “Umur Ki Demang termasuk umur yang panjang”

“Ya. Tetapi ayahnya, Ki Demang tua, saat meninggal umurnya sudah seratus tahun lebih”

Ki Mina pun mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Berapa umur Nyi Demang itu sekarang?”

“Sudah lebih dari delapan puluh. Tetapi Nyi Demang itu masih nampak kokoh. Nyi Demang di usianya yang sudah lebih dari delapan puluh itu pendengaran serta penglihatannya masih utuh. Ia masih dapat ikut membantu bekerja di dapur. Membersihkan biliknya sendiri serta ingatannya pun masih jernih”

Ki Mina itu pun mengangguk-angguk.

“Nah, karena di kademangan ini segera diperlukan seorang yang dapat memimpin dengan baik, maka setelah sebulan Ki Demang meninggal, maka di kademangan ini akan diselenggarakan pemilihan Demang”

“Di banjar ini?”

“Ya, dibanjar ini. Padukuhan ini adalah padukuhan induk”

Ki Mina mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, Wiyati yang mendengar pembicaraan itu di seberang dinding bambu berbisik kepada Nyi Mina, “Apakah paman akan terlibat lagi, bibi. Pemilih itu masih akan berlangsung dua hari lagi”

Nyi Mina tersenyum. Katanya, “Tidak. Pamanmu tidak akan terlibat lagi. Pamanmu hanya ingin tahu saja”

Wiyati mengerutkan dahi. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk kecil.

Dalam pada itu, Ki Mina pun kemudian bertanya, “Siapa saja yang menjadi calon Demang itu Ki Supa?”

“Seorang masih terhitung muda. Ia adalah kemanakan Ki Demang yang sudah meninggal itu. Ayahnya adalah adik Ki Demang”

Ki Mina mengangguk-angguk.

“Seorang lagi adalah sepupu Ki Demang. Juga sudah agak tua. Tetapi umurnya belum lebih dari enam puluh tahun”

“Enam puluh tahun? Seandainya ia terpilih, ia tidak akan terlalu lama menjabat”

“Jika umurnya mencapai sebagaimana Ki Demang, ia mempunyai waktu dua puluh delapan tahun. Selebihnya, ia dapat merintis jalan baik bagi anak cucunya kelak”

“Hanya dua orang calon?”

“Masih ada seorang lagi. Seorang yang mempergunakan uangnya untuk membeli dukungan baginya”

Ki Mina mengangguk-angguk. Katanya, “Dimana-mana ada saja orang yang mempergunakan uangnya untuk dapat mencapai maksudnya. Baik atau buruk”

“Ya. Orang itu adalah seorang yang kaya. Ia berpengaruh karena uangnya yang berlimpah. Ia memilik tanah hampir separo dari tanah yang dimiliki oleh kademangan ini. Bahkan ia mulai merambah ke kademangan-kademangan tetangga. Jika ia berhasil menjadi Demang di kademangan ini, maka habislah para penghuni kademangan ini yang lain. Semua tanah di kademangan ini akan menjadi miliknya. Penghuni kademangan yang lain akan menjadi pekerja-pekerja di tanahnya. Ia tidak akan menghiraukan kebutuhan orang-orang padukuhan ini. Tanah di kademangan ini akan ditanami tanaman yang menguntungkan saja baginya tanpa menghiraukan kebutuhan beras dan jagung bagi rakyatnya”

“Bukankah rakyat wenang memilih” sahut Ki Mina, “asal mereka tidak memilih orang itu, maka yang dicemaskan itu tidak akan terjadi”

“Ya. Tetapi orang itu banyak mempunyai kaki tangan. Orang-orang yang tidak segan-segan mempergunakan kekerasan selain uang, janji-janji disamping ancaman-ancaman”

Ki Mina termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia- pun bertanya, “Bagaimana dengan pemerintahan di Mataram? Apakah tidak ada petugas yang akan mengawasi pemilihan itu?”

“Ada. Kami memang berpengharapan. Yang akan ditugaskan disini adalah Ki Panji Citrabawa. Mungkin Ki Panji akan ditemani dua orang Lurah. Mereka akan mengawasi pemilihan yang akan berlangsung dua hari lagi”

“Nah, bukankah dengan demikian pemilihan itu akan berlangsung dengan baik”

“Seharusnya. Tetapi seberapa besar pengaruh kuasa para petugas dari Mataram itu”

“Mereka mewakili Mataram. Karena itu mereka membawa kuasa tertinggi dari Mataram”

“Seharusnya. Tetapi segala sesuatunya justru tergantung kepada manusianya”

“Bagaimana dengan Ki Panji Citrabawa?”

“Kami belum tahu. Nama itu baru kami dengar. Tetapi orangnya baru akan datang esok malam”

“Mudah-mudahan ia orang baik”

“Tetapi orang kaya raya yang mencalonkan diri itu sangat licik. Ia mempunyai seribu macam cara untuk mencapai maksudnya. Siapa tahu, bahwa orang itu sekarang telah berada di Mataram menemui Ki Panji Citrabawa”

Ki Mina mengangguk-angguk. Tetapi ia pun masih bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang calon yang lain?”

“Tidak ada masalah. Bagi rakyat kami, keduanya sama saja. Mereka adalah orang-orang baik. Bahkan kemanakan Ki Demang itu sebenarnya tidak bernafsu untuk mencalonkan diri. Semula ia sudah siap mendukung pencalonan pamannya, sepupu Ki Demang. Bahkan ayahnya, adik Ki Demang yang baru saja meninggal itu pun tidak berminat untuk menjadi Demang. Ia adalah seorang pedagang yang berhasil, meskipun tidak menjadi sekaya calon seorang lagi. Anaknya itu pun telah diajarinya berdagang”

“Tetapi akhirnya ia mencalonkan diri juga?”

“Ia hanya bermaksud untuk mencoba mengurangi jumlah orang yang dapat dipengaruhi oleh orang yang kaya raya itu. Kemanakan Ki Demang itu telah bekerja keras untuk merebut masa yang semula telah dipengaruhi oleh orang kaya raya itu dengan uang, janji-janji dan ancaman-ancaman”

Ki Mina masih mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, pemilihan besok lusa itu akan berlangsung seru”

“Ya. Kemanakan Ki Demang itu adalah salah satu di-antara mereka yang jumlahnya hanya sedikit, yang berani dengan terang-terangan menentang kuasa orang yang kaya raya itu”

“Apakah mungkin justru kemanakan Ki Demang itu yang akan menang?”

“Entahlah. Tetapi bagi para penghuni kademangan ini, apakah yang terpilih sepupu Ki Demang yang sudah tua itu atau kemanakan Ki Demang, tidak akan ada bedanya. Tetapi memang diperlukan orang seperti kemanakan Ki Demang itu agar orang yang kaya raya itu tidak semakin semena-mena terhadap orang-orang kecil yang miskin dan tidak mempunyai kekuatan apa pun untuk melawannya”

“Menarik sekali”

“Apakah Ki Sanak ingin menyaksikannya? Aku ingin menasehatkan, sebaiknya Ki Sanak tidak menonton pemilihan yang akan diselenggarakan di banjar ini dua hari mendatang. Tidak mustahil akan terjadi tindak kekerasaa Kita tidak tahu, apakah Ki Panji Citrabawa mampu mengatasinya atau tidak”

“Kalau terjadi kekerasan, siapakah yang akan melakukan kekerasan itu ?”

“Tentu orang yang kaya raya itu. Ia akan menggerakkan orang-orangnya. Jika pemilihan besok lusa tidak menguntungkan bagi dirinya, maka ia tentu akan berusaha untuk membatalkan hasilnya dengan cara apa pun juga. Bahkan dengan kekerasan itulah.”

Dalam pada itu, Wiyati yang masih belum tidur telah menggamit bibinya sambil berdesis, “Nah, bibi. Paman sudah mulai tertarik. Paman akan menganggap bahwa persoalannya pantas dicampuri. Jika kami harus menunggu dua hari lagi, maka perjalanan kami akan menjadi semakin lama.”

“Tidak, ngger. Tidak. Pamanmu tidak akan menunggu sampai dua hari. Apalagi perjalanan kita sudah tidak terlalu panjang lagi. Besok sebelum matahari sampai ke puncak, kita tentu sudah sampai ke tempat yang kita tuju. Ke rumah paman dan bibimu Leksana. “

Wiyati menarik nafas panjang. Ia pun terdiam. Tetapi ia masih saja khawatir, bahwa pamannya akan melibatkan diri lagi kedalam persoalan yang terjadi di padukuhan itu.

Sementara itu, bibinya pun berkata perlahan, “Bukankah kau dengar bahwa penunggu banjar itu menasehatkan agar pamanmu tidak menonton pemilihan Demang yang akan diselenggarakan di banjar ini. Jangankan melihatkan diri.”

Wiyati yang sudah terdiam itu justru menjawab, “Justru karena penunggu banjar itu keberatan karena mungkin sekali terjadi kekerasan, paman justru akan menjadi lebih tertarik lagi karenanya.“

Nyi Mina harus menahan tertawanya. Ketika ia berpaling kepada Wandan, ia pun melihat kecemasan di wajah Wandan.

“Aku meyakinkan kalian, bahwa pamanmu tidak akan menelantarkan kita disini sampai esok lusa. Esok pagi-pagi aku akan mengajak pamanmu meneruskan perjalanan.”

Dalam pada itu, mereka yang berada di serambi yang disekat dengan dinding bambu itu masih mendengar Ki Mina berkata, “Jika demikian, maka tinggal ketegasan sikap Ki Panji Citrabawa.”

“Ya“ sahut penunggu banjar itu.

Untuk sejenak keduanya pun terdiam. Tiba-tiba saja penunggu banjar itu pun berkata, “Nah, Ki Sanak. Jika kau merasa letih dan mengantuk, silahkan beristirahat. Malam sudah menjadi semakin larut. “

Penunggu banjar itu pun kemudian bangkit berdiri. Sambil berjalan turun ke halaman ia pun berkata, “Sebentar lagi, para peronda yang lewat tentu akan singgah. Biasanya sebelum tengah malam Ki Jagabaya juga datang ke banjar ini. Akhir-akhir ini, menjelang hari pemilihan sering terjadi perkelahian tanpa sebab. Orang-orang yang diupah oleh orang yang kaya raya itu sengaja menimbulkan persoalan sehingga kademangan ini menjadi tidak tenang lagi. Karena itu, maka Ki Jagabaya terpaksa harus lebih sering berkeliling di malam hari.”

Sebelum Ki Mina menyahut, penunggu banjar yang tua itu pun sudah beranjak pergi ke halaman depan banjar.

Sejenak kemudian, maka Ki Mina telah masuk ke dalam; bilik di serambi itu. Ketika ia melihat Wiyati dan Wandan masih belum tidur, ia pun bertanya, “Kenapa kalian belum tidur? Besok kita akan bangun pagi-pagi sekali untuk melanjutkan perjalanan. Udara tentu masih segar meskipun beberapa lama kemudian, matahari pun akan naik. Tetapi kita berharap sebelum tengah hari kita sudah sampai ke rumah paman dan bibimu Leksana. “

Nyi Minalah yang menyahut sambil tertawa tertahan, “Mereka menjadi khawatir. “

“Khawatir apa?“

“Ah, bibi“ desis Wiyati.

Tetapi Nyi Mina tetap juga berkata, “Mereka khawatir bahwa pamannya akan terkait lagi di padukuhan ini. Jangan-jangan persoalan pemilihan itu telah menarik perhatian kakang, sehingga kakang akan tinggal di sini sampai dua hari lagi. “

Ki Mina pun tertawa. Katanya, “Tidak. Esok pagi-pagi kita meneruskan perjalanan. Aku tidak akan menahan kalian lebih lama lagi di perjalanan. Kalian tentu sudah merasa jemu. Kalian ingin segera sampai serta beristirahat sepuasnya.”

Wiyati hanya menundukkan kepalanya saja.

“Nah, sekarang tidurlah. Bukankah amben ini cukup luas untuk tidur kita berempat ?”

Wandan dan Wiyati pun kemudian menjadi lebih tenang. Pamannya sudah berjanji untuk meneruskan perjalanan mereka esok pagi-pagi sekali.

Beberapa saat kemudian, maka Wandan dan Wiyati pun telah tertidur. Sementara itu, Ki Mina pun berkata, “Tidurlah Nyi.”

“Apakah kakang tidak tidur?, “

“Aku juga akan segera tidur. Tetapi rasa-rasanya lebih baik kita bergantian. “

“Ada apa?”

“Menjelang pemilihan Demang dua hari lagi, agaknya kademangan ini menjadi panas. Setiap malam Ki Jagabaya harus berkeliling seperti para peronda. Bahkan para peronda itu pun dapat saja timbul salah paham yang satu dengan yang lain, karena mereka berpijak pada sisi pandang yang berbeda.”

“Bukankah tidak banyak orang yang mendukung orang yang kaya raya itu?“

“Kau dengar pembicaraan kami?“

“Bukankah hanya disekat oleh dinding bambu yang tipis?”

“Ya. Memang tidak begitu banyak. Tetapi mereka adalah orang-orang upahan. Mereka dapat berbuat kasar sesuai dengan perintah orang yang mengupahnya. Tanpa pertimbangan apa pun juga. “

Nyi Mina mengangguk.

“Nah, tidurlah. Nanti, jika aku sudah sangat mengantuk aku akan tidur. Jika tidak terjadi sesuatu, aku tidak akan membangunkan kau, Nyi.”

Nyi Mina pun itu pun kemudian membaringkan dirinya di amben yang besar itu di sebelah Wiyati. Sementara Ki Mina masih saja duduk bersandar dinding.

Sebenarnyalah, di tengah malam, Ki Jagabaya telah datang ke banjar bersama dua orang bebahu. Mereka duduk di pendapa banjar. Agaknya penunggu banjar itu tidak mengatakan kepada Ki Jagabaya bahwa ada orang yang sedang menginap di banjar itu, sehingga Ki Jagabaya pun tidak menyinggung-nyinggungnya sama sekali.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara kotekan yang bergerak di jalan utama padukuhan induk itu. Agaknya sekelompok anak muda sedang meronda berkeliling padukuhan.

Di depan banjar itu para peronda itu berhenti. Terdengar suara orang yang ada di pendapa. Agaknya suara Ki Demang, “Apakah kalian tidak singgah?“

“Terima kasih” jawab seseorang dari regol halaman. “Kami akan meneruskan tugas kami. “

“Silahkan. Bukankah keadaannya tenang-tenang saja?”

“Ya. Tidak terjadi apa-apa.“

“Sokurlah.“

Sejenak kemudian telah terdengar lagi suara kotekan. Para peronda itu meneruskan tugas mereka berkeliling padukuhan.

Beberapa saat masih terdengar suara orang bercakap-cakap di pendapa. Agaknya Ki Jagabaya dan beberapa orang masih duduk-duduk di pendapa banjar itu. Namun beberapa saat kemudian terdengar mereka minta diri.

“Silahkan Ki Jagabaya“ terdengar suara penunggu banjar yang tua itu.

Suasana pun menjadi sepi. Yang terdengar kemudian adalah langkah penunggu banjar itu lewat di depan serambi menuju ke rumahnya di belakang banjar. Tetapi penunggu banjar itu tidak singgah di serambi. Agaknya ia sudah mengira bahwa orang-orang yang bermalam di banjar itu sudah tidur seluruhnya.

Malam itu memang tidak terjadi apa-apa. Pagi-pagi sekali Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan sudah bangun serta berbenah diri. Sebelum matahari terbit, maka Ki Mina pun sudah menemui penunggu banjar itu di rumahnya.

“Kami akan minta diri, Ki Sanak. Kami akan meneruskan perjalanan kami.“

“Tunggu. Isteriku sudah terlanjur menuang minuman. Minum sajalah dahulu.“

Ki Mina tidak dapat menolak Karena itu, maka sebelum berangkat meninggalkan banjar itu, Ki Mina serta ketiga orang perempuan yang bersamanya itu pun telah meneguk minuman hangat yang telah disiapkan.

Sejenak kemudian, maka keempat orang itu pun telah minta diri dan meninggalkan banjar padukuhann itu.

Ketika mereka sampai ke gerbang padukuhan, mereka telah berpapasan dengan dua orang berkuda. Mereka berempat itu pun berhenti ketika kedua orang berkuda itu pun menghentikan kudanya.

“He. Kalian mau kemana ?” bertanya salah seorang dari kedua orang berkuda itu, “apakah kalian akan bepergian jauh, sehingga besok kalian tidak akan ikut dalam pemilihan Demang di kademangan ini?”

“Kami bukan penghuni kademangan ini, Ki Sanak.”

“O. Jadi?”

“Kami hanya lewat saja.”

“Tetapi sepagi ini kalian sudah ada disini?”

“Kami kemalaman semalam, Ki Sanak. Kami bermalam di banjar kademangan.”

“O. Jadi kalian bukan rakyat kademangan ini yang besok ikut mempunyai hak untuk memilih?”

“Tidak.”

“Bagus. Kalian demikian pergilah. Kami tidak jadi memberikan uang kepada kalian.”

“Uang?”

“Ya Kami menjanjikan uang bagi mereka yang bersedia memilih Ki Warnatama.”

“Ki Warnatama?”

“Ya. Orang terkaya bukan saja di kademangan ini, tetapi juga kademangan-kademangan tetangga.”

“Sayang. Ki Sanak. Jika saja kami rakyat kademangan ini, maka kami akan senang sekali memilih Ki Warnatama.”

Kedua orang berkuda itu tidak bertanya lagi. Tetapi mereka pun kemudian memasuki padukuhan yang baru mulai terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

“Suasana pemilihan besok itu semakin terasa“ desis Ki Mina.

“Kenapa baru sekarang orang itu membagi-bagikan uang?”

“Tentu bukan baru sekarang. Tentu sudah sejak kemarin, kemarin lusa, bahkan sepekan atau dua pekan yang lalu. Jika pagi ini mereka masih juga melakukannya, tentu bagi mereka yang terlampaui. Mereka juga mengira bahwa kita telah terlampaui. Sehingga mereka masih juga menawarkan agar kita mendukung pencalonan Ki Warnatama.”

“Agaknya Ki Wamatama itulah yang disebut penunggu banjar itu sebagai seorang yang kaya raya yang memiliki tanah hampir separo dari tanah yang ada di kademangan ini.”

“Ya. Ternyata ia memang membagi-bagikan uang.”

Namun pembicaraan mereka terputus ketika Wiyati berkata, “Marilah, bibi. Mumpung masih pagi.”

Ki Mina dan Nyi Mina tertawa. Dengan nada rendah Nyi Mina pun berkata, “Wiyati sudah menjadi cemas, bahwa perhatian kakang akan tertarik kepada orang-orang yang membagi-bagikan uang itu. Mereka tentu membawa uang banyak”

Ki Mina itu pun menyahut sambil tertawa, “Jika saja kita sedikit berbohong dan mengaku bahwa esok kita akan ikut dalam pemilihan, maka kita akan mendapatkan uang.”

“Tetapi mereka akan tahu, bahwa kita berbohong.”

“Tetapi kita sudah tidak berada di padukuhan ini lagi”

Namun Nyi Mina itu masih saja bergumam, “Tetapi kenapa mereka tidak tahu, bahwa kita bukan orang kademangan ini?”

“Mereka adalah orang-orang upahan. Mereka bukan penghuni kademangan ini.”

Nyi Mina mengangguk-angguk.

Namun sekali lagi Wiyati beresis, “Kita akan melanjutkan perjalanan, paman.”

“Ya. Ya. Marilah.”

Mereka pun kemudian telah melanjutkan perjalanan selagi matahari masih baru akan terbit.

Cerahnya pagi disambut oleh kicau burung-burung liar di pepohonan. Di ujung daun masih bergayutan titik-titik embun. pagi yang bening.

Keempat orang itu mulai berpapasan dengan orang-orang yang akan pergi ke pasar. Ada diantara mereka yang menggendong bakul berisi hasil ladang mereka. Ada yang memikul kayu bakar. Ada yang mengusung sekarung kecil beras di kepalanya. Ada yang membawa seikat besar taun pisang, dan bahkan ada yang membawa beberapa ekor ayam.

Pagi pun mulai menjadi ramai. Sementara matahari telah bangkit dari balik pegunungan.

Keempat orang itu pun berjalan semakin jauh dari kademangan yang akan menyelenggarakan pemilihan Demang di keesokan harinya. Pemilihan yang jarang sekali di selenggarakan, karena biasanya kedudukan Demang itu mengalir dari orang tua ke anaknya laki-laki atau ke menantunya laki-laki jika Ki Demang tidak mempunyai anak laki-laki.

Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan diseberang bulak, yang agaknya masih termasuk kademangan yang akan menyelenggarakah pemilihan itu, suasananya pun sudah terasa. Beberapa orang anak muda berkumpul di depan gerbang padukuhan. Nampaknya mereka sudah siap untuk melakukan sesuatu, yang agaknya tentu ada hubungannya dengan mencari pengaruh untuk mendukung orang yang mereka calonkan menjadi Demang.

Ketika Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan lewat, mereka tidak bertanya apa-apa. Tetapi sikap mereka adalah sikap kebanyakan anak-anak muda jika mereka melihat gadis-gadis yang lewat. Sikap mereka tidak ada hubungannya dengan pesan yang harus mereka emban dalam hubungannya dengan pemilihan esok pagi.

Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan tidak menghiraukan mereka. Mereka berjalan saja menyusuri jalan utama padukuhan itu.

Demikian mereka sampai di dalam padukuhan, maka suasana hangatnya hari-hari mendekati hari pemilihan Demang itu semakin terasa. Terutama nampak sekali kegiatan anak-anak mudanya. Agaknya orang-orang padukuhan itu mempnyai sikap yang sejalan tentang calon yang akan mereka pilih. Semaunya nampak bekerja sama dengan baik.

Ketika keempat orang itu lewat di jalan utama, diantara anak-anak muda yang berada di jalan utama itu pun bergeser menepi. Tetapi ada saja diantara mereka yang tertawa-tawa sambil berbisik-bisik sambil memandangi Wiyati dan Wandan yang menundukkan wajah mereka dalam-dalam.

Tetapi anak-anak muda itu tidak mengganggu mereka.

Sebuah padukuhan lagi masih mereka lewati setelah mereka menyeberangi bulak Suasananya tidak berbeda dengan padukuhan yang baru saja mereka lewati.

Tetapi keempat orang itu tidak terpengarh sama sekali. Mereka berjalan saja tanpa memperhatikan mereka. Apalagi Wiyati dan Wandan.

Baru kemudian, ketika matahari menjadi semakin tinggi, mereka pun telah meninggalkan lingkungan kademangan yang sedang mempersiapkan pemilihan Demang itu. Suasana padukuhan berikutnya menjadi sangat berbeda. Tidak ada kelompok-kelompok anak muda yang berkumpul di jalan. Di simpang ampat atau di mulut jalan utama padukuhan.

Demikian mereka lepas dari suasana yang tegang itu. Wiyati berdesis, “Bibi. Rasa-rasanya nafasku menjadi longgar sekarang.”

Nyi Mina tertawa sambil menjawab, “Ya. Kemungkinan paman terlibat menjadi semakin kecil.”

Wiyati  pun tertawa. Wandan dan Ki Mina yang mendengarnya ikut tertawa pula.

“Aku sudah berjanji bahwa hari ini kita akan meneruskan perjalanan sampai ke tujuan” berkata Ki Mina.

Demikianlah keempat orang itu pun berjalan terus meninggalkan kademangan yang sedang sibuk untuk memilih pemimpinnya itu semakin jauh. Padukuhan demi padukuhan- pun telah mereka lewati. Jalan yang lurus, berkelok dan bahkan turun naik pun telah mereka tempuh. Sekali-sekali mereka menuruni tebing yang landai di pinggir sungai yang tidak mempunyai jembatan.

Matahari pun bergerak semakin tinggi di langit Panas-nya pun semakin terasa menggigit kulit Keringat pun semakin lama semakin banyak mengalir membasahi pakaian mereka.

Di depan sebah pasar Nyi Mina mengajak Wiyati dan Wandan singgah di sebuah kedai. Tetapi Wiyati itu pun menjawab, “Bukankah kita sudah hampir sampai ? Menurut paman dan bibi, sebelum matahari sampai di puncak, kita sudah akan sampai di rumah paman dan bibi Leksana.”

“Ya. Rumahnya memang sudah tidak terlalu jah lagi”

“Karena itu, sebaiknya kita tidak usah singgah lagi.” Ki Mina tersenyum sambil berkata, ”Aku berjanji untuk tidak melibatkan diri dalam persoalan apapun.”

“Jika kita berjalan terus, bukankah kita sudah hampir sampai?”

Nyi Mina menarik nafas panjang.

“Kau tidak haus?” bertanya Ki Mina.

“Kita beli dawet cendol saja di sebelah gerbang pasar itu“ jawab Wiyati.

“Baiklah, “ sahut Ki Mina, “kita berhenti di sebelah gerbang pasar.

Mereka berempat pun kemudian duduk di sebelah amben panjang yang melekat pagar pasar yang sedang ramai itu. Mereka pun membeli dawet cendol dengan pemanis legen kelapa.

“ Alangkah segarnya, “desis Ki Mina.

“Ternyata dawet cendol ini tentu lebih segar daripada minuman yang dapat kita pesan di kedai-kedai itu“ berkata Nyi Mina kemudian,

“Disini juga tidak ada persoalan“ berkata Wiyati kemudian.

Yang lain pun tertawa pula.

Ternyata Ki Mina tidak hanya membeli dawet cendol. Didekatnya ada seorang perempuan tua yang menjual jadah serundeng.

Sambil minum dawet cendol Ki Mina pun makan jadah serundeng. Bahkan kemudian juga Nyi Mina, Wiyati dan Wandan.

Namun ketika mereka sudah membayar harga makanan dan minuman yang mereka beli, mereka dikejutkan oleh keributan yang terjadi didekat pintu gerbang. Seorang anak muda tiba-tiba saja telah ditangkap oleh beberapa orang. Sementara seorang anak muda yang lain berteriak sambil menuding anak muda itu, “Ya, ia yang telah mencopet kampil bibi yang bajunya lurik biru itu.”

Anak yang ditangkap itu menjadi bingung. Dengan wajah yang menjadi pucat itu pun bertanya, “Ada apa? Ada apa?”

“Kau telah mencopet kampil perempuan itu, he?“ bentak seorang laki-laki yang bertubuh tinggi.

“Mencopet? Aku tidak tahu maksud paman.”

“Jangan pura-pura. Dimana kampil yang kau copet itu.”

“Kampil itu dilemparkan kepada kawannya“ teriak anak muda yang menudingnya itu.

“Jangan ingkar” seorang laki-laki berkumis tebal mulai bertindak kasar.

“Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu apa-apa.

“Diam. Dimana kampil itu. Siapakah kawanmu yang telah menerima kampil itu darimu ? Siapa?”

“Yang mana? Tunjukkan kepada kami. Orang itu juga harus ditangkap.”

Anak muda itu menjadi semakin bingung. Tiba-tiba saja seseorang telah menyambar ikat kepalanya dan membantingya di tanah. Sedang yang lain mencengkam rambutnya yang hitam lekam.

Seorang laki-laki yang bertubuh gemuk mulai memkul-nya sambil berteriak, “Cepat. Tunjukkan dimana kawanmu itu.”

Beberapa orang yang lain pun telah ikut-ikutan memukulnya pula.

Dalam pada itu, Wiyati pun berdesis, “Paman berjanji untuk tidak mencampuri persoalan apapun.”

Ki Mina tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ia menangkap baju seorang anak muda yang berjalan cepat lewat didepannya.

“Tunggu.”

“Ada apa?”

“Bukankah kau yang menuding anak yang dipukuli itu mencopet kampil orang.”

“Anak itu memang mencopet.”

Ki Mina tidak mendengarkannya. Ia pun menarik anak muda itu ke kerumunan orang yang sedang memukuli anak muda yang dituduh mencopet itu.

“Bukan anak itu yang bersalah“ teriak Ki Mina. Suaranya bagaikan guruh yang menggelegar di langit, sehingga orang-orang yang sedang memukuli anak muda yang dituduh mencopet itu terkejut.

Orang yang bertubuh gemuk dan berwajah kasar kemudian bertanya, “Ada apa? Kau siapa?”

“Bukan anak itu yang bersalah. Tetapi anak ini.”

“He? Darimana kau tahu.”

Anak yang ditarik Ki Mina itu meronta sambil berteriak, “Lepaskan aku. Akulah yang telah menangkap copet itu.”

“Ya. Anak itulah yang melihat bahwa anak ini telah mencopet kampil perempuan berbaju lurik biru itu.”

“Tidak. Aku tidak mencopet, “ sahut anak yang telah dipukuli itu.

“Diam“ seorang laki-laki yang bertubuh tinggi itu mengayunkan tangannya. Tetapi tangannya membentur tangan Ki Mina sehingga orang itu menyeringai kesakitan, seolah-olah tangannya telah membentur sebatang tongkat besi.

“Dengar“ berkata Ki Mina, “anak inilah yang telah mencopet kampil perempuan itu. Aku melihatnya sendiri. Ia sengaja menunjuk orang lain, agar ia sendiri tidak dituduh. Ketika kalian yang berpikiran pendek itu telah termakan oleh ceritera bohongnya, maka anak ini segera melarikan diri. Untunglah aku sempat menangkapnya. Barang bukti itu masih ada padanya. Ia tidak sempat melemparkannya, karena ia mengira bahwa ia akan dapat meloloskan diri.”

Orang-orang yang telah terlanjur memukuli anak muda yang tidak bersalah itu pun berdiri termangu-mangu.

Sambil mendorong anak yang ditangkapnya itu Ki Mina berkata, “Geledah anak itu. Apakah ia masih membawa barang bukti itu atau tidak.”

Dua orang laki-laki segera menggeledah anak itu meskipun anak muda itu meronta-ronta dan menolak. Namun akhirnya dibalik bajunya telah diketemukan kampil uang yang telah dicopetnya dan tidak sempat membuangnya.

“Inikah kampilmu Nyi ?“ bertanya laki-laki yang menemukan kampil itu.

“Ya. Itu kampilku.”

“Nah, begitu mudahnya kalian dikelabui oleh anak jahat ini. Ia yang bersalah, tetapi orang lain yang harus dihukum atas kesalahanya. Kenapa kalian begitu bodohnya tanpa meneliti lebih jauh, langsung menjatuhkan hukuman kepada anak muda yang tidak bersalah itu ?”

“Bunuh saja anak itu“ teriak seorang yang telah terlanjur memukuli anak muda yang tidak bersalah.

“Buat apa? Yang dungu itu kau sendiri. Sekarang kau akan menimpakan penyesalan atau kedunguanmu kepada anak ini?”

Orang itu terdiam.

“Seandainya aku tidak melihat anak ini bersalah, apa jadinya dengan anak muda yang tidak tahu apa-apa itu? Kalian memukulinya sampai setengah mati. Kemudian anak itu akan diseret ke rumah Ki Demang untuk diadili dan kemudian dihukum tanpa melakukan kesalahan apa-apa. Sedangkan pelaku yang sebenarnya bebas untuk menikmati hasil kejahatannya.”

Orang-orang yang telah memukuli anak muda yang tidak bersalah itu menundukkan kepalanya.

“Kalian tidak usah memukuli anak ini. Anak ini akan aku serahkan kepada petugas yang menjadi ketenangan pasar ini.”

Tetapi Ki Mina tidak perlu pergi ke mana-mana. Sejenak kemudian dua orang petugas yang mendapat laporan tentang keributan itu pun segera mendatangi.

“Apa yang telah terjadi?”

Ki Mina pun menceriterakan dengan singkat apa yang telah terjadi. Kemudian menyerahkan anak muda yang telah bersalah itu.

“Perempuan inilah pemilik kampil yang dicopetnya itu“ berkata Ki Mina kemudian.

Petugas itu pun kemudian membawa anak muda yang telah mencopet itu ke gardu mereka. Mereka pun telah mengajak perempuan yang telah kehilangan kampilnya itu pula. Tetapi Ki Mina sendiri telah menyingkir dan kembali kepada Nyi Mina, Wiyati dan Wandan.

“Mari kita pergi“ berkata Ki Mina”jika petugas itu sadar, bahwa aku tidak ada, mereka tentu akan mencari aku untuk bersaksi. Bukan apa-apa, tetapi waktuku akan terampas.”

“Paman telah melibatkan diri lagi” desis Wiyati.

“Aku tidak sampai hati untuk berdiam diri. Anak yang tidak bersalah itu akan dapat menderita bahkan seumur hidupnya jika ia sampai menjadi cacat Untunglah bahwa anak itu tidak cidera. Keadaannya masih belum parah.”

Mereka berempat pun kemudian telah meninggalkan pasar itu. Namun Wiyati masih sempat berkata, “Kenapa orang yang tidak bersalah justru harus memikul beban kesalahan orang lain, paman. Bukankah itu tidak adil ?”

“Itulah sebabnya aku tidak dapat tinggal diam.”

Wiyati nampaknya dapat mengerti, kenapa pamannya telah terpaksa mencampuri persoalan itu.

“Seandainya paman tidak melihat, apa jadinya dengan anak muda yang tidak bersalah itu” desis Wandan.

“Anak muda itu telah terbentur tawang.”

“Maksud paman?”

“Kepala anak itu telah membentur udara. Maksudnya, ia mengalami kesulitan tanpa perkara. Seolah-olah tiba-tiba saja kepalanya membentur kehampaan.”

Nyi Mina pun kemudian berkata, “Pepatah itu lengkapnya begini ngger, kesandung ing rata, kebentus ing tawang. Kau tentu dapat menangkap artinya.”

Wiyati dan Wandan itu mengangguk-angguk.

Keempat orang itu melangkah terus di bawah sinar matahari yang semakin panas. Namun langkah mereka tiba-tiba saja harus berhenti ketika dua orang dengan tergesa-gesa menyusul dan menghentikan mereka.

“Ada apa Ki Sanak?“ bertanya Ki Mina sambil mengamati kedua orang yang berwajah seram itu.

“Kenapa kau ikut campur urusan orang lain, kek?“ bertanya seorang diantara mereka.

“Tentang apa?”

“Tentang anak muda yang mencopet itu. Bukankah seharusnya anak asuhku itu sudah terlepas dari tangkapan orang banyak, karena mereka sudah mendapatkan orang yang dianggap telah melakukan kejahatan ?”

“Jadi kau anggap aku mencampuri urusan orang lain

“Ya.”

Ki Mina menarik nafas panjang. Wiyati dan Wandan mulai gelisah. Namun bibinya menggandeng mereka menepi sambil berkata, “Jangan cemaskan pamanmu. Ia tahu apa yang harus dilakukannya.”

Ki Mina pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Siapa pun tentu tidak akan dapat tinggal diam jika ia melihat ketidakadilan itu terjadi. Yang tidak bersalah harus mengalami nasib buruk, sedangkan yang bersalah, justru bebas dari hukuman akibat dari perbuatannya.”

“Apa pedulimu? Apakah anak yang menjadi korban itu anakmu atau kemanakanmu atau adikmu ?”

“Orang itu memang orang lain bagiku. Tetapi keadilan itu milik semua orang.”

“Persetan kau kakek tua. Karena kau telah merugikan keluarga kami, maka aku menuntut ganti rugi.”

“Ganti rugi apa ?”

“Biasanya kami menuntut uang, atau perhiasan atau apa pun yang bernilai tinggi. Tetapi sekarang kami menginginkan yang lain.”

“Kau menginginkan apa ?”

“Kedua orang perempuan itu. Kami akan membawa mereka. Besok kami akan menyerahkan kembali kepadamu. Jika kau berkeberatan, maka kami akan menuntut semakin banyak. Kedua orang perempuan itu serta membunuhmu disini.”

“Apakah kalian berdua sudah gila?”

“Terserah, kau akan menyebut apa. Tetapi ganti rugi itulah yang kami inginkan. Sementara itu salah seorang anak asuhan kami tentu akan mendapat hukuman setelah ia tertang-gkap.”

“Jangan berceloteh lagi Ki Sanak. Pergilah. Kau membuat aku marah.”

Kedua orang itu terkejut. Orang tua itu menatap mata mereka berganti-ganti tanpa merasa gentar.

Kedua orang yang berwajah seram itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka pun kemudian berkata lantang, “Kau jangan menggertak kami, kek. Kami bukan orang-orang kerdil yang dapat kau takut-takuti dengan sikapmu. Bagaimanapun juga kau sudah tua. Kau sudah berdiri di bibir lubang kuburmu. Karena itu, sebaiknya kau tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Lakukan saja apa yang kami katakan. Maka kau dan nenek yang barangkali isterimu itu tidak akan aku sakiti.”

“Akulah yang akan menyakiti kalian jika kalian tidak mau pergi“ jawab Ki Mina.

Jawaban Ki Mina itu membuat telinga kedua orang itu menjadi panas. Karena itu, seorang diantara mereka berkata, “Kata-katamu tajam seperti duri kemarung, kek. Sekali lagi aku berkata kepadamu, serahkan kedua orang perempuan itu. Atau aku harus membunuhmu lebih dahulu.”

“Cukup“ Ki Mina justru membentak, “kalian masih mempunyai kesempatan untuk pergi. Jika kalian tidak mempergunakan kesempatan ini, kalian akan menyesal.”

Kedua orang itu sudah kehabisan kesabaran. Seorang diantara mereka mendekati Ki Mina sambil berkata kepada kawannya, “Ambil kedua perempuan itu. Biarlah aku bungkam orang tua ini.”

Namun demikian mulutnya mengatup, maka tangan Ki Mina telah menyentuh dadanya.

Orang itu pun terlempar beberapa langkah surut. Tubuh-nya pun kemudian terbanting menimpa tanggul parit di pinggir jalan.

Terdengar orang itu mengaduh kesakitan. Kemudian merintih berkepanjangan.

Kawannya yang masih belum sempat melangkah mendekati Wiyati dan Wandan terkejut. Ia pun segera berlari dan kemudian berjongkok di sisi kawannya, “Ada apa?”

“Iblis itu.”

“Kenapa?”

“Ia memukul dadaku.”

“He? Kenapa dengan pukulannya.”

Ketika titik-titik darah nampak disudut bibir orang itu, maka kawannya pun segera menyadari, bahwa orang tua itu bukan orang kebanyakan. Ia tidak melihat apa yang terjadi. Namun kawannya sudah tidak berdaya, terbaring di tanggul parit sambil mengaduh kesakitan.

Sementara itu Ki Mina pun bertanya, “Nah, apakah kau akan menuntut balas?”

Orang yang berjongkok itu dengan serta-merta menjawab, “Tidak, Ki Sanak. Tidak. Aku minta ampun.”

“Bagus. Rawat kawanmu itu. Tetapi ingat, bahwa beberapa pekan lagi mungkin kita akan bertemu lagi. Aku sudah, ditetapkan menjadi salah seorang petugas di pasar sejak bulan depan.”

“Ki Sanak?”

“Ya. Karena itu, jika anak-anak asuhanmu masih berkeliaran di pasar itu, maka kalianlah yang akan aku tangkap. Jika aku tidak dapat mengumpulkan bukti serta tidak ada orang yang berani bersaksi, maka aku akan memukuli saja kau sampai tulang-tulangmu patah tanpa pernah menyerahkan kalian kepada Ki Demang.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Nampaknya orang tua itu bersungguh-sungguh mengancamnya. Meskipun ia tidak percaya bahwa orang tua itu akan menjadi petugas di pasar, namun orang tua itu dapat mempergunakan seribu cara untuk membuat perhitungan.

“Bawa kawanmu pergi, “ bentak Ki Mina kemudian.

“Baik, baik, Ki Sanak.”

Ki Mina pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian mendekati Nyi Mina, Wiyati dan Wandan.

“Nah, bukankah aku tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk bermain-main dengan orang-orang itu ?” Ki Mina itu justru bertanya.

“Tidak, paman” Wiyatilah yang menjawab, “apalagi yang paman lakukan justru untuk melindungi orang yang terperangkap bencana tanpa melakukan kesalahan.”

“Ya. Mudah-mudahan peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi.”

Mereka berempat pun kemudian melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan kedua orang yang berada di pinggir jalan itu. Namun agaknya yang seorang berusaha untuk memapah kawannya meninggalkan tempat itu.

Demikianlah, maka keempat orang itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan tujuan perjalanan mereka. Tetapi mereka tidak dapat sampai ke rumah Ki Leksana sebelum matahari sampai ke puncak. Mereka baru mendekati regol halaman rumahnya sedikit lewat tengah hari.

Kedatangan Ki Mina dan Nyi Mina membawa Wiyati dan Wandan disambut dengan sangat baik oleh keluarga Ki Leksana. Demikian mereka duduk di ruang tengah, maka Nyi Leksana pun berkata, “Kami sudah menunggu kedatangan kalian.”

“Seharusnya kami sudah sampai disini kemarin, kakang“ berkata Nyi Mina, “tetapi ada-ada saja hambatan di perjalanan.”

“Tetapi sekarang kalian sudah ada disini, “ sahut Ki Leksana bukankah kalian baik-baik saja di perjalanan ?”

“Kami baik-baik saja, kakang. Meskipun ada juga kerikil-kerikil kecil yang mengganggu.”

“Apa artinya kerikil-kerikil kecil bagi kalian berdua ? Bahkan batu segunung anakan pun akan dapat kalian lompati.”

“Mungkin kami dapat melompatinya. Tetapi genduk berdua itu masih harus didukung.”

Nyi Leksanalah yang menyahut, “Sekarang kalian berdua masih perlu didukung nduk. Tetapi nanti, setahun lagi, kalian sudah dapat berjalan sendiri. Dua tahun lagi, kalian akan dapat berlari. Sedangkan setelah tiga tahun, kalian akan dapat meloncati parit di pinggir jalan.”

Ki Mina dan Nyi Mina tertawa. Katanya, “Mudah-mudahan mereka cukup cerdas untuk dapat melakukannya.”

“Kenapa tidak? Bukankah tidak diperlukan kelebihan penalaran atau kelebihan apa pun termasuk ketahanan kewadagan? Semuanya dapat di pelajari. Namun syaratnya harus tekun dan bersungguh-sungguh. Bukankah kalian berjanji untuk mematuhi petunjuk-petunjuk kami?”

Wiyati dan Wandan mengangguk. Namun mereka mulai merasakan satu suasana yang penuh dengan kesungguhan, kerja keras, ketekunan dan kemauan yang tidak kunjung padam.

Namun Wiyati dan Wandan sudah bertekad untuk menebus kekeliruan langkah yang pernah diambilnya di Mataram. Karena itu, maka apa pun yang harus mereka lakukan untuk kebaikan masa depan mereka, akan mereka lakukan.

Ki Mina dan Nyi Mina pun kemudian telah menyerahkan Wiyati dan Wandan kepada Ki Leksana dan Nyi Leksana. Mereka pun dengan terbuka telah membicarakan segala sesuatunya termasuk syarat yang harus dilaksanakan oleh Wiyati dan Wandan.

“Tidak terlalu banyak, ngger“ berkata Ki Leksana, “kami hanya menuntut kesungguhan dan ketekunan. Bukankah angger berdua menyanggupi?”

Wiyati dan Wandan mengangguk.

“Yang lain-lain dapat kita bicarakan kemudian“ berkata Nyi Leksana.

Namun Ki Leksana dan Nyi Leksana pun telah mengatakan berterus-terang kepada Wiyati dan Wandan, bahwa mereka sudah mengetahui jalan kehidupan keduanya yang berliku.

“Tetapi hari-hari kalian masih panjang. Kami yakin bahwa kalian akan menemukan masa depan kalian. Karena itu, maka menjadi kewajiban kalian untuk memperjuangkan masa depan kalian berkata Ki Leksana.

Wiyati dan Wandan menundukkan wajah mereka. Tetapi mereka berjanji didalam hati, bahwa mereka akan melaksanakan kewajiban mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka- pun sadar, bahwa sebagian besar dari masa depan mereka ada ditangan mereka sendiri.

Demikianlah, maka sejak saat itu Wiyati dan Wandan telah menjadi bagian dari keluarga Ki Leksana. Mereka berdua pun segera diperkenalkan dengan kedua anak Ki Leksana. Kedua remaja itu nampak menjadi gembira, bahwa keluarga mereka akan menjadi semakin besar. Jika ayah dan ibu mereka pergi, maka mereka tidak menjadi kesepian di rumah.

Ketika kemudian minuman dan makanan dihidangkan, maka sambil meneguk minuman hangat, Ki Mina sempat menceriterakan tentang pemilihan Demang yang akan diselenggarakan esok pagi.

“Dimana?“ bertanya Ki Leksana.

“Kademangan Kalisasak“

“Kali Sasak? Bukankah kademangan itu tidak begitu jauh dari sini ?, “

“Setengah hari perjalanan kakang“

“Kenapa harus diselenggarakan pemilihan Demang?

Ki Mina pun kemudian berceritera tentang Demang yang telah meninggal dunia tanpa meninggalkan seorang anak.

“Jadi Ki Demang Mertaraga telah meninggal?“

“Kakang mengenalnya?”

“Ya. Aku mengenal Ki Demang Mertaraga dengan baik. Aku tahu bahwa ia adalah seorang Demang yang benar-benar telah bekerja keras bagi kademangannya. “

“Ya. Tetapi sayang sekali bahwa Ki Demang tidak mempunyai seorang anak pun.”

“Sayang sekali bahwa aku tidak mendengar saat Ki Demang meninggal dunia“ Ki Leksana mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Lalu siapa yang akan menggantikannya?”

“Itulah yang esok akan dipilih. Ada dua calon yang dianggap terbaik. Seorang kemanakan Ki Demang. Masih muda dan memiliki keberanian. Seorang lagi sepupu Ki Demang. Juga dianggap orang yang baik. Rakyat kademangan.itu akan menjadi bingung, yang manakah yang harus dipilih. Mungkin yang lebih muda akan lebih senang memilih kemanakan Ki Demang. Tetapi orang-orang yang lebih tua condong untuk memilih sepupu Ki Demang yang umurnya sudah hampir enam puluh.

“Sudah cukup matang“

“Ya. Ki Demang yang lama meninggal pada umur delapan puluh delapan. “

“Benar. Umur Ki Demang Mertaraga memang agak jauh dari umurku.”

“Jika demikian, tidak akan timbul masalah di Kademangan Kalisasak itu.”

“Tetapi masih ada calon ketiga, kakang“

“Calon ketiga?”

“Ya“ Ki Mina mengangguk. Ia pun kemudian menceriterakan tentang calon ketiga yang mempergunakan uangnya untuk mempengaruhi para pemilih.

Ki Leksana menarik nafas panjang. Katanya, “Pengaruh uang itu akan merusakkan jalannya pemilihan. Orang-orang yang terpengaruh oleh uang dan janji-janji itu akan beranjak dari kata hatinya. Mereka akan membelakangi nuraninya sendiri. Meskipun terjadi pertentangan di dalam dirinya, namun pengaruh uang, janji-janji dan harapan-harapan yang mungkin kosong saja, sebagian dari mereka akan mematikan kejujuran mereka sendiri. “

“Itulah yang akan terjadi di kademangan itu, kakang. Apakah tidak ada penengah yang akan menunggui pemilihan itu?”

“Ada kakang. Ki Panji Citrabawa dengan dua orang Lurah prajurit. “

“Mudah-mudahan mereka benar-benar prajurit yang baik dan menjadi penengah yang baik pula.”

“Apa kakang meragukannya?”

Ki Leksana tersenyum. Katanya, “Pertanyaanmu itu pun pertanda keraguanmu, adi“

Ki Mina menarik nafas panjang. Katanya, “Ya. Aku memang meragukan, apakah penengah itu benar-benar dapat berdiri di tengah. Entahlah, tetapi kepercayaanku terasa semakin menyusut, “

“Bukan salahmu adi. Jika para petugas itu bersikap jujur dan berdiri diatas janji dan sumpahnya sebagai petugas, maka tidak akan ada orang yang sempat meragukannya. Tidak ada orang yang kehilangan kepercayaan. Tetapi satukali dua kali kejujuran itu di sisihkan, maka kepercayaan itu pun akan mulai runtuh“

Ki Mina menarik nafas panjang.

Namun tiba-tiba saja Ki Leksana itu pun berkata, “Adi ingin melihat pemilihan itu?“

Ki Mina termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bergumam, “Sebenarnyalah kakang. Aku ingin menyaksikan pemilihan itu. Tetapi hanya menyaksikan saja apa yang terjadi, karena aku tidak bersangkut paut dengan kademangan itu.”

“Baiklah, adi. Malam nanti kita pergi ke kademangan Kalisasak. Kita akan melihat, apa yang terjadi. Ada beberapa orang yang aku kenal di Kalisasak kecuali Ki Demang. Aku juga kenal Ki Jagabaya dan barangkali kedua calon yang dianggap terbaik itu pun sudah mengenal aku yang sering mengunjungi- Ki Demang Mertaraga.”

Ki Mina itu pun dengan serta-merta menyahut, “aku setuju kakang. Malam nanti kita pergi ke Kalisasak“

Ketika hal itu disampaikan kepada Nyi Mina dan Nyi Leksana, maka Wiyati yang mendengamya pun berdesis di belakang bibinya.

”Nah, bukankah paman tertarik pada pemilihan itu?”

Nyi Mina tertawa.

Sementara Wiyati pun berdesis pula, “Untunglah bahwa rumah uwa Leksana sudah dekat, sehingga paman telah mengantarkan aku dan Wandan lebih dahulu ke rumah uwa Leksana.”

Ki Mina pun tertawa pula sambil berkata, “Aku pun tidak dapat menunggu terlalu lama di kademangan itu. Mungkin kita akan dicurigai. Karena itu, maka aku bawa kalian lebih dahulu kemari sehingga aku justru akan dapat dengan leluasa menonton pemilihan itu.“

Ki Leksana yang mengerti serba sedikit persoalannya ikut tertawa pula.

“Nah, biarlah nanti malam aku dan uwakmu Leksana saja yang pergi. Kau dan Wandan tinggal di rumah bersama bibi dan kedua orang kakakmu itu. Ya, meskipun mereka masih remaja tetapi menurut urutan abu keturunan, kau memanggil mereka kakang.“

Wiyati tersenyum. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya, paman.“

“Apakah kami tidak ikut nonton pertunjukan yang jarang sekali terjadi itu?“ bertanya Nyi Leksana.

. “Ya. Kenapa kami tidak ikut? Biarlah Wiyati dan Wandan di rumah. Tidak akan ada yang mengganggu. Bukankah padukuhan ini terhitung ramai sehingga tidak akan ada orang-orang jahat berkeliaran di padukuhan ini. Bukankah begitu mbokayu?“ sahut Nyi Mina.

Ki Mina menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berkata, “Terserah saja kepada kakang Leksana.“

“Baiklah. Tetapi kita hanya menonton saja. Sampai dimana paugeran dan tatanan itu benar-benar ditegakkan. Kita akan melihat Ki Panji Citrabawa. Apakah ia benar-benar seorang prajurit atau tidak lebih dari seorang tenaga upahan yang lebih menghargai upah dari kewajibannya. “

Demikian, setelah malam tiba, maka Ki Mina, Nyi Mina, Ki Leksana dan Nyi Leksana telah mempersiapkan diri. Kedua anak laki-laki Ki Leksana itu pun telah diberi berbagai macam pesan oleh ayah dan ibunya.

“Jaga adikmu baik-baik, “ pesan Nyi Leksana.

”Ya, Ibu. Kami akan menjaga mereka berdua”

Sebenarnyalah di wajah Wiyati dan Wandan membayangkan kecemasannya. Namun ketika mereka melihat kedua remaja anak Ki Leksana itu menyandarkan tombak pendek di dekat pembaringan mereka, Wiyati dan Wandan pun menjadi sedikit tenang.

“Mudah-mudahan tidak ada apa-apa, yu, “ desis anak Ki Leksana yang tua.

“Kenapa kau panggil mbokayu. Kaulah yang lebih tua.”

Anak itu tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

“Baiklah. Tidak ada salahnya kau panggil mbokayu kepada mereka berdua” desis Ki Leksana.

Malam itu, Wiyati dan Wandan yang baru saja berada di rumah itu, telah ditinggal oleh Ki Mina, Nyi Mina, Ki Leksana dan Nyi Leksana. Demikian mereka berempat pergi, maka anak-anak Ki Leksana itu pun segera mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam bilik yang sudah disiapkan bagi mereka.

“Padukuhan ini termasuk padukuhan yang aman, mbokayu“ berkata anak Ki Leksana yang tertua, “setiap malam anak-anak muda yang sudah menginjak usia dewasa serta semua laki-laki yang masih terhitung muda, mendapat kewajiban untuk meronda. “

“Bagaimana dengan uwa Leksana?“ bertanya Wiyati.

“Ayah sudah dianggap terlalu tua untuk meronda. Karena itu, ayah sudah dibebaskan dari kewajiban meronda Sedangkan kami berdua masih dianggap terlalu kecil. “

Wiyati mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun mengajak Wandan masuk ke dalam bilik yang disediakan bagi mereka.

Dalam pada itu, keempat orang yang akan pergi ke Kalisasak harus menempuh perjalanan yang cukup panjang. Tetapi mereka berempat dapat berjalan jauh lebih cepat meskipun di malam hari dibanding dengan perjalanan Ki Mina bersama Wiyati dan Wandan.

Mereka berharap bahwa sedikit lewat tengah malam, mereka sudah berada di Kalisasak. Justru menjelang hari pemilihan itu akan dapat terjadi berbagai macam persoalan di kademangan Kalisasak.

Sebenarnyalah, sedikit lewat tengah malam, mereka sudah berada di Kalisasak. Mereka pun langsung pergi ke banjar kademangan untuk melihat, apa yang sudah dilakukan oleh para bebahu padukuhan.

Dengan sembunyi-sembunyi mereka berempat dapat mendekati banjar kademangan itu. Mereka melihat Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu berada di banjar. Selain mereka masih ada beberapa orang yang berada di banjar, yang agaknya sedang mempersiapkan segala-sesuatunya untuk melaksanakan pemilihan Demang yang jarang terjadi itu.

Disamping Ki Jagabaya dan para bebahu mereka melihat tiga orang yang yang agaknya para prajurit yang akan bertugas menjadi penengah dalam pemilihan Demang esok pagi.

“Yang berkumis melintang itu tentu yang disebut Ki Panji Citrabawa“ desis Ki Mina, “kecuali jika Mataram tiba-tiba menugaskan orang lain.“

“Ya. Agaknya orang itu yang akan bertugas menunggui pemilihan Demang esok.”

Keempat orang jtu’berusaha semakin mendekat. Namun mereka terkejut ketika lamat-lamat mereka mendengar Ki Jagabaya menyebut nama petugas itu.

“Bukan Ki Panji Citrabawa“ desis Nyi Mina.

“Ya. Namanya lain. Mungkin mereka datang menyertai Ki Panji Citrabawa itu.“

Nyi Mina mengangguk-angguk.

Beberapa saat keempat orang itu bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul perdu. Tiba-tiba saja mereka melihat seorang yang bertubuh tinggi, besar, berpakaian rapi dan terbuat dari bahan yang mahal memasuki regol banjar diiringi oleh beberapa orang bersenjata.

“Apakah orang itu Ki Panji Citrabawa“ bisik Ki Leksana.

Ki Mina termangu-mangu sejenak. Namun Nyi Leksana  pun berbisik, “Orang itu tidak mengenakan pakaian keprajuritan seperti orang berkumis melintang itu.“

Tiba-tiba saja Ki Leksana berdesis, “orang itu orang Kalisasak. Aku pernah melihatnya. “

Sebenarnyalah, Ki Jagabaya yang berdiri di tangga memandangi orang itu sambil bertanya, “Apa keperluanmu datang kemari. Kita sedang mempersiapkan tempat ini sebaik-baiknya agar besok segala sesuatunya dapat berjalan rancak.”

“Aku akan bertemu dan berbicara dengan Ki Panji Citrabawa, “ jawab orang itu.

Dengan demikian, maka keempat orang yang bersembunyi di belakang pohon perdu itu tahu, bahwa orang itu bukan Ki Panji Citrabawa.

“Lalu siapa, “ desis Nyi Mina.

Tetapi teka-teki itu segera terjawab. Ki Jagabaya itu pun berkata, “Ki Sudagar. Ki Panji Citrabawa tidak jadi datang.”

“He? Kenapa?, “ nampaknya orang yang disebut Ki Sudagar itu terkejut.

Orang yang berpakaian keprajuritan itulah yang menjawab, “Ki Citrabawa tiba-tiba saja sakit. Ia muntah-muntah dan tidak dapat bangun dari pembaringan. Karena itu, maka akulah yang mendapat perintah untuk menggantikannya. Aku Rangga Wiratenaya. “

Wajah orang yang disebut Ki Sudagar itu menjadi merah. Dengan suara yang bergetar ia pun berkata, “Itu tidak mungkin. Tentu ada permainan buruk diantara para prajurit Mataram yang akan bertugas di kademangan ini. “

“Ada apa Ki Sudagar?“ bertanya Ki Jagabaya, “bukankah sama saja, siapa pun yang mendapat tugas di kademangan ini untuk menjadi saksi dan penengah jika terjadi sesuatu di dalam pemilihan itu.“

“Tidak. Tentu tidak sama. Kebijaksanaan seseorang dengan yang lain tentu berbeda.“

“Kami hanya menjalankan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh para pemimpin di Mataram“ sahut prajurit yang berkumis melintang itu.

“Tetapi melaksanakan kebijaksanaan itu pun akan berbeda yang seorang dengan seorang yang lain. “

“Tidak banyak yang harus kami lakukan disini, Ki Sudagar“ berkata Ki Rangga Wiratenaya, “kami hanya hadir sebagai saksi. Baru jika ada hal-hal yang tidak berjalan menurut ketentuan dan tatanan yang berlaku, aku harus meluruskannya. “

“Tidak. Pemilihan Demang besok tidak akan dapat berlangsung tanpa ditunggui oleh Ki Panji Citrabawa, “

“Tidak ada tatanan yang berkata seperti itu. “

“Ki Citrabawa adalah lambang-kejujuran yang dapat diandalkan. Karena itu, selain Ki Panji Citrabawa, aku tidak dapat mempercayai.“

“Ki Sudagar. Itu terserah kepadamu apakah kau mempercayaiku atau tidak. Tetapi aku adalah kepercayaan para pemimpin di Mataram untuk menyaksikan pemilihan Demang disini, serta mengambil tindakan yang diperlukan jika terjadi penyimpangan-penyimpangan di lapangan esok. “

“Tidak. Tanpa Ki Panji Citrabawa pemilihan Demang batal”

“Apa hakmu membatalkan pemilihan Demang esok pagi?”

“Aku adalah salah seorang calon. Aku menolak jika pemilihan itu tidak berlangsung sesuai dengan rencana.”

“Jangan tergantung kepada orang per orang. Yang penting pemilihan dapat berlangsung dengan selamat serta berhasil menentukan siapakah yang akan menjadi Demang. Ada tiga orang calon di kademangan ini. Besok ketiganya akan turun di lapangan untuk dihadapkan langsung kepada para pemilih. Tentu saja tidak sekedar berlandaskan ujud lahiriah seseorang. Tetapi jika latar belakang, penilaian atas kesetiaannya kepada kampung halamannya serta kecakapan memimpin. Selain itu, kesetiaannya dalam hubungan dengan Yang Maha Agung“ berkata Ki Jagabaya.

“Aku sudah mengerti tanpa kau kau gurui“ sahut Ki Sudagar, “yang penting, pemilihan Demang esok harus dibatalkan. Aku memerlukan waktu untuk membuat persiapan-persiapan yang lebih baik.“

“Bukankah waktunya sudah cukup lama?“

“Tidak. Apa pun alasannya, tetapi pemilihan esok harus di batalkan. “

“Tidak mungkin. Tidak mungkin, “

“Kenapa tidak mungkin. Segala sesuatunya tentu mungkin. Apalagi hanya membatalkan dan menunda pemilihan Demang di sebuah kademangan yang tidak berarti seperti kademangan Kalisasak ini.”

“Tidak. Atas nama kekuasaan di Mataram, aku perintahkan pemilihan dilaksanakan besok sesuai dengan rencana”

Wajah Ki Sudagar menjadi seakan-akan membara. Dipandanginya wajah Ki Rangga Wiratenaya. Namun nampaknya Ki Rangga itu juga sudah mengambil sikap yang tidak dapat dirubah. Apalagi Ki Jagabaya dan para bebahu yang lain juga berpendapat, bahwa pemilihan harus berjalan esok pagi.

Tetapi Ki Sudagar pun kokoh pada sikapnya. Katanya, “Ki Rangga Wiratenaya. Ki Rangga memang membawa kuasa dari Mataram. Tetapi cara menggunakan kekuasaan itu tentu tergantung kepada Ki Rangga sendiri. Bahkan Ki Rangga akan dapat mempergunakan kekuasaan itu untuk menunda pcmilinan Demang yang bakal berlangsung esok.”

“Tidak. Aku diperintahkan untuk menyaksikan pemilihan Demang esok. Menunggui dan menjadi penengah. Jadi aku tidak mempunyai wewenang untuk membatalkannya.”

“Tentu saja Ki Rangga dapat membuat alasan bahwa pemilihan tidak akan dapat berlangsung dengan baik jika diteruskan. Bukankan tidak terlalu sulit bagi Ki Rangga ?”

“Tetapi peristiwanya tidak seperti itu. Jadi haruskah aku berbohong kepada para pemimpin di Matarama.”

“Itu tergantung anggapan Ki Rangga Wiratenaya sendiri.”

“Tidak. Pemilihan Demang itu harus berlangsung esok pagi. Aku tidak akan menundanya.”

“Penundaan itu pun hanya akan menambah beban kami, para bebahu. Tentu juga menambah beaya, sementara uang simpanan dari kademangan ini sudah semakin menipis.”

“Bodoh kau Ki Jagabaya. Aku sanggup membeayai semuanya. Juga kerja keras Ki Jagabaya dan para bebahu akan dapat saja dihargai dengan uang. Bahkan uang perjalanan bagi Ki Rangga pun dapat dibebankan kepadaku pula”

“Cukup” Ki Rangga itu benar-benar menjadi marah, “kau telah menghina seorang petugas yang mendapat kuasa dari Mataram, Ki Sudagar. Kau akan dapat dihukum karena sikapmu itu.”

“Siapa yang akan menghukum aku? Kau? Kau hanya bertiga Ki Rangga. Betapa pun tinggi ilmumu, tetapi kau tidak akan dapat melawan orang-orangku. Bahkan seandainya Ki Jagabaya berani mengerahkan kekuatan yang ada di kademangan ini, tidak akan dapat melawan kekuatan yang sudah aku bangun di kademangan ini.”

“Mungkin, Ki Sudagar. Mungkin kau dan orang-orang upahanmu dapat membunuhku malam ini disini. Tetapi jangan kau kira bahwa persoalanmu sudah selesai. Kau tahu, bahwa Mataram akan dapat mengirimkan pasukan segelar sepapan untuk menangkapmu dan menyeretmu ke tiang gantungan.”

“Omong kosong. Jika kau mati disini, tidak akan ada orang yang berani bersaksi. Ki Jagabaya justru akan pergi ke Mataram dan menanyakan kenapa tidak seorang pun prajurit yang ditugaskan pergi kepadukuhan ini untuk bersaksi tentang pemilihan Demang yang akan berlangsung disini.”

Ki Rangga Wiratenaya menggertakkan giginya. Sementara Ki Jagabaya pun menyahut, “Kau menghina aku, Ki Sudagar. Meskipun di tataran terendah, tetapi aku juga seorang yang mendapat limpahan kekuasaan dari Mataram. Meskipun aku miskin, tetapi aku tidak akan makan uangmu yang panas itu.”

“Setan kau Jagabaya. Kau kira kaulah yang akan pergi ke Mataram untuk menyampaikan keluhan bahwa tidak ada seorang prajurit pun yang datang kemari ? Tidak. Aku akan mengangkat seorang Jagabaya yang lain.”

“Mimpimu adalah mimpi yang jahat. Kau kira kedua orang calon yang lain akan dapat menerima gagasan gilamu itu.”

Ki Sudagar itu pun tertawa. Katanya, “Aku akan mengatur segala-galanya. Tidak akan ada orang yang berani melanggar aturanku jika ia masih ingin menghirup udara di kademangan yang kita cintai ini. Karena itu, jika kau juga masih ingin hidup, Ki Jagabaya, jangan halangi aku. Aku akan membawa Ki Rangga Wiratenaya dan kedua orang prajurit yang menyertainya itu.”

“Tidak” geram Ki Jagabaya, “aku Jagabaya disini.”

“Kau tidak mempunyai kekuatan apa-apa.”

“Kentongan itu akan ditabuh. Sejenak lagi, maka kau tentu sudah terkepung. Kau tidak akan dapat lari, Ki Sudagar.”

Ki Sudagar itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau memang dungu, Ki Jagabaya. Bayangkan, bahwa orang-orangku malam ini sudah tersebar di mana-mana. Aku sudah menduga, bahwa Mataram akan mengkhianati aku. Ternyata  dugaanku benar. Mataram tidak mengirimkan Ki Panji Citrabawa kemari. Jika kau membunyikan kentongan itu, maka suara kentongan itu juga akan menjadi perintah bagi orang-orangku untuk bertindak di setiap padukuhan. Kareria itu, jika kau bunyikan kentongan, berarti kematian akan tersebar dini ana-mana.”

Ki Rangga Wiratenaya itu pun menggeram, “Setan kau Ki Sudagar. Tetapi jangan mengira bahwa kau akan dapat selamat. Lambat atau cepat, tetapi akhirnya Mataram pun akan mendengar nasibku yang sebenarnya. Nah, pada saat itulah akan datang pembalasan.”

Ki Sudagar menggeleng. Katanya, “Tidak Demikian kau mati, maka aku akan segera pergi ke-Mataram. Aku akan menyumbat segala aras berita yang akan berbicara tentang ke-matianmu. Kau dengar ?”

Ki Rangga Wiratennaya menggeletakkan giginya. Bahkan kedua orang prajurit yang menyertainya telah beringsut mendekat pula. Dengan suara yang bergetar Ki Rangga Wiratenaya itu pun berkata, “Aku bukan cecunguk yang dapat kau takut-takuti Ki Sudagar. Apa pun yang terjadi, aku akan mempertahankan hak dan kewajiban yang telah diberikan kepadaku. Kematian bukan hantu yang harus ditakuti sehingga aku dapat melepaskan hak dan kewajiban yang aku sandang.”

“Sudahlah Ki Rangga. Jangan mengorbankan nyawamu untuk hal yang sia-sia. Batalkan pemilihan Demang esok pagi-”

“Tidak ada gunanya. Sampai kapan pun pemilihan ini ditunda, kau tentu akan berusaha mencuranginya. Karena itu, pendirianku tidak akan berubah”

“Ki Sudagar” geram Ki Jagabaya, “aku peringatkan, jangan melawan kuasa Mataram.”

“Sudah aku katakan, akulah yang berkuasa disini. Bahkan esok kuasaku itu akan menyusup memasuki istana Mataram, sehingga kematian Ki Rangga di kademangan ini tidak akan pernah dipersoalkan orang.”

Sebelum Ki Jagabaya menjawab, maka Ki sudagar itu pun segera mengacungkan tangannya. Orang-orang yang datang menyertainya itu pun segera berpencar. Bahkan dengan isyarat dari kawan-kawannya, maka beberapa orang pun memasuki halaman banjar itu pula.

Ki Rangga dan kedua orang prajurit yang menyertainya itu pun bergeser pula. Demikian pula Ki Jagabaya dan para bebahu yang lain. Namun Ki Kebayan mudalah yang bersikap lain. Katanya, “Sudahlah Ki Jagabaya. Jangan terlalu berpegang kepada tatanan. Sebaiknya Ki Jagabaya minta para bebahu yang lain untuk mematuhi perintah Ki Sudagar.”

“Ki Kebayan muda“ Ki Kebayan tua pun melangkah maju, “apa yang kau lakukan itu, he? Apakah kau juga akan berkhianat?”

“Aku tidak berkhianat Ki Kebayan tua. Aku hanya ingin kademangan kita itu selalu tenang dan damai. Tidak ada permusuhan. Tidak ada kekerasan. Jika terjadi kekerasan, apalagi sampai jatuh korban, maka tentu akan timbul dendam. Nah, dendam ini sangat berbahaya bagi satu kademangan Karena dendam ini tidak mempunyai batasan waktu yang pasti.”

“Apa yang sudah berkecamuk di otakmu, Ki Kebayan muda“ sahut Ki Kebayan tua, “apakah kau juga sudah terbeli oleh Ki Sudagar ?”

“Jangan memakai istilah yang buruk itu kakang” sahut Ki Kebayan muda, “kakang sudah tua. Jangan memancing kekerasan.”

“Tetapi aku tidak dapat melihat pengkhianatan itu kau lakukan.”

“Sekali lagi aku peringatkan, jangan memakai kata-kata yang dapat membuat telinga ini menjadi merah: Aku masih muda, kakang. Jika aku tidak dapat menahan gejolak kemudaanku.”

Namun tiba-tiba saja terdengar seseorang berteriak sehingga orang-orang pun berpaling kepadanya. Seorang anak muda menyibak orang-orang yang berada di halaman ini. katanya, “Jangan takut ayah. Jika paman kebayan muda akan mempergunakan kekerasan, biarlah aku lawannya.”

Ketika orang itu melangkah mendekat, maka Ki Kebayan muda pun bergeser surut, “Tidak. Tidak begitu maksudku, Ji. Aku tidak menantang kau.”

“Tetapi paman menantang ayah yang sudah tua. Biarlah yang muda melawan yang muda.”

“Cukup Maji, “ teriak Ki Sudagar, “kau tidak usah mencoba-coba menjadi pahlawan, “

“Apakah kau harus membiarkan ayahku yang tua itu diperlakukan buruk oleh paman Kebayan muda.”

“Salah ayahmu sendiri“ bentak Ki Sudagar, “lihat orang-orang disekitarmu. Sekali tebas, kepalamu akan terpenggal”

“Aku tidak bermusuhan dengan mereka. Tetapi aku akan menghadapi paman Kebayan muda.”

“Cukup. Sekarang tangkap Ki Rangga Wiratenaya dan kedua orang prajurit itu. Jika ada seorang atau lebih bebahu yang mencoba membantunya, tangkap pula. Ikat mereka di halaman banjar ini. Perintahkan para penghubung menghubungi kawan-kawan kita yang berada di padukuhan-padukuhan agar mereka siap menghadapi segala kemungkinan. Katakan, bahwa pemilihan Demang esok akan dibatalkan. Siapa yang menentang perintahku itu akan mengalami nasib buruk.”

Sekelompok orang bersenjata pun segera menebar di halaman. Beberapa orang di antara mereka justru meninggalkan banjar pergi ke padukuhan-padukuhan.

Sementara itu Ki Sudagar pun berteriak, “Jika ada yang membunyikan kentongan akan berarti bencana yang akan melumpuhkan kademangan ini.”

Meskipun Ki Sudagar sudah memberikan ancaman, namun masih ada dua orang yang telah menjaga kentongan yang besar yang tergantung di sudut serambi banjar.

“Ki Rangga Wiratenaya“ berkata Ki Sudagar, “jangan mencoba melawan. Aku tahu Ki Rangga tentu seorang prajurit yang tangguh. Tetapi orang-orangku adalah orang-orang yang tidak terkalahkan. Dimana pun dan oleh siapapun.”

 -oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 11

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Disusun detil banget. Teliti spt terjadi sesungguhnya.
    Salut kagem yg bersusah payah mengetik jadi e-book

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s