TT-09


kembali | lanjut

TT-09TETAPI Nyi Mina sudah bersiap sepenuhnya. Karena itu, maka ketika orang itu menyerangnya, maka dengan cepat pula Nyi Mina bergerak menghindarinya. Namun dengan cepat pula Nyi Mina melenting, justru membalas menyerang.

Keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Ternyata penunggang kuda itu harus menghadapi kenyataan. Perempuan tua itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun penunggang kuda itu pun berkata, “Seberapa pun tinggi ilmumu, perempuan tua. Tubuhmu tentu sudah tidak mendukung lagi. Daripada kau harus memaksa diri untuk bertempur melawanku, sebaiknya kau menyerah saja. Kemudian serahkan kedua orang kemanakanmu itu kepadaku”

“Enaknya” sahut Nyi Mina, “Kenapa tidak kau saja yang. menyerah? Nah, kelakuanmu telah menimbulkan gagasan yang baik bagiku. Kita bertaruh”

Orang berkuda itu meloncat surut. Dengan kening yang berkerut ia pun bertanya, “Bertaruh apa?”

“Aku tahu, bahwa kau membawa uang banyak sekali didalam kampil kulitmu itu”

“Apa hubungannya dengan keinginanku membawa kedua orang perempuan itu? Apakah aku harus membelinya? Bukankah sejak semula sudah aku katakan, berapa kami harus membayar”

“Bukan begitu. Aku mempunyai cara bertaruh yang lain”

“Katakan”

“Jika kau menang dan dapat membunuhku, maka bawa kedua orang kemanakanku itu. Tetapi jika aku yang menang, maka akulah yang akan membunuhmu. Maka uang itu akan menjadi milikku”

“Setan betina. Aku koyakkan mulutmu”

Orang itu pun segera meloncat menyerang. Tetapi Nyi Mina sudah siap menghadapinya. Karena itu, maka serangannya sama sekali tidak menyentuhnya.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya berloncatan dengan cepatnya, sambar-menyambar seperti dua ekor ayam yang sedang berlaga. Mereka saling menyerang dan menghindar.

Ternyata orang berkuda itu harus menghadapi kenyataan. Perempuan tua itu tidak terlalu mudah untuk ditundukkan. Ternyata serangan-serangannyalah yang lebih sering mengenai tubuh orang berkuda itu daripada sebaliknya.

Dalam pada itu, penunggang kuda yang seorang lagi, yang bertempur melawan Ki Mina pun sudah menjadi semakin tidak berdaya. Beberapa kali ia terpelanting dan terbanting jatuh. Beberapa kali ia terlempar membentur batu padas di pinggir jalan.

Semula orang itu berharap, bahwa dengan mengancam ketiga orang perempuan yang menyertai laki-laki tua itu, perlawanan laki-laki tua itu akan berhenti. Tetapi ternyata bahwa kawannya yang berkelahi melawan perempuan tua itu pun tidak segera dapat menyelesaikan. Bahkan orang berkuda yang bertempur melawan Nyi Mina itu pun telah mengalami kesulitan pula. Beberapa kali ia terlempar jatuh. Seperti kawannya, maka tubuhnya pun telah membentur batang-batang pepohonan atau batu padas di pinggir jalan.

Sehingga ketika sekali lagi tubuhnya terlempar dan membentur sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan itu, maka orang itu pun berusaha dengan susah payah untuk bangkit berdiri.

“Perempuan iblis” geram orang itu, “Kau kira kau akan dapat memenangkan pertempuran itu?“ bertanya orang itu.

“Entahlah. Tetapi keadaanmu sudah menjadi sangat parah sahut Nyi Mina, “Apakah kau masih akan melawan? Jika kau masih mencoba melawan, maka aku peringatkan, aku akan dapat dengan mudah membunuhmu”

“Persetan” geram orang itu, “Akulah yang akan membunuhmu”

Ternyata orang berkuda itu tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya. Dalam keadaan yang sudah tidak berdaya lagi, orang itu masih juga berusaha menyerang Nyi Mina.

Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara Ki Mina, “Ki Sanak. Lihat. Kawanmu sudah tidak berdaya. Bahkan ia telah menjadi pingsan. Apakah kau tidak mau melihat kenyataan ini? Jika kami ingin membunuh sebagaimana kalian berdua, maka kesempatan itu sudah ada padaku”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Ia melihat kawannya terbaring diam di pinggir jalan.

“Rawatlah kawanmu itu. Kami tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani permainanmu yang buruk itu”

Orang yang bertempur melawan Nyi Mina itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kenyataan yang menjadi semakin jelas itu tidak dapat diingkarinya lagi. Melawan perempuan tua itu saja ia mengalami kesulitan. Bahkan tenaganya telah terkuras sampai habis. Apalagi jika kedua orang suami isteri itu bergabung. Maka ia tentu akan dapat menjadi ndeg pangamun-amun.

Untuk beberapa saat, orang itu pun berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak dapat memungkirinya, bahwa kakinya sudah menjadi goyah. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan bahkan rasa-rasanya tulang-tulangnya menjadi retak.

“Nah, apa katamu?“ bertanya Nyi Mina.

Sebenarnya bahwa ia ingin mengakui kekalahannya agar kedua orang suami isteri tua itu tidak membunuhnya. Tetapi harga dirinya masih mengekangnya.

Namun Ki Mina itu pun melangkah mendekatinya sambil berkata, “Sekarang terserah kepadamu. Apakah kau masih akan melawan atau tidak. Menurut penglihatanku, kau, sudah tidak akan berdaya sama sekali. Dengan mudahnya aku atau isteriku membuatmu pingsan seperti kawanmu itu. Kemudian menusukkan pisau belati di antara tulang tulang igamu menggapai jantung. Nah, kau dan kawanmu itu tentu akan mati”

Orang itu terdiam. Tetapi jantungnya berdegup semakin keras.

“Kalau kalian berdua mati, maka aku akan dapat mengambil apa saja yang kau bawa. Mungkin uang, mungkin barang-barang berharga yang lain. Jimat, batu-batu akik atau bahkan emas dan permata.”

Wajah orang berkuda itu menjadi semakin tegang. Ia memang membawa uang banyak. Ia juga membawa perhiasan emas intan dan berlian. Ia juga membawa batu-batu mulia yang mahal harganya. Bahkan di dua jari-jarinya ia mengenakan cincin dengan mata batu akik mata kucing yang sangat mahal

Orang itu masih juga berdiri seperti patung.

Tiba-tiba saja Ki Mina itu pun membentak, “Jawab pertanyaanku. Apakah kau menyerah atau tidak?”

Orang itu terkejut. Tiba-tiba saja ia pun berkata dengan gagap, “Ya, ya. Aku menyerah”

“Jika demikian, maka kau tidak akan dapat mencegah apa pun yang akan aku lakukan” berkata Nyi Mina.

Orang itu termangu-mangu. “Bukankah kita sudah bertaruh?” Orang yang sudah menjadi pucat itu menjadi semakin pucat. Bahkan kakinya menjadi gemetar.

Namun Nyi Mina pun berkata, “Tetapi jangan menjadi ketakutan. Aku tidak akan membunuhmu dan membawa kampil uangmu. Yang akan kami lakukan hanyalah meneruskan perjalanan. Jangan mencoba mengganggu kami lagi. Jangan mencoba memanggil kawan-kawanmu menyusul kami untuk membalas dendam. Jika hal itu kau lakukan, maka kami akan benar-benar membunuh. Kaulah orang yang paling pantas untuk dibunuh”

Orang itu tidak menjawab. Sementara Ki Mina dan Nyi Mina itu pun membenahi pakaiannya.

“Kami akan pergi” berkata Ki Mina, “ingat-ingat kata isteriku itu tadi. Jangan melakukan perbuatan yang dapat memancing kemarahan kami. Marah dalam arti yang sebenarnya. Sekarang kami sudah menjadi marah karena tingkah laku kalian. Tetapi kami masih dapat meredam kemarahan kami ini sehingga kami tetap dapat mengekang diri untuk tidak membunuhmu. Tetapi jika kau ulangi kesalah-anmu ini, maka kami akan benar-benar menjadi marah sekali sehingga kami tidak akan dapat mengekang diri kami lagi. Kami akan benar-benar membunuh. Dan kau adalah sasaran utama dari pembunuhan itu”

Orang itu masih berdiam diri.

Namun Ki Mina itu pun berkata pula, “Kami benar-benar akan pergi, Ki Sanak. Tetapi sebelumnya kami ingin mendengar kalian berjanji seperti anak-anak muda itu harus berjanji. Bukankah kau memaksa mereka untuk mengatakan bahwa mereka sudah menjadi jera? Nah, sekarang katakan itu kepadaku atau kami tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu”

Orang itu masih saja berdiam diri.

“Cepat, katakan“ tiba-tiba saja Ki Mina itu pun membentak.

Orang itu terkejut. Hampir diluar sadarnya ia pun berkata, “Ya, ya Ki Sanak. Aku tidak akan melakukannya lagi”

“Kau berjanji tidak hanya atas namamu sendiri. Tetapi juga atas nama kawanmu yang pingsan itu”

“Ya, Ki Sanak”

“Nah, sekarang kami benar-benar akan pergi. Kau dan kawanmu harus benar-benar mentaati janji yang sudah kau ucapkan, atau kalian akan mati”

Ki Mina dan Nyi Mina itu pun kemudian meninggalkan kedua orang berkuda itu. Seorang masih saja pingsan. Yang lain mencoba untuk menyadarkannya. Namun penunggang kuda yang tidak pingsan itu sempat menjadi heran, bahwa laki-laki dan perempuan tua itu meninggalkannya begitu saja.

Mereka tidak membunuh dan apalagi mengambil kampilnya yang berisi uang dan perhiasan emas dan permata sebagaimana ia pertaruhkan kedua orang kemanakannya.

“Siapakah sebenarnya mereka berdua?“ pertanyaan itu terdengar semakin keras di lubuk hatinya. Bahkan pertanyaan yang lain telah muncul pula, “Apakah benar kedua orang perempuan yang telah menjual diri di Mataram itu kemanakannya yang telah bertaubat?”

Orang itu menarik nafas panjang. Sementara seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri.

Dalam pada itu, maka Ki Mina dan Nyi Mina telah meneruskan perjalanan mereka bersama Wiyati dan Wandan. Meskipun kedua orang perempuan ini sudah terbebas dari tangan laki-laki yang telah kehilangan tatanan hidup beberayan mereka, namun jantung mereka masih saja terasa berdegup lebih cepat.

“Sudahlah“ berkat Nyi Mina ketika dilihatnya keduanya masih gemetar, “Mereka tidak akan mengganggu lagi. Mereka tidak akan menyusul kita, karena mereka tidak tahu, kemana kita akan pergi. Di sepanjang jalan yang kita lalui akan terdapat banyak sekali kelokan dan jalan simpang. Bahkan jalan-jalan pintas yang sempit. Mereka tidak akan dapat mencari jejak kaki kita, karena di jalan yang kita lalui terdapat ribuan jejak kaki yang searah. Jika kita berkuda, mungkin jejak kaki kuda kita yang masih baru akan dapat dilacak. Tetapi tidak telapak kaki kita”

Wiyati dan Wandan mengangguk. Namun debar di jantung mereka tidak dapat begitu saja mereda.

Demikianlah, maka mereka berempat melanjutkan perjalanan mereka.

Tetapi Wiyati dan Wandan masih saja menjadi cemas, bahwa masih ada gangguan yang akan mereka hadapi di sepanjang jalan. Mereka pun kemudian menyadari, bahwa kehadiran mereka berdua di satu tempat, akan dapat menarik perhatian banyak orang. Meskipun mereka sudah mencoba untuk berpakaian serta merias wajah mereka sesederhana mungkin, tetapi karena kebiasaan mereka merias diri, terutama Wandan, masih saja nampak bahwa rias di wajahnya berbeda dengan gadis-gadis padesan kebanyakan.

Karena itu, ketika mereka melewati sebuah sungai kecil. Wandan itu pun berbisik kepada Wiyati, “Kita singgah di sungai itu sebentar, Wiyati”

“Ada apa?”

“Aku akan mencuci muka. Mungkin tanpa aku sengaja, aku masih merias wajahnya. Bukan maksudku. Tetapi hanya karena kebiasaanku saja”

“Mungkin aku juga harus mencuci wajahku”

“Kau sajalah yang mengatakan kepada paman dan bibi”

Sebenarnyalah Wiyati pun kemudian berkata kepada Nyi Mina, “Bibi. Apakah kami boleh singgah barang sebentar di sungai kecil itu?”

“Untuk apa?“ bertanya Nyi Mina.

“Kami ingin mencuci wajah kami. Mungkin diluar kemauan kami sendiri, kami telah merias wajah kami”-

“Mungkin karena kebiasaanku saja bibi, sehingga aku merasa perlu untuk menghapuskan”

Nyi Mina tersenyum. Katanya, “Jadi kalian merasa bahwa kalian masih saja menarik perhatian orang lain?” Wiyati dan Wandan tidak menjawab.

“Baiklah” berkata Nyi Mina, “Kita singgah sebentar di sungai itu. Kalian dapat mencuci muka kalian, sehingga jika ada sentuhan rias yang melebihi kebiasaan gadis-gadis padesan akan dapat kalian hilangkan”

Mereka pun kemudian berhenti di sebelah jembatan kayu. Wandan dan Wiyati pun segera menuruni jalan satapak di tebing sungai itu. Tebing yang tidak terlalu tinggi.

“Jangan berlama-lama nduk“ pesan Nyi Mina.

“Tidak bibi, hanya sebentar”

Ki Mina dan Nyi Mina pun kemudian duduk di rerumputan kering diatas tanggul. Sementara Wandan dan Wiyati turun ke tepian.

Namun mereka berdua terkejut ketika mereka melihat di sungai itu ada beberapa orang gadis yang sedang mandi. Nampaknya di bawah jembatan itu terdapat lekuk yang airnya agak dalam. Tempat yang menyenangkan untuk mandi.

“Apakah sudah waktunya untuk mandi” desis Wandan sambil memandang ke langit. Nampaknya matahari masih tinggi. Tetapi waktunya untuk menici sudah agak jauh lewat, sehingga apabila gadis-gadis itu mandi setelah mencuci pakaian, hari sudah terlalu siang.

Wiyati pun berhenti. Ia menggamit Wandan sambil berdesis, “Marilah. Kita mencari tempat lain untuk mencuci muka. Disini banyak orang”

“Bukankah mereka juga perempuan seperti kita?“ sahut Wandan.

“Tetapi kita belum mengenal mereka”

Wandan mengangguk kecil. Keduanya pun kemudian telah bersiap untuk memanjat tebing itu lagi.

Tetapi tiba-tiba saja terdengar seseorang memanggil, “Marilah mbokayu. Apakah kalian juga ingin mandi?”

Wiyati dan Wandan pun berpaling. Seorang perempuan diantara mereka yang sedang mandi itu berdiri di tepian dengan kain panjangnya yang basah Kuyup. .

Yang menjawab adalah Wiyati, “Terima kasih, nini. Nanti saja kami akan turun kembali”

“Kenapa mbokayu? Marilah, kita bersama-sama mandi. Nanti menjelang senja kita sudah harus siap di rumah pengantin perempuan”

Agaknya gadis-gadis yang sedang mandi itu akan ikut mengiring pengantin, sehingga mereka mandi sebelum waktunya.

Namun Wiyati pun menjawab, “Terima kasih. Nanti saja aku kembali”

“Kenapa mbokayu tidak mau mandi bersama kami?”

“Kami masih belum akan mandi. Karena itu, kami belum membawa ganti pakaian”

Nampaknya anak-anak gadis itu mengira, bahwa Wandan dan Wiyati juga termasuk keluarga pengantin perempuan yang akan menikah malam nanti.

Tetapi agaknya mereka tidak memperhatikan keduanya lagi ketika Wandan dan Wiyati itu naik kembali.

Namun langkah Wiyati dan Wandan itu terhenti. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara riuh.

Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa orang anak muda yang muncul dari balik gerumbul di belakang jembatan itu. Mereka berlari-larian mendekati gadis-gadis yang sedang mandi itu, sehingga gadis-gadis ftu pun menjerit-jerit ketakutan.

Wiyati dan Wandan sempat melihat, betapa anak-anak muda itu sengaja mengganggu gadis-gadis yang sedang mandi, yang hanya mengenakan selembar kain panjang yang sudah menjadi basah kuyup.

“Apa yang akan mereka lakukan?” desis Wandan.

“Mereka tentu anak-anak nakal seperti anak-anak yang mengganggu kita di jalan itu”

“Jumlah mereka cukup banyak, “

Namun sebelum Wiyati menjawab, mereka melihat beberapa orang anak muda yang berlari-lari dari arah yang berbeda.

Mereka tidak sempat berbicara apa-apa. Tiba-tiba saja kedua kelompok anak muda itu telah terlibat dalam perkelahian.

Wiyati dan Wandan justru bagaikan membeku. Mereka terkejut ketika mereka merasa digamit seseorang.

Ketika mereka berpaling, mereka melihat nyi Mina berdiri dibelakang mereka, sedangkan Ki Mina berdiri dibibir tanggul

“Aku mendengar suara ribut di bawah jembatan” berkata Nyi Mina.

“Itulah yang terjadi bibi” jawab Wiyati.

Nyi Mina pun kemudian memperhatikan apa yang terjadi di bawah jembatan. Demikian pula Ki Mina yang berdiri di atas tanggul, bergeser beberapa langkah agar dapat melihat apa yang terjadi di bawah jembatan.

Dua kelompok anak-anak muda berkelahi dengan sengitnya. Mereka saling memukul dan menendang. Bahkan ada yang memungut batu dan dipergunakannya sebagai senjata. Sehingga seseorang yang terkena pukulan batu di keningnya, telah mengucurkan darah.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak menjadi seakan-akan mabuk karena kemarahan yang membakar jantung mereka. Yang kemudian memungut batu pun menjadi semakin banyak, sehingga semakin banyak pula yang terluka dan berdarah.

Tetapi mereka yang berdarah di kepalanya, di keningnya atau di dahinya itu tidak mau menyingkir dari arena perkelahian. Mereka masih saja berkelahi dengan garangnya.

Gadis-gadis yang sedang mandi itu pun berlari-larian sambil membawa pakaian mereka yang semula kering. Tetapi karena pakaian yang mereka kenakan itu basah, maka pakaian yang semula kering itu pun menjadi basah pula.

“Nampaknya sekelompok anak-anak muda telah mengganggu gadis-gadis yang sedang mandi, bibi” berkata Wiyati, “agaknya ada yang sempat melihat dan memberitahukan kepada kawan-kawannya, sehingga sekelompok anak muda yang lain. yang agaknya kawan-kawan atau anak-anak muda sepadukuhan, telah berdatangan untuk melindungi gadis-gadis yang sedang mandi itu”

“Siapa pula gadis-gadis yang pada saat seperti ini mandi beramai-ramai di sungai”

“Mereka akan mengiringi pengantin perempuan yang akan menikah nanti”

“Darimana kau tahu?”

“Merekalah yang mengatakannya. Mereka mengajak kami berdua mandi bersama mereka. Agaknya mereka mengira bahwa kami juga termasuk keluarga pengantin itu yang mungkin datang dari jauh”

Nyi Mina tidak bertanya lagi. Tetapi ia pun berkata, “Marilah. Kita tidak usah melibatkan diri”

“Agaknya anak-anak muda yang datang mengganggu itu mulai terdesak bibi. Mereka sudah menjadi semakin jauh“

“Sukurlah. Yang nakal tentu akan terusir. Apalagi masih ada satu dua anak muda yang datang berlari-larian untuk membantu kawan-kawan mereka”

“Ya, bibi”

“Nanti sajalah kalian mencuci muka. Jika kita tidak melintasi sungai lagi, kalian dapat mencuci muka kalian dengan air parit yang cukup jernih, yang mengalir di pinggir jalan bulak itu”

“Ya, bibi”

Tetapi ketika mereka sedang mulai bergerak naik, maka mereka pun terhenti lagi. Mereka terkejut ketika mereka mendengar seseorang tertawa berkepanjangan.

Wiyati dan Wandan tiba-tiba saja merasakan dada mereka menjadi sakit. Getaran yang kuat terasa menusuk-nusuk sampai ke jantung, sehingga keduanya terduduk di tebing yang tidak terlalu tinggi itu.

“Gila orang ini. Apa maunya sebenarnya dengan melontarkan Aji Gelap Ngampar. Aji yang berbahaya ini bukannya untuk sekedar main-main” desis Nyi Mina.

Sementara itu, terdengar Ki Mina berkata, “Bawa anak-anak itu naik”

Ketika suara tertawa itu mereda, bahkan terhenti, maka Nyi Mina pun telah membimbing Wiyati dan Wandan naik ke atas tanggul sungai itu.

“Biarlah aku melihat, siapakah yang bermain-main dengan Aji Gelap Ngampar ini”

Ki Mina pun kemudian menuruni tebing dan berdiri di tepian. Ia sempat melihat sekelompok anak muda yang berdiri tertatih-tatih di tepian. Sementara itu, sekelompok anak muda yang lain berdiri agak jauh dari mereka. Dihadapan anak-anak muda yang berdiri agak jauh itu, seorang yang sudah separo baya berdiri sambil menyilangkan tangan didadanya.

“Orang itu tentu berilmu tinggi” berkata Ki Mina di-dalam hatinya, “ia sudah mampu mengarahkan getar Aji Gelap Ngamparnya Sehingga anak-anak muda yang berada di belakangnya hanya terpengaruh sedikit saja dari lontaran Aji Gelap Ngampar itu”

Dalam pada itu, Ki Mina pun kemudian mendengar orang yang tangannya bersilang di dadanya itu berkata, “Nah, kalian sudah merasakan sedikit sentuhan Aji Gelap Ngampar. Karena itu, kalian harus segera minta maaf kepada anak-anak muda yang telah kalian ganggu itu”

Anak-anak muda yang telah melindungi gadis-gadis padukuhannya itu berdiri termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka pun berkata, “Kiai. Bukan kami yang bersalah. Tetapi mereka telah mengganggu gadis-gadis padukuhan kami yang sedang mandi, karena senja nanti mereka harus sudah siap untuk mengiring pengantin yang akan menikah”

“Bukan mereka. Tetapi kalianlah yang bersalah. Seharusnya kalian tidak mencegah anak-anak muda itu mengganggu gadis-gadis itu. Jika mereka mengganggu gadis-gadis itu bukan karena mereka anak-anak muda yang nakal. Tetapi mereka hanya berniat menghambat agar gadis-gadis itu tidak sempat mengiringkan penganten senja nanti”

“Kenapa?”

“Nah, karena gadis-gadis itu sudah sempat pulang dan tentu akan sempat berpakaian dan merias diri, maka kalianlah yang harus menyelesaikan tugas anak-anak muda itu”

“Apa maksud Kiai?”

“Pulanglah. Tetapi kalian harus berjanji untuk membatalkan pernikahan itu”

“Membatalkan pernikahan itu?”

“Ya”

“Kenapa?”

“Pengantin perempuan itu seharusnya akan menikah dengan laki-laki lain. Bukan laki-laki yang akan menikahinya nanti malam”

“Tetapi orang tua kedua belah pihak sudah sepakat. Tidak ada masalah didalam keluarga mereka berdua”

“Kau tidak usah membantah. Lakukan saja perintahku. Batalkan pernikahan itu. Kalian mempunyai banyak cara untuk melakukannya. Kalian dapat mendatangi ayah pengantin perempuan dan mengancamnya agar mengurungkan pernikahan anaknya. Atau kau datangi keluarga pengantin laki-laki. Atau bahkan kau culik pengantin laki-laki itu dan kalian bawa laki-laki itu pergi kemanapun”

Tetapi seorang yang lain menjawab, “Calon pengantin laki-laki itu adalah adik sepupuku. Pernikahan itu harus berlangsung. Kedua belah pihak telah sepakat. Tamu pun akan berdatangan malam.nanti”

“O. Jadi kau adalah kakak sepupunya” sahut orang yang berdiri sambil menyilangkan tangannya di dadanya, “kebetulan sekali. Kaulah yang harus bertanggung jawab bahwa pernikahan itu akan batal”

“Tidak. Pernikahan itu tidak boleh batal”

“Baiklah. Aku akan melihat apakah pernikahan itu akan berlaangsung atau tidak. Jika pernikahan itu akan tetap berlangsung, maka kalian akan tahu akibatnya. Banyak korban akan berjatuhan. Banyak orang yang akan mati hanya karena seorang laki-laki yang ingin memperisteri seorang perempuan. Padahal, akhirnya pernikahan itu pun akan tetap batal pula. Jika aku sendiri yang datang untuk membatalkan pernikahan itu, maka korbannya akan terlalu banyak”

“Apa pun yang akan terjadi, pernikahan itu akan tetap berlangsung”

“Baik. Baik. Jika kalian tidak mau bekerja sama, maka kalian tentu akan menyesal”

Sebelum seseorang menjawab, maka orang itu pun tertawa berkepanjangan. Semakin lama semakin keras.

Anak-anak muda yang telah melindungi gadis-gadis yang sedang mandi itu pun menjadi gelisah. Kemudian, dada mereka mulai merasa sakit dan nyeri. Nafas mereka menjadi sesak. Mereka mencoba untuk menutup telinga mereka dengan telapak tangan. Namun Aji Gelap Ngampar yang dilontarkan lewat suara tertawa itu tetap saja menusuk sampai ke jantung. Getarannya tidak saja masuk lewat telinga. Tetapi rasa-rasanya getaran Aji Gelap Ngampar itu menembus ke dalam dada lewat segala lubang yang ada didalam tubuh seseorang.

Anak-anak muda itu pun kemudian telah terkapar di tepian. Bahkan ada yang terperosok ke dalam air. Mereka berguling-guling sambil menutup telinga mereka. Tetapi Aji Gelap Ngampar itu tetap saja menusuk sampai ke tulang.

Ki Mina pun kemudian terbaring diam di tebing. Tetapi untunglah bahwa ia sama sekali tidak menarik perhatian orang yang sedang melepaskan Aji Gelap Ngampar itu.

Di tepi jalan, di sekat jembatan. Nyi Mina duduk bersama Wiyati dan Wandan. Suara tertawa itu tidak begitu terdengar dari tempat mereka. Namun sentuhan Aji Gelap Ngampar itu masih saja terasa di dada Wiyati dan Wandan, meskipun sudah terlalu lemah.

“Bertahanlah anak-anak” desis Nyi Mina, “pengaruh kekuatan Aji itu tidak berbahaya bagi kalian disini”

Keduanya mengangguk. Keduanya pun mencoba untuk menahan rasa nyeri di dada mereka.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang berada di tepian rasa-rasanya tidak dapat lagi menahan rasa nyeri yang menusuk-nusuk di dada mereka. Bahkan ada diantara mereka yang berteriak-teriak kesakitan. Ada yang menghentak-hentakkan kepalanya di pasir. Dan bahkan ada yang mencoba membenamkan kepala mereka ke dalam air.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, suara tertawa itu pun telah mereda. Semakin lama semakin perlahan, sehingga akhirnya diam sama sekali.

Anak-anak di tepian itu pun tidak lagi merasa dihimpit oleh rasa sakit di dada mereka. Perlahan-lahan mereka mencoba untuk bangkit. Satu dua diantara mereka pun mencoba berdiri meskipun tidak tegak lagi.

Orang yang mampu melontarkan Aji Gelap Ngampar itu tertawa. Tetapi suara tertawanya terdengar wajar-wajar saja, karena ia tidak sedang melontarkan Aji Gelap Ngampar.

“Nah, apakah kalian tetap tidak mau bekerja sama dengan aku malam nanti?”

Tidak ada yang menjawab.

“Baik. Dengar kata-kataku. Malam nanti aku akan datang kepadukuhan. Aku akan melihat, apakah pernikahan itu akan berlangsung atau tidak. Jika pernikahan itu tetap berlangsung, maka aku akan membuat orang sepadukuhan itu kehilangan nalar budinya. Aku akan menyerang padukuhan itu, setidak-tidaknya rumah calon pengantin perempuan yang akan dipergunakan untuk pernikahan itu, dan menghancurkan segala-galanya. Orang-orang yang ada di lingkungan itu akan mengalami kesakitan yang amat sangat. Bahkan ada diantara mereka yang akan mati. Tetapi jika pernikahan itu dibatalkan, aku tidak akan berbuat apa-apa”

Kakak sepupu calon pengantin laki-laki itu pun bertanya, “Kenapa kau berniat untuk menggagalkan pernikahan itu? Bukankah kau tidak mempunyai sangkut paut dengan kedua calon pengantin serta orang tua mereka”

Orang itu menggeram. Katanya, “Bertanyalah kepada nyi Padni. Ibu penganten laki-laki itu. Seharusnya aku adalah ayah dari pengantin laki-laki itu”

Orang-orang yang mendengar kata-kata itu menjadi berdebar-debar. Saudara sepupu pengantin laki-laki itu pun berkata, “Apa maksudmu?”

“Akulah yang seharusnya menjadi suami Padni itu. Bukan iblis laknat itu. Bukan Tantiya”

“Kenapa?”

“Itulah yang menyakitkan hati. Padni berubah sikap pada saat terakhir. Ia mengibaskan aku sehingga aku terpelanting jatuh dan hampir saja tidak dapat bangkit kembali”

“Kau mendendamnya?”

“Ya. Aku mendendamnya”

“Jika demikian, kenapa baru sekarang kau datang untuk mengurungkan pernikahan ini?”

“Padni juga melakukannya beberapa saat menjelang pernikahan itu berlangsung. Ia melarikan diri dengan seorang laki-laki, Tantiya”

“Tantiya itu adalah pamanku, “

“Bagus. Katakan kepadanya, bahwa aku sekarang datang untuk membalas dendam. Aku tidak dapat membalas sakit hatiku kepada Padni, karena aku tidak sampai hati melakukannya. Meskipun aku dapat membunuh Tantiya kapan saja aku mau, tetapi aku tidak melakukannya. Tetapi sekarang, pada saat anak Tantiya itu akan menikah, maka aku tidak dapat menahan diri lagi. Dendamku rasa-rasanya akan meledakkan jantungku Karena itu, daripada jantungku meledak, lebih baik aku tumpahkan saja dengan mengurungkan pernikahan anak Tantiya yang juga anak Padni”

“Tetapi Sindu tidak tahu menahu kesalahan ayah dan ibunya itu”

“Sindu akan menjadi korban. Untuk melepaskan dendamku, aku memang membutuhkan pihak yang harus menjadi korban. Karena itu, maka Sindu dan bakal isterinya itu akan menjadi korban pembalasan dendamku”

“Kenapa orang yang tidak bersalah harus menjadi korban?”

“Aku menjadi korban hubungan Padni dan Tantiya meskipun aku tidak bersalah. Aku penuhi segala syarat serta kesepakatan. Bukan hanya aku. Tetapi orang tuaku. Ketika tamu berdatangan ibuku menjadi pingsan karena calon pengantin perempuan lari bersama laki-laki. Ayahku masih mampu menenangkan hati ibu. Tetapi sehari setelah peristiwa itu terjadi, ayahku jatuh sakit dan tidak pernah dapat disembuhkan lagi. Ayahku meninggal dalam duka dan malu”

Orang yang mendengarkan pengakuan itu tercenung sejenak. Sementara orang itu melanjutkannya, “Aku menjadi hampir berputus asa. Ibuku memang tidak meninggal. Tetapi ibuku benar-benar telah kehilangan gairah hidupnya. Aku adalah satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga kami, “ orang itu berhenti sejenak, lalu katanya selanjutnya, “sampaikan kepada Padni dan Tantiya, bahwa aku telah datang kembali. Bertahun-tahun aku pergi. Untunglah bahwa aku tidak membunuh diri. Tetapi aku terlempar ke dalam sebuah perguruan yang mewariskan berbagai macam ilmu kepadaku. Salah satunya adalah Aji Gelap Ngampar”

“Ki Sanak” berkata saudara sepupu pengantin laki-laki, “silahkan membuat perhitungan dengan paman dan bibi. Tetapi jangan batalkan pernikahan adik sepupu itu. Kau pernah merasakan kehilangan pada waktu itu. Kau pernah merasakan sakit dan pedihnya. Karena itu, jangan kau biarkan adik sepupuku itu mengalaminya”

“Sekali lagi aku katakan, bahwa calon pengantin laki-laki dan perempuan itu adalah korban yang tidak bersalah sebagaimana ayah dan ibuku waktu itu. Yang aku inginkan adalah perasaan sakit dan malu yang akan dialami oleh Padni dan Tantiya sebagaimana pernah disandang oleh ayah dan ibuku”

“Kau dapat mencari jalan lain, Ki Sanak”

“Jalan inilah yang agaknya aku senangi. Jika calon pengantin itu merasakan sebagaimana pernah aku rasakan, itu bukan tujuanku yang utama”

”Kenapa kau tidak dapat dan berbicara dengan paman dan bibi akan niat Ki Sanak itu”

“Kau kira aku sudah kehilangan nalar? Tidak. Aku tidak akan berbicara langsung. Pokoknya pernikahan itu harus dibatalkan. Jika pada saat yang lain akan diulang lagi, aku akan mengganggunya lagi. Bahkan jika keduanya diungsikan kemana pun juga, aku akan tetap memburunya. Aku harap ayah dan ibunya akan merasa sangat terganggu”

Wajah saudara sepupu calon pengantin laki-laki itu menjadi sangat tegang. Tetapi ia merasa bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Orang yang datang menuntut pembatalan pernikahan itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

Karena saudara sepupu calon pengantin itu tidak segera menjawab, maka orang itu pun berkata, “Aku sekarang memiliki sebuah perguruan sendiri. Bahkan tidak terlalu jauh dari tempat ini sehingga aku akan selalu dapat mengikuti perkembangan anak Padni dan Tantiya itu. Katakan kepada Padni dan Tantiya. Jika aku gagal mengurungkan pernikahan nanti malam, aku akan mempergunakan cara yang lebih kasar. Aku mempunyai kekuatan untuk melakukannya, meskipun seandainya seluruh padukuhanmu mencoba melindungi pelaksanaan pernikahan itu. Aku tentu tidak akan datang sendiri. Aku akan membawa murid-muridku. Tidak hanya sekelompok kecil cantrik-cantrik pemula ini. Tetapi jika perlu aku akan membawa beberapa orang yang sudah memiliki pengetahuan yang lebih jauh”

Sepupu pengantin itu benar-benar merasa tersinggung. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu orang yang berilmu tinggi itu pun berkata, “Kalian jangan salahkan cantrik-cantrikku pemula ini. Mereka bukan anak-anak nakal yang suka mengganggu gadis-gadis. Jika ia melakukannya hari ini, akulah yang bertanggung jawab”

Masih belum ada jawaban, sehingga akhirnya orang itu pun berkata, “Nah, sudah waktunya aku pergi. Ingat pesanku, Pernikahan malam nanti harus batal. Atau aku harus membatalkannya dengan kekerasan sehingga mungkin akan jatuh korban”

Orang itu pun kemudian segera memberi isyarat kepada para cantriknya agar mereka meninggalkan tepian itu.

Demikian mereka pergi, maka orang berilmu tinggi itu pun berkata, “Sekarang pulanglah. Ingat pesanku. Pernikahan itu harus batal. Aku minta maaf kepada calon pengantin berdua, bahwa aku harus mengorbankan mereka untuk memaksakan kepedihan dan malu kepada Tantiya dan Padni”

Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian, maka orang itu pun segera pergi meninggalkan tepian.

Ki Mina termangu-mangu sejenak. Ia melihat anak-anak muda yang masih berada di tepian itu berbincang yang satu dengan yang lain. Agaknya mereka sibuk membicarakan ancaman orang yang baru saja meninggalkan tepian itu.

“Bagaimana mungkin pernikahan itu dibatalkan” berkata saudara sepupu pengantin laki-laki.

“Tetapi orang itu berilmu tinggi. Ia benar-benar dapat membunuh jika pernikahan itu diteruskan. Mungkin sasaran salah seorang dari kedua calon pengantin itu”

“Atau salah seorang dari kedua orang tua pengantin laki-laki”

“Tidak. Yang ingin disakiti hatinya adalah kedua orang tua pengantin. Orang itu sudah mengatakan, bahwa kedua calon pengantin itu memang tidak bersalah. Tetapi mereka hanya sekedar dikorbankan. Dijadikan tumbal saja”

“Sebaiknya kita sampaikan saja kepada pamar. Tantiya dan bibi. Mungkin paman dan bibi mempunyai cara untuk memecahkannya”

Anak-anak muda itu pun kemudian beranjak meningggalkan tempat itu. menyusuri tepian. Agaknya mereka tinggal di padukuhan yang berada di pinggir sungai itu, tidak seberapa jauh dari bendungan itu.

Demikian mereka pergi, Ki Mina pun segera memanjat tebing yang rendah untuk menemui Nyi Mina serta Wiyati dan Wandan.

“Ada apa kakang?”

“Kalian tunggu aku disini. Aku akan pergi sebentar”

“Menunggu disini?”

“Ya. Aku akan mengikuti anak-anak muda itu. Kemana mereka pergi. Aku hanya ingin melihat padukuhan tempat mereka tinggal. Aku tidak akan lama”

Nyi Mina tidak sempat menjawab. Sejenak kemudian Ki Mina pun telah turun kembali ke tepian. Sementara itu anak-anak muda yang berjalan menyusuri tepian itu sudah menjadi agak jauh. Namun masih dapat diikuti oleh Ki Mina.

Ketika mereka sampai di sebuah padukuhan di pinggir sungai itu, maka anak-anak muda itu pun segera naik ke tebing yang menjadi semakin landai. Namun sungai itu rasa-rasanya memang menjadi semakin lebar. Demikian pula tepiannya yang berpasir dan berbatu-batu.

Beberapa saat kemudian, Ki Mina pun telah sampai ke padukuhan itu pula. Ternyata di padukuhan itu ada jalan yang melintas menyeberangi sungai menuju ke padukuhan di seperang bulak yang tidak begitu luas.

Ki Mina pun kemudian mengikuti jalan yang menyeberangi sungai itu masuk ke dalam padukuhan.

Ternyata padukuhan itu adalah padukuhan yang cukup ramai. Rumah-rumahnya pun nampak terawat. Halaman-halaman yang luas nampak bersih. Demikian pula jalan utama di padukuhan itu.

Ki Mina menyusuri jalan utama padukuhan itu. Ia tidak tahu, kemana anak-anak muda itu pergi. Ia hanya mencoba untuk melihat jejak dijalan itu. Tetapi agaknya jalan itu telah dilalui oleh banyak orang hilir mudik. Bahkan terdapat pula jejak roda pedati yang melintas.

Namun akhirnya Ki Mina pun sampai di sebuah rumah yang nampak ramai. Beberapa orang masih membenahi tarub yang sudah terpasang. Sedang tuwuhannya pun nampak masih segar. Jika malam nanti dilangsungkan pernikahan, maka setelah kedua pengantin dipertemukan, maka sepasang tuwuhan disebelah menyebelah regol halaman yang terdiri dari masing-masing sejanjang kelapa gading, satu tandan pisang raja, sebatang tebu, seikat padi, dan berbagai macam jenis tanaman yang lain, akan diperebutkan oleh anak-anak menjelang remaja. Ketika Ki Mina berjalan di depan rumah itu, maka ia pun memperlambat langkahnya. Dari pintu halaman yang terbuka Ki Mina melihat kesibukan di halaman itu. Tarub pun telah terpasang, tikar pandan yang putih pun telah terbentang.

“Rumah ini tentu rumah calon pengantin perempuan. Di rumah ini nanti malam pernikahan itu dilaksanakan” berkata Ki Mina didalam hatinya.

Ki Mina melihat kesibukan di rumah itu. Masih ada yang harus dibenahi sampai saat terakhir menjelang pernikahan itu berlangsung meskipun rencananya sudah disusun sejak beberapa bulan sebelumnya.

“Akan ada upacara besar-besaran” berkata Ki Mina didalam hatinya, “Jika pernikahan ini gagal, maka semuanya ini akan sia-sia. Tetapi jika pernikahan ini dipaksakan, maka akan terjadi pertumpahan darah”

Namun Ki Mina tidak melihat beberapa orang anak muda yang dilihatnya di tepian.

“Agaknya mereka berada di rumah pengantin laki-laki” berkata Ki Mina didalam hatinya.

Tetapi ia masih harus mencari, di mana rumah calon pengantin laki-laki. Tetapi Ki Mina mendapat kesempatan ketika ia melihat beberapa orang remaja yang berhenti di depan tuwuhan yang sudah terpasang. Agaknya mereka sedang memperhaikan, apa saja yang akan dapat diperebutkannya nanti malam setelah sepasang pengantin itu dipertemukan.

“Tole” bertanya Ki Mina, “Siapakah yang akan menjadi pengantin malam nanti?”

Anak-anak itu memandang Ki Mina sejenak. Seorang diantara mereka pun kemudian menjawab, “Yu Nuri, kek. Kakek mengenal Yu Nuri?”

Ki Mina menggeleng. Tetapi ia bertanya pula, “Siapakah calon suaminya?”

“Kang Sindu“

“Apakah Sindu itu anaknya Ki Tantiya?”

“Ya. Kakek kenal paman Tantiya?”

“Belum tole. Tetapi aku pernah mendengar namanya”

“Bukankah kakek bukan orang padukuhan ini?”

“Bukan. Aku hanya lewat. Tetapi dimana rumah Sindu itu?”

“Tidak jauh, kek. Sebelum mereka akan menikah, kang Sindu selalu lewat jalan ini. Pergi ke sawah kang Sindu lewat jalan ini. Pula dari sawah juga lewat jalan ini. Padahal ada jalan lain yang lebih dekat. Memandikan lembunya, kang Sindu juga melewati jalan ini. Padahal ada jalan yang letih landai untuk turun ke sungai”

Ki Mina tersenyum. Katanya, “Kalian kelak juga akan berbuat seperti kang Sindu itu jika kalian mulai berhubungan dengan gadis-gadis”

Anak-anak itu tertawa.

“Tetapi dimana rumah kang Sindu itu?”

“Jalan ini, kek. Jalan terus. Nanti ada simpang tiga, kakek berbelok ke kiri. Kemudian ada simpang empat, kakek memilih jalan ke kanan. Beberapa puluh langkah lagi, kakek akan sampai di rumah kang Sindu. Apakah kakek keluarga kang Sindu?”

“Bukan le“ Ki Mina mengelus kepala anak yang berdiri didepannya. Katanya, “Terima kasih le. Aku akan meneruskan perjalanan”

“Kemana kek?”

Ki Mina tersenyum lagi. Katanya, “Aku sedang dalam perjalanan yang jauh sekali”

Anak-anak itu mengangguk-angguk. Tetapi demikian Ki Mina pergi, maka perhatian anak-anak itu kembali tertuju pada tuwuhan yang berada di sebelah-menyebelah uger-uger pintu regol halaman.

Seperti yang dikatakan oleh anak-anak itu, maka Ki Mina telah menelusuri Jalan yang melewati rumah calon pengantin laki-laki itu.

Rumah Supar memang tidak terlalu jauh. Ketika mereka sampai di rumah Supar, maka dilihatnya beberapa orang anak muda berada di halaman. Meskipun tidak seramai rumah calon pengantin perempuan, namun rumah Supar pun tampak sibuk pula.

“Inilah rumah calon pengantin laki-laki itu” berkata Ki Mina di dalam hatinya, “jika benar akan terjadi sesuatu, tentu terjadi di rumah ini. Tidak dirumah calon pengantin perempuan”

Ki Mina termangu-mangu sejenak di depan regol. Namun ia pun kemudian melangkah pergi.

Menurut penglihatan Ki Mina, bahwa di rumah calon pengantin laki-laki itu masih nampak sibuk, agaknya calon pengantin laki-laki tidak tinggal di rumah pengantin puteri sejak sepekan sebelumnya. Tetapi calon pengantin laki-laki baru akan pergi ke rumah calon pengantin perempuan menjelang saat-saat berlangsungnya pernikahan.

Dari rumah calon pengantin laki-laki Ki Mina langsung kembali ke jembatan, dimana Nyi Mina, Wiyati dan Wandan menunggu.

Ketika Ki Mina naik tebing yang tidak begitu dalam di sebelah jembatan. Nyi Mina pun telah bersungut-sungut. Katanya, “Lama sekali kakang. Apakah kakang singgah di rumah calon pengantin dan langsung pergi ke dapur?”

Ki Mina tertawa. Namun kemudian ia pun duduk di sebelah Nyi Mina sambil berkata, “Nyi. Ada sesuatu yang sangat menarik perhatian”

“Calon pengantin perempuan?”

Ki Mina tertawa pula. Tetapi kemudian suaranya pun merendah, “Ada dendam yang tersimpan dalam diri seorang laki-laki yang berilmu tinggi terhadap ayah dan ibu pengantin laki-laki”

“Dendam apa?”

Ki Mina pun kemudian berceritera dengan singkat, apa yang telah didengarnya dan apa pula yang telah dilihatnya di padukuhan sebelah

Demikian Ki Mina selesai berceritera, maka Nyi Mina pun bertanya, “Lalu, apa yang akan kakang lakukan?”

“Di padukuhan itu akan dapat terjadi pertumpahan darah”

Nyi Mina menarik nafas panjang.

“Tetapi orang-orang padukuhan akan banyak yang menjadi korban. Apalagi orang yang berilmu tinggi, yang memiliki Aji Gelap Ngampar itu adalah seorang guru dari sebuah perguruan. Karena itu, maka ia akan dapat mengerahkan murid-muridnya, meskipun agaknya perguruan itu belum lama berdiri, sehingga murid-muridnya pun masih baru mulai”

“Ya. Tetapi orang yang memiliki Aji Gelap Ngampar itu sendiri adalah orang yang berilmu tinggi”

“Ya”

“Nah. sekarang apa yang akan kakang lakukan?”

“Rasa-rasanya aku tidak akan dapat meninggalkan padukuhan itu nanti malam. Aku ingin mengetahui apa yang akan terjadi di padukuhan itu”

“Tetapi kita berjalan bersama Wiyati dan Wandan. Jika kita berjalan berdua saja, mungkin kita akan dapai melihat peristiwa yang akan terjadi malam nanti dari jarak yang lebih dekat”

Ki Mina mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita berjalan bersama Wiyati dan Wandan”

“Karena itu, maka kita harus segera sampai di tujuan kakang”

Dengan nada ragu Ki Mina pun berkata, “Biarlah aku pergi ke rumah calon pengantin laki-laki itu sendiri nanti malam. Kau bersama Wiyati dan Wandan mencari penginapan”

“Aku takut, paman“ desis Wiyati.

“Kau bersama bibimu. Tidak akan terjadi apa-apa”

“Kakang” berkata Nyi Mina kemudian, “Aku setuju. Aku, Wiyati dan Wandan akan mencari penginapan di padukuhan itu. Kita akan melewati jalan itu menjelang senja. Kemudian kita minta kerelaan penunggu banjar untuk bermalam di banjar itu”

Ki Mina tersenyum. Katanya, “Satu gagasan yang menarik. Aku sependapat. Bukan hanya kau. Wiyati dan Wandan yarg akan minta untuk menginap di banjar padukuhan itu. Aku juga akan ikut”

Nyi Mina pun tertawa. Namun ia pun kemudian berkata, “Tetapi jika penunggu banjar itu berkeberatan?”

“Mudah-mudahan tidak. Mereka tentu akan merasa kasihan melihat dua orang tua yang berjalan menjelang malam turun”

“Mereka siapa?”

“Penunggu banjar dan keluarganya”

Tetapi Wiyati kemudian berkata, “Kalau terjadi sesuatu dengan paman?”

“Tidak, Wiyati. Aku akan sangat berhati-hati”

Meskipun dengan jantung yang berdebaran Wiyati dan Wandan terpaksa mengikut paman dan bibinya pergi ke padukuhan di pinggir sungai itu..Tetapi mereka harus menunggu sampai matahari turun dan menyelinap di balik bukit.

Keempat orang itu pun kemudian turun ke sungai. Wiyati dan Wandan mencuci wajahnya dan membiarkan rambutnya sedikit kusut.

Keempat orang itu pun kemudian menyusuri tepian beberapa saat sehingga acahaya yang tersisa menjadi buram.

Ketika malam mulai turun, maka keempat orang itu pun memasuki padukuhan di tepi sungai itu. Mereka berjalan dijalan sempit menuju ke banjar. Mereka sengaja menghindari jalan yang melewati rumah calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan.

“Kakang mengetahui jalan-jalan dipadukuhan ini?” bertanya Nyi Mina.

“Bukankah aku tadi sudah berada di padukuhan ini. Meskipun aku belum menelusuri semua jalan, tetapi aku dapat memperkirakan arahnya”

Nyi Mina tidak menyahut.

Tetapi untuk sampai ke banjar padukuhan, Ki Mina masih harus bertanya satu kali kepada dua orang anak remaja yang berlari-larian. Agaknya mereka akan melihat upacara pernikahan seorang anak muda yang bernama Sindu itu.

“Kau lihat, anak-anak itu akan melihat upacara pernikahan. Mereka tentu akan ikut memperebutkan tuwuhan setelah kedua orang pengantin itu dipertemukan”

“Ya”

“Nah, jika orang yang mendendam itu melepaskan Aji Gelap Ngamparnya dengan membabi buta, apakah anak-anak sebesar itu akan mampu bertahan”

Nyi Mina mengangguk-angguk kecil.

Ketika mereka sampai di banjar padukuhan, maka penunggu banjar itu pun sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah calon pengantin laki-laki.

Tetapi ia masih bersedia menerima Ki Mina, Nyi Mina dan Wiyati serta Wandan.

“Kami kemalaman di perjalanan, Ki Sanak. Jika Ki Sanak mengijinkan, kami mohon untuk dapat bermalam di banjar ini. Kami dapat tidur dimana saja”

Penunggu banjar itu memang merasa kasihan kepada dua orang suami isteri yang sudah tua yang mengajak kedua perempuan yang diaku sebagai anaknya itu kemalaman di jalan.

“Baiklah. Silahkan tidur diserambi samping”

“Terima kasih, Ki Sanak. Terima kasih”

Penunggu banjar itu pun kemudian menunjukkan kepada Ki Mina sebuah amben yang agak besar yang terdapat di serambi samping. Serambi itu memang terbuka sebelah. Tetapi tempat itu sudah cukup memadai bagi mereka berempat.

“Tetapi aku tidak dapat menemui Ki Sanak sekarang” berkata penunggu banjar itu, “Kami berdua diminta untuk ikut mengiringi pengantin laki-laki menuju ke rumah pengantin perempuan”

“Silahkan, Ki Sanak. Silahkan. Tetapi apakah Ki Sanak tidak terlambat? Malam sudah turun”

“Menurut perhitungan, saatnya baru tiba setelah wayah sepi bocah. Karena itu, maka upacara pernikahan ini memang akan berlangsung agak malam”

Ki Mina mengangguk-angguk.

“Nah, silahkan beristirahat. Di belakang banjar ini ada pakiwan. Ki Sanak dapat mandi di pakiwan itu. Agaknya lewat tengah malam aku baru pulang. Segala sesuatunya dalam upacara ini telah diperhitungkan menurut saatnya”

Sejenak kemudian, maka penunggu banjar itu suami isteri telah meninggalkan rumah kecilnya di belakang banjar itu.

Seperti yang dikatakan oleh penunggu banjar itu, dibelakang banjar, disisi sebelah kiri rumah kecil itu terdapat sumur yang tidak terlalu dalam dan disebelahnya terdapat pakiwan.

Sepeninggal penunggu banjar itu, Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan duduk di amben yang agak besar itu. Amben yang cukup luas untuk tidur mereka berempat.

“Apakah saat pernikahan yang agak malam itu ada hubungannya dengan ancaman orang yang mendendam itu.?“ desis Nyi Mina

“Jika karena itu, kenapa justru pernikahan itu dilakukan lebih malam. Bukan malahan dipercepat?”

Nyi Mina mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mungkin memang berdasar pada perhitungan hari dan saat terbaik”

Dalam pada itu, Ki Mina pun kemudian berkata, “Sekarang, pergilah ke pakiwan bergantian. Aku akan segera pergi ke rumah calon pengantin laki-laki itu. Mungkin gangguan itu akan terjadi di rumah calon pengantin laki-laki itu”

Nyi Mina pun kemudian mengantar Wiyati dan Wandan ke pakiwan. Baru kemudian, setelah semuanya mandi bergantian, maka Ki Mina pun meninggalkan banjar itu.

“Jangan takut” berkata Nyi Mina, “Tidak akan ada apa-apa terjadi disini, Persoalannya adalah persoalan seseorang dengan kedua orang tua calon pengantin laki-laki”

“Tetapi bagaimana dengan paman itu bibi. Jika paman melibatkan diri, ia akan menghadapi orang yang berilmu sangat tinggi itu. Orang yang dapat menyerang orang lain hanya dengan suara tertawanya saja”

“Pamanmu akan dapat menjaga dirinya, ngger. Ia akan sangat berhati-hati. Persoalan ini bukan persoalan pamanmu sendiri. Jika ia melibatkan diri,maka ia harus yakin terhadap apa yang dilakukannya itu”

Wiyati menarik nafas panjang. Namun di wajahnya membayang kecemasannya. Demikian pula Wandan yang tidak terlalu banyak berbicara.

Dalam pada itu, Ki Mina pun telah meninggalkan banjar padukuhan itu. Tetapi ia tidak keluar lewat regol halaman. Tetapi Ki Mina telah meloncat dinding halaman banjar di bagian belakang.

Beberapa saat Ki Mina termangu-mangu. Namun dengan memperhitungkan arah, ia pun kemudian melangkah pergi.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Mina pun telah berada di jalan yang sudah dikenalnya siang tadi. Ia pun mengikuti jalan itu, menuju ke rumah calon pengantin laki-laki.

Pendapa rumah Ki Tantiya itu nampak terang. Beberapa orang tamu duduk di pendapa. Mereka akan mengiringkan calon penganten laki-laki itu pergi ke rumah pengantin perempuan.

Di halaman, anak-anak riuh bermain. Mereka adalah sanak kadang calon pengantin laki-laki. Mereka akan ikut bersama iring-iringan calon pengantin itu sampai ke rumah calon pengantin perempuan.

Namun di halaman itu, Ki Mina pun melihat beberapa orang anak muda berjaga-jaga. Agaknya mereka telah dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi karena ancaman orang yang mereka temui di tepian.

Dengan hati-hati Ki Mina mengamati halaman rumah itu. Ki Mina telah memanjat sebatang pohon nangka di halaman di samping rumah Ki Tantiya.

Di tangga pendapa Ki Mina melihat dua orang yang sudah separo baya berdiri termangu-mangu. Dilambungnya terggantung pedang yang panjang. Agaknya kedua orang itu telah diminta oleh Ki Tantiya untuk melindungi keluarganya.

Sebenarnyalah yang tidak dapat dilihat oleh Ki Mina adalah Tantiya dan isterinya, Padni yang berada di ruang dalam. Mereka menjadi sangat gelisah. Anak-anak yang berkelahi di tepian sudah memberitahukan kepadanya, bahwa mereka telah bertemu dengan seseorang yang mengaku pernah menjadi calon suami Nyi Padni.

“Jadi iblis itu masih saja berkeliaran disini” geram Tantiya ketika ia mendengar laporan anak-anak muda itu.

Tetapi Tantiya menjadi sangat cemas ketika anak-anak muda itu memberitahukan kepadanya, bahwa orang itu mampu menyakiti dada mereka dan bahkan pernafasan mereka menjadi bagaikan tersumbat hanya dengan suara tertawanya saja.

Karena itulah, maka Ki Tantiya telah menghubungi dua orang yang dianggapnya akan mampu melawan orang yang ditemui anak-anak muda di tepian itu.

Kedua orang itu masih mempunyai hubungan keluarga dekat dengan Tantiya. Seorang adalah saudara sepupunya sedangkan yang seorang lagi adalah pamannya. Mereka adalah orang-orang yang sangat disegani dalam lingkunganya, karena keduanya mempunyai ilmu yang tinggi.

Tetapi Padni masih saja merasa ketakutan. Di ruang dalam ia masih saja menangis.

“Jika aku yang dianggap bersalah, kenapa Sindu yang harus menerima akibat kesalahanku ini, kakang”

“Tidak Padni. Kau tidak bersalah. Kita tidak bersalah. Kita saling mencintai, sehingga kita berhak untuk menjadi sepasang suami isteri”

“Tetapi kita sudah menyakiti hati kakang Wandawa. Sakit hatinya ternyata masih membekas sampai sekarang. Bahkan dendamnya kini mulai menyala lagi”

“Orang itu memang tidak tahu diri. Seharusnya ia merasa bahwa ia sudah ditolak oleh seorang perempuan. Jika ia masih saja memburunya dan bahkan kemudian mendendamnya itu adalah karena ia tidak tahu malu”

“Tetapi kenapa sekarang anak kita yang harus mengalami kesulitan di saat pernikahannya”

“Jangan cemas Padni. Kakang dan paman sudah menyatakan kesediaannya untuk melindungi kita. Kita akan menghancurkan Wandawa sehingga ia tidak akan mungkin mengganggu kita lagi. Jika ia datang membawa anak-anak muda yang diakuinya sebagai muridnya, maka anak-anak muda kawan-kawan Sindu sudah siap untuk melawan mereka”

“Apakah mereka mampu melawan murid-murid sebuah perguruan?”

“Apakah kau percaya bahwa anak-anak muda itu murid sebuah perguruan yang dipimpin oleh Wandawa? Di tepian. kawan-kawan Sindu itu mampu mengusir mereka”

“Tetapi jumlah anak-anak kita lebih banyak. Jika Wandawa itu datang bersama anak-anak muda yang lebih banyak lagi??”

“Ki Jagabaya membenarkan kita membunyikan kentongan dengan irama titir. Ketika aku melaporkan apa yang terjadi di tepian. Ki Jagabaya sudah menyatakan kesanggupannya untuk membantu mengamankan keadaan”

“Apakah Ki Jagabaya tahu. bahwa orang itu berilmu sangat tinggi?”

“Aku sudah memberitahukannya. Aku pun sudah memberitahukan pula. bahwa kakak sepupuku dan pamanku akan membantu kita menghadapi iblis yang tidak tahu malu itu”

“Kakang yakin?”

“Ya. Aku yakin. Karena itu. maka segala sesuatunya akan berjalan sebagaimana direnca-nakan. Kita akan berangkat dari rumah ini sesuai dengan perhitungan hari dan saat, nanti di wayah sepi bocah. Pengantin akan dipertemukan pada saat yang diperhitungkan, wayah sepi uwong”

“Apakah tidak terlalu malam kakang”

“Menurut perhitungan orang-orang tua, Padni. Kita harus menurut saja. Mereka mempunyai pengalaman yang luas untuk membuat perhitungan bagi upacara apa saja. Mereka pun sudah mampu menilai, apakah perhitungan mereka itu tepat atau tidak”

Padni mengangguk kecil. Namun kecemasan masih tetap membayang diwajahnya.

Dalam pada itu, beberapa orang tamu yang diminta untuk mengiringkan calon pengantin ke rumah calon pengantin perempuan sudah berada di pringgitan. Karena itu. maka sejenak kemudian ki Tantiya pun telah duduk di pringgitan pula menemui tamu-tamunya.

Pembicaraan di pringgitan itu menjadi ramai. Mereka berbincang tentang apa saja. Tentang pengantin, tentang upacara-upacara yang lain, tentang sawah dan pategalan, tentang air yang menjadi agak sulit setelah bendungan Pocung itu bedah, sementara perbaikan akan memakan waktu beberapa hari.

Ki Mina memperhatikan pertemuan itu dengan seksama. Namun kemudian Ki Mina pun mencoba memperhatikan keadaan di sekitar rumah itu. Nampaknya tidak ada sesuatu yang akan dapat mengganggu keberangkatan calon pengantin laki-laki itu.

Namun dengan demikian, Ki Mina menjadi semakin cemas. Agaknya orang itu akan mengganggu upacara pernikahan itu di rumah pengantin perempuan, pada saat upacara itu akan dilangsungkan.

Jika hal itu terjadi, maka keadaan akan menjadi semakin kacau. Tamu-tamu di rumah calon pengantin perempuan itu tentu jauh lebih banyak. Sedangkan Aji Gelap Ngampar itu tidak akan dapat memilih sasaran seorang demi seorang. Mungkin orang yang memiliki Aji Gelap Ngampar itu akan mengalami keadaan yang sama. Karena itu, mereka yang daya tahannya terlalu rendah, tidak akan dapat menyelamakan dirinya dari serangan Aji Gelap Ngampar itu.

Tetapi Ki Mina masih berpengharapan, bahwa dua orang yang berdiri di tangga pendapa itu benar-benar orang berilmu tinggi yang akan dapat meredam Aji Gelap Nampar itu seperti dugaannya.

Sebenarnyalah sampai wayah sepi bocah tidak ada gangguan sama sekali di rumah calon pengantin laki-laki itu. Pada saatnya, maka calon pengantin laki-laki itu segera disiapkan. Sebuah iring-iringan kecil pun telah siap pula untuk mengiring calon pengantin itu. Sementara ayah dan ibu calon pengantin laki-laki itu ikut serta pula didalam iring-iringan itu. Namun mereka kemaudian akan berada di luar regol halaman sampai upacara mempertemukan kedua pengantin itu selesai. Bara kemudian, orang tua pengantin perempuan keluar dari regol halaman menjemput kedua orang tua pengantin laki-laki itu dan mempersilahkannya duduk di pringgitan.

Ketika iring-iringan itu kemudian mulai bergerak, maka anak-anak muda yang ada di halaman rumah itu pun segera menebar. Sebagian mendahului iring-iringan, sebagian berada di belakangnya dan sebagian yang lain justru memencar.

Sedangkan anak-anak pun banyak pula yang ikut dalam iring-iringan itu. Meskipun waktunya sudah sampai pada wayah sepi bocah, namun anak-anak itu masih belum mau masuk ke dalam bilik mereka. Mereka ingin melihat upacara mempertemukan kedua orang pengantin itu. Kemudian memperebutkan pisang dua tandan, kelapa gading dua janjang, batang tebu, padi dan lain-lain. Mungkin ada diantara mereka yang mendapatkan sekedar daun beringin atau jenis daun yang lain. Tetapi bahwa mereka telah mendapatkan sesuatu yang berasal dari tuwuhan pada upacara pernikahan itu membuat mereka merasa senang. Seakan-akan mereka telah mendapatkan sesuatu yang berharga yang dapat membuat hidup mereka berbahagia. Kelak mereka akan dapat memilih jodoh yang terbaik dan mengalami kehidupan keluarga yang bahagia.

Ki Mina pun kemudian telah turun pula dan mengikuti iring-iringan itu dengan hati-hati. Jika terjadi salah paham, maka anak-anak muda itu akan cepat mengambil tindakan tanpa kendali lagi. Sehingga karena itu, maka kadang-kadang tindakan mereka itu tidak tepat pada sasarannya.

Meskipun sudah wayah sepi bocah, tetapi ketiga calon pengantin itu bersama iring-iringannya berjalan menyusuri jalan padukuhan pergi ke rumah calon pengantin perempuan, banyak pula orang-orang yang berdiri di sebelah-sebelah jalan untuk menonton.

Ki Mina yang mengikuti iring-iringan itu harus menyesuaikan dirinya.

Beberapa saat kemudian, maka calon pengantin laki-laki itu  pun sudah sampai ke rumah calon pengantin perempuan. Beberapa orang yang berada di pendapa rumah calon pengantin perempuan itulah segera turun menyongsongnya.

Namun ketika kemudian calon pengantin laki-laki itu dibawa memasuki halaman rumah calon pengantin perempuan, kedua orang tua calon pengantin laki-laki itu justru dipersilahkan untuk masuk ke regol halaman rumah di depan rumah calon pengantin perempuan itu. Beberapa orang bertugas untuk menemani kedua, orang tua calon pengantin laki-laki itu.

Calon pengantin laki-laki itu pun kemudian telah dibawa naik ke pendapa untuk dipersiapkan menjalani upacara pernikahan.

Ki Mina semakin menjadi berdebar-debar. Agaknya orang yang berada di tepian itu menunggu sampai saat upacara pernikahan itu akan dimulai.

Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang berada di halaman rumah calon pengantin perempuan itu telah dipersiapkan naik ke pendapa. Anak-anak pun diminta untuk tidak berlari-larian dihalaman.

“Duduk, semuanya duduk yang baik. Upacara pernikahan akan segera dilakukan” berkata seorang anak muda sambil menggiring anak-anak itu ke serambi pendapa.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda yang telah bertemu dengan orang yang mengancam akan membatalkan pernikahan itu di tepian, telah menyebar disekitar halaman rumah. Ki Mina terpaksa bersembunyi di balik segerumbul pohon perdu di halaman di depan rumah calon pengantin perempuan itu. Sementara itu, di pendapa duduk beberapa orang bersama kedua orang tua calon pengantin laki-laki.

Bagaimanapun juga Tantiya menenangkan hatinya sendiri serta hati isterinya, namun ia tetap saja merasa gelisah. Bahkan ia mulai membayangkan apa yang terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu, pada saat isterinya akan menikah dengan seorang anak muda yang bernama Wandawa.

Pada waktu itu Wandawa memang bukan seorang yang mempunyai kebanggaan apa-apa pada dirinya. Orang tuanya bukan orang yang kaya. Namun ketika orang tuanya melamar seorang gadis yang bernama Padni, maka lamarannya itu pun diterima. Padni sendiri tidak menolak untuk menjadi isteri Wandawa. Seorang anak muda yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa selain bertani. Tetapi Wandawa adalah anak muda yang rajin. Anak muda yang dapat bekerja dengan suntuk. Pada saat-saat kerja di sawah tidak terlalu banyak, maka Wandawa bersedia bekerja apa saja. Bahkan Wandawa tidak menolak untuk menjadi blandong. Menebang pepohonan yang sudah terlalu tua di rumah orang-orang padukuhannya balik m di halaman rumah orang-orang di padukuhan tetangga. Wandawa pun tidak menolak untuk mengerjakan sawah orang lain disaat kerja disawahnya sendiri sudah selesai.

Namun ketika hari-hari pun menjadi semakin dekat dengan saat-saat pernikahannya, Padni telah berhubungan semakin erat dengan seorang anak muda yang memiliki beberapa kelebihan dari Wandawa. Anak muda yang bernama Tantiya itu adalah anak dari seorang yang terhitung kaya. Anak muda yang ditakuti di, padukuhan itu, karena tidak ada seorang pun yang berani melawannya. Apalagi Wandawa.

Adalah diluar dugaan banyak orang bahwa pada saat pernikahan itu tiba, Padni lelah dibawa lari oleh Tantiya. Meskipun banyak orang yang mengetahui dimana keduanya bersembunyi, tetapi tidak ada yang berani mengambil langkah-langkah untuk membantu Wandawa menemukan keduanya. Bahkan orang tua Wandawa pun menjadi sakit dan bahkan ayahnya telah meninggal. Selain karena sakit nafas, orang tua Wandawa itu juga merasa sangat direndahkan dan malu sekali atas kegagalan pernikahan anaknya justru pada saat pernikahan itu akan dilaksanakan.

Tantiya terkejut ketika seseorang mempersilahkannya untuk minum minuman hangat yang sudah dihidangkan.

“Silahkan, Ki Tantiya. Upacara pernikahan Sindu itu akan segera berlangsung. Nanti Ki Tantiya akan dijemput oleh ayah dan ibu pengantin perempuan itu dan mempersilahkan Ki Tantiya untuk mendampingi keluarga pengantin perempuan. Tetapi nanti, setelah kedua pengantin itu dipertemukan”

Orang-orang yang ikut menemui Tantiya itu tertawa. Tantiya sendiri juga mencoba untuk tertawa. Demikian pula isterinya, Padni.

Dalam pada itu, segala persiapan pernikahan yang akan dilakukan di pendapa rumah pengantin perempuan itu pun sudah siap. Saatnya pun telah sampai pula sebagaimana diperhitungkan oleh orang tua-tua.

Namun ketika upacara pernikahan itu akan dilangsungkan, dua orang anak muda memasuki regol halaman rumah calon pengantin perempuan yang terang benderang itu.

Di tengah-tengah halaman keduanya berhenti. Ketika orang-orang yang berada di pendapa memperhatikan keduanya, maka seorang diantara mereka berdua pun berkata, “Jadi pernikahan ini akan tetap dilangsungkan?”

“Kau siapa?“ bertanya seorang anak muda, kawan Sindu yang ikut dalam iring-iringan calon pengantin laki-laki itu.

“Siapakah kami, itu tidak penting. Yang penting kami berdua membawa pesan Ki Wandawa bagi calon pengantin laki-laki itu”

“Pesan dari siapa?”

“Orang itu pernah bertemu dengan anak-anak muda di padukuhan ini di tepian. Orang itu sudah berpesan agar pernikahan ini dibatalkan. Tetapi agaknya anak-anak muda itu sama sekali tidak menghiraukan pesan itu. Atau mungkin pesan itu sudah disampaikan tetapi keluarga pengantin ini mengabaikannya”

“Sudah aku katakan di tepian” sahut seorang anak muda, sepupu Sindu, “ pernikahan ini tidak dapat dibatalkan”

“Tetapi Ki Wandawa itu juga pernah berpesan, jika kalian tidak mau mendengarkan pesannya dan tidak mau melaksanakannya, maka persoalannya akan menjadi gawat”

Dua orang yang diminta Ki Tantiya untuk melindungi calon pengantin laki-laki itu pun melangkah mau mendekati kedua orang anak muda itu. Seorang yang lebih tua, yang rambutnya sudah mulai ubanan, berkata, “Ki Sanak. Sudahlah. Jangan membuat persoalan di saat upacara pernikahan ini akan dilangsungkan”

“Tidak. Pernikahan ini harus batal, atau kami dan kawan-kawan kamilah yang harus membatalkannya”

“Tentu tidak terlalu mudah, anak-anak muda. Jika kami bertekad bahwa pernikahan ini harus berlangsung, maka kami pun sudah siap untuk mengatasi segala hambatannya”

“Jika kalian akan menyurukkan beberapa orang korban untuk membela orang yang telah berbuat sewenang-wenang hampir dua puluh tahun yang lalu?”

“Kami menyesal bahwa peristiwa dua puluh tahun yang lalu itu terjadi“ jawab orang yang rambutnya sudah mulai ubanan itu, “Tetapi ternyata itu sudah terjadi duapuluh tahun yang lalu. Apakah tidak sebaiknya, kalau kita sama-sama melupakan peristiwa itu. Maksudku, Ki Wandawa itu”

“Ki Wandawa sudah berusaha untuk melupakannya. Tetapi ia tidak berhasil. Sampai sekarang Ki Wandawa itu tidak beristeri. Ia merindukan seorang anak. Sementara itu, yang bertindak sewenang-wenang terhadapnya itu mempunyai seorang anak laki-laki yang akan menikah hari ini, “Anak muda itu berhenti sejenak menurut Ki Wandawa, itu tidak boleh terjadi. Ia akan menggagalkan pernikahan hari ini apa pun yang harus dilakukannya. Kami, murid-muridnya sudah siap menjalankan perintahnya”

“Anak-anak muda. Sebaiknya persilahkan Ki Wandawa itu untuk datang kemari. Kita akan berbicara untuk mencari jalan keluar yang sebaik-baiknya”

“Tidak ada cara untuk meredam dendamnya Bagi Ki Wandawa, tidak ada pilihan lain kecuali membatalkan pernikahan ini. Bukan hanya sekedar untuk menunda. Tetapi benar-benar membatalkan. Jika kelak pernikahan ini akan dicoba lagi, maka salah seorang dari calon pengantin itu akan dibunuhnya”

“Sudahlah anak muda. Katakan kepadanya, bahwa Ki Wandawa itu dipersilahkan untuk datang”

“Tidak ada gunanya aku mempersilahkannya karena Ki Wandawa tentu tidak akan bersedia merubah keputusannya. Pernikahan ini harus batal”

“Tidak. Pernikahan ini harus berlangsung”

Kedua orang anak muda yang berdiri di halaman itu pun bergeser selangkah surut. Seorang diantara mereka pun berkata lantang, “Kami akan menyampaikan keputusan kalian itu kepada Ki Wandawa. Bersiaplah untuk bertempur. Siapkan korban-korban yang akan menjadi tumbal pernikahan Sindu yang batal ini. Kematian mereka adalah kematian yang sia-sia, karena mereka berkorban untuk seseorang yang telah melakukan kesalahan besar di dua puluh tahun yang lalu”

Sejenak kemudian, kedua orang anak muda itu pun segera meninggalkan halaman rumah itu.

Pembicaraan yang keras itu telah didengar dengan baik oleh Ki Mina yang tertarik akan pembicaraan itu sejak awal. Seorang anak muda telah memberitahukan pula kepada Ki Tantiya. apa yang telah terjadi di halaman rumah pengantin perempuan itu.

Ki Tantiya dan isterinya tidak lagi mengingat tatanan pernikahan. Ia tidak lagi menghiraukan ketentuan bahwa mereka boleh memasuki tempat upacara setelah pernikahan selesai. Tetapi bahwa anaknya sudah terancam itu telah membuat mereka tidak mau menunggu lagi.

Karena itu, maka Ki Tantiya dan isterinya segera turun dari pendapa, menyebrangi halaman dan kemudian menyeberangi jalan, masuk ke regol halaman rumah pengantin perempuan.

“Apa yang telah terjadi?“ bertanya Ki Tantiya ketika beberapa orang menyongsongnya.

“Orang itu paman” berkata sepupu Sindu.

“Maksudmu orang yang kau katakan kau temui di tepian itu?”

“Yang datang adalah dua orang atas namanya”

Wajah Ki Tantiya menjadi tegang, sedangkan isterinya menjadi pucat.

“Kakang”

“Jangan takut. Kakang dan paman sudah berjanji untuk melindungi kita. Demikian pula kawan-kawan Sindu”

Nyi Padni berusaha untuk menenangkan hatinya. Kakak sepupu dan paman suaminya sudah ada di halaman itu pula. Meskipun demikian ia masih saja merasa cemas. Apakah keduanya itu mampu melawan orang yang dikatakan berilmu tinggi itu.

Namun sejenak kemudian, seisi halaman itu sudah dikejutkan oleh suara tertawa Suara tertawa itu tidak segera diketahui dimanakah sumbernya. Suara itu seakan-akan melingkar-lingkar di udara diatas padukuhan itu. Sekali-sekali suara itu terdengar di sebelah Utara. Tetapi kemudian getar suara itu seakan-akan bersumber dari arah Barat. Bahkan kemudian seakan-akan berada di Selatan.

Seisi halaman itu menjadi bingung. Getar suara itu mulai terasa menusuk dada setiap orang yang mendengarkannya.

Anak-anak muda yang sudah siap untuk berkelahi itu pun menekan dada mereka masing-masing untuk mengurangi hentakkan-hentakkan yang akan meruntuhkan jantungnya.

Dua orang yang bersedia melindungi keluarga Tantiya itu terkejut. Aji Gelap Ngampar yang dilontarkan oleh Wandawa itu adalah Aji Gelap Ngampar yang sudah jauh tingkatnya, sehingga keduanya harus meningkatkan daya tahan tubuh mereka sampai ke puncak.

“Gila orang ini” geram paman Tantiya itu.

“Kita akan mencari sumber suara itu, paman. Jika kita berhasil menemukannya, maka kita akan dapat berusaha untuk menghentikannya”

“Kita harus memusatkan kemampuan kita menangkap getar suara untuk menentukan dimana sumber suara itu” sahut pamannya.

Sepupu Sindu itiiu mengangguk.

Namun sebelum mereka sempat memusatkan nalar budi mereka untuk mencari sumber suara itu, maka suara tertawa itu pun sudah menjadi semakin perlahan sehingga akhirnya hilang sama sekali. Tetapi yang kemudian terdengar adalah suara orang itu pula. Meskipun bukan lagi suara tertawa, tetapi kata-katanya pun telah dilontarkannya dengan Aji Gelap Ngampar itu pula.

“Tantiya“ terdengar suara itu bagaikan menggoyang tiang-tiang pendapa, “aku sengaja datang pada saat anakmu akan menikah. Tetapi aku sekarang bukan aku yang dahulu. Waktu itu, dua puluh tahun yang lalu, kau telah menghinakan aku. Kau telah menginjak-injak harga diriku. Pada saat menjelang pernikahan-ku, kau ambil perempuan yang akan menjadi isteriku itu. Sengaja kau lakukan menjelang pernikahan untuk membuat hatiku menjadi semakin sakit. Kau yakin bahwa aku tidak akan berani berbuat apa-apa. Kau pun yakin bahwa orang sepadukuhan ini tidak akan berani berbuat apa-apa pula“ suara itu berhenti sejenak. Orang-orang yang dadanya menjadi nyeri, sakit dan bahkan nafasnya menjadi sesak, menjadi agak lega. Mereka dapat bernafas kembali. Tetapi itu tidak lama. Sejenak kemudian Aji Gelap Ngampar itu pun dilontarkannya pula.

“Tantiya” berkata Wandawa bersamaan dengan lontaran Aji Gelap Ngampar, “sekarang aku datang lagi kepadamu. Aku akan membuat perhitungan dari peristiwa duapuluh tahun yang lalu. Waktu itu aku sudah hampir membunuh diriku dalam keputus-asaan. Tetapi untunglah, bahwa aku terlempar kesebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang yang berilmu tinggi. Aku diberinya bekal bagi masa depanku, sehingga aku tidak lagi menjadi orang yang tidak berpengharapan. Meskipun sampai saat ini aku tidak menikah, tetapi aku merasa bahwa aku akan ikut memiliki masa depan itu. Pernikahan anakmu itu harus batal. Kau harus mengalami seperti apa yang dialami oleh ayah dan ibuku. Jika kau berkeras untuk menikahkan anakmu itu di kesempatan lain, maka aku akan membunuh calon pengantin perempuan itu meskipun ia tidak tahu apa-apa. Tetapi perempuan itu pantas dikorbankan untuk membuat kau dan isterimu kecewa”

Tantiya menjadi kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya selain merengek kepada sepupu dan pamannya.

“Lindungi kami paman. Kakang”

Pamannya itu pun kemudian berkata, “Wandawa. Agaknya dua puluh tahun itu waktu yang lama. Segala-galanya sudah berubah. Kau juga sudah berubah. Tantiya dan isterinya pun juga sudah berubah. Aku minta kau datang kemari. Kita akan berbicara dengan baik, agar persoalannya dapat diselesaikan dengan baik pula”

“Kau benar” sahut Wandawa, “segala-galanya sudah berubah. Mungkin Tantiya dan Padni juga sudah berubah. Tantiya tidak lagi menjadi seorang laki-laki yang paling ditakuti di padukuhan ini. Jika ia masih merasa bahwa ia tidak terkalahkan, maka aku sangat ingin untuk menjajagi ilmunya sekarang”

“Tidak, Wandawa. Tantiya bukan seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia hanya dapat berkelahi berdasarkan kekuatan dan tenaga kewadagannya. Tetapi ia tidak memiliki kemampuan olah kanuragan. Karena itu, ia tidak akan dapat melawanmu”

“Apakah Tantiya peduli bahwa aku tidak dapat melawannya duapuluh tahun yang lalu, apakah ia peduli pada waktu itu bahwa aku adalah laki-laki yang lemah sehingga Tantiya itu dengan beraninya mengambil calon isteriku yang sudah siap untuk menikah? Tidak, Ki Sanak. Tantiya sama sekali tidak menghirau-kannya. Bahkan rasa-rasanya ia sengaja menunjukkan kepadaku, bahwa ia dapat berbuat sekehendak hatinya karena aku tidak mampu melawannya”

Adalah diluar dugaan bahwa Nyi Padni pun kemudian berlari ke halaman sambil berteriak, “Akulah yang bersalah waktu itu, kakang Wandawa. Akulah yang memulainya. Karena itu, jika kakang masih tetap mendendam, hukumlah aku. Bunuhlah aku. Tetapi jangan sakiti anakku dan suamiku. Mereka tidak bersalah”

Tetapi terdengar. Wandana itu tertawa. Suaranya lebih keras dari yang sudah diperdengarkannya, sehingga orang-orang yang mendengarnya harus berusaha menahan nyeri di dada mereka. Jantung mereka rasa-rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan ujung duri kemarung.

Beberapa orang anak telah terkapar jatuh di tanah. Pingsan. Sedangkan Nyi Padni sendiri telah jatuh pada lututnya.

“Kakang. Jangan kau tebarkan maut atas orang-orang yang tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Bukan kakang Tantiya dan bukan pula Sindu”

“Tantiya. Apakah kau tidak malu berperisai seorang perempuan. Apakah kau biarkan isterimu mengakui sendirian atas kesalahan yang seharusnya kalian tanggung berdua”

Tantiya yang sudah menjadi putus-asa itu pun mendekati isterinya. Ia pun berlutut seperti Nyi Padni sambil berkata, “Baiklah Wandawa. Aku mengaku bersalah. Kami berdua telah bersalah. Jika kau memang berniat membunuh kami berdua, lakukan. Tetapi aku mohon, biarlah pernikahan Sindu dilaksana-kan”

“Tidak, Tantiya. Aku tidak akan membunuh kalian berdua. Jika aku melakukannya, maka aku adalah orang yang paling bodoh di dunia ini. Aku ingin kau berdua menjadi sakit hati, menjadi kecewa, menyesal dan tersiksa. Karena itu aku akan membatalkan pernikahan ini. Hanya itu yang akan aku lakukan. Meskipun dua puluh tahun yang lalu, ayahku yang terkejut, menyesal, malu dan segala macam perasaan yang bertimbun di hatinya, sehingga ia meninggal dunia, namun sekarang aku tidak akan membunuhmu. Tetapi jika kau mati sendiri karena menyesal, kecewa dan tersiksa, itu adalah salahmu sendiri”

“Wandawa” berkata paman Tantiya itu, “sekali lagi aku mempersilahkan kau datang kemari. Kita dapat duduk di pendapa sambil berbincang-bincang”

“Tidak. Ki Sanak. Tidak ada yang diperbincangkan. Batalkan pernikahan ini atau aku akan mulai membunuh. Anak-anak muridku akan memasuki halaman rumah ini dan menghancurkan segala peralatan pernikahan malam ini. Bahkan akan membakar rumah ini pula. Aku tidak hanya sekedar mengancam. Tetapi aku akan melakukannya. Meskipun demikian, aku masih memberi waktu. Bubarkan pertemuan ini. Biarlah tamu-tamu itu pulang. Terutama anak-anak agar mereka tidak mati lebih dahulu. Tetapi jika terjadi kematian dihalaman rumah ini. maka yang harus bertanggung jawab adalah Tantiya dan isterinya. Merekalah yang telah membunuh orang-orang di halaman rumah ini”

“Itu tidak akan terjadi” teriak sepupu Tantiya yang berilmu tinggi itu, “Kau sendiri tidak berani menampakkan diri. Sedangkan jika cantrik-cantrikmu memasuki halaman rumah ini, maka kami akan menyapu mereka seperti sampah”

“Tidak. Ki Sanak. Aku akan mengantar mereka dengan Aji Gelap Ngampar”

“Kau kira murid-murid sendiri mampu menghindar dari pengaruh Aji Gelap Ngampar itu?”

“Mereka tidak akan terpengaruh. Aku sudah membekali mereka dengan reramuan beberapa jenis akar, daun dan sejenis bebatuan. Aku memang tidak mempunyai kantong-kantong kecil berisi reramuan itu cukup banyak. Tetapi aku menganggap bahwa sepuluh orang cantrikku sudah cukup banyak untuk membunuh orang-orang yang sudah tidak berdaya karena aji Gelap Ngampar”

“Omong kosong. Sekarang tampakkan dirimu. Lakukan sebagaimana yang kau katakan”

“Bagus. Aku akan melakukannya. Singkirkan anak-anak dan perempuan yang jantungnya lemah. Biarlah mereka tidak mati karena Aji Gelap Ngampar itu“ suara Wandawa menjadi semakin mengumandang. Getarannya terasa semakin menusuk jantung. Lalu terdengar suara itu lagi, “Aku beri waktu sejenak untuk menyingkirkan anak-anak dan perempuan. Kemudian aku tidak akan peduli lagi apa yang terjadi. Kecuali jika Tantiya dan isterinya itu berjanji untuk membatalkan pernikahan anaknya untuk selamanya. Anak yang bernama Sindu itu tidak akan pernah menikah selama hidupnya. Jika ia tidak tahan lagi, maka biarlah ia membunuh diri atau berguru hingga ia mendapatkan bekal ilmu untuk mengalahkan aku”

“Kenapa kau tidak berani menampakkan dirimu iblis buruk. Jika kita sempat berhadapan, maka kau tidak akan dapat sesumbar lagi. Akulah yang akan membunuhmu”

“Jangan terlalu sombong. Kau masih terlalu muda itu mampu menilai, seberapa tinggi ilmu seseorang”

Sepupu Tantiya itu menyahut, “Kau dapat saja mencari alasan untuk melindungi kelicikanmu. Kau tidak lebih dari seorang pengecut yang tidak tahu diri”

“Jangan banyak bicara lagi” sahut Wandana, “singkirkan perempuan dan anak-anak, orang-orang tua atau siapa saja yang menjadi ketakutan karena aku akan segera menyerang kalian dengan Aji Gelap Ngampar. Yang tidak mampu bertahan akan mati dengan sendirinya, sedangkan beberapa orang cantrikku akan memasuki halaman dan menghancurkan segala-galanya sehingga pernikahan ini tidak akan mungkin dilakukan”

Beberapa orang memang menjadi ketakutan. Mereka telah membawa isteri-isteri mereka yang seharusnya ikut menghadiri upacara pernikahan itu keluar dari halaman. Mereka berdesakan di regol halaman dengan anak-anak yang didukung oleh orang tua mereka, karena mereka sudah menjadi terlalu lemah dan tidak dapat berlari sendiri.

Anak-anak muda yang sudah bersiap untuk melindungi Sindu pun sudah menjadi terlalu lemah. Jantung mereka terasa menjadi nyeri. Bahkan isi dadanya terasa telah tenguncang-guncang sehingga akan-akan runtuh berjatuhan dari tangkainya.

Sejenak kemudian, terdengar lagi suara Wandawa, “Tantiya,. apakah kau tidak akan membawa isterimu pergi? Bawa isterimu keluar dari halaman ini. Sedangkan pengantin perempuan itu terserah kepada ayah dan ibunya. Apakah mereka akan menyelamatkannya atau tidak. Tetapi ingat, bahwa untuk seterusnya ia tidak akan pernah menikah dengan Sindu”

Rumah calon pengantin perempuan itu benar-benar menjadi kacau. Orang-orang berlarian hilir mudik. Paman dan sepupu Sindu tidak mampu lagi menenangkan mereka yang -berlari-larian.

“Tantiya“ terdengar suara Wandawa, “Aku masih memberimu waktu. Bahwa Padni keluar dari halaman ini”

Tantiya masih saja menjadi ragu. Namun kemudian dua orang laki-laki dan perempuan yang sudah ubanan telah menarik mereka untuk berdiri dan berjalan keluar pintu gerbang.

“Anakku, anakku“ tangis Nyi Padni.

Seorang laki-laki masih sempat menarik Sindu yang kebingungan. Sedang ayah dan ibu calon pengantin perempuan itu pun telah membawa anak perempuannya keluar dari halaman.

Baru beberapa saat kemudian, Wandawa itu pun berkata, “Nah, bukankah pernikahan ini batal. Itulah yang aku inginkan. Karena pernikahan itu sudah batal, maka aku kira aku tidak perlu lagi berbuat lebih jauh”

Tetapi sepupu Tantiya itu pun berteriak, “Tetapi kau tetap saja seorang pengecut, Wandawa. Kau hanya berani menyerang kami dari kegelapan dan bahkan dari persembunyianmu”

“Jadi kau masih menantang?“ bertanya Wandawa.

“Ya”

“Sebenarnya urusanku sudah selesai. Pernikahan ini batal. Tetapi jika kau ingin mencoba kemampuan kami, aku tidak akan berkeberatan. Tidak usah aku sendiri. Tetapi murid-muridku akan datang menemuimu”

“Kenapa bukan kau sendiri? Kau ketakutan?”

“Jika murid-muridku dapat melakukannya, kenapa harus aku sendiri? Tidak ada orang yang dapat mengimbangi kemampuan-ku disini. Kalian berdua bukan lawanku. Biarlah murid-muridku datang menemui kalian berdua”

Kedua orang itu pun menjadi termangu-mangu. Namun sebelum mereka menyahut lagi, beberapa orang anak muda telah muncul dihalaman rumah calon pengantin perempuan yang batal menikah itu.

Di halaman itu masih ada beberapa orang anak muda. Tetapi mereka sudah menjadi terlalu lemah karena Aji Gelap Ngampar yang telah mengguncang-guncang dada mereka.

Sekitar sepuluh anak muda telah berada di halaman. Di leher mereka bergantungan kantong-kantong kecil yang dibuat dari kain putih.

“Bagus” berkata sepupu Tantiya, “kemarilah. Aku akan memusnakan kalian”

Sepuluh Orang itu pun segera bergeser menebar. Mereka sudah siap bertempur melawan dua orang yang berusaha untuk melindungi Sindu.

Sejenak kemudian orang-orang yang berada di halaman itu sudah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Sepuluh orang murid Wandawa itu bertempur melawan dua orang yang sedianya harus melindungi Sindu dan keluarganya.

Namun kedua orang itu memang berilmu tinggi. Mereka adalah orang-orang yang sudah terlatih serta menguasai ilmu mereka dengan baik.

Tetapi mereka harus melawan sepuluh orang yang juga sudah ditempa di sebuah padepokan yang dipimpin oleh Ki Wandawa. Meskipun mereka belum tuntas, tetapi sepuluh orang itu ternyata merupakan lawan yang sangat berat.

Beberapa saat kemudian, maka dua orang yang berilmu tinggi itu sudah mulai terdesak. Mereka mengalami kesulitan menghadapi sepuluh orang anak-anak muda yang kokoh dan kuat di samping kemampuan mereka dalam olah kanuragan.

Tetapi ternyata mereka tidak hanya berdua. Anak-anak muda yang semula bertebaran di sekitar rumah calon pengantin perempuan itu, yang sempat menjauh pada saat Aji Gelap Ngampar dilontarkan masih nampak tetap segar.

Merekalah yang kemudian berlari-larian memasuki halaman, melibatkan diri bertempur bersama kedua orang yang berilmu tinggi itu.

Meskipun mereka bukan anak-anak muda yang pernah berlatih di sebuah perguruan, tetapi mereka adalah anak-anak muda yang kuat. Setiap hari mereka bekerja di sawah. Berjalan di lumpur yang dalam. Kulitnya yang tidak tertutup oleh selembar baju, dipanggang di panasnya matahari. Sekali-sekali mereka harus memanggul bajak ke sawah.

Dalam jumlah .yang jauh lebih banyak dari para murid Wandawa, mereka pun menyerang sejadi-jadinya. Sementara itu kedua orang yang berilmu tinggi itu masih ada diantara mereka.

Murid-murid Wandawa itulah yang kemudian mulai terdesak. Meskipun mereka mampu mengenai lawannya sehingga terpelanting jatuh, namun yang lain pun segera menyerang pula. Bahkan ada diantara mereka yang berusaha mendekap murid Wandawa itu sedangkan yang lain memukuli perutnya.

Namun dengan licin, murid-murid Wandawa itu selalu berhasil melepaskan dirinya.

Meskipun demikian, namun para murid Wandawa itu benar-benar berada di dalam kesulitan.

Tetapi itu tidak lama terjadi. Sejenak kemudian, mereka mulai mendengar lagi suara tertawa. Semakin lama semakin keras. Suara tertawa yang melontarkan kekuatan Aji Gelap Ngampar yang mengerikan itu.

Diantara derai tertawa yang menggetarkan halaman itu, terdengar suara paman calon pengantin laki-laki itu, “Jangan hiraukan suara itu. Para pengikutnya tentu juga akan terpengaruh. Sementara itu daya tahan kami berdua akan dapat mengatasi Aji Gelap Ngampar itu”

Anak-anak muda itu memang tidak menghiraukan lagi. Mereka masih saja berkelahi dengan sengitnya.

Tetapi ketika suara tertawa itu menjadi semakin keras, maka dada anak-anak muda itu mulai bergetar. Perasaan nyeri pun mulai menusuk-nusuk jantung mereka, sehingga ada diantara mereka yang mulai menutup telinga mereka dengan kedua telapak tangan.

Tetapi getar Aji Gelap Ngampar itu tidak hanya menyusup melalui telinga. Tetapi Aji Gelap Ngampar itu dapat menyusup melalui jalan yang mana pun didalam tubuh seseorang. Bahkan melalui lubang-lubang keringat di kulit.

Anak-anak muda yang membantu kedua orang yang berilmu tinggi itu tidak mampu lagi mengatasinya. Meskipun mereka masih berusaha, namun usaha mereka agaknya akan sia-sia.

Sementara itu, para murid Ki Wandawa itu ternyata tidak terpengaruh oleh Aji Gelap Ngampar. Mereka telah mengenakan syarat yang dapat meredam pengaruh Aji Gelap Ngampar itu, sehingga dengan demikian, maka mereka pun segera menguasai arena pertempuran. Dua orang berilmu tinggi yang dengan daya tahannya mampu mengatasi Aji Gelap Ngampar, ternyata mulai terdesak lagi. Bahkan meskipun tidak terlalu tajam. Aji Gelap Ngampar itu mempengaruhi mereka juga.

Akhirnya kedua orang berilmu tinggi itu serta anak-anak muda kawan-kawan Sindu tidak berhasil mengimbangi kemampuan lawan-lawan mereka yang dibantu oleh kekuatan Aji Gelap Ngampar. Bahkan Wandawa agaknya tidak segera menghentikan serangan Aji Gelap Ngamparnya. Suara tertawanya masih saja menggetarkan udara diatas rumah calon pengantin perempuan yang batal itu.

Namun agaknya Wandawa yang tersinggung karena perlawanan yang diberikan oleh anak-anak muda itu tidak berhenti menyerang. Meskipun anak-anak muda itu, bahkan kedua orang yang berilmu tinggi yang semakin terdesak oleh para murid Ki Wandawa itu sudah tidak mampu berbuat banyak, namun Wandawa masih saja menyerang mereka dengan ilmunya yang sulit diatasi itu. Bahkan orang-orang yang berada di ruang dalam, yang berada di dapur dan diseluruh lingkungan halaman rumah itu dan sekitarnya, merasakan betapa tajamnya pengaruh Aji Gelap Ngampar itu.

Ki Mina yang menyaksikan peristiwa di halaman rumah calon pengantin perempuan itu menjadi bimbang. Ia tidak dapat menyalahkan Wandawa yang mendendam. Ia dapat mengerti, kenapa Wandawa yang terluka hatinya itu seakan-akan tidak dapat disembuhkan. Apalagi Wandawa sampai saat terakhir, tidak pernah menikah dengan siapapun.

Wandawa merasa bahwa ia telah diperlakukan sangat tidak adil oleh Tantiya. Bakal isterinya itu diambilnya begitu saja. Bahkan dengan dada tengadah karena ia merasa bahwa Wandawa tidak akan dapat berbuat apa-apa. Ia tidak akan berani merebut calon isterinya itu dari tangannya. Apalagi karena perempuan itu sendiri bersedia pergi bersamanya.

Tetapi ia tidak dapat bertindak semena-mena terhadap setiap orang. Aji Gelap Ngamparnya ternyata tidak hanya menyakiti orang-orang yang dianggapnya terlibat dalam tindak ketidak adilan itu. Tetapi orang-orang yang tidak bersalah pun telah terkena akibatnya pula. Meskipun Wandawa sendiri merasa bahwa orang yang tidak bersalah pun dapat saja dikorbankan untuk memenuhi sasaran yang akan dicapainya.

Sementara itu, suara tertawa Wandawa masih saja menggetarkan udara. Setiap orang yang mendengarnya berusaha menutup telinganya, meskipun tidak akan membebaskan mereka dari pengaruh suara tertawa itu.

Satu demi satu anak-anak muda yang berada di halaman pun berjatuhan. Apalagi mereka yang sudah menjadi lemah sejak pertempuran di halaman itu berlangsung. Dua orang yang berilmu tinggi yang berusaha melindungi keluarga Tantiya itu pun sudah tidak berdaya lagi. Ketika serangan seorang anak muda mengenai dada sepupu Tantiya, maka orang itu pun telah terdorong beberapa langkah surut. Namun-serangan yang lain- pun segera menyusul pula. Seorang anak muda meloncat dengan garangnya sambil menjulurkan kakinya.

Sepupu Tantiya itu tidak mampu mengelak. Apalagi getar Aji Gelap Ngampar itu sudah mempengaruhinya pula. Karena itu, maka orang itu pun sudah terlempar jatuh ke tanah. Hampir saja kepalanya membentur tangga pendapa rumah calon pengantin perempuan yang batal itu.

Dalam pada itu, paman Ki Tantiya itu juga sudah tidak berdaya. Ia pun sudah terpelanting pula dari arena. Bahkan tubuhnya telah membentur sebatang pohon yang tumbuh di halaman rumah itu.

Keduanya pun mengalami kesulitan untuk bangkit berdiri. Pada saat mereka mencoba untuk bangkit, maka suara tertawa Ki Wandawa menjadi semakin keras, sehingga pengaruhnya menjadi semakin tajam pula. Bahkan mungkin sekali pengaruh suara tertawa itu mulai merambah ke sentuhan maut.

Ki Mina yang menyaksikan hal itu tidak dapat menahan diri lagi. Ia masih berusaha untuk mengekang diri ketika ia melihat pertempuran yang masih dalam tataran kewajaran itu terjadi. Tetapi serangan Aji Gelap Ngampar Ki Wandawa itu sudah terlalu jauh dilakukannya.

Itulah sebabnya kemudian Ki Mina itu mencoba untuk menghentikan getaran Aji Gelap Ngampar itu.

Gelap Ngampar yang dilepaskan oleh Wandawa itu adalah kekuatan Aji yang keras dan tajam. Yang menusuk jantung seseorang seperti tajamnya ujung duri. Itulah sebabnya, maka ki Mina ingin melawannya dengan kekuatan ilmunya yang lunak.

Dalam gejolak yang terasa semakin mencengkam itu, tiba-tiba saja terdengar suara tembang yang mengalun di gelapnya malam. Suara tembang yang semula lamat-lamat, namun yang kemudian terdengar semakin keras. Namun suara tembang itu terdengar lembut dan jernih. Kata demi kata yang terlontarkan bagaikan kekuatan yang mampu menghisap getar kekuatan Aji Gelap Ngampar. Suara tertawa Ki Wandawa yang keras itu seakan-akan justru telah tenggelam kedalam lembutnya suara tembang Ki Mina yang mengalun disela semilirnya angin.

Tidak terasa terjadi benturan antara kekuatan Aji Gelap Ngampar itu dengan suara tembang Ki Mina. Tetapi suara tertawa Ki Wandawa itu justru telah terhisap, sehingga pengaruhnya tidak lagi bertebaran dimana-mana.

Ki Wandawa terkejut mendengar suara tembang yang lunak itu. Suara tembang yang mampu menghisap lontaran Aji Gelap Ngamparnya.

Ketika suara tertawa Ki Wandawa menjadi semakin keras, suara tembang itu sama sekali tidak melengking tinggi. Tetapi nadanya justru menurun rendah. Namun suara tertawa Ki Wandawa itu seakan-akan telah hilang tertelan kedalamnya.

Ki Wandawa yang terkejut itu pun telah berubah menjadi sangat marah. Suara tertawanya itu pun telah patah dengan tiba-tiba.

Namun suara tembang itu masih terdengar beberapa saat. Baru kemudian suara tembang itu pun menjadi semakin perlahan dan kemudian menghilang.

“Siapa kau Ki Sanak? Apa hubunganmu dengan Tantiya dan isterinya, sehingga kau telah melibatkan diri dalam persoalan ini”

Dari dalam kegelapan yang tidak tentu arahnya sebagaimana suara Wandawa itu terdengar jawaban, “Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan Ki Tantiya dan isterinya. Juga dengan anak laki-lakinya itu. Tetapi aku mempunyai sangkut paut dengan keselamatan sekian banyak orang yang tidak.bersalah. Jika kau anggap Sindu dan calon isterinya menjadi korban dendammu kepada orang tua mereka, aku masih dapat mengerti. Jika kau ingin membatalkan pernikahan ini untuk menyakiti hati Ki Tantiya dan isterinya, sebagaimana mereka telah menyakiti hatimu dan hati orang tuamu, aku masih dapat mengerti. Tetapi kau tidak saja menyakiti hati Ki Tantiya dan isterinya. Kau tidak saja menyakiti hati orang banyak yang sekarang berada di halaman rumah ini, tetapi kau telah menyakiti hati dan jantung mereka dengan Aji Gelap Ngamparmu. Banyak orang yang tidak bersangkut paut dengan Ki Tantiya dan isterinya, mengalami penderitaan yang sangat oleh Aji Gelap Ngamparmu. Bahkan perempuan yang ada di dalam rumah, perempuan yang ada di dapur dan orang-orang lain lagi yang berada di dalam halaman ini”

“Salah mereka sendiri. Aku sudah memberi waktu bagi mereka untuk pergi”

“Tetapi mereka yang sedang menyalakan api tentu tidak dapat meninggalkan apinya begitu saja. Mereka yang sedang memasak didapur tidak dapat pergi begitu saja, karena masakan mereka akan menjadi hangus”

“Untuk apa mereka masak? Untuk apa mereka menyalakan api? Pernikahan ini tidak boleh terjadi. Semua yang mendukung pernikahan ini aku anggap tersangkut pada persoalan yang sedang terjadi disini”

“Baiklah, Ki Wandawa. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Aku mohon hentikan serangan Aji Gelap Ngamparmu itu. Bukankah tujuanmu datang kemari sudah berhasil. Bukankah kau sudah menggagalkan pernikahan antara anak Ki Tantiya dan Nyi Padni dengan calon isterinya itu. Karena itu, sudahilah seranganmu yang dapat mencelakai banyak orang itu”

Wandawa termangu-mangu sejenak. Beberapa saat tidak terdengar jawaban. Namun kemudian Wandawa itu pun berkata, “Aku akan menghentikan serangan Aji Gelap Ngampar. Tetapi jangan tantang aku lagi. Dua orang yang merasa berilmu tinggi itu telah menantangku”

“Tidak. Tidak ada lagi orang yang menantangmu”

“Baiklah. Aku tidak akan menyerang lagi. Tetapi jika niat Tantiya dan Padni akan menikahkan anak laki-laki itu lagi, maka aku akan datang untuk mengurungkannya. Tanpa mereka sadari, aku dapat selalu memantau kehidupan Sindu sehari-hari. Bahkan aku tidak akan segan untuk membunuh calon isteri Sindu itu. Ia harus tidak menikah sebelum aku menikah. Jika aku tidak menikah, maka Sindu pun tidak akan menikah pula sepanjang hidupnya”

“Lalu siapakah yang akan menyambung namanya di kemudian hari?”

“Kenapa kau tidak bertanya kepada Tantiya dan Padni, siapakah yang akan menyambung sejarah hidupku jika calon isteriku diambil begitu saja oleh Tantiya?”

“Kau dapat menikah kapan saja kau mau, Wandawa”

“Omong kosong. Aku dapat merampas seribu gadis untuk aku jadikan isteriku dengan paksa. Tetapi apa yang aku dapatkan dari mereka? Aku hanya mendapatkan wadagnya saja. Bukan jiwanya”

“Jika kau menikah dengan Nyi Padni, maka. yang akan kau dapatkan juga hanya wadagnya saja, karena Nyi Padni telah mencintai Tantiya”

Wandawa itu tidak menjawab. Sejenak suasana menjadi sunyi. Namun tiba-tiba saja terdengar Wandawa itu berteriak keras sekali. Sekeras guruh yang menggelegar di langit. Namun ternyata Ki Wandawa tidak melepaskan Aji Gelap Ngamparnya, sehinga teriakannya itu hanya melepaskan Aji Gelap Ngamparnya, sehingga teriakannya itu hanya memekakkan telinga tanpa menyakiti isi dada mereka yang mendengarnya.

Baru kemudian Wandawa itu berkata dengan suara yang menggelegar pula, “Kau benar Ki Sanak. Aku tidak tahu kau siapa, tetapi yang kau katakan itu benar. Jika aku menikah dengan Padni duapuluh tahun yang lalu, maka yang aku nikahi adalah ujud kewadagannya saja. Bukan hatinya. Bukan jiwanya. Padni memang tidak mencintai aku lagi setelah kehadiran Tantiya. Tetapi sakit hatiku menjadi berlipat, ganda, karena sikap Tantiya yang semena-mena. Ia yang merasa njempunyai banyak kelebihan itu serasa menantangku, aku mau apa. Tetapi waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa”

“Sekarang, dihadapan orang banyak, kaulah yang menantangnya. Tetapi Tantiya sekarang tidak dapat berbuat apa-apa”

Wandawa tidak segera menjawab. Sementara itu Ki Mina pun bertanya pula, “Ki Wandawa. Apakah sekarang, kau tidak berpikir mengambil Padni sebagaimana yang dilakukan oleh Tantiya duapuluh tahun yang lalu?”

Wandawa tidak menjawab. Namun terdengar desah, seperti desah angin yang melintas di dedaunan.

Dalam pada itu, maka beberapa orang anak muda yang berada di halaman rumah calon pengantin perempuan yang batal itu pun serentak beranjak dari tempatnya. Namun tiba-tiba sepupu Tantiya itu pun berteriak, “He, kalian akan pergi ke mana. Gurumu tidak lagi dapat membantumu dengan Aji Gelap Ngampamya. Ada seseorang yang ternyata mampu menandinginya. Karena itu, maka kalian akan kami tangkap untuk kami adili di padukuhan ini, karena kalian telah membuat kekacauan yang.besar di padukuhan ini”

Anak-anak muda murid Ki Wandawa itu termangu-manggu sejenak. Namun mereka pun kemudian bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun terdengar suara Ki Mina yang menggelegar, hampir tidak ada bedanya dengan suara Ki Wandawa, “Biarkan mereka pergi. Jika kau berusaha menangkap mereka, maka aku akan mempersilahkan Ki Wandawa untuk membantu mereka. Aku tidak akan turut campur lagi apa pun yang akan terjadi disini”

“Tetapi mereka sudah menghancurkan sendi-sendi pranatan di padukuhan ini”

“Ki Tantiya juga pernah melakukannya. Tetapi tidak seorang pun yang mempersoalkannya pada waktu itu. Ki Tantiya beralaskan kelebihannya telah berbuat sesuatu yang menyakiti hati orang lain”

Sepupu Tantiya itu termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia masih akan berbicara lagi, paman Tantiya itu pun berkata, “Silahkan Ki Sanak. Jika kalian akan meninggalkan halaman ini, silahkan. Kami tidak akan mengganggu kalian”

Anak-anak muda itu pun kemudian tergeser ke pintu regol halaman. Kemudian turun ke jalan.

Sejenak kemudian, halaman ruman calon pengantin perempuan yang urung itu pun menjadi sepi. Namun ketegangan masih saja tetap mencengkam.

Ternyata Wandawa telah menghentikan serangannya. Pembicaraannya dengan orang yang tidak dikenal itu telah menyentuh hatinya. Karena itu, maka Wandawa itu pun berniat untuk meninggalkan tempat itu. Ia telah memberikan isyarat kepada murid-muridnya untuk pergi dari halaman rumah calon pengantin yang telah menjadi berantakan itu.

Ternyata Wandawa itu telah memanjat sebatang pohon sawo di sebelah rumah calon pengantin perempuan itu. Ia mengamati apa yang terjadi di rumah calon pengantin perempuan itu dari atas sebatang dahan yang menyilang. Dari tempat itu pula ia telah melepaskan Aji Gelap Ngamparnya. Namun karena ilmunya yang tinggi, maka ia mampu mengacaukan sumber suaranya sehingga orang-orang yang berada di halaman rumah itu tidak mengetahui, ia berada dimana.

Tetapi ketika ia turun dari pohon sawo itu, Wandawa terkejut. Seseorang telah menunggunya bersandar pada sebatang pohon sawo yang berdiri dekat dengan pohon sawo itu.

“Selamat malam, Ki Wandawa“ sapa orang itu perlahan.

Ki Wandawa pun langsung mengetahui, bahwa orang itulah yang telah mampu menyerap Aji Gelap Ngamparnya. Ki Wandawa pun sadar, bahwa orang itu tentu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ilmunya. Orang itu dapat mengetahui, dimana ia berada. Tetapi Ki Wandawa sendiri tidak dapat mengetahui dengan pasti, sumber suara yang telah menyerap Aji Gelap Ngamparnya itu.

“Siapakah kau, Ki Sanak?”

“Itu tidak penting Ki Wandawa. maaf jika aku melibatkan diri dalam persoalan ini. Aku hanya ingin menyelamatkan jiwa Ki Wandawa”

“Menyelamatkan jiwaku?”

“Aku yakin bahwa Ki Wandawa bukan seorang yang jahat. Sejak semula aku mengikuti persoalan yang terjadi di rumah itu. Ki Wandawa telah memberi kesempatan perempuan dan anak-anak pergi dari bingkai serangan Aji Gelap Ngampar. Ki Wandawa tidak langsung bertindak terhadap orang-orang yang tidak terlibat dalam persoalan ini. Namun pada saat-saat terakhir, agaknya perasaan Ki Wandawa telah tersentuh api, sehingga hampir saja Ki Wandawa membunuh orang-orang yang tidak bersalah dengan Aji Gelap Ngampar itu. Pembunuhan yang tidak pilih sasaran. Siapa pun akan dapat menjadi korban. Bahkan orang yang tidak tahu menahu persoalannya. Ki Wandawa tidak akan dapat mengatakan bahwa orang-orang itu dengan sengaja dikorbankan untuk kepentingan pencapaian yang lebih besar, karena mereka tidak ada hubungannya sama sekali. Jika yang kau maksudkan seseorang yang sengaja dikorbankan itu adalah Sindu dan bakal isterinya itu, aku masih dapat mengerti. Tetapi tidak orang lain lagi”

Ki Wandawa menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Sanak. Aku tidak akan mempedulikannya lagi. Aku tidak akan mengganggu keluarga Tantiya dan Padni. Juga anaknya. Biar saja apa yang akan mereka lakukan. Biar saja anak itu menikah dan beranak-pinak. Aku tidak akan mempedulikannya lagi”

“Ki Wandawa. Apakah ini berarti bahwa Ki Wandawa sudah memaafkan Ki Tantiya dan isterinya? Apakah ini berarti bahwa Ki Wandawa akan melupakannya?”

Wandawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ya. Aku tidak mau disiksa oleh perasaan dendam seumur hidupku. Aku akan melupakannya. Aku akan membebaskan diri dari beban perasaan dendamku”

“Sukurlah. Jika aku berkata bahwa aku berniat menyelamatkan jiwa Ki Wandawa maksudku adalah untuk membebaskan perasaan Ki Wandawa dari kejaran perasaan bersalah karena Ki Wandawa telah membunuh banyak orang yang tidak bersalah. Pembunuhan yang sia-sia, karena sekedar menuruti gejolak perasaan yang dipermainkan oleh dendam yang berkepanjangan”

“Terima kasih, Ki Sanak. Sekarang aku mengerti. Aku benar-benar mengucapkan terima kasih dengan tulus, karena apa yang Ki Sanak lakukan itu juga dengan hati yang tulus pula. Kita belum pernah berkenalan. Tetapi Ki Sanak telah membebaskan aku dari cengkaman perasaan bersalah itu”

“Ki Sanak. Jika seorang yang jahat membunuh seseorang, maka ia akan dapat melupakannya sebelum darah orang itu kering. Tetapi aku yakin, bahwa Ki Sanak bukan orang semacam itu. Apalagi orang yang Ki Sanak bunuh itu orang yang tidak bersalah”

“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, Ki Sanak. Terima kasih. Aku minta diri”

“Silahkan Ki Sanak”

“Namun aku ingin mempersilahkan Ki Sanak singgah di padepokanku. Padepokan kecil dari seberang bukit kecil di arah Utara itu. Aku telah memanfaatkan padang perdu di tepi hutan untuk membangun sebuah padepokan kecil serta tanah pendukungnya. Sawah dan ladang serta pategalan yang subur”

“Baiklah Ki Wandawa. Pada kesempatan lain, aku akan singgah”

Ki Wandawa itu pun kemudian telah meninggalkan Ki Mina yang berdiri termangu-mangu. Namun ketika disadarinya bahwa para pengiring calon pengantin laki-laki yang batal itu telah berkumpul lagi, maka Ki Mina pun segera beranjak pergi.

Sejenak kemudian, Ki Wandawa pun telah berkumpul dengan murid-muridnya di luar padukuhan. Sambil berjalan menjauhi lingkungan padukuhan itu, Wandawa pun berkata, “Orang yang mampu meredam Aji Gelap Ngampar itu telah menyelamatkan jiwaku”

“Apa yang telah dilakukannya? Apakah jiwa guru terancam?”

“Maksudku, sebagaimana dikatakannya, yang diselamatkan adalah jiwaku. Bukan nyawaku.. Ia telah membebaskan jiwaku dari perasaan bersalah yang berkepanjangan”

“Perasaan bersalah yang mana guru?”

“Aku telah memberi contoh buruk kepada kalian. Selama ini aku telah mengabdikan diri kepada perasaan dendamku, sehingga aku telah terbelenggu karenanya. Dendam itu merupakan beban yang sangat berat yang harus aku usung diatas kepalaku. Tetapi orang tua itu telah memberikan petunjuk kepadaku, langsung atau tidak langsung, sehingga aku dapat meletakkannya”

Muridnya itu pun terdiam.

Untuk beberapa saat mereka berjalan sambil berdiam diri. Semakin lama mereka menjadi semakin jauh dari padukuhan yang pernah memberikan kenangan yang pahit itu.

Dalam pada itu, Tantiya dan Padni tidak mempunyai pilihan. Ia terpaksa membawa anak laki-lakinya pulang. Ancaman Wandawa masih saja terngiang di telinganya.

Tetapi sepupunya itu pun berkata kepadanya, “Jangan takut. Pernikahan itu dapat berlangsung sekarang“

Tetapi pamannya pun berkata, “Jangan sekarang. Kita harus melihat kenyataan. Jangan biarkan orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban”

“Kita akan melawan orang itu, paman. Kita akan mencarinya sehingga kita dapat menemukannya”

“Murid-muridnya akan menghalangi kita. Sudahlah. Bawa Sindu pulang. Kita akan melihat suasana. Bukankah pengantin perempuan itu tidak akan lari, sehingga meskipun pernikahan ini tertunda, tetapi masih dapat dibicarakannya lagi”

Paman dan sepupu Tantiya itulah yang kemudian menemui orang tua calon pengantin perempuan untuk minta diri. Pernikahan malam itu memang batal.

“Kita dapat membicarakannya pada kesempatan lain” berkata paman Tantiya itu

“Tetapi ancaman itu?“ bertanya ayah calon pengantin perempuan itu.

“Memang menyakitkan. Tetapi kita akan melihat suasana”

Ketika Tantiya dan isterinya mengajak Sindu pulang bersama sepupu dan paman Tantiya serta beberapa orang pengiring, terdengar ibu calon pengantin perempuan itu menangis di ruang dalam.

“Sudahlah, Nyi“ suaminya mencoba menenangkannya, “segala sesuatunya sudah lewat. Orang yang mengacaukan acara kita itu sudah pergi”

“Tetapi apa yang sudah kita persiapkan itu semuanya sia-sia kakang”

“Sudahlah. Yang penting kita semuanya selamat. Anak perempuan kita juga selamat. Ia berada di sentong sekarang bersama kakak perempuannya. Ia memerlukan kau. Karena itu, sebaiknya kau pergi ke biliknya. Tenangkan kegelisahannya, ketakutannya dan kekecewaannya”

Isterinya itu pun kemudian bangkit dan pergi ke bilik anak perempuannya yang batal menikah malam itu.

Kakak perempuannya, seorang bibinya dan seorang kawan akrabnya berada didalam bilik itu.

Ketika ibunya masuk ke dalam bilik itu, maka anak perempuannya itu pun langsung mendekapnya. Tangisnya yang sudah mereda itu bagaikan telah dikipasi lagi.

“Ibu“ terdengar suaranya di sela-sela tangisnya.

Ibunya mencoba menenangkannya sebagaimana ia menenangkan hatinya sendiri yang bergejolak. Jika ia pergi ke dapur, maka ia akan melihat hidangan yang sudah siap dihidangkan masih bertimbun. Nasi yang berbakul-bakul. Berbagai macam lauk pauk. Bermacam-macam jenis makanan.

Sedangkan dibilik itu, ia melihat anak perempuannya yang sudah siap menjadi istri seorang laki-laki dan sudah direstui oleh kedua belah pihak, telah batal pula.

Tetapi jika ia teringat akan kata-kata suaminya, maka hatinya menjadi sedikit tenang.

“Semua sudah lewat Nyi. Yang penting kita semuanya selamat. Anak perempuan kita juga selamat”

Dalam pada itu, Tantiya dan Padni menggandeng anak laki-laki pulang diiringi oleh beberapa orang yang semula mengiring calon pengantin laki-laki itu pergi ke rumah calon pengantin perempuan. Tetapi langkah mereka jauh lebih cepat dari pada saat mereka berangkat.

“Siapakah orang yang telah mengacaukan pernikahan itu, ayah? Apa pula yang telah dikatakannya? Meskipun aku tidak dapat menangkapnya secara utuh, tetapi serba sedikit aku dapat membayangkan apa yang telah terjadi. Apakah yang dikatakan orang itu benar, ayah?”

“Kita berbicara di rumah nanti Sindu”

“Aku tidak ingin membicarakannya ayah. Aku hanya bertanya, apakah yang dikatakan itu benar?”

Tantiya tidak segera menjawab. Sehingga anaknya itu. mendesaknya sekali lagi, “Ayah, apakah yang terjadi benar seperti yang dikatakannya itu?”

Tantiya masih belum menjawab Namun dalam pada itu, maka Padni pun tiba-tiba saja berlari mendahului iring-iringan itu. Tangisnya tidak dapat ditahan lagi, sehingga sambil berlari, air matanya berderai di pipinya.

Tantiya dan Sindu berlari menyusulnya.

“Nyi, Nyi”

Padni tidak segera berhenti.

“Ibu, ibu”

Ketika keduanya berhasil menyusul, maka Tantiya telah memegangi lengan Nyi Padni yang sebelah kiri, sedangkan anaknya-memegangi lengan kanannya.

“Maafkan aku ibu. Aku tidak akan mendesak lagi”

Tangis Nyi Padni pun itu pun telah tumpah tanpa dapat dikendalikan lagi, sehingga Nyi Padni itu telah berjongkok di tengah jalan. Semakin ia mencoba menahan tangisnya, maka terasa dadanya menjadi semakin sesak.

“Sudahlah Nyi. Kita dapat berbicara di rumah nanti. Jangan menangis di tengah jalan seperti ini. Kita nanti akan dapat menjadi tontonan”

Tantiya dan anak laki-lakinya berusaha untuk menarik Padni agar berdiri.

Orang-orang yang mengiringkannya, hanya termangu-mangu saja. Mereka berdiri dengan gelisah. Tetapi mereka dapat mengerti, bahwa kegagalan pernikahan Sindu telah sangat memukul perasaan kedua orang tuanya.

Paman dan saudara sepupu Tantiya itu ikut pula mencoba menenangkan perasaan Nyi Padni itu.

Beberapa saat kemudian tangis Nyi Padni pun mereda. Perlahan-lahan ia bangkit berdiri. Kemudian melangkah, melanjutkan menempuh jalan pulang.

Demikian mereka sampai di rumah, maka orang-orang yang ikut mengiringkan Sindu itu ke rumah calon isterinya yang batal itu pun telah minta diri.

Demikian pula penunggu banjar yang juga diminta untuk mengiring calon pengantin laki-laki itu. Seperti juga tetangga-tetangganya yang lain, maka ia pun telah minta diri pula.

“Terima kasih, terima kasih” berkata Tantiya kepada tetangga-tetangganya itu.

Ketika penunggu banjar dan isterinya itu sampai di banjar, mereka melihat Ki Mina dan Nyi Mina duduk di serambi samping banjar padukuhan itu.

Ki Mina dan Nyi Mina bangkit berdiri dan turun ke halaman samping. Sambil tersenyum Ki Mina itu pun berkata, “Sebenarnya aku ingin melihat upacara pernikahan itu, Ki Sanak. Tetapi kedua anakku itu begitu menjatuhkan diri langsung tidur. Aku tidak sampai hati meninggalkan mereka”

“Untunglah kau tidak pergi ke rumah calon pengantin perempuan itu Ki Sanak”

“Kenapa?”

“Suasananya menjadi kacau. Ada persoalan yang menghambat dan bahkan membatalkan pernikahan itu?”

“Membatalkan? Bagaimana terjadinya?”

“Aku akan berganti pakaian dahulu. Nanti aku ceriterakan kenapa upacara pernikahan itu batal”

Kedua orang suami isteri penunggu banjar itu pun meninggalkan Ki Mina dan Nyi Mina. Keduanya pun segera berganti pakaian. Penunggu banjar itu kemudian benar-benar pergi menemui Ki Mina ke banjar, sedangkan isterinya pergi ke dapur untuk merebus air.

Agaknya penunggu banjar itu masih belum mengantuk, sehingga ia minta isterinya menyediakan minuman panas.

Penunggu banjar itu pun kemudian mengajak Ki Mina dan Nyi Mina duduk di pendapa agar mereka tidak mengganggu kedua orang perempuan yang diakui anak oleh Ki Mina dan Nyi Mina itu. Nampaknya keduanya memang letih sehingga tidurnya nampaknya nyenyak sekali.

Di pendapa penunggu banjar itu berceritera tentang kedatangan Wandawa. Tentang dendamnya sejak dua puluh tahun yang lalu, sehingga Wandawa itu membatalkan pernikahan anak Tantiya dan Padni yang pernah menyakiti hatinya.

“Apakah orang-orang yang ada di tempat upacara itu tidak berbuat apa-apa?”

“Kami tidak dapat berbuat apa-apa. Orang yang mengganggu upacara itu mempunyai Aji Gelap Ngampar, sehingga kamai semua hampir mati dibuatnya”

“Gelap Ngampar?”

“Ya. Samacam Aji yang jarang ada bandingnya” Penunggu banjar itu pun kemudian berceritera tentang seseorang yang tidak dikenal yang datang untuk melerainya. “Agaknya orang itu pun memiliki ilmu yang lebih tinggi atau setidak-tidaknya setingkat dengan orang yang bernama Wandawa itu”

“Tetapi kenapa Wandawa itu berusaha untuk membatalkan pernikahan itu?”

Penunggu banjar itu pun kemdian herceritera tentang hubungan antara Wandawa, Padni dan Tantiya duapuluh tahun yang lalu.

Ki Mina dan Nyi Mina mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Seakan-akan ceritera yang diucapkan penunggu banjar itu belum pernah mereka dengar.

Demikian penunggu banjar itu selesai berceritera, maka Ki Mina pun bertanya, “Apakah ceritera itu benar atau sekedar celoteh Wandawa itu saja, Ki Sanak”

“Benar. Ceritera itu benar terjadi. Kami dan masih banyak lagi orang-orang padukuhan itu yang mengetahui. Tantiya waktu itu memang berbuat semena-mena. Tetapi Padni pun bersalah pula. Ia sudah dipertunangkan dengan Wandawa. Bahkan sudah sampai saatnya mereka menikah. Tiba-tiba saja datang Tantiya. Tanpa merasa takut dan tanpa merasa bersalah. Padni itu dibawanya”

“Bagaimana dengan orang-orang Padni sendiri?”

“Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak berani menentang keluarga Tantiya. Apalagi Padni sendiri mengancam akan membunuh diri jika ia diambil dari sisi Tantiya”

Ki Mina mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Tetapi dendam Wandawa itu sudah dapat ditumpahkan malam ini, Ki Sanak. Sehingga agaknya ia sudah tidak lagi mendendam”

“Tentu masih” sahut penunggu banjar itu, “Wandawa mengancam bahwa Sindu tidak akan pernah dapat menikah. Bahkan dengan siapapun. Ia akan membunuh calon isterinya itu jika rencana pernikahan itu akan dipaksakan pada kesempatan lain”

“Mungkin karena ia masih marah waktu itu. Tetapi kemarahan dan dendamnya itu akan runtuh”

“Sudah dua puluh tahun, Ki Sanak. Dua puluh tahun. Bayangkan. Dua puluh tahun adalah waktu yang panjang. Itu adalah pertanda bahwa dendam itu akan selalu memanasi jantungnya disepanjang umurnya”

“Tentu tidak, Ki Sanak. Jika saja ada seseorang, lebih baik orangtua, yang pada masa-masa lampau itu disegani oleh Wandawa”

“Jika ada seseorang yang lebih orang tua, apa yang harus dilakukannya?”

“Orang itu dapat mendatangi Wandawa dan menjembatani hubungan antara Tantiya dan Wandawa itu”

“Siapa yang berani mendatangi Wandawa? Apalagi tidak seorang pun yang tahu, dimana ia tingggal”

“Ki Sanak. Kami sudah sering menempuh perjalanan. Bahkan sebelumnya kami berdua memang pengembara. Aku pernah mendengar bahwa di seberang gumuk kecil di arah Utara itu terdapat sebuah padepokan. Pemimpin padepokan itu bernama Wandawa. Mungkin, tetapi hanya satu kemungkinan, bahwa Wandawa itu adalah Wandawa yang Ki Sanak maksudkan”

“Di seberang gumuk kecil itu?”

“Ya”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengenal orang itu dengan baik. Sejak ia masih muda. Sejak duapuluh tahun yang lalu.. Waktu itu ia adalah seorang anak muda yang baik. Rajin sekali bekerja. Ia memang tidak kaya sebagaimana Tantiya. Tetapi dengan kerja keras sebagaimana dilakukan waktu itu, maka kehidupan keluarganya semakin hari menjadia semakin baik. Jika ia kemudian berkeluarga, agaknya ia akan bertanggung jawab terhadap keluarganya”

Ki Mina dan Nyi Mina mengangguk-angguk. Sementara penunggu banjar itu pun berkata, “Tetapi musibah itu terjadi. Tantiya telah memasuki jalan hidupnya dan bahkan menghancurkannya, sehingga keluarganya benar-benar telah hancur. Anak itu menghilang selama dua puluh tahun. Baru kemudian ia muncul kembali setelah ia mengalami banyak sekali perubahan. Kasihan anak itu. Selama dua puluh lima tahun ia harus mengusung dendam itu. Bahkan mungkin masih akan berkepanjangan”

“Ki Sanak mengenal orang itu dengan baik?”

“Ya. Aku mengenalnya dengan baik”

“Apakah Ki Sanak dapat mengunjungi padepokan di seberang gumuk kecil itu?”

Penunggu banjar itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak yakin bahwa kedatanganku akan diterima dengan baik oleh Wandawa”

“Apakah nampaknya sekarang Wandawa itu begitu jahat?”

“Tidak Ki Sanak“ penunggu banjar itu berhenti sejenak menurut penilaianku, ia masih tetap baik. Ketika ia melontarkan Aji Gelap Ngampar, ia masih sempat memberi peringatan kepada Tantiya untuk membawa Padni pergi. Bagaimanapun juga, ia tentu tidak akan dapat melihat Padni terkapar di halaman rumah calon menantunya yang batal itu”

“Nah, bukankah ia bukan seorang yang jahat? Jika Ki Sanak bersedia pergi ke seberang bukit, besok kita pergi bersama-sama. Aku bersedia menemani Ki Sanak singgah di padepokan itu”

“Apakah itu tidak akan mengganggu perjalanan Ki Sanak yang kebetulan bersama dengan kedua orang anak perempuan Ki Sanak”

“Aku hanya akan menemani Ki Sanak sampai ke padepokan itu. Aku akan segera meneruskan perjalanan. Besok Ki Sanak pulang sendiri”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Besok aku akan mengajak anakku. Ia kawan baik Wandawa. Rumahnya hanya di sebelah dinding halaman ini. Biarlah esok menjelang fajar aku menemuinya dan mengajaknya. Mudah-mudahan ia tidak mempunyai keperluan lain”

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 10

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s