TT-08


kembali | lanjut

TT-08KI MINA mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Padepokan yang pada suatu saat akan dipimpinnya itu tentu juga memerlukan Wikan. Bahkan Nyi Mina di luar sadarnya telah membayangkan hubungan antara Wikan dan Tanjung.

“Ah. Wikan tentu tidak pernah memikirkannya” berkata Nyi Mina didalam hatinya. “Tanjung adalah seorang janda kembang. Sedangkan Wikan adalah seorang jejaka. Agaknya sulit bahwa seorang jejaka akan dijodohkan dengan seorang janda meskipun janda kembang. Apalagi menurut gelarnya, Tanjung menggendong seorang anak meskipun anak itu adalah anak angkat”

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Nyi Purba itu pun mempersilahkan Ki Mina dan Nyi Mina beristirahat Demikian pula Wiyati dan Wikan yang esok pagi akan meninggalkan rumah itu pagi-pagi benar, selagi masih gelap.

Beberapa saat kemudian, rumah itu pun menjadi sepi. Semuanya telah berada di dalam bilik mereka masing-masing. Namun sepi malam terasa demikian menggigit, sehingga

Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan sendiri tidak dapat segera tidur. Bahkan dibiliknya suami Wuni menjadi gelisah.

“Ada apa kakang?“ bertanya Wuni.

“Aku tidak dapat segera tidur”

“Kenapa?“

“Mungkin karena udara terasa panas. Tetapi mungkin karena sebab lain. Malam justru terasa terlampau sepi”

“Udara memang terasa agak panas” desis Wuni.

Sedangkan di bilik yang lain, Ki Mina justru bangkit dan
duduk di bibir pembaringan.

“Kau rasakan suasana yang asing, Nyi?“ bertanya Ki Mina.

“Ya“ jawab Nyi Mina. Tetapi Nyi Mina masih saja berbaring di pembaringannya.

Menjelang tengah malam, maka Ki Mina justru menggamit Nyi Mina. Telinganya yang tajam mendengar desir langkah kaki kuda yang berjalan perlahan-lahan di halaman. Tidak hanya seekor. Tetapi beberapa ekor. Agaknya kuda-kuda itu dituntun oleh penunggangnya memasuki halaman rumah Nyi Purba yang luas itu.

Nyi Mina pun telah bangkit pula. Bahkan Nyi Mina itu pun telah membenahi pakaiannya. Dikenakannya pakaian khususnya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sedang di bilik yang lain, suami Wuni pun telah duduk pula sambil mendengarkan suara tapak kaki kuda di halaman.

Di ruang dalam ternyata Wikan pun masih belum tidur. Ia pun mendengar tapak kaki beberapa ekor kuda di halaman.

Namun Wikan pun yakin, bahwa paman dan bibinya tentu mendengarnya pula. Bahkan Wikan pun berharap bahwa kakak iparnya juga mendengar tapak kaki kuda itu.

“Siapa yang datang malam-malam begini” desis Wikan. Tetapi Wikan tidak mengusik ibunya yang agaknya masih tidur nyenyak. Wiyati pun agaknya sudah tidur pula.

Mereka yang mendengar kedatangan beberapa orang yang menuntun kuda mereka itu terkejut ketika mereka mendengar, suara seorang perempuan diluar. “Ya. Inilah rumahnya”

“Kau yang telah membawanya kepada kami, Wandan. Kaulah yang harus membujuknya agar Wiyati kembali bersama kita. Keberadaannya di antara kita membuat usaha kita semakin maju. Lebih dari itu, yang dilakukan oleh saudara-saudaranya itu telah menyinggung harga diri kami. Bahkan akan dapat membuat kebiasaan buruk diantara gadis-gadis kami. Keluarganya akan dapat dengan leluasa mengambil mereka kapan saja keluarganya itu mau tanpa memperhitungkan berapa banyak uang yang sudah kami keluarkan untuk kepentingannya”

“Aku akan mencobanya“ terdengar suara perempuan itu pula. “tetapi jika ia berkeberatan?”

“Kau akan membujuknya sebagaimana kau membujuknya untuk pertama kali sehingga ia bersedia tinggal bersama kita. Jika kau tidak berhasil, maka kami akan memaksanya untuk pergi. Jika perlu dengan kekerasan. Siapa yang mencoba menghalanginya akan kami singkirkan”

Sepi sejenak. Namun kemudian seorang laki-laki menggeram. “Cepat Wandan. Kau jangan menguji kesabaran kami”

“Baik, baik“ perempuan itu nampaknya menjadi ketakutan. Suaranya terdengar bergetar. “Aku akan membujuknya. Tetapi lepaskan lenganku. Kau menyakitiku”

Hening sejenak. Namun kemudian terdengar pintu pringgitan rumah Nyi Purba itu diketuk orang.

Wikan yang ada di ruang dalam itu pun segera mengetahui apa yang telah terjadi. Yang datang adalah orang-orang yang di upah oleh perempuan gemuk yang telah mendirikan usaha yang terkutuk itu. Mengumpulkan gadis-gadis lugu dari padesan, kemudian dibujuk dengan mempergunakan umpan gebyar kadonyan. Bahkan mungkin pula dengan ditakut-takuti dan diancam. Sehingga beberapa orang gadis, termasuk Wandan dan Wiyati telah jatuh ke dalam kekuasaannya.

Agaknya malam itu mereka datang untuk membalas sakit hati mereka karena Wikan telah mengambil kakak perempuannya dengan paksa. Bahkan Wikan berhasil mengalahkan orang-orang upahan di rumah durhaka itu.

Karena itu, maka Wikan pun segera mempersiapkan diri. Yang datang itu tentu bukan hanya laki-laki bertubuh raksasa yang disebutnya Depah, karena orang itu sudah dikalahkannya. Jika Depah itu ikut datang, maka ia tentu membawa kawan-kawannya yang memiliki kelebihan dari Depah itu sendiri.

Ketika kemudian pintu pringgitan itu diketuk lagi, bahkan lebih keras, Wikan pun bertanya. “Siapa?”

Sejenak tidak ada jawaban. Namun kemudian terdengar suara seorang perempuan. “Aku. Wandan”

Ternyata ketukan pintu serta suara perempuan di luar serta suara Wikan sendiri telah membangunkan ibunya yang dengan gelisah keluar dari biliknya. “Ada apa Wikan?”

“Tidak ada apa-apa ibu. Tenanglah. Sebaiknya ibu kembali ke bilik ibu”

Sebelum Nyi Purba menyahut, terdengar pintu pringgitan itu di ketuk lagi. Terdengar suara perempuan itu lagi. “Tolong, bukakan pintu. Aku Wandan. Aku ingin berbicara dengan Wiyati”

“Wandan” desis Nyi Purba. “buat apa kau berbicara dengan Wiyati. Wiyati sudah melupakan cara hidupnya di Mataram. Jangan ganggu anak itu lagi”

“Tidak, bibi. Aku hanya ingin menyampaikan pesan”

“Sudahlah Wandan. Sebaiknya kau tidak usah menemui Wiyati lagi. Jalan hidup kalian telah bersimpangan. Biarlah masing-masing menempuh jalan hidupnya sendiri”

“Aku mengerti bibi. Tetapi aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan buat Wiyati. Tolong, biarlah aku menemuinya barang sekejap”

Wiyati tiba-tiba saja sudah ada di dekat ibunya itu pula. Dengan suara yang bergetar Wiyati itu pun menyahut. “Wandan. Katakan pesan itu dari luar pintu. Aku dapat mendengarnya”

“Buka pintu Wiyati. Aku hanya ingin berbicara sedikit saja. Sebuah pesan yang barangkali berarti bagimu”

“Katakan Wandan. Katakan saja. Maaf aku tidak dapat menemuimu sekarang”

“Tolonglah aku Wiyati. Aku berada dalam kesulitan jika aku tidak dapat menemui barang sejenak”

Wiyati termangu-mangu. Namun dengan tegas Wikan menggeleng sambil memberi isyarat kepada kakak perempuannya, bahkan ia tidak perlu menemuinya. Bahkan ibunya pun telah memegangi lengannya sambil berbisik. “Tidak Wiyati. Jangan buka pintu itu”

Ketika sekali lagi Wandan mengetuk pintu rumahnya, maka Wikanlah yang menyahut. “Wandan. Tinggalkan rumah kami. Aku minta kesediaanmu untuk tidak mengganggu mbokayuku lagi”

“Jadi kalian tidak mau membuka pintu rumahmu?”

“Maaf Wandan”

“Wiyati“ suara Wandan pun menjadi semakin tinggi. “ternyata kau tidak dapat menilai kebaikan hati orang. Aku telah membantumu dalam kehidupan yang sulit, sehingga kau menjadi seorang perempuan yang berkecukupan. Kau dapat mengirimkan uang dan barang-barang berharga kepada ibumu. Namun akhirnya kau tinggalkan aku dalam kesulitan”

“Jadi menurut pendapatmu, apa yang pernah kau lakukan terhadap mbokayu Wiyati itu satu pertolongan? Satu kebaikan? Itukah penilaian dari orang-orang yang tinggal di jalan hidup yang gelap itu, mana yang baik dan mana yang buruk? Sudahlah Wandan. Jalan hidupmu dan jalan hidup mbokayu Wiyati kini berbeda. Pergilah, jangan ganggu mbokayu lagi”

“Inikah balasanmu Wiyati. Aku sama sekali tidak berkeberatan bahwa kau pergi dari rumah itu, jika hal itu tidak menyangkut keadaanku sekarang. Akulah yang kemudian dianggap bersalah karena aku telah membawamu ke rumah itu. Karena mereka tidak berhasil menahanmu agar kau tidak pergi, maka sekarang akulah yang harus memikul beban karena kesalahanmu itu”

Wikan termangu-mangu sejenak.Ia merasa kasihan pula kepada Wandan, bahwa akhirnya ialah yang mengalami tekanan yang tentu menyiksanya lahir dan batin.

Tetapi Wikan tidak ingin kakaknya berbicara lagi dengan Wandan yang mungkin akan mengingatkan Wiyati kepada kehidupan yang penuh gebyar kadonyan itu.

“Biarlah aku yang menemu mereka” berkata Wikan kepada kakak perempuannya.

“Hati-hati, Wikan” desis Wiyati. “Wandan tentu tidak sendiri. Sedangkan orang-orang yang diupah oleh perempuan gemuk itu tentu orang-orang yang tidak berjantung lagi. Aku mengenal mereka. Mata mereka tertutup oleh keping-keping uang. Sedangkan hati mereka bagaikan sudah membeku”

“Aku akan berhati-hati mbokayu” sahut Wikan. “bahkan mungkin paman dan bibi sudah mendengar pula pembicaraan ini”

Ketika kemudian pintu rumah itu diketuk lagi lebih keras, maka Wikan pun berkata. “Jangan kau rusakkan pintu rumahku. Aku akan membukanya”

Ketika Wikan membuka pintu rumahnya, maka ia melihat beberapa orang yang berwajah garang berdiri di pendapa rumahnya. Seorang diantara mereka memegangi lengan Wandan dan mendorong-dorongnya dengan kasar, sehingga sekali sekali Wandan berdesah kesakitan.

“Wikan“ suara Wandan sudah mulai diwarnai dengan isaknya. “tolong aku Wikan. Aku ingin berbicara dengan Wiyati”

Wikan menggeleng. Katanya. “Tidak ada yang perlu kalian bicarakan. Mbokayu Wiyati sudah bertekad untuk meninggalkan dunia yang berada di bawah bayangan kegelapan itu. Ia sekarang sudah sempat menilai bahwa apa yang dilakukan di Mataram itu adalah tindakan yang nista. Yang memang seharusnya ditinggalkannya”

“Perempuan iblis” geram laki-laki bertubuh raksasa itu. “Aku akan mengambilnya dengan paksa”

Beberapa orang laki-laki yang garang yang berdiri di pendapa itu mulai bergerak. Seorang diantara mereka, yang tubuhnya tidak kalah besarnya dengan laki-laki yang memegangi lengan Wandan, telah dikenal oleh Wikan. Orang itu adalah orang yang disebut Depah. Orang yang menjadi palang pintu rumah perempuan gemuk yang telah sampai hati menjual kehormatan perempuan-perempuan lugu yang dapat dijebaknya.

Wikan yang berdiri di depan pintu itu pun berkata. “Siapa yang akan kau ambil?“

“Perempuan yang tidak tahu diri itu. Aku akan membawa Wiyati dengan paksa, sebagaimana keluarganya mengambilnya dari tempat yang telah disediakan baginya. Seorang ibu yang telah mengeluarkan banyak uang untuk mengentaskannya dari kemiskinan dan kelaparan”

“Ki Sanak. Jangan mencari persoalan. Jika kau berniat mengambilnya dengan paksa, maka kami tentu akan mempertahankannya. Kami adalah keluarganya yang merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatannya”

“Bagus. Cobalah mempertahankan saudara perempuanmu itu. Sebenarnyalah bahwa niat kami mengambil Wiyati bukan sekedar karena perempuan yang telah menolongnya itu merasa sangat dirugikan. Tetapi kami juga harus menunjukkan kuasa kami atas semua gadis yang telah memasuki dunia kami. Jika kami tidak mengambil Wiyati kembali, maka cara yang kalian tempuh akan menimbulkan gagasan pada orang lain untuk melakukannya pula. Tetapi jika kami datang untuk mengambil Wiyati, maka orang lain tidak akan berani menirunya, karena kami tidak sekedar bermain-main. Kami melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Bahkan jika perlu kami tidak akan merasa segan untuk membunuh”

“Luar biasa” sahut Wikan. “kalian adalah orang-orang yang sangat berani. Tetapi kalian tetap saja kurang perhitungan. Jika kalian memaksakan kehendak kalian, maka kami akan dapat memukul kentongan dengan irama titir. Semua laki-laki akan keluar dari rumah mereka untuk membantu kami melawan kalian dan kemudian memperlakukan kalian seperti kami memperlakukan para perampok”

Orang yang bertubuh raksasa yang memegangi lengan Wandan itu tertawa. Beberapa orang yang berwajah garang yang berdiri di pendapa itu pun tertawa pula. Dengan nada tinggi orang yang bertubuh raksasa yang memegangi Wandan itu pun berkata. “Kau kira kami takut menghadapi orang-orang sepadukuhan bahkan sekademangan ini? Nah. aku beri kesempatan agar kau bunyikan kentonganmu. Aku akan menunggu tetangga-tetanggamu berkumpul di halaman. Tetapi jika lebih separo dari antara mereka mati terbunuh di halaman ini, maka itu adalah tanggung jawabmu”

“Baik. Nanti aku akan memukul kentongan. Tetapi sekarang aku akan menegaskan, bahwa kalian tidak akan dapat bertemu dan berbicara dengan mbokayu Wiyati. Apalagi membawanya kembali ke Mataram dan menyurukkannya kembali ke dunia yang gelap itu”

“Persetan kau anak muda. Minggirlah agar kau tidak akan menyesal nanti”

“Akulah yang telah mengambil mbokayuku Wiyati dari Mataram. Apakah pantas jika sekarang aku melepaskannya kembali? Nah, bertanyalah kepada orang yang bernama Depah itu, bagaimana akan mengambil mbokayuku Wiyati”

Orang itu memang berpaling kepada Depah. Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata. “Depah memang pernah berceritera, bagaimana keluarga Wiyati datang untuk mengambilnya. Sekarang ia datang untuk membalas dendam. Ia tidak saja ingin membawa Wiyati kembali, tetapi ia ingin menghancurkan orang yang telah berani merendahkan harga dirinya pada waktu itu, pada saat ia sedang mabuk sehingga tidak dapat melawanmu dengan sepenuh kemampuannya, karena nalarnya sedang disaput oleh pengaruh tuak itu Nah, sekarang ia datang dengan nafas yang segar. Ia tidak sedang mabuk. Karena itu, maka biarlah Depah melepaskan dendamnya kepada orang yang telah mengalahkannya di Mataram”

“Orang inilah yang aku cari” geram Depah sambil melangkah maju, ”aku merasa senang dapat bertemu orang ini lagi”

“Nah. Terserah kepadamu, anak muda” berkata orang yang memegangi lengan Wandan. “Kau berikan Wiyati kepada kami atau tidak?”

“Tidak“ jawab Wikan tegas.

“Jika demikian, maka kami akan mengambilnya dengan paksa”

Wikan menarik nafas panjang. Namun kemudian Wikan itu pun berkata. “Ki sanak. Ternyata kalian tidak mau mengerti peringatan yang telah kami berikan kepada kalian. Tetapi untuk sementara kami masih belum merasa perlu untuk memukul kentongan. Kami akan berusaha melawan kalian dengan kemampuan yang kami miliki di rumah ini. Baru jika kami mengalami kesulitan, kami akan memukul kentongan untuk memanggil tetangga-tetangga kami”

“Sombongnya anak ini. Dengan mengalahkan Depah yang mabuk pada waktu itu, kau sudah merasa dirimu sebagai seorang pahlawan yang tidak terkalahkan”

“Bukan itu maksudku. Tetapi aku akan tetap pada pendirianku. Aku tidak akan membiarkan seorang pun mengganggu kakak perempuanku itu lagi”

Orang bertubuh raksasa itu tidak sabar lagi. Ia pun kemudian mendorong Wandan kepada seorang kawannya sambil berkata. “Jaga perempuan itu. Aku sedang mengambil kawannya. Ia akan kembali ke Mataram bersama Wiyati”

Wandan itu terpekik kecil. Hampir saja ia jatuh terpelanting. Tetapi seorang diantara beberapa orang laki-laki yang garang itu menangkapnya. Namun kemudian menariknya turun dari pendapa dan menyeretnya ketepi halaman.

“Aku tidak perlu menjagamu perempuan jalang. Aku lebih senang mengikatmu pada pohon gayam ini, karena dengan demikian aku akan mendapat kesempatan untuk ikut berkelahi”

“Jangan” teriak Wandan.

“Persetan”

Wandan meronta. Tetapi laki-laki yang kasar itu telah memukulnya sambil membentak. “Diam kau. Atau aku akan cekik kau sampai mati”

Wandan tidak dapat mengelak lagi ketika laki-laki itu kemudian mengikatnya pada sebatang pohon gayam dengan sedendangnya sendiri.

“Jika kau berusaha untuk lari, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk, Wandan” geram laki-laki kasar itu

Wandan tidak mampu berbuat apa-apa ketika laki-laki itu mengikat tangannya.

Dalam pada itu, suami Wuni pun telah keluar pula. Kepada isterinya ia berpesan. “Selarak kembali pintu itu dari dalam. Jangan cemaskan kami. Kami akan mengatasi mereka”

Wuni memang menjadi agak ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian menyelarak pintu pringgitan dari dalam. Bahkan kemudian Wuni pun telah melihat semua pintu di rumahnya apakah semuanya sudah diselarak dengan kokoh.

Tetapi bukan hanya suami Wuni yang kemudian berada di pendapa. Ki Mina dan Nyi Mina pun telah berada di pendapa itu pula.

Orang yang bertubuh raksasa serta kawan-kawannya itu pun memperhatikan keempat orang yang sudah siap menghadapi mereka.

“Hanya empat orang” desis orang bertubuh raksasa yang semula memegangi Wandan.

Depah yang juga bertubuh raksasa itu mendekatinya sambil menunjuk kepada Wikan dan suami Wuni. “Dua orang itulah yang pernah datang ke Mataram untuk mengambil Wiyati”

“Jika demikian, segala tanggung-jawab akan kita bebankan kepada mereka“

“Ya”

Namun Ki Mina pun menyahut. “jangan lupakan kami. Meskipun kami tidak ikut ke Mataram untuk mengambil Wiyati, tetapi kami juga ikut merasa bertanggung-jawab terhadap keselamatan jiwanya yang telah dicemarkan di Mataram”

Orang-orang yang ada di pendapa itu pun berpaling kepadanya. Orang bertubuh raksasa yang semula memegangi Wandan itu pun bertanya. “Apa yang akan kau lakukan kakek tua?”

Jawaban Ki Mina membuat jantung raksasa itu berdesir. Katanya singkat. “Berkelahi”

Orang bertubuh raksasa itu justru terdiam beberapa saat. Yang kemudian menyahut adalah seorang yang bertubuh agak gemuk yang berdiri di sebelah Depah. “Nampaknya kau sudah jemu untuk melanjutkan hidupmu di dunia ini. Mungkin kau sudah merasa terlalu tua, atau barangkali kau sudah berputus-asa karena kau tidak dapat membayar hutangmu yang bertimbun”

Ki Mina tertawa. Dengan ringan ia pun bertanya. “Dari-mana kau tahu, bahwa hutangku sudah bertimbun?“

“Aku melihatnya pada tampangmu kakek tua” jawab orang agak gemuk itu.

Nyi Mina pun tertawa lebih panjang. “Tepat. Tetapi aku sudah terbiasa tidak membayar hutangku. Jika aku berhutang kepada seseorang, aku ajak saja orang itu berbantah dan bertengkar. Maka ia tidak akan datang lagi untuk menagihnya”

“Setan tua” geram orang itu. “Aku ingin mencungkil gigimu agar jika kau bercermin di sendang, kau tahu, bahwa kau sudah terlalu tua”

Ki Mina justru tertawa pula.

“Cukup” teriak orang bertubuh raksasa itu.

Ki Mina pun berhenti tertawa. Sementara itu orang yang bertubuh raksasa itu pun berkata lantang kepada kawan-kawannya. “Kita berhadapan dengan orang-orang dungu yang sombong, yang tidak mau mendengarkan keterangan serta maksud baik kita. Karena itu, maka kita akan mengambil Wiyati dengan paksa. Jika seorang dari seisi rumah ini membunyikan kentongan sehingga tetangga-tetangga mereka datang, maka kita akan memperlakukan mereka sebagaimana kita memperlakukan musuh-musuh kita. Kita tidak akan merasa ragu untuk menghalau mereka dan bahkan jika perlu membunuh mereka”

Orang-orang yang datang untuk mengambil Wiyati itu pun segera bersiap. Tetapi mereka tidak ingin bertempur di pendapa. Tiang-tiang pendapa itu tentu akan sangat mengganggu. Karena itu, maka mereka pun segera turun ke halaman.

“Nah, siapa yang ingin mempertahankan Wiyati? Turunlah. Kami akan menyelesaikan kalian lebih dahulu. Baru kami akan memaksa orang-orang yang berada didalam rumahmu untuk membuka pintu”

Wikan dan suami Wuni itu pun kemudian menyusul orang-orang yang akan mengambil Wiyati turun ke halaman. Ki Mina dan Nyi Mina ternyata telah turun pula lewat sisi yang lain, sehingga keduanya berdiri berseberangan dengan Wikan dan suami Wuni.

Sikap keempat orang itu ternyata menarik perhatian orang-orang yang datang untuk mengambil Wiyati. Keempat orang itu nampak begitu yakin dirinya bahwa mereka akan dapat mengatasi keadaan. Bahkan seorang diantara mereka adaiah perempuan. Seorang nenek yang rambutnya sudah ubanan.

Sembilan orang yang berwajah garang berdiri di halaman rumah Wikan. Sebenarnya jumlah itu dipersiapkan jika tetangga-tetangga Wiyati melibatkan diri. Sembilan orang itu akan mampu mengatasi dua orang yang telah datang mengambil Wiyati serta beberapa orang tetangga yang berniat melibatkan diri.

Tetapi yang mereka hadapi ternyata berjumlah empat orang. Agaknya mereka merasa tidak memerlukan bantuan tetangga-tetangga karena mereka sama sekali tidak membunyikan kentongan.

Dibawah pohon gayam, Wandan yang diikat dengan batang pohon gayam itu menjadi gemetar. Ia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi. Mungkin orang-orang yang membawanya itu akan dapat mengalahkan keempat orang yang berusaha mempertahankan Wiyati. Orang-orang itu akan menyeret Wiyati dan dirinya sendiri ke Mataram. Mereka akan dinaikkan keatas punggung kuda, masing-masing bersama seorang diantara orang-orang yang garang itu. Jika mereka berhasil mengambil Wiyati, maka mungkin sekali mereka merasa menang. Adalah tidak mustahil bahwa mereka akan merayakan kemenangan mereka. Karena yang ada hanyalah Wiyati dan dirinya, maka kemungkinan yang buruk sekali dapat terjadi atas mereka berdua.

Wandan itu pun menggigil seperti orang kedinginan. Ia sudah terbiasa berada diantara banyak laki-laki. Tetapi bukan laki-laki yang kasar dan buas seperti sembilan orang itu. Ia justru terbiasa berada diantara laki-laki yang memiliki banyak uang dan bahkan berkedudukan.

Dalam pada itu, orang-orang yang berada di halaman itu pun telah mempersiapkan diri untuk bertempur. Wikan berdiri beberapa langkah dari kakak iparnya Sementara di sisi lain Ki Mina dan Nyi Mina telah bersiap menghadapi segala kemung-kinan.

Berbeda dengan Wikan dan kakak iparnya yang akan mengandalkan kemampuan mereka masing-masing, Ki Mina dan Nyi Mina agaknya akan bertempur berpasangan.

Depah yang mendendam kepada Wikan, telah menempatkan dirinya, untuk menghadapi Wikan. Tetapi ia tidak sendiri. Depah itu akan bertempur bersama orang yang berperawakan agak gemuk, yang wajahnya nampak menakutkan. Garang tetapi licik seperti wajah serigala.

Wikan menyadari, bahwa ia harus bekerja keras. Ia pernah bertempur melawan Depah. Tetapi ia masih harus menjajagi kemampuan lawannya yang seorang lagi, yang mungkin sekali memiliki kemampuan yang tidak kalah dari Depah.

“Dalam keadaan terpaksa, apaboleh buat” berkata Wikan didalam hatinya.

Namun Wikan masih berusaha mengatasinya dengan ilmu kanuragannya yang tinggi.

Sejenak kemudian, Depah itu pun menggeram. “Sekarang aku akan menghancurkanmu anak muda”

“Kau ternyata harus mengakui kelebihanku”

“Persetan. Tidak ada yang mengakui kelebihanmu. Bahkan aku akan menghancurkanmu menjadi debu”

“Jika kau tidak mengakui kelebihanku, kau tentu tidak akan membawa seorang kawan untuk melawanku”

“Sombongnya anak ini” berkata orang yang agak gemuk itu. “Aku justru ingin tahu, sejauh manakah kemampuannya yang sebenarnya”

“Kita akan memilin lehernya”?

“Aku ingin melihat jantung yang ada di dalam dadanya. Aku ingin tahu, apakah jantung orang yang sombongnya sampai menggapai langit itu mempunyai kelainan. Mungkin jauh lebih besar dari jantung orang kebanyakan. Mungkin bentuknya bulat atau persegi”

“Aku mempunyai tiga buah jantung” sahut Wikan.

“Bocah edan” geram orang berwajah serigala itu. “Aku akan membelah dadamu”

Wikan tidak menjawab lagi. Ternyata Depah itu sudah mulai menyerangnya, meskipun serangannya masih belum berbahaya.

Sejenak kemudian, mereka telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Depah dan kawannya yang agak gemuk itu pun segera meningkatkan ilmu mereka. Serangan-serangan mereka datang beruntun, susul menyusul.

Namun ternyata Wikan cukup tangkas. Dengan ringan ia berloncatan melenting menyerang salah seorang dari kedua lawannya.

Kedua orang lawan Wikan itu pun harus mengakui kenyataan, bahwa ilmu Wikan memang sangat tinggi. Dengan demikian, maka keduanya pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mengatasi anak muda yang pernah mempermalukan Depah itu di hadapan perempuan gemuk yang mengupahnya itu.

Meskipun kedua orang yang bertempur melawan Wikan itu adalah dua orang yang sangat ditakuti, namun dihadapan Wikan mereka ternyata harus mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Seperti seekor banteng yang terluka, Wikan menyerang kedua lawannya dengan garangnya. Sorot matanya nampak kemerah-merahan.

Kemarahan yang menyala di dadanya, seakan-akan telah membuat darahnya mendidih.

Sebenarnyalah bahwa Wikan telah membuat kedua lawannya berdebar-debar. Depah yang pernah bertempur melawan Wikan pun tidak mengira bahwa kemampuan Wikan itu begitu tinggi, sehingga untuk mengalahkannya saat ia bertempur di Mataram, di halaman rumah perempuan gemuk itu, Wikan tidak perlu mengerahkan segenap kemampuannya.

Sementara itu, kakak ipar Wikan itu pun telah terlibat pula dalam pertempuran yang sengit. Kakak ipar Wikan itu harus mengerahkan kemampuannya untuk menghadapi dua orang yang bertempur bersama-sama.

Sedangkan disisi lain, Ki Mina dan Nyi Mina bertempur berpasangan. Mereka berdiri saling membelakangi. Sementara itu lima orang telah mengepungnya. Seorang diantara mereka adalah pemimpin kelompok yang bertubuh raksasa sebagaimana Depah.

Ki Mina dan Nyi Mina berdiri saling membelakangi. Sementara pemimpin kelompok yang bertubuh seperti Depah itu pun menggeram. “Menyerahlah kakek dan nenek tua”

Yang menjawab adalah Ki Mina. “Kenapa tidak kau saja yang menyerah?”

“Orang tua yang tidak tahu diri. Sebenarnyalah bahwa kami merasa kasihan kepada kalian berdua. Kalian sudah tua, tetapi kalian masih harus bertempur untuk mempertahankan seorang gadis yang sebenarnya akan mendapat tempat yang jauh lebih baik dari pada jika ia berada di rumah”

“Ternyata pandangan kita tentang yang baik itu berbeda. Jika kau mengatakan bahwa ia akan mendapatkan tempat yang lebih baik di Mataram, maka kami berpendapat lain. Ia akan tersungkur kedalam lubang sampah jika ia kembali ke Mataram”

“Baik. Jangan salahkan kami jika kami terpaksa menyakiti kalian berdua”

Ki Mina tidak menjawab lagi. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan bersama isterinya yang juga sudah ubanan.

Sejenak kemudian kelima orang upahan yang mengelilingi kedua orang tua itu sudah mulai bergerak. Mereka bergeser setapak demi setapak. Namun tiba-tiba saja seorang diantara mereka melenting seperti uler kilan. Serangannya datang begitu cepatnya. Tangannya pun terjulur lurus mengarah ke dada Ki Mina. Sementara itu, seorang yang lain telah meloncat pula sambil mengayunkan kakinya kearah lambung Nyi Mina.

Namun kedua orang tua itu sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena itu, maka serangan-serangan itu pun dengan mudah mereka hindari.

Namun sejenak kemudian, kelima orang yang mengitari Ki Mina dan Nyi Mina itu pun telah bergerak serentak. Mereka menyerang dengan garangnya. Bersama-sama. Namun kadang-kadang serangan-serangan itu pun datang beruntun.

Namun pertahanan Ki Mina dan Nyi Mina tidak mudah mereka goyahkan. Kedua orang tua itu mampu menghindari serangan-serangan yang datang seperti prahara itu. Sekali-sekali kedua orang itu dengan sengaja telah membentur serangan-serangan mereka. Ki Mina dan Nyi Mina mencoba menjajagi tingkat kekuatan dan kemampuan kelima orang lawannya.

Pemimpin sekelompok orang upahan yang datang untuk mengambil Wiyati itu pun berteriak-teriak memberikan aba-aba. Ia sendiri bertempur dengan garangnya. Serangan-serangannya datang beruntun terutama tertuju kepada Ki Mina.

Tetapi Ki Mina dan Nyi Mina itu tidak menghadap kearah yang tetap. Kadang-kadang keduanya berputar, sehingga mereka akan berhadapan lawan yang berbeda.

Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan semula menganggap bahwa Nyi Mina adalah sasaran yang lebih lunak dari suaminya. Karena itu, maka orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu memusatkan serangan-serangannya kepada Nyi Mina.

Namun ternyata orang itu keliru. Perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Serangan-serangannya tidak pernah menyentuh tubuhnya.

Beberapa saat kelima orang itu berputaran. Demikian pula Ki Mina dan Nyi Mina yang berdiri saling membelakangi itu. Mereka  pun berputar pula, bahkan arahnya adalah arah yang sebaliknya dari kelima orang yang mengelilinginya.

Pemimpin orang-orang upahan itu menjadi tidak telaten. Ia berniat menyelesaikan tugasnya lebih cepat. Ia ingin segera menghentikan perlawanan kakek dan nenek tua itu, kemudian mengambil Wiyati dan membawanya ke Mataram.

Karena itu, maka ia pun segera memberikan beberapa aba-aba kepada kawan-kawannya untuk segera menyelesaikan kedua orangtua itu.

“Jika mereka keras kepala, maka apaboleh buat. Kami harus menghentikan perlawanan mereka. Jika dengan demikian mereka terbunuh, itu bukan salah kalian”

Demikianlah, maka kelima orang yang bertempur melawan Ki Mina dan Nyi Mina itu seakan-akan telah menghentakkan ilmu mereka. Serangan-serangan mereka pun menjadi semakin garang. Orang yang bertubuh raksasa itu berusaha untuk dapat menghentikan perlawanan Ki Mina, sedangkan orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu masih saja tetap mengarahkan serangan-serangannya terutama kepada Nyi Mina.

Namun akhirnya orang itu pun harus menyadari, bahwa perempuan itu adalah seorang yang berilmu tinggi pula.

Ternyata sembilan orang upahan itu tidak segera mampu menyelesaikan tugas mereka. Jangankan membawa Wiyati kembali ke rumah perempuan gemuk itu. Sedangkan untuk menembus pintu pringgitan pun mereka tidak mampu.

Dalam pada itu, Depah dan kawannya yang berwajah serigala itu mulai mengalami kesulitan. Wikan berloncatan dengan tangkasnya, seakan-akan tubuhnya tidak mempunyai bobot lajn. Serangan-serangannya pun menjadi semakin cepat. Bahkan serangan-serangan Wikan telah mulai menyeruak menerobos pertahanan Depah dan kawannya. Depah terdorong beberapa langkah surut ketika kaki Wikan mengenai dadanya. Sementara itu, sambil merendah, Wikan telah menyapu kaki kawan Depah itu sehingga orang itu jatuh terlentang.

Kawan Depah itu mengum-pat habis-habisan. Ia sudah mendengar dari Depah, bahwa anak muda yang mengaku adik Wiyati itu berilmu tinggi. Namun ia tidak membayangkan bahwa ilmu anak muda itu begitu tinggi, sehingga berdua ia tidak mampu berbuat banyak.

Sementara itu kakak ipar Wikan harus bekerja keras untuk mempertahankan diri. Kedua orang lawannya adalah orang-orang yang mampu bergerak cepat. Serangan-serangan keduanya datang silih berganti. Keduanya juga ingin agar pekerjaan mereka segera dapat mereka selesaikan. Jika mereka dapat mengalahkan seorang lawannya, maka keduanya akan segera bergabung dengan Depah Sehingga lawan Depah itu pun segera dapat dilumpuhkan pula. Dengan demikian maka mereka akan segera menyelesaikan kakek dan nenek tua yang ternyata berilmu sangat tinggi itu.

Tetapi kakak ipar Wikan itu tidak mudah ditundukkan. Meskipun setiap kali ia terdesak surut, namun ia masih tetap bertahan serta melindungi dirinya sendiri.

Wikan pun kemudian sempat melihat dalam keremangan malam, bahwa kakak iparnya mengalami kesulitan menghadapi dua orang lawan yang sangat tangguh. Karena itu, maka ia pun berniat untuk membantunya.

“Jika aku dapat mengurangi seorang lawan, maka seorang yang bertempur melawan kakang itu pun akan meninggalkannya dan bergabung dengan lawanku yang tersisa” berkata Wikan didalam hatinya.

Dengan demikian, maka Wikan pun telah meningkatkan ilmunya pula. Yang menjadi sasaran utamanya adalah justru Depah yang mendendamnya. Ia ingin menunjukkan kepada Depah, bahwa ia memang bukan lawannya. Betapa pun juga, Depah harus mengakui, bahwa adik Wiyati itu mempunyai kelebihan daripadanya. Bahkan berdua Depah tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri.

Dalam pada itu, ketika pertempuran di halaman itu berlangsung dengan sengitnya, maka Wandan menjadi semakin ketakutan. Menang atau kalah, maka orang-orang kasar itu tentu akan menyakitinya.

Karena itu, Wandan itu tidak dapat menahan diri lagi. Tangisnya pun semakin lama menjadi semakin keras.

“Tolong aku“ suara Wandan yang bergetar itu seakan-akan menyusup diantara lubang-lubang dinding rumah Wiyati.

“Kasihan Wandan“ tiba-tiba Wiyati itu pun berdesis. Bagaimanapun juga Nyi Purba dan Wuni adalah seorang perempuan. Mendengar tangis dan sesambat Wandan yang terikat pada sebatang pohon di halaman itu, mereka pun menjadi iba.

Tetapi Wandan adalah orang yang telah meracuni Wiyati. Perempuan itulah yang telah menyurukkan Wiyati ke rumah perempuan gemuk itu.

“Tolong aku“ tangis itu terdengar lagi diantara hentakkan-hentakan perkelahian di halaman.

“Ibu” desis Wiyati.

Nyi Purba menarik nafas panjang.

“Kasihan anak itu. Jika nanti Wandan itu dibawa kembali ke Mataram, maka sepanjang jalan ia akan mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan. Jika orang-orang upahan itu gagal membawa aku ke Mataram, maka kekecewaan, kekesalan dan kemarahan mereka akan tertumpah seluruhnya kepada Wandan”

Nyi Purba termangu-mangu sejenak. Namun Wunilah yang bertanya. “Lalu, apa yang dapat kita lakukan?“

“Kita tolong Wandan” jawab Wiyati.

“Tetapi dimana Wandan sekarang? Kita hanya mendengar tangisnya. Tetapi kita tidak tahu, dimana ia berada. Mungkin seorang sedang memeganginya, memilin tangannya atau perbuatan lain yang dapat menyakitinya”

“Aku akan melihatnya”

“Kau?“

“Dari celah-celah pintu seketeng”

Wuni mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian berkata. “Marilah, kita lihat bersama-sama”

“Tetapi hati-hatilah. Jika kalian justru tertangkap, maka kalian pun akan mengalami perlakuan yang sangat buruk”

“Ya, ibu“ jawab Wuni.

Keduanya pun kemudian keluar lewat pintu butulan turun ke longkangan samping. Dengan sangat berhati-hati mereka mendekati pintu seketeng.. Perlahan-lahan mereka mendorong pintu itu sehingga sedikit terbuka.

Keduanya pun mengintip dari celah-celah daun pintu yang sedikit terbuka itu. Di keremangan cahaya lampu yang terpancar di pendapa, keduanya melihat bayangan-bayangan yang berterbangan.

Pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya.

“Dimana Wandan?” desis Wiyati.

Sejenak keduanya mencari.

Tiba-tiba saja Wuni pun berdesis. “Lihat, Wandan diikat di pohon itu”

Wiyati pun segera melihat pula Wandan yang terikat. Sekali-sekali masih terdengar suaranya sayup. “Tolong, tolong aku”

Wiyati termangu-mangu sejenak. Tubuhnya pun menjadi gemetar. Ia berniat untuk menolong Wandan yang berada di dalam keadaan yang sulit itu. Tetapi untuk itu diperlukan keberanian dan kecepatan bergerak.

Namun akhirnya Wiyati memberanikan diri untuk menolong Wandan. Karena itu, maka ia pun berdesis. “Mbokayu. Aku akan pergi ke tempat Wandan. Aku akan melintasi kegelapan itu. Aku akan melepaskan ikatan Wandan dan membawanya kemari”

Wuni termangu-mangu sejenak. Namun demikian ia pun berkata. “Bawa pisau. Tentu lebih cepat memotong ikatan itu daripada melepasnya”

Wiyati sependapat. Ia pun segera berlari ke dapur untuk mengambil pisau yang tajam.

Sejenak kemudian, Wiyati pun telah menyelinap keluar dari pintu seketeng. Menyusuri dinding serta di bayangan kegelapan, Wiyati berusaha mendekati Wandan yang terikat pada sebatang pohon.

Selangkah demi selangkah Wiyati bergerak maju. Sementara itu, mereka yang berada di halaman, memusatkan perhatian mereka kepada lawan-lawan mereka.

Sementera itu, sekali Depah itu terpelanting jatuh. Namun ia pun berusaha cepat bangkit, sementara kawannya berusaha melindunginya. Namun usaha itu tidak banyak berhasil. Sambil memutar tubuhnya, kaki Wikan terayun mendatar menghantam dagu orang yang wajahnya nampak sangat licik itu.

Orang itu pun terpental beberapa langkah kesamping. Sementara Depah berusaha untuk berdiri tegak. Tetapi pada saat itu pula Wikan bagaikan terbang meluncur kearah Depah. Dua kakinya yang terjulur itu tepat mengenai dada Depah yang baru berusaha untuk berdiri tegak itu.

Terdengar Depah itu berdesah kesakitan. Namun tubuhnya terlempar lagi ketengah-tengah halaman. Tubuh itu terbanting jatuh terlentang.

Wikan tidak sempat memburunya, karena lawannya yang seorang lagi sudah bangkit berdiri dan bahkan telah meloncat menyerangnya.

Dalam pada itu, kakak ipar Wikan itu pun masih juga berusaha untuk bertahan. Kedua lawannya bertempur dengan keras dan kasar. Namun dengan bekal kemampuannya, kakak ipar Wikan itu masih mampu melindungi dirinya sendiri.

Sementara itu, Wiyati merambat lagi mendekati Wandan. Sedangkan Wandan menangis. Tubuhnya masih saja menggigil ketakutan.

Ketika Wiyati berdiri di belakangnya, maka Wandan itu pun terkejut Hampir saja ia menjarit. Tetapi Wiyati dengan cepat berdesis. “Aku Wandan, Wiyati”

“Kau“

Tetapi Wiyati berkata. “Menangislah terus, agar tidak menarik perhatian. Jika mereka tidak mendengar suaramu lagi, maka mereka akan memperhatikanmu”

Wandan yang tidak sempat berpikir itu pun menangis terus, sementara Wiyati memotong ikatan Wandan.

“Marilah” berkata Wiyati. “ikut aku ke longkangan. Hati-hati”

Keduanya pun kemudian bergerak di dalam kegelapan. Mereka merangkak perlahan-lahan. Baru setelah mereka berada di dekat pintu, mereka bangkit berdiri dan berlari ke dalam longkangan.

Wuni yang telah siap dengan selarak pintu seketeng itu, dengan cepat menutup dan menyelaraknya.

Wiyati pun kemudian menarik tangan Wandan dan mengajaknya masuk ke ruang dalam.

Ketika Wandan melihat ibu Wiyati duduk di ruang dalam, maka Wandan pun segera berjongkok di hadapannya, menyembah sambil membungkuk dalam-dalam.

“Ampunkan aku bibi. Aku mohon ampun”

“Sudahlah ngger. Sudahlah. Bangkitlah dan marilah, duduk yang baik”

Nyi Purba menarik bahu Wandan dah kemudian perempuan itu dipersilahkannya duduk di sebelahnya.

“Semoga perjuangan Wikan, suami Wuni dan paman serta bibinya itu berhasil” berkata Nyi Purba.

“Ya, bibi. Jika aku terpaksa kembali ke Mataram bersama orang-orang itu, aku lebih baik mati saja disini. Apalagi jika kami kembali ke Mataram tanpa Wiyati”

“Kita berdoa sajalah agar Wikan dan yang lainnya itu berhasil mengusir mereka”

“Ya, bibi”

Dalam pada itu, pertempuran di halaman itu pun sudah menjadi semakin jelas keseimbangannya. Wikan telah membuat Depah tidak berdaya. Ketika Depah menerkamnya, maka Wikan berhasil menangkap sebelah tangannya dan dengan satu tarikan yang menghentak, tubuh Depah yang besar itu terpelanting lewat diatas bahu Wikan.

Dengan derasnya tubuh Depah itu jatuh terbanting di tanah. Tulang belakangnya rasa-rasanya telah berpatahan, sehingga Depah itu tidak segera bangkit kembali.

Kawan Depah yang bertempur bersamanya melawan Wikan itu menjadi ragu-ragu. Berdua bersama Depah, ia tidak dapat mengalahkan anak muda itu. Apalagi seorang diri.

Sementara itu Wikan seakan-akan tidak menghiraukannya lagi. Wikan pun kemudian bergeser mendekati kakak iparnya yang harus bertahan mati-matian menghadapi kedua orang lawannya.

Bersama Wikan, maka kakak iparnya itu sempat tersenyum. Meskipun ia sempat melihat bahwa seorang lawan Wikan yang bertubuh raksasa itu sudah tidak dapat segera bangkit, namun ia masih bertanya. “Bagaimana dengan raksasa itu?”

“Nampaknya ia sudah jemu bermain, kakang. Ia ingin beristirahat dan tiduran di halaman”

Namun lawan Wikan yang lain pun menggeram. “Aku bunuh kau bocah edan”

Orang itu ternyata bergabung dengan kedua lawan kakak ipar Wikan. Bertiga mereka bertempur melawan Wikan serta kakak iparnya.

Namun mereka tidak lagi mempunyai banyak kesempatan.

Sementara itu, lima orang yang bertempur melawan Ki Mina dan Nyi Mina pun sudah tidak berpengharapan lagi. Seorang demi seorang mereka terlempar keluar arena. Meskipun berusaha untuk segera bangkit berdiri, namun tubuh mereka pun sudah mulai terasa sakit dimana-mana.

Ternyata kelima orang itu benar-benar sudah tidak berdaya. Orang yang bertubuh seperti Depah, yang memimpin sekelompok orang upahan itu, terbungkuk ketika kaki Ki Mina mengenai lambungnya. Dengan cepat Ki Mina meloncat mendekatinya. Sisi telapak tangannya pun segera menghantam bahunya.

Terdengar orang itu mengaduh kesakitan.

Untunglah seorang kawannya telah meloncat menyerang Ki Mina, sehingga Ki Mina masih belum sempat menghentikan perlawanan raksasa itu.

Meskipun demikian, kemampuan perlawanan raksasa itu sudah jauh menyusut.

Ada pun orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, ternyata tidak mampu menghentikan perlawanan Nyi Mina. Bahkan dadanya terasa bagaikan terhimpit sebongkah batu padas ketika telapak tangan Nyi Mina sempat mengenai dadanya terasa bagaikan terhimpit sebongkah batu padas ketika telapak tangan Nyi Mina sempat mengenai dadanya.

Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu mengumpat kasar. Nafasnya menjadi sesak. Tulang-tulang iganya pun serasa menjadi retak.

Bahkan beberapa saat kemudian, maka tiga orang diantara kelima orang itu sudah tidak berdaya. Dua orang lainnya segera berloncatan surut. Mereka menjadi ragu-ragu untuk meneruskan perlawanan.

Apalagi ketika mereka memandang di sekelilingnya. Kawan-kawannya pun telah berhenti bertempur. Lawan Wikan dan kakak iparnya sudah tidak berdaya lagi. Mereka sudah tidak lagi mampu untuk bangkit dan memberikan perlawanan.

Karena itu, maka orang yang memimpin sekelompok orang upahan itu pun kemudian berkata. “Ternyata kami tidak mampu berbuat apa-apa di hadapan kalian berempat. Kami menghenti-kan perlawanan kami”

“Katakan, bahwa kalian menyerah. Bukan hanya sekedar menghentikan perlawanan. Kalian menyerah karena kalian telah kalah” sahut Wikan.

Pemimpin sekelompok orang upahan itu termangu-mangu.

“Katakan atau kita akan bertempur terus. Jika kami membunuh beberapa orang diantara kalian, kami sama sekali tidak merasa bersalah”

Pemimpin kelompok itu masih tidak segera menjawab, sehingga Wikan pun membentaknya. “Katakan. Bahwa kalian menyerah. Bukan sekedar menghentikan perkelahian. Jika kalian hanya berniat menghentikan perkelahian, kami tidak peduli. Kami tidak akan membiarkan kalian berhenti bertempur sampai kalian menyerah atau mati”

“Baik” berkata orang yang memimpin sekelompok orang upahan itu. “Kami menyerah”

“Nah, kalian sudah menyerah. Kalian tidak berhak lagi menuntut agar Wiyati pergi bersama kalian ke Mataram-”

“Tetapi kami datang untuk menjemput Wiyati”

”Jadi kau masih berniat mengambil Wiyati“ Wikan hampir berteriak.

Orang itu termangu-mangu

“Jika demikian, kita bertempur terus. Kami akan membunuh kalian semua. Kami tidak akan dianggap bersalah, karena kalianlah yang datang menyerang rumah kami. Kami sekedar mempertahankan serta melindungi diri sendiri”

Orang itu masih saja berdiam diri.

“Jawab pertanyaanku, apakah kalian masih makan membawa Wiyati ke Mataram?“

Orang bertubuh raksasa itu pun kemudian menjawab dengan nada datar. “Baiklah jika kau berkeberatan”

“Sejak semula sudah aku katakan, jangan ganggu Wiyati”

“Aku memang tidak mempunyai pilihan lain” berkata pemimpin orang-orang upahan itu.

“Sekarang pergilah. Bawa kawan-kawanmu semuanya. Aku tidak ingin melihat kalian lagi”

Orang itu memandang berkeliling. Dilihatnya kawan-kawannya yang kesakitan berusaha untuk bangkit berdiri.

Namun tiba-tiba pemimpin orang-orang upahan itu bertanya. “Dimana Wandan?“

Orang yang mengikat Wandan itu pun berpaling kearah sebatang pohon tempat ia mengikat Wandan. Namun Wandan sudah tidak ada.

“Aku ikat perempuan itu pada pohon itu” berkata orang yang mengikat Wandan.

“Tetapi dimana perempuan itu sekarang?“

Orang yang mengikat Wandan itu pun tertatih-tatih berdiri. Punggungnya masih terasa sakit. Perutnya pun terasa mual.

“Aku ikat tadi disini”

“Kau kurang berhati-hati. Kau kurang kuat mengikatnya sehingga perempuan itu dapat melarikan diri”

“Kita kehilangan kedua-duanya. Kita tidak dapat membawa Wiyati. Bahkan kita kehilangan Wandan”

“Cari perempuan itu sampai dapat”

Wikan tidak menyahut pembicaraan mereka. Ia merasa tidak berkepentingan dengan Wandan. Demikian pula kakak iparnya.

Namun sebenarnyalah Ki Mina dan Nyi Mina sempat melihat Wiyati telah menolong Wandan yang menangis dengan memelas. Tetapi keduanya diam saja.

Namun ketika pemimpin orang-orang upahan itu memerintahkan mencari Wandan di luar halaman, maka Ki Mina pun berkata. “Ki Sanak. Jangan mencari mereka di luar halaman, Sebenarnyalah bahwa di luar halaman ini terdapat banyak orang yang melihat keributan yang terjadi disini. Semula hanya satu dua orang. Tetapi mereka mengajak kawan-kawan mereka. Beruntunglah kalian bahwa mereka tidak langsung melibatkan diri, karena agaknya mereka tahu, bahwa kalian bukan orang-orang yang berbahaya”

Orang-orang upahan itu pun terhenti.

”Dalam keadaan lemah, kalian akan mengalami nasib yang sangat buruk” berkata Ki Mina selanjutnya.

Orang-orang itu masih saja termangu-mangu. Namun sebenarnyalah bahwa mereka memang berada dalam keadaan lemah. Untuk melangkahkan kaki saja mereka masih menyeringai menahan sakit di punggung atau nyeri lambungnya atau mual perutnya. Atau bahkan rasa-rasanya kepalanya telah berputar.

“Sebaiknya kalian pergi saja meninggalkan rumah ini. Ambil dan bawa kuda kalian pergi. Jangan berhenti sebelum kalian lepas dari padukuhan ini. Kecuali itu, ingat, bahwa kalian jangan mencoba menginjakkan kaki di padukuhan ini lagi. Berhadapan dengan kami berempat kalian sudah tidak berdaya. Apalagi jika Ki Bekel, Ki Jagabaya apalagi jika Ki Demang ikut menyambut kedatangan kalian, maka kalian tentu sudah menjadi sewalang-walang”

Orang-orang itu pun masih berdiri ditempatnya. Diantaranya masih berdesah dan yang lain menyeringai menahan sakit.

“Pergilah. Jangan berhenti jika kalian berpapasan dengan siapapun”

Karena orang-orang itu masih saja belum beranjak, maka Ki Mina pun berkata lebih kerasa lagi. “Pergilah. Cepat. Sebelum kami mengambil sikap yang lain. Jangan coba cari Wandan di padukuhan ini agar kalian tidak dibantai oleh orang banyak”

Orang-orang itu tidak mempunyai pilihan. Mereka pun segera pergi ke kuda-kuda mereka. Namun ketika mereka akan meloncat naik, Ki Mina berkata. “Kalian adalah orang-orang upahan yang kasar, bengis dan tidak punya unggah-ungguh. Ketika kalian datang dengan menuntun kuda kalian, aku kira kalian tahu bahwa tidak sepantasnya kalian naik kuda di halaman. Tetapi ketika kalian akan pergi, maka kalian akan naik kuda di halaman rumah ini”

Orang-orang itu urung meloncat ke punggung kudanya. Tetapi mereka menuntun kuda-kuda mereka sampai di luar regol halaman, meskipun mereka masih merasa sakit dan nyeri berjalan sampai turun ke jalan.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh orang tua itu, bahwa di luar regol halaman sudah ada beberapa kelompok orang berdiri termangu-mangu. Ketika mereka melihat orang-orang berkuda itu, maka mereka pun segera menyibak.

Dengan susah payah sambil mengaduh, orang-orang yang kesakitan itu naik ke punggung kuda mereka. Sejenak kemudian, kuda-kuda itu pun berlari meninggalkan regol halaman rumah Nyi Purba. Tetapi kuda-kuda itu tidak berlari terlalu kencang. Penunggangnya adalah orang-orang yang sedang kesakitan.

Sepeninggal orang-orang itu, beberapa orang tetangga Wikan telah memasuki halaman rumahnya. Seorang diantara mereka langsung saja bertanya. “Ada apa Wikan?”

Wikan memang menjadi agak kebingungan menjawab pertanyaan itu. Namun Ki Mina lah yang menyahut. “Mereka adalah orang-orang yang dibakar oleh perasaannya. Mereka menuruti gejolak perasaan seorang anak muda yang ingin memiliki Wiyati. Tetapi Wiyati tidak mau. Nampaknya anak muda itu telah memberitahukan kepada sanak saudaranya. Entah apa yang dikatakan sehingga sanak saudaranya itu telah bersedia datang ke rumah ini untuk mengambil Wiyati dengan paksa. Tetapi kami tidak dapat memberikannya. Wiyati mempunyai orang tua, sehingga ada jalur yang harus ditempuh untuk melamar seseorang. Itu pun harus diperhatikan sikap Wiyati sendiri”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya. “Kami merasa ragu untuk ikut mencampuri perkelahian di halaman itu. Apalagi setelah kami melihat bahwa kalian akan berhasil mengusir orang-orang yang nampaknya garang-garang itu”

“Kami sengaja tidak berniat merepotkan Ki Sanak semuanya” sahut suami Wuni. “selama kami sendiri masih mampu mengatasinya. Tetapi jika pada kesempatan lain, kami mengalami kesulitan, mungkin sekali kami akan memukul kentongan”

“Apakah mereka akan kembali? Atau barangkali malah membawa kawan-kawan mereka?”

“Mudah-mudahan tidak” sahut Wikan. “paman sudah mengancam agar mereka tidak kembali lagi”

“Sukurlah jika tidak terjadi apa-apa”

“Tidak paman” sahut suami Wuni. “Tidak terjadi apa-apa selain beberapa batang tanaman bunga kami rusak berserakan. Besok kami harus mengaturnya kembali”

Orang-orang yang berdatangan itu pun kemudian minta diri.

“Terima kasih atas perhatian paman, kakang dan saudara-saudaraku sekalian. Maaf, agaknya persoalan yang terjadi di keluarga kami telah mengganggu ketenangan kalian”

“Tidak apa-apa” sahut seseorang. “Kami berkewajiban untuk tolong menolong. Pada kesempatan lain, mungkin saja diantara kami ada yang minta pertolongan kalian”

“Jika saja kami dapat membantu, paman” sahut Wikan.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang berada di halaman itu pun telah pergi.

“Apakah Wandan benar-benar telah hilang?” bertanya Wikan kemudian.

“Wiyati sempat menolongnya dan membawanya masuk ke ruang dalam” sahut Ki Mina.

“Jadi Wandan ada di dalam?”

“Ya“

Wikan memang nampak menjadi gelisah. Katanya. “Aku tidak ingin Wandan itu bertemu lagi dengan mbokayu Wiyati”

“Mungkin sekali Wiyati menjadi kasihan melihat keadaan Wandan”

“Kita temui saja perempuan itu, Wikan” berkata Nyi Mina dengan suara lembut. “mudah-mudahan keadaannya sudah berbeda. Wandan tentu tidak akan dapat membujuk Wiyati lagi, sementara Wandan sendiri tidak akan berani kembali ke Mataram”

“Tetapi rahasia mbokayu Wiyati akan dapat terbuka disini jika Wandan pulang”

“Kita dapat melihat, Wandan pulang dalam keadaan yang bagaimana” sahut bibinya. “sebaiknya kita temui saja perempuan itu. Kita akan menjajagi keadaannya”

Wikan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya. “Baik. Kita temui perempuan itu. Jika ia menyulitkan kedudukan mbokayu Wiyati, biarlah perempuan itu pergi”

“Pergi kemana?” bertanya Nyi Mina. “pergi pulang kerumahnya sendiri maksudmu?”

Wikan tidak menjawab. Namun mereka yang masih berada di halaman rumah itu pun segera naik ke pendapa dan mengetuk pintu pringgitan.

Wunilah yang membuka pintu.

Demikian mereka memasuki ruang tengah, maka mereka pun segera melihat Wandan berada diantara mereka yang ada di ruang dalam.

“Apa maumu sekarang Wandan?” tiba-tiba saja Wikan bertanya dengan nada berat.

“Duduklah Wikan“ suara ibunya terdengar sareh.

Wikan menjadi heran melihat sikap ibunya. Kenapa ibunya tidak memaki Wandan yang telah menjerumuskan Wiyati ke dalam kehidupan yang gelap.

Wikan, suami Wuni, Ki Mina dan Nyi Mina pun kemudian telah duduk pula.

Namun demikian mereka duduk, Wikan pun telah bertanya pula. “Kenapa kau tidak ikut kembali ke Mataram bersama orang-orang yang kau bawa kemari itu?”

“Bukan aku yang membawa mereka, Wikan“ suara Wandan menjadi semakin gemetar. “Akulah yang mereka paksa untuk menunjukkan rumah Wiyati”

“Kau ingin mbokayu Wiyati menemanimu lagi di dunia gelapmu itu?”

“Tidak, Wikan. Bukan aku. Tetapi ibu yang gemuk itulah yang masih saja penasaran. Agaknya kehormatannya telah tersinggung karena kau telah mengambil Wiyati serta mengalahkan Depah waktu itu”

“Apakah perempuan seperti itu masih juga mempunyai harga diri?”

“Tentu, Wikan. Siapa pun juga tentu mempunyai harga diri. Bahkan orang yang sudah tidak mempunyai apa-apapun, masih juga mempunyai harga diri. Seorang pengemis yang merangkak di sepanjang jalan itu pun masih mempunyai harga diri. Meskipun ada juga, tetapi jumlahnya sangat sedikit, orang yang sudah tidak mempunyai harga diri. “ Ki Minalah yang menjawab.

Wikan mengerutkan dahinya. Sementara itu Nyi Purba pun berkata. “Wikan. Wandan menjadi sangat ketakutan ketika ia diikat di sebatang pohon di halaman, ia pun menjadi sangat ketakutan pula jika orang-orang yang gagal mengambil Wiyati itu membawanya kembali ke Mataram. Ia tidak dapat membayangkan, jika orang-orang kecewa akan kegagalannya itu menumpahkan kemarahan dan dendam mereka kepadanya. Lalu apa akan jadinya Wandan nanti”

“Tetapi semua itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri”

“Benar Wikan” sahut Wuni. “Kau benar. Wandan pun mengakui, bahwa yang terjadi itu adalah akibat kesalahannya sendiri. Ia telah salah memilih jalan. Tetapi itu bukan berarti bahwa Wandan harus menjadi korban”

Wikan menarik nafas panjang. Sementara itu Nyi Purba- pun berkata. “Wandan sudah minta maaf kepada kita semuanya. Keluarga Wiyati”

“Lalu sekarang, apa yang akan dilakukan oleh Wandan? Ia akan pergi kemana?“ bertanya Wikan.

“Aku tidak tahu Wikan. Tetapi aku memilih mati daripada aku harus kembali ke Mataram bersama laki-laki liar itu. Aku belum memikirkan, kemana aku akan pergi setelah orang-orang liar itu meninggalkan rumah ini”

“Kau akan pulang?“

“Tidak. Aku tidak akan pulang”

“Lalu?“

“Aku akan pergi, Wikan. Meskipun aku tidak tahu, aku akan pergi kemana. Aku mengerti bahwa aku tidak dapat berada di rumah ini. Bahkan untuk malam ini pun tidak pantas. Karena itu sebaiknya aku harus pergi”

“Kemana?“ bertanya Wiyati.

”Aku tidak tahu, Wiyati”

“Jangan pergi malam ini Wandan.” cegah Wuni.

“Tetapi esok pagi, sebelum fajar menyingsing, mbokayu Wiyati akan pergi bersama kami” sahut Wikan.

“Karena itu, sebaiknya aku memang pergi. Masih ada jalan lapang yang dapat aku lalui”

“Apa maksudmu?“.

Wandan. tidak menjawab. Namun nampaknya Nyi Mina tanggap akan perkataan Wandan itu. Karena itu, maka katanya. “Jangan tempuh jalan itu Wandan. Jika kau lakukan, maka kau akan sampai ke dunia yang lebih gelap dari dunia yang membelunggumu di Mataram. Kau akan hanyut ke seberang batas yang akan memisahkanmu dengan Tuhan Sang Pencipta. Jalan menuju kematian memang lapang. Tidak akan terjadi desak-desakan berebut dahulu. Siapa pun dapat menempuhnya disaat yang dikehendakinya. Tetapi seperti yang aku katakan, jalan itu adalah jalan yang sesat”

“Wandan. Kau akan membunuh diri?“ bertanya Wiyati sambil mendekapnya.

“Aku tidak mempunyai pilihan lain, Wiyati. Aku tidak tahu lagi, apa yang harus aku perbuat”

“Jangan ngger. Jangan lakukan itu” berkata Nyi Purba dengan suara yang lembut.

“Wandan” berkata Nyi Mina kemudian. “masih ada jalan yang lain jika kau setuju. Pagi ini kami akan pergi bersama Wiyati. Wiyati akan tinggal bersama uwaknya, Ki Leksana dan Nyi Leksana. Jika kau tidak berkeberatan, kau dapat pergi bersama kami. Kau dapat tinggal bersama Wiyati di rumah uwaknya. Mudah-mudahan kau dapat menemukan tatanan baru didalam jalan hidupmu. Tetapi dunia itu bukan dunia yang dipenuhi oleh gebyar kadonyan. Dunia itu adalah dunia yang penuh keprihatinan. Kerja keras dan berbagai laku yang harus kau tempuh. Jika kau bersungguh-sungguh sebagaimana kesediaan Wiyati untuk melakukannya, maka kau pun mendapat kesempatan itu Wandan”

Secerah cahaya seakan-akan telah bersinar di hati Wandan. Dalam kegelapan ia tidak tahu arah yang harus ditempuhnya. Namun tiba-tiba sinar itu datang menyoroti jantungnya.

“Bibi” berkata Wandan sambil mengusap air matanya. “Jika bibi masih mempunyai belas kasihan kepadaku yang sudah sepantasnya dianggap sebagai sampah ini, maka perkenankan aku ikut bibi. aku akan melakukan apa saja yang diperintahkan kepadaku. Aku bersedia menjadi budak untuk mengerjakan pekerjaan apa saja”

“Baiklah” berkata Ki Mina kemudian. “jika demikian, maka esok kita akan pergi bersama-sama. Tetapi ada yang aku pikirkan. Jika kita semuanya pergi, maka siapakah yang akan menjaga Nyi Purba jika terjadi sesuatu disini. Jika ada orang-orang yang mendendam datang kemari?“

“Aku akan tinggal disini dalam beberapa hari ini” berkata suami Wuni.

Tetapi Nyi Purba itu pun menyahut. “Jika kakang tidak berkeberatan, bagaimana pendapat kakang jika untuk sementara Wikan juga tinggal bersama kami disini”

Wikan memandang Ki Mina dan Nyi Mina berganti-ganti. Namun kemudian ia pun berkata. “Jika paman dan bibi tidak berkeberatan biarlah aku menemani ibu untuk sementara, sehingga keadaan menjadi tenang. Berdua kami berharap bahwa kami akan dapat setidak-tidaknya memukul kentongan, memanggil tetangga-tetangga”

Ki Mina mengangguk sambil menjawab. “Baiklah. Biarlah Wikan berada di rumah ini untuk beberapa pekan. Jika keadaan tidak lagi berbahaya, biarlah Wikan langsung saja pergi ke padepokan”

“Ya, paman. Pada saatnya aku akan langsung pergi ke
padepokan”

Namun dalam pada itu, Nyi Purba pun berkata. “Kakang Mina. Kakang dan mbokayu tentu merasa letih. Apakah kakang tidak berniat menunda keberangkatan kakang dan mbokayu barang sehari?“

“Tidak usah Nyi. Mungkin Wiyati dan Wandan lah yang merasa letih, sehingga mereka tidak mungkin berangkat nanti di dini hari”

“Tidak, paman. Aku tidak letih. Aku tadi sudah sempat tidur barang sebentar. Semakin cepat kita pergi, agaknya akan terasa lebih baik”

“Bagaimana dengan Wandan?“

“Aku dapat pergi kapan saja, paman. Apalagi pergi ke tempat yang dapat memberikan harapan. Seperti kata Wiyati, semakin cepat semakin baik”

Ternyata Ki Mina dan Nyi Mina tidak menunda keberangkatan mereka. Meskipun malam itu mereka seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk tidur, namun mereka merasa tetap tegar karena mereka adalah orang-orang yang terbiasa menempa diri dalam berbagai macam laku.

Sedangkan Wiyati dan Wandan pun bertekad. “untuk melakukan perjalanan itu secepatnya. Mereka melihat, bahwa di ujung jalan itu terhampar padang yang menyimpan harapan bagi masa depan, meskipun beberapa syarat harus mereka penuhi.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, setelah beristirahat sebentar, mereka yang akan pergi itu pun segera berbenah diri. Bergantian mereka pergi ke pakiwan untuk mandi. Sementara itu, Nyi Purba dan pembantu perempuannya sudah sibuk di dapur pula.

Menjelang fajar, maka mereka yang akan pergi meninggalkan rumah itu pun sudah siap pula. Mereka sudah sempat minum minuman hangat serta makan pagi agar mereka tidak merasa lapar diperjalanan yang panjang. Apalagi bersama Wiyati dan Wandan, yang tidak terbiasa menempuh perjalanan jauh.

Menjelang fajar menyingsing, empat orang telah meninggalkan regol halaman rumah Nyi Purba. Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan. Sementara itu, Wikan tetap tinggal menunggui ibunya bersama Wuni dan suaminya.

Sebelum pagi, saat padukuhan itu seakan-akan masih terlelap dalam tidur yang nyenyak, seperti dikehendaki oleh Wiyati, agar tidak seorang pun diantara para tetangga menyaksikannya meninggalkan padukuhan, keempat orang itu sudah keluar dari pintu gerbang. Wiyati dan Wandan yang berjalan didepan, nampaknya seperti orang-yang tergesa-gesa. Mereka ingin segera menjauh dari padukuhannya, dari tetangga-tetangganya dan dari orang-orang yang sudah mereka kenal dengan baik. Jauh dari tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan sebagai gadis-gadis kecil yang manis dalam lingkungan permainan gadis-gadis kecil sebayanya. Mereka merasa seolah-olah sedang melarikan diri dari lingkungannya, karena mereka telah berkhianat. Mereka telah menodai kebersihan sifat dan watak gadis sebayanya di padukuhannya.

Ki Mina dan Nyi Mina mengikuti saja mereka di belakang. Mereka dapat mengerti, bahwa keduanya merasa diburu dan harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka terhadap lingkungannya. Karena itulah maka mereka berdua telah melarikan diri, karena mereka merasa tidak akan dapat mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka itu.

Namun ternyata daya tahan mereka tidak memungkinkan mereka berjalan dengan cepat untuk selanjutnya. Ketika tenaga mereka sudah mulai menyusut, maka mereka pun telah dengan sendirinya berjalan lebih lambat.

Hanya kadang-kadang saja, jika jantungnya didera lagi oleh perasaan bersalah, mereka berjalan lebih cepat, Namun beberapa saat kemudian, mereka menjadi lebih lamban.

Ketika matahari mulai memanjat langit, dan panasnya terasa menggatalkan kulit, Wiyati dan Wandan nampak sudah menjadi letih. Apalagi hampir semalam mereka tidak tidur. Lebih-lebih lagi Wandan yang dibawa oleh beberapa orang laki-laki kasar dari Mataram sebagai seorang tawanan yang dapat diperlakukan apa saja sekehendak hati mereka.

Namun Wandan masih dapat mengucap sukur, bahwa ia tidak harus dibawa kembali oleh orang-orang itu. Jika itu terjadi, maka mungkin sekali Wandan akan mati dalam keadaan yang paling hina di perjalanan pulang. Orang-orang liar yang membawanya itu tentu tidak akan takut lagi kepada perempuan gemuk yang mengupah mereka.

Perjalanan mereka pun semakin lama memang menjadi semakin jauh. Matahari pun menjadi semakin tinggi. Panasnya mulai terasa tidak lagi sekedar gatal, tetapi mulai menusuk-nusuk.

“Beristirahatlah sebentar jika kalian merasa letih” berkata NyiMina. “Kita dapat duduk sebentar diatas tanggul parit, dibawah pohon gayam itu”

Wiyati dan Wandan merasa ragu-ragu. Namun Nyi Mina itu berkata pula. “Berhentilah. Kita tidak tergesa-gesa. Bahkan seandainya kita sampai di tujuan mendekati tengah malam”

“Kita pun sudah berjalan jauh” berkata Ki Mina. “Tidak akan ada yang melihat kita disini. Kecuali secara kebetulan ada seorang tetangga Nyi Purba bepergian jauh melewati, jalan ini. Tetapi bukankah kemungkinan itu kecil sekali”

Wiyati dan Wandan mengangguk. Mereka sempat pula mempergunakan nalar mereka untuk menilai kemungkinan itu.

Perjalanan yang sudah mereka tempuh hampir setengah hari itu memang sudah jauh dari padukuhan mereka.

Wiyati dan Wandan pun ternyata memang sudah merasa letih. Karena itu, maka mereka pun sependapat untuk beristirahat barang sejenak di bawah pohon gayam yang daunnya rimbun.

Namun tidak mereka sadari, bahwa tidak jauh dari pohon gayam itu terdapat sebuah perempatan jalan. Perempatan jalan yang banyak di lalui orang. Di perempatan itu juga terdapat pohon gayam. Bahkan tidak hanya sebatang, tetapi dua batang. yang berdekatan, sehingga daunnya yang rimbun merupakan naungan yang sejuk bagi mereka yang melewati simpang empat itu.

Tetapi perempatan itu merupakan perempatan yang sangar bagi perempuan. Di perempatan itu sering terdapat banyak anak-anak muda yang duduk-duduk sekedar melihat orang lewat. Kadang-kadang mereka hanya bersuit-suit saja jika seorang perempuan yang mereka anggap cantik lewat. Tetapi kadang-kadang mereka juga sering mengganggu dengan menyentuh perempuan-perempuan yang lewat itu.

Pada saat-saat banyak orang yang pulang dari pasar, maka anak-anak muda yang tidak mempunyai kerja itu duduk-duduk di perempatan sambil membeli dawet cendol. Meskipun kadang-kadang ada saja diantara mereka yang tidak membayar, tetapi penjual dawet cendol itu tidak juga jera berjualan di perempatan itu.

Bahkan penjual dawet cendol itu sering membawa legen bukan saja untuk membuat agar dawetnya menjadi enak, tetapi juga legen yang sudah disimpan cukup lama dan diberi reramuan agar menjadi tuak.

Tuak itulah yang memberinya banyak keuntungan. Anak-anak muda yang sering berkeliaran di perempatan itu sering sekali menjadi mabuk setelah meneguk tuak. Mereka tidak mempedulikan waktu. Kapan saja mereka mendapatkannya, maka tuak itu segera diminumnya sampai mabuk.

Ki Mina yang memberi kesempatan Wiyati dan Wandan beristirahat itu baru melihat bahwa ada penjual dawet di perempatan, di bawah sepasang pohon gayam yang rimbun.

Karena itu, maka Ki Mina pun kemudian berkata. “Apakah kalian haus?”

“Kenapa kami haus?” bertanya Nyi Mina.

“Ada penjual dawet di perempatan itu”

“Perempatan mana?”

“Itu. Disebelah jalan yang agak menikung itu ternyata sebuah perempatan. Ada penjual dawet dibawah pohon gayam”

Nyi Mina pun bangkit berdiri pula. Baru kemudian ia pun melihat penjual dawet di simpang empat itu.

Nyi Mina pun kemudian berkata kepada Wiyati dan Wandan. “Marilah kita beristirahat di perempatan itu. Disana benar-benar ada penjual dawet”

Wiyati dan Wandan yang memang haus itu tidak membantah. Mereka pun segera bangkit berdiri dan berjalan bersama Ki Mina Ki Mina dan Nyi Mina ke perempatan.

Sepasang pohon gayam itu memberikan perlindungan yang lebih sejak kepada mereka yang berhenti dibawahnya. Bahkan seperti sebuah payung raksasa, daun sepasang pohon gayam itu mengembang.

Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan pun duduk di sebuah amben bambu yang agaknya memang disediakan oleh penjual dawet itu.

Ketika mereka berempat itu sampai di perapatan, perapatan itu masih sepi. Satu dua orang lewat. Beberapa orang perempuan yang berjalan beriring bersama beberapa orang laki-laki. Agaknya lang dari pasar.

Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan itu pun kemudian telah memesan masing-masing semangkuk dawet.

“Apakah kalian baru pulang dari pasar?” bertanya penjual dawet itu.

“Tidak Ki Sanak“ jawab Ki Mina. “Kami sedang dalam perjalanan ke rumah saudara kami”

“Perjalanan jauh?”

“Tidak terlalu jauh”

Penjual dawet itu mengangguk-angguk. Katanya. “Aku sudah mengira bahwa kalian tentu bukan penghuni padukuhan di sekitar tempat ini”

“Kenapa?”

Penjual dawet itu tersenyum. Katanya. “Hanya dugaan. Tetapi dugaanku benar”

Ki Mina mengangguk-angguk. Dihirupnya dawet legen yang terasa teramat segar pada saat panasnya matahari seperti membakar langit.

Perempatan itu agaknya termasuk jalan yang terhitung ramai.

Beberapa orang laki-laki yang lewat ada pula yang berhenti membeli dawet sambil beristirahat di bawah pohon gayam yang besar itu. Namun kemudian mereka segera meninggalkan tempat itu setelah menghabiskan satu atau bahkan ada yang dua mangkuk dawet. Tetapi jarang sekali perempuan yang lewat berhenti untuk membeli dawet. Kecuali satu dua orang perempuan tua yang kehausan.

Ketika dua orang anak muda sambil bergurau berjalan dan berhenti, penjual dawet itu pun bertanya. “Kalian hanya berdua?”

“Edan si Kanu” sahut yang seorang.

“Kenapa?”

Anak muda itu nampak ragu-ragu. Namun keduanya pun kemudian tertawa meledak.

“Apa yang kau tertawakan?”

“Si Kanu. Matanya menjadi sempit sebelah”

“Kenapa?”

“Sebentar lagi ia akan datang kemari”

Penjual dawet itu tidak menjawab. Tangannya sibuk menyiapkan dua mangkuk dawet buat kedua orang anak muda itu.

Kedua anak muda itu tertegun ketika mereka melihat Wiyati dan Wandan. Meskipun keduanya berpakaian sederhana, tetapi keduanya masih nampak lain dengan perempuan kebanyakan. Bersama kedua perempuan muda itu, hanyalah seorang laki-laki dan perempuan tua.

Karena itu, maka keduanya pun segera tertarik kepada Wiyati dan Wandan. Dengan tanpa ragu-ragu lagi, seorang diantara anak muda itu duduk disamping Wandan.

“Maaf, tempatnya terlalu sempit”

Anak muda itu justru telah mendesak Wandan.

Wandan beringsut Tempatnya memang sempit. Amben bambu itu tidak cukup panjang untuk duduk mereka berenam.

Tetapi Wandan semula tidak menghiraukannya. Ia sudah terbiasa duduk berdesakkan dengan laki-laki. Karena itu, maka laki-laki muda yang duduk disampingnya itu tidak terlalu banyak menarik perhatiannya.

Namun terasa udara terlalu panas meskipun mereka duduk dibawah rimbunnya dedaunan. Karena itu, maka Wandan yang kepanasan itu pun bangkit berdiri.

“He, kau mau kemana?” laki-laki muda itu tiba-tiba saja menangkap pergelangan tangan Wandan. “duduk sajalah disini”

Jika saja Wandan masih berada di Mataram, maka sapaan dengan cara yang kasar itu akan ditanggapinya. Tetapi di tempat itu, ia bersama Ki Mina dan Nyi Mina serta Wiyati dalam suasana yang jauh berbeda.

Karena itu, maka Wandan telah mengibaskan tangan anak muda itu sambil berkata. “Apa yang kau lakukan padaku ini?“

Anak muda itu tertawa. Katanya. “Ternyata kau galak juga anak manis”

Wandan yang telah lepas dari pegangan anak muda itu bergeser surut. Ia sempat memandang wajah anak muda itu sekilas.

“Tampan juga wajahnya” berkata Wandan di dalam hatinya. Tetapi Wandan memang telah berubah.

Sementara itu, ketika anak muda itu bangkit berdiri, penjual dawet itu pun berkata. “Minum sajalah dahulu. Kau tentu haus”

“He?“

Sebelum penjual dawet itu menjawab, maka kawannya telah menyambar mangkuk itu dan meneguk minuman di dalam mangkuk itu hingga habis sampai titik yang terakhir.

“Mana bagianku” bertanya anak muda yang telah menarik pergelangan tangan Wandan.

“Jangan cemas. Aku masih mempunyai banyak”. Seperti kawannya, maka anak muda itu pun telah menghirup minuman semangkuk penuh.

“Tuak”desis Ki Mina.

“Tuak?“ bertanya Nyi Mina.

“Ya”

“Jika demikian ajak anak-anak kita itu melanjutkan perjalanan. Tempat ini bukan tempat yang baik untuk beristirahat”

Ki Mina pun segera membayar harga empat mangkuk dawet yang telah mereka minum. Kemudian katanya kepada Wiyati dan Wandan. “Marilah kita melanjutkan perjalanan kita”

Wiyati dan Wandan tidak menjawab. Mereka pun sadar, bahwa mereka memang harus pergi.

Namun demikian mereka beranjak, mereka melihat empat orang anak muda yang berjalan sambil tertawa-tawa. Seorang nampak berceritera dengan suara yang keras. Tangannya bergerak-gerak untuk memberikan tekanan pada ceriteranya.

Namun anak muda yang telah menangkap pergelangan tangan Wandan serta telah meneguk tuak semangkuk itu bertanya. “ He, kau mau pergi kemana nduk?“

Wandan tidak menjawab. Ia berjalan bersama Wiyati mendahului Ki Mina dan Nyi Mina.

Ketika mereka berpapasan dengan keempat orang yang berjalan sambil tertawa dan berbicara keras-keras itu, mereka justru telah memalingkan wajah mereka.

Keempat orang itu berhenti, sementara kedua orang yang sudah mulai mabuk tuak itu melangkah mendekati mereka.

“Jangan ganggu mereka. Mereka adalah gadis-gadis kami” berkata salah seorang diantara kedua orang yang mabuk itu.

Namun ternyata keempat kawan mereka pun sedang mabuk pula. Agaknya mereka telah mendapatkan tuak di tempat yang lain.

Dengan keras seorang diantara mereka berkata. “Tetapi aku berhak juga mengambilnya”

“Jangan ganggu aku. Lakukan apa saja nanti setelah aku tidak memerlukan mereka lagi”

Tetapi seorang yang lain berkata. “Kau lihat kalungnya? Aku tidak memerlukan orangnya. Aku memerlukan kalungnya”

Ternyata keenam orang itu justru telah mengikuti Ki Mina dan Nyi Mina dan berjalan di belakang.

“He, kakek tua“ seorang diantara anak-anak muda itu memanggil Ki Mina. Bahkan sambil memegangi lengan Ki Mina anak muda itu berjalan disampingnya

“Siapakah perempuan-perempuan cantik itu?“

“Anak-anakku ngger” jawab Ki Mina.

“Anak-anakmu? Kau dapat membelikan anak-anakmu kalung sebesar itu?“

Ki Mina termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab. “Aku menabung Ki Sanak”

“Bagus, seseorang memang harus menabung. He, apa kerjamu sehingga kau dapat menabung sedemikian banyak sehingga dapat membeli dua untai kalung yang besar. Bahkan mungkin perhiasan yang lain”

“Kami, maksudku aku dan isteriku adalah petani, ngger”

“Petani. Apakah sawahmu seluas negeri ini, sehingga kau dapat menyisihkan penghasilanmu untuk di tabung?“

“Tidak terlalu banyak, anak muda. Aku hanya mempunyai tanah seluas sembilan bahu”

“Sembilan bahu? Cukup luas. Lalu apa lagi?“

“Pategalan di lereng pebukitan”

“Berapa luas?“

“Tiga puluh enam bahu ngger”

“Tiga puluh enam bahu? Bukan main”

“Tetapi tanahnya kurang subur, ngger. Meskipun demikian pategalan itu memberikan penghasilan pula kepadaku”

“Bagus kek, bagus. Sekarang kakek akan membawa anak-anak perempuan kakek itu kemana.?“

“Kerumah uwaknya, ngger“

Anak muda itu mengangguk-angguk Kawan-kawannya masih saja mengikutinya di belakang.

“Bagus kek. Tetapi sebaiknya kakek dan nenek singgah lebih dahulu ke rumahku. Rumahku dekat saja kek?”

Ki Mina itu tersenyum. Katanya. “Terima kasih anak muda. Kami berdua mengantarkan anak kami. Jika kami berdua singgah, nanti anak kami akan berjalan sendiri”

Anak-anak muda yang menjadi agak mabuk itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata lantang. “Buat apa kau dan nenek singgah di rumah kami, tetapi kedua orang anakmu tidak”

Anak-anak muda itu tertawa serentak. Seorang diantara mereka berkata. “Pergilah jika kau mau pergi. Tetapi kedua anak gadismu Ku tidak. Justru merekalah yang kami harapkan singgah di rumah kami”

“Terima kasih ngger. Perjalanan kami masih panjang”

“Tidak apa-apa. Besok sajalah kalian meneruskan perjalanan. Sekarang, kalian berempat berhenti dan beristirahat di tempat kami. Kalian akan bermalam semalam. Kami akan memenuhi segala keperluan kakek dan kedua anak perempuan itu”

Ki Mina pun menarik nafas panjang. Katanya hampir diluar sadarnya. “Kenapa anak-anak seperti kalian itu dimana-mana ada dan selalu mengganggu orang”

“He?“Anak-anak muda itu tertawa lagi. Lebih keras dari sebelumnya.

Seorang diantara mereka tiba-tiba saja berkata. “Di depan kita itu terdapat sebuah jalan simpang. Aku minta kalian mengikuti jalan itu. Jalan itu akan langsung sampai ke halaman rumah kami. Jangan menolak dan jangan mencoba untuk berbuat macam-macam”

“Terima kasih, anak muda. Kami tidak dapat menerima tawaranmu. Kami akan berjalan terus saja. “

“Kami tidak sekedar menawarkan, kek. Tetapi jika kalian menolak, kami akan memaksa. Kalian harus singgah” tuak itu agaknya sudah semakin dalam mempengaruhi otak anak-anak muda itu.

Tetapi Ki Mina menyahut. “Maaf, ngger. Kami tidak dapat singgah. Terima kasih atas kesempatan itu, tetapi sayang, bahwa kami harus melanjutkan perjalanan kami”

“Tidak“ tiba-tiba saja dua orang diantara mereka berjalan mendahalui dan berhenti di tengah jalan sambil mengembangkan tangan mereka. Seorang diantara mereka berkata. “Kalian harus singgah. Mau tidak mau”

“Apa artinya ini ngger?“ bertanya Ki Mina.

“Aku tidak peduli”

Ki Mina termangu-mangu sejenak. Sementara Wiyati dan Wandan menjadi ketakutan. Namun Nyi Mina pun berbisik di telinga mereka. “Jangan takut anak-anak. Aku dan pamanmu akan melindungimu”

Namun sikap Ki Mina masih belum berubah. Katanya. “Ngger. Tolong, jangan ganggu kami. Kami agak tergesa-gesa karena kami mempunyai keperluan yang sangat penting. Salah seorang dari kedua orang anakku itu akan dilamar orang. Karena itu, kami tidak boleh datang terlambat”

“Aku tidak peduli. Dilamar orang atau keperluan apapun, aku tidak berkepentingan. Jika kalian tidak mau, maka kalian akan kami paksa dengan kekerasan”

Wiyati dan Wandan menjadi semakin ketakutan. Ketika mereka berdiri berpegangan tangan Nyi Mina, Nyi Mina itu berdesis. “Jangan takut, ngger“

“Tetapi paman nampaknya juga ketakutan”

“Tidak. Pamanmu tidak pernah mengenal takut. Tetapi ia memang berusaha menghindari benturan kekerasan. Ia pura-pura minta belas kasihan kepada anak-anak itu. Tetapi jika anak-anak itu tetap keras kepala, maka ia akan memukuli mereka sehingga mereka menjadi jera”

Wiyati dan Wandan terdiam. Mereka memang yakin akan kemampuan Ki Mina dan Nyi Mina. Meskipun demikian ada juga kecemasan yang menusuk di jantung mereka.

Namun dalam pada itu, selagi Ki Mina masih belum menunjukkan sikap yang sebenarnya, dua orang berkuda memperlambat kudanya sehingga kuda itu berjalan di sebelah menyebelah Ki Mina, Nyi Mina, Wiyati dan Wandan. Namun kemudian keduanya pun menghentikan kuda mereka, karena keempat orang itu pun berhenti pula. Di depan mereka, dua orang anak muda berdiri bertolak pinggang memandang kedua Orang berkuda itu.

“Kalian adalah anak-anak muda yang tidak tahu diri” berkata seorang diantara kedua orang berkuda itu. “Aku sudah mengawasi kalian dari kejauhan. Kemudian setelah kami dekat, kami pun yakin, bahwa kalian berdua berniat buruk”

“Apa pedulimu?“ bertanya anak muda yang berdiri didepan.

“Tentu saja aku peduli. Sikap kalian sama sekali tidak mencerminkan sikap anak-anak muda yang baik. Kenapa kalian pada mempunyai sawah? Bukankah sebaiknya kalian membantu orang tua kalian mengerjakan apa saja yang pantas kalian kerjakan? Tidak hanya sekedar bermabuk-mabukan dan menyia-nyiakan waktu muda kalian”

“Persetan” geram anak muda yang berjalan di sisi Ki Mina pergi atau kami akan mengusir kalian seperti kami mengusir burung di sawah”

Orang itu tertawa. Katanya. “Anak-anak memang sering merasa dirinya pilih tanding. Anak-anak muda. Sebelum terlanjur, pergilah. Jangan ganggu orang tua dengan kedua anak gadisnya itu. Biarlah mereka melanjutkan perjalanan yang agaknya masih panjang itu”

“Diam. Diam“ bentak seorang yang lain. “kalianlah yang akan menyesali kesombongan kalian”

Kedua orang penunggang kuda itu pun segera berloncatan turun. Mereka adalah orang-orang yang usianya tentu sudah mendekati setengah abad. Namun kedua orang itu masih nampak tegar. Wajahnya masih tetap cerah dan matanya memancarkan keteguhan hati.

“Sekali lagi aku peringatkan. Pergilah” bentak seorang diantara anak-anak muda itu.

“Jangan keras kepala anak muda. Kami adalah orang-orang yang sudah berpengalaman. Kamilah yang memperingatkan kalian agar kalian jangan sering mengganggu orang. Perbuatan itu tentu akan menyinggung rasa kedalian setiap orang yang menyaksikannya. Karena itu, pergilah”

“Cukup” bentak seorang anak muda yang bertubuh tinggi kami tidak mempunyai banyak waktu”

Tetapi kedua orang itu justru mempersiapkan dirinya. Seorang diantara mereka berkata. “Jika kalian tidak mau mendengarkan nasehat kami, maka kami akan terpaksa mengusirmu”

Anak-anak muda itu pun segera bergeser menjadi dua kelompok. Masing-masing menghadapi seorang diantara kedua orang berkuda itu.

Ki Mina dan Nyi Mina pun kemudian telah mengajak Wiyati dan Wandan untuk menepi.

Kedua orang berkuda itu pun segera menghadapi enam orang anak muda yang sedang tumbuh. Mereka adalah anak-anak muda yang kokoh dan kuat

Namun kedua orang berkuda itu sama sekali tidak kelihatan gelisah apalagi menjadi gentar. Mereka masih saja tersenyum-senyum. Namun agaknya mereka pun telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, maka anak-anak muda itu pun mulai menyerang. Berganti-ganti mereka berloncatan sambil mengayunkan tangan dan kaki mereka.

Tetapi sebenarnyalah bahwa kedua orang berkuda itu memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka mereka, tidak banyak mengalami kesulitan menghadapi anak-anak muda itu.

Meskipun demikian, anak-anak muda itu pun tidak terlalu mudah untuk dikuasai. Agaknya mereka pun telah pernah berlatih olah kanuragan. Karena itu, maka anak-anak muda itu berani menengadahkan wajah mereka menghadapi orang-orang yang belum pernah mereka kenal.

Perkelahian diantara mereka pun berlangsung beberapa lama. Anak-anak muda itu menyerang lawan-lawan mereka dengan garangnya. Mereka berloncatan, berputaran sambil mengayunkan tangan dan kaki mereka, bahkan berteriak memekakkan telinga.

Perkelahian itu telah menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan berada di sawah. Bahkan beberapa orang yang sedang lewat. Tetapi mereka tidak berani mendekat Mereka menyaksikannya dari kejauhan.

Ki Mina dan Nyi Mina memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Mereka mencoba untuk menilai kemampuan kedua orang berkuda itu. Namun agaknya mereka tidak merasa perlu mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mengalahkan keenam orang lawan mereka.

Beberapa saat kemudian, maka anak-anak muda itu mulai mengalami kesulitan. Bergantian mereka terlempar dari arena, terpelanting atau jatuh terguling.

Akhirnya, anak-anak muda itu pun telah kehilangan kesempatan. Tulang-tulang mereka merasa seakan-akan berpatahan. Perut mereka menjadi mual dan kepala mereka menjadi pening. Tubuh mereka pun terasa menjadi sakit dimana-mana.

Kedua orang penunggang kuda itu pun masih menyerang mereka meskipun anak-anak muda itu sudah tidak berdaya.

“Kalian harus menjadi jera” geram salah seorang dari kedua orang berkuda itu.

“Ampun. Hentikan serangan-serangan kalian. Kami menyerah”

“Katakan bahwa kalian sudah menjadi jera” berkata seorang diantara kedua orang penunggang kuda itu sambil memukul perut anak muda yang bertubuh tinggi.

“Ampun. Aku minta ampun”

“Katakan bahwa kau sudah menjadi jera”

“Ya. Kami sudah jera”

“Katakan bahwa kalian tidak akan mengganggu orang lewat lagi, apalagi perempuan”

“Ya. Kami tidak akan mengganggu orang lewat lagi. Apalagi perempuan”

Kedua orang itu pun akhirnya berhenti menyakiti anak-anak muda itu. Tetapi sebagian dari mereka telah menjadi .pingsan.

“Bawa mereka pergi” berkata seorang diantara kedua orang berkuda itu.

Mereka pun segera meninggalkan tempat itu dengan wajah ketakutan. Mereka memapah dua orang kawan mereka yang menjadi pingsan.

Bahkan dua orang yang memapah kawan mereka yang pingsan itu sempat terjatuh pula.

Kawan-kawan mereka mencoba membantunya berdiri meskipun mereka masih juga menyeringai menahan sakit di punggungnya.

Setapak demi setapak anak-anak muda itu beringsut pergi.

“Marilah, Ki Sanak” berkata salah seorang penunggang kuda itu kepada Ki Mina. “Kita meneruskan perjalanan”

“Kami mengucapkan terima kasih atas pertolongan Ki Sanak berdua, yang telah menyelamatkan anak-anak kami” berkata Ki Mina.

Orang berkuda itu tersenyum. Katanya. “Bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong. Kali ini kami telah menolong anak-anak Ki Sanak. Tetapi pada kesempatan lain, kamilah yang mungkin membutuhkan pertolongan itu.”

Ki Mina pun kemudian mengajak isterinya serta Wiyati dan Wandan untuk meneruskan perjalanan.

“Semuanya sudah lewat ngger” berkata Ki Mina. “Marilah kita melanjutkan perjalanan. Nanti, jika kalian letih, kita dapat beristirahat lagi”

Kedua orang berkuda itu pun kemudian meloncat ke punggung kudanya. Seorang diantara mereka pun berkata. “Kami mendahului Ki Sanak. Mudah-mudahan perjalanan kalian tidak ada hambatan lagi”

“Silahkan Ki Sanak. Kami mengucapkan terima kasih sekali lagi”

Kedua orang berkuda itu pun segera meninggalkan keempat orang yang mulai melanjutkan perjalanan mereka itu.

Sambil berjalan di belakang Wiyati dan Wandan, Ki Mina pun berkata. “Masih juga ada orang yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap sesamanya yang mengalami kesulitan, Nyi”

“Ya. Masih banyak” jawab Nyi Mina.

Ki Mina mengerutkan dahinya. Sementara itu sambil tersenyum Nyi Mina pun berkata. “Selain kedua orang berkuda itu, kakang juga mempunyai kepedulian yang tinggi. Wikan dan tentu masih banyak yang lain”

Ki Mina pun tertawa. Katanya. “Kau benar. Sebenarnya aku ingin berkata bahwa ada juga orang yang sama sekali tidak mempedulikan orang lain”

“Nah, aku setuju. Ada orang yang tidak mempedulikan orang lain. Tetapi ada orang yang mempunyai kepedulian yang tinggi”

“Mana yang lebih banyak Nyi?”

Nyi Mina tertawa pula. Katanya. “Aku belum pernah menghitung. Tetapi bedanya tentu tidak terlalu banyak. Jumlahnya”

“Kenapa harus disebut jumlahnya”

“Tataran dan lingkungan kehidupan merekalah yang berbeda. Orang-orang yang masih terbiasa hidup dalam lingkungannya, tentu masih mempedulikan sesamanya. Tetapi orang-orang yang merasa tidak ada ketergantungan dengan lingkungannya, biasanya tidak lagi saling mempedulikan. Mereka hanya peduli kepada dirinya sendiri. Atau sejauh-jauhnya kepentingan keluarganya. Mereka memburu kebutuhan mereka masing-masing tanpa menghiraukan orang lain. Bahkan seandainya mereka harus menginjak kepala tetangganya yang tidak pernah dikenalnya”

Ki Mina mengagguk-angguk. Katanya. “Aku mengerti maksudmu Nyi. Meskipun jumlahnya hampir sama, tetapi kadar kehidupannya yang berbeda. Yang mempedulikan sesamanya adalah orang-orang dari tataran yang lebih rendah, sedangkan mereka yang sudah berada di tataran kehidupan yang lebih tinggi, justru lebih mementingkan diri sendiri”

“Ya”

“Tetapi kedua orang itu nampaknya berada dalam tataran kehidupan yang tinggi. Setidak-tidaknya bukan yang berada di tataran bawah”

“Bukankah ada perkecualian. Orang yang hidup dalam lingkungan yang ketat pun ada yang tidak mempedulikan lingkungannya. Bahkan di dalam keluarga pun ada orang yang tidak peduli apa yang terjadi dengan keluarganya itu, karena ia sibuk mengurus dirinya sendiri”

Ki Mina menarik nafas panjang.

Dalam pada itu, perjalanan mereka pun menjadi semakin jauh. Panas matahari terasa semakin terik membakar udara di atas bulak panjang. Meskipun di sebelah menyebelah jalan terdapat pohon-pohon perindang, namun diatas tanaman padi di sawah, nampak udara bagaikan uap air mendidih yang bergetar.

Ketika mereka memasuki daerah pategalan, terasa udara menjadi lebih sejuk. Selain pepohonan yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan, di pategalan itu pun banyak terdapat pepohonan, bahkan pohon buah-buahan.

Namun Ki Mina, Nyi Mina dan bahkan Wiyati dan Wandan merasa agak aneh, bahwa kedua orang berkuda yang telah menolong mereka itu terhenti di pinggir jalan yang melintas di tengah-tengah pategalan.

”Bukankah keduanya orang yang telah menolong kami tadi, paman Mina” bertanya Wiyati.

“Ya”

“Kenapa mereka berhenti?”

“Entahlah. Mungkin kuda-kuda mereka menjadi letih”

Wiyati pun terdiam. Namun langkahnya pun menjadi semakin lambat.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Ki Mina dan Nyi Minalah yang kemudian berjalan di depan. Beberapa langkah di depan kedua orang penunggang kuda yang sudah turun dari kudanya itu, Ki Mina dan Nyi Mina berhenti.

“Apakah Ki Sanak sedang beristirahat?“ bertanya Ki Mina.

Kedua orang berkuda itu tertawa. Seorang diantaranya kemudian berkata. “Kami memang menunggu kalian berempat”

“Menunggu kami?”

“Ya”

“O“ Ki Mina mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya. “Untuk apa?”

“Tadi aku sudah mengatakan, bahwa mungkin pada suatu saat kamilah yang minta pertolongan kepada kalian”

“O“ Ki Mina mengangguk-angguk. “pertolongan apa yang dapat kami berikan?“

“Ki Sanak. Rumahku sudah tidak terlalu jauh lagi” berkata salah seorang penunggang kuda itu.

Ki Mina mengerutkan dahinya.

“Di sebelah pategalan ini ada sebuah padukuhan. Aku mempunyai rumah di padukuhan itu. Tetapi rumah itu kosong. Sejak rumah itu aku bangun, belum pernah dihuni. Aku membuat rumah itu bagi pamanku yang sudah tua. Tetapi sebelum rumah itu siap, paman sudah meninggal di rumah keluargaku. Karena itu, rumah itu jadi urung dihuni. Selama ini, seorang kakek tua menunggui rumah itu”

Ki Mina berdiri termangu-mangu.

“Ki Sanak. Setelah berkelahi melawan anak-anak bengal itu kami merasa sangat letih. Kami akan minta tolong kepada kedua anak gadismu untuk memijit kami berdua di rumahku itu”

Terasa telinga Ki Mina menjadi panas. Bahkan Wiyati dan Wandan pun segera bergeser mendekati Nyi Mina. Namun sikap Ki Mina masih belum berubah. Dengan nada yang rendah ia pun bertanya. “Apa maksud Ki Sanak berdua sebenarnya?”

“Kedua anakmu itu sudah aku selamatkan. Karena itu, maka kami merasa berhak atas mereka. Jika saja kami biarkan kedua anakmu itu diseret oleh anak-anak muda yang bengal dan sedang mabuk tuak itu, maka kedua orang anakmu itu akan mengalami perlakuan yang sangat menyedihkan. Nah, sekarang mereka sudah bebas. Aku akan memperlakukan mereka dengan baik”

“Aku tidak mengerti Ki Sanak. Aku mengira bahwa Ki Sanak berdua tadi telah menolong kami tanpa pamrih. Tetapi ternyata aku keliru”

”Apakah sekarang ada orang yang berbuat sesuatu, apalagi mempertaruhkan nyawanya tanpa pamrih? Omong kosong, Ki Sanak. Karena itu aku tidak ingin berpura-pura baik hati. Berpura-pura menjadi pahlawan. Terus terang, aku memerlukan kedua orang yang kau sebut anak-anakmu itu. Aku tahu, bahwa mereka bukan anak-anakmu. Aku pernah melihat mereka di Mataram. Mereka berada di rumah Nyi Ladak yang gemuk itu. Aku belum sempat memperkenalkan diri kepada mereka, karena setiap kali aku singgah di rumah Nyi Ladak, aku sudah ditunggu oleh seorang perempuan yang sebenarnya bagiku sudah sangat menjemukan. Demikian pula kawanku ini. Sebenarnyalah bahwa kami berdua yang hanya dapat melihat mereka dari kejauhan menginginkan memesan mereka berdua. Tetapi sebelum hal itu dapat kami lakukan, mereka berdua dapat kami temui disini. Bukankah ini merupakan satu anugerah bagi kami? Itulah sebabnya kami bersedia berkelahi melawan anak-anak muda itu dengan mempertaruhkan nyawa, karena kami tidak tahu, sebenarpa tingkat kemampuan mereka yang sebenarnya”

Ki Mina pun mengangguk-angguk Sementara itu Wiyati dan Wandan menjadi semakin ketakutan. Bukan saja menjadi ketakutan kepada kedua orang itu, tetapi mereka pun menjadi ketakutan bahwa kedua orang itu ternyata dapat mengenali mereka pada saat mereka berada di dunia yang gelap di Mataram.

Sebelum Ki Mina menjawab, maka yang seorang lagi telah berkata pula. “Agaknya keduanya sekarang telah berganti ibu asuh. Sebenarnya kalian akan pergi ke mana? Atau sekedar memenuhi satu pesanan? Jika demikian, maka berapa orang yang memesan kalian itu bersedia membayar? Kami akan membayar berlipat”

“Ki Sanak” sahut Ki Mina. “Baiklah aku tidak akan menyembunyikan kenyataan tentang kedua orang perempuan itu. Keduanya memang bukan anakku. Tetapi mereka adalah kemanakanku. Sebenarnya kemanakan. Mereka adalah anak adikku. Nah, jika kalian pernah melihatnya di Mataram, itu pun benar. Keduanya memang pernah berada di Mataram, di rumah perempuan gemuk yang aku tidak tahu namanya. Tetapi keduanya sekarang sudah berubah. Kami menerima mereka kembali dengan segala perubahan itu. Kedua perempuan yang pernah berada di rumah perempuan gemuk di Mataram itu sudah mati. Yang ada sekarang adalah dua orang perempuan yang lain”

Kedua orang laki-laki berkuda itu tertawa. Katanya. “Jangan omong kosong seperti itu. Kau jangan menganggap bahwa kami adalah anak-anak ingusan yang baru sekali keluar dari pintu rumah sesaat setelah kami dapat berjalan. Kami sudan merambah ke berbagai macam dunia. Juga dunia yang hitam itu. Tetapi kami pun pernah berkenalan di dunia olah kanuragan, sehingga siapa pun tidak akan mudah menipuku”

“Ki Sanak” berkata Ki Mina kemudian. “sebaiknya Ki Sanak berdua mengurungkan niat Ki Sanak. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas pertolongan Ki Sanak. Tetapi kami tidak akan mampu membalas kebaikan hati Ki Sanak itu dengan cara yang Ki Sanak inginkan”

“Sudahlah. Sebaiknya kita tidak usah berbantah disini. Serahkan kedua orang perempuan itu. Berapa banyak kami harus membayar. Kami adalah pedagang-pedagang yang memiliki uang seberapa pun dibutuhkan”

“Maaf Ki Sanak. Kami tidak akan dapat menyetujuinya. Sekarang, biarkan kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami masih panjang”

“Ki Sanak” berkata salah seorang penunggang kuda itu. “apakah Ki Sanak bersungguh-sungguh atau sekedar untuk menaikkan harga kedua orang perempuan itu. Jika Ki Sanak hanya ingin menaikkan harga, Ki Sanak tidak perlu berputar-putar. Katakan saja berapa kami harus membayar”

“Tidak Ki Sanak. Kami tidak sekedar ingin memeras Tetapi kami bersungguh-sungguh. Kami tidak dapat memenuhi keinginan Ki Sanak itu. Pergi sajalah ke Mataram. Mungkin di rumah perempuan gemuk itu masih akan Ki Sanak temui banyak perempuan yang Ki Sanak inginkan”

“Jangan main-main dengan kami berdua. Kami adalah orang-orang yang dapat berlaku halus, justru kami adalah pedagang yang harus dapat melayani kebutuhan orang banyak dengan sikap yang baik. Tetapi kami pada dasarnya bukan orang yang baik-baik. Kami dapat berbuat kasar dan bahkan dengan cara apa pun juga untuk dapat mencapai maksud kami”

“Jangan Ki Sanak”

“Dengar kakek tua. Kami dapat membunuhmu dan membawa kedua orang perempuan itu. Justru tanpa mengeluarkan uang sekepingpun. Kau dengar?”

“Aku dengar Ki Sanak. Tetapi aku tidak akan memberikan mereka”

Kedua orang penunggang kuda itu pun mulai kehilangan kesabaran. Seorang diantara mereka pun kemudian melangkah maju mendekati Ki Mina. “Kakek tua. Jangan paksa aku mempergunakan kekerasan”

Ki Mina surut selangkah. Katanya. “Jangan Ki Sanak, Jangan mempergunakan kekerasan. Kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalannya”

“Tentu. Jika kau mati, maka persoalannya selesai bagi kami berdua”

“Jika aku tidak mati?”

“Itu hanya terjadi dalam mimpi. Jika aku ingin membunuh seseorang, maka orang itu tentu akan mati”

“Jika tidak?”

“Tentu. Kau dengar?” orang itu benar-benar telah kehabisan kesabaran.

Ketika kemudian Ki Mina menggelengkan kepalanya, maka orang itu tidak dapat menahan diri lagi. Tangannya tiba-tiba saja telah terayun menampar wajah Ki Mina.

Tetapi orang itu terkejut. Tangan itu sama sekali tidak menyentuh wajah Ki Mina. Sementara itu, seakan-akan Ki Mina tidak bergerak sama sekali.

“Apakah kau berniat melawan?”

“Ya“ Ki Mina mengangguk. “sejauh-jauh dapat aku lakukan. Aku harus melindungi kedua orang kemanakanku itu. Kedua orang yang berada dipadang kesesatan justru berusaha menemukan lorong yang menuju ke jalan kebenaran”

“Omong kosong. Tetapi baiklah jika kau ingin tulang-tulanggmu yang sudah rapuh itu aku patahkah”

Ki Mina tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun berkata kepada Nyi Mina. “ajak kedua orang anak itu menepi Nyi”

Nyi Mina pun mendekap kedua orang perempuan yang ketakutan itu sambil berkata. “Marilah ngger, menjauhlah dari arena perkelahian”

Sementara itu orang yang sudah siap bertarung dengan Ki Mina itu pun berkata kepada kawannya. “Awasi perempuan-perempuan itu. Jangan ada seorang pun yang pergi. Mereka akan dapat mengundang kesulitan”

“Baik. Aku akan mengawasi mereka bertiga”

Penunggang kuda yang berdiri di depan Ki Mina itu pun berkata. “Aku masih memberimu kesempatan sekali lagi. Kau tentu sudah melihat, bagaimana aku memperlakukan anak-anak muda itu. Beruntunglah mereka bahwa akhirnya mereka menurut saja apa yang aku katakan kepada mereka, sehingga aku tidak akan memperlakukan mereka lebih kasar lagi. Tetapi terhadap orang-orang yang keras kepala, maka aku akan bersikap lain. Bahkan mungkin aku harus membunuhnya”

Ki Mina bergeser selangkah sambil menjawab. “Apa pun yang akan terjadi atas diriku, aku tidak akan dapat menyerahkan kedua kemanakanku itu kepada buaya-buaya seperti kalian”

Orang berkuda itu tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang. Sambil menjulurkan tangannya ke arah dada, orang itu bagaikan bilalang yang melenting dengan kecepatan yang tinggi sekali. Kecepatan yang belum diperlihatkan saat orang itu berkelahi melawan anak-anak muda bengal yang mabuk itu.

Tetapi sekali lagi orarig itu menjadi heran. Tangannya sama sekali tidak menyentuh sasaran.

Tetapi orang itu tidak melepaskan sasarannya. Ia pun segera memburunya. Sambil meloncat, orang itu memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar kearah kening.

Sekali lagi serangan itu tidak mengenai sasaran. Ki Mina dengan cepat pula merendah, sehingga kaki itu terayun di atas kepalanya.

Orang berkuda itu mulai menyadari, bahwa lawannya itu bukan sekedar seorang tua yang pikun yang tulang-tulangnya sudah rapuh sehingga tidak berani berbuat apa-apa terhadap anak-anak muda yang bengal yang telah mengganggu kedua orang perempuan yang diakunya sebagai kemanakannya itu.

Karena itu, maka orang itu pun kemudian menggeram. “Siapa sebenarnya kau Ki Sanak?”

“Kita belum pernah berkenalan. Jika aku memberitahukan namaku, maka nama itu tidak akan mempunyai arti apa-apa bagimu”

“Persetan. Aku hanya ingin tahu nama laki-laki tua yang telah aku bunuh hari ini”

Ki Mina mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi Ia pun bertanya. “Jika kau mengaku seorang pedagang, apa saja yang kau perjual belikan. Kepala orang atau jantungnya atau hatinya?”

“Iblis tua Kau benar-benar akan mati hari ini”

Ki Mina menyadari, bahwa orang itu tentu tidak hanya sekedar main-main lagi. Orang itu sudah mulai mencurigainya, bahwa ia pun memiliki ilmu yang tinggi.

Sebenarnya orang berkuda itu mulai berhati-hati menghadapi Ki Mina. Orang itu memang mulai menyadari bahwa orang tua itu bukan orang kebanyakan

Sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran di tengah jalan yang melintasi pategalan itu. Jalan yang terhitung sepi, sehingga tidak seorang pun yang menyaksikannya.

Dalam perkelahian itu, Ki Mina sempat berdesis. “Tempat ini ternyata cukup sepi, Ki Sanak. Jika aku membunuhmu dan kemudian membunuh kawanmu itu, tidak akan ada orang yang dapat memberikan kesaksian akan kematianmu”

“Gila kau kakek tua. Kaulah yang akan mati. Bukan aku”

Tetapi Ki Mina tertawa. Katanya. “Kau memang pemimpi. Yakinkan dirimu bahwa kau tidak akan dapat memenangkan perkelahian ini. Sebenarnyalah bahwa aku sama sekali tidak membutuhkan pertolonganmu ketika anak-anak bengal itu mengganggu kedua kemanakanku. Jika aku mengucapkan terima kasih kepadamu itu semata-mata karena kekagumanku, bahwa pada masa ini ada juga orang yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap sesamanya. Namun ternyata aku keliru”

“Pada saat tulang-tulangmu menjadi rapuh, kau masih juga dapat menyombongkan dirimu. Betapa pun tinggi ilmu, kau sudah terlalu tua untuk bertarung melawan aku. Seandainya kau mempunyai landasan ilmu yang sangat tinggi, namun unsur kewadaganmu sudah tidak mendukungmu lagi”

Ki Mina masih saja tertawa. Katanya. “Marilah kita lihat, siapakah diantara kita yang lebih kokoh. Tulang-tulang siapakah yang telah rapuh”

Orang berkuda itu tidak menyahut lagi. Namun dengan garangnya orang itu menyerang Ki Mina. Dikerahkan kemampuannya untuk dengan cepat menyelesaikan pekerjaan yang tidak menyenangkan itu. Selanjutnya ia akan dapat membawa dua orang perempuan itu kemana pun yang dikehendakinya.

Tetapi Ki Mina telah benar-benar bersiap. menghadapinya. Ki Mina yang sudah melihat bagaimana kedua orang itu dengan mudah, bahkan dengan tidak memerlukan banyak tenaga dan waktu, telah menghentikan perlawanan beberapa orang anak muda yang tubuhnya masih segar dan kokoh itu, harus tetap berhati-hati.

Sejenak kemudian, keduanya pun bertempur dengan sengitnya. Orang berkuda yang mengaku sebagai pedagang itu menyerang Ki Mina seperti angin prahara. Beruntun, susul-menyusul.

Tetapi Ki Mina yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, tidak dapat digoyahkannya. Bahkan sekali-sekali serangan Ki Minalah yang justru mulai menyeruak menyusup pertahanan orang berkuda itu.

Ketika orang berkuda itu mencoba untuk menerkam Ki Mina dengan jari-jari tangannya yang mengembang, Ki Mina justru menyongsongnya dengan serangan kakinya yang terjulur lurus menyamping.

Orang itu terkejut Bahkan ia tidak dapat bertahan ketika dorongan kaki itu demikian kuatnya melontarkannya beberapa langkah surut. Bahkan orang itu telah kehilangan keseimbangannya pula.

Orang berkuda itu pun kemudian telah terjatuh menimpa pagar pategalan. Namun dengan cepat orang itu pun bangkit berdiri. Tetapi demikian ia tegak, maka Ki Minapim telah meloncat sambil menjulurkan tangannya menghantam dada.

Sekali lagi orang itu terpelanting. Bahkan tubuhnya yang menimpa pagar petegalan telah menerobos masuk ke dalamnya menimpa sebatang pohon kelapa. Pagar pategalan itu pun telah berpatahan dan bahkan telah roboh pula.

Tetapi Ki Mina tidak memburunya. Dibiarkannya orang itu tertatih-tatih berdiri. Tatapan matanya yang memancarkan kemarahnya bagaikan memancarkan api.

Dengan suara yang bergetar oleh kemarahannya, orang itu pun kemudian menggeram. “Setan kau kakek tua. Ternyata kau memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi kau jangan tergesa-gesa merasa menang. Aku belum benar-benar mulai”

Ki Mina tidak menjawab. Beberapa langkah ia bergeser surut. Kemudian ia pun berpaling kepada Nyi Mina yang nampaknya tanggap maksud Ki Mina. Nyi Mina itu harus hati-hati. Mungkin orang berkuda yang seorang lagi itu akan berbuat licik. Wiyati dan Wandan harus benar-benar mendapat perlindungan.

Dalam pada itu, orang yang terlempar ke pategalan dan menimpa pohon kelapa itu perlahan-lahan telah menapak kembali keluar pagar pategalan yang telah roboh. Dengan kemarahan yang membuat darahnya mendidih, orang itu pun segera mengambil ancang-ancang.

Ki Mina pun telah mempersiapkan dirinya pula menghadapi segala kemungkinan. Agaknya orang berkuda itu akan meningkatkan lagi ilmunya.

Sejenak kemudian, maka orang berkuda itu telah menyerangnya lagi. Dengan garangnya ia meloncat dengan kedua tangannya terjulur kedepan. Jari-jarinya mengambang seperti kuku-kuku harimau yang menerkam lawannya.

Ki Mina meloncat menghindar. Orang itu tidak menerkam leher Ki Mina, tetapi kedua tangannya itu pun tarayun dengan cepatnya seperti tangan-tangan harimau dengan kukunya yang mengembang, mencakar lawannya.

Ki Mina terkejut. Meskipun jari-jari orang itu tidak menyentuhnya, tetapi getaran anginnya telah menusuk kulitnya.

“Serangan yang sangat berbahaya” desis Ki Mina.

Dengan demikian maka Ki Mina pun harus bertempur dengan sangat berhati-hati. Lawannya itu seakan-akan telah berubah menjadi seekor harimau yang sangat garang. Jari-jarinya tetap saja mengembang untuk berusaha mencakarnya.

Ketika jari-jarinya itu menggapai wajah Ki Mina, namun karena Ki Mina mengelak, sehingga jari-jari tangan itu mengenai sebatang pohon, maka Ki Mina melihat akibat yang mengerikan. Kulit serta kayu dilapisan luar sebatang pohon yang tersentuh jari-jari orang itu pun telah terkelupas.

Ki Mina meloncat mengambil jarak. Sambil menarik nafas panjang, ia pun berkata didalam hatinya. “Luar biasa. Jika jari-jarinya itu menyentuh kulitku, maka kulitkulah yang akan terkelupas seperti pohon itu”

Namun Ki Mina bukan sabatang pohon yang tidak dapat bergerak. Ki Mina adalah seorang yang sangat tangkas dan mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Karena itu, maka sulit bagi lawannya untuk dapat menyentuh tubuh Ki Mina. Bahkan sambil berloncatan mengelakkan serangan jari-jari lawannya yang mengembang itu, Ki Mina sempat berloncatan menyerang menembus pertahanan lawannya yang rapat.

Ketika lawannya meloncat seperti seekor harimau yang menerkam dengan cakar-cakamya yang akan dapat mengoyak tubuhnya, Ki Mina dengan cepat mengelak selangkah kesamping. Demikian tangan lawannya itu terayun dengan cepat, maka Ki Mina pun telah meloncat sambil berputar. Kakinya terayun mendatar menghantam dada lawannya itu. Pemakian kerasnya, sehingga lawannya itu pun terdorong beberapa langkah surut. Namun Ki Mina tidak melepaskannya. Ia sadar, bahwa lawannya adalah lawan yang sangat berbahaya. Karena itu, maka Ki Mina pun telah mempergunakan kesempatan itu. Dengan kecepatan yang tinggi, maka Ki Mina pun telah meloncat menyerang. Tubuhnya menyamping, sementara kedua kakinya terjulur lurus sekali lagi menghantam dada orang berkuda itu.

Terdengar orang itu mengaduh tertahan. Tubuhnya terpental beberapa langkah surut, kemudian terbanting di tanah. Beberapa kali ia terguling. Namun kemudian dengan susah payah orang itu pun berusaha bangkit berdiri.

“Ternyata daya tahan orang itu sangat tinggi” berkata Ki Mina didalam hatinya.

Meskipun demikian, Ki Mina pun melihat bahwa pertahanan orang itu mulai menjadi goyah.

“Iblis tua” geram orang itu. “Kau benar-benar tidak tahu diri. Kau tentu mengira bahwa kau akan dapat mengalahkan aku. Tetapi kau akan menghadapi kenyataan, bahwa aku akan membunuhmu serta mengambil kedua orang gadis itu”

Tetapi Ki Minta tidak menjawab. Ia masih saja bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun tiba-tiba saja orang itu berteriak kepada kawannya. “Adalah tugasmu untuk mengurus perempuan-perempuan itu. Iblis tua ini harus dihentikan. Jika kau ancam ketiga orang perempuan itu, maka iblis ini tentu akan menyerah”

Wiyati dan Wandan yang mendengar perintah itu menjadi semakin ketakutan. Mereka pun mendekap Nyi Mina sambil berkata dengan suara gemetar. “Aku takut, bibi”

Tetapi Nyi Mina kemudian melepaskan dekapan kedua orang perempuan itu sambil berkata kepada orang berkuda itu. “Jangan sakiti kami, Ki Sanak. Bukankah kami tidak melibatkan diri dalam pertempuran itu”

“Aku memerlukan kedua perempuan itu. Kalau kau serahkan keduanya kepada kami, maka kami akan segera pergi dari tempat ini. Kami tidak akan menyakiti kau dan kakek tua itu. Apalagi kedua orang perempuan itu. Kami akan membuat mereka bahagia”

“Jangan Ki Sanak“ jawab Nyi Mina. “Biarlah suamiku dan kawanmu itu sajalah yang menentukan. Apakah kami harus menyerahkan kedua orang kemanakan kami ini, atau tidak”

“Jangan banyak tingkah, nenek tua. Minggirlah. Kami akan mengambil kedua orang perempuan itu”

“Jangan. “

“Atau kami akan mengambilnya dengan paksa”

“O, ya?” sahut Nyi Mina.

Sementara itu lawan Ki Mina pun berkata. “Lihat iblis tua. Kawanku telah menguasai ketiga orang perempuan itu. Isterimu dan kedua orang kemanakanmu. Jika kau masih mencoba melawan, maka isterimu akan mati. Jika kau masih keras kepala, maka kedua orang kemanakanmu itu tentu juga akan menjadi korban. Jika kami tidak dapat membawanya, maka lebih baik kami membunuhnya. Kemudian kawanku itu akan membantuku membunuhmu. Kau harus mati yang terakhir kalinya, agar kau sempat melihat bagaimana ketiga orang perempuan itu mati”

“Aku tidak berkepentingan dengan mereka. Jika kawanmu itu akan membunuh perempuan itu, terserah saja. Sedangkan kedua orang kemanakanku itu pun telah terlalu banyak merepotkan aku. Jika mereka-harus mati disini, apa boleh buat. Aku pun akan terbebas dari padanya”

“Kau benar-benar berhati iblis. Kau tidak menyayangi isteri dan kedua kemanakanmu itu? Jadi kenapa kami tidak boleh membawanya pergi jika keduanya telah sangat merepotkanmu”

“Aku akan berbuat sejauh dapat aku lakukan untuk melindungi mereka. Tetapi aku tidak ingin mati. Jika aku serahkan kedua orang perempuan itu, bukankah tidak ada bedanya? Kau juga akan tetap membunuh aku dan isteriku?”

“Tidak”

“Omong kosong. Sekarang kita bertempur terus. Biarlah isteriku mengurus dirinya sendiri”

Ki Mina lah yang kemudian menyerang lawannya yang sudah semakin terdesak. Ilmunya yang diangkatnya dari pengamatan seorang yang mengamati tingkah laku harimau bertahun-tahun sehingga akhirnya diturunkan kepadanya itu, tidak mampu melindungi dirinya dari serangan-serangan lawannya yang sudah ubanan itu.

Sekali lagi serangan Ki Mina telah melemparkan lawannya terpelanting membentur sebongkah batu padas di pinggir jalan. Orang itu menyeringai kesakitan. Ketika ia bangkit berdiri, maka kedua tangannya bertelekan pada pinggangnya.

“Iblis tua” teriak penunggang kuda yang berdiri di hadapan Nyi Mina. “hentikan perlawananmu atau aku lumatkan ketiga orang perempuan ini”

“Lakukan apa yang akan kau lakukan. Biarlah perempuan itu berbuat bagi dirinya sendiri” jawab Ki Mina. “jika perempuan itu mampu menyelamatkan dirinya serta menyelamatkan kedua kemanakannya biarlah itu dilakukan. Jika tidak, terserah saja kepadamu”

“Setan alas” geram penunggang kuda itu. “Kau sekarang tidak mempunyai pelindung lagi perempuan tua. Suamimu tidak mempedulikanmu lagi”

“Tidak hanya sekarang” jawab Nyi Mina. “sejak dahulu ia begitu. Ia membiarkan saja apakah aku akan dapat melindungi diriku sendiri atau tidak”

“Persetan. Sekarang kau mau apa?”

“Tentu saja aku akan melindungi diriku dan kedua kemanakanku ini”

Ketika laki-laki itu menggeram lagi, maka Nyi Mina pun segera menyingsingkan kain panjangnya, sehingga perempuan tua itu pun kemudian telah mengenakan pakaian khususnya.

Laki-laki berkuda itu justru melangkah surut. Dengan pakaiannya itu, perempuan tua itu tentu akan melawannya.

“Jadi kau akan melawan nenek tua?”

“Ya. Apakah maumu aku berjongkok sambil membungkukkan kepalaku agar kau mudah memenggalnya”

“Persetan kau iblis perempuan”

Laki-laki itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera meloncat menyerang Nyi Mina yang telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Dengan tangkasnya Nyi Mina meloncat menghindar. Namun kemudian ia pun meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya dengan cepat terayun mendatar, menyerang lawannya yang agaknya tidak menduga sama sekali.

Kaki Nyi Mina itu telah menyambar dagu lawannya. Terdengar orang mengumpat kasar ketika ia jatuh terguling di tanah. Namun dengan cepat orang itu melenting berdiri. Sementara mulutnya masih saja mengumpat-umpat

“Aku akan membunuhmu perempuan binal” geram orang itu.

“Tidak terlalu mudah membunuh orang” sahut Nyi Mina hidup dan mati itu sudah pinesti. Kau tidak akan dapat merubah batasan yang telah digariskan oleh Yang Maha Pencipta. Bahkan jika justru garis batas hidupmu sudah berakhir sampai disini, maka kaulah yang akan mati”

Orang itu tidak menjawab. Sambil berteriak marah orang itu meloncat menyerang dengan garangnya.

 -oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 9

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s