TT-07


kembali | lanjut

TT-07TETAPI Taruna tidak begitu saja mau menerima kenyataan itu. Dengan meningkatkan ilmunya semakin tinggi, maka Taruna Itu mencoba untuk melihat Ki Mina dengan kecepatan geraknya.

Namun ternyata Ki Mina setidak-tidaknya mampu bergerak secepat Taruna itu sendiri, sehingga meskipun Taruna sudah memeras tenaganya, namun ia tidak berhasil menembus pertahanan Ki Mina.

Bahkan Ki Mina lah yang justru mulai menembus pertahanan Taruna.

Taruna mengumpat kasar ketika serangan kaki Ki Mina menyusup pertahanannya mengenai lambungnya. Ternyata Taruna itu menjadi goyah, sehingga tergetar beberapa langkah surut.

Tetapi Ki Mina tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat Ki Mina itu meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar menyambar kening.

Serangan itu benar-benar telah melemparkan Taruna sehingga jatuh berguling.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan menarik nafas panjang. Ternyata orang tua itu memiliki ilmu yang mampu bukan saja mengimbangi ilmu kedua orang yang ganas dan liar itu. Bahkan mereka berpengharapan bahwa ilmu orang tua itu mampu menundukkan kedua orang suami isteri yang masih terhitung muda namun segarang iblis itu.

Ketika Taruna itu meloncat bangkit, maka ia benar-benar tidak mempunyai kesempatan. Ki Mina telah meloncat menyerangnya pula.

Sementara itu, Nyi Mina  pun telah mendesak lawannya pula. Perempuan yang garang itu tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak Nyi Mina, sehingga beberapa kali serangan Nyi Mina telah mengenai tubuh perempuan itu.

Betapa pun perempuan itu meningkatkan ilmunya, namun ia tidak mampu berbuat banyak. Serangan-serangan Nyi Mina telah mendesaknya sehingga tidak lagi memberinya cukup ruang untuk bergerak.

Karena itu, maka kedua orang suami isteri itu, akhirnya harus melihat kenyataan, bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan kedua orang kakek dan nenek itu dengan, ilmu kanuragannya.

Apalagi, ketika wajah perempuan itu pun sudah menjadi lebam. Serangan-serangan tangan dan kaki Nyi Mina menjadi semakin sering mengenai wajah perempuan itu.

Sedangkan serangan-serangan Ki Mina yang lebih banyak mengenai dada, perut dan lambung Taruna, telah membuat nafasnya menjadi sesak. Bahkan perutnya menjadi mual.

Usaha terakhir dari kedua orang suami isteri itu adalah mempergunakan senjata rahasianya. Ketika sudah tidak ada kemungkinan lagi untuk melawan kakek dan nenek itu, maka tiba-tiba saja Taruna telah memberikan isyarat.

Semula Ki Mina dan Nyi Mina tidak tahu pasti, apakah arti isyarat itu. Namun isyarat itu telah membuat keduanya menjadi semakin berhati-hati.

Baru kemudian mereka mengerti, bahwa dengan isyarat itu, maka Taruna telah siap untuk melontarkan senjata rahasianya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, beberapa buah paser kecil telah meluncur dari tangan laki-laki yang masih terhitung muda itu.

Namun Ki Mina benar-benar telah bersiap sepenuhnya menghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka dengan siapnya Ki Mina berloncatan menghindarinya.

Sementara itu, ternyata Nyi Taruna telah menyerang dengan senjata rahasia yang sama pula.

“Inilah yang baru” berkata Ki Mina sambil tertawa, “sebelumnya aku belum pernah melihat, perguruan Ajag Wulung mempergunakan senjata rahasia seperti ini”

“Persetan kau kakek tua” geram Taruna.

Ki Mina masih berloncatan menghindari serangan Taruna. Namun ia pun kemudian berkata pula, “Jadi, jenis senjata ini juga yang kau maksud dengan melengkapi kemampuan temurun perguruan Ajag Wulung?”

Taruna tidak menjawab. Tetapi serangannya menjadi semakin cepat.

Demikian pula isterinya. Dengan tangkas tangannya bergerak melontarkan paser-paser kecil yang agaknya sudah di olesi dengan racun pada ujungnya.

Namun serangan mereka tidak pernah menyentuh sasaran. Bahkan rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin jauh. Sehingga akhirnya paser-paser mereka pun telah habis mereka lemparkan. Namun mereka tidak berhasil.

Ketika mereka berdua berhenti melemparkan senjata rahasianya, maka Ki Mina  pun bertanya, “kenapa kalian berhenti”

Jantung sepasang suami isteri itu rasa-rasanya berdegup semakin cepat dan semakin keras. Mereka harus mengakui kenyataan, bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan sepasang kakek dan nenek tua itu.

Karena itu, demikian senjata rahasia mereka yang terakhir mereka lontarkan, maka mereka merasa tidak mempunyai pilihan lain kecuali meninggalkan arena pertempuran itu.

Taruna pun kemudian telah memberikan isyarat kepada isterinya yang mulai kehilangan kepercayaan diri menghadapi nenek ubanan itu.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, Taruna dan isterinya itu pun segera meloncat meninggalkan arena.

Ki Mina dan Nyi Mina tidak berniat untuk mengejar mereka. Karena itu, maka demikian keduanya meninggalkan arena pertempuran dengan cepat, seperti anak panah yang meluncur dari busurnya, maka Ki Mina dan Nyi Mina hanya memandangi saja dari halaman kedai itu.

“Kita harus segera pulang ke padepokan” desis Ki Mina.

Nyi Mina mengangguk.

Sementara itu, keenam orang anak muda yang sudah menjadi putus asa itu, sempat menarik nafas panjang. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun yang tertua di antara mereka pun melangkah mendekati Ki Mina dan Nyi Mina diikuti oleh kawan-kawannya.

“Terima kasih Kiai dan Nyai yang telah menolong menyelamatkan kami” berkata anak muda yang tertua itu.

“Jadikan peristiwa ini pelajaran bagi kalian, ngger” berkata Ki Mina.

“Ya, Kiai”

“Agaknya sudah menjadi kebiasaan kalian mengganggu perempuan yang lewat di lingkungan kalian. Bahkan mungkin kalian sampai hati memaksakan kehendak kalian kepada perempuan-perempuan itu. Mungkin gadis-gadis. Tetapi mungkin juga perempuan-perempuan yang sudah bersuami”

Anak-anak muda itu menundukkan kepalanya.

“Sekarang kalian tahu, bahwa di luasnya langit ini ada juga orang yang mampu meredam niat buruk kalian itu”

“Ya, Kiai”

“Seandainya laki-laki itu bukan murid dari perguruan Ajag Wulung, mungkin ia harus menuruti keinginan kalian tanpa dapat mengelak”

Anak-anak muda itu terdiam.

“Tetapi jika yang kalian ganggu itu bukan murid perguruan Ajag Wulung, maka kamilah yang akan mencegah kalian. Jika kita sudah bertempur, maka aku kira kami pun akan bersikap seperti sepasang suami isteri murid dari perguruan Ajag Wulung itu. Mungkin kami pun berniat untuk membunuh kalian”

Anak-anak itu menunduk semakin dalam.

“Ketahuilah bahwa tingkah laku kalian itu dapat menimbulkan kebencian. Karena itu, maka kalian harus selalu mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Suatu ketika mungkin kalian benar benar akan terbunuh tanpa pertolongan dari siapapun. Seandainya kalian memiliki pengawal orang-orang upahan, aku yakin bahwa sepuluh orang sekali pun tidak akan mampu mengalahkan Taruna suami isteri, keluarga dari Ajag Wulung yang bengis itu. Apalagi jika suami isteri itu membawa satu dua kawannya, maka seluruh padukuhanmu akan dapat di tumpasnya”

“Aku mengerti Kiai. Kami mohon maaf”

Adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba saja orang tertua diantara keenam orang itu telah berjongkok di hadapan Ki Mina dan Nyi Mina.

Tetapi pada saat yang demikian, beberapa orang telah berlari-lari mendekati bekas arena pertempuran itu. Tanpa mengatakan apa pun juga, mereka pun langsung menyerang Ki Mina dan Nyi Mina.

Ki Mina dan Nyi Mina pun meloncat surut untuk mengambil jarak. Tetapi keduanya tidak mempunyai kesempatan. Beberapa orang  pun segera menyerang keduanya dari segala arah.

“Tunggu, tunggu” teriak beberapa orang anak muda itu hampir berbareng.

Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya. Bahkan orang-orang itu menjadi semakin garang. Serangan-serangan mereka datang seperti angin pusaran dari segala arah.

Ki Mina dan Nyi Mina berusaha untuk menghindari serangan-serangan itu. Dengan lantang Ki Mina pun berkata, “Tunggu dulu. Biarlah anak-anak muda itu berbicara”

Tetapi tidak seorang pun yang mau mendengarkannya.

“Ayah” berkata orang tertua diantara mereka, “hentikan”

“Sejak kapan kau membuat pertimbangan-pertimbangan seperti itu setelah kau dihinakan orang? Apakah keduanya orang yang berilmu iblis sehingga kalian berenam tidak mampu mengalahkan keduanya dan bahkan kau bersedia berjongkok di hadapannya?”

“Mereka justru telah menyelamatkan kami, ayah”

“Menyelamatkan kalian? Apa yang kalian katakan itu? Apakah kalian menjadi ketakutan sehingga kalian tidak berani mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya?”

“Tidak paman” sahut seorang anak muda, “kami berkata sebenarnya”

“Tidak. Aku tidak mau anakku dan kalian semuanya dihina orang dihadapan banyak orang. Aku harus menangkap keduanya dan memaksanya tidak hanya berjongkok di hadapan kalian, tetapi mereka harus menjilat kaki kalian”

“Tidak, ayah” jawab orang yang tertua diantara keenam orang itu, “itu tidak mungkin. Dengar kami ayah. Keduanya justru telah menolong kami”

“Kenapa kau lindungi mereka, he? Seseorang telah melaporkan kepadaku, bahwa kalian berenam telah dihajar oleh dua orang suami istri? Bahkan orang itu mengatakan bahwa kedua orang suami isteri itu akan membunuh kalian”

“Itu benar ayah. Tetapi bukan mereka berdua. Mereka berdualah yang telah membebaskan kami dari tangan sepasang suami isteri yang disebut Ajag Wulung”

“Ajag Wulung? Jadi kau berurusan dengan perguruan Ajag Wulung? Apakah kedua orang itu dari perguruan Ajag Wulung?”

“Bukan mereka”

Tetapi ayah dari orang tertua diantara keenam orang anak muda itu tidak perlu menghentikan pertempuran. Pertempuran itu ternyata telah berhenti dengan sendirinya. Sekelompok orang yang bertempur melawan Ki Mina dan Nyi Mina itu sudah terbaring malang melintang di halaman sambil mengerang kesakitan. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi pingsan.

“Ayah. Mintalah ampun. Kedua orang itulah yang telah menolong kami dari tangan Ajag Wulung. Jika kedua orang suami isteri itu tidak menolong kami, maka kami tentu sudah terbunuh di sini. Sepasang suami isteri dari perguruan Ajag Wulung yang mengaku bernama Taruna suami isteri itu ternyata sangat ganas”

“Jadi?” .

“Ayah telah melakukan kesalahan yang besar”

“Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?“

“Bukankah sejak semula aku berteriak-teriak agar ayah menunggu keteranganku”

Ayah orang tertua diantara keenam orang kawannya itu  pun melangkah dengan jantung yang berdebaran mendekat Ki Mina dan Nyi Mina. Dengan suara yang gagap orang itu bertanya, “Jadi, kalian berdualah yang telah menolong anak-anak kami”

“Ki sanak” berkata Ki Mina, “sekarang aku mengerti, kenapa anak-anak kalian sering sekali melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Bahkan nista dan terkutuk. Mereka pantas mendapat hukuman yang terberat untuk menebus perbuatan mereka. Tetapi ternyata kau, orang tuanya, justru selalu melindungi perbuatan jahat anak-anak kalian itu. Mungkin kau orang yang berpengaruh di kademangan ini, sehingga kau dapat berbuat apa saja tanpa ada yang berani menghalangi. Tetapi pada suatu saat anak-anak itu telah terbentur pada kegarangan Ajag Wulung. Nah, biarlah mereka nanti menceriterakan kepada kalian, apa yang telah dilakukan oleh Ajag Wulung”

“Aku, atas nama orang tua anak-anak kami itu mohon maaf”

“Itu tidak cukup. Jika kalian masih memanjakan anak-anak kalian seperti yang baru saja kau lakukan dengan orang-orang upahanmu, maka anak-anak itu tidak akan pernah menjadi orang yang baik. Apa jadinya kelak kademangan ini, jika mereka berenam menggan-tikan kedudukan kalian? Jika mereka mempunyai pengaruh yang besar di kademangan ini? Tanyakan kepada mereka, apa yang akan mereka lakukan. Kademangan ini tentu akan menjadi neraka”

Orang itu menundukkan kepalanya.

“Nah, uruslah anak-anak kalian. Uruslah orang-orang upahan kalian yang kalian sangka dapat melindungi anak-anak kalian. Hari ini anak-anak kalian bertemu dengan Ajag Wulung. Mungkin pada hari lain mereka bertemu dengan Seruling Galih. Atau bertemu dengan Palang Waja atau orang lain lagi yang tidak akan memaafkan anak-anak kalian dan bahkan kalian. Lihat, bahwa orang-orang upahanmu itu tidak berarti apa-apa. Juga bagi Ajag Wulung, bagi Palang Waja, bagi Sarpa Wereng dan bagi banyak orang berilmu tinggi. Mereka tidak akan memaafkan anak-anak itu. Bahkan mereka tidak akan memaafkan orang-orang upahan yang telah mengusik mereka”

Orang itu tidak menjawab. Sementara Ki Mina berkata selanjutnya, “Terserah kepada kalian, apakah anak-anak kalian akan tetap kalian manjakan”

Ki Mina pun kemudian memberi isyarat kepada Nyi Mina untuk meninggalkan tempat itu.

“Tunggu, Ki Sanak“ ayah dari anak muda yang tertua itu berusaha mencegahnya, “Kami minta kalian berdua singgah sebentar di rumah kami”

“Kami mempunyai banyak pekerjaan. Kami tidak punya waktu untuk mengurus anak-anak bengal itu. Tetapi jangan biarkan mereka berumur pendek jika mereka bertemu lagi dengan Ajag Wulung”

“Apa yang dapat kami lakukan jika Ajag Wulung itu datang kembali”

“Sebenarnya mereka tidak akan berbuat apa-apa jika mereka tidak diganggu. Tetapi anak-anak bengal itu telah mengusiknya sehingga mereka menjadi marah“ Ki Mina berhenti sejenak, “Tetapi mereka tidak akan kembali dalam waktu dekat. Sementara itu kalian dapat berbuat baik kepada tetangga-tetangga kalian, kepada anak-anak muda di kademangan kalian dan mengajak mereka berlatih olah kanuragan. Sebaiknya kalian mengupah orang tidak untuk menakut-nakuti tetangga-tetangga kalian, tetapi pergunakan mereka untuk meningkatkan kemampuan anak-anak muda se kademangan. Jika ada bahaya datang, maka seluruh kademangan akan membantu kalian.”

Ki Mina dan Nyi Mina tidak menuggu jawaban. Mereka pun segera melangkah pergi. Mereka sama sekali tidak berpaling ketika ayah anak muda tertua itu memanggil mereka, “Kiai, Nyai”

“Orang-orang yang mempunyai pengaruh yang besar, tetapi tidak mampu menempatkan diri seperti itu ternyata masih banyak sekali. Tanjung dan Wikan telah mengalaminya pula berurusan dengan anak-anak yang memanfaatkan pengaruh dan kuasa orang tua mereka untuk kepentingan yang buruk. Bukan sebaliknya“ gumam Ki Mina sambil berjalan dengan cepat menjauhi halaman kedai itu.

“Ada juga baiknya mereka dipertemukan dengan Ajag Wulung” desis Nyi Mina.

“Tetapi tanpa kami, anak-anak muda itu benar-benar akan mati”

“Ya. Ajag Wulung tidak pernah mempunyai banyak pertimbangan untuk membunuh orang. Bahkan orang yang berjalan dan berpapasan dijalan dengan sedikit singgungan di bahu pun akan dapat mereka bunuh”

Ki Mina mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun berjalan semakin cepat pula. Mereka telah kehilangan waktu beberapa lama untuk melayani Taruna suami isteri, yang ternyata adalah murid-murid dari perguruan Ajag Wulung.

Besok atau lusa, keduanya telah merencanakan untuk membawa Wikan pulang kepada ibu dan saudara-saudara perempuannya. Ki Mina dan Nyi Mina berniat untuk mencari jalan keluar bagi Wiyati yang telah terperosok ke dalam satu kehidupan yang buram.

Demikianlah, maka Ki Mina suami isteri itu benar-benar telah membuat gurunya serta Wikan menunggu.

Baru setelah malam menjadi semakin dalam, mereka sampai di padepokan.

“Paman datang terlalu malam“ gumam Wikan, “Apakah paman berangkat terlalu siang? Mungkin paman dan bibi kerinan sehingga bangun setelah matahari tinggi”

Ki Mina dan Nyi Mina tertawa. Katanya, “Kami dipaksa bermain-main beberapa lama dengan sepasang suami isteri dari perguruan Ajag Wulung”

“Ajag Wulung?“ ulang Ki Margawasana.

“Ya, guru”

“Ajag Wulung tidak pernah membiarkan lawannya tetap hibup meskipun persoalan yang menjadi sebab benturan kekerasan hanya persoalan yang remeh-remeh saja”

Ki Mina pun sempat menceriterakan dengan singkat, apa yang telah terjadi di kedai itu. Bahkan kepada Wikan Ki Mina pun berkata, “Berhati-hatilah terhadap orang-orang dari perguruan Ajag Wulung, Wikan. Jika mungkin hindari perselisihan dengan mereka”

“Ya, paman“ Wikan pun mengangguk-angguk.

Namun Ki Mina dan Nyi Mina tidak segera menceriterakan hasil pertemuan mereka dengan Ki Leksana. Keduanya pun lebih dahulu ingin mandi dan berbenah diri. Rasa-rasanya di tubuh mereka telah melekat debu yang tebal, justru karena keringat mereka yang membasahi pakaian mereka.

Baru menjelang tengah malam, setelah Ki Kina dan Nyi Mina makan nasi yang masih mengepul, wedang jae dengan gula kelapa yang masih panas, maka keduanya pun mulai menceriterakan hasil pembicaraan mereka dengan Ki Leksana suami isteri. Bahkan keduanya pun sempat berceritera tentang Palang Waja serta Seruling Galih.

“Jadi, Ki Leksana itulah orang yang di gelari Seruling Galih”

“Ya, Guru”

“Jika demikian, Wiyati akan mendapat tempat yang baik. Tetapi bukankah kau berterus terang mengatakan keadaan Wiyati itu kepada Ki Leksana suami isteri?”

“Ya, guru“ jawab Nyi Mina, “Kami telah mengatakan apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan Wiyati. Ternyata kakang dan mbokayu Leksana tidak berkeberatan”

“Sukurlah, semoga masih ada hari-hari cerah bagi Wiyati”

“Semoga, guru”

“Dengan demikian, maka bukankah kalian berdua akan segera membawa Wikan pulang?”

“Ya, guru. Besok atau lusa kami akan membawa Wikan pulang”

“Kenapa tidak paman dan bibi saja menemui ibu dan kedua kakak perempuanku?” bertanya Wikan yang sebenarnya menjadi sangat segan pulang.

“Tidak, Wikan. Kau pun harus pulang. Meskipun kau akan pergi lagi meninggalkan rumahmu dan tinggal di padepokan lagi, misalnya. Tetapi kau pergi dengan baik. Kau minta diri kepada ibu dan kakakmu. Tidak begitu saja lari meninggalkan mereka dalam keadaan kalut”

“Aku tidak tahan lagi paman”

“Nah, kau harus menjadi lebih dewasa lagi menghadapi liku-liku kehidupan ini, Wikan” berkata gurunya, “Tidak semuanya sesuai dengan keinginan kita. Tidak semua sungai mengalir ke arah yang kita kehendaki”

Wikan menarik nafas panjang.

“Jika demikian, maka sebaiknya kalian berdua segera menyelesaikan persoalan ini, Mina. Dengan demikian, maka kau pun akan segera melakukan tugasmu yang lain. Kau akan segera memimpin padepokan ini. Kami, seisi padepokan ini sudah sepakat, bahwa kaulah yang akan melanjutkan tugas-tugasku, karena aku sudah terlalu tua untuk melakukannya. Aku akan segera mencari tempat untuk menjernihkan nalar budiku. Meskipun itu bukan berarti bahwa aku akan memisahkan diri dari kehidupan di dunia ini, karena bagaimanapun juga aku masih merupakan bagian dari padanya. Tetapi aku akan berusaha untuk menemukan keseimbangan yang mapan dari warna dunia ini dengan arah hidupku kelak di kehidupan abadi”

“Aku akan melakukan segala perintah guru” jawab Ki Mina.

Akhirnya mereka pun memutuskan, bahwa esok lusa Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan akan meninggalkan padepokan itu untuk menemui ibu serta kakak-kakak perempuan Wikan yang ditinggalkannya begitu saja dalam keadaan yang resah.

“Nah. Sekarang beristirahatlah. Hari sudah malam. Kalian tentu merasa letih setelah menempuh perjalanan panjang serta bermain-main dengan murid perguruan Ajag Wulung serta sebelumnya dengan gerombolan Palang Waja”

“Baik guru. Kami memang merasa letih” Keduanya pun kemudian meninggalkan gurunya yang masih duduk tepekur di ruang tengah. Ki Mina dan Nyi Mina meninggalkan ruangan itu bersama Wikan.

Sebelum Ki Mina dan Nyi Mina pergi ke biliknya, Wikan masih sempat menceritakan dengan singkat, apa yang telah dilakukannya sepeninggal Ki Mina dan Nyi Mina.

“Aku mencoba untuk menyadarkan Murdaka, bahwa ia telah dicengkam oleh perasaan dengki dan iri”

“Sukurlah” desis Ki Mina, “Kau telah membuat penyelesaian yang terbaik”

Ketika kemudian Wikan pergi ke belakang untuk bergabung dengan para cantrik yang tidur di barak panjang, maka Nyi Mina sempat menjenguk ke bilik Tanjung. Namun ternyata Tanjung tidak sedang tidur.

“Kau belum tidur Tanjung?”

“Aku baru saja memberi Tatag minum, bibi. Tetapi kapan bibi dan paman datang?”

“Sudah agak lama. Aku sudah mandi, sudah makan dan sekarang aku akan tidur”

“Aku memang mendengar suara paman dan bibi. Aku kira aku sedang bermimpi”

Nyi Mina tersenyum. Disentuhnya pipi Tatag itu dengan jarinya. Bayi itu pun tertawa kegirangan. Seolah-olah ia tahu, bahwa orang yang mengaku sebagai neneknya itu sudah pulang.

“Nah, tidur lagi Tanjung. Aku juga akan tidur” Nyi Mina pun kemudian meninggalkan bilik Tanjung. Sebenarnyalah bahwa Ki Mina dan Nyi Mina memang merasa letih setelah menempuh perjalanan panjang. Bukan hanya perjalanan, tetapi mereka pun harus turun ke arena pertempuran.

Apalagi dengan perut yang terasa sudah kenyang. Maka mereka pun segera tertidur pula. Ketika kemudian mereka mendengar Tatag menangis, mereka tidak bangkit dari pembaringan. Nyi Mina yang terbiasa menengok jika Tatag menangis, saat itu hanya menggeliat sambil berdesis, “Ibunya juga masih bangun”

Kemudian Nyi Mina itu pun memejamkan matanya lagi. Meskipun demikian, seperti biasanya mereka bangun pagi-pagi sekali sebelum fajar.

Hari itu Wikan nampak tidak begitu ceria seperti hari-hari sebelumnya. Nampaknya ada sesuatu yang terasa mengganggu pikirannya.

Ketika seorang cantrik bertanya kepadanya, maka Wikan itu pun menjawab dengan nada rendah, “Besok aku harus pergi”

“Kemana?“

“Pulang”

“Pulang? Apakah kau akan meninggalkan padepokan ini lagi untuk seterusnya?“

“Tidak. Aku hanya akan pulang sehari saja. Aku akan segera kembali kemari”

“Bukankah hanya sehari? Tetapi wajahmu kelihatan murung sekali”

“Aku merasa sangat segan pulang”

“Kenapa?“

Wikan menarik nafas panjang. Ia tidak dapat mengatakan, kenapa ia segan pulang. Ia tidak ingin ada orang lain yang tahu persoalan yang sedang melibat keluarganya.

Karena itu, maka Wikan pun menjawab sekenanya saja, “Aku sebenarnya tidak ingin pulang. Jika aku sudah berada di rumah, maka aku pun akan menjadi segan untuk meninggalkan ibuku sendiri di rumah”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Sementara itu, di hari itu Ki Mina telah menghadap Ki Margawasana bersama Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu. Mereka telah membicarakan rencana pergantian kepemimpinan dan padepokan Ki Margawasana.

Seperti pembicaraan sebelumnya, maka tidak ada persoalan yang menghambat mengalirnya kepemimpinan dari Ki Margawasana kepada Ki Mina. Bahkan Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu berharap, bahwa Ki Mina yang lebih muda dari Ki Margawasana itu mampu meniupkan udara yang lebih segar ke dalam perguruan mereka.

“Aku sudah terlalu tua” berkata Ki Margawasana, “Ada hal-hal baru yang akan lahir dari mereka yang lebih muda. Dengan demikian, maka akan berhembus nafas yang lebih panjang di perguruan ini”

Ki Mina serta ketiga orang yang membantu Ki Margawasana memimpin padepokan itu pun mengangguk-angguk.

“Aku berharap bahwa esok, Ki Mina akan dapat menyelesaikan persoalan keluarganya. Mungkin ia memerlukan waktu dua atau tiga hari. Setelah itu, maka tidak ada lagi hambatan bagi pergantian kepemimpinan ini. Sedangkan aku pun tidak akan pergi jauh. Jika ada persoalan-persoalan yang harus aku selesaikan, akan aku selesaikan”

“Terima kasih atas kepercayaan ini guru. Terima kasih pula atas waktu yang guru berikan kepadaku untuk menyelesaikan persoalan keluargaku. Namun tanpa dukungan saudara-saudaraku seperguruan, khususnya Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu, maka aku bukan apa-apa”

“Kami akan mendukung sepenuhnya kakang” sahut Ki Parama, “kepemimpinan kakang akan dapat melanjutkan hasil jerih payah guru selama ini”

“Terima kasih, adi. Aku sangat berharap”

“Baiklah. Kau dapat bersiap-siap untuk pergi menemui keluarga Wikan esok”

Sebenarnyalah hari itu, Ki Mina dan Nyi Mina telah berbicara dengan Wikan, apa yang akan mereka katakan kepada ibu Wikan. Apa pula yang akan mereka katakan kepada Wiyati dan kepada Wuni.

“Kenapa paman dan bibi harus mengajak aku? Bukankah paman dan bibi dapat langsung berbicara dengan ibu dan dengan kedua orang kakak perempuanku itu?“

“Sudah berapa kali aku katakan, Wikan. Kau harus bertemu dengan ibumu dan dengan kedua kakak perempuanmu. Kau tidak boleh lari begitu saja dari kenyataan tentang keluargamu” jawab pamannya.

Wikan hanya dapat menarik nafas. Namun sebenarnyalah terjadi ketegangan didalam dadanya.

Tetapi Wikan tidak mungkin dapat mengelak lagi. Gurunya pun telah menasehatkan agar ia ikut bersama paman dan bibinya pulang menemui ibu dan saudara-saudara perempuannya.

Itulah sebabnya, maka wajah Wikan nampak muram oleh kegelisahannya.

Ketika malam turun, maka rasa-rasanya Wikan sama sekali tidak mengantuk meskipun wayah sepi uwong sudah lewat. Ketika ia mendengar suara Tatag merengek, maka rasa-rasanya ingin ia mengajaknya berjalan-jalan di halaman. Tetapi Wikan merasa tidak pantas untuk memasuki bilik Tanjung, meskipun ia berkepentingan dengan Tatag.

Di dini hari, Wikan sudah berada di sumur untuk mengisi pakiwan. Terdengar suara senggot timba berderit dengan iramanya tersendiri.

Ki Mina dan Nyi Mina yang juga sudah bangun pagi-pagi sekali, segera mandi pula. Sementara Wikan masih saja sibuk mengisi jambangan di pakiwan itu.

Sebelum matahari terbit, ketiganya pun sudah selesai berbenah dan siap untuk berangkat.

“Hati-hatilah di perjalanan“ pesan Ki Margawasana, “kalian tidak usah melayani Ajag Wulung jika kalian berjumpa lagi. Yang kalian jumpai kemarin atau saudara-saudara seperguruannya”

Ki Mina dan Nyi Mina tersenyum. Dengan nada dalam Ki Mina pun menjawab, “Ya, guru. Kami akan mengindar jika kami bertemu dengan orang-orang dari perguruan Ajag Wulung. Kecuali jika kami tidak mendapat kesempatan”

Gurunya tersenyum. Katanya, “Baiklah. Berangkatlah. Kalian tidak akan bertemu dengan siapa-siapa”

Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan pun telah minta diri pula kepada Tanjung. Ketika Nyi Mina menciumnya, maka Tatag- pun tiba-tiba telah memegang telinganya dan tidak segera mau melepaskannya,

“Ah, anak nakal” desis Tanjung sambil berusaha mengurai jari-jari kecil Tatag.

Nyi Mina tertawa. Katanya, “Kau memang nakal Tatag”

“Anak itu tidak mau kau tinggalkan lagi, Nyi. Baru saja kau pulang dan baru sehari kau menimangnya. Sekarang kau akan meninggalkannya lagi” berkata Ki Mina.

“Besok aku pulang ngger” berkata Nyi Mina sambil menyentuh pipi anak itu.

Demikianlah, maka menjelang matahari terbit, maka Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan pun telah pergi meninggalkan padepokan-nya. Mereka akan menempuh perjalanan panjang, untuk menjumpai Nyi Purba. Ibu Wikan.

“Perjalanan kita kali ini cukup panjang” berkata Ki Mina sambil melangkah semakin cepat.

“Kenapa tergesa-gesa” bertanya Nyi Mina, “Bukankah tidak ada orang yang membatasi waktu agar kita sampai di rumah Nyi Purba hari ini?

“Tetapi kita harus segera berada di padepokan lagi, Nyi. Guru tentu menunggu kita”

“Tetapi guru tahu, bahwa kita pergi jauh untuk satu keperluan yang penting. Bukankah kita akan langsung pergi ke rumah Ki Leksana bersama Wiyati jika ia bersedia?“

“Ya. Itu lebih baik daripada kita harus kembali dahulu ke padepokan, baru kemudian mengantar Wiyati ke rumah kakang Leksana”

Wikan sendiri tidak banyak berbicara di sepanjang jalan. Sejak semula ia sudah merasa segan untuk pulang. Tetapi ia tidak berani membantah kemauan pamannya bahkan nasehat gurunya agar ia pulang dahulu.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka panas pun mulai terasa menggatalkan kulit. Bahkan semakin lama terasa semakin panas. Apalagi ketika matahari itu, sudah sampai di puncak langit.

Mereka bertiga pun kemudian sempat berhenti di dekat pintu gerbang sebuah pasar, disebuah kedai yang tidak terlalu besar.

Tetapi nampaknya kedai itu mempunyai banyak langganan sehingga tempat duduk yang disediakan hampir penuh dengan para pembeli.

Ternyata bahwa masakan di kedai itu memang enak. Berbagai macam sayur dan lauk tersedia di kedai itu. Daging sapi, daging kambing, ayam, gurameh sebesar dua kali telapak tangan sampai wader kecil-kecil sebesar jari keling-king. Telur dan bahkan daging burung.

Beberapa saat Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan duduk di kedai itu. Demikian mereka selesai makan dan minum, Ki Mina justru berdesis, “Rasa-rasanya malas untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan”

“Kakang akan tinggal disini? Biar aku dan Wikan melanjutkan perjalanan”

Ki Mina tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Beberapa saat kemudian, maka mereka bertiga pun meninggalkan kedai yang tidak begitu besar, tetapi cukup ramai itu.

Namun demikian mereka beranjak dari depan kedai itu, mereka tertegun. Mereka melihat beberapa orang yang nampak sangat gelisah.

“Ada apa paman” desis Wikan.

“Sudahlah. Kita membawa tugas kita sendiri”

“Tetapi nampaknya ada sesuatu yang menarik perhatian”

Ki Mina tidak menjawab. Tetapi ketika Wikan berhenti, Ki Mina dan Nyi Mina pun berhenti pula di depan pasar itu.

“Mereka akan datang lewat tengah hari“ terdengar seorang diantara mereka berdesis.

“Gila. Yang mereka lakukan itu benar-benar gila”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?“

“Kita akan menyelamatkan anak itu. Ia tidak bersalah”

“Tetapi orang-orang Sangkrah itu akan membawa beberapa orang gegedug”

“Orang-orang upahan?“

“Ya. Tentu mereka adalah pembunuh-pembunuh upahan yang ganas”

“Kita bawa saja anak itu pergi dan bersembunyi”

“Ya. Bawa saja anak itu bersembunyi”

“Kemana?“

“Kemana saja”

“Lalu, bagaimana dengan penghuni padukuhan?“

“Ya, bagaimana? Kita tidak mempunyai banyak waktu. Bahkan mungkin orang-orang Sangkrah itu sudah berada di perjalanan ke padukuhan kita sekarang ini”

“Kalau saja mereka tidak membawa beberapa orang gegedug, maka kita akan melawan mereka”

Sebelum mereka menemukan pemecahan, seorang anak muda datang berlari-lari menemui beberapa orang yang gelisah itu. Dengan nafas terengah-engah ia pun berkata, “Orang-orang Sangkrah telah berangkat menuju ke padukuhan kita. Mereka tentu berniat mengambil Tunggul untuk di hukum di Sangkrah”

“Jangan biarkan. Tunggul tidak bersalah. Tunggul hanya membela diri. Jika kemudian anak muda Sangkrah itu terluka parah, adalah karena salahnya sendiri.

“Tunggul berkelahi untuk mempertahankan hak kita atas air itu. Tetapi anak muda dari Sangkrah itu memaksa untuk membelokkan air itu ke sawah mereka. Karena itu, maka kita pun harus melindungi Tunggul”

“Bagaimana dengan gegedug itu? Di Sangkrah ada seorang yang kaya raya yang mempunyai beberapa orang upahan untuk mengawal kekayaannya”

”Yang terluka itu adalah kemanakan Ki Sudagar yang kaya raya itu. Yang memaksa untuk membelokkan air ke sawah Ki Sudagar. Karena itu, ia menyertakan beberapa orang gegedug upahannya untuk memburu Tunggul”

“Kasihan. Jika Tunggul jatuh ke tangan Ki Sudagar kaya itu”

“Tetapi kenapa orang-orang sepadukuhan Sangkrah ikut pula untuk mengambil Tunggul”

“Pengaruh uang Ki Sudagar itu sangat besar”

“Sekarang, kita bawa Tunggul pergi”

“Kita biarkan mereka menumpahkan kemarahannya kepada tetangga-tetangga kita yang tinggal?“

“Kita tidak mempunyai jalan lain. Waktunya sudah sangat mendesak”

“Paman” desis Wikan.

“Kau akan membela anak muda yang bernama Tunggul itu, yang sedang diburu oleh orang-orang Sangkrah”

“Kasihan anak muda itu, paman. Ia tidak bersalah. Tetapi Ki Sudagar itu dapat membeli kebenaran dengan uangnya”

“Marilah, kita ikut mereka”

Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan pun mengikuti orang-orang yang akan menyelamatkan anak muda yang bernama Tunggul itu. Mereka berlari-lari kecil menuju padukuhan yang hanya dipisahkan oleh sebuah bulak kecil dengan padukuhan yang memiliki pasar itu.

Beberapa orang itu pun kemudian menuju ke sebuah rumah yang sederhana. Seorang diantara mereka berlari masuk regol sambil memanggil, “Tunggul. Tunggul”

Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan sudah berdiri di antara orang-orang yang berdiri di depan regol halaman rumah Tunggul. Bahkan beberapa orang tetangga pun telah berkerumun pula di depan pintu regol itu, sehingga keberadaan Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan tidak menarik perhatian.

Tunggul pun keluar dari rumahnya dan berdiri di halaman,

“Kau harus pergi Tunggul. Kau harus bersembunyi. Orang-orang Sangkrah telah datang kemari untuk mencarimu. Diantara mereka terdapat beberapa orang gegedug”

“Aku tidak akan bersembunyi, paman” jawab Tunggul.

“Kau harus bersembunyi”

“Kalau aku bersembunyi, maka kemarahan orang-orang Sangkrah itu akan ditumpahkan kepada tetangga-tetangga yang tidak tahu menahu persoalannya”

“Semua orang sudah tahu persoalannya. Mereka pun yakin bahwa kau memang tidak bersalah”

“Tetapi orang-orang Sangkrah tidak mau tahu“ Tunggul terdiam sejenak, “Sudahlah. Mereka menginginkan aku. Biarlah aku mereka bawa. Apa pun yang akan mereka lakukan terhadapku, biarlah mereka lakukan. Justru karena aku merasa tidak bersalah, aku tidak akan lari”

“Kau tahu watak orang-orang Sangkrah. Justru karena mereka merasa bahwa mereka memiliki lebih banyak dari kita, maka mereka menganggap kita tidak berarti. Rata-rata orang Sangkrah lebih kaya dari kita disini. Nah, karena itu, pergilah bersama beberapa orang kawan. Biarlah kami akan mencoba untuk meyakinkan orang-orang Sangkrah itu”

“Paman sendiri sudah mengatakan tentang watak orang-orang Sangkrah. Karena itu, biarlah mereka menemukan aku. Jika mereka tidak menemukan aku, maka akibatnya akan menjadi semakin luas. Mungkin akan jatuh beberapa orang korban. Tetapi jika mereka menemukan aku, maka aku sajalah yang akan menjadi korban. Aku akan menjalaninya dengan senang hati”

Suasana menjadi semakin tegang. Yang kemudian berdatangan di depan rumah Tunggul itu pun menjadi semakin banyak. Seorang yang sudah separo baya bahkan berteriak

“Jangan takut, Tunggul. Kita tidak bersalah. Kami akan membelamu apa pun yang akan terjadi”

Suasana benar-benar menjadi panas. Bahkan beberapa orang ternyata telah membawa senjata.

Dalam pada itu, dua orang telah menyibak orang-orang yang berkerumun itu. Keduanya adalah Ki Bekel dan Ki Jagabaya.

“Jangan bertindak sendiri-sendiri” berkata Ki Bekel, “biarlah aku yang berbicara dengan orang-orang Sangkrah”

“Tidak ada gunanya, Ki Bekel” sahut seorang anak muda, “orang-orang Sangkrah tidak terbiasa mendengarkan pendapat orang lain”

“Aku akan mencobanya. Biarlah kami berdua pergi ke Banjar. Kami akan menemui mereka di banjar”

“Mereka tidak akan pergi ke banjar, Ki Bekel” sahut seseorang, “Mereka tentu akan langsung pergi ke rumah ini untuk mencari Tunggul”

“Kalau begitu, sebaiknya kalian pergi. Bersembunyi di balik dinding halaman atau di balik gerumbul dan rumpun bambu, Biarlah aku menemui mereka dan berbicara dengan mereka. Aku akan menjelaskan kepada mereka, bahwa Tunggul tidak bersalah. Tunggul hanya sekedar membela diri”

“Tetapi Ki Bekel dan Ki Jagabaya harus berhati-hati. Mereka orang-orang yang keras kepala. Justru karena mereka merasa mempunyai kelebihan dari orang-orang padukuhan yang lain”

“Karena itu, biarlah kita memberikan peringatan yang keras kepada mereka”

“Bodoh kau“ bentak Ki Jagabaya, “Bukan kita yang akan. memberikan peringatan kepada mereka, tetapi kitalah yang akan dilumatkan jika terjadi perkelahian. Bukankah mereka telah mengupah beberapa orang gegedug yang ganas”

“Kami tidak takut Ki Jagabaya”

“Kita memang tidak takut. Tetapi kita harus mempunyai perhitungan yang baik. Karena itu, biarlah kami, maksudku aku dan Ki Bekel berusaha mencegah mereka. Jika aku gagal, apaboleh buat. Tetapi kita harus tahu, bahwa wajah-wajah kitalah yang akan menjadi pengab. Bahkan mungkin para gegedug itu akan bertindak lebih jauh dari sekedar membuat wajah kita pengab”

“Apa pun yang terjadi akan kita jalani. Tetapi tentu saja kita akan dapat membiarkan Tunggul seorang diri yang menjadi korban”

“Bagus” sahut Ki Jagabaya, “Tetapi sebaiknya kalian pergi lebih dahulu. Bersembunyi dan tunggu aba-abaku”

Orang-orang yang berkerumun di depan rumah Tunggul itu pun patuh. Bahkan ada diantara mereka yang langsung memberitahukan kepada orang-orang yang baru datang.

Sejenak kemudian, maka jalan dan halaman di depan rumah Tunggul itu pun menjadi bersih. Tidak ada seorang pun yang nampak selain Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Tunggul sendiri.

Beberapa saat Ki Bekel dan Ki Jagabaya menunggu. Orang-orang yang bersembunyi di balik rumpun-rumpun bambu pun hampir menjadi tidak sabar. Tubuh mereka sudah menjadi gatal digigit nyamuk serta gelugut yang diterbangkan angin.

Namun sejenak kemudian, terdengar suara yang riuh. Sekelompok laki-laki membawa senjata di tangan masing-masing telah memasuki gerbang padukuhan. Seperti yang sudah diduga, mereka pun langsung menyusuri jalan menuju ke rumah Tunggul. Seorang laki-laki yang masih terhitung muda, yang berjalan di paling depan berteriak nyaring, “Minggir. Jangan ada yang mencoba menghalangi kami. Kami tidak akan mengganggu siapa-siapa jika kalian tidak ikut campur. Kami datang untuk mengambil Tunggul yang telah melukai saudara kami dari Sangkrah”

Tidak terdengar suara yang menyahutnya. Perempuan dan anak-anak telah bersembunyi di balik pintu rumah mereka masing-masing yang tertutup rapat.

Beberapa saat kemudian, sekelompok orang bersenjata itu telah sampai di muka regol rumah Tunggul. Mereka pun segera menyebar. Laki-laki yang berteriak disepanjang jalan itu pun segera memasuki halaman diiringi oleh tiga orang laki-laki yang nampak sangat garang. Ketiga-tiganya berkumis lebat Seorang bertubuh tinggi kekurus-kurusan. Seorang yang tidak berbaju menampakkan otot-ototnya yang menjorok. Sedangkan seorang lagi adalah laki-laki yang benar-benar bertubuh raksasa. Tinggi, besar, berdada lebar. Di sela-sela bajunya yang terbuka di dada, nampak bulu-bulunya yang lebat.

Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang terhitung orang-orang yang berani itu pun menjadi berdebar-debar melihat raksasa itu.

Orang yang berdiri di paling depan itu pun kemudian berkata lantang, “Tunggul. Aku datang untuk menjemputmu”

Namun Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang ada di rumah itu telah berdiri di tangga pendapa yang sederhana itu. Dengan lantang pula Ki Bekel pun bertanya, “Ada apa Ki Sanak?“

“Ki Bekel tentu sudah tahu maksud kedatangan kami, justru karena Ki Bekel ada disini”

“Kalian akan mempersoalkan Tunggul yang telah berkelahi dengan seorang anak muda dari Sangkrah?“

“Ya. Kami akan mengambil Tunggul dan membawanya ke Sangkrah. Kamilah yang berhak menghukumnya”

“Dengar Ki Sanak. Tunggul tidak bersalah. Ia sekedar membela diri menghadapi anak muda Sangkrah itu. Tunggul yang sedang menunggui air yang memang menjadi bagian kami itu, telah diserang oleh anak muda Sangkrah yang ingin mencuri air kami”

“Bohong. Itu ceritera bohong. Tunggul lah yang menyerang anak kami yang tidak bersalah. Anak kami itu memang mempersoalkan air. Tetapi yang dilakukan tidak lebih dari mempertanyakannya. Tunggul tiba-tiba saja menjadi marah dan dengari serta-merta menyerang anak kami itu, sehingga anak kami terluka parah”

“Sandi itulah yang berbohong” sahut Tunggul, “jika Sandi benar-benar seorang laki-laki, ia tentu akan berceritera sesuai dengan kebenaran. Tetapi ia licik dan memutar balikkan kenyataan yang terjadi”

“Tutup mulutmu, Tunggul. Sekarang aku akan membawa-mu menemui Sandi yang masih terbaring di pembaring-an. Luka-lukanya yang parah nampaknya akan memaksanya untuk berbaring lebih dari sepekan. Dan itu adalah karena pokalmu. Karena kesalahanmu. Kau tidak usah ingkar. Sekarang, ikut kami ke Sangkrah”

“Baik” berkata Tunggul, “Aku akan ikut kalian ke Sangkrah. Aku ingin bertemu dengan Sandi dan aku berharap Sandi benar-benar seorang laki-laki yang bertanggung jawab”

“Tidak” berkata Ki Bekel, “Jangan bawa Tunggul. Aku usulkan, agar kita menunggu Sandi sembuh. Kemudian kita akan mempertemukan Sandi dengan Tunggul untuk menemukan kebenaran dari peristiwa itu. Jika sekarang kau bawa Tunggul, maka akibatnya akan sangat merugikan Tunggul, karena kalian masih dicengkam oleh perasaan marah, sehingga kalian belum dapat melihat dengan jernih persoalan yang sebenarnya”

“Persetan dengan kau, Ki Bekel” geram orang yang berdiri di paling depan itu, “Aku sudah berjanji kepada Ki Bekel Sangkrah, bahwa hari ini aku akan membawa Tunggul menghadap”

“Itu tidak adil” berkata Ki Jagabaya, “sebaiknya kita menunggu Sandi sembuh. Kemudian mempertemukan Tunggul dan Sandi di hadapan beberapa orang yang dapat menilai dengan baik pembicaraan kedua orang anak muda itu”

“Itu akan makan waktu terlalu lama. Sekarang biarkan kami membawa Tunggul”

“Kenapa kalian tidak mau mendengar kata-kataku” berkata Ki Jayabaya, “ingat, bahwa Tunggul sudah berniat baik. Jika saja Tunggul kehilangan nalarnya, mungkin Sandi sudah mati. Tetapi Tunggul yang masih muda itu masih mampu mengekang dirinya, sehingga ia tidak membunuh Sandi”

“Tetapi luka Sandi sangat parah”

“Kau kira Tunggul tidak terluka. Jika ia membuka bajunya, maka masih nampak luka-luka di dada dan bahunya. Bahkan nafasnya masih terasa terganggu oleh sesak di dadanya”

“Persetan. Sekarang serahkan Tunggul. Kami akan membawa Tunggul menghadap Ki Bekel di Sangkrah”

“Jika kami tidak memberikannya?“

“Ki Jagabaya” desis Tunggul, “biarlah aku pergi”

“Tunggu Tunggul” sahut Ki Jagabaya.

Namun orang yang bertubuh raksasa itu telah melangkah maju mendekati Ki Jagabaya. Katanya dengan suara yang bagaikan bunyi guruh, “Ki Jagabaya. Apakah kau ingin melindungi Tunggul? Jika kau memang berniat melindunginya, maka aku akan melintir tubuhmu seperti tampar ijuk”

“Kau siapa? Kau tentu bukan orang Sangkrah. Hampir semua orang Sangkrah dapat aku kenali”

“Aku memang bukan orang Sangkrah. Tetapi aku tidak ingin melihat kesewenang-wenangan berlaku. Tunggul telah memperlakukan Sandi dengan sewenang-wenang. Justru ia merasa memiliki kekuatan yang lebih besar dari Sandi, maka ia pun memperlakukan Sandi dengan semena-mena. Nah, untuk menegakkan keadilan aku ikut datang kemari. Tunggul harus diserahkan. Kalau tidak, maka akibatnya akan menjadi lebih buruk lagi. Aku dan kawan-kawanku akan memaksanya pergi bersama kami. Siapa yang menghalangi akan kami singkirkan. Sejauh mana ia harus menyingkir, itu tergantung sekali kepada sikapnya”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Sedikitnya ada tiga orang gegedug yang ikut datang bersama orang-orang Sangkrah yang marah. Bahkan mungkin lebih. Ada beberapa orang lain yang masih belum dikenalnya. Meskipun ujud mereka tidak segarang ketiga orang itu, namun mereka tentu juga orang-orang yang berbahaya sekali. Mereka tentu tidak segan-segan membunuh.

Tetapi menyerahkan Tunggul adalah tidak adil sama sekali. Tunggul tidak bersalah. Sementara itu, orang-orang Sangkrah akan menjadi hakim sendiri. Mereka akan mengadili Tunggul menurut kehendak mereka tanpa menilai kenyataan yang sebenarnya.

“Sudahlah Ki Jagabaya. Jangan memperumit persoalan. Serahkan saja Tunggul. Maka persoalannya akan selesai”

“Apa yang akan kalian lakukan terhadap Tunggul”

“Ia akan kami serahkan kepada Ki Bekel di Sangkrah. Tetapi jika di sepanjang jalan Tunggul berbuat macam-macam, maka ia akan lebih mempersulit dirinya sendiri”

“Jika tidak kami serahkan?“

“Kami akan memaksanya. Kami tahu, bahwa banyak orang bersembunyi di sekitar halaman rumah ini. Tetapi jika mereka benar-benar akan mencoba melindungi Tunggul, maka kalian harus menghitung nanti, berapa orang yang mati. Sedangkan orang-orang Sangkrah yang marah akan dapat berbuat lebih jauh lagi di padukuhan ini”

Ki Jagabaya memang menjadi bimbang. Demikian pula Ki Bekel. Agaknya orang yang bertubuh raksasa itu memang orang berilmu tinggi. Ia tahu, bahkan banyak orang yang telah bersembunyi di sekitar rumah Tunggul. Namun jika mereka berusaha melindungi Tunggul, maka sebenarnyalah akan jatuh korban. Mungkin tidak hanya satu dua. Tetapi lebih dari itu.

Namun selagi keduanya masih dicengkam kebimbangan, maka tiba-tiba seorang anak muda meloncati dinding halaman sebelah sambil berkata, “Tunggu, Ki Sanak”

Semua orang berpaling kepada anak muda yang berjalan dengan langkah pasti mendekati orang yang bertubuh raksasa itu.

“Kau siapa?“ bertanya orang yang berdiri di paling depan dalam arak-arakan orang-orang Sangkrah itu.

“Namaku Wikan. Aku adalah saudara sepupu Tunggul”

Tunggul sendiri terkejut mendengar pengakuan itu.

“Kau mau apa?“ bertanya orang yang bertubuh raksasa itu.

“Kita cari pemecahan yang lain. Nampaknya raksasa ini mempunyai penggraita yang sangat tajam, sehingga ia mengetahui bahwa di sekitar rumah ini telah bersembunyi orang-orang yang siap melindungi Tunggul. Tetapi dengan keberadaan beberapa orang gegedug diantara orang-orang Sangkrah, maka kami yang bertekad untuk melindungi Tunggul harus berpikir dua kali”

“Jadi?“

“Begini saja. Salah seorang dari kita akan bertarung. Aku akan mewakili Tunggul dan seorang diantara kalian akan mewakili Sandi dan orang-orang Sangkrah. Jika wakil Sandi menang, maka kami akan menyerahkan Tunggul. Tetapi jika aku yang menang, maka kalian akan menghentikan tuntutan kalian atas Tunggul. Kalian akan bertanya ulang pada Sandi kelak jika ia sudah sembuh, apakah sebenarnya yang telah terjadi di bulak panjang itu. Apakah tunggul yang bersalah atau Sandi. Tetapi apa pun jawaban Sandi yang mungkin masih berusaha menyembunyikan kebenaran bagi kepentingan harga dirinya, kalian sudah tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Tunggul”

“Bagus” teriak orang bertubuh raksasa itu, “Kau akan ditelan oleh kesombonganmu sendiri. Aku akan mewakili Sandi dan orang-orang Sangkrah. Tetapi orang-orang yang menyaksikan pertarungan ini akan menjadi saksi. Antara lain Ki Bekel dan Ki Jagabaya bahwa seandainya kau terbunuh di arena, itu sama sekali bukan salahku”

“Bagus. Tetapi sebaliknya juga demikian”

Orang bertubuh raksasa itu pun kemudian berkata kepada orang yang berdiri di paling depan, yang agaknya telah memimpin orang-orang Sangkrah untuk menjemput Tunggul itu sambil berkata, “Beri aku kesempatan”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia terlalu yakin akan kelebihan orang bertubuh raksasa itu. Kecuali ujudnya, orang itu pun berilmu tinggi. Dengan upah yang besar, maka orang itu telah bekerja pada paman Sandi, seorang saudagar yang sangat kaya yang tinggal di Sangkrah.

Karena itu maka orang itu pun mengangguk sambil berdesis, “Patahkan kesombongannya serta tulang-tulangnya”

Orang bertubuh raksasa itu tertawa, sementara orang yang memimpin orang-orang Sangkrah itu pun berkata, “Kau akan mendapat upah khusus untuk kerjamu ini”

“Ya. Terima kasih. Kedatangan bocah edan ini telah menambah rejekiku hari ini”

Wikan pun ikut tertawa pula.

“He, kenapa kau tertawa?“ bertanya orang bertubuh raksasa itu.

“Kau lucu sekali. Seperti seorang anak melihat ibunya pulang dari pasar sambil membawa oleh-oleh”

“Anak iblis. Bersiaplah. Kita sudah menentukan kesepakatan tentang taruhan pertarungan ini”

“Ya. Biarlah semua orang yang ada disini menjadi saksi”

Sejenak kemudian, maka Wikan pun telah berhadapan dengan orang bertubuh raksasa itu. Sementara itu, orang-orang yang bersembunyi di sekitar rumah Tunggul itu pun akhirnya .satu persatu muncul dari persembunyian mereka. Mereka pun tidak dapat menahan diri untuk menyaksikan pertarungan itu, sehingga akhirnya halaman rumah Tunggul itu pun menjadi hampir penuh.

Orang-orang Sangkrah pun menjadi berdebar-debar. Tetangga-tetangga Tunggul itu pun sudah membawa senjata pula seadanya. Jika terjadi benturan kekerasan, maka orang-orang Sangkrah itu lebih mengandalkan kepada para gegedug upahan yang datang bersama mereka.

Orang-orang dari Sangkrah mau pun tetangga-tetangga Tunggul seakan-akan tidak saling menghiraukan. Perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada dua orang yang berdiri di tengah-tengah arena yang terjadi oleh kerumunan orang-orang Sangkrah dan tetangga-tetangga Tunggul.

Tunggul sendiri masih saja dicengkam oleh keheranan. Ia sama sekali tidak mengenal orang yang mengaku saudara sepupunya itu.

Ketika Ki Bekel berdesis ditelinga Tunggul menanyakan orang yang mengaku sepupunya itu, Tunggul menggeleng, “Aku tidak tahu Ki Bekel. Entah darimana datangnya orang itu”

“Apakah ia melakukannya dengan jujur, atau justru berniat untuk menjebakmu. Orang itu akan kalah di arena sehingga kau harus pergi bersama orang-orang Sangkrah”

“Ada atau tidak ada permainan yang licik seperti itu, aku memang harus pergi, Ki Bekel. Jika tidak, maka gegedug yang mengerikan itu akan melumatkan tetangga-tetangga kita”

Dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itu pun menggeram, “Bersiaplah. Kau akan mati anak yang sombong”

“Jangan mudah membunuh” desis Wikan, “sebaiknya kita buktikan, siapakah yang lebih baik diantara kita”

Orang bertubuh raksasa itu tidak menyahut. Tiba-tiba saja ia meloncat sambil menjulurkan kakinya menyamping mengarah ke. dada Wikan. Serangan yang tiba-tiba, namun dilakukan dengan sepenuh tenaga. Orang bertubuh raksasa itu ingin segera menyelesaikan lawannya pada serangan pertama. Kemudian membawa Tunggul kembali ke Sangkrah. Ia akan menerima upah berlipat, sementara orang-orang Sangkrah akan semakin menghormatinya dan bahkan menjadi semakin takut kepadanya, karena kemampuannya yang tinggi.

Namun Wikan menyadari sepenuhnya niat lawannya untuk dengan cepat melumpuhkannya. Karena itu, maka Wikan pun telah bergerak dengan cepat pula. Dengan tangkasnya ia menghindari serangan orang bertubuh raksasa itu. Namun diluar dugaan lawannya, Wikan yang meloncat kesamping itu sekali lagi melenting. Sambil memutar tubuhnya kaki Wikan pun terayun mendatar, menyambar kening orang bertubuh raksasa itu.

Lawannya yang tidak menduga, tidak sempat mengelak. Kaki Wikan pun dengan kerasnya menyambar keningnya.

Orang bertubuh raksasa itu pun terdorong beberapa langkah surut. Ia tidak berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sehingga raksasa itu pun terpelanting jatuh.

Mata orang itu menjadi berkunang-kubang. Ketika orang itu berusaha dengan cepat bangkit, terasa kepalanya menjadi pening. Anak muda yang melemparkannya itu nampak menjadi agak kabur.

Tetapi Wikan tidak mempergunakan kesempatan itu. Ia bahkan berdiri saja memandangi lawannya yang terhuyung-huyung.

“Apakah kita akan melanjutkan pertarungan ini?” bertanya Wikan.

“Anak iblis. Aku benar-benar akan membunuhmu”

“Sudah aku katakan, jangan mudah membunuh. Kita memang tidak perlu saling membunuh. Kita hanya harus membuktikan, siapakah diantara kita yang menang dan yang kalah”

“Kemenangan dan kekalahan itu baru akan ternyata jika seorang diantara kita mati”

“Itu sangat berlebihan. Tetapi terserah saja kepadamu, apa yang akan kau lakukan”

“Jangan segera merasa menang. Kau telah memanfaatkan saat-saat lawanmu belum siap”

“Omong kosong. Kau telah menyerangku lebih dahulu. Hanya kerbau yang dungu sajalah yang menyerang lawannya pada saat ia sendiri belum siap”

“Persetan” orang itu menggeram sambil melangkah mendekat.

Wikan pun telah bersiap sebaik-baiknya pula. Orang itu tentu akan menjadi semakin berhati-hati setelah ia menyadari, bahwa lawannya dapat pula bergerak cepat.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Meskipun ujud kewadagannya raksasa itu lebih besar dan lebih tinggi dari Wikan, namun orang itu ternyata tidak segera dapat menguasainya. Bahkan pertarungan itupun.semakin lama menjadi semakin sengit.

Meskipun Wikan harus mengakui bahwa pada dasarnya tenaga raksasa itu sangat besar, namun Wikan memiliki kesempatan lebih baik.

Wikan mampu bergerak lebih cepat. Sementara itu tenaga dalamnya pun menjadi semakin tinggi pula, sehingga betapa besar tenaga lawannya, namun Wikan mampu mengimbanginya.

Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu menjadi berdebar-debar. Bahkan mereka menjadi cemas, apakah Wikan yang muda dan bertubuh lebih kecil itu akan mampu mempertahankan diri dari kegarangan lawannya yang bertubuh raksasa itu.

Tetapi beberapa saat kemudian, maka serangan-serangan Wikan mulai mendesak lawannya, sehingga setiap kali raksasa itu harus bergeser surut atau justru terdorong oleh serangan-serangan Wikan.

“Kau tidak memiliki banyak kesempatan, Ki Sanak” desis Wikan sambil berdiri di sebelah raksasa itu ketika raksasa itu terpelanting jatuh. Hampir saja kepalanya menimpa tangga pendapa rumah Tunggul.

“Aku bunuh kau” geram orang itu sambil bangkit berdiri.

Namun akhirnya, orang itu memang bukan apa-apa bagi Wikan. Meskipun orang bertubuh raksasa itu memiliki ilmu yang tinggi, namun dihadapan Wikan, ia memang bukan apa-apa. Setiap kali serangan Wikan mampu menembus pertahanannya, sehingga orang itu tergetar surut. Bahkan beberapa kali ia terbanting jatuh. Bahkan semakin lama, maka ia menjadi semakin sulit untuk segera dapat bangkit berdiri.

“Kapan kau mengaku bahwa aku memenangkan pertarungan ini?” bertanya Wikan.

“Jika kau sudah mati, barulah aku akan menyatakan diriku menang”

“Atau sebaliknya?”

“Tidak. Kaulah yang akan mati”

Raksasa itu masih belum mau melihat kenyataan, bahwa setiap kali dirinyalah yang terpelanting jatuh, tergeser surut, mengaduh kesakitan sehingga tubuhnya terbungkuk-bungkuk jika kaki Wikan menyambar perutnya.

Orang bertubuh raksasa itu memang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Serangan-serangannya sudah semakin tidak berarti. Justru serangan-serangan Wikanlah yang semakin banyak mengenai tubuhnya.

Sebuah pukulan yang keras tepat mengenai arah ulu hatinya, sehingga orang itu terbungkuk kesakitan. Namun kemudian disusul dengan pukulan yang keras pada dagunya sehingga kepala raksasa itu terangkat sambil terdorong beberapa langkah surut. Tetapi Wikan tidak melepaskannya. Ia pun meloncat sambil memutar tubuhnya dengan kakinya yang terayun mendatar.

Raksasa itu tidak sempat mengelak ketika kaki Wikan itu menyambar wajahnya.

Raksasa itu terlempar lagi beberapa langkah. Dengan kerasnya tubuhnya terbanting di tanah, selangkah dihadapan kedua orang kawannya. Gegedug yang datang bersama orang-orang Sangkrah itu.

Tiba-tiba saja raksasa itu berkata, “Jangan lepaskan anak itu. Kita akan membunuhnya bersama-sama”

“Baik, kakang. Kita bunuh anak itu bersama-sama”

Ketika raksasa itu kemudian bangkit berdiri, maka kedua orang gegedug yang lain telah mempersiapkan diri.

“Apa artinya ini?” bertanya Wikan.

“Artinya, kau akan mati. Siapa pun yang akan ikut campur juga akan mati”

“Tetapi bukankah perjanjian kita, jika aku menang, maka kalian akan pergi tanpa membawa Tunggul”

“Persetan dengan perjanjian itu” geram raksasa itu, “ketika kami datang kemari, kami sama sekali tidak membuat perjanjian apa-apa. Pokoknya kami datang untuk mengambil Tunggul”

“Licik. Curang” teriak beberapa orang tetangga Tunggul.

“Diam” teriak orang yang bertubuh tinggi ke kurus-kurusan, “kami tidak berurusan dengan kalian, sepanjang kalian tidak menyurukkan kepala kalian ke dalam maut. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa kami akan membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi niat kami mengambil Tunggul seperti kami akan membunuh anak yang sombong ini”

“Jadi kita membatalkan perjanjian kita?” bertanya Wikan.

“Tidak ada perjanjian apapun. Minggir dan serahkan Tunggul, atau kau akan benar-benar mati” berkata orang yang otot-ototnya menjorok dari kulit tubuhnya. Lalu katanya pula, “Kami tidak sekedar mengancam. Tetapi kami akan benar-benar melakukannya. Kami sudah membunuh lebih dari Lima puluh orang. Jika hari ini bertambah dengan sepuluh atau dua puluh orang, tidak akan ada bedanya bagi kami”

“Jika benar demikian, maka sudah sepantasnya jika kalian akan terbunuh disini” geram Wikan yang menjadi sangat marah.

“Jangan membual lagi. Berbuatlah sesuatu untuk mencoba menyelamatkan hidupmu. Setidak-tidaknya memperpanjang beberapa saat lamanya”

“Baik. Aku akan berbuat sesuatu. Bagiku yang paling baik untuk menyelamatkan hidupku adalah membunuh kalian bertiga”

Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu pun tiba-tiba berteriak sambil menyerang, “Mati kau anak setan”

Namun Wikan bergerak dengan cepat pula menghindari serangan itu.

Demikianlah, sejenak kemudian Wikan telah bertempur melawan tiga orang gegedug. Sebenarnyalah melawan mereka bertiga, Wikan harus berhati-hati. Ketiganya berilmu tinggi dan bertempur dengan keras dan kasar. Bahkan liar.

Ki Mina dan Nyi Mina yang juga sudah berdiri di pinggir arena menjadi berdebar-debar. Mereka sedang mempertimbangkan apakah mereka harus ikut atau tidak.

“Tunggu, Nyi” desis Ki Mina, “kita lihat, apakah Wikan akan dapat mengatasi mereka bertiga”

“Jika Wikan terdesak dan terpaksa, ia akan melepaskan ilmu pamungkasnya, maka ketiga orang itu tentu akan benar-benar mati”

“Mereka pembunuh yang ganas, Nyi. Aku justru mempertimbangkan untuk benar-benar menghentikan mereka”

“Maksud kakang, membunuh mereka?”

“Membiarkan mereka mati dalam pertarungan ini. Dengan demikian mereka tidak akan dapat membunuh lagi”

“Tetapi dendam gerombolan mereka akan tertuju kepada orang-orang padukuhan ini. Setidak-tidaknya kepada Tunggul”

Ki Mina menarik nafas panjang. Menurut pendapatnya, orang-orang seperti ketiga orang gegedug itu pantas untuk dihukum mati. Apalagi jika benar mereka sudah membunuh sedemikian banyak.

Tetapi agaknya mereka hanya sekedar ingin menakut-nakuti lawannya. Meskipun demikian, Ki Mina menduga, bahwa mereka benar-benar telah pernah membunuh.

Orang-orang yang berada di sekitar arena itu menjadi sangat tegang. Sekali-sekali Wikan pun telah terdorong surut jika serangan-serangan lawannya mampu menembus pertahanannya.

Namun Wikan ternyata benar-benar seorang anak muda yang pilih tanding. Murid bungsu Ki Margawasana itu benar-benar telah tuntas mewarisi ilmu gurunya.

Karena itu, maka melawan tiga orang gegedug yang berilmu tinggi itu, Wikan masih mampu bertahan.

“Kita akan melihat saja Nyi., Agaknya Wikan akan berhasil”

“Ya. Orang yang bertubuh raksasa itu sebenarnya sudah tidak berdaya lagi. Hanya karena ia bertempur bersama dua orang kawannya, maka seakan-akan ia mendapatkan kekuatan baru. Tetapi ia sudah tidak berarti apa-apa lagi”

Keduanya pun terdiam. Mereka memperhatikan pertarungan diarena itu dengan saksama. Mereka tidak mau terjadi sesuatu dengan Wikan yang menghadapi ketiga orang lawannya.

Namun beberapa saat kemudian, maka keseimbangan pertempuran itu pun mulai bergerak. Ketiga orang lawan Wikan itu mulai mengalami kesulitan dengan serangan-serangan Wikan yang semakin cepat dan keras. Unsur-unsur geraknya yang rumit telah membuat ketiga orang lawannya kadang-kadang kebingungan.

Orang bertubuh raksasa itu benar-benar telah kehabisan tenaga. Tubuhnya terasa sakit dimana-mana. Tulang-tulangnya bagaikan retak di persendiannya.

Ketika kaki Wikan tepat mengenai dadanya, maka orang yang bertubuh raksasa itu pun terdorong beberapa langkah dan jatuh menimpa orang-orang Sangkrah yang menyaksikan pertarungan itu.

Sementara raksasa itu tertatih-tatih bangkit berdiri, maka Wikan pun telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk menghentikan perlawanan kedua orang gegedug itu.

Serangan-serangan Wikan pun datang membadai. Ketika seorang diantara kedua orang gegedug itu meloncat menyerangnya dengan menjulurkan tangannya mengarah ke dada Wikan, maka Wikan sempat bergeser kesamping. Dengan cepat pula ia berhasil menangkap pergelangan tangan gegedug yang tidak berbaju, yang otot-ototnya menjorok di permukaan kulitnya itu. Dengan cepat pula Wikan memilin tangannya ke belakang.

Ketika terdengar suara gemeretak, orang itu pun menjerit kesakitan.

Tetapi Wikan tidak segera melepaskannya. Dengan jari-jari tangannya yang merapat, Wikan telah menghentak punggung orang itu, sehingga sekali lagi orang itu berteriak.

Namun demikian Wikan melepaskannya, maka orang itu pun segera terjatuh ditanah.

Gegedug yang tubuhnya tinggi kekurus-kurusan itu pun tidak mempunyai pilihan lain. Dengan serta-merta ia pun segera mencabut goloknya.

“Jangan bermain-main dengan senjata Ki Sanak” geram Wikan.

“Nah, ternyata kau menjadi ketakutan” berkata gegedug yang tinggi kekurus-kurusan itu.

“Kawanmu ini sudah tidak mampu bangkit lagi. Jika ia sembuh, maka wadagnya sudah tidak mungkin lagi mendukung kemampuan ilmunya. Mungkin ia akan menjadi cacat. Tetapi ujud kewadagannya masih akan nampak utuh. Tetapi jika kau mempergunakan senjata, maka kemungkinan yang lebih buruk akan dapat terjadi”

“Persetan kau anak iblis”

Orang bertubuh tinggi itu pun segera meloncat menyerangnya.

Dalam pada itu, kawannya yang tangannya telah terpilin sehingga tulang-tulangnya menjadi retak serta urat-urat di punggungnya bergeser dari tatanan semestinya itu, memang tidak segera dapat bangkit. Ia mengalami kesakitan yang sangat. Sambil mengerang-erang orang itu berusaha untuk berguling menepi agar tidak terinjak kaki mereka yang sedang bertarung.

Ketika kawannya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu bertempur dengan mempergunakan goloknya, maka orang bertubuh raksasa itu pun telah berdiri tegak. Meskipun demikian ia tidak segera dapat terjun ke arena.

Baru beberapa saat kemudian, orang itu telah menarik pedangnya yang besar dan panjang. Selangkah demi selangkah ia pun bergeser maju.

Namun dalam pada itu, telah terdengar teriakan pula. Golok gegedug yang bertubuh tinggi itu tiba-tiba saja telah berpindah di tangan Wikan. Dengan cepatnya Wikan mengayunkan golok itu menebas tubuh lawannya.

Namun orang bertubuh tinggi kekurusan itu sempat melenting kesamping. Namun ia tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari serangan golok yang sudah berada di tangan Wikan.

Karena itu, maka golok itu telah mengenai lengan gegedug yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. Terdengar jerit kesakitan.

Golok itu telah menyayat lengan gegedug itu. Bahkan golok itu pun telah meretakkan tulang lengannya.

Tetapi Wikan masih belum menyadarinya apa yang terjadi. Wikan masih menjulurkan goloknya. Tetapi Wikan tidak menusuk ke arah jantung. Namun golok itu telah mematuk bahunya serta memutuskan beberapa urat nadi gegedug itu.

Gegedug bertubuh tinggi itu pun berguling-guling kesakitan di tanah. Darah mengalir dari luka-lukanya.

Yang dihadapi Wikan kemudian adalah gegedug bertubuh raksasa itu. Dengan pedang di tangan, raksasa itu pun bergerak selangkah maju sambil menggeram, “Aku akan meremukkan kepalamu”

“Jadi kau masih belum melihat kenyataan tentang dirimu?”

“Aku akan membunuhmu”

Ketika raksasa itu mengayunkan pedangnya, maka terdengar sambaran angin bagaikan sendaren. Dengan demikian Wikan menyadari, betapa besar tenaga orang bertubuh raksasa itu. Ketika tubuhnya sudah menjadi semakin lemah, namun ayunan senjatanya masih menimbulkan sambaran angin yang deras.

Karena itu, maka Wikan pun tidak dapat meremehkannya.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah bertempur dengan senjata di tangan masing-masing. Tetapi raksasa itu memang sudah terlalu lemah. Meskipun ia masih mampu mengayunkan senjatanya dan menimbulkan desir angin yang deras, namun setiap kali tubuhnya bahkan bagaikan terseret oleh ayunan pedangnya itu.

Dengan demikian, maka Wikan pun berniat segera mengakhirinya, sebelum orang yang terluka di lengan dan dadanya itu kehabisan darah.

Dengan garangnya Wikan menyerang raksasa itu. Dengan sekuat tenaga Wikan mengayunkan senjatanya. Ia berharap raksasa itu akan menangkisnya dengan membenturkan pedangnya.

Sebenarnyalah raksasa itu telah menyilangkan pedangnya untuk melindungi lehernya dari ayunan golok Wikan yang dirampasnya dari lawannya yang telah dilumpuhkannya.

Benturan yang keras pun telah terjadi. Seperti yang diperhitungkan qleh Wikan, maka pegangan tangan raksasa itu pun goyah. Ketika Wikan memutar goloknya, maka pedang raksasa itu bagaikan telah terhisap sehingga terlepas dari tangannya.

Raksasa itu terkejut. Namun telapak tangannya terasa bagaikan tersentuh bara.

Sebelum raksasa itu menyadari apa yang terjadi, Wikan pun telah meloncat menyerangnya. Tetapi Wikan tidak mempergunakan tajam goloknya. Tetapi Wikan justru mempergunakan tangkai golok itu untuk menghentak pundaknya. Tidak hanya sebelah, tetapi kedua belah pihak.

Raksasa itu berteriak kesakitan. Tulang-tulang di bahunya pun telah menjadi retak karena. Bahkan kemudian, dengan jari-jari tangan kirinya yang merapat, Wikan telah menghentak pangkal leher raksasa itu untuk mengacaukan susunan syarafnya.

Sebagaimana kedua kawannya, maka gegedug yang bertubuh raksasa itu pun kemudian berguling di tanah. Kesakitan yang sangat telah mencengkam bahunya serta dadanya pun tesasa sesak.

Wikan berdiri tegak dihadapan orang-orang Sangkrah yang menjadi pucat dan ketakutan. Dengan lantang Wikan pun berkata, “Nah, siapa lagi diantara kalian yang ingin memasuki arena pertarungan. Gegedug itu sudah berbuat curang dan licik. Ia telah mengingkari janji yang sudah disepakati. Sekarang, siapa lagi yang akan berbuat licik dan mengingkari janji? Siapakah yang masih akan memaksakan kehendaknya untuk membawa Tunggul bersama kalian?”

Semuanya terdiam. Bahkan tetangga-tetangga Tunggul pun terdiam pula.

Dalam pada itu, Wikan pun berkata pula hampir berteriak, “Jika sudah tidak ada yang berniat memasuki gelanggang pertarungan, sekarang pulanglah. Bawa ketiga orang upahan itu kembali ke Sangkrah. Mereka sudah tidak akan berguna lagi. Mereka hanya pantas dicampakkan kedalam kandang kuda untuk menjadi pekatik atau gamel untuk memelihara kuda”

Orang-orang Sangkrah itu termangu-mangu sejenak. Namun Wikan pun membentak mereka, “Cepat pergi, atau aku akan memusnahkan kalian. Bawa ketiga orang itu. Mereka masih akan sembuh. Tetapi mereka tidak akan mampu menjadi orang-orang upahan lagi. Mereka akan kehilangan kemampuan mereka karena cacat di tubuh mereka. Itu adalah hukuman yang paling ringan bagi mereka, karena sepantasnya mereka dihukum mati karena kejahatan yang pernah mereka lakukan. Mereka telah mendapat upah dengan mengorbankan nyawa sesamanya”

Orang-orang Sangkrah itu masih saja menjadi bingung. Namun beberapa orang mulai menyadari keadaan. Mereka pun kemudian mengusung ketiga orang gegedug yang terluka parah itu.

“Cepat pergi, sebelum timbul keinginanku untuk membunuh siapa pun diantara kalian”

Orang-orang Sangkrah itu pun segera meninggalkan halaman rumah Tunggul sambil membawa tiga orang gegedug itu. Namun sebenarnyalah gegedug itu sudah tidak berguna lagi bagi mereka. Meskipun mereka dapat sembuh, namun mereka tidak akan lebih baik dari anak-anak yang terbiasa menggembalakan kambing di ara-ara.

Sepeninggal orang-orang Sangkrah, maka Ki Bekel dan Ki Jagabaya pun segera mendekati Wikan diikuti oleh Tunggul.

“Anak muda. Maaf bahwa kami masih harus bertanya, siapakah sebenarnya kau yang telah menolong Tunggul dari bencana. Jika ia benar-benar dibawa oleh orang-orang Sangkrah, maka ia tidak akan berbentuk lagi. Bahkan mungkin Tunggul akan dapat terbunuh oleh para gegedug itu”

“Namaku Wikan, Ki Bekel. Aku bersama paman dan bibiku sedang berada di pasar ketika kami mendengar persoalan yang menimpa Tunggul. Karena kami yakin, bahwa Tunggul tidak bersalah, maka kami datang dengan niat untuk membantunya sejauh dapat kami lakukan”

“Marilah, Ki Sanak. Kami persilahkan kalian singgah barang sebentar di rumah Tunggul”

“Terima kasih, Ki Bekel. Aku mengantar paman dan bibi pergi ke rumah salah seorang saudara kami. Kami sudah kehilangan waktu. Karena itu, maaf, bahwa kami tidak dapat singgah”

“Tetapi kami, bukan hanya Tunggul serta para bebahu, tetapi seluruh penghuni padukuhan ini ingin mengucapkan terima kasih kepada Ki Sanak” berkata Ki Jagabaya.

“Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong, Ki Jagabaya”

“Tetapi yang Ki Sanak lakukan, bukan sekedar menolong Tunggul, tetapi Ki Sanak sudah menyelamatkan nyawanya”

“Sudahlah. Sekarang, kami ingin mohon diri. Aku kira orang-orang Sangkrah sudah menjadi jera. Gegedug-gegedug yang lain pun tidak akan berbuat apa-apa lagi terhadap Tunggul dan penghuni padukuhan ini. Meskipun demikian, Ki Jagabaya, aku harap kalian tetap berjaga-jaga. Sebaiknya Ki Jagabaya menyiapkan sekelompok anak muda dengan sedikit latihan memegang senjata. Ki Jagabaya tentu mampu melatih mereka”

“Kami akan melakukannya, ngger”

“Sekarang, biarlah kami mohon diri. Aku, paman dan bibi”

Ki Mina dan Nyi Mina pun mengangguk hormat pula. Dengan nada rendah Ki Mina pun berkata, “Kami akan melanjutkan perjalanan Ki Jagabaya”

“Tunggul. Dimana ayah dan ibumu? Mereka pun harus mengucapkan terima kasih pula kepada angger Wikan serta paman dan bibinya” berkata Ki Bekel.

“Ayah dan ibu sudah aku ungsikan ke rumah paman di padukuhan sebelah. Aku sudah mengira bahwa orang-orang Sangkrah tentu akan datang mencariku. Aku tidak ingin ayah dan ibu menjadi kehilangan akal melihat perlakuan orang-orang Sangkrah kepadaku“ Tunggul berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi Ki Sanak ini telah menolongku. Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih, Ki Sanak. Meskipun demikian, aku tetap tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin Ki Sanak, yang aku kira tidak lebih tua dari aku sendiri, mempunyai kemampuan yang demikian tinggi”

“Aku sukuri kurnia kelebihan ini, Tunggul. Tetapi semuanya itu akan dapat dicapai dengan berusaha sambil memohon”

Tunggul mengangguk-angguk. Namun nampak di wajahnya pancaran kekagumannya terhadap Wikan.

Namun Wikan serta paman dan bibinya, benar-benar tidak dapat ditahan-tahan lagi. Mereka pun segera minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Orang-orang padukuhan itu pun melepas Wikan dengan penuh kekaguman serta pernyataan terima kasih. Mereka yang tidak sempat mengucapkannya diungkapkan dengan sikap mereka. Beberapa orang telah melambai-lambaikan tangan mereka ketika Wikan serta paman dan bibinya meninggalkan regol halaman rumah Tunggul.

Demikian mereka berjalan di bulak panjang, maka Wikan pun berkata, “Jika Tunggul benar-benar dibawa oleh gegedug itu, maka ia tentu akan mati terbunuh di Sangkrah”

“Ya. Aku juga berpendapat seperti itu” sahut Ki Mina.

“Itukah yang terjadi sekarang” desis Nyi Mina, “seseorang mengandalkan kekuatannya tanpa menghiraukan kebenaran”

“Sumber dari malapetaka seperti itu adalah kuasa uang“ gumam Ki Mina.

“Keadaannya sudah terbalik, kakang. Seharusnya kitalah yang telah di perbudak oleh uang. Untuk mendapatkan uang, maka seseorang dapat berbuat apa saja. Bahkan membunuh sebagaimana sering dilakukan oleh orang-orang upahan itu. Mereka tidak lagi sempat memikirkan kehidupan mendatang, justru yang abadi”

Ki Mina mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, jadikan peristiwa ini bahan penilaianmu terhadap kehidupan, Wikan. Untuk melengkapi bahan-bahan yang pernah kau dapatkan sebelumnya. Betapa uanglah yang kemudian menguasai kehidupan ini. Kebenaran, harga diri, keadilan dan masih banyak sisi kehidupan yang seharusnya ditegakkan, justru telah diruntuhkan oleh kuasa uang”

“Ya, paman” sahut Wikan, “seharusnya Ki Bekel di Sangkrah mencegah peristiwa yang buruk itu terjadi. Tetapi agaknya Ki Bekel tidak melakukannya”

“Kekuasaan Ki Bekel pun telah terpengaruh oleh uang yang disebarkan oleh orang yang kaya raya di Sangkrah itu, sehingga pada dasarnya, seisi Sangkrah, termasuk kuasa Ki Bekel telah di belinya”

Wikan menarik nafas panjang. Katanya, “Jika kehidupan itu mengalir sebagaimana.terjadi seperti di Sangkrah, maka tatanan dan paugeran akan kehilangan arti”

“Ya“ Ki Mina dan Nyi Mina pun mengangguk-angguk..

Demikianlah, maka ketiga orang itu pun berjalan semakin cepat. Mereka sudah kehilangan waktu. Tetapi mereka tidak menyesal, bahwa mereka telah melibatkan diri dalam gejolak yang terjadi, karena dengan demikian mereka telah menyelamatkan nyawa seorang yang tidak bersalah.

“Tetapi apakah artinya bersalah atau tidak bersalah di hadapan gemerincing keping-keping uang?“ bertanya Wikan di dalam hatinya.

Beberapa saat kemudian, maka mereka bertiga telah melintas di bulak panjang. Agaknya tanah di daerah yang mereka lewati itu tidak begitu subur. Tanamannya tidak nampak hijau. Tetapi ujung-ujung batang daun padi di bulak itu nampak ke kuning-kuningan.

“Agaknya parit itu tidak ajeg mengalir” desis Wikan tiba-tiba.

“Kenapa dengan parit itu, Wikan?“ bertanya Ki Mina.

“Parit itu tidak selalu mengalir paman. Itulah sebabnya, maka kadang-kadang para petani telah berebutan, sehingga kadang-kadang menimbulkan pertengkaran”

“Sandi dari Sangkrah itu merasa bahwa pamannya mempunyai kekuasaan yang besar di Sangkrah, sehingga ia berniat bertindak tanpa mengikuti tatanan, sehingga terjadi benturan kekerasan dengan Tunggul”

Wikan mengangguk-angguk. Namun ia merasa beruntung, bahwa ia sempat menyelamatkan Tunggul dari keganasan seorang yang kaya raya dari Sangkrah itu.

Dalam pada itu, ketiganya pun berjalan semakin lama semakin mendekati sebuah padukuhan tempat tinggal keluarga Wikan. Sementara langit pun sudah menjadi buram.

“Kita akan sampai ke rumah Nyi Purba menjelang wayah sepi bocah” berkata Ki Mina.

“Ya, kakang. Kita kehilangan beberapa saat di perjananan”

Ketika kemudian senja turun, maka langkah mereka pun tidak lagi terlalu cepat. Selain mereka memang sudah letih, panas matahari tidak lagi melecut mereka agar berjalan semakin cepat. Apalagi jika mereka sedang berada di bulak panjang. Tidak semua jalan bulak mempunyai pohon pelindung. Kadang-kadang di pinggir jalan itu berjajar pohon turi. Kadang-kadang terdapat banyak pohon randu. Buah randu yang sudah tua pun mereka menghamburkan kapuk yang putih terbang dibawa angin.

Tetapi ada pula jalan bulak yang benar-benar terbuka. Di siang hari menjelang sore, maka panas matahari dengan leluasa menyengat kulit mereka yang sedang berada di sepanjang bulak itu.

Namun, demikian matahari tenggelam di lewat senja, maka di langit nampak bulak yang cerah bertengger di atas selembar awan yang tipis. Sehingga ketiga orang itu tidak harus berjalan dalam kepekatan gelap malam.

Ketika ketiganya memasuki sebuah padukuhan, maka terdengar tembang yang dilantunkan oleh anak-anak yang sedang bermain di terangnya bulan, membuat suasana di padukuhan itu menjadi riang.

Di sebuah pelataran rumah yang luas, beberapa orang gadis kecil sibuk bermain jamuran. Sedangkan di kejauhan terdengar suara anak-anak laki-laki yang menjelang remaja bermain sembunyi-sembunyian. Mereka berlari-larian di sepanjang jalan utama padukuhannya. Namun kemudian mereka pun menghilang seperti di hisap keliang hantu. Baru kemudian, mereka berloncatan muncul jika seseorang telah diny atakan mati.

Wikan menarik nafas panjang, ketika seorang anak laki-laki yang berlari keluar dari sebuah halaman rumah hampir saja melanggarnya.

“Rasa-rasanya baru kemarin malam aku ikut bermain seperti mereka” desis Wikan.

Ki Mina dan Nyi Mina tertawa. Dengan nada tinggi Ki Mina pun berkata, “Wikan. Meskipun kemudian kau berada di padepokan, namun pada hari-hari pertama, kau masih saja suka bermain gamparan. Kaulah yang kadang-kadang merenggut waktu para cantrik remaja karena kau ajak bermain gamparan”

Wikan pun tertawa pula.

“Kadang-kadang sekarang pun aku masih ingin bermain gamparan. Memang menyenangkan sekali”

Wikan memang terhenti ketika ia melihat beberapa orang anak bermain gamparan di halaman banjar padukuhan.

Tetapi karena paman dan bibinya berjalan terus, maka Wikan pun segera menyusul mereka pula.

Ketiga orang itu masih berjalan melintasi beberapa buah bulak dan pedukuhan. Di setiap padukuhan, mereka tentu menjumpai anak-anak yang sedang bermain-main di terangnya bulan.

Tidak seperti hari-hari yang lain, pada saat malam gelap, maka di wayah sepi bocah, tidak ada lagi anak-anak yang berada dr luar rumahnya. Semua anak-anak telah masuk ke dalam bilik tidur mereka dan berada diatas pembaringan.

Tetapi malam itu, di wayah sepi bocah, masih saja terdengar suara anak-anak yang sedang bermain itu melengking tinggi.

Orang tua mereka pun tidak segera mencari anak-anaknya yang belum pulang. Mereka tahu, bahwa anak-anak mereka itu sedang bermain di bawah cahaya sinar bulan.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka pada saat wayah sepi bocah, mereka bertiga sudah berada di jalan utama padukuhan mereka. Sedangkan rumah Nyi Purba terletak di pinggir jalan utama itu.

Semakin dekat dengan rumahnya, maka Wikan pun menjadi semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya ia ingin berlari lagi menjauhi rumahnya yang dinilainya telah dinodai oleh kedua orang kakak perempuannya.

Tetapi ia tidak dapat menolak kemauan paman dan bibinya agar ia pulang.

Sedikit lewat wayah sepi bocah, mereka bertiga telah berdiri di depan regol halaman rumah Nyi Purba. Halaman rumah yang terhitung luas.

“Kenapa aku harus ikut paman?” Wikan masih bertanya.

“Sudahlah. Kita sudah sampai. Jangan bertanya lagi” Wikan pun terdiam.

Mereka bertiga pun kemudian memasuki regol halaman rumah Nyi Purba yang nampaknya sepi.

“Rumah pun nampak sangat sepi, Wikan” desis Ki Mina.

“Ya, paman. Rumah itu hanya di huni oleh ibu sendiri”

“Wiyati?”

“Entahlah. Aku tidak tahu, apakah mbokayu Wiyati ada di rumah atau bahkan sudah kembali ke Mataram karena ibu mengusirnya”

“Tentu tidak. Ibumu tentu tidak akan mengusirnya Pada saat gejolak perasaannya sudah mereda, maka sikapnya akan merubah. Meskipun ia tetap tidak membenarkan langkah Wiyati, tetapi bagaimanapun juga Wiyati itu adalah anak perempuannya”

Wikan menarik nafas panjang.

Beberapa saat mereka bertiga memang termangu-mangu di halaman. Namun kemudian Nyi Mina pun berkata, “Lampu menyala di ruang dalam”

“Tetapi agaknya seisi rumah sudah tidur nyenyak” sahut Ki Mina.

Ketiga orang itu pun kemudian telah naik ke pendapa. Dengan hati-hati mereka mendekati pintu pringgitan. Perlahan-lahan Ki Mina pun telah mengetuk pintu.

Ternyata Nyi Purba masih belum tidur. Dari ruang dalam terdengar seorang perempuan bertanya, “Siapa?”

“Aku. Aku Nyi”

“Aku siapa?”

“Mina. Bukankah Nyi Purba masih ingat kepadaku”

“Mina. Kakang Mina?”

“Ya, Nyi”

Terdengar langkah menuju ke pintu pringgitan. Beberapa saat kemudian terdengar selarak pintu itu diangkat.

Demikian pintu itu terbuka, maka mereka melihat seorang perempuan berdiri termangu-mangu di belakang pintu.

“Kau lupa kepadaku Nyi”

“Tidak. Tidak. Tentu tidak. Marilah kakang. Mbokayu dan…”

“Aku ibu”

“Wikan, Wikan”

Nyi Purba pun melangkahi tlundak pintu. Didekapnya anak laki-lakinya sambil berkata, “Kau Wikan. Kau akhirnya pulang”

“Paman dan bibi telah membawaku pulang”

“Terima kasih, kakang. Terima kasih mbokayu”

Wajah Nyi Purba itu pun menjadi cerah. Dengan nada tinggi ia pun kemudian mempersilahkan Ki Mina dan Nyi Mina

”Marilah kakang, Mbokayu. Silahkan masuk”

“Nampaknya kau belum tidur, Nyi” berkata Ki Mina.

Nyi Purba menarik nafas panjang. Katanya, “Rasa-rasanya aku tidak dapat tidur nyenyak lagi sekarang, kakang. Sejak Wikan pergi, segala sesuatunya rasa-rasanya menjadi muram”

Ki Mina tidak segera menjawab. Mereka bertiga pun kemudian telah duduk di ruang dalam, di sebuah amben bambu yang agak besar.

“Silahkan duduk kakang, mbokayu. Biarlah Wikan menemani kakang dan mbokayu. Aku akan pergi ke dapur”

“Jangan merepotkan Nyi. Duduk sajalah bersama kami”

“Aku hanya akan membangunkan Yu Ira. Biarlah nanti Yu Ira yang menjadi repot. Merebus air dan barangkali kalian lapar setelah berjalan jauh, biarlah Yu Ira menanak nasi”

“Tidak, Nyi. Kami tidak lapar”

“Tetapi biarlah. Duduk sajalah. Aku tidak lama” Ketika Nyi Purba pergi ke dapur, Nyi Mina berdesis, “Apakah mbokayumu tidak ada di rumah?”

“Aku tidak tahu bibi” jawab Wikan.

Nyi Mina pun kemudian turun dari amben bambu itu dan menyusul Nyi Purba ke dapur.

“Biarlah aku bantu, Nyi”

“Duduk sajalah, mbokayu. Aku hanya akan membangunkan Yu Ira”

Sebenarnyalah di dapur, Nyi Purba telah membangunkan seorang pembantu di rumahnya. Seorang perempuan separo baya. Setelah memberikan beberapa pesan, maka Nyi Purba pun kembali ke ruang dalam.

Sambil mengikuti Nyi Purba, Nyi Mina pun bertanya

“Bukankah Wiyati ada di rumah?”

Nyi Puma berhenti melangkah. Di ruang belakang, di depan pintu dapur ia menunjuk sebuah bilik kecil sambil berdesis

“Ia ada di situ”

“O”

“Aku segan berbicara dengan anak itu, jika tidak perlu sekali”

Nyi Mina mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Nyi. Aku datang antara lain untuk kepentingannya”

“Besok saja kita bicarakan. Malam ini mbokayu tentu letih. Mungkin mbokayu akan mandi lebih dahulu sebelum nasi masak”

Nyi Mina menarik nafas panjang. Tetapi ia sudah tahu, bahwa Wiyati masih ada di rumah itu, meskipun agaknya hubungannya dengan Nyi Purba kurang baik.

Sebelum Nyi Mina mengatakan sesuatu, maka Nyi Purba telah menarik tangannya sambil berkata, “Marilah mbokayu. Duduk sajalah bersama kakang dan Wikan”

Nyi Mina pun kembali duduk di amben yang besar itu. Namun kemudian ia pun bertanya kepada Ki Mina, “Apakah kakang akan pergi ke pakiwan dahulu”

“Ya, ya” Ki Mina mengangguk-angguk.

“Silahkan kakang” lalu katanya kepada Wikan, “antar pamanmu ke pakiwan, Wikan”

“Aku sudah tahu tempatnya, nyi. Bukankah pakiwan-nya belum di pindah?”

Nyi Purba tersenyum. Katanya, “Pakiwan itu masih ada di tempatnya, kakang. Tetapi biarlah Wikan membawa lampu”

“Bukankah bulan terang?”

Ki Mina pun kemudian meninggalkan ruang dalam. Lewat pintu butulan pergi ke pakiwan. Meskipun Ki Mina mengaku sudah tahu dimana letak pakiwan itu, namun Wikan pun mengantarkannya.

Di ruang dalam, Nyi Mina berkata kepada Nyi Purba, “Nyi. Kami datang kemari setelah kami mendengar apa yang telah terjadi di sini dari Wikan. Tetapi kami tidak dapat datang lebih cepat karena kesibukan kami serta perguruan kami”

“Sebenarnyalah kami memang menunggu. Tetapi sebelum mbokayu datang, aku tidak tahu siapakah yang aku tunggu. Aku tidak tahu kemana Wikan pergi. Namun sekarang, barulah aku sadari, bahwa aku sebenarnya memang menunggu kakang dan mbokayu”

“Kami akan membantu untuk mencari jalan keluar”

“Agaknya selama ini Wikan berada di rumah mbokayu”

“Ya. Wikan ada di rumah kami. Namun karena persoalan yang terjadi di perguruan kami, maka Wikan pun kemudian kami bawa ke padepokan”

“Jadi Wikan sudah bertemu dengan gurunya?”

“Ya”

“Sebenarnyalah aku sudah menyuruh menanyakan ke padepokannya. Tetapi ternyata Wikan tidak ada disana”

“Nyi Purba tidak menyuruh orang mencari ke rumahku”

“Sebenarnyalah aku merasa agak segan. Terus terangnya, aku malu mengalami kejadian yang sangat menusuk perasaanku itu”

“Bukan salah Nyi Purba”

Nyi Purba menundukkan kepalanya. Matanya mulai basah.

“Kami datang untuk membantu mencari jalan keluar”

Nyi Purba mengangguk. Sambil mengusap matanya dengan lengan bajunya ia pun berdesis, “terima kasih, mbokayu”

Ketika kemudian Wikan masuk kembali ke ruang dalam, Nyi Mina tidak melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya mengenai keluarga Nyi Purba. Ia akan menunggu sampai waktu yang lebih baik.

Bahkan kemudian ketika Ki Mina sudah selesai membersihkan serta berbenah diri, maka Nyi Minalah yang kemudian pergi ke pakiwan.

Malam itu, Ki Mina dan Nyi Mina memang membatasi diri. Sementara itu agaknya Nyi Purba pun masih belum siap untuk berbicara tentang anak-anak perempuannya.

Di tengah malam, Nyi Purba telah menjamu tamu-tamunya. Nasi yang masih mengepul, dengan sayur dan lauk seadanya, serta minuman hangat.

“Marilah, kakang dan mbokayu. Kami tidak tahu, bahwa kami akan menerima tamu malam ini, sehingga kami tidak dapat menjamu makan dan minum yang lebih baik”

“Ini sudah cukup, Nyi. Sebenarnyalah kami memang lapar. Karena itu, nasi dan sayurnya yang hangat ini telah membuat tubuh kami yang letih menjadi segar kembali”

”Untunglah kami mempunyai beberapa ekor ayam, sehingga kami mempunyai persediaan telur”

“Mantap sekali Nyi. Telur ceplok dengan sambal terasi”

Nyi Purba tersenyum. Sementara Nyi Mina menyambung, “Sayur asam pedas kulit melinjo adalah kegemaran kakang Mina”

“Kebetulan sekali siang tadi kami memetik melinjo” sahut Nyi Purba.

Selama mereka makan, sebenarnyalah bahwa Ki Mina dan Nyi Mina menunggu, mungkin Wiyati mendengar kedatangan mereka dan mau keluar dari biliknya. Tetapi nampaknya Wiyati tidak tergerak untuk menemui paman dan bibinya, meskipun sebenarnyalah Wiyati telah terbangun pula.

Jantung Wiyati justru terasa berdetak semakin cepat. Ia tahu bahwa kedatangan paman dan bibinya tentu karena Wikan telah mengadu kepada mereka.

Namun Wiyati pun ikut pula berharap, bahwa paman dan bibinya itu akan dapat memberikan jalan keluar. Wiyati sudah jemu dengan keadaannya. Ibunya hampir tidak pernah berbicara apa pun juga. Bahkan rasa-rasanya ia tidak mempunyai ruang gerak lagi. Di dalam dan diluar rumah.

Meskipun agaknya rahasianya masih belum didengar oleh tetangga-tetangganya, karena Wandan agaknya belum pernah pulang, namun ia pun memperhitungkan, seandainya Wandan pulang, ia tidak akan membuka rahasia Wiyati, karena membuka rahasia Wiyati akan sama artinya dengan membuka rahasianya sendiri.

Menjelang dini, maka Ki Mina dan Nyi Mina itu pun dipersilahkan untuk beristirahat di gandok sebelah kiri.

“Kau tidur dimana Wikan?“ justru ibunyalah yang bertanya.

“Dimana saja ibu. Aku dapat tidur di amben ini”

“Terserahlah kepada kamu sendiri”

Menjelang fajar, maka Ki Mina dan Nyi Mina sudah terbangun. Ketika Nyi Mina pergi ke pakiwan, di belakang dapur, ia berpapasan dengan Wiyati.

Wiyati terkejut Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi ketika Nyi Mina itu mendekatinya, “Kau sudah bangun nduk?“

Wiyati mencoba tersenyum. Tetapi yang kemudian membayang di wajahnya adalah kepahitan jiwanya. Bahkan kemudian diluar kendali, matanya pun telah menitikkan air mata”

“Bibi” desisnya.

Nyi Mina mendekatinya. Dipeluknya Wiyati yang mengalami tekanan batin yang hampir saja tidak tertahankan.

Dipelukan Nyi Mina tangis Wiyati bagaikan dicurahkan. Ia sudah agak lama tidak mengalami sentuhan kasih yang tulus sebagaimana ditumpahkan oleh Nyi Mina. Bahkan Nyi Mina yang garang dipertempuran itu ikut menitikkan air matanya pula.

“Menangislah nduk. Menangislah kalau tangismu itu dapat memperingan beban perasaanmu”

“Bibi“ suara Wiyati tersendat, “aku tidak pantas memanggil bibi lagi. Aku adalah seorang yang seharusnya di campakkan seperti sampah”

“Sudahlah Wiyati. Biarlah yang sudah berlalu itu berlalu, Kau harus menengadahkan wajahmu untuk memandang ke masa depan. Bibi akan membantumu”

“Tidak ada lagi masa depan itu bagiku, bibi. Yang ada hanyalah kegelapan yang akan menelan sisa hidupku”

“Tidak. Kau masih muda”

“Aku sendiri telah mematahkan perjalanan hidupku. Aku patahkan sendiri tangkai kuncup yang belum kembang itu, bibi”

“Sudahlah. Aku datang untuk mencari pemecahan bagi masa depanmu. Nah, kau akan pergi ke pakiwan?“

“Silahkan bibi”

“Kau sajalah dahulu. Aku akan menunggu”

“Tetapi…….”

“Pergilah ke pakiwan. Nanti kita akan berbicara tentang pemecahan persoalan”

Wiyati mengusap matanya. Ia masih terisak. Namun kemudian Wiyati itu pun pergi ke pakiwan, sementara Nyi Mina berjalan hilir mudik di halaman belakang sambil melihat-lihat beberapa batang pohon suruh yang merambat pohon dadap di sebelah sumur. Di bawah batang suruh itu terdapat lekuk untuk mengairinya di musim kering. Dengan air yang ditimbanya dari sumur dan dituangkan ke dalam lekuk tanah yang memanjang di sela-sela pohon dadap itu.

Beberapa saat kemudian, Wiyati pun telah keluar dari pakiwan. Ia pun mendekati Nyi Mina sambil berkata, “Silahkan bibi”

Nyi Mina tersenyum sambil menepuk bahu Wiyati sambil berkata, “Wiyati. Kami datang bersama Wikan dengan maksud yang baik”

“Terima kasih, bibi”

Ketika kemudian Wiyati hilang di balik pintu dapur, maka Nyi Mina pun telah memasuki pakiwan pula.

Ketika kemudian matahari terbit, maka Ki.Mina dan Nyi Mina telah dipersilahkan duduk di ruang dalam. Minuman hangat telah dihidangkan. Ketela pohon yang direbus dengan santan dan sedikit garam.

“Silahkan kakang” berkata Nyi Purba sambil duduk bersama mereka, “aku sudah menyuruh seseorang untuk memanggil Wuni dan suaminya”

“Bagaimana keadaannya?” berkata Nyi Mina, “Bukankah keadaannya sekeluarga baik-baik saja?”

“Ya. Segala sesuatunya sudah menjadi semakin baik”

“Sukurlah“ Nyi Mina itu pun mengangguk-angguk.

“Namun hampir saja jatuh korban”

“Kenapa?” bertanya Wikan dengan serta-merta.

“Ketika kemudian dengan tegas Wuni memutuskan hubungan dengan laki-laki itu, maka ketika suami Wuni berada di sawah, laki-laki itu telah menemuinya. Ditantangnya suami Wuni untuk bertarung. Ia merasa terhina karena Wuni telah mengambil keputusan untuk setia kepada seorang laki-laki saja. Dan laki-laki itu adalah suaminya”

“Pertarungan itu terjadi, ibu?” bertanya Wikan.

“Ya”

“Akhirnya?”

“Ternyata laki-laki itu tidak dapat mengalahkan suami Wuni. Yang tidak terduga sebelumnya, laki-laki itu menangis mencium lutut suami Wuni itu. Ia minta ampun agar suami Wuni itu tidak membunuhnya”

“Kakang membebaskannya?” Wikan menjadi tidak sabar.

“Ya. Suami Wuni telah membebaskannya meskipun orang itu terluka didalam”

“Setelah ia sembuh apakah ia tidak mendendam?”

“Tidak Wikan. Laki-laki itu bersumpah pada saat ia minta ampun, untuk melakukan apa saja perintah suami Wuni itu. Ternyata ia menepati janjinya. Ia telah memperlakukan dirinya sendiri seperti seorang budak bagi suami Wuni itu”

“Akal yang licik, “ gumam Wikan.

“Kenapa? Ia justru telah merendahkan dirinya”

“Cara agar ia tetap dekat dengan mbokayu Wuni” Nyi Purba menarik nafas panjang. Katanya, “Suami Wuni itu juga sudah memikirkannya. Tetapi ia dapat mengatur agar ia tidak pernah lagi berhubungan dengan Wuni. Bahkan Wuni sendiri juga selalu menjaga dirinya karena agaknya Wuni bersungguh-sungguh untuk keluar dari jalan hidupnya yang sesat itu”

Wikan menarik nafas panjang. Kakak iparnya itu memang seorang yang baik. Ia mencintai kakak perempuannya dengan tulus. Tetapi sebelumnya ia adalah laki-laki yang lemah. Bukan dalam pengertian kewadagan. Bahkan kakak iparnya itu adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa meskipun ia tahu, bahwa isterinya selingkuh hanya karena ia tidak mau menyakiti hati isterinya itu.

Tetapi jalan menuju ke masa depan itu ternyata sudah diratakan. Keluarga kakak perempuannya itu akan menempuh jalan kehidupan yang lebih baik.

Yang kemudian perlu mendapat perhatian lebih besar adalah kakak perempuannya yang seorang lagi. Wiyati.

Untuk beberapa saat kemudian, Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan masih berbincang di ruang tengah sambil menunggu kedatangan Wuni dan suaminya. Ketika Nyi Mina minta agar Wiyati ikut duduk bersama mereka, Nyi Purba pun berkata, “Biarlah nanti Wuni yang memanggilnya”

Ketika matahari naik, maka Wuni dan suaminya pun telah datang pula. Keduanya pun mencium tangan paman dan bibinya sebelum mereka duduk pula di ruang dalam itu.

“Selamat datang di rumah yang pengab ini. paman“ suara Wuni terdengar sendat. Sedangkan kepalanya tertunduk dalam-dalam. Agaknya di hadapan paman dan bibinya, Wuni masih saja merasa bersalah. Tubuh dan jiwanya yang telah ternoda itu masih belum dapat dibersihkannya sampai tuntas.

“Kami sekeluarga baik-baik saja ngger. Bukankah kalian juga baik-baik saja?”

“Ya, paman” sahut Wuni dan suaminya hampir berbareng.

“Wuni” berkata Nyi Purba kemudian, “paman dan bibimu telah membawa Wikan pulang. Kita harus berterima kasih kepada paman dan bibi. Selebihnya, paman dan bibi ingin membantu mencari jalan keluarga bagi masa depan Wiyati yang buram itu”

Wuni menarik nafas panjang. Katanya, “Inilah kenyataan kami, paman dan bibi. Kami harus merasa malu sekali, bahwa kami telah mengotori rumah peninggalan ayah ini dengan tingkah laku kami yang sesat”

“Sudahlah, Wuni. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita melangkah di masa depan. Kita tidak boleh terpancang kepada masa lalu kita. Seperti kanak-kanak yang belajar berjalan, setelah ia terjatuh, maka ia akan segera bangkit lagi. Anak itu tidak boleh berhenti belajar sehingga ia benar-benar mampu berjalan dengan tegak” sahut Nyi Mina.

“Ya, bibi”

“Nah, bukankah sebaiknya kita berbicara pula dengan Wiyati sekarang?“

Wuni itu pun berpaling kepada ibunya. Namun ibunya berkata, “Kau sajalah yang memanggilnya, Wuni”

Wuni menarik nafas panjang. Ketika ia masih saja ragu-ragu, suaminya itu pun berkata, “Panggil Wuni. Kita akan berbincang-bincang dengan paman dan bibi”

“Kalau ia tidak mau?“

“Tentu Wiyati ingin juga menemui aku dan pamanmu. Kami sudah merindukannya” sahut Nyi Mina

Wuni pun kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ketika ia kemudian melangkah ke bilik kecil Wiyati di dekat pintu dapur, masih terasa bahwa Wuni itu ragu-ragu.

Namun sejenak kemudian, Wuni telah mengetuk pintu bilik Wiyati. Dengan lembut Wuni itu memanggil namanya, “Wiyati. Wiyati. Paman dan bibi berada disini, Wiyati”

Yang terdengar oleh Wuni adalah isak Wiyati. Agaknya
Wiyati itu sedang menangis.

“Wiyati. Buka pintumu”

Wiyati memang melangkah ke pintu biliknya dan mengangkat selaraknya.

ketika Wuni masuk ke dalam biliknya yang memang pengab, Wiyati telah duduk lagi di bibir pembaringannya.

“Wiyati. Paman dan bibi datang kemari” Wiyati mengangguk.

“Mereka ingin menemuimu”

“Mbokkayu. Pantaskah aku menemuinya?“

“Kenapa tidak, Wiyati. Aku juga merasa bersalah. Semula aku juga merasa tidak pantas utuk menemuinya. Tetapi paman dan bibi ternyata bersikap sangat baik kepadaku.”

Wiyati mengusap matanya. Sebenarnyalah bahwa ia sudah merasa sangat, letih terpuruk kedalam suasana yang buruk itu. Ia benar-benar telah menyesali kelakuannya. Ia bersumpah kepada dirinya sendiri untuk tidak mengulanginya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya untuk membuktikannya? Ia terbelenggu dalam kehidupan yang pengab itu. Kekecewaan dan kemarahan ibunya nampaknya masih saja mencengkam jantung.

Wiyati dapat mengerti bahwa hati ibunya itu seakan-akan telah menjadi patah arang. Tetapi bagaimana dengan dirinya yang masih akan menjalani kehidupan yang menurut perhitungan lahiriahnya masih panjang. Apakah ia akan tetap berada di bilik kecil itu di sepanjang umurnya. Meratapi nasibnya yang buruk, meski  pun dirinya sendirilah yang menulis nasib buruknya itu.

Kedatangan paman dan bibinya memang menimbulkan pengharapan seperti dikatakan oleh bibinya itu.

“Wiyati” berkata Wuni kemudian, “Marilah. Ikut aku menemui paman dan bibi. Kita tidak perlu mengenakan topeng di wajah kita. Biarlah paman dan bibi melihat coreng-moreng itu. Kita berharap saja semoga paman dan bibi dapat memberikan jalan keluar bagi kita”

“Mbokayu telah menemukan jalan keluar itu. Tetapi bagaimana dengan aku”

“Kau juga akan menemukannya, Wiyati. Paman dan bibi akan membantu. Seperti tembang anak-anak di saat terang bulan itu Wiyati. Mumpung gede rembulane. Mumpung jembar kalangane”

Wiyati mengusap air matanya. Ia pun kemudian membenahi pakaiannya.

Beberapa saat kemudian Wiyati pun mengikut kakak perempuannya keluar dari biliknya dan melangkah ke ruang tengah.

Sejenak kemudian, Wiyati dan Wuni itu telah duduk di amben yang agak besar itu pula.

“Wiyati” berkata Ki Mina kemudian, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, kepada Nyi Purba serta kepada Wuni berdua”

Ruangan itu pun kemudian menjadi hening.

“Aku sudah mendengar tentang keadaan rumah ini sepeninggal Adi Purba. Aku sudah mendengar peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan telah terjadi“ Ki Mina berhenti sejenak. Sementara Wiyati dan bahkan Wuni telah mengusap matanya yang basah, “Tetapi kita yakin bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang tidak akan sampai hati melepaskan kita tersuruk lebih parah lagi ke dalam kegelapan. Itulah sebabnya, dengan cara apapun, Tuhan telah mengentaskan kita dari kuasa kegelapan itu. Kita wajib bersukur karenanya. Namun yang penting, bukan sekedar mengucap sukur. Tetapi juga apa yang sebaiknya kita lakukan kemudian”

Semua orang yang duduk disekitar Ki Mina itu menundukkan kepala mereka.

“Nah, anak-anakku” berkata Ki Mina selanjutnya, “Marilah kita bersama-sama mencari jalan menatap masa depan yang masih panjang”

Semuanya masih tetap diam. Wajah Wiyati pun menjadi semakin menunduk.

Kata-kata Ki Mina kemudian lebih ditujukan kepada Wiyati. Diceritakannya pembicaraannya dengan Ki dan Nyi Leksana. Kakak dan kakak ipar Nyi Mina. Bahkan harapan-harapan bagi Wiyati untuk menghadapi masa depannya yang masih panjang.

“Bukankah kita dapat berbicara sebagaimana anak-anak muda yang sudah dewasa?” berkata Ki Mina kemudian, “Dengan demikian, maka kita akan menjadi lebih terbuka. Terutama bagi Wiyati. Di tempat yang baru itu, maka segala sesuatunya akan tetap menjadi rahasia bagimu. Namun Ki Leksana dan Nyi Leksana telah mengetahui pula segala sesuatu tentang dirimu. Tetapi hal itu jangan membuatmu berkecil hati, karena pengetahuannya tentang keadaanmu itu akan membuatnya bersikap jujur kepadamu. Jika ia menolak, biarlah ia menolak. Tetapi jika ia menerima, maka ia akan menerimamu seutuhnya dengan segala cacat dan celamu”

Wiyati masih saja menunduk. Tetapi pergi dari rumah itu merupakan satu pemecahan yang menurut pendapatnya sangat baik. Ia akan keluar dari keadaan yang sangat menekan perasaannya. Hanya karena perasaan bersalah sajalah maka ia masih tetap dapat bertahan dalam keadaan itu.

“Nyi Purba dan kau Wiyati. Jika jalan keluar ini di sepakati, maka aku akan segera membawamu ke rumah uwakmu Ki dan Nyi Leksana. Kau akan memasuki satu dunia yang baru. Wiyati yang lama telah mati. Yang ada kemudian adalah Wiyati yang baru. Meskipun Wiyati tidak akan dapat menghapus noda yang melekat pada dirinya, tetapi dalam keadaannya Wiyati yang baru akan dapat menemukan jalan yang baik menuju ke masa depannya”

Air mata yang meleleh dari pelupuknya menjadi semakin deras. Tetapi apa yang dikatakan oleh paman dan bibinya itu terasa akan benar-benar memberikan harapan kepadanya.

Beberapa saat kemudian, Ki Mina pun berkata, “Pikirkan kemungkinan ini, Wiyati. Kau akan menyingkir dari lingkunganmu. Kau akan mendapatkan satu lingkungan yang baru”

Ruang dalam rumah Nyi Purba itu masih saja tetap hening. Semua orang nampak sedang merenung. Lebih-lebih lagi Wiyati dan ibunya.

Namun akhirnya Wiyati itu pun berkata perlahan sekali, “Aku akan menurut saja kepada petunjuk paman jika ibu mengijinkan”

Kata-kata itu ternyata telah menyentuh hati Nyi Purba. Ia pun berpaling kepada Wiyati seakan-akan di luar kehendaknya sendiri. Namun Nyi Purba itu pun segera menunduk kembali.

“Nah, Nyi” berkata Nyi Mina kemudian, “Wiyati telah menyatakan pendapatnya. Bagaimana tanggapan Nyi Purba sendiri”

Nyi Purba menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba saja ia pun berdesis, “Wiyati. Ngger”

Seakan-akan tanpa disadari, Wiyati itu pun segera bangkit, turun dari amben itu dan beringsut mendekati ibunya. Seakan-akan masih juga diluar sadarnya ketika Wiyati kemudian mencium lutut Nyi Purba sambil menangis, “Ampunkan aku ibu. Ampunkan aku”

Nyi Purba yang sudah agak lama seakan-akan tidak menghi-raukan lagi keberadaan Wiyati itu di rumahnya, tiba-tiba telah memeluknya. Menangisinya. Dengan sendat ia pun berkata, “Maafkan ibumu ngger. Aku telah terseret oleh arus perasaanku selama ini, sehingga aku tidak berbuat sebagai seorang ibu yang baik. Pada saat kau memerlukan aku, maka aku justru telah menjauhimu”

“Tidak. Ibu tidak bersalah. Akulah anak yang durhaka itu”

Nyi Mina pun kemudian turun pula dari amben yang besar itu. Ia pun berjongkok pula disamping Wiyati sambil berkata, “Sudahlah Wiyati. Ibu telah mengampunimu. Marilah kita menatap ke masa depan itu”

Nyi Mina pun kemudian mengangkat bahu Wiyati agar bangkit berdiri. Kemudian membimbingnya dan mendudukannya di amben itu disebelah ibunya.

Ternyata Wiyati, Nyi Purba, Wuni dan suaminya, sepakat untuk melepaskan Wiyati pergi bersama Ki Mina dan Nyi Mina. Kepergian Wiyati itu nanti akan dapat membawanya ke jalan yang menuju kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Wikan duduk saja seperti patung. Tidak ada yang dilakukannya kecuali menyaksikan sikap ibunya serta kakak-kakak perempuannya.

Suami Wuni pun mengangguk-angguk pula. Ketika isterinya berjanji dan bahkan bersumpah untuk tidak selingkuh lagi, laki-laki itu sudah merasa sangat bersukur. Jika kemudian ada jalan yang baik yang dapat ditempuh oleh Wiyati untuk merebut hari depannya kembali, maka suami Wuni itu pun kembali mengucap sukur.

“Baiklah” berkata Ki Mina kemudian, “biarlah kami bermalam semalam lagi disini. Besok kita akan berangkat bersama Wuni. Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit”

Wiyati mengangguk. Katanya, “Kita akan berangkat selagi masih gelap paman”

Ki Mina pun segera tanggap. Wiyati tidak ingin dilihat oleh tetangga-tetangganya. Meskipun mereka belum tahu, cacat apakah yang telah melekat pada gadis itu, namun Wiyati sendiri merasa seakan-akan setiap mata yang melihatnya akan memancarkan kebencian dan bahkan penghinaan.

“Baik Wiyati. Besok kita akan berangkat selagi masih gelap”

“Terima kasih atas kesediaan paman”

Dengan demikian, maka hari itu Wiyati telah mempersiapkan dirinya untuk pergi meninggalkan rumahnya. Ia sudah terbiasa tinggal jauh dari rumah dan ibunya pada saat ia berada di Mataram. Namun rasanya jauh berbeda dengan saat-saat ia akan meninggalkan ibu dan rumahnya bersama pamannya.

Ketika ia berada di Mataram, Wiyati sama sekali tidak pernah memikirkan persoalan-persoalan yang lebih mendalam daripada kesenangan semata-mata. Uang, pakaian yang gemerlapan, sanjungan serta dikerumuni oleh laki-laki yang kehilangan nilai-nilai luhur dalam hubungan bebrayan.

Tetapi kini ia siap untuk pergi memasuki satu dunia baru. Kehidupan yang baru, yang dipagari oleh tatanan dan paugeran sesuai dengan jalan dan tuntunan Tuhan Yang Maha penyayang.

Namun Wiyati benar-benar telah berniat Apa pun yang harus dilakukannya, akan dilakukannya jika hal itu dapat menebus segala macam kesalahan yang pernah diperbuatnya.

Sehari itu, Ki Mina dan Nyi Mina banyak puja berbincang dengan Wuni dan suaminya. Dengan sikap yang dewasa, suami Wuni telah menceriterakan tentang keluarganya. Tentang sikapnya menanggapi kelakuan Wuni sebelum ia menyadari dan mengakui kesalahannya.

“Sikap Wikan lah yang telah membuka hatinya. Ketika Wikan pergi meninggalkan rumah ini, maka Wuni pun sempat melihat kedalam dirinya sendiri, serta menilai segala perbuatan yang telah dilakukannya” berkata suami Wuni itu

“Sukurlah.jika segala sesuatunya telah teratasi” berkata Ki Mina sambil mengangguk-angguk.

Pada kesempatan itu pula, Wikan pun telah minta maaf pula kepada ibu dan kakak-kakaknya atas sikapnya ketika ia bagaikan kehilangan akal meninggalkan rumahnya itu.

“Aku tidak dapat berpikir jernih saat itu, ibu”

“Ibu mengerti, Wikan. Tetapi justru karena sikapmu itu, maka kami yang kautinggalkan telah terusik hatinya untuk menilai sikap kami masing-masing”

“Jika saja dapat diambil hikmahnya. Nyi” sahut Nyi Mina sambil mengangguk-angguk.

“Ya. Kita dapat mengambil hikmahnya”

Hari itu, rasa-rasanya perasaan Nyi Purba bagaikan telah terbuka. Ki Mina dan Nyi Mina telah dalang dengan membawa jalan keluar dari keadaan keluarganya yang rumit. Terutama keadaan Wiyati yang bagaikan awan gelap yang tergantung diatas rumah itu.

Sehari itu, setelah pembicaraan tentang jalan keluar bagi keluarga Nyi Purba yang diliputi oleh kegelapan itu menemukan arahnya, maka Ki Mina dan Nyi Mina diantar oleh Wikan telah melihat-lihat keadaan halaman rumahnya. Memang sudah banyak yang berubah. Rumpun bambu pun menjadi bertambah gelap. Pohon-pohon perdu banyak berserakkan di mana-mana. Daun-daun kering di kebun belakang teronggok di bawah tanaman empon-empon yang daunnya mulai menguning.

“Tidak ada yang memelihara dengan baik, paman” desis Wikan.

“Tentu ibumu tidak sempat melakukannya, sementara Wiyati lebih sering berada di biliknya sambil merenungi nasibnya yang buram meskipun nasib itu ditulisnya dengan tangannya sendiri”

“Ya paman”

“Sedangkan para pembantu tidak begitu bersungguh-sungguh merawat halaman dan kebunmu ini”

Ki Mina mengangguk-angguk. Rumah itu memang memerlukan Wikan. Jika kebun dan halamannya saja tidak terawat dengan baik, maka sawah, ladang dan pategalannya pun tentu mengalami keadaan yang sama. Bagaimanapun juga tentu ada bedanya dengan digarap atau setidak-tidaknya diawasi oleh orang yang mengerti tentang pekerjaan yang sedang diawasinya itu.

Ketika malam turun, maka Ki Mina, Nyi Mina, Wikan dan seisi rumah itu pun telah berkumpul untuk makan malam. Wuni dan suaminya masih juga berada di rumah itu. Untuk mengawani Nyi Mina dan Ki Mina, Wuni dan suaminya akan bermalam juga di rumah ibunya.

Sambil makan malam, maka banyak persoalan yang mereka bicarakan. Tentang sawah, ladang, pategalan serta halaman rumah yang menjadi seperti padang perdu.

“Rumah ini sangat memerlukan Wikan” berkata Nyi Purba.

-oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 8

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s