TT-06


kembali | lanjut

TT-06WIKAN memang tidak menduga sebelumnya, bahwa Murdaka akan kehilangan kendali. Tetapi Wikan masih mencoba untuk mengatasinya dengan cara yang terbaik.

Ketika kemudian Murdaka melepaskan ilmu puncaknya, maka Wikan tidak berniat membenturkan ilmu puncaknya. Tetapi Wikan berusaha untuk meloncat, menghindari garis serangan ilmu puncak Murdaka.

Seleret sinar putih buram meluncur dari tangan Murdaka. Tetapi serangan itu tidak mengenai Wikan yang sempat mengelak.

Namun yang terjadi sangat mengejutkan. Beberapa orang yang berdiri di pinggir arena itu telah disambar oleh serangan ilmu puncak yang dilepaskan oleh Murdaka.

Tiga orang cantrik pun telah terlempar dan jatuh terpelanting di tanah.

Untunglah jarak mereka tidak terlalu dekat. Sementara itu, mereka adalah para cantrik dari tataran terakhir pula, sehingga daya tahan tubuh mereka sudah meningkat semakin tinggi. Apalagi mereka sempat melihat Wikan menghindar ketika seleret sinar menyambarnya, sehingga mereka memang sudah menduga, bahwa serangan itu akan sampai kepada mereka. Karena itu, mereka pun telah berusaha berkisar dari tempat mereka berdiri serta meningkatkan daya tahan tubuh mereka.

Meskipun demikian, kekuatan ilmu puncak Murdaka itu masih juga berakibat buruk bagi mereka. Tiga orang cantrik itu  pun kemudian telah mengerang kesakitan.

Namun nampaknya Murdaka tidak menyadari peristiwa itu. Ia masih saja berusaha untuk mengetrapkan ilmu puncaknya.

Namun Wikan tidak mau membiarkannya menyakiti beberapa orang cantrik lagi. Tiba-tiba saja Wikan pun telah menyentuh simpul-simpul syaraf di sebelah kanan dan kiri dadanya dengan jari-jemarinya sambil menyilangkan tangannya.

Dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan gerak Murdaka, Wikan telah melontarkan ilmu puncaknya. Tetapi Wikan tidak mempergunakan Murdaka sebagai sasarannya. Wikan telah membidik dahan sebatang, pohon yang tumbuh di halaman, tidak jauh dari arena pertarungan itu.

Ketika Wikan menghentakkan tangannya, maka seleret sinar putih yang jernih telah meluncur dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata.

Pangkal dahan kayu yang besar itu seakan-akan telah meledak. Kemudian terdengar suaranya berderak keras. Dahan kayu itu pun kemudian patah dan runtuh di tanah.

Tiba-tiba saja halaman padepokan itu menjadi hening. Semua orang yang ada di halaman itu telah dicengkam oleh serangan Wikan yang telah mematahkan dahan kayu yang besar itu.

Murdaka pun terkejut pula. Jantungnya bahkan terasa seakan-akan berhenti berdetak. Ia tidak mengira, bahwa Wikan mampu melakukannya jauh lebih baik dari yang dapat dilakukannya. Jika saja Wikan tidak membidik dahan kayu itu, dan membidik kepalanya, maka kepalanyalah yang akan meledak dan pecah berantakan.

Murdaka berdiri bagaikan patung. Sementara itu, beberapa orang cantrik segera menyadari keadaan tiga orang kawannya yang terpelanting jatuh itu.

Untunglah bahwa kemampuan Murdaka masih belum setinggi kemampuan Wikan. Jika saja Wikan yang melakukannya, maka ketiga orang cantrik itu tentu sulit untuk dapat bertahan hidup.

Ki Margawasana masih belum beranjak dari tempatnya. Namun sambil menarik nafas panjang, ia pun berkata di dalam hatinya. “Untunglah bahwa Wikan masih mampu mengendalikan dirinya, sehingga tidak terjadi bencana yang lebih buruk lagi”

Dalam pada itu, Murdaka pun kemudian telah menganggukkan kepalanya dalam sekali kepada Wikan. Kemudian kepada Ki Parama, Ki Rantam, Ki Windu dan yang terakhir kepada gurunya, Ki Margawasana.

“Aku mohon ampun guru. Ternyata aku adalah seorang murid yang tidak berharga sama sekali. Aku telah digelitik oleh perasaan dengki sehingga aku telah tidak mampu lagi menahan diri”

Ki Margawasana melangkah mendekatinya sambil berkata. “Nah, apakah kau sudah puas?”

“Aku mohon ampun guru”

“Aku menyadari, bahwa sebelum kau melihat kenyataan ini, maka kau tidak akan meyakini kebenaran penilaianku terhadap Wikan. Nah, sekarang kau sudah melihat kenyataan ini”

“Ya, guru”

“Bagaimana pendapatmu sekarang?”

“Aku yakini, aku bersalah. Aku tidak melihat ke kedalaman kemampuan Wikan. Aku hanya melihat pada permukaannya saja”

“Baiklah. Aku harap, sekarang sudah tidak ada persoalan lagi diantara kalian. Aku ingin murid-muridku hidup rukun dengan hati terbuka. Menerima kenyataan tentang dirinya dan tentang saudara-saudaranya. Meskipun Wikan sudah membuktikan kelebihan, namun seorang yang masih mengeraskan hatinya pada sikapnya, masih juga dapat mencari kesalahan kepada orang lain. Mereka yang tidak mau melihat kenyataan dapat saja mengatakan bahwa aku memberikan waktuku lebih banyak bagi Wikan daripada yang lain. Tetapi bukankah kita semuanya melihat apa yang terjadi di sini?”

“Ya, guru”

“Jika Wikan lebih banyak berada di sanggar itu adalah pertanda bahwa ia adalah seorang murid yang rajin. Ia mengulangi dan mengulangi setiap unsur-unsur baru yang aku berikan kepada kalian, sehingga Wikan menjadi lebih baik dari kalian. Sehingga ia berada di depan”

Dalam pada itu, Ki Mina dan Nyi Mina yang pergi ke rumah nyi Nastiti, telah menempuh jalan panjang. Mereka sudah menjadi semakin dekat dengan tujuannya ketika matahari menjadi semakin rendah. Namun ketika senja turun, mereka baru memasuki jalan bulak yang langsung menuju ke rumah Nyi Nastiti.

“Kita akan sampai ke rumah mbokayu setelah malam turun” berkata Nyi Mina.

“Ya” Ki Mina mengangguk-angguk. “mungkin akan mengejutkannya”

Sebenarnyalah, mereka baru memasuki padukuhan tempat tinggal Nyi Nastiti setelah lewat senja. Lampu-lampu minyak sudah nampak dinyalakan disetiap rumah. Bahkan pintu-pintu rumah pun sudah ditutup rapat.

“Sepi sekali. Bukankah senja baru saja lewat” desis Ki Mina.

“Ya. Biasanya juga tidak sesepi ini. Ketika beberapa waktu yang lalu kita menengok Yu Nastiti, padukuhan ini terasa cukup ramai”

“Itu sudah lama terjadi. Bukankah sudah agak lama kita tidak menengok Yu Nastiti?”

Keduanya terdiam. Mereka melihat beberapa orang berdiri di pinggir jalan. Agaknya mereka berada di depan gardu yang berada tidak terlalu jauh dari pintu gerbang.

“Beberapa orang berada di depan gardu” desis Nyi Mina.

“Nampaknya sesuatu telah terjadi” sahut Ki Mina.

“Ya. Mudah-mudahan kedatangan kita tidak menimbulkan salah paham”

Keduanya pun kemudian terdiam.

Namun ketika mereka berjalan lewat di depan gardu yang diterangi oleh lampu minyak itu, seorang telah menghentikannya.

“Tunggu, Ki Sanak” berkata seorang laki-laki yang masih terhitung muda.

Ki Mina dan Nyi Mina pun berhenti. Sinar lampu minyak di gardu itu menyoroti wajah mereka. Keduanya yang sudah ubanan itu nampak letih dan kusut setelah menempuh perjalanan panjang.

“Maaf Ki Sanak” berkata orang itu pula. “siapakah kalian berdua dan kenapa lewat senja kalian berjalan di jalan padukuhan ini?”

“Namaku Mina, Ki Sanak. Dan ini adalah isteriku”

“Kalian akan pergi ke mana?”

“Kami akan pergi ke rumah saudara kami yang tinggal di padukuhan ini?”

“Siapa nama orang yang kalian cari itu?”

“Ki Leksana. Nama kecil isterinya Nastiti. Nyi Nastiti. Tentu saja sekarang ia dipanggil Nyi Leksana”

Orang yang bertanya itu pun berpaling kepada kawan-kawannya yang melangkah mendekat. Seorang diantaranya berkata. “Apakah kau masih kerabat Ki Leksana?”

”Ya, Ki Sanak. Nyi Leksana itu adalah kakak perempuanku. Kakak kandungku” sahut Nyi Mina.

Orang itu pun kemudian berkata kepada seorang anak muda. “Antar keduanya ke rumah Ki Leksana”

“Baik, paman”

Kepada Ki Mina dan Nyi Mina anak muda itu berkata. “Marilah Ki Sanak”

Ki Mina dan Nyi Mina pun hampir bersamaan menjawab. “Terima kasih, Ki Sanak”

Ki Mina dan Nyi Mina menyadari, bahwa perintah untuk mengantar mereka itu bukan semata-mata karena keramahan penghuni padukuhan itu. Tetapi agaknya juga untuk membuktikan, apakah benar keduanya akan mengunjungi Ki Leksana.

“Apakah Ki Sanak pernah mengunjungi Ki Leksana?” bertanya anak muda itu.

“Pernah. Meskipun jarang-jarang sekali” jawab Nyi Mina.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Agaknya ia pun ingin membuktikan kebenaran pengakuan Nyi Mina itu. Anak muda itu sengaja berjalan di belakang. Ia ingin tahu, apakah kedua orang suami isteri itu benar-benar dapat menemukan rumahnya sesuai dengan pengakuan mereka, bahwa mereka pemah mengunjungi rumah itu.

Akhirnya anak muda itu harus percaya. Ki Mina dan Nyi Mina  pun langsung menuju ke rcgol halaman rumah Ki Laksana. Tetapi anak muda itu tidak segera meninggalkan mereka. Ia ikut pula memasuki regol halaman dan kemudian mengantar mereka sehingga Nyi Mina itu mengetuk pintu rumah itu.

“Siapa?” terdengar seseorang bertanya di dalam. Suara seorang perempuan.

“Aku, yu” jawab Nyi Mina.

“Siapa?”

“Mina”

“Mina. Kaukah itu?”

Terdengar langkah tergesa-gesa ke pintu. Sejenak kemudian, maka pintu itu pun terbuka.

Nyi Leksana tertegun sejenak. Namun kemudian wajahnya menjadi cerah.

“Adi Mina berdua. Marilah. Silahkan masuk” Kedatangan Ki Mina dan Nyi Mina ternyata membuat seisi rumah itu menjadi gembira. Ki Leksana pun kemudian menemui mereka pula sambil tersenyum-senyum. Wajahnya pun nampak ceria.

Dua orang anak laki-laki remaja pun berlari-lari pula dari belakang sambil berkata nyaring. “Paman, bibi”

Sekeluarga mereka menemui Nyi Mina dan Ki Mina di ruang dalam. Di sebuah amben bambu yang agak besar.

“Kalian selamat di perjalanan, adi berdua” bertanya Ki Leksana.

“Selamat kakang. Bukankah kakang sekeluarga baik-baik saja selama ini?”

“Kami baik-baik saja adi” sahut Ki Leksana. Namun kemudian ia pun bertanya. “Siapa yang ada di luar?”

“Seorang anak muda yang mengantar kami dari gardu di dekat gerbang padukuhan kakang”

Ki Leksana pun kemudian bangkit berdiri dan menjenguk keluar. “Mari ngger. Silahkan masuk. Mereka adalah kerabat sendiri”

“Terima kasih Ki Leksana. Aku sekedar mengantar kedua orang tamu Ki Leksana”

“Duduklah sebentar”

“Terima kasih. Aku akan segera kembali ke gardu”

“Siapa saja yang berada di gardu?”

“Ada beberapa orang Ki Leksana”

“Sebenarnya aku juga ingin pergi ke gardu”

“Sudahlah. Biarlah yang masih lebih muda sajalah yang turun ke gardu-gardu malam ini, Ki Leksana”

“Terima kasih atas kepedulian kalian semua terhadap umurku yang merambat terus. Tetapi jika diperlukan aku dapat juga membantu, meskipun hanya sekedar berlari-larian”

Anak muda itu tertawa. Katanya. “Kami yang muda-muda ini masih cukup banyak. Biarlah Ki Leksana tinggal di rumah saja. Percayakan segala sesuatunya kepada kami”

“Baik, baik, ngger. Aku percaya bahwa kalian akan dapat mengatasi persoalan yang betapa pun rumitnya”

“Sekarang, aku minta diri” berkata anak muda itu kemudian. Sambil turun kehalaman anak muda itu berpesan. “Hati-hati, Ki Leksana. Tutup saja pintu rumah ini”

“Baik, baik, ngger”

Demikian anak muda itu melangkah meninggalkan pintu rumahnya, Ki Leksana pun segera menutup pintu rumahnya.

“Ada apa sebenarnya di padukuhan ini, kakang?“ bertanya Nyi Mina.

Ki Leksana pun kemudian duduk kembali disebelah isterinya. Katanya. “Padukuhan ini memang sedang dicengkam ketegangan”

“Kenapa?”

“Lima hari yang lalu, Ki Bekel menerima sepucuk surat yang isinya, sekelompok orang akan datang ke padukuhan ini. Mereka minta disediakan barang-barang berharga dan uang. Meskipun mereka tidak menyebutkan apa saja yang mereka inginkan secara terperinci, namun surat itu telah membuat seisi padukuhan ini gelisah”

Ki Mina dan Nyi Mina mengangguk-angguk. Dengan nada berat Ki Mina pun berkata. “Tetapi agaknya penghuni padukuhan ini tidak akan menyerah begitu saja”

“Ya. Tetapi itu pulalah yang membuat aku sebenarnya menjadi cemas. Yang membuat surat itu ternyata orang yang menamakan dirinya Palang Waja. Nah, kau tentu sudah mendengar nama Palang Waja”

”Palang Waja” sahut Ki Mina dan Nyi Mina hampir berbareng.

“Ya“ Nyi Leksanalah yang menyahut. “agaknya yang membuat surat itu bukan orang yang sekedar mengaku-aku. Tentu tidak ada orang yang berani mengaku bergelar Palang Waja kecuali Palang Waja yang sebenarnya. Apalagi mengaku bernama Palang Waja, sedangkan menyebut nama itu pun seseorang merasa lidahnya akan terbakar”

“Ya, mbokayu” Nyi Mina mengangguk-angguk.

“Nah, jika surat Palang Waja itu dibuat bukan karena sekedar tangannya menjadi gatal, tetapi ia bersungguh-sungguh, maka persoalannya akan menjadi sangat gawat” berkata Ki Leksana selanjutnya.

“Tetapi orang-orang padukuhan itu justru mempersilahkan kakang untuk berada di rumah saja”

“Aku tidak pernah menunjukkan kepada mereka dan seluruh isi padukuhan ini, bahwa aku dan mbokayumu memiliki sedikit kemampuan olah kanuragan. Kami datang sebagai sepasang petani dan apa yang kami lakukan disini adalah sebagaimana keluarga seorang petani kebanyakan. Jika kami menuntun anak-anak kami dalam olah kanuragan, maka kami selalu melakukannya di tempat tertutup. Kami pun selalu berpesan kepada anak-anak kami, agar mereka tidak membocorkan rahasia itu kepada siapapun. Juga kepada kawan-kawan mereka. Nampaknya anak-anak kami adalah penurut, sehingga rahasia kami itu tetap terselubungi. Sebenarnyalah kami ingin benar-benar menyimpan senjata-senjata kami”

Ki Mina dan Nyi Mina mengangguk-angguk. Namun Ki Mina pun kemudian bertanya. “Tetapi bagaimana dengan Palang Waja?“

“Itulah yang membuat kami menjadi bimbang. Jika sekali kami muncul, maka kami tidak akan pernah dapat bersembunyi lagi. Maka kami pun akan selalu terlibat lagi dalam persoalan yang sudah kami jauhi. Pertarungan demi pertarungan. Sementara itu kami menjadi semakin tua. Sebenarnyalah kami ingin hidup dengan tenang seperti kebanyakan orang. Keluarga kami ingin hidup dalam suasana yang tentram dan tenang. Tanpa sikap bermusuhan dan tanpa kekerasan.”

Ki Mina mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya. “Tetapi bagaimana dengan para penghuni padukuhan ini, kakang? Apakah mereka bertekad untuk melawan kekuatan Palang Waja? Bahkan mungkin orang yang berilmu tinggi diantara gerombolan itu bukan hanya Palang Waja sendiri. Sementara itu, agaknya orang-orang padukuhan ini memang bertekad untuk melawan”

Ki Leksana menarik nafas panjang. Sementara Nyi Leksana mengangguk sambil menjawab. “Ya. Orang-orang padukuhan ini memang bertekad untuk melawan. Ki Bekel dan Ki Jagabaya adalah orang-orang yang sangat berani. Mereka mempunyai landasan kemampuan dalam olah kanuragan. Tetapi tentu masih belum sejajar dengan tataran kemampuan Palang Waja. Dan mungkin benar bahwa diantara gerombolan Palang Waja ada orang-orang yang juga berilmu tinggi”

“Apakah Ki Bekel dan Ki Jagabaya belum pernah mendengar nama Palang Waja?“

“Sudah. Menurut pendengaranku, Ki Bekel dan Ki Jagabaya tahu bahwa Palang Waja adalah orang yang sangat di takuti. Tetapi Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah memberikan dorongan kepada rakyatnya untuk bangkit. Menurut Ki Bekel, sekali mereka menyerah, maka padukuhan ini akan dijadikan sapi perahan oleh Palang Waja sebagaimana beberapa padukuhan yang lain, yang kata orang juga menjadi ladang yang subur bagi Palang Waja dan gerombolannya menjadi semakin besar. Tetapi sebaliknya, justru karena gerombolan Palang Waja menjadi semakin besar, maka mereka memerlukan ladang yang lebih luas”

“Jika rakyat padukuhan ini siap untuk melawan gerombolan Palang Waja, apakah bukan berarti bahwa korban akan berjatuhan? Seandainya keberanian rakyat padukuhan ini tidak tergoyahkan oleh korban yang berjatuhan, apakah pada akhirnya rakyat padukuhan ini mampu mengusir gerombolan itu? Jika tidak, maka korban itu akan menjadi korban yang sia-sia. Yang tinggal justru akan mengalami perlakuan yang sangat buruk pula, karena diantara gerombolan Palang Waja tentu ada juga yang akan menjadi korban meskipun tidak seimbang dengan korban yang jatuh diantara rakyat padukuhan ini”

“Itulah yang membuat kami bimbang” desis Ki Leksana. “Kami tentu tidak akan sampai hati melihat korban yang berjatuhan tanpa berbuat apa-apa. Tetapi jika kami turun ke medan, maka seperti yang aku katakan, maka kehidupan kami akan terlempar kembali ke dalam dunia kekerasan yang sudah berniat kami tinggalkan”

“Bagaimana kalau kakang membantu penghuni padukuhan ini dengan sesinglon”

“Maksudmu?“

“Dengan tidak menunjukkan siapakah sebenarnya kakang berdua. Misalnya dengan memakai kedok atau tutup wajah, atau apa saja. Sementara itu, mbokayu jangan berbicara sama sekali, agar tidak diketahui bahwa ia seorang perempuan”

Ki Leksana dan Nyi Leksana termenung sejenak. Pendapat Ki Mina itu sempat menyentuh hati mereka.

“Mbokayu” berkata Nyi Mina kemudian. “Bukankah pendapat kakang Mina itu menarik? Kakang dan mbokayu mudah-mudahan dapat menolong rakyat padukuhan ini tanpa harus terlempar kembali ke dalam dunia kekerasan yang sudah kakang dan mbokayu hindari”

Nyi Leksana pun mengangguk-angguk. Katanya. “Sesuatu yang memang mungkin kami lakukan, karena kami akan dikejar-kejar oleh perasaan bersalah jika rakyat padukuhan ini banyak yang menjadi korban keganasan Palang Waja tanpa berbuat apa-apa”

“Baiklah” berkata Ki Leksana. “Aku akan memikirkannya”

Namun kemudian, Nyi Leksana pun berkata. “Tetapi baiklah nanti saja kita berbincang. Aku akan pergi ke dapur”

“Sudahlah mbokayu, jangan merepotkan”

“Kalian adalah tamu yang datang dari jauh. Kalian tentu haus dan barangkali juga lapar”

Ketika kemudian Nyi Leksana pergi ke dapur, Nyi Mina pun bangkit pula mengikuti Nyi Leksana.

Tetapi Nyi Leksana pun mencoba mencegahnya. “Kaulah tamu yang akan disuguhi minuman hangat. Duduk sajalah”

“Tidak mbokayu. Sejak kecil aku selalu ikut mbokayu di belakang. Bukan saja pergi ke dapur, tetapi juga saat mbokayu pergi ke pakiwan”

“Ah, kau. Anak nakal. Bahkan ketika aku pergi berguru, kau pun ikut-ikutan saja.,”

Keduanya tertawa. Tetapi Nyi Mina tetap saja ikut pergi ke dapur.

Di ruang dalam Ki Mina sempat berbincang kecuali dengan Ki Leksana juga dengan kedua anak-anaknya yang sudah remaja. Selain kegembiraan anak-anak yang memancar dari wajah mereka, juga terbayang, pula kecerdasan dan ketajaman panggraita mereka. Sehingga keduanya berpikir lebih dewasa dari umur mereka yang sebenarnya.

“Aku memang mencoba menyalurkan kesenangan bermain mereka di sanggar” berkata Ki Leksana. “ternyata keduanya menyukainya. Tetapi aku selalu berpesan kepada mereka, agar mereka tidak menunjukkan kemampuan mereka kepada siapa pun juga. Diantara kawan-kawan mereka, keduanya tidak menunjukkan kelebihan apa-apa. Sehingga diantara kawan-kawan mereka, keduanya tidak menarik perhatian”

Ki Mina mengangguk-angguk. Ternyata bahwa jika mendapat kesempatan keduanya terhitung banyak berbicara pula.

Mereka bertanya-tanya tentang banyak hal yang belum mereka ketahui.

“Kami jarang sekali bepergian, sehingga yang kami ketahui hanya lingkungan padukuhan dan kademangan ini saja” berkata seorang diantara mereka.

Ki Mina tertawa. Katanya. “Nanti. Nanti jika kalian sudah dewasa, kalian akan banyak mendapat kesempatan”

Ki Leksana pun tersenyum pula. Katanya. “Nah, bukankah yang dikatakan paman sama seperti yang aku katakan”

Sementara mereka berbincang kesana-kemari, Nyi Leksana dan Nyi Mina pun telah masuk ke ruang dalam pula sambil membawa minuman hangat. Ketela pohon yang direbus dengan legen yang sudah dihangatkan pula.

“Kami tidak punya yang lain. Besok aku akan menyembelih dua ekor ayam untuk menjamu kalian” berkata Nyi Leksana sambil tertawa.

“Ah, jangan mbokayu. Kedatangan kami jangan menyebabkan kematian, meskipun hanya dua ekor ayam.

Yang ada di ruang itu pun tertawa.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah menghirup minuman hangat. Bukan hanya tamunya saja, tetapi juga Ki Leksana dan Nyi Leksana. Bahkan kedua orang anak Ki Leksana. Bahkan kedua anak itu masih juga makan ketela pohon yang direbus dengan legen begitu lahapnya.

“Kalian ini masih juga belum bosan. Sore tadi kalian sudah menghabiskan ketela rebus legen ini semangkuk. Sekarang kalian masih saja makan tidak henti-hentinya” berkata Nyi Leksana.

“Itu pertanda kalau keduanya sehat” sahut Nyi Mina.

“Mereka berdua makan banyak sekali. Tetapi mereka tidak menjadi gemuk” sahut Nyi Leksana.

“Bukankah mereka banyak bergerak. Di sanggar mereka memerlukan banyak dukungan makan dan minum”

Kedua anak Ki Leksana itu hanya tersenyum-senyum saja sambil mengunyah ketela yang direbus dengan legen sehingga terasa manis sekali.

Namun selagi mereka sedang minum minuman hangat, sehingga Ki Mina dan Ni Mina masih belum sempat mengatakan keperluannya, tiba-tiba saja terdengar suara kentongan dalam irama titir.

Ki Leksana pun menarik nafas panjang. Katanya. “Ternyata mereka datang malam ini. Setelah lima malam para penghuni padukuhan ini menunggu, hari ini, tepat pada saat kalian berdua datang, Palang Waja itu pun datang pula”

“Ya, kakang. Tetapi bukankah orang-orang padukuhan ini tidak akan mencurigai kami?”

“Tidak. Tentu tidak. Bukankah mereka tahu, bahwa kalian berdua pergi menemui kami di rumah ini”

Suara titir itu pun terdengar semakin merebak. Semua kentongan yang ada di padukuhan itu telah dibunyikan.

Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang disebut oleh Ki Leksana sebagai orang-orang yang berani, bersama beberapa orang bebahu telah berada di banjar. Anak-anak muda pun segera mempersiapkan diri di gardu-gardu, sedangkan sekelompok yang lain berada di banjar pula. Sedangkan mereka yang sedang tidak bertugas malam itu, telah terbangun dan berlari-larian keluar dari rumah mereka dengan membawa senjata apa saja yang mereka miliki. Bahkan ada yang membawa linggis, parang dan kapak pembelah kayu dan selarak pintu yang terbuat dari kayu nangka yang sudah tua.

Sementara itu, Ki Leksana dan Nyi Leksana nampak menjadi gelisah.

“Aku tidak tahu, manakah yang terbaik aku lakukan” desis Ki Leksana. “Apakah aku harus tetap bersembunyi di rumah ini dan membiarkan rakyat padukuhan ini dibantai oleh Palang Waja dan para pengikutnya, atau turun ke medan dengan kemungkinan untuk memasuki babak kehidupan yang lama yang selama ini telah aku tinggalkan”

”Seperti yang aku katakan, kakang. Kakang hendaknya bersembunyi di balik kedok atau penutup wajah apa saja. Ikat kepala misalnya”

“Apakah kita akan mencoba, kakang” desis Nyi Leksana.

“Baiklah, kita akan mencobanya. Tetapi kau harus membongkar geledeg kayu itu untuk mencari pakaian khususmu”

“Tidak perlu” sahut Nyi Mina. “pakai saja pakaian kakang. Bukankah kakang mempunyai celana hitam dan baju lurik hitam? Kakang punya baju lurik ketan ireng. Atau lurik apa pun yang berwarna gelap”

“Tetapi aku harus memakai ikat kepala?”

“Ya”

“Baiklah. Kita akan mencobanya”

“Jika kakang dan mbokayu tidak berkeberatan, biarlah kami ikut serta. Memang mungkin diantara pengikut Palang Waja ada orang yang berilmu tinggi, yang sangat berbahaya bagi orang orang padukuhan ini. Mereka akan dapat membantai anak-anak muda itu seperti menebas batang ilalang”

“Jadi kalian akan ikut?” bertanya Ki Leksana.

“Jika kakang dan mbokayu tidak berkeberatan”

“Baiklah, ikutlah bermain hantu-hantuan”

“Tetapi bagaimana dengan anak-anak?” bertanya Nyi Mina.

”Mereka dapat bermain hantu-hantuan di rumah” jawab Ki Leksana.

Tetapi yang tertua diantara mereka berkata. “Aku ikut bermain hantu-hantuan itu ayah”

“Jangan sekarang. Kalian tinggal di rumah. Hati-hati. Ingat, jangan kau tunjukkan kepada siapa pun bekal kemampuan kalian, kecuali jika ada satu dua orang perampok memasuki rumah ini. Ambil tombak pendek kalian di sanggar”

“Tombak pendek?” bertanya Nyi Mina.

“Ya. Aku juga tidak tahu, kenapa keduanya lebih senang mempergunakan tombak pendek. Aku sudah menggiring mereka untuk mempergunakan jenis-jenis senjata yang lain. Bahkan senjata apa saja yang ada. Tetapi sampai sekarang, jika ada kesempatan mereka merasa lebih mapan dengan tombak pendek mereka.”

Demikianlah, maka Ki Leksana, Nyi Leksana, Ki Mina dan Nyi Mina telah mengenakan pakaian yang serba gelap. Mereka menutup wajah-wajah mereka dengan ikat kepala, sehingga yang nampak hanya mata mereka saja.

“Ayah dan ibu benar-benar mirip hantu” berkata anak-anak mereka sambil tertawa.

“Bagaimana dengan paman dan bibimu?” bertanya ibunya.

Anak-anak itu tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja tertawa tertahan-tahan.

“Nah” berkata ayahnya. “kalian tunggui rumah. Hati-hatilah, jangan kemana-mana. Dalam keadaan seperti ini akan mudah sekali terjadi salah paham”

“Ya, ayah”

“Kami, ayah dan ibu serta paman dan bibimu akan melihat suasana. Jika tidak perlu, kami tidak akan ikut serta turun ke medan. Tetapi kami tidak akan dapat membiarkan orang yang bernama Palang Waja itu membantai rakyat padukuhan ini”

“Baik, ayah” jawab mereka hampir berbareng. Keempat orang yang sudah menutup wajah mereka itu pun segera keluar dari pintu butulan. Anak-anak Ki Leksana itu pun segera menyelarak pintu butulan itu. Sementara itu Ki Mina dan Nyi Mina hanya dapat mengelus dada. Mereka melihat anak-anak itu dengan bangga. Apalagi setelah keduanya menggenggam landean tombak pendek di tangan mereka.

Sedangkan mereka berdua selama ini tidak dikurniai seorang anakpun. Namun mereka pun segera teringat kepada Tatag. Mereka sudah menganggap Tatag sebagai cucu mereka sendiri. Meskipun mereka tidak mempunyai anak kandang, tetapi mereka menemukan seorang anak perempuan, Tanjung dan seorang cucu, Tatag.

Sejenak kemudian, maka keempat orang itu sudah berada tidak jauh dari gerbang padukuhan tanpa dilihat oleh seorangpun. Meskipun padukuhan itu menjadi ribut dengan kesiagaan anak-anak muda dan bahkan setiap laki-laki yang masih merasa mampu ikut mempertahankan hak mereka, tetapi keempat orang itu berhasil menyusup diantara keributan itu tanpa diketahui oleh siapa pun sampai di halaman terdekat dengan pintu gerbang. Mereka menyamarkan diri diantara gerumbul-gerumbul pepohonan di halaman itu. Namun dari tempat mereka bersembunyi, mereka dapat melihat pintu gerbang padukuhan yang dijaga oleh puluhan laki-laki bersenjata.

“Benturan kekerasan itu tentu terjadi di luar pintu gerbang, kakang” berkata Ki Mina.

“Ya. Anak-anak muda yang hanya mengandalkan keberanian itu tentu tidak akan membiarkan para perampok itu memasuki pintu grebang”

“Tetapi darimana mereka tahu, bahwa para perampok itu sudah datang? Darimana mereka mendapat isyarat untuk memukul kentongan dengan irama titir?”

“Aku tidak tahu, adi. Tetapi agaknya Palang Waja sendirilah yang mengirimkan satu atau dua orang pengikutnya untuk memberitahukan bahwa mereka akan datang malam ini. Maksudnya agar apa yang dimintanya sudah disiapkan”

Ki Mina mengangguk-angguk. Katanya. “Ya. Agaknya memang demikian. Tetapi anak-anak muda itu menyambutnya dengan suara kentongan dalam irama titir”

“Palang Waja akan dapat menjadi marah karenanya”

“Tentu. Palang Waja tentu menjadi marah”

“Bekel kita memang masih terhitung muda“ sela Nyi Leksana.

“Bahkan Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu. Ki Kebayan yang sudah lebih tua dari mereka agaknya masih juga berdarah panas” sahut Ki Leksana.

“Tetapi sebenarnyalah mereka tidak tahu pasti, seberapa besar kekuatan gerombolan Palang Waja yang sebenarnya. Bahkan mereka tidak tahu, seberapa tinggi tingkat kemampuan Palang Waja dan barangkali beberapa orang kawannya yang bergabung kepadanya, sehingga gerombolan Palang Waja itu merupakan gerombolan yang sangat kuat”

Ki Mina dan Nyi Mina mengangguk-angguk. Namun Nyi Mina itu pun kemudian berkata. “Apakah tidak sebaiknya kita berada di luar dinding padukuhan ini?”

“Aku sependapat” sahut Nyi Leksana. Demikianlah, maka mereka berempat kemudian dengan tidak diketahui oleh siapa pun juga meloncati dinding padukuhan dan berlindung di balik rimbunnya pohon perdu.

Beberapa saat keempat orang itu pun menunggu. Seperti yang mereka duga, maka Ki Bekel sendiri bersama Ki Jagabaya telah siap menyongsong kedatangan gerombolan Palang Waja di depan pintu gerbang padukuhan.

“Kita tidak akan membiarkan mereka menginjak bumi kita” berkata Ki Bekel dengan nada suara tinggi. “Kita akan mempertahankan hak kita sampai kemungkinan terakhir. Baru jika kita semuanya sudah mati, mereka akan dapat mengambil apa saja yang mereka inginkan di padukuhan ini”

Sesorah Ki Bekel benar-benar telah membakar jantung setiap laki-laki yang sudah berada di depan pintu gerbang padukuhan itu.

Agaknya Ki Bekel telah mengirimkan dua orang pengawas ke tengah-tengah bulak. Dua orang anak muda itu berlari-lari mendatanginya. Dengan nafas yang terengah-engah seorang diantara mereka berkata. “Benar Ki Bekel. Mereka benar-benar telah datang. Mereka sudah berada di tengah-tengah bulak.

“Berapa orang yang datang?”

“Banyak, Ki Bekel. Sehingga kami tidak sempat menghitung”

“Edan Palang Waja. Ia mengira kita akan menjadi ketakutan dengan ancaman-ancamannya. Tetapi kita tidak akan takut menghadapi mereka. Kita akan bertempur sampai orang terakhir atau sampai musuh kita yang terakhir terkapar mati”

“Kita akan bertempur sampai orang terakhir, Ki Bekel” teriak seseorang.

“Kita akan mempertahankan hak kita” sahut yang lain. Sedangkan yang lain lagi berteriak pula. “Jangan biarkan mereka menginjak bumi kita”

“Kita bunuh mereka semua”

“Bagus” teriak Ki Bekel. “Aku akan menghadapi Palang Waja itu sendiri. Jika setiap orang takut menyebut namanya, maka aku akan membunuhnya”

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut. Agaknya dengan Aji Sapta Prangungu, Palang Waja mendengar apa yang diteriakkan oleh Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu.

Palang Waja yang marah itu telah berteriak nyaring. Suaranya bagaikan menggetarkan langit. Bahkan batang-batang padi yang subur di sawah pun telah menjadi gemetar. Pepohonan berguncang dan daun-daun yang tidak lagi mampu berpegangan pada tangkainya telah berguguran.

“Apa yang terjadi” desis Ki Jagabaya.

Ki Bekel pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata. “Kekuatan iblis sedang menakut-nakuti kita. Tetapi kita tidak takut sama sekali”

Orang-orang yang berada di depan pintu gerbang itu pun diam bagaikan membeku. Teriakan itu sudah tidak terdengar lagi. Tetapi jantung mereka masih saja bergetar di dalam dada mereka.

Dalam pada itu, Ki Leksana pun berkata. “Aji Gelap Ngampar”

“Ya. Dengan demikian, Palang Waja seorang diri pun akan mampu melumpuhkan orang-orang sepadukuhan-dengan Aji Gelap Ngamparnya itu”

“Kita tidak akan membiarkannya” desis Nyi Leksana.

“Kita tunggu, apa yang akan dilakukan oleh Palang Waja”

“Tetapi Gelap Ngampar itu sudah meredam separo dari keberanian orang-orang padukuhan. Meskipun Ki Bekel masih berusaha membakar keberanian mereka”

“Kita harus berbuat sesuatu, sehingga Aji Gelap Ngampar itu tidak membuat anak-anak muda menjadi pingsan”

“Baiklah” berkata Ki Leksana. “Aku bawa serulingku. Seruling yang aku buat dari galih asem”

“Galih asem? Bagaimana kakang membuatnya” bertanya Nyi Mina.

“Aku memerlukan waktu yang lama sekali”

Nyi Mina mengangguk-angguk. Ia sadari, bahwa bukan waktu untuk membicarakan, bagaimana Ki Leksana membuat seruling dari galih asem yang kerasnya seperti besi. Bahkan besi dapat dilunakkan dengan api. Dicairkan dan dibentuk dengan cetakan tanah liat. Tetapi bagaimana dengan kayu galih asem.

Dalam pada itu, Ki Bekel masih berusaha untuk membesarkan hati orang-orangnya. Dengan lantang ia pun berkata. “Jangan mudah goyah menghadapi permainan iblis semacam itu. Itu hanya permainan semu. Tidak ada apa-apa yang terjadi sebenarnya. Jika kita tabah menghadapi permainan semu iblis itu, maka kita tidak akan terpengaruh”

Dalam pada itu, Palang Waja dan orang-orangnya pun sudah menjadi semakin dekat. Dengan Aji Sapta Pangrungu ia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Ki Bekel itu. Karena itu, kemarahannya pun menjadi semakin memanasi perasaannya.

Sekali lagi Palang Waja itu berteriak. Lebih keras dari yang pertama. Apalagi jaraknya menjadi semakin depat dengan gerbang padukuhan, sehingga kekuatan Aji Gelap Ngampar itu pun seakan-akan menjadi berlipat.

Jantung orang-orang yang berada di depan pintu gerbang padukuhan itu pun bagaikan telah rontok dari tangkainya. Getar yang datang gelombang demi gelombang telah mengguncang isi dada mereka. Bahkan Ki Bekel sendiri merasakan betapa dadanya menjadi panas dan sesak.

Namun dalam pada itu, selagi teriakan Palang Waja itu sedang mencengkam setiap jantung, terdengarlah suara seruling yang melengking tinggi. Suaranya yang lembut ngerangin itu bagaikan mengusap getar udara yang bergejolak. Dedaunan yang terguncang pun telah terdiam. Batang-batang padi yang gemetaran pun menjadi tenang.

Palang Waja pun terkejut bukan kepalang. Suara seruling itu mampu melunakkan Aji Gelap Ngamparnya. Bahkan mampu meredam kekuatan ilmu yang sangat dibanggakannya itu.

“Apakah ada murid iblis dari Brosot itu disini?“ bertanya Palang Waja itu kepada seorang yang berdiri di sebelahnya.

“Seruling Galih“ orang itu berdesis. Seorang yang rambutnya sudah ubanan, meskipun badannya masih nampak tegar. Matanya nampak liar di wajahnya yang keras bagaikan batu padas di lereng pegunungan.

“Ya. Seruling Galih” sahut seorang yang berperawakan pendek agak gemuk. “Bagai-mana mungkin disini ada seorang murid dari Perguruan di pesisir kidul itu”

“Menurut penilikan orang-orang kita sebelumnya, di padukuhan ini tidak ada orang yang perlu diperhitungkan. Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang sombong dan keras kepala itu tidak berarti apa-apa. Namun sekarang tiba-tiba saja muncul Seruling Galih itu di padukuhan ini”

“Suratmu itu, Palang Waja” berkata orang yang sudah ubanan dan bermata liar itu. “agaknya desas-desus tentang akan kedatanganmu disini telah didengar oleh Setan Pantai Selatan itu, atau muridnya, sehingga orang itu telah datang kemari”

“Baik. Bukankah aku tidak sendiri? Jika yang datang itu Iblis dari Pantai Selatan, maka aku akan menghancurkannya disini. Betapapun namanya diagungkan di daerah Selatan, tetapi bagiku ia bukan apa-apa. Aku sudah siap untuk menghadapinya. Yang lain, Ki Bekel dan para bebahu serta orang-orang yang menjadi gila itu aku serahkan kepada kalian. Orang-orangku akan membantai mereka bersama-sama dengan kalian”

“Hati-hatilah. Iblis dari Selatan itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Bukankah kau sudah merasakan betapa Aji Gelap Ngamparmu seakan-akan hilang begitu saja diserap oleh Aji Seruling Galihnya”

“Itu bukan ukuran. Ilmu pamungkasku bukan saja Aji Gelap Ngampar. Tetapi dengan kekuasaan ilmuku yang lain, iblis itu akan aku hancurkan”

Demikianlah, Palang Waja itu telah membawa orang-orangnya semakin dekat pintu gerbang padukuhan.

Dalam pada itu, Ki Bekel masih saja berusaha untuk membesarkan hati rakyatnya. Apalagi suara teriakan yang merontokkan jantung itu telah tidak terdengar lagi, terhisap oleh suara seruling yang melengking tinggi. Kemudian menukik merendah dan hilang bersama-sama gema teriakan yang menyakitkan itu.

“Nah, bukankah kita tidak apa-apa? Suara itu hanyalah suara gertakan yang tidak mengakibatkan apa-apa. Kita semuanya tidak terpengaruh oleh suara itu”

“Tetapi siapakah yang meniup seruling itu, Ki Bekel?”

Pertanyaan itu memang membingungkan Ki Bekel. Ia sama sekali tidak mengetahui, siapakah yang telah membunyikan seruling dengan nada tinggi melengking, namun kemudian menukik merendah, mengalun seperti semilirnya angin malam yang dingin, menghembus udara yang panas dan pengab.

“Entahlah” jawab Ki Bekel perlahan sekali. Hampir diluar sadarnya ia pun berdesis. “Suara itu tentu mengalun dari langit. Yang Maha Agung berniat menyelamatkan kita karena kita berada di pihak yang benar”

Dalam pada itu, anak-anak muda yang sudah mulai di rayapi kegelisahan karena suara teriakan yang telah meremas jantungnya itu, mulai bangkit lagi keberanian mereka. Mereka memang tidak tahu, darimana datangnya suara seruling itu. Rasa-rasanya suara itu melingkar-lingkar di udara, tidak jelas arah datangnya sebagaimana sudrij teriakan itu.

Namun suara seruling itu rasa-rasanya sebagai payung agung yang melindungi mereka saat panas yang terik membakar langit atau pada saat hujan yang sangat deras tertumpah.

Sesaat kemudian, Ki Bekel, Ki Jagabaya para bebahu dan laki-laki penghuni padukuhan itu pun melihat segerombolan orang berjalan di bulak panjang menuju ke pintu gerbang padukuhan mereka.

“Mereka telah datang” terdengar suara Ki Bekel. “memencarlah. Kita akan menahan mereka di luar pintu gerbang. Tidak seorang pun diantara mereka yang boleh masuk. Kita adalah yang handarbeni bumi ini. Karena itulah maka kita harus hangrukebi, kita harus membelanya sampai tarikan nafas kita yang terakhir”

Palang Waja yang berjalan di paling depan mempercepat langkahnya. Sementara laki-laki sepadukuhan yang masih merasa kuat untuk turun ke medan itu memencar membentuk garis pertahanan yang melebar, maka Palang Waja itu pun berhenti.

“Ki Bekel” terdengar suara Palang Waja bernada tinggi. “Jadi kau persiapkan orang-orangmu untuk melawan aku?”

“Ya” jawab Ki Bekel dengan berani. “kami akan mempertahankan hak kami”

“Kau tahu siapa aku?”

“Ya”

“Kau tahu, bahwa beberapa padukuhan yang lain tunduk kepada perintahku? Mereka telah menyediakan apa yang aku minta. Tidak satu pun padukuhan yang berani menentang kuasa Palang Waja. Disini, kau begitu sombong, mengerahkan rakyatmu untuk melawan aku. Apakah itu bukan berarti serangga menyurukkan dirinya sendiri kedalam nyala api di perapen”

“Apa pun yang kau katakan, tetapi kami tidak rela untuk menyerahkan sekeping uang, sehelai kain atau sebulir padi pun kepada kalian. Apalagi seekor kambing atau lembu. Kami akan mempertahankan apa yang kami punyai disini karena itu memang hak kami”

“Bekel edan. Kau tahu siapa aku? Kau tahu seberapa besar kuasaku?”

“Aku tahu. Tetapi kuasamu tidak akan sampai ke padukuhanku. Kamilah yang kuasa di rumah kami sendiri. Di kampung halaman kami. Tidak ada orang lain yang dapat mengganggunya”

“Kau sedang meracau, Ki Bekel. Lakukanlah sepuas-puasnya, karena sebentar lagi kau akan mati”

“Kematian tidak perlu ditakuti. Ia akan datang kapan pun waktunya datang. Tetapi maut itu tidak akan dapat dipaksakan jika Yang Maha Agung masih belum menghendaki”

“Tetapi malam ini nyawamu ada di tanganku. Kapan saja aku ingin merenggutnya, maka kau tidak akan dapat menghindarinya”

“Jadi kau merasa bahwa kesaktianmu sama dengan Tuhan Yang Maha Kuasa“

“Hanya orang yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri sepenuhnya sajalah yang menyebut nama itu. Tetapi aku percaya kepada diriku sendiri. Aku yakin akan apa yang aku lakukan tanpa menyandarkan diri kepada sia-papun. Jika gagal, maka akulah yang gagal. Jika berhasil, maka akulah yang berhasil”

“Kau sudah dipengaruhi oleh nafsu iblis”

“Nafsu ada didalam diriku sendiri. Segala macam nafsu. Sejak lahir kita sudah membawa di dalam diri kita, ketamakan, kedengkian, iri hati, kenistaan, marah, dan angkara murka. Tetapi juga belas kasihan dan cinta. Nah, sekarang yang kau lihat dipermukaan adalah nafsuku untuk menguasai kalian. Harta benda kalian dan nyawa kalian. Jika ada yang mencoba menghalangi, maka akan terungkit nafsu untuk membunuh”

“Kau sendirilah iblis itu . Karena itu, apa pun yang akan terjadi, kami akan melawanmu. Kami memang yakin bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa ada di pihak kami, apa pun lamarannya. Kami yakin akan dapat memusnakan kalian dan membebaskan padukuhan-padukuhan yang tidak mempunyai keberanian untuk menentang itu dari kuasa kegelapan yang membayangi hidup kalian”

“Jadi kau keraskan hatimu untuk menentang aku?”

“Kami sudah bertekad apa pun yang terjadi”

“Bagus” berkata Palang Waja. Lalu katanya kepada para pengikutnya. “bersiaplah anak-anak. Kali ini kita bertemu dengan seorang Bekel yang keras kepala”

Ki Bekel itu pun kemudian telah memberikan isyarat kepada rakyatnya untuk bersiap dengan mengangkat tombak pendeknya yang di ujungnya tersangkut kelebet kecil berwarna putih.

“Kau telah memberikan aba-aba untuk yang terakhir kalinya Ki Bekel”

“Sebentar lagi kalebet putih diujung landean tombakku itu akan menjadi merah, Palang Waja”

Palang Waja itu tertawa. Suara tertawanya semakin lama menjadi semakin keras. Udara pun mulai bergetar. Bahkan terasa getar suara tertawanya itu mulai menusuk dada, langsung membelit jantung.

Tetapi pada saat itu pula mulai terdengar suara seruling yang melengking dan melingkar-lingkar diudara itu. Sehingga malam yang mulai menjadi panas itu telah menjadi sejuk kembali.

“Setan Pantai Selatan. Seruling Galih. Kaukah itu?” teriak Palang Waja.

“Kau benar Palang Waja. Akulah orang yang disebut Seruling Galih itu. Aku lebih senang di sebut Seruling Galih daripada Setan Pantai Selatan”

“Tunjukkan wajahmu jika kau memang laki-laki”

“Sejak tadi aku disini Palang Waja. Apakah kau tidak melihatnya? Apakah kau sekarang sudah mulai menjadi rabun di malam hari”

“Keparat” geram Palang Waja yang melihat sosok tubuh yang berpakaian gelap berdiri diatas gerbang padukuhan.

Ki Bekel, Ki Jagabaya, para bebahu. dan rakyat padukuhan itu pun merasa heran pula bahwa tiba-tiba saja seseorang telah berdiri diatas pintu gerbang padukuhan mereka.

Ketika hampir serentak mereka berpaling karena tiba-tiba saja arah suara seseorang dapat mereka kenali, mereka melihat sosok orang yang selain berpakaian gelap juga menutup wajahnya dengan ikat kepala.

“Kenapa kau tutup wajahmu Seruling Galih? Apakah kau tidak mempunyai hidung lagi? Atau bibirmu sudah tertebas senjata, atau cacat apalagi yang membuat wajahmu seperti hantu”

Ki Leksana yang disebut Seruling Gali itu tertawa. Katanya. “Ya. Wajahku sudah berubah. Sejak aku mati dan hidup lagi, maka wajahku memang sudah menjadi seperti hantu”

“Kau masih juga senang membual. Kau kira anak-anak pun akan percaya bahwa kau sudah mati dan hidup kembali?”

Seruling Galih itu tertawa berkepanjangan. Suara tertawanya pun menggetarkan udara. Tetapi tidak menusuk ke setiap dada orang yang mendengarkannya.

Di tempat persembunyiannya Nyi Leksana berdesis perlahan. “Sudah aku peringatkan agar ia tidak tertawa seperti suara tertawa hantu itu. Anak-anaknya pun akan ketakutan mendengarnya”

Ki Mina dan Nyi Mina pun tertawa tertahan.

Sementara itu Ki Leksana pun berkata. “Palang Waja. Sudahlah, urungkan niatmu. Hidupmu tidak akan pernah merasa tenang jika kau masih menempuh jalan sesatmu itu. Seharusnya setelah kau menapak umurmu yang sudah lewat separo baya itu, kau masuki satu kehidupan yang tenang. Kau nikmati hubungan timbal bailik antara kau dengan lingkunganmu. Dengan alam yang kau huni. Sekali-kali sempatkan bermandi cahaya matahari pagi, atau menikmati indahnya cahaya bulan di malam hari”

“Tutup mulutmu Setan buruk. Kau tidak perlu sesorah disini. Pergi atau kau akan mati”

“Kau takut melihat kenyataan tentang dirimu yang gelisah sampai hari tuamu?”

“Diam” Palang Waja itu berteriak.

Seruling Galih itu tertawa pula. Katanya. “Sudahlah Palang Waja. Hentikan permainan kotormu itu. Yang kau lakukan sekarang ini sebaiknya sudah tidak kau lakukan lagi. Kau sudah menimbun harta benda yang kau jarah selama bertahun-tahun itu di dalam goa yang gelap. Barang-barang yang sebenarnya sangat berharga itu menjadi tidak berarti sama sekali. Kau tidak mau memanfaatkannya, karena kau tidak mau kehilangan permata sebutir kecil sebesar biji kemangi sekalipun. Kau justru masih saja memburu harta benda untuk kau timbun di dalam goa itu. Lalu untuk apa? Kau tidak dapat menikmatinya, sementara setiap kali kau korbankan jiwa pengikutmu untuk mendapatkannya. Kenapa kau tidak mencoba untuk hidup dalam kemewahan, karena kau sudah memiliki segala-galanya. Sebagian dapat kau hadiahkan kepada pengikut-pengikutmu agar mereka dapat hidup senang meskipun tidak semewah kau sendiri. Dengan demikian, maka kau akan dapat menikmati hasil jerih payahmu setelah bertahun-tahun kau bekerja keras dengan mempertaruhkan nyawamu”

“Cukup. Iblis dari Pantai Selatan. Kau kira kau memiliki wawasan yang lebih luas tentang kehidupan daripada aku? Kau kira kau dapat menggurui aku? Tidak. Kau tidak tahu apa yang tersimpan didalam dadaku. Kau tidak tahu rencanaku yang telah aku susun rapi bagi hari-hari tuaku”

“Umurmu tidak akan sampai tua, Palang Waja. Jika kau masih saja melakukan kegiatan gilamu, maka kau akan cepat mati”

“Tidak ada orang yang dapat membunuhku”

“Orang yang membunuhmu hanyalah lantaran. Tetapi kematianmu sudah ditentu-kan”

“Omong kosong” teriak Palang Waja. “aku dapat membunuh orang-orang padukuhan ini semuanya dalam waktu sekejap”

“Kau banggakan Aji Gelap Ngamparmu? Aji yang sekarang sudah menjadi semacam permainan kanak-kanak, karena para gembala pun sudah mampu menguasainya”

“Tutup mulutmu Setan Buruk. Aku akan segera membunuh orang-orang kademangan ini. Jika kau menghalangi, maka kaulah yang pertama-tama akan mati”

Palang Waja itu pun kemudian mengangkat tangannya sambil berteriak. “Bunuh semua orang tanpa kecuali”

Namun pada saat yang bersamaan, maka orang yang menutup wajahnya dengan ikat kepalanya itu pun segera meloncat turun. Sekali Seruling Galih itu berputar diudara. Kemudian dengan tangan yang mengembang, maka tubuhnya pun meluncur turun. Kedua kakinya dengan lunak menyentuh tanah tepat di depan Palang Waja.

“Minggirlah Ki Bekel. Biarlah aku selesaikan orang ini” berkata Seruling Galih.

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun Ki Bekel itu masih berkata. “Aku akan sanggup melawannya”

“Tidak” sahut Seruling Galih. “Kau tahu bahwa Palang Waja mempunyai beberapa kelebihan. Antara lain Aji Gelap Ngamparnya. Ki Bekel sudah mengalami kesulitan ketika orang itu bermain dengan Aji Gelap Ngamparnya. Sedangkan Palang Waja itu mempunyai beberapa kemampuan yang lain yang tidak akan dapat Ki Bekel lawan. Maaf kalau aku terpaksa mengatakan, bahwa untuk melawan Palang Waja, Ki Bekel tidak lebih dari sebuah mentimun yang harus melawan durian”

Ki Bekel menarik nafas panjang. Ia tidak dapat melawan kenyataan itu. Ketika ia mendengar teriakan yang ternyata dilambari dengan Aji Gelap Ngampar, maka jantung Ki Bekel menjadi sangat pedih. Apalagi jika Palang Waja itu mengetrapkan ilmunya yang lain. Karena itu, maka Ki Bekel itu pun berkata. “Terserahlah kepadamu,. Ki Sanak. Jika kau berniat melawan Palang Waja, lakukankan. Aku tahu, bahwa kau memiliki banyak kelebihan dari aku dan para bebahu yang lain”

“Terima kasih atas pengertian Ki Bekel” sahut Seruling Galih..

“Bagus” sahut Palang Waja. “Jika kau yang akan menghadapi aku, segera bersiaplah”

“Aku sudah bersiap sejak aku mendengar bahwa kau akan datang kemari beberapa hari yang lain. Demikian suratmu dibaca oleh Ki Bekel dan kemudian diumumkan, aku sudah mempersiapkan diriku untuk menghadapi orang yang bernama Palang Waja.”

Palang Waja menggeram. Namun kemudian ia pun segera meneriakkan aba-aba. “Bunuh semua orang di padukuhan ini. Termasuk perempuan dan anak-anak Jangan ada yang terlampaui”

“Iblis kau Palang Waja. Jika kau tidak mencabut perintahmu untuk membantai perempuan dan anak-anak, maka kau dan orang-orangmulah yang akan menyesal”

“Persetan kau Seruling Galih. Kau juga akan mati disini”

Demikianlah, maka pertempuran pun segera mulai berkobar. Palang Waja pun segera meloncat menyerang Seruling Galih. Tetapi Seruling Galih itu dengan tangkasnya menghindarinya. Bahkan Seruling Galih iitu dengan cepat telah membalas menyerangnya.

Demikianlah kedua orang itu pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Sedangkan para pengikut Palang Waja pun telah bergerak pula.

Sementara itu, Nyi Leksana, Ki Mina dan Nyi Mina tidak mau terlambat. Mereka sudah memperhitungkan bahwa diantara para pengikut Palang Waja itu tentu ada pula orang-orang berilmu tinggi.

Sebenarnyalah, demikian pertempuran itu dimulai, maka sudah terdengar teriakan kesakitan. Seorang anak muda telah terpelanting menimpa dua orang kawannya. Hentakkan kaki yang keras, lelah menghantam dadanya, sehingga nafasnya pun segera menjadi sesak.

“Bawa anak itu ke dalam“ terdengar perintah Ki Bekel.

Dua orang kawannya pun segera mengusungnya ke belakang garis pertempuran memasuki pintu gerbang padukuhan. Sementara itu, Ki Bekel lah yang telah menghadapi lawan anak muda yang telah terluka di bagian dalam dadanya itu.

Ternyata Ki Bekel memang tangkas. Dengan tombak pendek di tangannya, Ki Bekel itu berloncatan dengan cepat menyerang lawannya.

Namun sebelum ujung tombak Ki Bekel itu melukainya, seorang yang bertubuh pendek agak gemuk mendorong lawan Ki Bekel itu sambil berkata. “Minggirlah. Aku ingin menyumbat mulut Bekel yang sombong ini”

“Persetan“ Ki Bekel pun surut selangkah. “Siapa kau he?”

“Namaku Dadung Urut. Aku pulalah yang dijuluki Alap-alap Randu Pitu. Kau pernah mendengar?”

Jantung Ki Bekel itu bergetar. Nama itu pernah di dengarnya. Alap-alap Randu Pitu adalah seorang pemimpin gerombolan yang sangat ditakuti pula. Nampaknya Dadung Urut itu telah bergabung dengan Palang Waja.

Tetapi Ki Bekel tidak dapat menghindar dari orang itu. Jika Ki Bekel menghindar, maka orang itu akan dapat menimbulkan korban yang sangat besar diantara rakyatnya. Karena itu, apa pun yang akan terjadi atas dirinya, Ki Bekel itu pun telah bersiap menghadapi Dadung Urut.

Demikianlah sejenak kemudian, Ki Bekel pun telah terlibat dalam pertempuran melawan Dadung Urut. Namun ternyata bahwa Ki Bekel memang bukan lawannya. Demikian pertempuran itu di mulai, maka Dadung Urut itu pun segera menembus pertahanan Ki Bekel. Meskipun Dadung Urut itu belum menarik senjatanya, namun dengan kakinya, Dadung Urut telah mengenai lambung Ki Bekel.

Ki Bekel terdorong surut beberapa langkah. Ketika Dadung Urut itu memburunya, Ki Bekel pun dengan segera mengacukan tombaknya.

Dadung Urut itu tertawa. Katanya. “Kau akan segera mati Ki Bekel. Tetapi aku ingin memberimu kesempatan untuk melihat rakyatmu yang akan segera dihancurkan oleh orang-orangku”

Ki Bekel menggeram. Ujung tombaknya pun diangkatnya, diarahkan tepat ke dada Dadung Urut.

Tetapi Dadung Urut itu pun masih saja tertawa. Justru lebih keras.

“Apa yang dapat kau lakukan dihadapanku, Ki Bekel. Mungkin diantara rakyatmu, kau adalah seorang yang mempunyai kelebihan. Tetapi tidak di hadapanku”

Ujung tombak Ki Bekel pun bergetar. Dengan loncatan yang panjang Ki Bekel menyerang Dadung Urut dengan tombaknya ke arah dadanya.

Tetapi dengan gerak yang sederhana, Dadung Urut memiringkan tubuhnya. Tombak itu pun meluncur sejengkal di depan dadanya.

Namun dengan satu gerakan yang cepat, Dadung Urut menggapai landean tombak itu, sementara kakinya dengan kerasnya menghantam lambung Ki Bekel.

Ki Bekel ternyata tidak mampu mempertahankan tombaknya. Ki Bekel sendiri terlempar dan terbanting jatuh.

Demikian sambil menyeringai kesakitan Ki Bekel berusaha bangkit, maka tombaknya telah berada di tangan Dadung Urut, justru teracu kepadanya.

Ki Bekel bergeser surut. Dua orang anak muda yang melihat kesulitan Ki Demang segera berdiri di sampingnya sebelah menyebelah. Seorang menggenggam pedang dan yang seorang lagi memegang kapak.

Dadung Urut tertawa semakin keras. Katanya. “Baiklah, jika kalian berdua ingin mati bersama Bekelmu. Tetapi seperti aku katakan tadi, aku ingin memberi kesempatan Bekel ini melihat rakyatnya dibantai lebih dahulu. Baru kemudian aku akan menusuk lengannya, bahunya, lambungnya dan baru kemudian perutnya. Justru dengan tombaknya sendiri”

“Persetan kau iblis. Kami akan membunuhmu” Ketika kedua orang anak muda itu siap melompat, maka seorang yang berpakaian serba gelap serta menutup wajahnya dengan ikat kepala, meloncat di hadapannya. Orang itu tidak berkata apa-apa. Tetapi dengan isyarat ia minta Ki Demang dan kedua orang anak muda itu minggir

“Setan Alas” geram Dadung Urut. “Kau siapa mencampuri urusanku dengan padukuhan ini?“

Orang yang wajahnya ditutup dengan ikat kepala itu tidak menjawab. Namun pedangnya telah bergetar. Ujungnya mengarah ke dada Dadung Urut

Dadung Urut sempat berpaling. Ia masih melihat orang yang disebut seruling Galih itu bertempur melawan Palang Waja. Jadi Seruling Galih itu tidak datang seorang diri di padukuhan ini.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, kau siapa he?“ Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia pun segera meloncat menyerang Dadung Urut.

Dadung Urut meloncat menghindar. Ditangannya masih digenggam tombak pendek Ki Bekel yang telah direbutnya.

Namun setelah bertempur beberapa saat, maka Dadung Urut itu merasa bahwa tombak pendek itu tidak begitu sesuai baginya. Ia sendiri mempunyai sebilah golok yang besar dan panjang. Karena itu, Dadung Urut itu pun segera meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Kemudian dengan sekuat tenaga, Dadung Urut itu telah melemparkan tombak pendek itu ke arah Ki Bekel.

Tombak pendek itu meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga Ki Bekel tidak sempat menghindarinya. Kedua orang anak muda yang berdiri di sampingnya itu pun tidak mampu untuk menepis serangan tombak yang tiba-tiba meluncur dalam kegelapan itu.

Namun ketika ujung tombak itu hampir saja menghunjam di dada Ki Demang, maka sebuah bayangan bergerak dengan kecepatan yang tinggi. Ki Bekel, kedua orang anak muda yang berdiri di sebelah menyebelah itu pun tidak tahu, apa yang telah terjadi. Namun tiba-tiba saja seorang yang wajahnya tertutup oleh ikat kepala sebagaimana yang sedang bertempur melawan Palang Waja dan Dadung Urut itu, telah memegang tombak pendek itu dengan tangan kirinya.

“Marilah Ki Bekel” berkata orang itu sambil menyerahkan tombak itu kepada Ki Bekel. “Hati-hatilah dengan senjatamu. Apalagi tombak ini adalah tombak pusaka”

Ki Bekel menerima tombaknya sambil bertanya. “Kau siapa?“

Orang itu tertawa. Katanya. “Kami adalah orang-orang yang tidak ingin melihat kesewenang-wenangan terjadi di sini. Hati-hatilah. Aku harus berada di medan pertempuran”

Sejenak kemudian, orang itu pun segera meloncat dan hilang di hiruk-pikuknya pertempuran.

Ki Bekel menarik nafas panjang. Demikian tombak pendeknya telah berada di tangannya kembali, maka rasa-rasanya darah Ki Bekel yang serasa membeku itu mulai mengalir lagi di urat-urat nadinya.

Karena itu, maka ia pun segera mengangkat tombaknya sambil berteriak. “Hancurkan mereka yang ingin merampas hak kita di bumi kita sendiri”

Dengan garangnya, Ki Bekel pun segera memasuki arena pertempuran itu lagi.

“Bekel edan” geram Dadung Urut. “seharusnya kau biarkan aku membunuhnya”

Tetapi orang bertutup wajah itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Apakah kau bisu, he?“

Orang yang bertempur melawan Dadung Urut itu masih tetap berdiam diri. Tetapi ia berloncatan semakin cepat. Pedangnya berputaran seperti baling-baling, sehingga Dadung Urut yang telah menarik goloknya dari wrangkanya, harus mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan gerak orang yang wajahnya tertutup kain panjang itu.

Sementara itu, di sisi lain, Ki Jagabaya dibantu oleh empat orang anak muda tengah bertempur melawan seorang yang rambutnya sudah ubanan. Tetapi tubuhnya masih tetap tegar. Matanya yang liar berada di wajahnya yang keras seperti batu padas.

Namun agaknya Ki Jagabaya dan kelompoknya sulit untuk tetap bertahan. Orang itu bersenjata kapak yang cukup besar, bertangkai pendek.

Namun orang yang telah membebaskan Ki Bekel dari ujung tombaknya sendiri itu, telah berada di antara mereka. Dengan sebilah pedang di tangan, maka orang itu berdiri diantara kelompok yang sedang bertempur mejawan orang yang sudah ubanan itu.

Tetapi sejenak kemudian, maka orang itu pun berkata kepada Ki Jagabaya dan sekelompok anak muda. “Minggirlah. Biarlah aku layani orang ini”

“Apakah kau sudah gila?“ geram orang itu.

“Kenapa?“ bertanya orang yang wajahnya ditutup dengan ikat kepala itu.

“Aku akan membunuhmu lebih dahulu”

“Apakah kau dapat melakukannya?“

“Persetan kau anak iblis. Kau akan menyesal bahwa kau sudah menempatkan diri untuk melawanku”

“Kau siapa?“ bertanya orang yang wajahnya ditutup ikat kepala.

“Jika kau orang yang hidup dalam dunia olah kanuragan, kau tentu mengenal namaku”

“Siapa namamu?“

“Akulah orang yang dikenal gelar Wira Sardula”

Orang yang wajahnya tertutup ikat kepala itu mengangguk-angguk. Katanya. “Jadi kaulah orang yang digelari Wira Sardula. Nama yang telah mengumandang sampai ke mana-mana. Tetapi aku tidak tahu, apakah kebesaran namamu itu sesuai dengan kemampuanmu di arena”

“Kau akan segera mati. Sebut namamu”

Orang bertutup ikat kepala itu menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berkata. “Jika kau benar Wira Sardula, kau tentu tidak perlu bertanya, siapa aku. Kau akan dengan mudah mengenali ciri-ciri perguruanku karena kau tentu mempunyai wawasan yang sangat luas”

“Persetan kau pengecut. Kau tidak berani menyebut namamu dan tidak berani menunjukkan wajahmu. Kau takut bahwa kau akan diburu oleh dendam sampai ke ujung hidupmu”

“Kau benar, Wira Sardula. Aku memang tidak ingin dendam tanpa berkeputusan. Aku ingin setiap persoalan diselesaikan dengan tuntas. Kemudian setelah itu tidak ada apa-apa lagi”

“Tetapi jika aku mengenali ciri-ciri perguruanmu, maka perguruanmulah yang akan menjadi sasaran kemarahan kami. Seandainya kau sempat melarikan diri malam ini, maka perguruanmu akan menjadi karang abang. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah berani melawanku. Aku tentu akan membunuhnya kapan saja.”

“Menarik juga sikapmu itu, Wira. Aku akan menirumu. Aku juga tidak akan melepaskanmu malam ini”

“Keparat kau, anak iblis. Bersiaplah untuk mati”

Orang bertutup wajah itu tidak menjawab.

Sedangkan Wira Sardula pun segera meloncat sambil mengayunkan kapaknya yang besar.

Tetapi orang yang bertutup wajah itu pun dengan tangkasnya mengelak, sehingga kapak itu tidak menyentuh sasaran. Tetapi terasa udara yang digetarkan oleh ayunan kapak yang besar itu telah menerpa tubuh orang bertutup wajah itu.

Demikianlah, maka pertempuran diantara mereka pun segera meningkat menjadi semakin seru. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan yang tinggi. Kapak Wira Sardula pun berputaran dengan cepatnya sehingga nampak seolah-olah kabut yang berwarna keputih-putihan berterbangan disekeliling tubuhnya.

Orang bertutup wajah itu pun kemudian telah memegang senjatanya pula. Sebilah pedang yang berwarna ke biru-biruan.

Sementara itu, pertempuran pun telah berkobar di mana-mana. Tetapi para penghuni padukuhan itu masih mampu menahan, agar gerombolan orang-orang yang akan merampok itu tidak sempat memasuki padukuhan mereka.

Apalagi setelah Ki Bekel, Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu bebas dari lawan-lawan mereka yang berilmu sangat tinggi.

Namun setiap kali terbersit pertanyaan di kepala orang-orang pedukuhan itu. “Siapakah mereka itu?“

Dalam pada itu, Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah memimpin rakyatnya untuk bertempur dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada mereka. Sementara itu, selain, tiga orang yang menutupi wajahnya, yang bertempur melawan orang-orang berilmu tinggi, masih ada seorang lagi yang bertempur diantara rakyat padukuhan. Orang bertutup wajah itu sama sekali tidak pernah berbicara apa pun juga. Namun unsur-unsur gerak yang diperlihatkan sangat mendebarkan jantung.

Seperti seekor burung sikatan yang berterbangan, maka orang itu seakan-akan menyambar-nyambar di sepanjang medan pertempuran. Tidak seorang pun yang dapat menahannya. Para pengikut Palang Waja itu pun menjadi berdebar-debar jika mereka melihat orang itu berloncatan di dekat mereka.

Dengan demikian, maka para perampok tidak mengira akan mengalami benturan yang keras dengan perlawanan rakyat padukuhan itu yang ternyata di bantu oleh Seruling Galih bersama tiga orang berilmu tinggi. Dua diantara mereka sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Ketika orang bertutup wajah itu telah bertempur menghadapi orang-orang terbaik dalam gerombolan Palang Waja, sementara seorang yang lain, bertempur bersama dengan anak-anak muda padukuhan itu yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan Ki Jagabaya.

Dalam pada itu, pertempuran yang berlangsung antara Palang Waja melawan Seruling Galih itu pun menjadi semakin seru. Palang Waja yang ingin segera menyelesaikan pertempuran itu telah mencabut pedangnya. Sedangkan lawannya memperguna-kan serulingnya yang dibuat dari galih asem itu sebagai senjatanya.

Ternyata bahwa Palang Waja mengalami kesulitan menghadapi Seruling Galih yang juga disebutnya sebagai Iblis dari Pantai Selatan. Betapa pun Palang Waja mengerahkan ilmunya, namun ia tidak juga mampu menguasai lawannya itu.

Pedangnya yang bergetar di tangannya ternyata mengalami kesulitan untuk menembus pertahanan Seruling Galih. Meskipun serulingnya itu terbuat dari kayu yang betapa pun kerasnya, namun seruling itu mampu berbenturan dengan pedang lawannya tanpa menjadi cacat karenanya.

Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya telah mengerahkan kemampuannya, sehingga mereka bergerak lebih cepat. Kaki-kaki mereka pun rasa-rasanya tidak lagi berjejak diatas tanah.

Namun akhirnya senjata-senjata mereka pun mampu menembus pertahanan lawan. Pedang Palang Waja telah mampu menorehkan luka di lengan Seruling Galih. Namun tulang di bahu Palang Waja bagaikan menjadi retak di sentuh oleh seruling yang dibuat dari galih asem itu.

“Kau memang seorang yang terampil Seruling Galih” berkata Palang Waja kemudian. “Tetapi kau jangan mengira, bahwa kemampuanku hanya sebatas yang kau lihat sekarang ini”

“Kerahkan semua ilmumu Palang Waja. Aku akan berusaha mengimbanginya”

“Kau memang terlalu sombong. Tetapi jangan salahkan aku jika tubuhmu akan dilumatkan oleh ilmuku.”

“Apa pun yang akan kau lakukan, aku sudah siap menghadapinya” sahut Seruling Galih.

Sebenarnyalah bahwa Palang Waja semakin meningkatkan ilmunya. Sebagai seorang yang bertualang di sepanjang hidupnya, maka Palang Waja adalah seorang yang memiliki pengalaman dan wawasan yang luas dalam dunia olah kanuragan.

Namun Seruling Galih pun memiliki bekal ilmu yang lengkap. Meskipun ia sudah lama tidak turun ke gelanggang, tetapi untuk kepentingan anak-anaknya, Seruling Galih masih selalu berada di sanggar bersama isterinya. Dicarinya celah-celah dan kelemahan-kelemahan pada ilmunya dan ilmu isterinya. Mereka pun berusaha untuk saling mengisi dan mencari unsur-unsur baru yang akan berarti bagi ilmunya yang akan mereka wariskan kepada kedua orang anak laki-lakinya yang masih remaja.

Karena itu, maka Seruling Galih itu tidak merasa canggung sama sekali ketika ia harus berhadapan dengan Palang Waja yang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, Palang Waja yang melihat keadaan para pengikutnya yang menjadi semakin sulit dan terdesak, maka ia pun berniat segera mengakhiri pertempuran itu. Dengan senjatanya ia tidak segera dapat menundukkan lawannya. Karena itu, maka Palang Waja itu pun berniat untuk mengakhiri perlawanan Seruling Galih dengan ilmunya Aji Sapu Angin.

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka Palang Waja itu pun meloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak. Ia hanya memerlukan waktu sekejap untuk membangun-kan ilmunya yang nggegirisi. Sambil sedikit merendahkan tubuhnya pada lututnya, sementara satu kakinya di tariknya setengah langkah ke belakang, Palang Waja telah menghentakkan tangannya dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah Seruling Waja.

Tiba-tiba saja hembusan prahara yang sangat kuat telah meluncur kearah Seruling Galih yang berdiri tegak dengan kaki renggang.

Seruling Galih itu menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Namun kemudian di angkatnya seruling galih asemnya terjulur kearah angin prahara yang akan menerpanya.

Seleret sinar memancar dari ujung seruling itu. Sebenarnyalah Seruling Galih telah melontarkan ilmunya Aji Lalayan.

Sinar itu pun kemudian seolah-olah telah mekar melebar menjadi seperti sebuah perisai raksasa yang membentengi tubuh Seruling Galih.

Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang dahsyat, yang telah mengejutkan seluruh medan. Bahkan padukuhan itu pun rasa-rasanya telah terguncang.

Kekuatan Aji Sapu Angin itu telah membentur Aji Lalayan yang meskipun sinar yang mekar menjadi perisai raksasa itu, tembus pandang, namun dengan kokohnya telah menahan arus angin prahara yang berhembus dengan kencangnya mengarah ke tubuh Seruling Galih,

Benturan itu terdengar bagaikan ledakan yang keras. Bahkan sinar pun memancar seperti kilat di udara mendahului suara guntur yang seakan-akan mengoyakkan selaput telinga.

Aji Sapu Angin yang membentar Aji Lalayan itu ternyata tidak mampu memecahkannya, bahkan arus prahara itu pun telah terpental berbalik ke sumbernya.

Palang Waja tidak mengira bahwa peristiwa itu akan terjadi. Ia tidak mengira bahwa Aji Sapu Angin itu akan berbalik menyerangnya.

Karena itu, maka Palang Waja itu pun tidak siap untuk menghindar. Ia pun tidak mempunyai kekuatan untuk menangkis ilmunya yang nggegirisi itu. Karena itu, maka kekuatan Aji Sapu Angin itu justru telah menggulungnya dalam satu libatan yang sangat keras.

Palang Waja terpelanting beberapa langkah. Tubuhnya pun kemudian menimpa sebatang pohon cangkring tua yang tumbuh di pinggir jalan.

Terdengar Palang Waja itu mengaduh tertahan. Namun kemudian suaranya pun hilang ditelan riuhnya pertempuran.

Beberapa orang pengikutnya berlarian menyusulnya. Mereka pun segera berjongkok di sekitar tubuh yang sudah menjadi tidak berdaya itu.

“Ki Lurah“ panggil seorang pengikutnya yang berbahu lebar sambil mengguncang tubuh Palang Waja.

Tetapi Palang Waja sama sekali tidak bergerak. Ia tidak mendengar panggilan itu. Bahkan nafasnya pun sudah tidak mengalir lagi di lubang hidungnya.

Peristiwa itu terasa sangat menyakitkan. Palang Waja yang sangat ditakuti itu ternyata harus mati terbunuh oleh kekuatan Ajinya sendiri.

Sementara itu, perisai raksasa yang tembus pandang itu sudah tidak ada lagi di arena. Seruling Galih berdiri termangu-mangu, memandangi Palang Waja yang terbaring diam di ujung arena, dibawah pohon cangkring tua.

Seruling Galih sendiri pun tidak menduga, bahwa pertempuran itu akan berakhir seperti itu.

Kematian Palang Waja telah menghancurkan gairah pertempuran bagi para pengikutnya. Termasuk Dadung Urut dan Wira Sardula.

Karena itu, dalam keadaan yang rumit, maka tidak ada pilihan lain dari kedua orang yang berilmu tinggi itu untuk menyingkir. Mereka sendiri merasa sulit untuk mengalahkan lawan-lawan mereka yang juga mempergunakan tutup wajah sebagaimana Seruling Galih yang telah membunuh Palang Waja.

Karena itu, maka Dadung Urut pun segera meneriakkan isyarat yang disahut oleh Wira Sardula.

Sejenak kemudian, maka gerombolan perampok yang gagal itu pun berusaha untuk melarikan diri. Sementara Seruling Galih pun telah memberi isyarat pula agar kawan-kawannya yang juga mempergunakan wajah itu tidak memburu mereka.

Ki Bekel, Ki Jagayaba dan para bebahu pun tanggap akan isyarat Seruling Galih untuk menahan agar anak-anak muda serta laki-laki yang ikut dalam pertempuran itu juga tidak memburu para perampok yang melarikan diri.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun benar-benar telah selesai. Beberapa sosok mayat tertinggal di bekas arena pertempuran itu. Namun sosok mayat Palang Waja yang berada di bawah pohon cangkring itu sudah tidak ada. Agaknya pengikutnya yang telah membawa sosok mayat itu pergi.

Dalam pada itu, setelah keadaan menjadi lebih tenang, maka Ki Bekel dan Ki Jagabaya ingin bertemu dan berbicara dengan orang-orang yang berpakaian gelap serta mempergunakan tutup wajah. Tetapi ternyata mereka sudah tidak ada di-antara mereka.

“Kemana orang-orang yang merahasiakan diri mereka dengan menutupi wajah mereka?” bertanya Ki Bekel.

Ki Jagabaya pun menggeleng. Katanya. “Aku juga mencari mereka. Tetapi aku tidak menemukannya”

Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu padukuhan itu telah bertanya kepada orang-orang yang masih berada di depan pintu gerbang dengan senjata.di tangan mereka. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang melihatnya.

“Aneh” desis Ki Bekel. “tiba-tiba saja mereka berada disini. Namun tiba-tiba saja mereka menghilang. Seperti mimpi kita hari ini bertemu dengan orang berilmu sangat tinggi yang bernama Palang Waja. Tetapi disini juga hadir orang yang disebut Seruling Galih”

“Ya”

Namun tiba-tiba seorang anak muda yang mengantar Ki Mina dan Nyi Mina ke rumah Ki Leksana itu pun berkata. “Ada dua orang asing datang kemari, Ki Bekel. Apakah ada hubungannya dengan keberadaan Seruling Galih di pertempuran ini?”

“Siapa?“

“Dua orang suami isteri yang mengunjungi Ki Leksana”

“Marilah kita lihat. Mungkin ada hubungannya. Tetapi mungkin tidak sama sekali”

Ki Bekel itu pun kemudian mengajak Ki Jagabaya dan anak itu pergi ke rumah Ki Leksana. Ia berpesan kepada para bebahu yang lain untuk mengurus anak-anak muda yang telah menjadi korban dalam pertempuran itu, serta mengumpulkan sosok mayat yang ditinggalkan oleh gerombolan perampok itu.

Demikian mereka sampai di rumah Ki Laksana, maka Ki Bekel pun segera mengetuk pintu rumah itu.

“Siapa?” terdengar suara yang bergetar didalam rumah.

“Aku” jawab Ki Bekel.

“Aku siapa” suara itu terdengar semakin bergetar.

“Mereka menjadi ketakutan” desis Ki Bekel. Namun kemudian Ki Bekel itu menjawab sareh. “Aku, Ki Leksana. Ki Bekel”

Sejenak kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Seorang laki-laki yang rambutnya sudah ubanan berdiri dengan gemetar. Sementara itu, seorang laki-laki yang lain dan dua orang perempuan duduk di amben dengan ketakutan pula.

“Marilah, Ki Bekel. Silahkan. Rasa-rasanya nyawaku sudah berada di ubun-ubun. Titir itu membuat kami ketakutan”

“Jangan takut, Ki Leksana. Segala sesuatunya sudah teratasi“

“Maksud Ki Bekel?”

“Para perampok itu sudah meninggalkan padukuhan ini”

“Sukurlah. Sukurlah” lalu katanya pula. “marilah Ki Bekel, Ki Jagabaya, silahkan masuk. Kebetulan adikku suami isteri ada disini. Mereka pun menggigil seperti kami. Anak-anak kami menjadi ketakutan dan bersembunyi di bilik mereka”

“Sudahlah. Jangan takut. Seperti aku katakan, segala sesuatunya sudah selesai. Tetapi maaf, Ki Leksana. Aku tidak dapat singgah”

“Tetapi apa yang ingin Ki Bekel katakan kepada kami?”

“Tidak apa-apa. Kami hanya ingin memberitahukan, bahwa bahaya yang mengancam pedukuhan ini sudah lewat”

“O. Terima kasih, Ki Bekel. Kami tidak perlu lagi menggigil ketakutan”

Demikianlah, maka Ki Bekel, Ki Jagabaya dan anak muda yang menyertai mereka itu pun segera meninggalkan rumah itu. Ki Jagabaya masih sempat berpesan sebelum turun ke halaman. “Tidurlah, Ki Leksana Sudah tidak ada apa-apa lagi”

“Terima kasih, Ki Jagabaya. Tetapi apakah kami masih akan dapat tidur di sisa malam begini? Atau barangkali Ki Jagabaya ingin memberikan perintah kepada kami? Jika keadaan sudah menjadi tenang, maka kami pun akan dapat membantu apa saja yang perlu. Barangkali perlu merebus air untuk membuat minuman di banjar atau pekerjaan apapun”

“Sudahlah. Sudah banyak anak-anak yang masih muda dapat melakukannya. Selamat malam Ki Leksana. Selamat malam Ki Sanak”

“Selamat malam” sahut Ki Mina, Nyi Mina serta Nyi Leksana hampir berbareng.

Sepeninggal Ki Bekel, Ki Jagabaya dan anak muda yang menyertainya, Ki Leksana duduk kembali sambil tersenyum. Katanya. “Tentu ada kecurigaan bahwa orang yang bertutup wajah itu adalah kita berempat. Mungkin kedatangan adi Mina itulah yang membuat mereka menghubungkan keberadaan Seruling Galih itu disini. Seandainya saat mereka datang kami belum ada di rumah ini, kecurigaan mereka tentu akan menjadi semakin besar”

Ki Mina, Nyi Mina dan Nyi Leksana itu pun tertawa. Sementara itu kedua anak laki-laki Ki Leksana itu pun keluar pula dari bilik mereka.

“Kenapa kalian belum juga tidur?” bertanya Ki Leksana.

“Siapakah yang dicari oleh Ki Bekel?”

“Kalian berdua” jawab Ki Leksana.

“Ah, ayah” desis anaknya yang sulung.

“Tidurlah. Besok aku akan berceritera kepada kalian tentang permainan hantu-hantuan itu”

Kedua orang anak Ki Leksana itu pun segera kembali ke biliknya. Disebelah amben pembaringan mereka disandarkan dua batang tombak pendek, senjata pilihan kedua orang anak yang sedang meningkat remaja itu.

Namun dalam pada itu, meskipun malam sudah menjadi semakin larut, namun Ki Mina dan Nyi Mina berniat untuk menyampaikan keperluan mereka datang menemui Ki Leksana dan Nyi Leksana.

“Besok masih banyak waktu” berkata Nyi Leksana.

“Besok aku harus kembali, mbokayu. Aku berjanji kepada guru, bahwa besok aku akan kembali”

“Tetapi kalian bukan kanak-kanak lagi. Jika kalian masih kanak-kanak, maka guru tentu akan menjadi gelisah. Mungkin saja kalian tercebur ke dalam sungai atau terjatuh karena kalian memanjat pohon duwet. He, bukankah kau semasa kecil pandai mamanjat pohon duwet sampai ke ujung cabang yang kecil, sehingga ayah selalu berteriak-teriak khawatir.

Nyi Mina tertawa pendek. Namun katanya. “Ya, mbokayu. Aku sekarang tidak lagi suka memanjat pohon jika tidak perlu. Tetapi ada kerja yang harus aku lakukan di padepokan bersama kakang Mina serta Wikan”

“Wikan?“

“Wikan, ya. Kemenakanku?“

“O, ya aku tahu.”“

“Nah, kakang” berkata Ki Mina kemudian. “kedatanganku kemari memang ada hubungannya dengan keluarga Wikan. Keluarga Purba, adikku yang sudah tidak ada itu”

“Maksud adi?“ bertanya Ki Leksana.

Ki Leksana pun kemudian menceriterakan tentang keadaan keluarga Nyi Purba setelah ditinggalkan suaminya. Kedua anak perempuannya yang tersuruk kedalam kehidupan yang tidak sewajarnya.

“Wuni telah selingkuh. Meskipun suaminya adalah seorang laki-laki yang baik, namun Wuni masih saja berhubungan dengan laki-laki yang tidak tahu diri itu. Namun mudah-mudahan ia akan berani menilai dirinya sendiri dan mengakui kesalahannya. Lebih dari itu, ia akan menghentikan perbuatannya yang nyebal dari kewajaran”

“Bagaimana dengan suaminya?“

“Sudah aku katakan, suaminya adalah laki-laki yang baik. Jika saja Wuni bersedia minta maaf kepadanya dan tidak mengulangi perbuatannya, maka persoalannya akan selesai. Berbeda dengan persoalan yang terjadi dengan Wiyati”

“Bagaimana dengan Wiyati?“

Ki Mina pun kemudian menceriterakan pula jalan hidup yang ditempuh oleh Wiyati. Sehingga akhirnya Wikan telah membawanya pulang dengan paksa.

Ki Leksana dan Nyi Leksana itu pun mengangguk-angguk. Sementara Ki Mina pun berkata. “Kakang dan mbokayu Kedatanganku kemari sebenarnyalah ada hubungannya dengan keadaan Wiyati. Terus terang kami ingin menyembunyikan Wiyati dari penglihatan para tetangga. Sampai sekarang para tetangga masih belum tahu, apa saja yang pernah dilakukan oleh Wiyati di Kotaraja. Karena itu, maka kami datang untuk minta bantuan kakang dan mbokayu untuk menyembunyikan Wiyati disini jika kakang dan mbokayu tidak berkeberatan”

Ki Leksana dan Nyi Leksana itu pun berpandangan sejenak. Dengan nada berat Ki Leksana itu pun bertanya kepada isterinya. “Bagaimana dengan pendapatmu, Nyi”

“Satu tugas yang berat bagi kita. Tetapi agaknya kita terpanggil untuk ikut mengentaskan anak itu dari lembah kanistan. Jika kakang setuju, aku pun setuju Wiyati berada sini. Namun dengan satu syarat”

“Syarat apa itu, mbokayu?“ bertanya Nyi Mina.

Nyi Leksana menarik nafas panjang. Lalu katanya. “Adi Mina berdua. Bahwa seseorang tersuruk kedalam lumpur itu memang mungkin saja terjadi. Kita memang harus membantu mereka untuk bangkit, menyadari kesalahannya dan tidak akan pernah melakukannya lagi. Aku harap Wiyati juga demikian. Menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi. Sementara itu, ia akan berada disini dengan sikap seorang murid. Ia harus menganggap aku dan Ki Leksana sebagai gurunya. Kesediaannya menganggap kami sebagai gurunya, tentu akan membawa akibat sikap dan perbuatannya. Wiyati harus tunduk dan taat dengan segala macam tatanan yang kami buat. Meskipun pada dasarnya kami selalu berusaha menyembunyikan kemampuan kami dalam olah kanuragan, karena kami ingin hidup tenang sebagai petani di lingkungannya, serta kami tidak bermimpi untuk mendirikan sebuah perguruan, namun janji itu kami maksudkan untuk menempa Wiyati di sisi kajiwan dan kewadagan”

“Aku akan menekankan syarat itu kepadanya, atau ia akan terlempar kembali kedalam kehidupan yang hitam itu” berkata Ki Mina. “ia harus bersedia menerima syarat itu. Bukan hanya bersedia menerima, tetapi bersedia menjalaninya“

“Baiklah” sahut Ki Leksana. “jika syarat itu diterima, maka kami akan benar-benar memperlakukannya sebagai seorang murid. Mungkin sikap kami sedikit as kepadanya. Tentu saja dengan maksud yang baik”

“Kami mengerti” sahut Ki Mina. Lalu katanya. “Agaknya itu justru akan merupakan jalan terbaik untuk membina jiwanya kembali. Sikap yang keras akan dapat membentuknya menjadi seorang yang bertanggung jawab atas sikap dan perbuatannya”

“Jika demikian, adi” berkata Nyi Leksana. “Kami akan bersedia menerimanya. Tetapi seperti kedua anak-anak kami, Wiyati pun harus dapat menempatkan dirinya sebagai seorang petani kebanyakan tanpa menunjukkan kelebihannya dalam olah kanuragan apabila ia kelak mulai mempelajarinya, karena kami akan tetap bersembunyi disini sebagaimana bertahun-tahun sudah kami lakukan”

“Terima kasih, kakang. Terima kasih mbokayu” berkata Ki Mina. “Kami berpengharapan bagi masa depan Wiyati yang sudah ternoda itu”

“Kami akan mencoba agar Wiyati menemukan kepercayaannya kembali kepada diri sendiri” berkata Nyi Leksana.

“Sebenarnya Wiyati tidak sendiri. Di Padukuhan kami ada juga seorang gadis yang tergelincir. Justru gadis itulah yang menyeret Wiyati ke dalam lumpur. Jika mungkin kami juga ingin mengentaskannya”

“Jika ia bersedia menerima syarat seperti yang aku syaratkan kepada Wiyati, aku juga tidak berkeberatan menerimanya” sahut Nyi Leksana.

“Tetapi itu baru akan kami pikirkan kemudian, Yu. Yang penting kami dapat menempatkan Wiyati di tempat yang mapan yang dapat pula memberikan harapan bagi masa depannya” berkata Nyi Mina kemudian.

Dengan demikian, maka Ki Mina dan Nyi Mina pun telah menyampaikan persoalan yang dibawanya menemui Ki Leksana dan Nyi Leksana. Sementara itu, maka malam pun telah bergulir menjelang pagi.

“Kalian harus beristirahat” berkata Ki Leksana.

“Tanggung kakang. Sebentar lagi fajar akan datang. Jika kami membaringkan tubuh kami, maka kami akan tertidur dan akhirnya terlambat bangun”

Ki Leksana dan Nyi Leksana pun tersenyum. Ketika Ki Mina mempersilahkannya beristirahat, maka Ki Leksana itu pun berkata. “Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku dapat beristirahat kapan saja aku mau”

Mereka pun tertawa tertahan.

Sebenarnyalah bahwa bayangan fajar telah mulai nampak di langit. Ki Mina dan Nyi Mina justru pergi ke pakiwan untuk mandi. Di hari baru itu pula mereka akan meninggalkan rumah Ki Leksana dan Nyi Leksana kembali ke padepokan.

“Kami akan singgah di padepokan. Wikan akan ikut bersama kami pulang. Kemudian kami akan datang lagi kemari untuk membawa Wiyati bersama kami”

Demikianlah, Ki Mina dan Nyi Mina tidak dapat ditahan lagi barang sehari. Mereka ingin segera kembali, mengambil Wikan dan kemudian pergi menemui Wiyati. Setelah segala sesuatunya selesai, maka Ki Mina pun akan segera menerima tugas dari gurunya untuk memimpin padepokannya. Gurunya yang sudah menjadi semakin tua, ingin pergi menyepi, semakin mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Pencipta. Meskipun itu bukan berarti bahwa gurunya itu akan memutuskan hubungan sama sekali dengan lingkungannya.

Setelah makan pagi, di saat matahari terbit, maka Ki Mina dan Nyi Mina pun minta diri. Kedua anak Ki Leksana itu ikut melepas Ki Mina dan Nyi Mina sampai ke regol halaman rumah mereka.

“Bukankah paman dan bibi akan segera datang kembali?”

“Ya, ngger. Paman dan bibi akan segera datang kembali”

Namun demikian Ki Mina dan Nyi Mina berjalan semakin jauh, Ki Leksana itu pun bertanya kepada kedua anaknya. “Darimana kalian tahu, bahwa paman dan bibi akan segera kembali”

Kedua anaknya saling berpandangan. Tetapi mereka tidak menjawab.

“Kalian tentu mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu dengan paman dan bibi”

Kedua orang anak Ki Leksana itu tetap tidak menjawab. Wajah mereka pun tertunduk dalam-dalam.

“Sudahlah. Tetapi lain kali kalian tidak boleh mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu dengan para tamu, kecuali jika kalian memang dipanggil untuk ikut menemui dan berbicara dengan tamu ayah dan ibu, seperti semalam, pada saat paman dan bibi datang. Kalian boleh menemuinya. Kalian boleh ikut berbicara. Tetapi jika ayah dan ibu minta kalian pergi atau tidur atau dengan istilah lain yang pengertiannya agar kalian menyingkir, kalian tidak boleh mendengarkannya. Sekarang kalian telah mendengar segala sesuatunya tentang adikmu Wiyati, meskipun ia lebih tua dari kalian, tetapi menurut urutan keluarga, kalian lebih tua, sehingga kalian tahu banyak hal tentang adikmu itu. Tetapi ingat, kalian harus ikut menjaga nama baiknya serta masa depannya. Kalian tidak boleh bercerita seenaknya kepada kawan-kawan kalian, apa pun tentang Wiyati”

“Ya, ibu” jawab keduanya hampir berbareng.

Ki Leksana, Nyi Leksana dan kedua orang anaknya pun kemudian telah masuk kembali kedalam rumah mereka. Nyi Leksana pun segera membenahi mangkuk-mangkuk yang kotor, sementara Ki Leksana pun pergi ke pakiwan, menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. Sedangkan kedua orang anaknya pun sibuk menyapu halaman depan dan samping.

Namun ketika matahari mulai memanjat langit, Ki Leksana pun telah pergi ke banjar untuk membantu orang-orang padukuhan yang sibuk merawat mereka yang terluka, serta bersiap-siap untuk menyelenggarakan upacara penguburan bagi mereka yang telah gugur.

Sembilan belas orang terluka. Ampat diantaranya parah. Tiga orang ternyata tidak sempat tertolong lagi jiwanya.

Sementara itu, ada lima orang pengikut Palang Waja yang terbunuh. Lima orang terluka parah, sehingga tidak sempat meninggalkan arena. Tetapi di hari berikutnya, dua orang lagi diantara pengikut Palang Waja yang terluka itu meninggal, meskipun tabib dari padukuhan itu sudah berusaha mengobatinya.

Sementara itu Ki Mina dan Nyi Mina tengah menempuh perjalanan kembali ke padepokan. Mereka akan mengajak Wikan pulang serta mengambil Wiyati untuk dibawa ke rumah Ki Leksana.

“Mudah-mudahan segala sesuatunya dapat berlangsung rancak. Aku harap Wiyati pun tidak terlalu banyak mempersoalkan syarat yang diberikan oleh kakang dan mbokayu Leksana” berkata Nyi Mina.

“Wiyati harus menerima syarat itu, atau namanya akan tercemar untuk selama-lamanya. Jika ia tetap tinggal di rumah, dalam waktu setahun dua tahun, rahasianya mungkin masih belum terbuka. Tetapi pada suatu ketika Wandan tentu akan dengan sengaja membuka rahasia itu untuk mempermalukan Wiyati. Apalagi jika rahasianya sendiri telah terbongkar”

“Kecuali jika Wandan bersedia disingkirkan dari rumah hitam itu”

“Agaknya usaha untuk menyingkirkan Wandan dari tempat itu agak lebih sulit. Wandan sendiri tentu berkeberatan. Seandainya Wandan dapat dipaksa keluar, namun ia akan segera kembali lagi”

Nyi Mina itu pun mengangguk-angguk.

Untuk beberapa saat lamanya keduanya saling berdiam diri. Mereka berjalan menyusuri jalan yang tidak begitu ramai. Meskipun semalaman mereka tidak tidur, namun mereka tetap saja nampak segar, karena daya tahan tubuh mereka yang tinggi.

Demikianlah, mereka tidak menemui hambatan yang berarti di perjalanan. Sedikit lewat tengah hari mereka berhenti di sebuah kedai, di dekat pasar yang sudah berangsur menjadi sepi.

Beberapa orang sudah berada di kedai itu. Namun mereka sama sekali tidak menghiraukan ketika Ki Mina dan Nyi Mina masuk ke dalam kedai itu. Keduanya pun telah mengambil tempat disudut yang agak terpisah dari mereka yang sudah lebih dahulu berada di kedai itu.

Seorang pelayan pun segera mendekati mereka dan menanyakan, minuman dan makanan apa sajalah yang akan mereka pesan.

Namun sebelum Ki Mina dan Nyi Mina menjawab, mereka telah dikejutkan oleh suara tertawa yang meledak dari sekelompok orang yang sudah lebih dahulu duduk di kedai itu. Bukan saja Ki Mina dan Nyi Mina, tetapi orang-orang lain pun segera berpaling. Tetapi orang-orang yang tertawa menghentak itu tidak menghiraukannya. Ketika seorang diantara mereka berbicara dengan lantang, menyinggung nama seseorang, maka yang lain pun tertawa serentak pula.

“Dimana perempuan itu sekarang?” bertanya seseorang diantara mereka.

“Kau mau apa? Apakah kau akan mencarinya dan menikahinya kelak?”

Yang lain pun tertawa pula tanpa menghiraukan orang-orang lain yang ada di kedai itu.

Tetapi orang yang disebut akan menikahinya itu pun menjawab. “Kenapa perempuan itu cepat-cepat kalian campakkan. Bukankah perempuan itu masih tetap cantik dan muda?”

“Kami tidak mencampakkannya. Tetapi perempuan itu lari”

“Lari? Tidakkah kalian cemas, bahwa keluarganya akan melakukan pembalasan?”

“Kau tidak yakin akan kekuatan kita? Siapa yang akan berani melawan kita? Meskipun demikian, ketika keluarganya datang menemui aku, maka aku beri ia uang beberapa keping. Ternyata keluarganya berjanji untuk tidak mempersoalkannya lebih lanjut”

“Gila” desis Nyi Mina. “Mereka telah merendahkan martabat perempuan”

“Siapakah mereka?“ bertanya Ki Mina kepada pelayan kedai yang masih berdiri termangu-mangu menunggu pesanan itu.

Pelayan itu menarik nafas panjang. Hampir berbisik ia pun kemudian menjawab. “Sekelompok anak-anak muda nakal. Mereka adalah anak-anak orang kaya dan orang-orang yang berpengaruh. Tetapi mereka berbuat sekehendak hati mereka sendiri”

“Apakah benar tidak ada orang yang berani melawan mereka?“

“Benar, Ki Sanak”

“Perbuatan itu harus dihentikan”

“Siapakah yang berani menghentikannya?“ Ketika Nyi Mina bergeser di tempat duduknya, Ki Mina pun menggamitnya. “Tugas kita masih banyak”

“Tetapi ketidak adilan itu terjadi disini”

“Ki Sanak” berkata pelayan itu. “beberapa hari yang lalu, dua orang laki-laki yang nampaknya perkasa, gagal menghentikan perbuatan anak-anak muda itu. Tidak di kedai ini, tetapi di muka pasar. Kedua orang yang tersinggung melihat sikap orang-orang itu justru harus melarikan diri karena mereka harus berkelahi melawan lebih dari tujuh orang”

“Tidak ada orang lian yang membantu?“

“Tidak ada yang berani” jawab pelayan itu. Lalu-katanya. “Karena itu aku sarankan untuk tidak mencampuri urusan mereka”

Ki Mina dan Nyi Mina mengangguk-angguk.

Namun pembicaraan mereka pun terhenti. Seorang diantara mereka telah datang mendekati pelayan itu sambil berkata. “Apa saja yang dipesan oleh kakek dan nenek itu sehingga kau harus berdiri disini sekian lamanya?“

Dengan gagap pelayan itu pun bertanya. “Mereka bertanya apa saja yang dapat dipesannya disini, Ki Sanak. Setelah aku menjelaskannya, maka mereka pun berpikir, makanan dan minuman apakah yang akan dipesan”

“Aku merasa kurang senang melihat sikap kakek dan nenek yang agaknya merasa dirinya seperti seorang pemimpin yang berkuasa”

“Maaf Ki Sanak” sahut Ki Mina. “Kami memang terlalu lamban memesan makanan dan minuman. Kami minta maaf”

“Kau harus tahu kek, bahwa pelayan ini pelayan banyak orang di kedai ini, tidak hanya kalian berdua. Sementara itu di kedai ini hanya ada dua orang pelayan”

“Maaf, Ki sanak”

“Nah, sekarang kau memesan apa?“ pelayan itu tiba-tiba membentak. “Aku sibuk sekali disini. Kalian sejak tadi hanya bertanya-tanya saja”

“Nah, kau dengar?” berkata orang yang menghampiri pelayan itu.

“Baiklah” berkata Ki Mina. “Aku memesan nasi megana”

Orang yang menghampiri pelayan itu tiba-tiba tertawa keras-keras. Katanya. “Akhirnya setelah menahan pelayan ini berlama-lama kalian hanya memesan nasi megana. Aku kira kalian akan memesan pepes gerameh, atau ingkung lembaran seekor atau telur ceplok selusin”

“Aku tidak mempunyai uang untuk memesan makanan sebanyak itu, Ki Sanak”

“Sekarang, biarkan pelayan ini pergi”

“Ya, ya,”

Pelayan itu pun meninggalkan Ki Mina dan Nyi Mina. Demikian pula orang yang menghampirinya itu, ”Nah, kau rasakan sekarang, kakang” Ki Mina tersenyum. Katanya. “Orang itu memang galak. Tetapi biarlah. Tidak ada gunanya berselisih dengan mereka”

“Tetapi perlakuan mereka terhadap perempuan itu”

“Apa yang dapat kita lakukan. Seandainya kita mempersoalkannya dan memaksanya untuk mengakui kesalahan mereka, nanti atau besok atau lusa, setelah kita pergi, maka mereka akan melakukannya lagi”

Nyi Mina menarik nafas panjang.

Dalam pada itu, pelayan kedai itu pun datang kembali sambil membawa nasi megana serta minuman hangat bagi Ki Mina dan Nyi Mina.

“Maaf Ki Sanak. Aku terpaksa berbuat kasar agar aku tidak mereka anggap bersalah”

Ki Mina dan Nyi Mina tersenyum. Katanya. “Tidak apa-apa. Justru kau sudah bersikap benar”

Pelayan itu tidak berani tersenyum, karena orang yang telah mendatanginya itu masih saja memperhatikannya.

Sepeninggal pelayan itu, maka Ki Mina dan Nyi Mina pun segera menghirup minuman mereka yang masih hangat. Kemudian mereka pun makan nasi megana. Sebungkus botok urang membuat selera mereka menjadi semakin tinggi.

Namun tiba-tiba saja Nyi Mina pun menggamit tangan Ki Mjna yang sudah siap menyuapi mulutnya dengan nasi megana.

“Ada apa?“

“Lihat, siapa yang datang”

Ki Mina pun berpaling. Ia melihat sepasang suami isteri yang masih terhitung muda memasuki kedai itu.

“Ada apa dengan mereka?”

“Orang-orang liar itu berbahaya sekali bagi mereka”

“Kalau mereka melakukan perbuatan nista di hadapan kita, maka kita tidak akan tinggal diam”

Nyi Mina pun mengangguk-angguk.

Perhatian keduanya pun segera kembali lagi kepada nasi megana serta minuman hangat mereka.

Sejenak kemudian, maka sepasang suami isteri itu telah memesan makan dan minuman pula, sementara mereka duduk di tengah-tengah kedai yang terhitung luas itu.

Sebenarnyalah sebagaimana di cemaskan oleh Nyi Mina, maka orang-orang yang tertawa-tawa tanpa menghiraukan orang-orang yang ada disekitarnya mulai memperhatikan kedua orang suami isteri itu. Nampaknya mereka tertarik kepada perempuan yang cantik itu.

“Kita dapat meminjamnya barang sepekan” berkata seorang yang bertubuh tinggi besar yang berpakaian rapi dan terbuat dari bahan yang mahal.

Kawannya tertawa. Sedangkan seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan berkata. “Aku akan berkata kepada laki-laki itu. Mungkin juga bukan suaminya”

“Jika suaminya?“ bertanya kawannya yang lain.

“Apa salahnya? Kita akan berbicara baik-baik”

“Jika suaminya itu tidak memperbolehkan?“

“Kenapa tidak? Asal kita berkata jujur kepadanya, tentu ia akan mengijinkannya. Kita akan meminjamnya sepekan saja. Bukankah laki-laki itu akan memiliki selamanya? Apa artinya sepekan baginya”

Dua orang diantara mereka berbareng berdiri. Mereka mendekati laki-laki yang sudah memesan minuman dan makanan bagi dirinya dan bagi isterinya.

Nyi Mina menggamit Ki Mina lagi. Wajahnya sudah menjadi tegang. Rasa-rasanya Nyi Mina itu ingin segera meloncat menyergap kedua laki-laki yang telah mendekati perempuan yang duduk bersama suaminya itu.

Seorang diantara kedua laki-laki yang mendekat itu pun berdiri di belakang perempuan itu. Sedangkan yang lain berdiri di sebelah suaminya, dengan menaikkan satu kakinya diatas lincak tempat suaminya itu duduk.

“Ki Sanak” berkata orang yang berdiri dengan menaikkan kakinya diatas lincak itu. “Kita belum pernah berkenalan. Karena itu, sebaiknya aku memperkenalkan diri”

Laki-laki yang datang bersama perempuan itu berpaling. Tiba-tiba saja di dorongnya kaki yang naik ke atas lincak itu sambil membentak. “ Apa maumu, he? Apa kau kira kakimu ini terbuat dari emas atau perak yang dapat kau naikkan keatas tempat duduk?“

Orang yang menaikkan kakinya itu menjadi goyah ketika laki-laki yang datang bersama perempuan itu mendorongnya.

Selangkah ia bergeser surut. Dipandanginya laki-laki yang datang bersama perempuan itu dengan tajamnya.

“Kau kasar sekali Ki Sanak” berkata orang yang kakinya didorong turun itu.

“Kau yang tidak tahu sopan santun, kau kira aku siapa he?“

“Kau siapa?“

“Aku Taruna. Ini isteriku. Kalian siapa dan mau apa?”

Ki Mina menarik nafas. Katanya. “Nah, bukankah kita tidak perlu ikut campur”

“Ya. Ternyata laki-laki yang datang bersama isterinya itu juga kasar”

“Namun agaknya ia merasa memiliki kemampuan untuk berlaku kasar terhadap orang-orang yang tidak tahu diri itu”

Nyi Mina mengangguk-angguk.

Sementara itu, orang yang berdiri di belakang perempuan itu meraba bahunya sambil berkata. “Jangan terlalu garang Ki Sanak. Aku perlu berbicara dengan isterimu”

Namun tiba-tiba saja tangan yang meraba pundak perempuan itu telah ditangkap. Sambil bangkit berdiri perempuan itu telah memilin tangan orang yang meraba pundaknya itu dengan kerasnya, sehingga orang itu berteriak kesakitan.

“Lepaskan, lepaskan”

Tetapi perempuan itu tidak melepaskannya. Bahkan tiba-tiba saja perempuan itu menghentak tangan itu sehingga orang itu pun berteriak semakin keras.

“Sakit. Sakit sekali”

Perempuan itu mendorong laki-laki itu dengan kerasnya, sehingga wajahnya membentur tiang kedai itu.

Sekali lagi orang itu mengaduh kesakitan.

Sementara itu, maka kawan-kawannya pun serentak bangkit berdiri. Ampat orang sehingga semuanya berjumlah enam orang dengan kedua orang yang telah mendekati perempuan dan suaminya itu.

“Kau gila” geram orang yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian rapi itu. “Aku tidak mau merusakkan isi kedai ini. Keluarlah. Kami tunggu kalian di luar”

Kedua orang suami isteri itu ternyata langsung menanggapinya. Mereka langsung melangkah keluar dari kedai itu”

Enam orang laki-laki yang kasar dan merendahkan derajad perempuan itu telah turun ke halaman pula, sehingga kedua belah pihak pun segera berhadapan.

“Apa mau kalian sebenarnya?“ bertanya laki-laki yang datang di kedai itu bersama isterinya. “kalian mau mengganggu isteriku? Atau mau apa?“

“Persetan kau. Semula kami ingin main-main saja. Tetapi sikap kalian berdua membuat kami marah”

“Marahlah jika kalian mau marah. Tetapi kalian telah membuat kami marah lebih dahulu“ suara perempuan itu melengking tinggi.

Keenam laki-laki itu pun segera berpencar. Namun sebelum mereka mapan, maka tiba-tiba saja perempuan itu pun dengan cepat menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang nampak kemudian adalah pakaian khususnya yang berwarna ungu terang. Demikian pula laki-laki yang datang bersamanya. Ketika kain panjangnya di angkatnya dan di ikatkannya pada lambungnya, maka yang nampak adalah celananya yang berwarna ungu terang bergaris hitam di ujungnya.

“Warna itu” desis Ki Mina yang juga turun ke halaman bersama Nyi Mina.

“Biasanya pakaian khusus dan celana itu berwarna hitam” sahut Ki Mina.

“Kau ingat Ajag Wulung”

“Ya. Tetapi Ajag Wulung mempunyai ciri warna ungu gelap. Tidak ungu terang seperti itu”

“Ajag Wulung tentu lebih tua dari mereka berdua. Tetapi aku kira mereka mempunyai hubungan dengan Ajag Wulung”

Nyi Mina tidak menjawab. Sementara itu, orang-orang yang lain justru telah meninggalkan kedai itu lewat pintu butu-lan setelah membayar harga makanan dan minuman.

Pemilik kedai itu pun menjadi cemas. Jika saja perkelahian itu nanti merusak kedainya dan apalagi isinya.

Tetapi Nyi Mina dan Ki Mina tidak pergi. Mereka justru berdiri di pinggir halaman kedai itu.

Dalam pada itu, laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian berwarna ungu terang itu nampak menjadi semakin garang. Justru perempuan itulah yang pertama-tama meloncat menyerang.

Pertempuran  pun segera terjadi. Keenam orang laki-laki itu pun serentak bergerak melawan dua orang suami isteri itu.

Namun perkelahian itu sama sekali tidak seimbang. Dalam Waktu yang singkat enam laki-laki itu pun telah jatuh bangun berganti-ganti. Seorang terlempar membentur bebatur kedai itu. Ketika tertatih-tatih orang orang itu berusaha bangkit, maka kawannya telah terpelanting jatuh sambil menyeringai kesakitan.

Tetapi kedua orang suami isteri itu sama sekali tidak menghiraukan keadaan lawannya-lawannya. Ketika keenam orang itu sudah tidak berdaya, maka kedua orang itu masih saja memukuli mereka, sehingga darah mengalir dari sela-sela bibir mereka. Mata mereka menjadi biru dan wajah mereka menjadi lebam.

“Ampun. Kami mohon ampun” teriak orang yang bertubuh tinggi besar.

Tetapi kedua orang suami isteri itu sama sekali tidak memperdulikannya.

“Mereka benar-benar keluarga Ajag Wulung” desis Ki Mina.

“Ya. Kita tidak akan keliru menebaknya menilik unsur-unsur geraknya yang garang dan tidak mengenal ampun”

“Pertempuran itu akan dapat meluas” berkata Ki Mina kemudian.

“Maksud kakang?“

“Orang-orang yang telah merendahkan martabat perempuan itu adalah keluarga orang-orang kaya, para pemimpin lingkungan ini dan orang-orang berpengaruh”

“Ya”

“Jika ada yang menyampaikan kepada keluarga keenam orang itu, maka keluarga mereka akan berdatangan. Mungkin bersama orang-orang upahan”

“Ya”

“Korban pun akan berjatuhan. Mereka tidak akan dapat mengalahkan Ajag Wulung itu”

“Jadi maksud kakang?“

“Kita tidak akan membiarkan keganasan Ajag Wulung itu. jika kita biarkan, maka enam orang itu pun akan mati. Ajag Wulung tidak akan berhenti sebelum memeras darah lawan mereka sampai tuntas”

“Baik, Kakang. Kita akan menyelamatkan ke enam orang itu meskipun mereka bersalah”

Ki Mina dan Nyi Mina pun kemudian melangkah mendekati kedua orang suami isteri itu. Mereka masih saja memukuli keenam orang yang sudah tidak berdaya itu beganti-ganti. Seorang yang telah pingsan masih juga diinjak dadanya, sehingga tulang-tulang iganya menjadi retak.

“Sudahlah ngger. Mereka sudah tidak berdaya” berkata Ki Mina.

Beberapa orang yang menyaksikannya dari kejauhan, menyesalkan sikap kedua orang suami isteri yang rambutnya sudah ubanan itu. Bukan karena kedua orang suami isteri itu berusaha melerai perkelahian yang terjadi di halaman kedai itu, tetapi keduanya akan dapat mengalami nasib buruk. Orang-orang yang melihat dari kejauhan pun menjadi gemetar melihat keganasan kedua orang suami isteri itu.

“Kenapa orang-orang tua itu ikut campur?” bertanya seorang yang bertubuh gemuk. “kedua suami isteri itu agaknya telah kerasukan iblis. Kedua orang tua itu akan dapat menjadi sasaran kemarahan meraka pula”

Sebenarnyalah laki-laki yang menyebut dirinya bernama Taruna itu memandang Ki Mina dengan tajamnya. Sambil bertolak pinggang ia pun bertanya. “Kau mau apa, kek? Kau juga ingin aku perlakukan seperti mereka”

“Tidak ngger. Tetapi lihat, bahwa mereka sudah tidak berdaya. Mereka sudah menyerah dan mohon ampun”?

“Persetan dengan mereka. Mereka telah menghina aku. Mereka telah merendahkan martabat isteriku dihadapanku mereka berani menyentuhnya”

“Aku mengerti ngger. Tetapi mereka sudah mendapat hukuman mereka. Mereka sudah kalian sakiti sehingga pingsan. Tulang-tulang mereka seakan-akan telah kalian re-mukkan. Bukankah itu sudah cukup?”

“Tidak. Belum cukup. Kami akan membunuh mereka dengan cara kami”

“Aku adalah tetua daerah ini ngger. Aku mohonkan maaf bagi mereka. Aku berjanji, bahwa mereka tidak akan berbuat sebagaimana mereka lakukan itu lagi”

“Aku tidak peduli siapa kau. Bagi orang-orang yang berani merendahkan nama kami, maka kami tidak akan memaafkan mereka. Mereka akan mati dengan cara yang aku pilih”

“Jangan ngger, kasihanilah mereka. Mereka memang bersalah. Aku setuju itu. Biarlah Ki Demang nanti menghukumnya”

“Omong kosong. Ki Demang tidak akan menghukumnya. Seandainya Ki Demang akan menghukum mereka, maka hukuman itu tentu tidak setimpal dengan kesalahan yang telah mereka lakukan”

“Aku akan menyampaikan kepada Ki Demang, agar Ki Demang memberikan hukuman yang cukup berat bagi mereka”

“Tidak ada gunanya. Kelak, jika mereka lepas dari hukuman yang harus mereka jalani, maka mereka akan menjadi semakin berani melakukan perbuatan jahat seperti yang telah mereka lakukan”

“Jadi?” bertanya Ki Mina.

“Mereka harus dibunuh”

“Tidak ngger. Baiklah aku berterus terang bahwa aku tidak setuju dengan sikap angger berdua”

“Jika kalian tidak setuju, kalian mau apa kek?”

“Kami terpaksa mencegahnya”

“Kalian akan mencegahnya? He? Apakah kalian buta, bahwa dalam waktu sekejap aku telah mengalahkan mereka berenam. Sekarang kakek dan nenek akan mencegah kami jika kami akan membunuh mereka berenam. Apakah kau sudah gila, kek?”

“Entahlah ngger. Tetapi aku tidak ikhlas melihat mereka mengalami perlakuan seperti itu”

“Cukup” geram laki-laki yang mengaku bernama Taruna itu. “sikapmu sangat menjengkelkan kek. Aku tetap akan membunuh mereka dengan caraku. Jika kalian berdua mencampuri persoalan ini, maka kalian berdua pun akan mati dengan cara yang sama sekali tidak kalian inginkan”

“Jadi, Ajag Wulung itu masih saja sebuas kalian?”

Kedua orang suami isteri itu terkejut. Perempuan itu dengan serta-merta bertanya. “Darimana kalian tahu, bahwa kami adalah angkatan penerus dari perguruan Ajag Wulung”

“Pakaian kalian yang berwarna ungu itu. Meskipun Ajag Wulung yang aku kenal mempunyai ciri pakaian ungu gelap, tetapi pakaian kalian dan terutama sikap, ciri-ciri unsur gerak dan keganasan kalian, maka kami telah menduga bahwa kalian tentu mempunyai sangkut paut dengan perguruan Ajag Wulung”

“Baik. Aku tidak akan ingkar. Kami adalah angkatan muda dari perguruan Ajag Wulung. Kami adalah angkatan yang memiliki kemampuan yang lebih lengkap serta wawasan yang lebih luas dari angkatan tua yang tidak berkutat dari apa yang pernah mereka lakukan, yang pernah dilakukan oleh guru dan oleh orang-orang yang lebih tua. Kami adalah angkatan yang menerima gerak maju dari perguruan kami. Warna ciri dari perguruan kami pun kami buat lebih muda sedikit dari warna ciri perguruan Ajag Wulung”

“Jadi kalian adalah pembaharu dari perguruan Ajag Wulung?”

“Ya”

”Pembaruan yang kalian lakukan tidak akan berarti apa-apa jika kalian tidak memperbaharui watak Ajag Wulung yang ganas, garang dan keji”

“Persetan. Minggirlah kakek tua”

“Tidak. Kami sudah sepakat untuk mencegah perlakuan kalian yang berlebihan terhadap keenam orang itu, sehingga mereka akan dapat mati”

“Dan kalian berdua ingin menjadi pahlawan?”

“Ya“ suara Ki Mina menjadi berat. “Kami akan menjadi pahlawan dihadapan kalian, karena bagi kalian kepahlawanan itu justru menjadi bahan ejekan”

“Cukup, kck. Sekali lagi aku peringatkan, minggirlah”

“Tidak ngger. Kami tidak akan minggir. Kami akan mencegah kalian melakukan pembunuhan”

“Kek. Jika kalian berdua berani menantang kami, maka kami tahu, bahwa kalian tentu berilmu. Tetapi apa saja yang baru kalian lihat bukannya ukuran kemampuanku. Itu tadi baru ujungnya saja. jika kalian berdua dapat menguasai angin, maka kami dapat menangkap angin itu. Karena itu, jangan harapkan bahwa kalian dapat mencegah kami. Bahkan sebaliknya kalian berdua akan kami perlakukan seperti orang-orang jahat ini”

“Apa pun yang akan terjadi, tetapi kami tetap akan mencegahnya”

Benturan kekerasan tidak dapat dihindari lagi. Kedua pihak berkeras dengan sikap mereka masing-masing.

Isteri Taruna itulah yang kemudian berteriak. “Bersiaplah nek. Aku benar-benar akan membunuhmu. Sejak bayi aku tidak pernah diajar tentang kasih sayang. Semua orang membenciku sejak aku bayi yang bahkan kelahiranku pun tidak pernah ada yang mengharapkannya. Bahkan aku telah dilemparkan ke tepian berpasir. Tetapi aku masih tetap hidup. Hidup dengan mengusung dendam yang tidak akan pernah terselesaikan, karena aku medendam kepada setiap orang”

“Tuntaskan dendam kalian hari ini ngger“ jawab Nyi Mina. “jika dendammu itu hanya akan tuntas bersamaan dengan akhir hayatmu, maka biarlah aku membantumu, melepaskan dendam itu sampai tuntas”

“Aku koyak mulutmu itu sebelum aku membunuhmu, nek”

“Aku percaya bahwa kegaranganmu tidak hanya sekedar melekat di mulutmu. Tetapi juga pada perbuatan dan tingkah laku. Itulah yang harus aku hentikan”

“Setan kau nek. Bersiaplah. Kau akan sangat menyesali sikapmu ini”

Nyi Mina segera mempersiapkan diri. Ia pun segera menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang dikenakan kemudian adalah pakaian khususnya. Tetapi seperti kebanyakan warna pakaian khusus seorang perempuan, tentu berwarna hitam atau putih.

Demikianlah, maka Nyi Mina pun segera berhadapan dengan Nyi Taruna, sedangkan Ki Mina berhadapan dengan Taruna itu sendiri.

Sejenak kemudian, mereka pun terlibat dalam pertempuran. Benturan-benturan ilmu semula tidak mengejutkan kedua belah pihak. Namun semakin lama mereka pun segera meningkatkan ilmu mereka.menjadi semakin tinggi.

Orang-orang yang menyaksikan dari kejauhan pun menjadi cemas. Meskipun mereka tahu, bahwa kedua orang kakek dan nenek itu tentu mempunyai perhitungan tersendiri, tetapi mereka tetap saja mencemaskan keselamatan mereka, karena kedua orang suami isteri itu nampaknya sangat garang dan bahkan buas.

Ajag Wulung yang marah dengan gangguan oleh kedua orang tua itu, berniat menyelesaikan mereka dengan cepat pula. Meskipun keduanya orang tua, tetapi telah masuk di kepala kedua orang suami isteri itu, rencana untuk memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukan keenam orang yang telah mengganggu Nyi Taruna itu.

Setelah bertempur beberapa saat, Ki Mina dan Nyi Mina pun segera menyadari, bahwa kedua orang suami isteri yang masih terhitung muda itu memang sudah mengembangkan ilmu perguruan Ajag Wulung. Kedua orang yang masih terhitung muda itu, agaknya memang memiliki wawasan yang lebih luas serta pengalaman yang cukup banyak untuk melengkapi unsur-unsur dari ilmu mereka.

Tetapi Ki Mina dan Nyi Mina yang telah mematangkan ilmunya itu pun mampu mengimbangi kedua orang suami isteri yang masih muda itu, meskipun mereka meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi. Sehingga dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semaki sengit.

Namun kedua orang suami isteri itu tidak segera dapat mengenali, dengan ilmu dari perguruan manakah mereka berhadapan. Sekali-sekali mereka dapat mengenali unsur-unsur gerak pada kedua kakek dan nenek itu. Namun sejenak kemudian, segala sesuatunya telah menjadi kabur lagi. Beberapa diantara unsur gerak kedua kakek dan nenek yang rumit itu sama sekali tidak dapat mereka kenali.

“Kek, siapakah kau sebenarnya?“ bertanya Taruna itu sambil meloncat surut untuk mengambil jarak.

“Itu tidak penting, ngger“ jawab Ki Mina. “yang penting adalah, tinggalkan tempat ini. Jangan kalian lanjutkan niat kalian untuk membunuh ke enam orang itu”

“Persetan kau kek. Ternyata bahwa kaulah yang lebih dahulu akan mati”

Ki Mina tidak menjawab. Namun dengan pengalaman yang luas serta pengenalannya atas berbagai macam ciri dari ilmu kanuragan yang tersebar di bumi Mataram dan lingkungannya, maka Ki Minalah yang kemudian segera menekan Taruna yang garang itu.

 -oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 7

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s