TT-05


kembali | lanjut

TT-05AKU hargai sikapmu Ki Sanak. Tetapi sayang, bahwa kami akan mempertahankan bayi beserta ibunya itu dengan cara yang akan kami sesuaikan dengan caramu”

“Jika demikian, kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami akan bertempur. Tetapi akibat dari pertempuran itu bukan tanggung jawab kami. Semuanya seutuhnya adalah tanggung jawab kalian. Jika kemudian mayat kalian terkapar di halaman rumahmu ini, itu pun karena salah kalian sendiri”

“Aku sudah sering mendengar seseorang memutar balikkan persoalan yang sebenarnya seperti yang kau lakukan. Kami pun akan melakukan apa yang akan kami lakukan”

Orang berkumis lebat, yang telah menyabarkan dirinya akan bersikap seakan-akan seorang yang arif itu tidak dapat menahan diri lagi. Karena itu, maka ia pun berata, “Marilah anak-anak. Kita selesaikan tugas kita dengan baik. Meskipun kita tidak datang untuk membunuh, tetapi orang tua suami isteri ini berniat untuk membunuh diri. Kita justru akan mereka jadikan alat untuk melakukannya. Tetapi biarlah kita menolongnya untuk mempercepat kematian mereka”

Lima belas orang pun telah bergerak serentak. Namun orang berkumis lebat itu pun memberikan isyarat kepada orang yang rambutnya sudah memutih itu untuk mengambil langkah-langkah tersendiri.

Ki Mina dan Nyi Mina pun dapat menangkap isyarat itu. Beberapa orang diantara mereka akan memasuki rumahnya untuk mengambil Tatag dan ibunya. Namun Wikan masih tetap berada di ruang dalam dan menjaga agar tidak seorang pun dapat memasuki pintu sentong yang dipergunakan oleh Tanjung dan anaknya.

Sejenak kemudian. Ki Mina dan Nyi Mina pun telah bergeser, sementara orang berkumis lebat serta para pengikutnya pun telah mulai berloncatan menyerang.

“Kita tidak perlu berbasa-basi lagi Nyi” desis Ki Mina, “jumlah mereka cukup banyak”

Nyi Mina mengerti maksud suaminya. Karena itu, ketika orang-orang yang datang ke rumahnya itu menyerang mereka dengan senjata di tangan, maka Ki Mina dan Nyi Mina pun telah menghunus senjata mereka pula.

Sejenak kemudian pertempuran pun segera berlangsung dengan sengitnya. Namun seperti sudah diperhitungkan oleh Ki Mina dan Nyi Mina, lima orang diantara mereka segera memisahkan diri. Mereka pun segera pergi ke pintu rumah Ki Mina yang masih terbuka.

Orang yang berkumis lebat itu pun dengan sengaja berkata lantang, “Ambil anak dan perempuan itu. Singkirkan siapa pun yang mencoba menghalangi kalian”

“Baik, Ki Lurah, “jawab orang yang rambut sudah memutih itu.

Orang yang perutnya buncit itu rasa-rasanya tidak sabar lagi. Ia pun segera meloncat memasuki pintu rumah Ki Mina.

Namun demikian ia meloncat masuk, maka tiba-tiba saja orang itu bagaikan hilang ditelan hantu. Tubuhnya terhisap kesamping dan tanpa sempat berdesah orang itu terguling jatuh terbaring di sebelah pintu.

Orang yang bertubuh tinggi di kurus-kurusan tidak begitu mengerti apa yang telah terjadi. Ia pun segera meloncat masuk pula. Namun tiba-tiba saja ia telah terlempar dengan kerasnya. Tubuhnya menimpa tiang rumah itu sehingga rumah itu seakan-akan telah bergetar. Sedangkan orang yang bertubuh kurus itu terkapar di lantai. Pingsan.

Orang yang berambut putih itu ternyata cukup berhati-hati. Ia pun menyadari, apa yang telah terjadi dengan kedua orang kawannya. Karena itu, maka ia pun mencegah orang ketiga yang akan meloncat masuk.

“Hati-hatilah. Ada orang di belakang pintu yang menunggu kalian”

Kedua orang kawannya mengurungkan niatnya. Orang berambut putih itulah yang kemudian dengan sangat berhati-hati bergeser ke pintu. Dengan Luwuk yang besar di tangannya, orang itu pun meloncat masuk ke ruang dalam.

Wikan yang berdiri di sebelah pintu sengaja membiarkannya. Ia tahu, bahwa orang yang masuk kemudian sangat berhati-hati dan bahkan dengan senjata telanjang di tangannya.

Wikan pun kemudian justru bergeser ke tengah. Ia harus menjaga agar tidak seorang pun diantara mereka dapat memasuki pintu sentong yang dipergunakan oleh Tanjung dan Tatag.

Namun lawan Wikan itu telah berkurang dua orang yang terbaring pingsan.

“Anak muda” berkata orang yang rambutnya telah memutih “ternyata kau memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun dengan cara yang licik, kau telah mampu membuat kedua orang kawanku tidak berdaya”

“Apakah aku licik?” bertanya Wikan.

“Tentu. Kau serang kami yang masih belum siap. Bahkan kau telah merunduk kami dengan diam-diam”

“Jadi menurut pendapatmu aku menghadapi kalian dengan cara yang licik?”

Orang yang berambut putih itu menarik nafas panjang. Katanya, “Kau tentu akan mengatakan bahwa kamilah yang licik, karena kami datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari jumlah kalian”

“Bukankah itu kenyataannya”

“Ya. Tetapi kami tidak menghiraukannya. Sekarang minggirlah. Kami akan mengambil anak dan ibunya itu”

”Kau tahu bahwa aku berada disini untuk mencegahmu”

”Baik Dengan demikian, maka kami harus membunuhmu”

Wikan pun segera mempersiapkan diri. Ketiga orang itu pun telah mengacukan senjata mereka pula. Sebuah luwuk yang besar, sebuah bindi dan sebuah kapak.

“Kau akan kami lumatkan jika kau berniat melawan” Kau masih saja mengigau. Kau tahu bahwa aku akan melawan”

Sejenak kemudian, telah terjadi pertempuran yang sengit. Di tangan Wikan telah tergenggam sebilah pedang yang panjang. Dengan pedangnya Wikan melawan ketiga orang dengan senjata mereka masing-masing.

Orang yang berambut putih itu berusaha untuk menekan Wikan agar kawannya mendapat kesempatan untuk mencari bayi dan ibunya itu. Namun ternyata kesempatan itu tidak pernah diperolehnya. Meskipun di ruang yang terbatas, namun Wikan mampu berloncatan untuk mencegah lawannya memasuki pintu sentong yang dipergunakan oleh Tanjung dan Tatag.

Namun agaknya pertempuran di ruang dalam itu telah mengejutkan Tatag. Karena itu, maka Tatag yang baru saja memejamkan matanya itu telah terbangun lagi. Nampaknya anak itu menjadi marah, bahwa tidurnya menjadi terganggu karenanya.

Dengan demikian, maka Tatag pun segera menangis. Tangisnya melengking tinggi. Getar suara tangis bayi itu seakan-akan telah menggetarkan jantung mereka yang sedang bertempur di ruang dalam itu.

Wikan yang sudah terbiasa mendengar tangis Tatag, tidak begitu terpengaruh karenanya. Tetapi ketiga orang lawannya itu merasakan tangis itu telah mengguncang-guncang dadanya, sehingga mereka tidak mampu memusatkan perhatian mereka kepada lawan mereka. Bahkan bukan hanya mereka yang berada di ruang dalam. Tangis Tatag yang marah itu telah menggetarkan halaman pula. Orang-orang yang datang untuk mengambilnya bersama ibunya, yang bertempur di halaman merasa sangat terganggu oleh suara tangis itu.

“Gila“ teriak seorang yang berwajah pucat, “sumbat mulut anak itu”

Tetapi tidak seorang pun yang dapat melakukannya. Bahkan ketiga orang yang bertempur di ruang dalam pun mulai mengalami kesulitan melawan Wikan.

Bukan saja karena tangis bayi di sentong yang melengking-lengking menggetarkan udara, tetapi lawan mereka memang seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi.

Betapa pun ketiga orang yang akan mengambil Tatag itu berusaha dengan meningkatkan kemampuan mereka sampai ke puncak, namun mereka tidak mampu segera menghentikan perlawanan Wikan.

Bahkan ujung senjata Wikan lah yang mulai menyentuh tubuh-tubuh mereka. Seorang diantara ketiga orang itu berteriak nyaring. Kemudian mengumpat-umpat kasar ketika ujung senjata Wikan mengoyak lengannya. Darah pun mulai mengucur membasahi lantai.

Dalam pada itu, Tanjung yang berada di dalam sentong itu pun menjadi bingung karena Tatag menangis berkepanjangan. Betapa pun Tanjung berusaha, namun Tatag masih saja menangis melengking-lengking.

“Diam ngger, diam. Jangan menangis lagi. Jangan takut. Kakek dan nenek Mina melindungimu. Begitu juga paman Wikan. Ia sangat baik kepadamu”

Tetapi Tatag tidak mau diam. Ia memang tidak sedang ketakutan. Tetapi Tatag itu menjadi sangat marah karena tidurnya terganggu. Karena itu, maka tangisnya pun menghentak-hentak seakan-akan meruntuhkan atap rumah itu.

Pertempuran di dalam dan di luar rumah masih saja berlangsung semakin sengit. Orang-orang yang datang untuk mengambil Tatag dan ibunya itu sudah mengerahkan segala kemampuan mereka. Namun ternyata bahwa kemampuan mereka tidak cukup tinggi untuk menundukkan dan apalagi membunuh ketiga orang yang melakukan perlawanan di rumah itu.

Bahkan beberapa saat kemudian, seorang telah terlempar dari ruang dalam jatuh berguling keluar pintu yang terbuka. Namun orang itu tidak segera dapat terbangun. Yang terdengar adalah erang kesakitan. Luka yang menyilang telah tergores di dada. Bahkan seorang lagi yang bertempur melawan Wikan lelah terpelanting ketika kaki Wikan menghentak dadanya dengan kerasnya. Kepalanya membentur tlundak pintu butulan dengan derasnya, sehingga orang itu pun tidak dapat bangkit lagi. Pingsan. Darah telah mengalir dari luka di bagian belakang kepalanya yang membentur tlundak pintu.

Yang masih bertempur melawan Wikan adalah tinggal orang yang rambutnya sudah mulai memutih. Betapa pun ia mengerah-kan kemampuannya, namun Wikan bukanlah lawannya.

“Sudahlah. Ki Sanak” berkata Wikan, “Kau tidak perlu memaksa diri untuk bertempur terus. Kau harus mengakui kenyataan yang kau hadapi malam ini”

“Persetan dengan kesombonganmu. Kau kira aku tidak akan dapat membunuhmu?“

“Jangan berpura-pura lagi Ki Sanak. Kau tentu dapat mengukur kemampuanmu sendiri”

“Kau terlalu sombong anak muda”

“Bukan maksudku. Tetapi aku ingin memperingatkanmu, bahwa tidak ada gunanya kau bertempur terus. Lihat. Empat orang kawanmu sudah tidak berdaya. Bukankah kau tahu, bahwa kau seorang diri tidak akan dapat mengalahkan aku?”

“Aku akan memenggal kepalamu dan melemparkannya ke halaman agar kedua orang yang bertempur di halaman itu menyadari keadaan yang sesungguhnya”

Wikan tertawa tertahan. Kalanya, “Kau sudah mulai mengigau karena keputus-asaan. Sudahlah. Marilah kita berhenti bertempur. Kawan-kawanmu di halaman itu tidak ada yang tahu jika kau duduk saja di amben itu. Bukankah sama saja bagimu? Dengan menguras tenaga pun kau tidak akan dapat mengalahkan aku”

Orang berambut pulih itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya beberapa orang kawannya yang pingsan. Dilihatnya titik-titik darah di lantai rumah itu.

“Sekarang, akan lebih baik bagimu untuk melihat kawan-kawanmu yang terbaring itu. Apakah mereka mati atau pingsan saja. Mungkin kau dapat menolong mereka. Di sudut itu ada gendi yang berisi air. Kau dapat menitikkan air itu dibibir kawan-kawanmu agar mereka menjadi sadar”

Orang itu masih saja termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menarik nafas sambil berkata, “Baiklah. Aku akan melihat keadaan kawan-kawanku. Kecuali seorang yang terlempar keluar.

Orang berambut putih itu pun menghentikan perlawanannya. Ia pun kemudian berjongkok di samping kawannya yang kepalanya terbentur tlundak pintu.

“Ia masih hidup” desisnya

“Ambil gendi itu“ sahut Wikan.

Orang berambut putih itu pun kemudian mengambil gendi yang berisi air bersih dan bahkan sudah di rebus hingga mendidih sebelum dituang ke dalam gendi.

Beberapa saat kemudian, dititikannya air dari dalam gendi itu kedalam mulut kawannya yang pingsan.

Ternyata sesaat kemudian, kawannya itu mulai bergerak. Perlahan-lahan ia pun telah membuka matanya.

Namun ketika ia mencoba untuk bangkit, kepalanya itu pun telah terkulai lagi.

“Jangan bergerak. Nanti darahmu akan semakin banyak mengalir” desis orang berambut putih itu.

Orang itu memang tidak bergerak lagi. Yang terdengar kemudian adalah keluhan tertahan. Kepalanya terasa bukan saja pedih, tetapi rasa-rasanya dunia itu berputaran.

Orang berambut putih itu pun kemudian berusaha untuk menolong kawan-kawannya yang lain pula.

Dalam pada itu, ketika Wikan menjenguk keluar, maka paman dan bibinya pun sudah tidak bertempur lagi. Lawan-lawannya sudah ditundukannya. Hampir semua telah terluka. Sedangkan ada diantara mereka yang tidak nampak luka di tubuhnya, tetapi rasa-rasanya isi dada mereka telah diremukkan. Tulang-tulang iganya seakan-akan telah berpatahan.

Bahkan sejenak kemudian, paman dan bibinya itu pun telah masuk ke ruang dalam. Dengan nada berat Ki Mina pun berkata, “Kita akan mempercepat kepergian kita. Kita akan berangkat malam ini. Kita tidak menunggu sampai esok pagi”

“Kita berangkat malam ini?” bertanya Wikan.

“Ya. Bukankah tidak ada bedanya? Semuanya sudah kita siapkan. Juga apa saja yang akan kita bawa”

“Tetapi bagaimana dengan binatang peliharaan kita kakang? Siapa yang akan memberi makan ayam-ayam kita?” desis Nyi Mina.

“Buka pintu kandangnya. Biarlah esok mereka keluar. Mereka akan dapat mencari makan sendiri di pategalan ini”

Nyi Mina menarik nafas panjang.

Beberapa saat kemudian, semuanya pun telah siap. Tatag tidak menangis lagi. Setelah pertempuran selesai, anak itu merasa tidak terganggu sehingga ia pun telah tertidur di gendongan ibunya.

Di halaman Ki Mina berkata kepada orang-orang upahan Ki Bekel yang sudah tidak berdaya lagi untuk melawan, “Pulanglah. Jika ada kawanmu yang terbunuh, itu sama sekali bukan niat kami. Mudah-mudahan tidak ada yang mati“ Ki Mina itu pun berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Sampaikan salamku sekeluarga kepada Bekelmu itu. Katakan, bahwa kami mengampuninya lagi kali ini. Tetapi kali ini adalah kali yang terakhir. Jika sekali lagi ia mencoba mengambil bayi itu dan ibunya, maka kami akan membunuhnya. Ia tidak akan dapat bersembunyi dari penglihatan kami. Kami akan datang dan mencekik lehernya sampai mati”

Orang-orang upahan itu terdiam. Yang lain masih saja mengerang kesakitan dan bahkan masih ada yang diam sama sekali.

“Kami akan pergi malam ini. Bukan karena kami takut menghadapi Ki Bekel dan orang-orang upahannya. Telapi kami memang akan pergi. Terserah kalian apa yang akan kalian lakukan disini. Baik atas kawan-kawan kalian mau pun atas rumah dan perabot kami yang kami tinggalkan. Kami akan berterima kasih jika ada diantara kalian yang bersedia menunggui rumah kami selama kami pergi, dan memelihara binatang-binatang peliharaan kami. Aku tidak berkeberatan jika sekali-sekali kalian memotong ayam kami yang berkeliaran itu”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Namun Ki Mina memang tidak menunggu jawaban. Bersama Nyi Mina, Wikan, Tanjung yang mendukung anaknya, Ki Mina itu meninggalkan rumahnya.

Orang yang berambut putih serta orang yang dianggap pemimpin dari sekelompok orang upahan itu pun duduk termangu-mangu di tangga rumah Ki Mina yang ditinggalkan. Pintunya terbuka. Lampu minyak masih menyala di dalamnya. Sementara itu, dini hari  pun merabat menjelang fajar.

“Mereka pergi ke mana?” bertanya orang berambut putih.

“Entahlah“ jawab pemimpin orang-orang upahan yang terluka di lambungnya. Tetapi luka itu tidak begitu parah pada saat ia memutuskan untuk menyerah.

“Mereka orang-orang aneh. Mereka tidak membunuh kita meskipun kita siap membunuh mereka. Bukan sekedar ancaman, tetapi kita benar-benar berniat membunuh mereka”

“Ya. Bahkan anak muda itu membiarkan aku merawat kawan-kawan kita yang pingsan”

Pemimpin orang-orang upahan itu pun bangkit berdiri sambil berkata, “Marilah, kita lihat keadaan mereka. Kita akan membawa mereka segera pergi”

“Kenapa tergesa-gesa? Biarlah mereka beristirahat disini. Bukankah kita mempunyai reramuan obat-yang dapat untuk menolong mereka, sementara mereka belum di tangani oleh seorang tabib yang baik”

Pemimpin orang-orang upahan itu menarik nafas panjang.

Dalam pada itu, orang berambut pulih itu pun kemudian berkata, “Aku tidak akan pergi. Aku akan menunggui rumah ini serta merawat perabotnya dengan baik. Aku juga akan memelihara ternak yang ditinggalkan oleh orang yang aneh itu”

Pemimpinnya menarik nafas panjang. Katanya, “Baik. Aku setuju kau bersedia menunggu dan merawat rumah ini”

“Terima kasih. Tetapi bagaimana dengan Ki Bekel?”

“Aku akan memberikan laporan sebagaimana yang telah terjadi disini. Kali ini aku tidak ingin berbohong. Aku akan mengatakan yang sesungguhnya”

Orang yang rambutnya sudah memutih itu menarik nafas panjang. Jika saja ia berhadapan dengan orang lain yang memiliki ilmu setinggi anak muda itu, mungkin lehernya benar-benar telah ditebas hingga putus. Tetapi anak muda itu tidak membunuhnya. Bahkan anak muda itu memperingatkan untuk merawat kawan-kawannya yang pingsan.

“Kasihan perempuan dan anak bayinya itu. Mereka harus menempuh perjalanan di dini hari yang dingin seperti ini. Jika saja kita tidak datang malam ini, mereka temu akan berangkat esok pagi, jika sinar matahari mulai meraba dedaunan”

Keduanya pun tidak berbicara lagi. Namun mereka pun mulai mengangkat dan mengumpulkan kawan-kawan mereka. Yang masih mampu bangkit dan berjalan tertatih-tatih telah dituntun, sedangkan yang tidak mampu berjalan sendiri telah dipapah oleh mereka yang masih dapat berdiri tegak.

Dalam pada itu, Ki Mina, Nyi Mina, Wikan dan Tanjung serta Tatag telah berjalan semakin lama semakin jauh dari rumahnya. Tetapi mereka tidak dapat berjalan terlalu cepat. Tanjung yang mendukung Tatag tidak dapat berjalan terlalu cepat.

Di belakang Tanjung, Wikan harus membawa sebuah keran-jang yang bukan saja berisi pakaian Tanjung, tetapi juga pakaian serta peralatan makan dan minum bagi Wikan.

“Kalau kau letih, katakan Tanjung” berkata Nyi Mina, “kita akan beristirahat. Kita tidak tergesa-gesa karena kita tidak dibatasi oleh waktu. Sedangkan perjalanan kita cukup panjang, sehingga kita harus menghemat tenaga kita”

“Ya, bibi” sahut Tanjung. Tetapi ia berusaha untuk tidak menjadi manja dan cengeng. Dengan tegar Tanjung berjalan disamping Nyi Mina. Sedangkan Ki Mina berjalan di paling depan dan Wikan berjalan di belakang.

Ketika matahari terbit, mereka sudah berada di jarak yang cukup jauh. Mereka berhenti sejenak, untuk mengganti popok Tatag yang basah. Namun Tatag sendiri tetap tidur nyenyak. Agaknya Tatag juga merasa letih, setelah semalam ia menangis melengking-lengking oleh kemarahannya karena tidurnya terganggu.

Pada saat matahari menjadi semakin tinggi, maka mereka pun memasuki sebuah padukuhan yang cukup besar di padukuhan itu terdapat sebuah pasar yang ramai.

“Tanjung” berkata Nyi Mina ketika mereka sampai di pasar, “apakah kau memerlukan sesuatu bagi anakmu?”

Tanjung yang tidak sempat menyiapkan makanan bagi Tatag itu pun menyahut, “Aku memerlukan nasi, bibi. Tatag nanti akan aku beri makan nasi dengan gula kelapa”

Nyi Mina mengangguk-angguk. Ia sudah sering melihat anak-anak bahkan bayi sebesar Tatag yang diberi makan nasi yang ditumatkan dengan gula kelapa.

“Baiklah kita berhenti untuk membeli nasi bagi Tatag. Marilah, biarlah gantian aku mendukung Tatag agar kau tidak terlalu letih”

“Tidak apa-apa bibi”

“Jangan bawa anakmu berdesakkan di pasar yang agaknya sedang hari pasaran”

Tanjung termangu-mangu. Namun kemudian di serahkannya Tatag kepada Nyi Mina, sementara Tanjung sendiri masuk ke dalam pasar untuk membeli nasi.

Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan pun menunggu dibawah sebatang pohon yang rindang di depan pasar yang ramai itu.

“Kenapa Tanjung tidak membeli di kedai itu saja?” bertanya Wikan.

“Mungkin ada kebutuhan-kebutuhan lain yang akan di belinya di pasar itu” jawab Nyi Mina. Wikan tidak bertanya lebih jauh.

Namun dalam pada itu, beberapa orang pun telah menyibak ketika dua orang laki-laki dan perempuan yang masih muda, diiringi oleh dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap, mendekati pintu gerbang pasar.

“Siapakah mereka itu?” bertanya Nyi Mina.

“Entahlah” jawab Ki Mina sambil menggeleng.

Namun salah seorang dari dua orang perempuan yang berdiri dibelakang mereka menyahut, “Gadis itu adalah Rara Sumirat. Laki-laki yang berjalan bersamanya adalah bakal suaminya. Namanya Jaka Tama. Sedangkan dua orang itu adalah pengawalnya”

“O” Wikan mengangguk-angguk, “kenapa mereka harus dikawal oleh dua orang pengawal? Apakah tempat ini sering terjadi kerusuhan?”

“Gadis itu anak seorang yang sangat berpengaruh di kademangan ini. Seorang yang sangat kaya. Bahkan wibawa Ki Demang pun kalah dengan pengaruh ayah gadis itu”

“Jadi kenapa harus dikawal?”

“Sesuai dengan pengaruh ayahnya, maka tidak ada seorang pun yang boleh melawan kehendak gadis itu bersama calon suaminya. Apa pun yang mereka kehendaki harus terpenuhi. Calon suami Rara Sumirat itu seorang laki-laki yang keras dan kasar. Tetapi ia membawa banyak uang untuk membeli apa pun yang dikehendaki calon isterinya”

“Jaka Tama itu juga anak seorang yang kaya?”

“Ya. Tetapi sebenarnya ia tinggal di kademangan lain. Tetapi uang yang dibawanya itu sebagian adalah uang pemberian ayah Rara Sumirat”

“Apakah keduanya banyak membagi-bagikan uang kepada orang-orang yang membutuhkan?”

“Tidak. Mereka adalah orang-orang yang pelit”

“Lalu untuk apa uang yang banyak itu?”

“Untuk membeli apa saja yang mereka senangi. Nah, betapa pun pelitnya mereka, namun kadang-kadang orang-orang di pasar itu dapat memeras mereka juga. Barang-barang yang mereka senangi, harganya menjadi lebih tinggi dari harga sewajarnya”

Wikan tertawa. Ki Mina dan Nyi Mina tersenyum pula.

“Ada juga artinya bagi mereka” desis Wikan.

“Tetapi jika mereka marah, maka mereka tidak segan-segan menyakiti orang. Tidak ada yang berani menentangnya, karena kedua pengawal itu adalah orang-orang yang sakti”

Wikan mengangguk-angguk. Sementara itu, anak muda serta gadis itu bersama kedua orang pengawalnya telah hilang di telan oleh keramaian pasar. Namun orang-orang yang mengetahui akan kehadiran mereka, telah menyibak dan memberi jalan kepada mereka. Bahkan para petugas di pasar itu pun telah mengantar mereka berempat berjalan-jalan di dalam pasar, melihat-lihat berbagai macam barang yang di perdagangkan di pasar itu.

Beberapa lama Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan menunggu. Agaknya Tanjung masih mencari kebutuhan bagi Tatag.

Namun tiba-tiba pasar itu nampak gelisah. Beberapa orang berkisar dari tempatnya. Bahkan ada yang tergesa-gesa pergi ke pintu gerbang pasar dan berlari-lari kecil keluar.

“Ada apa?” bertanya seorang perempuan kepada kenalannya yang tergesa-gesa keluar dari pasar itu.

“Rara Sumirat marah kepada seorang perempuan. Bahkan Jaka Tama telah menampar perempuan itu sehingga terpelanting. Tetapi agaknya mereka masih belum puas. Aku tidak sampai hati melihatnya”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu, “jawab perempuan itu.

Sebenarnyalah Rara Sumirat menjadi marah sekali ketika seorang perempuan dengan tidak sengaja menginjak selendangnya yang terjulur di tanah.

Perempuan itu adalah Tanjung yang berjalan agak tergesa-gesa. Ketika beberapa orang menyibak, maka Tanjung pun menyibak pula. Namun ketika ia bergeser untuk keluar dari sekelompok perempuan yang berdesakkan, karena ia ingin segera menemui Tatag yang digendong oleh Nyi Mina, maka kakinya telah menginjak selendang Rara Sumirat yang terbuat dari sutera tipis berwarna kuning mengkilap, yang berjuntai sampai ke tanah.

Rara Sumirat terkejut. Dengan gerak naluriah ditariknya selendangnya. Namun sayang sekali bahwa ujung selendangnya yang mahal itu koyak.

Rara Sumirat menjadi marah sekali. Dengan mata terbelalak perempuan itu memandang wajah Tanjung yang menjadi pucat.

“Perempuan edan. Apa yang kau lakukan, he?“

“Ampun, aku tidak sengaja“ suara Tanjung menjadi gemetar.

“Kau koyakkan selendang suteraku, he?“

“Aku mohon ampun. Bukan maksudku”

“Kau kira kau cukup dengan minta ampun? Selandangku adalah selendang yang sangat mahal. Harga kepalamu pun tidak akan semahal selendangku”

“Tetapi aku tidak sengaja. Aku mohon ampun” Tiba-tiba saja tanpa mengucapkan sepatah kata, Jaka Tama telah menampar pipi Tanjung, sehingga Tanjung itu terpelanting jatuh.

Tetapi agaknya Rara Sumirat masih belum puas. Diterkamnya rambut Tanjung dan ditariknya sekuat tenaganya, sehingga Tanjung berteriak kesakitan.

Beberapa orang pun segera berkerumun. Namun beberapa orang perempuan justru segera pergi karena mereka tidak sampai hati melihat perempuan muda itu disakiti. Bahkan dari sela-sela bibir Tanjung, telah mengalir darah karena bibirnya itu pecah.

“Aku dengar seseorang berteriak” desis Wikan.

“Ya“ sahut Nyi Mina, “seperti suara Tanjung. Lihatlah Wikan, apa yang telah terjadi”

Wikan pun segera berlari. Dengan cepat ia menyusup diantara orang-orang yang gelisah di pasar itu.

Wikan terkejut ketika ia melihat perempuan yang disebut Rara Sumirat itu masih mencengkam rambut Tanjung.

“Kau tidak cukup dengan minta maaf perempuan gila”

”Ampun. Aku mohon ampun. Aku akan berbuat apa saja yang harus aku lakukan”

“Merangkak dan cium kakiku“ teriak Rara Sumirat.

Tanjung tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia menolak maka ia tentu akan disakiti lagi.

Namun ketika Tanjung itu berjongkok di depan Rara Sumirat, terdengar seseorang berkata, “Kau tidak perlu melakukannya, Tanjung”

Semua orang yang mendengarnya berpaling kearah suara itu. Tanjung pun berpaling pula. Dilihatnya Wikan berdiri selangkah di belakangnya.

“Bangkitlah Tanjung” berkata Wikan sambil menarik bahu Tanjung.

“Kakang“ suara Tanjung tenggelam di balik isaknya. Wikan menariknya sehingga Tanjung itu berdiri di belakangnya.

“Apa pun yang terjadi, kau tidak pantas memaksanya merangkak dan mencium kakinya“ geram Wikan.

“Kau siapa, he?“ bertanya Jaka Tama.

“Aku kakangnya. Perempuan ini adalah adikku. Aku tidak dapat membiarkan kau menyakiti dan kemudian menghinakan-nya”

“Setan kau. Apakah kau tidak tahu, siapakah aku dan siapakah gadis ini?”

“Siapa pun kalian, tetapi kalian tidak berhak melakukannya”

“Adikmu telah mengoyakkan selendangku” teriak Rara Sumirat.

“Ia tentu tidak sengaja. Dan adikku telah minta maaf. Bahkan minta ampun”

“Tetapi itu tidak cukup”

“Jadi haruskan kau menghinakannya agar adikku merangkak dan mencium kakinya?“

“Ya”

“Tidak. Aku tidak akan membiarkannya”

“Kau terlalu sombong. Seharusnya kau mengenali kami berdua. Baru kau akan menyadari, bahwa yang kau lakukan ini merupakan satu kesalahan yang besar”

“Tidak. Yang aku lakukan adalah yang terbaik bagi kami”

Dua orang pengawal Rara Sumirat dan Jaka Tama itu mulai bergeser maju. Sementara itu, orang-orang yang berada di sekitar tempat itu pun sudah bergeser menjauh. Bahkan orang-orang yang berjualan pun meninggalkan jualan mereka karena mereka menjadi ketakutan”

“Aku masih memberimu waktu untuk merubah sikapmu” geram Jaka Tama.

“Tidak. Aku tidak akan merubah sikapku. Kaulah yang harus minta maaf kepada adikku, karena kau sudah menamparnya sehingga bibirnya berdarah”

Seorang diantara kedua pengawal itu pun berkata, “Serahkan anak ini kepadaku, den”

“Baik” jawab Jaka Tama, “buat anak itu menjadi jera, ia pun harus merangkak seperti adik perempuannya dan mencium kaki Rara Sumirat”

“Lakukan itu“ bentak seorang diantara kedua pengawal itu, “Jika kau tidak melakukannya, maka kau akan sangat menyesal. Peristiwa ini akan dapat merubah jalan hidupmu”

“Jika kau berniat melakukannya, maka aku pun akan melakukannya pula”

Orang itu menggeram. Perlahan-lahan ia melangkah mendekatinya.

Agaknya orang itu akan memaksa Wikan untuk merangkak. Tetapi agaknya ia tidak merasa perlu untuk mengajak kawannya, pengawal yang seorang lagi.

Dengan geram maka pengawal yang bergeser mendekati Wikan itu pun berkata, “Sekali lagi aku perintahkan kepadamu dan kepada adik perempuanmu. Merangkak dan cium kaki Rara Sumirat”

“Kami memang berbeda dengan kau Ki Sanak. Mungkin kau melakukannya setiap pagi dan sore untuk sekedar mendapat upah. Tetapi kami tidak akan melakukannya”

Pengawal itu menjadi sangat marah. Ia pun segera meloncat menyerang Wikan. Wikan mendorong Tanjung untuk bergeser surut. Sementara itu Wikan sendiri bergeser pula untuk menghindari serangan itu.

Serangan pengawal itu tidak menyentuh sasarannya. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin marah.

Tetapi Wikan telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi-nya. Karena itu, maka pertempuran diantara keduanya pun segera berlangsung.

Tetapi pertempuran itu pun segera menjadi tidak berimbang. Pengawal itu segera terpelanting jatuh. Meskipun pengawal itu segera bangkit berdiri, namun ia masih harus berdesah tertahan. Punggungnya terasa sakit sekali.

Namun pengawal itu tidak segera meyakini kenyataan yang terjadi. Ia masih mempercayai dirinya, bahwa ia akan dapat segera menyelesaikan lawannya.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Dalam waktu yang terhitung singkat, maka pengawal itu sudah terdesak. Beberapa kali serangan Wikan menembus pertahanan-nya, sehingga beberapa kali pengawal itu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian pengawal itu telah terlempar sekali lagi dan jatuh menimpa sebatang pohon perindang di pasar itu.

“Bodoh kau“ teriak Jaka Tama, “Kenapa kau tidak segera menyelesaikannya?“

Pengawal itu tidak menjawab. Tetapi ia pun memberi isyarat, kepada kawannya untuk membantunya.

Sejenak kemudian Wikan pun telah bertempur melawan kedua orang pengawal yang menurut kata orang, mereka adalah orang-orang yang sakti. Tetapi melawan Wikan, maka keduanya harus mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Meskipun Wikan harus bertempur melawan kedua orang pengawal itu, namun Wikan sama sekali tidak tergetar surut. Dengan tangkasnya ia berloncatan menghindar dan membalas menyerang. Setiap kali serangannya menyentuh sasarannya, maka terdengar lawannya itu berdesah menahan sakit.

Namun semakin lama serangan-serangan Wikan menjadi semakin sering mengenai lawan-lawannya, sehingga keduanya pun semakin lama menjadi semakin lemah.

Dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka, maka rasa-rasanya kekuatan mereka pun dengan cepat terhisap habis.

Beberapa kali kedua orang pengawal itu harus jatuh bangun. Namun semakin lama tubuh mereka pun menjadi semakin tidak berdaya. Tulang-tulang terasa retak dimana-mana. Sendi-sendinya bahkan bagaikan saling terlepas.

Akhirnya, kedua orang pengawal yang terpelanting jatuh itu, tidak mampu, lagi bangkit untuk memberikan perlawanan. Wajah mereka menjadi merah biru dan di seluruh tubuhnya pun terdapat memar-memar yang sakitnya tidak teratasi oleh daya tahan tubuh mereka.

Wajah Jaka Tama menjadi pucat. Demikian pula Rara Sumirat. Kedua orang pengawal yang mereka andalkan sudah tidak berdaya lagi.

Jika mereka berada di rumah, maka tidak hanya ada dua orang pengawal, tetapi sekelompok pengawal akan membantu kedua orang pengawal yang tidak berdaya itu. Tetapi di pasar, tidak ada siapa-siapa lagi yang akan dapat melindungi mereka.

Tetapi Jaka Tama itu merasa masih mempunyai senjata yang tidak pernah dikalahkan selama ini oleh siapapun. Bahkan oleh Ki Demang sekalipun.

Karena itu, ketika kedua pengawalnya sudah tidak berdaya, maka Jaka Tama itu, meskipun dengan jantung yang berdebaran, melangkah mendekati Wikan. Dengan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang kuncup, Jaka Tama justru berusaha untuk tetap tengadah. Sambil mengangkat dagunya Jaka Tama itu pun berkata, “Baik- baik, Ki Sanak. Kau sudah mengalahkan kedua orang pengawalku. Sekarang pergilah. Ini beberapa keping uang perak yang bagimu tentu sangat berharga. Bahkan mungkin sekali kau belum pernah melihat uang sebanyak itu”

Bagi Wikan, pernyataan Jaka Tama itu terasa sangat menyakitkan. Karena itu, ketika Jaka Tama mengulurkan beberapa keping uang perak, maka ditepisnya tangan Jaka Tama itu, sehingga beberapa keping uang perak itu jatuh berhamburan.

“Kau kira uangmu itu dapat kau pergunakan untuk membeli harga diri seseorang?”

Jantung Jaka Tama berdesir tajam. Ia tidak mengira bahwa ada orang yang menolak uangnya. Uang yang baginya selalu dapat menyelesaikan semua persoalan.

Tetapi anak muda itu telah menolak uangnya. Bahkan beberapa keping uang perak.

“Anak muda” geram Wikan, “kau tidak akan dapat membeli harga diri kami dengan uang itu. Sekarang, kau dan gadis itu harus minta maaf kepada adikku. Aku tidak akan menuntutmu untuk merangkak dan mencium kakinya. Tetapi yang aku inginkan, adalah pengakuan salahmu yang sungguh-sungguh. Kau tentu sering melakukan hal yang sama kepada orang lain sebelumnya. Ingat itu dan sesali tingkah lakumu itu”

Jaka Tama nampak ragu-ragu meskipun wajahnya menjadi semakin pucat serta keringatnya telah membasahi pakaiannya. Bahkan Rara Sumirat pun menjadi gemetar ketakutan.

“Lakukan, atau aku akan memaksamu dengan cara yang lebih buruk dari cara yang dipergunakan oleh kedua orang pengawalmu”

“Baik. Baik. Aku akan minta maaf kepada adikmu”

Wikan itu pun bergeser selangkah dan menarik tangan Tanjung untuk maju selangkah.

“Kami berdua minta maaf atas keterlanjuran kami” berkata Jaka Tama.

“Kau minta maaf untuk dirimu sendiri. Biarlah gadis itu minta maaf sendiri kepada adikku. Namanya Genduk”

“Genduk?” ulang Jaka Tama.

“Ya” sahut Wikan.

“Genduk” desis Jaka Tama, “aku minta maaf atas ketelanjuranku.

Tanjung justru menjadi bingung. Namun ketika Wikan memandanginya, Tanjung itu pun kemudian mengangguk.

“Aku juga genduk” berkata Rara Sumirat perlahan sekali. Hampir tidak terdengar.

Tanjung itu pun mengangguk lagi.

“Nah” berkata Wikan, “adikku sudah memaafkan kalian. Tetapi ingat. Kalian minta maaf tidak hanya kepada adikku. Tetapi juga kepada semua orang yang pernah kau sakiti hatinya. Kau sesali perbuatanmu yang mengandalkan pengaruh orang tuamu. Ternyata dalam keadaan yang penting, kalian tidak dapat berbuat apa-apa dengan kemandirian kalian sendiri”

Jaka Tama dan Rara Sumirat hanya menunduk saja.

“Sekali lagi aku minta, sesali semua perbuatanmu itu”

Wikan pun kemudian berpaling kepada Tanjung, “Marilah kita tinggalkan tempat ini”

Ketika mereka beranjak, maka mereka melihat Ki Mina dan Nyi Mina ternyata sudah ada di belakang mereka. Tatag masih saja tetap tidur di gendongan Nyi Mina.

“Marilah” berkata Ki Mina.

Namun Wikan masih berpaling kepada Jaka Tama, “Berikan uang itu kepada para pedagang yang kau rugikan. Mungkin ada yang dagangannya menjadi rusak tertimpa kedua orang pengawalmu itu”

“Baik. Baik” jawab Jaka Tama dengan serta merta. Sejenak kemudian, maka Wikan, Tanjung bersama Ki Mina dan Nyi Mina yang menggendong Tatag pun telah keluar dari pasar itu.

Dengan susah payah kedua orang pengawal Jaka Tama dan Rara Sumirat itu pun berusaha bangkit berdiri. Punggung mereka rasa-rasanya telah menjadi patah.

“Ambil uang yang berceceran itu” berkata Jaka Tama.

Meskipun sambil menyeringai kesakitan, namun kedua orang pengawal itu pun kemudian telah memungut uang perak yang berceceran.

Jaka Tama pun kemudian memanggil dua orang petugas pasar yang semula mengiringinya. Kepada keduanya Jaka Tama pun berkata, “Terima uang ini. Bagi kepada para pedagang yang telah dirugikan oleh peristiwa ini”

Kedua orang petugas itu menjadi agak bingung. Namun Jaka Tama pun berkata, “Lakukan pesan anak itu. Berbuatlah yang terbaik. Jika tidak, maka pada saat ia kembali, maka kalian berdua akan menerima akibatnya. Anak muda itu ternyata memiliki ilmu yang tidak dapat dijajagi. Dua orang pengawalku yang terbaik, sama sekali tidak berdaya menghadapinya”

“Baik, baik den” jawab petugas pasar itu.

“Marilah Rara“ ajak Jaka Tama, “Kita pulang. Kita dapat merenungi apa yang baru saja terjadi. Satu pengalaman baru bagi kita. Tetapi agaknya ada juga sisi baiknya. Ternyata bahwa tidak segalanya dapat kita beli dengan uang. Salah satunya, menurut anak muda itu, adalah harga diri”

Rara Sumirat sama sekali tidak menjawab. Tetapi agaknya ia mempunyai sikap yang berbeda dengan Jaka Tama. Rara Sumirat justru merasa bahwa ia telah dihinakan dihadapan banyak orang, sementara ayahnya adalah orang yang sangat berpengaruh di kademangannya. Bahkan uang yang ditawarkan telah ditepisnya hingga berceceran.

“Betapa sombongnya” kata didalam hati.

Rara Sumirat sudah berniat bulat untuk mengadukan penghinaan itu kepada ayahnya. Tidak hanya ada dua pengawal di rumahnya. Sementara itu, selendangnya telah menjadi koyak. Sebenarnyalah, bahwa demikian Rara Sumirat sampai di rumahnya, maka ia pun segera berlari mencari ayahnya sambil menangis. Gadis itu sengaja menangis terisak-isak sehingga nafasnya pun seakan-akan telah tersumbat di kerongkongan.

“Ada apa? Ada apa?“ bertanya ayah dan ibunya hampir berbareng.

Di sela-sela isaknya yang dipaksakan Rara Sumirat telah menceritakan apa yang telah terjadi di pasar. Seorang anak muda telah menakut-nakutinya dan bahkan menghinanya di hadapan orang banyak.

“Apa yang telah terjadi?“ bertanya ayah Rara Sumirat kepada Jaka Tama.

Jaka Tama pun menceriterakan sebagaimana yang telah terjadi. Bahkan ia pun berkata, “Ada yang dapat aku teladani pada anak muda itu, ayah. Harga dirinya tidak dapat dibeli dengan uang”

Namun Rara Sumirat pun berteriak, “Aku pun mempunyai harga diri. Ayah juga mempunyai harga diri. Keluarga kami tidak mau diremehkan oleh anak edan itu”

Seorang anak muda yang tiba-tiba muncul dari pintu butulan bertanya dengan lantang, “Apa yang telah terjadi mbokayu?”

“Mbokayumu dan kakangmu telah dihina orang di pasar”

“Apa yang terjadi?”

Ternyata Rara Sumirat sengaja membakar hati adik laki-lakinya yang sudah tumbuh dewasa itu serta menggelitik perasaan ayah dan ibunya.

“Bagaimana dengan kedua orang pengawal yang menyertaimu ke pasar?”

“Mereka adalah tikus-tikus yang tidak berdaya. Keduanya menjadi ketakutan oleh gertak anak muda itu sehingga mereka tidak berani melawan dengan sungguh-sungguh”

“Gila. Jadi keduanya tidak berani melawan?” anak muda itu telah beranjak dari tempatnya.

Namun Jaka Tama pun mencegahnya, “Kau mau apa?”

“Pengecut itu harus mendapat hukuman”

“Tidak perlu“ sahut ayahnya, “sekarang, kemana anak muda itu pergi”

“Aku tidak tahu, “jawab Rara Sumirat.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Mempertahankan harga diri ayah, kakang Jaka Tama dan seluruh keluarga kita”

“Tetapi kemana kami harus menyusul keduanya?”

“Petugas di pasar itu akan dapat menunjukkan, kemana mereka pergi”

Tetapi Jaka Tama pun berkata, “Ayah tidak perlu mencarinya. Biarlah anak itu pergi. Ia tidak berbuat sesuatu yang melampaui batas kewajaran. Anak itu mempertahankan harga dirinya. Memang tidak sepantasnya aku memerintahkan kepadanya untuk merangkak dan mencium kaki Rara Sumirat”

“Itu harus dilakukannya” teriak adik laki-laki Rara Sumirat yang baru menginjak dewasa, “jika peristiwa ini dibiarkan saja, maka orang-orang kademangan ini akan terpengaruh. Wibawa ayah akan turun di mata mereka”

“Kita akan mencari mereka” teriak adik Rara Sumirat.

Namun ayahnya pun kemudian menyahut dengan lantang pula, “Perintah untuk menyediakan enam ekor kuda. Aku akan mencari anak muda itu bersama Jaka Tama dan Prakosa”

Dengan cepat Prakosa, adik Rara Sumirat yang memasuki usia dewasanya itu menyahut, “Baik ayah. Aku akan membuat anak itu jera”

“Aku akan membawa dua orang pengawal terbaik dan kakang Magenturan”

“Ayah akan mengajak guru?“

“Ya. Mungkin anak muda itu pun bersama gurunya. Betapa pun tinggi ilmu gurunya, tidak akan dapat menandingi kakang Magenturan”

“Baik, ayah. aku akan mohon kepada guru untuk pergi bersama kita”

“Kebetulan gurumu ada disini hari ini, Prakosa”

Prakosa itu pun segera berlari ke gandok.

Ketika keinginan ayahnya itu disampaikan kepada Ki Magenturan, maka Ki Magenturan itu pun dengan serta merta menyahut, “Menyenangkan sekali mendapat kesempatan untuk mengangkat harga diri adi Wirakersa”

Sejenak kemudian enam ekor kuda telah berlari menuju ke pasar yang masih saja ramai. Tetapi Wikan telah tidak ada di pasar itu.

Jaka Tama yang terpaksa ikut bersama calon ayah mertuanya itu pun berkata, “Mereka tentu sudah jauh, ayah”

“Bukankah kita berkuda? Jika kita ketahui arah perjalanannya, maka kita akan dapat menyusul-nya”

Prakosa lah yang kemudian mencari petugas pasar itu. Mereka baru saja selesai membagi uang Jaka Tama yang berceceran kepada para pedagang yang merasa dirugikan oleh peristiwa itu.

Tetapi sebagian dari uang perak itu pun telah masuk ke dalam kantong ikat pinggang kedua petugas itu.

Meskipun demikian, para pedagang itu pun sudah merasa puas karena mereka mendapatkan uang yang bahkan lebih dari nilai dagangan mereka yang rusak.

“Kemana anak muda yang telah menghina mbokayu Rara Sumirat itu pergi“ bentak Prakosa.

“Aku tidak tahu, den“ jawab salah seorang diantara mereka.

“Bohong. Kau takut kepada anak muda itu?“

“Tidak den. Tetapi kami benar-benar tidak tahu, kemana ia pergi. Demikian anak muda dan adiknya itu keluar dari pasar, maka aku pun segera menertibkan lingkungan yang menjadi berserakan itu”

“Jangan bohong”

“Tidak. Aku tidak bohong”

Namun Prakosa tidak puas dengan jawaban itu. Sambil menimang sekeping uang perak ia pun bertanya kepada beberapa orang yang berjualan di pinggir jalan karena mereka tidak mendapat lagi didalam pasar.

Akhirnya seorang perempuan gemuk, yang berjualan kreneng di depan pasar itu dapat menunjukkan arah kepergian anak muda bersama adik perempuannya.

“Bahkan mereka berjalan berempat. Selain anak muda itu bersama adik perempuannya, mereka juga berjalan bersama ayah dan ibu mereka. Ibu mereka menggendong seorang bayi yang masih kecil”

“Kau tidak berbohong” desak Prakosa.

“Orang itu sekedar mengigau“ sahut Jaka Tama, “Anak muda itu hanya berdua dengan adik perempuannya”

“Tetapi ayah dan ibunya ternyata ada di pasar ini pula” sahut perempuan gemuk yang berjualan kreneng itu.

“Kau tentu berkata sekenanya saja“ potong Jaka Tama.

“Aku berani sumpah. Aku melihat ketika anak muda itu berkelahi di dalam pasar”

“Aku percaya kepadanya” berkata Prakosa sambil melemparkan sekeping uang perak itu.

Sejenak kemudian, maka enam ekor kuda dengan para penunggangnya telah berlari dengan kencang ke arah sebagaimana ditunjukkan oleh perempuan gemuk itu.

Ketika mereka sampai disebuah simpang tiga, maka Prakosa pun telah bertanya kepada seorang perempuan yang duduk di tanggul parit menunggui makanan yang berada di dalam sebuah bakul kecil. Agaknya perempuan itu datang ke sawah mengirim makan dan minum bagi suaminya yang sedang membajak.

“Kau sudah lama duduk disitu Nyi?“ bertanya Prakosa.

“Belum, den“ jawab perempuan itu.

“Apakah kau lihat empat orang yang lewat dijalan ini. Seorang diantara mereka menggendong bayi?“

“Aku tidak melihatnya, den”

Namun laki-laki yang sedang membajak di sawah itulah yang justru menjawab, “Aku melihat mereka. Kenapa dengan mereka?“

“Mereka baru saja datang ke rumahku. Mereka masih sanak kadangku. Tetapi mereka tidak sempat menunggu ayah. Karena itu, demikian ayah pulang, maka ayah ingin menyusul agar dapat bertemu dengan mereka”

“O“ laki-laki itu berhenti membajak. Katanya, “Mereka membelok ke kanan. Belum terlalu lama”

“Terima kasih“

Prakosa pun kemudian telah memacu kudanya. Ayahnya mengikutinya dibelakang. Sementara yang lain pun telah melarikan kuda mereka dibelakangnya.

Ternyata tidak terlalu lama kemudian, orang-orang berkuda itu telah melihat ampat orang yang berjalan di hadapan mereka. Dua laki-laki dan dua perempuan.

“Itu mereka” berkata Prakosa sambil mempercepat lari kudanya.

Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah berhasil menyusul keempat orang yang berjalan di depan mereka. Prakosa sengaja mendahului mereka. Baru kemudian ia menghentikan kudanya.

Keempat orang yang berjalan itu terkejut. Namun ketika mereka melihat diantara keenam orang berkuda itu anak muda yang bernama Jaka Tama, maka mereka menyadari, apa yang akan terjadi.

Karena itu, maka Nyi Mina pun berbisik kepada Tanjung yang sudah menggendong anaknya, “Hati-hatilah Tanjung”

“Ya, bibi”

Dalam pada itu, dengan lantang Prakosa pun bertanya kepada Jaka Tama, “Apakah anak muda ini yang dimaksud oleh mbokayu Rara Sumirat?“

Namun jawab Jaka Tama mengejutkan. Sambil menggeleng ia pun menjawab dengan tegas pula, “Bukan. Aku belum pernah melihat anak muda itu. Sudah aku katakan, anak muda itu berada di pasar bersama adiknya. Tanpa orang lain. Sedangkan perempuan itu menggendong anaknya. Perempuan itu tentu bukan adik orang ini. Tetapi isterinya”

Prakosa mengumpat kasar. Dengan geram ia pun bertanya, “Kau berkata sebenarnya?“

“Ya. Aku berkata sebenarnya. Buat apa aku berbohong, justru aku yang telah direndahkannya dihadapan banyak orang”

“Tetapi sejak di rumah kau sudah ragu“

“Aku meragukan arah kepergiannya. Aku berpendapat bahwa sulit untuk menemukan mereka”

Prakosa menggeram. Namun tiba-tiba saja ia bertanya dengan kasar, “He, kalian melihat seorang anak muda yang berjalan bersama adiknya perempuan?“

Yang menjawab Ki Mina mendahului Wikan, karena Ki Mina tahu, bahwa jika Wikan yang menjawab, maka ia tentu akan mengaku, bahwa dirinyalah yang dicari. Katanya, “Tidak ngger. Kami tidak melihat seorang anak muda yang berjalan bersama adik perempuannya. Kami tidak bertemu dengan siapa-siapa”

“Setan anak itu. Jika saja aku dapat menjumpainya, aku cincang tubuhnya sampai lumat”

Gurunyalah yang kemudian berkata, “Sudahlah, Prakosa. Biarlah mereka pergi”

Prakosa menggeram. Namun kemudian ia pun menggerakkan kendali kudanya sambil menggeram, “Aku akan mencarinya sampai aku mendapatkan orang itu”

Prakosa yang berkuda di paling depan segera memutar kudanya dan melarikannya kembali sambil berkata, “Perempuan di pasar itu telah menipuku”

“Tidak” sahut gurunya, “ia sama sekali tidak berniat menipu. Ia tidak akan berani melakukannya. Jika ia keliru, itu tentu hanya satu kekhilafan. Bukan kesengajaan. Karena itu, tidak sepantasnya kau menyalahkannya”

Prakosa tidak menjawab. Ia memang tidak berani membantah kata-kata gurunya. Karena itu, maka untuk melepaskan kekesalannya ia pun telah mendera kudanya dan dilarikannya pulang.

Dibelakanghya ayahnya berkata kepada Ki Magenturan, “Jadi kita tidak dapat menemukannya”

“Sudahlah” berkata Ki Magenturan, “memang sulit untuk mencari seseorang yang telah pergi dengan jarak waktu yang cukup panjang. Ada delapan, bahkan enam belas arah mata angin. Sulit bagi kita untuk memilih salah satu diantaranya”

Ki Wirakersa itu pun menarik nafas panjang.

Sementara itu Jaka Tama berkuda di paling belakang. Dadanya terasa bergejolak. Tetapi ia sudah berniat untuk tidak memperpanjang persoalannya dengan anak muda yang ditemuinya di pasar itu. Bahkan Jaka Tama menilai bahwa apa yang dikatakan oleh anak muda itu mengandung kebenaran.

Demikian orang-orang berkuda itu meninggalkannya, maka Wikan pun menggeram, “Kenapa paman mengingkari kejadian di pasar itu?“

“Kau lihat ketulusan hati anak muda itu? Tentu ada pengakuan atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebagaimana kau pesankan. Ia telah berusaha untuk tidak mendendammu. Kenapa justru kau yang harus mendendam?

Wikan menarik nafas panjang. Ia pun kemudian bergumam, “Maafkan aku paman”

“Berkelahi bukan satu kegemaran. Jika itu dapat dihindari, kita tentu akan menghindarinya”

“Ya, paman”

“Baiklah. Marilah. Kita teruskan perjalanan kita yang sudah tertunda. Jaraknya masih cukup panjang. Mudah-mudahan kita akan sampai ke padepokan sebelum malam”

Mereka pun kemudian meneruskan perjalanan. Tetapi bersama Tanjung dan anaknya, maka mereka sudah memperhitungkan bahwa mereka tidak akan sampai di padepokan sebelum malam. Tetapi mereka memang tidak terikat oleh waktu.

Dalam pada itu, maka panas matahari pun menjadi semakin terik. Tatag pun telah terbangun. Anak itu menangis beberapa saat. Untungnya Tatag menangis di bulak panjang, sehingga tidak ada orang yang mendengar. Mungkin ada satu dua orang yang sedang berada di sawah mendengarnya, tetapi mereka tidak banyak menaruh perhatian, karena mereka sedang memusatkan perhatian mereka kepada pekerjaan yang sedang mereka hadapi, sementara itu kaki mereka pun sudah terbenam di dalam lumpur.

Namun Tanjung pun segera dapat menenangkannya sehingga Tatag itu pun terdiam.

Tanjung melindungi anaknya dari terik matahari dengan caping bebek yang lebar, yang dibuat dari belarak.

Nyi Mina selalu saja berjalan disisinya. Sekali-sekali membantu Tanjung, jika anaknya mulai gelisah. Mereka pun beberapa kali harus berhenti untuk memberi minum kepada Tatag yang kehausan oleh panasnya udara. Bahkan Tanjung pun harus menyuapi anaknya yang merasa lapar.

Dengan telaten Ki Mina dan Nyi Mina mengikuti saja irama perjalanan Tanjung. Namun Wikan lah yang menjadi agak kurang telaten. Tetapi ia harus menahan diri untuk tetap berada bersama dengan mereka.

Lewat tengah hari, mereka berempat sempat berhenti di sebuah kedai. Karena tidak ada kedai lain yang lebih kecil, maka mereka pun terpaksa singgah di sebuah kedai yang agak besar dan ramai di kunjungi orang.

“Banyak sekali orang yang berada di kedai ini” desis Wikan..

Baru kemudian mereka mengetahui, bahwa tidak jauh dari kedai itu terdapat sebuah tempat yang dikeramatkan. Mereka yang berkunjung dan merasa permohonannya dikabulkan, mereka pun datang untuk mengucakan sukur. Bahkan kedai itu pun akhirnya menjadi tempat untuk melepas janjinya.

Bermacam-macam janji yang pernah di ucapkan oleh orang-orang yang datang ke tempat itu. Ada yang karena anaknya sembuh dari sakitnya yang parah. Ada yang berhasil mencapai jenjang jabatan yang dinginkan, ada yang berhasil memperisteri seorang gadis yang diimpikannya dan masih banyak lagi yang lain. Mereka berjanji untuk datang dan makan minum di kedai itu.

“Nampaknya pemilik kedai itu cekatan berpikir” desis Wikan.

”Kenapa?“ bertanya Ki Mina.

“Paman melihat anglo kecil di ajug-ajug itu? Biasanya lampu minyaklah yang diletakkan di ajug-ajug. Tetapi disini yang berada di ajug-ajug adalah anglo kecil. Ada dupa yang ditaburkan kedalamnya”

“Ya, aku juga mencium baunya. Tetapi kenapa kau sebut pemilik kedai itu cekatan berpikir?”

”Asap dan bau dupa ini membuat suasana menjadi lebih sesuai dengan kehadiran orang-orang itu di kedai ini. Bahkan mungkin mereka merasa masih berada di satu lingkungan dengan tempat yang dikeramatkan itu”

Nyi Mina tersenyum. Katanya, “Kau benar Wikan. Pemilik kedai ini memang tangkas berpikir”

Ki Mina, Nyi Mina, Wikan dan Tanjung serta anaknya harus menunggu beberapa saat sampai datang giliran mereka di layani oleh pelayan kedai itu.

Namun selain tempat itu memang tempat yang mapan bagi sebuah kedai, ternyata masakan dari makanan dan minuman di kedai itu memang enak menurut selera keempat orang itu. Bahkan agaknya orang-orang lain yang berada di kedai itu pun merasa puas dengan masakan yang dihidangkan.

Ketika seorang pelayan menghidangkan minuman lagi bagi Wikan yang masih saja merasa haus, Wikan sempat bertanya, “Kenapa kedai ini hanya satu-satunya? Kenapa di sebelah menyebelah atau di tempat lain yang dekat tidak ada kedai lagi untuk menampung pembeli yang terasa agak terlalu banyak ini?”

“Tidak seorang pun yang berani, Ki Sanak” jawab pelayan kedai itu.

“Kenapa?”

“Semula pemilik kedai ini pun tidak berpikir untuk membuka sebuah kedai disini. Tetapi pemilik kedai ini bermimpi bertemu dengan Nyai Wara Kedasih. Seorang perempuan yang ujudnya sudah sangat tua, yang menunggu tempat yang dikeramatkan itu. Sebuah belik kecil tempat orang-orang yang mohon berkahnya mandi. Nyi Kedasih itulah yang memberikan isyarat agar kang Kardi membuka kedai disini. Orang lain yang tidak mendapat petunjuk dari Nyai Wara Kedasih tidak akan berani membuka kedai di sekitar tempat ini. Ketika ada yang mencoba juga, maka tidak lebih dari sepekan, orang itu pun meninggal mendadak”

Wikan mengangguk-angguk. Ketika pelayan itu pergi, Wikan pun berbisik, “Bukankah yang diceriterakan oleh pelayan itu satu kabar buruk?”

“Kenapa?” bertanya Ki Mina.

“Menurut pendapatku, tentu ada hubungannya antara kematian orang yang membuka kedai kuda itu dengan niat pemilik kedai ini untuk tetap menjadi pemilik kedai tunggal di daerah ini”

“Kenapa kau berprasangka buruk Wikan?” bertanya Ki Mina, “meskipun hal itu mungkin saja terjadi, tetapi kau tidak dapat menetapkannya sebelum dapat dibuktikan. Sedangkan jika peristiwa itu sudah terjadi lewat waktu yang panjang, maka akan sulit untuk menelusurinya”

“Tetapi perbuatan itu tidak dapat dibiarkannya”

“Perbuatan apa? Kau tidak dapat menyatakan orang bersalah hanya dengan berprasangka, meskipun masuk akal”

Wikan menarik nafas panjang.

“Mungkin pada kesempatan lain kau mendapat kesempatan untuk melihat kenyataan yang terjadi. Tetapi peristiwa itu sudah terjadi lewat waktu”

Wikan mengangguk-angguk.

Beberapa saat mereka berada di kedai itu sambil beristirahat. Mereka sempat melihat Demang dan Jagabaya kademangan itu datang pula ke kedai itu. Mereka makan dan minum tanpa harus membayar. Nampaknya hal itu dilakukan bukan hanya sekali. Tetapi sudah merupakan kebiasaan.

“Bahkan lebih dari itu” desis Wikan tiba-tiba saja.

“Apa yang lebih daripada itu?” bertanya Nyi Mina.

“Ki Demang dan Ki Jagabaya, “ jawab Wikan.

Nyi Mina hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, ketika mereka sudah bersiap-siap untuk meninggalkan kedai itu, mereka melihat dua orang yang agaknya suami isteri memasuki kedai itu.

Sejenak mereka berhenti mengamati Tatag yang berada di pangkuan ibunya. Namun Tatag itu tidak sedang tidur.

“Ini anakmu, Nyi?” bertanya perempuan itu.

Tanjung menengadahkan wajahnya. Dilihatnya perempuan itu tersenyum. Bahkan kemudian menyentuh pipi Tatag yang tiba-tiba saja tersenyum pula.

“Ramahnya anak ini“ desis perempuan itu sambil tersenyum, bahkan diulanginya pertanyaannya, “Anak ini anakmu?”

“Ya, Nyi” sahut Tanjung.

“Senangnya mempunyai anak yang sehat dan ramah seperti anakmu itu. Ternyata kau sangat beruntung. Sudah berapa tahun kau menikah?” bertanya perempuan itu sambil berpaling kepada Wikan.

Tanjung menjadi bingung. Namun Nyi Mina lah yang menjawab, “Hampir dua tahun, Nyi”

“O“ perempuan itu mengangguk-angguk, “Kau neneknya?”

“Ya. Aku neneknya”

“Dan aku kakeknya” sahut Ki Mina sambil tersenyum pula.

“Keluarga yang bahagia. Aku sudah menikah delapan tahun. Tetapi aku belum mempunyai anak. Karena itu, aku datang kemari untuk mengunjungi tempat keramat, tempat yang pernah dipergunakan oleh Nyi Wara Kedasih untuk bertapa. Kami akan minta agar kami dikurniai seorang anak atau lebih”

Ki Mina dan Nyi Mina mengangguk-angguk, sementara Tanjung menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Kau juga akan pergi ke petilasan Nyi Wara Kedasih?” bertanya perempuan itu.

Tanjung menggelengkan kepalanya sambil menjawab perlahan, “Tidak Nyi”

“Atau kau sudah dari petilasan itu?”

“Belum Nyi” jawab Tanjung.

“Jadi?”

“Kami hanya lewat saja”

“O” perempuan itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “kenapa kau tidak singgah sama sekali. Kau mohon agar anakmu yang lucu ini dikaruniai umur panjang, kepandaian, ketrampilan dan kemampuan yang tinggi”

Tanjung tidak menjawab.

Sementara itu, keduanya pun meninggalkan Tatag setelah sekali lagi perempuan itu mengelus pipi Tatag yang kemerah-merahan. Tatag tertawa lagi. Bahkan terdengar suaranya yang nyaring.

“Lucu sekali” desis perempuan itu. Namun perempuan itu pun kemudian mengusap matanya yang basah.

Sepeninggal perempuan itu, maka Tanjung pun bertanya, “Paman, apa maksud perempuan itu dengan memohon umur panjang, kepandaian dan kemampuan? Apakah permohonan semacam itu berpengaruh bagi Tatag?”

“Mohonlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tanjung”

“Maksud paman?”

“Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kau tidak perlu pergi kemana-mana. Kau akan mendapatkan apa yang kau mohon kepadaNya asal kau percayaNya”

Tanjung terdiam. Meskipun tidak terlalu jelas, tetapi ia tahu maksud Ki Mina.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, mereka berempat pun meninggalkan kedai yang masih saja ramai itu. Tiga ampat orang keluar dari kedai itu, yang lain pun telah datang pula.

Ketika mereka sudah berada beberapa puluh langkah dari kedai itu, Nyi Mina pun berkata, “Agaknya jika kakang pergi menghadap guru, kakang tentu singgah di kedai ini”

“Aku baru sekali ini singgah Nyi, meskipun aku sudah beberapa kali melewati jalan ini. Agaknya jika aku tidak lewat bersama Tatag, aku pun tidak akan singgah”

Wikan tertawa. Katanya, “Masakannya memang cocok bagi seleraku”

“Aku juga” sahut Ki Mina.

“Tetapi sayang, nampaknya ada masalah yang pernah terjadi di daerah ini. Bahkan agaknya masih akan terjadi jika ada seseorang yang berniat membuka kedai di sekitar tempat itu”

“Sudahlah Wikan. Jangan diusik ketenangan yang sudah terbina di lingkungan ini. Jika persoalan itu di ungkit lagi, maka daerah ini akan menjadi kisruh.

“Aku mengerti paman. Tctapi untuk membiarkan ketidak benaran berlangsung tanpa diusik, rasa-rasanya perasaankulah yang menjadi terusik”

“Mungkin pada satu saat nanti, kila menemukan jalan untuk meluruskannya. Tetapi kita sendiri sedang menghadapi persoalan”

Wikan mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, mereka berempat pun telah memasuki jalan bulak yang panjang. Untunglah bahwa di sebelah menyebelah jalan ditanami pohon turi sebagai pohon digemari.

Dengan mengenakan caping bebek, Tanjung menggendong Tatag berjalan dibawah rindangnya daun turi. Angin terasa berhembus perlahan mengusap kulit. Tatag yang seakan-akan dibuai itu pun mulai memejamkan matanya.

“Biarlah ganti aku yang menggendongnya, Tanjung” berkata Nyi Mina.

“Tidak usah, bi. Aku tidak lelah”

“Tetapi pundakmu tentu merasa letih. Tatag sekarang menjadi semakin berat. Ia menjadi semakin gemuk”

“Tidak apa-apa Nyi”

Nyi Mina tidak memaksa untuk mengajak Tatag di gendongannya. Apalagi ketika Tatag itu sudah memejamkan matanya.

“Anak itu tertidur”

“Begitu cepatnya” desis Ki Mina.

Perjalanan mereka berempat tidak menemui hambatan yang berarti di perjalanan. Meskipun demikian beberapa kali mereka harus berhenti.

Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Mina maka ketika senja turun, mereka masih harus berjalan beberapa lagi. Tetapi jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.

Meskipun demikian, pada wayah sepi uwong, mereka baru memasuki pintu gerbang padepokan.

Namun Ki Margawasana masih belum tidur. Dua orang cantrik yang bertugas di halaman depan, segera memberi tahukan kepada Ki Margawasana, bahwa Ki Mina dan Nyi Mina telah datang.

“Mereka datang bersama seorang perempuan yang menggendong anaknya. Bersama mereka datang pula adi Wikan”

Ki Margawasana pun segera menyongsong kedatangan tamu-tamunya ke halaman. Meskipun mereka adalah murid-muridnya, namun mereka telah menjadi orang tua, sehingga sikap Ki Margawasana kepada mereka pun berbeda dengan sikapnya kepada murid-muridnya yang masih lebih muda.

“Marilah“ Ki Margawasana mempersilahkan, “naiklah dan langsung saja masuklah ke ruang dalam”

Keempat orang itu pun segera naik ke pendapa dan langsung lewat pintu pringgitan masuk ke ruang dalam. Sejenak kemudian, maka mereka berempat pun telah duduk ditemui langsung oleh Ki Margawasana.

“Apakah guru sudah tidur?“ bertanya Ki Mina.

“Belum Ki Mina” jawab Ki Margawasana.

“Aku masih Mina yang dulu, guru. Seperti yang aku katakan kemarin lusa, bahwa sebaiknya guru tetap saja memanggil namaku”

Ki Margawasana tersenyum. Katanya, “Bukankah aku sudah menjelaskannya, Ki Mina. Kau bukan anak muda lagi. Rambutmu sudah mulai beruban. Tentu tidak pantas jika aku panggil saja namamu?“

“Jika aku sudah mulai ubanan, maka rambut guru sudah dipenuhi dengan uban. Karena itu, sudah sepantasnya guru memanggil aku dengan menyebut namaku saja”

“Tetapi agaknya aku lebih suka memanggilmu Ki Mina dan Nyi Mina. Tentu aku akan merasa segan untuk memanggil kalian Mina dan Titis”

“Tetapi panggilan itu terasa lebih sejuk di hatiku, guru” sahut Nyi Mina.

“Tetapi di hatiku terasa gejolaknya“ jawab Ki Margawasana sambil tersenyum.

Ki Mina dan Nyi Mina tidak dapat memaksa gurunya. Seperti ketika Ki Mina beberapa hari sebelumnya menghadap gurunya, ia sudah minta agar gurunya menyebut saja namanya. Tetapi agaknya gurunya berkeberatan.

Demikianlah, maka gurunya pun kemudian telah menanyakan keselamatan tamu-tamunya di perjalanan.

“Kami baik-baik saja guru. Tidak ada hambatan yang berarti. Sehingga kami selamat sampai disini”

“Sukurlah. Aku sudah menduga bahwa kalian akan datang hari ini atau besok malam”

“Ya, guru”

“Bagaimana dengan kau Wikan?“ bertanya gurunya.

“Ampun guru. Seharusnya aku berada di Mataram saat ini”

“Ya. Seharusnya kau berada di Mataram”

“Tetapi aku melarikan diri dari kenyataan yang aku hadapi”

“Aku sudah mengerti apa yang terjadi atas dirimu dan keluargamu, Wikan. Aku sudah tahu bahwa kau lari dari Mataram. Tetapi kemudian kau juga lari dari rumahmu”

“Ampun guru. Dari siapa guru mengetahuinya?“

“Kakak iparmu mencarimu kemari. Tetapi kau tidak ada disini. Aku kemudian yakin, bahwa kau berada di rumah pamanmu”

“Ampun guru. Aku tidak berani menghadap guru jika paman tidak memaksaku. Aku merasa bahwa aku dan seluruh keluargaku tidak lebih dari sampah yang sudah sepantasnya di lemparkan ke kubangan”

Tetapi gurunya tersenyum. Katanya, “Kita akan membicarakannya untuk mencari jalan keluar. Tetapi aku dapat mengerti gejolak perasaanmu. Karena itu, aku pun dapat mengerti sikapmu. Tetapi jika aku dapat mengerti sikapmu, itu bukan berarti bahwa aku setuju dengan sikapmu itu”

Wikan tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin menunduk.

“Tetapi kita tidak akan berbicara apa-apa malam ini. Kalian tentu letih. Karena itu, silahkan yang akan pergi ke pakiwan, berbenah diri, kemudian makan malam. Setelah itu kalian dapat beristirahat”

Sebenarnyalah malam itu, Ki Margawasana tidak berbicara apa-apa. Baik tentang Wikan, mau pun tentang Tanjung dan anaknya. Setelah makan, maka Ki Margawasana mempersilahkan tamu-tamunya beristirahat. Dua bilik telah disiapkan bagi Ki Mina dan isterinya, serta Tanjung dan anaknya. Sementara itu Wikan sendiri dapat berada dimana-mana di padepokan itu.

Namun menjelang dini hari, Ki Margawasana telah terbangun oleh tangis Tatag yang popoknya menjadi basah.

Tanjung cepat-cepat menggantinya dengan yang kering, kemudian mengayunnya dalam dukungannya agar anak itu segera tidur.

Tetapi Tatag tidak segera tidur. Untuk beberapa saat itu pun menangis meronta-ronta.

Ki Margawasana yang duduk di bibir pembaringannya mengangguk-angguk. Kepada dirinya sendiri ia pun berkata, “Inilah suara tangis bayi itu. Aku sudah mendapat beberapa keterangan dari Ki Mina tentang tangis itu melampaui dugaanku. Pantaslah bahwa banyak orang yang menginginkan untuk merawat anak itu, yang tentu saja dengan tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda. Bahkan ada yang menginginkannya dengan niat yang buruk. Niat menjerumuskan masa depan anak itu ke dalam kuasa kegelapan.

Karena itu, maka Ki Margawasana itu pun kemudian berdesis, “Anak itu harus diselamatkan”

Ketika Ki Margawasana kemudian berbaring, matanya tidak segera dapat terpejam lagi. Ia mulai membayangkan, seorang anak muda yang perkasa. Yang memiliki banyak kelebihan dari anak muda yang lain.

“Pada saat Wikan rambutnya mulai memutih, maka anak itu akan bangkit menggantikannya. Bahkan anak itu akan mempunyai beberapa kelebihan yang sulit dicari duanya”

Tetapi Wikan bagi Ki Margawasana adalah murid yang bungsu. Karena itu, maka Ki Margawasana berharap, bahwa Ki Mina dan isterinya akan dapat membina anak itu yang akan menjadi kekuatan di masa depan. Kekuatan yang memberikan arti bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang yang memerlukan perlindungan dari ketidak adilan.

“Meskipun seseorang masih tetap dalam keterbatasannya, namun keberadaannya akan tetap mempunyai arti”

Baru kemudian, Ki Margawasana itu sempat tidur meskipun hanya sebentar. Ia harus bangun sebelum fajar sebagaimana setiap hari dilakukannya.

Ketika langit menjadi terang, padepokan itu telah terbangun. Para cantrik telah menjadi sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Di halaman, di kebun, di dapur dan dimana-mana. Senggot timba di sumur pun terdengar berderit-derit. Tidak hanya ada satu sumur di padepokan itu. Tetapi ada tiga.

Wikan pun telah ikut sibuk pula bersama para cantrik. Wikan telah menimba air untuk mengisi pakiwan yang berada di belakang padepokan. Sementara itu dua orang cantrik sibuk menyapu halaman belakang yang ditaburi oleh dedaunan kering yang runtuh dari pepohonan..

Seorang cantrik yang bertubuh sedang, tetapi nampak kokoh dan cekatan, telah mendekati Wikan yang sedang sibuk menarik senggot timba.

“Tinggalkan senggot itu” berkata cantrik itu.

“Pakiwan yang sebelah masih belum penuh kakang“ jawab Wikan.

“Kau tidak pantas menimba air untuk mengisi pakiwan. Tempatmu di pringgitan bangunan utama padepokan ini. Minum minuman hangat dan makan pagi yang telah disiapkan oleh kakak-kakakmu”

Wikan mengerutkan dahinya.

“Kau adalah anak manja di padepokan ini. Guru sangat mengasihimu. Jika guru melihat kau menimba air, maka cantrik seluruh padepokan ini akan dihukumnya”

“Ah. Jangan begitu kakang” desis Wikan.

“Kenapa? Bukankah kau murid bungsu di padepokan ini, sehingga tidak akan ada murid baru disini? Sampai saatnya kau dapat menggantikan guru dan kaulah yang kemudian akan menerima murid-murid baru di padepokan ini”

Wikan menarik nafas panjang. Terasa di setiap tekanan kata-kata cantrik itu perasaan iri hati yang tertahan. Agaknya perasaan itu sudah demikian mendesak dan menyesakkan dadanya, sehingga terpercik pada sikapnya pula.

Wikan tahu benar, bahwa anak muda yang sedikit lebih tua dari dirinya itu memiliki kelebihan. Ia sudah banyak menyerap ilmu dari gurunya. Dengan kecerdasan otaknya, maka anak muda itu telah mengembangkan ilmu yang dikuasainya dengan baik, juga atas tuntunan Ki Margawasana.

“Pergilah” berkata cantrik itu sambil melangkah maju mendekati Wikan.

Wikan datang ke padepokan itu tidak untuk bertengkar. Karena itu, maka ia pun kemudian meninggalkan sumur itu.

Tetapi baru beberapa langkah ia beranjak, terdengar cantrik itu berkata, “Aku kira kau seorang laki-laki, Wikan”

Wikan berhenti. Tetapi ia hanya berpaling saja. Kemudian ia melanjutkan langkahnya meninggalkan kakak seperguruannya itu, meskipun sebenarnya Wikan tidak takut menghadapinya. Tetapi jika pagi-pagi ia sudah bertengkar, maka gurunya tentu akan memberikan penilaian yang lain. Apalagi ia datang untuk satu keperluan yang khusus atas petunjuk pamannya.

Cantrik yang datang menemui Wikan itu termangu-mangu. Tetapi hatinya justru terasa semakin panas. Wikan seakan-akan sama sekali tidak menghargainya.

Dalam pada itu, ketika matahari mulai merambat di langit, maka Ki Margawasana telah duduk di ruang dalam bersama Ki Mina, Nyi Mina serta Tanjung. Tatag yang sudah tidur lagi setelah dimandikan, dibaringkannya di dalam bilik.

“Dimana Wikan?” bertanya Ki Margawasana.

“Aku akan memanggilnya” sahut Ki Mina.

“Biarlah seorang cantrik saja yang memanggilnya“ cegah Ki Margawasana.

Beberapa saat kemudian, maka Wikan telah duduk pula bersama mereka di ruang tengah. Di depan mereka telah disiapkan makan pagi bagi mereka.

“Marilah kita makan pagi” berkata Ki Margamasana.

“Silahkan guru” sahut Wikan, “biarlah aku makan di dapur saja bersama kakak-kakak seperguruan.

“Tidak Wikan. Justru aku ingin berbicara tentang keluargamu, maka aku minta kau makan bersama kami”

“Nanti aku akan segera datang kemari, guru. Sudah lama aku tidak makan bersama dengan kakak-kakak seperguruan”

“Baiklah, Wikan. Tetapi jangan terlalu lama. Kami menunggumu disini”

“Baik, guru”

Wikan pun kemudian meninggalkan ruang tengah bangunan utama padepokannya. Ia pun kemudian berada di ruangan sebelah dapur padepokan. Wikan pun kemudian makan pagi bersama dengan saudara-saudara seperguruannya yang lain.

Sambil makan, Wikan masih sempat bergurau dengan kakak-kakak seperguruannya. Ada pula diantara mereka yang menyebutnya sebagai anak manja. Tetapi dengan gaya yang berbeda dari kakak seperguruannya yang menemuinya di dekat sumur pada saat ia mengisi pakiwan.

Dengan demikian, maka Wikan pun menanggapinya dengan cara yang berbeda pula.

Namun sebelum Wikan selesai, maka kakak seperguruannya yang menemuinya di sumur itu telah memasuki ruangan itu pula.

“Marilah kakang Murdaka“ seorang cantrik memper-silahkannya.

Kakak seperguruan Wikan yang disebut Murdaka itu masih berdiri di pintu. Dipandanginya saudara-saudara seperguruannya yang sudah ada di dalam ruangan itu.

“Kau juga disini Wikan?“ bertanya Murdaka.

“Ya, kakang”

“Kau tidak makan bersama guru dan kakang Mina di ruang dalam?“

“Aku lebih senang makan disini” jawab Wikan.

“Bukankah kau anak manja yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari semua murid di padepokan ini”

Seorang cantrik yang bertubuh pendek, berwajah ke kanak-kanakan, meskipun umurnya sudah lebih tua dari Wikan, tiba-tiba bangkit. Sambil tertawa ia pun menyahut, “Tepat. Wikan adalah anak manja. Tetapi bukankah sepantasnya bahwa anak bungsu memang harus manja? Aku juga anak bungsu di rumah. Aku juga menjadi manja. Jika makan, aku minta lauknya dua kali lipat dari kakak-kakakku. Dua buah rempeyek kacang dan dua bungkus botok teri”

Kawan-kawannya pun tertawa. Seorang yang agak gemuk menyahut. “Di rumah Wikan juga bungsu. Tetapi disini ia tidak berani minta rempeyek dua dan botok teri dua bungkus. Berapa pun ia diberi, ia hanya diam saja, meskipun mungkin hatinya berontak”

Kawan-kawannya tertawa semakin keras.

Namun tiba-tiba suara tertawa mereka terputus. Cantrik yang bernama Murdaka itu tiba-tiba membentak, “Diam. Diam. Apa yang lucu? Apa yang pantas ditertawakan?“

Cantrik yang berwajah kekanak-kanakan itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian duduk kembali diantara saudara-saudara seperguruannya.

“Tidak ada yang pantas kalian tertawakan. Gurauan kalian tentang Wikan akan membuatnya berbangga. Ia sama sekali tidak pantas untuk berbangga diri. Yang terjadi padanya adalah penilaian yang keliru terhadap saudara-saudara seperguruannya. Ketika guru menyatakan, bahwa Wikan sudah tuntas, maka Wikan merasa dirinya orang yang terbaik di perguruan ini. Tetapi ia sama sekali tidak mengerti, bahwa yang dikuasainya tidak lebih dari ilmu dasar perguruan kita. Berbeda dari kita. kita yang masih tinggal di perguruan ini sempat mengembangkan ilmu yang kita terima dari guru dengan tuntunan guru sendiri. Itu berarti bahwa kita memiliki ilmu yang lebih baik dari Wikan yang karena merasa dirinya sudah tuntas, lalu pergi meninggalkan padepokan. Apa yang kemudian didapatkannya di luar padepokan? Mungkin ia merasa bahwa di rumah ia akan dapat lebih bermanja-manja, karena ia adalah anak bungsu dan satu-satunya anak laki-laki. Meskipun di padepokan ini ia sudah bermanja-manja, namun ia akan merasa lebih manja lagi di rumahnya”

Para cantrik itu pun terdiam. Namun seorang anak muda yang kecuali lebih tua umurnya, juga keberadaannya di padepokan itu lebih lama, bangkit berdiri. Di dekatinya Murdaka sambil berkata, “Sudahlah, Untuk apa kita berbicara tentang seseorang diantara kita? Bukankah lebih baik kita bergurau, bekelakar sambil tertawa-tawa? Kita tidak usah menilai, apakah ilmu Wikan lebih tinggi dari ilmu yang sudah kita serap atau justru lebih rendah. Itu tidak akan ada gunanya”

“Tentu ada gunanya kakang” jawab Murdaka, “selama ini ia bersikap sombong, seolah-olah Wikan lah yang berkuasa di padepokan ini”

Namun seorang cantrik yang lain, tiba-tiba menyahut, “Aku tidak merasakannya kesombongan itu. Menurut pendapatku, sikapnya adalah wajar-wajar saja”

Tetapi Murdaka menyahut, “Kata-katamu itu membuat Wikan semakin besar kepala. Tetapi sebenarnya ia bukan apa-apa”

“Baik, baik” berkata Cantrik yang lebih tua itu, “ia memang bukan apa-apa. Aku juga sudah mengatakan kepadanya, bahwa ia bukan apa-apa”

“Kakang” berkata Murdaka, “sikap kakang kepadaku seperti sikap seorang anak yang berbicara dengan adiknya yang baru mencoba berjalan”

“Kau salah paham. Kenapa kau menjadi begitu gelisah pagi ini? Apa yang sedang terjadi padamu?“

“Kakang” berkata Murdaka, “sudah waktunya perguruan kita mengadakan penilaian atas murid-muridnya. Siapakah yang terbaik diantara kita”

“Kenapa begitu? Bukankah setiap kali guru sudah mengadakan pendadaran. Yang pantas untuk ditempatkan pada tataran yang lebih tinggi, maka mereka pun telah di wisuda. Bukankah itu sudah merupakan pertanda tataran kemampuan para murid di padepokan kita ini?“

“Aku mengerti. Yang diikut sertakan dalam penilaian itu adalah murid-murid yang sudah berada di tataran yang tertinggi”

“Termasuk para putut?“

“Tentu tidak. Ketiga orang putut yang membantu guru memimpin padepokan ini, tidak termasuk dalam penilaian itu. Juga kakak-kakak seperguruan kita yang sudah tuntas dan meninggalkan perguruan ini”

“Diantaranya adalah kakak Mina dan mbokayu Mina itu?“

“Ya. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar sudah tuntas dan bahkan sudah mampu mengembangkannya lebih jauh. Tetapi aku tidak yakin, bahwa murid bungsu padepokan ini memiliki kelebihan dari kita semuanya, meskipun guru sudah menyatakan bahwa anak itu sudah tuntas”

“Jadi itukah arah pembicaraanmu? Bukankah dasar niatmu itu adalah menantang Wikan?“

“Ya. Aku ingin tahu, apakah anak bungsu ini benar-benar sudah tuntas. Atau sekedar karena ia pandai menjilat guru sehingga ia dinyatakan sudah tuntas. Bahkan melebihi saudara-saudara seperguruannya yang lebih tua. Lebih tua umurnya dan lebih tua masa bergurunya”

Cantrik yang lebih tua dari Murdaka itu menarik nafas panjang. Katanya, “Itu adalah wewenang guru. Jika kau memang bernafsu untuk dikatakan yang terbaik, maka kau harus menghadap guru dan menyampaikan niatmu itu”

“Kalau saja Wikan jantan, maka aku tidak perlu menghadap guru dan menyatakan maksud itu. Kita dapat melakukannya tanpa sepengetahuan guru di sanggar terbuka. Saudara-saudara kita akan menjadi saksi. Ketiga orang kakak seperguruan kita yang ditetapkan menjadi pendamping kepemimpinan guru di padepokan ini juga akan bersaksi. Mereka akan menjadi penentu, siapakah yang menang dan siapakah yang kalah. Siapakah yang ilmunya lebih tinggi”

“Ketiga kakak kita itu tentu tidak akan bersedia tanpa sepengetahuan guru”

“Biarlah mereka yang mengatakan kepada guru, bahwa aku menantang Wikan-untuk menilai, ilmu siapakah yang lebih tinggi diantara kami. Sebenarnya sudah lama aku menahan diri. Aku mencoba untuk tidak mempersoalkannya. Tetapi setiap kali aku melihat Wikan datang ke padepokan ini, maka keinginan untuk menantangnya terasa semakin mendesak. Hari ini aku tidak tahan lagi. Wikan datang ke padepokan ini bersama kakang dan mbokayu Mina serta membawa seorang perempuan dan bayinya. Aku tidak peduli siapakah yang dibawanya itu. Tetapi gejolak di dadaku tidak lagi dapat aku kekang”

Tetapi seorang cantrik yang lain menyahut pula, “Bagus. Aku sependapat dengan Murdaka. Dengan pendapatnya yang dinyatakan sebelum ia dengan tegas menantang Wikan. Bukan hanya wikan. Tetapi penilaian secara khusus terhadap murid-murid perguruan ini diantara mereka yang berada di tataran tertinggi itu ada baiknya. Misalnya, siapakah diantara aku dan Murdaka yang ilmunya lebih mapan”

“Sudahlah” berkata cantrik yang lebih tua itu, “penilaian yang demikian itu tidak ada gunanya. Guru tahu pasti tingkat ilmu kita masing-masing. Bukan hanya kita yang sudah berada di tataran tertinggi, tetapi kita yang berada di semua tataran. Karena itu, maka penilaian seperti yang dimaksud Murdaka itu tidak ada gunanya”

“Ada” sahut Murdaka dengan serta-merta, “Aku tetap menganggap penilaian itu ada gunanya. Tetapi terserah kepada Wikan. Apakah ia berani menerima tantanganku atau tidak”

“Penilaian yang kau maksud, merupakan satu pernyataan ketidak percayaanmu kepada guru”

“Bukan tidak percaya, kakang. Tetapi seperti manusia biasa, maka guru pun dapat mengasihi seseorang lebih dari orang yang lain. Bukan karena guru tidak adil, tetapi orang itu demikian licinnya serta demikian cerdiknya untuk menjilat”

Dada Wikan rasa-rasanya bagaikan membara. Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu, seorang cantrik memasuki ruangan itu sambil berkata, “Wikan. Guru memanggilmu”

Wikan menarik nafas dalam-dalam. Sambil bangkit berdiri, ia pun menjawab, “Baik kakang. Aku akan menghadap”

Wikan pun kemudian beranjak pergi. Dengan suara yang bergetar Murdaka pun berkata, “Aku akan tetap menantangnya. Jika tidak hari ini, besok atau lusa. Atau kapan saja ada kesempatan”

Beberapa orang cantrik yang ada di ruang itu pun telah berdiri dan meninggalkan ruangan itu pula. Namun cantrik yang berwajah kekanak-kanakan itu sempat mendekati Murdaka sambil berdesis, “Murdaka. Aku setuju dengan gagasanmu. Aku memang ingin tahu pasti, ilmu siapakah yang lebih mapan diantara kau dan aku”

Murdaka mengerutkan dahinya. Ia tidak mengira, bahwa beberapa orang saudara seperguruannya justru berpihak kepada Wikan. Kenapa mereka tidak merasa bahwa perhatian guru mereka lebih banyak diberikan kepada Wikan daripada kepada mereka, sehingga Wikan yang datang kemudian itu telah dinyatakan ilmunya tuntas lebih dahulu dari mereka, meskipun mereka sudah dinyatakan berada di tataran tertinggi, sehingga mereka pun sudah menjelang saat-saat terakhir dari masa berguru mereka.

Murdaka itu pun kemudian duduk di amben panjang di ruangan itu. Beberapa orang cantrik yang lain pun datang pula untuk makan pagi. Ada diantara mereka cantrik yang tatarannya masih lebih rendah satu dua lapis dari Murdaka. Namun mereka semuanya datang lebih dahulu dari Wikan. Sementara itu, gurunya sudah tidak menerima lagi murid-murid yang baru, sehingga kedudukannya kelak ada penggantinya, karena Ki Margawasana sudah merasa bahwa masa pengabdiannya sudah cukup.

Dalam pada itu, Wikan pun telah duduk di ruang dalam menghadap gurunya. Ki Mina dan Nyi Mina masih duduk bersama gurunya. Namun Tanjung sudah tidak kelihatan lagi. Agaknya Tanjung sedang menunggui anaknya yang sedang di biliknya.

Wikan duduk sambil menundukkan kepalanya. Ia sudah menduga, bahwa paman dan bibinya itu tentu sudah membicarakan keadaan keluarganya yang memalukan itu.

“Wikan” berkata gurunya dengan suara yang berat, “seperti yang sudah aku katakan, bahwa aku tahu apa yang terjadi pada keluargamu. Kakak iparmu telah datang kemari. Aku sudah menduga bahwa kau berada di rumah pamanmu. Tetapi aku memang minta agar kakak iparmu tidak mencarimu ke Tegal Anyar. Biarlah kau menyingkir dari lingkungan yang membuatmu ketakutan itu”

Wikan sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Ia bahkan menjadi semakin menunduk.

“Wikan” berkata gurunya, “menurut pendapatku, sebaiknya kau pulang bersama paman dan bibimu. Biarlah paman dan bibimu memberi beberapa petunjuk kepada kedua kakak perempuanmu serta ibumu. Mudah-mudahan petunjuk-petunjuknya itu memberikan arti bagi mereka”

Wikan masih tetap berdiam diri.

“Menurut pendapatku serta pendapat paman dan bibimu, segalanya yang pernah terjadi itu biarlah terjadi. Kalian harus sanggup melupakannya. Kalian harus berusaha untuk menyongsong hari-hari baru yang bakal datang”

Jantung Wikan menjadi semakin berdebaran. Namun gejolak didadanya terasa sangat mendesak, sehingga ia pun berkata dengan kata-kata yang sendat, “Tetapi coreng moreng di kening itu sudah tidak akan dapat dihapus guru”

“Penyesalan yang mendalam serta kesediaan untuk tidak mengulangi kesalahan itu akan memperbaiki keadaan. Mbokayu-mu itu harus bersedia di lahirkan kembali sebagai manusia baru untuk menyongsong hari depannya”

“Tetapi apa kata tetangga-tetangga kami, guru”

“Bagi Wuni nampaknya tidak banyak persoalan. Jika ia sudah berubah, maka segala sesuatunya akan berubah pula, termasuk tanggapan para tetangga. Tetapi bagi Wiyati agaknya memang memerlukan perhatian yang lebih besar. Tetapi menurut pamanmu, bukankah tidak ada orang yang mengetahui, apa yang telah dilakukan oleh Wiyati di Mataram?”

“Tetapi Wandan dapat berceritera panjang tentang mbokayu Wiyati”

“Menurut pamanmu, perempuan yang bernama Wandan itu tentu tidak ingin rahasianya sendiri terbuka bagi tetangga-tetangganya, sehingga Wandan tidak akan pernah berceritera tentang kehidupannya dan kehidupan Wiyati di Mataram”

“Tetapi pada suatu saat, jika rahasia Wandan itu terbuka dengan sendirinya, maka ia tentu akan menyeret nama mbokayu Wiyati. Ia tentu tidak ingin dipermalukan sendiri di hadapan para tetangga”

“Wikan” berkata gurunya kemudian meskipun agak ragu, “Menurut pamanmu, ibumu masih mempunyai tanah warisan dari kakekmu di tempat lain, meskipun tidak cukup luas. Nah, jika pada suatu saat, Wandan sengaja membuka rahasia itu, maka kau dapat menyarankan agar keluargamu, tentu saja tidak termasuk Wuni, karena ia sudah tinggal bersama suaminya, pindah ke tanah warisan ibumu itu. Tetapi langkah ini adalah langkah terakhir jika sudah tidak ada jalan lain. Tetapi jika Wandan tidak melakukannya, bukankah tidak ada persoalan lagi?”

Wikan tidak menjawab. Sementara Ki Mina pun berkata, “Aku dan bibimu akan menemui Wandan”

“Apa yang akan paman lakukan terhadap perempuan itu? Apakah paman akan memaksanya dan bahkan mengancamnya agar Wandan tidak membuka rahasia mbokayu Wiyati?”

“Tidak, Wikan. Bukan itu. Wandan pun sekarang hidup didalam kegelapan. Jika mungkin, kami ingin juga mengentaskannya. Seperti Wiyati, biarlah Wandan pun meninggalkan dunianya dan memasuki dunia baru”

“Dengan demikian, bukankah berarti bahwa Wandan harus pulang?”

“Guru” berkata Nyi Mina kemudian, “Kami sudah pernah membicarakan jalan pemecahan yang lain, yang ingin kami sampaikan kepada guru”

Ki Margawasana. mengerutkan dahinya. Dengan nada datar ia pun bertanya, “Apa yang ingin kau sampaikan, Nyi”

“Apakah guru masih ingat kakak perempuanku yang juga pernah berguru disini bersamaku. Yang telah lebih dahulu menyelesaikannya setahun sebelum aku”

“Tentu, aku tentu ingat kepada murid-muridku. Bukankah yang kau maksudkan Nyi Nastiti?”

“Ya,, guru. Ia sekarang tinggal bersama suaminya. Mbokayu Nastiti sudah tidak pernah lagi terjun ke dalam dunia olah kanuragan. Mbokayu Nastiti sekarang adalah seorang ibu yang menyerahkan semua waktunya bagi keluarganya. Bagi suami dan anak-anaknya. Suaminya bukan berasal dari perguruan ini. Tetapi ia juga seorang yang mumpuni, yang pernah berguru kepada seorang pertapa di pesisir Selatan. Namun suaminya pun sekarang lebih senang berada di sawah dan pategalannya”

Gurunya mengangguk-angguk.

“Tanahnya yang terhitung luas itu telah menyita hampir seluruh waktunya” Nyi Mina berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “bagaimana pendapat guru jika aku menemui mbokayu dan menitipkan Wiyati kepadanya? Selama ini mbokayu tidak menyerahkan anak-anaknya ke sebuah perguruan. Tetapi di sela-sela kesibukannya sebagai seorang ibu, ia telah menuntun anak-anaknya dalam olah kanuragan. Kadang-kadang suaminya pun ikut pula membimbing anak-anaknya, meskipun keduanya harus berusaha menyesuaikan diri. lebih dahulu, karena suami isteri itu tidak berasal dari perguruan yang sama”

“Tentu bukan masalah bagi mbokayumu dan kakak iparmu itu” desis Ki Margawasana.

“Ya. Keduanya mampu menyesuaikan dirinya. Jika Wiyati tinggal bersamanya, maka ia harus dapat mengisi waktunya, mengikuti latihan-latihan olah kanuragan. Bahkan jika Wandan dapat kami entaskan dari dunia yang hitam itu, maka ia akan dapat berada di rumah mbokayu itu bersama Wiyati”

Ki Margawasana mengangguk-angguk. Katanya, “Jika mbokayumu setuju, maka aku kira jalan itu adalah jalan yang baik. Asal Wiyati dan Wandan benar-benar telah menjadi manusia yang baru, maka masa depan mereka masih akan terbuka. Tetapi kau harus berterus-terang kepada mbokayu dan kakak iparmu itu, bahwa Wandan dan Wiyati adalah perempuan yang pernah cacat namanya”

“Ya, guru. Aku akan bersikap jujur. Segala sesuatunya terserah kepada mbokayu”

Dalam pada itu, Ki Mina pun menyela, “Guru. Sebenarnya pernah terpikir olehku untuk membawa keduanya kemari, Tetapi jika rahasia mereka tercium oleh para cantrik entah karena apa, maka akibatnya akan buruk sekali bagi perguruan ini. Lebih-lebih bagi perasaan Wikan sebagai murid bungsu di perguruan ini”

Ki Margawasana mengangguk-angguk.

“Tetapi hal seperti itu tidak akan terjadi di keluarga mbokayu. Mbokayu mempunyai dua orang anak laki-laki yang baru meningkat remaja”

“Jadi anak Nyi Nastiti itu baru meningkat remaja?”

“Ya, guru. Mbokayu terlambat menikah. Selelah lepas dari perguruan ini, mbokayu bertualang untuk waktu yang terhitung lama sehingga akhirnya ia bertemu dalam petualangannya dengan suaminya. Setelah terlambat menikah, mbokayu baru mempunyai anak setelah lima tahun masa pernikahannya, sehingga sekarang ini anak-anak mbokayu masih belum remaja penuh”

Ki Margawasana mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Tetapi mereka akan menjadi anak-anak muda yang tanggon. Agaknya ibu dan ayahnya menuntun mereka dalam olah kanuragan sejak mereka masih kanak-kanak”

“Ya, guru”

“Baiklah. Lakukan apa yang terbaik menurut pendapatmu”

“Terima kasih guru. Sebelum kami menemui keluarga Wikan, maka kami akan pergi menemui keluarga mbokayu Nastiti lebih dahulu. Apakah mereka bersedia menerima Wiyati atau tidak. Bahkan seandainya Wandan bersedia pula meninggalkan dunia hitamnya”

“Bagaimana dengan pendapat Wikan?” bertanya gurunya.

“Aku menurut saja, mana yang terbaik menurut guru dan paman serta bibi”

“Besok kami akan pergi menemui mbokayu Nastiti, Wikan” berkata Nyi Mina, “sebaiknya kau tinggal disini saja. Baru dari rumah mbokayu Nastiti, aku akan membawamu pulang. Sementara itu, kami titipkan Tanjung dan anaknya disini. Ia akan mendapat perlindungan sebaik-baiknya”

“Ya, paman“ jawab Wikan.

“Nah, semuanya harus kau lakukan segera, Ki Mina”

”Setelah semuanya itu selesai, maka kita akan mengatur, pemindahan kepemimpinan di perguruan ini sebagaimana pernah aku katakan kepadamu. Kau akan memimpin perguruan ini”

Ki Mina menarik nafas panjang. Namun kemudian ia menjawab, “Kami akan melaksanakan segala perintah guru”

Dengan demikian, maka Ki Mina pun telah mempersiapkan diri untuk pergi menemui kakak perempuan Nyi Mina untuk membicarakan kemungkinan keberadaan Wiyali di rumahnya.

Namun sebelum Ki Mina dan Nyi Mina meninggalkan padepokan itu, seorang cantrik telah menemuinya.

“Kakang akan pergi esok?“ bertanya cantrik itu.

“Ya. Aku akan pergi. Tetapi tidak lebih dari semalam saja”

“Aku ingin memberitahukan persoalan yang harus dihadapi oleh Wikan”

“Persoalan apa?”

“Seorang diantara kami ada yang menjadi iri hati terhadap Wikan”

“Kenapa?“

“Keberhasilan Wikan”

Ki Mina dan Nyi Mina pun termangu-mangu. Mereka kemudian mendengarkan pengaduan cantrik itu dengan saksama atas sikap Murdaka yang menantang Wikan untuk menilai tingkat kemampuan mereka.

“Ini sudah tidak benar” desis Ki Mina, “sampaikan persoalan ini kepada salah seorang diantara ketiga orang pembantu guru. Ki Rantam, Ki Windu atau Ki Parama. Biarlah mereka menyampaikannya kepada guru. Biarlah guru yang menyelesaikannya. Aku dan mbokayumu akan pergi esok”

“Baik, kakang. Sekarang aku akan menemui kakang Parama atau salah seorang dari ketiga orang diantara mereka bertiga”

Demikian cantrik itu pergi, maka Ki Mina dan Nyi Mina pun segera memanggil Wikan. Ketika keduanya menanyakan tentang persoalannya dengan Murdaka, maka Wikan pun mengatakannya berterus terang.

“Aku tidak memberitahukan persoalan ini kepada paman dan bibi, karena aku memutuskan untuk tidak menanggapinya”

“Sikapmu sudah benar, Wikan. Tetapi mungkin saja guru mengambil keputusan yang berbeda. Kau harus berbuat sebaik-baiknya. Tetapi jangan kehilangan akal dan bertindak menuruti perasanmu saja. Mungkin guru berniat membuktikan, bahwa ia tidak emban cinde emban siladan. Maksudku, jika kau dikatakannya sudah tuntas, maka, maka benar-benar sudah tuntas”

“Aku mengerti maksud paman”

Ternyata malam itu juga, Ki Margawasana telah memberitahukan kepada Ki Mina dan Nyi Mina, bahwa ia memang berniat membiarkan Murdaka membuktikan sendiri, bahwa Wikan memang sudah tuntas. Bukan karena Wikan mendapatkan perlakuan yang khusus. Jika ia mendapat tempat yang terbaik diantara murid-murid yang masih ada di padepokan, itu justru karena ia telah membuktikan, bahwa ia memang orang yang terbaik.

“Segala sesuatunya aku serahkan kepada Parama” berkata Ki Margawasana, “Aku percaya kepadanya. Sedangkan kau dan isterimu, tidak usah menunda perjalananmu. Percayalah, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Yang terjadi hanyalah luapan perasaan anak-anak muda yang kurang terkendali”

“Baik guru”

“Aku akan hadir di arena itu. Karena itu, kau dapat pergi dengan tenang”

Sebenarnyalah, Ki Mina dan Nyi Mina pun menjelang matahari terbit di keesokan harinya telah meninggalkan padepokan. Namun ia sempat menemui Ki Parama, apakah ia sudah berbicara dengan Ki Margawasana.

“Sudah, kakang” jawab Ki Parama, “Aku akan mengatur segala sesuatunya sebaik-baiknya. Percayakan Wikan kepadaku”

Ki Mina tersenyum. Sambil menepuk bahu Ki Parama ia pun berdesis, “Terima kasih”

Demikianlah, maka sepeninggal Ki Mina dan Nyi Mina, Ki Parama pun segera menangani persoalan yang terjadi di, padepokan itu. Niat Murdaka untuk menakar kemampuan Wikan benar-benar akan dilaksanakan.

Wikan sendiri sebenarnya tidak tertarik untuk melayani sikap Murdaka, meskipun jantungnya serasa di guncang-guncang. Namun Ki Margawasana sendirilah yang berkata kepadanya, “Bantu aku, Wikan. Amankan kebijaksanaanku. Jika aku memperlakukan kau berbeda dengan saudara-saudaramu itu tentu ada sebabnya. Nah, kau harus membuktikan kepada seisi padepokan ini, bahwa kau benar-benar berhak untuk aku perlakukan sebagaimana sekarang ini. Bahkan kau adalah murid yang meskipun datang terakhir, namun kau benar-benar telah tuntas”

“Aku akan berusaha sebaik-baiknya guru”

Wikan sendiri tidak tahu, kenapa sebelum ia turun ke arena, ia telah menemui Tanjung. Seakan-akan di luar sadarnya, bahwa ia telah mcnceriterakan apa yang akan dilakukannya kepada Tanjung.

“Hati-hatilah kakang” sahut Tanjung, “Jika kakang harus melawan saudara seperguruan kakang, itu bukan karena kakang ingin menyombongkan diri. Tetapi semata-mata kakang ingin membulikan kebenaran sikap guru kakang itu”

“Ya, Tanjung. Doakan agar aku dapat berhasil melaksanakan tugas yang aku emban sekarang ini.

“Kau tentu berhasil, kakang”

Wikan mengangguk-angguk. Ia pun kemudian meninggalkan Tanjung untuk menemui beberapa orang saudara seperguruan-nya. Pada umumnya mereka memberikan dorongan kepadanya, untuk menyakinkan Murdaka, bahwa sikapnya itu keliru. Ia sudah tidak mempercayai kebijaksanaan gurunya.

Tetapi diantara para cantrik, ada juga yang mendukung sikap Murdaka. Ada juga satu dua orang yang mempunyai perasaan yang sama dengan Murdaka. Iri hati.

“Bagaimana mungkin anak itu mampu menuntaskan ilmu yang harus dipelajarinya di perguruan ini”

Namun seorang saudara seperguruannya berkata, “Bukankah kita melihat langsung, pendadaran-pendadaran yang selalu diadakan setiap kali untuk menilai kemajuan kita? Nah, bukankah di dalam pendadaran-pendadaran itu kita melihat kenyataan tentang kemampuan Wikan?”

“Segala sesuatunya dapat diatur. Guru sudah mengatur sehingga kesan terakhir, Wikan berada diatas semuanya. Tetapi aku tidak yakin” jawab saudara seperguruannya yang sependapat dengan Murdaka, “menurut pendapatku. Murdaka memiliki kelebihan dari Wikan. Nanti, jika mereka berada di arena, maka segalanya akan terbukti, bahwa bukan Wikan lah yang terbaik”

Saudara seperguruannya tidak menjawab lagi. Tetapi ia yakin bahwa Wikanlah diantara mereka yang terbaik.

Hari itu juga Ki Parama bersama Ki Rantam dan Ki Windu telah membuka arena di halaman padepokan. Yang akan tampil di arena adalah Murdaka yang akan mengukur kemampuan Wikan, murid bungsu Ki Margawasana.

Tepat saat matahari berada di lengah, maka Wikan dan Murdaka pun memasuki arena. Ki Margawasana sendiri, bersama ketiga orang yang membantunya memimpin padepokan itu, hadir di pinggir arena. Sementara para cantrik pun berdiri di teriknya panas matahari mengelilingi arena itu.

Ketika segala sesuatunya sudah siap, maka Ki Parama pun telah memasuki arena. Ia akan memimpin langsung pertarungan di arena itu. Penarungan yang akan menentukan, siapakah yang lebih baik dari keduanya. Murdaka atau Wikan.

Ki Margawasana menjadi berdebar-debar juga. Tetapi sebagai seorang guru, maka ia tahu pasti, bahwa Wikan memiliki kelebihan dibandingkan dengan Murdaka. Tetapi ada kemungkinan lain yang dapat terjadi. Jika Wikan melakukan kesalahan, maka yang akan terjadi tentu bukanlah yang dikehendakinya.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Parama pun telah memberikan kepada kedua belah pihak untuk bergeser maju.

Dengan singkat Ki Parama menjelaskan, aturan-aturan yang harus ditaati oleh kedua belah pihak.

“Baiklah” berkata Ki Parama kemudian, kita akan dapat segera mulai”

Ki Parama pun kemudian telah beringsut menepi. Tetapi ia akan tetap berada di arena. Bahkan ia pun kemudian memberi isyarat kepada Ki Windu dan Ki Rantam untuk turun ke arena, bersama-sama mengawasi pertarungan itu.

Murdaka dan Wikan pun kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dua orang murid dari perguruan yang sama telah siap untuk bertempur. Mereka ingin membuktikan, siapakah yang terbaik diantara mereka.

Sementara itu, terik matahari pun seakan-akan telah membakar langit. Sinarnya yang panas telah ikut memanasi suasana.

“Jangan sesali dirimu, Wikan” berkata Murdaka hampir berbisik.

“Apa yang harus aku sesali?” desis Wikan.

“Mungkin kau akan tetap menjadi anak bungsu. Tetapi kau bukan lagi yang terbaik”

Wikan tidak menyahut. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Keduanya pun kemudian bergeser beberapa langkah. Murdakalah yang kemudian lebih dahulu meloncat menyerang Wikan.

Tetapi Murdaka masih belum bersungguh-sungguh. Sementara itu Wikan pun bergeser selangkah kesamping menghindari serangan itu.

Namun dengan cepat Murdaka menyusul dengan serangan berikutnya.

Wikan pun segera berloncatan pula menghindari serangan-serangan Murdaka. Namun kemudian.Wikan pun telah membalas serangan-serangan Murdaka dengan serangan-serangan pula.

Demikianlah keduanya segera terlibat dalam pertarungan, yang sengit. Keduanya yang telah mengenali tataran ilmu masing-masing itu pun segera meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi.

Ki Margawasana memperhatikan kedua orang muridnya yang sedang bertarung di arena itu dengan seksama. Ada juga sepercik kegelisahan merayap di hatinya. Murdaka adalah salah seorang diantara-murid-muridnya yang terbaik yang sudah berada di tataran terakhir. Bahkan Ki Margawasana yang dibantu oleh Ki Rantam, Ki Windu dan Ki Parama telah mulai mengembangkan ilmu perguruan itu bagi murid-muridnya yang berada di tataran tertinggi. Ki Margawasana telah membuka wawasan mereka untuk lebih mengenali sifat dan watak ilmu mereka, dibandingkan dengan un.sur-unsur gerak terbaik dari beberapa perguruan yang lain. Namun tidak luput dari kemungkinan, murid-muridnya justru mampu menyerap berbagai macam unsur itu untuk mengembangkan ilmunya.

Ki Margawasana tidak pernah merasa keberatan. Bahkan Ki Margawasana dan para pembantunya, telah membimbing murid-muridnya untuk melengkapi unsur-unsur yang telah mereka miliki.

Itulah sebabnya, maka perguruan Ki Margawasana itu tidak pernah berhenti bergerak. Setiap kali ilmunya mendapat sisipan-sisipan baru yang semakin meningkatkan kemampuan para muridnya.

Murdaka meyakini bahwa perkembangan ilmunya pada saat-saat terakhir menjadi semakin cepat, sehingga ia akan mampu melampaui murid bungsu Ki Margawasana yang telah meninggalkan perguruannya itu.

Tetapi Murdaka tidak memperhitungkan, bahwa pengalaman Wikan di luar perguruannya, telah memberikan banyak sekali kemungkinan baginya untuk berkembang pula.

Demikianlah, pertarungan di halaman padepokan itu semakin lama menjadi semakin sengit. Murdaka telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi, la bergerak semakin cepat serta serangan-serangannya pun menjadi semakin berbahaya.

Wikan merasakan bahwa Murdaka berusaha menekannya terus. Agaknya Murdaka ingin secepatnya menunjukkan kelebihannya. Semakin cepat ia berhasil mengalahkan Wikan, maka namanya akan menjadi semakin dikagumi oleh saudara-saudara seperguruannya.

Dalam pada itu, selagi di padepokan terjadi pertarungan yang sengit, Ki Mina dan Nyi Mina lengah berada di tengah perjalanan menuju ke rumah Nyi Nastili. Mereka berharap bahwa sebelum senja mereka sudah akan sampai ke rumah kakak perempuan Nyi Mina itu.

Namun di perjalanan keduanya masih saja berbicara tentang Wikan yang tentu sedang melakukan pertarungan melawan Murdaka.

“Kenapa anak itu menjadi iri, kakang?“ bertanya Nyi Mina.

“Bukankah ia datang lebih dahulu dari Wikan? Tetapi Wikanlah yang lebih dahulu dinyatakan telah tuntas. Wikan telah menguasai semua ilmu yang dituangkan oleh guru kepada murid-muridnya. Di setiap pendadaran pada tataran-tataran sebelumnya, Wikan menunjukkan bahwa ia memiliki kelebihan dari kawan-kawannya. Tetapi Murdaka berpendapat lain. Ia menganggap bahwa ada ketidak-adilan di padepokan ini. Ia menganggap bahwa pernyataan guru, bahwa Wikan telah tuntas itu bukanlah karena kemampuan yang sebenarnya telah dikuasai oleh Wikan. Tetapi semata-mata karena guru mengasihi Wikan lebih dari murid-muridnya yang lain”

Nyi Mina mengangguk-angguk. Kalanya, “Mudah-mudahan Wikan mampu membuktikan, bahwa ia memang telah tuntas. Dengan demikian, ia pun membuktikan bahwa guru benar-benar berpijak pada alas yang benar bahwa ia menyatakan Wikan telah tuntas”

“Aku berharap demikian, Nyi. Menurut perhitunganku, Wikan memang mempunyai kelebihan. Dalam olah kanuragan, Wikan tidak semata-mata bersandar kepada tenaga, kekuatan dan kemampuannya menguasai unsur-unsur gerak, tetapi setiap kali ia harus mengambil keputusan untuk bersikap, ia selalu mempergunakan penalarannya selain perasaannya untuk mengambil keseimbangan. Dalam pertempuran, Wikan pun tidak pernah kehilangan akal. Ia memperhitungkan setiap kemungkinan dan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya”

Nyi Mina masih mengangguk-angguk. Namun jantungnya masih saja terasa berdebaran.

Dalam pada itu, Wikan dan Murdaka masih bertempur di arena. Ki Parama, Ki Rantam dan Ki Windu mengikuti pertarungan itu dengan seksama. Mereka mengawasi agar kedua orang anak muda itu tidak kehilangan kendali serta tidak pula melakukan kecurangan.

Ternyata Murdaka memang telah memiliki kemampuan yang tinggi. Sebagai murid pada tataran terakhir, maka Murdaka seakan-akan telah menguasai segala-galanya yang diturunkan oleh gurunya, bahkan telah mengembangkannya pula. Serangan-serangan Murdaka pun datang seperti badai di musim pancaroba.

Wikan merasakan tekanan Murdaka menjadi semakin berat. Namun Wikan masih tetap tidak goyah. Pertahanannya tidak tergetar oleh serangan-serangan Murdaka yang semakin deras. Meskipun Wikan masih lebih muda dari Murdaka, tetapi dalam mengambil sikap, Wikan telah cukup mapan, pengalaman hidupnya telah banyak mengajarinya melengkapi ajaran-ajaran gurunya.

Karena itu, pada mulanya, dalam pertarungan itu, Wikan sengaja tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Ia sadar, bahwa pertarungan diantara dua orang yang berilmu tinggi itu akan dapat makan waktu yang panjang. Jika sejak semula ia sudah mengerahkan tenaganya, maka pada saat-saat terakhir, ia akan dapat kehabisan tenaga.

Dalam pada itu, pertarungan di arena itu pun menjadi semakin sengit. Murdaka yang mengerahkan kemampuannya, berusaha untuk dapat menguak pertahanan Wikan. Serangan-serangannya pun menjadi semakin ccpai mengarah ke sasaran yang berbahaya.

Wikan memang lebih banyak bertahan. Sekali-sekali Wikan juga menyerang. Tetapi Wikan masih belum memaksakan serangan-serangannya untuk menembus pertahanan Murdaka.

Serangan-serangan Wikan masih lebih banyak dipergunakan untuk meredam serangan-serangan Murdaka.

Ketika keringat sudah membasahi pakaian kedua orang anak muda itu, maka pertarungan itu pun menjadi semakin cepat. Serangan-serangan Murdaka menjadi semakin garang. Anak muda itu berloncatan seperti burung sikatan memburu bilalang di rerumputan.

Wikan memang tidak terlalu banyak bergerak. Ia lebih sering bergeser mengikuti arah lawannya berloncatan. Namun demikian sulit bagi Murdaka untuk menguak pertahanan Wikan. Setiap kali serangan-serangannya selalu saja membentur pertahanan Wikan atau luput sama sekali, karena Wikan menghindarinya.

Meskipun demikian, dalam pertarungan yang semakin sengit, maka sekali-sekali serangan Murdaka pun mampu mengenai sasarannya. Pada saat Wikan menangkis ayunan tangannya mendatar kearah kening, maka tubuh Murdaka itu pun segera berputar. Kakinya terayun mendatar dengan derasnya menyambar dada Wikan.

Wikan tergetar surut. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Namun dengan menarik satu kakinya setengah langkah kebelakang, maka Wikan mampu memperbaiki keadaannya. Dengan cepat pula ia justru bergeser selangkah surut untuk mendapat pijakan yang lebih mapan.

Pada saat Wikan tergetar, maka jantung mereka yang menyaksikan pertarungan itu pun tergetar pula. Mereka melihat betapa tenaga dalam Murdaka sudah menjadi semakin meningkat.

Namun ketika kemudian Murdaka meloncat dengan menjulurkan kakinya sehingga tubuhnya seakan-akan meluncur seperti sebatang lembing yang dilontarkannya, Wikan sempat bergeser ke samping dengan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga serangan itu tidak mengenainya.

Murdaka yang gagal itu pun menggeram, la berharap bahwa jika serangan itu mengenai dada Wikan, maka pertarungan itu tentu tidak akan berlangsung terlalu lama lagi. Serangan yang dilandasi dengan tenaga dalamnya yang tinggi itu, akan dapat meretakkan tulang-tulang iga Wikan.

Tetapi Murdaka tidak berhasil.

Dengan cepat maka Murdaka pun segera mempersiapkan dirinya. Ia menduga bahwa Wikan akan memburunya dan langsung menyerangnya.

Tetapi ternyata Wikan tidak melakukannya. Wikan yang menjadi semakin mapan itu masih tetap memperhitungkan tenaga dan pernafasannya. Sehingga karena itu, maka Wikan pun nampak menjadi semakin tenang.

Murdaka bergeser mendekati lawannya. Sejenak kemudian, maka serangan-serangannya datang pula seperti prahara.

Berbeda dengan Murdaka yang ingin dengan cepat menyelesaikan pertarungan itu untuk semakin mengangkat namanya dilingkungan perguruannya, Wikan justru sebaliknya. Ia sudah berniat untuk membiarkan Murdaka mengerahkan kemampuannya. Wikan akan lebih banyak bertahan, meskipun bukan berarti bahwa ia tidak menyerang sama sekali. Sehingga pada suatu saat, Murdaka itu akan menjadi kelelahan.

Karena itu, maka arena pertarungan itu seakan-akan lebih banyak dikuasai oleh Murdaka. Wikan seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk menyerang. Wikan lebih banyak menangkis serangan-serangan Murdaka atau menghindarinya.

Saudara-saudara seperguruan mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Satu dua orang yang berpihak kepada Murdaka, mulai berpengharapan, meskipun mereka masih belum dapat menentukan, bahwa Murdaka akan dapat memenangkan pertarungan itu.

Namun saudara-saudara seperguruan mereka dari tataran tertinggi, apalagi Ki Margawasana dan ketiga orang yang membantunya memimpin padepokan itu, justru mulai mengerti, apa yang dikehendaki oleh Wikan.

Pertarungan itu masih saja berlangsung dengan sengitnya. Serangan-serangan Murdaka masih saja datang seperti amuk prahara. Sementara itu Wikan seakan-akan memang mengalami kesulitan untuk membalas serangan-serangan Murdaka.

Namun jika terjadi benturan-benturan, maka setiap kali Murdaka lah yang tergetar surut.

Murdaka yang berloncatan dengan cepat itu seakan-akan telah menyerang Wikan dari segala arah. Wikan yang bergeser dan berputar itu seakan-akan hanya mempunyai sedikit kesempatan.

Tetapi serangan-serangan Murdaka yang datang dengan derasnya itu, sulit sekali dapat menyibak pertahanan Wikan. Setiap kali serangan-serangannya telah membentur pertahanan Wikan yang sangat rapat. Bahkan jika sekali-sekali Wikan membalas, maka serangan-serangannya yang jarang itu justru telah menusuk sampai ke sasaran.

Ketika Murdaka meloncat sambil menjulurkan tangannya mengarah ke kening, maka Wikan bergeser sedikit surut sambil menarik wajahnya, sehingga tangan Murdaka tidak menyentuhnya. Namun dengan cepat kaki Murdaka lah yang menyambar kaki Wikan. Tetapi Wikan sempat meloncat ke samping sehingga kaki Murdaka tidak menyentuhnya. Ketika Murdaka kemudian memutar tubuhnya dan siap untuk mengayunkan kakinya mendatar, maka Wikan telah mendahuluinya. Kaki Wikan lah yang justru mengenai pangkal paha Murdaka yang sudah siap mengayunkan kakinya.

Murdaka lah yang terdorong surut. Dengan susah payah Murdaka berusaha menyelamatkan keseimbangannya, sehingga Murdaka itu tidak jatuh terguling.

Ketegangan pun semakin mencengkam halaman padepokan itu. Saudara-saudara seperguruan mereka yang bertempur di arena itu menjadi semakin berdebar-debar. Sementara matahari di langit seakan-akan menjadi semakin panas, justru pada saat matahari menjadi semakin condong ke Barat.

Keringat kedua orang anak muda yang berada di arena pertarungan itu bagaikan terperas dari tubuh mereka. Sementara itu, mereka masih saja saling menyerang dan bertahan. Benturan-benturan telah terjadi semakin sering. Serangan-serangan Murdaka masih saja datang susul menyusul.

Namun orang-orang yang berada di seputar arena itu mulai melihat, bahwa tenaga Murdaka telah mulai menyusut. Sementara itu, setiap kali Murdaka mengendorkan serangan-serangannya, justru Wikan telah memancingnya dengan serangan-serangan pula. Serangan-serangan yang mampu menyusup di sela-sela pertahanan Murdaka.

Serangan kaki Wikan yang mengenai dada Murdaka telah membuat dada Murdaka menjadi sesak. Beberapa langkah ia bergeser mundur untuk mengambil jarak. Murdaka mencoba untuk mengatur pernafasannya untuk mengatasi sesak nafasnya.

Wikan tidak memburunya. Ia seakan-akan sengaja memberi lawannya wakiu uniuk memperbaiki keadaannya. Namun sejenak kemudian. Wikan pun telah meloncat sambil menjulurkan tangannya.

Murdaka berusaha untuk mengelak dengan memiringkan tubuhnya. Namun Murdaka tidak dapat terbebas sama sekali dari serangan Wikan, sehingga tangan Wikan itu masih menyentuh bahunya.

Murdaka menyeringai menahan sakit. Namun ia pun segera meloncat sambil mengayunkan kakinya.

Wikanlah yang bergeser mundur. Namun pancingannya telah mengena. Murdaka telah mengerahkan sisa tenaganya untuk menyerangnya dengan segenap kemampuannya.

Tetapi serangan-serangan itu tidak mengenai sasarannya. Karena itulah, maka Murdaka telah kehabisan kesabaran. Murdaka telah meloncat surut. Ia memerlukan waktu sekejap untuk sampai ke puncak ilmunya.

Wikan terkejut. Agaknya Murdaka tidak mampu mengendalikan dirinya. Ia ingin mempergunakan puncak ilmu yang diterimanya di perguruan itu. Puncak ilmu yang sebagaimana dipesankan oleh guru mereka, tidak boleh dipergunakan dengan semena-mena. Ilmu puncak yang baru diberikan kepada beberapa orang saja itu, merupakah ilmu simpanan yang harus dihormati penggunaannya.

Wikan justru bergeser surut. Sementara itu terdengar Ki Parama berkata lantang, “Tunggu, Murdaka. Kau tidak boleh mempergunakannya. Bukankah sudah aku katakan, ilmu simpanan itu hanya dapat kau pergunakan untuk mengatasi keadaan yang sangat gawat. Bukan untuk bermain-main bersama saudara-saudara seperguruan”

“Kakang“ jawab Murdaka, “justru siapakah yang mampu mempergunakan, ilmu puncak itu dengan hasil yang lebih baik, maka ialah yang dapat disebut memiliki kemampuan yang lebih tinggi”

”Tetapi kau belum mempelajarinya dengan tuntas. Masih ada beberapa macam laku yang harus kau jalani untuk menguasai ilmu itu sepenuhnya. Sementara itu Wikan telah melakukannya. Jika kau memaksa untuk membenturkan ilmu puncak itu, maka kau akan mengalami kesulitan”

“Kita akan melihat, siapakah yang lebih baik, aku atau Wikan”

“Tidak, kau tidak akan melakukannya”

Tetapi Murdaka tidak menghiraukannya. Ia pun dengan cepat menyentuh simpul-simpul syaraf di sebelah kanan dan kiri dadanya. Kemudian menakupkan telapak tangannya. Sambil berteriak nyaring Murdaka itu menghentakkan tangannya ke arah Wikan.

 -oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 6

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s