TT-04


kembali | lanjut

TT-04NAMUN seorang diantara kawan anak penguasa tanah itu sempat berteriak, “Pukul kentongan. Cepat”

Pemilik kedai yang ketakutan itu tidak menyia-nyiakan waktu. Jika ia dianggap menghambat, maka ia akan mengalami kesulitan.

Karena itu, maka ia  pun segera memukul kentongan dua kali tiga ganda berturut-turut. Isyarat yang memberitahukan bahwa ada bahaya yang mengancam keluarga penguasa tanah itu.

Namun demikian kentongan itu mulai dibunyikan, terdengar suara penguasa tanah itu, “Aku sudah disini. Jangan bunyikan lagi kentongan itu”

Suara kentongan itu pun berhenti. Penguasa tanah yang agak gemuk dan tidak cukup tinggi itu melangkah ketengah-tengah arena perkelahian.

Suasana menjadi sangat tegang. Wikan  pun menjadi semakin berdebaran. Ia merasa bahwa perjalanannya akan menjadi semakin terhambat. Tetapi Wikan sudah bertekat untuk mdawan habis-habisan. Apalagi hatinya yang sedang gelap itu membuatnya semakin sulit untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang jernih.

Karena itu, ketika orang yang bertubuh agak kegemukan itu mendekatinya, maka ia  pun segera mempersiapkan diri. Wikan pun sudah mengira bahwa orang itu tentu penguasa tanah yang mempunyai kuasa yang sangat besar itu.

Ketiga anak muda yang kesakitan itu bergeser berdiri di sebelah orang yang bertubuh kegemukan itu sambil bertolak pinggang.

“Anak itu sudah menghina kuasa ayah” berkata anak penguasa itu

“Ya” sahut kawannya, “Ia tidak mau mengakui kuasa paman di daerah ini”

“Anak itu justru menghina paman” berkata yang lain.

Namun ketika anak penguasa itu akan berbicara lagi, penguasa itu pun membentaknya, “Diam. Aku dapat bertanya sendiri kepadanya”

Anaknya terdiam. Namun ia menjadi heran melihat sikap ayahnya. Biasanya ayahnya segera menghukum orang yang telah berani meremehkan kuasanya.

Namun penguasa itu justru bertanya kepada Wikan, “Siapa namamu anak muda?”

Wikan masih tetap bersikap hati-hati. Dengan nada berat ia pun menyahut, “Namaku Wikan”

“Kau mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Aku kagum kepadamu. Jarang ada anak muda yang memiliki ilmu setinggi ilmumu itu”

Wikan tidak menjawab. Tetapi ia justru menjadi semakin berhati-hati.

“Wikan” berkata penguasa tanah itu pula, “sebenarnyalah aku ingin kau singgah dirumahku”

Wikan merasakan ajakan itu sebagai satu jebakan. Apalagi ia ingin segera sampai di rumah bertemu dengan ibunya. Sehingga karena itu, maka ia pun menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Aku tergesa-gesa pulang. Aku sudah mengatakan kepada anakmu, bahwa aku mempunyai persoalan keluarga yang ingin segera aku selesaikan. Tetapi anakmu memaksaku untuk berkelahi”

“Bohong ayah” sahut anak penguasa tanah itu. Namun ayahnya segera membentaknya, “Diam kau. Kau yang selalu berbohong kepadaku. Kau selalu membakar perasaanku agar aku marah kepada orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Bahkan menghukumnya. Sekarang aku pun yakin bahwa Wikan tidak bersalah”

Wajah ketiga anak muda itu menjadi pucat. Mereka tidak pernah melihat sikap ayahnya seperti itu.

Dalam pada itu, maka penguasa tanah itu pun berkata, “Wikan. Kau kenal dengan Ki Pamerdi?”

Wikan termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia pun menjawab, “Kenal, Ki Sanak. Setidak-tidaknya namanya”

“Siapakah Ki Pamerdi itu menurut pengenalanmu?”

“Guruku adalah murid Ki Pamerdi. Jadi Ki Pamerdi adalah eyang guruku”

“Aku sudah mengira. Aku mengenali unsur-unsur gerak yang nampak pada ilmumu. Jika kau tidak mau singgah di rumahku barang sebentar, baiklah. Aku titip salam kepada gurumu. Siapakah nama gurumu?”

“Ki Margawasana“

“Margawasana“ penguasa tanah itu menarik nafas panjang, “Bukankah sekarang Margawasana lah yang mewarisi kedudukan Ki Pamerdi, setelah Ki Pamerdi menghilang dari padepokan?”

“Ya. Darimana Ki Sanak mengetahuinya?”

“Aku adalah saudara seperguruan Ki Margawasana. Tetapi aku adalah murid yang buruk. Aku berhenti di tengah jalan. Dengan ilmuku yang tidak tuntas itu, aku mengembangkan diri di jalan yang aku tempuh sekarang ini”

“Jadi Ki Sanak adalah paman guruku?”

“Seharusnya demikian. Tetapi ternyata bahwa ilmu bagiku sudah berada di awang-awang yang tidak akan pernah dapat aku gapai. Itulah sebabnya, tidak seperti biasanya, jika anakku membakar perasaanku, aku langsung bertindak meskipun kadang-kadang aku tahu, bahwa itu salah. Tetapi melihat ilmumu, maka jika aku bertindak, akulah yang akan kau lemparkan ke kubangan”

“Aku belum apa-apa, paman” sahut Wikan kemudian.

“Kau agaknya sudah tuntas. Margawasana memang seorang murid yang jarang ada duanya. Murid-muridnya menjadi orang-orang yang mumpuni pula, termasuk kau sendiri”

“Hanya sekedarnya paman”

“Sudah sepantasnya, bahwa Margawasana sekarang memimpin perguruan itu“ penguasa itu berhenti sejenak. Lalu katanya, “Salamku buat gurumu. Aku mohon maaf atas kelakuanku dan kelakuan anak-anakku. Anak-anakku mempu-nyai aliran perguruan yang lain, karena aku sendiri tidak mengajarinya. Tetapi ternyata bahwa ilmu gurunya itu lebih buruk dari ilmuku yang hanya sepotong ini”

“Akulah yang harus minta maaf, paman”

“Nah, jika kau masih mempunyai keperluan yang lain, teruskan perjalananmu. Aku harap pada kesempatan lain, kau dan gurumu bersedia singgah di rumahku”

“Tetapi siapakah nama paman. Aku akan menyampaikannya kepada guru nanti”

Orang itu menarik nafas panjang. Kemudian katanya, “Namaku Wirabrata. Gurumu mengenalku dengan sebutan Wirabrata. Tetapi disini aku disebut Wira Tiyasa”

“Baiklah paman. Aku akan menyampaikan kepada guruku, bahwa aku sudah bertemu dengan paman Wira Tiyasa”

“Jangan sebut aku Wira Tiyasa dihadapan gurumu. Kecuali barangkali gurumu tidak akan mengenal nama itu, aku juga merasa malu dengan nama itu. Sebut saja bahwa kau bertemu dengan paman Wirabrata. Nama itu justru lebih baik”

“Baik paman. Terima kasih atas kelapangan hati paman. Aku akan menyampaikan kepada guruku”

“Aku yang harus mengucapkan terima kasih serta minta maaf”

Wikan mengangguk hormat. Ia sempat memandang ketiga orang anak muda yang telah mengganggu perjalanan itu. Untunglah bahwa ayah anak muda yang sombong dan mengandalkan kuasa ayahnya itu dapat mengenali beberapa unsur gerak dari ilmunya, sehingga persoalan yang berkepanjangan tidak harus terjadi.

Dalam pada itu, Wikan pun telah memacu kudanya. Ia pun ingin segera sampai di rumahnya untuk berbicara dengan ibu dan kakak perempuannya tentang seorang kakak perempuannya yang lain, yang telah terjebak dalam dunia yang hitam di Kotaraja.

Wikan sampai di rumahnya setelah malam turun. Lampu-lampu minyak telah dinyalakan di mana-mana.

Kedatangan Wikan telah mengejutkan ibunya. Apalagi ketika Nyi Purba melihat sikap Wikan yang nampaknya sangat gelisah. Pakaiannya yang kusut serta keringat yang membasahi bajunya.

“Wikan” desis ibunya.

“Ibu. Aku ingin memanggil mbokayu Wuni dan suaminya”

“Ada apa Wikan? Ada apa? Sikapmu membuatku berdebar-debar”

“Ibu. Aku ingin berbicara tentang mbokayu Wiyati”

“Nanti dulu, Wikan. Tenanglah. Duduklah. Biarlah seseorang mengambilkan minuman hangat bagimu”

Wikan memang duduk di tikar pandan yang dibentangkan di ruang dalam. Namun ia masih saja nampak gelisah.

“Ketika gurumu pulang dari Mataram, ia sempat singgah di rumah ini, Wikan. Ia mengatakan, bahwa kau akan tinggal di rumah Ki Tumenggung Reksaniti. Kau akan ikut mengabdi kepada Mataram dengan tugas yang akan diberikan oleh Ki Tumenggung Reksaniti”

“Ya, ibu. Seharusnya memang demikian, tetapi mbokayu Wiyati telah merusak segala-galanya.

“Kenapa dengan mbokayumu, Wiyati? Apa hubungan pengabdianmu dengan mbokayumu itu”

“Ibu. Aku minta ibu memerintahkan seseorang memanggil mbokayu Wuni dan suaminya. Aku akan berbicara dengan seluruh keluarga kita”

“Kau membuat aku berdebar-debar, Wikan”

“Kita harus segera membicarakannya”

“Tetapi malam sudah turun. Kau pun tentu merasa letih. Karena itu, sebaiknya kau beristirahat saja dahulu. Kau sempat menenangkan hatimu. Besok pagi, biarlah aku minta seseorang memanggil mbokayumu dan suaminya”

“Tidak banyak waktu ibu. Sebaiknya ibu memanggilnya sekarang”

“Kenapa harus sekarang? Kenapa waktu kita tidak banyak? Apakah ada sesuatu yang akan terjadi dengan mbokayumu Wiyati sehingga kita harus segera bertindak?”

“Sesuatu itu bukan saja akan terjadi pada mbokayu Wiyati. Tetapi justru telah terjadi”

“Kau belum mengatakannya, Wikan”

“Karena itu, panggil mbokayu Wuni dan suaminya”

Ibunya tidak dapat menolak. Ia pun ingin segera tahu, apa yang telah terjadi dengan Wiyati. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Aku akan menyuruh memanggil Wuni dan suaminya. Sementara itu kau sempat minum, mandi dan barangkali makan”

“Tidak. Aku akan menunggu mereka”

Ibunya menarik nafas panjang. Sementara itu, seorang pelayannya telah menghidangkan minuman hangat bagi Wikan.

Wikan memang haus. Karena itu, maka ia pun segera menghirup minuman yang masih hangat itu, sementara ibunya menyuruh pelayan itu memanggil seorang pembantu laki-laki.

Ketika laki-laki itu menghadapnya, maka Nyi Purba pun berkata, “Pergilah ke rumah Nyi Wuni. Katakan, bahwa Nyi Wuni dan suaminya aku panggil sekarang juga. Ada suatu yang penting yang harus segera dibicarakan”

“Baik Nyi” jawab laki-laki itu.

Sejenak kemudian, maka laki-laki itu pun segera pergi ke rumah Wuni.

Wikan masih saja duduk di ruang dalam. Ia masih belum mau mandi. Ketika ibunya bertanya kepadanya, apakah ia lapar, maka ia pun menjawab, “Tidak. Aku tidak lapar”

Nyi Purba sendiri menjadi sangat ingin segera mengetahui persoalan yang dibawa anaknya itu tentang Wiyati. Anak perempuannya yang berada di kota. Yang selama ini dianggapnya telah berhasil dengan usahanya bersama Wandan. Beberapa kali Wiyati telah mengirimkan uang bagi ibunya untuk membeayai keperluan keluarganya. Untuk memelihara rumah, halaman serta melengkapi perabot-perabot di rumahnya. Bahkan dengan mengumpulkan uang dari Wiyati dan Wuni yang tersisa. Wikan sempat membeli seekor kuda yang besar dan tegar ditambah dengan hasil sawahnya yang dikerjakannya dengan tekun dan bersungguh-sungguh.

Dalam pada itu, Wikan yang duduk diruang dalam ditemani oleh ibunya, masih belum mengatakan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Wiyati. Agaknya Wikan ingin mengatakannya setelah keluarganya berkumpul.

Menjelang wayah sepi uwong, maka Wuni dan suaminya telah datang. Di wajah mereka membayang kegelisahan.

“Ada apa ibu?“ bertanya Wuni yang kemudian duduk pula di ruang dalam bersama suaminya. Di getar suaranya terasa kecemasan hatinya yang tersirat. Bahkan terasa pula, bahwa Wuni menjadi tidak sabar menunggu untuk mendengarkan, berita apa yang akan disampaikan kepadanya.

“Katakan Wikan” desis ibunya.

Wikan menarik nafas panjang. Ia memang agak sulit. Darimana ia harus mulai berbicara.

Namun akhirnya Wikan berhasil juga memulainya. Ia mulai menceriterakan keberadaannya di Mataram serta usahanya mencari Wiyati dan Wandan.

Namun ketika Wikan menceriterakan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, ia masih sadar, bahwa ia harus menyampaikan berita yang menyakitkan itu dengan berhati-hati.

Meskipun demikian, ketika ibunya mendengar kenyataan yang dikatakan oleh Wikan itu, ia sempat menjerit. Kemudian terdengar tangisnya yang meledak.

“Ibu, ibu“ Wuni pun kemudian mendekap ibunya, “tenanglah ibu. Tenanglah. Kita akan membicarakannya. Kita akan berbuat sesuatu untuk mengentaskan Wiyati dari dunia hitamnya itu”

“Wiyati, Wiyati. Sampai hati kau nodai nama baik keluargamu. Nama baik ayahmu”

“Sudahlah ibu“ suara suami Wuni berat menekan, “persoalannya tidak akan selesai dengan kita tangisi. Kita harus mengambil langkah-langkah yang jelas”

”Mbokayu Wiyati harus dipanggil pulang” berkata Wikan dengan nada datar.

“Ya” sahut kakak iparnya.

“Bagaimana jika kakang memanggilnya pulang?“ bertanya Wikan.

“Aku tidak berkeberatan. Tetapi aku belum tahu dimana ia tinggal”

“Ada ancar-ancarnya” sahut Wikan.

“Ya. Kakang harus memanggilnya pulang” berkata Wuni, “jika Wikan telah mengetahui ancar-ancar rumahnya, maka kakang dapat pergi bersama Wikan”

“Jika ibu mengijinkan, aku akan pergi bersama kakang besok untuk menyambut mbokayu Wiyati”

“Pergilah, Wikan. Bawa mbokayumu itu pulang” berkata ibunya diantara isak tangisnya.

Setelah segala sesuatunya di sepakati, maka Wuni dan suaminya minta diri. Besok pagi-pagi Wikan dan kakak iparnya itu akan berangkat. Tetapi mereka tidak akan menemui Wiyati besok karena mereka akan sampai di Mataram setelah sore hari Mereka akan bermalam semalam, dan baru dikeesokan harinya mereka akan menemui Wiyati untuk memaksanya pulang.

“Kita akan membawa tiga ekor kuda” berkata Wikan.

“Apakah Wiyati dapat naik kuda?“

“Ia pernah mencoba-coba naik kuda ketika ayah masih ada. Dalam keadaan terpaksa, ia akan dapat naik”

“Ia pernah belajar naik kuda” sahut Wuni, “ayah tidak pernah menaruh keberatan. Tetapi waktu itu aku memang tidak tertarik sama sekali. Namun agaknya Wiyati agak berbeda”

Sepeninggal Wuni dan suaminya, dada Wikan yang pepat itu terasa sedikit longgar. Beban yang diusungnya sebagian sudah diletakkannya. Bahkan telah dibuat satu kesepakatan, bahwa esok Wikan dan kakak iparnya akan pergi menjemput Wiyati ke Mataram. Kota yang semula membangun harapan bagi kehidupan yang lebih baik. Namun yang ternyata telah membawa Wiyati ke jalan sesat.

“Jangan urusi Wandan” berkata ibunya, “Wandan memang bersalah. Agaknya Wandan lah yang telah membujuk Wiyati untuk terjun ke dunia hitam itu. Tetapi kesalahan terbesar terletak pada Wiyati sendiri. Karena itu, ambil Wiyati. Tetapi kau tidak perlu membuat persoalan dengan Wandan”

“Ya. ibu” sahut Wikan.

Baru setelah Wuni dan suaminya pulang, Wikan itu dapat pergi ke pakiwan untuk mandi dan berbenah diri. Sementara itu, ibunya telah menyediakan makan baginya. Nasi yang sudah dingin. Namun pembantunya sempat memanasi sayurnya.

Wikan sebenarnya tidak berselera untuk makan. Namun ia sadar, bahwa ia harus mengisi perutnya meskipun hanya sedikit. Apalagi meskipun malam telah semakin dalam, ibunya telah menjadi sibuk menyiapkannya.

Malam itu, Wikan sulit untuk dapat tidur nyenyak. Hanya kadang-kadang saja ia telah terlena. Namun kemudian matanya telah terbuka kembali. Gambaran-gambaran buruk telah bermain di kepalanya.

Pagi pagi sekali Wikan telah bangun. Ia pun segera pergi ke pakiwan dan bersiap untuk pergi ke Mataram.

Sebelum matahari terbit, kakak iparnya telah singgah di rumah Wikan untuk bersama-sama pergi ke Mataram.

Keduanya tidak menjumpai hambatan yang berarti di perjalanan. Keduanya pun melarikan kuda mereka melintasi bulak-bulak panjang dan pendek serta padukuhan-padukuhan. Mereka berhenti ketika kuda mereka menjadi letih di sebuah kedai. Bahkan Wikan dan kakak iparnya itu pun sempat juga minum dan makan di kedai itu.

Di Mataram Wikan dan kakak iparnya tidak singgah dirumah Ki Tumenggung Reksaniti. Bahkan seandainya berpapasan di jalanpun, Wikan akan menyembunyikan wajahnya.

Malam itu, Wikan dan kakak iparnya bermalam di sebuah penginapan di dekat pasar. Penginapan yang memang kurang baik. Dipenginapan itu, para pedagang dan saudagar yang kemalaman menginap.

Di halaman penginapan yang luas terdapat beberapa buah pedati yang memuat barang-barang dagangan yang akan atau setelah di gelar di pasar.

Malam itu, Wikan dan kakak iparnya tidak beringsut dari penginapan kecuali keluar sebentar untuk makan malam. Setelah itu keduanya pun kembali ke penginapan dan tidak beranjak lagi.

Ketika matahari terbit, keduanya pun telah bersiap. Mereka sengaja untuk tidak pergi ke rumah Wiyati terlalu pagi. Mungkin sekali Wiyati masih belum berada di tempat tinggalnya.

Baru ketika matahari naik, setelah makan pagi di sebuah kedai, maka keduanya pun pergi. ke tempat tinggal Wiyati. Mereka naik diatas punggung kuda sambil menuntun seekor kuda yang telah siap untuk dipergunakan.

Kakak ipar Wikan telah beberapa kali pergi ke Kotaraja. Karena itu, maka dengan ancar-ancar yang diketahui oleh Wikan, maka mereka pun akhirnya berhasil menemukan tempat tinggal Wiyati, di sebuah rumah yang letaknya agak terpencil. Sebuah rumah yang besar dengan dinding halaman yang agak tinggi.

Keduanya termangu-mangu sejenak di pintu regol halaman. Namun ketika Wikan mendorong daun pintunya dan ternyata tidak diselarak, maka setelah turun dari kuda mereka, keduanya pun memasuki halaman rumah yang terhitung besar dengan halaman yang luas itu.

Sejenak mereka termangu-mangu di halaman. Namun kemudian mereka pun beranjak mendekati pendapa rumah itu.

Mereka tertegun ketika mereka mendengar suara beberapa orang perempuan yang sedang bergurau. Namun suara itu pun segera menjauh. Yang tertinggal adalah suara tertawa yang melengking tinggi dan berkepanjangan. Namun suara tertawa itu pun kemudian menghilang juga.

Ketika Wikan melangkah ke pendapa, kakak iparnya pun bertanya, “Kau akan kemana?”

“Aku akan masuk. Aku akan mengambil mbokayu Wiyati dari tempat terkutuk ini dan membawanya pulang”

“Jangan tergesa-gesa. Kita berada di suatu tempat yang tidak kita ketahui apa isi yang sesungguhnya”

“Kakang dengar suara mereka?”

“Itu yang terdengar. Tentu ada yang lain yang tidak dapat kita dengar suaranya”

Wikan terdiam

“Kita naik ke pendapa. Kita ketuk pintu pringgitan” Keduanya pun kemudian naik ke pendapa. Ketiga ekor kuda mereka sudah tertambat pada patok-patok sebelah pendapa.

Kakak ipar Wikan pun kemudian mengetuk pintu pringgitan perlahan-lahan.

“Siapa?“ terdengar suara seorang perempuan melengking.

“Aku Nyi“ jawab kakak ipar Wikan.

“Aku siapa?”

“Aku datang dari jauh”

Sejenak suasana justru menjadi hening. Namun kemudian terdengar langkah seseorang mendekati pintu dan mengangkat selaraknya. Demikian pintu itu terbuka, maka seorang perempuan gemuk dengan rambut kusut dan mata yang kemerah-merahan muncul.

Sebelum kakak ipar Wikan mengatakan sesuatu, perempuan itu tertawa sambil berkata, “Sepagi ini kalian sudah datang kemari. He, apa kerja kalian malam tadi? Apakah kalian petugas jaga malam di rumah seorang saudagar sehingga kalian tidak dapat datang malam hari? Tetapi tidak apa-apa. Aku akan memanggil gadis-gadisku untuk menemui kalian. Ada diantara mereka yang memang sudah mempersiapkan dirinya”

Ketika Wikan bergeser setapak, kakak iparnya menggamitnya.

“Duduklah“ perempuan gemuk itu mempersilahkan.

“Terima kasih, Nyi. Kami tidak perlu duduk. Kami datang untuk menemui saudara perempuan kami”

“Saudara perempuan? Ada apa?”

“Ayah kami sakit keras. Saudara perempuan kami perlu mengetahuinya. Ayah selalu menanyakannya. Dalam igauannya ia selalu menyebut-nyebut namanya”

“Siapa namanya?”

“Wiyati”

“Wiyati? He? Bukankah Wiyati sudah tidak mempunyai ayah lagi? Menurut keterangannya, ayahnya sudah meninggal”

“Meninggal? Wiyati berkata begitu?”

“Ya”

“Tolong Nyi. Aku ingin bertemu”

“Kau akan mengajaknya pulang?”

“Ayahnya memerlukannya. Jika keadaan ayahnya membaik, biarlah ia kembali kemari”

Perempuan itu termangu-manggu sejenak. Namun kemudian perempuan itu pun berteriak, “Wiyati. Kemarilah”

“Ya, bu, “ terdengar jawaban dari ruang yang agak jauh.

“Kemarilah. Ada orang yang mencarimu”

“Sepagi ini?“ terdengar suara itu pula. Kemudian terdengar suara beberapa orang perempuan yang lain bersahutan. Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa yang melengking.

Jantung Wikan rasa-rasanya hampir rontok karenanya. Tetapi melihat sikap kakak iparnya yang masih saja nampak tenang, Wikan mencoba menahan dirinya.

Sejenak kemudian terdengar langkah beberapa orang. Hampir bersama-sama, tiga orang perempuan muda muncul dari balik pintu.

Darah Wiyati rasa-rasanya telah berhenti mengalir ketika ia melihat kakak iparnya dan adik laki-lakinya berdiri di pringgitan. Bahkan terdengar Wikan itu menggeram.

“Kakak” desis Wiyati, “Wikan”

Wikan tidak dapat menahan diri lagi. Dengan nada tinggi ia pun berkata, “Kita pulang sekarang”

Namun kakak iparnya segera menyahut, “Ayah sakit keras”

“Ayah?“ bertanya Wiyati.

“Ya”

Wikan yang tidak sabar itu menyambar pergelangan tangan Wiyati sambi! berkata, “Sekarang mbokayu harus pulang”

“Tunggu, Wikan. Tunggu”

“Apa yang ditunggu”

“Bukankah aku harus membawa selembar dua lembar pakaian”

“Tidak. Tinggalkan semua milikmu yang kotor itu. Pulang. Jangan bawa apa-apa. Pakaian yang kau pakai itu pun nanti harus kau bakar di rumah”

“Ada apa ini sebenarnya?“ bertanya perempuan gemuk itu, “ada apa?”

“Mbokayuku harus segera meninggalkan tempat terkutuk ini”

“Terkutuk? Kenapa kau sebut tempat ini tempat terkutuk”

“Persetan. Pokoknya mbokayu harus pulang. Sekarang”

“Jangan bawa gadis itu pergi” geram perempuan gemuk itu, “Ia sudah menjadi anak angkatku. Aku harus melindunginya”

“Ia kakak perempuanku. Aku membawa amanat ibuku. Ia harus pulang”

“Tidak semudah itu membawanya pergi” berkata perempuan gemuk itu, “Aku sudah membeayainya. Aku sudah mengeluarkan banyak uang baginya. Aku sudah membuatnya semakin cantik. Aku sudah membeli berbagai macam reramuan dan jamu untuk menjadikannya seorang gadis yang digilai oleh banyak laki-laki. Aku sudah membawanya ke seorang dukun yang pintar untuk memasang susuk di tiga tempat pada tubuhnya. Aku sudah membelikan pakaian dan perhiasan baginya. Memberinya uang dan mencukupi kebutuhan-kebutuhannya, bahkan kebutuhan bagi keluarganya. Sekarang begitu saja kau akan membawanya pergi”

“Wikan” berkata Wiyati, “pulanglah dahulu. Nanti aku segera menyusulmu”

“Tidak Wiyati” berkata kakak iparnya, “Kau harus pulang bersama kami. Kami datang untuk menjemputmu. Bukan sekedar memberitahukan agar kau pulang”

“Tidak mungkin” teriak perempuan gemuk itu.

Sementara itu beberapa orang perempuan muda berdiri berjejal di belakang pintu. Diantara mereka terdapat Wandan.

“Kakang” berkata Wiyati kemudian, “Aku tidak dapat pergi begitu saja. Aku harus membuat perhitungan dengan ibu”

“Ibu siapa?“ bertanya Wikan.

“Ibu angkatku. Ibu angkatkulah yang menampung aku ketika aku tiba di tempat yang asing ini. Ibu angkatkulah yang memberikan tempat kepadaku. Memberikan makan sebelum aku mempunyai penghasilan sendiri”

“Kami bukan anak-anak lagi, Wiyati. Bukan pula orang yang sangat dungu. Aku tahu yang sebenarnya terjadi. Wandan dengan sengaja telah menjebakmu kedalam rumah terkutuk ini”

“Cukup” teriak perempuan gemuk itu mengatasi segala suara, “pergilah dari rumahku. Jika kalian tidak mau pergi, maka aku akan mengusirnya”

Wiyati pun menjadi sangat bingung. Dengan suara bergetar ia pun berkata, “Kakang. Wikan. Pulanglah. Aku akan segera menyusul. Aku berjanji”

“Tidak“ jawab Wikan tegas, “Aku akan pergi bersamamu”

“Itu tidak mungkin”

“Kenapa tidak mungkin” sahut kakak iparnya.

“Jangan banyak bicara lagi” geram perempuan gemuk itu, “pergi, atau kami akan mengusir kalian seperti mengusir seekor anjing”

“Pulanglah dahulu kakang. Pulanglah Wikan. Jika kalian tidak pulang, akibatnya akan kalian sesali”

“Tidak. Kami akan menyesal jika kami tidak dapat membawamu pulang” sahut kakak iparnya, “Karena itu, kau harus pulang sekarang”

“Tidak“ suara perempuan gemuk itu bagaikan menggetarkan atap rumahnya.

“Kakang”

“Tidak ada pilihan lain” berkata kakak iparnya. Namun perempuan gemuk itu tiba-tiba berteriak sekeras-kerasnya, “Panggil Depah dan kawan-kawannya”

Beberapa orang perempuan pun segera berlari-lari untuk memanggil orang yang disebutnya bernama Depah itu.

Sejenak kemudian, lewat pintu seketeng, seorang laki-laki bertubuh raksasa dengan perut yang menggembung melangkah ke halaman samping. Dibelakangnya berjalan dua orang yang tidak kalah tingginya meskipun mereka tidak sebesar Depah.

“Ada apa Nyi?“ suara Depah terdengar bagaikan gemuruhnya suara seribu pedati yang berjalan beriring.

“Usir kedua orang ini”

“Jangan ibu“ minta Wiyati, “Aku akan membujuk mereka agar mereka pergi. Jangan pergunakan tangan paman Depah”

Tetapi jawab kakak ipar Wiyati jelas, “Tidak ada orang yang dapat menggagalkan niat kami. Wiyati. Kau harus pulang bersama kami”

“Tetapi kakak dan Wikan akan diusir oleh paman Depah dengan kekerasan”

“Jika demikian, maka aku akan membawamu dengan kekerasan pula” geram Wikan.

“Wikan“ Wiyati melangkah mendekatinya. Tetapi Wikan bergeser surut sambil berkata, “Jika ada orang yang menghalangiku, maka aku akan menyingkirkannya”

“Tetapi paman Depah adalah seorang yang tidak terkalahkan, Wikan”

“Aku akan menantangnya”

“Setan kau anak muda” geram Depah, “Kau sudah meremehkan aku. Kemarilah. Aku akan memilin lehermu”

“Usir mereka, Depah” berkata perempuan gemuk itu.

“Ya, Nyi. Aku akan mengusirnya. Jika keduanya keras kepala, maka kepalanya itu akan aku lunakkannya. Aku justru merasa bersukur, bahwa mereka datang dengan membawa kuda. Sudah lama aku ingin mempunyai kuda yang baik, besar dan tegar”

Tetapi Depah itu terkejut ketika tiba-tiba saja Wikan sudah berdiri di hadapannya, “Aku tantang kau iblis”

Depah bukan saja terkejut karena tiba-tiba saja Wikan sudah berdiri di hadapannya, tetapi tantangan itu tidak pernah di-dengarnya sebelumnya. Setiap orang menjadi gemetar melihatnya jika ia nampak menjadi marah. Tetapi anak muda itu justru datang menantangnya.

Suasana menjadi sangat tegang. Kakak ipar Wikan pun telah turun ke halaman pula. Ia pun telah mempersiapkan diri jika ia harus terlibat dalam perkelahian melawan orang-orang upahan itu.

Dengan kemarahan yang membakar jantungnya Wikan pun berkata, “Jangan campuri urusanku dengan saudara perempuanku”

“Kalian telah datang kerumah ini dengan sikap yang sangat buruk. Kami berhak mengusir kalian atau bahkan membunuh kalian disini”

Wikan tidak menjawab. Tetapi ia telah mempersiapkan diri untuk berkelahi,

Depah benar-benar heran melihat sikap Wikan. Tetapi Depah dapat mengerti, betapa sakitnya hati anak itu melihat saudara perempuannya ada di rumah itu.

Tetapi sebagai orang upahan ia tidak peduli perasaan orang lain. Ia akan menjalankan tugasnya dengan baik. Karena tugas-tugas itulah, maka ia menerima upahnya yang cukup besar.

Sejenak kemudian, Wikan pun telah mulai memancing lawannya yang bertubuh raksasa itu, sehingga dengan demikian, maka keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran.

Wiyati menjadi sangat tegang. Namun dengan demikian, ia bahkan telah berdiri bagaikan membeku di pendapa.

Ketika kedua orang kawannya mulai bergerak, maka orang yang bertubuh raksasa, yang merasa sangat diremehkan oleh Wikan itu pun berkata, “Jangan ikut campur. Biarlah aku selesaikan anak ini sampai tuntas”

“Ibu“ tiba-tiba saja Wiyati berlari dan berlutut di depan perempuan gemuk itu, “jangan sakiti adikku. Aku yang mohon maaf baginya. Ia akan pergi bersama kakang”

Tetapi suaranya tidak didengar oleh perempuan gemuk itu. Bahkan perempuan gemuk itu justru melangkah ke tangga pendapa sambil berteriak, “Hancurkan kesombongan anak itu. Aku akan memberimu upah berlipat, Depah”

“Jangan cemas, Nyi. Aku akan mematahkan tangan dan kakinya. Seandainya ia tidak mati, maka hidupnya tidak akan berarti lagi, karena ia akan menjadi seorang yang setiap saat harus dilayani. Tangan dan kakinya tidak akan pernah dapat dipergunakannya lagi untuk selamanya”

“Jangan ibu, jangan. Perlakukan aku apa saja semau ibu. Tetapi jangan sakiti adikku. Ia masih terlalu muda. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya”

“Persetan dengan adikmu” geram perempuan gemuk itu.

Perempuan gemuk itu justru mengibaskan Wiyati yang memeluk kakinya sehingga Wiyati itu terpelanting jatuh.

Dalam pada itu, di halaman, Wikan berkelahi dengan orang bertubuh raksasa yang dipanggil Depah itu. Orang yang mempunyai kekuatan dan tenaga yang sangat besar.

Namun Wikan adalah seorang anak muda yang telah menempa dirinya dibawah bimbingan seorang guru yang mumpuni. Bahkan Wikan dalam usianya yang masih muda itu telah menimba ilmu sehingga tuntas.

Karena itu, maka dihadapan orang yang bertubuh raksasa dan bertenaga sangat besar itu, Wikan sama sekali tidak menjadi gentar.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Wikan berloncatan dengan tangkasnya seperti seekor burung sikatan memburu bilalang. Setiap kali Depah dikejutkan oleh serangan Wikan yang tiba-tiba dari arah yang tidak diketahuinya.

Betapa besar tenaga Depah, namun serangan-serangan Wikan yang setiap kali mengenainya, ketahanannya pun mulai menjadi goyah.

Ketika Wikan bagaikan terbang dengan kedua kakinya menyamping meluncur dengan cepatnya, Depah tidak sempat mengelak. Kedua telapak kaki Wikan itu telah menghantam dadanya.

Depah pun terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Betapa pun ia berusaha, namun Depah itu tidak berhasil. Tubuhnya pun kemudian terpelanting jatuh terguling di halaman.

Wikan yang marah tidak memberinya kesempatan. Ketika Depah mencoba untuk bangkit berdiri, maka Wikan pun meloncat sambil berputar. Kakinya terayun mendatar menyambar kening. Sekali lagi Depan terlempar. Bahkan Depah telah terbanting jatuh. Wajahnya yang tersuruk di tanah telah penuh dengan debu. Apalagi wajahnya itu basah oleh keringatnya.

Depah mencoba untuk segera bangkit. Tetapi kepalanya terasa menjadi sangat pening. Dadanya masih saja sesak sehingga nafasnya menjadi tersengal-sengal.

Wikan yang marah itu tidak membiarkannya. Tiba-tiba saja Depah merasa tangan yang kuat telah mencengkam punggung bajunya. Dengan kuat Depah ditarik untuk berdiri

Namun demikian Depah berdiri, maka tubuhnya pun telah diputar menghadap kepada Wikan yang sangat marah itu. Dengan sepenuh tenaga, Wikan telah memukul dagu Depah yang tubuhnya jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri.

Ternyata Depah itu terlempar beberapa langkah surut. Ia pun kemudian jatuh terlentang di tanah. Ketika ia mencoba untuk bangkit, maka matanya justru menjadi berkunang-kunang. Semuanya seakan-akan telah menjadi kabur.

Perempuan gemuk yang berdiri di tangga pendapa itu melihat kekalahan Depah dengan wajah yang tegang. Demikian ia melihat Depah terbaring diam, maka ia pun segera berteriak, “Apa yang kalian berdua lakukan. Bunuh anak muda itu”

“Jangan” teriak Wiyati.

Tetapi suaranya tenggelam dalam teriakan perempuan gemuk itu, “Cepat. Apa yang kalian tunggu”

Keduanya pun segera menyadari apa yang terjadi. Agaknya mereka terpancang pada perintah Depah, agar mereka tidak mengganggu perkelahiannya dengan anak muda itu.

Karena itu, maka keduanya pun segera bergerak. Seorang diantara mereka dengan serta merta telah menyerang Wikan. Dengan loncatan panjang, ia menjulurkan kakinya.

Tetapi orang itu terkejut ketika kekuatan yang lain telah membenturnya, sehingga ia terdorong kesamping. Namun demikian ia terjatuh, maka ia pun berguling beberapa kali. Kemudian dengan tangkasnya ia  pun meloncat bangkit.

Yang berdiri dihadapannya adalah seorang yang satu lagi. Kakak ipar Wikan yang tidak kehilangan kewaspadaan.

Wikan pun segera berpaling. Pada saat itu, seorang lagi dari kedua orang kawan Depah itu telah menyerangnya pula. Tangannya terayun menyambar tengkuk anak muda itu.

Namun Wikan yang menyadari datangnya serangan itu, segera mengelak. Bahkan sambil berputar, kakinya dengan derasnya telah menyambar dada orang itu.

Orang itu tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Ia pun kemudian telah terlempar jatuh pula.

Namun demikian ia bangkit, maka serangan Wikan yang masih saja marah itu telah menerpanya, sehingga sekali lagi ia terlempar dengan kerasnya. Tubuhnya menimpa tangga pendapa, hampir mengenai kaki perempuan yang gemuk itu.

Terdengar orang itu mengerang kesakitan. Tulang punggungnya terasa bagaikan retak, sehingga ketika ia mencobanya, maka ia tidak sanggup lagi untuk berdiri.

Sementara itu, kakak ipar Wikan pun telah menyerang lawannya pula. Namun perkelahian mereka pun tidak berlangsung lama. Kakak ipar Wikan itu pun kemudian berhasil menghantam pangkal leher lawannya dengan sisi telapak tangannya, sehingga lawannya itu pun terjatuh dan langsung menjadi pingsan.

Perempuan gemuk itu menjadi pucat. Apalagi ketika dengan geram Wikan berkata, “Jika kau masih menghalangi aku, perempuan jahat yang telah sampai hati menjual martabat kaumnya sendiri, aku akan membunuhmu”

Dengan suara yang gemetar perempuan gemuk itu mencoba untuk membela diri, “Tidak. Aku tidak menjual mereka. Aku justru berusaha menolong mereka. Mereka datang dengan masalah-masalah yang berbeda. Namun mereka memerlukan seorang yang dapat menerima mereka, memberi mereka makan dan bahkan kemudian kesenangan”

”Kesenangan macam apa” teriak Wikan, “Kau sebut apa yang telah mereka lakukan sebagai kesenangan?”

“Mereka datang kepadaku sambil menangisi nasib mereka. Ada yang ditinggalkan oleh suaminya pada malam pernikahan mereka. Ada yang ditinggalkan kekasihnya yang telah menghamilinya, ada yang meronta karena kelaparan dan ada yang menjadi ketakutan melihat masa depannya yang suram karena tidak ada kepercayaan diri. Aku menerima mereka dan berusaha membantu mengatasi permasalahan yang mereka alami”

“Kau justru mencari keuntungan karena permasalahan mereka. Kau menjadi kaya dengan menjual perempuan-perempuan yang seharusnya kau entaskan dari permasalahan mereka. Kau jerumuskan mereka ke jalan sesat namun yang dapat memberimu banyak uang”

“Aku justru memberi mereka uang”

“Darimana uang itu kau dapatkan? Darimana?”

Perempuan gemuk itu terdiam. Wajahnya yang pucat menjadi basah oleh keringat.

“Sekarang aku akan membawa mbokayuku pulang”

Wiyati berdiri termangu-mangu. Terasa jantungnya berdegup semakin keras.

“Wikan” berkata Wiyati dengan suara terbata, “pulanglah bersama kakang. Nanti aku akan pulang”

“Sekarang” teriak Wikan. Wajah Wikan pun nampaknya menjadi sangat garang. Lebih garang dari wajah Depah yang masih terbaring di tanah.

Wiyati tidak pernah melihat wajah adiknya seperti itu. Karena itu, maka hatinya pun menjadi ngeri sekali.

Perempuan gemuk yang pucat itu masih mencoba menahan Wiyati. Katanya, “Anak muda. Pulanglah. Nanti Wiyati akan menyusul. Aku akan memberinya bekal secukupnya”

“Diam. Diam” teriak Wikan.

Wikan tidak berbicara lebih banyak lagi. Ia pun segera meloncat mendekati Wiyati. Menangkap pergelangan tangannya dan menariknya, “Sekarang kau pulang. Aku sudah membawa seekor kuda buatmu”

“Aku tidak dapat naik kuda”

“Bohong. Kau justru mencuri naik kuda meskipun ayah memperingatkanmu”

“Tetapi tidak dengan pakaian seperti ini”

“Aku tidak peduli. Atau aku harus mengikatmu dan menyeretmu dibelakang kaki kudaku?”

“Wikan. Aku mbokayumu”

“Justru karena kau kakakku, maka aku sekarang datang kemari untuk mengambilmu. Jika kau orang lain, aku tidak akan mempedulikan. Aku tidak peduli kepada Wandan dan kepada siapa pun yang ada di rumah ini”

Wiyati tidak dapat membantah lagi. Ia tidak sempat mengambil pakaiannya yang tertinggal atau barang-barangnya yang lain. Bahkan Wikan berkata, “ Sudah aku katakan, jangan bawa apa pun dari rumah ini”

Sejenak kemudian, Wikan telah mendorongnya naik ke punggung kudanya meskipun Wiyati harus duduk menyamping karena ia mengenakan kain panjangnya.

Tetapi sebenarnyalah, Wiyati yang gelisah di masa remajanya, sudah sering naik kuda. Bukan saja di halaman, tetapi juga di ara-ara yang luas. Di padang rumput dan padang perdu.

Demikianlah, tanpa minta diri, Wikan, Wiyati dan kakak iparnya meninggalkan rumah perempuan gemuk yang berdiri bagaikan membeku di tangga pendapa rumahnya yang terhitung besar itu.

Ketiga orang berkuda itu memang sempat menarik perhatian di sepanjang jalan. Tetapi demikian ketiganya berlalu, maka orang-orang di sepanjang jalan itu pun tidak menghiraukannya lagi.

Ketiganya yang kemudian meninggalkan pintu gerbang kota itu  tidak terlalu banyak berbicara. Mereka menyusuri jalan-jalan bulak panjang, menyusup lorong-lorong yang membelah padukuhan-padukuhan. Melintasi padang perdu, menyusur tepi hutan panjang, menyeberangi sungai dan melintas di jalan-jalan sempit.

Pada saat kuda mereka menjadi letih, mereka tidak berhenti di kedai atau di tempat-tempat yang banyak di lalui orang. Tetapi mereka berhenti di pinggir sungai untuk memberi kesempatan kudanya minum dan makan rerumputan segar.

Namun ternyata Wiyati menjadi sangat haus, sehingga karena itu, maka ia pun berkata kepada kakak iparnya, “Kakang. Aku haus sekali”

“Nanti kita akan menemui persediaan air minum di gentong-gentong yang banyak terdapat di samping regol-regol halaman”

“Apakah kita tidak dapat berhenti di kedai yang manapun?”

“Kau dapat menimbulkan masalah di kedai itu” desis Wikan.

“Kenapa?”

Wikan termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia melihat Wiyati mengusap matanya yang basah, maka hatinya pun terasa tersentuh juga. Bagaimanapunjuga Wiyati adalah kakak perempuannya. Mereka bermain bersama di masa remaja mereka, makan bersama dan bahkan kadang-kadang mereka harus bertengkar karena persoalan yang kecil saja. Tetapi beberapa saat kemudian, mereka pun segera menjadi damai kembali.

Bahkan di masa-masa kecilnya, Wiyati yang kadang-kadang malas makan sendiri dan harus disuapi itu, justru sering menyuapi adiknya jika Wikan tidak mau makan.

Ingatan di masa kecil yang muncul dari dasar hatinya itu membuat Wikan menjadi lebih lunak. Karena itu, maka ia pun berbisik kepada kakak iparnya, “Apakah kita dapat singgah di sebuah kedai sebentar kakang. Kasihan juga mbokayu Wiyati yang kehausan itu”

“Kita akan mencari kedai yang kecil dan sepi” desis kakak iparnya.

Ketika mereka sampai disebuah simpang empat, mereka mendapatkan sederet kedai. Mereka tidak tahu, kenapa di tempat itu terdapat beberapa buah kedai. Biasanya sederet kedai itu terdapat di sebelah pasar atau di tempat-tempat yang ramai.

Baru kemudian mereka tahu, bahwa di padukuhan sebelah terdapat kalangan adu ayam yang ramai.

Sebenarnya kakak ipar Wikan ingin mencari kedai yang lain, yang berada di tempat yang lebih sepi. Tetapi nampaknya Wiyati sudah tidak dapat menahan haus lagi, sehingga mereka pun singgah di kedai yang paling ujung. Kedai yang mereka anggap paling kecil dan paling sepi.

Semula di dalam kedai itu memang tidak terdapat seorangpun. Yang ada hanyalah pemilik kedai dan seorang pelayan yang membantunya. Namun nampaknya pemilik kedai yang masih muda itu bersikap kurang wajar menghadapi Wiyati.

Dalam batas-batas tertentu, Wikan dan kakak iparnya masih saja berdiam diri. Meskipun pada saat menghidangkan minuman yang dipesannya, pelayan kedai itu pun nampak tersenyum-senyum dibuat-buat.

Karena itu. maka mereka bertiga pun berusaha untuk menghabiskan minuman mereka secepatnya. Tetapi minuman itu masih terlalu panas untuk begitu saja diteguknya.

“Makan, nini?“ bertanya pemilik kedai itu. Yang ditanya justru Wiyati.

“Tidak” jawab Wiyati.

Pemilik kedai itu tertawa pendek. Katanya, “Aku akan menyuguh makan kepadamu seperti seorang tamu. Tidak seperti seorang yang memesan makan di sebuah kedai seperti ini. Maksudku, kau tidak usah membayarnya”

“Terima kasih” jawab Wiyati.

Dituar sadarnya, Wikan memandang wajah kakak perempuannya sekilas. Agaknya Wiyati memang sudah merias dirinya ketika ia datang. Rias yang berlebihan. Demikian juga pakaian dan perhiasan yang dikenakannya. Seperti di katakannya sendiri, bahwa Wiyati itu akan dapat menimbulkan masalah di kedai itu.

Karena itu, maka Wikan pun berdesis, “Marilah. Kita meneruskan perjalanan”

Wiyati yang menyadari keadaan dirinya pun berusaha untuk secepatnya menyelsaikan minumannya. Meskipun masih agak panas, namun sedikit demi sedikit, di teguknya minuman yang dipesannya itu.

Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah selesai. Kakak ipar Wikanlah yang kemudian bangkit berdiri dan menemui pemilik kedai itu, “Berapa semuanya”

Pemilik kedai itu tertawa. Suara tertawanya meringkik seperti suara seekor kuda.

“Tidak usah Ki Sanak. Kalian tidak usah membayar, justru karena kalian datang bersama perempuan cantik itu”

Wajah kakak ipar Wikan itu menjadi merah. Tiba-tiba saja tangannya menghentak sandaran lincak bambu, “Kau jangan macam-macam Ki Sanak. Aku dapat meluluh-lantakkan kedaimu ini. Katakan, berapa aku harus membayar?“

Pemilik kedai itu terkejut. Ketika ia memandang wajah kakak ipar Wikan itu. ia melihat seakan-akan dari matanya menyembur api kemarahannya.

Tetapi pada saat itu, beberapa orang laki-laki mendekati pintu kedai itu. Mereka nampaknya sedang memperbincangkan sabung ayam yang baru saja dilihatnya. Agaknya mereka adalah penjudi-penjudi yang sering berada di arena sabung ayam untuk berjudi.

“Sudah selesai kang?“ bertanya pemilik kedai itu kepada beberapa orang laki-laki yang sikapnya agak kasar itu.

“Edan” geram seorang diantara mereka, “Aku kalah banyak sekali hari ini”

“Salahmu” sahut kawannya, “jika kau dengar aku, maka kekalahanmu tidak akan sebanyak itu”

“Tidak apa” berkata pemilik kedai itu, “sekali-sekali seorang penjudi harus mengalami kekalahan”

“Kau kira aku baru kali ini kalah?“

“Siapa yang menang?“

“Setan yang rambutnya sudah putih itu. Tetapi Blegog ini juga menang meskipun tidak sebanyak Setan belang itu”

“Nah, yang menang akan mendapatkan hadiah” berkata pemilik kedai itu.

“Hadiah apa?“

“Kau lihat perempuan itu? Ambil jika kau mau” berkata pemilik kedai itu.

Wikan, kakak iparnya dan bahkan Wiyati terkejut mendengarnya. Adalah dituar sadarnya jika kakak ipar Wikan itu tiba-tiba meraih baju pemilik kedai itu. Sambil menariknya itu pun bertanya, “Apa yang kau katakan?“

Pemilik kedai itu mengibaskan tangan kakak ipar Wikan itu sambil membentak, “Kau mau apa? Biarlah laki-laki yang datang itu mengambilnya dari tanganmu. Mereka tentu mempunyai uang lebih banyak dari uangmu. Mereka akan lebih banyak memberikan kesenangan kepada perempuan itu daripada kalian berdua. Menilik pakaian kalian, kalian berdua adalah petani-petani lugu yang mencoba-coba membawa perempuan cantik itu. Tetapi beberapa orang laki-laki yang datang ini sudah terbiasa membawanya”

“Diam kau iblis” bentak kakak ipar Wikan.

Tetapi seorang laki-laki yang bertubuh raksasa yang disebut Blegog itu pun tertawa berkepanjangan. Katanya, “Bagus. Aku akan mendapatkannya. Aku mempunyai uang banyak”

“Tentu bukan kau sendiri” sahut yang lain, “sambil tertawa pula.

Namun orang-orang yang berada di dalam kedai itu terkejut. Ternyata Wikan telah membanting mangkuk minumannya sambil berteriak, “Minggir. Kami akan keluar”

“Kau pecahkan mangkukku” teriak pemilik kedai itu.

“Aku akan menggantinya. Berapa harganya” sahut kakak ipar Wikan.

“Tidak usah. Tetapi tinggalkan perempuan itu disini“ jawab pemilik kedai itu.

Bukan hanya Wikan yang membanting mangkuk. Tetapi kakak ipar Wikan itu telah melemparkan tidak hanya sebuah mangkuk, tetapi setumpuk mangkuk yang baru saja dicuci.

Ketegangan telah mencengkam kedai itu. Beberapa orang laki-laki yang datang itu pun tersinggung pula. Karena itu,maka Blegog itu pun berkata, “Kau jangan mencoba-coba memancing persoalan disini. Tetapi ini agaknya lebih buruk dari sebuah rimba yang tidak terjangkau oleh tatanan dan paugeran. Tidak ada petugas yang dapat melarang keberadaan beberapa kalangan sambung ayam dipadukuhan ini. Tidak ada petugas yang dapat memberikan perlindungan kepada siapa pun yang berada di tempat ini. Karena itu, maka setiap kali terjadi perkelahian dan pembunuhan di tempat ini, tidak akan pernah ada yang mengusutnya. Ki Bekel dan Ki Demang tidak berdaya sama sekali. Apalagi mereka adalah orang-orang yang gemar sekali kepada uang. Dengan uang, maka segala-galanya dapat diselesaikan. Karena itu, sadari ini, aku tahu bahwa kalian adalah orang-orang yang nampaknya asing disini, sehingga kalian tidak berusaha mengendalikan diri kalian”

“Baik” jawab Wikan, “jika demikian, biarlah aku pergi”

Tetapi Blegog itu menyahut, “Pergilah. Tetapi tinggalkan perempuan itu”

“Perempuan itu mbokayuku“ jawab Wikan hampir diluar sadarnya.

“O” sahut Blegog, “Jadi kau akan membawa mbokayumu kemana? Laki-laki manakah yang telah memesannya”

“Cukup” teriak Wikan, “minggir, aku akan pergi”

“Sudah aku katakan. Pergilah. Tetapi tinggalkan perempuan itu disini”

Wikan benar-benar telah kehabisan kesabaran. Karena itu, maka ia pun berkata lantang, “Jika kalian tidak mau minggir. maka aku akan menyingkirkan kalian”

Beberapa orang laki-laki itu tertawa serentak. Seakan-akan seorang diantara mereka telah memberikan aba-aba. Bahkan seorang laki-laki pendek yang agak gemuk melangkah maju sambil berkata, “Nampaknya kau sudah berkelakar. Nah. jika kau ingin menyingkirkan kami, lakukan”

Wikan tidak mampu menahan diri lagi. Tiba-tiba saja tangannya sudah melayang menghantam dagu orang itu.

Pukulan itu sama sekali tidak diduga oleh orang yang bertubuh pendek agak gemuk itu, sehingga ia pun terpelanting menimpa kawan-kawannya yang berdiri di belakangnya. Namun ternyata bahwa laki-laki pendek itu tidak segera dapat bangkit berdiri. Demikian kerasnya pukulan Wikan, sehingga orang itu langsung menjadi pingsan.

Serangan Wikan itu merupakan satu isyarat, bahwa perkelahian tidak mungkin dapat dihindari lagi. Kakak ipar Wikan itu pun segera meloncat menerkam pemilik kedai yang dinilainya bersikap buruk sejak awalnya. Dengan sekuat tenaganya, kakak ipar Wikan itu memukul perut pemilik kedai itu bertubi-tubi.

Terdengar orang itu menjerit kesakitan. Tetapi kakak ipar Wikan tidak menghentikannya, sehingga orang itu pun terjatuh dan menjadi pingsan pula.

Sementara itu, pelayan kedai itu pun mencoba untuk membantunya. Tetapi dengan tangkasnya, kakak ipar Wikan itu justru mendahuluinya. Demikian pelayan itu mendekatinya. maka kakinya pun segera menyambar dadanya.

Orang itu terpelanting menimpa sebuah lincak bambu, sehingga suaranya pun berderak keras. Lincak bambu itu patah, sedangkan pelayan itu pun berteriak mengaduh. Tulang punggungnya seakan-akan telah menjadi retak.

Sementara itu. Wikan pun telah berkelahi di tempat yang sempit. Tetapi Wikan memang memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Ilmunya yang telah tuntas, membuatnya menjadi garang seperti seekor harimau yang terluka.

Beberapa orang yang ada disekitarnya itu pun bergeser surut. Beberapa orang bahkan terdorong oleh serangan Wikan yang datang begitu cepatnya. Sementara kakak ipar Wikan yang telah membuat pemilik kedai dan pelayannya itu tidak mampu berbuat apa-apa lagi, telah bergabung pula dengan Wikan.

Wiyati sendiri bergeser menjauh. Jantungnya berdebaran keras sekali. Pada saat-saat seperti itu, ia sempat menyadari, betapa penilaian orang terhadap dirinya. Betapa orang-orang itu merendahkannya, sehingga seakan-akan ia tidak lagi dihargai sebagai sesamanya. Dinilainya dirinya seperti seonggok benda mati yang tidak mempunyai hak untuk berbuat apa-apa dan bahkan berpendapat bagi dirinya sendiri.

Di dalam kedai yang tidak terlalu luas itu telah terjadi perkelahian yang sengit. Beberapa orang penjudi yang bersikap keras dan kasar itu berkelahi melawan dua orang saja. Tetapi dua orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan. Bahkan Wikan adalah seorang yang mumpuni.

Keributan itu pun kemudian telah didengar oleh orang-orang yang berada di luar kedai itu, bahkan mereka yang ada di kedai sebelah. Dengan demikian, maka mereka pun segera menghambur ingin melihat apa yang telah terjadi.

Tetapi yang terjadi tidak begitu jelas bagi mereka. Mereka hanya melihat beberapa orang yang terlihat dalam perkelahian yang sengit, tetapi mereka tidak tahu, siapakah yang berkelahi melawan siapa.

Meskipun demikian mereka sempat mengenali beberapa orang kawan mereka dalam perjudian di kalangan sabung ayam. Mereka mengenal Blegog dan beberapa orang kawannya.

Namun seorang demi seorang, para penjudi itu pun terlempar jatuh menimpa lincak-lincak bambu yang ada di warung itu. Gledeg berisi makanan pun telah roboh sehingga makanan yang ada diatasnya pun telah tumpah.

Isi warung itu pun telah menjadi porak poranda. Lincak-lincak bambu berpatahan. mangkuk-mangkuk pun menjadi pecah dan makanan, nasi dan lauk pauknya telah berserakkan.

Beberapa saat kemudian, para penjudi itu pun telah terkapar di lantai. Pada saat pemilik kedai itu mulai sadar dari pingsannya serta mengingat apa yang terjadi, maka ia pun segera bangkit dan berteriak, “kedaiku, barang-barangku, daganganku”

Namun Wikan pun menjawab, “Tempat ini agaknya memang lebih buruk dari sebuah rimba yang tidak terjangkau oleh tatanan dan paugeran. Jika terjadi perkelahian dan pembunuhan disini tidak akan pernah ada yang mengusutnya. Kerusakan yang terjadi di kedai ini pun tidak akan ada artinya apa-apa. Karena memang tidak tidak ada tatanan dan paugeran yang dapat melindunginya.

“Tetapi aku tidak akan dapat bangkit lagi setelah kerusakan yang parah ini”

“Kaulah yang telah memulainya. Kau hinakan kami dan kau pulalah yang telah menimbulkan persoalan pada orang-orang kasar yang berdatangan memasuki kedaimu ini. Karena itu, aku tidak peduli. Jika kau minta ganti, mintalah kepada para penjabung ayam itu”

Kakak ipar Wikan pun tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera memberi isyarat kepada Wikan dan Wiyati untuk keluar dari kedai itu”

“Tunggu. Bagaimana dengan kerusakan yang timbul di kedaiku ini?”

“Bukan kami yang bertanggung jawab. Tetapi orang-orang itu dan kau sendiri. Tetapi jika kau masih banyak tingkah, aku akan membakar kedaimu. Mudah saja. Menggulingkan perapian itu dan menghamburkan minyak di guci sebelahnya”

“Jangan, jangan”

Wikan dan Wiyati pun kemudian tidak menghiraukan mereka lagi. Dengan cepat Wikan menyambar pergelangan tangan mbokayunya dan menyeretnya keluar.

Sejenak kemudian, maka ketiga ekor kuda itu pun telah berderap berlari meninggalkan kedai yang perabotnya menjadi hancur itu. Beberapa orang laki-laki yang pingsan dan kesakitan mulai bangkit. Blegog sendiri, harus dipapah oleh dua orang kawannya dan didudukannya di sebuah lincak di sudut yang masih utuh.

Dalam pada itu, Wikan, Wiyati dan kakak iparnya menjadi semakin jauh. Di perjalanan Wiyati pun berkata, “Aku minta maaf, kakang. Seharusnya aku tidak minta singgah di kedai itu. Wikan benar, bahwa aku akan dapat menimbulkan persoalan”

Kakak iparnya tidak menjawab. Wikan pun tidak menjawab pula. Ketiganya,masih saja melarikan kuda mereka. Tetapi karena Wiyati tidak siap unt.uk melakukan perjalanan berkuda, sehingga pakaiannya pun tidak cukup memadai, maka kuda-kuda mereka tidak dapat berlari terlalu kencang.

Namun tiba-tiba saja Wiyati menarik kendali kudanya, sehingga kudanya itu pun berhenti.

Wikan dan kakak iparnya pun segera menghentikan kuda mereka pula. Dengan nada tinggi Wikan pun bertanya, “Kenapa kau berhenti mbokayu?”

Suara Wiyati bagaikan tertahan di kerongkongan, “Aku takut, Wikan”

“Apa yang kau takuti?”

Wiyati tidak segera menjawab. Dipandanginya jalan yang membujur panjang dihadapannya, menuju ke padukuhannya.

“Aku takut kepada ibu”

“Kau harus mempertanggung-jawabkan semua perbuatanmu, yu”

“Ibu tentu akan marah sekali kepadaku”

“Bukankah itu wajar?”

“Ya. Itulah sebabnya aku menjadi takut”

“Mbokayu. Kau justru harus segera bertemu dengan ibu. Biarlah semua persoalan segera selesai dengan tuntas. Jika persoalanmu itu tertunda-tunda, maka semua orang didalam keluarga kita akan selalu gelisah dari waktu ke waktu. Apa yang akan terjadi, biarlah segera terjadi” berkata kakak iparnya.

Wiyati masih saja termangu-mangu. Namun kemudian Wiyati pun mulai menggerakkan kendali kudanya lagi.

Untunglah, bahwa langit pun menjadi muram. Cahaya kemerahan membayang di bibir mega-mega yang mengambang.

Dengan demikian, Wiyati tidak akan menjadi tontonan di saat ia memasuki padukuhannya. Karena rasa-rasanya semua orang di padukuhannya sudah mengetahuinya, apa kerjanya di Mataram.

Sebenarnyalah ketika Wiyati memasuki pintu gerbang padukuhannya, malam sudah turun. Kebanyakan pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat, meskipun masih nampak cahaya terang di ruang dalam rumah itu, mengintip disela-sela dinding.

Ketika ketiga orang itu sampai di regol halaman rumah Nyi Purba, mereka pun berhenti. Wiyati menjadi ragu-ragu lagi untuk memasuki halaman rumahnya. Rasa-rasanya halamannya itu menjadi panas seperti panasnya bara api tempurung kelapa.

“Marilah” berkata kakak iparnya.

Wiyati mengusap matanya yang basah. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Perlahan-lahan kuda mereka pun berjalan memasuki halaman rumah itu.

Kuda-kuda itu pun berhenti di sebelah pendapa rumah Nyi Purba. Ketiga orang penunggangnya segera berloncatan turun.

Nyi Purba yang masih duduk di ruang dalam mendengar desir kaki mereka yang turun dari kuda, kemudian melangkah naik ke pendapa. Karena itu, maka ia pun isegera bangkit dan pergi ke pintu.

Wuni yang masih berada di rumah ibunya pun mengikut pula di belakangnya.

Sejenak kemudian, sebelum Wikan mengetuk pintu pringgitan, pintu itu telah terbuka.

Demikian Wiyati melihat ibunya berdiri di belakang pintu, maka ia pun segera berjongkok menyembah. Tangisnya mengambur bagaikan bendungan yang pecah.

“Ibu, ampun ibu, “

Nyi Purba berdiri mematung untuk beberapa saat. Namun tanpa menanggapi sikap Wiyati, ibunya itu pun kemudian melangkah kembali ke ruang Jengah. Wajahnya nampak gelap. Jantungnya berdebaran semakin cepat. Isi dadanya rasanya bagaikan terguncang-guncang.

“Ibu, ibu“ Wiyati merangkak dibelakang ibunya, “Aku mohon ampun”

“Jangan sentuh aku dengan tubuhmu yang kotor itu“ terdengar suara ibunya yang geram.

“Aku mohon ampun. Hukumlah aku ibu. Lakukan apa yang ingin ibu lakukan atas diriku”

“Kau harus menghukum dirimu sendiri”

“Apa yang harus aku lakukan ibu. Katakan. Aku akan melakukannya”

“Tidak ada yang dapat membersihkan tubuhmu, mbokayu” berkata Wikan, “meskipun kau berendam di sungai itu tujuh hari tujuh malam, maka kau tetap saja seorang perempuan yang kotor, “

“Aku tahu, aku tahu, “ suara Wiyati melengking tinggi, “lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Kau adalah sampah yang teronggok di rumah ini” berkata ibunya, “besok, kau harus menyingkirkan semua benda yang aku beli dari uang yang pernah kau kirimkan kepadaku. Aku akan membakar semua lembar-lembar pakaian yang pernah kau berikan kepadaku. Yang kau dapatkan dengan cara yang telah menodai kebersihan nama keluarga kita”

“Ibu. Beri kesempatan aku. memperbaiki tingkah laku. Ibu, beri kesempatan aku sekali saja. Jika aku tergelincir lagi kedalam kubangan seperti yang pernah aku lakukan, maka aku tidak pantas lagi menyentuh kulit kaki ibuku”

“Semuanya sudah terlambat” berkata Wuni, “Kau sudah tidak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi”

“Tubuhmu dan bahkan hatimu ternyata lebih kotor dari lumpur di rawa-rawa yang hitam itu” berkata Wikan.

“Kau tidak pantas berada diantara kami”

“Kau, kau adalah sampah”

Suara-suara itu terdengar beruntun, melingkar-lingkar di ruangan itu, menyusup telinganya dan menusuk jantungnya.

“Cukup. Cukup” teriak Wiyati sambil menutup telinganya, “Jika demikian, buat apa aku diminta untuk pulang?”

“Kau harus mendengar pendapat kami Wiyati” ibunyalah yang menjawab, “Kau harus mendengarnya. Kau harus tahu nilai dari dirimu sendiri di mata kami”

“Aku sudah mengakui kesalahanku itu ibu. Aku sudah merasa betapa rendah nilai kesadaranku akan diriku sendiri”

“Ya. Kau harus mengakuinya. Tetapi pengakuanmu itu tidak dapat menjadi alasan untuk mengampunimu” sahut Wuni.

“Lalu apa? Apa yang harus aku lakukan?“

“Bawa semua barang-barang yang berlumuran lumpur kubangan itu pergi. Jika itu tidak mungkin, maka aku akan membelahnya menjadi potongan kayu bakar. Sedangkan barang pecah belah yang sudah aku beli dengan uang yang penuh noda itu, akan aku remukkan dan aku kubur di kebun belakang, sejauh-jauhnya dari rumah ini”

“Ibu“ tubuh Wiyati pun menjadi gemetar. Betapa pun rendah martabatnya, tetapi Wiyati masih mempunyai harga dirinya. Ketika tiba-tiba dadanya bergetar, maka Wiyati itu pun bangkit berdiri sambil berkata lantang, “Ibu. Itu tidak adil. Sikap ibu tidak adil terhadap anak-anaknya”

Nyi Purba pun membelalakkan matanya. Dengan nada tinggi ia pun bertanya, “Apa yang tidak adil?“

“Ibu tidak mau memaafkan aku karena melacurkan diri di Mataram. Tetapi kenapa ibu tidak bersikap sama kepada mbokayu Wuni?“

“Kenapa dengan mbokayumu Wuni? Ia berkeluarga dengan baik-baik. Ia sudah bersedia menuruti keinginan ayah dan ibunya, menikah dengan laki-laki pilihan kami, yang ternyata memenuhi harapan kami. Seorang laki-laki yang dapat menempatkan dirinya diantara keluarga kami”

“Ya. Kakang memang seorang laki-laki yang baik. Justru terlalu baik. Tetapi bagaimana dengan mbokayu Wuni? Ia tidak saja menerima kehadiran suaminya yang baik itu. Tetapi ia tetap saja selingkuh. Ia masih saja selalu menemui laki-laki yang pernah dicintainya dimasa gadisnya. Ia masih tetap mencintainya meskipun ia sudah bersuami. Apakah yang dilakukan itu bukan perbuatan yang rendah dan bahkan selingkuh”

“Omong kosong” teriak Wuni, “Aku tidak pernah berhubungan lagi dengan laki-laki itu”

“Aku tidak omong kosong. Aku tahu bahwa kau masih sering menjumpainya. Sikapmu, pandangan matamu dan bahkan kata-katamu, masih menunjukkan, bahwa kau tetap mencintainya. Lebih dari itu, kau sering memberinya uang karena laki-laki tampan yang ceria itu selalu kekurangan uang”

“Tidak. Tidak, “

“Mbokayu. Aku memang seorang perempuan yang telah menjual diri. Tetapi tidak seorang pun yang pernah aku khianati. Tetapi kau? Kau telah mengkhianati suamimu. Suami yang baik dan yang telah berbuat apa saja bagimu. Mungkin suaminya seorang laki-laki yang menurut pendapatmu kurang bergairah. Mungkin ia seorang yang lugu dan tidak memenuhi bayanganmu tentang seorang laki-laki idaman. Bukan soal kebendaan karena ia seorang yang berkecukupan. Tetapi ada yang kau anggap kurang memenuhi seleramu, sehingga kau masih saja lari kepada laki-laki yang tidak tahu diri itu? Laki-laki yang jahat dan memanfaatkan ketampanannya dan keceriaannya untuk mengikatmu dan bahkan beberapa orang perempuan yang lain. Mbokayu, laki-laki itu pernah merundukku dan dengan diam-diam menciumku dari belakang. Aku memukulnya sampai bibirnya berdarah. Tetapi ia masih saja tersenyum dan tidak merasa bersalah”

“Diam. diam kau jalang”

“Kita sama-sama jalang mbokayu. Seandainya kau tidak selingkuh dalam ujud kewadagan, tetapi batinmu sudah selingkuh. Bukankah itu sama saja? Bahkan seperti yang sudah aku katakan, kau telah mengkhianati suamimu”

“Cukup” teriak kakak ipar Wiyati, “Aku tidak pernah merasa berkeberatan. Aku sudah tahu apa yang dilakukan oleh Wuni. Tetapi aku memang harus mengakui kekuranganku”

“Dan kau membiarkannya berlangsung terus?“

“Aku tidak mau rumah tanggaku terganggu oleh pertengkaran-pertengkaran yang akan dapat membuat keluargaku kehilangan kedamaian”

“Dengan membiarkan perselingkuhan itu terjadi?“

“Aku tidak berkeberatan jika Wuni memberi sekedar uang kepada laki-laki itu, asal ia tidak mengganggu keluargaku”

“Jadi kakang tidak merasa terganggu dengan sikap batin mbokayu itu?“

“Diam-diam“ Wikanlah yang kemudian berteriak, “aku baru mengerti sekarang, bahwa keluarga ini adalah keluarga sampah yang harus di bakar menjadi abu”

“Wikan“ terdengar suara ibunya.

“Ibu. Aku tidak dapat tinggal didalam ruangan yang pengab, penuh debu yang kotor ini. Biarlah aku meninggalkan tempat ini. Biarlah terjadi apa yang akan terjadi disini. Tetapi aku tidak ingin terpercik oleh kotoran-kotoran yang berhamburan disini”

“Wikan. Tunggu. Kita masih harus berbicara panjang cegah ibunya.

Tetapi suara Wikan itu bergaung di ruang itu, “Biarkan aku pergi. Aku akan pergi. Aku tidak tahu akan pergi kemana asal aku meninggalkan rumah ini”

Tidak seorang pun dapat mencegah. Wikan pun kemudian dengan cepat pergi ke pintu dan berlari keluar, menusuk kegelapan malam.

Wikan masih mendengar suara ibunya, suara kakak perempuannya Wuni dan Wiyati, serta kakak iparnya. Namun Wikan tidak mau berpaling lagi. Ia pun berlari semakin kencang menyusuri jalan utama padukuhannya. Semakin lama semakin jauh dari regol halaman rumahnya.

Wikan berlari terus. Berlari dan berlari, sehingga akhirnya ia berada di jalan menuju ke rumah pamannya, Ki Mina yang juga saudara tua seperguruannya.

Wikan pun mengakhiri ceriteranya. Katanya, “akhirnya, aku mengetuk rumah bibi di dini hari ini”

Nyi Mina menarik nafas panjang. Dengan nada rendah ia pun berkata, “Jadi, kau bertemu dengan guru terakhir kalinya, bukan tiga hari yang lalu”

“Mungkin empat atau lima hari atau sepuluh hari. Mudahnya saja bibi. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa belum lama ini aku bertemu dengan guru, bahkan aku telah dibawanya ke Mataram”

“Wikan” berkata bibinya, “seharusnya kau tidak begitu saja pergi dari rumahmu”

“Aku tidak tahan lagi, bibi”

“Setiap orang tentu pernah melakukan kesalahan. Kau jangan memandang terlalu rendah kepada kedua orang mbokayumu itu? Bukankah hari-hari mereka masih panjang. Bukankah segala sesuatunya masih dapat berubah. Menurut ceriteramu, Wiyati benar-benar sudah menyadari bahwa jalannya telah tersesat. Sedangkan Wuni yang masih belum sejauh Wiyati, masih akan dapat dituruskan. Tidak dengan sikap yang keras dan kasar Tetapi dengan cara yang lebih lunak, persoalan mereka akan dapat ditangani. Menurut pendapatku, semuanya masih belum terlambat, Wikan”

“Entahlah, bibi. Tetapi untuk sementara aku tidak ingin pulang”

“Kita harapkan akibat baik dari sikapmu yang tergesa-gesa itu. Mudah-mudahan ibumu, Wiyati, Wuni dan suaminya dapat segera mengenali keadaan sedalam-dalamnya serta mengendapkan perasaan mereka, sehingga persoalannya akan dapat mereka lihat dengan terang. Selama hati mereka masih buram, maka segala-galanya pun akan nampak buram”

“Aku berharap paman dan bibi pergi menemui ibu dan kakak-kakakku”

“Aku akan menyampaikannya jika pamanmu datang”

“Terima kasih, bibi”

“Nah, sekarang beristirahatlah. Kita harapkan pamanmu datang esok, meskipun mungkin setelah tengah hari”

“Ya, bibi”

“Ada bilik di sebelah longkangan”

“Sudah hampir pagi, bibi. Biarlah aku pergi ke pakiwan”

“Masih belum terang tanah Wikan. Kau dapat berbaring barang sebentar. Kau tentu sangat letih lahir dan batin. Se-hari-harian kau berada dan diperjalanan pulang dari Mataram.

Kemudian kau tinggalkan rumahmu untuk datang kemari”

Wikan menarik nafas panjang. Baru ketika bibinya mengatakan bahwa ia tentu sangat letih, maka Wikan pun merasa bahwa ia memang letih.

Karena itu, seperti yang dikehendaki bibinya, maka Wikan pun pergi ke sentong disebelah longkahgan. Sentong yang agaknya memang jarang dipergunakan.

Dengan tebah sapu lidi, Wikan membersihkan debu diatas tikar yang sudah di bentangkan di amben bambu yang ada didalam bilik itu. Kemudian membaringkan tubuhnya yang memang terasa letih. Urat-urat dibetisnya terasa bagaikan menjadi kencang dan ditertarik ke bagian belakang lututnya.

Tetapi Wikan sudah tidak dapat tidur lagi. Sebentar lagi, fajar akan-segera menyingsing.

Beberapa saat setelah Wikan terbaring, didengarnya suara tangis bayi di sentong yang menghadap ke ruang dalam. Agaknya Tatag terbangun. Popoknya telah menjadi basah lagi.

Wikan menarik nafas panjang. Suara tangis itu sangat menarik perhatiannya. Sekilas suara tangis itu tidak bedanya dengan tangis bayi-bayi yang lain. Namun semakin tajam telinga yang mendengarnya, maka semakin jelas, bahwa diantara suara tangis itu, terpancar getaran-getaran yang menyimpan kelebihan.

Suara tangis Tatag memang keras sekali. Namun tidak terlalu lama suara tangis itu pun terdiam. Tanjung telah memberikannya minuman bagi bayinya itu.

Ketika Tatag tertidur dan setelah Tanjung mengganti alas pembaringan Tatag, maka Tatag pun segera diletakkannya. Tanjung sendiri segera pergi ke dapur untuk merebus air seperti biasanya. Bukan saja untuk memandikan bayinya, tetapi juga untuk membuat minuman.

Beberapa saat kemudian, Nyi Mina pun telah berada di dapur pula. Nyi Mina itu pun kemudian mencuci beras dan ditanaknya dengan kendil gerabah.

“Agaknya bibi tidak tidur semalaman”

“Ketika Wikan datang, bukankah aku sudah tertidur beberapa saat”

“Sebaiknya bibi beristirahat. Biarlah aku yang menanak nasi”

“Kau tentu juga tidak tidur setelah Wikan datang. Kau tentu juga mendengar ceriteranya”

“Aku tidur nyenyak bibi”

“Kau tahu bahwa aku tidak tidur setelah Wikan datang”

Tanjung terdiam. Sementara Nyi Mina pun berkata selan-jutnya, “Dengan demikian, maka kau pun tentu tidak tidur lagi sampai pagi. Sampai anakmu menangis lagi”

Tanjung tidak menjawab lagi.

Sementara itu terdengar derit senggot di belakang. Setelah meletakkan kendil di atas perapian untuk menanak nasi, maka Nyi Mina pun pergi ke pintu dapur di belakang.

Ternyata Wikan sudah berada di sumur untuk mengisi pakiwan.

Hari itu terasa Tanjung menjadi sangat canggung karena keberadaan Wikan. Demikian pula Wikan. Keberadaan seorang perempuan di rumah bibinya itu sama sekali tidak diduganya. Meskipun perempuan itu janda dan membawa seorang anak angkat, namun umurnya agaknya masih lebih muda dari umur Wikan.

Wikan berusaha mengatasi kecanggungannya dengan mengerjakan apa saja di kebun binatang. Dicarinya kapak pamannya yang sering dipergunakannya untuk membelah kayu dan dibawanya ke kebun belakang. Dibelahnya gelondong-gelondong kecil yang ada di kebun belakang untuk dijadikannya kayu bakar.

Namun di tengah hari, Nyi Mina telah minta Tanjung dan Wikan untuk makan bersama.

“Aku nanti saja bibi, setelah menyuapi Tatag” berkata Tanjung.

“Mumpung anakmu tidur. Marilah. Kita makan bersama”

Tanjung dan Wikan tidak dapat mengelak. Mereka pun kemudian makan bersama di ruang tengah bertiga.

Setelah makan, maka Tanjung pun sibuk membersihkan ruang tengah. Kemudian mencuci mangkuk dan perabot dapur yang baru dipergunakan. Sementara itu Tatag berada di dalam gendongan Nyi Mina yang ikut merawat Tatag seperti merawat anaknya sendiri.

Justru pada saat Tatag berada di gendongan Nyi Mina, Wikan dapat menyentuh anak itu. Sambil menggelengkan kepalanya Wikan pun berkata, “Begitu kokoh tubuh bayi ini”

“Ya. Itulah yang mendorong pamanmu pergi menemui guru”

“Jika berada di tangan yang baik, anak ini akan menjadi harapan bagi masa depan”

“Ya. Wikan. Aku yakin. Khususnya dari segi kanuragan”

“Lalu, apa lagi yang perlu dinilai?” bertanya Wikan.

“Kita harus membentuk watak dan sifatnya. Jika ia menjadi seorang yang mumpuni dalam olah kanuragan, maka ia harus dapat mengamalkan ilmunya itu untuk tujuan yang baik, yang bermanfaat bagi banyak orang, dan menjadi anak yang shaleh”

“Ya. Bibi. Agaknya tugas itu akan lebih berat daripada membuatnya menjadi seorang yang mumpuni dalam olah kanuragan.

Nyi Mina mengangguk sambil menjawab, “Pamanmu harus berhati-hati sekali menangani anak ini”

“Ya, bibi”

Nyi Mina pun kemudian mengayun Tatag didalam gendongannya ketika Tatag itu menggeliat. Kemudian anak itu menggapai-gapai dengan tangannya yang kokoh.

“Jari-jarinya seolah-olah terbuat dari besi” desis Wikan.

“Kau dengar detak jantungnya?”

“Ya. Seperti langkah seekor gajah di atas jembatan kayu”

Nyi Mina tersenyum. Kemudian ia pun berdesis, “Tidur ngger, tidurlah.

“Kenapa ia harus tidur terus, bibi. Biarlah ia bangun. Memandang hijaunya dedaunan. Mendengar lenguh lembu serta merasakan semilirnya angin”

Nyi Mina tertawa. Katanya, “Semasa bayi, kau pun lebih banyak tidur daripada bangun” Wikan pun tertawa pula.

Seperti yang dikatakan oleh Nyi Mina, maka ketika matahari turun semakin rendah disisi Barat langit, Ki Mina pun datang dari perjalanannya menemui gurunya. Keringatnya yang membasahi pakaian dan tubuhnya, menandai betapa ia berjalan di bawah teriknya matahari.

Nyi Mina menyambut suaminya di tangga sambil menggendong Tatag.

Tatag yang seakan-akan mengerti bahwa Ki Mina telah datang itu pun tiba-tiba tertawa. Terdengar suara tertawanya yang lembut bernada tinggi.

“Kakang. Kau dengar? Ia mengucapkan selamat datang kepadamu demikian kau naik tangga”

Ki Mina mencium pipi anak itu. Namun Nyi Mina berdesis Kakang masih berkeringat”

“Keringatku akan membuat kulitnya menjadi liat”

“Ah, ada-ada saja kau ini”

Namun Ki Mina terkejut ketika ia melihat Wikan berdiri di belakang pintu yang sudah terbuka.

“Wikan. Kenapa kau berada di sini? Apa yang kau lakukan? Bukankah kau seharusnya berada di Mataram?”

“Ya. paman”

“Tetapi kenapa kau berada di sini?”

“Ceriteranya panjang, kakang. Semalam Wikan berceritera kepadaku, apa yang terjadi dengan dirinya. Nanti aku atau Wikan sendiri akan berceritera kepada kakang. Tetapi sebaiknya kakang beristirahat dahulu”

“Dimana Tanjung?”

“Mumpung Tatag sedang tidak rewel, Tanjung sedang berada di dapur. Ia baru saja selesai mencuci pakaian anak ini, lalu merebus air. Sebentar lagi Tatag harus mandi”

Ki Mina mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku pergi ke pakiwan dahulu”

Sementara Ki Mina berada di pakiwan, Nyi mina pun menyiapkan minuman hangat baginya. Wikan yang melihat kesibukan Nyi Mina itu pun tiba-tiba saja berkata, “Biarlah aku mencoba mengajak anak itu?”

“Kau? Apakah kau dapat menggendong anak ini?”

“Tidak usah dengan selendang, bibi. Aku sering melihat tetangga ku mengajak anak bayinya di tangannya tanpa selendang”

“Tetapi hati-hatilah. Jangan lepaskan jika anak ini meronta atau membasahi pakaianmu”

“Tentu tidak bibi”

Nyi Mina pun kemudian menyerahkan Tatag kepada Wikan yang mendukungnya di tangannya tanpa mempergunakan selendang.

Tetapi agaknya Tatag justru merasa senang berada di tangan Wikan. Anak itu tertawa-tawa saja sambil menggapai-gapai, menggerakkan kakinya, menendang-nendang. Seakan-akan Tatag itu merasa bebas di dukung tanpa selendang.

“Hati-hati Wikan. Yang kau dukung itu anak orang. Bukan sekedar golek mainan”

Wikan pun kemudian mengajak Tatag keluar dan turun di halaman. Wikan mengajak anak itu ke bawah rimbunnya daun pepohonan.

Ternyata Tatag menjadi semakin gembira. Tangannya yang kecil itu bergerak-gerak seakan-akan ingin meraih dedaunan di pepohonan yang tinggi itu.

“Besok ya. ngger. Kalau kau sudah besar, kau akan terbang menggapai dedaunan itu” berkata Wikan sambil menggoyang tubuh Tatag.

Tatag menjadi semakin gembira. Suara lembutnya terdengar berderai berkepanjangan.

“Anak ini memang luar biasa” desis Wikan, “tulang-tulangnya seakan-akan terbuat dari baja. Kulitnya sekeras tembaga. Pada saat anak ini dapat berjalan, maka apa-apa yang dipegangnya akan dapat diremasnya menjadi debu”

Namun Tanjung yang berada di dapur terkejut melihat Nyi Mina menyangkutkan selendangnya di bahunya. Tetapi Tatag tidak ada di tangannya.

“Apakah Tatag tidur bibi?“ bertanya Tanjung, “sudah waktunya untuk mandi”

“Tidak. Tatag tidak sedang tidur”

“Jadi?”

“Tatag bersama Wikan”

“Maksud bibi. Tatag bibi baringkan di amben di tunggui kakang Wikan?”

“Tidak. Tatag digendong Wikan di halaman depan”

“He? Tetapi apakah kakang Wikan dapat mengajak anak selembut Tatag”

“Ternyata Wikan terampil juga menggendong Tatag” Tanjung menjadi cemas. Karena itu, maka ia pun segera berlari ke halaman.

Namun Tanjung itu pun tertegun. Ia melihat Wikan menggendong Tatag di bawah pohon jambu air di halaman. Bahkan ia melihat Tatag itu tertawa-tawa di timang oleh Wikan.

Meskipun demikian. Tanjung itu masih saja merasa cemas bahwa Tatag akan meronta dan menangis. Karena itu, betapa pun segannya. Tanjung itu pun mendekati Wikan sambil berkata, “Biarlah aku mandikan anak itu, kakang”

Wikan memandang Tanjung sekilas. Namun yang sekilas itu membuat Wikan sendiri terkejut.

Dengan cepat Wikan mengalihkan pandangan matanya kepada Tatag sambil berkata, “Anak ini senang disini”

“Tetapi sudah waktunya Tatag harus mandi“ jawab Tanjung.

Wikan tidak dapat menahan Tatag lebih lama lagi. Ia harus menyerahkan Tatag itu kepada Tanjung.

Tetapi agaknya Wikan mengalami kesulitan untuk menyerah-kannya, Tatag yang masih bayi itu. Ia harus menyerahkan Tatag langsung ke tangan Tanjung.

“Kepalanya diarah kanan tanganku kakang“ minta Tanjung.

“Tetapi bagaimana?”

“Baik, baik. Biarlah ia membujur kekiri. Nanti aku sendiri dapat memutarnya”

Akhirnya Tatag pun berpindah tangan meskipun agak mengalami kesulitan. Tetapi kesulitan itu justru telah menimbulkan kesan tersendiri.

Beberapa saat kemudian. Tanjung pun telah membawa Tatag ke dapur, sementara Nyi Mina sedang menyiapkan minuman hangat bagi Ki Mina.

“Aku membuat minuman bagi pamanmu, Tanjung”

“Paman sudah datang?”

“Ya. Pamanmu baru saja datang. Sekarang ia berada di pakiwan untuk mencuci kaki dan tangannya yang basah oleh keringat dilekati debu yang tebal”

“Sukurlah” desis Tanjung, “paman tentu letih, haus dan barangkali juga lapar”

“Jika saja pamanmu tidak singgah di kedai“ jawab bibinya sambil tertawa.

Sejenak kemudian, maka Ki Mina pun telah duduk di ruang tengah bersama Nyi Mina dan Wikan. Sementara itu, Tanjung pun sibuk memandikan bayinya.

“Nah. sekarang jawab pertanyaanku, Wikan. Kenapa kau berada di sini? Menurut guru, seharusnya kau berada di Mataram”

“Aku melarikan diri dari kewajiban yang dibebankan kepadaku oleh Ki Tumenggung Reksaniti”

“Kenapa?”

“Ceriteranya panjang, paman”

“Aku ingin mendengarnya”

“Biarlah malam nanti Wikan berceritera, kakang. Ceriteranya memang panjang. Tetapi pada dasarnya, Wikan mengalami tekanan batin yang tidak dapat diatasinya”

“Tekanan batin?”

“Ya. Tetapi baiklah sekarang kakang minum dan makan lebih dahulu. Mungkin kakang haus dan lapar. Atau sangkali kakang sudah singgah di kedai?”

“Aku tidak singgah di kedai, Nyi. Tetapi aku sempat membeli dawet cendol di sudut sebuah padukuhan. Banyak orang yang sedang turun ke sawah untuk menuai padi di terik matahari. Karena itu. ada penjual dawet cendol di sudut padukuhan. di pinggir bulak”

“Kalau begitu, kakang tentu belum makan. Sebaiknya kakang makan lebih dahulu”

“Aku akan makan. Tetapi sambil makan, aku ingin Wikan menceriterakan apa yang telah terjadi, sehingga ia sekarang berada di sini”

Wikan menarik nafas panjang. Sambil mengangguk ia pun berkata, “Baiklah paman. Aku akan mengulangi ceritera yang sudah aku sampaikan kepada bibi. Aku tidak sabar menunggu paman, karena dadaku serasa menjadi sesak semalam”

Sambil makan, maka Ki Mina pun mendengarkan ceritera Wikan. Meskipun Wikan hanya menceriterakan dengan singkat, namun semuanya menjadi jelas bagi Ki Mina.

Wikan mengakhiri ceriteranya, pada saat Ki Mina selesai makan. Setelah meneguk minumannya, Ki Mina pun menarik nafas panjang. Katanya-dengan nada berat, “Seharusnya kau tidak meninggalkan ibumu dalam keadaan kalut, Wikan”

“Aku tidak betah lagi berada di rumah yang kotor itu”“

“Jangan beranggapan seperti itu. Kita justru harus mencari jalan untuk membersihkan kotoran yang ada di rumahmu. Bukan meninggalkannya dalam keadaan yang kotor seperti itu”

Wikan tidak menjawab. Kepalanya pun menunduk dalam-dalam.

“Kita harus mencari jalan keluarnya. Kita masih berpengharapan. Wuni masih muda dan Wiyati pun masih muda pula. Masih ada waktu untuk mencari jalan yang benar dengan cara yang baik”

“Tetapi apa kata orang tentang mbokayu Wiyati. Bahkan agaknya banyak pula orang yang telah memperbincangkan kelakuan mbokayu Wuni. Namun keluarga kami tidak mengetahuinya”

“Tidak ada orang yang tahu, apa yang dilakukan oleh Wiyati di Mataram”

“Jika Wandan bercerita tentang mbokayu Wiyati?”

“Kita temui Wandan. Kita peringatkan anak itu. Jika ia membuka rahasia Wiyati, berarti Wandan telah membuka rahasianya sendiri”

Wikan mengangguk-angguk. Namun katanya, “Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu panjang. Namun akhirnya semua itu akan terbuka pula”

“Jika masanya sudah jauh berlalu, sementara sikap dan sifat Wiyati sudah berubah, maka pengaruhnya tentu tidak akan terlalu besar. Sementara itu, Wiyati sudah tidak tinggal bersama ibumu lagi. Ia akan lebih baik tinggal bersama suaminya kelak”

“Laki-laki manakah yang mau menjadi suaminya paman. Kecuali jika mbokayu Wiyati membohongi laki-laki itu. Tetapi jika pada suatu saat kebohongannya itu tersingkap, maka rumah tangganya, yang barangkali berjalan dengan baik-baik, akan menjadi hancur”

“Wiyati tidak boleh berbohong. Ia harus berterus terang kepada laki-laki yang dengan bersungguh-sungguh akan menikahinya. Kejujurannya itu agaknya akan banyak menolongnya. Sedangkan mbokayu Wuni harus menghentikan hubungannya dengan laki-laki yang telah memerasnya itu. Masalah yang dihadapi Wuni memang tidak sesulit masalah yang dihadapi Wiyati. Apalagi suami Wuni sudah mengetahui hubungan isterinya dengan laki-laki yang tidak tahu diri itu. Suami Wuni tentu akan memaafkannya. Nampaknya suami Wuni adalah laki-laki yang ruang di dadanya seluas dan sedalam samodra. Ia seorang yang sangat baik. Bahkan terlalu baik. Namun yang terlalu baik itu, jika tidak ada perubahan, akan berakibat kurang baik bagi Wuni yang selingkuh itu”

“Kakang” berkata Nyi Mina, “sebaiknya kita menemui Nyi Purba. Wiyati dan Wuni suami isteri. Kehadiran kakang tentu akan banyak berarti bagi keluarga yang sedang diguncang prahara itu”

“Aku mohon paman bersedia menyisihkan waktu untuk pergi menemui terutama ibu, paman”

“Aku mengerti. Baiklah aku akan pergi bersama bibimu menemui Nyi Purba dan kedua anak perempuannya itu”

“Jika kita pergi bersama, lalu bagaimana dengan Tanjung? Apakah kita titipkan Tanjung kepada Wikan?”

“Tidak. Tidak” sahut Wikan dengan serta-merta, “Aku ikut bersama paman dan bibi menemui ibu”

Nyi Mina dan Ki Mina tersenyum. Namun Nyi Mina pun menyahut, “Baiklah. Kami tidak akan menitipkan Tanjung kepada Wikan. Tetapi bagaimana? Apakah kita akan mengajaknya?”

“Baiklah. Nanti kita akan membicarakannya. Aku juga masih belum mengatakan, hasil pembicaraanku dengan guru”

Nyi Mina mengangguk-angguk, sementara Wikan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Nah” berkata Ki Mina kemudian, “Kita dapat menghubungkan rencana kepergian kita menemui Nyi Purba dengan pesan guru”

“Apa pesan guru?” bertanya Nyi Mina.

Ketika aku sampaikan persoalan yang menyangkut Tatag, maka guru pun berpendapat, bahwa Tatag akan menjadi seorang anak muda yang kuat di masa depan. Namun ternyata guru ingin melihatnya dan ingin mendengar tangisnya. Selain itu, guru pun telah membicarakan tentang masa depan perguruan kita. Wikan memang murid bungsu bagi guru. Tetapi guru tidak ingin bahwa Wikan adalah murid bungsu bagi perguruan kita“

“Maksud guru?”

“Persoalan yang jelas kita hadapi sekarang, bahwa Tatag akan dapat menjadi murid di perguruan kita. Tetapi harus ada orang lain yang akan menjadi gurunya. Mungkin guru tidak akan lepas tangan begitu saja. Namun ia bukan adik seperguruan Wikan”

“Maksud kakang, guru akan mengangkat penggantinya, pemimpin perguruan kita?”

“Ya”

“Mungkin guru sudah mempunyai seorang calon yang akan diserahi memimpin perguruan kita?”

“Itulah yang menjadi persoalan bagi kita”

“Kenapa? Apakah orang yang ditunjuk guru tidak kakang setujui?”

“Aku sudah mencoba menyatakan pendapatku, bahwa sebaiknya orang lain sajalah yang akan diserahi memimpin perguruan kita itu”

“Tetapi guru tidak sependapat?”

“Ya. Guru berkeras untuk menunjuk orang itu untuk menggantikannya. Sementara itu, guru yang masih akan tetap berada di padepokan, akan beristirahat dari tugasnya. Bahkan mungkin guru akan berada di tempat lain yang terasing. Guru ingin menjadi seorang pertapa”

“Kakang, siapakah orang yang telah ditunjuk oleh guru itu? Tidak banyak saudara-saudara kita seperguruan yang memiliki kemampuan yang pantas untuk menjadi pemimpin bagi perguruan kita itu”

“Orang itu adalah aku”

“Kakang? Kakang Mina sendiri?” bertanya Nyi Mina yang terkejut mendengar jawaban itu.

“Ya”

“Bagus” teriak Wikan, “Aku sependapat bahwa paman yang akan menggantikan guru menjadi pemimpin perguruan kita itu. Paman adalah orang terbaik di perguruan kita”

“Tidak Wikan” jawab Ki Mina, “Aku bukan orang terbaik. Mungkin masih ada orang lain yang lebih baik dari aku”

“Tidak paman. Tidak ada orang lain yang lebih baik dari paman. Aku mengenal semua orang di perguruan kita, kecuali mereka yang meninggalkan perguruan kita sebelum aku datang”

“Wikan” berkata Nyi Mina, “harus kau sadari, bahwa tugas seorang pemimpin sebuah perguruan adalah sangat berat. Yang dituntut tidak hanya kemampuan dalam olah kanuragan. Tetapi ia harus seorang yang memiliki kemampuan mengatur dan memimpin sejumlah orang yang berada di padepokan. Bahkan orang-orang yang telah meninggalkan padepokan pun masih mempunyai sangkut paut dengan padepokan yang ditinggalkannya itu”

“Aku mengerti, bibi. Tetapi paman tentu dapat mengatasi persoalan-persoalan yang timbul itu. Paman. Aku berjanji untuk membantu paman sejauh dapat aku lakukan. Aku akan tinggal di padepokan lagi, karena aku tidak ingin berada di rumahku yang telah dinodai oleh kakak-kakakku itu”

“Jangan bersikap seperti itu, Wikan. Seandainya kau akan tinggal di padepokan lagi, kepergianmu tentu bukan karena kedua orang kakak perempuanmu. Tetapi karena kesediaanmu mengabdi kepada perguruanmu”

Wikan menarik nafas panjang. Katanya, “Maaf, paman. Maksudku, aku akan mengabdikan diriku kepada perguruanku itu”

“Jadi, apa yang kakang katakan kepada guru?”

“Aku minta waktu. Namun selebihnya guru minta aku membawa Tatag dan ibunya ke padepokan. Anak itu sebaiknya berada di lingkungan yang paling aman baginya. Tentu banyak orang yang menginginkan anak itu untuk kepentingan yang berlainan. Tetapi yang mereka pikirkan tentu bukan kepentingan anak itu. Anak itu akan sekedar menjadi sasaran. Bukan pangkal pemikiran bagi masa depannya sendiri agar hidupnya berarti bagi dirinya sendiri dan bagi banyak orang yang akan dapat bernaung kepadanya”

Namun tiba-tiba Wikan pun berkata, “Jika paman akan pergi menghadap guru lagi, aku tidak ikut”

”Kenapa?“

“Aku sangat malu kepada guru. Keluargaku adalah keluarga yang buruk. Seandainya guru mengetahui, maka aku pun tentu hanya merupakan seonggok sampah di hadapannya”

“Tidak“ jawab Ki Mina, “Guru bukan orang yang nalarnya pendek. Guru adalah orang yang bijaksana. Ia melihat bukan sekedar dengan mata wadagnya. Tetapi guru juga melihat dengan mata hatinya. Guru tentu akan melihat, bukan sekedar yang nampak secara lahiriahnya saja”

“Tetapi guru juga akan marah, karena aku pergi dari rumah Ki Tumenggung Raganiti”

“Sudah aku katakan bahwa penilaian guru tidak sekedar pada yang nampak”

Wikan termangu-mangu. Sementara Nyi Mina pun berkata, “Bukankah kau berniat mengabdikan dirimu kepada perguruanmu?“

Wikan menarik nafas panjang.

“Kita akan bersiap-siap, “Besok lusa kita akan pergi menghadap guru”

“Apakah kita akan meninggalkan rumah kita begitu saja, kakang?“ bertanya Nyi Mina.

“Untuk sementara, kita akan meninggalkan rumah dan pategalan ini”

“Bagaimana dengan Yu Sumi? Apakah kakang akan memberitahukan kepadanya, bahwa anak ini akan kita bawa pergi. Tentu untuk sementara Nyi Sumi benar-benar akan terpisah dari Tatag. Tetapi ada masanya mereka akan bertaut kembali. Tatag adalah anak kita. Tetapi Yu Sumi juga ingin ikut mengakunya sebagai cucunya. Ia tidak mempunyai anak, sedangkan anak perempuannya juga tidak mempunyai anak. Apalagi anak perempuannya itu sedang menjanda”

“Mudah-mudahan ia menikah lagi”

“Perempuan itu sudah kelihatan tua. Hampir setua ibunya”

“Tetapi tentu Mulat belum terlalu tua. Jika ia mau sedikit berhias dan berdandan, tentu masih ada laki-laki yang bersedia menikahinya. Mungkin seorang duda. Jika duda itu sudah mempunyai anak, maka Yu Sumi pun akan mempunyai cucu.

“Cucu tiri”

“Memang ada bedanya. Tetapi jika Yu Sumi menganggapnya sebagai cucu sendiri serta Mulat merengkuhnya sebagal anak sendiri pula, maka anak itu tentu juga akan bersikap baik sebagaimana kepada ibu dan neneknya sendiri”

“Lalu bagaimana dengan Tatag?“

“Untuk sementara kita tidak akan memberitahukan kepadanya. Seperti kau katakan, Yu Sumi akan terpisah untuk sementara. Tetapi pada saatnya anak itu akan kita bawa untuk menemuinya. Tatag harus bersikap baik pula kepada Yu Sumi dan Mulat kelak”

Nyi Mina mengangguk-angguk. Katanya kemudian” Baiklah. Kita akan berkemas. Besok lusa kita akan pergi. Yang akan kita bawa tentu hanya pakaian kita. Bukankah kita tidak akan membawa apa-apa?”

“Kita tidak akan membawa apa-apa”

Wikan memang tidak dapat mengelak lagi. Pamannya setengah memaksanya agar ia pun pergi menghadap guru. Ia justru harus berterus terang.

”Guru justru akan menunjukkan jalan kepadamu, bagaimana kau harus mengatasi kabut yang untuk sementara membuat isi rumahmu menjadi buram” berkata Ki Mina.

Namun dalam pada itu, dituar pengetahuan Ki Mina dan seisi rumahnya, beberapa orang laki-laki garang telah datang ke rumah Nyi Sumi. Dengan sikap yang sangat menakutkan, mereka mengancam Nyi Sumi dan Mulat dengan senjata yang berkilat-kilat.

“Dimana bayi itu kau sembunyikan“ bertanya seorang yang bertubuh tinggi besar dan berkumis lebat.

“Aku tidak tahu. Anak itu telah di ambil oleh beberapa orang laki-laki yang garang”

“Omong kosong. Kau tentu tahu dimana anak itu sekarang. Jika anak itu dan ibunya benar-benar hilang, kau dan anak perempuanmu itu tentu akan nampak gelisah. Bingung dan berusaha mencarinya dengan cara apa pun juga”

“Kami memang ingin mencarinya., tetapi kami tidak berani, karena yang mengambil anak dan cucuku itu adalah orang-orang yang garang”

“Kau bohong perempuan tua. Kau mencoba membohongi kami. Selama ini kami selalu mengawasi kalian. Tetapi kalian tetap saja tenang dan tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa kalian telah kehilangan”

“Kami sudah pasrah Ki Sanak” jawab Mulat, “Karena itu, kami tidak lagi memikirkannya terlalu dalam”

“Jika kalian tidak mau mengatakan, dimana bayi itu sekarang, maka kami akan memoerlakukan kalian seperti memperlakukan seekor binatang. Kemudian kami akan membunuh kalian dan meletakkan mayat kalian di simpang empat itu” geram orang yang berkumis tebal.

“Kami benar-benar tidak mengetahuinya” sahut Mulat.

Laki-laki berkumis tebal itu nampaknya sudah kehilangan kesabarannya. Tiba-tiba saja tangannya telah menarik rambut Mulat sambil membentak, “Aku bunuh kau dengan caraku”

Tiba-tiba saja jari-jari yang kuat telah melekat di leher Mulat sehingga rasa-rasanya Mulat tidak dapat bernafas lagi.

“Jangan” teriak Nyi Sumi.

“Jika demikian, katakan, dimana anak itu”

“Kami tidak tahu” Mulat masih menjawab dengan kata-kata yang tersendat.

“Perempuan celaka” geram orang berkumis lebat itu sambil menekan leher Mulat sehingga mata Mulat pun terbelalak karenanya. Nafasnya terasa terputus di lehernya.

“Jangan. Lepaskan. Aku akan mengatakannya” teriak Nyi Sumi pula.

Tangan laki-laki berkumis lebat itu memang mengendor. Namun suaranya bagaikan guruh menggelar, “Katakan, cepat”

“Anak itu ada di rumah adikku” berkata Nyi Sumi.

“Jangan ibu. Jangan katakan“ Mulatlah yang berteriak sambil meronta.

Namun laki-laki yang garang itu telah memukulnya, sehingga Mulat itu pun menjadi pingsan.

“Katakan perempuan tua. Jangan sia-siakan umurmu yang masih tersisa. Jika kau tidak mau mengatakannya, maka kau dan anak perempuanmu itu akan mati”

Nyi Sumi tidak dapat berbuat lain. Ia tidak ingin anak perempuannya itu mati. Sementara itu, ia masih berpengharapan bahwa Mina akan dapat melindungi Tatag atau menyelamatkan-nya dengan cara apa pun juga”

Tetapi laki-laki yang datang ke rumahnya cukup banyak. Mereka nampak sngat garang dan menakutkan.

“Cepat” bentak laki-laki berkumis lebat itu.

Nyi Sumi terkejut. Ketika ujung sebilah pedang melekat di dada Mulat yang pingsan, maka Nyi Sumi pun berkata, “Ya, ya. Aku akan mengatakannya”

“Sejak tadi kau hanya akan mengatakannya. Jika kami sudah kehabisan kesabaran, maka kalian akan menyesal”

“Anak itu ada di rumah adikku”

“Dimana rumahnya?”

Nyi Sumi masih saja ragu-ragu. Namun laki-laki itu membentaknya sekali lagi, “Katakan. Dimana rumahnya”

Tidak ada kesempatan lain kecuali menjawab pertanyaan itu, “Adikku tinggal di Tegal Anyar”

“Tegal Anyar? Rumah yang terpencil di pategalan itu Ya?
“Baik. Aku akan melihatnya. Tetapi jika kau bohong perempuan tua, aku akan membuat kalian berdua menjadi sate sunduk. Kami akan membawa dua batang bambu yang runcing. Aku akan menusuk kalian dari ubun-ubun”

Nyi Sumi tidak menjawab. Namun mendengar ancaman itu bulu-bulunya  pun telah meremang.

Beberapa orang laki-laki yang garang itu pun kemudian meninggalkan rumahnya. Namun mereka masih sempat melontarkan ancaman-ancaman kepada Nyi Sumi.

Sepeninggal sekelompok orang yang menakutkan itu, Nyi Sumi  pun segera berlari. Dirawatnya Mulat dengan hati-hati, sehingga perempuan itu pun sadar dari pingsannya.

“Kau katakan, dimana Tatag disembunyikan ibu?” bertanya Mulat.

“Aku tidak dapat berbuat lain, Mulat. Mereka benar-benar akan membunuhmu”

“Kenapa ibu tidak membiarkan mereka membunuh aku? Hidupku sudah tidak berarti apa-apa lagi. Tidak berarti bagi diriku sendiri, apalagi bagi banyak orang. Tetapi Tatag lain ibu. Meskipun aku tidak mengerti apa sebenarnya kelebihan anak itu, tetapi bahwa banyak orang yang menginginkannya itu berarti bahwa pada anak itu tersimpan kemungkinan-kemungkinan yang besar di masa datang. Kemungkinan-kemungkinan itu akan tergantung juga, siapakah yang akan merawat dan membesarkan Tatag. Apakah ia akan menjadi orang yang berguna bagi banyak orang, atau sebaliknya ia menjadi orang yang mengguncang kedamaian hidup banyak orang tanpa dapat dicegah lagi”

“Tetapi aku tidak mau kau mati seperti itu Mulat. Kau adalah anakku. Anak kandungku yang aku lahirkan dengan mempertaruhkan nyawaku”

Mulat tidak menjawab. Tetapi air matanya mulai mengalir dari pelupuknya. Perlahan-lahan iapun. berdesis, “Kasihan anak itu”

“Maafkan aku Mulat“ suara ibunya pun menjadi bergetar.

“Ibu tidak bersalah. Aku tidak menyalahkan ibu. Bahkan setiap orang pun akan melakukan sebagaimana ibu lakukan”

“Apakah sebaiknya kita melaporkannya kepada Ki Jagabaya atau Ki Bekel?”

“Tidak banyak gunanya ibu. Jika kita melapokannya kepada Ki Bekel maka Ki Bekel justru akan menyalahkan kita. Sedangkan jika kita melaporkannya kepada Ki Jagabaya, maka perasaan Nyi Jagabaya akan dapat terungkit lagi”

“Apa yang dapat kita lakukan, Mulat?”

“Kita hanya dapat pasrah, ibu. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang melindungi anak itu dari tangan-tangan jahat yang akan menjerumuskannya kedalam kuasa kegelapan”

Nyi Sumi hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu, sekelompok laki-laki yang garang telah siap untuk pergi ke Tegal Anyar untuk mengambil Tatag.

Namun orang-orang yang akan pergi ke Tegal Anyar itu menyadari, bahwa di Tegal Anyar, Tatag berada di tangan orang yang berilmu tinggi. Mereka telah berhasil merebut Tanjung dan Tatag dari tangan beberapa orang yang telah diupah oleh Ki Bekel untuk mengambil ibu dan bayinya itu.

“Kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya” berkata orang berkumis lebat itu, “beberapa-waktu yang lalu, beberapa orang yang ditugaskan oleh Ki Bekel telah gagal. Menurut pendapatku, ibu dan anaknya itu masih tetap berada di tangan orang yang telah merebut mereka dari tangan beberapa orang yang ditugaskan oleh Ki Bekel itu”

“Tetapi waktu itu bukan kita yang diserahi tugas oleh Ki Bekel, kakang” sahut seorang yang bertubuh gemuk. Perutnya nampak membuncit di sela-sela bajunya yang kekecilan justru dibagian perutnya itu.

“Kita jauh lebih kuat dari orang-orang yang waktu itu ditugaskan oleh Ki Bekel” sahut yang lain. Seorang yang bertubuh tinggi berdada lebar. Dadanya yang terbuka nampak ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Seleret bekas luka nampak menyilang didadanya yang lebar itu.

“Orang-orang yang ditugaskan Ki Bekel pada waktu itu, justru saudara-saudara seperguruan Ki Bekel sendiri”

“Sebuah perguruan yang tidak berarti apa-apa. Perguruan kecil yang dipimpin oleh seorang yang ilmunya rendah. Apa artinya perguruan seperti itu? Lihat, apa yang dapat dilakukan Ki Bekel itu sendiri. Menurut pendapatku, ilmu Jagabayanya lebih tinggi dari ilmu Ki Bekel itu sendiri”

“Aku sependapat. Tetapi jangan membuat kita menjadi lengah. Kita jangan terlalu berbangga kepada diri sendiri, sehingga akan dapat menenggelamkan sikap hati-hati kita” berkata seorang yang rambutnya sudah memutih. Dari sorot matanya yang cekung, nampak bahwa orang itu memiliki kecerdasan yang tinggi. Meskipun ia bukan pemimpin sekelompok orang yang juga telah diupah oleh Ki Bekel itu, namun agaknya ia cukup disegani oleh kawan-kawannya.

Karena itu, maka peringatannya itu pun didengarkan pula oleh orang-orang yang berada di dalam kelompoknya.

“Jumlah kita cukup banyak” berkata orang berkumis itu kemudian, “semuanya lima belas orang. Aku yakin bahwa kita tidak akan gagal. Kata-kataku bukan berarti mengabaikan kemampuan lawan, tetapi berdasarkan pada satu keyakinan akan keberhasilan tugas kita”

Keyakinan itu dikokohkan oleh pengakuan seorang diantara mereka yang mengaku mengetahui bahwa yang tinggal di rumah terpencil yang terletak di Tegal Anyar itu hanyalah sepasang suami isteri yang telah ubanan.

“Tetapi mereka bukan orang kebanyakan” sahut orang yang rambutnya sudah memutih yang dituakan diantara sekelompok orang upahan itu, “Kita harus berhati-hati”

Demikianlah, ketika malam turun, menjelang keberangkatan Ki Mina dan keluarganya menghadap gurunya, maka sekelompok orang telah siap untuk datang ke Tegal Anyar.

Lima belas orang menyusuri jalan bulak di kegelapan malam menuju ke Tegal Anyar, ke rumah Ki Mina yang memang terpencil dan agak jauh dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya.

Mereka berhenti beberapa puluh langkah dari regoi halaman rumah yang berada di pategalan itu.

“Lihat, apakah ada tanda-tanda lain di rumah itu?“ berkata orang berkumis lebat, yang memimpin lima belas orang upahan Ki Bekel itu kepada dua orang diantara mereka.

Keduanya pun segera mendekati regol halaman. Dengan hati-hati mereka mendorong pintu regol yang ternyata tidak diselarak dari dalam.

Malam sudah menjadi semakin larut. Rumah terpencil itu sudah menjadi sepi. Beberapa lampu minyak sudah dipadamkan. Hanya di ruang tengah saja yang masih nampak sinar lampu yang redup di sela-sela dinding yang berlubang.

“Mereka sudah tidur” desis seorang diantara keduanya.

“Ya. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan”

“Kita beritahu Ki Lurah. Sudah waktunya untuk mengetuk pintu dan mengambil anak serta ibunya”

Keduanya sempat mendekati rumah itu dan mencoba mendengarkan apakah masih ada yang terbangun. Namun agaknya ru mah itu telah benar-benar sepi.

“Biarlah Ki Lurah mengetuk pintu rumah itu” berkata yang seorang hampir berbisik.

“Ya. Kita tidak datang sebagai pencuri. Tetapi kita datang untuk mengambil anak itu dari tangan penghuni rumah itu”

“Marilah, kita laporkan kepada Ki Lurah”

Namun ketika keduanya bergeser menuju ke regol halaman, mereka terkejut. Tiba-tiba saja terdengar tangis bayi melengking tinggi. Suaranya bagaikan menyusup telinga dan langsung menusuk jantung didadanya.

“Edan” geram yang seorang, “tangis itu”

“Itulah sebabnya Ki Bekel menginginkannya. Bahkan bersama ibunya”

“Untuk apa?“

“Bodoh kau. Ibunya itu tentu untuk dipelihara Ki Bekel Sendiri”

“Di pelihara? Seperti seekor kuda”

“Itu adalah istilah yang paling tepat. Perempuan itu tidak berhak untuk menyatakan pendapatnya. Segala sesuatunya tinggal melakukannya sebagaimana di kehendaki oleh Ki Bekel. Bahkan seandainya kelak perempuan itu akan dilemparkan ke kubangan atau dibunuh sekalipun”

Kawannya menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun bertanya pula, “Lalu anak itu?“

“Kau lebih bodoh dari seekor kerbau. Anak itu adalah kuasa di masa depan. Anak itu akan menjadi orang yang tidak terkalahkan. Tinggal tangan yang menggerakkannya. Jangan siapa dan untuk apa”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun keduanya pun segera bergeser keluar dari halaman untuk menemui orang berkumis lebat itu.

“Bagaimana?“ bertanya orang berkumis lebat itu.

“Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.  Segalanya wajar-wajar saja. Rumah sepasang suami isteri yang terpencil dengan seorang perempuan yang mempunyai anak bayinya yang aneh”

“Aku dengar suara tangis itu. Getar tangisnya merontokkan dedaunan. Jika saja ada yang dapat memberikan dasar-dasar ilmu gelap ngampar, maka teriakannya akan dapat menggulung bumi”

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu orang berkumis lebat itu pun berkata, “Marilah. Kita akan mengambil anak itu bersama ibunya”

Sekelompok orang yang dipimpin oleh orang berkumis lebat itu pun segera mempersiapkan dirinya. Sejenak kemudian, maka mereka pun memasuki halaman rumah Ki Mina yang berada di tengah-tengah pategalan yang terhitung luas.

“Sombongnya orang ini” berkata orang yang perutnya buncit.
“Kenapa?“ bertanya kawannya.

“Ia harus menyadari, bahwa tinggal di tempat terpencil ini sangat berbahaya baginya”

“Ia tidak mempunyai apa-apa. Kekayaannya adalah tanah pategalan ini. Jika kemudian kami datang kepadanya di malam hari, karena ada anak yang aneh bersama ibunya berada di rumahnya. Sementara itu, orang, itu merasa dirinya memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri”

“Ia akan mati malam ini”

“Kita tidak perlu membunuhnya. Jika kita sudah berhasil mengambil anak aneh dan ibunya itu, maka kita akan pergi. Kita membiarkannya hidup sambil meratapi hilangnya bayi aneh itu dari tangannya. Kecuali jika suami isteri itu tidak mau menyadari keadaannya. Jika mereka menjadi keras kepala dan berusaha mempertahankannya, maka mungkin sekali mereka akan mati”

Dalam pada itu, orang berkumis lebat itu pun tidak ingin banyak kehilangan waktu. Ia ingin tugasnya segera selesai. Karena itu, maka ia pun segera mengetuk pintu rumah itu.

Sebenarnyalah bahwa Ki Mina, Nyi Mina dan Wikan sudah terbangun. Kedua orang yang mendahului kawan-kawannya untuk melihat keadaan itu telah mereka ketahui pula. Telinga mereka yang tajam mendengar bisik-bisik di luar dinding rumahnya dan membedakannya suara itu dengan tangis Tatag.

“Kau tetap disini Wikan“ pesan Ki Mina, “Kau jaga anak itu. Biarlah Tanjung dan anaknya tetap berada di sentongnya. Kau jaga bahwa tidak seorang pun yang dapat memasuki sentong itu.

“Paman dan bibi?”

“Aku akan keluar. Mungkin kami akan terikat perkelahian di luar. Agaknya mereka yang datang cukup banyak”

“Baik paman”

Nyi Mina lah yang kemudian menemui Tanjung. Tatag sendiri sudah terdiam. Bahkan matanya mulai terpejam lagi.

“Jangan keluar dari sentong jni. Beberapa orang telah datang. Agaknya mereka tertarik oleh tangis Tatag”

“Ya, bibi“ jawab Tanjung. Namun di wajahnya membayangkan kecemasan hatinya.

“Jangan cemas Tanjung. Aku dan pamanmu akan keluar. Tetapi Wikan akan tetap berada di ruang dalam. Ia akan menjaga bahwa tidak seorang pun yang akan dapat memasuki sentong ini”

Dalam pada itu, karena pintunya masih belum dibuka, terdengar sekali lagi pintu depan diketuk orang. Bahkan lebih keras.

“Siapa?“ bertanya Ki Mina, sementara Nyi Mina dan Wikan mempersiapkan diri.

“Aku Ki Sanak. Bukakan pintu rumah ini supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak kau harapkan”

“Ada apa?”

“Bukalah pintunya”

Ki Mina pun melangkah ke pintu. Diangkatnya selarak pintunya sehingga pintu itu pun segera terbuka.

Beberapa orang berdiri di luar pintu. Dua orang diantara mereka melangkahi tlundak pintu.

Orang berkumis lebat itu pun kemudian berkata, “Maaf Ki Sanak. Kami sengaja datang pada malam hari agar tidak menarik perhatian orang di sepanjang jalan yang kami lalui. Kami datang dengan kawan-kawan kami yang agak banyak untuk meyakinkan bahwa kami akan dapat menyelesaikan tugas kami dengan baik”

“Tugas apakah yang akan kalian lakukan malam ini di rumahku yang terpencil ini?”

“Sebaiknya kau bantu tugas kami agar cepat selesai. Kami tidak akan mengganggu kalian berdua”

“Apa yang dapat kami bantu?”

“Serahkan bayi itu bersama ibunya kepada kami. Kami akan segera pergi tanpa mengusik kalian, sehingga kalian dapat kembali tidur dengan nyenyak”

“Bayi yang mana?”

“Ah. Pertanyaan itu tidak perlu kau lontarkan. Bukankah bayi itu baru saja menangis?”

“O. Bayi yang menangis itu tadi yang kalian inginkan?”

“Ya”

“Ki Sanak. Bayi itu adalah cucuku. Bagaimana mungkin aku dapat memberikan bayi itu kepada orang lain”

“Jangan omong kosong di hadapanku. Aku tahu, bayi itu anak Ki Bekel. Perempuan itu adalah perempuan simpanan Ki Bekel. Bagi seorang bangsawan, perempuan itu disebut selir. Karena itu jangan mempersulit keadaan. Berikan mereka kepada kami. Kami akan menyerahkannya kepada Ki Bekel. Bukankah perempuan dan anak itu kau curi dari tangan Ki Bekel”

“O,” Ki Mina mengangguk-angguk, “Jadi kalian juga orang upahan Ki Bekel?”

”Kami bukan orang upahan. Tetapi kami tahu kewajiban kami. Kami dengan suka rela melakukannya demi pengabdian kami”

“Luar biasa” sahut Ki Mina, “masih adakah sekarang ini orang-orang yang memiliki jiwa pengabdian begitu tinggi? Aku mengucapkan selamat kepada kalian. Aku mengagumi pengabdian kalian kepada pemimpin kalian. Tetapi agaknya Ki Bekel telah memanfaatkan pengabdian kalian untuk kepentingan pribadinya yang buruk”

“Apa maksumu?”

“Sudahlah. Kita sama-sama mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kita tidak usah berpura-pura atau mengarang ceritera yang tidak masuk akal”

“Baik. Baiklah. Aku akan langsung kepada persoalannya. Serahkan bayi itu bersama ibunya kepadaku. Ki Bekel tertarik kepada perempuan cantik itu. Sedangkan bayi itu akan memberikan banyak kemungkinan di masa depan. Nah, sekarang, kau pun harus bersikap terbuka. Kalian tidak usah mempersulit keadaan”

“Ki Sanak. Kami tidak akan memberikan kedua-duanya. Kami sudah bertekad untuk melindungi mereka. Aku tahu, bahwa perempuan itu akan sangat tersiksa di tangan Ki Bekel, karena ia akan sekedar menjadi perempuan simpanan yang tidak mempunyai hak apa pun juga. Sementara itu, anaknya yang menjadi harapan bagi masa depan, akan dapat diperalatnya pula untuk kepentingan pribadinya, sehingga kelebihan yang ada pada anak itu, justru tidak akan berarti bagi banyak orang. Tetapi justru akan merugikan sesamanya”

“Kau tidak usah meramalkan apa yang akan terjadi. Sekarang biarlah kami mengambil bayi itu bersama ibunya. Minggirlah dan jangan ganggu kami”

“Jangan memaksa Ki Sanak. Kami tidak mau dipaksa-paksa”

“Mau atau tidak mau sama saja bagi kami. Kau tidak mempunyai pilihan. Kamilah yang akan menentukan segala-galanya karena kami membawa kekuatan untuk kepentingan itu”

“Bagus. Kau sudah berbicara tentang kekerasan. Kami akan mempertahankannya yang kekerasan pula”

“Jadi kalian berdua benar-benar akan melawan kami?”

“Apaboleh buat. Kami harus mempertahankan diri”

“Baik. Aku hormati niatmu. Kita akan bertempur di halaman rumahmu yang luas. Jika kau tetap keras kepala, maka kami akan meninggalkan mayatmu di halaman”

Orang berkumis lebat itu pun kemudian melangkah keluar dan turun kehalaman. Ki Mina dan Nyi Mina pun telah siap. Di lambung mereka tergantung pedang yang jarang sekali mereka pergunakan. Tetapi karena mereka harus melawan banyak orang yang juga bersenjata, maka keduanya pun telah mempersiapkan senjata mereka pula.

Ketika mereka melangkah keluar, maka Ki Mina masih sempat berpesan kepada Wikan yang agaknya tidak dihitung oleh orang-orang upahan itu, “Hati-hatilah Wikan. Nampaknya mereka orang-orang yang berbahaya. Tentu ada diantara mereka yang menyusup kedalam rumah ini sementara yang lain bertempur melawan kita berdua. Jumlah mereka memang cukup banyak”

“Baik, Paman”

Sejenak kemudian, maka Ki Mina dan Nyi Mina pun segera turun ke halaman. Lima belas orang telah menunggu mereka di halaman. Tetapi Ki Mina dan Nyi Mina tahu, bahwa sebagian dari mereka tentu akan segera berlari memasuki rumahnya.

Tetapi keduanya percaya atas kemampuan Wikan, murid bungsu Ki Margawasana yang telah menguasai ilmu perguruannya sampai tuntas.

Sejenak kemudian, Ki Mina dan Nyi Mina telah berdiri di halaman. Orang yang berkumis tebal itu pun berkata, “Masih ada waktu Ki Sanak. Kami bukan sekelompok orang yang mengutamakan kekerasan. Jika segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan baik, maka kami justru akan menghindari kekerasan”

 -oo0dw0oo-

bersambung ke jilid 5

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s