TT-01


kembali | lanjut

cover TT-01KEMATIAN suaminya membuatnya sangat bersedih. Tanjung sudah tidak mempunyai sanak kadang lagi. Hidupnya seakan-akan tergantung kepada suaminya itu. Namun Sang Pencipta telah memanggilnya.

Tanjung merasa bahwa kematian suaminya telah membawa serta masa depannya ke liang kubur. Semuanya menjadi gelap dan tidak berpengharapan.

Pada saat kematian suaminya, tetangga-tetangganya pun berdatangan. Mereka mencoba menghiburnya dan yang tua-tua memberinya nasehat untuk menguatkan jiwanya yang terguncang. Bahkan dua tiga hari kemudian, tetangga-tetangga masih berdatangan.

Tetapi lambat laun, semuanya seakan-akan sudah dilupakan. Semuanya telah kembali lagi seperti sebelumnya. Kehidupan di sekitarnya tidak terhenti karena kematian suaminya. Mengalir seperti sediakala.

Di jalan-jalan tetangga-tetangganya-berjalan hilir mudik. Satu dua ada yang berpaling memandang halaman rumahnya yang terhitung luas. Rumahnya yang termasuk rumah yang baik. Tetapi mereka tidak berhenti. Mereka tidak lagi datang menghiburnya

Orang-orang tua tidak lagi menyempatkan diri untuk datang memberinya nasehat dan petunjuk-petunjuk yang baik, tetapi tidak dapat dilakukannya.

Tanjung menjadi kesepian di rumahnya. Ada seorang perempuan tua yang sudah lama sekali bekerja padanya. Bahkan seakan-akan sudah seperti ibunya sendiri.

Tetapi perempuan itu berpandangan selalu sempit. Ia tidak pernah pergi kemana-mana. Seakan akan sepanjang hidupnya dihabiskannya berada di rumah Tanjung. Sekali-sekali ia turun ke jalan, pergi ke pasar untuk berbelanja.

Tetapi hanya itu saja. Dengan pengalaman hidupnya yang sempit, ia tidak banyak dapat memberikan banyak bantuan untuk membuat sandaran bagi hari-hari Tanjung mendatang.

Saudara-saudara suaminya yang pada saat suaminya itu meninggal berdatangan untuk menunjukkan kasih sayang mereka serta untuk menghiburnya, tidak lagi menampakkan diri. Mereka telah tenggelam lagi dalam kesibukan kehidupan mereka sehari-hari.

Tanjung berusaha menjalani hidupnya yang sepi itu dengan pasrah. Suaminya meninggalkannya sebelum sempat memberinya seorang anak.

Tanjung memang masih muda. Tetapi rasa-rasanya Tanjung menjadi lebih tua dari perempuan tua yang bekerja padanya itu.

Yang kemudian masih selalu menghiburnya di hidupnya yang sepi itu adalah sikap tetangga-tetangganya yang masih tetap baik dan ramah. Tetapi perempuan-perempuan yang dekat dan Tanjung itu matanya tidak lagi basah karena kesedihannya yang tidak juga mau beranjak dari dinding jantungnya.

Namun tiba-tiba kesepian di rumah Tanjung itu pada suatu padi telah dipecahkan oleh tangis bayi. Tanjung yang masih berada di biliknya terkejut. Tangis itu terdengar melengking-lengking semakin keras.

Tanjung bangkit dan duduk dibibir pembaringannya. Ia mencoba untuk menyadari apa yang telah terjadi, “Apakah aku bermimpi?”

Tetapi tangis bayi itu masih saja terdengar semakin keras.

Orang tua yang tinggal bersamanya itu pun mengetuk pintu biliknya sambil memanggilnya, “Tanjung, Tanjung”

Tanjung itu pun bangkit dan melangkah kepintu. Ketika ia membuka pintu biliknya, dilihatnya perempuan tua itu berdiri termangu-mangu. Di wajahnya nampak kegelisahannya yang mencengkam.

“Kau dengar tangis itu, Tanjung?”

“Ya, bibi”

“Itu tentu anak wewe penunggu pohon gayam di pinggir jalan itu”

“Anak wewe?”

“Ya Tentu. Aku tahu bahwa di pohon gayam itu tinggal sesosok hantu perempuan”

“Darimana bibi tahu?”

“Di hari-hari tertentu tercium bau yang sangat wangi di pohon gayam itu. Tentu sosok hantu perempuan itu sedang bersolek. Hantu perempuan itu memakai wewangian yang tidak terdapat di dunia kewadagan ini”

Tanjung tidak menjawab. Tetapi tangis bayi itu terdengar semakin keras.

“Kita lihat saja bibi”

“Kau tidak akan melihat apa-apa. Kau dan aku hanya dapat mendengar suaranya”

Tetapi Tanjung tidak tahan lagi. Ia pun segera pergi ke pintu pringgitan. Perempuan tua itu mengikutinya di belakang dengan jantung yang berdebaran.

Ketika Tanjung membuka pintu pringgitan, ia terkejut. Dilihatnya, sosok bayi yang masih merah, terbaring di atas tikar pandan yang masih dilipat di pringgitan.

“Kau lihat bibi?”

Tetapi ketika Tanjung mendekatinya, perempuan tua itu mencegahnya, “Jangan Tanjung”

“Anak itu menangis bibi. Kasihan sekali”

Namun ternyata bukan hanya Tanjung yang terbangun karena tangis bayi itu. tetangga di sebelah menyebelahnya juga mendengar tangis bayi di rumah Tanjung.

“Aneh” bisik tetangga di sebelah Barat rumah Tanjung, “apakah Tanjung melahirkan? Ia tidak nampak sedang hamil sepeninggal suaminya”

“Marilah kita lihat”

Ada beberapa orang tetangga yang dengan ragu-ragu memasuki regol halaman rumah Tanjung.

Demikian mereka berada di halaman, mereka melihat Tanjung itu berdiri termangu-mangu di pintu pringgitan rumahnya.

“Ada apa Tanjung?” tanya seorang yang rambutnya sudah ubanan yang tinggal di sebelah Timur rumah Tanjung.

“Seorang bayi, bibi”

Tetangga-tetangga Tanjung itu pun kemudian merubungi sosok bayi yang berada di pringgitan rumahnya. Bayi laki-laki yang nampak sehat. Tangisnya melengking-lengking memba-ngunkan orang sepadukuhan.

“Anak siapa itu Tanjung?”

“Aku tidak tahu, bibi. Aku terkejut mendengar tangisnya”

“Seseorang telah meletakkan bayi itu disini” desis seorang laki-laki yang tinggal di seberang jalan.

“Bukan” jawab perempuan tua yang tinggal di rumah Tanjung, “tentu sesosok anak anak wewe di pohon gayam itu”

“Ah, ada-ada saja kau yu” sahut perempuan yang rambutnya sudah ubanan.

“Lalu perempuan manakah yang sampai hati meninggalkan anaknya disini?”

“Perem pun yang akalnya terlalu pendek”

“Lalu, apa yang akan kita perbuat dengan bayi itu?” perempuan lain bertanya.

Tanjung lah yang kemudian menjawab, “Aku akan memeliharanya, bibi. Aku akan mengambilnya menjadi anakku. Rumah ini tidak akan menjadi terlalu sepi lagi”

“Tetapi kau akan mendapat banyak kesulitan. Tanjung. Kau belum pernah mempunyai seorang anak. Kau belum berpengalaman. Biarlah aku saja yang memeliharanya” berkata perempuan yang rambutnya sudah ubanan, “Aku pernah memelihara, membesarkan dan bahkan sekarang mereka sudah berkeluarga semuanya, ampat orang anak”

“Bibi sudah mempunyai cucu yang manis-manis yang dapat menemani bibi. Biarlah anak ini menjadi anakku. Anugerah ini akan aku terima dengan suka cita. Bahwa hari ini, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang manis dan sehat”

“Baiklah Tanjung” berkata perempuan yang sudah ubanan itu, “jika kemudian kau menemui kesulitan dengan anakmu itu, datanglah kepadaku. Aku akan membantumu”

“Baik bibi” jawab Tanjung sambil menggendong bayi laki-laki yang sehat dan gemuk itu.

Ternyata bayi itu pun menjadi diam. Ia tidak lagi menangis melengking-lengking.

Perempuan yang tinggal diseberang jalan itu mencium bayi digendongan Tanjung itu sambil berdesis, “Kau sudah mendapatkan seorang ibu ngger. Ibumu sendiri sampai hati meninggalkan kau disini. Tetapi kasih ibumu yang sekarang tentu lebih besar dari kasih ibu kandungmu itu”

“Anak itu merasa aman di tangan Tanjung” berkata tetangga di sebelah Timur, “mudah-mudahan segalanya akan baik-baik saja. Agaknya anak itu bukan anak yang suka merajuk”

“Begitu cepatnya ia tertidur” berkata seorang’ laki-laki.

“Ia merasa hangat di tangan Tanjung”

“Kalau anak ini nanti merasa haus, bibi?” bertanya Tanjung.

“Beri minum tajin, ngger. Tajin dengan sedikit gula kelapa. Jangan terlalu manis”

“Baik, baik, bibi” jawab Tanjung. Lalu kalanya kepada perempuan tua yang tinggal bersamanya, “Buatkan anak ini tajin, bibi. Kau tanak nasi. Beri air agak berlebih”

“Baik, baik Tanjung. Tetapi kalau anak itu kemudian tumbuh taringnya, ia tidak akan mau minum tajin”

“Ah. Jangan mengada-ada bibi”

Perempuan tua itu pun kemudian pergi ke dapur meski pun hari masih gelap. Dinyalakan dlupak minyak kelapa yang ada di ajuk-ajuk. Kemudian di nyalakannya api di tungku.

Dalam pada itu beberapa orang masih berada di pendapa. Namun ketika langit menjadi merah, maka mereka pun telah minta diri. Perempuan yang rambutnya ubanan itu berkata sekali lagi kepada tanjung, “Jika kau perlukan bantuanku, Tanjung. Datanglah kepadaku, atau panggil aku kemari”

“Ya, bibi”

Demikianlah, sejak hari itu, Tanjung mempunyai seorang anak laki-laki. Anak itu benar-benar sehat. Geraknya cukup banyak. Tangisnya lepas seakan-akan menggetarkan seluruh padukuhan. Kaki dan tangannya yang menggapai-gapai nampak kokoh dan terampil.

Tanjung mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan keberadaan anak itu di rumahnya, membuatnya agak terhibur. Ia tidak lagi merasa kesepian. Bahkan di malam hari. Tanjung kadang-kadang masih sibuk mengganti pakaian anak itu jika basah. Berusaha menenangkannya jika anak itu gelisah dan menangis. Mengipasinya jika udara terasa panas. Tetapi mendekapnya jika udara dingin.

Dari hari ke hari anak itu tumbuh seperti kebanyakan anak-anak yang sehat. Beratnya pun bertambah-tambah. Panjangnya dan juga geraknya. Tanjung sudah mulai dapat tersenyum. Dan bahkan tertawa jika ia menimang bayinya.

Perempuan tua yang tinggal bersamanya itu masih saja merasa ragu. Jika anak itu anak wewe atau gendruwo, maka hari depannya akan sangat menyulitkan. Bahkan mungkin Tanjung akan dapat menjadi korban keganasannya.

Tetapi kecerahan hati yang mulai bersinar di hati Tanjung itu tiba-tiba telah terganggu lagi.

Malam itu, ketika hujan rintik-rintik membasahi dedaunan, genting dan halaman rumahnya, telah datang sepasang suami isteri di rumahnya

“Selamat malam, kakang” sapa Tanjung yang kemudian mempersilahkannya, “marilah kakang. Silahkan masuk ke mang dalam saja. Udara dingin dituar. Marilah mbokayu. Silahkan masuk”

“Terima kasih Tanjung” jawab perempuan itu. Laki-laki yang bertubuh tinggi, tegap dan berdada lebar itu adalah kakak kandung suami Tanjung yang sudah meninggal.

“Malam-malam kakang dan mbokayu sampai disini. Hujan lagi. Darimana saja kakang dan mbokayu tadi?”

“Dari rumah, Tanjung. Aku memang ingin dalang kemari menemuimu”

“Ada perlu kakang, atau kakang sekedar ingin menengok aku yang kesepian?”

”Bukankah kau tidak kesepian lagi sekarang Tanjung?”

Tanjung tersenyum. Ia berbangga dengan anak laki-lakinya. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Ya, kakang. Ada sedikit hiburan di rumah ini”

“Tanjung, Karena anak itu pula aku datang kemari”

“Karena anak itu?”

“Antara lain. Tetapi juga ada alasan lain yang mendorongku datang kemari”

Dahi Tanjung berkerut. Dengan ragu-ragu Tanjung itu pun bertanya”Kenapa dengan anak itu?”

Kakak iparnya itu menarik nafas panjang. Sambil beringsut itu pun berkata, “Tanjung. Ada masalah yang penting yang harus kita bicarakan. Kau tahu, bahwa tanah dan rumah yang kau tempati ini adalah tanah dan rumah peninggalan orang tuaku. Orang tua suamimu”

Jantung Tanjung berdesir. Ia memang sudah mengira, bahwa cepat atau lambat, kakak iparnya akan berbicara tentang tanah dan rumah itu. Tetapi ia tidak menyangka, bahwa kakak iparnya datang secepat itu.

Dengan nada yang rendah Tanjung menjawab, “Ya, kakang. Aku tahu”

“Tanah ini seharusnya menjadi milikku, milik suamimu dan milik Mijah, adikku perempuan”

“Ya, kakang”

“Sampai beberapa hari yang lalu, aku masih berdiam diri. Aku biarkan kau tinggal dirumah ini. Tetapi keadaannya segera berubah, Tanjung”

“Apa yang berubah?”

“Kau sekarang mempunyai seorang anak laki-laki”

“Apa hubungannya dengan anak itu?”

“Anak itu bukan anakmu. Bukan anak suamimu. Karena itu, ia tidak berhak atas peninggalan orang tua suamimu”

Tanjung menarik nafas panjang. Katanya, “Aku mengerti kakang. Anak ini memang tidak mempunyai hak apa-apa atas tanah ini”

“Sekarang kau dapat berkata begitu, Tanjung. Tetapi jika dibiarkan anak ini menjadi besar dan dewasa, maka anak ini tentu merasa bahwa ia berhak atas tanah ini. Ia tidak tahu, bahwa ia bukan anakmu. Bukan anak suamimu”

Tanjung menundukkan kepalanya.

“Karena itu Tanjung, mumpung belum terlanjur ada persoalan. Aku ingin mencegahnya”

“Maksud kakang?”

“Kau harus meninggalkan rumah ini. Tanjung. Ada beberapa alasan yang ingin aku katakan kepadamu. Pertama, kau tidak berhak lagi atas tanah ini sepeninggal suamimu. Berbeda halnya jika kau dan suamimu itu mempunyai keturunan. Kedua, jika kau akan menikah lagi, Tanjung, maka bakal suamimu itu tidak akan salah paham. Jika laki-laki itu mengira, bahwa kau mempunyai tanah seluas halaman rumah ini, serta rumah sebesar ini, maka ia akan menjadi kecewa jika ia harus melihat kenyataan, bahwa kau tidak mempunyai apa-apa”

Tanjung menjadi semakin menunduk.

“Alasan selanjutnya, Tanjung. Selama ini aku tinggal di rumah mbok ayumu. Aku adalah laki-laki yang mengikut isteri. Nah, sekarang, rumah itu akan dipakai oleh adik isteriku yang akan segera menikah. Karena itu, aku harus pulang ke rumah ini”

Tanjung masih menunduk. Ia sama sekali tidak dapat menjawab. Karena itu, maka ia hanya berdiam diri saja. Ia sadari bahwa apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu sebagian benar. Karena itu, maka tidak ada niatnya sama sekali untuk mengelak.

Tetapi satu pertanyaan yang sangat besar yang tidak dapat dijawabnya, “Aku harus pergi kemana?”

Perasaan Tanjung menjadi sangat gelisah. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Karena Tanjung tidak menjawab, maka kakak iparnya itu pun bertanya kepadanya, “Apa jawabmu, Tanjung”

Jantung Tanjung berdesir. Dengan sendat ia pun menjawab, “Aku mengerti kakang”

“Sukurlah jika kau mengerti. Dalam satu dua hari ini, aku akan pindah ke rumah ini”

Meski pun Tanjung sama sekali tidak ingin mengelak, namun bahwa kakak iparnya akan pindah ke rumah itu dalam satu atau dua hari lagi, sangat mengejutkannya.

“Kakang” suara Tanjung masih saja tersendat, “Aku minta waktu kakang”

“Maksudmu?”

“Jika aku harus pergi dalam waktu satu dua hari ini, aku harus pergi kemana. Aku sama sekali belum siap untuk melakukannya”

“Seharusnya kau sudah siap sejak suamimu meninggal. Kau harus mengerti dengan sendirinya. Kami sudah mencoba untuk bersabar, menunggu kau minta diri kepada kami. Tetapi hal itu tidak kau lakukan. Pada saat ang sangat mendesak, maka aku terpaksa datang kepadamu, mengabarkan hal ini”

“Aku mengerti kakang. Aku minta maaf. Tetapi jika ada belas kasihanmu. Kakang. Aku minta waktu. Jika kakang harus pindah ke rumah ini, biarlah aku tinggal di gandok untuk beberapa hari. Bukankah aku hanya berdua dengan anakku yang masih bayi?”

“Kau dapat membayangkan, Tanjung. Tinggal serumah lebih dari satu keluarga akan dapat membawa akibat bermacam-macam”

“Apalagi kau seorang janda, Tanjung” sahut isteri kakak iparnya itu.

Tanjung menarik nafas panjang.

“Kau seorang janda kembang yang muda dan cantik”

Kakak iparnya itu menarik nafas panjang. Sambil beringsut ia pun berkata, “Tanjung. Ada masalah yang penting yang harus kita bicarakan. Kau tahu, bahwa tanah dan rumah yang kau tempati ini adalah tanah dan rumah peninggalan orang tuaku. Orang tua suamimu”

“Aku bukan janda kembang, mbokayu. Aku sudah mempunyai seorang anak”

“Tetapi semua orang tahu, anak itu bukan anakmu sendiri. Kau temukan anakmu itu di pringgitan rumah ini”

“Tetapi aku sudah mengakunya, bahwa anak ini adalah anakku sendiri”

“Kau dapat saja mengaku anak itu anakmu sendiri. Tetapi orang banyak itu tidak akan dapat kau bohongi. Bahkan mungkin pada suatu saat kau sendiri akan lebih senang disebut janda kembang. Jika seorang laki-laki ingin memperistrimu tetapi tidak menghendaki anak itu, maka anak itu akan kau lemparkan ke dalam arus sungai yang sedang banjir”

“Tidak. Ia adalah anakku”

“Tanjung” berkata kakak iparnya kemudian, “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Dalam dua atau tiga hari ini, kau harus sudah meninggalkan rumah ini. Kemudian kami akan pindah dan menempati rumah ini setelah kau tinggalkan. Kami harus membersihkan rumah ini. Bukan hanya sekedar membersihkan ujud lahiriahnya saja. Tetapi juga setiap matra rumah ini. Mungkin ada penghuninya pada lapis kehidupan yang lain. Mungkin tersimpan bibit penyakit atau sebangsanya”

“Aku tidak akan membantah, kakang. Aku tidak akan ingkar dari kenyataan itu, bahwa rumah ini adalah rumah almarhum suamiku. Aku hanya minta waktu selama aku masih belum mendapatkan tempat tinggal yang baru”

“Dengan demikian, kau tidak akan pernah mendapatkan tempat tinggal yang baru. Tanjung” sahut isteri kakak iparnya itu, “Kau justru tidak akan pernah berusaha jika kau diijinkan tinggal dalam batasan waktu sebelum mendapatkan tempat tinggal yang baru itu”

“Aku berjanji akan segera berusaha, mbokayu”

“Tidak. Aku tidak akan memberimu kesempatan yang akan dapat menyulitkan kedudukanku sendiri. Karena itu, aku minta dalam dua atau tiga hari ini kau sudah tidak ada di rumah ini”

Mata Tanjung menjadi basah. Ia tidak ingin menangis. Tetapi nyeri di jantungnya seakan tidak tertahankan lagi.

“Sudahlah. Kita tidak akan berbicara panjang. Persoalannya sudah aku anggap selesai”

Tanjung tidak menjawab. Seandainya ia merengek sekalipun, atau menangis sambil berguling-guling, kakak iparnya dan isterinya tentu tidak akan merubah sikapnya

Karena itu, Tanjung justru harus tetap tabah dan tegar. Betapa pun pedih hatinya, namun kenyataan itu harus diterimanya. Yang harus dilakukan adalah mencari jalan keluar dari persoalan yang menindihnya itu.

Pembicaraan mereka memang tidak terlalu banyak. Akhirnya kakak iparnya pun berkata, “Tanjung. Malam ini aku akan bermalam disini. Biarlah malam ini kami tidur di gandok. Besok pagi-pagi kami akan pulang mempersiapkan barang-barang kami yang akan kami bawa kemari. Tidak terlalu banyak, karena disini sudah banyak perabot rumah yang ditinggalkan oleh ayah dan suamimu. Semuanya akan dapat aku pergunakan. Sedangkan perabot di rumahku akan dapat dipakai oleh adik isteriku itu. Satu keluarga baru yang tentu belum mempunyai apa-apa”

“Baik, kakang” jawab Tanjung dengan suara yang bergetar, “Aku akan berusaha”

“Bukan sekedar berusaha. Tetapi dalam dua tiga hari ini kami benar-benar akan pindah kemari”

“Baik, kakang” Tanjung sadar, bahwa ia tidak akan dapat memberikan jawab yang lain.

Beberapa saat kemudian, setelah kedua orang tamu suami isteri itu minum minuman hangat yang dihidangkan oleh pembantu tua Tanjung, keduanya pun pergi ke gandok untuk beristirahat

Demikian keduanya meninggalkan ruangan dalam, maka Tanjung tidak dapat menahan tangisnya. Air matanya bagaikan di tuang dari gerojogan.

“Anak itu menangis” desis isteri kakak iparnya.

“Aku sudah mengira. Biarkan saja”

“Kau tidak berusaha menolongnya? Air mata perempuan cantik itu akan menyegarkan badanmu”

“Kau selalu begitu. Apakah tidak ada kata-kata lain yang dapat kau ucapkan”

Perempuan itu terdiam.

Di ruang dalam Tanjung masih menangis. Perempuan tua yang sudah seperti ibunya sendiri itu pun berusaha untuk menghiburnya.

“Sudahlah ngger. Kau tidak perlu menangis. Kau harus tegar menghadapi kenyataan yang pahit ini. Tegakkan wajahmu. Persoalan ini harus diatasi. Tidak ditangisi”

Tanjung justru terkejut mendengar nasehat perempuan tua itu. Selama ini ia menganggapnya sebagai perempuan yang berwawasan sempit. Perempuan yang tidak tahu apa-apa selain harga cabe yang semakin mahal dan harga berbagai macam beras.

“Bibi” desis Tanjung.

“Aku tahu apa yang kalian bicarakan. Aku mendengarnya dari balik dinding serambi samping itu. Bukankah kau harus meninggalkan rumah ini?”

“Ya, bibi”

“Kau menjadi gelisah dan cemas karena kau tidak tahu akan pergi ke mana? Sementara itu kakak iparmu itu tidak mau memberimu waktu?”

“Ya. bibi”

“Jangan cemas ngger. Pergilah ke rumahku. Tetapi rumahku kecil dan jelek, yang sekarang ditunggui oleh anak perempuanku yang juga sudah janda Ia juga tidak mempunyai anak. Bahkan tidak memungut anak siapa-siapa. Ia hidup benar-benar sendiri. Penghasilannya untuk makan sehari-hari didapatnya dari mengolah secuil sawah dan pekarangan”

“Terima kasih bibi. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Aku tidak tahu, bagaimana aku membalas kebaikan hati bibi”

“Kau juga sudah berbuat sangat baik kepadaku, ngger. Aku sudah lama berada di rumahmu, bahkan kau anggap aku seperti keluargamu sendiri. Seperti ibumu, meski pun aku tidak lebih dari seorang abdi disini”

“Tidak, bibi. Aku tidak pernah menganggap bibi sebagai seorang abdi”

“Aku mengerti, ngger. Aku mengerti. Karena itulah, ketika angger menghadapi kesulitan, aku akan berbuat sebagaimana seorang ibu. Bahkan anakku pun akan senang menerima kau di rumah kami. Anakku rambutnya juga sudah ubanan. Kau tentu ingat, bahwa ia sudah pernah datang kemari dua tiga kali”

“Tentu bibi. Aku masih ingat”

“Aku berbangga bahwa kau tidak mengiba-iba. Tidak minta belas kasihan berlebihan kepada kakak iparmu. Aku senang itu ngger”

Tanjung termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengira, bahwa perempuan tua itu ternyata dapat bersikap bijaksana. Pada saat-saat yang diperlukannya, perempuan tua itu dapat tampil sebagai seorang perempuan tua yang mampu menampung permasalahan yang dihadapinya, meski pun hanya untuk sementara.

Pembicaraan mereka terputus. Bayi yang diaku sebagai anak oleh Tanjung itu menangis.

Dengan tergesa-gesa Tanjung berlari ke biliknya. Ternyata popok anak itu basah.

Sambil mengganti popok dan oto anak itu yang juga menjadi basah, Tanjung mengamati sebuah noda hitam di dada anak itu. Toh itu tidak akan dapat dihapuskan. Sebenarnya Tanjung mencemaskan toh yang ada di dada anak yang manis itu. Ibu kandungnya pada suatu saat akan dapat mengenalinya. Meski pun anak itu sudah dibuangnya di saat anak itu baru saja lahir, namun ibunya, yang tentu seorang yang sikap jiwaninya mudah goyah, akan dapat berbuat macam-macam.

Mudah-mudahan noda hitam itu semakin lama akan menjadi semakin tidak jelas atau bahkan hilang. Jika tidak, maka Tanjung akan dapat membuat baju yang khusus baginya, sehingga noda hitam itu tidak mudah kelihatan.

Malam pun menjadi semakin larut Perempuan tua itu sudah pergi ke biliknya. Sementara itu, setelah anaknya tidur, Tanjung tidak segera membaringkan dirinya. Ia pun kemudian sibuk mengemasi pakaiannya serta perhiasan yang peninggalan suaminya. Ia tidak berniat sama sekali untuk menuntut sebagian harta kekayaan lain yang ditinggalkan oleh suaminya. Ia tidak akan berbicara sama sekali tentang perabot rumah tangga. Tentang peralatan di dapur. Tentang gebyok ukiran lembut yang dipasang oleh suaminya, menggantikan gebyok sentong tengah dan sentong disebelah menyebelahnya. Tanjung sama sekali tidak berniat mengusiknya lagi.

Baru setelah dini hari. Tanjung dapat tidur sejenak. Tetapi menjelang fajar, anaknya sudah menangis lagi. Popoknya sudah menjadi basah lagi.

Tetapi Tanjung tidak pernah mengeluh tentang anaknya. Dengan kasih sayang dirawatnya anaknya itu dengan sebaik-baiknya.

Di pagi hari berikutnya, demikian matahari naik, maka kakak ipar dan isterinya itu pun minta diri.

“Kami sedang menyiapkan makan pagi kakang dan mbokayu”

“Terima kasih, Tanjung. Biarlah kami makan di perjalanan pulang. Kami akan melewati banyak kedai sehingga kami akan dapat memilihnya. Apalagi perjalanan kami bukan perjalanan yang sangat jauh. Sedikit lewat tengah hari, kami sudah akan sampai di rumah” jawab isteri kakak iparnya itu.

Demikianlah, maka keduanya pun meninggalkannya. Di pintu regol halaman kakak ipar Tanjung itu masih mengingatkannya, “Jangan lupa. Dalam dua atau tiga hari, aku akan datang dengan beberapa buah pedati untuk membawa barang-barangku. Jika kau pergi sebelum aku datang, titipkan rumah ini kepada Ki Bekel. Aku kemarin sudah bertemu dan berbicara dengan ki Bekel, sebelum aku kemari dan bermalam di sini”

“Baik, kakang” jawab Tanjung. Sikapnya sudah menjadi lebih tenang. Tidak nampak kegelisahan di wajahnya. Matanya pun tidak basah.

Sepeninggal kakak iparnya, maka perempuan tua yang tinggal bersamanya itu pun bertanya kepadanya, “Apa saja yang akan kau bawa keluar dari rumah ini Tanjung?”

“Tidak, bibi. Aku tidak akan membawa apa-apa kecuali perhiasan yang dibeli oleh suamiku. Aku tidak memerlukan apa-apa”

“Bagus, Tanjung. Kau adalah seorang perempuan yang tegar menghadapi tantangan kehidupan yang keras. Dengan sikapmu itu, maka kau tidak akan tercampakkan ke dalam lumpur.

“Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang selalu memberikan petunjukNya”

“Kalau kau selalu berdoa, maka Tuhan tentu tidak akan meninggalkanmu”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang tua itu wawasannya tidak sesempit yang dikiranya.

Sudah bertahun-tahun perempuan itu tinggal bersamanya. Namun baru pada saat ia benar-benar mengalami kesulitan, ia tahu betapa terang hatinya memandang kehidupan.

“Ngger” berkata perempuan tua itu, “marilah kita berkemas. Besok pagi-pagi kita berangkat. Yang penting bagimu, jangan lupa membawa payung. Jika panas anakmu jangan kepanasan, jika hujan anakmu jangan kehujanan. Kita akan berjalan setengah hari. Mungkin lebih”

“Ya, bibi”

“Hari ini kau sempat minta diri kepada tetangga-tetangga agar kepergianmu tidak memberikan kesan yang bukan-bukan. Kau katakan terus terang, apa yang telah memaksamu pergi”

“Ya, bibi. Nanti aku pergi ke rumah tetangga-tetangga sebelah menyebelah”

Sebenarnyalah ketika metahari memanjat langit semakin tinggi, setelah berbenah diri serta menyuapi anaknya, maka Tanjung pun mulai mengunjungi tetangga-tetangganya.

“Tolong, tunggui tole sebentar, bibi”

“Ya. Ya. Biasanya setelah makan pagi, anak itu akan segera tidur”

“Anak itu memang sudah mengantuk, bibi. Matanya sudah separo terpejam”

Perempuan tua itu tersenyum. Katanya, “Anak yang manis. Ia tidak mau merepotkan ibunya “

Ketika Tanjung minta diri kepada tetangganya, seorang perempuan yang sudah ubanan, perempuan itu terkejut.

“Kau berkata sebenarnya, Tanjung?”

“Ya, bibi. Aku berkata sebenarnya. Besok aku akan pergi bersama bibi”

Suami perempuan yang sudah ubanan itu, yang mendengar ceritera Tanjung, segera mendekatinya dan duduk bersamanya.

“Tanjung. Kau akan pergi begitu saja?”

“Ya, paman”

“Kau tidak membuat perhitungan dengan kakak iparmu itu?”

“Tidak, paman”

“Kau harus membuat perhitungan. Setidak-tidaknya gana-gini. Kau mendapatkan sepertiga dari semua harta kekayaan yang kau dapat bersama suamimu selama kau menjadi isterinya”

“Yang bekerja mencari nafkah adalah suamiku, paman. Jika kami dapat membeli perabot sedikit-sedikit itu adalah karena suamiku bekerja keras. Karena itu, aku tidak ikut memilikinya”

“Tidak. Kau yang berhak memilikinya. Tanah dan rumah itu memang peninggalan. Aku tahu itu. Tetapi bukankah kau jual peninggalan orang tuamu sendiri dan kau belikan tanah dibelakang rumahmu sekarang, sehingga kebunmu menjadi semakin luas. Bahkan tanah di belakang rumahmu itu memanjang sampai ke lorong, dibelakang”

“Tanah itu dibeli atas nama suamiku, paman”

“Tetapi kau dapat memanggil beberapa orang saksi. Bahkan pemilik tanah yang kau beli itu masih hidup sekarang”

“Tetapi para saksi itu tidak dapat membuktikan bahwa suamiku membeli tanah itu dengan uangku. Uang yang aku dapat dengan menjual tanah dan rumah peninggalan orang tuaku”

“Tetapi itu dapat diurus, ngger. Setidak-tidaknya kau akan dapat menerima sepertiga dari harta benda yang kalian dapatkan selama kalian berumah tangga. Aku bersedia menjadi saksi, apa saja yang sudah dibeli oleh suamimu semasa hidupnya”

“Sudahlah, paman. Aku tidak memerlukan semua itu. Jika itu aku singgung, maka yang akan terjadi hanya pertengkaran”

“Tetapi itu hakmu. Hak. Tidak akan ada orang yang menyalahkan seseorang mengurus haknya”

“Terima kasih atas perhatian paman. Tetapi aku tidak berani melakukannya”

”Bukan tidak berani ngger” sahut perempuan yang sudah ubanan itu, “Aku mengenalmu dengan baik. Kau memang tidak ingin terjadi sengketa. Kau sengaja mengalah ngger. Aku yakin, bahwa bukan karena kau tidak berani”

Tanjung menarik nafas panjang.

“Aku mengenal Saija, iparmu itu dengan baik, ngger. Semasa kanak-kanak sampai dewasanya ia tinggal di rumah itu. Ia memang anak yang nakal dan sulit dikendalikan. Ia banyak menghamburkan uang mertuamu. Ketika ia menikah dan pergi meninggalkan rumah ini serta tinggal di rumah isterinya, ia sudah membawa banyak harta benda mertuamu. Keris dengan pendok emas, timang sepasang yang juga terbuat dari emas dan bahkan tretes berlian. Bandul mas dengan rantainya sebesar tampar keluh lembu. Yang dibawanya itu nilainya tentu lebih banyak dari harta separo tanah dan rumah peninggalan itu. Seharusnya Saija tidak lagi menuntut apa-apa atas tanah dan rumah itu”

“Tetapi dengan bukti-bukti yang ada padanya, ia dapat meyakinkan Ki Bekel bahwa ia memang berhak atas tanah dan rumah itu. Setidak-tidaknya bersama ipar perempuanku, Mijah”

Kedua orang suami isteri itu terdiam. Mereka mengenal Tanjung dengan baik. Ia seorang perempuan yang lembut, yang tidak senang jika terjadi keributan. Banyak mengalah, bahkan kepada tetangga-tetangganya.

Tetapi ternyata Tanjung juga seorang perempuan yang lemah. Yang membiarkan haknya diambil tanpa perjuangan sama sekali. Dibiarkannya haknya diambil orang dengan kasar. Dan dibiarkannya saja hal itu terjadi.

Namun laki-laki itu pun melihat, bahwa Tanjung nampaknya tidak menjadi putus harapan.

Setelah hening sejenak, perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu pun bertanya, “Maaf Tanjung kalau aku boleh bertanya, kemana kau akan pergi?”

Tanjung menarik nafas panjang. Dengan nada datar ia pun menjawab, “Aku akan pergi ke rumah bibi Sumi. Perempuan tua yang tinggal bersamaku itu. Perempuan tua itu telah menawarkan kepadaku untuk tinggal bersamanya”

Suami isteri itu mengangguk-angguk kecil. Dengan nada dalam perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu pun berkata, “Jika kau mau Tanjung. Kau juga dapat tinggal disini. Kau lihat gandok rumahku itu kosong”

“Terima kasih, bibi. Bukannya aku menolak tinggal bersama bibi. Tetapi jika kakang Saija tinggal di rumah sebelah, maka rasa-rasanya hubungan kami akan terasa sangat canggung”

Perempuan tua itu mengangguk-angguk.

“Aku mengerti, Tanjung. Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Semoga kau baik-baik saja. Hati-hatilah dengan anakmu”

“Ya,bibi”

Tanjung pun kemudian meninggalkan suami isteri itu. Dari rumah itu, Tanjung pergi ke tetangga-tetangganya yang lain untuk minta diri. Hampir semuanya mengatakan sebagaimana dikatakan oleh suami isteri yang rambutnya sudah ubanan itu. Bahkan seorang tetangganya yang lain, seorang perempuan yang sudah separo baya berkata, “Aku berani menjadi saksi yang disumpah dengan cara apa pun juga. Aku tahu pasti, bahwa seharusnya kau mempunyai hak sebagian dari tanah, rumah dan segala macam perabot yang ada di rumah itu”

“Sudahlah, bibi. Terima kasih atas kepedulian bibi”

Tetangga-tetangganya melepas Tanjung dengan hati yang trenyuh. Mereka mengumpati kakak ipar perempuan yang malang itu.

Namun ketika Tanjung pergi ke rumah Ki Bekel untuk minta diri dan menitipkan rumah serta perabotnya, Ki Bekel itu pun berkata, “Seharusnya kau tahu diri Tanjung. Demikian suamimu meninggal, kau harus berkemas dan segera pergi. Dengan demikian, maka kakak iparmu itu tidak perlu mengusirmu”

Jantung Tanjung berdesir. Hampir dituar sadarnya Tanjung itu pun berkata, “Tetapi bukankah aku juga mempunyai hak sebagian dari tanah yang ditinggalkan oleh almarhum suamiku”

Ki Bekel itu mengerutkan dahinya. Katanya dengan suara yang bernada tinggi, “Siapa yang mengatakannya? Semua tanah itu adalah tanah suamimu. Atas nama suamimu. Kau tidak mempunyai apa-apa. Karena itu kau harus pergi”

“Bukankah ada ketentuan adat untuk membagi harta kekayaan suami isteri dengan gana-gini”

“Kalau kau bercerai dengan suamimu, kau akan mendapat sepertiga bagian dari harta-benda milik bersama selama sepasang suami isteri berumah tangga. Tetapi suamimu mati”

“Tentu sama saja Ki Bekel. Aku mendapat sepertiga, yang lain akan diwarisi oleh keluarga suamiku karena kami tidak mempunyai anak”

“Aku berkata kepadamu. Aku memberitahukan tatanan ini kepadamu. Bukan kau yang memberitahu aku Tanjung”

Mata Ki Bekel terbelalak.

Tanjung pun terdiam. Bahkan ia menyesal, kenapa ia mempersoalkan peninggalan suaminya itu. Selama ini, bahkan dihadapan kakak iparnya ia tidak menyinggungnya sama sekali.

Tetapi sikap Ki Bekel sejak awal itulah agaknya telah menggelitiknya.

“Nah, jika kau akan pergi esok pagi, itu adalah sikap terbaik yang dapat kau lakukan. Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Rumah itu kemudian akan dihuni oleh orang yang berhak”

Tanjung tidak merasa perlu untuk menjawab. Ia pun justru minta diri.

“Aku akan mengemasi pakaianku, Ki Bekel”

“Baik. Silahkan. Ternyata kau telah berbuat yang terbaik yang dapat kau lakukan”

Hati Tanjung menjadi bertambah pedih karena sikap Ki Bekel. Ia tahu, bahwa kakak iparnya adalah kawan bermain Ki Bekel di masa mereka masih kanak-kanak, remaja sampai saatnya mereka dewasa dan hidup berkeluarga.

Hari itu, Tanjung telah membungkus barang-barang kecil yang akan dibawanya dengan selembar kain. Hanya itu.

Orang tua yang tinggal bersama Tanjung itu pun sudah mengemasi pakaian dan barang-barangnya pula. Juga hanya sebungkus kecil.

Di malam hari Tanjung seakan-akar tidak tidur sama sekali. Dimasukinya setiap ruangan di rumahnya itu. Sentong tengah, sentong kanan dan kiri. Gandok sebelah kiri dan gandok sebelah kanan. Setiap longkangan dan dapur.

Perpisahan itu datang terlalu cepat. Tetapi Tanjung tidak dapat mengelak.

Di dini hari Tanjung sempat tidur sejenak. Namun kemudian ia pun segera bangun karena tangis anaknya.

Setelah menenangkan anaknya, mengganti pakaiannya yang basah, serta menidurkannya lagi, maka Tanjung pun segera berkemas. Hari itu, ia akan meninggalkan rumahnya yang sudah dihuninya beberapa tahun.

Tanjung merasa terharu ketika ia melihat beberapa orang datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat jalan langsung pada saat Tanjung beranjak meninggalkan rumahnya itu.

Sambil mengusap matanya yang basah, Tanjung pun berkata, “Terima kasih, bibi, paman, mbokayu dan sanak kadangku semuanya. Kami akan pergi. Kami mohon maaf jika selama ini kami telah bersalah kepada sanak kadang semuanya”

“Kami yang harus minta maaf kepadamu Tanjung. Selama kau tinggal disini, kau kami anggap seorang yang baik. Yang mengerti dan menempatkan diri diantara kami semuanya”

“Terima kasih pula atas sanjungan itu. Aku berharap bahwa pada suatu saat, aku dapat datang mengunjungi sanak kadang disini. Aku sudah merasa bagian dari sanak kadang semuanya”

Perempuan yang sudah ubanan itu menyahut pula, “Kami menunggu. Tanjung. Kami sungguh-sungguh berharap. Jika ada kesempatan nanti, kami juga ingin mengunjungimu di tempat tinggalmu yang baru.

Dengan mengusap titik-titik air di matanya. Tanjung meninggalkan rumahnya. Tetangga-tetangganya melepasnya di regol halaman. Mereka menyaksikan Tanjung berjalan bersama perempuan tua yang sudah lama tinggal bersamanya itu. Semakin lama semakin jauh.

Sekali Tanjung dan perempuan tua itu berpaling. Namun mereka segera mengalihkan pandangan matanya dari orang-orang yang masih berada di depan regol halaman rumah yang ditinggalkannya itu.

Ketika matahari naik sepenggalah, Tanjung dan perempuan tua itu sudah berada di bulak panjang. Mereka berjalan agak cepat. Langkah-langkah kecil Tanjung membawanya melintasi jalan yang berjalur bekas roda pedati. Disisinya perempuan tua itu pun masih mampu berjalan cukup cepat pula.

Meski pun di sebelah menyebelah jalan terdapat pohon turi yang dapat dipetik bunganya untuk direbus dan dimakan dengan sambal kacang sekaligus sebagai pohon perindang, namun Tanjung masih juga membawa payung bebeknya yang dibuat dari anyaman belarak kering. Dengan payung bebeknya yang lebar. Tanjung melindungi anaknya dari tusukan sinar matahari yang menyusup diantara daun pohon turi yang tumbuh di pinggir jalan.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, Tanjung dan perempuan tua itu harus berhenti. Anak Tanjung itu nampaknya sudah merasa haus. Bukan hanya anak itu yang kehausan. Tetapi Tanjung dan bibi Sumi itu pun sudah merasa haus pula.

Karena itu, maka mereka pun kemudian singgah di sebuah kedai. Mereka memesan minum dan makan bagi mereka berdua. Sedangkan makan bagi anak Tanjung telah disiapkan bekal dari rumah. Bubur beras dengan gula kelapa.

Seorang perempuan yang juga berada di kedai itu memandang anak Tanjung itu sambil tersenyum-senyum. Bahkan kemudian disentuhnya pipi anak itu sambil berdesis, “Manisnya anak ini. Gemuk, sehat dan tampan. Siapa namanya, ngger?”

Tanjung terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia belum pernah memberikan nama pada anaknya. Tiba-tiba saja seseorang bertanya, siapakah namanya.

Beberapa saat Tanjung termangu-mangu. Namun kemudian mulutnya telah menyebut sebuah nama, “Namanya Tatag, bibi”

“Tatag?”

“Ya, bibi”

“Ayahnya pandai memilih nama. Kesannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Kau tahu artinya tatag, ngger?

“Ya. bibi”

“Nah, anakmu akan menjadi seorang yang tatag menghadapi gejolak hidupnya.dimasa mendatang”

“Semoga, bibi. Memang itulah yang diharapkannya”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Sekali lagi ia menyentuh anak itu. “Ah, sudahlah, aku sudah terlalu lama berhenti disini. Silahkan ngger. Aku sudah akan pamit”

Perempuan yang nampaknya seorang yang berkecukupan itu pun kemudian memberi isyarat kepada seorang anak laki-laki remaja, yang kemudian bangkit berdiri dan berjalan mengham-pirinya, “Jalan itu masih panas, ibu. Aku masih malas”

“Nanti aku tinggal kau disini” sahut ibunya, “aku titipkan kau kepada paman Ima”

Nampaknya perempuan itu sudah sering singgah di kedai itu, sehingga agaknya ia sudah terbiasa. Perempuan itu sudah dikenal dan mengenal dengan akrab pemilik kedai itu.

“Tinggal saja disini, ngger” sahut pemilik kedai itu

“Aku ajari kau membuat timus ketela rambat atau membuat lemper ketan serundeng”

Remaja itu bergayut berpegangan baju ibunya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Tinggal selangkah lagi” berkata perempuan itu kepada anaknya.

Setelah membayar harga makanan dan minumannya, perempuan itu pun segera minta diri. Ia masih berpaling kepada Tanjung dan berkata, “Ajak Tatag singgah di rumahku. Dekat saja. Hanya beberapa puluh patok dari sini. Disebelah banjar padukuhan”

“Terima kasih bibi. Pada kesempatan lain, aku akan singgah bersama Tatag”

Perempuan dan anaknya yang remaja itu pun kemudian meninggalkan kedai itu.

Demikian perempuan itu keluar, pemilik kedai itu pun berkata, “Ia seorang perempuan yang baik. Keluarganya adalah keluarga yang kaya. Tetapi ia tidak membanggakan kekayaannya. Perempuan itu tidak memilih dengan siapa ia harus bergaul. Tidak hanya dengan orang-orang kaya. Tetapi juga dengan orang-orang kecil seperti aku ini”

“Nampak pada wajahnya, bahwa ia seorang yang ramah” sahut Tanjung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Tanjung dan perempuan yang sudah menjadi seperti ibunya sendiri itu pun meninggalkan kedai itu. Mereka berjalan di jalan yang menjadi semakin terik oleh sinar matahari yang sudah berada di puncak langit.

Untunglah bahwa Tanjung membawa payung bebeknya yang lebar, sehingga dengan mengenakan payung bebek itu di kepalanya, maka anaknya tidak kepanasan lagi.

Tiba-tiba bibi Semi itu pun bertanya, “Darimana kau dapatkan nama itu?”

“Entahlah bibi. Tiba-tiba saja”

“Nama itu tidak jelek. Arti katanya pun baik. Kau dapat mempergunakannya seterusnya, kecuali tiba-tiba kau menemukan nama yang lebih baik”

“Biarlah untuk sementara anakku itu memakai nama Tatag”

Nyi Sumi itu pun mengangguk-angguk.

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon turi yang berdaun rimbun ketika anak itu menangis. Tanjung pun berusaha untuk menenangkannya. Setelah makan biasanya anak itu menjadi mengantuk dan langsung tidur. Tetapi rupa-rupanya panas yang terik itu membuatnya merasa kurang nyaman.

Angin yang semilir telah menyentuh wajah anak itu sehingga terasa tubuhnya menjadi sedikit segar. Karena itu, maka anak itu pun terdiam. Matanya mulai terpejam.

Tanjung mengayun anak itu didalam gendongannya, sehingga beberapa saat kemudian, anak itu pun telah tertidur.

Namun sebelum Tanjung meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan, seorang laki-laki tua, berambut ubanan meloncati tanggul parit. Agaknya orang itu baru saja berjalan di pematang.

Dengan nada yang lunak orang tua itu bertanya, “Baru saja aku mendengar tangis bayi. Apakah anak ini yang menangis?”

“Ya, paman. Anakku baru saja menangis” Laki-laki itu mengangguk-angguk. Namun kemudian dipandanginya Nyi Sumi dengan kerut di dahinya. Kemudian dengan nada yang dalam ia pun berkata, “Kau benar-benar lupa kepadaku, yu?”

“Kau siapa?”bertanya Nyi Sumi dengan heran.

“Kita memang sudah lama sekali berpisah. Tetapi sekilas aku melihatmu, aku pun segera mengenalimu. Bukankah kau Yu Sumi?”

“Ya. Aku Sumi. Kau siapa?”

“Kau benar-benar sudah lupa kepadaku? Aku Mina. Mina itu yu, yang sering mencuri jambu air di kebun belakang rumah Yu Sumi dahulu”

“O. Jadi, kaukah itu? Kau sudah tampak tua sekarang Mina, Seharusnya kau masih semuda adikku”

“Eh. Bukankah Yu Sumi juga sudah kelihatan tua?”

“Ya. Aku juga sudah tua”

“Darimana siang-siang Yu. Dan siapakah perempuan ini? Anakmu?”

“Ya. Anakku”

“Si Mulat?”

“Bukan. Namanya Tanjung. Anakku yang bungsu”

“Berapa anakmu Yu?”

“Dua. Kenapa?”

Seingatku anakmu hanya seorang”

“Bukankah waktu itu kau pergi meninggalkan padukuhan?”

“Tetapi waktu itu kang Nala sudah tidak ada? Aku kira Mulat sudah tidak punya adik lagi”

“Aku menikah lagi, Nah. Tanjung adalah saudara Mulat tetapi berbeda ayah”

Mina tersenyum. Laki-laki tua itu mengangguk-angguk. Tetapi Sumi dan Tanjung tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkannya.

Tiba-tiba saja Sumi itu bertanya, “Kenapa kau tiba-tiba saja sekarang ada disini?”

“Aku pulang, Yu, Pulang dari sebuah petualangan yang buruk. Aku sudah berada di rumah. Maksudku rumahku sekarang. Bukan rumahku yang dahulu”

“Kau tinggal dimana sekarang?”

“Ayah punya sepetak pategalan di tikungan sungai itu, Yu”

“Tegal Anyar?”

“Ya, yu”

“Kau tinggal dengan siapa di pategalan itu?”

“Dengan isteriku”

“Isterimu, siapa? Waktu kau pergi, kau belum mempunyai isteri”

“Kau tentu belum mengenalnya. Aku mendapatkan seorang isteri di masa pengembaraanku. Ia seorang perempuan yang baik. Setidak-tidaknya menurut pendapatku”

“Anakmu berapa, Na?”

Laki-laki itu menarik nafas panjang. Dengan nada dalam ia pun berkata, “Kau lebih beruntung dari aku, yu. Kau mempunyai dua orang anak dan kau sudah mulai menimang cucu. Tetapi aku tidak mempunyai seorang anak pun. Tetapi ini bukan salah isteriku. Tetapi salah kami berdua”

“Kau memang harus menerima kenyataan itu, Na. Sang Penciptalah yang menentukannya”

“Aku mengerti, yu. Nah, jika kau mau singgah di rumahku, maka kau akan bertemu dengan isteriku”

Tetapi Nyi Sumi itu tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih, Na. Lain kali aku akan singgah di rumahmu. Cucuku sudah mulai menangis”

“Perjalananmu masih agak jauh, yu”

“Ah. Tinggal tiga bulak lagi”

”Tetapi bulaknya panjang-panjang” Nyi Sumi itu tertawa.

Namun dalam pada itu, Mina itu pun bertanya lagi, “Anak itu cucumu bukan, yu?”

“Ya. Kenapa?”

“Aku mendengar tangis-nya. Aku seakan-akan mendengar genderang dan sangkakala yang mengiringi sepasukan prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Apa? Kau dengar tangis cucuku sebagai isyarat perang? Sebagai isyarat pertumpahan darah dan kematian?”

“Tidak, yu. Jangan salah paham. Aku hanya mengatakan bahwa tangis cucumu itu bagaikan genderang dan sangkakala yang mengiringi prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Jadi kau hubungkan cucuku dengan perang kan? Perang itu berarti pertumpahan darah dan kematian”

“Tetapi kenapa seseorang terdorong untuk pergi berperang? Tentu ada bermacam-macam alasan”

“Apa pun alasannya, tetapi perang sejalan dengan penderitaan”

“Tetapi sepastikan prajurit ada yang pergi berperang untuk mengurangi penderitaan. Perang yang sejalan dengan penderitaan itu akan berlangsung dalam waktu yang terhitung singkat dibandingkan dengan pederitaan lain yang berkepanjangan dan bahkan tanpa, ada tanda-tanda akan berakhir. Perbudakan penindasan, penyalah gunaan kekuasaan dan sebangsanya. Baik dalam lingkungan yang sempit mau pun dalam lingkungan yang lebih luas.”

“Tentu ada cara lain yang dapat ditempuh selain dengan pertumpahan darah dan kematian”

“Ya, ya. Aku mengerti, Yu”

“Nah, apakah kau masih menghubungkan tangis cucuku dengan suara genderang perang?”

Mina tertawa. Katanya, “Aku minta Maaf Yu. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan bahwa pada suara tangis cucumu terasa ada getaran gelombang kekuatan melampaui getar kekuatan kebanyakan anak-anak. Tegasnya, cucumu itu membawa pertanda bahwa ia memiliki kelebihan”

“Kau mencoba menjadi seorang peramal”

“Tidak. Aku tidak meramal. Aku hanya mencoba mengurai isyarat yang dapat aku tangkap. Tetapi entahlah. Apakah aku benar atau salah”

Nyi Sumi tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Tetapi aku memperhatikan kata-katamu ini. Mudah-mudahan kau benar”

“Soalnya kemudian, kemana kelebihan, itu diarahkan”

“Aku mengerti maksudmu. Terima kasih”

“Nah, sekarang aku minta kalian singgah sebentar di rumahku. Kalian akan bertemu dengan isteriku”

“Terima kasih, Mina. Kali ini aku membawa cucuku. Anak itu sudah terlalu lama di perjalanan pagi ini”

“Baiklah, Yu. Jika ada kesempatan, biarlah aku bawa isteriku mengunjungimu. Bukankah kau masih tinggal di rumahmu yang dulu”

“Ya. Aku tidak kemana-mana. Pergilah ke rumahku. Ajak isterimu. Biarlah ia mengenalku dan mengenal kedua orang anak-anakku. Tetapi kau tentu tidak dapat mengenali Mulat lagi. Ia sekarang juga sudah nampak tua. Hampir setua aku”

“Baik, baik. Yu.Kapan-kapan aku akan pergi kerumahmu. Aku ingin berkenalan dengan ayah cucumu itu”

Nyi Sumi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang, Na. Ayah cucu ini telah meninggal. Tanjung sudah menjadi janda. Mulat juga sudah menjadi janda”

“O” Mina mengangguk-angguk, “jadi ada tiga orang janda di rumahmu?”

Mina mengangguk-angguk pula.

“Sudahlah Mina. Nanti cucuku rewel di jalan”

“Baik, baik Yu. Hati-hati dengan anakmu Tanjung. Anak itu merupakan mutiara bagimu”

“Mutiara atau suara genderang perang?”

Mina tersenyum. Katanya, “Maaf Yu. Aku tidak akan mempergunakan istilah itu lagi. Kecuali jika aku lupa”

Demikianlah Nyi Sumi dan Tanjung pun melanjutkan perjalanannya. Sementara itu Mina masih berdiri termangu-mangu memandangi mereka. Dituar sadarnya Mina pun berdesis, “Siapakah ayah anak itu? Sayang ia sudah meninggal. Jika saja aku sempat mengenalnya”

Dalam pada itu, maka panas pun terasa semakin terik. Tanjung menyembunyikan anaknya dibawah payung bebeknya. Meski pun kakinya terasa letih, tetapi Tanjung berjalan terus. Bahkan ia ingin lebih cepat sampai di rumah bibi Sumi.

Bibi Sumi yang tua itu, ternyata masih juga tangkas berjalan. Ia sama sekali tidak kelihat letih. Ia masih saja berjalan di sebelah Tanjung.

Di perjalanan Tanjung sempat menyesali dirinya sendiri. Ternyata ia tidak mengenal perempuan tua itu dengan baik. Ia mengira betapa sempitnya wawasan perempuan yang hampir setiap saat berada di dapur itu. Namun ternyata, apa yang dikatakannya pada saat-saat ia terhimpit oleh keadaan, disepanjang jalan, juga’pembicaraannya dengan Mina, seakan-akan telah membuka pintu di dadanya, sehingga Tanjung itu dapat melihat kedalamannya lebih banyak lagi.

“Sudah tidak begitu jauh lagi, Tanjung” desis Nyi Sumi.

“Ya, bibi”

“Kau letih?”

“Tidak, bibi”

“Tanjung” berkata Nyi Sumi kemudian dengan nada yang rendah, “Mina adalah seorang yang telah lama sekali aku kenal. Ia orang baik menurut pengenalanku dahulu. Tetapi ia dapat mewakili sikap tetangga-tetanggaku. Mereka akan banyak mencampuri persoalan-persoalan yang sebenarnya terhitung persoalan pribadi. Tetapi mereka tidak bermaksud buruk. Yang mereka lakukan justru sikap seorang yang merasa terikat dalam kehidupan bersama”

“Aku mengerti, bibi. Bukankah tetangga-tetangga kita juga berbuat demikian?”

“Ya. Tetapi tetangga-tetanggaku adalah orang-orang yang lebih sederhana dari tetangga-tetangga kita selama ini”

“Ya, bibi”

Nyi Sumi terdiam sejenak. Dipandanginya jalan bulak yang panjang, yang terbentang di hadapannya. Jalan bulak yang menusuk diantara kotak-kotak sawah,yang ditumbuhi oleh batang-batang padi yang subur.

Panasnya terasa semakin terik. Tanjung semakin melekatkan payung bebeknya. Anaknya tidak boleh tersentuh panasnya sinar matahari sama sekali.

Namun akhirnya, keduanya pun memasuki sebuah padukuhan yang terhitung besar. Tetapi seperti yang dikatakan Nyi Sumi, nampaknya penghuni padukuhan itu masih dalam tataran yang lebih sederhana dengan tataran kehidupan di padukuhan yang ditinggalkan oleh Tanjung, meski pun tanahnya agaknya tidak kalah suburnya.

Mulat terkejut ketika tiba-tiba saja ia melihat ibunya berdiri di depan pintu rumahnya Sebenarnya rumah bibi Sumi tidak terlalu kecil meski pun sederhana.

“Ibu” desis Mulat. Seorang perempuan yang seperti kata Nyi Sumi, ujudnya sudah hampir sebaya dengan ibunya itu.
“Kau mengenal Tanjung, bukan?”

“Ya. Marilah, silahkan Nyi”

“Terima kasih” desis Tanjung sambil membungkuk hormat. Untuk beberapa saat di pandanginya Mulat dengan kerut di dahi. Ia sudah pernah mengenalnya. Tetapi agaknya pada hari-hari terakhir, ubannya tumbuh dengan cepat, sehingga Mulat itu pun kelihatan begitu cepat tua.

Tanjung dan anaknya pun kemudian mengikut Nyi Sumi masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada sebuah pendapa yang khusus. Tetapi Mulat membuat ruang dalam rumahnya tidak tersekat, sehingga ruang itu tetap terbuka. Di sisi dalam dari ruangan itu terdapat tiga buah sentong. Sentong tengah, sentong kiri dan kanan. Disisi sebelah kiri terdapat pintu butulan untuk pergi ke dapur lewat serambi.

Di rumah itu tidak terdapat gandok kiri atau kanan. Tetapi di sebelah sumur di arah kiri bagian belakang rumah terdapat sebuah kandang-kandang kambing.

“Marilah, Nyi. Silahkan duduk”

Tanjung pun kemudian duduk di sebuah amben yang agak besar di ruang yang terbuka itu.

“Tiba-tiba saja ibu pulang. Bahkan bersama dengan Nyi Tanjung”

“Nanti aku akan bercerita. Sekarang, kami merasa haus. Kau punya minum?”

“Aku akan merebus sebentar, ibu”

“Maksudku, justru yang dingin”

Mulat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku membuat wedang sere pagi tadi, ibu. Apakah itu pantas untuk dihidangkan?”

“Tentu saja. Sudah aku katakan, kami memerlukan minuman yang dingin. Tidak perlu air wayu sewindu. Tetapi wedang sere yang kau buat tadi pagi itu justru yang paling baik untuk dihidangkan sekarang ini”

Mulat pun kemudian pergi ke dapur untuk mengambil wedang sere yang sudah menjadi dingin.

Sejak hari itu, Tanjung tinggal di rumah Nyi Sumi. Di sore hari, setelah mereka mandi dan berbenah diri, serta Tatag sudah tidur dan dibaringkan di pembaringan, maka Nyi Sumi, Tanjung dan Mulat, duduk di amben di ruang dalam. Nyi Sumi- pun telah menceriterakan kepada Mulat, lelakon yang dialami oleh Tanjung.

Mulat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sambil mengangguk-angguk Mulat pun kemudian berdesis, “Itulah Tanjung. Bahwa kepemilikan benda-benda keduniawian kadang-kadang dapat membuat seseorang kehilangan kiblat hidupnya. Seseorang kebanyakan lebih senang berusaha memenuhi kebutuhan hidup kewadagan di dunia yang fana ini. Mereka melupakah apa yang akan terjadi di alam langgeng. Bahkan kadang-kadang seseorang dengan ringan berbicara tentang hari-hari yang kekal seakan-akan tidak lebih dari sebuah bayangan yang semu. Malahan ada yang menganggapnya sekedar sebagai sebuah lelucon yang dapat mengungkit tawa berkepanjangan”

Tanjung mengangguk kecil.

“Aku sependapat dengan kau, Tanjung” berkata Mulat selanjutnya, “seperti yang dikatakan oleh ibu, bahwa kau tidak menuntut apa pun dalam ujud harta benda keduniawian. Kau akan mendapatkan jauh lebih banyak dari itu”

“Ya, mbokayu” jawab Tanjung, yang justru merasa menjadi begitu sempit wawasannya tentang kehidupan.

Di hari-hari berikutnya, Tanjung merasa bahwa ia sudah menjadi luluh didalam keluarga Nyi Sumi. Ia tidak lagi merasa orang lain. Ia menganggap Nyi Sumi seperti ibunya sendiri. Mulat pun telah menjadi kakak perempuannya yang baik, yang berusaha menjaga perasaannya yang sedang terasa sangat lunak dan mudah tersentuh.

Di rumah itu, Tatag juga mendapat perhatian yang cukup. Nyi Sumi dan Mulat ikut merawatnya dengan baik. Tanjung tidak lagi menyebut Nyi Sumi dengan bibi. Tetapi ia menirukan Mulat yang memanggil Nyi Sumi dengan sebutan ibu.

“Bukankah ibu tidak merasa cemas lagi, bahwa di-antara gigi Tatag akan tumbuh taring?”

Nyi Sumi tertawa. Sementara Mulat pun bertanya, “Kenapa tumbuh taringnya?”

“Ibu merasa cemas, bahwa bayi ini adalah anak wewe atau anak genderuwo”

Mulat tidak hanya tersenyum. Tetapi ia tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ibu memang sering aneh-aneh. Yang dibayangkan itu justru yang bukan-bukan, yang bahkan lebih condong ke dunia yang lain”

“Kau belum pernah mendengar dongeng tentang anak wewe atau genderuwo”

“Sudah ibu. Dongeng tentang anak wewe dan anak genderuwo. Tetapi hanya dongeng saja”

Nyi Sumi mengerutkan dahinya, sementara Mulat masih saja tertawa.

Dari hari ke hari, Tatag tumbuh seperti kebanyakan kanak-kanak. Tetangga Mulat juga ada yang baru saja melahirkan. Hanya selisih berbilang hari dengan Tatag. Namun ternyata bahwa Tatag tumbuh lebih cepat dari bayi tetangga”

“Kau makan apa Tanjung?” bertanya ibu bayi itu.

“Aku tidak mengerti maksudmu” sahut Tanjung.

“Anakmu tumbuh lebih cepat dari anakku. Padahal aku makan cukup banyak. Apa saja aku makan. Minum anak ini juga deras sekali”

Tanjung tersenyum. Katanya, “Aku banyak makan dedaunan dan buah-buahan. Ada buah jambu di belakang.

Mbokayu Mulat menanam beberapa batang pohon kates Jingga yang hampir setiap hari ada saja buahnya yang masak.

“Aku juga banyak makan dedaunan. Aku menanam kacang panjang tidak hanya di pematang sawah. Tetapi juga di kebun. Di kebunku juga banyak terdapat pohon melinjo yang dapat dipetik daunnya yang muda setiap hari. Ada pula beberapa batang kates seperti di rumahmu. Ketela pohon yang daunnya memberikan rasa yang khusus. Bahkan kadang-kadang aku juga membeli kangkung di pasar. Bayam dan beberapa jenis sayuran yang lain. Terutama selama aku menyusui”

“Nanti yu. Mungkin sebentar lagi anakmu akan tumbuh seperti anakku”

“Kau dengar kalau anakmu menangis? Dan kau dengar pula jika anakku menangis? Aku merasakan ada sesuatu yang beda”

“Yang beda apanya, yu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ada yang beda”

Ketika kemudian perempuan itu pergi, Mulat yang ikut mendengarkan pembicaraan itu pun berdesis, “Ia benar, Tanjung. Jika Tatag menangis, terasa ada yang beda”

“Apanya yang beda, mbokayu?”

Mulat menggeleng. Katanya,, “Aku tidak dapat mengatakannya. Tetapi aku dapat merasakannya”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang telah tertarik kepada suara tangis anaknya. Tanjung sendiri tidak merasakan perbedaan itu. Menurut pendengarannya, Tatag menangis seperti bayi-bayi yang lain. Kadang-kadang hanya sebentar. Tetapi kadang-kadang berkepanjangan.

Tanjung memang pernah mendengar, bahwa jika seorang bayi menangis keras dan panjang, itu tandanya bahwa pernafasannya cukup baik. Namun jika bayi itu sering menangis dan merengek, maka ia akan menjadi anak yang cengeng.

Namun ternyata bahwa tangis Tatag tidak hanya menarik perhatian beberapa orang tetangga serta Mina yang pernah bertemu di perjalanan. Tetapi ada orang lain yang sangat tertarik mendengar tangis Tatag.

Tiga orang gegedug yang sedang berkeliaran di malam hari, terhenti ketika mereka mendengar tangis seorang bayi di sebuah rumah yang sederhana.

“Kau dengar tangis bayi itu” berkata seorang diantara mereka, orang yang tertua yang menjadi pemimpin segerombongan perampok yang menguasai satu lingkungan yang luas. Termasuk padukuhan Werit.

“Ya, Ki Lurah” jawab seorang kawannya.

“Apa katamu tentang tangis bayi itu?”

“Menarik sekali. Ada sesuatu yang bergetar bersamaan dengan suara yang melengking itu”

“Ya, Lurahe. Suara itu sangat menarik. Tangis itu berbeda dengan tangis bayi kebanyakan. Ada satu pertanda, bahwa bayi itu mempunyai kelebihan”

“Bagus. Kita sependapat. Marilah, kita dekati rumah itu”

“Untuk apa?”

“Aku inginkan bayi itu”

“He?” seorang kawannya mengerutkan dahinya buat apa Ki Lurah menginginkan bayi itu?”

“Bodoh kau. Gerombolan kita adalah gerombolan yang tidak akan lenyap bersamaan dengan meningkatnya umur kita. Kita harus membangun lapisan berikutnya untuk meneruskan kebesaran nama gerombolan Macan Kabranang. Kati tahu, bahwa namaku itu ditakuti oleh banyak orang-orang yang bahkan pemimpin-pemimpin gerombolan yang lain. Nama itu harus berkesinambungan”

“Jadi?”

“Kau tahu bahwa aku tidak mempunyai anak”

“Itu salah Ki Lurah sendiri”

“Kau berani menyalahkan aku?”

Aku hanya ingin mengulangi apa yang pernah Ki Lurah sendiri katakan”

“Apa yang pemah aku katakan?”

“Jika Ki Lurah mengambil seorang perempuan, maka begitu Ki Lurah jemu, perempuan itu pun ki Lurah usir atau bahkan ada yang Ki Lurah bunuh. Mereka tidak sempat memberi anak kepada Ki Lurah”

“Bohong. Ada perempuan yang hidup bersamaku sampai beberapa bulan. Ada yang hampir setahun. Jika mereka dapat memberi aku anak, maka mereka tentu sudah mengandung sehingga aku tidak perlu mengusirnya. Sedangkan perempuan yang aku bunuh itu adalah perempuan yang berusaha meracuniku. Bukan salahku jika perempuan itu dihukum mati”

“Hanya satu yang Ki Lurah bunuh?”

“Tiga. Yang dua orang mempunyai kesalahan yang sama”

“Ya”

“Kau sudah tahu he?”

“Ki Lurah sendiri yang mengatakannya. Kedua perempuan itu berbuat selingkuh, kan? Ki Lurah tidak hanya membunuh perempuan-perempuan itu. Tetapi juga kedua laki-laki yang telah membujuk mereka untuk selingkuh”

“Jadi aku sudah mengatakannya?”

“Sudah. Ki Lurah sudah pernah menceriterakan dua tiga kali sebelum sekarang ini”

“Tetapi kalian harus mendengarkan. Jika aku berceritera kalian harus mendengarkan. Kalian tidak boleh mendahului ceritera seperti sekarang ini atau aku membunuh kalian. Tetapi kali ini kalian aku ampuni. Tetapi lain kali, sekali lagi kalian mendahului ceriteraku, maka kalian akan aku cincang”

“Aku tidak” sahut yang seorang lagi, “Begog yang telah mendahului ceritera Ki Lurah”

“Kau dengar Begog?”

“Ya, Ki Lurah. Aku dengar”

“Baik. Sekarang, marilah kita ambil anak itu. Siapa yang tinggal di rumah ini?”

“Tiga orang perempuan. Semuanya janda”

“Jika demikian, kita tidak akan mengalami kesulitan”

”Ya. Tetapi bagaimana kita memelihara anak itu? Kita akan mengambilnya setelah anak itu menjadi agak besar. Tiga atau ampat tahun lagi”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tiga atau ampat tahun mendatang. Mungkin orang lain akan mengambilnya lebih dahulu”

“Tetapi anak itu memerlukan perawatan. Memerlukan susu ibunya. Siapa yang akan mengganti popoknya di malam hari. Siapa yang akan menyuapinya?”

Gegedug yang disebut Macan Kebranang itu merenung sejenak. Namun tiba-tiba saja ia pun berkata, “Kita ambil bersama ibunya. Jika ibunya cantik, aku memerlukannya. Jika ibunya berwajah buruk, ia akan dapat menjadi pelayan di sarang kita sekaligus merawat anak itu”

Begog mengangguk-angguk. Katanya, “Gagasan bagus Ki Lurah. Mungkin ibunya seorang perempuan cantik. Ia akan dapat menjadi bunga di sarang kita yang gersang”

“Gila kau Begog. Kau akan mengajaknya selingkuh?”

“Tidak.” Tidak, Ki Lurah”

Pemimpin gerombolan perampok yang menyebut dirinya Macan Kabranang itu terdiam. Tangis Tatag masih saja terdengar. Bahkan semakin keras. Rumah yang sederhana itu bagaikan di guncang-guncang oleh getar suara tangisnya.

“Kita masuk ke rumah itu sekarang” gumam Macan
Kabranang.

“Apakah kita akan mengetuk pintu?”

“Ya. Kita akan mengetuk pintu”

Macan Kabranang itu pun kemudian melangkah mendekati pintu rumah yang terhitung sederhana itu. Namun sebelum ia mengetuk pintunya, terdengar suara seorang, “Tunggu Ki Sanak”

Macan Kabranang pun terhenti. Ketika ia berpaling, dari kegelapan muncul dua sosok bayangan.

“Siapakah kalian dan untuk apa kalian kemari?” bertanya seorang diantara kedua orang itu.

“Apa pedulimu?”

“Baiklah. Aku tidak akan mempedulikanmu. Pergilah”

“Apa hak kalian mengusirku?”

“Kau tentu akan mengambil bayi yang menangis itu” berkata yang seorang lagi, yang ternyata seorang perempuan.

“Itu adalah urusanku”

“Ketahuilah Macan Kabranang “

Namun kata-kata perempuan itu terpotong, “Kau tahu namaku?”

“Kau memang seorang pelupa. Kau sendiri yang sesumbar bahwa namamu adalah Macan Kabranang. Namun yang ditakuti oleh banyak orang di lingkunganmu ini. Bahkan para pemimpin gerombolan yang ada. Tentu saja yang kau maksud adalah gerombolan penjahat”

“Diam kau” bentak Macan Kabranang.

Tetapi kedua orang, laki-laki dan perempuan, itu justru tertawa berkepanjangan.

Dalam pada itu, Tanjung yang berada di dalam rumah, mendengar suara-suara di luar rumahnya. Meski pun tidak jelas benar, tetapi Tanjung mendengar bentakan-bentakan keras, kemudian suara tertawa yang berkepanjangan dan suara-suara lain yang membuatnya ketakutan. Bahkan Nyi Sumi dan Nyi Mulat yang juga terbangun menjadi ketakutan pula.

“Siapakah mereka, ibu?” bertanya Tanjung.

“Entahlah. Suara-suara itu membuat aku takut” desis Nyi Sumi.

“Nampaknya telah terjadi pertengkaran di luar” berkata Mulat. Meski pun Mulat juga merasa takut, tetapi ialah yang nampak paling tenang diantara ketiga orang perempuan itu.

“Ki Sanak” berkata laki-laki yang datang kemudian itu, “kau tidak dapat mengambil anak itu. Akulah yang akan mengambilnya. Isteriku juga tidak mempunyai anak. Ia dapat merawat anak itu dengan baik. Kami tidak merasa perlu mengusik ibu bayi itu”

“Siapa kau?”

“Apa pedulimu siapa kami. Sekarang pergilah. Aku akan menemui ibu bayi yang menangis itu dan minta anaknya dengan baik-baik. Isteriku akan berjanji untuk merawatnya melampaui perawatan ibu sendiri”

“Persetan dengan kau. Kaulah yang harus pergi atau kami akan mengusir kalian dengan kekerasan”

“Jauh-jauh kami datang kemari. Tentu kau tidak akan dapat mengusir kami begitu saja”

“Bahkan kalau kau berkeras kepala, kami akan membunuh kalian berdua dan membuang mayat kalian di regol halaman rumah ini”

“Jangan sombong Ki Sanak. Kita akan melihat, siapakah yang lebih baik diantara kita”

“Kalian hanya berdua. Apalagi seorang diantara kalian adalah seorang perempuan. Kalian tentu tidak akan banyak memberikan perlawanan sebelum kami membunuh kalian”

“Aku mendengar tangisnya. Aku seakan-akan mendengar genderang dan sangkala yang mengiringi sepasukan prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang”

“Jangan merendahkan kemampuan kami berdua”

“Kami adalah tiga orang gegedug diantara segerombolan harimau yang buas”

“Kami adalah sepasang suami isteri yang akan mampu menguasai harimau-harimau jinak seperti kalian”

“Setan alas” geram Macan Kabranang, “bersiaplah untuk mati”

Macan Kabranang segera memberi isyarat kepada kedua orang kawannya sambil berkata, “Cepat selesaikan mereka. Jangan beri kesempatan bayi itu dibawa pergi”

Tanjung menjadi semakin ketakutan. Dengan demikian pemusatan perhatiannya kepada anaknya pun terpecah, sehingga Tatag justru tidak segera terdiam. Ia masih saja menangis keras-keras meski pun ibunya, bibi dan neneknya sudah berusaha. Tetapisseperti juga Tanjung, dalam ketakutan mereka memang tidak dapat berbuat sebaik-baiknya untuk menenangkan Tatag.

Sementara itu, Macan Kabranang dan dua orang pengikutnya telah mulai menyerang. Sedangkan kedua orang laki-laki dan perempuan itu telah bergeser, justru mengambil jarak. Mereka akan menghadapi lawan-lawan mereka terpisah.

Macan Kebranang pun kemudian telah memberi isjarat kepada kedua orang kawannya untuk bersama-sama menghadapi perempuan itu. Bahkan Macan Kebranang itu pun bergumam, “Cepat selesaikan perempuan itu. Aku akan menyelesaikan laki-laki inisecepatnya. Kita akan segera membawa anak itu bersama ibunya pergi”

Kedua orang laki-laki dan perempuan itu tidak menyahut. Namun mereka pun sudah siap menghadapi ketiga orang gegedug dari gerombolan Macan Kebranang itu.

Begog dan kawannyalah yang telah bergerak lebih dahulu. Keduanya menyerang perempuan itu dengan garangnya.

Namun ternyata perempuan itu adalah perempuan yang tangkas. Dengan cepat perempuan itu berloncatan menghindari serangan kedua orang lawannya. Namun tiba-tiba perempuan itulah yang menyerang dengan loncatan-loncatan panjang.

Macan Kebranang masih sempat memperhatikan kedua orang pengikutnya bertempur melawan perempuan itu. Dengan lantang Macan Kebranang itu pun memberikan perintah, “Jangan dihambat oleh perasaan belas kasihan. Jika perempuan itu berkeras melawan kalian, bunuh saja. Lemparkan mayatnya ke jalan di depan regol itu.”

Tetapi terdengar suara tertawa perempuan itu sambil berkata, “Ternyata kawan-kawanmu bukan bagian dari sekelompok harimau yang sedang marah seperti namamu. Mereka adalah anak-anak macan yang lucu, yang sedang bergairah untuk bermain-main”

“Perempuan iblis” geram Macan Kebranang, “sekilas ia menangkap kemampuan yang tinggi dari perempuan itu.

“Jika kau sudah puas memperhatikan orang-orangmu yang kebingungan itu, kita akan menentukan nasib kita sendiri Macan Kebranang”

“Bagus” geram Macan Kebranang, “bersiaplah. Ternyata aku harus membunuh kau lebih dahulu. Baru kemudian kami akan membunuh isterimu”

“Bukankah dalam loncatan-loncatan pertama kau sudah mampu menilai, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu?”

“Persetan. Tutup mulut. Kita akan bertempur” Laki-laki itu memang terdiam. Ia pun justru bergeser surut ketika Macan Kebranang mendekatinya.

Namun macan Kebranang itu pun tiba-tiba saja meloncat menerkamnya seperti seekor harimau yang lapar.

Laki-laki itu mengelak. Bahkan sambil berkata, “Kau menjadi garang seperti seekor harimau yang lapar. Bahkan kelaparan karena sudah berhari-hari kau tidak mendapatkan makan, sehingga kau sudah menjadi tidak berdaya lagi”

“Diam” bentak Macan Kebranang.

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia harus mengelak lagi karena Macan Kebranang telah menyerangnya pula.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah bertempur dengan sengitnya. Ternyata Macan Kebranang benar-benar seorang yang garang. Bukan saja serangan-serangannya, tetapi Macan Kebranang itu telah mengaum benar-benar seperti seekor harimau yang garang.

Tetapi lawannya adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu maka serangan-serangan harimau yang marah itu sama sekali tidak menggetarkannya.

Ternyata bahwa Macan Kebranang tidak segera dapat menguasai lawannya. Serangan-serangannya banyak yang tidak menyentuh sasarannya. Berkali-kali Macan Kebranang itu berloncatan menerkam. Namun laki-laki itu dengan tangkasnya mengelak dan bahkan berganti menyerang.

Ketika kedua tangan Macan Kebranang itu terjulur menggapai leher laki-laki itu, maka laki-laki itu pun dengan sigapnya mengelak. Sambil merendahkan diri, kali laki-laki itu tiba-tiba saja terjulur lurus menyamping.

Macan Kebranang terkejut. Tetapi ia tidak mampu lagi mengelak ketika kaki itu mengenai lambungnya.

Kemarahan Macan Kebranang bagaikan membakar ubun-ubunnya ketika ia terpelanting jatuh. Sambil menggeram Macan Kebranang itu bangkit berdiri.

“Kau telah membuat kesalahan yang sangat besar” geram Macan Kebranang.

“Kenapa”

“Kau adalah orang yang tidak tahu diri. Pada saat aku berniat sekedar memberi peringatan kepadamu, kau telah menyerang membabi buta dan sempat mengacaukan keseimbanganku. Karena itu, maka semua harapanmu untuk tetap hidup sudah lenyap. Jika semula aku hanya sekedar ingin memberimu peringatan, sekarang sikapku sudah berubah. Aku benar-benar ingin membunuhmu”

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Kau atau aku. Menurut penjajaganku, ternyata kemampuanmu tidak lebih dari kemampuan seorang pencuri jemuran. Aku menjadi heran, bahwa kau mengaku seorang pemimpin gerombolan yang bernama Macan Kebranang. Sebaiknya kau ganti namamu. Bukan Macan, tetapi kucing sakit-sakitan”

Orang itu menggeram marah sekali.-Tiba-tiba saja ia menempatkan sesuatu di ujung jari-jari tangannya kiri dan kanan.

“Kau sambung kuku-kukumu agar menyerupai kuku macan?” bertanya laki-laki itu.

Macan Kebranang mengumpat kasar. Katanya kemudian, “Kau akan menyesali kesombonganmu. Perempuan itu akan dicincang oleh kedua orang kawanku. Kernudian kau sendiri akan mengalaminya”

Tetapi laki-laki itu tertawa. Katanya, “Sempatkan melihat apa yang terjadi dengan kedua orang kawanmu yang bertempur melawan isteriku itu”

Macan justru membentak, “Kau ingin menipuku dengan licik. Pada saat aku memperhatikan kedua kawanku, kau akan menyerangku dengan tiba-tiba”

“Mungkin kau sering melakukan cara yang licik seperti itu. Tetapi aku tidak. Tetapi jika kau mencemaskan kemungkinan itu, biarlah aku mengambil jarak”

Laki-laki itu pun segera meloncat mundur sengaja memberikan kesempatan kepada Macan Kebranang untuk memperhatikan pertempuran antara kedua orang pengikutnya melawan isteri laki-laki itu.

Macan Kebranang memang menjadi berdebar-debar. Sulit untuk mempercayainya. Kedua orang pengikutnya yang sudah memiliki pengalaman yang luas di dunia olah kanuragan itu, ternyata tidak mampu membendung serangan-serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu. Beberapa kali kedua orang pengikut Macan Kebranang itu harus berloncatan surut. Bahkan seolah mereka bergantian terlempar dan jatuh terpelanting di tanah.

Terdengar suara-laki-laki itu, “Nah, apa yang kau lihat?”

Macan Kebranang itu mengaum dengan kerasnya. Jari-jari kedua tangannya pun kemudian mengembang. Yang nampak adalah kuku-kuku baja yang tajam di ujung setiap jari tangannya itu.

Dengan garangnya Macan Kebranang itu pun menyerang. Kedua tangannya terjulur dengan jari-jari terbuka menerkam tubuh laki-laki itu.

Tetapi laki-laki itu tidak membiarkan tubuhnya di koyak oleh kuku-kuku baja itu. Karena itu, maka laki-laki itu pun bergerak pula dengan cepat, mengelakkan serangan itu. Bahkan tiba-tiba saja laki-laki itu meloncat sambil berputar. Kakinya terayun dengan derasnya menghantam kening Macan Kebranang, sehingga sekali lagi Macan Kebranang itu terlempar dan jatuh berguling di tanah.

Dengan cepat Macan Kebranang bangkit. Ia pun segera bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun ketika laki-laki itu meluncur seperti anak panah, maka Macan Kebranang terkejut. Ia tidak mampu berbuat banyak ketika kaki laki-laki itu menghantam dadanya.

Macan Kebranang itu terdorong surut dengan derasnya. Tubuhnya menimpa sebatang pohon yang tumbuh di halaman. Terdengar tulang-tulangnya bagaikan berderak-dan retak.

Dengan susah payah Macan Kebranang itu bangkit berdiri. Namun rasa-rasanya sulit baginya untuk dapat bertempur lagi mengimbangi lawannya yang bergerak dengan cepat

Nampak kecemasan membayang di wajah Macan Kebranang. Sebagai seorang gegedug ia sudah bertualang sampai kemana-mana, sebelum pada suatu saat ia membangun sebuah sarang gerombolan yang diberinya nama seperti nama yang dipakainya sendiri. Macan Kebranang. Namun selama petualangnya yang lama, Macan Kebranang belum pernah menemui lawan seperti lak-laki yang malam itu dilawannya. Begitu tenang tetapi mapan.

Ketika ia menyempatkan diri untuk berpaling, melihat keadaan kedua orang kawannya, maka ternyata keduanya juga sudah kehilangan kesempatan untuk memenangkan pertarungan itu. Keduanya bergantian jatuh terpelanting, terlempar atau terjerembab, sehingga keduanya seolah-olah sudah tidak bertenaga lagi.

Namun dalam pada itu, ternyata perkelahian di malam hari itu telah membangunkan beberapa orang tetangga Nyi Sumi. Ketika dua tiga orang laki-laki yang terhitung berani mencoba untuk menjenguk lewat pintu gerbang yang terbuka maka jantung mereka pun menjadi berdebaran. Ternyata di halaman rumah Nyi sumi itu telah terjadi pertempuran yang sengit. Pertempuran antara orang-orang yang berilmu yang menurut penglihatan tetangga-tetangga Nyi Sumi adalah pertempuran yang sengit.

“Kami tidak berani mencampurinya, ” berkata seorang diantara mereka.

“Lalu apa yang harus kita lakukan. Jika terjadi sesuatu dengan Nyi Sumi dan anaknya serta perempuan. yang mengemban anaknya itu, maka kita akan menyesalinya ketidakmampuan kita menyelamatkannya”

“Pukul kentongan dengan nada titir”

“Ya. Pukul kentongan”

Demikianlah maka sejenak kemudian terdengar suara kentongan-dengan irama titir. Yang mula-mula terdengar adalah suara kentongan yang bergantung di serambi banjar. Kentongan yang besar yang suaranya memenuhi padukuhan.

Sejenak kemudian, maka suara kentongan itu pun bersambut. Kentongan yang lain pun telah dibunyikan pula dengan irama titir.

Laki-laki dan perempuan yang hampir saja menyelesaikan lawan-lawan mereka itu pun berloncatan surut untuk mengambil jarak. Dengan lantang laki-laki itu berkata, “Ki Sanak. Sebentar lagi, semua laki-laki di padukuhan ini akan keluar. Aku berdua akan pergi. Jika kalian mencoba untuk melawan mereka, maka kalian tentu akan dicincang disini. Kalian sudah tidak berdaya lagi. Tenaga kalian sudah terkuras habis. Karena itu, terserah, apa yang akan kalian lakukan”

Sekejap kemudian, maka kedua orang suami isteri itu pun telah berloncatan masuk ke dalam kegelapan.

Macan Kabranang termangu-mangu sejenak. Jika saja tenaga dan kemampuan mereka masih utuh, maka mereka tidak akan gentar menghadapi orang-orang padukuhan. Meskipun mereka akhirnya tidak dapat memenangkan pertempuran melawan orang se padukuhan, namun mereka yakin, bahwa korban akan banyak yang jatuh, sementara mereka yakin, bahwa mereka akan dapat meloloskan diri.

Tetapi menghadapi orang-orang padukuhan dalam keadaan yang sulit itu, maka akibatnya akan dapat buruk sekali bagi mereka.

Karena itu, maka mereka bertiga pun kemudian sepakat untuk meninggalkan halaman rumah itu. Tetapi mereka tidak keluar dari halaman lewat pintu regol halaman, tetapi dengan susah payah sambil menyeringai menahan sakit, mereka pergi ke kebun belakang dan keluar lewat pintu butulan.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, maka jalan-jalan pun telah dipenuhi oleh banyak orang yang terbangun karena suara kentongan. Mereka berlari-larian pergi ke banjar, karena mereka tahu, bahwa kentongan yang pertama di bunyikan adalah kentongan di banjar. Di banjar mereka mendapat keterangan bahwa telah terjadi perampokan di rumah Nyi Sumi.

“Apa yang dirampok di rumah janda itu?”

“Perempuan yang membawa anak itu adalah perempuan yang sebelumnya diikuti oleh Nyi Sumi”

“Apa ia seorang perempuan yang kaya, yang membawa perhiasan mas berlian, sehingga segerombolan perampok datang ke rumahnya malam ini?”

“Entahlah”

“Atau mungkin ada persoalan lain?”

“Entahlah”

“Membalas dendam barangkali?”

“Entahlah”

“Jadi apa?”

“Entahlah”

Yang bertanya pun kemudian terdiam.

Baru kemudian, setelah mereka sampai di rumah Nyi Sumi, maka mereka pun baru tahu apa yang telah terjadi. Tanjung mendengar semua pembicaraan orang-orang yang berada di luar rumah itu. Sedangkan Nyi Sumi dan Mulat mendengar sebagian besar dari pembicaraan orang-orang yang datang ke rumahnya itu.

“Mereka menginginkan bayi itu, Ki Bekel” jawab Nyi Sumi ketika Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang ke rumahnya dan bertanya tentang peristiwa yang terjadi di rumah itu.

“Ada apa sebenarnya dengan bayi itu?” bertanya Ki Bekel.

“Aku tidak tahu, Ki Bekel. Tetapi menurut mereka, suara tangis bayi itu sangat menarik perhatian”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Kasihan anak itu. Ia dapat menjadi rebutan. Bukan saja dua pihak sebagaimana yang baru datang. Tetapi mungkin akan datang pihak-pihak yang lain lagi”

“Ya” Ki Bekel menyahut. Tetapi nadanya terasa berbeda. Dengan kerut di dahi Ki Bekel itu pun berkata, “Sebelum ada bayi itu, jarang sekali terjadi kerusuhan disini. Tiba-tiba saja sekarang daerah ini menjadi sangat rawan. Daerah ini akan dapat menjadi ajang pergulatan antara beberapa gerombolan orang-orang yang berilmu tinggi”

“Kita harus ikut campur, Ki Bekel”

“Ikut campur apa maksud Ki Jagabaya?”

“Kita harus melindungi anak itu. Bukankah itu menjadi kewajiban kita melindungi rakyatnya?”

“Tetapi anak itu beserta ibunya bukan penghuni padukuhan ini”

“Mereka sekarang tinggal di sini, Ki Bekel”

“Tetapi bukankah kalian belum memberikan laporan kepadaku, sehingga kami masih belum ikut bertanggung jawab atas keselamatan kalian”

“Datanglah besok menemui Ki Bekel untuk melaporkan keberadaan bayi itu bersama ibunya disini. Maka setelah itu, kalian akan berada di bawah perlindungan kami”

“Aku tidak berkeberatan memberikan perlindungan Ki Jagabaya. Tetapi kita harus melihat kenyataan. Jika orang-orang berilmu tinggi itu datang, apa yang akan kita perbuat?”

“Kalau kita seluruh padukuhan ini bergerak?”

“Jika kau masih hidup, kau akan dapat menghitung, berapa banyak mayat akan berserakan di jalan-jalan utama padukuhan kita ini”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun sambil menarik nafas panjang ia pun berkata, “Apa pun caranya, tetapi menjadi kewajiban kita untuk melindungi rakyat kita. Mungkin aku dapat minta bantuan beberapa orang berilmu dari perguruan-perguruan yang aku kenal. Setidak-tidaknya perguruanku sendiri”

Ki Bekel menarik nafas panjang.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Bekel pun minta diri. Kepada Ki Jagabaya, Ki Bekel itu bertanya, “Ki Jagabaya mau pulang sekarang atau nanti?”

“Nanti Ki Bekel. Mungkin aku menunggu fajar”

Ki Bekel menarik nafas panjang. Namun ia pun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan rumah itu setelah minta diri kepada Nyi Sumi, Mulat dan Tanjung.

Tetapi Ki Jagabayaa tetap tinggal di rumah Nyi Sumi bersama beberapa orang tetangga.

Kepada Nyi Sumi, Ki Jagabaya pun berkata, “Jangan takut, Yu Sumi. Kami akan melindungimu. Aku akan minta bantuan satu dua orang saudara seperguruanku”

“Terima kasih, Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya dan beberapa orang laki-laki berada di rumah Nyi Sumi sampai fajar. Baru ketika langit menjadi merah, mereka pun minta diri.

Nyi Sumi sendiri, Mulat dan Tanjung tidak dapat tidur lagi. Sepeninggal Ki Bekel, Mulat justru pergi ke dapur untuk merebus air. Dibuatnya wedang jahe dan dihidangkannya kepada Ki Jagabaya dan tetangga-tengganya yang masih ada di rumahnya sampai fajar.

Namun peristiwa malam itu telah membuat seisi rumah itu menjadi gelisah. Apalagi jika mereka mengingat pernyataan Ki Bekel, bahwa sebelum ada bayi di padukuhan itu, keadaan padukuhan itu terasa tenang.

“Apakah anakku telah membuat padukuhan ini bergejolak?” bertanya Tanjung kepada diri sendiri.

Didekapnya Tatag di dadanya. Air yang bening menitik dari matanya, membasahi wajah anak itu.

Tatag membenamkan wajahnya di dada ibunya, seakan-akan ingin menghapus titik air mata yang jatuh di wajahnya itu. Bahkan anak itu seakan-akan berkata, “Jangan menangis ibu”

Tanjung mencium anaknya. Air matanya semakin membasahi wajah, anak itu. Sedangkan Tatag memandanginya dengan kerut-kerut di dahinya.

Ketika Nyi Sumi mendekatinya, maka Tanjung itu pun berkata dengan sendat, “Ibu. Apakah anakku telah mengganggu ketenangan hidup di padukuhan ini?”

“Tidak, ngger. Tidak”

“Bukankah ibu juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Bekel?”

“Tetapi bukankah kau juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Jagabaya?”

“Tanjung” Mulat yang mendekat pun menyela, “Kau belum mengenal sifat dan watak Ki Bekel. Ia seorang pemimpin yang malas. Ia selalu berusaha menghindar dari tugas-tugas yang terasa berat. Yang diinginkannya, segala sesuatunya akan dapat menjadi baik dengan sendirinya, tanpa harus berbuat sesuatu. Selama ini yang bekerja keras memang Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu. Sedangkan Ki Bekel lebih senang menikmati kedudukannya tanpa melakukan apa-apa. Yang diharapkannya adalah pisungsung dari rakyatnya. Bahkan kadang-kadang dengan memberikan kesan-kesan tertentu yang bernada mengancam”

Tanjung menarik nafas panjang.

“Karena itu, jangan berpikir yang macam-macam Tanjung. Semua orang tahu, sifat dan watak Ki Bekel. Tetapi banyak orang yang tentu bersedia melindungimu, termasuk Ki Jagabaya”

“Ya, yu”

Sebenarnyalah bahwa Ki Jagabaya tidak membiarkan keluarga Nyi Sumi itu menjadi ketakutan. Ia telah memerintahkan anak-anak muda untuk semakin giat meronda dan bahkan berkeliling padukuhan. Mereka harus membagi daerah perondan mereka dengan jelas, sehingga tidak ada rumah yang tidak dilewati para peronda keliling di malam hari.

“Jangan hanya sekali berkeliling. Tetapi sedikitnya tiga kali. Di wayah sepi uwong sekali. Di tengah malam sekali dan di dini hari sekali”

“Baik, Ki Jagabaya” jawab anak-anak muda. Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda itu tidak hanya mengiakan saja perintah Ki Jagabaya. Tetapi mereka benar-benar-menjalaninya. Anak-anak muda yang mendapat giliran meronda itu setiap malam nganglang tiga kali sebagaimana di kehendaki oleh Ki Jagabaya.

Sementara itu, Ki Jagabaya sendiri juga sering memerlukan datang ke rumah Nyi Sumi. Setiap kali Ki Jagabaya selalu menanyakan keselamatan bayi yang tangisnya sangat menarik perhatian itu.

“Bagaimana keadaan anakmu Tanjung?” bertanya Ki Jagabaya ketika sedikit lewat senja ia datang ke rumah Nyi Sumi.

“Baik-baik saja Ki Jagabaya”

“Sukurlah. Tetapi tangis anakmu memang menarik sekali. Ada yang lain dari tangis kebanyakan bayi yang pernah aku dengar. Bahkan anak-anakku sendiri”

“Sebenarnya apanya yang terasa lain Ki Jagabaya?” bertanya Tanjung yang setiap kali mendengar kata orang bahwa tangis anaknya itu terdengar lain dengan tangis bayi-bayi kebanyakan.

“Sulit untuk mengatakan. Tetapi seorang yang mendengarkan anakmu menangis, terasa jantungnya bergetar. Tangis itu seakan-akan melontarkan kekuatan tertentu, sehingga pengaruhnya terasa oleh mereka yang mendengar tangis anakmu itu”

“Aku tidak pernah merasakan kelainan itu”

“Karena kau ibunya. Kau tentu berada terlalu dekat dengan anak itu. Seakan-akan antara kau dan anakmu itu tidak ada jarak. Justru karena itu, maka apa yang ada pada anakmu itu rasa-rasanya biasa-biasa saja.”

Tanjung hanya dapat menarik nafas.

“Sudahlah. Sebaiknya kau tidur tidak terlalu malam. Selagi anakmu tidur, sebaiknya kau juga tidur. Nanti malam anakmu tentu terbangun pada waktu yang tidak dapat ditentukan. Setelah itu belum tentu anakmu akan segera dapat tidur lagi, sehingga kau pun harus berjaga-jaga menungguinya”

“Ya, Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya pun kemudian telah minta diri.

Sikap Ki Jagabaya rasa-rasanya dapat memberikan ketenangan kepada keluarga Nyi Sumi yang terdiri dari tiga orang janda itu. Rasa-rasanya keberadaan Ki Jagabayadi rumah itu, bagaikan payung yang lebar yang memberikan perlindungan disaat matahari yang terik membakar langit Juga memberikan perlindungan di saat air hujan tertumpah dari awan kelabu.

Karena itu, jika Ki Jagabaya tidak datang sehari saja, keluarga kecil itu menjadi gelisah.

Tetapi yang tidak diduga itu pun telah terjadi.

Di pagi hari, sebelum Tanjung sempat memandikan anaknya, telah datang kerumah yang sederhana itu, Nyi Jagabaya. Tanpa bertanya apa-apa, Nyi Jagabaya langsung membentak-bentak marah.

“Mana Tanjung” teriak Nyi Jagabaya.

“Ada apa Nyi? Ada apa?” bertanya Nyi Sumi dengan sareh.

“Mana perempuan jalang itu?”

“Kenapa dengan Tanjung, Nyi?” bertanya Mulat.

“Kalian tidak usah mencampuri urusanku dengan Tanjung. Aku akan membunuh jalang itu”

“Kenapa? Apa yang sudah dilakukan?”

“Kau masih bertanya Mulat. Begitu bodohnya kau yang sudah ubanan itu. Bukankah kau perempuan juga seperti aku? Seperti Tanjung? Bukankah pada suatu saat kau merasa membutuhkan seorang laki-laki? Aku tahu, kau pernah menikah Mulat. Kalau suamimu mati, itu adalah nasibmu. Tetapi bukankah kau membiarkan suamimu mati tanpa bersedih?”

“Aku tidak tahu maksud Nyi Jagabaya”

“Sekarang panggil Tanjung”

“Tanjung baru mempersiapkan air hangat untuk memandikan anaknya. Nyi”

“Aku tidak peduli. Panggil Tanjung”

Tanjung yang beradadi biliknya untuk menyiapkan air hangat bagi Tatag, mendengar suara Nyi Jagabaya yang melengking-lengking itu. Karena itu, maka ditinggalkannya anaknya untuk datang menemui Nyi Jagabaya.

“Nah, itu. Jalang itu. He, kau dapat saja melacur dimana kau mau. Tetapi jangan di padukuhan ini. Jangan pula mencoba memikat suamiku. Aku masih memerlukannya. Ia masih aku anggap penting bagiku dan bagi anak-anakku”

Tanjung terkejut sekali mendengar umpatan itu. Sebelum ia sempat menyahut, Nyi Jagabaya telah berteriak lagi, “Tanjung. Kau apakan suamiku, he? Guna-guna apa yang kau pergunakan untuk membuat suamiku lupa kepada anak isterinya.

“Nyi” suara Tanjung terdengar bergetar, “Aku tidak mengerti maksud Nyi Jagabaya”

“Tentu saja kau berpura-pura bodoh. Berpura-pura lugu dan seakan-akan tidak tahu apa-apa. Biasanya para pelacur juga berbuat seperti yang kau lakukan itu”

“Nyi Jagabaya” potong Nyi Sumi, “anakku itu orang baik-baik. Ia baru saja ditinggal suaminya meninggal. Anaknya pun masih bayi. Bagaimana mungkin Nyi Jagabaya mengatakan bahwa ia seorang pelacur?”

“Ia bukan anakmu Nyi. Semua orang tahu, bahwa anakmu hanya satu, Mulat. Perempuan itu tentu pelacur yang kapiran dan kau bawa pulang. Suaminya mati karena sedih memikirkan tingkah lakunya”

“Nyi. Itu sudah keterlaluan” potong Mulat, “sebaiknya Nyi Jagabaya pulang. Berbicara dengan Ki Jagabaya. Menurut penglihatanku, jika Ki Jagabaya datang kemari, yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjalankan tugasnya melindungi rakyatnya”

“Ya. Mula-mula itulah yang dilakukan. Tetapi pelacur itu selalu menggodanya. Berusaha menarik perhatiannya dan kemudian menjeratnya”

“Tidak. Tidak. Itu tidak pernah aku lakukan” Tanjung mulai menangis betapa pun ia mencoba bertahan.

“Bohong. Kau berkata begitu karena kau tahu aku isterinya. Jika aku bukan isteri Ki Jagabaya, kau akan berceritera dengan bangga, bahwa kau dapat merebut hati Ki Jagabaya dan kemudian mengendalikannya seperti mengendalikan kerbau yang sudah dicocok hidungnya”

“Tidak, ibu. Tidak. Aku tidak melakukannya” tiba-tiba saja Tanjung itu memeluk Nyi Sumi, Ia masih bertahan untuk tidak menangis meski pun air matanya membasahi bahu Nyi Sumi.

“Aku tahu. Kau tidak melakukannya, ngger. Tenanglah. Aku tahu. Semua orang tahu bahwa kau tidak melakukannya.

“Nyi” berkata Mulat kemudian, “Aku minta Nyi Jagabaya meninggalkan rumah ini. Aku akan menyelesaikan persoalan ini dengan Ki Jagabaya”

“Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum aku yakin bahwa pelacur itu tidak akan mengganggu suamiku lagi”

“Baik. Jika Nyi Jagabaya tidak mau pulang dan tetap menuduh adikku sebagai seorang pelacur, maka aku juga akan mempergunakan cara yang kasar untuk meredam ceritera khayalan Nyi Jagabaya”

“Kau mau apa?”

“Nyi Jagabaya sangka, bahwa aku tidak tahu apa yang pernah Nyi Jagabaya lakukan selama kau menjadi isteri Ki Jagabaya? Orang-orang padukuhan ini memang berusaha melupakan ceritera buruk itu. Tetapi jika perlu, aku akan mengungkit kembali ceritera itu”’

“Ceritera apa?”

“Apakah Nyi Jagabaya tidak ingat lagi kepada laki-laki nista yang sering menggembalakan itik di pinggir sungai itu? Hantu manakah yang waktu itu merasuk di hati Nyi Jagabaya, sehingga Nyi Jagabaya telah selingkuh dengan gembala yang tidak berharga di mata orang banyak itu? Laki-laki itu sering mencuri, sering menipu dan berpura-pura. Bukankah laki-laki itu bagaikan pecahan gerabah saja jika ia dibandingkan dengan Ki Jabagaya? Ia memang seorang laki-laki yang gagah. Seorang laki-laki yang tampan. Tubuhnya kokoh kuat. Agaknya itulah yang telah menarik hati Nyi Jagabaya”

“Cukup” Nyi Jagabaya itu pun berteriak.

“Waktu itu Ki Jagabaya sudah memaafkanmu meski pun Ki Jagabaya mengetahui apa yang telah terjadi”

“Bohong. Itu kabar bohong”

“Nyi. Aku masih akan membuka rahasiamu lebih dalam lagi jika kau tidak mau berhenti menuduh adikku yang bukan-bukan. Adikku ini lebih bersih dari kau, Nyi. Jika kau menganggap adikku ini sampah, maka kau adalah sampah yang telah membusuk”

Tanjung pun melepaskan ibunya. Ia justru memeluk Mulat yang hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya.

“Sudahlah, yu. Sudah”

“Bukan aku yang memulainya, Tanjung. Tetapi perempuan itu”

Wajah Nyi Jagabaya menjadi merah padam. Namun kemudian ia pun melangkah cepat-cepat meninggalkan rumah Nyi Sumi.

“Agaknya beberapa orang tetangganya mendengar pertengkar-an itu. Semula hanya seorang saja yang mendengarnya ketika perempuan itu kebetulan lewat. Namun kemudian yang seorang itu telah memberitahukan kepada seorang yang lain dan yang lain lagi.

Lima orang perempuan yang kemudian datang ke rumah Nyi Sumi untuk menanyakan persoalan apa saja yang dipertengkar-kan dengan Nyi Jagabaya.

Nyi Sumi, Mulat dan Tanjung tidak dapat berbohong. Perempuan yang pertama telah mendengar kata-kata keras Nyi Jagabaya, sehingga perempuan itupun.tahu pasti, untuk apa Nyi Jagabaya datang ke rumah Nyi Sumi untuk menemui Tanjung.

“Aku menjadi sedih sekali” desis Tanjung sambil mengusap matanya yang basah.

“Jangan hiraukan Tanjung. Perempuan itu memang seorang perempuan yang kasar. Apalagi setelah menjadi isteri Ki Jagabaya. Ia merasa bahwa ia adalah perempuan yang mempunyai kedudukan tertinggi di samping Nyi Bekel”

“Tetapi hatiku telah terluka”

“Anggap saja seperti kicau burung di pagi hari” Sedangkan perempuan yang lain pun berkata, “Nyi Jagabaya memang tidak tahu diri. Seharusnya ia dapat menilai dirinya sendiri. Perempuan macam apakah dirinya itu? Kecuali jika hatinya putih seperti kapas, ia dapat menyalahkan orang lain”

Perempuan-perempuan itu memang dapat membesarkan hati Tanjung. Tetapi jika persoalannya akan berulang dan berulang, maka hidupnya tentu tidak akan pernah merasakan tenang.

Hari itu Tanjung selalu dibayangi oleh kegelisahannya. Agaknya kegelisahan Tanjung itu telah mempengaruhi ketenangan anaknya pula, sehingga Tatag pun menjadi agak rewel. Tidak biasanya Tatag merengek-rengek. Tatag adalah seorang anak yang jarang sekali menangis. Tetapi jika ia menangis, maka rasa-rasanya rumah sederhana itu bagaikan terguncang.

“Sudahlah, Tanjung. Lupakanlah. Ki Jagabaya tentu akan menjelaskan kepada isterinya, bahwa setiap kali ia datang kemari, semata-mata karena ia menjalankan tugasnya melindungi rakyatnya yang terancam bahaya.

Menjelang senja, Tanjung memang menjadi agak tenang. Ketika anaknya tidur, Tanjung pergi ke pakiwan untuk mandi, kemudian berbenah diri. Baru kemudian ia pergi ke dapur membantu Mulat yang menyiapkan makan malam bagi mereka.

“Sudahlah Tanjung. Tunggui saja anakmu”

“Anak itu tidur, yu”

Ketika kemudian malam turun, maka mereka bertiga pun duduk di ruang dalam untuk makan malam bersama-sama.

Namun sebelum mereka mulai makan, mereka terkejut ketika pintu rumah yang sudah ditutup itu diketuk orang.

“Siapa?” bertanya Mulat.

“Aku “

Suara itu telah mendebarkan jantung ketiga orang perempuan itu. Suara itu adalah suara Ki Jagabaya.

Mulatlah yang kemudian bangkit untuk membuka pintu. Sebenarnyalah yang datang itu adalah Ki Jagabaya”

“Marilah Ki Jagabaya. Atau barangkali Ki Jagabaya sudi makan bersama kami?”

“Terima kasih, aku sudah makan. Aku hanya sebentar”

Nyi Sumi dan Mulat pun kemudian menemui Ki Jagabaya, sedangkan Tanjung justru pergi ke biliknya.

“Ada yang ingin aku tanyakan” berkata Ki Jagabaya kemudian, “apakah isteriku pagi tadi datang kemari?”

“Ya, Ki Jagabaya. Begitu Nyi Jagabaya datang, Nyi Jagabaya pun langsung marah-marah. Nyi Jagabaya telah menuduh Tanjung berbuat yang bukan-bukan”

“Biarlah aku yang minta maaf atas kelakuan isteriku. Aku sudah menjelaskannya. Ia tidak akan datang untuk kedua kalinya”

“Terima kasih, Ki Jagabaya”

“Dimana Tanjung sekarang?”

“Menunggui anaknya, Ki Jagabaya”

“Tolong. Aku ingin bertemu. Sebentar saja”

Nyi Sumi sempat menjadi ragu, Namun ia pun kemudian bangkit dan pergi ke bilik Tanjung.

“Ki Jagabaya ingin bertemu, Tanjung”

“Tolong ibu, katakan bahwa anakku baru akan tidur”

“Ki Jagabaya tentu akan menunggu. Karena itu, temui sebentar. Ia akan segera pulang”

Tanjung tidak membantah. Ia pun kemudian keluar dari biliknya untuk menemui Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya memang hanya sebentar. Ia hanya minta maaf bagi isterinya.

Seperti. yang dikatakannya kepada Nyi Sumi, Ki Jagabaya itu pun berkata, “Peristiwa seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi, Tanjung”

“Terima kasih atas perhatian Ki Jagabaya. Tetapi sebaiknya Ki Jagabaya juga tidak usah sering datang kemari. Aku sudah merasa aman jika kami mendengar suara kotekan anak-anak muda yang meronda.

“Aku merasa harus menjalankan kewajibanku, Tanjung. Tetapi aku akan mendengarkan pendapatmu itu”

Ki Jagabaya pun kemudian telah minta diri. Katanya pula, “Masih ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan”

“Silahkan Ki Jagabaya”

Sepeninggal Ki Jagabaya, maka Nyi Sumi pun berdesis, “Mudah-mudahan yang dikatakan Ki Jagabaya itu benar, bahwa Nyi Jagabaya tidak akan datang lagi dan mempersoalkan suaminya itu”

Meski pun demikian, ternyata Tanjung yang sudah hampir berhasil meredam gejolak hatinya, rasa-rasanya bagaikan diungkit lagi.

“Ibu dan mbokayu” berkata Tanjung kemudian, “Aku kira sebaiknya aku tidak tinggal disini”

“Tidak tinggal disini? Jika kau tidak tinggal di sini, kau akan tinggal dimana?”

Tanjung menundukkan wajahnya. Pertanyaan itu memang tidak dapat dijawabnya. Ia sendiri-rasa-rasanya sudah tidak mempunyai sanak kadang yang akan dapat menerimanya.

Namun dengan suara yang lemah Tanjung itu berdesis, “Tetapi keberadaanku disini ternyata menimbulkan persoalan. Aku telah membuat padukuhan ini tidak tenang. Aku juga sudah membuat keluarga Ki Jagabaya terguncang. Sementara itu nampaknya Ki Jagabaya memerlukan dukungan bagi tugas-tugasnya oleh Nyi Jagabaya. Setidak-tidaknya dukungan jiwani”

“Jangan berpikir macam-macam Tanjung. Asal kita tidak berniat menyalahi orang lain, maka yang terjadi itu adalah dituar tanggung jawab kita”

Tanjung pun terdiam.

“Sudahlah Tanjung. Bukankah kita akan makan malam?”

Mereka pun kemudian duduk kembali dan bersiap-siap untuk makan. Tetapi selera Tanjung sudah hilang.

Meskipun demikian, Tanjung masih juga berusaha untuk menyuapi mulutnya.

“Kau harus makan banyak Tanjung. Kau mempunyai anak kecil yang masih harus kau susui” Mulat mencoba untuk bergurau.

Tanjung memang tersenyum. Namun ia tidak menjawab.

Setelah makan malam, Tanjung membantu Mulat mencuci mangkuk dan alat-alat dapur yang masih kotor. Sementara itu Nyi Sumi duduk menunggui Tatag yang sedang tidur nyenyak.

Dipandanginya wajah Tatag yang bersih. Bahkan didalam tidurnya Tatag itu tersenyum-senyum. Agaknya anak itu bermimpi indah.

Namun dalam suasana yang sepi, Nyi Sumi sempat bertanya-tanya didalam hatinya”Siapakah yang telah sampai hati membuang bayinya yang manis, tampan, putih dan sehat ini? Apakah anak ini tidak jelas siapa ayahnya, atau karena sebab-sebab lain. Atau memang anak genderuwo atau wewe?”

Nyi Sumi menarik nafas panjang. Ia pun kemudian bertanya pula kepada diri sendiri, “Kenapa tangisnya dapat menarik perhatian banyak orang? Kenapa perempuan sebelah yang mempunyai anak sebaya Tatag juga merasakan bahwa tangis Tatag berbeda dengan tangis anaknya?”

Namun Nyi Sumi tidak tahu jawab pertanyaan-pertanyaan yang bergejolak didalam hatinya itu.

Dalam pada itu, setelah selesai pekerjaannya di dapur, maka Tanjung pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Dilihatnya ibu angkatnya itu masih saja duduk sambil mengusir nyamuk yang terbang diatas tubuh Tatag.

“Anakmu tidur nyenyak sekali Tanjung”

“Mungkin anak itu letih, ibu”

“Aku menjadi cemas, bahwa kegelisahannya siang tadi akan dibawanya ke dalam mimpinya. Tetapi ternyata anak itu justru tersenyum-senyum dalam tidurnya”

“Sukurlah. Mudah-mudahan anak itu tidak sering menangis malam ini”

“Kau pun harus segera tidur Tanjung. Mungkin anak itu akan terjaga. Kau pun harus ikut bangun pula”

“Ya, ibu” jawab Tanjung.

Nyi Sumi pun meninggalkan Tanjung yang kemudian berbaring disisi Tatag yang masih tidur nyenyak.

Beberapa saat kemudian, seisi rumah itu sudah tertidur pula. Mulat tidur di dalam biliknya. Demikian pula Nyi Sumi. Sedangkan Tanjung tidur disebelah anaknya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka gardu-gardu parondan pun mulai terisi. Pada wayah sepi bocah, kentong di gerdu-gerdu perondan itu pun telah dibunyikan, memanggil para peronda yang masih belum ke gardu. Namun biasanya tidak hanya mereka yang meronda yang berada di gardu, tetapi kawan-kawan mereka yang masih belum tidur juga pergi ke gardu untuk sekedar berkelakar, bergurau dan mengisi waktu bersama kawan-kawan mereka.

Seperti pesan Ki Jagabaya, pada saat wayah sepi uwong, sebagian dari anak-anak muda itu pun telah pergi nganglang melalui jalan-jalan kecil di padukuhan mereka menurut daerah masing-masing. Mereka membawa kentongan-kentongan kecil yang mereka bunyikan disepanjang jalan dengan irama kotekan.

Namun dalam pada itu, beberapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul perdu memperhatikan anak-anak yang sedang meronda itu sambil tersenyum-senyum. Seorang diantara mereka pun berkata, “Rajin juga anak-anak itu meronda”

“Bukankah ketokan itu merupakan isyarat bagi kita?

“Isyarat?”

“Ya. Demikian mereka lewat, maka kita harus segera mengambil perempuan dan anaknya itu”

“Ya”

“Para peronda baru akan nganglang lagi nanti tengah malam. Masih ada waktu cukup”

“Baik. Kita akan pergi ke rumah itu. Kita akan singgah di kebun kosong sebentar. Bukankah kita harus menemuinya di sebelah sumur mati itu”

“Ya. Mari, jangan kehilangan waktu. Anak-anak yang meronda itu sudah lewat”

Beberapa orang itu pun mulai bergerak. Mereka akan singgah di kebun kosong sebelah jalan untuk menemui seseorang di dekat sumur mati.

Orang yang akan mereka temui itu memang sudah menunggu di dekat sumur mati itu. Demikian beberapa orang itu datang kepadanya, maka orang didekat sumur mati itu pun segera menemui sambil berkala, “Bagus. Nampaknya kalian sudah siap”

“Tentu” jawab seorang diantara beberapa orang itu, yang agaknya pemimpin mereka.

“Lakukan sekarang. Peronda itu baru saja nganglang. Mereka akan bergerak lagi lengah malam. Sebelum lengah malam kalian harus sudah berhasil membawa perempuan itu besena anaknya”

“Tugas apakah ini sebenarnya? Begitu mudahnya. Namun nanfpaknya kau sangat gelisah”

“Aku memang gelisah. Ada beberapa pihak yang menginginkan perempuan dan anaknya itu”

“Percayakan kepada kami”

“Sebelumnya Macan Kabranang sudah datang. Tetapi ia pun gagal karena ada sepasang suami isteri yang juga datang untuk mengambil perempuan dan anak itu”

“Berapa orang yang menemani Macan Kabranang?”

“Tidak jelas”

“Aku membawa sekelompok orang. Ada delapan orang yang datang termasuk aku. Seandainya Macan Kabranang kembali malam ini, aku akan menyelesaikannya. Orang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi Macan Kabranang belum pernah menjajagi ilmu perguruan kita”

“Hati-hatilah”

“Kami akan berhati-hati”

“Jangan lupa. Bawa perempuan dan anaknya itu ke seberang. Aku akan segera menyusul”

“Baik. Kami akan menyelesaikan’sesuai dengan rencana yang telah kau susun”

Demikianlah, maka sekelompok orang itu pun segera meninggalkan orang yang menunggu di dekat sumur mati itu. Mereka menyelinap diantara semak-semak. Kemudian meloncati dinding halaman. Dengan hati-hati mereka pun langsung menuju ke rumah Nyi Sumi.

Rumah itu nampak sepi. Beberapa orang itu pun memasuki halaman dan menyelinap dibelakang gerumbul-gerumbul perdu.

Beberapa saat mereka menunggu. Setelah mereka yakin bahwa tidak akan ada hambatan apa pun juga, maka pemimpin gerombolan itu pun berkata, “marilah. Sekarang”

Mereka pun serentak bangkit. Dua orang langsung menuju ke pintu. Perlahan-lahan orang itu pun mengetuk pintu rumah Nyi Sumi.

Tetapi rumah itu sudah menjadi sepi. Semua penghuninya sedang tidur nyenyak didalamnya.

Orang yang mengetuk pintu itu mengulanginya. Lebih keras, sehingga Tanjung pun terbangun.

Perlahan-lahan Tanjung pun beringsut ke bilik Mulat. Di bangunkannya Mulat perlahan-lahan.

Demikian Mulat membuka matanya, Tanjung pun segera berdesis. “Ada apa?”

“Ada orang mengetuk pintu” bisik Tanjung.

Pintu itu pun telah diketuk lagi, sehingga Mulat pun mendengarnya.

Perlahan-lahan Mulat pun bangkit. Ketika ketukan di pintu itu menjadi semakin keras, Mulat pun bertanya, “Siapa yang mengetuk pintu?”

“Buka pintu. Jangan ribut”

“Siapa kau?”

“Cepat, buka pintu atau aku bakar rumahmu” Mulat termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa orang yang mengetuk pintu rumahnya itu bukan orang yang bermaksud baik.

Karena itu, maka Mulat. tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera pergi ke serambi samping. Dipukulnya kentongannya. Meski pun kentongan yang terbuat dari bambu itu kecil saja, tetapi suaranya justru melengking sampai ke gardu.

“Perempuan-perempuan iblis” geram pemimpin sekelompok orang yang mendatangi rumah Nyi Sumi. Mereka tidak lagi mengetuk pintu. Tetapi dua orang bersama-sama menghentakkan pintu rumah itu dengan kakinya, sehingga pintu itu pun terbuka/

“Tahan mereka yang akan masuk ke halaman” terdengar pemimpin sekelompok orang itu memberikan aba-aba, “tinggalkan mereka setelah aku bawa perempuan dan anaknya itu pergi”

“Baik Ki Lurah” jawab seorang diantara mereka.

Empat orang telah pergi ke depan regol. Ketika suara kentongan itu bersiambat, maka tiga orang telah berada di dalam rumah itu. Mereka pun dengan serta-merta telah menangkap Tanjung. Dengan ancaman sebilah pisau belati, maka seorang diantara mereka mendorong Tanjung sambil bertanya, “Mana anakmu?”

”Anakku telah dibawa orang” jawab Tanjung.

“Jangan bohong”

“Tidak. Aku tidak bohong. Anakku telah diculik seorang yang tidak aku kenal sebelumnya”

Tetapi seorang yang lain tiba-tiba saja menemukan Tatag di sentongnya.

“Anak itu ada disini”

“Nah, kau benar-benar sudah berbohong”

“Ya. Aku tidak mau kau bawa anakku”

“Tidak hanya anakmu. Tetapi kau juga akan kami bawa”

Tidak ada kesempatan bagi Tanjung untuk berbuat sesuatu. Seorang diantara mereka yang memasuki rumah itu, mengancam Tanjung dengan pisau belati.

“Cepat lakukan semua perintahku, atau anak ini akan-mati”

Nyi Sumi pun berdiri membeku. Mulat pun tidak lagi memukul kentongan.

Tanjung tidak dapat berbuat lain kecuali menggendong anaknya dan melakukan semua perintah dari pemimpin orang-orang yang memasuki rumah Nyi Sumi itu.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Sementara orang-orang padukuhan itu memang menjadi ragu-ragu melawan orang-orang yang berdiri di regol dengan pedang terhunus.

Beberapa saat kemudian, Tanjung dan anaknya telah hilang dari rumah itu. Mereka dibawa oleh sekelompok orang melalui jalan butulan di kebun belakang. Sementara itu orang-,orang yang tertahan sesaat di luar regol oleh beberapa orang bersenjata telanjang telah memasuki halaman. Orang-orang yang bersenjata telanjang itu telah menghilang dari halaman rumah Nyi Sumi.

Beberapa saat kemudian, Ki Bekel dan Ki Jagabaya pun telah datang pula. Seperti kedatangannya sebelumnya, Ki Bekel justru berkata, ”Perempuan dan anaknya itu telah mendatangkan gejolak di padukuhan ini. Sebelum mereka datang, tidak pernah terjadi kerusuhan yang jangat buruk seperti ini”

“Mereka tidak bersalah, Ki Bekel. Apalagi bayi itu”

“Lambat atau cepat, mereka akhirnya akan dibawa orang keluar dari padukuhan ini”

Tetapi Ki Jagabaya menyahut, “Satu pertanda kegagalan dari tugas kita sebagai bebahu di padukuhan ini, Ki Bekel”

“Tidak. Persoalan ini terlalu kecil untuk menyebut sebagai satu kegagalan dari kepemimpinanku. Ada seribu masalah yang sudah dapat kita pecahkan selama ini. Sementara itu, satu persoalan kecil yang sebenarnya dituar tanggung jawab kita, tidak akan dapat menghapus segala keberhasilan kita itu”

“Ki Bekel meremehkan jiwa sesama kita”

“Sama sekali tidak. Justru karena aku mencemaskan nasib rakyatku sendiri”

Ki Jagabaya tidak menyahut. Ia tahu, bahwa tidak ada gunanya untuk berbicara lebih panjang lagi.

Nyi Sumi dan Mulat hanya dapat menangis. Keduanya merasa bersalah atas hilangnya Tanjung dan anaknya. Nyi Sumilah yang mengajak Tanjung tinggal bersamanya. Demikian pula Mulat yang merasa mendapatkan seorang adik dengan anak laki-lakinya. Mulat sendiri tidak mempunyai anak, sehingga ia akan dapat ikut mengaku Tatag sebagai anaknya.

Tetapi tiba-tiba saja anak itu dan bahkan bersama Tanjung telah hilang.

Sementara itu, Tanjung yang menggendong Tatag telah digiring melalui lorong-lorong sempit menghindari orang-orang padukuhan yang berdatangan ke rumah Nyi sumi. Nampaknya diantara orang-orang itu terdapat orang yang sudah terbiasa dan mengenali lingkungan itu dengan baik. Mengenali liku-liku padukuhan itu seperti mengenali rumahnya sendiri. Orang itulah yang berjalan di paling depan dengan pedang telanjang. Kemudian pemimpin kelompok itu sambil mengancam dengan pisau belati, memaksa Tanjung berjalan lebih cepai.

“Jika kau sengaja mengacaukan perjalanan ini, maka anakmu akan mati”

Tanjung tidak menjawab. Ia menjadi sangat ketakutan. Didekapnya anaknya erat-erat agar anak itu tidak terbangun dan tidak mangis. Ia tahu akibatnya jika Tatag terbangun dan berteriak-teriak dengan kerasnya.

Beberapa saat kemudian, Tanjung dibawah ancaman pisau belati telah berada di luar padukuhan. Mereka pun kemudian berjalan dengan cepat melintasi bulak persawahan.

Pemimpin gerombolan yang mengambil Tanjung dari rumah Nyi Sumi itu pun berkata, “Kita sudah dapat bernafas sekarang. Tetapi ini belum berarti bahwa kita bebas sepenuhnya dari kejaran orang-orang padukuhan itu.

Tanjung tidak menjawab. Ketakutan yang sangat telah membuat otaknya bagaikan membeku. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya harus dilakukannya.

Gerombolan orang-orang yang garang itu pun kemudian membawa Tanjung mengambil jalan simpang. Mereka berbelok di simpang empat di tengah-tengah bulak itu.

Malam pun menjadi semakin malam. Beribu kunang-kunang nampak bertebaran di ujung daun padi yang tumbuh dengan suburnya di tanah persawahan sebelah menyebelah jalan. Sedangkan langit pun nampak bersih. Bintang-bintang di langit yang jumlahnya melampaui jumlah kunang-kunang yang melekat di daun padiku, hampak berkeredipan dari ujung sampai ke ujung cakrawala.

“Jangan berbuat macam-macam Tanjung” ancam pemimpin sekelompok orang yang membawanya, “Kita akan melewati jalan di dekat padukuhan itu. Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihat kita, apalagi mencoba menghalangi perjalanan kita, agar kami tidak usah membunuh”

Tanjung tidak menjawab. Lidahnya bagaikan membeku. Sementara itu dingin malam terasa semakin tajam menusuk kulit, bahkan seakan-akan sampai menembus tulang.

-oo0dw0oo-

Karya : SH Mintardja

Sumber DJVU http ://gagakseta.wordpress.com/

Convert by : DewiKZ

Editor : Dino

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

http://ebook-dewikz.com/ http://kang-zusi.info

edit ulang untuk blog ini oleh Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s