TW-03


kembali | lanjut

TW-03AKHIRNYA ketika sudah tidak berpengaruh lagi untuk memenangkan perkelahian itu, Wanda Geni terpaksa mengambil sikap. Baginya lebih baik untuk tetap hidup daripada mati terbunuh. Hidup baginya berarti masih terbuka bermacam-macam kemungkinan. Tetapi apabila ia terbunuh, maka semuanya akan segera terhenti.

Dengan demikian maka akhirnya ia mengambil kesimpulan untuk meninggalkan perkelahian. Betapapun kecewanya, ia terpaksa melepaskan keinginannya untuk membawa Ratri kali ini. Tetapi dengan demikian ia justru mendendam. Keinginannya untuk membawa gadis itu justru semakin mencengkam dadanya.

“Awas kalau lain kali,” ia menggeram di dalam hatinya, “Kali ini kebetulan Putut gila ini ikut mencampuri persoalan kita. Tetapi suatu ketika, aku pasti akan membawamu. Dan nasibmu akan menjadi lebih jelek lagi daripada nasibmu kini, seandainya kau tidak terlampau banyak ribut.”

Keputusan itu agaknya yang telah diambil oleh Wanda Geni. Karena apapun yang akan dilakukannya, sudah pasti bahwa ia bersama kawannya itu, tidak akan dapat mengalahkan lawannya. Sedang yang seorang lagi, yang berkelahi melawan Temunggul pun, sudah dapat diperhitungkannya pula, bahwa orang itu pun tidak akan dapat menang.

Karena itu, maka sejenak kemudian terdengarlah sebuah suitan nyaring dari mulut Wanda Geni. Dan setiap orang yang mendengar suitan itupun segera mengerti maksudnya. Mereka pasti akan segera meninggalkan medan.

Dugaan itu sama sekali tidak salah. Sejenak kemudian Wanda Geni pun segera meloncat surut, disusul oleh kedua kawannya hampir bersamaan, meskipun keduanya berkelahi di arena yang berbeda.

Sejenak kemudian, maka ketiganya segera berlari sekencang-kencang dapat mereka lakukan tanpa menghiraukan kawannya yang seorang yang sudah terluka itu. Melihat ketiga kawannya berlari, maka orang yang terluka itu pun mencoba untuk mengikuti mereka. Tetapi ketika ia tertatih-tatih berdiri, maka ia pun segera terjatuh lagi.

Temunggul dan kawannya berdiri termangu-mangu. Semula mereka akan mengejar lawannya yang seorang. Tetapi karena mereka melihat orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu tidak beranjak dari tempatnya, maka niat mereka pun di urungkannya. Mereka pasti tidak akan dapat berbuat apa-apa meskipun seandainya mereka berhasil menyusul ketiga orang yang berlari itu tanpa bantuan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.

“Kau tidak usah lari,” terdengar suara Putut itu melengking, “Kau tidak akan dibunuh, asal kau benar-benar menyadari segala macam kesalahanmu. Kau akan dibiarkan hidup, tetapi kau harus bersedia memberikan setiap keterangan yang diperlukan.”

Orang itu tidak menjawab.

“Kenapa kau diam saja?” bentak orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.

Orang itu masih belum menjawab.  “Bagaimana? Kalau kau tidak bersedia memberikan keterangan apapun tentang Panembahan Sekar Jagat, buat apa kau tetap hidup?”  Masih belum ada jawaban.

Orang yang menyebut dirinya bernama Putut Sabuk Tampar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau begitu baiklah. Kau memang tidak pantas dikasihani. Mungkin memang lebih baik mati bagimu. Tetapi kami sama sekali tidak ingin membunuhmu. Matilah kau karena kau tidak akan dapat bangkit dan meninggalkan tempat itu. Aku akan berpesan, setiap orang yang lewat besok pagi tidak boleh menyentuhmu sebelum kau benar-benar mati. Baru setelah kau mati, kau akan dikuburkan. Sebelumnya kau akan menjadi tontonan anak-anak, bahwa salah seorang anak buah Panembahan Sekar Jagat ternyata dapat juga terluka dan bahkan mati.”

“Persetan,” tiba-tiba orang itu menggeram. “Kalau benar-benar kau lakukan itu, berarti Kademangan ini akan kedatangan bencana yang maha besar. Tentu Panembahan Sekar Jagat tidak akan tinggal diam.”

Putut Sabuk Tampar mengerutkan keningnya, sedang Temunggul dan kawanya saling berpandangan sesaat.

Namun kemudian terdengar suara tertata Putut Sabuk Tampar dalam nada yang tinggi, “Kau memang senang berbicara yang aneh-aneh. Mati atau tidak mati, Wanda Geni pasti sudah akan banyak berceritera. Tentang kau yang terluka, tentang gadis-gadis yang cantik itu, dan tentang pengawal Kademangan yang sama sekali tidak berani berbuat sesuatu kalau tidak terpaksa oleh kepentingan pribadi. Sudah tentu Panembahan Sekar Jagat tidak akan marah kepada orang-orang Kademangan ini, sebab orang-orang di Kademangan ini adalah orang-orang yang baik hati, yang dengan suka rela menyerahkan apa saja yang diperlukan oleh Panembahan Sekar Jagat. Dan kebaikan hati itu pulalah yang mendorong aku datang ke tempat ini, untuk menggeser pengaruh Panembahan Sekar Jagat atas nama Resi panji Sekar.” Putut itu berhenti sejenak, lalu, “Nah, kau lihat, apakah anak muda yang bernama Temunggul ini berani berbuat sesuatu, kalau ia tidak terdorong oleh pamrih pribadinya, karena ia tidak mau kehilangan Ratri?”

Dada Temunggul berdesir mendengar sindiran itu. Dan Putut itu berbicara terus, kali ini kepada Temunggul, “Apakah kau akan ingkar?”

Temunggul tidak segera dapat menjawab.

“Sekarang, tolonglah gadis-gadis itu dan antarlah mereka segera pulang. Ayah dan ibu mereka pasti telah menunggu.
Temunggul menggigit bibirnya. Sejenak ia membeku ditempatnya.

“Kenapa kau termenung? Bukankah kau telah menyerahkan hidup matimu untuk keselamatanmu? Bukan untuk keselamatan Kademanganmu?” Putut itu berhenti sejenak. “Kau tidak usah ingkar. Kalau kau benar-benar berbuat untuk Kademangan ini, maka kau pasti sudah membuat sesuatu sejak Kademangan ini dijamah oleh Panembahan yang rakus itu. Ternyata kalian sama sekali tidak berbuat apa-apa. Nah, lain kali kamilah yang akan datang Utusan Resi Panji Sekar. Aku akan datang dengan beberapa orang kawanku. Dan aku mengharap suatu ketika aku akan bertemu lagi dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat.”

Temunggul masih saja membisu, tetapi debar jantungnya serasa menjadi kian cepat.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya Putut itu. “Cepat, antarkan gadis-gadis itu pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak memerlukannya. Yang aku perlukan adalah emas dan permata, yang pada saatnya akan aku ambil. Sekarang, cepat pergi. Temunggul mengantarkan gadis-gadis itu, dan yang seorang membawa orang ini ke Kademangan. Ia tidak akan berbuat apa-apa. Lukanya agak parah, dan aku akan mengamat-amatimu. Kalau kalian takut akan Panembahan Panji Sekar perlakukan orang itu dengan baik. Meskipun perlakuan yang demikian tidak kau berikan kepada orang-orangmu sendiri.”

Temunggul masih juga belum menjawab.

“Cepat,” tiba-tiba Putut itu berteriak dengan suaranya yang tinggi melengking. “Aku akan dapat merubah pendirianku setiap saat. Aku dapat dengan tiba-tiba dirangsang oleh nafsu seperti Wanda Geni apabila aku memandang wajah gadis-gadis itu.”

Dada Temunggul seakan-akan tersentak mendengar kata-kata Putut itu, sehingga kemudian ia berpaling, memandangi gadis-gadis yang masih terduduk lemah di tanah.

“Ayo, bawalah mereka ke rumah masing-masing.”

Temunggul menganggukkan kepalanya. “Baiklah.”

“Hati-hati, meskipun Wanda Geni telah semakin jauh.”

Temunggul tidak menjawab. Perlahan-lahan ia mendekati ketiga gadis-gadis itu sambil berkata, “Marilah aku antar kalian pulang.”

Sejenak gadis itu tidak beranjak dari tempatnya. Mereka hanya saling berpandangan dengan sorot mata yang masih saja dibayangi oleh ketakutan.

“Marilah,” desis Temunggul yang menjadi cemas, kalau tiba-tiba saja Putut Sabuk Tampar itu berubah pendiriannya. Dan jantungnya serasa akan pecah ketika ia mendengar Putut itu berkata, “Ratri memang cantik.”

“Cepat,” desis Temunggul perlahan-lahan.

Ratri pun segera menyadari keadaannya. Karena itu meskipun kakinya masih gemetar, dipaksanya dirinya untuk berdiri bersama-sama kedua kawannya.

“Ayo cepat. Aku sudah mulai dihinggapi penyakit gila yang menjalar dari darah Wanda Geni. Cepat pergi,” Putut itu menggeram.

Temunggul menjadi semakin cemas. Ia pasti tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk melawan Putut itu, seandainya Putut itu pun menjadi gila seperti Wanda Geni.

“Marilah,” sekali lagi Temunggul berdesis.

Ratri dan kawan-kawannya berusaha untuk tetap berdiri. Tertatih-tatih mereka berjalan sambil berpegangan satu dengan yang lain dengan eratnya.

“Gadis itu jangan kau tinggal lari meskipun kau akan bertemu lagi dengan Wanda Geni, Temunggul,” terdengar Putut itu tertawa. “Bagaimana kalau aku berbuat serupa yang kau lakukan itu, bukan sekadar untuk seorang gadis yang bernama Ratri? Tetapi untuk Kademanganmu?”

Temunggul tidak menjawab, bahkan berpaling pun tidak. Dengan suara yang bergetar ia berbisik, “Cepat. Cepatlah sedikit. Orang itu agaknya tidak kalah gila dari Wanda Geni.”

Ratri dan kedua kawannya pun memaksa diri mereka berjalan lebih cepat lagi, untuk segera menjauhi orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.  Namun dada mereka masih juga selalu berdebar-debar apabila mereka kemudian mendengar orang itu tertawa berkepanjangan.

“Kita singgah saja di rumah terdekat,” berkata Temunggul. “Aku antar kalian besok pagi-pagi.”

“Tidak,” Ratrilah yang menjawab, meskipun suaranya hampir tidak terdengar. “Aku akan dicekik ayah, kalau aku tidak pulang malam ini.”

“Tetapi kalian berada dalam bahaya,” sahut Temunggul. “Diperjalanan, kita akan mungkin sekali bertemu lagi dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu.”

Terasa tengkuk gadis-gadis itu meremang. Tetapi mereka lebih senang apabila mereka segera dapat kumpul di antara keluarga mereka. Apalagi Ratri telah mendapat pesan dari ayahnya, bahwa ia harus segera pulang setelah pertunjukan selesai.

“Tetapi orang-orang yang mengerikan itu?” ingatan itu pun setiap kali selalu mengganggunya.

“Bagaimana Ratri,” bertanya Temunggul kemudian.

“Aku akan pulang,” jawab Ratri, “Rumahku sudah dekat.”

“Tetapi sangat berbahaya?”

“Dimana pun bahaya itu akan datang. Kalau aku bermalam di rumah siapapun, orang-orang itu dapat juga mencariku. Karena itu aku merasa lebih aman tinggal bersama ayah dan ibu. Kecuali kalau nanti ayah mengambil keputusan lain.”

Temunggul mengerutkan keningnya. Kemudian ia bergumam, “Baiklah. Aku akan mengantarmu sampai ke rumah. Rumahmu memang sudah dekat. Tetapi kita masih harus mengantarkan kedua kawan-kawanmu itu.”

“Tetapi rumahku lebih dekat.”

“Tidak,” sahut Temunggul. “Kita lewat jalan kecil ini. Aku merasa bahwa jalan ini jauh lebih aman dari jalan yang lebih besar.”

Ratri tidak membantah lagi. Kalau ia memaksa untuk di antar lebih dahulu, maka pasti akan menyinggung perasaan kedua kawan-kawannya, meskipun rumah mereka seolah-olah hanya terpisah oleh dinding batu.

Demikianlah maka mereka menyusuri jalan sempit yang menuju ke rumah ketiga gadis-gadis itu. Tetapi dengan demikian, maka yang terakhir dari ketiganya sampai di muka regol rumahnya adalah Ratri.

“Terima kasih Temunggul,” desis Ratri ketika ia akan memasuki regol halamannya.

“Aku antar kau sampai ke pendapa Ratri, sampai ayahmu membuka pintu untukmu.”  Ratri menjadi ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia menjawab, “Baiklah Temunggul, aku sangat berterima kasih dan ayahpun akan berterima kasih pula.”

Tetapi ketika Ratri akan melangkah memasuki regol rumahnya Temunggul berkata lambat sekali, seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Ratri.”

Ratri tertegun. Ketika dilihatnya wajah Temunggul menunduk maka dada gadis itu pun berdesir.

“Sebelum aku menyerahkanmu kepada ayahmu, aku ingin berbicara, Ratri.”

Dada Ratri menjadi berdebar-debar. Ia sudah dapat menduga, apa yang kira-kira akan dikatakan oleh Temunggul itu, maka wajahnya segera menjadi kemerah-merahan, dan dadanya menjadi pepat.

“Apakah kau ingin mendengarkan Ratri?” bertanya Temunggul.  Ratri menjadi ragu-ragu sejenak.

Namun kemudian jawabnya, “Temunggul, aku sudah tidak dapat menahan rasa takut dan cemas. Kalau setiap saat orang-orang yang mengerikan itu lewat di jalan ini maka nasibku akan dapat kau bayangkan.”

“Tidak Ratri. Orang itu tidak akan lewat jalan ini. Apalagi ia sudah dikalahkan oleh orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.”

“Tetapi bagaimanakah kalau Putut itulah yang justru menyusul kita?”

Temunggul terdiam sejenak. Namun hasratnya untuk mengucapkan kata hatinya sudah tidak dapat ditahankannya lagi, sehingga karena itu ia menjawab. “Putut itu tidak akan datang kemari pula. Ia tidak memerlukan kau Ratri. Tetapi ia memerlukan harta dan benda-benda berharga.”

“Demikian juga orang-orang Panembahan Sekar Jagat pada mulanya.”

“Tetapi, aku melihat beberapa perbedaan dari kedua golongan itu.”

“Tetapi kau sendiri baru saja mencemaskan orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu Temunggul. Bukankah kau ingin membawa kami bermalam di rumah orang lain?”

“Ratri,” tiba-tiba terdengar suara Temunggul, “Aku hanya memerlukan waktu sebentar.”

“Besok masih banyak waktu Temunggul. Aku minta maaf, kali ini aku sudah terlampau lelah. Keringat terasa terlampau dingin sejak saat aku dicengkam oleh ketakutan. Sekarang agaknya perasaan takut itu masih saja menguasai jantungku.”

 Temunggul menarik nafas dalam-dalam.

“Hem,” ia berdesah di dalam hati. “Kalau sejak tadi aku menyatakannya, persoalanku pasti sudah selesai.”

Dan kini ia mendengar Ratri berkata lagi, “Maafkan aku Temunggul. Aku ingin segera masuk ke rumah. Dengan demikian aku akan merasa aman.”

“Baiklah,” jawab Temunggul. “Marilah.”

Keduanya pun kemudian mendorong pintu regol perlahan-lahan dan hilang menyusup ke dalamnya. Dengan hati-hati mereka melintasi halaman, naik ke pendapa.

“Ratri,” Temunggul berbisik ketika Ratri hampir mengetuk pintu pringgitan. “Aku tidak ingin memaksamu untuk mempersoalkannya sekarang. Agaknya keadaan sama sekali tidak menguntungkan meskipun sudah aku rancangkan berhari-hari. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat yang muncul dengan tiba-tiba telah merusak semua rencanaku.” Temunggul berhenti sejenak, kemudian, “Namun meskipun demikian, Ratri, aku masih juga ingin menyampaikan kepadamu, bahwa aku telah menumpahkan harapanku sebagai seorang laki-laki kepadamu. Kau pasti tahu maksudku.”

Meskipun Ratri tidak menduga, namun kata-kata Temunggul yang berterus terang itu telah menggoncangkan dadanya. Sejenak ia berdiri membeku ditempatnya. Kepalanya menunduk dalam-dalam dan bibirnya seakan-akan telah terkunci.

Namun tanpa dapat diucapkannya, Ratri sama sekali tidak pernah merasa, bahwa anak muda yang bernama Temunggul, dan yang kini memegang pimpinan anak-anak muda pengawal Kademangan itu telah dapat memikat hatinya. Ia mengagumi Temunggul sebagai seorang laki-laki yang perkasa. Selebihnya daripada itu, tidak ada sama sekali. Memang, pada saat-saat ia terjepit, pada saat-saat ia dihadapkan pada bencana yang tidak terbayangkan itu, ia seakan-akan menggantungkan harapannya kepada anak muda yang selama ini menjadi kebanggaan seluruh Kademangan. Tetapi ternyata ia tidak berhasil berbuat sesuatu. Justru orang lain yang belum dikenalnya sama sekali telah menolongnya dan menyelamatkannya, entah disengaja atau tidak.

Dengan demikian, maka sikapnya terhadap Temunggul pun tetap tidak berubah. Seandainya Temunggul lah yang menyelamatkannya, maka sudah pasti, ia tidak akan ingkar lagi, tetapi yang terjadi adalah lain. Karena Ratri tidak segera menyahut, maka Temunggul mendesaknya. “Apakah aku dapat mengharap?”

Ratri menjadi kian bingung. Namun sebelum ia tersudut dalam keharusan untuk menjawab, terdengar ayahnya terbatuk-batuk di dalam.

“Ayah sudah bangun,” desisnya.

Temunggul menjadi kecewa. Tetapi ia pun mendengar suara batuk-batuk itu, dan bahkan kemudian suara pembaringan berderit.

“Ayah sudah bangun.”

“Baiklah,” jawab Temunggul. “Aku mengharap jawabanmu lain kali.”

Ratri terdiam. Kepalanya kini tertunduk dalam-dalam. Dalam pada itu ia mendengar langkah ayahnya berdesir pada lantai yang kasar.

“Siapa itu?” terdengar suara ayahnya.

“Aku ayah, Ratri.”

“Oh,” langkah ayahnya itupun kemudian mendekati pintu. Sejenak kemudian pintu itu berderit dan terbuka. “Kenapa kau baru datang?” suara ayahnya berat parau.

“Pertunjukan sampai jauh malam ayah.”

“Omong kosong. Aku melihat di Kademangan. Sampai pertunjukan selesai aku baru pulang. Dan setelah aku sempat tidur baru datang. Kemana saja kau selama ini he?”

Wajah Ratri menjadi pucat. Tetapi ia mencoba menjawab, “Aku harus mengemasi pakaian tariku ayah. Kemudian menunggu kawan-kawan yang lain selesai pula.”

“Kenapa mesti menunggu.”

“Pakaian kami bercampur baur ayah, sehingga kalau ada kekurangan pada seorang kawan, kami masih sempat meneliti semua pakaian yang ada.”

Ayahnya menarik nafas. Tetapi wajahnya masih berkerut-kerut. Ketika terlihat olehnya bayangan di dalam kegelapan, maka sambil menggosok-gosok matanya yang masih setengah terpejam ia bertanya, “Siapakah yang mengantarkan kau itu?”

“Temunggul ayah.”

“He,? ayahnya terperanjat. Dan tiba-tiba saja sikapnya segera berubah. Sambil tersenyum ia kemudian berkata. “Maaf ngger. Aku tidak tahu kalau kau telah sudi mengantarkan anakku. Kalau aku tahu, bahwa anakku pulang bersama kau, maka aku tidak akan mencemaskannya.”

Bagaimanapun juga Temunggul terpaksa tersenyum pula sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku sengaja mengantarkannya sampai ke muka pintu paman, supaya aku dapat menyerahkannya kepada paman.”

“Terima kasih.” sekali lagi ia tersenyum sambil mempersilahkan. “Marilah ngger, silakan singgah sebentar.”

“Sudah terlampau jauh malam paman. Aku minta diri.”

Ayah Ratri mengerutkan keningnya, jawabnya,”Jadi kau tidak mau singgah?”

“Terima kasih. Lain kali aku akan memerlukan datang kemari paman.”

Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah ngger. Baiklah. Aku sangat berterima kasih karena kau sendirilah yang mengantarkannya.”

“Kami para pengawal telah membagi kerja paman.”

“Terima kasih ngger, “ dan sekali lagi laki-laki tua bergumam.

“Terima kasih.” Temunggul pun kemudian minta diri. Dengan hati yang dipenuhi oleh pertanyaan dan harapan, ia turun dari pendapa. Ketika ia berpaling, yang dilihatnya tinggal ayah Ratri saja yang masih berdiri di muka pintu.

“Aku belum mendapat jawaban,” desisnya. “Tetapi mudah-mudahan aku tidak salah mengerti. Sepengetahuanku, belum ada seorang pun yang mendahului aku.”

Dan tiba-tiba saja Temunggul menggeram ketika diingatnya, bahwa Bramanti telah kembali ke rumah ibunya. Terbayang kembali pertemuan antara keduanya pada saat Bramanti menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya, setelah beberapa tahun lamanya menghilang. Dan yang pertama-tama sekali ditemuinya pada saat itu adalah Ratri

Tiba-tiba Temunggul menggeram tepat ketika ia sudah berada di luar regol. Didorongnya pintu regol itu, dan dengan langkah yang tergesa-gesa ia meninggalkannya.

“Tetapi aku kira kata Bramanti bahwa ia tidak sengaja menemui Ratri pada saat itu,” Temunggul mencoba menenangkan hatinya sendiri. Namun kemudian, “Tetapi apabila ternyata anak itu berkhianat, maka aku akan membuat perhitungan tanpa belas kasihan. Aku akan menyeretnya keluar dari Kademangan ini di hadapan Ratri.”

Namun kemudian Temunggul itu mengumpat, “Anak-anak Panembahan Sekar Jagat itu benar-benar gila. Mereka telah merusak suasana yang aku bangun dengan susah payah, sehingga Ratri terlampau di cekam oleh ketakutan. Kalau tidak, barangkali Ratri akan mendengar pengakuanku sambil tersenyum atau bahkan sambil tertawa. Tetapi kini, aku terpaksa mengulanginya pada kesempatan yang belum pasti.”

Tanpa disengaja, maka langkah Temunggul itupun menjadi semakin lebar. Ia sama sekali tidak berhasrat lagi kembali ke Kademangan.

“Persetan dengan Kademangan. Biarlah anak-anak yang bertugas ronda mengurusnya.”

Tetapi tiba-tiba diingatnya seorang kawannya mendapat beban dari orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar untuk membawa seorang anak buah Wanda Geni yang terluka. Dengan demikian maka ia menjadi ragu-ragu. Tetapi kepepatan hatinya yang berpengaruh pada keputusannya, “Terserah Ki Jagabaya. Apakah yang akan dilakukannya terhadap orang itu.”

Dan Temunggul pun melangkah semakin cepat pula ke rumahnya. Apalagi ketika terlihat olehnya warna kemerah-merahan telah membayang di langit.

Sementara itu ayah Ratri telah menutup pintunya kembali dan menyelaraknya dengan kayu menyilang. Kemudian dengan wajah yang jernih ia bertanya, “Kenapa angger Temunggul sendiri yang mengatarmu Ratri. Kenapa bukan orang lain, atau kenapa angger Temunggul tidak mengantar orang lain?”

Sambil membenahi pakaian-pakaiannya yang kusut di dalam bungkusan kecilnya, Ratri menjawab, “Aku tidak tahu ayah.”

“Ah, kau pasti tahu sebabnya.”

Tetapi Ratri menggeleng. “Aku tidak tahu.”

Ayahnya menarik nafas panjang-panjang sambil duduk di atas sebuah dingklik bambu. “Anak itu benar-benar luar biasa. Aku kira tidak ada duanya di Kademangan ini. Angger Temunggul adalah harapan masa datang bagi Kademangan ini. Apabila kami yang tua-tua menjadi semakin tua, maka angger Temunggul pasti akan tampil. Sayang ia bukan putera Ki Demang yang akan dapat menggantikan kedudukan itu. Meskipun demikian, ia pasti akan menjadi seorang yang penting di Kademangan ini kelak. Jangankan kelak, sekarang pun ia sudah termasuk salah seorang yang kami anggap penting.”

Ratri tidak menjawab. Ia langsung masuk ke dalam biliknya setelah menenguk air dingin dari dalam kendi di atas geledeg rendah.

Tetapi ayah Ratri kemudian berdiri dan mengikutinya. Sambil berdiri di depan pintu bilik ia berkata, “Kau harus bersikap baik terhadapnya Ratri. Temunggul adalah pemimpin dari seluruh anak-anak muda di Kademangan ini.”

Ratri tidak menjawab. Direbahkannya dirinya di atas pembaringannya.

“Apakah kau tidak berganti pakaian dahulu, atau makan seadanya? Agaknya ibumu telah menyediakannya untukmu.”

“Tidak ayah. Aku lelah sekali. Aku ingin segera tidur.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditinggalkan-nya pintu bilik anaknya. Namun kemudian ia tersenyum sendiri. Katanya di dalam hati, “Ratri adalah seorang gadis yang sedang meningkat remaja. Ia lebih senang merenung di pembaringannya dari pada makan. Hem.”

Orang tua itu pun kemudian pergi ke pembaringannya pula. Sekali ia menguap. Namun sejenak kemudian yang terdengar adalah dengkurnya yang taratur.

Tetapi sementara itu Ratri juga merenung di dalam biliknya. Ditatapnya atap rumahnya, seakan-akan ia baru menghitung raguman bambu yang berderet-deret di atas pembaringannya.
Sekali-kali terdengar ia berdesah. Berbagai macam masalah telah bergelora di dalam dadanya. Ketakutan, kecemasan dan kebingungan bercampur baur di dalam hatinya. Sesaat bayangan kekasaran dan keganasan orang-orang yang menyebut dirinya pengikut Panembahan Sekar Jagat. Kemudian terlintas bayangan orang yang mengaku bernama Putut Sabuk Tampar. Dan yang terakhir, terbayang wajah Temunggul yang pucat, namun penuh harapan.

“Apakah akan jadinya aku sekarang seandainya tidak ada orang yang menamakan dirinya Putut Sabuk Tampar itu,” desah Ratri di dalam hatinya.”Mungkin aku telah membunuh diriku. Dan ayah ibu tidak akan dapat melihat aku lagi, meskipun hanya mayatku.”

Ratri menutup wajahnya dengan keduabelah tangannya. Namun bayangan yang menakutkan itu masih saja tampak di rongga malamnya, justru semakin jelas.

“Oh,” Ratri kemudian menelungkup. Tetapi bayangan-bayangan itu masih juga tidak mau lenyap dari kepalanya.

Karena itu, maka untuk seterusnya Ratri sama sekali tidak berhasil untuk tidur sekejap pun. Bahkan tanpa sesadarnya, terasa cairan hanyat membasahi pipinya. Ratri menangis bagaimanapun juga ia bertahan. Untunglah, bahwa tidak seorangpun seisi rumah itu yang terbangun karenanya, sehingga ia tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan membuatnya semakin bingung.

Apalagi Ratri sendiri menyadari, bahwa terusirnya Wanda Geni belum berarti bahwa bahaya yang sebenarnya telah hilang sama sekali. Sebab setiap saat Wanda Geni itu dapat datang kembali. Dan sudah barang tentu, ia tidak akan dapat mengharapkan bahwa setiap saat Putut Sabuk Tampar itu dapat selalu membantunya dan menyelamatkannya dari keganasan Wanda Geni.

“Tetapi Putut Sabuk Tampar sendiri, adalah orang yang ingin merampas semua kekayaan dari Kademangan ini,” berkata Ratri di dalam hatinya. Namun di hati kecilnya ia melihat beberapa perbedaan antara Wanda Geni dan Putut Sabuk Tampar. Putut itu mempunyai perbawa yang menarik perhatiannya, meskipun ia belum mengenal sebelumnya.

“Mungkin aku merasa berhutang budi kepadanya,” desisnya perlahan-lahan.

Ratri mengusap matanya yang basah ketika ia mendengar suara kokok ayam di kandang. Semakin lama semakin riuh.

“Hampir pagi,” ia bergumam. Dan ia sama sekali masih belum tidur sekejap pun juga.

Tetapi ketika ibunya menjengkuknya dari sela-sela pintu biliknya ia berpura-pura memejamkan matanya, supaya ibunya menyangka bahwa ia sedang tidur lelap.

“Ia terlampau lelah,” berkata ibunya kepada dirinya sendiri. Lalu ditinggalkannya. Ratri di pembaringannya, untuk merebus air di dapur.

Di pagi harinya, ketika Ratri keluar dari dalam biliknya, ibunya melihat matanya yang pendul. Karena itu dengan cemas ibunya bertanya, “Apakah kau semalam menangis Ratri?”

Ratri menggeleng. “Tidak ibu, kenapa aku menangis?”
Ibunya memandang mata Ratri itu tajam-tajam. “Kau menangis semalam,” ulang ibunya. “Aku tidak melihat kau pulang. Tetapi pendul di matamu itu tidak dapat kau sembunyikan.”

Aku kurang tidur ibu. Sampai hampir pagi aku memang tidak dapat tidur karena kelelahan.”

“Kau aneh,” jawab ibunya. “Orang yang lelah biasanya akan dengan mudahnya tertidur.”

Ratri tidak dapat menjawab lagi. Tetapi ia pun tidak mengiakannya. Agaknya ibunya tidak memaksanya untuk mengakui bahwa semalam ia menangis. Sebagai seorang ibu, ia menyadari, bahwa umur anaknya adalah umur yang sedang dibelit oleh berbagai macam hiruk pikuk kehidupan. Mungkin Ratri sedang berselisih dengan kawan-kawannya, mungkin ia gagal mempertunjukkan puncak kemampuannya semalam atau mungkin ia sedang dipengaruhi oleh perasaan seorang gadis yang meningkat dewasa menanggapi kawan-kawan laki-lakinya. Karena itu dibiarkannya saja Ratri masih tetap untuk mencuci mukanya. Kemudian masuk kembali ke dalam biliknya membenahi rambut dan mengganti pakaiannya yang kusut.

Namun bagaimanapun juga Ratri masih tetap dibayangi oleh perasaan takut. Adalah mungkin sekali Wanda Geni datang disetiap saat untuk mengambil dan membawanya ke neraka yang paling jahanam.

Dengan demikian maka sehari-harian Ratri menjadi suntrut. Wajahnya suram dan sama sekali ia tidak bernafsu untuk makan. Apalagi apabila diingatnya pula kata-kata Temunggul yang berterus terang. Maka hatinya menjadi semakin kacau. Karena ternyata bahwa Temunggul tidak akan dapat melindunginya. Seandainya ia terpaksa menerima Temunggul dan menempatkan anak muda itu di dalam hatinya, namun kemudian ia terpaksa harus terjun ke dalam sarang iblis itu, apakah yang dapat dilakukan oleh Temunggul?

Orang tua Ratri tidak dapat menutup penglihatannya tentang anak gadisnya. Karena itu, maka setiap kali ibunya selalu bertanya, apakah Ratri sedang sakit.

“Aku terlampau lelah bu. Mungkin karena aku terlampau kurang tidur. Badanku rasanya tidak enak, dan bahkan kepalaku amat pening.”

“Beristirahatlah.”

Ratri tidak menyahut. Tetapi kepalanya sajalah yang terangguk-angguk.

Di hari berikutnya, Ratri masih belum dapat melepaskan ketakutannya. Bahkan semalam-malam ia hampir tidak tidur lagi. Hanya karena lelah yang amat sangat, ia terlena untuk beberapa saat menjelang dini hari.

“Ratri,” bertanya ibunya. “Sebaiknya kau berterus terang. Kau pasti tidak hanya sekadar lelah dan kantuk. Aku melihat wajahmu terlampau muram.”

Semula Ratri tetap bertahan, dan menyimpan semua peristiwa yang dialaminya. Namun akhirnya ia tidak dapat tetap berdiam diri. Ketakutan, kecemasan dan kebingungan yang menghentak-hentak dadanya akhirnya meledak juga. Diceriterakannya semua yang dialaminya. Namun yang masih disimpannya adalah pengakuan Temunggul terhadapnya. Ia tidak ingin mempersoalkan masalah itu dengan ayah dan ibunya sekarang. Yang diceriterakan semata-mata adalah persoalan Wanda Geni, orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar dan kegagalan Temunggul melawan mereka.

Tiba-Tiba wajah ayah Ratri menjadi tegang. Dengan serta merta ia berkata lantang, “Nah, bukankah aku sudah berkata, jauh sebelum peristiwa ini terjadi. Bahkan pada saat Ratri tergila-gila untuk belajar menari. Apakah manfaatnya belajar menari. Inilah. Inilah akibat yang paling jelas kita lihat sekarang.”

“Pak,” berkata isterinya memotong kata-kata suaminya. “Jangan menyalahkan Ratri. Kalau itu dianggap bersalah, biarlah kesalahan itu tidak kita persoalkan lagi sekarang. Semuanya sudah telanjur.”

“Begitulah. Begitulah akhirnya. Sudah telanjur”.

“Bukankah demikian keadaannya?” jawab ibu Ratri, lalu “kini Ratri sedang bingung. Bagaimana mengatasi persoalan ini. Jangan menambah Ratri menjadi semakin bingung. Dan apakah seandainya Ratri dianggap bersalah, kita akan terpancang pada kesalahan itu, dan membiarkannya diseret oleh orang-orang Panembahan Sekar Jagat?”

“Tentu tidak. Tentu tidak,” sahut ayah Ratri cepat-cepat.

“Itulah masalahnya. Bagaimana?”

Laki-laki itu tidak segera menjawab. Tetapi kini kepalanya tepekur. Ia mengerti, betapa hati anaknya dicengkam oleh ketakutan. Memang setiap saat Wanda Geni dapat datang ke rumahnya. Seperti saat-saat ia mengambil pendok emas atau mengambil timang tretes berlian, maka ia akan dapat mengambil Ratri.

Namun setiap kali ia masih saja menyesali Ratri, bahwa ia tidak menurut nasehatnya dahulu, dan setiap kali ibunya selalu memperingatkan, bahwa yang penting adalah menyelamatkan Ratri.

“Aku belum tahu, apakah yang sebaiknya aku lakukan,” berkata laki-laki itu seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri. Dengan langkah yang berat ia berjalan mondar-mandir.

“Apakah Ratri perlu bersembunyi?” bertanya isterinya.

“Dimana ia akan dapat bersembunyi di Kademangan ini,” desis ayahnya.

“Lalu apakah yang sebaiknya kita lakukan?” ibunyapun kemudian dicengkam oleh kecemasan.

“Aku akan minta perlindungan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Aku akan ke Kademangan. Mungkin mereka dapat memberikan jalan keluar dari kesulitan semacam ini. Kalau perlu, biarlah Ratri untuk sementara berada di Kademangan sampai keadaan menjadi reda. Kalau kita yakin bahwa Wanda Geni telah tidak kembali lagi, maka biarlah Ratri nanti pulang ke rumah ini.”

“Kapan kita dapat menentukan waktu itu, waktu dimana kita dapat mengambil keputusan, bahwa Wanda Geni tidak akan kembali lagi.”

“Kita akan dapat merasakannya. Meskipun aku tidak dapat mengatakan dengan tepat, kapan. Tetapi seandainya Wanda Geni masih tetap pada pendiriannya, pasti ia akan kembali dalam waktu singkat.”

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terserahlah kepadamu pak. Tetapi Ratri harus diselamatkan.”

Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku akan pergi ke Kademangan. Setidak-tidaknya aku akan mendapat nasehat. Bagaimana aku harus menyelamatkan anakku ini.”

Ayah Ratripun kemudian pergi ke Kademangan menemui Ki Demang dan Ki Jayabaya, untuk meminta perlindungan dari mereka terhadap anaknya yang sudah jelas terancam bahaya. Bahaya yang sangat mengerikan bagi seorang gadis. Karena apabila Ratri itu berhasil dibawa ke sarang iblis-iblis itu, maka ia pasti akan kehilangan. Ratri pasti akan menempuh cara yang bagaimanapun juga untuk menghapus malu. Bahkan mungkin ia akan membunuh diri.”

Ketika ayah Ratri sampai ke regol Kademangan, ia menjadi heran. Di Kademangan itu dilihatnya beberapa anak-anak muda pengawal Kademangan telah berkumpul. Bahkan Temunggul pun telah ada di halaman itu pula. Di pendapa dilihatnya Ki Demang, Ki Jayabaya dan beberapa orang bebahu Kademangan yang lain. Namun di antara mereka terdapat seseorang yang asing baginya.

 “Orang itukah yang telah disebut-sebut Ratri sebagai salah seorang pembantu Wanda Geni yang terluka?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya.

Karena itu, maka ayah Ratri tidak segera masuk ke dalam regol. Ia berhenti sejenak di luar sambil melihat suasana. Ketika dilihatnya seorang pengawal yang berdiri di depan regol, maka ayah Ratri itu mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa halaman ini kelihatan sangat sibuk?”

“O,” pengawal yang telah mengenal ayah Ratri itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kami akan melepaskan seorang tawanan kami.”

“Tawanan? Yang mana?”

“Itu, yang duduk di pendapa bersama Ki Demang.”

Ayah Ratri mengerutkan keningnya. Sikap orang itu sama sekali tidak membayangkan sikap seorang tawanan. Bahkan melampaui seorang tamu yang sangat dihormat.

“Orang itu terluka ketika ia berkelahi melawan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.”

Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dalam keadaan luka itulah ia dapat ditawan oleh salah seorang anggota pengawal Kademangan.”

Ayah Ratri masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi ia menuntut untuk dibebaskan.”

“Dan tuntutan itu dikabulkan oleh Ki Demang?”

Pengawal itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Setelah melalui banyak sekali pertimbangan dan pembicaraan. Akhirnya kami mengambil keputusan untuk melepaskannya, demi keselamatan seluruh Kademangan.”

Sekali lagi ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi bukankah ia terluka?” bertanya ayah Ratri kemudian.

“Ya, tetapi luka itu sudah diobati. Agaknya orang itu merasa bahwa ia sudah cukup kuat untuk kembali ke induknya. Ia minta kami memberikan seekor kuda.”

Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya, mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Namun sejenak kemudian ia harus meloncat menepi ketika seekor kuda yang tegar meloncat berlari menyusup regol halaman, berpacu dengan cepatnya meninggalkan debu yang tipis berhamburan di jalan-jalan berbatu.

“Itulah orangnya,” desis pengawal itu.

Berbagai tanggapan bergolak didalam dada orang tua itu. Ia kadang-kadang merasa bersyukur bahwa Ki Demang cukup bijaksana, sehingga orang-orang Panembahan Sekar Jagat tidak terlampau mendendam Kademangan ini, termasuk anaknya. Tetapi apabila diingatnya, sikap orang-orang itu terhadap anaknya, maka kebenciannya pun segera memuncak.
Setelah orang berkuda itu hilang di tikungan, maka orang tua itupun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata perlahan-lahan kepada pengawal yang kini berdiri diseberang jalan di depan regol itu. “Aku akan menemui Ki Demang.”

“Silakan,” jawab pengawal itu.

Ayah Ratri itu pun kemudian memasuki halaman Kademangan dan langsung minta kepada salah seorang bahu Kademangan untuk bertemu dengan Ki Demang.

Setelah mereka duduk di pendapa, maka ayah Ratri itu pun langsung menyampaikan persoalannya dan kesulitan-kesulitannya kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya yang hadir pula disitu.

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang Ki Jagabaya mendengarkan dengan wajah yang tegang.

“Aku minta perlindungan Ki Demang. Anakku selalu dicengkam oleh ketakutan yang luar biasa. Ia tidak mau makan sama sekali dan semalam hampir tidak dapat tidur sekejap pun.

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling kepada Temunggul yang duduk pula di antara mereka. Katanya, “Jawablah persoalan yang dikatakan oleh ayah gadis yang menjadi masalah itu.”

Wajah Temunggul sekilas dibayangi oleh warna merah. Namun kemudian ia beringsut maju. Katanya, “Kami disini sudah membicarakannya paman. Ketika kami mendengar permintaan tawanan kami itu untuk mengajukan syarat. Orang itu akan kami lepaskan, tetapi ia harus menjamin, bahwa kawan-kawannya selanjutnya tidak akan berbuat sebuas itu lagi terhadap gadis-gadis.”

Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Temunggul meneruskannya, “Orang itu telah menyanggupinya.

“Tetapi,” potong ayah Ratri. “Orang itu bukan orang tertinggi di antara mereka. Meskipun ia menyanggupinya tetapi atasannya tetap berpendirian demikian.”

“Tidak paman,” jawab Temunggul. “Ternyata Panembahan Sekar Jagat sama sekali tidak membenarkan tindakan-tindakan serupa itu. Sudah tentu ia akan marah, apabila ia mendengar bahwa salah seorang anak buahnya telah melanggar pantangan itu.”

“Darimana kau tahu?”

“Tawanan kami inilah yang mengatakannya. Wanita bagi Panembahan Sekar Jagat adalah suatu persoalan yang tidak ada manfaatnya. Ternyata bahwa Panembahan Sekar Jagat sendiri menurut pendengaran kami lewat tawanan kami itu, juga tidak pernah kawin sepanjang umurnya.”

Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya menjadi sedikit lapang mendengar penjelasan itu, meskipun masih juga timbul keragu-raguan.

“Apakah orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu masih juga dapat dipercaya,” pertanyaan itu selalu mengganggu pikirannya. Tetapi kegelisahan didadanya sudah tidak lagi melonjak-lonjak seperti pada saat ia pergi ke Kademangan.

Orang tua itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Temunggul meneruskan. “Meskipun demikian, aku akan selalu berusaha untuk mengawasi mereka, paman. Kalau ada hal-hal yang mencurigakan, maka aku akan segera mengambil tindakan yang akan dapat mengamankan gadis-gadis di Kademangan ini.”

“Terima kasih ngger,” jawab ayah Ratri sambil mengangguk-angguk. “Mudah-mudahan tidak terjadi lagi bencana apapun atas gadis-gadis kita. Kita sudah membiarkan kekayaan kita satu demi satu mereka ambil. Sudah tentu kita tidak akan dapat membiarkan anak-anak kita mereka ambil pula.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Kita akan bersama-sama berusaha,” katanya, kemudian, “Dan aku menaruh kepercayaan kepada tawanan yang kita lepaskan tadi. Agaknya ia berbicara dengan sungguh-sungguh. Bahkan ia berjanji, kalau Wanda Geni masih akan mengulangi perbuatannya, ia akan mengadukan kepada Panembahan Sekar Jagat. Sebab dengan demikian, hal itu akan dapat mengganggu kelancaran pekerjaan mereka, memungut harta dan kekayaan tidak saja di Kademangan ini.”

“Dan sebentar lagi kita akan melihat dua kekuatan berbenturan,” desis ayah Ratri.

“Antara siapa?” bertanya Ki Jagabaya dengan serta merta.

“Bukankah angger Temunggul dimalam itu bertemu tidak saja dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat, tetapi juga hadir sesorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar dan mengaku sebagai seorang utusan dari Resi Panji Sekar?”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, Kademangan ini akan menjadi ajang pertentangan dari orang-orang lain. Dan kita sama sekali tidak berbuat apa-apa.”

“Jangan bermimpi Ki Jagabaya,” potong Ki Demang, “Kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.”

“Bagaimana dengan anak-anak kita? Ternyata Temunggul telah memulainya. Dan ternyata orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu adalah orang-orang biasa, yang dapat luka oleh senjata.”
Tetapi apakah kita mengetahui jumlah kekuatan mereka yang sebenarnya?” sahut Ki Demang. “Kita tidak boleh mempertaruhkan Kademangan ini untuk memberikan kepuasan kepada beberapa pribadi saja. Kita harus menghitungkannya, apa yang pantas dan dapat kita lakukan.”

Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Ia menjadi kecewa, seperti setiap kali ia mempercakapkan masalah itu, ia pun selalu menjadi kecewa.

Dan setiap kali ia berbicara masalah itu, ia selalu terdiam sambil menahan hati. Ki Demang kurang mempunyai keberanian menjajagi kekuatannya, meskipun Ki Jagabaya dapat juga mengerti, bahwa Ki Demang ingin berbuat dengan sangat hati-hati.

Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Ki Demang kepada ayah Ratri, “Pulanglah. Kita akan memperhatikan nasib gadis-gadis kita. Kita akan menemukan cara yang sebaik-baiknya tanpa mengorbankan seluruh Kademangan kita ini.”

“Terima kasih,” jawab ayah Ratri. “Setiap ada persoalan tentang anak-anakku, aku akan menyerahkannya kepada Ki Demang dan orang-orang lain yang seharusnya memang bertanggung jawab.”

Ki Demang tersenyum sambil berkata, “Jangan takut.”

Ayah Ratri pun kemudian meninggalkan Kademangan dengan hati yang agak lapang. Disampaikannya semua pembicaraannya kepada istri dan anaknya, sehingga keduanya pun menjadi agak tenang. Di tambah-tambahinya keterangan Ki Demang, Ki Jagabaya dan Temunggul agar anak dan istrinya itu tidak selalu diburu oleh keragu-raguan dan kecemasan.

“Orang itu menyanggupkan dirinya menjadi taruhan,” berkata ayah Ratri kepada anak dan istrinya. “Kalau Wanda Geni masih akan mengulangi perbuatannya, ia akan menyampaikannya kepada Panembahan Sekar Jagat. Sebab Panembahan Sekar Jagat sama sekali tidak menghendaki hal-hal serupa itu dapat terjadi. Bukan karena kebaikan hatinya, tetapi semata-mata karena ketamakannya akan harta benda, sehingga persoalan serupa itu akan dapat mengganggu usahanya mengumpulkan benda-benda berharga dari Kademangan ini.”

Istri dan anaknya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi seperti ayah Ratri itu, sebenarnya, mereka masih menyimpan keragu-raguan di dalam hati.

Dengan demikian, maka sejak peristiwa itu Ratri jarang sekali keluar dari rumahnya, apalagi dari halaman. Ia selalu berada di dalam biliknya, atau berjalan-jalan di ruang dalam. Hanya kadang-kadang sekali ia turun ke halaman apabila ia telah menjadi rindu sekali menghirup cahaya matahari yang cerah.
Sementara itu, berita tentang hal itu telah tersebar di seluruh Kademangan. Hampir setiap mulut mempercakapkannya. Tidak terkecuali Panjang, anggota pengawal Kademangan yang baru.
Ketika ia pulang dari Kademangan di saat matahari terbenam, ia melihat Bramanti sedang menyalakan lampu regolnya, sehingga karena itu ia pun berhenti.

“He,” sapanya. “Lampumu terlampau kecil.”

Bramanti berpaling. Kemudian ia tersenyum. “Aku harus menghemat minyak.”

Panjang kemudian singgah ke halaman itu. Mereka duduk berdua bersandar dinding regol.

“Darimana kau Panjang?” bertanya Bramanti.

“Dari Kademangan,” jawab Panjang pendek.

“Apakah akan ada keramaian lagi di Kademangan?” bertanya Bramanti.

Panjang menggelengkan kepalanya, “Ekor dari keramaian yang dahulu itu pun masih belum terlupakan.”

“Kenapa?”

“Ratri.”

“Kenapa dengan Ratri?”

“Apakah kau sama sekali tidak mendengarnya?”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Aku telah mendengar bahwa telah terjadi keributan. Tetapi aku tidak jelas apakah yang sebenarnya telah terjadi.”

“Dimanakah kau malam itu, ketika di Kademangan ada keramaian?”

“Di rumah.”

“Apakah kau tidak melihat ke Kademangan?”

“Ya, aku melihat. Tetapi aku pulang sebelum keramaian itu selesai.”

“Kenapa?”

“Aku terlampau lelah.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Bramanti seakan-akan ia sedang mencari sesuatu di antara hitam matanya.

“Sekali lagi Kademangan kita dijamah oleh seseorang yang diliputi oleh rahasia yang sangat gelap,” berkata Panjang kemudian.

Bramanti tidak menyahut, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Hampir saja Ratri menjadi korban.”

“Korban apa?”

“Panembahan Sekar Jagat.” jawab Panjang, lalu “Maksudku orang-orang Panembahan Sekar Jagat.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kenapa kau tidak terkejut, atau menjadi heran atau dengan serta merta memberikan tanggapan?”

Bramanti tergagap. Namun ia kemudian menjawab, “Aku menunggu kau selesai berbicara.”

Panjang menarik nafas. Katanya, “Baiklah. Aku teruskan. Saat itu Ratri berjalan bersama dua kawannya diantar oleh Temunggul dan seorang kawan. Tetapi mereka tidak dapat melawan Wanda Geni dan tiga orang kawannya.”

“Bukan mengalahkannya yang penting bagi Temunggul,” sahut Bramanti. “Tetapi keberaniannya untuk melawan. Itulah yang seharusnya dilakukan sejak semula. Kalau Temunggul dan para pengawal Kademangan ini berani berbuat demikian, aku kira Panembahan Sekar Jagat harus berpikir untuk kesekian kalinya, apabila ia masih akan meneruskan perampokan yang selalu dilakukan itu.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Temunggul memang sudah melakukannya. Agaknya ia merasa, bahwa waktunya memang sudah tiba untuk melakukan perlawanan.”

“Tetapi Temunggul tidak bertempur karena ia seorang pengawal Kademangan. Ia berkelahi karena ia ingin membela Ratri,” Bramanti berhenti sebentar, lalu, “Itu tidak wajar Panjang. Seharusnya Temunggul bersikap demikian sepanjang waktu, justru untuk kepentingan seluruh Kademangan.”

“Dari siapa kau meniru anggapan itu atasnya?”

Sekali lagi Bramanti tergagap. Dan ia mendengar Panjang berkata seterusnya. “Aku mendengar dari pengawal yang mengawani Temunggul saat itu, bahwa kemudian hadir seseorang yang diliputi oleh rahasia itu, dan mengatakan tentang Temunggul seperti yang kau katakan.”

Sejenak Bramanti tidak menjawab. Tetapi sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah kau tidak beranggapan begitu?”

“Ya, aku pun beranggapan begitu. Kita memang harus bersikap demikian dalam segala kepentingan.”

“Dan bukankah kau, aku dan orang itu dapat berpendirian serupa sebelum kita berbicara dan memperbincangkannya.”

Sekali lagi Panjang menarik nafas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi,” katanya kemudian, “Orang aneh itu pun sangat menarik perhatian. Orang itu menyebut dirinya bernama Putut Sabuk Tampar. Utusan Resi Panji Sekar.”

“Apakah Temunggul tidak dapat mengenal orang itu apabila suatu kali ia bertemu lagi?”

Panjang menggelengkan kepalanya. “Orang itu sengaja menyembunyikan pribadinya. Suaranya pun dibuat-buatnya sehingga melengking-lengking tidak karuan. Sikapnya dan tata gerak disaat-saat ia bertempur, sama sekali tidak dapat dikenal. Semuanya serba berlebih-lebihan dan bahkan mirip dengan seseorang yang sedang bermain-main.”

“Aneh,” gumam Bramanti. “Apakah pamrihnya, sehingga orang itu tidak mau menyatakan dirinya?”

“Kami tidak tahu. Temunggul tidak tahu, dan Ratri juga tidak tahu.” Panjang berhenti sebentar, lalu, “Tetapi menurut dugaanku orang itu agaknya orang yang telah menolong aku itu pula.”

“Ketika kau melakukan pendadaran dengan berkelahi melawan harimau itu?”

“Ya,”

“Apakah hubungannya?”

“Keduanya datang dengan tiba-tiba pada saat yang diperlukan, dan keduanya menghilang dengan tiba-tiba pula. Keduanya tidak mau memperkenalkan dirinya dan keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding, yang tidak akan kita temui di Kademangan kita ini.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin, memang mungkin,” desisnya, “Mungkin orang itu benar-benar orang Resi Panji Sekar.”

“Mungkin,” gumam Panjang. “Memang mungkin.”

Keduanya pun kemudian saling berdiam diri, seolah-olah sedang mendengarkan desir angin di dedaunan di malam yang menjadi semakin kelam.

Tiba-tiba Panjang berdesah sambil berdiri, “Sudah gelap. Aku akan pulang.”

“O,” Bramanti tersadar, “Begitu tergesa-gesa? Aku sebenarnya ingin mempersilakan kau naik ke pandapa.”

“Terima kasih. Lain kali aku akan selalu datang. Aku merasakan sesuatu yang aneh di halaman rumah ini.”

“Apakah yang aneh itu?”

“Aku tidak tahu, tetapi seolah-olah dilingkungan dinding halaman ini pun tersembunyi suatu rahasia. Rahasia yang tidak mudah ditebak.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, “Kau bergurau.”

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Mungkin kau terlampau terpengaruh oleh kehidupan kita di masa kanak-kanak. Rumah ini kini sudah berubah sama sekali, sehingga seolah-olah di dalamnya tersimpan suatu rahasia yang gelap. Tetapi sebenarnya itu sama sekali bukan rahasia. Justru kenyataan yang terhampar siang dan malam.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Selamat malam Bramanti. Apakah nanti malam kau tidak akan keluar halaman rumah ini.”

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Tidak Panjang. Aku lebih senang tidur di rumah.”

“Bukankah katamu kau tidur di kandang?”

“Ya. Aku memang tidur di kandang. Tidak terlampau panas, tetapi juga tidak terlampau dingin.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Satu-satu ia melangkahkan kakinya melangkahi tlundak regol halaman. Di luar regol ia berhenti sejenak sambil berpaling. “Tetapi tawanan yang di dapat malam itu, kini sudah dilepaskan.”

“He,” Bramanti mengerutkan keningnya. Sejenak wajahnya menjadi tegang, namun kemudian kesan itu pun segera lenyap. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya, “Tetapi, kenapa dilepas? Aku memang sudah menyangka, bahwa dengan demikian kita akan merasa lebih aman.”

“Ya.” Dan orang itu telah memberikan jaminan, bahwa Panembahan Sekar Jagat pasti akan mencegah apabila ada orang-orangnya yang masih akan mengganggu gadis-gadis.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah kita dapat mempercayainya?”

“Mudah-mudahan ia dapat dipercaya. Dan agaknya ia pun bersungguh-sungguh.”

“Apakah kau melihat sendiri?”

“Aku melihat sendiri. Semua pengawal berkumpul di Kademangan ketika kami melepaskannya.”

Bramanti tidak segera menjawab. Tampaklah ia termenung, namun kemudian ia berdesis. “Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.”

Panjang tidak menjawab lagi, tetapi ia berkata, “Selamat malam. Aku akan pulang.”

Sepeninggalan Panjang, Bramanti kemudian duduk termenung ditangga pendapa. Dipandanginya kehitaman malam yang menjadi semakin pekat. Lampu minyak diregol halaman tergetar karena angin yang bertiup dari Selatan.
Bramanti berpaling ketika ia mendengar ibunya memanggilnya.

“Makanlah,” berkata ibunya.

Bramanti pun kemudian berdiri dan berjalan ke dapur.

Meskipun kemudian tangan Bramanti memegang mangkuk tanah yang berisi nasi, namun hatinya menjalar ke dunia angan-angannya yang tidak bertepi. Dunia yang dapat menampung segala macam kejadian dan peristiwa.

Tanpa disadarinya, Bramanti telah membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi, apabila Ratri tidak tertolong saat itu. Ia dapat menduga, apa saja yang akan dilakukan oleh Wanda Geni. Dan tiba-tiba saja ia berdesah di dalam hatinya. “Kasihan Ratri. Ternyata Temunggul tidak mampu melindunginya.”

Bramanti yang mula-mula sama sekali tidak menaruh perhatian atas Ratri, justru lambat laun ia mulai membayangkannya. Ia mulai mereka-reka wajah gadis itu di dalam angan-angannya. Namun setiap kali ia menghentakkannya sambil bergumam kepada diri sendiri. “Aku agaknya akan mencari persoalan.”

Tetapi wajah Ratri semakin membayang di rongga matanya.
Setelah makan, Bramanti pun minta diri kepada ibunya, untuk tidur di kandang yang kosong, seperti hampir setiap malam dilakukannya.

Namun agaknya malam terasa terlampau panas, sehingga hampir di tengah malam Bramanti keluar dari dalam kandang. Setelah mengamati keadaan sekitarnya, maka ia pun kemudian melangkah perlahan-lahan mengitari rumahnya. Namun agaknya Ia menjadi jemu, sehingga dengan demikian, maka ia pun berjalan keluar regol halaman.

Bramanti tidak tahu, kemana ia akan pergi. Tetapi ditelusurinya saja lorong yang membujur lewat di depan regol halamannya. Selangkah demi selangkah, semakin lama semakin jauh. Ketika ayam jantan mulai berkokok di tengah malam, Bramanti tersadar, bahwa ia telah berada di depan rumah Ratri.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Siang hari tidak akan berani berdiri di depan rumah itu. Kalau Temunggul melihatnya, maka hal itu pasti akan menjadi persoalan yang berlarut-larut.
Namun sejenak kemudian tiba-tiba Bramanti itu melenting dan bersembunyi di balik dinding halaman rumah Ratri itu. Ia mendengar langkah yang semakin lama menjadi semakin dekat.
Bramanti menarik keningnya. Di dalam keremangan cahaya lampu regol halaman ia melihat dua orang berhenti di regol itu. Ternyata mereka adalah Temunggul dan ayah Ratri.
Dada Bramanti menjadi berdebar-debar karenanya. Dan sejenak kemudian ia mendengar ayah Ratri berkata, “Terima kasih ngger. Kau sudah mau bersusah payah mengantarkan aku sampai ke rumah.”

“Ah,” jawab Temunggul. “Itu termasuk tugasku paman.”

“Ya, tugasmu adalah tugas yang sangat berat,” ayah Ratri berhenti sejenak, kemudian, “Eh, tetapi, tetapi, meskipun tugasmu sudah berat, aku masih minta kau membantu mengawasi Ratri. Aku percaya kepadamu ngger. Meskipun kau gagal mengalahkan Wanda Geni, tetapi aku kira kau adalah orang yang paling kuat di Kademangan ini selain Ki Jagabaya dan Ki Demang. Kalau aku tidak mempercayakan Ratri kepadamu, maka orang-orang lain pasti akan lebih tidak dapat dipercaya lagi.”

Wajah Temunggul tertunduk karenanya, “Terima kasih atas kepercayaan itu paman.”

“Kalau bukan kau yang harus menjaganya, siapa lagi,” berkata ayah Ratri seterusnya.

“Terima kasih paman.”

“Nah, selamat malam. Mudah-mudahan dalam menunaikan tugasmu, kau jangan lengah. Kau akan dapat menjadi orang terbesar di Kademangan ini.”

Temunggul tersenyum, katanya, “Betapapun besarnya, tetapi aku tidak akan dapat menjadi orang terbesar di Kademangan ini.”

“Sudah tentu ngger. Tetapi, apabila wahyu memang ingin berpindah dari satu keturunan ke keturunan yang lain, apakah sulitnya. Lihatlah, suami pertama Nyi Pruwita. Bukankah ia seorang Demang yang disegani? Tetapi ia mati selagi anaknya masih kecil.”

“Bramanti?”

“Bukan. Anak suaminya yang pertama bernama Panggiring.”

“O, ya Panggiring.”

“Ayah Panggiring adalah seorang Demang. Demang dari Kademangan ini. Tetapi nasibnya tidak terlampau baik. Ia mati, dan sepeninggalannya istrinya kawin lagi. Dan lahirlah Bramanti. Tetapi agaknya semakin besar semakin terasa oleh Panggiring bahwa ayahnya terlampau keras dan kasar kepadanya, sehingga akhirnya ia pergi. Maka kemudian ibunya pun harus mengalami kematian suaminya untuk kedua kalinya. Bukankah kau pernah mendengarnya juga?”

Temunggul tidak segera menjawab. Sesaat ia mengangguk-angguk. Namun sementara itu dada Bramanti terasa menjadi sesak. Ternyata ayah Panggiring dahulu adalah seorang Demang.

“Persetan,” ia menggeram. “Namun sekarang, aku adalah anak ibu satu-satunya. Panggiring telah pergi tanpa bekas.” Namun meskipun demikian, pembicaraan itu menjadi perhatiannya juga. Dan ia mendengar ayah Ratri itu berkata, “Nah, setelah Demang itu meninggal, anak laki-lakinya masih terlampau kecil dan bahkan kemudian hilang tidak ada beritanya, maka di angkat lagilah Demang yang sekarang ini.”

Temunggul mengerutkan keningnya. Kepalanya terangguk-angguk. Namun ia masih tetap berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.

“Sayang istrinya kawin lagi dengan seorang laki-laki yang bernama Pruwita itu,” berkata ayah Ratri seterusnya, “Sehingga akhirnya Janda Pruwita pun termasuk orang yang kita hormati di Kademangan ini. Bahkan hampir saja ia terpilih untuk menggantikan Demang yang meninggal itu. Tetapi semakin lama kelakuannya menjadi semakin buruk, sehingga pada suatu ketika ia terpaksa mengalami nasib yang mengerikan itu. Bukankah kau ingat?”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, aku hanya ingat apa yang terjadi. Tetapi aku tidak banyak mengerti.”

“Aku hanya ingin mengatakan, bahwa pada suatu saat, kedudukan Demang dapat bergeser dari garis keturunan.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam.

“Ah,” ayah Ratri berdesah. “Aku berbicara terlampau banyak. Selamat malam. Apakah kau akan singgah ke rumahku?”

“Terima kasih paman. Besok aku akan datang.”

“Kami, seisi rumah menunggu kedatanganmu dengan senang hati.”

“Terima kasih. Aku kini minta diri.”

Temunggul pun kemudian melangkah perlahan-lahan meninggalkan regol halaman rumah Ratri. Ketika ia berpaling, regol itu telah tertutup kembali dan ayah Ratri pun telah hilang ditelan pintu yang telah merapat itu.

Kini, tinggallah Bramanti merenung di balik sebatang gerumbul perdu yang rimbun. Tanpa disadarinya, ia telah dicengkam oleh ceritera ayah Ratri.

“Ayah Panggiring itu dahulu seorang Demang,” desisnya. “Tetapi ayahku pun seorang yang berpengaruh pada mulanya, meskipun akhirnya ia seakan-akan sama sekali tidak berharga.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia terpukul oleh akibat kelakuan ayahnya. Namun sekali lagi ia memantapkan tekadnya, “Aku harus membersihkan nama ayah dan keluargaku. Aku harus berbuat baik, sebaik-baiknya untuk Kademangan ini. Dengan demikian orang akan melupakan apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan ayah.”

Dan tiba-tiba Bramanti itu pun sadar, bahwa kini ia berada di halaman rumah Ratri. Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri dan dengan lincahnya meloncat dinding halaman. Dengan tergesa-gesa ia melangkahkan kakinya, pulang ke rumahnya. Tetapi ia tidak masuk ke dalam biliknya. Ia langsung pergi ke kandang dan membaringkan dirinya di atas jerami kering.

Sementara itu Temunggul pun sedang melangkahkan kakinya pulang ke rumahnya. Sekilas-kilas teringatlah olehnya ceritera ayah Ratri tentang Demang Candi Sari sebelum Demang yang sekarang. Tetapi ternyata ia sudah tidak begitu ingat apa yang telah terjadi saat itu.

Meskipun umurnya lebih tua sedikit dari Bramanti, tetapi ia tidak dapat mengingat dengan jelas, siapakah ayah Panggiring itu, dan apakah yang pernah terjadi atasnya. Ia hanya ingat, bahwa Panggiring dan Bramanti adalah dua orang bersaudara seibu, tetapi tidak seayah. Ia hanya ingat, bahwa ayah Ratri tidak begitu senang kepada Panggiring, sehingga anak itu kemudian pergi tanpa diketahui kemana.

“Ah, apa urusanku dengan mereka-mereka,” akhirnya Temunggul menggeram, “Aku sama sekali tidak berkepentingan, kecuali kalau Bramanti akan mengganggu Ratri, atau membuat kisruh di Kademangan ini karena dendamnya atas kematian ayahnya.”

Dan Temunggul pun kemudian berusaha untuk melupakannya. Ia berjalan semakin cepat, menembus gelapnya malam lewat lorong-lorong di padukuhannya.

“Aku harus ketemu dengan Ratri sendiri pada suatu ketika,” ia berdesis. “Agaknya aku tidak akan mengalami kesulitan dengan orang tuanya, asal Ratri sendiri tidak berkeberatan.”

Dengan demikian maka Temunggul pun kemudian mencoba mereka-reka, apakah yang sepantasnya dikatakan kepada Ratri apabila ia mendapat kesempatan. Kesempatan yang ditunggu-tunggunya, ketika Kademangan ini mengadakan keramaian telah dirusakkan oleh Wanda Geni dengan orang-orangnya.

Malam itu Temunggul hampir tidak dapat tidur sekejappun. Ia selalu dibayangi oleh harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan. Ia belum dapat meyakinkan sikap Ratri kepadanya. Apalagi setelah ia gagal mempertahankannya, dan hadirnya seorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.

Tetapi, betapa dadanya bergelora, maka ketika di ujung Timur membayang warna-warna merah, Temunggul itu pun justru terlena dipembaringannya.

Pada saat yang bersamaan, Bramanti yang terbaring di atas jerami kering, membukakan matanya. Perlahan-lahan ia bangkit sambil menggeliat. Ia pun hanya dapat tidur sekejap, karena pikirannya pun menjadi kalut oleh berbagai macam persoalan.
Kemudian ia bangkit dan melangkah keluar. Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat api di dapur sudah menyala. Agaknya ibunya bangun lebih pagi daripadanya.

Bramanti itu pun segera pergi ke sumur untuk mengambil air. Kemudian membersihkan diri dan melakukan kewajibannya mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Seperti biasanya, maka Bramanti pun kemudian mengambil sapu lidi untuk membersihkan halaman rumahnya. Halaman yang cukup luas itu, sehingga setiap pagi ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk melakukannya. Sejak matahari belum terbit, sampai terasa ujung panasnya menyentuh kulit.
Namun hari itu Bramanti tampak agak lain dari kebiasaannya sehari-hari. Wajahnya nampak murung, dan kerjanya pun agak lebih lambat. Setiap kali ia berhenti dan merenung, memandang kekejauhan. Apalagi kemudian disadarinya bahwa ia sedang menggenggam tangkai sapu lidi, maka segera ia melakukan tugasnya pula.

Ternyata Bramanti masih merasa terganggu oleh ceritera ayah Ratri tentang ayahnya, tentang ibunya dan tentang Demang Candi Sari yang lama, ayah Panggiring. Pengertiannya yang pendek tentang keluarganya itu telah membuatnya mereka-reka. Apakah yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi sudah tentu ia tidak akan sampai hati bertanya kepada ibunya. Sebab dengan demikian ia pasti akan melukai hatinya.

Karena itu maka disimpan sajalah pertanyaan-pertanyaan itu di dalam dadanya, sampai pada suatu saat ia mendengar dari siapapun juga, karena keadaannya kini masih belum memungkinkan untuk mencari kelanjutan dan permulaan dari ceritera ayah Ratri tentang keluarganya itu.

Demikian besar pengaruh ceritera itu dihatinya, sehingga ia kehilangan segala macam gairah. Ia sama sekali tidak mempunyai selera untuk makan. Meskipun demikian ia tidak mau membuat ibunya menjadi bertanya-tanya. Dipaksanya juga untuk menyuapi mulutnya pada waktu makan.

Namun sebagai seorang ibu, ternyata perempuan tua itu merasakan sesuatu yang tidak wajar di dalam hati anaknya. Mula-mula ia menyangka, bahwa Bramanti terlampau banyak bangun di malam hari, sehingga tubuhnya menjadi lemah. Tetapi ternyata ia keliru. Wajah yang muram dan sikap yang murung, bukanlah sekadar akibat dari kurang tidur saja.

Karena itu, maka ibunya pun mencoba bertanya kepada anak muda itu sehabis makan, “Apakah kau sakit Bramanti?”

Bramanti menggelengkan kepalanya sambil menyahut, “Sama sekali tidak ibu. Kenapa? Apakah wajahku pucat seperti orang sakit?”

“Kau tampak murung dan muram seharian ini.”

Bramanti tersenyum. Jawabnya, “Aku kurang tidur semalam ibu. Aku menganyam keranjang. Tanpa aku sadari ternyata hari hampir pagi.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak mempercayainya sepenuhnya, namun orang tua itu tidak bertanya lagi kepada anaknya.

Sejenak kemudian Bramanti lah yang berbicara, “Karena itu, aku akan beristirahat. Kalau mungkin aku akan tidur di kandang, supaya aku dapat menjadi segar lagi.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tidurlah.”

Bramanti pun kemudian pergi ke kandang di halaman rumahnya. Segera ia membaringkan dirinya di atas setumpuk jerami. Namun ternyata ia sama sekali tidak tidur. Sambil mengejap-ngejapkan matanya ia merenungi dirinya sendiri dan seluruh keluarganya. Tetapi ia tidak dapat mengambil kesim-pulan apapun. Namun kadang-kadang terbersit pula pertanyaan di dalam dirinya, “Dimanakah sekarang kakang Panggiring itu?”

Bramanti sendiri tidak mengerti, kenapa ia mengharap bahwa kakak seibunya itu untuk seterusnya tidak akan pulang kembali ke Kademangan. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia bergumam, “Aku kurang mengenalnya dari dekat, sebab sejak aku mulai menyadari keadaanku, kakang Panggiring telah pergi.”

Untuk selanjutnya, Bramanti berusaha meletakkan persoalan itu dari pikirannya. Ia ingin melupakan semuanya, “Sekarang,” katanya di dalam hati. “Bagaimana aku mengatasi persoalan sendiri.”

Bramanti terkejut ketika ia melihat sebuah kepala tersembul dari bilik dinding kandangnya yang kosong. Sambil bangkit Bramanti itu bergumam, “Huh, kau membuat aku terkejut Panjang.”

Panjang tersenyum, jawabnya, “Benar juga kata Temunggul. Kau benar-benar anak cengeng yang mudah terkejut dan mudah merengek.”

Bramanti tersenyum. Katanya, “Masuklah.”

“Gatal,” sahut Panjang.

“Tidak. Kandang ini sudah lama sekali tidak dipergunakan. Apalagi sejak aku perbaiki. Aku timbun jerami yang bersih di dalamnya, dan aku selalu tidur di kandang ini. Siang dan malam. Hanya dalam keadaan khusus saja aku tidur di dalam rumah.”

Panjang pun kemudian melangkah masuk dan duduk di samping Bramanti.

“Kau semalam tidak pergi ke Kademangan Bramanti?”

“Ada apa di Kademangan?” ia bertanya.

“Banyak orang yang datang ke Kademangan semalam, termasuk aku dan kawan-kawan anggota pengawal.

“Temunggul?”

“Temunggul juga pergi ke Kademangan.”

“Kapan ia pulang?”

“Hampir tengah malam.”

“Sendiri?”

Panjang menggelengkan kepalanya, “Tidak. Ia mengantar ayah Ratri lebih dahulu, karena ayah Ratri juga berada di Kademangan.”

“Kenapa kalian berkumpul? Apa akan ada penerimaan anggota baru lagi?”

“Apakah kau berhasrat untuk menjadi anggota pengawal?”

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Bagaimana aku dapat melampaui pendadaran yang begitu berat. Apalagi untuk berkelahi melawan harimau.”

Panjang tidak segera menjawab. Dipandangnya saja wajah Bramanti, hingga sesaat lamanya. Setiap ia teringat kepada sepasang harimau itu, maka ia selalu disentuh oleh perasaan aneh terhadap Bramanti. Namun ia tidak dapat memaksanya untuk menyebut dirinya sebagai seorang penyelamat dan penolong.

Panjang itu mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Bramanti bertanya, “Kenapa kalian berkumpul di Kademangan semalam?”

“Ada seseorang yang kami temui.”

“Siapa?”

“Seorang yang termasuk tetua Kademangan ini. Sudah beberapa tahun ia merantau. Kini ia kembali. Karena itulah, maka kami telah menerimanya di Pendapa Kademangan. Kami ingin mendengar ceritera atau setidak-tidaknya yang sudah ditempuhnya.”

Ceritera itu pasti menarik. Tetapi siapakah orang itu? Mungkin aku telah mengenalnya atau setidak-tidaknya mengenal namanya.

“Tentu, kau tentu sudah mengenalnya. Namanya Tambi. Ki Tambi.”

“Oh” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya. Ia termasuk orang dekat dengan keluarga kamu.”

“Ya. Ia pun mengatakannya.”

“Kemana Ki Tambi selama ini merantau?”

“Ia telah menjelajahi pulau ini dari ujung sampai ke ujung. Ia telah sampai ke ujung Timur, Banyuwangi. Dan ia pun telah sampai ke ujung sebelah Barat, Banten.”

“Bukan main,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah yang menarik menurut ceriteranya.”

“Biasa. Perjalanan, lapar, haus, perkelahian dan segala macam peristiwa.” Panjang terdiam sejenak, “lalu.”

“Apa?”

“Ki Tambi ternyata telah bertemu dengan Panggiring.”

“He,” berita itu benar-benar telah mengejutkan Bramanti. Sehingga kemudian dengan serta merta ia bertanya, “Dimana Ki Tambi bertemu dengan Panggiring?”

Panjang menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Ki Tambi tidak mau mengatakannya semalam. Ia ingin bertemu dengan ibumu lebih dahulu. Baru kemudian ia tidak akan merahasiakan lagi pertemuannya dengan Panggiring apabila tidak akan terjadi sesuatu atas keluargamu.”

Dada Bramanti menjadi kian berdebar-debar. Karena ceritera tentang Panggiring itulah agaknya, maka semalam ayah Ratri telah menyinggung-nyinggungnya pula.

“Tetapi apakah Ki Tambi sama sekali tidak mengatakan apapun tentang kakang Panggiring?”

“Sama sekali tidak. Bahkan atas pertanyaan Ki Demang pun Ki Tambi menggeleng. Ia harus bertemu dengan ibumu lebih dahulu.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja telah bergolak.
Selama ini ia berusaha untuk menyingkirkan masalah Panggiring dari lingkungan keluarganya untuk diketemukan kembali.
Bramanti menggelengkan kepalanya tanpa sesadarnya. Tiba-tiba ia berdesah di dalam hatinya. “O, ternyata aku pun adalah seorang yang tamak. Kenapa aku tidak menyukai kakang Panggiring? Ia adalah saudara seibu, meskipun berbeda ayah. Agaknya aku sudah dipengaruhi oleh kebencian ayahku kepadanya. Sudah tentu, bahwa kebencian ayah kepada kakang Panggiring sedikit banyak dipengaruhi oleh hubungan keluarga di antara mereka. Kakang Panggiring adalah anak tirinya.”

“Hari ini Ki Tambi pasti akan menemui ibumu. Dan kau akan mendengar berita tentang kakakmu. Mudah-mudahan berita itu menggembirakan keluargamu yang kini tinggal tiga orang itu. Bukankah begitu?” tiba-tiba Panjang berbicara memutus angan-angannya.

“Mudah-mudahan,” jawab Bramanti. Namun nada suaranya ternyata terlampau dalam.

“He, kenapa kau?” tiba-tiba Panjang bertanya. “Apakah kau menjadi bersedih? Seharusnya kau menjadi gembira dan apalagi ibumu. Ibumu telah kehilangan kedua anak laki-lakinya. Kau ternyata kembali lebih dahulu dan agaknya Panggiring pun akan menyusul.”

“Ya, aku akan gembira sekali.”

“Tetapi nada suaramu tidak mengatakan demikian.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. “Sudah tentu kami, maksudku aku dan ibuku akan bergembira menerima kedatangannya. Tetapi secara jujur aku harus mengatakan, bahwa hubungan yang mengikat antara kami berdua, aku dan kakang Panggiring, sama sekali tidak terasa.”

“Ya, Panggiring pergi terlampau lama. Jauh lebih dahulu dari kau bukan?”

“Itulah agaknya yang menyebabkan, bahwa aku merasa seolah-olah itu tidak mempunyai seorang saudara.”

Panjang mengerutkan keningnya. Dari beberapa orang dan dari sekadar ingatan ia mengerti, bahwa ayah Panggiring telah meninggal. Kemudian ibunya kawin lagi dengan ayah Bramanti. Ia mendengar rerasan beberapa orang tua-tua semalam, bahwa ayah Bramanti itu seolah-olah telah mengusir anak tirinya. Tetapi apakah sebabnya, tidak ada seorang pun yang dapat mengatakannya dengan tepat. Ada yang mengatakan bahwa Panggiring memang anak bengal, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa ayah Bramanti terlampau keras terhadap anak tirinya.

“Yang paling mengetahui adalah keluarganya sendiri,” berkata Panjang di dalam hatinya. “Terutama ibunya.”

“Tetapi,” berkata Panjang kemudian kepada Bramanti. “Kau akan segera mendengar kabar itu,” Panjang terdiam sejenak, lalu “Ah, agaknya aku akan terlampau lama singgah di kandangmu. Aku harus pergi ke Kademangan. Aku tadi hanya singgah sebentar untuk memberitahukan kedatangan Ki Tambi kepadamu. Mungkin ibumu perlu kau beritahu sebelumnya, supaya ia dapat bersiap-siap menerima berita tentang anak sulungnya itu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih Panjang. Aku akan menyampaikannya kepada ibu, bahwa Ki Tambi akan menemuinya dan berbicara tentang Panggiring.”

“Baiklah, sekarang aku minta diri. Aku akan pergi ke Kademangan. Para anggota pengawal harus berkumpul. Mungkin akan mendapat beberapa penjelasan dari Ki Demang. Atau mungkin ada keperluan lain.”

“Terima kasih atas pemberitahuan itu Panjang.”

“Ah, jangan terlampau banyak berterima kasih. Sudah beberapa kali kau mengucapkannya.”

Mau tidak mau Bramanti pun tersenyum sambil berdiri. Di antarkannya tamunya sampai ke regol halaman. Tetapi ketika ia ingin mengatakan sesuatu. Panjang mendahuluinya, “Jangan berterima kasih lagi.”

Sekali lagi Bramanti tersenyum, “Tidak. Aku akan berpesan agar kau hati-hati di jalan.”

Kini Panjang lah yang tersenyum sambil melangkah pergi.
Sepeninggalan Panjang, Bramanti kembali merenung. Ia masih berdiri dipintu regol. Berbagai masalah hilir mudik di dalam kepalanya. Dan setiap kali ia mencoba untuk mengerti tentang dirinya sendiri.

“Kenapa aku tidak menyukainya?” pertanyaan itu selalu datang mengetuk jantungnya.

“Aku telah membuat kesalahan. Aku tidak boleh membenci siapapun. Apalagi kakang Panggiring. Ia adalah saudaraku seibu.”

Bramanti itu terkejut ketika ia tiba-tiba saja mendengar seseorang menyapanya, “Siapakah yang kau tunggu Bramanti?”
Bramanti tergagap. Ketika ia mengangkat wajahnya hatinya menjadi berdebar-debar. Yang berdiri dihadapannya adalah Ratri. Begitu asyik ia tenggelam di dalam angan-angannya tentang Panggiring sehingga ia tidak mengerti bahwa yang berhenti di depan regol itu adalah Ratri. Disangkanya orang-orang lewat seperti yang lain. Tanpa memperhatikannya, dan bahkan tanpa menegurnya. Apabila ia mendahului menegur, orang-orang itu akan menjawab sekenanya. Tetapi kali ini yang lewat justru berhenti didepan regol itu adalah Ratri.
Bramanti mencoba mengendalikan perasaannya. Semula ia tidak merasakan getaran yang aneh itu, apabila ia bertemu dengan gadis itu. Tetapi semakin lama, justru wajah itu semakin terukir di dinding hatinya.

Dengan terbata-bata Bramanti bertanya, “Darimana kau Ratri?”

“Pertanyaanku belum kau jawab,” sahut Ratri. “Siapakah yang kau tunggu?”

Bramanti menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menunggu seseorang. Tidak ada seorang pun yang mengharapkanku menunggunya.”

“Ah,” Ratri berdesah. “Kau terlampau perasa Bramanti. Mungkin karena kau sudah terlampau lama meninggalkan Kademangan ini sehingga kau masih perlu menyesuaikan diri.”

“Mungkin, mungkin,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, “Tetapi kemana kau akan pergi sekarang?”

“Aku hanya berjalan-jalan saja.”

“Apakah kau tidak takut berjalan-jalan sendiri?”

“Apa yang aku takutkan?”

“Bukankah kau hampir saja dibawa oleh orang-orang Panembahan Sekar Jagat?”

“Ah,” sekali lagi ia berdesah. “Menurut ayah,” katanya selanjutnya. “Hal itu tidak akan terulang lagi. Salah seorang dari mereka telah memberikan jaminan. Dan Panembahan Sekar Jagat sendiri pasti tidak akan membenarkan sikap orang-orang itu.”

“Apakah kau yakin?”

“Tentu tidak, tetapi aku merasa cukup aman disiang hari. Sebab, kalau mereka akan datang dimanapun saja aku berada tidak seorang pun yang akan dapat menghalangi maksud mereka selain membunuh diri.”

“Ah, itu tidak perlu Ratri. Bukankah seorang telah menolongmu.”

“Ya, Putut Sabuk Tampar, darimana kau tahu?”

“Setiap orang menceriterakan,” namun kemudian dengan tergesa-gesa Bramanti memindahkan persoalan, “Tetapi apakah kau mempunyai suatu keperluan.”

“Tidak. Sebenarnya aku ingin pergi ke bendungan. Sudah lama aku tidak pergi ke sana. Tetapi seperti katamu, aku masih takut keluar dari pedukuhan ini meskipun disiang hari. Akhirnya aku berjalan saja menyusuri jalan ini.”

Bramanti menarik nafas.

“Tetapi,” tiba-tiba Ratri melangkah maju. “Aku dengar dari ayah apakah Panggiring juga akan kembali?”

Dada Bramanti berdesir. Sejenak ia tidak segera dapat menyahut, sehingga Ratri mengulangi pertanyaannya.

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu Ratri. Yang aku ketahui, Ki Tambi lah yang baru pulang. Itu pun aku hanya sekadar mendengar dari Panjang. Aku belum bertemu dengan Ki Tambi itu sendiri.”

“Ayah sudah bertemu semalam di Kademangan. Tetapi Ki Tambi tidak mau mengatakan apapun tentang Panggiring sebelum ia bertemu dengan ibumu. Apakah ia sudah datang kemari?”

“Belum. Aku juga mengharapkannya.”

Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Ah, aku akan pulang.”

“Begitu tergesa-gesa. Apakah kau tidak singgah dahulu?”

Ratri menggelengkan kepalanya.

“Tetapi,” berkata Bramanti kemudian, “Kenapa kau menaruh begitu besar perhatian kepada kakang Panggiring?”

Ratri mengerutkan keningnya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab. “Ah, aku sama sekali tidak menaruh perhatian. Tetapi aku melihat kau berdiri di regol ini, aku teringat ceritera ayah semalam, bahwa seseorang telah berceritera tentang Panggiring. Karena itu aku bertanya kepadamu sekarang.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sayang. Aku belum mengetahui ceritera tentang kakang Panggiring. Aku mendengar dari Panjang yang baru saja datang kemari.”

“Apakah Panjang lewat di jalan ini?” bertanya Ratri.

“Baru saja. Apakah kau tidak melihat seseorang keluar dari halaman ini? Kalau yang baru saja keluar itu Temunggul, maka aku pasti menyangka bahwa kalian memang telah berjanji untuk datang kemari, karena begitu berurutan.”

“Ah,” Ratri mengerutkan keningnya. “Jangan kau sebut-sebut lagi hal itu Bramanti.”

Bramanti tersenyum. Katanya, “Kenapa? Bukankah semuanya sudah beres?”

“Apa?” potong Ratri. “Sekali lagi aku minta, jangan kau sebut-sebut lagi hal itu. Bertanyalah tentang hal-hal yang lain. Tetapi jangan tentang hal itu. Kau membuat aku menjadi berdebar-debar demikian?”

“Maafkan Ratri. Bukan maksudku. Aku hanya ingin bergurau saja.”

“Aku tahu. Tetapi aku minta, jangan kau ulang lagi.”

“Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidak menyebutkannya lagi.”

“Terima kasih,” sahut Ratri, yang kemudian katanya, “Aku akan meneruskan langkahku. Aku ingin mengunjungi kawan-kawan.”

“Apakah kau tidak singgah dahulu?”

Ratri termenung sejenak. Namun kemudian, “Terima kasih Bramanti. Lain kali.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia mempersilakan Ratri singgah selain adat kebiasaan. Tetapi ia mengharap Ratri itu menolaknya, karena apabila Temunggul melihatnya, atau siapapun yang akan menyampaikannya kepada Temunggul, maka ia akan menemui kesulitan.

Ratri pun kemudian melangkah meninggalkannya. Ia berjalan searah dengan Panjang. Tetapi kemudian Ratri berbelok ke jalan sempit menuju ke rumah kawannya.

Bramanti pun kemudian masuk ke halaman rumahnya. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya menunju ke kandang. Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia duduk bersandar dinding. Sekilas terbayang seseorang yang telah begitu lama tidak dijumpainya. Kakaknya seibu tetapi tidak seayah. Dicobanya untuk mengingat-ingat kembali wajah itu. Wajah yang keras seperti batu-batu padas di pegunungan. Meskipun saat itu Panggiring masih kanak-kanak, tetapi sudah nampak pada sifat dan kebiasaannya, bahwa ia adalah seorang yang keras hati.

“Kakang Panggiring terlampau keras kepala,” desis Bramanti.

“Dan itulah agaknya yang membuat ayah tidak begitu senang kepadanya. Sama sekali bukan karena kakang Panggiring itu anak tirinya. Ayah bukan orang yang sejahat itu, mengusirnya dan memukulinya. Tidak. Semua itu karena kesalahan kakang Panggiring sendiri. Ayah tidak pernah mengusirnya, tetapi kakang Panggiring sendirilah yang bergi meninggalkan keluarga kami.

Tetapi ingatan itu terlampau kabur di kepala Bramanti, bagaimanapun juga, Bramanti tidak akan berpihak kepada Panggiring. Sebagai seorang anak laki-laki betapapun ia mengetahui kekurangan ayahnya, namun dalam persoalan ini ia tidak dapat memandanginya tanpa menyangkutkan diri sendiri.

“Apakah yang akan diberitakan oleh Ki Tambi itu tentang kakang Panggiring?” pertanyaan itu selalu mengganggunya, sehingga karena itu, tiba-tiba ia bangkit dan melangkah keluar lagi dari dalam kandang. “Aku harus memberitahukannya kepada ibu, supaya ibu tidak terkejut.”

Maka Bramanti itupun kemudian mencari ibunya. Dan dikatakannya apa yang didengarnya tentang Ki Tambi itu.
Wajah ibunya yang sudah berkerut-kerut karena umurnya itupun menjadi semakin berkerut-kerut. Di mata orang tua itu, tiba-tiba mengambang setitik air.

“Apakah yang akan dikatakannya tentang kakakmu?”

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengerti ibu.”

“Apakah ia akan pulang juga?”

“Entahlah bu,” jawab Bramanti.

Ibunya pun kemudian terdiam. Tetapi tatapan matanya kemudian menembus daun pintu yang tidak tertutup rapat, menyentuh bayangan matahari di kejauhan, seolah-olah perempuan tua itu sedang mencari sesuatu di alam kembara angan-angannya.

Tetapi perempuan tua itu tahu jauh lebih banyak dari Bramanti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kini yang dapat dilakukannya hanyalah menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah Ki Tambi akan singgah ke rumah kami?” bertanya perempuan tua itu.

“Begitulah yang aku dengar.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mudah-mudahan aku akan mendengar kabar yang baik, yang membuat umurku tidak segera berakhir.”

Bramanti mengerutkan keningnya mendengar gumam ibunya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun.

Dengan demikian maka sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka masing-masing membiarkan angan-angannya membum-bung segala waktu. Yang sudah lampau dan yang masih akan mereka jalani.

Namun sejenak kemudian Bramanti berdiri sambil berkata, “Bu, aku akan turun ke halaman.”

“Tetapi bukankah kau tidak akan pergi keluar? Kita tunggu Ki Tambi, supaya kita cepat mendengar ceriteranya bersama-sama.”

“Aku hanya akan keluar dan turun ke halaman ibu. Udara terlampau panas. Mungkin aku berada di kandang, tetapi mungkin juga aku menganyam wuwu di bawah pohon sawo.”

“Baiklah,” jawab ibunya. “Kalau Ki Tambi datang, aku akan memanggilmu.”

Bramanti pun kemudian meninggalkan ibunya dan pergi ke halaman. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Dilihatnya beberapa potong bambu bersandar pada batang sawo yang rimbun. Timbul niatnya membuat wuwu untuk menangkap ikan di sungai. Tetapi tiba-tiba saja ia merasa malas. Karena itu, maka ia pun melangkah kembali ke kandang dan kini bahkan ia berbaring di atas jerami kering.

Bramanti sekali lagi tenggelam di dunia angan-angannya. Sekali-kali ia mendengar lenguh lembu di kejauhan. Burung perenjak berkicau di dahan batang melanding disamping kandang seakan-akan mengabarkan, bahwa sebentar lagi akan datang seorang tamu berkunjung kerumah itu.

Bramanti terkejut ketika ia mendengar suara ibunya memanggil. Dengan tergesa-gesa ia bangkit dan melangkah keluar kandang, dan kemudian dengan dada berdebar-debar ia pergi ke pendapa.

Jantungnya serasa berguncang ketika ia melihat, seseorang berdiri di tangga pendapa bersama ibunya. Dan segera ia mengenal orang itu. Meskipun tampak orang itu menjadi semakin tua, namun ia masih dapat mengenalnya dengan pasti, bahwa orang itulah yang bernama Ki Tambi.

Orang itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika ia melihat Bramanti mendatanginya. Dengan ramahnya ia berkata, “Kalau aku tidak mendengar dari ibumu, bahwa kaulah Bramanti itu, aku sudah tidak dapat mengenalmu lagi.”

Bramanti pun menganggukkan kepalanya. Dengan hormatnya ia menyahut, “Terima kasih. Tetapi aku masih dapat mengenal dengan jelas dan bahkan hampir tidak berubah, bahwa aku berhadapan dengan Ki Tambi. Kira-kira sepuluh tahun yang lampau, Ki tambi juga sudah seperti ini, dan sekarang Ki Tambi masih juga seperti ini.”

Orang yang bernama Ki Tambi itu tertawa. Katanya, “Aku setiap hari minum jamu Bramanti sehingga aku menjadi awet muda.”

Bramantipun tertawa. Ibunya yang jarang sekali mendapat kesempatan untuk tertawa itu pun tertawa pula.

“Marilah, masuklah Ki Tambi,” ibu Bramanti itu pun mempersilahkan.

Meskipun kemudian bersama-sama masuk ke pringgitan, sejenak kemudian mereka telah terlibat dalam pembicaraan yang lancar. Mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing dan sejenak kemudian mulailah mereka berceritera tentang diri mereka.

“Jadi Ki Tambi telah merantau lebih dari lima tahun,” bertanya ibu Bramanti.

“Tujuh tahun,” sahut Ki Tambi.

“Sudah cukup lama Ki Tambi meninggalkan Kademangan ini,” berkata ibu Bramanti. “Mungkin sekarang Ki Tambi merasa bahwa Kademangan ini sudah jauh berubah dari Kademangan yang dahulu kau tinggalkan.”

“Tidak. Aku masih cukup mengenalnya. Hampir tak ada perubahan sama sekali.”

“Kecuali isi dan wataknya,” potong Bramanti.

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, bentuk lahiriahnya hampir tidak berubah. Tetapi betul katamu Bramanti. Isi dan watak dari Kademangan ini agaknya memang telah berubah. Baru dua hari aku berada di Kademangan ini namun aku sudah melihat dan mendengar banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menurut dugaanku, tidak akan dapat terjadi beberapa tahun yang lampau.”

“Kademangan ini seolah-olah diliputi oleh keputusasaan,” sahut Bramanti.

Ki Tambi tidak segera menjawab. Namun yang terdengar adalah suara ibunya, “Kita sudah tidak berhak lagi untuk mencampurinya Bramanti. Kita lebih baik berbuat untuk diri kita sendiri.”

Ki Tambi yang mendengar kata-kata ibu Bramanti itu mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah perempuan tua itu, kemudian wajah Bramanti. Tetapi Bramanti sedang menundukkan kepalanya.

“Aku sudah mendengar semuanya. Aku sudah mendengar tentang orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat. Aku sudah mendengar tentang kau Bramanti bahwa kau pun ternyata belum lama kembali ke Kademangan ini sejak kepergianmu lebih dari sepuluh tahun yang lampau, kira-kira tiga tahun sebelum aku meninggalkan Kademangan ini bahkan aku sudah mendengar pula ceritera terakhir, tentang Ratri yang hampir saja menjadi korban salah seorang pengikut Panembahan Sekar Jagat itu. Untunglah saat itu datang seorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Bukankah begitu?”

“Begitulah menurut pendengaranku Ki Tambi,” jawab Bramanti.

“Bahkan aku mendengar pula seseorang yang tidak dikenal telah menolong dua orang calon anggota pengawal yang sedang menjalani pendadaran. Benar begitu?”

“Mungkin Ki Tambi. Akupun hanya mendengar kata orang.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tiba-tiba maksudnya itu di urungkannya. Bahkan kemudian ia hanya menarik nafas dalam-dalam.

Namun sejenak kemudian ia bergumam, “Memang dalam waktu tujuh tahun, banyak persoalan yang dapat terjadi. Seperti persoalanku sendiri. Hampir tidak seorang pun yang memperhatikan kepergianku saat itu. Bahkan mungkin ada satu dua orang yang sama sekali tidak mengerti, bahwa aku pernah meninggalkan Kademangan ini selama sekian tahun. Waktu itu, aku tidak lebih dari seorang tukang blandong yang tidak berarti apa-apa. “Ki Tambi berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Tetapi dalam waktu tujuh tahun terakhir, ternyata aku telah berubah sama sekali meskipun bentuk lahiriah, aku masih juga Tambi yang dahulu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Pengalamanku sangat berarti bagiku. Dan aku sekarang akan dapat berusaha dengan cara yang lebih baik daripada seorang blandong yang setiap hari selalu memeras tenaga. Aku sudah dapat menabung sedikit modal apabila suatu ketika aku tertarik untuk berdagang.”

Bramanti masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebenarnya ia ingin segera mendengar berita tentang Panggiring.
Agaknya ibu Bramanti pun demikian pula. Bahkan perempuan tua itu sudah tidak menahan perasaannya lagi. Sehingga sesaat kemudian terloncat pertanyaannya, “Tetapi Ki Tambi, apakah kau benar-benar bertemu dengan Panggiring?”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Bramanti, dan sejenak kemudian ibunya.

“Benarkah?” desak ibu Bramanti itu.

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Terdengar jawabannya perlahan-lahan. “Ya. Aku memang bertemu dengan Panggiring.”

“Bagaimana dengan anak itu Ki Tambi?”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Meskipun kepalanya terangguk-angguk dan bibirnya bergerak-gerak, namun tidak sepatah katapun yang dapat didengar berdesis dari mulutnya.

“Bagaimana Ki Tambi,” perempuan tua itu semakin mendesak.

Tetapi Ki Tambi masih belum menjawab. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Bramanti, “Bramanti, bukankah kau sudah tidak berhasrat untuk meninggalkan rumah ini lagi?”

Bramanti menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi dihadapan ibunya ia tidak menjawab lain kecuali mengiakannya. Meskipun demikian ia berkata lebih lanjut, “Tetapi, entah salahku entah kawan-kawanku bermain di masa kanak-kanak, masih kurang dapat saling menyesuaikan diri. Aku masih merasa terasing, dan bahkan di asingkan.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Lambat laun Bramanti, aku yakin bahwa kau akan tetap menjadi keluarga Kademangan ini. Karena itu, usahakanlah. Dan jangan pernah berfikir lagi untuk meninggalkan ibumu yang sudah tua. Kampung halaman dan tanah warisanmu ini. Kau harus menjadi anak yang baik, yang akan menjadi kebanggaan seluruh keluargamu, dan bahkan lingkunganmu.”

Bramanti menjadi bingung. Dengan demikian ia justru terdiam. Kemudian sekali lagi Bramanti menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi,” ibunya menjadi semakin tidak sabar. “Bagaimana dengan Panggiring? Apakah ia masih hidup atau sudah mati?”

“Sampai aku meninggalkan tempatnya, ia masih tetap hidup. Entahlah apabila terjadi sesuatu dengan anak itu di perjalanannya. Karena Panggiring pun merantau seperti aku pula. Tetapi ia lebih telaten tinggal di suatu tempat dari padaku.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berdesis. “Hanya itukah berita tentang Panggiring yang kau bawa Ki Tambi?”

Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi masih belum menjawab pertanyaan itu. Bahkan sekali lagi bertanya kepada Bramanti, “Bramanti, aku mengharap, bahwa kau akan menjadi pegangan hidup ibumu di hari tuanya ini. Aku dengar bahwa kau bersikap baik. Maksudku, kau sama sekali tidak ingin melepaskan dendam atas kematian ayahmu. Bahkan kau bermaksud untuk membersihkan nama ayahmu dengan perbuatan. Betulkah kau pernah berkata begitu kepada kawan-kawanmu?”

“Ya Ki Tambi. Aku memang pernah berkata demikian. Ketika itu aku dituduh, bahwa kedatanganku semata-mata didorong oleh perasaan dendam.”

“Bagus. Aku berdoa Bramanti, supaya kau menjadi penebus nama keluargamu. Nama yang buram akan menjadi cerah, karena kau telah berbuat banyak kebaikan, meskipun sampai saat ini kau masih tetap dicurigai.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Ki Tambi. Kedatangannya diharapkan untuk dapat mengatakan beberapa masalah mengenai Panggiring. Tetapi sedemikian jauh yang dipercakapkannya adalah dirinya.

“Tetapi,” sekali lagi ibunya memotong. “Bukankah kau ingin mengatakan tentang Panggiring, Ki Tambi?” Selain berita bahwa kau pernah berjumpa, dan berita tentang ketidaktahuanmu akan keadaannya sepeninggalanmu, apakah kau tidak pernah mengetahui, atau mendengar, apakah kerjanya kini?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah perempuan tua itu. Kemudian katanya dalam nada berat, “Nyi Pruwita. Kau harus merasa berbahagia bahwa Bramanti telah kembali. Ia akan menjadi sandaran hidup Nyai di hari mendatang. Nyai tidak usah memikirkan apa-apa lagi harus di pegang erat-erat.”

Ibu Bramanti menjadi kian berdebar-debar. Ia merasa bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi atas Panggiring. Tetapi Panggiring belum mati sepengetahuan Ki Tambi. Justru dengan demikian, maka perempuan tua itu menjadi semakin terdorong untuk mengetahui apakah yang sebenarnya telah terjadi. Bagaimanapun juga, Panggiring adalah anaknya seperti Bramanti. Sebagai seorang ibu, maka sudah tentu ia tidak akan dapat melepaskan ikatan yang terjalin antara dirinya dan anak yang telah dilahirkannya.

Karena itu, maka dengan gelisah ia menuggu Ki Tambi mengatakannya selanjutnya tentang anaknya yang sulung, yang lahir dari ayah yang lain dari ayah Bramanti.

“Nyai,” berkata Ki Tambi kemudian. “Aku berkeras untuk tidak mengatakan apa-apa tentang Panggiring semalam di Kademangan sebelum aku bertemu dengan Nyai. Beberapa orang telah bertanya tentang anak itu.”

“Kenapa tiba-tiba saja mereka bertanya tentang Panggiring.”

“Aku terdorong mengatakan bahwa aku telah bertemu dengan anak itu di Kudus.”

“Ya, tetapi kenapa dengan anak itu?” desak ibunya yang menjadi semakin tidak sabar lagi.

“Nyai, berita tentang Panggiring memang kurang baik. Tetapi jangan terlampau disesalkan. Nyai harus berterima kasih banyak kini Bramanti ada di rumah ini, memelihara tanah ini sebagai tanah warisan dengan baik-baik. Memperbaiki rumah yang menurut pendengaranku sudah hampir tidak dapat ditempati lagi karena lubang-lubang pada atapnya menjadi kian hari kian luas. Dan sekarang rumah dan halaman ini sudah kelihatan bersih dan rapi meskipun tidak dapat diperbandingkan dengan saat-saat Ki Pruwita masih kaya raya.”

Debar di dada perempuan tua menjadi kian tajam menggores jantungnya.

“Katakan Ki Tambi, katakan.”

“Endapkanlah perasaanmu Nyai,” Ki Tambi berhenti sejenak.

“Apakah anak itu telah mati?”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Ia berpaling memandangi wajah Bramanti yang tegang untuk sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak. Panggiring tidak mati. Tetapi hidupnya kini sama sekali sudah tidak berarti lagi.”

“Maksudmu?” desak ibunya.

Sekali lagi Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. “Nyai, anak itu terperosok ke dalam dunia yang paling kelam.”

Nyai Pruwita terhenyak ditempatnya. Mulutnya serasa terbungkam, dan dadanya menghentak-hentak seperti akan retak. Sementara Bramanti mendengarkannya dengan tegang.

“Apakah maksud Ki Tambi sebenarnya dengan dunia yang hitam itu?” bertanya Bramanti.

Ki Tambi menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Hampir tidak dapat dikatakan. Setiap orang tidak berani lagi menyebut namanya. Karena Panggiring seolah-olah telah menjadi hantu yang paling menakutkan. Setiap orang yang berhati kecil, akan menjadi pingsan apabila mereka mendengar nama itu Panggiring.”

“Apakah yang telah dilakukan,” ibunya memotong dengan suara yang gemetar, “Apa? Apakah anakku….” suara perempuan itu terputus. Dari matanya meleleh air yang bening membasahi pipinya yang kisut.

“Entahlah, bagaimana asal mulanya Nyai. Panggiring di daerah pesisir Utara benar-benar menjadi hantu yang menakutkan. Namanya dikenal oleh setiap orang. Namun sayang, bahwa nama Panggiring di pesisir Utara adalah nama seorang perampok dan perampok besar, hampir tiada bandingnya. Di darat dan di laut.”

“Oh,” terdengar sebuah desah yang dalam. Dan tiba-tiba ibu Bramanti itu menjadi lemas. Hampir saja ia jatuh terjerembab dari amben apabila anaknya tidka dengan sigapnya menahannya.

“Ibu,” panggil Bramanti.

Nafas perempuan tua itu menjadi terengah-engah. Lamat-lamat terdengar suaranya dalam dan parau, “Panggiring, Panggiring.”

Ki Tambi pun kemudian menjadi cemas dan gelisah. Ia sudah berusaha untuk mengatakannya dengan hati-hati. Tetapi bagaimana pun juga, kejutan perasaan itu benar-benar telah mengguncang seisi dadanya.

Kemudian Bramanti membaringkan ibunya itu di pembaringannya. Perempuan tua itu kemudian sama sekali tidak berhasil menahan tangisnya. Panggiring adalah anaknya. Betapapun juga.

Ki Tambi pun kemudian duduk di sampingnya. Dengan hati-hati ia mencoba menghiburnya. Mengucapkan beberapa kata pemupus, agar perempuan tua itu ikhlas menerima keadaan yang tidak mungkin lagi dapat dihindari.

“Ki Tambi,” berkata perempuan tua itu di sela-sela isaknya. “Aku sudah terlampau biasa menahan hati dalam kesulitan perasaan yang paling parah. Hampir sepuluh tahun aku hidup dalam keadaan yang asing. Hampir tidak seorang pun yang mau menerima aku di dalam pergaulan hidup di Kademangan ini. Meskipun masih juga ada satu dua orang menganggapku sebagai manusia yang berperasaan, tetapi aku benar-benar telah terasing. Dan aku dapat menahankannya. Sepuluh tahun sejak suamiku itu meninggal dunia. Tetapi selama itu aku masih berpengharapan.”

“Apakah yang Nyai harapkan?”

“Anak-anakku.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja di luar sadarnya ia berkata, “Apakah kepulanganku tidak berarti bagi ibu?”

“Tentu. Tentu Bramanti. Kau begitu sama artinya dengan kakakmu Panggiring. Kau adalah anak yang aku lahirkan seperti aku melahirkan kakakmu meskipun kalian tidak seayah. Tetapi ayah-ayah kalian itu semuanya sudah tidak ada lagi. Dan yang tinggal padaku adalah kalian berdua. Kau dan Panggiring. Harapanku aku letakkan kepadamu dan kakakmu. Kehadiranmu sangat berarti bagiku. Apalagi apabila kakakmu Panggiring itu tidak akan kembali lagi. Maka satu-satunya sandaran hidupku adalah kau.”

Bramanti menundukkan kepalanya. Ia menyesal sekali, bahwa ia telah membuat ibunya menjadi semakin pedih. Tetapi ia tidak dapat mengingkari perasaannya sendiri. Aneh, bahwa ia sama sekali tidak mengharapkan kakaknya itu pulang. Seperti ayahnya, Panggiring kurang mendapat tempat dihatinya. Apalagi kini, setelah ia mendengar, bahwa Panggiring telah menjadi seorang perampok dan perampok yang menakutkan. Tetapi sebagai seorang yang matang, Bramanti sebenarnya tidak pernah disentuh oleh perasaan takut itu. Terhadap siapapun.

Sejenak Bramanti dicengkam oleh perasaannya. Kadang-kadang ia memang sempat mencela dirinya sendiri. Apapun yang dilakukan Panggiring, dan betapa ia akan sanggup mengingkarinya, namun kenyataan bahwa Panggiring itu dilahirkan oleh ibunya itu tidak akan dapat dihapuskan. Bagaimana pun juga Panggiring adalah kakaknya.

Ki Tambi memandangi ibu Bramanti dengan tatapan belas kasihan. Perempuan itu telah terdorong-dorong kejalan yang terlampau terjal dan curam. Sebagai seorang yang dekat dengan keluarga Pruwita, Ki Tambi mengetahui banyak, tentang apa yang pernah terjadi atas perempuan tua itu.

“Nyai,” berkata Ki Tambi. “Setelah aku berada di Kademangan ini kembali, maka kau tidak akan terasing lagi. Setidak-tidaknya aku akan selalu berkunjung ke rumah ini seperti yang selalu aku lakukan dahulu. Perlakuan yang tidak wajar atas kalian tidak akan pernah terjadi lagi. Aku akan minta kepada para tetangga.”

Tetapi perempuan itu menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu Ki Tambi. Aku tidak pernah mengharapkan belas kasihan yang demikian. Kalau mereka berbaik kepada kami hanya karena memenuhi permintaanmu, maka sebenarnya mereka tidak berbaik kepada kami, tetapi semata-mata kepadamu.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sikap itu masih saja melekat pada Nyai Pruwita, yang pernah disebut Nyai Demang Candi Sari. Tetapi Ki Tambi tidak menyahut lagi. Ia tidak mau membuat perempuan itu semakin sakit.

Dengan demikian maka sejenak mereka saling berdiam diri. Sehingga dengan demikian ruangan itu menjadi sepi.

Angin yang silir berhembus menyusup di antara daun pintu yang masih menganga. Satu-satu terdengar ciap burung emprit di pepohonan dan kicau burung podang di pelapah pisang.

Sejenak kemudian Ki Tambi berdesak. Perlahan-lahan pula ia berkata, “Nyai. Sudah tentu pada suatu ketika berita ini akan terpencar. Mungkin sehari dua hari aku masih dapat mengelakkan segalam macam pertanyaan, tetapi sudah tentu pada suatu ketika aku akan lengah dan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Karena itu sebelumnya aku minta maaf kepadamu.”

Perempuan tua itu menganggukkan kepalanya. Betapa beratnya ia menjawab “Bukan salahmu Ki Tambi. Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah arang yang tercoreng di wajah kami menjadi semakin hitam. Namun sekali lagi aku masih berpengharapan. Kalau saja Bramanti berhasil, maka ia akan membersihkan segala cacad dan cela itu.”

“Mudah-mudahan,” desis Ki Tambi. Kemudian, “Namun Nyai, bagaimana pun juga, aku harus mengucapkan terima kasih kepada Panggiring itu. Meskipun ia menjadi seorang yang paling ditakuti, tetapi ia tidak melupakan orang-orang yang pernah dikenalnya di masa kanak-kanaknya”

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Bramanti.

“Dalam perjalananku, suatu ketika aku bertemu dengan segerombolan penyamun. Betapapun aku mencoba melawan, namun aku sama sekali tidak berdaya. Akhirnya aku tertangkap. Tidak ada di dalam ingatan mereka untuk membiarkan orang-orang yang ditangkapnya untuk tetap hidup. Karena itu, maka akupun sudah disiapkannya untuk menjadi tontonan pada saat matiku,” Ki Tambi berhenti sejenak, kemudian “Tetapi ternyata Tuhan masih ingin memelihara aku sebagai hamba-Nya dimuka bumi ini. Ternyata pemimpin tertinggi dari penyamun itu sedang menerima tamu yang dihormatinya. Tamu itu adalah Panggiring. Raja dari segala raja perampok dan perampok.”

Bramanti mendengarkannya dengan sepenuh minat. Sedang ibunya pun mencoba untuk mengerti persoalan itu.

“Ternyata Panggiring masih mengenal aku,” sambung Ki Tambi. “Karena itu, maka ia minta aku dibebaskan. Mula-mula para penyamun itu berkeberatan. Mereka takut kalau aku berceritera tentang mereka dan kedudukan mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat melawan kehendak Panggiring. Sehingga akhirnya aku dilepas kannya. Sebelum aku meninggalkan neraka itu, Panggiring mendatangi aku sambil berkata, “Ki Tambi, kau masih mengenal aku.”

“Ya,” jawabku.

“Nah, seterusnya berhati-hatilah. Jangan sampai terperosok ke sarang manusia-manusia serigala macam ini. Untunglah bahwa aku sempat melihat. Kalau tidak, maka kau pasti sudah dibantai seperti seekor kelinci. Nah, untuk keselamatanmu, bawalah tanda ini. “Dan Panggiring telah memberi aku sebuah lencana.”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Apakah lencana itu masih ada pada Ki Tambi?”

“Tentu,” jawab Ki Tambi. “Aku masih menyimpannya.”

Kemudian Ki Tambi mengambil sesuatu dari dalam kantung ikat pinggang kulitnya. Sebuah kepingan perak yang terukir. Dan ukiran itu telah membuat dada Bramanti dan ibunya menjadi berdebar-debar. Ukiran itu berupa sebuah candi kecil. Candi Sari.

“Oh,” desis ibunya. “Ia masih selalu ingat tanah kelahirannya.”

“Tetapi ia telah menodainya pula,” sahut Bramanti dengan serta merta.

Wajah ibunya yang suram itu menegang sesaat, namun kemudian titik air di matanya menjadi semakin deras. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

“Maaf ibu,” bisik Bramanti. “Aku tidak ingin menyakitkan hati ibu.”

“Tidak Bramanti. Kau tidak bersalah. Kau benar. Kakakmu tidak saja menodai Kademangan ini, tetapi ia telah semakin menodai nama keluarga kami yang memang sudah tidak dikehendaki oleh siapapun juga ini.”

“Tetapi lencana itu telah menyelamatkan aku beberapa kali. Agaknya setiap gerombolan yang berkeliaran di pesisir Utara telah mengenal bentuk candi semacam itu. Dan mereka pun agaknya telah mengerti arti daripadanya. Setiap orang yang mempergunakan tanda itu berada di dalam perlindungan seseorang yang mereka segani, Panggiring. Demikian juga aku. Setiap kali aku jatuh ke tangan seseorang yang bermaksud jahat terhadapku, maka setiap kali mereka minta maaf apabila mereka melihat lencana perak dengan ukiran sebuah candi kecil itu.”

Titik air mata perempuan tua itu menjadi semakin deras, sedang dada Bramanti pun menjadi semakin keras berdentang. Ceritera tentang kakaknya itu telah benar-benar membuatnya gelisah oleh perasaan yang tidak menentu.

“Sudahlah,” berkata Ki Tambi kemudian, “Jangan terlampau dipikirkan. Aku sengaja memberitahukan kepada Nyai Pruwita, supaya Nyai mendengarnya lebih dahulu, langsung dari mulutku. Apabila kelak Nyai mendengar dari orang lain, yang mungkin sudah ditambah atau dikurangi, maka luka dihati Nyai akan menjadi lebih parah lagi.”

“Terima kasih Ki Tambi,” gumam Nyai Pruwita. “Aku sudah mendengar berita tentang anakku. Apapun yang telah terjadi atasnya, namun aku telah mengetahuinya.”

“Tetaplah tenang Nyai. Aku percaya bahwa Bramanti akan berhasil mencuci nama keluarga ini. Beberapa orang seumurku akan dapat menjadi saksi, bahwa keluarga ini pada mulanya adalah keluarga yang baik. Tidak bedanya dengan keluarga-keluarga yang lain. Adalah wajar, apabila satu di antara yang baik itu mempunyai cacad atau celanya.”

Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi air di matanya masih belum kering.

“Berdoalah,” desis Ki Tambi. Dan sekali lagi perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sudahlah. Aku minta diri. Dadaku telah menjadi lapang, bahwa aku telah menyampaikannya kepada keluarga ini tentang salah seorang anggotanya yang hilang.”

“Apakah mungkin yang hilang itu akan kembali Ki Tambi?” tiba-tiba perempuan tua itu bertanya.

Ki Tambi termenung sejenak. Namun kemudian ia mengangkat pundaknya berkata, “Hanya Tuhanlah yang tahu.”

Perempuan tua itu mengangkat kepalanya. Namun terasa kepalanya sangat pening.

“Sudahlah. Berbaringlah,” berkata Ki Tambi.

“Terima kasih Ki Tambi,” sahut perempuan itu, “Seringlah datang kemari, supaya kami tidak merasa seolah-olah kami adalah orang-orang yang diasingkan di tanah kelahiran sendiri.”

“Tentu, tentu. Aku akan datang kemari setiap kali.”

Ki Tambi pun kemudian meninggalkan rumah itu, di antar oleh Bramanti sampai ke regol. Kemudian sepeninggalan orang tua itu, Bramanti berjalan dengan kepala tunduk naik ke rumahnya kembali. Ditemuinya ibunya masih berbaring dipembaringannya.

“Bramanti,” berkata ibunya perlahan-lahan, “Kau sudah mendengar semuanya.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia duduk disamping ibunya sambil menundukkan kepalanya.

“Harapanku satu-satunya adalah kau. Aku harap kau menyadarinya. Tak ada sandaran apapun lagi dalam sisa hidupku ini.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku mengerti ibu. Dan aku akan berusaha. Berusaha sedapat-dapat aku lakukan.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sekarang aku ingin tidur Bramanti. Kepalaku terlampau pening.”

“Ibu jangan terlampau terpukau oleh peristiwa yang diceriterakan oleh Ki Tambi. Ibu harus menenangkan diri dan mencoba melupakannya.”

Perempuan itu mengangguk.

“Memang sebaiknya ibu mencoba untuk tidur.”

Sekali lagi perempuan itu menganggukkan kepalanya.
Bramanti pun kemudian pergi ke luar rumah. Tanpa sesadarnya kakinya telah membawanya masuk ke dalam kandang yang kosong. Perlahan-lahan ia duduk di atas jerami yang kering bersandar dinding.

Ceritera Ki Tambi tentang kakaknya telah membuatnya menjadi semakin jauh daripadanya. Bahkan ia merasa, bahwa kakaknya itu telah mempersulit usahanya untuk memperbaiki nama keluarganya. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, maka setiap orang akan memalingkan wajahnya, apalagi mereka berlalu di depan rumah itu, terlebih-lebih lagi dari saat-saat sebelumnya.

“Aku tidak boleh menunggu terlampau lama,” desisnya.

“Semuanya harus segera berakhir. Permainan yang menjemukan itu pun harus segera berakhir,” namun kemudian ia bergumam. “Tetapi aku tidak dapat tergesa-gesa. Aku harus mematangkan suasana lebih dahulu, apabila aku tidak ingin gagal.”

Dalam kekalutan pikiran itulah, ia kemudian membaringkan dirinya. Meskipun ia tidak tertidur, tetapi ia menjadi terkejut ketika disadarinya, bahwa matahari telah menjadi terlampau rendah.

Dengan tergesa-gesa Bramanti keluar dari dalam kandangnya yang kosong itu. Diambilnya sapu lidinya dan mulailah ia membersihkan halaman. Kali ini sekadar didepan dan di sekeliling pendapa saja, karena sebentar kemudian matahari menjadi semakin merah di punggung bukit.

Ketika hari mulai menjadi gelap, maka mulailah ia menyalakan lampu-lampu di dalam rumahnya dan yang terakhir dinyalakanlah lampu di regol halaman. Sejenak ia berdiri saja di depan regol, kalau-kalau Panjang lewat dari Kademangan seperti kebiasaannya. Tetapi setelah beberapa lama anak muda itu tidak lewat, maka Bramanti pun kemudian masuk ke dalam halaman, dan langsung naik ke rumahnya.

Ia masih sempat menyiapkan air dan kayu bakar, sebelum ia minta diri kepada ibunya untuk tidur di kandang seperti kebiasaannya.

Tetapi seperti siang tadi, maka matanya hampir-hampir tidak bisa dipejamkannya. Angan-angannya selalu saja diliputi oleh ceritera Ki Tambi dan usahanya untuk memperbaiki nama seluruh keluarganya.

“Secepat datang kesempatan, aku harus menyatakan diri. Semata-mata untuk mencuci nama yang justru menjadi semakin kotor oleh pokal kakang Panggiring.”

Dan malam itu juga Bramanti telah membulatkan tekadnya, bahwa ia harus segera berbuat sesuatu.

Ketika matahari mulai memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan di pagi hari, Bramanti sudah sibuk membersihkan halaman rumahnya. Sekali-kali ia melihat seseorang lewat di muka regol halamannya. Namun seolah-olah mereka sama sekali segan untuk berpaling. Bahkan rasa-rasanya mereka berjalan dengan tergesa-gesa sambil berjingkat, apabila mereka lewat didepan regolnya.

“Aku terlampau terpengaruh oleh perasaanku sendiri,” ia berkata di dalam hatinya. “Aku kira memang demikian yang mereka lakukan sehari-hari. Mereka belum tentu telah mendengar ceritera tentang kakang Panggiring. Sehingga sikap mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan sikap kakang Panggiring itu.”

Namun hal itu telah memperkuat keyakinan Bramanti, bahwa ia harus segera berbuat sesuatu. Supaya nama keluarganya tidak menjadi semakin lama semakin cemar dijauhi.

Seperti biasanya, setelah membersihkan halaman, Bramanti segera mengambil air di perigi. Diisinya jambangan di pakiwan dengan gentong di dapur. Barulah kemudian ia membersihkan dirinya sendiri.

Ketika ia berdiri di depan regol, seperti biasanya ia melihat Pajang lewat di muka regol rumahnya. Matanya tampak sayu dengan langkah malas ia mendekatinya.

“Hampir semalam aku tidak tidur,” desisnya ketika ia sampai di muka Bramanti.

“Kenapa?” bertanya Bramanti.

“Aku berada di Kademangan.”

“Kenapa di Kademangan?”

“Berbicara saja tanpa ujung pangkal,” Pajang terdiam sejenak, kemudian katanya bersungguh-sungguh, “Bramanti, aku telah mendengar cerita tentang Panggiring. Semalam Ki Tambi kami paksa untuk mengatakannya. Tetapi ia hanya berbicara beberapa patah kata. Menurut orang tua itu, Panggiring sekarang ternyata telah sesat jalan.”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Demikianlah menurut Ki Tambi.”

“Terserahlah kepada Panggiring sendiri Bramanti. Kalau memang jalan itu yang dianggap baik,” Panjang berhenti sejenak, kemudian “Tetapi yang penting bagiku adalah sikap Ki Tambi itu sendiri. Ia menyinggung kesulitan yang kini dialami oleh penduduk Kademangan ini. Terutama karena sikap orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat.”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Bagaimana sikapnya?”

Ia merasa terhina oleh keharusan menyerahkan apa saja yang diminta oleh Panembahan Sekar Jagat itu.

Bramanti menggangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Tambi masih juga Ki Tambi yang dahulu.” “Bagaimana sikap Ki Demang dan Ki Jagabaya?” bertanya Bramanti.

“Sudah tentu Ki Jagabaya sependapat dengan Ki Tambi. Tetapi seperti biasanya, Ki Demang ternyata terlampau berhati-hati.”
“Ki Demang ingin membiarkan kita selalu berada dalam ketakutan dan kegelisahan.?”

“Justru sebaliknya. Menurut Ki Demang, apabila kita melakukan perlawanan, maka kita pasti akan dihancurkan.”

“Ah, berapa jumlah orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Dan berapa jumlah laki-laki di Kademangan ini.”

“Tetapi hampir setiap orang menjadi ngeri melihat orang yang bernama Wanda Geni mengacu-acukan senjatanya.”

“Kenapa kita menjadi ngeri? Kalau Wanda Geni seorang atau katakan berempat dengan kawan-kawannya mengacu-acukan senjata mereka, kita berempat puluh orang bersama-sama mengacu-acukan pula.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kawan Wanda Geni itu hanya empat orang?”

Tetapi Bramanti menyahut, “Dan apakah laki-laki di Kademangan ini hanya empat puluh orang?”

“Kau benar Bramanti, seperti yang dikatakan Ki Tambi dan Ki Jagabaya.”

“Lalu apalagi yang kita tunggu?”

“Ki Demang.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Bagaimana dengan Temunggul?”

Panjang mengerutkan keningnya. Meskipun nampaknya ragu-ragu tetapi ia berkata, “Ia mempunyai pertimbangan lain. Sebaiknya kita tidak membuat mereka marah. Jika mereka marah, maka mereka akan dapat berbuat apa saja. Bahkan mungkin mereka akan menculik gadis-gadis. Tawanan yang pernah kami lepaskan itu ternyata menepati janjinya. Sampai sekarang Wanda Geni tidak pernah berusaha mengganggu gadis-gadis kita. Nah, kalau kita mulai dengan tindakan-tindakan yang menyakitkan hati mereka, maka mungkin sekali hal itu akan terulang kembali.”

“Ah,” Bramanti berdesah. “Ia selalu dibayangi oleh gadis-gadis. Ia tidak pernah berpikir tentang Kademangan ini dalam keseluruhan.”

Panjang tidak menyahut, tetapi justru ia bertanya, “Bramanti. Seandainya kita benar-benar melakukan perlawanan atas orang-orang yang menjadi utusan Panembahan Sekar Jagat itu, apakah yang kira-kira akan kau lakukan?”

Bramanti tergagap sesaat.Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan menerima pertanyaan demikian itu. Namun sejenak kemudian dijawabnya sekenanya, “Aku akan berbuat apa saja menurut kemampuanku.”

“Apakah kau berani berkelahi melawan mereka juga?”

Sekali lagi Bramanti menjadi tergagap. Dan sekali lagi sekenanya ia menjawab, “Aku berani berkelahi melawan orang-orang itu. Kalah atau menang bukan soal bagiku.”

Panjang tersenyum. Ditepuknya pundak Bramanti sambil bergumam, “Kau memang seorang yang luar biasa. Sudahlah, aku akan pergi ke Kademangan.”

Tetapi sebelum Panjang melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia terkejut. Ia melihat beberapa orang berlari-lari. Sambil terengah-engah salah seorang dari mereka berkata, “Utusan Panembahan Sekar Jagat telah datang lagi.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah Bramanti, dilihatnya anak muda itu mengatupkan giginya rapat-rapat.

“Setan itu telah datang lagi, “ gumam Bramanti. Kemudian ditariknya Panjang masuk ke dalam regol rumahnya. Sambil menutup regol ia berkata, “Mereka tidak akan singgah ke rumahku ini.”

Panjang tidak membantah. Ia berdiri melekat dinding regol di sebelah dalam.

“Apakah yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan mengambil harta benda lagi, atau sekadar mengambil Ratri,” desis Panjang.

Bramanti tidak menjawab. Namun wajahnya menegang.
Mereka berdua masih mendengar beberapa orang berlari-lari. Sejenak kemudian jalan itu telah menjadi sepi.

“Sebentar lagi mereka akan lewat,” desis Panjang.
Bramanti menganggukkkan kepalanya sambil berdesis, “Ya. Aku telah mendengar derap kaki kuda.”

Panjang mengerutkan keningnya. Baru ketika ia masang telinganya tajam-tajam dan kuda-kuda itu menjadi semakin dekat, ia pun mendengar derap kaki-kaki kuda itu pula.
Panjang kemudian menahan nafasnya ketika kuda-kuda itu lewat di depan regol rumah Bramanti. Tetapi seperti kata-kata Bramanti, mereka tidak akan singgah ke rumah yang meskipun besar itu, tetapi yang sejak beberapa tahun terakhir telah menjadi kosong. Kosong sama sekali. Karena itu, maka mereka sama sekali tidak pernah menaruh minat atas rumah itu, karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan menemukan apapun juga di dalamnya, selain labah-labah yang berwarna hitam.
Ketika kuda-kuda itu kemudian menjauh, maka Panjang dan Bramanti pun menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka masih berdiri saja ditempatnya. Namun sejenak kemudian Bramanti berkata, “Panjang apakah kita akan tetap berada di halaman ini saja?”

“Apa salahnya,” berkata Panjang. “Bukankah mereka tidak akan singgah di rumah ini?”

“Ya. Menurut perhitunganku pasti tidak. Tetapi entahlah apabila ternyata ada persoalan lain.”

“Persoalan apakah yang kau maksud?”

“Apakah kira-kira mereka telah mendengar ceritera tentang kakang Panggiring?”

Panjang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Aku kira mereka masih belum mendengar.”

“Tetapi siapa tahu, bahwa ada di antara kita yang memang menjadi alat Panembahan Sekar Jagat.”

Lalu apakah dengan demikian, seandainya mereka mengetahui persoalan Panggiring, akan dapat menimbulkan masalah baru bagi keluargamu?”

“Hal itu akan mungkin sekali. Kakang Panggiring adalah seorang perampok seperti Panembahan Sekar Jagat. Sedang kakang Panggiring adalah anak Kademangan ini sejak bayinya.”

“Lalu apakah hubungannya dengan kedatangannya kemari?”

“Mungkin Panembahan Sekar Jagat ingin membuktikan kebenaran berita itu, dan ingin bertanya kepada ibu. Mungkin juga karena Panembahan Sekar Jagat mencemaskan, kalau-kalau kakang Panggiring akan pulang, dan akan menjadi saingan mereka untuk selanjutnya selain seseorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kemungkinan itu memang ada meskipun kecil sekali.”

“Tetapi, tetapi aku menjadi sangat gelisah, Panjang.”

“Kenapa?”

“Bagaimana kalau mereka nanti akan datang kemari?”

“Kenapa. Jawab saja pertanyaannya.”

“Tetapi mereka terlampau buas. Kadang-kadang mereka memukul seseorang tanpa sebab.”

Panjang mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Bukankah kau akan berbuat apa saja menurut kemampuanmu?”

“Tetapi bukan seorang diri. Kalau kita bersama-sama telah mulai, apaboleh buat. Tetapi bukan aku sendiri.”

Panjang menjadi heran melihat sikap itu. Ia merasakan ketidakwajaran pada Bramanti. Tidak mungkin bahwa tiba-tiba menjadi menggigil ketakutan, sedang ketika derap kuda itu mendekat, ia tampak begitu tenang dan bahkan seolah-olah begitu yakin akan dirinya.

Tetapi Panjang pun yakin, bahwa apabila ia bertanya tentang hal itu, Bramanti pasti tidak akan menjawabnya. Karena itu, maka bahkan ia bertanya, “Lalu seandainya demikian, apa yang kau sangka itu benar-benar terjadi, apakah yang akan kau lakukan?”

Bramanti berdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan bersembunyi saja Panjang.”

“Dimana kau akan bersembunyi?”

“Aku akan ke bendungan.”

“Bodoh kau,” hampir saja Panjang berteriak, “Kalau kau pergi ke tempat terbuka, maka kau akan segera dilihatnya. Ada banyak kemungkinan yang dapat terjadi atasmu.”

“Tetapi, apakah mereka akan sampai ke bendungan itu juga?”

“Mungkin sekali. Meskipun mereka tidak sengaja pergi ke bendungan, namun mereka mungkin sekali lewat menyusur jalan sempit di dekat bendungan, yang kemudian menyilang parit induk dari air yang naik ke bendungan itu.”

“Kau agaknya sedang bermimpi. Mereka adalah orang-orang yang aneh. Mereka sama sekali tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan sama sekali.”

“Tetapi, bagaimanapun juga aku takut Panjang.”

“Kalau begitu, marilah, aku antar kau bersembunyi.”

“Kemana?”

“Terserah kepadamu. Tetapi sebaiknya tidak ke tempat yang terbuka.”

“Jangan Panjang. Aku tidak mau membuatmu bersusah payah. Kita sudah sama-sama dewasa. Marilah kita berusaha menyelamatkan diri kita sendiri.”

“Aku tidak akan sampai hati melepaskan kau seorang diri dalam keadaan serupa ini Bramanti. Kau akan mati ketakutan apabila suatu saat kau bertemu dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu.”

“Tapi sebaiknya kau tetap berada di sini Panjang. Tolong, kawanilah ibuku.”

“Kalau mereka benar-benar datang kemari, apakah kataku kemudian?”

“Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa ia sama sekali bukan seorang yang lemah, tidak berkemampuan dan apalagi cengeng, seperti yang dituduhkan oleh Temunggul,” gumamnya kepada diri sendiri. “Agaknya Temunggul tidak mengenal Bramanti dari dekat. Pada suatu ketika ia akan menyesali semua sikap-sikapnya. Juga Suwela yang telah melecut Bramanti di arena. Untunglah, saat itu bukan aku lah yang harus berhadapan dengan Bramanti. Namun seandainya demikian aku akan minta maaf kepadanya.”

Panjang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa ia akan segera menemukan kesimpulan dari semua dugaannya itu.

Namun sudah sekian lama ia menunggu, Bramanti masih juga belum keluar dari dalam rumahnya sehingga Panjang mulai menjadi gelisah. Sambil berdesah ia berjalan hilir mudik di regol halaman itu. Setiap kali ia harus berhenti, dan memperhatikan setiap gemerisik di luar regol. Ia pun semakin lama menjadi semakin dirambat oleh kecemasan, kalau-kalau orang-orang Sekar Jagat itu akan lewat lagi di jalan di depan regol itu.

“Ah, apa saja yang dilakukan Bramanti?” desisnya.

Akhirnya Panjang tidak sabar lagi. Ia pun kemudian berlari melintas halaman dan masuk lewat pintu pringgitan.

“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil. Tetapi tidak ada terdengar jawaban.

“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil lebih keras.
Panjang terkejut ketika ia mendengar suara perempuan menyapanya, “Siapa itu?”

“O, aku bibi, jawabnya ketika ia melihat ibu Bramanti mendatanginya.

“Kau Panjang?”

“Ya bibi. Aku mencari Bramanti.”

“Bramanti? Bukankah ia berada di halaman? Mungkin ia sedang bersembunyi, bukankah orang-orang Panembahan Sekar Jagat datang ke Kademangan ini.”

“Tetapi Bramanti baru saja masuk.”

“Ya, ia baru saja masuk. Dan ia minta diri untuk bersembunyi di halaman atau dimana saja. Aku kira ia pergi atau bersembunyi bersamamu.”

“Demikianlah seharusnya. Kami akan bersembunyi di bendungan selagi mereka belum pergi. Dan Bramanti mengatakan, bahwa ia akan minta ijin lebih dahulu kepada bibi. Tetapi aku menunggunya terlampau lama di regol halaman, sedang Bramanti tidak juga muncul-muncul.”

Wajah perempuan tua itu menjadi berkerut-kerut, “Aneh,” katanya. “Apakah ia masih berada di dalam rumah ini. Tetapi tidak mungkin. Ia pasti akan mendengar kehadiranmu.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini baru ia sadari, bahwa sebenarnyalah Bramanti telah pergi seorang diri. Bramanti benar-benar tidak mau pergi bersamanya. Sehingga dengan demikian, maka Panjang pun telah hampir dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa Bramanti bukanlah sekadar seorang anak muda seperti yang dilihatnya sehari-hari. Namun dengan demikian ia menyadarinya juga, bahwa Bramanti telah dengan sengaja memulas dirinya sendiri.

Panjang tidak mengerti, apakah maksud Bramanti sebenarnya. Kadang-kadang ia dihinggapi pula oleh berbagai macam pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaannya itu menjadi semakin kabur untuk dapat dicari jawabannya.

Perempuan tua yang masih berdiri termanggu-manggu dihadapannya itu kemudian bertanya, “Mungkin kalian berselisih jalan. Bramanti pergi keluar lewat pintu samping, kau masuk lewat pintu depan Panjang?”

“Ya, mungkin bibi. Memang mungkin.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

Panjang menjadi termenung sejenak. Kalau ia pergI menyusul, apakah Bramanti benar-benar pergi ke Bendungan? Tetapi yang sebenarnya paling baik justru berada di rumah Nyai Pruwita itu. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat pasti tidak akan singgah ke dalamnya.

“Kalau Bramanti memang telah pergi, biarlah aku tinggal disini saja bibi. Aku kira orang-orang itu tidak akan masuk kemari.”

“Ya, ya Panjang. Sebenarnya Bramanti pun tahu, bahwa orang-orang itu tidak akan masuk kemari. Tetapi hatinya terlampau kecil, sehingga ia minta diri untuk pergi. Memang mungkin ia bergi ke bendungan.”

“Baiklah bibi. Aku minta ijin untuk berada di dalam rumah ini sampai orang-orang itu pergi meninggalkan Kademangan.”

“Silakan ngger. Silakan. Aku senang sekali menerima mu. Karena aku mendapat seorang teman,” perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Duduklah seenaknya. Kau adalah satu-satunya teman Bramanti yang terdekat. Tunggulah ia dipringgitan ini. Kalau ia nanti datang kembali dan melihat kau disini, ia akan menjadi malu.”

“Terima kasih bibi.”

“Aku akan melanjutkan kerjaku di dapur. Merebus air.”

“Silakan bibi.”

Perempuan tua itu pun kemudian meninggalkan Panjang seorang diri. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia memandangi setiap sudut rumah Bramanti. Masih tampak bekas-bekas kemegahan dari rumah itu. Ompak batu dari tiang-tiang yang besar berukir dibagian bawah dan atasnya.  Adon-adon yang bagus akan mapan.

Beberapa saat yang lalu rumah ini telah mirip seperti rumah hantu. Tetapi kini telah terjadi bersih kembali, meskipun masih tetap suram.

“Hem,” Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Rumah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kademangan Candi Sari. Tetapi kini rumah ini telah dijauhi oleh hampir setiap penghuni Kademangan ini karena kesalahan paman Pruwita. Kekayaannya telah habis dilingkaran judi. Bahkan kemudian namanya dan nyawanya telah dipertaruhkannya pula. Yang tinggal kini adalah sisa-sisa yang buram.

Namun tiba-tiba terbersit suatu pertanyaan yang aneh didada Panjang, “Apakah maksud Bramanti sebenarnya dengan segala macam tingkah laku dan segala macam rahasia yang diselubungikan pada dirinya itu? Sikapnya yang pura-pura dan tidak dapat diikutinya itu?”

Dan tiba-tiba Panjang menjadi terperanjat sendiri ketika ia mendengar suara hatinya. “Apakah semuanya ini hanya merupakan suatu persiapan saja baginya? Persiapan dari tindakan balasan yang dahsyat atas kematian ayahnya? Bagaimana pun juga ia pasti tidak dapat melupakan peristiwa itu meskipun ia baru seumur kanak-kanak. Dapatkah ia begitu saja melewatkan peristiwa yang telah menghancurkan seluruh kehidupan keluarganya itu? Apabila ternyata Bramanti mempunyai kemampuan seperti yang aku duga, yaitu menyelematkanku di saat-saat aku hampir diterkam maut, maka pada saatnya ia pasti akan dapat banyak berbuat untuk melepaskan sakit hatinya.”

Dan ternyata Panjang telah digelisahkan oleh suara-suara di dalam dirinya itu, sehingga peluh dingin telah membasahi badannya.

“Tetapi,” ia mencoba mencari keseimbangan pikiran, “Apabila demikian, apakah untungnya ia menolong aku dan Suwela yang sudah jelas menghinakannya dimuka banyak orang pada saat pendadaran?”

Namun Panjang sama sekali tidak dapat mengambil kesimpulan apapun selain menganggap Bramanti sebagai seorang yang menyembunyikan dirinya dibalik rahasia yang tebal.
Tetapi Panjang itu pun menyadarinya, bahwa hanya dirinya sendirilah yang selama ini selalu diganggu oleh berbagai macam pertanyaan tentang Bramanti. Kawan-kawannya yang lain, bahkan Temunggul, Suwela dan para pemimpin Kademangan, sama sekali tidak pernah dirisaukan oleh sikap Bramanti itu, justru mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang rahasia yang selama ini ia meliputinya.

Panjang terkejut ketika ia mendengar langkah memasuki ruangan itu. Ketika ia berpaling dilihatnya ibu Bramanti menjinjing semangkuk air panas.

“Ah,” desis Panjang. “Aku agaknya membuat bibi menjadi sibuk.”

“Tidak, tidak Panjang. Adalah kebetulan sekali aku sedang merebus air. Minumlah, sambil menunggu Bramanti.”

“Terima kasih bibi,” jawab Panjang.

“Memang bagi Bramanti, bendungan adalah tempat yang paling aman. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat, pasti tidak akan pergi atau lewat dekat bendungan itu.”

“Ya bibi. Aku pun sebenarnya ingin pergi ke bendungan itu pula bersama Bramanti. Tetapi agaknya Bramanti tidak sempat menunggu aku.”

“Tinggallah disini. Aku yakin, bahwa mereka tidak akan memasuki halaman ini.”

“Terima kasih bibi.”

“Minumlah. Aku masih akan menyelesaikan pekerjaan di dapur.”

Kembali Panjang duduk seorang diri. Dan kembali angan-angannya ke dunia yang tidak dapat dirabanya dengan pasti.
Sementara itu, Wanda Geni dan ketiga kawannya sedang sibuk mengumpulkan barang-barang berharga yang masih tersisa di Kademangan itu. Seperti biasanya, ia selalu membentak dan berteriak. Bahkan kadang-kadang ia terpaksa memukul dan mengancam.

Namun akhirnya Wanda Geni itu pun menjadi puas. Setelah cukup banyak menurut perkiraannya, dan tidak akan mengecewakan Panembahan Sekar Jagat, maka Wanda Geni pun kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan Kademangan itu.
Tetapi sambil termangu-mangu ia berdesis, “Aku masih mempunyai satu simpanan lagi di Kademangan ini.”

“Apa?” bertanya salah seorang kawannya.

“Seorang gadis.”

“Ah,” desah kawannya yang lain, “Sebaiknya untuk sementara gadis itu kau lupakan. Kalau tidak terjadi sesuatu atas kita, maka Panembahan Sekar Jagat tidak akan mempersoalkannya. Tetapi apabila dengan demikian timbul kesulitan, maka Panembahan pasti akan marah kepadaku.”

—–oSPo—–

 Bersambung ke jilid 4

Diedit oleh Satpampelangi

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s