MM-09


MERABA MATAHARI

JILID 9

kembali | TAMAT

cover  MM-09KETIKA tangis Raden Ajeng Rantamsari sedikit mereda, maka ibunya pun berkata “Rantamsari. Aku mengerti, betapa pedih hatimu. Ibarat luka yang terdahulu masih belum sembuh, maka hatimu telah terluka lagi, sehingga tentu akan terasa semakin pedih. Tetapi marilah kita mengambil hikmahnya saja. Kau masih dapat mengucap sukur, bahwa hal ini terjadi sebelum terlanjur.”

“Maksud ibu?”

“Baik yang terjadi sekarang, maupun yang terjadi sebelumnya. Untunglah bahwa kau belum menjadi seorang isteri.

Jika itu terjadi, maka kau telah menjadi janda dua kali.”

“Tetapi hal seperti ini tidak terjadi, ibu.”

“Kita tidak akan dapat mengelak, Rantamsari. Meskipun dipagari dengan dinding baja, jika maut itu datang menjemput, tidak seorang pun dapat lari dari padanya. Yang terjadi ini tentu akan terjadi. Demikian pula dengan angger Rembana. Kematian itu tentu akan datang kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi.”

Raden Ajeng Rantamsari mengusap matanya yang basah. Yang dikatakan oleh ibunya itu memang dapat masuk di akalnya. Tetapi perasaannya benar-benar merasa betapa pedihnya.

“Kenapa Yang Maha Agung itu telah memanggil mereka yang diharapkan akan dapat menjadi tangkai bagi hidupku di masa mendatang?”

Air mata masih saja meleleh dari pelupuk mata Rantamsari. Bahkan ibunya pun sekali-sekali masih mengusap matanya pula dengan lengan bajunya.

Seperti yang pernah terjadi, hari itu di rumah Raden Ayu Prawirayuda menjadi sangat sibuk. Kangjeng Adipati pun telah berada di rumah itu pula. Demikian pula Raden Wignyana.

Kangjeng Adipati sendiri telah mencoba meredakan gejolak perasaan Raden Ajeng Rantamsari, yang setiap saat masih saja menangis. Yang dialaminya itu benar-benar merupakan beban yang sangat berat baginya.

Siang itu juga, tubuh Sasangka telah dibawa ke baraknya. Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda merasa agak kesulitan untuk menenangkan para prajurit yang bergejolak.

“Kita harus menemukan pembunuhnya” berkata seorang pemimpin kelompok barak Sasangka

“Ki Tumenggung” berkata yang lain “berikan tugas kepada kami untuk berada di rumah itu Kami akan menangkap pembunuh Ki Lurah Sasangka dan mambantainya di halaman barak ini.

“Di Parang Anom Ini ada tatanan dan paugeran yang mengatur tingkah laku rakyatnya” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “segala sesuatunya harus sesuai dengan tatanan dan paugeran itu”

“Kita tidak dapat membiarkan para Senapati kita dibunuh dengan cara yang licik.”

“Aku tahu. Bukan hanya kalian saja yang tersinggung. Tetapi, kami yang tua-tua ini pun merasa tersinggung pula. Karena itu, tenanglah. Kita akan berusaha menemukan pembunuh itu.”

“Jangan biarkan jatuh korban lagi, Ki Tumenggung. Yang tersisa di rumah itu hanyalah Ki Lurah Wismaya dan justru Raden Madyasta sendiri. Karena itu, biarlah kami, sekelompok prajurit menjaga rumah itu”

Ki Tumenggung Sanggayuda lah yang menjawab “Kita akan memikirkan langkah yang sebaik-baiknya yang harus kita ambil.”

Namun bagaimanapun juga nampak di wajah para prajurit itu ungkapan perasaan mereka. Nampaknya mereka benar-benar menjadi marah karena kematian Lurahnya yang mereka anggap seorang Senapati muda yang berilmu tinggi.,

Disamping para prajurit di barak Sasangka yang bergejolak, ternyata para prajurit di barak Rembana pun bagaikan terungkit lagi kemarahan mereka. Namun para pemimpin prajurit Paranganom berhasil meredamnya.

Hari itu, Sasangka dimakamkan dengan upacara kebesaran seorang prajurit yang gugur dalam tugasnya. Rakyat Paranganom harus berduka sekali lagi. Ternyata peristiwa yang menyakitkan itu telah terjadi lagi di rumah Raden Ayu Prawirayuda.

“Apakah perempuan itu memang membawa sial” bertanya seseorang kepada kawannya yang berdiri disebelahnya ketika keduanya ikut memberikan penghormatan terakhir kepada Sasangka.

Kawannya menggeleng. Namun demikian ia pun menjawab “Petaka seperti ini terjadi dua kali di rumah itu. Apakah masih akan disusul dengan peristiwa yang sama di kemudian hari?”

“Memang menyakitkan” berkata kawannya yang lain “kesalahan yang sama telah terjadi.”

“Ya. Sedangkan keledai yang dungu pun kakinya tidak akan terantuk batu yang sama untuk kedua kalinya.”

“Tetapi justru karena mereka bukan keledai.”

“Hus “

Mereka pun terdiam. Mereka melihat, wajah-wajah prajurit yang geram, yang berjalan disebelah menyebelah jenazah Sasangka ketika dibawa ke makam.

Hari itu, Kangjeng Adipati telah memanggil Madyasta dan Wismaya, justru pada saat di rumah Raden Ayu Prawirayuda masih banyak orang yang sibuk membenahi perabot rumah yang telah digeser-geser pada saat mempersiapkan jenazah Sasangka untuk dibawa ke baraknya. Beberapa orang prajurit masih berada di rumah itu sehingga kepergian Wismaya dan Raden Madyasta tidak menimbulkan kecemasan bagi keluarga Raden Ayu Prawirayuda.

“Bagaimana pendapatmu, Madyasta?” bertanya Kangjeng Adipati.

“Kami harus merasa malu atas peristiwa ini, ayahanda. dua orang Senopati muda yang dianggap mempunyai kelebihan di Paranganom telah terbunuh”

“Aku ingin mendengar pendapatmu, Madyasta. Apakah kau memerlukan kawan baru untuk bertugas di rumah bibimu?, Tenyata tugas itu bukan tugas yang sederhana. Jika semula kita menganggap bahwa keberadaan kalian di rumah bibimu hanya sekedar menuruti keinginannya, namun ternyata sekarang kita berpendapat lain”

“Hamba ayahanda, tetapi hamba mohon, biarlah kami berdua sajalah yang bertugas dl rumah bibi, Hamba tidak dapat ingkar, bahwa aku menaruh dendam kepada orang yang telah membunuh Rembana dan Sasangka Dua orang prajurit yang namanya mulai dikenal sejak perang besar di sebelah Bengawan Rahina itu.”

“Aku dapat mengerti, Madyasta.”

“Ampun Kangjeng Adipati” berkata Wismaya “jika di rumah itu terdapat beberapa orang prajurit baru, maka pembunuh itu mungkin akan menghindar. Tetapi biarlah kami berdua berusaha untuk menangkapnya.”

“Keadaan menjadi semakin gawat, Wismaya. Ketika kalian masih bertiga, kalian tidak dapat menangkap pembunuh Rembana. Bahkan Sasangka telah terbunuh pula.”

“Itu merupakan tantangan bagi kami, ayahanda. Meskipun sekarang kami hanya berdua, tetapi kami justru yakin, apabila pembunuh itu kembali lagi, kami akan dapat menangkapnya.”

“Satu permainan yang sangat berbahaya, Madyasta.”

“Tetapi itu adalah jalan terbaik untuk menangkap pembunuh itu ayahanda.”

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku mengerti, bahwa harga diri kalian berdua akan tersinggung, seakan-akan kalian hanya dapat merengek minta perlindungan. Tetapi untuk menghadapi perbuatan yang licik itu, bukankah tidak ada salahnya jika kita menjadi lebih berhati-hati.”

“Kami akan sangat berhati-hati, ayahanda.”

Kangjeng Adipati tercenung sejenak, ia tahu, bahwa darah muda yang mengalir di tubuh Raden Madyasta dan Wismaya bagaikan sudah mendidih oleh peristiwa yang membuat keduanya menjadi malu. Dengan demikian, maka mereka akan berusaha untuk menebusnya tanpa bantuan orang lain.

Kangjeng Adipati tidak dapat memaksa keduanya dengan menempatkan prajurit-prajurit baru di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Jika Kangjeng Adipati itu mencoba memaksa, maka keduanya akan kecewa, sehingga keduanya justru akan dapat menjadi lengah.

Karena itu, maka Kangjeng Adipati itu pun berkata “Baiklah. Madyasta dan Wismaya. Jika kalian berkeras untuk bertugas berdua saja. Tetapi Sekali lagi aku pesan, kalian harus sangat berhati-hati. Bahaya itu selalu mengintip kalian berdua. Setiap saat bahaya itu akan rnenerkam tanpa kalian ketahui kapan dan dimana mereka merunduk, Aku percaya, bahwa kalian tentu akan dapat mengatasinya jika kalian berhadapan beradu dada. Tetapi pembunuh itu tidak berbuat demikian. Dengan licik ia merunduk, kemudian menikam dari belakang.”

“Hamba berjanji ayahanda. Kami akan menjadi sangat berhati-hati.

Demikianlah, maka keduanya pun segera kembali ke rumah Raden Ayu Prawirayuda yang masih dibenahi. Namun beberapa saat kemudian, segala sesuatunya telah mapan. Perabot-perabot rumah, alat-alat dapur dan bahkan sampah di halaman pun telah dibersihkan.

Malam itu, terasa suasana di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu menjadi semakin sepi. Beberapa orang keluarga Sasangka yang datang disaat pemakamannya, ternyata lebih senang berada di barak. Ternyata ada beberapa orang prajurit yang sejak sebelum berada di barak itu sudah mengenal keluarga Sasangka dengan baik. Karena itu, maka mereka pun berusaha untuk membantu dan bahkan menenangkan kepedihan hati yang telah mencengkam.

Malam itu, Raden Ayu Prawirayuda telah menemui Madyasta sekali lagi, untuk menawarkan agar Madyasta tidak berada di bilik yang ada di gandok.

“Keadaan nampaknya menjadi semakin gawat, ngger. Aku minta angger tidur di ruang dalam saja.”

“Apakah aku harus membiarkan kakang Wismaya sendiri?”

“Apakah anger Wismaya akan menjadi ketakutan?”

“Bukan soal ketakutan atau tidak bibi. Aku yakin, bahwa kakang Wismaya tidak akan ketakutan. Tetapi bukankah perasaan ini menjadi tidak enak, jika kami berdua dan berada di bilik tidur yang berbeda. Maksudku, satu di gandok dan yang lain di ruang dalam”

“Angger Madyasta. Bagaimanapun juga kedudukan kalian berdua memang berbeda. Wismaya adalah seorang Lurah prajurit dan angger Madyasta adalah putera seorang Adipati? Jika pada dasarnya sudah berbeda, bukankah tidak ada salahnya jika angger Madyasta dan angger Wismaya berada di bilik yang berbeda pula.”

“Terima kasih bibi. Tetapi keberadaanku disini bersama kakang Wismaya tidak mengenal perbedaan itu. Aku dan kakang Wismaya adalah prajurit yang mengemban tugas yang sama.”

Kerut di dahi Raden Ayu Prawirayuda menjadi semakin dalam. Setelah memandang ke sekitarnya ia pun berkata perlahan “Maaf, ngger. Sebenarnyalah aku mencurigai semua orang dalam peristiwa yang telah terjadi.”

“Maksud bibi?”

“Ketika angger Rembana terbunuh, aku sama sekali tidak dapat menuduh siapakah pembunuhnya. Tetapi perkembangan keadaan telah mendorongku untuk mencurigai angger Sasangka. Aku menduga, bahwa angger Sasangka lah yang telah membunuh angger Rembana. Namun tiba-tiba angger Sasangka telah terbunuh dengan cara dan senjata yang sama dengan cara dan senjata pada saat angger Rembana terbunuh.”

“Ya, bibi. Aku mengerti.”

“Maaf, ngger. Aku minta maaf. Bagaimana pendapat angger Madyasta tentang angger Wismaya.?”

“Kita tidak dapat mencurigai Wismaya, bibi.”

“Kenapa?”

“Pada saat Rembana terbunuh, Wismaya ada bersamaku.”

“Apakah itu benar?”

“Seingatku, bibi.”

“Mungkin angger lupa. Peristiwanya sudah agak lama.”

Raden Madyasta menunduk. Namun kemudian katanya “Tetapi aku yakin, tentu bukan kakang Wismaya. Jika seandainya cara dan senjata pembunuhnya tidak sama, mungkin aku dapat mencurigai Wismaya sekarang ini.”

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk-angguk. Katanya

“Syukurlah jika perhitungan angger itu benar. Yang aku cemaskan, jika yang melakukan itu angger Wismaya, maka akan mudah sekali terjadi pula atas angger Madyasta jika angger berada di gandok bersama angger Wismaya.”

“Tidak, bibi. Aku yakin tentu bukan kakang Wismaya.”

“Sukurlah. Namun begitu, aku masih juga minta angger bersedia berada di bilik di ruang dalam. Bukankah kami hanya berdua saja di rumah ini?”

“Terima kasih, bibi.”

“Ngger. Aku lebih condong menganggap angger sebagai anakku sendiri daripada seorang prajurit yang bertugas di rumah ini.”

“Terima kasih, bibi.”

“Itulah sebabnya, bahwa aku merasa lebih cemas memikirkan angger daripada para Senapati yang lain, meskipun aku tahu, bahwa angger memiliki kemampuan lebih tinggi dari para Senapati itu.”

“Biarlah aku berada di gandok bersama kakang. Wismaya saja bibi.”

“Jika demikian, terserahlah kepada angger. Bukan niatku untuk tidak menghormati angger sebagai putera seorang Adipati di Paranganom ini.”

Namun bagaimanapun juga bibinya memintanya, Raden Madyasta merasa lebih baik berada di gandok bersama Wismaya.

Dalam pada itu, yang mencemaskan keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya bukan saja Kangjeng Adipati Paranganom. Sebagai seorang ayah sebenarnya Kangjeng Adipati memang wajar sekali menjadi cemas memikirkan keselamatan anaknya. Tetapi ia juga harus bersikap sebagai seorang Adipati.

Sebenarnyalah bahwa kedua orang Tumenggung yang terdekat dengan Kangjeng Adipati juga merasa sangat cemas terhadap keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya. Agaknya mereka berhadapan dengan satu kemampuan yang sangat tinggi, namun yang terselubung.

Karena itu, maka keduanya telah datang menghadap Kangjeng Adipati untuk menyampaikan pendapat mereka.

“Ampun Kangjeng” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “kami berdua sangat mencemaskan keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya yang masih berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda.”

“Ya, kakang. Aku pun mencemaskannya. Tetapi ketika aku panggil keduanya, keduanya mohon agar aku memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk menjalankan tugas mereka tanpa orang lain. Mereka berniat untuk menangkap pembunuh Rembana dan Sasangka. Tetapi jika di rumah itu ditempatkan orang lain, maka pembunuh itu tentu tidak akan datang kembali, sehingga mereka akan kehilangan jejaknya.”

“Tetapi kemungkinan buruk dapat terjadi atas mereka berdua, Kangjeng.”

“Aku sudah mengatakannya. Tetapi keduanya berkeras untuk tetap berada di rumah kangmbok Prawirayuda berdua saja.”

“Kangjeng” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda “kami mohon maaf sebelumnya. Kami berdua ingin menyampaikan permohonan jika Kangjeng Adipati memperkenankan.”

“Apa kakang?”

“Hamba sudah membicarakannya dengan kakang Wiradapa. Jika Kangjeng berkenan memberikan perintah kepada kami berdua untuk mengawasi rumah Raden Ayu Prawirayuda itu.”

“Kakang akan berada di rumah itu pula?”

“Tidak, Kangjeng. Kami akan tetap berada di luar dinding halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda. Kami akan mengawasi rumah itu dari luar. Mungkin keberadaan kami itu tidak akan berarti apa-apa Tetapi dalam keadaan yang gawat, mungkin akan berarti pula.

“Baiklah, kakang, Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan kakang berdua untuk langsung ikut campur dalam persoalan yang sangat khusus ini”

“Aku masih menghubungkan dengan keberadaan segerombolan perampok yang berada di Panjer. Bahkan aku tidak berhasil melupakan, bahwa persoalan yang terjadi di Paranganom ini ada sangkut pautnya dengan kadipaten Kateguhan. Kebencian orang-orang Kateguhan terhadap orang-orang Paranganom itu sudah sangat berlebihan, sehingga menimbulkan dugaan-dugaan yang buruk.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk.

Sementara itu, Ki Tumenggung Wiradapa pun berkat “Raden Ayu Prawirayuda termasuk orang yang tidak disukai di Kateguhan, Kangjeng. Sehingga setelah berada di Paranganom pun Raden Ayu Prawirayuda masih saja diganggu.”

“Tetapi apakah kemampuan orang-orang Kateguhan demikian tinggi, sehingga mereka dapat mempermainkan para prajurit pilihan di Paranganom?”

“Ada satu dua orang berilmu tinggi di Kateguhan, Kangjeng. Kehadiran Raden Wicitra di rumah Raden Ayu Prawirayuda juga merupakan persoalan tersendiri.”

“Aku mengerti kakang. Karena itu aku sama sekali tidak berkeberatan atas niat kakang. berdua untuk ikut mengamati rumah kangmbok Prawirayuda itu.”

“Kami mohon perintah Kangjeng Adipati.”

“Baik. Aku perintahkan kakang berdua untuk ikut mengawasi rumah Kangmbok Prawirayuda serta mengambil langkah-langkah yang perlu dalam keadaan yang gawat.”

“Terima kasih, Kangjeng. Kami berdua akan menjalankan perintah ini dengan sebaik-baiknya.”

Demikianlah, sejenak kemudian, kedua orang Tumeng-gung itu pun mohon diri dari hadapan Kangjeng Adipati Prangkusuma.

Sepeninggal kedua Tumenggung itu, maka Kangjeng Adipati pun sempat duduk termenung. Sebenarnyalah bahwa Kangjeng Adipati sendiri sulit untuk dapat melepaskan persoalan yang terjadi di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu dengan kebencian orang-orang Kateguhan terhadap orang-orang Paranganom. Sementara itu, Raden Ayu Prawirayuda adalah orang yang sangat dibenci di Kateguhan, sehingga Kangjeng Adipati di Kateguhan telah mengusirnya. Atau justru sebaliknya, karena Raden Ayu itu sudah diusir dari Kateguhan. Maka orang-orang Kateguhan menjadi sangat membencinya.

***

Dalam pada itu, di Kateguhan, Ki Tumenggung Reksadrana telah kehabisan kesabarannya. Dengan jantung yang bagaikan membara ia pun berkata kepada Sura Branggah yang dipanggilnya menghadap “Sura Branggah. Satu lagi pembunuh anakku itu sudah mati.”

“Ya, Ki Tumenggung. Nampaknya Raden Wicitra tidak dapat dihentikan lagi.”

“Aku tidak mau kehilangan sasaranku yang semakin menyusut itu, Sura Branggah.”

“Bukankah satu kebetulan bagi kita? Kita tidak usah bersusah payah. Sementara itu orang-orang yang akan menjadi sasaran kita sudah mati satu demi satu.”

“Edan kau Sura Branggah” bentak Ki Tumenggung sambil mencengkam baju Sura Branggah “apa maumu pemalas. Kau memeras uangku, tetapi kau tidak mau bekerja keras.”

“Maaf, Ki Tumenggung. Tetapi itu bukan kemauanku. Bukankah Raden Wicitra sudah melakukannya atas kehendaknya sendiri.”

“Tidak” didorongnya Sura Branggah yang duduk di lantai itu sehingga terlentang “aku akan membunuh dua orang yang lain. Untunglah Madyasta itu masih belum sempat dibunuh oleh Wicitra. Akulah yang akan membunuhnya. Dengan tanganku sendiri. Aku harus membalaskan dendam anakku yang telah mereka bunuh. Aku akan mencincangnya menjadi sewalang-walang.”

Sura Branggah yang kemudian bangkit sambil membenahi pakaiannya berkata “Maaf Ki Tumenggung. Bukan maksudku untuk tidak mau bekerja keras. Tetapi jika Ki Tumenggung akan membunuhnya dengan tangan Ki Tumenggung sendiri, maka aku tidak akan berkeberatan.”

“Kita akan datang ke rumah Raden Ayu yang tamak itu. Kita bunuh Wismaya, kemudian kita tangkap Madyasta hidup-hidup. Kita bawa Madyasta keluar dari rumah itu dan kita akan dapat berbuat apa saja sekehendak kita atas anak itu.”

“Bagaimana dengan Raden Ayu Prawirayuda dan anak gadisnya yang cantik itu?”

“Jika saja anakku masih ada, aku akan membawa Rantamsari baginya. Tetapi karena anakku sudah mati, aku akan membunuh mereka pula.”

“Maksud Ki Tumenggung?”

“Aku akan membunuh Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya itu. Biarlah kekacauan yang terjadi di Paranganom itu lengkap. Paranganom akan menjadi gempar. Kematian Raden Ayu yang tamak itu gemanya tentu akan sampai ke Tegallangkap. Mau tidak mau penilaian Kangjeng Sultan Tegallangkap terhadap Kangjeng Adipati di Paranganom tentu akan terpengaruh juga.”

Sura Branggah termangu-mangu sejenak. Karena Sura Branggah tidak segera menanggapinya, maka Ki Tumenggung itu membentaknya “He, pemalas. Jangan tidur. Dengar kata-kataku ini, he?”

“Ya, ya. Aku mendengar Ki Tumenggung.”

“Seperti yang sudah pernah aku katakan. Jika perhatian Kangjeng Sultan di Tegallangkap tertuju kepada Kangjeng Adipati di Kateguhan untuk menjabat pepatih dalem di Tegallangkap, maka akulah yang akan menggantikan kedudukan Kangjeng Adipati. Aku akan menjadi Adipati di Kateguhan.”

Tiba-tiba saja Ki Tumenggung Reksadrana itu tertawa berkepanjangan. Sementara itu Sura Branggah hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Bahkan ia pun berkata didalam hatinya.

“Jika gegayuhan ini meleset, Ki Tumenggung ini akan dapat menjadi gila.”

Namun tiba-tiba Sura tertawa Ki Tumenggung itu terputus. Tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Terdengar suaranya sendat “Tetapi anakku sudah mati.

Jika aku berjuang mencari kemukten, sebenarnyalah aku ingin mewariskannya kepada anakku. Tetapi anakku sudah mati. Mati dibunuh oleh orang-orang Paranganom.”

Ki Tumenggung Reksadrana itu menggeretakkan giginya. Tiba-tiba tangannya menghentak sambil menggeram

“Aku bunuh orang-orang Paranganom. Aku bunuh Raden Ayu yang tamak dan berlindung di Paranganom itu. Aku bunuh anaknya perempuan. Aku juga akan membunuh bukan saja Madyasta. Tetapi juga anak laki-laki Adipati Paranganom yang satu lagi. Wignyana.”

Sura Branggah hanya dapat menarik nafas panjang.

Sementara itu Ki Tumenggung masih juga menggeram “Prakosa. Jangan gelisah karena kematianmu itu. Aku akan mengirimkan Madyasta dan Wignyana kepadamu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan atas mereka.”

Namun tiba-tiba saja Ki Tumenggung Reksadrana itu tertawa. Katanya “Jika aku sudah menjadi Adipati, aku akan dapat mengambil dua atau tiga atau berapapun perempuan yang aku inginkan. Aku tentu akan mendapatkan seorang anak laki-laki dari mereka. Anak yang kelak akan menggantikan Prakosa menjadi Adipati di Kateguhan.”

Suara tertawa Ki Tumenggung Reksadrana itu mengumandang lagi di ruang dalam rumahnya, sehingga liang-liangnya seakan-akan telah bergetar karenanya.

“Ki Tumenggung Reksadrana itu sungguh-sungguh sudah mulai menjadi gila” berkata Sura Branggah di dalam hatinya. Bahkan Sura Branggah itupun-tersenyum-senyum sendiri pula sambil bergumam “Gila atau tidak, tetapi uangnya lah yang penting bagiku.”

Namun tiba-tiba saja Sura Branggah itu pun menyadari tingkah lakunya sendiri. “Apakah aku juga sudah gila dan tertawa sendiri pula?”

Tiba-tiba Sura Branggah itu terkejut ketika Ki Tumenggung membentaknya “He, Sura Branggah. Apakah kau sudah menjadi gila? Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? Atau kau mentertawakan aku?”

“Tidak, Ki Tumenggung. Aku tidak mentertawakan Ki Tumenggung. Tetapi mungkin aku memang sudah menjadi gila.”

“Sura Branggah. Siapkan sisa-sisa orangmu. Besok malam kita memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda.”

“Besok malam?”

“Ya. Kita akan berangkat ke Paranganom. Malam nanti kita harus sudah berada di Paranganom. Bukankah kau mempunyai sarang di sana? Kita harus memasuki Paranganom di malam hari. Selambat-lambatnya esok dini hari. Kita akan beristirahat sehari di Paranganom. Kita akan membunuh semua orang penghuni rumah itu. Bahkan pada abdi pun akan kita bunuh semuanya agar tidak ada seorang saksi pun yang dapat berceritera tentang keberadaan kita di rumah itu.”

“Raden Madyasta?”

“Kecuali Madyasta, dungu. Madyasta harus ditangkap hidup-hidup. Aku akan mengurusnya untuk selanjutnya.”

“Lalu, bagaimana dengan Raden Wignyana?”

“Anak itu tidak berada di. rumah Raden Ayu Prawirayuda. Anak itu berada di Kadipaten.”

“Bukankah Ki Tumenggung juga ingin mem-bunuhnya?”

“Tentu lain kali” Ki Tumenggung itu berteriak “ternyata kau dungu melebihi seekor kerbau.”

Sura Branggah tidak menjawab.

“Nah, sekarang kau pergi. Kumpulkan sedikitnya delapan orang terbaik. Kalau kawan-kawanmu sudah mati di tumpas Madyasta, cari yang lain. Kau tentu mempunyai hubungan yang luas. Janjikan upah yang tinggi. Aku tidak berkeberatan, asal kita dapat membunuh seisi rumah itu dan menangkap Madyasta hidup-hidup.”

“Kenapa delapan?” Ki Tumenggung.

“Bersama kita. berdua, maka jumlahnya menjadi sepuluh orang. Bersepuluh kita tentu akan berhasil. Di rumah itu hanya ada dua orang Senapati yang sombong. Mereka mau memanggil bantuan untuk mengamankan rumah itu. Berdua mereka merasa akan dapat mengatasi pembunuh kedua orang kawan mereka.”

Agaknya mereka juga mencurigai Wicitra. Jika benar Wicitra pembunuhnya, maka berdua mereka akan dapat menangkapnya.”

“Tetapi ternyata mereka tidak mampu menghindari dari kelicikannya.”

Sura Branggah mengangguk-angguk.

“Karena kita tidak mau gagal, maka kita akan datang bersama delapan orang yang kau tentu dapat memilihnya diantara sekian banyak gegedug di Kadipaten Kateguhan.”

Sura Branggah mengangguk-angguk. “Pergilah. Nanti sebelum senja semuanya harus siap. Kita akan berangkat dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah dengan melewati jalan yang berbeda pada saat kita memasuki Paranganom agar tidak menimbulkan kecurigaan.”

Sura Branggah menarik nafas dalam-dalam. Katanya lebih ditujukan kepada diri sendiri “Waktunya terlalu pendek.”

“Jangan berceloteh. Pakai salah satu kuda di kandang itu, asal bukan si Werdi, kuda yang berwarna kelabu.”

“Baik, Ki Tumenggung. Aku akan mencobanya.”

“Kau benggolan kecu yang sudah kawentar, masih juga akan coba-coba? Kenapa kau tidak dapat berkata dengan pasti? Aku tidak mau kau membawa kecoak-kecoak kecil, kurus kering dan sakit-sakitan. Aku ingin kau membawa gegedug-gegedug yang sembada. Baik ujudnya maupun kemampuannya.”

“Tetapi Ki Tumenggung harus mengerti, bahwa mereka bukan anak buahku sendiri. Anak buahku yang dapat diandalkan tinggal tidak lebih dari ampat orang.”

“Aku tidak peduli. Kau harus mendapatkannya berapapun upahnya. Aku tidak mau kehilangan Madyasta. Ia akan dapat menjadi permainan yang menyenangkan. Aku akan memeliharanya dengan baik, ia akan dapat memberikan kesenangan dan kepuasan di setiap pagi, pada saat aku bangun tidur. Ia akan terikat di tiang yang kokoh. Tentu aku akan memanjakannya. Setiap hari ia akan disuapi. Ia tidak boleh segera mati.”

“Baiklah, Ki Tumenggung, Aku akan memenuhi keinginan Ki Tumenggung.”

“Pergilah. Aku akan tidur sekarang. Malam nanti kita akan menempuh perjalanan panjang.”

“Kalau Kangjeng Adipati mencari Ki Tumenggung.”

“Aku akan memohon diri untuk pergi barang dua tiga hari menengok adikku yang sakit di Tegallangkap “

Sura Branggah mengangguk-angguk.

“Cepat. Cari orang itu.”

“Baik, baik Ki Tumenggung.”

Sejenak kemudian, Sura Branggah pun minta diri. Dibawanya seekor diantara beberapa kuda Ki Tumenggung. Sura Branggah memilih kuda yang berwarna coklat kehitaman.

Di sore hari, Sura Branggah telah datang lagi ke rumah Ki Tumenggung Reksadrana, yang dengan tergesa-gesa menemuinya.

“Kau dapatkan orang-orang itu?”

“Ya, Ki Tumenggung. empat orang adalah anak buahku sendiri. Empat orang yang lain adalah gegedug-gegedug yang dapat dipercaya. Tetapi upah bagi mereka pun cukup besar.

“Sudah aku katakan, aku tidak peduli.”

“Tetapi persoalannya tidak terlalu sederhana Ki Tumenggung.”

“Apa lagi?”

“Bukankah orang-orang itu akan ditempatkan dibawah pimpinanku?”

“Tentu. Kau akan menjadi panglima dari pasukanku itu.”

“Ki Tumenggung. Jika aku harus memimpin mereka, maka upahku tentu harus lebih banyak dari mereka.”

“Iblis kau Sura Branggah., Sudah aku katakan, kalau perlu aku akan menjual beberapa barang berharga yang aku miliki.”

Sura Branggah mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Segala sesuatunya sudah siap. Senja nanti kita sudah dapat berangkat.”

“Bukankah mereka membawa kuda mereka sendiri-sendiri?”

“Para gegedug itu mempunyai kuda mereka sendiri. Tetapi bagi ampat orang orangku hanya tersedia dua ekor kuda.”

“Ambil kudaku satu lagi asal bukan Si Werdi.”

“Kudanya kurang dua, Ki Tumenggung.”

“Kau sama sekali tidak punya modal apa-apa, Sura Branggah.

“Jadi kami meminjam tiga ekor kuda Ki Tumenggung.”

“Kudaku hanya empat. Kalian bawa tiga.”

“Bukankah Ki Tumenggung Reksadrana hanya membutuhkan seekor kuda.”

“Kau memang gila, Sura Branggah.”

“Sekali-sekali saja Ki Tumenggung. Bukankah saat ini saat yang sangat penting bagi Ki Tumenggung. Tanpa kuda, maka kami tidak akan dapat sampai ke Paranganom sebelum dini. Mungkin baru esok siang atau bahkan lebih lama lagi.”

“Cukup. Aku tidak mau tertunda lagi.”

“Jadi?”

“Pakai kudaku. Pakai kudaku” Ki Tumenggung Reksadrana berteriak nyaring.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, beberapa orang gegedug telah berada di rumah Ki Tumenggung.

Seorang diantara mereka pun berkata dengan nada yang kasar “Ki Tumenggung. Sebelum kita berangkat, aku minta uang jaminan agar Ki Tumenggung tidak menipu kami.”

“Menipu? Apakah kata-kata itu keluar dari mulutmu?” bertanya Ki Tumenggung Reksadrana.

“Ya. Siapa tahu.”

“Kau berbicara dengan seorang Tumenggung” bentak Sura Branggah.

“Aku tahu. Tetapi seorang Tumenggung pun dapat saja menipu dan berbohong.”

“Dengar” wajah Sura Branggah menjadi merah. Ia merasa bertanggung jawab atas orang-orang yang dibawanya menghadap Ki Tumenggung Reksadrana

“Aku dapat membunuhmu sekarang atau kapan saja. Apalagi Ki Tumenggung Reksadrana. Bukan karena jabatannya sehingga ia dapat memanggil sekelompok prajurit. Tetapi dengan ayunan tangannya, kepalamu dapat dipecahkannya.”

“Tetapi siapa yang akan menjamin bahwa kami tidak akan menyabung nyawa tetapi kemudian janji-janji sebelumnya diingkari?”

“Aku. Aku yang akan menjamin bahwa segalanya akan berlangsung sesuai dengan pembicaraan kita. Kau berbicara dengan aku. Jika kau diingkari, maka akulah yang bertanggung jawab.”

Orang itu mengerutkan dahinya, sementara Ki Tumenggung Reksadrana pun berkata “Jika saja kau bukan orang yang dipercaya oleh Sura Branggah, maka aku tentu sudah mengoyakkan mulutmu. Atau jika kau tidak percaya akan kemampuanku, kau akan menantangku setelah kerja kita selesai?”

“Tidak. bukan maksudku, Ki Tumenggung. Tetapi aku hanya ingin meyakinkan bahwa aku tidak bertaruh nyawa dengan sia-sia.”

“Kau sendirilah yang membuat kerjamu sia-sia.”

“Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Sekarang kau diam. Aku yang bertanggung jawab.”

Orang itu pun terdiam. Sementara Sura Branggah pun berkata “Kita akan segera bersiap-siap. Sedikit lewat senja kita akan berangkat. Kita akan menempuh perjalanan di malam hari. Kita berharap akan berada di Paranganom sebelum terang tanah, sehingga tidak ada orang yang mengetahui kedatangan kita dan apalagi mencurigainya. Kita akan menempuh perjalanan di malam hari. Kita pun akan berbagi diri dalam kelompok-kelompok kecil. Kita tidak akan tertarik pada apapun juga yang kita jumpai diperjalanan.”

“Apa yang kau maksud, kakang?” bertanya salah seorang gegedug.

“Tegasnya, kita tidak boleh berhenti dan merampok di sepanjang jalan meskipun kita akan melewati rumah orang-orang kaya serta ada kesempatan terbuka. Kita juga tidak boleh berhenti untuk menyamun meskipun kita berpapasan dengan pejalan-pejalan di malam hari. Bahkan seandainya mereka membawa harta benda yang seberapapun banyaknya, karena langkah yang demikian akan dapat mengganggu tugas-tugas pokok yang harus kita lakukan di Paranganom.”

Para gegedug yang telah menyatakan kesediaan mereka untuk bekerjasama dengan Sura Branggah itu pun mengangguk-angguk.

Demikianlah setelah beberapa pesan terakhir di berikan oleh Ki Tumenggung Reksadrana, maka sekelompok orang yang sepakat untuk membantu Ki Tumenggung itu pun segera berangkat. Mereka telah mendapat beberapa petunjuk, rumah yang manakah yang harus mereka datangi di Paranganom.

“Jangan menempuh perjalanan dalam kelompok-kelompok yang dapat menarik perhatian. Kalian akan menempuh perjalanan masing-masing berdua saja. Aku pun akan menempuh perjalanan ini juga berdua dengan Ki Tumenggung Reksadrana.”

Malam itu, Ki Tumenggung Reksadrana, Sura Branggah dan orang-orangnya pun telah menempuh perjalanan panjang. Mereka harus sampai di Paranganom di dini hari sebelum terang tanah.

Sejak orang-orang upahan Ki Tumenggung Reksadrana itu keluar dari pintu gerbang kota, maka mereka pun telah melarikan kuda mereka. Semakin jauh, derap kaki kuda mereka menjadi semakin cepat. Hanya kadang-kadang, jika jalan pintas yang mereka tempuh terlalu rumit, maka kuda-kuda itu pun berlari lebih lambat, bahkan kadang-kadang kuda itu harus berjalan tidak lebih cepat dari seorang anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran.
Namun bagaimanapun juga mereka tidak dapat melarikan kuda mereka tanpa berhenti. Kuda-kuda itu juga memerlukan waktu untuk beristirahat barang sejenak.

Sebenarnyalah bahwa pesan yang diberikan oleh Sura Branggah bagi mereka, terasa sangat menekan. Ketika dua orang gegedug berhenti di pinggir jalan untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat sedikit lewat tengah malam, mereka melihat dua orang yang juga berkuda dari arah yang berlawanan.

“Dua orang berkuda” desis seorang diantara mereka..

“Ya. Kenapa?” bertanya kawannya.

“Apakah kita tidak dapat menghentikan mereka.?”

“Untuk apa? Menyamun?”

“Ya.”

“Kita dilarang untuk melakukannya menjelang tugas kita ini.”

“Tidak ada orang yang melihatnya.”

“Setidak-tidaknya kedua orang itu.”

“Kita bunuh mereka. Tidak akan ada saksi, bahwa kita telah melakukannya.”

“Itu hanyalah satu kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi masih ada kemungkinan lain.”

“Apa?”

“Kita berdua dapat mereka kalahkan. Mereka menangkap kita dan membawa kami ke Paranganom.”

“Kita tidak dapat dikalahkan.”

“Jika mereka orang-orang berilmu tinggi.”

“Kenapa tiba-tiba saja kau menjadi pengecut?”

“Jika kita tidak sedang dalam ikatan dengan seseorang, maka aku tidak akan terlalu banyak membuat pertimbangan. Tetapi sekarang kita sedang membuat janji.”

“Kita tidak akan melanggar janji itu.”

“Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau Sura Branggah kehilangan kepercayaan kepadaku.”

Kawannya terdiam. Bagaimanapun juga nama Sura Branggah memaksanya untuk membuat pertimbangan dua tiga kali lagi.

Namun ketika kedua orang berkuda itu lewat, mereka tidak berbuat apa-apa.

Sebenarnyalah kedua orang berkuda itu pun menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat dua orang yang duduk diatas tanggul parit di pinggir jalan di malam yang gelap itu. Tetapi kedua orang itu berjalan terus. Bahkan keduanya pun telah menyiagakan diri untuk jika perlu bertempur.
Namun kedua orang yang duduk di tanggul parit itu tidak berbuat apa-apa.

Bahkan ketika kedua orang berkuda itu lewat, kedua orang yang duduk di tanggul parit itu pun telah bangkit pula untuk melanjutkan perjalanan mereka ke arah yang berlawanan.

Demikianlah, seperti yang direncanakan, maka di dini hari, sebelum terang tanah, Sura Branggah dan Ki Tumenggung Reksadrana telah berada di Paranganom. Demikian pula delapan orang yang lain. Mereka langsung pergi ke sebuah rumah yang berada di ujung sebuah padukuhan, agak terpisah dari para penghuni yang lain.

Di rumah itulah mereka akan beristirahat sehari. Namun pesan Sura Branggah kepada kedelapan orang itu “Kalian jangan keluar dari rumah ini.”
Kedelapan orang itu menyadari, selain mereka berada di tempat asing, mereka pun akan melakukan pekerjaan yang gawat.

Dengan demikian, maka yang mereka lakukan sehari itu adalah makan dan tidur. Mereka yang tidak dapat tidur karena udara yang terasa panas,

menggelar tikar di kebun belakang, dibawah pepohonan yang berdaun lebat.

***

Dalam pada itu, Wismaya dan Madyasta yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya yang besar sedang merunduk mereka. Mereka memang tidak menjadi lengah. Tetapi mereka merasa musuh yang mereka hadapi adalah hanya satu atau dua orang yang dengan licik menikam dari belakang. Mereka tidak memperhitungkan kemungkinan, sepuluh orang yang berpengalaman hidup di dunia yang hitam sedang bersiap-siap untuk memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Ketika malam turun, kedua orang prajurit muda yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu sudah mulai bersiap-siap. Seperti malam-malam terakhir, mereka tidak berpencar. Berdua mereka setiap kali meronda mengelilingi rumah Raden Ayu Prawirayuda itu. Kadang-kadang mereka berdua berhenti di kebun belakang beberapa saat.

Pada kesempatan lain mereka berada di belakang gandok atau di tempat-tempat lain. Dengan demikian, maka kesempatan untuk menyerang dari belakang menjadi sulit. Justru karena mereka berdua.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggah pun telah mempersiapkan diri. Mereka memberikan beberapa petunjuk dan perintah kepada orang-orang upahan mereka.

“Kita akan berkumpul di belakang lumbung di sebelah dapur rumah yang besar itu.”

“Baik Ki Tumenggung” jawab mereka hampir berbareng.

Demikianlah, maka mereka pun segera berangkat menuju ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi seperti pada saat mereka memasuki Kadipaten Paranganom, maka mereka telah membagi diri.

Sebelum tengah malam, seperti yang mereka rencanakan, mereka telah berloncatan memasuki dinding halaman samping rumah Raden Ayu Prawirayuda. Halaman samping yang gelap dan ditumbuhi oleh berbagai pepohonan buah-buahan dan pohon-pohon perdu yang tertata rapi.
Dalam kegelapan, sepuluh orang telah berkumpul, Dengan hati-hati mereka merayap mendekati pintu seketeng. Seorang diantara mereka meloncat masuk ke longkangan dan membuka pintu seketeng yang di selarak dari dalam.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Ki Tumenggung.”

“Dimana kedua orang Senapati muda itu” desis Sura Branggah.

“Mereka tidak ada di gandok. Jika ada mereka tentu berada didalam bilik mereka.”

“Mungkin mereka berada di dalam. Mereka tidak ingin ditikam dari belakang seperti yang pernah terjadi.”

“Lalu apa artinya keberadaan mereka disini?”

“Nampaknya mereka mencurigai Wicitra. Dengan demikian, mereka berdua justru berada di dalam rumah. Jika Wicitra berniat mengambil anak perempuan Raden Ayu Prawirayuda, barulah kedua orang Senapati itu bertindak.”

“Sekarang apa yang akan kita lakukan, Ki Lurah?” bertanya-seorang diantara orang-orang upahan itu.

“Kita masuk ke dalam” jawab Sura Branggah.

“Kita mengetuk pintu. Jika kedua orang Senapati itu berada didalam, maka merekalah yang akan membukakan pintunya. Kita akan membunuh Wismaya dan menangkap Madyasta” sahut Ki Tumenggung Reksadrana.

“Kita tidak usah mengetuk pintu Ki Tumenggung.”

“Kita rusakkan pintu butulan itu?”

“Tidak. Seorang dari anak buahku itu mempunyai kepandaian khusus. Ia akan dapat masuk ke dalam lewat tutup keyong bangunan belakang. Biarlah nanti ia membuka pintu butulan ini dari dalam.

“Baiklah. Perintahkan orang itu segera melakukannya.”
Sura Branggah itu pun kemudian memanggil seorang anak buahnya yang bertubuh agak tinggi ke kurus-kurusan.

“Cemeng. Masuklah lewat tutup keyong itu. Buka pintunya dari dalam “

“Baik, Ki Lurah. Tetapi nampaknya tutup keyongnya terbuat dari papan, sehingga aku memerlukan waktu untuk membukanya.”

“Lakukan. Cepat atau aku gantung kau di dahan pohon jambu itu.”

Ternyata orang yang dipanggil Cemeng itu memang mampu memanjat seperti kucing. Dalam waktu yang pendek orang itu sudah melekat pada tutup keyong di bangunan bagian belakang.

“Potong saja tali ijuk kayu yang menghimpit papan tutup keyong itu” berkata seorang kawannya yang berada di bawahnya.

“Sst. Jangan keras-keras” desis yang lain. .

“Kenapa?”

“Nanti penghuninya terbangun.”

“Kalau mereka terbangun mau apa. Bukankah hanya dua orang perempuan.?”

“Dua orang prajurit itu?”

“Justru mereka yang kita cari. Biarlah mereka keluar menyongsong kita.”

Kawannya tidak menyahut lagi. Sementara itu, Cemeng telah hilang ditelan bangunan belakang rumah yang besar itu.

Beberapa saat kemudian, maka Cemeng itu sudah mengangkat selarak pintu butulan dari dalam.

Sambil menengadahkan dadanya karena keberhasilannya, ia pun berkata “Marilah, silahkan masuk.”

“Edan kau. Kau kira kau sudah menjadi pahlawan?” berkata seorang kawannya.

“Apapun namanya, tetapi aku sudah berhasil membuka pintu ini dan mempersilahkan kalian masuk”

Ki Tumenggung Reksadrana melangkah maju sambil berkata “Minggir. Aku akan memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda. Besok menjelang pagi, rumah ini akan menjadi sepi. Yang ada hanyalah mayat-mayat yang terbujur lintang. Sedangkan Madyasta tidak akan dapat diketemukan mayatnya disini.”

Namun ketika Ki Tumenggung Reksadrana akan menginjakkan kakinya ke tlundak pintu butulan, terdengar suara seseorang “Selamat malam, paman Tumenggung.”

Bukan hanya Ki Tumenggung. Tetapi semua orang telah berpaling. Mereka melihat Madyasta dan Wismaya berdiri se-langkah dari pintu seketeng yang terbuka.

“Raden Madyasta” geram Ki Tumenggung Reksadrana.

“Ya, paman. Bukankah paman tidak lupa kepadaku.”

“Tidak. Aku tidak dapat lupa dengan wajah iblismu yang licik itu.”

“Paman masih saja suka bergurau. Ketika aku masih remaja, aku sering mengunjungi kangmas Yudapati yang juga masih remaja. Aku tidak pernah melupakan paman yang pandai melucu.”

“Cukup” bentak Ki Tumenggung Reksadrana.

“Kenapa tiba-tiba saja paman marah?”

“Jangan banyak bicara, Raden. Malam ini aku datang untuk menangkapmu.”

“Menangkap aku? Apa salahku?”

“Kau adalah seorang pembunuh yang bengis. Kau pantas mendapat hukuman yang lebih berat dari hukuman mati.”

“Paman. Kenapa paman menuduh aku seorang pembunuh? Siapakah yang pernah aku bunuh. Jika aku membunuh musuh-musuhku di medan pertempuran, aku tidak dapat disebut sebagai pembunuh. Didalam perang, kemungkinan untuk dibunuh dan membunuh sama besarnya paman.”

“Cukup, menyerahlah. Aku akan mengikat tangan dan kakimu.”

“Bagaimana mungkin aku melakukannya. Bagaimana mungkin aku menyerah.”

“Kau tidak dapat memilih. Kau harus menyerah kepadaku. Sedangkan orang-orangku akan membunuh Senapati pengecut itu.”

“Paman. Bukan paman yang akan. menangkap aku. Tetapi keberadaan paman di wilayah Paranganom, apalagi di rumah bibi Prawirayuda pada waktu yang tidak sewajarnya, memaksa aku untuk menangkap paman dan kawan-kawan paman. Menurut dugaanku, paman yang datang tidak pada waktu yang wajar dengan membawa banyak orang, tentu. menyimpan maksud-maksud yang jahat.”

Ki Tumenggung Reksadrana itu pun tertawa. Katanya “Kau kira kau ini siapa Raden. Kau kira aku ini siapa. Meskipun kau mempunyai ilmu simpanan rangkap tujuh, tetapi kedudukanmu sekarang sangat lemah. Karena itu, daripada kau mengalami perlakuan yang buruk, sebaiknya kau menyerah saja.”

“Sudah aku katakan. Paman akan aku tangkap. Disini aku bertugas untuk menjaga keselamatan bibi Prawirayuda. Paman juga akan dituduh membunuh dua orang Senapati Paranganom di rumah ini.”

Ki Tumenggung Prawirayuda masih saja tertawa. Kemudian ia pun berkata kepada Sura Branggah “Tangkap Raden Madyasta. Bunuh saja Wismaya. Aku tidak memerlukannya.”

Sura Branggah itu pun segera memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk menangkap Madyasta hidup-hidup serta membunuh Wismaya.

Pertempuran pun segera terjadi. Madyasta dan Wismaya harus berhadapan dengan delapan orang upahan Ki Tumenggung Reksadrana, sementara Ki Tumenggung dan Sura Branggah berdiri saja menonton.

Betapapun tinggi ilmu Raden Madyasta dan Wismaya, namun menghadapi delapan orang brandal yang berpengalaman, keduanya pun segera terdesak. Bahkan sekali-sekali Wismaya dan Raden Madyasta harus berloncatan surut mengambil jarak pada saat-sat yang gawat.

Wismaya dan Raden Madyasta yang sudah mengerahkan segenap kemampuannya itu pun masih saja mengalami kesulitan. Serangan-serangan lawannya sekali-sekali mulai menyentuh tubuh mereka.

“Nah, ingat” suara Ki Tumenggung terdengar bagaikan guntur “Madyasta harus ditangkap hidup-hidup. Sedangkan Wismaya tidak aku perlukan lagi. Bunuh saja dan buang mayatnya di kebun belakang. Atau biarkan saja di longkangan ini. Aku akan masuk dan mengambil Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya.”

Namun sebelum Ki Tumenggung itu beranjak dari tempatnya, terdengar seseorang bertanya “Kaukah itu Ki Tumenggung Reksadrana?”

Ki Tumenggung Reksadrana terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya di pintu seketeng dua orang yang melangkah mendekati arena pertempuran. Dalam cahaya lampu minyak yang lemah di serambi yang menghadap longkangan itu, Ki Tumenggung Reksadrana melihat, bahwa yang datang itu adalah Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda.

Jantung Ki Tumenggung Reksadrana itu pun menjadi berdebaran. Ki Reksadrana tidak mengira, bahwa kedua orang Tumenggung andalan Paranganom itu berada pula di rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Namun sebenamyalah bahwa yang terkejut bukan hanya Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggah. Tetapi Raden Madyasta dan Wismaya pun terkejut pula.

“Paman berada disini?” bertanya Raden Madyasta yang meloncat surut mengambil jarak dari lawan-lawannya.

“Ya, ngger. Setiap malam aku menunggu di tempat ini. Bergantian kami berdua berjaga-jaga menunggu kedatangan agul-agul dari Kateguhan ini. Akhirnya orang ini datang pula.”

“Setan kau kakang Sanggayuda dan kakang Wiradapa. Darimana kalian tahu bahwa pada suatu saat aku akan datang ke rumah ini.”

“Tentu kau yang sudah membujuk Kangjeng Adipati Yudapati agar, mengusir Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi itu belum cukup bagimu. Kau datang memburunya kemari” sahut Ki Tumenggung Sanggayuda.

“Aku memang datang kemari. Tetapi alasan yang kau sebutkan itu salah. Sebenarnya aku tidak mempunyai urusan dengan Raden Ayu Prawirayuda.”

“Lalu untuk apa kau datang kemari?”

“Aku memerlukan Madyasta dan Wismaya.”

“Kenapa?”

“Bukan urusanmu. Sekarang serahkan saja Madyasta dan Wismaya kepadaku. Aku akan segera pergi tanpa mengganggu seisi rumah ini.”

“Apa kata Kangjeng Adipati Prangkusuma seandainya kau benar-benar membawa Raden Madyasta?”

“Aku tidak peduli.”

“Dapatkah kau membayangkan, jika perang terjadi antara Paranganom dan Kateguhan?”

Wajah Ki Tumenggung Reksadrana menjadi tegang. Namun kemudian Ki Tumenggung itu pun menjawab “Jika demikian, maka aku akan melenyapkan saksi atas apa yang terjadi malam ini.”

“Kau akan membunuh kami berdua, Raden Madyasta dan Wismaya sekaligus?”

“Termasuk Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari. Bahkan para pembantu, sehingga tidak seorang pun yang akan dapat mengatakan

apa yang sebenamya telah terjadi malam ini di rumah ini.”

“Kau kira begitu mudahnya kau membunuh?”

“Kenapa tidak? Aku datang bersama sembilan orang. Kami semuanya sepuluh orang. Kalian hanya berempat. Sementara itu diantara kami ada aku, ada Sura Branggah, ada Cemeng Kembang Telon dan yang lain-lain, yang namanya telah mengumandang di seluruh kadipaten Kateguhan.”

“Mungkin nama mereka telah dikenal oleh orang-orang Kateguhan, tetapi tidak oleh orang-orang Paranganom. Sebenarnyalah ukuran kita tentang tingkat kelebihan seseorang memang berbeda. Apa yang kalian anggap emas, ternyata tidak lebih dari loyang saja bagi kami.”

“Kesombonganmu menyakitkan hatiku, kakang. Sebaiknya sekarang kakang menundukkan kepala untuk menerima hukuman dari kami.”

“Siapa yang akan menghukum kami? Kau dan para pengikutmu itu?”

“Ya. Aku dan para pengikutku.”

“Adi Tumenggung Reksadrana” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “sebaiknya adi menghentikan pokal adi yang jahat ini. Adi harus menyadari, bahwa apa yang adi lakukan ini dapat menyeret dua kadipaten yang pernah diperintah oleh dua orang bersaudara, kakak beradik, kedalam kancah peperangan.”

Wajah Ki Tumenggung Reksadrana menjadi semakin tegang. Namun kemudian sekali lagi ia pun berkata “Aku akan membunuh semua orang. Perang itu tidak akan terjadi karena tidak akan ada orang yang dapat menyebut namaku.”

“Jangan terlalu yakin.”

“Aku yakin akan kemampuanku dan aku yakin akan kemampuan orang-orangku.”

“Kaulah yang akan menjadi mayat disini, Reksadrana. Atau aku akan menangkapmu dan menyeretmu ke hadapan Kangjeng Adipati Prangkusuma. Jika perang itu kemudian harus terjadi, maka kau akan menjadi pengewan-ewan tidak hanya di Paranganom. Tetapi kau akan diikat di alun-alun Tegallangkap, karena kau telah mengobarkan permusuhan di Tegallangkap dan bahkan menimbulkan perang antara dua kadipaten terbaik di Tegallangkap.”

“Persetan dengan celotehmu, Sanggayuda, aku akan memotong lidahmu.”

“Bagus. Kita akan mencoba mengadu kemampuan. Sudah sejak di hadapan Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan aku ingin memilin lehermu”

“Aku akan melayanimu Sanggayuda”

Ki Tumenggung Sanggayuda tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia pun dengan serta-merta telah menyerang Ki Tumenggung Reksadrana.
Serangan Ki Tumenggung Sanggayuda itu merupakan aba-aba bagi orang-orang upahan Ki Tumenggung Reksadrana. Merekapun serentak telah bergerak pula menyerang Raden Madyasta, Wismaya dan Ki Tumenggung Wiradapa.

Pertempuran pun segera telah berkobar kembali di longkangan itu. Wismaya dan Raden Madyasta harus bertempur menghadapi beberapa orang lawan lagi. Tetapi kehadiran Ki Tumenggung Wiradapa telah mengurangi beban yang harus di usung oleh Wismaya dan Raden Madyasta. Sementara itu Ki Tumenggung Reksadrana terikat dalam pertempuran melawan Ki Tumenggung Sanggayuda.

Ternyata keduanya adalah prajurit linuwih. Keduanya memiliki ilmu yang tinggi serta pengalaman yang luas. Paranganom dan Kateguhan yang pernah diperintah oleh dua orang bersaudara itu masing-masing mempunyai Senapati pilihan yang sulit dicari imbangannya.

Keduanya saling menyerang dan bertahan. Selapis demi selapis keduanya pun meningkatkan kemampuan mereka.

Di sisi yang lain, Wismaya dan Raden Madyasta berloncatan menghadapi lawan lawannya. Namun keduanya pun kemudian bergeser keluar dari pintu seketheng dan bertempur di halaman.

Wismaya harus menghadapi dua orang gegedug yang bertempur dengan keras dan bahkan kasar. Raden Madyasta menghadapi tiga orang sekaligus.

Demikian pula Ki Tumeng-gung Wiradapa yang masih bertempur di longkangan. Ki Tumenggung itu juga menghadapi tiga orang benggol perampok yang garang.

Namun ketiganya adalah prajurit pilihan. Wismaya dengan langkah-langkah panjang berloncatan di halaman, se-hingga kedua orang lawannya telah dipaksa untuk menyesuaikan dirinya. Keduanya yang berusaha untuk bertempur di arah kedua sisinya, ternyata tidak pernah berhasil. Wismaya selalu saja dapat keluar dari garis serangan yang dibangun oleh kedua orang lawannya. Bahkan sekali-sekali Wismaya mampu mengejutkan mereka. Geraknya yang sulit diduga itu, membuat kedua orang lawannya harus memeras kemampuannya.

Tetapi serangan-serangan Wismaya lah yang sekali-sekali justru mulai menyentuh tubuh lawannya.

“Edan tenan orang ini” geram salah seorang dari kedua gegedug yang bertempur melawan Wismaya

“Peras tenaganya, kang” berkata yang lain “ia akan menjadi lumpuh dan tidak berdaya. Kita akan menangkapnya. Kau pegang kepalanya aku pegang kakinya. Tubuhnya kita pelintir seperti tampar”

Gegedug yang seorang tidak menjawab lagi. Tetapi ditingkatkannya serangan-serangannya. Seperti kawannya ia mencoba memancing agar Senapati muda itu memeras tenaganya sehingga akhirnya ia akan menjadi kelelahan atau bahkan nafasnya akan terputus dengan sendirinya.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kedua orang gegedug itulah yang harus memeras tenaga mereka. Senapati muda itu mampu bergerak cepat sekali, sehingga hampir bersamaan waktunya, serangannya mampu mengenai kedua orang lawannya sekaligus.

Namun serangan-serangan kedua orang gegedug itu ada juga yang berhasil menyusup disela-sela pertahanan Wismaya. Seorang diantara kedua orang lawannya berhasil mengenai punggung Wismaya dengan tendangan kakinya. Wismaya terdorong kedepan. Dengan sigapnya lawannya yang seorang lagi mengayunkan kakinya melingkar, tepat mengenai dada Wismaya.

Tetapi Wismaya tidak terdorong surut karena ia tahu bahwa lawannya yang seorang lagi menunggu. Wismaya justru menjatuhkan dirinya, berguling sambil menyapu kaki lawannya yang seorang. Demikian kerasnya sehingga orang itu terbanting di tanah.

Ternyata Wismaya lebih cepat melenting berdiri. Ketika orang itu juga bangkit, Wismaya sempat meloncat sambil menjulurkan kakinya.

Kaki Wismaya yang mengenai dada lawannya itu telah melemparkan lawannya sehingga terpelanting di tanah.

Di dekat pendapa, Raden Madyasta bertempur melawan ketika orang lawannya. Dengan gagangnya, seperti seekor sikatan berburu bilalang di padang rumput yang luas, Raden Madyasta berloncatan menyambar-nyambar. Namun kemudi-an Raden Madyasta itu berdiri tegak di tengah-tengah kepungan ketiga orang lawannya. Ia tidak berloncatan sama sekali. Kedua kakinya rasa-rasanya menjadi lekat dengan bumi yang diinjaknya.

Sekali-sekali Raden Madyasta itu bergerak setapak kesamping. Bergeser sedikit atau berputar seperempat lingkaran. Sikapnya mencerminkan ketangguhannya. Tangguh seperti seekor banteng menghadapi harimau yang garang.

Dengan demikian maka ketiga orang yang sudah terbiasa hidup dalam suasana yang keras dan bengis itu justru menjadi berdebar-debar menghadapi lawannya yang masih muda itu.

“Apakah anak seorang Adipati dengan sendirinya menjadi seorang yang berilmu tinggi?” bertanya salah seorang lawannya di dalam hatinya.
Sebenarnyalah ketiga orang lawannya itu benar-benar mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, ketiga orang yang bertempur melawan Ki Tumenggung Wiradapa adalah seorang yang bernasib buruk. Sejak mereka mulai bertempur, mereka sudah terdesak. Mereka segera merasakan tekanan yang sangat berat dari seorang Tumenggung yang sudah separo baya.

Ketiga orang itu telah berusaha untuk memeras tenaga Ki Tumenggung. Mereka bertempur sambil berloncatan. Sekali menyerang, kemudian meloncat menjauh bergantian. Mereka berharap bahwa Ki Tumenggung Wiradapa akan berlari-larian memburu mereka.

Tetapi yang terjadi sama sekali tidak seperti yang mereka harapkan. Ki Tumenggung itu hanya sedikit sekali bergerak. Jika seorang lawannya berloncatan menjauh, ia sama sekali tidak memburunya. Ki Tumenggung itu dengan mapan menunggu lawannya datang menyerang.

Tetapi demikian serangan itu datang, maka orang yang menyerang itulah yang terpelanting jatuh.

Namun agaknya Ki Tumenggung sengaja tidak ingin segera menyelesaikan lawan-lawannya. Ki Tumenggung itu bertempur sambil menonton pertempuran yang semakin sengit antara Ki Tumenggung Sanggayuda melawan Ki Tumenggung Reksadrana.

Dalam pada itu, di dalam rumah itu telah terjadi ketegangan yang mencengkam. Rantamsari yang terbangun oleh keributan itu telah memeluk ibunya yang telah terbangun lebih dahulu.

“Ibu. Apa yang terjadi?”

“Tenanglah Rantamsari.”

“Apakah telah terjadi pertempuran ibu?”

“Ya. Agaknya memang telah terjadi pertempuran.”

“Aku takut ibu.”

“Jangan takut, Rantamsari. Di luar ada adikmu Madyasta. Ia adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.”

“Bukankah kakang Wismaya juga ada?”

“Ya. Wismaya juga menyertainya. Tetapi sudah tentu bahwa kemampuan ilmu Madyasta lah yang jauh lebih tinggi.”

Rantamsari terdiam. Namun tangannya yang memeluk tubuh ibunya terasa menjadi gemetar.

“Jangan takut Rantamsari. Tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Raden Madyasta akan segera dapat menyelesaikannya.”

“Tetapi yang terdengar itu sorak dan teriakan banyak orang ibu. Bukankah dimas Madyasta hanya berdua saja dengan kakang Wismaya.”

“Dalam pertempuran, bukanlah yang terbanyak yang akan menang. Tetapi yang akan menang adalah yang terbaik,”

Rantamsari terdiam lagi. Namun degup jantungnya justru menjadi semakin cepat.

Dalam pada itu, ketika di longkangan dan di halaman terjadi pertempuran, maka Sura Branggah yang licik telah berhasil menghindar dari perhatian para prajurit Paranganom. Ia justru menyelinap masuk ke dalam rumah.

Dengan hati-hati Sura Branggah menyelusuri ruang demi ruang. Ia berniat menemukan bilik tidur Raden Ayu Prawirayuda atau Raden Ajeng Rantamsari. Kebetulan jika mereka berdua berada di dalam satu bilik.

Ternyata suasana didalam rumah itu sepi. Di ruang tengah, lampu minyak menyala redup.

Sura Branggah menjadi ragu-ragu ketika ia melihat beberapa buah pintu yang tertutup. Tetapi Sura Branggah menduga, bahwa bilik tidur Raden Ayu Prawirayuda berada di sisi sebelah kanan.

Ketika ia melangkah mendekati pintu, Rantamsari yang berada didalam bersama ibunya menjadi semakin ketakutan. Dengan memeluk ibunya semakin erat, terdengar isaknya yang tertahan.

“Sst.” desis ibunya.

Namun isak tertahan Raden Ajeng Rantamsari itu terdengar oleh Sura Branggah.

Sura Branggah itu tersenyum. Ia akan menyeret kedua orang perempuan itu keluar turun ke longkangan. Dengan mengancam untuk membunuh keduanya, ia akan dapat memaksa kedua orang Tumenggung dan dua orang Senapati itu menyerah dan membiarkan tangan dan kaki mereka diikat.

“Alangkah mudahnya membunuh mereka. Ki Tumenggung Reksadrana pun akan dapat memenuhi keinginannya, menumpahkan dendamnya kepada Wismaya dan Madyasta” berkata Sura Branggah didalam hatinya.

Karena itu, dengan harapan untuk mendapat pujian dan upah lebih dari Ki Tumenggung Reksadrana, Sura Branggah itu mengetuk pintu bilik Raden Ayu Prawirayuda.

Demikian terdengar pintu diketuk, maka Raden Ajeng Rantamsari pun memeluk ibunya semakin erat sambil berdesis dengan suara yang bergetar “Ibu. Ibu. Aku takut.”

“Jangan takut, Rantamsari.”

“Siapa yang mengetuk pintu itu ibu?”

Ternyata Sura Branggah yang berada di luar pintu mendengar suara Rantamsari. Dengan nada berat Sura Branggah itu pun menyahut “ Aku.”

“ Aku siapa?” bertanya Raden Ayu Prawirayuda.

“Silahkan membuka pintunya, Raden Ayu. Aku ingin berbicara sedikit.”

“Kau siapa. Kau belum menyebut namamu.”

“Aku Sura Branggah.”

“Sura Branggah?”

“Ya.”

“Aku belum pernah mengenalmu. Pergilah. Jangan ganggu kami.”

Tetapi Sura Branggah itu menggeram. Katanya “Raden Ayu. Aku minta Raden Ayu membuka pintu.”

“Tidak. Aku belum mengenalmu.”

“Aku bukan seorang penyabar Raden Ayu. Aku dapat menjadi garang. Karena itu, sebelum darahku menjadi panas, bukalah.”

“Tidak” jawab Raden Ayu Prawirayuda.

Namun terdengar bentakan diluar “Raden Ayu mau membuka pintu atau tidak. Kalau tidak aku akan memecahkan pintunya.”

Raden Ayu termangu-mangu sejenak. Namun Rantamsari menjadi semakin ketakutan.

Sura Branggah yang hampir saja kehilangan kesabaran mengetuk pintu itu semakin keras sambil membentak “Buka pintunya. Jika Raden Ayu tidak mau membuka pintu, maka aku akan merusak pintu itu. Tidak ada yang dapat menghalangi Sura Branggah.”

Raden Ayu Prawirayuda tidak mempunyai pilihan. Agaknya Sura Branggah benar-benar akan merusak pintu biliknya jika ia tidak membukanya.
Tetapi ketika ia melangkah ke pintu, Rantamsari menahannya sambil berdesis “Jangan ibu. Pintunya jangan dibuka. Aku takut sekali.”

“Jangan takut, Rantamsari. Tidak akan terjadi apa-apa.”

“Jangan ibu.”

Namun Raden Ayu itu berkata “Percayalah kepadaku, Rantamsari. Adikmu akan segera datang menolong. Seandainya aku tidak membuka pintu itu, maka pintu itu pun akan terbuka setelah dirusak oleh orang yang berada di luar pintu itu.”

“Tetapi………”

“Sudahlah. Percayalah kepada ibu.”

Rantamsari tidak dapat menahannya lagi. Dengan tubuh gemetar Rantamsari melihat ibunya mengangkat selarak kemudian membuka pintu bilik itu.

Rantamsari menjadi semakin ketakutan ketika ia melihat wajah orang yang berdiri di belakang pintu itu.

“Ibu” Suaranya menjadi semakin bergetar.

Tetapi Raden Ayu Prawirayuda melangkah mendekati Sura Branggah.

“Apa yang kau maui, Sura Branggah.”

“Aku minta Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari keluar dari rumah ini untuk turun ke longkangan.”

“Untuk apa?”

“Raden Ayu tidak usah terlalu banyak bertanya. Jika Raden Ayu tidak segera turun, maka Raden Madyasta dan Wismaya akan segera dibantai oleh kawan-kawanku.”

“Kau tidak dapat menipuku, Sura Branggah. Pertempuran itu masih berlangsung. Itu berarti bahwa kawan-kawanmu masih belum menguasai Raden Madyasta dan Wismaya.”

“Tinggal soal waktu, Raden Ayu. Betapapun tinggi ilmu mereka berdua, tetapi mereka tidak akan mampu melawan kawan-kawanku yang jumlahnya belasan orang. Satu hal yang perlu Raden Ayu ketahui, bahwa Ki Tumenggung Reksadrana sekarang ada disini.”

Wajah Raden Ayu Prawirayuda menjadi tegang. Dengan nada suara yang berat, Raden Ayu itu berkata “Kau akan menakut-nakuti aku?”

“Tidak. Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung ada disini. Karena itu, jangan bertanya lagi. Marilah kita pergi ke longkangan.”

“Tidak. Kami tidak akan pergi ke longkangan.”

“Raden Ayu tidak dapat menolak. Aku akan dapat memaksa Raden Ayu untuk pergi ke longkangan bersama dengan Raden Ajeng Rantamsari.”

“Kami tidak akan pergi.”

“Sudah aku katakan, Raden Ayu tidak dapat menolak. Raden Ayu harus pergi ke longkangan. Jika Raden Ayu tetap tidak mau, aku akan menyeret Raden Ayu dan Raden Ajeng Rantamsari.”

Jantung Rantamsari terasa telah berhenti. Namun Raden Ayu Prawirayuda itu pun berkata “Sura Branggah. Apakah kau belum pernah mendengar bahwa pada saat aku berada di Kateguhan, terutama pada masa pemerintahan kangmas Adipati Prawirayuda, aku adalah seorang prajurit?”

“Sudah Raden Ayu. Bahkan Raden Ayu mendapat julukan Srikandi dari Kateguhan.”

“Jadi kau sudah tahu bahwa aku seorang prajurit.”

“Tetapi prajurit perempuan di Kateguhan itu sekedar sebagai hiasan saja. Prajurit perempuan bukan prajurit yang sebenarnya. Seperti kuntum-kuntum bunga yang berserakan diantara semak-semak berduri. Bahwa nama Raden Ayu waktu itu menjadi semerbak, karena Raden Ayu adalah isteri Kangjeng Adipati. Bukan karena kemampuan ilmu Raden Ayu.”

“Sura Branggah” berkata Raden Ayu itu kemudian “sudah lama aku meletakkan senjataku. Tetapi untuk melindungi anakku perempuan, maka aku telah mengenakan kembali keris pusakaku ini.”

“Jadi tegasnya, Raden Ayu akan melawan?”

“Ya. Aku akan melawanmu Sura Branggah.”

Sura Branggah itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Bagaimana mungkin Raden Ayu berniat melawanku. Aku adalah pemimpin Brandal yang sangat ditakuti. Gegedug-gegedug yang menjadi nama besar di Kateguhan semua tunduk kepadaku. Sementara itu, Raden Ayu yang mabuk dengan gelar Srikandi Kateguhan yang tidak lebih dari sekedar hiasan saja, akan mencoba melawanku.”

“Kita akan membuktikannya, Sura Branggah.”

“Bagus. Jika Raden Ayu benar-benar ingin melawan, serta kesabaranku sudah lewat dari batas, maka aku akan menyeret Raden Ayu seperti menyeret sebatang pohon pisang ke longkangan.”

Raden Ayu Prawirayuda tidak menjawab. Tetapi disingsingkannya kain panjangnya. Ternyata bahwa dibawah kain panjangnya Raden Ayu Prawirayuda telah mengenakan pakaian khususnya. Pakaiannya pada saat ia masih disebut Srikandi Kateguhan. Pakaian seperti itu pulalah yang dikenakan oleh sepasukan kecil prajurit perempuan di Kateguhan pada masa pemerintahan Kangjeng Adipati Prawirayuda, namun yang kemudian dihapuskan sejak

Kangjeng Adipati Yudapati menduduki jabatannya menggantikan ayahandanya.

“Ibu” Rantamsari menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ibunya siap untuk bertempur melawan orang yang menakutkan itu.

Jantung Sura Branggah tergetar. Namun bagaimanapun juga ujudnya, ia adalah seorang perempuan.

Sejenak kemudian, maka Raden Ayu Prawirayuda itu sudah bergerak ke pintu. Ketika Sura Branggah bergetar surut, maka Raden Ayu Prawirayuda itu pun sudah berdiri di luar biliknya.

Keduanya bergeser sejenak. Sementara Sura Branggah masih menggeram “Justru karena kau melawan, Raden Ayu, maka nasibmu akan menjadi lebih buruk lagi.”

Raden Ayu Prawirayuda tidak menjawab lagi. Tetapi ia sudah siap untuk bertempur

Beberapa saat kemudian, maka Sura Branggah pun mulai menyerang. Dengan tangkasnya Raden Ayu Prawirayuda itu menghindar. Bahkan Raden Ayu itu pun bergeser mendekati pintu butulan yang akan sampai ke longkangan yang satu lagi.

Demikian mereka berada di longkangan, maka Raden Ayu itu pun berkata “Kita mempunyai arena yang luas Sura Branggah. Disini tidak akan ada yang mengganggu. Sementara yang lain bertempur di longkangan sebelah.”

Jantung Sura Branggah berdesis. Agaknya Raden Ayu Prawirayuda itu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi pula, sehingga seakan-akan ia yakin akan dapat memenangkan pertempuran itu.

“Apakah namaku sama sekali tidak berpengaruh terhadap Raden Ayu Prawirayuda itu?”

Namun agaknya Raden Ayu Prawirayuda itu sama sekali tidak gentar menghadapi Sura Branggah, seorang pemimpin brandal yang ditakuti oleh para gegedug di Kateguhan.

Sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran. Ketika Sura Branggah meloncat menyerang, dengan cepat Raden Ayu Prawirayuda itu pun menghindar.

Demikianlah, maka pertempuran antara keduanya pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sura Branggah sama sekali tidak menduga, bahwa Raden Ayu Prawirayuda benar-benar perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi.

Dengan demikian, maka Sura Branggah yang semula menganggap remeh kemampuan Raden Ayu Prawirayuda, harus meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Sura Branggah itu sempat terkejut ketika tiba-tiba saja kaki Raden Ayu Prawirayuda itu menghantam dadanya, sehingga Sura Branggah itu pun terhuyung-huyung beberapa langkah surut.

“Kau terkejut, Sura Branggah”

“Aku memang terkejut Raden Ayu. Tetapi aku segera menemukan keseimbanganku kembali menghadapi ilmumu yang harus aku akui, termasuk ilmu yang tinggi. Tetapi sekarang Raden Ayu berhadapan dengan Sura Branggah. Dengan Lurah gegedug yang tinggi terkalahkan.”

“Tentu gegedug-gegedug itu tidak dapat mengalahkanmu, karena sebenarnya mereka tidak lebih dari kecoak-kecoak yang tidak berharga.”

“Jika tidak mendengar langsung, aku tidak percaya bahwa kata-kata itu kau ucapkan Raden Ayu. Bukankah sehari-hari kau seorang puteri bangsawan yang luruh seperti Sembadra?”

“Tidak. Aku bukan Sembadra. Tetapi aku adalah Srikandi.”

Sura Branggah tidak sempat berbicara lagi. Serangan-serangan Raden Ayu Prawirayuda datang seperti badai.

Dalam pada itu, pertempuran di longkangan yang lain pun masih berlangsung. Ki Tumenggung Reksadrana dan Ki Tumenggung Sanggayuda masih bertempur dengan sengitnya.

Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Sementara itu kebencian telah membakar jantung mereka sehingga keduanya menjadi tidak terkekang lagi.

Di lingkaran pertempuran yang lain, ketiga orang lawan Ki Tumenggung Wiradapa seakan-akan telah kehabisan nafas. Tetapi mereka masih terus bertempur. Mereka merasa bahwa mereka adalah gegedug yang selama ini namanya mampu membuat orang yang mendengarnya menjadi pingsan. Namun tiba-tiba mereka bertiga mengalami kesulitan menghadapi seorang Tumenggung tua.

Di halaman Wismaya dan Madyasta masih juga bertempur dengan sengitnya. Madyasta harus bertempur melawan tiga orang brandal. Meskipun tidak segera mampu mendesak lawannya, namun Madyasta juga tidak terdesak. Bahkan sekali-sekali Madyasta berhasil menguak pertahanan lawan. Serangan-serangannya mampu mengenai tubuh lawan-lawannya.

Namun agaknya lawan-lawannya tidak ingin bertempur terlalu lama. Merekapun segera menggenggam senjata-senjata mereka.

Raden Madyasta meloncat mengambil jarak. Kilatan cahaya lampu minyak yang redup di pendapa telah mem-peringatkan agar Madyasta tidak menjadi lengah.

Dengan demikian, maka Madyasta pun telah menarik pedangnya pula.

Dengan pedang di tangan, maka Madyasta menjadi semakin garang. Ternyata bahwa putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu benar-benar memiliki ilmu pedang yang mumpuni.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Wismaya pun telah memutar pedangnya pula. Sementara itu kedua orang lawannya pun telah menggenggam golok di tangan mereka.

Di ruang dalam, Rantamsari menjadi kebingungan. Ketika ia menjenguk longkangan, dilihatnya ibunya sedang bertempur melawan Sura Branggah.
Dalam ketakutan dan kebingungan itulah, tiba-tiba tangan yang kuat telah melingkar di wajahnya dan menutup mulutnya rapat-rapat sehingga Rantamsari tidak sempat menjerit. Tiba-tiba saja tangan yang kasar dan kuat menyeretnya, menjauh dari pintu butulan.

“Kau tidak dapat mencari perlindungan sekarang Rantamsari.”

Jantung Rantamsari bergejolak. Suara itu adalah suara pamannya, Wicitra.

“Mau atau tidak mau, kau sekarang harus ikut aku.”

Rantamsari meronta. Tetapi yang terdengar suara tertawa Wicitra. Tidak begitu keras, tetapi terasa menusuk telinganya, menembus sampai ke jantung.
Rantamsari tidak berdaya ketika Wicitra menyeretnya ke ruang tengah melewati sambil ke belakang.

Ketakutan yang sangat telah mencengkam jantung Rantamsari. Bahkan Rantamsari itu membayangkan wajah pamannya itu justru lebih garang dari wajah Sura Branggah yang berdiri di belakang pintu bilik ibunya ketika pintu itu terbuka.

Ketakutan yang sangat itu telah membuat Rantamsari kehilangan akal dan menjadi putus asa. Justru karena itu, maka yang dilakukannya, tidak lagi berdasarkan atas nalarnya yang bening.

Adalah diluar pertimbangan nalarnya jika tiba-tiba saja Raden Ajeng Rantamsari itu menggigit tangan Raden Wicitra yang sedang menutup mulutnya.
Raden Wicitra terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja Raden Ajeng Rantamsari itu menggigitnya.

Karena itu, diluar sadarnya, Raden Wicitra itu telah menghentakkan tangannya. Namun demikian kerasnya Raden Ajeng Rantamsari menggigitnya, maka tangan Raden Wicitra itu telah terluka dan bahkan berdarah.

Ternyata Raden Ajeng Rantamsari tidak sekedar menggigit tangan Wicitra. Demikian tangan itu terlepas karena kesakitan, maka Raden Ajeng Rantamsari itu pun segera melarikan diri.

Raden Wicitra memang terlambat sesaat ketika ia mengaduh kesakitan karena tangannya yang berdarah. Sementara itu, Raden Ajeng Rantamsari sempat melarikan diri lewat serambi samping, menyusup ke longkangan di belakang.
Raden Wicitra tidak mau melepaskannya. Karena itu, maka ia pun segera berlari menyusulnya.

“Kau tidak akan dapat lari, Rantamsari. Jika kau. berani keluar lewat pintu butulan, maka kau akan jatuh ke tangan brandal-brandal itu. Kau akan menjadi seperti anak ayam di sarang segerombolan musang yang kelaparan. Kau akan dikoyak-koyakkan tanpa belas kasihan. Nasibmu akan menjadi lebih buruk dari mati.”

Raden Ajeng Rantamsari masih mendengar suara pamannya. Namun ia tidak menghiraukannya. Melewati longkangan di belakang, Raden Ajeng Rantamsari berlari masuk ke dapur.

Tetapi baru saja kakinya melangkahi tlundak pintu, maka sekali lagi tangan yang kuat telah menutup mulutnya. Ia merasa seseorang telah mendekapnya dari belakang.

Dari mulut orang yang mendekapnya itu Raden Ajeng Rantamsari mendengar suara berdesis “Jangan berteriak kangmbok. Mungkin aku mengejutkan kangmbok. Tetapi aku tidak berniat buruk. Jika kangmbok berjanji tidak berteriak, aku akan melepaskannya.”

Raden Ajeng Rantamsari mencoba untuk mengangguk.

Tangan yang kuat itu benar-benar melepaskannya. Ketika Raden Ajeng Rantamsari berpaling, ia melihat di keremangan cahaya lampu minyak yang redup seorang anak muda yang berdiri tegak di sebelah pintu.”

“Dimas Wignyana.”

“Ya. Aku akan menyelamatkan kangmbok. Silahkan bersembunyi di tempat yang agak gelap. Aku tahu, paman Wicitra ada disini.”

“Ya. Aku telah dikejar-kejar paman Wicitra.” Dalam pada itu terdengar suara Wicitra yang meskipun tidak begitu keras, tetapi jelas “Rantamsari. Kau tidak akan lepas dari tanganku, Tetapi semakin sulit aku menemukanmu, maka akan semakin keras aku mencengkammu. Karena itu, kau tidak perlu melarikan diri.”

Raden Ajeng Rantamsari berdiri membeku. Bahkan bernafas pun ia menjadi sangat berhati-hati.

Raden Wicitra yang melihat pintu dapur yang terbuka, segera menduga, bahwa Rantamsari telah bersembunyi ke dapur.

Karena itu, maka Raden Wicitra pun telah masuk ke dapur pula.

“Rantamsari. Kau dengar suaraku. Bagimu tentu lebih baik menyingkir bersamaku daripada jatuh ke tangan para perampok itu. Kau akan menjadi seorang isteri yang bahagia. Aku akan memenuhi semua keinginanmu.”

Namun Raden Wicitra itu terkejut ketika ia mendengar seseorang menyapanya dari dalam bayangan kegelapan “Selamat malam, paman.”

“Kau siapa?”

“Paman lupa kepadaku? Tetapi itu wajar-wajar saja, paman. Kita memang jarang sekali bertemu.”

“Kau siapa?”

“Aku Wignyana, paman.”

“Wignyana? Adik Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?”

“Ya, paman”

“O” Wicitra mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya “Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku terbiasa berada di rumah ini, paman.”

“Untuk apa? Bukankah kau tidak bertugas disini?”

“Memang tidak, paman. Tetapi aku datang kemari untuk mengunjungi kangmbok Rantamsari.”

“Mengunjungi Rantamsari.”

“Ya. Kami sudah berjanji untuk mengikat tali hubungan yang lebih erat daripada sekedar saudara sepupu.”

“Maksudmu?”

“Kami berjanji untuk menikah.”

“Itu pikiran gila. Bukankah menurut urutan abunya, Rantamsari lebih tua darimu.”

“Ya. Apa salahnya?”

“Tidak. Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Tidak ada orang yang akan menjadi suami Rantamsari kecuali aku sendiri.”

“Paman Wicitra? Apakah pikiran itu tidak lebih gila lagi?. Bukankah paman Wicitra itu paman Rantamsari sendiri. Adik ibunya dan bahkan adik kandung?”

“Kita sama-sama gila, Wignyana. Karena itu, tinggalkan Rantamsari.”

“Tidak, paman. Aku tidak akan meninggalkannya.. Rantamsari aku menjadi isteriku.”

“Sekali lagi aku peringatkan. Tinggalkan Rantamsari.”

“Sekali lagi aku tegaskan. Aku tidak akan meninggalkan kangmbok Rantamsari.”

“Jika demikian, aku harus membunuhmu. Kau akan mati muda malam ini.”

“Cacing pun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku paman.”

“Aku bunuh kau, Wignyana.” „

Wignyana pun segera bersiap. Sementara itu Wicitra justru melangkah surut. Ia pun kemudian turun ke longkangan belakang.

Wignyana tahu, bahwa Wicitra memilih tempat yang lapang dan lebih terang karena sinar lampu minyak di. longkangan meskipun cahayanya redup.

“Kau masih mempunyai kesempatan, Wignyana.”

“Terima kasih, paman. Tetapi karena aku tidak akan mempergunakan kesempatan yang paman berikan, karena aku akan dapat mengambil kesempatanku sendiri. Jauh lebih baik dari kesempatan yang paman berikan.”

Keduanya pun kemudian telah terlibat dalam pertempuran Wicitra dengan geram telah menyerang anak muda yang berani mengganggu niatnya untuk mengambil Rantamsari pada saat yang sangat menguntungkan itu.

Tetapi Wignyana pun telah siap menghadapinya. Dengan tangkasnya Wignyana itu bergerak dengan cepat menghindari serangan-serangan Wicitra. Namun pada setiap kesempatan, Wignyana lah yang meloncat menyerang.

Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin sengit Kedua belah pihak meningkatkan ilmu mereka masing-masing. Keduanya saling menyerang dengan garangnya.

Wicitra yang kepalanya telah dipenuhi dengan nafsunya itu, bertempur dengan kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya. dikerahkannya ilmunya untuk mengakhiri pertempuran dengan cepat. Wicitra ingin menyelesaikan lawannya lebih cepat dari pertempuran yang terjadi di longkangan, siapapun pemenangnya. Karena kedua belah pihak yang bertempur di longkangan itu tentu akan memusuhinya.

Semakin lama, pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Apalagi ketika Wicitra dan Madyasta telah menarik keris mereka masing-masing.
Namun, seperti Madyasta, Wignyana pun telah ditempat sampai tuntas dalam olah kanuragan. Karena itu, maka menghadapi Wicitra ternyata Wignyana tidak dapat segera ditundukkan.

Bahkan semakin lama mereka bertempur, maka Wicitra lah yang justru mengalami kesulitan.

“Anak iblis” geram Wicitra “aku akan benar-benar membunuhmu.”

Tetapi Wignyana itu pun menjawab “Paman. Aku minta paman segera menyerah. Paman akan aku tangkap dan aku bawa menghadap ayahanda. Paman telah membuat keributan di Paranganom meskipun barangkali paman masih tetap orang Kateguhan.”

“Persetan dengan kekuasaan di Paranganom.”

“Masih ada kesempatan paman. Menyerahlah.” Tetapi Wicitra tidak mendengarkannya. Bahkan dengan serta-merta Wicitra menjulurkan kerisnya menggapai dada Wignyana.

Wignyana bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya. Namun, ujung keris Wicitra sempat menyentuh bahu Wignyana.

Darah Wignyana lah yang serasa telah mendidih. Luka di bahunya terasa sangat pedih. Karena itu, maka Wignyana pun telah kehilangan kendali dirinya.

Darah mudanya telah bergejolak dengan dahsyatnya.

Karena itu, serang-serangan Wignyana yang telah terluka itu pun datang membadai.

Namun Wicitra masih juga sempat berkata “Kau sudah terluka Wignyana. Darah akan terperas dari tubuhmu. Kau akan menjadi lemah dan tidak berdaya. Akhirnya kau akan mati disini.”

Wignyana tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya menjadi semakin sengit.

Wicitra benar-benar telah terdesak. Ketika keris Wicitra terayun menyambar ke arah kening, Wignyana sempat merendahkan dirinya, sehingga ujung keris itu tidak menyentuhnya. Namun justru Wignyana lah yang selangkah maju, seakan-akan melekat di tubuh Wicitra.

Terdengar Wicitra mengaduh tertahan. Ketika Wignyana bergeser surut sambil menarik kerisnya, maka Wicitra pun terhuyung-huyung sambil mendesah menahan sakit.

“Iblis kau Wignyana” geram Wicitra. Namun suaranya pun terputus. Wicitra itu pun jatuh tersuruk di tanah. Lambungnya koyak oleh keris Wignyana. Sementara itu darah bagaikan dituangkan dari lukanya itu.

Wignyana bergeser surut. Sementara itu, Rantamsari yang bersembunyi di dapur sempat melihat tubuh Wicitra yang terbaring diam itu.

Mula-mula Rantamsari agak ragu. Namun ia pun kemudian melangkah mendekat sambil bertanya “Bagaimana dengan paman, dimas.”

“Aku tidak berniat membunuhnya kangmbok. Tetapi dalam pertempuran itu aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.”

“Jadi paman sudah mati?”

“Ya.”

“Paman tidak akan menggangguku lagi?”

“Ya, kangmbok.”

Tiba-tiba saja Rantamsari itu pun berlari mendekap Wignyana sambil berdesis “Terima kasih dimas. Dimas sudah menyelamatkan nyawaku. Bahkan lebih dari itu. Jika aku jatuh ke tangan paman Wicitra, maka nasibku tentu lebih buruk daripada mati.”

Wignyana menjadi berdebar-debar. Namun kemudian ia pun berkata “Kangmbok, bagaimana dengan bibi.”

Rantamsari bagaikan tersadar. Dengan nada tinggi ia pun berkata “Ibu sedang bertempur dengan orang yang mengaku bernama Sura Branggah.”

“Marilah, kita melihatnya.”

Keduanya pun kemudian berlari-lari masuk ke ruang dalam, langsung ke pintu samping. Sambil menggandeng tangan Rantamsari yang masih gemetar, keduanya turun ke longkangan.

Raden Ayu Prawirayuda masih bertempur melawan Sura Branggah. Namun ternyata bahwa Sura Branggah salah duga terhadap kemampuan Raden Ayu Prawirayuda. Srikandi Kateguhan itu bukan hanya sekedar namanya. Bukan pula sekedar hiasan agar di Kateguhan terdapat sekelompok prajurit yang cantik-cantik. Tetapi Raden Ayu Prawirayuda memang berilmu tinggi.

Karena itu, maka akhirnya, Sura Branggah tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak mampu mengatasi kemampuan ilmu Raden Ayu Prawirayuda.

Sura Branggah itu berteriak nyaring ketika ujung keris Raden Ayu Prawirayuda menembus dadanya, langsung mengoyak jantung.

Kemarahan yang meledak justru pada saat maut sedang datang menjemput.

Tubuh Sura Branggah itu pun kemudian terkapar di tanah. Darah mengalir dari lukanya. Sementara Raden Ayu Prawirayuda berdiri termangu-mangu.

Raden Wignyana yang masih menggandeng Raden Ajeng Rantamsari itu pun melangkah mendekati dengan ragu-ragu. Sementara jantung Wignyana berdesir ketika ia melihat keris bibinya berada di tangan kirinya.

“Ibu “ desis Raden Ajeng Rantamsari.

Ketika ia berpaling, dilihatnya Raden Wignyana menggandeng Raden Ajeng Rantamsari yang masih gemetar.

Dengan serta-merta Raden Ajeng Rantamsari pun segera berlari memeluk ibunya.

Raden Ayu Prawirayuda menarik nafas panjang. Ia pun memeluk anak perempuannya erat-erat.

“Kau tidak apa-apa Rantamsari?”

“Tidak ibu. Dimas Wignyana telah menolong aku.”

Ibunya termangu-mangu. Namun terasa titik-titik air mata Raden Ajeng Rantamsari di bahunya.

“Apa yang terjadi, Rantamsari?” bertanya ibunya.

“Paman Wicitra ibu.”

“Dimas Wicitra? Kenapa dengan dimas Wicitra?”

“Pada saat ibu bertempur, aku telah diseret oleh paman Wicitra. Aku tidak sempat berteriak, karena mulutku ditutup dengan tangannya. Untunglah bahwa dimas Wignyana melihatnya dan bahkan menolong aku.”

“Dimana pamanmu sekarang?”

“Paman sudah mati, ibu.”

“Mati? Angger Wignyana telah membunuhnya?”

“Mereka bertempur ibu. Masing-masing membawa sebilah keris. Paman Wicitra tertusuk keris dan meninggal seketika.”

Wajah Raden Ayu Prawirayuda menjadi tegang. Dengan suara yang berat ia pun berkata “Tunjukkan kepadaku, dimana tubuh pamanmu itu, Rantamsari.”

Rantamsari yang sudah melepaskan pelukannya mengangguk sambil menjawab “Tubuh paman ada di longkangan belakang.”

Raden Ayu Prawirayuda segera beranjak dari tempatnya sambil berkata “Marilah angger Wignyana. Kita lihat keadaan Wicitra.”

“Mari bibi.”

Bertiga mereka pergi ke longkangan belakang. Namun ada berbagai pertanyaan di dada Wignyana. Ia melihat ada sesuatu yang kurang mapan di hati bibinya.

“Mungkin perasaan bibi masih bergejolak. Ia baru saja selesai bertempur.”

Sementara itu, pertempuran antara Ki Tumenggung Sanggayuda dengan Ki Tumenggung Reksadrana masih berlangsung. Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka. Namun perlahan-lahan Ki Tumenggung Sanggayuda mulai mendesak lawannya.

Meskipun demikian, sekali-sekali dengan menghentakkan sisa tenaganya, Ki Tumenggung Reksadrana masih mampu mengejutkan Ki Tumenggung Sanggayuda.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Wiradapa yang masih bertempur melawan ketiga orang lawannya mulai yakin, bahwa ia tidak perlu mencemaskan Ki Tumenggung Sanggayuda.

Karena itu maka Ki Tumenggung Wiradapa itu pun segera mengakhiri perlawanan ketiga orang gegedug yang sudah semakin tidak berdaya. Seorang diantara mereka menjadi pingsan karena pukulan sisi telapak tangan di tengkuknya. Seorang lagi terlempar menimpa dinding, sehingga tulang punggungnya serasa menjadi patah. Meskipun orang itu tidak pingsan, tetapi ia tidak mampu untuk segera bangkit. Sedangkan seorang yang lain terbaring diam setelah kaki Ki Tumenggung Wiradapa mengenai dadanya.

Demikian ketiga lawannya tidak berdaya, maka Ki Tumenggung itu pun segera turun ke halaman. Di halaman Wismaya dan Raden Madyasta masih bertempur dengan sengitnya. Namun kehadiran Ki Tumenggung Wiradapa telah mempercepat pertempuran itu.

Lawan-lawan Wismaya dan Raden Madyasta itu pun menjadi tidak berdaya karenanya. Adalah diluar kemauannya, ketika ujung pedang Wismaya menghunjam ke dada seorang lawannya langsung menyentuh jantung, sehingga lawannya itu pun tidak akan pernah bangkit lagi. Sedangkan seorang yang lain, langsung melemparkan senjatanya dan menyerah.

Sedangkan seorang lawan Raden Madyasta yang tersentuh tangan Ki Tumenggung Wiradapa telah terkapar pula di tanah, sementara kedua orang yang lain telah terluka. Bahkan seorang diantaranya parah.

Demikian lawan-lawan mereka tidak berdaya, maka Madyasta pun bertanya “Bagaimana dengan paman Tumenggung Sanggayuda, paman?”

“Pamanmu masih bertempur di longkangan, ngger.”

Madyasta mengerutkan dahinya. Ia pun kemudian berkata kepada Wismaya “Kakang. Ikat mereka dahulu, setelah itu pergilah ke longkangan.”

“Baik, Raden.”

“Paman, marilah kita pergi ke longkangan terlebih dahulu.” berkata Raden Madyasta pula. Demikianlah, maka Raden Madyasta dan Ki Tumenggung Wiradapa telah memasuki longkangan, sementara Wismaya mengikat para brandal yang sudah tidak berdaya. Tetapi mereka tidak boleh terlepas.
Baru kemudian Wismaya pun telah menyusul ke longkangan pula.

Di longkangan Ki Tumenggung Sanggayuda dan Ki Tumenggung Reksadrana masih bertempur dengan sengitnya. Kedua-duanya telah menggenggam keris di tangan mereka.

“Ayo Wiradapa” berkata Ki Tumenggung Reksadrana “jika kau sayang kepada kawanmu ini, turun ke arena. Aku akan membunuh kalian berdua bersama-sama. Bahkan biarlah anak Adipati itu melibatkan dirinya pula bersama Senapatinya.”

“Kau tidak usah terlalu banyak sesumbar Reksadrana“ sahut Ki Tumenggung Sanggayuda “aku sendiri akan dapat melumatkanmu.”

Namun hampir di luar sadarnya Ki Tumenggung Reksadrana itu bergumam “Dimana Sura Branggah itu.”

“Kau mencari kawan?” bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.

“Bukan aku. Tetapi seharusnya Sura Branggah mengurusi orang-orangnya yang rapuh itu. Mereka tidak pantas untuk turun ke medan pertempuran bersama Ki Tumenggung Reksadrana.”

“Kau kira kau sendiri pantas untuk berada di medan melawan aku.”

“Setan kau Sanggayuda.” Pertempuran pun menjadi semakin sengit. Ki Tumenggung Reksadrana telah mengerahkan kemampuan ilmunya. Kerisnya bergerak menyambar-nyambar.

Namun keris di tangan Ki Tumenggung Sanggayuda pun tidak kalah mendebarkan. Kerisnya itu berputaran dengan cepat. Pantulan cahaya lampu minyak yang redup pada pamor kerisnya, bagaikan cahaya bintang yang berkeredipan kebiru-biruan. Sementara itu keris Ki Tumenggung Reksadrana seakan-akan memancarkan bara yang kemerah-merahan.

Ki Tumenggung Wiradapa, Raden Madyasta dan Wismaya memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Namun semakin lama mereka pun menjadi semakin yakin, bahwa Ki Tumenggung Sanggayuda akan dapat menguasai lawannya.

Meskipun demikian, ujung keris Ki Tumenggung Reksadrana itu pun telah menggores lengan Ki Tumenggung Sanggayuda, sementara ujung keris Ki Tumenggung Sanggayuda telah melukai bahu Ki Tumenggung Reksadrana.

Luka di tubuh kedua orang yang sedang bertempur itu telah memanasi darah mereka, sehingga mereka pun bertempur semakin garang.

Tetapi akhirnya Ki Tumenggung Reksadrana tidak dapat mengingkari kenyataan. Ketika tenaga Ki Tumenggung Reksadrana mulai menyusut, sementara Ki Tumenggung Sanggayuda masih tetap bertempur dengan garangnya, maka Ki Tumenggung Reksadrana menjadi semakin terdesak.

Namun Ki Tumenggung Reksadrana masih mencoba menghentakkan kemampuannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan kemampuannya, Ki Tumenggung Reksadrana mencoba untuk menyelesaikan pertempuran. Pada saat ia melihat kesempatan yang terbuka, maka Ki Tumenggung Reksadrana itu pun segera meloncat dan menikam dada Ki Tumenggung Sanggayuda di arah jantung.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung Sanggayuda tidak pernah lengah. Karena itu, ketika Ki Tumenggung itu melihat serangan lawannya yang datang dengan cepat mengarah ke dadanya, maka Ki Tumenggung itu pun masih sempat mengelak dengan bergeser kesamping sambil memiringkan tubuhnya.

Justru pada saat itu, Ki Tumenggung Sanggayuda telah memukul pergelangan tangan Ki Tumenggung Reksadrana dengan hulu kerisnya.

Pukulan itu sedemikian kerasnya, sehingga Ki Tumenggung Reksadrana merasa pergelangan tangannya seakan-akan telah retak. Bahkan Ki Tumenggung

Reksadrana tidak mampu mempertahankan keris di tangannya, sehingga kerisnya telah terlempar beberapa langkah daripadanya.

Ki Tumenggung Reksadrana itu segera meloncat surut. Namun Ki Tumenggung Sanggayuda tidak melepaskannya. Ki Tumenggung Sanggayuda pun meloncat pula sambil melekatkan ujung kerisnya di dada Ki Tumenggung Reksadrana.

“Bukan aku, tetapi kaulah yang akan mati, Reksadrana.”

“Bunuh aku” geram Ki Tumenggung Reksadrana yang terdesak. Ia sudah kehilangan kerisnya, sementara keris lawannya telah lekat didadanya.

“Aku memang akan membunuhmu” geram Ki Tumenggung Sanggayuda “sekarang katakan pesanmu .yang terakhir sebelum aku menghujamkan kerisku.”

“Persetan dengan pesan itu” Ki Tumenggung Reksadrana justru membentak “bunuh aku.”

“Bagus. Aku akan membunuh tanpa pesan terakhir yang akan kau ucapkan lewat mulutmu.”

Namun Ki Tumenggung Wiradapa bergeser maju selangkah sambil berkata “Sudahlah adi Sanggayuda. Adi tidak perlu membunuh orang itu.”

“Aku sangat membencinya kakang. Sejak kita menghadap Kangjeng Adipati Yudapati, orang ini sangat menjengkelkan.”

“Bunuh aku. Jangan banyak bicara” teriak Ki Tumenggung Reksadrana “anakku laki-laki memang sudah menunggu aku”

“Bagus. Tengadahkan dadamu. Aku akan menusuk sampai ke jantung.”

“Tidak” Ki Tumenggung Wiradapa menggeleng “jalan pintas itu terlalu sederhana bagi Ki Tumenggung Reksadrana. Tetapi ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Kangjeng Adipati di Paranganom dan Kangjeng Adipati di Kateguhan.”

“Setan kau Wiradapa. Bunuh aku. Bunuh aku.”

“Berikan tanganmu. Kau harus diikat tangan dan kakimu dengan ikat kepalamu sendiri.”

“Tidak. Aku tidak akan menyerah. Aku akan bertempur sampai mati.”

“Kakang” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda dengan geram “ijinkan aku membunuhnya. Aku menjadi muak melihat wajahnya serta mendengar suaranya.”

“Bagus. Bunuh aku jika kamu berani.”

“Adi Sanggayuda. Bukankah kau tidak sendiri? Jika Ki Tumenggung Reksadrana tidak mau menyerah, maka kita berempat akan menangkapnya beramai-ramai. Mengikatnya, seperti mengikat kaki lembu atau kerbau yang akan disembelih, Kemudian kita akan mengikatnya pada sebatang bambu. Kita usung orang ini ke dalem kadipaten. Sementara itu, biarlah orang-orang terbangun yang menyaksikannya.”

“Setan kau, iblis, genderuwo. Apakah kau akan menghinakan aku?”

“Jika kau tidak mau menyerah, maka kau akan kami hinakan sepanjang jalan. Tetapi jika kau menyerah, maka kau akan dibawa sebagai seorang tawanan.”

Ki Tumenggung Reksadrana menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Ia harus memilih. Tetapi Ki Tumenggung Reksadrana tidak mau dihinakan sepanjang jalan. Seandainya ia dengan nekad melawan, maka keempat orang Paranganom itu tentu akan dapat menangkapnya. Mereka akan benar-benar menyeretnya sepanjang jalan ke Kadipaten seperti menyeret seekor kerbau yang telah dicocok hidungnya.

Karena itu, maka dengan nada berat ia pun berkata “Baik. Aku menyerah.”

Ki Reksadrana itu tidak dapat mengelak lagi ketika kemudian tangannya diikat pada sebatang pohon di longkangan dengan ikat kepalanya sendiri.

“Kau harus menunggu kami disini, Ki Tumenggung” berkata Raden Madyasta “kami masih akan mencari bibi Prawirayuda.”

Ki Tumenggung Reksadrana yang terikat itu tidak menjawab.

“Kakang Wismaya” berkata Raden Madyasta “jaga paman Tumenggung, kau tahu apa yang harus kau lakukan jika paman Reksadrana mencoba untuk berbuat macam-macam. Tetapi satu hal yang harus kau perhatikan, jangan bunuh paman Reksadrana. Semakin buruk sikapnya, maka akan semakin buruk pula perlakukan atas dirinya.”

“Baik, Raden.”

“Paman Tumenggung berdua” berkata Raden Madyasta “marilah kita cari bibi Prawirayuda serta kangmbok Rantamsari.”

“Marilah Raden.”

“Kita juga masih harus menemukan Sura Branggah jika ia tidak melarikan diri.”

“Jangan-jangan Sura Branggah itu telah mengganggu Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari“ desis Ki Tumenggung Wiradapa.

“Jika Sura Branggah itu mengganggu Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari, maka Reksadrana lah yang akan memikul akibatnya, karena ialah yang harus bertanggung jawab atas kejadian-kejadian di rumah ini. Tentu juga kematian Rembana dan Sasangka.

“Tidak. Bukan aku yang membunuh Rembana dan Sasangka.”

“Siapa “ bertanya Wismaya.

“Wicitra.”

“Jika kau berbohong, maka kau akan diarak setelah dipotong rambutmu sampai kelihatan batok kepalamu.”

Reksadrana itu menggeram.

Dalam pada itu, Raden Madyasta, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda pun segera masuk ke ruang dalam untuk mencari Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari.

Sementara itu, Raden Ayu Prawirayuda telah pergi ke longkangan belakang. Raden Ajeng Rantamsari yang masih saja gemetar itu berpegangan lengan

Wignyana yang mengikuti ibunya untuk melihat Wicitra yang terbaring diam.

Sejenak kemudian, mereka telah berada di longkangan belakang. Perlahan-lahan Raden Ayu Prawirayuda mendekati tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa lagi.

“Kau bunuh Wicitra angger Wignyana?” desis Raden Ayu Prawirayuda sambil berjongkok di sisi tubuh adiknya yang menelungkup.

“Sudah aku katakan, bibi. Aku tidak sengaja membunuhnya.”

“Mereka bertempur ibu. Jika diam Wignyana tidak membunuhnya, maka tentu dimas Wignyana lah yang akan dibunuhnya.”

Raden Ayu Prawirayuda itu menarik nafas panjang. Perlahan-lahan Raden Ayu itu pun telah menelentangkan tubuh adiknya yang mulai membeku.

“Dimas” suaranya dalam sekali.

Raden Wignyana masih saja termangu-mangu. Ia tidak tahu, apa yang sedang berkecamuk di dada bibinya. Apakah ia akan mengucapkan terima kasih, karena ia sudah menyelamatkan Rantamsari atau justru akan marah karena adiknya telah terbunuh.

“Ibu” berkata Rantamsari dengan nada dalam “dimas Wignyana telah menolong aku.”

Raden Ayu Prawirayuda itu mengangguk-angguk. Namun nampak wajahnya menjadi sangat muram.

Sementara itu, Raden Wignyana ternyata tidak sekedar menebak apa yang bergejolak didalam hati bibinya, tetapi ia mulai mengurai peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi di rumah itu.

Wignyana dan Rantamsari terkejut ketika ia melihat Raden Ayu Prawirayuda itu bangkit berdiri. Dipandanginya Raden Wignyana dengan tatapan mata yang tajam. Seakan-akan sorot matanya menghunjam menusuk langsung ke jantung.

“Angger Wignyana” Suara Raden Ayu Prawirayuda itu bernada berat “Kau telah membunuh adikku, Wicitra”

Dada Wignyana bergejolak. Yang pernah terjadi itu seakan-akan membayang semakin jelas diangan-angannya.

“Bibi” berkata Wignyana kemudian “sudah aku katakan, aku tidak sengaja membunuhnya. Aku hanya ingin menyelamatkan kangmbok Rantamsari.”

“Apapun alasannya, aku tidak ingin saudaraku satu-satunya ini terbunuh.”

“Ibu”

“Menyingkirlah Rantamsari. Aku akan membuat perhitungan dengan orang yang telah membunuh adikku. Dimasa kecil aku selalu mendukungnya. Menenangkannya jika ia menangis. Ketika Wicitra mulai dapat merangkak, aku sudah kuat mendukungnya dan aku pula yang selalu menjaganya. Aku tidak merelakan kematiannya.”

“Tetapi paman itu berniat buruk kepadaku ibu.”

“Aku sependapat bahwa niatnya harus dicegah. Tetapi tidak dengan membunuhnya.”

“Dimas Wignyana tidak sengaja membunuh ibu.”

“Diamlah Rantamsari. Kau juga harus mawas diri. Pamanmu tidak akan mengganggumu jika ia tidak melihat tingkah lakumu.”

“Kenapa aku ibu?”

“Sebagai seorang gadis, maka hatimu terlalu rapuh. Kau dengan mudah tertarik kepada Rembana. Sepeninggal Rembana, pada waktu yang terhitung pendek, kau sudah melekat pada Sasangka. Sekarang kau sudah berpegangan tangan angger Wignyana.”

“Dimas Wignyana sudah menolongku.”

“Aku tidak peduli. Aku akan menuntut balas kematian adikku.”

“Ibu.”

“Menyingkirlah Rantamsari.”

“Bibi” tiba-tiba saja Wignyana memotong “ persoalannya tentu bukan karena aku telah membunuh paman Wicitra.”

“Persoalannya apa saja menurut kau ngger?”

“Mimpi bibi yang ingin meraba matahari di langit. Bibi. Bagaimana menurut bibi, jika aku menginginkan kangmbok Rantamsari untuk menjadi isteriku?”

“Tidak. Tidak ada seorang laki-laki pun. yang akan menjadi suaminya selain laki-laki yang sesuai dengan keinginanku….”

“Aku sudah bertekad untuk menikahi kangmbok Rantamsari.”

“Karena itu, kau bunuh Rembana dan kemudian Sasangka?”

“Bibi yakin akan hal itu?”

“Ya. Kau tidak mau terhalang oleh keduanya pada saat-saat Rantamsari dekat sekali dengan mereka.”

“Seandainya demikian, maka apa yang akan bibi lakukan? Aku adalah putera Kangjeng Adipati Prangkusuma: Penguasa tunggal di Kadipaten ini. Apakah bibi akan berani melawan ayahanda? Bukankah ayahanda justru telah menolong bibi ketika. bibi harus pergi dari Kateguhan.”

“Cukup. Aku memang menginginkan menantu putera Adipati Paranganom, ngger. Tetapi bukan kau. Aku menginginkan angger Madyasta karena angger Madyasta lah yang akan menggantikan kedudukan dimas Adipati Prangkusuma.”

“Setelah bibi gagal membujuk kangmas Adipati Yudapati.”

“Wignyana”

“Bukankah memang begitu bibi?”

“Cukup. Sekarang aku akan membunuhmu. Kau juga akan menjadi penghalang hubungan Rantamsari dengan angger Madyasta yang memang aku inginkan.”

“Nah, jika demikian, siapakah yang telah membunuh Rembana dan Sasangka? Bibi, kenapa bibi menggenggam hulu keris bibi dengan tangan kiri? Dan kenapa Rembana dan Sasangka luka di lambung sebelah kiri pula. Seseorang yang menusuk dari belakang dengan licik, tentu menggenggam pisau belatinya dengan tangan kiri pula“

“Cukup. Cukup.”

“Bukankah bibi yang telah membunuh Rembana dan Sasangka?”

“Baik. Baik. Aku tidak akan ingkar. Aku telah menyingkirkan kedua orang Senapati kerdil yang tidak tahu diri itu. Aku bunuh mereka agar mereka tidak lagi berani mendekati Rantamsari, calon permaisuri seorang Adipati.”

“Ibu. Apakah benar ibu yang melakukannya?”

“Ya. Rantamsari. Aku melakukannya bagi kebahagiaanmu. Kau tidak boleh terhina oleh sikap kangmasmu Yudapati. Karena itu kau harus menjadi isteri angger Madyasta yang kelak akan menggantikan pamanmu Kangjeng Adipati Prangkusuma.”

“Jadi, itulah yang sudah ibu lakukan?”

“Ya. Sekarang aku akan menyingkirkan Wignyana yang gila ini.”

“Tidak. Ibu tidak dapat melakukannya.”

“Bibi akan membunuhku dihadapan saksi?”

“Tidak akan ada saksi.”

“Kangmbok Rantamsari.”

“Tidak. Kami berdua akan menangisi mayatmu, ngger. Kau dan Wicitra telah bertempur karena kau ingin menyelamatkan Rantamsari. Tetapi kalian telah sampyuh, mati bersama. Rantamsari tidak akan pernah-menceriterakan apa yang telah terjadi di longkangan ini.”

“Ibu. Aku tidak mau.”

“Jangan menyesali nasibmu yang buruk, ngger. Aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan Rantamsari dari tangan Wicitra. Tetapi sayang, bahwa aku harus membunuhmu.”

Wignyana tidak sempat menjawab. Dengan cepat Raden Ayu Prawirayuda mengayunkan kerisnya ke tubuh Wignyana.

Namun adalah diluar dugaan, bukan saja Wignyana berusaha menghindar, tetapi justru Rantamsari telah meloncat menghalangi ibunya.

Namun, malangnya gadis itu. Keris di tangan kiri ibunya itu justru telah tertusuk di lambung anak gadisnya.

Rantamsari berdesah kesakitan. Sementara itu, Raden Ayu Prawirayuda lah yang menjerit tinggi “Rantamsari.”

Rantamsari terhuyung. Ia pun kemudian jatuh ke tangan ibunya.

Perlahan-lahan Raden Ayu Prawirayuda meletakkan kepala anak gadisnya itu di pangkuannya. Titik-titik air matanya telah meleleh dan jatuh di wajah anaknya.

“Rantamsari. Kenapa kau melakukannya, ngger.” Raden Ayu Prawirayuda benar-benar menangis. Ia tidak sekedar berpura-pura seperti yang dilakukannya pada saat Rembana dan Sasangka mati.

“Ibu”

“Bertahanlah ngger. Kau akan sembuh.”

“Tidak ibu. Aku akan mati. Jangan tangisi kematianku. Banyak cacat dan cela didalam hidupku. Semoga yang Maha Agung mengampuni aku.”

“Rantamsari” ibunya menjerit tinggi ketika Rantamsari itu memejamkan matanya.

Sejenak Raden Ayu Prawirayuda menangisi anak gadisnya yang telah diperjuangkannya untuk menggapai tempat terbaik baginya. Namun tiba-tiba anak gadisnya itu terbunuh, justru karena tangannya.

Raden Wignyana pun kemudian berjongkok pula disampingnya. Kepalanya menunduk memandangi wajah Raden Ajeng Rantamsari. Gadis itu memang cantik. Sayang, bahwa sebelumnya ia tidak terlalu menghiraukannya, sehingga ia tidak pernah merasa tertarik kepadanya.

Namun tiba-tiba Raden Ayu Prawirayuda itu meletakkan tubuh Rantamsari. Dengan serta-merta ia pun bangkit berdiri.

Raden Wignyana terkejut. Seakan-akan diluar sadarnya, ia pun bangkit berdiri pula.

“Kau telah membunuh anakku, ngger. Sekarang, kau pun harus mati. Bagiku kau ternyata lebih buruk dari Rembana dan Sasangka. Karena itu, maka aku akan membunuhmu sekarang. Justru tanpa saksi.”

“Bibi. Aku tidak ingin bertempur melawan bibi.”

“Melawan atau tidak melawan, aku akan membunuhmu. Tetapi seandainya kau berusaha melawan pun, tentu akan sia-sia. Aku adalah Srikandi Kateguhan. Aku adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.”

“Bibi memaksaku untuk bertempur?”

“Ya.”

“Baiklah bibi. Tetapi aku mohon maaf. Aku terpaksa melakukannya.”

“Aku maafkan kau Wignyana. Tetapi aku tidak dapat memaafkanmu, bahwa kau sudah menyebabkan Rantamsari terbunuh.”

Wignyana tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia tahu bahwa bibinya mempunyai ilmu yang sangat tinggi, tetapi ia tidak dapat membiarkan bibinya itu menikam jantungnya.

Karena itu, bagi Wignyana seandainya ia harus mati, maka biarlah ia mati dengan menggenggam senjata di tangannya,

Wignyana pun telah menggenggam kerisnya pula ketika Raden Ayu Rantamsari mulai bergeser.

Namun tiba-tiba saja terdengar suara dari pintu longkangan “Sudah bibi. Sudah cukup. Rembana, Sasangka dan sekarang kangmbok Rantamsari.”
Raden Ayu Prawirayuda terkejut. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Raden Madyasta, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda.”
Sejenak Raden Ayu Prawirayuda itu bagaikan membeku. Perlahan-lahan Raden Madyasta melangkah mendekatinya.

“Apakah bibi masih akan membunuh lagi? Mungkin bibi memang berniat membunuh dimas Wignyana. Tetapi setelah kangmbok Rantamsari terbunuh, mungkin bibi juga berniat membunuh aku.”

Raden Ayu Prawirayuda itu memandang Raden Madyasta dengan mata yang menjadi redup. Tiba-tiba saja Raden Ayu Prawirayuda itu menyarungkan kerisnya dan berlutut di hadapan Madyasta. Sambil menyerahkan kerisnya terdengar suara Raden Ayu Prawirayuda yang tersendat di-sela-sela isaknya “Ampunkan aku ngger. Aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Aku menyerah kepadamu untuk menerima hukuman apa saja yang akan angger timpakan kepadaku.”

“Bukan aku yang akan menghukum bibi. Tetapi bibi akan kami bawa menghadap ayahanda Adipati di Paranganom. Justru bersama dengan Ki Tumenggung Reksadrana.”

“Ki Tumenggung Reksadrana?”

“Ya. Ki Tumenggung Reksadrana telah datang ke rumah bibi. Persoalan yang sesungguhnya tentu akan terungkap kelak.”

Raden Ayu Prawirayuda tidak dapat membendung air matanya. Ia pun kemudian berpaling kepada Wignyana sambil berkata “Ampunkan bibi, ngger. Bibilah yang bersalah. Bukan angger; “

“Sudahlah, bibi. Sebaiknya serahkan segala-galanya kepada kebijaksanaan ayahanda.”

“Ya, bibi. Ayahanda tentu akan bersikap adil. Aku mendengar semua percakapan bibi dengan dimas Wignyana dari belakang pintu. Sayang bahwa aku tidak segera mendekat sehingga nasib kangmbok Rantamsari mungkin akan berbeda. Tetapi agaknya Yang Maha Agung telah menghendakinya sehingga yang terjadi itu memang harus terjadi.”

Malam itu, Wismaya telah memanggil sekelompok prajurit dari baraknya untuk memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden Madyasta kemudian memerintahkan para prajurit itu untuk berjaga-jaga, sementara sekelompok yang lain membawa Ki Tumenggung Reksadrana dan Raden Ayu Prawirayuda ke bilik tahanan mereka masing-masing. Menunggu saatnya mereka akan dihadapkan kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma.

Agaknya mendung di Kadipaten Paranganom telah terkuak. Raden Ayu Prawirayuda telah terbakar oleh keinginannya untuk meraba matahari yang menyala diatas langit Paranganom.

Malam berikutnya, Madyasta dipanggil menghadap oleh ayahandanya bersama Wignyana. Dengan nada berat Kangjeng Adipati itu pun berkata Madyasta. Aku telah mendapat pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini, bagaimana aku harus menilai seseorang.”

“Maksud ayahanda?” bertanya Raden Madyasta.

“Bibimu adalah seorang yang berdarah bangsawan. Meskipun demikian sifat dan kelakuannya tidak dapat menjadi tauladan. Demikian pula Rantamsari.

Ia bukan seorang gadis yang berhati teguh. Hatinya dengan cepat merunduk jika angin bertiup.

“Ya, ayahanda.”

“Karena itu, aku dapat mengerti jalan pikiranmu. Bahwa bobot dan nilai seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh darah keturunannya.”

Jantung Raden Madyasta menjadi berdebar-debar. Sementara itu ayahandanya berkata pula “Karena itu, Madyasta. Aku tidak akan mencegah niatmu untuk mengangkat derajat anak Demang Panjer itu kelak di kadipaten Paranganom ini.”

“Ayahanda.”

“Pergilah ke Panjer. Katakan, bahwa jalan kalian berdua akan terbuka.”

“Terima kasih ayahanda.”

“Selamat, kangmas.”

Madyasta berpaling, Sambil tersenyum ia pun berkata “kau akan mempunyai saudara yang lahir dan dibesarkan di pedesaan dimas.”

“Bukankah kita adalah anak-anak padepokan.”

Madyasta mengangguk.

Sementara itu sambil tersenyum. Kangjeng Adipati berkata “Tetapi jauh sebelum peristiwa besar dalam hidupmu terjadi, gadis itu harus sudah berada di sini. Ia harus diperkenalkan dengan segala macam upacara dan adat yang berlaku. Ia harus diajarkan untuk menjadi seorang gadis yang mapan untuk menjadi sisihan seorang Adipati.”

Raden Madyasta pun mengangguk dalam-dalam sambil menyembah, terdengar suaranya yang bergetar “Terima kasih ayahanda.”

Dalam pada itu, beberapa hari kemudian, Kangjeng Adipati duduk dihadap oleh beberapa orang pemimpin Paranganom. Pemimpin pemerintahan dan pemimpin keprajuritan. Dihadapkan kepada Kangjeng Adipati dalam pertemuan itu, Raden Ayu Prawirayuda dan KI Tumenggung Reksadrana.

Namun tidak hanya Kangjeng Adipati Prangkusuma dari Paranganom yang duduk dihadap oleh para pemimpin itu. Tetapi juga Kangjeng Adipati Yudapati dari Kateguhan.

Mereka berdualah yang akan menentukan, hukuman apa yang akan ditrapkan kepada Raden Ayu Prawirayuda serta Ki Tumenggung Reksadrana dari Kateguhan itu setelah segala tingkah laku mereka terungkap.

Langit di Paranganom terasa menjadi semakin cerah. Angin pun bertiup membaurkan udara yang segar. Perlahan-lahan hubungan baik antara Paranganom dan Kateguhan telah dibina kembali.

—–oOo—–

T A M A T

Konversi ke teks: Dino
Ebook by Dewi KZ
http://kangzusi.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com
oleh Ki Arema

kembali | TAMAT

Satu Tanggapan

  1. Stage berkisar di rumah R.A.Prawirayuda , merupakan ‘dalem ageng’ di kadipaten Paranganom, dengan cerita ‘sedikit berteka-teki’ adanya pembunuhan beruntun thd tokoh2 yang sebenarnya tidak mudah untuk ‘dibunuh’. Cita-cita/keinginan manusia yang dicapai dengan men-sah-kan segala cara, termasuk kelicikan, akan sia-sia.Salut ki SH.Mintardja, kemasan gambaran kemanusian dan intermezo dalam keseharian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s