MM-02


MERABA MATAHARI

JILID 2

kembali | lanjut

cover  MM-02DALAM pada itu, Ki Ajar yang merasa sudah terlalu lama berada di Kadipaten segera minta diri pula, ia sudah terlalu lama meninggalkan padepokannya.

“Aku minta kakang dapat menunggu sampai kerusuhan di Kadipaten ini dapat diatasi”

“Aku akan datang pada kesempatan lain, Kangjeng. Kasihan anak-anak di padepokan yang sudah terlalu lama aku tinggalkan”

Kangjeng Adipati tidak dapat menahan Ki Ajar, sehingga akhirnya Kangjeng Adipati melepasnya meninggalkan Kadipaten pada keesokan harinya”

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Wiradapa serta Ki Tumenggung Sanggayuda sepakat untuk menunjuk tiga orang senapati muda terpilih untuk menyertai Raden Madyasta memberantas kerusuhan di Paranganom, ketiga senapati itu berasal dari kesatuan yang berbeda-beda.

Bersama Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda, Madyasta pergi ke barak ketiga orang senapati yang terpisah itu.

“Apakah aku sudah mengenal mereka, paman?” bertanya Madyasta.

“Raden sudah lama meninggalkan Kadipaten, mungkin Raden belum mengenal mereka, tetapi dalam dua tahun ini, nama mereka banyak disebut-sebut di lingkungan keprajuritan Paranganom, mereka bertiga pula yang memimpin pasukan yang diminta oleh Kangjeng Sultan Tegallangkap. Ketika terjadi benturan kekuatan antara Tegallangkap dengan kekuatan yang datang dari seberang Bengawan Rahina. Maka beberapa Kadipaten yang berada di bawah ikatan kesatuan dengan Tegallangkap telah mengirimkan pasukannya untuk bersama-sama menghadapi tekanan kekuatan yang besar yang datang dari seberang Bengawan Rahina itu. Ternyata pasukan dari Paranganom yang dipimpin ketiga orang senapati muda itu telah mendapat pujian khusus dari Kangjeng Sultan di Tegallangkap” jawab Ki Tumenggung Wiradapa.

“Siapakah nama-nama mereka, paman?”

“Nama-nama mereka adalah Sasangka, Rembana dan Wismaya”

Madyasta mengangguk-angguk, seolah-olah kepada diri sendiri ia  pun bergumam, “Nama yang baik, agaknya mereka memang meyakinkan”

“Sebentar lagi angger akan segera bertemu dengan mereka, kita akan pergi ke barak terdekat, angger akan berjumpa dengan Sasangka”

“Sasangka ya, rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu, mungkin aku pernah mengenalnya”

“Sukurlah jika Raden pernah mengenalnya”

Madyasta mencoba mengingatnya, namun nama Sasangka memang pernah dikenalnya empat tahun yang lalu, bahkan mungkin sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, maka mereka sampai di sebuah barak yang berpagar kayu rapat dan cukup tinggi.

Ketika mereka bertiga memasuki gerbang barak itu, maka prajurit yang bertugas segera memberi hormat, meskipun secara pribadi prajurit itu tidak mengenal langsung ketiga orang yang memasuki barak mereka, namun mereka dapat mengenal kedua orang diantara mereka adalah dua orang Tumenggung, sedangkan yang seorang lagi tentu orang penting pula. Bahkan kedua orang Tumenggung itu  pun agaknya menghormatinya pula.

“Apakah Ki Lurah Sasangka ada?” bertanya Ki Tumenggung Wiradapa.

“Ada Ki Tumenggung, silahkan”

Ki Tumenggung Wiradapa bersama dengan Raden Madyasta dan Ki Tumenggung Sanggayuda segera memasuki halaman barak yang terhitung luas itu.

Sementara itu dua orang prajurit yang berada di gardu sebelah telah menyongsongnya pula.

“Silahkan Ki Tumenggung” Salah seorang dari kedua orang prajurit itu telah mempersilahkan mereka untuk naik ke bangunan utama barak itu.

“Dimana Ki Lurahmu?” bertanya Ki Tumenggung pula.

“Ki Lurah sedang berlatih di halaman belakang , silahkan, biar aku menyampaikannya”

“Tidak, tidak usah, biarlah kami pergi ke halaman belakang saja”

Prajurit itu tidak berkata apa-apa lagi, tetapi ia melangkah mendahului kedua orang Tumenggung serta Madyasta ke halaman belakang, kawannya pun telah mengikutinya pula.

Di halaman belakang yang cukup luas itu, Ki Tumenggung dan Madyasta melihat para prajurit sedang berkumpul, Ki Lurah Sasangka sendiri berada di punggung kuda sambil membawa sebilah pedang telanjang.

Sejenak kemudian, maka kudanya itu pun berlari dengan kencang mengitari halaman belakang barak itu, setiap kali pedangnya terayun menyambar orang-orangan yang dibuat dari jerami yang berdiri berjajar beberapa langkah.

Demikian kepala orang-orangan yang terakhir itu jatuh, maka prajurit pun bersorak sambil bertepuk tangan.

Kuda Sasangka masih berlari berputar-putar di halaman, ketika para prajurit itu sudah berhenti bertepuk tangan dan bersorak, maka Sasangka pun telah meloncat turun dari kudanya.

Namun Sasangka terkejut, bahkan para prajurit pun ikut berpaling pula ketika mereka mendengar tepuk tangan yang bukan berasal dari mereka.

“Ki Tumenggung” Sasangka pun mengangguk hormat, dengan tergesa-gesa ia melangkah mendekat.

Namun ketika Sasangka itu berhenti beberapa langkah di depan kedua Ki Tumenggung. Ki Tumenggung Wiradapa pun bertanya, “Kau mengenal anak muda ini?”

Sasangka mengerutkan dahinya, namun ia pun kemudian menyahut, “Tentu, tentu Ki Tumenggung, bukankah anak muda ini Raden Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?”

“Ya, ternyata kau sudah mengenalnya”

“Sekitar empat tahun atau lima tahun yang lalu, pada saat itu aku masih menjadi seorang prajurit, aku sudah mengenal Raden Madyasta yang sering berada di tengah-tengah para prajurit, bahkan kadang-kadang ikut berlatih bersama kami, waktu itu Raden Madyasta masih sangat muda diantara prajurit-prajurit yang lain”.

“Nah, apakah Raden masih ingat akan anak muda yang sekarang menjadi seorang Lurah prajurit, yang termasuk dalam hitungan senapati muda terpandang di Paranganom?”

“Ki Tumenggung terlalu memuji, terima kasih” sahut Sasangka.

“Ya, sekarang aku ingat, waktu itu aku memang sering berada diantara para prajurit muda. Beberapa kali aku mendapat peringatan karena kehadiranku yang kadang-kadang justru menganggu. Tetapi aku ingin mempunyai banyak kawan, sampai pada suatu saat, ayahanda mengirim aku dan adimas Wignyana ke padepokan Panambangan”.

“Sekarang, Raden sudah kembali lagi ke kadipaten Paranganom atau hanya sekedar melepas kerinduan?”

“Aku telah kembali pulang, kakang”

“Raden dapat bermain lagi bersama kami, aku tidak akan pernah merasa terganggu jika Raden sering datang kemari dan berlatih bersama kami”

“Tetapi kakang Sasangka bukan lagi kakang Sasangka yang dahulu. Seorang prajurit yang dengan gigih menempa diri di lingkungan keprajuritan”

“Raden Madyasta pun bukan Raden Madyasta yang dahulu”

Madyasta tersenyum.

Sementara itu, Ki Lurah Sasangka telah mempersilahkan ketiga orang tamunya duduk di pringgitan bangunan induk baraknya.

“Silahkan Raden, silahkan Ki Tumenggung, aku akan mencuci kaki dan tanganku sebentar”

Kedua orang prajurit yang mengantar Madyasta dan kedua orang Ki Tumenggung itu ke belakang, telah mempersilahkan ketiga orang tamu itu untuk pergi ke pendapa bangunan induk barak itu.

Beberapa saat kemudian, Sasangka sempat melaporkan perkembangan barak serta pasukan yang dipimpinnya.

Namun kemudian Sasangka itu bertanya, “Ki Tumenggung, sebenarnyalah kehadiran Ki Tumenggung berdua, apalagi bersama Raden Madyasta, memang agak mengejutkan kami, penghuni barak ini, mungkin kami telah melakukan kesalahan yang tidak kami sadari, sehingga kehadiran Ki Tumenggung berdua serta Raden Madyasta akan mengetrapkan hukuman bagi kami seisi barak ini”

Ketiga orang tamunya tertawa, Ki Tumenggung Wiradapa lah yang menjawab, “Jika kalian bersalah, maka bukan aku yang datang ke barakmu, tetapi kami akan memanggilmu atau mengirimkan tiga orang prajurit khusus untuk menangkapmu”

Sasangka pun mengangguk hormat, katanya, “Seandainya Ki Tumenggung berdua dan Raden Madyasta akan memberikan perintah, aku pun dapat dipanggil menghadap”

“Memang” sahut Ki Tumenggung Wiradapa, “Tetapi sekali ini Raden Madyasta ingin melihat barakmu, ingin melihat ujudnya, namun juga ingin melihat isinya”

“Terima kasih atas kesediaan datang mengunjungi barak ini. Mungkin keadaan kami tidak sebagaimana Raden kehendaki. Banyak sekali kekurangan yang terdapat di barak ini”

“Aku tidak akan membuat penilaian kakang. Tetapi aku datang justru untuk mengganggu ketenanganmu”

Sasangka mengerutkan dahinya, dipandanginya kedua Ki Tumenggung yang datang bersama Madyasta itu berganti-ganti

Kedua Ki Tumenggung itu tersenyum. Ki Tumenggung Sanggayuda pun berkata, “Kau dengar istilah yang dipergunakan oleh Raden Madyasta? Raden Madyasta tidak mengatakan bahwa ia datang untuk memberikan perintah kepadamu. Tetapi Raden Madyasta merasa dirinya justru datang mengganggumu”

Madyasta tertawa, namun ia pun bertanya, “Apakah aku berhak memberikan perintah kepada para senapati?”

“Raden” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda, “Sejak Raden mendapat perintah untuk menumpas para perampok itu, maka Raden telah madeg Senapati Agung. Bukankah ayahanda telah memberi wewenang kepada Raden untuk mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi para perampok itu?”

Tetapi aku belum terbiasa melakukannya, paman. Di Padepokan, kedudukan para cantrik, semuanya sama. Adalah kebetulan bahwa aku termasuk cantrik yang sudah terhitung tua di padepokan Panambangan. Sehingga para cantrik yang sebagian besar masih muda-muda itu menaruh hormat kepadaku, bukan karena aku anak seorang Adipati. Tetapi aku adalah kakak seperguruan mereka, namun sebaliknya, kepada beberapa orang cantrik yang lebih tua daripadaku, yang masih tinggal di padepokan, aku pun harus menghormati mereka, karena mereka adalah kakak seperguruaku”

“Disini, kedudukan Raden mempunyai kekhususan, karena Raden adalah putera Kangjeng Adipati, apalagi Raden adalah putera tertua, yang menurut tatanan akan dapat menggantikan kedudukan ayahandamu kelak. Di Paranganom ini, hanya ada seorang Adipati, sedangkan puteranya yang tertua juga hanya seorang”

Madyasta tertawa katanya, “Tetapi itu bukan berarti bahwa aku adalah orang yang mempunyai kedudukan khusus di kadipaten ini, aku rasa aku tidak ada bedanya dengan anak-anak muda yang lain, yang harus mengabdi kepada kadipaten ini”

“Mau tidak mau, Raden” berkata Sasangka, “Mau tidak mau Raden mempunyai kedudukan yang khusus, justru karena hanya ada seorang di seluruh kadipaten”

Madyasta masih tertawa, katanya, “Bukankah itu menjadi beban bagiku?”

“Ya” sahut Ki Tumenggung Wiradapa, “Yang kemudian ada di pundak Raden adalah kewajiban, kewajiban sebagai seorang putera Adipati, tetapi disamping kewajiban yang Raden pikul, Raden pun mempunyai hak dalam kedudukan Raden sebagai putera seorang Adipati dan sebagai seorang anak muda dari kadipaten Paranganom.

“Baiklah” berkata Madyasta, “Aku akan berusaha untuk menyesuaikan diriku dengan hak dan kewajibanku”

“Nah, sekarang aku menunggu perintah Raden Madyasta” berkata Sasangka.

Madyasta memandang Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda sekilas. Namun kemudian ia pun berkata kepada Sasangka, “Kakang, aku mendapat perintah dari ayahanda untuk menangani keresahan di beberapa kademangan karena tindak kejahatan. Perampok, penyamun dan penjahat-penjahat yang lain telah mengganggu ketenangan penduduk beberapa kademangan itu. Bahkan ketika aku pulang dari padepokan bersama Wignyana dan Ki Ajar Wihangga, kami pun telah diganggu oleh perampok di perjalanan. Sayang bahwa kami tidak dapat menangkap mereka, meskipun kami berhasil menggagalkan usaha mereka”

Sasangka pun segera tanggap, dengan serta merta ia berkata, “Raden akan memberikan perintah kepadaku untuk ikut bersama Raden menangani kejahatan itu?”

“Ya, para Demang tidak lagi mampu membendung arus kejahatan itu, beberapa orang korban telah jatuh. Bukan hanya korban harta benda, tetapi juga korban jiwa”

“Sendika, Raden. Aku siap untuk melaksanakan segala perintah”

“Tetapi kita tidak hanya berdua. Menurut paman Tumenggung Wiradapa dan paman Tumenggung Sanggayuda, kita akan menghubungi kakang Rembana dan kakang Wismaya”

“Aku sudah siap kapan pun aku harus berangkat, demikian pula pasukanku yang ada di barak ini, kami akan siap dalam waktu yang singkat”

“Terima kasih kakang, tetapi kita tidak akan berangkat segera, kita masih akan berbicara dengan kakang Rembana dan kakang Wismaya. Apa yang sebaiknya kita lakukan”

“Jadi?”

“Kita akan ke barak kakang Rembana dan kakang Wismaya lebih dahulu”

“Baik, Raden. Aku akan mengantar Raden menemui Rembana dan Wismaya di barak mereka”

Dalam pada itu, Raden Madyasta berkata kepada Ki Tumenggung Wiradapa berkata dan Ki Tumenggung Sanggayuda, “Paman berdua, agaknya paman tidak usah mengantar aku selanjutnya, aku akan pergi bersama kakang Sasangka saja, paman Tumenggung berdua akan dapat segera beristirahat.”

“Jadi Raden akan pergi bersama Sasangka saja?”

“Ya, paman. Jika hari ini aku tidak kembali ke Kadipaten, sampaikan kepada ayahanda, bahwa aku berada disalah satu barak dari ketiga orang senapati muda ini. Kami akan membicarakan langkah-langkah yang akan kami ambil. Karena kami harus segera berbuat sesuatu sebelum kejahatan itu menjalar ke seluruh kadipaten Paranganom”

”Baiklah, Raden. Agaknya Raden akan berbicara dengan anak-anak muda yang sebaya dengan Raden. Tetapi jika Raden perlu pendapat orang-orang tua ini, silahkan Raden memanggil kami berdua” berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Tentu paman, setidak-tidaknya sebelum kami berangkat, kami akan menghadap ayahanda serta bertemu dengan paman berdua”

“Baik, Raden. Sekarang, kami berdua minta diri” lalu katanya kepada Sasangka, “Hati-hati mengambil keputusan Sasangka, persoalannya ini tidak sederhana”

“Baik, Ki Tumenggung, pada saatnya kami akan memberikan laporan kepada Ki Tumenggung”

Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda meninggalkan barak prajurit yang dipimpin oleh lurah Sasangka itu. Sementara itu Ki Lurah pun segera bersiap untuk mengantar Raden Madyasta menemui Rembana dan Wismaya.

Beberapa saat kemudian, kedua orang anak muda itu telah mengendarai kuda mereka menuju ke barak prajurit yang lain, yang letaknya tidak terlalu jauh.

Ketika keduanya sampai di barak prajurit yang dipimpin oleh Rembana, kebetulan Rembana sedang berlatih bersama beberapa orang pemimpin kelompok di barak itu. Rembana tengah memberikan petunjuk-petunjuk kepada para pemimpin kelompok yang kemudian harus disampaikan kepada prajurit. Rembana telah menyampaikan beberapa gagasan kepada prajurit-prajuritnya untuk membuat gelar perang yang sudah ada menjadi semakin hidup serta gerakan-gerakan yang dapat menghancurkan lawan.

Kedatangan Sasangka telah menghentikan latihan itu. Diserahkannya latihan itu kepada pemimpin kelompok yang tertua untuk melanjutkan latihan-latihan itu.

“Teruskan latihan ini, aku akan menerima tamu”

“Baik, Ki Lurah” jawab pemimpin kelompok yang tertua itu.

Rembana pun kemudian mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di pringgitan bangunan utama barak itu.

Ternyata Rembana pun telah dikenal oleh Madyasta, antara empat atau lima tahun yang lalu, sebagaimana Sasangka. Rembana waktu itu masih seorang prajurit. Madyasta yang agak nakal pada waktu itu, memang sering berada diantara prajurit muda serta berlatih bersama mereka, meskipun yang dilakukannya itu tidak dibenarkan oleh ayahanda, sehingga akhirnya, Madyasta dan Wignyana sekaligus dikirim ke padepokan Panambangan agar keduanya dapat berlatih dengan cara yang lebih baik dan teratur, memiliki bekal secara pribadi, sehingga yang benar-benar sepadan dengan kedudukan mereka.

“Kedatangan Raden yang tiba-tiba memang agak mengejutkan kami, seisi barak ini” berkata Rembana kemudian.

Madyasta tersenyum, katanya, “Kami mengemban perintah ayahanda Adipati kakang”

Wajah Rembana menegang, dipandanginya Sasangka sekilas, kemudian ia pun bertanya, “Apakah ada perintah dari Kangjeng Adipati?”

“Ya, kakang” jawab Madyasta, “Ada hubungannya dengan meningkatnya kerusuhan di Kadipaten ini.”

“Apakah aku diperintahkan untuk mengatasi masalah tersebut?”

“Kita akan bersama-sama melakukannya”

“Maksud Raden?”

Madyasta kemudian menjelaskan perintah ayahandanya yang diembannya, serta niatnya untuk membawa Sasangka, Rembana dan Wismaya menyertainya.

“Rembana dengan serta-merta menyahut, “Aku siap menerima perintah, Raden. Kapan pun dan dimana pun aku ditempatkan”

“Tidak hari ini, kakang. Nanti kita bersama-sama akan berbicara serta menyusun rencana, apa yang akan harus kita lakukan, agar langkah kita dapat sampai ke sasaran dengan pasti”

“Baik, Raden. Aku siap menerima perintah”

“Raden Madyasta masih akan menghubungi Wismaya dahulu, Rembana”

“Apakah kau akan menyertainya?”

“Ya, aku akan mengantarkan Raden Madyasta untuk menemuinya”

“Kalau begitu, aku juga ikut bersamamu, jika Raden mengijinkan”

“Aku tidak keberatan, kakang. Kita akan pergi bertiga menemui kakang Wismaya”

Rembana pun kemudian telah memberitahukan kepada orang kepercayaannya, bahwa ia akan pergi bersama Raden Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma serta Sasangka.

Ketika mereka sampai di barak Wismaya, ternyata Wismaya sedang berada di sanggarnya, seorang prajurit telah memberitahukan kepadanya, bahwa ada tiga orang tamu yang mencarinya.

“Siapa?”

“Ki Lurah Sasangka, Ki Lurah Rembana dan Raden Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma”

“Raden Madyasta?” ulang Wismaya

“Ya, Ki Lurah”

“Baiklah, persilahkan mereka duduk di pringgitan, aku akan segera menemui mereka”

“Baik Ki Lurah”

Wismaya segera membenahi pakaiannya. Dengan pakaian yang basah dengan keringat, Wismaya itu menemui ketiga orang tamunya yang sudah duduk di pringgitan.

Seperti Sasangka dan Rembana, Raden Madyasta pun telah mengenal Wismaya seperti ia mengenal Sasangka dan Rembana. Yang dalam empat tahun mereka sudah menjadi Lurah prajurit. Bahkan telah memimpin pasukan kadipaten Paranganom bersama-sama dengan pasukan Tegallangkap menghadapi pasukan yang datang dari seberang Bengawan Rahina.

“Jadi kita akan bertugas untuk mengatasi kerusuhan itu, Raden?” bertanya Wismaya.

“Ya, kakang”

“Kapan kita akan berangkat?”

“Nanti malam kita akan membicarakan rencana itu sebaik-baiknya”

“Apakah aku harus menghadap Raden ke dalam Kadipaten?”

“Tidak, kakang. Aku tidak pulang malam ini, kita akan bertemu dan berbicara di barak kakang Sasangka. Malam ini aku akan bermalam di barak itu. Besok setelah rencana kita susun sebaik-baiknya, baru kita menghadap ayahanda untuk minta diri serta melaporkan rencana kita”

“Baiklah Raden, nanti aku akan datang ke barak Sasangka”

“Kita akan bertemu dan berbicara lepas senja”

“Baik Raden”

Demikianlah, setelah berbicara beberapa saat, maka Madyasta minta diri. Demikian pula Rembana dan Sasangka.

“Sasangka, jangan lupa, nanti lepas senja” Rembana mengingatkan, ketika mereka berada di regol halaman barak.

“Tentu aku tidak akan lupa” jawab Wismaya.

“Kau seringkali lupa, Wismaya. Kau masih muda, tetapi kau sudah pikun seperti kakek-kakek”

“Tetapi aku tidak pernah lupa dengan tugas yang penting”

Sasangka tersenyum sambil menyahut, “Wismaya dapat saja lupa tidak membawa kaki atau kepalanya. Tetapi ia tidak akan lupa tugas-tugas keprajuritannya”

“Terima kasih atas pujianmu, Sasangka”

“Yang mendengarnya tertawa, sementara Rembana berkata, “Sasangka, kau memuji Wismaya ya, mungkin kau berharap bahwa nanti malam Wismaya akan datang ke barakmu sambil membawa oleh-oleh jajanan pasar?”

Mereka semua tertawa berkepanjangan.

Seorang prajurit yang bertugas jaga di regol mengerutkan keningnya, di dalam hatinya ia pun berkata Ki Lurah Wismaya itu dapat juga tertawa, jarang sekali aku melihat suasana yang begitu gembira seperti saat ini bagi Ki Lurah Wismaya yang sehari-hari kelihatan selalu bersungguh-sungguh itu.

Sepeninggal Sasangka dan Rembana serta Raden Madyasta, serta setelah masuk kembali ke dalam barak, prajurit yang bertugas tadi berbicara kepada kawannya yang juga sedang bertugas, “Apakah kau pernah melihat Ki Lurah Wismaya tertawa?”

“Ya, pernah. Bukankah kau akan mengatakan bahwa tadi kau melihat Ki Lurah Wismaya berkelakar dengan Ki Lurah Sasangka dan Rembana? Bahkan dengan Raden Madyasta?”

“Ya. Bukankah Ki Lurah Wismaya selalu kelihatan bersungguh-sungguh sehingga memandang wajahnya saja rasa-rasanya aku segan”

“Tetapi Ki Lurah Wismaya itu orang baik, kau pernah melihat salah seorang dari kita yang berada di barak ini diperlakukan tidak adil?, Ki Lurah memang seorang yang tegas. Tetapi sebenarnya hatinya lembut. Ketika dua orang prajuritnya gugur di peperangan dekat Bengawan Rahina, yang pada waktu itu aku juga terluka, kau tahu bahwa semalam suntuk Ki Lurah menunggu kedua sosok mayat itu?”

“Ya, aku juga berada di medan pada waktu itu”

“Nampaknya Ki Lurah juga telah mendapat perintah dari Raden Madyasta”

Kawannya mengangguk-angguk, katanya, “Kita tunggu saja, malam ini Ki Lurah akan membicarakan rencananya di barak Ki Lurah Sasangka, tetapi aku tidak mendengar lebih banyak lagi”

Keduanya pun terdiam.

Seperti yang direncanakan, maka ketika senja menjadi semakin buram, di barak masing-masing. Rembana dan Wismaya segera mempersiapkan diri, mereka akan pergi ke barak Sasangka untuk membicarakan tugas yang akan mereka pikul untuk mengatasi kerusuhan yang menjadi semakin meningkat di Paranganom.

Sementara itu, Madyasta memang tidak pulang ke Kadipaten, ia ingin berada di lingkungan kehidupan para prajurit. Madyasta ingin mengalami, makan, tidur dan bahkan kehidupan para prajurit seutuhnya, sebagaimana pernah dilakukannya pada masa-masa yang lalu.

Ketika malam turun, maka ketiga orang lurah prajurit itu sudah berkumpul bersama Raden Madyasta.

Sebelum mereka mulai menentukan sikap, maka mereka pun lebih dahulu mempelajari semua laporan yang pernah disampaikan tentang kerusuhan yang terjadi di Paranganom. Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda sudah memberi-tahukan semua laporan tugas untuk mengatasi kerusuhan itu.

Bahkan mereka pun telah merencanakan pula kehadiran Raden Ayu Prawirayuda di Kadipaten Paranganom.

“Kenapa Raden Ayu Prawirayuda itu diusir dari Kadipaten Kateguhan” bertanya Wismaya.

“Ayahanda belum mendapat keterangan yang jelas, yang disampaikan oleh bibi hanya sekedar dugaan-dugaan dan kata orang, tetapi kakangmas Adipati di Kateguhan sendiri tidak pernah menjatuhkan tuduhan apa-apa.

“Apakah kesalahan Raden Ayu Prawirayuda itu sedemikian besarnya sehingga justru harus dirahasiakan?, atau mungkin akan menyentuh harga diri dan kewibawaan Kangjeng Adipati di Kateguhan?”

“Itulah yang tidak jelas, padahal bibi adalah seorang perempuan yang berilmu tinggi. Bibi Prawirayuda yang pada waktu paman Prawirayuda masih menjadi Adipati di Kateguhan telah menyusun satu kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya, pasukan yang terdiri dari perempuan-perempuan muda yang dilatih khusus langsung oleh bibi sendiri dibantu oleh beberapa senapati laki-laki. Sehingga pada waktu itu bibi pernah disebut sebagai Srikandi Kateguhan”

“Rasa-rasanya tentu ada sesuatu yang dirahasiakan” berkata Sasangka.

“Sementara itu, bersamaan dengan kehadiran Raden Ayu Prawirayuda di Paranganom, kerusuhan di Paranganom menjadi semakin meningkat pula” sahut Rembana.

“Mungkin hanya satu kebetulan, kakang” berkata Madyasta kemudian, “Meskipun demikian, kita akan melihat perkembangan keadaan”

“Mudah-mudahan memang hanya satu kebetulan, Raden. Tetapi menelusuri arah perluasan kerusuhan itu, memang dapat menumbuhkan satu pertanyaan tentang keterlibatan orang-orang Kateguhan, mungkin memang tidak ada kesengajaan dari para pemimpin di Kateguhan untuk menimbulkan kerusuhan di Paranganom. Mungkin yang terjadi adalah turunnya dengan tajam kesejahteraan hidup rakyat Kateguhan, sehingga ada beberapa orang yang terpaksa mencari jalan pintas untuk mendapatkan sarana kesejahteraan bagi hidup mereka. Tetapi mereka tidak mau melakukannya di lingkungan mereka sendiri, sehingga mereka harus menyeberangi perbatasan antara kadipaten Kateguhan dan Kadipaten Paranganom.

“Memang ada beberapa kemungkinan, kakang” jawab Madyasta, “Bahkan mungkin mereka adalah orang-orang yang datang dari jauh. Mereka bahkan mungkin juga membuat kerusuhan di kadipaten Kateguhan sebagaimana mereka lakukan di Paranganom.”

Ketiga orang Lurah prajurit itu mengangguk-angguk. Meskipun demikian, Wismaya bertanya, “Apakah ada laporan bahwa kerusuhan itu juga terjadi di Kateguhan?”

“Belum kakang, beberapa orang prajurit sandi yang bertugas untuk mengamati kemungkinan itu belum memberikan laporan, “Raden Madyasta berhenti sejenak, lalu katanya, “Tetapi kita tidak usah menunggu laporan itu. Semakin lamban kerusuhan ini ditangani, maka keresahan akan menjadi semakin tersebar luas di Paranganom.

“Ya Raden” jawab Sasangka, “Sekarang, kami menunggu perintah Raden, apakah kami masing-masing harus menyiapkan kelompok prajurit dan kami tempatkan di daerah yang rawan?”

“Kakang, apakah kita dapat mempergunakan cara lain? Jika kita membawa prajurit ke daerah rawan, maka hal itu tentu akan segera didengar oleh para perampok. Mereka akan dapat merubah medan yang akan mereka masuki. Atau bahkan mereka untuk sementara akan menghentikan kegiatannya, sehingga dengan demikian, kepergian kita akan sia-sia. Namun demikian, jika kita menarik diri, maka mereka akan segera datang kembali”

“Jadi bagaimana menurut Raden?” bertanya Wismaya.

“menurut laporan, para perampok itu jumlahnya sekitar dua puluh sampai dua puluh lima orang kurang lebihnya. Menurut pendapatku, kita akan pergi ke daerah yang rawan itu tanpa prajurit agar para perampok itu tidak menghindar”

“Maksud Raden”

“Kita akan pergi berempat saja, mungkin kita memerlukan empat atau lima orang kawan lagi”

“Jadi kita akan datang berempat saja?” bertanya Rembana.

“Ya”

“Bagus, aku sependapat Raden”

“Selebihnya kita akan menyiapkan anak-anak muda dari kademangan setempat. Para perampok tentu akan meremehkan anak-anak muda itu. Tetapi kita akan dapat memberikan latihan-latihan khusus kepada mereka. Meskipun sekedar dasar-dasarnya saja. Tetapi bersama-sama dengan kita berempat, mereka akan dapat berbuat sesuatu bagi kademangan mereka”

Rembana termangu-mangu sejenak, sementara Sasangka kemudian berkata, “Tetapi apakah tidak akan terlalu banyak korban jika benar-benar terjadi benturan kekuatan antara kita dan para perampok itu jika kita menyertakan anak-anak muda kademangan yang belum pernah mempergunakan senjata”

“Kita akan selalu bersama mereka, jika perlu, seperti yang aku katakan tadi, kita akan membawa empat atau lima orang terpilih bersama kita. Tetapi tentu mereka tidak perlu berjalan seiring dengan kita”

“Maksud Raden?”

“Maksud Raden?”

“Kita akan pergi berempat, mudah-mudahan kedatangan kita tidak mereka ketahui. Tetapi seandainya mereka tahu, maka mereka pun tidak merasa perlu untuk menghindar, karena kita hanya berempat. Selebihnya, beberapa orang prajurit akan datang berurutan dalam pakaian para petani sehari-hari. Seakan-akan mereka sedang melakukan tugas sandi”

“Aku mengerti maksud Raden” berkata Rembana.

“Nah jika demikian, maka aku minta kakang masing-masing memilih dua prajurit terbaik, perintahkan mereka untuk menyusul kita, tetapi seperti yang aku katakan tadi, mereka berada dalam tugas sandi, agar para perampok itu tidak merubah rencana mereka”

“Baik Raden, kami mengerti maksud Raden”

“Kapan kita akan berangkat Raden?”

“Besok pagi saat matahari terbit, kita akan pergi menghadap ayahanda memberikan laporan tentang rencana kita, kita akan langsung berangkat menuju ke kademangan Panjer. Bukankah menurut perhitungan kita, para perampok itu akan merambat sampai ke kademangan Panjer?”

“Ya, Raden. Sementara itu, kedua orang prajurit dari barak kami masing-masing harus langsung pergi ke Panjer”

“Ya, biarlah mereka berjalan kaki, tetapi mereka tidak boleh berjalan bersama-sama”

“Baik, baik, aku akan memerintahkan dua orangku yang terbaik untuk berangkat esok pagi” berkata Rembana.

“Mereka harus langsung pergi ke rumah Ki Demang sementara kita sudah berada di kademangan itu.”

“Ya, Raden”

Demikanlah, malam itu mereka telah mendapatkan kesepakatan, esok pagi, pada saat matahari terbit, mereka akan bersama-sama menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma.

Malam itu, Sasangka, Rembana, Wismaya telah menunjuk masing-masing dua orangnya yang terbaik. Mereka mendapat perintah khusus untuk menjalankan tugas mereka yang khusus pula.

Demikianlah, maka ketika matahari terbit di keesokan harinya. Madyasta bersama Sasangka, Rembana dan Wismaya telah menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma, meskipun Kangjeng Adipati baru saja bangun dan bersiap-siap untuk mandi, namun kedatangan Madyasta dan ketiga orang senapati itu telah mendapat perhatiannya, sehingga Kangjeng Adipati telah menerima puteranya sebelum Kangjeng Adipati sempat mandi.

“Apa rencanamu Madyasta?”

Madyasta pun telah menyampaikan rencananya yang telah disusun semalam bersama Sasangka, Rembana dan Wismaya.

Kangjeng Adipati pun mendengarkan laporan serta rencana Madyasta itu dengan sungguh-sungguh, sekali-sekali Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, namun kadang-kadang nampak dahinya berkerut.

“Aku percaya padamu, Madyasta” berkata Kangjeng Adipati.

“Kami mohon doa restu ayahanda” berkata Madyasta kemudian.

“Berangkatlah, kau mengemban tugas sebagai seorang putera Adipati Paranganom”

Ketika matahari naik sepenggalah, maka Madyasta dan ketiga senapati muda itu pun meninggalkan dalem kadipaten menuju ke kademangan Panjer yang tidak jauh dari perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan.

Berkuda mereka berempat keluar dari pintu gerbang kota, menyusuri jalan-jalan bulak, kuda mereka itu pun berlari di bawah panasnya sinar matahari yang semakin terasa menyengat kulit.

Sekali-sekali keempat orang itu pun berhenti untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.

Namun kemudian keempat orang itu pun segera melanjutkan perjalanan, dibawah teriknya sinar matahari, mereka melarikan kuda mereka di jalan berbatu-batu, diantara jalur-jalur jejak roda pedati. Sekali-sekali keempat orang itu melewati jalan tidak begitu jauh dari hutan yang lebat. Namun kemudian jalan itu melingkar dan menurun tajam. Tetapi kemudian memanjat naik lereng pegunungan, menyeberangi sungai yang tidak mempunyai jembatan.

Perjalanan mereka memang cukup panjang.

“Kita tidak mendahului prajurit-prajurit yang pergi ke Panjer” berkata Raden Madyasta, “Atau mungkin mereka berada di pasar ketika kita melewati pasar di padukuhan seberang sungai itu?”

“Padukuhan Karangwetan, Raden. Pasar itu adalah pasar Karangwetan”

Namun Wismaya pun menyahut, “Agaknya mereka tidak mengambil jalan ini, Raden. Mereka akan mengambil jalan pintas yang lebih dekat”

Raden Madyasta mengangguk-angguk

“Meskipun jalan itu agak rumit, tetapi mereka akan cepat sampai di Panjer”

“Barangkali esok pagi mereka baru akan memasuki kademangan Panjer, Raden” berkata Wismaya.

“Jadi mereka harus bermalam di perjalanan?”

“Mereka tentu akan menghentikan perjalanan mereka dan bermalam di mana saja. Jika mereka berjalan terus di malam hari, pada saat kerusuhan sedang menghantui padukuhan-padukuhan, akan dapat timbul salah paham”

Raden Madyasta mengangguk-angguk.

Di sore hari, ketika mereka berempat singgah di sebuah kedai, mereka pun mendengar pembicaraan tentang kerusuhan itu, agaknya rakyat Paranganom, terutama di daerah rawan, benar-benar menjadi gelisah.

“Kalian akan pergi kemana anak muda?” bertanya seorang tua yang juga sedang berada di kedai itu.

Orang itu tidak menyadari bahwa ia berbicara dengan putera Kangjeng Adipati serta tiga senapati terpilih di Kadipaten Paranganom, karena mereka sama sekali tidak mengenakan ciri-ciri keprajuritan.

Yang menjawab pertanyaan orang tua itu adalah Wismaya, jawabnya, “Kami akan pergi ke Tegal Gumelar, Ki Sanak”

Orang tua itu mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Hati-hatilah anak muda, bukankah Tegal Gumelar itu letaknya di sebelah kademangan Panjer?”

“Ya, Ki Sanak?”

“Kami, di lingkungan ini sedang digelisahkan oleh kerusuhan-kerusuhan yang semakin meningkat”

“Apa yang telah terjadi disini, Ki Sanak?” bertanya Rembana.

“Perampokan, tidak hanya di jalan-jalan sepi, tetapi para perampok itu dengan berani mendatangi kademangan-kademangan, mereka tidak melakukan kejahatan itu dengan diam-diam, tetapi mereka seakan-akan sengaja menantang para penghuni kademangan yang didatanginya”

“Nampaknya keadaan sudah parah, Ki Sanak”

“Ya. Karena itu, pertimbangkan perjalanan kalian. Apakah keperluan kalian ke Tegal Gumelar anak muda?”

“Kami adalah pedagang wesi aji dan bebatuan, Ki Sanak”

“Apalagi jika kalian pedagang” berkata orang tua itu, “Sebaiknya kalian menunda perjalanan kalian”

“Tetapi kami tidak mau kehilangan kesempatan terbaik, Ki Sanak. Kami berjanji untuk membawa barang-barang yang mereka pesan itu hari ini”

“Kau akan kemalaman di jalan”

“Tidak akan terlalu malam”

“Anak muda” berkata orang tua itu, “Mungkin kau belum mendengar apa yang pernah terjadi di daerah ini, kerusuhan dan kejahatan semakin menjadi-jadi. Sementara itu, Kangjeng Adipati Prangkusuma nampaknya acuh tak acuh saja, kademangan-kademangan sudah menyampaikan laporan, bahwa mereka sudah tidak mampu menanggulangi kejahatan yang semakin tersebar di daerah ini. Tetapi tidak ada tindakan apa pun yang telah diambil oleh Kangjeng Adipati. Menurut ceritanya, para prajurit telah mendapat pujian ketika mereka turun ke medan perang di sebelah Bengawan Rahina, tetapi sekarang, di kadipaten itu sendiri, prajurit itu tidak mengambil tindakan apa-apa”

“Tentu bukan begitu, Ki Sanak” berkata Sasangka, “Pada saatnya Kangjeng Adipati tentu akan memerintahkan prajurit-prajurit untuk mengatasinya”

“Tetapi kapan?, apa pula yang ditunggu?, lihat ngger, meskipun hanya berseberangan perbatasan, di Kadipaten Kateguhan tidak terjadi apa-apa. Tetapi hampir di sepanjang perbatasan, terutama yang menghadap ke daerah rawan, prajurit meronda hampir setiap saat, sehingga para perampok itu tidak berani menyeberang. Mereka tidak berani melakukan kejahatan di daerah Kateguhan.

“Mungkin Kangjeng Adipati sedang mengumpulkan keterangan-keterangan yang akan sangat berani bagi langkah-langkah yang akan diambilnya”

“Itulah yang kami sesalkan, lamban sekali”

Madyasta menarik nafas panjang, tetapi ia tidak menyahut sama sekali agar lidahnya tidak salah ucap.

“Nah, dengar nasehatku, aku adalah penghuni daerah ini sejak lahir, aku tahu benar apa yang sedang bergejolak di daerah ini dan sekitarnya”

“Tetapi bukankah Tegal Gumelar masih agak jauh dari sini?”

“Ya, tetapi kau akan melintasi daerah rawan itu”

Sasangka pun tersenyum sambil berkata, “Terima kasih atas peringatan ini, Ki Sanak. Tetapi jangan cemaskan kami, kami akan berhati-hati”

“Jadi kalian tetap akan pergi ke Tegal Gumelar?”

“Ya, Ki Sanak. Doakan kami agar kami tidak menemui hambatan yang berarti”

“Aku doakan kalian meskipun kalian tidak mau mendengarkan nasehatku”

“Bukannya kami tidak mau mendengarkan nasehat Ki Sanak, tetapi kami sudah berjanji kepada seseorang yang sangat baik kepada kami”

Orang tua itu memandang ke empat anak muda itu dengan kerut di dahi. Tetapi ia pun kemudian tidak berbicara lagi, diangkatnya mangkuknya, kemudian dihirupnya minuman yang ada di dalamnya.

Sementara itu, beberapa orang yang lain, yang agak lama berada di kedai itu, telah meninggalkan tempat itu, setelah mereka membayar harga makanan dan minuman mereka.

Madyasta dan ketiga orang senapati itu masih berada di kedai itu beberapa lama. Mereka masih mendengar orang yang rambutnya ubana itu berkeluh kesah. Demikian pula seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya. Mereka merasa telah ditinggalkan oleh pelindungnya, Kangjeng Adipati Paranganom.

Beberapa saat kemudian, setelah Madyasta dan ketiga orang senapati sudah merasa cukup beristirahat, demikian juga kuda-kuda mereka, maka mereka pun minta diri kepada orang tua yang rambutnya sudah mulai ubanan serta orang yang duduk di sebelahnya.

“Hati-hati ngger, sebenarnyalah aku merasa sedih bahwa angger ternyata akan meneruskan perjalanan angger”

“Terima kasih atas perhatian Ki Sanak, tetapi jangan cemas. Dalam beberapa hari aku akan kembali lewat jalan ini pula, sekali lagi, doakan kami, Ki Sanak”

Ketika Madyasta membayar makanan serta minuman mereka, pemilik kedai itu pun berkata, “Aku sependapat dengan orang tua itu, Ki Sanak”

“Tetapi kami tidak dapat berbuat lain, kami sudah berjanji untuk datang hari ini meskipun kami akan sampai Tegal Gumelar agak malam”

“Hati-hatilah anak-anak muda” pemilik kedai itu pun berpesan.

Sejenak kemudian, maka empat ekor kuda berlari di jalan-jalan bulak menuju ke Kademangan Panjer.

Namun Madyasta pun kemudian memperlambat kudanya, kepada Wismaya yang berkuda disebelahnya, Madyasta pun berkata, “Rakyat benar-benar sudah menjadi gelisah, ayahanda memang agak terlambat mengambil tindakan”

“Ayahanda agaknya tidak mau tergesa-gesa menanggapi peristiwa yang bagi Paranganom agak mengejutkan dan menimbulkan banyak pertanyaan itu”

“Tetapi seharusnya ayahanda tidak usah menunggu jawaban dari pertanyaan itu, ternyata rakyat sudah menjadi sangat gelisah. Karena itu, kita memang harus bertindak segera”

“Mungkin kita memang agak lamban, Raden, tetapi kita ingin penyelesaian yang tuntas, jika kita melakukannya sebagaimana dilakukan oleh Kadipaten Kateguhan sebagaimana dikatakan oleh orang tua itu, maka penyelesaiannya pun akan mengambang. Waktunya akan menjadi panjang. Tetapi seperti yang Raden kehendaki, cara yang kita tempuh ini agaknya memang lebih baik”

Madyasta mengangguk-angguk, namun rasa-rasanya ia ingin lebih cepat sampai di Kademangan Panjer.

Namun dalam pada itu, setiap keempat ekor kuda itu berlari tidak terlalu kencang, Madyasta dan para prajurit itu mendengar derap kaki kuda di belakang mereka.

Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa orang berkuda berusaha untuk menyusul mereka.

“Kita akan menunggu mereka” berkata Rembana, “Jika mereka orang-orang jahat, kita akan menyelesaikan mereka disini”

Tetapi Madyasta berkata, “Sebaiknya kita melarikan diri saja, aku yakin, kuda-kuda kita tentu lebih baik dari kuda mereka”

“Kenapa melarikan diri, Raden. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu banyak, mungkin hanya lima orang atau enam orang saja”

“Bukan itu soalnya, jika mereka itu bagian dari orang-orang yang sering menimbulkan kerusuhan di daerah ini, jangan mendapat kesan bahwa ada orang-orang yang dapat mengalahkan mereka, biarkan mereka tetap dalam keadaan seperti biasa. Kita harus menghadapi mereka jika mereka datang dalam jumlah yang utuh, sehingga kerja kita akan dapat selesai dengan tuntas”

“Tetapi, aku belum pernah melarikan diri dari pertempuran, apalagi hanya sekedar sekelompok perampok” berkata Rembana.

“Sekarang saatnya untuk mencoba” sahut Madyasta sambil tersenyum.

Rembana termangu-mangu sejenak, namun ketika Madyasta, Sasangka dan Wismaya melarikan kuda mereka semakin kencang, maka Rembana telah menghentakkan kudanya pula.

Keempat ekor kuda itu berlari semakin kencang, beberapa puluh langkah dibelakang mereka, enam orang penunggang kuda mencoba untuk mengejar mereka.

Beberapa lama kedua kelompok orang berkuda itu saling berkejaran di jalan-jalan bulak yang tidak terlalu lebar, bahkan jalan yang telah digores oleh jalur roda pedati yang agak dalam.

Namun para penunggang kuda itu cukup terampil mengendalikan kuda mereka.

Beberapa saat kemudian, jalan pun mulai mendaki dan berbelok-belok, mereka melintasi jalan yang tidak terlalu jauh dari hutan.

Ternyata perhitungan Madyasta benar, jarak mereka dengan orang-orang berkuda yang memburu mereka semakin lama menjadi semakin jauh, kuda-kuda para prajurit Pajang itu memang lebih baik dari kuda yang dipergunakan oleh orang-orang yang memburu mereka.

Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang memburu Madyasta dan ketiga senapati itu menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat berhasil memburu sekelompok orang yang akan mereka jadikan korban perampokan itu.

“Kuda-kuda itu berlari seperti anak panah” geram orang tertua diantara para perampok itu.

“Kuda-kuda mereka tergolong kuda-kuda yang baik, sehingga kuda-kuda kita tidak berhasil mengejarnya”

“Satu sasaran yang sangat baik” berkata seseorang yang lain.

Ternyata mereka adalah orang-orang yang mendengar pembicaraan ketiga orang senapati Paranganom dengan orang-orang yang ada di kedai tadi. Orang-orang itulah yang meninggalkan kedai terlebih dahulu untuk mempersiapkan perampokan.

Namun ternyata mereka tidak berhasil mengejar keempat orang yang mengaku pedagang wesi aji dan bebatuan itu.

“Kita akan menghadang mereka pulang kelak” geram orang tertua diantara mereka.

“Kapan mereka pulang? Jika mereka pulang, mereka sudah tidak membawa benda-benda berharga itu lagi”

“Tetapi mereka akan membawa uang”

“Ya, ya, mereka akan membawa uang”

“Kita akan mengamati jalan ini, bukankah mereka mengatakan bahwa mereka akan kembali lewat jalan ini beberapa hari lagi?”

“Ya, ya, beberapa hari lagi. Tetapi yang beberapa hari lagi itulah yang tidak pasti”

“Sejak tiga hari mendatang, kita akan berada di daerah ini”

“Jika Ki Lurah memanggil dan menghendaki kita pergi bersamanya?”

“Apaboleh buat, kita akan kehilangan mereka, kecuali kita dapat meyakinkan Ki Lurah, bahwa sebaiknya kita tetap berada disini”

“Mustahil, kita tahu watak dan sifat Ki Lurah Sura Branggah yang berhati batu itu”

Orang tertua diantara mereka itu mengangguk-angguk, katanya, “Sudahlah, marilah kita kembali, kita memang harus melepaskan mereka. Betapa pun kita berusaha, kita tidak akan mampu mengejar mereka, jika saja kita mempunyai kuda yang lebih baik”

Para penyamun itu pun kemudian dengan kecewa berbalik arah, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk memburu calon korban mereka.

Dalam pada itu Madyasta yang sudah meyakini bahwa orang-orang yang mengejar mereka berhenti, memperlambat kudanya, kepada para senapati itu ia pun berkata, “Nah, bukankah lebih baik demikian?”

“Tetapi rasa-rasanya hatiku masih belum mau menerima kenyataan, bahwa kita harus melarikan diri dari kejaran para penyamun itu”

“Kita harus memperhitungkan segala kemungkinan dalam keutuhan tugas kita, kakang” berkata Madyasta. “Memang, jika kita berpijak pada harga diri kita, maka kita tidak akan melarikan menghadapi mereka. Bahkan jika jumlah mereka lebih banyak sekalipun. Jika kita sekedar berpijak pada harga diri yang berlebihan, tetapi tugas kita tidak terselesaikan, maka itu akan berarti kita lebih mementingkan diri sendiri daripada tugas kita”

Rembana mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya, Raden”

“Nah, para penyamun itu agaknya orang-orang yang tadi juga berada di kedai. Agaknya mereka mendengar pembicaraan kita, sehingga mereka benar-benar menganggap kita pedagang wesi aji dan bebatuan yang bernilai tinggi. Dengan demikian, maka mereka tidak akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru untuk melanjutkan rencana-rencana mereka, merampok dan menyamun”

“Ya, Raden” Rembana masih mengangguk-angguk.

Demikianlah kuda-kuda itu masih berlari terus, sementara itu, matahari pun menjadi semakin rendah.

“Kita akan memasuki Kademangan Panjer setelah gelap” berkata Madyasta.

“Ya, Raden” jawab Madyasta, “Kita harus bersiap-siap untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya salah paham”

“Kita akan langsung pergi menemui Ki Demang Panjer.”

Wismaya mengangguk-angguk.

Langit sudah menjadi buram ketika mereka semakin mendekati Kademangan Panjer. kuda-kuda yang sudah nampak menjadi lelah itu, tidak lagi berlari terlalu kencang.

“Sudah tidak terlalu jauh lagi, Raden” berkata Sasangka.

“Kuda-kuda kita sudah letih” Madyasta

“Beberapa saat lagi kita akan sampai”

Madyasta tidak menjawab, sementara itu senja pun menjadi semakin gelap.

Ketika malam turun, mereka sudah berada di bulak panjang, di lingkungan Kademangan Panjer. Sasangka lah yang kemudian berkuda paling depan, dibelakangnya Madyasta, kemudian Wismaya lalu Rembana.

Dalam pada itu, selagi empat orang berkuda itu masih dalam perjalanan, maka di tempat tinggal Ki Demang di Panjer, beberapa orang bebahu sedang berkumpul. Dengan cemas mereka membicarakan perkembangan keadaan yang menurut pendapat mereka menjadi semakin gawat.

“Para Perampok itu semakin lama semakin bergeser ke selatan” berkata Ki Jagabaya.

“Apa maksudmu Ki Jagabaya?” berkata Ki Demang.

“Coba perhatikan Ki Demang, mereka telah merampok kademangan Rara Bandang. Mereka pun bergeser lagi lebih ke selatan, mereka pun merampok kademangan Sanakeling. Kademangan yang terkenal dihuni oleh orang-orang yang berani, karena sebagian dari mereka senang berburu di hutan, namun kademangan Sanakeling tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti. Dua orang diantara mereka yang mencoba memberikan perlawanan telah terbunuh. Setelah itu, Salam menjadi sasaran berikutnya, Karangtengah telah mereka rambah pula, terakhir, beberapa hari yang lalu, mereka memasuki sebuah padukuhan di kademangan tetangga kita. Mereka telah membakar rumah. Hampir saja penghuninya ikut terpanggang, untunglah bahwa jiwa mereka dapat diselamatkan meskipun mereka mengalami luka-luka bakar yang agak parah”

“Ya, agaknya memang demikian, sasaran berikutnya ada dua pilihan, kademangan Kayulegi atau kademangan kita, Kademangan Panjer.”

“Menilik kesejahteraan hidup rakyat Panjer yang lebih baik, maka para perampok itu akan memasuki kademangan kita. Ki Demang, mereka akan merampok di Kademangan Panjer”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, namun dalam pada itu, Ki Kamituwa pun bertanya, “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

“Itulah pertanyaannya” desis Ki Jagabaya.

“Apakah kita akan berdiam diri saja dan membiarkan para perampok itu mengambil apa saja yang mereka senangi dari kademangan kita ini? Ki Jagabaya. Menurut kabar yang dibawa oleh para pedagang di pasar, para perampok itu tidak saja merampok harta benda”

“Selain harta benda, lalu apa?”

“Di Karangtengah para perampok itu telah menyeret seorang perempuan yang telah mempunyai dua orang anak”

“Perempuan juga?”

“Ya, memang untuk yang pertama kali mereka lakukan, justru di Karangtengah, tetapi itu akan dapat menjadi kebiasaan mereka, ditempat lain mereka akan dapat merampok sambil mencari korban keliaran mereka, perempuan dan gadis-gadis”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ya, aku juga mendengarnya”

“Jika demikian, apakah kita tidak dapat berbuat apa-apa?”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Pilihan yang rumit, jika diam saja, maka mereka akan dengan leluasa berbuat apa saja sesuka hati mereka. Tetapi jika kita mencoba melawan, yang terjadi mungkin lebih buruk lagi dari yang pernah terjadi di Sanakeling. Di Sanakeling dua orang terbunuh, disini mungkin korbannya akan lebih banyak lagi”

“Tetapi adalah kewajiban kita untuk mempertahankan hak dan milik kita”

“Ki Kebayan, yang terjadi di Sanakeling adalah bencana ganda, setelah dua orang mati terbunuh, para perampok itu justru menjadi garang karena mereka merasa mendapat perlawanan. Beberapa rumah yang malam itu di bongkar oleh para perampok, beberapa orang terluka, tetapi mereka waktu itu masih belum sempat berpikir tentang perempuan”

“Kita memang tidak dapat berbuat apa-apa” desis Ki Kamituwa, “Kita hanya dapat menunggu perlindungan para prajurit Paranganom yang konon gagah perkasa itu”

“Kita pun hanya dapat melihat, siapakah yang datang lebih dahulu, para prajurit atau para perampok”

Namun selagi mereka berbincang, dua orang anak muda dengan tergesa-gesa naik ke pendapa langsung mengetuk pintu pringgitan.

Ki Demang dan para bebahu yang berbicara di ruang dalam terkejut, dengan nada rendah Ki Demang bertanya, “Siapa?”

“Kami Ki Demang, Ija dan Tanaya, kami termasuk diantara mereka yang bertugas mengawasi lingkungan kademangan ini”

Ki Demang pun kemudian bangkit berdiri dan membuka pintu pringgitan.

Ija dan Tanaya berdiri termangu-mangu di depan pintu.

“Ada apa?” bertanya Ki Demang, sementara itu Ki Jagabaya mendekatinya pula sambil bertanya, “Apakah ada tanda-tanda buruk yang kalian lihat?”

“Ada empat orang berkuda memasuki kademangan ini, Ki Demang”

“Empat orang berkuda?, siapakah mereka? Apakah kau tidak bertanya apakah maksud mereka?”

“Mereka mengatakan, bahwa mereka ingin bertemu dengan Ki Demang”

“Nampaknya mereka seperti orang baik-baik Ki Demang, sikap mereka pun baik pula”

“Antar mereka kemari”

“Baik, Ki Demang”

Kedua orang anak muda itu pun dengan tergesa-gesa turun dari pendapa untuk memanggil keempat orang yang akan bertemu dengan Ki Demang, keempat orang itu masih tertahan di regol padukuhan induk Kademangan Panjer.

Beberapa saat kemudian, empat orang itu pun sudah menuntun kudanya memasuki halaman rumah Ki Demang, sementara itu, Ki Demang dan para bebahu telah turun pula ke halaman untuk menyongsong mereka.

Ki Kamituwa telah memutar kerisnya ke lambung sebelah kiri.

“Kau mau apa?, Ki Kamituwa” desis Ki Kebayan

“Kenapa apa?”

“Ki Kamituwa memutar keris”

“Ah, tidak apa-apa, rasa-rasanya punggung ini agak kaku”

“Aku kira Ki Kamituwa akan mengamuk dengan keris pusakanya itu”

“Jika aku mengamuk, kaulah sasaran yang pertama”

Ki Kebayan itu pun tertawa tertahan, katanya, “Jangan cepat marah”

Mereka pun terdiam, kedua-duanya melangkah semakin dekat, sementara salah seorang diantara keempat orang yang datang sambil menuntun kudanya itu berkata setelah mengangguk hormat, “Kami ingin menghadap Ki Demang di Panjer”

“Aku Demang di Panjer, Ki Sanak. Apakah maksud Ki Sanak datang di kademangan ini?”

“Jika Ki Demang berkenan, kami ingin menghadap untuk menyampaikan beberapa pesan kepada Ki Demang”

“Pesan dari siapa?” bertanya Ki Jagabaya dengan serta merta.

Seorang diantara keempat orang itu pun menjawab, “Nanti, kami akan menjelaskan”

Ki Demang termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Baiklah, marilah, aku persilahkan kalian naik”

Keempat orang itu pun kemudian dipersilahkan naik ke pendapa, sementara itu Ki Jagabaya sempat mendekati Ija dan Tanaya yang mengantar keempat orang berkuda itu, “Jangan lengah, meskipun ujud dan sikapnya tidak mencurigakan, kita tidak tahu siapakah mereka sebenarnya. Dimana kawan-kawanmu?”

“Dua orang ada di gardu sebelah, yang lain di pintu regol halaman induk”

“Baik, kalian berdua jangan pergi dahulu”

“Baik Ki Jagabaya”

Dalam pada itu, para tamu, Ki Demang dan para bebahu sudah duduk di pringgitan. Agaknya Ki Demang ingin segera mengetahui siapakah mereka berempat yang malam-malam datang ke Kademangan Panjer.

“Maaf, Ki Sanak, tetapi suasana kademangan ini sekarang memang agak keruh, sehingga kami harus berhati-hati”

“Kami mengerti Ki Demang”

“Siapakah Ki Sanak berempat ini, dan apa pula maksud kedatangan kalian kemari?”

“Ki Demang, kami adalah prajurit dari Paranganom”

“Prajurit dari Paranganom?”

“Ya, Ki Demang”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ki Sanak, keadaan sudah demikian mencemaskan, Paranganom masih juga belum tanggap, Paranganom sempat mengirimkan prajurit yang agaknya untuk melihat apa yang telah terjadi disini. Kemudian kembali menghadap Kangjeng Adipati untuk memberikan laporan. Laporan itu masih akan dibicarakan dalam pertemuan para pemimpin di Paranganom. Setelah itu, Kangjeng Adipati memerintahkan seorang senapati untuk membawa prajuritnya ke Panjer, senapati itu masih harus mengadakan persiapan selama tiga hari. Nah, ketika para prajurit itu sampai kemari, maka Panjer telah menjadi debu”

Ketika Rembana beringsut setapak, Wismaya menggamitnya, sementara itu Madyasta lah yang menjawab dengan sareh, “Kami mengerti, Ki Demang. tetapi kami datang bukannya untuk sekedar melihat keadaan. Kami minta maaf, bahwa penanganan kami memang agak lamban, tetapi kami bermaksud untuk menyelesaikan dengan tuntas”

“Apa yang tuntas?, di Sanakeling dua orang sudah terbunuh, di Karangtengah, mereka mulai mengganggu perempuan”

“Kami minta maaf atas keterlambatan kami, Ki Demang, tetapi kami datang tidak untuk sekedar melihat dan mengamati keadaan, kami datang dengan membawa perintah Kangjeng Adipati untuk mengatasinya”

“Jadi Ki Sanak datang untuk menghadapi para perampok itu?”

“Ki Demang, menurut laporan yang kami terima, serta menurut perhitungan kami, ada kemungkinan para perampok itu akan memasuki Kademangan Panjer, karena itu kami datang untuk memberi peringatan kepada kademangan ini, sekaligus untuk membantu mengatasinya”

“Ki Sanak, barangkali Kangjeng Adipati mendapat laporan yang salah, atau barangkali telah terjadi salah paham, sehingga Kangjeng Adipati mengirimkan empat orang prajurit untuk mengatasi para perampok itu”

“Kami tidak hanya berempat, Ki Demang. mungkin esok pagi kawan-kawan kami akan memasuki kademangan ini”

“Segelar sepapan?”

“Tidak, Ki Demang. kawan kami itu berjumlah enam orang sehingga kami seluruhnya sepuluh orang”

“Hanya sepuluh orang?”

“Ya, Ki Demang”

“Berapakah jumlah prajurit Paranganom?, aku dengar prajurit Paranganom telah terjun dalam kancah pertempuran untuk melawan pasukan yang datang dari seberang Bengawan Rahina. Tetapi kenapa Paranganom hanya mengirimkan sepuluh orang prajurit untuk mengatasi kekacauan yang terjadi di daerah ini”

“Dengan sepuluh orang kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya Ki Demang”

“Ki Sanak, dengar baik-baik, para perampok yang sering mengganggu daerah ini tidak hanya terdiri dari dua atau tiga orang, tetapi mereka lebih dari duapuluh lima orang”

“Kami tahu, Ki Demang. tidak ada salah paham, Kangjeng Adipati tahu, bahwa jumlah para perampok itu lebih dari duapuluh lima orang. kadang-kadang mereka datang bersama-sama memasuki sebuah padukuhan. mereka pun diperhitungkan akan memasuki padukuhan Panjer dengan kekuatan penuh”

“Jika demikian, kenapa Ki Sanak datang hanya dengan sepuluh orang?”

“Bukankah di Kademangan ini terdapat tidak hanya dua puluh lima orang, tetapi berpuluh-puluh anak muda”

“O, jadi kalian datang hanya untuk melihat bagaimana anak-anak muda kami dibantai oleh para perampok itu?, jika kami mengerahkan anak-anak muda kami, maka korban yang akan jatuh tentu lebih dari dua puluh lima orang, jika seorang perampok membunuh dua orang anak muda atau lebih, apa jadinya dengan Kadipaten Panjer”

Madyasta tersenyum, katanya kemudian, “Ki Demang, apakah kami boleh menjelaskan rencana kami?”

“Rencana apa?”

Agaknya Rembana tidak dapat menahan diri lagi, tiba-tiba saja ia pun berkata, “Ki Demang, kau dengar dahulu apa yang akan dikatakan Raden Madyasta, baru kau berceloteh tentang nalarmu yang pendek itu”

Wajah Ki Demang menjadi merah, sementara itu dengan cepat Madyasta menyambung, “Maaf Ki Demang, aku minta Ki Demang mendengarkan dahulu dan kemudian mempertimbang-kan rencanaku dengan seksama agar Ki Demang dapat melihat dengan jelas, apa yang mungkin terjadi di kademangan ini”

“Tetapi, siapakah yang dimaksud dengan Raden Madyasta?”

“Aku Ki Demang”

“Tunggu, apakah aku berbicara dengan Raden Madyasta?”

“Ya”

“Nanti dulu, bukankah Raden Madyasta tidak berada di Kadipaten Paranganom, sudah beberapa tahun lalu Raden Madyasta berada di sebuah padepokan”

“Darimana Ki Demang tahu?” bertanya Madyasta

“Aku mendengar dari seorang saudara sepupuku yang mengabdi di Kadipaten Paranganom”

“Ki Demang benar, sudah empat tahun aku meninggalkan Kadipaten dan tinggal di Padepokan Panambangan”

“Jadi Raden adalah Raden Madyasta itu?, aku pernah melihat Raden beberapa tahun yang lalu, aku sungguh-sungguh tidak dapat mengenali Raden lagi, Raden sekarang rasa-rasanya bukan Raden Madyasta yang pernah aku lihat pada suatu pertemuan di Kadipaten sekitar empat tahun yang lalu”

“Aku sekarang sudah kembali, Ki Demang”

“Raden, aku mohon ampun atas segala keterlanjuranku”

“Tidak apa-apa, Ki Demang. Apa yang Ki Demang katakan itu benar. Ayahanda memang agak terlambat mengambil sikap. Tetapi maksud ayahanda agar persoalan ini dapat diselesaikan dengan tuntas”

“Ya, Raden”

“Mungkin, Ki Demang kurang memahami rencana ayahanda itu”

Ki Demang tidak menjawab, ia hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

 

Raden Madyasta kemudian telah menjelaskan rencana di hadapan Ki Demang dan Para Bebahu.

“Kebetulan, aku dapat bertemu dengan para bebahu malam ini juga”

Para Bebahu itu pun mendengarkan keterangan Raden Madyasta dengan segenap perhatian, Ki Demang sekali-sekali mengangguk-angguk, namun kemudian mengerutkan keningnya, demikian pula Para Bebahu yang lain, ada yang segera dapat mereka pahami, tetapi ada pula yang masih memerlukan banyak penjelasan.

“Kami sengaja datang dalam tugas yang harus Ki Demang rahasiakan” berkata Madyasta kemudian, “Setidak-tidaknya jangan sempat membuat para perampok itu merubah rencananya”

Ki Jagabaya yang masih belum paham benar langkah-langkah yang akan diambil oleh Raden Madyasta itu pun bertanya, “bagaimanapun juga, bukankah Raden Madyasta berniat bertumpu pada kekuatan anak-anak muda kademangan ini?, itulah yang kami khawatirkan Raden, korban akan berjatuhan”

“Ki Jagabaya, bukannya kami merasa diri kami memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi sepuluh orang prajurit akan sangat berarti bagi anak-anak muda kademangan ini, sementara itu, kita tidak akan menebarkan anak-anak muda itu begitu saja, mereka harus mendapatkan petunjuk-petunjuk yang dapat setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas mereka”

“Tetapi menurut pendapatku, Paranganom lebih baik mengirimkan prajurit lebih banyak lagi”

“Itu tidak akan menyelesaikan persoalannya dengan tuntas, bahkan mungkin kita tidak akan pernah dapat bertemu lagi apalagi bertempur dengan para perampok itu, mereka akan menyingkir, merubah rencana mereka dan membuat mereka semakin berhati-hati”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Jagabaya” berkata Rembana, “Kita diam-diam harus menyelenggarakan latihan, kita pergunakan waktu yang pendek itu untuk sekedar menunjukkan kepada anak-anak muda, apa yang harus mereka lakukan dengan senjata-senjata mereka untuk melindungi diri mereka”

“Waktu kita hanya terhitung hari” sahut Ki Jagabaya.

“Ya, mungkin sepekan, mungkin dua pekan, kita manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya, Ki Jagabaya dapat membuat gelar, mengadakan latihan terbuka di halaman banjar atau di padang perdu di lereng perbukitan, sementara itu, yang lain mengadakan latihan-latihan kepada lima orang di tempat tertutup, bukankah sudah ada lima puluh orang yang serba sedikit mendapatkan bimbingan apa yang sebaiknya mereka lakukan jika mereka benar-benar harus menghadapi para perampok”

Ki Demang mengangguk-angguk, katanya, “Aku dapat mengerti rencana Raden”

“Jika para perampok itu benar-benar datang ke Panjer, maka yang akan ikut bersama kami menangani para perampok itu adalah anak-anak muda yang ikut berlatih bersama para prajurit, sementara itu, anak-anak muda yang berlatih bersama Ki Jagabaya dan barangkali bersama Para Bebahu yang lain atau Ki Demang sendiri, akan memagari arena agar tidak seorang pun diantara para perampok itu yang sempat melarikan diri”

Ki Jagabaya itu pun mengangguk-angguk.

“Jika telah jatuh korban di kademangan lain, maka agaknya anak-anak mudanya tidak dipersiapkan sama sekali untuk menghadapi kemungkinan yang buruk itu, mereka tidak siap turun ke arena pertempuran melawan dua puluh lima orang perampok. Meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak, tetapi tanpa petunjuk sama sekali, mereka memang akan mengalami kesulitan, bahkan dua orang telah terbunuh dan beberapa orang yang lain terluka”

“Ya, Raden” Ki Jagabaya masih mengangguk-angguk.

“Nah, sebaiknya Ki Jagabaya memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan menghadapi para perampok, demikian pula para prajurit akan melatih anak-anak muda yang akan ditunjuk oleh Ki Jagabaya”

“Baik Raden” berkata Ki Demang, “Jika demikian, maka kami pun dapat berharap akan dapat mengatasi jika para perampok itu, jika benar-benar mereka akan datang kemari”

“Nah, jika Ki Demang sependapat, maka aku minta Ki Demang, Ki Jagabaya dan Para Bebahu segera mengatur, dimana latihan-latihan khusus itu akan diadakan, masing-masing untuk lima orang anak muda terpilih, memiliki keberanian, kesediaan mengabdi dan berkorban jika perlu, serta unsur kewadagan yang memadai”

“Baik Raden” jawab Ki Demang, “malam ini juga Para Bebahu akan melakukannya”

“Tetapi semuanya harus dilakukan dengan hati-hati, kita akan berusaha merahasiakannya, jika para perampok mengetahuinya, mereka akan dapat merubah sasaran mereka”

“Tetapi bagaimana dengan latihan-latihan di tempat terbuka itu?”

“Latihan-latihan yang dipimpin sendiri oleh Ki Demang, Ki Jagabaya dan Para Bebahu itu justru akan memancing mereka untuk datang, mereka akan merasa ditantang oleh anak-anak muda kademangan ini”

“Baik, baik, aku mengerti”

Pembicaraan mereka pun kemudian terputus, seorang pun gadis keluar lewat pintu pringgitan sambil membawa nampan untuk menghidangkan minuman kepada keempat orang tamu yang datang di rumah Ki Demang itu.

Ketika dengan tidak sengaja Raden Madyasta memandang wajah gadis itu, maka jantungnya tergetar, gadis yang memanjat ke usia dewasa itu, adalah gadis yang sederhana, tetapi dalam kesederhanaannya, wajahnya yang cerah bagaikan memancarkan kepribadiannya yang terang.

Namun Raden Madyasta segera menyadari, bahwa ia datang sebagai seorang tamu yang baru pertama kalinya mengunjungi keluarga Ki Demang Panjer. Madyasta pun belum tahu siapakah gadis itu, atau bahkan mungkin ia bukan seorang pun gadis, mungkin ia justru menantu Ki Demang Panjer”

Karena itu, maka Raden Madyasta pun berusaha untuk tidak memperhatikannya lagi, namun diluar sadarnya, sekali-sekali anak muda itu memandang wajah gadis yang menghidangkan mangkuk-mangkuk minuman hangat itu.

Ketika kemudian gadis itu meninggalkan pringgitan dan masuk ke ruang dalam, maka Ki Demang pun mempersilahkan tamu-tamunya, “Marilah angger, para senapati, minumlah, mumpung masih hangat”

“Terima kasih Ki Demang” sahut Madyasta yang berusaha mengusai dirinya.

Namun sejenak kemudian, gadis itu telah keluar lagi dari ruang dalam sambil membawa minuman pula bagi Para Bebahu.

“Aku tidak tahu, yang manakah minuman paman masing-masing, aku bawakan yang baru bagi paman”

Kata-kata gadis itu pun terdengar bagaikan sebuah lagu yang lembut.

Sejenak kemudian, ketika gadis itu sudah hilang dibalik pintu pringgitan, sekali lagi Ki Demang mempersilahkan tamu-tamunya untuk minum.

Sambil minum, maka Raden Madyasta dan Ki Demang telah mematangkan kesepakatan mereka, apa yang sebaiknya mereka lakukan di kademangan itu.

“Kita harus manfaatkan waktu sebaik-baiknya, Ki Demang” berkata Raden Madyasta.

“Baik, Raden, mulai malam ini juga, Para Bebahu akan mulai dengan kerja mereka sebagaimana kita sepakati bersama”

Demikianlah sejenak kemudian, maka Ki Demang mempersilahkan tamu-tamu mereka dari Paranganom itu makan malam.

“Aku sudah makan sebelum berangkat kemari” desis Ki Kebayan.

Tetapi Ki Demang pun menyahut, “Aku tadi juga sudah makan, tetapi biarlah kita menemani tamu-tamu kita untuk makan malam.”

Setelah makan, maka para tamu itu pun dipersilahkan untuk beristirahat di gandok sebelah kanan. Kepada para tamu Ki Demang itu berkata, “Silahkan Raden dan para senapati, tetapi inilah rumah di padesaan, sederhana dan barangkali kotor, kami sediakan dua buah bilik di gandok sebelah kanan”

“Terima kasih Ki Demang, tetapi ini sudah terlalu baik bagi kami. Kami para prajurit sudah terbiasa tidur di sembarang tempat, bahkan ditempat-tempat terbuka, di pategalan atau di hutan sekalipun”

“Itu bila para prajurit berada dalam keadaan terpaksa”

Raden Madyasta tersenyum, katanya, “Terima kasih atas sambutan yang baik dari Ki Demang dan Para Bebahu. Besok masih ada enam orang prajurit yang akan datang, tetapi mereka tidak datang bersama-sama, mereka akan langsung menuju kemari dan minta untuk dapat dipertemukan dengan Ki Demang”

“Baik, Raden.Besok atau kapan pun mereka datang, aku akan terima dengan senang hati, bahkan dengan harapan-harapan sebagaimana kedatangan Raden dan ketiga senapati itu”

“Kami akan berusaha sebaik-baiknya, Ki Demang”

Demikianlah Raden Madyasta dan ketiga senapati itu pun telah dibawa ke gandok sebelah selatan, dua bilik telah disediakan bagi mereka.

Namun ternyata bahwa ketiga senapati itu lebih senang berada di dalam satu bilik, sedangkan bilik yang lain dipergunakan oleh Madyasta sendiri”

Sebenarnya salah seorang dari kakang bertiga beristirahat di bilik ini bersama aku” ajak Raden Madyasta.

Tetapi ketiga senapati itu agaknya merasa segan, sehingga mereka memilih tidur diatas sebuah amben bambu yang mereka rasa cukup besar bagi mereka bertiga.

Namun mereka berempat tidak segera berbaring, mereka bergantian pringgitan ke pakiwan”

“Biasanya aku mandi dahulu baru makan, sekarang aku terpaksa makan dahulu”

“Kita tunggu sebentar sampai nasi ini turun ke dalam perut, baru kita mandi, mudah-mudahan para perampok itu tidak datang malam ini”

Setelah mandi maka tubuh mereka pun merasa segar, namun dengan demikian, ketika kentongan di gardu di sebelah rumah Ki Demang itu mengisyaratkan bahwa malam telah sampai ke pertengahannya, mereka pun membaringkan tubuh mereka di pembaringan.

Raden Madyasta yang tidur sendiri di dalam bilik yang terpisah, justru segera dapat tertidur.

“Anak-anak muda yang meronda itu tentu akan berjaga-jaga sampai dini hari” berkata Raden Madyasta di dalam hatinya” dengan demikian, maka ia pun menjadi tenang, sehingga beberapa saat kemudian, Raden Madyasta itu pun telah tertidur nyenyak.

Ketiga senapati yang tidur di dalam satu bilik, justru tidak dapat segera tertidur, mereka masih saja berbicara diantara mereka, tentang kemungkinan yang dapat terjadi di Kademangan Panjer.

“Jika yang kemudian didatangi oleh para perampok itu bukan Kademangan Panjer?” desis Rembana.

“Jika kita mendengar isyarat kentongan, kemana pun kita akan pergi, tetapi menurut perhitungan kita dan bahkan juga perhitungan Para Bebahu, para perampok itu akan datang ke Panjer” sahut Wismaya.

Rembana terdiam.

Baru lewat tengah malam mereka tertidur nyenyak. Pagi-pagi sekali ketiganya telah bangun, bergantian mereka menimba air mengisi jambangan pakiwan, terdengar senggot timba berderit tidak henti-hentinya.

Ketika pembantu di rumah Ki Demang itu mempersilahkan mereka untuk mandi saja, sementara pembantu itu yang akan mengisi jambangan, Sasangka pun berkata “Sudahlah, kami sudah terbiasa melakukannya”

Ketika matahari terbit, maka ketiga orang senapati itu serta Raden Madyasta telah selesai berbenah diri, mereka pun kemudian duduk di serambi gandok.

Jantung Madyasta terasa berdegup kencang ketika ia melihat gadis yang semalam menghidangkan minuman, datang kepadanya serta ketiga orang senapati itu sambil membawa mangkuk minuman hangat.

Sambil meletakkan mangkuk-mangkuk minuman itu di lincak bambu di serambi, gadis itu pun berkata, “Silahkan Raden, marilah Ki Sanak”

Madyasta yang menjadi agak gagap itu pun menjawab, “Terima kasih”

Ketika gadis itu pergi, tanpa sadarnya Raden Madyasta memperhatikan gadis dari arah belakang, gadis yang berjalan turun ke halaman dan menuju pintu seketheng.

Raden Madyasta menarik nafas dalam-dalam, gadis itu benar-benar menarik perhatiannya, justru karena kesederhanaannya serta kepribadiannya.

Tetapi sekali lagi, Madyasta harus mengekang diri, ia masih belum tahu pasti, siapakah gadis itu, jika ia menantu Ki Demang, maka perhatiannya harus berhenti sampai sekian.

Demikian gadis itu hilang di balik pintu seketheng, maka Rembana lah yang mempersilahkan, “Marilah Raden, mumpung masih panas, hari masih pagi, tetapi aku sudah haus”

Keempat orang tamu Ki Demang itu pun kemudian telah menghirup minuman hangat wedang sere gula kelapa.

Namun dalam pada itu, dua orang melangkah memasuki halaman rumah Ki Demang, sebelum orang itu bertanya sesuatu, Wismaya mengangkat wajahnya sambil berdesis, “Dua orang prajuritku sudah datang”

Wismaya pun kemudian bangkit berdiri menyongsong kedua orang prajuritnya. Dibawanya kedua orang itu duduk di serambi. Wismaya pun memperkenalkan kedua prajuritnya itu kepada Raden Madyasta.

Keduanya mengangguk hormat.

“Raden Madyasta adalah putera Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom”

Kedua prajurit itu pun mengangguk semakin dalam.

“Marilah, duduklah”

Kedua prajurit itu pun kemudian duduk di serambi itu pula.

“Aku akan melaporkan kepada Ki Demang” berkata Wismaya.

Sementara itu, di ruang dalam Nyi Demang serta gadis yang telah menghidangkan minuman bagi Raden Madyasta itu pun telah sibuk menyiapkan makan pagi, mereka tidak menyiapkan sekedar untuk empat orang tamunya, tetapi karena pagi itu diduga akan datang lagi enam orang tamu, maka makan pagi yang disediakan oleh Nyi Demang adalah untuk sepuluh orang tamu, serta Ki Demang sendiri.

Sebenarnyalah sebelum wayah pasar temawon, enam orang prajurit dari Paranganom telah ada di rumah Ki Demang, pagi itu Ki Demang juga sudah memerintahkan Ki Jagabaya dan Para Bebahu yang lain untuk datang sedikit lewat pasar temawon.

Ki Demang menerima keenam prajurit yang datang berurutan itu di ruang dalam, sekaligus mempersilahkan mereka makan pagi.

“Tetapi kami baru saja datang, Ki Demang. Kami belum mandi”

“Nanti saja mandi, sekarang makan saja dahulu” sahut Ki Demang sambil tersenyum.

Keenam prajurit itu tidak dapat menolak, mereka pun segera makan pagi di ruang dalam, sementara itu, mereka pun berbincang untuk menegaskan kesepakatan mereka semalam, terutama kepada para prajurit yang baru saja datang itu.

“Dalam waktu yang singkat dan pendek, kalian harus menyiapkan masing-masing lima orang anak muda, setidak-tidaknya mereka tahu, bagaimana mereka harus melindungi dirinya sendiri” berkata Raden Madyasta kepada para prajurit itu.

“Ya, Raden” salah seorang pun dari mereka menjawab, “Kami akan berusaha sejauh kemampuan kami”

“Aku percaya kepada kalian, itu adalah satu-satunya jalan untuk menjebak para perampok itu”

“Kami mengerti Raden”

Demikianlah, maka ketika Ki Jagabaya dan Para Bebahu datang, segala sesuatunya sudah dapat ditentukan, Ki Jagabaya telah menentukan, dimana para prajurit itu harus melatih masing-masing lima orang anak muda, sedangkan anak-anak muda itu pun telah ditentukan pula, siapa-siapa mereka dan dimana mereka harus berlatih.

“Jika para prajurit telah siap dan tidak lagi merasa letih, anak-anak muda itu sudah dapat memulainya, nanti sedikit lewat senja, anak-anak muda itu sudah akan berada di tempat yang telah ditentukan bagi mereka”

“Baik, kita memang tidak boleh menyia-nyiakan waktu di setiap kejap”

Setelah para prajurit itu makan pagi, beristirahat sejenak, serta kemudian mandi dan membenahi diri, maka mereka pun segera dibawa ke tempat yang telah ditentukan bagi masing-masing prajurit, termasuk Raden Madyasta, namun Raden Madyasta telah ditentukan untuk memberikan latihan kepada lima orang anak muda di rumah Ki Demang itu sendiri.

Di halaman belakang rumah Ki Demang terdapat sebuah sanggar terbuka yang sederhana, sekedar tempat untuk mempertahankan kemampuan serta ketahanan tubuh Ki Demang, tidak ada alat-alat yang rumit, yang dapat dipergunakan untuk dengan sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan olah kanuragan.

Namun tempat itu sudah memenuhi kebutuhan bagi anak-anak muda yang akan berlatih bersama Raden Madyasta, yang jumlahnya tidak hanya lima orang, tetapi ternyata yang akan berlatih di kademangan itu terdapat tujuh orang anak muda.

“Biar saja” berkata Raden Madyasta ketika Ki Jagabaya bertanya, apakah yang dua harus dikurangi.

Sementara itu, para prajurit yang lain pun ternyata juga tidak hanya berlatih bersama lima orang, ada yang enam dan ada pula yang tujuh.

Tetapi seperti Raden Madyasta, mereka sama sekali tidak berkeberatan asal tidak lebih dari tujuh orang saja.

Para prajurit Paranganom itu tidak membuang-buang waktu, hari itu juga, maka latihan-latihan itu pun sudah dimulai.

Demikian malam turun, maka sepuluh orang prajurit itu pun sudah berpencar di rumah Para Bebahu, mereka mulai memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda Panjer untuk menghadapi segala kemungkinan.

“Jika kami, para prajurit datang dengan kekuatan penuh untuk menghadapi para perampok tanpa meningkatkan kemampuan anak-anak muda kademangan ini sendiri, maka jika pada suatu saat kami meninggalkan padukuhan ini akan menjadi sasaran dendam mereka” berkata salah seorang pun prajurit kepada enam orang anak muda yang berlatih kepadanya, “tetapi jika kalian sendiri mempunyai bekal yang memadai, maka kalian tidak akan cemas sedikit pun pada suatu saat kami meninggalkan kademangan ini”

Anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk, mereka menyadari sepenuhnya, apa yang sedang dihadapi oleh kademangannya serta kewajiban yang akan dipikulnya.

Kesadaran itu telah mendorong anak-anak muda kademangan Panjer berlatih dengan sungguh-sungguh, mereka bekerja keras menempa diri dibawah bimbingan para prajurit pilihan, mereka mempergunakan waktu yang singkat itu dengan sebaik-baiknya.

Karena itu, anak-anak muda yang berlatih secara khusus itu tidak menghitung waktu lagi, mereka tidak lagi melakukan pekerjaan mereka sehari-hari atas ijin orang tua mereka, karena orang mereka juga mengerti, untuk apa anaknya berlatih dengan tekun setiap hari.

Selain mereka, maka Ki Demang, Ki Jagabaya dan Para Bebahu telah memanggil anak-anak muda kademangan itu untuk melakukan latihan terbuka, mereka berlatih di halaman banjar kademangan. Di padukuhan-padukuhan mereka berlatih di halaman banjar padukuhan atau di halaman rumah Ki Bekel.

Para bekel di padukuhan-padukuhan tidak tinggal diam, mereka telah memberikan latihan-latihan sejauh dapat mereka lakukan, karena pada umumnya Para Bebahu adalah orang-orang yang mempunyai kelebihan.

Namun selain Ki Bekel, tidak ada yang tahu bahwa di padukuhan induk telah dilakukan latihan-latihan khusus bagi beberapa orang anak muda terpilih, anak-anak muda itu sendiri juga tidak bercerita kepada kawan-kawannya. Bahwa mereka telah melakukan latihan-latihan khusus yang berat dibawah bimbingan prajurit pilihan.

Tetapi dalam pada itu, disamping mereka yang dengan sukarela berlatih di tempat-tempat terbuka, ada pula mereka yang dengan berterus-terang menolak untuk ikut serta.

“Aku tidak mau menyurukkan kepalaku ke dalam api” berkata seorang anak muda yang dalam kehidupannya sehari-hari dikenal sebagai seorang pun anak muda yang penakut.

“Siapakah yang menyuruhmu menyurukkan kepalamu ke dalam api?”

“Jika kita harus melawan para perampok itu, apakah itu tidak berarti bahwa kita bersama-sama membunuh diri?”

“Karena itu kita mengikuti latihan yang diselenggarakan di banjar, Ki Bekel mengajari kita, bagaimana kita memegang tombak, atau pedang atau jenis-jenis senjata yang lain”

“Perampok itu akan datang besok atau lusa atau sepekan lagi, apa yang kita dapatkan dengan latihan hanya sepekan itu”

“Banyak” jawab kawannya.

“Apa saja?”

“Kita tahu bahwa kita jangan melawan seorang pun melawan seorang pun, kita tahu, bahwa kita harus melawan mereka dalam kelompok-kelompok, empat atau lima orang bersama-sama melawan seorang pun perampok, jika kita bersama-sama mengacungkan senjata dari arah yang berbeda, maka perampok itu tentu akan kebingungan, tetapi kita jangan ragu-ragu, jika ada diantara kita yang ragu-ragu, maka akibatnya akan menjadi sangat buruk bagi kita”

“Apa pun yang kau katakan, tetapi aku tidak mau melakukan kerja yang sia-sia”

“Ini bukan kerja yang sia-sia, mempertahankan hak adalah kewajiban kita, semua di kademangan ini, tetapi yang terutama adalah kita, anak-anak mudanya.

“Kau dengar, bahwa di kademangan seberang sungai yang terkenal dengan beberapa orang pemburu yang berani, tidak mampu membendung arus perampok itu, malah ada diantara mereka yang terbunuh, sedangkan perampok itu tetap saja merampok. Nah. Bukankah itu sia-sia”

“Tidak, orang yang terbunuh itu telah mengorbankan nyawanya seharusnya yang masih hidup itu mewarisi jiwa pengorbanannya, jika kita, maksudku aku, kawan-kawan dan kau, menyerah saja. Maka kedua orang yang mati itu memang sia-sia. Tetapi jika kematiannya itu mendorong kita semuanya untuk melakukan perlawanan seperti yang telah mereka lakukan, maka kematian keduanya bukan kematian yang sia-sia, kitalah yang harus memberikan arti bagi kematian mereka”

“Kau berbicara dengan gelora perasaanmu yang telah dibakar oleh Ki Bekel. Kau tahu, kenapa Ki Bekel menganjurkan kita untuk berlatih dan jika perlu berkorban untuk melawan para perampok yang ganas itu?”

“Ya, Ki Bekel menghendaki kita semuanya bangkit melawan mereka”

“Omong kosong, Ki Bekel menganjurkan agar kalian semuanya bersedia berlatih untuk melawan para perampok itu, karena Ki Bekel adalah seorang yang kaya, dengan kesediaan kalian berkorban, maka Ki Bekel akan merasa aman. Harta bendanya terlindungi tanpa memperdulikan bahwa ada diantara kita akan mati terbunuh”

“Betapa kerdilnya jiwamu, kau sama sekali tidak mengikat diri ke dalam satu kesatuan diantara penghuni padukuhan ini”

“Terserahlah, apa saja penilaianmu, tetapi aku tidak mau mati sia-sia”

“Sudahlah, jika kau memang ketakutan mendengar sebutan perampok itu, jangan ikut campur, kami akan melaksanakan tugas kami dengan baik, kami akan membantu mempertahankan kekayaan yang terdapat di kampung halaman kami”

Anak muda yang penakut itu terdiam, tetapi ia tidak berbicara apa-apa lagi”

Dalam pada itu, ternyata hanya seorang anak muda yang berusaha menghindar karena ketakutan, tetapi para Bekel tidak memaksa mereka, para bekel justru selalu bertanya kepada anak-anak muda yang berlatih di rumahnya, siapakah diantara mereka yang memang tidak berani menghadapi langsung para perampok bersenjata itu.

“Sebaiknya kalian minggir, tidak apa-apa, kami tidak akan mendendam kalian. Jika kalian memang merasa ketakutan dan terpaksa harus turun ke gelanggang, maka kalian hanya akan menjadi beban kawan-kawanmu yang memang benar-benar berani menghadapi lawan yang meskipun tidak seimbang, tetapi aku selalu memperingatkan, jangan hadapi mereka seorang pun lawan seorang pun, aku dan barangkali Ki Jagabaya kademangan dan bahkan Ki Demang sendiri, tidak akan menghadapi para perampok itu dalam perang tanding”

Beberapa orang memang minggir, tetapi sebaliknya, orang-orang yang sudah tidak tergolong anak-anak muda lagi, bahkan mereka yang sudah mempunyai satu dua orang anak, telah menyatakan kesediaan mereka untuk ikut berlatih bersama Ki Bekel dan Para Bebahu kademangan Panjer. bahkan Ki Jagabaya sering datang pula untuk melihat latihan-latihan itu.

Sementara itu, anak-anak muda yang terpilih, berlatih dengan sungguh-sungguh dibawah bimbingan para prajurit, mereka kerja keras tanpa mengenal lelah. Dari hari ke hari mereka mendapat petunjuk yang penting, namun juga melakukan latihan-latihan langsung untuk memahami dan membiasakan diri mempergunakan berbagai macam senjata.

Sementara itu, pengawasan dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh anak-anak muda kademangan Panjer, dengan petunjuk para prajurit Paranganom mereka dapat melakukan tugas mereka dengan baik.

Dua pekan telah berlalu, ternyata masih belum ada tanda-tanda bahwa para perampok akan memasuki Kademangan Panjer, tetapi para perampok itu juga tidak memasuki kademangan lain disekitar padukuhan Panjer, mereka juga tidak mendatangi kademangan Kayulegi.

Sebenarnyalah para perampok juga sedang mengadakan pengamatan atas sasaran yang akan mereka pilih, ada diantara mereka yang memilih untuk pergi ke Kayulegi. Baru kemudian ke Panjer, tetapi beberapa orang perampok ternyata telah tersinggung dengan sikap anak-anak muda Panjer yang telah mengadakan latihan-latihan dibawah bimbingan Ki Demang, Para Bebahu dan para bekel.

“Apakah latihan-latihan itu mempunyai pengaruh?” bertanya salah seorang pun perampok yang kepalanya botak.

“Ki Lurah minta kita melihat, sejauh mana latihan-latihan itu diadakan, apakah anak-anak muda itu benar-benar dapat ditempa untuk menjadi pahlawan bagi kademangan mereka, atau hanya sekedar omong kosong untuk menggertak kita” sahut kawannya.

“Aku setuju, kita akan melihat, apa saja yang dilakukan oleh anak-anak muda itu”

Sebenarnyalah dua orang diantara para perampok itu telah ditugaskan untuk pergi ke Panjer melihat latihan-latihan yang diselenggarakan di halaman banjar atau di halaman rumah Para Bebahu dan Para Bekel.

Namun ketika keduanya kembali ke sarang mereka, maka keduanya pun tertawa berkepanjangan, katanya, “Rupanya Ki Demang Panjer itu sudah gila, ketika aku lewat di depan banjar padukuhan induk, Ki Demang sendirilah yang sedang memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda, tidak ada yang perlu dicemaskan, mereka memang belajar menggenggam senjata, tetapi senjata itu akan dapat membunuh diri mereka sendiri.”

“Apakah mereka sekedar menggertak agar kita tidak berani memasuki kademangan itu?”

“Ya, mereka mencoba untuk menggetarkan jantung kita”

“Jika demikian, kita putuskan, bahwa kita akan pergi ke Panjer, ada empat orang saudagar kaya di kademangan induk, disamping Ki Demang, tetapi Ki Jagabaya juga terhitung kaya karena peninggalan orang tuanya.”

“Disamping beberapa orang kaya di kademangan induk, di beberapa padukuhan pun terdapat orang-orang kaya pula”

“Ya, kita akan kembali beberapa kali ke kademangan Panjer, biarlah orang-orang Panjer menyesali kesombongan mereka, jika mereka melawan dengan kekuatan yang mereka kira sudah mereka persiapkan dengan baik itu, maka kita tidak akan segan-segan membunuh beberapa orang diantara mereka, agar seluruh kademangan meratapi ulah mereka sendiri”

Namun agaknya pemimpin perampok itu cukup berhati-hati, ia tidak segera memerintahkan orang-orangnya untuk berangkat merampok di Kademangan Panjer, namun pimpinan perampok itu masih mengirimkan dua orangnya sekali lagi untuk membuktikan, apakah pengamatan dua orang sebelumnya tidak keliru.

Ternyata dua orang yang mengamati keadaan untuk yang kedua kalinya itu juga melihat, bahwa anak-anak muda yang berlatih di banjar hanya sekedar membesarkan hati anak-anak muda itu saja.

“Pengaruhnya tidak ada peningkatan kemampuan mereka” berkata perampok yang lebih tua, “Tetapi latihan-latihan itu membuat Kademangan Panjer menjadi semakin berani, mereka tentu merasa memiliki kemampuan lebih untuk menghadapi kita, Ki Demang dan Para Bebahu yang melatih mereka tentu akan mengatakan bahwa latihan-latihan yang diselenggarakan itu sudah meningkatkan kemampuan orang-orang yang bakal datang merampok”

Para perampok yang lebih muda yang mendengar keterangan itu tertawa, namun perampok yang lebih tua itu berkata, “Kalian boleh tertawa, tetapi kalian pun harus tahu, bahwa pengaruh gejolak jiwa seseorang itu benar sekali, meskipun mereka tetap tidak memiliki kemampuan yang cukup, tetapi keberanian mereka akan dapat membuat kita terkejut karenanya”

“Aku setuju dengan pendapatnya” sahut pemimpin perampok yang dikenal bernama Sura Branggah itu, “Kalian jangan meremehkan lawan kalian, tetapi kalian pun jangan menjadi cengeng. Ingat kalian adalah perampok yang sudah teruji, kalian terdiri dari tiga kelompok kecu yang paling ditakuti, sekelompok penyamun dan orang-orang yang diyakini memiliki ilmu yang tinggi”

“Ya, Ki Lurah” anak buah Ki Sura Branggah itu hampir berbareng menyahut.

 

Namun pembicaraan-pembicaraan, pengamatan dan untuk meyakinkan diri, Ki Sura Branggah memerlukan waktu hampir satu bulan”

Sementara itu Raden Madyasta, Rembana, Sasangka dam Wismaya justru sudah mulai menjadi cemas, bahwa para perampok dapat mencium kehadiran mereka di Kademangan Panjer, sehingga mereka merubah sasaran mereka atau bahkan untuk sementara menghentikan kegiatan mereka.

Namun mereka masih saja bersabar, mereka masih akan menunggu beberapa hari lagi.

Selagi mereka menunggu di Kademangan Panjer, maka Raden Madyasta pun telah dapat berkenalan dengan gadis yang telah menggetarkan jantungnya. ternyata gadis itu adalah anak Ki Demang Panjer. ia memang masih seorang pun gadis yang sedang meningkat dewasa, seorang gadis yang terbiasa hidup pedesaan.

Ketika Rara Menur, anak Ki Demang Panjer itu sedang menumbuk padi, maka ia pun terkejut, Rara Menur yang sedang sibuk itu tidak mendengar langkah kaki Raden Madyasta, namun tiba-tiba saja anak muda itu sudah berdiri bersandar tiang lumbung.

“Ah, Raden, kenapa Raden berdiri disitu?” desis Rara Menur, diluar sadarnya, tangannya pun berhenti pula bekerja, ia tidak lagi mengangkat penumbuk padinya.

“Keringatmu Rara”

“Kerja ini sudah terbiasa aku lakukan, Raden” sahut Rara Menur.

“Apakah tanganmu tidak menjadi terkelupas karenanya?”

“Tidak Raden, ini pekerjaan yang harus aku lakukan sehari-hari?”

“Bukankah kau anak seorang Demang?, aku lihat ada beberapa orang perempuan pembantu di rumah ini, kenapa kau sendiri harus menumbuk padi?”

“Siapa yang sempat saja Raden, ibuku juga sering menumbuk padi, kadang-kadang seorang pembantu, kadang-kadang aku, tetapi kali ini ibu menginginkan beras yang putih, seorang pembantu kadang-kadang tidak telaten, berbeda jika aku sendiri yang menumbuknya”

“Kenapa Nyi Demang kali ini ingin beras yang putih, sehingga yang harus menumbuk padinya harus kau sendiri?”

“Bukankah sejak hampir sebulan, di kademangan ini ada tamu dari Paranganom?”

“O….” Raden Madyasta mengangguk-angguk, “Jadi kau menumbuk padi untuk menjamu kami yang datang dari Paranganom?”

“Ah, sudahlah Raden, sebenarnya Raden tidak boleh berada disini”

“Jadi yang menumbuk padi kemarin, kemarin dulu sepekan yang lalu, juga kau, Rara?”

“Tidak, baru kali ini aku menumbuk padi”

Raden Madyasta tertawa.

“Jika saja kakang Rembana, kakang Sasangka dan kakang Wismaya juga berada di kademangan, mereka tentu akan memuji, nasinya putih agak wangi, ternyata yang wangi, bukan jenis padinya, tetapi karena tangan gadis yang menumbuknya”

“Ah, Raden, silahkan Raden duduk di pendapa saja. Mungkin Lurah Rembana atau yang lain datang mencari Raden, sementara Raden bersembunyi disini”

“Mereka tidak akan kemari pada wayah begini, Rara. Mereka sedang sibuk berlatih bersama anak-anak muda di rumah Para Bebahu itu”

“Apakah latihan-latihan yang mereka selenggarakan itu tidak berhenti untuk beristirahat?, Raden sekarang juga tidak sedang berlatih?”

“Aku sudah berlatih sejak matahari belum terbit, Rara”

“Mungkin Ki Lurah Rembana dan yang lain juga sudah berlatih sejak matahari terbit”

Raden Madyasta tertawa.

Namun tiba-tiba saja Rara Menur itu mengerutkan keningnya, kemudian dengan nada rendah ia pun berkata, “Lihat Raden, bukankah aku benar?”

“Apanya yang benar, Rara”

“Ki Lurah Rembana”

Raden Madyasta berpaling, dilihatnya lurah Rembana berdiri bersandar sebatang pohon bangka sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Kau kakang?”

“Apakah aku mengganggu, Raden” bertanya lurah Rembana.

“Tentu kakang, kakang sudah mengganggu kesenanganku”

“Tidak” yang menyahut justru Rara Menur, “Ki Lurah sama sekali tidak mengganggu, Raden Madyasta yang sejak tadi mengganggu aku yang sedang menumbuk padi”

“Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggu, Rara. sebenarnya aku justru ingin membantu”

“Sudahlah Raden, Ki Lurah Rembana tentu mempunyai keperluan penting jika ia datang kemari”

Raden Madyasta tersenyum, katanya, “Baiklah, aku akan menemui Ki Lurah Rembana. Tetapi aku harus berpesan kepadanya, agar lain kali kakang Rembana jangan mengganggu aku jika aku sedang beristirahat”

“Ah, bukankah Ki Lurah tidak mengganggu, sejak ia datang, ia berdiri saja disana tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia baru berbicara sejak Raden bertanya kepadanya”

“Kau benar, Rara. tetapi aku tidak akan mengulanginya lain kali”

Rara Menur tidak menjawab, sementara itu, Raden Madyasta pun melangkah mendekati Ki Lurah Rembana.

Raden Madyasta tertawa, katanya, “Tidak, kakang sama sekali tidak, aku sedang menggoda anak Panjer itu”

“Aku tahu Raden” Rembana pun tertawa pula.

“Bagaimana menurut pendapatmu?, bukankah ia seorang gadis yang cantik?”

“Ya, Raden. gadis itu memang cantik”

“Bukan hanya itu, tetapi juga kepribadiannya menarik, ia anak seorang Demang, tetapi ia melakukan kerja apa pun juga sebagaimana seorang gadis padesan, dan ternyata gadis itu cukup cerdas, aku pernah mendengar gadis itu berbicara dengan ayahnya tentang jalannya pemerintahan di kademangan ini, ternyata cukup banyak yang diketahuinya, bahkan terlalu banyak bagi seorang gadis seperti Rara Menur.”

“Nampaknya ia juga seorang gadis penurut”

“Ya, ia bukan anak manja meskipun ia anak satu-satunya”

Keduanya pun kemudian melangkah ke halaman depan rumah Ki Demang Panjer, ternyata di pringgitan Sasangka dan Wismaya telah duduk bersama Ki Demang.

“Kapan kalian datang?” bertanya Rembana

“Baru saja” Ki Demang lah yang menjawab.

“Kau malah sudah ada disini” desis Sasangka.

“Aku mencari Raden Madyasta di belakang, nampaknya…..” Rembana tidak meneruskan kata-katanya, tetapi ia berpaling memandang Raden Madyasta sambil tersenyum.

“Sudahlah” berkata Raden Madyasta, “Marilah kita naik”

Sejenak kemudian, Raden Madyasta dan ketiga orang senapati muda itu serta Ki Demang telah duduk melingkar di pringgitan.

“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan Raden” berkata Rembana kemudian.

“Ada apa Kakang?”

“Dalam hubungannya dengan para perampok itu”

Raden Madyasta mengangguk-angguk.

“Dua orang pengawas telah melihat dua orang yang mencurigakan lewat di jalan utama kademangan ini, sedang di hari berikutnya dua orang pengawas yang lain melihat dua orang lagi melakukan hal yang sama seperti kedua orang yang terdahulu, mereka berjalan menyusuri jalan di padukuhan induk, berhenti melihat latihan di halaman banjar, namun ternyata bahwa kedua orang itu, baik yang pertama mau pun yang kemudian, telah pergi ke padukuhan-padukuhan lain pula, para pengawas di padukuhan juga melihat mereka memperhatikan anak-anak muda yang berkumpul dan berlatih di halaman banjar atau di halaman rumah Ki Bekel”

Raden Madyasta mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Nampaknya mereka sedang mengamati keadaan, mereka baru akan menentukan sikap setelah mereka melihat langsung gejolak di kademangan ini”

“Ya, Raden, dengan demikian, maka tanda-tanda bahwa mereka akan mulai bergerak telah nampak”

“Kita harus lebih berhati-hati, Kakang, pengawasan harus ditingkatkan, sementara itu, para prajurit pun harus mempersiapkan anak-anak muda yang dibimbingnya untuk dalam waktu singkat terjun dalam tugas mereka yang sebenarnya”

“Ya, Raden”

Raden Madyasta pun kemudian berkata pula kepada Ki Demang, “Ki Demang, para Bebahu pun harus bersiap, perintah-perintah mereka kepada anak-anak muda yang berlatih kepada mereka pun harus jelas, mereka jangan turun ke dalam arena pertempuran, tetapi mereka diperintahkan untuk mengepung lingkungan pertempuran, menjaga agar tidak ada seorang perampok pun yang berhasil melarikan diri, namun bukan berarti bahwa tugas mereka tidak berbahaya, para perampok yang berusaha melarikan diri itu umumnya adalah orang-orang yang berputus asa, sehingga mereka justru akan menjadi orang-orang yang nekad dan kehilangan akal, sekali lagi aku peringatkan, anak-anak muda itu jangan mencoba menghadapi mereka seorang melawan seorang”

“Ya, Raden”

“Kita tidak tahu, kapan, para perampok itu akan datang, tetapi tentu dalam waktu yang dekat, jika mereka sudah mengirimkan orang-orangnya untuk mengamati keadaan, itu berarti bahwa mereka sudah mengambil ancang-ancang”

“Ya, Raden, aku akan memanggil para Bebahu dan para Bekel hari ini juga, untuk memberikan peringatan-peringatan kepada mereka”

“Kita pun harus memberi peringatan pula kepada keluarga yang mungkin akan menjadi sasaran, tentu orang-orang terkaya di kademangan ini”

“Ya, Raden, jika Raden dan para senapati berkenan, aku harap Raden dan para senapati bersedia bertemu dengan para Bebahu dan para bekel disini sebentar lagi”

“Baik Ki Demang, kami akan menunggu” berkata Raden Madyasta yang kemudian bertanya kepada para senapati, “Bukankah latihan-latihan itu dapat kalian tinggalkan sebentar untuk berbicara dengan para Bebahu?”

“Tentu Raden” jawab Wismaya, “latihan-latihan itu sudah dapat berjalan, anak-anak muda itu ternyata mempunyai ketrampilan yang tinggi, sehingga kami tinggal mengarahkannya”

“Mudah-mudahan latihan-latihan yang berlangsung hampir sebulan ini akan berarti bagi mereka” sambung Sasangka.

“Meskipun demikian, mereka pun jangan mencoba untuk bertempur seorang melawan seorang, mereka adalah anak-anak muda yang belum berpengalaman” sahut Raden Madyasta.

“Ya, Raden, kami setiap kali memperingatkan mereka, agar mereka tidak terlibat dalam perang tanding, kami pun sudah menunjuk pasangan-pasangan diantara mereka jika mereka benar-benar harus terjun ke medan”

“Agaknya cara itu pulalah yang harus kami lakukan” berkata Ki Demang, “Kelompok-kelompok kecil itu harus sudah ditunjuk sebelumnya, agar mereka tidak bingung dengan siapa mereka harus bekerja sama”

“Ya” berkata Rembana kemudian, “Apakah hal itu belum Ki Demang lakukan?”

“Belum ngger, kami baru memerintahkan agar mereka bertempur dalam kelompok-kelompok kecil, tetapi kami belum menunjuk kelompok kecil itu”

“Nanti hal itu dapat Ki Demang sampaikan kepada para Bebahu dan para bekel”

Dalam pada itu, beberapa orang anak-anak muda telah menyebar memanggil para Bebahu dan para Bekel untuk berkumpul di rumah Ki Demang.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka mulai berdatangan, mereka menyadari, bahwa mereka telah sampai pada persiapan terakhir untuk benar-benar menghadapi para perampok yang mereka perhitungkan akan segera datang ke kademangan Panjer”

Ki Demang dan Raden Madyasta berganti-ganti memberikan petunjuk-petunjuk, apakah yang seharusnya mereka lakukan.

Sementara itu, belum lagi pembicaraan mereka selesai, dua orang pengawas telah datang untuk menemui Ki Demang Panjer.

“Marilah, naiklah” berkata Ki Demang.

Kedua orang pengawas itu pun segera naik ke pendapa, di wajah mereka membayang kegelisahan, baju mereka basah oleh keringat yang mengemban dari tubuh mereka.

“Ada apa?” bertanya Ki Demang.

Seorang diantara kedua pengawas itu pun berkata dengan suara yang agak bergetar, “Ki Demang, aku melihat mereka”

“Mereka siapa?” bertanya Ki Demang.

“Kedua orang itu lagi, mereka berjalan menyusuri jalan utama padukuhan induk ini”

“Apa yang mereka lakukan?”

“Mereka berhenti beberapa lama di depan rumah Ki Wiratenaya, namun kemudian mereka berjalan terus ke selatan, kami mencoba mengawasi mereka dari jarak yang cukup jauh”

“Apalagi yang mereka lakukan?”

“Mereka juga berhenti di depan rumah Ki Semanggi”

Ki Demang mengangguk-angguk, kedua orang yang disebut itu adalah orang orang terkaya di kademangan Panjer.

“Lalu kemana lagi mereka pergi?”

“Kami tidak dapat mengikutinya lagi, jalan kearah selatan di depan rumah Ki Semanggi adalah jalan yang lurus, jika kami mengikuti mereka, maka mereka tentu akan melihat kami, karena keduanya kadang-kadang juga melihat ke belakang”

“Apa yang kau lakukan kemudian?”

“Kami mencari jalan lain, kami melingkari rumah Ki Semanggi, namun tiba-tiba saja kami berpapasan dengan kedua orang itu. Kami memang terkejut ketika melihat mereka muncul dari simpang tiga, tetapi kami berjalan terus, kami berpura-pura tidak menghiraukannya”

“Kau tahu mereka pergi kemana?”

“Keduanya justru menegur kami berdua”

“Menegur kalian?”

“Ya, Ki Demang, mereka bertanya kepada kami, apakah kami tinggal di padukuhan induk ini”

“Apa jawabmu”

“Kami mengiakannya, keduanya tertawa. seorang diantara mereka justru berpesan kepada kami agar malam nanti kami berhati-hati, agar semua anak-anak muda yang sudah berlatih olah kanuragan dibawah bimbingan Ki Demang itu keluar rumah untuk meronda”

“Untuk apa menurut mereka?”

“Mereka tidak mengatakannya, namun mereka pergi sambil tertawa berkepanjangan”

“Nampaknya sudah jelas, Ki Demang” berkata Raden Madyasta, “Mereka akan datang malam nanti, kedua orang itu tentu berusaha meyakinkan sasaran mereka, agaknya kedua rumah itulah yang akan mereka datangi malam nanti”

“Ya, Raden”

“Waktu kita tidak banyak lagi Ki Demang, kita harus segera mempersiapkan segala-galanya, terutama di padukuhan induk ini”

“Jika demikian Raden, apakah anak-anak muda dari padukuhanku harus datang ke padukuhan induk ini pula malam nanti?”

“Belum sekarang Ki Bekel” jawab Raden Madyasta, “Kita masih belum tahu pasti, kemana para perampok itu akan pergi, biarlah anak-anak muda itu menjaga padukuhan mereka masing-masing, kami sendiri malam nanti akan mengawasi mereka, jika perlu, maka biarlah kami memberikan isyarat, tetapi sebaliknya, jika para perampok itu datang ke padukuhan yang manapun, maka isyarat kentongan akan memanggil kami untuk datang”

“Baik Raden, kami akan menunggu”

“Marilah Ki Demang, kita akan mulai dengan tugas berat kita, kita akan memikul bersama. mudah-mudahan kita akan berhasil, sehingga keberadaan kami yang hampir sebulan disini tidak sia-sia”

Demikianlah, maka pertemuan itu pun segera dibubarkan, Ki Demang telah membagi tugas kepada para Bebahu, mereka harus segera menghubungi anak-anak muda terutama di padukuhan induk untuk segera bersiap-siap. Sebentar lagi matahari akan turun di sisi barat. Langit akan menjadi buram, sesaat kemudian senja akan datang dan malam pun akan menyelimuti kademangan Panjer.

Raden Madyasta pun telah memberikan perintah-perintah kepada para senapati dan para prajurit yang ada di kademangan Panjer, bahkan Raden Madyasta telah memerintahkan para prajurit itu untuk datang mengunjungi kedua buah rumah yang agaknya akan menjadi sasaran para perampok.

“Jangan bersama-sama, datanglah berdua, seorang bebahu atau anak muda yang ditugaskan oleh Ki Demang akan mengantarkan kalian, kalian harus tahu pasti, apa yang akan kalian lakukan malam nanti, jika mereka benar-benar datang”

Para prajurit dan para senapati itu pun menjalankan perintah Raden Madyasta dengan sebaik-baiknya, sementara Ki Demang telah minta agar pemilik rumah itu justru meninggalkan rumah mereka.

“Sebaiknya kalian berada di rumahku atau rumah Ki Jagabaya atau rumah para Bebahu yang lain. Mungkin keadaan akan menjadi gawat, meskipun kami masih berharap, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa malam ini nanti di rumah kalian” berkata Ki Demang kepada keluarga Ki Wiratenaya dan Ki Semanggi.

Ternyata kedua keluarga itu tidak berkeberatan, mereka percayakan rumah mereka dibawah pengawasan para Bebahu kademangan Panjer serta para prajurit Paranganom yang berada di kademangan mereka.

Ketika kemudian senja turun, maka segala sesuatunya sudah siap, meskipun tidak nampak gejolak di permukaan, namun kademangan Panjer sudah berada dalam kesiagaan penuh.

“Jangan membuat kademangan ini menjadi resah dan ketakutan” berkata Raden Madyasta kepada para prajurit, sementara Ki Demang pun berusaha agar kademangan Panjer tetap tenang.

Namun bagaimanapun juga Ki Demang berusaha, masih juga terasa ketegangan yang mencengkam para penghuninya.

Malam pun perlahan-lahan turun menyelimuti kademangan Panjer, langit nampak cerah dan bintang-bintang pun bergayutan.

Beberapa orang anak muda yang terpilih diantara mereka yang berlatih dibawah bimbingan para prajurit, mendapat tugas untuk mengawasi jalan-jalan utama menuju ke padukuhan induk, sementara itu anak-anak muda di padukuhan-padukuhan yang lain telah mendapat perintah untuk tidak mengganggu jika mereka melihat iring-iringan sekelompok orang yang menuju ke padukuhan induk.

“Biarlah para perampok itu sampai itu sampai ke padukuhan induk, kecuali jika mereka merampok di padukuhan-padukuhan lain, maka padukuhan itu harus membunyikan isyarat agar para prajurit segera datang” pesan Ki Demang kepada para Bekel.

Sebenarnyalah, malam ini para perampok itu dibawah pimpinan Sura Branggah telah mempersiapkan orang-orangnya untuk memasuki padukuhan induk Kademangan Panjer, mereka sudah menentukan untuk memasuki dua buah rumah orang terkaya di padukuhan induk kademangan Panjer, rumah Ki Wiratenaya dan rumah Ki Semanggi, keduanya adalah saudagar yang berhasil.

“Aku telah mempermainkan anak-anak muda kademangan Panjer” berkata salah seorang dari para perampok itu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Jika anak-anak muda itu menantang kita dengan berlatih olah kanuragan dibawah bimbingan Demang Panjer dan para Bebahu, maka aku berkata kepada anak muda Panjer yang aku temui di jalan, agar mereka mempersiapkan diri malam nanti”

“Kau memang gila” geram Sura Branggah

“Bukankah kita tersinggung dengan latihan-latihan yang mereka lakukan, seakan-akan mereka akan dapat menandingi kita?”

“Jika anak-anak muda itu benar-benar berusaha melawan, kita akan menjadi pening juga”

“Kenapa?, kita akan membantai mereka seperti menebas batang ilalang”

“Itulah yang membuat kepala kita pening, apakah kita akan membunuh anak-anak muda itu?”

“Jika satu dua orang diantara mereka sudah terbunuh, maka yang lain akan melarikan diri” berkata seorang perampok yang lain.

Namun seorang yang sudah lebih tua dari mereka berkata, “Kita akan berusaha untuk menemukan Ki Demang Panjer yang tentu akan memimpin anak-anak muda itu, kita paksa Ki Demang untuk memerintahkan anak-anak muda itu menyingkir, jika Ki Demang Panjer yang sombong itu keras kepala dan mungkin juga Ki Jagabaya Panjer telah mati, maka anak-anak muda itu akan lari dengan sendirinya”

“Yang akan membuat jantung kita menjadi sangat tegang, jika anak-anak muda itu tidak mau menyingkir”

“Apaboleh buat” berkata seorang yang bertubuh agak pendek, tetapi otot-ototnya menjorok di permukaan kulitnya, wajahnya yang cacat membuatnya menjadi sangat menyeramkan.

“Ya” sahut orang yang bertubuh raksasa, “Bukan salah kami”

Ki Sura Branggah termangu-mangu sejenak, namun ia pun kemudian berkata, “Kita adalah sekelompok berandal terkenal, sebenarnya aku agak malu jika kita harus membunuh anak-anak”

“Tetapi itu karena salah mereka sendiri, kesombongan merekalah yang telah membunuh mereka”

“Aku setuju untuk menemukan Ki Demang dan Ki Jagabaya, mereka harus akan mati, jika mereka mati, kita memang dapat berharap anak-anak muda itu akan berhenti dengan sendirinya”

Namun orang yang bertubuh raksasa itu masih menyahut, “Jika mereka tidak mau menyingkir, kita harus bertindak tegas. Panjer akan menjadi ajang pembantaian yang pertama sejak kita melakukan gerakan beruntun di Paranganom. Pada saatnya kita pun akan bergerak ke Kateguhan”

“Ladang di Kateguhan tidak sesubur ladang di Paranganom, bukankah aku sudah pernah mengatakannya” sahut Ki Sura Branggah.

Orang bertubuh raksasa itu masih juga menyahut, “Jika lahan di Paranganom sudah habis dituai?”

“Kita akan memikirkannya kelak, tetapi lahan di Paranganom tidak akan habis dalam beberapa tahun”

Orang yang bertubuh pendek itulah yang menyahut, “Mungkin, tetapi pada suatu saat kita harus berhenti, para prajurit Paranganom tentu akan turun ke gelanggang jika kita bergerak semakin ke tengah, apalagi mendekati pusat pemerintahan di Paranganom”

“Kita akan memikirkannya kelak, jangan sekarang, sekarang kita siap memasuki padukuhan induk kademangan Panjer” potong Ki Sura Branggah.

Yang lain pun terdiam

Ketika malam menjadi semakin gelap, para perampok itu sudah berada di pategalan di perbatasan kademangan Panjer, mereka masih sempat beristirahat sejenak, baru kemudian, setelah lewat wayah sepi bocah, Ki Sura Branggah membawa anak buahnya untuk bergerak, Ki Sura Branggah telah bergerak ke padukuhan induk kademangan Panjer.

Sebelum mereka mulai bergerak, Ki Sura Branggah pun telah berpesan kepada anak buahnya untuk tidak berbuat apa-apa di padukuhan-padukuhan yang akan mereka lewati.

“Kenapa?” bertanya yang bertubuh raksasa

“Jika kita mengganggu padukuhan yang kita lewati, maka akan ada diantara para penghuninya yang akan memukul kentongan”

“Apa salahnya?, orang-orang padukuhan induk tentu sudah mengira bahwa kita akan datang malam ini”

“Itulah bodohnya kedua orang yang menuruti gejolak perasaannya itu”

“Apakah kita akan menjadi ketakutan jika anak-anak muda itu bersiap-siap menyongsong kadatangan kita?”

“Bukan ketakutan, tetapi sudah aku katakan, apakah kita harus membunuh anak-anak muda itu?, sementara itu, orang-orang terkaya di Panjer itu sempat menyembunyikan harta benda mereka”

Tetapi seorang perampok yang lain tertawa, “Tidak akan ada yang berani menyembunyikan harta bendanya, jika kita datang, dimana pun hartanya disembunyikan, tentu akan mereka tunjukkan dan akan mereka serahkan kepada kita, jika tidak, ujung pedang akan kita letakkan di lehernya”

Namun seorang perampok yang lain bertanya, “Jika mereka pergi mengungsi?”

“Seluruh padukuhan induk akan kita bongkar, jika padukuhan induk itu menjadi kosong, maka rumah-rumah merekalah yang akan kita bakar”

“Cukup” Ki Sura Branggah, “Bagaimanapun juga, kita, kita akan melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya, menurut perhitunganku, orang-orang padukuhan induk itu tidak akan mengungsi, mereka tentu justru akan menyongsong kehadiran kita, karena mereka memang sudah mempersiapkan diri sebelumnya, seharusnya kita menghindari kemungkinan itu, kita tidak perlu memberikan isyarat bahwa kita akan datang atau merangsang penghuni padukuhan yang lain untuk membunyikan kentongan”

Para perampok itu pun terdiam, sementara itu mereka berjalan semakin cepat melintasi jalan-jalan padukuhan.

Padukuhan-padukuhan di lingkungan kademangan Panjer itu nampak sepi, tidak ada seorang pun yang nampak diluar rumah, ketika mereka melewati gardu perondaan, maka tidak seorang pun yang nampak di dalam gardu itu.

Tetapi ketika para perampok itu melihat rumah-rumah di pinggir jalan lewat pintu regol yang terbuka, maka di dalam rumah itu nampak cahaya lampu minyak yang menyala.

“Mereka bersembunyi di balik dinding rumah mereka” berkata para perampok itu.

“Mereka menjadi ketakutan, nampaknya berita akan kehadiran kita sudah merambat sampai ke padukuhan-padukuhan”

“Itu pantas mereka sesali” berkata perampok yang sudah lebih tua.

Dengan demikian, maka iring-iringan itu pun bergerak semakin lama menjadi semakin cepat, para perampok itu dihinggapi oleh keinginan untuk segera sampai di rumah yang akan menjadi sasaran perampokan, mereka ingin segera mengetahui, apakah harta benda yang tersimpan di rumah itu sudah disembunyikan, atau bahkan pemilik rumah itu sudah pergi mengungsi sambil membawa semua harta bendanya yang berharga.

Tetapi mereka menduga, bahwa pemilik rumah itu tidak akan pergi, di rumah itu ada sebuah pedati, beberapa ekor lembu, kambing dan bahkan kuda, tiang-tiang di pendapa serta gebyok pringgitan yang berukir. Semuanya itu tentu mahal harganya, mereka tentu tidak akan membiarkan semuanya itu dibakar dan menjadi abu.

Beberapa saat kemudian, iring-iringan itu pun telah mendekati padukuhan induk, para pengawas pada lapis pertama melihat kehadiran mereka, namun mereka sama sekali tidak mengganggu.

Dalam sepinya malam, tiba-tiba saja terdengar suara burung hantu yang ngelangut, dihanyutkan oleh angin yang bertiup perlahan.

Sementara itu, dalam kegelapan malam, seorang pengawas yang duduk diatas dahan pohon jambu yang tumbuh di belakang dinding padukuhan induk yang mendengar suara burung hantu itu, memberi isyarat kepada dua orang kawannya yang duduk bersandar batang jambu itu.

Seorang diantara mereka pun segera berlari ke banjar memberikan laporan, bahwa para perampok yang mereka tunggu, benar-benar telah datang.

“Terima kasih” berkata Raden Madyasta, “Sekarang semuanya pergi ke tempat yang sudah ditetapkan. Yang kita perhitungkan akan menjadi sasaran pertama adalah Ki Wiratenaya, tetapi kita akan mengawasi mereka melintas di jalan utama padukuhan induk ini”

Para prajurit dan anak-anak muda yang telah terlatih dibawah bimbingan para prajurit itu pun memencar, sebagian dari mereka berada di balik dinding halaman di tepi jalan utama, sementara yang lain telah mendahului berada di halaman rumah Ki Wiratenaya, namun beberapa dari mereka juga mengawasi rumah Ki Semanggi.

Namun dengan isyarat tentu, mereka akan segera berkumpul untuk melawan para perampok itu, apakah di halaman rumah Ki Wiratenaya atau di halaman rumah Ki Semanggi atau justru ti tempat yang lain.

Dalam pada itu, selain anak-anak muda yang telah berpencar itu, maka anak-anak muda yang lain pun telah menjaga semua pintu gerbang padukuhan selain pintu gerbang yang akan dilewati oleh para perampok itu.

Sejenak kemudian, maka para perampok itu pun telah memasuki padukuhan induk kademangan Panjer, namun ternyata di padukuhan induk itu pun mereka tidak menjumpai anak-anak muda yang sebelumnya sudah sempat berlatih di halaman banjar, di halaman rumah para Bebahu dan para Bekel.

“Jangan-jangan seisi padukuhan ini sudah mengungsi?” seorang diantara mereka pun bertanya.

“Jika padukuhan induk ini kosong, maka rumah di padukuhan induk ini akan kita bakar” sahut yang lain.

Ki Sura Branggah sendiri, yang berjalan paling depan, masih belum berkata apa-apa, tetapi ia berjalan semakin cepat, agaknya ia langsung pergi ke rumah Ki Wiratenaya.

Ketika mereka melewati sebuah gardu perondaan, maka seperti di padukuhan-padukuhan, gardu perondaan kosong, tidak seorang pun yang meronda malam ini, bahkan oncornya pun tidak menyala sama sekali.

Malam terasa demikian mencengkam, sepi dan tegang.

Para perampok itu menjadi gelisah bukan karena mereka akan mendapat perlawanan, tetapi mereka justru menjadi gelisah karena padukuhan induk itu terasa sepi sekali.

Namun ketika Ki Sura Branggah yang gelisah itu mendorong sebuah pintu regol halaman rumah di pinggir jalan utama itu, ia melihat lampu yang menyala, bahkan kemudian ia pun mendengar suara bayi yang menangis.

Ki Sura Branggah menarik nafas dalam-dalam, padukuhan ini tidak kosong, penghuninya masih ada di rumah mereka masing-masing, jika mereka pergi mengungsi, maka tentu tidak akan terdengar suara bayi yang menangis di rumah sebelah.

Karena itu, maka Ki Sura Branggah melangkah semakin cepat.

Namun Ki Sura Branggah itu berhenti di luar sebuah regol halaman rumah yang luas, halaman rumah Ki Wiratenaya, seorang saudagar yang kaya.

“Rumah ini adalah sasaran kita” berkata Ki Sura Branggah sambil mendorong pintu regol halaman itu perlahan-lahan, demikian regol itu terbuka, maka Ki Sura Branggah itu pun melihat lampu pringgitan yang menyala, bahkan di dalam rumah itu pun nampak pula cahaya lampu yang terang.

“Kita tidak kehilangan korban kita malam ini” berkata Ki Sura Branggah.

Ia pun kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bergerak masuk.

Para prajurit yang berada di halaman itu pun kemudian mempersiapkan diri, mereka membiarkan para perampok itu seluruhnya memasuki halaman.

Tetapi agaknya dua orang diantara mereka tetap berada di pintu regol untuk mengamati keadaan, mereka mengawasi jalan yang melintas di depan rumah Ki Wiratenaya.

“Memang sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang” desis seorang prajurit ke telinga kawannya.

Kawannya mengangguk-angguk, namun mereka pun melihat dua orang diantara para perampok yang berdiri di pintu regol.

Sejenak suasana benar-benar dicengkam oleh ketegangan, bahkan para perampok yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan mereka pun menjadi tegang pula.

Ternyata kademangan Panjer memang mempunyai kesan yang berbeda dari padukuhan yang lain.

Sejenak kemudian, maka Ki Sura Branggah dan beberapa orang diantara anak buahnya naik ke pendapa, sementara beberapa orang yang lain telah melingkari rumah itu, berjaga-jaga di pintu butulan dan pintu dapur.

“Jangan ada yang sempat keluar” berkata Ki Sura Branggah.

Dalam pada itu, dibawah bayangan cahaya lampu minyak di pringgitan, Ki Sura Branggah itu mengetuk pintu rumah Ki Wiratenaya yang tertutup rapat.

Namun tidak terdengar jawaban.

Sekali lagi Ki Sura Branggah menggetuk lebih keras lagi, tetapi juga tidak terdengar jawaban.

“Ki Wiratenaya, buka pintunya atau aku yang akan membukanya sendiri dengan paksa”

Sepi, rumah itu masih saja tetap membisu.

“Ki Wiratenaya, jika kau tetap saja diam, aku akan menghancurkan pintu rumahmu”

Karena tidak ada jawaban, maka Ki Sura Branggah itu pun berkata kepada kawan-kawannya, “Kita pecahkan saja pintunya, au sama sekali tidak berkepentingan dengan ukiran-ukiran itu”

Beberapa orang pun segera melangkah mendekati Ki Sura Branggah, mereka pun segera bersiap untuk mendorong dan memecahkan pintu yang masih saja tertutup rapat.

Namun sebelum mereka bersama-sama mendorong dan memecahkan pintu itu, tiba-tiba saja terdengar seseorang berkata dari dalam kegelapan, “Apa yang akan kau lakukan, Ki Sanak?”

Ki Sura Branggah terkejut, ia pun segera berpaling, demikian pula kawan-kawannya yang berada disekitarnya.

Dalam kegelapan merkea melihat seorang berdiri tegak menghadap ke pendapa Ki Wirarenaya itu. Sementara itu, orang itu pun berkata, “Pintu itu adalah pintu yang mahal. Ukiannya yang rumit menjadikan pintu itu sangat berharga”

“Siapa kau” berkata Ki Sura Branggah

“Aku pimpinan anak-anak muda Panjer”

“Pimpinan anak-anak muda Panjer?, sayang sekali anak muda, kau telah terjun ke sarang singa yang lapar, apakah kau belum mengenal aku?”

—–oOo—–

 Bersambung ke Jilid 3

 

Konversi ke teks: Dino

Ebook by Dewi KZ

http://kangzusi.com/

 

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s