MEP-09


kembali | TAMAT

MEP-09MANGURI sama sekali tidak menghiraukan lagi api yang seakan-akan melonjak-lonjak dalam tarian maut menyentuh langit yang hitam. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah Sindangsari. Karena itu dengan tergesa-gesa ia mengikuti Lamat yang kemudian meletakkan Sindangsari di sudut halaman belakang, diatas rerumputan yang kekuning-kuningan. Oleh ketegangan yang luar biasa, maka Sindangsari yang sedang mengandung itu pun telah menjadi pingsan.

Dalam pada itu, Ki Reksatani  pun menjadi bingung. Ia kecewa sekali melihat Lamat berhasil menolong perempuan yang telah menyalakan api di dalam hatinya pula. Ki Reksatani mengharap Sindangsari mati. Tetapi kini ia dapat di selamatkan. Apalagi halaman itu penuh dengan orang-orang dari padukuhan Sembojan. Apabila ia tidak dapat menyingkirkan Sindangsari, dan apabila karena sesuatu hal rahasia ini merembes keluar lingkungannya, maka ia akan mengalami bencana yang tidak terkirakan.

Dalam kebingungan itu tiba-tiba ia mengambil keputusan. Perempuan itu harus mati. Manguri, ayahnya dan orang-orangnya  pun harus mati “Tetapi bagaimana dengan orang-orang Sembojan?” pertanyaan itu melonjak di dalam kepalanya “mereka pasti akan berceritera tentang perkelahian yang timbul di rumah ini. Mereka Pasti akan bercerita tentang kematian demi kematian. Mereka akan berceritera tentang orang-orang yang datang dan berselisih disini. Gambaran-gambaran yang mereka berikan akan menunjukkan bahwa yang berkelahi dan yang saling berbunuhan adalah orang-orang Kepandak.

“Persetan” ia menggeram “padukuhan ini cukup jauh. Di dalam hiruk pikuk ini aku harus cepat melakukannya. Mungkin tidak ada orang yang mengetahui, siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu. Dengan diam-diam aku akan mendekati mereka seorang demi seorang. Dan aku akan membunuhnya tanpa menimbulkan suara apapun. Aku dapat menusuk setiap punggung. Kemudian meninggalkannya terbaring di tanah. Orang-orang yang sibuk dengan api itu, pasti tidak akan segera menyadari apa yang terjadi.

Ki Reksatani  pun kemudian menggeram. Dibisikkannya rencana itu kepada seorang pengikutnya. Dan rencana itu  pun segera menjalar.

“Kau serahkan Manguri dan ayahnya serta raksasa itu kepadaku. Kalian tidak akan dapat berbuat banyak atas mereka. Lakukanlah atas pengiring-pengiringnya. Cepat, selagi orang-orang Sembojan dan pengiring Manguri itu sibuk memadamkan api. Aku akan mencari perempuan itu”

Ki Reksatani tidak perlu mengulangi perintahnya. Orang-orangnya yang segera mengetahui hal itu, mulai berusaha melakukan tugasnya. Dengan pisau-pisau belati pendek, mereka mendekati para pengiring Manguri dari belakang. Kemudian, mereka membenamkan pisau belati mereka di punggung di dalam kegelapan, selagi orang-orang itu sibuk mengambil air, atau mencari batang-batang pisang, atau selagi mereka berbuat apa pun juga. Mereka mendorong mayat-mayat itu ke dalam rimbunnya halaman yang kurang terpelihara. Dan membaringkannya di tanah.

Sementara itu, Manguri berdiri termangu-mangu di belakang Lamat yang sedang berjongkok merenungi wajah Sindangsari yang pucat. Dicobanya untuk menggerakkan tangannya perlahan-lahan. Kemudian menggerakkan kepalanya pula. Seperti seorang ibu yang menyentuh bayinya, Lamat memijit pundak Sindangsari dengan hati-hati. Tetapi perempuan itu masih saja pingsan.

Manguri masih berdiri di belakangnya. Dibiarkannya Lamat berusaha membangunkannya. Bahkan dengan gelisahnya Manguri  pun maju selangkah. Tetapi ia berhenti ketika Lamat merentangkan tangannya tanpa berkata apa pun juga.

Semula Manguri tidak menghiraukannya. Tetapi ketika setiap kali ia ingin mendekat, Lamat selalu berusaha mencegahnya, maka ia pun kemudian berkata “Biarlah aku yang mencoba membangunkannya”

Alangkah terkejut Manguri mendengar jawaban Lamat. Dadanya hampir meledak karenanya dan jantungnya serasa berhenti mengalir. Lamat yang kemudian berdiri menghadangnya itu berkata “Jangan kau sentuh perempuan itu”

“Lamat” Manguri memandanginya “apakah kau menjadi gila?” dengan tajamnya

“Jangan kau sentuh”

“Pergi, pergi kau. Perempuan itu masih pingsan” Aku akan membangunkannya.

“Akulah yang menolongnya dari api. Kalau tidak ia sudah mati menjadi bara di dalam api itu. Kau tidak berhak lagi atasnya”

Manguri berdiri membeku sejenak. Ia menjadi bingung menghadapi raksasa yang jinak, tetapi tiba-tiba menjadi buas.

“Apakah kau kerasukan setan Sembojan, he Lamat. Jangan dungu. Perempuan itu akan mati kalau ia tidak segera mendapat pertolongan”

“Serahkan ia kepadaku. Kau jangan mencampuri persoalanku dengan perempuan itu”

“He Lamat. Apakah kau benar-benar menjadi gila he?”

Lamat tidak menjawab. Ia masih berdiri saja mematung di tempatnya. Namun di dalam keremangan cahaya api yang kemerah-merahan, mata Lamat tampak menyala seperti bara.

Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Seperti memelihara seekor harimau, betapa punjinaknya, pada suatu saat menggeram juga. Karena itu, maka ia harus berhati-hati. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja Lamat telah berubah sama sekali.

Sebenarnyalah bahwa Manguri tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati Lamat. Ia tidak mengerti perkembangan perasaan raksasa itu. Apalagi kini, di saat-saat terakhir, Lamat sudah tidak dapat membiarkan perlakuan yang memuakkan itu berlangsung terus sebelum terlanjur terjadi akibat yang tidak akan dapat dihapus seumur hidupnya.

Semula Lamat masih ragu-ragu untuk bertindak. Tetapi ketika ia membawa Sindangsari ke sudut halaman, maka ia mendengar suara berbisik di balik dinding batu “Lamat, aku disini. Kami sudah siap. Agaknya saat ini merupakan salah satu saat yang baik untuk membebaskannya. Sindangsari sudah berada di tanganmu. Kemungkinan untuk membunuhnya dapat dibatasi sekecil-kecilnya”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab “Baiklah Kita akan mulai”

Pembicaraan itu terhenti ketika mereka melihat Manguri berlari-lari mendekati Lamat. Namun semuanya sudah jelas. Semuanya sudah pasti. Sindangsari harus dibebaskan.

Sementara itu Pamot dan kawan-kawannya pun segera surut beberapa langkah. Mereka berloncatan kebalik dinding di dalam kegelapan. Agaknya oleh hiruk pikuk di halaman, tidak seorang  pun yang memperhatikan mereka. Seandainya ada orang yang melihat mereka berloncatan, orang itu pasti mengira bahwa mereka adalah tetangga-tetangga terdekat yang akan menolong kebakaran itu pula.

Dalam pada itu, Ki Reksatani  pun dengan diam-diam telah mendekati Manguri yang sedang berbantah dengan Lamat. Sejenak ia menjadi heran. Kenapa tiba-tiba saja mereka tidak sependapat. Biasanya Lamat tidak pernah membantah, apa pun yang dikatakan oleh Manguri. Namun kini tiba-tiba Lamat telah mencegah Manguri mendekati Sindangsari.

Sejenak Ki Reksatani berpikir. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Lamat atas perempuan itu. Kalau ia sudah jemu mengawasinya dan akan membunuhnya, maka biarlah raksasa itu melakukannya. Tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi. Raksasa itu pulalah yang telah membebaskan perempuan itu dari jilatan api.

“Mereka sedang memperebutkan perempuan itu” berkata Ki Reksatani di dalam hatinya. Namun perkembangan keadaan itu menambahkannya menjadi cemas. Rahasia ini akan semakin cepat menjalar dan diketahui orang.

Karena itu, ia pun segera mengambil keputusan. Bukankah keduanya harus dimusnahkannya dan kemudian perempuan yang pingsan itu pula?

Ki Reksatani dapat berpura-pura memihak salah satu dari keduanya. Kemudian setelah yang seorang selesai, maka yang lain akan diselesaikannya pula.

Menurut perhitungan Ki Reksatani, maka untuk membunuh Manguri tidak akan ada kesulitan apapun. Tetapi untuk membunuh raksasa itu, mungkin ia memerlukan waktu. Apalagi agaknya orang-orang lain tidak akan mengganggunya. Misalnya ayah Manguri dan orang-orang yang sudah mengenal anakitu. Termasuk orang-orang Sembojan.

Karena itu, maka ia memutuskan untuk berpihak kepada Manguri. Dengan demikian, rencananya akan dapat dilakukannya dengan lancar. Dengan keputusan itulah, maka Ki Reksatani melangkah mendekati keduanya yang masih berdiri berhadapan.

“Apa yang terjadi?” ia bertanya seolah-olah ia tidak tahu apa yang sedang mereka percakapkan.

Dada Lamat berdesir. Ia sadar bahwa ia harus berhadapan dengan orang yang tidak terkalahkan dari Kepandak itu. Tetapi ia sudah menyerahkan dirinya untuk menolong Nyai Demang. Ia sudah bulat bertekad untuk menyelamatkan jiwa perempuan itu, bahkan kalau perlu menukar dengan jiwanya yang sudah tidak berharga itu.

“Lamat menjadi gila” desis Manguri.

“Ia mendengar percakapan kita. Ia mengetahui bahwa kita tidak sependapat, aku tahu, bahwa orang ini sudah lama memperhatikan kita”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Selangkah ia maju sambil berkata “Ya, aku mendengar sebagian dari percakapan kalian. Tetapi aku tidak tahu, alasan apakah yang mendorong kalian untuk memperebutkan perempuan itu”

“Aku akan menyelamatkannya. Menyelamatkannya dari tangan laki-laki yang dibakar oleh nafsunya dan menyelamatkannya dari laki-lakiyang digelut oleh ketamakan”

“Lamat” berkata Manguri “siapakah yang mengajarimu demikian?”

“Tidak ada. Tetapi aku adalah seorang manusia seperti kebanyakan manusia yang lain. Mempunyai perasaan, harga diri dan perikemanusiaan. Apakah aku dapat membiarkan perempuan yang tidak berdaya ini menjadi korban kalian. Ia akan binasa lahir dan batinnya. Kalau ia tidak dibunuh secara badaniah, ia akan mati secara batiniah. Hidupnya bukan hidup lagi, meskipun  ia tidak dapat segera dikubur. Karena itu, menyingkirlah kalian. Aku akan menyelamatkannya dan mengembalikannya kepada Ki Demang di Kepandak”

Darah Manguri serasa berhenti mengalir mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia menjawab, terdengar suara Ki Reksatani tertawa betapapun terasa pahitnya “Kau gila Lamat. Benar kata Manguri, bahwa kau sudah gila. Apakah kau sadar, bahwa dengan demikian, kau akan dapat mengalami akibat yang tidak pernah kau perhitungkan? Apakah kau sangka, begitu mudahnya mengembalikan Nyai Demang itu kepada suaminya?”

“Aku tahu, bahwa tidak begitu mudah untuk melakukannya. Tetapi aku akan mencoba”

Ki Reksatani memandang wajah Lamat yang tegang, sorot matanya memancarkan kebulatan hatinya yang membara. Karena itu, Ki Reksatani tidak dapat memperpanjang waktu lagi. Ia harus segera berbuat sesuatu.

“Lamat” Ki Reksatani menggeram “aku terpaksa membunuhmu. Aku kira Manguri pun  tidak berkeberatan, karena selama ini kau adalah seekor kerbau dungu yang dipeliharanya diantara ternak yang diperdagangkan oleh ayahnya. Tetapi ternyata kau jauh lebih dungu dari yang aku duga semula. Ternyata saat ini kau sudah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan”

Lamat justru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku menyadari, bahwa kau akan mengambil keputusan itu”

Ki Reksatani maju selangkah lagi. Tetapi ia tertegun sejenak ketika ia mendengar dengan nafas di sekitarnya. Tetapi Ki Reksatani tidak mengerti, siapakah orang-orang yang sedang mengerumuninya. Mungkin orang-orangnya, mungkin orang-orang lain yang melihat perselisihan itu, atau mungkin orang-orang Manguri.

Tetapi Ki Reksatani tidak mau mengorbankan dirinya dan apalagi kepentingannya. Kalau orang-orang yang berada di sekitarnya itu tidak menguntungkannya, pasti akan mengganggu usahanya membunuh raksasa itu. Karena itu, maka tiba-tiba terdengar ia bersuit nyaring beberapa kali. Ia berharap bahwa orang-orangnya akan segera datang mempercepat penyelesaian semuanya.

“Mudah-mudahan mereka sudah selesai” katanya di dalam hati.

Orang-orang Ki Reksatani yang mendengar suitan itu pun segera menyahut, sekaligus memberi isyarat bagi kawan-kawannya yang belum mendengar di tempat yang bertebaran.

Karena itu, maka sejenak kemudian mereka pun telah bergeser dari tempatnya mencari sumber bunyi isyarat itu, sementara beberapa dari mereka telah berhasil membinasakan orang-orang Manguri yang ada di halaman.

Ternyata suara suitan itu telah menimbulkan berbagai tanggapan pada penduduk Sembojan. Apalagi ketika salah seorang dari mereka yang berlari-lari terjatuh karena kakinya terantuk sesosok mayat.

Maka sejenak kemudian hiruk pikuk di halaman itu telah berubah menjadi kegemparan yang kisruh. Tidak seorang  pun yang dapat bertindak dengan mapan. Semuanya hanya menjadi kebingungan dan kehilangan akal.

Sementara itu, Ki Reksatani sudah mulai bertindak. Dengan garangnya ia mendekati Lamat yang sudah bersiap pula menghadapi setiap kemungkinan.

Seperti Ki Reksatani, Lamat pun sadar, bahwa beberapa orang telah mengerumuninya. Ia juga mendengar dengus nafas sebelum Ki Reksatani bersuit. Dan Lamat  puny akin, bahwa orang-orang yang bersembunyi di sekitarnya itu pastilah Pamot dan kawan-kawannya, sehingga dengan demikian Lamat berharap, bahwa Sindangsari benar-benar akan dapat diselamatkan, meskipun mungkin ia sendiri tidak.

Sejenak kemudian, maka Ki Reksatani  pun menyerang dengan cepatnya. Tetapi Lamat agaknya benar-benar telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Demikianlah, maka perkelahian diantara dua orang yang luar biasa itu segera mulai. Ki Reksatani yang selama ini hanya dikenal sebagai seorang yang tidak terkalahkan di Kepandak bersama Ki Demang, maka kini ia benar-benar telah melibatkan diri dalam suatu perkelahian melawan seorang raksasa yang selama ini dianggapnya terlampau jinak.

Namun segera tampak, bahwa Lamat bukan seorang raksasa yang terlampau dungu. Ia bukan sekedar seekor kerbau yang menurut kemana saja ia dituntun oleh pemiliknya. Kini Lamat seakan-akan telah bangun dari tidurnya, dan mulai menyadari dirinya sendiri.

Pada langkah-langkah permulaan dari perkelahian ternyata, bahwa Lamat mampu mengimbangi kecepatan bergerak Ki Reksatani yang selama ini seakan-akan merupakan tokoh di dalam dongeng-dongeng tentang seorang yang tiada duanya di dunia.

Meskipun  demikian, perkelahian itu ternyata telah memukau setiap orang yang menyaksikannya. Serangan Ki Reksatani datang bagaikan badai yang melanda dengan dahsyatnya. Tetapi Lamat adalah raksasa yang berdiri tegak bagaikan batu karang.

Manguri yang menyaksikan perkelahian itu berdiri termangu-mangu. Kini ia melihat kebenaran dari ceritera yang merambat dari mulut ke mulut tentang Ki Reksatani. Tangannya dapat bergerak secepat tatit di udara. Sedang kakinya mampu meloncat melampaui loncatan belalang.

Yang tidak diduganya adalah justru Lamat. Manguri mengetahui bahwa orang itu memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa. Tetapi ia tidak menyangka sama sekali, bahwa Lamat mampu melawan Ki Reksatani tidak sekedar mempergunakan kekuatan yang diterimanya dari alam. Tetapi ia mampu melawan dengan ilmu olah kanuragan yang mengagumkan. Lamat  pun mampu berkelahi dengan dahsyatnya seperti juga yang dilakukan oleh Ki Reksatani, di samping kekuatannya yang melampaui kekuatan seorang manusia biasa.

Demikianlah perkelahian itu pun segera berlangsung dengan dahsyatnya. Perkelahian antara dua orang raksasa di dalam olah kanuragan. Perkelahian yang jarang terjadi, apalagi di padukuhan kecil seperti padukuhan Sembojan.

Itulah sebabnya, maka perkelahian itu benar-benar telah menggemparkan orang Sembojan. Mereka melihat dua orang yang berkelahi dengan dahsyatnya. Mereka melihat di sudut halaman itu perempuan yang mereka sangka perempuan gila itu masih terbaring diam. Namun, tidak seorangpun dari mereka yang berani mendekati perkelahian itu. Tidak seorang pun  yang berani berbuat sesuatu di dalam perkelahian itu.

Dengan demikian, maka orang-orang yang semula sibuk dengan api yang hampir menelan seluruh bangunan itu perhatian menjadi terbagi. Sebagian memperhatikan api yang masih melonjak sampai ke langit, dan sebagian perhatian mereka terampas oleh perkelahian yang semakin lama menjadisemakin dahsyat itu.

Perlawanan Lamat benar-benar tidak diduga pula oleh Ki Reksatani. Ia memang sudah memperhitungkan bahwa membunuh Lamat bukanlah pekerjaan-pekerjaan yang mudah. Tetapi bahwa Lamat mampu melawan dengan caranya, benar-benar telah menggetarkan dadanya. Namun demikian, kemarahannya pun  menjadi semakin berkobar di dadanya.

“Dari mana setan gundul ini mendapatkan ilmunya “Ki Reksatani menggeram di dalam hatinya. Namun nama Ki Reksatani benar-benar bukan sekedar sebutan yang kosong. Semakin lama menjadi semakin nyata, betapa ia menguasai ilmunya dengan matang.

Kedua tangannya yang bergerak berputaran, benar-benar membingungkan. Sekali-sekali ia meloncat bagaikan terbang dengan tangannya yang mengambang. Kemudian menukik sambil mengayunkan serangan mautnya. Tandangnya bagaikan seekor burung garuda raksasa yang dengan garangnya menyerang mangsanya.

Namun Lamat sama sekali tidak menjadi gentar karenanya. Bagaikan seekor naga yang perkasa ia melawan kuku-kuku garuda yang ganas yang menyambarnya dari segenap arah. Namun dengan taringnya yang tajam, naga raksasa itu berhasil menghalau lawannya yang mengerikan itu.

Tetapi Ki Reksatani mampu menyerang lawannya dengan kedua tangannya yang menjulur ke depan, bagaikan seekor harimau yang menerkam lawannya. Dengan kuku-kukunya yang tajamnya dan giginya yang runcing ia siap untuk merobek tubuh mangsanya. Namun Lamat mampu pula bertempur bagaikan banteng ketaton. Tanpa menghiraukan keadaan tubuhnya sendiri Lamat mengamuk dengan dahsyatnya.

Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Kaki-kaki mereka yang berloncatan telah menghamburkan debu yang putih keudara. Pepohonan perdu menjadi berserakan. Ranting-ranting berpatahan dan batubatu berterbangan tersentuh oleh kaki-kaki mereka.

Manguri benar-benar membeku di tempatnya. Ia adalah seorang anak muda yang mempunyai pengetahuan tentang olah kanuragan. Tetapi ia tidak dapat membayangkan, bahwa perkelahian yang terjadi adalah perkelahian yang sedemikian dahsyatnya.

Dalam pada itu, ketika keduanya sedang dicengkam oleh nafas maut yang berhembus di jalan pernafasan mereka, Manguri melihat Sindangsari mulai bergerak-gerak. Tiba-tiba timbullah niatnya untuk mendekatinya. Apa pun yang akan terjadi dengan perkelahian itu, namun Sindangsari harus diselamatkan.

Demikianlah, dengan diam-diam ia bergeser dari tempatnya. Sekali-sekali ia memandangi perkelahian yang hampir tidak dapat diikutinya itu. Kemudian dipandanginya sekelilingnya. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan, diterangi oleh sinar api yang kemerah-merahan.

Tetapi ketika Manguri berjongkok di samping Sindangsari ia merasa bahunya digamit seseorang. Ketika ia berpaling maka darahnya bagaikan berhenti mengalir. Dilihatnya seperti bayangan hantu yang tersembul dari dalam api yang menyala itu. Wajah yang keras tegang berwarna tembaga.

Dengan gerak naluriah Manguri meloncat berdiri. Kemudian berdiri tegak diatas kakinya yang renggang. Wajahnya pun  kemudian menegang. Dengan tajamnya ia memandang seorang anak muda yang berdiri di hadapannya. Pamot.

“Kita bertemu disini Manguri” geram Pamot.

“Gila” Manguri pun menggeram “kenapa kau sampai juga ke tempat ini?”

Pamot memandang Manguri dengan tajamnya. Sejenak ia mencoba untuk mengendapkan perasaannya, agar ia tidak terseret oleh arus darahnya yang bergolak seperti banjir.

Dalam pada itu, Ki Reksatanipun terkejut pula ketika ia melihat Pamot telah berada di halaman itu pula. Sejenak ia meloncat mundur untuk mendapat kesempatan meyakinkan penglihatannya. Dan ia tidak salah lagi. Orang itu adalah Pamot.

Dengan demikian, maka Ki Reksatani pun  harus mengambil keputusan segera. Ternyata ia benar-benar menghadapi persoalan yang tidak diduganya sama sekali. Bukan saja Pamot tetapi beberapa anak-anak muda dari Gemulung telah ada di sekitar arena itu. Punta juga sudah berdiri tegak dengan wajah yang tegang.

Ki Reksatani tidak mendapat kesempatan lagi. Ia harus segera megambil sikap karena Lamat telah menyerangnya pula dengan garangnya.

“Selamatkan perempuan itu” tiba-tiba Ki Reksatani berteriak.

Beberapa orang yang berdiri di sekitar arena itu menjadi termangu-mangu. Ia tidak begitu jelas mendengar perintah yang diteriakkan oleh Ki Reksatani. Bahkan mereka menangkap maksud kata-kata itu berlainan satu dengan yang lain. Bukankah Ki Reksatani merencanakan untuk membunuh Manguri dan orang-orangnya, kemudian sudah tentu juga Sindangsari? Apakah perintah itu berarti, bahwa mereka harus melakukannya sekarang, membunuh Sindangsari?.

Dalam keragu-raguan itu sekali lagi terdengar Ki Reksatani berteriak “Jangan biarkan perempuan itu jatuh ke tangan anak-anak Gemulung”

Kini barulah mereka menjadi jelas Mereka pun segera meloncat menyerang Pamot yang berdiri berhadapan dengan Manguri.

Tetapi Pamot tidak seorang diri. Bukan sekedar bersama Lamat. Tetapi Pamot berada di halaman itu bersama beberapa orang kawannya. Dari Gemulung, dari Kali Mati dan dari Sembojan sendiri. Bahkan Ki Jagabaya di Prambanan pun  telah ada di tempatitu pula.

Dengan demikian, ketika serangan itu datang, bukan Pamot yang harus melawan mereka, tetapi anak-anak muda itu pun  segera berloncatan menyongsong mereka.

“Gila” desis Ki Reksatani yang sambil bertempur sempat juga menyaksikan perkelahian yang segera membakar hampir seluruh halaman belakang “dari mana mereka mendapat kawan sebanyak itu?”

Sejenak timbullah penyesalannya bahwa beberapa orang Manguri pasti sudah terlanjur terbunuh oleh orang-orangnya di dalam kekisruhan itu, sehingga apabila diperlukan, sulitlah baginya untuk mendapatkan bantuan dari pihak manapun  juga.

“Bagaimana mereka dapat sampai ke tempat ini” berkata Ki Reksatani di dalam hatinya. Namun tiba-tiba saja darahnya bagaikan menggelegak ketika terpandang olehnya wajah Lamat yang kasar sekasar padas.

“Pasti kaulah pengkhianat itu” geram Ki Reksatani.

Terasa dada Lamat berdesir tajam. Sungguh pahit untuk mendengar tuduhan itu. Pangkhianat.

Apalagi ketika sejenak kemudian ia melihat ayah Manguri datang dengan tergesa-gesa ke arena itu. diikuti oleh isterinya yang berlari-lari kecil. Sejenak ayah Manguri itu membeku ketika ia melihat Lamat sedang bertempur dengan dahsyatnya melawan Ki Reksatani. Hampir tidak dapat di bayangkan, bahwa perkelahian yang demikian dapat terjadi.

Sejenak kemudian ayah Manguri itu pun melangkah mendekati Manguri yang berdiri tegak dengan tegangnya berhadapan dengan Pamot. Perlahan-lahan ayah Manguri itu berkata “Kita sudah dikhianati”

“Lamatlah yang telah berkhianat” desis Manguri.

Wajah ayah Manguri menjadi merah padam. Kini ia berdiri menghadap perkelahian antara Lamat dan Ki Reksatani. Perkelahian yang sama sekali tidak dapat diduga, siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Mereka adalah orang-orang yang tangkas ian kuat. Bahkan Ki Reksatani dan Lamat yang ingin segera memenangkan perkelahian sebelum nafas mereka menjadi semakin terengah-engah itu telah mencabut senjata masing masing. Ki Reksatani menggenggam senjata di kedua tangannya. Sebilah pedang di tangan kanan dan keris pusakanya di tangan kiri. Sedang Lamat pun telah menggenggam senjatanya yang mengerikan, sebuah golok yang besar dan tebal.

“Lamat” desis ayah Manguri “kenapa kau khianati kami?”

Lamat tidak menyahut. Tetapi kata-kata itu sangat berpengaruh di hatinya. Meskipun  demikian ia masih berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh kata-kata itu.

“Kau jugakah yang telah membunuh beberapa orang kami di halaman ini?” bertanya ayah Manguri “aku sudah menemukan tiga mayat dari mereka. Semuanya telah ditusuk dipunggungnya. Suatu pembunuhan yang licik dan pengecut”

Kata-kata itu benar-benar bagaikan duri yang menusuk dinding jantung raksasa yang sedang berkelahi itu. Tetapi Lamat berusaha agar ia sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata.

“Lamat” ayah Manguri seakan-akan telah berbisik di telinganya “Kenapa kau sampai hati berbuat demikian?”

Lamat mengatupkan giginya rapat-rapat.

“Jawablah Lamat. Jawablah? Apakah salah kami sekeluarga kepadamu? Apakah aku sudah menyakiti hatimu? Atau barangkali anakku atau isteriku atau siapa pun juga?”

Lamat tidak menjawab. Ia tetap mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Namun demikian terasa sesuatu menggelitik hatinya justru pada saat ia bertempur melawan seorang yang pilih tanding, Ki Reksatani.

Untuk menghalau kegelisahan yang mulai menyentuh perasaannya tiba-tiba Lamat berteriak nyaring “Pamot, cepat bawa Nyai Demang kepada suaminya, sebelum kita terlambat”

“Gila” Ki Reksatani pun berteriak pula “kalau kau sentuh perempuan itu, aku akan membunuh kalian secepatnya”

Namun Pamot mengerti, bahwa untuk melawan Lamat Ki Reksatani harus memeras segenap kemampuannya.

Tetapi di dekat Sindangsari itu berdiri Manguri. Karena itu Lamat sadar, bahwa ia harus Mengambil Sindangsari dengan kekerasan. Apalagi ketika ia sadar, bahwa ia telah berada di tengah-tengah arena perkelahian yang seru. Anak-anak muda Gemulung yang datang bersamanya telah terlibat di dalam perkelahian. Bahkan Rajab dan kawan-kawannya pun telah membantu mereka, melawan orang-orang Ki Reksatani dan orang-orang Manguri yang tersisa.

“Jangan sentuh perempuan itu” Manguri yang juga mendengar suara Lamat itu pun menggeram.

Tetapi Pamot maju selangkah, Manguri baginya adalah musuh bebuyutan. Manguri pernah berusaha untuk membinasakannya. Sehingga dengan demikian, maka kemarahannya itu serasa kini telah terungkat.

“Manguri” geram Pamot “jangan halangi aku supaya kau tidak terlibat terlampau parah di dalam masalah ini” berkata Pamot.

“Persetan” sahut Manguri “aku masih tetap akan membunuhmu. Ternyata kegagalan yang pernah terjadi adalah karena pengkhianatan Lamat. Aku tidak menyangka, bahwa ia seorang yang licik dan pengecut.”

“Jangan salahkan Lamat. Ia melihat bahwa kau berdiri di jalan yang sesat. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk membawamu kembali ke jalan yang benar. Ia selalu kau anggap sebagai seekor kerbau yang dungu. Seekor kerbau yang telah dicocok hidungnya. Apa pun yang kau lakukan, ia tidak boleh membantah. Dan bahkan bertanya pun tidak ada kesempatan”

“Bohong” teriak Manguri.

“Sudahlah” berkata Pamot “jangan ganggu aku. Aku akan mengembalikan perempuan ini kepada suaminya”

Manguri menggeretakkan giginya. Ketika ia berpaling sejenak, dilihatnya Sindangsari meggeliat.

Namun ia tidak sempat berbuat apa-apa, karena Pamot telah melangkah maju sambil berkata “Menyingkirlah, dan jangan ganggu perempuan itu lagi”

Dada Manguri serasa meledak karenanya. Ia tidak menjawab lagi. Namun dengan tiba-tiba saja ia telah menyerang Pamot dengan garangnya.

Serangan itu telah mengejutkan Pamot. Tetapi ia segera menguasai perasaannya, sehingga ia masih sempat menghindari serangan Manguri yang datang dengan tiba-tiba itu.

Dengan demikian, maka keduanya  pun kemudian telah terlibat dalam perkelahian pula. Manguri mencoba berjuang sekuat-kuatnya untuk dapat mengimbangi Pamot. Selama ini ia tidak pernah menjadi cemas, karena ia selalu dilindungi oleh Lamat. Tetapi kini Lamat telah memilih jalannya sendiri. Sehingga dengan demikian ia harus berjuang sendiri untuk menyingkirkan Pamot.

Tetapi Manguri masih berpengharapan, karena ayahnya masih berdiri bebas. Ia mengharap bahwa ayahnya akan membantunya dan bersama-sama membinasakan Pamot.

Dengan demikian maka, Manguri  pun telah mencoba menggeser diri sambil bertempur mendekati ayahnya yang berdiri termangu-mangu memandang perkelahian itu.

Tetapi ternyata bahwa ayah Manguri tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun  ia melihat anaknya bertempur melawan Pamot, namun ia masih tetap berdiri saja di tempatnya. Di sampingnya berdiri seorang yang berdahi lebar dan bermata tajam, Orang itu adalah Jagabaya di Prambanan.

“Biarkan saja mereka berkelahi” berkata Ki Jagabaya “kau tidak perlu mencampurinya. Bukankah kau suami perempuan yang rumahnya terbakar itu?”

Ayah Manguri tidak menyahut.

“Perempuan itu hampir diusir dari padukuhan ini” berkata Ki Jagabaya selanjutnya “tetapi aku masih mencegahnya. Aku masih ingin menunggu, barangkali suaminya dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki tingkah lakunya”

Ayah Manguri mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia tertarik kepada ceritera Ki Jagabaya.

“Tetapi kau juga ikut bersalah, karena kau terlampau lama meninggalkan setiap kali. Kau jarang-jarang datang ke rumah ini. Justru karena ia pernah bersuami, dan suaminya tidak pernah datang kepadanya itulah yang telah membuatnya berbuat tidak senonoh di padesan ini. Tetapi ketika ia dipanggil oleh tetua padukuhan, ia sudah berjanji untuk memperbaiki kelakuannya”

Dada ayah Manguri menjadi semakin berdebar-debar. Namun tiba-tiba ia seakan-akan terbangun dari tidurnya. Anaknya sedang bertempur mati-matian melawan Pamot. Tidak selayaknya ia memikirkan kepentingannya sendiri. Kalau perempuan ini memang pernah berbuat gila, biarlah rumahnya terbakar, dania tidak akan datang lagi kepadukuhan ini.

“Sebaiknya kau tidak usah ikut campur” desis Ki Jagabaya.

“Tetapi itu anakku” jawabnya.

Anakmu bersalah. Ia mengelabui orang-orang di sekitar rumah ini. Kau katakan perempuan yang dilarikan oleh anakmu itu perempuan gila. Aku tahu sekarang, bahwa perempuan itu adalah isteri Ki Demang di Kepandak. Adalah tugas kami untuk saling menolong. Suatu saat, kami memerlukan pertolongan Ki Demang di Kepandak kalau terjadi sesuatu atas Kademangan ini, dan pelakunya berada di Kepandak”

Ayah Manguri hanya dapat mengatupkan giginya rapatrapat. Ia tidak tahu, apakah Ki Jagabaya mempunyai kemampuan cukup untuk melawannya. Tetapi Ki Jagabaya mempunyai pengaruh yang besar di padukuhan ini, sehingga apabila ia memberi isyarat sedikit saja, maka orang-orang yang semula ketakutan, pasti akan berpikir sekali lagi. Apalagi apabila mereka sudah melihat Ki Jagabaya itu ikut bertempur.

Perkelahian di halaman belakang rumah isteri muda ayah Manguri itu menjadi semakin seru. Ki Reksatani dan Lamat pun seolah-olah telah sampai pada puncak kemampuan masing-masing. Sedang di bagian lain anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan berkelahi dengan sengitnya pula.

Ternyata bahwa orang-orang Ki Reksatani dan sisa-sisa orang-orang Manguri mempunyai pengalaman berkelahi lebih banyak dari anak-anak muda itu. Hanya beberapa orang yang benar-benar telah mengalami tempaan lahir batin di dalam perjalanan ke Betawi sajalah yang sama sekali tidak gentar menghadapi lawan-lawan mereka, betapapun buas dan kasarnya tandang mereka.

Sedang Pamot yang telah pernah menyimpan dendam kepada Manguri, seolah-olah kini teraduk kembali. Dengan penuh kemarahan ia mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mengalahkan Manguri, agar anak itu tidak mengganggunya lagi, apabila ia akan membawa Sindangsari kembali ke Kepandak.

Tetapi Manguri pun berusaha melawan sebaik-baiknya. Ia telah memeras seluruh tenaganya. Ia sama sekali tidak rela, apabila Pamot masih juga menyentuh Sindangsari yang selama ini seakan-akan telah menjadi wewenangnya.

Namun, bagaimanapun  juga Manguri berjuang, ternyata Pamot memiliki ilmu yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka Manguri pun  segera dapat didesaknya.

Dalam pada itu, Ki Reksatani yang bertempur melawan Lamat pun  telah sampai pada ujung kemampuan mereka Ki Reksatani yang tidak terkalahkan itu ternyata mengalami kesulitan melawan raksasa yang tiba-tiba menjadi demikian garangnya. Apalagi Lamat memiliki kekuatan jasmaniah yang luar biasa.

Tetapi meskipun ayah Manguri tidak dapat ikut bertempur, namun ia tidak tinggal diam. Ia sadar, bahwa kata-katanya dapat menyentuh hati Lamat. Dengan demikian ia akan dapat memperlemah perlawanannya, meskipun ayah Manguri itu masih belumtahu, apa yang akan terjadi kemudian.

“Lamat” berkata ayah Manguri kemudian “apakah kau sudah benar-benar melupakan keluargaku? Mungkin kau tidak bersangkut paut dengan Ki Reksatani, tetapi kau tidak dapat berbuat demikian kepadaku”

Lamat menggeretakkan giginya. Ia memusatkan segenap perhatiannya kepada sepasang senjata Ki Reksatani yang sangat berbahaya baginya. Kalau keris pusaka itu berhasil menyentuh kulitnya, maka itu akan berarti maut baginya.

“Lamat” Ayah Manguri masih berkata terus “ingatlah. Di saat kau diterkam oleh maut di masa kecilmu, akulah yang menolongmu. Saat itu rumahmu terbakar, ayahmu dan ibumu tidak dapat menghindarkan dirinya karena perampok-perampok yang datang ke rumahmu itu. Akulah yang sempat menyelamatkan kau, meskipun menyesal sekali, aku tidak dapat menolong ayah dan ibumu. Aku telah menyabung nyawaku melawan perampok-perampok itu. Akhirnya kau selamat. Aku telah memeliharamu sampai kau menjadi dewasa, dan kini kau telah tumbuh menjadi seorang raksasa yang perkasa”

“Cukup, cukup” tiba-tiba Lamat berteriak. Suaranya menggelegar memenuhi halaman.

Namun dengan demikian ayah Manguri yakin, bahwa usahanya akan berhasil. Karena itu ia berniat untuk terus mempengaruhiperasaan raksasa itu.

Tetapi sebelum ia berkata sesuatu lagi, Ki Jagabaya berdesis “Kau memang orang yang cerdas. Kau dapat bertempur tanpa bergeser dari tempatmu. Bukankah dengan demikian kau telah ikut menentukan kekalahan raksasa itu?”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Aku menyayanginya. Aku mencoba untuk menyadarkannya dari kekhilafan itu”

Dada Lamat benar-benar telah bergelora. Karena itu, sekali lagi ia berteriak “Pamot, bawa Sindangsari pergi. Bawa ia secepatnya kepada suaminya, Ki Demang di Kepandak, sebelum aku kehilangan kemampuanku melawan hantu ini”

“Diam kau, diam” bentak Ki Reksatani. Tetapi Ki Reksatani pun  tidak dapat berbuat banyak selain membentak-bentak, karena Lamat masih mampu menjaga keseimbangan perkelahian itu, betapapun  perasaannya mulai dirayapi oleh kepahitan hidup di masa kanak-kanaknya.

Pamot mendengar suara Lamat itu. Tetapi ia masih bertempur melawan Manguri meskipun  ia yakin bahwa ia akan dapat mengalahkannya. Namun ia memerlukan waktu. Ia memerlukan waktu untuk menumpahkan kemarahan yang selama ini telah terangkat kembali di dadanya.

“Aku bunuh anak ini” ia menggeram. Segores luka telah menyilang di pundak Manguri yang menyeringai kesakitan.

Tetapi ia tidak dapat mengabaikan suara Lamat, sehingga dengan demikian, ia justru menjadi termangu-mangu sejenak, sehingga kadang-kadang ia kehilangan pengamatan diri di dalam perkelahian itu. Bahkan sekali-sekali ia harus meloncat surut ketika ujung pedang Manguri hampir menyobek dadanya.

Selagi Pamot menggeram sambil memusatkan segenap perhatiannya kepada ujung senjata lawannya, tiba-tiba seseorang meloncat di hadapannya dengan pedang telanjang. Orang itu langsung bertempur melawan Manguri sambil berkata “Pamot, kau dengar suara Lamat?”

Orang itu adalah Punta. agaknya ia dapat membebaskan diri dari lawannya, dan berusaha untuk menggantikan Pamot.

“Biarlah aku membunuhnya” Pamot menggeram “aku sudah melukainya. Sebentar lagi ia akan kehilangan segenap darahnya,daniaakan matiterkaparditanah”

Manguri berdesir mendengar suara Pamot. Suara itu seakan-akan bukan suara Pamot sehari-hari. Seakan-akan suara yang geram itu bergetar dari dasar api yang paling panas, dan siap menyeretnya ke dalamnya.

Manguri menjadi ngeri karenanya. Selama ini ia tidak pernah gentar berhadapan dengan siapapun. Tetapi kini ia sadar, bahwa hal itu bukan karena kepercayaannya kepada diri sendiri. Tetapi selama itu ia mempercayakan dirinya kepada Lamat. Raksasa yang jinak itu, tetapi yang pada suatu saat telah terbangun dan menjadi seakan-akan liar bagi Manguri.

Dan kini, dalam keadaan yang dirasakannya terlampau lemah itu ia berdiri berhadapan dengan Pamot yang sedang diamuk oleh kemarahan. Namun dengan demikian, Manguri yang merasa dirinya tidak dapat mengelak lagi itu pun menjadi seperti orang kesurupan. Dibayangi oleh keputus-asaan ia berkelahi seperti serigala kelaparan.

Kini Punta datang untuk menggantikan Pamot. Bagi Manguri Punta dan Pamot hampir tidak ada bedanya. Keduanya adalah hantu-hantu bertangan maut yang dapat saja setiap saat mencabut nyawanya.

Namun yang lebih menyakitkan hatinya kemudian adalah kata-kata Punta “Pamot, jangan hiraukan kelinci ini. Tanpa Lamat ia tidak berarti apa-apa. Sekarang, selamatkan Sindangsari. Seorang kawan Rajab telah menyiapkan seekor kuda buatmu, dan seekor lagi buat seseorang yang akan mengawanimu. Cepat, bawa Sindangsari kepada suaminya sebelum mengalami sesuatu di sini”

Pamot ragu-ragu sejenak. Justru karena itu, hampir saja sekali lagi senjata Manguri mengenainya. Untunglah Punta sudah siap mengambil alih perkelahian itu, sehingga senjata Manguri itu telah membentur senjata Punta.

Pamot  pun kemudian terdesak ke samping ketika Punta mulai menggerakkan senjatanya. Sekali lagi Punta berkata “Jangan termangu-mangu seperti orang linglung. Cepat berbuatlah sesuatu”

Pamot mundur selangkah. Dan kini ia mendengar suara Lamat “Cepat Pamot. Lakukanlah. Aku akan menahan iparnya yang telah berkhianat”

“Diam kau” bentak Ki Reksatani “kau juga telah berkhianat”

“Ya. Kita sama-sama pengkhianat. Karena itu, apa pun yang akan terjadi atas kita berdua, tidak sepantasnya mendapat perhatian. Kita akan sama-sama mati dan dicampakkan ke dalam tempat sampah dan akan dikubur di bawah timbunan kotoran yang paling hina”

“Diam, diam” bentak Ki Reksatani “aku bukan pengkhianat, tetapi aku didorong oleh cita-cita”

“Darimana kita memandang, aku dapat menyebut diriku sedang memperjuangkan sendi-sendi kemanusiaan yang akan kau tumbangkan bersama orang-orangmu di Kepandak”

“Omong kosong” teriak Ki Reksatani sambil menyerang semakin garang.

Pamot masih saja termangu-mangu. Namun sejenak kemudian seorang anak muda menggamitnya sambil berbisik “Pamot, kuda itu sudah siap”

Pamot menjadi berdebar-debar. Dilihatnya Sindangsari yang masih terbaring, meskipun sekali-sekali ia sudah menggeliat.

“Cepat”

Pamot masih berdiri termangu-mangu. Bahkan sejenak disapunya halaman belakang itu dengan tatapan matanya. Ia melihat perkelahian yang tersebut di halaman itu. Agaknya anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan telah membantu mereka dengan segenap hati, ditunggui oleh Ki Jagabaya sendiri. Sedang beberapa puluh orang Sembojan yang dengan cemas-cemas menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan, seakan-akan semuanya memandang ke arahnya.

“Percayalah. Semuanya akan dapat dibatasi disini” desis anak muda itu “Kalau perlu, Ki Jagabaya tidak akan segan-segan berbuat sesuatu. Orang-orang yang ketakutan itu akan segera terbangun apabila mereka mendengar perintah Ki Jagabaya di saat-saat yang berbahaya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika ia melangkah maju mendekati, langkahnya pun tertegun. Tiba-tiba saja ia merasa, ada dinding penyekat yang kuat membatasinya dengan perempuan itu. Sendangsari kini sudah menjadi isteriorang lain.

“Cepat Pamot. Kenapa kau menjadi bingung” teriak Punta yang tidak sabar lagi melihat sikap Pamot yang termangu-mangu “Apakah kau menunggu Sindang sari mati di pertempuran ini?”

Tiba-tiba Pamot tersadar. Ia harus menolong perempuan itu. Siapa pun juga. Namun ia adalah isteri Ki Demang di Kepandak. Seperti juga yang lain, mereka menyerahkan dirinya di dalam suatu sikap itu. Menolong sesama.

Pamot pun kemudian menggeretakkan giginya. Ia mencoba mengusir segenap perasaan yang ada padanya. Ia mencoba melepaskan dirinya dari kenangan dan ikatan yang pernah ada.

Meskipun  ia masih juga ragu-agu, tetapi ia pun kemudian mendekati Sindangsari dan berjongkok disampingnya.

Dadanya berdesir ketika ia melihat Sindangsari mulai menggerakkan kepalanya. Namun ia tidak sempat berpikir lagi, ketika sekali lagi anak muda itu menggamitnya “Kudamu sudah siap, dan seorang kawanmu dari Gemulung pun sudah siap pula mengantar kau kembali membawa Nyai Demang di Kepandak”

Pamot tidak lagi mau berpikir. Dengan hampir memejamkan matanya, Pamot mulai berbuat sesuatu. Ia bergeser maju, dan sambil menggeretakkan giginya, untuk mendorong kekuatan hatinya, Sindangsari pun kemudian diangkatnya diatas kedua tangannya. Perempuan yang masih sangat lemah itu pun sama sekali belum menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi atasnya.

Ketika ujung jari-jari Pamot menyentuh tubuh Sindangsari, terasa, seakan-akan darahnya berhenti mengalir. Hanya dengan menghentakkan diri ia mendapatkan kekuatan untuk mendukung Sindangsari itu keluar dari halaman belakang rumah isteri muda ayah Manguri itu.

Ki Reksatani masih sempat melihat Pamot membawa Sindangsari yang lemah itu diatas kedua tangannya. Terasa jantung seolah-olah telah tersayat. Betapa kemarahan yang tidak tertahankan meledak-ledak di dalam dadanya.

“He, anak gila” Ki Reksatani berteriak “lepaskan perempuan itu. Kau akan menyesal kalau kau tidak mau mendengar kata-kataku”

Tetapi Pamot sama sekali tidak berpaling. Apalagi ketika ia mendengar kata-kata Lamat “Jangan hiraukan Pamot. Cepat, tinggalkan neraka ini”

Pamot melangkah semakin cepat. Dan ia masih mendengar Ki Reksatani berteriak kepada anak buahnya “Tahan anak itu. Jangan biarkan perempuan itu dibawa pergi”

Tetapi tidak seorang pun dari anak buahnya yang dapat mencegah Pamot meninggalkan halaman itu. Dengan hati-hati ia meloncati pagar dibantu oleh anak muda yang menyediakan kuda untuknya.

“Pergilah”berkata anak muda itu “itu kudamu”

Pamot melihat dua ekor kuda yang besar di halaman rumah tempat ia bersembunyi bersama kawan-kawannya. Kuda itu seperti kudanya yang ditinggalkannya di Kali Mati. Kuda yang didapat dari Mataram.

“Kami akan memelihara kudamu baik-baik. Pakailah kudaku”

Pamot memandang anak muda itu. Ia belum begitu mengenalnya. Mungkin ia pernah melihatnya di dalam perjalanan ke Betawi. Tetapi ia tidak ingat lagi.

“Jangan hiraukan orang-orang yang kini sedang bertempur itu. Aku kira anak-anak muda Sembojan dan Kali Mati akan dapat menguasainya. Apalagi ada Punta dan seorang anak Gemulung” anak muda itu berhenti sejenak, lalu “terlebih-lebih lagi seorang yang bertubuh raksasa itu. Tanpa orang itu, aku kira memang sulit untuk menguasai orang yang bernama Reksatani itu”

Pamot menganggukkan kepalanya. Bersama seorang kawannya yang datang dari Gemulung. Ia pun kemudian naik ke punggung kudanya sambil mendukung Sindangsari. Ditolong oleh kawannya, perlahan-lahan Sindangsari diletakkannya didalam tangan Pamot.

“Selamat jalan” berkata anak muda itu “berhati-hatilah. Bukan perjalanan yang dekat. Kau akan melampaui malam ini dan mungkin kau masih harus berpacu besok sampai matahari sampai ke puncak. Kau tidak dapat terlampau cepat, dan mungkin perempuan ini dapat menimbulkan pertanyaan di sepanjang perjalananmu”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa perjalanannya bukanlah perjalanan tamasya dengan seorang gadis menjelang hari perkawinan.

“Aku akan mengambil jalan memintas. Mungkin jalannya kurang baik. Tetapi sejauh mungkin dapat menghindari kecurigaan orang lain. Mudah-mudahan aku dapat sampai ke Kademangan Kepandak dengan selamat”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ketika tanpa disadarinya ia memandang wajah Sindangsari yang pucat, terasa dadanya berdesir. Namun dihalaunya segala macam perasaannya yang melonjak di dadanya. segala macam perasaan yang melonjak di dadanya. Kini ia berada dalam keadaan yang serba cepat. Karena itu maka ia pun kemudian berkata “Terima kasih atas semua pertolonganmu, Rajab dan kawan-kawan yang lain dari Kademangan ini. Terima kasih pula kepada Ki Jagabaya dan para bebahu yang telah melindungi kami. Aku akan segera minta diri. Mudah-mudahan Tuhan Yang Kuasa melindungi perjalananku”

Anak muda itu mengangguk. Dengan hati yang berat ia melepaskan Pamot membawa Sindangsari meninggalkan halaman rumah itu, dikawani oleh seorang anak muda dari Gemulung pula.

Sejenak kemudian, maka kedua ekor kuda itu pun sudah berderap di kegelapan malam meninggalkan daerah peperangan yang semakin kisruh, serta menjauhi api yang seakan-akan menyala dari dalam neraka.

Tetapi api itu semakin lama menjadi semakin susut. Rumah isteri muda ayah Manguri itu pun telah habis menjadi abu. Satu-satu masih terdengar sepotong bambu yang meledak, kemudian gemersik sisa-sisa kayu dan dinding yang masih menyala.

Sepeninggal Pamot, maka kemarahan Ki Reksatani bagaikan memecahkan dinding dadanya. Hampir tidak masuk diakalnya, bahwa yang terjadi sama sekali jauh dari yang diduganya. Ia sama sekali tidak memperhitungkan pengkhianatan Lamat, tidak memperhitungkan kekuatan anak-anak Sembojan dan sekitarnya. Tetapi kini semuanya itu harus dihadapinya.

Sambil menggeram Ki Reksatani mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Bukan sia-sia ia disebut orang yang tidak terkalahkan di Kademangan Kepandak. Semua ilmu yang ada padanya, semua kekuatan dan kemampuan, semua tenaga cadangannya lelah dikerahkannya untuk segera dapat mengalahkan lawannya. Namun Lamat melawannya dengan segenap kemampuan yang ada padanya pula.

Dengan demikian, maka perkelahian mereka pun menjadi semakin lama semakin seru. Seolah-olah mereka sama sekali bukan terdiri dari daging dan tulang yang dapat kehilangan kekuatan dan kemampuan apabila telah sampai pada batas kemungkinannya.

Derap kaki-kaki kuda Pamot membuat darah Ki Reksatani benar-benar mendidih. Hampir di luar sadarnya, ia pun berteriak “Sediakan kudaku”

Beberapa orangnya mendengar teriakan itu. Tetapi mereka masih terikat dalam perkelahian sehingga sulitlah bagi mereka untuk melepaskan diri.

Namun demikian, mereka menyadari, bahwa Ki Reksatani harus dapat menyusul Pamot yang membawa Sindangsari itu. Kalau keduanya berhasil mencapai Kademangan Kepandak, maka Ki Reksatani dan orang-orangnya tidak akan banyak mengalami kesulitan.

Karena itu, bagaimanapun juga, salah seorang dari orang Ki Reksatani itu pun dengan susah payah berhasil menyelinap diantara perkelahian itu. Dengan tergesa-gesa ia berlari ke tempat kuda mereka tertambat.

Yang kemudian dipersiapkan, bukan saja kuda Ki Reksatani, tetapi kuda-kuda yang lain pun telah dipersiapkan pula. Ia menyadari, apabila perlu, maka kuda-kuda itu pun pasti akan dipergunakan juga.

Tetapi ternyata terlampau sulit bagi Ki Reksatani untuk dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan segera. Betapa ia mencoba mengerahkan semua kekuatan yang ada, namun ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dengan cepat, sesuai dengan keinginannya. Dengan demikian, betapa pun kemarahan, kecewa dan dendam membara di hatinya, tetapi ia masih harus tetap bertempur terus dengan sekuat tenaganya.

Dalam pada itu, Pamot telah berusaha memacu kudanya secepat dapat dilakukan. Di belakangnya seorang kawannya selalu mengikutinya. Mungkin di perjalanan Pamot memerlukan bantuannya, dan mungkin pula Pamot memerlukan seorang saksi apabila ia menghadap Ki Demang di Kepandak untuk menyerahkan Sindangsari, bahwa bukan Pamot lah yang telah menyembunyikannya.

Mereka telah memilih jalan melintas. Jalan yang lain dari yang ditempuhnya ketika mereka berangkat ke Kali Mati. Meskipun jalan yang ditempuhnya kini agak lebih jelek dari jalan di saat mereka berangkat, tetapi Pamot menganggap bahwa jalan ini adalah jalan yang paling aman.

“Asal aku tidak tersesat” desisnya di dalam hati.

Dan kudanya  pun berlari terus, melalui pategalan dan jalan setapak di hutan rindang. Kadang-kadang mereka melalui bulak yang panjang di tengah-tengah padang rumput dan tanah-tanah tandus mereka harus menyusup rimbunnya daun-daun perdu yang berserakan, sulur-sulur batang-batang merayap dan batang-batang ilalang.

“Aku agak bingung” desis Pamot kemudian.

“Jalan terus” berkata kawannya “kita akan sampai ke Tanjung Sari, kemudian kita akan menyusup hutan dan melingkari rawa-rawa. Kita akan sampai ke Tegal Payung. Kita akan melingkar kekanan”

“Kalau sudah sampai di sana, barangkali aku tidak akan bingung lagi”

“Nah, teruslah”

Pamot berpacu terus. Tetapi terasa tangannya yang menahan tubuh Sindangsari menjadi lelah. Meskipun  demikian ia harus berusaha melayaninya terus, agar perempuan itu tidak terjatuh.

Ternyata angin yang silir telah membuat tubuh Sindangsari menjadi semakin segar. Perlahan-lahan ia mulai menyadari dirinya. Tetapi ia tidak segera dapat menangkap getaran di luar dirinya itu. Ia tidak segera mengerti, dimanakah ia, dan dalam keadaan bagaimana.

Sindangsari merasa tubuhnya seakan akan telah diguncang-guncang. Kemudian sebuah desir angin yang halus mengusap wajahnya, seolah-olah belaian tangan ibunya di masa kanak-kanaknya.

Tetapi Sindangsari tidak segera berani membuka matanya. Ia mencoba memulihkan kesadarannya sepenuhnya. Karena itu meskipun  ia telah sadar, tetapi ia masih tetap memejamkan matanya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atas dirinya.

Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika ia berhasil mengingat di saat-saat terakhir. Ia dapat mengingatnya kembali, bagaimana ia menuangkan minyak pada dinding dari lampu yang ada di dalam biliknya. Kemudian menimbuninya dengan kayu-kayu yang ada di dalam bilik itu. Dingklik, peti-peti kayu, pembaringan dan tikar. Bahkan semuanya yang ada di dalam bilik itu. Kemudian dengan api pelita itu pula, semuanya itu dibakarnya. Api yang menyala itu pun segera menyambar dinding. Karena api yang memang sudah berkobar, maka dengan cepatnya, dinding biliknya itu  pun menyala pula.

Sindangsari masih ingat, seseorang telah berteriak di luar biliknya. Tetapi ia tidak menghiraukannya lagi. Ia sudah pasrah diri, bahwa api pasti akan menelannya.

Tetapi tiba-tiba dinding biliknya seakan-akan menjadi pecah Seseorang telah meloncat masuk dan menyambarnya. Betapa pun ia berusaha melepaskan diri, namun akhirnya ia harus menyerah. Menerobos api yang berkobar, mereka berhasil keluar meskipun sebagian dari tubuh dan pakaiannya telah terbakar.

Sesudah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Pingsan.

“Apakah aku sudah mati?” Ia bertanya kepada diri sendiri “dan sekarang aku sedang dalam perjalanan ke sorga atau ke dalam api neraka?”

Terasa dada Sindangsari berdebaran. Perlahan-lahan ia mencoba merasakan, apa yang telah terjadi atas dirinya kini.

“Aku sedang didukung oleh malaikat ke surga atau ke neraka” katanya pula di dalam hati.

Perlahan-lahan ia mencoba membuka matanya. Namun sebelum ia melihat sesuatu, matanya telah di pejamkannya lagi. Ia tidak berani memandang wajah pendukungnya. Mungkin wajah itu putih dan bersinar, tetapi mungkin merah seperti api dengan lidahnya yang terjulur panjang.

Tetapi Sindangsari itu terkejut ketika ia mendengar suara “Langit sudah menjadi merah”

“Ya” jawab suara yang lain. Sindangsari mencoba untuk mempertajam kesadarannya. Ketika angin yang sejuk mengusap wajahnya, ia menarik nafas dalam-dalam. Namun kepalanya masih terasa pening, dan ingatannya kadang-kadang masih seperti bayangan di dalam mimpi, meskipun sudah lengkap.

“Sebentar lagi, matahari akan terbit” suara itu terdengar lagi. Dan terasa oleh Sindangsari bahwa ia menjadi semakin terguncang. Bahkan kini ia mendengar derap kaki kuda.

“Aku harus sampai ke tujuan sebelum matahari terbit?” katanya di dalam hati “mungkin ke tempat yang menyenangkan, tetapi mungkin aku mendapat tempat yang paling panas di dasar neraka, karena aku telah membunuh diri”

Tiba-tiba terasa tubuhnya meremang. Namun derap kaki kuda yang didengarnya itu pun merupakan persoalan baginya.

Akhirnya Sindangsari memaksa dirinya untuk membuka matanya. Perlahan-lahan sekali. Di dalam kesuraman cahaya fajar ia melihat seraut wajah. Semakin lama menjadi semakin jelas. Wajah yang tegang dan basah oleh keringat dan embun.

Tiba-tiba bibir Sindangsari bergerak. Tetapi tidak ada suara yang meloncat dari mulutnya, meskipun  ia mengucapkan nama “Pamot. Apakah aku melihat Pamot”

Pamot masih belum mengetahui, bahwa Sindangsari sudah membuka matanya. Ia masih memacu kudanya sambil mengerutkan wajahnya yang tegang. Dipandanginya jalan sempit yang menjelujur dihadapan kaki-kaki kudanya. Jalan setapak yang berbatu-batu.

Sindangsari memandang wajah Pamot tanpa berkedip. Seakan-akan ia tidak percaya kepada matanya. Namun sejenak kemudian timbullah dugaan di dalam hatinya “Oh, aku benar-benar sudah mati. Agaknya Pamot juga sudah mati di perjalanan ke Betawi. Dan kini ia menjemput aku”

Tanpa sesadarnya Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Ketika sekali lagi ia terguncang agak keras, tiba-tiba saja tangannya sudah berpegangan pada lambung Pamot.

Pamot terkejut. Ditundukkan kepalanya, dan dilihatnya bahwa Sindangsari sudah membuka matanya.

Ketika tatapan mata mereka bertemu, terasa dada mereka berdesir tajam. Sejenak mereka terpukau oleh keadaan itu. Namun sejenak kemudian Pamot berhasil menguasai perasaannya dan berkata “kau sudah sadar Sari?”

“Dimanakah aku sekarang?” bertanya Sindangsari.

“Kau berada diperjalanan”

“Apakah kita akan pergi ke surga?”

Pamot mengerutkan keningnya. Katanya “Kau belum sadar sepenuhnya. Kau masih mengigau”

“Aku sudah sadar sepenuhnya. Tetapi apakah aku masih tetap hidup bersama wadagku. Dan apakah aku masih hidup?”

“Ya, kau masih hidup, seperti aku juga masih hidup”

“O” Sindangsari mencoba mengangkat wajahnya. Kini ia melihat dengan jelas, pepohonan yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan yang mereka lalui.

Maka Sindangsari mulai yakin, bahwa ia memang masih hidup. Apalagi ketika terasa kulitnya yang pedih karena sentuhan api yang hampir membakarnya hidup-hidup.

“Jadi” suara Sindangsari tertahan.

“Ya, kau selamat”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian terasa sesuatu melonjak di hatinya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya “Kenapa kau dapat menemukan aku?”

“Kelak aku akan mengatakannya. Kini tidak ada waktu. Kita harus menyelamatkan diri kita”

“Kita akan pergi kemana?”

“Kembali ke Kepandak”

“Kepandak?

“Ya”

Terasa dada Sindangsari berdesir. Nafasnya menjadi tersengal-sengal. Perasaan pedih di kulitnya semakin lama justru menjadi semakin terasa.

“Kau sudah dapat duduk sendiri?” bertanya Pamot.

Sindangsari tidak menjawab. Namun kemudian wajahnya tertunduk. Ia baru menyadari, bahwa ia bersandar pada tangan Pamot yang menjaganya agar tidak terjatuh.

“Aku akan duduk sendiri” berkata Sindangsari.

Pamot pun kemudian menolongnya untuk duduk sendiri. Tetapi ketika kudanya meloncati sebuah batu, hampir saja Sindangsari terlempar jatuh, sehingga tanpa disengaja oleh gerak naluriah ia berpegangan pada leher Pamot, dan Pamot  pun menangkapnya pula.

Terasa sesuatu menjalari urat darah mereka sampai ke jantung, sehingga seakan-akan dada mereka menjadi sesak. Sekilas Pamot memandang wajah Sindangsari yang ketakutan dan seakan-akan mengharap perlindungan kepadanya. Sepenuhnya.

Tetapi perlahan-lahan Sindangsari melepaskan tangannya. Sekali lagi perempuan itu mencoba duduk sendiri, miring, diatas punggung kuda.

Keduanya kemudian tidak berbicara lagi. Tetapi dada merekalah yang bergelora dengan dahsyatnya. Tanpa mereka kehendaki sendiri, maka kenangan masa-masa lampau mereka terbayang kembali di dalam kepala mereka, seakan-akan baru saja kemarin terjadi.

bersambung ke bagian 2

4 Tanggapan

  1. Terimakasih, saya sudah membacanya. Jadi ingat masa lalu, ketika saya hoby membaca karya Sh Mintardja.

  2. Terimakasih…. Teriring doaku pula untuk almahum SH Mintardja

  3. Tulisan semacam ini akan menyeberang antar generasi, Akan dapat memberikan gambaran kondisi masyarakat Kota ratusan Tahun yang lalu. Treimakasih.

  4. Bahkan Pamot dan Sindangsari tetap berusaha utk menjaga nama baik Ki Demang Kepandak dg menunggu bayi mrk lahir baru kemudian mrk menikah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s