MEP-08


kembali | lanjut

MEP-08DALAM pada itu Ki Demang menjawab “Aku tidak mau mendengar alasan dan bujukan apa pun lagi. Aku harus mendapatkan anak itu sekarang. Sudah aku katakan, aku akan mempergunakan kekerasan”

Ki Jagabaya yang kecemasan itu bergeser setapak. Tetapi Ki Reksatani sudah mendahului “Tuan, sebaiknya tuan menyerahkan saja anak itu. Apakah sebenarnya keberatan tuan? Bukankah pada saatnya tuan juga akan menyerahkan semuanya?”

Kesabaran Senapati itu menjadi semakin menipis pula. Apalagi ketika ia mendengar Reksatani berkata selanjutnya “Tuan harus menyadari bahwa kekuasaan di Kademangan ini ada di tangan kakang Demang meskipun  seandainya kakang Demang tidak mempergunakan kekerasan apapun. Kalau tuan mencoba mempersulit penyelesaian berdasarkan kekuasaan itu, maka kakang Demang pasti akan mempergunakan kekerasan. Seperti yang dikatakan oleh kakang Demang, tuan pasti sudah pernah mendengar tentang Demang di Kepandak. Dan kini Demang di Kepandak tidak seorang diri. Ia datang bersama para bebahu dan adiknya, Reksatani. Tuan pun pasti sudah pernah mendengar sebutan Harimau Lapar dari Kepandak, eh, maksudku Macan Kelaparan di daerah Selatan ini. Sedang tuan hanya datang bertiga. Apakah yang sebenarnya dapat tuan lakukan?”

Kini wajah Senapati itulah yang menyala. Kesabarannya benar-benar telah terbakar oleh persoalan yang dihadapinya. Meskipun  demikian ia masih mencoba menarik nafas dalam-dalam, untuk mengatur kata-kata yang kemudian terlontar dari mulutnya “Ki Demang di Kepandak dan para bebahu, serta Ki Reksatani yang perkasa. Aku memang pernah mendengar bahwa di daerah Selatan ini tidak ada orang lain kecuali Ki Demang kakak beradik. Demang di Kepandak adalah seorang yang sakti dan mumpuni dalam olah kanuragan. Selain kekuasaannya sebagai seorang Demang, maka apabila perlu ia pun dapat menumbuhkan kekuasaan yang lain berdasarkan atas kemampuannya itu, kemampuan berkelahi. Bukan kemampuan memberi pengertian atas sikap dan pendapatnya kepada orang lain. Sekarang kalian pun akan mencoba memaksakan kekuasaan yang tidak sewajarnya itu karena kalian mempunyai kekuatan. Bukan karena hak kalian untuk berbuat demikian”

“Tidak” potong Ki Demang “daerah ini adalah daerah Kademangan Kepandak”

“Tetapi setiap orang di dalam pasukanku berada di bawah kekuasaanku. Aku akan mempertanggung jawabkannya. Bahkan kepada Senapati tertinggi di Mataram. Tidak sekedar kepada Demang di Kepandak. Karena itu Ki Demang di Kepandak. Aku tidak akan tunduk kepada kekuasaan siapa pun selain kekuasaan Senapati yang lebih tinggi dari padaku. Aku tahu bahwa sepasang harimau dari Selatan ini mempunyai kemampuan yang luar biasa. Tetapi aku adalah salah seorang Senapati yang mendapat kepercayaan dari Sinuhun Sultan Agung untuk ikut memimpin pasukan ke Betawi. Aku pernah mengemban tugas untuk mempertahankan keadilan di Tanah Mataram ini. Sekarang tuan-tuan di Kepandak akan menakut-nakuti aku. Maaf Ki Demang. Aku akan mempertahankan sikapku. Seperti setiap orang pernah mendengar nama Demang di Kepandak, maka setiap prajurit Mataram pasti pernah mendengar Gelar Tumenggung Dipanata, pasangan dari Tumenggung Dipajaya yang sayang tidak dapat hadir di dalam permainan ini”

Ternyata ketika Senapati itu menyebutkan namanya, dada Ki Demang di Kepandak dan Ki Reksatani menjadi tergetar pula. Nama itu pun adalah nama yang sudah terlampau banyak disebut-sebut orang. Meskipun  demikian, karena semuanya sudah terlanjur, Ki Demang tidak ingin melangkah surut. Dengan nada yang tajam ia berkata “Siapa pun tuan, tetapi aku tetap pada pendirianku. Tuan hanya bertiga. Kami adalah orang-orang dari seluruh Kademangan”

“Apa bedanya?” sahut Ki Dipanata “Aku sadari akibat terakhir dari setiap pelaksanaan tugas seorang prajurit. Disini pun aku sedang mempertahankan keadilan. Bukan kesewenang-wenangan”

“Pekerjaan tuan akan sia-sia. Tuan akan hilang ditelan oleh Kademangan ini”

“Aku mengemban tugas kerajaan. Wewenangku sekarang adalah wewenang Sinuhun Sultan Agung. Siapa yang melawan petugas kerajaan dan yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari Sinuhun Sultan Agung, ia sudah memberontak terhadap pemerintah”

Ki Demang terdiam sejenak. Dadanya serasa terguncang-guncang semakin dahsyat. Tetapi Ki Reksatani berkata “kami pun sedang menuntut keadilan. Kami tidak akan takut melawan siapa pun untuk mempertahankan keadilan itu”

“Kami tetap pada pendirian kami” geram Ki Demang kemudian “dan sekali lagi kami peringatkan, tuan akan tenggelam di Kademangan ini. Semua yang ada di sekitar tuan adalah orang-orang dari Kademangan Kepandak selain dua prajurit pengawal tuan itu”

Senapati dari Mataram itu sama sekali tidak menundukkan kepalanya. Bahkan matanya menjadi bersinar, dan tidak sesadarnya ia telah meraba senjatanya. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Punta telah mendahuluinya “Ki Demang di Kepandak. Kami dilahirkan dan dibesarkan di Kademangan ini. Kami adalah anak-anak muda, pengawal Kademangan yang setia, yang atas nama Kademangannya pula, kami telah mencoba untuk ikut mempertahankan kehadiran Mataram di muka bumi. Tetapi kami menjadi sangat kecewa melihat peristiwa ini terjadi justru pada saat keringat kami seolah-olah masih belum kering. Kami baru saja menempuh perjalanan yang jauh. Kami telah gagal merebut kembali sebagian dari Tanah kami karena berbagai macam sebab. Terutama karena, pengkhianatan. Kami berjanji di dalam hati kami bahwa akan datang saatnya kami mengusir orang asing itu dari bumi sendiri. Jadi, apakah begini cara Ki Demang menyambut kami”

Dada Ki Demang serasa diguncang mendengar kata-kata Punta itu. Kata-kata anak ingusan dari Kademangannya sendiri. Dan ia masih harus mendengarkan anak itu berkata “Maaf Ki Demang. Kami adalah satu. Aku, Pamot dan pengawal-pengawal yang lain. Kalau Ki Demang ingin menangkap Pamot, maka Ki Demang harus menangkap kami semuanya. Kami tidak akan melawan kekerasan dengan kekerasan. Kami justru minta agar kami semuanya saja ditangkap untuk mendapat tuduhan yang sama, sebab kami dapat berbuat kemungkinan yang sama. Kami semua adalah laki-laki muda dan kami semua menganggap Sindangsari adalah gadis yang cantik saat itu, sebelum Ki Demang mengambilnya dengan paksa”

“Gila, gila kau. Aku bunuh kau pertama-tama” teriak Ki Demang.

Punta sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan kemudian ia berkata kepada Ki Dipanata “Tuan, serahkanlah kami semuanya kepada Ki Demang di Kepandak untuk memberinya kepuasan yang sebesar-besarnya. Ia masih belum puas merampas perempuan itu dari tangan anak-anak muda di Kepandak yang juga mengingininya. Kini ia masih akan berbuat lebih jauh lagi”

“Diam, diam, diam” suara Ki Demang semakin keras. Bahkan kudanya telah maju beberapa langkah mendekati Punta. Tetapi Ki Demang itu pun terhenti ketika kuda Ki Dipanata menyilang di hadapannya.

“Terserahlah apa yang akan dilakukannya nanti Punta” berkata Ki Dipanata. Lalu “Tetapi sebelum aku menyerahkannya, kalian adalah tanggung jawabku. Aku bukan pengecut yang akan lari dari kewajiban. Aku adalah prajurit sejak umurku meningkat dewasa. Kini rambutku sudah mulai ubanan. Apa artinya Demang di Kepandak bagiku. Aku pernah ikut di dalam peperangan besar di daerah Timur dan Barat. Tetapi aku memang belum pernah bertempur di daerah Selatan yang sempit ini”

Telinga Ki Demang di Kepandak benar-benar serasa terbakar. Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu Ki Jagabaya telah berkata mendahuluinya “Ki Demang. Aku adalah seorang bebahu yang paling setia. Aku selama ini telah membuat diriku sendiri seperti seekor kerbau yang telah dicocok hidungku. Aku tidak pernah membantah semua perintah, meskipun  kadang-kadang aku tidak mengerti maknanya. Tetapi kali ini aku tidak ikut campur di dalam pemberontakan ini. Aku tidak dapat melawan kekuasaan Mataram. Kekuasaan yang dilimpahkan dari Sinuhun Sultan Agung. Bukan karena aku silau melihat seorang Tumenggung yang bernama Dipanata, yang pernah bertempur di berbagai medan karena aku pun sadar, bahwa akibat yang paling jauh dari perkelahian adalah mati. Kalau seseorang sudah menyingkirkan perasaan takut terhadap mati, maka ia tidak akan takut bertempur di medan yang manapun. Namun sebelum mati aku masih sempat berpikir. Dan tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak seharusnya melawan kali ini”

“Pengecut” Ki Reksatani lah yang berteriak “kau ternyata seorang pengecut”

“Mungkin. Mungkin aku seorang pengecut”

“Kau akan dihukum gantung karena kau telah berkhianat terhadap kampung halaman”

“Sudah aku katakan. Aku tidak takut mati. Tetapi aku tidak melihat bahwa kalian telah berbuat benar kali ini”

“Gila, gila” Ki Reksatani hampir tidak dapat menguasai dirinya. Tetapi ketika tangannya telah meraba hulu kerisnya, justru tangan Ki Demang lah yang telah menahannya.

Ki Reksatani menjadi termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling ia menjadi sangat terkejut melihat wajah kakaknya. Demang di Kepandak. Wajah itu sama sekali tidak lagi terasa kegarangannya. Bahkan wajah itu menjadi layu seperti selembar daun yang dibakar oleh terik matahari.

“Kenapa kau kakang?” Ki Reksatani bertanya.

Ki Demang tidak segera menjawab. Tetapi tampak di wajahnya, suatu benturan perasaan telah terjadi di dalam dadanya.

“Apakah hati kakang menjadi lemah seperti hati Jagabaya pengecut itu?”

Ki Demang tidak segera menyahut. Tetapi tatapan matanya yang buram melontar jauh ke bayangan sinar matahari yang sudah menjadi kemerah-merahan.

“Kakang” Ki Reksatani mengguncang-guncang lengan kakaknya, Namun Ki Demang di Kepandak masih tetap berdiam diri.

Akhirnya Ki Reksatani  pun terdiam. Perlahan-lahan ia mencoba menilai semua yang telah terjadi. Ia memang berusaha menjerumuskan kakaknya untuk melawan Mataram. Meskipun  ia ikut terlibat, tetapi ia dapat menghindarkan perbuatan langsung di dalam perkelahian apabila sudah dapat dinyalakannya. Ia dapat surut dan bahkan kalau perlu mengkhianati kakaknya sendiri sebagai suatu alasan untuk mendapat pengamatan dari Mataram dan mendapat kesempatan untuk menggantikan kedudukan kakaknya. Tetapi usahanya itu belum berhasil ketika ia justru tenggelam di dalam arus perasaannya sendiri di luar pertimbangannya. Apakah kemudian ia akan menjadi orang pertama yang berdiri di paling depan di dalam perlawanan ini kalau kakaknya memang mulai bersikap lain. Dengan demikian, usahanya untuk merebut pengakuan dari Mataram akan menjadi terlampau sulit.

Karena itu, ketika Ki Demang di Kepandak tidak berbuat apa pun juga, Ki Reksatani pun seakan-akan membeku pula. Bahkan tiba-tiba mendahului Ki Demang di Kepandak, ia berkata “Ya, memang sebaiknya kita berpikir untuk kesekian kalinya”

Senapati Mataram yang bernama Dipanata itu masih tetap dalam sikapnya. Duduk diam diatas punggung kudanya meskipun  ia sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Demikian juga kedua prajurit yang mengawalnya. Tetapi ketika ia mendengar kata-kata Ki Reksatani ia menarik nafas dalam-dalam.

Ki Reksatani itu  pun kemudian berpaling kepada Ki Jagabaya sambil berdesis “Maaf Ki Jagabaya. Aku terlampau kasar karena luapan perasaan selagi hatiku gelap”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku mengerti”

Namun Ki Demang sendiri masih tetap diam, seakan-akan benar-benar membeku diatas kudanya. Baru sejenak kemudian ia berkata “Aku kira Reksatani benar. Kita harus berpikir lagi sebelum kita bertindak “Lalu kepada Tumenggung Dipanata ia berkata “Maafkan kami tuan. Kami telah terdorong oleh perasaan yang meluap”

Tumenggung Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia menjawab, Ki Reksatani lelah menyambung “Aku juga minta maaf tuan. Aku sebenarnya telah dicengkam oleh perasaan iba. Aku tidak sampai hati melihat wajah kakang Demang yang selalu bersedih. Ia tidak pernah makan, minum dan apalagi tidur sejak mBok-ayu Sindangsari hilang dari Kademangan”

“Aku dapat mengerti” berkata Tumenggung Dipanata “mudah-mudahan kalian benar-benar dapat melihat persoalannya dengan hati yang bening”

“Baiklah tuan” berkata Ki Demang “aku akan mencobanya” Lalu ia berpaling kepada Punta “Aku minta maaf kepada kalian. Aku telah mengganggu saat-saat yang barangkali telah kalian nanti-nantikan untuk dapat segera bertemu dengan keluarga”

Punta pun justru menundukkan kepalanya. Katanya “Aku pun minta maaf pula kepada Ki Demang. Mungkin aku tidak sempat menyaring kata-kataku. Tetapi seperti Ki Demang aku dan kawan-kawan pun agaknya sedang berpikir keruh. Kami telah kehilangan beberapa kawan-kawan kami di perjalanan, seperti Ki Demang kehilangan isteri Ki Demang itu di Kademangan”

Hati Ki Demang menjadi semakin pedih. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Seharusnya aku menyambut kalian sebagai prajurit yang datang dari medan perang. Apa pun yang sudah terjadi di peperangan, berhasil atau tidak berhasil, tetapi kalian sudah berjuang. Perjuangan yang seharusnya kami lanjutkan kapan saja kesempatan terbuka di hadapan kami”

“Agaknya kita sudah dapat mendekatkan hati kita” berkata Tumenggung Dipanata.

“Marilah tuan” berkata Ki Demang “aku persilahkan tuan dan anak-anak kami. Kami akan menerima anak-anak kami dengan sepenuh hati”

“Atas nama. Senapati tertinggi dari pasukan Mataram yang telah mencoba membersihkan tanah ini, kami mengucapkan terima kasih”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandangnya wajah Pamot yang agak kepucat-pucatan. Dan agaknya bukan Pamot saja yang menjadi pucat, tetapi hampir semuanya. Wajah-wajah itu menjadi merah oleh ketegangan yang mencengkam sesaat. Tetapi kini wajah-wajah itu telah menjadi pucat kembali.

Demikianlah, maka Ki Demang pun kemudian kembali ke Kademangan dengan kepala tunduk di samping Ki Tumenggung Dipanata. Berbagai macam persoalan telah bergolak di dalam hatinya. Tiba-tiba saja Ki Demang merasa hidupnya menjadi sangat sepi. Ia kini merasa, dimana ia sebenarnya berdiri. Di dalam keadaan yang memaksa ia dapat melihat, bagaimanakah sebenarnya pendapat orang tentang dirinya.

Ki Demang itu merasa dirinya seakan-akan terlempar ke dalam sebuah ruang yang kosong, sepi. Sepi sekali. Satu-satu orang di sekitarnya pergi meninggalkannya. Isterinya, anak-anak muda kebanggaannya, Ki Jagabaya yang setia dan mungkin seisi Kademangannya.

Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang semua persoalan yang dihadapinya. Kini, yang tetap berdiri teguh di belakangnya tanpa menilai baik dan buruk, benar atau salah, tinggallah adiknya, Ki Reksatani.

“Ia adalah seorang adik yang baik” desis Ki Demang di dalam hatinya “ia tidak mempersoalkan apakah yang aku lakukan dan siapakah yang dihadapinya. Ia adalah saudara laki-laki yang dapat dibanggakan” Ki Demang sekali lagi menarik nafas “Sayang, bahwa ia terseret dalam persoalan ini. Persoalan yang tidak menguntungkannya. Untunglah bahwa benturan ini belum terlanjur. Jika demikian, maka Kademangan di Kepandak mungkin akan diambil oleh Mataram, karena kami disini dianggap memberontak. Kini masih ada kesempatan bagi kami disini. Kalau aku tidak mungkin lagi dapat duduk diatas jabatanku karena kekosongan di dalam diriku sendiri, maka aku dapat menuntut agar Reksatani lah yang menggantikan aku. Aku juga tidak mempunyai seorang keturunan pun. Aku harus menumpang pada keturunan Reksatani kelak. Merekalah yang berhak atas Kademangan ini di masa mendatang”

Dan Ki Demang itu merasa, bahwa waktu itu sudah menjadi semakin dekat. Agaknya ia tidak boleh bertahan lagi terlampau lama pada kedudukannya yang sekarang.

“Kalau ternyata bahwa keterangan Senapati dan anak-anak Gemulung itu benar, bahwa Pamot tidak pernah berhubungan dan apalagi mengambil Sindangsari, maka aku akan meninggalkan Kademangan ini. Aku pasti tidak akan kembali sebelum aku menemukan Sindangsari, dan sudah tentu aku harus menyerahkan semua kewajibanku kepada Reksatani”

Ki Demang di Kepandak hampir tidak mendengarnya ketika Ki Tumenggung Dipanata bertanya kepadanya “Apakah Ki Demang sudah berusaha sepenuhnya untuk mencari Nyai Demang?”

Ki Demang mengangkat kepalanya yang tertunduk. Ditatapnya Tumenggung Dipanata itu sejenak. Kemudian jawabnya “Sudah aku katakan. Semua rumah di Kademangan Kepandak sudah dimasuki, tetapi aku tidak menemukannya. Hari ini aku menemui setiap pemimpin dan tetua padukuhan, kecuali dua padukuhan di ujung Timur yang belum sempat aku datangi. Mereka harus membantu mencari isteriku. Aku minta mereka menolongku, tetapi aku juga mengancam mereka. Aku mempergunakan kekuasaan, kedudukan dan sekaligus kemampuanku sebagai seorang yang pilih tanding di daerah Selatan ini. Kalau aku tidak menemukannya di daerah Kademangan ini, aku akan masuk ke Kademangan tetangga, Mudah-mudahan tidak menumbuhkan salah paham, tetapi seandainya demikian apaboleh buat”

Senapati dari Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Para pengawal yang baru datang itu akan membantu dengan senang hati. Tetapi ketenangan di daerah Selatan ini harus tetap dipelihara”

“Semula aku tidak menghiraukan ketenangan itu sahut Ki Demang “Hatiku benar-benar gelap. Tetapi sekarang aku sudah berpendirian lain”

Ki Tumenggung Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak dipandanginya wajah Ki Demang di Kepandak. Kemudian katanya “Agaknya Ki Demang telah menemukan sikap yang lebih mapan”

Ki Demang mengangguk-angguk “Ya” katanya ternyata tindakan yang tergesa-gesa itu tidak akan menguntungkan”

“Lalu apakah yang akan kau lakukan?”

“Aku tidak akan mencari isteriku dengan cara itu. Seperti sepasukan prajurit yang maju ke medan perang”

Ki Tumenggung Dipanata tidak segera menyahut, sedang Ki Demang berkata selanjutnya “Aku akan pergi seorang diri, sebagai seorang laki-laki yang kehilangan isterinya”

“Maksud Ki Demang”

“Aku akan mengembara sampai aku menemukan isteriku. Aku kira aku memerlukan waktu”

“Lalu Kademangan di Kepandak?”

“Masih ada Reksatani. Ia berhak atas Kademangan ini seperti aku apabila aku berhalangan. Kami berdua adalah saudara laki-laki yang sering disebut uger-uger lawang”

Ki Dipanata menganguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak membantah niat itu. Ia sadar, bahwa hati Ki Demang masih belum terang benar. Mungkin Ki Demang masih memerlukan dua tiga hari untuk dapat berpikir bening.

Demikianlah maka iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin mendekati pusat Kademangan di Kepandak. Beberapa orang yang ada di sawah dan di pinggir-pinggir desa melihat pasukan yang lewat itu dengan mulut ternganga-nganga. Baru sejenak kemudian mereka berdesis diantara mereka “He, bukankah itu anak-anak Kepandak?”

“Ya, bukankah itu anak-anak Kepandak?” Sejenak kemudian meledaklah berita tentang kedatangan anak-anak di Kepandak. Anak-anak berlari-larian mengikuti iring-iringan berkuda itu. Beberapa diantara mereka berteriak-teriak menyebut nama kakaknya yang ada di antara pasukan yang baru datang. Tetapi seorang anak perempuan menjadi berdebar-debar. Ia menatap hampir semua wajah anak-anak muda yang lewat di depannya, di jalan padukuhan. Tetapi ia tidak melihat wajah kakaknya. Kakak yang dikasihinya. Tanpa sesadarnya anak itu mengusap kepala golek kayu yang dibuat oleh kakaknya itu ketika ia akan berangkat meninggalkan keluarganya.

“Simpan golek ini baik-baik denok” pesan kakaknya itu “besok kalau kakak kembali, kakak membawa sehelai kain buatan Parangakik untuk golek ini”

“Tetapi kakang tidak ada diantara mereka” desis anak perempuan itu.

Ketika ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, maka ia bertanya kepada seorang anak muda yang dikenalnya, yang berkuda di paling belakang “Apakah kau tidak datang bersama kakang?”

Anak muda yang berkuda di paling belakang itu berpaling. Dipandanginya wajah anak perempuan itu. Hampir saja ia menjawab pertanyaannya, tetapi tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Gadis kecil itu tidak tahu apa yang terloncat di dalam angan-angan anak muda itu. Tanpa sesadarnya ia mengikutinya di sisi kudanya sambil sekali lagi bertanya “Apakah kau datang bersama kakang?”

Anak muda itu menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak berani mengucapkan jawabannya.

Gadis kecil itu akhirnya berhenti. Dipandanginya iring-iringan yang seakan-akan semakin lama menjadi semakin panjang. Anak-anak kecil dan bahkan anak-anak tanggung mengikutinya di belakang sambung bersambung. Tetapi gadis kecil itu terhenti di tempatnya.

Perlahan-lahan tangannya yang kecil membelai golek kayunya yang masih telanjang. Ia menunggu kakaknya datang membawa kain dari Parangakik atau Kuta Inten. Tetapi kakaknya tidak terdapat diantara anak-anak muda yang datang itu.

“Apakah kakang tidak pulang” desisnya. Sebutir air mata yang bening menitik di pipinya. Gadis itu terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang kakaknya yang lain berdiri di belakangnya.

“Kakang, apakah kakang Ireng tidak datang bersama kawan-kawannya itu?” ia bertanya.

Kakaknya tidak menjawab. Dibimbingnya tangan adiknya sambil berkata “Biyung mencarimu. Marilah kita pulang “

“Tetapi bagaimana dengan kakang Ireng?

“Biarlah ayah nanti bertanya kepada prajurit itu?

“Yang manakah prajurit itu?”

“Yang berkuda paling depan di samping Ki Demang”

“Apakah prajurit sering membunuh orang?”

“Tidak. Tidak. Prajurit tidak membunuh orang. Prajurit harus melindungi kita semua dari bahaya”

Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya “Kakang akan membawa kain dari Parangakik atau dari Kuta Inten. Tetapi kakang belum pulang”

“Besok aku cari kain dari Parang Akik atau dari Kuta Inten”

Tetapi anak perempuan itu menggeleng “Tidak kakang. Nanti kau juga tidak kembali seperti kakang Ireng. Aku tidak mempunyai lagi kawan bermain. Tidak ada lagi yang membuat golek kayu dan bandulan.

Kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya “Marilah. Biyung sudah menunggu. Bukankah kau belum makan?”

“Aku tidak makan kakang”

“Kenapa? Kau akan lapar”

“Biarlah disediakan untuk kakang Ireng, kalau tiba-tiba saja ia pulang malam nanti”

“Sudah. Kakang Ireng sudah mendapat bagiannya sendiri. Biyung sudah menyediakan buatnya”

Gadis kecil itu tidak menjawab. Ditatapnya mata kakaknya yang tiba-tiba saja menjadi buram. Tetapi kakaknya itu kemudian membimbingnya di sepanjang jalan padukuhan, pulang kepada ibunya. Dalam pada itu, iring-iringan anak-anak muda Kepandak itu sudah memasuki induk padukuhan dari Kademangan Kepandak. Sejenak kemudian mereka pun telah menyelusuri jalan yang membelah padukuhan itu langsung menuju ke Kademangan.

Berita kedatangan anak-anak muda itu telah tersebar di seluruh Kademangan, secepat kalimat yang berloncatan dari mulut ke mulut. Orang-orang yang berada di sawah segera pulang menyimpan alat-alatnya. Setelah membersihkan kakinya yang kotor oleh lumpur, mereka yang merasa mempunyai salah seorang anggauta keluarganya ikut di dalam pasukan pengawal khusus yang dikirim ke Mataram itu  pun segera pergi ke Kademangan. Bahkan mereka yang tidak mempunyai seorang keluarga  pun ingin juga melihat, siapakah yang telah berhasil pulang kembali ke kampung halaman.

Anak-anak muda  pun berlari-larian ke halaman Kademangan. Mereka ingin menyambut kawan-kawan mereka yang baru pulang dari arena perjuangan meskipun  kali ini mereka belum berhasil.

Lamat yang duduk di belakang rumah Manguri  pun telah mendengar pula berita itu. Anak muda yang berlari-larian di jalan sebelah dinding berkata “Mereka telah kembali”

“Kapan?” bertanya yang lain dari halaman rumah sebelah.

“Baru saja”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu, siapa saja yang ikut di dalam barisan, dan siapa saja yang telah gugur di dalam perjuangan.

Sejenak terbayang olehnya wajah Pamot yang suram. Kemudian terbayang wajah Sindangsari dan Ki Demang di Kepandak.

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya “Persoalan di dalam kepalaku benar-benar persoalan yang sangat pelik. Kenapa tidak terbayang betapa dahsyatnya perjuangan untuk mengatasi segala macam kesulitan yang timbul karena pengkhianatan itu? Perjuangan melawan orang-orang asing yang ganas dan perjuangan menghadapi diri sendiri, menghadapi pengkhianat-pengkhianat” Lamat menarik nafas dalam-dalam “Aku belum pernah melihat perjuangan sedahsyat itu. Aku baru melihat perjuangan untuk merebut seorang perempuan di halaman Kademangan. Aku baru melihat perjuangan untuk merebut kedudukan seorang Demang di Kepandak.”

Lamat menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia terkejut ketika dari kejauhan ia mendengar Manguri berteriak “Lamat kemari kau”

Dengan malasnya Lamat berdiri dan berjalan ke gandok. Tetapi ia tidak menemui Manguri disitu. Agaknya ia telah pergi ke pringgitan. Dari pringgitan ia berteriak “Aku disini. Apakah kau sedang tidur atau sudah mati sama sekali?”

Lamat  pun pergi ke pringgitan pula. Dengan wajah yang tegang Manguri berkata. “Aku harus, menunggumu sampai tua. Apakah kau tidak mendengar?”

Lamat tidak menjawab.

“Duduklah”

Lamat  pun kemudian duduk diatas tikar pandan. Sekali ditatapnya wajah Manguri yang tegang. Namun kemudian ia  pun menundukkan wajahnya.

“Dimana kau selama ini?” bertanya Manguri.

“Aku berada di belakang, di sisi dapur”

Manguri memandanginya dengan tajam, seolah-olah ia tidak sabar lagi menunggu Lamat datang kepadanya.

“Apakah kau sudah mendengar berita tentang anak yang pergi ke Mataram itu?”

Lamat menganggukkan kepalanya “Ya, aku sudah mendengar”

Dari mana kau mendengarnya?”

“Anak-anak yang lewat di jalan sebelah saling berbicara tentang anak-anak yang telah kembali itu”

“Kau bertanya kepada mereka?”

Lamat menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak bertanya kepada mereka”

“Kenapa?”

Lamat tidak segera menjawab.

“Kenapa?” Manguri berteriak.

“Mereka bersikap kurang baik kepada kita. Aku segan untuk berbicara dengan anak-anak itu”

Manguri menggeram. Namun kemudian ia berkata “Aku juga sudah mendengar. Anak-anak itu sudah kembali, termasuk Pamot”

Lamat mengangkat wajahnya “Jadi Pamot juga sudah kembali?”

“Ternyata ia tidak mati di perjalanannya. Ia sempat kembali dan melihat Sindangsari hilang”

Lamat kini menjadi tegang pula tanpa diketahuinya sendiri, apakah sebabnya. Ia tidak takut kepada Pamot. Ia tidak membenci Pamot dan ia tidak begitu berkepentingan. Seandainya Pamot marah karena Sindangsari hilang, maka persoalannya akan berkisar pada Ki Demang di Kepandak. Bahkan mungkin mereka akan saling tuduh menuduh sehingga keduanya akan berbenturan. Sudah tentu Pamot tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Demang di Kepandak.

“Aku pasti tidak akan tersentuh oleh persoalan ini. Apalagi Pamot, sedang Ki Demang di Kepandak pun tidak tahu, bahwa aku telah terlibat di dalam persoalan hilangnya Sindangsari ini” berkata Lamat di dalam hatinya.

Namun ia tidak dapat lari dari perasaan sendiri. Ia merasa berdebar-debar dan dikejar-kejar oleh kecemasan yang tidak dimengertinya sendiri.

“Lamat” berkata Manguri kemudian “apa katamu tentang Pamot yang telah kembali itu?”

Seperti yang mendesak di hatinya, maka seakan-akan tidak berpikir lagi Lamat menyahut “Mungkin akan terjadi sesuatu karena kedatangannya”

“Apa? Apakah anak itu akan menuduh kita?”

“Mungkin. Tetapi bukankah mereka tidak dapat membukti-kan?”

“Bagaimana menurut pertimbanganmu?”

Tiba-tiba Manguri membentak “Akulah yang bertanya kepadamu”

“Ya, ya. Mungkin karena perasaan cintanya, Pamot akan ikut serta merasa kehilangan. Memang mungkin ia akan ikut mencari perempuan itu. Tetapi bukankah ia dapat melibatkan kita seperti Ki Demang juga tidak berhasil menyeret kita di dalam persoalan ini?”

“Jawablah dengan tegas. Dengan pasti. Kau sendiri tidak yakin akan jawabanmu. Nada kata-katamu sangat meragukan”

“Maksudku, Pamot tidak akan dapat membuktikan bahwa kita terlibat di dalam persoalan ini. Ya, begitulah. Kita tidak usah cemas, siapa pun yang akan ikut serta mencari Sindangsari”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Aku mengharap suruhan ayah akan datang malam ini. Aku harus segera tahu dimana perempuan itu disembunyikan”

“Ya, Aku kira malam ini suruhan itu pasti akan datang. Waktunya sudah cukup lama. Tetapi sebaiknya ia tidak datang terlampau malam supaya tidak menumbuhkan kecurigaan”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia pun kemudian berjalan hilir mudik dengan gelisahnya.

“Ya, suruhan ayah tidak boleh datang pada waktu yang dapat menumbuhkan kecurigaan”

Lamat tidak menyahut. Di biarkan saja Manguri berjalan hilir mudik sambil sekali-sekali mengusap keringat dinginnya.

Dalam pada itu, maka senja  pun perlahan-lahan turun menyelimuti Kademangan di Kepandak. Di halaman rumah Ki Demang, sepasukan anak-anak muda Kepandak berbaris rampak diatas punggung kuda. Di paling depan, adalah Ki Tumenggung Dipanata diapit oleh kedua pengawalnya. Di hadapan mereka adalah Ki Demang di Kepandak yang kebetulan memang duduk pula diatas punggung kuda. Di sampingnya para bebahu Kademangan dan Ki Reksatani yang duduk diatas kudanya pula. Di belakang mereka adalah para bebahu yang lain, para pengawal Kademangan dan rakyat Kepandak yang tidak sabar menyambut anak-anak mereka yang baru saja kembali.

Di hadapan Ki Demang di Kepandak Ki Tumenggung Dipanata menceriterakan segala sesuatu mengenai anak-anak muda dari Kepandak. Ia sengaja berkata lantang, agar rakyat di Kepandak dapat mendengar langsung dari mulutnya, apa yang sebenarnya telah terjadi di perjalanan. Dengan demikian maka mereka akan dapat menggambarkan betapa berat perjuangan anak-anak Kepandak itu selama mereka menunaikan tugas negara. Tugas yang merupakan tanggung jawab bagi setiap orang yang lahir di bumi Mataram, yang minum sumber air Tanah Mataram, dan yang makan hasil bumi Tanah Mataram.

“Kami sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan yang pahit” berkata Ki Tumenggung Dipanata “Jer Basuki Mawa Bea. Karena itulah maka ada diantara anak-anak kami yang kini tidak dapat pulang bersama-sama dengan kami”

Wajah-wajah  pun segera menjadi tegang. Apalagi mereka yang tidak dapat melihat anak-anak mereka, suami-suami mereka yang belum lama mengikat perkawinan, adik-adik mereka dan kekasih-kekasih mereka.

Sejenak Ki Dipanata terdiam. Ia pun melihat, diantara wajah-wajah orang Kepandak, adalah wajah-wajah yang kecemasan. Dan mereka pun harus menerima suatu kenyataan, bahwa ada diantara anak-anak Kepandak yang memang tidak kembali dan tidak akan pernah kembali.

Akhirnya Ki Tumenggung Dipanata berkata “Aku kira, aku memang lebih baik berterus terang. Aku tidak ingin menyangkutkan harapan pada hati yang gelisah. Apalagi harapan yang tidak akan pernah datang” Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu “Memang ada diantara anak-anak kami yang gugur di peperangan atau karena sebab-sebab lain. Tetapi semuanya itu merupakan korban bagi perjuangan yang agaknya masih panjang”

Wajah-wajah orang Kepandak  pun menjadi semakin tegang. Bahkan mereka yang telah melihat keluarga mereka di antara anak-anak muda yang datang, menjadi berdebar-debar pula.

Ki Tumenggung Dipanata  pun kemudian menyebutkan nama-nama dari mereka yang tidak dapat kembali. Di antara yang berangkat, seperempat yang tidak dapat melihat kampung halamannya kembali.

Halaman Kademangan itu menjadi hening sejenak. Tidak seorang pun yang mengucapkan kata-kata ketika Ki Tumenggung Dipanata menyebutkan nama-nama itu. Namun sejenak kemudian meledaklah tangis diantara mereka. Ibu-ibu, isteri-isteri yang masih muda, saudara kandung dan kekasih-kekasih yang menjadi pasti bahwa yang mereka tunggu tidak akan pulang tidak dapat menahan air mata mereka. Mereka telah kehilangan yang mereka kasihi. Anak yang dipelihara sejak bayi, hilang ketika ia meningkat dewasa. Anak-anak yang masih sangat muda harus sudah meninggalkan hijaunya dedaunan dan beningnya air sumur di Kepandak.

“Mereka telah mati” desis seorang perempuan tua.

Dan tiba-tiba seorang perempuan muda meloncat maju sambil menyingsingkan kainnya. Dengan air mata yang membanjir ia berlari mendekati Tumenggung Dipanata. Sambil menunjuk dengan jarinya ia berteriak “Kau, kau adalah pembunuh. Kau jerumuskan suamiku itu ke dalam neraka yang paling jahat. Sekarang ia mati, sedang aku lagi mengandung. Siapakah yang akan dapat menunjukkan kepada anak ini, betapa wajah ayahnya yang sejuk. Suamiku kau bunuh sebelum ia memeluk bayinya”

Ki Tumenggung Dipanata mengerutkan keningnya.

“Sekarang kau tanpa perasaan apa pun menyebut nama-nama orang yang telah kau jerumuskan ke dalam kematian itu. Kenapa bukan kau sendiri yang mati? Kenapa?”

Ki Tumenggung Dipanata masih tetap berdiam diri, sementara suasana menjadi semakin tegang. Ki Reksatani yang memang sedang berhati gelap, meloncat turun dari kudanya sambil berkata “He, perempuan bodoh. Bukan kau sendiri yang kehilangan. Kau harus rela suamimu mati. Bukan Ki Tumenggung Dipanata lah yang membunuhnya. Tetapi peperangan. Peperangan itu sendirilah yang telah membunuh, bukan saja suamimu, tetapi berpuluh-puluh orang yang lain, bahkan beratus-ratus”

“Tetapi prajurit itulah yang telah menjerumuskan suamiku ke dalam peperangan. Ialah yang pantas mati. Ia seorang prajurit. Bukan suamiku, bukan suamiku”

Perempuan itu berteriak-teriak sambil menunjuk wajah Ki Tumenggung Dipanata.

“Pergi, pergi kau” teriak Ki Reksatani sambil melangkah mendekatinya. Wajahnya menjadi merah padam dan giginya gemeretak.

Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar Ki Tumenggung Dipanata berkata “Biarlah. Biarlah ia mencurahkan isi hatinya. Kita dapat membayangkannya, betapa sakitnya seseorang yang kehilangan”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang wajah Ki Demang. Tetapi wajah itu tertunduk dalam-dalam. Sedang Ki Tumenggung masih melanjutkannya “Dan perempuan ini telah kehilangan suaminya. Tanpa harapan untuk dapat menemukan kembali”

Suasana di halaman itu menjadi hening. Ki Jagabaya  pun telah turun dari kudanya. Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekati perempuan yang sedang menangis itu. Perempuan itu adalah kemanakannya.

“Sudahlah” berkata Ki Jagabaya “jangan menangis lagi. Kita tidak dapat menuntut atas kematian seseorang, karena hidup dan mati itu bukan terletak di tangan kita. Dimana pun kita dapat dijemput oleh maut. Di rumah, di sawah, di sungai dan bahkan selagi kita tidur sekalipun. Apalagi suamimu sedang berada di peperangan”

“Kenapa suamiku dibawa ke peperangan paman?” bertanya perempuan itu.

“Bukan suamimu sendiri yang dibawa ke peperangan. Seperti kau mempertahankan milikmu sendiri, maka suamimu telah mempertahankan miliknya pula. Milik kita semua. Dan karena itu, maka anak-anak muda kita sudah berangkat. Tetapi hidup dan mati bukanlah kita yang menentukan”

Perempuan itu masih menangis. Tetapi Ki Jagabaya kemudian membimbingnya menepi. Diserahkannya perempuan itu kepada seorang perempuan tua tetangganya.

“Apakah mertuanya tidak datang?” ia bertanya kepada perempuan tua itu.

Perempuan tua itu menggeleng.

“Kenapa?”

“Ia takut mengalami kejutan seperti ini. Ia sedang mencoba mengatur perasaannya, karena ia mendengar dari anak-anak yang melihat iring-iringan ini, bahwa anaknya tidak ada di antara mereka”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun kembali ke samping kudanya. Tetapi ia tidak meloncat naik, sementara Ki Reksatani pun masih juga berdiri di samping kudanya pula.

“Kita tidak dapat mengingkari perasaan itu” berkata Ki Tumenggung Dipanata “bukankah di dalam hati kita masing-masing juga melonjak perasaan yang serupa, meskipun  dalam ukuran yang berbeda? Kita masih sempat mempertimbangkannya dengan nalar, tetapi agaknya perempuan itu tidak”

Suasana di halaman Kademangan itu menjadi hening. Sekali-sekali mereka masih mendengar isak yang semakin menjauh Perempuan yang kehilangan suaminya itu telah dibimbing oleh tetangganya meninggalkan halaman Kademangan.

“Sudahlah” perempuan tua itu mencoba meredakan tangisnya “berdoalah kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, agar bayimu yang hampir lahir itu mendapat perlindungannya”

“Tetapi ia tidak akan pernah melihat ayahnya”

“Kita memang tidak dapat ingkar dari keharusan yang telah tergores di sepanjang perjalanan hidup kita masing-masing. Percayalah kepada kebesaran Tuhan. Pasti bukan maksudnya untuk sekedar menyiksa perasaan kita tanpa arti. Memang mungkin sekali akal dan nalar kita yang picik tidak akan pernah dapat mengerti isyarat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita masing-masing”

Perempuan itu tidak menyahut. Tetapi ia masih menangis dan suara isaknya telah menyelusuri jalan-jalan di padukuhan Kepandak.

Di halaman Kademangan Ki Tumenggung Dipanata masih memberikan beberapa petunjuk dan penjelasan. Dengan hati yang tersayat ia menyaksikan wajah-wajah yang pucat dan mata yang basah.

Akhirnya Ki Tumenggung Dipanata itu berkata kepada Ki Demang di Kepandak “Ki Demang. Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menyerahkan kembali anak-anak muda

Kepandak sejumlah yang pernah kalian serahkan kepada Mataram. Tetapi seluruh Mataram tidak akan pernah melupakan perjuangan mereka. Mungkin para pemimpin di kemudian hari sama sekali tidak mengenal dan tidak pernah mendengar nama-nama anak-anak muda yang telah gugur, tetapi jasa yang pernah diberikan tidak akan dapat terhapus, walau pun tidak seorang pun yang akan menyebutnya lagi. Darah yang pernah menitik di bumi Tanah Air akan tetap seperti yang pernah terjadi. Diakui atau tidak diakui orang-orang yang akan datang kelak”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Cahaya senja yang merah mulai membayang di langit, sehingga wajah-wajah mereka yang berada di halaman Kademangan itu pun menjadi kemerah-merahan pula.

Namun dalam pada itu, hati Ki Demang sendiri justru perlahan mulai mengendap. Seolah-olah ia mendapatkan beberapa orang kawan sepenanggungan. Beberapa orang yang telah kehilangan seperti dirinya sendiri. Bahkan mereka dapat menyebut diri mereka, keluarga seorang pahlawan.

Ki Demang di Kepandak menundukkan kepalanya. Kini baru terasa, bahwa ia telah terdorong oleh perasaannya tanpa pertimbangan nalar yang bening. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Dipanata seorang perwira yang bertanggung jawab. Kalau tidak, seandainya saja ia menyerahkan Pamot kepadanya selagi hatinya gelap, ia tidak dapat membayangkan, apa yang telah dilakukannya. Ia pasti berusaha untuk memeras anak itu agar ia mengakui, bahwa ia telah mengambil Sindangsari. Benar atau tidak benar. Kalau ia sudah mengucapkan pengakuan, meskipun  terpaksa, maka pengakuan itu akan menjadi alasan untuk berbuat apa saja atasnya lebih jauh lagi.

“Nah” berkata Ki Tumenggung Dipanata kemudian “terimalah anak-anak kalian kembali. Aku masih akan sering datang ke Kademangan ini karena tugasku belum selesai. Anak-anak yang tidak dapat kembali kepada keluarganya, akan sekedar mendapat pernyataan terima kasih dari Sinuhun Sultan Agung. Mereka akan mendapat sebidang tanah yang akan diserahkan kepada keluarganya. Tanah yang akan dibeli oleh Sinuhun Sultan Agung di daerah mereka masing-masing”

Ki Demang mengangkat wajahnya. Dengan kata-kata yang dalam ia menerima anak-anak muda di Kepandak kembali ke rumah masing-masing, meskipun  tidak sebanyak pada saat mereka berangkat.

Setelah penyerahan itu selesai maka anak-anak muda yang baru saja kembali itu pun kemudian diperkenankan pulang. Mereka mendapat hadiah masing-masing seekor kuda, Kuda yang cukup baik bagi anak-anak di Kepandak.

Namun dalam pada itu, Pamot masih termangu-mangu di luar regol halaman. Betapa ia ingin segera pulang, tetapi rasa-rasanya sesuatu telah membebani hatinya.

“Marilah Pamot” ajak ayahnya yang menjemputnya di halaman itu pula.

“Silahkan ayah pulang dahulu. Aku akan segera menyusul”

“Seisi rumah menunggumu Pamot”

“Ya, ya ayah. Aku tahu. Aku akan segera pulang. Tetapi aku akan menunggu dahulu. Aku persilahkan ayah mendahului”

Ayahnya menjadi berdebar-debar. Teringat olehnya beberapa saat yang lampau, beberapa orang telah mencari anaknya yang saat itu belum datang.

“Apakah ada sesuatu yang penting?” ia bertanya

“Silahkan ayah mendahului” berkata Pamot kemudian “aku akan segera menyusul”

Ayahnya tidak dapat memaksanya. Karena itu, maka ditinggalkannya Pamot di depan regol dengan hatinya yang berat. Bahkan langkahnya  pun kadang-kadang tertegun. Ketika ia berpaling, dilihatnya Punta telah berada di samping anaknya.

“Kau tidak pulang” bertanya Punta.

“Hatiku serasa dibebani oleh sesuatu. Aku akan menghadap Ki Demang di Kepandak. Barangkali hal itu akan menjadi lebih baik bagiku daripada aku harus menunggu ia mengambilku di rumah. Apalagi dengan paksa”

Punta menarik nafas dalam-dalam. Ia masih melihat Ki Tumenggung Dipanata dijamu di pendapa.

“Apakah kau akan menghadap sekarang?” bertanya Punta.

Pamot mengangguk.

“Marilah. Aku antar kau menghadap Ki Demang, mumpung Ki Tumenggung masih ada”

“Apakah kau tidak segera pulang?”

“Aku menunggumu sebentar. Aku akan mempersilahkan ayah mendahului”

“Ayahku juga sudah dahulu pulang”

Punta yang mempersilahkan ayahnya mendahului, kemudian mengantarkan Pamot masuk kembali ke halaman Kademangan Kepandak. Meskipun  mereka agak ragu-ragu, namun mereka  pun kemudian meloncat turun dari punggung kuda mereka, dan mengikat kuda itu di halaman.

Di pendapa Kademangan, Ki Demang di Kepandak yang sedang menjamu Ki Tumenggung Dipanata bersama para bebahu Kademangan menjadi heran melihat Pamot dan Punta yang tidak segera pulang dan justru kembali ke pendapa.

Berbeda dengan nafsu Ki Demang yang meluap-luap untuk menangkap Pamot ketika ia baru datang, kini ia justru menjadi berdebar-debar melihat Pamot kembali. Meskipun  ia belum melakukan tuduhan apa pun yang ditekankannya kepada anak muda itu, tetapi rasa-rasanya Pamot akan mengajukan keberatannya atas tuduhan itu.

Karena itu, maka justru Ki Demang seakan-akan telah terbungkam karenanya. Hanya perasaannya sajalah yang bergolak di dalam dadanya. Yang mula-mula bertanya kepada Pamot justru adalah Ki Tumenggung Dipanata “Kenapa kau kembali lagi Pamot?”

Pamot masih berdiri di bawah tangga pendapa bersama Punta. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab “Tuan, aku menjadi bimbang untuk meninggalkan Kademangan. Terasa sesuatu telah memberati langkahku. Aku ingin pulang dengan tenang dan dapat beristirahat dengan tenang pula”

“Kenapa kau menjadi gelisah. Kau sudah dapat pulang sekarang. Pulanglah. Tidak ada persoalan lagi yang perlu kau gelisahkan”

“Tetapi rasa-rasanya aku tidak akan dapat tidur. Setiap saat aku dapat diambil dari rumahku. Karena itu, aku ingin semuanya menjadi jernih dahulu. Dengan demikian aku akan dapat pulang dengan tenang. Punta akan menjadi saksi dari semua persoalanku”

“Kau memang bodoh” Ki Reksatani lah yang menyahut “kau sudah mendapat kesempatan pulang. Sekarang kau menantang kakang Demang. Apakah kau sangka bahwa setelah kau pulang dari perjuanganmu itu kau menjadi kebal?”

“Bukan begitu Ki Reksatani” jawab Pamot “aku hanya ingin, bahwa aku dapat pulang dan beristirahat dengan tenang, Aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak akan terganggu lagi karenanya”

“Itu tidak mungkin. Selama persoalan mBok-Ayu Demang di Kepandak belum selesai, kemungkinan yang demikian masih ada” sahut Ki Reksatani pula “kami masih tetap mencurigai kau, sebelum kau benar-benar dapat membuktikan bahwa kau tidak bersalah”

“Nah, yang aku inginkan, biarlah hal-hal yang demikian itu menjadi jernih sama sekali”

“Kalau begitu kau ingin aku tangkap he?” bentak Ki Reksatani “atau kau ingin memanfaatkan kehadiran Ki Tumenggung Dipanata, agar kau mendapat Perlindungannya?”

“Ki Reksatani agaknya menjadi salah paham” berkata Punta lambat “bukan maksudnya menantang persoalan. Tetapi justru karena ia merasa terganggu oleh persoalan itu, ia ingin mencoba untuk mendapat penyelesaian sehingga ia benar-benar dapat pulang dengan hati tenteram”

“Persetan kau” bentak Ki Reksatani “kau tidak tahu apa pun tentang persoalan ini”

Ki Tumenggung Dipanata mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak senang melihat sikap Ki Reksatani sejak ia bertemu di jalan. Tetapi karena Ki Reksatani adalah adik Ki Demang di Kepandak, maka Senapati Mataram itu masih mencoba menahan hatinya.

Ki Demang yang selama itu hanya berdiam diri saja, kemudian mengangkat wajahnya sambil menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Sudahlah Reksatani, biarlah aku menyelesaikannya”

“Sekarang?” bertanya adiknya.

“Ya. Sekarang”

Ki Reksatani menjadi heran. Bahkan orang-orang lain yang ada di pendapa itu  pun menjadi heran pula.

“Pamot” berkata Ki Demang “kemarilah, dan duduklah bersama kami sebentar. Aku tahu, seluruh keluargamu menunggu kedatanganmu”

Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia  pun naik ke pendapa diikuti oleh Punta.

Sejenak kemudian kedua anak-anak muda itu telah duduk sambil menundukkan kepalanya.

“Pamot” berkata Ki Demang dengan nada suara yang dalam. Sama sekali tidak lagi terbayang di dalam getaran suaranya, nafsu yang menyala di dadanya untuk memaksa anak itu mengatakan sesuatu tentang Sindangsari “Sebelum kau datang, aku memang menyimpan kecurigaan atasmu. Apalagi setelah aku mendengar bahwa kau telah berada beberapa hari di Mataram. Dan kini aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau telah mengambil Sindangsari dari Kademangan ini?”

bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s