MEP-06


kembali | lanjut

MEP-06AH“ Sindangsari berdesah.

“Jangan aneh-aneh Reksatani” berkata Ki Demang.

Ki Reksatani tertawa “Tetapi aku minta ijin, agar mBokayu pada suatu saat boleh menginap di rumahku. Kemanakannya pasti akan senang sekali. Lebih, daripada itu Sindangsari, eh, mBokayu, akan belajar menenun”

Ki Demang hanya tersenyum saja, Ia sama sekali, segelugutpun tidak menaruh prasangka apapun.

Ternyata Ki Reksatani benar-benar telah mematangkan rencananya. Ketika malam itu ia pulang dari Kademangan, maka bersama isterinya dibuatnya perangkap yang paling baik untuk menjebak Sindangsari dan Puranta.

“Persetan, apakah keduanya akan dibunuh oleh Ki Demang” desis Reksatani.

“Tetapi jangan Sindangsari“ minta Nyai Reksatani.

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam ”Ya, Sindangsari tidak” Namun dalam pada itu Ki Reksatani sedang memikirkan permintaan perempuan yang ditangisi anaknya, yang tergila gila kepada Sindangsari. Katanya di dalam hati “Mudah mudahan aku mendapatkan kedua-duanya. Sindangsari terlepas dari kakang Demang dan anak itu mendapatkan janda itu”

Tetapi masih ada satu persoalan yang dipikirkannya “Bagaimana anak di dalam kandungan itu? Anak itu adalah anak kakang Demang. Meskipun seandainya Sindangsari telah diceraikannya, namun anak itu akan dapat menuntut haknya.

Sekali lagi terbersit cara yang paling keji “Bayi itu harus mati di saat lahirnya”

Dengan demikian, maka dengan segala cara, Nyai Reksatani telah membujuk agar Sindangsari mau bermalam semalam saja di rumahnya.

“Kau harus mengatakannya. Setiap hari anak itu bertanya kepadaku. Hampir saja ja memaksa untuk datang kemari”

Tetapi Sindangsari selalu berusaha untuk mengelak.

Demikian ia berada dekat dengan suaminya ia merasa, bahwa ia memang harus menghentikan permainan yang dapat membakar dirinya.

Namun kadang-kadang di malam hari Sindangsari sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Apabila ia berada di pembaringannya, seorang diri sejak hari perkawinannya, terasa betapa kesepian telah membakar jantungnya.

Memang kadang-kadang terbayang, betapapun suramnya, bayangan wajah anak muda yang bernama Puranta itu. Kadang-kadang merupakan sebuah bayangan rangkap, Pamot dan samar-samar garis-garis wajah Puranta itu.

“Tidak. Aku adalah seorang isteri. Bagaimanapun juga aku mempunyai seorang suami” geramnya.

Tetapi Nyai Reksatani tidak berputus-asa. Ia berusaha terus. Membujuk, merajuk dan bahkan kadang-kadang mengancam. Sedang Ki Reksatani setiap kali berkata kepada Ki Demang “Kenapa mBokayu tidak kakang perbolehkan bermalam di rumahku?”

“Aku bukan tidak memperbolehkan” jawab Ki Demang “tetapi mBokayumu agaknya masih belum berhasrat”

“Ah, mBokayu sendiri pernah mengatakan, bahwa ia ingin bermalam meskipun hanya semalam untuk mempelajari cara menenun”

“Kalau memang diinginkannya, aku tidak berkeberatan”

Akhirnya usaha suami istri itupun tidak sia-sia. Lewat cara apapun juga, mereka berhasil membujuk Sindangsari untuk bermalamdi rumah Ki Reksatani.

“Ia akan menemuimu” berkata Nyai Reksatani kepada Sindangsari, Kemudian “Jangan lupa. Katakan apa yang ingin kau katakan. Kalau kau memang tidak ingin bertemu lagi dengan orang itu, katakanlah berterus-terang. Tetapi kalau kau memerlukannya karena kau kesepian, aku tidak berkeberatan, katakanlah kepadanya. Aku yakin, ia dapat mengerti.

Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengerti apakah sebenarnya yang telah bergolak di dalam dirinya.

“Kau harus berbuat sebaik-baiknya Nyai” pesan Ki Reksatani “kalau datang saatnya, aku akan memanggil kakang Demang. Berkuda supaya cepat”

“Aku akan membawanya ke rumah itu. Aku sudah menyediakan sebuah alat tenun yang baik”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ingat, keterangan yang akan kita berikan kepada Ki Demang harus sama. Jangan sampai terjadi kekeliruan, apalagi pertentangan, karena kakang Demang adalah seorang yang teliti dalam menghadapi persoalan yang paling rumit”

“Ya. Tetapi belum tentu kakang Demang dapat meneliti hal yang menyangkut perasaan sendiri seperti persoalan orang lain”

“Mungkin. Memang mungkin”

Malam yang telah direncanakan itupun datang pula pada saatnya. Ki Demang melepaskan isterinya dengan sepenuh kepercayaan kepada adiknya.

“Besok pagi aku akan menjemputnya” berkata Ki Demang.

“Ya, kami menunggu kakang”

Bersama Ki Reksatani suami isteri Sindangsari meninggalkan rumahnya, lepas tengah hari. Ia membawa beberapa helai pakaian karena ia berjanji akan bermalam.

“Mudah-mudahan mBok ayu senang bermalam di rumah kami”

“Tentu” jawabnya ragu-ragu.

Di sepanjang jalan, jantung Sindangsari terasa semakin berdebar-debar. Bagaimanakah caranya untuk mengatakan maksudnya kepada Puranta, bahwa ia berkeberatan untuk bertemu dengannya. Bahwa hubungan apapun harus diputuskannya.

Dada Sindangsari berdesir ketika mereka berhenti di sebuah halaman, beberapa patok sebelum mereka sampai di rumah Ki Reksatani. Dengan tertawa Ki Reksatani berkata ”Bukankah mBok-ayu ingin belajar menenun. Alat tenun kami yang paling baik berada di rumah ini. Apalagi disini tidak ada anak-anak kecil yang akan mengganggu. Biarlah isteriku mengawanimu disini”

Sejenak Sindangsari berdiri termangu-mangu. Ditatapnya wajah suami isteri itu berganti-ganti, seolah-olah ingin mendapat penjelasan yang lebih banyak lagi dari mereka.

“Silahkan” Ki Reksatani mempersilahkan. Ia pun kemudian mendahuluinya memasuki regol halaman yang tidak begitu lebar itu”

“Ini juga rumahku” berkata Ki Reksatani ”kalau aku jemu berada di rumah sebelah karena kericuhan anak-anak, aku pergi dan tidur di rumah ini. Disinilah alat-alat tenun kami yang baik kami simpan”

Sindangsari masih belum menjawab. Meskipun Ki Reksatani sudah berada di dalam regol, namun Sindangsari masih berdiri di tempatnya.

Akhirnya ia terpaksa melangkah maju ketika tangan Nyai Reksatani membimbingnya.

“Jangan takut” katanya ”daerah ini adalah daerah yang paling aman. Apalagi setiap orang tahu bahwa rumah ini adalah rumah Ki Reksatani. Hanya orang yang ingin membunuh diri sajalah yang berani mengganggu rumah ini.

Sindangasari tidak menyahut. Dengan penuh kebimbangan ia berjalan melintasi halaman naik ke pendapa rumah yang tidak begitu besar itu. Tetapi ketika ia menjengukkan kepalanya ke dalam, dilihatnya rumah itu cukup bersih, sebersih rumah Ki Reksatani yang pernah dikunjungnya.

“Ada dua orang pelayan yang khusus mengurusi rumah ini” berkata Ki Reksatani ”duduklah. Tetapi barangkali disini terdapat banyak kekurangan, karena pada dasarnya rumah ini kosong. Di siang hari dipergunakan oleh beberapa orang untuk menenun. Sesudah senja, rumah ini hanya ditunggui oleh dua orang pelayan, suami isteri”

Kecurigaan Sindangsari atas rumah itupun semakin lama menjadi semakin berkurang. Dipandanginya dinding-dinding kayu nangka yang kekuning-kuningan dihiasi oleh serat-serat yang berwarna coklat muda sampai kecoklat tua.

Setelan mereka duduk sejenak di sebuah amben yang besar, maka pelayan yang menunggui rumah itu menyuguhkan air panas, gumpalan-gumpalan gula kelapa dan beberapa jenis makanan.

“Berlakulah seperti di rumah sendiri mBokayu” berkata Ki Reksatani”jangan merasadirimu asing disini”

“Terima kasih”jawab Sindangsari kaku.

“Di dalam bilik itulah alat tenunku yang paling baik, yang khusus aku pergunakan sendiri aku simpan. Nanti, kita coba bersama, apakah mBok-ayu tertarik pada pekerjaan kasar itu”

Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling dilihatnya lewat lubang pintu yang terbuka sebuah alat tenun yang terletak disebuah amben yang besar pula.

Demikianlah setelah berbicara sejenak, maka Ki Reksatani pun kemudian berkata ”Maaf mBok-ayu. Aku akan pergi ke rumah sebelah sejenak. Nanti aku akan datang lagi kemari. Belajarlah menenun. Barangkali mBok-ayu tertarik pada pekerjaan itu untuk sekedar mengisi waktu selagi mBakayu kesepian”

Sindangsari menganggukkan kepalanya ”Baiklah. Aku akan belajar”

Sepeninggal Ki Reksatani, Nyai Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Hampir saja aku lupa menyahut kata-kata kakang Reksatani, bahwa mBok-ayu akan dapat mencari kesempatan untuk mengisi kesepian dengan cara yang jauh lebih baik dari menenun. Bukankah begitu?”

“Ah” Sindangsari berdesah.

”Jangan takut. Anak itu akan datang kemari”

 “Tetapiakutidakingin menemuinyamalamini”

Nyai Reksatani tertawa ”Semua sudah aku persiapkan baik-baik.

Jangan takut. Kakang Reksatani pun tidak akan tahu”

Dada Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar.

Dalam pada itu, Nyai Reksatani memandang Sindangsari dengan tatapan mata yang aneh. Selagi Sindangsari menundukkan kepalanya, Nyai Reksatani menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah di dalam hatinya ”Bukan maksudku mBok-ayu. Tetapi kepentingan hari depan anak-anakku telah menuntut agar aku berusaha membantu suamiku dalam pekerjaan ini”

Terbayang di dalam angan-angannya apa yang akan terjadi malam itu.

“Kalau Puranta telah datang, kau harus secepatnya memberitahu agar aku segera dapat mengundang kakang Demang” pesan Ki Reksatani itu selalu terngiang di telinganya.

Dengan demikian, maka hati Nyai Reksatani yang tampaknya selalu tersenyum dan tertawa itu, sebenarnya telah dicengkam oleh kegelisahan yang semakin memuncak. Semakin rendah matahari, hati Nyai Demang menjadi semakin berdebar-debar.

Ketika senja turun, maka Nyai Reksatani pun mempersilahkan Sindangsari mandi dipakiwan di belakang rumah. Kemudian mereka berdua duduk bercakap-cakap sejenak. Nyai Reksatani berkata ”Marilah, lihatlah, bagaimana aku menenun”

Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya ”Lalu bagaimana dengan anak-anak, kalau kau berada disini?”

“Aku mempunyai pembantu-pembantu. Nanti sebentar aku memang harus pulang. Aku akan mengambil anakku yang terkecil. Di malam hari ia masih sering menanyakan biyungnya”

Sindangsari masih mengangguk-angguk ketika kemudian Nyai Reksatani membawanya masuk ke dalam bilik tenunnya.

Di sudut bilik itu lampu minyak telah menyala. Cahayanya yang kemerah-merahan membuat ruangan itu serasa menjadi semakin panas. Bayangan yang bergerak-gerak memantul dari benang-benang yang berwarna tajam yang telah tersusun pada alat tenun Nyai Reksatani.

Sejenak kemudian perempuan itupun telah duduk pada alat tenunnya. Ketika semuanya telah siap, maka mulailah ia melemparkan coba, alat untuk melontarkan gulungan benang yang akan menyilang benang-benang yang telah disusun membujur.

Dengan sungguh-sungguh Sindangsari memperhatikan gerak tangan Nyai Reksatani. Dengan memberikan beberapa petunjuk, tangannya bergerak terus, bahkan kakinya untuk menggerakkan suri dari benang yang membujur.

Namun tiba-tiba Nyai Reksatani berkata ”mBok-ayu, sebentar lagi ia akan datang. Kau akan dapat kesempatan segala-galanya. Kalau kau memang tidak mau bertemu lagi dengan anak itu, kau akan mendapat kesempatan untuk mengatakannya, sedangkan kalau kau memerlukan yang lain, aku tidak akan mencegahnya”

“Ah” Sindangsari selalu hanya dapat berdesah. Tetapi dengan demikian tiba-tiba perhatiannya terhadap gerak tangan dan kaki Nyai Reksatani menjadi kabur.

Sejenak Sindangsari menjadi bingung. Ia sendiri tidak mengerti apakah sebenarnya yang diinginkannya. Apakah ia ingin memutuskan semua hubungan, ataukah sebenarnya ia memang mengharapkannya untuk mengisi kesepian.

“Malam ini aku tahu, kakang Reksatani akan berjaga-jagadi rumah tetangga yang sakit keras. Ia sudah mengatakan kepadaku pagi tadi”

Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Pikirannya menjadi semakin kalut sehingga ia sama sekali tidak menjawab lagi.

“Kita menunggu kedatangannya. Akulah yang meminta kepada kakang Reksatani, agar kami diperkenankan mempergunakan rumah ini. Rumah yang biasanya hanya dipergukan untuk mengerjakan pekerjaan khusus dan menenun”

Dada Sindangsari menjadi sesak. Ia merasa terjebak karenanya. Namun ada juga terbersit sesuatu yang memang diharapkannya.

Namun kemudian ia mencoba menemukan seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya. Meskipun tidak terucapkan ia mencoba berkata kepada diri sendiri ”Aku adalah Nyai Demang di Kepandak”

Karena Sindangsari tidak menjawab, maka Nyai Reksatanipun terdiam pula. Hanya tangan dan kakinya sajalah yang masih bergerak-gerak mempermainkan alat tenunnya. Sementara langit di luar menjadi semakin lama semakin kelam.

“Kalau anak itu datang, aku harus segera berlari memberitahukannya kepada kakang Reksatani” desis Nyai Reksatani.

Dan dalam pada itu Ki Reksatani pun telah menyusun rencananya dengan lengkap. Begitu isterinya memberitahukan kedatangan anak muda itu, ia akan berpacu kepada kakaknya.

“Kakang Demang pasti mempercayai aku”desisnya.

Sementara itu, ketika Kademangan Kepandak telah menjadi semakin gelap, seseorang berjalan dengan tergesa-gesa melintasi jalan persawahan. Sekali-sekali ia tersenyum sendiri.

Terngiang kata-kata Ki Reksatani ”Jangan sampai gagal. Bukankah kau tidak pernah gagal menghadapi perempuan yang bagaimanapun juga keras hatinya? Kau harus tetap ada pada perempuan itu sampai kakang Demang datang. Semuanya serahkan kepadaku. Kalian akan selamat. Tetapi kakang Demang pasti akan memaksamu kawin dengan perempuan itu”

Anak muda yang bernama Puranta itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya di dalam hati ”Kali ini aku mendapat pekerjaan yang aneh. Biasanya aku melakukannya sebagai suatu keharusan oleh dorongan dari dalam diriku sendiri. Tetapi kali ini aku akan mendapatkan kedua-duanya”

Sekali lagi ia tersenyum seorang diri sambil melangkah terus. Namun sama sekali tidak terbersit suatu prasangka apapun kepada Ki Reksatani. Ia tidak berpikir terlampau jauh, bahwa Ki Reksatanilah yang akan membinasakannya, karena Ki Reksatani sama sekali tidak ingin, bahwa rahasia ini pada suatu saat akan bocor dan anak di dalam kandungan Sindangsari itu apabila berkesempatan hidup akan menuntutnya kelak, atau orang-orang lain yang setia kepada Ki Demang.

“Jagabaya yang bodoh itu pasti tidak akan dapat diajak berbicara dengan cara apapun. Kalau pada suatu ketika ia mengerti tentang rencana ini, maka tidak ada cara lain, ia harus dihadapi menurut cara yang dipilihnya. Ia pasti akan mempergunakan kekerasan” pertimbangan itupun agaknya telah mempengaruhi keputusannya.

Sementara itu Puranta berjalan semakin cepat. Menurut Ki dan Nyai Reksatani, ia harus datang setelah padukuhan menjadisepi, tetapi jangan sampai lewat tengah malam.

Dalam pada itu, Lamat yang tidak mempunyai pekerjaan lagi di rumah, masih saja selalu dikejar oleh pertanyaan, apakah yang dilakukan oleh Puranta di Kademangan Kepandak ini.

Bukan hanya satu kali ia melihat anak itu lewat. Dengan demikian kecurigaannya pun menjadi semakin kuat, bahwa Puranta telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu pula, kali ini di Kademangan Kepandak.

“Apakah peduliku“ ia bergumam. Bahkan kemudian “Kenapa aku mempersoalkan anak itu, sedang di rumah ini pun ada pula seorang anak muda yang melakukan perbuatan serupa?”

Lamat mencoba menghilangkan pikiran itu sambil berbaring di pembaringannya. Tetapi setiap kali wajah anak muda yang bernama Puranta itu selalu saja terbayang.

Lamat terkejut ketika tiba-tiba saja pintu biliknya terdorong keras-keras. Ketika bilik itu terbuka, ia melihat Manguri berdiri di muka pintu dengan wajah yang tegang.

“He, kau benar-benar seorang pemalas” tiba-tiba saja ia membentak.

Lamat pun segera bangkit. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mendekati Manguri “Apakah ada sesuatu?”

“Ikut aku”

Lamat tidak menyahut. Iapun kemudian berjalan mengikuti Manguri keluar biliknya dan pergi ke regol halaman.

“Lamat, ada kerja yang harus kita lakukan”

“Apa?”

“Kau pernah melihat anak muda yang bernama Puranta itu?”

Hati Lamat menjadi berdebar-debar. Sambil mengangguk ia menjawab “Ya. Aku pernah melihatnya”

“Ia kini berkeliaran di Kademangan ini” berkata Manguri.

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih belum menjawab.

“Kau tahu apa yang ia lakukan di sini?”

Lamat menggelengkan kepalanya.

“Bodoh kau. Kau pasti harus mengetahuinya”

“Tetapi aku tidak tahu apa yang dilakukannya.

“Kita sudah mengenalnya. Jadi kita dapat memastikan, bahwa ia sudah mulai meraba Kademangan ini dengan tangannya yang kotor itu”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya, itu suatu dugaan”

“Bukan sekedar dugaan. Aku dapat memastikan”

“Sebaiknya, jangan pedulikan anak itu. Dengan demikian kau hanya akan menambah lawan. Biar sajalah ia melakukan apa saja yang dikehendakinya“

“O, jadi kita akan menutup mata? Dan kita akan membiarkan perbuatan terkutuk itu terjadi di Kademangan ini?” Manguri berhenti sejenak sedang nafasnya tiba-tiba memburu “aku tidak rela. Atau barangkali kau ingin mengatakan, bahwa akupun sering melakukan hal yang serupa seperti juga ayahku? Baiklah, jika demikian apa yang dilakukan di Kepandak adalah suatu penghinaan bagiku, seolah-olah di Kepandak tidak adaseorang laki-laki pun”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia berdesah didalam hati.

“Marilah kita pergi ke sawah. Aku pernah melihatnya lewat di jalan itu, melintasi bulak di sebelah sawah kita”

“Tetapi tentu di siang hari”

“Tidak. Kadang-kadang di malam hari”

Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya “Ia lewat di saat-saat yang tidak kita mengerti”

Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berbisik “Lamat, aku menghubungkan kehadirannya dengan ceritera ibu”

Lamat mulai tertarik.

“Menurut ibu, yang selalu aku desak, agar ibu dapat mengambil langkah sesuatu untuk mengambil Sindangsari dari sisi Ki Demang, usaha itu memang sudah dilakukan. Laki-laki yang sering datang itu mengatakan, bahwa ia sedang berusaha memisahkan Sindangsari dari suaminya. Ia telah berusaha dengan mengungkat perasaan cemburu. Seorang anak muda telah dipanggilnya untuk mengganggu ketenangan rumah tangga Ki Demang”

Terasa dada Lamat berdesir tajam, meskipun wajahnya sama sekali tidak berkesan sesuatu.

“Aku tidak menolak cara apapun yang akan dilakukannya. Tetapi kalau laki-laki itu adalah anak muda yang bernama Puranta, aku sama sekali tidak akan dapat menerima”

Dada Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Dan Manguri berkata seterusnya “Malam ini rencana itu akan dilakukan. Semuanya sudah teratur”

“Apa yang akan terjadi malam ini?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi kalau benar kata ibu, bahwa anak itulah yang akan dijadikannya alat, maka untuk selamanya Sindangsari tidak akan terlepas dari tangannya. Aku tidak akan dapat mengharapkan apa-apa lagi selain kekecewaan yang membara”

“Apakah itu bukan sekedar perasaan cemburu dan katakanlah semacam persaingan yang mengendap di dalam dada dan tiba-tiba saja kini terangkat?”

“Aku tidak tahu pasti. Mungkin juga demikian. Tetapi aku menghubungkan ceritera ibu itu dengan kehadiran anak muda itu di Kademangan ini. Aku sudah pernah melihat sekali lewat di bulak. Untung aku masih sempat mengendalikan diri. Hampir saja aku menyergapnya”

“Itu tidak menguntungkan sama sekali. Kalau kalian berkelahi di tengah sawah, dan anak-anak muda Gemulung melihat perkelahian itu, namamu akan menjadi semakin dijauhi, karena pasti satu dua orang anak muda Gemulung pernah juga mengenal Puranta”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya “Kau benar. Tetapi sekarang, marilah kita lihat, apakah laki-laki itu benarbenar akan lewat”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Kalau anak itu lewat, maka persoalannya pasti akan berkepanjangan. Tetapi ia tidak dapat menolak ketika sekali Manguri berkata “Berpakaianlah. Kita pergi”

Keduanyapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan padukuhan mereka, pergi ke persawahan. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi air parit yang menjadi semakin susut karena musim kering yang berkepanjangan.

“Aku tidak dapat menerima kekalahan ini”desis Manguri.

“Kenapa ini kauanggap sebagai kekalahan?”

“Apakah yang aku dapat adalah hasil usaha Puranta. Tetapi aku kira aku justru tidak akan mendapatkan apa-apa lagi. Karena itu, usaha dengan cara ini harus dihentikan”

Lamat tidak menyahut. Dipandanginya jalur jalan yang membujur membelah bulak yang menjadi semakin kelam.

Selagi keringat mereka masih membasah di punggung, darah mereka serasa semakin cepat mengalir ketika mereka melihat seseorang yang berjalan semakin lama semakin dekat.

Sambil menggamit Manguri, Lamat pun beringsut, dan berlindung di balik dedaunan.

“Benar setan itu” desis Manguri. Hampir saja ia meloncat, tetapi Lamat telah menahannya.

Sejenak mereka menahan nafas ketika Puranta berjalan cepat melintas di hadapan mereka.

“Kenapa kau menahanku” bisik Manguri ketika Puranta telah membelakanginya.

“Jangan tergesa-gesa. Kita belum pasti, bahwa ada hubungan antara anak itu dengan rencana seperti yang dikatakan ibumu”

“Aku yakin. Tidak ada orang lain. Apalagi kali ini ia mendapat bantuan dari orang dalam. Sedang tanpa orang lain pun ia sanggup melakukannya. Ia mengetahui benar, bahwa Sindangsari tidak mencintai Ki Demang di Kepandak”

“Tetapi itu belum merupakan kesimpulan. Kalau Sindangsari tidak mencintai Ki Demang, itu bukan berarti bahwa Sindangsari akan dengan mudahnya tergelincir. Kau tahu, betapa kuatnya hati gadis itu bahwa sebelum ia terikat oleh Pamot”

Manguri mengerutkan keningnya. Memang apa yang dikatakan oleh Lamat itu dapat dimengertinya.

Meskipun demikian, ia masih tetap merasa curiga atas kehadiran Puranta itu di Kademangan Kepandak, apalagi setelah ia mendengar rencana laki-laki yang sering mengunjungi ibunya itu.

Sebenarnya, Lamat sendiri telah dicengkam oleh kecurigaan pula. Jalan pikiran Manguri dapat di mengertinya pula. Tidak ada orang lain yang lebih baik untuk melakukan pekerjaan itu selain Puranta, atau Manguri sendiri. Tetapi di dalam hal ini, tentu Manguri tidak akan dapat melakukannya sendiri.

“Lamat” berkata Manguri “bagaimanapun juga aku tetap mencurigainya. Karena itu, aku akan menyusulnya, melihat apa yang dikerjakannya di Kepandak”

“Jangan kau” berkata Lamat “kau sudah dikenalnya dengan baik”

“Maksudmu?”

“Biarlah aku yang pergi mengikutinya”

“Kau kira anak itu tidak akan segera mengenalmu?”

“Aku akan berusaha. Sedang masalah yang mungkin dapat timbul tidak akan segera menodai nama keluargamu apabila seseorang melihatnya. Apalagi di dalam hal ini menyangkut nama Sindangsari”

Manguri berpikir sejenak. Namun Lamat mendesaknya “Mumpung anak itu masih belum terlampau jauh. Apakah aku diperbolehkan menyusul?”

Manguri tidak sempat berpikir terlampau lama. Karena Lamat sudah mulai melangkahkan kakinya, iapun kemudian berkata “Pergilah. Tetapi hati-hati. Jangan berbuat bodoh, karena kau hanya mampu mempergunakan tenagamu, tidak otakmu”

Lamat berpaling sambil mengangguk “Aku akan mencoba” jawabnya.

Sejenak kemudian Lamatpun telah hilang di dalam gelapnya malam yang menjadi semakin kelam.

Sementara itu Puranta berjalan semakin lama semakin cepat. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa seseorang telah mengikutinya. Ia sudah tahu pasti, kemana ia harus pergi. Ia tidak perlu singgah lagi ke rumah Ki Reksatani. Tetapi ia akan langsung pergi ke rumah yang hanya berjarak beberapa patok saja dari rumah Ki Reksatani itu.

Kecurigaan Lamat pun semakin lama menjadi semakin besar, ketika ia mulai menduga, bahwa Puranta telah pergi ke jurusan yang mendebarkan. Puranta telah pergi ke padukuhan tempat tinggal Ki Reksatani.

“Apakah benar yang dikatakan oleh Manguri?” desisnya.

Dengan demikian, semakin dekat mereka dengan padukuhan tempat tinggal Ki Reksatani. Lamatpun menjadi semakin yakin, bahwa orang yang dimaksud oleh ibu Manguri adalah Puranta itu.

Sekali Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat suatu permainan yang keji.

Sebenarnyalah bahwa Lamat bukanlah orang yang terlampau dungu. Berdasarkan atas beberapa kenyataan, ia pun menarik suatu kesimpulan, bahwa Ki Reksatani memang telah membuat suatu rencana yang sangat baik baginya. Ia akan dapat memenuhi keinginan ibu Manguri, namun sekaligus menyingkirkan isteri Ki Demang yang sudah mulai mengandung itu, sehingga Ki Demang tidak akan mendapat keturunan yang akan dapat menerima pelimpahan jabatannya.

“Tetapi apakah Ki Demang mengetahui hubungan yang sudah terlampau jauh antara isterinya itu dengan Pamot?” ia bertanya kepada diri sendiri. “Namun bagi Ki Reksatani, siapapun yang ada di dalam kandungan Sindangsari, pasti akan menjadi hambatan baginya dan keturunannya” desisnya kemudian.

Akhirnya Lamat tidak sangsi lagi, bahwa demikianlah yang terjadi. Puranta itu adalah laki-laki yang dikatakan, sebagai alat untuk mengungkat kecemburuan Ki Demang.

“Pasti ada sesuatu yang akan terjadi malam ini seperti yang dikatakan oleh Manguri” berkata Lamat di dalam hatinya ”tetapi dalam bentuk apakah sesuatu yang terjadi itu?”

Lamat sendiri tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi. Tetapi dengan demikian maka niatnya untuk mengetahui kemana anak itu pergi menjadi semakin besar.

Dengan hati-hati Lamat mengikutinya terus. Sekali-sekali ia terpaksa berjongkok melekat gerumbul di pinggir-pinggir jalan, atau pagar-pagar pategalan, kalau tiba-tiba saja Puranta berhenti sejenak.

Dada Lamat menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka pun kemudian memasuki padukuhan tempat tinggal Ki Reksatani.

“Anak itu pasti akan menemui Ki Reksatani untuk menerima petunjuk-petunjuknya “ia bergumam kepada diri sendiri.”

Tetapi Lamat mengerutkan keningnya ketika Puranta itu berhenti di sebuah regol halaman rumah yang lain. Bukan rumah Ki Reksatani”

“He, apa yang akan dilakukan oleh anak itu?” Lamat mendekat dengan tergesa-gesa ketika Purantakemudian hilang di balik regol.

Dengan hati-hati Lamat mengintip ke halaman. Ia masih melihat Puranta mendekati pintu.

“Aku harus mendekat” desisnya. Tetapi Lamat tidak berani melintasi halaman supaya Puranta tidak melihatnya. Karena itu, ketika Puranta lagi asyik mengetuk pintu, Lamat meloncat pagar batu samping dan dengan hati-hati mendekati rumah itu.

Ia menahan nafasnya ketika dari dalam rumah itu ia mendengar seseorang berkata “O, kau akhirnya datang juga. Marilah, masuklah.

Lamat berdiri melekat dinding rumah itu ketika pintu kemudian berderit. Ia berusaha menemukan sebuah lubang yang dapat dipergunakannya untuk mengintip ke dalam. Tetapi ia tidak berhasil.

“Siapakah perempuanitu?”Ia bertanyakepadadiri sendiri.

Namun debar jantungnya serasa menjadi semakin menghentak-hentak dadanya ketika ia mendengar Puranta itu berkata “O, kau sudah ada disini pula Sari”

Sejenak tidak terdengar jawaban, sementara nafas Lamat menjadi semakin sesak.

“Sindangsari itu sudah ada disini. Apakah benar begitu mudahnya Sindangsari terperosok ke dalam keadaan ini“ berbagai pertanyaan telah menghentak-hentak dada Lamat. Ia mencoba untuk mengerti, betapa kekecewaan telah melanda hati perempuan muda itu pada saat ia ditinggalkan oleh Pamot, kemudian kawin dengan Ki Demang di Kepandak yang umurnya jauh lebih tua dari padanya. Apalagi Lamat sendiri menyangsikan kemungkinan Ki Demang untuk masih mendapatkan anak lagi, karena sudah lima kali ia j kawin tidak seorang dari isteri-isterinya yang pernah mengandung.

“Sindangsari mengandung oleh benih yang didapatkannya dari Pamot” katanya di dalam hati.

Dalam pada itu hatinya masih tetap bergejolak. Ia tidak dapat menerima kenyataan kehidupan Sindangsari itu sebagai alasan untuk berbuat demikian tercela.

Ia menahan nafas pula ketika ia mendengar seorang perempuan berkata “Ia sudah menunggumu sejak senja”

“Tidak” sahut suara yang lain. Dan Lamat segera mengenal suara itu. Suara Sindangsari.

“O, kenapa tidak” bertanya suara perempuan yang pertama.

“Aku datang untuk memenuhi undanganmu” sahut Sindangsari “bukan dengan maksud yang lain. Kalau Ki Reksatani dan kau tidak memaksa aku bermalam di rumah ini, aku tidak akan datang”

Yang terdengar adalah suara tertawa perempuan yang lain yang menurut dugaan Lamat orang itu pastilah Nyai Reksatani. Dan dugaan itu ternyata tidak keliru.

“Tetapi kenapa di rumah ini” bertanya Lamat di dalam hatinya.

Demikianlah keinginannya untuk dapat mengintip isi rumah itu menjadi semakin besar, sehingga akhirnya ia bergeser mendekati pintu. Usahanya ternyata dapat berhasil. Dari daun pintu yang tidak tertutup rapat, ia memang dapat melihat, siapa saja yang berada dipringgitan.

Anak muda yang bernama Puranta, Nyai Reksatani dan Sindangsari yang telah keluar dari dalam bilik tenun, dan duduk sambil menundukkan kepalanya.

“Jangan begitu mBok-ayu” berkata Nyai Reksatani “ia sudah datang di malam yang gelap ini. Kenapa tiba-tiba saja kau bersikap begitu?”

“Ah” desis Sindangsari. Tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Sari” berkata Puranta “kesempatan untuk bertemu dengan kau selalu aku tunggu-tunggu. Kali ini kesempatan itu aku peroleh. Jangan terlampau kaku. Bukankah aku tidak berbuat apa-apa disini?”

Sindangsaritidak menyahut.

“Aku datang sekedar untuk memandang wajahmu. Hanya memandang saja. Sorot matamu dan apalagi apabila sekali-sekali kau tersenyum, memberikan sesuatu yang terasa asing di dalam hatiku. Aku tidak dapat mengatakan Sari. Perasaan apakah itu sebenarnya”

Sindangsari sama sekali tidak dapat menjawab. Nafasnya serasa menjadi sesak oleh perasaan yang tidak menentu. Sejak Pamot meninggalkannya, ia tidak pernah mendengar kata-kata serupa itu.

Ketika tanpa sesadarnya ia mengangkat wajahnya dan menatap mata Puranta, dadanya berdesir tajam. Seakan-akan hatinya telah terbentur oleh sorot mata yang langsung meremukkan perasaannya, sehingga dengan tergesa-gesa ia melemparkan tatapan matanya keatas anyaman tikar alas duduknya.

Puranta yang mempunyai pengalaman yang hampir lengkap tentang sifat-sifat perempuan segera menemukan suatu kelemahan pada Sindangsari yang hidupnya terlampau gersang itu. Sambil tersenyum ia beringsut maju tanpa menghiraukan lagi Nyai Reksatani yang masih juga duduk, disitu ”Aku melihat sesuatu yang lain padamu Sari. Kalau kau ini sebuah telaga yang berair sejernih batu permata, maka kau adalah telaga yang terbentang di padang yang kering dan gersang, tanpa sehelai daunpun yang melindungimu. Dengan demikian semakin lama airmu akan menjadi semakin susut sebelum dinikmati oleh para perantau yang kehausan dan kepanasan”

Tubuh Sindangsari seakan akan telah membeku. Ia sama sekali tidak kuasa berbuat apapun juga. Bahkan ia sudah tidak kuasa lagi untuk beringsut dari tempatnya ketika Puranta duduk semakin dekat.

Nyai Reksatani sama sekali tidak mengganggunya. Dibiarkannya saja semua itu terjadi di hadapan hidungnya. Apabila datang waktu yang tepat, dan ia yakin bahwa hal yang dihadapkannya itu dapat terjadi, ia harus berlari pulang dan memberitahukannya kepada suaminya yang pasti sudah menyediakan seekor kuda.

“Sindangsari” suara Puranta menurun “kenapa kau diam saja?”

Sindangsari yang seakan-akan telah kehilangan dirinya sendiri itu hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahkan kemudian tumbuhlah pengakuan di dalam hatinya, bahwa hidupnya selama ini adalah gersang. Bagai telaga yang ada di padang yang kering. Semakin lama akan menjadi semakin susut airnya tanpa arti. Sudah kira-kira setengah tahun ia berada di rumah Ki Demang. Bahkan kandungannya itu sudah hampir waktunya di selamati pada bulan ke tujuh. Namun ia sama sekali belum pernah merasa bahwa ia adalah seorang isteri dari seorang suami.

Yang selama ini terjadi dirumah Kademangan, seakan-akan hanyalah sekedar hidup bersama-sama dengan Ki Demang di Kepandak. Bahkan mirip dengan seorang kemanakan yang melayani pamannya, sekedar menyediakan makan dan minum.

“Sindangsari” terdengar suara Puranta langsung menyentuh dinding hatinya “kenapa kau diam saja?”

Sindangsari benar-benar tidak kuasa untuk menolak cengkaman perasaan yang semakin kuat. Bahkan ketika Puranta duduk semakin dekat. Terasa pakaian anak muda itu telah mulai menyentuh ujung kain panjangnya yang berjuntai di bawah lututnya. Dan ternyata sentuhan itu seakan-akan merambat lewat saluran darahnya menggetarkan seluruh urat nadinya.

Lamat yang berdiri di luar pintu mengintip dengan dada yang berdebar-debar. Apakah yang akan terja dikemudian?

Hampir saja ia menghentakkan tangannya dan meninggalkan tempat itu ketika terbersit kata-kata di dalam hati “Persetan perempuan gila itu. Aku kira ia jatuh ke dalam noda yang paling kotor bersama dengan Pamot karena ia terseret oleh cintanya yang tulus. Tetapi kalau sekali lagi ia menyerahkan dirinya kepada setan itu, aku tidak perlu mempedulikannya lagi. Ia tidak lebih dari seorang perempuan yang lemah. Terlampau lemah dan bahkan mungkin ia memang seorang perempuan yang berhati binal, meskipun secara lahiriah ia adalah seorang perempuan yang luruh. Disinilah letak teka-teki alam yang tidak mudah terpecahkan. Orang-orang biasanya menilai seseorang dari bentuk dan ujud lahiriahnya”

Tetapi sebelum hal itu terjadi, sebelum Lamat meninggalkan tempatnya, ia mendengar suara Nyai Reksatani “Ah, sebaiknya aku pergi. Aku tidak boleh mengganggu kalian. Aku akan menyiapkan makan dan minuman kalian, sementara kalian dapat berbuat apa saja disini. Aku berkata sejujur-jujurnya. Aku akan senang sekali kalau tamuku mendapatkan kesenangan dan kegembiraan yang setinggi-tingginya di rumah ini.

Sejenak Puranta dan Sindangsari terdiam. Mereka hanya memandang saja wajah Nyai Reksatani yang kemerah-merahan.

“Duduklah kalian berdua. Aku akan merebus air” Lalu kepada Sindangsari ia berkata “mBok-ayu, kalau kau ingin belajar menenun, belajarlah. Puranta pandai juga mengajarimu. Silahkan mempergunakan alat tenunku di dalam bilik itu”

Tanpa sesadarnya Sindangsari berpaling ke pintu bilik yang masih terbuka. Di pandanginya sebuah alat tenun yang ada diatas sebuah amben yang besar, terlalu besar untuk sekedar tempat alat tenun itu saja.

“Marilah” desis Puranta “aku ajari kau menenun Jangan kau sangka bahwa aku kalah cekatan mempermainkan coba dari Nyai Reksatani”

“Silahkan mBok-ayu, silahkan”

“Marilah Sindangsari”

Suara itu rasa-rasanya berputaran di kepalanya sehingga sejenak ia memejamkan matanya. Dicobanya untuk mencernakan apa yang sedang didengarnya.

“Sari” suara Puranta tiba-tiba saja telah berdesing terlampau dekat di telinganya.

“Silahkan mBok-ayu”

Sindangsari mencoba sekali lagi. Dipusatkannya segenap perhatiannya kepada dirinya yang sedang diombang-ambingkan oleh ketidak tentuan yang tidak di mengertinya itu.

Dengan sepenuh kekuatannya ia mencoba melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Kenapa kau diam saja mBok-ayu. Marilah, berdirilah”

Sindangsari merasa Nyai Reksatani menarik tangannya, dan ketika ia sudah berdiri perempuan itu telah membimbingnya.

Di sampingnya berdiri Puranta dengan nafas yang terengah-engah.

“Jangan ragu-ragu. Jangan ragu-ragu” berkata laki-laki itu.

Namun tiba-tiba Sindangsari menemukan sesuatu di dalam dirinya. Ia tertegun ketika di kejauhan terdengar suara kentongan di gardu perondan. Suara kentongan dalam nada dara-muluk. Semakin lama semakin tinggi, semakin tinggi. Rasa-rasanya suara itu telah menghentak-hentak dinding jantungnya.

Sindangsari tidak tahu, apa yang sebenarnya telah memaksanya untuk melangkah maju setapak lagi. Kali ini bukan saja Nyai Reksatani yang membimbingnya, tetapi terasa tangan Puranta telah meraba pundaknya. Ketika suara kentongan itu sampai ke puncak iramanya, terbayanglah beberapa orang anak-anak muda yang duduk terkantuk-kantuk di gardu perondan itu. Dan tiba-tiba saja Sindangsari menutup wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Sekilas terbayang wajah Pamot diantara para peronda yang berkerudung kain panjang di malam yang dingin.

“Sari” terdengar suara Puranta berdesis. Dekat sekali di sisi telinganya. Bahkan kemudian sekali lagi. Wajah anak muda itu telah menyentuh daun telinganya “Sari”

Tiba-tiba saja Sindangsari menghentakkan dirinya.

“Jangan, jangan”

Puranta dan Nyai Reksatani terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja Sindangsari melangkah surut. Dengan mata yang merah dan wajah yang tegang ditatapnya wajah Nyai Reksatani dan Puranta berganti-ganti.

Sejenak kemudian terdengar suaranya gemetar “Apa yang akan kalian lakukan atasku?”

Nyai Reksatani pun menjadi tegang sejenak. Wajahnya membayangkan kecemasan yang luar biasa.

Seakan akan rahasianya telah dapat terbongkar pada saat itu juga.

Namun tiba-tiba ia mendengar Puranta tertawa. Perlahan-lahan sekali Katanya “Kenapa kau seperti orang yang ketakutan melihat hantu di sawah. Kami hanya mencoba menunjukkan kepadamu, bagaimanakah cara menenun yang paling baik. Kalau kau bersedia, marilah. Kalau tidak, silahkan duduk kembali. Karena itu, sebaiknya kau menjawab setiap pertanyaan kami, sehingga kami tahu, apakah yang sebenarnya kau kehendaki. Menilik tanggapan wajahmu kau benar-benar ingin mempelajari cara bagaimana kita dapat menghasilkan kain tenun yang sebaik-baiknya. Dan aku dapat menunjukkan cara itu”

Sindangsari berdiri membeku di tempatnya. Ia seolah-olah telah dilanda oleh kebingungan yang sangat, sehingga ia tidak mengerti lagi apa yang sebaiknya dilakukan.

“Ah, mungkin kau tertidur mBok-ayu, sehingga kau bermimpi buruk. Duduklah. Aku akan menyediakan air panas. Mungkin kau akan segera sadar, apa yang sebenarnya kau hadapi”

“Aku tidak akan pergi. Aku hanya akan merebus air di dapur”

“Aku akan melakukannya. Duduklah. Akulah yang akan merebus air”

“Ah, kenapa kau selalu berkata begitu?” bertanya Nyai Reksatani.

“Biarlah. Temuilah tamumu”

“Jangan menjadi bingung mBok-ayu. Agaknya kau benar-benar telah mengantuk. Karena itu, duduklah sebentar, aku akan merebus air. Atau, barangkali kau akan tidur sejenak?”

“Ya” bertanya Puranta pula. Sindangsari tidak menjawab.

“Baiklah, tidurlah sejenak. Kau akan menjadi segar kembali. Marilah, masuklah ke dalam bilik itu”

“Atau aku harus menunjukkan tempatnya” desis Puranta.

Dada Lamat seakan-akan telah bergejolak dahsyat sekali, sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan diri. kini ia sadar, bahwa Sindangsari sedang di dalam suatu perjuangan.

Ia sedang berjuang untuk mempertahankan dirinya sebagai seorang perempuan yang setia kepada keadaannya. Ia adalah seorang isteri. Apapun yang terjadi atasnya.

Namun demikian Lamat sempat juga bertanya kepada diri sendiri “Apakah sebenarnya yang dikehendakinya? Kalau ia berjuang atas dasar kesetiaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang isteri tanpa dorongan dari dalam dirinya, maka ia adalah seorang yang hanya pandai berpura-pura”

Tetapi Lamat terkejut ketika Sindangsari itu kemudian mundur selangkah sambil bergumam “Nyai, jangan seret aku ke dalam keadaan yang akan menyiksaku. Kalau Nyai dapat melakukannya tanpa menumbuhkan beban apapun pada diri Nyai, lakukanlah. Aku tidak akan berkhianat. Tetapi aku tidak dapat Nyai. Bukan karena aku seorang perempuan yang bersih, atau berpura-pura bersih dan mencoba menekan nafsu di dalam diri. Tidak. Tetapi segala perbuatan yang hanya akan menambah beban siksaan batinku yang selama ini serasa telah mengoyak-menyayat hati, sebaiknya aku tidak melakukannya”

Nyai Reksatani menjadi semakin tegang. Tetapi kini ia sadar, bahwa Sindangsari masih belum tahu benar peranan yang dilakukannya. Karena itu, ia pun justru tertawa sambil berkata “Memang mBok-ayu. Untuk pertama kali rasa-rasanya kita selalu disiksa oleh perasaan kita. Kita kadang-kadang merasa menyesal dan dikejar-kejar oleh kecemasan. Tetapi, kalau kesepian itu mencekik kita kembali, maka terulanglah hal yang serupa. Semakin lama hal itu akan terasa menjadi suatu kebiasaan”

Tubuh Sindangsari serasa menggigil seperti orang kedinginan. Dalam keadaan itu, justru bayangan Ki Demang seakan-akan muncul diambang pintu sambil menunjuk wajahnya. Namun bayangan itupun kemudian lenyap tertutup oleh bayangan yang lain. Bayangan seorang anak muda yang dicintai dengan sepenuh hatinya.

Perlahan-lahan ia mendengar suara dari dasar hatinya “Jangan kau khianati suamimu. Ia akan dapat membunuhmu. Dan jangan pula kau khianati cintamu, cinta yang kau anggap sebagai cinta yang tulus”

Demikianlah maka di saat terakhir itu, Sindangsari justru menemukan kekuatannya kembali, sebagai seorang isteri dan sebagai seorang perempuan yang mendambakan cintanya kepada seorang laki-laki.

“mBok-ayu” terdengar kemudian suara Nyai Reksatani “apakah kau mengerti?”

Sindangsaritidak menyahut.

“Kau salah sangka Sari” berkata Puranta kemudian dalam nada yang dalam “semuanya terserah kepadamu sendiri. Tetapi sebaiknya kau jujur terhadapmu sendiri. Aku akan menolongmu. Bukan sekedar mengisi kekosongan seperti yang kau bayangkan. Tetapi juga dalam hal-hal yang lain, belajar menenun misalnya? Bukankah begitu?”

Sindangsari masih berdiam diri.

Sebenarnya Lamat sendiri telah dicengkam oleh kecurigaan pula. Jalan pikiran Manguri dapat di mengertinya pula. Tidak ada orang lain yang lebih baik untuk melakukan pekerjaan itu selain Puranta, atau Manguri sendiri.

“Atau kau terlampau pening? Kenapa kau tidak menyuruhku memijit keningmu, supaya perasaan sakitmu itu berkurang?”

Sindangsari masih belum menjawab.

Puranta yang melihat kelemahan telah merambati hati Sindangsari kembali, merasa mendapat kesempatan baru. Karena itu ia berkata seperti kepada anak-anak yang sedang merengek “Marilah Sari. Kau agaknya sedang sakit. Biarlah aku mencoba mengobatinya”

Lamat yang berdiri di luar pintu tidak dapat menahan hatinya lagi. Ia sadar, bahwa Puranta adalah iblis yang paling licik. Setelah ia mendengar pengakuan Sindangsari, bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak menghendaki apapun terjadi sadarlah Lamat, bahwa hampir saja ia salah menilai perempuan itu. Ternyata sikap Sindangsari adalah sikap yang matang, meskipun sebagai seorang gadis yang hidup di dalam ketidak tentuan, ia masih juga dilanda oleh kelemahan-kelemahan perasaan. Karena itu, maka ia berkata di dalam hatinya “Apapun yang akan terjadi, aku harus menyelamatkannya”

Demikianlah, ketika Puranta berusaha sekali lagi membujuk Sindangsari, bahwa kemudian membimbingnya melangkah, tiba-tiba seisi rumah itu telah dikejutkan oleh suara orang tertawa tertahan-tahan di balik dinding.

Puranta dengan serta merta melepaskan Sindangsari. Sejenak ia berdiri tegak untuk mencoba menangkap suara yang seakan-akan telah membekukan darahnya itu.

“Ki Reksatani“ ia berdesis.

“Tentu bukan“ Nyai Reksatani menyahut.

Selangkah demi selangkah Puranta maju mendekati pintu diikuti oleh Nyai Reksatani. Sedang Sindangsari berdiri dengan tubuh yang semakin gemetar.

“Bagaimana dengan Ki Reksatani“ Puranta berbisik.

“Ia menunggu aku. Begitu kau berhasil, aku akan memberitahukan kepadanya. Ia pasti sudah siap dengan kudanya sekarang, dan bahkan pasti sudah menunggu aku”

“Siapa yang tertawa di luar?”

Nyai Reksatani menggelengkan kepalanya. Dalam pada itu suara tertawa itupun terdengar lagi. Perlahan-lahan dan tertahan-tahan.

Puranta yang berdarah muda itupun tidak sabar lagi menunggu. Segera ia menyingsingkan kain panjangnya, dan disangkutkannya pada ikat pinggangnya. Ia merasa bahwa sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

Dengan hati-hati ia memutar keris yang terselip dipunggungnya ke samping. Perlahan-lahan dengan penuh kewaspadaan. Ia melangkah ke pintu.

Ia tertegun sejenak ketika ia mendengar suara tertawa itu kembali. Tidak terlampau jauh.

bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s