MEP-05


kembali | lanjut

MEP-05ORANG yang bertubuh raksasa dan berkepala botak itu mengerutkan keningnya dan bertanya, “Lalu, kenapa kita datang kemari malam ini?”

Kawannya, Manguri hampir saja berteriak mengumpatinya kalau ia tidak segera menyadari, bahwa di sekitarnya banyak terdapat para penjual dan anak-anak yang menghilangkan kantuknya dengan membeli makanan.

“Lamat” desisnya kemudian, “kau memang orang yang paling bodoh yang pernah aku kenal. Kau sangka aku berkepentingan dengan tontonan yang tidak bermutu itu? Buat apa aku melihatnya? Ande-ande Lumut yang menjemukan” Manguri berhenti sejenak, lalu, “seharusnya kau mengerti, bahwa kepentinganku bukanlah sama dengan kepentingan anak-anak ingusan itu”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya” desisnya, “maksudku, apakah kita akan melihat suasana perkawinan itu dari dekat, diantara para penonton pertunjukan di halaman itu?”

“Ah, kau memang benar-benar gila. Apakah kau kira tidak ada yang segera dapat mengenal kau dan aku? Disini keadaan cukup gelap. Tetapi di halaman itu?”

Lamat tidak menjawab lagi. Ia melangkah mengikuti langkah Manguri semakin lama semakin menjauhi halaman Ki Demang di Kepandak.

Ketika mereka sudah berada di tempat yang kelam, maka Manguri pun segera berhenti dan Lamat yang termangu-mangu berdiri di sampingnya.

“Perkawinan itu benar-benar telah berlangsung” desis Manguri.

“Tidak malam ini” sahut Lamat, “sudah lima hari yang lampau. Malam ini adalah sekedar upacara ngunduh penganten”

“Gila. Laki-laki itu tidak segera dapat memberikan jalan”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Iapun mengerti bahwa laki-laki itu telah datang ke rumah Manguri selagi ayahnya tidak ada di rumah.

“Apa katanya?”bertanya Lamat dengan suara yang dalam.

Manguri menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu, apakah aku masih dapat mengharap bantuannya”

Lamat tidak bertanya apapun lagi. Kini ia berdiri saja bersandar dinding batu di pinggir jalan, sedang Manguri berdiri termangu-mangu. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia pergi juga ke rumah Ki Demang malam ini.

“Kita pulang” geramnya kemudian. Dan Lamat pun mengangguk kosong. Dengan tergesa-gesa mereka kemudian berjalan menyusuri lorong-lorong yang gelap pulang ke rumah Manguri. Anak muda itu tidak henti-hentinya mengumpat-umpat di sepanjang jalan. Tetapi suaranya tidak begitu jelas terdengar. Sedang Lamat berjalan saja dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

Sementara itu malam pun menjadi semakin dalam. Perlahan-lahan cahaya kemerah-merahan mulai membayang di ujung Timur, disambut oleh kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan. Di arena kini terjadi pertemuan yang mengharukan antara Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning, yang sebenarnya adalah suami isteri Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana. Sedang mBok Randa nDadapan berdiri termangu-mangu menyaksikan anak angkatnya laki-laki, yang dikenalnya bernama Ande-ande Lumut itu kini telah berubah menjadi seorang kesatria dan Kleting Kuning yang jelek dan berpakaian kumal itu menjadi seorang Puteri secantik bidadari”

Di sekitar arena pertunjukan itupun ternyata sudah menjadi semakin sepi. Anak-anak sudah tidak telaten lagi melihat adegan-adegan berikutnya.

“Perangnya sudah habis” teriak salah seorang dari mereka.

“Pulang saja. Aku sudah kantuk” teriak yang lain tanpa menghiraukan, bahwa suaranya itu dapat mengganggu tembang para pemain di arena.

Beberapa orang perempuan sibuk mencari anak-anaknya yang terpisah, sedang ibu-ibu yang menunggui rumah, bangkit dari pembaringannya dan pergi ke halaman Kademangan untuk mencari anaknya yang belum pulang.

Seorang ibu yang kebingungan mencari anaknya hampir saja menangis. Pertunjukan itu pun akhirnya selesai juga. Halaman itu menjadi kian sepi. Tetapi anak laki-lakinya yang berumur tujuh tahun belum diketemukan.

Tetapi ketika penabuh gong berdiri dari tempatnya, ia terkejut. Hampir saja ia jatuh terlentang ketika kakinya menyentuh tubuh seorang anak yang tertidur tepat di belakangnya.

“He, anak siapa yang tidur disini?” ia berteriak. Ibu yang kebingungan dan hampir menangis itu berlari-lari mendekatinya. Ternyata anak itu adalah anaknya yang dicari-carinya.

“O ngger, ngger. Hampir pingsan aku mencarimu” desah ibu itu, yang dengan serta-merta telah mengangkat anaknya yang tertidur itu sehingga anak itu terkejut bukan buatan.

Tetapi ketika anak itu sudah terbangun, maka tiba-tiba ibunya membentak, “He, semalam suntuk kau tidak pulang he? Sampai pertunjukan sudah selesai, dan semua orang sudah pulang, kau masih saja tidur mendengkur disini?”

Anak itu tidak menjawab. Diusapnya matanya, kemudian tertatih-tatih ia berjalan pulang diikuti oleh ibunya.

Ketika suara gamelan sudah tidak terdengar lagi, maka suara burung-burung yang berkicau pun segera menghias pagi yang mulai merekah. Sambil berloncatan dari dahan yang besar oleh embun ke dahan yang lain, suaranya memancar seperti pancaran cahaya merah di Timur. Semakin lama semakin meriah.

Sindangsari yang ternyata semalam suntuk hanya dapat tidur sekejab, segera pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya. Dengan air wayu, ia mandi untuk menghapus warna kuning atal di kulitnya.

Terasa betapa segarnya air wayu. Tetapi kemudian ternyata bahwa tubuhnya terasa meriang. Keningnya menjadi pening, sehingga ia terpaksa untuk berbaring sejenak di pembaringannya.

Sindangsari terkejut ketika tiba-tiba saja pintu biliknya terbuka. Dilihatnya Nyai Reksatani melangkah masuk. Namun langkahnya pun kemudian tertegun ketika ia melihat Sindangsari di pembaringan.

“He, sepagi ini kau berbaring mBok ayu?” ia bertanya.

Sindangsari bangkit dan duduk di pinggir pembaringan.

Jawabnya, “Kepalaku pening”

Tetapi Nyai Reksatani pun tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ah, sudah menjadi kebiasaan penganten baru. Pening, panas dingin, sakit perut dan macam-macam lagi” ia berhenti sejenak, lalu, “kau masih kantuk mBokAyu?”

“Ah?”

“Tentu. Aku pun begitu juga waktu itu. Lihat, kakang Demang masih juga tidur di gandok kulon”

Dada Sindangsari berdesir. Ternyata Ki Demang sempat juga tidur. Tidak di bilik ini, tetapi di gandok kulon.

“Kenapa?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi jawaban yang diucapkan, “Semalam suntuk ia tidak masuk ke bilik ini”

Suara tertawa Nyai Reksatani seakan-akan meledak.

“He, kenapa kau seperti malu begitu? Jangan berpura-pura. Itu sudah biasa. Tidak apa-apa”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab lagi.

“Silahkan” berkata Nyai Reksatani kemudian, “kau tentu kantuk, lelah dan lungkrah. Memang sebaiknya kau beristirahat. Penganten baru memang harus banyak beristirahat”

Kata-kata itu benar-benar telah menyentuh perasaan Sindangsari. Tetapi ia masih bertanya pula, “Apakah sudah lajimnya penganten baru mendapat ejekan dari kawan-kawan dan saudara-saudaranya? Tetapi maksudnya tentu hanya sekedar bergurau. Tidak lebih”

“Lebih baik aku pergi ke dapur” berkata Nyai Reksatani seterusnya, “tugasku, penganten yang sudah hampir lapuk ini, bekerja di dapur, sedang penganten baru, sebaiknya berada di pembaringan”

Nyai Reksatani tidak menunggu jawaban. Iapun segera melangkah pergi. Terdengar kemudian pintu bergerit, dan perempuan itu pun hilang dibalik daunnya yang tertutup.

Sejenak Sindangsari merenung. Ia tidak tahu pasti, maksud kata-kata Nyai Reksatani Apakah ia menyindir, atau sekedar bergurau.

“Ah, baik juga aku mendengarkan nasehat orang-orang tua itu. Sebaiknya kata-katanya aku anggap angin lalu. Kalau aku menghiraukannya, hatiku akan menjadi semakin sakit”

Maka Sindangsari pun kemudian berbaring kembali, Dipijit-pijitnya keningnya yang sakit, sementara angan-angannya hanyut ke dunia yang asing.

Namun Sindangsari tidak dapat lama berbaring. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, di Kademangan itu telah terjadi kesibukan-kesibukan baru. Tamu-tamu dari tempat yang jauh berdatangan. Seorang demi seorang, tidak putus-putusnya.

Sindangsari, sebagai penganten puteri, maupun sebagai isteri Ki Demang terpaksa menemui mereka, sehingga hampir sehari penuh ia duduk di pringgitan tanpa dapat bergeser. Sedang di pendapa, Ki Demang pun menemui tamunya berganti-ganti. Sejak ia terbangun dari tidurnya dan membersihkan dirinya, ia sama sekali tidak sempat meninggalkan tempatnya.

Demikianlah ketika malam datang, dan pertunjukan yang lain berlangsung, semuanya seolah-olah telah terulang kembali. Duduk di pringgitan, menemui tamu-tamu dan kemudian mengisi waktunya duduk di dapur meskipun hanya sekejap beristirahat menjelang pagi.

Maka betapa lelahnya Sindangsari selama tiga hari tiga malam di rumah Ki Demang, setelah di rumahnya sendiri ia pun hampir tidak pernah beristirahat, sejak hari perkawinannya.

Namun yang lebih mengganggu bagi Sindangsari, sama sekali bukanlah kelelahannya, tetapi sikap Nyai Reksatani yang kadang-kadang sangat menyakitkan hati.

Untuk mengatakannya hal itu kepada Ki Demang, Sindangsari masih belum terucapkan. Tetapi untuk membiarkannya ber-kepanjangan, hatinya serasa menjadi semakin pedih.

Di hari-hari terakhir dari kerja yang panjang itu. Nyai Reksatani memang tampak menjadi terlampau sibuk. Ia harus membenahi semua perkakas yang dipergunakannya selama berlangsung keramaian tiga hari tiga malam. Alat-alat yang dipinjam Jari orang lain harus dikembalikannya, sedang alat-alatnya Kademangan sendiri harus dibersihkan dan disimpannya kembali seperti sediakala.

Menghadapi kerja yang sibuk itu, Sindangsari menjadi bingung. Apakah ia harus membantu, atau justru tidak. Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya serba salah. Ketika ia mencoba membantu menghitung belanga tembaga, Nyai Reksatani berkata, “Jangan mengotori tanganmu mBok Ayu. Sayang, perempuan secantik kau tidak pantas bekerja di dapur”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Dan ia mencoba menjawab, “Aku sudah biasa bekerja di dapur”

“Tetapi sebelum kau menjadi Nyai Demang” sahut Nyai Reksatani yang kemudian menyambungnya, “atau barangkali kau takut kalau barang-barangmu ada yang hilang, pecah atau aku bawa pulang?”

“Ah” Sindangsari berdesah, tetapi tiba-tiba mulutnya seakan-akan malahan terkunci.

Yang dapat dilakukan adalah menyaksikan Nyai Reksatani bekerja terus tanpa dapat berbuat sesuatu. Tubuhnya rasa-rasanya menjadi kejang dan kehilangan cara untuk menanggapinya.

Tetapi di hari berikutnya, Sindangsari hampir tidak dapat menahan hatinya. Berdasarkan atas sikap Nyai Reksatani itu, maka Sindangsari memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi. Ketika Nyai Reksatani menyelesaikan kerjanya, Sindangsari berada saja di dalam biliknya.

“Alangkah manisnya menjadi penganten baru” berkata Nyai Reksatani sambil menjengukkan kepalanya ke dalam bilik, “kalau lagi berada di dalam biliknya, apapun yang terjadi di luar, sama sekali tidak menarik perhatian. Biar sajalah orang-orang lain ribut sendiri, mengatur dan membersihkan dapur”

Hampir saja Sindangsari menjerit. Untunglah ia masih dapat menahan hati. Ditenangkannya sendiri perasaannya. Katanya di dalam hati, “Perempuan itu tidak akan selamanya tinggal di rumah ini”

Tetapi tiba-tiba Sindangsari itupun menjadi semakin berdebar-debar. Semalam di Kademangan ini sudah hampir tidak ada tamu lagi. Pertunjukan di halaman sudah selesai.

Namun Ki Demang sama sekali tidak ada di dalam bilik ini. Ia hanya menjenguk, kemudian meninggalkannya berbaring seorang diri.

Sindangsari menjadi semakin bingung menanggapi isi Kademangan ini. Namun demikian ia berjanji, bahwa lambat laut ia akan mencoba menyesuaikan dirinya.

Tetapi yang paling mencemaskannya adalah keadaan dirinya sendiri. Sampai pekan yang kedua telah lewat, ia masih belum dapat meyakinkan dirinya, bahwa Ki Demang sebenarnya masih belum mengerti, apa yang telah terjadi sebelum hari-hari perkawinan itu. Namun hal itulah yang justru membuatnya selalu gelisah.

“Mungkin masih ada satu dua orang tamu yang harus dilayaninya, “Sindangsari mencoba menghibur dirinya sendiri.

Namun kalau teringat olehnya tingkah laku Ki Demang di rumahnya, di malam-malam yang tertuang, setelah tiga hari tiga malam menunggui keramaian, debar jantungnya justru menjadi semakin cepat.

Meskipun tanpa keikhlasan hati, ia sudah pasrah, apapun yang akan terjadi atas dirinya. Justru semakin cepat semakin baik. Dosa yang membebani perasaannya, tidak akan dapat terlampau lama disimpannya. Tetapi malam-malam itu berlalu begitu saja tanpa kesan apapun. Dan Sindangsari masih tetap dibebani oleh kegelisahan karena noda yang telah melekat pada dirinya.

Ketika malam berikutnya mendatangi Kademangan Kepandak, maka suasana rumah itu sudah menjadi jauh berbeda. Tratak-tratak sudah dibuka, dan dinding-dinding yang dilepas sudah dipasang kembali. Di pendapa sama sekali sudah tidak ada tamu lagi selain para peronda yang duduk di tangga.

Dengan kaku Sindangsari duduk di pringgitan bersama Ki Demang dan adiknya, suami isteri.

“Kami berdua akan mohon diri kakang” berkata Ki Reksatani, “sekian lama kami berdua berada di Kademangan, terutama isteriku, bahkan dengan anak-anak”

“Akulah yang seharusnya mengucapkan diperbanyak terimakasih. Kalian berdua sudah menyelenggarakan perayaan perkawinan kami dengan baik”

“Itu adalah kewajiban kami” sahut Nyai Reksatani.

“Kalau tidak ada kalian, maka semuanya pasti tidak akan dapat berjalan dengan lancar” berkata Ki Demang kemudian, “sejak kami berdua masih berada di Gemulung, kalian berdua sudah bekerja keras siang dan malam”

Ki Reksatani tersenyum. Katanya, “Pada suatu saat kamilah yang akan minta tolong kepada kakang Demang berdua”

“Tentu kami tidak akan berkeberatan” jawab Ki Demang.

Ki Reksatani suami isteri itupun kemudian minta diri. Mereka merasa bahwa tugas mereka sudah selesai dan mereka sudah tidak diperlukan lagi berada di Kademangan.

“Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Ki Demang.

“Saat-saat berikutnya, kami hanya akan mengganggu saja” sahut adiknya.

“Ah, kau? gumam Ki Demang. Namun wajahnya pun kemudian berkerut sejenak.

“Lain kali kami akan datang menengok kakang berdua” berkata Ki Reksatani, “anak-anak sudah pulang lebih dahulu bersama pengasuhnya. Kalau kami tidak pulang malam ini, mereka pasti akan merengek sepanjang malam”

Maka Ki Reksatani itu pun kemudian meninggalkan rumah Kademangan pulang ke rumah mereka sendiri.

“Nyai” berkata Ki Reksatani setelah mereka meninggalkan halaman Kademangan, “apakah usahamu berhasil? Tampaknya Sindangsari mempunyai kesan yang baik atas rumah ini. Menilik hubungannya dengan Pamot saat itu, maka malam-malam pengantinnya pasti akan selalu dibasahi oleh air matanya. Tetapi ternyata sama sekali tidak. Dan apakah kau tidak dapat membuatnya marah atau kesal?”

“Akulah yang menjadi kesal” sahut isterinya, “tetapi tentang hubungannya dengan Pamot, memang sangat mengherankan. Banyak sekali orang yang membicarakannya. Pada saat itu, seolah-olah Sindangsari sudah tidak akan dapat berpisah lagi dari anak muda itu. Tetapi ternyata Sindangsari terlampau cepat melupakannya”

Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya, “Rumah yang besar, perabot yang cukup, telah membelokkan kenangan Sindangsari atas Pamot. Malanglah nasib anak muda itu. Mungkin Pamot sampai saat ini masih selalu dibayangi oleh wajah Sindangsari. Tetapi ternyata Sindangsari sedang menikmati malam-malam pengantinnya”

“Apakah perempuan yang demikian termasuk perempuan yang tidak setia menurut penilaianmu?” bertanya isterinya.

Ki Reksatani mengangkat bahunya, “Aku tidak mengerti. Mungkin ia memang perempuan yang tidak setia. Cintanya cepat hanyut oleh harta dan benda-benda lahiriah. Tetapi mungkin juga ia justru seorang gadis yang sudah berhasil menguasai perasaannya dengan nalarnya. Dengan tabah ia melihat kenyataan, bahwa ia tidak akan dapat memilih jalan yang lain”

Isterinya mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, “Lalu bagaimana pertimbangan kakang sekarang?”

Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berdesah panjang, “Kita hanya dapat menunggu perkembangan keadaan” berkata Ki Reksatani kemudian, “sudah lima kali kakang Demang kawin. Hampir semuanya adalah perempuan-perempuan yang masih terlalu muda. Tetapi kelimanya tidak mempunyai keturunan. Kalau ketiadaan keturunan itu disebabkan oleh kemandulan isteri-Isterinya, maka aku kira tidak akan lima orang semuanya kebetulan mandul”

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan Sindangsari pun tidak akan dapat memberikan keturunan kepada suaminya apapun sebabnya, agar aku tidak usah mengambil jalan yang sulit untuk memotong garis keturunan kakang Demang dan memindahkan ke garis keturunanku sendiri” berkata Ki Reksatani kemudian.

Isterinya tidak menjawab Namun kalau mula-mula ia tidak begitu tertarik kepada ceritera tentang kedudukan. Demang di Kepandak, lambat laun ia mulai memikirkannya.

“Alangkah senangnya kalau salah seorang anak-anakku kelak akan menjadi seorang Demang di Kepandak. Hampir setiap niatnya dapat dipenuhi. Bahkan kawin untuk keenam kalinya dengan seorang gadis yang masih remaja” berkata Nyai Reksatani di dalam hatinya.

Di Kademangan, sepeninggal Nyai Reksatani, Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Dadanya serasa menjadi lapang.

Perempuan yang jauh lebih tua dari padanya itu, dan yang memanggilnya mBok Ayu karena ia kawin dengan kakak iparnya, telah membuat hatinya selama ini menjadi bertambah-tambah pedih.

Kepergiannya akan dapat mengurangi sakit hatinya oleh kata-katanya yang tajam seperti ujung duri.

Namun dengan demikian, Kademangan itu kini menjadi sepi. Yang ada di ruang dalam hanyalah Ki Demang dan Sindangsari. Beberapa orang pembantunya selalu ada di belakang, dan hanya masuk ke dalam apabila ada sesuatu yang harus dikerjakannya.

Dengan demikian, maka ketika Ki Reksatani suami isteri itu telah meninggalkan rumah Kademangan, tinggallah Ki Demang duduk berdua saja di ruang lengan dengan Sindangsari. Karena itu, maka suasana pun menjadi kaku.

Sindangsari hanya dapat menundukkan kepalanya, sedang Ki Demang setiap kali hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi Ki Demang tidak membiarkan kekakuan suasana itu kemudian menjadi tegang. Sehingga karena itu, maka ia telah berkata sekenanya, “Apakah kau lelah Sari?”

Dada Sindangsari tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar.

“Apakah kau tidak ingin tidur?”

Sindangsari menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan suara gemetar, “Ya, aku akan tidur”

“Tidurlah. Aku akan menyelarak pintu-pintu”

Dada Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas terbayang wajah Pamot di saat terakhir mereka bertemu. Seolah-olah terasa kehangatan nafasnya menyentuh lehernya yang jenjang. Sedang dekapan tangannya yang kuat, rasa-rasanya tidak akan terurai untuk seumur hidupnya.

Tetapi Pamot kini tidak ada lagi. Yang ada, dan yang akan menggantikan tempatnya adalah seorang laki-laki yang jauh lebih tua daripadanya. Ki Demang di Kepandak.

Kulit di seluruh tubuh Sindangsari meremang karenanya Tetapi ia tetap menyadari keadaannya dan kenyataan yang di hadapinya.

Karena Sindangsari masih belum beranjak dari tempatnya, maka Ki Demang mengulanginya, “Sari. Kau tentu lelah sekali. Tidurlah. Semua orang yang ikut di dalam peralatan kita sudah sejak malam kemarin beristirahat sepenuhnya. Agaknya kau masih belum mendapatkan kesempatan itu”

Sindangsari menganggukkan kepalanya, katanya lirih, “Ya. Aku akan tidur Ki Demang”

Sindangsari pun kemudian bangkit berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan pringgitan masuk ke ruang dalam dan langsung ke biliknya. Tetapi karena ia merasa, bahwa Ki Demang selalu memandanginya, maka langkahnya pun menjadi semakin berat.

Namun dengan demikian, tanpa disengaja, langkah Sindangsari bagaikan lambaian tangan, memanggil Ki Demang untuk mengikutinya.

“Hem” Ki Demang berdesah sambil meraba janggutnya.

Ketika Sindangsari sudah hilang di balik pintu, maka Ki Demang pun segera berdiri pula. Dengan langkah yang berat ia pergi menyelusuri semua pintu, melihatnya sekali lagi, kalau pembantunya kurang teliti memasang selarak.

Baru sejenak kemudian ia melangkah dengan kaki yang teramat berat memasuki biliknya.

Dadanya bergelora ketika ia melihat Sindangsari sudah terbaring di tempatnya. Seperti yang dilihatnya ketika ia masih ada di Gemulung. Sindangsari itu bagaikan golek yang cantik tiada tara bandingnya.

Perlahan-lahan Ki Demang itu pun mendekatinya. Desir langkahnya membuat jantung Sindangsari semakin cepat berdentang. Tetapi kini ia tidak mau membuat hati laki-laki itu menjadi sakit. Karena itu, dipaksanya juga tubuhnya bangkit dan duduk di tepi pembaringannya.

Namun demikian, mulutnya seakan-akan masih saja tersumbat.

“Kau belum tidur?” bertanya Ki Demang yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan.

Sejenak Sindangsari berusaha menguasai perasaannya.

Namun kemudian terlontar jawabnya, “Belum Ki Demang”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju, namun kemudian ia pun berdiri mematung.

Sindangsari duduk dengan wajah yang tunduk. Debar jantungnya telah membuat tubuhnya menjadi gemetar pula.

Apalagi ketika ia mendengar langkah Ki Demang mendekat. Tanpa sesadarnya ia telah berkisar sejengkal ketika Ki Demang duduk disebelahnya.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Hanya nafas mereka sajalah yang terdengar saling memburu.

Dalam keheningan itulah kemudian terdengar Ki Demang bertanya, “Sindangsari, apakah kau kerasan tinggal disini?”

Sindangsari tidak menyangka bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu. Karena itu, maka sekenanya saja ia menjawab, “Ya, Ki Demang. Aku kerasan”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia mengerutkan keningnya, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Aku berkata sebenarnya” Sindangsari menjadi heran.

Ki Demang memalingkan wajahnya. Kini dipandanginya sinar lampu minyak yang terletak pada ajug-ajug nya yang melekat dinding.

“Kau berbohong Sindangsari?” suara Ki Demang menjadi dalam sekali. Namun demikian kata-kata itu telah mengguncang dada Sindangsari.

“Kau pasti merasa terpaksa tinggal di rumah ini. Kau merasa bahwa aku telah merampas kebebasanmu.”

Sindangsari tidak menyahut.

“Benarkah begitu?”

Sindangsari masih tetap berdiam diri.

“Tetapi aku memang terlampau cinta padamu. Sejak aku melihat kau untuk yang pertama kalinya, aku merasa sangat tertarik kepadamu”

Sindangsari menjadi semakin tunduk karenanya.

“Kau memang cantik sekali”

Selapis warna merah membayang di pipi Nyai Demang yang masih terlampau muda itu. Tetapi kemudian ia terperanjat, sehingga ia tergeser pula sejengkal, “Apakah kau masih teringat kepada Pamot?”

Pertanyaan itu telah mengorek luka di hatinya. Tetapi Sindangsari tetap bertahan, agar ia tidak menitikkan air matanya meskipun hanya setetes.

“Apakah kau masih selalu membayangkannya?”

Sindangsari tiba-tiba mengatupkan giginya rapat-rapat, untuk mengungkat keberanian yang ada di dalam dirinya. Sejenak kemudian iapun menjawab, “Ki Demang. Aku memang masih teringat kepada kakang Pamot kadang-kadang. Bukankah itu wajar, seperti aku teringat kepada ibu, kepada kakek dan nenek. Kepada orang-orang yang pernah aku cintai?” Sindangsari berhenti sejenak, “tetapi aku sekarang sudah ada disini. Aku sekarang adalah isteri Ki Demang” suaranya terputus oleh serak di kerongkongannya. Hampir saja ia tidak dapat bertahan lagi. Namun akhirnya ia berhasil juga setelah menahan nafas beberapa saat lamanya.

“Tetapi, apakah kau pada suatu saat akan dapat mencintai aku?”

Terasa darah Sindangsari menjadi semakin cepat mengalir. Sebuah pertanyaan tiba-tiba terbersit di hatinya, “…..Apakah kepada isteri-isterinya yang terdahulu Ki Demang bertanya seperti ini pula? Atau barangkali karena isteri-isteri yang terdahulu belum pernah berhubungan dengan laki-laki lain?”

Namun tiba-tiba hatinya melonjak, “Apakah Ki Demang sedang menyindir aku, karena ia mengetahui, apa yang telah terjadi”

Tiba-tiba hatinya meronta. Kenapa Ki Demang itu tidak berterus terang saja mengatakan apa yang sebenarnya dikehendaki? Kenapa Ki Demang dengan perlahan-lahan sengaja menyakiti hatinya? Inikah yang sebenarnya dikehendakinya?”

Tetapi ia menjadi bertambah bingung ketika Ki Demang kemudian berkata, “Sindangsari. Mungkin hari ini kau belum dapat mencintai aku. Tetapi kalau kita menjadi terbiasa dalam satu hubungan yang tidak sekedar hubungan badaniah, maka perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Seperti ayah dan ibumu dahulu, mungkin mereka sama sekali belum mengenal sebelumnya ketika mereka kawin. Tetapi akhirnya lahir pula kau”

Sindangsari tiba-tiba pula menganggukkan kepalanya dan berkata, “Aku mengerti Ki Demang. Dan aku sudah mencoba menyesuaikan diriku dengan kenyataan ini. Aku memang mengharap bahwa kita akan mempunyai anak kelak”

Wajah Ki Demang menjadi tegang sejenak. Lalu, “Bohong kau Sari. Bohong”

Sindangsari menjadi bingung, “Kenapa aku berbohong? Apakah aku dapat berbuat lain dari menerima hal ini sebagai suatu kenyataan?”

Wajah Ki Demang menjadi semakin tegang. Namun sebaliknya daripada itu, perlahan lahan Sindangsari menemukan kemantapan sikap menghadapi orang yang selama ini dirasanya aneh.

“Tetapi aku tidak percaya” Ki Demang hampir berteriak, “kau hanya berusaha menyenangkan hatiku”

“Tidak Ki Demang. Aku berkata sebenarnya. Aku adalah isteri Ki Demang” suaranya tiba-tiba menjadi gemetar. Hampir saja ia tidak kuasa mengucapkannya, seandainya tidak ada desakan yang lebih dahsyat dari dalam dirinya. Kecemasannya tentang noda yang ada di dalam dirinya, sehingga terloncat pula kata-katanya

“Sebagai seorang isteri aku harus melakukan segala kewajibanku sebaik-baiknya”

Tubuh Ki Demang menjadi bergetar karenanya. Dadanya menjadi bergelombang semakin cepat, secepat detak jantungnya yang panas.

Tetapi Ki Demang untuk sejenak terdiam. Meskipun demikian Sindangsari dapat merasakan, bahwa pembaringannya bergetar.

Meskipun Sindangsari masih terlampau muda. tetapi ia tidak pernah membayangkan, bahwa Ki Demang pun menjadi gemetar seperti anak-anak muda. Seperti pada saat Pamot pertama kali menyentuh kulitnya. Seperti Pamot sesaat sebelum kehilangan pengamatan dirinya dan seperti dirinya sendiri di saat-saat nafas kegadisannya terguncang.

Diantara desah nafasnya yang semakin cepat Ki Demang berkata, “Apakah kau berkata sebenarnya Sari, sebenarnya bahwa kau akan mencoba mencintai aku dan sudah tentu akan melupakan Pamot?”

Sindangsari menganggukkan kepalanya.

“Jangan kau berpura-pura”

“Aku tidak berpura-pura Aku memang sedang berusaha seperti yang aku katakan. Karena itulah kenyataan yang aku hadapi”

“Aku tidak memerlukan kata-katamu melulu”

Jantung Sindangsari serasa berdesir. Tetapi segera ia berusaha menguasai dirinya dengan nalar. Dicobanya untuk mengendalikan perasaannya sejauh-jauh dapat dilakukannya.

Betapa dahsyat guncangan-guncangan yang melanda dinding dadanya, tetapi ia mencoba menjelaskan kepada diri sendiri, “Kecemasanmu tentang noda yang ada di dalam dirimu harus dibatasi. Sekarang saatnya kau mengakhirinya. Apapun yang akan terjadi”

Sejenak Sindangsari membeku di tempatnya, namun di dalam dadanya telah terjadi pergumulan yang dahsyat.

Perasaannya melawan nalarnya. Namun akhirnya Sindangsari tidak menemukan sikap yang mantap. Ia hanya sekedar menundukkan kepalanya tanpa berbuat sesuatu.

“Sari” suara Ki Demang menjadi semakin gemetar, “apakah kau tidak hanya sekedar bermain dengan kata-kata?”

Kini Sindangsari menghentakkan dirinya. Perlahan-lahan hampir tidak terdengar ia berkata sejauh dapat diucapkan, “Apakah yang kau kehendaki Ki Demang, semuanya adalah hakmu”

Dada Ki Demang berguncang dengan dahsyatnya.

Sejengkal ia bergeser mendekati Sindangsari sambil berdesis, “kau tidak akan ingkar?”

Sindangsari menggeleng, “Aku tidak akan ingkar”

Nafas Ki Demang menjadi semakin cepat mengalir, sedang seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat Ditatapnya wajah Sindangsari tajam-tajam, seolah-olah isterinya itu akan ditelannya bulat-bulat.

Namun tiba-tiba ia meloncat berdiri sambil menggeram, “Tidak, tidak”

Sindangsari terkejut. Tanpa sesadarnya ia berdiri, “Ki Demang. Apakah yang telah terjadi”

Dengan serta-merta Ki Demang itu menangkap kedua lengan Sindangsari. Diguncang-guncangnya gadis itu sambil berkata, “Kau bohong. Kau bohong dan berpura-pura. Disini kau menerima aku, tetapi aku tidak tahu apa yang bermain di dalam angan-anganmu? Kau pasti tidak melihat aku sebagai Demang di Kepandak. Kau hanya mempergunakan aku sebagai peraga angan-anganmu yang memuakkan dan penuh dengan dosa itu”

“Ki Demang” Sindangsari menjadi semakin bingung, “apakah maksudmu? Apakah kau ingin mengatakan bahwa…”

“Ya”

“Ki Demang”

Ki Demang memandang Sindangsari dengan tajamnya. Lengan Sindangsari masih dipegangnya erat-erat. Namun sejenak kemudian tangannya menjadi seakan-akan kehilangan kekuatan. Dilepaskannya lengan Sindangsari sambil berkata, “Sari, kau berhak berbuat apa saja dengan angan-anganmu. Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengetahuinya”

Kini Sindangsari berdiri dengan gemetar. Mulutnya menjadi seolah-olah terkunci. Ia menunggu saja apa yang akan dikatakan Ki Demang selanjutnya tentang dirinya. Tentang noda dan dosa yang telah melumuri tubuhnya tentang keperempuanannya yang kehilangan trapsila. Tentang semuanya.

Tetapi Ki Demang tidak menyebutnya satu demi satu.

Ternyata yang dikatakan oleh Ki Demang adalah, “Tetapi itu bukan salahmu Sari. Aku memang sudah mengetahui, bahwa kau mencintai Pamot. Seharusnya aku tidak menjadi heran, bahwa kau tidak akan dapat melupakannya”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Ia benar-benar merasa berhadapan dengan seorang laki-laki yang tidak dapat dimengertinya. Sehingga katanya di dalam hati, “Macam inikah sebabnya maka tidak seorang pun yang dapat menjadi isteri Ki Demang untuk waktu yang cukup lama?” Dan dalam keragu-raguan ia berkata terus di dalam dirinya, “Tetapi apakah gunanya meninggalkannya. Aku tidak akan dapat kembali kepada Pamot. Kalau pada suatu saat Ki Demang sudah berhasil menenangkan dirinya, maka aku tidak berhak lagi mengharap Pamot kapan pun juga”

Namun Sindangsari terkejut ketika ia mendengar Ki Demang menggeram. Seperti orang yang sedang diamuk oleh persoalan yang paling sulit di dalam hidupnya, Ki Demang menjadi gugup. Tetapi akhirnya ia berkata, “Tidurlah Sari. Sayang bahwa malam ini aku mempunyai tugas yang banyak. Aku harus pergi ke padukuhan-padukuhan yang sudah lama tidak aku lihat”

Sindangsari memandang laki-laki itu dengan herannya. Bahkan sejenak ia justru terbungkam.

“Tidurlah”

“Ki Demang” desis Sindangsari, “apakah sebenarnya yang kau kehendaki dariku, “tanpa sesadarnya Sindangsari telah melontarkan pertanyaan yang membelit hatinya.

Ki Demang menggelengkan kepalanya, “Malam ini aku ter lampau sibuk”

Terasa sesuatu bergejolak di dalam dada Sindangsari. Ia merasa tidak lagi dapat menguasai keadaan. Di dalam kecemasannya ia bertanya, “Tetapi, tetapi, apakah semuanya itu tidak akan dapat ditunda sampai besok atau bahkan lusa?”

“Itu kewajibanku Sari”

“Tetapi Ki Demang juga mempunyai kewajiban lain. Kewajiban sebagai seorang suami”

“Diam. Diam” tiba-tiba Ki Demang membentak, “itu adalah persoalanku pribadi. Tidak ada seorang pun yang dapat memaksa, kapan aku harus buat sebagai seorang suami. Bahkan seandainya aku tidak berbuat apapun sebagai seorang laki-laki. tidak seorang pun yang dapat menuntut. Aku adalah seorang Demang yang paling berkuasa di Kepandak”

Tiba-tiba Sindangsari pun dilanda oleh kecemasan yang dahsyat. Sehingga di luar sadarnya ia berkata, “Tetapi itu tidak adil”

“Diam, diam kau” mata Ki Demang menjadi merah.

Dan Sindangsari pun masih juga menjawab, “Tetapi Ki Demang, bukankah Ki Demang tidak merencanakan untuk pergi malam ini? Bukankah hanya dengan tiba-tiba saja Ki Demang merasa perlu untuk meronda? Kalau Ki Demang memang telah merencanakan hal itu, maka Ki Demang tidak akan menyelarak semua pintu-pintu dan memadamkan lampu tengah”

“Tutup mulutmu” Ki Demang menjadi marah. Penyakitnya tiba-tiba pula telah menjangkiti dirinya. Penyakit marahnya. Katanya, “Kau tidak berhak mengatur aku. Kau tidak berhak”

Seperti yang sering dilakukan, Ki Demang bahkan kadang-kadang menyakiti isteri-isterinya yang terdahulu apabila gejolak yang demikian telah merambati hatinya. Seakan-akan ada sesuatu yang tertahan di dalam gelora dadanya yang panas. Namun yang meluap adalah sifat-sifatnya yang kasar dan bahkan liar.

Betapa takutnya Sindangsari melihat Ki Demang yang tiba-tiba saja telah berubah. Matanya yang merah dan wajahnya yang tegang telah membuat Sindangsari gemetar.

Di bagian belakang Kademangan itu, dua orang perempuan duduk dengan hati yang berdebar-debar pula. Mereka adalah pembantu Ki Demang, dan yang seorang adalah perempuan yang melayani Sindangsari di saat-saat perkawinannya.

“Apakah hal yang serupa akan terjadi lagi?” perempuan setengah tua itu berbisik.

Pelayan Ki Demang tidak menjawab. Tetapi wajahnya tampak menjadi suram.

“Beberapa kali selalu saja hal itu terulang. Di hari-hari perkawinannya Ki Demang selalu bertengkar dengan isteri-isterinya.

Tetapi kali ini agaknya aku mengharap terjadi perubahan di dalam dirinya.

Belum lagi ia terdiam, ia mendengar sesuatu di ruang dalam. Sesuatu yang tidak jelas.

“Hem” ia menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa Ki Demang pun waktu itu sudah bertengkar pula dengan Sindangsari. Apalagi Sindangsari sendiri dibebani oleh noda di dalam dirinya.

Ia ingin segera mengakhiri kecemasan yang selalu mengombang-ambingkan perasaannya. Namun ia tidak segera dapat berhasil.

Tetapi wajah Ki Demang yang merah itu telah membuatnya sangat ketakutan. Dengan serta-merta ia memutar tubuhnya membelakangi Ki Demang sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “O” suaranya terputus oleh sesak nafasnya.

Ki Demang berhenti selangkah di belakang Sindangsari. Tiba-tiba ia menyadari keadaannya Karena itulah maka ia pun menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.

Sejenak kemudian dipaksanya dirinya berkata, “Maaf Sari. Aku tidak ingin menyakiti hatimu. Tidurlah. Aku adalah seorang Demang. Kau harus menyadari, bahwa kau adalah isteri seorang Demang, sehingga kadang-kadang aku memang harus meninggalkan rumah ini di malam hari”

Ki Demang tidak menunggu Sindangsari menyahut. Ia sadar, bahwa darahnya mudah sekali melonjak. Apalagi justru di saat-saat seperti ini. Sehingga dengan demikian, ia pun segera melangkah pergi meninggalkan bilik itu.

Sejenak kemudian Sindangsari mendengar selarak pintu terbuka dan daun pintu lereg yang bergerit.

“O” tiba-tiba saja Sindangsari telah membanting dirinya di pembaringannya. Ia tidak dapat menahan tangisnya lagi yang kemudian mengalir seperti bendungan yang pecah.

“Beginilah Ki Demang memperlakukan isteri-isterinya?” pertanyaan itu selalu melonjak-lonjak di dalam dadanya.

Demikianlah, seperti pada malam-malam sebelumnya, Sindangsari tergolek di pembaringannya seorang diri. Bahkan seorang diri di dalam rumah Kademangan yang besar.

Pembantu-pembantu Ki Demang berada di belakang, sedang para peronda berada di luar.

Di malam yang sepi itu, isak tangis Sindangsari telah menyentuh perasaan perempuan tua yang duduk di longkangan belakang. Ia tidak menghiraukan lagi embun yang mulai menitik. Perasaan iba telah melonjak-lonjak di hatinya.

Perempuan itu terkejut ketika pembantu Ki Demang menegurnya, “Kenapa Nyai berada disitu?”

“Kemarilah” bisiknya, “dengarlah. Apakah suara itu suara isak tangis?”

Pelayan itupun mendekat. Kepalanya pun kemudian terangguk-angguk kecil, “Ya. Isak yang ter tahan-tahan”

“Kasihan, Kasihan Sindangsari. Ki Demang harus menyadari bahwa isterinya kali ini adalah seorang gadis yang lain dari isteri-isterinya yang terdahulu”

Kedua perempuan yang kini telah melekatkan dirinya pada dinding ruang dalam itu menjadi bersedih pula. Beberapa kali mereka mengalami hal yang serupa. Bahkan pernah Ki Demang tidak dapat mengendalikan kemarahannya dan menyakiti isterinya.

“Kasihan, kasihan” desis perempuan itu. Sementara itu Ki Demang bersama dua orang peronda telah berjalan dengan tergesa-gesa keluar halaman Kademangan, seakan-akan sesuatu telah mengejarnya. Semakin cepat Ki Demang melangkah, maka ia merasa semakin gelisah, karena ia tidak segera berhasil membebaskan dirinya dari kejaran perasaannya sendiri.

“Persetan dengan perempuan itu” ia menggeram di dalam hatinya, “Aku adalah seorang Demang yang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh Kademangan. Aku tidak harus sekedar memikirkan seorang isteri yang betapapun cantiknya. Keselamatan Kademangan ini lebih penting dari segala galanya”

Dan Ki Demang pun kemudian melangkah lebih cepat lagi, sehingga kedua peronda yang mengawaninya menjadi terheran-heran. Mereka berlari-lari kecil mengikuti langkah Ki Demang yang semakin lama menjadi semakin cepat.

Ketika mereka sampai di gardu peronda di ujung desa, maka sebelum para peronda itu menyapa. Ki Demang sudah berteriak, “He, kenapa kalian tidur saja? Apa gunanya kalian berada disini kalau kalian hanya sekedar akan tidur. Pulang saja. Tidak ada gunanya dipasang peronda-peronda yang hanya berpindah tidur dari rumahnya ke gardu ini”

Para peronda di gardu itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja Ki Demang marah-marah kepada mereka. Salah seorang mencoba memberi penjelasan, “Ki Demang. Hanya sebagian dari kami yang tidur di gardu ini. Kami memang sengaja membagi tugas. Sedang mereka yang tidak sedang bertugas kami perkenankan untuk tidur disini”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun kemarahan yang ada sejak ia berada di rumahnya itu masih juga tertuang, “Tetapi kebetulan saja aku lewat. Kalau tidak, maka yang lain pun pasti akan segera menyusul tidur pula”

Tidak seorang lagi yang berani menjawab. Mereka menundukkan kepala mereka sambil menahan hati.

“Hati-hatilah” berkata Ki Demang, “malam ini aku akan lewat lagi di muka gardu ini. Kalau kalian tidur semua aku bakar gardu ini seisinya, “

Ki Demang tidak menunggu jawaban lagi. Ia pun melanjutkan perjalanannya dari satu padukuhan kepadukuhan yang lain. Para peronda yang ditinggalkannya saling berpandangan sejenak. Salah seorang berdesis, “Kenapa Ki Demang tiba-tiba saja marah-marah?”

Kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya, “Entahlah, Kita semuanya tidak tahu. Mungkin memang ada peronda di gardu-gardu yang semuanya jatuh tertidur, sehingga membuatnya marah-marah. Sampai di gardu ini, kemarahan itu masih juga dibawanya”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka yang sudah terbangun dari tidurnya pun tidak berani lagi berbaring. Mereka berjalan-jalan saja hilir mudik di muka gardu.

“He, kau lihat manggis di rumahku sedang berbuah? Mari siapa yang ingin makan manggis untuk mencegah kantuk”

“Uh, aku tidak mau sakit perut. Malam-malam begini makan manggis” sahut yang lain, “kalau ada ketela pendem, mungkin aku akan mempertimbangkannya”

“Aku akan mengambil ke rumah sebentar” seorang yang lain menyahut.

Demikianlah maka para peronda itu telah membuat kesibukan untuk mencegah agar mereka tidak menjadi kantuk dan apa lagi tertidur bersama-sama.

Malam itu agaknya telah benar-benar mencemaskan bagi Sindangsari. Apabila malam-malam yang demikian selalu terulang maka ia akan menjadi semakin tersiksa karenanya.

Tetapi tidak ada yang dapat dilakukan oleh Sindangsari, selain mengadu kepada dirinya sendiri sambil menitikkan air mata.

Meskipun di Kademangan itu sudah tidak ada peralatan dan tidak ada pertunjukan apapun, namun malam itu Sindangsari masih juga tidak dapat tidur. Ia benar-benar telah dicengkam oleh kegelisahan dan kecemasan.

Bahkan karena kebingungan yang meledak di kepalanya. Sindangsari telah jatuh ke dalam suatu rencana yang tidak terpuji bagi seorang perempuan.

Demikianlah, maka hari-hari berikutnya sama sekali tidak menarik bagi Sindangsari. Ia melayani Ki Demang tanpa hati.

Menyediakan makan, minum dan keperluan-keperluannya yang lain.

Noda pada dirinya telah memaksanya menunggu, kapan malam akan datang lagi. Betapapun lambatnya, namun akhirnya, Kepandak telah disaput oleh gelapnya malam yang turun perlahan-lahan. Ketika lampu-lampu di rumah Ki Demang telah menyala, maka degup jantung Sindangsari pun terasa menjadi semakin cepat.

“Aku harus meyakinkan Ki Demang, bahwa aku memang mengharapkannya” berkata Sindangsari kepada dirinya sendiri. Tetapi iapun tidak juga dapat berbohong, bahwa ia tidak berbuat hal itu dengan sejujur hatinya.

Demikianlah ia pergi mendahului Ki Demang masuk ke dalam biliknya. Kebingungan dan kecemasan yang memuncak telah membuatnya hampir berputus-asa, bahwa ia akan berhasil menyembunyikan dosanya.

Ketika ia mendengar Ki Demang, Sindangsari menunggunya dengan gemetar. Tanpa berkedip ia memandang pintu yang kemudian bergerak perlahan-lahan.

Dengan ragu-ragu Ki Demang melangkahkan kakinya memasuki bilik itu. Ia tertegun ketika ia melihat Sindangsari yang duduk di pinggir pembaringannya. Sindangsari yang sedang berputus-asa dan kehilangan pikirannya yang bening, karena ia selalu dikejar-kejar oleh pengakuan dosa di dalam hatinya.

“He, apa yang kau lakukan?” Ki Demang hampir berteriak.

“Tetapi, tetapi aku tidak tahu kalau Ki Demang akan masuk”

“Kau tidak menggerendel pintu”

Sindangsari tidak segera menyahut. Sejenak ia duduk membeku di tempatnya, namun kemudian ia berdesis, “Aku sedang berganti pakaian”

Ki Demang berdiri saja seperti patung. Tetapi wajahnya tiba-tiba telah berubah. Semakin lama menjadi semakin merah dan tegang.

Sindangsari pun telah benar-benar kehilangan akal. Ia tidak lagi memikirkan kepantasan trapsilanya. Bahkan ia pun kemudian berdiri sambil berkata, “Ki Demang, jangan ditinggal aku sendirian. Aku takut”

Tubuh Ki Demang kini bergetar seperti orang yang kedinginan. Ketika Sindangsari maju selangkah lagi, Ki Demang itu kemudian mundur sambil berkata lantang, “Berhenti. Berhenti disitu. Kalau kau maju lagi, aku bunuh kau”

Sindangsari terkejut mendengar suara Ki Demang.

Meskipun ia sendiri seakan-akan telah kehilangan nalarnya yang wajar, namun ia masih juga dipengaruhi oleh perasaan takut melihat sikap dan sorot mata Ki Demang di Kepandak.

“Ki Demang” berkata Sindangsari kemudian, “sudah berapa hari kita menjadi suami istri. Tetapi sikap Ki Demang tidak dapat aku mengerti. Aku sudah mencoba menyesuaikan diriku sebagai seorang isteri. Tetapi Ki Demang tidak berbuat sebagai seorang suami”

“Cukup. Cukup” Ki Demang berteriak, “sudah enam kali aku kawin Sari. Aku kira kau adalah isteriku yang paling baik, yang paling cantik, dan yang paling sopan. Tetapi ternyata kau adalah isteriku yang paling kasar. Yang paling jauh dari sopan santun seorang perempuan. Mungkin pengaruh kehidupan kota telah meresap ke dalam tubuhmu, sehingga kau sendiri tidak menghargai lagi milikmu yang paling berharga. Sari, apalagi orang lain. Orang lain akan menganggapmu tidak lebih dari barang yang tidak berharga. Aku jadi muak melihat kau. Muak”

Sejenak Sindangsari terpaku di tempatnya. Dipandanginya wajah Ki Demang yang membara. Namun kini keputus-asaan telah benar-benar mencengkamnya sehingga tanpa sesadarnya ia berkata tidak kalah lantangnya, “Jadi apa maksudmu membawaku kemari Ki Demang? Apakah kau hanya sekedar ingin menyiksa aku dengan memisahkan aku dari orang yang paling aku cintai? Atau barangkali kau mempunyai maksud lain yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun? Ki Demang, kalau memang begini tingkah lakumu terhadap isteri-isterimu yang terdahulu, maka sudah tentu, tidak seorang pun yang akan betah tinggal disini lebih dari seumur bayi di dalam kandungan”

“Jangan kau sebut-sebut, jangan kau sebut-sebut.”

“Kenapa? Bukankah kau inginkan anak”

“Tidak, tidak. Tidak”

“Kenapa Ki Demang? Kau tidak ingin mempunyai keturunan bagi pewaris Kademangan ini”

“Tutup mulutmu. Aku bunuh kau” Tiba-tiba Ki Demang meloncat maju sambil mengembangkan jari-jari tangannya.

Namun ketika jari-jari tangannya itu melekat di leher Sindangsari, terlintaslah bayangan di kepalanya saat-saat pernikahannya.

“Uh” ia berdesah sambil memalingkan wajahnya.

Terbayang beberapa orang prajurit berkuda datang ke rumah anak itu. Mereka adalah kawan-kawan ayah Sindangsari.

Bagaimanapun juga Ki Demang masih mempertimbangkan-nya, bahwa prajurit-prajurit dan perwira-perwira itu akan turut campur apabila ia berbuat kasar terhadap Sindangsari”

“Ki Demang, apakah kau akan membunuhku” tiba-tiba suara Sindangsari menjadi mapan.

Ki Demang menahan nafasnya yang serasa menjadi semakin cepat mengalir. Kepalanya kini tertunduk dalam-dalam.

Di belakangnya Sindangsari berdiri tegak justru dengan kepala tengadah. Sekali lagi ia berkata, “Ki Demang, kau akan membunuhku?”

“Tidak” suara Ki Demang menjadi lemah.

“Kenapa tidak?”

Ki Demang tersentak. Sekali lagi ia berpaling, namun kemudian iapun segera melangkah pergi meninggalkan Sindangsari di dalam biliknya.

Sekali lagi Sindangsari harus membanting diri di pembaringan dan menangis sejadi-jadinya. Apalagi ketika ia sadar akan dirinya dan cengkaman keputus-asaannya, sehingga ia telah kehilangan trapsilanya sebagai seorang perempuan.

Masih terngiang di telinganya suara Ki Demang, “Sudah enam kali aku kawin. Ternyata kau adalah isteriku yang paling kasar, yang paling jauh dari sopan santun seorang perempuan”

“O, beginikah aku sekarang” Sindangsari mengeluh tajam.

Betapa kecewa dan penyesalan menghentak-hentak dadanya. Akhirnya Ki Demang itu pun meninggalkannya pergi.

“Seandainya nenek tidak pernah berceritera bahwa bunuh diri adalah pekerjaan yang menjauhkan manusia dari Tuhan, aku pasti akan membunuh diriku” tangis Sindangsari. Dan betapa ia menjadi sangat malu kepada diri sendiri.

Sejak saat itu, maka hubungannya dengan Ki Demang menjadi semakin jauh. Meskipun ia masih tetap melayani seperti biasa, menghidangkan makan, minum dan keperluan keperluannya yang lain, tetapi lebih daripada itu. mereka seakan-akan telah dibatasi oleh sebuah benteng yang tidak tertembuskan.

Sindangsari yang menjadi sangat malu akan usahanya yang gagal itu pun kemudian berdiri diatas harga dirinya yang perlahan-lahan tumbuh diatas alas kecenderungannya pada pasrah diri. Itulah sebabnya, maka ia tidak pernah lagi berbuat apapun juga, meskipun di dalam remang-remang antara sadar dan tidak, sebelum ia berusaha untuk jatuh tertidur, ia merasa bahwa Ki Demang berdiri di sampingnya sambil mengawasinya.

“Apa peduliku” katanya di dalam hati. Dan sikapnya itu ternyata telah membuatnya agak tenteram.

Namun di hari-hari berikutnya, Sindangsari telah diguncang pula oleh keadaan dirinya. Terasa sesuatu yang lain telah mengganggunya. Mengganggu tubuhnya.

Kepalanya menjadi pening dan perutnya kadang-kadang menjadi mual, “Ah, kenapa aku ini” bertanya Sindangsari kepada dirinya sendiri, “agaknya aku terlampau lelah dan kadang-kadang cemas. Aku juga kurang tidur”

Tetapi perasaan mual di perutnya telah membuatnya gelisah. Apalagi disertai dengan tanda-tanda lain seperti yang pernah didengarnya dari neneknya.

“Apakah ………….?” kadang-kadang sebuah pertanyaan telah menggelitik hatinya.

Tetapi Sindangsari tidak berani melihat kemungkinan itu. Setiap kali ia berusaha untuk menenteramkan dirinya sendiri dengan berbagai macam alasan. Kurang tidur, lelah, gelisah dan masih banyak lagi yang dapat disebutnya, yang membuatnya menjadi pening dan mual.

Tetapi tanda yang satu itu? Tanda yang hampir memberinya kepastian bahwa memang telah terjadi perubahan di dalam dirinya sendiri? Di dalam tubuhnya?.

Peristiwa-peristiwa itu benar-benar telah menyiksa perasaan Sindangsari. Siksaan yang hampir tidak tertahankan.

Dalam pada itu, ternyata Sultan Agung di Mataram, berkeputusan untuk segera memberangkatkan pasukannya untuk menyerang Betawi.

Seperti yang diangan-angankan oleh Sindangsari, saat itu Pamot telah bertekad untuk berusaha sekuat-kuat kemampuannya, agar iapun dapat mengikuti pasukan yang akan dikirim untuk mengusir orang asing yang kini mulai menjamah tanah kelahiran ini.

Ternyata usaha Pamot itupun berhasil. Selama ia berada di tempat penempaan, ia telah menunjukkan kelebihan yang meyakinkan, sehingga iapun terpilih bersama beberapa orang kawannya dari Gemulung. Diantaranya Punta.

Namun ternyata bahwa usaha Pamot untuk dapat ikut serta itu, telah dibantu sepenuhnya oleh Ki Dipajaya. Bukan dengan penilaian yang diperingan, tetapi justru di setiap kesempatan Ki Dipajaya sendiri telah membawa Pamot menyingkir untuk memberinya bekal yang lebih banyak lagi baginya sebelum ia pergi ke peperangan.

“Perjalanan itu pasti bukan perjalanan tamasya Pamot” berkata Ki Dipajaya.

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku meyakini” jawabnya.

“Bagus” sahut Dipajaya kemudian, “jalan yang akan kau tempuh penuh dengan kesulitan dan penderitaan lahir dan batin”

Sekali lagi Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau akan berperang menghadapi orang-orang asing yang memiliki kelebihan jenis senjata. Senjata yang tidak pernah kita punyai”

Pamot masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah benar-benar bertekad bulat, bahwa ia akan ikut dengan perjuangan ini. Keadaaan yang khusus pada dirinya telah mendorongnya dan menjadikannya semakin mantap.

“Aku harus pergi. Aku harus pergi” katanya di dalam hati.

Meskipun kadang-kadang ia masih digelitik oleh perasaannya sendiri, “Kau tidak pergi berjuang Pamot. Tetapi kau sedang lari dari sakit hati yang tidak tertanggungkan”

“Tidak. Tidak” dibantahnya sendiri perasaannya itu, “aku benar-benar meyakini perjuanganku. Bahkan seandainya aku berhasil memperisteri Sindangsari. Aku tahu benar tujuan perjuangan ini. Karena itu aku akan berangkat dengan penuh keyakinan akan tujuan keberangkatanku. Bukan sekedar sebuah pelarian. Mataram harus berhasil mengusir orang-orang bule itu dari bumi ini”

Dan di malam-malam menjelang keberangkatan pasukan Mataram, Sindangsari seakan-akan tersentuh oleh getaran-getaran yang terpancar dari tali perasaan yang tanpa disadari masih juga mengikat kedua hati anak-anak muda itu. Pamot dan Sindangsari.

Selagi Sindangsari berbaring di pembaringan, dan selagi ia merasa dunianya semakin sepi karena ia selalu seorang diri di rumah yang besar itu, sebuah bayangan telah terlukis diangan-angannya.

“Pamot” perlahan-lahan ia berdesis.

Tanpa sesadarnya Sindangsari telah meraba perutnya.

Seperti benar-benar telah terjadi, dan bukan sekedar di dalam mimpi, bayangan Pamot itu menjadi semakin jelas berdiri di hadapannya. Pamot yang kini berpakaian keprajuritan dengan sehelai pedang di lambung dan keris di punggung.

“O” Sindangsari berdesah, “kapan kau akan pulang Pamot?”

Sindangsari melihat bayangan itu menggelengkan kepalanya. Hanya menggeleng, tetap sama sekali tidak menjawab.

“Katakan, katakan Pamot, kapan kau akan kembali kepadaku? Aku selalu disiksa oleh kesepian dan perasaan bersalah. Kita bersama-sama telah melekatkan noda yang tidak lagi dapat aku sembunyikan”

Tetapi Pamot itu berdiri saja seperti patung.

“Pamot, Pamot” ia berdesis, “mungkin kau akan berhasil memenangkan perjuanganmu. Ayahku pernah gagal dan bahkan gugur di peperangan. Mungkin kali ini kau akan menang” Sindangsari berhenti sejenak, “Tetapi akulah yang akan mengalami kekalahan. Dan kalau kau kelak kembali ke Kademangan ini kakang, mungkin aku sudah di kubur, karena Ki Demang pasti akan membunuhku”

Bayangan itu semakin lama menjadi semakin kabur oleh air mata yang mengembang di pelupuk.

Namun tiba-tiba semuanya lenyap ketika Sindangsari tersadar. Di gardu di regol halaman terdengar suara kentongan yang memecah sepinya malam.

“O” Sindangsari berdesah sambil mengusap matanya yang basah, “aku tidak bermimpi. Aku tidak bermimpi” tetapi Pamot itu sudah tidak ada lagi di dalam biliknya. Sindangsari tidak dapat menahan tangisnya. Terlintas sebuah kenangan yang tidak akan dapat dilupakan sepanjang umurnya. Kenangan yang indah, tetapi juga permulaan dari siksaan yang dialaminya sampai saat ini.

Sindangsari mengusap matanya ketika ia mendengar pintu ruang dalam bergerit. Kemudian dipejamkannya matanya, seolah-olah ia sudah tertidur nyenyak. Dimiringkannya tubuhnya membelakangi pintu biliknya. Ia tahu benar, bahwa yang membuka pintu itu adalah Ki Demang sendiri.

Sejenak kemudian ia mendengar desir langkah mendekati biliknya. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar pintu bilik itupun berderit pula.

Meskipun Sindangsari tidak berpaling, tetapi di dalam angan-angannya ia dapat melihat seperti kebiasaan yang dilakukan hampir setiap malam oleh Ki Demang di Kepandak.

Berdiri tegak di muka pintu dengan wajah yang tegang memandang Sindangsari yang tergolek di pembaringannya.

*****

bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s