MEP-04


kembali | lanjut

MEP-04PAMOT terkejut mendengar keterangan itu.

 “Tetapi kalau sampai saat ini ia mungkin masih tetap berdiam diri, itu agaknya bukan karena ia membenarkan pertemuan itu. Ia hanya sekedar tidak dapat menahan perasaan iba dan kasihannya kepada cucunya. Tetapi pada suatu saat ia pasti akan menyatakan keberatannya”

“Darimana kau mengetahuinya?” bertanya Pamot.

“Bukankah aku hampir setiap malam selalu mengawasi gerak-gerikmu atas perintah Manguri? Semula aku memang merasa segan, namun kemudian aku justru merasa berkewajiban. Orang yang datang bersama orang yang menutupi wajahnya itu pun telah pernah aku lihat pula di malam-malam sebelum ini”

“Kenapa kau tidak pernah memberitahukannya kepadaku”

“Kadang-kadang aku menjadi ragu-ragu. Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang tepat. Aku adalah seorang pembantu, katakanlah seorang budak belian. Aku sudah terikat oleh perasaan berhutang budi yang tidak akan dapat ditebus dengan cara apapun. Dengan demikian aku harus bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku tidak mengkhianati keluarga Manguri apabila aku keluar dari perintah yang mereka berikan? Aku kadang-kadang dibayangi oleh berbagai pertanyaan yang tidak dapat aku jawab sendiri. Pada saat Manguri akan memanggil Sura Sapi, dan diam-diam aku memberikannya kepadaku, beberapa malam aku tidak dapat tidur nyenyak karena dibayangi oleh pertanyaan yang serupa itu”

Pamot tidak menyahut. Tetapi ia dapat membayangkan betapa perasaan raksasa itu kadang-kadang menjadi sangat kalut. Perasaan berhutang budi, namun perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan adalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya.

Pamot menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Lamat berkata, “Sekarang pulanglah”

“Tetapi” desis Pamot, “Sindangsari pasti menunggu kedatanganku. Ia akan menjadi cemas dan gelisah, apabila aku tidak datang kepadanya”

“Sudah aku katakan, hentikan permainan yang berbahaya ini”

“Maksudmu, kau melarang aku berhubungan lagi dengan Sindangsari? Apakah itu yang dikehendaki Manguri”

“Jangan salah paham Pamot” berkata Lamat, “dan keadaan yang demikian inilah yang menyulitkan kedudukan dan perasaanku. Aku mencoba menasehatimu sejujur-jujur hatiku. Tetapi memang tidak aneh kalau kau dapat menjadi salah paham”

“Maaf, aku kadang-kadang memang terdorong selangkah sebelum aku berpikir baik-baik”

“Mungkin memang demikianlah keadaan seseorang yang sedang dibayangi oleh perasaan cinta. Tetapi meskipun demikian kau harus masih tetap mempergunakan akalmu. Jangan hanya perasaanmu”

Pamot tidak menjawab.

“Apakah kau dapat mengerti? Aku sama sekali tidak keberatan apabila kau masih tetap berhubungan dengan Sindangsari, tetapi jangan dengan caramu yang sekarang”

“Jadi bagaimana?”

Lamat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak tahu. Cara apakah yang sebaik-baiknya kau lakukan. Tetapi setidak-tidaknya kau lebih berhati-hati lagi melakukannya. Tidak terlampau sering seperti yang kau lakukan sekarang”

Pamot mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tetapi malam ini aku harus menemuinya”

Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya, “Kau memang keras kepala. Tetapi kalau memang tidak ada kemungkinan lain, pergilah. Temuilah gadis itu untuk yang terakhir kalinya dengan caramu yang sekarang. Untuk selanjutnya kau harus lebih berhati-hati dan lebih bersikap dewasa”

Pamot mengangguk, ”Baiklah. Aku akan berbicara dengan Sindangsari”

“Berterus teranglah, bahwa kau selalu diawasi oleh beberapa pasang mata. Hari ini aku melihat kau dihajar orang. Tetapi mungkin lain kali aku kebetulan tidak berada disini”

“Baiklah. Tetapi apakah yang kau katakan kepada Manguri?”

“Aku tidak dapat mengelabuinya bulat-bulat. Karena itu aku mengatakan kepadanya, bahwa kau memang pernah datang ke rumah Sindangsari”

“Apakah katanya?”

“Ia mengumpat-umpat. Tetapi tidak mustahil bahwa ia membuat desas-desus tentang hal itu, agar didengar oleh Ki Demang di Kepandak”

“Aku mengerti. Aku berterimakasih kepadamu Lamat. Mudah-mudahan hatimu tetap diterangi oleh kebajikan, meskipun kau harus melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan. Tetapi setidak-tidaknya kau menyadari dan mengerti, manakah yang baik dan manakah yang tidak”

“Mudah-mudahan” desis Lamat. Suaranya menjadi dalam sekali. Lalu, “Pergilah, dan cepat tinggalkan tempat itu. Kalau orang-orang yang mengamati kau tadi utusan Ki Demang, maka kau akan mendapat kesulitan apabila ia mengirimkan orang-orangnya lebih banyak. Sudah tentu aku tidak dapat membantumu dengan terang-terangan. Ki Demang akan marah kepadaku, dan akan melaporkannya kepada ayah Manguri”

“Terimakasih atas peringatanmu itu Lamat. Sekarang, biarlah sekali lagi aku menemuinya. Aku akan berbicara dengan Sindangsari bahwa keadaanku agak berbahaya akhir-akhir ini”.

“Kau dapat menunjukkan wajahmu yang merah biru, atau barangkali luka-lukamu itu”

Pamot menganggukkan kepalanya, “Aku akan mencoba membuatnya mengerti”

Pamot pun kemudian meninggalkan Lamat, meneruskan langkahnya menemui Sindangsari. Tetapi ia kini mulai menilai perbuatan-perbuatannya di masa lampau. Terasa sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Ia memang menjadi ngeri sendiri. Tetapi iapun merasa bahwa ia tidak akan dapat tidur nyenyak tanpa mengunjungi Sindangsari lebih dahulu, meskipun hanya sekejap.

Meskipun demikian, ternyata Pamot masih dapat mempergunakan nalarnya. Ia masih dapat memberikan penjelasan kepada Sindangsari bahwa cara yang selama ini mereka lakukan adalah cara yang berbahaya.

“Bukan saja karena orang-orang yang mengintai kita” berkata Pamot, “tetapi bahaya itu datang dari diri kita sendiri”

Sindangsari menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti kakang”

“Karena itu Sari” berkata Pamot kemudian, “aku akan jarang-jarang datang kemari untuk seterusnya. Tetapi bukan berarti bahwa aku berusaha melupakan hubungan ini. Selama kau masih belum menjadi isteri Ki Demang, aku masih berpengharapan, bahwa kita masih mungkin menemukan jalan”

Sindangsari menganggukkan kepalanya.

“Nah, untuk seterusnya kita akan menjadi semakin jarang bertemu. Tetapi kalau kau pergi ke Sungai, aku selalu berusaha memandangmu meskipun dari kejauhan”

Mata Sindangsari menjadi basah. Dalam keadaan demikian, terasa hidupnya menjadi semakin malang.

“Dalam saat-saat tertentu aku akan datang Sari. Aku akan mengetuk dinding bilikmu. Dua kali, tiga ganda berturut-turut”

“Aku tidak mau terlampau lama kesepian kakang“ desis Sindangsari, “jangan terlampau jarang berkunjung kemari”

“Baiklah Sari” suara Pamot tertahan sejenak, lalu, “sekarang, aku minta diri. Aku harus segera mengobati luka-lukaku meskipun tidak terlampau parah”

“Hati-hatilah kakang”

Pamot menganggukkan kepalanya, lalu perlahan-lahan ia berkisar sambil berdesis, “Masuklah”

Dengan hati-hati Sindangsari melangkah masuk ke rumahnya. Ia kadang-kadang menjadi cemas juga kalau ibunya mengetahui apa yang sudah dilakukannya. Tetapi dorongan dari dalam dadanya, seakan-akan tidak dapat ditahannya. Bahkan kadang-kadang ia menghentakkan tangannya yang kecil sambil menggeram “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi atas diriku”

Dengan kepala tunduk Pamot meninggalkan rumah Sindangsari. Sekali-sekali ia berpaling namun yang dilihatnya hanyalah kegelapan malam dan dedaunan yang hitam.

Dengan dada yang berdebar-debar ia mencoba mencari jalan, bagaimanapun ia tidak akan dapat terpisah lagi dari gadis itu. Tetapi Pamot hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah aku harus membawanya lari?” desisnya.

Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Apakah hidup yang demikian itu akan dapat tenteram? Kami akan selalu merasa dikejar-kejar dan dibayang-bayangi. Mungkin oleh orang-orang Ki Demang, tetapi mungkin orang-orang yang diupah oleh Manguri” Pamot menarik nafas dalam-dalam, “Mungkin aku dapat menahan hati, tetapi bagaimana dengan Sindangsari?”

Dengan demikian, maka Pamot tidak dapat segera melepaskan diri dari beban perasaannya. Kadang-kadang hatinya menjadi gelap. Tetapi kadang-kadang, ia mencoba untuk melihat kenyataan.

“Manakah yang lebih baik?” pertanyaan itu selalu mengikutinya kemana-mana, “aku mempertahankannya sebagai seorang laki-laki, atau merenungi perhitungan yang tidak dapat aku ingkari. Kalau aku menerima nasib ini, maka aku bukanlah seseorang yang berani mengorbankan diriku untuk mempertahankan cinta yang tumbuh di hati kami. Tetapi kalau aku merebutnya dengan kekerasan, maka sudah tentu tidak akan ada artinya. Ki Demang bukan lawanku dalam segala hal. Kekayaan, kemampuan dan ilmu.”

Pamot hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Ketika ia memasuki rumahnya, seisi rumah terkejut melihat luka-luka di tubuhnya, pakaiannya, yang sobek dan wajahnya yang merah biru dan bengkak-bengkak.

“Pamot, kenapa kau?” bertanya ayahnya. Pamot tidak dapat ingkar lagi. Ia berkata berterus terang, apa saja yang sudah terjadi atasnya.

“Kalau saja Lamat tidak melihat perkelahian itu, aku tidak tahu, apakah yang akan terjadi” berkata Pamot kemudian.

Ayahnya menjadi tegang sejenak. Namun kemudian ia berkata, ”Pamot, hal ini dapat kau jadikan pelajaran bagimu. Kau benar-benar telah melakukan perbuatan-perbuatan yang berbahaya selama ini. Bukan saja Ki Demang, orang tua Sindangsari kalau ia melihatnya, orang tuamu sendiri, tetapi kau akan dikutuk oleh seluruh penduduk Gemulung dan bahkan Kepandak. Kau memang dapat dianggap telah mengganggu isteri atau bakal isteri seseorang. Ini harus kau sadari. Sampai saat ini orang-orang Gemulung berpihak kepadamu, meskipun hanya di dalam hati. Tetapi kalau mereka melihat atau mendengar bahwa kau telah berbuat tidak senonoh itu, maka semuanya akan memalingkan wajahnya. Apalagi Sindangsari telah pasti di kehendaki oleh Ki Demang, meskipun seandainya Sindangsari itu bakal isterimu sendiri pun, perbuatan itu tidak dapat dibenarkan”

Pamot hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia mengerti maksud ayahnya. Dan iapun sebenarnya mengerti semuanya yang dikatakan, baik oleh ayahnya maupun siapa saja yang telah menasehatinya, bahwa orang-orang Gemulung tidak akan senang melihat perbuatannya itu. Bahkan apalagi nama Sindangsari. Gadis itu pasti akan menjadi cemar karenanya.

Namun demikian ia berkata di dalam hatinya, “Kalau gadis itu bakal isteriku sendiri buat apa aku bersembunyi-sembunyi datang ke rumahnya. Aku tinggal menunggu, kapan hari perkawinan itu datang. Aku selalu datang kepadanya, justru karena ia akan terlepas dari tanganku”

Tetapi Pamot tidak berani mengatakannya. Kepalanya yang tunduk justru menjadi semakin tunduk. Namun. semuanya seolah-olah menjadi bertambah gelap.

Ayah dan ibunya pun kemudian masih menasehatinya panjang lebar. Seperti yang setiap kali dikatakan oleh orang tuanya, bahwa mengalah adalah jalan menuju kekeluhuran. Berani mengalah, akan luhurlah pada akhirnya.

Sekali terdengar Pamot berdesah. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau setiap orang berpendirian demikian, maka alangkah damainya dunia ini. Tetapi kalau tidak, maka malanglah mereka yang selalu mengalah di saat-saat dan masa-masa seperti ini” Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan ia masih saja berbicara kepada diri sendiri di dalam hatinya “Asal aku masih tetap menyadari hak dan kewajibanku”

“Apakah kau dapat mengerti Pamot” berkata ayahnya kemudian.

Pamot tergagap. Ia tidak begitu mendengar nasehat ayah dan ibunya yang berkepanjangan. Namun demikian ia menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya ayah. Aku mengerti”

“Bagus. Karena itu lain kali kau harus berhati-hati” ayahnya berhenti sejenak, lalu, “tetapi siapakah orang yang kau katakan menutupi wajahnya itu? Kalau saja ia benar-benar orang-orang Ki Demang, maka mungkin sekali ia akan sangat marah kepadamu. Ia dapat bertindak langsung atas dasar kekuasaannya, tetapi ia juga dapat bertindak tidak langsung”

Pamot tidak menjawab,

“Sekarang obati lukamu itu dengan minyak kelapa dan daun sirih. Gosok lah perlahan-lahan”

Pamot menganggukkan kepalanya “Baik ayah”

Dibantu oleh ibunya Pamot pun segera menggosok badannya yang luka-luka itu dengan daun sirih dan minyak yang dihangatkan di atas lampu jelupak.

Dalam pada itu Kerpa telah menghadap Ki Demang di rumahnya bersama kawannya. Dengan geram Kerpa menceriterakan apa yang sudah terjadi atasnya, meskipun tidak selengkapnya, untuk sedikit menutupi kekalahannya.

“Kalau saja orang itu tidak bersembunyi” desisnya.

Ki Demang yang wajahnya menjadi merah memotong, “Tetapi kau sudah menemukannya bukan?”

“Tidak begitu jelas Ki Demang. Ia masih dibayangi oleh dedaunan. Kalau saja kita beradu dada di tempat terbuka”

 “Bohong. Kalau beradu dada di tempat terbuka, kau akan dibunuhnya”

“Tentu tidak. Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan menyerangku begitu tiba-tiba”

“Siapa yang menyerang”

“Orang itu selagi aku sedang mencoba mengenalnya karena ia tidak menjawab pertanyaanku”

“Alangkah bodohnya kau Kerpa. Orang itu sudah jelas, menyerangmu. Kenapa kau masih juga melihat-lihat seperti mengenali seorang gadis saja?”

Kerpa menjadi bingung. Memang sulit baginya untuk mengarang sebuah ceritera yang mapan untuk mengelabuhi Ki Demang yang mempunyai tanggapan yang tajam atas setiap peristiwa. Sehingga karena itu, ia terdiam sambil menundukkan kepalanya.

“Apakah Pamot mengerti bahwa kau adalah suruhanku?”

“Aku kira tidak Ki Demang”

“Mudah-mudahan. Kalau hal ini kelak tersebar, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ki Jagabaya, seandainya diketahuinya bahwa akulah yang telah menyuruhmu”

“Aku menutup wajahku dengan ikat kepalaku“ Kerpa berhenti sejenak, lalu, “Tetapi seandainya Ki Jagabaya mengetahui, apa sajalah yang dapat dilakukannya? Bukankah ia harus tunduk kepada Ki Demang?”

“Ya. Aku pun yakin bahwa ia akan tunduk perintahku. Tetapi itu hanyalah lahiriahnya saja. Hatinya pasti akan mengutuk aku. Dan itu berbahaya bagiku? Kalau sesuatu terjadi di Kademangan ini, sehingga menumbuhkan putaran keadaanku, aku tidak akan dapat mengharapkan bantuannya lagi, apalagi dukungannya”

“Dan itu agaknya tidak akan dapat terjadi”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mudah-mudahan” Namun agaknya Ki Demang sama sekali tidak puas dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mendapat jaminan bahwa Pamot tidak akan lagi datang ke rumah Sindangsari.

“Tetapi, tetapi“ Kerpa menyambung keterangannya, “aku yakin bahwa Pamot tidak akan datang lagi ke rumah gadis itu”

“Aku tidak yakin sebelum aku tahu siapakah yang telah melindunginya itu. Tentu bukan orang kebanyakan menurut ceritamu”

Kerpa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kerpa” berkata Ki Demang kemudian, “aku harus menemukan cara lain yang lebih baik untuk mencegah Pamot. Aku tidak akan dapat memakai kekerasan itu dengan terang-terangan. Agaknya rakyat Gemulung menaruh iba kepada anak itu, sehingga aku tidak tahu pasti apakah pendirian mereka yang sesungguhnya. Dalam keadaan wajar, orang-orang Gemulung pasti akan mengutuk Pamot karena perbuatannya itu. Tetapi dalam keadaan ini mungkin mereka bersikap lain, seperti mereka tidak dapat berbuat apa-apa atas Pedagang ternak yang kaya itu meskipun mereka tahu, bahwa baik Pedagang ternak itu sendiri, maupun anak laki-lakinya sering melakukan perbuatan yang tidak baik. Ini juga suatu kelainan meskipun sebabnya jauh berbeda. Terhadap pedagang ternak itu, orang-orang Gemulung agaknya kurang mempunyai keberanian bertindak, atau bahkan lama kelamaan menjadi tidak acuh, sedang terhadap Pamot mereka menaruh belas kasihan”

Kerpa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan mencari jalan itu” berkata Ki Demang kemudian, “untuk sementara kalian berdua masih harus mengawasi. Mengawasi saja. Jangan berbuat apa-apa lebih dahulu. Pada suatu saat mungkin orang yang melindungi Pamot itu akan menangkapmu, kalau kalian memperlihatkan diri atau mencoba mencegah Pamot sekali lagi”

“Baik Ki Demang” jawab Kerpa.

“Nah, pulanglah. Lakukanlah tugas kalian untuk seterusnya sebaik-baiknya. Hati-hatilah. Kalau seseorang mengetahui bahwa kalian mendapat tugas dari aku, aku gantung kau berdua”

“Ya, ya Ki Demang” jawab mereka hampir bersamaan.

Sejenak kemudian maka mereka pun segera minta diri. Ketika mereka keluar dari halaman Kademangan, para peronda di regol memandangi mereka saja sampai mereka hilang di dalam kelamnya malam, tetapi mereka tidak bertanya.

Baru setelah mereka tidak tampak lagi, salah seorang peronda bertanya “He, apa keperluannya malam-malam begini menemui Ki Demang”

Yang lain menjawab “Mereka mempunyai kegemaran sama. Kuda”

“Tetapi malam-malam begini mereka berbicara tentang kuda?”

“Mungkin saja. Kalau Kerpa mendengar orang yang akan menjual seekor kuda yang baik, maka ia pasti datang kepada Ki Demang. Kapan saja. Pagi, siang, sore dan juga malam”

Kawannya mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu percaya, tetapi ia tidak membantah.

Di saat yang hampir bersamaan, Manguri sedang menahan kemarahan yang menyesak di hatinya. Di hadapannya Lamat duduk tepekur sambil mengusap-usap lututnya.

“Jadi Pamot masih saja datang ke rumah Sindangsari?”

 “Ya” jawab Lamat, “tetapi aku sudah memperingatkannya. Bahkan aku mengancamnya, kalau sekali lagi ia datang ke rumah gadis itu, aku akan bertindak kasar”

“O, kau memang bodoh. Kenapa kau tidak berbuat apa-apa atasnya? Kenapa kau mengancam saja, mengancam dan mengancam?”

Lamat berpikir sejenak. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Aku sudah melakukannya. Aku tidak berani mengatakannya. Aku takut kalau hal itu tidak menjadi kehendakmu”

“He, kau apakan dia?”

“Hanya sekedar peringatan. Aku banting ia di tanah sehingga pingsan”

“Bohong. Bohong. Aku tidak percaya bahwa kau berani melakukannya”

Lamat tidak menyahut. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah Manguri melihatnya?

Dan tiba-tiba Manguri itu berkata, “Besok aku akan membuktikannya. Kalau benar, pasti ada bekas-bekasnya pada anak itu”

Lamat masih tetap berdiam diri.

“He, kenapa kau berdiam diri? Kau cemas bahwa aku akan mengetahui kebohonganmu?”

Lamat menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Aku ingin ikut membuktikan besok”

Manguri mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bagus. Besok kau pergi bersamaku”

Lamat mengangguk lemah.

“Sementara aku harus menemukan jalan untuk mendapatkan Sindangsari” berkata Manguri, ”Pamot harus dicegah, agar ia tidak mendekati gadis itu lagi “Manguri berhenti sejenak, lalu “tetapi sampai saat ini aku belum melihat jalan yang lebih baik daripada mengambilnya dan membawanya pergi”

Dada Lamat menjadi berdebar-debar mendengar niat yang agaknya semakin kuat mencengkam hati Manguri.

“Tetapi aku masih menunggu laki-laki itu”

“Laki-laki yang mana?”

“Ia akan datang kalau ayah pergi. Aku mengharap ayah akan pergi mengurus dagangannya untuk beberapa hari.”

Lamat tidak menyahut. Ia pun sebenarnya mengerti, bahwa setiap kali seorang laki-laki memasuki rumah itu. Tetapi Lamat pun mengerti, bahwa laki-laki itu bukanlah laki-laki kebanyakan. Ia dapat memasuki halaman dan rumah itu seperti siluman. Dengan tanda-tanda tertentu ibu Manguri dapat mengenalnya.

Namun betapa pandainya mereka merahasiakan hubungan itu, akhirnya Manguri dapat mengetahuinya juga, meskipun secara kebetulan saja.

Tetapi iblis kecil itu dengan licik mampu memanfaatkannya untuk kepentingannya.

Di pagi harinya, ternyata Manguri tidak lupa dengan rencananya. Ketika matahari telah melampaui ujung pepohonan, iapun mengajak Lamat pergi ke sawah. Biasanya ia dapat menjumpai Pamot di ladangnya.

“Kita melihat apakah kau tidak berbohong” berkata Manguri kepada Lamat.

“Baik” jawab Lamat. Tetapi ia menjadi berdebar-debar juga. Katanya kemudian, “tetapi kita tidak dapat yakin bahwa Pamot hari ini ada di ladangnya. Mungkin tubuhnya masih sakit. Tetapi mungkin juga ia mampu pergi ke sawah.”

“Kita akan melihatnya”

Mereka berdua pun kemudian pergi ke sawah. Mereka ingin melihat, apakah Pamot benar-benar menjadi merah biru seperti yang dikatakan oleh Lamat.

Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan sawah Pamot, Lamat pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia belum sempat menemui Pamot untuk mengatakan niat Manguri.

“Nah, lihat. Anak itu ada di sawahnya” berkata Manguri ketika mereka melihat Pamot berdiri di pematang dengan geprak di tangannya untuk mengusir burung, ”Tampaknya ia sehat-sehat saja”

Lamat tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, tampaklah oleh Manguri wajah Pamot yang membengkak meskipun tidak terlalu nyata. Matanya di sebelah kiri masih tampak kebiru-biruan, sedang sebuah goresan memanjang di pipinya.

“He” tiba-tiba Manguri tidak dapat menahan perasaannya. Sambil tertawa ia bertanya, “kenapa wajahmu Pamot”

Pamot berpaling. Di lihatnya Manguri dan Lamat mendekatinya.

“Kau terlampau rajin merias wajahmu. Kau apakan mata dan keningmu itu?”

Pamot mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah Lamat yang tegang. Tetapi Pamot masih berdiam diri.

Manguri tertawa kecil melihat bentuk wajah Pamot. Perlahan-lahan ia melangkah mendekatinya.

“Aku masih menaruh belas kasihan kepadanya” tiba-tiba Lamat berkata dengan nada suaranya yang parau, “kalau aku tidak ragu-ragu, mungkin ia masih belum dapat bangun pagi ini”

“Kanapa kau kasihan kepadanya” berkata Manguri.

Lamat tidak menjawab. Tetapi ketika Pamot memandangnya, ia mengangguk kecil.

Semula Pamot tidak mengerti maksudnya, namun ketika Lamat meraba keningnya sendiri dan dengan isyarat jarinya menunjuk dirinya sendiri pula, Pamot menjadi mengerti maksud raksasa itu. Karena itu maka tiba-tiba ia menggeram, “Manguri, buat apa kau ajak kerbau itu datang kemari? Apakah ia masih belum puas dengan kebiadabannya semalam?”

Suara tertawa Manguri menjadi semakin keras. Jawabnya, “Jangan sakit hati Pamot. Aku memang menyuruhnya. Tetapi bahwa kau menjadi merah biru itu sebenarnya adalah karena salahmu sendiri. Kenapa kau masih berani juga datang ke rumah Sindangsari? Untunglah bahwa Lamat yang melihatmu. Kalau yang mengetahui kecuranganmu itu orang-orang Ki Demang, maka kau akan disatai di halaman Kademangan, di hadapan para bebahu Kademangan dan pengawal kawan-kawanmu”

Pamot menggeretakkan giginya. Jawabnya, “Apa pedulimu kalau aku akan disatai di halaman Kademangan? Bukankah kau memang berdoa agar hal itu terjadi?”

“Ya, tepat sekali. Aku memang berdoa agar kau celaka tujuh keturunan. Kemudian Ki Demang pun aku doakan pula agar lekas mati. Kau tahu maksudku ?”

“Kau sudah menjadi putus asa”

“Kenapa?”

“Kau hanya dapat mengharapkan sesuatu yang tidak bakal terjadi. Bukankah dengan demikian kau mengharap tidak ada orang lain lagi yang bakal mengganggumu apabila kau menghendaki Sindangsari?”

“Jangan kau sangka aku hanya sekedar berdoa dan duduk tepekur sambil berkumat-kamit” sahut Manguri, “salah satu usahaku adalah membuat kau jera. Apakah kau sangka Lamat tidak dapat berbuat lebih dari itu?”

“Persetan dengan kerbau dungu itu”

“He, kau berani menghina? Apakah kau ingin ia menampar mulutmu?”

“Lakukanlah sekarang kalau berani”

Manguri menarik nafas. Ketika tanpa sesadarnya matanya beredar, dilihatnya beberapa orang sedang bekerja di sawahnya pula. Bahkan dua orang anak muda duduk dengan tenangnya ditanggul parit sambil merendam kakinya kedalam air.

“Punta” desis Manguri, lalu kepada Pamot ia bertanya, ”apakah kerja setan itu di sini?”

Pamot menggelengkan kepalanya ”Aku tidak tahu”

“Kau memanggilnya”

“Bagaimana aku memanggilnya? Aku berada di sini sejak kau datang. Tetapi seisi padukuhan ini mengerti bahwa kau adalah orang yang paling panasten di seluruh padukuhan bahkan di seluruh Kademangan Kepandak. Karena itu jangan menyesal, jangan sakit hati bahwa setiap gerak-gerikmu kau selalu diawasi”

Manguri menggeretakkan giginya. Dipandanginya Punta yang masih duduk berjuntai di tanggul parit yang membelah bulak persawahan.

“Biarlah setan-setan itu dimakan demit” Manguri menggeram, ”kita tidak ada gunanya terlampau lama menunggu manusia-manusia dungu ini”

Lamat tidak menjawab. Dan Manguri pun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu sambil berkata kepada Pamot, ”Ingat Pamot, Kalau kau masih berani mengulangi lagi, maka akibatnya pasti akan lebih parah lagi bagimu”

Pamot sama sekali tidak menjawab. Dipandanginya saja langkah Manguri yang diikuti oleh Lamat di belakangnya.

Namun demikian Pamot berkata di dalam hatinya, ”Kasihan raksasa yang seolah-olah telah terikat erat-erat kaki dan tangannya itu. Kenapa ia tidak berusaha melepaskan diri dari keluarga yang gila itu?”

Sepeninggal Manguri dan Lamat, maka Punta dan kawannya datang mendekatinya, ”Apa lagi yang dilakukan oleh anak itu?”

“Ia ingin melihat luka-luka di wajahku”

Punta mengerutkan keningnya. Baru saat itu ia melihat luka-luka itu dari dekat. Karena itu tiba-tiba saja ia bertanya, ”Kenapa kau luka di wajahmu? Apakah benar-benar Lamat yang melukaimu?”

Pamot menggeleng, ”Bukan Lamat”

“Siapa?”

“Aku tidak tahu. Orang itu mempergunakan tutup wajah dengan ikat kepalanya ”

“Apa salahmu, atau kira-kira apakah kepentingannya dengan kau saat itu?”

“Aku tidak tahu. Aku berjalan di lorong padukuhan ketika ia menyerangku” namun nafas Pamot terasa semakin cepat mengalir. Ia tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya, kenapa ia berkelahi semalam, karena Pamot masih belum dapat meraba, tanggapan apakah yang akan diberikan oleh anak-anak muda itu. Mungkin mereka menaruh iba, tetapi mungkin benar kata ayah Pamot, orang-orang Gemulung akan mengutuknya. Atau bahwa benar kata orang berkerudung itu bahwa pelanggaran itu akan menumbuhkan wabah yang dahsyat di padukuhan ini”

“Omong kosong” ia menggeram di dalam hatinya.

Dalam pada itu Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mempercayai saja keterangan Pamot yang sudah mulai berdusta kepada kawan-kawannya itu.

“Kalau begitu hati-hatilah. Agaknya kau memang baru dibayangi oleh nasib yang malang. Tetapi jangan lekas menyerahkan kepada keadaan”

Pamot mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu pasti maksud Punta. Apakah dengan demikian Punta bermaksud mendorongnya, tetap pada sikapnya untuk memiliki Sindangsari? Atau barangkali Punta mempunyai maksud yang lain?

Tetapi Pamot tidak menanyakannya. Ia bahkan mengangguk sambil berkata ”Aku memang tidak akan menyerah, apapun yang akan terjadi”

“Tetapi hati-hatilah. Bahaya dapat menerkammu dari segala penjuru. Kalau aku tidak menyaksikan kedatangan Manguri, mungkin ia akan memaksa Lamat berbuat sesuatu atasmu. Aku sudah melihat gelagat itu. Jika demikian, Lamat pasti akan menjadi bingung”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Sudahlah. Teruskanlah kerjamu. Aku juga akan kembali”

“Terima kasih” desis Pamot.

“Kenapa?” bertanya Punta.

“Kalau kau tidak datang, seperti katamu, mungkin Lamat akan mengalami kesulitan. Dan tentu aku juga“

Punta dan kawannya tersenyum. Katanya, ”Lihat burung-burung gelatik itu”

Pamot pun tersenyum pula. Ia memandang Punta dan kawannya yang berjalan menyusuri pematang itu sejenak. Kemudian ia berpaling kepada sekelompok burung betet yang terbang berputaran di atas sawahnya. Sejenak kemudian burung-burung itu bersama-sama turun dan hinggap di batang jagung.

Sejenak kemudian terdengar suara goprak Pamot yang dibarengi dengan teriakan-teriakan yang menghentak. Bukan saja untuk mengusir burung-burung betet yang sedang mencuri jagungnya yang masih muda, tetapi juga untuk melepaskan himpitan perasaannya yang menyesak di dadanya.

Sehari-hari Pamot tidak pulang ke rumahnya. Di saat makan pun ia tetap berada di gubugnya. Direnunginya ujung tanamannya yang hijau segar. Langit yang biru bersih dan terik matahari yang serasa membakar tubuhnya.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Di kejauhan dilihatnya ndeg pangamun-amun. Seperti uap air yang sedang mendidih.

“Benarkah orang-orang berdosa dijemur di terik matahari sebagai ndeg-pangamun-amun itu?” tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan di dalam hatinya. Ia pernah mendengar ibunya berceritera ketika ia masih kanak-kanak, bawa orang yang berdosa, yang tidak menurut orang-orang tua, yang nakal, yang menyalahi sesama, kelak, di saat-saat tertentu di akhirat nanti akan dijemur di terik matahari sebagai ndeg-pengamun amun, kalau malam akan dibiarkan terendam oleh air embun yang sangat dingin.

Pamot menarik nafas dalam-dalam.

“Sindangsari belum isteri Ki Demang” katanya di dalam hati” dan ia pun sebenarnya tidak ingin menjadi isteri Ki Demang, sehingga aku tidak berdosa apabila aku menemuinya”

Tiba-tiba saja Pamot menggeretakkan giginya.

Ia terkejut ketika gubugnya berderak-derak. Ketika ia berpaling dilihatnya kepala ayahnya tersembul, ”O, ayah” desisnya.

 “Kenapa kau tidak pulang?” ayahnya bertanya, ”Aku menjadi cemas. Biasanya di waktu makan kau pulang, sehingga kami tidak perlu mengirimkan makanan ke sawah”

“O” Pamot termenung sejenak, ”Aku tidak lapar ayah”

Ayahnya pun kemudian naik ke gubug itu pula. Ia membawa sebuah bungkusan makan buat Pamot, ”Ibumu menyuruhku mengirimkan makanmu“

“Ah, sebenarnya itu tidak perlu. Aku memang tidak lapar”

“Bukan itu soalnya. Tetapi kami memang cemas. Kau sedang dibayangi oleh bermacam-macam peristiwa yang kadang-kadang berbahaya bagimu meskipun di siang hari seperti ini”

Pamot menundukkan kepalanya. Ayahnya memang keras dan sering memarahinya sejak ia masih kanak-kanak. Tetapi terasa betapa orang tuanya itu selalu memikirkan dirinya, nasibnya dan hari depannya.

“Kalau kau tidak pulang, makanlah”

Pamot mengangguk perlahan-lahan. Desisnya, ”Terima kasih ayah”

Selagi Pamot makan, maka ayahnya pun turun dari gubugnya untuk melihat-lihat tanamannya. Tampaknya di musim menuai jagung musim ini ia akan mendapatkan hasil yang baik. Jagung-jagung yang masih muda sudah tampak memberikan harapan. Sedang di bagian lain dari sawahnya, yang terletak agak lebih rendah dan mampu dialiri oleh air dari parit sebelah, batang-batang padi yang hijau subur telah menjadi semakin tinggi pula.

Ayah Pamot mengangguk-angguk kepalanya. Di dalam hati ia berdesis, ”Mudah-mudahan hasil dari sawah ini menjadi lebih baik dari musim yang lalu”

Tetapi bila terlintas nasib anaknya, ayah Pamot itu menjadi berdebar-debar. Agaknya masalahnya akan berkepanjangan.

“Sebaliknya Ki Demang segera mengawini gadis itu. Semuanya akan selesai. Betapapun sakit hati Pamot, namun ia tidak lagi terkatung-katung diantara harapannya yang kadang-kadang masih tumbuh dengan kenyataan yang dihadapinya” berkata ayah Pamot itu di dalam hatinya.

Namun ternyata bukan ayah Pamot sajalah yang berpikir demikian. Ternyata Ki Demang pun akhirnya berpendapat bahwa ia memang harus segera kawin untuk menghentikan segala macam kemungkinan yang tidak dikehendakinya.

“Tetapi kakek gadis itu sama sekali belum memberitahukan, kapan dan hari-hari apa yang telah dipilihnya untuk meresmikan perkawinan itu” berkata Ki Demang di dalam hatinya.

Tetapi akhirnya ia memutuskan, “Biarlah aku yang menentukan hari itu. Aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi”

Demikianlah akhirnya, Ki Demang memanggil sanak saudaranya yang terdekat, yang masih ada tali-temali dan bebahu Kademangan. Ia menyampaikan niatnya untuk segera menentukan hari perkawinannya.

“Kalau semuanya memang sudah matang, sebaiknya Ki Demang segera melangsungkan perkawinan itu. Tidak baik tertunda-tunda seperti membiarkan makanan di dalam mangkuk di atas geledeg. Mungkin tikus, mungkin kucing yang menunggui tikus itu, atau mungkin apapun juga yang justru akan menerkamnya” berkata salah seorang tua di dalam pertemuan itu.

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana pendapatmu Reksatani?” bertanya Ki Demang, ”kau adalah satu-satunya keluargaku yang terdekat”

Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, ”Kalau kakang sudah memutuskan, sebaiknya perkawinan itu memang tidak tertunda-tunda lagi”

“He, aku memang sudah memutuskan, Sudah lama. Kenapa kau masih menyebut-nyebutnya?”

“Maksudku, kalau kakang sudah memutuskan untuk segera kawin”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum, ”Siapakah yang mempunyai pertimbangan lain? Karena kebetulan aku adalah seorang Demang, maka aku minta pertimbangan para bebahu. Kalau aku bukan seorang Demang, persoalanku tidak akan menyangkut banyak segi seperti ini”

Tidak seorang pun yang menyahut.

Ki Demang mengerutkan keningnya. Dilihatnya Ki Jagabaya duduk di sudut bersandar dinding. Matanya sama sekali tidak memandangi Ki Demang yang berbicara kepada mereka, tetapi dipandanginya daun pintu yang tidak tertutup rapat.

“Bagaimana pendapatmu Ki Jagabaya?”

Ki Jagabaya tergagap karenanya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya ”Tentu. Tentu aku sependapat. Bukankah begitu Ki Reksatani?”

“Ya, tentu kita semua akan sependapat”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Dadanya berdesis mendengar jawaban Ki Jagabaya dan Ki Reksatani itu. Ia merasa bahwa apa yang mereka katakan tidak sesuai seperti yang mereka rasakan.

Tetapi Ki Demang kemudian mengatupkan giginya. Katanya di dalam hati, ”Persetan. Tidak seorang pun yang dapat menghalangi aku” Namun demikian, sesaat kemudian ia telah berhasil menguasai perasaannya kembali. Sehingga sambil tersenyum ia berkata, ”Terima kasih kepada kalian. Agaknya kalian memang menyetujui” Ki Demang berhenti sejenak, lalu katanya, ”Baiklah. Aku akan segera menentukan hari itu” kemudian katanya kepada Reksatani, ”Adikku, kaulah yang akan pergi ke rumah gadis itu untuk mengatakan hari-hari yang telah aku pilih untuk melangsungkan perkawinan”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun dadanya serasa menjadi pepat, ”Kalau memang kakang kehendaki, baiklah aku akan pergi kapan saja kakang tentukan harinya”

“Sehari ini aku akan membicarakan dengan erang tua-tua hari apakah yang sebaiknya aku pilih. Kemudian besok sore kau akan pergi ke rumah gadis itu”

Sekali lagi Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaknya menjadi semakin mantap, meskipun hatinya menjadi semakin sakit.

Karena tidak ada masalah lagi yang harus mereka bicarakan, maka pertemuan itu segera diakhiri. Ki Demang minta orang tua-tua untuk datang malam nanti dengan petunjuk-petunjuk hari apakah yang sebaiknya mereka pilih.

Tetapi ketika para tamu itu minta diri, Ki Demang berkata, ”Yang lain aku persilahkan. Tetapi Ki Jagabaya aku minta untuk tinggal sebentar”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya beberapa orang kawannya, bebahu Kademangan Kepandak yang lain, kemudian disambarnya pula wajah Ki Reksatani.

Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata, ”Baiklah. Aku akan tinggal“

“Dan kau juga Reksatani” desis Ki Demang.

Ki Reksatani pun mengangguk pula, “Ya. Aku akan tinggal disini”

Demikianlah ketika orang-orang yang lain telah meninggalkan ruangan itu, mulailah mereka ketiga berbicara tentang hari-hari perkawinan itu.

 “Aku percaya kepadamu Ki Jagabaya. Aku sendiri tidak akan dapat berbuat apa-apa di saat aku kawin. Karena itu, keselamatanku dan keselamatan peralatan itu aku serahkan kepada Ki Jagabaya dan kepadamu Reksatani. Aku percaya bahwa di seluruh Kepandak dan sekitarnya tidak ada orang yang dapat menyamai kalian berdua secara pribadi. Sedang kalian mempunyai pasukan pengawal yang dapat kalian banggakan”

Ki Jagabaya mengangkat wajahnya. Kemudian kepalanya terangguk-angguk. Katanya, ”Itu sudah menjadi kewajibanku. Tetapi aku yakin, tidak akan ada seorang pun yang akan mengganggu hari-hari perkawinan itu”

“Mudah-mudahan” berkata Ki Demang, ”tetapi siapa tahu Manguri mempunyai apa saja yang dapat dipergunakannya. Uangnya cukup banyak untuk dapat menimbulkan persoalan di hari-hari perkawinan itu”

Ki Jagabaya memandang Reksatani sejenak. Lalu katanya, ”Aku kira tidak akan berani. Betapapun juga, kita memiliki pasukan pengawal yang banyak jumlahnya”

Ki Reksatani menyahut pula, ”Aku kira bukan dari Manguri. Manguri pasti akan merasa bahwa gadis itu sama sekali tidak mencintainya. Bukankah kita sudah mengetahuinya, bahwa gadis itu telah benar-benar jatuh cinta kepada Pamot?”

“Maksudmu, apabila terjadi keributan itu pasti berasal dari Pamot?”

“Bukan begitu. Aku tidak dapat memastikan. Mungkin Manguri memang dapat menjadi mata gelap. Tetapi kemungkinan memperhatikan Manguri saja, mungkin kita akan lengah. Justru Pamot lah yang merasa dirinya telah mengikat perasaan dengan gadis itu, dan gadis itu telah menerimanya pula dan mencintainya”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, Karena itulah aku minta Ki Jagabaya tinggal. Aku ingin membicarakan beberapa masalah dengan kalian berdua” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, ”meskipun tampaknya tidak ada hubungannya dengan hari-hari perkawinan itu dan seterusnya”

Ki Jagabaya dan Ki Reksatani saling berpandangan sejenak, tetapi mereka sama sekali tidak berkata apa pun.

“Dengarlah” berkata Ki Demang, lalu, ”tetapi semuanya hanya untuk kau berdua untuk sementara”

Keduanya masih duduk membeku.

“Aku mendengar dari seorang perwira Mataram, bahwa Mataram memerlukan beberapa orang pengawal khusus yang terbaik”

Ki Jagabaya dan Ki Reksatani terkejut. Dengan cepat Ki Jagabaya dan Ki Reksatani tahu, kemana arah pembicaraan Ki Demang, sehingga sebelum Ki Demang meneruskan kata-katanya, Ki Jagabaya mendahului, “Apakah Mataram sudah akan mengirim pasukannya ke Betawi untuk kedua kalinya?”

“Ingat. Ini masih merupakan rahasia. Bukan rahasiaku. Tetapi rahasia Kerajaan, Kau sadari?”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Ya, aku sadari. Tetapi bukan itu yang penting kita bicarakan dalam hubungannya dengan keadaan di Kademangan ini. Sebenarnya kita berbangga, bahwa pimpinan keprajuritan Mataram menaruh perhatian terhadap tunas-tunas yang tumbuh di kademangan ini. Dengan demikian Kademangan ini mendapat kesempatan untuk menegakkan tiang-tiang yang kita dirikan di atas Tanah Air kita sendiri”

“Kenapa sebenarnya? Bukankah memang demikian?”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Aku mengharap, mudah-mudahan demikian hendaknya”

 “Kenapa, kenapa kau sebenarnya Ki Jagabaya?” bertanya Ki Demang.

“Tidak apa-apa. Aku akan memilih orang-orang terbaik dari Kademangan ini. Setiap Padukuhan akan aku ambil seorang. Di Kademangan ini terdapat lebih dari sepuluh padukuhan dan beberapa padukuhan-padukuhan kecil. Kita akan dapat mengirimkan limabelas orang atau lebih”

“Jangan terkejut Ki Jagabaya. Perwira itu minta kepadaku agar Kademangan Kepandak menyediakan kira-kira lima puluh orang pasukan pengawal khusus. Bukankah jumlah itu dapat dicapai dan bahkan dilampaui. Di seluruh Kademangan ini ada kira-kira tujuh puluh lima pengawal khusus dan lebih dari limapuluh pengawal yang sudah resmi, di samping kegiatan anak-anak muda segala padukuhan”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Limapuluh orang. Tetapi agaknya Mataram memang memerlukan banyak tenaga. Mungkin Sultan Agung telah mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, berdasarkan kegagalannya di masa lampau. Pasukan Mataram setahun yang lalu tidak berhasil merebut kota itu dan mengusir orang-orang asing yang mulai menanamkan kekuasaannya di atas bumi tercinta ini.

“Dalam keadaan yang mendesak, tidak hanya lima puluh orang itu yang akan diambilnya” berkata Ki Demang

“Ya” sahut Ki Jagabaya, ”dalam keadaan yang mendesak, setiap laki-laki adalah prajurit. Apalagi menghadapi orang asing yang mulai menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan kita di atas Tanah kita sendiri”

“Nah, kau akan dapat memperhitungkan, berapa orang yang dapat kau ambil dari setiap padukuhan”

“Empat orang. Kira-kira empat orang” Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Ki Demang dengan penuh kebimbangan. Namun kemudian tumbuhlah kecurigaan di dalam hatinya. Agaknya Ki Demang ingin memanfaatkan masalah ini untuk kepentingan pribadinya. Itulah sebabnya ia membicarakan masalah ini, masih dalam rangkaian pembicaraan hari perkawinannya.

“Ya” berkata Ki Demang kemudian, ”empat atau lima orang. Itu sudah cukup. Kita akan dapat memilih siapa yang akan berangkat ke Mataram apabila nanti saatnya tiba”

“O, kita tidak perlu memilih” berkata Ki Jagabaya, ”kalau kita mempergunakan cara itu, aku ragu-ragu apakah setiap orang menerima pilihan itu dengan ikhlas”

“Kenapa tidak? Bukankah mereka sudah mengetahui kemungkinan itu sejak mereka bersedia menerima latihan-latihan yang lebih baik dari kawan-kawannya oleh prajurit-prajurit dari Mataram, yang juga justru dalam rangka persiapan ini? Tentu mereka tidak akan berkeberatan”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Memang, aku percaya, bahwa mereka tidak akan berkeberatan. Tetapi kita tidak akan mengabaikan masalah-masalah pribadi mereka seorang demi seorang. Mungkin ada diantara mereka yang ibunya sedang sakit keras, atau barangkali seseorang yang sudah menentukan, bahwa ia akan segera kawin, atau kepentingan-kepentingan lain”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun ia masih bertanya, ”Jadi, bagaimana sebaiknya menurut kau?”

“Kita kumpulkan mereka semua. Kita akan bertanya, siapakah yang kali ini bersedia untuk berangkat”

Wajah Ki Demang menegang.

“Ada beberapa keuntungan” berkata Ki Jagabaya, ”mereka tidak akan merasa, kita membeda-bedakan. Kalau kita memilih, kita dapat salah tunjuk. Orang yang mempunyai beberapa keberatan karena keadaan pribadi mereka, justru kita pilih, karena kita tidak mengetahuinya, sedang mereka yang tidak kita sebut, akan menjadi sakit hati, karena mereka merasa direndahkan atau justru di anak tirikan“

“Tetapi bagaimana kalau yang menyatakan diri kurang dari yang diperlukan?” bertanya Ki Demang.

“Aku berani bertaruh dengan ujung rambutku. Pasti lebih dari limapuluh orang yang bersedia”

“Kalau terlampau banyak Enam puluh orang misalnya. Bagaimana menyisihkan yang sepuluh”

“Kita undi”

Ki Demang termenung sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, ”Kemungkinan yang dapat terjadi, pengawal khusus yang kita ambil tidak akan merata. Mungkin dari satu padukuhan kita mendapat sepuluh orang, sedang dari padukuhan yang lain hanya satu dua atau bahkan tidak sama sekali”

“Kita akan menentukan cara undian itu” berkata Ki Jagabaya, ”tidak seluruhnya sekaligus. Tetapi undian itu kita berikan khusus bagi setiap padukuhan”

Ki Demang terdiam sejenak. Namun tampak bahwa ia tidak dapat menerima dengan mantap usul Ki Jagabaya itu. Karena itu, ia masih berkata, ”Bagiku, lebih baik kita menunjuk. Yang berkeberatan supaya mengajukan keberatannya. Kita akan mempertimbangkan”

Ki Jagabaya memandang wajah Ki Demang dengan penuh kecurigaan. Sementara Ki Reksatani berkata, ”Kakang apakah aku boleh menghubungkan masalah ini dengan hari perkawinan kakang?”

Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Sedang Ki Reksatani berkata pula, ”Aku menduga, bahwa Ki Jagabaya akan mengatakan hal itu, tetapi ia menjadi agak segan”

“Apa yang kau maksudkan?”

 “Aku pun sebenarnya segan untuk mengatakannya, tetapi aku kira hal ini akan lebih baik, apabila kita saling berterus terang. Kita tidak akan selalu merasa dibayangi oleh masalah-masalah yang terasa belum selesai kita bicarakan. Bukankah begitu?”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk lemah, katanya, ”Ya aku kira kita akan saling berterus terang. Apakah yang ada dan apakah yang tersimpan di hati kita masing-masing”

bersambung ke bagian 2

Satu Tanggapan

  1. rapelan rontal

    Bonus

    HARI IBU 22 DESEMBER 2013

    dan sebagai ungkapan terima kasih kepada sanak-kadang yang telah meramaikan padepokan ini.
    Hari ini Insya Allah akan tembus 1.000.000 klik.

    Terima kasih atas kunjungannya.

    Risang/Satpam Pelangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s