MEP-02


kembali | lanjut

MEP-02MESKIPUN demikian, mereka tidak akan dengan serta merta membunuh kau”

Pamot mengerutkan keningnya. Ia memang dapat mengerti maksud kakeknya. Tetapi apakah orang-orang yang membayanginya itu mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang waras.

Kakeknya melihat keragu-raguan di wajah Pamot, sehingga ia merasa perlu menjelaskan, “Pamot, perkelahian bersenjata selamanya selalu mencemaskan. Kalau kau kalah kau akan dikubur, tetapi kalau kau menang, maka dengan banyak cara, orang kaya itu dapat menyeretmu ke dalam hukuman yang berat”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik. Aku tidak akan membawa senjata”

Ketika Pamot meletakkan goloknya, ayahnyalah yang bertanya, “Apakah memang demikian seharusnya?”

“Begitulah menurut pertimbanganku”

Ayah Pamot pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “kau pergi dengan aku Pamot”

“Jangan ayah” pinta Pamot, “Aku ingin agar mereka mempunyai kesan bahwa aku memang selalu seorang diri di gubug itu”

Ayahnya mengerutkan keningnya, “Tetapi kalau terjadi sesuatu atasmu, aku bukan sekedar penonton Pamot”

“Malam ini pasti tidak ayah” jawabPamot.

Ayahnya termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia mengangguk, “Baiklah. Tetapi kalau pada saatnya kau belum kembali, aku terpaksa pergi. Aku tau, persoalan ini adalah persoalan anak-anak. Tetapi Manguri telah memanfaatkan kekayaan ayahnya. Sedang yang dapat aku berikan kepadamu Pamot, adalah sekedar tenagaku”

Pamot menundukkan kepalanya. Ia justru terdiam sejenak. Dengan nada yang datar iapun kemudian berkata, “Maafkan ayah, ibu dan kakek. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat ayah, ibu dankakek menjadi gelisah”

“Aku tahu” jawab ayahnya, “tetapi yang sudah terlanjur terjadi ini akan berkepanjangan. Pada suatu saat memang diperlukan penyelesaian yang tuntas”

Pamot mengangguk-angguk.

“Sudahlah” berkata kakeknya, “berangkatlah”

“Baik kakek” jawab Pamot.

Anak muda itupun kemudian minta diri kepada kedua orang tuanya beserta kakeknya,. Meskipun hampir setiap malam ia melakukan pekerjaan ini tanpa ada persoalan apapun, namun kali ini Pamot seolah-olah sedang bersiap untuk berangkat ke medan perang. Dengan hati yang berdebar-debar orang tuanya dan kakeknya melepaskannya.

Sejenak kemudian Pamot pun telah menyusup ke dalam gelap. Melintasi halaman dan berjalan menyusur jalan pedukuhan. Jalan yang sudah setiap hari dilaluinya. Tetapi rasa-rasanya jalan ini seperti menjadi bertambah panjang.

Langkah-langkahnya serasa menjadi terlampau pendek atau kakinya memang gemetar?.

Namun Pamot berjalan terus. Di tangannya tergenggam sebilah sabit. Hanya itu. Senjata yang selalu dibawanya ke sawah dan ke pategalan. Kadang-kadang ia memang harus memotong kayu dan membelahnya sama sekali. Kalau ia sengaja pergi menebang kayu maka ia selalu membawa sebuah kapak yang besar.

Tetapi sudah tentu tidak di malam hari, sehingga karena itu maka Pamot tidak dapat membawa kapak, meskipun kapak merupakan senjata yang lebih baik dari hanya sebuah sabit.

Ternyata bagaimana pun juga ia mencoba memahami pesan kakeknya, namun Pamot pasti akan merasa dirinya lebih aman apabila ia bersenjata, bukan sekedar sebuah sabit. Tetapi dengan sebuah sabit, masih juga lebih baik daripada ia sama sekali tidak bersenjata apapun.

Namun agaknya apa yang dikatakan oleh Lamat memang benar. Malam itu tidak ada apa-apa terjadi. Ketika ia duduk memeluk lututnya justru di bawah gubugnya yang berkaki agak tinggi, ia melihat dua orang berjalan di pematang sawahnya. Seorang yang bertubuh tinggi besar sedangkan yang lain anak muda sebayanya.

“Manguri dan Lamat” desis Pamot.

Tetapi Pamot itu pun menjadi berdebar-debar ketika keduanya berhenti beberapa langkah dari gubugnya. Manguri mencoba memandangi gubug itu tajam-tajam. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Pamot duduk di pematang justru di bawah gubug yang kegelapan.

Tiba-tiba tanpa di-sangka-sangka Manguri justru memanggilnya. “Pamot, Pamot”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan keluar dari bawah gubugnya sambil terbungkuk-bungkuk.

“Kau mencari aku Manguri”

“O” Manguri agak terkejut, “Kenapa kau bersembunyi?”

“Aku tidak bersembunyi. Aku sedang melihat tinggi air di sawahku”

Manguri tertawa, “Benar begitu?”

“Apa gunanya aku menipumu?”

“Aku sangka kau sudah menjadi seorang pengecut sehingga kau sudah tidak berani lagi berada diatas gubugmu”

“Apa yang aku takuti?”

“Bagaimana kalau sekarang Lamat sekali lagi meremukkan tulang kepalamu? Kau pasti tidak akan dapat lari lagi. Kalau kami berdua berkelahi bersama-sama maka kau dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atasmu”

“Jangan menghina” potong Pamot, “apakah kalian ingin mencoba?”

Manguri tertawa. Benar-benar menyakitkan hati. “Kau memang terlampau sombong. Tetapi aku sekali-sekali memang ingin melihat kepalamu retak. Apakah kau mau mencoba?”

Lamat lah yang menjadi berdebar-debar. Kalau Pamot tidak dapat mengendalikan diri, maka keadaan akan menjadi lain dari rencana semula. Mungkin mereka akan terlibat dalam perkelahian yang sulit.

Dan ternyata Pamot pun menjawab, “Apaboleh buat. Begitukah yang kau inginkan”

Suara tertawa Manguri tiba-tiba terputus. Dipandanginya wajah Lamat. Namun kemudian ia berkata, “Kita tinggalkan saja anak gila itu. Jangan layani”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat Manguri sudah melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, maka Lamat pun segera mengikutinya pula.

Ketika ia berpaling, dilihatnya Pamot masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Lamat menjadi heran ketika ia melihat Manguri tiba-tiba berhenti, sehingga hampir saja ia melanggarnya.

“Kenapa” tanpa sesadarnya ia bertanya.

Manguri tidak mengacuhkannya. Tetapi ia berkata kepada Pamot dibarengi dengan suara tertawanya yang serasa menusuk-nusuk jantung, “kau tidak perlu menjadi demikian ketakutan dan bersembunyi di bawah gubugmu anak manis. Kau lihat, bahwa kami bukan harimau-harimau kelaparan yang siap menerkammu. Besok kau akan berjalan lewat pematang sawahmu ini pula, untuk melihat, apakah kau juga masih bersembunyi di bawah gubugmu”

Manguri tidak menunggu jawaban Pamot. Suara tertawanya tiba-tiba meninggi. Namun kemudian hilang di telan sepinya malam.

Lamat berjalan dengan patuh di belakang Manguri ketika ia meninggalkan sawah keluarga Pamot itu. Sekali-sekali masih terdengar Manguri tertawa kecil. Namun kemudian katanya, “Anak yang sombong itu besok pasti akan datang lagi. Biarlah ia merasakan, bahwa ia tidak dapat bermain-main sekehendak hatinya dengan Manguri,. Besok ia akan ditangkap dan dibawa ke lumbung yang sudah tidak penuh lagi itu. Aku akan memaksanya berjanji untuk menjauhi Sindangsari. Setelah itu, baru aku akan mencari cara untuk menjerat burung liar itu”

Lamat sama sekali tidak menjawab. Ia berjalan saja dengan kepala menunduk. Ikat kepalanya, yang membelit saja tanpa menutupi botaknya itu, berjuntai hampir sampai ke pundaknya.

Sepeninggal Manguri dan Lamat, Pamot menarik nafas dalam-dalam. Begitulah cara Manguri mengintai. Ia sama sekali tidak bersembunyi di balik tanaman, atau di balik batang-batang jarak di pojok-pojok sawah. Tetapi ia datang dengan dada tengadah, dan bahkan memanggil manggil namanya.

Pamot pun kemudian naik ke gubugnya perlahan-lahan. Kini ia sudah dapat beristirahat, justru setelah ia tahu, Manguri telah mendatanginya. Ia sadar, bahwa Manguri sengaja menggelitik harga dirinya, supaya besok ia benar-benar datang ke gubugnya.

“Hem, ternyata Lamat berkata sebenarnya” Pamot pun kemudian merebahkan dirinya di atas galar yang kering, dialasi oleh selembar tikar yang kasar. Perlahan-lahan silirnya angin telah membelai keningnya, sehingga tanpa disadarinya, anak muda itupun akhirnya tertidur betapa ia mencoba untuk tidak lengah sekejappun.

Pamot terkejut ketika ia mendengar derit di tangga gubugnya, sehingga gubugnya yang kecil itu berguncang.

Dengan serta-merta ia bangkit sambil menyambar sabit di sampingnya. Namun ternyata bahwa sinar kemerah-merahan di timur telah menyilaukannya.

“Pamot” ia mendengar seseorang memanggil. Kemudian sebuah kepala tersembul di hadapannya. Kepala ayahnya.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia terhenyak duduk kembali. Sambil meletakkan sabitnya ia berkata, “Ayah mengejutkan aku”

“Kau mencemaskan seluruh keluarga di rumah. Kau tidak kembali pada saatnya”

“Aku tertidur ayah”

“Anak dungu” ayahnya mengumpat, “kami yang di rumah tidak sekejap pun dapat tidur. Kau tidur mendengkur disini sampai matahari hampir terbit”

Pamot menundukkan kepalanya. Tetapi ia tersenyum. Ia beringsut ketika ayahnya duduk di sampingnya. Diletakkannya paculnya di sudut gubugnya yang kecil itu.

“Tidak terjadi sesuatu apapun ayah” berkata Pamot.

“Kau mengetahui bahwa tidak terjadi sesuatu. Tetapi kami tidak”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku tertidur disini”

“Kau lengah Pamot. Kalau selagi kau tidur terjadi sesuatu atasmu, maka kesalahan terbesar terletak padamu sendiri”

“Tetapi aku tertidur setelah aku merasa, bahwa tidak akan terjadi sesuatu”

“Bagaimana kau tahu?”

“Setelah Lamat mengantarkan Manguri datang kemari”

“Mereka datang?”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.

Diceriterakannya tentang Manguri dan Lamat yang lewat di pematang sawahnya sambil menyindir-nyindirnya.

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kalau begitu malam nanti agaknya Manguri benar-benar mengharap kau berada di gubug ini Pamot”

“Ya ayah. Aku akan memenuhi keinginannya itu”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam, “kau terlalu dikuasai oleh perasaanmu. Perasaan seorang anak muda”

“Tidak ayah. Aku akan membuat perhitungan sebaik-baiknya supaya aku tidak terjebak karenanya”

“Perhitunganmu adalah perhitungan yang terlampau dipengaruhi oleh sifat-sifatmu”

Pamot mengerutkan keningnya. Terdengar ia berkata lirih, “Aku akan mencoba untuk lebih dewasa berpikir ayah”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata lirih, “Aku sadar, bahwa pada suatu saat yang tua-tua ini pun tidak akan dapat tinggal diam. Aku lebih senang kalau kau tidak terlibat dalam persoalan semacam ini, apalagi dengan Manguri. Tetapi karena masalahnya sudah terlanjur, apaboleh buat”

Pamot tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Pulanglah. Ibumu dan kakekmu menunggu. Mereka sama sekali tidak tidur sekejap pun”

”Baik ayah”

Pamot pun kemudian turun dari gubugnya, menjinjing sabitnya dan berjalan pulang. Di sepanjang jalan ia berusaha untuk mencari jalan agar ia terhindar dari malapetaka tetapi tanpa menyembunyikan diri di rumah atau dimanapun.

“Aku bukan pengecut” desisnya.

Langkah Pamot tiba-tiba terhenti ketika ia melihat seseorang berjalan sambil berkerudung kain panjangnya. Sejenak ia berpikir dan sejenak kemudian iapun melangkah semakin cepat memotong jalan orang itu, lewat pematang-pematang yang membujur lintang diantara tanaman-tanaman di sawah.

“Punta” Pamot memanggil.

Yang dipanggil itu pun kemudian berhenti. Seorang anak muda sebaya dengan Pamot. Tetapi anak itu agak lebih pendek, namun tampaklah otot-ototnya menjelujuri seluruh tubuhnya.

“He, kau dari sawah?” bertanya Punta.

Pamot mengangguk, “Dari mana kau?”

“Dari Kademangan. Bukankah malam ini aku mendapat giliran ronda?”

Pamot mengingat-ingat, “O, ya Aku masih tiga hari lagi”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Punta” berkata Pamot sungguh-sungguh, “apakah kau mau menolong aku?”

Punta mengerutkan keningnya, “Apakah kau mempunyai kesulitan?

“Kau pasti sudah mendengar” jawab Pamot.

“Persoalanmu dengan Manguri?”

“Ya” Pamot menganggukkan kepalanya.

Punta menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Pamot. Aku adalah kawanmu yang dekat, seperti beberapa kawan yang lain. Tetapi untuk mencampuri persoalanmu secara langsung, kami agak berkeberatan. Dengan demikian persoalan yang seharusnya semakin lama menjadi semakin padam, justru akan menjadi sebaliknya. Aku membantumu, dan Manguri akan mencari kawan-kawan pula. Dengan demikian persoalannya tidak akan dapat selesai” Punta berhenti sejenak, “apakah tidak ada suatu cara yang baik untuk menyelesaikan masalah itu?”

“Aku sudah berusaha melupakannya Punta. Tetapi tiba-tiba aku dihadapkan pada suatu keharusan untuk melawan. Manguri terlampau tinggi hati untuk berbicara sebagai seorang kawan. Semalam ia datang ke gubugku di sawah bersama Lamat. Agaknya ia memang akan membuat persoalan ini menjadi besar”

Punta mengerutkan keningnya, “Apa yang akan dilakukannya?”

Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Punta. Aku akan berkata sebenarnya dan apa yang ada. Terserah tanggapanmu atas persoalan itu” Pamot berhenti sejenak. Ketika Punta menganggukkan kepalanya, maka Pamot pun menceriterakan masalahnya kepada Punta.

Punta mengerutkan keningnya. Wajahnya kian lama menjadi kian tegang. Sehingga akhirnya ia bertanya, “kau berkata sebenarnya?

 “Sudah aku katakan” jawab Pamot, “kau mengenal aku sejak kanak-kanak. Kau mengenal tabiat dan sifat-sifatku, sehingga seharusnya kau dapat menebak apakah aku berbohong ataukah aku berkata sebenarnya”

“Pamot” jawab Punta, “dalam persoalan sehari-hari kau memang tidak pernah, atau katakanlah, jarang sekali berbohong. Tetapi dalam persoalan-persoalan yang khusus, kebiasaan kadang-kadang tidak berlaku lagi. Seseorang dapat berbuat aneh-aneh, dan bahkan bertentangan sama sekali dengan kebiasaan dan pandangan hidupnya sendiri. Apalagi seseorang yang sudah terlanjur terdorong masuk ke dalam suatu perbuatan. Biasanya ia akan terlalu sulit untuk menarik diri, meskipun untuk bertahan ia akan mempergunakan cara-cara yang ditentang oleh hati nuraninya sendiri”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Terkilas sepintas diangan-angannya bayangan seorang raksasa botak yang bernama Lamat.

“Bukankah begitu?” bertanya Punta.

“Kau benar Punta” jawab Pamot, “tetapi bagaimana aku dapat meyakinkan kau, bahwa aku berkata sebenarnya?”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun bertanya”Jadi bagaimana maksudmu sebenarnya?”

“Sudah aku katakan bahwa aku akan mengatakan yang akan terjadi. Kemudian aku justru mengharap sikapmu” jawab Pamot, “apakah kau menganggap bahwa hal itu sudah wajar, dan sudah wajar pula untuk dibiarkan tanpa tanggapan apapun, atau sudah wajar pula bahwa aku harus bersembunyi atau bagaimana?”

Punta menepuk bahu Pamot sambil tersenyum. Katanya, “Baik Pamot. Kau berhasil memaksa aku menurut caramu untuk melibatkan diri dalam persoalan ini” berkata Punta kemudian, “tetapi aku tidak akan bersikap mutlak. Aku akan melihat perkembangan keadaan. Seandainya ada perbedaan antara ceriteramu dengan apa yang akan terjadi, aku dapat melakukan tindakan-tindakan darurat”

“Sudah aku katakan, terserah kepadamu”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memang, agaknya kau tidak sedang bermain-main. Baiklah. Aku akan membantumu”

“Ingat, Manguri akan membawa lima orang kawan-kawannya” Pamot berdesis, namun segera disusulinya, “Bukan. Sama sekali bukan kawan-kawannya, tetapi orang-orang upahannya”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Pamot, apa yang akan kau lakukan seandainya kau tidak menjumpai aku pagi ini?”

Pamot mengerutkan keningnya. Katanya, “Pada dasarnya aku memang akan minta bantuan kepada kawan-kawanku. Tetapi seandainya aku tidak menemuimu disini, mungkin aku akan langsung menghubungi pemimpin kelompok kita di Kademangan”

Punta tersenyum. Katanya, “kau sudah benar-benar kebingungan. Tetapi kau dapat mempercayai aku. Aku tidak akan ingkar, selagi kau tidak menjerumuskan aku ke dalam kesulitan sekedar untuk memuaskan hatimu. Maksudku, kaulah yang mencari perkara. Tetapi selagi kau dalam sikap mempertahankan dirimu dan kehormatanmu, aku akan membantumu”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdesis, “Terima kasih. Apakah aku harus datang ke rumahmu untuk memberikan penjelasan tentang keadaanku dan tentang kelima orang itu?”

“Aku kira keteranganmu sudah cukup jelas. Aku akan mencoba menyesuaikan diriku, mengenai tempat dan waktu. Kalau ada keragu-raguan, biarlah aku datang ke rumahmu. Kalau aku sudah yakin, maka aku tidak perlu lagi menanyakan sesuatu”

“Terima kasih”

“Mudah-mudahan kita berhasil. Sebenarnya aku pun tidak dapat melihat Manguri berbuat sekehendak hatinya lebih lama lagi. Tetapi sudah tentu aku tidak akan berselisih dengan siapapun tanpa sebab”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia berkata, “Terima kasih. Aku percaya kepadamu”

Keduanya pun kemudian berpisah. Pamot sudah menjadi agak lega, bahwa ia sudah berhasil menemukan jalan yang mungkin dapat menghindarkannya dari bencana. Bukan sekedar bersembunyi dan menunda penyelesaian. Kalau kali ini ia dan kawan-kawannya berhasil, maka hal itu akan merupakan peringatan bagi keluarga Manguri”

“Tetapi bagaimana kalau Punta gagal?” desisnya, “Kalau Punta tidak dapat mengatasi dan mengalahkan orang-orang Manguri, maka mereka akan menjadi semakin besar kepala”

Kembali keragu-raguan membayang di hati Pamot. Namun meskipun demikian ia tidak lagi terombang-ambing dalam keadaan yang tidak menentu. Kalah atau menang, entahlah. Tetapi kalau ia tidak seorang diri, maka persoalannya akan. Manguri tidak lain akan dapat berbuat terlampau banyak terhadap beberapa orang sekaligus.

Ketika ia memasuki halaman rumahnya, matahari sudah menjenguk dari balik perbukitan. Kakeknya sudah mulai menyapu halaman dan ibunya sudah sibuk menuang air panas ke dalam mangkuk. Ketika mereka melihat Pamot pulang, dengan serta merta mereka pun segera menyongsongnya.

“Bagaimana dengan kau Pamot?” bertanya kakeknya.

“Lamat berkata sebenarnya, kakek. Tidak ada apa-apa yang terjadi atasku”

“Tetapi kenapa kau jauh terlambat pulang? Apakah kau tidak bertemu dengan ayahmu”

“Ketika ayah sampai ke gubug, aku masih ada disana. Agaknya aku tertidur semalam”

“Hem” kakeknya menarik nafas dalam-dalam, “dalam keadaan serupa itu kau masih juga dapat tidur. Bukan main. Kamilah yang semalam selalu gelisah. Kalau aku tahu, akulah yang menyusul kau ke sawah. Aku ikat kaki dan tanganmu dengan tiang-tiang gubug”

Pamot tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum di dalam hati. Namun dengan demikian ia kini menyadari, bahwa seluruh keluarga telah ikut menjadi gelisah karena pokalnya. Ayahnya, ibunya dan kakeknya yang sudah tua itu pun mencemaskannya. Bahkan semalam suntuk mereka sama sekali tidak tertidur.

“Aku telah membuat mereka selalu gelisah” katanya di dalam hati.

Tetapi sudah tentu Pamot tidak dapat berbuat lain. Ia masih tetap merasa sebagai seorang anak laki-laki yang tidak boleh melarikan diri dari kesulitan.

“Minumlah” berkata ibunya kemudian.

Pamot pun kemudian masuk ke ruang dalam dan duduk di atas sebuah amben besar. Sambil menyeka keringat dinginnya yang mengalir karena berbagai masalah yang bergejolak di dalam dadanya, ia melepaskan ikat kepalanya. Kemudian menggantungkannya pada dinding di sebelah pintu masuk ke dalam bilik kiri. Sambil bertelekan pada lambungnya ia menggeliat.

“Kalau kau akan mencuci muka, pergilah ke sumur lebih dahulu” berkata ibunya.

“Baik bu” jawab Pamot sambil mengangguk. Ibunya ternyata begitu banyak menaruh perhatian kepadanya. Hal itu sudah berjalan bertahun-tahun sejak ia masih kanak-kanak masih bayi dan bahkan sejak di dalam kandungan. Tetapi dalam keadaan yang demikian, kecemasan seorang ibu menjadi semakin terasa. Bahkan mungkin kegelisahan ibunya melampaui kegelisahannya sendiri.

Pamot pun kemudian pergi ke sumur membersihkan dirinya. Ia tidak melupakan tanaman sirihnya. Disiramnya batang-batang sirih itu dengan beberapa timba air yang dialirkannya lewat sebuah parit kecil.

Setelah minum beberapa teguk air hangat, Pamot tidak melewatkan tugas-tugasnya di rumah. Membersihkan kebun belakang, kandang kerbau dan mengisi tempat air di dapur.

“Beristirahatlah” berkata ibunya, “kau tentu lelah”

Pamot mengerutkan keningnya. Setiap malam ia pergi ke sawah. Setiap malam ia melakukan pekerjaan serupa, bahkan kadang-kadang ia sama sekali tidak tidur menunggui air. Di pagi harinya kerja yang itu-itu juga yang dilakukannya. Bahkan kadang-kadang membelah kayu. Tetapi kini tiba-tiba ibunya menyusurnya beristirahat.

Karena itu, maka Jawabnya, “Aku tidak lelah ibu”

Ibunya tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah anaknya. Wajah itu sama sekali tidak membayangkan kecemasan, kegelisahan dan kelelahan, karena Pamot memang berusaha untuk menyembunyikannya di hadapan ibunya.

“Ibulah yang agaknya lelah” berkata Pamot kemudian, “bukankah aku sudah biasa melakukan pekerjaan ini. Bahkan semalam aku dapat tidur di atas gubug”

Ibunya menjadi heran pula. Kenapa tiba-tiba ia menganggap anaknya menjadi terlampau sibuk dan banyak sekali membuang tenaga.

“Pamot benar” katanya di dalam hati, “Aku sendirilah yang kebetulan lelah sekali. Lelah, gelisah, dan cemas”

Hari itu Pamot sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang aneh. Ia melakukan pekerjaannya sehari-hari seperti biasanya. Di siang hari ia masih juga pergi ke pategalan membawa sebuah kapak untuk mencari kayu bakar.

Tetapi tidak setahu keluarganya, ketika ia pulang dari pategalan ia memerlukan singgah juga ke rumah Punta.

“Bagaimana Punta?” bertanya Pamot

“Darimana kau?” bertanya Punta pula.

“Dari pategalan”

“Jangan cemas. Aku sudah berusaha. Mudah-mudahan usahaku berhasil”

“Terima kasih”

“Aku akan berada di tempat yang baik. Aku akan datang jauh sebelum saat yang kita duga itu”

“Terima kasih”

Pamot merasa menjadi semakin ringan. Beban yang menghimpit jantungnya telah tersalurkan untuk sebagian, sehingga dadanya tidak lagi terasa seakan-akan pepat.

Ketika ia sampai di rumah, ayahnya telah berada di rumah pula. Sejenak kemudian mereka pun makan bersama-sama. Dan sudah tentu pula mereka berbicara tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Pamot, malam nanti”

“Aku sudah menghubungi kawanku” berkata Pamot.

“Siapa?”

“Punta”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, Katanya, “Anak baik. Aku percaya kepadanya, meskipun keadaannya tidak lebih dari keadaan keluarga kita”

Kakeknya pun mengangguk-anggukkan pula. Katanya, “’Mudah-mudahan ia dapat menolongmu”

Semakin sore, ibu Pamot menjadi semakin gelisah. Meskipun Pamot sendiri dan ayahnya masih juga pergi ke sawah. Berbagai macam bayangan hilir mudik di kepalanya. Kalau terjadi sesuatu atas anaknya, maka hatinya pasti akan hancur seperti mangkuk yang terjatuh di atas batu pualam.

“Kakek” berkata Pamot kepada kakeknya, ketika kakeknya berada di halaman belakang tanpa ada orang lain, “apakah malam nanti aku juga tidak boleh bersenjata?”

Kakeknya mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia berdesis, “Pamot, malam nanti kau akan menghadapi orang orang yang lain dari Manguri sendiri. Mereka adalah orang-orang upahan yang tidak mempergunakan nalar sama sekali”

Pamot mengangguk-angguk.

“Mereka hanya sekedar menjalankan perintah Manguri. Bukankah mereka diperintahkan menangkap kau hidup-hidup dan membawa ke rumah Manguri?”

“Ya”

Mereka tidak akan mempergunakan senjata yang akan dapat membahayakan nyawamu”

“Ya, tetapi aku sendiri bagaimana? Apakah aku boleh membawa senjata atau tidak?”

Sekali lagi kakek itu merenung sambil mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia menjawab, “Baiklah. Orang-orang yang akan kau hadapi adalah orang-orang liar. Mereka tidak mau gagal, sehingga mereka kehilangan upah yang sudah dijanjikan”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tahu benar maksud kata-kata kakeknya. Orang-orang itu menggantungkan hasil kerjanya pada usaha mereka menangkap Pamot. Kalau mereka berhasil, mereka akan mendapat upah, kalau tidak, mereka tidak akan mendapat apa-apa. Jadi dengan demikian, tujuan mereka hanyalah menangkap Pamot, tanpa menghiraukan apapun juga.

“Maka dari itu, kau harus benar-benar siap menghadapi keadaan” berkata kakeknya pula, “apakah Punta sudah benar benar dapat kau percaya?”

“Aku percaya kek”

“Dimana mereka akan menunggu kau?”

“Mereka tidak menyebutkannya. Tetapi mereka akan datang jatuh sebelum saat-saat yang aku duga itu tiba, tengah malam”

“Bagus” berkata kakeknya, “sekarang beristirahatlah. Sebentar lagi hari akan gelap. Kau harus bersiap-siap untuk pergi. Ibumu pasti tidak akan dapat tidur semalam suntuk”

Pamot menganggukkan kepalanya.

Maka sejenak kemudian Pamot pun segera pergi ke sumur. Setelah membersihkan diri, sebagaimana biasa setelah matahari terbenam, mereka pun duduk di atas amben yang besar di ruang tengah mengitari makan malam.

Tetapi tidak seorang pun yang dapat makan dengan enaknya. Semuanya sudah mulai dibayangi oleh kegelisahan tentang keadaan Pamot pada malam yang sudah mulai meraba pedukuhan Gemulung itu.

Namun dengan demikian, mereka justru tidak terlampau banyak berbicara seperti biasanya. Pamot menyuapi mulutnya sambil menunduk. Ibunya hampir tidak menelan nasi sama sekali, sedang ayah dan kakeknya hanya berbicara satu-satu. Dan pembicaraan mereka itupun berkisar pada keadaan Pamot, Manguri, Punta dan Lamat.

“Kau memang harus berhati-hati Pamot” desis kakeknya kemudian. Sedang ayahnya menyambung, “Kalau Punta salah hitung, maka keadaan akan sangat berlainan. Dalam keadaan yang demikian, kau jangan terlampau membiarkan hatimu berbicara, tetapi otakmu”

“Baik ayah”

“Nah, sekarang kau masih mempunyai waktu untuk beristirahat atau melakukan apa-apa yang perlu buatmu”

“Aku akan berangkat agak awal ayah. Mungkin aku memerlukan sesuatu”

“Bagaimana dengan Punta?” kakeknya masih mencoba menegaskan.

“Ia akan datang lebih awal juga”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kalau hal itu kau anggap menguntungkan, maka terserahlah kepadamu”

“Baiklah ayah” jawab Pamot, “aku akan dapat melihat keadaan sebelumnya “

Pamot pun kemudian mempersiapkan dirinya, meskipun hatinya juga dirayapi oleh kegelisahan. Ia masih juga cemas, bagaimana kalau Punta tidak dapat memenuhi janjinya.

Tetapi ia memang keras hati. Ia tidak mau surut selangkah. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya.

Malam itu Pamot berangkat jauh sebelum waktu yang biasa dilakukannya. Ia berjalan berkerudung kain panjangnya untuk menyembunyikan sarung parangnya yang mencuat di lambung kirinya.

“He, kemana kau Pamot?” bertanya seorang kawannya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap.

“Melihat air di sawah” jawab Pamot.

“Masih terlalu sore. Marilah kita duduk-duduk di gardu”

“Terima kasih. Nanti, setelah aku pulang dari sawah, aku akan duduk-duduk di gardu”

“Ah kau” berkata anak muda itu, “Kenapa tergesa-gesa?”

“Sore tadi aku tidak pergi ke sawah. Sekarang aku harus menengoknya “

“Aku melihat kau pergi dengan ayahmu”

Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia bergumam, “O, ya. Aku lupa. Tetapi sekarang aku perlu sekali”

Kawannya tidak segera menjawab. Dan Pamot pun terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu. Anak muda yang bertubuh tinggi tegap itu adalah kawannya bermain sejak kecil. Kawan yang baik. Kalau ia memberitahukan kesulitannya, maka ia pasti akan membantunya seperti Punta.

“Tetapi aku sudah menyerahkan semua persoalan kepada Punta” berkata Pamot di dalam hatinya, “kalau aku masih menghubungi orang lain, maka aku akan dianggapnya kurang mempercayainya. Aku pun, menurut pendapatku, sudah tidak keliru lagi, karena Punta adalah tetua, meskipun tidak resmi, dari anak-anak muda Gemulung yang setiap kali ikut pergi ke Kademangan termasuk anak ini”

“Maaf” Pamot kemudian berkata, “lain kali kita bermain-main. Sekarang aku takut ayah marah”

Pamot menjadi heran ketika ia melihat anak muda yang bertubuh tinggi itu tertawa, “Kau Pamot. Ada-ada saja yang kau lakukan”

“Kenapa?” Pamot menjadi heran.

Tiba-tiba saja, tanpa di sangka-sangka anak muda itu meraba lambung Pamot, sehingga Pamot terkejut.

“Apa yang kau bawa itu? Parang? Golok?”

“Hus” Pamot berdesis.

“Aku sudah curiga. Biasanya kau membawa sabit atau cangkul atau kapak. Tetapi sekarang kau membawa parang di dalam sarungnya. Kenapa?”

Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Aku memang sering membawa parang, sejak babi hutan itu mengganggu tanaman. Bahkan akhir-akhir ini aku mendengar ada seekor harimau yang berkeliaran di daerah persawahan”

Tetapi Pamot menjadi semakin heran ketika kawannya itu tertawa semakin keras. Katanya, “Baik, baik. Pergilah. Sebentar lagi aku juga akan pergi ke sekitar sawahmu”

“Kenapa?” dada Pamot berdesir. Tetapi anak itu masih saja tertawa.

“Kenapa?” Pamot mendesak.

Akhirnya anak muda itu berkata, “Jangan gelisah. Aku tahu semua persoalan yang sedang kau hadapi. Bukankah kau akan berkelahi? Kau sudah bersiaga dengan senjata itu”

“Kau mimpi” jawab Pamot.

“Punta sudah menemui aku. Bukankah kau harus menghadapi lima orang bayaran yang akan dikirim oleh Manguri?”

Wajah Pamot menjadi tegang. Tetapi anak muda itu masih tertawa juga, “Aku adalah salah seorang dari kawan-kawan kita yang akan pergi bersama Punta”

Kini Pamot menarik nafas dalam. Sambil memukul lengan kawannya yang tinggi besar itu ia berdesis, “Kau membuat aku hampir gila” katanya, “terima kasih. Mudah-mudahan kita berhasil”

“Aku memang sudah muak pula melihat tingkah laku Manguri. Kadang-kadang aku memang menunggu, kapan aku mendapat kesempatan serupa ini tanpa memulainya. Kini kita tidak akan dapat dipersalahkan oleh siapapun, karena kita memang membela diri. Setidak-tidaknya kau sedang membela dirimu”

“Terima kasih. Aku memang mengharap bantuan kalian. Aku tidak dapat melawannya seorang diri. Manguri mempunyai uang untuk melakukan apa saja. Tetapi aku mempunyai kawan”

Anak yang tinggi tegap itu masih saja tertawa, “Pergilah. Aku akan menyusul kelak”

Pamot pun segera melanjutkan perjalanannya. Kini hatinya menjadi semakin tenteram. Setidak-tidaknya ia sudah mempunyai dua orang kawan. Yang tinggi tegap itu beserta Punta sendiri. Bertiga dengan dirinya sendiri.

“Kalau mereka benar-benar hanya berlima, maka tiga dari kami sudah cukup untuk menghadapinya” desis Pamot di dalam hatinya. Namun kemudian, “Tetapi aku belum tahu, siapakah yang lima itu?”

Di sepanjang jalan Pamot selalu membayangkan apa yang kira-kira bakal terjadi. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi gemericik air di parit, di bawah kakinya. Batang-batang jagung muda yang hijau dan kunang-kunang yang bertebaran seakan-akan tidak tampak di matanya.

Tetapi Pamot menarik nafas dalam-dalam ketika terasa angin yang silir mengusap wajahnya yang berkeringat.

“Hem” Pamot menarik nafas sekali lagi dan sekali lagi, seakan-akan akan dihirupnya udara malam di seluruh padang.

Sebenarnya Pamot sama sekali tidak menghendaki hal-hal yang dapat mengguncangkan ketenteraman hidup rakyat Gemulung. Tetapi apabila tidak ada sikap apapun, maka yang sudah berjalan itu akan berjalan terus tanpa batas. Khususnya di lingkungan anak-anak muda dan gadis-gadis. Perbuatan Manguri benar-benar tidak dapat dibiarkannya.

“Tetapi apakah aku sudah bertindak tepat” bertanya Pamot kepada diri sendiri, “Aku seolah-olah sekedar menuruti perasaan. Kawan-kawan akan terlibat dalam bentrokan karena hubunganku dengan Sindangsari. Kalau hal itu yang akan dijadikan sumber dari benturan ini, maka akulah yang telah menyeret kawan-kawan itu ke dalam kesulitan. Apalagi apabila di antaranya ada yang cidera”

Pamot justru menjadi termangu-mangu.

“Tetapi semuanya sudah terlanjur, “untuk menenteramkan hatinya Pamot pun berkata kepada diri sendiri, “mereka tidak sekedar membantuku. Tetapi mereka memang berpendirian, bahwa kelakuan Manguri itu sudah tidak pantas lagi”

Pamot pun kemudian menaiki gubugnya jauh sebelum masanya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Tetapi dengan demikian ia masih sempat mengatur getar di dadanya. Dari atas gubugnya ia mencoba melihat-lihat berkeliling. Tetapi ia tidak melihat sesuatu, selain hitamnya malam dan daun-daun yang hijau gelap menjorok ke dalam kelam.

Tanpa sesadarnya Pamot meraba-raba hulu parangnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak memulainya”

Sementara itu, agak jauh dari padukuhan Gemulung, di bawah sebatang pohon nyamplung yang besar dan rimbun, beberapa orang sedang duduk sambil berkelakar. Di antara mereka terdapat Manguri dikawani oleh Lamat.

“Sebentar lagi kalian harus berangkat ke gubug itu” berkata Manguri, “biasanya hampir tengah malam ia baru datang, Jangan terlalu banyak menimbulkan kegaduhan, karena kadang-kadang ada juga orang lain yang berkeliaran di sepanjang pematang menyusur air. Kalian harus bertindak cepat, dan membawa anak itu malam ini juga ke rumah. Ia harus benar-benar jera. Bukan saja tidak lagi mengganggu gadis itu, tetapi ia tidak boleh membuka mulutnya kalau ia ingin selamat”

Orang-orang yang duduk di bawah pohon nyamplung itu mengangguk-angguk. Salah seorang menjawab, “Kau masih saja ragu-ragu. Seharusnya kau sudah mengenal kami dengan baik”

Manguri menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Di dalam setiap persoalan yang baru, aku harus menganggapnya kalian orang-orang baru. Persoalan kita bukan sekedar persoalan yang dapat diselesaikan dengan kebiasaan, karena kerja yang kita hadapi pun bukan masalah kebiasaan pula. Orang-orang yang kau hadapi adalah orang-orang yang berbeda-beda yang kadang-kadang kau belum tahu, sampai dimana kemampuannya”

“Meskipun seandainya anak itu dapat menangkap angin, kami tidak akan gagal”

Manguri mengangguk-anggukan kepalanya, “Mudah-mudahan”

“Nah, kapan kami harus berangkat?”

“Kau dapat saja berangkat sekarang. Tetapi awas jangan sampai seorang pun yang mengetahui kehadiran kalian. Kalian akan tampak sebagai orang-orang asing di padukuhan ini. Kecurigaan yang dapat timbul pasti akan mengganggu pekerjaanmu”

“Baiklah. Kami akan berangkat saja sekarang. Kamu sudah tahu benar letak gubug yang kau katakan.

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berpaling kepada Lamat sambil berkata, “Apakah kalian memerlukan seorang penunjuk jalan?”

Orang-orang upahan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Merekapun memandang Lamat dengan wajah bertanya-tanya.

Sementara itu, dada Lamat menjadi berdebar-debar. Kalau ia langsung dilibatkan ke dalam masalah yang rumit ini, ia pasti tidak akan dapat menghindar lagi. Bersama-sama dengan kelima orang itu ia tidak akan dapat berpura-pura. Ia harus ikut bersama mereka menangkap Pamot dan membawanya ke rumah Manguri.

Tetapi setitik embun serasa jatuh ke dinding jantungnya ketika ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berkata, “Tidak perlu. Kehadirannya akan mengurangi nilai kerja kami. Seakan-akan tanpa orang lain kami tidak mampu menyelesaikannya, sehingga tidak akan ada alasan bagimu untuk memotong upah yang sudah kau janjikan”

“Gila” Manguri berdesis, “kau kira aku berpikir sampai kesana?”

Kelima orang itu tertawa, “Jangan tersinggung” berkata salah seorang dari mereka, “kami pernah mengalami hal serupa itu”

“Tetapi bukan aku”

“Ya, bukan kau”

“Baik. Lamat tidak akan menyertai kalian. Tetapi ingat, jangan gagal”

Sekali lagi kelima orang itu tertawa hampir berbareng. Salah seorang dari mereka menjawab, “Kau tampaknya kurang percaya kepada kami”

Manguri tidak menjawab. Dicobanya mengamati kelima orang itu satu demi satu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hati, “Mereka sudah terlampau biasa melakukan pekerjaan ini. Mudah-mudahan mereka berhasil”

Sejenak kemudian maka kelima orang itupun minta diri. Mereka berjalan menyusur jalan kecil di pinggir parit sebelum meloncat ke sebuah pematang.

“Lamat” desis Manguri, “apakah kau dapat mempercayai mereka, bahwa mereka akan berhasil?

“Sudah tentu” sahut Lamat.

“Bohong” tiba-tiba Manguri membentak, “jawab yang sebenarnya. Apakah kelima orang itu lebih kuat dari kau seorang diri menghadapi Pamot”

“Ya, ya” Lamat tergagap, “aku kira mereka pasti lebih kuat daripada aku seorang diri. Mereka dapat menghadapi lawannya yang hanya seorang itu dari lima arah yang akan sangat membingungkan”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau kau tidak terlampau dungu, aku tidak perlu mempergunakan orang-orang semacam monyet-monyet itu. Seharusnya kau dapat memutar leher Pamot. tetapi kau gagal. Mudah-mudahan orang-orang itu tidak gagal”

Lamat tidak menjawab. Wajahnya yang keras seolah-olah tambah mengeras seperti sebongkah batu asahan. Namun terasa goresan-goresan yang pedih pada dinding hatinya yang lunak. Perlahan-lahan kepalanya menunduk-meskipun ia masih tetap berdiri tegak di atas kakinya yang renggang.

Manguri masih berdiri di tempatnya, memandang ke arah kelima orang upahannya itu menghilang di balik tanaman. Terbayang orang-orang yang kasar dan kuat itu mengepung Pamot yang ketakutan.

“Huh” tiba-tiba ia bergumam, “salahnya sendiri. Kalau ia tidak membuat persoalan dengan Manguri, maka tidak akan terjadi bencana baginya”

Lamat mengangkat wajahnya. Di pandanginya saja Manguri yang masih berdiri tegak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lamat” katanya, “bagaimana, seandainya kau seorang diri harus berkelahi melawan kelimanya? Apakah kau akan mampu mengalahkannya?”

Dada Lamat menjadi berdebar-debar kembali. Ia tidak tahu maksud itu. Apakah sesudah mereka menangkap Pamot, kemudian ia harus mengusir kelima orang itu?

“He, apakah kau sudah mati?” bentak Manguri, “kenapa kau diam saja?”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Aku belum dapat mengatakan. Aku belum mengetahui, sampai dimana kemampuan mereka seorang demi seorang.”

“Tetapi apakah kau berani melawan mereka berlima?

“Aku tidak pernah takut terhadap apapun dan siapapun. Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apakah aku akan dapat memenangkan perkelahian itu?”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau memang berani. Tetapi kau terlampau bodoh. Kau tidak dapat menangkap Pamot, meskipun kau dapat menyakitinya”

Sekali lagi Lamat menarik nafas. Sudah lebih dari seribu kali Manguri menyebutnya sebagai seorang yang bodoh karena tidak dapat menangkap Pamot. Untunglah tidak tersengaja, Pamot telah membentur batu, sehingga wajahnya menjadi bengkak dan biru pengab. Kalau Manguri tidak melihat bengkak itu, maka ia akan mengumpatinya setiap saat.

“Marilah kita pulang. Aku mengharap kelimanya berhasil. Menilik badan mereka yang kekar. Wajah mereka yang keras dan bengis. Mata yang menyala seperti mata kucing. Dan nafsu yang tidak terkendalikan untuk mendapatkan uang” Manguri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, “yang bertubuh jangkung meskipun agak kurus itu memiliki sepasang mata seperti mata setan. Sedang yang berjambang lebat dan berkumis jarang itu bagaikan serigala yang kelaparan” Manguri tertawa berkepanjangan. Sambil mengayunkan kakinya ia berkata di sela-sela tertawanya, “Aku akan melihat, bagaimana Pamot menjadi ketakutan. Aku akan membuatnya jera. Sebenarnya jera” Dan suara tertawa Manguri melengking di sepinya malam, di tengah-tengah bulak yang sunyi.

Keduanya pun kemudian berjalan semakin lama semakin cepat, pulang ke rumah Manguri. Di sudut desa mereka melihat beberapa orang anak-anak muda yang meronda. Salah seorang dari anak muda itu menyapanya, “Siapa he?”

“Buka matamu” jawab Manguri, “aku Manguri bersama Lamat”

Anak muda yang bertanya itu serasa tersentuh api di ujung telinganya. Tiba-tiba saja ia meloncat turun dari gardu. Namun ketika terpandang wajah Lamat yang kasar, dan matanya yang serasa akan menelannya, anak muda itu menahan dirinya.

“Darimana kau Manguri?” bertanya anak muda itu.

“Itu urusanku”

“Biasanya kau tidak sekasar itu” berkata anak muda yang berada di gardu. Kawan-kawannya pun satu persatu turun dan berdiri berjajar di muka gardu. Empat orang.

Manguri tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba terbersit di hatinya, kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan. Kini ia sedang menghadapi Pamot, yang jauh lebih dekat pada anak-anak muda itu daripadanya sendiri.

Karena itu, maka iapun kemudian menjawab, “aku tergesa-gesa. Maaf mungkin aku terlampau kasar”

Anak-anak muda yang berdiri di muka gardu itu menarik nafas.

“Aku akan pulang”

Tidak seorang pun yang menjawab. Dan tiba-tiba Manguri bertanya, “He, apakah kalian sudah mendapat minum dan makanan?”

Anak-anak muda yang sedang meronda itu saling berpandangan sesaat. Salah seorang dari mereka menjawab, “Nanti, tengah malam”

bersambung ke bagian 2

5 Tanggapan

  1. Sh mintarja tk prnh bosan


  2. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsMaaf mas, tuatannya kok selslu kembali ke bagian 2, padahal tertulis bersambung ke bagian 3, 4, 5…?

  3. untuk bagian 3 dimana yaa,,,,

  4. He he he …. namanya manusia, tempat terjadinya kesalahan.
    Link belum diedit, sehingga muter saja ke bagian 2.

    Ngapunten ngggih.

    Sudah diupdate.

    Jika terjadi hal sama pada halaman lain, mohon klik saja Page 1 2 3 4 5 di bagian bawah naskah (di bawah bersambung …..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s