MAdBB-21


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 21

kembali | lanjut

cover madbb-21SEBENARNYALAH, Endang Srini yang melihat hubungan anak laki-lakinya dengan gadis itu, tertarik juga hatinya untuk mendorong agar anaknya benar-benar mendekatkan hatinya kepada gadis yang bagi Endang Srini adalah luar biasa itu. Gadis yang memiliki ilmu yang mapan dan hati yang tabah. Gadis yang sudah menyelamatkan hidupnya dari seseorang yang menjadi gila dan hampir saja mencelakainya.

Sehari itu, selain menghadap ibunya, maka Jlitheng telah ikut serta pergi menemui Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Mereka telah minta diri untuk meninggalkan Lumban kembali ke Demak. Namun yang menurut Pangeran Sena Wasesa, pada suatu saat mereka tentu masih akan berada di sekitar Daerah Sepasang Bukit Mati itu.

Kepada anak-anak muda di Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Daruwerdi dan Jlitheng pun telah minta diri pula. Demikian pula dengan mereka yang datang dan memperkenalkan diri mereka sebagai sepasang pemburu yang untuk beberapa saat telah berada di Daerah Sepasang Bukit Mati itu pula.

“Kita semuanya akan pergi ke Demak” berkata Kiai Kanthi, “Tetapi aku tentu akan kembali. Rumahku adalah gubug yang kita buat bersama-sama itu. Aku akan tinggal di gubug itu sambil mempersiapkan sebuah padepokan di bawah bukit. Tanah persawahan yang akan dialiri air yang melimpah dan pategalan yang ditumbuhi dengan pohon buah-buahan yang akan berbuah lebat”

Anak-anak muda Lumban, sebagaimana Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon tidak dapat mencegahnya. Mereka harus melepaskan orang-orang itu pergi, meskipun ada diantara mereka yang pada suatu saat akan kembali.

Jlitheng yang sudah mengambil pakaiannya, ternyata tidak sampai hati mengenakannya sebelum ia meninggalkan Lumban. Ia tidak mau merusak citra anak-anak Lumban tentang dirinya, yang dengan demikian akan dapat merusak keakraban hubungan apabila pada suatu saat ia benar-benar kembali, karena ia memang merasa harus menghindarkan diri dari kehidupan yang tentu akan disusun oleh anak muda yang menamakan dirinya Daruwerdi itu dengan anak gadis Kiai Kanthi yang bernama Swasti.

“Aku memang harus menyingkir dari jalan hidup mereka” berkata Jlitheng kepada diri sendiri, betapapun pahitnya.

Sebenarnyalah bahwa ia memang tidak mempunyai pilihan lain daripada berbuat demikian.

Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, orang yang berada di Lumban itu pun telah mempersiapkan diri untuk pergi ke Demak. Mereka berniat untuk menyelesaikan persoalan pusaka dan harta benda itu secepatnya.

Namun justru karena itu, maka mereka tidak sempat untuk melihat orang-orang disekitar mereka. Meskipun masing-masing menyadari bahwa orang-orang yang berada di Lumban itu sebagian tentu mempergunakan ujud yang lain dari pribadi mereka sendiri, tetapi seakan-akan mereka bersepakat untuk tidak menyinggungnya. Mereka tidak pernah saling bertanya, siapakah sebenarnya nama mereka masing-masing. Dan untuk apakah sebenarnya mereka berada di Lumban.

Pada saat terakhir, orang-orang yang masih saling tersamar itu telah bersepakat untuk dalam keadaan mereka, pergi ke Demak. Karena sebenarnyalah bahwa kedudukan masing-masing telah mulai dapat di raba. Bahkan ada diantara mereka yang telah dengan pasti menyatakan dirinya sendiri.

“Kami menitipkan orang-orang yang telah kami tawan selama ini” berkata Rahu kepada anak-anak muda Lumban. Selanjutnya, “kalian tidak perlu cemas. Yang Mulia telah kehilangan sebagian besar dari kemampuannya. Yang lain masih berada dalam keadaan lemah, lahir dan batin. Sementara itu, jika kalian, anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersatu, maka kekuatan kalian ternyata akan dapat dibanggakan seandainya ada pihak-pihak yang ingin mengganggu kalian”

Anak-anak muda Lumban itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa tidak akan ada gunanya lagi berselisih diantara mereka. Meskipun di dasar hatinya yang paling dalam. Nugata masih merasa kurang adil bahwa air yang mengalir di sungai itu dibagi sama untuk Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Tetapi ia sudah berusaha untuk dapat menerima keadaan itu.

Ketika sebuah iring-iringan meninggalkan Lumban. maka kedua Buyut yang tua itu pun telah melepas mereka. Namun dalam pada itu Jlitheng telah berkata kepada kedua Buyut, “Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Jika hari ini kami minta diri, maka beberapa hari mendatang, aku akan kembali lagi. Mungkin aku akan datang sendiri, karena aku memang anak Lumban meskipun agak lama aku pernah meninggalkan Lumban menjelang masa dewasa ku”

Kedua Buyut yang tua itu mengangguk-angguk. Dalam pada itu Ki Buyut di Lumban Wetan pun berkata, “Kami selalu menunggu kehadiranmu kembali Jlitheng. Meskipun kau telah membuat kami tercengang dan heran, bahkan kadang-kadang timbul pula pertanyaan tentang kau yang sebenarnya, namun kau sudah aku anggap sebagai anak Kabuyutan Lumban. Jika kau tersedia untuk kembali, maka kami akan merasa sangat berbahagia”

“Aku akan kembali Ki Buyut, Aku merasa, bahwa hidupku hanya akan berarti jika aku berada di Lumban”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia mengerti, gejolak perasaan anak muda itu. Ia melihat kekecewaan yang mendalam. Namun orang tua itu tidak banyak dapat membantunya. Ia menyadari sifat dan tabiat anak gadisnya pula.

Karena itu, untuk sementara maka yang paling baik bagi Kiai Kanthi adalah berdiam diri menanggapi persoalan anak gadisnya. Selama persoalannya tidak menjadi gawat, maka ia tidak akan banyak ikut mencampurinya. Namun menilik sikapnya, maka Jlitheng akan lebih banyak melihat kepahitan itu ke dalam dirinya sendiri. Meskipun ia seekor banteng di arena pertempuran, namun agaknya ia seorang yang dapat mengerti tentang perasaan seseorang, meskipun itu akan berakibat pedih bagi dirinya sendiri.

Dalam pada itu, maka semakin lama iring-iringan itu pun menjadi semakin jauh dari Lumban. Mereka sudah melampaui bukit gundul dan memandang bukit berhutan dari jarak yang tidak terlalu dekat. Kiai Kanthi yang berkuda disebelah Jlitheng itu pun berkata, “Aku pun akan kembali ke bukit itu”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Kanthi sejenak. Namun kemudian ia pun berpaling kearah bukit itu sambil berkata, “Kami masih dapat berbuat sesuatu dengan air di atas bukit itu”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “kita tidak boleh merampas air itu seluruhnya sehingga orang-orang yang juga tergantung dari air itu di tempat yang jauh, setelah air itu muncul dari dalam tanah, akan menjadi kekeringan seperti orang-orang Lumban sebelumnya”

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu iring-iringan orang berkuda itu pun menjadi semakin jauh pula. Dengan kuda-kuda yang baik mereka dapat dengan cepat menempuh perjalanan. Kuda-kuda yang sebagian dapat mereka peroleh dari orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih atau orang-orang Pusparuri yang dapat mereka tangkap. Dan sebagian mereka dapat dan Lumban atau kuda-kuda mereka sendiri yang memang sudah baik.

Namun dalam pada itu, adalah diluar dugaan mereka, bahwa sekelompok orang-orang yang termasuk di antara mereka yang menginginkan pusaka dan harta benda itu telah menunggu. Sekelompok orang-orang yang seperti orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih dan Pusparuri, merasa memiliki kekuatan yang cukup untuk merebut pusaka dan harta benda itu.

“Mereka akan melalui pinggir hutan itu” berkata salah seorang dari mereka.

“Perhitungan kita tepat. Mereka benar-benar meninggalkan Lumban. Tentu Pangeran itu ada diantara mereka. Kita sudah yakin dan pasti, sebagaimana yang kita dengar pada saat-saat terakhir, bahwa sebenarnya Pangeran itulah yang mengerti dimana pusaka itu disimpan. Dan kita tentu saja tidak akan percaya seandainya Pangeran itu dengan mudahnya melemparkan tanggung jawabnya, dengan mengatakan bahwa pusaka dan harta benda itu telah dikembalikan ke Demak”

“Belum ada keterangan tentang hal itu yang telah di nyatakan oleh Demak” berkata yang seorang.

“Kita harus bersiap-siap. Mereka akan kita hancurkan, kecuali Pangeran Sena Wasesa itu” berkata kawannya, “laporkan kepada Ki Lurah, bahwa mereka telah datang”

Seorang diantara mereka pun kemudian menuju ke tempat kawan-kawannya yang lain menunggu. Mereka berada di dalam gerumbul-gerumbul perdu liar di sebelah hutan yang tidak terlalu besar, sehingga dengan demikian mereka cukup tersembunyi dibalik rimbunnya dedaunan yang cukup tinggi.

“Mereka benar-benar datang” berkata orang itu kepada seorang yang bertubuh tinggi tegap berkumis tipis berambut jarang.

Orang itu tersenyum. Sambil berdiri ia berkata, “Bersiaplah. Kita akan menghadapi tugas yang berat. Setelah kita jemu menunggu, bahkan hampir saja persediaan bekal kita habis, mereka baru datang. Jika tertunda semalam saja lagi, aku kira aku tidak sabar lagi menunggu, dan mencari mereka ke padukuhan Lumban, meskipun dengan demikian kita harus memperhitungkan anak-anak muda Kabuyutan itu”

“Iring-iringan mereka cukup besar, Ki Lurah” sambung orang yang melaporkan,

“Berapa orang?” bertanya orang yang disebut Ki Lurah itu.

“Belum pasti. Tetapi kira-kira sepuluh orang atau lebih sedikit” jawab orang itu

Orang yang disebut Ki Lurah itu tersenyum. Katanya, “Perhitungan kita selalu tepat. Aku mempersiapkan dua puluh lima orang untuk menghadapi mereka. Dua puluh lima orang pilihan. Orang-orang kita memang tidak sebanyak orang-orang Sanggar Gading. Kendali Putih dan Pusparuri yang hancur itu. Tetapi orang-orang kita memiliki bekal yang lebih baik dari mereka. Kehancuran mereka yang sudah kita perhitungkan itu telah membuka jalan bagi kita untuk menguasai segala-galanya”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapi orang-orang yang akan lewat.

Sementara itu, iring-iringan orang berkuda itu menjadi semakin mendekati hutan. Mereka tidak dapat berpacu sepenuhnya, karena diantara mereka terdapat Endang Srini yang belum trampil berkuda. Bahkan kadang-kadang iring-iringan itu harus menunggunya dalam keadaan tertentu.

“Sekarang” berkata orang yang disebut Ki Lurah itu, “Kita akan menghentikan mereka, begitu mereka berada di tepi hutan”

Ki Lurah itu pun kemudian dengan para pengikutnya telah keluar dari gerumbul-gerumbul liar. Dengan cepat mereka melintasi jarak yang pendek, menuju ke ujung hutan. Mereka sengaja tidak membawa kuda-kuda mereka yang tersembunyi di rimbunnya batang-batang perdu, karena jika mereka harus bertempur di dalam hutan, kuda-kuda itu hanya akan mengganggu saja.

Kehadiran mereka telah mengejutkan setiap orang di dalam iring-iringan itu. Apalagi ternyata bahwa orang-orang yang keluar dari gerumbul perdu di sebelah hutan itu adalah prajurit-prajurit Demak.

Pangeran Sana Wasesa menjadi tegang. Namun ia pun memberi isyarat agar iring-iringan itu berhenti.

“Prajurit-prajurit Demak” desis Pangeran Sena Wasesa.

“Nampaknya memang demikian” sahut Ki Ajar Cinde Kuning.

Orang yang bertubuh tinggi tegap berkumis tipis itu berjalan di paling depan. Sambil tersenyum ia mendekati iring-iringan itu.

“Selamat bertemu Pangeran” sapa orang itu.

Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Dipandangi orang itu tajam-tajam. Ingatannya mulai meraba ujud orang itu. karena ia merasa pernah mengenalnya.

“Apakah Pangeran lupa kepadaku? Berapa lama Pangeran meninggalkan Demak?” bertanya orang itu.

“Apakah aku berhadapan dengan Rangga Sutatama?” bertanya Pangeran Sena Wasesa kemudian.

“Tepat Pangeran” jawab orang itu, “Ternyata Pangeran masih ingat kepadaku”

Pangeran Sena Wasesa pun kemudian memberi isyarat kepada orang-orang di dalam iring-iringannya untuk turun dari kuda mereka. Daruwerdi ternyata kurang cepat menolong ibunya, karena Swasti yang cekatan telah mendahuluinya membantu Endang Srini turun dari kudanya.

Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa pun mendekati orang bertubuh tinggi tegap berkumis tipis, yang oleh kawan-kawannya disebut Ki Lurah, namun yang oleh Pangeran Sena Wasesa dikenal bernama Rangga Sutatama itu.

“Apakah yang kalian lakukan disini?” bertanya Pangeran Sena Wasesa.

“Pangeran” jawab Rangga Sutatama, “Aku mendapat perintah dari Panglima Wira Tamtama Demak untuk melacak pangeran. Pimpinan keprajuritan Demak sudah mendapat keterangan bahwa Pangeran berada di Lumban. Bahkan Pangeran berada dalam kesulitan. Kami mendapat perintah untuk menemukan Pangeran dan membawa kembali ke Demak”

“Terima kasih” jawab Pangeran Sena Wasesa, “Aku memang akan kembali ke Demak. Aku sudah terbebas dari segala macam kesulitan. Orang-orang yang sekarang bersamaku, adalah orang-orang yang telah menolong aku, membebaskan aku dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab”

Rangga Sutatama mengangguk-angguk. Dipandanginya orang cacat yang berada disebelah Pangeran Sena Wasesa dan seorang tua lainnya yang berdiri termangu-mangu.

“Mereka adalah orang-orang yang banyak berjasa” berkata Pangeran Sena Wasesa.

“Sekedar memberikan beberapa keterangan” jawab Ki Ajar Cinde Kuning.

“Terima kasih Ki Sanak” berkata Rangga Sutatama. Lalu, “Jika demikian, maka kewajiban kalian akan berakhir disini. Biarlah kami yang ditugaskan oleh Panglima Wira Tamtama Demak menjemput Pangeran Sena Wasesa menerimanya disini. Kami akan membawa Pangeran Sena Wasesa ke Demak dan langsung menghadap Sultan, karena seisi istana telah mencemaskan hilangnya Pangeran Sena Wasesa”

“Biarlah mereka ikut bersama kami” jawab Pangeran Sena Wasesa, “Aku ingin menyampaikan kepada Sultan, apa yang telah mereka perbuat selama aku dalam kesulitan”

Rangga Sutatama itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun berkata, “Itu tidak perlu Pangeran. Aku adalah petugas yang ditunjuk oleh Sultan, sehingga apa yang aku lakukan adalah atas nama Sultan sendiri. Jika aku menerima orang-orang ini, maka berarti bahwa mereka telah diterima pula oleh Sultan. Meskipun demikian aku berjanji bahwa pada suatu saat, semuanya tentu akan dipanggil menghadap Sultan untuk diterima dan barangkali ada sesuatu yang dapat disampaikan oleh Sultan kepada mereka sebagai hadiah”

“Kau salah Ki Rangga” jawab Pangeran, “Mereka sama sekali tidak memerlukan hadiah itu. Tetapi mereka memang seharusnya dibawa menghadap. Sekedar untuk memperkenalkan diri, dan sebagai laporan yang dapat aku berikan kepada Sultan tentang pusaka dan tentang apa yang telah mereka lakukan.

Tetapi Rangga Sutatama itu tertawa. Katanya, “Sudahlah Pangeran. Sebaiknya kita memikirkan persoalan yang jauh lebih besar bagi Demak. Hah-hal kecil seperti itu akan dapat kita pikirkan kemudian. Apalagi mereka tidak memerlukan hadiah bagi pertolongan yang telah mereka berikan kepada Pangeran”

“Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa, “Apa salahnya, dan apakah sebenarnya keberatanmu, jika mereka, aku bawa menghadap, karena mereka benar-benar telah berbuat sesuatu bagiku dan bagi keselamatan pusaka itu sendiri.

“Memang tidak ada keberatan apapun juga Pangeran, kecuali bahwa kedatangan sekian banyak orang di istana memerlukan satu syarat penerimaan tersendiri. Karena itu, maka sebaiknya untuk sementara Pangeran sendiri sajalah yang menghadap. Mereka akan diundang pada kesempatan lain dengan persiapan tersendiri. Karena kedatangan mereka kali ini tidak akan banyak manfaatnya. Bahkan mungkin mereka tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sultan sendiri”

Tetapi ternyata Pangeran Sena Wasesa menjawab, “Kami akan tetap pada pendirian kami. Kami akan menghadap bersama-sama”

Wajah Rangga Sutatama menjadi tegang. Namun ia masih mencoba tersenyum sambil berkata, “Pangeran. Bagaimana juga aku katakan, bahwa karena aku mengemban perintah Sultan, maka aku dapat menyebut diriku mempunyai kekuasaan sebagai limpahan kekuasaan Sultan”

Pangeran Sena Wasesa lah yang kemudian menjadi tegang. Kemudian dengan nada dalam ia berkata, “Kau memang aneh Ki Rangga. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki dengan kekuasaanmu yang kau anggap telah dilimpahkan oleh Sultan kepadamu?”

“Bukan apa-apa Pangeran. Tetapi aku memang mendapat tugas untuk membawa Pangeran menghadap. Hanya Pangeran. Tidak dengan siapapun juga, karena Pangeran tentu tahu, bahwa masalah yang ada pada Pangeran adalah masalah yang cukup gawat” jawab Rangga Sutatama, “karena itu, sudahlah. Pangeran jangan berkeras. Bukankah Pangeran sudah mengetahui rumah orang-orang itu? Atau mungkin padepokannya atau padukuhan tempat mereka tinggal?”

Pangeran Sena Wasesa benar-benar menjadi tegang. Namun dalam ketegangan itu, Rahu telah melangkah mendekati Rangga Sutatama. Namun ia tidak cepat dapat dikenal karena ujud pakaiannya.

Nampaknya Rahu benar-benar seseorang dari lingkungan padepokan yang disebut oleh Pangeran Sena Wasesa banyak berjasa.

“Ki Sanak” berkata Rahu kemudian, “Kau menimbulkan keragu-raguan pada diri Pangeran Sena Wasesa dan kami semuanya. Kami memang tidak ingin menghadap Sultan untuk menerima hadiah karena sikap kami. Tetapi kami hanya ingin meyakinkan diri, bahwa segalanya memang telah selesai dengan tuntas”

“Kau jangan ikut campur Ki Sanak. Aku menghormati kau, karena kau menurut Pangeran Sena Wasesa adalah satu dari orang-orang yang telah berjasa. Tetapi jika kau mengambil sikap tersendiri, maka aku pun dapat mengambil sikap tersendiri pula” jawab Rangga Sutatama.

Rahu memandang Ki Rangga itu sejenak. Namun kemudian ia pun berpaling kepada Pangeran Sena Wasesa. “Aku mengerti, bahwa Pangeran menjadi bimbang, bahkan curiga. Aku pernah menyarankan untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di Lumban itu ke Demak. Kemudian akan datang sekelompok prajurit yang akan dapat mengamankan segalanya. Kini Pangeran benar-benar bertemu dengan yang nampaknya seperti prajurit Demak. Tetapi percayalah Pangeran, bahwa bukan inilah yang aku maksudkan”

Pangeran Sena Wasesa memandang Rahu sejenak, kemudian Rangga Sutatama dan para prajurit Demak yang berdiri berjajar di belakang Rangga Sutatama.

“Apa maksudmu Ki Sanak” bertanya Pangeran Sena Wasesa, “Aku memang mengingat sekilas kata-katamu tentang prajurit Demak itu. Dan kehadiran prajurit Demak kali ini memang dapat aku hubungkan dengan apa yang kau katakan itu, tentu saja dengan kecurigaan yang tajam”

Rahu mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa rencana itu sudah kita batalkan. Namun diluar dugaan, bahwa kita benar-benar bertemu dengan prajurit-prajurit Demak dalam tugas yang mencurigakan”

Rangga Sutatama tiba-tiba memotong, “Siapa kau Ki Sanak? Dan apa sebenarnya yang kau katakan itu?”

“Ki Rangga Sutatama” jawab Rahu kemudian, “Ternyata kau masih mampu mengelabui Pangeran Sena Wasesa. Memang mungkin sekali Pangeran Sena Wasesa tidak tahu apa yang terjadi atas dirimu pada saat-saat terakhir. Tetapi aku tahu sepenuhnya, meskipun aku berada di luar lingkungan istana untuk waktu yang lama. Tetapi orang yang aku sebut Semi, merupakan penghubung yang sangat baik”

“Apa yang kau katakan itu?” bertanya Ki Rangga Sutatama.

“Baiklah. Pertama aku ingin bertanya, jika benar kau mendapat perintah, dan bahkan dengan limpahan kekuasaan dari Sultan, apakah kau dengan pertanda perintah itu? Aku tidak melihat tunggul atau pertanda lain yang dapat meyakinkan, bahwa kau memang mendapat limpahan kuasa dari Sultan” berkata Rahu kemudian, “Yang kedua, coba katakan, apakah kau masih seorang Senapati penuh dari pasukan Demak sebagaimana nampak kau bawa saat ini? Ketiga, jika kau benar-benar bertugas kau sudah berbuat banyak kesalahan, karena sebenarnya kau tidak berbuat apa-apa bagi kepentingan Pangeran Sena Wasesa?”

Wajah Ki Rangga Sutatama menjadi merah membara. Dipandanginya orang yang berdiri dihadapannya. Sejenak ia bagaikan membeku. Namun kemudian ia berkata, “Kau?”

“Ya. Kau tentu mengenal aku. Dan aku pun mengenal kau dengan baik. Juga mengenal kedudukanmu yang sebenarnya. Pangeran Sena Wasesa memang mengenalmu, tetapi tidak mengenal keadaanmu yang sebenarnya. Apalagi untuk beberapa saat lamanya Pangeran Sena Wasesa tidak berada di Demak, dan sebelumnya Pangeran memang sedang sakit. Dengan demikian maka Pangeran Sena Wasesa dalam keadaan sakit pada waktu itu, tidak menghiraukan apa yang terjadi dengan kau” berkata Rahu kemudian.

Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Namun kemudian ia pun menggeretakkan giginya sambil berkata, “Tikus buruk. Kenapa kau berada disini?”

“Apakah kau perlu mengerti? Jika aku mengatakan bahwa aku bertugas atas nama Demak, kau juga akan bertanya apakah aku membawa pertanda perintah itu?” bertanya Rahu

“Kau gila. Kau sudah mencairkan seluruh rencanaku” garam orang yang bernama Rangga Sutatama itu.

“Katakan kepada Pangeran tentang dirimu” berkata Rahu kemudian.

“Persetan. Aku tidak peduli. Aku membawa pasukan” jawab Ki Rangga Sutatama.

Pangeran Sena Wasesa mendengarkan pembicaraan itu. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Apa sebenarnya yang terjadi?”

“Pangeran” berkata Rahu, “meskipun Pangeran mengenalnya, tetapi aku kira Pangeran tidak sempat memperhatikan keadaannya, sebagaimana Pangeran tidak memperhatikan prajurit-prajurit yang lain di Demak”

Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk kecil.

“Ketahuilah Pangeran” berkata Rahu kemudian, “Ki Rangga Sutatama telah mendapat hukuman dari Panglimanya. Aku sudah mendapat pemberitahuan justru karena Ki Rangga berusaha untuk memecahkan persoalan pusaka yang hilang itu diluar tugas yang sebenarnya harus dilakukannya. Seorang penghubung yang aku percaya telah memberikan beberapa nama yang diragukan kesetiaannya. Aku mendapat pemberitahuan itu, justru karena aku mengemban tugas sandi”

Tetapi tiba-tiba saja Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya, “Aku tidak berkeberatan semuanya itu kau katakan. Aku pun tidak akan ingkar. Bahkan aku akan mempertanggung jawabkan semua tindakanku sekarang ini”

“Ki Rangga” berkata Rahu, “Kau sudah menyalah gunakan kedudukanmu”

Tetapi Ki Rangga tertawa semakin keras. Katanya, “Tetapi Ki Sanak. Jika kau menuduh aku menyalah gunakan kedudukanku, maka kenapa kau tidak menuduh bahwa Pangeran Sena Wasesa melakukannya pula?”

“Kenapa kau dapat berkata begitu?” desak Rahu.

“Jangan berpura-pura bodoh. Kau adalah seorang petugas sandi. Tetapi mungkin memang ada beberapa hal yang tidak kau ketahui. Khususnya tentang Pangeran Sena Wasesa itu sendiri” jawab Rangga Sutatama.

Wajah Rahu menjadi tegang. Namun kemudian ia mengerti maksud Ki Rangga Sutatama, karena seperti yang dikatakan sendiri oleh Pangeran Sena Wasesa, bahwa sebenarnya terbersit pula satu keinginan untuk memiliki sendiri pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu.

Tetapi sebelum Rahu menjawab, Ki Rangga Sutatama telah berkata, “Apakah kau kira bahwa Pangeran Sena Wasesa dalam hal ini bertindak jujur?”

“Ya” tiba-tiba jawab Rahu tegas.

Tetapi Ki Rangga tertawa semakin keras. Katanya, “Aku kira kehadiranmu disini bukan karena tugas sandimu. Tetapi agaknya kau juga telah menyalah gunakan wewenang dan kedudukanmu. Apakah kau sedang melindungi Pangeran Sena Wasesa dan kau akan mendapat sebagian dari harta benda itu?”

“Kau salah Ki Rangga” jawab Rahu, “Pangeran Sena Wasesa telah bertindak jujur. Ia telah siap menyerahkan semuanya itu kepada Sultan. Tetapi tentu tidak kepadamu”

“Omong kosong” berkata Ki Rangga.

“Jangan berlaku kasar Ki Rangga” sahut Pangeran Sena Wasesa, “Tetapi baiklah aku berterus terang. Memang ada keinginanku untuk memiliki pusaka dan lebih-lebih harta benda itu semula. Tetapi pada saat terakhir, ternyata bahwa hatiku telah mendapat cahaya terang. Aku melihat satu kepentingan yang jauh lebih besar dari kepentinganku pribadi. Kepentingan negara yang sedang tumbuh ini harus mendapat tempat jauh lebih baik di setiap hati penghuninya, termasuk aku. Kesadaran inilah yang telah mendorongku untuk berkata berterus terang. Tetapi tidak kepada siapapun juga, kecuali kepada Sultan sendiri. Terus-terang aku tidak dapat mempercayai siapapun juga pada saat seperti sekarang ini dimana pegangan hidup sedang berguncang. Termasuk aku sendiri” Pangeran

Sana Wasesa itu berhenti sejenak, lalu, “Nah, bukankah dalam rangka itu Ki Rangga mengaku menerima tugas untuk melindungi aku? Jika aku berada di tangan Ki Rangga seorang diri. maka Ki Rangga akan dapat memeras keteranganku. Begitu?”

Ternyata jawab Ki Rangga Sutatama itu mengejutkan. Katanya, “Ya. Dugaan Pangeran tepat. Aku memang menghendaki Pangeran hidup-hidup. Aku ingin memeras keterangan Pangeran tentang pusaka itu. Aku sudah mendengar apa yang terjadi dengan orang-orang Sanggar Gading, Kendali Putih dan yang terakhir orang-orang Pusparuri. Tetapi aku tidak akan berbuat sebodoh mereka. Bagaimanapun juga anak-anak muda Lumban harus diperhitungkan. Tetapi disini, kita tidak akan diganggu oleh anak-anak muda Lumban”

“Tetapi darimana kau mendapatkan pakaian keprajuritan sekian banyaknya?” bertanya Rahu.

“Jangan sebodoh itu. Setiap kali kau menunjukkan kedunguanmu. Sebagian dari mereka memang prajurit yang dianggap bersalah seperti aku. Tetapi sebagian dari mereka adalah orang-orang diluar keprajuritan. Untuk mendapat pakaian bagi mereka tidak terlalu sulit. Aku dapat merampok atau mencuri di gedung penyimpanan pakaian”

Wajah Rahu jadi merah membara. Dipandanginya Ki Rangga Sutatama dengan kemarahan yang menyala di dalam dadanya.

Namun sebelum Rahu berbuat sesuatu, Jlitheng bergeser mendekatinya sambil berkata, “Rahu, jika kau mempunyai wewenang untuk bertindak, apalagi yang masih akan kau tunggu. Kita tidak mempunyai pilihan lain menghadapi orang ini”

“Siapa lagi orang ini?” bertanya Ki Rangga.

“Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan tatanan keprajuritan di Demak. Tetapi aku muak melihat tampang dan sikapmu” geram Jlitheng.

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Kata-kata Jlitheng ternyata menusuk perasaannya. Dengan nada geram ia berkata, “Kau jangan menjadi gila seperti itu anak muda. Jika kau belum mengenal aku, bertanyalah kepada Pangeran Sena Wasesa. Ia akan menceriterakan serba sedikit, siapakah Rangga Sutatama itu”

“Aku sudah tahu tentang kau serba sedikit. Kau adalah seorang Senapati Demak yang sudah kehilangan hak sebagai seorang Senapati. Nah, apa lagi?” sahut Jlitheng.

Kemarahan Ki Rangga hampir tidak tertahankan lagi. Namun ia masih memikirkan kepentingannya dalam keseluruhan. Karena itu, maka katanya, “Aku tidak peduli tentang kau. Tetapi aku minta kepastian Pangeran Sena Wasesa, bahwa ia akan menyerah kepadaku”

“Tidak” potong Rahu.

Sementara itu Pangeran Sena Wasesa pun menyahut, “Jangan menganggap aku terlalu rendah seperti itu. Kau tahu, bahwa aku pun seorang prajurit. Dan aku pun seorang Senapati perang”

“Bagus” geram Ki Rangga Sutatama, “Jadi kami harus mempergunakan kekerasan untuk memaksa Pangeran mengikuti kami. Selebihnya kami akan memaksa Pangeran untuk berbicara dengan cara kami”

“Aku masih mempunyai beberapa pilihan” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Membunuhmu atau melepaskan diri dari pertempuran yang dapat saja terjadi atau mati dibunuh. Pilihan untuk menyerah sama sekali tidak terpikirkan olehku”

“Jika Pangeran sudah kehilangan kesempatan untuk melawan dan tidak mungkin untuk melarikan diri, maka Pangeran tentu akan tidak mempunyai pilihan lagi” jawab Ki Rangga Sutatama.

“Aku tetap pada pendirianku” jawab Pangeran Sena Wasesa.

Ki Rangga Sutatama pun kemudian memandang berkeliling. Diamatinya orang-orang yang dikatakan telah menolong Pangeran Sena Wasesa itu. Dua diantara mereka adalah perempuan.

“Jika Pangeran ingin melawan, maka itu adalah pekerjaan yang sia-sia saja. Pangeran telah berkhianat kepada orang-orang yang telah menolong Pangeran. Karena dengan sikap yang demikian itu berarti orang-orang yang telah menolong Pangeran ini pun akan mati pula. Padahal Pangeran dapat bersikap lain, sehingga orang-orang itu akan selamat”

“Satu pikiran Gila” potong Jlitheng, “Kau sangka permainan kata-katamu itu dapat mempengaruhi tekad kami?”

Ki Rangga Sutatama memandang Jlitheng dengan kemarahan yang tidak tertahankan. Dengan keras ia berkata, “Mulutmulah yang pertama-tama akan dibungkam”

“Persetan” jawab Jlitheng

Ternyata bahwa gejolak perasaan Jlitheng tanpa disadari telah tersalur pada sikapnya menghadapi Ki Rangga Sutatama. Kekecewaannya menghadapi kenyataan, bahwa gadis lereng bukit itu lebih dekat dengan Daruwerdi telah membuat hatinya bagaikan grabah yang mudah sekali pecah.

Namun dalam pada itu, selagi Jlitheng lah yang sudah siap untuk meloncat menyerang Kiai Kanthi telah berkata, “Apakah kita harus menyelesaikan persoalan ini dengan kekerasan”

“Kiai melihat sendiri sikap yang gila itu” jawab Jlitheng.

“Jika memang harus demikian, sebaiknya kita bersikap lebih hati-hati. Kita masih harus berusaha menempatkan diri pada keadaan yang belum banyak kita ketahui” berkata Kiai Kanthi kemudian.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti, bahwa Kiai Kanthi berusaha memperingatkannya, agar ia tidak menuruti gejolak perasaannya. Sementara itu Pangeran Sena Wasesa berkata, “Baiklah Ki Rangga Sutatama. Jika kau berkeras untuk memaksa aku, maka aku akan melawan. Orang-orang yang datang bersamaku telah menunjukkan kepadaku, bahwa mereka berbuat apa saja untuk menolongku. Jika kali ini aku masih memerlukannya, maka mereka pun tentu tidak akan berkeberat-an”

“Baik. Bersiaplah. Kita akan segera mulai dengan permainan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tetapi jika kami sudah mulai, maka kematian tentu tidak akan dapat dihindarkan lagi”

Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Tetapi ia justru berbicara kepada orang-orang yang bersamanya, “Ki Sanak. Sekali lagi kita dihadapkan pada keadaan yang tidak kita kehendaki? Tetapi aku sudah bertekad untuk menghadapi langsung Sultan di Demak. Karena itu, maka aku pun bertekad untuk menentang segala hambatan. Aku mohon bahwa Ki Sanak sekalian masih tetap pada sikap kalian sebelumnya”

Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk sambil berkata, “Pangeran. Yang terpenting adalah menyelamatkan pusaka itu sehingga kembali kepada yang berhak. Karena itu, maka kita akan menghadapi segala hambatan dengan penuh tanggung jawab”

“Terima kasih Ki Ajar. Aku pun yakin akan sikap Ki Sanak semuanya. Karena itu, aku pun sudah siap menghadapi segala kemungkinan” berkata Pangeran Sena Wasesa.

Dalam pada itu, Kiai Kanthi pun telah berbisik kepada anak gadisnya, “Lindungi perempuan itu”

Swasti pun mengangguk. Namun ketika ia menempatkan diri, diluar keinginannya, Daruwerdi pun telah bersiap melindungi ibunya pula, karena ia pun melihat kemungkinan yang bakal terjadi.

Diluar sadarnya, Jlitheng memandangi keduanya. Terasa jantungnya berdentang. Namun ia pun kemudian menggeram sambil menghadap kearah orang-orang yang mengenakan pakaian keprajuritan itu.

Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatama pun segera memberi isyarat kepada orang-orangnya yang jumlahnya jauh lebih banyak. Dengan tangannya ia memerintahkan orang-orangnya untuk berusaha mengepung Pangeran Sena Wasesa bersama kawan-kawannya yang menurut keterangannya telah menolongnya.

Ibu Daruwerdi pun menjadi cemas melihat perkembangan keadaan. Tetapi ketika ia melihat anaknya dan anak gadis yang luar biasa itu berdiri disebelah-menyebelahnya, maka hatinya menjadi agak tenang.

“Pangeran” berkata Ki Rangga Sutatama, “Jangan menyesal bahwa semua orang akan binasa untuk menghilangkan jejak, kecuali Pangeran sendiri. Sementara itu, aku sendiri telah menempatkan diri sebagai lawan Pangeran Sena Wasesa, agar Pangeran dapat dikalahkan tanpa terluka segores kecil pun”

“Kau memang sombong sekali Ki Rangga” desis Pangeran Sena Wasesa.

“Aku berkata sebenarnya. Tentu Pangeran tahu. siapakah Rangga Sutatama. Pangeran tentu pernah mendengar namaku diantara sederet nama Senapati di Demak, termasuk para Pangeran seperti Pangeran Sena Wasesa sendiri” sahut Ki Rangga Sutatama.

“Namamu tidak begitu besar seperti yang kau sangka sendiri Ki Rangga” desis Rahu, “Aku bukan orang yang terkenal seperti kau. Bahkan Pangeran Sena Wasesa belum mengenal aku sebelumnya. Tetapi itu memang sesuai dengan tugasku. Namun demikian, seandainya aku harus melawanmu sekarang ini, aku tidak akan gentar”

Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan merajuk seperti kanak-kanak. Aku sudah memilih lawan. Orang-orangku yang jumlahnya jauh lebih banyak itu akan menghancur-kanmu”

Rahu tidak sempat menjawab. Ki Rangga sudah memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk segera bergerak.

Sejenak kemudian kepungan itu pun menjadi semakin sempit. Ki Rangga yang masih saja nampak tersenyum, berdiri di hadapan Pangeran Sena Wasesa sambil berkata, “Aku akan bertempur tanpa senjata. Agar dengan demikian aku tidak akan melukai Pangeran”

“Bagaimana jika akulah yang bersenjata?” bertanya Pangeran Sena Wasesa.

“Silahkan Pangeran. Itu adalah hak Pangeran di dalam pertempuran. Tetapi meskipun Pangeran bersenjata, arti senjata Pangeran itu tidak akan banyak” jawab Ki Rangga Sutatama.

Namun ternyata bahwa Pangeran Sena Wasesa masih juga mempunyai harga diri menghadapi Ki Rangga yang tidak bersenjata. Karena itu, maka ia pun segera bersiap tanpa senjata pula.

Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan orang-orang yang bersama mereka itu pun telah bersiap pula. Mereka menghadapi orang-orang yang berlipat jumlahnya. Namun demikian, mereka masih tetap mempunyai harapan untuk dapat keluar dari pertempuran itu, karena lawan mereka bukan orang-orang yang mempunyai pengaruh besar di dalam dunia kanuragan, kecuali Ki Rangga Sutatama itu sendiri. Namun ternyata bahwa Ki Rangga telah memilih lawan, seorang yang juga memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Sejenak kemudian maka gelang yang menyempit itu pun telah mulai bersentuhan dengan orang-orang yang berada di dalam lingkaran. Jlitheng yang mempunyai persoalan sendiri di dalam dirinya itu tidak sabar lagi menghadapi orang-orang yang berpakaian prajurit itu. Karena itu, maka ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya.

Ternyata bahwa orang-orang itu memang mempunyai kemampuan seorang prajurit, karena memang ada diantara mereka yang seperti dikatakan Ki Rangga, adalah bekas-bekas prajurit yang melakukan kesalahan dan harus menanggalkan gelar keprajuritannya. Namun dalam pada itu, mereka sempat menghimpun diri, dalam lingkungan yang hitam itu.

Sejenak kemudian, pertempuran pun telah mulai berkobar. Ternyata bahwa orang-orang yang mengawasi Pangeran Sena Wasesa itu pun telah membuat satu lingkaran yang menghadap keluar. Mereka berusaha menempatkan ibu Daruwerdi di dalam lingkaran yang akan dapat melindunginya. Daruwerdi dan Swasti berada di depan perempuan itu, sementara yang lain pun Segera menempatkan diri mereka masing-masing sebelah-menyebelah, kecuali Jlitheng yang berusaha bertempur sejauh-jauhnya dari Swasti dan Daruwerdi.

Demikian pertempuran dalam jumlah yang tidak seimbang itu pun telah terjadi. Namun ternyata bahwa jumlah yang tidak seimbang itu tidak segera dapat menentukan akhir dari pertempuran itu.

Setelah Ki Rangga Sutatama terlibat dalam pertempuran tanpa senjata melawan Pangeran Sena Wasesa, serta telah terjadi benturan kekerasan yang melingkar di seluruh arena itu, maka ternyata bahwa orang-orang yang berpakaian prajurit itu tidak dapat menentukan pertempuran itu menurut kehendak mereka.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka tiba-tiba saja mereka terkejut ketika seorang diantara mereka yang berada dalam kepungan itu berhasil meloncat keluar. Ketika beberapa orang mengejarnya, maka ia pun berusaha bergeser menjauhi putaran arena itu, sehingga telah terjadi lingkaran pertempuran tersendiri.

Tiga orang telah menyerangnya bersama-sama. Tetapi orang yang telah berhasil keluar dari kepungan itu berkata, “Jangan berbuat sesuatu yang dapat menghancurkan dirimu sendiri. Letakkan saja senjata kalian. Kalian tentu akan dimaafkan oleh Pangeran Sena Wasesa”

“Gila. Apakah kau kira cacatmu itu dapat menjadi pertanda bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan?” geram salah seorang lawannya.

Tetapi orang yang harus bertempur melawan tiga orang lawan itu berkata, “Tentu tidak. Cacatku itu justru pertanda bahwa aku pernah mengalami nasib paling buruk di dalam lingkaran dunia kanuragan. Tetapi juga pelajaran yang sangat baik bagiku untuk menghadapi kalian bertiga”

“Persetan” geram seorang diantara mereka.

Dengan serta merta maka ketiga orang lawannya itu pun telah mengerahkan tenaga mereka untuk segera mengakhiri pertempuran, sehingga mereka segera dapat membinasakan orang yang lain lagi.

Tetapi orang cacat itu ternyata sangat liat. Bahkan rasa-rasanya orang cacat itu sama sekali tidak mengalami kesulitan.

Sementara itu Kiai Kanthi masih tetap berada di dalam lingkaran. Sebenarnya jika ia menghendaki, ia akan dapat menyusul Ki Ajar Cinde Kuning keluar dari kepungan. Tetapi Kiai Kanthi tetap berada di tempatnya. Bahkan Kiai Kanthi ternyata telah mempergunakan senjatanya.

Namun dengan demikian, maka Kiai Kanthi telah membuat beberapa orang yang berdiri dihadapannya menjadi bingung. Senjata Kiai Kanthi itu berputaran dengan cepat. Kadang-kadang yang nampaknya hanyalah gumpalan-gumpalan putih di seputarnya. Namun kadang-kadang senjata itu nampak seolah-olah telah berkembang menjadi beberapa pucuk senjata di beberapa pasang tangan yang bergerak bersama-sama.

Di bagian lain dari pertempuran itu, Jlitheng telah mengerahkan segenap kemampuannya. Meskipun ia tidak memiliki kemampuan setinggi ilmu Kiai Kanthi, tetapi dengan pedang tipisnya, Jlitheng adalah orang yang sangat berbahaya.

Ki Rangga Sutatama menjadi heran menghadapi kenyataan itu. Ia sendiri terikat pada pertempuran melawan Pangeran Sena Wasesa. Yang ternyata juga memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa senjata Pangeran Sena Wasesa mampu mengimbangi ilmu Ki Rangga Sutatama, yang ternyata salah duga menghadapi kemampuan Pangeran itu. Meskipun Ki Rangga Sutatama juga mengetahui, bahwa Pangeran Sena Wasesa juga seorang Senapati, tetapi ia terlalu percaya kepada diri sendiri. Keangkuhan dan kadang-kadang sifatnya yang adigang adiguna itulah yang membuatnya terlalu bernafsu untuk memiliki banyak dari yang dapat dicapainya dengan wajar. Sehingga karena itulah, maka kepercayaan Panglima prajurit di Demak kepadanya menjadi cepat susut.

Kenyataan yang demikian itulah yang membuatnya menjadi gelisah. Orang-orang yang datang bersama Pangeran Sena Wasesa, dan sama sekali tidak meyakinkannya, ternyata mampu melawan orang-orangnya. Bahkan orang cacat yang buruk itu telah meloncat keluar kepungan, sementara seorang tua yang lain dapat membuat orang-orang menjadi bingung. Sedangkan anak-anak muda bahkan seorang diantara kedua orang perempuan itu mampu juga bertempur dengan garangnya.

“Siapakah iblis-iblis ini sebenarnya?” bertanya Ki Rangga Sutatama dengan jantung yang berdebar-debar.

Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Sambil meloncat menghindari serangan lawannya, ia berdesis, “Kau kira siapa mereka itu”

“Darimana Pangeran mendapat kawan-kawan yang berilmu iblis itu? Apakah mereka sekelompok penyamun atau sejenis itu? Atau orang-orang Sanggar Gading atau Kendali Putih atau Pusparuri yang pura-pura telah menyelamatkan Pangeran, namun dengan demikian mereka mengharapkan hadiah yang besar dari Sultan di Demak?”

“Mereka tidak mengharapkan apa-apa” jawab Pangeran Sena Wasesa, “Dan bukankah kau sudah mengetahui salah seorang dari mereka adalah justru seorang petugas sandi dari Demak?”

“Kau kira bahwa seorang petugas sandi tidak dapat melakukan kerja rangkap? Bukankah banyak dijumpai seorang petugas sandi justru bekerja untuk kepentingan sekelompok penjahat yang paling buas?” jawab Ki Rangga Sutatama.

Pangeran Sena Wasesa justru tertawa. Katanya, “Kau sudah mulai dibayangi oleh kegelisahan yang sangat. Ki Rangga. Mumpung belum terjadi sesuatu yang gawat. Jika kau membatalkan niatmu, maka aku berjanji untuk tidak melaporkan kelakuanmu ini kepada pimpinan prajurit di Demak.

“Kau juga sudah gila Pangeran” berkata Ki Rangga, “Apakah dalam keadaan seperti sekarang ini, kau akan mungkin meloloskan diri? Bagaimanapun juga jumlah orang di dalam satu medan akan mempunyai pengaruh yang menentukan. Betapapun juga tinggi ilmu iblis dari orang-orangmu, mereka tidak akan dapat melawan jumlah yang jauh lebih banyak”

Tetapi belum lagi Ki Rangga Sutatama diam, maka mereka mendengar keluhan tertahan dekat disebelah mereka. Ternyata bahwa Rahu telah berhasil melukai seorang lawannya dan dengan demikian mendesak lawannya yang seorang itu keluar dari lingkaran.

“Apa yang terjadi Ki Rangga?” bertanya Pangeran Sena Wasesa.

“Hanya karena sikap yang kurang berhati-hati. Tetapi lihat, ia masih akan sanggup memasuki arena setelah ia mengobati lukanya yang tidak berarti itu” jawab Rangga Sutatama.

Pangeran Sena Wasesa menngerutkan keningnya. Ia melihat orang itu mengusapkan obat berupa bubuk berwarna kuning pada luka itu. Kemudian orang itu telah menyiapkan diri untuk turun lagi ke arena.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa orang-orang yang mengikuti Pangeran Sena Wasesa untuk menghadap ke Demak itu mulai jemu dengan pertempuran itu. Apalagi nampaknya di beberapa bagian dinding lingkaran, mereka menjadi berbahaya karena kemarahan yang meluap-luap.

Karena perhitungan yang demikian itulah, maka Kiai Kanthi pun berniat untuk menyelesaikan pertempuran itu lebih cepat lagi. Bukan saja sekedar bertahan, tetapi sudah waktunya untuk mulai melumpuhkan lawan-lawannya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Kiai Kanthi pun justru menjadi semakin cepat bergerak. Ia tidak saja membingungkan lawan-lawannya, tetapi senjatanya benar-benar telah mulai menyentuh tubuh lawannya.

Ketika seorang diantara mereka terluka, maka di bagian lain pun terdengar pula seseorang mengeluh. Ternyata bahwa Ki Ajar Cinde Kuning pun telah mulai melukai lawan-lawannya,

“Masih ada kesempatan untuk pergi” berkata Ki Ajar Cinde Kuning

Tetapi Ki Rangga Sutatama yang melihat orang-orangnya telah mulai terluka itu pun berteriak nyaring, “Kita ternyata terlalu baik hati. Bunuh saja lawan-lawan kalian tanpa membuat terlalu banyak pertimbangan”

Tetapi suara Ki Rangga itu sendiri tertahan-tahan karena serangan Pangeran Sena Wasesa yang datang membadai.

Di bagian lain dari pertempuran itu pun orang-orang Ki Rangga Sutatama menjadi semakin sulit menghadapi lawan-lawannya. Swasti dan Daruwerdi yang memiliki dasar ilmu yang berbeda, ternyata mampu menempatkan diri sebagai pasangan yang mantap. Keduanya bertempur dengan sepenuh kemampuan.

Sementara itu, ibu Daruwerdi yang ada di dalam lingkaran, dan berdiri termangu-mangu di belakang anaknya, menyaksikan-nya dengan jantung yang berdebar-debar.

Dalam pada itu, kemarahan para pengikut Ki Rangga Sutatama itu telah mencapai puncaknya. Apalagi karena beberapa orang diantara mereka telah menitikkan darah Sehingga karena itu, maka mereka pun menjadi bagaikan orang wuru yang tidak terkendali.

Sebenarnyalah mereka memiliki kemampuan melampaui orang-orang Pusparuri. Namun dihadapan mereka adalah orang-orang pilihan juga. Bahkan diantara mereka terdapat Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi yang memiliki kemampuan jauh diatas kemampuan setiap orang diantara mereka yang mengepungnya. Sementara itu. Pangeran Sena Wasesa sendiri masih bertempur dengan sengitnya melawan Ki Rangga Sutatama yang bernafsu untuk menangkapnya hidup-hidup.

Namun bagaimanapun juga jumlah yang jauh lebih banyak itu pun memang mempunyai pengaruh pula. Satu dua orang diantara orang-orang Ki Rangga itu telah tergores senjata. Namun ternyata mereka masih sempat menekan orang-orang yang berada di dalam lingkaran.

Tetapi justru karena itu, maka Kiai Kanthi telah meningkatkan kemampuannya pula untuk mengurangi tekanan pada dinding lingkaran yang lain.

Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning pun tekanan yang terasa berat pada lingkaran pertempuran itu. Sehingga ia pun telah berusaha untuk membantunya dengan caranya.

Sejenak kemudian, maka Ki Ajar itu pun telah menghentakkan ilmunya. Orang-orang yang bertempur melawannya itu pun terkejut. Seorang diantara mereka terlempar keluar lingkaran. Bukan saja sebuah goresan pada kulitnya. Namun ternyata dagingnya pun telah terkoyak pula.

Belum lagi orang itu sempat merangkak menepi untuk mengobati lukanya, maka seorang lagi diantara mereka telah terluka pula.

Dalam keadaan yang gawat, maka dua orang telah meninggalkan kepungan dan bergabung dengan kawannya yang masih bertahan melawan Ki Ajar Cinde Kuning. Namun demikian kedua orang itu menempatkan diri melawan orang cacat itu, telah terjadi pula peristiwa yang serupa. Ki Ajar telah benar-benar melukai lawannya sehingga tangan kanan lawannya seolah-olah telah menjadi lumpuh.

Dalam pada itu, di bagian lain dari lingkaran pertempuran itu, para pengikut Ki Rangga Sutatama masih berpengharapan untuk dapat berbuat lebih banyak lagi. Ketika dua orang bersama-sama menyerang Daruwerdi, Swasti sudah siap untuk membantunya. Tetapi ternyata bahwa ia sendiri telah mendapat serangan yang tiba-tiba, sehingga ia harus menghindari serangan itu. Dengan demikian, maka ia berhasil lolos dari sentuhan senjata lawan. Namun yang terjadi pada Daruwerdi agak berbeda. Ketika ia sedang sibuk menangkis serangan dua orang lawannya, seorang yang lain telah menyerangnya.

Swasti terlambat meloncat membantunya. Namun ia masih sempat berteriak, “Daruwerdi, hati-hati”

Daruwerdi sempat bergeser. Tetapi serangan lawannya itu ternyata telah menyentuh lengannya, sehingga segores luka telah memancarkan darah dari lengan kirinya.

Sementara itu, Swasti telah meloncat disebelahnya sehingga serangan yang lain telah dapat ditangkisnya.

Namun ternyata bahwa serangan-serangan yang cepat bukan saja di alami oleh Daruwerdi dan Swasti. Tetapi yang lain pun telah mengalaminya pula, justru karena para pengikut Ki Rangga Sutatama itu melihat beberapa orang kawannya telah terluka.

Tetapi yang mereka lakukan itu telah memaksa lawannya berbuat yang sama. Jlitheng pun kemudian menjadi semakin garang. Pedang tipisnya menggeletar dengan cepat, berputar kemudian mematuk kearah jantung lawannya. Pada saat Daruwerdi terluka, ternyata Jlitheng telah sempat membenamkan pedangnya di dada lawannya.

Rahu sempat melihat, bagaimana Jlitheng bertempur dengan segenap kemampuannya. Seolah-olah Rahu belum pernah melihat Jlitheng bersikap demikian sebelumnya. Namun dalam pada itu. Kiai Kanthi yang sekilas sempat juga melihat, segera dapat memakluminya. Ada perasaan lain yang membuat Jlitheng menjadi terlalu garang. Kekecewaan dan kehilangan. Namun Kiai Kanthi tidak dapat membantunya. Ia tidak akan dapat berbuat banyak terhadap anak gadisnya dalam hubungannya dengan Jlitheng dan Daruwerdi, karena Kiai Kanthi pun mengerti watak anak gadisnya itu.

Untuk melepaskan gejolak perasaannya, Jlitheng telah mengambil sasaran pada lawan-lawannya. Demikian ia berhasil melukai lawannya, maka pedangnya telah berputar pula mengerikan.

Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa yang bertempur melawan Ki Rangga Sutatama itu pun berkata, “Ki Rangga Apakah kau masih belum melihat kenyataan ini? Berapa orangmu telah terluka?”

“Persetan” geram Ki Rangga, “Tetapi orang-orangmu juga sudah terluka Pangeran”

Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Ia tidak bertempur disebelah Daruwerdi, sehingga ia tidak melihat bahwa anak muda itu telah terluka. Demikian pula seorang paman Daruwerdi telah tergores ujung senjata Tetapi luka-luka itu hampir tidak berpengaruh sama sekali.

Namun sikap dan tingkah laku para pengikut Ki Rangga Sutatama itu memang membuat lawan-lawannya menjadi marah pula. Mereka bertempur dengan kasar dan bahkan kadang-kadang liar. Mereka berteriak dan mengumpat dengan kata-kata yang tidak pantas.

“Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa, “adakah prajurit-prajuritmu telah kau ajari bertempur dengan liar seperti itu? Kau dengar apa yang mereka katakan dan apa yang mereka teriakkan?”

“Aku tidak peduli” jawab Ki Rangga, “Mereka adalah prajurit-prajurit yang kecewa karena sikap para panglimanya yang tidak tahu diri. Seperti aku pun telah dikecewakan pula, meskipun pengabdianku telah bertimbun melampaui pengabdianmu sendiri Pangeran”

“Jangan membuat ceritera lelucon seperti itu” jawab Pangeran Sena Wasesa, “sekarang menyerahlah. Masih ada kesempatan Aku akan memohonkan ampun atas segala tingkah lakumu ini”

Tetapi Ki Rangga itu justru mengumpat. Dengan tangkasnya ia meloncat menyerang sambil berteriak nyaring, “Cepat, bunuh lawan-lawanmu.

“Omong kosong” Jlitheng pun berteriak. Rasa-rasanya semuanya membuatnya marah. Apapun yang didengar dan dilihatnya.

Tetapi kemarahannya yang kadang-kadang kurang terkendali itu membuatnya kurang berhati-hati. Ketika ia menyerang lawannya dengan perhitungan yang kurang mapan, maka terdengar Jlitheng berdesis. Namun kemudian ia pun telah menggeretakkan giginya.

Ternyata segores luka telah menyilang di pundaknya. Tidak terlalu dalam. Tetapi terasa luka itu menjadi pedih.

Namun justru karena luka itu, Jlitheng menjadi semakin garang. Meskipun luka itu telah memperingatkan, bahwa ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawan-lawannya. Karena mereka memiliki ilmu yang cukup. Sehingga untuk menghadapi dua orang diantara mereka yang mengepungnya, memerlukan perhitungan yang lebih baik dari sekedar sikap marah.

Tetapi di bagian lain, Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi tidak mempunyai pilihan, lain. Ia harus berusaha mengurangi jumlah lawannya. Semakin cepat semakin baik. agar mereka cepat dapat meninggalkan tempat itu dan menghadap Kangjeng Sultan, atau orang yang mendapat kuasa untuk mengurus gedung perbendaharaan, sebelum mereka dapat menghadap Sultan sendiri.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin cepat. Para pengikut Ki Rangga Sutatama pun tidak membiarkan diri mereka dilumpuhkan. Karena itu, mereka pun telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri mereka masing-masing.

Tetapi kemampuan diantara mereka yang bertempur itu memang berbeda. Meskipun beberapa orang telah terluka tetapi akhirnya nampak bahwa para pengikut Ki Rangga Sutatama tidak akan dapat mengatasi keadaan.

“Gila” geram Ki Rangga Sutatama di dalam hatinya, “iblis dari mana sajalah yang telah mengikuti Pangeran Sena Wasesa itu, sehingga mereka mampu bertahan menghadapi orang-orangku yang jumlahnya lebih banyak?”

Tetapi itu adalah satu kenyataan. Jika semula Ki Rangga Sutatama menganggap kehancuran orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu adalah karena mereka saling membenturkan diri mereka sendiri, kemudian kehadiran orang-orang Pusparuri yang malang karena mereka harus menghadapi anak-anak muda Lumban yang jumlahnya tidak terhitung, sehingga mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu betapapun tinggi ilmu mereka, ternyata kini ia menghadapi kenyataan lain. Orang-orang yang disebut telah menolong Pangeran Sena Wasesa itu ternyata memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Dan segalanya sudah terlanjur terjadi. Ki Rangga tidak akan dapat menghindarkan diri dari tanggung jawab atas tingkah lakunya.

Dengan kenyataan itu, maka Ki Rangga justru bersikap semakin garang. Pusar dari berlawanan orang-orang yang disebut menolong Pangeran Sena Wasesa itu adalah pada Pangeran itu sendiri. Jika ia berhasil menguasai Pangeran itu, maka ia tentu dapat mematahkan perlawanan mereka. Dengan mengancam Pangeran Sena Wasesa, maka ia akan dapat memaksa orang-orang itu menuruti perintahnya.

Tetapi sejalan dengan usaha Ki Rangga Sutatama, maka Pangeran Sena Wasesa pun telah mengerahkan ilmunya pula. Untuk melawan Senapati yang mumpuni itu, ternyata Pangeran Sena Wasesa memang harus mengerahkan segenap kemampuannya. Namun Pangeran Sena Wasesa pun seorang Senapati besar pula, sehingga dengan demikian ia dapat mengimbangi peningkatan ilmu Ki Rangga Sutatama.

Akhirnya Ki Rangga Sutatama itu pun kehilangan kesabaran. Ia tidak dapat berpegang pada niatnya untuk menangkap Pangeran Sena Wasesa hidup-hidup dan tanpa segores lukamu. Karena jika ia tetap berpegangan pada sikap itu, maka ialah yang mungkin akan ditangkap hidup-hidup oleh orang-orang yang telah menolong Pangeran Sena Wasesa itu.

Dengan demikian, akhirnya Ki Rangga Sutatama telah mengambil keputusan lain. Tiba-tiba saja ia meloncat surut sambil menggeram, “Pangeran. Segalanya terjadi tidak seperti yang aku harapkan. Sebenarnya aku ingin berbuat sebaik-baiknya bagi Pangeran. Tetapi agaknya Pangeran terlalu sombong dan merasa dirimu terlalu besar. Karena itu aku harus mengambil sikap lain”

Pangeran Sena Wasesa tertegun. Ia mengerti, bahwa lawannya tentu akan mempergunakan senjatanya.

Sebenarnyalah Ki Rangga Sutatama itu pun telah menarik sebilah wedung dari wrangkanya yang terselip di lambung kiri. Wedung yang tidak terlalu biasa dipergunakan sebagai senjata karena kecuali terlalu kecil dibanding dengan sebilah pedang, bentuknya memang tidak begitu menguntungkan. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga Sutatama telah mempergunakan sebilah wedung.

“Pangeran” berkata Ki Rangga, “Jangan mengecilkan arti senjataku ini. Pusaka ini adalah peninggalan Senapati besar dari Majapahit. Selama wedung ini berada di tanganku, aku telah membunuh lebih dari sepuluh orang dengan senjata ini Sementara diantara mereka melawanku dengan jenis senjata yang lebih baik. Pedang, tombak dan bindi. Nah, apakah Pangeran juga akan melawan”

“Aku sudah melawan Ki Rangga” jawab Pangeran Sena Wasesa.

“Jika aku tidak berhasil menangkap Pangeran hidup-hidup, maka biarlah aku membunuh Pangeran saja, agar rahasia tentang pusaka dan harta benda itu akan tetap menjadi rahasia sepanjang jaman”

“Baiklah” berkata Pangeran Sena Wasesa, “Aku akan bertahan dan jika kemudian kaulah yang mati disini, hal itu aku lakukan karena terpaksa sekali?”

Pangeran Sena Wasesa tidak mempunyai waktu banyak. Ternyata Ki Rangga Sutatama itu pun segera bersiap menyerangnya.

Tetapi Pangeran Sena Wasesa masih sempat mengenakan lempeng baja di telapak tangannya. Dengan lempeng baja itu ia siap melawan senjata apapun juga. Bukan saja karena ketrampilan tangannya itu, tetapi juga kekuatan ilmunya seolah-olah telah terpusat pada telapak tangannya yang dialasi dengan sekeping baja pilihan itu.

“Senjata Pangeran aneh” desis Ki Rangga.

“Aku tidak sempat membawa senjata panjang saat aku dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading, kecuali lempeng baja yang memang tidak terpisah dari tubuhku dalam keadaan apapun juga.

Ki Rangga Sutatama memperhatikan keping-keping baja di tangan Pangeran Sena Wasesa. Keping-keping baja yang diberinya bercincin yang dapat diselusupi jari-jari.

“Pangeran sekedar membuat pengeram-eram” berkata Ki Rangga. Sutatama, “Tetapi senjata seperti itu tidak akan banyak manfaatnya. Apalagi untuk melawan wedung pusakaku ini”

“Mungkin keping-keping baja seperti ini tidak bermanfaat bagi siapapun juga. Tetapi bagiku, senjata ini akan dapat aku pergunakan untuk menghadapi senjata apapun. Termasuk senjatamu itu” jawab Pangeran Sena Wasesa.

Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatama pun kemudian telah meningkatkan serangan-serangannya, sehingga dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin cepat dan seru. Ternyata Ki Rangga Sutatama benar-benar menguasai senjatanya meskipun tidak begitu besar. Tetapi yang tidak terduga sama sekali oleh Ki Rangga, keping-keping baja di tangan Pangeran Sena Wasesa itu pun merupakan senjata aneh yang menggetarkan.

Namun dalam pada itu, ternyata para pengikut Ki Rangga Sutatama telah jauh susut. Selain yang terluka parah, maka yang lain pun rasa-rasanya telah menjadi kehilangan harapan. Hanya karena Ki Rangga masih saja bertempur, pengikutnya tidak berani mengambil sikap meskipun mereka menyadari, kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi atas mereka.

Sementara kedua belah pihak bertempur pada saat-saat terakhir, mereka telah dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Bukan hanya seekor atau dua ekor kuda. Tetapi jauh lebih banyak.

Dalam kesempatan terakhir dari pertempuran itu. Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang bertempur di pihaknya telah dikejutkan oleh munculnya sepasukan prajurit berkuda. Prajurit Demak sebagaimana yang sedang bertempur melawan mereka.

“Gila” geram Jlitheng yang melihat pula kehadiran mereka. Kemarahan yang telah membakar jantungnya itu rasa-rasanya akan meledak melihat orang-orang berkuda itu. Jumlah mereka justru lebih banyak dari jumlah para pengikut Ki Rangga Sutatama yang hampir mereka selesaikan.

Dalam pada itu. pertempuran itu telah menarik perhatian para prajurit berkuda yang datang kemudian itu. Dengan serta merta iring-iringan itu pun langsung menuju ke arena yang sudah menjadi berat sebelah.

“Siapa mereka?” bertanya Pangeran Sena Wasesa kepada Ki Rangga Sutatama.

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa, “Jangan menyesal Pangeran. Kawan-kawanku telah datang untuk mengakhiri pertempuran ini. Dengan kehadiran mereka, maka niatku untuk membunuh Pangeran sudah barang tentu akan aku batalkan. Aku akan berusaha lagi menangkap Pangeran hidup-hidup.”

Pangeran Sena Wasesa menggeretakkan giginya. Dengan dahsyatnya ia pun kemudian meloncat menyerang. Ia bukan lagi menunggu dan menghindar. Tetapi ialah yang ingin menentukan akhir dari pertempuran itu.

Ki Ajar Cinde Kuning pun menjadi berdebar-debar. Namun ia berkata di dalam hatinya, “Apakah aku masih harus membunuh dan membunuh lagi? Justru pada saat-saat hari-hariku menjadi semakin pendek oleh umurku”

Tetapi bagaimanapun juga, ada sesuatu yang membebaninya pada saat itu. Ia sadar, betapa tinggi nilai benda-benda dan harta yang sedang diperebutkan itu. Karena itu, maka katanya pula kepada diri sendiri, “Pusaka dan harta benda itu perlu diselamatkan meskipun harus jatuh korban yang lebih banyak lagi. Mayat orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading, kemudian orang-orang Pusparuri dan prajurit-prajurit yang gila ini merupakan tebusan yang terlalu mahal.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning pun telah bersiap-siap. Menghadapi para pengikut Ki Rangga Sutatama ia masih berusaha untuk melumpuhkan mereka tanpa membunuhnya. Tetapi jika lawan menjadi semakin banyak, maka ia pun akan terpaksa membunuh dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Kiai Kanthi pun menjadi berdebar-debar pula. Bukan oleh kecemasan tentang dirinya. Ia masih mempunyai banyak harapan untuk dapat keluar dari pertempuran itu. Tetapi bagaimana dengan anak-anak muda yang sedang tumbuh itu. Bagaimana dengan anak gadisnya, Daruwerdi dan Jlitheng.

Tetapi tidak banyak kesempatan untuk merenung. Anak-anak muda di antara mereka pun telah menghentakkan kemampuan mereka menjelang kehadiran para prajurit berkuda itu.

Sebenarnyalah sekelompok orang berkuda itu dengan kecepatan semakin tinggi telah mendekati arena. Dalam pakaian keprajuritan, mereka nampak berwibawa.

Seorang Senapati yang memimpin mereka, telah menggenggam pedang di tangannya. Ketika iring-iringan itu mendekati arena, maka Senapati itu telah meneriakkan aba-aba sambil mengangkat pedangnya.

Sejenak kemudian beberapa ekor kuda itu telah memencar. Mereka langsung mengepung arena itu tanpa turun dari kuda mereka, sementara di setiap tangan telah tergenggam pedang. Seorang yang berkuda di sebelah Senapati yang memegang pimpinan itu membawa sebuah tunggul berbentuk seekor kuda yang berdiri pada kedua kaki belakangnya, dengan keadaan terpaksa akan dapat dipergunakan sebagai tombak yang berbahaya.

“Aku perintahkan kepada semua pihak untuk menghentikan pertempuran” terdengar Senapati itu memekikkan aba-aba.

“Tidak ada gunanya” jawab Ki Rangga Sutatama, “Aku adalah Rangga Sutatama. Cepat, libatkan dirimu dalam pertempuran ini. Mereka adalah orang-orang Sanggar Gading yang berusaha menguasai harta benda kerajaan yang tidak ternilai harganya”

Seperti yang memimpin pasukan itu mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengamati orang yang menyebut dirinya Rangga Sutatama itu. Sebenarnyalah bahwa orang itu mempergunakan pakaian seorang Rangga dalam tugas keprajuritan. Dan sebenarnyalah orang itu adalah Rangga Sutatama.

“Ki Rangga” desis Senapati itu.

Ki Rangga Sutatama tegak sambil menengadahkan dadanya. Sekilas ia sempat memandang Pangeran Sena Wasesa yang termangu-mangu.

Sementara itu, pertempuran itu pun seolah-olah telah berhenti dengan sendirinya. Kedua belah pihak menjadi ragu-ragu melihat sikap para prajurit berkuda yang mengepung mereka.

“Nah, bukankah kau mengenal aku Ki Rangga Dirgapati. Aku telah berada dalam kesulitan kali ini. Aku menghadapi sekelompok orang-orang Sanggar Gading yang kuat. Orang-orangku sama sekali tidak menduga bahwa diantara orang-orang Sanggar Gading terdapat orang-orang yang memiliki ilmu iblis” berkata Ki Rangga Sutatama.

Orang yang disebut Ki Rangga Dirgapati itu termangu-mangu diatas punggung kudanya. Namun kemudian terdengar Pangeran Sena Wasesa berkata, “Adalah kebetulan bahwa yang datang kali ini pun orang yang sudah aku kenal. Ki Rangga Dirgapati, apakah kau tidak mengenal aku lagi?”

Ki Rangga Dirgapati mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang dalam pakaian orang kebanyakan. Namun akhirnya ia pun berdesis, “Pangeran Sena Wasesa”

“Ya” sebelum Pangeran itu menjawab Ki Rangga Sutatama telah mendahuluinya, “sebuah permainan yang mengasyikkan dari Pangeran Sena Wasesa. Ceritera tentang usaha mengambilnya dari istananya oleh sekelompok orang yang tidak dikenal adalah ceritera ngayawara. Ternyata Pangeran Sena Wasesa telah berusaha menghilangkan jejaknya pada saat Pangeran itu meninggalkan Demak karena satu kepentingan pribadi dengan menyuruh para pengikutnya berpura-pura menculiknya. Adalah tidak mungkin bahwa sekelompok kecil pada waktu itu dapat menembus pertahanan para pengawalnya dan Pangeran Sena Wasesa sendiri, jika hal itu memang tidak dikehendaki oleh Pangeran itu sendiri”

Ternyata Ki Rangga Dirgapati menjadi termenung sejenak. Namun kemudian Pangeran Sena Wasesa menjawab, “Kau percaya ceritera itu Ki Rangga Dirgapati. Kau adalah seorang Senapati. Jika kau sempat melihat pertempuran ini barang sejenak, maka kau akan melihat, bahwa orang-orang yang berpakaian seperti prajurit Demak di bawah pimpinan Ki Rangga Sutatama ini, sama sekali bukan prajurit”

Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya, “Pangeran ingin meneruskan pertempuran ini? Dan Pangeran ingin menunjukkan kepada Ki Rangga Dirgapati bahwa orang-orang Sanggar Gading mempunyai kelebihan sehingga Pangeran akan dapat memaksa Ki Rangga Dirgapati untuk meninggalkan tempat ini karena ketakutan?”

“Pikiranmu terlalu dangkal Ki Rangga Sutatama. Jika kau ingin mengelabui seseorang, pakailah cara yang agak lebih baik, sehingga tidak justru menumbuhkan kecurigaan seperti itu” berkata Pangeran Sena Wasesa.

Tetapi sekali lagi Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya, “Ceritamu tamat sampai disini Pangeran. Pasukan Demak akan menyelesaikan tugas mereka sebaik-baiknya. Betapapun tinggi tingkat ilmu orang-orang Sanggar Gading yang ternyata telah kau pimpin sendiri, tidak akan dapat mengalahkan pasukan Demak yang banyak ini. Meskipun Ki Rangga Dirgapati tidak segarang dan sekasar aku sendiri”

Pangeran Sena Wasesa menggeretakkan giginya. Ternyata Ki Rangga Sutatama adalah orang yang sangat licik. Orang yang sampai hati mempergunakan segala cara untuk mencapai maksudnya. Bahkan cara yang paling kasar dan kotor sekalipun.

Namun dalam pada itu, Rahu telah melangkah maju mendekati Ki Rangga Dirgapati. Tetapi langkahnya terhenti ketika Ki Rangga itu menundukkan pedangnya sambil berkata, “Berhenti di tempatmu”

Rahu berhenti beberapa langkah dihadapan Ki Rangga Dirgapati. Sementara Ki Rangga Sutatama berkata, “Orang itu sangat berbahaya”

Ki Rangga Dirgapati mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja sebuah pisau belati yang kecil telah meluncur dari tangan Ki Rangga Sutatama. Pisau yang dilontarkan oleh seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa.

Tetapi Pangeran Sena Wasesa sempat melihat gerak yang cepat itu, sehingga dengan kecepatan yang seimbang, Pangeran Sena Wasesa meloncat sambil menyerang Ki Rangga Sutatama.

Bagaimanapun juga, serangan Pangeran Sena Wasesa itu berpengaruh sehingga sasaran pisau itu tidak tepat seperti yang dibidiknya, justru karena Ki Rangga harus menghindari serangan Pangeran Sena Wasesa.

Meskipun demikian, pisau itu masih sempat juga mengarah ke tubuh Rahu yang sama sekali tidak menduga bahwa Ki Rangga Sutatama akan melakukan satu tindakan yang paling tercela, justru pada saat ia tidak memperhatikannya. Justru pada saat ia memandang ujung pedang Ki Rangga Dirgapati yang menunduk itu.

Pisau itu ternyata sempat juga menancap di lengannya. Sehingga terdengar Rahu mengeluh tertahan.

Dengan serta merta Kiai Kanthi telah meloncat mendekatinya diikuti oleh Jlitheng dan Ki Ajar Cinde Kuning yang cacat itu.

“Gila” geram Rahu. Namun sementara itu Ki Ajar telah menenangkannya, sementara Jlitheng telah mencabut pisau itu atas persetujuan Rahu.

Rahu menyeringai menahan sakit. Sementara Ki Rangga Sutatama menggeram, “Anak iblis. Kau harus mati sebelum kau dengan licik membunuh Ki Rangga Dirgapati”

Namun dalam pada itu, tanpa menghiraukan darah yang mengalir di lengannya, Rahu telah melangkah lagi mendekati Ki Rangga Dirgapati sambil berkata lantang, “Aku memang bukan orang terkenal seperti Ki Rangga Sutatama. Mungkin kau tidak akan mengenal aku Ki Rangga Dirgapati. Namun adalah kebetulan sekali bahwa Ki Rangga Sutatama mengenal aku. Tetapi aku bersukur bahwa tidak banyak orang yang mengenalku justru karena tugas sandiku. Tetapi dalam keadaan terpaksa seperti ini aku akan mengatakan kepada Ki Rangga, bahwa aku memiliki pertanda akan tugasku”

Ki Rangga Dirgapati mengerutkan keningnya. Ketika Rahu membuka tangannya, nampaklah sebentuk cincin yang khusus, yang menjadi ciri tugas sandinya, yang hanya dikenal oleh beberapa orang Senapati terpenting di Demak.

“Apakah Ki Rangga Dirgapati termasuk salah seorang Senapati yang mengenal pertanda ini?” bertanya Rahu kemudian.

Ki Rangga Dirgapati memandang cincin di jari Rahu. Agaknya dalam sikapnya sehari-hari, Rahu telah meletakkan pertanda pada cincinnya itu justru di bagian dalam, sehingga yang nampak pada bagian luarnya, seolah-olah ia memakai cincin sigar penjalin.

Pangeran Sena Wasesa pun tertarik pada cincin di jari Rahu itu. Setelah beberapa lama Rahu bersamanya, namun Rahu tidak pernah menampakkan ciri tugas sandinya. Apalagi kepada orang-orang lain.

Jlitheng tidak terlalu tertarik dan heran melihat pertanda itu. Meskipun ia belum pernah melihat pertanda yang melekat pada cincin itu dan justru diletakkan di bagian dalam tangannya, namun Jlitheng sudah tahu pasti, siapakah Rahu itu.

Namun dalam pada itu, terdengar Ki Rangga Sutatama itu berkata, “Nah. bukankah orang itu benar-benar telah bersiap untuk mengelabui setiap petugas yang berhasil mencium rencana buruknya? Ki Rangga Dirgapati. Ia juga telah menunjukkan cincin itu kepadaku. Tetapi aku tidak mempercayainya. Bahkan mungkin sekali kematian petugas sandi yang berasal dari lingkungan pasukanku itu, adalah karena pokalnya, dan cincin itu telah dirampasnya dan dipakainya. Jika tidak demikian maka membuat cincin serupa itu bukan terlalu sulit bagi seorang ahli perhiasan”

“Kau memang licik” geram Rahu, “Tetapi masih ada satu hal yang dapat memperkuat pernyataanku ini. Kau tidak membawa pertanda apapun. Lihat, pasukan Ki Rangga Dirgapati ditandai dengan sebuah tunggul dari pasukan berkuda. Nah, tunggul apa yang kau bawa sekarang ini jika kau benar-benar sedang dalam tugas kerajaan dengan membawa pasukan sebanyak itu?”

Wajah Ki Rangga Sutatama menjadi merah. Namun sebelum ia menjawab terdengar Ki Rangga Dirgapati berkata, “Ternyata aku tidak mengenal kau. Tetapi cincin di tanganmu telah membuat aku yakin akan tugasmu. Adalah tidak mustahil bahwa seorang petugas sandi tidak dikenal oleh orang lain yang tidak berhubungan langsung dengan tugasnya. Tetapi pertanda yang kau bawa itu menyatakan tentang dirimu. Sebenarnya kita tidak perlu terlalu banyak berbincang tentang Ki Rangga Sutatama. Yang aku ketahui tentang Ki Rangga adalah keterbatasan tugas-tugas yang dapat dilaksanakan. Karena itu. aku pun semula merasa heran, bahwa ia berada disini mengemban tugas yang berat itu. Namun sebenarnyalah bahwa aku mendapat perintah untuk melacak peristiwa yang terjadi di Lumban Untuk membuktikan berita tentang peristiwa yang menggemparkan yang terjadi antara kelompok-kelompok yang sedang bersaing dalam ketamakannya. Diantaranya adalah Sanggar Gading. Kendali Putih dan Pusparuri, disamping pihak orang-orang Lumban sendiri”

“Aku pernah berada dilingkungan orang-orang Sanggar Gading” berkata Rahu, “Anak muda yang bernama Jlitheng ini pun pernah berada di lingkungan Sanggar Gading pula. Tetapi kami memasuki padepokan itu atas dasar tugas-tugas kami”

“Omong kosong” teriak Ki Rangga Sutatama, “semuanya omong kosong Kalian tidak, tahu apa-apa tentang tugas-tugasku”

Namun Ki Rangga Dirgapati menjawab dengan jelas dan pasti, “Ki Rangga Sutatama. Aku percaya bahwa Ki Rangga masih seorang prajurit. Tetapi aku tidak percaya bahwa Ki Rangga mendapat tugas untuk menangani masalah orang-orang Sanggar Gading atau persoalan yang timbul di daerah Lumban”

Wajah Ki Rangga Sutatama menjadi semakin merah. Tubuhnya menjadi bergetar menahan kemarahan yang bergejolak di dalam dadanya. Namun ia tidak dapat mengabaikan kenyataan, bahwa ia sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melawan. Jangankan pasukan Demak yang kemudian datang, sedangkan untuk melawan Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang menyatakan diri mereka telah membantu Pangeran Sena Wasesa itu pun ia telah mengalami kesulitan.

Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga Sutatama bukan orang yang mudah mengalah. Karena itu, dengan jantung yang bergelora ia berkata lantang, “Baiklah. Ternyata aku menghadapi orang-orang licik dan pengkhianat. Ki Rangga Dirgapati, apakah kau juga termasuk orang-orang yang memburu harta benda itu dengan kedok tugas-tugas keprajuritanmu? Jika demikian, biarlah aku mempertahankan hak kerajaan yang seharusnya kembali kepada Demak. Karena itu, maka marilah kita buktikan, siapa diantara kita yang benar-benar mendapat tugas dari Panglima pasukan Demak untuk mengusut peristiwa yang terjadi di Lumban. Marilah kita buktikan, siapakah diantara kita berdua prajurit linuwih yang pantas menjunjung perintah Sultan”

“Apa maksudmu Ki Rangga Sutatama?” berkata Kl Rangga Dirgapati.

“Kita buktikan dengan perang tanding” jawab Ki Rangga Sutatama.

“Sikap yang paling bodoh bagi seorang yang sedang mengemban tugas jika aku menerima tantangan itu. Kita tidak mempunyai persoalan pribadi. Jika persoalannya adalah persoalan Dirgapati dan Sutatama, apaboleh buat. Tetapi sekarang aku mengemban tugas untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di Lumban. Namun karena aku sekarang langsung menghadapi persoalan yang tidak dapat aku abaikan, maka persoalan ini pun akan aku tangani pula” jawab Ki Rangga Dirgapati

“Licik, Pengecut” teriak Ki Rangga Sutatama, “Kau tidak berhak berbuat seperti itu”

“Ki Rangga Sutatama” berkata Ki Rangga Dirgapati, “Aku terpaksa menangkap Ki Rangga dan para pengikut Ki Rangga, apakah mereka benar-benar prajurit Demak atau bukan. Persoalan berikutnya adalah bukan persoalanku. Ada orang-orang yang akan memeriksa Ki Rangga dan memberikan penyelesaian”

“Tidak” geram Ki Rangga, “Aku lebih baik mati terkapar disini dari pada menjadi tangkapan sekelompok penjahat yang licik seperti kalian. Baru sekarang aku percaya bahwa kelompok orang-orang Sanggar Gading benar-benar telah menyusup diantara para Senapati Demak”

“Kau masih mengatakan sesuatu yang tidak berarti apa-apa Ki Rangga” potong Ki Rangga Dirgapati, “Jangan mengigau seperti itu. Kau tahu bahwa hal itu tidak ada gunanya. Karena itu menyerahlah”

“Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa, “Aku menjadi saksi. Jika kau menyerah, maka kau tentu masih akan mendapat kesempatan”

“Tidak” teriak Ki Rangga Sutatama lantang.

Suasana menjadi semakin tegang. Ki Rangga Sutatama benar-benar tidak mau menyerah. Ia menyadari, apa yang akan dihadapinya jika ia menyerah, karena satu dua orang pengikutnya yang tentu akan menyerah juga, akan dapat mengatakan apa yang sedang mereka kerjakan itu.

Karena itu, maka dengan tekad yang bulat, Ki Rangga Sutatama akan bertempur sampai kemungkinan yang terakhir.

“Jangan keras kepala Ki Rangga Sutatama” berkata Ki Dirgapati kemudian, “Kau seorang prajurit seperti aku. Karena itu kau tahu, apa yang akan aku lakukan menghadapi orang seperti kau”

“Persetan” jawab Ki Rangga Sutatama, “Jika aku menyerah, maka aku pun akan di gantung di alun-alun. Lebih baik aku mati disini dari pada mati menjadi pengeram-eram.

Ki Rangga Dirgapati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Aku akan memerintahkan para prajurit untuk menangkap Ki Rangga. Hidup atau mati”

“Ayo. Jatuhkan perintah itu. Senapati yang licik? Aku menantang kau perang tanding, tetapi kau memilih cara yang paling buruk yang dapat dilakukan oleh seorang Senapati” berkata Ki Rangga Sutatama lantang.

“Ki Rangga Dirgapati” berkata Rahu, “Sudah waktunya untuk menjatuhkan perintah”

Ki Rangga Sutatama menggeretakkan giginya. Dengan garang ia bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk yang akan dapat terjadi atas dirinya.

“Aku akan bertanggung jawab” geram Ki Rangga Sutatama, “sampai batas kematian”

Tetapi sebelum Ki Rangga Dirgapati menjatuhkan perintah, Pangeran Sena Wasesa berkata, “Persoalan yang timbul disini adalah persoalan antara aku dan Ki Rangga Sutatama. Aku akan menerima jika ia menantang aku berperang tanding sehingga kita masing-masing akan dapat menyatakan bahwa kita telah menyelesaikan persoalan diantara kita dengan jantan”

“Itu adalah sekedar gejolak perasaan Pangeran” potong Rahu, “perang tanding semacam itu sama sekali tidak perlu. Kita semua menghadapi sekelompok perampok yang dengan tamak ingin menguasai pusaka dan harta benda kerjaan bagi kepentingan diri mereka sendiri. Itu sudah cukup alasan untuk melakukan tindakan yang tegas bagi mereka”

Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun sementara itu, Ki Rangga Dirgapati telah mengangkat senjatanya sebagai isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk bertindak.

Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatama pun kemudian berteriak nyaring, “Bunuh mereka semua. Jangan beri ampun kepada seorang pun diantara mereka”

Dengan garangnya Ki Rangga Sutatama telah siap meloncat menghadapi Ki Rangga Dirgapati yang masih berada di punggung kudanya. Sementara para prajuritnya telah bergerak semakin maju beberapa langkah.

Namun dalam pada itu, tidak seorang pun pengikut Ki Rangga Sutatama yang bergerak melakukan perintahnya. Semua pengikutnya masih tetap berdiri termangu-mangu dengan senjata yang tunduk di tangan.

Ki Rangga Sutatama tertegun melihat sikap para pengikutnya. Sekali lagi ia berteriak dengan kemarahan yang memuncak.

Tetapi ternyata bahwa para pengikutnya yang melihat kenyataan yang akan mereka hadapi lebih baik memilih meletakkan senjata mereka daripada melakukan perintah Ki Rangga Sutatama.

“Cepat” teriak Ki Rangga Sutatama, “kalian tidak perlu lagi berbelas kasihan”

Tetapi para pengikutnya masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Kemarahan Ki Rangga Sutatama tidak lagi dapat dikendalikan. Gelora didadanya rasa-rasanya akan memecahkan jantungnya.

Oleh kemarahan dan putus-asa, maka Ki Rangga Sutatama telah mengambil satu sikap yang mengejutkan. Yang. tidak terduga sama sekali. Dengan loncatan panjang, tiba-tiba saja Ki Rangga Sutatama telah menyerang Pangeran Sena Wasesa yang berdiri termangu-mangu.

Pangeran Sena Wasesa terkejut. Untunglah bahwa ia masih sempat mengelak. Namun ternyata bahwa Ki Rangga yang putus asa itu telah memburunya sambil berteriak lantang kepada para pengikutnya, “Jangan menjadi pengecut. Cepat, bergeraklah”

Teriakan itu ada juga pengaruhnya. Namun ternyata bahwa orang-orang yang menyebut diri mereka penolong Pangeran Sena Wasesa itu pun telah bergerak pula. Sementara para prajurit Demak pun mengepung semakin rapat,

Karena itu, maka mereka pun telah mengurungkan segala niat untuk meneruskan peperangan. Mereka sudah benar-benar kehilangan kemauan untuk bertempur, karena dengan demikian mereka tidak akan mempunyai harapan apapun lagi.

Karena itu, maka tidak seorang pun yang menolak perintah yang kemudian diteriakkan oleh Ki Rangga Dirgapati, “Semua meletakkan senjatanya”

Para pengikut Ki Rangga Sutatama itu pun telah melepaskan senjata mereka. Beberapa orang prajurit Demak itu pun telah meloncat turun dari kuda mereka.

Ki Rangga Dirgapati sendiri juga turun dari kudanya. Namun ia tidak segera dapat bertindak. Pertempuran antara Ki Rangga Sutatama dan Pangeran Sena Wasesa pun menjadi semakin seru.

Kemarahan dan dendam Ki Rangga telah tersalur dalam gerak dan teriakan-teriakan yang kasar.

Keduanya telah bertempur dengan segenap kemampuan. Ki Rangga meloncat-loncat dengan garangnya. Senjata pendek di tangannya menyambar-nyambar dengan cepat. Namun sekali-sekali mematuk mendebarkan.

Tetapi ujung senjata itu setiap kali membentur telapak tangan Pangeran Sena Wasesa yang di alasi dengan sekeping baja. Bahkan ketika Pangeran Sena Wasesa telah sampai ke puncak ilmunya, maka keping baja itu tidak saja menahan serangan senjata Ki Rangga Sutatama, namun sekali-sekali telah menyentuh pergelangan tangan Ki Rangga yang menggenggam senjatanya itu.

Ki Rangga Dirgapati tidak segera bertindak. Para prajuritnya telah mengumpulkan orang-orang yang menyerah. Namun ternyata tidak seorang pun yang mengganggu pertempuran yang sedang berlangsung itu.

Dengan demikian, seolah-olah memang telah terjadi perang tanding. Ki Rangga Sutatama benar-benar ingin membunuh Pangeran Sena Wasesa. Pangeran itu sudah tidak ada artinya lagi baginya. Ia tidak akan dapat menangkapnya hidup-hidup dan apalagi memeras keterangan dari padanya tentang pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu, karena Ki Rangga Dirgapati dan prajurit-prajuritnya sudah menunggu.

Karena itu, maka satu-satunya kepuasan yang dapat dicapainya sebelum ia digantung di alun-alun adalah membunuh Pangeran itu.

Tetapi Pangeran Sena Wasesa benar-benar sudah siap menghadapi lawannya yang kehilangan segala harapan. Jika semula Pangeran Sena Wasesa masih berharap untuk dapat menundukkan lawannya tanpa membunuhnya, maka ketika pertempuran menjadi semakin seru dan keras. Pangeran itu tidak mendapat banyak kesempatan untuk terlalu banyak mengekang diri.

Karena itu, maka akhirnya Pangeran Sena Wasesa telah benar-benar sampai ke puncak kemampuannya.

Ketika senjata Ki Rangga mematuk leher Pangeran Sena Wasesa, maka dengan tangkasnya Pangeran itu memukul tajam senjata lawannya kesamping, sekaligus meloncat dan menyerang dengan kakinya. Tetapi Ki Rangga pun cepat menghindar. Ia berputar d atas sebelah kakinya, sementara kakinya yang lain terayun menyambar Pangeran Sena Wasesa yang tidak berhasil mengenai lawannya. Namun tangan Pangeran Sena Wasesa dengan cepat melindungi lambungnya.

Ki Rangga menyadari, jika kakinya tersentuh keping baja di telapak tangan lawannya, maka kulit daging kakinya tentu akan terkelupas. Karena itu, maka ia pun segera menarik kakinya. Namun dengan satu putaran senjatanyalah yang terayun mengarah ke dada.

Pangeran Sena Wasesa surut selangkah. Tetapi Ki Rangga tidak sempat memburunya, karena Pangeran itu pun segera meloncat maju.

Ki Rangga Dirgapati menahan nafasnya. Yang dilihatnya adalah pertempuran yang cepat dan mendebarkan. Semakin lama semakin seru. Apalagi ketika keduanya telah menghentakkan segala kemampuan atas kekuatan segenap tenaga cadangan yang ada.

Kekuatan mereka sudah bukan lagi kekuatan orang kebanyakan. Dorongan tangan mereka bagaikan dorongan air bah menghantam bendungan Sementara kekuatan ayunan serangan mereka, bagaikan guguran batu di lereng pegunungan.

“Luar biasa” berkata Ki Rangga Dirgapati di dalam hati, “Sebenarnyalah Ki Rangga Sutatama memiliki kemampuan diatas dugaanku. Seandainya aku membiarkan gejolak perasaanku, maka aku tentu akan melayani tantangannya untuk berperang tanding. Dengan jujur aku harus mengakui, bahwa kemampuanya melampaui kemampuanku secara pribadi. Namun agaknya ia telah terbentur pada kemampuan yang tidak dapat dilampauinya. Bahkan setiap kali Ki Rangga mengumpat jika terasa tangannya tersentuh keping baja di telapak tangan Pangeran Sena Wasesa.

Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan orang-orang yang bersamanya termangu-mangu menyaksikan pertempuran yang seru itu.

Namun dalam pada itu, ketajaman penglihatan mereka telah membuat mereka agak tenang. Jika Pangeran Sena Wasesa tidak melakukan kesalahan, maka ia tentu akan dapat menyelesaikan pertempuran itu. Meskipun keduanya tidak terikat dalam perang tanding, sehingga tidak ada hambatan apapun seandainya satu atau dua orang melibatkan diri dalam pertempuran itu. Namun agaknya Pangeran Sena Wasesa yang merasa dirinya seorang prajurit sebagaimana Ki Rangga Sutatama akan merasa tersinggung karenanya.

Dengan demikian, maka orang-orang yang sejak semula telah membantunya itu hanya dapat menyaksikan pertempuran itu dengan berdebar-debar.

Rangga Dirgapati agaknya bersikap lain. Ia ingin persoalan itu cepat selesai. Karena itu, maka ia pun telah melangkah mendekati arena dengan pedang teracu.

“Jangan ganggu kami” geram Pangeran Sena Wasesa.

“Aku tidak mempunyai banyak waktu Pangeran” jawab Ki Rangga Dirgapati, “Aku akan melakukan tugasku sebaik-baiknya dengan waktu yang paling singkat yang dapat aku lakukan”

“Aku akan menyelesaikannya” sahut Pangeran Sena Wasesa.

“Tidak ada waktu untuk membiarkan perasaan Pangeran meronta dalam kenyataan waktu yang terlalu sempit ini” jawab Ki Rangga Dirgapati.

“Marilah Pengecut” teriak Ki Rangga Sutatama, “siapa yang ingin bertempur bersama Pangeran Sena Wasesa, cepat memasuki arena. Aku akan membunuh kalian seorang demi seorang”

Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Tetapi ia memang ingin menyelesaikan pertempuran itu sendiri

Karena itu, maka sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa telah memutuskan segala daya nalar dan budinya, perasaan dan pikir, serta segenap ilmu yang ada pada dirinya. Karena itu, maka hentakkan kemampuannya menjadi semakin dahsyat. Pada saat-saat terakhir, serangannya bagaikan amuk gemuruhnya badai yang paling dahsyat.

Ki Rangga Dirgapati terkejut. Justru ia bergeser surut ketika keduanya terlibat dalam pertempuran yang semakin dahsyat.

Namun dalam pada itu, sebelum Ki Rangga Dirgapati dan prajurit-prajuritnya sempat berbuat sesuatu, maka Pangeran Sena Wasesa tidak lagi hanya sekedar menyentuh tubuh lawannya, tetapi ia benar-benar mulai menghantam lawannya dengan keping-keping baja di telapak tangannya.

Demikianlah keduanya terlibat dalam benturan berjarak pendek. Bagaimanapun juga, Ki Rangga tidak akan menyerahkan dirinya menjadi sasaran hentakkan ilmu Pangeran Sena Wasesa. Karena itu dalam saat-saat terakhir, senjatanya pun bergerak dengan cepatnya.

Tetapi, ternyata bahwa Ki Rangga tidak lagi mampu mengatasi kecepatan gerak Pangeran Sena Wasesa. Dalam keadaan yang paling sulit, Pangeran Sena Wasesa menyerangnya sambil mengayunkan telapak tangannya mengarah ke kening.

Ki Rangga masih sempat mengelak. Namun serangan berikutnya telah memburunya tanpa dapat dihindarinya.

Sebuah ayunan tangan Pangeran Sena Wasesa yang dilambari dengan kepingan baja pilihan itu telah menyambar kepala Ki Rangga Sutatama. Demikian kerasnya sehingga Ki Rangga tidak mampu menahan keseimbangannya. Dengan kerasnya Ki Rangga itu terpelanting dan jatuh terbanting di tanah.

Ki Rangga berguling beberapa kali. Ia masih mencoba melenting berdiri. Namun ketika ia berusaha untuk bangkit, matanya mulai berkunang-kunang. Pandangan matanya menjadi kabur, sehingga kemudian ternyata ia tidak mampu lagi untuk tegak. Sekali lagi ia terbanting jatuh dan kehilangan kesadarannya. Pingsan.

Pangeran Sena Wasesa berdiri tegak. Dipandanginya tubuh Ki Rangga yang terbaring diam. Kemudian dipandanginya pula Ki Rangga Dirgapati yang termangu-mangu

“Agaknya aku sudah selesai Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa, “Aku kira aku tidak perlu membunuhnya”

“Terima kasih Pangeran” berkata Ki Rangga Dirgapati, “Ternyata Pangeran sudah menyelesaikan persoalan antara Pangeran dengan Ki Rangga Sutatama”

“Semuanya terserah kepada Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa itu kemudian.

“Tetapi aku mohon maaf Pangeran, bahwa aku harus menjalankan tugasku sebaik-baiknya Karena itu, maka aku mohon Pangeran bersedia bersama dengan kami untuk menghadap ke Demak sesudah aku melihat perkembangan keadaan di Lumban” berkata Ki Rangga Dirgapati.

“Tidak ada lagi masalah di Lumban” berkata Pangeran Sena Wasesa, “Yang ada disana adalah beberapa orang tawanan. Seorang diantaranya yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang selama ini telah memimpin Sanggar Gading. Jika kau sependapat, maka kau akan dapat memerintahkan sebagian orang-orangmu untuk menjemput orang-orang yang tertawan itu. Sebagian lain bersama-sama dengan kami menghadap Sultan di Demak. Dengan atau tanpa Ki Rangga, aku memang ingin menghadap. Diantaranya juga akan memberikan laporan tentang peristiwa yang terjadi di Lumban yang barangkali sudah didengar pula oleh kalangan istana”

Ki Rangga Dirgapati termangu-mangu sejenak. Ada semacam keragu-raguan memancar di sorot matanya.

Pangeran Sena Wasesa seolah-olah telah melihat keragu-raguan itu. Karena itu, maka katanya, “Jika kau tidak percaya sepenuhnya kepadaku Ki Rangga, maka marilah kita lebih dahulu menghadap Kangjeng Sultan. Baru kemudian kau pergi ke Lumban. Jika kau ingin pergi ke Lumban lebih dahulu, maaf aku tidak dapat mengikutimu. Aku akan pergi ke Demak tanpa Ki Rangga. Aku akan pergi bersama-sama orang-orang yang telah menolongku dan terlibat ke dalam peristiwa yang rumit ini”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Tetapi aku mendapat perintah untuk melihat keadaan di Lumban. Itu adalah tugasku yang pertama. Namun demikian aku tidak dapat menyingkir dari keterlibatan persoalan yang aku hadapi disini, karena aku yakin, bahwa persoalan ini pun tidak terlepas sama sekali dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Lumban.

Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Rangga dengan tajamnya. Namun kemudian Katanya, “Terserah kepadamu. Jika kau akan melakukan tugasmu yang pertama, lakukanlah, itu memang tugasmu yang utama. Tetapi jangan melibatkan aku. Pergilah dengan prajurit-prajuritmu. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Aku harus segera menghadap Sultan, sebelum Sultan mendapat keterangan yang salah dan memutuskan bahwa aku pun bersalah”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Nampaknya ia sedang membuat pertimbangan di dalam dirinya sebelum mengambil satu keputusan.

Jlitheng menjadi tegang membeku, sementara Rahu menjadi bimbang. Ia mengerti sikap Ki Rangga Dirgapati sebagai seorang Senapati. Tetapi ia pun mengerti sikap Pangeran Sena Wasesa. Pangeran Sena Wasesa tidak mau terlambat. Jika Sultan mendapat keterangan, entah dari siapapun datangnya, yang menyebut pengakuan Pangeran Sena Wasesa, bahwa ia sudah mengembalikan pusaka dan harta benda yang telah diselamatkan dari Majapahit itu ke kraton, maka Sultan tentu akan mengambil sikap khusus terhadapnya. Karena sebenarnyalah bahwa semuanya itu masih belum diserahkannya.

Jika semula, Pangeran itu benar-benar hendak memilikinya sendiri, yang sudah tentu dengan rencana-rencananya yang akan dapat dihadapkan kepada segala kemungkinan, termasuk kemarahan Sultan, namun akhirnya ia telah menemukan satu sikap yang benar-benar berlandaskan sikap seorang kesatria, yang mementingkan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan pribadinya.

Namun akhirnya Rahu itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Ki Rangga Dirgapati berkata, “Baiklah Pangeran. Aku akan kembali ke Demak bersama Pangeran, sebelum aku akan pergi ke Lumban”

“Baiklah. Kita akan pergi bersama-sama ke Demak. Tetapi aku bukan tawananmu” sahut Pangeran Sena Wasesa.

Ki Rangga mengangguk kecil sambil menjawab, “Aku tidak pernah menganggap bahwa Pangeran adalah tawananku”

“Orang-orang itulah yang menjadi tawananmu” berkata Pangeran itu selanjutnya.

Demikianlah, Ki Rangga Dirgapati pun segera memerintahkan para prajuritnya untuk mengurus para tawanan. Mereka yang terluka dan tidak lagi dapat meneruskan perjalanan ke Demak, harus mendapat perawatan tersendiri.

Dengan kuda-kuda mereka yang semula terlindung, maka orang-orang yang berpakaian prajurit Demak itu akan mengikut Ki Rangga Dirgapati sebagai tawanan sambil membawa kawan-kawan mereka. Sedangkan yang terbunuh di medan itu telah mereka kuburkan.

Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatama menyadari dirinya ketika tangannya telah terikat dengan janget ganda tiga. Seandainya ia dapat memutuskan tali itu, namun ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Ki Rangga Dirgapati dengan para prajuritnya. Apalagi bersama mereka adalah Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang dikatakan pernah menolongnya.

Sejenak kemudian, setelah segalanya siap, maka sebuah iring-iringan telah berangkat menuju ke Kota Raja Demak.

Dalam iring-iringan yang membawa pertanda tunggul kesatuan pasukan berkuda Demak, maka iring-iringan itu tidak menemui hambatan apapun juga memasuki kota raja. Meskipun Pangeran Sena Wasesa harus menunggu sehari, namun akhirnya ia pun telah diterima oleh Kangjeng Sultan bersama dengan orang-orang yang disebutnya telah menolongnya dalam keadaan yang paling sulit. Tidak seorang pun yang diharuskan tinggal sehingga semuanya akan berkesempatan untuk menjadi saksi. Termasuk Ki Rangga Dirgapati sendiri.

Dengan kepala tunduk, Pangeran Sena Wasesa menyampaikan seluruh persoalannya dari permulaan sampai ia berkesempatan menghadap Kangjeng Sultan di Demak.

Kangjeng Sultan mendengarkannya dengan tegang. Sekali-sekali ia mengangguk-angguk. Namun kadang-kadang keningnya berkerut merut.

“Hamba memang merasa berdosa” berkata Pangeran Sena Wasesa, “Jika sejak pertama hal ini hamba sampaikan kepada Adimas Sultan, maka persoalannya tidak akan berkepanjangan” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian.

“Jadi kakangmas Pangeran telah melihat kesalahan itu?” bertanya Kangjeng Sultan.

“Ya. Hamba telah melihatnya” jawab Pangeran Sena Wasesa.

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk kecil. Dipandanginya orang-orang yang mengikut Pangeran Sena Wasesa menghadap. Seorang demi seorang Pangeran itu menyebut, siapakah mereka itu.

“Perempuan itu adalah isteri hamba” berkata Pangeran Sena Wasesa.

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Dipandanginya ibu Daruwerdi dengan perasaan iba, karena menilik ujud lahiriahnya, perempuan itu tentu mengalami satu pengalaman yang pahit di dalam hidupnya.

Kemudian ditatapnya wajah Swasti yang tunduk. Gadis itu memang gadis yang aneh. Nampaknya gadis itu gadis yang luruh. Tetapi menilik ceritera Pangeran Sena Wasesa, gadis itu adalah gadis yang garang dan bahkan telah menyelamatkan hidup isteri Pangeran Sena Wasesa itu.

Sejenak kemudian Kangjeng Sultan itu pun bertanya, “Kakangmas Pangeran telah memperkenalkan orang-orang yang menolong kakangmas ini seorang demi seorang. Tetapi dengan sekedar menyebut nama, aku tidak mengenal mereka lebih dalam”

Pangeran Sena Wasesa mengangguk hormat. Katanya, “Baiklah adimas Sultan. Aku akan mencoba memberikan beberapa keterangan tentang mereka”

Dan Pangeran Sena Wasesa pun mulai dari Ki Ajar Cinde Kuning. Bahkan Pangeran pun sempat memperkenalkan saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning yang lelah menempuh jalan yang sesat, serta mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling pahit. Membunuh diri.

Pangeran Sena Wasesa itu pun akhirnya menyebut juga seorang petugas sandi yang ada di dalam lingkungan orang-orang yang telah menolongnya itu, yang sempat menyusup ke dalam lingkungan orang-orang Sanggar Gading.

Kangjeng Sultan di Demak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang memerintahkan para prajurit mencari kakangmas Pangeran sejak kakangmas Pangeran dinyatakan hilang. Tetapi sulit bagi kami untuk melacaknya dan karena itu, para petugas agak terlambat menemukan kakangmas. Syukurlah. bahwa kakangmas telah kembali dengan selamat. Bahkan dalam tekanan pengalaman pahit itu kakangmas telah menemukan jalan yang paling baik yang harus kakangmas tempuh”

“Hamba Adimas” jawab Pangeran Sena Wasesa, “namun sebenarnyalah petugas sandi itu telah berada di Sanggar Gading lebih dahulu dari rencana mereka mengambil hamba”

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Tetapi dalam rangka tugas yang manakah, maka orang itu berada di Sanggar Gading?”

“Adimas dapat bertanya kepada orang itu” jawab Pangeran Sena Wasesa.

Ketika Sultan memandangi Rahu yang tunduk Pangeran Sena Wasesa pun berkata, “Rahu, kau dapat melaporkan tugas yang kau jalankan”

“Hamba tuanku” desis Rahu sambil menyembah, “hamba mendapat tugas dari Pangeran Jalayuda selaku Panglima pasukan khusus untuk melakukan tugas sandi, karena Pangeran Jalayuda mendengar tentang pusaka dan harta benda yang belum kembali ke istana Kawan hamba yang seorang tidak berhasil memasuki padepokan Kendali Putih dan bahkan telah mengalami cidera yang hampir saja merenggut jiwanya. Untunglah bahwa kawan hamba itu dapat tertolong dan kembali kepada kesatuannya. Sementara kawan hamba yang lain telah bersama hamba membayangi Padepokan Sanggar Gading.

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku memerlukan laporan yang lebih terperinci lewat Adimas Jalayuda. Nanti kau akan dapat menghadap dan kembali kepadanya dengan laporan yang lebih jelas”

“Hamba tuanku. Hamba akan menjalankan segala perintah” jawab Rahu.

Namun dalam pada itu, ketegangan telah mencengkam ketika Kangjeng Sultan berkata, “Kakangmas Pangeran. Banyak persoalan yang ingin aku katakan. Tetapi aku hanya ingin mengatakannya kepada kakangmas Pangeran, sehingga setelah pertemuan ini, aku akan berbicara khusus dengan kakangmas Pangeran. Aku tidak ingin memperkecil arti sanak kadang yang ada disini. Tetapi karena persoalannya menyangkut hubungan antara aku dan Pangeran Sena Wasesa yang telah melakukan satu kesalahan, maka aku terpaksa berbicara tanpa ada orang lain”

Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak akan luput dari hukuman atas kesalahannya. Dan itu sudah diketahuinya. Namun bagaimanapun juga ia telah merasakan satu kemenangan yang dapat memberinya satu kebanggaan. Ia telah memenangkan perjuangan melawan ketamakan yang hampir saja mencengkam nalar dan budinya.

Namun dalam pada itu, ternyata Rahu masih juga mempunyai satu masalah yang ingin disampaikan kepada Kangjeng Sultan. Karena itu dengan suara bernada ragu, ia berkata, “Ampun tuanku. Dalam kesempatan ini hamba masih akan menyatakan satu hal kehadapan tuanku”

Kangjeng Sultan di Demak itu memandang Rahu dengan tajamnya. Kemudian dengan ragu-ragu Kangjeng Sultan itu bertanya, “Apa yang masih ingin kau sampaikan?”

“Tentang diri kami masing-masing Kangjeng Sultan” jawab Rahu.

“Katakan, “ perintah Kangjeng Sultan.

Rahu memandang Jlitheng sekilas. Kemudian Katanya, “Tentang anak muda ini tuanku”

“Bagaimana dengan anak muda itu?” bertanya Sultan pula.

Rahu menarik nafas dalam-dalam, sementara Jlitheng menjadi gelisah. Sebenarnya ia tidak ingin disebut apapun juga di hadapan Kangjeng Sultan. Ia lebih suka dikenal sebagai Jlitheng, anak Kabuyutan Lumban.

Namun dalam pada itu, Rahu telah berkata, “Tuanku. Anak muda ini mempunyai pertanda Cakra Surya Candra”

“He” Kangjeng Sultan terkejut. Dipandanginya Jlitheng dengan tajamnya. Kemudian dengan nada dalam ia bertanya, “Benarkah demikian anak muda?”

Jlitheng tunduk dalam-dalam. Namun sambil menyembah ia pun kemudian menjawab, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Wira Murti”

“Siapakah Wira Murti?” bertanya Sultan pula.

“Petugas sandi itu bernama Wira Murti” jawab Jlitheng, “ia pun mempunyai pertanda yang serupa”

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Tetapi siapakah sebenarnya anak muda ini? Ia tentu bukan seorang prajurit Majapahit pada waktu itu, karena umurnya masih terlalu muda. Sehingga dengan demikian apa hubungannya dengan pasukan terpilih yang mempunyai ciri Cakra Surya Candra?”

“Anak muda itu adalah Candra itu sendiri tuanku. Ia adalah putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana di peperangan. Anak muda itu adalah Raden Candra Sangkaya” jawab Rahu.

Kangjeng Sultan di Demak itu mengangguk-angguk. Sementara itu beberapa orang yang berada di ruang itu telah memandangi Jlitheng yang menundukkan wajahnya dengan tajamnya. Ki Ajar Cinde Kuning pun mengangguk-angguk. Sementara Daruwerdi menjadi tegang.

“Aku sudah mengira” katanya di dalam hati, “Anak itu tentu mempunyai kekuatan tertentu di dalam dirinya.

Namun dalam pada itu. Kiai Kanthi dan Swasti sama sekali sudah tidak terkejut lagi. Mereka sudah mengetahuinya bahwa anak muda itu adalah seorang yang memiliki darah keturunan Majapahit dalam tataran yang tinggi.

Hampir diluar sadarnya Daruwerdi memandang kearah Swasti. Ada semacam sentuhan di hatiNya. Nama itu akan menarik perhatian Swasti. Justru karena Jlitheng juga seorang keturunan bangsawan dari Majapahit.

Tetapi Daruwerdi menjadi heran. Swasti seolah-olah tidak peduli sama sekali terhadap nama dan gelar itu. Tidak ada kesan apapun yang tergores di wajahnya.

Dalam pada itu, maka Kangjeng Sultan pun kemudian berkata, “Banyak hal-hal yang tidak terduga yang telah kalian bawa menghadap”

Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Memang mengejutkan, bahwa anak muda itu adalah seorang putera dari Pangeran Surya Sangkaya. Dengan demikian, maka Pangeran Sena Wasesa merasa jantungnya bagaikan berkerut. Seolah-olah Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggara, yang lelah menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan Majapahit, telah melihat apa yang dilakukannya dengan wajah yang sedih.

“Untunglah bahwa aku masih mendapat kesempatan untuk menemukan jalan kembali dari kesesatan itu” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya. Lalu, “Jika tidak, maka aku benar-benar seorang yang paling hina. Mereka yang berkorban tanpa pamrih, sementara aku yang tidak berbuat banyak, telah dikuasai oleh pamrih yang berlebihan”

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian Kangjeng Sultan pun berkata, “Aku minta kalian tetap tinggal di istana ini untuk beberapa lama. Bagaimanapun juga sepantasnya aku mengucapkan terima kasih kepada kalian dengan cara yang berguna. Bukan sekedar ucapan terima kasih di bibir tanpa mempunyai arti bagi kalian masing-masing.”

“Hamba telah menyaksikan satu peristiwa yang akan sangat bermanfaat bagi hamba. Hamba merasa mendapat bekal pada saat-saat terakhir hamba” berkata Ki Ajar Cinde Kuning, “Karena itu. sebenarnyalah hamba sudah merasa mendapat limpahan kemurahan hati Tuanku. Sehingga dengan demikian, sebenarnya hamba ingin mohon diri. Apabila setiap saat tuanku memerlukan hamba, maka hamba akan menghadap”

Tetapi Kangjeng Sultan menggeleng. Katanya, “Jangan sekarang. Sudah aku katakan, aku akan mengatur segala sesuatunya sebagai ucapan terima kasihku atas nama Kerajaan Demak. Jika kau mempunyai sebuah padepokan, maka padepokanmu perlu dikembangkan. Karena itu, aku menahanmu barang satu dua hari. Aku akan berbicara dengan Pangeran Sena Wasesa, dengan Pangeran Jalayuda dan dengan putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana. Aku juga minta Kiai Kanthi dan Ki Sanak yang lain untuk tinggal barang satu dua hari”

Ki Ajar Cinde Kuning tidak dapat memaksa. Karena itu, maka ia pun hanya dapat mengangguk hormat sambil menyembah. Katanya, “Hamba akan menjalankan segala perintah tuanku”

Demikianlah, maka ternyata orang-orang yang menyertai Pangeran Sena Wasesa itu masih harus tinggal. Tetapi ada diantara mereka yang sekaligus menghadapi pimpinan langsung mereka. Rahu yang bernama Wira Murti itu harus menghadap Pangeran Jalayuda bersama Semi dan seorang kawannya. Sementara Jlitheng ternyata masih harus meyakinkan dirinya kepada orang-orang yang mendapat tugas untuk menelitinya.

“Salah Rahu” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “Aku tidak memerlukan apa-apa dengan gelar itu. Sekarang aku harus dalam keadaan khusus untuk membuktikan diriku sendiri. Sebenarnya aku lebih senang disebut Jlitheng, anak Lumban”

Tetapi Jlitheng tidak dapat ingkar. Ia harus menjalani pemeriksaan tersendiri. Namun selama itu Pangeran Sena Wasesa pun telah menjalani pemeriksaan khusus pula tentang pengakuannya atas pusaka dan harta benda yang diperebutkan dan telah menimbulkan banyak korban itu.

Dalam pada itu, selagi Pangeran Sena Wasesa harus menjalani pemeriksaan di tempat yang tidak dapat di kunjungi oleh siapapun, yang langsung di lakukan oleh Sultan sendiri bersama beberapa orang kepercayaannya, sementara Jlitheng pun dalam waktu yang lain harus membuktikan pengakuannya, maka orang-orang lain yang datang bersama mereka telah di tempatkan di sebuah bangsal di lingkungan istana Demak. Ibu Daruwerdi yang ada diantara mereka selalu merasa cemas tentang keadaan Pangeran Sena Wasesa. Mungkin Sultan telah mengambil satu keputusan yang akan sangat berat bagi Pangeran itu.

Namun ternyata Pangeran Sena Wasesa sendiri merasa, bahwa dengan demikian beban perasaannya justru menjadi ringan, la sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya terhadap negerinya. Hampir saja ia telah melakukan satu kesalahan yang tidak lain dari sebuah pengkhianatan.

“Hamba menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan adimas Sultan” berkata Pangeran Sena Wasesa, “hamba telah merasa sangat bersalah”

Namun Sultan tidak mengambil keputusan sendiri. Ia telah berbicara dengan beberapa orang terpenting di Demak.

Dalam pada itu, dengan bukti-bukti yang ada, maka Sultan di Demak pada kesempatan lain telah menerima dan meyakini bahwa Jlitheng memang putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana. Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu tidak dapat dituduh telah memalsukan dirinya untuk kepentingan tertentu.

“Kau mendapat kesempatan untuk mengajukan permintaan bagi dirimu sendiri” berkata Kangjeng Sultan, “kau telah membantu dengan kemauanmu sendiri, tanpa pamrih menemukan pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya. Kau berhak untuk diangkat menjadi Pangeran atas dasar gelar kehormatan dan Demak akan menyediakan sebuah istana bagimu”

Jlitheng menundukkan kepalanya. Satu kehormatan yang tidak ada taranya. Dengan menyembah ia menjawab, “Hamba hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih tuanku”

Namun dalam pada itu, ketika ia berada diantara orang-orang yang datang bersamanya, maka betapa hatinya menjadi kecewa. Dalam kegelisahan, maka Daruwerdi berusaha untuk menenangkan hati ibunya. Bukan saja Daruwerdi, tetapi Swasti telah ikut pula membantunya. Bahkan hiburan yang paling memberikan ketenangan kepada ibu Daruwerdi itu adalah justru hubungan anaknya dengan Swasti, gadis yang luar biasa yang telah menyelamatkannya dari kematian.

“Mudah-mudahan ikatan yang ada diantara mereka akan dapat dikukuhkan” berkata ibu Daruwerdi di dalam hatinya.

Sebenarnyalah menurut pengamatan Jlitheng yang diam-diam selalu mengikuti hubungan antara keduanya, rasa-rasanya memang tidak akan ada kesempatan lagi baginya. Karena itu, maka dengan hati yang pahit ia telah menentukan sikapnya sendiri terhadap kesempatan yang telah diberikan oleh Kangjeng Sultan, tentang gelar kehormatan dan istana yang akan di berikan kepadanya sebagaimana bagi seorang Pangeran.

“Semuanya itu tidak akan ada gunanya lagi bagiku” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Dalam pada itu, ternyata Kangjeng Sultan dan beberapa orang pemimpin tertinggi Kerajaan, telah mengambil satu keputusan bagi Pangeran Sena Wasesa. Kangjeng Sultan telah mengampuni segala kesalahannya. Penderitaan lahir dan batin selama ia berada di tangan orang-orang Sanggar Gading telah diperhitungkan sebagai satu hukuman yang pantas bagi Pangeran itu. Kegelisahannya tentang anak perempuannya yang ditinggalkannya merupakan beban yang paling berat.

Karena itu, maka akhirnya Pangeran Sena Wasesa pun telah mendapatkan kebebasannya.

Pada saat yang demikian, Jlitheng mendapat satu kepastian. Pangeran Sena Wasesa akan berbicara dengan Kiai Kanthi tentang anak gadis pengembara itu. Bagaimanapun juga Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat menolak. Ikatan perasaan diantara anak laki-lakinya dengan gadis Kiai Kanthi.

“Aku akan mempersilahkan kalian singgah di rumahku” berkata Pangeran Sena Wasesa.

“Tetapi bagaimana dengan puteri Pangeran?” bertanya ibu Daruwerdi, “Apakah puteri akan dapat menerima kami?”

“Aku akan berbicara kepadanya” jawab Pangeran Sena Wasesa, “apalagi ia sudah tidak beribu lagi. Mudah-mudahan ia dapat menerima satu kenyataan yang barangkali tidak pernah dipikirkannya sebelumnya. Karena itu Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan kalian yang lain bersedia singgah, maka kalian akan dapat membantuku membuka pikiran anak gadisku. Ia tentu sudah terlalu lama menungguku”

Ternyata orang-orang itu tidak pernah menolak permintaan Pangeran Sena Wasesa. Bahkan Kangjeng Sultan pun telah menganjurkan kepada mereka untuk memenuhi undangan itu.

Namun dalam pada itu, maka Kangjeng Sultan di Demak pun tidak lupa untuk memberikan pertanda terima kasihnya kepada orang-orang yang telah dengan tidak langsung ikut mengembalikan harta benda dan pusaka yang tidak ternilai harganya itu ke Demak, karena pusaka dan harta benda itu akan sangat gunanya untuk membina perkembangan Demak selanjutnya sebagai kelanjutan kekuasaan Majapahit yang tidak dapat dipertahankan lagi.

Kepada Ki Ajar Cinde Kuning Kangjeng Sultan di Demak itu berkata, “Ki Ajar. Tidak ada yang dapat aku berikan yang lebih bermanfaat bagi Ki Ajar, selain membangun padepokan yang telah Ki Ajar miliki”

Ki Ajar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil menyembah ia menjawab, “Ampun tuanku. Memang tidak ada yang lebih baik bagi hamba selain sebuah padepokan. Tetapi menurut perasaan hamba, padepokan hamba telah menjadi cacat seperti tubuh hamba. Hamba sama sekali tidak mendendam kepada adik hamba, apalagi setelah adik hamba tidak ada lagi. Tetapi padepokan itu akan selalu memberikan kenangan pahit bagi hamba dan bagi para penghuninya”

Kangjeng Sultan yang telah mendengar ceritera tentang Ki Ajar Cinde Kuning itu memaklumi perasaannya, sementara Ki Ajar meneruskan, “Hamba tidak akan dapat memasuki lagi padepokan yang telah pernah disebut padepokan Macan Kuning tuanku”

“Aku mengerti Ki Ajar” sahut Kangjeng Sultan, “Jika demikian maka aku dapat menduga, bahwa Ki Ajar lebih baik membuka sebuah padepokan baru daripada mempergunakan padepokan yang telah ternoda itu”

Ki Ajar Cinde Kuning termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Ampun tuanku. Hamba masih akan merenungi hidup ini untuk beberapa lama. Pada saatnya mungkin hamba akan membangun sebuah padepokan yang akan dapat memberikan tempat kepada hamba untuk menyalurkan ilmu sederhana yang ada pada diri hamba”

“Ki Ajar” berkata Kangjeng Sultan, “Kau tidak usah menunggu lebih lama. Bukan maksudku untuk membeli jasamu. Aku mengerti bahwa kau melakukan pengabdianmu tanpa pamrih sama sekali. Tetapi aku pun mengerti bahwa kau memerlukan sebuah padepokan itu”

Ki Ajar mengangguk-angguk kecil. Kemudian jawabnya, “Hamba hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih tuanku. Sudah barang tentu hamba tidak akan menolak hadiah yang akan tuanku berikan. Hamba memang masih mempunyai beberapa orang adik seperguruan. Mereka tentu akan dapat membantu hamba untuk beberapa lama, meskipun mereka sudah mempunyai padepokan mereka masing-masing”

“Aku akan membangun padepokan mereka pula” berkata Kangjeng Sultan, “Aku berharap bahwa padepokan-padepokan itu akan dapat membantu membangun manusia lahir dan batinnya. Aku berharap bahwa padepokan-padepokan itu akan dapat menjadi pelita yang menerangi daerah di sekitarnya, sehingga bukan saja memberikan tuntunan kepada para cantrik, manguyu, jejanggan dan para puthut yang ada di padepokan itu sendiri”

Ki Ajar Cinde Kuning menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menyembah, “Tuanku, pesan itu adalah pesan yang sangat berarti bagi hamba meskipun akan sangat berat untuk melakukannya. Tetapi hamba mengerti, bahwa hidup hamba di padepokan memang bukan satu kehidupan yang terpisah dari kehidupan masyarakat disekitar hamba. Karena itu. apabila memang ada kelebihan pada hamba dan seisi padepokan, maka kelebihan itu memang sewajarnya dilimpahkan kepada masyarakat disekitarnya”

“Terima kasih Ki Ajar” jawab Kangjeng Sultan, “Siapa lagi yang akan dapat berbuat demikian. Masyarakat memang memerlukan sesuluh. Apalagi bagi mereka yang tinggal terpencil”

Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk. Meskipun ia sama sekali tidak mengharapkan hadiah apapun juga atas pengabdiannya, namun jika hal itu akan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak, bukan saja dirinya sendiri dari para muridnya, maka ia harus menerimanya dengan tangan terbuka.

Namun yang mengejutkan kemudian adalah sikap Jlitheng. Agaknya Kangjeng Sultan sangat menghargai pula perjuangan anak muda ini. Ia dengan sengaja telah menempatkan dirinya dalam tugas yang sangat berat itu. Meskipun bagi Jlitheng apa yang terjadi di sepasang Bukit Mati itu semula tidak terlalu jelas, tetapi tangkapan naluriahnya telah memberikan beberapa gambaran tentang daerah itu.

Karena itu, maka terhadap anak muda ini Kangjeng Sultan telah mengulangi pertanyaannya, “Candra Sangkaya, aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku berikan kepadamu. Karena itu, katakanlah, barangkali kau memerlukan sesuatu selain gelar Pangeran dan sebuah istana yang memadai”

Nampaknya Jlitheng memang tidak terlalu berminat lagi untuk berbuat apapun juga bagi hari depannya. Perasaannya sedang dikaburkan oleh gejolak jiwanya sebagai seorang anak muda yang kecewa. Bagaimanapun juga Jlitheng adalah manusia biasa sebagaimana manusia yang lain, dalam hubungannya dengan sentuhan yang paling halus pada perasaannya. Jlitheng sebenarnyalah telah merasa kehilangan.

Namun dalam pada itu, ternyata ia mempunyai sikap tersendiri menanggapi masa depannya yang buram itu dengan penalaran yang mapan. Katanya, “Tuanku. Alangkah besarnya kemurahan tuanku atas hamba dan almarhum ayahanda hamba. Namun bukan karena hamba menolak gelar kehormatan dan istana seorang Pangeran, tetapi barangkali ada yang lebih penting bagi hamba daripada gelar kehormatan dan istana itu, namun apabila tuanku memperkenankan hamba mengajukan pilihan”

“Kau berhak untuk mengajukan permohonan” jawab Kangjeng Sultan, “apabila permohonanmu itu tidak bertentangan dengan kepentingan kerajaan, maka aku tentu akan mengabulkannya”

“Tuanku” jawab Jlitheng, “Jika tuanku berkenan, hamba memang ingin mengajukan satu permohonan yang akan sangat berharga bagi hamba”

Sejenak suasana menjadi hening. Seolah-olah semua mata tertuju kepada Jlitheng yang masih akan mengajukan satu permohonan.

Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar Ia mengerti perasaan Jlitheng terhadap anak gadisnya, sementara ia pun mengerti bahwa hubungan Swasti dengan Daruwerdi menjadi semakin mendalam menusuk sampai ke pusat jantung.

Bahkan Swasti sendiri, merasa sesuatu yang aneh tergetar di hatinya. Sebagai seorang gadis dewasa, ia merasakan sikap Jlitheng terhadap dirinya. Sikap seorang laki-laki muda. Tetapi Swasti tidak pernah merasa tertarik kepada anak muda yang bergelar Candra Sangkaya itu.

Dalam pada itu, hati di dada beberapa orang pun menjadi semakin tegang ketika Sultan kemudian berkata, “Katakanlah. Jangan ragu-ragu”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia bergeser setapak maju. Kemudian dengan gelisah ia berkata, “Ampun tuanku semoga permohonan hamba ini dapat dianggap wajar”

Beberapa orang telah menahan nafas. Kiai Kanthi mendengarkan setiap kata yang diucapkan Jlitheng dengan jantung yang berdebaran. Tanpa disadari Kiai Kanthi memandang Pangeran Sena Wasesa yang tunduk itu sekilas.

“Apakah permohonan anak muda itu ada hubungannya dengan Swasti?” bertanya Kiai Kanthi di dalam hatinya.

Dalam suasana yang hening tegang itu Jlitheng meneruskan kata-Katanya, “Tuanku. Sebenarnyalah bahwa hamba memang mempunyai satu keinginan. Sudah sekian lama hamba berada diantara anak-anak muda Lumban yang tinggal di daerah yang disebut Daerah Sepasang Bukit Mati Daerah yang ditandai dengan sepasang bukit, meskipun dalam keadaan yang justru berlawanan. Satu dari kedua bukit itu gundul dan tandus berbatu padas. Yang lain subur, hijau dan mengandung air diperutnya, yang kini telah mulai dihuni, meskipun sebelumnya disebut daerah yang paling gawat. Jalma mara jalma mati, sato mara sato mati”

Jlitheng berhenti sejenak. Sementara Kiai Kanthi menarik nafas yang tertahan. Seolah-olah dadanya menjadi sesak tanpa sebab.

“Adapun permohonan hamba tuanku” berkata Jlitheng lebih lanjut sementara orang-orang yang mendengarkan menjadi semakin tegang, “berhubungan langsung dengan kehidupan hamba di Lumban. Selama ini Lumban adalah daerah yang kering, miskin dan tidak mampu mengembangkan dirinya. Karena itu, perkenankanlah hamba memohon agar daerah Lumban itu akan dapat menjadi daerah yang subur. Di samping kemungkinan untuk membangun sebuah padepokan kecil yang pantas bagi Kiai Kanthi. Sebenarnyalah bahwa pada dasarnya, kemungkinan itu ada. Tetapi kami orang-orang Lumban terlalu miskin untuk berbuat sesuatu. Air di atas bukit itu baru sebagian kecil mampu kami kuasai. Sedangkan kami ingin pula memberikan penghormatan dan terima kasih kepada orang yang menemukannya. Kiai Kanthi”

Sesaat wajah Kiai Kanthi menegang. Namun kemudian kepalanya telah tertunduk dalam-dalam.

Beberapa orang menarik nafas dalam-dalam. Justru terasa sesuatu yang menyentuh perasaan mereka. Jlitheng tidak minta yang mereka cemaskan. Tetapi ia tidak melupakan kampung halamannya, meskipun sebenarnyalah ia seorang pendatang.

Swasti seolah-olah justru terpukau oleh kata-kata Jlitheng itu. Memang ada terasa tersinggung perasaannya. Sebagai seorang gadis ia merasa, Jlitheng tidak memperhatikannya. Anak muda itu ternyata lebih memperhatikan Lumban dari dirinya. Kenapa Jlitheng tidak memohon kepada Kangjeng Sultan agar dirinya meninggalkan Daruwerdi dan menerima Jlitheng itu dalam hidupnya. Meskipun kemudian ia akan menolak, tetapi dengan demikian ternyata bahwa Jlitheng benar-benar telah menaruh hati kepadanya.

Namun sesaat kemudian, Swasti berhasil menyingkirkan ketamakan di dalam hatinya itu. Ia justru merasa sangat hormat kepada anak muda yang bernama Jlitheng itu. Ia menghargai sikapnya, meskipun ia tahu, bahwa hati anak muda itu tentu terasa pahit.

Swasti menundukkan kepalanya. Terasa matanya menjadi panas. Dalam waktu yang singkat itu, ia sempat melihat Jlitheng dalam keseluruhan, sejak ia bertemu dan sejak ia mengenal anak muda itu. Jlitheng memang terlalu kasar dalam ujud lahiriahnya. Tetapi ia mempunyai cita-cita, jauh lebih besar dari cita-cita Daruwerdi.

“Aku sangat menghargainya” berkata Swasti di dalam hatinya. Tetapi ia benar-benar tidak tertarik kepada anak muda yang bernama Jlitheng itu pada saat-saat ia masih berada di atas bukit berhutan. Katanya kepada diri sendiri, “Pada waktu itu, aku sama sekali tidak melihat sesuatu apapun yang baik pada dirinya. Sombong, kasar dan yang menyakitkan hati, ia sudah mencurigai kami”

Dalam keheningan itu, Sultan memandang Jlitheng sambil tersenyum. Dengan suara yang sareh bernada dalam Sultan berkata, “Kau benar-benar seorang anak muda yang mengerti akan tanggung jawab sebagai anak muda. Permohonanmu pantas mendapat perhatian. Bahkan juga sebuah padepokan kecil bagi Kiai Kanthi. Pada kesempatan ini aku menyatakan kesediaanku untuk membantu membangun Kabuyutan Lumban, menguasai air di atas bukit dan membantu membuat sebuah padepokan kecil”

Jlitheng menundukkan kepalanya sambil menyembah. Dengan suara sendat ia berkata, “Ampun tuanku. Kurnia tuanku tidak ada taranya. Bukan saja bagi hamba, tetapi juga bagi Lumban. Adapun tentang hamba, maka hamba mohon maaf bahwa hamba akan tetap tinggal di Lumban. Hamba sudah terlanjur merasa satu dengan rakyat Lumban. Bukan maksud hamba memperbandingkan kemurahan tuanku dengan keinginan hamba”

“Tidak. Aku akan dapat memberikan keduanya. Sebuah istana Kapangeranan atas dasar gelar kehormatan yang akan aku berikan kepadamu, bukan saja karena jasamu, tetapi juga satu kehormatan bagi Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Pangeran Kuda Surya Anggana. Sekaligus yang kau inginkan, perbaikan tata kehidupan di Lumban” jawab Kangjeng Sultan.

“Ampun tuanku. Hamba mengucap beribu terima kasih. Tetapi hamba mempunyai seorang biyung yang sudah tua. Biyung tentu tidak akan mau meninggalkan Lumban. Karena itu, biarlah hamba menungguinya di hari-hari tuanya” sembah Jlitheng

“Kau masih mempunyai seorang ibu?” bertanya Sultan.

“Bukan ibu kandung hamba. Tetapi tiada bedanya bagi hamba, karena kasihnya pun tidak bedanya dengan kasih seorang ibu kandung” jawab Jlitheng.

Kanjeng Sultan di Demak memandangi Jlitheng sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku kabulkan permohonanmu. Meskipun aku akan tetap menyediakan apa yang sudah aku janjikan di Kota Raja”

Jlitheng yang tunduk itu pun menyembah Katanya, “Demikian besar kurnia itu, sehingga hamba tidak tahu, bagaimana hamba harus mengucapkan terima kasih”

Sultan hanya tersenyum saja. Ia senang melihat sikap Jlitheng. Apalagi permohonannya bagi kemajuan tata kehidupan di Lumban. Jarang sekali terjadi, bahwa seorang anak muda seusia Jlitheng itu yang ternyata lebih mementingkan perkembangan sebuah lingkungan yang miskin daripada kepentingan dirinya sendiri.

Jlitheng menjadi semakin tunduk ketika ia mendengar Sultan itu memujinya, karena Jlitheng sendiri menyadari, bahwa sikapnya itu bukannya satu sikap yang murni.

“Aku telah melakukan satu sikap kepahlawanan yang semu” berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “Aku tidak tahu, apakah aku akan dapat berbuat seperti sekarang ini, jika Swasti tidak lebih dekat dengan Daruwerdi daripadaku. Tetapi agaknya hal inilah yang terbaik dapat aku lakukan sekarang ini. Aku wajib mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa aku telah mendapat jalan yang baik untuk meredakan gejolak di dalam dadaku”

Dalam pada itu, ternyata kemurahan Kangjeng Sultan di Demak itu telah melimpahkan kepada mereka semua yang telah ikut serta membantu kembalinya pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu kepada yang berhak. Demak, yang memikul beban untuk meneruskan kejayaan Majapahit.

Apalagi apabila penghargaan yang diberikan itu bukan saja berarti kepada seseorang. Tetapi berarti bagi satu lingkungan dan akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masa mendatang.

“Penghargaan atau bukan penghargaan, hal itu merupakan kewajiban bagi Demak Karena itu. mudah-mudahan semuanya akan mempunyai nilai yang berarti bagi kehidupan rakyat di Demak” berkata Kangjeng Sultan, “dengan demikian maka aku akan segera memerintahkan untuk melaksanakannya. Padepokan, pengendalian air dan perbaikan serta pemeliharaan lingkungan”

Kemurahan Kangjeng Sultan itu merupakan harapan-harapan bagi masa depan, terutama bagi Jlitheng. Dengan demikian, maka Lumban akan benar-benar dapat menjadi hijau. Dan dengan demikian pula. tidak akan mudah timbul perasaan iri dan dengki karena mereka akan melihat seluruh Lumban menjadi subur. Lumban Kulon dan Lumban Wetan tanpa kecuali.

Harapan itu agaknya dapat sekedar mengurangi perasaan kecewanya, sehingga ia akan dapat menemukan gairah untuk tetap berjuang bagi masa depannya yang masih panjang.

Demikianlah, maka setelah Kangjeng Sultan di Demak menjanjikan untuk memberikan penghargaan yang bermanfaat bagi mereka yang telah membantu mengembalikan pusaka dan harta benda itu. maka mereka pun kemudian telah bersiap-siap memenuhi undangan Pangeran Sena Wasesa untuk berkunjung ke rumahnya. Bukan saja sebagai pernyataan terima kasih, tetapi kehadiran tamu yang banyak itu akan memberikan pengaruh kepada puterinya untuk bersikap lebih lunak menghadapi kehadiran Endang Srini.

Sudah menjadi pendapat umum, bahwa ibu tiri merupakan gambaran dari satu kehidupan yang suram. Ibu adalah perlambang dari derita dan kepahitan. Namun Pangeran Sena Wasesa yakin, bahwa puterinya tidak akan mengalami perlakuan yang kurang baik dari ibu tirinya, karena Pangeran Sena Wasesa mengerti sepenuhnya watak dan sifat Endang Srini.

“Tidak semua ibu tiri harus ditakuti” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya. Justru karena kegelisahannya menghadapi keadaan itu. Sesuatu yang tentu tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh puterinya yang remaja itu.

Dalam pada itu, selagi para tamu Pangeran Sena Wasesa bersiap untuk pergi ke istana Kepangeranan, maka di sebuah istana Kapangeranan yang lain. seorang Pangeran sedang berbincang dengan seorang yang sudah menjelang hari tuanya. Namun pada ujud tubuhnya, sikap dan tingkah lakunya, masih membayangkan keteguhan badan dan batinnya.

Disebelah mereka telah duduk pula seorang anak muda yang bertubuh kekar, berdada bidang dan berwajah keras. Seorang anak muda yang memiliki ketajaman penglihatan bukan saja secara lahiriah tetapi juga ketajaman penggraitanya.

“Pangeran Gajahnata” berkata orang yang sudah menjelang usia tuanya, “Kita harus berusaha sebaik-baiknya. Angger Bramadaru merupakan harapan yang paling baik bagi pemenuhan keinginan Pangeran. Bukankah segala sesuatunya tentu akan Pangeran arahkan bagi kebahagiaan angger Bramadaru pula di kemudian hari?”

Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Ajar Wrahasniti. Aku mengerti rencana itu. Tetapi apakah Ki Ajar yakin bahwa yang dicari itu masih ada pada adimas Sena Wasesa. Dan apakah adimas Sena Wasesa tidak akan menyerahkannya kepada adimas Sultan?”

Ki Ajar Wrahasniti tersenyum. Katanya, “Agaknya Pangeran Sena Wasesa tidak akan menyerahkannya kepada siapapun juga”

“Tetapi apakah tidak akan sampai ke telinga adimas Sultan, bahwa Pangeran Sena Wasesa adalah seseorang yang mengetahui tentang pusaka dan harta benda yang sedang diperebutkan itu” jawab Pangeran Gajahnata, “apalagi setelah adimas Sena Wasesa diculik orang. Ketika ia diketemukan dan dibebaskan oleh para prajurit Demak, maka tentu akan timbul satu perkembangan sikap pada adimas Sena Wasesa seandainya sebelumnya ia sengaja menyembunyikan pusaka dan harta benda itu”

Ki Ajar masih tersenyum, “Aku mempunyai perhitungan, bahwa ia tidak akan melepaskan harta benda dan pusaka yang tidak ternilai harganya itu. Ia tentu dapat ingkar dan mempunyai seribu macam alasan jika Kangjeng Sultan menanyakan tentang pusaka dan harta benda yang didengarnya ada pada Pangeran Sena Wasesa itu”

“Tetapi adimas Sultan dapat mengambil seribu macam sikap” berkata Pangeran Gajahnata.

“Memang Pangeran. Lambat laun, Pangeran Sena Wasesa memang akan dapat dipaksa untuk mengaku jika Kangjeng Sultan mendapatkan bukti atau saksi. Jika tidak, maka apakah alasan Sultan untuk memaksanya mengaku? Jika sebenarnya Pangeran Sena Wasesa tidak mengetahui sama sekali tentang pusaka dan harta benda itu, apakah perbuatan Kangjeng Sultan bukan satu perbuatan yang sewenang-wenang?” sahut Ki Ajar Wrahasniti.

Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Untuk menuduh Pangeran Sena Wasesa tentu diperlukan saksi atau bukti. Kangjeng Sultan tidak akan dapat begitu saja memaksa seseorang untuk mengaku tentang apapun juga hanya berdasarkan desas-desus.

Namun dalam pada itu Pangeran Gajahnata itu pun bertanya, “Ki Ajar, apakah kau benar-benar yakin, bahwa adimas Pangeran Sena Wasesa mengetahui tentang pusaka dan harta benda itu?”

“Aku yakin Pangeran. Tetapi sekali lagi, tidak ada bukti dan saksi. Tetapi setiap aku mencoba melihat lewat cara yang bermacam-macam, maka aku memang melihat pusaka dan harta benda itu ada pada Pangeran Sena Wasesa”

“Baiklah Ki Ajar” berkata Pangeran Gajahnata, “Katakan, bahwa pusaka itu ada pada adimas Sena Wasesa, dan adimas Sena Wasesa tidak akan menyerahkan pusaka dan harta benda itu kepada Kangjeng Sultan. Lalu?”

“Kita serahkan segalanya kepada anakmas Bramadaru” jawab Ki Ajar sambil tertawa. Ketika ia berpaling kepada anak muda yang duduk di sebelahnya, anak muda itu menundukkan kepalanya.

“Angger” berkata Ki Ajar Wrahasniti, “Bukankah angger berhubungan semakin rapat dengan puteri Pangeran Sena Wasesa itu?”

Bramadaru beringsut setapak. Tetapi ia tidak segera menjawab. Bahkan Ki Ajar Wrahasniti lah yang berkat selanjutnya, “Pangeran, anakmas Bramadaru sering mengunjungi puteri yang kesepian itu”

“Aku mengerti maksud Ki Ajar. Ki Ajar berharap Bramadaru dapat menjadi semakin dekat dengan gadis itu” sahut Pangeran Gajahnata.

“Ya Pangeran. Dan nampaknya kedatangan angger Bramadaru dalam saat-saat yang menguntungkan itu telah berhasil mengikat hati puteri itu” berkata Ki Ajar Wrahasniti.

“Guru” Anak muda itu memotong, “Aku belum dapat mengatakan demikian. Aku memang sering berkunjung ke rumah itu sejak guru menyarankannya. Aku pun telah berhubungan dengan gadis itu. Ia terlalu ramah dan baik. Tetapi aku belum dapat membedakan, apakah ia menganggap aku sebagai seorang anak muda dalam hubungannya dengan seorang gadis, atau sekedar merasa bahwa aku adalah saudara tua yang wajib dihormatinya”

“Ya Ki Ajar, anakku adalah saudara sepupunya. Mungkin gadis itu menerimanya sebagai saudaranya. Karena itu ia bersikap ramah dan baik” sambung Pangeran Gajahnata.

“Ah” Ki Ajar itu tersenyum, “gadis itu adalah gadis yang semula adalah gadis pingitan. Ia tidak terlalu banyak berhubungan dengan laki-laki yang manapun juga, kecuali para pengawal. Karena itu, maka kehadirannya akan mendapat perhatian yang sangat besar. Apalagi pada saat-saat gadis itu kesepian. Pada saat Pangeran Sena Wasesa tidak ada di istananya”

“Tetapi sekarang adimas Sena Wasesa telah berada di istana Demak. Bahkan mungkin saat-saat ini adimas Pangeran telah kembali ke istananya” berkata Pangeran Gajahnata”

“Itu bukan persoalan lagi” jawab Ki Ajar, “hubungan batin itu sudah terjalin. Angger Bramadaru harus masih selalu datang berkunjung. Mungkin sikap gadis itu agak lain, justru karena ayahandanya sudah ada. Tetapi aku percaya bahwa pada saatnya gadis itu akan dapat diikat hatinya oleh angger Bramadaru. Jika hal itu terjadi, maka angger Bramadaru kelak benar-benar dapat menjadi satu-satunya pewaris dari pusaka dan harta benda itu. Bahkan mungkin angger Bramadaru akan dapat mengetahui dengan segera dimana pusaka dan harta benda itu tersimpan. Jika demikian maka terserah kepada Pangeran dan angger Bramadaru, apakah angger benar-benar ingin memperistri gadis itu atau tidak”

Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya rencana Ki Ajar Wrahasniti, guru dari anak laki-lakinya yang sangat diharapkan akan dapat menjadi seorang laki-laki yang mumpuni. Apalagi Bramadaru adalah satu-satunya anak laki-laki Pangeran Gajahnata. Saudara-saudaranya yang lain adalah perempuan semuanya.

Sebenarnyalah yang diharapkan oleh Pangeran Gajahnata dan Bramadaru bukannya puteri Pangeran Sana Wasesa itu sendiri. Tetapi kemungkinan yang paling dekat untuk mendapatkan harta benda dan pusaka itu adalah dengan cara yang demikian, cara yang disusun oleh Ki Ajar Wrahasniti

Bersambung ke jilid 22

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

 

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s