MAdBB-06


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 6

kembali | lanjut

cover madbb-06UNTUK beberapa saat lamanya Jlitheng berdiri diam. Dengan segenap kemampuan inderanya ia mencoba mengetahui, apakah yang ada di sekelilingnya.

 Tetapi ia tidak mendengar sesuatu dan tidak melihat sesuatu selain pepohonan, bebatuan dan air yang tidak lebih dari setinggi mata kaki.

 Namun sekali lagi merasa tubuhnya tersentuh sesuatu. Tidak terlalu keras, tetapi ia mulai mengerti, bahwa ia telah dikenai oleh sentuhan batu kerikil yang kecil yang dilontarkan dari tempat yang tidak diketahui.

 Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia mencoba mengurai keadaan. Tentu seseorang dengan sengaja telah mengintainya dan mencobanya dengan melemparkan sebutir kerikil kecil.

 “Apakah mungkin Daruwerdi” Ia bertanya kepada diri sendiri, “atau orang-orang dari Sanggar Gading, atau dari padepokan yang lain, atau Kiai Kanthi, Paman Sri Panular, atau…..”

 Jlitheng menjadi bingung.

 Dalam pada itu, selagi ia masih termangu-mangu, tiba-tiba didengar suara tertawa meledak. Suara yang tiba-tiba saja terdengar di segala arah oleh gema yang bersahut-sahutan.

 “Gila” Jlitheng menggeram. Dengan seksama ia mencoba mendengar suara itu. Tetapi agaknya ia belum pernah mendengar suara yang bernada rendah tetap demikian kerasnya,

 “Anak yang dungu” suara itu masih melingkar-lingkar dari segala arah, “apa yang dapat kau lakukan dengan latihan-latihan yang tidak terarah itu. Apakah dengan meloncat-loncat dan melenting-lenting itu kau kira, kau dapat mengalahkan lawan-lawanmu? Jika kau ingin bergabung dengan orang-orang yang sibuk mencari pusaka itu kau harus dapat meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau bukannya anak ingusan yang sekedar ikut-ikutan”

 Jlitheng menggeretakkan giginya. Dengan nada tinggi ia berteriak, “Siapa kau, siapa?”

 Suara tertawa itu terdengar semakin keras dalam nada rendah. Terdengar suara itu menyahut, “Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Tetapi aku adalah salah seorang dari mereka yang menginginkan pusaka yang tersembunyi di sekitar Sepasang Bukit Mati ini. Sementara disini ada kau dan Daruwerdi, maka aku harus berbuat sesuatu untuk mengatasi kau dan Daruwerdi. Tetapi ada kelebihan Daruwerdi dari padamu Jlitheng yang bergelar Arya Baskara, bahwa kau sama sekali tidak berarti apa-apa disini, sementara Daruwerdi sedikit banyak dapat dijadikan pancatan untuk mengetahui rahasia pusaka itu”

 “Gila” geram Jlitheng, “siapa kau he?”

 “Kau perlu mengetahui siapa aku?” suara itu melingkar-lingkar semakin keras.

 “Ya”

 Yang terdengar adalah suara tertawa meledak seolah-olah tidak dapat ditahan lagi. Katanya, “Aku adalah orang yang paling berhak atas pusaka itu. Aku tahu, betapa besar kekuatan gaib yang tersimpan pada pusaka itu, sehingga setiap kelompok yang merasa mempunyai cukup kekuatan saling berebut untuk memilikinya”

 Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dan suara itu masih bergema, “Yang terjadi sekarang barulah benturan-benturan kecil yang tidak berarti. Dua tiga orang saling membunuh tanpa arti. Tetapi pada suatu saat, pertentangan yang sebenarnya akan meledak. Aku akan menghancurkan segalanya. Kau, orang-orang Kendali Putih, orang-orang Sanggar Gading orang-orang Pusparuri, dan kemudian Daruwerdi dengan kelompoknya setelah ia aku paksa untuk membuka rahasia penyimpanan pusaka itu”

 “Ia tidak akan mengatakannya” sahut Jlitheng.

 Suara tertawa itu bagaikan melingkar-lingkar di seluruh ngarai dan lereng Sepasang Bukit Mati, di sepanjang sungai dan di bulak-bulak yang luas dan gersang.

 “Kau memang aneh. Jika aku menangkapnya, maka dengan hukuman picis ia tentu akan berbicara”

 Terasa kulit tubuh Jlitheng meremang. Namun ia membentak, “Keluarlah. Kita berbicara secara jantan. Dan jika tidak ada persesuaian lagi diantara kita. kita akan bertempur sekarang”

 “Belum waktunya Jlitheng” sahut suara itu, “aku sedang mengawasi gerak-gerik orang-orang Pusparuri yang sedang mendekati daerah ini. Bukan orang-orang Kendali Putih. Tetapi aku tidak mau menyia-nyiakan tantanganmu itu. Aku hanya akan membuktikan bahwa aku mempunyai kelebihan daripadamu”

 “Persetan, keluarlah”

 “Tidak perlu. Sudah aku katakan bahwa hal itu belum waktunya. Yang akan aku lakukan adalah bermain-main dengan kerikil. He, cobalah kau menghindari kerikil-kerikil yang akan aku lemparkan. Kerikil-kerikil itu tidak terlalu kecil. Kau akan dapat melihat di keremangan malam. Seandainya kau memiliki sedikit ketajaman penglihatan. Jika kau berhasil menghindari Semua lontaranku, maka aku akan mengambil waktu satu dua tahun untuk berguru lagi kepada orang yang lebih pandai dari guruku yang sekarang. Baru kemudian aku akan datang memperebutkan pusaka itu”

 “Persetan” Jlitheng berteriak.

 “Kita akan mulai. Bersiaplah”

 Sebelum Jlitheng menjawab, ia telah melihat sebuah kerikil terlempar dari sebuah gerumbul ke arahnya. Dengan tangkasnya ia meloncat menghindar. Bukan saja menghindar, tetapi dengan serta merta, ia pun telah meloncat kearah gerumbul itu. Dengan kekuatan yang luar biasa dan kecepatan yang tidak terduga-duga, Jlitheng berhasil dalam sekejap, sampai ke gerumbul itu. Namun ketika dengan sepenuhnya tenaga ia menerjang ke dalamnya, ia sama sekali tidak menemukan seorang pun.

 Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara tertawa beberapa langkah dibelakangnya. Namun ketika suara terjawab itu berhenti, maka ia melihat gerumbul di seberanglah yang bergetar.

 “Gila” Jlitheng menggeram, “jangan lari”

 Tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka Jlitheng pun menjadi semakin gelisah dan bahkan marah.

 Baru sejenak kemudian ia mendengar suara yang melingkar-lingkar itu lagi. Katanya, “Kembalilah diantara batu-batu itu. Kita belum selesai. Kau sempat menghindari batu kerikilku yang pertama. Tetapi itu belum satu kemenangan, karena aku akan melemparmu seperti hujan. Dan kau tidak akan. dapat menghindar karenanya”

 Jlitheng termangu-mangu sejenak, ia mencoba berpikir, bagaimana caranya untuk dapat berhadapan langsung dengan orang yang bersembunyi itu.

 Sejenak ia masih tetap berdiri di tempatnya, sementara Suara itu terdengar lagi, “Apakah kau takut menghadapi kerikil-kerikil kecilku anak muda. Kaulah yang menantang aku. Dan ternyata kau menjadi ngeri sendiri”

 “Persetan” geram Jlitheng. Namun ia pun kemudian menemukan akal. Ia akan turun ke sungai dan berada diantara batu-batu. Ia akan sempat memperhatikan dari manakah arah batu-batu kerikil itu dilontarkan. Dengan demikian, apa bila terbuka kesempatan, ia akan dapat menyergap orang yang merahasiakan dirinya itu.

 Oleh pikiran itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Kita langsungkan parang tanding dengan caramu. Tetapi jika kau kalah, maka kau harus menunjukkan dirimu. Dan perang tanding akan berlangsung dengan cara yang lain. Dengan cara seorang laki-laki jantan”

 Suara tertawa terdengar menyusur jurang di sepanjang sungai dan seakan-akan membentur lereng bukit gundul dan bukit berhutan itu, memencar memenuhi bulak-bulak yang luas.

 “Bagus. Kau memang seorang anak muda yang berani, Baiklah. Aku setuju dengan perjanjianmu itu”

 Jlitheng pun kemudian mempersiapkan dirinya diantara batu-batu. Tetapi ia dengan saksama memperhatikan, dari manakah batu-batu kerikil itu akan berloncatan.

 Sejenak tidak terdengar suara apapun Jlitheng masih berdiri tegak sambil memusatkan segenap kemampuan daya tangkap inderanya. Pendengarannya dan penglihatannya dipergunakan-nya sebaik-baiknya. Betapapun malam diselubungi oleh kekelaman, namun Jlitheng masih mampu melihat melintasnya bayangan yang mengarah ke tubuhnya. Sementara itu, ia mencoba untuk mendengar gemerisik dedaunan di gerumbul-gerumbul yang terdekat pada tanggul sungai kecil itu.

Sejenak kemudian yang didengar Jlitheng adalah suara tertawa yang menjengkelkan itu sehingga dengan marah Jlitheng menggeram, “Cukup, Cukup. Aku akan muak mendengar suara tertawa itu”

Suara tertawa itu semakin lama menjadi semakin susut. Sejenak kemudian, terasa sesuatu tergetar didadanya, tepat pada ujung suara tertawa yang kemudian terhenti itu,

“Luar biasa” desahnya di dalam hati, “suara tertawa itu membuktikan, bahwa aku berhadapan dengan seseorang yang pilih tanding”

Dalam pada itu, ketika suara tertawa itu terhenti, maka Jlitheng pun mendengar suara gemerisik lembut. Ketika ia berpaling, dilihatnya sebuah batu kerikil meluncur ke punggungnya.

“Gila. Ia berada di belakangku” geramnya sambi meloncat menghindari. Namun kerikil yang pertama itu telah disusul dengan kerikil yang kedua, ketiga dan keempat berurutan,

“Persetan” Jlitheng mengumpat, “kau pengecut”

Tidak terdengar jawaban. Tetapi jarak lontaran kerikil itu semakin lama menjadi semakin rapat, sehingga dengan demikian, Jlitheng harus berloncatan semakin cepat. Bukan saja diantara batu-batu, tetapi iapun harus meloncat dari satu batu ke batu yang lain.

Namun sementara itu, Jlitheng pun selalu memperhatikan darimana kerikil itu dilontarkan.

Pada saat Jlitheng telah yakin, arah lontaran kerikil itu, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya. Sambil berloncatan menghindar ia berusaha mendekati tebing di bawah gerumbul dari arah kerikil itu dilontarkan.

“Aku harus mendapatkannya. Betapapun saktinya, tetapi aku tidak mau direndahkan seperti ini” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun segera menghimpun tenaganya Sambil menghindari lontaran-lontaran itu, maka iapun segera bersiap untuk meloncat naik keatas tanggul.

Namun tiba-tiba saja lontaran-lontaran itu berhenti tepat pada saat Jlitheng sudah siap untuk meloncat.

Karena itu, maka Jlitheng pun justru tertegun. Dipandanginya gerumbul diatas tanggul itu. Sepi, Ia tidak melihat selembar daun pun yang bergerak.

“Persetan” geramnya, “Aku harus mendapatkannya.

Tetapi ketika ia benar-benar akan meloncat, maka terdengar lagi suara tertawa itu. Di sela-sela suara tertawa itu ia mendengar orang yang bersembunyi itu berkata, “Bagus anak muda. Hari ini kau berhasil lolos. Tidak sebuah kerikil pun yang dapat mengenaimu. Tetapi itu bukan kemenangan. Aku memang sengaja berbuat demikian, agar kau menjadi agak berbesar hati. Ternyata meskipun ilmumu cukup baik, tetapi hatimulah yang sangat kerdil. Besok aku akan datang. Dan kau akan mendapat perlakuan yang lebih keras dan mungkin kasar, sehingga kau harus mengakui, bahwa kau kalah dari aku. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa mengenai pusaka itu. Dengan demikian, sebaliknya kau mengundurkan dirimu sebelum kau mati. Baru kemudian, aku akan berbuat serupa terhadap Daruwerdi, tetapi dengan tuntutan yang lebih berat, justru karena ia mengetahui serba sedikit tentang pusaka yang sama-sama diperebutkan itu. Namun sebelum itu, aku masih harus melindunginya dari orang-orang Pusparuri yang mendekati daerah ini sekarang, orang-orang Kendali Putih, orang-orang Sanggar Gading, dan kau. Aku belum tahu apakah kakek tua di bukit itu juga mempunyai sangkut paut dengan pusaka itu. Jika demikian, meskipun agak sulit, tetapi iapun harus dibinasakan pula”

“Pengecut” Jlitheng menggeram, “turunlah. Kita berhadapan sekarang”

“Sudah aku katakan. Waktuku sedikit. Orang-orang Pusparuri mendekati daerah ini sekarang. Aku perlu mengawasinya”

Jlitheng tidak mau kehilangan, Itulah sebabnya, maka tiba-tiba saja iapun segera meloncat naik. Dengan sigapnya ia menerjang gerumbul pada arah batu-batu kerikil itu dilontarkan.

Namun seperti yang telah dilakukannya. Ia pun menjadi kecewa. Ia tidak menemukan apa-apa di gerumbul itu.

 Jlitheng mengumpat ketika ia mendengar suara di gerumbul yang lain, agak jauh daripadanya, “Besok kita ketemu lagi disini anak muda”

 Jlitheng hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia melihat bayangan yang bagaikan terbang, hilang dalam kegelapan. Bayangan seseorang yang tidak dapat diketahui ciri-cirinya, tanpa baju dan hanya melilitkan kain panjangnya di lambung.

 “Gila” geram Jlitheng. Tetapi Jlitheng tidak mengejarnya. Ia sadar, bahwa tentu akan sangat sulit untuk dapat mengejar orang itu. Jika ia mencobanya juga, maka ia hanya akan kehilangan banyak waktu dan tenaga.

 Namun tiba-tiba saja Jlitheng seperti orang terbangun dari mimpinya. Ia pun kemudian meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke bukit berhutan. Salah seorang yang dicurigainya melakukan permainan itu adalah Kiai Kanthi. Meskipun Kiai Kanthi akan sampai lebih dahulu ke gubugnya, namun orang tua itu tentu basah oleh keringat atau tanda-tanda lain bahwa ia baru saja berlari-lari.

Ketika Jlitheng sampai ke dekat gubug yang telah dihuni olah Kiai Kanthi, hatinya menjadi berdebar-debar. Jika benar orang tua itu yang melakukannya, apakah yang kemudian akan diperbuatnya? Meskipun demikian, Jlitheng pun kemudian mengetuk pintunya perlahan-lahan.

 “Siapa?” terdengar suara Kiai Kanthi dari dalam.

 “Aku Kiai. Jlitheng” jawab Jlitheng diluar.

 Jlitheng mendengar amben berderit Kemudian ia mendengar langkah Kiai Kanthi ke pintu. Ketika pintu terbuka, maka dilihatnya Kiai Kanthi menggosok matanya sambil berselimut kain panjangnya.

 “O, marilah ngger. Masuklah. Tetapi aku belum dapat mempersilahkan angger duduk. Yang baru dapat aku buat adalah amben yang hanya dapat aku pakai untuk sementara, karena tulang-tulangnya hanya aku ikat saja satu dengan yang lain. Aku belum sempat membuat amben yang baik dengan adon-adonan pada setiap sambungan”

 “Sudahlah Kiai” Jlitheng memotong agar ceritera itu tidak berkepanjangan, “Aku hanya lewat saja malam ini”

 “Angger dari mana?” bertanya Kiai Kanthi

 Jlitheng termangu-mangu. Ternyata Kiai Kanthi tidak menunjukkan tanda-tanda apapun yang dapat disimpulkan, bahwa Kiai Kanthi lah yang telah melakukannya, Nafasnya tidak terengah-engah. Nampaknya dalam cahaya lampu minyak. ia sama sekali tidak berkeringat. Seandainya keringatnya telah dihapus, maka keringat itu akan timbul lagi membasahi keningnya.

 Selagi Jlitheng termangu-mangu, terdengar dari balik dinding- penyekat suara anak gadis Kiai Kanthi, “Siapa yang datang malam-malam begini ayah?”

 “O, angger Jlitheng” jawab Kiai Kanthi, “hanya singgah sebentar. Tidurlah. Kenapa kau terbangun juga”

 “Kenapa tidak besok pagi-pagi saja?” desis Swasti.

 Jlitheng justru tersenyum karenanya. Lalu katanya, “Sudahlah Kiai Aku mohon diri. Aku akan melanjutkan perjalanan”

 Jlitheng kemudaan meninggalkan gubug Kiai Kanthi. Dengan tergesa-gesa ia pun menuruni tebing dan kembali ke rumahnya.

 Sepeninggal Jlitheng, Swasti pun bangkit dari pembaringan-nya. Sambi memberengut ia berkata, “Ayah memanjakannya. Akulah yang harus menjadi korban”

 Kiai Kanthi tersenyum. Jawabnya, “Bukan maksudku Swasti”

 “Tetapi ilmu anak itulah yang meningkat. Bukan ilmuku”

 “Kau juga mendapat kesempatan. Jika kerja ini selesai, maka kau mempunyai banyak waktu”

 “Tetapi sekarang akulah yang seharusnya mendapat waktu khusus diantara kerja yang belum selesai”

 Kiai Kanthi tertawa. Sambil duduk di ambennya yang sederhana ia berkata, “Aku mengira, bahwa ia benar-benar datang. Ia mencurigai kita”

 “Besok, biar ayah saja sendiri datang ke sungai itu. Ayah sendiri sudah cukup mampu untuk membuatnya bingung”

 “Benar Swasti. Tetapi yang penting bukan itu. Aku ingin menunjukkan kepadamu, satu segi olah kanuragan yang agak berbeda dengan yang kita miliki. Meskipun kau pernah bertempur melawan anak muda itu, bukan sekedar bermain-main, tetapi dengan demikian, kau akan dapat melihat lebih jelas. Sambil bertempur, kau memusatkan perhatianmu kepada pertempuran itu sendiri. Namun dengan cara ini kau akan mendapat kesempatan lebih luas untuk memperhatikannya. Kau akan dapat mengambil keuntungan daripadanya”

 Swasti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “ Ada dua orang aneh disini Tetapi kenapa ayah memilih Jlitheng. Bukan Daruwerdi. Nampaknya ayah tidak begitu senang kepada Daruwerdi yang barangkali mempunyai dasar yang lebih baik. Ia benar-benar nampak sebagai seorang yang mempunyai wibawa”

 Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Benar Swasti. Aku memang memilih Jlitheng. Nampaknya ia lebih sederhana. Lebih jujur. Dan aku percaya sepenuhnya kepadanya meskipun nampaknya Jlitheng sendiri masih mencurigai aku. Tetapi Daruwerdi nampaknya seorang yang tinggi hati dan menganggap dirinya lebih baik dari orang lain”

 “Sejak semula ayah sudah memihak. Bukankah salah kita, bahwa kita tidak menyatakan diri, siapakah kita sebenarnya, sehingga ayah tidak merasa direndahkan oleh Daruwerdi”

 Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku memang lebih senang terhadap Jlitheng, Swasti. Aku sadar, bahwa perasaan seseorang bukannya ukuran yang tepat untuk menilai buruk dan baik Tetapi kita mempunyai waktu untuk menilainya. Mudah-mudahan aku tidak keliru”

 Swasti tidak menjawab lagi. Ia pun kembali berbaring diatas ambennya yang berderik-derik.

 “Tidurlah. Kau tentu lelah. Tetapi itu merupakan latihan tersendiri bagimu”

 “Aku memerlukan waktu khusus ayah”

 “Ya. Jlitheng hanya mempunyai waktu yang pendek sekali sebagai persiapan untuk melakukan tugas-tugasnya yang mungkin sangat berat. Kita tidak tahu pasti. Tetapi nampaknya ia sudah menemukan jalan”

 “Ia akan mengecewakan ayah jika ternyata ia berbuat bagi dirinya sendiri” desis Swasti.

 Kiai Kanthi mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya Swasti. Aku akan menjadi sangat kecewa jika ternyata Jlitheng berbuat semuanya ini bagi kepentingan dirinya sendiri. Tetapi menilik sikapnya terhadap air yang akan disalurkan lewat sungai kecil itu, maka ia berbuat untuk kepentingan banyak orang”

 “Mudah-mudahan itu bukan sekedar sikap pura-pura, seperti yang dilakukannya dalam hidupnya sehari-hari” desis Swasti.

 “Mudah-mudahan tidak Swasti. Kepura-puraannya itu dilakukannya dengan sadar untuk satu tujuan yang dianggapnya sangat penting” sahut Kiai Kanthi,

 Swasti tidak menjawab lagi. Tetapi ia bersungut-sungut, “Pokoknya aku minta waktu agar ayah bersedia meningkatkan ilmuku. Jika tidak, aku akan kalah dari anak muda itu”

 “Tentu Swasti. Tetapi aku minta kau ikut ke sungai besok malam. Kau akan melihat ungkapan ilmu Jlitheng. Kemudian seperti hari ini, kau mendahului aku kembali ke gubug ini. Semuanya biarlah aku selesaikan”

 Swasti tidak menjawab. Ia ingin mempergunakan sisa malam itu untuk beristirahat dan tidur nyenyak.

 Dalam pada itu, Jlitheng yang sudah berada di rumahnya menjadi gelisah. Ia masih memikirkan seseorang yang telah mengganggunya dari tebing sungai. Ia masih belum tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan oleh orang itu.

 Namun lebih dari itu, ia pun menggelisahkan keterangan dari orang yang tidak diketahuinya itu, bahwa ia akan mengawasi orang-orang Pusparuri yang akan mendekati daerah Sepasang Bukit Mati. Orang-orang Pusparuri yang telah lebih dahulu membuat perjanjian dengan Daruwerdi sebelum orang dari Sanggar Gading.

 “Jika orang-orang Pusparuri mendahului orang-orang Sanggar Gading, maka aku akan dapat kehilangan lacak. Meskipun demikian, mungkin aku masih mendapat kesempatan untuk mengetahui sasaran yang telah diminta oleh Daruwerdi sebagai pengganti pusaka yang dijanjikannya itu” berkata Jlitheng kepada diri sendiri.

 Dalam kegelisahannya, Jlitheng mencoba untuk berbaring dan tidur barang sejenak. Oleh lelah dan letih, maka akhirnya ia pun dapat tidur meskipun tidak terlalu lama.

 Di siang hari tidak banyak yang dilakukan oleh Jlitheng. Bersama beberapa orang kawannya ia pergi ke sungai. Ke tebing yang sudah dipersiapkan bagi Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang akan berdiri berhadapan, menyaksikan ujung aliran air yang akan dialirkan dari belumbang diatas bukit.

 Namun ketika kawan-kawannya kembali ke padukuhan, Jlitheng tinggal untuk mencuci pakaiannya di sungai yang hampir kering itu.

 Tetapi demikian kawani-kawannya tidak dilihatnya lagi, maka ia pun segera menyusuri sungai. Ia ingin melihat apa yang telah terjadi semalam ketika ia sedang berlatih.

 Jlitheng memang melihat bekas-bekas pada gerumbul-gerumbul disekitarnya. Ranting-ranting yang patah dan tersibak. Namun ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun juga.

 Namun karena itu, maka Jlitheng pun menjadi semakin bernafsu untuk dapat mengetahui siapakah orang yang telah mencampuri masalahnya itu.

 “Malam nanti, aku harus datang” desis Jlitheng.

 Sebenarnyalah ketika malam menjadi semakin dalam, Jlitheng telah pergi ke sungai yang sepi. Ia mengatakan kepada kawan-kawannya, bahwa kesehatannya masih belum pulih kembali sehingga ia tidak dapat ikut berada di gardu seperti kebiasaannya.

 Seperti pada malam pertama, ternyata suara itu didengarnya lagi. Batu-batu itu pun telah dilontarkan dari tebing. Sekali-kali Jlitheng mendengar orang itu tertawa. Namun kemudian suara itu bagaikan lenyap ditelan dedaunan. Tetapi suara itu kemudian telah muncul di balik gerumbul yang, lain.

Berbeda pada hari yang pertama, maka di hari kedua Jlitheng tidak dapat menghindarkan diri dari kerikil-kerikil yang di tempatkan oleh orang yang tidak mau menampakkan wajahnya itu. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi beberapa buah kerikil yang cukup besar telah mengenainya. Bukan saja menyentuhnya, tetapi terasa tubuhnya menjadi sakit.

“Kau sama sekali tidak berdaya melawan aku” terdengar suara itu bergema.

Jlitheng mengerahkan segenap kemampuannya. Diluar sadarnya, ia sudah mulai menjamah tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya. Bahkan kemudian ia sudah terpancing oleh perasaan sakitnya, sehingga akhirnya Jlitheng telah mempergunakan semua kekuatan yang ada pada dirinya. Tenaga cadangannya telah dikerahkan untuk mendorong tata geraknya sehingga menjadi semakin cepat, sementara kekuatannya pun bagaikan berlipat. Kekuatan yang tersimpan itu telah tersalur pada anggota badannya sehingga kakinya bagaikan menjadi sekuat kaki bilalang yang mampu melontarkan tubuhnya beberapa kali lipat panjang tubuhnya sendiri,

Sementara itu, Swasti berada pula di pinggir sungai itu bersama dengan ayahnya. Seperti pesan Kiai Kanthi, maka ia pun memperhatikan segala tata gerak yang dilakukan oleh Jlitheng, yang semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan dengan dorongan gerak naluriah dialasi oleh kemampuan ilmunya yang luar biasa.

Dengan mata yang hampir tidak berkedip Swasti menyaksikan, betapa Jlitheng berusaha menghindari batu-batu kerikil yang dilemparkan oleh ayahnya. Kadang-kadang dengan mudah, namun kadang-kadang Jlitheng terpaksa melakukan gerak yang seakan-akan tiba-tiba saja melontarkan tubuhnya dari batu ke batu yang lain.

Malam itu, seperti malam sebelumnya. Jlitheng pun tidak berhasil bertemu dengan orang yang sengaja merahasiakan dirinya itu. Dan malam itu Jlitheng tidak lagi berlari ke bukit untuk membuktikan bahwa yang melakukannya bukan Kiai Kanthi.

Namun di hari kedua Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Hatinya tidak lagi sedang menyala. Ia sudah bersiap untuk mengalami perlakuan itu sejak ia datang. Bahkan ia merasa, bahwa dengan demikian, ia telah mendapat keuntungan, karena ia tidak harus berlatih sendiri. Batu kerikil itu telah mendorongnya untuk berbuat jauh lebih banyak dari pada ia berlatih seorang diri.

Dihari kedua Jlitheng mempunyai tanggapan yang lebih baik dari orang yang merahasiakan dirinya itu. Ia mulai condong kepada dugaan bahwa orang itu bukannya orang yang bermaksud jahat kepadanya. Karena itu, ia tidak lagi memasang nama Daruwerdi diantara mereka yang diduganya telah melakukannya.

“Apalagi kemampuan Daruwerdi tidak akan sebesar kemampuan orang yang telah melempari aku dengan batu kerikil itu”

Pada hari kedua, orang yang tidak diketahui oleh Jlitheng itu pun telah menantang agar Jlitheng datang pada hari ketiga. Ternyata Jlitheng pun tidak berkeberatan. Ia telah berjanji untuk datang di malam berikutnya.

Di waktu yang telah dijanjikan, Jlitheng telah datang pula ke sungai itu. Tetapi orang tidak menampakkan diri itu tidak lagi melemparinya dengan batu kerikil yang kecil, tetapi ia sudah mulai melemparinya dengan batu yang lebih besar.

“Persetan” geram Jlitheng.

Jika satu dua butir batu mengenainya, ia benar-benar merasa tubuhnya menjadi sakit Sementara batu-batu itu menjadi semakin sering menyentuh tubuhnya. Pundaknya, lengannya, dadanya, perutnya, bahkan kepalanya.

Ketika Jlitheng mulai menyeringai menahan sakit, maka terdengar suara dari baik gerumbul, “Jlitheng, ternyata kemampuanmu tidak seberapa. Aku tahu, tubuhmu tentu menjadi merah biru. Lengan dan tanganmu tentu terasa sakit karena itu kau berusaha selain menghindar juga menangkis. Nah, bagaimana dengan ilmu pedangmu. Inilah, cobalah dengan ilmu pedang untuk menangkis serangan-seranganku”

Sebelum Jlitheng menjawab, ia melihat sepotong kayu yang meluncur dari dalam gerumbul. Jelas dapat dilihatnya. Gerumbul yang rimbun di atas tebing. Tetapi ia sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk meloncat dan menerjang ke dalamnya untuk mencari orang yang telah melemparinya dengan batu dan kemudian memberinya sepotong kayu.

Hampir diluar sadarnya, Jlitheng kemudian menerima sepotong kayu itu dan mempergunakannya untuk menangkis batu-batu yang dilemparkan kepadanya.

Dalam pada itu, dengan dada yang berdebar-debar Swasti menyaksikan Jlitheng mempergunakan tongkat kayu. Dengan demikian Swasti telah menyaksikan betapa Jlitheng menguasai ilmu pedang yang mengagumkan. Dengan sepotong kayu itu, ia berloncatan sambil menangkis batu-batu yang semakin besar yang dilontarkan kepadanya Bukan saja batu-batu itu menjadi semakin besar, tetapi juga semakin keras.

Ternyata Jlitheng benar-benar tangkas. Setiap kali ia berhasil memukul batu-batu yang mengarah ke tubuhnya. Meskipun satu dua butir diantaranya berhasil mengenainya, tetapi sebagian dari batu-batu itu berhasil ditangkis dan dihindarinya.

 Permainan yang mula-mula dianggap oleh Jlitheng sebagai suatu hal yang mengganggunya, ternyata menjadi sangat menarik. Tetapi ia sadar, bahwa waktunya tidak terlalu banyak, ia tidak akan dapat bermain-main seperti itu untuk waktu yang lama, sehingga ilmunya akan menjadi jauh meningkat.

 Waktunya sangat sempit. Sejak ia kembali dari Demak, tidak lebih dari sepuluh hari.

 Namun demikian, apa yang terjadi itu baginya sudah memadai. Seolah-olah ia mendapat kawan untuk meningkatkan ilmunya dalam waktu yang sangat singkat. Siapapun orang itu, tetapi ternyata bahwa yang dilakukan justru telah membantunya banyak sekali. Dengan sepotong kayu, Jlitheng seolah-olah telah berlatih dan mempertinggi kemampuan ilmu pedangnya. Kecepatan bergerak dan bahkan meningkatkan kekuatan pergelangan tangannya.

 Tetapi disamping kepentingan bagi dirinya sendiri, Jlitheng masih mempunyai kewajiban lain. Di malam hari ia memanfaatkan hari-harinya yang pendek, sementara di siang hari ia sudah berjanji dengan Ki Buyut dari Lumban Wetan dan Lamban Kulon untuk melakukan upacara sederhana, membuka aliran air dari belumbang di bukit.

 Karena itu, ketika, saatnya telah tiba, maka Jlitheng pun menjadi sibuk. Bersama beberapa orang kawannya ia naik ke atas bukit sambil membawa cangkul, dandang dan beberapa jenis alat yang lain. Sementara ia mempersilahkan kawan-kawannya yang lain untuk berada di pinggir sungai. Di tempat Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon yang akan saling berdiri berhadapan.

 Ternyata yang datang ke pinggir sungai saat itu, bukannya hanya Ki Buyut dan para bebahu. Orang-orang dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon pun bagaikan ditumpahkan seluruhnya ke pinggir sungai. Mereka ingin melihat air yang akan meluap dari belumbang di bukit dan mengalir di sungai kecil. Seperti yang mereka dengar, bahwa air itu akan dapat diangkat untuk mengaliri sawah mereka, meskipun hanya sebagian dari seluruh tanah persawahan yang ada di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

 “Danyang dan semua makhluk halus sudah dihubungi oleh orang tua yang tinggal di bukit itu” berkata salah seorang dari mereka, “karena itu, maka mereka tidak akan marah lagi apabila kita mempergunakan air yang mengalir dari belumbang itu”

 Tetapi bukit itu tentu akan minta tumbal. Mungkin seseorang akan hanyut jika sungai ini banjir di musim hujan. Mungkin salah seorang anak-anak dari Lumban akan diterkam harimau. Atau kemungkinan-kemungkinan lain yang mengerikan”

 “Tidak. Orang tua itu sudah berjanji untuk berdamai dengan para lelembut di bukit itu. Mungkin ia sudah dapat mengganti tumbal itu dengan yang lain”

 Kawannya tidak menyahut. Namun dengan berdebar-debar ia berada diantara banyak orang yang berdiri diatas tanggul. Dalam pada itu, Jlitheng sudah berpesan, jika semuanya sudah siap, seorang kawannya harus membakar sampah yang sudah disediakan. Jika asap mulai membubung, bagi Jlitheng akan menjadi pertanda, bahwa ia harus segera membuka air dari belumbang seperti yang sudah ditandai oleh Kiai Kanthi.

 Demikianlah, kawan Jlitheng yang sudah dipersiapkan dengan seonggok kayu dan ranting-ranting kecil, setelah mendapat persetujuan dari Ki Buyut berdua, maka anak muda itupun mulai membakar kayu dan ranting-ranting kecil yang sudah disediakan.

 Sejenak kemudian, maka asap pun telah mengepul dan naik tinggi ke udara. Asap yang putih kehitam-hitaman itu merupakan pertanda yang akan segera dilihat oleh Jlitheng di bukit berhutan itu.

 Meskipun angin yang lembut bertiup dan mengguncang asap yang mengepul, namun ternyata bahwa Jlitheng dan kawan-kawannya yang berada di bukit itu pun sempat melihatnya. Seorang yang berdiri diatas batu karang, di tempat yang agak terbuka berteriak, “Jlitheng, aku sudah melihat asap”

 Jlitheng menarik nafas. Kemudian katanya kepada Kiai Kanthi yang menungguinya, “Semua sudah siap Kiai”

 Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan ngger. Silahkan memecah tebing padas itu”

 Jlitheng dan kawan-kawannya pun kemudian turun ke dalam air. Sejenak nampak sesuatu membayang di wajah mereka. Kebanggaan dan harapan nampak membersit di hati anak-anak muda itu.

 Sejenak kemudian, maka dandang dan cangkul mereka pun mulai memecah tebing sesuai dengan tanda-tanda yang telah diberikan oleh Kiai Kanthi. Demikian tebing dan tanggul itu pecah, maka air pun mulai mengalir perlahan-lahan. Sementara kawannya yang lain justru telah menutup air yang memang sudah meluap dan menyalurkannya kedalam alur yang telah dipersiapkan,

 Demikianlah, maka air belumbang itu pun mulai dikendalikan dan mengalir ke jalur yang menuju kebawah bukit dan langsung masuk ke dalam sungai kecil yang airnya hampir menjadi kering di musim kemarau.

 Dengan hati yang berdebar-debar anak-anak muda itu menyaksikan air itu meluap dan bergejolak menuruni tebing. Semakin lama semakin deras, sehingga akhirnya mereka melihat sebatang sungai yang cukup besar.

 Dalam kebanggaan dan harapan, Jlitheng masih sempat memperhatikan keadaan air belumbang itu, Kepada Kiai Kanthi ia bertanya, “Bukankah Kiai sudah memperhitungkan, bahwa air yang melimpah ke dalam lubang di bawah tanah itu masih akan tetap mengalir?”

 “Ya ngger. Meskipun berkurang. Tetapi air di bawah tanah Itu tidak akan kering. Di tempat yang jauh, jika air itu muncul menjadi sumber dan membasahi tempat disekitarnya. meskipun terasa susut, namun masih akan mencukupi”

 Sementara itu, Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Beberapa saat air di dalam parit itu masih saja mengalir tidak lebih dari setinggi mata kaki.

 Beberapa saat lamanya mereka menjadi gelisah. Bahkan kemudian salah seorang bebahu telah bertanya kepada orang yang berdiri disampingnya, “Apakah kita tidak sedang dipermainkan anak-anak?”

 Tetapi sebelum pertanyaan itu dijawab, tiba-tiba saja ia mendengar orang-orang yang berdiri di tempat yang lebih tinggi bersorak gemuruh. Dengan gembira mereka berteriak, “Air, Air”

 Ki Buyut mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia memang melihat air yang mengalir semakin deras. Sehingga akhirnya sungai itu pun tidak lagi merupakan sungai yang hampir kering, tetapi sungai kecil itu benar-benar telah mengalirkan air”

 Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu menarik nafas dalam-dalam, Sekilas mulai terbayang, jika orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersedia memperbaiki bendungan, maka air itu akan darat diangkat untuk mengaliri sawah. Meskipun tidak semua tanah persawahan, tetapi yang sebagian itu tentu akan dapat memperbaiki kehidupan rakyat Lumban.

 Ketika air yang mengalir itu kemudian menjadi bening, maka Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang berdiri berhadapan di sebelah-menyebelah sungai itu pun segera turun. Mereka mencelup kaki mereka dan kemudian mereka pun mencuci muka mereka dengan air yang semakin besar itu.

 Seperti setiap orang yang menyaksikan air itu mengalir, tumbuhlah harapan di hati kedua Buyut itu. Ki Buyut yang tua berkata, “Kurnia ini mudah-mudahan akan bermanfaat bagi kita”

 “Ya kakang. Kita berharap bahwa kurnia ini akan memberikan kesejahteraan bagi anak cucu”

 Beberapa saat Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih berbincang. Bahkan keduanya pun kemudian telah berjalan menyusur sungai diikuti oleh para bebahu. Beberapa orang masih tetap berdiri diatas tanggul menyaksikan, apa yang akan dilakukan oleh kedua pemimpin mereka.

 Ternyata bahwa kedua orang Buyut itu telah menentukan, bahwa tempat yang paling baik untuk mengangkat air adalah pada bendungan yang lama, tetapi perlu diperbaiki dan dipertinggi. Di sebelah menyebelah masih terdapat mulut-mulut susukan kecil yang kemudian mengalirkan air ke dalam parit yang akan merambah tanah persawahan. Mengalir ke bulak-bulak yang kering dan gersang di musim kemarau.

 “Kita akan segera mulai” berkata Ki Buyut di Lumban Wetan.

 “Ya. Orang-orangku akan segera turun memperbaiki bendungan itu” sahut Ki Buyut di Lumban Kulon.

 Demikianlah, ketika keduanya telah cukup memperhatikan keadaan yang mengandung harapan itu, maka keduanya pun meninggalkan sungai itu dan kembali ke rumah masing-masing diikuti oleh para bebahu. Di sepanjang jalan Ki Buyut sempat berbincang dengan pembantu-pembantunya untuk dalam waktu dekat mengerahkan orang-orang Lumban untuk memperbaiki parit dan kemudian memperbaiki bendungan untuk mengangkat air yang jauh lebih banyak dari arus air di sungai itu sendiri.

 Sementara itu, ketika orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon sudah pergi meninggalkan sungai yang mengalir semakin deras itu, seorang anak muda duduk diatas sebuah batu di pinggir sungai. Ia tidak menghiraukan kakinya yang menjadi basah.

 “Anak Gila” Ia menggeram, “justru pada saat aku digeluti oleh persoalan yang gawat, ia berhasil mendapat tempat di hati rakyat Lumban. Meskipun ia mengaku anak Lumban di saat lahirnya, namun kini ia pun seorang pendatang seperti aku”

 Sejenak Daruwerdi itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeram, “Persetan. Aku tidak perlu orang-orang Lumban. Aku perlu orang-orang yang dapat membantuku menyerahkan orang itu kepadaku. Agaknya orang-orang Pusparuri masih tetap ragu-ragu, sementara orang Sanggar Gading agaknya lebih bersungguh-sungguh”

 Sambil menghentakkan kakinya, maka Daruwerdi kemudian berdiri. Sejenak ia memandang air yang mengalir semakin deras di bawah kakinya. Namun kemudian ia pun melangkah menyeberangi sungai kecil itu sambil bergumam kepada diri sendiri, “Cempaka menjanjikan bahwa dalam waktu dekat ia akan melakukannya. Mudah-mudahan ia berkata sebenarnya”

 Dengan tangkasnya Daruwerdi itu pun kemudian meloncat naik keatas tebing. Ia Sudah tidak melihat seorang pun lagi di sebelah menyebelah sungai itu. Karena itu, maka ia pun segera melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke bukit gundul.

 Sejenak ia berdiri termangu-mangu memandang ke sekelilingnya. Ketika ia yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka ia pun segera memanjat naik dan menyusup diantara batu-batu karang.

 Sejenak ia berdiri tegak ketika ia berada dihadapan sebuah batu karang yang datar, yang seakan-akan telah dibuat oleh seseorang. Ia memandang pada jalur-jalur yang tergores pada wajah batu karang itu. Namun dengan geram ia berkata, “Hanya orang itulah yang akan dapat membacanya dan mengatakan, dimana pusaka itu tersimpan. Tetapi jalan masih terlalu jauh. Aku harus menunggunya dengan tidak sabar. Sementara berita tentang pusaka itu semakin tersebar sehingga semakin banyak orang yang ingin memilikinya”

 Daruwerdi berdesah di dalam hati. Untuk beberapa saat ia masih berdiri diantara batu-batu karang, sehingga orang-orang yang lewat disekitar bukit gundul itu tidak akan melihatnya.

 Ia masih mencoba melihat dan mengurai jalur-jalur yang tergores pada batu karang yang datar itu, seperti yang sudah dilakukannya berpuluh bahkan beratus kali. Namun ia tidak menemukan ujung dari uraiannya, sehingga ia masih tetap tidak mengetahui apa yang dihadapinya. Jika ia menemukan tanda-tanda pada goresan-goresan itu, ia sudah selalu mencoba menemukan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan tanda-tanda itu. Namun ia masih tetap buta menghadapi goresan-goresan yang ia yakini, adalah tanda-tanda dan isyarat yang pernah ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti dan pengiringnya yang cacat itu.

 Pada jalur yang tergores itu, kadang-kadang ia melihat hubungan bentuk antara batu-batu karang pada bukit gundul itu, sehingga ia menduga, bahwa tempat itu adalah tempat penyimpanan pusaka yang dicarinya. Tetapi ternyata ia selalu gagal

 Ketika ia menduga bahwa pusaka itu tersimpan di bawah lekuk batu karang yang menjorok disebelah goresan itu, dan dengan susah payah ia bekerja tiga hari untuk menggalinya, namun ia tidak menemukan apa-apa. Tanda-tanda pun tidak.

 Karena itu, maka ia bertekad untuk memaksa orang-orang yang sedang menjadi gila untuk mendapatkan pusaka itu untuk menangkap orang yang dianggapnya mengetahuinya dan membawanya kepadanya, sementara Daruwerdi telah menyiap-kan sebuah peti dan pusaka yang dipalsukannya, yang disembunyikannya di bukit gundul itu pula. Ia sudah menyiapkan sebilah wilahan keris tanpa hulu dan tanpa wrangka, disimpan pada sebuah peti yang buruk dan sudah mulai retak-retak. Di beberapa bagian justru sudah geripis dimakan rayap. Namun-dengan demikian seakan-akan pati dan pusaka itu sudah terlalu lama tersimpan di tempat yang tidak terawat.

 “Orang memerlukan waktu untuk mengetahui, apakah pusaka itu sebenarnya atau bukan. Selama itu aku akan mendapatkan jalan keluar dan pusaka yang sebenarnya tentu sudah aku ketemukan” berkata Daruwerdi di dalam hatinya.

 Seperti biasanya, dengan menggeretakkan giginya ia pun meninggalkan goresan-goresan yang tidak dimengertinya itu. Kemudian menuruni bukit gundul dan kembali ke Lumban Kulon,

 Dalam pada itu, setelah air sungai itu mengalir cukup besar, sehingga apabila bendungan yang rusak itu berhasil diperbaiki, maka air pun akan terangkat. Di musim hujan, arus air itu tentu akan menjadi semakin besar dan kemungkinan akan datang banjir. Sehingga karena itu, maka bendungan yang akan dibuat itu haruslah bendungan yang cukup kuat.

 Dalam pembicaraan selanjutnya, Jlitheng yakin, bahwa orang-orang Lumban tentu akan mengerjakannya, karena kedua orang Buyut kakak beradik itu telah sepakat dan berjanji untuk melaksanakan sebaik-baiknya.

 Dengan demikian, maka Jlitheng pun merasa, bahwa tugasnya sudah sebagian lewat. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk meninggalkan Lumban dengan alasan yang dibuat-buat, sementara ia benar-benar telah menempa diri lahir dan batinnya untuk memasuki sarang yang tidak terlalu dikenalnya selain pengenalannya bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat berbahaya.

 Pada hari-hari terakhir, Jlitheng memerlukan datang kepada Kiai Kanthi untuk minta diri. Tetapi Jlitheng tidak mengatakannya, kemana ia akan pergi, sementara Kiai Kanthi pun tidak berterus terang, bahwa setiap malam ia melihat apa yang dilakukan oleh Jlitheng di pinggir sungai itu.

 “Aku tahu ngger” berkata Kiai Kanthi, “bahwa saatnya telah tiba bagi angger untuk berbuat sesuatu. Mungkin yang angger lakukan itu adalah suatu tindakan yang sangat berbahaya. Tetapi kita masing-masing tidak akan dapat ingkar, jika tugas itu memang dibebankan diatas bahu kita”

 “Aku mohon restu Kiai. Aku minta maaf, bahwa aku belum dapat mengatakan, apa yang akan aku lakukan. Tetapi pada saatnya, Kiai akan mengetahuinya juga”

 “Terima kasih atas kepercayaan yang akan angger berikan pada saatnya itu ngger”

 Jlitheng tersenyum. Namun katanya, “Aku pun belum tahu pasti apa yang akan aku lakukan”

 “Baiklah ngger. Mudah-mudahan kita masing-masing selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Sementara angger pergi, maka biarlah aku berbuat sesuatu bagi padepokan yang aku impikan itu”

 “Aku sudah berpesan Kiai, beberapa orang kawanku akan selalu datang membantu”

 “Terima kasih ngger. Kita masing-masing akan selalu berdoa”

 Jlitheng pun kemudian meninggalkan gubug Kiai Kanthi. Ketika ia minta diri kepada Swasti, maka seperti biasanya, jawabnya pun teramat singkat.

 Jlitheng menarik nafas dalam-dalam, sementara Kiai Kanthi hanya dapat menggelengkan kepalanya saja. Namun ketika ia mengantarkan Jlitheng sampai keluar gubugnya la bergumam, “Aku mohon maaf atas sikap anak itu ngger”

 Jlitheng tersenyum. Jawabnya, “Tidak apa-apa Kiai. Sifatnya memang demikian. Kiai tentu lebih mengetahui. Namun pada saatnya ia akan berubah. Jika ia kelak banyak berhubungan dengan gadis-gadis Lumban Wetan dan Lumban Kulon”

 “Mudah-mudahan ngger. Aku harap bahwa aku akan segera dapat tinggal di bawah bukit dan berhubungan dengan orang-orang Lumban seperti kebanyakan orang yang berada didalam lingkungannya”

 Sejenak kemudian maka Jlitheng pun meninggalkan gubug kecil itu. Ia masih sempat singgah sejenak di pinggir sungai. Tetapi ia tidak lagi berloncatan dari batu ke batu atau memperdalam unsur-unsur gerak pokok dari ilmunya, namun ia mempergunakan waktu yang pendek itu untuk membiasakan diri dengan senjata kecilnya. Dengan sungguh-sungguh ia mencoba berulang kali sehingga ia yakin, bahwa ia tidak akan meleset lagi dengan lontaran-lontarannya.

 Demikianlah, maka pada saatnya Jlitheng telah siap meninggalkan Lumban. Ia terpaksa berbohong lagi kepada kawan-kawannya dan kepada biyungnya, karena ia tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya akan dilakukan.

 “Kau harus segera kembali Jlitheng” berkata ibunya..

 “Tentu biyung, aku akan segera kembali”

 “Aku tidak tahu apakah yang sebenarnya kau lakukan. Tetapi aku mohon, janganlah berbuat sesuatu yang dapat menyulitkan dirimu”

 “Aku tidak akan berbuat sesuatu biyung. Tetapi aku hanya ingin melihat daerah yang lebih luas dari padukuhan kecil ini”

 “Suatu keinginan yang jarang terjadi pada anak-anak padesan, Jlitheng. Ketika aku menemukan kau, aku berharap bahwa kau adalah anak yang baik dan penurut. Beberapa puluh tahun lamanya aku hidup sendiri. Kedatanganmu membangkitkan kesegaran pada hidupku yang gersang, meskipun ada juga keragu-raguan, siapakah sebenarnya kau. Tetapi setelah kau berada di rumah ini, aku mulai percaya, sebenarnya kau anak yang baik dan kau benar-benar mengalami kesulitan ketika aku ketemukan. Namun pada saat-saat terakhir kau membuat aku gelisah”

 “Kenapa biyung menjadi gelisah?”

 “Jlitheng, Kau jangan terpengaruh oleh anak-anak muda yang kehilangan pegangan hidupnya. Biarlah kita hidup miskin dan kekurangan. Tetapi jangan berbuat sesuatu yang melanggar jalan lurus Yang Maha Agung”

 Jlitheng tersenyum. Katanya sambil mengangguk-angguk, “Aku mengerti biyung, Biyung menjadi cemas, bahwa aku terseret oleh kebengalan anak-anak muda sebayaku yang menempuh jalan sesat. Tidak biyung. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat menyakiti hati biyung. Jika aku ingin pergi beberapa hari, adalah karena kerinduanku pada sebuah perjalanan. Tetapi aku tidak akan berhenti pada orang lain lagi dalam pengembara-an ini, karena aku sudah mempunyai tempat tinggal dan seorang ibu yang sangat baik kepadaku. Dengan demikian, dimanapun aku berhenti, aku akan tetap teringat untuk pulang kembali ke rumah ini”

 Jlitheng termangu-mangu ketika ia melihat mata perempuan tua itu menjadi, basah. Ternyata perempuan tua itu bukannya sekedar mengiakan saja segala ceriteranya yang dibuatnya sebagai alasan untuk pergi meninggalkan Lumban. Tetapi perempuan itu menjadi cemas dan benar-benar seperti akan ditinggalkan oleh anaknya sendiri.

 Tetapi Jlitheng benar-benar berjanji kepada diri sendiri, jika ia sudah selesai dengan segala macam tugasnya dengan selamat, maka ia benar-benar tidak akan melupakan perempuan tua itu.

 Demikianlah, pada saatnya Jlitheng meninggalkan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Seperti yang pernah dilakukannya, maka ia dengan sengaja pergi menjelang malam. Kecuali tidak banyak orang yang dijumpainya di bulak dan pategalan, maka perjalanannya akan segera disaput oleh gelapnya malam.

 Tetapi Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang berdiri di ujung padukuhannya Seakan-akan orang itu dengan sengaja telah menunggunya.

 “Daruwerdi” Jlitheng berdesis.

 “Kau akan pergi kemana Jlitheng?” bertanya Daruwerdi.

 Jlitheng menjadi termangu-mangu. Namun akhirnya ia menjawab, “Aku disuruh biyung pergi ke rumah paman lagi. Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan”

 “Apakah yang penting itu?” bertanya Daruwerdi.

 “Ini adalah persoalan keluargaku Daruwerdi” jawab Jlitheng.

 “Jawablah” suara Daruwerdi tiba-tiba menjadi berat, “Kau tahu siapa aku”

 “Tetapi itu adalah masalahku”

 “Katakan, atau kau tidak akan dapat pergi ke rumah pamanmu itu”

 Jlitheng sadar, bahwa Daruwerdi yang mempunyai tugas khusus itu ternyata telah menjadi curiga oleh kepergiannya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah Daruwerdi Tetapi masalahnya sebenarnya terlalu pribadi”

 “Sebutlah”

 “Biyung mulai dengan pembicaraan keluarga. Biyung mempunyai anak laki-laki dan paman mempunyai anak perempuan yang sudah menjelang dewasa”

 Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa berkepentingan. Katanya, “Kau datang melamar bagi dirimu sendiri?”

 “Tidak. Tidak begitu. Aku hanya membawa pesan biyung karena tidak ada orang lain yang disuruhnya pergi”

 Daruwerdi masih tertawa. Namun kemudian sambil melangkah pergi ia bergumam, “Jika kau kawin, isterimu akan kau beri makan apa, Jlitheng? Kau kira air sungai itu akan dapat membuat Lumban dalam satu dua hari menjadi padukuhan yang hijau subur?”

“Aku juga tidak akan kawin dalam dua tiga hari ini Daruwerdi”

 Daruwerdi masih tertawa. Suara tertawanya masih terdengar meskipun anak muda itu sudah melangkah menjauh masuk ke dalam padukuhan.

 “Anak Gila” geram Jlitheng kemudian. Namun ia tidak menghiraukannya lagi.

 Demikianlah Jlitheng mulai menempuh perjalanannya yang berbahaya. Sebagai yang pernah dilakukan, maka ia pun singgah untuk mengambil pakaiannya. Ia tidak ingin datang ke perguruan Sanggar Gading dalam pakaian seorang petani miskin, ia akan datang sebagai yang pernah dilihat oleh Cempaka beberapa saat yang lampau.

 Dengan pakaiannya dan kelengkapan seorang yang akan menempuh perjalanan yang berbahaya, Jlitheng pergi ke rumah saudagar tempat ia menitipkan kudanya Saudagar yang sangat baik kepadanya, karena ia telah mengenal siapa sebenarnya anak muda yang menyebut dirinya bernama Jlitheng itu.

 Namun demikian, Jlitheng tidak mengatakan seluruh rencananya Bagaimanapun juga, ia harus berhati-hati menghadapi padepokan Sanggar Gading

 “Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading tidak didahului oleh orang-orang Pusparuri yang justru telah mempunyai kesanggupan lebih dahulu. Namun agaknya Sanggar Gading telah siap lebih dahulu untuk melakukan seperti yang diminta oleh Jlitheng sementara orang-orang Pusparuri masih sedang membicarakan berkepanjangan” berkata Jlitheng kepada dirinya sendiri. Lalu, “meskipun demikian, jika orang-orang Sanggar Gading berhasil, berarti perguruan itu harus berhadapan dengan perguruan Pusparuri, Kendali Putih dan mungkin juga dari perguruan yang lain. Bahkan mungkin perguruan Hantu di Gunung Kunir”

 Ternyata saudagar yang baik itu telah menyediakan diri untuk berbuat apa saja jika Jlitheng menghendaki.

 “Pada saatnya, jika aku memerlukan, aku akan mohon bantuan paman” jawab Jlitheng, “tetapi sementara aku melihat-lihat kemungkinan yang akan terjadi, biarlah aku pergi seorang diri”

 Jika angger memerlukan aku, jangan segan-segan. Angger dapat memanggil aku untuk melakukan apa saja, karena aku mengerti, bahwa angger adalah pengemban tugas kebenaran meskipun tugas itu angger bebankan diatas pundak angger atas kemauan angger sendiri” berkata saudagar itu.

 Jlitheng tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih paman. Aku tentu akan datang kepada paman, jika aku memang memerlukan. Aku pun tahu, bahwa paman yang mempunyai sangkut paut ilmu dengan aku dan guru, adalah orang yang luar b:asa. Sudah tentu pada kesulitan yang tidak teratasi aku akan lari kepada paman”

“Ilmuku tidak seberapa ngger. Aku hanya mempunyai kemauan karena pertimbangan tentang perjuangan angger” sahut saudagar itu,

 Jlitheng tersenyum. Namun kemudian ia pun segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanannya ke Demak.

 Berkuda Jlitheng pergi ke Demak. Ia memerlukan singgah sejenak di rumah Sri Panular. Ia ingin mendapatkan pesan terakhir, sehingga dengan demikian akan dapat membuat hatinya semakin mantap.

 “Pergilah” berkata Sri Panular, “Kau sudah melengkapi dirimu dengan senjata yang dapat kau pergunakan sebaik-baiknya. Namun aku ingin memberimu barang selembar bekal perjalanan”

 Jlitheng menjadi berdebar-debar. Sementara Sri Panular meneruskan, “ngger. Aku mempunyai sebilah pedang tipis meskipun cukup besar dan panjang, Namun, meskipun pedang itu tipis, tetapi terbuat dari besi baja pilihan sehingga pedang itu tidak mudah patah. Seandainya kau harus membenturkan pedang itu dengan senjata lawan yang betapapun kuatnya, bahkan dengan pedang yang terbuat dari wesi aji sekalipun, pedang itu tidak akan patah”

 Jlitheng mengangguk-angguk dengan penuh harap, “Keuntungan dari pedang itu ngger” berkata Sri Panular, “jangkauan yang cukup jauh karena panjangnya, sementara pedang itu terlalu ringan dibandingkan dengan bentuknya” berkata Sri Panular lebih lanjut, “dengan demikian kau dapat menggerakkannya dengan cepat, tangkas namun kuat dan dengan penuh kepercayaan”

 Jlitheng mengangguk hormat sambil berkata, “Aku hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih”

 Jlitheng pun kemudian menerima pedang itu di dalam sanggar Sri Panular. Beberapa saat lamanya, Jlitheng dipersilahkan untuk mencobanya. Membiasakan diri mempergunakannya dan dengan heran Jlitheng melihat, betapa kuatnya pedang tipis Itu.

 Dengan sekuat tenaga Jlitheng menghantam pedang itu sama sekai tidak patah. Bahkan luka pun tidak.

 “Pakailah. Disamping paser-paser kecil itu. Tugasmu adalah tugas berat” berkata Sri Panular.

 Setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih, maka Jlitheng pun kemudian beristirahat sejenak, menunggu matahari terbit. Ia masih sempat berbaring di rumah Sri Panular.

 Pada saatnya, setelah makan pagi dan minum minuman panas, maka Jlitheng pun minta diri. Matahari telah naik agak tinggi. Namun padukuhan Sri Panular ternyata memang bukan padukuhan yang ramai.

 Setelah mendapat pesan-pesan terakhir, maka Jlitheng pun meninggalkan padukuhan itu. Ia berkuda menyusuri jalan di pinggir kota Demak. Kemudian lewat pintu gerbang samping anak muda itu keluar meninggalkan kota menuju ke perguruan Sanggar Gading.

 Jlitheng belum pernah mengenal perguruan itu. Tetapi ia mendapat beberapa petunjuk meskipun samar-samar dari Cempaka, apabila ia memang benar-benar angin datang ke padepokannya.

 “Masih ada waktu, sebelum hari kesepuluh itu” berkata Jlitheng, “Aku harap bahwa aku belum terlambat”

Sebagai seorang yang berpandangan tajam, maka Jlitheng pun segera mengenal isyarat yang diberikan oleh Cempaka. Karena itu, maka iapun yakin, bahwa ia berjalan ke jurusan yang benar.

Meskipun demikian Jlitheng tidak meninggalkan kewaspadaan. Ia tidak mempercayai orang seperti Cempaka itu sepenuhnya, bahwa yang dikatakannya itu bukan sekedar perangkap..

Jalan yang dilaluinya ternyata semakin lama menjadi semakin sempit dan sunyi Nampaknya jalan itu bukannya jalan yang sering dilalui oleh para pejalan dari atau menuju ke Demak.

Tetapi pada jalan itu Jlitheng melihat tanda-tanda yang pernah diberikan oleh Cempaka meskipun hanya sekilas. Ia melihat sebatang pohon meranggas. Batangnya menjulang dengan ranting-rantingnya yang tidak berdaun.

Di sebatang parit yang menyilang jalan, Jlitheng bertemu dengan dua orang yang membawa cangkul di pundaknya. Demikian kedua orang itu melihat Jlitheng, nampak wajahnya segera berubah.

Jlitheng melihat perubahan itu. Justru karena itu ia menjadi tertarik dan berhenti dua langkah di dekat mereka.

Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Ketika Jlitheng meloncat turun dari kudanya, kedua orang itu bergeser dan wajah mereka mulai nampak ketakutan.

“Ki Sanak” bertanya Jlitheng kemudian, “Apakah Ki Sanak tahu, jalan ini menuju kemana?”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun pada wajah mereka nampak ketegangan yang bergejolak di dalam jantungnya.

Jlitheng yang melihat gelagat itu justru bertanya, “Kenapa Ki Sanak nampak menjadi ketakutan?”

Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun yang seorang kemudian bertanya, “Anakmas, apakah anakmas belum mengenal daerah ini?”

Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Belum Ki Sanak. Aku baru kali ini lewat jalan ini”

“Anakmas dari mana?” bertanya yang seorang.

“Aku orang Demak”

Keduanya saling berpandangan lagi. Yang seorang bertanya, “Apakah benar anakmas orang Demak? Jika anakmas orang Demak, aku kira anakmas tentu sudah mengenal daerah ini. Setidak-tidaknya mengetahui dan mendengar tentang daerah ini”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk dia berkata, “Aku memang bukan orang dari daerah Timur. Tetapi aku mempunyai sanak kadang di Demak”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang seorang bertanya, “Sekarang, anakmas akan pergi kemana?”

“Aku tidak mempunyai tujuan. Aku hanya ingin pergi saja melihat-lihat keadaan di sekitar kota Demak yang kini menjadi pusat pemerintahan” jawab Jlitheng.

Keduanya masih mengangguk-angguk. Salah seorang dari keduanya kemudian berkata, “Jika demikian, sebaliknya anak mas tidak menempuh jalan ini. Jalan ini akan sampai ke padukuhan Watu Tadah. Padukuhan yang sudah banyak dikenal orang sebagai tempat yang paling gawat di daerah Demak”

“Kenapa? Apakah tempat itu sedang menyusun kekuatan untuk memberontak?” bertanya Jlitheng.

“Jika demikian persoalannya akan lebih cepat diselesaikan”

“Jadi?”

“Padukuhan itu adalah tempat tanggal para perampok, penyamun dan penjahat-penjahat lain. Seolah-olah turun temurun mereka adalah penjahat-penjahat”

“Apakah para pemimpin prajurit Demak tidak dapat berbuat apa-apa?” bertanya Jlitheng.

“Sudah banyak yang mereka lakukan. Tetapi untuk menangkap penjahat yang sebenarnya di padukuhan itu tidak mudah. Satu pasukan prajurit segelar sepapan pernah memasuki padukuhan itu. Tetapi yang mereka jumpai adalah perempuan dan anak-anak. Satu dua mereka bertemu dengan laki-laki tua dan anak-anak remaja. Tetapi para prajurit itu tidak berhasil menemukan seorang penjahat pun” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Menarik sekali. Jika demikian, aku ingin melihat, apa yang ada di padukuhan itu. Sebenarnyalah aku hanya akan lewat saja” berkata Jlitheng kemudian.

“Jangan anakmas. Kau masih terlalu muda untuk mengalami kesulitan di daerah itu. Bahkan mungkin sebelum kalian memasuki padukuhan Watu Tadah, kalian sudah bertemu dengan bahaya yang dapat mengancam jiwa anakmas”

Jlitheng termangu-mangu. Ia mengerti, bahwa orang itu berusaha untuk menghindarkannya dari bahaya yang gawat. Tetapi menurut Cempaka, ia harus menempuh jalan itu. Meskipun Cempaka tidak pernah menceriterakan sesuatu tentang padukuhan yang disebut Watu Kendeng.

“Ki Sanak” berkata Jlitheng, “Terima kasih atas peringatan yang kau berikan. Dengan demikian aku akan dapat berhati-hati Aku akan dapat menyiapkan diri jika benar-benar orang-orang Watu Tadah berbuat jahat terhadapku”

“Mereka bukan saja berbuat jahat kepada orang lain. Tetapi diantara mereka sendiri sering timbul bentrokan-bentrokan berdarah. Kematian diantara mereka sama sekali bukan persoalan yang perlu diperbincangkan oleh para bebahu padukuhan”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia justru menduga, bahwa padukuhan itu mempunyai sangkut paut dengan Sanggar Gading. Karena itu, maka katanya, “Aku akan berjalan terus Ki Sanak. Mudah-mudahan aku selamat keluar dari padukuhan Watu Tadah yang mengerikan itu?”

“Jika anakmas mau mendengarkan kami, aku persilahkan anakmas melihat bagian lain dari Demak”

Jlitheng tersenyum. Justru ia kemudian bertanya, “Kenapa kau berdua tidak takut berada di bulak ini?”

“Jaraknya masih cukup jauh anakmas. Apalagi mereka tahu, bahwa kami adalah orang-orang miskin yang tidak akan dapat mereka peras” ia berhenti sejenak lalu, “namun demikian gadis-gadis yang dianggap cantik di padukuhan kami perlu mendapat perhatian. Jika seorang gadis kecil mulai tumbuh menjelang dewasa, maka ia akan dikirim ke sanak kadang diluar padukuhan yang cukup jauh. Setelah kawin mereka akan kembali Namun demikian, ada kalanya, perempuan, bersuami pun merasa tidak tenang hidup di sekitar padukuhan Watu Tadah”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “He, apakah kau pernah mendengar perguruan Sanggar Gading?”

Kedua orang itu terkejut. Seorang diantaranya berkata, “Jangan sebut perguruan itu anakmas. Aku tidak mengenal dan mengerti apa isinya. Namun setiap orang tidak berani menyebutnya. Watu Tadah masih juga terucapkan oleh kami. Tetapi perguruan itu sama sekali tidak”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia mengerti, bahwa ia memang berada di jalan yang benar. Namun kesan yang didapatkannya atas Sanggar Gading benar-benar telah mendebarkan jantungnya.

Meskipun demikian ia bertanya, “Kenapa kalian tidak berani menyebut Sanggar Gading atau menunjukkan tempatnya”

Kedua orang itu menjadi semakin tegang. Kemudian katanya, “Maaf ngger. Aku masih mempunyai kerja di pategalan. Aku minta diri”

Jlitheng dengan serta merta berkata, “Tunggu Ki Sanak. Aku masih akan berbicara. Baiklah, aku tidak akan bertanya tentang Sanggar Gading. Tetapi tentang Watu Tadah”

Kedua orang itu tertegun, sementara Jlitheng berkata, “Kenapa kalian lebih berani menyentuh nama Watu Tadah. Bukankah di Watu Tadah tinggal para perampok, penyamun, penjahat dan sejenisnya?”

“Orang-orang Watu Tadah lebih mementingkan mencari korban diantara orang-orang yang memiliki harta benda yang dapat mereka ambil” jawab salah seorang dari mereka,

“O” Jlitheng mengangguk, “lalu apa saja yang pernah dilakukan oleh orang Sanggar Gading?”

Kedua orang itu saling berpandangan. Tiba-tiba saja mereka mulai menilai, pertanyaan itu memang sangat menarik. Apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading?

Hampir diluar sadarnya salah seorang menjawab, “Tidak ada yang pernah dilakukannya atas kami”

“Kenapa kalian takut. Bahkan menyebut namanyapun takut?”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun yang seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah. Nanti kita terlambat. Air yang mengalir tidak terlalu banyak buat pategalan”

Kedua orang itu pun kemudian minta diri dan meninggalkan Jlitheng yang termangu-mangu.

“Aneh” gumamnya, “orang-orang padesan tidak berani menyebut nama Sanggar Gading tanpa mengetahui sebabnya. Mereka takut tanpa dapat mengatakan alasannya”

Sejenak Jlitheng masih termangu-mangu. Namun ia pun kemudian meloncat ke punggung kudanya dan meneruskan perjalanannya. Sambil mengerutkan keningnya ia memandang kekejauhan. Ia melihat beberapa padukuhan kecil di ujung bulak. Namun tentu Watu Tadah adalah sebuah padukuhan yang lebih besar. Bahkan mungkin banjar panjang yang mencakup beberapa padukuhan menjadi satu.

Jlitheng pun kemudian meneruskan perjalanannya. Ia sadar, bahwa ia akan memasuki daerah berbahaya sebelum ia, sampai ke perguruan Sanggar Gading.

“Kenapa Cempaka tidak mengatakannya” desis Jlitheng di dalam hatinya, “atau bahkan Cempaka telah menjerumuskan aku ke dalam lingkungan yang dapat menjeratku”

Namun Jlitheng tidak mau mundur. Ia meneruskan perjalanannya mengikuti jalan yang semakin sempit. Semakin lama semakin jelas, bahwa jalan yang dilaluinya adalah jalan sempit yang jarang diinjak kaki manusia.

Tetapi Jlitheng masih melihat sawah yang digarap. Ia juga melihat parit yang mengalir dan sawah yang berair.

Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat padukuhan kecil yang semakin dekat. Ia melihat dari kejauhan padukuhan itu tidak ada bedanya dengan padukuhan lainnya. Sebuah regol dan dinding batu yang rendah.

Demikian Jlitheng memasuki regol, maka ia mulai merasakan suasana yang memang agak lain. Meskipun ia tidak melihat perbedaan ujud padukuhan itu, namun pada ujung jalan padukuhan itu, ia sudah mendengar dua orang perempuan yang bertengkar. Suaranya meninggi berebut. Semakin kasar. Bahkan kata-kata yang tidak pantas didengar pun telah mereka ucapkan.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berhenti. Apalagi ketika ia melihat salah seorang perempuan yang bertengkar itu melangkah pergi meskipun ia masih mengumpat-umpat.

“Awas, jika kau berani melakukannya sekali lagi” katanya, “Aku akan meremas mukamu sampai hancur”

“Apalagi yang ditunggu” jawab yang lain, “Ayo, sekarang aku sudah siap”

“Sebentar lagi suamiku datang. Aku belum menanak, nasi Persetan dengan kau. Lebih penting menyediakan makan buat suamiku”

“Bilang saja kau takut”

“Apa yang aku takuti” teriak perempuan itu. Tetapi m masih tetap melangkah menjauh,

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendahului perempuan yang pergi itu ia bertanya dengan ramah, “Apa yang dipertengkarkan bibi?”

Perempuan itu memandanginya sejenak Namun tiba-tiba diluar dugaan perempuan itu memakinya sambil berteriak, “Laki-laki jahanam. He, kau mau apa? Kau bukan kadang. Mau ikut campur?”

Jlitheng terkejut oleh jawaban itu. Tetapi ia masih menahan diri. Dengan sareh ia berkata, “Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu, kenapa, kalian bertengkar. Apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk memecahkan persoalan”

“Diam, Jika kau masih berbicara, aku sobek mulutmu” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun ia semakin terkejut ketika perempuan yang lain ternyata mendekatinya sambil bertanya kepada perempuan lawannya bertengkar., “Mau apa setan itu?”

“Ia bertanya kenapa kita bertengkar” jawab yang lain.

“Terkutuklah kau” bentak perempuan yang lain kepada Jlitheng. Lalu, “Kau sangka kau Buyut kami disini? Atau barangkali pemimpin kami? Kau mau apa dengan pertengkaran kami?”

Jlitheng tidak menyahut lagi. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan kedua perempuan yang kemudian memakinya dengan kata-kata kotor.

“Inilah agaknya wajah padukuhan yang aneh itu” gumamnya sambil melanjutkan perjalanan. Tetapi ia pun sadar bahwa ia tentu akan menjumpai persoalan-persoalan lain yang tidak pernah dilihatnya di daerah yang pernah dikunjunginya.

“Mungkin laki-laki disini dapat berbuat lebih garang lagi” katanya kepada diri sendiri.

Karena itu, maka Jlitheng pun menjadi lebih berhati-hati. Diluar sadarnya ia meraba pedang tipis yang diterimanya dari Sri Panular. Dengan pedang itu di lambung, ia memang tidak akan dapat ingkar bahwa ia adalah seorang laki-laki. Apapun yang akan dijumpainya, maka ia harus menghadapinya sebagai seorang laki-laki.

Meskipun demikian ada juga penyesalan di dalam hatinya. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi jika persoalan yang dihadapinya berkisar dari persoalan yang dianggapnya besar, persoalan pusaka yang menjadi rebutan itu, maka ia akan menjadi sia-sia. Apalagi jika kemudian ia terjebak bencana di padukuhan itu tanpa sebab yang pantas untuk bertaruh nyawa.

“Tetapi yang aku lakukan ini adalah dalam rangka usahaku menemukan pusaka itu juga” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Kecurigaannya kepada Cempaka menjadi semakin tajam. Mungkin dengan cara ini Cempaka berusaha untuk menghapuskan jejaknya.

“Apakah ia mengetahui, atau setidak-tidaknya menjadi curiga kepadaku yang tiba-tiba saja menolongnya ditengah jalan” pertanyaan itupun terasa mulai mengganggu.

Beberapa saat lamanya Jlitheng tidak menjumpai sesuatu. Dalam keadaan yang demikian, padukuhan itu memang tidak berbeda dengan padukuhan lain. Ia melihat anak-anak bermain di halaman. Ia melihat seorang laki-laki tua lewat dengan cangkul di pundaknya. Tetapi yang tidak terbiasa adalah bagaimana laki-laki tua itu memandangnya. Seolah-olah laki-laki tua itu belum pernah melibat seorang pun dari luar padukuhan itu.

Ketika Jlitheng sampai ke tengah-tengah padukuhan itu, ia melihat seorang laki-laki duduk berselimut kain panjang di dalam gardu. Agaknya ia telah berada di gardu itu sejak semalam tanpa berkisar.

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Namun ia tidak menghiraukannya lebih jauh. Kudanya berjalan tidak terlalu cepat di depan gardu itu.

Namun Jlitheng terkejut ketika ia melalui gardu itu terdengar laki-laki itu bergumam, “Bantaradi”

Jlitheng tidak mengerti maksud kata-kata orang itu. Namun sekali lagi orang itu berkata, “Bantaradi. He, bukankah kau Bantaradi?”

Mula-mula Jlitheng menjadi bingung. Namun kemudian ia pun teringat bahwa ia pernah mempergunakan nama itu. Ketika ia melibatkan diri dalam pertempuran antara Cempaka melawan jumlah yang tidak seimbang ia menyebut dirinya bernama Bantaradi.

Karena itu, dengan serta merta iapun berhenti. Dipandanginya orang yang duduk di gardu itu. dengan saksama” Siapa kau?” bertanya Jlitheng.

Orang itu tersenyum. Jawabnya, “Lebih dari lima hari aku menungguimu disini. Tugasku tinggal sehari besok. Jika besok kau tidak datang, itu berarti bahwa kau tidak akan datang ke padukuhan ini”

“Persetan, siapa kau?” desis Jlitheng.

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Aneh. Bahwa seorang perantau tidak mudah mengingat ujud yang pernah tidak mudah mengingat ujud yang pernah dikenalnya”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Ia menghubungkan ingatannya dengan nama Bantaradi yang diucapkannya dihadapan Cempaka dam kawan-kawannya.

Akhirnya Jlitheng mengangguk-angguk. Ingatannya bukan ingatan yang tumpul. Karena itu, dihadapan Cempaka sejenak dia berkata, “Aku kira aku dapat mengenalimu meskipun aku masih ragu-ragu. Aku melihat Cempaka dan kawan-kawannya di malam hari, sehingga karena itu, sekilas aku tidak mengenal wajahmu. Agaknya kau salah seorang kawan Cempaka pada waktu itu. Apalagi dalam pakaianmu itu”

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku berada di gardu siang dan malam. Jika aku terpaksa pergi, maka aku suruh adikku menggantikan aku disini. Dengan memberikan kesan dan ciri-ciri yang mudah dikenal, aku minta adikku menunggu orang yang bernama Bantaradi. Tetapi akhirnya aku jugalah yang melihatmu lewat”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Inilah agaknya cara kalian menerima aku. He, apakah padukuhan ini pula sarang orang-orang Sanggar Gading?

“Kau orang yang luar biasa. Dengan isyarat yang kabur, kau berhasil menelusuri jalan menuju ke Sanggar Gading. Tetapi kau belum sampai ke Sanggar Gading”

Jlitheng mengerutkan keringnya. Katanya, “Aku mengenal segala tempat di segala sudut bumi. He, kenapa kau disini?”

“Rumahku di padukuhan ini”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil mengangguk ia berkata, “Kau akan membawa aku ke Sanggar Gading”

“Tidak sekarang Tetapi besok”

“Aku akan terlambat, “

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Kau tidak akan terlambat, karena keputusan terakhir, segalanya akan dilakukan dalam tiga hari lagi. Karena itu, kau dapat bermalam disini malam ini”

Jlitheng tidak segera menjawab. Ia masih ragu-ragu.

Namun dalam pada itu, selagi ia termenung, ia dikejutkan oleh pekik seorang perempuan. Kemudian dari tikungan ia melihat seorang perempuan berlari melintas jalan. Namun tiba-tiba saja tangan yang kuat telah menggapainya dan menghentakkannya.

Perempuan itu kehilangan keseimbangan, sehingga ia pun kemudian terjatuh. Dengan kasar laki-laki yang mengejarnya itupun menarik tangannya sambil membentak, “Berdiri”

Perempuan itu tertatih-tatih berdiri. Namun belum lagi kakinya tegak laki-laki itu sudah menamparnya, sehingga perempuan itu telah terjatuh lagi.

“He, apa yang terjadi?” bertanya Jlitheng dengan tegang.

“Jangan dicampuri persoalannya. Mereka adalah suami isteri” desis orang di gardu itu.

“Tetapi yang dilakukan itu sudah berlebihan”

“Jangan mencari perkara disini. Setiap campur tangan akan dapat berarti darah. Kita sudah terbiasa hidup dalam solah tingkah yang kasar” berkata orang di dalam gardu itu,

Jlitheng termangu-mangu. Ia kemudian menyaksikan laki-laki itu menyeret perempuan yang dengan susah payah mencoba untuk berdiri. Namun tiba-tiba saja perempuan itu telah menggigit tangan suaminya, sehingga suaminya berteriak kesakitan. Demikian cepatnya perempuan itu menghentakkan tangannya dan mencoba berlari.

“Kau diam saja melihat peristiwa semacam itu” bertanya Jlitheng yang menjadi semakin tegang.

Tetapi laki-laki yang duduk di gardu itu tertawa saja. Katanya kemudian, “Perempuan itu telah mengadakan hubungan dengan laki-laki lain. Ketika suaminya mengetahui, maka ia menjadi marah dan menyakiti isterinya”

“Tetapi bukankah persoalannya dapat dibicarakan? sahut Jlitheng.

“Siapa yang tidak marah mengetahui tingkah laku isterinya yang demikian” jawab laki-laki di gardu itu, “biarlah semuanya terjadi seperti yang seharusnya terjadi. Sebaiknya perempuan itu mengakui kesalahannya dan minta maaf. Tetapi ia memilih jalan lain”

“Persetan. Aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi”

Laki-laki di gardu itu justru tertawa. Katanya, “Jika kau menolong perempuan itu, aku yakin, kau akan dapat melakukannya. Tetapi kau akan terkena akibatnya”

Jlitheng termangu-mangu. Ia melihat laki-laki itu memburu isterinya. Semakin Hama semakin dekat.

“Apa akibatnya?”

“Perempuan itu akan menjadi isterimu”

“Gila” Jlitheng pun hampir berteriak.

“Karena itu, biarkan saja. Sudah ada orang lain yang berkewajiban menolong jika ia mau”

Jlitheng menjadi semakin tegang. Sementara laki-laki di gardu itu berkata, “Perempuan itu berlari menuju kehalaman di sebelah. Kau lihat laki-laki dibelakang dinding batu itu? Itulah laki-laki yang telah membuat hubungan dengan perempuan itu. Jika perempuan itu berhasil melampaui dinding batu itu, ia akan selamat. Laki-laki itu tidak berhak untuk berbuat apa-apa. Kecuali jika ia berniat untuk bertaruh nyawa melawan laki-laki yang telah mengganggu isterinya itu”

“Uh, semua sudah gila. Kau juga sudah gila”

Laki-laki itu tidak menyahut. Namun ia pun kemudian beringsut dan memperhatikan perempuan itu.

Ternyata perempuan itu mampu juga berlari cepat. Ia tidak menghiraukan kainnya yang sobek sampai ke pinggulnya. Namun laki-laki yang mengejarnya bagaikan menjadi gila karenanya.

Ketika tangan laki-laki Itu hampir menggapainya, ternyata perempuan itu menjatuhkan diri tepat memasuki regol rumah laki-laki yang berdiri tegang di dalam halaman rumahnya. Demikian perempuan itu terjatuh ke dalam regol, maka laki-laki itu pun berlari-lari menolongnya.

Sementara itu, laki-laki yang mengejarnya terpaksa berhenti diluar regol. Ia tidak memburu masuk kehalaman rumah dihadapannya.

Laki-laki di dalam gardu itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Lihat, perempuan itu sudah selamat. Ia tidak dapat disentuh lagi oleh suaminya, karena ia sudah berada di rumah seorang laki-laki lain yang akan melindunginya”

Jlitheng termangu-mangu. Tiba-tiba saja timbullah ibanya kepada laki-laki yang berdiri tegak diluar regol. Bahkan kemudian dengan kepala tunduk laki-laki itu melangkah pergi.

Jlitheng kemudian mendengar suara tertawa dari halaman rumah itu. Suara tertawa seorang laki-laki dan seorang perempuan,

“Luka-lukamu akan segera sembuh” berkata laki-laki di dalam regol, “tidak apa-apa. Kau tinggal disini bersamaku”

Laki-laki yang meninggalkan regol itu tertegun. Tetapi ketika ia berpaling, terdengar laki-laki di dalam regol itu membentak, “He, kenapa kau berhenti tikus? Kau masih sayang pada isterimu? Jika demikian, rebut perempuan ini dari tanganku. Ia mencintai aku, terbukti ia lari darimu dan memasuki halaman rumahku”

Laki-laki diluar regol itu menegang sejenak. Namun ia pun kemudian melangkah pergi.

Tetapi tiba-tiba saja terdengar orang di dalam regol itu berkata, “Tunggu. Aku akan membunuhmu”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Sementara itu terdengar laki-laki di dalam gardu itu berdesis, “Celaka. Laki-laki itu tentu benar-benar akan mati”

“Kenapa?”.

“Bekas isterinya tentu minta laki-laki di dalam regol itu untuk membunuhnya”

Segalanya berlangsung dengan cepat. Laki-laki diluar regol itu berusaha untuk meloncat berlari. Tetapi seperti dilontarkan, seorang laki-laki meloncat dari dalam regol dan menerkamnya.

Sejenak laki-laki yang kehilangan isterinya itu berusaha untuk membebaskan dirinya. Tetapi ia tidak berhasil. Sebuah pukulan yang dahsyat telah menghantam dagunya, sehingga laki-laki itu terlempar dan jatuh terlentang.

“Bunuh saja” teriak perempuan yang muncul dari regol. Perempuan yang telah dikejar oleh laki-laki yang terjatuh itu. Dengan kain yang sobek sampai ke pinggul ia berdiri bertolak pinggang. Suaranya melengking berteriak, “Bunuh saja, dan lemparkan mayatnya ke kali yang banjir itu.

Laki-laki yang meloncat dari dalam regol itu benar-benar bagaikan gila. Ditariknya rambut laki-laki yang terlentang itu, Kemudian dengan kakinya ia menghantam wajah orang yang tidak berdaya itu.

Sekali lagi orang itu terbanting jatuh di tanah.

Jlitheng menjadi ngeri ketika ia mendengar perempuan itu tertawa. Suaranya seperti suara iblis betina yang harus melihat kematian

“Kau diam saja, “ sekali lagi Jlitheng menggeram.

“Celakalah laki-laki itu. Ia akan mati. Laki-laki dari dalam regol itu adalah seorang gegedug berandal di padukuhan ini, meskipun masih ada juga satu dua orang yang disegani.

Jlitheng menjadi semakin tegang. Ia melihat laki-laki itu bagaikan gila. Dengan tanpa mengenal belas kasihan ia telah menghajar suami perempuan iblis itu. Dengan sepenuh tenaga ia memukul, membanting dan melemparkannya menghantam dinding batu. Sementara perempuan itu tertawa semakin gembira,

Jlitheng menjadi gemetar. Dengan suara bergetar ia berkata, “Perbuatan terkutuk. He, siapakah orang yang disegani itu?”

“Aku” berkata orang di gardu itu.

“Dan kau tidak berbuat apa-apa sama sekali?”

Orang itu berpikir sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil tersenyum. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan melibatkan diri dalam persoalan ini”

“Tetapi laki-laki itu akan dibunuh. Bukankah begitu? Dan orang-orang lain tidak ada yang mempersoalkannya?” geram Jlitheng.

“Laki-laki itu tentu akan mati. Gegedug berandal itu tidak pernah mengampuni orang-orang yang dianggapnya bersalah kepadanya” laki-laki itu berhenti sejenak, lalu, “Aku tidak mau terlibat persoalan perempuan”

Jlitheng menjadi semakin gemetar. Dengan suara yang terputus-putus ia bertanya, “Bukankah yang sebenarnya bersalah adalah isterinya yang sudah melakukan hubungan dengan laki-laki lain? Kenapa justru suaminya yang harus mati?”

“Jangan bertanya soal salah dan benar disini. Ada ketentuan yang tidak dapat dilawan. Siapa yang kuat, ialah yang benar disini, Juga berlaku atas suami isteri itu”

“Jika demikian, kenapa orang-orang yang merasa lemah tidak meninggalkan tempat ini?”

Laki-laki itu tertawa. Namun ia menahan diri agar suara tertawanya tidak terdengar olah laki-laki yang. sedang marah itu. Katanya, “Jika ia sadar, bahwa aku ada disini, ia akan bersikap lain. Tetapi dengan demikian, aku telah terlibat dalam persoalan perempuan itu”

“Persetan” berkata Jlitheng kemudian, “kalau membunuh disini bukan persoalan yang harus dipertanggung jawabkan, aku akan membunuh jika perlu”

“Dan kau akan menjadi sandaran perlindungan perempuan itu?”

“Apa peduliku. Aku akan membunuhnya juga seperti laki-laki Itu” geram Jlitheng.

Laki-laki itu terkejut Dahinya berkerut. Diluar sadarnya ia berdesis, “Kau akan melakukannya”

“Jika kau ingin melindungi perempuan itu, lakukanlah. Aku tidak peduli” berkata orang itu pula.

Dengan garangnya Jlitheng pun menggeram. Kemudian ia pun mengikat kudanya pada tiang gardu itu. Sekilas ia melihat, laki-laki yang lemah itu terbanting di tanah. Kemudian dengan liar lawannya telah menginjak dadanya.

Ketika orang itu akan menginjak wajahnya, Jlitheng tidak tahan lagi. Karena itu, iapun berteriak, “Hentikan kegilaan ini”

Suara Jlitheng ternyata telah mengejutkan orang yang menjadi liar dan buas itu. Sejenak ia tertegun. Kemudian dengan suara yang kasar ia membentak, “He, binatang manakah yang telah mencampuri urusanku?”

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ia telah melibatkan diri dalam persoalan yang khusus di padukuhan yang aneh. Namun ia sudah berniat berbuat demikian.

Ketika ia berpaling, dilihatnya orang di dalam gardu itu telah bergeser dan berlindung pada dinding, sehingga orang yang sedang marah itu tidak melihatnya.

Dalam pada itu Jlitheng yang melangkah setapak demi setapak maju, menjawab, “Aku melihat tingkah lakumu sejak semula.

“Aku juga melihat kau berhenti di depan gardu Tetapi apa urusanmu dengan aku. Aku akan membunuhnya, karena ia sudah menghina perempuan ini”

“Siapakah perempuan itu?”. bertanya Jlitheng.

“Bekas isterinya. Tetapi ia sudah berada di bawah perlindunganku”

“Baru saja. Aku melihat ia lari masuk ke dalam regol halamanmu. Sementara itu, laki-laki ini tidak memasuki regolmu. Kenapa kau cegah ia pergi. Bahkan kau akan membunuhnya?”

 Wajah laki-laki itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata, “He, tikus gila. Kau belum kenal siapa aku ha?”

 “Aku tidak perlu mengenali setiap orang yang melakukan kejahatan. Aku tidak akan peduli jika kau berselisih dengan laki-laki yang manapun juga. Kemudian bertempur dengan jantan. Tetapi yang aku lihat adalah lain. Kau sudah merampas isterinya dengan dalih apapun. Kemudaan ketika laki-laki ini sudah meninggalkan regol halamanmu, kaulah yang mengejarnya tanpa alasan”

“Perempuan itu minta aku membunuhnya” teriak Laki-laki itu.

“Permintaan gila itu akan kau penuhi juga? Ia sudah berbuat serong. Kemudian ia minta orang lain membunuh suaminya. He, apakah perempuan yang demikian pantas dihormati?”

Wajah laki-laki itu menjadi merah. Demikian juga perempuan yang berdiri di depan regol itu, sementara laki-laki yang terbaring di tanah itu mengerang kesakitan.

Dalam pada itu, ternyata perselisihan itu sudah menarik perhatian beberapa orang padukuhan itu. Mereka tidak terbiasa melihat seseorang mencampuri persoalan orang lain. Namun ternyata seorang laki-laki yang sedang memetik buah kelapa melihat, Jlitheng telah mencampuri persoalan itu, Karena itu., maka iapun telah tertarik untuk melihatnya. Seorang yang lain bertanya kepadanya. Dan jawabnya telah menjalar kepada beberapa orang yang lain pula, sehingga dari kejauhan mereka melihat, apa yang akan terjadi dengan orang yang melibatkan diri tanpa sebab pada perselisihan yang telah terjadi itu.

Pertanyaan Jlitheng itu merupakan pertanyaan yang aneh di telinga laki-laki yang marah itu. Namun karena itu, ia justru menjadi semakin marah.

Sementara itu, perempuan yang sudah meninggalkan suaminya itupun menjadi marah pula. Dengan nada tinggi ia berteriak, “Bunuh orang itu kakang. Bukankah kau gegedug disini?”

Orang yang disebutnya gegedug itu menggeram. Kemarahannya tidak tertahankan lagi. Sementara beberapa orang yang melihat peristiwa itu. dari kejauhan menjadi berdebar-debar.

Mereka mengenal laki-laki yang disebut gegedug itu. Mereka mengenal bahwa laki-laki itu memiliki kemampuan yang tidak ada bandingnya di padukuhan itu, kecuali beberapa orang yang masih disegani. Meskipun dalam keadaan yang gawat, orang itu tidak akan mengenal takut kepada siapapun juga.

Namun tiba-tiba seorang yang tidak dikenal telah mencampuri persoalannya. Bahkan seakan-akan orang itu telah menantang-nya. Menurut tanggapan orang-orang padukuhan itu, orang yang tidak mereka kenal itu telah melibatkan diri karena perempuan yang menurut penilaian orang padukuhan itu memang cantik, muda dan panas.

Tetapi sikap orang yang tidak mereka kenal itu mengejutkan, ketika ia justru berkata, bahwa perempuan itu tidak tahu adat. Bahkan ia sudah mengumpati perempuan itu karena sikapnya.

“Apakah maksud laki-laki itu sebenarnya” orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu saling bertanya, karena mereka tidak mempertimbangkan sama sekali bahwa yang dilakukan oleh laki-laki yang tidak mereka kenal itu adalah karena perasaan keadilannya telah tersinggung.

Dalam pada itu, Jlitheng benar-benar sudah bertekad untuk melawan tingkah laku sewenang-wenang. Mungkin yang disaksikannya itu adalah peristiwa kecil dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Namun ia angin mengatakan kepada orang-orang padukuhan itu, bahwa ada sikap lain dalam hubungan antara manusia daripada tidak menghiraukan dan tidak mencampuri persoalan orang lain. Apabila persoalan itu menyangkut martabat bubungan manusia dan menyentuh rasa keadilan, maka hal itu akan dapat menarik orang lain untuk melibatkan diri dalam persoalan itu.

Dalam pada itu, sekali lagi terdengar perempuan itu berteriak, “Bunuh saja kakang. Aku tidak mau melihatnya mencampuri persoalan kita”

Laki-laki yang disebut gegedug itu menggeram. Katanya, “Salahmu sendiri jika aku membunuhmu”

Jlitheng mundur setapak. Ia benar-benar melihat maut membayang disorot mata orang yang disebut gegedug itu. Pandangannya yang menyala membuat orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi semakin berdebar-debar.

Tetapi yang akan dihadapinya adalah orang yang belum dikenalnya. Dan orang itu menyandang pedang di lambungnya. Agaknya orang itu pun bukan orang kebanyakan.

“Aku tidak pernah mengampuni orang yang berani bertindak deksura kepadaku” geram gegedug itu.

Tetapi Jlitheng menjawab tidak kalah garangnya, “Aku telah menyusuri jalan dari Blambangan sampai ke Banten, Aku telah bertemu dengan beribu watak manusia. Aku telah menolong, ditolong, tetapi juga pernah berselisih dan membunuh ratusan orang. Namun aku belum pernah melihat tingkah laku seseorang dalam kegilaan seperti ini. Seorang yang merasa dirinya gegedug, tetapi pengecut yang paling buas dengan tingkahmu yang sewenang-wenang. Berbuatlah demikian terhadapku. Jangan terhadap laki-laki yang lemah, yang sudah merasa dirinya tidak berdaya. Ternyata ia sama sekali tidak menyentuh regol rumahmu ketika isterinya masuk ke dalamnya”

Orang yang disebut gegedug itu tidak tahan lagi mendengar kata-kata Jlitheng. Dengan lantang ia berteriak, “Bersiaplah untuk mati”

Namun ketika orang itu siap menyerang, terdengar suara mendehem dari gardu. Suara yang hanya terdengar lamat-lamat. Ketika orang-orang yang sedang berselisih itu berpaling, mereka melihat seorang yang berkerudung kain panjang, turun dari gardu itu dan berjalan tanpa mengacuhkan apa yang telah terjadi, meskipun ia lewat melalui beberapa langkah saja dari peristiwa itu.

Meskipun demikian, nampak wajah orang yang disebut gegedug itu berubah. Ia memandang orang yang berjalan itu dengan tegang.

Gegedug itu beringsut surut, ketika ia melihat orang berkerudung kain itu berhenti dengan tiba-tiba. Sambil berpaling kepada Jlitheng orang itu berkata, “Bantaradi. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan sekarang. Tetapi aku menunggumu di simpang tiga itu, Jika kau berhasil keluar hidup-hidup dari tempat ini, datanglah. Aku masih mempunyai beberapa persoalan denganmu”

Sebelum Jlitheng menjawab, maka orang berkerudung kain itu telah melangkah meninggalkannya.

Sejenak orang yang disebut gegedug itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak peduli persoalanmu dengan orang itu. Tetapi kau harus mati”

Jlitheng bergeser setapak lagi surut. Kesan yang sekilas itu memang menunjukkan, bahwa kawan Cempaka dari Sanggar Gading itu memang mempunyai pengaruh khusus di padukuhan itu.

Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak dapat berpikir lebih lama lagi. Ketika sekali lagi ia mendengar suara perempuan itu melengking, maka orang yang disebut gegedug itu telah meloncat menyerangnya. Tenaganya yang besar terasa pada desir angin yang menyambar kulit Jlitheng ketika ia berhasil mengelak dari serangan lawannya.

Jlitheng menyadari, bahwa ia harus berhati-hati. Orang itu adalah orang yang memiliki tenaga raksasa. Tetapi agaknya orang itu terlalu percaya kepada kekuatannya, sehingga ia menjadi kurang berhati-hati

Karena itulah, maka untuk menjajagi lawannya, Jlitheng dengan cepat dan tangkas telah menyerangnya. Tidak dengan sepenuh tenaganya, meskipun ia cukup berhati-hati.

Orang itu ternyata tidak mengelak. Tetapi dengan kekuatan raksasanya ia menangkis serangan Jlitheng.

Jlitheng terkejut ketika benturan itu terjadi. Ternyata ia telah terdorong beberapa langkah surut.

Beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang yang melihat dari kejauhan menjadi semakin tertarik untuk mendekat.

Mereka terkejut ketika seorang bertubuh pendek, gemuk dengan berewok di wajahnya, menyibak diantara beberapa orang sambil berdesis, “Apa yang terjadi? Kenapa kalian ikut campur?”

“Tidak” sahut seorang anak muda, “Kami hanya menonton”

Orang bertubuh pendek dengan berewok di wajahnya itu berjalan terus. Ketika ia berhenti disebelah orang tua yang berkumis putih, ia bertanya, “Apa yang seorang itu bukan orang padukuhan ini?”

Orang berkumis putih itu berpaling. Kemudian menjawab, “Orang itu bukan orang padukuhan ini. Entahlah, siapakah orang yang telah ikut campur itu”

Orang bertubuh pendek itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ia akan mati. Tetapi itu salahnya sendiri”

Ketika orang bertubuh pendek itu kemudian melintas tanpa menghiraukan perkelahian itu, maka orang-orang yang menonton saling berbisik, “Kalau gegedug yang seorang itu juga ikut campur, maka arena itu akan semakin ramai”

“Ia tidak akan ikut campur” jawab yang lain, “seperti Iblis bertangan Petir itu. Ia berada di gardu ketika peristiwa itu mulai. Ternyata orang yang tidak dikenal itu adalah kawannya”

Orang-orang itupun menjadi semakin berdebar-debar. Jika orang yang tidak mereka kenal, kawan orang yang mereka beri gelar Iblis bertangan Petir itu juga memiliki kemampuan yang sama, maka perkelahian itu tentu akan menjadi sangat seru.

“Tetapi ketika terjadi benturan, orang itu terdorong surut desis seseorang”

Kawannya tidak membantah. Mereka memang melihat Jlitheng terdorong surut beberapa langkah.

Ternyata gegedug yang sedang bertempur itu merasa bahwa lawannya tidak terlalu kuat. Meskipun ia terdorong juga setapak, tetapi ia merasa bahwa ia memiliki kekuatan yang jauh melampaui lawannya.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru, Jlitheng menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak lagi ingin membenturkan kekuatannya jika tidak karena terpaksa. Ia sudah tahu, bahwa lawannya memiliki kekuatan raksasa. Tetapi itu bukan berarti bahwa kekuatannya tidak dapat terlawan.

Jlitheng lebih senang mempergunakan kecepatannya tergerak. Ia berloncatan seperti seekor anak kijang. Sekali ia menyerang dari kiri ke kanan. Tiba-tiba saja ia sudah berada di sebelah kiri. Jika lawannya berkisar, maka Jlitheng bergerak dengan cepatnya menyerang dari depan.

Orang yang disebut gegedug itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Namun yang dilakukannya itu justru telah membakar jantung. Ternyata ia tidak segera dapat menguasai lawannya yang mampu bergerak dengan cepat.

Dalam pada itu, orang yang telah terbaring di pinggir jalan itupun mulai bergerak. Perlahan-lahan ia mulai menyadari dirinya sendiri. Bahkan kemudian ia mulai dapat melihat keadaan di sekelilingnya.

Sejenak ia termangu-mangu. Ia melihat dua orang yang sedang bertempur dengan dahsyatnya. Yang seorang adalah laki-laki yang telah mengambil isterinya, dan yang telah siap untuk membunuhnya.

Tetapi ternyata bahwa ia masih tetap hidup.

Ketika orang itu kemudian berusaha untuk bangkit, maka diamatinya isterinya bertolak pinggang sambil memperhatikan perkelahian itu. Bahkan sekali-kali perempuan itu berteriak sekuat-kuatnya, “Bunuh. Bunuh saja orang lancang itu”

Tetapi ternyata gegedug itu tidak dengan segera dapat melakukannya. Bahkan karena ia telah mengerahkan segenap kekuatannya, maka kekuatannya itu pun dengan cepatnya menjadi susut.

Ternyata Jlitheng dengan sengaja tidak menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta. Ia ingin memperlihatkan kepada lawannya, bahwa ilmu yang dimiliki adalah ilmu yang kasar meskipun kuat. Namun dalam keadaan tertentu kekuatan raksasa itu tidak akan dapat menguasai keadaan.

Dengan kekuatan yang menghentak-hentak, gegedug itu berusaha untuk menjatuhkan lawannya. Tetapi Jlitheng dengan tangkasnya selalu berhasil menghindar dan kemudian menyerang lawannya dengan kecepatan yang tidak dapat teratasi

Jlitheng tidak berusaha untuk menyerang pada tempat-tempat yang gawat. Bahkan ia tidak mempergunakan segenap kekuatan-nya. Ia ingin melumpuhkan lawannya sambil meyakinkannya, bahwa ia bukan apa-apa bagi anak muda yang telah ikut campur dalam persoalannya itu.

Sebenarnyalah orang itu merasa heran melihat lawannya yang masih muda. Lawannya mampu bergerak secepat tatit.

Serangannya tidak pernah dapat menyentuh anak muda itu Namun anak muda itupun jarang sekali mengenainya, meskipun kesempatan terlalu banyak yang dapat dipergunakannya.

Namun dengan demikian, harga diri gegedug yang disegani di padukuhannya itu merasa terhina. Apalagi ketika sekali-kali ia melihat Jlitheng masih sempat tersenyum.

arena itu, dengan lantang iapun kemudian berteriak, “Ambil tombakku di langkan, Nyai”

Perempuan yang berteriak-teriak itu pun segera menghambur berlari. Ia mendengar perintah gegedug itu. Karena itu, maka ia pun segera mengambil tombak gegedug itu yang disimpannya di dalam rumahnya.

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Gegedug itu telah mengambil pusakanya yang sangat ditakuti oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan gegedug yang bertubuh pendek yang lewat tanpa mengacuhkan pertempuran itu, menjadi heran ketika ia mendengar seseorang memberitahukan kepadanya, selagi ia duduk dengan tenang di gardu yang telah kosong.

Dengan wajah yang tegang, gegedug yang berada di gardu itu bertanya, “Apakah kau tidak mengigau?”

 “Tidak” jawab orang yang memberitahukan kepadanya, “Ia benar-benar menyuruh perempuan itu mengambil tombak pusakanya”

 Orang bertubuh pendek itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Siapakah orang yang tidak dikenal itu? Aku tidak yakin, bahwa ia dapat melawan kakang Singkir yang memiliki tenaga raksasa itu. Tetapi jika benar kakang Singkir menyuruh mengambil tombaknya, itu berarti-bahwa ia tidak dapat membunuhnya dengan tangannya”

 Karena itu, maka ia tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk melihat apa yang terjadi. Meskipun agak segan, akhirnya ia turun dari gardu dan berjalan mendekati arena pertempuran. Tetapi ia tidak mau berdiri terlalu dekat, agar ia tidak terlibat dalam, perkelahian yang telah terjadi sengitnya itu”

 Selain gegedug yang bertubuh pendek itu, maka kawan Cempaka yang oleh tetangga-tetangganya diberi gelar Iblis bertangan Petir itupun mendengar dari seseorang yang memberitahukan kepadanya, bahwa gegedug yang sedang bertempur itu telah menyuruh mengambil tombak pusakanya.

 Kawan Cempaka dari Sanggar Gading iku tersenyum. Ia pernah melihat Jlitheng yang dikenalnya bernama Bantaradi itu bertempur. Karena itu, maka ia dapat menilai apakah kira-kira yang akan terjadi. Dengan demikian, maka ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih tetap duduk diatas batu di dekat simpang di padukuhannya”

 Dalam pada itu, perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin menyakitkan hati gegedug yang marah itu. Ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Namun Jlitheng hampir-hampir berkeringat pun tidak. Bahkan semakin lama anak muda itu justru menjadi semakin tangkas dan bergerak semakin cepat, sehingga gegedug itu telah hampir kehabisan nafas.

 Pada saat yang demikian, maka perempuan yang menjadi sumber persoalan itu berlari-lari sambil membawa tombak pendek. Ketika ia berdiri di regol maka iapun berteriak, “Ini tombakmu kakang”

 Gegedug yang disebut bernama Singkir itupun segera melompat menghampiri perempuan yang berdiri di regol itu untuk menerima tombaknya. Sementara itu Jlitheng tidak berusaha mencegah. Dibiarkannya saja lawannya meloncat ke regol, meraih tombaknya, dan kemudian terdengar orang itu tertawa.

 “Nasibmu memang buruk anak muda” berkata gegedug yang disebut kakang Singkir itu. Lalu, “Kau akan mati dengan luka arang kranjang. Aku akan menusuk tubuhmu tanpa jarak, dari ujung ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Tubuhmu tidak akan berujud lagi sehingga bangkaimu tidak ubahnya dengan bangkai binatang yang melata tergilas roda pedati”

Sejenak Jlitheng termenung. Namun kemudaan katanya, “Memang mengerikan sekali. Karena itu, aku akan berusaha untuk menghindari kematian yang demikian”

 Lawannya termangu-mangu sejenak. Tetapi Jlitheng kemudian menjelaskan, “Aku akan melawan dan akan mematahkan tombakmu sehingga kau tidak akan mampu melakukan seperti yang kau katakan”

 Kemarahan orang yang bernama Singkir itu tidak dapat ditahan lagi. Dengan serta merta iapun meloncat menyerang Jlitheng dengan ujung tombaknya.

 Tetapi Jlitheng sudah menduga bahwa orang itu akan segera menyerangnya. Karena itu, maka iapun segera meloncat menghindar. Dengan demikian maka tombak lawannya itu sama sekali tidak menyentuhnya.

 Dengan kemarahan yang membakar jantung, maka gegedug yang selama itu ditakuti oleh bukan saja penduduk di padukuhannya, tetapi juga oleh padukuhan di sekitarnya itu, segera mengerahkan segenap kemampuan ilmunya untuk mengakhiri perkelahian itu.

 Tetapi lawannya terlalu kuat. Anak muda itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga. Kadang-kadang Singkir justru menjadi kehilangan arah serangannya, karena lawannya berada di tempat yang tidak diduganya.

 Meskipun demikian, ternyata Jlitheng kemudian merasa, bahwa serangan lawannya yang bagaikan gila itu telah menyusutkan tenaganya. Ia harus bergerak lebih cepat, karena ujung senjata lawannya yang menyambar-nyambar.

 Dalam pada itu, orang-orang yang memperhatikan pertempuran itu menjadi bertambah tegang. Gegedug yang bertubuh pendek itupun bagaikan membeku di tempatnya. Ia tidak menduga, bahwa anak muda yang bertempur dengan orang yang disebutnya Singkir itu memiliki kemampuan yang mendebarkan jantung. Bahkan beberapa orang yang berdiri agak jauh dari arena itupun rasa-rasanya menjadi gemetar. Ketegangan yang luar biasa telah mencengkam mereka pula.

 Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan, apakah yang bakal terjadi dengan kedua orang yang sedang bertempur itu. Mereka telah menyaksikan, betapa tombak gegedug yang disebut Singkir itu meluncur mematuk, kemudian menyambar dan berputar dengan melontarkan sambaran angin di seputarnya.

 Sejenak Jlitheng terdesak beberapa langkah. Putaran tombak itu memang berbahaya baginya. Agaknya orang yang bernama Singkir itu benar-benar mengenal dan memahami, bagaimana ia harus bermain-main dengan senjatanya itu.

 Karena itu, akhirnya Jlitheng mengambil keputusan, bahwa ia tidak ingin terjerat oleh sikapnya. Ia harus berhati-hati dalam keadaan yang meskipun nampaknya tidak akan membahayakannya. Namun lambat laun, terasa bahwa ia harus berbuat lebih banyak lagi.

 Dengan demikian, ketika tombak lawannya terayun-ayun dan kemudian mematuk dengan dahsyatnya, Jlitheng meloncat surut. Dengan gerak yang tidak dapat diikuti dengan tatapan mata orang kebanyakan, tiba-tiba saja Jlitheng telah menggenggam pedang ditanganinya.

 “Marilah” berkata Jlitheng, “permainan kita akan semakin mengasikkan” berkata Jlitheng kemudian.

 Pedang yang tipis itupun segera bergetar di tangan Jlitheng, sementara lawannya menjadi termangu-mangu sekejap. Gegedug itu menyadari betapa tinggi kemampuan lawannya. Disaat lawannya tidak memegang senjata ditangan, ia tidak segera dapat mengalahkannya. Apalagi jika kemudian ia membawa senjata.

 Meskipun demikian orang yang bernama Singkir itu tidak mau surut. Ia bahkan menjadi seakan-akan gila. Bahkan lambat laun ia mulai kehilangan pengamatan diri dan perhitungan. Serangan-serangannya menjadi liar dan tidak terkendali. Tetapi perhitungan dan pertimbangannya pun menjadi semakin kabur.

 Pertempuran dengan senjata itu agaknya menjadi semakin menarik perhatian. Gegedug yang bertubuh pendek itu menjadi tegang. Singkir adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang lain di padukuhan itu. Namun ternyata ia tidak dapat berbuat banyak menghadapi orang yang tidak dikenal itu.

 Orang-orang yang melihat pertempuran itupun menjadi semakin banyak, meskipun mereka tidak berani mendekat Mereka tidak mau terlibat dalam perselisihan itu. Perselisihan antara gegedug itu dengan suami dari perempuan cantik yang berdiri dengan gelisah di depan regol. Dan mereka pun tidak mau dianggap terlibat dalam pertempuran yang sengit itu.

 Keributan itu ternyata telah menarik perhatian orang yang digelari Iblis bertangan Petir. Ia tidak tenang lagi duduk di simpang tiga. Ia mendengar beberapa orang mengatakan, bahwa telah terjadi perang dengan senjata.

 “Apakah Bantaradi itu tidak segera dapat menyelesaikan lawannya?” Iblis bertangan Petir itu bertanya kepada diri sendiri. Namun karena itu, maka iapun segera berdiri dan dengan segan melangkah mendekati arena. Tetapi iapun tidak berdiri terlalu dekat. Ia berada diantara orang-orang lain yang memperhatikan pertempuran itu disela-sela pepohonan halaman dan kebun disekitar arena perkelahian itu.

 Namun ketika ia sudah memperhatikan perkelahian itu beberapa saat, ia menarik nafas dalam-dalam Kepada diri sendiri ia berkata, “Bantaradi memang gila. Ia mempermainkan lawannya”

 Sebenarnyalah, ketika Jlitheng telah memegang pedang tipisnya, ternyata bahwa lawannya sama sekai tidak berdaya dengan tombaknya. Betapapun liar dan buasnya gegedug itu. namun ia benar-benar menjadi sasaran permainan Jlitheng. Serangan-serangannya sama sekali tidak mampu menembus kelincahan gerak pedang tipis anak muda itu. Meskipun ia mengerahkan tenaga raksasanya, namun dengan mudah Jlitheng dapat menghindar atau sekedar mengibaskan serangan itu kesamping.

Namun sementara itu, ternyata Jlitheng pun tidak melukainya. Ia tidak dengan sungguh-sungguh menyerang jantung dan tempat-tempat berbahaya yang lain. Bahkan ia sama sekali tidak ingin menggoreskan sebaris lukapun pada tubuh lawannya,

 Yang dikehendaki oleh Jlitheng adalah, bahwa lawannya akan jatuh karena kelelahan.

 Dengan demikian, Jlitheng ingin menunjukkan sikap yang lain dari sikap yang dijumpai oleh orang-orang padukuhan itu sehari-hari. Bahwa seseorang dapat berbuat lain dari kekerasan dan dendam. Kekerasan dan kebuasan. Bahwa seseorang yang berhasil mengalahkan orang lain tidak harus berbuat sewenang-wenang dalam kemenangannya. Dan bahwa kemenangan bukannya kekuasaan yang sebenarnya.

Orang yang disebut Iblis bertangan Petir memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Namun ia mempunyai tanggapan tersendiri. Ia menganggap bahwa Jlitheng telah menghina lawannya dan dengan sengaja mempermainkannya. Karena itu, maka nampak bibirnya sekali-kali tersenyum.

“Memang menyenangkan” katanya di dalam hati, “kesempatan untuk bermain-main seperti itu jarang sekali didapatkan. Seperti seekor kucing yang mempermainkan seekor tikus kecil yang tidak berdaya”

Yang mempunyai tanggapan yang lain adalah gegedug yang bertubuh pendek. Ia melihat sikap itu benar-benar suatu penghinaan bukan saja bagi Singkir. Tetapi penghinaan bagi seluruh padukuhan yang ditakuti oleh orang-orang disekitarnya, bahkan sampai ke padukuhan yang agak jauh letaknya.

Karena itu, yang kemudian melonjak di dalam jantungnya adalah perasaan harga diri. Harga diri bagi sesama gegedug yang kondang.

Tetapi untuk beberapa saat ia masih menahan diri untuk tidak mencampuri persoalan itu. Namun ketika gegedug yang bernama Singkir itu benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa. lagi, selain meloncat, terhuyung-huyung dan bahkan hampir jatuh, gegedug bertubuh pendek itu tidak dapat menahan diri lagi.

“Aku tidak akan mencampuri persoalannya” Ia menggeram, “tetapi aku tidak mau melihat orang yang tidak dikenal itu menghinakan padukuhan ini”

Karena itu. maka tiba-tiba saja gegedug yang bertubuh pendek itu segera meloncat maju sambil berkata, “Kakang Singkir. Bertahanlah. Aku akan membantumu”

Gegedug yang bernama Singkir itu tertegun sejenak. Keringatnya sudah bagaikan terperas dari tubuhnya. Ia benar-benar sudah berputus asa dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat.

Namun kehadiran gegedug bertubuh pendek itu telah menumbuhkan harapan. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja telah menjadi merah.

Tetapi sekejap kemudian ia menjadi1 ragu-ragu. Bahkan sekali-kali ia berpaling kepada perempuan yang berdiri di depan regol itu.

“Aku tidak peduli perempuan itu” geram gegedug bertubuh pendek, “Aku hanya ingin membunuh orang yang telah menghinakan padukuhan ini. Marilah, kita bersama-sama tentu akan dapat melakukannya”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Iapun sempat memandangi langkah gegedug bertubuh pendek itu. Pada langkah itu ia mendapatkan kesan bahwa orang bertubuh pendek itu tentu dapat bergerak dengan cepat dan cekatan.

Namun dalam pada itu, Jlitheng pun mendapatkan kesan yang lain pula pada orang yang kemudian menjadi semakin dekat itu. Ternyata bahwa di dalam padukuhan itu ada juga orang yang mencampuri persoalan yang terjadi pada orang lain.

Dalam pada itu, dengan sengaja Jlitheng pun kemudian bertanya, “Jadi kau juga akan mencampuri persoalan orang lain, seperti yang aku lakukan?”

“Aku tidak peduli. Tetapi justru karena kau mencampuri persoalan kakang Singkir itu, kau berarti telah menghina adat yang berlaku di padukuhan ini. Dengan demikian, maka kau sudah memaksa orang lain ikut terlibat pula ke dalamnya”

“Bagus” tiba-tiba Jlitheng berteriak, “Jika demikian maka maksudku sudah tercapai. Orang-orang padukuhan ini memang tidak boleh tinggal diam apapun yang terjadi. Jika kau merasa terhina dan kemudian mencampuri persoalan ini, maka itu adalah pertanda bahwa kau masih memiliki sifat yang utuh. Sifat manusia dalam hubungan antar manusia yang pada dasarnya tidak akan dapat saling melepaskan diri dan saling tidak menghiraukan yang satu dengan yang lain”

“Persetan” geram gegedug itu, “apapun yang kau katakan, tetapi aku ingin membunuhmu, supaya kau tidak mengotori kebiasaan yang sudah berlaku di padukuhan ini, dan berlangsung dengan tenang tanpa diganggu oleh siapapun juga”

 “Aku tidak mengerti, apakah kau mempunyai arti tersendiri atas kata-katamu. Bahwa padukuhan ini dengan tenang menganut kebiasaan yang sudah berlaku adalah pengertian yang membuat kepalaku menjadi pening”

 “Cukup” bentak gegedug itu sambil melangkah semakin dekat, “Kau jangan banyak berbicara lagi. Bersiaplah untuk mati. Meskipun kau dapat mengalahkan kakang Singkir tetapi melawan kami berdua kau tidak akan mampu bertahan sepenginang”

 Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata;, “Baiklah. Marilah kita bertempur. Ternyata bahwa penghuni padukuhan ini jiwanya belum benar-benar membeku”

 Gegedug yang bertubuh pendek itu melangkah semakin dekat. Bahkan iapun telah bersiaga untuk bertempur. Dengan tangan bergetar ia menarik golok di pinggangnya.

 Sementara itu Singkir menjadi termangu-mangu. Namun sesaat kemudian iapun telah bersiap menghadapi lawannya yang masih muda itu. Berdua iapun yakin akan dapat mengalahkan lawannya

 Dalam ketegangan itu, maka laki-laki yang hampir terbunuh oleh Singkir itupun melihat apa yang akan terjadi. Tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu. Jika terpandang olehnya wajah isterinya yang berdiri dimuka regol, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar. Seakan-akan ia melihat seraut wajah dalam dua warna. Wajah isterinya yang cantik, namun juga wajah iblis betina yang mengerikan, yang siap menghisap darahnya sampai kering.

 Dalam pada itu, kedua gegedug itupun telah bersiap. Keduanya telah mengambil sikap dan arahnya masing-masing. Namun keduanya masih belum meloncat menyerang.

 Jlitheng memandang keduanya berganti-ganti. Namun akhirnya ia tersenyum sambil berkata, “Silahkan Ki Sanak. Aku sudah siap menghadapi kalian berdua”

Tetapi sebelum kedua orang itu bergerak, beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itupun menyibak. Seorang yang bertubuh sedang, berwajah tampan melangkah maju. Dengan senyum di bibirnya ia berkata, “Kenapa kalian hanya berdua?”

 Orang-orang yang berada di arena itu berpaling. Mereka melihat seorang berwajah tampan itu semakin mendekat. Dengan suara tertawa yang renyah ia berkata, “Aku akan ikut campur. Sebenarnya ikut campur. Kemudian persoalan diantara kita akan kita selesaikan sendiri. Perempuan itu memang cantik”

 Gegedug yang bernama Singkir itu mengerutkan keningnya. Dengan geram ia berkata, “Jangan gila dihadapanku”

 Orang berwajah tampan itu tertawa. Katanya, “Kau ambil perempuan itu dari suaminya, Tetapi perempuan itu memang memilih kau daripadanya. Tetapi bagaimana jika perempuan itu memilih aku, dan aku akan membunuh laki-laki yang sudah mengalahkanmu”

“Kau jangan sombong. Aku tidak dapat membunuhnya. Apa kau dapat melakukannya?”

“Kita, melakukan bertiga. Jika orang itu sudah mati, kita akan berbicara. Kita dapat menempuh cara lain dari yang selama ini berlaku. Merebut seseorang dari sisihannya dengan mutlak. Tetapi apakah kita dapat melakukan cara yang berbeda?”

Gegedug yang bernama Singkir itu mengerutkan keringnya. Sejenak ia merenung.

Sementara itu, darah Jlitheng justru menjadi panas mendengar pembicaraan itu. Jika semula ia berusaha untuk menyelesaikan perkelahian itu dengan darah dingin, namun pembicaraan antara orang-orang yang dianggapnya menyalahi hubungan antara manusia yang beradab telah membuat jantungnya bergejolak.

Jlitheng hampir tidak dapat menahan kemarahannya ketika ia justru mendengar perempuan yang menjadi sumber persoalan itu berteriak dari regol, “Apa salahnya jika yang tidak seperti kebiasaan yang berlaku itu kita anggap baik dan bermanfaat?”

Ketika Jlitheng berpaling kearah perempuan itu, maka ia melihat iblis betina ku tertawa.

“Nah kau dengar” berkata orang berwajah tampan, “marilah. Aku akan membantumu membunuh anak muda yang malang, yang telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesulitan”

 Jlitheng menggeretakkan giginya. Ia benar-benar menjadi marah. Bukan karena ia harus menghadapi tiga orang bersama-sama. Tetapi justru karena sikap mereka yang gila itu yang tidak lagi berpegangan pada martabat manusianya.

 Karena itu, maka Jlitheng pun kemudian menggeram, “Kalian memang bukan orang-orang yang mengerti akan peradaban. Karena itu, maka aku akan bersikap khusus di dalam? padukuhan ini. Aku tidak lagi dapat bermain-main sambil tersenyum dengan harapan, bahwa sikap itu akan melunakkan hati kalian yang membeku”

Ketiga orang itu mengerutkan keningnya. Kata-kata Jlitheng itu memang mendebarkan. Apalagi orang yang bernama Singkir, yang telah mengalami tekanan yang tidak terlawan dari anak muda yang bernama Jlitheng itu. Yang kemudian menyadari, bahwa Jlitheng memang tidak ingin membunuhnya, bahkan melukaipun tidak meskipun ia sudah tidak berdaya melawannya.

Tetapi bersama dua orang kawannya, maka ia mempunyai harapan lain meskipun ia menjadi ragu-ragu melihat sikap Jlitheng yang sama sekali tidak menjadi gentar.

Sejenak kemudian ketika orang yang dianggap orang terbaik di padukuhan itupun telah bersiap di seputar Jlitheng. Singkir yang ragu-ragu akhirnya menemukan kemantapan kembali, meskipun tenaganya belum pulih seutuhnya.

Orang berwajah tampan yang berdiri dua langkah di sebelah Jlitheng itupun kemudian berkata sambi tersenyum, “Anak muda, marilah. Kau masih sempat menyebut nama ayah bundamu sebelum ajal datang merundukmu. Jangan merajuk lagi. Aku mengerti, bahwa peradaban di padukuhan ini agak berbeda dengan padukuhan-padukuhan yang lain, karena aku memang bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di padukuhan ini. Tetapi cara hidup orang-orang padukuhan ini sangat menarik, sehingga aku memutuskan untuk pindah ke padukuhan ini”

“Ternyata bahwa penglihatan batinmu telah menjadi kabur” jawab Jlitheng, “Karena itu, maka aku pun akan mempergunakan cara yang barangkali paling baik aku lakukan bagi orang-orang padukuhan ini. Lihat, cara itulah yang kalian alami. Bahkan mungkin aku akan melakukannya terhadap kalian sampai ke batas maut”

Orang-orang itupun berpaling sekilas memandang laki-laki yang masih terbaring di bawah bayangan batang perdu yang tumbuh melekat dinding halaman di pinggir jalan itu. Orang itu mencoba untuk bangkit tetapi yang dapat dilakukannya hanyalah beringsut dan bersandar dinding halaman.

Gegedug berwajah, tampan itu tertawa. Katanya, “Memang menarik sekali Nampaknya lebih senang menyumbat hidungnya dari pada mencekik lehernya”

Jlitheng tidak lagi dapat bersabar. Karena itu, maka ia pun beringsut setapak sambil menggeram, “Kalian juga akan mengalami”

Gegedug bertubuh agak pendek itupun tidak sabar lagi. Iapun bergeser selangkah maju sambil berkata, “Aku tidak sabar lagi. Aku sudah menyaksikan bagaimana ia mempermainkan kakang Singkir. Marilah, kita berbuat sesuatu”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena orang bertubuh agak pendek itu tiba-tiba saja sudah menyerang sambil berkata lantang, “Aku akan bertempur sampai orang ini mati di bawah mata orang-orang padukuhan ini. Ia sudah berbuat sesuatu yang mencemarkan nama baik kita”

Namun Jlitheng pun telah siap menghadapi segala kemungkinan. Ia bergeser selangkah sambil berputar.

Serangan orang bertubuh pendek itu memang dapat dihindari, namun adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja orang berwajah tampan yang nampaknya masih belum bersikap itu telah meluncur dengan cepatnya. Kakinya terjulur Jurus langsung mengarah lambung.

Jlitheng memang terkejut mendapat serangan itu. Serangan yang tiba-tiba dan demikian cepatnya. Karena itu. maka ia tidak sempat mengelak lagi. Ia hanya dapat bergeser setapak.

Namun orang berwajah tampan itu ternyata memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia masih sempat menggeliat dan sekaligus merentangkan tangannya. Ketika kakinya kemudian berhasil menyentuh lawannya meskipun tidak seperti yang dikehendakinya, ia masih sempat menghantam kening Jlitheng.

Serangan pertama yang langsung mengenai lawannya itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Jlitheng yang tidak mengira bahwa ia akan langsung dihantam pada serangan pertama itu telah terdorong surut. Belum lagi ia sempat memperbaiki kedudukannya, maka serangan yang berikutnya telah menyusul. Orang berwajah tampan itu kemudian meloncat sambil mengayunkan tangannya mengarah ke dahi Jlitheng. Dalam keadaan yang sulit karena Jlitheng harus menangkis tombak Singkir yang terjulur, Jlitheng memiringkan kepalanya sehingga tangan itu tidak mengenai sasarannya. Tetapi tangan itu masih menghantam pundak Jlitheng dengan kerasnya.

Jlitheng menyeringai menahan sakit. Ketika sebuah pukulan sekali lagi mengenai dadanya, maka ia benar-benar kehilangan keseimbangan dan terlempar jatuh.

Ternyata orang berwajah tampan itu benar-benar memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada serangan yang beruntun itu, ia sudah berhasil mengenai tubuh Jlitheng beberapa kali, sehingga Jlitheng pun telah terjatuh.

Namun, dalam pada itu, Jlitheng tidak kehilangan akal. Ia mengerti apa yang telah terjadi. Karena itu, maka iapun justru berguling beberapa kali dengan cepatnya. Kemudian ia pun melenting berdiri dengan cepatnya.

Pada saat itu, serangan lawannya telah memburunya. Bukan saja dari orang berwajah tampan itu. Tetapi ketiga orang lawannya telah berada selangkah dihadapannya. Apalagi orang berwajah tampan itu.

Tetapi ketika orang itu menyerangnya Jlitheng benar-benar telah mapan. Ia menyadari keadaan sepenuhnya. Ia pun dapat menjajagi kemampuan lawan. Kekuatan dan kecepatan mereka bergerak.

Dengan demikian, ketika orang berwajah tampan itu menyerangnya sekali lagi dengan kecepatan tatit di langit, Jlitheng tidak ingin mengelakkan diri. Ia sudah benar-benar di bakar oleh kemarahan yang memuncak. Karena itu, maka iapun telah didorong oleh keinginan seorang anak muda untuk berbuat sesuatu yang dapat memberikannya kebanggaan setelah beberapa saat lamanya dia menjadi sasaran kebanggaan lawannya. Apalagi karena kesombongan lawannya tanpa senjata.

Dalam pada itu, beberapa orang yang menyaksikan dari kejauhan menjadi berdebar-debar,ila melihat bagaimana gegedug berwajah tampan itu mampu mempermainkan lawannya. Menyerangnya dan bahkan kemudian melemparkan anak muda itu sehingga jatuh berguling-guling. Kini mereka melihat orang itu menyerang sekali lagi dan mereka pun melihat Jlitheng tidak dapat mengelakkan diri.

Karena itu, maka mereka pun menduga, bahwa Jlitheng benar-benar akan mengalami kesulitan. Ia tentu akan terlempar sekali lagi, dan jatuh terbanting ke tanah. Mungkin ia akan mengalami luka-luka yang parah, bukan sekedar terguling seperti yang telah terjadi.

Sementara itu, kawan Cempaka yang disebut Iblis bertangan Petir itupun mengerutkan keningnya. Ia melihat Jlitheng seakan-akan tidak dapat mengimbangi kecepatan bergerak lawannya, sementara dua orang yang lab masih belum bertempur dengan sungguh-sungguh.

Ketika ia melihat orang berwajah tampan itu menyerang Jlitheng dan nampaknya Jlitheng tidak mengelakkan dini. bahkan tidak memanfaatkan senjatanya sebaik-baiknya, ia menjadi tegang.

Yang terjadi kemudian adalah benturan yang keras antara orang berwajah tampan itu dengan Jlitheng, justru karena Jlitheng dengan sengaja tidak mengelakkan dirinya, dan tidak mempergunakan senjatanya.

Ternyata perhitungan Jlitheng tidak terlalu jauh dari kebenaran. Orang berwajah tampan yang mampu bergerak cepat itu, ternyata tidak memiliki kekuatan seperti yang dapat dibanggakan. Agaknya ia lebih mementingkan pada kemampuan bergerak daripada memperhitungkan kekuatan serangannya.

Dengan demikian, ketika benturan itu terjadi maka orang berwajah tampan itupun telah terlempar beberapa langkah. Justru karena Jlitheng yang bertahan itu telah mendorongnya pula.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu melihat, Jlitheng berdiri tegak dengan kaki renggang. Lawannyalah yang terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.

Kedua orang gegedug yang bertempur bersamanya terkejut. Ia melihat orang berwajah tampan itu pada mulanya seakan-akan berhasil menguasai lawannya dengan kecepatannya bergerak. Namun kemudian mereka melihat orang itu justru terlempar, sedangkan Jlitheng masih tetap berdiri di tempatinya.

Sejenak kemudian, orang yang terlempar itu berusaha untuk melenting berdiri. Namun ternyata bahwa lontaran tenaganya sendiri yang seakan-akan memental pada benturan kekuatan dengan lawannya itu, telah membuatnya kesakitan.

Karena itu, ia tidak segera dapat berdiri tegak. Seberapa saat ia terhuyung-huyung mencari keseimbangan.

Kawan Cempaka yang menyaksikan pertempuran itu dengan tegang, tiba-tiba saja tersenyum. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih ingin melihat Jlitheng menghadapi ketiga orang itu untuk selanjutnya.

 

Bersambung ke jilid 7

 

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

 

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s