MAdBB-05


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 5

kembali | lanjut

cover madbb-05NAMPAKNYA memang demikian ngger. Air itu akan lebih baik kita pergunakan disini daripada hilang didalam tanah. Tetapi kau lupa, bahwa pada suatu saat, tempat yang rendah. Mungkin air yang muncul dari dalam tanah itu, sejak lama menjadi sumber penghidupan orang-orang di sekitarnya. Jika kita yang disini, menyadap air itu seluruhnya, maka mata air di tempat yang jauh itu akan menjadi kering. Kau dapat membayangkan akibatnya atas orang-orang yang menggantungkan diri pada sumber air itu.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kiai benar. Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu, Kiai.” ia berhenti sejenak, lalu, “justru sikap itu harus kita perhatikan. Kita harus memberitahukan hal itu kepada orang-orang lain yang mungkin akan dengan serakah mengambil air dari belumbang itu seluruhnya bagi tanah Lumban Wetan atau Lumban Kulon.”

“Kemungkinan itu memang besar sekali. Meskipun demikian, kita akan berusaha untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka tidak boleh terlalu mementingkan diri sendiri.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara itu, gemericik air yang menuruni tebing, telah menyatu dengan arus air sungai yang hampir kering.

Pengaruh air dari belumbang itu memang belum nampak. Tetapi bagi Kiai Kanthi dan Jlitheng, rasa-rasanya semuanya sudah jelas.

Bahkan Jlitheng pun kemudian berkata, “Kiai, kita akan dapat menunjukkan air itu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Mereka akan dapat mengerahkan orang-orangnya untuk membendung sungai atau untuk sementara mengalirkan arus air itu kedalam parit yang sudah ada, meskipun kering di musim kemarau.”

Tetap Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Semula aku tidak memikirkannya ngger. Tetapi sekarang aku melihat, bahwa jika air itu akan dialirkan langsung ke parit, maka parit itu hanya akan mengairi sawah dan ladang di daerah Lumban Wetan. Hal itu akan dapat menimbulkan persoalan bagi Lumban Kulon. Karena itu, memang sebaiknya kita melakukan seperti yang kau katakan beberapa saat yang lampau. Air itu masuk kedalam sungai, kemudian diangkat kedalam parit disebelah menyebelah sungai, sehingga Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat menikmatinya meskipun tidak memenuhi segala kebutuhan di musim kering, tetapi sudah akan dapat mendorong kemajuan hasil tanah yang cukup besar.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Sambil memandang kearah Lumban Wetan dan Lumban Kulon ia berkata, “Kiai benar. Sekali lagi nampak, bahwa Kiai berpikir jauh. Agaknya aku masih harus mengendapkan diri untuk dapat melihat jarak seperti yang Kiai lihat. Meskipun sampai saat ini nampaknya tidak ada persoalan atas Lumban Wetan dan Lumban Kulon. tetapi jika masalah air itu mulai terasa, justru akan dapat menimbulkan persoalan baru yang cukup gawat. Apalagi menilik sikap putra Ki Buyut di Lumban Kulon. Agaknya sikapnya tidak selunak sikap ayahnya yang menjadi semakin tua.”

Kiai Kanthi pun memandangi pula beberapa pedukuhan diantara bulak-bulak yang tidak begitu subur dan bahkan kering di musim kemarau. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Mudah-mudahan akan segera terjadi perubahan. Tetapi bukan perubahan sifat dan watak orang-orang Lumban yang ramah dan baik hati. Jika air itu mulai menyentuh daerah yang kering itu, maka akan mudah timbul nafsu ketamakan dan rakus. Hal itulah yang harus dihindarkan pada setiap usaha perubahan keadaan. Beberapa orang akan mungkin sekali berusaha untuk mendapat yang lebih banyak dari orang lain.”

“Tetapi tentu tidak benar pula apabila kita akan membiarkan kesempatan perbaikan itu terjadi Kiai.”

“Ya, ya, ngger. Kesulitannya adalah mencari keseimbangan itulah,” jawab Kiai Kanthi.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan berbicara dengan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon, bahwa air telah dapat diarahkan sesuai dengan kepentingan orang-orang Lumban. Tetapi tidak segera Kiai.”

“Malam nanti?”

Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Lebih baik dua atau tiga hari lagi setelah semuanya cukup meyakinkan. Sementara gubug Kiai Kanthi pun akan sudah menjadi rapat. Dalam waktu satu dua hari ini, aku akan pergi Kiai.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Ada hubungannya dengan permintaan Daruwerdi seperti yang pernah angger ceriterakan?”

“Ya. Malam nanti aku pergi. Mudah-mudahan sehari besok aku dapat menyelesaikan pekerjaan itu, sehingga malam besok aku sudah berada disini. Jika aku terlalu lama pergi, akan timbul kecurigaan orang-orang Lumban, terutama Daruwerdi sendiri. Jika orang yang menyebut dirinya Cempaka itu sempat menceriterakan kepada Daruwerdi bahwa ada orang yang mengintainya saat mereka berdua mengadakan pembicaraan, maka Daruwerdi tentu akan mencari jawab, siapakah orang yang telah melakukannya itu.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mengerti, tentu Jlitheng berkepentingan dengan rencana Cempaka untuk memenuhi permintaan Daruwerdi sebagai ganti pusaka yang dijanjikannya. Meskipun pusaka itu sendiri masih belum ditunjukkannya.

“Aku wajib mencari, siapakah orang yang dimaksud oleh Daruwerdi membunuh ayahnya itu. Apakah benar hal itu pernah terjadi. Jika benar, maka aku akan dapat mencari jalur, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu, dan untuk siapa sebenarnya ia bekerja. Sampai saat ini nampaknya ia bekerja untuk pihak manapun yang dapat memenuhi permintaannya itu. Tetapi aku masih menyangsi-kan, apakah pemintaannya itu memang benar-benar beralasan. Atau ia sengaja membenturkan kekuatan-kekuatan yang disebutnya sebagai perguruan Kendali Putih, Pusparuri, dan perguruan yang dianut oleh Cempaka itu sendiri.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku adalah orang tua yang sangat picik ngger. Aku tidak pernah mengetahui apapun juga selain padepokanku yang dilanda banjir, gempa dan tanah longsor itu. Karena itu, aku tidak akan dapat ikut membantu, memecahkan masalah itu. Yang dapat aku lakukan tidak lebih dari membuat parit ini.”

“Kiai pun masih perlu diselidiki, apakah yang Kiai katakan itu benar. Seandainya Kiai benar-benar orang padepokan terpencil yang dilanda bencana itu, tetapi setidak-tidaknya Kiai tentu pernah mendengar dan mengetahui beberapa perguruan yang ini. Apalagi aku mengerti, sampai dimanakah tingkat ilmu Kiai yang sebenarnya.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah kita tidak berbicara tentang hal itu. Jika angger mau pergi, berhati-hatilah, karena masalah yang angger hadapi agaknya masalah yang cukup gawat.”

“Ya Kiai,” jawab Jlitheng, “tidak banyak Pangeran yang aku kenal. Jika ada diantara mereka masih mempunyai ikatan permusuhan karena suatu pembunuhan, maka orang itu pantas aku telusur lebih jauh, apakah benar orang itu yang dimaksud oleh Daruwerdi. Jika benar, maka orang itu akan berada dalam bahaya.”

“Tetapi tanpa orang itu, apakah kau akan dapat mencapai akhir dari tugasmu, sampai saat pusaka itu dapat diketemukan?”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan aku menemukan satu jalur yang dapat memecahkan hal itu. Mungkin aku dapat berbicara dengan orang yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi, sehingga aku menemukan cara untuk memancing pusaka itu.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Silahkan ngger. Tentu banyak cara. Tetapi tentu banyak pula kesulitannya. Silahkan pergi barang satu dua hari. Tetapi angger benar, bahwa lebih cepat lebih baik. karena penyelidikan itu tidak akan angger lakukan sendiri. Angger tentu mempunyai orang-orang yang akan angger tugaskan.”

Jlitheng tersenyum. Jawabnya, “Kiai mulai berkhayal. Aku adalah aku seorang diri. Tetapi aku tidak akan membantah khayalan Kiai yang wajar itu.”

Kiai Kanthi pun tertawa juga, sementara Jlitheng berkata, “Marilah Kiai. Kita kembali. Anak-anak yang membuat gubug itu tentu sudah ingin beristirahat. Mereka pun akan bergembira jika mereka mendengar bahwa air itu sudah dapat tersalur. Tetapi tidak terlalu besar.”

Keduanya pun kemudian menanggalkan tepian sungai yang hampir kering di musim kemarau itu, kembali memanjat tebing. Seperti yang dikatakan oleh Jlitheng, maka kawannya telah merasa lelah dan haus, sehingga mereka memerlukan istirahat.

“Swasti tentu sudah menyediakan minuman dan makanan bagi kita,” berkata Jlitheng kemudian.

Seperti biasanya, maka anak-anak muda itu pun kemudian naik untuk beristirahat. Seperti biasanya pula, Swasti telah menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka.

Hari itu, anak-anak muda yang membantu Kiai Kanthi membuat gubug telah mendengar dan kemudian ketika mereka pulang, memerlukan melihat, bahwa air telah dapat tersalur lewat jalur yang dipersiapkan turun ke sungai. Air itu akan sangat berguna bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon di hari-hari mendatang.

“Tetapi jangan ceriterakan kepada siapapun lebih dahulu,” berkata Jlitheng, “kita memerlukan pertimbangan yang jauh.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti setelah Jlitheng memberikan penjelasan lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena air itu.

“Karena itu, aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sebelum itu, aku minta kalian benar-benar diam.” minta Jlitheng sekali lagi.

Kawan-kawannya masih mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng pun kemudian berkata, “Dua atau tiga hari lagi aku akan menghadap Ki Buyut bersama kalian dan memperkenalkan Kiai Kanthi.”

“Kenapa dua tiga hari lagi Jlitheng?” bertanya seorang kawannya.

“Itulah sayangnya,” sahut Jlitheng, “besok aku harus pergi ke rumah pamanku. Aku sudah mengatakan kepada biyung, bahwa aku sedang sibuk. Tetapi biyung berkeras menyuruh aku menemui paman. Dengan demikian, aku harus pergi barang satu dua hari.”

“Apakah pamanmu sakit?” bertanya kawannya yang lain.

“Sudah lama biyung tidak bertemu dengan paman, adik satu-satunya. Semalam biyung bermimpi bahwa rumah paman dilanda banjir. Karena itu biyung minta agar aku segera pergi ke rumah paman untuk melihat apa yang terjadi.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk, sementara Jlitheng berkata terus, “Jika saja bukan biyungku yang menyuruhnya, aku tidak akan bersedia pergi. Tetapi aku tidak dapat membantah perintah biyung.”

Kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa ibu Jlitheng yang sudah menjadi janda itu tidak dapat menyuruh orang lain, kecuali Jlitheng. Dan agaknya Jlitheng pun sangat mengasihi ibunya seperti ibunya mengasihinya.

“Jadi besok dan lusa, sebelum kau kembali, kita tidak naik ke bukit?”

“Pergilah. Bantulah orang tua itu.” Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan lupa membawa senjata seperti biasanya. Jika kalian bertemu dengan harimau, maka kalian harus melawan beramai-ramai. Jangan justru melarikan diri. Karena jika kalian melarikan diri, salah seorang dari kalian akan dikejarnya sampai dapat. Tetapi jika kalian bersama-sama melawan, maka harimau itu tentu akan dapat kalian kalahkan, betapapun juga kuat dan garangnya seekor harimau. Apalagi kalian, di hampir tiga atau empat hari sekali masih terus berlatih kanuragan.”

“Ah,” desis anak-anak muda itu. Salah seorang berkata, “Apa yang sudah dapat kita lakukan.”

“He, aku sudah dapat mengayunkan parang dengan baik. Jika harimau itu datang, kalian harus menyerang beramai-ramai dengan parang atau golok terhunus. Kalian dapat melakukannya sambil berteriak-teriak. Mungkin harimau itu akan menjadi takut dan berlari.”

“Sudahlah,” berkata kawannya, “mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan harimau seperti biasanya. Kebiasaan kami berteriak-teriak berdendang dan ura-ura agaknya dapat menakut-nakuti binatang jenis apapun juga.”

“Mudah-mudahan,” Jlitheng. mengangguk-angguk, ia-pun sependapat bahwa kebiasaan kawannya berteriak-teriak didalam hutan itu telah menakut-nakuti harimau yang tidak terbiasa mendengar suara yang demikian, meskipun Jlitheng-pun tahu, bahwa kawan-kawannya berteriak-teriak karena ada juga yang perasaan takut dan ngeri memasuki hutan yang masih dihuni binatang buas itu.

Demikianlah, maka ketika bayangan senja turun diatas padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. maka Jlitheng pun menemui ibunya untuk minta ijin pergi barang satu dua hari.

“Pekerjaan di bukit itu hampir selesai biyung. Kami bersepakat untuk mengerjakannya siang dan malam.”

“Kau mengada-ada saja Jlitheng. Mana mungkin kerja itu kau lakukan malam hari. Kau akan membuang-buang waktu saja, dan bahkan mungkin salah seorang dari kalian akan dapat tergelincir jatuh.”

“Malam hari kami hanya mengerjakan anyaman. Dinding, tutup keyong, atap ilalang dan lain-lain yang masih kurang. Pagi-pagi kami dapat lekatkannya pada gubug yang sudah siap itu.”

“Ah, terserah saja kepadamu. Tetapi hati-hati. Binatang buas berkeliaran dimalam hari.”

“Kami menyalakan obor biyung. Binatang buas takut kepada api,” jawab Jlitheng. Lalu, “Malam nanti aku akan mulai.”

Ibunya tidak melarangnya. Karena itu, maka ketika malam mulai gelap, Jlitheng pun minta diri.

“Hantu betina itu akan mencari anak. Pakailah dingo atau kunyit di keningmu. Akar dingo akan menjauhkan kau dari hantu-hantu.”

Jlitheng menahan senyumnya. Tetapi ia menurut. Ia mengambil sepotong akar dingo dan diusapkan pada keningnya. Baru kemudian Jlitheng berangkat meninggalkan padukuhan Lumban Wetan.

“Dimalam hari Jlitheng berjalan dengan cepatnya. Ia tidak berjalan lewat jalan-jalan yang rata. Tetapi ia memintas melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang. Dengan hati-hati ia melintas tidak terlalu jauh dari bukit gundul. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Apa lagi Daruwerdi atau orang-orang yang berhubungan dengan anak muda itu.

Untuk menghilangkan kesan tentang dirinya, maka Jlitheng telah mengenakan pakaian yang lain sekali dari pakaian-pakaiannya yang disembunyikan di bulak panjang, di antara pakaiannya yang disembunyikan di bulak panjang, di antara batu-batu padas didekat sebatang randu alas yang jarang di dekati seseorang. Dengan pakaian itu, ia tidak lagi nampak sebagai seorang anak petani yang hidup sederhana sekali.

Dengan demikian, jika ada seseorang yang tanpa dapat dihindari melihatnya, sama sekali tidak akan menghubungkannya dengan seorang anak petani di padukuhan Lumban Wetan.

Karena waktu yang ada bagi Jlitheng tidak terlalu banyak maka ia pun berjalan dengan tergesa-gesa. Ia harus sampai ke tempat ia menyimpan kudanya di sebuah padukuhan yang besar yang agak jauh dari Lumban Wetan, yang dititipkan kepada seorang saudagar yang sudah dikenalnya sebelumnya, dipercayanya dan mengerti persoalannya, karena sentuhan ilmu dari sumber yang sama.

Baru tengah malam ia sampai ke rumah saudagar itu. Ketika ia mengetuk pintu, maka saudagar itu pun terkejut. Dengan hati-hati ia bangkit dari pembaringannya, meraih senjatanya. Baru kemudian ia berjalan ke ruang dalam.

“Siapa?” ia bertanya. Sementara tangannya telah memegang hulu pedangnya.

“Aku paman. Arya Baskara.”

“He?” tetapi ia masih ragu-ragu, “benar kau angger Baskara?”

“Ya,” jawab Jlitheng.

“Baskara siapa? Ada seribu orang yang bernama Baskara.” saudagar itu masih bertanya.

“Baskara Candra Sangkaya,” jawab Jlitheng, “apakah paman sudah lupa suaraku.”

“O, kau ngger,” dengan tergesa-gesa saudagar itu membuka selarak pintu.

Ketika pintu itu terbuka, maka seorang anak muda berdiri sambil tersenyum didepan pintu. Oleh cahaya lampu minyak yang redup, maka saudagar itu segera mengenal, bahwa yang datang itu memang Arya Baskara.

“Silahkan ngger, silahkan. Kau datang ditengah malam, sehingga aku terkejut karenanya.” saudagar itu mempersilahkan.

“Aku dalam perjalanan ke Demak paman,” berkata Jlitheng yang dikenal oleh saudagar itu bernama Arya Baskara.

“Sehubungan, dengan tugas anakmas?” bertanya saudagar itu.

“Tentu paman. Dan agaknya persoalannya menjadi semakin buram. Nampaknya tempat yang disebut Sepasang Bukit Mati itu menjadi semakin menarik perhatian orang.”

“Itu sudah wajar ngger. Kabar tentang Sepasang Bukit Mati itu tentu cepat tersebar. Jika salah satu kelompok mulai memperhati-kan tempat itu, maka kelompok yang lain pun tentu akan segera mendengar karena tidak mustahil bahwa mereka mempunyai orang-orang yang saling menyusup diantara kelompok-kelompok yang bersaing itu,” berkata saudagar itu pula. Kemudian ia pun bertanya, “Lalu, apa pula yang akan angger lakukan di Kota Raja?”

“Banyak masalah yang tidak aku ketahui dengan pasti, paman. Karena itu aku memerlukan bantuan orang-orang yang berada di Kota Raja. Karena tugas yang aku lakukan mungkin akan memerlukan bantuan.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Itu sudah wajar sekali, anakmas. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin ada orang-orang yang hilir mudik pula Sepasang Bukit Mati itu, sehingga kau akan menjumpainya di perjalanan. Jika kau dapat mengimbangi kemampuannya, maka itu bukannya hambatan yang berarti. Tetapi jika yang kau jumpai adalah sekelompok orang yang tidak kau kenal, maka akibatnya akan dapat menyulitkanmu.”

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan tidak paman. Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan orang-orang itu.”

Saudagar itu termangu-mangu. Namun nampak kecemasan membayang di wajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Apakah aku dapat mengawanimu diperjalanan?”

Jlitheng tertawa. Katanya, “Terima kasih paman. Paman masih harus melanjutkan beristirahat.”

“Aku juga mempunyai rencana ke Kota Raja meskipun sebenarnya tidak perlu tergesa-gesa karena urusan pekerjaanku. Aku meninggalkan beberapa barang ditempat kawanku berdagang.”

“Terima kasih. Aku tidak ingin menyulitkan paman. Apalagi tugas dan pekerjaan paman adalah mencari hubungan seluas-luasnya. Jika karena sesuatu hal paman mulai bermusuhan dengan satu dua pihak, maka daerah pekerjaan paman akan menyempit.”

“Ah,” saudagar itu tertawa pula. Jawabnya, “Tentu aku tidak dapat terlalu mementingkan diriku sendiri. Tetapi jika kau dapat pergi sendiri, pergilah ngger. Besok atau lusa aku akan pergi juga ke Kota Raja.”

“Aku hanya akan berada di Kota Raja sehari paman. Besok malam aku akan sampai ke tempat ini menjelang tengah malam. Dan aku akan meneruskan perjalananku ke Lumban Wetan dengan berjalan kaki.”

“Begitu tergesa-gesa?”

“Karena keadaanku dan tugas yang harus aku lakukan didekat Sepasang Bukit Mati itu.”

Saudagar itu tidak menyarankan sesuatu lagi. iapun kemudian mempersiapkan kuda yang akan dipergunakan oleh Arya Baskara. Sengaja ia tidak membangunkan pekatiknya, agar tidak bertanya-tanya sesuatu tentang tamunya yang aneh itu, dan yang bahkan mungkin akan diceriterakannya kepada tetangga-tangganya.

Lewat tengah malam, Jlitheng berpacu meninggalkan rumah saudagar itu. ia harus berlomba dengan waktu. Pagi-pagi benar ia harus sudah berada di Kota Raja.

“Tetapi waktunya tidak terlalu mendesak,” desis Jlitheng sambil menengadahkan wajahnya, memandang bintang-bintang di langit. Seperti yang pernah dipelajarinya, ia dapat melihat waktu dengan memperhatikan letak bintang-bintang yang bergeser di langit.

Namun demikian, Jlitheng tidak memperlambat lari kudanya, yang suara derap kakinya, bagaikan mengoyak kesepian malam yang dalam.

Tetapi tiba-tiba saja Jlitheng mengerutkan keningnya, ia mulai menarik kekang kudanya, sehingga derap kakinya menjadi semakin lambat. Sehingga akhirnya berhenti sama sekali.

Beberapa puluh langkah dihadapannya, ia melihat beberapa orang terlibat dalam perkelahian yang sengit. Tetapi Jlitheng masih belum mengetahui dengan pasti, apakah yang sebenarnya terjadi.

Karena itu, ia pun harus berhati-hati. Mungkin ia tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Tetapi mungkin ia akan terlibat kedalamnya.

Sejenak Jlitheng mengamati perkelahian itu. Meskipun malam cukup gelap, namun ketajaman matanya dapat menangkap peristiwa itu dengan jelas.

Sejenak kemudian Jlitheng pun meloncat turun dari kudanya. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di pinggir jalan. Selangkah-selangkah ia maju mendekat. Jlitheng ingin melihat, apakah diantara mereka yang terlibat ada yang pernah dikenalnya.

Dalam pada itu, orang-orang yang sedang berkelahi itu pun telah melihat kehadirannya. Mereka menjadi berdebar-debar, karena perkelahian yang seakan-akan telah seimbang itu tentu akan segera berubah, jika ada orang lain yang memilih salah satu pihak untuk dibantunya.

“Siapa kau he pendatang,” tiba-tiba Jlitheng mendengar seseorang diantara mereka yang bertempur itu berteriak.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi dia sempat mengetahui, yang bertanya kepadanya adalah seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, yang bertempur dengan senjata yang tidak begitu banyak dipergunakan. Dua potong besi yang satu sama lain dihubungkan dengan seutas rantai.

Namun nampaknya senjata itu sangat berbahaya ditangan orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. Sekali kali kedua potong besi itu berada di kedua tangannya. Namun kadang-kadang sepotong diantaranya terlepas dan berputar menyambar-nyambar.

“Apa yang kalian perebutkan?” bertanya Jlitheng kemudian.

“Jangan hiraukan kami,” jawab yang lain.

Tetapi jawaban itu benar-benar telah mengejutkan Jlitheng, Dengan seksama ia memperhatikan orang yang suaranya pernah dikenalnya itu.

“Cempaka,” desis Jlitheng yang hanya dapat didengarnya sendiri.

Sejenak Jlitheng termangu-mangu, Ia mencoba menilai, apakah yang sedang dihadapi, dan apakah sebaiknya yang harus dilakukan.

Tetapi ia sudah berada ditempat yang jauh dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Ia sudah jauh dari sepasang Bukit Mati, sehingga Cempaka tentu tidak akan menghubungkannya dengan orang yang disangkanya pengikut Daruwerdi, yang pernah dikejarnya, tetapi tidak dapat ditangkapnya.

“Jika kau ingin lewat, lewatlah,” terdengar suara orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang sedang bertempur dengan orang yang menyebut dirinya Cempaka itu.

“Pergilah,” teriak Cempaka Kemudian.

Tetapi Jlitheng masih tetap berdiri ditempatnya. Dari pengamatannya yang singkat, ia segera melihat, bahwa Cempaka bersama dua orang kawannya harus bertempur melawan lima orang lawan. Namun agaknya keseimbangan pertempuran itu tidak segera berubah, sehingga sulit untuk mengetahui, pihak manakah yang akan menang.

Sejenak Jlitheng masih termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Apakah aku dapat berdiam diri melihat perkelahian semacam ini? Meskipun aku tidak mengetahui persoalannya, tetapi aku berhak mengajukan permohonan, agar perkelahian ini dihentikan. Apakah tidak ada cara lain yang lebih baik dari berkelahi dan saling membunuh?”

“Persetan,” jawab orang yang kekurus-kurusan itu, “bukan urusanmu.”

Tetapi Jlitheng berkata pula, “Itu adalah persoalan setiap orang. Karena kalian dan aku adalah sesama titah yang disebut manusia.”

“Jangan sesorah,” bentak orang yang kekurus-kurusan itu sambil bertempur, “pergilah jika kau tidak ingin mengalami nasib buruk disini.”

Jlitheng terdiam sejenak. Hampir saja ia memanggil nama orang yang menyebut dirinya Cempaka. Tetapi bibirnya yang sudah akan bergerak itu terkatub lagi, karena jika nama itu hanya dipergunakan di bukit gundul itu, maka Cempaka akan segera menghubungkannya dengan orang yang telah gagal ditangkap itu.

Karena itu, maka Jlitheng pun kemudian berkata, “Kalian tentu bukan anak-anak lagi. Cobalah berpikir. Apakah yang sebenarnya terjadi.”

“Diam kau,” orang yang tinggi kekurus-kurusan itu berteriak.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia berkepentingan dengan orang yang disebutnya bernama Cempaka itu. Karena itu, maka dengan cepat ia mencoba mengambil sikap yang paling baik.

“He orang kurus,” teriak Jlitheng, “kau jangan membentak-bentak. Aku bermaksud baik. Dan adalah menjadi kewajibanku untuk mencegah pertumpahan darah. Dengar, kau tentu belum mengenal aku. Aku adalah Raden Bantaradi. Seorang Senapati dalam susunan keprajuritan Demak. Aku dapat juga berbuat lebih buruk dari yang kau lakukan.”

Orang-orang yang sedang bertempur itu agaknya terpengaruh juga oleh kata-kata Jlitheng. Apalagi pada saat itu Jlitheng memang mengenakan pakaian sebagaimana dipakai oleh orang-orang Kota Raja.

Namun tiba-tiba orang bertubuh tinggi itu berkata, “Aku tidak paduli siapa kau. Tetapi aku harus membunuh kelinci dari Sanggar Gading ini.”

“Sanggar Gading,” Jlitheng terkejut.

“Apakah kau pernah mendengar nama perguruan Sanggar Gading?” justru Cempaka itulah yang bertanya.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Sebagai seorang Senapati aku banyak mengetahui nama-nama perguruan. Aku kenal Sanggar Gading sebagai sebuah perguruan yang besar. He, apakah benar kau anak Sanggar Gading?”

Cempaka tertawa. Ia masih bertempur dengan sengitnya meskipun derai tertawanya terdengar berkepanjangan. Diantara derai tertawanya dan dengus nafasnya ia berkata, “Dari manapun aku datang, tidak ada bedanya bagimu Senapati. Kami adalah orang-orang yang hidup dalam keterasingan kami.”

“Kau benar. Tetapi padepokan dan perguruan bukannya papan untuk menempa diri sekedar karena nafsu ketamakan dan kesombongan. Karena itu, apakah sebenarnya yang menjadi sebab perkelahian ini?”

Hampir berbareng kedua orang yang sedang bertempur itu tertawa. Yang terdengar adalah jawaban orang yang kekurus-kurusan, “Pergilah, sebaiknya kau tidak usah melibatkan diri meskipun aku tahu bahwa kau sebenarnya bukan seorang Senapati, karena setiap orang akan dengan mudah menyebut dirinya seorang Senapati.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Dan aku pun tidak akan memaksamu untuk berhenti berkelahi. Yang akan mati, matilah dalam pertempuran itu. Yang tetap hidup, biarlah hidup. Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian.”

Jlitheng pun kemudian melangkah menepi dan duduk diatas sebuah batu di pinggir jalan sambil memperhatikan perkelahian itu.

“Kenapa kau tidak segera pergi he?” bertanya orang yang kekurus-kurusan sambil bertempur.

“Jangan urusi aku. Uruslah tugas dan kewajibanmu sendiri. Jika kau harus bertempur, bertempurlah. Aku ingin duduk disini melihat apa yang akan terjadi. Aku ingin tahu pasti siapakah yang akan kalah dan siapakah yang akan menang. Aku ingin melihat darah memancar dari luka.”

“Persetan,” orang yang kekurus-kurusan itu mengumpat, “jika lawanku sudah terbunuh, dan kau masih ada disitu, maka kau pun akan aku bunuh.”

“Baik. Aku akan memperhitungkan akibat itu. Dan aku akan tetap berada disini,” jawab Jlitheng.

Sikap Jlitheng benar-benar membuat orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menjadi semakin marah. Sementara orang yang bernama Cempaka itu melihat kemungkinan yang dapat dimanfaatkannya. Karena itu, maka ia tidak lagi mengumpati orang yang duduk memperhatikan pertempuran itu dan mengaku sebagai seorang Senapati.

Beberapa saat kemudian, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Meskipun jumlah Cempaka dan kawan-kawannya lebih sedikit dari jumlah lawannya, namun untuk beberapa saat, ia masih mampu bertahan.

Tetapi agaknya Cempaka dan kawan-kawannya itu telah terlalu memaksa diri memeras segenap kemampuannya. Karena itu, maka kemudian ternyata bahwa tenaganyalah yang menjadi lebih dahulu susut. Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu mulai bergeser.

“Sebentar lagi kau akan mati tikus kecil dari Sanggar Gading. Jangan menyesal. Kecuali jika kalian bersedia menyebutkan, siapakah yang kini menyimpan pusaka itu,” berkata orang yang kekurus-kurusan.

“Kau gila. Sudah aku katakan. Tidak seorang pun yang mengerti dimana letak pusaka itu,” jawab Cempaka.

“Jika demikian, kami sendiri akan pergi ke bukit yang disebut Sepasang Bukit Mati itu. Kami akan menemui anak muda yang dianggap sumber dari segala macam keterangan tentang pusaka itu.”

“Jika kau mau pergi, pergilah. Aku tidak mempunyai sangkut paut. Kenapa kalian memaksa kami bertempur disini?” bertanya Cempaka.

Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu berkata, “Ternyata kau bertanya pula seperti orang gila yang mengaku dirinya Senapati itu.”

“Ya. Mungkin sebagian benar.”

Jlitheng yang duduk di pinggir jalan itu tertawa. Katanya. “Berbantahlah sambil berkelahi. Menarik sekali untuk dilihat dan didengarkan. Aku pun menunggu jawab atas pertanyaan itu.”

“Semua sudah gila,” teriak orang yang kekurus-kurusan itu, “He, tikus dari Sanggar Gading. Aku pasti, bahwa kau baru datang dari Sepasang Bukit Mati. Kau tentu sudah bertemu dengan anak muda yang dianggap satu-satunya sumber keterangan itu. Kau tentu sudah membicarakan sesuatu syarat bagi penyerahan pusaka itu. Karena itu maka sebaiknya kau tidak usah kembali ke perguruanmu. Dengan demikian jalur antara Sanggar Gading dan anak muda itu akan terputus.”

“Dan kau akan membuat jalur baru,” potong orang yang menyebut dirinya Cempaka.

“Ya. Aku akan membuat jalur baru. Dan akulah satu-satunya orang yang akan mendengar dari mulutnya, dimanakah pusaka itu tersimpan.”

Orang yang menamakan diri Cempaka itu tertawa. Katanya, “Aku sudah dapat menebak sejak semula. Pertanyaanmu dan tuduhanmu bahwa aku mengerti sesuatu tentang pusaka itu adalah sekedar cara untuk memaksa aku berkelahi.”

“Membunuh tanpa alasan memang berat bagiku. Tetapi membunuh dalam perkelahian apapun alasannya memang sangat menarik.”

Orang yang bernama Cempaka itu tidak menjawab kata-kata lawannya. Namun bahkan ia berteriak kepada Jlitheng yang duduk diatas batu, “Nah Senapati. Kau dengar apa katanya? Aku sudah bertanya hal itu untuk kepentinganmu.”

“Terima kasih,” jawab Jlitheng.

“Aku tidak peduli,” teriak lawan Cempaka, “siapa-pun dan apapun sebabnya, aku akan membunuh semua orang dengan caraku. Termasuk kau yang menganggap dirimu sendiri seorang Senapati. Tetapi itu adalah salahmu karena kau tidak mau pergi dari tempat ini.”

Jlitheng termangu-mangu. Semakin lama ia melihat keadaan Cempaka dan kawan-kawannya menjadi semakin sulit. Karena itu, maka tiba-tiba iapun berdiri sambil berkata, “Sebaiknya aku tidak melihat saja perkelahian ini. Aku akan ikut serta.”

Cempaka dan lawannya menjadi berdebar-debar. Mereka mulai menebak, kepada siapakah orang itu akan berpihak.

“Aku melihat perkelahian yang tidak adil,” berkata Jlitheng, “tiga orang yang harus bertempur melawan jumlah yang lebih banyak. Karena itu, aku akan bergabung dengan orang yang lebih sedikit tanpa memperhatikan alasan-alasannya perkelahian ini, meskipun nampaknya orang yang berjumlah lebih banyak itulah menyebabkan pertengkaran ini terjadi.”

Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang ingin melibatkan diri itu pun tentu bukan orang kebanyakan. Mungkin ia benar-benar seorang Senapati. Tetapi setidak-tidaknya ia dapat mengukur diri setelah memperhatikan perkelahian itu.

Dalam pada itu, Jlitheng pun ternyata tidak hanya bermain-main. Ia pun kemudian mempersiapkan diri untuk melibatkan diri dalam perkelahian yang mulai berat sebelah itu.

Sebenarnyalah bahwa ia memang mempunyai kepentingan. Setelah diperhitungkan untung dan ruginya, maka Jlitheng menganggap bahwa Cempaka baginya lebih penting dari orang yang belum dikenalnya sama sekali. Jika ia berhasil menyelamatkan Cempaka, maka langkah penyelidikannya lebih lanjut telah mendapat pancadan. Ia akan dapat mulai dengan orang yang bernama Cempaka dari Sanggar Gading. Seandainya ia tidak akan melakukannya sendiri, maka seorang kawannya akan dapat menelusur, siapakah Cempaka itu sebenarnya dan siapakah yang akan menjadi sasarannya sesuai dengan permintaan Daruwerdi. Orang yang disebut telah membunuh orang tuanya. Dan orang itu adalah seorang Pangeran.

Karena itu, ketika ternyata Cempaka menjadi semakin terdesak, iapun berkata, “Ki Sanak dari Sanggar Gading yang tidak aku ketahui namanya. Aku berada di pihakmu.”

“Apa kepentinganmu?” bertanya orang yang menyebut dirinya Cempaka.

“Entahlah. Tetapi karena lawanmu mengumpat-umpat, aku menjadi benci kepadanya. Aku ingin memanfaatkan pertempuran ini untuk menangkapnya, hidup atau mati,” Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “tetapi bagaimana jika aku ingin memanggilmu.”

“Ia bergelar Cempaka Kuning,” orang yang kekurus-kurusan itulah yang menjawab.

“Dan kau?” bertanya Jlitheng kemudian kepada lawan Cempaka.

“Persetan. Masuklah karena jika kau ingin mati pula,” geram orang yang kekurus-kurusan itu.

Cempaka lah yang kemudian tertawa. Katanya, “Orang itu adalah keluarga dari padepokan Kendali Putih. Ia merasa kehilangan orang-orangnya. Dan sekarang ia menjadi gila dan berbuat apa saja diluar nalar dan perhitungan. Ia ingin membunuh siapa saja yang mungkin dibunuhnya tanpa sebab.”

“Kendali Putih,” gumam Jlitheng.

“Kau kenal perguruan Kendali Putih?” bertanya Cempaka.

“Seperti aku mengenal perguruan Sanggar Gading, aku-pun mengenal perguruan Kendali Putih. Perguruan Pusparuri dan perguruan-perguruan yang lain. Banyak perguruan telah diketahui oleh kalangan keprajuritan di Demak, sesuai dengan sifat dan bentuk perguruan. Yang manakah yang menurunkan ilmu putih dan yang manakah yang diwarnai oleh ilmu hitam.”

“Persetan. Jangan banyak bicara. Aku akan membunuhmu,” geram orang bertubuh kekurus-kurusan itu.

Tiba-tiba saja orang itu telah meloncat meninggalkan Cempaka yang digelari Cempaka Kuning itu, langsung menyerang Jlitheng yang menyebut dirinya seorang Senapati.

Cempaka tidak dapat memburunya, karena seorang yang lain pun segera menyerangnya pula dengan sengitnya, sehingga ia pun harus meloncat menghindar dan kemudian bertempur melawannya.

Jlitheng yang mengaku seorang Senapati itulah yang kemudian harus bertempur melawan orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu. Seperti yang dilihatnya, maka orang itu memakai tenaga yang tidak seimbang dengan tubuhnya yang kurus. Ketika orang itu membenturkan kekuatannya, maka terasa tubuh Jlitheng tergetar karenanya.

“Orang Kendali Putih ini memang kuat sekali,” berkata Jlitheng didalam hatinya.

Sebelumnya ia pernah bertempur melawan dua orang yang karena tidak ada jalan lain, harus dibunuhnya. Tetapi yang seorang ini mempunyai tataran ilmu yang lebih tinggi, sehingga ia pun harus mengerahkan kemampuannya untuk bertempur seorang melawan seorang.

Demikianlah maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Cempaka dan kawan-kawannya menjadi lebih mantap menghadapi lawannya yang jumlahnya berkurang. Bahkan kemudian mereka bertiga, segera dapat menemukan keseimbangan pertempuran itu kembali, meskipun mereka telah memeras segenap kemampuan mereka.

Dalam pada itu, Jlitheng pun segera terlibat dalam pertempuran yang keras. Orang bertubuh kekurus-kurusan itu ternyata lebih senang membenturkan senjatanya dilambari dengan kekuatannya yang dibanggakannya daripada meloncat menghindari serangan yang datang dari lawannya. Orang yang kurus itu merasa bahwa kekuatannya jarang dapat diimbangi oleh lawannya.

Tetapi melawan Cempaka ia sudah merasa, bahwa ia tidak dapat membanggakan kekuatannya saja, karena Cempaka Kuning pun memiliki kekuatan melampaui orang kebanyakan.

Ketika ia mulai dengan serangannya atas lawannya yang baru, ia menganggap bahwa orang baru itu tentu akan terkejut membentur kekuatannya. Tetapi orang yang kekurus-kurusan itulah justru yang terkejut. Ternyata seperti Cempaka, orang yang mengaku bernama Senapati Bantaradi itu pun memiliki kekuatan yang luar biasa.

Semakin lama maka orang yang kekurus-kurusan itu pun bertempur semakin kasar. Bukan saja ia mencoba mendesak lawannya dengan kekuatannya yang keras dan liar, tetapi ia juga ingin mempengaruhi lawannya dengan hentakkan dan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.

“Jangan berteriak-teriak orang kurus,” berkata Jlitheng, “nanti seisi beberapa padukuhan di sekeliling bulak ini akan terbangun dan berdatangan kemari.”

“Aku akan membunuh mereka semua,” teriak orang kekurus-kurusan itu.

“Membunuh aku pun kau tidak mampu. Apalagi orang dari beberapa padukuhan yang bersenjata. Meskipun seorang demi seorang, mereka tidak dapat melawanmu, tetapi bersama-sama mereka akan dapat membunuhmu seperti dalam rampogan macan di alun-alun.”

“Tutup mulutmu,” teriak orang yang kekurus-kurusan itu.

Jlitheng sempat tertawa sambil meloncat menghindari serangan lawannya yang datang dengan kasarnya, “Jika setiap orang melemparmu dengan sebuah batu, maka kau akan berkubur dibawah timbunan batu-batu itu. Betapapun besar kekuatanmu, tetapi kau tidak akan dapat melawan lontaran batu dari segala penjuru. Sementara mereka pun akan melemparkan senjata-senjata mereka pula ke arahmu.”

Orang yang kekurus-kurusan itu menggeram. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kau terlalu sombong. Tetapi sebenarnya hatimu sebesar menir. Kau berkhayal bahwa orang-orang padukuhan akan datang membantumu. He, orang yang mengaku prajurit. Bagaimana jika orang-orang padukuhan datang dan justru melemparimu dengan batu.”

“Mereka tidak akan melakukan. Mereka tidak akan melawan prajurit Demak yang sedang mengemban tugas.”

“Mereka tidak akan percaya bahwa seorang perwira dari tatanan keprajuritan Demak dalam pakaian kebesarannya berkeliaran seorang diri. Kau adalah seorang prajurit yang memalsukan. Kau bukan prajurit. Dan orang-orang padukuhan akan segera mengetahuinya.”

Tetapi Jlitheng hanya tertawa saja. Sambil menyerang ia berteriak, “Kau juga pandai berkhayal.”

Orang kekurus-kurusan itu tidak menjawab lagi. Ia pun segera menyerang dengan garangnya. Dengan sepenuh tenaga ia ingin segera mengakhiri pertempuran yang menjengkelkan itu, karena kehadiran seseorang yang mengaku dirinya seorang prajurit.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin keras dan kasar. Orang yang kekurus-kurusan itu benar-benar seorang yang mempergunakan segala macam cara untuk mengalahkan lawannya. Kasar, liar dan licik.

Sementara itu Jlitheng menyesuaikan diri dengan pengakuannya, bahwa ia adalah seorang Senapati. Pakaiannya memang meyakinkan, bahwa ia seorang Senapati dari Demak.

Karena itu, maka ia pun berusaha, untuk tidak tergelincir dalam sikap dan perbuatannya, sebagaimana seorang Senapati perang yang berwibawa.

Dengan demikian, maka ia berusaha untuk tidak terseret oleh kekasaran lawannya. Justru karena itu, maka ia dapat menilai segala macam tata gerak dan ilmu lawannya sebaik-baiknya. Dengan kecepatan gerak dan kekuatannya, Jlitheng mampu mengimbangi kekasaran dan keliaran lawannya. Bahkan dengan pengamatan dan perhitungan yang cermat, akhirnya ala berhasil mendesak lawannya yang meskipun agak kekurus-kurusan, tetapi memiliki ilmu yang luar biasa dan kekuatan raksasa pula.

Sementara itu, Cempaka dan kawan-kawannya pun berhasil tetap bertahan melawan jumlah yang lebih banyak. Mereka mulai dapat membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Mereka mulai memperhitungkan ketahanan waktu untuk melawan keempat orang yang kasar dan garang itu.

“Kita tidak dapat memperhitungkan, kapan pertempuran ini akan selesai,” berkata Cempaka didalam hatinya, “mungkin menjelang pagi, mungkin setelah matahari naik, bahkan mungkin masih akan berlangsung sehari penuh.”

Namun dengan kesadaran yang demikian, ia selalu berusaha untuk mengamati tata geraknya, sehingga ia membatasi diri pada tata gerak yang menentukan pertempuran itu, meskipun bersama dengan kedua orang kawannya, ia juga berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran yang seru itu.

Tetapi agaknya kedua belah pihak tidak mau membiarkan senjata lawan menyobek tubuhnya dan menghentakkan nyawanya dari tubuhnya. Karena itu, maka masing-masing telah bertempur dengan segenap kemampuan dan ilmu yang ada.

Namun dalam pada itu, lambat laun, Jlitheng berhasil mendesak lawannya, betapapun orang yang kekurus-kurusan itu berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan kasar dan liar. Bahkan kadang-kadang ia masih saja meloncat sambil berteriak. Senjatanya yang agak asing itu berputaran. Sekali-kali tongkat yang terikat pada sepotong rantai itu menyambar, namun kemudian mematuk dengan cepatnya. Bahkan kemudian dua potong tongkat besi itu, tiba-tiba saja telah berada didalam genggaman seperti sepasang bindi.

Melawan senjata yang demikian, Jlitheng harus berhati-hati. Ia kemudian tidak mempergunakan senjata panjang, karena dengan demikian, senjatanya akan dapat terbelit oleh rantai pengikat dua potong besi itu. Yang dipergunakannya adalah sebuah trisula bertangkai pendek, yang terbuat dari besi baja pilihan. Dengan trisula bertangkai pendek itu, maka ia tidak ragu-ragu untuk memukul potongan besi yang berputaran. Bahkan ialah yang berusaha untuk melihat rantai lawannya dengan ujung-ujung trisulanya.

Tetapi lawannya cukup cepat pula mempermainkan senjatanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng harus meloncat beberapa langkah surut jika senjata lawannya menyambar mendatar setinggi lambungnya.

Melawan Jlitheng orang yang kekurus-kurusan itu memang harus membuat perhitungan yang khusus, karena Jlitheng mampu membentur tongkat besinya yang berputar seperti baling-baling. Setiap kali, dengan bangga ia berhasil merenggut atau mematahkan pedang lawannya. Tetapi trisula Jlitheng ternyata memiliki kekhususan, sehingga setiap benturan justru membuat tangannya menjadi pedih.

Sementara itu. Cempaka sempat menilai ilmu orang yang mengaku Senapati dan yang menyebut dirinya bernama Bantaradi itu. Ternyata bahwa Senapati itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi, sehingga akhirnya ia berhasil mendesak lawannya.

“Aku tidak dapat memperhitungkan, bagaimana akhirnya jika aku harus bertempur melawannya,” berkata Cempaka didalam hatinya. Kemudian, “Mudah-mudahan ia benar-benar seorang Senapati. Ia bukan sekedar membantu aku, karena aku dalam kedudukan yang lemah, yang menurut perhitungannya, akan lebih mudah dibinasakan pula setelah kelima orang Kendali Putih itu dapat dilumpuhkan.”

Tetapi menilik tata geraknya, maka Cempaka menganggap bahwa orang yang mengaku Senapati itu sama sekali bukan dari kelompok orang-orang liar dan kasar yang sekedar mengaku-aku sebagai seorang Senapati, meskipun seperti yang dikatakan oleh orang kekurus-kurusan itu bahwa agak aneh, seorang perwira dalam pakaian kebesaran hanya seorang diri berkeliaran dimalam hari.

“Nanti, setelah semuanya selesai, aku akan dapat memperkenalkannya,” berkata Cempaka Kuning didalami hatinya.

Sementara itu, benturan-benturan senjata antara Jlitheng dan orang yang kekurus-kurusan itu terjadi semakin sering. Justru karena Jlitheng sudah pasti tentang kekuatan lawannya, maka ia pun mulai dengan usahanya untuk meringkihkan bukan saja genggaman lawannya, tetapi juga hatinya. Jika setiap kali tangannya terasa pedih dan sakit, maka iapun akan menjadi gelisah pula karenanya.

Namun kemudian lawannyalah yang berusaha untuk menghindari benturan. Orang yang kekurus-kurusan itu tidak lagi memutar tongkat besinya pada ujung sepanjang rantai pengikatnya. Tetapi ia lebih banyak menggenggam sepasang senjatanya itu ditangan. Dengan dua potong besi itu, ia berusaha untuk menyerang lawannya tanpa mengadakan benturan kekuatan dengan langsung.

Jlitheng yang mengaku seorang Senapati itupun kemudian bertempur semakin tangkas dan cepat. Trisulanya menyambar-nyambar dan setiap kali mematuk dada lawan dengan dahsyatnya.

Lawannya mulai terdorong surut oleh serangan-serangan Jlitheng yang membadai. Ia tidak segan menyerang lawannya meskipun ia yakin, bahwa lawannya akan mampu menangkisnya, karena setiap benturan akan memberikan tekanan kepada lawannya.

Dengan segenap kemampuannya, maka orang yang kekurus-kurusan itu berusaha mempergunakan kecepatannya untuk melawan kekuatan dan kegarangan Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlitheng pun mampu mengimbangi kecepatannya.

Itulah sebabnya, maka semakin lama semakin terasa, bahwa orang yang kekurus-kurusan itu akan kehilangan kesempatan untuk mempertahankan dirinya lebih lama lagi.

Tetapi orang yang kekurus-kurusan itu tidak mau menyerah. Ia adalah seseorang yang mendapat kepercayaan oleh pimpinannya untuk menentukan sikap terhadap siapapun juga yang dianggap dapat mempersulit kedudukan perguruannya. Termasuk orang-orang dari perguruan Sanggar Gading, yang menurut perhitungan-nya telah membuat hubungan khusus dengan anak muda yang berada disekitar Bukit Mati.

Namun ternyata bahwa Jlitheng benar-benar tidak dapat diimbanginya. Bahkan semakin lama, terasa ujung trisula lawannya yang bertangkai sangat pendek itu semakin dekat dari kulitnya. Sekali-kali terasa angin yang berdesir lembut jika ujung trisula itu menyambar tubuhnya hanya berjarak setebal daun. Bahkan rasa-rasanya ujung trisula itu sudah mulai menjamahnya.

Orang yang kekurus-kurusan itu terkejut ketika terasa sentuhan pada pundaknya. Tetapi ternyata bahwa pundaknya tidak tersayat. Segores tipis warna kemerah-merahan memang membekas. Tetapi darahnya tidak menitik karenanya.

“Gila,” teriak orang kekurus-kurusan itu.

“Menyerahlah,” desis Jlitheng, “aku akan membawamu ke Demak. Kau harus memberikan keterangan tentang perguruanmu dan usahamu untuk menguasai pusaka yang belum dikenal di tlatah Sepasang Bukit Mati,” sahut Jlitheng.

“Persetan,” geramnya. Dengan buasnya ia justru menyerang Jlitheng dengan sekuat tenaganya dan segenap kemampuan ilmunya.

Jlitheng surut selangkah. Namun kemudian iapun meloncat maju. Tepat saat lawannya justru mengayunkan tongkat ditangan kirinya.

Jlitheng tidak menghindar. Dengan trisulanya ia sengaja menangkis tongkat besi itu. Ketika tongkat besi itu menyusup di sela-sela ujung trisulanya, maka dengan sepenuh tenaganya ia memutar trisulanya sambil menghentak merenggut tongkat besi itu dari tangan lawannya.

Tetapi Jlitheng terkejut karena lawannya sama sekali tidak mempertahankan tongkatnya. Dibiarkannya tongkatnya terlepas begitu saja dari tangannya. Namun sekejap kemudian tongkat yang terlepas itu telah berputar justru menyerang kening Jlitheng yang termangu-mangu.

Namun Jlitheng sempat merendah sambil bergeser. Baru tersadar, bahwa tongkat itu terikat oleh seutas rantai. Justru dengan serta merta lawannya telah mempergunakan tongkat itu untuk menyerang.

Jlitheng kemudian semakin tertarik kepada rantai lawannya. Jika ia ingin melibat, lebih baik langsung pada rantainya. Tidak pada tongkat-tongkat besi yang terayun-ayun di ujung rantai itu.

Namun seperti yang pernah dilakukan, lawannya pun segera menangkap tongkat-tongkat besi itu dan menggenggamnya ditangan seperti sepasang pedang.

“Gila,” geram Jlitheng.

Dengan demikian pertempuran itu masih merupakan pertempuran yang sengit. Sementara Cempaka dan dua orang kawannya, masih harus berhadapan dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga Cempaka sendirilah yang kemudian harus melawan dua orang lawan sekaligus.

Tetapi keduanya bukan orang-orang sekuat orang kekurus-kurusan itu. Sehingga meskipun dengan memaksakan diri dan memeras segenap tenaga dan kemampuan, Cempaka masih berhasil mempertahankan dirinya. Sementara kawannya yang dua orang itu pun bertempur dengan memeras kemampuan, karena lawan mereka pun adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

Namun dalam pada itu, Jlitheng yang semakin mendesak lawannya, justru merasa dirinya dikejar pula oleh waktu itulah sebabnya, maka ia pun bertempur semakin garang. Trisulanya menyambar-nyambar semakin cepat menyusup diantara kedua ujung tongkat besi orang-orang kekurus-kurusan itu. Bahkan diantara putaran tongkat yang dahsyat itu di ujung rantai pengikatnya.

Ketika Jlitheng berhasil memukul tongkat ditangan kiri lawannya, maka ia dengan serta merta telah meloncat maju selangkah. Tiba-tiba saja kakinya terayun deras sekali mengarah lambung. Tetapi lawannya tidak membiarkan lambungnya dihantam kaki Jlitheng. Dengan tongkat ditangan kanan, lawannya menangkis serangan kaki Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlitheng telah menarik serangannya. Ia meloncat dan berputar setengah lingkaran. Trisulanya berputar seiring dengan putaran tubuhnya. Kemudian dengan derasnya terayun langsung kekepala lawannya.

Tetapi ternyata lawannya pun mampu bergerak cepat. Dengan tangkasnya ia telah menggenggam pangkal tongkatnya. Dengan merentang rantainya ia melindungi kepalanya.

Sementara itu, trisula Jlitheng telah terayun deras sekali. Ketika trisulanya menyentuh rantai itu, terasa rantai itu mengendor. Namun tiba-tiba saja orang kekurus-kurusan itu menghentakkan tangannya sehingga rantai itu menegang dengan tiba-tiba.

Untunglah bahwa Jlitheng cukup cepat sehingga trisulanya tidak terpental dari tangannya.

Namun dalam pada itu, lawannya yang kekurus-kurusan itu akhirnya tidak dapat mengimbangi kenyataan, bahwa akhirnya ia tidak akan dapat mempertahankan diri lebih lama lagi. Karena itulah, maka ia mulai memikirkan jalan yang paling baik untuk menyelamatkan diri.

Jlitheng yang masih belum memperhitungkan kemungkinan itu, terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isyarat dari mulut lawannya. Demikian tiba-tiba dan disusul dengan loncatan surut dan kemudian langkah-langkah panjang menghindarkan diri dari arena perkelahian, diikuti oleh kawannya.

Mula-mula Jlitheng berusaha untuk mengejarnya. Namun akhirnya ia menyadari kepentingannya. Ia harus segera berada di Demak dan segera pula kembali ke padukuhan Lumban. Karena itu, maka niatnya untuk mengejar lawannya itu pun diurungkannya.

Karena Jlitheng kemudian berhenti, maka Cempaka dan kawan-kawannya pun berhenti pula. Meskipun demikian, nampak betapa mereka menjadi kecewa. Namun tidak seorang-pun diantara mereka yang menanyakannya kepada Jlitheng, karena mereka sadar, bahwa mereka tidak berhak untuk menuntut agar Jlitheng melakukan tindakan lebih jauh lagi dari yang sudah dikerjakan.

Tetapi agaknya Jlitheng mengetahui perasaan Cempaka dan kawan-kawannya sehingga ia berusaha menjelaskan sikapnya, “Aku tidak perlu mengejar mereka. Bahwa aku sudah tahu tentang mereka, itu sudah cukup. Karena pada setiap saat aku akan dapat mengambil tindakan atas perguruan Kendali Putih.”

Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengangguk sambil berkata, “Terserah kepadamu. Tetapi apakah kau benar seorang Senapati prajurit dari Demak?”

Jlitheng tertawa. Katanya, “Apakah pakaianku memang pantas disebut seorang Senapati?”

Cempaka mulai ragu-ragu. Dipandanginya wajah Jlitheng yang tidak memberikan kesan kesungguhan. Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Seharusnya kau dapat membedakan, apakah aku benar-benar seorang Senapati atau bukan. Pakaianku memang mirip pakaian seorang prajurit. Tetapi aku bukan seorang prajurit.”

“Siapakah kau sebenarnya?” bertanya Cempaka.

“Aku adalah orang yang kabur kanginan. Orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Aku melihatkan diri karena aku melihat ketidak adilan. Kau bertiga harus melawan lima orang sehingga pertempuran itu menjadi berat sebelah. He, apakah kau memang dari perguruan Sanggar Gading?”

“Ya,” Cempaka tidak dapat ingkar lagi.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Satu keterangan telah didapatkannya. Cempaka adalah orang Sanggar Gading.

“Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu,” berkata Cempaka kemudian.

“Itu tidak pening. Tetapi apakah sebenarnya yang menyebabkan kalian bertempur dengan orang-orang Kendali Putih.”

“Kau sudah mendengar sebagian dari persoalan itu.”

“Ya,” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam, “tetapi apakah arti pusaka yang kalian perebutkan itu? Apakah pusaka itu mempunyai nilai gaib yang dapat membuat seseorang menjadi sesembahan, atau membuat seseorang menjadi pilih tanding, atau nilai-nilai yang lain?”

Jlitheng mengerutkan keringnya ketika ia melihat Cempaka tersenyum. Tetapi Cempaka kemudian berkata, “Aku tidak tahu. Tetapi pusaka itu penting sekali bagi perguruan Sanggar Gading.”

“Dan kau sudah mendapatkannya ?”

Cempaka itupun tiba-tiba telah tertawa. Katanya, “Belum. Dan aku berkata sebenarnya, bahwa aku belum mendapatkan pusaka itu.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudan tertawa pula. Justru berkepanjangan. Diantara derai tertawanya ia berkata, “Alangkah lucunya. Kalian sudah mempertaruhkan nyawa kalian untuk sesuatu yang tidak jelas. Apakah artinya itu bukan suatu kedunguan atau bahkan kegilaan?”

“Kita memang orang-orang gila. Tetapi memperebutkan pusaka itu bukan suatu kegilaan yang lebih gila dari kegilaanmu mencampuri persoalanku yang dapat merenggut nyawamu juga,” berkata Cempaka.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya ingin menolongmu. Jika kau tersinggung dengan istilah itu, baiklah aku katakan lagi, bahwa aku tidak senang melihat ketidak adilan. Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan pusaka itu dan segala tingkah lakumu kemudian. Aku akan meneruskan perjalananku. Mungkin aku akan singgah di Demak. Mungkin tidak. Tetapi mungkin aku justru akan singgah di perguruan Sanggar Gading.”

“Pergilah kesana. Tandangmu membuat aku tertarik kepadamu. Jika kau bersedia, bergabunglah dengan kami. Ada tugas penting yang akan kami lakukan,” berkata Cempaka.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Tugas apa?”

“Aku belum tahu pasti. Tetapi jika kau bersedia, datanglah,” sambung Cempaka.

Dada Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia teringat pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi di Bukit Gundul. Bahkan Daruwerdi menuntut imbalan yang mahal dari pusaka yang dijanjikan.

Karena itu, sejenak kemudian Jlitheng berkata, “Apakah persoalannya ada hubungannya dengan pusaka itu? Jika ada, aku lebih baik tidak ikut campur, karena aku tidak mau terlibat dalam persoalan yang menyangkut banyak pihak. Tetapi jika persoalan itu benar-benar tugas perguruanmu, aku mungkin akan dapat mempertimbangkan.”

Cempaka memandang Jlitheng sejenak. Tetapi ia tidak melihat kesan yang mencurigakan pada wajah itu. Dalam keremangan malam ia melihat, seakan-akan Jlitheng berkata dengan jujur dan tanpa maksud tertentu. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Tidak. Tidak ada sangkut pautnya dengan pusaka itu. Tetapi yang harus kami lakukan adalah persoalan yang menyangkut harga diri perguruan Sanggar Gading.”

“Dendam? Kebencian? Atau menyangkut harta, benda?”

“Harga diri,” sahut Cempaka, “tetapi aku tidak tahu pasti.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia melihat satu kemungkinan untuk maju selangkah dalam tugasnya. Tetapi ia pun melihat bahaya yang tersembunyi dibalik kemungkinan itu.

Sambil mengangguk-angguk iapun kemudian berkata, “Ki Sanak. Mungkin aku akan benar-benar datang ke padepokanmu. Mungkin aku akan dapat berbuat sesuatu. Tetapi keterlibatanku memerlukan kejelasan, sehingga aku tidak akan salah sasaran. Mungkin yang telah menyentuh harga dirimu itu justru orang yang pernah aku kenal baik, atau malahan sahabat-sahabatku. Tetapi hal itu dapat aku bicarakan kelak jika benar-benar aku sempat datang ke Sanggar Gading.”

“Kau orang yang aneh. Apakah keterlibatanmu kali ini mempunyai alasan dan landasan yang jelas? Kau tidak mengenal aku dan kau pun tidak mengenal orang-orang kendali Putih. Tetapi kau langsung terjun di gelanggang perselisihan ini.”

“Tetapi bagiku cukup jelas. Orang-orang Kendali Putih itu bukan sanak kadangku. Bukan sahabat-sahabatku dan bukan saudara-saudara seperguruanku,” jawab Jlitheng.

Cempaka mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau ingin datang, datanglah. Tetapi yang akan kami lakukan tidak akan menunggu sampai waktu yang lebih dari yang sudah ditentukan.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan datang pada waktu yang kau tentukan. Jika dalam sepuluh hari itu aku tidak datang, maka mungkin aku sudah berada ditempat yang jauh. Mungkin aku sudah berada di Tuban atau mungkin di Blambangan. Bahkan mungkin aku sudah menyeberang ke Bali.”

Cempaka mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi siapa namamu?”

“Namaku memang Bantaradi. Tetapi aku bukan Senapati Demak seperti yang aku katakan. Pertemuan kita mungkin ada gunanya. Tetapi mungkin tidak berkelanjutan apapun juga,” berkata Jlitheng kemudian, “aku- minta diri. Aku akan melanjutkan perjalananku yang masih sangat jauh, karena perjalananku memang tanpa batas.”

Cempaka tidak menahannya lagi. Ia memandang Jlitheng dengan kening yang berkerut. Ia melihat sesuatu yang asing pada anak muda itu. Dan nampaknya Jlitheng telah berhasil menimbulkan anggapan, bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang menjadi rebutan diantara beberapa golongan itu.

Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncat ke punggung kudanya dan kemudian berkata, “Berhati-hatilah menghadapi orang-orang Kendali Putih. He, apakah kau akan mengajak aku datang ke padepokan Kendali Putih sebelum sepuluh hari ini?”

Cempaka menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia menggeleng. “Tidak. Meskipun aku tidak tahu pasti, apa yang akan aku lakukan, karena aku hanya akan melakukannya. Kakak kandungku lah yang mengetahui dengan pasti, persoalan yang bagaikan mengendap didalam jantung perguruan.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian sambil menggerak-kan kendali kudanya ia berkata, “Kita berpisah. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

Cempaka menarik nafas dalam-dalam, ia hanya memandangi saja kuda yang kemudian berlari meninggalkannya membawa Jlitheng di punggungnya.

“Anak muda yang luar biasa,” berkata Cempaka. Kedua orang kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

“Ia memiliki tenaga yang cukup besar dan kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia akan dapat menjadi kawan yang baik dalam tugas berat yang mendatang,” berkata Cempaka pula.

“Tetapi kita belum mengenalnya dengan baik,” berkata salah seorang dari kawan Cempaka.

“Aku telah dapat menarik kesimpulan, bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang diperebutkan itu. Mungkin ia pun akan mempunyai tuntutan tertentu atau sama sekali tidak, namun sudah tentu tidak berkisar pada pusaka yang bernilai sangat tinggi bagi perguruan kita itu,” sahut Cempaka.

“Agaknya memang demikian. Tetapi jika kemudian ia mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, mungkin sikapnya akan berubah.”

“Kita akan menunggunya,” desis Cempaka kemudian, “seandainya ia mempunyai maksud tertentu, bukan persoalan yang sulit bagi kita, karena ia hanya seorang diri.”

“Maksudmu, setelah kita mempergunakannya, anak muda itu akan kita singkirkan?” bertanya seorang kawannya.

“Jika ia akan dapat menjadi pengganggu. Jika tidak, biarlah ia pergi tanpa kita sakiti hatinya,” jawab Cempaka.

Kedua kawannya tidak bertanya lagi. Mereka pun kemudian bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Namun dalam pada itu, Cempaka telah tenggelam kedalam angan-angannya. Jika ia berhasil memenuhi permintaan Daruwerdi, maka ia akan mendapatkan pusaka yang sangat diperlukan oleh saudara tuanya, yang memimpin padepokan Sanggar Gading Setidak-tidaknya ia akan mendapat petunjuk pasti, untuk menemukan pusaka itu. Karena pada pusaka itu terdapat petunjuk yang sangat berharga. Mungkin tergores pada wrangkanya, atau mungkin pada peti tempat pusaka itu disimpan, atau pada selembar kain yang terdapat dalam peti itu pula. Tetapi menurut pendengarannya, bahwa pada pusaka itu terdapat petunjuk, dimanakah harta benda yang tidak ternilai harganya telah disimpan.

“Mungkin pusaka itu memang mempunyai pengaruh gaib,” berkata Cempaka didalam hatinya, “tetapi harta benda yang tidak ternilai itu pun mempunyai daya tarik dapat membuat banyak orang menjadi gila.”

Tetapi Cempaka tidak mengatakan kepada seorang pun juga dari perguruannya, selain kakak kandungnya. Keduanya berusaha untuk mendapatkan pusaka itu, apapun yang harus mereka lakukan. Seperti juga beberapa perguruan dan beberapa kelompok orang-orang pilihan yang sudah mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, telah berusaha untuk menemukannya. Apakah mereka tertarik karena mereka menganggap pusaka itu akan dapat mengangkut mereka ke jenjang kekuasaan tertinggi atau karena mereka memang sudah mengetahui, bahwa disamping pusaka itu terdapat harta benda yang sangat besar.

Dalam pada itu, Jlitheng berpacu dengan kencang menuju ke Kota Raja. Ia sudah mempunyai rencana tersendiri untuk melaksanakan niatnya. Peristiwa yang baru saja terjadi, telah menjadi salah satu bahan yang dapat menambah bekal dalam tugasnya.

Sebelum matahari terbit, Jlitheng telah memasuki Kota Raja. Ia langsung menuju ke sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas, meskipun rumah itu terletak di bagian yang tidak cukup ramai.

Tetapi Jlitheng tidak turun di halaman depan dan menambatkan kudanya pada tonggak di sudut pendapa, tetapi ia langsung memasuki seketeng sebelah kiri dan masuk ke halaman samping.

Seorang penghuni rumah itu terkejut melihat seekor kuda dengan penunggangnya langsung memasuki seketeng. Karena itu, maka iapun segera menyongsong dan menghentikannya.

Jlitheng tersenyum. Ia pun segera meloncat turun sambil berkata, “Jangan terkejut. Aku ingin bertemu dengan paman Sri Panular.”

Orang itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah Ki Sanak?”

Jlitheng tersenyum. Katanya pula, “Sampaikan pesanku. Cepatlah sedikit. Matahari sudah akan terbit.”

Orang itu masih termangu-mangu. Namun iapun berpaling ketika seorang perempuan menjelang setengah usia datang menyapa anak muda yang datang berkuda itu, “Kau ngger. Marilah. Pamanmu sudah berada di sanggar.”

Jlitheng mengangguk hormat. Jawabnya, “Terima kasih bibi. Aku datang agak kesiangan.”

Perempuan itu tertawa sambil mendekatinya ia berkata, “Masuklah. Aku akan memanggil pamanmu.”

“Biarlah aku menyusul ke sanggar saja bibi,” jawab Jlitheng.

Perempuan itu mengeratkan keningnya. Katanya, “Duduk sajalah di pringgitan. Biarlah aku memanggil pamanmu.”

“Aku tidak ingin mengganggu paman, bibi. Biarlah aku pergi ke Sanggar.”

Perempuan itu menarik nafas panjang. Lalu, “Baiklah. Marilah aku bawa kau ke Sanggar di belakang.”

Jlitheng pun kemudian menyerahkan kudanya kepada orang yang masih kebingungan. Kemudian mengikuti perempuan itu menuju ke longkangan dibelakang. Dibelakang longkangan terdapat sebuah bilik yang terpisah. Lewat bilik itu mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, berdinding kayu. Agak lebih rapat dari bagian-bagian yang lain dari rumah yang besar itu.

“Kakang Sri Panular,” terdengar perempuan itu berkata ketika mereka memasuki sebuah pintu, “angger Arya Baskara datang untuk menghadap.”

Sejenak mereka menunggu. Baru kemudian terdengar jawaban dari keremangan ruangan Sanggar, “Aku senang sekali oleh kedatangannya. Marilah ngger. Mendekatlah.”

“Masuklah,” berkata perempuan itu, “aku akan menyiapkan jamuan bagi angger.”

“Ah,” desis Jlitheng, “bibi jangan menjadi terlalu sibuk karena kedatanganku.”

Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Tidak ngger. Sudah seharusnya aku menjamu seorang tamu.”

“Terima kasih bibi,” jawab Jlitheng kemudian.

Sepeninggal perempuan itu, maka Jlitheng pun kemudian memasuki sanggar yang masih remang-remang. Di sudut ia melihat seseorang duduk diatas sebuah batu hitam yang dialasi dengan sehelai kulit harimau loreng.

“Marilah ngger,” orang yang duduk itu mempersalahkan.

Jlitheng pun kemudian mendekat. Dengan hormatnya ia membungkuk dihadapan orang yang duduk diatas batu itu sambil berkata, “Aku menyampaikan baktiku paman.”

Terdengar suara tertawa tertahan. Lalu, “Silahkan duduk di amben bambu itu ngger. Kau selalu membuat hatiku menjadi cerah. Semakin sering kau datang, aku tentu akan menjadi semakin muda.”

Jlitheng pun kemudian duduk di sebuah amben beberapa langkah dari batu hitam itu. Diluar sadarnya ia mulai mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan yang menjadi semakin terang disaat matahari mulai terbit.

“Tidak ada perubahan, apapun juga,” berkata orang yang duduk di atas batu hitam itu.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang sebilah ujung tombak yang tidak bertangkai, yang terpancang pada sebuah lubang bambu disamping sebuah perisai yang terbuat dari baja, maka orang yang duduk itu berkata, “Senjata itulah yang baru bagi sanggar ini ngger. Aku mendapatkannya dari seorang kawan yang berhasil merampasnya dari para bajak laut yang kadang-kadang turun ke pantai dan merampok para nelayan yang memang sudah miskin.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi menilik bentuknya, senjata dan perisai itu bukan milik kita paman. Maksudku, bukan prajurit dan orang-orang Demak.”

“Tepat ngger. Senjata dan perisai itu dapat dirampas dari bajak laut, yang barangkali mendapatkannya dari orang-orang seberang. Entah dengan cara apa. Apakah senjata itu ditukar dengan kebutuhan mereka, atau para bajak laut itu merampas dengan kekerasan.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berdesis, “Dan sekarang senjata dan perisai itu berada ditangan paman.”

Orang itu tertawa pendek. Katanya, “Aku mengumpulkan berbagai jenis senjata. Bukan saja senjata yang aku dapatkan dari masa ke masa, pemerintahan yang berpindah-pindah di negeri ini lewat siapapun juga seperti yang kau lihat bergantung di dinding. Tetapi juga senjata dari negeri seberang.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Di sanggar itu memang terdapat senjata sejak jaman purbakala di tanah ini. Kapak batu, tombak dan sumpit yang sederhana. Tetapi juga senjata yang sudah berlapis emas dengan teretes berlian dari masa kejayaan kerajaan demi kerajaan.”

Tetapi kedatangan Jlitheng ke tempat itu, bukannya untuk berbicara tentang berbagai macam senjata. Tetapi ia mempunyai keperluan yang penting, sehubungan dengan niatnya untuk membayangi Sepasang Bukit Mati yang bersangkutan dengan pusaka yang mempunyai nilai tersendiri itu.

Karena itu maka sejenak kemudian, setelah memberikan beberapa penjelasan maka Jlitheng pun berkata, “Paman, kedatanganku adalah satu usaha untuk memecahkan rahasia yang menyelimuti pusaka itu. Aku telah mendapatkan beberapa bahan yang barangkali penting untuk dibicarakan.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sudah menduga, bahwa kau sudah menemukan sesuatu yang barangkali dapat dipakai sebagai sandaran usahamu untuk memecahkan rahasia pusaka itu. Jika masalahnya tetap berkepanjangan, maka akan semakin banyak kelompok yang terlibat kedalamnya, yang akan berarti menambah korban yang sama sekali tidak berarti. Sesuatu yang kecil dan tidak berarti, lewat berita dan ceritera mulut ke mulut, akan dapat menjadi sesuatu yang sangat dikagumi. Sepercik api akan dapat dianggap sebagai panasnya luapan Gunung yang sedang meledak.”

“Agaknya demikian juga tentang pusaka itu paman. Setiap orang menganggap pentingnya pusaka yang sekarang masih belum ditemukan,” sahut Jlitheng.

“Apalagi pusaka itu yang memang disertai dengan satu keterangan tentang harta benda yang disimpan oleh Pangeran Pracimasanti. Berita dan ceritera tentang pusaka itu tentu akan berkembang semakin besar, seolah-olah siapa yang memiliki pusaka itu, adalah orang yang akan dapat menjadi Maha Raja diatas permukaan bumi,” berkata Sri Panular.

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Kedatanganku akan mohon petunjuk kepada paman, apakah yang harus kita kerjakan selanjutnya.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Apa yang sudah kau ketahui dan bagaimana menurut pendapatmu?”

Jlitheng pun kemudian menceriterakan apa yang ada dan apa yang telah terjadi di sekitar Sepasang Bukit Mati. Kedatangan orang-orang dari padepokan Kendali Putih, orang-orang Pusparuri dan orang-orang dari Sanggar Gading yang telah berhubungan dengan seorang anak muda yang bernama Daruwerdi. Kemudian, yang masih merupakan teka-teki baginya adalah dua orang ayah dan anak perempuan yang berada di salah satu dari Sepasang Bukit Mati itu. Orang yang menurut pengakuannya harus berpindah dari daerahnya, karena banjir, gempa dan tanah longsor.

Sri Panular mendengarkan keterangan Jlitheng dengan saksama. Apalagi ketika Jlitheng menceriterakan apa yang didengarnya tentang pembicaraan Daruwerdi dan Cempaka, serta apa yang dialaminya di perjalanannya ke Demak dari Lumban.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau sudah mendapat jalan itu ngger, meskipun kau harus sangat berhati-hati. Memasuki padepokan Sanggar Gading bukan satu pekerjaan yang mudah. Bukan pula satu permainan yang akan menyenangkan.”

“Aku sadar paman. Tetapi aku kira itu adalah jalan yang paling baik. Diluar perhitunganku, kebetulan sekali aku mendapat kesempatan untuk menolong anak Sanggar Gading itu,” berkata Jlitheng kemudian, “tetapi disamping kemungkinan yang baik itu, aku harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Aku pun harus mendapat akal untuk meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak lama.”

“Apakah kau berniat untuk datang ke padepokan Sanggar Gading?”

“Agaknya aku akan menempuh jalan itu untuk mengetahui, siapakah yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi. Jika dendam itu tidak benar-benar membakar hati dan jantungnya, aku kira Daruwerdi tidak akan bersedia menukarnya dengan pusaka yang menjadi rebutan itu.”

“Kau yakin bahwa Daruwerdi benar-benar mengetahui dengan pasti tentang pusaka itu?” bertanya Sri Panular.

Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Menurut pengakuannya. Jika tidak, apakah ia akan berani mempertaruhkannya untuk mendapatkan orang yang dimaksudkan ?”

Sri Panular mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah ngger. Jika kau sudah bertekad untuk melakukannya.”

“Tetapi paman,” berkata Jlitheng dengan serta merta, “itu barulah salah satu jalan. Jalan yang semula ingin aku sampaikan kepada paman, adalah bahwa sebaiknya paman mencari keterangan, siapakah diantara para Pangeran yang pernah berhutang nyawa, yang pernah membunuh seseorang dalam persoalan apapun juga. Jika demikian, maka kita akan dapat mencari keterangan, siapakah yang telah dibunuh, dan orang yang dibunuh itulah yang mempunyai hubungan dengan Daruwerdi, yang menurut pengakuan anak muda itu adalah ayahnya.”

Sri Panular mengangguk-angguk. Namun ia pun berkata, “Baiklah. Itu salah satu jalan yang dapat ditempuh. Tetapi tentu ada jalan lain. Kita akan mencari keterangan tentang Daruwerdi itu sendiri. Jika orang-orang Pusparuri dapat menghubunginya, tentu ada diantara mereka yang sudah mengenalnya sebelumnya. Demikian juga orang Sanggar Gading itu.”

“Jalan yang dapat juga dilalui meskipun tentu agak licin. Tetapi kita memang harus menempuh segala jalan. Sementara aku akan melalui jalan yang lebih pendek, meskipun sangat berbahaya.”

“Kau sudah benar-benar bertekad melakukannya?”

“Ya paman. Aku kira jalan itu adalah kesempatan yang paling dekat, meskipun yang paling berbahaya.”

Sri Panular mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Semua jalan akan kita tempuh untuk melacak jejak Pangeran Pracimasanti. Jika saja pengawalnya yang setia, meskipun cacat itu dapat diketemukan, mungkin kita tidak akan kehilangan jejak. Tetapi abdinya yang setia itupun bagaikan hilang ditelan bumi. Karena itu, tentu ada rahasia tersendiri, kenapa anak muda yang bernama Daruwerdi itu mengaku dapat menunjukkan pusaka yang hilang itu. Mungkin anak muda itu, sengaja atau tidak sengaja, dapat menguasai abdi yang setia dan cacat itu. Namun bagaimanapun juga, kita harus menyelamatkan apa yang pernah disimpan oleh Pangeran Pracimasanti. Dengan demikian kita sudah berbuat satu kebajikan bagi sesama.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar sepenuhnya akan tugas yang akan dilakukannya. Yang tersimpan disamping pusaka itu tentu harta benda yang tidak sedikit, yang akan dapat dipergunakan untuk kepentingan Demak yang sedang tumbuh! Selain pusaka itu sendiri akan kembali ke gedung perbendaharaan pusaka, maka harta benda itu pun tentu akan sangat bermanfaat. Demak memerlukan banyak sekali beaya untuk membangun dirinya, sementara beberapa pihak lebih senang untuk bekerja bagi kepentingan diri sendiri.

Dalam pada itu, maka Jlitheng pun kemudian berkata, “Paman. Sebelum aku memasuki sarang orang-orang Sanggar Gading, aku harus kembali ke Lumban lebih dahulu. Aku harus menghapus segala kecurigaan karena aku akan pergi untuk beberapa hari.”

“Lakukanlah. Aku pun akan melakukan usaha yang lain. Seperti yang kau maksud, aku akan mencari keterangan tentang seorang Pangeran yang pernah terlibat dalam pertentangan dan pembunuhan, sehingga Daruwerdi mendendamnya.”

“Itulah yang akan aku sampaikan. Selebihnya, kita akan mengikuti perkembangan keadaan.”

“Dan kau akan berada disini berapa hari?” bertanya Sri Panular.

“Malam nanti aku harus kembali ke Lumban paman. Kepergianku yang lama akan menimbulkan pertanyaan bagi anak-anak muda Lumban. Tetapi juga akan dapat menarik perhatian Daruwerdi.”

Sri Panular mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Waktu itu sangat pendek. Tetapi untuk menambah bekal tugasmu, biarlah yang pendek ini kita pergunakan sebaik-baiknya.”

“Maksud paman?” bertanya Jlitheng.

“Kau tentu sudah mendapat banyak bekal dari kakang Baskara. Kau tentu sudah memiliki beberapa jenis senjata yang sering dipergunakan. Tetapi untuk menjaga keselamatanmu jika kau berada didalam lingkungan lawan yang banyak. Aku akan memberikan beberapa petunjuk yang mungkin pernah kau ketahui pula dari kakang Baskara. Tetapi yang kemudian aku kembangkan.”

“Apakah itu paman?” bertanya Jlitheng.

“Aku mempunyai sejenis paser yang mungkin berguna bagimu. Jika orang-orang Sanggar Gading kemudian mengenalimu, dan kau harus menyelamatkan diri dari orang-orang Sanggar Gading, atau di dalam lingkungan yang manapun juga, maka senjata semacam itu akan sangat berguna. Kau tidak perlu menganggap dirimu licik, jika kau berusaha melepaskan diri dari satu kepungan dengan mempergunakan paser-paser semacam itu.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa senjata itu tentu akan sangat berguna, karena Sri Panular adalah salah seorang ahli senjata dari jenis apapun juga. Jika di dinding sanggarnya tersimpan banyak senjata, bukannya sekedar sebagai perhiasan. Tetapi semuanya telah dipelajarinya dan diperhitungkannya untung dan ruginya.

Demikianlah, waktu yang sehari itu telah dipergunakan oleh Jlitheng untuk menguasai penggunaan senjata kecil yang dapat dipergunakannya dalam jumlah yang banyak.

Ia tidak saja melemparkan paser satu demi satu. Tetapi ia akan dapat melemparkan dua, tiga dan bahkan lima buah paser sekaligus dengan arah yang memencar, sehingga dengan demikian ia akan dapat membuka jalan dihadapannya, apabila beberapa orang menghalanginya.

“Aku terpaksa mempergunakan racun,” berkata Sri Panular, “tetapi racunku bukan racun yang membunuh. Seseorang akan dapat pingsan karenanya. Tetapi seorang yang mengerti serba sedikit tentang obat-obatan, akan dapat menyembuhkannya. Memang mungkin akan dapat terjadi kematian jika seseorang tidak tertolong sama sekali, dan orang itu tidak mempunyai daya tahan yang cukup. Tetapi kejadian itu adalah satu dari sepuluh.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Sri Panular bukannya seorang ahli senjata yang tidak berperikemanusiaan. Meskipun ia selalu bermain-main dengan senjata, tetapi senjata baginya adalah, alat yang paling buruk untuk menyelesaikan, persoalan-persoalan yang timbul diantara sesama.

Dengan senjata paser-paser kecil, maka Jlitheng telah mendapatkan sebuah ikat pinggang yang khusus pula dari Sri Panular. Ikat pinggang yang dapat dipergunakannya untuk membawa paser-paser kecil cukup banyak.

“Tetapi berhati-hatilah,” berkata Sri Panular, “jangan terlalu sering dipergunakan. Tetapi juga jangan menganggap bahwa paser-paser ini akan selalu dapat menyelesaikan tugasmu, karena banyak diantara orang-orang yang berkeliaran dalam dunia kekerasan yang mampu menghindari lontaran tanganmu.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya setiap pesan dari Sri Panular. Maka katanya, “Paman, bagaimanapun juga, paser-paser ini telah menambah bekalku. Terutama niatku untuk berada ditengah-tengah orang-orang Sanggar Gading.”

“Kau akan memasuki daerah yang sangat berbahaya. Aku akan berada di rumah pada saat-saat yang gawat bagimu itu. Disekitar sepuluh sampai lima belas hari, aku selalu bersiap jika aku kau perlukan. Disaat-saat orang-orang Sanggar gading akan memenuhi permintaan Daruwerdi itu akan mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak kau duga sama sekali,” berkata Sri Panular, lalu, “berbuatlah dengan keyakinan. Kau adalah murid Ki Baskara yang telah menurunkan ilmu pedang yang luar biasa kepadamu. Kau juga mampu mempergunakan senjata lentur. Dan sekarang, kau kuasai penggunaan senjata-senjata kecil itu. Lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Tetapi segalanya harus kau landasi dengan permohonan kepada Yang Maha Kasih. Jika kerjamu kau tujukan bagi kebajikan sesama, maka kau akan selalu mendapat perlindungannya.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun hatinya bagaikan berkembang. Ia sadar sepenuhnya, apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi ia pun menganggap, sudah sewajarnya ia mempertaruhkan nyawa bagi pusaka dan harta benda yang akan sangat besar manfaatnya bagi Demak dan sesamanya itu. Karena Jlitheng pun mengerti, bahwa Pangeran Pracimasanti tidak bermaksud membangun kembali Kejayaan Majapahit dalam arti yang sempit.

Menurut pendapat Jlitheng, maka Majapahit bukanya nama dan tempat kedudukan puncak pemerintahan. Tetapi apa yang sudah pernah dicapainya. Persatuan yang mengikat seluruh persada Nusantara. Apapun namanya dan dimanapun kedudukan Kota Raja sebagai tempat pimpinan pemerintahan, dan siapapun nama orang yang memegang kendali, bukan masalah yang pertama. Tetapi ujud dan isi Nusantara itulah yang tentu akan diperjuangkan oleh Pangeran Pracimasanti dengan bekal yang disediakannya, tetapi tidak sempat dipergunakannya.

“Bekal itu tentu jauh dari pada mencukupi,” berkata Jlitheng didalam hatinya, “tetapi itu lebih baik daripada bekal itu jatuh ke tangan orang-orang yang hanya mementingkan pribadi masing-masing.”

Karena itulah, maka tekat Jlitheng pun menjadi semakin bulat. Ia adalah murid Baskara, orang yang aneh. Dan ia pun mempunyai kegemaran yang kadang-kadang aneh pula bagi orang lain. Namun, terhadap tekadnya untuk menemukan pusaka dan harta benda itu adalah bersungguh-sungguh.

Justru karena Jlitheng memang sudah memiliki ketrampilan yang tinggi, maka dalam satu hari ia sudah pandai mempergunakan senjata-senjata kecil itu. Sehingga karena itu, maka ia pun merasa dirinya menjadi semakin kuat untuk tampil diantara orang-orang Sanggar Gading.

Ketika senja turun, maka Jlitheng pun bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Sri Panular. Ia harus kembali lagi ke Lumban. Kemudian mengatur diri, agar kepergiannya ke Sanggar Gading untuk beberapa hari tidak menumbuhkan kecurigaan.

“Menjelang saat yang berbahaya itu, lakukanlah latihan sebaik-baiknya ngger,” berkata Sri Panular, “kau sudah menguasai ilmu pernafasan. Kau harus mematangkan ilmu itu dalam waktu kurang dari sepuluh hari ini. Kau harus mampu menguasai segenap bagian dari tubuhmu dalam keadaan yang gawat. Kau harus melatih diri mempertajam gerak-gerak naluriah yang terkendali. Kesadaranmu harus dapat dengan cepat menanggapi keadaan yang berkembang setiap saat.”

“Ya Paman,” Jlitheng mengangguk-angguk, “aku akan mempergunakan waktu yang pendek itu sebaik-baiknya.”

“Bahaya bagimu bukan saja di Sanggar Gading. Tetapi jika kau benar-benar akan menyertai mereka memasuki daerah yang belum kau ketahui itu, maka kau pun akan dapat menjadi umpan yang mungkin tidak kau sadari. Mungkin kau akan dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading memasuki sebuah gapura yang dijaga oleh pengawal-pengawal yang terlatih. Jika kau berhasil masuk, maka kau akan berhadapan dengan pengawal-pengawal yang melindungi rumah itu, yang sudah barang tentu bukannya orang kebanyakan.”

“Terima kasih paman,” sahut Jlitheng, “aku akan melakukannya segala pesan paman.”

“Kau masih juga harus memperhatikan orang tua yang datang ke bukit bersama anaknya itu. Jangan terlalu percaya. Tetapi juga jangan terlampau mencurigainya. Mungkin ia benar-benar orang yang menyingkir dari gempa, banjir dan tanah longsor. Tetapi mungkin mereka adalah orang-orang yang juga ingin mendekati Sepasang Bukit Mati.”

Jlitheng memperhatikan segala pesan pamannya itu dengan sungguh-sungguh. Sepeninggal gurunya, maka Sri Panular adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Dalam olah kanuragan juga dalam setiap usaha dalam tugas-tugas kewajibannya.

Ketika gelap sudah menyelubungi seluruh Kota Raja, maka Jlitheng pun mohon diri kepada Sri Panular dan isterinya. Ia harus kembali ke Lumban tanpa diketahui oleh siapa-pun. Apalagi oleh Cempaka atau orang Sanggar Gading yang lain.

Ketika ia meninggalkan Kota Raja, maka kudanya pun dipacunya semakin cepat. Dilaluinya padukuhan-padukuhan kecil dan besar dengan meninggalkan pertanyaan pada orang-orang yang mendengar derap kaki kudanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng benar-benar tidak dapat menghindari anak-anak muda yang sedang berada di gardu-gardu.

Tetapi kesan yang ditinggalkannya adalah, bahwa ia adalah seseorang yang bepergian jauh dengan tergesa-gesa.

Agar tidak menimbulkan kesan yang mencurigakan, Jlitheng kadang-kadang terpaksa menganggukkan kepalanya sambil tertawa dihadapan gardu-gardu yang diterangi dengan obor, ditunggui oleh beberapa orang yang sedang meronda.

“Selamat malam,” Jlitheng mengucapkan salam kepada orang-orang yang memperhatikannya.

“Siapa?” seorang anak muda di gardu bertanya kepada kawannya.

Kawannya menggeleng. Jawabnya, “Aku belum mengenalnya.”

“Tetapi nampaknya ia telah mengenal kami.”

“Mungkin saja. Kami adalah pengawal-pengawal yang banyak dikenal orang, tetapi kami belum tentu dapat mengenalnya seorang demi seorang.”

“Ah. Sombong benar anak ini,” desis seorang yang duduk di sudut, “kau baru menjadi pengawal padukuhan kecil. Jika kau menjadi seorang Bupati, apa saja yang akan kau katakan tentang dirimu?”

Kawan-kawannya tertawa. Anak muda itu menjadi tegang sejenak. Tetapi iapun kemudian tertawa pula.

Jlitheng yang berpacu kembali ke Lumban itu telah mengambil jalan lain dari jalan yang dilaluinya ketika ia berangkat ke Kota Raja. Namun iapun harus sampai ke Lumban sebelum pagi.

Di sepanjang jalan Jlitheng sudah mulai menganyam angan-angan. Bagaimana sebaiknya ia minta diri kepada kawan-kawannya agar tidak memancing kecurigaan Daruwerdi. Kepada Kiai Kanthi ia dapat mengatakan, bahwa ia akan pergi untuk lima hari atau lebih dalam usahanya untuk mencari jejak orang yang dimaksud oleh Daruwerdi tanpa menyebut orang-orang Sanggar Gading dan peristiwa yang ditemuinya diperjalanan, karena seperti pesan Sri Panular, maka ia tidak boleh terlalu percaya kepada orang yang kurang diketahuinya asal-usulnya itu. Tetapi kedua orang yang mengaku ayah dan anak itu sudah terlanjur mengetahui tentang dirinya.

“Tetapi aku yakin, bahwa keduanya adalah orang yang baik,” berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “sayang anak gadisnya masih terlalu lugu dan kurang mempertimbangkan sikapnya. Agaknya ia benar-benar seorang gadis yang kurang bergaul selain dengan ayahnya dan barangkali seorang dua orang tetangganya ditempatnya yang lama. Meskipun demikian ia memiliki ilmu yang ngedab-edabi.”

Demikianlah, Jlitheng harus melakukannya seperti saat ia berangkat. Ia harus singgah untuk menitipkan kudanya. Kemudian iapun segera minta diri kepada saudagar yang sudah mengenalnya dengan baik itu.

“Aku menjadi bimbang,” berkata saudagar itu, “ada maksudku untuk menyusul anakmas ke Demak. Tetapi jangan-jangan kita berselisih jalan. Karena itu aku lebih baik menunggu saja di rumah sampai anakmas kembali ke Lumban.”

“Aku harus segera berbuat sesuatu paman,” berkata Jlitheng kemudian, “aku sudah menghubungi orang yang aku percaya di Demak, yang dengan sepenuh hati bersedia membantu membebaskan pusaka yang menjadi rebutan itu dari tangan orang-orang yang tidak berhak.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Namun dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah aku dapat mengetahui, siapakah orang yang pantas untuk dihubungi di Demak itu? Maksudku, apakah aku boleh ikut campur secara langsung!”

“Paman,” berkata Jlitheng, “sebenarnyalah aku tidak ingin melibatkan paman secara langsung dalam persoalan ini. Bantuan paman sudah cukup banyak. Tetapi aku pun tidak berkeberatan jika paman mengetahui, siapakah orang yang aku hubungi di Demak, karena orang itu adalah keluarga sendiri. Justru orang yang bagiku seperti guruku sendiri.”

Saudagar itu mengerutkan keningnya. Ia juga mempunyai sangkut paut dalam hubungan jalur ilmu kanuragan Karena itu, maka katanya, “Siapakah orang itu?”

“Paman Sri Panular.”

Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira. Tetapi aku tidak dapat menyebutnya sebelum kau mengatakannya. Tetapi agaknya orang itu adalah orang yang tepat. Kau tentu tahu serba sedikit tentang perjalanan hidup Sri Panular, ngger.”

Jlitheng mengangguk-angguk.

“Agaknya persoalanmu telah menggelitik hatiku untuk ikut mencampurinya secara langsung. Tetapi aku tidak akan berbuat apa-apa. Maksudku, jika kau memerlukan bantuanku, aku tidak berkeberatan untuk melakukannya. Misalnya kau memerlukan hubungan dengan kakang Sri Panular, tetapi kau tidak sempat pergi langsung kepadanya.”

“Terima kasih paman. Sejauh ini aku berharap, paman tidak dengan langsung terlibat, karena tugas paman sehari-hari. Adalah agak sulit bagi paman untuk memisahkan antara kewajiban paman dengan tugas-tugas yang sulit ini. Sebagai seorang saudagar paman memerlukan hubungan seluas-luasnya. Mungkin orang-orang yang berdiri berseberangan dalam hubungan dengan pusaka itu, ternyata adalah orang-orang yang memerlukan sesuatu dari paman.”

“Jika aku mengetahuinya, maka hubungan itu akan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya,” jawab saudagar itu.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman terlalu baik. Tetapi paman jangan berkorban terlalu banyak. Bantuan paman telah cukup memberikan landasan kerjaku disini.”

Saudagar itu tersenyum. Katanya, “Apa yang dapat aku lakukan, aku ingin melakukan lebih banyak lagi ngger. Tetapi aku akan menjaga, bahwa aku justru tidak mengganggu langkah-langkah yang sudah angger tentukan.”

Jlitheng pun tersenyum. Meskipun ia berkata, “Bukan maksudku paman. Tetapi baiklah aku mengucapkan banyak terima kasih.”

Jlitheng pun kemudian minta dari. Seperti ketika datang, iapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. Setelah menukarkan pakaiannya dan menyembunyikannya, maka dengan tergesa-gesa pula Jlitheng kembali kerumahnya di Lumban Wetan.

Karena ketika ia datang, hari masih belum pagi, maka ia pun langsung pergi ke kandang dan berbaring diatas tumpukan jerami kering. Sejenak kemudian, ia pun telah tertidur. Betapa dinginnya malam, namun diatas setumpuk jerami, rasa-rasanya badan Jlitheng telah menjadi hangat.

Ketika fajar menyingsing, Jlitheng terbangun oleh suara senggot timba. Karena itu, sambil mengusap matanya, iapun bangkit dengan malasnya.

“Biar aku yang mengisinya biyung,” berkata Jlitheng kepada ibunya yang sedang mengambil air.

“He, kau sudah datang?” bertanya ibunya.

Semalam aku turun. Aku tidak betah tidur di bukit yang banyak nyamuknya itu,” berkata Jlitheng.

Sambil menguap ia berjalan ke sumur. Kemudian ia mulai menarik senggot timba dan mengambil air untuk mengisi jambangan di dapur dan di pakiwan.

“Apakah pekerjaanmu di bukit itu sudah selesai,” tiba-tiba saja ibunya bertanya.

“Belum biyung. Ternyata tidak secepat yang kami duga. Karena itu maka kami putuskan untuk mengerjakannya di siang hari saja. Dimalam hari, yang kami lakukan ternyata sangat sedikit. Kecuali malam sangat dingin, nyamuknya banyak sekali, sehingga kami hanya sempat saling berebut dekat dengan perapian tanpa berbuat apa-apa.”

“Aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kalian lakukan di bukit itu? Membuat rumah buat seorang kakek dan anak gadisnya? Kenapa kalian begitu baik hati dengan bersusah payah melakukan kerja ini?” bertanya Ibunya.

“Biyung,” berkata Jlitheng kemudian, “aku adalah salah seorang yang pernah merasakan betapa seseorang merasa dirinya dalam kurnia yang tiada taranya, apabila ia mendapatkan kasih dari sesamanya. Aku adalah salah satu dari banyak orang yang memerlukan pertolongan. Biyung telah memberikan segala-galanya kepadaku. Karena itulah rasa-rasanya aku pun wajib berbuat demikian sekarang, ketika aku sudah merasa hidup tenang.”

“Ah,” ibu Jlitheng berdesah. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun sekilas teringat olehnya, bagaimana anak muda itu datang kepadanya dalam keadaan yang menyedihkan, sehingga ia menjadi belas kasihan kepadanya. Menerimanya sebagai anaknya yang disebutnya telah pergi sejak masa kanak-kanaknya.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam, ia berkeras mengatakan demikian meskipun ada beberapa orang yang menjadi heran karenanya. Karena menurut ingatan mereka, perempuan itu memang tidak mempunyai anak.

“Sekitar duapuluh tahun yang lalu,” berkata perempuan itu kepada tetangga-tetangganya yang meragukannya, “aku sendiri sudah hampir lupa. Apalagi kalian.”

Tetangga-tetangganya tidak menghiraukannya lagi. Apalagi ternyata kemudian bahwa Jlitheng bersikap baik dan segera dapat luluh dalam pergaulan anak-anak muda di Lumban Wetan, sehingga kehadirannya tidak menimbulkan persoalan apapun juga. Keragu-raguan tetangga-tetangganya pun segera dapat dilupakan-nya dan Jlitheng diterima dengan senang sebagai keluarga sendiri di Lumban Wetan.

Perempuan itupun kemudian meninggalkan Jlitheng dan masuk ke dapur. Pikirannya yang sederhana seperti juga orang-orang Lumban yang lain tidak pernah menghubungkan kehadiran anak angkatnya itu dengan segala macam persoalan yang tidak banyak diketahuinya di daerah itu. justru di kampung halamannya. Perempuan itu tidak pernah mengetahui, apakah yang terjadi di daerah yang oleh orang-orang lain disebut Sepasang Bukit Mati itu. Perempuan itu tidak pernah mempersoalkan dan mengingat-ingat lagi, apakah di daerah itu pernah dilalui seorang Pangeran trah Majapahit langsung yang bernama Pangeran Pracimasanti.

Jlitheng yang kemudian melanjutkan mengambil air, sempat juga bertanya kepada diri sendiri, “Apakah orang-orang Lumban tidak ada yang pernah mendengar ceritera tentang Pangeran Pracimasanti yang lewat di daerah Sepasang Bukit Mati, yang membawa bekal cukup banyak dan kemudian tersimpan disekitar tempat ini.

Sekilas terbayang oleh Jlitheng, seorang anak muda yang lain yang berada di padukuhan itu pula. Dan Jlitheng pun bertanya pula kepada diri sendiri, “Apakah sebenarnya yang diketahui oleh Daruwerdi? Apakah ia mengerti dengan pasti tentang pusaka itu atau ia juga pernah mendengar tentang harta yang tersimpan dan hanya diketahui oleh orang cacat, abdi Pangeran Pracimasanti yang setia itu?”

Tetapi Jlitheng pun kemudian menyingkirkan masalah itu dari angan-angannya. Desisnya, “Nanti sajalah, pada saatnya aku harus menyelidikinya. Bukan sekedar menduga-duga.”

Dengan demikian maka tangannya pun menjadi semakin cepat menarik senggot timba sehingga suaranya berderit semakin keras. Seperti biasanya maka Jlitheng pun mengisi segala jambangan dan persediaan air sampai penuh.

Baru kemudian ia kembali ke kandang dan berbaring diatas setumpuk jerami kering. Tetapi ia tidak dapat memejamkan matanya, karena hari menjadi semakin terang.

“Aku harus mempergunakan hari-hariku sebaik-baiknya,” berkata Jlitheng didalam hati, “sebelum sepuluh hari, aku harus sudah berada di padepokan Sanggar Gading.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali bukit gundul membayang di angan-angannya. Kembali ia bertanya-tanya apakah yang sebenarnya dicari Daruwerdi di bukit gundul itu? Apakah ia sudah pasti bahwa yang ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti ada di bukit gundul itu, pusaka dengan beberapa petunjuk mengenai penyimpanan harta benda, atau justru harta bendanya sendiri memang berada di bukit gundul itu. Atau bukit itu sekedar tempat yang baik untuk bertemu dengan orang-orang yang membuat janji dengannya.

Tiba-tiba saja Jlitheng bangkit. Ia ingin menemui kawan-kawannya yang akan pergi ke bukit berhutan untuk membantu Kiai Kanthi menyelesaikan gubugnya dan melihat apakah sudah waktunya ia menemui Ki Buyut Lumban Wetan dan Ki Buyut Lumban Kulon.

Setelah minta diri kepada ibu angkatnya, maka Jlitheng-pun kemudian meninggalkan rumahnya mencari kawan-kawannya. Ternyata kawan-kawannya yang dipesannya untuk bekerja terus meskipun ia tidak ada, telah bersiap-siap untuk berangkat ke bukit.

“He, kau sudah datang,” bertanya salah seorang kawannya.

“Ya. Aku tergesa-gesa kembali setelah aku mengetahui bahwa paman tidak apa-apa. Paman sehat-sehat saja. Bahkan panen musim basah yang lalu melimpah-limpah. Pategalannya juga menghasilkan jagung berlipat dari panen yang lalu.”

“O,” kawan-kawannya mengangguk, “syukurlah.”

“Itulah agaknya makna dari banjir sesuai dengan mimpi biyung,” berkata Jlitheng kemudian.

“Banjir dalam arti yang baik,” desis seorang kawannya.

Seperti biasanya, maka mereka pun kemudian berangkat ke bukit berhutan yang menjadi pasangan bukit gundul sehingga daerah itu disebut Sepasang Bukit Mati. Dua bukit yang mati menurut pengertian yang berbeda. Yang satu mati tanpa dapat ditanami dan dimanfaatkan hasilnya sedangkan yang lain mati tanpa dapat dimanfaatkan untuk apapun juga meskipun daerah itu berhutan lebat, karena di hutan itu banyak didapat binatang-binatang buas dan binatang melata yang berbisa.

Tetapi orang tua dan anak gadisnya itu telah menembus batas mati bukit berhutan itu. Ia tidak mengindahkan peringatan beberapa orang kepadanya, termasuk Daruwerdi. Bahkan kemudian Jlitheng sendiri telah terseret pula naik keatas bukit itu bersama beberapa orang kawannya.

“Bukit yang sebuah ini telah mulai hidup,” desis Jlitheng didalam hatinya, “bahkan akan dapat menghidupi daerah sekitarnya. Air yang tersimpan di bukit sudah akan mulai mengalir.”

Ketika kemudian mereka memanjat naik, Kiai Kanthi yang melihat Jlitheng telah berada diantara kawan-kawannya itupun menyongsongnya sambil berkata, “Kau tidak hadir sehari ngger. Bagaimana dengan pamanmu yang menurut mimpi Ibumu rumahnya dilanda banjir itu? Bukan demikian? Aku mengetahuinya dari kawan-kawanmu.”

Jlitheng tersenyum. Ia tahu bahwa Kiai Kanthi ingin menyesuaikan diri sesuai dengan pengertian kawan-kawannya tentang kepergiannya. Karena itu, maka kepada Kiai Kanthi pun ia menjawab seperti jawabannya yang diberikan kepada kawan-kawannya.

“Syukurlah,” berkata Kiai Kanthi, “dengan demikian maka kita akan dapat segera menemui Ki Buyut dan menyerahkan air itu kepada mereka berdua. Ki Buyut Lumban Kulon dan Ki Buyut Lumban Wetan.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia pun ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu, dan kemudian meninggalkan Lumban untuk beberapa lamanya masuk kedalam sarang orang-orang Sanggar Gading.

Karena itu, maka katanya, “Kita harus menyiapkan segalanya. Jika saatnya datang, maka air yang mengalir ke sungai itu akan kita buka sesuai dengan kemungkinan yang pertimbangan kita sebanyak-banyaknya yang mungkin dapat disalurkan agar tidak menganggu kemungkinan-kemungkinan lain. Kemudian, kita harus sudah dapat menyerahkan gubug kecil itu kepada Kiai Kanthi yang akan membuka sebidang tanah garapan dibawah bukit, yang akan diairi air dari belakang itu juga.”

“Aku tidak terlalu banyak memerlukan air itu, “sahut Kiai Kanthi, lalu, “meskipun mungkin akan berkembang, sesuai dengan perkembangan padepokanku.”

“Ya,” jawab Jlitheng, “namun semuanya sudah jelas. Tanah garapan Kiai Kanthi pun sudah jelas, seperti pathok-pathok yang telah kita pasang. Demikian pula saluran air bagi tanah garapan yang tidak begitu luas dibawah bukit itu.”

“Dengan demikian, maka kapankah sebaiknya kita akan menghadap Ki Buyut. Mula-mula Ki Buyut Lumban Wetan kemudian Ki Buyut Lumban Kulon,” bertanya anak-anak muda yang ikut bersama Jlitheng ke bukit itu.

“Kita segera menghadap. Dengan demikian, kita akan segera dapat memanfaatkan air,” desis Jlitheng.

Kiai Kanthi hanya mengangguk-angguk saja.

“Gubug itu sudah siap,” berkata seorang anak muda. “kita tinggal mengetrapkan pintunya. Malam nanti, jika dikehendaki, Kiai Kanthi sudah dapat tidur didalam gubugnya meskipun belum ada perabotnya sama sekali.”

Kiai Kanthi tertawa. Katanya, “Aku tidak tergesa-gesa ngger.”

“Tetapi jika gubug itu memang sudah selesai, bukankah lebih baik Kiai mempergunakannya?” bertanya Jlitheng.

“Ya. ya. Aku akan mempergunakannya.”

“Disaat lain, jika Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon sudah dapat mengenyam hasil air yang akan segera menyusuri parit persawahan padukuhan Lumban, maka ia tidak akan keberatan untuk membantu membuat sebuah padepokan kecil di kaki bukit ini,” berkata Jlitheng kemudian, “menurut pendengaranku, bukankah Kiai tidak bersedia tinggal bersama kami di padukuhan?”

“Bukan maksudku ngger. Tetapi aku ingin tidak mengganggu padukuhan yang sudah mapan itu dengan persoalan-persoalan baru. Biarlah aku membuat sebuah padepokan kecil yang terpisah meskipun dalam tata kehidupan aku merupakan bagian dari Lumban.”

“Tetapi bukankah maksud Kiai, meskipun padepokan Kiai merupakan bagian dari Lumban, namun bukan Lumban Wetan dan bukan Lumban Kulon,” desis Jlitheng.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun tersenyum. Katanya, “Bagi Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon, aku tidak akan ada artinya.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Meskipun tidak terucapkan, tetapi Kiai Kanthi seolah-olah melihat gerak hati Jlitheng

“Bukankah Kiai ingin berdiri tanpa kewajiban tertentu kepada Ki Buyut sebagai setiap orang di Lumban?”

Tetapi Kiai Kanthi tidak berkata apapun tentang tanggapannya itu. Karena Jlitheng tidak mengatakan apa-apa lagi. maka Kiai Kanthi pun kemudian terdiam.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang ikut serta bersama Jlitheng naik ke bukit itu sudah mulai mengerjakan pintu gubug Kiai Kanthi, sementara dua orang diantara mereka telah memanjat dinding untuk memasang tutup keyong.

“Kalian harus mengikat tutup keyong itu erat-erat,” berkata Jlitheng, “sudah sering terjadi, seekor macan kumbang masuk kedalam rumah seseorang atau kedalam kandang, lewat tutup keyong.”

“Kami membuatnya dengan anyaman khusus dan kami mengikatnya dengan ijuk rangkap,” sahut kawannya yang sedang memanjat.

Jlitheng mengangguk-angguk ia memang melihat anyaman tutup keyong itu cukup kuat. Beberapa buah bambu menyilang terkait pada rusuk atap yang terbuat dari anyaman ilalang.

Dalam pada itu, maka Jlitheng pun berkata kepada kawan-kawannya, “Selesaikan gubug itu. Terapkan pintu. Kalian harus memperkuat uger-ugernya dengan tali-tali ijuk rangkap, seperti tali pengikat tutup keyong. Aku dan Kiai Kanthi akan menyelusuri air. Mudah-mudahan sawah kalian akan cepat menjadi basah di musim kemarau.”

Demikianlah bersama Kiai Kanthi, Jlitheng pun pergi memanjat tebing menuju ke belumbang yang masih saja meluap. Sambil berbincang mereka menilai, betapa tingginya nilai kerja yang sedang mereka lakukan.

“Tetapi Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “dalam waktu dekat aku akan meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak panjang.”

“Kemana?” bertanya Kiai Kanthi.

Sekilas terngiang pesan Sri Panular, agar ia tidak terlalu terbuka terhadap siapapun juga. Demikian pula terhadap kedua orang perantau yang tinggal di bukit itu.

Karena itu, maka katanya, “Aku masih harus melakukan berbagai macam tugas. Meskipun aku tidak jelas, tugas apa yang akan dibebankan kepadaku. Tetapi pada suatu saat aku akan kembali lagi kepadukuhan ini. Sementara sebelum aku pergi maka parit, gubug dan rencana padepokan Kiai harus sudah menjadi masak, agar aku dapat ikut membayangkan masa depan yang baik bagi Kiai dan anak perempuan Kiai yang garang itu.”

“Ah,” desis Kiai Kanthi, “tentu tugas itu tugas yang penting. Lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Meskipun aku dan anakku bukanlah seseorang yang memiliki harga sama sekali, tetapi jika Kami harus membantumu, kami akan berbuat apa saja sesuai dengan keadaan dan kemampuan kami.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Kiai. Memang mungkin aku memerlukan bantuan seseorang. Tetapi sebelum aku tahu pasti, apa yang akan aku lakukan, maka aku tidak dapat berbuat sesuatu.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa yang akan dilakukan oleh Jlitheng tidak perlu diketahuinya.

Dalam pada itu keduanya pun pergi ke belumbang yang airnya melimpah dan seolah-olah hilang dibawah tanah lewat luweng dan terowongan-terowongan air. Ketika mereka melalui tempat yang dipergunakan oleh Kiai Kanthi untuk sementara tinggal dibawah pepohonan dan anyaman ketepe yang disangkutkan pada dahan-dahan kayu, mereka melihat Swasti sedang sibuk dengan perapiannya.

Swasti berpaling ketika ia mendengar langkah mendekat. Dilihatnya ayahnya dan Jlitheng berjalan menuju ke belumbang.

“Kami akan membuka air,” berkata Kiai Kanthi.

Swasti menarik nafas dalam-dalam katanya. Kemudian, “Dan orang-orang Lumban lah yang pertama-tama akan menikmatinya.”

“Tidak,” berkata Kiai Kanthi. Lalu, “Kita.”

“Kenapa kita? Kita belum mulai membuka sawah dan ladang dibawah bukit.”

“Tetapi kita sekarang sudah mempunyai tempat tinggal. Rumah itu sudah dapat kita diami sejak hari ini. He apakah rumah itu bukan hasil dari melimpahnya air ini. meskipun tidak secara langsung?”

Swasti termangu-mangu, sementara ayahnya tertawa sambil berkata, “Kita akan merayakan hari yang berbahagia ini. Kita akan pindah ke rumah kita yang baru.”

Swasti mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab. Ia kemudian memalingkan wajahnya ketika ia melihat Jlitheng pun tertawa pula.

Swasti tidak bertanya lagi. Ia kembali sibuk dengan kerjanya, sementara Kiai Kanthi dan Jlitheng memanjat mendekati blumbang yang menyimpan air cukup banyak itu.

Sejenak Kiai Kanthi dan Jlitheng memperhitungkan setiap kemungkinan. Air belumbang itu melimpah lewat beberapa jalur dari tanggul belumbang yang telah dibuat oleh alam.

“Kita ambil beberapa arah saja Kiai, karena seperti Kiai katakan sebelumnya, bahwa kita akan dapat menutup air itu seluruhnya, sehingga kemungkinan yang buruk akan terjadi atas padukuhan yang meskipun terletak agak jauh dari bukit ini, tetapi mempergunakan air dari sumber di belumbang ini, yang mengalir dibawah tanah, dan muncul ke permukaan sebagai sumber mata air,” bertata Jlitheng kemudian.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mulai memberikan beberapa tanda pada jalur air yang meluap pada tanggul belumbang itu. Sebagian dari luapan air itu akan disalurkan lewat jalur-jalur padas di lereng bukit itu, yang sebelumnya telah digarapnya bersama Jlitheng.

“Kita akan mengundang Ki Buyut dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kita dengan beberapa anak muda itu, akan membuka jalur itu dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan,” berkata Jlitheng.

“Ah,” desis Kiai Kanthi, “apakah itu perlu? Kita buka saja air itu sekarang. Nanti kau pergi kepada Ki Buyut untuk melaporkan, bahwa air sudah mengalir ke sungai. Besok Ki Buyut dapat mengerahkan beberapa puluh orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk menyempurnakan bendungan sungai itu, dan menaikkan airnya kedalam parit. Tetapi hanya di musim hujan, tetapi juga di musim kemarau, meskipun sudah barang tentu tidak akan mencukupi segala kebutuhan. Tetapi air itu akan dapat membantu untuk keperluan yang memakai.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga, bahwa Kiai Kanthi tentu tidak ingin mempergunakan segala macam upacara yang hanya akan nampak dalam gelar, tetapi tidak mempengaruhi isi yang sebenarnya dari peristiwa itu. Bahkan dengan segala macam upacara, orang tua itu justru akan menjadi bingung. Apalagi jika ada diantara mereka yang ingin singgah dan melihat-lihat gubugnya yang dibuat oleh anak-anak muda dari Lumban itu.

Karena itu, maka Jlitheng pun berkata, “Baiklah Kiai. Jika demikian, nanti aku akan datang kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk mengatakan, bahwa besok pagi kita akan mulai membuka jalur air yang akan mengalir ke sungai kecil itu. Biarlah Ki Buyut Lumban Wetan berdiri disebelah Timur sungai, sementara Ki Buyut di Lumban Kulon akan berdiri di sebelah Barat sungai pada tempat yang berhadapan, didekat air itu akan dinaikkan kedalam parit. Biarlah mereka menyaksikan air itu mulai mengalir. Dan biarlah mereka dengan penuh harapan memerintahkan untuk menyempurnakan bendungan agar air dapat segera naik.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Lalu iapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Biarlah mereka menunggu disebelah menyebelah sungai. Mereka akan bergembira melihat ujung air itu mengalir di musim kering. Air sungai yang hampir kering itu akan bertambah besar dan dengan bendungan, air itu akan naik kedalam parit.” Namun kemudian suara Kiai Kanthi menurun, “Mudah-mudahan air itu tidak justru menumbuhkan persoalan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Kiai. Tetapi sampai hari ini kita semuanya dapat melihat, bahwa kedua Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar itu dapat menyesuaikan diri masing-masing dengan damai dan tenang. Tetapi entahlah. Apakah anak-anak mereka akan dapat juga berbuat demikian.”

“Mereka mempunyai anak laki-laki yang menurut katamu, agak berbeda sifat dan pembawaannya,” berkata Kiai Kanthi.

“Ya. Tetapi mudah-mudahan mereka dapat melihat kepentingan orang-orang Lumban lebih dari kepentingan mereka masing-masing.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng berkata, “Tetapi itu bukan berarti kita harus tidak berbuat sesuatu bagi orang-orang Lumban dan bagi Kiai sendiri. Setelah gubug itu selesai, kita akan membuka hutan perdu dibawah bukit. Tidak begitu sulit. Kita akan membuat pematang, membajak dan kemudian mengairi tanah yang segera dapat Kiai tanami. Kami, orang-orang Lumban tentu akan dengan senang hati memberikan benih kepada Kiai, karena Kiai pun telah memberikan air kepada kami, orang-orang Lumban.”

“Siapakah yang memberikan air?” bertanya Kiai Kanthi.

“Kiai, Kiai Kanthi. Sebelumnya tidak ada satu usaha sama sekali untuk memanfaatkan air. Bahkan bukit ini dan bukit gundul sebelah disebut dengan Sepasang Bukit Mati.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi angger harus menentukan, kapan angger akan pergi kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Kulon itu. Kemudian kita akan menentukan hari yang akan membuka kemungkinan baru bagi tanah persawahan di Lumban. Setidak-tidaknya sebagian dari Lumban.”

“Nanti aku akan menghadap Ki Buyut, Kiai. Aku akan mohon kesempatan kepada keduanya untuk dapat hadir di pinggir sungai. Kita akan memecah batu-batu padas yang merupakan tanggul alam belumbang itu pada tempat yang sudah Kiai tandai. Air akan mengalir cukup deras, sementara bagian yang lain masih akan tetap mengalir menembus kebawah tanah untuk tempat yang jauh.”

“Terserahlah kepada angger. Aku akan menunggu, kapan hal itu akan kita lakukan.”

“Baiklah Kiai. Jika patok-patok itu sudah selesai, dan semua tanda sudah cukup, sebaiknya aku turun saja dan pergi kepada Ki Buyut,” berkata Jlitheng kemudian, lalu, “sementara itu biarlah, kawan-kawan menyelesaikan gubug itu. Malam nanti Kiai akan dapat menempatinya.”

“Kawan-kawan angger akan menjadi heran. Tiba-tiba saja kau menjadi seorang yang dengan berani hilir mudik seorang diri melalui hutan di bukit Mati ini.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mereka tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Kita berdua juga menjadi orang-orang berani. Bahkan Swasti tidak mereka persoalkan, karena menurut mereka Swasti pandai memanjat. Aku-pun pandai memanjat jika seekor harimau merundukku.”

Kiai Kanthi tersenyum. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah ngger. Agaknya semuanya sudah siap. Semakin cepat hal itu dilakukan akan menjadi semakin baik. Juga bagiku, karena aku akan segera berani membuka tanah garapan dibawah bukit ini setelah orang-orang Lumban Wetan dan Kulon menganggap, aku telah berbuat sesuatu bagi padukuhan mereka.”

Dalam pada itu, maka Jlitheng pun segera minta diri. Ketika ia lewat disebelah perapian Swasti, ia berhenti sejenak sambil bertanya, “Apa yang sudah masak Swasti?”

Swasti mengerutkan keningnya. Jawabnya acuh tak acuh, “Air.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Swasti memang tidak begitu ramah terhadapnya. Tetapi menurut dugaan Jlitheng dan penglihatannya selama ia bersama beberapa anak muda ikut serta membantu Kiai Kanthi membuat gubug, Swasti memang tidak terlalu ramah terhadap orang lain.

“Ia sangat sedikit bergaul dengan orang lain. Siang malam ia sibuk dengan ayahnya yang sudah tua, yang agaknya dengan bersungguh-sungguh ingin menurunkan ilmunya kepada anak gadisnya, yang barangkali karena justru tidak ada orang lain yang dapat diambil menjadi muridnya,” berkata Jlitheng didalam hatinya.

“Terima kasih Swasti,” berkata Jlitheng kemudian, “sebenarnya aku juga sudah haus. Air jambu keluthuk yang direbus dengan gula kelapa dan sepotong daun sere itu memang segar sekali. Tetapi biarlah nanti saja aku datang lagi untuk minum bersama-sama dengan kawan-kawan.”

Tetapi Swasti tidak berpaling. Ia masih sibuk dengan kerjanya. Merebus setandan pisang yang didapatkannya pada serumpun pisang liar yang tumbuh di lereng bukit itu. Swasti tidak sabar menunggu pisang itu masak. Apalagi, ia akan menjadi kehilangan, karena ia harus berebut dengan beberapa ekor kera. Karena itu, ia lebih senang mengambil pisang itu sebelum masak benar menyimpannya satu dua hari dan merebusnya.

Jlitheng pun kemudian berlari turun tebing menemui kawan-kawannya, sementara Kiai Kanthi telah singgah pula melihat-lihat Swasti yang sedang sibuk.

Kepada kawan-kawannya Jlitheng minta diri, untuk menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

“Sekarang?” bertanya seorang kawannya.

“Ya, sekarang,” jawab Jlitheng

“Sendiri?” yang lain bertanya.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Keheranan diantara kawannya memang ada. Namun Jlitheng menjawab, “Ya sendiri. Kenapa?”

“Jika kau bertemu dengan seekor harimau, apakah kau dapat melawannya seorang diri ?” bertanya yang lain pula.

“Aku pandai memanjat. Harimau tidak akan dapat memanjat. Apalagi di siang hari jarang sekali ada harimau yang berkeliaran.”

“Mungkin sekali kau bertemu dengan seekor harimau.”

“Jika tidak terpaksa karena kelaparan, harimau tidak akan berbuat apa-apa,” jawab Jlitheng.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Dibiarkannya saja Jlitheng kemudian menuruni tebing pergi menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon.

Kedatangan Jlitheng kepada Ki Buyut di kedua bagian dari padukuhan Lumban itu telah disambut dengan baik. Ternyata kedua orang itu dapat mengerti penjelasan Jlitheng tentang manfaat air yang akan mengalir untuk sementara langsung turun ke sungai dan kemudian harus diangkat lagi kedalam parit.

“Tetapi kaulah yang bertanggung jawab Jlitheng,” berkata Ki Buyut di Lumban Wetan, “jika penunggu bukit itu marah, kau harus dapat menjelaskan kepada mereka. Dengan demikian mereka tidak akan mengganggu orang-orang Lumban dengan pagebluk misalnya.”

“Aku sudah berbicara dengan mereka lantaran orang tua yang datang bersama anak gadisnya itu Ki Buyut. Nampaknya orang tua itu sudah mendapat persetujuan.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika memang tidak ada bahayanya, air itu akan sangat bermanfaat bagi kami.”

“Tentu Ki Buyut. Air itu sangat berguna bagi Lumban.”

Sementara Jlitheng menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon, maka masalah yang dikemukakan oleh Ki Buyut itupun hampir sama. Jika orang-orang halus yang menghuni Bukit Mati itu memperkenankan, maka Lumban tinggal menerima saja sebagai suatu anugerah.

“Anugerah dari Yang Maha Agung, Ki Buyut,” berkata Jlitheng.

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Dari Yang Maha Agung. Tetapi bagaimana dengan penghuni Bukit Mati itu?”

“Kuasanya tidak menyamai bahkan mendekati pun tidak dari Yang Maha Agung itu,” jawab Jlitheng.

Ki Buyut di Lumban Kulon itu termangu-mangu. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Demikianlah.”

Jlitheng pun kemudian minta diri setelah segala sesuatunya disetujui. Jlitheng telah berbicara tentang hari, tentang tempat dimana kedua Buyut itu akan berdiri berhadapan di seberang menyeberang sungai. Kemudian mereka akan menyaksikan air yang akan mengalir dibawah kaki mereka. Dan Jlitheng pun telah berbicara tentang cara mengangkat air sehingga air itu dapat mengalir ke bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

Setelah semua pembicaraan selesai dan ditemukan kesepakatan waktu, maka Jlitheng pun dengan tergesa-gesa kembali ke Bukit bermata air itu.

Tetapi langkahnya tertegun di ujung padukuhan Lumban Kulon ketika ia bertemu dengan Daruwerdi. Dengan sungguh-sungguh Daruwerdi bertanya kepadanya, “Apa keperluanmu menghadap Ki Buyut, Jlitheng?”

Jlitheng tidak menyembunyikan persoalan yang dibawanya. Ia mengatakan tentang air dan tentang kedua orang Buyut yang telah bersedia datang ke pinggir sungai.

“Kau gila,” geram Daruwerdi.

“Kenapa?” bertanya Jlitheng, “bukankah air itu akan bermanfaat.”

“Kau kira orang tua itu tidak mempunyai pamrih apapun juga? Aku justru mulai curiga bahwa pada suatu saat kedua orang itu akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan Lumban Kulon dan Lumban Wetan,” berkata Daruwerdi.

“Aku kira tidak Daruwerdi,” jawab Jlitheng, “tetapi bahwa ia memang mempunyai pamrih itu sudah dikatakannya. Ia mohon kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk dapat membuat sebuah daerah garapan dibawah bukit itu. Kemudian membuat rumah yang lebih baik dari rumah gubugnya yang sekarang. Dan akan lahirlah sebuah padepokan dibawah bukit itu.”

“Dan kalian akan diperbudaknya. Membuat padepokan tanpa mendapat keuntungan apapun juga,” desis Daruwerdi.

“Keuntungan itu telah kami dapatkan lebih dahulu. Air.”

“Tetapi air itu bukan milik orang tua itu. Tanpa orang tua itupun kita dapat memanfaatkan air di bukit yang lebat itu.”

“Tetapi sampai saat terakhir kita tidak berbuat apa-apa. Kedatangan orang tua itulah yang telah mendorong kami untuk melakukannya. Mengendalikan air yang melimpah itu. Kedua orang Buyut itupun dapat menerimanya meskipun mula-mula mereka agak cemas juga tentang orang-orang halus yang menunggui bukit itu.”

“Persetan dengan dua orang Buyut tua itu.” Daruwerdi menggeram pula. Namun kemudian, “Dan kau akan menompang pada keberhasilan orang tua itu menguasai air. Kau akan berdiri diatas semua orang, terutama anak-anak mudanya dengan menepuk dada. Seolah-olah kau ikut menentukan, mengendalikan air bagi bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

“Ah,” desah Jlitheng, “aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya perantara yang lari kian kemari dalam hubungan ini. Tetapi dengan itu pun aku sudah cukup bangga akan diriku.”

“Pantas sekali,” sahut Daruwerdi dalam nada datar, “kau memang tidak lebih dari budak kecil yang tidak mempunyai arti. Tetapi nikmatilah kebanggaanmu itu sepuas-puasnya. Anak-anak muda di Lumban Kulon dan Lumban Wetan pada saatnya akan dapat menilai, siapakah yang lebih penting bagi mereka. Kau atau aku.”

“Aku atau kau?” Jlitheng menjadi heran, “aku tidak mengerti. Apakah hubungan hal ini dengan aku dan kau?”

“Kau memang dungu. Sengaja atau tidak sengaja kau telah berbuat sesuatu yang bodoh. Tetapi karena kebodohanmu itulah aku dapat memaafkannya sehingga aku tidak menantangmu berkelahi.”

“Berkelahi? Mana mungkin,” desis Jlitheng dengan suara gemetar.

“Ya kau memang bodoh sekali. Pada saat seperti sekarang, dimana aku memerlukan pemusatan pikiran terhadap sesuatu kewajiban yang penting, kau telah menarik perhatian orang-orang Lumban dengan tingkahmu yang aneh-aneh itu. Kau telah menarik perhatian mereka dengan air.”

“Aku tidak sengaja berbuat sesuatu yang menyakiti hatimu.”

“Aku tidak sakit hati. Tetapi aku muak melihat tingkah lakumu. Jika kau seorang yang memiliki ilmu, maka aku tantang kau berperang tanding. Tetapi dengan kedunguanmu itu, hal itu tidak mungkin aku lakukan. Karena orang-orang akan mengatakan bahwa aku telah berbuat sewenang-wenang, karena dengan sangat mudah aku akan membunuhmu.”

“Tetapi, tetapi aku tidak berbuat apa-apa yang dapat mengganggumu,” suara Jlitheng menjadi semakin gemetar.

“Pergilah kelinci dungu. Tetapi jika kau masih tetap dungu, kau akan menyesal bahwa air sungai yang mengalir semakin deras karena menampung luapan air belumbang dari bukit itu akan menyeretmu hanyut sampai ke kedung yang dihuni oleh buaya yang buas.”

“Tetapi, tetapi aku tidak bersalah,” Jlitheng menjadi ketakutan.

“Pergi. Pergi. Tetapi hati-hati. Jangan menjadi sombong dan merasa dirimu orang yang paling berguna di Lumban Kulon dan Lumban Wetan karena tingkah orang tua itu.”

Jlitheng tidak menjawab lagi. Tetapi dengan tergesa-gesa iapun melangkah meninggalkan Daruwerdi yang berdiri bertolak pinggang.

Namun Daruwerdi tidak melihat, bahwa Jlitheng pun kemudian menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Jika perlu, kau pun harus dipaksa untuk mengerti tentang kebutuhan orang-orang Lumban.”

Namun Jlitheng tidak berpaling. Ia berjalan terus menuju ke bukit berhutan lebat itu. Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian ia berlari sekencang angin semilir di lembah yang akan segera menjadi basah.

Ketika Jlitheng sampai kepada kawan-kawannya diatas bukit, mereka sudah mengumpulkan alat-alat mereka. Kerja mereka telah selesai. Pintu telah terpasang, dan tutup keyong pun telah melekat di ujung sebelah menyebelah dengan ikatan-ikatan yang kuat.

“Sudah selesai,” desis Jlitheng sambi tersenyum.

Kiai Kanthi pun tersenyum pula. Katanya, “Nanti malam aku sudah dapat tidur di dalam gubugku yang hangat. Menyenangkan sekali ngger. Aku mengucapkan beribu terima kasih.”

Jlitheng dan kawan-kawannya pun merasa senang pula karena mereka telah berhasil menyelesaikan kerja mereka. Gubug itu benar-benar telah berujud, meskipun sederhana sekali dengan kayu yang mereka dapat disekitar tempat itu.

“Tetapi belum ada perabotnya sama sekali Kiai,” berkata Jlitheng kemudian.

“Mudah sekali ngger. Aku dapat membuatnya dengan kayu dan bambu-bambu liar di lereng.”

“Kami masih akan tetap membantu, Kiai,” jawab Jlitheng, “tetapi kita pun harus mempersiapkan saat-saat kita mengalirkan air ke sungai dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu pula.”

Jlitheng pun kemudian menceriterakan hasil pertemuannya dengan Ki Buyut di kedua bagian dari Lumban itu. Mereka telah bersetuju untuk datang ke pinggir sungai pada saat yang ditentukan, disebelah menyebelah untuk menyaksikan air yang akan mengalir di sungai itu.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ia pun tidak ingkar, bahwa hal itu akan dapat memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapat tempat di daerah Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

“Aku memang mempunyai pamrih, selain aku akan ikut berbahagia melihat sawah yang hijau di segala musim di daerah Lumban ini,” berkata Kiai Kanthi kemudian.

Sekali lagi Jlitheng dan kawan-kawannya membuat rencana apa yang akan mereka kerjakan. Pada hari yang sudah ditentukan mereka akan membawa alat-alat khusus untuk memecah batu-batu padas pada bibir belumbang. Linggis dan dandang, selain cangkul dan parang.

Setelah tidak ada lagi yang perlu diperbincangkan, maka Jlitheng dan kawan-kawannya pun segera minta diri. Besok mereka tidak akan datang lagi. Tetapi mereka akan datang pada saat yang ditentukan untuk membuka air belumbang itu.

“Aku mengucapkan beribu terima kasih ngger, bahwa dengan demikian kami akan dapat tinggal di sebuah gubug yang dapat melindungi kami dari dinginnya malam. Apalagi jika musim hujan datang, maka gubug ini akan sangat berguna bagi kami!”

“Kiai akan menempatinya untuk satu musim menjelang musim berikutnya. Mudah-mudahan tanah garapan dibawah bukit ini segera akan dapat dibuka. Bukankah dengan demikian, padepokan kecil yang barangkali Kiai inginkan itu dapat dimulai pembuatannya pula? Padepokan kecil yang akan berada dibawah bukit yang basah,” berkata Jlitheng, “tentu akan sangat menyenangkan.”

Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Sebuah mimpi yang indah. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan kalian.”

Jlitheng dan kawan-kawannya pun kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka sibuk membicarakan saat-saat untuk membuka tanggul belumbang itu, sehingga airnya akan melimpah mengalir lewat jalur yang sudah dipersiapkan masuk kedalam sungai.

“Ki Buyut dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan tentu akan senang sekali melihat sebagian dari sawah yang gersang dan kering di musim kemarau itu akan menjadi hijau di segala musim.”

Demikianlah, maka hari-hari yang ditentukan itu selalu membayang diangan-angan anak-anak muda yang merasa dirinya ikut mengambil bagian pada kerja yang akan sangat besar artinya bagi orang-orang Lumban itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng sendiri telah disibukkan dengan saat-saat yang menegangkan. Dengan waktu yang sangat sempit itu ia berusaha meningkatkan kemampuannya. Ia sudah bertekad untuk benar-benar memasuki sarang serigala yang garang. Sanggar Gading.

Dimalam hari, Jlitheng masih harus menampakkan diri barang sejenak di gardu bersama kawan-kawannya. Namun kemudian dengan berbagai alasan, ia minta diri. Ia mengatakan bahwa kesehatannya sangat buruk, sehingga ia harus tidur di rumah.

Namun dalam pada itu, malam-malam yang gelap itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Tetapi Jlitheng sama sekali tidak mendekati bukit gundul, karena ia tahu, Daruwerdi sering pergi ke bukit itu.

Dalam kelamnya malam, Jlitheng lebih senang pergi ke sungai yang hampir kering. Ditikungan sungai yang rimbun oleh pepohonan, dengan beberapa buah batu besar, ia menemukan tempat untuk berlatih.

Mula-mula Jlitheng hanya mengulang unsur-unsur gerak yang sudah dikuasainya. Ia bergerak dengan wajar untuk menghangatkan tubuhnya. Namun kemudian semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya Jlitheng mulai dengan tekanan-tekanan yang berat pada unsur-unsur gerak tertentu. Jlitheng berusaha untuk meningkatkan kecepatan tangan dan kakinya. Karena pada saat-saat terakhir ia memang jarang sekali mempergunakan kesempatan khusus untuk meningkatkan ilmunya.

Dengan sungguh-sungguh Jlitheng bukan saja melakukan gerakan-gerakan yang cepat dan kuat, tetapi ia menilai pula, apakah ada diantara unsur-unsur geraknya yang masih mungkin disempurnakan menurut kemampuannya.

Pada tingkat terakhir Jlitheng bergerak bagaikan burung sikatan. Meloncat-loncat dari batu ke batu dengan gerak yang mantap. Kadang-kadang Jlitheng melenting tinggi namun kadang-kadang bagaikan bergeser saja tanpa menggerakkan kakinya. Tetapi geseran itu telah mendorongnya melangkah batas antara batu yang satu dengan batu yang lain.

Tetapi latihan-latihan itu tidak memberikan kepuasan kepada Jlitheng. Ia hanya dapat mengungkapkan unsur-unsur gerak dasar yang sudah dikuasainya. Namun dalam keadaan yang sebenarnya, ia harus menyesuaikan diri dengan gerak lawan dan kepentingan saat didalam arena yang sebenarnya.

Meskipun demikian, latihan-latihan itu akan dapat memberikan kemungkinan yang lebih baik bagi kecepatannya bergerak dan kekuatan tenaganya.

Dengan mengingat pesan yang diberikan oleh Sri Panular, maka Jlitheng pun telah bekerja dengan sungguh-sungguh.

Namun dalam pada itu, selagi ia tenggelam dalam latihan-latihan kecepatan geraknya, tiba-tiba saja terasa sesuatu telah menyentuh tubuhnya. Tidak hanya satu kali, tetapi dua tiga kali. Sehingga akhirnya Jlitheng justru telah menghentikan latihannya. Sambil berdiri tegak diatas sebuah batu yang besar, ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya ia mencoba mendengar atau melihat setiap lembar daun. Namun keburaman malam masih tetap membatasi pandangan matanya yang tajam.

Bersambung ke jilid 6

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com
oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s