MAdBB-03


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 3

kembali | lanjut

cover madbb-03KARENA itu, maka Ki Buyut pun kemudaan keluar dari ruang dalam bersama Kumbara menemui anak-anak muda yang sudah menunggunya dipendapa.

Meskipun demikian Ki Buyut itu pun berkata, “Aku menjadi berdebar-debar karena kunjungan kalian. Kalian jarang sekali datang kemari. Tiba-tiba saja kalian datang bersama-sama beberapa orang.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun kemudian mereka seperti berjanji memandang Jlitheng yang termangu-mangu.”

“Ayo, siapakah yang akan menjadi pembicara dari kalian” Ki Buyut mendesak sambil tersenyum.

Jlitheng lah yang kemudian beringsut setapak. Dipandanginya Ki Buyut yang tua itu sejenak. Kemudian katanya, “Ki Buyut. Mungkin kami telah mengejutkan Ki Buyut. Biasanya kami tidak pernah datang bersama-sama, atau bahkan jarang sekali datang menghadap Ki Buyut.”

“Ya, ya. Katakan, apa keperluanmu. Aku tahu, bahwa kalian tentu mempunyai kepentingan sehingga kalian memerlukan datang kepadaku.”

“Ya Ki Buyut,” Jlitheng beringsut lagi, “sebenarnyalah bahwa aku telah menemukan dua orang perantau di lereng bukit itu.”

“Menemukan?” bertanya Ki Buyut.

“Ya Ki Buyut. Maksudku, saat aku mencari kayu, aku telah bertemu dengan dua orang perantau yang barangkali dalam keadaan sulit di lereng bukit yang berhutan itu.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Katakan tentang mereka berdua.”

Jlitheng pun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan Swasti seperti yang dikatakannya kepada anak-anak muda yang mengikutinya. Seperti kepada anak-anak muda itu ia pun telah berhasil menumbuhkan perasaan iba pada Ki Buyut Lumban Wetan.

Sambil mengangguk-angguk Ki Buyut berkata, “Sudah sewajarnya kita menaruh belas kasihan kepada sesama. He. kenapa mereka tidak mau menuju kepadukuhan? Kenapa mereka berdua justru memilih untuk berada di hutan di lereng bukit itu?”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia menjawab, “Itulah anehnya Ki Buyut. Ketika aku tanyakan kepada mereka, orang tua itu mengatakan bahwa mereka tidak mau menyusahkan kita disini. Dan menilik kata-katanya, mereka pun sebenarnya takut dicurigai.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Jlitheng. Jika mereka memang berkeras ingin tinggal di lereng bukit itu, sudah barang tentu, aku tidak berkeberatan. Jika kau ingin membantu, itu adalah perbuatan yang baik. Mungkin kau dapat meminjami alat-alat untuk keperluannya, atau bahkan kau dan beberapa kawan-kawanmu dapat membantu membuat sebuah gubug kecil. Tetapi sebaiknya kau memperingatkan, bahwa di hutan itu terdapat beberapa ekor harimau yang mungkin dapat membahayakan mereka.”

“Aku sudah mencoba memperingatkan mereka Ki Buyut. Tetapi nampaknya keduanya pandai memanjat, sehingga mereka menganggap bahwa harimau itu akan dapat dihindarinya. Selebihnya mereka menganggap bahwa harimau tidak akan menerkam seseorang jika tidak terpaksa sekali.”

Ki Buyut mengangguk-angguk ketika ia mendengar Jlitheng mengulangi ceriteranya tentang seekor harimau yang terasing dari lingkungannya seperti yang dikatakannya kepada kawan-kawannya.

Ki Buyut pun mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Adalah menjadi kewajibanmu Jlitheng, untuk membantunya sebagaimana seharusnya dilakukan bagi sesama.”

“Kami sudah siap Ki Buyut,” berkata Jlitheng, “jika Ki Buyut sudah mengijinkan, maka kami tidak akan ragu-ragu lagi.”

“Aku ikut bersamamu Jlitheng,” tiba-tiba saja Kumbara memotong pembicaraan itu.

Jlitheng mengerutkan keningnya, seolah-olah ia tidak percaya pada pendengarannya. Namun Kumbara mengulangi, “Aku akan ikut serta membantu orang tua itu. Mungkin ia memerlukan alat-alat, mungkin keperluan yang lain. Tetapi mungkin juga pangan.”

Selagi Jlitheng termangu-mangu, terdengar Ki Buyut berkata, “Biarlah ia ikut serta Jlitheng. Apa anehnya? Nampaknya kau menjadi heran. Bukankah kau kenal Kumbara sehari-hari seperti kau mengenal kawan-kawanmu yang lain?”

“Ya, ya. Ki Buyut. Tetapi kedua orang itu hanyalah dua orang perantau. Biar kami sajalah yang membantunya. Kumbara tidak perlu ikut serta bersama kami. Ia mempunyai pekerjaan yang barangkali jauh lebih penting dari dua orang perantau itu.”

“Apakah yang harus aku kerjakan? Bukankah pekerjaanku tidak banyak berbeda dengan pekerjaanmu? Menggarap sawah, memelihara ternak dan sekali-kali duduk di gardu perondan?” sahut Kumbara.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, baiklah. Tentu kedua orang itu akan sangat berterima kasih. Apalagi bahwa putera Ki Buyut sendiri telah bersedia membantunya mempersiapkan sebuah gubug kecil.”

Ki Buyut pun mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi Jlitheng. Aku masih menyarankan, agar kau menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon. Kakang Buyut di Lumban Kulon pun perlu mengerti. Bukankah kau tahu, bahwa bukit itu terletak di ujung padukuhan kami, sehingga bukit itu tidak terletak di daerah Lumban Wetan, tetapi juga tidak di daerah Lumban Kulon seluruhnya. Kami tidak pernah membicarakan, siapakah yang berhak mengurusi bukit berhutan yang tidak menghasilkan apa-apa itu, seperti kami juga tidak pernah berbicara tentang bukit gundul yang gersang tanpa dapat memberikan apa-apa kepada padukuhan kami.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya Ki Buyut. Aku pun sudah memikirkan kemungkinan itu. Aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk mengatakan maksud kami membantu orang tua dan anak gadisnya itu.”

“Aku kira kakang Buyut di Lumban Kulon juga tidak akan berkeberatan. Orang tua dan anak gadisnya itu sama sekali tidak akan mengganggu padukuhan Lumban Wetan maupun Lumban Kulon seperti yang diharapkannya sendiri.”

“Ya Ki Buyut. Orang tua itu memang tidak ingin mempersulit keadaan kita yang tidak terlalu baik ini,” jawab Jlitheng.

“Bagiku, itu sudah, merupakan pertanda, bahwa orang tua itu tidak bermaksud buruk,” berkata Ki Buyut, “ia bukan sejenis orang yang mementingkan diri sendiri. Tetapi ia dalam keadaan yang pahit, masih juga memikirkan orang lain.”

“Baiklah Ki Buyut. Kami mohon diri. Kami akan menghadap Ki Buyut Lumban Kulon. Mungkin besok kami akan mulai dengan kerja kami, membantu orang tua itu.”

“Dimana ia tidur malam ini ?”

“Mereka telah memilih tempat didalam hutan itu. Mereka makan dari buah-buahan yang mereka dapatkan, buruan kecil dan dedaunan.”

“Berbuatlah sesuatu segera bagi mereka Jlitheng. Kau yang sudah mulai dengan niat yang baik, teruskanlah.”

Jlitheng kemudian minta diri. Ia masih akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk minta ijin seperti yang dilakukannya pada Ki Buyut di Lumban Wetan.

Ketika Jlitheng dan kawan-kawannya memasuki batas Lumban Kulon, maka beberapa orang anak-anak muda pun telah mengerumuninya dan bertanya, apakah keperluannya.

Seperti yang sudah dilakukannya, maka iapun mengulangi lagi ceriteranya tentang kedua orang yang ditemuinya di lereng bukit.

“Kasihan,” desis salah seorang dari mereka, “nampaknya Ki buyut baru saja pulang dari sawahnya. Aku kira ia ada di rumahnya.”

“Terima kasih,” sahut Jlitheng.

“Ia sedang sibuk memikirkan anak laki-lakinya,” desis yang lain.

“Kenapa dengan Nugata?” bertanya Jlitheng.

“Ia sedang merajuk. Nugata ingin seekor kuda yang bagus, tegar dan besar. Tidak seperti kuda yang dimilikinya sekarang, yang menurut pendapatnya, kecil, kurus dan sakit-sakitan.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Seekor kuda yang tegar, besar dan baik, harganya tidak sedikit.”

“Itulah sebabnya Ki Buyut agak prihatin juga. Tetapi nampaknya ia berusaha untuk memenuhinya.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, apakah kedatangan kami mungkin akan dapat mengganggu perasaannya yang memang sedang buram itu?”

Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon itu menjawab hampir bersamaan, “Aku kira tidak.”

Jlitheng mengangguk-angguk, sementara seorang anak muda Lumban Kulon berkata selanjutnya, “Cobalah. Jika kau memang menganggap penting tentang dua orang perantau yang memerlukan bantuan itu, datanglah. Jika Ki Buyut sedang sibuk atau sedang bingung, ia akan dapat minta kalian untuk datang lain kali.”

Meskipun agak ragu-ragu namun Jlitheng pun melanjutkan langkahnya menuju ke rumah Ki Buyut di Lumban Kulon saudara kembar Ki Buyut di Lumban Wetan, tetapi yang dianggap saudara tua justru karena ia lahir kemudian. Menurut kepercayaan orang-orang Lumban saudara kembar yang tua akan lahir mengiringi saudaranya yang muda.

Satu dua orang anak muda Lumban Kulon yang tertarik pada masalah itupun mengikutinya pula, sehingga iring-iringan anak-anak muda itu menjadi semakin panjang.

Tetapi ada pula diantara mereka yang tidak mengacuhkannya. Bahkan seorang anak muda yang berkulit kuning bergumam diantara kawan-kawannya, “Jlitheng anak baik. Tetapi ia memang senang mencari pekerjaan.”

“Ia ingin menolong kedua orang yang dikatakannya perantau itu,” desis yang lain.

Tetapi seorang anak muda yang gemuk pendek berkata, “He, kau tahu, kenapa Jlitheng bersusah payah tentang kedua orang itu?”

“Ah kau. Kau tentu berprasangka aneh. Justru kau sendirilah yang selalu mengejar gadis-gadis,” sahut kawannya yang berkulit kuning, “bukankah kau akan mengatakan bahwa salah seorang dari kedua perantau itu seorang gadis?”

Anak muda yang gemuk itu tertawa. Namun seorang kawannya lagi berkata, “Meskipun ia seorang gadis, tetapi dapat dibayangkan. Seorang gadis kurus, sakit-sakitan, kumal dan barangkali suka merengek-rengek.”

“Jangan menghina,” potong kawannya.

Namun anak-anak muda yang lain sempat pula tersenyum. Dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu masih berkelompok di mulut lorong, mereka mendengar derap seekor kuda. Dengan tergesa-gesa mereka menepi meskipun mereka belum melihat kuda itu mendekat.

“Siapa?” seseorang berteka-teki. “Daruwerdi atau Nugata.”

Yang lain tidak sempat menjawab, karena dari tikungan nampak seorang anak muda duduk di punggung kudanya.

Kuda itu mengurangi kecepatannya. Bahkan kemudian berhenti di mulut lorong.

“Apakah yang kalian tunggu disini?” bertanya anak muda di punggung kuda itu.

“Kami akan pergi ke sawah.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi kalian masih saja berkumpul disini.”

“Ya. Baru saja kami bertemu dengan Jlitheng,” sahut yang lain.

“Jlitheng anak Lumban Wetan ?”

“Ya.”

“Apa keperluannya?”

Salah seorang anak muda itupun kemudian menceriterakan tentang dua orang perantau seperti yang dikatakan Jlitheng.

Anak muda di punggung kuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Seperti kita masing-masing tidak mempunyai pekerjaan. Biarlah perantau itu mengurus dirinya sendiri.”

Anak-anak muda di mulut lorong itu tidak menyahut. Mereka memandangi saja ketika kuda itu berderap dan hilang kedalam padukuhan.

Anak-anak muda yang tinggal di mulut lorong itu memandang debu yang masih mengepul. Salah seorang berdesis, “Kuda itulah yang dikatakan kecil, kurus, sakit-sakitan.”

“Seperti gadis perantau itu.”

Yang lain tidak dapat menahan tertawa mereka. Namun suara tertawa itupun bagaikan hanyut oleh angin ketika anak muda berkulit kuning itu berkata, “Apa urusan kita dengan kuda Nugata. Marilah, kita pergi ke sawah. Sore nanti kita pergi ke bukit gundul. Daruwerdi tentu sudah menunggu, Kita akan berlatih olah kanuragan.”

Anak-anak muda itupun kemudian bersama-sama menyusuri pematang dan berpisah menuju ke sawah masing-masing.

Tetapi sawah di Lumban Kulon dan Lumban Wetan memang tidak begitu baik. Tanahnya mulai kering di musim kemarau. Palawija pun tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahkan di musim kering yang panjang sawah mereka benar-benar menjadi padang yang gersang sejauh mata memandang.

Dalam pada itu Jlitheng telah berada di rumah Ki Buyut di Lumban Kulon. Ki Buyut yang tua, tetapi yang lahir kemudian dari sepasang anak kembar itu, nampaknya memang lebih tua. Apalagi ia nampak selalu bersungguh-sungguh, meskipun sebenarnya hatinya cukup lapang.

Kedatangan Jlitheng pun mengejutkan pula. Namun Ki Buyut di Lumban Kulon itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia sudah mendengar maksud Jlitheng untuk menghadap.

“Kalian membuat aku berdebar-debar,” berkata Ki Buyut di Lumban Kulon. “Belum lama aku mendengar peristiwa yang terjadi di lereng bukit itu. Aku kira berita yang kau bawa adalah berita yang berhubungan dengan kematian dua orang yang dibunuh oleh Daruwerdi. Apalagi aku mendengar bahwa kau pun pernah dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Teringat sekilas, dua orang yang terpaksa dibunuhnya pula, dan yang dengan diam-diam telah dikuburnya sama sekali. Tidak seorang pun yang mengetahuinya, sehingga yang tersebar hanyalah peristiwa yang terjadi atas Daruwerdi.

“Ki Buyut,” berkata Jlitheng kemudian, “peristiwa itu memang telah membuatku hampir pingsan. Tetapi agaknya jika terjadi peristiwa berikutnya yang berhubungan dengan peristiwa itu, tentu akan lebih banyak menyangkut Daruwerdi.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Karena itu, latihan-latihan yang akan diadakan oleh anak-anak itu mungkin akan dapat berakibat buruk.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa berakibat buruk Ki Buyut ?”

“Orang-orang yang memusuhi Daruwerdi itu menganggap bahwa kita semuanya telah melibatkan diri,” jawab Ki Buyut.

Jalan pikiran orang tua itu memang dapat dimengerti. Namun Jlitheng mencoba untuk menjelaskan, “Tetapi Ki Buyut. Jika jumlah kami cukup banyak, maka aku kira, orang-orang jahat itu tentu akan segan pula untuk berbuat sesuatu. Meskipun kami belum mumpuni, namun dengan jumlah yang berlipat ganda, mereka tentu akan memperhitungkan pula.”

Ki Buyut menarik nafas panjang. Masih saja ia bergumam seolah-olah kepada diri sendiri, “Selama ini tidak pernah terjadi malapetaka di padukuhan ini. Tetapi kedatangan orang-orang baru itu membuat aku menjadi cemas.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Buyut di Lumban Kulon merasa bahwa keadaan terakhir di padukuhannya telah memburuk. Kehadiran orang-orang yang dianggapnya asing memang telah membawa persoalan tersendiri. Termasuk kedatangan Daruwerdi.

“Apakah Ki Buyut juga mencurigai kehadiran Kiai Kanthi dan Swasti?” pertanyaan itu mulai merayapi hatinya.

Namun ternyata Ki Buyut kemudian berkata, “Jlitheng. Aku tidak berkeberatan dengan maksudmu dan kawan-kawanmu untuk membantu kedua orang yang kau sebut perantau itu, jika Buyut Lumban Wetan juga tidak berkeberatan. Tetapi aku berharap bahwa kehadirannya di daerah ini tidak akan menambah persoalan-persoalan baru yang dapat menyulitkan keadaan kita disini.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Buyut. Kami akan melihat dengan saksama, apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh kedua orang itu. Yang seorang sudah terhitung orang tua, sedang yang satu adalah anaknya, seorang gadis. Aku kira mereka tidak akan menimbulkan persoalan apapun juga di daerah Lumban ini.”

“Syukurlah. Mudah-mudahan untuk seterusnya kita akan dapat hidup tenang dan damai. Hidup seperti yang pernah kita alami dari tahun ke tahun, dari masa ke masa. Disaat pergolakan terjadi dipusat pemerintahan, padukuhan ini tetap tenang. Kami berdua yang kebetulan dilahirkan kembar dan menjadi tetua di Lumban Kulon dan Lumban Wetan berusaha sekeras-kerasnya untuk mempertahankan tata cara dan kehidupan yang berlaku di daerah kecil ini. Setiap perubahan akan dapat menimbulkan goncangan-goncangan dan bahkan mungkin kekisruhan.”

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Yang dikatakan itu adalah sikap Ki Buyut di Lumban Kulon. Namun Jlitheng tidak berputus asa bahwa untuk selanjutnya tidak akan dapat ditembus dengan kenyataan dan harapan-harapan bagi masa datang. Namun sayang sekali, bahwa permulaan itu bersamaan saatnya dengan goncangan ketenangan oleh orang-orang Kendali Putih yang telah berusaha menipu Daruwerdi.

Namun demikian, ijin yang diberikan oleh Ki Buyut itu telah membuat Jlitheng berbesar hati. Ia memang harus berhati-hati untuk mengayunkan langkah berikutnya. Perubahan-perubahan yang terjadi memang harus dijaga sebaik-baiknya, agar tidak menimbulkan kekisruhan yang mengganggu, apalagi menimbulkan pertentangan-pertentangan didalam padukuhan yang tenang itu.

Dalam pada itu, ketika Jlitheng mohon diri kepada Ki Buyut, maka terdengar derap kuda memasuki halaman. Nugata yang masih berada di punggung kudanya, mengerutkan keningnya melihat Jlitheng bersama beberapa orang anak muda duduk di pendapa bersama ayahnya.

Tetapi ternyata bahwa ia tidak tertarik sama sekali dengan persoalan yang dibawa oleh Jlitheng seperti yang sudah didengarnya di ujung lorong. Sehingga karena itu, maka setelah kudanya diserahkan kepada seorang pembantunya, ia langsung masuk lewat longkangan tanpa berpaling lagi.

Jlitheng dan kawan-kawannya yang berada di pendapa itu hanya memandanginya saja. Mereka menyangka bahwa Nugata memang belum mengetahui persoalannya. Namun mereka-pun mengerti, bahwa Nugata lebih suka mempersoalkan masalahnya sendiri daripada masalah orang lain.

Karena itu Jlitheng pun kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut di Lumban Kulon itu. Ia ingin segera berbuat sesuatu, sehingga waktunya tidak banyak terbuang. Mulai terbayang di angan-angannya, sebuah gubug kecil dengan secuwil tanah buat halaman dan kebunnya. Kemudian orang tua itu tentu memerlukan sebidang tanah yang lebih luas bagi sawah dan ladangnya.

Namun yang penting bagi Jlitheng adalah bahwa orang tua dan anak gadisnya itu kemudian akan berjuang menguasai air yang melimpah di lereng bukit itu untuk mengarahkannya ke sawah dan ladangnya yang akan dibuka.

Air itu tentu akan dapat dimanfaatkan pula bagi padukuhan Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Parit yang hanya menampung dan mengalir di musim hujan itu tentu akan menjadi basah pula di musim kering.
Sementara itu beberapa orang anak muda mengikut Jlitheng sampai ke sebuah gardu parondan yang berada didekat padukuhan kecil yang terletak di batas daerah Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Namun padukuhan itu sendiri masih termasuk daerah Lumban Wetan.

Satu dua anak muda Lumban Kulon masih tetap bersama mereka. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Jlitheng kapan kau akan mulai dengan kerjamu itu?” anak muda itu berhenti sejenak, namun kemudian ia mulai berkelakar, “bukankah anak perantau itu seorang gadis yang manis?”

“He, darimana kau tahu ?” Jlitheng pura-pura bertanya.

Kawan-kawannya tertawa. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang dapat membayangkan wajah gadis itu dengan tepat. Seperti anak-anak muda Lumban Kulon yang tidak ikut bersama mereka, maka bayangan tentang gadis perantau itu adalah sangat buram.

Dalam pada itu Jlitheng pun kemudian berkata, “Besok aku akan mulai. Tetapi tentu hanya sekedar di waktu-waktu senggang dan jika badan tidak terasa penat. Namun demikian, aku tidak sampai hati melihat kedua orang itu terlalu lama berada di hutan itu. Jika udara dingin malam hari mulai menyelimuti pepohonan, maka mereka pun menjadi basah oleh embun.”

“Apakah laki-laki itu sudah teramat tua?” bertanya seseorang.

“Belum tua sekali. Tetapi tenaganya tentu sudah jauh susut,” jawab Jlitheng.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Biarlah aku ikut membantumu disaat-saat senggang pula.”

Jlitheng tersenyum kecut. Ia masih sempat pula berkelakar. “Tetapi jangan karena gadis yang manis itu.”

Suara tertawa terdengar diantara mereka. Tetapi salah seorang dari mereka segera berkata, “Aku akan ke sawah. Pagi ini kerjaku hanya berjalan hilir mudik saja. Bukankah hari ini kita belum akan mulai dengan gubug itu?”

Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tentu belum.”

“Nah, jika kau akan mulai kapan saja, dan jika kau memerlukan aku, panggillah aku. Aku sudah mengatakan bahwa aku bersedia membantu.”

“Terima kasih,” jawab Jlitheng.

“Sekarang, bukankah kita masing-masing mempunyai pekerjaan?” desis anak muda itu.

“Silahkan,” sahut Jlitheng, “aku pun akan pergi ke sawah juga.”

Anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan Jlitheng ke pekerjaan masing-masing. Namun mereka telah menyatakan diri, bersedia membantu rencana Jlitheng, pada saat Jlitheng akan mulai dan di waktu-waktu mereka yang terluang.

Yang tinggal di gardu itu kemudian tinggal Jlitheng sendiri. Anak-anak Lumban Kulon pun telah pergi pula ke sawah mereka masing-masing.

Pada saat Jlitheng sudah mulai melangkah untuk pergi ke sawahnya pula, tiba-tiba saja ia mendengar seseorang memanggilnya. Dengan serta merta ia pun berpaling. Dilihatnya Daruwerdi berjalan tergesa-gesa mendekatinya.

Jlitheng bergeser kembali dan duduk di bibir gardu. Sambil tersenyum ia bertanya, “Kau nampak tergesa-gesa? Apakah ada sesuatu?”

“Aku memang mencarimu,” jawab Daruwerdi.

“Mencari aku?” Jlitheng mengerutkan keningnya, “apakah kau mempunyai kepentingan?”

Daruwerdi pun kemudian duduk pula disamping Jlitheng. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia mulai bertanya, “Apakah benar kau bertemu dengan dua orang perantau di lereng bukit itu ?”

“Ya, kenapa?” Jlitheng mengerutkan keningnya.

“Seorang laki-laki tua dan seorang gadis?”

“Ya.”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Seperti kepada diri sendiri ia berdesis, “Jadi keduanya masih di bukit itu.”

Kau pernah melihat mereka?” Jlitheng pura-pura bertanya.

“Ya. Aku pernah menolong mereka ketika mereka hampir diterkam oleh seekor harimau. Tetapi aneh sekali bahwa keduanya justru berada di hutan yang hampir menelan mereka itu,” desis Daruwerdi.

“Apa yang telah terjadi?” Jlitheng masih berpura-pura.

Daruwerdi pun kemudian berceritera tentang seekor harimau yang garang. Untunglah ia melihatnya dan sempat menolongnya.

“Aku kira keduanya telah pergi,” gumam Daruwerdi.

“Aku bertemu dengan mereka ketika aku sedang mencari kayu.”

“Kau juga gila. Kenapa kau mencari kayu di hutan yang dapat membahayakan dirimu? Di hutan itu ada beberapa ekor harimau. Dan kedua orang perantau itu nampaknya juga gila seperti kau.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sudah sering sekali mencari kayu di hutan itu. Bukankah kau tahu juga kebiasaanku itu? Baru sekali aku bertemu dengan seekor harimau yang nampaknya akan berbuat jahat. Tetapi aku dapat memanjat. Dan ternyata harimau itu tidak menunggui aku terlalu lama.”

“Apakah nilai kayu bakar yang kau dapat di hutan itu lebih besar dari nyawamu?” bertanya Daruwerdi.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru bertanya, “Apakah aku akan menukarkan nyawaku dengan kayu bakar?”

Daruwerdi meloncat turun dari bibir gardu sambil bergumam, “Kau memang anak yang dungu. Sudah tentu bukan begitu maksudku. Tetapi aku hanya memberimu peringatan, bahwa kau dapat saja diterkam harimau.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan tidak Daruwerdi. Kau membuat aku menjadi cemas. Selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tetapi tiba-tiba saja aku menjadi cemas.”

“Nah, katakan pula kepada kedua orang perantau itu. Suruhlah mereka pergi saja dari lereng bukit. Tetapi kalau mereka memaksa untuk tinggal, suruhlah ia mendekati padukuhan ini agar mereka tidak akan menyesal.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan mencoba memperingatkan mereka, agar mereka tinggal dibawah bukit saja.”

Daruwerdi pun kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Terserah kepadamu.” lalu, “Sore nanti aku akan datang ke bukit gundul itu. Bukankah anak-anak minta aku memberikan sedikit petunjuk tentang olah kanuragan?”

“Ya. Aku juga akan datang. Tetapi apakah aku mungkin akan dapat berkelahi seperti kau?”

Daruwerdi yang sudah melangkah menjauh berhenti sejenak. Sambil berpaling ia berkata, “Kau memang anak yang paling dungu di seluruh Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sampai mati pun kau tidak akan dapat menyadap ilmu sejauh itu. Bahkan seandainya kau mempunyai seorang guru yang mumpuni sekalipun.”

Jlitheng tidak menjawab. Dipandanginya saja Daruwerdi yang berjalan menjauh. Namun tiba-tiba saja Jlitheng berlari-lari menyusulnya sambil berkata, “He, Daruwerdi. Apakah benar Nugata minta kepada ayahnya untuk dibelikan seekor kuda yang besar dan tegar?”

Daruwerdi berhenti. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Siapa yang mengatakannya?”

“Anak-anak Lumban Kulon.”

“Itu adalah pertanda bahwa mereka tidak mempunyai pekerjaan lain daripada membicarakan kawan-kawan mereka sendiri. Itu bukan urusanku. Dan aku tidak akan mengurusnya pula meskipun ia akan membeli sepuluh atau duapuluh ekor lagi.”

Jlitheng berdiri termangu-mangu. Sementara itu Daruwerdi pun melangkah pula menjauh dan hilang ditikungan.

Sepeninggal Daruwerdi Jlitheng menggeliat seperti orang yang baru bangun dari tidur yang nyenyak semalam suntuk.

Bibirnya nampak tersenyum, namun tidak sepatah katapun yang diucapkannya meskipun bagi dirinya sendiri.

Sejenak kemudian ia pun dengan tergesa-gesa pula meninggalkan tempat itu. Di sepanjang jalan seolah-olah membayang sekilas di kepalanya beberapa orang anak muda yang menarik perhatiannya di padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Anak-anak muda yang dengan serta merta bersedia membantunya. Kemudian wajah yang cerah dan terbuka dari anak Ki Buyut di Lumban Wetan yang bernama Kumbara. Disusul kemudian wajah yang acuh tak acuh dari putera Ki Buyut di Lumban Kulon. Yang terakhir adalah wajah Daruwerdi yang tampan dan bersungguh-sungguh.

Jlitheng melangkah semakin cepat. Sambil tersenyum ia berkata kepada diri sendiri, “Lalu bagaimana dengan wajahku sendiri?”

Seperti kawan-kawannya Jlitheng pun kemudian menengok sawahnya. Tetapi tidak banyak yang dapat dikerjakan. Sawahnya adalah sawah yang kurang baik seperti pada umumnya sawah di Lumban Wetan dan Lumban Kulon, yang menggantungkan air pada hujan yang jatuh di musim basah.

Di siang hari, ketika kawan-kawannya pulang ke rumah masing-masing, maka Jlitheng pun justru pergi ke sungai. Kepada seorang kawannya ia berpesan agar disampaikannya kepada biyungnya, bahwa ia akan mencuci pakaiannya.”

Tetapi setelah sawah menjadi sepi di panasnya terik matahari, Jlitheng pun telah pergi menyusuri sungai yang hampir tidak mengalir lagi dan apalagi dibatasi oleh tebing yang tinggi, mendekati bukit yang berhutan dan menyimpan mata air yang deras.

Tidak ada harapan untuk dapat memanfaatkan sungai kecil yang dibatasi oleh tebing itu di musim kemarau. Namun tiba-tiba Jlitheng berhenti sejenak. Dipandanginya tebing sungai itu serta batu-batu yang berserakan. Katanya didalam hati, “Untuk sementara air yang melimpah itu dapat disalurkan lewat sungai kecil ini. Yang perlu dilakukan kemudian adalah menyekat sungai ini dengan beberapa bendungan untuk menaikkan airnya ke sawah.”

Tetapi Jlitheng tidak yakin bahwa itu adalah cara yang terbaik. Mungkin Kiai Kanthi mempunyai cara tersendiri.

Dengan berlari-lari kecil, Jlitheng memanjat tebing diantara pepohonan hutan. Setelah meloncati batu-batu padas yang terjal dan memanjat lereng yang bagaikan dinding, akhirnya ia sampai ke dataran di tepi kolam yang berair melimpah.

“O, marilah ngger,” Kiai Kanthi mempersilahkan.

Jlitheng mengangguk hormat. Sekilas ia memandang ke sekelilingnya. Dilihatnya Swasti sedang duduk membersihkan buah gayam yang sudah tua dengan belanga yang dibawanya.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Meskipun Swasti tidak mengacuhkannya seperti biasa, tetapi seolah-olah ia baru dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas saat itu.

Tetapi ia tidak berani terlalu lama memandanginya, karena ia pun kemudian dipersilahkan oleh Kiai Kanthi duduk diatas sebuah batu yang nampaknya telah disediakan.

“Silahkan. Aku memang telah menyediakan beberapa tempat duduk yang khusus,” berkata Kiai Kanthi sambil tersenyum.

“Kiai,” berkata Jlitheng setelah mereka duduk berhadapan, “aku telah menghadap Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Keduanya menyatakan tidak berkeberatan untuk mengijinkan Kiai membuat sebuah gubuk kecil di lereng bukit. Namun persoalannya, setiap orang mencemaskan nasib Kiai berdua, jika seekor harimau datang menerkam Kiai atau Swasti.”

“Aku memang menunggu seekor harimau yang akan menerkam aku,” tiba-tiba saja Swasti menggeram.

Jlitheng memandang Swasti sejenak. Tetapi Swasti tetap duduk sambil membersihkan buah gayam yang akan direbusnya, tanpa mengangkat wajahnya.

Kiai Kanthi tersenyum melihat sikap anak gadisnya. Namun kemudian katanya, “Kau salah mengerti Swasti. Tentu saja maksud angger yang memilih mempergunakan gelar Jlitheng ini bukan benar-benar mencemaskan nasib kita berdua jika ada seekor harimau yang tersesat kemari. Tetapi bukankah kita tidak akan menepuk dada dihadapan orang-orang Lumban sambil mengatakan bahwa kami tidak takut menghadapi harimau, bahkan sepasang sekalipun? Jika ada kesan demikian, maka orang-orang Lumban tentu akan mencurigai kita, sehingga maksud kita untuk menemukan tempat baru yang tenang dan wajar, seperti kehidupan orang banyak dalam hubungan bertetangga tentu akan menjadi baur lagi. Orang-orang Lumban akan menganggap kita orang lain, atau orang yang tidak sewajarnya berada dalam pergaulan diantara mereka.”

Swasti masih tetap pada sikapnya. Ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya dan apalagi berpaling.

“Karena itu ngger,” berkata Kiai Kanthi, “peringatan itu tentu seharusnya kita perhatikan. Kita harus melakukan sesuatu yang dapat mereka mengerti tanpa menimbulkan masalah baru.”

“Kiai,” berkata Jlitheng, “Daruwerdi menyarankan, agar Kiai tinggal dekat dengan padukuhan, sehingga tidak akan mendapat gangguan binatang buas di hutan ini. Tetapi aku berpikir, jika demikian, maka usaha Kiai tentu akan sedikit terganggu oleh jarak.”

“Kau benar ngger. Usahaku mengalirkan sekaligus menguasai air itu akan menjadi semakin berat, karena aku tidak dapat menungguinya setiap saat.”

“Karena itu Kiai. Untuk memenuhi keduanya, aku berpendapat, bahwa sebaiknya Kiai membuat sebuah padepokan kecil dibawah bukit ini. Jarak antara gubug yang akan dibangun dengan belumbang ini tidak terlalu jauh, sementara kecurigaan dan kecemasan orang-orang Lumban sudah berkurang.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dipandanginya Swasti sejenak. Tetapi ia nampaknya tidak mendengarkan percakapan itu.

“Anak bengal,” desis Kiai Kanthi lirih.

“Selebihnya Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “sebelum Kiai berhasil menyusun jalur parit yang sesuai dengan keinginan Kiai, maka apakah Kiai sependapat, jika kita memanfaatkan sungai kecil yang hampir kering itu untuk menampung air yang melimpah itu.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sementara Jlitheng meneruskan, “Kita akan dapat menyekat sungai itu di beberapa tempat dengan bendungan-bendungan kecil dan mengangkat airnya ke sawah dan ladang.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu terdengar Swasti berkata dengan nada dalam, “Tentu untuk kepentingan orang Lumban.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Sekilas dilihatnya wajah Kiai Kanthi yang buram. Namun kemudian orang tua itu tertawa kecil sambil berkata, “Angger. Setiap orang dilandasi oleh kepentingan diri yang dapat sama, tetapi dapat berbeda dengan orang lain. Yang berbeda itu kadang-kadang dapat menimbulkan persoalan jika yang satu memaksakan kepentingannya sendiri terhadap yang lain. Tetapi yang mempunyai kepentingan yang sama pun dapat juga berbenturan karena mereka berebut kepentingan.”

Jlitheng termangu-mangu mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Tetapi ia masih tetap menunggu penjelasannya.

“Angger. Dengan jujur aku ingin mengatakan, bahwa penguasaan air yang melimpah itu pertama-tama tentu karena kepentingan pribadiku. Aku berjalan menyusuri arus dibawah tanah dengan suatu keinginan untuk menemukan air, syukur sumbernya, untuk mengaliri suatu padepokan yang akan aku bangun kemudian. Dan atas petunjuk angger, aku dapat sampai ke tempat ini,” Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu, “Karena itulah maka sampai saat ini aku masih memimpikan sebuah padepokan yang dikelilingi oleh tanah persawahan dan ladang secukupnya, yang dialiri oleh air tanpa henti di segala musim. Bahkan jika mungkin sebuah belumbang untuk memelihara jenis-jenis ikan yang dapat menghiasi halaman dan kebun, tetapi juga dapat menghasilkan bagi hidup kami sehari-hari.”

Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud Kiai Kanthi sehingga karena itulah maka ia tidak memotong kata-kata orang tua.

“Meskipun demikian ngger,” berkata Kiai Kanthi selanjutnya, “aku sudah barang tentu tidak akan dapat ingkar pada suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan lingkungannya. Dalam hal ini, sudah tentu adalah lingkunganku yang baru. Karena itu, maka aku tidak berkeberatan untuk menyalurkan air kedalam sungai kecil itu, setelah melalui padepokan yang masih ada didalam angan-anganku itu.”

Jlitheng masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mohon maaf Kiai jika ada sesuatu yang kurang sesuai dengan jalan pikiran Kiai. Tetapi menurut pendapatku, apa yang Kiai katakan itu pun merupakan pemecahan yang baik. Air itu akan mengalir ke sawah ladang disekitar padepokan Kiai, akan dialirkan atau katakan dengan istilah lain, akan dibuang ke sungai kecil itu.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ya. Begitulah kira-kira.”

“Jadi menurut Kiai, yang manakah yang akan kita kerjakan lebih dahulu. Menguasai dan mengarahkan arus air itu, atau membuat suatu padepokan dengan membuka hutan di lereng bukit ini lebih dahulu.”

Kiai Kanthi termenung sejenak. Kemudian katanya masih sambil tersenyum, “Kau memang cerdik ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi nampaknya aku harus menjawab, bahwa aku akan berusaha menguasai air lebih dahulu meskipun aku belum mempergunakannya, karena sawah dan ladang itu memang belum ada. Tetapi aku ingin mendapat gambaran tentang sawah dan ladang itu kelak sehingga arus air itu sudah dapat ditentukan, tanpa menunggu sawah dan ladang itu sendiri.”

Jlitheng pun tersenyum pula. Jawabnya, “Kira-kira memang demikian Kiai. Kita akan segera menanam patok.”

Dalam pada itu wajah Swasti pun menjadi gelap. Dengan demikian, maka orang-orang Lumban mungkin akan mempergunakan air itu lebih dahulu sebelum Kiai Kanthi mempergunakannya.

Tetapi Swasti tidak mengatakan sesuatu. Bagaimanapun juga ia harus mempertimbangkan kesediaan Jlitheng untuk membantu membuat sebuah gubug yang dapat dipergunakannya untuk sementara, sebelum mereka dapat membangun sebuah padepokan yang tentu akan memerlukan waktu yang panjang.

Dalam pada itu, Jlitheng pun kemudian minta diri setelah ia berjanji untuk datang di hari berikutnya bersama satu dua orang kawannya.

“Besok kita akan mulai Kiai,” berkata Jlitheng sambil melangkah.

“Terima kasih ngger. Aku senang sekali.”

Jlitheng tersenyum. Ketika ia berpaling memandang Swasti gadis itu sama sekali tidak beringsut.

“Aku minta diri Swasti.”

Tanpa mengangkat wajahnya gadis itu menjawab, “Terima kasih.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun juga tentang anak gadisnya itu.

Seperti yang dikatakan Jlitheng, maka ia pun telah bersetuju dengan empat orang kawannya yang sudah sempat membantunya untuk datang di lereng bukit itu menjelang matahari terbit. Namun di sore hari, ketika anak-anak muda berkumpul di dekat bukit padas yang gundul, Jlitheng tidak mengatakannya kepada orang lain. Kepada keempat kawannya itu ia berkata, “Jangan terlalu banyak lebih dahulu. Kita akan menjajagi, apakah yang akan kita kerjakan.”

Seperti yang dijanjikan, Daruwerdi telah datang pula ke tempat itu. Ia bersedia untuk mengajari anak-anak muda dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan untuk berlatih dalam olah kanuragan.

“Bagaimana ia dapat mengajari anak-anak muda ini,” berkata Jlitheng didalam hatinya ketika ia melihat anak-anak muda yang jumlahnya terlalu banyak.

Namun ternyata bahwa Daruwerdi mempunyai kebijaksanaan tersendiri. Ketika anak-anak sudah berkumpul ditempat itu, maka iapun berdiri diatas sebuah batu padas dan mengucapkan sesorah singkat. Ia bersiap memberikan tuntunan olah kanuragan, tetapi anak-anak muda Lumban harus bersungguh-sungguh.

Anak-anak muda Lumban menjawab saur-manuk.

“Tetapi tidak mungkin untuk berlatih bersama dalam jumlah ini,” berkata Daruwerdi, “aku akan membagi menjadi tiga kelompok besar. Kelak, jika kalian akan mempelajari ilmu yang lebih dalam lagi, kelompok-kelompok itu akan terbagi menjadi semakin kecil.”

Daruwerdi pun kemudian membagi anak-anak muda Lumban itu menjadi kelompok besar yang setiap kali akan diajarinya berurutan kelompok demi kelompok.

Yang kemudian menjadi persoalan bagi Jlitheng, bagaimana ia dapat berbuat diantara anak-anak muda itu, sehingga Daruwerdi tidak dapat mengenali tata geraknya. Betapapun ia memperbodoh diri dalam sikap pura-pura namun ia masih juga cemas, bahwa Daruwerdi akan dapat melihat, bahwa sebenarnya ia sudah mempunyai bekal ilmu olah kanuragan.

“Mudah-mudahan aku berhasil mengelabuinya,” berkata Jlitheng didalam hatinya.

Karena itulah, maka di hari itu, Jlitheng yang mendapat giliran di hari ketiga, justru memperhatikan dengan saksama, bagaimana anak-anak muda Lumban yang belum memiliki bekal sama sekali itu mengikuti tuntunan Daruwerdi.

Kadang-kadang Jlitheng harus menahan senyum melihat gerak-gerak yang menurut pendapatnya aneh dan lucu. Tetapi ia sadar, bahwa sikap yang demikian itulah yang harus dilakukannya pula.

Ternyata bahwa di hari itu anak-anak Lumban telah berlatih dengan sebaik-baiknya. Rasa-rasanya matahari terlalu cepat turun dan hilang dibalik pegunungan, sehingga waktu rasa-rasanya berjalan terlampau laju.

Jlitheng memperhatikan perkembangan keadaan di Lumban itu dengan pertimbangan yang dalam. Ia tidak dapat mengkesampingkan pendapat Ki Buyut di Lumban Kulon, bahwa latihan-latihan itu akan dapat dianggap oleh orang-orang yang memusuhi Daruwerdi, seolah-olah setiap anak muda di Lumban telah melibatkan diri.

“Tetapi ini adalah suatu permulaan dari perubahan-perubahan yang akan terjadi di Lumban,” berkata Jlitheng kepada dirinya sendiri, “dengan perubahan-perubahan yang sedikit demi sedikit, maka akhirnya Lumban tidak akan tenggelam didalam suasana masa lampau tanpa menghiraukan masa depannya.”

Selebihnya Jlitheng memang mengharap, bahwa perhatian anak-anak muda kebanyakan akan tertuju pada olah kanuragan. Hanya anak-anak muda dalam jumlah yang terbatas sajalah yang akan memperhatikan dua orang perantau yang akan membuka sebuah padepokan di lereng bukit.

“Tetapi pada saatnya, semuanya akan diperlukan,” berkata Jlitheng didalam hatinya, “untuk menguasai air itu diperlukan semua orang di padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

Di dini hari berikutnya, Lumban bersama empat orang kawannya, dengan diam-diam telah pergi ke bukit dengan membawa beberapa macam alat yang akan dipergunakan untuk membangun sebuah gubug kecil. Tidak seperti yang biasa dilakukan oleh Jlitheng jika ia memanjat seorang diri, melalui tebing-tebing curam dan meloncati batu-batu padas, tetapi ia memilih jalan setapak yang lebih baik agar kawan-kawannya tidak mengalami kesulitan meskipun dengan demikian perjalanan mereka akan bertambah panjang.

Keempat kawan Jlitheng itu menjadi heran ketika mereka melihat dan kemudian diperkenalkan kepada Swasti. Mereka menyangka Swasti adalah seorang gadis perantau yang kusut, kurus dan sakit-sakitan. Tetapi ternyata Swasti adalah gadis yang nampak sehat dan segar, meskipun pemalu.

“Seperti yang aku janjikan kemarin Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “kami akan dapat mulai dengan kerja ini.”

“Terima kasih ngger. Terima kasih. Tetapi apakah yang dapat aku pergunakan untuk menyediakan minum jika kalian haus, dan apa pula yang ada padaku, jika angger menjadi letih dan lapar.”

Jlitheng tertawa mendengar pertanyaan Kiai Kanthi. Jawabnya, “Tentu kami mengerti Kiai, bahwa Kiai tidak akan dapat menyediakannya buat kami. Tetapi sudah barang tentu kami tidak akan mengharapkan sesuatu yang akan dapat menyulitkan Kiai. Jika Swasti mendapatkan banyak gayam dan merebusnya, itu pun sudah memadai buat kami semuanya, karena kami pun senang sekali makan gayam rebus.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih ngger. Terima kasih.”

Dalam pada itu, maka Jlitheng pun segera mengajak kawan-kawannya untuk mulai bekerja. Yang pertama-tama mereka lakukan adalah memotong dahan-dahan kecil dan diruncingkannya ujungnya untuk membuat patok-patok yang akan menandai daerah yang akan dibangun untuk sebuah padepokan kecil. Dengan patok-patok itu, maka sudah akan didapat gambaran, apakah yang akan terjadi kelak di lereng bukit itu. Sehingga dengan demikian, maka arus air yang akan mengalir lewat padepokan itu pun akan dapat pula ditentukan arahnya.

Kiai Kanthi pun ikut serta pula membuat patok-patok kayu dan menyiapkan sebuah rancangan yang mereka perbincangkan bersama sambil memotong dan meruncingkan patok-patok kayu itu.

“Aku kira sudah cukup untuk kali ini,” berkata Jlitheng kemudian, “marilah kita turun dan menanam patok-patok ini setelah kita memperhitungkan segala segi dan kemungkinannya.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Swasti yang duduk dimuka perapian. Meskipun Swasti tidak berpaling, karena sikapnya yang seolah-olah acuh tidak acuh, tetapi orang tua itu melihat bahwa ada sesuatu yang terasa tergetar di hati gadisnya.

Karena itu, maka ia pun kemudian mendekatinya sambil berbisik, “Bagaimana pikiranmu tentang rencana ini?”

“Ayah lebih senang berbicara dengan anak itu daripada dengan aku.” sungut gadis itu.

“Ah, jangan begitu Swasti. Bukankah kita berterima kasih atas uluran tangan yang diberikan oleh angger Jlitheng. Dan kau sudah mendengar pula pengakuannya serba sedikit, kita pun harus memperhitungkannya pula. Ia bukan anak Lumban seperti yang lain-lain. Tentu ia pun mempunyai perhitungan yang mapan, bukan sekedar ikut-ikutan seperti anak-anak muda Lumban yang lain.”

“Justru karena itu ayah. Mungkin kita akan terjebak pada rencananya.”

“Jangan terlampau berprasangka Swasti. Tetapi bahwa ia telah mencoba menjajagi kemampuanmu itu ada pula baiknya. Ia tidak akan menganggap kita sekedar penurut yang tidak mempunyai sikap.”

“Tetapi sampai sekarang ayah benar-benar seorang penurut,” desis Swasti.

“Itupun telah aku perhitungkan Swasti. Ia lebih banyak kesempatan bergaul dengan orang-orang Lumban, dengan Ki Buyut dan anak-anak mudanya. Tentu sikap dan pandangannya mempunyai hubungan dengan lingkungan yang sedang dihayatinya sekarang.”

Swasti tidak menjawab lagi. Pandangan matanya seolah-olah telah terlekat pada perapian yang menyala di tungku yang dibuatnya dari batu.

“Hati-hatilah tinggal disini Swasti. Aku akan turun bersama anak-anak muda itu. Tentu tidak terlalu jauh, karena aku tidak ingin membuat padepokan didekat salah satu dari padukuhan kecil yang termasuk Lumban Wetan atau Lumban Kulon.”

Swasti mengangguk kecil. Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi Kiai Kanthi dapat merasakan, bahwa gadis itu masih belum puas dengan jawaban-jawaban yang telah diberikannya.

Namun Kiai Kanthi pun tidak akan memperbincangkan terlalu panjang. Jlitheng dan kawan-kawannya telah menunggu sambil mengikat patok-patok kayu yang telah mereka siapkan.

Ketika Kiai Kanthi mendekati anak-anak muda Lumban, maka anak-anak muda itu sudah selesai mengikat patok-kayu yang akan mereka bawa turun untuk menelusuri tempat seperti yang sudah mereka perbincangkan. Tempat yang barangkali paling baik untuk membuat sebuah padepokan. Masih di lereng bukit, tetapi ditempat yang datar dan agak luas. Dibawah dataran itu akan dapat dibuka selembar tanah persawahan dan ladang yang cukup.

“Bagaimana dengan Swasti, “Jlitheng lah yang kemudian bertanya.

“Biarlah ia merebus Gayam dan barangkali merebus air yang akan dapat kita minum, meskipun benar-benar hanya air putih,” jawab Kiai Kanthi.

“Tetapi, apakah itu tidak berbahaya baginya?” bertanya anak muda yang lain.

“Ia pandai memanjat,” jawab Kiai Kanthi, “jika ada binatang buas mendekat, maka ia akan memanjat dan tidur diatas dahan sampai binatang itu pergi. Dan aku kira jarang sekali ada seekor binatang buas yang mendekati manusia jika tidak terpaksa sekali.”

“Seperti yang pernah aku ceriterakan,” potong Jlitheng. Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk kecil. Sekilas dipandanginya Swasti yang sama sekali tidak acuh terhadap mereka yang sibuk dengan kerja itu, namun ada semacam kekhawatiran untuk meninggalkan gadis itu seorang diri.

Tetapi ketika anak-anak muda itu melihat ayah Swasti tidak mencemaskannya, maka mereka pun mencoba untuk tidak mencemaskannya pula.

Sejenak kemudian, maka Kiai Kanthi, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah meninggalkan tempat itu, sementara Swasti masih tetap duduk di tempatnya tanpa berpaling.

Beberapa saat lamanya, Jlitheng dan kawan-kawannya menuruni tebing. Seperti saat mereka memanjat naik, maka Jlitheng telah memilih jalan yang paling mudah untuk dilalui, karena kawan-kawannya bukannya orang terlatih untuk mendaki bukit, menuruni lereng terjal dan ketrampilan kanuragan yang lain.

Tetapi mereka tidak perlu mencari-cari lagi. Mereka telah membicarakan, bagian yang manakah yang akan mereka tandai, sebagai tempat yang akan dibangun sebuah padepokan, dan kelak dibawahnya untuk membuka tanah persawahan dan ladang.

Dalam pada itu, Swasti masih tetap duduk dimuka perapiannya. Ia mencoba memikirkan masa depan yang belum terbentuk baginya. Namun sebagai seorang gadis, maka ia pun mulai berangan-angan. Sekali-kali tangannya menyentuh ranting-ranting kecil yang sedang menyala. Dengan jari-jarinya yang panjang gadis itu kemudian bermain dengan bara-bara kecil yang pecah menjadi abu yang panas.

Tetapi tangan Swasti agak terbiasa dengan panas, di padepokannya yang lama, ia berlatih dengan pasir. Mula-mula pasir di tepian sungai. Jika tidak seorang pun yang ada di tepian, maka mulailah ia menusuk-nusuk pasir dengan jari-jarinya. Namun kemudian ayahnya memberikan latihan-latihan yang lebih berat. Pasir itu dipanasinya dan latihan-latihan berikutnya dilakukan ditempat tersembunyi.

Karena itulah, maka jari-jari Swasti bukannya jari-jari seorang gadis yang halus dan lentik. Namun setiap orang tentu mengira, bahwa gadis itu terlalu banyak bekerja berat, sehingga jari-jarinya menjadi kasar.

“Namun dalam pada itu, Swasti terkejut ketika ia mendengar desir mendekat. Telinganya yang terlatih segera mengetahui, bahwa seseorang sedang berjalan ke arahnya. Bukan seseorang yang dengan bersembunyi merunduknya, tetapi seseorang yang berjalan agak cepat.

Swasti selalu ingat pesan ayahnya, agar ia tidak memperlihatkan kemampuannya kepada orang-orang lain. Bahkan ayahnya pun selalu berusaha untuk merendahkan diri dalam olah kanuragan.

Karena itulah, maka untuk mempersiapkan diri, ia berpura-pura melakukan sesuatu. Perlahan-lahan ia berdiri dan melangkah mengambil seonggok kayu kering untuk dibawa ke dekat perapian. Tetapi Swasti kemudian berdiri tegak sambil menggeliat setelah ia melemparkan seonggok kayu itu.

Bagaimanapun juga gadis itu harus mempersiapkan diri, karena yang ada ditempat itu hanyalah ia sendiri. Tanpa ayahnya dan tanpa orang lain.

Swasti tahu pasti dari arah mana suara itu datang. Dan iapun ternyata telah berdiri menghadap kearah itu.

Tetapi Swasti menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang menyibakkan dedaunan. Seseorang yang pernah dilihatnya disaat ia datang lewat bulak persawahan di Lumban. Kemudian orang itu datang lagi untuk menolongnya dari kegarangan seekor harimau hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan Jlitheng. Tetapi karena Jlitheng kemudian berhasil melihat permainan ayahnya yang menekan pusat nadinya, sehingga ia tidak dapat berbuat banyak, maka Jlitheng sama sekali tidak menampakkan dirinya pada saat itu

“Daruwerdi,” ia berdesis didalam hatinya.

Sementara itu Daruwerdi telah berdiri termangu-mangu. Dilihatnya Swasti menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa menyapanya.

“He, bukankah kau gadis perantau itu?” Daruwerdi lah yang kemudian bertanya.

“Ya,” jawab Swasti pendek.

“Dimana kakek tua itu?”

“Pergi.”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Jawab gadis itu terlalu pendek bagi pertanyaan-pertanyaannya. Namun Daruwerdi mencoba untuk mengerti, bahwa gadis itu tentu jarang bergaul dan merasa rendah diri.

“Kemana kakek tua itu? Maksudku, pergi kemana?” desak Daruwerdi.

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun iapun mengerti, bahwa kehadirannya tentu bukannya rahasia lagi bagi orang-orang Lumban. Ternyata Jlitheng telah membawa kawan-kawannya dan bahkan ia sudah minta ijin kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dari Lumban Kulon.

Karena itu, maka jawabnya kemudian, “Ayah pergi bersama Jlitheng.”

“Dengan Jlitheng,” Daruwerdi mengerutkan keningnya, “hanya berdua?”

“Tidak,” jawab Swasti masih terlalu pendek, sehingga Daruwerdi mendesaknya, “Dengan siapa lagi?”

“Anak-anak muda dari Lumban. Tiga atau empat orang.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mendengar rencana Jlitheng untuk membantu orang tua itu membuat sebuah gubug kecil.

“Dan kau sekarang sendiri?” bertanya Daruwerdi tiba-tiba.

Swasti menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, aku seorang diri.”

“Gila. Kau sudah gila. Dan kakek itupun sudah gila. Bukankah kau hampir mati dikunyah harimau saat kau datang beberapa hari yang lalu? Dan sekarang kau ditinggalkan seorang diri disini?”

Swasti kebingungan sejenak. Tetapi jawabnya kemudian seperti yang sering diucapkan ayahnya, “Aku dapat memanjat. Jika ada seekor harimau yang datang, aku akan memanjat pohon itu sampai harimau itu pergi.”

“Kalian memang orang-orang yang tidak mengerti bahaya yang selalu merundukmu. Kedunguanmu itu dapat membunuh-mu.”

Swasti tidak menjawab. Tetapi kepalanya tunduk semakin dalam. Sekali-kali ia memandang ujung kaki Daruwerdi. Meskipun kaki itu kotor oleh lumpur, namun ia melihat kulit anak muda itu agak berbeda dengan kebanyakan anak-anak muda Lumban. Kulit Daruwerdi nampak lebih kuning dan cerah.

Tetapi Swasti tidak berani mengangkat wajahnya dan memandang tubuh Daruwerdi lebih tinggi lagi, selain mata kakinya.

“Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini,” berkata Daruwerdi tiba-tiba, “daripada kalian membuat gubug kecil diantara daerah perburuan beberapa ekor harimau, kenapa kalian tidak tinggal saja dekat padukuhan? Apakah Jlitheng tidak pernah mengatakannya demikian?”

Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya.”

“Ya? Ya, apa yang kau maksud ?”

“Jlitheng pernah berkata demikian.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Gadis ini agaknya terlalu sulit untuk diajak berbicara. Karena itu, maka katanya, “Kearah mana kakek itu pergi?”

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun tatapan matanya mengarah ke semak-semak yang tersibak.

“Kesana maksudmu?” desak Daruwerdi. Swasti mengangguk kecil.

Daruwerdi tidak menunggu lebih lama lagi. Tanpa, minta diri, ia pun segera meloncat menyusup kedalam gerumbul-gerumbul perdu diantara pepohonan hutan, dan kemudian menghilang.

Sejenak Swasti termangu-mangu. Daruwerdi mempunyai kelainan dengan anak-anak muda di Lumban. Sikapnya, kata-katanya dan pakaiannya.

“Jlitheng juga bukan anak Lumban,” tiba-tiba saja Swasti memperbandingkan keduanya diluar sadarnya, “tetapi Jlitheng telah luluh dan menyatu dengan anak-anak muda Lumban, sedangkan Daruwerdi nampaknya masih tetap memelihara jarak itu.” Swasti mengerutkan keningnya sejenak. Kemudian ia bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi apakah Daruwerdi mengenal siapakah Jlitheng sebenarnya?”

Namun dalam pada itu, ketika Swasti menyadari apakah yang sedang diangan-angankan, wajahnya terasa menjadi panas. Meskipun tidak ada seorang pun, tetapi rasa-rasanya setiap lembar daun memandanginya sambil tersenyum. Seekor burung yang berkicau diatas dahan yang rendah rasa-rasanya telah menyindirnya dengan lagu yang nyaring.

“Pergi, pergi kau,” bentak Swasti sambil melempar burung itu dengan kerikil.

Burung itu meloncat ke dahan yang lebih tinggi. Tetapi Swasti tidak menghiraukannya lagi ketika burung itu kemudian berkicau lebih keras.

Sementara itu Daruwerdi telah menuruni tebing bukit itu dengan tergesa-gesa. Dengan mudah ia dapat mengikuti arah Jlitheng bersama Kiai Kanthi dan beberapa orang anak muda Lumban. Sehingga karena itu, maka sejenak kemudian Daruwerdi telah menemukannya.

Ketika Daruwerdi muncul dari balik gerumbul, maka Jlitheng pun menyapanya, “He, marilah Daruwerdi. Kami sudah mulai.”

Daruwerdi tidak segera menjawab. Tetapi diperhatikannya tempat disekitarnya. Ia melihat beberapa batang patok telah ditancapkan diantara pepohonan hutan.

“Jadi, kalian akan tetap membuat gubug itu disini?” bertanya Daruwerdi.

“Ya. Tempat ini sudah cukup rendah. Jika Kiai Kanthi ingin pergi kepadukuhan, maka ia tinggal menuruni beberapa lapis padas.”

“Tetapi tempat ini tetap merupakan tempat yang berbahaya. Setiap kali seekor harimau akan lewat.” Daruwerdi berhenti sejenak. Tetapi ketika Kiai Kanthi akan menjawab. Daruwerdi mendahului, “Kau tentu akan mengatakan bahwa kau dan gadis itu dapat memanjat. Dan barangkali kau akan menceriterakan sebuah dongeng tentang seekor harimau yang terasing karena menerkam seseorang.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil berkata, “Ya, ya ngger. Aku memang akan berkata begitu.”

“Tetapi saat kau datang, hampir saja kau diterkam seekor harimau jika aku tidak datang menolongmu.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya tersendat-sendat, “Benar ngger. Dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah pernah terjadi itu.”

“Tetapi kau tidak memperbaiki kesalahan yang pernah kau lakukan. Apakah untungmu membuat gubug disini? Apakah tidak lebih baik jika kau tinggal di padukuhan. Kau dapat memilih, apakah kau ingin tinggal di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon.”

Kiai Kanthi termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Angger Daruwerdi. Aku tidak mempunyai secabik tanah pun di daerah Lumban. Disini aku akan berusaha untuk membuka hutan tanpa merugikan siapapun juga, selain belas kasihan angger Jlitheng dan kawan-kawannya, yang bersedia membantu kami.”

“Kau orang aneh kakek. Kau perantau yang bernasib kurang baik. Tetapi kau menganggap dirimu seorang kesatria yang sungkan menerima belas kasihan orang lain. Bukankah belas tenaga dan sebidang tanah tidak banyak bedanya?”

Kiai Kanthi menundukkan kepalanya.

“Pikirkan Kakek. Ketika aku bertemu dengan kau untuk pertama kali, aku sudah mengatakan, bahwa kau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Harga diri atau mungkin kepuasan untuk mengalami suatu penderitaan seperti yang sering dilakukan oleh para petapa dengan gegayuhan tertentu. Tetapi apakah kau pernah memikirkan anak gadismu yang malang itu?”

Kiai Kanthi tidak segera menjawab. Namun kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Tetapi terserah kepadamu. Pendidikan seseorang kadang-kadang sulit dimengerti oleh orang lain, termasuk pendirianmu. Jlitheng dan kawan-kawannya telah menaruh belas kasihan kepadamu, tetapi tanpa mempergunakan otaknya. Mereka sudah berbangga, bahwa mereka dapat menolongmu. Tetapi mereka tidak memikirkan kelanjutan hidupmu dan hidup anak gadismu itu.”

Kiai Kanthi masih menunduk. Jlitheng dan kawan-kawannya hanya berdiam diri sambil mengangguk-angguk kecil.

Tetapi Daruwerdi tidak tinggal lebih lama lagi. Sekali lagi ia berkata, “Pikirkan. Jangan terlalu bodoh dengan mempercayai ceritera tentang seekor harimau yang terasing. Jangan membiarkan dirimu merasa bahagia oleh penderitaan hidup dan kesulitan rohaniah yang dialami anak gadismu. Orang-orang masih akan memberi kesempatan.”

Daruwerdi tidak menunggu Kiai Kanthi menjawab. Iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi yang berdiri termangu-mangu.

Salah seorang kawan Jlitheng lah yang memecahkan kesenyapan. “Aku kira, apa yang dikatakan oleh Daruwerdi itu benar.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin benar. Tetapi kita sudah mulai dengan kerja ini. Sebaiknya kerja ini kita lanjutkan. Kelak jika ada pertimbangan lain dari Kiai Kanthi terserah sajalah.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia menyahut, “Aku kira demikian ngger. Aku ingin meneruskan kerja ini sampai pada suatu saat hatiku menjadi teguh atau sama sekali aku ingin merubah sikapku ini.”

Kawan-kawan Jlitheng pun tidak menyahut. Bagi mereka, persoalan itu segera mereka lupakan. Yang mereka lakukan kemudian adalah menanam patok-patok sesuai dengan tempat-tempat yang ditunjuk oleh Jlitheng setelah dibicarakan dengan Kiai Kanthi

“Nah,” berkata Jlitheng kemudian, “dengan patok-patok itu kita akan mendapat gambaran, bagaimanakah ujud padepokan kecil yang akan Kiai bangun di dataran yang tidak terlalu luas di lereng bukit ini.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku tidak dapat memimpikan bahwa seumurku padepokan itu sudah akan siap.”

“Kenapa tidak Kiai. Disini Kiai tidak begitu sulit mencari batu untuk dinding halaman padepokan Kiai, meskipun harus mengumpulkan dari daerah yang agak luas disekitar tempat ini. Rumah dan kelengkapannya akan dibangun dengan kayu yang melimpah di hutan ini meskipun bukan kayu yang terbaik,” sahut Jlitheng.

Kiai Kanthi tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk kecil. Namun ia merasa betapa unsur kemanusiaan masih nampak jelas di padukuhan Lumban. Bahkan Jlitheng, yang bukan orang Lumban pun adalah seorang yang sangat baik bagi sesama.

Meskipun demikian Kiai Kanthi tidak menutup pengamatannya yang kadang-kadang tersembul di permukaan pertimbangannya. Bukan mustahil bahwa orang-orang Lumban yang berbuat baik kepadanya, termasuk Jlitheng itu tidak mempunyai pamrih apapun juga.

“Itu sudah wajar,” berkata Kiai Kanthi, “tetapi jika pamrih itu akan saling menguntungkan, maka sudah barang tentu, tidak akan ada keberatan apapun juga bagiku.”

Dalam pada itu, maka yang dikerjakan oleh Jlitheng dan kawan-kawannya pada hari itu adalah baru menanam beberapa buah patok. Mereka masih akan menunggu Jlitheng dan Kiai Kanthi yang akan memperhitungkan pengendalian air, sehingga yang akan mereka kerjakan dikeesokan harinya, barulah membuat patok-patok juga. Setelah Kiai Kanthi dan Jlitheng mendapat kepastian arah air yang melimpah dari belumbang di lereng bukit itu, maka mereka baru akan menanam patok-patok berikutnya.

Sebelum Jlitheng dan kawan-kawannya kembali ke padukuhan, maka mereka masih sempat singgah sejenak di pinggir belumbang untuk mendapat beberapa buah gayam yang direbus oleh Swasti.

Sementara itu, ketika kawan-kawannya sedang sibuk makan jamuan yang terasa nikmat sekali itu, Jlitheng mendekati Kiai Kanthi sambil berbisik, “Daruwerdi nampaknya tidak setuju Kiai tinggal disini.”

“Karena belas kasihan ngger. Angger Daruwerdi tidak sampai hati melihat salah seorang dari kami diterkam dan dikoyak oleh seekor harimau atau oleh anjing hutan sekalipun.”

“Kiai percaya bahwa itu alasannya?” bertanya Jlitheng.

“Jika bukan karena belas kasihan, apakah angger Jlitheng melihat alasan lain?” bertanya Kiai Kanthi.

“Aku melihat Kiai. Bukankah dibawah tempat ini beberapa saat yang lalu, Daruwerdi telah membunuh dua orang Kendali Putih.”

“Bukankah itu bukan maksud angger Daruwerdi. Justru orang-orang Kendali Putih lah yang telah berusaha menipu angger Daruwerdi. Bukankah begitu menurut ceriteramu?”

“Benar Kiai. Daruwerdi telah membunuh kedua orang Kendali Putih yang telah berusaha menipunya. Tetapi bahwa pertemuan antara Daruwerdi dan orang-orang Pusparuri itu memang direncanakan ditempat itu. Tetapi yang datang adalah orang-orang Kendali Putih yang mengaku sebagai orang dari perguruan Pusparuri.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dipandanginya sekilas anak-anak muda Lumban yang sibuk mengunyah gayam dan meneguk air putih dari bumbung-bumbung bambu. Namun nampaknya air putih itu demikian segarnya, melampaui air sere hangat dengan legen atau gula kelapa.

“Angger,” berkata Kiai Kanthi kemudian, “apakah dengan demikian justru ada kesengajaan pula angger memilihkan tempat bagi kami di lereng itu, agar kami langsung atau tidak langsung telah menjadi pengawas yang akan dapat membantu tugas-tugas angger yang belum aku ketahui.”

“Ah,” tiba-tiba saja Jlitheng tersenyum, “bukan maksudku Kiai. Tetapi jika terjadi demikian, sudah tentu aku wajib mengucapkan terima kasih.”

“Tentu aku tidak berani berbuat demikian ngger. Jika pada suatu saat angger Daruwerdi mengetahui, maka nasibku akan menjadi sangat buruk.”

Tiba-tiba saja meledak suara tertawa Jlitheng tanpa dapat ditahankannya lagi, sehingga kawan-kawannya berpaling kepadanya dengan heran.

“Apa yang kau tertawakan?” bertanya salah seorang kawannya.

Jlitheng memaksa diri untuk berhenti tertawa. Jawabnya kemudian, “Kiai Kanthi telah menceriterakan pengalamannya yang lucu di kala mudanya.”

“Apa?” bertanya kawan-kawannya sekaligus. Bahkan Swasti yang duduk agak jauh pun telah memandangi ayahnya dengan kerut dikeningnya.

“Apa yang sudah diceriterakan ayah,” bertanya Swasti didalam hatinya.

Tetapi Jlitheng menggeleng. Katanya, “Tidak. Kiai Kanthi tidak bersedia mengulangi ceriteranya.”

“Kau ceriterakan,” minta kawan-kawannya.

Tetapi Jlitheng justru menjadi bingung. Ia tidak tahu, ceritera apa yang dapat dikatakannya kepada kawannya. Namun Jlitheng tidak kehilangan akal. Katanya, “Nanti sajalah jika kita pulang.”

Kiai Kanthi sendiri masih tersenyum. Agaknya Jlitheng telah menertawakannya ketika ia mengatakan, bahwa Kiai Kanthi tidak berani berbuat sesuatu karena takut kepada Daruwerdi.

Meskipun demikian, meskipun pembicaraan antara Kiai Kanthi dan Jlitheng itu diucapkan sambil bergurau, namun ternyata hal itu telah menjadi perhatian keduanya dengan bersungguh-sungguh. Dibawah dataran di lereng bukit itulah, telah terjadi perjanjian antara Daruwerdi dengan orang-orang Pusparuri yang membicarakan masalah sebuah pusaka yang tidak diketahui dengan pasti.

Ketika kemudian Jlitheng dan kawan-kawannya meninggalkan tempat itu, dengan bersungut-sungut Swasti bertanya kepada ayahnya, “Apa yang ayah katakan kepada anak muda itu?”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Tentu tidak. Anak muda itu tertawa dengan serta-merta.” desak Swasti.

Kiai Kanthi terpaksa menceriterakan apa yang telah dipercakapkan dengan Jlitheng. Akhirnya katanya, “Yang penting Swasti, agaknya Jlitheng mempunyai pertimbangan tersendiri atas letak padepokan itu justru karena sikap Daruwerdi.”

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Sambil duduk bersandar sebatang pohon ia memandang kekejauhan. Seakan-akan ada sesuatu yang dicarinya.

“Bagaimana pertimbanganmu Swasti?” bertanya ayahnya sambil duduk didekatnya.

“Anak muda yang bernama Daruwerdi tadi datang kemari,” tiba-tiba saja Swasti berdesis.

“O,” sahut ayahnya, “dan kau menunjukkan arah kerja kami? Ia juga datang menemui aku.”

“Ya,” sahut Swasti.

“Apa saja yang dikatakannya kepadamu?”

“Ia menaruh belas kasihan. Nampaknya ia seorang yang sangat memperhatikan kesulitan orang lain,” Swasti seolah-olah bergumam kepada diri sendiri.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Ia memang menganjurkan agar kami pindah kepadukuhan Lumban. Tetapi seperti yang aku katakan, Jlitheng mempunyai perhitungan lain atas sikap Daruwerdi itu. Bukan karena belas kasihan tetapi berdasarkan atas kepentingannya.”

“Kenapa ia berprasangka buruk?” tiba-tiba saja Swasti bertanya.

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Bukan sekedar prasangka, Swasti. Jlitheng mempunyai perhitungan tersendiri. Aku tidak mengatakan bahwa perhitungannya itu tentu benar.”

“Nampaknya ayah sudah berada dibawah pengaruh anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu.”

“Bukan begitu Swasti. Tetapi ia telah bersedia menolong kita. Ia sudah berbuat banyak.”

“Tetapi apakah kira-kira yang akan dilakukan seandainya aku tidak dapat mengimbangi ilmunya. Bahkan seandainya ayah berada dibawah kemampuannya?”

“Sudah aku katakan Swasti. Dalam keadaan yang seakan-akan berkabut ini, kita memang saling mencurigai. Yang dilakukan adalah sekedar penjajagan. Bukan benar-benar bermusuhan.”

Swasti tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak menjadi buram. Sekilas terbayang kedua anak muda yang sebenarnya merupakan orang lain bagi padukuhan Lumban itu. Seolah-olah semakin lama menjadi semakin jelas sifat dan tingkah laku keduanya.

Dalam pada itu, Daruwerdi yang telah berada dirumahnya, duduk termenung sambil memandangi cahaya matahari yang seolah-olah masih bermain di halaman meskipun sudah menjadi semakin condong. Sebentar lagi ia harus pergi ke bukit gundul untuk memberikan sekedar tuntunan kepada anak-anak muda Lumban dalam olah kanuragan.

“Pekerjaan gila yang sia-sia,” gumamnya.

Tetapi Daruwerdi tidak dapat menolak. Bahkan ia pun mengharap, bahwa dengan demikian, perhatian beberapa pihak diluar padukuhan Lumban terhadapnya, akan menjadi baur oleh sikap anak-anak muda Lumban.

“Tetapi yang aku lakukan itu tentu merupakan sekedar lelucon bagi orang-orang Kendali Putih,” desis Daruwerdi.

Sejenak Daruwerdi masih merenung. Namun sejenak kemudian, ia pun bangkit sambil bergumam, “Aku harus pergi ke bukit gundul. Tetapi malam nanti aku harus dapat bertemu dengan anak itu. Ia harus memberitahukan kepada orang-orang Pusparuri, hutan itu sudah dihuni orang.”

Sambil berjalan perlahan-lahan Daruwerdi masih berangan-angan. Tidak ada niatnya untuk menyingkirkan kedua orang perantau itu dengan kekerasan. Meskipun mereka berada di hutan itu, tetapi nampaknya mereka tidak berbahaya.

“Meskipun demikian, aku harus berhati-hati. Aku harus menemukan tempat lain yang lebih baik untuk berbicara dengan orang-orang Pusparuri atau orang-orang dari pihak manapun.”

Namun Daruwerdi mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan, “Bagaimana jika orang-orang Pusparuri menemukan perantau itu dan bertindak langsung sebelum aku menemuinya?”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Aku tidak peduli. Aku sudah memperingatkan kedua orang gila itu agar mereka menyingkir. Tetapi hutan itu cukup luas. Jika orang-orang Pusparuri atau pihak manapun juga tidak gila seperti kedua perantau itu, maka akan dapat diatur tempat lain yang lebih baik.”

Sementara itu, Jlitheng pun telah turun pula bersama kawan-kawannya. Mereka masih sempat pulang sejenak, sebelum mereka pun pergi ke dekat bukit padas yang gundul untuk berlatih olah kanuragan.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Lumban tidak terlepas dari pengawasan orang asing. Justru karena kehadiran orang yang kemudian menetap di Lumban, maka ketenangan padukuhan itu benar-benar telah terganggu.

Dalam pada itu, selagi Daruwerdi sibuk dengan anak-anak muda di dekat bukit padas, dua orang yang asing telah mendekati padukuhan Lumban. Dari kejauhan mereka melihat dataran di bawah bukit yang dihampari oleh tanah persawahan yang nampaknya tidak begitu subur.

“Mereka semuanya tidak pernah kembali,” desis salah seorang dari keduanya.

“Daerah ini nampaknya seperti neraka. Tanah gersang, bukit padas yang gundul. Namun dibelakang nampak bukit yang hijau karena hutan yang barangkali cukup lebat.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya dataran yang luas terbentang diantara bukit padas yang gundul dan bukit yang berwarna hijau. Tetapi dataran itu sendiri nampaknya seperti wajah orang yang sakit-sakitan. Pucat dan gersang.

“Kita akan melihat-lihat keadaannya,” berkata salah seorang dari mereka.

“Nampaknya padukuhan itu memang menyimpan kekuatan yang berbahaya. Tentu kita tidak dapat mengabaikannya. Kau dengar bahwa orang-orang Kendali Putih yang pernah menginjakkan kakinya kedaerah ini juga tidak pernah kembali?”

“Tetapi mereka memang tidak berjanji untuk datang kemari. Berbeda dengan kawan kita yang memang sudah bersepakat untuk mengadakan sebuah pembicaraan penting, percaya, bahwa orang-orang Kendali Putih dengan sengaja telah melakukan kejahatan terhadap orang Pusparuri.”

Semuanya tidak jelas, Kita harus menyelidikinya. Tetapi kita harus berhati-hati. Mungkin kita akan dapat mendengar serba sedikit apabila kita sudah berada ditempat ini untuk beberapa hari.”

“Sulit untuk menghubungi orang-orang di daerah kecil. Setiap orang baru akan segera dikenal dan karena peristiwa-peristiwa sebelumnya, akan dengan mudah dicurigainya pula.”

“Ada dua cara. Kita menanggalkan pakaian kita dan menjadikan diri kita sebagai pengemis, atau kita dengan diam-diam mengambil satu atau dua orang dan membawanya ke hutan di lereng bukit itu. Kita memaksanya untuk berbicara, kemudian mereka kita bunuh tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.”

“Aku condong untuk memilih yang kedua. Itu lebih cepat. Aku kira jika terjadi sesuatu di daerah ini, maka setiap orang akan segera mengetahuinya.”

Keduanya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, marilah kita bersembunyi di hutan di lereng bukit itu. Kita menunggu seseorang yang mungkin akan berguna bagi kita.”

“Tetapi, apakah kita akan melalui padukuhan-padukuhan yang tersebar itu menuju ke hutan di lereng bukit itu?”

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebentar lagi matahari akan turun. Kita akan melanjutkan perjalanan setelah gelap.”

Keduanya pun kemudian berhenti dan duduk dibawah sebatang pohon yang berdaun lebat menunggu matahari tenggelam.

Dalam pada itu, ketika matahari terbenam di ujung Barat anak-anak Lumban telah kembali dari bukit padas yang gundul. Satu dua orang diantara mereka sempat singgah ke sungai kecil yang hanya sekedar mengalir membasahi pasir dan bebatuan. Namun di pinggir sungai itu terdapat sebuah belik kecil yang berair jernih.

Sementara anak-anak Lumban itu membersihkan diri, maka dua orang yang menunggu gelap itupun telah mempersiapkan diri. Ketika bintang di langit mulai nampak mereka-pun mulai melanjutkan perjalanan menyusuri jalan menuju ke bukit yang menjadi kehitam-hitaman di malam hari.

Adalah suatu kebetulan, bahwa malam itu Jlitheng tidak berniat untuk naik ke bukit berhutan yang mempunyai mata air yang melimpah itu. Ia berjanji kepada Kiai Kanthi dan Swasti untuk datang dikeesokan harinya bersama beberapa orang kawan. Sehingga malam itu, Jlitheng berada di rumahnya sampai menjelang tengah malam. Kemudian ia pun minta diri kepada biyungnya untuk pergi ke gardu.

Di gardu beberapa orang kawannya telah mendahuluinya. Tetapi ketika ia sampai, ia masih sempat ikut makan ketela pohon rebus yang dibawa oleh salah seorang kawannya.

“Aku mencabut tiga batang di halaman belakang,” desis kawannya yang membawa ketela pohon itu.

Jlitheng mengangguk-angguk sambil mengunyah. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku tidak melihat Kuncung,” desis Jlitheng.

“Ya. Biasanya ia sudah berada di gardu sejak sore,” sahut kawannya.

“Mungkin ia sakit,” yang lain menyahut, “jika tidak ia tentu datang, ia suka sekali bicara dan sedikit sombong. Tetapi menyenangkan. Tanpa Kuncung rasa-rasanya memang sepi.”

“Kita tunggu beberapa saat,” desis Jlitheng.

“Jika ia tidak datang?” bertanya kawannya.

Jlitheng termangu-mangu. Gumamnya, “Apa kita akan menengok kerumahnya? Itu akan mengejutkannya dan mengganggu seluruh keluarganya.”

“Jadi?”

“Tentu kita akan menunggu sampai besok. Besok pagi-pagi, salah seorang dari kita yang akan pulang ke rumah, singgah sejenak untuk menanyakannya, kenapa ia tidak datang.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan perhatian mereka pun kembali kepada ketela pohon di tengah-tengah gardu itu.

Dalam pada itu, di rumah anak muda yang bernama Kuncung itu telah timbul kegelisahan. Sejak sore ia telah pergi. Sampai tengah malam ia belum kembali. Biasanya, jika ia akan pergi ke gardu, anak itu tentu makan lebih dahulu.

“Tanyakan ke gardu di ujung desa,” berkata ayahnya kepada adik Kuncung.

“Aku takut,” desis anak itu.

“Marilah, aku antar ke gardu. Tetapi kaulah yang bertanya kepada kawan-kawan Kuncung.”

Diantar oleh ayahnya adik Kuncung telah pergi ke gardu. Ternyata bahwa pertanyaan adik Kuncung itu telah mengejutkan kawan-kawannya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ia tidak datang kemari. Justru kami menunggunya.”

“Ia belum pulang. Ia pergi ke bukit padas yang gundul itu. Tetapi sampai sekarang ia tidak kembali.”

Kawan-kawannya termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan.

“Tolonglah,” berkata adik Kuncung “bantulah mencari kakang Kuncung. Ibuku menjadi sangat cemas.”

Jlitheng mendekati anak itu sambil menepuk pundaknya. Katanya, “Kami akan mencobanya. Mudah-mudahan kami menemukannya.”

“Apakah anak itu dibawa wewe yang kehilangan anak?” desis salah seorang dari anak-anak itu.

Pertanyaan itu telah membuat beberapa orang kawannya menjadi semakin berdebar-debar. Seorang yang memang penakut telah mendesak dan berdiri diantara kawan-kawannya dengan kaki gemetar.

Dalam pada itu Jlitheng berkata kepada adik anak yang seakan-akan menghilang itu, “Pulanglah. Kami akan minta tolong kepada orang-orang padukuhan untuk mencari kakakmu.”

Dengan cemas anak itupun memandang wajah Jlitheng. Sementara ayahnya termangu-mangu di kegelapan. Namun akhirnya ayahnya pun mendekat. Dengan gagap ia berkata, “Tolong ngger.”

Hanya itulah yang terlontar dari mulutnya. Namun nampak kegelisahan yang sangat telah mencengkam wajahnya.

Jlitheng memandang orang tua itu. Orang itu pendiam yang dalam keadaan sehari-hari memang sulit untuk berbicara diantara banyak orang. Namun tiba-tiba ia sudah dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat hatinya sangat gelisah.

Sepeninggal orang tua itu Jlitheng menjadi bingung. Apalagi ketika ia melihat kawan-kawannya yang bahkan telah kehilangan akal.

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Kita akan mencarinya. Kita membawa obor, tampah, kentongan dan pisau. Kita cari Kuncung kemana saja. Mungkin ia memang dibawa oleh kuntilanak.”

Kawan-kawannya termangu-mangu. Namun ternyata mereka tidak mempunyai jalan lain untuk mencarinya.

Namun dalam pada itu, Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Jika dalam keadaan demikian Daruwerdi tidak berusaha menolong anak yang hilang itu, maka ia akan berbuat sendiri, karena menurut perhitungan Jlitheng, Kuncung telah mengalami nasib seperti yang pernah dialami. Tetapi agaknya Kuncung tidak akan dapat membebaskan dirinya sendiri jika benar ia jatuh ke tangan orang-orang yang ganas seperti orang-orang Kendali Putih.

Sejenak kemudian padukuhan Lumban Wetan telah menjadi ramai. Beberapa orang dalam kelompok-kelompok kecil berputar-putar di padukuhan. Mereka berjalan beriring mendekati tempat-tempat yang dianggapnya wingit. Kuburan-kuburan pohon-pohon besar dan gerumbul-gerumbul yang lebat

Dalam hiruk pikuk itulah Jlitheng hilang dari antara kawan-kawannya. Tetapi tidak seorang pun yang menghiraukannya, karena setiap kelompok mengira bahwa Jlitheng berada di kelompok yang lain.

Hiruk pikuk itu akhirnya terdengar pula dari padukuhan-padukuhan yang lain, bahkan sampai ke Lumban Kulon, sedangkan Daruwerdi yang tidur nyenyak pun telah terbangun.

“Ada apa ?” anak muda itu bertanya kepada orang-orang yang sudah turun ke jalan.

“Seorang anak Lumban Wetan telah hilang. Mungkir dibawa wewe yang kehilangan anaknya. Mereka sedang mencari berkeliling padukuhan. Bahkan ada yang pergi keluar padukuhan,” jawab salah seorang dari mereka yang berada di jalan.

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Sekilas terbersit pula dugaannya, seperti yang diperhitungkan oleh Jlitheng. Kuncung tentu sudah hilang, karena ia bertemu dengan orang-orang yang asing bagi padukuhan yang tenang itu.

“Jarang sekali seseorang diterkam harimau di daerah ini,” berkata Daruwerdi didalam hatinya, “kecuali jika mereka sengaja mengumpankan diri ke hutan seperti kedua orang perantau itu atau seperti Jlitheng yang sering mencari kayu di hutan itu meskipun mereka terlalu percaya kepada dongeng tentang harimau yang terasing itu.”

Ketika Daruwerdi masuk kedalam biliknya, maka ia memutuskan untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Seandainya benar Kuncung ditangkap oleh orang-orang yang asing bagi padukuhan ini, maka ia tentu akan mengatakan apa yang diketahuinya tentang kematian orang-orang Pusparuri dan Kendali Putih di pinggir hutan itu. Seandainya aku tidak keluar mencarinya, maka akulah yang agaknya akan dicari oleh mereka karena ceritera Kuncung,” gumam Daruwerdi kepada diri sendiri. Namun tiba-tiba saja keningnya berkerut, “Tetapi dua orang yang menangkap Jlitheng itu tidak pernah datang kepadaku? Apakah ada pertimbangan lain. bahwa mereka sedang menyiapkan kekuatan yang lebih besar sehingga yang datang sekarang adalah orang-orang yang yakin akan dapat mengalahkan aku?”

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan melihat keadaan agar ia tidak terjebak didalam rumahnya yang sempit tanpa memastikan sebelumnya, apakah ia akan benar-benar ikut mencari Kuncung atau sekedar bersiaga.

Namun dalam pada itu. baik Daruwerdi maupun orang-orang Lumban Kulon sama sekali tidak mengetahui, bahwa dari halaman seberang, dibawah rimbunnya dedaunan seseorang sedang bersembunyi dan mengintai dengan hati-hati. Ketika orang itu melihat Daruwerdi keluar lagi dari rumahnya dengan senjata di lambung, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Mudah-mudahan Daruwerdi dapat menebak apa yang terjadi dan membawa aku langsung ke tempat yang aku cari,” katanya didalam hati.

Sebenarnyalah bahwa Jlitheng telah berusaha mengamati apa yang akan dilakukan oleh Daruwerdi. Ia sendiri sama sekali tidak tahu kemana ia harus mencari. Tetapi ia berharap bahwa berdasarkan atas hubungan yang pernah dilakukan oleh Daruwerdi dengan orang-orang yang tidak dikenalnya itu, akan mempermudah pelacakannya terhadap anak yang malang itu.

Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncati dinding-dinding penyekat halaman untuk mengikuti Daruwerdi yang berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan padukuhan. Ia sama sekali tidak berada diantara anak-anak muda yang lain dan orang-orang Lumban yang sedang mencari Kuncung dengan caranya.

Ketika Daruwerdi telah berada di bulak, maka Jlitheng harus menjadi lebih berhati-hati. Daruwerdi bukannya anak-anak Lumban kebanyakan sehingga karena itu, ia harus berusaha dengan segenap kemampuan yang ada, agar Daruwerdi tidak menyadari, bahwa ia sedang diikuti oleh seseorang.

Dalam pada itu Daruwerdi berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan demikian, Jlitheng pun menjadi semakin cepat pula mengikutinya.

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ternyata Daruwerdi telah menuju kearah bukit padas yang gundul. Rasa-rasanya memang ada hubungan yang khusus antara Daruwerdi dan bukit gundul itu. Beberapa orang kawan Jlitheng memang sering melihat, Daruwerdi pergi ke bukit itu tanpa dapat mengatakan, apa yang dikerjakannya disana.

Dengan sangat hati-hati Jlitheng mengikutinya. Rasa-rasanya semakin dekat dengan bukit padas yang gundul itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah Jlitheng akan melihat sekelompok orang yang telah siap menunggu kedatangan Daruwerdi untuk melakukan segala perintahnya.

Jlitheng segera bersembunyi dibalik semak-semak ketika Daruwerdi mulai melangkah naik keatas batu-batu padas. Dengan sangat hati-hati Jlitheng merayap dari balik gerumbul ke balik gerumbul lainnya, agar ia tidak terpisah terlalu jauh dari anak muda yang diikutinya.

Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat tidak seorang pun berada di bukit padas itu. Bahkan kemudian ia mendengar Daruwerdi itu memanggil, “Cempaka. Cempaka.”

Tetapi tidak terdengar jawaban apapun juga. Ia masih mendengar Daruwerdi memanggil beberapa kali. Namun tidak seorang pun yang menjawab.

Daruwerdi pun kemudian menengadahkan wajahnya. Terdengar ia bergumam, “Masih belum saatnya ia datang.”

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia melihat Daruwerdi kemudian duduk diatas batu padas.

“Gila,” desis Jlitheng didalam hatinya, “apakah ia hanya akan duduk saja disitu tanpa berbuat sesuatu.”

Beberapa saat Jlitheng masih menunggu. Tetapi akhirnya ia menggeram, “Jika aku menunggu saja disini, anak yang hilang itu akan diketemukan menjadi mayat. Ternyata Daruwerdi tidak ada minat untuk menolongnya.”

Sekilas ia membayangkan betapa Daruwerdi telah berusaha menyelamatkan jiwa Kiai Kanthi dan Swasti dari terkaman seekor harimau di hutan di bukit sebelah. Tetapi kenapa ia tidak berusaha dengan kesungguhan hati untuk menolong Kuncung yang hilang.

“Agaknya waktu itu secara kebetulan saja Daruwerdi melihat peristiwa itu. Kehadiran Daruwerdi saat itu di hutan itu tentu ada kepentingan lain. Tentu karena ia menunggu satu dua orang dalam hubungan yang khusus di pinggir hutan itu seperti saat ia menunggu orang Pusparuri yang ternyata telah dibunuh oleh orang-orang Kendali Putih,” Jlitheng mencoba menilai keadaan yang sedang dihadapinya. Dan ia-pun yakin karena ia mendengar Daruwerdi bergumam bahwa orang yang disebutnya Cempaka itu memang belum saatnya datang, sehingga yang dilakukan oleh Daruwerdi justru lebih banyak dihubungkan dengan kehadiran orang-orang yang asing bagi padukuhan Lumban.

Namun dalam pada itu Jlitheng menjadi bingung. Ia tidak sampai hati membiarkan Kuncung hilang tanpa pembelaan. Tetapi iapun mempunyai keinginan yang kuat untuk melihat, siapakah yang bakal datang di bukit padas dan yang disebut dengan panggilan Cepaka itu.

Sejenak Jlitheng berbantah dengan dirinya sendiri. Namun akhirnya ia menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri, “Nyawa anak itu harus diselamatkan dahulu. Baru aku akan datang lagi kemari.”

Jlitheng tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian beringsut dengan hati-hati meninggalkan tempatnya.

Ketika ia sudah menjadi semakin jauh dari bukit padas itu. maka ia pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah menyusuri bulak.

“Tetapi kemana aku mencari anak itu?” ia bertanya kepada diri sendiri, “daerah ini sangat luas. Mungkin di bulak, mungkin di padang perdu, mungkin di hutan itu.”

Sejenak Jlitheng mengingat-ingat dimana ia terakhir bertemu dengan Kuncung. Dari bukit gundul setelah mereka mengikuti latihan-latihan yang diberikan oleh Daruwerdi. Kuncung singgah sejenak di belik di tepian.

“Mungkin ketika ia pulang dari sungai itulah, ia bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal itu,” berkata Jlitheng kepada diri sendiri. Tetapi Jlitheng pun tidak segera dapat menebak, kemana Kuncung itu dibawa pergi.

Ketika Jlitheng kemudian berlari-lari kecil menuju ke lereng bukit, ia melihat dari kejauhan sekelompok orang-orang Lumban yang sedang mencari Kuncung. Dilihatnya beberapa buah obor di ujung padukuhan. Sementara di arah yang lain ia melihat pula beberapa obor dibawah pohon randu alas raksasa.

“Orang-orang Lumban kebingungan,” desisnya, “tetapi sulit untuk menemukannya.”

Semula ada niatnya untuk memanjat tebing menemui Kiai Kanthi. Namun akhirnya iapun mengurungkannya, karena hal itu hanya akan membuang waktu saja. Sudah barang tentu, anak itu tidak akan dibawa sampai ke lereng yang terlalu tinggi.

Karena ia tidak menemukan sesuatu di lereng bukit itu. maka Jlitheng pun segera bergeser. Bahkan kemudian ia berlari-lari kecil. Dijelajahinya tempat yang dianggapnya tersembunyi di pinggir hutan itu. Namun ia tidak menemukan sesuatu.

Dengan demikian maka Jlitheng pun berusaha mencari ke tempat yang lain. Tanpa mengenal lelah ia berlari menuju ke kuburan yang terpisah dari padukuhan. Meskipun ia tidak mencari kuntilanak, tetapi ia menganggap bahwa tempat itu cukup tersembunyi jika ada orang yang sengaja menyembunyikan diri bersama Kuncung.

Tetapi Jlitheng tidak menemukan yang dicarinya.

Keringat anak muda itu mulai membasahi seluruh tubuhnya. Bukan saja karena ia berlari-lari. Tetapi kegelisahannya telah membuatnya seakan-akan diperas, sehingga keringatnya telah mengalir di seluruh wajah kulitnya.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Jlitheng telah salah hitung. Justru karena ia mengurungkan niatnya memanjat tebing lebih tinggi lagi, maka ia tidak berhasil menjumpai anak muda yang sebenarnya memang dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.

Adalah kebetulan bahwa dua orang yang berjalan menuju ke tempat yang sepi itu telah bertemu dengan Kuncung seorang diri.

Mula-mula Kuncung sama sekali tidak menghiraukan dua orang yang datang menuju kearah ia berjalan. Bahkan kemudian iapun berhenti ketika salah seorang dari kedua orang itu memanggilnya.

“Ki Sanak,” berkata salah seorang dari keduanya, “apakah kau dapat menolong kami?”

Kuncung yang tidak berprasangka apapun itu menunggu keduanya. Baru ia merasa ngeri ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat. Wajah keduanya membayangkan kekerasan dan kekasaran.

Tetapi Kuncung sudah terlambat. Salah seorang dari kedua orang itu telah melekatkan ujung pisau belati ke lambungnya.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat mempercepat kematianmu anak muda.”

Kuncung menjadi gemetar. Iapun segera teringat peristiwa yang pernah dialami oleh Jlitheng. Karena itu, maka tubuhnya pun segera menggigil. Namun demikian, ia pun ingat, bahwa jika ia tidak berbuat sesuatu, maka ia pun akan pulang dengan selamat seperti Jlitheng.

Karena itu, maka Kuncung pun menurut saja apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Mereka bertiga pun kemudian berjalan menuju ke hutan di lereng bukit.

“Disana kita tidak akan diganggu oleh siapapun,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

Kuncung berjalan dengan kaki gemetar. Tetapi ia tidak dapat menolak.

Ketika mereka sudah sampai di kakí bukit, maka kedua orang itu telah membawa Kuncung untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Salah seorang dari keduanya berkata, “Jika orang-orang Lumban menyadari bahwa kau tidak kembali, mereka tentu akan mencari. Aku kira ada orang-orang penting di Lumban. Bukan berarti bahwa kami berdua menjadi ketakutan. Tetapi kami ingin berbicara dengan, kau tanpa terganggu.”

Kuncung tidak dapat berbuat lain. Dengan menggigil ia berjalan tertatih-tatih diantara pepohonan hutan yang semakin lama menjadi semakin lebat. Baru ketika mereka sudah berada di tempat yang agak tinggi, maka salah seorang dari keduanya-pun berkata, “Kita berhenti disini. Kita berbicara dengan hati terbuka. Kau mengerti maksudku ?”

Kuncung yang ketakutan mengangguk. Dalam gelapnya malam yang seakan-akan semakin kelam didalam hutan, Kuncung tidak dapat melihat cukup jelas wajah-wajah orang yang tidak dikenalnya itu.

“Jawab pertanyaanku anak muda,” berkata salah seorang dari keduanya, “apakah kau pernah mendengar kabar tentang kedatangan orang-orang asing di padukuhan Lumban?”

Kuncung mengerti, yang ditanyakan oleh kedua orang itu tentu peristiwa yang baru saja terjadi. Pembunuhan yang dilakukan oleh Daruwerdi di kaki bukit itu.

Karena itu, agar ia segera dibebaskan, ia pun berceritera tentang peristiwa itu menurut pendengarannya. Yang ia ketahui dengan pasti, saat itu ada tiga sosok mayat yang oleh orang-orang Lumban telah dikuburkan sebaik-baiknya.

“Aku ikut menyelenggarakan. Semua upacara dilakukan menurut yang seharusnya,” Kuncung mencoba mengambil hati orang-orang itu.

Kedua orang berwajah kasar itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan saksama. Namun kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah semuanya dibunuh oleh anak muda yang kau sebut bernama Daruwerdi itu?”

Sejenak Kuncung tertegun. Ia tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Yang ia dengar dari kawan-kawannya adalah bahwa Daruwerdi telah membunuh lawan-lawannya.

Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Tiga orang yang mati.”

“Kau sudah mengatakannya,” orang itu membentak, “tetapi siapakah yang membunuh? Apakah semuanya dibunuh oleh anak itu?”

“Ya,” Kuncung tergagap. Namun ia nampak semakin ragu-ragu.

Kedua orang itu mulai menjadi panas. Mereka menduga bahwa salah seorang dari tiga orang itu tentu dari perguruan Pusparuri. Tetapi anak yang dibawanya itu tidak dapat mengatakan, siapakah yang telah membunuh mereka.

“Anak gila,” bentak salah seorang dari mereka, “apakah kau tidak pernah mendengar Daruwerdi berceritera, atau kau dengan sengaja dipesan agar kau tidak mengatakannya kepada siapapun juga?”

Kuncung menjadi semakin gemetar. Orang-orang itu beringsut semakin dekat. Bahkan tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah menerkam rambutnya sambil berteriak, “katakan Siapa yang telah membunuh mereka.”

Darah Kuncung bagaikan berhenti mengalir. Wajah-wajah itu seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang semakin mengerikan. Dalam kegelapan Kuncung membayangkan wajah-wajah itu telah berubah menjadi buas. Giginya telah tumbuh menjadi taring-taring yang tajam. Matanya menjadi merah seperti bara dan lidahnya menjadi bercabang seperti lidah ular.

Kengerian yang sangat telah mencengkam hati Kuncung. Ia teringat kepada ceritera hantu yang sering menerkam dan menghisap darah. Dan kini rasa-rasanya ia sudah berhadapan dengan hantu-hantu itu.

Dalam pada itu, di lereng bukit, disebelah peristiwa yang mengerikan bagi Kuncung itu, Kiai Kanthi duduk berselimut bersandar sebatang pohon. Sementara Swasti tidur diatas sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun-daun ilalang yang kering. Udara malam yang terasa panas, menyebabkan kedua orang itu tidak menyalakan perapian. Namun rasa-rasanya nyamuknya semakin lama menjadi semakin banyak, sehingga Kiai Kanthi berusaha untuk menutup seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya.

Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi tiba-tiba saja telah beringsut sambil mengangkat wajahnya. Lamat-lamat dari jauh sekali ia mendengar suara kentongan dalam irama yang aneh. Bahkan kadang-kadang tidak berirama sama sekali.

“Apakah artinya,” pertanyaan itu tumbuh didalam hatinya.

Mula-mula ia tidak menghiraukannya. Mungkin ada sesuatu yang tidak dimengertinya telah terjadi. Tetapi, bukankah di padukuhan itu ada Daruwerdi dan Jlitheng.

Namun suara kentongan yang bagaikan berbisik dikejauhan itu masih saja terdengar. Masih dalam irama yang timpang dan aneh.

Tiba-tiba saja Kiai Kanthi menjadi gelisah. Tetapi ia tidak sampai hati membiarkan Swasti seorang diri dalam keadaan tidur. Karena itulah maka iapun kemudian membangunkan gadis itu dan berkata, “Hati-hatilah. Aku akan turun sejenak.”

“Ada apa ayah?” Swasti masih mengantuk.

“Dengarlah baik-baik. Kau akan mendengarkan suara kentongan dalam irama yang aneh.”

Sejenak Swasti terdiam. Seperti kata ayahnya, ia mencoba mendengarkan suara di sela-sela desir angin di dedaunan.

“Ya. Aku memang mendengar suara kentongan. Nampaknya dipukul begitu saja tanpa irama tertentu. Dan bukankah tidak hanya satu atau dua kentongan?”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Suara yang kadang-kadang agak jelas, namun kadang-kadang hilang itu memang sangat menarik perhatiannya.

“Swasti,” berkata Kiai Kanthi, “aku akan melihat, apakah yang telah terjadi. Suara itu tentu bukan suara gejog meskipun mereka yang baru belajar. Juga saatnya tidak tepat untuk bermain gejog, karena bulan tidak sedang bulat.”

“Aku ikut ayah,” tiba-tiba Swasti menyahut, “aku juga ingin melihat suara yang aneh itu. Seperti suara kotekan orang-orang padukuhan mencari anak yang dicuri kuntilanak.”

“He,” tiba-tiba saja Kiai Kanthi menengadahkan wajahnya. Lalu, “Mungkin Swasti. Memang mungkin. Yang kita dengar dari jauh ini hanyalah suara kentongannya. Mungkin diantara suara kentongan terdapat suara tampah, gembreng dan suara-suara yang lain.”

Swasti mengangguk-angguk. Gumamnya, “Menarik sekali. Marilah ayah. Aku ikut bersama ayah.”

Tetapi Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu. Katanya, “Bagaimana jika justru kau yang mereka sangka wewe itu ?”

“Ah,” Swasti memberengut, “menurut ceritera, wewe itu cantik sekali. Dan aku sama sekali tidak cantik.”

Ayahnya tersenyum. Namun iapun kemudian berkata, “Marilah. Bersiaplah menghadapi setiap kemungkinan di sepanjang jalan.”

Swasti pun membenahi pakaiannya. Bukan pakaian seorang gadis sewajarnya. Iapun kemudian menyelipkan senjatanya di lambung. Senjata yang selalu disembunyikannya diantara onggokan-onggokan pakaiannya yang sedikit. Dua buah pisau belati panjang di kedua lambungnya. Namun ia masih juga membawa beberapa buah pisau belati kecil di ikat pinggangnya.

Sejenak kemudian, kedua orang ayah dan anak itu menuruni tebing dengan hati-hati. Kecuali malam gelapnya bukan main, mereka pun secara naluriah merasakan suasana yang berbeda.

Tiba-tiba saja langkah Kiai Kanthi tertegun. Ia mendengar suara sesuatu agak dibawah. Sehingga karena itu maka ia pun menjadi semakin berhati-hati.

“Swasti,” bisiknya, “kau mendengar suara lain ?”

“Suara orang membentak-bentak ayah,” jawab Swasti, “tetapi tidak tepat dibawah kita sekarang.”

“Ya. Itu pun tidak kalah menariknya dengan suara kentongan itu.”

Sejenak keduanya berhenti termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Kanthi pun berkata, “Kita berbelok sedikit. Swasti. Mungkin suara kentongan itu ada hubungannya dengan peristiwa dibawah itu.”

Keduanya pun kemudian bergeser menempuh jalan yang lain. Dengan sangat hati-hati mereka beringsut diantara pepohonan dan batu-batu padas. Tetapi suara-suara yang terdengar itu telah menuntun mereka ke arah yang benar.

Semakin dekat mereka dengan suara itu, maka keduanya pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka beringsut setapak demi setapak, sehingga akhirnya mereka dapat mendengarkan seluruh pembicaraan antara dua orang berwajah kasar itu dengan Kuncung yang ketakutan.

“Jika kau tidak berterus terang, aku akan membunuhmu seperti membunuh seekor anjing,” geram salah seorang dari mereka.

“Aku tidak tahu,” suara Kuncung hampir tidak terdengar, “aku hanya tahu tiga orang mati dan orang-orang Lumban ikut menguburnya dengan baik-baik.”

Dada Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar, pembunuhan di lereng bukit itu, yang dilakukan oleh Daruwerdi. Dan iapun pernah mendengar ceritera Jlitheng tentang dua orang Kendali Putih yang datang kepadukuhan Lumban.

“Aku sudah menduga, bahwa persoalannya tidak akan terhenti sampai kematian dua orang yang dibunuh Jlitheng itu,” berkata Kiai Kanthi dengan berbisik ke telinga anak gadisnya.

Swasti mengangguk kecil. Namun iapun sadar, bahwa ia harus bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Meskipun agak sulit, namun keduanya berhasil mendekat lagi beberapa langkah. Mereka menjadi semakin jelas setiap kata yang mengancam. Dan bahkan Kiai Kanthi mendengar, orang-orang itu agaknya mulai memukul korbannya.

“Hem,” desah Kiai Kanthi, “apakah yang mereka lakukan.”

Swasti nampaknya tidak sabar lagi. Ia merangkak semakin dekat. Justru karena kedua orang itu sedang marah dan perhatiannya sepenuhnya telah terikat kepada anak muda Lumban itu, maka mereka tidak segera mendengar kehadiran orang lain disekitar mereka.

“He, katakan. Apakah diantara mereka terdapat orang-orang Pusparuri atau orang Kendali Putih atau orang lain lagi?” suara orang itu menjadi semakin keras.

Yang terdengar kemudian adalah suara tangis. Agaknya Kuncung itu mulai menangis, “Aku tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu.”

“Aku bunuh kau.”

“Jangan, jangan,” tangis Kuncung semakin keras.

“Anak gila,” geram salah seorang dari mereka, “kita harus mencari orang lain yang lebih tahu tentang hal ini. Mungkin kita akan langsung berhubungan dengan Daruwerdi. Tetapi mungkin kita akan mencari keterangan untuk menjajagi keadaan.”

“Lalu, anak ini?” desis yang lain.

“Bunuh saja. Dan lemparkan mayatnya di tempat yang lebih tinggi, yang tentu tidak akan diketahui orang. Bahkan mungkin akan menjadi mangsa harimau yang tentu masih ada di hutan ini.”

Mendengar jawaban orang berwajah garang itu, tangis Kuncung menjadi semakin keras. Hampir berteriak ia berkata disela-sela tangisnya, “Jangan, jangan.”

“Berteriaklah,” berkata orang berwajah garang itu, “suaramu akan hanyut oleh angin di hutan ini. Tidak seorang pun yang mendengar kecuali binatang buas yang sebentar lagi akan mengoyak tubuhmu.”

“Jangan, jangan,” Kuncung berlutut sambil berpegangan kain salah seorang dari kedua orang yang garang itu. Namun sebuah hentakan kaki telah melemparkan anak yang malang itu.

Adalah diluar kehendaknya bahwa kepala Kuncung telah terantuk batu padas, sehingga suaranya pun tiba-tiba terputus.

“Kenapa anak itu ?” salah seorang dari keduanya bertanya.

Yang seorang mendekatinya sambil meraba tubuh Kuncung. Katanya, “Anak itu masih hidup. Ia pingsan.”

“Kau tinggal mencekiknya. Kemudian melemparkannya ke tempat yang lebih dalam lagi agar tidak seorang pun yang menjumpainya lagi.”

“Tetapi bahwa anak itu hilang tentu akan menarik perhatian orang-orang Lumban.”

“Mereka tidak akan mengetahui siapakah yang telah membawanya.”

“Mungkin. Tetapi Daruwerdi sendiri tentu akan sampai pada perhitungan yang demikian.”

“Aku tidak peduli. Bahkan jika perlu, Daruwerdi akan mati juga disini.”

Kawannya terdiam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Cepatlah. Kita masih mempunyai banyak persoalan.”

Kawannya pun kemudian melangkah selangkah maju. Dipandanginya tubuh Kuncung yang terbaring dalam kegelapan. Namun kemudian tanpa ragu-ragu orang itupun berjongkok sambil mengulurkan tangannya untuk mencekik leher Kuncung yang sedang pingsan.

Namun keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang mendehem. Hampir terlonjak keduanya melompat surut.

“Selamat datang di padepokanku anak-anak,” terdengar seseorang berkata dari balik gerumbul.

Kedua orang itu benar-benar terkejut. Apalagi ketika kemudian mereka melihat bayangan dua orang yang menyibak gerumbul dan mendekati tempat mereka berdiri termangu-mangu.

“Siapa kau he?” salah seorang dari kedua orang itu bertanya.

Kiai Kanthi yang mengintip apa yang telah terjadi, tidak dapat membiarkan pembunuhan itu terjadi. Karena itu maka ia pun telah keluar dari persembunyiannya untuk mencegah pembunuhan itu.

“Siapa kau he? Siapa?” orang itu membentak semakin keras.

“Kenapa kau berdua berani memasuki padepokanku dan menginjak-injak taman bunga yang aku pelihara rapi he?” berkata Kiai Kanthi.

“Gila. Apakah kau orang gila ?”

“Aku adalah pemilik padepokan yang asri ini. Kau jangan merusakkan kebun bungaku. Dan kehadiranmu telah mengejutkan para cantrik, jejanggan dan para putut yang masih muda-muda.”

“He, orang gila. Kenapa kau datang kemari.”

“Aku bukan orang gila. Aku adalah pemilik petamanan dan padepokan ini. Aku datang ke duniamu untuk memperingatkan-mu agar kau tidak melanjutkan tingkahmu yang merusakkan padepokanmu.”

“Bunuh saja sama sekali,” geram yang seorang dari kedua orang berwajah kasar itu.

“Aku bukan mahluk dari duniamu sehingga kau tidak akan dapat membunuhku. Aku datang dengan anak gadisku ke dunia manusia untuk mempertahankan milikku. Mungkin dari dunia manusia kau melihat daerah ini berupa hutan belukar. Tetapi sebenarnya ini adalah padepokan yang sangat asri.”

Kedua orang itu tidak sabar lagi mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan Swasti pun tidak sabar pula, Katanya, “Ayah terlalu berbelit-belit. Tangkap saja mereka dan barangkali ayah dapat membawanya ke Lumban Wetan atau Lumban Kulon bersama anak yang pingsan itu.”

Yang terdengar kemudian adalah kedua orang itu menggeram. Salah seorang dari mereka berkata dengan suara bergetar oleh kemarahan, “Jangan banyak tingkah orang-orang gila. Kami terpaksa membunuh kalian pula seperti kami membunuh anak yang malang ini.”

“Apa salahnya kau akan membunuh anak itu,” potong Swasti dengan lantang, “kau sama sekali tidak berperikemanusiaan. He, apakah kalian orang-orang Kendali Putih?”

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Hampir berbareng mereka bertanya, “Kau kenal orang-orang Kendali Putih?”

“Aku tahu bahwa kau sedang memaksa anak itu menceriterakan apa yang tidak diketahuinya. He, bukankah kau sedang bertanya tentang orang-orang yang mati di lereng bukit ini?”

“Ya. Apakah kau mengetahuinya? Anak ini menyebut tiga sosok mayat. Siapakah mereka? Dan apakah ketiga-tiganya telah dibunuh oleh anak muda yang disebutnya bernama Daruwerdi?”

“Meskipun kau bunuh sekalipun anak itu tidak akan dapat mengatakannya, karena yang diketahuinya memang sangat terbatas.”

“Apakah kau dapat mengatakannya?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Siapa kalian?” tiba-tiba Swasti bertanya.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Gadis itu sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Kata-katanya lantang dan sikapnya meyakinkan. Karena itulah maka keduanya pun menjadi berhati-hati karenanya.

“Siapa kalian?” suara Swasti semakin keras.

“Kami adalah orang-orang Pusparuri,” jawab salah seorang dari mereka, “karena itu. jangan mencoba mengelabui kami.”

Swasti terdiam sejenak. Ketika ia berpaling ke ayahnya, maka dilihatnya ayahnya bergeser selangkah maju. Dengan ragu-ragu Kiai Kanthi bertanya, “Apakah benar kalian orang-orang Pusparuri?”

“Ya,” geram salah seorang dari mereka, “karena itu jangan bermain-main dengan kami. Katakan saja apa yang kalian ketahui tentang kawanku yang terdahulu, yang sampai sekarang tidak pernah kembali.”

“Apakah kau tidak tahu apa yang dilakukan oleh kawanmu itu?”

“Kami tahu pasti. Kawanku itu telah pergi ke padukuhan ini untuk suatu tugas.”

Tiba-tiba saja Swasti menyahut mendahului ayahnya, “Tentu kau tidak akan membawa anak yang pingsan itu kemari jika kau tahu pasti apa yang terjadi.”

“Aku hanya tahu bahwa seorang kawanku datang kemari.”

“Kau tahu tugas apa yang dilakukan disini?”

Kedua orang yang mengaku dari Pusparuri itu termangu-mangu. Namun salah seorang membentak, “Itu bukan persoalanmu. Jawab pertanyaanku, apa yang kau ketahui tentang orang Pusparuri yang datang kemari.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar peristiwa antara orang-orang Kendali Putih, orang Pusparuri dan Daruwerdi, ia mengharap bahwa orang-orang Pusparuri itu memiliki sifat yang berbeda dengan orang-orang Kendali Putih. Ternyata diantara kedua perguruan itu nampaknya tidak banyak berbeda. Karena itulah, maka Kiai Kanthi justru mulai menilai Daruwerdi, yang telah berhubung an dan bahkan ada tanda-tanda kerja sama dengan orang-orang Pusparuri.

“Jawab pertanyaan kami,” tiba-tiba orang Pusparuri itu membentak.

Swasti menggeram sambil bergumam, “Jangan membentak, seperti terhadap anak yang pingsan itu, supaya mulutmu tidak aku sumbat.”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Keduanya tidak mengira bahwa tiba-tiba saja gadis itu menantangnya.

“Kau memang orang-orang gila yang tidak mengetahui siapa kami. Baiklah. Bersiaplah untuk mati Apapun yang akan kalian lakukan, kalian akan mati seperti anak. muda itupun akan mati. Tetapi jika kalian mau menceritakan apa yang terjadi, maka jalan kematianmu akan sempurna. Terutama bagi perempuan itu. Kematiannya tidak akan dialaminya dalam kengerian justru karena ia perempuan.”

“Kemarahan Swasti telah melonjak jika ayahnya tidak menggamitnya. Bisiknya, “Hati-hatilah Swasti. Jangan terbiasa menuruti perasaan.”

Tetapi Swasti berteriak, “Mereka bukan manusia wajar lagi ayah.”

“Ketahuilah,” berkata Kiai Kanthi tanpa menghiraukan kata-kata anaknya, “Kawanmu dari Pusparuri itu memang datang. Tetapi agaknya orang-orang Pusparuri, seperti kalian, tidak tahu apa yang dilakukannya disini. Persoalannya mungkin terbatas antara Daruwerdi dan pimpinan tertinggi Pusparuri serta orang yang berciri sandi ular sanca bertanduk genap.”

“Jangan mengigau. Dimana ia kawanku itu he?”

Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menceriterakan apa yang diketahuinya dari Jlitheng tentang orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih.

“Gila,” orang-orang Pusparuri itu menggeram, “jadi orang-orang Kendali Putih itu telah membunuh kawanku yang datang untuk menjumpai Daruwerdi?”

“Ya. Sekarang kembalilah kepada kawan-kawanmu. Katakan apa yang sudah terjadi disini. Mungkin kau mempunyai adat tersendiri untuk menyelesaikan persoalanmu.”

Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kami akan kembali untuk menghancurkan orang-orang Kendali Putih. Tetapi kami tidak akan dapat membiarkan kalian tetap hidup.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sejenak ia justru termangu-mangu, sementara orang-orang Pusparuri itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Salah seorang dari mereka menggeram, “Tidak ada seorang pun yang akan tetap tinggal hidup agar semua rencanaku tidak kandas di jalan. Kami masih akan menjumpai Daruwerdi untuk mencari kebenaran ceriteramu. Tetapi jika justru Daruwerdi lah yang telah membunuhnya, maka iapun akan dimusnakan.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian orang-orang aneh. Kami sudah mengatakan apa yang kami ketahui. Seharusnya kalian berterima kasih kepada kami. Bukan justru sebaliknya. Bahkan jika kalian juga berbaik hati kalian tentu akan menceriterakan serba sedikit tentang Perguruan Pusparuri meskipun dalam hubungannya dengan Daruwerdi itu kau tidak mengerti.”

“Cukup,” bentak salah seorang dari mereka, “sudah aku katakan, tidak seorang pun yang akan tetap hidup. Kalian berdua akan mati. Dan anak itupun akan mati.”

Ternyata Swasti lah yang tidak sabar lagi. Dengan lantang ia berkata, “Sudahlah ayah. Jangan merajuk seperti kanak-kanak. Kalau mereka akan membunuh kita, kenapa bukan kita sajalah yang membunuh mereka lebih dahulu.”

“Gila,” salah seorang dari kedua orang Pusparuri itu hampir berteriak, “kalian memang orang-orang gila.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Terserah kepadamu Swasti. Apakah memang sudah menjadi keharusan, bahwa demikian kita menginjak tlatah ini, kita dihadapkan pada keadaan yang sama sekali tidak kita inginkan.”

“Sudahlah ayah,” potong Swasti, “ayah masih saja merajuk. Biarlah aku mencoba mempertahankan diri. Jika terpaksa aku akan membunuh mereka berdua.”

Kedua orang Pusparuri itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Karena itu, tanpa menjawab, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah meloncat menyerang Swasti. Tangannya langsung mengarah ke dadanya dengan sepenuh tenaga. Jika tangan itu menyentuh sasaran, maka dada Swasti tentu akan sekaligus retak karenanya.

Swasti sadar, bahwa orang-orang Pusparuri yang marah itu tentu akan menghantamnya sampai mati pada pukulan pertama. Itulah sebabnya, maka iapun sudah bersiaga, sepenuhnya.

Dengan demikian maka ketika tangan orang Pusparuri itu terjulur ke dadanya, Swasti sudah siap untuk meloncat menghindarinya.

Orang-orang Pusparuri memang sudah mengira bahwa kedua orang itu tentu memiliki bekal kemampuan. Namun bahwa yang dilakukannya itu adalah tiba-tiba dan di luar dugaan, tetapi masih dapat juga dihindari oleh gadis itu, tiba-tiba saja telah terbersit pertanyaan, “Apakah keduanya benar-benar mahluk dari dunia lain yang telah memasuki dunia manusia.”

Dalam pada itu, ternyata Swasti tidak hanya sekedar menghindar. Meskipun malam gelap, apalagi didalam rimbunnya dedaunan sehingga mata bagaikan menjadi buta, namun ketajaman mata Swasti masih dapat menembus kelam, sehingga ia dapat melihat bayangan kedua orang Pusparuri. Dengan demikian, maka ketika lawannya gagal menyerangnya, justru Swasti lah yang kemudian meloncat menyerang dengan cepat dan keras pula.

Yang dilakukan Swasti itu telah membuat lawannya semakin heran. Lawannya yang terkejut karena serangannya, tiba-tiba saja telah menjatuhkan diri untuk menghindari sambaran serangan Swasti.

Orang Pusparuri yang lain pun tidak tinggal menontonnya saja. Meskipun ia juga dijalari oleh keragu-raguan, apakah yang dihadapinya itu mahluk sejenisnya, atau justru dari dunia yang lain.

Sebelum kawannya yang berguling di tanah itu meloncat bangkit, maka kawannya telah mendahului menyerang Swasti pula.

Dengan demikian, maka dalam kegelapan itu telah terjadi pertempuran yang dahsyat. Seorang gadis seorang diri bertempur melawan dua orang laki-laki yang garang.

Untuk sejenak Kiai Kanthi masih berdiri diluar arena. Yang dilakukan kemudian adalah mengangkat Kuncung yang masih pingsan dan membawanya agak menjauh. Bahkan ketika kemudian Kuncung mulai menggeliat. Kiai Kanthi telah menyentuh pusat syarafnya, sehingga sekali lagi Kuncung seolah-olah jatuh tertidur.

“Tidur sajalah anak muda,” desis Kiai Kanthi, “agar kau tidak malah menjadi hambatan kami melawan orang-orang garang itu.”

Dalam pada itu. Kiai Kanthi pun kemudian menekuni anak gadisnya yang sedang bertempur. Bahkan kemudian timbul niatnya untuk melihat, apakah Swasti benar-benar dapat menempatkan diri diantara anak-anak muda yang mengagumkan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Daruwerdi telah berhasil membunuh dua orang Kendali Putih. Demikian juga Jlitheng.

“Apakah anak gadisku juga mampu mempertahankan dirinya melawan keduanya meskipun mungkin tataran kemampuan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri tidak sama,” desis Kiai Kanthi didalam hatinya.

Dalam pada itu, pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua orang Pusparuri itu telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalahkan lawannya yang tidak lebih dari seorang gadis. Namun ternyata bahwa Swasti benar-benar tangkas, lincah dan bahkan memiliki kekuatan yang mengagumkan. Jauh melampaui kekuatan kebanyakan gadis.

Kedua orang lawannya pun kemudian mengambil kesimpulan bahwa gadis itu memang orang aneh. Mungkin ia memang sejenis mahluk dari dunia lain. Tetapi mungkin juga manusia biasa yang pernah mengalami tempaan yang lama dan bersungguh-sungguh. Namun siapapun perempuan itu ia harus dibinasakan.

Kedua orang Pusparuri itu tidak mau bekerja terlalu lama. Karena ku, ketika mereka menyadari bahwa lawannya adalah seorang yang tidak sewajarnya, maka mereka pun tiba-tiba saja telah menggenggam senjata ditangannya. Yang seorang menggenggam sebilah golok yang besar dan berat, sementara yang lain memegang pedang yang tajamnya rangkap timbal balik.

Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar melihat senjata-senjata itu. Anak gadisnya tidak membawa senjata yang memadai. Gadis itu hanya membawa pisau belati panjang yang jauh lebih kecil dari senjata-senjata yang garang itu.

Namun Swasti benar-benar lincah. Dengan mantap ia pun kemudian menggenggam kedua pisau belatinya di kedua tangannya.

Dalam malam yang gelap itu, mereka telah terlibat dalam pertempuran senjata yang dahsyat. Sebuah golok yang besar terayun-ayun dengan derasnya, sementara pedang bertajam rangkap berputaran seperti baling-baling.

Tetapi gelap malam itu justru memberikan kesempatan lebih banyak pada Swasti untuk mempergunakan batang-batang pepohonan sebagai perisainya. Sekali ia melenting menyerang dengan cepatnya, namun ketika kedua lawannya menyerang bersama-sama, Swasti meloncat diantara batang-batang pohon yang besar.

Kedua lawannya yang garang itu menjadi semakin marah. Seperti seekor harimau yang diganggu oleh seekor kelinci kecil diantara keempat kakinya.

Namun ternyata bahwa kedua orang itu akhirnya dapat mengurung dan membatasi gerak Swasti. Senjata mereka yang panjang dan tata gerak mereka yang garang dan kasar, berhasil mendesak Swasti sehingga Swasti lebih banyak menghindar sambil berloncatan diantara pepohonan.

Meskipun demikian, serangan Swasti yang tiba-tiba masih tetap merupakan bahaya bagi kedua orang Pusparuri itu. Bahkan kadang-kadang keduanya seolah-olah telah kehilangan lawannya yang dengan tiba-tiba saja telah menyerang kearah lambung dengan pisau-pisau belatinya.

Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Swasti tidak mempunyai cara lain untuk mengatasi kedua lawannya selain dengan kecepatannya berloncatan diantara batang-batang pohon dan gerumbul-gerumbul

Tetapi lawannya yang marah tidak ingin melepaskannya. Keduanya ternyata mampu bekerja bersama sebaik-baiknya. Disaat-saat Swasti meloncat menghindari serangan pedang bermata rangkap, tiba-tiba saja golok yang besar itu telah terayun menebas lehernya.

Swasti tidak menangkis dengan membenturkan senjatanya yang kecil. Ayunan tenaga lawannya yang kuat atas senjatanya yang berat, akan merupakan kekuatan yang besar. Meskipun dengan mengerahkan kekuatannya, Swasti dapat membentur senjata lawannya, tetapi dengan demikian ia akan terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga ia akan cepat menjadi lelah.

Yang dilakukan oleh Swasti adalah memukul senjata lawannya menyamping, namun dengan pisaunya yang lain. Ia berusaha menyerang dada lawannya yang terbuka.

Namun lawannya pun cepat menghindar, sementara yang seorang lainnya telah menyerangnya pula.

Kiai Kanthi yang menyaksikan pertempuran itu. akhirnya melihat bahwa keadaan Swasti tidak menguntungkan. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati arena. Namun tiba-tiba saja Swasti berteriak, “Jangan ganggu aku ayah.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu kekerasan hati anaknya. Namun sudah barang tentu dalam keadaan yang gawat ia tidak akan membiarkan anaknya menjadi korban perasaannya itu.

Dalam pada itu, Swasti masih bertempur dengan sengitnya. Sementara Kiai Kanthi mencoba menilai kedua lawannya.

“Apakah orang-orang Kendali Putih itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan orang-orang Pusparuri ?” ia bertanya didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, debar jantung Kiai Kanthi menjadi semakin cepat. Swasti benar-benar mengalami kesulitan. Ayunan senjata kedua lawannya yang besar dan berat itu memang menyulitkan Swasti yang bersenjata sepasang pisau belati.

Akhirnya Swasti tidak dapat mengingkari kenyataan itu. ia lebih banyak terdesak dan kadang-kadang tangannya mulai bergetar jika ia terpaksa membenturkan pisau belatinya menangkis ayunan senjata lawannya yang berat dan panjang.

Kiai Kanthi masih termangu-mangu. Jika ia memaksa ke arena, anaknya tentu akan marah kepadanya dan seperti biasanya jika ia marah, maka sehari penuh ia tidak akan mengucapkan sepatah katapun.

Namun selagi Kiai Kanthi termangu-mangu. tiba-tiba saja wajahnya menegang. Bahkan ia bergeser setapak maju. Ia melihat Swasti berdiri dalam keadaan yang sulit. Lawannya berada di dua sisi yang berbeda, sementara keduanya sudah siap untuk menyerang.

“Ia akan terpancing pada satu keadaan yang sulit. Keduanya akan bekerja bersama menjebak perhatian Swasti pada satu sisi,” berkata Kiai Kanthi kepada diri sendiri.

Karena itulah, maka ia pun segera mempersiapkan diri pula jika keadaan memaksa. Ia lebih senang melihat Swasti diam sehari penuh atau bahkan dua atau tiga hari daripada Swasti dibantai oleh kedua orang lawannya.

Seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Kanthi. maka keduanya mulai bergerak. Tetapi seorang diantara mereka mencoba melingkar dengan putaran senjatanya yang bertajam di kedua sisinya. Demikian keras putaran itu, sehingga seolah-olah menimbulkan angin yang berdesing mengguncang dedaunan.

Perhatian Swasti memang lebih banyak tertuju kepada pedang yang berputar itu. Namun sementara itu. lawannya yang bergolok besar, bergeser mendekat, seperti seekor harimau yang perlahan-lahan merunduk lawannya.

Namun tiba-tiba terjadi sesuatu diluar perhitungan kedua orang itu. Meskipun perhatian Swasti lebih banyak tertuju kepada desing pedang bertajam rangkap, tetapi ternyata ia pun mempunyai perhitungan lain.

Sejenak kemudian, seperti yang diperhitungkan, maka orang berpedang itupun meloncat menyerang, langsung menebas ke kening. Dengan tangkasnya Swasti merendah sambil bergeser. Pada saat itulah lawannya yang lain meloncat menusuk dengan goloknya yang besar.

Yang tidak diperhitungkan oleh orang bergolok itu adalah, bahwa Swasti tidak berguling atau meloncat jauh-jauh untuk menghindar, sementara seorang yang lain siap untuk memburunya.

Bahkan Kiai Kanthi pun tergetar hatinya melihat sikap anaknya. Bukan karena Swasti tidak lagi sempat berbuat sesuatu. Tetapi yang dilakukan adalah justru sangat mengejutkan.

Ketika orang bergolok itu meloncat dengan senjatanya terjulur lurus, tanpa disangka-sangka Swasti justru telah melemparkan pisau belatinya. Demikian keras dan dengan bidikan yang tepat, maka yang terdengar kemudian adalah keluhan panjang. Ujung golok itu tidak sampai menyentuh lawannya, karena pisau belati yang menghunjam ke pusat jantung.

Yang terjadi itu benar-benar telah menggoncangkan hati orang berpedang yang menjadi tegang. Ia melihat kawannya terhuyung-huyung, kemudian jatuh menelungkup, hanya beberapa jengkal didepan Swasti. Meskipun goloknya masih tetap ditangan, namun tidak ada kekuatan lagi untuk menekankan goloknya itu ke tubuh gadis yang masih berdiri merendah.

Baru sekejap kemudian kawannya menyadari apa yang telah terjadi. Karena itu, maka terdengar ia menggeretakkan giginya. Diantara gemeretak giginya ia menggeram, “Anak gila, kuntilanak, setan, tetekan. Kau harus mati dan mayatmu akan dicincang sampai lumat.”

Swasti meloncat selangkah menjauh. Ia kemudian harus bersiap menghadapi lawannya yang seorang lagi. Namun ia merasa bahwa tugasnya akan menjadi lebih ringan, meskipun senjatanya tidak lagi genap sepasang.

Sementara itu, Kiai Kanthi maju selangkah mendekati arena sambil berkata, “Ki Sanak dari dunia wadag. Sudah aku katakan, bahwa kami adalah penghuni hutan ini yang tidak akan dapat kau kalahkan. Karena itu, mumpung kau masih belum cidera oleh kuntilanak itu, pergilah. Tinggalkan tempat ini.”

“Gila. Kalian bukan orang halus yang turun kedua wadag. Tetapi kalian adalah orang-orang gila yang berkesempatan untuk menyadap ilmu yang tinggi. Jika kalian tidak aku binasakan, maka kalian akan merupakan bahaya yang paling besar bagi sesamamu.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Tetapi Swasti sudah mendahuluinya, “Biarkan apa saja yang akan dilakukan ayah. Aku akan membunuhnya juga seperti kawannya agar ia tidak akan dapat berbicara tentang kita kepada siapapun juga.”

“Ah,” desah Kiai Kanthi, “kita dapat berbuat lain.”

Tetapi Swasti tidak menjawab, karena orang berpedang itu sudah meloncat menyerangnya dengan dahsyatnya.

Ayunan pedangnya yang mengerikan itu, bagaikan badai yang melanda hutan itu, meskipun hanya selingkar kecil. Namun dedaunan dan dahan-dahan berpatahan dan runtuh di tanah. Gerumbul-gerumbul bagaikan ditebas, sementara pokok-pokok pepohonan telah terkelupas kulitnya.

Namun Swasti mampu mengimbangi kecepatan bergerak lawannya. Setelah seorang dari mereka terbunuh, maka Swasti mempunyai kesempatan lebih banyak. Bahkan ia dapat bertempur berhadapan, meskipun ia hanya membawa sebilah belati panjang.

Kiai Kanthi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Anak gadisnya memang seorang yang keras hati. Jika ia sudah bersikap maka sulitlah baginya untuk mengendorkannya.

Karena itu, dengan berdebar-debar Kiai Kanthi menyaksikan apa yang telah terjadi. Ia hanya dapat menunggu akhir dari perkelahian itu, meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan, karena bagaimanapun juga ia tidak akan dengan rela kehilangan anak gadisnya.

Dalam pada itu. pertempuran itupun masih berlangsung dengan sengitnya. Namun Swasti telah berhasil mendesak lawannya, sehingga lawannya yang bersenjata pedang itulah yang kemudian lebih banyak berlindung diantara pepohonan.

Namun Swasti memang mampu bergerak dengan cepat dan tangkas. Pisau belati panjangnya yang tinggal sebilah itu berputaran dan mematuk-matuk. Rasa-rasanya pisau itu telah menjadi rangkap sepasang seperti sebelumnya. Bahkan pisau itu bagaikan bertambah semakin banyak. Seolah-olah menjadi dua pasang, tiga pasang, dan kemudian seolah-olah berada di seputar tubuhnya.

Sentuhan-sentuhan pertama dari ujung belati, membuat orang itu menjadi semakin garang dan kasar. Pedangnya pun berputaran, menebas mendatar, namun kadang-kadang menusuk dengan dahsyatnya. Namun ternyata bahwa Swasti mampu bergerak lebih cepat dari lawannya.

Terasa pada beberapa bagian tubuhnya, perasaan pedih telah menyengat-nyengat. Darah mulai menitik dari luka-lukanya, meskipun luka-luka itu tidak segera membunuhnya.

Namun kematian itu memang sudah membayang. Ia sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari tusukan pisau belati panjang Swasti di punggung, pundak dan kemudian lambung.

Betapa pedihnya luka-luka di tubuh itu. Tetapi lebih pedih lagi luka di hatinya. Ia datang dengan seorang kawannya untuk mencari orang yang terdahulu datang di padukuhan ini. tetapi tidak kembali. Bahkan kini, ia sendiri telah terjebak dalam kesulitan dan bahkan kedalam belitan maut.

“Apakah orang-orang ini pula yang telah membunuh orang-orang Pusparuri dan Kendali Putih?” pertanyaan itu tumbuh di hatinya.

Tetapi ia tidak dapat mempersoalkan terlalu lama, karena ujung pisau belati gadis itu telah menggores lengannya.

Kemarahan orang berpedang itu bagaikan telah membakar otaknya, sehingga ia tidak sempat lagi berpikir. Oleh perasaan pedih dikulitnya dan pedih di hatinya, maka iapun mengamuk seperti seekor harimau yang sedang wuru. Pedangnya diayun-ayunkannya sambil berteriak sekeras-kerasnya. Meloncat-loncat dan menyerang sejadi-jadinya tanpa menghiraukan apa yang telah dan akan terjadi atasnya.

Bagaimanapun juga tabahnya hati Swasti, namun melihat lawannya menjadi gila, hatinya tergetar pula. Tiba-tiba saja ia merasa berhadapan dengan seseorang yang buas dan liar.

Justru karena itulah, maka Swasti pun kemudian justru terdesak. Bukan karena lawannya berhasil mengerahkan tenaga cadangan yang dapat mendorong kecepatan geraknya, tetapi semata-mata karena Swasti menjadi ngeri, melihatnya.

Kiai Kanthi pun menjadi semakin berdebar-debar. Lawan Swasti telah menjadi putus asa, sehingga karena itu, maka yang dilakukannya tidak lebih dari bunuh diri. Tetapi keliarannya itu ternyata telah membuat Swasti menjadi ngeri.

Namun dengan demikian, maka Swasti pun telah kehilangan pengendalian diri. Jika semula ia masih memikirkan kemungkinan untuk menghidupi lawannya dan memikirkan penyelesaiannya kemudian, maka pikiran itu telah lenyap bersama kengerian yang mencengkamnya.

Pada saat-saat yang gawat karena keliaran orang Pusparuri itulah, Swasti telah mengambil sikap seperti yang pernah dilakukannya. Ketika lawannya meloncat sambil memutar pedangnya dengan gila, gadis itu berdiri tegak menunggunya. Kemudian, sebuah loncatan yang deras telah melemparkan pisau belatinya tepat mematuk dada.

Terdengar orang itu berteriak penuh kemarahan. Namun kemudian suaranya menghilang diantara desir lembut angin pegunungan.

“Ayah,” desis Swasti sambil memalingkan wajahnya.

Ayahnya mendekatinya. Ketika ia menyentuh anak gadisnya, maka tiba-tiba saja Swasti telah memeluknya. Terasa di dada ayahnya, nafas Swasti memburu seperti detak jantungnya.

 

Bersambung ke jilid 4

 

 Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com
oleh Ki Arema

kembali | lanjut

a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s