MAdBB-23


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 23

kembali | TAMAT

cover madbb-23BRAMADARU menjadi berdebar-debar ketika mereka menjadi semakin dekat dengan tempat yang sudah ditentukan. Rasa-rasanya sebuah tugas yang berat harus dilakukan.

Namun diluar kehendaknya ketika Raden Ajeng Ceplik kakinya tersangkut pada sebatang akar kayu dan hampir saja jatuh terjerembab, maka dengan serta merta Bramadaru pun telah menangkapnya, sehingga Raden Ajeng Ceplik itu jatuh ke tangannya.

Diluar kehendaknya pula tiba-tiba saja Bramadaru merasa gadis cantik itu berpegangan pinggangnya.

“O” desis Raden Ajeng Ceplik, “kakiku tersandung”

Bramadaru masih memegangi tubuh Raden Ajeng Ceplik Rasa-rasanya tubuh itu begitu hangatnya. Tubuh seorang gadis cantik yang berjalan di hutan perdu sehingga harus menyingsingkan kain panjangnya.

Tiba-tiba saja darah Bramadaru mulai bergejolak. Sifat dan kebiasaannya menghadapi gadis-gadis cantik telah menembus lapisan kesadarannya sehingga sulit untuk dikuasainya lagi.

“Gadis ini sudah tidak ada gunanya lagi” berkata anak muda itu di dalam hatinya, “karena itu, kau akan dapat memperlakukan apa saja menurut kehendakku. Aku tidak peduli, apakah yang akan dilakukan oleh Pangeran Sena Wasesa terhadap anak perempuannya ini. Bahkan anak ini akan dapat aku bungkam untuk selamanya, atau disembunyikan di tempat tertentu justru karena kecantikannya dan aku memerlukannya. Dengan demikian maka pamanda Sana Wasesa tidak akan mengetahui apa yang pernah terjadi atasnya”

Karena itu, maka tiba-tiba saja Bramadaru justru memeluknya semakin erat, sehingga Raden Ajeng Ceplik itu menjadi sulit untuk bernafas.

“Kakangmas” desis Raden Ajeng Ceplik, “Apa yang kau lakukan?”

Perlahan-lahan Bramadaru melepaskan gadis itu. Kemudian dipandanginya sebatang pohon nyamplung yang nampak beberapa puluh langkah di hadapannya. Di bawah pohon itu telah siap seseorang yang akan merebut gadis cantik itu.

“Supaya orang itu tidak menggangguku, aku akan menemuinya saja” berkata Bramadaru di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Bramadaru itu pun telah membimbing Raden Ajeng Ceplik untuk maju lagi beberapa puluh langkah mendekati sebatang pohon nyamplung yang besar itu.

Namun terasa oleh Raden Ajeng Ceplik, ada perubahan sikap kakak sepupunya itu. Ia memegang tangannya semakin erat. Setiap kali Bramadaru itu memandanginya seperti belum pernah melihatnya.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah mendekati pohon nyamplung yang besar itu. Pohon yang nampak kehitaman di dalam gelapnya malam.

Ternyata Raden Ajeng Ceplik menjadi agak ketakutan untuk melewati bayangan pohon nyamplung yang besar itu, sehingga karena itu, maka langkahnya pun tertegun.

Bramadaru menariknya perlahan-lahan. Namun gadis itu berdesis, “Aku takut kakangmas”

Bramadaru mengerutkan keningnya. Desisnya, “Kenapa takut?”

Raden Ajeng Ceplik tidak segera menjawab. Dipandanginya pohon nyamplung yang besar berdaun rimbun. Di dalam keremangan malam nampaknya seperti sesosok raksasa yang berambut gimbal siap untuk menerkamnya.

“Marilah” Bramadaru menarik tangan Raden Ajeng Ceplik, “Jangan menunggu sampai orang-orang yang mengejar kita menemukan kita disini”

“Tetapi pohon itu” desis Raden Ajeng Ceplik.

“Kenapa dengan pohon itu? Marilah. Pohon itu tidak apa-apa. Pohon nyamplung itu tidak akan menelan kita” Bramadaru hampir kehilangan kesabaran.

Karena Radon Ajeng Ceplik masih ragu-ragu, maka Bramadaru pun menariknya sambil berkata, “Jangan membuat kesulitan. Kita akan berjalan cepat melintasi pohon itu. Selanjutnya kita akan segera sampai ke tempat yang kita tuju dengan aman”

Raden Ajeng Ceplik tidak dapat membantah. Apalagi ketika tiba-tiba saja Bramadaru berkata, “Atau kau memilih aku tinggalkan sendiri disini? Mungkin seekor harimau akan datang menyergapmu atau mungkin sesosok hantu yang turun dari pohon nyamplung itu”

“O. Jangan” Raden Ajeng Ceplik menjadi sangat ketakutan.

“Karena itu. marilah. Kita harus cepat-cepat menyingkir untuk menghindarkan diri dari kemungkinan yang lebih buruk jika pamanda mengetahui apa yang terjadi” berkata Bramadaru sambil menarik Raden Ajeng Ceplik.

Raden Ajeng Ceplik tidak membantah. Ia pun kemudian mengikut saja kemana Bramadaru membawanya. Bahkan semakin dekat dengan pohon nyamplung yang besar itu, Raden Ajeng Ceplik justru semakin melekat kepada kakak sepupunya. Kegelapan yang kelam di bawah pohon nyamplung itu membuat Raden Ajeng Ceplik menjadi gemetar.

Namun tiba-tiba saja Bramadaru berhenti justru di bawah pohon nyamplung yang menakutkan itu. Sejenak Raden Ajeng Ceplik bagaikan membeku. Namun ketakutan yang sangat membuatnya menjadi gemetar. Bahkan diluar sadarnya. Raden Ajeng itu telah memeluk kakak sepupunya.

Darah Bramadaru bagaikan menggelegak. Gadis itu sangat cantik dan hangat. Seperti gadis-gadis cantik yang lain, maka Raden Ajeng Ceplik itu membuat jantung Bramadaru berdetak semakin cepat. Meskipun gadis itu adalah adik sepupunya, namun kegelapan benar-benar telah mencengkamnya, sehingga nalarnya telah menjadi gelap pula, seperti gelapnya malam di bawah pohon nyamplung itu.

Meskipun demikian Bramadaru masih menunggu orang yang mendapat tugas untuk mencegatnya. Jika tiba-tiba saja orang itu datang, maka orang itu hanya akan mengganggunya. Karena itu, ia akan menunggu dan berterus terang kepadanya, apa yang akan dilakukannya atas gadis itu. Gadis cantik yang sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. Ia akan dapat memperlakukan gadis itu sekehendak hatinya, sementara itu orang lain akan dapat memeras Pangeran Sena Wasesa.

“Tidak ada keharusan untuk menyerahkan gadis ini kembali kepada pamanda Pangeran Sena Wasesa” berkata Bramadaru di dalam hatinya, “Jika pamanda telah menunjukkan harta benda dan pusaka itu, maka segala-galanya telah selesai. Persoalan gadis ini pun selesai pula. Dan pamanda tidak akan tahu untuk selamanya, siapakah yang pernah membawanya pergi dari istananya”

Dalam pada itu. Raden Ajeng Ceplik pun menjadi semakin gemetar. Dengan suara sendat ia berkata, “Marilah kakangmas, kita bergeser keluar dari bayangan pohon ini”

“Jangan takut” jawab Bramadaru, “Tidak ada yang akan mengganggu kita disini”

“Bukankah kakangmas akan membawa aku ke tempat yang sudah ditentukan? Di rumah pekatik di padukuhan sebelah?” ajak Raden Ajeng Ceplik yang ketakutan, “Dan bukankah kita harus dengan cepat berlalu agar tidak ada orang yang dapat menyusul kita”

“Tidak ada orang yang akan mencari kita di bawah pohon nyamplung ini” jawab Bramadaru.

“Baru saja kakangmas mengatakan, mungkin ada orang yang akan menyusul kita” desis Raden Ajeng Ceplik.

“Mungkin dapat terjadi di tempat terbuka itu. Tetapi tidak disini” jawab Bramadaru pula.

Raden Ajeng Ceplik tidak membantah lagi. Tetapi ia masih tetap gemetar. Apalagi ketika diluar sadarnya ia menengadahkan wajahnya memandang batang nyamplung yang panjang bagaikan menusuk sampai jantung langit

Namun dalam pada itu, dalam keheningan malam yang kelam, tiba-tiba terdengar suara tertawa dari balik batang nyamplung yang besar itu. Suara tertawa perlahan-lahan. Namun kemudian menjadi semakin keras.

Darah Raden Ajeng Ceplik bagaikan berhenti mengalir. Tiba-tiba saja sesosok tubuh meloncat dari balik batang nyamplung yang besar itu. Namun tidak begitu jelas bagi Raden Ajeng Ceplik yang ketakutan.

Sambil memejamkan matanya Raden Ajeng Ceplik memeluk kakak sepupunya semakin erat. Nafasnya menjadi terengah-engah oleh ketakutan yang tidak tertahankan.

Bramadaru sama sekali tidak terkejut. Ia memang menunggu orang yang akan mencegatnya di bawah pohon nyamplung itu. Orang yang menurut rencana akan merampas Raden Ajeng Ceplik dan membawanya pergi. Sementara itu, pemerasan akan dapat segera dilakukan, sebelum Pangeran Sena Wasesa menyerahkan pusaka dan harta bendanya itu kembali ke Gedung Perbendaharaan istana meskipun ia sudah melaporkannya kepada Kangjeng Sultan.

“Ada juga orang yang tersesat di bawah pohon nyamplung ini” geram bayangan yang meloncat dari balik pohon nyamplung itu.

Namun orang itulah yang kemudian terkejut oleh jawaban Bramadaru, “Aku telah merubah rencana semula. Kau tidak perlu merampasnya dari tanganku”

Bayangan itu termangu -mangu sejenak. Tetapi hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Kau tidak usah mengambilnya dari tanganku. Aku akan mengurusnya sendiri” jawab Bramadaru.

“Tetapi apa yang harus aku katakan kepada Ki Ajar Wrahasniti” bertanya bayangan itu.

“Katakan kepadanya, bahwa aku telah memilih jalan lain. Aku akan mengurus anak ini. Kemudian terserah kepada guru, apa yang akan dilakukannya dengan pamanda Pangeran Sena Wasesa. Tetapi guru akan tetap dapat mempergunakan anak ini untuk mengancam pamanda Pangeran” jawab Bramadaru.

Bayangan itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Ya. Aku mengerti maksud Raden. Ki Ajar Wrahasniti atau orang yang ditugaskan akan tetap melakukan sebagaimana direncanakan. Tetapi bukankah Raden bermaksud mengingkari setelah semuanya berada di tangan Ki Ajar Wrahasniti?”

“Mengingkari apa?” bertanya Bramadaru.

“Gadis itu tidak akan kembali kepada ayahandanya” gumam bayangan itu.

“Ya. Ia tidak akan dapat mengatakan tentang keadaannya untuk selamanya” jawab Bramadaru.

Dalam pada itu, Raden Ajeng Ceplik menjadi bingung mendengarkan pembicaraan itu. Namun tiba-tiba puteri itu teringat kepada pesan embannya tentang Raden Bramadaru. Karena itu, maka jantungnya menjadi bergelora. Ia tidak lagi dicengkam oleh ketakutan tentang pohon nyamplung yang besar itu. Tetapi pembicaraan antara Bramadaru dengan bayangan yang tidak jelas itu membuatnya benar-benar menggigil.

Perlahan-lahan Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk melepaskan Raden Bramadaru. Kemudian berusaha untuk mempergunakan nalarnya yang semula telah menjadi kabur.

Dan ia mendengar Bramadaru itu berkata, “Nah, sekarang tinggalkan kami berdua. Aku akan menyelesaikan persoalanku sendiri”

“Kakangmas” tiba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik berdesis, “Apa artinya pembicaraan kakangmas dengan orang itu?”

“Sudahlah diajeng” jawab Raden Bramadaru, “Jangan hiraukan orang itu. Kita dapat menyusun rencana kita sendiri”

“Apa maksudmu kakangmas?” bertanya Raden Ajeng Ceplik.

“Bukankah kau akan ikut bersamaku? Marilah. Jangan hiraukan orang lain” berkata Radon Bramadaru.

Raden Ajeng Ceplik termangu-mangu. Namun ia pun terkejut ketika Raden Bramadaru itu pun kemudan berkata kepada orang yang tidak nampak jelas oleh Raden Ajeng Ceplik itu, “Sudahlah. Tinggalkan. Aku memerlukan gadis itu sekarang”

“O” Orang itu terkejut. Lalu katanya, “Jadi aku harus mengatakan segalanya sebagaimana adanya?”

“Aku tidak berkeberatan” jawab Bramadaru, “Katakan seperti yang aku maksudkan”

“Baiklah” desis orang itu, “Tetapi semua tanggung jawab ada di tangan Raden”

“Aku bertanggung jawab” jawab Raden Bramadaru. Sejenak keadaan menjadi sepi. Namun di dalam dada Raden Ajeng Ceplik telah terjadi gelora yang maha dahsyat. Ia mulai menilai Raden Bramadaru dengan tajam.

“Kakangmas” desis Raden Ajeng Ceplik kemudian sambil melangkah surut, “Apakah yang akan kakangmas lakukan?”

Tetapi Bramadaru justru tertawa. Katanya, “Kau akan pergi kemana? Di padang perdu ini masih berkeliaran beberapa ekor harimau. Tetapi yang lebih buruk lagi adalah jika kau bertemu dengan sejenis hantu yang merindukan perempuan cantik. Genderuwo”

“O” terasa bulu di seluruh tubuh Raden Ajeng Ceplik meremang. Ketakutannya terhadap pohon nyamplung itu bagaikan tumbuh kembali. Tetapi rasa-rasanya ia sudah berhadapan dengan hantu yang turun dari pohon yang besar itu dan kemudian berdiri di hadapannya.

Raden Ajeng Ceplik tidak dapat melihat wajah Bramadaru dengan jelas. Tetapi rasa-rasanya wajah itu membayangkan wajah hantu yang sangat menakutkan pula.

Apalagi ketika tiba-tiba saja Bramadaru itu tertawa. Suaranya benar-benar bagaikan suara hantu yang haus darah

Raden Ajeng Ceplik bergeser beberapa langkah surut. Wajahnya menjadi pucat dan nafasnya terengah-engah. Sementara itu Bramadaru masih saja tertawa sambil melangkah maju. Katanya, “Sudahlah diajeng. Jangan membuang waktu. Kau tidak akan mendapat kesempatan untuk memilih apa yang harus kau lakukan sekarang. Kau hanya dapat menerima keadaan ini tanpa mengeluh. Semuanya akan terjadi sesuai dengan keinginanku”

“Tetapi, tetapi bukankah kakangmas adalah kakak sepupuku?. Lebih dari itu, bukankah kakangmas mencintaiku?” kata-kata itu meluncur tanpa dikehendakinya sendiri.

Bramadaru masih saja tertawa. Disela-sela suara tertawanya itu terdengar ia berkata, “Aku bukan mencintaimu. Tetapi aku menginginkanmu. Kau memang cantik. Tetapi kau tidak lagi cukup berharga untuk dijadikan seorang isteri”

“Kakangmas” Raden Ajeng, Ceplik hampir saja menjerit.

“Menjeritlah diajeng” berkata Raden Bramadaru, “Tidak akan ada orang yang mendengarnya. Tempat ini adalah tempat yang tidak pernah didatangi oleh seseorang. Apalagi di malam hari seperti ini”

“Tetapi, bukankah kau pernah mengatakannya?” suara Raden Ajeng Ceplik mulai diwarnai oleh keputus asaan.

“Ya, waktu itu ketika aku menganggap kau adalah gadis yang cantik dan berharga. Ketika aku menganggap bahwa kau adalah seorang gadis anak tunggal pamanda Pangeran Sena Wasesa. Kerena sebenarnya yang aku inginkan sama sekali bukan kau untuk menjadi seorang isteri. Tetapi karena pamanda Pangeran Sena Wasesa memiliki pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya. Tetapi pusaka dan harta benda ini sudah dilaporkan Kangjeng Sultan dan kau pun bukan anak tunggal yang akan menjadi satu-satunya pewaris semua kekayaan pamanda itu. Karena itu, aku tidak memerlukan kau lagi untuk menjadi seorang isteri.

Wajah Raden Ajeng Ceplik yang pucat itu menjadi semakin pucat. Dengan nada tinggi ia berkata, “Jika demikian. Kenapa kakangmas masih juga membawa aku keluar malam ini dan bahkan sampai ke tempat ini?”

“Jangan bodoh diajeng. Kau sudah dewasa untuk mengerti. Apa yang aku inginkan darimu. Tidak untuk menjadi seorang isteri, karena aku memang masih belum ingin kawin. Tetapi kecantikanmu tidak dapat aku lewatkan begitu saja. Karena itu. aku telah membawamu kemari. Kemudian kau akan aku sembunyikan di tempat yang tidak akan dapat diketahui oleh pamanda Pangeran Sena Wasesa. Tempat yang dapat aku datangi setiap saat sampai saatnya aku menjadi jemu” suara tertawa Bramadaru pun meninggi, “Sementara itu. kepergianmu akan dapat menjadi alat untuk memeras pamanda Pangeran”

Tidak ada harapan sama sekali dari Raden Ajeng Ceplik untuk dapat keluar dari tangan hantu yang sangat mengerikan itu. Lebih mengerikan dari hantu yang mungkin ada di batang pohon nyamplung yang besar itu.

Namun dalam pada itu, Raden Bramadaru tiba-tiba saja sekali lagi membentak kepada bayangan yang masih saja berada di bawah lindungan kegelapan rimbunnya pohon nyamplung itu, “He, kenapa kau masih ada disitu. Cepat, pergi dan sampaikan kepada guru bahwa tugasmu sudah selesai. Biarlah guru atau orang yang ditugaskan menghubungi pamanda Pangeran Sena Wasesa. Minta agar gadis ini ditebus dengan pusaka dan harta benda yang masih belum terlanjur dikembalikan ke Gedung Perbendaharaan Istana Demak itu”

“O” Orang itu tergagap. Tetapi ia masih dapat menjawab, “Aku terpukau oleh peristiwa ini. Aku kira, aku akan dapat membantu Raden disini”

“Gila. Aku sobek mulutmu” geram Raden Bramadaru.

Tetapi, bayangan itu justru tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku akan meninggalkan tempat ini”

“Cepat, sebelum aku kehilangan kesabaran” geram Raden Bramadaru.

Orang itu memang bergeser surut. Tetapi ia berhenti lagi disebelah batang nyamplung yang besar. Sementara itu Raden Bramadaru melangkah mendekati Raden Ajeng Ceplik yang gemetar.

“Tidak ada pilihan lain” berkata Raden Bramadaru, “lebih baik kau tidak mengingkari kenyataan ini agar penderitaanmu tidak menjadi semakin sakit. Sakit pada tubuhmu dan sakit pada hatimu”

Raden Ajeng Ceplik hanya mampu bergeser mundur beberapa langkah. Namun tiba-tiba saja tubuhnya telah berada di depan sebuah semak-semak yang berduri sehingga ia tidak dapat bergeser surut lagi.

“Tidak ada gunanya. Hanya menunda waktu satu dua kejap yang dapat membuat aku semakin liar” geram Bramadaru.

Raden Ajeng Ceplik menjadi putus asa. Namun ia masih juga berteriak, “Kakangmas, ayahanda akan mengambil tindakan atas perbuatan kakangmas ini. Mungkin kakangmas akan dibunuhnya kelak”

“Pamanda Pangeran Sena Wasesa tidak mengetahui siapakah yang membawamu pergi. Besok pagi aku akan menghadap paman dan bertanya tentang kau, diajeng. Aku akan berpura-pura terkejut ketika pamanda mengatakan bahwa kau tidak ada di istana”

Suara tertawa Raden Bramadaru itu bagaikan meledak. Semakin lama semakin keras.

Sementara itu, tubuh Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin menggigil. Gadis itu benar-benar menjadi berputus-asa. Semua pesan embannya terngiang kembali ditelinganya. Dan ia pun menjadi sangat menyesal bahwa ia tidak menghiraukan pesan embannya itu. sehingga akhirnya ia terperosok dalam keadaan yang jauh lebih buruk daripada menerima ibu tiri dan saudara laki-laki di dalam istananya.

“Seandainya hatiku tidak bergejolak sehingga nalarku tidak terkendali” sesal Raden Ajeng Ceplik. Tetapi sesal itu tidak berguna lagi menghadapi sikap iblis yang mengerikan itu.

Dalam pada itu, Raden Bramadaru pun berdesis, “Kemarilah anak manis. Kemarilah. Jangan memaksa aku datang kepadamu”

“Tidak” teriak Raden Ajeng Ceplik.

Tetapi suara tertawa itu masih terdengar, disamping kata-Katanya, “cepatlah sedikit”

Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin menggigil. Akhirnya ketakutan itu tidak tertahankan lagi, sehingga gadis itu jatuh terduduk tanpa menghiraukan duri semak-semak yang tergores di tubuhnya.

Bramadaru lah yang kemudian melangkah mendekati sambil menggeremang, “Kau memaksa aku berbuat lebih kasar diajeng. Aku dapat menyeretmu kebawah pohon nyamplung itu”

Tetapi ketika Bramadaru hampir menggapai tubuh Raden Ajeng Ceplik, tiba-tiba saja terdengar suara gemerisik. Ketika Bramadaru berpaling dalam kegelapan ia masih melihat ujud orang yang telah diusirnya.

“Gila. Kau masih disitu” bentaknya.

Tetapi suara gemerisik itu ternyata terdengar di arah lain. Bahkan tiba-tiba saja Bramadaru mendengar suara orang mendehem hanya beberapa langkah saja daripadanya.

“Raden“ terdengar suara, “Jika kau menganggap bahwa tempat ini tidak pernah didatangi orang ternyata kau salah. Aku berada di tempat ini dan melihat apa yang kau lakukan”

“Gila” teriak Bramadaru. Kemudian terdengar umpatannya kasar. Lalu ia pun bertanya, “Siapa kau?”

Sesosok bayangan muncul dari balik semak-semak

“Siapa kau he?” Bramadaru mengulangi pertanyaannya.

“Aku berkewajiban untuk menyelamatkan gadis itu” jawab orang yang baru datang itu.

“Siapa kau?” Bramadaru berteriak semakin keras.

“Aku adalah saudara laki-laki gadis itu. Aku juga putera Pangeran Sena Wasesa meskipun dari ibu yang berbeda. Tetapi aku merasa wajib menolong adikku” jawab orang itu.

“Gila Siapa kau he? Siapa?” Daruwerdi menjerit-jerit oleh kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya.

“Orang memanggilku Daruwerdi” jawab orang itu. Tiba-tiba saja secercah harapan telah terbit kembali di hati Raden Ajeng Ceplik. Orang itu mengaku saudara laki-lakinya. Kakaknya sendiri.

Kemarahan Raden Bramadaru tidak tertahankan lagi. Gadis cantik yang sudah ada di tangannya itu tidak boleh terlepas lagi. Namun tiba-tiba saja ada orang yang datang untuk merebutnya.

Sementara itu, Raden Ajeng Ceplik pun menjadi termangu-mangu. Rasa-rasanya ia berdiri di ujung jalan simpang. Ia telah menolak kehadiran anak muda yang menurut keterangan ayahnya adalah saudaranya sendiri meskipun tidak seibu. Tetapi tiba-tiba anak muda itu kini datang untuk melepaskannya dari tangan iblis yang dikiranya adalah seorang yang akan dapat melepaskannya dari himpitan perasaannya justru karena kehadiran anak muda yang disebutnya sebagai kakaknya itu bersama ibu tirinya.

Namun dalam keadaan yang paling gawat itu. maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus menyerahkan dirinya kepada perlindungan anak muda yang menyatakan dirinya sebagai kakaknya itu.

Dalam pada itu, Raden Bramadaru yang marah tiba-tiba saja membentak, “He, anak yang tidak tahu diri. Apakah kau dengan sengaja ingin membunuh dirimu?”

“Tidak. Gadis itu adalah adikku. Bukankah sudah sewajarnya jika aku berusaha untuk menyelamatkannya? Memang aku tahu bahwa kau pun adalah kakak sepupunya. Tetapi hati iblismu itu telah membuat matamu menjadi buta. Kau tidak melihat lagi, siapakah gadis yang akan kau jadikan korbanmu itu” Daruwerdi yang bukan seorang yang dapat bertingkah laku lembut itu pun telah membentak pula.

“Persetan” tiba-tiba Bramadaru berpaling kepada orang yang berdiri di dekat pohon nyamplung itu, “untunglah bahwa kau belum beranjak dari tempatmu, meskipun barangkali kau pun mempunyai maksud buruk. Tetapi ternyata sekarang ada tugas untukmu. Singkirkan anak bengal ini. Jangan beri kesempatan ia meninggalkan tempat ini, karena ia akan menjadi sangat berbahaya, karena ia akan dapat melaporkan peristiwa ini kepada pamanda Pangeran Sena Wasesa”

“Jadi maksud Raden, anak itu harus dibunuh?” bertanya orang yang berada di dekat batang nyamplung yang besar itu.

“Ya. Jika kau memang kepercayaan guru. maka kau tentu akan dapat melakukannya” geram Raden Bramadaru

Orang itu tertawa. Katanya, “Jangankan membunuh anak itu. Orang yang disebut gegedug pun akan aku lumatkan kepalanya”

“Lakukan. Aku akan mengurus gadis yang keras kepala ini. Jika aku menjadi kasar adalah karena salahnya sendiri” berkata Raden Bramadaru sambil menghentakkan tangannya.

Orang yang berada disebelah batang pohon nyamplung yang besar itu pun kemudian bergeser mendekati Daruwerdi. Namun Daruwerdi pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang akan dapat terjadi atas dirinya.

Dalam pada itu. Raden Ajeng Ceplik yang mulai dirayapi oleh harapan tentang keselamatannya, kembali menjadi putus asa. Namun ketika Bramadaru melangkah mendekatinya, gadis itu hampir menjerit, “Tolong aku kakangmas”

Darah Daruwerdi tersirap. Tetapi demikian ia meloncat mendekati Raden Ajeng Ceplik, orang yang semula berdiri di dekat batang pohon nyamplung itu pun telah berlari ke arahnya sambil langsung menyerang.

Daruwerdi terpaksa meloncat menghindarinya. Tetapi orang itu tidak melepaskannya. Sekali lagi ia menyerang sehingga Daruwerdi sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menolong Raden Ajeng Ceplik.

“Gila” geram Daruwerdi, “Tetapi bagaimanapun juga tingkah laku kalian harus dihentikan”

“Tutup mulutmu” bentak lawan Daruwerdi, “Kau harus dibungkam untuk selamanya. Kau harus mati disini. Jika tidak, maka kau akan menebarkan racun di istana Demak”

“Kau akan mati lebih dahulu. Kemudian bangsawan yang tidak tahu diri itu pun akan aku bunuh disini” geram Daruwerdi.

Tetapi Daruwerdi tidak banyak mendapat kesempatan untuk menolong adik perempuannya. Ia harus mengerahkan kemampuannya untuk bertempur melawan orang yang telah menyerangnya, yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

Dalam keadaan yang putus asa Raden Ajeng Ceplik menjadi lemas. Anak muda yang sebenarnya adalah kakak sepupunya itu melangkah semakin dekat.

“Kau membuat aku menjadi buas. Anak yang menyebut kakakmu itu justru telah membuat semakin menderita di dalam tanganku. Aku tidak peduli apa yang terjadi. Aku hanya menginginkanmu” geram Raden Bramadaru. Lalu Katanya, “Kakakmu itu akan segera diselesaikan oleh kepercayaan guru itu. Dan semuanya akan berlangsung dengan cara yang lebih buruk lagi bagimu”

Raden Ajeng Ceplik tidak dapat berbuat apapun lagi. Tubuhnya yang menggigil menjadi semakin gemetar.

Ketika tangan Bramadaru menggapainya, gadis itu menjerit. Tetapi ia tidak dapat melawan ketika dengan kasar Bramadaru menyeretnya kebawah pohon nyamplung.

“Semuanya akan terjadi di bawah hidung kakakmu yang merasa dirinya menjadi pahlawan” geram Bramadaru.

“Tidak. Tidak” Raden Ajeng Cepik menjerit-jerit. Tetapi ia tidak dapat melepaskan diri dari tangan Bramadaru yang kasar.

Darah Daruwerdi bagaikan mendidih. Tetapi libatan ilmu lawannya benar-benar membutuhkan segenap perhatiannya, lika ia lengah dan kemudian ia tidak berhasil mengalahkan orang itu, maka nasib adik perempuannya akan menjadi semakin buruk.

Karena itu, maka yang dilakukannya adalah justru bertempur dengan segenap kemampuannya, dan dengan sangat hati-hati Ia harus mengalahkan lawannya secepat-cepatnya sebelum terlam-bat. Karena agaknya Bramadaru benar-benar telah menjadi gila Namun Daruwerdi agaknya memang tidak sendirian.

Tetapi lawan Daruwerdi memiliki kemampuan yang tinggi pula Ia tidak membiarkan dirinya digilas oleh kemampuan Daruwerdi. Karena itu, maka ia pun telah bertempur dengan segenap ilmu yang ada padanya.

Sementara keduanya bertempur dengan sengitnya. Bramadaru telah melemparkan Raden Ajeng Ceplik sehingga jatuh berguling di bawah pohon nyamplung yang besar itu. Dengan kasar ia berkata, “Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa gadis liar. Kau harus tunduk kepadaku. Lakukan semua perintahku.

Raden Ajeng Ceplik menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi Bramadaru berkata, “Menjeritlah sampai lehermu putus. Tidak ada orang yang akan mendengarnya kecuali kakakmu yang sebentar lagi akan mati”

Raden Ajeng Ceplik masih menjerit dengan kerasnya. Namun suaranya bagaikan lenyap ditelan desah daun nyamplung yang bergeser ditiup angin malam.

Namun dalam pada itu. sekali lagi Bramadaru terkejut. Tiba-tiba saja seseorang telah meloncat dari balik pohon nyamplung seperti yang dilakukan oleh kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti. Tetapi orang itu tidak dapat segera dikenalinya.

Tetapi orang itu kemudian telah membuat darah Bramadaru semakin mendidih ketika orang itu kemudian berkata, “Raden, akulah yang mendengarnya kecuali Daruwerdi”

“Anak iblis. Siapa lagi kau he?” teriak Bramadaru.

“Sudah kau sebut. Aku adalah anak iblis yang tinggal di pohon nyamplung ini” jawab orang itu.

“Gila. Sebut namamu. Jangan berusaha untuk mempengaruhi aku” Bramadaru itu masih berteriak oleh kemarahan yang menghentak-hentak jantungnya.

“Baiklah” jawab orang itu, “namaku Jlitheng. Aku salah seorang kawan Daruwerdi”

“Setan alas” Bramadaru mengumpat semakin kasar.

Tetapi dalam pada itu, Jlitheng pun berkata, “Jangan berbuat aneh-aneh Raden. Kau harus mengetahui bahwa apa yang kau lakukan ini sudah bukan lagi rahasia. Kami yang berada di istana Kapangeranan sudah mengetahui. Maksudku Istana Pangeran Sena Wasesa”

“Bohong. Kau ingin menakut-nakuti aku he?” geram Bramadaru.

“Tidak. Tetapi sebenarnya kami sudah mengetahui Ternyata kami berhasil mengikutimu. Jika kami tidak mengetahui, mana mungkin kami ada disini sekarang ini” jawab Jlitheng.

Keringat dingin mengalir di seluruh tubuh Raden Bramadaru. Tetapi ia masih menjawab, “Persetan. Tetapi kalian berdua harus mati. Mungkin kebetulan kalian melihat aku membawa diajeng Ceplik, lalu kalian mengikutinya sebelum kalian sempat melaporkan hal ini kepada pamanda”

“Memang secara kebetulan kami melihatnya. Tetapi seorang diantara kami telah melaporkannya” jawab Jlitheng. Lalu, “Karena itu, menyerah sajalah Raden. Mungkin ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan persoalan ini, karena semuanya masih belum terlanjur terjadi, “

Tetapi Bramadaru tidak mau mendengarnya. Bahkan tiba-tiba saja ia sudah mencabut senjatanya. Katanya, “Kau harus mati anak gila”

Jlitheng melangkah surut. Ia tidak dapat bertempur terlalu dekat dengan Raden Ajeng Ceplik yang masih saja terbaring dengan lemahnya. Jika Bramadaru benar-benar menjadi liar, maka nasib Raden Ajeng Ceplik tentu ada dalam bahaya.

Ketika Bramadaru melihat Jlitheng melangkah menjauh, maka tiba-tiba saja ia pun menyerang sambil berteriak, “Jangan lari. Kau tidak akan dapat pergi dari tempat ini. Kau akan mati terkapar di bawah pohon nyamplung ini”

Jlitheng tidak menjawab. Dengan tangkasnya ia menghindari serangan senjata Raden Bramadaru itu. Namun ia masih mengambil jarak dari Raden Ajeng Ceplik.

Baru beberapa langkah kemudian, maka Jlitheng pun telah mencabut pedang tipisnya pula. Ia tidak ingin mengalami satu keadaan yang pahit karena kelengahan. Bahkan jika demikian, maka nasib Raden Ajeng Ceplik pun menjadi semakin buruk.

Dengan demikian, maka kedua anak muda itu pun telah bertempur dengan pedang masing-masing.

Bramadaru adalah murid Ki Ajar Wrahasniti. Karena itu, maka ia pun memiliki kemampuan yang tinggi. Sebagaimana gurunya yang memiliki nama yang besar, maka Bramadaru pun memiliki bekal yang cukup untuk memaksakan kehendaknya atas orang lain. Tetapi yang dilawannya adalah Jlitheng. Seorang anak muda yang memiliki bukan saja bekal ilmu, tetapi juga pengalaman yang jauh lebih banyak dari Bramadaru. Betapapun banyaknya pengetahuan dan betapapun tingginya ilmu Bramadaru, namun menghadapi Jlitheng segera terasa bahwa ia berhadapan dengan lawan yang berat.

Demikianlah kedua anak muda itu telah bertempur dengan sengitnya. Keduanya memiliki kemampuan bermain pedang yang luar biasa. Dalam bayangan kegelapan di bawah pohon nyamplung itu, keduanya merasa bahwa mereka harus sangat berhati-hati.

Tetapi justru karena kemarahan di dalam dada Raden Bramadaru bagaikan meledak, maka anak muda itu telah melibat lawannya langsung ke puncak kemampuan. Bramadaru telah menekan Jlitheng dengan sekuat tenaganya, karena ia ingin pertempuran itu cepat selesai. Ia masih mempunyai persoalannya sendiri dengan Raden Ajeng Ceplik yang telah terganggu oleh hadirnya anak-anak muda dari lingkungan istana Pangeran Sena Wasesa itu.

Dalam pada itu, kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti pun telah bertempur dengan garangnya pula menyerang Daruwerdi. Tetapi seperti Jlitheng, Daruwerdi mempunyai ilmu yang nggegirisi dan mempunyai pengalaman yang luar biasa pula. Sehingga dengan demikian, maka kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu pun seakan-akan telah membentur kekuatan yang sulit diatasinya.

Raden Ajeng Ceplik yang melihat kehadiran seorang lagi dan kemudian bertempur melawan Bramadaru, merasa hadirnya harapan lagi di dalam dirinya. Ia merasa sangat berterima kasih kepada anak muda yang ternyata adalah kakaknya sendiri. Kemudian hadirnya seorang lagi yang menyebut dirinya bernama Jlitheng. Seorang anak muda yang dikenalnya sebagai salah seorang tamu ayahandanya. Bahkan anak muda yang telah menyelamatkannya pada saat sebagian orang-orang yang pernah mengambil ayahnya datang kembali untuk mengambilnya pula. Dan kini anak muda itu datang lagi untuk menyelamatkannya.

Perlahan-lahan Raden Ajeng Ceplik itu pun bangkit. Dalam kegelapan ia melihat dua lingkaran pertempuran. Dan meskipun Raden Ajeng Ceplik itu tidak dapat melihat dengan jelas di dalam keremangan malam hari, namun Raden Ajeng Ceplik itu mengetahui bahwa yang bertempur melawan Bramadaru itu adalah orang yang menyebut dirinya Jlitheng, namun yang sudah diketahuinya bahwa sebenarnya ia adalah Raden Candra Sangkaya yang mendapat gelar kehormatan Kapangeranan dari Kangjeng Sultan karena jasa anak muda itu dan jasa orang tuanya, sedangkan yang berada dilingkaran pertempuran yang lain adalah Daruwerdi, yang sebenarnya adalah kakaknya seayah, melawan kawan Raden Bramadaru.

Raden Ajeng Ceplik tidak tahu, apakah kedua orang yang berusaha menyelamatkannya itu akan dapat memenangkan pertempuran. Sehingga karena itu ada niatnya untuk melarikan diri. Tetapi ketika terpandang olehnya hutan perdu yang gelap dan luas, maka niatnya itu pun telah diurungkan.

Karena itu, maka akhirnya Raden Ajeng Ceplik itu pun menjadi pasrah. Yang dilakukannya kemudian adalah berdoa, semoga Yang Maha Kuasa akan melindunginya.

Sementara itu pertempuran diantara anak-anak muda itu pun menjadi semakin sengit. Bramadaru dan Jlitheng telah terlibat dalam pertempuran bersenjata. Demikian pula Daruwerdi dan kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu.

Dalam kegelapan malam kengerian telah mencengkam jantung Raden Ajeng Ceplik jika ia melihat bunga api yang berloncatan jika terjadi benturan senjata antara mereka yang sedang bertempur itu. Sedangkan gadis itu sama sekali tidak dapat membayangkan, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu.

Karena itulah maka ketegangan telah mencengkam perasaannya. Dalam doanya ia mengharap agar anak muda yang sebenarnya adalah kakaknya, serta anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu dapat memenangkan pertempuran itu.

Dalam pada itu, Bramadaru yang marah itu telah melibat Jlitheng dalam pertempuran yang semakin sengit. Senjatanya berputaran di dalam kegelapan. Sebagai murid Ki Ajar Wrahasniti, maka Bramadaru memiliki ilmu pedang yang nggegirisi.

Tetapi Jlitheng pun mampu bermain pedang dengan sangat baik. Apalagi dengan pedang tipisnya. Pedang yang ringan tetapi memiliki kemampuan dan kekuatan melampaui pedang kebanyakan.

Karena itu, Jlitheng sama sekali tidak gentar untuk membenturkan pedangnya. Tetapi pedang yang ringan itu akan cepat menggeliat dan mematuk lawannya.

Dalam pada itu Daruwerdi pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Dengan pengalaman yang luas, maka Daruwerdi segera dapat mengimbangi ilmu lawannya yang keras dan cepat.

Sambil berloncatan diantara gerumbul-gerumbul perdu yang kadang berduri Daruwerdi dan lawannya telah saling menyerang. Dengan pedang terjulur kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu meloncat sambil berteriak nyaring. Suaranya menggetarkan udara malam di padang perdu yang luas itu serta seakan-akan telah menggetarkan daun-daun di batang pohon nyamplung yang besar itu.

Namun ternyata Daruwerdi tidak kalah tangkasnya. Dengan bergeser menyamping ia menghindari serangan lawannya. Bahkan dengan segenap kekuatannya ia telah memukul pedang lawannya.

Hampir saja pedang itu terlepas dari tangan kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu. Namun orang itu masih beruntung. Ia masih mampu menahan senjatanya itu sehingga tidak terloncat jatuh.

Dalam pada itu, Daruwerdi mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak lawannya. Ketika lawannya sedang memperbaiki keadaannya, maka Daruwerdi lah yang kemudian menyerang. Tetapi lawannya masih sempat meloncat beberapa langkah surut.

Daruwerdi tidak melepaskan lawannya. Ia pun segera memburunya dengan serangan beruntun. Tetapi kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu masih sempat melepaskan diri dan bahkan kemudian berhasil memperbaiki keadaan dan siap untuk bertempur dengan kemampuannya sepenuhnya.

Dalam pada itu, Jlitheng yang bersenjata pedang tipis itu pun bertempur dengan serunya. Namun baik Jlitheng maupun lawannya benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Malam rasa-rasanya bertambah kelam di bawah bayangan pohon nyamplung raksasa itu. Dengan demikian keduanya benar-benar harus mempergunakan pengamatan inderanya dengan sungguh-sungguh.

Tetapi karena Jlitheng sengaja memancing lawannya untuk bertempur sambil menjauhi Raden Ajeng Ceplik, maka akhirnya keduanya pun telah keluar dari bayangan rimbunnya daun pohon nyamplung yang besar itu.

Betapapun kemarahan Bramadaru, namun berhadapan dengan Jlitheng anak muda itu tidak banyak dapat berbuat. Jlitheng memiliki beberapa kelebihan. Selain pada dasarnya pedang tipisnya memang ringan namun kuat, kecepatan geraknya pun melampaui kecepatan gerak lawannya.

Karena itu, maka Jlitheng dalam beberapa saat kemudian berhasil mendesak lawannya. Ia tidak lagi berusaha menarik Bramadaru keluar dari bayangan pohon nyamplung itu. Tetapi Jlitheng kemudian bergeser membelakangi pohon nyamplung itu dan mendesak lawannya menjadi semakin jauh.

Pertempuran di kedua lingkaran itu memang menjadi semakin seru. Tetapi beberapa saat kemudian ternyata bahwa Bramadaru benar-benar telah terdesak. Dengan pedang tipisnya Jlitheng mampu membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung. Apalagi kemarahan yang menghentak-hentak di dalam dada Bramadaru membuatnya kurang berhati-hati karena dorongan perasaannya yang menggelegak.

Perlahan-lahan Jlitheng akhirnya benar-benar mampu menguasai lawannya. Kemampuan bermain pedang Raden Bramadaru seakan-akan telah terkurung oleh putaran pedang tipis Jlitheng yang mendebarkan. Serangan Jlitheng pun seakan-akan telah datang dari segala arah, seakan-akan Jlitheng itu lelah berubah menjadi ampat orang yang berdiri di segala penjuru dengan pedang yang berputaran.

“Ilmu iblis manakah yang diserap oleh anak gila ini” geram Bramadaru di dalam hatinya.

Meskipun demikian Bramadaru yang marah itu tidak segera melihat dan mengakui kenyataan yang dihadapinya. Ia masih saja bertempur dengan kemarahan yang menghentak-hentak di dalam dadanya.

Ternyata bukan hanya Bramadaru yang mengalami kesulitan. Kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti yang terlalu percaya akan kemampuannya itu pun akhirnya telah terdesak. Daruwerdi pun telah bertempur dengan keras. Meskipun ia tidak berteriak-teriak seperti lawannya, tetapi hentakan-hentakan serangannya kadang-kadang sangat mengejutkan lawannya.

Sekali-sekali Daruwerdi memang harus meloncat surut Tetapi seakan-akan ia sekedar membuat ancang-ancang. Karena sekejap kemudian dengan tiba-tiba saja ilmunya telah di hentakannya melibat lawannya yang kebingungan.

Tiba-tiba saja kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu telah berdesah tertahan. Namun yang terdengar kemudian adalah umpatan yang paling kasar.

Dengan loncatan panjang orang itu menjauhi Daruwerdi. Terasa ujung pedang Daruwerdi itu tergores di pundaknya.

“Gila” teriaknya, “Kau melukai aku?”

Daruwerdi memang merasakan pada tangannya, bahwa ujung pedangnya telah berhasil menyentuh lawannya. Karena itu maka teriakan lawannya itu telah meyakinkannya, bahwa ia benar-benar telah berhasil melukainya.

Karena itu, maka dengan nada datar ia berkata, “Menyerahlah. Kita akan mengadakan penyelesaian sebaik-baiknya. Mungkin Pangeran Sena Wasesa dan Pangeran Gajahnata akan menemukan jalan yang dapat ditempuh dalam persoalan yang gawat ini”

“Tutup mulutmu” geram orang itu, “Kau sangka aku ini siapa? Aku tidak akan mengenal menyerah selama aku masih mampu menggerakkan pedangku”

“Kau sudah terluka. Jika darah itu semakin banyak mengalir, maka kau benar-benar akan tidak mampu lagi mengelakkan senjatamu itu” sahut Daruwerdi.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Dengan kasar dan bahkan liar orang itu menyerang.

Namun Daruwerdi pun menjadi keras. Meskipun ia masih tetap memperhatikan paugeran dalam olah kanuragan, namun serangan-serangannya menjadi semakin garang sehingga lawannya pun menjadi semakin terdesak.

Sekali lagi ketika Daruwerdi menjulurkan pedangnya mendatar, disela-sela ayunan senjata lawannya, maka orang itu mengumpat sambil mengaduh Ujung pedang Daruwerdi kemudian telah mengenai lambungnya. Meskipun tidak begitu dalam, tetapi luka itu pun telah memuntahkan darah segarnya.

Bramadaru yang bertempur di arah lain mendengar kepercayaan gurunya itu mengumpat-umpat sambil mengeluh. Dengan demikian maka ia pun mengerti, bahwa orang itu telah terluka.

Kemarahan pun semakin menghentak didadanya. Karena itu maka ia pun bertempur semakin garang. Pedangnya berputar semakin cepat. Terayun mendatar, menusuk dan kemudian menyambar kearah kening. Tetapi tidak segores pun yang berhasil mengenai kulit lawannya.

Bahkan dalam pada itu ujung pedang Jlitheng lah yang bagaikan sengat seribu kumbang mengitari tubuh Bramadaru. Ketika terasa sambaran angin pada kulitnya karena ayunan pedang tipis lawannya, rasa-rasanya kulit Bramadaru itu meremang.

Namun bagaimanapun juga Bramadaru tidak dapat mengingkari kenyataan. Jlitheng itu memiliki ketangkasan yang tidak dapat diimbanginya. Ujung pedang tipis itu bergerak terlalu cepat sehingga pedang Bramadaru tidak sempat menangkis ketika ujung pedang tipis itu mulai meraba kulitnya.

Tetapi ujung pedang itu belum benar-benar melukainya. Jika darahnya mulai mengembun karena luka-lukanya, maka luka-luka itu sama sekali tidak berarti.

Bramadaru masih mampu bertempur dengan cepat dan ayunan-ayunan pedang yang menggetarkan jantung. Tetapi bagi lawannya yang mampu bergerak cepat itu, serangan-serangannya tidak banyak memberikan arti. Bahkan semakin lama sentuhan-sentuhan senjata lawannya semakin sering mengenai kulitnya.

Hanya goresan-goresan kecil yang kemudian terdapat pada tubuhnya. Tetapi semakin lama semakin banyak.

Dalam pada itu, maka Jlitheng pun kemudian berkata, “Raden, apakah Raden tidak mempertimbangkan satu penyelesaian lain dari meneruskan pertempuran ini?”

“Tutup mulutmu” geram Bramadaru, “Kau sangka bahwa kau, sudah berhasil dengan permainanmu itu? Sebentar lagi kau akan mati oleh pedangku dan mayatmu akan menjadi mangsa burung pemakan bangkai yang bersarang di pohon nyamplung ini. Tidak seorang pun yang mengetahui tentang perbuatanku dan tentang mayatmu”

“Sudah aku katakan, seisi istana tentu sudah tahu apa yang kau lakukan Raden” jawab Jlitheng, “bahkan mungkin sekarang ini sekelompok pengawal istana Pangeran Sena Wasesa telah menyusul kami. Karena itu pertimbangkan baik-baik”

“Kau Gila” geram Raden Bramadaru, “Aku akan membunuh orang yang berusaha menghalangi rencanaku. Menghalangi kesenanganku siapapun orang itu”

“Aku tidak sedang minta kau ampuni. Raden” jawab Jlitheng, “karena itu kau tidak usah berteriak-teriak begitu. Langsung saja kau bunuh lawanmu. Tetapi kenyataan telah berkata lain dari keinginanmu yang gila itu Raden. Kenyataannya mengatakan tentang kelemahanmu dalam pertarungan antara ilmu yang tinggi. Masih jauh dari ketinggian yang seharusnya bagi orang-orang yang menjelajahi daerah olah kanuragan”

Kata-kata Jlitheng itu sangat menyakitkan hati Raden Bramadaru. Sekali lagi ia berusaha untuk menghentakkan ilmunya. Namun sekali lagi ia menerima satu kenyataan bahwa lawannya memang memiliki kemampuan melampaui kemampuannya.

Jlitheng yang sengaja membangkitkan kemarahan Bramadaru itu pun telah bersiap sepenuhnya untuk melawan kemarahan anak muda itu. Karena itu, ketika serangan Bramadaru datang membadai. Jlitheng sama sekali tidak mengalami kesulitan apapun juga.

Bahkan semakin Bramadaru marah, muka serangan-serangannya pun menjadi semakin tidak terarah.

Yang tidak kalah sengitnya adalah pertempuran antara Daruwerdi dan kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti. Agak berbeda dengan Jlitheng yang masih selalu dapat mengekang diri sehingga ujung senjatanya tidak langsung menghunjam ke jantungnya, maka Daruwerdi berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghancurkan lawannya setelah tawarannya untuk menyerah ditolak. Kecemasannya tentang Raden Ajeng Ceplik yang diketahuinya sebagai adiknya itu membuatnya kehilangan semua pertimbangannya.

Dalam serangan-serangan berikutnya, Daruwerdi benar-benar telah membatasi kemungkinan gerak lawannya yang kemudian hanya dapat berloncatan menghindar. Ketika sebuah goresan lagi melukai lawannya, maka Daruwerdi masih mencoba sekali lagi berkata, “Menyerahlah. Kesempatan ini adalah kesempatan terakhir”

Tetapi yang kemudian terjadi telah membuat Daruwerdi semakin marah. Orang itu tidak memenuhi tawaran itu, justru dengan serta merta telah menyerang Daruwerdi dengan garangnya. Hampir saja ujung senjatanya mengenai mata sebelah kiri Daruwerdi, sehingga karena itu maka Daruwerdi pun telah dengan tergesa-gesa mengelak. Bahkan hampir saja Daruwerdi jatuh terperosok ke dalam semak-semak berduri yang banyak bertebaran di padang perdu itu.

Daruwerdi menjadi semakin marah karenanya. Karena itu. maka serangan berikutnya, telah datang bagaikan badai. Pedang Daruwerdi berputar semakin cepat. Sekali-sekali menyerang dengan ayunan mendatar, sekali-sekali mematuk dan sekali-sekali menebas leher.

Lawannya benar-benar telah terdesak. Sekali lagi sebuah goresan telah mengoyak tubuhnya. Tepat di dada.

Orang itu mengeluh kesakitan. Namun Daruwerdi tidak menghentikan serangannya. Justru dalam kesempatan itu ia memburu lawannya. Dalam keadaan yang sulit, maka Daruwerdi yang marah itu mengayunkan pedangnya mendatar. Orang itu masih sempat meloncat surut. Tetapi Daruwerdi dengan cepat memburunya dengan pedang terjulur.

Orang itu berteriak nyaring. Tetapi suaranya cepat terputus. Pedang Daruwerdi telah menusuk langsung ke pusat jantung.

Ketika pedang itu ditarik, maka tubuh lawannya itu pun segera jatuh terjerembab. Diam.

Bramadaru mendengar teriakan orang itu. Sementara itu, Jlitheng pun mengetahui pula akhir dari pertempuran yang terjadi antara Daruwerdi dan lawannya, sehingga hampir diluar sadarnya ia berkata, “Nah. kawanmu sudah diselesaikan Raden. Benar-benar satu akhir yang pahit”

Bramadaru menggeram. Tetapi ia sadar sepenuhnya, apa yang akan dapat terjadi atasnya. Jika orang yang menyebut dirinya Daruwerdi itu kehilangan lawan, maka keadaannya akan menjadi semakin sulit. Daruwerdi tentu akan bertempur berpasangan dengan Jlitheng sehingga mungkin sekali ia akan dapat ditangkap oleh keduanya.

Karena itu, maka Bramadaru harus cepat mengambil satu keputusan. Ia tidak boleh terlambat.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja dengan sisa tenaganya, Bramadaru telah menyerang lawannya. Segenap kemampuannya telah ditumpahkannya. Serangannya datang cepat dan berbahaya, sehingga Jlitheng terpaksa bergeser surut.

Namun pada kesempatan itu Bramadaru tidak memburunya. Ketika Jlitheng sudah siap menghadapi segala kemungkinan, maka tiba-tiba saja Bramadaru justru meloncat dan sekejap kemudian berlari menyusup diantara gerumbul-gerumbul liar sebelah batang pohon nyamplung yang besar itu.

“Tunggu” panggil Jlitheng.

Tetapi suaranya lenyap menyusup diantara dedaunan. Sementara itu Bramadaru dengan cepat menyelinap dan hilang di dalam kegelapan.

Jlitheng berusaha untuk menyusulnya. Tetapi beberapa puluh langkah kemudian ia sudah kehilangan jejak. Bramadaru itu bagaikan lenyap ditelan padang perdu yang luas itu.

Untuk beberapa saat Jlitheng berusaha menemukan jejaknya. Namun dalam kegelapan malam, tidak banyak yang dapat dilakukannya.

Sementara itu, Daruwerdi yang sudah kehilangan lawannya, mendekati Raden Ajeng Ceplik yang menggigil ketakutan. Namun ketika Bramadaru melarikan diri, maka seakan-akan ia telah terlepas dari satu keadaan yang paling pahit yang dapat terjadi atas dirinya.

Karena itu, ketika Daruwerdi melangkah mendekatinya, maka tiba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik yang merasa dirinya telah diselamatkan oleh kedua orang anak muda itu, telah berjongkok dihadapan Daruwerdi sambil menangis.

“Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kakangmas” desis Raden Ajeng Ceplik. Yang pertama-tama terbayang di angan-angannya adalah bahwa ia tidak dapat menerima anak muda itu bersama ibunya di dalam istananya, sehingga ia memilih untuk pergi bersama Bramadaru.

“Kenapa kau minta maaf diajeng” sahut Daruwerdi sambil menarik lengan gadis itu, “berdirilah. Kau telah bebas dari cengkeraman serigala liar itu”

Raden Ajeng Ceplik pun kemudian bangkit. Tetapi tangannya masih sibuk mengusap air matanya yang mengalir tidak henti-hentinya. Kengerian masih saja merayapi dadanya, jika ia mengingat perlakuan Bramadaru yang diharapkannya untuk dapat memberinya ketenangan justru karena jiwanya yang bergolak menentang kehadiran Daruwerdi dan ibunya.

Tetapi ternyata ia lelah jatuh ke tangan seorang anak muda yang buas sebuah serigala sebagaimana dikatakan oleh embannya.

Sementara itu. Jlitheng yang gagal menemukan Bramadaru pun telah mendekati keduanya. Dengan nada rendah ia berkata, “Marilah. Kita segera kembali ke istana Raden Ajeng, “

“Marilah” jawab Daruwerdi, “Kita akan segera memberikan laporan tentang peristiwa ini”

“Kita harus cepat bertindak” berkata Jlitheng kemudian.

Ketiganya pun kemudian meninggalkan tempat itu. Raden Ajeng Ceplik yang letih badan dan jiwanya, dibimbing oleh Daruwerdi meninggalkan tempat yang mengerikan baginya. Hampir saja mengalami nasib yang paling buruk yang dapat terjadi atasnya.

Ketiganya memerlukan waktu yang cukup panjang. Namun akhirnya mereka pun sampai ke istana Pangeran Sena Wasesa.

“Jangan mengejutkan para penjaga” berkata Jlitheng

“Kita memasuki halaman lewat pintu butulan”

Raden Ajeng menjadi berdebar-debar. Pintu itu adalah pintu yang dipergunakannya untuk keluar dari istana ayahandanya.

“Apakah sebenarnya mereka melihat saat aku keluar?” pertanyaan itu telah berjangkit di hati Raden Ajeng Ceplik. Namun ia tidak mengucapkannya.

Ternyata bahwa pintu butulan itu tidak diselarak. Karena itu. maka dengan mudah mereka membuka dan menutup kembali. Dengan hati-hati mereka memperhatikan para peronda. Setelah mereka yakin bahwa tidak ada seorang peronda pun yang mengetahuinya, maka mereka pun segera melintasi halaman dan menuju ke serambi.

“Sampai saat ini tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa diajeng pernah meninggalkan istana ini” berkata Daru-werdi, “sekarang kembalilah ke bilikmu. Tetapi kita harus segera berbuat sesuatu. Aku akan memberikan laporan kepada ayahanda sekarang juga”

Raden Ajeng Ceplik termangu-mangu. Namun kemudian Katanya, “Terserah kepada kakangmas”

“Masuklah” berkata Daruwerdi, “Aku akan mengetuk pintu bilik ayahanda. Mudah-mudahan ayahanda tidak terkejut.”

Raden Ajeng Ceplik pun segera kembali ke dalam biliknya. Sementara itu Daruwerdi dan Jlitheng pun telah ikut masuk pula ke ruang dalam, mereka akan memberanikan diri mengetuk pintu Pangeran Sena Wasesa untuk memberikan laporan tentang peristiwa yang menyangkut banyak segi, bukan saja hubungan antara Raden Ajeng Ceplik dan Bramadaru, tetapi juga hubungan antara Pangeran Gajahnata dan Pangeran Sena Wasesa. Bahkan mau tidak mau hal ini akan menyangkut nama Kangjeng Sultan pula karena kedua orang yang tentu akan terlibat dalam perselisihan itu adalah Pangeran.

Namun dalam pada itu, selagi keduanya berusaha mendekati bilik Pangeran Sena Wasesa dengan ragu-ragu, maka seseorang berdiri di dekat regol butulan sambil menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kedua anak muda yang telah menyusul Raden Ajeng Ceplik itu telah kembali dengan selamat tanpa memerlukan bantuan orang lain. Sementara itu, maka orang itu pun telah melakukan satu permainan yang memungkinkan hal itu terjadi tanpa menimbulkan keributan di istana Pangeran Sena Wasesa.

“Jika para peronda menemukan pintu butulan ini tidak diselarak sebagaimana ditinggalkan oleh Raden Ajeng Ceplik, maka istana ini tentu sudah menjadi gempar. Para pengawal tentu akan mencari sebab dan jika mereka menemukan Raden Ajeng tidak ada dibiliknya, maka semua orang akan menjadi ribut, sementara Raden Ajeng Ceplik sendiri harus diselamatkan.

“Mereka akan langsung memberikan laporan malam ini” desis seseorang dari kegelapan, “tetapi agaknya itu memang lebih baik”

“Ya Kiai” jawab orang yang berdiri didekat pintu butulan, “segalanya memang harus cepat diselesaikan”

“Aku akan menunggu di dalam bilikku” berkata suara dari kegelapan itu.

Sejenak kemudian menjadi hening. Tidak ada suara lagi Orang yang berdiri didekat regol itu pun lelah hilang pula.

Dalam pada itu. Daruwerdi dan Jlitheng telah memberanikan diri mengetuk pintu bilik Pangeran Sena Wasesa. Perlahan sekali tanpa mengejutkan. Namun dalam pada itu, di bilik Raden Ajeng Ceplik telah terdengar isak tangisnya yang tertahan-tahan.

“Anak itu menyesali diri” berkata Daruwerdi dan Jlitheng di dalam hatinya.

Dalam pada itu. ternyata Pangeran Sena Wasesa terbangun pula oleh ketukan perlahan-lahan di pintu biliknya. Kemudian dengan hati yang berdebaran Pangeran itu bangkit. Adalah mendebarkan bahwa di larut malam, bahkan menjelang dini hari, seseorang telah mengetuk pintu biliknya.

“Siapa?” terdengar Pangeran Sena Wasesa itu bertanya.

“Aku ayahanda” jawab Daruwerdi.

“Daruwerdi?” bertanya Pangeran Sena Wasesa.

“Ya. Bersama Jlitheng. Ada satu hal yang sangat penting yang wajib aku laporkan kepada ayahanda” jawab Daruwerdi.

Pangeran Sena Wasesa menjadi ragu-ragu. Suaranya memang suara Daruwerdi. Tetapi kemungkinan-kemungkinan lain memang dapat terjadi.

Karena itu, maka sebelum membuka pintu. Pangeran Sena Wasesa telah mengenakan lempeng baja di telapak tangannya Mungkin benda itu diperlukan jika keadaan tiba-tiba saja telah menyudutkannya.

Ketika pintu terbuka, maka dua orang anak muda berdiri di depan pintu. Keduanya mengangguk hormat, sementara Pangeran Sena Wasesa berdiri termangu-mangu.

“Malam-malam begini, kalian telah membangunkan aku?” bertanya Pangeran Sena Wasesa.

Kedua anak muda itu belum menjawab, ketika Pangeran itu mendengar puterinya menangis terisak-isak.

“Kenapa dengan Ceplik?” bertanya Pangeran Sena Wasesa.

“Itulah yang ingin kami laporkan” jawab Daruwerdi, “tentang diajeng Ceplik”

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Pangeran Sena Wasesa dengan tegangnya.

“Agaknya lebih baik jika ayahanda menanyakan kepadanya, apakah yang telah terjadi dengan dirinya” jawab Daruwerdi.

Pangeran Sena Wasesa merenung sejenak. Lalu katanya, “Baiklah. Biarlah seseorang memanggilnya”

“Aku akan memanggilnya” berkata Daruwerdi.

Daruwerdi itu pun kemudian pergi ke bilik Raden Ajeng Ceplik. Dengan nada dalam ia berkata, “Diajeng. Ayahanda memanggilmu. Katakan akan apa yang terjadi sebenarnya, agar ayahanda mengetahui dengan pasti dan dapat mengambil langkah yang paling baik dalam persoalan ini”

Jantung Raden Ajeng Ceplik menjadi berdebar-debar. Ia sendiri menjadi bingung untuk berterus terang. Ia dapat saja mengatakan segala sesuatu tentang Bramadaru. Tetapi apakah ia akan dapat mengatakan alasan kepergiannya meninggalkan istana itu bersama Bramadaru karena ia menolak kehadiran ibu tirinya dan Daruwerdi itu sendiri.

Daruwerdi yang melihat Raden Ajeng Ceplik ragu-ragu berkata, “Diajeng. Jika diajeng tidak mengatakan yang sebenarnya dan menutup sebagian persoalan ini, maka ayahanda mungkin akan mendapat gambaran yang keliru sehingga ayahanda akan dapat mengambil satu tindakan yang seharusnya tidak dilakukannya”

Raden Ajeng Ceplik mengangguk-angguk. Namun kemudian Katanya, “Kakangmas, Biarlah aku menghadap seorang diri. Ada persoalan yang sangat pelik yang ingin aku katakan kepada ayahanda”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah”

Raden Ajeng Ceplik kemudian masuk ke dalam bilik ayahanda sementara Jlitheng telah diminta untuk meninggalkan ruangan itu. Sehingga di dalam bilik itu hanya terdapat Raden Ajeng Ceplik dan ayahandanya Pangeran Sena Wasesa”

Sementara keduanya lagi berbincang di dalam, maka Rahu telah memasuki ruangan itu pula dengan diam-diam.

“Di Ajeng Ceplik sedang menghadap” berkata Daruwerdi kepada Rahu.

“Baiklah. Mungkin aku akan dapat melengkapi penjelasan, seandainya Pangeran Sena Wasesa memerlukannya. Setelah Raden Ajeng Ceplik selesai, kita akan menghadap lagi” berkata Rahu.

“Raden Ajeng ingin menghadap sendiri” berkata Jlitheng.

“Mungkin Raden Ajeng merasa malu kau dengar beberapa hal tentang hubungannya dengan Bramadaru. Tetapi itu tidak apa-apa. Kita berharap bahwa ia berkata dengan jujur” desis Rahu.

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun mereka masih harus menunggu beberapa saat diluar bilik Pangeran Sena Wasesa.

Dalam pada itu dalam bilik Pangeran Sena Wasesa telah mendengarkan semua pengakuan Raden Ajeng Ceplik. Seperti yang diharapkan oleh Daruwerdi, maka Raden Ajeng Ceplik memang mengatakan semua persoalan di dalam dirinya. Ia pun mengatakan, bahwa ia telah menolak kehadiran ibu tirinya di dalam hatinya. Karena itu ia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.

“Aku menganggap mereka akan menghantui hidupku” berkata Raden Ajeng Ceplik, “Mereka telah menodai ayahanda kepada ibunda. Tetapi ternyata bahwa anak muda yang bernama Daruwerdi itu bersama dengan Jlitheng telah menolong aku. Membebaskan aku dari kegelapan masa depanku”

Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun gejolak di dalam dadanya rasa-rasanya akan meledakkan jantungnya. Persoalan Raden Ajeng Ceplik dengan ibu tiri dan kakaknya nampaknya tidak banyak membakar isi dadanya. Apalagi dengan pengakuan Raden Ajeng Ceplik tentang Daruwerdi. Rasa-rasanya Raden Ajeng Ceplik telah menerima kenyataan itu.

Tetapi tingkah laku Bramadaru benar-benar membuat darahnya bagaikan mendidih. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan menyelesaikan persoalan ini dengan kakang-mas Pangeran Gajahnata sekarang”

“Sekarang ayahanda?” bertanya Raden Ajeng Ceplik.

“Ya, sekarang. Ini adalah persoalan orang tua. Bukan saja persoalan nilai-nilai peradaban, tetapi juga penghinaan atas martabat kesatrianku. Bagiku, penghinaan yang begini harus dibayar dengan jiwa. Aku atau kakangmas Gajahnata yang akan mati”

“Ayahanda” tangis Raden Ajeng Ceplik.

Tetapi Pangeran Sena Wasesa tidak menghiraukannya. Dengan serta merta ia melangkah ke pintu. Dengan serta merta Pangeran Sena Wasesa itu mendorong pintu biliknya meskipun Ceplik kemudian telah memeluk kakinya.

“Jangan tahan aku Ceplik. Aku punya harga diri seorang kesatria. Ia sudah menjamah kesucian isi rumah ini. Karena itu maka tebusannya adalah sifat kejantanan itu sendiri sampai tuntas” geram Pangeran Sena Wasesa.

Namun dalam pada itu, tiga orang telah menunggu diluar bilik itu. Rahu lah yang kemudian bergeser maju sambil berkata, “Pangeran. Apakah Pangeran berkenan aku mengatakan sesuatu?”

“Apa? Kau sudah mengetahui penghinaan ini juga?” bertanya. Pangeran Sena Wasesa.

“Hamba mengetahui sebagian besar dari peristiwa ini. Akulah yang ikut bersama dengan Daruwerdi dan Jlitheng menyusul Raden Ajeng Ceplik” jawab Rahu.

“ Kalau begitu, baiklah aku memberitahukan kepadamu. Aku akan pergi ke istana kakangmas Gajahnata sekarang juga. Tingkah laku anaknya telah menyentuh harga diriku yang paling dalam. Karena itu, aku atau kakangmas Gajahnata yang harus mati malam ini. Kecuali jika ia mau menyerahkan anaknya, Bramadaru” geram Pangeran Sena Wasesa.

“Pangeran” berkata Rahu, “Aku mohon maaf. Tetapi perkenankanlah aku sedikit memberikan peringatan kepada Pangeran, justru dalam keadaan marah, Pangeran akan dapat melupakannya” Rahu berhenti sejenak, lalu, “Bukankah di Demak ini ada Kangjeng Sultan. Bukankah persoalan ini dapat Pangeran ajukan kepada Kangjeng Sultan. Dengan demikian maka Pangeran tidak akan dituduh melakukan satu tindakan diluar paugeran hukum dengan mengambil tindakan sendiri. Pangeran dapat mohon agar persoalan ini segera diselesaikan. Apalagi persoalannya menyangkut masalah harta benda yang sudah pernah Pangeran serahkan kepada Kangjeng Sultan dan yang ternyata masih belum kembali masuk ke Gedung Perbendaharaan istana”

Pangeran Sena Wasesa menggeram. Dadanya memang serasa akan meledak oleh kemarahan. Tangis anak gadisnya tidak dapat meredakan gejolak di dadanya. Namun peringatan yang diberikan Rahu agaknya dapat membuka hatinya Ia baru saja mendapat pengampunan dari Kangjeng Sultan. Jika ia dengan tergesa-gesa dan tanpa pertimbangan telah mengambil satu sikap langsung atas sesama seorang Pangeran, maka kemarahan Kangjeng Sultan akan dapat terungkap lagi.

Karena itu, maka Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia ingin mengendapkan gejolak yang menyala di dadanya.

“Aku mohon, Pangeran” desis Rahu kemudian.

Pangeran Sena Wasesa akhirnya berhasil menguasai kemarahannya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Raden Ajeng Ceplik masih duduk bersimpuh berpegangan kedua kakinya.

“Baiklah Ceplik” berkata Pangeran Sena Wasesa, “Aku tidak akan pergi sekarang. Rahu berhasil meyakinkan aku, bahwa tindakan yang tergesa-gesa tidak akan membawa hasil yang baik. Tetapi besok pagi-pagi benar aku akan menghadap Sultan. Sementara itu, aku akan memperingatkan para peronda untuk berhati-hati. Siapa tahu, Bramadaru telah memberikan laporan yang lain kepada kakangmas Gajahnata, sehingga agar tidak kedahuluan, maka kakangmas Gajahnata lah yang akan datang ke rumah ini”

“Biarlah aku saja yang menyampaikan pesan Pangeran kepada para penjaga” berkata Rahu.

“Mereka tidak akan memperhatikan perintahmu. Kau bukan pemimpin mereka disini” sahut Pangeran Sena Wasesa.

Rahu mengangguk-angguk. Ia baru sadar, bahwa ia memang bukan jalur yang mungkin dapat meneruskan perintah Pangeran Sena Wasesa kepada para pengawal.

Karena itu, maka ketiga orang itu pun kemudian minta diri. Sementara itu, Rahu masih sempat berkata, “Tidak seorang pun diantara para pengawal yang mengetahui apa yang telah terjadi”

Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Ia memang merasa heran bahwa para pengawal nampaknya tidak tahu sama sekali bahwa Raden Ajeng Ceplik telah meninggalkan halaman.

“Aku telah menyelarak pintu butulan itu kembali setelah Raden Ajeng keluar dari halaman ini” berkata Rahu, “Aku memang bermaksud mengetahui, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Raden Bramadaru, karena aku sudah mendapat beberapa keterangan tentang anak muda itu dari emban Raden Ajeng Ceplik” berkata Rahu dengan nada datar.

Pangeran Sena Wasesa masih belum pasti, apa saja yang telah dilakukan oleh Rahu. Tetapi ia mengerti, bahwa hidung Rahu sebagai petugas sandi telah dimanfaatkan pula untuk mencium tingkah laku Raden Bramadaru dan anak gadisnya.

Karena itu, hampir diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa berdesis, “Terima kasih Rahu. Kau dan kedua anak muda ini telah menyelamatkan anak gadisku dari kenistaan yang paling laknat”

“Mudah-mudahan segalanya dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Terutama segera kembalinya harta benda itu ke dalam Gedung Perbendaharaan istana” Rahu berhenti sejenak, lalu, “Silahkan Pangeran turun ke gardu”

Pangeran Sena Wasesa kemudian menyuruh anak gadisnya untuk kembali ke dalam biliknya. Katanya, “Tidurlah. Kau telah terlepas dari mimpi yang mengerikan itu”

Raden Ajeng Ceplik pun kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke dalam biliknya. Sementara itu Rahu pun mengikuti Pangeran Sena Wasesa yang turun ke halaman sambil berkata kepada Daruwerdi dan Jlitheng, “Silahkan kembali ke gandok. Aku akan segera menyusul”

Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun kemudian menuju ke gandok. Nampaknya Rahu masih akan menyertai Pangeran Sena Wasesa yang akan memerintahkan agar para pengawalnya berhati-hati.

“Tetapi ayahanda agaknya tidak akan memberitahukan persoalan diajeng Ceplik kepada para pengawal” berkata Daruwerdi.

“Ya. Pangeran hanya akan memberikan perintah kepada mereka untuk bersiaga sebaik-baiknya” jawab Jlitheng

Namun sementara itu, Rahu yang mengikuti Pangeran Sena Wasesa telah memberikan beberapa keterangan tentang hubungan antara Bramadaru dan Raden Ajeng Ceplik. Kedukaan hati gadis itu karena ia merasa cinta ayahandanya kepada ibundanya dinodai. Dengan sedikit mengurai persoalan-persoalan yang berhasil diamatinya dari kejauhan maka ketajaman nalar Rahu mencium langkah-langkah yang mungkin akan berakibat kurang baik bagi Raden Ajeng Ceplik.

“Kenapa kau tidak mencegah saja hal itu agar tidak terjadi?” bertanya Pangeran Sena Wasesa.

“Pangeran” jawab Rahu, “Aku mohon maaf, bahwa dengan pertimbangan Kiai Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi, maka hal ini telah aku lakukan. Aku sengaja memberikan kesempatan kepada Daruwerdi untuk menolong Raden Ajeng Ceplik. Bukankah dengan demikian gadis itu merasa, bahwa anak muda yang disebut kakaknya itu benar-benar telah mampu menjadi pelindungnya?”

Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia hampir lupa kepada persoalan keluarganya itu. Ia hampir lupa sikap anak gadisnya menghadapi kenyataan yang sangat pahit. Namun kini ayah dari dua orang anak yang berbeda ibu itu melihat, bahwa kedua anak itu telah dapat mempertautkan hati mereka sebagai saudara.

“Bukankah dengan demikian Raden Ajeng Ceplik juga akan menerima ibu Raden Daruwerdi itu sebagai ibundanya?” bertanya Rahu.

Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya dengan nada sangat dalam, “Terima kasih Rahu. Kau bukan saja seorang yang telah menolong aku dari keterjerumusanku kemungkinan yang paling buruk atas diriku di saat-saat aku berada di tangan orang-orang Sanggar Gading, tetapi kau juga telah menyelamatkan keluargaku dari keretakan dan bahkan kehinaan atas anak gadisku itu”

“Yang aku lakukan adalah sekedar kewajiban, Pangeran. Kewajibanku sebagai seorang petugas sandi di sarang orang-orang Sanggar Gading dan tugas diantara sesama di istana ini” jawab Rahu.

Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak sempat bertanya lebih banyak lagi. Ketika Pangeran itu berada di depan regol, maka pengawal yang sedang bertugas malam itu pun segera menyongsongnya.

“Ada perintah Pangeran?” bertanya pemimpin pengawal.

Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab lunak, “Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa terlalu panas di dalam”

“O” Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian Pangeran Sena Wasesa berkata, “Tetapi berhati-hatilah di sisa malam ini. Mungkin udara yang tidak nyaman ini membuat aku gelisah. Amati setiap sudut dengan baik, meskipun sebentar lagi hari menjadi pagi”

“Siap Pangeran” jawab pengawal itu.

“Pada saat-saat seperti ini, kita kadang-kadang menjadi lengah” berkata Rahu.

Pengawal itu mengangguk-angguk kecil. Sejenak kemudian maka Pangeran Sena Wasesa pun kembali ke dalam biliknya, sementara Rahu pun menuju ke gandok.

Di dalam biliknya Pangeran Sena Wasesa sempat menganyam angan-angannya. Ia dapat melihat peristiwa itu dalam keseluruhan. Ia sudah mendengar kisah anak gadisnya dan ia pun telah mendengar keterangan Rahu menurut penilaiannya atas peristiwa yang terjadi di istana itu.

Ternyata bahwa Raden Ajeng Ceplik sangat berat untuk menerima kehadiran ibu tirinya yang ternyata telah menyadap cinta ayahandanya sebelum ayahandanya kawin dengan ibundanya. Dengan demikian maka seakan-akan ayahandanya kawin dengan ibundanya itu sama sekali tidak dilandasi oleh perasaan cinta.

Tetapi Ceplik telah melihat kenyataan lain, bahwa Daruwerdi telah menyelamatkannya dari kehinaan yang paling dahsyat. Tanpa pertolongan Daruwerdi dan anak muda yang lebih senang dipanggil Jlitheng dari pada namanya sendiri itu, maka mungkin ia akan berada dalam neraka yang sangat mengerikan, tanpa diketahui oleh ayahandanya, sementara Bramadaru akan dapat berpura-pura kehilangan pula. Sedangkan dalam masa-masa tertentu Bramadaru akan datang kepadanya dengan kebuasan yang menyala di dalam dadanya.

Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia juga berterima kasih kepada Rahu yang telah mengekangnya sehingga ia tidak mengambil tindakan sendiri malam itu.

“Sultan akan dapat terungkat kemarahannya jika aku bertindak sendiri, apalagi harta benda itu masih belum masuk ke Perbendaharaan. Jika aku membunuh Kakangmas Gajahnata, maka aku akan mendapat hukuman karena kesalahan kakangmas belum dibuktikan. Tetapi jika aku mati, pusaka dan harta benda itu akan tidak dikenal tempatnya. Meskipun serba sedikit aku sudah menyampaikan kepada Kanjeng Sultan, tetapi tanpa aku, semuanya akan mengalami kesulitan” berkata Pangeran Sena Wasesa kepada diri sendiri.

Demikianlah, maka malam itu Pangeran Sena Wasesa telah mempersiapkan dirinya lahir dan batin untuk menghadapi persoalannya dengan Pangeran Gajahnata.

Karena itu, maka pagi-pagi benar Pangeran Sena Wasesa. sudah siap untuk berangkat ke istana. Namun ia sadar, bahwa ia tidak akan segera dapat menghadap Sultan, karena hari masih terlalu pagi. Namun gejolak perasaannya tidak lagi dapat dikekangnya untuk segera berangkat.

“Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan untuk menghadap mendahului waktu yang sudah ditentukan” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya, “Aku memerlukan berbicara sebelum ada orang lain”

Namun agaknya Pangeran Sena Wasesa memerlukan seseorang yang akan dapat membantunya menjelaskan persoalan yang dihadapinya. Menurut pendapat Pangeran Sena Wasesa, yang paling tepat untuk diajaknya menghadap adalah Rahu.

Rahu sama sekali tidak berkeberatan. Justru ia berterima kasih atas kepercayaan Pangeran Sena Wasesa yang akan mengajaknya serta.

Seperti yang diduganya. Pangeran Sena Wasesa datang terlalu pagi di istana. Para pengawal masih berada di tempat tugas mereka di malam hari. Sehingga karena itu, maka kedatangan Pangeran Sena Wasesa itu menimbulkan beberapa pertanyaan pada para pengawal.

“Memang ada sesuatu yang penting yang harus segera aku sampaikan kepada Kangjeng Sultan” berkata Pangeran Sena Wasesa kepada para pengawal.

“Cobalah berhubungan dengan pengawal dalam” seorang pengawal mempersilahkan, “Jika Kangjeng Sultan sudah berada di ruang dalam, maka Pangeran akan dapat di terimanya jika persoalan yang Pangeran bawa memang penting sekali”

Pangeran Sena Wasesa pun kemudian menghubungi pimpinan pengawal dalam untuk menyampaikan permohonannya menghadap mendahului waktunya.

Permohonan Pangeran Sena Wasesa itu ternyata sangat menarik perhatian Kangjeng Sultan, justru karena Pangeran Sena Wasesa mempunyai persoalan khusus tentang pusaka dan harta benda yang disembunyikannya.

Karena itu, maka Kangjeng Sultan tidak berkeberatan untuk menerima Pangeran Sena Wasesa menghadap.

“Agaknya ada masalah yang sangat penting” desis Kangjeng Sultan ketika Pangeran Sena Wasesa dan Rahu yang bergelar Wira Murti itu menghadap.

“Hamba Kangjeng Sultan” jawab Pangeran Sena Wasesa, “hamba yang menghadap bersama Wira Murti membawa satu persoalan yang sangat penting. Sebenarnya bukan masalah pusaka dan harta benda itu secara langsung, namun memang ada singgungannya dengan pusaka dan harta benda itu, meskipun alas persoalannya adalah persoalan pribadi”

Kangjeng Sultan memperhatikan keterangan itu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, maka Pangeran Sena Wasesa pun segera melaporkan segala persoalan yang terjadi di istananya. Dengan jujur dan sebagaimana sesungguhnya terjadi. Pangeran Sena Wasesa menceriterakan perasaan anak gadisnya. Kemudian sikap putera Pangeran Gajahnata terhadap puterinya. Serta keinginan Pangeran Gajahnata untuk dapat memperguna-kan hubungan antara Bramadaru dan anak gadisnya untuk memiliki pusaka dan harta benda itu.

“Darimana kakangmas Pangeran mengetahuinya?” bertanya Kangjeng Sultan.

“Bramadaru mengatakannya kepada anak gadis hamba, sementara Wira Murti ini mengintip dari balik semak-semak” jawab Pangeran Sena Wasesa, yang kemudian juga menjelaskan usaha Rahu yang bergelar Wira Murti itu untuk mempertautkan hati anak laki-lakinya dengan anak gadisnya.

Kangjeng Sultan pun kemudian mendapatkan semua penjelasan dari Pangeran Sena Wasesa dan dari Rahu. Sampai saatnya Raden Ajeng Ceplik itu kembali ke dalam istana kepangeranan.

“Hampir saja hamba kehilangan pengamatan diri” berkata Pangeran Sena Wasesa pula, “untunglah Rahu telah mencegah hamba untuk tidak pergi ke istana kakangmas Gajahnata malam itu juga”

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Namun kemudian Kangjeng Sultan itu pun berkata, “Baiklah kakangmas Pangeran. Aku telah mendengar laporanmu. Tetapi aku masih harus mendengar laporan dari pihak yang lain, agar keputusan yang akan aku ambil tidak menjadi berat sebelah. Mungkin aku masih memerlukan beberapa orang saksi. Namun yang aku harap bahwa aku akan mendapatkan keterangan sehingga aku dapat mengabarkan peristiwa yang sebenarnya”

“Hamba Kangjeng Sultan. Hamba akan menunggu” jawab Pangeran Sena Wasesa.

Demikianlah, maka Kangjeng Sultan pun telah memerintahkan dua orang pengawal untuk menghadap Pangeran Gajahnata.

“Kakangmas Gajahnata aku perlukan menghadap sekarang, “ pesan Kangjeng Sultan kepada pengawal itu.

Sambil menunggu, maka Kangjeng Sultan masih menanyakan beberapa hal tentang peristiwa di bawah pohon nyamplung itu, terutama kepada Rahu yang bergelar Wira Murti. Bahkan Kangjeng Sultan pun bertanya, “Wira Murti, apakah yang kau lakukan itu tidak justru akan dapat berakibat sebaliknya. Seandainya Daruwerdi dan Jlitheng yang bergelar Pangeran Candra Sangkaya itu tidak dapat memenangkan pertempuran itu. Apakah yang kira-kira akan terjadi? Atau bahkan mungkin guru Bramadaru atau orang yang membantunya itu ada disitu pula?”

“Ampun Kangjeng Sultan. Sebenarnyalah mereka tidak hanya berdua. Hamba ada pula di tempat itu bersama Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning. Jika sesuatu yang gawat terjadi atas keduanya, maka kami sudah siap untuk membantu mereka” jawab Rahu.

Kangjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi kalian sudah memperhitungkan dengan cermat?”

Rahu mengangguk hormat sambil menyahut, “Hamba berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya”

Ketika Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Pangeran Sena Wasesa pun mengangguk-angguk pula. Pertanyaannya tidak sampai sejauh pertanyaan Kangjeng Sultan itu. sehingga dengan demikian ia menjadi semakin meyakini, bahwa orang-orang yang sedang menjadi tamunya itu benar-benar ingin berbuat baik terhadapnya dan terhadap keluarganya.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, ternyata pengawal yang mendapat tugas untuk menghadap Pangeran Gajahnata telah kembali. Dengan nafas terengah-engah pengawal itu menghadap Kangjeng Sultan d ruang dalam.

Pangeran Sena Wasesa dan Rahu menjadi berdebar-debar melihat kegelisahan yang membayang di wajah orang itu. Agaknya Sultan pun demikian pula, sehingga karena itu. maka Kangjeng Sultan itu pun segera bertanya, “Bagaimana dengan Pangeran Gajahnata?”

“Istana itu sudah kosong tuanku” jawab pengawal itu.

“He” wajah Kangjeng Sultan menjadi tegang, “maksudmu bahwa Pangeran Gajahnata sudah tidak ada di istananya lagi?”

“Hamba tuanku. Ada sekelompok pengawal yang kebingungan di halaman istana. Namun mereka mengatakan, bahwa Pangeran Gajahnata telah meninggalkan istana tanpa membawa seorang pengawal pun. Agaknya yang mengawal Pangeran itu bersama puteranya adalah Ki Ajar Wrahasniti, guru Raden Bramadaru dengan beberapa orang kepercayaannya” jawab pengawal itu.

Kangjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Pangeran Sena Wasesa, “Semuanya sudah jelas sekarang”

Pangeran Sena Wasesa menunduk dalam-dalam. Ada sepercik kekecewaan, bahwa ia tidak sempat membuat perhitungan dengan Pangeran Gajahnata karena anak laki-lakinya telah menghinakan anak gadisnya, meskipun masih belum terlanjur terjadi sesuatu yang merupakan bencana.

Dalam pada itu, maka Kangjeng Sultan pun kemudian berkata kepada pengawal yang menghadap, “Baiklah. Persoalannya akan aku pelajari untuk mengambil satu langkah yang paling baik atas peristiwa ini”

Pengawal itu pun kemudian mengangguk hormat sambil menyembah.

Baru ketika pengawal itu telah hilang dibalik dinding ruangan, maka Kangjeng Sultan itu pun berkata, “Kita dapat meyakini bahwa peristiwa yang aku dengar itu bukan sekedar ceritera yang berat sebelah. Justru karena Pangeran Gajahnata meninggalkan istananya, maka aku menjadi semakin pasti, bahwa mereka telah merasa bersalah sehingga lebih baik menghindarkan diri daripada harus mengalami pemeriksaan dan kemudian hukuman”

Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Sementara itu Kangjeng Sultan berkata selanjutnya, “Tetapi kakangmas Pangeran, aku yakin pula bahwa persoalannya tidak akan berhenti sampai disini. Kakangmas Gajahnata tentu masih akan mengambil langkah-langkah yang akan dapat merupakan ancaman bagi kakangmas Sena Wasesa”

Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Ia menyadari sepenuhnya sebagaimana dikatakan oleh Kangjeng Sultan di Demak itu.

Namun dalam pada itu, maka Kangjeng Sultan pun kemudian berkata, “Tetapi kakangmas akan dapat memperkuat pengawalan di istana Kakangmas. Jika diperlukan, maka kekuatan pengawal itu akan dapat ditambah dengan pengawalan dari kesatuan keprajuritan di Demak”

“Terima kasih” jawab Pangeran Sena Wasesa, “sementara ini biarlah hamba berusaha menjaga diri sendiri. Hamba mempunyai beberapa orang pengawal yang dapat hamba percaya. Bahkan pada saat-saat hamba diambil oleh orang-orang Sanggar Gading, mereka tetap menunjukkan kesetiaan mereka Apalagi pada saat ini. Tamu-tamu hamba adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang meyakinkan, sementara mereka telah berbuat sejauh dapat mereka lakukan bagi kebaikan hamba dan keluarga hamba. Namun apabila pada satu saat hamba memerlukannya, maka hamba akan mengatakannya”

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya bahwa tamu-tamu Pangeran Sena Wasesa memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga karena itu, untuk saat itu. Pangeran Sena Wasesa memang tidak, memerlu-kan bantuan bagi pengamanannya.

Namun dalam kesempatan itu, Kangjeng Sultan telah mengambil satu keputusan pula untuk dengan segera mengambil pusaka dan harta benda yang pernah diperebutkan sehingga menelan banyak sekali korban. Apalagi justru Pangeran Gajahnata telah berusaha untuk menguasai pusaka dan harta benda itu pula caranya sendiri. Untuk sementara usaha itu memang dapat dianggap gagal. Tetapi mungkin masih ada cara lain yang dapat dipergunakan.

Akhirnya Kangjeng Sultan memutuskan untuk memindahkan pusaka dan harta benda itu dengan secara rahasia. Tidak banyak orang dilingkungan istana sendiri yang mengetahuinya. Namun dalam pada itu, Kangjeng Sultan telah mempercayakan pemindahan itu kepada Pangeran Jalayuda. Pangeran Sena Wasesa sendiri dan beberapa petugas sandi yang dipimpin oleh Rahu yang bergelar Wira Murti.

“Sabet Kiai Lawang” desis Pangeran Jalayuda.

“Ya” desis Pangeran Sena Wasesa, “sipat kandel yang memiliki perbawa yang sangat besar sehingga orang percaya bahwa siapa yang memilikinya akan mampu memegang kekuasaan tertinggi di Demak. Didukung oleh harta benda yang tiada terhitung jumlahnya, maka seseorang benar-benar akan dapat berbuat apa saja yang tidak pernah dapat dibayangkan”

Pangeran Jalayuda mengangguk-angguk. Namun justru karena itu maka ia telah melakukan tugasnya dengan sangat berhati-hati.

Dalam pada itu, sebagaimana diduga orang, sebenarnyalah bahwa pusaka dan harta benda itu memang berada di daerah sepasang Bukit Mati. Tetapi sama sekali tidak berada di bukit gundul. Justru didekat bukit berhutan, berseberangan dengan arah air yang dikuasai oleh orang-orang Lumban.

Dalam tugas rahasia itu, telah dikerahkan orang-orang berilmu tinggi untuk mengawalnya, tetapi yang jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga tidak banyak menarik perhatian. Untuk mengangkut harta benda itu telah dipergunakan beberapa pedati yang dikendalikan oleh orang-orang berilmu tinggi. Bahkan atas permintaan Pangeran Sena Wasesa, dalam tugas itu Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning telah ikut pula bersama dengan kelompok orang-orang berilmu dalam mengemban tugas yang sangat rahasia itu.

Sementara itu, untuk mengamankan Raden Ajeng Ceplik di istana Pangeran Sena Wasesa, telah ditugaskan beberapa orang prajurit terpercaya untuk meronda dan yang selalu berhubungan dengan para pengawal diluar pengetahuan Raden Ajeng Ceplik sendiri. Disamping para pengawal dan para prajurit. Raden Ajeng Ceplik merasa tenang berada di bawah pengawasan kakaknya Daruwerdi dan seorang anak muda yang bernama Jlitheng.

Bahkan perlahan-lahan, Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk merubah sikapnya dan menunjukkan kepada kakaknya, bahwa ia tidak akan mengingkari sama sekali kehadiran ibu Daruwerdi meskipun ia berasal dari padepokan.

Meskipun tidak dengan serta merta, karena keseganan yang masih membayangi kedua belah pihak, tetapi hubungan antara Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin akrab pula dengan Endang Srini dan Swasti.

Dalam pada itu, menuggu tugas Pangeran Sena Wasesa serta penyelesaian di dalam Gedung Perbendaharaan, maka para tamunya masih tetap berada di lingkungan istana kepangeranan.

Meskipun waktunya tidak terlalu lama, namun telah memberi kesempatan segala pihak untuk dapat saing menyesuaikan diri.

Ternyata bahwa tugas yang berat dari Pangeran Jalayuda dan Pangeran Sena Wasesa itu dapat diselesaikan dengan selamat. Meskipun pusaka dan harta benda itu berada di Lumban, namun demikian cermatnya tugas yang dilakukan, sehingga tidak seorang pun diantara orang-orang Lumban yang mengetahui, apa yang sudah terjadi di Kabuyutan mereka.

Tetapi agaknya justru penyelesaian di Gedung Perbendahara-an itulah yang memerlukan waktu yang lebih lama, Dengan cermat dan hati-hati setiap benda berharga dihitung dan dicatat diatas rontal disaksikan oleh Pangeran Jalayuda dan Pangeran Sena Wasesa.

Demikianlah, baru ketika tugas itu sudah selesai, maka dengan sengaja telah di hembuskan berita, bahwa pusaka dan harta benda yang diperebutkan itu memang sudah berada di istana, sehingga dengan demikian, maka pergolakan berikutnya memperebutkan harta benda dan pusaka itu tidak akan terjadi lagi.

Dengan demikian, maka persoalan yang untuk beberapa lamanya menyelubungi Pangeran Sena Wasesa, seakan-akan telah terurai seluruhnya, Rasa-rasanya Pangeran Sena Wasesa tidak lagi mempunyai hutang kepada siapapun juga. Dengan demikian, maka rasa-rasanya hidupnya pun menjadi lebih jernih.

Apalagi ketika ia pun kemudian menyadari, bahwa puterinya yang semula menyesali kehadiran ibu tirinya, semakin lama menjadi semakin dekat pula. Bahkan kemudian, batas antara keduanya pun seakan-akan telah lenyap.

Ternyata bahwa tingkah laku Bramadaru dapat memberikan arti yang bermanfaat bagi kedua anaknya. Seandainya Bramadaru tidak melakukannya, maka masih sulit untuk mencari jalan agar kedua anaknya dapat berbuat sebagaimana dua orang saudara. Apalagi dengan ibu tirinya. Tetapi segalanya kini sudah teratasi.

Namun dalam pada itu, masih ada yang harus diselesaikan oleh Pangeran Sena Wasesa sebagai orang tua. Ia tidak dapat tinggal diam melihat hubungan antara Daruwerdi dan Swasti. Bahkan seakan-akan Swasti sudah tidak dapat dipisahkan lagi dari Endang Srini yang merasa pernah diselamatkan jiwanya oleh gadis yang garang itu.

“Tidak ada keberatan apapun” berkata Endang Srini kepada Pangeran Sena Wasesa ketika Pangeran itu bertanya kepadanya tentang hubungan antara anaknya dengan Swasti. Anak Kiai Kanthi yang terbiasa hidup dalam kekerasan alam, “Aku berharap bahwa pengalaman orang tuanya akan menjadi cermin bagi Daruwerdi, bahwa ia akan dapat menjadi seorang yang benar-benar menerima isterinya sebagaimana adanya, serta tidak dapat dipaksa oleh siapapun untuk meninggalkannya kecuali karena keduanya dipisahkan oleh maut”

“Ya, ya. Aku mengerti” sahut Pangeran Sena Wasesa sambil mengangguk-angguk. Lalu, “Adalah menjadi kewajiban kita untuk memberikan kesadaran yang demikian kepadanya, selagi semuanya belum terlanjur”

Endang Srini hanya mengangguk-angguk. Tetapi ia berjanji di dalam dirinya, bahwa ia akan menjelaskan hal itu kepada anaknya. Swasti adalah anak Kiai Kanthi, seorang penghuni padepokan yang oleh kebanyakan orang disebut tidak berderajat Tetapi itu bukan berarti bahwa anak gadis itu akan dapat diperlakukan sekehendak oleh orang lain yang kemudian menjadi suaminya, meskipun ia adalah seorang bangsawan.

Demikianlah, maka seakan-akan segalanya memang sudah selesai. Dengan demikian, maka datang saatnya tamu-tamu Pangeran Sena Wasesa itu minta diri. Mereka sudah terlalu lama membuat istana Pangeran Sena Wasesa menjadi terlalu sibuk.

Namun dalam pada itu, sebelum mereka meninggalkan istana Pangeran Sana Wasesa, maka mereka masih dibawa sekali lagi mohon diri kepada Kangjeng Sultan. Sebagaimana mereka datang menghadap, maka mereka pun menghadap pula pada saat mereka akan pergi.

“Segalanya sudah disiapkan” berkata Kangjeng Sultan, “Aku akan tetap memegang janjiku. Lambat atau cepat, maka segala-galanya akan kami selesaikan. Sebuah padepokan yang memadai buat Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi. Air yang cukup bagi Lumban sesuai dengan keinginan Jlitheng. Dan diminta atau tidak diminta aku akan menyiapkan sebuah istana kepangeranan dan akan aku serahkan bersama kekancingan pengangkatannya sebagai Pangeran”

Jlitheng hanya menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak menginginkan apa-apa lagi. la hanya menginginkan agar Lumban menjadi daerah yang hijau. Air dapat dikendalikan lebih baik tanpa menghisapnya sampai kering sehingga arus dibawah tanah itu tidak dapat memberikan apa-apa lagi bagi daerah jauh di arah bawah.

Tetapi Jlitheng tidak dapat membantah segala titah Kangjeng Sultan.

Demikianlah, maka sampailah pada saatnya para tamu itu meninggalkan istana. Namun dalam pada itu, setelah di adakan pembicaraan yang mendalam, maka Endang Srini telah minta kepada Kiai Kanthi agar Swasti tetap berada di istana Pangeran Sena Wasesa. Sementara itu agaknya Raden Ajeng Ceplik juga tidak berkeberatan setelah ia mengetahui, hubungan yang terjalin antara kakaknya dengan gadis itu.

Dalam pada itu, Rahu yang kembali ke kesatuannya bersama Semi yang diakunya sebagai adiknya itu, ikut pula melepaskan mereka yang meninggalkan istana itu.

Pada satu pagi yang cerah, beberapa ekor kuda telah siap di halaman. Ternyata bahwa tujuan mereka pertama-tama memang Lumban. Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi seakan-akan hanya menurut saja kemana Jlitheng akan pergi.

Ketika mereka sudah berada di regol. maka Pangeran Sena Wasesa pun berkata kepada Jlitheng, “Segala yang dijanjikan Kangjeng Sultan tentu akan segera dipenuhi”

“Kami tidak tergesa-gesa Pangeran” jawab Jlitheng. Namun kata-katanya tertegun ketika diluar sadarnya tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata yang bulat bening.

Jlitheng segera melemparkan pandangan matanya kepada Rahu. Sementara itu. Raden Ajeng Ceplik yang ikut pula mengantar mereka sampai ke regol telah menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Dalam pada itu, hampir diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa pun kemudian berkata kepada Jlitheng, “Nah, kau harus juga minta diri kepada Ambarsari. Kau sudah menyelamatkannya dua kali. Begitu orang-orang Sanggar Gading membawa aku, ternyata ada diantara mereka yang telah kembali dan berusaha mengambil anak gadisku. Kau ternyata lelah menyelamatkannya dengan membunuh orang-orang Sanggar Gading itu. Kemudian untuk kedua kalinya kau telah menolongnya ketika ia melarikan diri bersama Bramadaru”

“Ah” desah Raden Ajeng Ceplik.

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya keringatnya mulai membasahi tubuhnya. Apalagi ketika tiba-tiba saja ia melihat Daruwerdi yang berdiri disamping ibunya, dan disebelahnya adalah Swasti yang ikut mengantar ayahnya sampai ke regol pula.

Namun akhirnya Jlitheng berhasil menguasai dirinya. Ia tidak lagi membiarkan dirinya terombang-ambing oleh perasaannya. Karena itu, sebelum ia meloncat ke punggung kuda, maka ia masih sempat sekali lagi mohon diri kepada orang-orang yang mengantarnya sampai ke gerbang. Bahkan kemudian kepada Raden Ajeng Ceplik ia berdesis lambat, “Aku mohon diri puteri”

Raden Ajeng Ambarsari itu pun menjawab lambat pula, “Selamat jalan Pangeran”

Wajah Jlitheng menjadi merah. Dengan sendat ia berkala, “Jangan panggil aku demikian Raden Ajeng”

Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi ketika Jlitheng memandanginya puteri itu tersenyum.

Jlitheng tidak berkata apa-apa lagi. Bahkan ia bagaikan menjadi bingung ketika Rahu pun mendekatinya sambil tersenyum dan berbisik, “Kau memang seorang Pangeran. Bukankah sebentar lagi akan kau terima kekancingannya dan akan dilakukan wisuda?”

Jlitheng tidak dapat menjawab. Namun jantungnya terasa berdebaran.

Demikianlah semuanya kemudian telah minta diri. Sejenak kemudian beberapa ekor kuda telah berderap meninggalkan istana Pangeran Sena Wasesa. Beberapa orang yang berdiri di gerbang melambaikan tangannya. Diantara mereka adalah puteri Ambarsari yang sehari-hari dipanggil Raden Ajeng Ceplik.

Belum lagi mereka meninggalkan gerbang itu beberapa puluh langkah. Kiai Kanthi telah mulai bergurau, “Puteri itu cantik sekali. Ia lebih berharga dari gadis manapun juga. Hatinya lembut seperti beludru”

Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk. Sambil tersenyum pula ia menjawab, “Itulah agaknya yang membuat saudara sepupunya menjadi gila”

Jlitheng sama sekali tidak menyambung. Tetapi ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dirinya. Justru pada saat-saat ia sudah menerima satu kenyataan tentang dirinya. Daruwerdi dan Swasti.

Tetapi Jlitheng tidak mau hanyut dalam arus perasaannya lagi. Dengan nalarnya ia berusaha memotong gejolak di dalam hatinya. Ia tidak mau mengalami kesulitan perasaan lagi. Jika ia merasa satu ikatan baru telah membelit hatinya, maka itu akan berarti, hatinya akan terluka lagi.

Demikianlah maka mereka pun segera memacu kuda mereka ketika mereka sudah berada di pinggir kota Merekapun ingin segera sampai ke tujuan mereka. Seperti saat mereka mohon diri, maka mereka pertama-tama akan pergi ke Lumban. Bahkan Ki Ajar Cinde Kuning untuk beberapa saat akan berada di Lumban pula.

“Aku kehilangan seorang cucu” berkata Ki Ajar Cinde Kuning, “karena itu, kau akan aku paksa untuk menjadi gantinya”

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Bukit berhutan di daerah Sepasang Bukit Mati itu akan aku hancurkan. Airnya akan aku keringkan dan Lumban akan menjadi padang yang gersang” jawab Ki Ajar Cinde Kuning.

Kiai Kanthi tertawa. Katanya, “Kenapa Ki Ajar mengambil seorang murid dari Lumban? Apakah lebihnya anak Lumban?”

“Bukan apa-apa. Anak Lumban sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk berprihatin” jawab Ki Ajar sambil tersenyum.

“Itu tidak adil” Jlitheng menyahut, “seharusnya Ki Ajar bukan memanfaatkan kemiskinan orang-orang Lumban. Tetapi berusaha untuk menolongnya, merubah cara hidupnya”

Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi pun tertawa. Tetapi mereka tidak menjawab lagi.

Namun yang dikatakan Jlitheng dalam guraunya itu bukannya hanya dapat dikatakannya. Di hari-hari berikutnya, ia telah benar-benar bekerja untuk Lumban.

Ketika ia datang lagi ke Lumban ia telah disambut oleh anak-anak Lumban bukan saja dari Lumban Wetan, tetapi juga dari Lumban Kulon. Pengalaman yang terjadi atas anak-anak muda Lumban benar-benar telah memberikan satu nafas kehidupan baru. Anak-anak Lumban yang terbagi itu tidak lagi saling bermusuhan. Tetapi mereka benar-benar berusaha untuk dapat meningkatkan hidup seluruh Kabuyutan Lumban tidak pandang Lumban Wetan atau Lumban Kulon.

Dalam pada itu, apa yang dijanjikan Kangjeng Sultan pun segera menyusul Jlitheng sebagaimana dikehendaki. Kangjeng Sultan telah mengirimkan beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur air. Bukan saja beberapa, tetapi Kangjeng Sultan juga mengirimkan beberapa jenis alat dan beaya untuk membuat saluran-saluran air yang lebih baik. Sekaligus membual sebuah padepokan kecil buat Kiai Kanthi.

Sementara itu, Ki Ajar Cinde Kuning pun agaknya lebih senang tinggal di Lumban

“Padepokanku telah dikotori dengan kedengkian dan ketamakan. Apalagi anak dan cucuku sudah tidak bersamaku lagi. Karena itu, agaknya aku lebih senang tinggal bersama Kiai Kanthi. Disini aku mendapatkan seorang saudara laki-laki untuk menggantikan saudara kembarku dan seorang cucu” katanya.

“Bagus sekali” sahut Kiai Kanthi, “Jika demikian, kita akan bersama-sama membangun daerah ini”

“Biarlah sisa hidup kita ini ada gunanya” berkata Ki Ajar kemudian.

“Ya” jawab Kiai Kanthi, “Jika kita memilih menyepi, mungkin akan sangat berarti bagi sisa hidup kita sendiri. Tetapi tidak memberikan manfaat kepada sesama. Disini kita masih mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu bersama-tama dengan orang Lumban”

Karena itulah, maka padepokan kecil Kiai Kanthi bukan di lereng. Tetapi di bawah lereng bukit sebagaimana pernah dirancangnya. Dengan demikian, maka di bawah lereng bukit itu kemudaan terhampar sebuah padepokan. Ketika orang-orang yang dikirim oleh Kangjeng Sultan telah kembali ke Demak, maka anak-anak muda Lumban lah yang membantu menyempurnakan padepokannya. Di seputar padepokan kecil tu terdapat ladang dan pategalan yang tidak terlalu luas yang dikerjakan dan akan menjadi landasan makan Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning serta Jlitheng bahkan kemudian kedua adik seperguruan Ki Ajar Cinde Kuning pun sering berada di padepokan itu pula. Meskipun demikian Jlitheng masih saja mondar-mandir antara padepokan itu dan rumah biyungnya yang tua, yang menyambut kedatangannya kembali dengan air mata.

Demikianlah dari hari ke hari, kehidupan di Lumban itu menjadi semakin mapan. Sawah menjadi bertambah hijau dan dataran-dataran yang kering telah menjadi sawah. Saluran-saluran air yang dibuat oleh anak-anak muda Lumban dibawah petunjuk beberapa orang yang memang memiliki pengetahuan tentang itu, telah membuat tanah di seluruh Lumban menjadi subur. Penguasaan air dari bukit dan pembagian air di dataran menjadi lebih teratur dan mengarah.

Dengan demikian, maka dari hari ke hari, perkembangan menjadi semakin nyata ditilik dari kesejahteraan hidup orang-orang Lumban. Mereka tidak lagi kekurangan makan sementara kelebihan dari hasil panen dapat mereka tukarkan dengan keperluan hidup sehari-hari Bahkan di sudut-sudut pasar telah berdiri pande-pande besi yang dapat membuat alat-alat pertanian mereka dan memenuhi kebutuhan sendiri. Lumban tidak perlu lagi membeli dari luar Kabuyutan mereka, cangkul, parang, sabit dan peralatan-peralatan lain.

Dalam suasana yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Lumban telah dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang berkuda. Sebuah iring-iringan kecil yang langsung menuju ke padepokan di bawah lereng bukit.

Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi yang sedang bekerja di sawah terkejut melihat kehadiran mereka. Dengan tergesa-gesa mereka menyongsong iring-iringan kecil itu yang terdiri dari Pangeran Sena Wasesa, Raden Ajeng Ambarsari diikuti oleh Rahu yang bergelar Wira Murti dan tiga orang pengawal.

“Pangeran mengejutkan kami” berkata Ki Ajar Cinde Kuning.

“Setelah sekian lamanya tidak melihat Lumban, terasa aku menjadi rindu. Rindu kepada bukit mati ini, dan rindu kepada Kabuyutan yang menurut perhitunganku tentu sudah berubah. Sebenarnyalah Kabuyutan ini memang sudah berubah” berkata Pangeran Sena Wasesa.

Sementara itu Rahu menyambung, “Lumban memang membuat kita yang pernah tinggal disini menjadi rindu untuk sekali-sekali melihatnya kembali. Tetapi dimana Jlitheng?”

“Ia ada di Kabuyutan. Tetapi silahkan naik ke pendapa Aku akan memanggilnya” jawab Kiai Kanthi.

“Kiai akan pergi ke Lumban?” bertanya Rahu.

“Tidak, Aku akan memanggilnya dari sini” jawab Kiai Kanthi.

Rahu mengerutkan keningnya. Bahkan ia sempat bergurau, “Dengan Aji pameling?”

Kiai Kanthi tersenyum. Jawabnya, “Ya. Jlitheng telah mempelajari Aji yang paling baik”

Namun Rahu itu pun mengerutkan keningnya ketika ia melihat Kiai Kanthi mendekati sebuah kentongan Kemudian dengan nada tertentu, Kiai Kanthi membunyikan kentongan itu.

Sambil menarik nafas Rahu berkata, “Itukah Aji pameling yang dipelajari oleh Jlitheng”

“Ya. Ki Ajar Cinde Kuning lah yang kemudian menganggap Jlitheng sebagai cucunya dan muridnya. Banyak ilmu yang telah dituangkan kepadanya. D antaranya adalah Aji pameling itu”

Semua orang yang mendengarnya ternyata. Bahwa Raden Ajeng Ceplik pun tertawa pula.

Ternyata nada itu telah dikenal baik oleh anak-anak muda Lumban. Karena itu, maka anak-anak muda yang tinggal di padukuhan terdekat dengan padepokan itu. yang mendengar suara kentongan telah menyambungnya pula. Demikian padukuhan berikutnya, sehingga akhirnya suara dalam nada itu telah didengar pula oleh Jlitheng.

Panggilan itu memang agak menggelisahkan Jlitheng. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia telah pergi ke padepokan.

Namun yang dijumpainya adalah Pangeran Sena Wasesa dan beberapa orang yang menyertainya Bahkan diantara mereka terdapat Raden Ajeng Ceplik dan orang yang pernah melakukan banyak tugas bersama Rahu

Pertemuan itu adalah pertemuan yang cerah. Pangeran Sena Wasesa yang merasa sangat berterima kasih kepada Kiai Ajar Cinde Kuning. Kiai Kanthi, Jlitheng dan beberapa orang yang bersamanya waktu itu, termasuk kedua saudara Endang Si ini, benar-benar ingin menikmati suasana yang segar di padepokan itu.

“Aku merasa sangat letih akhir-akhir ini” berkata Pangeran Sena Wasesa, “karena itu, aku ingin beristirahat. Aku tinggalkan Daruwerdi dan ibunya untuk menunggui rumah bersama Swasti. Jika Kiai Kanthi mengijinkan, maka aku akan tinggal disini beberapa hari”

“Beberapa hari” ulang Kiai Kanthi di dalam hatinya. Ada seberkas kegembiraan karena Pangeran Sena Wasesa sudi tinggal di padepokan itu untuk beberapa hari. Tetapi apakah ia dapat menanggapinya dengan pantas.

Agaknya Pangeran Sena Wasesa melihat kegelisahan perasaan hati Kiai Kanthi. Karena itu maka katanya, “Jangan memikirkan yang bukan-bukan Kiai. Anakku juga dapat memasak seperti Swasti. Biarlah ia membantu Kiai di dapur untuk menjamu kami semuanya. Sementara itu, aku pun sebenarnya ingin pula berburu setelah sekian lamanya hidupku dicengkam oleh ketegangan. Bukankah di hutan itu masih banyak terdapat binatang buruan?”

“Ya. Pangeran” jawab Kiai Kanthi untuk menghilangkan kesan kegelisahannya, “Kami masih menyisakan binatang buruan itu bagi Pangeran”

Pangeran Sena Wasesa tertawa. Katanya, “Baiklah. Besok aku akan berburu”

Demikianlah, maka Pangeran Sena Wasesa yang akan bermalam di padepokan itu telah membuat Kiai Kanthi dan Jlitheng sibuk. Mereka menyiapkan bilik-bilik yang ada dan membenahi sebaik-baiknya.

Namun dalam pada itu. sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa memang mempunyai satu kepentingan khusus dengan Kiai Kanthi sehubungan dengan persoalan anaknya, Daruwerdi dan Swasti. Yang kemudian secara khusus telah dibicarakannya. Seketika padepokan itu mulai diliputi oleh kegelapan Karena itu maka Daruwerdi tidak diajaknya serta.

Dalam pada itu, sementara ayahandanya berbincang dengan Kiai Kanthi dan ditunggui pula oleh Ki Ajar Cinde Kuning, maka Raden Ajeng Ambarsari telah berbincang sendiri dengan Rahu dan Jlitheng Banyak hal tentang padepokan itu yang ditanyakan. Juga tentang Kabuyutan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

Namun dalam pada itu, ketenangan padepokan kecil itu justru sedang dalam pengamatan beberapa orang yang darahnya sedang dibakar oleh dendam. Pada saat-saat Pangeran Sena Wasesa mulai melupakan persoalannya dengan Pangeran Gajahnata. maka dendam yang pernah disebut oleh Kangjeng Sultan itu telah membakar kedamaian di daerah Lumban dan padepokan kecil di bawah bukit.

Dua orang berkuda dengan tergesa-gesa telah melaporkan kepada seorang yang duduk diatas sebuah batu di pinggir sebuah pategalan yang sepi, “Nampaknya samasekali tidak ada kesiagaan di padepokan itu”

Orang yang duduk di atas batu itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Aku akan segera memberitahukan kepada ayahanda, bahwa kita akan dapat bergerak sekarang. Bukankah begitu?”

“Ya Raden. Agaknya kita akan dengan cepat berhasil. Kita akan mengejutkan mereka kemudian menggilas mereka dengan serta merta” jawab orang yang berkuda itu.

Orang yang duduk diatas batu itu pun meloncat turun. Kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju kedalam semak di pategalan.

“Bagaimana Bramadaru?” bertanya seseorang dari dalam gerumbul itu.

“Kita dapat melakukannya sekarang ayahanda” jawab orang yang datang.

Orang yang berada di dalam semak itu pun kemudian bertanya kepada seorang yang lain, “Bagaimana pendapat Ki Ajar Wrahasniti?”

“Bagiku, kapan saja sergapan itu dapat dilakukan” jawab Ki Ajar Wrahasniti, “menurut laporan dari pengamatan kepercayaanku. Pangeran Sena Wasesa hanya diiringi oleh tiga atau ampat pengawal saja. Mungkin di padepokan itu ada beberapa orang, termasuk anak muda yang bernama Jlitheng itu. Tetapi kita cukup kuat untuk menundukkan mereka. Pangeran tahu. bahwa tidak ada orang yang akan dapat mengimbangi kemampuan Pangeran kecuali Pangeran Sena Wasesa sendiri. Bahkan mungkin Pangeran Sena Wasesa pun akan tidak mampu bertahan terlalu lama menghadapi Pangeran Gajahnata Sementara itu, adik seperguruanku itu akan menyapu orang-orang padepokan kecil itu. Sementara siapapun yang tidak dapat dikalahkan oleh Pangeran Gajahnata dan adik seperguruanku, maka aku akan menghancurkannya menjadi debu”

“Mereka membawa beberapa orang pengawal” gumam Bramadaru.

“Apa artinya para pengawal itu. Kita pun membawa beberapa orang pengawal. Kita sudah mempersiapkan diri untuk melepaskan dendam ini sejak lama. Tiba-tiba datang laporan, bahwa kesempatan itu datang. Jangan disia-siakan kesempatan ini. Rasa-rasanya aku ingin segera melihat padepokan itu menjadi karang abang” berkata Ki Ajar Wrahasniti.

“Bagus” geram Bramadaru, “sakit hatiku akan dapat aku lepaskan. Di padepokan itu ada pula anak muda yang bernama Jlitheng yang telah menyakiti hatiku pada saat-saat aku sangat memerlukan diajeng Ceplik”

“Agaknva anak muda yang bernama Daruwerdi, yang ternyata adalah putera Pangeran Sena Wasesa sendiri tidak bersama dengan mereka” berkata Ki Ajar Wrahasniti, “Tetapi itu bukan apa-apa. Kita akan dapat datang ke istana itu di lain kesempatan setelah tugas kita disini selesai. Istana Pangeran Sena Wasesa itu pun akan menjadi karang abang. Demikian pula istana yang sedang dipersiapkan bagi seorang Pangeran yang akan diangkat karena jasa-jasanya. Pangeran Candra Sangkaya yang saat ini lebih senang menyebut dirinya Jlitheng itu”

Sejenak kemudian, maka Ki Ajar Wrahasniti pun segera mempersiapkan orang-orangnya. Nampaknya ia tidak mau gagal, sehingga karena itu, maka ia membawa beberapa orang yang dianggapnya akan dapat membantunya menghancurkan Pangeran Sena Wasesa berserta para pengiringnya.

“Sekarang, diajeng Ceplik Itu tidak boleh lepas lagi. Nasibnya akan menjadi bertambah buruk, justru karena kesalahan kakaknya itu” geram Bramadaru.

“Kau terlalu terikat kepada gadis itu” potong ayahandanya, “Kita akan menyelesaikan persoalan yang penting lebih dahulu. Bukankah semua kegagalan Ini juga disebabkan karena perhatianmu yang berlebihan terhadap Ceplik. sehingga kau telah merubah rencana yang seharusnya kita lakukan di bawah pohon nyamplung itu?”

“Tidak ayahanda, seandainya diajeng aku serahkan pada saat itu kepada orang yang bertugas mencegatku, maka akibatnya akan sama saja, karena rupa-rupanya Daruwerdi dan Jlitheng sudah mengikuti aku sejak dari istana” jawab Bramadaru.

Gajahnata tidak menjawab lagi. la tidak mau bertengkar. Kesulitan perasaannya sudah cukup parah. Bahkan sejak ia meninggalkan istananya rasa-rasanya ia sama sekali tidak pernah merasa dapat duduk tenang dan dapat tidur nyenyak barang sekejappun.

Sejenak kemudian. Ki Ajar Wrahasniti telah siap dengan orang-orangnya. Dengan suara bernada berat ia memberikan beberapa pesan. Orang-orangnya itu harus tahu, bahwa yang dihadapi adalah orang-orang yang cukup berilmu.

“Serahkan Pangeran Sena Wasesa kepada Pangeran Gajahnata” berkata Ki Ajar Wrahasniti, “kemudian orang yang paling baik diantara mereka akan aku hadapi langsung. Sementara itu, yang lain akan dapat kalian musnahkan”

“Serahkan anak muda yang bernama Jlitheng itu kepadaku” berkata Bramadaru.

“Kau sudah dikalahkannya” desis Pangeran Gajahnata.

“Tidak ayahanda” sahut Bramadaru, “saat itu aku menghindar, karena Daruwerdi pun tentu akan ikut melawanku. Tetapi sebenarnya aku sendiri belum dikalahkannya. Goresan-goresan kecil di tubuhku itu sama sekali tidak berarti bagiku” Bramadaru berhenti sejenak. Namun kemudian ia melanjutkan, “Tetapi ada juga baiknya, berikan seorang kawan kepadaku”

K Ajar Wrahasniti menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Sebenarnya aku percaya bahwa Raden akan dapat mengalahkan-nya tanpa bantuan orang lain. Tetapi ketegangan di hati Raden memang akan dapat berpengaruh. Karena itu. aku tidak berkeberatan jika seseorang akan membayangi Raden dalam pertempuran nanti”

Bramadaru mengangguk-angguk. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa ia memang sudah dikalahkan oleh anak muda yang bernama Jlitheng seandainya ia tidak melarikan diri meskipun Daruwerdi tidak datang membantunya.

Demikian, maka sejenak kemudian, orang-orang Ki Ajar Wrahasniti itu pun sudah mulai bergerak. Mereka kemudian merayap dalam gelapnya malam mendekati padepokan Kiai Kanthi yang dalam keadaan sehari-hari terasa tenang dan diliputi udara yang sejuk oleh pepohonan yang memang sudah ada sebelum padepokan itu di bangun.

“Kita akan mengepung padepokan itu” berkata Ki Ajar Wrahasniti, “Tidak boleh seorang pun diantara mereka yang lolos”

“Kita memasuki padepokan itu” berkata Pangeran Gajahnata, “Aku akan langsung menemui adimas Pangeran Sena Wasesa. Aku ingin membuat perhitungan dengan orang itu”

“Baik Pangeran. Kita akan melalui gerbang di depan, sementara yang lain akan meloncati dinding dan memasuki padepokan lewat segala arah” sahut Ki Ajar. Lalu katanya, “Aku akan memberikan pertanda jika saatnya sudah tiba. Aku akan membunyikan isyarat burung kedasih. Dua orang di arah lain akan menyambung isyarat itu sehingga semuanya akan dapat mendengarnya”

Para pengikut Ki Ajar itu mendengarkan dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk mereka pun kemudian menerima perintah untuk mulai menebar.

Ki Ajar Wrahasniti dan Pangeran Gajahnata sudah berada di depan pintu gerbang halaman padepokan yang tidak tertutup rapat. Sebuah lampu minyak menyala di bagian dalam, namun tidak dapat menerangi seluruh halaman depan padepokan yang cukup luas. Sementara Bramadaru sudah bersiap pula untuk meloncat dari samping apabila isyarat itu sudah diberikan.

Ki Ajar masih menunggu sejenak sambil memperhatikan suasana. Nampaknya padepokan itu sepi-sepi saja. Ketika Ki Ajar membuka pintu yang tidak diselarak itu. maka dilihatnya beberapa orang masih duduk di pendapa.

Agaknya setelah Pangeran Sena Wasesa selesai berbicara tentang Daruwerdi dan Swasti. yang kedua-keduanya tidak diajak bersama mereka ke padepokan itu. maka yang lain pun telah dipersilahkan untuk duduk-duduk di pendapa pula.

“Sekarang Pangeran?” bertanya Ki Ajar.

“Ya. Agaknya adimas Sena Wasesa duduk di pendapa itu dengan beberapa orang yang kurang aku kenal” sahut Pangeran Gajahnata.

“Jangan hiraukan mereka” sahut Ki Ajar Wrahasniti, “Orang-orangku akan menghancurkan mereka. Mungkin mereka juga termasuk orang-orang berilmu yang menurut pendengaran kita telah membantu Pangeran Sena Wasesa. tetapi aku tidak yakin bahwa mereka memiliki kemampuan seperti Pangeran Sena Wasesa sendiri”

Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Ajar itu pun justru telah bergeser sedikit menjauh. Sambil meletakkan kedua tangannya disebelah mulutnya, maka mulailah terdengar suara burung kedasih.

Malam memang sudah menjadi semakin dalam. Suara burung kedasih itu terdengar ngelangut diantara desir angin yang lemah.

Semua orang-orang yang berada di pendapa sama sekali tidak memperhatikan suara burung kedasih itu. Namun ketika di arah lain juga terdengar suara burung yang sama, maka Ki Ajar Cinde Kuning mulai tertarik kepada suara itu.

“Kiai” desis Ki Ajar Cinde Kuning, “Apakah Kiai mendengar suara burung kedasih itu?”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun agaknya ia sudah mulai tertarik pula kepada suara burung itu, sebagaimana Pangeran Sena Wasesa.

“Aku mendengarnya Ki Ajar. Justru sangat menarik” desis Kiai Kanthi.

Belum lagi Kiai Kanthi melanjutkan kata-katanya, maka Pangeran Sena Wasesa itu pun berdesis, “Dimana Ceplik?”

“Ia berada di dalam bilik yang sudah disediakan Pangeran” jawab Rahu.

“Panggil anak itu kemari. Cepat” desis Pangeran yang menjadi gelisah itu.

Rahu pun dapat menanggapi persoalannya. Karena itu, maka ia pun dengan cepat telah pergi ke ruang dalam. Pintu bilik yang diperuntukkan bagi Raden Ajeng Ambarsari sudah tertutup. Namun Rahu pun telah mengetuknya, “Puteri. Ayahanda memanggil. Apakah puteri sudah tidur?”

Raden Ajeng Ceplik terkejut. Dengan serta merta ia pun bangkit sambil bertanya, “Dimana ayahanda sekarang?”

“Di pendapa. Ada sesuatu yang penting” jawab Rahu.

Raden Ajeng Ceplik itu masih berbenah diri sejenak, sedangkan Rahu menjadi gelisah.

Sementara itu, maka Jlitheng pun telah diperintahkan untuk memberitahukan kepada para pengawal yang berada di gandok untuk bersiap.

“Suara burung kedasih itu sangat menarik perhatian Pangeran” berkata Jlitheng.

Ketiga pengawal itu pun kemudian mempersiapkan dirinya. Senjata mereka pun telah melekat di lambung untuk menanggapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.

Sementara itu, Jlitheng pun telah berbenah diri pula. Pedang tipisnya telah digantungkannya pada ikat pinggangnya. Ketika ia kembali ke pendapa, maka dilihatnya Rahu bersama Raden Ajeng Ceplik telah hadir pula.

“Ayahanda memanggil aku?” bertanya Raden Ajeng Ceplik.

“Ya Ceplik” jawab Pangeran Sena Wasesa, “Aku menjadi curiga mendengar suara burung kedasih itu”

“Kenapa? Apakah ayahanda percaya bahwa suara burung itu merupakan isyarat kematian?” bertanya Ambarsari.

“Jika suara itu benar-benar suara burung, aku tidak percaya Ceplik. Tetapi yang kami dengar agaknya bukan suara burung yang sebenarnya” jawab ayahandanya.

Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi tegang. Dengan suara sendat ia bertanya, “Jadi suara apakah itu ayahanda?”

“Karena itu maka kau telah aku panggil. Kau jangan berada di tempat yang terpisah dari kami” berkata ayahandanya.

Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi jantungnya serasa berdetak semakin cepat.

Dalam pada itu, suara burung kedasih itu sudah didengar oleh semua pengikut Ki Ajar Wrahasniti. Karena itu, maka mereka pun segera mulai bergerak. Beberapa orang telah meloncat dinding halaman dari bagian belakang. Yang lain dari samping termasuk Bramadaru. Namun demikian ia memasuki padepokan, maka ia pun segera melihat, seorang gadis berada di pendapa, diantara orang-orang yang masih saja berkumpul.

Sementara itu, Pangeran Gajahnata dan Ki Ajar Wrahaniti pun telah memasuki halaman lewat regol. Dengan langkah yang pasti keduanya telah menuju ke pendapa.

Orang-orang yang berada di pendapa itu pun telah berdiri tegak. Raden Ajeng Ceplik memang menjadi cemas. Sementara itu, ayahandanya berkata, “Pergilah ke sudut. Kami akan menahan mereka”

Raden Ajeng Ceplik pun bergeser ke sudut. Sementara itu ayahanda telah bergeser pula mengikutinya.

Ketika beberapa orang yang memasuki padepokan itu lewat belakang tidak menemukan orang lain di padepokan itu, maka mereka pun telah mencari di ruang dalam. Tetapi untunglah bahwa Raden Ajeng Ceplik telah berada bersama ayahandanya di pendapa, sehingga ruang dalam itu memang sudah kosong.

Yang membentur kekuatan di halaman padepokan itu adalah beberapa orang yang melewati gandok. Tiba-tiba saja mereka telah bertemu dengan tiga orang pengawal yang siap menghadapi mereka dengan senjata terhunus.

Orang-orang Ki Ajar Wrahasniti justru surut selangkah. Mereka masih belum bertindak langsung terhadap ketiga orang bersenjata itu, karena mereka masih belum mendapat perintah berikutnya.

Dalam pada itu, Pangeran Gajahnata yang mendekati tangga pendapa telah berkata dengan lantang, “He, agaknya aku berhasil menemukan adimas disini”

Pangeran Sena Wasesa telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Beberapa orang yang ada di pendapa telah memencar pula disebelah menyebelah Pangeran Sena Wasesa untuk melindungi Raden Ajeng Ceplik.

“Selamat datang di padepokan ini kakangmas” desis Pangeran Sena Wasesa.

“Aku tidak memerlukan basa basi itu adimas. Persoalan diantara kita sudah jelas. Kau telah merusak hari depan anakku, sehingga ia kehilangan pegangan untuk melangkah menyongsong cita-citanya”

“Aku tidak tahu maksud kakangmas. Seharusnya akulah yang menuntut agar kakangmas menyerahkan Bramadaru yang telah menghinakan martabat kewanitaan anak gadisku. Hampir saja Bramadaru berhasil menghancurkan hidup Ambarsari”

“Satu fitnah yang paling keji. Aku tahu bahwa anakku akan diperlakukan seperti itu. Aku tahu bahwa apa yang sampai kepada Kangjeng Sultan tentu berlawanan dengan kenyataan yang dialami oleh anakku. Dan aku tahu bahwa Kangjeng Sultan akan percaya begitu saja fitnah yang tidak beralasan itu” geram Pangeran Gajahnata.

“Aku tahu sekarang” desis Pangeran Sena Wasesa, “kakangmas tidak mau didahului. Karena itu, maka kakangmas telah menyerang kami sekeluarga lebih dahulu, seolah-olah kami telah memfitnah. Tetapi apa saja yang kakangmas katakan, ada beberapa orang saksi yang akan dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk anak perempuanku itu”

“Ia bukan saksi yang sah. Ia akan dapat mengatakan apa yang kau pesankan adimas” bantah Pangeran Gajahnata, “Tetapi baiklah kita tidak usah berbantah. Aku menuntut atas kehinaan yang kami alami sehingga kami harus meninggalkan istana kami”

“Seharusnya Pangeran tidak usah pergi” Rahu telah memotong pembicaraan itu, “Jika Pangeran tidak merasa bersalah. Pangeran tentu akan tetap berada di dalam istana bersama Raden Bramadaru”

“Tutup mulutmu” geram Pangeran Gajahnata, “Kau tidak usah mencampuri persoalan ini. Aku akan menuntut harga diriku dengan taruhan nyawa. Kita akan bertempur sampai kita akan melihat, siapa saja yang berhasil keluar dari padepokan ini dalam keadaan hidup”

Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab lagi. Ia sadar bahwa ia harus menghadapi dengan kekerasan. Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat kepada seisi padepokan itu untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, Ki Ajar Wrahasniti lah yang kemudian melangkah maju sambil berkata, “Ki Sanak, menghuni padepokan ini. Jika kalian tidak melibatkan diri, kami akan memberi kesempatan Ki Sanak untuk meninggalkan tempat ini.

Yang menjawab adalah Kiai Kanthi, “Pangeran Sena Wasesa adalah tamu kami, isi padepokan ini. Karena itu, keselamatannya adalah juga keselamatan kami”

“Bagus” Ki Ajar Wrahasniti pun kemudian berteriak lantang, “Kita hancurkan seisi padepokan ini”

Dengan demikian maka orang-orangnya telah bergerak dengan serentak. Namun dalam pada itu, tiga orang pengawal Pangeran Sena Wasesa pun telah bergerak pula.

Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit. Sebagaimana dikehendaki, maka Pangeran Gajahnata telah bertempur melawan Pangeran Sena Wasesa.

Dalam kesibukan pertempuran itu, tiba-tiba saja Bramadaru telah menyusup disela-sela dentang senjata langsung meloncat kearah Raden Ajeng Ceplik Ia ingin mempergunakan gadis itu untuk memaksa ayahandanya menyerah.

Namun ketika ia berhasil menangkap tangan Raden Ajeng Ceplik yang menjerit-jerit, tiba-tiba saja terasa kening Raden Bramadaru bagaikan tertimpa segumpal batu. Sejenak matanya berkunang-kunang. Namun ia pun segera menyadari keadaannya. Ternyata seorang anak muda tengah menarik Raden Ajeng Ceplik dan menempatkannya di sebelah pintu pringgitan.

“Jlitheng” geram Raden Bramadaru.

Jlitheng tidak menjawab. Sementara Raden Ajeng Ceplik berdiri dengan gemetar.

“Aku memang ingin bertemu dengan kau lagi” berkata Bramadaru dengan wajah yang tegang.

Jlitheng masih tetap berdiam diri. Namun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian keduanya sudah bertempur dengan sengitnya. Namun yang pernah terjadi, telah terulang lagi. Bramadaru memang tidak dapat mengimbangi kemampuan Jlitheng.

Dalam pada itu, adik seperguruan Ki Ajar Wrahasniti yang merasa memiliki kelebihan dari kebanyakan orang telah menyerang Kiai Kanthi yang dianggapnya sebagai pemilik padepokan itu. Dengan ilmunya yang tinggi ia berusaha memaksa Kiai Kanthi untuk tunduk kepadanya. Namun orang itu terkejut. Ternyata bahwa Kiai Kanthi memang bukan orang kebanyakan pula.

Sementara itu, yang masih belum bertempur adalah Ki Ajar Wrahasniti sendiri. Ia menyaksikan orang-orang yang bertempur dengan sengitnya. Dihadapan tiga orang pengawal Pangeran Sena Wasesa pun telah memutar pedang mereka seperti baling-baling. Sementara itu. beberapa orang telah menjadi keheranan melihat seorang tua yang cacat telah mengacaukan perhatian mereka.

Empat orang pengikut Ki Ajar Wrahasniti benar-benar menjadi bingung menghadapi Ki Ajar Cinde Kuning, yang dianggapnya sebagai seorang tua cacat yang lemah. Namun ternyata orang itu dapat berbuat sesuatu yang bagi mereka tidak masuk akal.

Hampir pada saat yang bersamaan keempat orang yang bertempur berpasangan itu telah terlempar dan jatuh terlentang. Namun orang tua itu membiarkan saja mereka berusaha untuk bangkit dan kemudian mengepungnya kembali.

“Orang aneh” berkata Ki Ajar Wrahasniti yang segera menyadari bahwa orang itu sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Ki Sanak” berkata Ki Ajar Wrahasniti, “agaknya anak-anak itu memang bukan lawanmu”

“Jadi bagaimana?” bertanya Ki Ajar Cinde Kuning.

“Agaknya akulah yang harus melawanmu” berkata Ki Ajar Wrahasniti.

“Lalu, bagaimana dengan keempat orang ini?” bertanya Ki Ajar Cinde Kuning.

“Biarlah ia membantu menghancurkan kawan-kawanmu. Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu memang harus mati. Pangeran Sena Wasesa harus mati dan pemimpin padepokan ini pun harus mati” jawab Ki Ajar Wrahasniti.

“Jangan curang” berkata Ki Cinde Kuning, “Mereka telah mempunyai lawan mereka masing-masing”

“Persetan” geram Ki Ajar Wrahasniti, “kalian semuanya akan mati dengan cara apapun juga”

Ki Ajar Cinde Kuning mengerutkan keningnya. Kemudian Katanya, “Mereka tidak boleh mengganggu pertempuran ini.

Ki Ajar Wrahasniti sama sekali tidak menghiraukannya, iapun kemudian meloncat mendekat sambil berteriak, “lepaskan lawanmu. Biar aku yang membunuhnya”

Tetapi yang terjadi adalah satu hal yang sangat mengejutkan. Keempat orang yang sudah bersiap meninggalkan orang cacat itu tiba-tiba telah terdorong dengan kekuatan yang luar biasa. Serentak mereka jatuh terlentang. Kepala membentur lantai sehingga tiga diantara mereka menjadi pingsan, sedangkan seorang lagi punggungnya bagaikan menjadi patah

“Gila” geram Ki Ajar Wrahasniti yang menyerang Ki Ajar Cinde Kuning dengan dahsyatnya. Tetapi dalam benturan-benturan pertama sudah terasa, bahwa orang cacat itu memang bukan tandingannya.

Sementara ¡tu, adik, seperguruan Ajar Wrahasniti yang bertempur melawan Kiai Kanthi pun tidak banyak dapat berbuat, sehingga dengan demikian ia terus-menerus telah terdesak.

Dalam pada itu hanya Pangeran Gajahnata sajalah yang mampu mengimbangi ilmu Pangeran Sena Wasesa. Keduanya adalah Senapati besar yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi.

Namun, suasananya agak berbeda bagi mereka yang bertempur di halaman. Tiga orang pengawal itu harus bertempur melawan lima orang, sehingga dengan demikian, maka mereka pun mulai mengalami kesulitan.

Karena itu, tanpa memperhatikan keadaan di pendapa yang hampir seluruhnya dikuasai, apalagi ketika Rahu yang melawan tiga orang dapat mendesak lawannya sehingga turun kehalaman, telah teringat cara yang dipergunakan oleh Kiai Kanthi memanggil Jlitheng. Justru sadar akan kemungkinan yang dapat mempengaruhi seluruh pertempuran itu, maka tiba-tiba salah seorang diantara ketiga orang itu berdesis, “Bertahanlah untuk sejenak”

Orang itu tidak menunggu jawaban. Tiba-tiba saja ia telah meloncat kearah kentongan. Sejenak kemudian telah bergema nada titir yang memecah kesenyapan malam.

Titir itu benar-benar mengejutkan seisi Kabuyutan Lumban. Ketika padukuhan yang pertama dan kedua menyambung suara titir itu, maka anak-anak muda yang meronda yang langsung mengenali suara kentongan itu, segera berlari-lari ke padepokan kecil. Jika tidak ada sesuatu yang gawat, maka tidak akan mungkin padepokan yang dihuni oleh orang-orang berilmu itu akan membunyikan isyarat dengan nada titir.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka padepokan itu benar-benar sudah dikepung. Sejenak kemudian, kepungan itu pun merapat dan berpuluh-puluh anak muda segera memasuki halaman.

Suasana menjadi semakin gaduh. Obor telah menyala dimana-mana, sehingga padepokan itu menjadi terang.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Rahu lah yang pertama-tama berteriak kepada lawan-lawannya, “Tidak ada kesempatan apapun bagi kalian”

Pangeran Gajahnata menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan kenyataan itu. Pangeran Gajahnata melihat bahwa Bramadaru telah terdesak. Bahkan kemudian darah telah mulai menitik dari tubuhnya. Sementara itu Ki Ajar Wrahasniti pun telah menemukan seorang lawan yang tidak mungkin dapat diimbanginya.

Betapa penyesalan telah bergejolak di dalam diri Pangeran Gajahnata. Namun ia menghadapi satu keadaan yang tidak dapat diingkarinya lagi.

Jantungnya bagikan terlepas ketika ia mendengar Bramadaru menjerit tertahan. Luka yang panjang telah tergores di dadanya meskipun tidak terlalu dalam.

Akhirnya tidak ada pilihan lain bagi Pangeran Gajahnata sebelum anaknya terbunuh oleh anak muda yang bernama Jlitheng dan bergelar Pangeran Candra Sangkaya yang bersenjata pedang yang tipis itu, kecuali menghentikan pertempuran.

Sambil meloncat mundur Pangeran Gajahnata pun berdesis, “Baiklah Kami menyerah”

“Tidak” teriak Bramadaru. Tetapi suaranya terputus. Sebuah goresan telah melukai lambungnya.

Sementara itu anak-anak muda Lumban dengan segala macam senjata telah merayap semakin mendekat pendapa. Bahkan beberapa diantara mereka telah berdiri di pinggir arena pertempuran antara para pengawal di halaman.

Ki Ajar Wrahasniti sendiri tidak mencegah penyerahan itu, karena ia pun tidak akan mampu berbuat apa-apa. Apalagi mereka tidak akan dapat mengabaikan puluhan anak-anak muda yang berada di halaman.

Maka pertempuran itu pun kemudian berakhir sebelum jatuh seorang korban pun yang terbunuh, meskipun ada diantara mereka yang luka-luka.

Dengan demikian, maka mereka pun telah diperlakukan sebagai tawanan, meskipun Pangeran Gajahnata mendapat perlakuan yang khusus. Tangannya tidak diikat dengan tampar atau janget, tetapi sehelai kain sekedar di sangkutkan saja di pundaknya sebagai pertanda bahwa ia adalah seorang tawanan meskipun ia seorang bangsawan.

“Maaf Pangeran” desis Rahu, “Kami tidak mempunyai cinde sehelai pun disini”

Pangeran Gajahnata hanya dapat menggeram.

Satu pengalaman baru telah terjadi di dalam hidup Jlitheng setelah pertempuran itu. Dihari berikutnya, ketika Pangeran Sena Wasesa bersiap untuk kembali ke Demak dan menitipkan para tawanan di padepokan itu sampai saatnya prajurit Demak mengambil mereka, maka terdengar Raden Ajeng Ceplik berbisik, “ Datanglah ke Demak. Kau lebih baik tinggal disana. Istanamu sudah hampir siap”

Diluar sadarnya Jlitheng menjawab, “Aku tidak akan dapat tinggal seorang diri dalam istana yang besar itu”

Namun sambil tersenyum Raden Ajeng Ambarsari itu berkata, “Aku akan mengawanimu”

Wajah Jlitheng menjadi merah. Namun jantungnya terasa bagaikan mengembang.

Tetapi Raden Ajeng Ceplik itu benar-benar telah menghidupkan kembali gairah di dalam hati Jlitheng menentang masa depannya.

Ketika iring-iringan Pangeran Sena Wasesa meninggalkan padepokan, karena Pangeran itu telah memperpendek kunjungannya dan membatalkan niatnya untuk berburu berhubung dengan peristiwa yang tidak diduga sebelumnya itu. Raden Ajeng Ceplik masih selalu berpaling dan melambaikan tangannya.

Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara berbisik disampingnya, “Kau adalah cucuku. Aku akan menjadi ganti orang tuamu jika kau memerlukan aku datang menghadap Pangeran Sena Wasesa”

“Ah” Jlitheng hanya berdesah.

Ki Ajar Cinde Kuning tersenyum. Bahkan Kiai Kanthi pun tersenyum pula. Kiai Kanthi ternyata merasakan satu kebahagiaan setelah ia mengetahui bahwa ada sesuatu terselip di hati Jlitheng terhadap Raden Ajeng Ambarsari dan demikian pula sebaliknya. Ia merasa bersalah ketika Swasti ternyata lebih dekat dengan Daruwerdi daripada dengan anak muda yang bergelar Candra Sangkaya itu.

Tetapi untuk beberapa saat Jlitheng masih tetap berada di Lumban. Meskipun istananya telah hampir siap, namun ia masih tetap menghayati kehidupan di Kabuyutan itu. Setiap pagi ia sudah bergulat dengan lumpur dan tanaman di sawah Bahkan kadang-kadang untuk waktu yang lama ia berada diatas bukit berhutan untuk merenungi mata air yang mengalir dengan derasnya. Mata air yang kemudian sudah dapat dikendalikan dan bermanfaat bagi kehidupan di Kabuyutan Lumban.

Namun dalam pada itu, Jlitheng bukan saja menjadi orang yang sangat berarti bagi Lumban, tetapi ia juga merupakan seorang murid yang dibanggakan oleh gurunya. Ki Ajar Cinde Kuning.

Meskipun demikian, waktunya tidak dihabiskannya di dalam Sanggar, karena agaknya lumpur dan air tetap merupakan bagian dari hidupnya sehari-hari.

Demikianlah air dari atas bukit itu kemudian menjadi semakin teratur mengalir menuruni tebing dan memencar menusuk ke kedalaman tanah persawahan di Lumban yang menjadi semakin subur.

“Jika aku harus meninggalkan Kabuyutan ini, maka aku telah melihat tanah ini menjadi hijau” berkata Jlitheng didalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa ia tidak dapat mengingkari gejolak perasaan di dalam dirinya, bahwa ia tidak akan pernah melupakan Raden Ajeng Ceplik untuk seterusnya.

Dan ternyata bahwa Jlitheng telah menyongsong hari-hari yang berbahagia.

 

 T A M A T

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | TAMAT

16 Tanggapan

  1. Maturnuwun sanget, kulo tenggo sanesipun.

  2. sampun tamat nggih…matur nuwun pak de

  3. asyik udh tamat HLHLP, SBB,STT,NSSI, TT sekarang apa lagi yg asyik yaaa…..

    baca Jejak di Balik Kabut

  4. Terimakasih sahabat pemilik blog ini, saya telah ikut mendapatkan kesempatan menikmati karya-karya besar Mpu SH Mintardja (almarhum). Salam hormat

    Sama-sama ki sanak
    semoga sajian kami bermanfaat

  5. Kisah cintanya….
    Daruwerdi = Kasada
    Mas Bro Jlitheng = Cak Barata

    Yang beda judul bukunya.
    Leres makaten nggih, sedherek ? Hehe

  6. Trimakasih trimakasih trimakasih.

  7. *****

  8. trima kasih salam hormat saya buat pemilik blog ini..

  9. Good story

  10. Terima kasih, saya sangat menikmati cerita ini

  11. Masihkah ada kelanjutannya kisah jliteng?

  12. maturnuwun sanget kagem ki Arema, sudah memudahkan saya utk bernostalgia dengan kisah2 sang Empu SH Mintardja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s