MAdBB-18


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 18

kembali | lanjut

cover madbb-18

AKU tidak ingkar. Aku mengakui bahwa aku tahu” sahut Pangeran itu, “Tetapi semuanya sudah berlalu. Nah selanjutnya terserah kepadamu Ajar Pamotan Galih yang juga disebut Ajar Macan Kuning. Apapun yang ingin kau lakukan lakukanlah. Aku sudah mengaku bahwa aku tidak akan dapat menandingi ilmumu. Adalah sia-sia jika aku melawanmu”

“Setan alas” Ajar Pamotan Galih menjadi sangat marah, “Aku akan memaksa berbicara. Di halaman terdapat banyak orang yang memiliki ilmu tinggi. Kedua adik seperguruanku ini memiliki ilmu hampir seperti aku sendiri. Nah, apa katamu? Kau akan memamerkan ilmu orang-orang yang tidak berarti yang kau bawa kemari itu?”

“Sudah aku katakan. Aku tidak akan melawan. Jika kau ingin membunuh aku, kau tentu dapat melakukannya. Tetapi jangan orang-orang lain yang tidak tahu artinya sama sekali” berkata Pangeran Sena Wasesa itu. Lalu, “Namun aku sudah merasa bahwa tugasku selesai atas pusaka dan harta benda itu, karena semuanya telah kembali ke istana, dan dipergunakan sesuai dengan pesan yang aku terima, bahwa pusaka dan harta itu harus dipergunakan bagi perkembangan negeri ini sebagaimana kejayaan Majapahit pada masa lalu itu. Meskipun Demak belum setingkat dengan Majapahit, tetapi usaha untuk itu selalu dilakukan”

Ki Ajar Pamotan Galih, nampaknya sudah kehilangan kesabarannya. Wajahnya menjadi merah padam, sementara orang-orang yang berada di pendapa itu menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja mereka mendengar seolah-olah Ki Ajar itu menggeram sebagaimana seekor harimau yang sedang marah.

“Aku pasti sekarang” berkata Pangeran itu di dalam Hatinya, “Aku berhadapan dengan Ajar Macan Kuning”

Tetapi Ajar itu menggeram dan membentak dengan garangnya, “Persetan dengan nama-nama yang kau sebut. Kau membuat aku marah Pangeran. Seperti yang aku katakan, aku sudah menyiapkan sebuah bujana yang besar. Tetapi karena sikap Pangeran, maka bujana itu akan berubah bentuknya dan maknanya. Aku akan memaksa Pangeran berbicara dengan caraku. Mungkin Pangeran akan dapat bertahan terhadap segala macam siksaan yang aku lakukan disini. Tetapi aku mempunyai cara sendiri. Aku akan membunuh setiap orang yang datang bersama Pangeran sampai pada suatu saat Pangeran mengatakan di mana pusaka itu disembunyikan”

“Gila” geram Pangeran itu, “Kau benar-benar tidak mempunyai jantung dan hati manusia”

“Aku tidak peduli” jawab Ajar Pamotan Galih, “Aku akan menangkap kalian seorang demi seorang. Yang kemudian akan aku bunuh dihadapanmu”

“Biadab” geram Jlitheng, “Kau sangka bahwa kami akan menyerahkan hidup kami tanpa berbuat sesuatu”

Kemarahan Ajar Macan Kuning memantul di matanya. Katanya, “Kau adalah orang yang pertama akan mati”

“Aku tidak peduli, “ bentuk Jlitheng hampir berteriak.

Sementara itu Rahu pun berkata, “Pangeran, Apabila telah pasti, bahwa kita akan bertempur, apalagi yang harus ditunggu. Adalah akibat yang wajar dari tugas kita, bahwa pada suatu saat kita akan membentur satu keadaan yang tidak teratasi, sehingga mungkin kita akan terjerat oleh satu peristiwa yang mengerikan yang menimpa diri kita. Tetapi jangan ingkar, bahwa kita adalah laki-laki”

“Kau yang kedua” teriak Ajar Pamotan Galih.

“Ki Ajar” berkata Pangeran itu kemudian, “Aku tahu, disini ada orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui kemampuanku. Tetapi sebagaimana kau lihat, bahwa kami tidak akan menyerahkan kematian kami dengan sia-sia”

“Pangeran harus mengambil sikap” berkata Rahu, “nampaknya Pangeran sudah berubah. Diatas bukit di daerah Sepasang Bukit Mati, Pangeran mengejutkan kami, karena Pangeran yang kami sangka sedang sakit sebagaimana saat Pangeran diambil, ternyata Pangeran dapat menyelesaikan salah seorang yang paling garang dari lawan-lawan kita. Sekarang, disini seolah-olah Pangeran tidak menentukan sikap apapun juga selain menirukan apa yang kami katakan”

Pangeran itu justru tersenyum. Katanya, “Aku sudah tahu dengan pasti kemampuan Ajar Macan Kuning ini. Tetapi baiklah. Aku Sependapat, bahwa kita akan mati sebagaimana kita adalah laki-laki. Bukankah begitu Kiai Kanthi??”

“Aku sudah bersiap sejak semula Pangeran. Bahkan di sepanjang jalan aku sudah memikirkan kemungkinan ini” jawab Kiai Kanthi, “karena itu, jika Ajar Pamotan Galih yang juga bergelar Macan Kuning, dan yang sudah benar-benar kehilangan sifat dan wataknya sebagai Ajar Cinde Kuning, ingin memaksakan kehendaknya, apaboleh buat. Semula aku masih mengharap bahwa ia dapat mengerti apa yang Pangeran katakan. Tetapi nampaknya tidak sama sekali”

Namun dalam pada itu, ternyata Ajar Pamotan Galih itu pun tertawa pula. Katanya, “Rencanaku memang sudah berubah. Semula aku memang hanya, ingin bertemu dengan Pangeran seorang diri. Dengan cara yang ditempuh oleh Daruwerdi, maka kesempatanku akan lebih banyak untuk mengorek pengakuannya. Tetapi iblis dari Sanggar Gading itu telah merusak rencanaku. Ia menahan cucuku pada saat ia melakukan tayuh, sehingga anak itu tidak sempat membawa Pangeran itu pergi. Dan sekarang, Pangeran datang dengan beberapa orang yang barangkali dianggap pilih tanding. Karena itu Pangeran menganggap bahwa ia sudah mempunyai kekuatan cukup untuk mengelakkan diri dari pengetahuannya tentang pusaka dan kelengkapannya” Ajar Pamotan Galih itu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi Pangeran tidak akan berhasil Aku akan tetap, berhadapan dengan Pangeran seorang dengan seorang. Aku tetap ingin mendengar pengakuan Pangeran tentang pusaka itu. Sementara itu, biarlah adik-adikku menyisihkan orang-orang yang datang bersama Pangeran itu, sehingga Pangeran akan tetap sendiri. Aku tidak peduli, apakah yang lain akan dapat bertahan untuk tetap hidup, atau karena kemarahan yang tidak terkendali adik-adikku akan membunuh mereka”

Pangeran Sena Wasesa menjadi ragu-ragu. Jika benar demikian, maka orang-orang yang tidak langsung terlibat ke dalam persoalan pusaka itu akan ikut menjadi korban, karena Pangeran Sena Wasesa percaya, menilik pengamatannya yang tajam, bahwa orang-orang yang ada di padepokan itu akan dapat menarik batas antara dirinya dengan orang-orang yang datang bersamanya. Meskipun ia yakin bahwa Kiai Kanthi dan orang-orang lain itu tidak akan memperhitungkan keselamatan diri, tetapi sebaiknya mereka tidak menjadi korban dari masalah yang menyangkut diri Pangeran itu.

Karena itu, maka tiba-tiba Pangeran itu berkata, “Ki Ajar. Baiklah. Persoalannya memang menyangkut persoalan antara Ki Ajar dan Aku, Bukankah sejak semula Ki Ajar ingin berhadapan dengan aku sendiri? Karena itu baiklah, kita menganggap bahwa orang-orang lain itu tidak ada. Yang ada disini adalah aku dan Ki Ajar. Nah, apa yang Ki Ajar kehendaki? Perang tanding, atau Ki Ajar akan membunuhku? Atau apa?”

“Persetan” geram Ki Ajar, “Aku perlu keterangan itu”

“Sudah aku katakan. Tidak ada yang dapat aku katakan selain yang sudah aku katakan. Apapun yang akan kau lakukan” jawab Pangeran itu tegas.

Ki Ajar pun kemudian tidak sabar lagi. Karena itu, maka katanya, “Aku memang memerlukan Pangeran seorang diri. Aku memang akan menantangmu berperang tanding”

“Aku terima tantanganmu Ki Ajar” jawab Pangeran
itu.

“Tetapi dengan taruhan” berkata Ki Ajar, “Jika kau kalah, kau harus mengatakan yang sesungguhnya tentang pusaka itu”

Pangeran itu merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan mengatakan yang sesungguhnya”

“Kekalahan akan ditandai dengan ketidak mampuan lagi untuk melawan” berkata Ki Ajar.

Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menerima ketentuan itu. Tetapi dengan syarat, bahwa orang lain yang bersamaku tidak akan terlibat dalam persoalan ini”

Namun dalam pada itu, Rahu pun berkata, “Pangeran benar-benar aneh. Aku tidak dapat mengikuti jalan pikiran Pangeran. Jika Pangeran sudah tahu, bahwa orang itu memiliki ilmu yang tidak terlawan, kenapa Pangeran memilih perang tanding? Aku tahu, Pangeran ingin menyelamatkan kami. Tetapi bahwa kami telah datang ke tempat ini, sebenarnyalah bahwa kami sudah siap menghadapi segala kemungkinan”

“Aku sudah terlanjur menerima tantangannya” jawab Pangeran itu, “Marilah Ki Ajar. Kita akan berperang tanding” Lalu katanya kepada orang-orang yang datang bersamanya, “Aku harap kalian tidak menggangguku”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Ia pun menjadi bingung menghadapi sikap Pangeran Sena Wasesa. Namun ia mencoba untuk menyesuaikan diri. Ia ingin melihat perang tanding itu. Mungkin Pangeran Sena Wasesa mempunyai satu pegangan terakhir untuk dapat melawan orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih, meskipun bagi Kiai Kanthi hal itu tidak akan banyak gunanya. Jika orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih itu kalah, maka ia tidak akan menghormati persetujuan yang sudah dibuatnya.

Namun Kiai Kanthi ingin mengikuti perkembangan keadaan yang tidak banyak dimengertinya itu. Bahkan kemudian Ki Ajar itu berkata kepada adik seperguruannya, “Siapkan arena. Amati orang-orang yang datang bersama Pangeran ini. Aku tidak mau diganggu oleh siapapun juga”

Demikianlah, maka orang-orang yang ada di pendapa itupun kemudian turun ke halaman. Daruwerdi mengikuti perkembangan itu dengan hati yang berdebar-debar. Pangeran itu telah menunjukkan kemampuannya yang tinggi di atas bukit berhutan. Meskipun ternyata ia telah terluka.

Tetapi menurut Pangeran itu sendiri ia telah berhasil mengatasi luka-lukanya dan tidak membekas sama sekali. Namun demikian Daruwerdi pun tidak dapat ingkar, bahwa ia tahu, kakek angkatnya dan sekaligus gurunya itu adalah orang yang luar biasa.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang sejak semula telah berada di halaman itupun telah menebar. Mereka mengerti, bahwa mereka harus mengamati orang-orang yang datang bersama Pangeran Sena Wasesa, agar tidak seorang pun meninggalkan tempat itu. Sementara itu kedua adik seperguruan Ki Ajar itu pun telah mengawasi Kiai Kanthi yang menurut perhitungan mereka, adalah orang yang memiliki kelebihan tertinggi disamping Pangeran itu sendiri.

Sejenak kemudian, Ki Ajar telah bersiap menghadapi Pangeran Sena Wasesa. Keduanya sama sekali tidak memerlukan senjata apapun dalam perang tanding itu. Selain karena mereka percaya akan kemampuan masing-masing, sebenarnyalah Ki Ajar memang tidak ingin membunuh Pangeran yang masih akan diperas keterangannya itu,

“Pangeran berjanji, jika aku menang, maka kau akan mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka itu” geram Ajar Pamotan Galih.

Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Ajar Pamotan Galih dengan jantung yang berdebar-debar. Ada sesuatu yang asing di dalam hatinya. Ia memang belum mengenal Ki Ajar Pamotan Galih yang pernah disebut Ki Ajar Cinde Kuning atau Ki Ajar Macan Kuning. Namun seolah-olah ia telah meragukan sesuatu yang dilakukan oleh Ki Ajar itu, sehingga karena itu, maka sikapnya pun seolah-olah tidak pasti.

Tetapi ketika keduanya sudah turun di arena, maka Pangeran Sena Wasesa tidak lagi dapat berbuat tanpa kepastian. Ketika ia sudah berhadapan dengan Ki Ajar dalam perang tanding, maka yang dilakukan itu harus dilakukannya dengan sungguh-sungguh.

Pangeran Sena Wasesa mengetahui bahwa Ki Ajar Macan Kuning adalah orang yang luar biasa. Yang menurut pendengarannya mempunyai ilmu yang tidak terlawan. Orang-orang yang memiliki nama yang menggetarkan, ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar Cinde Kuning, maupun setelah disebut Ki Ajar Macan Kuning.

Meskipun demikian, Pangeran Sena Wasesa bukan orang yang tidak berilmu. Kecuali itu, ia pun adalah seorang laki-laki yang jantan yang tidak mudah menyerah kepada keadaan sebelum ia berusaha dengan sepenuh kemampuannya.

Demikian pula menghadapi Ajar Pamotan Galih. Meskipun Pangeran Sena Wasesa mengetahui bahwa kemampuan orang itu melampaui kemampuannya, namun ia sudah bersiap untuk bertempur dengan segenap ilmu yang ada padanya.

Kiai Kanthi dan orang-orang yang datang bersamanya di padepokan itu sudah mendapat kesan dari sikap dan pembicaraan Pangeran Sena Wasesa, bahwa Pangeran Sena Wasesa mengakui kelebihan Ajar Pamotan Galih. Namun demikian mereka pun mengerti, bahwa Pangeran Sena Wasesa memiliki ilmu yang tinggi pula.

Sejenak kemudian kedua orang di arena perang tanding itu sudah bersiap. Sementara itu, orang-orang padepokan itupun tidak kehilangan kewaspadaan. Kedua adik seperguruan Pamotan Galih itupun selalu memperhatikan orang-orang yang dengan tegang menyaksikan pertempuran yang segera terjadi di halaman padepokan itu.

Ki Ajar Pamotan Galih lah yang mulai dengan serangan pertamanya. Tetapi sebagaimana sering terjadi, serangan yang pertama tidak banyak menentukan.

Namun serangan-itu pun segera disusul dengan serangan-serangan berikutnya beruntun dengan sengitnya.

Tetapi Pangeran Sena Wasesa sudahi siap menghadapinya. Dengan tangkasnya ia selalu berhasil menghindari serangan-serangan itu. Bahkan kemudian ia pun mendapat kesempatan untuk membalas serangan-serangan itu dengan serangan pula.

Demikianlah maka di halaman itu pun segera terjadi pertempuran yang semakin dahsyat, Dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi, melampaui ilmu kebanyakan.

Kiai Kanthi yang mempunyai penglihatan yang tajam, memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Wajahnya nampak menjadi tegang, sementara jantungnya menjadi berdebaran.

Untuk beberapa saat, menurut penilaian Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa masih mampu mengimbangi ilmu Ki Ajar Pamotan Galih. Kadang-kadang Ki Ajar Pamotan Galih pun terkejut mendapat serangan Pangeran Sena Wasesa yang tiba-tiba dan tidak diperhitungkannya lebih dahulu.

Jlitheng, Rahu, Swasti, Daruwerdi dan kedua pamannya serta orang-orang yang berada di halaman itupun mengikuti perang tanding itu dengan seksama. Tetapi mereka tidak segera dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka lihat, keduanya telah terlihat dalam satu putaran kecepatan yang sulit untuk dimengerti. Meskipun mereka pun berbekal ilmu kanuragan, tetapi agaknya kedua orang itu seakan-akan tanpa ancang-ancang telah sampai pada puncak ilmu mereka yang tinggi.

Sekali-sekali Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia melihat justru Pangeran Sena Wasesa berhasil mendesak lawannya. Namun kemudian Ki Ajar itulah yang telah mendorong lawannya beberapa langkah surut

Nampaknya Pangeran Sena Wasesa masih berusaha untuk menghindari benturan-benturan yang langsung. Meskipun kadang-kadang Pangeran Sena Wasesa harus menangkis serangan lawannya, tetapi ia selalu berusaha untuk membentur tenaga lawannya menyamping.

“Apakah Ki Ajar memang sedang mempermainkan Pangeran Sena Wasesa” bertanya Kiai Kanthi kepada diri sendiri.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Desak mendesak dan dorong mendorong Pangeran Sena Wasesa ternyata telah berjuang sekuat tenaganya, agar ia tidak segera jatuh tanpa dapat berbuat sesuatu lagi menghadapi lawannya.

Ternyata bahwa arena pertempuran di halaman itu pun semakin lama semakin mengembang. Tidak ada gawar yang membatasi arena perang tanding itu, sehingga keduanya dapat mengambil tempat seberapa mereka perlukan. Kadang-kadang salah seorang dari mereka yang sedang terdesak telah meloncat jauh-jauh. Kemudian dengan serta merta ia telah meloncat menyerang dengan cepatnya.

Dalam pada itu, bukannya Kiai Kanthi sajalah yang termangu-mangu memandangi pertempuran itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa juga dihinggapi oleh satu perasaan aneh.

“Apakah Ki Ajar Pamotan Galih hanya bermain-main” berkata Pangeran, Sena Wasesa kepada diri sendiri.

Karena itu maka akhirnya Pangeran Sena Wasesa sengaja mengerahkan segenap kemampuan ilmunya. Ia ingin segera mengetahui bayangan dari akhir pertempuran itu. Agaknya Ki Ajar belum melepaskan segenap ilmunya. Apalagi ilmu pamungkasnya.

Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin cepat. Serangan dibalas dengan serangan. Bahwa benturan-benturan pun menjadi semakin sering, meskipun Pangeran Sena Wasesa masih tetap menghindari dari benturan yang langsung.

Semakin cepat pertempuran itu, maka keduanya menjadi semakin garang. Kelengahan-kelengahan mulai terjadi, sehingga serangan-serangan pun mulai menyentuh tubuh lawan.
Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin heran. Ia masih saja mampu mengimbangi ilmu Ki Ajar Pamotan Galih yang disangkanya memiliki ilmu yang tidak ada bandingnya. Justru karena itu, ia menjadi semakin berusaha untuk melindungi dirinya sendiri. Meskipun kadang-kadang tersirat di hatinya, “Ki Ajar ini hanya ingin memeras tenaganya, sehingga akhirnya aku akan jatuh dengan sendirinya dan tidak dapat melawannya lagi”

Tetapi saat-saat yang demikian itu ternyata tidak segera terjadi. Bahkan kadang-kadang Pangeran itu melihat, Ki Ajar benar-benar terdesak

Namun ketika tenaga Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin surut maka mulailah nampak, bahwa daya tahan Ki Ajar Pamotan Galih ternyata lebih baik dari Pangeran Sena Wasesa. Justru dalam keadaan, yang demikian, maka serangan-serangan Ajar Pamotan Galih itu menjadi semakin garang.

Dengan mengerahkan tenaganya, Pangeran Sena Wasesa masih tetap berjuang melawan Ki Ajar Pamotan Galih. Bahkan ia masih tetap mampu menghindari serangan beruntun yang datang bagaikan amuk badai. Ketika tangan Ajar Pamotan Galih tidak menyentuh sasaran, maka dengan satu putaran Ajar Pamotan Galih mengayunkan kakinya mendatar. Tetapi Pangeran Sena Wasesa dengan tangkas masih sempat menghindar. Namun hampir diluar pengamatannya, Ki Ajar Pamotan Galih itu telah meloncat menerkam dengan garangnya langsung kearah dada.

Pangeran Sena Wasesa melihat serangan itu. Tidak ada kesempatan lagi untuk meloncat. Karena itu, maka iapun memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu menyamping.

Namun demikian, serangan Ajar Pamotan Galih itu masih menyentuh pundaknya, sehingga Pangeran Sena Wasesa itu terdorong surut

Terasa betapa pundaknya menjadi pedih. Serangan itu sebenarnya tidak terlalu keras, karena Pangeran Sena Wasesa sempat mengambil jarak. Tetapi yang tidak terlalu keras itu, terasa betapa sakitnya.

Namun sementara itu, ternyata Ajar Pamotan Galih pun terkejut ketika ia melihat dari pundak itu mengalir darah. Serangannya itu bukan serangan yang dapat melukai kulit lawannya, meskipun mungkin memecahkan tulangnya.

Pangeran Sena Wasesa mundur, setapak. Dengan tangannya ia meraba pundaknya. Darah.

“Kulitmu terlalu cengeng Pangeran” berkata Ki Ajar Pamotan Galih, “Bukan maksudku melukaimu. Tetapi kau tidak mempunyai daya tahan yang cukup. Apakah jadinya, jika aku pada suatu saat melepaskan ilmu Pamungkasku” berkata Ki Ajar Pamotan Galih itu.

Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Luka ini sudah dapat aku atasi sebelumnya. Atas bantuan tabib di puncak bukit kecil itu. Tetapi seranganmu tepat mengenai luka itu lagi, sehingga kembali mengalirkan darah”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Ia pun mengerti, di puncak bukit itu Pangeran Sena Wasesa telah dilukai oleh Eyang Rangga. Ternyata luka yang sudah sembuh itu masih tetap membekas. Jaringan kulit di bekas luka itu masih terlalu muda sehingga serangan Ki Ajar Pamotan Galih itu telah mengoyaknya lagi.

Dalam pada itu, maka Ki Ajar, Pamotan Galih itupun tertawa sambil berkata, “Nah Pangeran. Apapun yang terjadi, apakah luka itu telah ada di pundak Pangeran sejak semula, atau karena sentuhan tanganku, namun adalah satu kenyataan bahwa Pangeran telah menitikkan darah. Aku yakin, bahwa darah itu akan semakin banyak mengalir. Akhirnya Pangeran akan jatuh terkapar dan tidak berdaya”

“Aku akan bertempur terus Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa, “Ternyata kemampuan Ki Ajar tidak segarang yang aku duga. Aku kira dalam dua tiga, benturan, aku sudah tidak berhasil melawan. Tetapi ternyata aku masih tetap dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar”

“Aku belum sampai ke puncak ilmuku Pangeran. Aku masih sanggup melepaskan ilmuku pada tingkat tertinggi. Dengan demikian, aku khawatir bahwa Pangeran justru akan terbunuh karenanya” jawab Ki Ajar.

“Aku juga masih mampu melepaskan ilmu pamungkasku” jawab Pangeran, “sebaiknya kita akan mencobanya. Mungkin aku memang akan mati. Tetapi itu tidak berarti apa-apa bagiku. Sudah aku katakan, aku tidak takut mati”

“Aku tidak mau rahasia tentang pusaka dan rerangkennya itu akan kau bawa mati” berkata Ajar Pamotan Galih, “karena itu, aku akan berperang pada janji. Apalagi Pangeran adalah seorang kesatria yang teguh memegang janji. Jika Pangeran kalah, maka Pangeran harus mengatakan apa yang sebenarnya”

“Itu tidak adil” tiba-tiba saja Jlitheng berteriak, “Pangeran sudah terluka. Sebaiknya perang tanding itu dilakukan dalam keadaan yang wajar pada kedua belah pihak”

“Kau gila anak muda” desis Ki Ajar Pamotan Galih, “Jika kau terlalu banyak berbicara, maka kau akan dibungkam untuk selama-lamanya”

“Aku tidak peduli” sahut Jlitheng.

“Ia menentukan kesediaannya dalam keadaannya. Karena itu, kau tidak dapat mengganggu gugat lagi” geram Ki Ajar Pamotan Galih. Lalu tiba-tiba ia menjadi garang dan berkata, “Mari Pangeran. Aku akan membuatmu lumpuh dan memaksamu untuk berbicara. Aku mempunyai seribu macam cara untuk memaksa seseorang berbicara betapapun keras hatinya”

Pangeran Sena Wasesa pun ternyata telah bersiap. Ia tidak menghiraukan lagi darah yang mengalir di pundaknya. Dengan lantang ia menjawab, “Aku sudah siap”

Keduanya telah berhadapan lagi dengan tegangnya. Ki Ajar Pamotan Galih nampak menjadi lebih garang. Namun Pangeran Sena Wasesa yang terluka itupun menjadi semakin bersungguh-sungguh. Ia sama sekali tidak menghiraukan darah yang mengalir dan keadaan disekitarnya. Tiba-tiba saja ia telah didorong oleh satu keinginan untuk melawan Ajar, Pamotan Galih.

“Agaknya aku sudah terpengaruh oleh anggapanku bahwa Ajar ini mempunyai kemampuan yang tidak terkalahkan” berkata Pangeran itu di dalam hatinya.

Justru karena itu, Pangeran Sena Wasesa ingin memperbaiki kesannya tentang Ki Ajar Pamotan Galih. Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih bukan orang yang memiliki kemampuan raksasa seperti yang diduganya.

“Jika sejak semula aku tidak terpengaruh oleh anggapanku bahwa aku tidak akan mampu berbuat apa-apa sama sekali dihadapannya, maka agaknya aku akan dapat berbuat lebih banyak” berkata Pangeran itu pula di dalam hatinya, sementara ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan.

Namun dalam pada itu, darah yang mengalir dari lukanya, bagaikan di peras ketika ia bertempur semakin sengit. Sementara itu, Ajar Pamotan Galih telah dengan sengaja mengarahkan serangan-serangannya kepada puncak yang terluka itu.

Bagaimanapun juga, ternyata luka itu telah mempengaruhi-nya. Karena itu, maka semakin lama perlawanan Pangeran Sena Wasesa pun menjadi semakin lemah. Apalagi ternyata daya tahan Ajar Pamotan Galih memang mengagumkan. Setelah mereka bertempur dalam waktu yang cukup lama, maka seakan-akan kemampuan Ajar Pamotan Galih itu sama sekali tidak menjadi susut.

Kiai Kanthi memperhatikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebaran. Ia sudah melihat, bahwa Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.

“Bahkan seandainya Pangeran tidak terluka, agaknya Pangeran memang tidak akan dapat mengalahkannya” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya. Orang tua itu melihat, meskipun Ajar Pamotan Galih tidak mempunyai kelebihan yang mengejutkan sebagaimana diduganya, karena seolah-olah Pangeran Sena Wasesa sendiri sudah mengetahuinya, namun daya tahan orang itu memang luar biasa. Meskipun ia harus mengerahkan segenap tenaganya dan melepaskan tenaga cadangannya sampai tuntas untuk memaksa Pangeran Sena Wasesa menyerah, namun ia masih tetap bertempur sesegar saat ia baru mulai.

Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa telah benar-benar menjadi semakin terdesak. Serangan Ki Ajar yang beruntun mengarah ke pundaknya dapat dihindarinya. Namun ketika ia bergeser sambil berputar, tiba-tiba saja Ajar Pamotan Galih telah melingkar sambil menyerang dengan tumitnya menyamping mengarah lambung. Pangeran Sena Wasesa dengan tergesa-gesa melangkah surut. Tetapi ia sadar, serangan berikutnya akan menyusul. Karena itu, ia segera bersiap untuk menghindar. Tetapi serangan Ki Ajar justru diarahkan kepada kakinya. Sambil merendah dan bertopang pada satu tangannya di tanah, Ajar Pamotan Galih berusaha menghantam lutut Pangeran Sena Wasesa. Namun Pangeran itu masih mampu bergerak cepat. Ia melangkah kesamping. Bahkan kemudian dengan serta merta, la telah membalas serangan ku, dengan serangan ganda. Kakinya sempat menghantam betis lawannya dengan kerasnya, kemudian ketika kaki lawannya itu terdorong kesamping, Pangeran Sena Wasesa langsung menyerang dada. Tetapi serangannya ternyata gagal, karena Ki Ajar sempat berguling Dengan cepat ia melenting dan demikian kakinya tegak diatas tanah, maka kedua tangannya telah menyerang beruntun. Langsung mengarah ke pundak yang berdarah itu.

Pangeran Sena Wasesa sempat menghindari serangan yang pertama dengan bergeser surut setapak. Tetapi kecepatan serangan kedua tidak dapat diimbanginya. Karena itu, sekali lagi tangan Ki Ajar Pamotan Galih yang dilambari dengan tenaga cadangannya itu telah menghantam pundak yang memang sudah berdarah Itu.

Serangan Ajar Pamotan Galih itu cukup keras. Sementara itu perasaan sakit memang telah mencengkam pundak itu, maka serangan itu benar-benar telah mendorongnya sehingga hampir saja Pangeran Sena Wasesa itu kehilangan keseimbangannya.

Tetapi ia masih tangkas untuk memperbaiki keseimbangan-nya. Namun demikian ia berhasil berdiri tegak maka Ki Ajar Pamotan Galih itu telah menyerangnya dengan kecepatan yang luar biasa. Seolah-olah Ajar tua itu telah terbang menukik dengan kakinya yang, terjulur mendatar mengarah dada. Demikian cepat dan kerasnya, sehingga Pangeran Sena Wasesa tidak sempat lagi untuk mengelak. Karena itu, maka ia telah memiringkan tubuhnya dan berusaha melawan serangan itu dengan lengannya.

Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Pangeran Sena Wasesa telah terdorong beberapa langkah surut. Namun, meskipun ia berhasil untuk bertahan dan tidak terlempar jatuh, tetapi justru lengan yang dengan tergesa-gesa telah dipergunakannya untuk menyelamatkan dadanya itu adalah lengannya pada pundaknya yang terluka. Sehingga karena itulah, maka darah yang telah mengalir dari luka itu, benar-benar bagaikan dihentakkan mengalir dengan derasnya.

Pangeran Sena Wasesa melangkah surut. Dengan cemas ia menyaksikan arus darahnya yang semakin membanjir.

Dalam pada itu, Ajar Pamotan Galih itu pun tertawa berkepanjangan. Dengan lantang ia pun kemudian berkata, “Nah, Pangeran. Apakah Pangeran masih ingin melawan? Agaknya kemampuan Pangeran telah terhisap oleh darah yang mengalir dari luka itu. Sebenarnyalah aku mengagumi kemampuan Pangeran yang hampir dapat mengimbangi kemampuanku. Tetapi ternyata bahwa Pangeran tidak akan bertahan lebih lama lagi. Karena itu, sebaiknya Pangeran mengakui saja kekalahan ini. Dengan demikian maka segalanya akan berjalan lancar. Ajak aku kemana saja yang menurut Pangeran akan dapat menyelesaikan persoalan kita”

Wajah Pangeran Sana Wasesa menjadi tegang. Namun ternyata sikap Ajar Pamotan Galih itu membuatnya tersinggung, sehingga harga dirinya sebagai seorang kesatria pun telah terungkat. Dengan suara bergetar menahan gejolak perasaannya, maka Pangeran itu berkata, “Aku sudah basah oleh darah Ki Ajar. Tetapi aku belum sampai pada batas perjanjian kita. Sebagai seorang kesatria aku akan menghormati setiap perjanjian. Tetapi sebagai seorang kesatria, maka aku pun pantang menyerah. Aku akan bertempur sampai ternyata aku tidak mampu lagi melawan. Atau bahkan mati”

“Sudah aku katakan aku tidak akan membunuhmu” berkata Ajar Pamotan Galih.

“Jika demikian, akulah yang akan membunuhmu” geram Pangeran Sena Wasesa.

Tetapi Ajar Pamotan Galih yang melihat kemungkinan untuk menang menjadi semakin besar itupun tertawa. Darah yang mengalir di pundak Pangeran Sena Wasesa telah membasahi seluruh tubuhnya. Katanya di sela-sela suara tertawanya yang sengaja diperdengarkan, “Pangeran. Apakah kau bukan seorang laki-laki jantan yang sanggup dan berani menatap kenyataan? Kau tidak akan menang. Itu satu kenyataan. Bukankah kau melihat kenyataan itu”

“Aku melihat Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa, “Tetapi aku adalah laki-laki yang pantang menyerah. Sudah aku katakan, dan kau sudah mendengarnya”

“Jangan keras kepala Pangeran” sahut Ki Ajar.

Pangeran Sana Wasesa tidak menjawab. Tetapi ia telah mengerahkan sisa tenaganya untuk bertempur semakin seru.

Keadaan Pangeran itu memang sangat mencemaskan. Kiai Kanthi menjadi sangat gelisah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia berbuat sesuatu, maka mungkin Pangeran Sena Wasesa pun telah tersinggung pula. Karena itu, maka rasa-rasanya kaki Kiai Kanthi itu pun menjadi bergetar oleh kegelisahan yang tertahan di dalami dadanya tanpa menemukan pemecahan.

Dalam pada itu, kegelisahan itu bukan saja telah mencengkam Kiai Kanthi. Anak-anak muda yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi cemas. Jlitheng dan Daruwerdi menjadi tegang. Swasti diluar sadarnya telah mendesak ayahnya selangkah maju tanpa berpaling dari pertempuran itu.

Rahu tegak sambil menggeram. Sementara itu kedua paman Daruwerdi pun bagaikan berdiri diatas bara.

Namun dalam pada itu, ternyata kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu pun menjadi cemas melihat keadaan Pangeran itu. Sebenarnyalah keduanya masih sangat ragu-ragu menghadapi sikap saudara seperguruannya. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang telah dilakukan oleh saudara seperguruannya itu, yang bertentangan dengan sikap yang pernah dilihatnya sebelumnya.

Sebagai orang yang sudah lama merambah jalur jalan orang-orang yang berilmu maka darah bukan lagi menjadi persoalan perasaan mereka. Apalagi pada suatu masa mereka adalah orang-orang yang hidup dalam dunia yang hitam. Namun ketika pada suatu saat mereka mulai di hayati oleh pertimbangan-pertim-bangan tentang sikap hidup mereka, maka yang disaksikannya itu membuat mereka menjadi berdebar debar.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih justru telah mengerahkan segenap kemampuan dan kecepatannya bergerak untuk memancing agar Pangeran Sena Wasesa mengerahkan segenap kekuatannya pula, sehingga dengan demikian, maka ia akan segera kehabisan tenaga karena darahnya yang mengalir semakin banyak.

Sebenarnyalah, betapapun Pangeran Sena Wasesa berjuang untuk mengatasi susutnya tenaga, namun ia memang tidak mampu melawan kenyataan yang terjadi pada dirinya. Tenaganya benar-benar semakin terkuras habis sejalan dengan darahnya yang tidak henti-hentinya mengalir, dari lukanya.

Dalam pada itu, selagi keadaan Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin gawat, nampaknya Jlitheng tidak dapat menahan hati lagi. Dengan serta merta ia berkata kepada Rahu, “He, apa kerjamu selama ini? Kau biarkan hal ini terjadi?

Rahu menahan gejolak perasaannya. Katanya, “Yang membuat aku bimbang, adalah kesediaan Pangeran untuk berperang tanding”

Jlitheng menggertakkan giginya. Namun dalam pada itu, ketika ia melihat Pangeran Sena Wasesa yang menjadi semakin lemah terdorong jatuh, maka ia pun segera meloncat ke arena.

“Tidak adil” teriaknya, “Pangeran sudah terluka. Perang tanding hanya adil jika keduanya adalah keadaan yang wajar”

Wajah Ki Ajar Pamotan Galih menjadi merah padam. Setelah ia mengalami perlawanan yang sangat berat, bahkan telah memaksanya untuk mengerahkan segenap kemampuannya, maka kehadiran anak muda itu membuatnya sangat marah.

Dalam pada itu terdengar suara Pangeran Sena Wasesa, “Jlitheng. Tinggalkan arena. Aku tidak dapat mengingkari segala perjanjian yang sudah aku buat. Tetapi, tidak dapat melawan lagi menurut pengertianku adalah kematian”

“Sejenak perang tanding ini dimulai, sudah dapat dinilai tidak sah. Pangeran berada dalam keadaan luka” jawab Jlitheng.

“Ia tidak menyatakan keberatannya” potong Ajar Pamotan Galih yang marah. Bahkan katanya kemudian, “atau kau akan ikut campur dan bersama-sama melawan aku?”

“Aku akan menggantikannya” jawab Jlitheng.

“Kau jangan gila Jlitheng” teriak Pangeran Sena Wasesa yang berusaha untuk bangkit betapapun lemahnya”

“Kau harus tahu diri dengan siapa kau berhadapan. Jangan cemaskan keadaan orang lain, tetapi kau kemudian justru membunuh diri. Sebuah kematian sudah cukup. Biarlah aku mati karena tugas hidupku memang sudah selesai”

“Aku tidak mengerti” jawab Jlitheng, “Apakah mungkin seseorang menganggap tugas hidupnya sudah selesai. Menurut pengertianku, apalagi bagi seorang kesatria, tugas hidup itu tidak akan selesai selama masih ada kelaliman di muka bumi ini”

“Cukup” bentak Ki Ajar Pamotan Galih, “majulah bersama-sama. Aku akan membunuh kalian berdua, dan apa bila Pangeran benar-benar tidak mau berbicara tentang pusaka itu, maka semua orang akan aku bunuh seorang demi seorang.

“Licik” geram Pangeran Sena Wasesa, “Kita teruskan perang tanding ini”

“Tidak perlu” potong Jlitheng, “perang tanding ini tidak dapat dianggap sah”

Wajar Ajar Pamotan Galih menjadi bagaikan menyala. Sementara itu Jlitheng tidak mau beringsut dari tempatnya. Sedangkan orang-orang yang berada di seputar arena itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya Rahu pun melangkah maju. Katanya, “Pangeran. Aku masih tetap dalam tugasku. Apapun yang akan terjadi atas diriku”.

“Jangan bodoh” teriak Pangeran itu, “kalian akan melakukan satu kesalahan yang tidak akan berarti apa-apa”

Tetapi Rahu dan Jlitheng nampaknya memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan, apapun yang akan terjadi atas diri mereka.

Dalam pada itu. Ajar Pamotan Galih menjadi semakin marah melihat kedua orang yang dengan berani menentangnya. Bahkan menurut pertimbangan Ajar Pamotan Galih, diantara mereka masih terdapat seorang tua yang tentu memiliki ilmu yang mapan pula.

Karena itu maka Ajar Pamotan Galih itupun kemudian berkata kepada kedua adik seperguruannya, “Singkirkan mereka. Jika mereka melawan kalian dapat memaksanya”

Kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan Galih ku termangu-mangu. Mereka memang melihat beberapa persoalan yang menjadi teka-teki. Menurut penilaian mereka, kakak seperguruannya adalah seorang yang memiliki ilmu yang sukar ada bandingnya. Namun dalam pertempuran itu, meskipun lawannya juga seorang pilih tanding, namun agaknya Ajar Pamotan Galih itu sendiri harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi Pangeran yang luka itu.

“Tetapi menilik unsur dan ciri-ciri tata geraknya, orang itu benar-benar bersumber dari perguruan kami” berkata saudara seperguruannya ku kepada diri sendiri, “Meskipun telah terjadi perkembangan yang agak jauh”

Dalam keragu-raguan itu, terdengar sekali lagi Ajar Pamotan Galih itu berteriak, “Singkirkan mereka. Kalian dengar? Jika mereka melawan, bunuh saja orang-orang gila itu. Aku tidak memerlukannya”

Beberapa orang di seputar arena itu mulai bergerak. Namun justru kedua saudara seperguruannya ku masih tetap dicengkam oleh keragu-raguan.

Tetapi akhirnya mereka pun telah bergerak pula. Selangkah demi selangkah dengan sorot mata penuh kebimbangan.

“Kenapa kalian ragu-ragu he?” bentak Ki Ajar Pamotan Galih.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Daruwerdi telah meloncat pula sambil berkata, “Kakek. Tindakan kakek memang tidak adil”

“Daruwerdi” desis Ki Ajar Pamotan Galih, “Kenapa kau tiba-tiba menjadi orang bingung. Semuanya ini untuk kepentinganmu. Kau adalah cucuku seperti cucuku sendiri. Segalanya aku lakukan bagi hari depanmu. Menepilah. Aku akan menyelesaikan tugas ini”

“Tidak kakek. Aku menolak cara yang kakek pergunakan” berkata Daruwerdi, “apakah kakek tidak mempunyai cara lain selain kekerasan seperti itu? Seandainya kakek memberi kesempatan aku memilih, maka aku akan memilih agar kakek mengurungkan niat kakek daripada mendapat sebilah pusaka, harta benda dan apapun yang tidak aku ketahui manfaatnya dengan pasti. Apakah ada pengaruh gaib dari pusaka itu yang akan membuat aku menjadi seorang pemimpin kelak, atau sebenarnya karena harta benda yang tidak ternilai harganya itu akan dapat membuat aku berbahagia”

“Daruwerdi, bukankah kita sudah sepakat sebelumnya Bukankah kita sudah mengatur segala sesuatunya. Bahkan jika orang Sanggar Gading itu tidak memiliki pengamatan tayuh yang tajam, kau sendiri akan anggap menyelesaikan. Nah, jika waktu itu Pangeran ini sudah ada di tanganmu tanpa aku, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Ajar Pamotan Galih.

Jika saat itu, Yang Mulia dari Sanggar Gading itu tidak merubah segala macam acara yang telah ditentukan, agaknya Daruwerdi memang akan menentukan sikap yang sudah diputuskannya. Katanya, “Aku akan mengikatnya dengan jerat rangkap ganda dan cinde berserat baja sehingga tidak dapat diputuskannya dengan ilmu apapun juga. Kemudian memukulinya sehingga ia mengatakan di mana pusaka itu disimpan. Aku tidak akan mempunyai belas kasihan terhadap seseorang yang telah membunuh ayahku”

“Nah, kenapa kau tidak melakukannya sekarang? Bahkan kau mencegah aku melakukan kekerasan” bertanya Ki Ajar Pamotan Galih.

“Aku memang sudah berubah sikap kakek. Sejak aku meragukan sifat dan watak Pangeran itu. Ia sama sekali tidak mendendamku. Bahkan ia telah membantu membebaskan aku dari kemarahan Yang Mulia pemimpin tertinggi Sanggar Gading”

“Persetan” geram Ki Ajar Pamotan Galih, “kalian sudah menjadi cengeng. Cepat, lakukan yang aku perintahkan. Kalian telah membuat aku kehilangan kesabaran. Bunuh semua orang yang menentang perintahku dan menghalangi niatku”

Halaman padepokan itu menjadi semakin tegang. Sejenak mereka seakan-akan telah membeku. Perintah itu merupakan keputusan yang pasti tidak akan dapat berubah lagi.

Namun dalam pada itu, tidak ada pilihan lain dari Kiai Kanthi untuk mempersiapkan diri. Swasti pun telah meraba hulu senjatanya, sementara kedua paman Daruwerdi yang kebingungan itu pun telah dipaksa untuk bersiap. Sikap Daruwerdi membuat mereka semakin kehilangan arah dan pegangan. Namun akhirnya, mereka tidak mau berpikir lagi. Mereka harus melindungi Daruwerdi, kemanakannya itu, dimanapun ia berdiri.

Dalam suasana yang tidak menentu itu, tiba-tiba saja halaman padepokan itu telah digetarkan oleh suara tertawa nyaring. Tidak terlalu keras, tetapi rasa-rasanya menusuk sampai ke pusat jantung.

Sejenak orang-orang di halaman itu menjadi bingung Namun orang-orang tua pun segera mengetahui arah suara itu. Ternyata mereka pun kemudian melihat di atas sebatang dahan pada pohon pacar yang tua duduk seorang dalam pakaian yang kumal dan kotor. Wajahnya tidak lagi nampak wajar oleh cacat di kening dan ujung bibir.

“Anak setan” geram Ki Ajar Pamotan Galih, “Siapakah orang gila yang duduk disitu?”

Orang itu masih tetap tertawa, sementara orang-orang lain menjadi bingung dan bimbang. Tidak seorang pun yang tahu, kapan orang itu datang, sehingga tiba-tiba saja ia sudah berada di atas sebatang dahan di pohon pacar tua yang besar dan rimbun itu.

“Tentu orang berilmu sangat tinggi” berkata setiap orang di dalam hatinya.

Sementara itu, maka orang itu pun berkata, “Yang pertama harus dilakukan adalah memampatkan darah dari luka Pangeran. Semakin lama darah itu akan semakin banyak mengalir, sehingga pada suatu saat Pangeran akan kehilangan sebagian besar dari darah Pangeran. Pangeran tentu tahu, akibat apa yang dapat terjadi”

Pangeran Sena Wasesa memang sudah menjadi semakin lemah. Selain karena ia sudah mengerahkan segenap kekuatannya, ia pun telah kehilangan banyak darah dari tubuhnya.

Meskipun demikian, Pangeran Sena Wasesa itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah, sebelum ia bertempur sampai tuntas.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Kewajibanku belum selesai”

“Jangan berpikir seperti itu Pangeran” jawab orang yang duduk diatas sebatang dahan pohon pacar yang tua itu, “Pangeran dapat berbuat demikian jika luka itu terjadi pada saat perang tanding ini berlangsung. Tetapi bukankah Pangeran sudah terluka sejak perang tanding ini belum dimulai”

“Tetapi ia sudah menerima tantangan perang tanding itu dalam keadaannya” geram Ajar Pamotan Galih, yang kemudian berkata, “Tetapi siapakah kau he? Apakah kau memang dengan sengaja ingin ikut campur dalam persoalan ini?”

Orang itu tertawa. Tubuhnya nampak ringan sekali ketika ia meluncur turun dari dahan pohon pacar itu. Namun ketika ia melangkah mendekat, maka ternyata bahwa punggungnya agak bongkok meskipun hanya sedikit.

“Ki Ajar Pamotan Galih” berkata orang itu, “Sebenarnya perang tanding ini tidak akan ada artinya sama sekali”

“Kami. sudah membuat perjanjian” berkata Ajar Pamotan Galih.

“Jika kau menang Pangeran akan mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka dan harta karun yang kau inginkan itu? Yang kau katakan seolah-olah semuanya itu kau siapkan bagi hari depan cucumu itu?” bertanya orang yang berwajah cacat dan punggungnya agak bongkok itu.

“Ya. Pusaka itu mempunyai pengaruh gaib sehingga cucuku itu kelak akan dapat menjadi seorang pemimpin” jawab Ajar Pamotan Galih.

“Dan harta benda yang menyertai pusaka itu akan dapat dipergunakan untuk menyusun hari depannya yang bahagia” sambung orang yang cacat itu.

“Ya” jawab Ki Ajar Pamotan Galih. Namun kemudian katanya, “Tetapi apa kepentinganmu dengan persoalan kami pengembara yang kotor. Apakah kau ingin mendapat sesuap, nasi karena tingkah lakumu itu?”

“Tidak, tidak Ki Ajar. Aku dapat makan apa saja yang aku ketemukan. Selama ini aku makan akar pepohonan dan madu tawon. Ternyata aku tetap sehat seperti yang kau lihat” berkata orang itu. Lalu, “Tetapi itu tidak penting. Sebaiknya kau hentikan tingkah lakumu yang memuakkan itu”

“Persetan” geram Ki Ajar Pamotan Galih. Lalu katanya kepada kedua adik seperguruannya, “usir orang itu”

“Tunggu” berkata orang cacat itu, “Aku ingin memberikan obat ini kepada Pangeran Sena Wasesa. Mungkin Pangeran sendiri juga sudah mempunyai obat yang baik. Tetapi aku kira, obatku ini akan lebih cepat memampatkan darah”

Orang itu kemudian sama sekali tidak menghiraukan Ki Ajar Pamotan Galih yang justru menjadi termangu-mangu. Sambil memberikan sebumbung kecil obat ia berkata kepada Rahu dan Jlitheng, “Tolong, bantu Pangeran itu. Biarlah orang ini aku selesaikannya”

Seperti kena pesona yang tidak dapat mereka hindari, maka kedua orang itupun kemudian mendekati Pangeran Serta Wasesa yang menerima bumbung berisi obat itu hampir diluar sadarnya.

“Cepat” berkata Ki Ajar Pamotan Galih kemudian, “usir orang itu atau bunuh sama sekali. Ia sudah mengigau tentang pusaka, tentang harta benda, seolah-olah ia mengetahui apa yang dikatakannya”

Kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu termangu-mangu. Namun kemudian orang yang berpakaian kumal seperti seorang pengembara itu berkata, “Baiklah Ragapasa dan Wanda Manyar. Jika kalian memang mendapat tugas untuk itu, cobalah, lakukanlah atasku”

Kedua orang itu terkejut. Hampir diluar kehendaknya, Ki Wanda Manyar bertanya, “Kau mengenal kami berdua?”

“Kenapa tidak? Aku mengenal kau berdua dengan baik. Dan barangkali kalian bertanya, darimana aku mengenal kalian?” sahut orang itu.

Kedua orang itu temangu-mangu. Namun Ki Ajar Pamotan Galih telah membentaknya, “Cepat. Selesaikan saja orang itu”

“Baiklah” berkata pengembara itu, “biarlah kedua orang ini melawan aku. Tetapi aku minta kau memperhatikan apa yang akan terjadi”

“Kau memberi kesempatan Pangeran itu mengobati luka-lukanya?” bertanya Ki Ajar Pamotan Galih.

“Apa kau berkeberatan?” bertanya pengembara itu.

“Baik, “ Ajar Pamotan Galih hampir berteriak, “biarlah Pangeran itu mengobati luka-lukanya. Aku akan memberi kesempatan kepadanya. Sekarang aku ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh pengembara ini” Lalu katanya kepada kedua orang adik seperguruannya, “usir, atau bunuh sama sekali”

Kedua adik seperguruan itu masih tetap ragu-ragu. Namun pengembara itupun kemudian berkata, “Marilah Ragapasa dan Wanda Manyar. Aku memang ingin menunjukkan kepadamu, apa yang dapat aku lakukan”

Kedua orang itu seolah-olah tidak lagi mengerti apa yang dilakukannya. Tetapi keduanya telah maju ke arena.

Kiai Kanthi memperhatikan orang yang baru datang itu dengan saksama. Ia memang belum pernah melihat orang yang cacat seperti itu. Namun adalah sangat menarik bahwa orang itu telah menantang kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan Galuh.

“Orang itu akan menghadapi kedua-duanya” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya.

Karena kedua adik seperguruan Ki Ajar itu masih tetap ragu-ragu, maka orang itu berkata, “Jangan ragu-ragu. Aku akan memulai. Melawan atau tidak melawan”

Pengembara yang membuat teka-teki di padepokan itu menjadi semakin rumit itu pun tiba-tiba telah meloncat menyerang. Ia benar-benar telah memukul pundak Ki Ragapasa yang ragu-ragu. Namun pukulan itu telah mendorongnya selangkah surut

Ki Ragapasa menyeringai menahan sakit. Sementara itu, orang itu telah menyerang Ki Wanda Manyar pula. Namun nampaknya Ki Wanda Manyar telah bersiaga, sehingga ia pun sempat mengelak.

“Orang ini sangat aneh” desis kedua orang itu didalam hatinya.

Namun keduanya tidak dapat tinggal diam. Orang itu sudah menyerang dan sentuhan di pundak Ki Ragapasa telah membuat pundak itu menjadi sakit.

“Tetapi orang itu agaknya tidak ingin berbuat lebih banyak dari sakit itu” berkata Ki Ragapasa kepada diri sendiri, “Jika ia mau, maka aku kira ia dapat lebih banyak berbuat daripada membuat pundak ini sakit”

Namun dalam pada itu, kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan Galih itu tidak sempat berpikir lebih banyak lagi. Orang yang cacat itu telah menyerangnya dengan cepatnya. Meskipun ia agak bongkok tetapi ia dapat bergerak dengan cekatan, seolah-olah ia tidak dalam keadaan cacat.

Tetapi dalam pada itu, terdengar Ajar Pamotan Galih tertawa sambil berkata, “Orang itu hanya dapat meloncat-loncat seperti kera kepanasan. Tetapi karena tingkah lakunya, maka cepat selesaikan saja agar orang itu tidak mengganggu”

Dalam pada itu, kedua orang yang sedang bertempur melawan pengembara itupun melihat, seolah-olah orang itu hanya bergerak tanpa kemampuan menguasai tata gerak sama sekali Namun ternyata ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Ketika Ragapasa menyerangnya, demikian tangannya menyentuh tubuh orang itu, ia mendengar orang itu berdesis, “Kau benar-benar tidak mengenal aku?”

Ki Ragapasa mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia bergeser surut, pengembara itu memburunya dan dengan sisi telapak tangannya ia menghantam lambung.

Ki Ragapasa terkejut. Lambungnya memang merasa sakit. Sementara itu Ki Wanda Manyar pun telah berusaha menyerang orang itu pula dari samping.

Dalam pada itu, orang itupun berdesis pula, “Cobalah mengingat siapakah aku”

Ki Wanda Manyar yang sudah siap untuk memukul tengkuk orang itupun telah tertahan. Tetapi tangannya masih juga menyentuh tengkuk itu meskipun tidak menimbulkan akibat apapun juga.

Orang-orang yang melihat perkelahian itu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Kiai Kanthi yang memiliki pengamatan yang tajam justru menjadi heran. Pertempuran itu sama sekali tidak mencerminkan pertempuran antara orang-orang yang berilmu tinggi.

Apalagi Ki Ajar Pamotan Galih sendiri. Dengan lantang iapun kemudian berkata, “Jangan terpengaruh oleh perasaan belas kasihan. Bunuh saja orang itu. Kau kira bahwa orang itu pada suatu saat tidak akan berbahaya bagi kalian. Ia telah memancing kalian dengan tingkah lakunya yang kegila-gilaan itu. Namun pada suatu saat, perut kalianlah yang akan berlubang karenanya”

Kedua adik seperguruannya itupun kemudian bergeser surut. Tetapi kata-kata orang bertubuh bongkok dan berwajah cacat itu berkesan di hati mereka, sehingga untuk beberapa saat keduanya telah berusaha untuk mengingat, dengan siapa ia berhadapan.

Namun mereka tidak segera dapat mengenali orang itu. Sementara orang itu telah menyerang mereka pula. Sehingga dengan demikian, maka mereka pun harus berusaha untuk menghindar.

Meskipun kemudian terjadi sentuhan-sentuhan, tetapi sama sekali tidak berakibat apapun juga bagi kedua saudara seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu.

“Hentikan permainan gila itu” tiba-tiba Ki Ajar itu berteriak, “Jika kalian terpengaruh oleh sikap orang itu, maka biarlah aku saja membunuhnya.

Pengembara itu meloncat mundur. Lalu Katanya, “Itu lebih baik Ki Ajar. Cobalah, kau sajalah yang membunuh aku. Kedua saudara seperguruanmu ini agaknya terlalu berbelas kasihan kepadaku. Mereka tidak bertempur dengan sungguh-sungguh Mereka hanya menyentuh tubuhku yang cacat ini seperti menyentuh dan membelai untuk kanak-kanak”

“Tutup mulutmu” bentak Ki Ajar Pamotan Galih yang tidak sabar, “Iblis seperti kau ini memang harus dimusnakan”

“Ah. Kau nampak garang sekali Ki Ajar” berkata orang itu, “hampir aku tidak dapat mengenalmu lagi. Dahulu kau tidak segarang sekarang ini. Memang aku tahu, sebelumnya kau adalah iblis yang paling garang di daerah Selatan negeri ini. Tetapi rasa-rasanya kau sudah berubah”

“Setan alas” bentak Ki Ajar, “Jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak kau ketahui”

“Aku tahu” jawab orang ku, “Aku mengenal Ki Ajar dengan baik. Aku mengenal Ki Ajar Cinde Kuning. Aku mengenal Ki Ajar Macan Kuning, yang mulai berubah menjadi lain dari Ajar Cinde Kuning, dan kemudian nama itu berubah lagi menjadi Ki Ajar Pamotan Galih yang menginginkan pusaka yang kau sangka tersembunyi di daerah Sepasang Bukit Mati. Kau ajari cucumu itu untuk menculik Pangeran Sena Wasesa yang ternyata adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang pusaka ku dan lebih-lebih lagi adalah harta benda yang tidak ternilai harganya”

“Cukup, “Ki Ajar Pamotan Galih itu pun melangkah maju. Ia tidak memikirkan lagi siapakah yang berdiri dihadapannya. Namun ia masih berkata kepada kedua saudara seperguruannya, “Jaga orang-orang yang ada di halaman ini, terutama Pangeran Sena Wasesa. Jangan biarkan mereka pergi”

“Apa yang akan kakang lakukan?” bertanya Ragapasa.

“Aku akan membunuh orang ini” jawab Ajar Pamotan Galih.

Pangeran Sena Wasesa termangu-mangu. Ada niatnya untuk mengatakan bahwa ia masih dalam satu keadaan berperang tanding. Belum ada yang dinyatakan kalah atau menang. Namun keadaan yang dihadapinya itu telah mempesonanya, sehingga ia tidak berbuat sesuatu ketika kedua orang itu berhadapan. Ki Ajar Pamotan Galih dengan orang yang cacat dan punggungnya agak bongkok itu.

“Sebelum kau mati, apakah ada yang ingin kau katakan?” geram Ajar Pamotan Galih.

Orang yang cacat itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ada yang ingin aku katakan lagi Sekarang, jika kau ingin berbuat sesuatu, lakukanlah. Aku sudah siap. Biarlah orang-orang yang berada disini menjadi saksi”

Ki Ajar Pamotan Galih tidak sabar lagi. Dengan geramnya ia berdesis, “Aku ingin cepat membunuhmu. Kemudian menyelesaikan persoalanku dengan Pangeran Sena Wasesa”

“Aku tidak ingin mati” tiba-tiba saja pengembara itu menjawab, “Aku ingin tahu, apa yang dapat kau selesaikan dengan Pangeran Sena Wasesa itu”

Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang sambil berteriak nyaring. Suara teriakannya itu bagaikan mengguncang setiap isi dada.

Kiai Kanthi bergeser selangkah kesamping diikuti oleh anak gadisnya. Pertempuran yang kemudian terjadi memang sangat menarik perhatiannya. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka sentuhan pada jantungnya telah menarik perhatiannya untuk memperhatikan pertempuran itu dengan saksama sampai kepada unsur-unsurnya.

Pangeran Sena Wasesa mengikuti perkembangan keadaan itu dengan jantung yang berdebaran. Namun bagaikan orang terbangun dari mimpi ia berpaling ketika Rahu berkata, “Apapun yang terjadi Pangeran. Sebaiknya Pangeran mengobati luka Pangeran”

Pangeran itu ragu-ragu. Ia belum mengenal pengembara itu, Karena itu, Pangeran itu pun tidak yakin bahwa obat itu akan menolongnya.

Tetapi Pangeran itu terkejut ketika pengembara itu sambil menghindari serangan Ki Ajar Pamotan Galih berkata, “Jangan bimbang Pangeran. Darah itu sudah terlalu banyak mengalir dari tubuh Pangeran”

Pangeran Sena Wasesa sendiri tidak mengerti, kenapa kepercayaannya kepada pengembara itu telah tumbuh. Karena itu. maka untuk sesaat ia menepi dan dibantu oleh Rahu dan Jlitheng, Pangeran Sena Wasesa telah mengobati luka-lukanya.

Adalah diluar dugaannya, bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi telah berjongkok disampingnya sambil berdesis, “Aku mohon maaf Pangeran”

Pangeran Sena Wasesa memandangi anak muda itu. Kemudian dengan kerut di dahi ia bertanya, “Kenapa?”

“Akulah yang menyebabkan Pangeran terperosok dalam keadaan yang berlarut-larut ini. Apalagi setelah aku menyadari, bahwa Pangeran tidak sendiri. Maksudku, keluarga Pangeran”

Pangeran Sena Wasesa tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Sekarang kita sudah terjerat ke dalam keadaan seperti ini. Aku ingin melihat apa yang terjadi”

Daruwerdi beringsut surut. Ketika Rahu dan Jlitheng memandangi wajahnya, maka nampak penyesalan yang dalam pada sorot matanya. Namun segalanya memang sudah terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa. Mereka sudah terjerat dalam satu keadaan.

Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih telah menyerang dengan garangnya. Ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Ia tidak lagi menghiraukan apapun juga dan sama sekali tidak lagi mengendalikan diri. Ia benar-benar ingin membunuh orang itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga ia tidak akan merasa terganggu lagi, jika ia ingin berbicara lebih jauh dengan Pangeran Sena Wasesa.

Namun ternyata bahwa Ajar Pamotan Galih tidak dapat melakukannya sebagaimana yang dikehendakinya. Meskipun ia sudah menghentakkan kemampuannya, ternyata bahwa pengembara yang sedikit bongkok itu mampu mengimbangi kekuatannya dan bahkan kecepatannya bergerak.

Dalam pada itu, Kiai Kanthi memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pertempuran itu. Meskipun keduanya bertempur dengan caranya masing-masing, tetapi Kiai Kanthi melihat kadang-kadang keduanya memiliki unsur yang bersamaan. Sikap jari tangan mereka hampir dalam keseluruhan gerak mirip sekali Langkah kaki, terutama dalam keadaan yang tergesa-gesa dan perlindungan terhadap dada yang rapat sekali.

Bukan saja Kiai Kanthi yang menjadi sangat tertarik. Pangeran Sena Wasesa yang memperhatikan pertempuran itu dengan saksama pun telah melihat pula beberapa kesamaan unsur gerak pada keduanya.

Namun dalam pada itu, yang paling banyak memperhatikan persamaan itu adalah kedua adik seperguruan Ajar Pamotan Galih. Bahkan demikian tajamnya mereka memperhatikan persamaan-persamaan itu, sehingga keduanya seakan-akan telah melupakan segala-galanya. Mereka tidak menghiraukan lagi Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa, Rahu, Jlitheng dan anak gadis Kiai Kanthi. Apalagi Daruwerdi dan kedua pamannya.

Dalam pada itu pertempuran itu semakin lama menjadi semakin meningkat. Ki Ajar Pamotan Galih yang tidak segera dapat menyelesaikan lawannya itu pun menggeram. Kemarahannya telah melonjak sampai ke ubun-ubunnya. Pangeran Sena Wasesa, seorang Senapati perang itu dapat dikalahkannya Sementara itu seorang dalam pakaian kusut, bertubuh cacat, telah mampu mengimbangi ilmunya.

Justru karena gejolak perasaannya, maka Ki Ajar Pamotan Galih tidak sempat menghiraukan sikap dan tandang lawannya. Meskipun demikian terasa oleh Ajar Pamotan Galih, bahwa orang cacat itu seolah-olah mampu membaca tatageraknya, sehingga setiap kali orang itu dapat mendahului dan memotongnya.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih yang semakin marah itu semakin kehilangan pengamatan diri. Demikian mendesak keinginannya untuk segera menyelesaikan pertempuran itu, dan justru karena orang cacat itu mampu mengimbanginya, maka tata gerak Ajar Pamotan Galih itu pun semakin lama menjadi semakin keras. Bahkan dalam dorongan kemarahannya, maka tata geraknya menjadi semakin kasar. Diluar sadarnya, muncullah unsur-unsur gerak yang kadang-kadang mendekati kekasaran gerak orang-orang yang berilmu hitam. Jari-jari tangannya yang mengembang rapat mulai berubah. Jari-jarinya kadang-kadang telah mengembang seperti jari-jari seekor harimau. Bahkan dalam ketiadaan sadar, sekali-sekali terdengar Ki Ajar itu menggeram mirip geram seekor harimau yang lapar.

Pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang bertubuh dan berwajah cacat itu ternyata mampu mengimbangi kemampuan Ki Ajar Pamotan Galih. Bahkan ketika Ki Ajar itu benar-benar tidak lagi mampu mengamati ilmunya dan bertempur semakin kasar, maka lawannya sama sekali tidak nampak kebingungan.

Agak berbeda dengan Pangeran Sena Wasesa yang telah terluka. Selain karena kekasaran lawannya, darahnya telah mengalir pula dari lukanya, sehingga perlawanannya menjadi tidak seimbang. Tetapi orang cacat itu justru telah meningkatkan ilmunya setiap kali Ki Ajar Pamotan Galih menjadi semakin garang.

“Marilah Ki Ajar” berkata orang itu, “tuntaskan segala macam ilmumu. Menurut pendengaranku, orang yang disebut Ki Ajar Cinde Kuning adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun nama itu menjadi mulai pudar ketika namamu beralih menjadi Ajar Macan Kuning. Mungkin nama Cinde Kuning kurang memadai bagimu sehingga kau telah memilih nama lain lagi. Ki Ajar Pamotan Galih”

“Diam” geram Ki Ajar Pamotan Galih, “Aku akan menyobek mulutmu yang terlalu banyak berbicara itu”

“Lakukanlah jika kau mampu” jawab orang itu.

Kemarahan Ki Ajar Pamotan Galih menjadi semakin meledak-ledak. Ilmunya menjadi semakin kasar dan semakin bergeser dari sikap dan gerak yang semula banyak mempunyai persamaan dengan lawannya Bahkan akhirnya tata geraknya telah berubah sama sekali. Kekasaran yang belum nampak selagi orang itu bertempur melawan Pangeran Sena Wasesa”

“Begitulah caranya mengerahkan segenap kemampuannya?” Kiai Kanthi di dalam hatinya.

Sementara itu Pangeran Sena Wasesa berdesis, “Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ternyata aku tidak dapat menghormatinya. Semula aku mengira bahwa ilmunya adalah ilmu yang matang. Ternyata ilmunya yang dikagumi itu adalah ilmu hitam” Sedangkan sebuah pertanyaan telah bergejolak di dalam hatinya, “Ternyata yang mengagumkan itu adalah ilmunya sebagai Ki Ajar Cinde Kuning. Jika aku mengerti sejak semula aku sama sekali tidak akan menaruh hormat kepadanya”

Dalam pada itu pertempuran diantara kedua orang itupun semakin sengit pula Betapa keras dan liarnya Ajar Pamotan Galih yang berusaha memenangkan pertempuran itu. Namun ternyata ilmu lawannya pun meningkat terus, seolah-olah tidak terbatas. Kemampuannya benar-benar kemampuan yang tinggi dalam ilmu yang bersih. Orang bertubuh cacat itu sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap lawannya yang memiliki ilmu hitam.

Bahkan kemudian katanya, “Ki Ajar. Aku juga mampu bertempur seperti yang Ki Ajar lakukan. Tetapi itu sudah lama lampau bagiku. Namun agar kau dapat sedikit mengenali aku, maka aku ingin memperlihatkannya. Tetapi tidak untuk menyelesaikan pertempuran ini”

Kata-kata itu sangat menyakitkan hati. Namun sebenarnyalah. Tiba-tiba orang cacat itu telah berubah. Dalam sekejap, ia telah meninggalkan ilmunya yang bersih. Sambil menggeram keras sekali maka ia pun bertempur dengan buasnya, sebuas Ajar Pamotan Galih.

Pertempuran itu menjadi berubah sama sekali. Keduanya menjadi garang dan buas. Masing-masing menggeram dan berteriak dengan kasarnya.

“Permainan yang Gila” desis Kiai Kanthi. Jantungnya menjadi semakin berdebaran. Seolah-olah ia sudah dihadapkan pada satu pertunjukkan yang sangat mengerikan. Rasa-rasanya ia sedang melihat dua ekor binatang buas sedang berlaga memperebutkan mangsanya di hutan yang lebat pepat.

Namun seperti yang dikatakannya, orang bertubuh cacat itu tidak menyelesaikan pertempuran itu dengan cara yang kasar itu. Ternyata agak berbeda dengan Ki Ajar Pamotan Galih yang benar-benar telah kehilangan pengamatan diri, maka lawannya masih menyadari keadaannya sepenuhnya. Beberapa saat kemudian, maka ia pun telah merubah caranya, kembali kepada cara yang semula. Bertempur dengan kemampuan ilmu yang wajar dan bersih.

Tetapi dengan demikian, maka nampaklah, betapa ia yakin akan kemampuannya. Dengan suara lantang maka orang cacat itupun berkata, “Nah, Ki Ajar. Bukankah aku juga dapat bertempur dengan caramu? Dengan demikian kau akan dapat lebih mudah mengenaliku jika kau masih mempunyai ingatan yang jernih”

“Persetan, siapapun kau, maka kau akan aku binasakan” geram Ki Ajar yang menyerang dengan garangnya. Jari-jarinya mengembang siap menerkam lawannya, sebagaimana seekor harimau yang buas.

Sementara itu, kedua orang adik seperguruan Pamotan Galih itupun termangu-mangu. Tetapi keduanya dapat mengenali ilmu lawan Ajar Pamotan Galih itu. Namun keduanya justru menjadi bingung. Salah seorang diantara mereka berbisik, “Apa masih ada orang lain dalam jajaran perguruan ini?”

“Aku belum pernah mendengar” jawab yang lain, “Tetapi hal itu pun mungkin sekali. Kita datang di satu perguruan bukan pada saat kita masih anak-anak. Tetapi kita datang setelah kita dewasa. Mungkin sekali sebelum kita datang, ada orang lain yang pernah meninggalkan perguruan itu”

“Kita memang dihadapkan pada satu teka-teki yang sulit untuk dimengerti” berkata saudara seperguruannya.

Dengan demikian keduanya menjadi bertambah, bingung untuk mengambil sikap. Yang dihadapinya benar-benar satu peristiwa yang sulit untuk dapat diurai dan diarahkan kepada satu kesimpulan.

Sementara itu pertempuran itu pun masih berlangsung terus. Tetapi semakin lama semakin jelas, bahwa orang bertubuh dan berwajah cacat itu semakin menguasai keadaan. Meskipun ia tidak lagi bertempur dengan kasar dan buas, tetapi justru nampak semakin bersih, tetapi penuh dengan kekuatan-kekuatan yang terlontar dari ilmu yang benar-benar telah mapan.

“Aku kira, aku tidak salah lagi” desis adik seperguruan Ajar Pamotan Galih, “Orang ini memiliki dasar ilmu seperti kita. Seperti Ki Ajar Pamotan Galih. Tetapi jauh lebih mapan dan mumpuni. Namun yang membuat kepala kita pening, justru dalam keadaan yang paling gawat. Ajar itu bersikap aneh dan mengecewakan dengan ilmunya yang kasar dan buas.

Sebenarnyalah bahwa halaman padepokan itu telah dicengkam oleh ketegangan yang semakin menyesakkan dada. Setiap orang memperhatikan pertempuran itu dengan pertanyaan yang bergejolak di dalam hati

Orang-orang tua di sekitar arena pertempuran itu telah mengetahui, bahwa keduanya memiliki dasar ilmu yang sama. Namun kemudian Kl Ajar Pamotan Galih nampaknya telah mempergunakan ilmu hitam yang dianggapnya mempunyai kemampuan lebih baik dari dasar ilmunya yang sama dengan lawannya. Sementara lawannya pun telah menunjukkan untuk memancing ingatan Ki Ajar tentang dirinya, ilmu yang juga bersifat kasar dan keras, namun seperti yang dikatakannya, ilmu itu tidak akan dipergunakannya untuk menyelesaikan pertempuran.

Tetapi Ajar Pamotan Galih tidak sempat memperhatikan apapun juga karena gelora di dalam jantungnya. Ia ingin membunuh lawannya secepatnya. Itu sajalah yang membara di dalam dadanya, sehingga karena itu, maka usaha lawannya untuk memancing ingatannya itupun sama sekali tidak mempengaruhi-nya

Namun yang justru menjadi semakin jelas melibat bahwa orang cacat itu mempunyai sumber ilmu dengan mereka adalah kedua saudara seperguruan Ajar Pamotan Galih itu. Karena itu, maka mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan arena.

Sementara itu Ajar Pamotan Galih yang merasa semakin terdesak, tidak lagi dapat menahan gejolak kemarahannya. Tetapi dihadapan orang-orang yang ada di halaman padepokannya, ia tidak dapat menunjukkan kelicikannya. Ia tidak dapat menunjukkan kelicikannya. Ia tidak dapat dengan serta merta meminta kedua orang saudara seperguruannya untuk bertempur bersamanya.

Karena itu, untuk memecah perhatian mereka, maka tiba-tiba saja Ki Ajar Pamotan Galih itu berteriak, “Sekarang sudah sampai saatnya. Bunuh semua orang yang ada di halaman ini. Ternyata orang cacat ini adalah salah seorang dari mereka. Yang harus kalian sisakan untuk tetap hidup adalah Pangeran Sena Wasesa”

Suara Ki Ajar menggelepar di halaman itu. Sebenarnyalah bahwa suara itu kemudian telah menggerakkan beberapa orang yang berada disekitar arena. Para cantrik, Putut dan bahkan orang-orang yang datang bersama kedua adik seperguruan Ajar Pamotan Galih pun diluar sadarnya telah bergeser pula.

Tetapi murid-murid kedua adik seperguruan Ki Ajar itu menjadi ragu-ragu. Kedua orang adik seperguruan Ki Ajar itu sendiri masih berdiri tegak di tempatnya.

Karena kedua adik seperguruannya masih belum berbuat sesuatu, maka Ajar Pamotan Galih itu berteriak semakin keras, “Cepat. Selesaikan mereka. Ragapasa dan Wanda Manyar. He, apa kerjamu. Jangan menunggu lebih lama lagi. Suruh anak-anakmu menyelesaikan setiap orang asing yang ada di padepokan kita ini. Kecuali Pangeran itu”

Ragapasa dan Wanda Manyar masih tetap ragu-ragu. Sementara itu, Rahu, Jlitheng dan bahkan Swasti telah bersiap siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan yang paling pahit sekalipun. Namun Kiai Kanthi nampaknya masih tetap tenang. Agaknya ia melihat keragu-raguan di wajah kedua adik seperguruan Ajar Pamotan Galih dan sekaligus menangkap teka-teki yang belum terpecahkan.

Karena itu Kiai Kanthi sempat memperhitungkan, bahwa kedua orang itu tentu belum akan segera bertindak. Dan tanpa kedua orang itu, maka orang-orang yang lain tidak akan banyak berarti.

Pangeran Sena Wasesa yang lemah itu pun mempunyai pertimbangan yang serupa dengan Kiai Kanthi. Karena itu, maka perhatiannya pun masih tetap pada pertempuran antara Ki Ajar Pamotan Galih dengan lawannya yang cacat itu.

Ternyata bahwa betapapun Ki Ajar Pamotan Galih mengerahkan ilmunya yang keras dan kasar, namun ia justru menjadi semakin terdesak. Ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan lagi. Beberapa kali ia telah terdorong surut. Sentuhan tangan orang cacat itu bagaikan sentuhan bara api di kulitnya. Sementara itu, serangan-serangannya yang garang bagaikan seekor harimau lapar, sama sekali tidak berarti. Kuku-kukunya yang mengembang tidak berhasil menyentuh dan apalagi melukai kulit lawannya.

Ketika sekali lagi ia berteriak, maka teriakan itu justru telah dikejutkan oleh jawaban Ragapasa, “Kakang lihatlah, Siapa yang sedang kau hadapi. Hampir aku menganggapnya ia sebagai guru kita sendiri”

“Gila” geram Ki Ajar Pamotan Galih, “Kau terlalu bodoh untuk memperhitungkan umur seseorang. Berapa umurmu dan berapa umurku sekarang he?”

Ragapasa menarik napas panjang. Tentu orang itu bukan gurunya. Tetapi yang dilihatnya itu benar-benar mirip. Sikapnya, ciri-ciri ilmunya dan lontaran-lontaran tenaga dari dalam dirinya.

“Wajah itu memang bukan wajah guru. Umurnya pun tentu bukan umur guru yang tentu sudah sangat tua seandainya ia masih hidup” desis Ragapasa.

“Guru memang sudah tidak ada lagi” sahut Wanda Manyar diluar sadarnya.

Dalam pada itu, terdengar orang cacat itu berkata, “Jangan terkecoh oleh penglihatanmu. Aku bukan gurumu. Tetapi kau tentu mengenal orang lain yang memahami ilmu seperti ini, seperti ilmumu sendiri. Orang itu adalah orang yang pernah mempelajari ilmu yang kasar dan keras seperti Ajar Pamotan Galih dan seperti kalian juga. Tetapi yang kemudian menyadari arti dari hidup ini. He, dari siapa kalian mendengar kabar kegembiraan dalam hubungan dengan Yang Maha Pencipta?”

“O” Ragapasa meraba keningnya. Sementara Wanda Manyar berdesis, “Teka-teki ini semakin rumit”

Namun akhirnya Ragapasa menjawab, “Dari guru”

“Benarkah begitu? Guru memang seorang yang sangat baik. Tetapi ia tidak sempat berbuat terlalu banyak dalam persoalan jiwani karena perhatiannya tertumpah pada penuangan jasmani. Tetapi bukan berarti guru tidak memperhatikannya. Guru telah mempercayakannya kepada seseorang” jawab orang cacat itu, “seseorang yang juga pernah mengalami hidup dalam dunia yang kelam”

Kedua orang saudara seperguruan itu saling memandang. Diluar sadarnya Ki Wanda Manyar menyahut, “Ki Ajar Pamotan Galih”

Orang cacat itu sempat tertawa. Nampaknya Ki Ajar Pamotan Galih benar-benar tidak berdaya menghadapinya. Orang cacat itu sambil bertempur masih sempat juga berbicara panjang, “Jika kalian menganggap bahwa yang telah memberikan tuntunan jiwani kepada kalian adalah Ki Ajar Pamotan Galih, maka bertanyalah kepadanya, apa benar ia pernah melakukannya”

“Gila” potong Ki Ajar Pamotan Galih, “Jangan mengigau seperti orang kesurupan. Bersiaplah untuk mati”

“Sejak semula kau selalu mengancam. Tetapi kau tidak dapat berbuat apa-apa” jawab orang cacat itu, “Aku pun yakin, bahwa Ki Ragapasa dan Ki Wanda Manyar tidak akan menjalankan perintahmu. Orang-orang yang datang ke padepokan ini dengan maksud baik, nampaknya telah kau jebak dengan rencanamu yang sangat keji”

“Tutup mulutmu” teriak Ki Ajar sambil menyerang dengan kasarnya.

Tetapi serangannya sama sekali tidak mengenai lawannya. Bahkan ketika kukunya yang mengembang terayun setapak di sisi orang cacat itu, maka orang cacat itu sempat merendah sambil mengayunkan kakinya. Ki Ajar Pamotan Galih tidak sempat mengelak. Ketika kaki itu menyentuh lambungnya, ia tergetar surut. Namun dengan garangnya pula ia meloncat menyerang lawannya. Kedua tangannya terbuka dengan jari-jari yang mengembang menerkam dengan buasnya.

Sekali lagi Ki Ajar Pamotan Galih terlempar surut. Justru serangan lawannyalah yang mengenai dadanya,

Meskipun demikian, Ki Ajar Pamotan Galih seolah-olah tidak merasakan betapa serangan-serangan lawannya itu dapat meremukkan tulang-tulangnya. Sambil menyeringai menahan sakit, Ki Ajar Pamotan Galih meloncat maju dengan terkaman seekor harimau lapar.

Berulang kali, Ki Ajar Pamotan Galih telah dikenai oleh serangan lawannya. Tetapi sentuhan tangan lawannya yang cacat itu sama sekali tidak menghentikan perlawanannya. Bahkan seolah-olah ia telah menemukan satu kekuatan baru, sehingga serangan-serangan lawannya dapat diabaikannya.

Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa dan kedua saudara seperguruan Ajar Pamotan Galih itu melihat, sebenarnyalah bahwa orang cacat itu memang tidak ingin langsung mengenai tempat-tempat yang berbahaya. Meskipun serangan-serangannya hampir seluruhnya berhasil, tetapi ia tidak dengan sengaja menumbangkan lawannya dalam keadaan parah.

Hal itu telah menimbulkan teka-teki pula. Teka-teki yang semakin lama menjadi semakin rumit.

Namun akhirnya orang-orang yang berdiri di arena itu mengerti, bahwa orang cacat itu memang menunggu Ki Ajar Pamotan Galih kehabisan tenaganya. Dibiarkannya ia menyerang, dan dikenainya tubuhnya dengan serangan-serangan yang tidak berbahaya.

Sebenarnyalah, bahwa beberapa saat kemudian, tenaga Ki Ajar Pamotan Galih pun menjadi semakin susut. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri meskipun tidak menumbuhkan keadaan yang parah. Tidak sehelai pun rambutnya yang rontok dan tidak sepotong pun tulangnya yang retak. Namun Ki Ajar Pamotan Galih itu rasa-rasanya sudah kehilangan segenap tenaganya.

Karena itu, dalam keliarannya yang kasar, serangan serangannya tidak lagi mengarah ke sasaran. Bahkan kadang-kadang ia telah terseret oleh lontaran sisa tenaganya sendiri dan terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan.

“Aneh, aneh” Ki Ragapasa tidak percaya kepada penglihatan-nya, “bagaimana mungkin kakang Ajar Pamotan Galih, mengalami hal seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki ilmu yang mumpuni telah kehilangan pengamatan diri”

“Mungkin kitalah yang memang sudah menjadi Gila” desis Ki Wanda Manyar, “Mungkin kita bersama-sama sedang bermimpi terlalu buruk”

Namun dalam pada itu, mereka melihat Ki Ajar Pamotan Galih terhuyung-huyung beberapa langkah kedepan justru karena serangannya yang tidak mengenai lawannya.

Dalam itu, nampaknya orang cacat itu sudah jemu dengan permainannya. Karena itu, maka ia pun maju selangkah. Tangan kanannya menggapai pundak Ki Ajar Pamotan Galih yang lemah dan tidak mampu lagi untuk melawan kehendak lawannya yang cacat itu.

Sentuhan pada pundak Ki Ajar Pamotan Galih itu benar-benar telah menghentikan perlawanannya. Sebenarnya Ki Ajar Pamotan Galih akan mampu mengurai tekanan lawannya yang seolah-olah telah melumpuhkan sebagian dari tubuhnya. Namun kelelahan dan kemarahan yang menghentak di jantungnya, telah membuatnya kehilangan kemampuan untuk bertahan, sehingga akhirnya Ki Ajar Pamotan Galih itu telah jatuh pingsan.

Beberapa orang murid padepokan itu termangu-mangu. Tetapi mereka masih melihat Ki Ragapasa dan Ki Wanda Manyar tidak berbuat apa-apa. Karena itu, maka mereka pun menjadi ragu-ragu.

Dalam pada itu, demikian Ki Ajar Pamotan Galih menjadi pingsan, kedua adik seperguruannya itu pun mendekatinya. Namun dalam pada itu, orang yang cacat itu berkata, “Ragapasa dan Wanda Manyar. Apakah kau mengenal, ciri jasmani apakah yang terdapat pada saudara tua seperguruanmu itu?”

Kedua orang adik seperguruan Ki Ajar itu termangu-mangu. Namun akhirnya Ki Wanda Manyar bertanya, “ Ciri yang bagaimana yang kau maksud Ki sanak?”

“Ciri untuk mengenalinya”

“Pertanyaanmu aneh. Aku mengenainya sebagaimana aku mengenal diriku sendiri. Kami berdua adalah adik seperguruannya. Kami mengenal wajahnya dengan pasti” jawab Ki Wanda Manyar.

“Kau mengenal wajahnya dengan pasti. Tetapi apakah kau mengenal sifat dan wataknya dengan pasti?” bertanya orang cacat itu.

Kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu termangu-mangu. Sejenak keduanya memandangi Ki Ajar yang terbaring diam.

“Kau tentu mengetahui, bahwa pada Ki Ajar Cinde Kuning terdapat bekas luka yang panjang melintang di bagian bawah punggungnya” berkata orang cacat itu pula.

Kedua adik seperguruannya itu pun menjadi termangu-mangu. Dengan ragu-ragu Ragapasa berkata, “Memang ada cacat di bawah punggung Ki Ajar Cinde Kuning. Kami mengetahuinya karena kakang Cinde Kuning pernah memperlihatkannya kepada kami”

“Apakah bedanya Cinde Kuning dan Pamotan Galih” desis Ki Wanda Manyar.

“Jika cacat itu ada pada Ki Ajar Pamotan Galih, maka memang tidak ada persoalan lagi dengan Ajar itu, meskipun sifat-sifatnya agak berbeda dengan sifat-sifat Ki Ajar Cinde Kuning” berkata orang cacat itu kemudian.

“Tetapi perkembangan itu sudah nampak sejak ia menyebut dirinya Ki Ajar Macan Kuning” sahut Ki Ragapasa

“Seandainya terjadi perkembangan jiwani sehingga Ki Ajar Cinde Kuning itu kembali kepada cara hidupnya yang pernah ditinggalkan, namun aku kira cacat itu tidak akan hilang dari bagian bawah punggungnya” berkata orang-cacat itu.

“Ya. Tentu demikian” jawab Ki Wanda Manyar.

“Tolong Ki Wanda Manyar” berkata orang cacat itu, “lihatlah. Apakah pada bagian bawah punggung Ki Ajar Pamotan Galih itu terdapat cacat yang dimaksud”

Ki Wanda Manyar termangu-mangu. Ia menjadi bingung. Sekilas di pandanginya Ki Ragapasa yang juga menjadi keheranan.

Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa, Kiai Kanthi, Rahu, Jlitheng dan Swasti pun menjadi bingung melihat keadaan itu. Bahkan Daruwerdi telah bergeser maju sambil berkata, “Aku tidak mengerti. Orang ini adalah kakek dan guruku, Apakah maksud Ki Sanak yang sebenarnya?”

“Ya ngger. Orang itu adalah kakek dan gurumu. Tetapi pada kakek dan sekaligus gurumu itu terdapat sebuah cacat. Nah, aku ingin melihat, apakah cacat itu ada” jawab orang cacat itu.

Daruwerdi benar-benar menjadi bingung. Tetapi ia tidak ingin terlalu lama mengalami kebingungan. Karena itu, maka iapun segera mendekati Ki Ajar Pamotan Galih yang pingsan.

Perlahan-lahan Daruwerdi menelungkupkan tubuh Ki Ajar Pamotan Galih dibantu oleh Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa. Setelah ikat pinggangnya dikendorkan, maka mereka pun mencoba melihat bagian bawah punggung Ki Ajar Pamotan Galih.

Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa itu pun terkejut Ia tidak melihat cacat bekas luka itu. Sementara itu Daruwerdi pun bertanya, “Apakah kau tahu pasti Ki Sanak?”

“Anak muda. Bukankah kau juga mengetahui bahwa di punggung kakekmu itu terdapat sebuah cacat luka yang melintang. Bukankah kakekmu pernah berceritera tentang sebab dari luka itu. Dalam satu pertempuran yang sengit, lawannya telah menusuk lambungnya. Ia sempat bergeser, tetapi senjata lawannya telah tergores di punggungnya bagian bawah. Namun pada saat itu, kakekmu berhasil menghabisi perlawanannya, sehingga ia masih sempat mengobati lukanya dengan susah payah, meskipun senjata lawannya beracun. Tetapi pengobatan itu tidak sempurna, sehingga bekas luka itu menjadi cacat yang memanjang dan tumbuh sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya cacat itu bagaikan seekor ulat yang panjang melekat pada bagian bawah punggung kakekmu. Kau ingat?” bertanya orang cacat itu.

Daruwerdi memandang orang cacat itu sekilas. Ia melihat cacat di kening dan pada bagian mulutnya, sehingga wajahnya nampak tidak wajar lagi.

“Kenapa kau mengetahui segala-galanya?” bertanya Daruwerdi.

Orang itu tersenyum. Tetapi senyumnya justru nampak wajahnya menjadi semakin buruk oleh cacatnya.

Tetapi katanya, “Nah, sekarang kau melihat, bahwa tidak ada cacat di bagian bawah punggung kakekmu itu”

Daruwerdi termangu-mangu. Memang tidak mungkin cacat itu dapat hilang dengan sendirinya tanpa bekas. Karena itu, maka untuk sejenak ia hanya dapat memandang kedua seperguruan Ki Ajar itu sambil termangu-mangu.

“Kami juga tidak mengerti” berkata Ki Wanda Manyar, “teka-teki itu menjadi semakin rumit. Semua orang di halaman ini tentu ikut merasakan, betapa kita dihadapkan pada ketidak pastian, kebingungan dan perasaan yang sangat risau”

Orang cacat itupun kemudian berkata, “Aku akan membantu kalian untuk memecahkan teka-teki ini. Tetapi baiklah, bawalah tubuh Ki Ajar Pamotan Galih itu ke dalam biliknya. Ia baru akan sadar beberapa saat kemudian”

Demikianlah, maka beberapa orang cantrik pun telah membawa tubuh Ki Ajar yang pingsan itu ke dalam biliknya. Empat orang cantrik yang mengusung tubuh itu merasa heran, bahwa Ki Ajar Pamotan Galih yang mereka anggap tidak mungkin dapat dikalahkan oleh siapapun itu telah terbujur pingsan hanya oleh seorang yang cacat di wajahnya dan justru agak bongkok.

Dalam pada itu, ketika padepokan itu diselubungi oleh malam yang gelap. Di pendapa beberapa orang duduk mengitari orang yang cacat itu. Semua pihak nampaknya tidak lagi sempat saling bermusuhan. Mereka sedang sibuk menghadapi teka-teki yang ingin segera dipecahkan.

Ternyata dari seorang cantrik, orang cacat itu mendengar bahwa ibu Daruwerdi telah disisihkan. Akhirnya setelah cantrik itu mendapat tekanan dari Daruwerdi, maka ia pun telah mengambil ibu Daruwerdi itu bersama kedua orang paman Daruwerdi.

Sejenak kemudian, maka ibu Daruwerdi itu pun telah berada di pendapa itu pula. Ia tidak dapat menahan titik air matanya ketika, ia melihat anaknya yang telah kembali dengan selamat. Namun ia tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali ketika ia mengetahui bahwa Pangeran Sena Wasesa ada diantara orang-orang yang duduk di pendapa itu. Namun demikian perasaan gelisah mencengkam jantungnya, sehingga ia tidak sempat mengetahui arahnya, dimana Pangeran Sena Wasesa itu duduk.

“Tetapi aku sudah menjadi semakin tua” berkata ibu Daruwerdi itu di dalam hatinya, “Tidak seorang pun yang tidak mengalami perubahan pada dirinya menjelang umur setua aku ini”

Beberapa orang yang berada di pendapa itupun melihat hadirnya, seorang perempuan yang berwajah pucat. Rambutnya mulai ditumbuhi oleh warna putih. Meskipun itu masih belum terlalu tua, tetapi ada kesan kepahitan yang nampak di wajah itu, sehingga memberikan kesan yang muram.

Dalam pada itu, arang-orang yang berada di pendapa itu rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu. Teka-teki itu harus segera dipecahkan.

“Wanda Manyar” berkata orang cacat itu kemudian kau adalah saksi yang utama bersama Ragapasa. Bahwa orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih itu tidak mempunyai ciri-ciri yang terdapat pada Ki Ajar Cinde Kuning”

“Tetapi hal itu sangat membingungkan kami” jawab Wanda Manyar, “Aku tidak dapat salah lagi. Orang itu ada lah kakang Cinde Kuning. Meskipun kami bertemu setelah kami sama-sama dewasa, tetapi kami telah tinggal di satu perguruan untuk waktu yang lama. Apalagi kami nampaknya mempunyai sejarah kehidupan yang serupa. Kami sama-sama pernah hidup di dalam lingkungan orang-orang hitam. Sebagaimana nampak dalam tata gerak kakang Ajar Pamotan Galih.

“Tetapi menurut pendapatmu, yang manakah yang akan nampak lebih jelas di dalam kehidupannya setelah ia berada satu perguruan dengan kalian. Yang didapatkannya di perguruannya itu atau bekas-bekas ilmu hitamnya?” bertanya orang cacat itu.

“Itulah yang aneh” desis Ragapasa, “seharusnya ilmu dari perguruan kami itulah yang lebih baik dan lebih tinggi baginya. Meskipun demikian perubahan-perubahan yang terjadi sejak ia menyebut dirinya Ajar Macan Kuning memang sudah agak menggelisahkan kami. meskipun pada saat itu kami sudah berpisah, karena kami berada di padepokan kami masing-masing kami bangun setelah kami merasa dewasa dalam perguruan itu, sementara umur kami sudah menjadi semakin tua pula”

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu tentang ciri-ciri yang hilang itu?” bertanya orang cacat itu pula

Kedua adik seperguruan Ki Ajar itu menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya mereka berpaling kepada Daruwerdi.

“Aneh” hanya itulah yang terdengar diucapkan oleh anak muda yang tidak kalah bingungnya itu.

Dalam pada itu, orang cacat itupun kemudian berkata, “Pangeran. Aku mohon maaf, bahwa telah terjadi sesuatu yang tentu tidak menyenangkan bagi Pangeran. Syukurlah bahwa sebelumnya Pangeran memang belum mengenal orang yang bernama Cinde Kuning”

“Ki Sanak” sahut Pangeran Sena Wasesa, “meskipun aku belum mengenal orang yang bernama Ki Ajar Cinde Kuning, tetapi aku sudah pernah mendengar namanya. Namun yang ternyata kemudian adalah jauh berbeda dengan citra Ki Ajar Cinde Kuning menurut pendengaranku setelah aku berhadapan sendiri dengan orangnya”

“Apakah Pangeran benar-benar sudah berhadapan dengan orang yang bernama Ajar Cinde Kuning? Bukankah Pangeran melihat keraguan kedua saudara seperguruannya itu?” bertanya orang cacat itu.

Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang itupun berkata kepada Kiai Kanthi, “Bagaimana menurut pendapat Kiai?”

Kiai Kanthi menggelengkan kepalanya. Katanya, “Semuanya terlalu gelap bagiku. Yang pernah aku dengar adalah hanya namanya. Tetapi yang terjadi di padepokan ini benar-benar satu teka-teki yang membuat semuanya semakin gelap”

Orang cacat itupun kemudian mengangguk-angguk. Dipandanginya ibu Daruwerdi yang duduk sambil menunduk dalam-dalam. Dengan nada yang lembut orang cacat itu berkata kepadanya, “Dengarlah ngger. Bukankah kau anak angkat orang yang menyebut dirinya Pamotan Galih? Kau adalah anak angkat yang telah menjadi anak sebagaimana anak kandung sendiri. Apakah kau masih tetap mengenal Ki Ajar itu sebagai ayah angkatmu? Saudara-saudara seperguruannya telah menjadi saksi, bahwa ciri yang terdapat pada Ki Ajar Cinde Kuning tidak terdapat pada Ajar Pamotan Galih”

Ibu Daruwerdi itu, mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang cacat itu sejenak. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada pendengarannya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Siapakah kau Kiai?”

“Siapakah menurut dugaanmu ngger?” Orang itu justru bertanya.

Ternyata bahwa kelembutan hati seorang perempuan telah mengungkap satu perasaan yang terselubung. Ibu Daruwerdi itu pada saat-saat terakhir seolah-olah tidak mengenal lagi ayah angkatnya Kemudian orang itu mengetahui, bahwa ciri-ciri yang terdapat pada Ajar Cinde Kuning tidak terdapat pada orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih.

Namun dalam pada itu, suara orang cacat itu benar-benar telah menyentuh perasaannya. Ia merasa pernah mendengar suara itu. Bahkan ia selalu mendengar nada yang lembut itu. Yang kemudian seolah-olah berubah pada saat-saat terakhir.

Diluar kehendaknya, maka itu Daruwerdi itu telah memandang orang cacat Itu dari wajahnya sampai ke ujung kakinya yang terlipat. Kemudian tiba-tiba saja ia berkata, “Kiai, adik-adik seperguruan Ki Ajar Cinde Kuning. Tolonglah, apakah kalian bersedia melihat, apakah ciri-ciri yang tidak terdapat pada Ki Ajar Pamotan Galih itu justru terdapat pada orang itu”

Kata-kata yang diucapkan dengan serta merta itu justru telah mengejutkan orang-orang yang berada di pendapa padepokan itu. Bahkan Daruwerdi pun telah beringsut mendekati ibunya sambil bertanya, “Apakah yang ibu maksudkan?”

“O” ibunya memandanginya sejenak. Namun kemudian katanya Lihatlah. Apakah ada cacat dibawah punggung orang itu”

Daruwerdi menjadi heran. Dipandanginya ibunya dan orang cacat itu berganti-ganti. Namun kemudian orang cacat itu pun berkata, “Lakukanlah ngger. Kau boleh melihat, apakah ada cacat itu di bawah punggungku”

Suasana di pendapa itu menjadi tegang. Daruwerdi justru menjadi termangu-mangu bahkan kebingungan.

Namun ketika ia melihat wajah orang cacat yang seakan akan memaksanya itu, maka ia pun segera bergeser mendekatinya. Bahkan kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu pun telah mendekat pula.

Dalam pada itu, orang cacat itu telah mengendorkan ikat pinggangnya. Kemudian membiarkan ketiga orang itu melihat kearah punggungnya.

Wajah mereka menjadi tegang. Mereka melihat cacat itu melintang di bagian bawah punggung orang cacat itu. Karena itu, maka seperti orang yang kehilangan akal Daruwerdi berkata, “Tidak mungkin. Tidak mungkin”

Ki Wanda Manyar menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Memang teka-teki yang sangat rumit. Baiklah. Hanya kau sajalah Ki Sanak yang dapat memecahkan teka-teki ini. Katakanlah Jangan menunggu kita semua menjadi gila”

Orang cacat itu membetulkan ikat pinggangnya. Kemudian Katanya, “Duduklah yang baik. Jika kalian percaya, aku akan berceritera”

Suasana di pendapa itupun kemudian menjadi hening. Mereka menunggu orang cacat itu memecahkan teka-teki yang membingungkan itu,

“Hanya seorang saja yang penggraitanya cukup tajam disini” berkata orang cacat itu, “justru seorang perempuan”

Tidak seorang pun yang menyahut. Mereka seolah-olah tidak sabar lagi menunggu.

“Pangeran serta Ki Sanak yang lain” berkata orang cacat itu, “ceriteraku barangkali tidak menyangkut kalian secara langsung. Namun akibatnya terasa juga oleh Ki Sanak semuanya yang terpaksa datang ke padepokan ini. Bahkan hampir saja terjadi kesulitan pada kalian”

Tidak ada juga yang menyahut Mereka tidak ingin memperpanjang waktu lagi.

“Ki Sanak. Sebenarnyalah telah terjadi sesuatu yang memalukan di dalam lingkungan keluargaku. Keluarga Ki Ajar Cinde Kuning” berkata orang cacat itu, “teka-teki ini di mulai sejak Ki Ajar Cinde Kuning yang sebenarnya tiba-tiba saja telah berganti orang”

“Apa yang Ki Sanak maksudkan?” bertanya Ragapasa.

“Sebagaimana kau lihat, orang yang mengaku Ajar Pamotan Galih, yang sebelumnya pernah memakai nama Ajar Macan Kuning itu, sama sekali bukan orang yang sebenarnya dari Ajar Cinde Kuning, Kalian telah melihat, bahwa cacat itu tidak terdapat di tubuhnya” Orang itu, berhenti sejenak.

Sementara itu Ki Wanda Manyar pun bertanya, “Tetapi bagaimana mungkin cacat itu terdapat di tubuhmu, sementara wajah Ki Ajar Cinde Kuning telah dimiliki oleh orang yang menyebut Ki Ajar Pamotan Galih itu?”

“Wajah pada orang itu adalah wajahnya sendiri. Bagaimana mungkin wajah seseorang dapat berpindah. Ia memang memiliki wajah yang mirip sekali dengan wajah Ki Ajar Cinde Kuning” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Ia adalah saudara kembarnya”

“Saudara kembar” hampir setiap orang yang mendengarnya telah mengulangnya”

Orang bertubuh cacat itu mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Ia adalah saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning”

“Jika demikian, dimanakah Ajar Cinde Kuning yang sebenarnya” bertanya Ki Ragapasa, “Apakah maksud Ki Sanak menunjukkan luka dibawah punggung itu berarti bahwa Ki Sanaklah yang sebenarnya Ki Ajar Cinde Kuning”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada dalam, “Maksudku memang demikian”

“Tetapi bagaimana mungkin kami dapat mempercayaimu” desis Ki Wanda Manyar.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah kalian tidak dapat mengenali ilmuku?”

Kedua adik seperguruan Ki Ajar itupun saling berpandangan. Mereka memang mengenal ilmu orang cacat itu. Bahkan mereka memandangnya sikap dan laku orang itu sebagaimana mereka melihat guru mereka. Karena itu, maka terasa jantung mereka pun bagai bergolak.

Dalam pada itu, ibu Daruwerdi dengan nada rendah berkata, “Aku dapat mengenalinya dari sikap dan suaranya. Orang itu sebenarnyalah adalah bapak Ajar Cinde Kuning”

“Tetapi itu tidak mungkin” sahut Ki Wanda Manyar.

“Ada sebuah ceritera yang panjang” berkata orang cacat itu. Lalu, “Sekali lagi aku mohon maaf kepada mereka yang datang ke padepokan ini bersama Pangeran Sena Wasesa. Ceritera ini terutama, tertuju kepada isi padepokan ini”

“Silahkan Ki Sanak” sahut Pangeran Sena Wasesa, “nampaknya ceritera itu akan sangat menarik”

“Baiklah” berkata orang cacat itu, “Orang yang kemudian menyebut Ajar Macan Kuning adalah saudara kembarku”

“Aku belum pernah mendengar ceritera tentang saudara kembar itu sejak aku menjadi saudara seperguruan Ki Ajar Cinde Kuning” berkata Ki Ragapasa,

“Ia meninggalkan perguruan ketika ilmunya mulai mapan” berkata orang cacat itu, “Seterusnya aku tidak tahu lagi kabar beritanya. Ketika Wanda Manyar dan Ragapasa datang ke padepokan itu, justru setelah kalian gagal merampok orang yang kemudian kau sebut kakak seperguruanmu itu, saudara kembarku telah tidak ada di padepokan. Sebagaimana aku mengaku, bahwa aku berdua pernah juga terlibat dalam dunia gelap. Tetapi kami berdua telah bertobat dan berguru kepada seseorang, yang kemudian menjadi guru kalian pula. Tetapi agaknya penyakit adik kembarku itu kambuh, sehingga ia telah meninggalkan aku, karena aku menentang kehendaknya”

“Tetapi yang aku jumpai di padepokan itu adalah Ki Ajar Pamotan Galih itu. Bukan Ki Sanak dalam ujud, maaf, dalam ujud yang cacat itu” berkata Ki Wanda Manyar.

“Ceriteraku belum selesai” potong orang yang cacat itu.

“Silahkan ayah” minta ibu Daruwerdi.

“Sepeninggal saudara kembarku, maka aku berada di perguruan itu sendiri. Baru kemudian kalian datang” berkata orang cacat itu kepada kedua orang itu.

Kedua saudara seperguruan Ki Ajar itu termangu-mangu. Sementara orang cacat itu berceritera terus, “Kita berkumpul untuk beberapa lama di padepokan itu. Kita berusaha untuk menyingkir dari dunia kelam yang sudah sama-sama kita lewati. Nampaknya dengan pasti kita berhasil meninggalkannya. Aku yang melangkah lebih dahulu mendapat kepercayaan dari guru untuk membawa kalian ke jalan yang lebih baik. Dan kalian pun menanggapinya dengan ikhlas” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Sampai saatnya kita berpisah. Kita yang telah mendapat bekal yang cukup itupun berusaha mengembangkan bekal itu sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Sementara itu, kita telah membuka padepokan buat hari-hari mendatang dalam kehidupan yang tenang”

Orang-orang yang mendengarkan menjadi tegang. Yang diceriterakan masih belum menyentuh hubungan antara kedua saudara kembar itu. Namun tidak seorang pun yang memotong-nya. Mereka membiarkan orang cacat itu berceritera terus.

“Nah, pada saat yang demikian itulah saudara kembarku itu agaknya hadir disekitar kehidupanku dengan diam-diam. Ia berusaha mengetahui seluk beluk kehidupanku. Mungkin ada satu dua orangnya yang berhasil memasuki padepokanku sebagai seorang cantrik atau seorang yang membantu kerja kami sehingga saudara seperguruanku itu mengetahui banyak hal tentang kehidupanku.

Bahkan ia mengetahui saudara-saudara seperguruanku. Mengetahui bahwa kalian berdua mempunyai ikatan dengan aku dalam hubungan kita sebagai saudara seperguruan. Ia mengetahui bahwa aku telah mengangkat seorang anak perempuan dan seorang cucu yang tumbuh semakin besar. Akhirnya hari-hari yang direncanakan itu datang. Dengan diam-diam pula ia menyingkirkan aku dengan cara yang licik. Dengan cara yang tidak aku duga-duga sebelumnya. Ketika ia datang menemui aku dengan tangisnya, aku merasa iba, ia adalah adikku. Namun diluar dugaan ia telah menyerangku. Dan aku pun lelah dilemparkannya ke dalam jurang yang sangat dalam, sebelum aku menyadari apa yang terjadi, tanpa diketahui oleh siapapun” Orang cacat itu terhenti sejenak. Sambil menahan ludahnya ia berkata, “Nah, kalian dapat melanjutkan ceritera itu sendiri. Aku menjadi cacat. Tetapi Yang Maha Kuasa ternyata masih memberi kesempatan kepadaku untuk hidup. Bahkan dalam dunia yang sepi aku sempat memperdalam ilmuku ketika aku kemudian sembuh. Adalah kebetulan bahwa aku membawa sedikit obat pada saat itu. Kemudian dengan pengetahuan yang sedikit, aku berhasil mengobati diriku sendiri. Semula aku biarkan ia kemudian hadir sebagai aku didalam padepokanku. Dengan cermat ia dapat menempatkan dirinya sebagaimana aku sebelumnya. Ketika aku kemudian berhasil mengamatinya, ternyata ia lebih banyak berusaha untuk bersembunyi di dalam sanggar sambil menyesuaikan diri lebih jauh dengan bekal pengenalannya tentang diriku. Namun bagaimanapun juga, perubahan-perubahan yang terjadi tidak dapat disembunyikan-nya lagi. Tetapi dengan licik ia menyebut dirinya dengan nama baru. Ajar Macan Kuning, ia tinggalkan sebutan Ajar Cinde Kuning”

“Jadi sejak itu, kakek sudah berganti orang?” bertanya Daruwerdi.

Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ya. Kakekmu sudah berganti orang. Dan agaknya sifat-sifat yang berbeda itulah yang membuat orang melihat perbedaan antara Macan Kuning dan Cinde Kuning. Tetapi orang tidak menduga bahwa orangnyalah yang berganti, tetapi sifat-sifat Cinde Kuning telah berganti. Sementara itu, diri yang kami pergunakan sejak kami masih berkumpul masih tetap aku pakai dan kemudian dipakai oleh saudara kembarku, meskipun sifat-sifatnya telah berubah. Lingkaran dengan garis yang memotong ditengah-tengah”

“Alangkah bodohnya kami” desis Daruwerdi kemudian.

“Semula aku tidak berkeberatan bahwa saudara kembarku itu akan menggantikan kedudukanku. Tetapi semakin lama aku melihat, bahwa ia tidak lagi dapat di biarkan. Ia telah membawa cucuku berkelana dan diperkenalkan dengan cara yang khusus dengan orang-orang yang hidup dalam lingkungan yang buram. Segalanya disesuaikan dengan rencana yang perlahan-lahan tetapi dengan masak direncanakan. Bukit Gundul di daerah Sepasang Bukit Mati, Ia berhasil mendengar rahasia sebuah pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya tersembunyi di sekitar daerah Sepasang Bukit Mati. Dan ia mendengar rahasia bahwa orang yang paling mengetahui rahasia itu adalah Pangeran Sena Wasesa. Setelah ia gagal mencari sendiri di bukit gundul, maka ia telah membentuk cucuku menjadi seorang yang mapan untuk tugas yang khusus di sepasang bukit mati itu. Aku dapat melihat sebagian besar dari segala peristiwa yang terjadi di bukit gundul itu. Dan selebihnya kalian sudah mengetahuinya”

Orang-orang yang mendengarkan ceritera itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu terdengar ibu Daruwerdi terisak dan tidak dapat menahan air matanya, yang mulai menitik Dengan suara sendat ia berkata, “Itulah sebabnya, aku hampir tidak dapat mengenali sifat-sifat ayah pada orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pamotan Galih itu. Meskipun ia berbuat baik terhadap aku dan anakku, tetapi kadang-kadang aku melihat kekasaran yang tertahan-tahan”

“Sudahlah ngger” berkata orang cacat itu, “semuanya sudah berlalu. Jika kalian percaya, aku adalah Cinde Kuning”

Wanda Manyar dan Ragapasa mengangguk-angguk kecil. Namun mereka mulai mempercayai, siapa yang duduk dihadapannya itu. Perlahan-lahan mereka menjadi semakin jelas. Kata-katanya. Suaranya dan sikapnya”

“Yang aku ceriterakan adalah ceritera tentang diriku sendiri” berkata orang cacat yang ternyata adalah Ki Ajar Cinde Kuning. Lalu, “Disamping ceritera itu, aku masih mempunyai sebuah ceritera lain yang berhubungan dengan cucuku. Baiklah sementara aku sebut saja ia dengan Daruwerdi. Nama yang diberikan oleh Pamotan Galih kepadanya dalam tugas-tugasnya di Bukit Gundul. Tetapi ia masih mempunyai beberapa nama yang lain”

“Tidak. Tidak ayah” potong ibu Daruwerdi, “Tidak ada ceritera yang lain”

Orang cacat itu menggeleng. Katanya, “Apa salahnya ngger. Meskipun bukan aku yang berniat membawanya kemari”

Tetapi perempuan itu menjawab, “Ceritera itu sudah tamat. Tidak ada gunanya lagi diungkit Lebih baik ayah menjelaskan tentang diri ayah dan apa yang sebaiknya ayah lakukan”

Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam.

Namun dalam pada itu, sebelum ia berbuat sesuatu, seorang murid Ki Ragapasa yang mengawasi orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih yang masih sangat lemah di sebuah bilik tertutup telah berlari-lari naik ke pendapa.

“Ada apa?” bertanya Ki Ragapasa.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya gagap, “Ki Ajar Pamotan Galih telah melarikan diri”

“He” Orang cacat itu terkejut, “Ia berhasil mengatasi keadaannya. Memang luar biasa. Tetapi apakah tidak seorang pun yang dapat mencegahnya?”

“Kami berdua mencoba mencegahnya. Tetapi tidak berhasil. Kawanku yang seorang kini pingsan” berkata murid Ki Ragapasa itu.

Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Memang luar biasa. Ia mempunyai ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Menurut perhitunganku, ia baru dapat mengatasi keadaannya menjelang pagi. Tetapi ternyata aku salah hitung. Dan ia telah melarikan diri”

Pangeran Sena Wasesa menjadi tegang. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Apakah yang sebaiknya kita lakukan Ki Ajar? Tentu Ajar Pamotan Galih tidak akan berdiam diri untuk seterusnya”

“Ya. Ia mempunyai hubungan yang luas dengan orang-orang berilmu hitam” berkata orang cacat itu, “agaknya kita memang harus mengambil sikap”

“Orang itu menganggap bahwa yang dicarinya masih berada di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati” berkata Kiai Kanthi, “Aku kira orang itu akan pergi ke daerah itu”

“Tetapi ia tidak akan menemukan apapun juga. Aku berkata sebenarnya bahwa semuanya telah berada di Demak” desis Pangeran Sena Wasesa.

“Tetapi Ki Ajar Pamotan Galih tidak percaya. Dan ia akan berbuat sesuatu” berkata Kiai Kanthi.

“Masih ada kawan kita di Lumban” tiba-tiba Jlitheng memotong.

“Tetapi tidak cukup untuk menghadapinya” desis Rahu yang mengerti kemampuan Ki Ajar Galih.

Namun Jlitheng yang telah membentuk Lumban Wetan menjadi cukup kuat berkata, “Setidak-tidaknya ada sepuluh orang anak muda Lumban Wetan yang dapat membantu”

“Tetapi Ajar Pamotan Galih ternyata sangat licik” berkata orang cacat itu, “Tidak ada pilihan lain. Kita juga harus pergi ke Sepasang Bukit Mati”

“Seandainya kita biarkan saja ia membongkar bukit gundul itu, ia tidak akan menemukan apa-apa” berkata Pangeran Sena Wasesa.

“Apakah dengan kegagalannya itu ia tidak akan menjadi orang yang sangat berbahaya? Jika ia menjadi mata gelap, maka orang-orang yang tidak bersalah akan menjadi korban”

Sejenak orang-orang yang berada di pendapa itu menjadi hening. Namun kemudian Pangeran Sena Wasesa itupun berkata, “Ada juga, baiknya kita pergi ke Bukit Gundul itu”

Demikianlah, maka orang-orang yang berada di pendapa itu sependapat untuk pergi ke bukit gundul. Bukan saja karena mereka ingin menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah. Tetapi mereka pun ingin melihat pertemuan sekali lagi antara orang cacat yang mengaku Ki Ajar Cinde Kuning itu dengar Ki Ajar Pamotan Galih. Dengan demikian mereka akan mendapat kepastian, apakah benar-benar mereka adalah saudara kembar. Karena yang mereka dengar sebelumnya adalah pengakuan kedua belah pihak pada kesempatan yang berbeda.

Tetapi mereka tidak akan berangkat malam itu. Besok pagi, jika fajar menyingsing, mereka akan menyusul Ki Ajar Pamotan Galih ke daerah Sepasang Bukit Mati.

Tetapi malam itu ibu Daruwerdi berkata, “Ayah, jika, ayah berkenan, apakah aku diperbolehkan ikut serta ke daerah Sepasang Bukit Mati”

“Sebaiknya kau tinggal di padepokan ini saja ngger” jawab orang cacat itu, “perjalanan ke daerah Sepasang Bukit Mati adalah perjalanan yang sangat berat”

“Aku pernah pergi ke daerah itu untuk mencari anakku yang diumpankan oleh Ki Ajar Pamotan Galih” berkata perempuan itu, “kedua, adikku itulah yang mengantarkan aku”

“Ki Ajar Pamotan Galih tidak melarangmu waktu itu?” bertanya orang cacat itu.

“Tidak. Dibiarkannya aku pergi. Sendiri” jawab perempuan itu.

“Bukankah kau diantar oleh kedua adikmu itu?” bertanya, orang cacat itu.

“Aku berangkat sendiri dari padepokan ini. Baru kemudian aku singgah ke padukuhan adik-adikku” jawab perempuan itu.

Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Tentu Ajar Pamotan Galih memperhitungkan bahwa perempuan, itu tidak akan pernah sampai ke padukuhan disebelah daerah Sepasang Bukit Mati itu. Bahkan mungkin Ki Ajar Pamotan Galih justru membiarkan perempuan itu tidak akan pernah berhasil keluar dari lingkungan hutan yang buas di perjalanan.

Dalam pada itu, orang cacat itupun mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi pada perempuan itu jika ia ditinggalkan di padepokan. Jika Ki Ajar Pamotan Galih ternyata tidak pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati sementara perempuan itu ditinggalkannya sendiri, maka akan mungkin sekali terjadi, bahwa perempuan itu akan diambil oleh Ki Ajar Pamotan Galih untuk menjadi alat memaksakan kehendaknya.

Karena itu, maka orang cacat itupun kemudian berkata, “Baiklah ngger jika kau memang ingin pergi bersama kami”

“Terima kasih ayah. Tetapi tanpa ceritera yang pernah ayah singgung itu” berkata perempuan itu.

Orang cacat itu tidak menjawab. Dipandanginya perempuan itu sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Apa salahnya ceritera itu dimengerti oleh Pangeran Sena Wasesa”

“Tidak” sahut perempuan itu.

“Jangan mementingkan dirimu sendiri” jawab orang cacat itu, “ingatlah kepada anakmu”

Perempuan itu menunduk dalam-dalam. Namun bahwa, orang cacat itu mengerti tentang ceritera yang nampaknya tidak akan disimpannya lebih lama lagi itu, membuat perempuan itu semakin yakin, bahwa orang itu benar-benar Ki Ajar Cinde Kuning.

Meskipun demikian ia berkata, “Ayah. Aku tetap memohon, agar ceritera itu biarlah tersimpan di lubuk hatiku saja untuk seterusnya”

Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan mempertimbangkannya. Tetapi aku akan mengambil keputusan yang berbeda dengan pilihanmu itu”

Perempuan itu tidak menjawab lagi. Segalanya memang terserah kepada orang cacat itu. Dan ia sendiri tidak akan dapat menentukan pilihan apapun juga.

Dalam pada itu, ketika cahaya matahari membayang di langit di dini hari, maka orang-orang di padepokan itupun sudah siap.

Jlitheng yang siap paling cepat bersama Rahu, duduk sambil berbincang di serambi.

“Kenapa orang cacat itu tidak mengejarnya ketika ia mendengar laporan bahwa Ki Ajar Pamotan Galih melarikan diri?” bertanya Jlitheng.

“Ki Ajar Pamotan Galih adalah orang yang luar biasa, sementara orang yang cacat itu mengaku Ajar Cinde Kuning itu pun orang yang memiliki panggraita yang sangat tajam, sehingga ia mengerti, bahwa tidak ada gunanya untuk mengejarnya. Pamotan Galih tentu sudah jauh dan arahnya pun tidak dimengerti” jawab Rahu,

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Akan ada pertemuan yang meriah di bukit gundul. Aku kira dari padepokan-padepokan lain pun tentu akan-mengambil sikap. Hilangnya Pangeran Sena Wasesa akan merupakan aba-aba bagi padepokan-padepokan yang bernafsu untuk berebut pusaka dan harta benda itu”

Rahu mengangguk kecil Tetapi iapun mulai membayangkan betapa sengitnya pertemuan antara orang-orang tamak di bukit gundul itu. Yang pernah terjadi adalah bertemunya kekuatan dari padepokan Sanggar Gading dengan kekuatan dari Kendali Putih yang membuat keduanya hampir lumpuh, sehingga gabungan dari kedua kekuatan itu tidak mampu lagi bertahan melawan orang-orang yang semula tidak diperhitungkan oleh keduanya.

Sejenak kemudian ternyata orang-orang lain pun sudah siap pula. Ibu Daruwerdi benar-benar telah bersiap pula untuk ikut serta bersama kedua adiknya.

Setelah makan pagi, maka orang-orang yang sudah bersiap menuju ke daerah kecil. Kuda-kuda mereka masih dapat berderap agak cepat di jalan-jalan datar. Namun akhirnya mereka sampai juga ke jalan yang sulit untuk dilalui. Mereka harus menembus hutan yang lebat dan pepat. Mereka yang baru untuk kedua kalinya menempuh jalan itu merasa masih agak bingung juga. Sementara orang cacat itu mengenal jalan yang ditempuhnya seperti mengenal halaman rumah sendiri.

Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih itupun seperti yang diduganya, telah menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. Ketika ia menyadari keadaan dirinya di sebuah bilik di padepokannya, maka iapun mengerti, bahwa orang yang dihadapinya adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang mustahil dapat dikalahkannya. Iapun memperhitungkan bahwa orang-orang yang semula akan dibunuhnya, tentu akan berdiri di pihak orang cacat itu.

Karena itu, sebelum ia dapat mengetahui dengan pasti, siapakah orang cacat itu, ia telah memilih jalan untuk melarikan diri daripada ia harus mengalami nasib yang lebih buruk lagi.

Tetapi ketamakannya telah mendorongnya untuk pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati. Meskipun ia juga mempunyai perhitungan bahwa orang-orang di padepokan itu akan menyusul juga ke daerah sepasang Bukit Mati.

Dengan kuda yang dapat dirampasnya dari penduduk terdekat dari padepokannya, maka iampun telah menyelusuri jalan menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati yang dikiranya menyimpan sebilah pusaka yang mempunyai pengaruh gaib terhadap pemiliknya, namun yang terpenting adalah harta yang tidak ternilai jumlahnya, yang disertakan pada pusaka itu.

Ternyata bahwa Ki Ajar juga menguasai jalan menuju ke sasaran dengan sebaik-baiknya. Bahkan di malam hari ia tidak berhenti sama sekali. Hanya pada saat-saat tertentu apabila kudanya, sudah terlalu letih dan haus, maka iapun berhenti di dekat sebuah parit atau mata air untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat, minum dan makan rerumputan.

Ketika Ki Ajar Pamotan Galih itu kemudian sampai di daerah Sepasang Bukit Mati berikutnya, maka ia pun langsung pergi ke bukit gundul. Dengan berdebar-debar ia memanjat naik setelah mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Matahari bersinar terang diatas kepalanya, sementara langit jernih kebiru-biruan.

Dengan tegang Ki Ajar Pamotan Galih memandangi dataran diatas bukit gundul itu. Dataran yang tidak terlalu luas. Dilihatnya garis-garis padas yang silang menyilang

Sesaat ia memperhatikan garis-garis itu. Dicarinya kunci pemecahan, karena ia menduga bahwa garis-garis itu mempunyai arti tertentu. Kemudian ia sama sekali tidak dapat menemukan. Garis yang memanjang menyilang dataran itu, telah diikutinya. Tetapi kedua ujungnya hilang pada retak batu pada di sisi bukit tanpa memberikan petunjuk apapun juga.

Ki Ajar mengumpat ketika ia melihat sebuah lekuk tempat Daruwerdi menyembunyikan peti dan pusaka palsunya. Namun sebenarnya ia tidak dapat menemukan apa-apa di atas bukit itu.

Kemarahan dan kekecewaan telah menghentak-hentak di jantungnya. Setiap kali terdengar ia mengumpat Orang yang cacat yang tiba-tiba hadir di padepokan.

“Iblis itu berhasil mengganggu aku” geramnya. Sesaat Ki Ajar itu mencoba mengingat, apakah ia dapat mengenal iblis berwajah cacat itu.

“Ilmunya memang mirip dengan ilmuku” berkata Ki Ajar Pamotan Galih itu. Ia pun telah mencoba mengenang gurunya. Namun Katanya, “Guru tentu tidak akan seumur orang itu”

Untuk beberapa saat ia masih tetap berdiri di atas bukit gundul itu. Namun akhirnya ia hams melihat satu kenyataan, bahwa ia tidak akan berhasil mendapatkan sesuatu di bukit itu.

“Tetapi aku yakin, bahwa pusaka ku tersimpan disini. Mungkin harta benda yang tidak ternilai harganya itu berada di tempat lain, tetapi pada pusaka itu, atau pada petinya atau pada rental yang ada bersama pusaka itu, atau pada apapun juga tentu terdapat petunjuk tentang harta benda yang tersimpan itu” geram Ki Ajar Pamotan Galih.

Dalam pada itu, oleh perasaan kesal dan kecewa. Ki Ajar itupun kemudian membanting diri, duduk dialas seonggok padas diatas bukit gundul itu.

Sementara itu, ternyata sekelompok orang telah merayap mendekati padukuhan Lumban. Sebuah iring-iringan orang berkuda dengan wajah-wajah yang garang mendekati daerah Sepasang Bukit Mati.

Segala sesuatu yang terjadi diatas bukit gundul itu telah didengar oleh orang-orang Pusparuri. Ketika mereka sudah siap untuk bertindak, maka orang-orang Kendali Putih dan Sanggar Gading yang tersisa dan berhasil melarikan diri pada saat terakhir terjadi pertempuran di atas bukit Gundul setelah Yang Mulia melakukan tayuh, telah terjerat oleh orang-orang Pusparuri yang mengawasi perkembangan keadaan. Dari mereka orang-orang Pusparuri mengetahui bahwa pusaka yang sebenarnya masih belum diketemukan.

Merekapun menyadari, bahwa di sekitar Sepasang Bukit Mati itu terdapat dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Pangeran Sena Wasesa sendiri yang ternyata tidak sakit, dan seorang lagi yang berhasil mengalahkan Yang Mulia itu sendiri. Dengan demikian maka orang-orang Pusparuri harap menyiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi orang-orang itu.

“Tetapi jumlah mereka tidak cukup banyak” berkata orang-orang Pusparuri itu. Bagi mereka anak-anak Lumban memang tidak terlalu merisaukan. Lalu berkata mereka, “Orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih sudah meremukkan diri mereka sendiri sebelum mereka berhadapan dengan orang-orang yang berada di Lumban. Bahkan mereka pun telah dikelabui oleh Pangeran yang berpura-pura sakit itu. Meskipun sisa mereka kemudian bergabung, tetapi kekuatan mereka sudah tidak ada seperlima dari kekuatan mereka masing-masing. Karena itu, jika kami datang ke Lumban, maka persoalannya akan berbeda”

“Apakah kita tidak terlambat?” bertanya salah seorang diantara mereka.

Kawannya menggeleng sambil menjawab, “Tentu tidak. Pengamat kita belum melihat seorang pun yang memasuki daerah Sepasang Bukit Mati, apalagi memanjat bukit gundul itu”

“Tetapi mungkin Pangeran itu sudahi pergi” berkata orang yang pertama.

“Mungkin. Tetapi mungkin ia sedang menyiapkan sekelompok orang-orangnya untuk mengambil pusaka itu, atau untuk menyingkirkannya” jawab kawannya, “Jika demikian pengamat kami tentu melihat ia memanjat bukit gundul itu dan mengamatinya kemana ia pergi. Tetapi sampai saat ini sama sekali tidak terdapat laporan apapun juga”

Kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

Namun dalam pada itu, iring-iringan itupun kemudian tertahan oleh seseorang yang memacu kudanya. Dengan tergesa-gesa orang itu menemui pimpinan orang-orang Pusparuri itu sambil berkata gagap, “Seseorang telah memanjat naik ke bukit gundul itu”

“Siapa?” bertanya pemimpin padepokan Pusparuri itu.

“Aku tidak tahu. Dua orang kawan kami masih mengawasi bukit itu. Orang yang memanjat itu, sepeninggalku masih berada diatas bukit” berkata orang itu.

Pemimpin dari padepokan Pusparuri itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Nampaknya hanya orang yang sedang menyelidiki bukit itu. Tentu bukan Pangeran Sena Wasesa yang akan memindahkan pusaka itu”

“Agaknya memang bukan seorang Pangeran” jawab orang yang memberikan laporan.

“Tetapi kita harus segera sampai ke bukit itu” berkata pemimpin orang-orang Pusparuri itu.

Dengan demikian, maka iring-iringan itupun telah mempercepat gerak mereka, sementara orang yang melapor itu berkata Kami telah menunggu terlalu lama. Aku kira fajar hari ini kita semuanya sudah berada di bukit itu”

“Kami memang agak terlambat” jawab pemimpinnya, “Tetapi kami telah menempatkan kalian di bukit itu justru untuk menjaga kemungkinan seperti ini, “

Orang itu tidak menyahut lagi. Sementara iring-iringan itu bergerak semakin cepat menuju ke bukit gundul.

Jarak mereka dengan bukit gundul itu semakin lama menjadi semakin dekat. Sementara, itu, Ki Ajar Pamotan Galih masih tetap duduk diatas batu padas sambil merenungi keadaan di sekitarnya. Bahkan kemudian iapun mulai merenungi dirinya sendiri,

“Sudah sekian lama aku mengatur rencana ini” berkata orang itu kepada diri sendiri, “namun hasilnya sama sekali tidak memadai. Dan sekarang aku harus mulai dari permulaan, sementara Pangeran yang gila itu akan menjadi semakin berhati-hati”

Sekali-sekali Ki Ajar itu menghentakkan tangannya. Namun yang sudah terjadi itupun tidak akan mungkin dapat diulanginya kembali. Kegagalan itu sudah terjadi. Bukan sekedar sebuah mimpi.

Dengan lesu Ki Ajar memandang dataran di sekitar bukit itu. Sebagian sudah nampak hijau, tetapi sebagian masih kekuning-kuningan dan gersang.

Dalam pada itu, iring-iringan orang-orang Pusparuri menjadi semakin dekat. Mereka berpacu semakin kencang. Apalagi ketika bukit gundul itu mulai nampak. Maka rasa-rasanya perjalanan mereka menjadi terlalu lamban.

Di paling depan dari iring-iringan itu adalah Kiai Pusparuri sendiri. Kemudian dua orang kepercayaannya yang terdekat. Untuk beberapa saat mereka hanya saling berdiam diri. Namun kemudian Kiai Pusparuri itupun berdesis, “Bagaimana menurut pertimbanganmu”

Salah seorang dari kepercayaannya itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kita memang terlalu lambat”

“Tidak” sahut Kiai Pusparuri, “ketika kita mendengar bahwa orang-orang Sanggar Gading telah menangkap Pangeran Sena Wasesa dan membawanya kepada Daruwerdi kita sudah memerintahkan agar orang-orang kita bergerak. Terutama yang berada di lingkungan orang-orang Kendali Putih. Ternyata benturan itu telah terjadi. Orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading itu telah hancur. Tetapi yang tidak kita duga bahwa mereka akhirnya dapat bersatu sehingga kita harus membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Kita harus mengamati perkembangan keadaan dan tidak tergesa-gesa bertindak. Mungkin dengan demikian, kita memang membuat kesan terlalu lamban”

“Mudah-mudahan kita dapat berbuat sesuatu” berkata kepercayaannya itu.

Kiai Pusparuri tidak menyahut. Keduanya berpacu semakin cepat Sementara kedua orang kepercayaannya yang berkuda di belakangnya itupun saling berpandangan. Tetapi mereka tidak mengatakan sesuatu.

Yang terdengar kemudian adalah Kiai Pusparuri menggeram, “Daruwerdi memang gila. Aku sudah curiga sejak lama. Tetapi kalian selalu mengatakan bahwa anak itu akan memegang teguh janjinya”

Kedua orang kepercayaannya sama sekali tidak menjawab. Mereka mengikuti saja Kiai Pusparuri yang berusaha berpacu semakin cepat.

Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih yang berada di atas bukit gundul itu mengangkat wajahnya ketika pendengarannya yang tajam menangkap derap kaki kuda. Dengan serta merta ia pun berdiri. Ketika ia melayangkan pandangan matanya, maka ia pun segera melihat, sebuah iring-iringan mendekati bukit itu.

Ki Ajar Pamotan Galih menjadi berdebar-debar. Namun ia pun kemudian duduk kembali.

“Persetan. Siapapun yang datang” geramnya.

Memang terasa kekecewaan yang mencengkam jantungnya membuatnya kadang-kadang kehilangan gairah perjuangannya untuk mendapatkan pusaka dan terlebih-lebih harta benda yang tidak ternilai harganya itu. Meskipun pada saat-saat tertentu kedatangannya masih saja mengguncang jantungnya.

Karena itu, maka ia sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu. Ia akan menghadapi apa saja yang bakal terjadi jika orang-orang di dalam iringan-iringan itu akan naik keatas bukit dan barangkali akan berbuat sesuatu atasnya.

“Biarlah alam memilih. Aku harus membunuh atau dibunuh” geramnya.

Dalam pada itu iring-iringan itupun telah sampai ke kaki bukit gundul, yang merupakan salah satu dari Sepasang Bukit Mati itu. Dengan tergesa-gesa orang-orang Pusparuri itu menambatkan kuda-kuda mereka. Seorang diantara para pengamat yang berada di sekitar bukit itupun kemudian mendekati- Kiai Pusparuri sambil berkata, “Orang itu masih berada diatas bukit“

“Kau tidak tahu siapa orangnya?” bertanya Kiai Pusparuri,

Pengawas itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu”

Kiai Pusparuri pun segera memanjat naik diikuti oleh beberapa pengikutnya bersama dua orang kepercayaannya yang terdekat Sementara beberapa orang yang lain telah menunggu di bawah bukit gundul itu.

Beberapa saat lamanya Kiai Pusparuri memanjat Ketika ia mendekati puncak bukit itu, dilihatnya seseorang duduk di batu padas. Orang yang tepekur dan seolah-olah sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya.

Kiai Pusparuri tertegun. Ia yakin orang itu mendengar kehadirannya. Tetapi orang itu sama sekali tidak berpaling.

“Ki Sanak” sapa Kiai Pusparuri.

Barulah Ki Ajar Pamotan Galih itu mengangkat wajahnya dan berpaling kearah suara itu.

“Ajar Macan Kuning” desis salah seorang kepercayaan Kiai Pusparuri.

“Hem, kau Laksita” desis Ki Ajar Pamotan Galih.

“Siapa?” bertanya Kiai Pusparuri.

“Orang inilah yang pernah membawa Daruwerdi kepadaku” jawab kepercayaannya itu

“Macan Kuning” desis Kiai Pusparuri.

Ki Ajar Pamotan Galih masih tetap duduk di tempatnya. Namun iapun kemudian berdesis, “Aku tentu berhadapan dengan Kiai Pusparuri sendiri sekarang ini”

“Ya. Kau benar Ki Ajar Macan Kuning. Aku pernah mendengar namamu yang menggetarkan setelah Ki Ajar Cinde Kuning lenyap. Semua orang bertanya-tanya di dalam hati, kenapa tiba-tiba saja Cinde Kuning telah merubah dirinya menjadi Macan Kuning” sahut Kiai Pusparuri.

Ajar Pamotan Galih hanya berpaling. Tetapi ia tidak menjawab.

“Sekarang, apa kerjamu disini?” bertanya. Kiai Pusparuri kemudian.

“Merenungi bukit gundul ini” berkata Ajar Pamotan Galih.

“Merenungi kematian orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih?” bertanya Kiai Pusparuri pula, “atau merenungi rencanamu sendiri”

Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Dipandangnya lembah di bawah bukit gundul itu. Hanya sebagian saja yang telah menjadi hijau. Tetapi yang lain tetap gersang.

“He” tiba-tiba Kiai Pusparuri bertanya kepada Laksita, “Jadi orang ini yang membawa Daruwerdi kepadamu?”

“Ya” jawab Laksita.

Kiai Pusparuri memandang kepercayaannya itu dengan tajamnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi kau belum mengenal anak itu dengan sungguh-sungguh?”

“Sudah” jawab Laksita, “Aku sudah lama mengenalnya. Dan aku sudah mengenalnya dengan sungguh-sungguh”

“Kenapa kau tiba-tiba saja menjadi bingung?” bertanya Ajar Pamotan Galih kepada Kiai Pusparuri.

“Aku sudah mengira bahwa anak yang disebut bernama Daruwerdi itu tentu tidak jujur. Ia sudah berhubungan dengan banyak pihak, sehingga persoalannya menjadi kacau seperti sekarang ini” berkata Kiai Pusparuri.

“Tidak ada gunanya kau sesali” berkata Ajar Pamotan Galih, “Jangankan kepadamu, kepada orang yang tidak memberinya apapun juga. Sedangkan kepadaku, kepada kakeknya. Daruwerdi telah berkhianat“

“He?” Kiai Pusparuri mengerutkan keningnya. Lalu, “Apa maksudmu?”

“Yang terjadi adalah karena kelalaiannya” berkata Ki Ajar Pamotan Galih, “bahkan kemudian ia telah menghadapkan aku kepada orang-orang yang gila itu”

“Dan kau tidak berani menghadapinya?” bertanya Kiai Pusparuri. Namun kemudian, “Dengan pihak mana kau berhadapan? Sanggar Gading dan Kendali Putih, atau orang-orang Lumban bersama Pangeran Sena Wasesa sendiri?”

“Banyak pihak telah datang ke padepokanku” berkata Ajar Pamotan Galih, “Aku tidak mempunyai kesempatan untuk melawan mereka. Mereka terlalu banyak, sebagaimana aku tidak mau berhadapan dengan Pangeran Sena Wasesa itu dengan langsung. Karena itu, aku memerlukannya lewat siapapun yang akan dapat menangkapnya dan menukarnya dengan pusaka yang kalian perebutkan.

“Jangan mengigau seperti itu” berkata Kiai Pusparuri, “sebodoh-bodoh kami, orang-orang Pusparuri, tentu tahu apa artinya peristiwa yang terjadi di bukit gundul itu. Ternyata pusaka yang diberikan oleh Daruwerdi adalah pusaka palsu. Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa justru Pangeran Sena Wasesa itulah yang akan menjadi sumber keterangan tentang pusaka itu?”

Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya Sementara itu Kiai Pusparuri berkata lebih lanjut, “Sejak kami berangkat menuju ke bukit ini, kami sudah mempunyai perhitungan yang demikian. Kami memang ingin menemukan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi tidak untuk kami serahkan kepada siapapun juga. Karena kami hampir meyakininya, bahwa Pangeran itu justru sangat berarti bagi pusaka itu sendiri”

Ki Ajar Pamotan Galih tidak segera menjawab. Sementara itu Laksita pun berkata, “Ki Ajar. Aku tidak mengira sama sekali, bahwa permainanmu itu adalah permainan yang terlalu dangkal. Aku kira kau dengan mempergunakan Daruwerdi, bermain dengan jujur apapun niat kita. Kita mempunyai kepentingan yang aku kira membuat kita dapat bekerja bersama. Tetapi dengan bodoh kau palsukan pusaka itu. Kau kira kau dapat mengelabui orang lain begitu mudah? Seandainya bukan orang Sanggar Gading itu, kami pun akan dapat mengetahuinya dengan tayuh tiga hari tiga malam”

Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Bahkan seolah-olah ia tidak mendengarkan kata-kata itu. Dengan wajah yang kosong dipandanginya alam yang keras disekitar bukit gundul itu.

Dalam pada itu, Kiai Pusparuri pun berkata, “Sekarang apa maumu Ki Ajar? Apakah kau akan berusaha mencari pusaka itu sendiri tanpa Pangeran Sena Wasesa?”

Ki Ajar tidak menjawab. Bahkan berpaling pun tidak.

Namun tiba-tiba saja Ki Ajar Pamotan Galih itu berkata, “Mereka tentu akan segera datang”

“Siapa?” bertanya Laksita.

“Pangeran yang gila itu. Cucuku yang berkhianat dan orang-orang Lumban yang dungu” berkata Ki Ajar Pamotan Galih.

“Kau mencoba menakut-nakuti aku, agar aku segera pergi? Dengan demikian usahamu untuk memecahkan teka-teki tentang pusaka itu dengan memperhatikan segala bentuk dan garis di atas bukit gundul ini tidak akan terganggu?” berkata Kiai Pusparuri.

“Buat apa aku menakutimu” jawab Ki Ajar Pamotan Galih, “kalau kalian ingin mati, atau ingin pergi, atau ingin apapun juga, aku tidak berkepentingan sama sekali.

“Jadi apa maksudmu dengan mengatakan bahwa mereka akan datang?” bertanya Kiai Pusparuri.

“Tidak apa-apa. Hanya sekedar kabar yang pantas kau ketahui. Kalau kau ingin menangkap Pangeran itu, lakukanlah jika kau mampu. Jika kau mau lari, larilah mumpung mereka belum datang” berkata Ajar itu.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Kiai Pusparuri.

“Mencari pusaka itu” jawab Ki Ajar Pamotan Galih. Kiai Pusparuri ragu-ragu sejenak. Agaknya Ki Ajar itu mempunyai bekal serba sedikit keterangan tentang pusaka itu. Karena itu, maka katanya- kemudian, “Baiklah. Jika orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih dapat bekerja bersama setelah mereka menghancurkan diri mereka sendiri, apakah kita juga dapat bekerja bersama?”

“Maksudmu?” bertanya Ki Ajar.

“Kita akan menangkap Pangeran Sena Wasesa. Aku yakin, bahwa kau tahu pasti, Pangeran itulah yang mengetahui tentang pusaka yang sedang diperebutkan itu. Jangan ingkar” jawab Kiai Pusparuri.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tidak ada gunanya. Kita tidak akan mampu berbuat apa-apa jika mereka nanti datang”

“Kau sudah berputus asa?” bertanya Kiai Pusparuri.

Sementara itu Laksita pun berkata, “Apakah aku benar-benar berhadapan dengan Ki Ajar Macan Kuning? Aku tidak pernah membayangkan, bahwa pada suatu saat Ajar Macan Kuning akan berputus-asa. Sementara disampingnya terdapat sepasukan orang-orang yang dapat di percaya kemampuannya? Seandainya Pangeran Sena Wasesa mampu menggugurkan bukit gundul ini sekalipun, maka ia tidak akan dapat menghadapi seluruh pasukan Pusparuri sekarang ini”

Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Kembali ia merenungi dataran yang merentang disekitar bukit gundul itu. Namun dalam pada itu ia memang tidak dapat ingkar, betapa kacau perasaannya.

Namun dalam pada itu, orang-orang Pusparuri itu telah menawarkan satu kerja sama untuk menangkap kembali Pangeran Sena Wasesa. Ia sadar, bahwa orang-orang Pusparuri tidak akan terlalu bodoh untuk memberikan kesempatan kepadanya Ki Ajar itupun sadar, jika usaha itu berhasil, maka ia tidak akan mendapat apapun juga. Bahkan mungkin orang-orang Pusparuri itu akan beramai-ramai mencincangnya,

Tetapi dalam pada itu, terpercik dendamnya kepada orang cacat yang sudah mengalahkannya. Orang itu agaknya akan datang bersama Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang lain yang datang ke padepokannya.

“Apakah kau sedang merenungi keputusanmu Ki Ajar?” bertanya Laksita.

Ki Ajar menggeram. Katanya, “Kau jangan terlalu sombong hanya karena disini ada Kiai Pusparuri. Kau tahu, bahwa Kiai Pusparuri itu tidak akan banyak berarti bagiku. Seandainya aku mau maka aku akan dapat membunuh separo dari orang-orang Pusparuri yang berada disini bersama pimpinan tertingginya”

Tetapi Kiai Pusparuri tertawa. Katanya, “Aku percaya bahwa kau agaknya memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi kau tidak akan dapat banyak berbuat apa-apa. Lebih-lebih dihadapan Pangeran Sena Wasesa. Karena itu, selagi aku menawarkan kerja sama. Hasilnya kita bagi bersama”

“Aku tahu bahwa itu omong kosong” jawab Ki Ajar

“Kau akan memanfaatkan aku untuk melawan orang-orang itu. Kemudian kau akan menyisihkan aku pula karena jumlah kalian yang banyak. Tetapi baiklah. Aku bersedia bekerja bersama orang-orang Pusparuri untuk bertempur melawan orang-orang itu. Jika kita berhasil, maka dendamku sudah dapat aku lepaskan. Terserah kepadamu kau juga ingin membunuh aku, maka Kiai Pusparuri dan separo orang-orangnya akan mati bersama aku”

 

Bersambung ke jilid 19

 

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s