MAdBB-15


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 15

kembali | lanjut

cover madbb-15SANGGIT RAINAyang melihat Pangeran itu berbaring dengan lemahnya berkata, “Tahankan Pangeran. Perjalanan Pangeran sudah hampir selesai”

“Kau hanya mengira-ira” sahut Pangeran itu.

“Aku pasti. Pangeran akan sampai ketujuan” berkata Cempaka yang mendengar percakapan itu.

“Tidak anak-anak muda. Bahkan mungkin di bukit gundul itu, perjalanan yang lebih rumit baru akan aku mulai. Kalian tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian” desis Pangeran itu sambil memandang dedaunan diatasnya.

Sangit Raina menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran benar. Tetapi aku mengatakan, perjalanan Pangeran diantara orang-orang Sanggar Gading telah hampir selesai. Dihadapan kita itu adalah bukit gundul. Disana nanti Pangeran akan bertemu dengan orang yang memerlukan Pangeran”

“Ya. Dan mulailah yang masih belum kita ketahui itu” sahut Pangeran itu tanpa memalingkan wajahnya. Ketika angin semilir, maka daun-daun itupun bergerak-gerak perlahan-lahan.

Sanggit Raina tidak menjawab lagi. iapun sadar, bahwa Pangeran yang disangkanya masih sakit dan lemah itu menjadi sangat gelisah, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi atas dirinya setelah ia diserahkan kepada orang yang tidak dikenalnya pula.

Menunggu memang merupakan pekerjaan yang sangat-tidak menyenangkan. Sekali-kali terdengar Cempaka mengumpat seolah-olah Rahu tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya,

Namun sejenak kemudian, Cempaka itu pun meloncat ke tengah jalan ketika ia melihat debu yang mengepul. Kemudian muncul seekor kuda dengan penunggangnya.

“Orang itu datang” desis Cempaka.

Sanggit Raina pun kemudian siap pula menyongsongnya. Namun dengan jantung yang berdebaran ia berkata, “Sendiri”

“Mudah-mudahan orang itu tidak menjadi gila dan membunuh Daruwerdi geram Cempaka.

“Tentu tidak” sahut Sanggit Raina.

“Jika terjadi perselisihan?” desis Cempaka pula.

“Tidak. Ia cukup mengerti arti dari persoalan ini dalam keseluruhan” gumam Sanggit Raina.

Kuda Rahu yang berlari itu rasa-rasanya sangat lamban. Namun akhirnya Rahu itupun telah meloncat turun dari kudanya ketika ia sudah berada dihadapan Sanggit Raina dan Cempaka.

Pangeran yang berbaring itu masih saja berbaring. Seolah-olah ia sama sekali tidak menghiraukan kedatangan Rahu. Tanpa bergeser dan berpaling sedikitpun, ia menarik nafas sambil berdesis, “Segalanya terasa semakin gelap bagiku”

Namun sementara itu Sanggit Raina berkata, “Katakan, apa yang sudah kau lakukan”

Rahu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Pangeran yang masih saja berbaring di rerumputan. Seolah-olah ia sudah pasrah, apa yang akan terjadi atasnya, selain karena menurut dugaan Rahu, sakitnya masih belum berkurang.

“Cepat, katakan” desak Cempaka.

Rahu menarik nafas panjang. Kemudian diceriterakannya apa yang sudah dikatakan oleh Daruwerdi kepadanya.

“Jadi kita harus pergi ke bukit gundul itu” bertanya Sanggit Raina.

“Ya” jawab Rahu.

“Anak setan. Ia tidak mau datang hanya beberapa langkah saja dari bukit gundul?” bertanya Cempaka.

“Pusaka yang dikatakannya berada di bukit gundul. Justru berada di tempat yang sulit untuk diambil. Ia memerlukan bantuan beberapa orang diantara kita” jawab Rahu.

Sanggit Raina tidak mau menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap. Katanya, “Kita harus melakukan semuanya dengan cepat. Jika pada pertempuran itu masih ada orang-orang Kendali Putih yang tersisa, maka kita harus berhati-hati” Mungkin mereka akan menyusul kita dan kita masih harus bertempur”

“Apakah menurut pendapatmu, orang-orang kita termasuk Yang Mulia tidak dapat mengalahkan orang-orang Kendali Putih?” tiba-tiba saja seorang pengikutnya bertanya.

“Tentu orang-orang Sanggar Gading akan menang” jawab Sanggit Raina, “Tetapi segalanya dapat terjadi, dan Yang Mulia telah memerintahkan aku untuk mendahului perjalanannya. Bukankah itu merupakan satu pertimbangan atau satu kemungkinan?”

Pengikutnya tidak bertanya lagi. Namun iapun kemudian berkata kepada Pangeran yang masih berbaring, “Cepat Pangeran. Bangkitlah dan kita akan berangkat lagi”

Dengan segan Pangeran itu pun kemudian bangkit. Nafasnya masih nampak sesak dan sekali-kali ia masih memegangi punggungnya sambil berdesah.

Dibantu oleh seorang pengikut Sanggit Raina, Pangeran itu naik ke punggung kudanya. Ketika terdengar ia berdesis, orang yang membantunya membentaknya, “Jangan terlalu manja”

Cempaka yang mendengar kata-kata pengikutnya itu pun membentak pula, “Gila. Pangeran sedang sakit. Apakah kau ingin merasakannya? Aku dapat membuat kau sakit, dan melihat, apakah kau dapat naik ke punggung kuda”

Orang itu terdiam. Tetapi dengan tajamnya ia memandangi Pangeran yang sudah duduk di punggung kuda. Betapa kebencian orang itu nampak pada sorot matanya. Tetapi Pangeran itu tidak menghiraukannya.

Sejenak kemudian, iring-iringan itu sudah bergerak ke bukit gundul yang sudah berada di depan hidung mereka. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi, mereka harus datang ke bukit gundul dan membantu mengambil pusaka itu.

Mereka hanya memerlukan waktu beberapa saat. Ketika iring-iringan itu sudah berada di kaki bukit itu, maka Rahu telah meloncat turun. Dengan nada tinggi ia memanggil, “Daruwerdi. Kami sudah disini”

“Kemarilah” terdengar jawaban dari kejauhan. Lalu, “Aku memerlukan tiga orang untuk membantuku agar segalanya cepat selesai”

Rahu berpaling kearah Sanggit Raina untuk minta pertimbangannya. Namun kemudian Sanggit Raina pun berkata kepada Cempaka, “Pergilah bersama Rahu dan seorang lagi. Jika terjadi kecurangan, beri aku isyarat”

Rahu dan seorang pengikut padepokan Sanggar Gading pun kemudian mengikuti Cempaka naik ke bukit gundul itu menuju kearah suara Daruwerdi dibalik sebuah bongkahan batu padas yang besar. Sementara Sanggit Raina dan beberapa orang lainnya, menunggui Pangeran yang sudah turun pula dari kudanya dan duduk dengan lemahnya bersandar batu padas.

“Pangeran merasa letih sekali?” bertanya Sanggit Raina.

“Aku akan mati” berkata Pangeran itu, “nafasku menjadi sesak dan darahku serasa berhenti”

“Tahankan Pangeran. Sebentar lagi Pangeran akan bertemu dengan orang yang memerlukan Pangeran” desis Sanggit Raina,

“Dimana orang itu?” bertanya Pangeran yang masih nampak seperti orang sakit.

“Pangeran dengar suaranya. Dibalik sebongkah batu padas itu. Ia sedang mengambil pusaka yang dikatakannya” jawab Sanggit Raina.

Pangeran itu tidak menjawab. Tetapi kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Bukan karena ia akan berada di tangan orang yang tidak dikenalnya Tetapi bahwa seseorang telah ingin menukarnya dengan pusaka itu, agaknya telah menumbuh-kan satu gejolak yang dahsyat di dalam hatinya. Ia menjadi semakin curiga atas segala persoalan yang dihadapi.

“Ada satu permainan yang rumit” berkata Pangeran itu di dalam hatinya, “Tetapi aku kira, aku mulai dapat merabanya. Meskipun mungkin salah, tetapi ada kemungkinan bahwa memang demikianlah nalarnya”

Tetapi Pangeran itu masih tetap dalam sikapnya. Ia adalah seorang yang sakit, yang tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun ia seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ia tidak dapat melawan kehendak Yang Paling Berkuasa. Ilmunya yang bertimbun di dalam dirinya, tidak satupun yang dapat dipergunakan untuk melawan sakit yang datang kepadanya. Bahkan seandainya seseorang berilmu kebal sekalipun, ia tidak akan kebal terhadap penyakit yang memang dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa.

Pangeran itu hampir tidak dapat menahan hatinya untuk ikut naik dan bertemu orang yang berada di balik sebongkah batu padas, yang mengatakan bahwa pusaka itu ada di tempat itu, dan memerlukan tiga orang untuk membantu mengambilnya.

“Semuanya sudah gila. Permainan ini pun permainan gila pula nampaknya” desis Pangeran itu.

Namun setiap kali ia akan melakukan sesuatu, maka ia pun selalu kembali kepada keadaannya. Ia harus benar-benar seperti, orang yang masih belum mampu berbuat apa-apa, karena penyakitnya.

Dalam pada itu Cempaka dan kedua orang yang menyertainya telah hilang dibalik batu padas. Mereka termangu-mangu sejenak, karena mereka tidak segera melihat Daruwerdi. Bahkan Cempaka pun kemudian berdesis, “Daruwerdi, dimana kau bersembunyi?”

“Aku disini” jawab Daruwerdi, “kemarilah” Cempaka pun kemudian beringsut maju. Dihadapannya terdapat sebuah lekuk dan sebongkah batu padas yang lain berdiri tegak bagaikan pintu gerbang.

Dengan hati-hati Cempaka maju beberapa langkah diikuti oleh Rahu dan seorang kawannya. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat mempercayai Daruwerdi sepenuhnya. Mungkin anak itu akan berbuat kecurangan atau tingkah laku yang dapat merugikan orang-orang Sanggar Gading.

Bahkan seorang pengikutnya telah memegang hulu pedangnya ketika mereka melingkari batu padas itu.

Namun ternyata mereka justru menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat Daruwerdi duduk diatas sebongkah batu padas.

“Kalian ternyata memang pengecut” berkata Daruwerdi ketika Cempaka bergeser mendekatinya.

“Kenapa?” bertanya Cempaka.

“Kau kira aku akan berbuat curang? Kau merangkak seperti seorang pencuri memasuki rumah yang dijaga oleh sepasukan prajurit, “

Cempaka menggeretakkan giginya. Katanya, “Jangan banyak bicara. Aku dapat membunuhmu sekarang, karena pusaka itu akan dapat aku ketemukan tanpa kau sekarang ini”

Daruwerdi tertawa. Katanya, “Jangan mimpi. Pusaka itu masih belum dapat kalian cari sendiri tanpa aku”

“Tentu dapat Pusaka itu tentu berada di dalam lekuk itu. Memang sulit untuk mengambilnya, tetapi aku akan dapat melakukannya” jawab Cempaka.

Daruwerdi tertawa. Disela-sela suara tertawanya ia berkata, “Kau tergesa-gesa. Pusaka itu tidak ada disitu. Aku memang menunggumu disini. Tetapi pusaka itu tidak berada disini”

“Gila” geram Cempaka, “Cepat. Ambil pusaka itu. Kami tidak mempunyai waktu lagi”

“Kau sudah membawa orang yang aku minta?” bertanya Daruwerdi.

“Lihatlah. Pangeran itu adalah di lereng bukit ini” geram Cempaka.

“Baiklah, aku percaya. Aku pun percaya bahwa kalian tidak akan curang. Setelah aku menyerahkan pusaka itu, maka kalian harus menyerahkan Pangeran itu. Jika tidak, kalian tentu akan menyesal. Aku sudah berusaha untuk tidak mempergunakan kekerasan. Tetapi jika kalian dengan kecurangan itu, maka orang-orang Sanggar Gading akan tumpas disini” ancam Daruwerdi.

“Omong kosong” potong Cempaka, “Kau memang banyak bicara. Sekarang, manakah pusaka itu”

“Sebenarnya aku akan minta Pangeran itu dibawa naik ke puncak bukit ini” berkata Daruwerdi kemudian.

“Pangeran itu sedang sakit. Kau tentu sudah tahu. Ia tidak akan dapat merangkak sekalipun sampai ke tempat ini. Kecuali jika kau mau turun sebentar dan mendukungnya” jawab Cempaka geram.

Daruwerdi tersenyum. Katanya, “Jangan cepat marah. Marilah Aku akan mengambil pusaka itu. Kalian harus membantuku Kemudian aku sendiri akan membawanya turun dan menyerahkannya kepada seseorang yang berhak menerima, tetapi Pangeran itu harus kalian serahkan kepadaku dengan tangan terikat”

“Ia sedang sakit. Berdiri pun ia tidak mampu. Mengapa harus diikat?” bertanya Rahu.

Daruwerdi termangu-mangu. Namun kemudian Katanya, “Meskipun sedang sakit, tetapi ia mempunyai setumpuk ilmu di dalam dirinya”

“Ia tidak mampu mengetrapkan ilmunya dalam keadaannya” jawab Rahu, “ketika kami mengambilnya, maka ia tidak dapat bangkit dari pembaringannya. Jika ia mampu ia tentu akan ikut bertempur bersama pengawal-pengawalnya. Jika demikian, kami pasti tidak akan dapat membawanya kemari”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Agaknya yang dikatakan Rahu itu benar. Jika ia tidak dalam keadaan yang sangat lemah, maka ia tentu dapat berbuat sesuatu. Orang-orang Sanggar Gading tidak akan dapat dengan mudah menawannya dan membawanya ke bukit gundul itu.

“Baiklah” berkata Daruwerdi, “nanti aku akan melihatnya. Jika perlu, aku minta Pangeran itu terikat. Jika ia tidak berbahaya, biarlah ia bebas”

“Tetapi jangan terlalu banyak berbicara. Kita akan mengambil pusaka itu” potong Cempaka.

“Baiklah Kita akan mengambilnya sekarang” jawab Daruwerdi.

Cempaka menjadi berdebar-debar. Tetapi karena Daruwerdi hanya seorang diri dan tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan, maka Cempaka pun tidak bersikap terlalu tegang Ketika Daruwerdi kemudian bangkit dan meloncat di-antara batu-batu padas, maka Cempaka Rahu dan seorang pengikutnya telah mengikutinya pula.

Ternyata seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi, pusaka itu tidak berada di dalam lekuk dibalik batu padas itu. Tetapi mereka masih menyusuri lekuk itu beberapa puluh langkah.

“Tetapi jangan mencoba berkhianat” geram Daruwerdi, “tanda tempat pusaka itu sudah nampak”

“Persetan” geram Cempaka.

“Di seputar gunung kecil yang gundul ini, terdapat orang-orangku yang siap membantai kalian” berkata Daruwerdi.

Cempaka tidak menjawab. Namun ia mulai tertarik kepada sebongkah batu padas. Batu padas yang mempunyai bentuk yang khusus, yang jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh, akan nampak bekas tangan manusia yang membentuknya”

Setapak demi setapak Cempaka melangkah mendekati batu padas itu. Sambil tersenyum Daruwerdi mengamatinya. Namun ketika Cempaka mengguncang-guncang batu itu, sambil tertawa Daruwerdi berkata, “Tidak disitu, batu itu hanya satu tanda. Tetapi barang yang kau cari berada di tempat lain”

“Aku tahu. Cepat, tunjukkan” jawab Cempaka.

Daruwerdi pun kemudian melangkah maju. Dengan nada datar ia berkata, “Kemarilah. Aku akan mulai”

Cempaka mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya, “Apa yang akan kau mulai?”

“Mengambil pusaka itu” jawab Daruwerdi

“Mulai apa?” bertanya Cempaka pula.

“Kau kira aku akan dapat mengambil pusaka itu begitu saja? Kau harus menyadari, bahwa pusaka itu bukan sembarang pusaka. Aku sendiri tidak tahu, pusaka apa yang ada di dalamnya. Tetapi aku menguasai syarat untuk mengambilnya. Aku mengerti, siapakah yang harus aku sebut agar pintu penyimpanan pusaka itu terbuka” berkata Daruwerdi

“Jadi apa gunanya kami bertiga kau suruh membantu mengambil pusaka itu?” bertanya Cempaka pula.

“Kau memang dungu. Selama ini kau hanya mengenal batu, padang perdu dan hutan bebondotan” desis Daruwerdi, “dengar. Pusaka itu adalah pusaka yang bertuah. Meskipun kita akan mengerahkan seribu orang untuk mengambilnya, kita tidak akan berhasil jika pintu gaib itu tidak terbuka. Nah, sekarang, kaulah yang memperpanjang waktu dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang bodoh itu”

Cempaka mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah. Lakukan secepat dapat kau selesaikan. Waktuku tidak banyak. Tetapi ingat, jangan mempermainkan kami. Meskipun seandainya benar disekitar tempat ini ada orang-orangmu tersembunyi, tetapi aku tentu sudah sempat membunuhmu lebih dahulu. Betapa cepatnya isyarat yang kau lontarkan, dan betapa cepatnya orang-orangmu bergerak, namun mereka akan tertahan oleh orang-orang Sanggar Gading barang satu dua kejap. Waktu itu sudah cukup untuk membunuhmu”

Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian melangkah mendekati batu yang nampak bekas tangan manusia yang membentuknya meskipun hanya sederhana. Kemudian anak muda itu duduk menghadap batu itu dengan sikap yang sungguh-sungguh,

“Bantu aku” berkata Daruwerdi, “terserah caramu. Tetapi kita akan memohon agar pintu dibuka, sehingga kita akan dapat mengambil pusaka itu”

Tiba-tiba saja Cempaka telah dicengkam oleh suasana yang aneh. Diluar sadarnya, ia pun kemudian berjongkok pula, diikuti oleh Rahu dan seorang kawannya.

Dengan jantung yang berdebar-debar, Cempaka mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Daruwerdi. Ia melihat anak muda itu tepekur sambil bergeramang tanpa diketahui artinya.

Sementara itu, di bawah bukit gundul. Sanggit Raina menunggu dengan gelisah. Waktunya tidak terlalu banyak. Masih banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika pertempuran itu berakhir dan masih terdapat sisa-sisa pasukan dari kedua belah pihak, maka mereka tentu akan mencarinya di bukit gundul ini. Terutama orang-orang Sanggar Gading sendiri.

Bagi Sanggit Raina, Cempaka rasa-rasanya telah pergi untuk waktu yang lama sekali. Tetapi disaat-saat ia hampir kehabisan kesabaran, Cempaka ternyata masih belum tampak turun dari bukit gundul itu.

Dalam pada itu, nampaknya keadaan Pangeran itu pun menjadi semakin gawat. Ia nampaknya menjadi semakin lemah. Sambil duduk bersandar batu padas, terdengar sekali-sekali ia mengerang. Bahkan kemudian, terdengar ia berdesis, “Apakah aku boleh bernaung di bawah bayangan bebatuan itu”

Sanggit Raina yang gelisah hampir tidak menghiraukannya. Karena itu, dengan acuh tidak acuh ia bergumam, “Silahkan. Tetapi jangan berusaha menjauhi aku untuk tujuan tertentu”

“Aku hampir mati. Badanku rasanya menjadi sangat panas, sementara angin yang bertiup semakin kencang, membuat jantungku bagaikan berhenti berdetak” berkata Pangeran itu.

“Bawa Pangeran itu beringsut” Sanggit Raina pun kemudian memerintahkan pengikutnya untuk membantu Pangeran itu.

Dibantu oleh orang-orang yang mengawasinya Pangeran itu beringsut. Ia justru mencari tempat yang dapat dipergunakannya untuk berbaring. Agaknya tubuhnya benar-benar terasa berat dan kepalanya menjadi pening.

Namun dalam pada itu, gejolak di dalam dadanya pun rasa-rasanya semakin bergelora. Seperti Sanggit Raina, ia hampir tidak sabar menunggu orang-orangnya yang naik ke bukit gundul untuk mengambil pusaka yang akan dipertukarkan dengan dirinya itu.

Sementara orang-orang di bukit gundul itu dicengkam oleh kegelisahan, di pategalan pertempuran benar-benar menjadi semakin dahsyat. Meskipun kemampuan setiap orang telah menjadi susut oleh kelelahan, serta jumlah mereka pun telah jauh berkurang di kedua belah pihak, namun dendam dan kebencian justru menyala semakin besar di setiap dada,

Orang-orang Sanggar Gading dan orang Kendali Putih sama sekali tidak lagi mengenal sesama mereka sebagaimana mereka bersama telah dititahkan ke wajah ibumu untuk bersama-sama hidup dalam kasih Maha Penciptanya. Tetapi mereka benar-benar menjadi liar dan buas oleh noda-noda darah di tubuh mereka.

Jika diantara orang-orang Sanggar Gading ada yang meninggalkan arena sambil membawa Pangeran yang sakit itu, maka diluar pengamatan kawan-kawannya, maka seseorang telah meninggalkan arena dari lingkungan orang-orang Kendali Putih. Sambil tersenyum ia bergumam, “Akhirnya orang-orang Pusparuri lah yang akan menguasai segalanya. Sejak semula Daruwerdi telah berhubungan dengan orang-orang Pusparuri. Akhirnya ia harus kembali kepada orang-orang Pusparuri pula”

Tetapi ternyata orang itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar derap kaki kuda menyusulnya. Karena itu, maka ia pun segera bersiaga. Jika ada orang Sanggar Gading yang melihatnya dan kemudian mengerjakannya, maka ia harus bertempur, karena ia tidak mau mati.

Namun orang itu menarik nafas dalam-dalam. Yang menyusulnya ternyata adalah orang yang berkumis lebat. Orang Kendali Putih yang dapat dibujuknya untuk memanaskan suasana sehingga pimpinan Kendali Putih telah mengambil sikap yang menentukan. Hancurnya kedua belah pihak yang sedang bertempur itu.

“Jangan lari” berkata orang berkumis lebat itu,

“Aku tidak akan lari” jawab orang itu, “Tetapi bukankah wajar jika aku meninggalkan arena yang bagaikan neraka itu? Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Keduanya akan hancur dan orang-orang Pusparuri akan segera datang mengambil pusaka itu”

“Bagaimana kau akan dapat mengambil pusaka itu tanpa menyerahkan orang yang dikehendaki oleh Daruwerdi?”-bertanya orang berkumis lebat itu.

“Jangan terlalu bodoh. Dalam pertempuran yang mengerikan itu tentu akan ada penyelesaian. Apakah orang Sanggar Gading atau orang Kendali Putih akan memenangkan pertempuran itu dan akan mendapatkan pusaka yang diperebutkan, meskipun mungkin hanya tinggal satu atau dua orang saja diantara mereka. Baik orang Sanggar Gading maupun orang Kendali Putih yang masih tinggal hidup akan membawa Pangeran yang sakit itu dan menukarkannya dengan pusaka ku. Nah pada saat berikutnya orang-orang Pusparuri dengan kekuatan yang utuh akan datang untuk mengambil pusaka itu” berkata orang Pusparuri yang berhasil berada dilingkungan orang Kendali Putih itu.

“Dari mana kau tahu, apakah pusaka itu ada diantara orang-orang Sanggar Gading atau orang-orang Kendali Putih” bertanya orang berkumis lebat itu.

“Mudah sekali. Kami dapat bertanya kepada orang yang masih hidup dari kedua belah pihak, atau kepada Daruwerdi sendiri” Jawab orang Pusparuri itu. Lalu, “Dan apakah kau tidak dapat membayangkan bahwa masih ada kawan kita yang tinggal diantara orang-orang Kendali Putih itu?”

“Bagaimana jika ia terbunuh?” bertanya orang berkumis lebat.

Orang Pusparuri itu tertawa. Katanya, “Ia tidak terlalu dungu seperti kau. Ia akan tetap hidup. Dan ia akan melaporkan hasil terakhir dari pertempuran itu sementara aku menyiapkan pasukan Pusparuri yang utuh dan kuat untuk mengambil tindakan terakhir”

Orang berkumis lebat itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Apapun yang akan terjadi, aku tidak peduli. Aku akan mengambil hakku. Aku telah berhasil membakar pertempuran itu sehingga kau akan dapat mengambil keuntungan dari padanya”

Orang Pusparuri itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun segera mengusir kesan itu dari wajahnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Baiklah. Kau akan mendapat hakmu setelah kau berada diantara orang-orang Pusparuri”

“Kenapa harus menunggu?” bertanya orang berkumis lebat itu.

Orang Pusparuri itu mengumpat. Katanya, “Kau kira aku sudah menyiapkan upah yang akan kau terima? Ketika aku berangkat memasuki padepokan Kendali Putih, aku belum yakin bahwa aku akan berhasil Karena itu, aku belum membawa apapun yang dapat aku berikan kepadamu”

Orang berkumis lebat itu mengerutkan keningnya. Tetapi dia tidak menjawab lagi. Ia mengerti, bahwa orang Pusparuri itu tentu tidak berbuat demikian, seperti yang dikatakannya. Jika ia membawa apapun yang mempunyai nilai seperti yang dijanjikan maka hal itu akan dapat menimbulkan bencana baginya.

Dalam pada itu, untuk beberapa saat lamanya keduanya berkuda bersama-sama. Orang berkumis lebat itu mulai membayangkan apa yang akan diterima dari orang Pusparuri itu Ia pun mulai mereka-reka, apa yang akan dapat dilakukan setelah itu,

“Aku akan meninggalkan daerah ini dan pergi jauh ke daerah Timur” berkata orang itu di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ia menjadi berdebar-debar jika ia membayangkan apa yang sedang terjadi di pategalan. Pembunuhan yang tidak terkekang, seolah-olah yang sedang bertarung antara hidup dan mati itu bukannya sekelompok manusia. Titah tertinggi dari Pencipta sekalian Alam.

“Persetan” geram orang berkumis lebat itu di dalam hatinya, “Mereka bukan sanak bukan kadang. Mereka tidak akan menolong aku jika aku hidup dalam kesulitan. Mereka tidak mau tahu apakah anakku hari ini makan atau tidak. Karena itu, biarlah mereka saling membunuh seperti sekelompok serigala kelaparan berebut bangkai. Atau mereka sendiri akan menjadi bangkai”

Demikianlah mereka semakin lama menjadi semakin jauh dari pategalan. Bukit Gundul dan Bukit berhutan itupun menjadi semakin lama semakin baur diantara padukuhan yang berserakan.

Tiba-tiba saja orang Pusparuri itu berkata, “Kita sudah cukup jauh. Aku merasa lelah sekali. Aku ingin berhenti sebentar jika kita melalui sebuah parit”

“Jarang sekali ada parit di daerah yang kering ini. Di Lumban anak-anak muda berusaha untuk mengendalikan air dari bukit berhutan itu. Tetapi disini tidak” jawab orang berkumis lebat itu.

“Jika demikian, aku akan berhenti di bawah sebatang pohon yang dapat memberikan sedikit keteduhan kepada kudaku yang letih setelah berjuang dalam pertempuran yang gila itu. Nampaknya meskipun hanya segores kecil, terdapat luka di kaki kudaku. Mungkin ujung pedang, mungkin ujung tombak” berkata orang Pusparuri.

Orang berkumis lebat itu tidak berkeberatan. Ia pun merasa lelah setelah bertempur untuk beberapa saat, meskipun seolah-olah ia tidak bersungguh-sungguh dan selalu berusaha menghindari agar tidak mati di peperangan itu.

Dengan demikian, ketika mereka melihat sebatang pohon mahoni yang besar di pinggir jalan, maka keduanya pun segera berhenti. Mereka menambatkan kuda mereka pada pepohonan perdu di bawah pohon mahoni itu, sementara keduanya pun beristirahat pula.

Namun tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang menggelitik orang berkumis lebat itu. Diluar kehendaknya, terlihat olehnya ketika kain panjang orang Pusparuri itu tersingkap, ternyata ia memakai ikat pinggang bertimang emas bertretes berlian. Justru karena caranya memakai itu tidak lajim seperti biasanya orang memakai ikat pinggang, maka orang berkumis lebat itu semakin tertarik untuk memperhatikannya.

“Ikat pinggang itu sengaja disembunyikan” berkata orang berkumis lebat itu di dalam hatinya, “agaknya orang Pusparuri ini tidak jujur terhadapku. Jika ia mengajak aku memasuki sarangnya, apakah dapat mempercayainya bahwa ia tidak akan ingkar janji, justru aku akan dibantainya diantara kawan-kawannya”

Sejenak orang berkumis lebat itu tidak berbuat sesuatu. Tetapi telah terjadi pertarungan yang sengit di dalam dirinya. Ikat pinggang itu sendiri tidak cukup bernilai untuk dimilikinya. Tetapi timang emas bertretes berlian itu harganya cukup tinggi.

Karena timang itulah, maka orang Kendali Putih itu berusaha untuk melihat barang-barang lainnya yang berharga pada orang itu. Dua buah cincin di jari-jarinya tidak menarik perhatiannya karena cincin itu berwarna putih. Mungkin terbuat dari perak. Tetapi ia tidak menghiraukannya.

“Tetapi apakah yang terdapat di dalam kantong ikat pinggangnya itu?” bertanya orang berkumis lebat itu di dalam hatinya.

Akhirnya ia tidak dapat menahan diri lagi. Nampaknya acuh tidak acuh saja ia bertanya, “Kau mempunyai timang yang begitu bagus. Darimana kau dapatkan, he?”

Orang Pusparuri itu terkejut. Sambil membenahi kain panjangnya ia berkata, “Ah, ini bukan apa-apa”

“Jangan bohong. Kau mempunyai timang emas tretes berlian yang harganya tentu mahal sekali. Selebihnya, apa isi kantong ikat pinggang yang kau sembunyikan di bawah kain panjangmu itu?” bertanya orang berkumis lebat.

Orang itu akhirnya justru tertawa pendek. Katanya, “Kau ini seperti tidak tahu saja. Bukankah kita sama-sama menelusuri malam-malam yang pekat dengan senjata ditangan”

“Tetapi aku tidak pernah memilikinya” berkata orang berkumis lebat itu.

Orang Pusparuri itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau memang bodoh. Terakhir kita merampok sebelum kita pergi ke lereng bukit berhutan itu, aku menemukan benda-benda ini. Karena aku memang bukan orang Kendali Putih yang sebenarnya, maka barang-barang ini tidak pernah aku tunjukkan kepada para pemimpin Kendali Putih. Aku hanya menyerahkan sebuah keris berpendok perak. Sementara yang lain, aku miliki sendiri”

“Jadi apa yang berada di kantong ikat pinggangnya itu?” desak orang berkumis lebat itu.

“Ah, bukan apa-apa” jawab orang Pusparuri itu.

Sejenak orang berkumis lebat itu terdiam. Namun gejolak di dalam dadanya terasa semakin menggelora.

Ketika ia tidak dapat menahan diri lagi, maka tiba-tiba saja ia pun berdiri sambil menggeram, “Aku tidak perlu menunggu. Berikan apa yang kau punya. Kau akan mendapat gantinya jika kau sudah berada di dalam lingkunganmu. Upah yang akan kalian berikan kepadaku, karena aku sudah berhasil membakar hati para pemimpin padepokan Kendali Putih akan menjadi milikmu”

Orang Pusparuri itu menegang. Namun ia pun kemudian berdiri sambil berkata, “Jangan begitu. Kita belum tahu, seberapa banyak pemimpinku akan memberikan hadiah kepadaku. Mungkin jauh lebih banyak dari harga timang dan isi kantong ikat pinggangku ini”

“Itu adalah keuntunganmu” jawab orang berkumis lebat, “apapun yang akan kau terima, aku tidak akan menuntut lebih dari yang aku terima sekarang”

“Jika kurang dari itu?” sahut orang Pusparuri itu, “Akulah yang rugi. Aku kehilangan barang-barang berharga yang akan dapat menjadi milikku”

“Kau sudah menyalahi ketentuan yang berlaku di dalam lingkungan Kendali Putih. Meskipun kau bukan orang Kendali Putih yang sebenarnya, tetapi pada saat perampokan itu terjadi, kau bertindak atas nama orang Kendali Putih. Karena itu, barang-barang itupun bukan hakmu” berkata orang berkumis lebat itu, “selebihnya, barang-barang itu bukan milikmu, sehingga jika barang-barang itu kau berikan kepadaku, kau tidak kehilangan apa-apa Bahkan kau masih akan menerima upah yang seharusnya aku terima”

“Jangan begitu” jawab orang Pusparuri itu, “Kita tidak membicarakannya sekarang. Kau akan aku bawa menghadap pemimpinku. Percayalah, pemimpinku adalah seorang yang baik, jujur dan menghargai kerja orang lain. Memang ada sedikit perbedaannya dengan orang-orang Kendali Putih. Orang-orang Pusparuri tidak segarang orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading”

Tetapi orang berkumis lebat itu berkata lantang, “Sudahlah. Jangan banyak alasan lagi. Aku sudah jemu hidup dalam lingkungan serigala yang selalu kelaparan. Aku akan pulang dengan barang-barang berharga. Aku akan menyingkir dan hidup dengan cara yang lain”

“Terserahlah kepadamu. Tetapi jangan memaksa aku untuk mengorbankan apa yang aku punya” jawab orang Pusparuri itu. Lalu, “Dan apakah kau masih mempunyai kesempatan untuk hidup tenang dengan melupakan darah yang telah mengotori tanganmu? He, kau tentu akan selalu terbayang pertempuran yang mengerikan yang terjadi di pategalan itu. Dan sekarang kau akan menambah noda itu dengan merampok milikku yang justru adalah hasil rampokan pula?”

“Persetan” geram orang berkumis lebat itu, “Orang-orang Kendali Putih pada dasarnya memang lebih garang dari orang-orang Pusparuri. Karena itu, jangan membantah. Serahkan barang-barangmu itu kepadaku. Kita akan berpisah sampai disini, atau kau akan memaksa aku untuk mengambil sikap yang lain. Agar kau tidak dapat menunjukkan jejak perbuatanku, maka kau sebaiknya memang harus dibunuh saja”

Orang Pusparuri itu menjadi tegang Dipandanginya orang berkumis lebat itu dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Kau membuat aku marah”

“Aku tidak peduli” jawab orang berkumis lebat itu, “Kau sudah menunjukkan sikap yang tidak jujur. Kau ingin lari tanpa setahuku. Kau juga sudah menyalahi ketentuan yang berlaku bagi orang-orang Kendali Putih disaat kau berada di dalam lingkungan kami”

“Apakah yang kau lakukan itu juga merupakan satu ketentuan dalam lingkungan Kendali Putih? Apakah memang sudah digariskan, bahwa orang-orang Kendali Putih harus mengkhianati kawan-kawannya?”

“Persetan. Jangan banyak cakap. Berikan barang-barang itu, atau kau akan aku bunuh disini” bentak orang berkumis lebat.

Tetapi orang Pusparuri itu justru mempersiapkan diri. Katanya, “Aku menghindari pertempuran di pategalan itu karena aku tidak mau mati. Kau kira disini aku akan membiarkan leherku kau penggal? Sebenarnya kita dapat saling menahan diri. Tetapi kau terlalu tamak dan bernafsu untuk memiliki sesuatu yang bukan hakmu, meskipun menurut pendapatmu juga bukan hakku. Tetapi barang-barang itu sudah ada padaku sekarang”

Orang berkumis lebat itu tidak menjawab lagi. Namun tiba-tiba saja ia sudah menarik pedangnya. Geramnya, “Aku bunuh kau disini”

Tetapi orang Pusparuri itu tertawa. Katanya, “Jika kau mati, bukan salahku. Kaulah yang mendahuluinya”

Orang berkumis lebat itu menggerakkan pedangnya. Namun orang Pusparuri itupun telah bersiaga pula menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, orang Kendali Putih itu sudah meloncat menyerangnya dengan senjata berputar. Tetapi orang Pusparuri itu sudah siap menghadapinya. Ia sempat mengelak. Bahkan iapun telah menyerang pula dengan senjatanya dengan tebasan mendatar. Namun senjatanya tidak menyentuh lawannya yang meloncat surut.

Ketika pertempuran diantara kedua orang itu menjadi semakin sengit maka di pategalan pertempuran pun menjadi semakin menggetarkan jantung. Yang masih sanggup bertempur diatas punggung kuda, masih juga berkejaran dan saling menyambar. Tetapi jumlah mereka tidak lagi melampaui hitungan jari tangan.

Sementara itu, Yang Mulia dan Eyang Rangga pun masih juga bertempur dengan gigihnya. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, yang sukar dicari bandingnya. Karena itulah, maka pertempuran diantara keduanya diatas punggung kudanya, seolah-olah telah menimbulkan angin pusaran. Debu berhamburan dan mengepul tinggi ke udara. Pepohonan perdu menjadi berpatahan. Tanah pategalan itu seolah-olah bagaikan telah dibajak oleh kaki-kaki kuda yang besar dan tegar.

Pada saat yang bersamaan, di Bukit Gundul, Daruwerdi sedang mempersiapkan usahanya untuk mengambil pusaka yang dijanjikan, untuk, ditukar dengan seseorang yang menurut keterangannya telah membunuh ayahnya, sementara Sanggit Raina menunggunya dengan berdebar-debar bersama beberapa orang pengikutnya dan Pangeran yang dianggapnya sakit itu,

Dalam pada itu, orang berkumis. lebat yang bertempur melawan orang Pusparuri itupun menjadi semakin garang. Sebagaimana kebiasaan orang-orang Kendali Putih, maka iapun segera bertempur dengan kasar.

Tetapi orang-orang Pusparuri bukannya orang yang lemah dan mudah menjadi kecut menghadapi keadaan. Bahkan orang Pusparuri yang bertempur melawan orang berkumis itu masih sempat tertawa sambil memutar senjatanya, “Kau memang bernasib buruk, Kau korbankan kawan-kawanmu saling membunuh melawan orang-orang Sanggar Gading. Dan kini kau sendiri sudah menyurukkan dirimu ke dalam maut”

“Persetan” geram orang berkumis itu, “masih ada kesempatan bagimu untuk menyelamatkan diri dengan menyerahkan barang-barangmu. Timang emas tretes berlian dan tentu permata berharga yang kau simpan di dalam kantong ikat pinggangmu”

Orang Pusparuri itu tertawa semakin keras, Katanya, “Sebaiknya aku selesaikan persoalan kita ini sebelum ada orang lain yang ikut campur. Jika orang-orang padukuhan melihat apa yang terjadi, mereka akan berdatangan dan tanpa mengetahui duduk perkaranya, mereka akan melibatkan diri. Aku akan berkata kepada mereka, bahwa aku telah dicegat oleh seorang perampok yang ingin memiliki barang-barangku”

“Bodoh. Aku pun dapat berkata seperti itu” geram orang berkumis lebat.

“Tetapi kau tidak membawa barang-barang berharga yang pantas di rampok” jawab orang Pusparuri itu sambil tertawa.

Orang berkumis itupun menggeram. Ia menyerang lawannya semakin sengit. Namun lawannya pun meningkatkan perlawanannya sambil berkata, “Aku orang pilihan dilingkungan orang-orang Pusparuri. Justru karena itulah, maka aku mendapat tugas yang amat penting untuk berusaha membenturkan orang-orang Pusparuri dengan orang-orang Sanggar Gading. Lewat seorang pengkhianat seperti kau, aku telah berhasil dan tugasku di lingkungan orang-orang Kendali Putih telah selesai”

Demikian mulutnya diam, maka ia pun segera menyerang seperti angin prahara. Senjatanya berputar seperti baling-baling. Kakinya berloncatan bagaikan tidak menyentuh tanah.

Orang Kendali Putih itu terkejut. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya yang selama berada di lingkungan orang Kendali Putih tidak menunjukkan kelebihan apapun, dan bahkan seolah-olah berada di lapisan di bawahnya, karena ia termasuk orang yang mendapat kepercayaan dari pimpinannya, tiba-tiba telah berubah menjadi seorang yang garang. Dengan demikian, maka orang Kendali Putih itu harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempertahankan diri.

Demikianlah keseimbangan pertempuran itu pun segera berubah. Agaknya orang Pusparuri itu dengan sengaja tidak pernah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya ketika ia berada di lingkungan orang-orang Kendali Putih, sehingga orang berkumis itu mengira, bahwa ia akan dengan mudah dapat merampas barang-barangnya.

Namun ternyata bahwa orang Pusparuri itu memiliki ilmu yang lebih tinggi. Ketika sekali lagi orang Pusparuri itu menghentakkan kemampuannya, maka orang Kendali Putih itupun menjadi semakin terdesak.

Tetapi kekasaran orang Kendali Putih itu sempat memperpan-jang perlawanannya. Ia tidak menghiraukan lagi, apakah ada orang lain yang mendengar atau tidak. Dengan kasarnya ia berteriak mengumpat-umpat.

“Jangan menjadi Gila” geram orang Pusparuri itu. Orang berkumis itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia meng-imbangi kemampuan lawannya dengan sikap dan gerak yang buas dan liar.

Tetapi lambat laun, tenaganya pun menjadi semakin susut. Bahkan tenaga lawannya terasa justru menjadi semakin kuat.

Orang Pusparuri itupun kemudian semakin menekannya sambil tersenyum. Katanya, “Kau memang harus mati. Dosamu bertimbun di dalam dirimu. Orang seperti kau sama sekali tidak akan mengenal pertaubatan. Seandainya kau berhasil merampas barang-barangku dan hidup menyendiri di-daerah Timur, namun pada saat-saat yang lain, jika bekalmu telah habis, kau akan menjadi orang yang sangat berbahaya bagi tetangga-tetanggamu sendiri”

“Persetan” teriak orang itu sambil meloncat menyerang. Orang Pusparuri itu mengelak dengan langkah kecil kesamping. Dengan cepat ia berputar, dan kemudian mengayunkan senjatanya mendatar.

Disaat orang Kendali Putih itu kehilangan, dan dengan membabi buta menangkis serangan orang Pusparuri itu, maka orang Pusparuri itu menarik serangannya.

Saat yang ditunggu itu akhirnya datang juga bagi orang Pusparuri. Dengan satu pancingan, orang Kendali Putih itu menyilangkan pedangnya di muka dada. Namun pada saat itulah, orang Pusparuri itu meloncat dengan tikaman lurus kearah lambung.

Dengan serta merta orang Kendali Putih sudah kebingungan itu berusaha memukul pedang lawannya yang mematuk lambungnya, namun sekali lagi orang Pusparuri itu menarik serangannya dan dengan cepatnya menikam lawannya kearah jantung.

Tidak ada kesempatan bagi orang berkumis itu. Ketika pedang lawannya menghunjam didadanya, terdengar ia mengumpat keras. Namun demikian lawannya menarik pedang yang merah oleh darah, maka orang Kendali Putih itupun terhuyung jatuh di tanah.

Orang Pusparuri itu tertawa. Sambil berdiri di sisi tubuh yang tergolek diam itu, ia bergumam, “Kau memang tamak. Dengan sengaja aku memancing perhatianmu atas barang-barangku ini. Dengan demikian, bukan aku yang memulai dengan pertengkaran. Tetapi kau. Dan karena itu, maka aku telah terbebas dari segala macam tuntutanmu atas jasa-jasamu membenturkan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading.

Sambil tertawa orang itu menyarungkan pedang. Katanya, “Maaf, aku tidak sempat mengurusi mayatmu. Jika ada seorang petani menemukan kau disini, maka biarlah ia memanggil kawan-kawannya dan menyelenggarakan mayatmu”

Sejenak kemudian, orang Pusparuri itupun telah meloncat ke punggung kudanya. Ia telah menyembunyikan timang emas tretes berlian yang telah dengan sengaja diperlihatkan kepada orang Kendali Putih itu sehingga ia berhasil memancing pertengkaran.

Pada saat kaki kudanya berderap mengepulkan debu yang kelabu, maka kaki-kaki kuda di pategalan itupun masih juga melontarkan debu ke udara. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading masih bertempur dengan sengitnya melawan orang yang disebut Eyang Rangga.

Namun kegarangan di arena di pategalan itu semakin lama menjadi semakin susut. Beberapa ekor kuda masih berlari-larian, tetapi tanpa penunggangnya lagi. Justru yang lain dengan tenangnya makan dedaunan yang kekuning-kuningan di pategalan.

Sementara itu tubuh yang terluka terbaring membujur lintang di pategalan, di jalan-jalan dan di padang perdu yang kering, diantara mayat-mayat yang mulai membeku.

“Gila” akhirnya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading mengumpat, “He, Sampir. Apakah kau masih juga bernafsu untuk bertempur sampai tujuh hari tujuh malam”

“Jika perlu, aku akan bertempur sampai ampat puluh hari ampat puluh malam” jawab Eyang Rangga,

“Tetapi kau lihat, orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih akan punah sama sekali” berkata Eyang Rangga.

“Kedudukanmu berbeda dengan kedudukanku” jawab Eyang Rangga, “Jika orang-orang Sanggar Gading punah, maka kau benar-benar kehilangan. Tetapi aku orang lain bagi orang-orang Kendali Putih, meskipun kali ini aku bekerja bersama mereka. Aku tidak merasa kehilangan apa-apa jika orang-orang Kendali Putih itu habis terbantai disini”

“Gila” geram Panembahan Wukir Gading, “Tetapi setidak-tidaknya kita dapat membuat perhitungan lain. Kenapa kita harus membunuh sampai orang terakhir”

“Apa pendapatmu?” bertanya Eyang Rangga, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading telah mengendorkan serangannya. Dengan demikian pertempuran diantara keduanya mulai mereda.

“Tidak ada gunanya kita saling membunuh sampai orang terakhir” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, “waktu kita akan habis tersita disini, sementara persoalan yang menjadi tujuan utama kita belum kita selesaikan”

“Katakan, apa yang akan kau lakukan sekarang? Lari dari arena dan menemui orang yang menyembunyikan pusaka itu?”

“Bukan aku yang ingin lari dari pertempuran ini. Tetapi kita dapat menghentikannya” jawab Yang Mulia, “Bukankah kita tahu, apa yang sebenarnya ada di daerah Sepasang Bukit Mati ini. Bukan hanya sekedar pusaka”

Eyang Rangga mengerutkan keningnya. Katanya, “Jadi kau juga mengetahui bahwa disamping pusaka itu masih ada hal lain yang berharga”

“Ya. Meskipun aku berusaha untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Tetapi agaknya banyak pihak yang sebenarnya juga sudah mengetahuinya” jawab Yang Mulia” Karena itu, apakah kita dapat mengakhiri saja pertempuran ini dan membagi saja apa yang ada, yang tentu saja dengan perbandingan yang berimbang, karena akulah yang berhasil membawa Pangeran itu”

Eyang Rangga merenung sejenak. Sementara Yang Mulia pun tidak lagi menyerang dengan garang Kemudian Eyang Rangga itupun berkata, “Apa yang kau maksud perbandingan yang berimbang?”

“Jika kita bertempur terus, kau tentu tidak akan mendapat apa-apa sama sekali. Setiap orang yang berada di pategalan ini akan mati. Kau juga akan mati. Tetapi untuk itu aku memerlukan waktu yang panjang. Sementara itu, mungkin telah terjadi sesuatu dengan Pangeran itu. Apalagi jika orang-orang Pusparuri atau Gunung Kunir mendengar, bahwa kita sudah punah”

Eyang Rangga itu masih bertanya, “Yang aku tanyakan adalah perbandingan yang berimbang”

“Kau akan mendapat sebagian dari harta karun yang ditinggalkan bersama pusaka itu. Sebagian yang lain dan pusaka itu menjadi milikku” jawab Yang Mulia, “He, apakah kau tahu berapa besarnya nilai harta karun yang ditinggalkan bersama pusaka itu. Jika aku memberimu sepertiga, maka kau akan menjadi seorang yang memiliki kekayaan tiada taranya. Tidak ada orang atau lingkungan yang mempunyai kekayaan sebesar itu, kecuali kau dan selebihnya aku”

Eyang Rangga berpikir sejenak. Kemudian dilayangkan pandangannya ke seluruh medan. Memang tinggal beberapa orang yang telah letih. Karena para pemimpin mereka berhenti bertempur, orang-orang itupun telah berhenti bertempur pula.

“Nah, apa katamu?” bertanya Yang Mulia.

Eyang Rangga masih berpikir. Katanya kemudian, “Kenapa perbandingan itu tidak seimbang sama sekali. Kenapa aku hanya mendapat sepertiga, sedangkan pusaka itu akan jatuh ke tanganmu”

“Kami orang-orang Sanggar Gading lah yang berhasil memenuhi permintaan Daruwerdi. Kenapa orang Kendali Putih tidak melakukannya sebelumnya? Untuk menangkap Pangeran itu, telah diperlukan pengorbanan tersendiri” sahut Yang Mulia.

Eyang Rangga masih sempat menimbang-nimbang. Namun akhirnya ia sadar, bahwa ia memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika perempuan itu berlangsung terus, maka orang-orang yang tersisa di pihak masing-masing, akan punah pula. Ia sendiri tentu akan berhadapan dengan Yang Mulia dan beberapa orang yang tentu sedang mengawal Pangeran yang masih tersembunyi.

Sambil memikirkan kemungkinan selanjutnya, maka tawaran itu dapat diterima untuk sementara. Sehingga karena itu. maka katanya, “Baiklah. Aku akan menerima sepertiga dari harta yang tersimpan, yang disediakan bagi satu perjuangan untuk menegakkan kembali Majapahit. Harta itu mungkin berupa emas dan permata, tetapi mungkin juga berupa pusaka-pusaka yang banyak jumlahnya, disamping satu pusaka yang paling berharga”

“Jika demikian, apakah kita dapat menghentikan pertempuran ini” bertanya Yang Mulia.

“Ya. Kita akan menghentikan pertempuran ini” jawab Eyang Rangga.

Demikianlah kedua orang itu segera memberikan isyarat bahwa pertempuran telah dihentikan. Namun dalam pada itu. di kedua belah pihak sama sekali sudah tidak lagi tersimpan kekuatan yang akan dapat diperhitungkan, kecuali Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan Eyang Rangga.

Sementara itu, Sanggit Raina yang gelisah masih harus menunggu kehadiran Cempaka dan Rahu yang akan datang bersama Daruwerdi membawa pusaka yang dijanjikan.

Rasa-rasanya mereka telah sehari penuh naik ke puncak bukit gundul itu. Namun mereka masih belum nampak turun.

Dalam pada itu, Pangeran yang sakit itu tidak lagi bersandar pada batu padas. Berlindung pada bebatuan, maka Pangeran itu telah berbaring dengan lemahnya. Bahkan Sanggit Raina pun telah menjadi bertambah cemas, jika Pangeran itu benar-benar akan mati seperti yang dikatakannya.

Namun Sanggit Raina itupun menjadi terkejut sekali ketika ia mendengar derap kaki kuda. Dengan serta merta, ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Para pengikutnya dan tabib yang selalu merawat Pangeran itupun telah bersiap pula. Tangan mereka telah melekat di hulu pedang masing-masing.

Jantung Sanggit Raina terasa bagaikan berhenti berdetak ketika ia melihat Yang Mulia Panembahan Wukir Gading berkuda bersama lawannya di medan pertempuran. Bahkan selain beberapa orang Sanggar Gading yang tersisa terdapat beberapa orang yang tidak dikenalnya.

“Gila, permainan apa lagi yang sedang dilakukan oleh Yang Mulia Panembahan timpang itu” geram Sanggit Raina, sementara Cempaka dan Rahu masih juga belum muncul.

Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun menjadi semakin dekat. Sanggit Raina masih berdiri dengan tangan di hulu pedangnya. Ia tidak tahu, apa yang bakal terjadi. Jika sekiranya Yang Mulia itu mengetahui niatnya untuk memiliki pusaka dan harta benda yang tersedia bagi satu perjuangan yang besar untuk menegakkan kembali Majapahit itu, maka tentu akan terjadi satu peristiwa yang gawat. Sementara itu adiknya Cempaka telah terlalu lama berada di bukit gundul itu. sehingga Sanggit Raina pun menjadi cemas.

“Apakah diatas bukit gundul itu ada juga tangan-tangan Yang Mulia dalam permainannya yang tidak aku ketahui” bertanya Sanggit Raina di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ternyata tidak ada tanda-tanda bahwa Yang Mulia akan mengambil satu tindak kekerasan. Bahkan ketika ia menjadi semakin dekat, nampak senyum dibibirnya.

“Ketika aku tidak menemukan Pangeran di tempatnya, aku segera menduga, bahwa kau telah mengambil langkah-langkah penyelamatan” berkata Yang Mulia.

Sanggit Raina menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ya Yang Mulia. Bagaimanapun juga, aku menjadi cemas, bahwa lawan kita akan berbuat curang, sehingga aku berusaha untuk menyelamatkannya. Aku yakin bahwa yang mulia dan orang-orang Sanggar Gading akan dapat menyelamatkan diri dengan menghancurkan semua orang Kendali Putih”

Yang Mulia tertawa. Katanya, “Ternyata aku mengambil sikap lain. Akhir dari pertempuran itu bukan punahnya orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih”

Wajah Sanggit Raina menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Apakah maksud Yang Mulia? Apakah mereka sudah menyerah?”

Yang Mulia menggeleng sambil menjawab, “Mereka tidak menyerah dan kita pun tidak menyerah”

“Lalu?” Sanggit Raina menjadi semakin heran.

“Kita sudah menemukan jalan keluar. Kita akan membagi hasil yang kita peroleh dari bukit gundul ini” berkata Yang Mulia.

“Apakah yang dapat dibagi dari hasil yang akan kita ambil dari bukit gundul ini. Jika kita menemukan sebilah pusaka yang menjadi sipat kandel Senapati Agung yang berusaha mempertahankan Kota Raja itu, apakah pusaka itu akan kita patahkan dan wesi aji itu akan kita serahkan kepada orang-orang Kendali Putih dan yang sepotong lagi bagi orang-orang Sanggar Gading?

Yang Mulia itu tersenyum. Katanya, “Tidak. Tentu tidak Pusaka itu akan menjadi milikku seutuhnya. Tetapi disamping pusaka itu kita masih akan mendapatkan harta benda yang tidak terhitung jumlahnya”

“Persetan” geram Sanggit Raina di dalam hati, “karena orang timpang ini mengigau dihadapan orang-orang Kendali Putih.

Sementara itu, Yang Mulia itu berkata, “Sanggit Raina. Kita memang tidak akan dapat berjuang sendiri. Dan kita pun tidak akan dapat memanfaatkan tuah itu sendiri. Jika karena tuah pusaka itu kita akan dapat menjadi orang pinunjul, maka meskipun harus mempunyai alas dan pendukung”

“Mereka akan datang dengan sendirinya yang Mulia” jawab Sanggit Raina, “Kita tidak memerlukan apapun juga dari orang lain. Kita hanya memerlukan pusaka itu. Selain pusaka itu pun menjadi hak kita sepenuhnya, karena kitalah yang dapat memenuhi permintaan

“Jangan hiraukan sebagian kecil dari harta yang akan kita dapatkan. Biarlah orang tua ini ikut memilikinya, sementara kita masih harus memperhitungkan orang-orang Pusparuri dan mungkin dari padepokan-padepokan lain yang mendengar pula tentang pusaka itu”

“Yang Mulia” tiba-tiba Sanggit Raina berteriak, “Kita masih mempunyai kesempatan. Kita binasakan saja semua orang Kendali Putih yang ada. Masih ada beberapa tenaga segar disini. termasuk aku sendiri”

Namun yang terdengar adalah suara Eyang Rangga diantara tertawanya, “Sudah aku katakan. Aku tidak akan peduli, apakah orang-orang Kendali Putih akan kalian musnahkan atau tidak. Aku tidak berkeberatan dengan mereka. Tetapi aku percaya, bahwa orang yang memiliki nama besar seperti Yang Mulia Panembahan Wukir Gading ini tidak akan menjilat ludahnya kembali”

“Aku tidak akan merubah sikap” berkata Yang Mulia, “Aku akan memberikan sebagian kepadamu”

“Tidak ada artinya janji bagi orang-orang licik seperti orang-orang Kendali Putih, Kita akan menghancurkan semuanya. Kita akan membunuh sampai orang terakhir” geram Sanggit Raina.

Tetapi Yang Mulia menggeleng. Katanya, “Tidak ada gunanya. Orang-Kendali Putih akan ikut mempertahankan apa yang akan kita dapatkan dari bukit gundul ini, karena mereka akan mendapat sebagian daripadanya”

Sanggit Raina menggeretakkan giginya. Namun ia pun kemudian mulai berpikir, jika dalam keadaan yang demikian orang-orang Pusparuri itu datang, maka mereka memang akan dimusnahkan.

Karena itu, maka Sanggit Raina telah menahan hatinya. Ia masih harus mendapatkan suatu cara untuk memiliki semuanya tanpa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan tanpa orang-orang Kendali Putih.

Namun sebentar lagi Daruwerdi akan turun dari bukit gundul bersama Cempaka dan Rahu. Nampaknya kesempatan yang ada menjadi semakin sempit untuk mendapatkan harta yang tidak ternilai harganya itu, justru hadirnya orang-orang Kendali Putih. Sanggit Raina pun mengetahui bahwa orang yang datang di sisi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu adalah orang yang memiliki kemampuan setingkat dengan Yang Mulia itu sendiri.

Dalam pada itu, maka telah terjadi kebingungan pula diantara orang-orang yang mengawasi keadaan itu. Semi yang melihat dari awal sampai akhir dari pertempuran di pategalan itupun tidak lagi dapat mengerti apa yang telah terjadi.

“Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh Yang Mulia itu?” bertanya Semi.

Kawannya pun menjadi bingung. Kedua pihak yang bertempur mati-matian, bahkan setelah jatuh korban yang terbujur silang, mereka seolah-olah telah menemukan satu kesepakatan.

“Kita pergi ke bukit gundul” desis Semi.

Dengan hati-hati mereka pun mengikuti iring-iringan yang menurut perhitungan mereka akan pergi ke bukit gundul. Namun mereka pun tidak mengetahui, apa yang akan mereka lakukan pada keadaan yang terakhir.

“Jika keduanya menemukan kesepakatan, maka Yang Mulia dan lawannya itu akan menjadi pasangan yang sangat berbahaya. Bahkan mungkin tidak terkalahkan. Apalagi jika keduanya mengambil satu keputusan tersendiri bagi keuntungan mereka berdua” gumam Semi.

Kawannya mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kita tidak akan berdaya. Kita berdua, Jlitheng dan Rahu seandainya dapat kita himpun, tidak akan dapat mengalahkan mereka berdua. Apalagi jika satu dua orang pengikutnya setia kepada mereka”

“Kita akan melihat, apa yang terjadi” desis Semi.

Sementara itu, di puncak bukit gundul itu, Daruwerdi, Rahu dan Cempaka dibantu oleh seorang pengikut padepokan Sanggar Gading sedang sibuk berusaha untuk mengambil sebuah peti yang terjepit di dalam retak-retak batu padas. Peti yang semula tidak nampak itu, akhirnya dapat mereka lihat, setelah mereka menyibakkan beberapa bongkah batu padas.

“Bagaimana kau tahu, bahwa benda itu ada disana?” bertanya Cempaka.

“Aku menemukan sebuah petunjuk” jawab Daruwerdi. Jawaban itu telah mendebarkan jantung Cempaka.

Dalam pada itu, Daruwerdi masih berkata selanjutnya, “Pada gambar itu aku mendapatkan keterangan yang jelas, bahwa pusaka itu terdapat di tempat ini”

“Kau Gila” geram Cempaka, “bagaimana jika gambar yang kau dapatkan itu tidak terbukti. Bagaimana jika setelah kita bekerja keras, apalagi setelah kami membawa Pangeran itu kepadamu, ternyata bahwa gambar yang kau dapatkan itu palsu atau sekedar perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab?”

“Aku yakin” jawab Daruwerdi, “pertanyaanmu memang pertanyaan yang bodoh. Kau kira aku hanya bersandar pada gambar itu saja? Aku sudah mencari keterangan sehingga aku dapat memastikannya. Baru kemudian aku berani menyatakan, siapa yang dapat membawa Pangeran itu kepadaku, maka ia akan mendapatkan pusaka itu. Tetapi agar pusaka itu tidak dapat dicuri orang, aku membiarkan pusaka itu tetap di tempatnya seperti yang kau lihat sekarang”

“Dari siapa kau mendapat keterangan itu?” bertanya Rahu.

“Kau lebih bodoh lagi Rahu” jawab Daruwerdi, “seharusnya kau mengerti, bahwa karena tidak ada lagi seorang pun yang dapat memberikan keterangan, maka tentu keterangan itu aku dapatkan dengan cara gaib. Tiga hari tiga malam aku tidur di tempat ini sesuai dengan petunjuk gambar itu. Ternyata aku mendapat keterangan dengan cara yang gaib, bahwa pusaka itu benar-benar ada. Bukan sekedar dongeng atau seperti yang kau katakan, bahwa gambar itu perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab. Di tempat ini aku telah melihat cahaya yang hijau kebiru-biruan. Dengan demikian, aku pun menjadi yakin. Aku baru menyatakan niatku untuk menukar pusaka itu, dengan taruhan leherku. Jika ternyata di dalam peti itu tidak terdapat apa-apa, maka kalian akan marah, dan kalian akan membantai aku disini”

Cempaka tidak menjawab. Namun akhirnya mereka mulai dapat menggapai peti itu.

Cempaka menjadi berdebar-debar ketika peti itu kemudian berhasil diambilnya. Dengan tangan gemetar ia membawa peti itu ke tempat yang datar dan meletakkan diatas sebongkah batu padas.

“Sunggingan peti itu telah hampir hilang” desis Cempaka, “bahkan pada beberapa bagiannya sudah mulai lapuk”

“Peti itu tentu kehujanan, jika hari hujan” desis Rahu.

“Apakah kita akan membukanya?” desis Cempaka.

“Terserah kepada kalian” berkata Daruwerdi, “Apakah akan kau buka sekarang, atau dihadapan pimpinan padepokanmu”

Tiba-tiba saja Cempaka tertawa. Katanya, “Kau tidak akan dapat mengatur kami lagi Daruwerdi. Pusaka ini sudah berada di tanganku, sehingga segalanya terserah kepadamu”

“Ya terserah kepadamu” jawab Daruwerdi, “Aku memang tidak memerlukan lagi. Tetapi serah terima belum dilaksanakan. Aku belum menerima dengan resmi Pangeran yang aku perlukan itu”

“Bagaimana sikapmu seandainya Pangeran itu tidak ada pada kami” bertanya Cempaka, “Atau bagaimana sikapmu jika sekarang tiba-tiba saja timbul nafsuku untuk membunuhmu”

Tetapi Daruwerdi justru tertawa. Katanya, “Kau benar-benar dungu Cempaka. Melampaui setiap orang yang pernah aku kenal”

“Kau sudah menyiapkan pasukan di seputar gunung gundul ini?” bertanya Cempaka, “itu bukan alasan sama sekali untuk mengurungkan niatku, jika aku memang ingin membunuhmu. Karena aku pun membawa pasukan yang kuat yang akan dapat melawan mereka”

“Tidak. Terus terang, aku tidak mempunyai kawan seorang pun. Aku telah bekerja sendiri” jawab Daruwerdi. Namun kemudian, “Tetapi itu menurut pengertian wadag”

“Maksudmu?” bertanya Cempaka.

“Jika aku sudah mendapat isyarat untuk memiliki dan memanfaatkan peti itu menurut kepentinganku, maka aku pun akan mendapat perlindungan tuah pusaka itu, melampaui kekuatan pasukan segelar sepapan” jawab Daruwerdi.

Cempaka lah yang kemudian tertawa. Tetapi terasa, betapa suara tertawanya itu hambar. Betapapun kecilnya, terbersit pula kecemasannya, bahwa apa yang dikatakan Daruwerdi itu benar akan terjadi.

Namun demikian, ia masih berusaha untuk menutupi kecemasannya. Sambil tertawa ia berkata, “Kau kira aku percaya? Tetapi baiklah. Aku tidak akan membunuhmu. Bukan karena aku takut kepada tuah pusaka seperti yang kau katakan itu. Tetapi justru karena kami telah membawa Pangeran yang sakit itu kemari. Kami tidak ingin mengurusinya lebih lama lagi. Jika ia akan mati, biarlah ia mati di tanganmu”

“Apakah ia sudah akan mati?” wajah Daruwerdi menjadi tegang.

“Mungkin ia akan segera mati” jawab Cempaka.

“Aku harus mendapat kesempatan untuk membalas dendam. Jika ia mati, biarlah ia mati di tanganku. Jangan mati sebelum aku membunuhnya dengan tanganku sendiri, karena ia sudah membunuh ayahku” berkata Daruwerdi.

“Aku tidak peduli. Pusaka ini sudah di tanganku. Aku akan membawanya dan menyerahkannya kepada kakang Sanggit Raina atas nama Yang Mulia Panembahan Wukir Gading” desis Cempaka.

“Serahkan kepada iblis yang manapun aku tidak peduli. Tetapi Pangeran itu jangan mati lebih dahulu. Aku memerlukannya, agar dendam ini tidak dengan perlahan-lahan justru membunuh diriku sendiri” geram Daruwerdi.

“Aku akan turun. Ikutlah aku jika kau ingin bertemu dengan Pangeran yang sedang sakit itu” berkata Cempaka kemudian, “Kau akan menerimanya sebagaimana sudah kita sepakati”

Cempaka pun kemudian mengambil peti itu. dan membawanya turun. Tetapi Daruwerdi yang selalu berjalan dekat disampingnya berdesis, “Peti itu masih hakku. Aku belum menyerahkan kepadamu karena aku belum menerima Pangeran itu”

“Persetan” geram Cempaka.

Tetapi Daruwerdi tidak memintanya, meskipun ia selalu berhati-hati mengamati pusaka yang berada di dalam peti itu. Sementara Rahu dan seorang lainnya mengikuti di belakangnya.

Dalam pada itu, Sanggit Raina hampir tidak sabar lagi menunggu. Kegelisahannya membuatnya bagaikan berdiri di atas bara. Sejenak dipandanginya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang masih duduk diatas punggung kudanya. Ia mengumpat tidak habis-habisnya bahwa Yang Mulia itu telah mengambil satu keputusan lain tentang orang-orang Kendali Putih.

“Apakah Yang Mulia sudah mulai mencium niatku untuk memiliki pusaka dan harta yang tersimpan itu” berkata Sanggit Raina di dalam hatinya.

Rasa-rasanya ia ingin langsung menyerang dan menikam perut Yang Mulia itu dengan pedangnya. Namun Sanggit Raina pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat melakukannya, karena Yang Mulia adalah orang yang berilmu tinggi.

Jantung Sanggit Raina bagaikan meledak ketika ia melihat Cempaka turun dari bukit gundul bersama Daruwerdi, Rahu dan seorang pengikutnya. Apalagi ketika ia melihat Cempaka membawa sebuah peti yang agak besar meskipun nampaknya tidak terlalu berat.

“Gila” geram Sanggit Raina di dalam hatinya. Dalam pada itu, Cempaka pun terkejut melihat di bawah bukit gundul itu beberapa orang berkuda telah siap menunggu Apalagi kemudian jelas dilihatnya, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan orang-orang Kendali Putih.

Karena itu, maka Cempaka pun telah tertegun. Sementara itu Rahu dan pengikut Sanggar Gading yang seorang itupun terkejut juga. Bahkan Daruwerdi pun mengerutkan keningnya pula.

“Siapakah mereka?” bertanya Daruwerdi, “Apakah mereka bukan orang yang berbahaya bagi pusaka itu?

Cempaka menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu desisnya, “Aku kurang mengerti perkembangan keadaan ini. Yang berkuda di ujung itu adalah Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, Pimpinan tertinggi dari padepokan Sanggar Gading. Tetapi yang lain itu adalah orang-orang Kendali Putih”

“Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Daruwerdi.

“Kakang Sanggit Raina ada diantara mereka. Ia sama sekali tidak memberikan isyarat apapun juga” jawab Cempaka.

Namun perasaan yang cemas nampak pada wajah Cempaka, sementara Rahu mempunyai pertimbangan-pertimbangan tersendiri Ia menjadi gelisah tentang Pangeran yang masih dianggapnya sakit itu. Apakah artinya langkah yang diambil oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu.

Meskipun kegelisahan itu bagaikan memukul dinding jantung Cempaka tetap melangkah menuruni bukit gundul. Dipandanginya Sanggit Raina yang berdiri termangu-mangu, namun yang sama sekali tidak memberikan isyarat apapun juga.

Dalam pada itu, Rahu lah yang kemudian berdesis, “Apakah kau tidak mempertimbangkan satu tindakan khusus menghadapi keadaan ini?”

“Apakah yang dapat kita lakukan” jawab Cempaka, “sementara kakang Sanggit Raina ada diantara mereka”

“Bagaimana jika kita akan menghadapi satu keadaan yang tidak kita inginkan? Sementara ini Sanggit Raina tidak sempat berbuat apa-apa?” bertanya Rahu.

“Memang mungkin sekali” jawab Cempaka, “Tetapi sebelum kita tahu pasti, apa yang sedang terjadi, aku tidak dapat mengambil sikap apapun juga”

“Jika demikian” berkata Daruwerdi, “serahkan peti itu kepadaku. Kita masih akan melihat, apa yang sedang berkembang. Di bawah ada orang-orang Sanggar Gading, tetapi ada juga orang-orang Kendali Putih yang nampaknya tidak saling bermusuhan”

“Aku sependapat dengan Daruwerdi” tiba-tiba saja Rahu menyambung, “segala sesuatunya masih ada di tangan pertama. Kau tidak akan dibebani tanggung jawab apapun juga, justru karena kau memegang peti itu”

Cempaka termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia menggeram, “Kau akan melarikan diri?”

“Aku belum Gila” jawab Daruwerdi, “untuk waktu yang tidak terbatas aku menunggu Pangeran itu. Apakah begitu saja aku akan meninggalkannya?”

Cempaka semakin bimbang. Justru karena itu, maka langkahnya pun terhenti.

“Kenapa mereka berhenti?” bertanya Yang Mulia.

“Seperti aku, Cempaka pun tentu ragu-ragu melihat orang-orang Kendali Putih ada disini” jawab Sanggit Raina.

“Aku akan menjelaskan” jawab Yang Mulia.

“Sebenarnya kita dapat mengambil jalan lain” desis Sanggit Raina, “Kita binasakan orang-orang Kendali Putih. Kemudian kita segera menyingkir dengan peti itu? Apa sulitnya? Biarlah orang Pusparuri datang dengan sepasukan yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka tidak akan terlalu mudah untuk menemukan kita”

“Jangan sebut-sebut lagi” potong Yang Mulia, “Aku sudah memutuskan. Apakah keputusanku ini bukan satu keputusan yang bijaksana seperti yang kau lakukan? Bahwa pada saat orang-orang Sanggar Gading bertempur mati-matian melawan orang Kendali Putih, kau berusaha menyingkirkan Pangeran untuk menyelamatkannya?”

Alangkah tajamnya sindirian itu menusuk jantung Sanggit Raina. Kini ia mengerti, bahwa Yang Mulia telah mencurigainya, sehingga karena itu, maka ia mengambil satu sikap yang sama sekali diluar dugaannya.

Namun dalam pada itu, agaknya Yang Mulia masih juga ragu-ragu. Mungkin Sanggit Raina berbuat demikian dengan maksud yang benar-benar baik. Tetapi dapat juga satu sikap yang licik.

Sementara itu, Cempaka akhirnya sependapat dengan Rahu. Diserahkannya peti itu sambil berkata, “Apa yang terjadi atas peti itu, biarlah terjadi. Kau adalah tangan pertama yang akan mempertanggung jawabkannya”

Daruwerdi menerima peti itu. Namun pada saat yang demikian, tiba-tiba saja kulitnya meremang. Untuk pertama kali ia merasa khawatir bahwa ia akan dikhianati. Ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang sangat licik dan tidak tahu diri

Untuk beberapa saat Daruwerdi masih berdiri mematung. Ketika Cempaka siap untuk melangkah, Daruwerdi bertanya sekali lagi, “Cempaka. Apakah pemimpinmu itu dapat dipercaya?”

“Kenapa kau bertanya demikian? Ia adalah pemimpin tertinggi dari orang-orang Sanggar Gading. Setiap orang Sanggar Gading tunduk terhadap keputusannya. Dan bukankah ia sudah membawa orang yang kau kehendaki? Dipercaya atau tidak, tetapi syarat yang kau tentukan sudah dipenuhinya? Buat apa kau meragukannya? Seandainya ia ingin berbuat curang apakah kami akan membawa Pangeran yang sakit itu kembali ke Sanggar Gading bersama pusaka ini. sekedar untuk menunjukkan satu sikap curang?”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Bahkan diluar sadarnya pun Rahu mengangguk-angguk pula. Pangeran itu sudah ada disini. Mau apa lagi? Karena itu, maka Daruwerdi pun segera melangkah turun sambil membawa peti yang memang tidak terlalu berat itu. Namun beban perasaannyalah yang kemudian terasa sangat memberat di dalam dadanya. Kegelisahan, kecemasan, bahkan juga ketakutan yang sebelumnya belum pernah menyentuh perasaannya.

Yang Mulia Wukir Gading tersenyum melihat orang-orang itu melanjutkan langkah mereka meskipun ia mengerutkan keningnya pula melihat Cempaka justru menyerahkan peti itu kembali kepada Daruwerdi.

“Apa maksudnya?” Ia bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi ia tidak memperdulikannya. Peti itu harus diserahkan kepadanya.

Semakin dekat Daruwerdi dengan sekelompok orang-orang berwajah kasar, bahkan ada diantara mereka nampaknya liar dan buas, sementara wajah Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang nampak tersenyum tetapi bagaikan menyimpan seribu rahasia itu, jantung Daruwerdi berdetak semakin keras. Rasa-rasanya terngiang suara ibunya di sela tangisnya yang tertahan, “Bagaimana jika mereka justru mengkhianatimu”

“Ya bagaimana?” pertanyaan itu diulanginya di dalam hatinya. Tetapi sekali lagi ia menegaskan kepada diri sendiri, “Pangeran itu ada disini. Segalanya akan berjalan dengan cepat, lancar dan selesai. Aku akan segera meninggalkan Daerah Sepasang Bukit Mati ini membawa Pangeran itu sebagai tawanan. Aku akan dapat menyelesaikan semua masalah pada kesempatan lain, jika orang-orang Kendali Putih yang datang bersama orang-orang Sanggar Gading itu telah pergi”

Karena itu, betapa kegelisahan mencengkam jantungnya, namun Daruwerdi berusaha untuk tetap berjalan dengan wajah tengadah sambil membawa peti yang berisi pusaka seperti yang dikatakannya.

“Bagus anak muda” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading kepada Daruwerdi sebelum anak itu mendekat, “Cepatlah sedikit Jangan berjalan seperti perempuan, Berjalan seperti perempuan. Berjalanlah seperti seorang laki-laki”

Suara Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu telah menggetarkan isi dadanya. Namun ia masih tetap bertahan untuk berjalan dengan wajah tengadah.

“Tukar menukar akan segera terjadi” desisnya di dalam hati. Namun ia tidak melihat Pangeran yang dimintanya.

Karena itu, maka ia pun bertanya kepada Cempaka, “Dimana Pangeran itu?”

“Ada. Ia sedang sakit. Mungkin ia duduk di balik batu-batu padas atau bahkan berbaring diantara bebatuan itu” jawab Cempaka.

Daruwerdi tidak bertanya lebih banyak lagi. Tetapi ia mulai melihat beberapa kesalahan langkah. Mungkin sejak semula ia sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan kecurangan dan kelicikan yang dapat dilakukan orang-orang Sanggar Gading.

“Tetapi kebesaran nama Sanggar Gading tentu tidak didapatkannya karena kelicikan melulu. Juga sikap jantan dan keberanian” berkata Daruwerdi di dalam hatinya

Ternyata ketika ia telah berdiri beberapa langkah dihadapan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang masih tetap duduk di punggung kudanya, jantungnya benar-benar tergetar. Wajah itu bagaikan bayangan rahasia yang tidak terjajagi. Senyumnya mengandung ribuan kemungkinan.

“Kemarilah anak muda” berkata Yang Mulia, “serahkan peti itu kepadaku”

Daruwerdi termangu-mangu. Seolah-olah ia tidak mampu lagi melawan perintah itu. Namun ia berusaha untuk tetap menguasai diri dan pribadinya sehingga ia berusaha untuk menjawab, “Aku hanya bersedia menyerahkannya, jika Pangeran itu sudah diserahkan kepadaku”

“O” Yang Mulia mengangguk-angguk, “Jadi Pangeran itu belum kau serahkan Sanggit Raina”

“Belum Yang Mulia” jawab Sanggit Raina.

“Bawa Pangeran itu kepadanya” tiba-tiba saja ia membentak, “Kenapa belum juga kau lakukan he?”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa orang yang disebut pimpinan tertinggi Sanggar Gading itu benar-benar ingin melakukan tukar-menukar seperti yang dimaksudkannya.

Sanggit Raina pun kemudian mendekati Pangeran yang berbaring di antara bongkah-bongkah batu padas. Katanya Silahkan Pangeran, Pangeran akan diserahkan kepada seseorang yang memerlukan Pangeran”

“Siapa?” bertanya Pangeran itu.

“Anak muda itu. Namanya Daruwerdi” jawab Sanggit Raina.

“Aku tidak dapat bangkit lagi. Aku akan mati disini. Biarlah aku melihat orang yang memerlukan aku itu” berkata Pangeran itu.

“Marilah. Kami akan membantu Pangeran berdiri” desak Sanggit Raina.

Pangeran itu tidak dapat mengelak lagi. Meskipun tubuhnya nampak semakin lemah, tetapi ia pun kemudian dipapah oleh Sanggit Raina. Namun tanpa diminta Rahu pun telah mendekatinya pula dan membantu memapahnya. Dalam keadaan yang gawat disaat-saat terakhir ia tidak boleh terlambat. Apapun yang akan terjadi padanya, ia tidak boleh membiarkan Pangeran itu menjadi korban, meskipun keadaannya itu sendiri sangat memprihatinkan.

Daruwerdi yang kemudian melihat seorang dipapah mendekatinya, mencoba memperhatikannya. Ia sebenarnya belum mengenal orang itu.

Tetapi Daruwerdi tahu pasti, ciri-ciri yang terdapat pada Pangeran yang dikehendakinya itu.

Dalam pada itu, maka Panembahan Wukir Gading itu pun kemudian berkata, “Nah, terimalah Pangeran yang sedang sakit itu. Ia tidak berbahaya. Bahkan nampaknya sakitnya menjadi semakin payah. Sebenarnya pada saat-saat terakhir di padepokan kami, keadaannya sudah berangsur baik. Namun perjalanan yang melelahkan ini membuatnya kehilangan sebagian besar dari kesehatannya yang tersisa”

Daruwerdi memandang Pangeran itu sejenak, sementara Pangeran itu memandanginya pula. Tetapi Pangeran itu sama sekali tidak dapat mengenal, siapakah anak muda yang menyebut dirinya bernama Daruwerdi itu.

Melihat keadaan Pangeran itu, maka Daruwerdi pun tidak lagi minta agar Pangeran itu diserahkan kepadanya dalam keadaan terikat. Nampaknya Pangeran itu sudah dalam keadaan yang lemah sekali, sehingga ia tidak akan dapat berbuat banyak.

“Aku akan meyakinkan, apakah memang orang inilah yang akan aku kehendaki” berkata Daruwerdi.

“Jangan Gila” geram Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, “Kaulah yang menyebutnya. Kaulah yang memberikan pertanda tentang dirinya. Jika keliru, kaulah yang keliru”

Bukan kami. Dan kau tidak akan dapat memaksa kami untuk mendapatkan Pangeran yang lain dengan taruhan nyawa pula”

Perlahan-lahan Daruwerdi mendekati Pangeran itu. Kemudian setelah mengangguk hormat ia berkata, ”Maaf Pangeran. Aku mohon Pangeran sudi menunjukkan jari-jari Pangeran pada tangan sebelah kiri”

Pangeran itu menggeram. Dengan nada berat ia bertanya, “Siapa kau sebenarnya, dan apakah kepentinganmu dengan aku, sehingga kau telah mempertaruhkan segalanya untuk membawa aku kemari”

“Nanti Pangeran akan mengetahuinya, tetapi aku mohon Pangeran menunjukkan jari-jari tangan kiri Pangeran” potong Daruwerdi.

“Kalau yang kau maksud adalah cacat pada kelingkingku, kau menemukan orang yang benar” jawab Pangeran itu sambil berusaha menunjukkan jari-jari tangan kirinya dibantu oleh Rahu.

“Tepat Pangeran” berkata Daruwerdi, “Aku memang memerlukan Pangeran”

“Kenapa kau memerlukan aku?” bertanya Pangeran itu.

Tetapi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading telah memotong, “Bicarakan kemudian. Kita masih akan bersama sama untuk beberapa hari”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia berbicara, Yang Mulia itupun berkata, “Serahkan peti itu kepadaku anak muda. Aku ingin melihat, apakah isi peti itu memadai untuk di pertaruhkan dengan sejumlah nyawa orang-orang terbaik dari Sanggar Gading dan Kendali Putih”

“Nampaknya kami pun telah tergesa-gesa mengambil sikap” berkata Eyang Rangga, “Tetapi baiklah kau lihat isi peti itu”

“Bagaimana kau mendapatkannya anak muda?” bertanya Yang Mulia itu kemudian.

“Pertanda gaib” jawab Daruwerdi, “peti itu sama sekali tidak kelihatan. Tetapi aku yakin akan pertanda gaib yang aku dapatkan, sehingga aku berani bertaruh dengan leherku. Aku tidak mau mengambil sebelumnya justru untuk menghindari agar peti itu tidak jatuh ke tangan orang lain yang akan dapat mengambilnya dengan kekerasan. Ternyata peti itu ada di tempat seperti pertanda gaib yang aku terima meskipun kami harus membongkar bongkah-bongkah batu padas”

Yang Mulia mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Marilah, serahkan peti itu kepadaku”

Daruwerdi pun kemudian maju mendekati Yang Mulia yang masih duduk di punggung kudanya. Sanggit Raina mengikuti langkahnya dengan tegang. Sementara orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih yang tersisa pun memperhatikannya dengan tanpa bergeser dari tempat mereka.

Yang justru gemetar kemudian adalah tangan Daruwerdi. Ketika ia menyerahkan peti itu, ia sempat memandang wajah Yang Mulia sekilas. Ternyata bahwa wajah yang menyimpan seribu macam rahasia itu sama sekali tidak nampak berubah.

Demikian peti itu diterimanya, maka Yang Mulia pun kemudian mengibaskan sisa-sisa tanah yang masih melekat. Perlahan-lahan iapun kemudian membuka tutup peti itu.

Wajah-wajah menjadi tegang. Wajah Pangeran yang sakit itu pun menjadi tegang. Namun justru wajah Yang Mulia itulah yang sama sekali tidak berubah. Senyumnya masih saja seolah-olah melekat di bibirnya. Bahkan ketika peti itu telah terbuka maka ia masih tetap tersenyum.

“Sebilah pusaka yang tidak dikenal” berkata Yang Mulia. Lalu, “He anak muda, apakah kau tahu arti goresan-goresan benda tajam pada dinding peti ini?”

Daruwerdi menggeleng lemah. Katanya, “Tidak. Aku tidak tahu apa-apa tentang pusaka dan petinya. Aku hanya mengetahui tempatnya. Itu saja”

Yang Mulia memperhatikan goresan-goresan pada dinding peti itu dengan saksama. Ia melihat tanda-tanda dan garis-garis yang mungkin mempunyai arti.

Yang Mulia itupun menghubungkan goresan-goresan itu lengan kemungkinan-kemungkinan yang disimpan oleh daerah Sepasang Bukit Mati. Tentang harta karun yang tidak ternilai harganya dan tentang landasan perjuangan untuk menegakkan kembali satu kekuasaan diatas reruntuhan Majapahit.

“Mungkin inilah petunjuk itu” berkata Yang Mulia di dalam hatinya.

Namun demikian, ia pun kemudian berkata, “Daruwerdi. Bukan berarti aku tidak percaya kepadamu. Apalagi seperti yang kau katakan, bahwa kau mengaku tidak mengetahui apa-apa, selain petunjuk gaib tentang peti dan pusaka inti. Bahkan tempatnya pun baru kau yakini kebenarannya setelah Cempaka dan Rahu ikut membantumu mengambilnya” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebagaimana biasanya, maka untuk meyakinkan kebenaran adanya sejenis pusaka, maka pusaka itu perlu ditayuh. Dan aku akan melakukannya. Pusaka ini akan aku tayuh tiga hari tiga malam diatas bukit berhutan itu untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk. Kita akan bersembunyi bersama-sama di puncak bukit berhutan itu selama aku meyakinkan kebenaran pusaka ini”

Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Dipandanginya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu dengan tajamnya. Sementara Panembahan itu masih saja tersenyum sambil berkata, “Ya. Mungkin kau kurang mengerti. Tetapi demikianlah kebiasaan seseorang. Untuk mengetahui nilai dari sejenis wesi aji, maka orang harus menayuhnya”

“Tetapi aku tidak tahu apakah akibat dari cara yang demikian. Aku sudah memenuhi janjiku. Karena itu, maka aku berhak menerima nilai tukarnya seperti yang sudah disepakati. Kemudian terserah apa yang bakal terjadi dengan kita masing-masing” jawab Daruwerdi.

Namun Yang Mulia masih tetap tersenyum. Katanya?” Dengar anak muda. Kita semua akan naik keatas bukit berhutan itu. Kita akan bersembunyi. Aku kira pihak lain tidak akan mengira bahwa kita berada diatas bukit itu. Seandainya ada pihak lain yang mengetahui dan menyusul kita, maka kita bersama-sama akan bertahan. Aku yakin, bahwa kita akan menang. Aku dan orang tua berhati iblis ini tentu akan dapat mempertahankan peti itu menghadapi siapapun juga”

Wajah Daruwerdi menjadi semakin tegang. Sebuah pertanyaan yang bergejolak di hatinya seakan-akan terdengar semakin keras, “Apakah benar orang itu akan dapat mengetahui nilai dari sebuah pusaka? Dan dapat mengetahui pula keasliannya”

Dalam kebimbangan itu terdengar Yang Mulia berkata, “Sudahlah. Jangan berpikir terlalu panjang. Kita akan berangkat bersama-sama ke bukit itu”

“Silahkan” berkata Daruwerdi, “Aku akan pergi bersama Pangeran itu”

Tetapi Yang Mulia yang selalu tersenyum itu justru tertawa. Katanya, “Jangan menganggap kami orang-orang dungu anak muda. Sekali lagi aku katakan, bukan maksudku untuk tidak mempercayaimu. Tetapi aku hanya ingin menyaksikan. Hanya tiga hari tiga malam”

“Aku tidak mempunyai waktu” berkata Daruwerdi.

Tetapi Yang Mulia segera menjawab, “Kau tidak mempunyai pilihan. Kita melakukan tukar menukar dengan jujur. Karena itu kau pun harus bersedia mempertanggung jawabkannya.”

Terasa jantung anak muda itu bagaikan berhenti berdenyut. Namun ternyata ia tidak mempunyai kesempatan lain. Apalagi sesaat kemudian Yang Mulia itu telah mengambil keputusan, “Kita akan pergi sekarang. Semuanya. Kita akan berada di atas bukit berhutan itu hanya selama tiga hari tiga malam. Jika aku telah mendapatkan satu keyakinan tentang pusaka ini, maka aku akan mempersilahkan anak muda itu meninggalkan kita semuanya. Tetapi sebelum aku mendapatkan keyakinan itu. maka aku tidak akan membiarkan pergi. Karena kami bukan kelinci-kelinci yang terlalu bodoh untuk ditipu begitu saja”

Tubuh Daruwerdi terasa semakin gemetar. Ia tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan seseorang yang terlalu cerdik dan cermat. Bahkan ada seperti penyesalan yang melonjak di dalam hatinya. Ternyata rencananya tidak berjalan selancar seperti yang diduganya.

Dalam keadaan yang terjepit itu, Daruwerdi mulai membayangkan wajah ibunya yang melepaskannya dengan air mata. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu, karena demikian Yang Mulia menjatuhkan perintah untuk berangkat ke bukit berhutan itu. maka Sanggit Raina pun telah melangkah mendekati Daruwerdi sambil berkata, “Marilah anak muda. Tidak ada apa-apa yang akan terjadi. Kita hanya ingin membuktikan, bahwa kita masing-masing telah berbuat dengan jujur”

Daruwerdi menelan ludahnya. Sekilas dipandanginya peti yang sudah berada di tangan Yang Mulia itu. Sekali lagi ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar ia dapat mengetahui jika- pusaka itu dipalsukan? Bukankah tidak seorang pun yang mengetahui, pusaka apakah yang pernah disembunyikan itu. Atau ia sudah mendengar bahwa ada nilai lain yang terdapat disamping pusaka itu, sehingga ia bertanya tentang goresan-goresan pada dinding peti itu”

Ada semacam kebanggaan atas diri sendiri, bahwa ia sudah melakukannya dengan cermat. Tetapi bahwa Yang Mulia masih akan mempergunakan cara lain untuk mengetahui keaslian dari pusaka itu, sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.

Terbersit pula satu niat untuk berbicara tentang petunjuk gaib dan karena itu, ia akan mendapat perlindungan gaib apabila Yang Mulia itu akan berbuat curang. Namun niat itu di urungkan, karena ia yakin bahwa Yang Mulia tidak akan menghiraukannya. Bahkan mungkin ia yakin bahwa Yang Mulia tidak akan menghiraukannya. Bahkan mungkin Yang Mulia itu pun akan menjawab, bahwa ia pun dapat melakukan yang gaib itu.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain bagi Daruwerdi selain mengikuti iring-iringan yang kemudian menuju ke bukit berhutan. Jarak yang tidak terlalu jauh. Tetapi karena sebagian dari mereka telah terluka, kehilangan kekuatannya dan keletihan, maka perjalanan itu telah ditempuh hampir seperti mereka berjalan kaki saja. Meskipun dalam pada itu, bagi Daruwerdi telah disediakan seekor kuda pula.

Dalam perjalanan itu, Pangeran yang sakit itu nampaknya menjadi semakin payah. Tabib yang selalu menjaganya itu pun telah memberinya obat secukupnya, sesaat ketika mereka akan meninggalkan bukit gundul itu.

Nampaknya obat yang ditelannya itu memberinya sedikit kekuatan. Dengan seteguk air yang diminumnya dari impes yang dibawanya, maka tubuh Pangeran itu nampak menjadi sedikit segar. Tetapi sejenak kemudian ia sudah nampak menjadi payah lagi selama perjalanan.

“Jarak ini hanya pendek saja” berkata Cempaka.

“Tetapi kita akan naik keatas bukit itu” berkata tabib yang merawatnya.

“Ya” jawab Cempaka.

“Pangeran ini akan menjadi sangat letih” desis tabib itu pula.

“Biarlah beberapa orang membantunya. Atau biar saja ia berada di punggung kuda yang akan dituntun sepanjang jalan menanjak di lereng”

“Bagaimana jika ia justru jatuh dari punggung kuda?” bertanya tabib itu.

“Sudahlah. Nanti kita akan mencari jalan bagi Pangeran itu” jawab Cempaka.

Pangeran yang nampaknya sangat letih itu mendengarkan pembicaraan itu dengan berdebar-debar. Tetapi ia menjadi semakin berdebar-debar jika ia memikirkan tingkah laku anak muda yang menyebut dirinya bernama Daruwerdi itu.

“Agaknya anak ini sangat kurang pengalaman menghadapi orang-orang seperti pemimpin padepokan Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu” berkata Pangeran itu di dalam hatinya.

Namun sementara itu, Rahu selalu dekat dengan Pangeran itu. Ia merasa bertanggung jawab, apabila terjadi sesuatu atas Pangeran yang sedang sakit itu.

Demikianlah iring-iringan itu menuju ke bukit berhutan tidak terlalu jauh dari bukit gundul itu.

Sementara itu, kebingungan tidak saja terjadi diantara orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Bukan saja Sanggit Raina yang menjadi sangat gelisah karena perkembangan yang tidak terduga-duga itu. Bukan pula hanya Rahu yang cemas melihat keadaan Pangeran yang letih itu. Tetapi beberapa orang diluar lingkungan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih pun menjadi bingung.

“Apa yang mereka lakukan Kiai?” bertanya Jlitheng kepada Kiai Kanthi.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengerti. Aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Tetapi aku kira angger Daruwerdi terpaksa harus ikut bersama mereka”

“Pangeran yang sangat letih itu juga” desis Jlitheng.

“Kita akan mengikutinya” desis Kiai Kanthi, “betapapun sulitnya. Tetapi kita harus mengetahui kemana mereka pergi”

Dengan demikian, maka Jlitheng dan Kiai berusaha untuk mengamati iring-iringan itu. Mereka tidak berani mengambil jarak terlalu dekat, karena mereka pun menyadari, diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Namun dalam pada itu, selagi mereka dengan hati-hati berusaha mengikuti iring-iringan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih yang tersisa, maka keduanya telah dikejutkan oleh kehadiran dua orang yang juga sedang mengikuti iring-iringan itu. Namun Jlitheng menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata keduanya adalah Semi dan kawannya.

“Apa yang kau ketahui tentang mereka?” bertanya Jlitheng.

Semi menggeleng. Ia dapat menceriterakan pertempuran yang terjadi di pategalan. Iapun dapat mengatakan, bahwa diluar dugaan orang-orang terpenting dari padepokan Sanggar Gading dapat menyatukan rencana mereka dengan orang-orang Kendali Putih yang tersisa.

“Semuanya serba membingungkan. Ternyata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading benar-benar seorang yang memiliki sikap yang sulit untuk dimengerti sebelumnya. Ia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan” berkata Semi.

“Ia orang yang memiliki pengalaman yang sangat luas menilik sikap dan keputusan yang diambilnya” berkata Kiai Kanthi.

Semi mengangguk-angguk. Dengan kening yang berkerut ia bergumam, “Tugas, ini benar-benar menjadi berat dan tidak menentu”

“Itu sudah kita duga” sahut Jlitheng, “Kita memang tidak mempunyai perhitungan yang mapan sebelumnya. Kita memang harus bertindak sesuai dengan perkembangan keadaan. Tugas yang demikian memang terasa sangat berat dan tidak menentu”

Semi mengangguk-angguk. Tetapi yang dihadapinya itu justru terasa semakin berat, karena sikap yang sulit dimengerti dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Kadang-kadang ia berbuat sesuatu yang tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu.

Demikian iringan-iringan itu menjadi semakin dekat dengan bukit berhutan. Bahkan kemudian mereka yang mengikuti itupun mengerti, bahwa iring-iringan itu akan naik ke bukit berhutan itu.

“Swasti” tiba-tiba saja Kiai Kanthi berdesis.

“Mereka tidak naik lewat sisi yang akan melewati gubug kecil itu Kiai” berkata Jlitheng.

“Tetapi sebagian dari mereka tentu akan menebar untuk mengawasi keadaan. Kita belum tahu, apakah kepentingan mereka naik ke bukit berhutan itu. Tentu ada sesuatu yang mereka anggap penting untuk dilakukan di bukit itu” jawab Kiai Kanthi.

“Jadi, bagaimana menurut pertimbangan Kiai?” bertanya Jlitheng.

“Aku ingin menyelamatkan gadisku itu” desis Kiai Kanthi.

“Kita akan melingkari bukit itu, dan naik lewat jalan yang terbiasa kita lewati. Kita akan membawa keluar dari rumah itu” desis Jlitheng.

“Aku akan pergi bersama kalian” sahut Semi, “Aku kira, kita akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan menghadapi kendaraan yang kurang menentu”

Kiai Kanthi ternyata tidak berkeberatan. Karena itu, maka mereka pun berusaha untuk melingkari bukit kecil itu berjalan kaki dan kemudian memanjat naik menuju ke gubug Kiai Kanthi. Mereka harus membawa Swasti keluar dan bersiap menghadapi segala kemungkinan

Namun dalam pada itu, agar mereka tidak kehilangan arah, maka Jlitheng telah memisahkan diri untuk tetap mengikuti iring-iringan ku memanjat naik ke hutan di lereng bukit itu,.

“Jika kau sudah yakin, dimana mereka berhenti, segera hubungi kami” pesan Kiai Kanthi.

“Baik Kiai. Aku akan segera datang. Tetapi jika keadaan memaksa, Kiai tidak usah menunggu aku” jawab Jlitheng.

“Terima kasih. Tetapi aku kira aku perlu menunggu” desis Kiai Kanthi kemudian.

Demikianlah, maka Jlitheng dengan sangat berhati-hati tetap mengikuti iring-iringan itu. Meskipun hanya sekilas-sekilas saja, namun ia melihat, betapa sulitnya Pangeran yang sedang sakit itu untuk dapat memanjat naik. Rahu bahkan seolah-olah telah mendukungnya dan menjaga Pangeran itu dengan sangat berhati-hati bersama tabib yang merawatnya.

Sementara itu, beberapa orang yang lain memanjat sambil menuntun kuda, karena mereka tidak dapat memanjat lereng berhutan itu diatas punggung kuda.

Dalam pada itu, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading pun harus turun dari kudanya pula. Namun ternyata cacat kakinya tidak mengganggunya. Jika di padepokan nampaknya ia seorang timpang yang harus berjalan dengan tongkat gadingnya, namun di hutan bukit kecil itu, cacat kakinya seolah-olah diabaikannya.

Namun dalam pada itu, selain memikirkan Pangeran yang sakit itu, Rahu pun menjadi gelisah mengingat mereka yang mengawasi keadaan. Rahu sadar, bahwa tidak mudah bagi Semi, kawannya dan Jlitheng untuk mengetahui apa yang telah terjadi Mereka dapat menjadi bingung dan mengambil sikap yang keliru.

Karena itu, ketika iring-iringan itu telah mencapai bagian atas dari bukit kecil berhutan, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti, Rahu pun melepaskan Pangeran itu dan membiarkannya dipapah oleh tabib yang merawatnya,

“Akulah yang kelelahan” berkata Rahu, “Tetapi jangan hiraukan aku. Aku akan mencari air sebentar”

“Masih ada air di dalam impes itu” berkata Pangeran yang sakit.

“Terima kasih Pangeran. Pangeran tentu masih -” desis Rahu. Sementara itu Rahu berpesan kepada tabib itu, “Kau tidak usah mengatakannya kepada siapapun, bahwa aku akan mencari air sebentar. Aku akan segera menyusul. Aku sudah tahu, dimana kita semua akan berhenti”

Tabib yang merawat Pangeran itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi cepat. Sebelum Cempaka bertanya kepadaku, dimana kau”

“Jika ia bertanya, jawab sajalah seperti yang aku kata kan” desis Rahu yang kemudian memisahkan diri.

Sejenak Rahu termangu-mangu. Ia pasti bahwa tentu ada satu dua orang yang mengikutinya. Jika bukan Semi dan kawannya, tentu Jlitheng. Ia berharap, bahwa orang yang mengikuti itu dapat mengerti maksudnya.

Sejenak kemudian, ketika iring-iringan itu memanjat semakin jauh Rahu telah bergeser, justru turun. Ia menunggu sejenak, mungkin seseorang akan menghampirinya.

Meskipun demikian, ketika ia mendengar gemerisik dedaunan, ia telah bersiaga. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata yang mendekatinya adalah Jlitheng.

“Sokurlah kau datang” desis Rahu,

“Aku mengerti maksudmu memisahkan diri dari kawan-kawanmu” berkata Jlitheng, “Kami semua kebingungan. Aku sudah berhubungan dengan Semi dan kawannya. Juga dengan Kiai Kanthi, Kami tidak tahu, apa yang sedang terjadi”

Rahu pun segera menceriterakan dengan singkat, apa yang telah terjadi. Akhirnya Rahu pun menceriterakan, bahwa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading ternyata sangat cermat, sehingga ia menganggap perlu untuk meyakinkan keaslian pusaka yang diserahkan oleh Daruwerdi kepadanya. Karena itulah maka Yang Mulia telah membawa semua orang yang tersangkut dalam persoalan pusaka itu keatas bukit berhutan ini. Selama tiga hari tiga malam Yang Mulia akan berada di atas bukit. Pusaka itu akan ditayuhnya. sehingga ia akan mengetahui nilai yang sebenarnya dari pusaka itu.

“Tiga hari tiga malam” desis Jlitheng, “Apakah hal itu tidak akan mengundang kemungkinan lain jika ada pihak-pihak yang mengetahui apa yang telah terjadi?”

“Hal itu sudah diperhitungkannya” berkata Rahu, “Orang-orang yang tersisa dari Sanggar Gading dan Kendali Putih akan dapat menghadapi golongan manapun juga, apabila di bukit ini terdapat Yang Mulia dan orang Kendali Putih yang nampaknya memiliki kemampuan setingkat dengan Yang Mulia.

“Benar-benar membingungkan” gumam Jlitheng, “Yang baik, apa yang harus kami lakukan”

“Mintalah pertimbangan Kiai Kanthi” desis Rahu, “Tetapi sebaiknya kalian menunggu tiga hari tiga malam. Hasil dari usaha Yang Mulia itu akan menentukan, apa yang akan terjadi Usahakan pada hari keempat mendekati puncak bukit ini. Aku akan berusaha untuk memberikan isyarat kepada kalian”

Jlitheng mengangguk-angguk. Lalu Katanya, “Selama tiga hari tiga malam, kita akan berbicara dan mencari jalan keluar”

“Hati-hatilah. Yang ada di puncak bukit itu adalah sisa-sisa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih, diantaranya termasuk Sanggit Raina dan Cempaka di-samping Yang Mulia dan orang terkuat dari Kendali Putih. Kau harus memperhitungkan jumlah dan kemampuan orang-orang yang berada diatas bukit itu. Mungkin kau merasa perlu untuk bertindak. Jika jumlah kita jauh di bawah jumlah orang-orang yang berada di puncak bukit itu, maka apa yang akan dapat

Jlitheng mengangguk-angguk Katanya, “Baiklah. Kami akan memperhitungkannya”

“Sampaikan hal itu kepada Kiai Kanthi dan kepada Semi” desis Rahu kemudian, “Aku menyusul Yang Mulia keatas bukit, agar aku tidak dicurigai”

Rahu pun kemudian meninggalkan Jlitheng tanpa menyentuh air setitik pun. Namun Rahu sempat memberitahukan persoalan yang membingungkan orang-orang yang mengawasi keadaan.

Dalam pada itu, Jlitheng yang sudah mendapat gambaran yang jelas tentang rencana Yang Mulia itu pun, tidak lagi berusaha untuk mengintai sampai ke puncak bukit. Tetapi ia pun segera memotong jalan, menyusup hutan di lereng bukit itu, untuk mencapai gubug Kiai Kanthi. Yang didengar dari Rahu itu harus segera diketahui pula oleh Semi dan Kiai Kanthi agar mereka dapat menyesuaikan diri. Bahkan yang harus menyesuaikan diri bukannya mereka yang ada di gubug Kiai Kanthi saja. Tetapi anak-anak muda Lumban pun harus menyesuaikan diri agar mereka tidak salah langkah menghadapi persoalan yang gawat itu.

Dalam pada itu Kiai Kanthi dan kedua orang yang menyebut diri mereka sebagai pemburu itu pun telah berada di gubugnya. Swasti yang hampir tidak sabar lagi menunggu berdesis

“Hampir saja aku mencari ayah”

“Jika kau mencari aku, kau akan pergi kemana?” bertanya Kiai Kanthi.

“Kemana saja” jawab Swasti.

“Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang keadaan yang gawat sekarang ini. He, apakah sudah merebus ketela pohon?” bertanya Kiai Kanthi.

“Sudah dingin Aku merebus ketela pohon dan pisang kapok” jawab Swasti.

“O, menyenangkan sekali. Bawa kemari. Biarlah tamu kita jamu dengan ketela pohon dan pisang kapok rebus” berkata Kiai Kanthi.

Namun, demikian Swasti menghidangkan ketela pohon dan pisang kapok, maka ayahnya berkata, “Jika kau sudah selesai, ikutlah duduk disini”

“Ah, aku di dapur saja. Bukankah ayah ingin minuman panas”

“Yang dingin ini sudah cukup. Atau kau dapat menempatkan air diatas perapian, kemudian kau duduk disini” berkata ayahnya.

Swasti memandang ayahnya dengan heran. Jarang sekali ayahnya memintanya untuk duduk bersama orang lain. Namun agaknya ayahnya dapat menangkap pertanyaan yang tumbuh di hati anak gadisnya. Maka Katanya, “Keadaan berkembang menjadi gawat. Kau harus mengetahuinya Swasti”

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Sejak ia mulai tinggal di lereng bukit itu, ia sudah merasa, bahwa tempat itu bukanlah tempat seperti yang dikatakan oleh ayahnya. Tempat yang akan dapat dipakainya untuk menenteramkan diri. Persoalannya bukan saja menyangkut anak-anak muda Lumban yang berebut air, tetapi juga menyangkut persoalan yang lebih luas lagi.

Tetapi Swasti tidak dapat menyalahkan ayahnya. Karena itu, maka jawabnya, “Baiklah ayah. Aku akan menjerang air. Kemudian aku akan mendengarkan berita tentang keadaan yang gawat itu”

Demikianlah setelah meletakkan belanga berisi air diatas perapian, maka Swasti pun duduk di belakang ayahnya yang sedang menemui kedua orang pemburu itu. Meskipun agak canggung, namun Swasti berusaha untuk duduk dengan tenang.

Dalam pada itu, Kiai Kanthi pun memberitahukan kepada anaknya, keadaan yang dilihatnya. Karena itu, maka setiap saat, segalanya dapat terjadi.

“Bukankah kita tidak terlibat ayah?” bertanya Swasti.

“Kita semuanya dapat saja terlibat dalam persoalan baik dan buruk, salah dan benar” berkata ayahnya.

“Tetapi apakah ayah yakin, yang manakah yang bersalah dan yang manakah yang tidak?”bertanya Swasti.

“Dengan mempelajari keadaan, kita dapat membuat perhitungan. Meskipun tidak mustahil bahwa perhitungan kita itu salah” berkata Kiai Kanthi.

Swasti tidak membantah lagi. Ia sadar, bahwa kedua pemburu itu pun tentu termasuk dalam golongan mereka yang, terlibat dalam persoalan yang diceritakan oleh ayahnya itu.

“Kita menunggu Jlitheng” berkata Kiai Kanthi, “Kita akan mendengar lebih banyak lagi tentang orang-orang yang memanjat bukit ini. Jika ia berhasil, maka ia akan dapat mengetahui, dimana orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang yang lain itu berhenti. Apalagi jika mungkin ia dapat mengatakan, apa yang akan mereka perbuat”

Namun tiba-tiba seperti orang terbangun dari mimpi Semi berdesis, “Tetapi Kiai, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa jika saat ini terjadi sesuatu diatas bukit itu”

Tetapi Kiai Kanthi menggeleng. Katanya, “Aku kira tidak segera ngger. Jika Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu ingin segera menyelesaikan persoalan dengan kekerasan, segalanya sudah dilakukannya di bukit gundul itu. Menurut pendapatku, jika mereka naik ke bukit ini, tentu ada persoalan lain yang akan mereka lakukan. Dan tentu tidak segera mereka sampai”

“Jadi, apakah kita akan menunggu Jlitheng disini?” bertanya Semi.

“Ya. Kita akan menunggu beberapa saat lamanya. Namun kita tidak boleh lengah. Kita harus menghindari jika satu dua orang diantara mereka akan turun lewat arah ini” sahut Kiai Kanthi.

“Baiklah” berkata Semi, “Aku akan mengawasi keadaan diluar gubug ini”

Sementara Semi dan kawannya meninggalkan gubug itu untuk mengawasi keadaan, maka Kiai Kanthi berkata kepada Swasti, “Sebaiknya kau bersiap menghadapi keadaan yang semakin gawat. Mungkin akan terjadi benturan kekerasan”

“Aku akan menunggu perkembangan saja ayah” jawab Swasti.

“Tetapi sebaiknya kau bersiap dengan pakaianmu yang khusus. Jika tiba-tiba saja kau dihadapkan kepada benturan kekerasan itu, dengan pakaianmu itu kau akan mengalami kesulitan. Sedangkan kita tidak tahu, persoalan apakah yang akan tumbuh kemudian. Cepat atau lambat” berkata ayahnya kemudian.

Swasti tidak membantah lagi. Ia pun mengerti, jika ia tergesa-gesa maka ia tidak akan sempat berganti pakaian. Dalam keadaan yang demikian, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melawan siapapun yang akan dihadapinya, justru karena ia seorang gadis.

Namun dalam pada itu, Swasti masih tetap ragu-ragu, apakah mereka akan terlibat langsung dengan persoalan yang tidak mereka mengerti sepenuhnya itu.

Sementara itu, Jlitheng yang berjalan memintas itu pun tertegun ketika ia tiba-tiba saja telah berhadapan dengan dua orang yang tidak dikenalnya. Demikian tergesa-gesa, sehingga ia tidak sempat untuk menghindarkan diri dari pertemuan itu.

Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Sementara Jlitheng pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua orang itu mungkin orang Sanggar Gading yang belum dikenalnya ketika ia berada di sarang itu, atau justru orang Kendali Putih.

Sejenak kedua belah pihak itupun justru bagaikan membeku. Namun kemudian salah seorang dari kedua orang itu pun bertanya, “Siapa kau he?”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Aku adalah anak Lumban, Siapakah kalian?”

“Apa kerjamu disini” Orang itu masih bertanya.

“Aku mendapat tugas dari kawan-kawanku untuk mengamati orang-orang yang tidak dikenal, yang telah membuat anak-anak muda Lumban menjadi sangat gelisah”

“Luar biasa” desis orang yang lain, “Anak Lumban memiliki keberanian untuk mengikuti iring-iringan itu”

“Ya. Kenapa? Aku hanya mendapat tugas untuk mengamati mereka. Setelah aku yakin bahwa mereka naik ke puncak bukit, aku akan kembali kepada anak-anak muda Lumban untuk melaporkan apa yang telah terjadi” jawab Jlitheng.

“Meragukan” desis yang seorang, “Kenapa anak-anak muda Lumban telah menunjukmu?”

“Bukan maksudku menyombongkan diri. Tetapi ketika anak-anak muda Lumban berkelahi di bendungan, aku adalah orang yang telah memenangkan perkelahian itu. Karena itu, anak-anak muda Lumban seolah-olah mewajibkan aku melakukan pekerjaan yang paling tidak menyenangkan ini. Tetapi aku sudah berhasil. Aku sudah melihat orang-orang yang tidak dikenal oleh anak-anak Lumban itu pergi ke puncak bukit ini” jawab Jlitheng.

“Jika kau anak muda Lumban, dari Lumban yang mana? Lumban Kulon atau Lumban Wetan” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Lumban Wetan” jawab Jlitheng.

“Apakah kau kenal dengan Daruwerdi?” bertanya yang lain.

“Tentu. Aku mengenal Daruwerdi meskipun ia bukan anak Lumban, dan sebagian waktunya dipergunakan bagi anak-anak muda Lumban Kulon. Anak muda Lumban Wetan tidak begitu menarik perhatiannya. Tetapi pada saat terakhir, ia bersikap adil terhadap anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan ketika terjadi perselisihan di bendungan tentang pembagian air” jawab Jlitheng yang mulai menduga-duga kedua orang asing itu.

“Apakah keduanya para pengikut Daruwerdi” bertanya Jlitheng di dalam hatinya, “atau dari kelompok lain yang justru ingin tahu tentang Daruwerdi.

Ternyata kedua orang itu mengangguk-angguk. Agaknya ia mulai mempercayai Jlitheng yang tahu benar tentang keadaan Lumban. Bahkan ketika Jlitheng bertanya tentang keduanya, salah seorang dari mereka menjawab, “Aku ingin melihat apa yang terjadi atas Daruwerdi. Menurut pengamatan kami, ia telah dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading ke puncak bukit ini”

“Apakah hubunganmu dengan Daruwerdi?” bertanya Jlitheng.

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang menjawab, “Aku hanya ingin tahu saja. Apakah orang-orang Sanggar Gading itu akan mengkhianatinya”

Jlitheng mengerutkan keningnya, ia mencoba memahami sikap kedua orang itu. Nampaknya keduanya mencemaskan nasib Daruwerdi yang telah pergi bersama orang-orang Sanggar Gading itu.

“Tidak mustahil bahwa keduanya adalah para pengikut Daruwerdi yang pada saat terakhir mengawasinya” berkata Jlitheng dalam hatinya, “Memang tidak masuk akal bahwa Daruwerdi benar-benar telah bekerja sendiri dalam keadaan yang sangat gawat itu”

Namun dalam pada itu, Jlitheng pun kemudian berkata, “Silahkan. Aku sudah cukup. Aku akan segera melaporkan hal ini kepada anak Ki Buyut Lumban Kulon yang nampaknya lebih banyak bersikap dari anak Ki Buyut di Lumban Wetan. Mungkin anak-anak muda Lumban perlu juga mengambil sikap menghadapi keadaan”

“Apa yang akan dapat dilakukan oleh anak-anak muda Lumban?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Mungkin tidak akan berpengaruh. Tetapi setidak-tidaknya anak muda Lumban yang banyak jumlahnya itu akan dapat menjaga Kabuyutan mereka sendiri dari keterlibatan yang tidak kami harapkan” jawab Jlitheng.

Keduanya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Pergilah. Aku masih ingin bergeser naik”

Jlitheng pun kemudian meninggalkan kedua orang itu. Tetapi menilik sikap, kata-kata dan ujud dari kedua orang itu. maka keduanya lebih dekat hubungannya dengan Daruwerdi daripada dengan salah satu kelompok dari orang-orang yang kasar dan garang dari padepokan-padepokan yang saling memperebutkan pusaka itu.

“Atau bahkan petugas sandi dari Demak?” pertanyaan itu timbul pula di hatinya.

Dalam pada itu, Jlitheng pun kemudian langsung pergi ke gubug Kiai Kanthi. Ternyata yang ditemuinya hanyalah Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang dengan serta merta telah meninggalkan ruangan depan menuju ke dapur dibalik dinding.

Kiai Kanthi tersenyum melihat sikap anak gadisnya meninggalkan ruangan depan menuju ke dapur dibalik dinding.

“Dimana Semi dan kawannya?” bertanya Jlitheng, “Tentu ia tidak sedang berburu?”

“Ia sedang naik untuk mengamati keadaan” berkata Kiai Kanthi.

“Aku ingin berbicara dengan mereka, disamping Kiai Kanthi” desis Jlitheng.

“Apakah aku sebaiknya memanggulnya” bertanya Kiai Kanthi.

“Biarlah aku mencari mereka” jawab Jlitheng.

“Marilah, kita bersama-sama. Aku tahu, ke jurusan mana mereka pergi” berkata Kiai Kanthi.

Setelah minta diri kepada anak gadisnya, maka Kiai Kanthi pun segera memanjat untuk memanggil Semi dan kawannya. Ternyata mereka tidak terlalu sulit untuk menemui keduanya, karena keduanya tidak memanjat sampai ke puncak. Mereka sekedar mengamati keadaan.

Karena itu, maka mereka pun segera kembali ke gubug Kiai Kanthi. Nampaknya Kiai Kanthi memang tidak mau meninggal-kan anak gadisnya dari pembicaraan-pembicaraan yang sudah semakin mengarah dalam keadaan yang gawat itu.

Betapapun segannya, maka Swasti pun ikut pula berbicara dengan ayah dan tamu-tamunya. Meskipun Semi dan kawannya masih juga heran melihat Swasti dalam pakaiannya, namun mereka tidak bertanya apapun juga.

Sementara itu, Jlitheng pun segera menceritakan segalanya yang diketahuinya tentang iring-iringan yang sudah berada di puncak bukit itu. Jlitheng pun tidak merahasiakan lagi pertemuannya dengan Rahu yang sempat menyisih dari iring-iringan itu. Kemudian iapun berbicara pula tentang orang yang nampaknya ada hubungannya dengan Daruwerdi.

Yang mendengarkan ceritera Jlitheng itu telah berusaha merenungi apa yang sebenarnya mereka hadapi. Sementara itu Kiai Kanthi pun berkata, “Ternyata tidak sederhana seperti yang agaknya diduga oleh angger Daruwerdi. Orang terpenting di Sanggar Gading itu masih sempat juga meyakinkan, apakah ia tidak ditipu oleh seorang anak muda yang mengaku bernama Daruwerdi itu”

“Ya. Karena itu pusaka itu masih harus ditayuh” desis Jlitheng.

“Tetapi apa yang dapat terjadi dalam tiga hari tiga malam itu” desis Semi, “Apakah mereka membawa bekal makan yang cukup, atau mereka akan turun ke padukuhan dan mengambil apa saja yang dapat mereka pergunakan untuk memberi makan orang-orang yang berada di puncak bukit itu?”

“Agaknya demikian” desis Kiai Kanthi, “Mereka akan turun ke Lumban dan merampas apa saja yang dapat mereka rampas”

“Itulah yang berbahaya bagi anak-anak muda Lumban yang merasa dirinya sudah berlatih olah kanuragan” desis Jlitheng, “agaknya mereka tidak akan membiarkan barang-barang mereka dirampas. Baik anak muda Lumban Kulon maupun anak muda Lumban Wetan, apalagi mereka yang termasuk sepuluh orang yang berlatih secara khusus itu”

“Ya” desis Semi, “hal itu akan dapat membahayakan mereka”

“Apalagi jika karena tingkah anak-anak muda Lumban itu, pemimpin yang paling disegani dari orang-orang Kendali Putih, sebagaimana dikatakan oleh Rahu memiliki kemampuan setingkat dengan Yang Mulia itu turun selama Yang Mulia meyakinkan keaslian pusaka yang diserahkan oleh Daruwerdi” desis Kiai Kanthi.

“Jadi bagaimana menurut pendapat Kiai?” bertanya Jlitheng.

“Kita akan turun. Kita akan berada diantara anak-anak muda Lumban sampai hari ketiga” jawab Kiai Kanthi.

“Untuk melawan mereka yang datang ke Lumban?” bertanya Jlitheng.

“Tidak. Kita minta anak-anak muda Lumban tidak berbuat sesuatu. Biar sajalah apa yang dikehendaki oleh orang-orang Itu. Dengan demikian peristiwa selanjutnya akan tetap berlangsung dialas bukit. Jika anak-anak muda Lumban melawan, mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki oleh anak-anak muda Lumban sendiri, sementara peristiwa yang akan berlangsung di puncak bukit itu akan dapat berubah dari rencana. Mungkin kita akan kehilangan jejak sehingga persoalan-persoalan berikutnya akan semakin sulit diikuti”

Jlitheng merenung sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baik Kiai. Tetapi apakah anak-anak Lumban akan dapat mengerti”

“Kita akan berusaha menenangkan mereka” berkata Kiai Kanthi.

“Sisa bahan makanan mereka terlalu sedikit. Air yang meng-aliri sawah itu masih belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara baik” desis Jlitheng, “Tetapi mudah-mudahan mereka dapat mengerti. Melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih bagi anak-anak muda Lumban akan dapat menimbulkan bencana jika tidak diperhitungkan. dengan matang”

Akhirnya mereka yang berada di gubug Kiai Kanthi itu pun telah bersepakat untuk turun dan diantara orang-orang Lumban Mereka akan berkumpul dan menjadi satu dengan mereka.

“Mudah-mudahan anak-anak muda Lumban dapat melupakan persoalan diantara mereka sendiri” desis Semi.

Setelah mereka bersepakat dan memperhitungkan segala kemungkinan, maka Kiai Kanthi pun berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Mungkin sekali orang-orang yang berada di puncak bukit itu segera menugaskan orang-orangnya turun ke lambung bukit untuk mengawasi keadaan”

Yang lain pun menyetujuinya. Namun Swasti yang berada di belakang ayahnya berdesis, “Bagaimana dengan pakaianku?”

“Kau rangkap saja” desis ayahnya pula. Siapa tahu kita bertemu dengan bahaya diperjalanan”

“Senjata kita?” berkata Swasti pula.

“Kita bawa. Kita tidak dapat menyembunyikannya. Tetapi kita berharap, bahwa kita tidak akan bertemu dengan mereka” Jawab ayahnya.

Swasti masih akan bertanya, bagaimana tanggapan anak-anak muda Lumban terhadap senjatanya atau persoalan-persoalan lain yang menyangkut senjata itu. Namun niatnya diurungkannya.

Ketika orang-orang yang berada di gubug itu sudah meninggalkan ruangan, maka Swasti pun dengan cepat merangkap pakaiannya dengan pakaiannya sehari-hari. Kemudian setelah membenahi barang-barang di gubug itu, ia pun menyusul ayahnya yang telah melangkah menuruni tebing Sebagai seorang gadis, Swasti tidak dapat meninggalkan barang-barangnya, alat-alat dapur betapapun sederhananya, berserakan begitu saja di ruang belakang”

Demikianlah, maka kedatangan mereka di Lumban telah mengejutkan anak-anak muda Lumban Wetan, karena mereka langsung menuju ke banjar Kabuyutan di Lumban Wetan.

Dengan singkat Jlitheng berpesan kepada kawan-kawannya agar mereka berkumpul di Banjar, terutama sepuluh orang terbaik yang menjadi pemimpin-pemimpin kelompok anak-anak muda di Kabuyutan Lumban Wetan.

Ternyata bahwa anak-anak muda itu bergerak cepat. Apa lagi ternyata bahwa mereka telah mendengar peristiwa yang terjadi di pategalan dan di bukit gundul. Adalah kebetulan bahwa seseorang pergi ke pategalan untuk memetik dedaunan. Orang itu hampir pingsan melihat bekas pertempuran yang mengerikan itu.

Jlitheng berusaha untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di pategalan itu meskipun tidak seutuhnya. Katanya, “Mereka adalah dua gerombolan yang saling bermusuhan. Menurut pendengaranku, keduanya adalah kelompok Sanggar Gading melawan kelompok Kendali Putih, Kita, anak-anak muda Lumban tidak tersangkut sama sekali dalam persoalan mereka”

“Kemudian apa yang terjadi di bukit gundul?” bertanya salah seorang dari sepuluh orang terbaik.

“Aku juga mendengar peristiwa itu” jawab Jlitheng, “para pemburu ini lebih cepat menangkap berita tentang persoalan tersebut. Namun seperti yang terjadi di pategalan, maka persoalannya tidak menyangkut kita disini”

“Tetapi hal itu terjadi di Kabuyutan Lumban. Lumban Wetan atau Lumban Kulon” sahut yang lain.

“Benar. Namun demikian, kita tidak harus mencampuri persoalan yang gawat itu. Kau tentu sudah mendengar dan orang yang langsung melihat, mayat bertebaran di sebelah pategalan itu. Dengan demikian kita akan dapat membayangkan, apa yang telah terjadi” berkata Jlitheng, “Apakah dengan demikian kita akan mencampurinya?”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk kecil. Sementara Jlitheng pun berkata, “Meskipun demikian, kita tidak akan dapat lepas tangan sama sekali. Kita berkepentingan dengan ketenangan dan suasana di Kabuyutan Lumban. Karena itu, setelah mayat-mayat yang berserakan itu ditinggalkan begitu saja, sudah tentu menjadi kewajiban kita untuk menyingkirkannya.

“Kenapa kita” bertanya seorang anak muda Lumban Wetan, “bukankah kita tidak bersangkut paut?”

“Tetapi apakah kita akan membiarkan mayat itu membusuk? Baunya tentu akan memenuhi daerah Sepasang Bukit Mati ini. Kemudian jika hal itu dapat menyebabkan berbagai penyakit, maka kita jugalah yang akan menderita karenanya” jawab Jlitheng.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mau tidak mau, maka mereka harus melakukannya. Mengubur mayat-mayat itu untuk menghindari akibat yang lebih buruk lagi yang dapat terjadi di Kabuyutan Lumban itu.

“Bagaimana dengan anak-anak Lumban Kulon?” bertanya salah seorang anak muda itu.

“Aku akan pergi ke Lumban Kulon” jawab Jlitheng, “Kita akan bersama-sama mengubur mereka. Jika anak-anak Lumban Kulon berkeberatan, kita akan melaksanakan sendiri.

Anak-anak muda Lumban Wetan tidak dapat mengingkari tugas itu bagi kepentingan Kabuyutan mereka. Namun mereka masih juga menunggu Jlitheng yang akan pergi ke Lumban Kulon.

Namun dalam pada itu, ia masih sempat memberi tahukan bahwa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang KendaliPutih yang tersisa, yang ternyata telah menyingkirkan meskipun hanya untuk sementara, permusuhan yang mengerikan itu, akan berada di puncak bukit berhutan untuk tiga hari tiga malam.

“Maksudmu?” bertanya salah seorang kawannya.

“Mereka akan membutuhkan makan dan minum” jawab Jlitheng, “Mungkin mereka akan turun ke padukuhan ini, karena padukuhan-padukuhan di Lumban inilah yang terdekat. Mungkin mereka akan memerlukan makanan, sehingga mereka akan mengganggu penghuni Kabuyutan ini”

“Kita akan mempertahankan” jawab anak-anak muda itu.

“Untuk kali ini, aku mohon, jangan membuka permusuhan” desis Jlitheng.

“Maksudmu, kami harus menyerahkan begitu saja semua milik kami yang akan mereka rampas?” bertanya kawannya itu.

“Hanya untuk tiga hari” berkata Jlitheng, “Tetapi jika terjadi bentrokan antara kalian dengan orang-orang yang garang itu, maka yang akan terjadi adalah seperti di pategalan itu. Namun yang terbanyak dari korban yang akan jatuh adalah kita semuanya”

“Jadi kita biarkan barang-barang kita mereka peras habis dan kita akan mati kelaparan? Kengerian yang akan timbul di saat-saat kita kelaparan, akan melampaui kematian saat kita mempertahankan milik kita”

“Mereka adalah orang-orang buas yang tidak mengenal arti perikemanusiaan lagi. Kau harus memikirkan nasib perempuan dan anak-anak di Kabuyutan ini” desis Jlitheng, “Jika kita kekurangan bahan makanan, kita akan dapat berusaha. Mungkin dedaunan, mungkin akar-akaran atau mungkin kita harus berburu binatang dan mencari ikan di sungai atau di sendang diatas bukit”

Anak-anak muda itu menggeram. Namun mayat yang terbujur lintang tentu akan sangat mengerikan juga.

Karena nampaknya anak-anak muda itu masih ragu-ragu, maka Jlitheng pun berkata, “Marilah. Nanti kita lihat, api yang terjadi di pategalan. Kita akan pergi kesana bersama kedua pemburu ini. Demikian juga Kiai Kanthi dan anak gadisnya”

Anak-anak itu tidak menjawab lagi. Mereka sependapat untuk melihat sendiri, apa yang terjadi di pategalan. Bukan hanya sekedar laporan yang barangkali dapat dilebihkan dari kenyataannya.

Dalam pada itu. Jlitheng pun telah pergi ke Lumban Kulon bersama Semi. Sementara kawannya, Kiai Kanthi dan Swasti telah ditinggalkannya di banjar Kabuyutan Lumban Wetan. Jlitheng akan segera kembali untuk memberikan, kapan anak-anak Lumban Kulon akan pergi ke pategalan.

Di Lumban Kulon Jlitheng langsung menemui Nugata yang nampaknya masih mendendamnya. Namun dalam pada itu. Jlitheng berkata, “Kita sisihkan persoalan kita sendiri. Kita menghadapi masalah yang gawat. Masalah yang datang dari luar lingkungan kita sendiri”

“Aku sudah mendengar” sahut Nugata.

Jlitheng pun kemudian menjelaskan seperti yang dikatakannya kepada anak-anak muda Lumban Wetan.

“Persetan” geram Nugata, “dikubur atau tidak dikubur itu bukan urusanku”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak begitu saja menerima jawaban Nugata. Ia masih berusaha untuk menjelaskan, jika mayat-mayat itu dibiarkan saja, maka yang akan terjadi adalah bencana bagi Lumban dalam keseluruhan.

“Pategalan itu akan menjadi pategalan mati” desis Jlitheng, “tanah yang kering ini akan menjadi kian sempit tanpa pategalan itu. Sementara tidak akan ada orang yang berani lagi menyentuh pategalan yang akan menjadi penuh dengan kerangka-kerangka”

Nugata mengerutkan keningnya. Namun nampaknya ia mulai berpikir. Justru karena itu, maka Jlitheng pun semakin menekan kesulitan yang dapat timbul jika mayat-mayat itu di biarkan saja.

“Binatang-binatang buas dari bukit itu akan turun” berkata Semi lebih lanjut, “Apalagi jika di puncak bukit itu orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih berburu binatang. Binatang-binatang yang merasa terganggu, sementara bau bangkai yang sampai ke hidung mereka, akan mengundang bahaya tersendiri. Binatang-binatang buas itu akan tinggal di pategalan-pategalan. Bukan saja harimau yang buas, tetapi yang tidak kalah bahayanya adalah serigala dan anjing hutan. Jika mayat itu sudah habis, akan datang giliran binatang buas itu akan melihat kearah padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Lumban”

Akhirnya Nugata menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah. Kita akan bersama-sama mengubur mayat itu. Berapa puluh anak Lumban Wetan yang dapat turun ke pategalan”

“Aku tidak dapat menyebut dengan pasti” jawab Jlitheng.

“Jadi, bagaimana kami harus mengerahkan anak-anak muda jika jumlahnya belum diketahui. Anak-anak muda Lumban Kulon sama jumlahnya dengan anak-anak Lumban Wetan. Dan itu pun harus aku pimpin sendiri”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau terlalu membatasi diri antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Nugata. Kau belum dapat meluluhkan dirimu dalam satu keluarga besar meskipun dalam batas-batas yang tertentu. Kenapa kita harus menghitung berapa anak Lumban Wetan dan berapa Lumban Kulon. Sebaiknya, berapa orang pun yang dapat melakukan tugas itu”

Nugata termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan menyuruh beberapa orang anak muda untuk pergi ke pategalan itu”

Setelah mereka bersepakat tentang waktu, maka Jlitheng pun mulai menjelaskan persoalan-persoalan lain, “yang diketahuinya. Seperti anak-anak muda Lumban Wetan, Nugata pun semula tidak rela untuk menyerahkan apa saja yang diminta oleh orang yang tidak dikenalnya Bahkan orang-orang yang telah membuat Kabuyutan itu menjadi ajang pembantaian yang tidak semena-mena.

Tetapi akhirnya Jlitheng berhasil meyakinkan Nugata, bahwa bahayanya akan sangat besar jika anak-anak Lumban berani menentang kehendak orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih.

“Tetapi hanya untuk tiga hari saja” geram Nugata.

“Ya. Hanya untuk tiga hari. Aku kira mereka tidak akan mengambil melampaui kebutuhan mereka tentang pangan. Sebab selebihnya pangan disini tidak ada apa-apa.

Demikianlah maka pada waktu yang telah ditentukan anak-anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon telah pergi ke pategalan. Anak-anak muda Lumban Wetan disertai oleh Jlitheng, Semi, kawan Semi dan agar tidak menimbulkan pertanyaan khusus, maka Kiai Kanthi memilih untuk pergi sendiri bersama anak gadisnya ia akan hadir diluar pengetahuan anak-anak Lumban. Bagi mereka kehadiran Swasti tentu akan dapat menimbulkan berbagai pertanyaan yang mungkin akan sulit untuk dijawab.

Yang mereka lihat di pategalan benar-benar mengerikan. Bahkan ada satu dua orang anak muda yang menjadi pingsan, ada pula yang muntah-muntah. Tetapi Jlitheng, Semi dan kawannya telah mendahului mereka berada diantara mayat-mayat yang terbujur lintang.

Anak-anak Lumban Kulon yang ternyata disertai oleh Nugata sendiri itupun menjadi ngeri melihat kenyataan itu. Tetapi mereka, anak-anak muda. Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan itu menyadari, bahwa justru karena itu, mereka harus menguburkan mayat-mayat itu.

Namun kerja itu ternyata dapat diambil manfaatnya bagi kehidupan anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Jika semula diantara mereka masih terasa ada batas, namun ketika mereka sudah mulai menggali tanah di padang ilalang, maka mereka mulai membaurkan diri. Perlahan-lahan mereka melupakan pertentangan diantara mereka, bahwa seolah olah mereka merasa kembali kepada masa-masa dimana mereka masih belum dipisahkan oleh pertentangan yang timbul karena air yang mengalir di sungai kecil yang membatasi Lumban Wetan dengan Lumban Kulon.

Dengan susah payah, anak-anak muda itu memaksa diri untuk mengubur mayat-mayat yang berserakan. Mereka menggali sebuah lubang yang besar dan kemudian memasukkan mayat-mayat itu ke dalamnya.

Begitu kerja itu selesai, maka anak-anak muda itu langsung pergi ke bendungan. Mereka langsung menceburkan diri untuk mandi, karena rasa-rasanya tubuh mereka dilekati noda-noda darah yang sudah mengering dan bau bacin yang hampir tidak tertahankan.

Sebagian besar dari mereka ternyata telah muntah-muntah. Bahkan yang pingsan pun telah bertambah lagi.

Namun dengan demikian mereka telah melihat sendiri, apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang berada di atas bukit itu. Karena mereka bertemu dalam imbangan kekuatan yang hampir sama, maka mereka telah meninggalkan korban yang hampir sama pula banyaknya.

“Bagaimana kira-kira yang akan terjadi, jika anak-anak muda Lumban yang harus bertempur melawan mereka” bertanya salah seorang anak muda Lumban Wetan.

Pertanyaan itu telah mengganggu perasaan Jlitheng yang kebetulan mendengarnya. Tetapi ia masih belum ingin menjawab, karena justru ialah yang menghendaki agar anak-anak Lumban itu tidak melawan.

Tetapi bukan maksud Jlitheng untuk memperlakukan anak-anak Lumban itu untuk seterusnya. Meskipun demikian, Jlitheng masih harus memperhitungkan waktu setepat-tepatnya.

Setelah selesai mandi, maka anak-anak muda itupun kembali ke padukuhan masing-masing. Namun kemudian, semalam suntuk mereka tidak dapat memejamkan mata barang sekejappun.

Bahkan dalam pada itu, anak-anak muda yang pingsan di pategalan, meskipun mereka kemudian sadar kembali, dan karena keadaannya tidak dapat membantu kawan-kawannya menggali kuburan yang besar itu, telah menjadi sakit. Tubuhnya menjadi panas, dan kadang-kadang menggigil ketakutan.

Peristiwa yang terjadi di pategalan itu telah menjadi buah pembicaraan semua orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Bukan saja anak-anak muda, tetapi juga orang-orang tua. Bahkan akhirnya Ki Buyut pun membicarakannya pula.

Ketakutan telah membayangi Kabuyutan itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng lah yang menghubungi Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersama Semi untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan. Bahwa tidak sepantasnya mereka melawan jika orang-orang yang sedang berada di bukit Itu turun untuk mencari bahan makanan.

“Mereka tentu hanya akan mengambil bahan makanan secukupnya untuk tiga hari,” setiap kali Jlitheng menjelaskan, “Tidak akan lebih. Karena mereka tahu, di padukuhan-padukuhan tlatah Lumban tidak akan mereka jumpai apapun juga”

“Tetapi bahan makan bagi mereka selama tiga hari, cukup berarti bagi kami, orang-orang Lumban yang miskin” jawab Ki Buyut Lumban Wetan.

“Tentu lebih baik dari kitalah yang dibantai seperti yang terjadi di pategalan” berkata Jlitheng.

Ki Buyut hanya dapat menarik nafas panjang. Ia merasa sangat berprihatin tentang tanah kelahirannya. Setelah tanah dibagi menjadi Lumban Kulon dan Lumban Wetan, maka nampaknya tidak membawa perbaikan-perbaikan. Air yang memberikan harapan itu ternyata telah menumbuhkan pertentangan antara saudara yang terpisah dalam usia dewasa. Dan kini tanah yang gersang itu menghadapi satu peristiwa yang mendebarkan jantung.

Namun dalam pada itu, setiap kali Jlitheng harus menemui Kiai Kanthi, untuk mohon petunjuk-petunjuk kepadanya, apa yang harus dilakukannya pada saat-saat yang gawat itu. Bahkan dengan gelisah, Jlitheng telah menemui Kiai Kanthi sambil berkata, “Kiai, menurut beberapa orang anak muda di Lumban Kulon, di tempat tinggal Daruwerdi terdapat seorang perempuan yang agaknya mempunyai hubungan dengan Daruwerdi”

“Seorang perempuan? Muda atau tua?” bertanya Kiai Kanthi.

“Pantas untuk menjadi ibunya” jawab Jlitheng.

“Mungkin ibunya” jawab Kiai Kanthi, “Aku kira tidak ada buruknya kau datang kepadanya untuk memberi tahukan keadaan Daruwerdi. Tetapi sebelumnya kau harus melihat keadaan, apakah menurut pendapatmu kau pantas mengatakan atau tidak”

Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian bersama Semi ia telah pergi ke tempat tinggal Daruwerdi untuk menjumpai perempuan seperti yang dikatakan oleh anak-anak muda Lumban Kulon.

Kedatangan Jlitheng dan Semi mengejutkan perempuan itu. Namun Jlitheng lah yang kemudian terkejut ketika ia melihat dua orang laki-laki.

Bersambung ke jilid 16

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

2 Tanggapan

  1. seri 16 kok dereng terbit nggih pakdhe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s