MAdBB-13


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 13

kembali | lanjut

cover madbb-13AKU dapat membunuhmu” desis anak muda Lumban Kulon itu, lalu, “Tidak seorang pun dapat menyalahkan aku, karena yang akan terjadi itu seolah-olah tidak aku sengaja”

Anak muda Lumban Wetan itu masih tetap berdiam diri.

Sejenak kemudian, maka isyarat pun telah diberikan oleh Semi dan Daruwerdi, bahwa perkelahian sudah dapat dimulai. Namun anak muda Lumban Kulon itu masih bicara, “Untuk kepentingan-mu, sebaiknya kau menyerah saja dan biarlah orang kedua melawanku”

Anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi ia lah yang justru bertindak lebih dahulu.

Serangannya yang pertama cukup mengejutkan. Meskipun anak muda Lumban Kulon itu sempat mengelak, namun tangan anak-anak Lumban Wetan itu masih menyentuh ujung bajunya.

“Gila” geram anak muda Lumban Kulon, “Kau benar-benar ingin mati”

Anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi dengan tiba-tiba pula ia merubah serangannya dengan ayunan tangan mendatar mengarah ke perut lawannya.

Sekali lagi lawannya terkejut. Tetapi ia pun sempat merendahkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya. Ia menangkis serangan itu dengan kedua sikunya.

Tetapi lawannya justru telah menarik serangan tangannya. Dengan tiba-tiba saja ia telah memiringkan tubuhnya dan melontarkan serangan kaki yang keras.

Anak muda Lumban Kulon yang mendapat serangan beruntun itu mengumpat. Namun serangan kaki itu demikian kerasnya. Meskipun anak muda Lumban Kulon itu sempat melipat tangannya di sisi tubuhnya untuk melindungi lambung dengan sikunya, namun demikian kerasnya serangan itu, sehingga ia pun terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh.

Tetapi anak muda Lumban Kulon itu cukup tangkas. Ketika anak muda Lumban Wetan mengejarnya, maka ia pun telah sempat melenting berdiri.

Demikianlah maka keduanya telah berhadap-hadapan. Anak muda Lumban Kulon itu tidak mau untuk seterusnya hanya sekedar menjadi sasaran serangan. Namun ia sudah bertekad untuk menyerang kembali.

Tetapi ternyata anak muda Lumban Wetan itu memang lebih tangkas dan lebih cepat. Sebelum ia mulai, maka anak muda Lumban Wetan itu pulalah yang telah mulai dengan serangan-serangannya yang beruntun seperti mengalirnya banjir bandang.

Beberapa saat kemudian, anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan pun segera melihat, bahwa untuk kedua kalinya, anak muda Lumban Kulon itu mulai terdesak. Betapapun ia berteriak dan mengumpat, dan betapapun kawannya mencoba untuk mendorongnya dengan teriakan-teriakan yang bagaikan meretakkan langit.

Anak muda Lumban Wetan yang tidak banyak bicara itu terus saja mendesaknya. Ia pun sadar, bahwa ia harus berkelahi untuk yang ketiga kalinya jika ia memenangkan perkelahian itu. Karena itulah maka ia ingin menyelesaikan perkelahian itu sebelum nafasnya habis di ujung hidungnya, sehingga seperti kawan-kawannya yang lain, maka perkelahian berikutnya, tidak akan dapat memberikan perlawanan sama sekali.

Semi menyaksikan perkelahian itu dengan tegangnya. Anak ini memang mempunyai beberapa kelebihan dari kawannya yang sepuluh. Anak ini mampu bergerak cepat dan ketahanan tubuh yang meyakinkan.

Sementara itu, Daruwerdi pun menjadi berdebar-debar seperti juga Nugata. Namun dada Nugata terasa lebih panas, seolah-olah jantungnya akan meledak dan darahnya menjadi mendidih. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus melihat kenyataan, bahwa kawannya yang kedua itupun ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan anak Lumban Wetan yang termasuk dalam satu diantara sepuluh orang terbaik, sementara anak itu memang memiliki kelebihan dari yang sepuluh itu.

Karena itulah, maka tiba-tiba Nugata itu pun berteriak nyaring, “Cukup. Kau memenangkan perkelahian yang kedua. Perkelahian berikutnya akan menentukan”

Semua orang berpaling ke arahnya. Namun anak muda Lumban Kulon yang meskipun sudah sangat terdesak tetapi masih belum benar-benar dikalahkan itu menyahut, “Aku belum kalah”

“Tetapi kau akan kalah. Pasti. Kau tidak usah ingkar. Biarlah aku yang menyelesaikannya. Permainan ini sudah terlalu lama. Dan aku sudah menjadi jemu karenanya” geram Nugata.

Semi, pemburu yang lain, Rahu dan anak-anak muda Lumban Wetan memang menjadi tegang. Jlitheng pun menjadi tegang pula. Ia belum mengerti sampai berapa jauh kemampuan Nugata yang sombong itu. Nampaknya ia memang memiliki ilmu, bukan saja yang dipelajarinya dari Daruwerdi.

Sementara itu Daruwerdi sendiri menjadi termangu-mangu. Setelah melihat perkelahian dari anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan itu, ia benar-benar menjadi bimbang. Seharusnya ia merasa, bahwa orang-orang yang pernah berlatih padanya itu telah dikalahkan. Seharusnya ia menjadi marah dan tersinggung. Namun menilik perkembangan keadaan, maka ia tidak dapat marah dan tersinggung. Bahkan ia pun tanpa disadarinya, berharap bahwa anak-anak Lumban Wetan lah yang menang. Karena jika demikian, anak-anak Lumban Wetan itu tentu akan menegakkan keadilan. Pintu air itu akan dikembalikan seperti semula. Air yang dituangkan ke Lumban Kulon akan sama banyaknya dengan air yang menang, maka mereka tentu akan tetap pada sikap mereka yang sekedar menuruti keinginan mereka sendiri.

“Persoalan itu tentu akan berkepanjangan” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Tetapi keraguan yang lain telah tumbuh pula. Katanya di dalam hati, “Tetapi jika anak muda Lumban Wetan yang menang, apakah anak-anak muda Lumban Kulon akan bersedia memenuhi janjinya, memberikan kesempatan kepada anak Lumban Wetan untuk menentukan sikap mereka terhadap bendungan itu?” Atau bahkan persoalan itu akan tidak dapat diselesaikan, karena anak muda Lumban Kulon masih akan tetap menuntut pada masa-masa mendatang?”

Dalam keragu-raguan itu, Daruwerdi melihat Nugata memasuki arena sambil berkata, “Aku lawanmu yang ketiga”

Anak muda Lumban Wetan yang masih berada di arena itu pun menjadi ragu-ragu pula. Tetapi ia tidak dapat ingkar, ia harus berkelahi dengan orang ketiga untuk menentukan, apakah Lumban Wetan akan dapat memenangkan perkelahian itu.

“Jika aku menang sekali lagi, maka perkelahian ini akan selesai” berkata anak muda Lumban Wetan itu di dalam hatinya.

Tetapi ia pun menyadari, yang kemudian memasuki arena adalah Nugata. Meskipun anak-anak Lumban Wetan itu belum mengetahui, apa yang dapat dilakukan oleh Nugata, tetapi bahwa Nugata terlalu percaya akan kemampuannya tentu bukannya tidak beralasan.

Karena itu, maka anak muda Lumban Wetan itu menjadi berdebar-debar. Bahkan mulai timbul keragu-raguan di dalam hatinya, apakah ia akan dapat mengalahkan Nugata.

Tetapi anak muda Lumban Wetan itu tidak mengalah. Ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi Nugata yang sedang dibakar oleh kemarahan yang memuncak.

Kehadiran Nugata di arena itu tentu membuat anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban kulon menjadi berdebar-debar. Anak-anak Lumban Kulon telah mulai bersorak-sorak. Mereka mengetahui bahwa Nugata memiliki kelebihan dari mereka. Karena disamping Daruwerdi, sebelumnya Nugata memang sudah memiliki bekal olah kanuragan. Untuk beberapa saat lamanya, ia pernah berguru kepada saudara muda ibunya, yang tinggal diluar Lumban. Ketika ia mengenal Daruwerdi, maka ia telah mendapat beberapa latihan khusus ia menentukan dirinya menjadi orang terbaik diantara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan.

Dan kini Nugata itu berdiri di arena berhadapan dengan seorang muda Lumban Wetan yang sudah mulai lelah.

Namun dalam pada itu Nugata berkala lantang, “Jika kau ragu-ragu, atau karena merasa sudah terlalu letih karena perkelahian sebelumnya, minggirlah. Biarlah orang lain memasuki arena tanpa diperhitungkan, atas kekalahanmu. Aku akan melawan orang baru sebagai orang pertama, dan aku akan melawan dua orang lainnya yang akan memasuki arena ini berturut-turut”

Anak muda Lumban Wetan yang semula ragu-ragu itu, justru menjadi tersinggung karenanya. Dengan lantang ia berkata, “Aku akan mengakhiri perkelahian yang menjemukan ini. Kau akan aku kalahkan, dan karena itu maka Lumban Kulon harus menerima keputusan kami atas bendungan itu.

“Jangan terlalu sombong” geram Nugata, “Tetapi jika kau ingin membuktikan, aku juga tidak berkeberatan. Agaknya kau sudah salah menilai dirimu sendiri. Bahkan kau sudah memenangkan dua kali pertarungan, kau anggap bahwa kau pasti akan menang pada perkelahian berikutnya”

“Aku memang menduga demikian” jawab anak muda Lumban Wetan itu.

“Jangan menyesal. Tubuhmu akan menjadi merah biru. Tulang-tulangmu akan retak dan untuk sebulan kau akan berbaring dipembaringan” ancam Nugata.

Anak Lumban Wetan itu tidak menjawab. Meskipun hatinya menjadi berdebar-debar juga, tetapi ia tidak beringsut dari tempatnya.

Yang juga menjadi berdebar-debar adalah Daruwerdi dan Semi. Nampaknya Nugata benar-benar meyakinkan. Tetapi karena ketentuan itu harus berlaku, maka mereka pun kemudian memutuskan untuk mempersilahkan keduanya mulai dengan perkelahian mereka. Namun Semi masih juga berpesan, “kalian hanya berkelahi untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tidak lebih dari itu”

Nugata menggeretakkan giginya. Ia sadar, bahwa Semi berusaha memperingatkannya, agar ia tidak menyakiti lawannya jika ia sudah menyatakan kalah.

“Aku akan meremukkan tulang-tulangnya pada sentuhan pertama” katanya di dalam hati.

Sejenak kemudian, keduanya telah bersiap. Rahu yang terkantuk-kantuk tiba-tiba saja, telah berdiri tegak di lingkaran yang pepat itu. Sementara kawan Semi pun menjadi tegang pula. Bahkan kemudian ia pun telah memanggil Jlitheng sambil berbisik, “Tidak ada orang lain”

“Jangan Gila” bisik Jlitheng, “Aku bersembunyi untuk waktu yang lama. Kau kira tiba-tiba saja aku harus menelanjangi diriku?”

“Bukan begitu. Aku akan dapat mengatakan, bahwa kau adalah muridku secara khusus dan diam-diam. Karena itu, kau pun hanya melayani sekedarnya, asal kau dapat mengalahkan Nugata sebagai orang ketiga. Nampaknya tidak akan ada yang dapat mengimbanginya” berkata kawan Semi itu perlahan-lahan di telinga Jlitheng.

Jlitheng memang melihat sikap dan langkah Nugata. Sejak lama ia memang sudah menduga, bahwa Nugata. memiliki kelebihan dari kawan-kawannya dibalik sikapnya yang sombong dan tinggi hati.

Sejenak kemudian, maka perkelahian itu pun segera dimulai. Anak muda Lumban Wetan itu menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar, dengan siapa ia berhadapan.

Namun Nugata lah yang dengan serta merta telah menyerang dengan garangnya. Sambil meloncat kedepan ia telah menjulurkan tangannya. Tidak dengan jari-jari tergenggam, tetapi justru dengan jari-jari terkembang.

Semi dan Daruwerdi menjadi semakin berdebar-debar. Mereka bergeser mendekat untuk menjaga, agar anak muda Lumban Wetan itu tidak mengalami keadaan yang sangat buruk.

Tetapi anak muda Lumban Wetan itu sempat mengelak. Justru sambil merendahkan diri, ia sempat menyerang lambung Nugata dengan kakinya. Namun Nugata cukup tangkas. Ia bergeser dan terhindar dari sentuhan serangan lawannya. Bahkan tiba-tiba saja ia telah meloncat pula dan menyerang langsung dengan kakinya kearah pundak anak Lumban Wetan itu.

Serangan itu pun masih dapat dihindarinya, sehingga Nugata menjadi semakin marah karenanya.

Ternyata satu dari sepuluh anak terbaik dari Lumban Wetan itu tidak terlalu lemah, dihadapan Nugata, Ia bukannya sama sekali tidak dapat melawan. Namun sebenarnyalah, bahwa tangannya yang telah susut sejak ia mulai dengan perkelahian itu, benar-benar tidak menguntungkannya. Ia sudah melawan dua orang dan, Nugata adalah orang ketiga. Justru orang yang memiliki kelebihan dari setiap anak muda Lumban Wetan dan anak muda Lumban Kulon sendiri

Karena itu, anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Sejenak kemudian ia sudah mulai berdesak, meskipun ia masih tetap mampu melindungi dirinya Namun anak muda Lumban Wetan itupun merasa, bahwa yang dapat dilakukannya itu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.

Sebenarnyalah bahwa Nugata pun mengerti, bahwa lawannya sudah kehabisan tenaga. Karena itu, maka ia pun segera mendesaknya. Ia harus segera menyelesaikan tanpa membuang tenaga terlalu banyak. Karena ia bertekad untuk mengakhiri perkelahian itu. Ia akan mengalahkan tiga orang anak muda Lumban Wetan berturut-turut.

Karena itulah, maka ketika anak muda Lumban Wetan itu kemudian terdesak dan terdorong jatuh, Nugata tidak mengejarnya. Ia tidak membuang tenaganya untuk menyakiti lawannya. Dibiarkannya lawannya berusaha untuk bangkit dengan susah payah, namun ketika ia sudah berdiri, maka tampaklah bahwa keseimbangannya masih belum dapat dipulihkannya.

“Apakah kau masih akan melawan?” bertanya Nugata.

Anak Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Meskipun ia harus kalah, tetapi untuk kepentingan kawan berikutnya, ia harus mengurangi tenaga Nugata sebanyak-banyaknya.

Tetapi dalam pada itu, Daruwerdi lah yang berkata, “Kau sudah kalah. Nugata tidak perlu membuktikannya lebih jelas lagi, agar kau tidak benar-benar harus berbaring sebulan di pembaringan”

Semi tidak mencegah ketika kemudian Daruwerdi memimpin anak itu keluar dari arena.

Dalam pada itu, maka kawan Semi lah yang telah menunjuk seorang anak muda lagi dari Lumban Wetan untuk memasuki arena. Salah satu dari orang-orang terbaik diantara sepuluh orang terpilih dari Lumban Wetan.

“Hati-hatilah” pesan kawan Semi itu, “jaga tenagamu sebaik-baiknya. Jika kau terpaksa kalah, kau harus berusaha menguras tenaga lawanmu sejauh-jauh dapat kau lakukan, Tetapi kau pun jangan memaksa diri. Aku yakin, bahwa masih ada orang yang akan dapat mengalahkan Nugata itu”

“Kau sendiri?” bertanya anak muda Lumban Wetan itu.

“Tidak. Tentu aku tidak boleh turun ke arena” jawab pemburu itu, “Tetapi percayalah kepadaku”

Anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah kau yakin bahwa aku tidak akan dapat mengalahkannya?”

“Bukan, bukan begitu” jawab pemburu itu, “Aku hanya berkata wajar dan melihat segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kau dapat menang, tetapi kau akan dapat juga kalah. Jangan ingkari kemungkinan-kemungkinan itu. Tetapi jangan menjadi lemah dan tidak berpengharapan”

Anak muda Lumban Wetan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian melangkah dengan langkah tetap memasuki arena, berhadapan dengan Nugata.

“Kau” desis Nugata.

Anak muda Lumban Wetan itu menarik nafas dalam-dalam. Sebelumnya ia tidak pernah membayangkan, bahwa pada suatu saat ia harus berkelahi melawan Nugata. Meskipun ia sudah mengenal sebelumnya, namun karena sifat-sifat Nugata, maka ia tidak pernah bergaul rapat dengan anak muda itu. Tidak seperti dengan anak-anak muda Lumban Kulon yang lain.

Meskipun demikian, namun akhirnya orang yang dikenalnya baik-baik itu pun harus berhadapan sebagai lawan dalam sayembara tanding untuk kepentingan Kabuyutan masing-masing.

Untuk sesaat keduanya saling berhadapan dengan tegang, sampai saatnya Daruwerdi dan Semi memberikan isyarat bahwa perkelahian dapat dimulai.

Anak-anak Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon sudah menjadi semakin tegang. Mereka sudah melihat beberapa perkelahian. Tetapi belum dapat menentukan akhir dari sayembara itu. Sehingga dengan demikian maka mereka hampir-hampir kehilangan kesabaran.

Rasa-rasanya mereka ingin meloncat memasuki arena dan berkelahi bersama-sama, agar segera dapat ditentukan, siapakah yang menang dan siapakah yang kalah.

Tetapi mereka masih berusaha untuk menahan diri. Terlebih-lebih anak-anak muda Lumban Kulon. Mereka percaya bahwa Nugata akan dapat menyelesaikan perkelahian itu dengan mengalahkan tiga orang berturut-turut.

Sejenak kemudian, maka perkelahian itupun telah dimulai. Nugata yang masih ingin berhadapan dengan seorang anak muda lagi dari Lumban Wetan dan mengalahkannya, ternyata cukup berhati-hati. Ia tidak kehilangan perhitungan untuk menghemat tenaganya. Karena itulah maka ia berkelahi dengan memperhitungkan segenap kemungkinan.

Sebenarnya bahwa Nugata memang memiliki kelebihan dari lawannya. Meskipun perkelahian itu rasa-rasanya menjadi lamban, karena kedua-duanya berusaha memperhitungkan daya tahan masing-masing, namun Nugata semakin lama menjadi semakin yakin, bahwa ia pun akan dapat memenangkan perkelahian itu.

Dengan demikian, maka anak-anak muda Lumban Wetan menjadi sangat gelisah. Anak muda yang berkelahi melawan Nugata sebagai orang kedua itu termasuk orang terbaik diantara sepuluh orang terpilih dari anak-anak muda Lumban Wetan. Jika ia pun dapat dikalahkan, maka kemungkinan yang sangat pahit akan dapat terjadi pada akhir perkelahian itu. Jika seorang lagi anak muda Lumban Wetan dikalahkan, maka sayembara itu akan merupakan permulaan dari masa-masa yang sulit bagi Tanah Lumban Wetan untuk masa-masa mendatang. Untuk berpuluh tahun dan bahkan mungkin untuk beratus tahun. Lumban Kulon akan menjadi hijau subur, sementara Lumban Wetan akan tetap menjadi gersang dan kering. Kehidupan di Lumban Kulon akan segera mekar dengan kesejahteraan yang akan meliputi seluruh Kabuyutan, sementara kemelaratan akan tetap menyelubungi Kabuyutan Lumban Wetan.

“Alangkah bodohnya kita yang hidup pada saat-saat yang menentukan ini” desis salah seorang dari anak muda Lumban Wetan.

Namun anak-anak muda Lumban Wetan tidak akan dapat mengingkari satu kenyataan yang terjadi. Nugata berhasil mendesak lawannya. Meskipun ia tetap bersikap hati-hati dengan menghemat tenaganya.

Meskipun demikian, anak muda Lumban Wetan itu tidak segera menyerah. Ia pun berusaha untuk bertahan sejauh mungkin dapat dilakukan. Ia pun telah membuat perhitungan-perhitungan tertentu, agar Nugata kehilangan sebagian dengan tenaganya, sehingga jika ia harus melawan orang ketiga, ia tidak lagi mempunyai sisa tenaga.

Tetapi ternyata Nugata pun mempunyai perhitungan yang mapan. Ia sadar bahwa ia masih harus berkelahi sekali lagi dan mengalahkan lawannya agar perkelahian itu segera berakhir dan kemenangan ada di pihaknya. Dengan demikian maka ia akan dapat menentukan sesuai dengan kehendaknya atas bendungan dan pintu air yang membawa air ke tanah persawahan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan.

Karena itu, maka ia pun cukup berhati-hati. Ia tidak terpancing untuk mengerahkan tenaganya melumpuhkan lawannya meskipun hatinya bagaikan terbakar melihat sikap anak Lumban Wetan yang tidak segera mengakui kekalahannya.

Namun akhirnya anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Betapapun ia mencoba untuk memancing agar lawannya pun mengerahkan tenaganya, ternyata sama sekali tidak berhasil. Bahkan akhirnya, ketika ia berusaha menyerang, sementara Nugata hanya sekedar menghindarinya, maka anak muda Lumban Wetan itu telah terjatuh menelungkup.

Sesaat ia masih mencoba untuk bangkit. Tetapi ternyata tenaganya telah terkuras habis, sehingga Daruwerdi lah yang kemudian berkata, “Perkelahian ini sudah selesai”

Semilah yang kemudian mengangkat dan membimbing anak muda Lumban Wetan itu untuk menepi. Namun dalam pada itu, ia sempat berbisik kepada kawannya yang berada di-antara anak-anak Lumban Wetan, “ Bagaimana dengan Jlitheng?”

“Aku akan berusaha” desis kawannya.

“Jangan orang lain. Jika tidak, anak-anak Lumban Wetan akan menyesal. Keadilan akan diinjak-injak disini” sahut Semi.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencoba meyakinkannya”

Semi yang kemudian kembali ke tengah-tengah arena berkata kepada Nugata, “Kau mendapat kesempatan untuk beristirahat barang sesaat. Adalah tidak adil jika kau harus langsung berkelahi untuk ketiga kalinya.

“Aku sudah siap” geram Nugata, “Jika perlu, dua orang anak muda Lumban Wetan sekaligus memasuki arena”

Ternyata kawan Semi pun mendengar kata-kata itu. Karena itu, maka iapun segera menemui Jlitheng sambil berkata, “Kau dengar apa yang dikatakannya. Ia tidak sekedar menyombongkan diri”

“Ya. Aku sudah melihat sendiri” desis Jlitheng,

“Jadi bagaimana? Apakah kau relakan bendungan itu jatuh ke tangannya dan membiarkan Lumban Wetan akan mengalami, malapetaka sepanjang umurnya” bertanya kawan Semi.

Dalam pada itu, terdengar Nugata berteriak, “Aku tidak memerlukan istirahat”

Anak-anak Lumban Wetan menjadi gelisah. Sisa dari sepuluh orang terbaik segera mengerumuni kawan Semi. Namun mereka terkejut ketika lawan Semi itu berkata, “Aku minta Jlitheng untuk tampil”

“Jangan bergurau” desis salah seorang dari sisa yang sepuluh itu, “Kita dalam keadaan gawat. Ternyata Nugata memang memiliki kelebihan tanpa kita ketahui lebih dahulu”

“Aku tidak bergurau” berkata kawan Semi, “tergantung kepada Jlitheng”

Jlitheng menjadi tegang. Sementara kawan Semi itu berkata, “Aku telah melakukan sesuatu yang selama ini aku sembunyikan. Aku yang melihat Jlitheng mempunyai kemungkinan yang sangat baik, atas persetujuan kawanku, telah aku latih dengan diam-diam tanpa sepengetahuan kalian. Menurut perhitunganku, ia memiliki kelebihan dari kalian semuanya, sehingga aku telah memilihnya untuk menghadapi Nugata. Terserah, apakah ia mempunyai jiwa besar untuk melakukannya. Apakah ia mempunyai tanggung jawab atas hari depan Lumban Wetan dan atas air yang telah dikendalikannya sendiri.

Anak-anak muda Lumban Wetan pun menjadi tegang. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Jlitheng memiliki kelebihan dari mereka, setidak-tidaknya menurut pemburu itu.

Dalam pada itu, Jlitheng pun menjadi tegang. Ia merasa berada dalam keadaan yang paling sulit. Ia sudah bersembunyi sekian lama di padukuhan itu. Tiba-tiba saja ia harus menunjukkan dirinya sendiri meskipun belum seluruhnya. Tetapi jika ia ingkar, maka Lumban Wetan benar-benar akan mengalami bencana. Tidak hanya untuk satu dua hari. Tetapi untuk puluhan, bahkan mungkin untuk ratusan tahun mendatang.

Karena itu, betapapun beratnya, akhirnya ia berkata, “Baiklah. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan aku dapat memenuhi harapan kalian. Tetapi jika tidak, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Taruhannya memang terlalu mahal”

“Menurut perhitunganku, kau memiliki kesempatan terbaik dari setiap orang yang ada sekarang” sahut kawan Semi.

Dalam pada itu, Nugata yang masih berada di arena berteriak, “He, siapakah yang akan memasuki arena. Aku tidak perlu beristirahat. Aku ingin segera menyelesaikan permainan yang menjemukan ini. Jika mata hari nanti terbit, kami akan segera melanjutkan kerja kami, menyelesaikan pintu air dan parit induk untuk menampung air yang akan segera melimpah”

Sebenarnyalah jantung Jlitheng telah tersentuh pula. Bukan karena sesumbar itu saja, tetapi yang terpenting adalah karena air yang telah dikendalikannya itu ternyata akan disalah gunakan oleh anak-anak muda dari Lumban Kulon.

Sementara itu, Daruwerdi pun menjadi gelisah. Hari yang akan datang adalah akhir pekan seperti yang disanggupkan oleh Cempaka. Jika orang-orang Sanggar Gading itu menjadi salah paham menanggapi peristiwa yang terjadi di bendungan, mungkin mereka akan mengambil satu sikap tertentu. Karena itu, maka ia pun menjadi gelisah dan tergesa-gesa, sehingga ia pun ikut berteriak, “He, siapakah dari Lumban Wetan yang akan memasuki arena”

Sebenarnyalah anak-anak Lumban Wetan, Lumban Kulon dan Daruwerdi telah dikejutkan oleh hadirnya seseorang yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya, Jlitheng.

Justru karena itu, Nugata tertegun sejenak. Dipandanginya Jlitheng dan Semi berganti-ganti. Dengan nada rendah ia bertanya, “Apakah yang kalian lakukan tidak keliru?”

“Terserah anak-anak Lumban Wetan” jawab Semi. Daruwerdi pun terheran-heran melihat Jlitheng yang berdiri di arena. Sikapnya yang enggan memang tidak meyakinkan. Bahkan nampak kegelisahan yang menggelitiknya, sehingga iapun tidak berdiri mapan.

Beberapa orang anak muda Lumban Wetan sendiri saling berbisik diantara mereka. Bahkan seorang yang bertubuh tinggi kekar berkata, “Apakah ini bukan satu permainan yang kotor. Mungkin justru Jlitheng adalah pengikut Nugata yang sengaja dipasang dalam saat yang menentukan”

“Ah, aku yakini bukan” jawab yang lain, “Kita melihat bagaimana ia bekerja keras untuk mengarahkan air itu”

“Tetapi kenapa ia telah melakukannya sekarang” desis yang tinggi, “seharusnya ia sadar, apa yang sedang dihadapinya”

“Tetapi pemburu itu setuju. Meskipun aku tidak tahu, apa yang mereka lakukan diantara sepuluh kawan kita yang terbaik, namun pemburu itulah yang menentukan, siapakah di antara kita yang akan tampil. Agaknya ia mempunyai penilaian tersendiri terhadap Jlitheng”

Kawannya tidak menjawab. Namun jantungnya pun menjadi berdebar-debar. Sebenarnyalah sikap Jlitheng yang gelisah memang tidak meyakinkan.

Dalam pada itu, Jlitheng memang gelisah. Tetapi iapun sadar, bahwa jika anak-anak Lumban Wetan gagal, maka air itu akan melimpah sebagian besar ke Lumban Kulon. Sementara itu, ia tidak akan dapat berbuat apapun lagi atas sumber air diatas bukit, karena anak-anak Lumban Kulon pun menganggap bahwa bukit itu adalah hak mereka.

Sekilas terbayang seorang kakek yang tinggal di bukit itu bersama seorang anak gadisnya. Jika kakek itu dapat diminta untuk bekerja sama dengan anak-anak Lumban Wetan, mungkin anak-anak Lumban Kulon akan mengalami satu sikap tersendiri. Tetapi jika tidak, maka kesulitan bagi Lumban Wetan akan bertambah-tambah.

“Ia orang baik” desisnya. Namun bagaimanapun juga Jlitheng tidak akan dapat mengetahui, apa yang tersirat di hati orang tua itu.

Dalam pada itu. Nugata yang melihat Jlitheng termangu-mangu berkata, “Jlitheng. Mumpung masih belum terlanjur terjadi sesuatu atasmu. Kau masih sempat mempertimbangkan, apakah kau akan meneruskan sikap sombongmu yang tidak kau pertimbangkan dengan nalar, atau kau akhirnya akan menyadari keadaan dirimu setelah kau berdiri di arena. Aku masih memberimu waktu untuk menyingkir dan memberi kesempatan kepada orang lain”

Jlitheng memandang Nugata sejenak. Sementara itu, anak-anak Lumban Wetan pun menjadi semakin tegang. Bahkan seseorang hampir saja meloncat maju untuk menggantikan Jlitheng yang nampak sangat gelisah.

Tetapi dalam pada itu, jawaban Jlitheng pun mengejutkan, “Nugata. Aku menyadari sepenuhnya, siapa aku dan siapa kau. Tetapi aku pun menyadari, bahwa aku adalah orang yang paling banyak berbuat atas air itu. Karena itu, maka aku telah menganggap air itu merupakan bagian dari hidupku. Dengan demikian, maka aku pun telah bertekad untuk berbuat apa saja bagi kepentingan Lumban Wetan yang menyangkut hubungannya dengan air, Karena pada saat aku mengarahkan air itu dengan bekerja keras, bukannya aku tidak mempunyai maksud tertentu basi kesejahteraan Lumban Wetan. Karena itu, jika kesejahteraan itu akan direnggut sebelum mulai mekar, maka aku tidak akan dapat merelakannya”

“O” tiba-tiba saja Nugata tertawa, “Kau sesorah seperti seorang guru kajiwan di sebuah padepokan. He, apakah kau tidak melihat kenyataan yang kau hadapi sekarang. Aku tidak ingin mendengar dongeng tentang air itu. Tetapi aku ingin manfaat dari air itu. Karena itu, kita sudah turun ke-arena dengan ketentuan yang sama-sama kita sepakati. Nah, kau dapat memilih. Maju, atau kau tunjuk saja kawanmu yang lebih meyakinkan menghadapi persoalan sekarang. Bukan kemarin, pekan lalu, bulan yang lalu, atau, pada mulanya siapakah yang mengarahkan air itu”

“Baiklah” berkata Jlitheng, “Aku akan tetap pada pendirianku. Aku yang sudah mulai dengan mengarahkan air itu, akan berjuang terus sehingga aku berhasil membuat Lumban Wetan menjadi hijau”

Nugata tertawa semakin keras. Katanya, “Apa boleh buat. Kau nampaknya memang seorang pemimpi. Tetapi mimpimu akan sangat mengecewakanmu jika kau kemudian terbangun dan berdiri diatas kenyataanmu”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya Daruwerdi dan Semi berdiri tegang. Justru karena itu, mereka tidak segera memberikan tanda bahwa perkelahian itu dapat dimulai.

Karena keduanya masih mematung, maka Nugata lah yang bertanya, “Apakah kami dapat mulai?”

Daruwerdi menarik nafas panjang. Lalu katanya, “Baiklah. Kalian dapat mulai. Aku pun mempunyai tugas-tugas lagi yang harus aku selesaikan. Semalam suntuk aku disini. Mudah-mudahan aku masih mempunyai waktu untuk beristirahat”

“Tetapi jika aku menang” sahut Jlitheng, “perkelahian belum berakhir”

“Gila” geram Nugata. Lalu katanya kepada Daruwerdi dan Semi, “Cepat Beri isyarat”

Semilah yang kemudian berkata, “Silahkan. Mulailah. Tetapi ingat bahwa kalian adalah anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang masih mempunyai hubungan kadang Karena itu, apa yang kalian lakukan adalah sekedar untuk mengambil satu keputusan. Bukan menjadi tujuan”

“Persetan” geram Nugata, “perkelahian ini adalah Aku mempunyai banyak waktu untuk menentukan saatnya, anak Lumban Wetan yang gila ini disebut kalah”

Anak-anak muda Lumban Wetan menjadi berdebar-debar. Mereka, bahkan, sepuluh orang terbaik di Lumban Wetan, tidak tahu alasan yang sebenarnya, kenapa pemburu itu telah memilih Jlitheng. Namun karena biasanya pemburu itu selalu berbuat baik dan tidak menyesatkan, maka mereka pun telah melepaskan pula Jlitheng untuk melawan Nugata.

Demikianlah, dua orang anak muda sudah berhadap-hadapan di arena. Yang seorang telah membuktikan kelebihannya dan sudah mengalahkan dua orang anak muda dari Lumban Wetan. Jika anak muda dari Lumban Wetan yang ketiga ini juga dapat dikalahkannya, maka patahlah harapan anak-anak Lumban Wetan untuk menghijaukan sawah dan ladang mereka yang kering.

Beberapa saat terakhir, sawah dan ladang itu sudah dapat disentuh barang sedikit air yang telah naik di bendungan. Meskipun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan, tetapi sebagian dari sawah dan ladang di Lumban Wetan telah dapat dibasahi sehingga tanamannya menjadi hijau segar. Tetapi sebentar lagi, tanaman itu akan kembali menjadi kuning gersang karena air yang naik ke bendungan sebagian besar akan mengalir ke Lumban Kulon.

Dalam pada itu, kini yang berdiri di arena untuk mempertaruhkan kemungkinan merebut air itu adalah Jlitheng, seorang anak muda yang telah bekerja keras untuk mengendalikan air yang melimpah tanpa arti diatas bukit berhutan itu. Namun bagi anak-anak muda Lumban Wetan, kemampuan Jlitheng masih diragukan, sementara anak-anak muda Lumban Kulon dan apalagi Nugata, menganggapnya sama sekali tidak berarti

Sebenarnyalah Jlitheng sendiri sama sekali tidak ingin menunjukkan kelebihan ilmunya. Jika ia turun ke arena, adalah karena ia menganggap, tindakan anak-anak muda Lumban Kulon itu sama sekali tidak adil.

Nugata yang telah berada di arena itupun mulai bergerak. Ia bergeser mendekat, sementara Jlitheng justru melangkah surut.

“Jika kau takut, pergilah” geram Nugata.

Jlitheng tidak menjawab. Tetapi yang menjawab adalah pemburu, yang telah memilih Jlitheng untuk maju. Katanya, “Ia akan mengalahkanmu Nugata. Jlitheng adalah muridku yang terpercaya. Aku memberikan ilmu kepadanya dengan diam-diam. Ternyata hal itu sangat berarti sekarang ini, “

“Persetan” teriak Nugata. Dan tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang.

Jlitheng sudah menduganya. Dari langkah-langkah lawannya itu mengerti, bahwa Nugata akan meloncat menyerang. Karena itu, maka ia pun segera menghindar.

Sebenarnyalah bahwa Nugata memang bukan lawan Jlitheng. Jlitheng yang telah menempatkan dirinya berhadapan dengan persoalan pusaka yang sedang diperebutkan di daerah Sepasang Bukit Mati itu, masih harus berkelahi melawan anak-anak muda pedukuhan Lumban. Namun karena persoalannya adalah persoalan yang dianggapnya cukup besar dan menentukan bagi masa depan, maka iapun telah meluangkan waktunya dan bahkan ia telah mengungkapkan sebagian dari dirinya.

Demikianlah, karena Jlitheng mengelak, maka Nugata telah memburunya dengan serangan-serangan berikutnya, sehingga Jlitheng harus berloncatan menghindarinya pula. Bahkan kemudian Jlitheng hampir berlari-lari kecil untuk mengambil jarak dari lawannya.

“Gila” geram Nugata, “Kau berkelahi dengan cara pengecut”

“Aku hanya belum mapan” sahut Jlitheng.

Nugata yang segera ingin mengalahkan lawannya itupun kemudian berteriak, “Kemari, kita berkelahi ditengah arena, Jangan bersembunyi dan lari”

Jlitheng dengan ragu-ragu melangkah maju. Langkahnya lambat dan sangat berhati-hati. Namun dengan demikian, Jlitheng memang nampak tidak meyakinkan sama sekali.

Nugata yang tidak sabar pun segera menyerangnya. Ia ingin segera menjatuhkan Jlitheng dan memberikan hukuman atas kelancangannya. Ia sudah tidak perlu menghemat tenaganya lagi, karena anak itu adalah anak yang terakhir.

Tetapi ternyata Nugata tidak segera dapat mengalahkannya. Jlitheng masih selalu mampu menghindari serangan-serangan-nya. Bahkan rasa-rasanya serangannya belum sempat menyentuh anak itu, meskipun Jlitheng pun nampaknya sama sekali tidak mampu membalasnya.

Namun yang demikian itu agaknya telah memancing kemarahan Nugata. Karena itulah, maka ia pun telah mengerah-kan segenap kemampuannya untuk segera dapat mengalahkan anak muda yang bernama Jlitheng itu.

Jlitheng yang melihat kemarahan mulai membakar tata gerak Nugata, segera bersiap-siap untuk memancing dan menguras tenaga itu sampai kering. Ia ingin mengalahkan Nugata tidak dengan serangan-serangan yang dapat melumpuhkannya. Tetapi ia ingin mengalahkan Nugata dengan cara yang lain.

“Jika tenaganya telah habis, maka ia akan dapat disebut kalah” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Perkelahian selanjutnya nampaknya memang tidak seimbang. Jlitheng sama sekali tidak sempat menyerang. Ia hanya dapat mengelak dan kemudian memancing serangan. Jika Nugata mulai berpikir, bagaimana sebaiknya menghadapi Jlitheng, maka Jlitheng pun segera berbuat sesuatu yang dapat mengungkap serangan-serangan Nugata sehingga dengan demikian maka lawannya itu sama sekali tidak sempat berpikir dan melihat kenyataan dari anak muda Lumban Wetan yang bernama Jlitheng itu.

Karena itulah, maka yang terjadi di arena itu benar-benar telah membakar jantung Nugata. Rasa-rasanya ia berhadapan dengan anak muda yang paling dungu, licik dan pengecut. Tetapi rasa-rasanya ia tidak mempunyai kesempatan untuk segera membanting dan mencekik lehernya, meskipun anak itu akan mati.

“Gila” setiap kali Nugata menggeram. Namun betapapun ia mengerahkan segenap kemampuannya, Jlitheng masih selalu sempat mengelak dan kemudian berusaha menjatuhkan dirinya.

Demikianlah kemarahan yang membakar dada Nugata itu telah melepaskannya dari pengamatan diri. Ia telah mengerahkan segenap kemampuan tenaganya tanpa diperhitungkan lagi. Karena itu, maka sebelum ia berhasil mengalahkan lawannya, nafasnya terasa bagaikan saling memburu di lubang hidungnya.

Sambil terengah-engah maka sekali lagi berteriak, “Kau licik, pengecut. Mari kita berkelahi secara jantan”

“Kau tidak memberi kesempatan” jawab Jlitheng, “Tetapi menghindari serangan adalah bagian dari berkelahi secara jantan pula”

Nugata menggeram. Jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahan yang tidak terkendalikan. Apalagi karena serangan serangannya yang telah dilepaskan dengan segenap kemampuan-nya itu sama sekali tidak berhasil menjatuhkan lawannya. Bahkan rasa-rasanya menyentuh pun tidak.

Dalam pada itu, Jlitheng pun telah memperhitungkan setiap kemungkinan sebaik-baiknya. Yang memperhatikan perkelahian bukan saja anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon, tetapi Daruwerdi pun memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. karena itulah, ia harus mempunyai cara tersendiri untuk mengelabuhinya.

Semi lah yang agaknya menolongnya mengurangi perhatian Daruwerdi. Setiap kali Semi berlari-lari mendekati kedua anak muda yang berkelahi itu, sebagaimana Jlitheng yang lebih banyak menghindar dengan loncatan-loncatan yang panjang. Bahkan kadang-kadang Semi dengan sengaja telah menarik perhatian Daruwerdi dengan gumam-gumam pendek yang memberikan kesan tertentu.

Pada saat-saat terakhir itulah, maka Jlitheng pun mulai membalas serangan-serangan Nugata. Namun ia harus memperhitungkan tenaganya dengan cermat, sehingga sentuhan-sentuhan serangannya tidak menimbulkan kesan tersendiri.

Disaat-saat tenaga Nugata sudah menjadi semakin susut maka Jlitheng mulai mengenainya dengan serangan-serangan tangannya. Tetapi serangan-serangan itu seolah-olah tidak terasa sama sekali oleh Nugata. Ketika tangannya menyentuh pundak, maka Nugata telah mengumpatinya. Bukan karena perasaan sakit, tetapi justru diluar dugaannya, bahwa Jlitheng berhasil menyerangnya dengan tiba-tiba, menyusup diantara pertahanan-nya.

“Aku kurang berhati-hati” berkata Nugata di dalam hatinya, “untunglah bahwa tenaganya sama sekali tidak berarti bagiku. Jika saja aku berhasil mengenainya satu kali saja, ia tentu akan mati”

Namun bagaimanapun Juga, kemampuan Jlitheng menghin-dari serangan-serangan Nugata itu memang sudah menarik perhatian. Betapapun juga Jlitheng berusaha memberikan kesan, seolah-olah ia memang kurang tanggon dan agak licik. Tetapi betapapun menjengkelkan lawannya.

Pada saat-saat terakhir, ternyata Jlitheng tidak lagi terlalu banyak berlari-lari. Ia berusaha menghindar dengan jarak pendek. Dan bahkan ia menjadi semakin sering menyerang, meskipun jarang sekali serangan mengenai sasaran. Namun dengan demikian ia telah memaksa Nugata untuk bekerja lebih keras justru pada saat terakhir.

Ternyata usaha Jlitheng itu pun berhasil. Nugata telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya. Selain karena ia sudah berkelahi lebih dahulu melawan dua orang anak muda Lumban Wetan yang memiliki kemampuan yang cukup, karena mereka termasuk sepuluh anak muda terbaik di Lumban Wetan, Jlitheng pun telah berhasil memeras tenaga lawannya sampai tuntas.

Karena itulah, maka pada langkah-langkah terakhir, Nugata hampir tidak berdaya lagi, ketika Jlitheng justru mempercepat serangan-serangannya.

“Gila” Nugata berteriak. Ia mengayunkan tangannya. Namun sama sekali tidak menyentuh tubuh Jlitheng yang melangkah setapak surut. Justru karena itu, maka ia pun telah terseret oleh ayunan kekuatannya sendiri selangkah maju.

Jlitheng telah memanfaatkan keadaan itu. Ia bergeser kesamping, kemudian dengan serta merta mendorong tubuh lawannya dengan jari-jarinya yang terkembang.

Dorongan itu tidak terlalu keras. Tetapi karena Nugata memang sudahi kehilangan keseimbangan, maka dorongan itu telah melemparkannya, sehingga ia pun jatuh tertelungkup.

Perasaan anak-anak Lumban Wetan bagaikan meledak. Demikian mereka melihat Nugata terjatuh, maka dengan serta merta, mereka telah bersorak bagaikan meruntuhkan langit. Bahkan beberapa orang diantara mereka telah meloncat-loncat sambil berteriak-teriak tidak menentu.

Sementara itu, anak-anak Lumban Kulon telah terpukau oleh keadaan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya, Mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa Jlitheng akan mampu mengalahkan Nugata meskipun Nugata telah berkelahi melawan dua orang berturut-turut sebelumnya. Namun ternyata bahwa karena kelelahan, Nugata telah dapat didorong jatuh oleh Jlitheng

Nugata sendiri sama sekali tidak mau mengakui kenyataan itu. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk bangkit. Disaat-saat ia sedang mengerahkan sisa tenaganya, Jlitheng melangkah mendekatinya. Namun Semi telah melangkah pula memotong sambil berkata, “Tunggulah sampai ia berdiri”

Jlitheng tertegun. Dipandanginya Semi sekilas. Namun ia pun kemudian melangkah surut.

Dalam pada itu, Daruwerdi lah yang justru mendekati Nugata sambil berdesis, “Apakah kau sudah tidak mampu lagi melawannya”

“Aku akan membunuhnya” teriak Nugata.

Daruwerdi yang gelisah karena langit yang menjadi kemerah-merahan berkata, “Kau harus mengakui kekalahanmu”

“Aku belum kalah” Nugata berteriak sekali lagi sambil menghentakkan dirinya dan berdiri dengan terhuyung-huyung.

Daruwerdi menengadahkan kepalanya. Kemudian dipandanginya Rahu yang berdiri di pinggir arena. Namun Rahu itu pun agaknya melihat kegelisahan Daruwerdi. Maka katanya, “Kau harus menyelesaikan tugasmu disini lebih dahulu”

“Bagaimana dengan mereka?” bertanya Daruwerdi.

“Mereka tidak akan datang pagi-pagi buta seperti ini. Mungkin siang hari atau bahkan sore hari” jawab Rahu.

Tidak seorang pun yang tahu, apa yang sedang mereka bicarakan. Karena itu, anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka lebih tertarik untuk memperhatikan keadaan Nugata yang terengah-engah.

“Bagaimana?” Semi bertanya.

“Minggir kalian” geram Nugata, “Aku akan melumatkannya”

Semi melangkah surut sambil berkata kepada Daruwerdi, “Biarlah ia meyakini kekalahannya”

Daruwerdi tidak menjawab. Bahkan ia pun memberi isyarat, bahwa perkelahian dapat dilanjutkan.

Jlitheng melihat kebencian yang menyala di mata Nugata. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain, kecuali mengalahkannya. Karena bagi Lumban Wetan, apa yang dilakukan itu akan menentukan buat masa yang sangat panjang.

Nugata yang telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya itu masih berusaha menyerang Jlitheng. Sementara Jlitheng sudah bertekad untuk segera mengakhiri perkelahian itu. Apa lagi dengan kemenangannya atas Nugata, maka Jlitheng akan berkelahi lagi melawan dua orang anak muda Lumban Kulon. Sementara itu, ia masih harus berusaha untuk tidak menyatakan dirinya sepenuhnya.

Karena itu, ketika Nugata menyerangnya, ia tidak menghindarinya. Ia menangkis serangan itu sambil berdesis lirih, “Nugata, kau jangan kehilangan akal. Kau harus mengakui kenyataan ini, agar aku tidak bertindak lebih kasar lagi. Bukankah kita masih tetap berkawan untuk waktu yang akan datang? Yang kita lakukan ini adalah sayembara yang jujur”

Tetapi Jlitheng terkejut ketika ia mendengar Nugata berteriak, “Kubunuh kau anak gila”

Jlitheng mengatupkan giginya. Ia masih harus menekan diri. Benturan yang terjadi, adalah benturan yang tidak berarti.

Tenaga Nugata sudah semakin lemah, sementara Jlitheng berusaha menangkis dengan lunak.

Namun karena Nugata masih tetap keras kepala, maka Jlitheng berniat untuk bertindak lebih keras pada saat-saat terakhir. Jika ia menyerang dan menjatuhkan Nugata sekali lagi, maka yang dilakukan itu tidak akan sangat menarik perhatian.

Dalam pada itu, yang mengejutkan justru sikap Daruwerdi. Ketika Daruwerdi berdiri dekat di sisi Jlitheng, iapun berdesis, “Kau dapat mengalahkannya segera, sehingga kau tidak akan kehabisan tenaga untuk perkelahian berikutnya”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Daruwerdi agaknya digelisahkan oleh hari-hari terakhir pekan yang dijanjikan oleh orang-orang Sanggar Gading.

Sebenarnyalah bahwa Jlitheng tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, ketika Nugata terhuyung-huyung menyerangnya, sekali lagi Jlitheng menangkis serangan itu. Lebih keras dari yang sudah dilakukannya.

Dalam benturan itu, Nugata benar-benar tidak lagi dapat bertahan. Ia terdorong selangkah surut. Dalam keadaan yang demikian, Jlitheng telah memburunya. Ketika ia menyerang sekali lagi kearah pundak Nugata, maka anak muda Lumban Kulon itu terputar sekali kemudian sekali lagi ia terbanting jatuh.

Sekali lagi anak muda Lumban Wetan bersorak bagaikan meruntuhkan langit. Namun sementara itu, anak-anak muda Lumban Kulon menjadi sangat cemas. Jika Nugata sudah dikalahkan, maka tidak akan ada orang lain yang akan dapat berbuat lebih baik daripadanya.

“Ia sudah sangat letih setelah dia berkelahi melawan dua orang berturut-turut” desis seorang anak Lumban Kulon ke telinga kawannya.

“Tetapi ia masih nampak segar ketika ia mulai dengan perkelahiannya yang terakhir” sahut kawannya yang lain.

Anak-anak muda Lumban Kulon itupun kemudian hanya termangu-mangu saja melihat apa yang terjadi di arena.

Jlitheng berdiri tegak selangkah disamping Nugata yang terbujur ditanak Dengan susah payah Nugata masih berusaha untuk bangkit. Namun setiap kali ia berusaha, maka setiap kali ia terkulai kehabisan tenaga.

“Tidak ada gunanya” desis Daruwerdi yang kemudian berdiri disebelahnya pula.

“Aku tidak kalah. Aku masih mampu membunuhnya” geram Nugata.

“Jangan menjadi Gila” Daruwerdi pun menggeram. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Aku sudah jemu melihat tingkah laku kalian. Aku masih mempunyai seribu macam pekerjaan yang lebih penting dari menunggui kalian berkelahi disini”

Nugata tercenung sejenak. Ia melihat perubahan sikap Daruwerdi. Seakan-akan Daruwerdi tidak lagi berdiri di pihaknya. Dipihak anak-anak muda Lumban Wetan.

“Nugata” berkata Daruwerdi kemudian, “bagaimanapun juga seorang laki-laki jantan tidak akan ingkar dari kenyataan. Kau sudah kalah. Jika kau memaksa diri, maka kau sendiri yang akan mengalami nasib yang buruk. Jlitheng yang meskipun tidak memiliki ilmu setingkat dengan kau, tetapi ia memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga ia tidak dapat kau kalahkan. meskipun ia harus berlari-lari menghindar. Tetapi ia tidak melakukan kesalahan. Dan ia telah memenangkan perkelahian ini”

Nugata menggeretakkan giginya Ketika ia berhasil berdiri meskipun dengan terhuyung-huyung, maka dipandanginya, wajah Jlitheng dengan penuh dendam dan kebencian.

“Kau tidak akan dapat mengalahkan aku” geram Nugata.

“Aku sekarang menang” jawab Jlitheng, “sementara itu perjanjian yang dibuat tetap berlaku. Pemburu-pemburu itu, Daruwerdi dan anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan menjadi saksi”

“Kau baru memenangkan sekali perkelahian” geram Nugata, “itu pun karena kau berbuat licik, dan aku sudah berkelahi dua kali berturut-turut lebih dahulu”

“Aku akan memenuhi segala ketentuan. Aku siap untuk berkelahi lebih lanjut melawan dua orang berturut-turut” jawab Jlitheng.

Nugata memang tidak mungkin berkelahi lagi, betapapun ia bernafsu dan dibakar oleh dendam. Tulang-tulangnya bagaikan saling terlepas dari sendi-sendinya. Nafasnya seolah-olah hampir terputus di kerongkongan. .

“Tetapi kau harus dikalahkan” geram Nugata. Lalu katanya, “pilihlah seorang yang akan dapat memutar lehernya. Jika yang seorang belum berhasil, maka orang berikutnya akan mencekiknya, karena anak gila itu tentu sudah kehabisan nafas”

Daruwerdi menjadi semakin gelisah. Ia tidak dapat mengukur kekuatan Jlitheng sebenarnya, meskipun ia mulai curiga. Bahkan ia kurang yakin, bahwa betapapun pemburu itu menempanya siang dan malam, namun ilmunya tidak akan melonjak dengan tiba-tiba.

Dalam pada itu, seorang anak muda Lumban Kulon telah bangkit. Seorang anak muda yang bertubuh tegap kekar. Ia tidak membiarkan Jlitheng mendapat kesempatan untuk beristirahat. Ia harus berkelahi dan memeras tenaga-Jlitheng, sehingga apabila ia tidak dapat mengalahkannya, maka orang berikutnya akan dengan mudahnya membanting Jlitheng diatas tanah berpasir dan kemudian membenamkan wajahnya kedalam pasir itu.

Sejenak kemudian keduanya telah berhadapan. Nugata yang sudah kehabisan tenaga., menghempaskan dirinya duduk diantara beberapa orang kawannya di pinggir arena. Namun dengan suara lantang ia masih berteriak, “Peras tenaganya sampai habis. Biarlah orang yang kemudian melumatkan tulang-tulangnya”

Orang bertubuh kekar itu ternyata tidak menunggu Daruwerdi atau Semi memberikan isyarat. Tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga sebelumnya oleh Jlitheng, bahkan oleh anak-anak Lumban Wetan dan anak-anak Lumban Kulon sendiri, orang bertubuh tegap kekar itu langsung menyerang.

Jlitheng yang tidak menduga, bahwa hal itu akan dilakukan oleh anak muda yang bertubuh tegap kekar ku terkejut. Namun ternyata bahwa ia masih cukup sigap untuk berbuat sesuatu. Demikian serangan itu datang, maka Jlitheng masih sempat melindungi dadanya dengan kedua tangannya.

Tetapi justru karena Jlitheng agak tergesa-gesa, maka ia kurang memperhitungkan lontaran tenaganya. Sehingga karena itulah, maka tangan lawannya itu seakan-akan telah menghantam dinding baja. Dan dorongan yang kecil dari tenaga Jlitheng ternyata telah melontarkan anak itu beberapa langkah surut dan bahkan kemudian telah jatuh terguling.

Jlitheng sendiri terkejut melihat hentakan tenaganya. Untunglah bahwa ia cepat berpikir. Demikian ia melihat lawannya terdorong surut, maka ia pun kemudian melangkah terhuyung-huyung. Demikian lawannya jatuh terguling, maka Jlitheng pun dengan lemahnya telah terjatuh pula diatas tanah berpasir.

Arena itu tiba-tiba saja telah menjadi hening. Setiap orang telah dicengkam oleh ketegangan. Mereka menyaksikan kedua orang yang berada di arena itu terbaring diam untuk sesaat.

Namun Jlitheng pun akhirnya mulai bergerak. Demikian pula lawannya. Perlahan-lahan keduanya berusaha untuk bangkit berdiri.

Akhirnya keduanya telah tegak kembali. Daruwerdi yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Ia melihat kedua anak muda itu menjadi letih sekali.

“Jika Jlitheng tidak dapat mengalahkan kedua lawan berikutnya, maka aku tidak akan mengurusinya lagi” berkata Daruwerdi di dalam hatinya, “biarkan pemburu-pemburu itu menjadi saksi penyelesaian yang mungkin akan makan waktu tiga hari tiga malam. Orang terbaik dari Lumban Kulon telah lewat. Namun ia tidak mengakhiri perkelahian yang menjemukan ini. Sementara kewajibanku sendiri telah menunggu. Kewajiban yang lebih berharga daripada sekedar melihat tikus-tikus berkelahi berebut sepotong makanan”

Sejenak kemudian kedua orang yang berada di arena itu telah bersiap. Betapapun mereka nampak letih, tetapi mereka masih akan melanjutkan perkelahian itu. Sementara Nugata di pinggir arena berteriak dengan marah, “ Peras tenaganya Biarlah ia mati dengan anak yang akan melawannya kemudian.

Anak muda Lumban Kulon itupun bergeser selangkah. Dipandanginya wajah Jlitheng dengan tegang. Dengan nada berat ia berkata, “Kau akan menyesali perbuatanmu”

Jlitheng sama sekali tidak beringsut. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia pun telah memutuskan bahwa perkelahian itupun harus segera berakhir, karena warna merah di langit menjadi semakin tegas.

Karena itu, demikian lawannya menyerang, Jlitheng beringsut menghindar. Kemudian dengan kekuatan yang cukup besar, Jlitheng telah mendorong lawannya.

Akibatnya sangat mengejutkan. Anak muda Lumban Kulon itu terdorong demikian kerasnya dan terlempar diantara kawan-kawannya sendiri. Demikian kerasnya sehingga oleh dorongan itu beberapa orang anak muda Lumban Kulon telah terjatuh berdesakan dan saling menindih.

“Gila” geram anak-anak muda itu. Seorang diantaranya berteriak, “Ia telah menyakiti aku. Biarlah aku melumatkannya”

Dalam pada itu, Jlitheng yang telah mendorong lawannya cukup keras itupun berdiri terhuyung-huyung di arena. Tetapi ia tidak terjatuh. Ia masih tetap berdiri dengan nafas terengah-engah.

Lawannya ternyata mengalami kesulitan untuk dapat bangkit dengan cepat. Ketika ditolong oleh kawan-kawannya ia berdiri tertatih-tatih, maka dengan tergesa-gesa Daruwerdi-lah yang mengambil keputusan, “Kau sudah kalah”

“Belum” teriak anak muda itu. Disusul oleh Nugata, “belum. Ia masih dapat berkelahi. Jlitheng sudah hampir kehabisan nafas pula”

Ketika Daruwerdi tetap pada pendiriannya, anak-anak muda Lumban Kulon telah berteriak-teriak dengan keras, “Belum. Ia belum kalah”

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Betapa ia tergesa-gesa, tetapi ia menganggap bahwa tidak bijaksana untuk memaksakan keputusannya. Jika anak-anak Lumban Kulon itu tidak mengakui keputusan itu, maka akan timbul persoalan lain yang gawat.

Karena itu, maka iapun berkata kepada Semi, “Apakah masih perlu diyakinkan?”

“Masih ada waktu” Rahu lah tiba-tiba saja menyahut, “biarlah mereka yakin bahwa keputusanmu benar”

Karena itu, Daruwerdi tidak mencegah lagi. Katanya, “Terserah. Jika kau merasa dirimu belum kalah. Lakukanlah perkelahian berikutnya”

Lawan Jlitheng itupun melangkah tertatih-tatih maju. Sekali lagi ia meloncat menyerang. Dan sekali lagi Jlitheng telah menghindar dan mendorongnya. Namun karena ia sudah jemu, maka ia tidak sekedar mendorong orang itu. Tetapi ia telah memilih tempat tertentu yang ditekannya dengan ujung-ujung jarinya pada saat ia mendorong lawannya

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu tidak melihat, apa yang telah terjadi sebenarnya. Yang mereka lihat, anak muda Lumban Kulon itu terdorong lagi dengan kerasnya dan jatuh keatas tanah berpasir. Namun untuk beberapa saat lamanya, ia tetap terbujur diam. Ternyata anak itu telah pingsan.

“Anak itu dibunuhnya” teriak Nugata dengan marah sekali. Seandainya tulang-tulangnya tidak terasa terlepas satu sama lain, ia akan meloncat bangkit dan menyerang Jlitheng. Tetapi ia tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu kecuali berteriak-teriak saja.

Daruwerdi lah yang kemudian melangkah maju. Ialah yang menolong anak muda itu bersama Semi. Katanya kepada anak-anak muda Lumban Kulon, “Ia pingsan. Ia benar-benar telah kehabisan tenaga. Ia memaksa diri karena ia ingin memenuhi permintaan Nugata untuk memeras habis tenaga lawannya. Tetapi akibatnya, ia menjadi pingsan. Yang bertanggung jawab atas peristiwa ini bukannya Jlitheng. Tetapi justru Nugata”

“Gila” teriak Nugata, baginya Daruwerdi telah benar-benar berubah.

Namun dalam pada itu. Semi berkata, “Bawalah menepi. Rawatlah. Titikkan air di mulutnya. Sedikit saja”

Beberapa orang anak muda Lumban Kulon telah mengambil kawannya yang pingsan itu. Kemudian membawanya menjauh, sementara seorang diantara mereka telah berlari-lari mengambil air di bendungan.

Dalam pada itu, Sebelum anak-anak muda Lumban itu terpukau melihat peristiwa itu, Nugata dengan tergesa-gesa berkata, “Cepat. Selesaikan anak gila dari Lumban Wetan itu, sebelum ia sempat bernafas”

“Siapa yang kau tunjuk Nugata” bertanya seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan.

Nugata termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Kau. Kau pantas untuk mendapat satu kehormatan, mengalahkan anak gila itu”

“Terima kasih” jawab anak muda itu sambil meloncat memasuki arena. Dengan tangkasnya ia bersiap sambil berkata, “Kau akan menyesal Jlitheng.

“Akulah yang menguasai air itu untuk pertama kali. Aku pulalah yang akan menentukan, apa yang akan terjadi dengan air itu” geram Jlitheng.

“Jangan sombong” teriak anak yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.

Tetapi Jlitheng telah benar-benar menjadi jemu. Bahkan ia berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak peduli tanggapan Daruwerdi atasku. Tidak ada kesempatan lagi. Hari mi adalah hari yang menentukan bagi Daruwerdi itu, dan barangkali juga bagiku”

Anak yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu mempunyai perhitungan seperti Nugata. Ia tidak ingin memberi kesempatan kepada Jlitheng untuk beristirahat. Selagi nafasnya masih tersendat-sendat, ia ingin menjatuhkannya dan bahkan melepaskan sakit hati atas kekalahan dua orang kawannya yang terdahulu.

Karena itu, maka ia pun dengan serta merta telah menyerang Jlitheng dengan garangnya.

Tetapi perhitungannya itu ternyata keliru. Jlitheng tidak sedang terengah-engah. Jlitheng tidak sedang kelelahan dia kehilangan kemampuan untuk melawannya. Demikian serangan itu datang, Jlitheng dengan sigapnya telah menghindarinya.

Lawannya yang tinggi kekurus-kurusan itupun telah tergeser. Berbagai macam pertimbangan bergelepar di kepalanya. Namun dalam pada itu ia masih tetap menganggap bahwa Jlitheng telah kehabisan tenaga.

“Ia dapat memaksa dirinya untuk bergerak pada langkah-langkah pertama. Tetapi ia akan segera kehabisan tenaga dan jatuh terkulai tidak berdaya. Aku akan dapat mencekiknya dan meyakinkan setiap orang, bahwa Jlitheng bukan orang yang perlu disegani.”

Namun bersamaan dengan itu, kejemuan Jlitheng telah sampai di puncaknya. Karena itu, ia pun telah menunggu lawannya itu akan menyerangnya lagi.

Seperti yang diperhitungkannya, maka sejenak kemudian anak muda yang tinggi kekurus-kurusan itupun telah meloncat pula menyerangnya dengan garangnya.

Jlitheng memang sudah ingin mengakhiri perkelahian. Langit sudah menjadi semakin merah. Bahkan di ujung Timur, di garis cakrawala, nampak cahaya pagi yang semakin terang.

Karena itu, demikian orang itu meloncat menyerang, maka Jlitheng telah berusaha menghindarinya. Namun demikian ia meloncat, maka iapun telah mengayunkan tangannya.

Memang tidak banyak orang yang mengerti, bahwa yang dilakukan itu memang sudah diperhitungkan. Diperhitungkan bukan saja akan dapat mengakhiri pertempuran, tetapi yang terjadi itu seolah-olah telah dilakukan tanpa disengaja. Seolah-olah Jlitheng demikian saja melakukan gerakan yang dapat menghantam tubuh lawannya yang sedang meloncat menerkamnya, dan tanpa dikehendakinya. sendiri, tangan itu telah menghantam tempat yang gawat.

Karena itu, lawannya yang menerkamnya tanpa berhasil menyentuhnya itu telah terdorong dengan derasnya. Ia telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terbanting di tanah berpasir.

Demikian cepatnya hal itu terjadi. Dengan serta merta, anak-anak Lumban Wetan pun telah bersorak bagaikan menggugurkan langit. Seakan-akan bukan satu kebetulan, bahwa sorak yang meledak itu telah mendorong cahaya pagi yang memancar dari balik cakrawala Sejenak kemudian, maka langit pun menjadi cerah. Matahari mulai menjenguk perlahan-lahan.

Nugata yang letih itu terkejut. Orang itu adalah orang ketiga. Jika ia kalah, maka akan jatuh keputusan. Karena itu, demikian kuatnya hentakkan di dalam hatinya, sehingga tiba-tiba saja ia bangkit berdiri. Namun ketika ia terhuyung-huyung, kawan-kawannya telah membantunya untuk tetap berdiri.

“Gila, Apa yang terjadi?”Ia menggeram.

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Lumban Kulon kalah menurut perjanjian, namun ia tidak peduli lagi. Hari itu adalah hari yang ditentukan oleh orang-orang Sanggar Gading. Dan jika persoalan pusaka itu selesai maka selesai pulalah hubungannya dengan orang-orang Lumban Kulon ataupun Wetan. Ia tidak peduli, apa yang telah dilakukan oleh Jlitheng, meskipun sebenarnya ia menaruh perhatian. Bahkan ia agak curiga, bahwa dengan pimpinan pemburu tu. Jlitheng memiliki kelebihan yang jauh dari anak-anak muda Lumban Kulon, bahkan dari Nugata sendiri.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah berkata, “Semuanya telah berakhir. Kita akan bersikap sebagai seorang laki-laki yang memegang janji. Anak-anak Lumban Wetan telah memenangkan perkelahian ini, sehingga segala keputusan mengenai bendungan dan air ini akan kami serahkan kepada anak-anak muda Lumban Wetan”

“Tidak” teriak Nugata, “Anak itu belum kalah. Ia masih bangkit dan siap untuk berkelahi lagi”

Tetapi setiap orang melihat, bahwa orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu sudah terlalu lemah. Ia memang berusaha untuk bangkit. Namun ia tidak akan mampu lagi untuk berkelahi. Apalagi Jlitheng nampaknya masih cukup segar dan siap untuk melakukan perkelahian lagi.

Ternyata sentuhan tangan Jlitheng benar-benar menentukan. Anak muda yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ketika ia mencoba untuk melangkah, maka ia hampir saja kehilangan keseimbangannya. Namun meskipun ia dapat bertahan untuk tetap berdiri, tetapi ia tidak berani lagi menggerakkan kakinya untuk melangkah maju. Jika sekali ia melangkah, maka ia ter. akan terjatuh dan sulit untuk dapat berdiri tegak lagi.

“Cepat, lakukan” teriak Nugata, “mumpung lawanmu masih kelelahan”

Tetapi anak muda yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ketika sekali lagi Nugata berteriak, terdengar anak muda itu mengeluh tertahan.

“Semuanya sudah berakhir” Daruwerdi lah yang kemudian berteriak, “Jangan mengelabui diri sendiri. Apa yang kalian lihat sudah jelas. Jangan membuat anak muda itu pingsan, atau bahkan mati karena ketamakanmu Nugata”

Nugata memandang Daruwerdi dengan tajamnya. Ia melihat anak muda itu sudah benar-benar berubah.

Tetapi Nugata tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ia melihat kedua pemburu itu berganti-ganti, Jlitheng dan seorang lagi yang tidak jelas baginya, maka Nugata mengerti, bahwa saat itu, semua kesempatan telah tertutup.

Dalam pada itu, anak-anak Lumban Wetan yang merasa mendapat kemenangan itupun telah bersorak berkepanjangan. Mereka merasakan satu kesempatan ikut serta menentukan untuk waktu yang panjang bagi padukuhan mereka. Air adalah lambang kesuburan bagi tanah yang kering dan tandus yang sudah berpuluh tahun lamanya bagaikan ladang gersang yang mati.

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda Lumban Wetan bersorak dengan gembira, maka anak-anak muda Lumban Kulon mengumpat sejadi-jadinya. Mereka merasakan satu kekalahan yang paling menusuk perasaan. Namun mereka pun menyadari, bahwa mereka harus menerima kekalahan itu karena mereka tidak akan dapat lagi memaksakan kehendak mereka

Dalam keriuhan kegembiraan anak-anak Lumban Wetan, maka Semi pun kemudian berkata lantang, “Dengarlah. Beri kesempatan aku berbicara”

Anak-anak muda Lamban Wetan pun kemudian berusaha untuk menguasai perasaan mereka. Kegembiraan mereka pun kemudian mereda, sehingga akhirnya mereka diam sama sekali.

“Permainan kita sudah selesai” berkata Semi, “Kita adalah anak-anak muda yang teguh memegang janji dan menghormati keputusan yang sudah dibuat bersama. Karena itu, masalah bendungan dan pintu air dapat kita anggap selesai. Pintu air akan dikembalikan seperti semula. Air yang akan mengalir ke Lumban Wetan akan sama banyaknya dengan air yang akan mengalir ke Lumban Kulon”

Beberapa orang anak muda Lumban Wetan bergeser setapak maju. Rasa-rasanya itu tidak adil. Jika anak-anak muda Lumban Kulon menang, mereka berhak membuka pintu air lebih besar. Tetapi jika anak-anak muda Lumban Wetan yang menang, maka pintu air itu akan dikembalikan saja seperti semula. Anak-anak Lumban Wetan tidak mempunyai wewenang untuk membuka pintu air itu lebih lebar seperti yang akan dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon dalam keadaan yang sama.

Tetapi dalam pada itu, Semi berkata selanjutnya, “Nampaknya itu adalah satu ujud kebesaran jiwa anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka memang tidak menuntut sesuatu yang berlebih-lebihan. Yang mereka perjuangkan di arena sayembara ini adalah keadilan. Bukan kesempatan untuk berbuat sewenang-wenang.

Anak-anak muda yang merasa diperlukan tidak adil itu pun tertegun karenanya Jlitheng yang telah bekerja keras mengarahkan air, dan kini berdiri di arena dan berhasil menentukan akhir dari sayembara itu pun tidak menolak keterangan Semi. Karena itu, mereka pun kemudian tidak berbuat apa-apa ketika Semi melanjutkan, “Matahari sebentar lagi akan naik. Sebaiknya, kita kembali ke rumah masing-masing dengan pengakuan di dalam hati, bahwa yang paling baik akan berlaku di Kabuyutan Lumban. Air akan dibagi dengan adil. Dan kedua bagian dari Lumban akan bersama-sama berkembang. Jika terjadi perpacuan di hari-hari kemudian, maka yang terjadi itu adalah wajar dan adil pula. Kelebihan yang satu akan ditentukan bukan karena kelebihan kesempatan, tetapi tentu karena hasil kerja anak-anak mudanya”

Ternyata bahwa sebagian dari anak-anak muda Lumban Kulon pun sempat mendengar kata-kata Semi itu. Namun Nugata yang marah sama sekali tidak menghiraukannya. Dengan sisa tenaganya maka ia pun kemudian sambil mengumpat melangkah meninggalkan bendungan. Bahkan ia masih sempat berteriak, “Aku tidak peduli lagi. Aku akan pulang”

Anak-anak Lumban Kulon termangu-mangu sejenak. Namun sebagian dari mereka pun kemudian mengikutinya meninggalkan kawan-kawannya yang masih berkerumun di bendungan

Dalam pada itu, Semi pun kemudian berkata, “Kita memang sudah selesai. Yang ingin pulang, segeralah pulang. Aku kira anak-anak Lumban Wetan pun tidak akan tergesa-gesa memperbaiki pintu air. Karena itu, pulang sajalah. Sebaiknya hari ini kalian berada di rumah. Beristirahat dan menenangkan hati. Besok, aku akan membantu kalian memperbaiki pintu air yang sudah terlanjur dirombak ini”

Jlitheng yang masih berdiri di arena mengerti maksud Semi. Hari itu adalah hari yang mempunyai arti tersendiri bagi Daruwerdi dan orang-orang Sanggar Gading. Meskipun nampaknya Semi tidak mempunyai hubungan langsung dengan persoalan itu, namun ia dapat menangkap maksudnya. Memang sebaiknya anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon berada di rumah mereka pada saat-saat orang-orang Sanggar Gading berada di daerah Sepasang Bukit Mati.

Dalam pada itu, Daruwerdi yang memerlukan persiapan khusus itu pun kemudian berkata, “Aku pun akan pulang. Aku perlu beristirahat. Semalam suntuk aku melakukan pekerjaan tidak berarti disini”

“Bukan tidak berarti Daruwerdi” sahut Semi, “Kau sudah ikut menegakkan keadilan disini. Kau kira nilai keadilan ini kecil dari nilai-nilai lain yang sedang kau harapkan?”

Wajah Daruwerdi menegang sejenak. Namun La tidak menanggapinya. Bahkan Katanya, “Apapun yang kau katakan, aku merasa sangat letih. Aku akan pulang”

“Silahkan” Rahu lah yang menjawab sambil melangkah mendekatinya, “Aku akan memberitahukan kepadamu, apa yang akan terjadi hari ini”

Daruwerdi memandang Rahu sekilas. Namun kemudian katanya, “Aku menunggu. Dan aku memang sudah siap”

Rahu mengangguk-angguk, sementara Daruwerdi pun melangkah sambil berkata, “Lakukanlah apa yang baik menurut kalian atas bendungan ini. Aku tidak mempunyai banyak kepentingan lagi”

Semi tidak menjawab. Ia memandangi saja Daruwerdi yang meninggalkan anak-anak muda Lumban Wetan dan sebagian anak-anak Lumban Kulon yang masih tinggal.

Dalam pada itu, Semi, kawannya yang telah mengatur anak-anak muda Lumban Wetan, Rahu dan Jlitheng pun kemudian bersepakat untuk mempersilahkan anak-anak itu segera pulang dan beristirahat di rumah seperti yang dikatakan oleh Semi.

“Besok kita mulai lagi dengan kerja” berkata Jlitheng kepada kawan-kawannya.

Kawan-kawannya, dan bahkan anak-anak muda Lumban Kulon menjadi semakin segan kepada Jlitheng. Tanpa usaha Jlitheng dan orang tua di kaki bukit, maka air itu tentu masih belum dapat dikuasai. Sementara itu, Jlitheng pulalah yang lelah menggagalkan usaha anak-anak muda Lumban Kulon untuk membagi air dengan tidak adil.

Demikianlah, maka anak-anak Lumban Kulon yang tersisa, dan anak-anak Lumban Wetan itupun segera bersiap-siap untuk meninggalkan bendungan. Merekapun bersepakat untuk mengerjakan bendungan dan pintu air di hari berikutnya.

Ketika anak-anak Lumban itu kembali ke padukuhan masing-masing, maka beberapa orang anak muda dari Lumban Kulon mulai menilai semua peristiwa yang telah terjadi. Mereka mulai melihat, bahwa anak-anak Lumban Wetan sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat sewenang-wenang dengan kemenangannya. Bahkan dengan demikian mereka mulai melihat, bahwa sebenarnya anak-anak Lumban Kulon lah yang ingin merusak kerukunan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan.

“Nugata lah yang bersikap demikian” desis salah seorang dari anak-anak Lumban Kulon itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia mulai mendapat kesempatan untuk menilai, apa yang telah mereka lakukan dalam saat-saat terakhir.

“Membuka pintu air lebih lebar bagi Lumban Kulon memang tidak adil” desis yang lain pula.

Sementara itu mereka pun mulai menelusuri, bagaimana air dapat tertumpah di sungai yang sebelumnya hampir kering sama sekali itu. Sehingga dengan demikian, maka mereka menjadi semakin menghormati sikap Jlitheng. Selain karena usahanya sehingga air itu dapat dimanfaatkan bagi sawah dan ladang di padukuhan Lumban, ia pun sama sekali tidak ingin memanfaat-kan kemenangannya untuk kepentingan yang tidak adil seperti yang dikehendaki oleh anak-anak Lumban Kulon.

“Anak itu memang luar biasa” desis salah seorang anak muda Lumban Kulon yang sedang dalam perjalanan pulang itu, “Ia orang kuat, cerdas, tetapi tidak sewenang-wenang”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mulai melihat pertentangan watak antara Jlitheng dan Nugata. Namun dalam pada itu, anak-anak Lumban Kulon itupun berkata kepada diri sendiri, “Anak laki-laki Ki Buyut di Lumban Wetan tidak banyak berperan”

Sementara itu, ketika anak-anak Lumban Wetan telah memasuki pedukuhan masing-masing di daerah Kabuyutan Lumban Wetan, maka Jlitheng berada bersama di daerah kabuyutan Lumban Wetan, maka Jlitheng berada bersama kedua pemburu dan Rahu di banjar. Mereka masih harus bersiap-siap untuk menghadapi satu saat yang penting dan mungkin bahkan akan sangat menentukan.

Tetapi tiba-tiba saja Jlitheng berkata, “Aku akan pergi ke kakí bukit,

“Apa kau akan menemui orang tua itu?” bertanya Semi.

“Ya. Aku akan memberitahukan apa yang baru saja terjadi dengan air yang telah kami arahkan bersama-sama” jawab Jlitheng.

“Kau juga akan berbicara tentang orang-orang Sanggar Gading?” bertanya Semi.

“Apakah aku tidak boleh mengatakannya kepada orang tua itu?” Jlitheng ganti bertanya.

“Itu tidak perlu” desis Rahu, “mungkin orang itu dapat dipercaya. Tetapi mungkin pula ia mempunyai sikap lain yang dapat mengganggu rencana orang-orang Sanggar Gading dan selanjutnya mengganggu tugas kita sendiri”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia mengerti perasaan kawan kawannya itu. Ia sendiri pun tidak tahu pasti apakah sebenarnya orang tua itu benar-benar seorang yang terusir oleh bencana alam seperti yang dikatakan, dan yang kemudian mencari tempat pemukiman baru di lereng bukit itu, atau bencana alam yang mungkin memang terjadi itu hanyalah alasan yang men- dorongnya untuk melakukan tugas-tugas yang besar di daerah Sepasang Bukit Mati ini

“Kenapa ia tidak mencari tempat lain yang mungkin lebih baik dan lebih banyak memberikan kemungkinan untuk diperkembangkan dari pada di daerah Sepasang Bukit Mati ini?” pertanyaan itupun tumbuh pula di hati Jlitheng.

Namun rasa-rasanya ia tidak dapat mengekang dirinya untuk berlari ke bukit dan berbicara tentang apa saja dengan orang tua itu.

“Pergilah” berkata Rahu kemudian, “Tetapi berhati-hatilah. Kau mempunyai kewajiban yang kau angkat sendiri ke pundak-mu. Jangan kau kembangkan untuk sesuatu yang kurang pasti”

Jlitheng mengangguk-angguk. Dipandanginya Rahu sejenak. Lalu katanya, “Kau tahu apa yang pantas bagiku. Dan aku pun tahu apa yang baik bagiku”

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu adalah anak muda yang keras hati, meskipun dalam persoalan-persoalan tertentu hatinya menjadi lunak dan lembut. Tetapi jika telah tumbuh tekad di dalam hatinya, maka ia akan melakukannya dengan mempertaruhkan apa saja.

Meskipun Rahu tidak banyak mengenal anak muda itu sendiri, tetapi apa yang tercermin pada anak muda itu adalah sifat-sifat ayahandanya.

“Lakukanlah tugas kalian” berkata Jlitheng kemudian, “hari ini adalah hari terakhir dalam pekan ini. Mungkin hari ini mereka akan datang. Masih belum dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Pangeran itu dan apapula yang akan dilakukan oleh Daruwerdi. Mungkin ia akan mengalami persoalan yang rumit setelah pusaka yang dijanjikan itu diserahkan. Tetapi mungkin oleh dendam yang membara di hatinya, nasib Pangeran itulah yang harus kalian perhatikan. Aku akan dapat ikut campur dengan langsung, tetapi mungkin aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain bagi keselamatan pusaka itu.”

Rahu memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berkata, “Kita masing-masing pun masih belum tahu, apakah pada suatu saat kepentingan kita tidak saling bertentangan”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku akan pergi ke lereng bukit, “

Dengan langkah panjang Jlitheng meninggalkan banjar itu, dan langsung pergi ke lereng bukit. Rasa-rasanya setiap peristiwa penting, harus dilaporkannya kepada orang tua itu. Ia tidak tahu pasti, pengaruh apakah yang sudah mencengkamnya Namun sampai saat terakhir, ia belum pernah merasa dirugikan oleh orang tua di lereng bukit itu.

Ketika ia Mendekati gubug kecil di lereng bukit, ia melihat gadis penghuni gubug itu justru baru saja melangkah memasuki gubugnya. Tiba-tiba saja ia tertegun dan jantungnya menjadi berdebar-debar. Namun akhirnya, ia pun melangkah mendekati pintu gubug yang terbuka itu.

Langkahnya terhenti di muka pintu. Lewat lobang pintu yang terbuka ia melihat Kiai Kanthi duduk dialas amben bambu. Dihadapannya terdapat semangkuk air panas yang masih mengepul. Beberapa gumpal gula kelapa dan beberapa potong ketela pohon rebus.

“Alangkah muktinya” desis Jlitheng yang berdiri di muka pintu.

Orang tua itu tersenyum. Kemudian iapun turun dari amben sambil, mempersilahkan anak muda itu, “Marilah ngger. Silahkan”

Jlitheng pun melangkah masuk. Dipandanginya sekeliling ruangan itu. Namun ia tidak melihat Swasti. Nampaknya gadis itu langsung pergi kebelakang.

“Nampaknya ada sesuatu yang telah terjadi ngger?” bertanya Kiai Kanthi.

“Kenapa Kiai menebak demikian?” bertanya Jlitheng

“Aku melihat sorot mata angger yang nglayup. Angger tidak tidur semalam suntuk” jawab Kiai Kanthi.

“Aku sudah biasa melakukannya. Aku kira tidak ada pertanda khusus padaku, apakah aku telah tidak tertidur semalam suntuk atau tidak” jawab Jlitheng sambil duduk, “Jika Kiai melihat sesuatu padaku, tentu tidak pada mataku”

Kiai Kanthi tertawa. Lalu iapun bertanya, “Dimana aku harus melihat hal itu pada angger”

“Entahlah. Tetapi tidak pada sorot mataku” jawab Jlitheng. Namun kemudian, “Atau barangkali Kiai memang melihat sesuatu. Tidak pada sorot mataku, tetapi di bendungan?”

Kiai Kanthi tertawa semakin panjang. Katanya, “Silahkan duduk dahulu. Angger tentu akan berceritera tentang bendungan. Tetapi aku pun akan berceritera pula tentang hal yang lain”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai Kanthi pun telah pergi kebelakang menemui Swasti. Katanya, “Kita mempunyai tamu. Apakah kau masih mempunyai air sere yang hangat dan gula kelapa?”

Swasti tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mempersiapkan semangkuk air hangat dan kemudian mengikuti ayahnya untuk menghidangkan air hangat itu.

Gadis itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Jlitheng pun hanya memandang sekilas. Kemudian anak muda itu menundukkan kepalanya.

Dalam pada itu, Kiai Kanthi pun kemudian mempersilahkan Jlitheng untuk minum air hangat itu sambil makan ketela rebus yang juga masih hangat.

“Segarnya” desis Jlitheng, “semalam suntuk aku memang tidak tidur. Air hangat, ketela pohon yang masih mengepul. Rasa-rasanya memang nikmat sekali”

“Silahkan” sahut Kiai Kanthi, “Kita akan minum, makan sambil berceritera. Kau mempunyai ceritera menarik tentang anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang bertengkar”

“Nampaknya Kiai sudah tahu” desis Jlitheng.

“Aku memang melihat peristiwa itu. Tetapi dari kejauhan ngger. Aku tidak melihat dengan pasti, apa yang telah terjadi. Hanya di akhir permainan itu, aku mendapat kesan bahwa anak-anak Lumban Wetan telah memenangkan perkelahian sampai orang yang terakhir. Dan aku pun melihat angger dalam saat-saat terakhir” berkata Kiai Kanthi, “Apakah dengan demikian berarti bahwa anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan mengenal Jlitheng sebagai mana adanya?”

“Tidak Kiai” jawab Jlitheng dengan serta merta, “Apa yang nampak hanyalah sekedar untuk menyelamatkan Lumban Wetan dari ketidak adilan. Yang aku lakukan tidak lebih dari apa yang dimiliki oleh anak-anak Lumban Wetan dan anak-anak Lumban Kulon”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi angger masih tetap terselubung bagi anak-anak Lumban”

“Ya. Tetapi nampaknya tidak akan lama lagi” jawab Jlitheng.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara itu, Jlitheng seolah-olah tidak menyadari lagi apa yang dilakukannya. Dihadapan orang tua itu, seolah-olah Jlitheng merasa mempunyai kewajiban untuk melaporkan apa saja yang diketahuinya. Meskipun semula ia sama sekali tidak bermaksud mengatakan sesuatu tentang orang-orang Sanggar Gading, namun terloncat juga kata-katanya, “Hari ini adalah hari yang menentukan Kiai”

“Apa?” bertanya orang tua itu, “Apakah yang angger maksud menentukan itu?”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Tetapi serasa memang diluar kuasanya untuk menahan diri. Maka katanya, “Orang-orang Sanggar Gading akan datang memenuhi permintaan Daruwerdi yang sudah menunggu. Pusaka yang disembunyikan-nya akan ditukarkannya dengan seorang yang menurut anggapannya, telah membunuh ayahnya”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Peristiwa yang gawat sekali. Angger, mungkin ada sesuatu yang dapat aku ceriterakan kepadamu. Aku sudah menduga, bahwa masalahnya akan menjadi bersusun seperti ini”

“Apa yang Kakek maksudkan?” bertanya Jlitheng.

“Aku memang melihat apa yang terjadi di bendungan” berkata Kiai Kanthi, “Tetapi sebenarnya yang menarik perhatianku bukan peristiwa di bendungan itu sendiri. Karena itulah, maka aku tidak dapat melihat dengan pasti, apa yang telah terjadi”

“Lalu, apakah yang menarik perhatian kakek pada saat itu?” bertanya Jlitheng.

“Aku melihat dua orang yang berada disekitar arena perkelahian itu” berkata Kiai Kanthi, “Aku tidak tahu pasti, siapakah mereka itu. Namun nampaknya kedua orang itu adalah orang-orang yang datang seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Di daerah Sepasang Bukit Mati ini telah pernah datang orang-orang dari, padepokan Kendali Putih, orang-orang Pusparuri yang telah berhubungan langsung dengan Daruwerdi, dan sekarang akan datang orang-orang Sanggar Gading. Agaknya kedua orang yang aku lihat itu juga mendengar tentang kedatangan orang-orang Sanggar Gading itu”

Jlitheng menegang sejenak. Dipandanginya wajah Kiai Kanthi dengan tatapan mata yang tajam Kemudian terdengar ia berdesis, “Kiai melihat kedua orang itu?”

“Ya. Aku melihat mereka. Tetapi nampaknya mereka tidak terlalu dekat dengan arena. Karena itu pulalah aku tidak tahu pasti apa yang telah terjadi di arena itu pula meskipun aku dapat menduga-duga” berkata Kiai Kanthi.

“Apakah Kiai melihat, kemana kedua orang itu pergi?” bertanya Jlitheng.

Kiai Kanthi menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak dapat mengikuti mereka ngger. Selain hari menjadi semakin cerah, aku pun menduga, bahwa keduanya memiliki ketajaman perasaan. Jika keduanya mengetahui bahwa aku mengikutinya, maka persoalannya pun akan segera bergeser pula”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Dua orang itu tentu orang-orang yang telah menemui anak-anak Lumban Wetan dan mengatakan kepada mereka, bahwa keduanya akan siap membantu anak-anak Lumban Wetan dalam perselisihan mereka dengan anak-anak muda Lumban Kulon”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Nampaknya kedua orang itu memang sengaja berada di daerah Sepasang Bukit Mati ini justru pada saat-saat yang penting bagi orang-orang Sanggar Gading dan angger Daruwerdi”

“Mungkin sekali” jawab Jlitheng, “Tidak mustahil bahwa diantara mereka yang berada di dalam lingkungan satu gerombolan sebenarnya adalah orang dari gerombolan yang lain, sehingga dengan demikian orang itu akan dapat memberikan keterangan tentang rahasia gerombolan yang satu kepada yang lain”

“Jika demikian, maka akan terjadi satu peristiwa yang sangat, menarik di daerah Sepasang Bukit Mati ini” gumam Kiai Kanthi, “Sudah barang tentu kedua orang itu tidak hanya sekedar akan melihat-lihat apa yang akan terjadi. Mungkin ia menunggu satu peristiwa yang penting, yaitu saat penyerahan pusaka itu kepada orang-orang Sanggar Gading. Kemudian mereka akan merampas pusaka itu langsung dari orang-orang Sanggar Gading itu setelah mereka memperhitungkan dengan cermat kekuatan di masing-masing pihak. Namun mungkin pula mereka akan langsung menyerang dan merebut Pangeran yang akan dijadikan bahan penukar dari pusaka itu, yang kemudian akan dibawa kepada Daruwerdi dan dengan demikian, merekalah yang akan mendapat pusaka yang dijanjikan. Karena Daruwerdi tidak membuat hubungan khusus dengan orang-orang Sanggar Gading, tetapi juga dengan orang-orang Pusparuri dan bahkan siapapun juga yang akan berhasil membawa Pangeran itu kepadanya”

“Keadaan mungkin akan berkembang tanpa dapat dikendalikan Kiai” berkata Jlitheng, “tetapi bagaimana menurut pendapat Kiai, Apakah sebaiknya kita mencari kedua orang itu dan kemudian menahan mereka agar mereka tidak sempat memberikan laporan kepada pihak manapun juga?”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Angger. Aku adalah orang yang sama sekali tidak terlibat ke dalam persoalan pusaka itu. Karena itu, maka aku kira aku tidak akan dapat memberikan pendapat yang pasti akan menguntung-kan salah satu pihak”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Kiai. Tetapi apakah menurut penilaian Kiai, aku juga termasuk salah satu pihak yang akan memperebutkan pusaka itu?”

Kiai Kanthi mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Ya ngger. Apapun alasannya, angger termasuk salah satu pihak yang ingin menguasai pusaka itu. Bahkan angger adalah orang yang bekerja paling cermat dan mempergunakan waktu yang paling lama untuk menekuninya, sehingga anak-anak muda Lumban menganggap bahwa angger adalah benar-benar anak Lumban”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah Kiai tidak termasuk diantara mereka? Apakah benar bahwa Kiai datang kemari hanya karena telah terjadi bencana alam di tempat tinggal Kiai yang lama, atau justru bencana alam itu merupakan satu kebetulan yang dapat mendorong Kiai datang ke tempat ini tanpa dicurigai oleh segala pihak?”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tempat ini memang sangat menarik bagiku. Disini aku mendapatkan kemungkinan yang luas untuk mengembangkan satu padepokan. Seperti yang angger lihat, aku sudah mulai memperkembangkan daerah ini. Air pun terdapat melimpah, asal kita mampu mengendalikannya. Dengan demikian, maka kemungkinan bagi masa depan dapat aku tumbuhkan di tempat ini”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Kiai, Benar atau tidak benar aku tidak akan dapat membuktikannya, kecuali jika pada suatu saat Kiai telah mengambil bagian langsung dan apalagi berhasil menguasai pusaka itu”

Kiai Kanthi tertawa. Katanya, “Kau bergurau ngger. Tetapi baiklah. Kita akan melihat apa yang akan terjadi di daerah Sepasang Bukit Mati ini. Bagiku mata air di bukit ini telah memberikan kebahagiaan melampaui apa saja. Namun manusia kadang-kadang didorong oleh sesuatu yang tidak dimengertinya sendiri hal yang terakhir inilah yang tidak dapat aku katakan sebelumnya ngger”

Wajah Jlitheng menjadi tegang. Namun kemudian terdengar suara seorang gadis dari balik dinding, “Ayah terlalu berhati-hati dan terlalu bijaksana. Bahkan berlebih-lebihan. Pertanyaan-pertanyaan serupa pernah aku dengar meskipun dengan kata-kata yang lain. Dan ayah masih saja melayaninya”

“Ah” desah Kiai Kanthi, “Jangan hiraukan ngger”

Jlitheng temangu-mangu sejenak. Namun kemudian diluar sadarnya hatinya bagaikan luluh. Katanya, “Maafkan aku kakek. Mungkin aku terlalu mendesak kakek dalam pembicaraan ini”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Panggilan itu lebih semanak ngger. Aku lebih senang mendengarnya”

“Tetapi, sekali lagi aku ingin bertanya tentang kedua orang itu. Apakah kita akan membiarkannya?” bertanya Jlitheng, “Kakek memang tidak akan terlibat. Tetapi apakah tidak dapat memberikan petunjuk dengan satu angan-angan, seandainya kakek terlibat langsung dalam masalah ini”

“Keterbukaanmu membuat aku tidak dapat mengelak ngger” jawab Kiai Kanthi, “namun sebaiknya kau pecahkan sendiri persoalannya. Seandainya ada pihak lain yang ingin memperebutkan, apakah pusaka itu atau Pangeran itu sendiri, apakah keberatan angger?”

Pertanyaan itu mengejutkan Jlitheng. Sejenak ia termangu-mangu memandang wajah Kiai Kanthi. Namun nampaknya wajah itu pun bersungguh-sungguh, sehingga Jlitheng mengerti, bahwa Kiai Kanthi pun tidak sedang bergurau dalam hal ini.

Namun karena Jlitheng tidak segera mengetahui maksud Kiai Kanthi, maka ia pun bertanya, “Apakah yang kakek maksudkan? Apakah kakek menganggap bahwa lebih baik aku minggir saja dari persoalan ini, dan kemudian acuh tidak acuh apa yang akan terjadi dengan pusaka itu atau Pangeran yang telah berhasil diambil oleh orang-orang Sanggar Gading itu, justru pada waktu Pangeran itu baru sakit?”

Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Bukan ngger. Bukan maksudku. Kau sudah menempatkan dirimu pada satu arah tertentu diantara mereka yang berkepentingan dengan pusaka itu dengan alasan yang berbeda-beda. Memang bukan waktunya lagi sekarang untuk menarik diri. Justru pada saat ini, angger akan dapat menunjukkan siapakah angger yang sebenarnya dengan satu sikap dan tindakan yang tepat”

“Lalu, bagaimana dengan pertanyaan kakek itu?”

“Orang-orang Sanggar Gading akan membawa Pangeran itu ke daerah sepasang Bukit Mati ini” berkata Kiai Kanthi, sementara Jlitheng memotongnya, “Ya. Selambat-lambatnya hari ini menurut keterangan Rahu yang tahu benar akan rencana itu”

“Nah, mungkin sekali rencana itu telah didengar pula oleh orang-orang dari gerombolan yang lain. Mungkin oleh orang-orang Pusparuri, atau orang-orang Kendali Putih, atau orang-orang Gunung Kunir atau pihak yang lain, sehingga mereka merencanakan untuk mengambilnya dari tangan orang-orang Sanggar Gading. Apakah Pangeran yang akan dapat mereka tukar dengan pusaka itu, atau pusaka itu sendiri, setelah orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran yang dituntut oleh angger Daruwerdi itu” Kiai Kanthi melanjutkan.

“Ya. Itulah yang kira-kira akan terjadi” desis Jlitheng, “Dan Kiai masih bertanya, apakah keberatanku?”

“Angger belum memikirkan pertanyaanku, apakah keberatannya?” ulang Kiai Kanthi.

“Kakek memang aneh. Aku berkeberatan jika pusaka itu jatuh ke tangan siapapun yang tidak berhak. Jika para petugas dari Demak datang mengambil pusaka itu dari tangan mereka, aku memang tidak berkeberatan. Tetapi kita pun tidak tahu, apakah para pemimpin di Demak sendiri tidak ada secara pribadi niat untuk memiliki pusaka itu”

“Angger benar” jawab Kiai Kanthi, “Tetapi aku tidak mengatakan bahwa angger dapat melepaskan pusaka itu kepada siapapun juga. Aku hanya mengatakan, apakah keberatan angger jika kelompok-kelompok itu atau gerombolan-gerombolan itu saling memperebutkan pusaka itu. Sekali lagi, saling mem-perebutkan. Mungkin akan terjadi pertempuran-pertempuran yang sengit dan mendebarkan. Mungkin mengerikan karena akan jatuh korban yang tidak terduga sebelumnya” Kiai Kanthi berhenti sejenak, namun kemudian, “Kematian memang harus dihindari sejauh-jauhnya ngger, dalam penyelesaian masalah apapun juga. Tetapi angger seorang diri tentu tidak akan dapat berbuat banyak menghadapi orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Pusparuri dan kelompok-kelompok yang lain. Karena itu, kenapa angger tidak membiarkan saja mereka saling-saling berebut pusaka itu, atau justru memperebutkan Pangeran yang sedang sakit itu”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku mengerti kakek. Agaknya kakek ingin melihat kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan itu saling berbenturan. Saling bertempur memperebutkan pusaka atau Pangeran itu. Dengan demikian mereka akan menjadi ringkih karena mereka akan saling berbunuhan”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Angger akan memperhitungkan keadaan. Kemudian mengambil satu sikap. Tentu saja hal ini diperlukan ketrampilan berpikir. Namun bahwa angger telah menempatkan diri di daerah Sepasang Bukit Mati ini, agaknya angger memang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa di pundaknya tertopang tugas yang berat. Bukan karena perintah dan bukan pula karena ia sudah tersudut pada suatu keadaan yang tidak dapat dihindarinya, bukan pula karena pamrih dan ketamakan, tetapi rasa-rasanya ia telah terpanggil jiwanya untuk menyerahkan diri ke dalam tugas itu.

“Aku mengerti kakek” desis Jlitheng.

“Nah, jika demikian, biar sajalah kedua orang itu berada disekitar daerah Sepasang Bukit Mati ini. Kita akan menunggu, apa yang akan terjadi hari ini. Mungkin siang nanti, mungkin sore, mungkin malam. Tetapi nampaknya daerah ini akan menjadi ajang pertumpahan darah yang sengit” desis Kiai Kanthi. Lalu, “Namun agaknya orang yang pernah menyimpan pusaka itu di daerah ini sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu saat, daerah ini akan menjadi ajang pertentangan dan pertumpahan darah”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun kemudian seolah-olah diluar sadarnya la bertanya, “Lalu dalam gejolak ini apakah yang akan Kiai lakukan? Berdiam diri? Atau berbuat sesuatu yang belum Kiai pertimbangkan sekarang?”

“Ah” desah Kiai Kanthi, “pertanyaan angger memang sulit untuk dijawab. Tetapi sekarang aku telah berada disini. Sengaja atau tidak sengaja. Sadar atau tidak sadar”

Wajah Jlitheng menegang sejenak. Lalu, “Aku mengerti. Jika banjir melanda kita, maka kita akan basah. Mau tidak mau. Tetapi aku tetap tidak mengerti, apakah kakek akan berenang ke hulu atau ke udik”

Kiai Kanthi tersenyum. Katanya, “Jangan hiraukan aku. Lakukanlah apa yang akan kau lakukan. Tumpuan segala harapan adalah pada Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan kau berhasil ngger”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia mendengar desis dibalik dinding. Ia mengerti bahwa Swasti sedang gelisah karena pembicaraan itu. Gadis itu bukan gadis kebanyakan dalam pakaian yang kusut dan tangan yang kotor karena kerja yang keras.

“Baiklah kakek” berkata Jlitheng kemudian, “Aku akan kembali ke Lumban. Disana ada orang Sanggar Gading, ada orang yang bernama Semi dan kawannya. Mungkin segalanya harus aku perhitungkan pada saat aku mengambil sikap. Tetapi bahwa pertempuran dan perebutan itu terjadi, aku tidak akan berkeberatan”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dipandanginya Jlitheng dengan saksama, seolah-olah ia ingin melihat, apakah tekadnya memang sudah bulat.

Namun agaknya Jlitheng memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun ia hanya sendiri tetapi ia merasa bahwa ia akan dapat menempatkan diri di dalam gejolak yang sedang terjadi itu.

Karena itu, maka Jlitheng pun segera minta diri. Ia harus berkemas sebaik-baiknya. Mungkin siang nanti, mungkin sore nanti atau malam nanti ia harus turun ke dalam satu kancah benturan kanuragan.

Karena itu, maka Jlitheng pun segera minta diri meninggalkan gubuk Kiai Kanthi. Ia harus siap dengan pedang tipis yang akan sangat berguna baginya. Pedang tipis, salah satu dari beberapa jenis senjata yang dapat dipergunakannya dalam keadaan yang paling gawat.

“Aku mempunyai beberapa orang kawan di sekitar daerah ini” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Namun setiap kali ia berniat untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi dengan terbuka, terasa ia menjadi ragu-ragu. Meskipun orang-orang itu mengenalnya dengan baik, bersikap baik dan bahkan sudah banyak memberikan bantuan kepadanya, namun dalam persoalan yang sangat penting, mereka masih tetap diragukan.

Sepeninggal Jlitheng, Kiai Kanthi pun kemudian memanggil anak gadisnya. Dengan segan Swasti mendekatinya dan duduk disebelahnya sambil berdesis, “Ayah terlalu memanjakan anak Lumban itu”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya lunak, “Swasti kadang-kadang seseorang memang harus melakukan sesuatu yang tidak diingininya”

“Maksud ayah, bahwa ayah akan melibatkan diri ke dalam persoalan senjata atau pusaka yang sedang diperebutkan itu?” bertanya Swasti.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Kita sudah berada di tempat ini Swasti. Dan kita mengetahui, sengaja atau tidak sengaja. Bahwa pusaka terpenting yang saat itu diserahkan kepada seorang Senapati besar di Majapahit untuk mem-pertahankan Kota Raja telah lenyap bagaikan tertelan bumi. Jejak pusaka itu hilang bersama meninggalnya orang yang membawanya. Namun akhirnya tercium pula berita, bahwa pusaka itu berada di sekitar Sepasang Bukit Mati. Bahkan ada seorang anak muda yang mengaku memiliki atau mengetahui segalanya tentang pusaka itu” potong Swasti.

“Daruwerdi, maksud ayah?”

“Ya. Memang agak aneh, bahwa Daruwerdi dapat menemukan pusaka itu. Ia masih terlalu muda untuk mengetahui tanpa ada orang lain yang memberikan keterangan yang pasti kepadanya. Tentu orang-orang yang sudah jauh lebih tua dari padanya. Mungkin sebaya dengan para Senapati yang pada saat itu mempertahankan Kota Raja dan terdesak keluar” berkata Kiai Kanthi.

“Tetapi bukankah pusaka itu jejaknya hilang bersama kematian orang yang menyimpannya?” bertanya Swasti.

“Ya. Tetapi mungkin sebelumnya ia pernah berbicara dengan orang-orang tertentu tentang pusaka itu. Orang-orang itu akan dapat untuk seterusnya menutup mulutnya dan membiarkan pusaka itu tidak akan dapat diketemukan lagi. Namun mungkin seseorang yang pernah mendengar rahasia pusaka itu dari orang yang menyimpannya, tidak lagi dapat bertahan untuk tetap diam. Mungkin oleh satu dorongan batin yang tidak dapat ditahankan-nya lagi, rahasia itu terloncat, sadar atau tidak sadar”

“Seandainya demikian ayah, lalu apakah keuntungan ayah untuk melibatkan diri ke dalam persoalan pusaka itu? Ayah bukan prajurit, bukan pengawal dan bukan orang yang bernafsu untuk memiliki jabatan atau kedudukan tertentu karena tuah pusaka itu, dan apalagi karena pusaka itu, ayah akan dapat memegang pimpinan pemerintahan di negeri ini” gumam Swasti.

Ayahnya tertawa kecil. Katanya, “Swasti. Bukankah pernah aku katakan kepadamu, bahwa berbuat sesuatu itu kadang-kadang dilakukan tanpa pamrih. Memang jarang sekali terjadi bahwa yeng dilakukan itu tanpa pamrih sama sekali. Misalnya aku berbuat sesuatu atas pusaka itu, secara langsung aku memang tidak akan mempunyai pamrih apa-apa. Tetapi bukankah kita mengetahui, bahwa jika pusaka itu jatuh ke tangan orang atau sekelompok orang yang tidak berhak, maka akibatnya akan dapat merugikan banyak orang? Nah, itulah pamrih kita Swasti. Agar pusaka itu tidak jatuh ke tangan orang yang tidak berhak, sehingga akan menumbuhkan persoalan yang gawat di kemudian hari”

“Jika yang gawat itu tidak akan menyentuh kita, bukankah kita dapat melepaskan diri dari hubungan persoalannya?” bertanya Swasti

“Kau masih tetap seperti masa kecilmu. Mungkin akulah yang bersalah, karena dalam umurmu sampai hari ini, kau lebih banyak hidup agak terpisah dari orang banyak. Meskipun sekali-sekali kau juga bergaul di tempat kita yang lama, tetapi pergaulan itu sama sekali tidak memadai, sehingga kau lebih banyak memandang kepada dirimu dan diri kita berdua saja. Sehingga semua putaran kepentingan selalu berpusar pada diri sendiri” berkata Kiai Kanthi.

“Bukankah sebaiknya memang demikian? Jika semua orang hanya mengurus diri sendiri, tetapi juga tidak merugikan orang lain, maka aku kira tidak akan ada persoalan diantara manusia” berkata Swasti.

“Kau salah Swasti” berkata Kiai Kanthi, “Kau tentu mengerti, kenapa seseorang mengulurkan tangannya untuk memberikan sebungkus nasi kepada orang yang sedang kelaparan?”

“Keadaannya lain sekali ayah” bantah Swasti, “Orang kelaparan memang memerlukan pertolongan orang lain”

“Dari segi orang yang menolong? Jika ia tidak berbuat apa-apa dan mengurusi dirinya sendiri, apakah akan lahir satu sikap untuk menolong?” bertanya ayahnya.

“Dan ayah akan menolong orang-orang yang sedang memperebutkan pusaka itu? Apakah itu bukan satu sikap sombong. Kita dapat memberikan sebungkus makanan kepada orang yang kelaparan karena kita mempunyai lebih. Tetapi apakah sekarang kita memiliki kelebihan dari mereka yang sedang memperebutkan pusaka itu?” bertanya Swasti pula.

“Swasti” berkata ayahnya, “dalam perebutan pusaka itu mungkin kekuatan mereka seimbang. Sentuhan kecil saja tentu akan dapat menambah keseimbangan itu”

Swasti mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia tidak akan dapat membantah keinginan ayahnya, meskipun rasa-rasanya ia masih belum sependapat sepenuhnya.

Kiai Kanthi pun terdiam pula. Ia pun mengenal sifat anak gadisnya. Jika Swasti sudah diam, iapun lebih baik menjadi diam pula, karena jika ia berkata berkepanjangan, maka gadis itu tentu akan membantah lagi meskipun ia sudah tidak memikirkan alasannya, apakah sesuai atau tidak.

Dalam pada itu. Jlitheng yang sudah ada di kakí bukit, telah dikejutkan oleh hadirnya beberapa orang di padang perdu. Untunglah, bahwa orang-orang itu belum melihatnya, sehingga ia sempat berlindung dibalik rimbunnya rerungkutan hutan di kakí bukit itu.

Sejenak Jlitheng menunggu. Namun kemudian disadarinya, bahwa yang datang itu sama sekali bukan orang Sanggar Gading. Meskipun ia tidak lama berada dilingkungan orang-orang Sanggar Gading, namun ia tentu akan dapat mengenal satu dua orang diantara mereka. Sementara ia sendiri adalah orang yang sudah dianggap mati oleh orang-orang Sanggar Gading.

Dalam pada itu, Jlitheng pun melihat, bahwa orang-orang itu telah membuat tempat khusus untuk beristirahat. Mungkin mereka akan berada di tempat itu, untuk waktu yang agak panjang, menjelang kedatangan orang-orang Sanggar Gading.

Bagaimanapun juga, Jlitheng sama sekali tidak berani mendekati mereka. Jlitheng yakin, bahwa diantara mereka tentu terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, seperti juga pimpinan tertinggi dari padepokan Sanggar Gading.

Namun dalam pada itu, setelah orang-orang itu mengikat kudanya pada batang perdu, kemudian satu dua orang diantara mereka menjatuhkan diri dan berbaring di rerumputan kering, maka Jlitheng pun mulai beringsut justru menjauh.

Setelah ia yakin bahwa orang-orang itu tidak akan melihatnya, dan tidak pula mendengar langkah kakinya, maka Jlitheng pun segera mempercepat langkahnya kembali ke gubug Kiai Kanthi.

Kedatangan Jlitheng yang tergesa-gesa membuat Kiai Kanthi terkejut. Sebelum ia sempat bertanya ternyata Jlitheng telah mendahului, “Kakek, mereka telah datang”

“Siapa?” bertanya Kiai Kanthi heran.

“Justru bukan orang-orang Sanggar Gading” jawab Jlitheng, “Mereka sedang beristirahat di padang perdu di bawah bukit ini”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan melihatnya”

“Marilah, aku tunjukkan” ajak Jlitheng.

Sementara itu, Kiai Kanthi pun kemudian masuk ke ruang belakang. Nampaknya ia ingin berpesan sesuatu kepada anak gadisnya. Namun Jlitheng telah mendengar gadis itu bertanya

“Ayah akan pergi?”

“Ya Swasti. Aku harap kau dapat mengerti, bahwa mau tidak mau kita akan terlibat juga” sahut ayahnya, “karena itu, kita lebih baik menempatkan diri sebelum kita tersudut pada suatu keadaan yang tanpa pilihan”

Swasti tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia berdesis, “Aku akan ikut, ayah”

Tetapi ayahnya menjawab, “Jangan sekarang. Aku baru akan melihat siapakah orang yang datang itu. Aku akan segera kembali dan menentukan sikap. Namun nampaknya dalam beberapa hal, kita masih harus tetap menyembunyikan diri dari kenyataan kita”

Meskipun kecewa, tetapi Swasti harus menurut nasehat ayahnya. Ia harus tinggal di gubugnya sampai ayahnya menentukan satu sikap lebih lanjut.

Demikianlah, Jlitheng dan Kiai Kanthi meninggalkan gubug itu. Mereka menelusuri jalan seperti yang ditempuh oleh Jlitheng ketika ia turun. Dengan demikian, maka mereka pun segera sampai ke tempat yang dikatakan oleh Jlitheng.

“Itulah mereka” desis Jlitheng.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya hampir berbisik, “Sekelompok kekuatan yang nampaknya cukup besar. Aku kira mereka sudah siap menghadapi orang-orang Sanggar Gading. Mungkin mereka akan merebut Pangeran yang dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading itu. Kemudian orang itu akan menghubungi Daruwerdi”

“Lalu, apakah yang sebaiknya kita kerjakan?” bertanya Jlitheng.

“Bukankah di Lumban ada seorang dari orang-orang Sanggar Gading yang memang ditinggalkan oleh kawan-kawannya untuk melihat suasana seperti yang pernah kau katakan?” bertanya Kiai Kanthi

“Ya” jawab Jlitheng, “Rahu. Ia adalah orang Sanggar Gading. Namun seperti yang pernah aku katakan, ia sebenarnya adalah orang lain bagi Sanggar Gading”

“Ya” sahut Kiai Kanthi, “Tetapi cobalah katakan kepadanya, apa yang kau lihat disini. Nampaknya ia akan dapat membantumu mengambil sikap”

“Baiklah Kiai” desis Jlitheng, “Aku akan menemuinya. Lalu, bagaimana dengan Kiai?”

“Aku akan mengawasi mereka. Jika kau mendapatkan beberapa bahan tentang sikap yang sebaiknya kau lakukan, dan kau akan menemui aku, agaknya aku akan tetap berada di tempat ini. Tetapi jika aku merasa bahwa aku tidak perlu tahu lebih banyak lagi, maka aku akan kembali ke gubugku” jawab Kiai Kanthi.

Jlitheng mengangguk-angguk. Lalu desisnya, “Aku minta diri kakek. Aku akan bicara dengan Rahu”

Demikianlah, maka Jlitheng pun segera beringsut meninggalkan tempat itu. Agaknya segala sesuatunya memang sudah mulai. Dua orang yang dilihat oleh Kiai Kanthi, dan mungkin juga kedua orang itu pula yang telah menawarkan bantuannya kepada anak-anak muda Lumban Wetan, agaknya adalah dua orang dari kelompok itu pula.

Dengan hati-hati Jlitheng menempuh jalan lain, turun dari lereng bukit. Ketika ia sudah berada di dataran, maka seolah-olah ia telah berlari-lari menuju ke Lumban Wetan, langsung ke banjar. Dan untunglah bahwa Rahu memang sedang berada di banjar bersama dua orang pemburu yang sudah lebih dahulu berada di banjar itu.

Rahu dan kedua orang yang disebut pemburu itu terkejut melihat kedatangan Jlitheng, justru pada saat yang menegang-kan. Karena itu maka Rahu pun segera bertanya, “Kau melihat orang-orang Sanggar Gading itu sudah datang?”

Jlitheng menggeleng. Katanya, “Bukan. Bukan orang Sanggar Gading”

Rahu mengerutkan keningnya, sementara Jlitheng pun duduk pula diantara mereka.

“Menurut perhitunganku, orang-orang Sanggar Gading memang tidak akan datang pagi-pagi. Tetapi aku pun sudah siap untuk menyongsong kedatangan mereka, meskipun aku masih harus menunggu di tempat yang sudah aku sebutkan kepada Cempaka waktu itu” berkata Rahu kemudian. Lalu ia pun bertanya, “Jadi siapakah yang datang itu?”

Jlitheng menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu siapakah yang datang. Sekelompok orang-orang berkuda. Namun agaknya mereka pun memperhitungkan bahwa orang-orang Sanggar Gading tidak akan datang terlalu pagi”

“Bagaimana kau tahu” bertanya Rahu.

“Mereka kini sedang beristirahat. Nampaknya mereka memang tidak tergesa-gesa” jawab Jlitheng.

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya, “Menarik sekali. Berita orang-orang Sanggar Gading nampaknya memang sudah bocor. Tetapi hal itu wajar sekali. Tentu ada orang-orang Sanggar Gading sendiri yang telah membocorkannya. Seharusnya Cempaka dan kakaknya itu pun telah memperhitungkannya”

“Kau dapat memberitahukan hal itu kepada mereka” berkata Jlitheng.

Rahu mengangguk-angguk. Sementara Semi pun berkata, “Daerah Sepasang Bukit Mati hari ini akan menjadi ajang pertempuran. Kematian akan benar-benar mewarnai daerah ini. Tanah akan menjadi merah, dan burung-burung gagak akan berbujana andra wina bersama anjing-anjing liar dari hutan”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun berdesis, “Permainan apakah sebenarnya yang dilakukan oleh Daruwerdi hari ini. Apakah ia sengaja melaksanakannya, atau kemungkinan semacam itu tidak disadarinya sebelumnya”

“Jangan kau anggap anak itu bodoh” desis Rahu, “Ia melakukan segalanya dengan penuh kesadaran. Perhitungannya cukup cermat, sehingga apa yang akan terjadi tentu sudah diperhitungkannya pula”

“Untunglah bahwa anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan hari ini tidak akan turun. Mereka bersepakat untuk bekerja di bendungan besok pagi. Hari ini mereka akan beristirahat. Mudah-mudahan mereka tidur sehari penuh, sehingga mereka tidak akan terlibat ke dalam pergolakan yang jauh lebih berbahaya dari pergolakan di bendungan itu” gumam Semi.

“Aku kira anak-anak Lumban Wetan benar-benar akan tidur sehari penuh” jawab Jlitheng, “Tetapi aku kurang tahu apa yang akan dikerjakan Nugata hari ini. Mudah-mudahan ia masih merenungi kekalahannya dan tidak berbuat apa-apa”

“Menurut pengamatanku, ia adalah anak muda yang terlalu serakah. Tetapi ada juga sifat-sifat licik pada anak itu. Karena itu, mungkin sekali ia dapat berbuat diluar dugaan, atau justru mengurung diri di rumahnya” desis Semi.

Rahu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku akan pergi. Aku mempunyai kewajiban bagi Sanggar Gading. Dan sampai saat terakhir aku akan melaksanakannya dengan baik”

“Tetapi kau harus berhati-hati” berkata Jlitheng jika kau bertemu dengan orang-orang berkuda itu maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Mungkin dua orang yang pernah menawarkan diri untuk membantu anak-anak Lumban Wetan adalah kawan-kawan mereka pula”

Rahu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku dapat mencari jalan yang lain jika kau menunjukkan arah orang-orang itu beristirahat seperti yang kau katakan”

“Tetapi mereka tidak akan berkumpul tanpa berbuat apa-apa. Mungkin dua orang diantara mereka akan melihat-lihat daerah ini” berkata Jlitheng.

“Aku memang harus berhati-hati. Tetapi bukan berarti bahwa aku tidak akan melakukan kewajibanku sebagai orang Sanggar Gading” jawab Rahu.

“Kau dapat menyelubungi dirimu dengan penyamaran. Kau dapat berpakaian seperti para petani di Lumban sehingga kau akan dapat berada di pategalan sebagaimana orang-orang Lumban. Jika kau bertemu dengan dua atau tiga orang diantara mereka, kau tidak akan menarik perhatian. Sementara orang-orang Sanggar Gading sendiri, tentu tidak akan keliru karena mereka mengenalmu dengan baik. Apalagi Cempaka” berkata Jlitheng.

Rahu merenungi pendapat Jlitheng itu sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Katanya, “Mungkin itu lebih baik. Tetapi bagaimana dengan senjataku. Aku terbiasa membawa pedang, bukan parang pembelah kayu”

“Kau samarkan sarung pedangmu dengan kulit kayu. Kau bawa pedangmu dengan cara yang tidak lajim. Jika. kau berada di pategalan, kau dapat meletakkan pedang itu ditempat yang mudah kau capai, sementara kau dapat melindungi dirimu dengan pisau-pisau. He, bukankah kau juga. terbiasa mempergunakan pisau-pisau kecil? Sebelum kau dapat menggapai pedangmu, pisau-pisau itu akan menolongmu” jawab Jlitheng.

Rahu tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih. Pendapatmu baik. Aku akan melakukannya”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum pula sambil menjawab, “Aku mengenal daerah ini lebih baik daripadamu. Maaf, bahwa aku sudah mengajarimu”

Semi dan kawannya pun tertawa pendek.

“Maksudmu baik” berkata Semi, “Rahu tentu akan mendengarkannya”

Sebenarnyalah bahwa Rahu pun kemudian membenahi pakaiannya sebagaimana seorang petani. Diselipkannya pedangnya di bawah ikat pinggangnya seperti seseorang membawa parang, meskipun agak panjang. Sementara sebilah pisau belati terselip pula di pinggangnya meskipun tersembunyi.

Dalam pada itu, ketika Rahu siap untuk berangkat, maka Jlitheng pun berkata, “Aku akan pergi bersamamu sampai ke ujung padukuhan. Aku akan membawa cangkul agar tidak seorang pun yang menjadi heran karena itu sudah pekerjaanku. Tetapi nanti, kaulah yang akan membawanya sampai ke pategalan.

Rahu tertawa pendek. Katanya, “Kau teliti sekali. Kau memperhitungkan segala kemungkinan sampai yang sekecil-kecilnya. Tetapi kau memang seorang yang memiliki kemampuan penyamaran yang luar biasa. Kau dapat sekasar orang-orang Sanggar Gading yang lain ketika kau berada di padepokan itu. Dan kau pun dapat menjadi seorang petani dungu disini. Namun pada suatu saat, kau bangkit menyelamatkan Kabuyutan Lumban Wetan dari ketidak adilan dengan secuwil ilmumu”

“Ah, sudahlah” potong Jlitheng, “Jika kau akan berangkat, berangkatlah” Jlitheng berhenti sejenak, lalu katanya kepada Semi dan kawannya, “Apakah kalian akan diam saja disini?”

Semi menarik nafas dalam-dalam. Kalanya, “Aku sedang memikirkan, apakah yang sebaiknya aku lakukan sekarang ini Duduk disini sambil menunggu hiruk pikuk terjadi di bukit gundul, atau berkeliaran di jalan-jalan untuk melihat sepasukan yang kuat memasuki Daerah Sepasang Bukit Mali, atau berburu ke hutan di lereng Gunung dan singgah di rumah orang tua itu sambil melihat-lihat orang-orang yang sedang beristirahat seperti yang kau katakan.

“Kau pun harus melihat suasana” berkata Jlitheng, “hadirlah di jalur jalan yang akan dilalui oleh orang-orang Sanggar Gading”

“Orang-orang Sanggar Gading mengenal aku dengan baik sebagai adik Rahu. Bukankah aku memperkenalkan diriku sebagai adiknya juga pada saat kau pertama kali datang ke rumah kami?” bertanya Semi.

“Ya. Tetapi sekarang bagaimana?” bertanya Jlitheng.

“Rencanakan apa yang ingin kau lakukan. Aku akan merencanakan sendiri, apa yang sebaiknya aku lakukan dalam keadaan seperti ini” jawab Semi.

Rahu tertawa pula. Katanya, “Jlitheng merasa dirinya tuan rumah disini. Tetapi sekali lagi, maksudnya baik. Dan darah kepemimpinan ayahnya memang mengalir di dalam tubuhnya. Seharusnya kau mengucapkan terima kasih”

“Ah” desah Jlitheng, “Jangan mengejek begitu. Yang menjadi Senapati Agung adalah ayahanda. Bukan aku. Maaf jika aku memberikan beberapa usul. Tetapi maksudku baik seperti yang dikatakan Rahu”

Semi pun tertawa. Jawabnya, “Sudahlah. Berangkatlah jika kau mau berangkat, agar kau tidak terlambat menanggapi perkembangan keadaan.

Rahu pun kemudian berangkat diikuti oleh Jlitheng sebagaimana dikatakannya. Memang tidak ada seorang pun yang merasa aneh melihat Jlitheng berjalan bersama orang yang tidak begitu mereka kenal sambil membawa cangkul. Meskipun orang-orang itu kadang-kadang, memandang Rahu sampai berpaling. Tetapi orang itu memang tidak begitu mereka kenal sehingga mereka pun tidak banyak menghiraukannya.

Dalam pada itu, ketika Rahu dan Jlitheng telah berada di regol padukuhan yang menghadap ke pategalan yang kering, maka Jlitheng pun menyerahkan cangkulnya sambil berkata, “Pergilah. Jika kau bertemu dengan orang lain. maka mereka akan mengira bahwa kau akan pergi ke pategalan. Meskipun pategalan itu kering, kau dapat juga menyebut alasan apapun juga dengan cangkulmu itu”

Rahu tidak membantah. Ia pun menerima cangkul itu, ia pun kemudian pergi ke pategalan sebagaimana orang-orang penduduk Lumban. Namun ternyata orang-orang padukuhan Lumban Wetan sediri tidak seorang pun yang pergi ke pategalan di saat terakhir. Mereka sedang sibuk memanfaatkan air yang sedikit di sawah-sawah mereka.

Demikian Rahu lepas dari pandangan Jlitheng, maka Jlitheng pun segera kembali ke banjar. Ia tidak banyak bertemu dengan anak-anak muda, karena sebagian dari mereka benar-benar sedang beristirahat. Sebagian besar dari mereka telah tidur nyenyak di rumah masing-masing. Hanya mereka yang mempunyai keperluan yang sangat penting sajalah yang terpaksa keluar rumah dengan malasnya

Di banjar Semi pun telah siap untuk berangkat. Namun nampaknya Semi dan kawannya cenderung untuk tetap mengenakan kelengkapan berburu. Dengan kuda mereka yang tegar, keduanya akan menuju ke bukit kecil, tempat tinggal Kiai Kanthi.

“Aku akan berusaha menghindari orang-orang itu” berkata Semi, “sementara jika di sepanjang jalan aku bertemu dengan orang-orang mereka yang sedang mengawasi keadaan, aku kira mereka pun tidak akan lebih dari dua orang”

“Tetapi perkelahian yang mungkin terjadi akan memancing orang-orang itu untuk bergerak” berkata Jlitheng.

“Aku tidak akan melepaskan musuh-musuhku kembali kepada induk pasukannya, atau akulah yang tidak akan mengganggu mereka lagi untuk seterusnya” jawab Semi.

“Kau sudah ditulari watak orang-orang Sanggar Gading” desis Jlitheng.

“Aku adalah adik salah seorang kepercayaan seorang pemimpin muda dari padepokan Sanggar Gading” jawab Semi sambil tersenyum.

Jlitheng pun tersenyum pula. Namun ia tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, dilepaskannya kedua orang pemburu itu dalam kelengkapan berburunya. Busur anak panah seendong penuh. Tombak pendek dan pedang. Pada ikat pinggang kedua pemburu itu terdapat dua bilah pisau belati kecil. Namun ternyata di pelana kudanya, pisau-pisau semacam itu terdapat cukup banyak.

Sejenak kemudian, kedua ekor kuda itupun berderap meninggalkan banjar. Demikian mereka bergerak, Semi masih bertanya, “Bagaimana dengan kau?

Jlitheng tidak sempat menjawab. Semi dan kawannya telah berderap meninggalkannya.

Sepeninggal Semi dan kawannya, Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata yang menggelisahkan itu akan segera terjadi. Orang-orang Sanggar Gading akan segera datang membawa Pangeran yang malang itu untuk diserahkan kepada Daruwerdi. Sementara Daruwerdi akan menyerahkan sebilah pusaka kepada orang-orang Sanggar Gading. Namun kemudian, apakah yang akan dilakukan oleh Daruwerdi atas Pangeran itu.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun ia memang tidak akan dapat tinggal diam menghadapi persoalan yang sudah mulai berasap itu.

Dalam pada itu maka Jlitheng pun melangkah dengan kepala tunduk pulang ke rumahnya. Sekali-sekali ia bertemu dengan orang-orang yang menyapanya. Bahkan anak-anak muda yang merasa sangat berterima kasih kepadanya, menyapanya dengan cara yang berbeda dengan kebiasaan mereka dan bahkan ada yang agak berlebih-lebihan, karena bagi mereka Jlitheng adalah lambang dari kesuburan Kebuyutan Lumban Wetan. Ia adalah orang yang berhasil menguasai dan mengarahkan air di bukit bersama orang tua yang tinggal di-bukit itu, yang bercita-cita untuk membuat sebuah padepokan kecil. Kemudian ia pulalah yang telah menyelamatkan air yang sudah berhasil dikuasai itu dari ketamakan orang-orang Lumban Kulon. Tanpa diduga-duga sama sekali, ternyata Jlitheng memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan kawan-kawannya. Termasuk sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan.

“Biarlah mereka beristirahat hari ini” berkata Jlitheng di dalam hatinya ketika ia melihat seorang anak muda yang terkantuk-kantuk berdiri di depan regol rumahnya.

Namun anak muda itu bertanya kepadanya, “Kau tidak beristirahat sama sekali Jlitheng?”

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Aku akan pulang dan tidur sehari penuh, He, apakah kau juga tidak tidur”

“Aku baru saja terbangun. Kemudian makan dan melihat-lihat orang lewat. Sebentar lagi, aku pun akan tidur lagi” jawab anak muda itu sambil menguap.

Diluar sadarnya, Jlitheng pun telah menguap pula. Sambil tersenyum ia berkata, “Kantukmu menjangkiti aku pula. Sudahlah. Aku akan tidur sampai besok pagi. Sehari semalam”

Anak di regol itu tidak menjawab. Tetapi ketika Jlitheng menjadi semakin jauh, ia benar-benar kembali masuk ke biliknya dan berkerudung kain panjang sambil membaringkan dirinya untuk tidur lagi.

Ketika Jlitheng sampai di rumah dilihatnya ibunya sibuk mengambil air. Dengan tergesa-gesa Jlitheng mendekatinya sambil berkata, “Sudahlah biyung. Biar aku mengisi jembangan di dapur”

“Kemana saja kau semalam Jlitheng” bertanya ibunya, “air di jambangan kering dan air di pakiwan pun habis pula. Kemarin kau tidak mengisinya”

“Ah. aku terlupa ibu. Kawan-kawan sibuk dengan bendungan. Dan aku pun berada di bendungan pula” jawab Jlitheng.

“Bagaimana dengan bendungan? Aku dengar bendungan dan pintu air itu akan diperbaiki” bertanya ibunya.

“Ya. Mungkin besok, mungkin lusa” jawab Jlitheng sambil menarik senggot timba.

“Kayu bakar pun hampir habis” berkata ibunya, “sesudah mengisi jambangan dan pakiwan, kau masih harus membelah kayu bakar”

“Baik biyung. Tetapi biyung tentu sudah merebus jagung” sahut Jlitheng.

“Pagi ini aku tidak merebus jagung. Aku merebus ketela pohon” jawab ibunya.

“Menyenangkan sekali. Tentu dengan gula kelapa” desis Jlitheng.

“Tidak” jawab ibunya.

“O. Jadi?” bertanya Jlitheng agak kecewa.

“Dengan kelapa dan garam”

“Enak sekali” sahut Jlitheng kemudian, “Sudah lama biyung tidak merebus ketela pohon dengan kelapa dan garam. Sesudah aku selesai mengisi jambangan, aku akan makan dahulu sebelum aku membelah kayu”

Ibunya tidak menjawab. Ditinggalkannya Jlitheng di sumur dengan timba upih untuk mengisi jambangan di dapur dan di pakiwan.

Dalam pada itu, setelah pekerjaan Jlitheng selesai, dan sesudah ia makan beberapa kerat ketela pohon rebus, maka mulailah ia membelah kayu di belakang kandang. Namun dalam pada itu, sambil menyiapkan parangnya, Jlitheng telah melihat senjata-senjatanya yang disembunyikannya, karena ia sadar, bahwa ia akan memerlukannya.

Namun dalam pada itu, Jlitheng masih juga berusaha melakukan pekerjaannya sebaik-baiknya tanpa memberikan kesan apapun juga kepada ibunya. Ia masih tetap berbuat seperti yang dilakukannya sehari-hari.

Demikian ia selesai membelah kayu, maka iapun memasuki kandang seperti biasanya. Namun dalam pada itu, ia mulai menimang senjata-senjatanya yang disiapkannya. Pedang tipisnya dan ikat pinggangnya yang khusus, tempat ia menyimpan paser-paser kecilnya.

Tetapi Jlitheng merasa gelisah untuk tetap berada di-rumahnya. Ia mulai membayangkan, bahwa di daerah Sepasang Bukit Mati telah berkeliaran orang-orang yang saling bermusuhan. Orang-orang yang sudah siap saling membunuh untuk memperebutkan sesuatu yang masih belum begitu jelas, karena semuanya baru didasarkan pada keterangan-keterangan yang ternyata masih harus dibuktikan kebenarannya. Namun mereka percaya bahwa di daerah Sepasang Bukit Mati memang terdapat sebilah pusaka bertuah yang akan dapat memberikan kemampuan kepada seseorang yang memilikinya untuk memangku kedudukan yang paling tinggi sekalipun. Namun sebagian diantara mereka percaya bahwa pusaka atau tempat penyimpanannya akan dapat memberikan petunjuk tentang harta kekayaan yang tidak ternilai harganya. Dengan tuah pusaka itu dan dengan dukungan harta kekayaan yang tidak ternilai harganya, maka ada kepercayaan bahwa seseorang memang akan dapat mencapai cita-cita yang paling tinggi sekalipun.

Karena itulah, maka Jlitheng pun mulai mempertimbangkan, apakah yang sebaiknya dilakukannya. Rahu telah berada di pategalan untuk menunggu hadirnya orang-orang Sanggar Gading. Semi dan kawannya telah berada di bukit sebelah, di dalam hutan dengan kelengkapan berburunya, namun yang sebenarnya adalah kelengkapan bertempur. Sementara di lereng bukit itu pula terdapat sekelompok orang-orang berkuda yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Mungkin ia akan bertindak sebelum orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran itu, namun mungkin pula ia akan bergerak setelah orang-orang Sanggar Gading menerima pusaka seperti yang di janjikan oleh Daruwerdi.

“Daruwerdi memang Gila” desis Jlitheng, “Ia telah melakukan satu permainan yang paling gila. Ia mengundang pertumpahan darah dan kematian untuk mendapatkan sekedar kepuasan pribadi seandainya benar, bahwa alasannya satu-satunya mengambil Pangeran itu adalah karena Pangeran itu telah membunuh ayahnya.

Karena itulah, maka Jlitheng pun kemudian merasa perlu untuk mempersiapkan dirinya. Ia tidak dapat menunggu dan bertindak setelah serah terima itu selesai. Ia harus mengambil satu kesempatan. Jika ia tidak menemukan kesempatan, itu, maka ia harus bekerja lebih keras lagi jika pusaka itu sudah berada di tangan orang-orang Sanggar Gading.

“Apaboleh buat” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “Aku tidak boleh terlambat. Meskipun mungkin aku akan menarik perhatian orang-orang yang melihat aku berjalan di jalan padukuhan sambil membawa senjata”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya di dalam hatinya pula, “Untunglah aku membawa senjataku dan menyimpannya disini. Jika senjata itu masih aku tinggalkan di tempat persembunyiannya itu. aku akan kehilangan waktu untuk mengambilnya”

Dalam pada itu, Jlitheng pun kemudian memutuskan untuk pergi ke bukit gundul. Ia akan mengawasi bukit itu dari tempat yang tersembunyi. Ia akan memilih tempat yang paling baik. mumpung tempat itu masih belum dibayangi oleh kekuatan-kekuatan yang akan saling berbenturan.

Namun bagaimanapun juga, Jlitheng masih akan berusaha untuk tidak terlalu menarik perhatian. Ia masih akan berusaha untuk menyamarkan senjata yang akan dibawanya, meskipun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Karena itu, maka ia pun segera mengemasi dirinya. Dengan jantung yang berdebar-debar, bahkan hampir diluar sabarnya, ia telah pergi menemui ibunya di dapur.

“Biyung” suara Jlitheng menjadi datar, “Aku mohon diri. Aku akan pergi ke sawah”

Ibunya terkejut. Tidak terbiasa baginya, Jlitheng minta diri dengan cara yang demikian. Biasanya Jlitheng menjenguk saja di pintu sambil berkata, “Aku pergi biyung”

Jlitheng melihat sesuatu terbersit di hati ibunya. Namun rasa-rasanya ia memang harus minta diri dan balikan minta doa restu. Karena itu, maka Katanya, “Di sawah telah menunggu tugas penting yang harus aku lakukan biyung”

“Tugas apa Jlitheng?” bertanya ibunya.

“Kami sedang mempersiapkan bendungan yang lebih baik biyung, agar sawah kita mendapat air lebih banyak lagi. Tanaman akan menjadi hijau dan tingkat kehidupan kita di padukuhan ini akan bertambah baik” jawab Jlitheng.

Biyung yang tua itupun kemudian bangkit berdiri. Dengan tatapan mata yang dalam ia melangkah mendekati Jlitheng sambil berkata dengan nada berat, “Sikapmu agak lain Jlitheng. Wajahmu nampak bersungguh-sungguh. Betapa bodohnya orang tua ini, namun sebenarnyalah bahwa aku sudah menduga bahwa kau mengemban satu tugas yang tidak aku mengerti. Setiap kali kau pergi dugaanku itu menjadi semakin kuat. Dan aku pun sudah menduga pula, bahwa pada suatu saat kau akan datang kepadaku, minta diri untuk satu tugas yang gawat. Sekarang, ternyata kau sudah melakukannya”

Jlitheng menundukkan kepalanya. Iapun mengerti, bahwa perempuan yang sudah merasa dirinya sebagai orang tuanya itu, tentu telah dijalari pula oleh sentuhan-sentuhan jiwani karena getar jiwanya sendiri.

“Jlitheng” berkata perempuan tua itu, “Aku tidak wenang untuk mencegahmu. Pergilah, meskipun aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan. Aku akan berdoa bagimu, mudah-mudahan kau dapat melakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya, selamat dan berarti bagi sesama. Aku tahu bahwa dalam tugasmu kali ini kau tentu tidak sekedar berbuat sesuatu bagi Lumban Wetan atau bahkan Lumban seluruhnya. Kau tentu bekerja untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti” perempuan itu berhenti sejenak, lalu, “Aku berdoa kepada Yang Maha Agung. Mudah-mudahan yang kau lakukan selalu dalam bimbingannya dan menjelujur di jalan kebenaran”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ibunya yang tua dan sederhana itu mempunyai penggraita yang tajam, sehingga dapat menangkap apa yang tidak pernah dikatakannya, namun yang tergetar di hatinya.

Ketika ibunya yang tua itu kemudian memegang kedua pundaknya, terasa seluruh kulit di tubuh Jlitheng meremang. Apalagi ketika orang tua itu kemudian mengusap rambutnya, sambil berkata, “Jika Yang Maha Agung mengkurniakan keselamatan kepadamu, jangan lupakan aku ngger”

Jlitheng menahan nafasnya. Ketika ia mengangkat wajahnya memandang sepasang mata ibunya, hatinya semakin tergetar. Perempuan itu menitikkan air mata.

“Apa yang diketahuinya tentang tugasku” bertanya Jlitheng di dalam hatinya. Namun ia pun kemudian kembali dalam kesadarannya, bahwa perempuan itu tidak ubahnya lagi sebagai ibu kandungnya, sehingga terdapat ikatan yang paling halus dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

“Jangan menangis biyung” berkata Jlitheng, “Aku akan melakukan tugasku sebaik-baiknya. Dan aku akan kembali ke rumah ini, karena aku memang tidak mempunyai lagi tempat tinggal, orang tua dan apapun juga kecuali biyung disini”

Perempuan itu mengangguk kecil. Ia mencoba tersenyum betapa pahitnya. Kehadiran seorang anak laki-laki muda itu membuat rumahnya bagaikan bertenaga. Namun anak muda itu kini minta diri untuk meninggalkannya, sebagaimana memang sudah diduganya dengan gelisah sejak beberapa lama.

“Pergilah” desisnya kemudian.

Jlitheng pun kemudian mencium tangan perempuan yang sudah mulai berkeriput karena garis-garis umurnya yang semakin tua. Ketika ia beringsut surut, Jlitheng masih melihat perempuan itu mengusap matanya, yang basah meskipun ia masih juga tersenyum.

Dengan hati yang berat, Jlitheng pun kemudian meninggalkan rumahnya yang telah dihuninya beberapa lama bersama seorang perempuan tua yang mengakunya sebagai anak laki-lakinya yang telah pergi untuk waktu yang sangat lama dan kembali ke pelukan biyungnya. Bukan sekedar mengaku dalam hubungan kewadagan, namun perempuan itu benar-benar menganggap Jlitheng sebagai anaknya lahir dan batin.

Seperti yang dilakukan oleh Rahu, maka Jlitheng berusaha menyembunyikan pedang tipisnya di bawah kain panjangnya. Kemudian menutupi ikat pinggangnya dengan paser-paser kecilnya. Anak muda itu berjalan dengan tergesa-gesa lewat jalan-jalan pintas untuk menghindari sejauh mungkin perjumpaan dengan orang-orang Lumban.

Pada saat itu, di pondoknya Daruwerdi sudah siap menunggu. Ia sudah meletakkan segalanya di Bukit Gundul. Seperti yang pernah dikatakannya kepada orang-orang Sanggar Gading, maka serah terima akan dilakukan di Bukit Gundul itu pula. Demikian orang-orang Sanggar Gading datang dan menyerahkan Pangeran itu, maka ia akan menyerahkan pusaka seperti yang dijanjikan kepada orang-orang Sanggar Gading.

“Aku akan minta Pangeran itu terikat dan tidak berdaya” berkata Daruwerdi kepada diri sendiri, karena ia pun sudah memperhitungkan bahwa Pangeran itu tentu memiliki kemampuan yang tinggi.

“Aku tidak mau gagal karena kelengahan semata-mata, setelah sekian lamanya aku menunggu” berkata Daruwerdi.

Namun dalam pada itu, selagi ia menunggu, maka ia telah dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan tua dengan dua orang pengiringnya langsung ke rumah Daruwerdi.

“Ibu” Daruwerdi menyongsongnya dengan tergesa-gesa

“Kenapa ibu datang kemari? Semuanya sudah aku siapkan. Jika ada salah langkah yang betapapun kecilnya, maka semuanya akan dapat gagal sama sekali”

“Aku tidak sampai hati kau membiarkan berbuat segalanya seorang diri” berkata Ibunya, “Sudah aku katakan kepadamu, kau dapat mengambil siapa saja yang kau kehendaki.

“Sudah aku jawab, bahwa tidak memerlukan siapapun juga untuk sementara” jawab Daruwerdi, “Jika aku memerlukan, aku akan segera memberitahukan”

“Tetapi kau sedang bermain api Daruwerdi” berkata perempuan yang dipanggilnya ibu.

“Tanpa bermain api, segalanya tidak akan selesai” jawab Daruwerdi, “Bukankah ibu menghendaki juga agar segalanya cepat berakhir sampai tuntas?”

“Tetapi akhir yang aku kehendaki, apakah sama dengan akhir yang kau artikan?” bertanya ibunya.

“Apapun nanti yang akan terjadi, biarlah aku menerima Pangeran itu. Jika ia sudah berada di tanganku, segalanya akan dapat diselesaikan” jawab Daruwerdi

“Terserah kepadamu ngger, tetapi aku sengaja mengajak kedua orang pamanmu untuk mendampingimu. Aku percayai kepada keduanya, bahwa keduanya tidak akan berbuat apa-apa, selain apa yang aku katakan” berkata ibunya kemudian.

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku berterima kasih bahwa paman berdua bersedia hadir di tempat ini. Tetapi untuk sementara biarlah paman keduanya mengawani ibu disini. Karena ibu sudah terlanjur berada di tempat ini, maka aku mohon, ibu jangan meninggalkan rumah ini apapun yang mungkin terjadi. Seperti yang sudah aku katakan, jika satu saja langkah yang salah dari seribu langkah yang sudah aku persiapkan, maka semuanya akan dapat menjadi gagal”

Ibunya menundukkan kepalanya. Tetapi masih terdengar perempuan itu berdesis, “Sekali lagi aku minta, jangan sakiti badannya dan yang sakiti pula hatinya”

Daruwerdi mengatupkan giginya rapat-rapat Tetapi yang kemudian terloncat dari bibirnya adalah jawabannya, “Sudah aku katakan. Aku tidak akan berbuat apa-apa”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Kau tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi aku menjadi gelisah sekali”

“Ibu tidak usah memikirkannya lagi” geram Daruwerdi, “apakah keuntungannya? Semua itu adalah persoalanku. Tugas yang dibebankan diatas pundakku. Betapapun seseorang mampu menahan sakit hatinya, namun ada hal-hal yang wajar, bahwa aku akan berbuat sesuatu” namun segera dilanjutkannya, “tanpa menyakiti badannya dan yang meragukan, apakah aku tidak akan menyakiti hatinya”

“Kau harus mengusahakannya” desis ibunya.

“Ya. Ya. Aku akan berusaha sedapat-dapat aku lakukan untuk tidak menyakiti hatinya. Tetapi itu bukan persoalan ibu” jawab Daruwerdi.

“Dalam kegelisahan inilah, maka aku telah memanggil kedua pamanmu. Sama sekali tidak untuk menunggui aku disini, karena ia akan dapat membantumu” berkata ibunya

“Bukan maksudku menolak uluran tangan paman berdua. Tetapi sementara ini, biarlah paman berada disini bersama ibu. Semata-mata untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. Aku tidak mau gagal karena persoalan yang tidak menguntungkan sama sekali dan mungkin tidak ada gunanya. Jika orang-orang Sanggar Gading melihat aku tetap seorang diri, maka mereka, tidak akan melakukan tekanan kekerasan, karena mereka merasa aman. Dan segalanya akan dapat berjalan tanpa kecurigaan” berkata Daruwerdi.

Bersambung ke jilid 14

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

3 Tanggapan

  1. MAdBB memang asyik ceritanya sayangnya begitu mau buka seri 14, ga bisa nunggu 2 hr lg…..sabar ya bro

  2. MAdBB memang asyik ceritanya sayangnya begitu mau buka seri 14, ga bisa nunggu 2 hr lg…..sabar ya bro sabar

  3. matursembahnuwun dumateng poro sedherek ingkang sampun ngunggah carios puniko…… kawulo tenggo kelajenganipun…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s