MAdBB-12


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 12

kembali | lanjut

cover madbb-12YANG terjadi kemudian, memang seperti yang diduga. Sekali lagi anak muda bertubuh raksasa itu terlempar. Ia tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangan. Karena itu, ia tidak saja terhuyung-huyung, tetapi ia benar-benar telah terbanting jatuh di tanah. Hampir saja kepalanya membentur padas yang teronggok disebelah pematang.

Beberapa orang yang hampir tertimpa oleh anak muda bertubuh raksasa itu menyibak. Hampir diluar sadar, beberapa orang kawannya yang berdiri beberapa langkah saja dari tempat anak itu terbanting telah dengan serta merta berloncatan untuk menolongnya.

Tetapi anak muda bertubuh raksasa itu meronta sambil berteriak, “Lepaskan. Aku dapat bangkit sendiri. Aku sama sekali tidak apa-apa Aku hanya lengah sedikit”

Kawan-kawannya kemudian bergeser surut. Sementara itu, anak muda bertubuh raksasa itu benar-benar berusaha untuk melenting berdiri. Tetapi hampir saja ia terjatuh kembali karena keseimbangannya yang belum mapan. Apalagi terasa tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak.

Anak muda Lumban Wetan tidak memburunya. Ia justru berdiri menunggu di tengah-tengah arena, seolah-olah sengaja memberi kesempatan kepada lawannya untuk membenahi diri

Tetapi mata anak muda Lumban Kulon itu pun bagaikan membara ketika ia melibat lawannya berdiri tegak dengan kaki renggang di tengah-tengah lingkaran anak-anak muda Lumban Kulon dan sembilan anak-anak muda dari Lumban Wetan. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anak tidak tahu diri. Aku mencoba untuk membuatmu jera tanpa menyakitimu dengan serangan-serangan yang berarti. Tetapi kesombonganmu telah menutupi penglihatanmu atas kemampuanku. Disaat aku lengah sedikit, ternyata kau benar-benar ingin membunuhku”

Anak muda Lumban Wetan itu menjawab, “Aku tidak ingin membunuh siapapun. Aku hanya diajari membunuh binatang buruan di hutan-hutan oleh pemburu-pemburu itu”

“Persetan” geram anak muda bertubuh raksasa itu, “Jika kau tidak berusaha membunuhku, akulah yang akan membunuhmu apapun yang akan terjadi. Setiap orang di seputar arena ini menjadi saksi bahwa aku berkelahi dengan jujur. Kematianmu sama sekali bukan salahku”

“Jangan berbicara tentang kematian” jawab anak muda Lumban Wetan itu, “Yang aku lakukan hanyalah berdiri disini bersama sembilan orang kawanku. Apakah hal itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”

Namun tiba-tiba diantara anak-anak muda Lumban Kulon terdengar seseorang berteriak, “Bungkam saja mulutnya”

“Bunuh saja” teriak yang lain.

Tetapi seorang dari kesembilan anak muda Lumban Wetan menyahut, “kematian dalam peristiwa seperti ini sama sekali tidak akan memberikan arti apa-apa”

Anak muda bertubuh raksasa dari Lumban Kulon itu menggeram. Dengan garang ia berkata, “Kalian pengecut Kalian takut mendengar kemungkinan dari satu perkelahian”

“Bukan takut” jawab anak muda Lumban Wetan, “Tetapi untuk apa kita harus bertaruh nyawa”

“Pengecut. Pengecut. Jika kalian takut mati, pergilah. Kalian semuanya” teriak anak muda bertubuh raksasa itu.

Tetapi anak muda Lumban Wetan yang melawannya berkata, “Aku tetap pada pendirianku. Aku dan sembilan kawan-kawanku akan tetap berada disini”

Anak muda Lumban Kulon itupun tiba-tiba telah meloncat menyerang Tangannya terjulur lurus kedepan mengarah kening. Namun serangan itu dapat dielakkan. Bahkan anak muda Lumban Wetan itu berhasil memukul pergelangan tangan lawannya dengan sisi telapak tangannya.

Rasa-rasanya pergelangan tangannya akan terlepas. Tetapi anak muda Lumban Kulon itu berusaha untuk tidak memberikan kesakitan pada pergelangan tangannya itu.

Sejenak kemudian perkelahian itu pun telah membakar arena kecil itu kembali. Serangan demi serangan. Desak mendesak. Masing-masing berusaha untuk mengalahkan lawannya.

Anak muda Lumban Kulon itu telah berlatih lebih lama dari anak muda Lumban Wetan yang untuk beberapa saat terhenti karena anak-anak Lumban Kulon tidak mengijinkan mereka memasuki bagian dari Lumban yang kemudian disebut Kabuyutan Lumban Kulon. Tetapi ternyata anak muda Lumban Wetan itu telah dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Pemburu itu telah memberikan perhatian khusus kepada sepuluh orang Lumban Wetan yang ditempa setiap hari dengan cara yang jauh lebih baik dari cara yang dipergunakan oleh Daruwerdi. Bukan karena ketidak mampuan Daruwerdi, tetapi karena Daruwerdi tidak bersungguh-sungguh seperti yang dilakukan oleh Semi.

Karena itu, maka perkelahian itu menjadi semakin seru. Tangan-tangan mereka semakin sering mengenai tubuh lawannya. Masing-masing menjadi semakin kehilangan usaha pengamatan diri setelah seluruh tubuh mereka basah oleh keringat

Namun latihan yang bersungguh-sungguh dari anak muda Lumban Wetan ternyata mempunyai akibat yang lebih baik pada pernafasannya dan daya tahan tubuhnya.

Karena itu, maka nampaknya, tenaga anak muda bertubuh raksasa itulah yang lebih dahulu susut. Meskipun demikian, ia masih tetap garang.

Ketika anak muda Lumban Wetan terdesak selangkah surut, maka anak muda Lumban Kulon itu telah memburunya. Dengan tenaganya yang kuat, tangannya masih sempat menjangkau memukul dagu anak muda Lumban Wetan itu. Demikian kerasnya sehingga kepala anak muda itu terangkat. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Dengan cepat tangannya yang lain telah menyambar perut.

Terdengar keluhan tertahan. Anak muda Lumban Wetan itu terbungkuk oleh perasaan sakit pada perutnya.

Pada saat itu anak muda bertubuh raksasa itupun mengangkat tangannya siap menghantam tengkuk anak muda Lumban Wetan yang sedang kesakitan itu.

Namun ternyata anak muda Lumban Wetan itu masih tetap menyadari keadaannya. Ia pun sadar, bahwa kemungkinan itu akan dapat dilakukan oleh lawannya, pada saat ia terbungkuk diluar kehendaknya oleh gerak naluriah karena perasaan sakit.

Karena itu, ia harus bergerak cepat Sebelum tengkuknya dihantam oleh lawannya.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja ia telah menghentak satu langkah kecil maju. Sikunya lah yang kemudian menghantam perut lawannya, justru pada saat lawannya sedang mengangkat tangannya.

Yang terdengar mengaduh kemudian adalah anak muda bertubuh raksasa itu. Ia lah yang kemudian terbungkuk oleh perasaan sakit diperutnya.

Anak muda Lumban Wetan itu tidak mau terlambat lagi. Ia tidak mengangkat tangannya dan menghantam tengkuk. Tetapi ia justru bergeser setapak. Kemudian dengan serta merta mengangkat lututnya menghantam wajah lawannya yang sedang terbungkuk itu.

Demikian kerasnya, sehingga anak muda bertubuh raksasa itu seakan-akan telah terangkat dan jatuh terbanting di tanah.

Anak muda Lumban Wetan itu meloncat memburu. Tetapi tiba-tiba saja seakan-akan ada sesuatu yang menahannya. Apalagi ketika terlihat olehnya, darah yang meleleh dari hidung lawannya.

Sekali lawannya berguling di tanah. Selain perasaan sakit yang menghentak wajahnya, ia masih berusaha menjauhi lawannya. Dengan sisa tenaganya ia pun berusaha untuk segera bangkit berdiri.

Tetapi sekejap ia masih terhuyung-huyung. Perutnya serasa mual dan wajahnya disengat oleh perasaan sakit dan pedih. Bahkan rasa-rasanya matanya menjadi kabur dan berkunang-kunang.

Namun ia berusaha untuk tetap bertahan, ia masih melihat lawannya berdiri tegak meskipun bibirnya nampak juga menyeringai menahan sakit pada dagu dan perutnya.

Sesaat keduanya berdiri mematung. Tetapi setiap orang yang berdiri di seputar arena itu mengetahui dengan pasta, bahwa keadaan anak muda Lumban Wetan itu jauh lebih baik dari keadaan anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa. Namun yang dari hidungnya telah meleleh darah seolah-olah tidak henti-hentinya.

“Gila, kau Gila” Anak muda Lumban Kulon itu menggeram, “Aku bunuh kau semuanya”

Keadaan menjadi tegang. Ketika anak muda bertubuh raksasa itu berusaha maju selangkah, maka nampaklah langkahnya yang gontai. Namun ia masih berteriak, “ Majulah bersama-sama. Aku akan membunuh kalian”

Lawannya masih berdiri tegak. Bahkan perasaan sakit pada dagu dan perutnya menjadi berkurang. Dan bahkan hampir tidak dirasanya lagi.

Meskipun demikian ia masih tetap berdiri tegak. Di sekitarnya berdiri anak-anak muda Lumban Kulon yang tegang pula.

Untuk sesaat arena itu justru telah dicengkam oleh kesepian yang tegang. Setiap dada rasa-rasanya bagaikan bergejolak oleh peristiwa yang mendebarkan jantung. Dua orang anak muda berdiri berhadapan dengan sorot yang menyala.

Tetapi orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu, sebenarnya akan dapat mengambil kesimpulan, bahwa anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa itu sudah dikalahkan oleh anak muda Lumban Wetan.

Sesaat kemudian, Nugata lah yang melangkah memasuki arena sambil berkata, “Luar biasa. Anak Lumban Wetan berhasil mengalahkan anak Lumban Kulon. Tetapi ketahuilah, agaknya Lumban Wetan telah melepaskan anak muda terbaiknya. Sementara Lumban Kulon belum. Karena itu, marilah kita melihat apakah puncak kemampuan Lumban Kulon benar-benar kalah dengan puncak kemampuan Lumban Wetan. Aku menantang siapa yang merasa dirinya paling kuat di Lumban Wetan”

Namun anak muda bertubuh raksasa itu berkata, “Aku belum kalah”

“Pergi kau” bentak Nugata.

Anak muda bertubuh raksasa itu menggeram. Tetapi ia tidak berani membantah anak Ki Buyut Lumban Kulon yang juga sudah mulai dibakar oleh kemarahan itu.

Anak-anak muda Lumban Wetan itupun menjadi termangu-mangu. Yang kemudian berdiri dihadapan mereka ternyata adalah anak Ki Buyut Lumban Kulon.

“Cepat” geram Nugata, “Siapa yang akan maju? Aku tidak mau melihat kesombongan kalian yang rasa-rasanya membakar jantung. Betapa sombongnya kalian karena salah seorang dari kalian telah berhasil mengangkat dada karena kemenangan yang tidak berarti apa-apa. Bahkan kalian telah berpura-pura berbelas kasihan kepada lawan yang tidak berdaya lagi”

Anak muda Lumban Wetan yang baru saja berkelahi itu mengerutkan keningnya Kemudian iapun menyahut, “Aku sama sekali tidak berniat menyombongkan diri. Aku hanya mencoba membatasi, agar perkelahian, ini tidak menimbulkan akibat yang lebih parah bagi hubungan kedua Kabuyutan ini”

“Siapa yang mengajarimu berkata demikian” jawab Nugata, “Aku adalah anak Buyut Lumban Kulon. Aku sudah muak menyaksikan kesombongan anak-anak muda Lumban Wetan. He, apakah maksud kalian datang kemari hanya bersepuluh? Bukankah itu sikap sombong yang luar biasa, seakan-akan kalian ingin mengatakan, bahwa dengan sepuluh orang kalian akan dapat menggagalkan usaha kami membagi air itu dengan adil?”

“Sama sekali tidak. Kami tidak bermaksud menghalangimu hanya dengan sepuluh orang. Kami adalah wakil dari kawan-kawan kami yang mendapat kepercayaan untuk sekedar menyaksikan apa yang akan kalian lakukan. Dan apakah yang kalian sebut adil itu juga adil menurut pendapat kami” jawab anak Lumban Wetan itu.

“Kamilah yang menentukan pembagian air itu” geram Nugata pula, “Sudah kami katakan, kami yang memiliki bendungan dan sumber air itu, karena keduanya terletak di Lumban Kulon. Karena itu, apa yang kami lakukan atas bendungan dan pintu air ini semata-mata atas pertimbangan belas-kasihan kami kepada Kabuyutan Lumban Wetan yang kering dan ternyata sangat miskin, sehingga sama sekali tidak mempunyai sumber-sumber yang akan dapat dijadikan tumpuan harapan masa datang”

“Sikap itulah yang menjadi dasar pertentangan yang mungkin akan dapat meluas” sahut anak muda Lumban Wetan, “karena itu, pikirkanlah masak-masak. Kedua kabuyutan ini mempunyai batang tubuh tunggal pada mulanya. Jika kemudian batang yang tunggal itu bercabang dua, bukankah sebaiknya kedua cabang itu akan mengalami nasib yang sama. Jika keduanya menjadi hijau, biarlah sama-sama segar. Jika harus kering biarlah kedua-duanya mengalaminya”

“Itu adalah sikap yang patut disesalkan. Kalian, anak-anak Lumban Wetan yang putus asa karena kegersangan daerah kalian, tiba-tiba saja sudah menuntut berlebih-lebihan dari tetangga yang semula merupakan satu tubuh. Dengan demikian, jika kalian mulai dengan sikap yang bodoh, menyakiti hati kami, itu akan sama arti bahwa kalian telah menyakiti sumber Kebuyutan kami yang tunggal itu” jawab Nugata, “karena itu, mungkin sekali bahwa pada batang tubuh yang tunggal akan tumbuh cabang yang subur dan besar sementara cabang yang lain kecil dan kerdil. Bahkan mungkin akan menjadi kering dan patah jatuh di tanah”

“Dan apakah kalian juga bersikap demikian? Membiarkan tetangga yang merupakan pecahan dari itu kering dan patah?” bertanya anak muda Lumban Wetan.

“Jika memang tidak ada kemungkinan lain, apaboleh buat” jawab Nugata.

“Dengan demikian, sikapmu sudah pasti” desis anak muda Lumban Wetan, “Dan dengan demikian pula, maka sebenarnya-lah bahwa kami harus berusaha untuk mempertahankan hidup kami tanpa pengertian siapapun juga. Karena itu, maka kami akan menjawab dengan tegas bahwa sungai ini sampai ke sumbernya, sama sekali bukan milik kalian. Bukan milik Lumban Kulon dan bukan milik Lumban Wetan. Tetapi kedua bukit yang disebut Sepasang Bukit mati itu dan jalur sungai ini dengan segala macam isinya, adalah milik kita bersama. Jika satu pihak menyebut, Sepasang Bukit Mati dan jalur sungai ini adalah miliknya, maka ia sudah merampas hak orang lain”

“Jangan banyak bicara” bentak Nugata kemudian, “Aku bertanya, siapa yang akan tampil. Panggil orang terbaik dari Lumban Wetan. Aku akan menunjukkan kepada kalian, tanpa melanggar sifat kejantanan, karena aku akan berkelahi seorang melawan seorang bahwa Lumban Kulon memiliki kekuatan yang jauh melampaui kekuatan yang dapat dikerahkan oleh anak-anak muda Lumban Wetan. Seandainya jumlah diantara kita berimbang, maka setiap orang Lumban Kulon memiliki kemampuan lebih baik dari setiap orang di Lumban Wetan, kecuali raksasa dungu ini”

Anak muda Lumban Wetan itu tidak segera menjawab. Tetapi kata-kata itu bagi anak-anak Lumban Kulon sendiri sangat meragukan, karena bagi mereka, anak muda bertubuh raksasa itu termasuk salah seorang diantara mereka yang terkuat.

Sejenak suasana dicengkam oleh kediaman yang tegang. Kesepuluh anak-anak Lumban Wetan yang berada diantara kerumunan anak-anak Lumban Kulon itu menjadi berdebar-debar. Apakah mereka akan menerima tantangan anak-anak muda Lumban Kulon itu atau tidak.

“Cepat” teriak Nugata, “Siapa yang akan maju”

Namun tiba-tiba terdengar jawaban dari antara anak-anak muda Lumban Wetan, “Kami datang tidak untuk berkelahi. Kami hanya ingin melihat apakah yang sudah kalian lakukan”

“Aku tidak peduli” geram Nugata.

“Kami memang tidak ingin berkelahi” desis yang lain.

“Jika kalian takut, pergilah. Jangan ganggu kami” berkata Nugata lantang, “atau, kalian ingin berkelahi berpasangan? Dua, atau tiga orang sekaligus?”

Anak-anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Rasa-rasanya darah mereka menjadi semakin panas. Anak muda yang baru saja mengalahkan anak muda bertubuh raksasa dari Lumban Kulon itupun berkata, “jangan membakar jantung kami. Aku kira apa yang aku lakukan sudah cukup. Sekarang, biarlah kami berdiri disini”

“Tidak” jawab Nugata keras-keras, “kalian harus memilih. Pergi, atau berkelahi”

Darah anak-anak muda Lumban Wetan itu benar-benar sudah mendidih. Hampir saja mereka kehilangan pengekangan diri.

Namun selagi salah seorang dari mereka hampir saja meloncat maju karena gejolak hati yang tidak tertahankan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang, “Sudah cukup. Kau tidak perlu kehilangan akal Nugata”

Nugata berpaling. Semua orang yang berada di tempat Itupun berpaling. Mereka melihat Daruwerdi berdiri tegak ketika beberapa orang di depannya menyibak, “Sudah cukup” katanya, “Kita sudah melihat satu contoh perkelahian antara anak muda Lumban Kulon dan anak muda Lumban Wetan”

“Belum cukup” jawab Nugata, “Perkelahian ini memberikan kesan yang salah antara imbangan kekuatan yang ada di Lumban Kulon dan Lumban Wetan”

“Tidak” jawab Daruwerdi, “ingat, yang berkelahi dari antara anak-anak Lumban Wetan adalah salah satu dari kesepuluh anak pilihan. Sementara anak Lumban Kulon bukanlah anak terbaik. Karena itu, perkelahian ini bukan takaran”

“Karena itu, aku ingin memberikan takaran yang benar. Aku kira aku akan dapat menantang anak terbaik dari Lumban Wetan” geram Nugata.

Tetapi Daruwerdi tertawa, katanya., “Lakukanlah apa yang akan kau lakukan atas pintu air itu. Kalian ternyata telah terpancing untuk melakukan kerja yang tidak berarti sama sekali, sehingga kerja kalian yang penting itu telah terbengkelai”

Nugata mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Kau benar. Tetapi kesombongan anak-anak Lumban Wetan tidak seharusnya dibiarkan saja”

Tetapi Daruwerdi masih tertawa. Katanya, “Waktumu cukup banyak. Jika pintu air itu sudah selesai, kau dapat melihat, apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak Lumban Wetan. Bukankah kau tidak berkeberatan, jika mereka hanya melihat-lihat bahwa air sudah melimpah ke tanah persawahan di Lumban Kulon? Kau tentu tidak akan kehilangan apapun juga. Air itu akan tetap mengalir dan sawah di Kebuyutan Lumban Kulon akan tetap menjadi hijau”

Nugata termangu-mangu sejenak. Namun ia masih berdesis, “Mereka telah menyinggung harga diri kami”

Daruwerdi melangkah mendekatinya sambil berkata, “Jangan hiraukan. Mereka tidak akan berani berbuat apa-apa”

Nugata menggeram. Namun kemudian Daruwerdi berkata, “Marilah. Lanjutkan kerjamu”

Nugata tidak menjawab lagi. Iapun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Jangan hiraukan mereka. Marilah, kita lanjutkan kerja kita”

Nugata pun kemudian melangkah meninggalkan tempatnya. Beberapa orang anak-anak muda Lumban Kulon segera mengikutinya, sementara yang lain masih berdiri termangu-mangu sambil memandangi kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan yang nampaknya sama sekali tidak menjadi gentar.

“Marilah desis Daruwerdi kemudian kepada anak-anak muda yang masih tertinggal.

Mereka pun kemudian dengan langkah-langkah panjang kembali menyeberangi sungai yang tidak begitu besar di bawah bendungan. Kemudian mereka pun telah mengambil alat-alat mereka masing-masing

“Kita akan melanjutkan kerja kita seperti yang kita rencanakan” berkata Nugata, “dalam waktu singkat, pintu air itu harus sudah selesai, sementara saluran induk itupun harus disesuaikan. Air yang melimpah itu harus tertampung dan mengalir sampai ke ujung parit yang terkecil”

Demikianlah, anak-anak muda Lumban Kulon itu telah kembali tenggelam ke dalam kerja. Nampaknya mereka justru bekerja lebih keras. Kemarahan mereka terhadap anak-anak muda Lumban Wetan mereka tumpahkan kepada kerja mereka, untuk membuka pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Kulon lebih lebar lagi.

Kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan masih berada di tempatnya. Mereka telah berdiri berkelompok. Dengan nada rendah anak muda yang telah berkelahi melawan anak muda Lumban Kulon itu berkata, “Kita tidak perlu berkecil hati. Ternyata kita memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan mereka”

“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya seorang kawannya.

“Kita tidak akan dapat berbicara tentang kekerasan dengan anak Ki Buyut Lumban Wetan yang memiliki sikap yang jauh berbeda. Karena itu, kita akan berbicara dengan kedua pemburu itu, dan barangkali ada baiknya juga kita berbicara dengan Jlitheng yang telah bekerja paling keras untuk mengarahkan arus air yang liar diatas bukit itu”

“Kita jangan terlalu mengalah” desis seorang anak muda yang lain.

“Kita memang harus mempertimbangkannya” jawab kawannya yang baru saja berkelahi itu.

Tetapi anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak mau-meninggalkan bendungan itu. Mereka tetap berada di tempatnya. menunggui anak-anak Lumban Kulon yang sedang merubah pintu air.

Betapapun kemarahan menghentak-hentak di hati anak-anak muda Lumban Kulon, namun mereka tidak berani melanggar pesan Daruwerdi. Jika Daruwerdi menjadi kecewa dan meninggalkan anak-anak muda Lumban Kulon, maka mereka akan menjadi semakin kecil, justru karena di Lumban Wetan ada dua orang pemburu yang bersedia memberikan latihan-latihan olah kanuragan dan bahkan pernah terjadi benturan kekuatan dengan Daruwerdi.

“Apakah Daruwerdi takut menghadapi kedua pemburu itu?” pertanyaan itu timbul di dalam hati anak-anak muda Lumban Kulon.

Namun sebenarnyalah Daruwerdi dengan sengaja memperpanjang waktu bagi persoalan yang sedang timbul antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Jika persoalan itu cepat selesai, apapun yang terjadi, maka kedatangan orang-orang Sanggar Gading akan sangat menarik perhatian.

“Hanya sampai akhir pekan ini” berkata Daruwerdi di dalam hatinya.

Tetapi hari-hari yang tidak genap sampai satu pekan itu terasa lama sekali. Seakan-akan Daruwerdi tidak lagi bersabar menunggu.

Dalam pada itu, ketika matahari kemudian turun, anak-anak Lumban Kulon pun menghentikan kerjanya. Mereka menunda kerja mereka sampai esok. Sekilas mereka memandang anak-anak Lumban Wetan yang masih berada di tempatnya, meskipun mereka kemudian telah duduk diatas batu-batu padas.

“Jangan hiraukan mereka” geram anak muda bertubuh raksasa, “biarlah mereka mendekam disitu sampai tujuh hari tujuh malam”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi setiap orang diantara mereka, rasa-rasanya sedang menahan kemarahan yang menghentak-hentak dada.

Setelah anak-anak Lumban Kulon itu hilang dibalik gerumbul, maka anak-anak itupun kemudian bangkit berdiri. Seorang diantara mereka berkata, “Marilah kita lihat, apa yang telah mereka kerjakan”

Kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itu pun kemudian melintasi sungai di bawah bendungan dan naik kebagian Barat sungai yang menjadi sumber sengketa itu.

“Gila” geram anak-anak muda Lumban Wetan itu.

Mereka melihat, bagaimana anak-anak muda Lumban Kulon mulai dengan kerja mereka. Pintu air yang melimpahkan air ke Lumban Kulon telah di perlebar. Parit induk yang akan menampung air itupun sudah mulai dikerjakan.

Dengan demikian, anak-anak Lumban Wetan itu sudah dapat memperhitungkan, seberapa bagian air yang akan melimpah ke tanah persawahan di Lumban Kulon dan seberapa bagian yang akan mengalir ke Lumban Wetan.

“Sawah-sawah kita akan kembali menjadi kering” desis salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan itu.

“Kita memang harus bertindak. Semakin cepat semakin baik Kita sudah menjajagi kemampuan mereka. Satu diantara mereka sudah kita ketahui kekuatannya. Meskipun menurut Nugata ia bukan anak terbaik di Lumban Kulon, tetapi ia tentu anak muda yang diperhitungkan. Ternyata ia adalah orang yang pertama mengambil sikap”

Anak-anak muda Lumban Wetan itupun akhirnya bersepakat untuk melakukannya. Meskipun demikian mereka tidak akan meninggalkan Jlitheng dan kedua pemburu yang telah mengajari mereka dalam olah kanuragan.

Ketika langit menjadi gelap, kesepuluh anak-anak Lumban Wetan itupun segera bersiap untuk meninggalkan bendungan, setelah hampir sehari mereka menunggui anak-anak Lumban Kulon membangun pintu air menurut kehendak mereka sendiri.

Meskipun mereka tidak makan sepanjang hari, tetapi karena niat mereka yang teguh mereka sama sekali tidak merasa lapar. Memang mereka merasa haus, tetapi mereka telah mengambil air di sebuah belik kecil di pinggir sungai itu.

“Marilah kita pulang” berkata anak muda yang tertua diantara mereka kita sudah mempunyai bahan cukup banyak untuk menentukan sikap”

Kesepuluh anak-anak muda itupun segera bersiap untuk kembali ke padukuhan mereka.

Tetapi langkah mereka terhenti ketika tiba-tiba dua orang telah datang mendekati mereka. Dua orang yang sama sekali tidak mereka kenal.

“Luar biasa” desis salah seorang dari kedua orang itu. Kesepuluh anak-anak itu termangu-mangu sejenak. Namun salah seorang dari mereka pun segera bertanya, “Siapakah kalian berdua he?”

“Kalian tidak perlu mengenal kami. Kami adalah dua orang perantau yang sekedar mengikuti langkah kaki tanpa tujuan dan tanpa kehendak apapun juga dengan perantauan kami selain ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah kami lihat” Jawab salah seorang dari keduanya.

“Lalu, apa maksud kalian datang kepada kami?” bertanya anak muda Lumban Wetan itu.

“Tidak apa-apa. Kami hanya mengagumi kalian. Apa yang telah kalian lakukan benar-benar membuat kami heran. Kami melihat kalian datang menunggui anak-anak yang membuka pintu air itu. Kami melihat kalian berkelahi, dan kami melihat anak-anak itu kembali bekerja” jawab salah seorang dari kedua orang itu, “Tetapi setelah itu kami meninggalkan tempat kami menyaksikan sikap kalian yang luar biasa itu. Menjelang senja kami kembali. Ternyata kalian masih tetap berada disini. Kalian sama sekali tidak meninggalkan tempat ini meskipun anak-anak membuka pintu air itu mengancam kalian”

“Terima kasih” jawab anak muda yang tertua diantara anak-anak muda Lumban Wetan itu, “kalian memuji kami, “

“Tidak. Sama sekali tidak. Kami sama sekali tidak bermaksud memuji. Tetapi sikap kalian benar-benar terpuji” berkata salah seorang dari keduanya, “karena itulah maka justru kami ingin menyatakan kesediaan kami untuk membantu kalian apabila kalian perlukan”

Anak-anak muda Lumban Wetan itu terkejut. Mereka tidak mengenal kedua orang itu. Namun tiba-tiba keduanya telah menawarkan diri untuk membantu mereka jika diperlukan.

“Apakah keuntungan kalian membantu kami?” tiba-tiba salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan itu bertanya.

“Tidak ada” jawab salah seorang dari keduanya, “Kami hanya tertarik melihat sikap kalian, karena nampaknya kalian berada dipihak yang benar dalam sengketa air ini”

Anak-anak Lumban Wetan itu menjadi semakin heran. Kedua orang itu mengaku tidak berkepentingan dan tidak mempunyai keuntungan apapun juga. Tetapi sikap mereka, ternyata telah sangat menarik perhatian anak-anak muda Lumban Wetan.

“Kedua pemburu itu datang dengan tiba-tiba” berkata anak-anak muda Lamban Wetan di dalam hati, “Mereka membantu kami dan bahkan bersedia mengajar kami dalam olah kanuragan. Sekarang, dua orang lagi datang kepada kami dengan kesediaan untuk membantu pula”

Namun anak-anak muda Lumban Wetan melihat, meskipun dalam keremangan ujung malam, bahwa wajah dan sikap kedua orang itu agak berbeda dengan sikap dan wajah dari kedua orang pemburu yang telah berada di Kabuyutan mereka untuk beberapa lamanya.

“Ki Sanak” tiba-tiba orang tertua dari kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itu bertanya, “Jika kami ingin menyatakan permohonan kami, misalnya, dalam keadaan yang tidak teratasi karena Daruwerdi langsung melibatkan diri, dimana kami dapat menjumpai kalian?”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Jangan mencari kami. Mungkin kami berada di lereng bukit itu, tetapi mungkin berada di bukit gundul atau dimanapun yang menarik hati kami. Kamilah yang akan membayangi persoalan yang timbul diantara kalian”

“Tetapi, bagaimana cara kami, jika kami memerlukan kalian” bertanya anak muda Lumban Wetan itu.

“Dalam benturan yang tidak terelakkan, aku akan berada di sekitar tempat itu. Kalian dapat memberikan isyarat kepadaku jika kalian memerlukan. Pakailah sebuah kentongan kecil. Dan aku akan tanggap jika kentongan itu kalian bunyikan” berkata salah seorang dari keduanya.

Anak-anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Yang tertua diantara mereka pun minta diri untuk segera kembali ke padukuhan mereka.

Di banjar, peristiwa yang terjadi di bendungan itu telah menjadi bahan pembicaraan. Banjar di induk padukuhan dari Kabuyutan Lumban Wetan itu, “penuh dengan anak-anak muda. Bukan saja anak-anak muda dari induk padukuhan di Kabuyutan Lumban Wetan. Tetapi juga dari padukuhan-padukuhan yang lain.

Rasa-rasanya banjar itu akan meledak oleh kemarahan yang bergetar di hati anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka merasa bahwa mereka sudah cukup sabar dan menahan diri. Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon justru telah memanfaatkan kesabaran anak-anak muda Lumban Wetan itu untuk memaksakan kehendak mereka dengan, merombak pintu air yang telah ada sehingga pintu air yang melimpahkan air ke Lumban Kulon menjadi jauh lebih lebar.

Dalam pada itu, yang menarik perhatian Semi dan kawannya adalah justru hadirnya dua orang yang tidak dikenal itu. Dua orang yang telah menawarkan keinginan mereka untuk membantu. Bahkan Rahu yang berada di banjar itu pula, telah mendengarkan ceritera anak-anak Lumban Wetan itu dengan hati yang berdebar-debar.

“Siapa mereka?” desis Semi ke telinga kawannya.

“Kita harus berusaha untuk mengetahuinya” sahut kawannya, “Tetapi keduanya tentu bukan kawan-kawan Rahu.”

Semi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang dapat memberikan kesan khusus kepada anak-anak muda Lumban Wetan itu. Meskipun mereka pun mengerti, bahwa Semi agaknya telah tertarik kepada ceritera tentang kedua orang itu.

Ketika Semi kemudian sempat berbicara dengan kawannya dan Rahu, maka iapun berkata, “Kedua orang itu harus mendapat perhatian tersendiri. Mungkin keduanya adalah orang-orang dari padepokan lain. Mungkin Kendali Putih atau orang-orang Gunung Kunir. Mareka tidak boleh mengacaukan hubungan Daruwerdi dengan orang-orang Sanggar Gading meskipun bagi Daruwerdi, siapapun yang dapat memenuhi tuntutannya tidak akan mendapat pelayanan yang berbeda”

“Kita harus dapat menyerahkan Pangeran itu, dan kemudian menerima pusaka yang telah dijanjikan. Baru kemudian kita akan mengambil sikap” berkata Rahu.

Dengan demikian, kehadiran kedua orang itu rasa-rasanya telah menambah beban orang-orang yang telah mendahului berada di daerah Sepasang Bukit Mati itu.

“Tetapi jika keduanya dikirim oleh salah satu pihak dengan pengertian yang lengkap tentang saat-saat penyerahan Pangeran itu kepada Daruwerdi, maka kemungkinan yang gawat akan dapat terjadi” berkata Semi.

“Sebaiknya kita benar-benar mempersiapkan tempat ini” berkata Rahu, “Kita harus berbicara dengan Jlitheng”

Diluar pengetahuan anak-anak muda Lumban Wetan, maka Jlitheng pun telah bertemu dengan Rahu. Tetapi Jlitheng justru telah tertarik pula kepada berita tentang dua orang yang telah hadir di daerah Lumban

“Aku belum mengetahuinya” desis Jlitheng, “Tetapi kehadiran orang-orang yang demikian itu bukannya yang pertama di daerah ini. Sejak orang Kendali Putih bertemu dan saling membunuh dengan orang Pusparuri di daerah ini, maka orang-orang yang tidak dikenal memang sering datang ke daerah ini dengan maksud-maksud tertentu, yang tentu saja ada hubungannya dengan kehadiran Daruwerdi disini”

“Mungkin kau akan mendapat kesempatan pertama untuk mengetahui tentang kedua orang itu” desis Rahu.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Aku akan berusaha. Tetapi kalian pun harus berbuat sesuatu”

“Ya. Sudah tentu” desis Rahu. .

“Selebihnya, kau jangan menganggap untuk seterusnya Daruwerdi hanya akan hadir disini seorang diri” gumam Jlitheng kemudian.

“Sudah kami perhitungkan” jawab Rahu. Lalu, “Tetapi kau pun harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh segala pihak. Termasuk kakek di lereng bukit itu”

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Apa yang kau ketahui tentang kakek di lereng bukit itu? Ia terlalu sibuk dengan mata air yang ditungguinya”

Tetapi Rahu menyahut, “Terserah atas penilaianmu, Mata air, bukit, atau gadis itu”

Dalam pada itu, selagi Lumban diributkan oleh sikap anak-anak Lumban Kulon tentang air yang justru telan berhasil dikendalikan di atas bukit berhutan lebat, maka di Padepokan Sanggar Gading, terjadi pula kesibukan tersendiri.

Cempaka yang telah kembali dari daerah Sepasang Bukit Mati telah melaporkan pertemuannya dengan Daruwerdi kepada kakaknya.

“Kita harus menemukan sikap tersendiri” berkata Sanggit Raina, “karena diluar perhitungan kita. Yang Mulia akan turun sendiri langsung menyerahkan Pangeran Sena Wasesa kepada Daruwerdi”

Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semuanya harus kita pertimbangkan sebaik-baiknya. Jika kita ingin merampas pusaka itu dengan kekerasan, apakah kita akan mampu berhadapan dengan Yang Mulia”

“Itulah yang harus kita perhitungkan” desis Sanggit Raina, “Tetapi kita harus merampas pusaka itu. Pusaka itu akan dapat memberikan sejuta kemungkinan bagi kita. Sebenarnya pusaka itu tidak akan banyak berarti lagi bagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Ia sudah tidak mempunyai hari depan lagi, karena umurnya sudah lanjut. Jika ia mendapat pusaka itu, maka ia hanya akan menikmatinya untuk waktu yang terlalu pendek, dan sama sekali tidak seimbang dengan kebesaran pusaka itu sendiri”

“Mungkin keturunan atau siapapun yang akan menjadi pewarisnya lah yang akan menikmatinya” desis Cempaka.

“Tidak ada orang lain” jawab Sanggit Raina, “Tetapi baiklah kita berhati-hati. Mungkin ada sesuatu yang tidak kita ketahui”

“Tetapi terlalu sulit untuk mengambil pusaka itu dari tangannya” desis Cempaka kemudian dengan nada rendah Seolah-olah ia sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat memiliki pusaka yang sedang diperebutkan itu.

“Jangan cemas. Kita dapat menempuh segala cara. Kasar atau halus. Beradu dada atau dari punggung. Nilai pusaka itu cukup besar dibandingkan dengan cara apapun juga. Juga dengan tidak mengingat harga diri dan nilai-nilai kejantanan” sahut Sanggit Raina.

“Kita akan berbuat curang?” bertanya Cempaka.

“Niat kita memang sudah dilambari dengan kecurangan. Bukankah kita berbuat dengan landasan yang tidak jujur? Jika kita jujur, kita tidak akan berniat untuk memiliki pusaka itu” berkata Sanggit Raina, “Tetapi kita tidak berbuat demikian. Kita sudah berniat berbuat curang dengan memiliki pusaka itu. Apa salahnya jika kita juga mempergunakan cara yang curang pula”

Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apapun yang akan kau lakukan, aku akan melakukannya pula”

“Siapkan racun yang paling baik. Kita akan mempergunakan-nya lewat cara apapun juga. Ujung senjata, ujung duri, atau makanan” berkata Sanggit Rain, “Jika kita berhasil, akulah yang akan mengusai seluruh pengikutnya. Aku merasa, pengaruhku cukup besar atas mereka”

Cempaka mengangguk-angguk Katanya, “Baiklah. Aku akan mempersiapkannya. Sementara Rahu aku tinggalkan di daerah Sepasang Bukit Mati untuk meyakinkan, bahwa kedatangan kami tidak akan diganggu oleh orang-orang dari kelompok yang lain, yang tentu sudah mendengar bahwa Pangeran Sena Wasesa itu hilang dari istananya”

“Baiklah” berkata Sanggit Raina, “Tetapi kemungkinan itu tidak hanya dapat terjadi di daerah Sepasang Bukit Mati. Tetapi orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih atau orang-orang dari kelompok yang lain akan dapat menghambat perjalanan kita jauh-jauh sebelum kita memasuki daerah Sepasang Bukit Mati itu”

Cempaka mengangguk-angguk. Kita sudah siap. Apapun yang akan kita hadapi”

“Jangan terlalu berbangga dengan kekuatan kita” sahut Sanggit Raina, “Jika orang Pusparuri, Kendali Putih atau orang-orang Gunung Kunir sudah berani menghentikan kita di perjalanan ke daerah Sepasang Bukit Mati, itu berarti mereka sudah siap menghadapi kekuatan kita, karena kita tidak dapat menutup mata, bahwa mereka tentu sudah mendapat keterangan serba sedikit tentang kekuatan kita”

“Jadi?” bertanya Cempaka.

“Kita akan mengambil jalan yang sama sekali tidak diduga oleh siapapun” jawab Sanggit Raina.

Cempaka mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa cara itu adalah cara yang paling baik.

Ketika Sanggit Raina menghadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading bersama Cempaka untuk menyampaikan laporan tentang daerah Sepasang Bukit Mati, maka Yang Mulia itu berkata, “Kita akan berangkat esok pagi. Aku setuju dengan pendapatmu. Kita akan menempuh jalan yang tidak terduga sama sekali, meskipun jaraknya menjadi lebih jauh. Bukan karena kita ketakutan menghadapi siapapun juga, tetapi bagi kita lebih baik sampai kepada anak itu bersama Pangeran Sena Wasesa yang selamat daripada kita akan membawanya dalam keadaan yang lebih buruk, jika kita bertemu dengan kelompok lain yang mungkin menjadi kasar, buas dan liar karena putus asa”

Dengan demikian, maka persiapan terakhir telah dilakukan. Menjelang malam. Sanggit Raina telah menghadap Pangeran Sena Wasesa di biliknya yang dijaga kuat.

Pangeran yang masih dalam keadaan sakit itu berbaring di dalam bilik yang tidak terlalu luas, diatas amben pring wulung yang berwarna kelam.

“Pangeran” berkata Sanggit Raina, “Kita akan menempuh sebuah perjalanan yang panjang”

Pangeran itu memandang Sanggit Raina dengan pandangan yang sayup.

“Maaf Pangeran” berkata Sanggit Raina, “ semuanya ini terjadi atas Pangeran, karena satu permintaan. Bukan karena niat kami. Tetapi sebenarnyalah Pangeran tidak usah mencemaskan nasib keluarga kecil Pangeran yang Pangeran tinggalkan di istana

“Apa maksudmu?” bertanya Pangeran itu dengan suara parau.

“Seperti yang sudah Pangeran ketahui, bahwa kami sudah membunuh kawan kami sendiri yang mencoba menodai kejujuran sikap kami”

Pangeran yang sedang sakit itu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mendengar serba sedikit, apa yang telah terjadi di istananya, sepeninggalnya. Namun itu sama sekali bukan satu kepastian, bahwa setelah itu tidak akan pernah terjadi apapun juga dengan puteri yang ditinggalkannya di istananya.

Tetapi Pangeran itu tidak mengatakannya. Betapapun jantungnya bergejolak, tetapi wajahnya nampaknya tetap tenang dalam kekerasannya.

Sanggit Raina mengamatinya sejenak. Kemudian katanya selanjutnya, “Menurut Yang Mulia, besok kita akan pergi ke daerah yang disebut Sepasang Bukit Mati. Kita akan bertemu dengan seseorang anak muda yang memerlukan Pangeran.”

Pangeran Sana Wasesa mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Siapakah nama anak muda itu, dan apakah kepentingannya?”

“Namanya Daruwerdi” jawab Sanggit Raina, “sedangkan kepentingannya tidak kami ketahui dengan pasti. Tetapi bahwa yang kami lakukan ini ada hubungannya dengan sebuah pusaka yang disimpan oleh anak muda yang bernama Daruwerdi itu”

Wajah Pangeran Sena Wasesa telah menegang. Bahkan per lahan-lahan ia pun kemudian bangkit dan duduk di bibir ambennya, “Aku tidak kenal nama itu. Tetapi pusaka apa yang kalian maksud?”

“Pusaka yang sangat berharga bagi kami” jawab Sanggit Raina, “Tetapi biarlah kita tidak berbicara tentang pusaka itu. Ketahuilah Pangeran, justru karena besok pagi kita akan berangkat. Anak muda yang bernama Daruwerdi itu minta agar kami membawa Pangeran kepadanya jika kami ingin memiliki pusaka yang sangat berharga itu”

“Ya, pusaka apa?” bentak Pangeran Sena Wasesa.

“Jangan membentak. Aku tidak dapat mengatakannya kepada Pangeran. Tetapi demikian kami menyerahkan Pangeran, pusaka itu akan jatuh ke tangan kami” jawab Sanggit Raina, lalu, “Baiklah Pangeran merenungi malam ini, apakah benar yang dikatakan oleh anak muda itu, bahwa Pangeran pernah membunuh ayahnya. Jika Pangeran tidak mengenal nama Daruwerdi itu, maka tentu Pangeran dapat mengingat orang -orang penting yang pernah Pangeran bunuh”

Pangeran yang sedang sakit itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi atasku. Dan aku tidak dapat mengingat, bahwa aku kira aku tidak akan dapat mengingatkan lagi seorang demi seorang.”

“Maaf Pangeran, aku tidak dapat membantu ingatan Pangeran karena aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Yang kami lakukan adalah sekedar memenuhi permintaan Daruwerdi. Aku memerlukan sekali pusaka itu, sementara Daruwerdi memerlukan sekali Pangeran dengan sikap apapun juga yang tidak kami pertimbangkan”

Pangeran yang sedang sakit itu telah berbaring lagi. Direnunginya atap rumah yang tidak terlalu bersih itu. Seolah-olah ia sedang menelusurinya merayap ke masa lampau.

Dalam pada itu, terdengar Sanggit Raina berkata, “Silahkan beristirahat sebaik-baiknya Pangeran. Nampaknya keadaan Pangeran sudah berangsur baik. Besok kita akan menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. Kita akan menempuh perjalanan yang tidak terbiasa dilalui orang yang menuju ke daerah sekitar Sepasang Bukit Mati. Kita akan menyusup di antara rimbunnya pepohonan hutan, agar perjalanan kita tidak menarik perhatian orang lain. Karena itu, mungkin perjalanan itu akan terasa sangat berat”

Pangeran Sena Wasesa sama sekali tidak menyahut.

“Perlu juga aku sampaikan, Pangeran. Mungkin diperjalanan kita akan menjumpai bukan saja rintangan alam di sepanjang jalan, tetapi mungkin ada kelompok lain yang ingin menguasai Pangeran. Juga atas permintaan Daruwerdi, karena ia akan menukar Pangeran dengan pusaka yang diperebutkan itu, siapapun yang menyerahkan Pangeran” berkata Sanggit Raina lebih lanjut, “nampaknya kepergian Pangeran dari istana sudah bukan rahasia lagi, meskipun mungkin tidak di ketahui siapakah yang telah membawa Pangeran”

Pangeran Sena Wasesa masih tetap mematung, seolah-olah ia tidak menghiraukan sama sekali kata-kata Sanggit Raina.

Namun demikian hatinya yang bergelora bagaikan telah memukul-mukul dadanya.

Ketika kemudian Sanggit Raina meninggalkannya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan Pangeran yang sedang sakit itupun bangkit dari pembaringannya. Berdiri tegak sambil mengembangkan tangannya.

Selangkah ia maju ke pintu biliknya. Ketika telinganya yang tajam tidak lagi mendengar sesuatu, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

Sejenak Pangeran yang dianggap masih dalam keadaan sakit itu berdiri diam sambil memperhatikan keadaan disekitarnya. Ketika ia yakin bahwa tidak ada seorang pun didekat dinding biliknya, kecuali para penjaga yang berada beberapa langkah mengitari bilik itu, maka ia pun mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Perlahan-lahan. Namun dengan demikian ia berharap bahwa otot dan syarafnya tidak terlanjur menjadi beku karenanya.

“Aku harus meyakini, bahwa tenagaku akan segera pulih kembali” berkata Pangeran itu di dalam hatinya.

Sekilas terbersit satu keinginan untuk menghindarkan diri dari penyerahan yang sangat menyakitkan hati itu. Meskipun Pangeran itu sadar, bahwa yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu tentu memiliki kelebihan dari pengikut-pengikutnya, namun jika ia menginginkan, ia tentu akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Ia yakin tidak akan ada seorang pun yang akan dapat mengejarnya, kecuali mungkin sekali Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu. Namun jika keadaan, memaksa, maka ia pun akan berani mempertaruhkan nyawanya melawan Yang Mulia itu diluar padepokan, sehingga tidak ada orang lain yang akan ikut campur.

Namun kadang-kadang timbul pula keinginannya untuk mengetahui, siapakah sebenarnya orang yang mengingininya itu. Orang yang menuduhnya, pernah membunuh ayahnya itu.

Beberapa saat lamanya, Pangeran yang dianggap masih sakit itu berada di dalam keragu-raguan. Namun akhirnya ia berketetapan untuk tidak meninggalkan padepokan Sanggar Gading dan ikut bersama mereka untuk diserahkan kepada seseorang yang menghendakinya, dan bahkan akan menukarnya dengan pusaka yang sangat berharga.

Dengan demikian, maka Pangeran itu pun berusaha untuk memulihkan kekuatannya. Maka apapun yang diserahkan kepadanya, dimakannya sebanyak-banyaknya. Mungkin orang-orang Sanggar Gading pun mengetahui bahwa keadaannya sudah berangsur baik. Namun ia masih dapat berpura-pura bahwa tenaganya masih terlampau lemah.

“Aku berusaha untuk meningkatkan kemampuan tenagaku yang hampir habis sama sekali” berkata Pangeran itu kepada seorang yang bertugas menyerahkan makan malamnya, “karena itu, aku memang ingin makan sebanyak-banyaknya meskipun mulutku terasa sangat pahit. Aku berharap bahwa perjalanan yang akan aku lakukan besok, tidak akan membuatku pingsan dan bahkan mati diperjalanan”

“Apakah Pangeran masih ingin makan lebih banyak lagi?” bertanya orang itu.

“Berikan aku pisang dan makanan apapun yang ada untuk malam nanti” berkata Pangeran itu.

“Baiklah. Aku akan mengambil lagi”

Meskipun demikian, Pangeran itu pun kembali lagi berbaring di pembaringannya. Baru ketika orang itu sudah melangkah menjauh maka Pangeran itupun bangkit dan menutup pintunya rapat-rapat, agar ia dapat bebas bergerak di dalam biliknya.

Disaat orang itu kembali membawa makanan dan pisang, maka Pangeran yang memiliki pendengaran yang sangat tajam itu pun telah mendengarnya, sehingga ketika pintu berderit, maka Pangeran itu sudah berbaring lagi di amben bambunya.

Namun malam itu, pangeran Sena Wasesa seolah-olah tidak sempat tidur. Ia hanya dapat tertidur sejenak, menjelang pagi Meskipun demikian, yang sejenak itu telah dapat menyegarkan tubuhnya

Pagi-pagi benar, orang-orang Sanggar Gading sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan yang panjang. Sanggit Raina lah yang memasuki bilik Pangeran Sena Wasesa yang sudah terbangun, namun masih berbaring dipembaringannya

“Pangeran” berkata Sanggit Raina, “Kita akan melakukan perjalanan itu hari ini. Marilah, barangkali Pangeran akan mandi atau akan membersihkan diri sebelum kita berangkat”

Pangeran itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak perlu mandi atau membersihkan diri. Jika aku akan kalian bawa kemanapun juga, terserah kepada kalian”

Sanggit Raina menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang olehnya pisang dan makanan, ia pun berkata, “Untuk apa pisang dan makanan itu Pangeran?”

“Biarlah tubuhku menjadi terasa sedikit kuat. Aku akan membawanya untuk bekal diperjalanan” jawab Pangeran itu

“Sebenarnya itu tidak perlu. Kami sudah membawanya Tetapi jika Pangeran akan membawanya terserah kepada Pangeran”

Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Namun dengan demikian ia sudah berhasil memberikan kesan, betapa ia ingin memulihkan kekuatannya yang masih sangat lemah serta kegelisahannya menghadapi satu masa yang tidak menentu

Tetapi sebenarnyalah bahwa Pangeran itu sudah menyiapkan diri, menghadapi segala peristiwa dengan hati yang mapan. Ia pun sudah yakin bahwa kemampuannya sebagian besar tentu sudah pulih kembali. Hatinya yang terguncang oleh peristiwa yang sangat menyakitkan perasaannya itulah yang justru membuatnya semakin cepat sembuh. Apalagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading memang memberinya juga obat sesuai dengan pengetahuannya, agar Pangeran itu tidak mati sebelum sempat diserahkan kepada Daruwerdi.

Namun ternyata bahwa Pangeran itu justru telah menjadi sembuh sama sekali. Bahkan tenaganya pun sudah dapat dikatakan pulih. Dengan bekal itulah, maka Pangeran Sena Wasesa telah bertekad untuk bertemu dengan orang yang memerlukannya untuk ditukar dengan pusaka yang dianggap oleh orang-orang Sanggar Gading memiliki kekuatan yang ajaib.

Karena Pangeran yang dianggap sedang sakit itu tidak bangkit dari pembaringannya, mata Sanggit Raina sudah memerintahkan seseorang untuk memberikan makan paginya. Dengan demikian, maka orang-orang Sanggar Gading itu pun akan segera berangkat menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati.

“Maaf Pangeran” berkata Sanggit Raina, “bagaimanapun keadaan Pangeran, kami harus berangkat pagi ini”

Pangeran itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia pun tidak melawan ketika Sanggit Raina memapahnya keluar biliknya.

Seekor kuda telah menunggunya. Dengan hati-hati Sanggit Raina dibantu oleh Cempaka telah membawa Pangeran itu mendekat kuda yang dipersiapkan baginya.

“Kau akan dibantu oleh seseorang Pangeran” berkata Sanggit Raina” mungkin Pangeran masih sangat lemah.

“Tidak” bentak Pangeran itu, “aku dapat berkuda sendiri meskipun kita akan pergi ke ujung bumi. Aku adalah seorang Pangeran dan seorang Senapati perang. Kau kira aku tidak dapat naik seekor kuda kerdil seperti ini”

“Bukan maksudku Pangeran. Tetapi justru karena keadaan tubuh Pangeran yang masih sangat lemah itulah” sahut Sanggit Raina.

“Aku tidak peduli Aku akan berkuda sendiri” geram Pangeran itu.

“Berkuda lah sendiri” Cempaka yang menjadi tidak sabar, “apakah kau akan mencoba melarikan diri?”

Pangeran itulah menggeretakan giginya memandang Cempaka. Katanya, “Kau anak muda yang tidak tahu adat”

Cempaka masih akan menjawab. Tetapi Sanggit Raina mencegahnya. Katanya kemudian, “Marilah, silahkan naik”

Bagaimanapun juga. Sanggit Raina dan Cempaka masih harus membantu Pangeran yang dianggap masih terlalu lemah itu. Bahkan dua kali Pangeran Sena Wasesa gagal melontarkan kakinya keatas punggung kuda itu, sehingga Sanggit Raina dan Cempaka terpaksa mendorongnya.

Pangeran Sena Wasesa itu berpaling ketika ia mendengar suara tertawa. Ternyata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang sudah duduk diatas punggung kudanya, memandanginya sambil tertawa. Katanya, “Hati-hatilah Pangeran”

Terdengar Pangeran yang dianggap sedang sakit itu meng-gemeretakkan giginya sambil menggeram, “Ingat Panembahan. Pada suatu saat, aku akan datang kembali menghancurkan Pada suatu saat, aku akan datang kembali menghancurkan padepokanmu ini”

Tetapi Panembahan itu tertawa semakin keras. Katanya, “Sudahlah. Jangan mengada-ada. Aku tidak tahu, nasib apakah yang akan Pangeran alami setelah Pangeran aku serahkan kepada anak gila di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Mungkin Pangeran akan mengalami nasib yang baik. Tetapi mungkin pula sebaliknya”

Pangeran itu memotong dengan keras, “Aku akan membunuh anak itu”

“Terserahlah” berkata Panembahan itu, “Tetapi Pangeran harus ingat keadaan Pangeran itu. Jika aku memberikan obat selama ini, maksudku sekedar mempertahankan hidup Pangeran, sehingga aku akan dapat menyerahkan Pangeran hidup-hidup seperti yang diminta oleh anak di Sepasang Bukit Mati itu”

Pangeran Sena Wasesa menggeram. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Disebelah menyebelahnya dan disekitar Panembahan itu terdapat beberapa orang yang akan dapat berbuat sesuatu jika ia menyerangnya.

Dalam pada itu, maka Panembahan Wukir Gading itu pun kemudian berkata, “Kita akan berangkat. Kita akan memilih jalan seperti yang sudah kita sepakati. Aku akan berada di belakang Pangeran yang akan didampingi oleh Sanggit Raina. agar aku dapat mengawasinya”

Pangeran itu menggeram, tetapi ia tidak menjawab. Semen tara itu Yang Mulia itu berkata selanjutnya, “Kita tidak akan menempuh perjalanan ini dalam satu kelompok yang besar. Tetapi kita akan beriringan dengan jarak yang cukup, meskipun dari setiap kelompok kecil akan dapat didengar isyarat jika diperlukan” ia berhenti sejenak, lalu, “ingat. Ada beberapa pihak yang menginginkan pusaka itu, sehingga ada beberapa pihak pula yang menginginkan Pangeran ini”

“Aku akan membunuh mereka” potong Pangeran itu lantang. Namun kemudian ia pun terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya.

“Sudahlah Pangeran. Betapapun tinggi ilmu yang Pangeran miliki, tetapi Pangeran tidak akan dapat melawan penyakit yang menyerang Pangeran dari diri Pangeran sendiri” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading sambil tertawa pula. Lalu katanya, “Marilah. Kita akan berangkat”

Demikianlah, orang-orang dari Sanggar Gading itu pun kemudian mulai meninggalkan padepokannya. Sekelompok kecil demi sekelompok kecil yang terdiri dari tiga atau ampat orang. Namun jarak diantara kelompok itu masih dapat dicapai oleh suara isyarat.

Di tengah-tengah kelompok-kelompok kecil itu, Yang Mulia mempersilahkan Pangeran Sena Wasesa. mengikuti tujuan yang sudah ditentukannya.

Seperti yang dikatakan oleh Panembahan Wukir Gading, maka Sanggar Raina berkuda disebelah Pangeran Sena Wasesa. sedang di belakangnya Panembahan Wukir Gading berkuda bersama Cempaka.

Maka dengan kekuatan penuh orang-orang Sanggar Gading itu membawa Pangeran Sena Wasesa ke daerah Sepasang Bukit Mati. Dengan sadar mereka memperhitungkan kekuatan pihak-pihak yang mungkin akan mengganggu perjalanan itu. Hanya beberapa orang yang kurang berarti sajalah yang tinggal di padepokan mereka untuk mengawasi dan menunggu isi padepokan itu.

Namun demikian satu dua orang yang tinggal itu tetap masih harus mengawasi padang perburuan yang menjadi tempat pendadaran yang bengis bagi orang-orang yang akan memasuki, sengaja atau tidak sengaja daerah yang dikuasai oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading.

Lepas dari padepokan, dan setelah mereka melintasi padang kematian yang berwarna gersang, maka iring-iringan itu langsung memasuki jalan yang sudah mereka rencanakan. Orang-orang Sanggar Gading yang memiliki naluri kekerasan yang kejam sejak mereka memasuki padepokan itu. sama sekali tidak gentar menghadapi siapapun juga dari kelompok yang manapun juga. Tetapi mereka berusaha untuk menghindari benturan kekuatan sebelum mereka sampai ke daerah Sepasang Bukit Mati, agar Pangeran yang mereka bawa itu tidak mengalami sesuatu yang Dan dapat dipakai alasan oleh Daruwerdi untuk merubah perjanjian yang telah disepakati.

Sementara orang-orang Sanggar Gading berangkat dari padepokannya menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati, maka anak-anak muda Lumban Kulon telah sibuk melanjutkan kerja mereka membuka pintu air dan menyesuaikan parit induk yang akan menampung air.

“Anak-anak Lumban Wetan yang gila itu tidak datang lagi hari ini” berkata salah seorang dari anak-anak muda Lumban Kulon.

“Mereka harus berhati-hati. Mungkin mereka menjadi ngeri mengingat kehadiran mereka kemarin. Agaknya mereka kemarin datang tanpa pertimbangan nalar sama sekali. Jika saat itu anak-anak muda Lumban Kulon kehilangan kesabaran, maka mereka akan menjadi pupuk disini. Untunglah kita masih dapat menahan diri, sehingga yang terjadi betapapun menyakitkan hati kami, masih dapat kami tahankan” sahut yang lain.

Dengan tanpa kehadiran anak-anak muda Lumban Wetan, maka rasa-rasanya anak-anak muda Lumban Kulon itu dapat bekerja lebih baik dan lebih cepat. Mereka tidak perlu setiap kali menengok ke sebelah sungai, memandangi anak-anak Lumban Wetan yang seolah-olah mengawasi kerja mereka dengan sorot mata yang memancarkan panasnya hati mereka.

Namun sebenarnyalah anak-anak Lamban Kulon tidak mengetahui, bahwa anak-anak Lumban Wetan telah menyiapkan rencana mereka sendiri. Merekapun telah kehilangan kesabaran. Apalagi setelah salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan itu berhasil menjajagi kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon.

“Meskipun yang telah berkelahi itu satu dari sepuluh anak muda terbaik di Lumban Wetan, namun sebenarnyalah anak-anak muda Lumban Wetan yang lain pun kemampuannya tidak terpaut banyak dari yang sepuluh itu. Apalagi mereka yang dengan sungguh-sungguh mempergunakan setiap waktu luangnya” berkata anak muda tertua dari kesepuluh anak muda itu

Sementara itu Jlitheng menjadi gelisah. Ia sudah tidak berhasil lagi menahan kemarahan anak-anak Lumban Wetan. Bahkan, Jlitheng merasa jika ia memaksakan kehendaknya terhadap anak-anak Lumban Wetan agar mereka menahan diri lebih lama lagi, maka mereka tentu akan mempunyai prasangka buruk terhadap Jlitheng.

Dalam kegelisahannya itu, diluar sadarnya, Jlitheng telah mendaki lereng bukit dan menemui Kiai Kanthi untuk menyampaikan persoalan yang sedang berkembang di Kabuyutan Lumban yang telah terbagi menjadi Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu.

“Aku tidak mengira, bahwa perkembangan dari pengendalian air itu menjadi demikian buruknya” berkata Kiai Kanthi.

“Anak-anak Lumban Wetan sudah tidak dapat ditahan lagi” berkata Jlitheng.

“Apaboleh buat” berkata Kiai Kanthi, “Jika persoalannya telah berkembang semakin buruk, maka orang-orang yang kini berada di Lumban Wetan harus berani bertindak. Tidak ragu-ragu lagi. Anak-anak Lumban Kulon berbuat demikian karena mereka memiliki satu kepercayaan, bahwa mereka memiliki kelebihan dari anak-anak Lumban Wetan. Jika orang-orang yang berada di Lumban Wetan itu membiarkan anak-anak muda kedua Kabuyutan itu menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri, mungkin akan jatuh korban yang tidak terduga sebelumnya. Anak-anak muda itu akan dibakar oleh kemarahan yang tidak terkendali. Dengan kemampuan olah kanuragan yang mereka miliki dan hampir seimbang itu, maka mereka akan saling menikam dan tanpa pertimbangan, mereka akan saling membunuh”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Semuanya itu tiba-tiba saja terbayang di rongga matanya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Jadi, apakah yang sebaiknya kami lakukan”

“Kalian dapat bertindak langsung kepada sumber kebanggaan anak-anak Lumban Kulon” berkata Kiai Kanthi.

“Daruwerdi?” bertanya Jlitheng.

“Ya. Kalian harus dapat memaksa Daruwerdi menghentikan permusuhan ini” jawab Kiai Kanthi.

Wajah Jlitheng justru menegang sejenak. Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Tetapi jika demikian, satu masalah yang besar akan tersangkut pula”

Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Terdengar ia berdesis lambat, “Semuanya saling berkaitan Tetapi nampaknya Daruwerdi dengan sengaja telah menumbuhkan persoalan antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan, agar jika timbul persoalan yang menyangkut dirinya dan kepentingan pribadinya, maka hal itu tidak akan terlalu banyak menarik perhatian”

“Kiai” berkata Jlitheng, “masalah yang akan terjadi menyangkut kepentingan Daruwerdi itu memang sudah hampir terjadi. Menurut keterangan yang aku terima, orang-orang yang akan menyerahkan seorang Pangeran sesuai dengan permintaan Daruwerdi itu akan dilakukan pada akhir pekan. Dan kita pun hampir sampai ke batas waktu itu. Hari terakhir dari pekan ini. Kemudian orang-orang Sanggar Gading akan datang membawa seorang Pangeran. Sementara dua orang yang tidak dikenal sudah berada di daerah ini pula”

“Berbuatlah lebih cepat” berkata Kiai Kanthi, “Jangan ragu-ragu lagi. Lakukanlah atas sumber kebanggaan anak-anak Lumban Kulon, sebelum hari terakhir itu tiba. Dengan demikian, kalian akan dapat mengikuti peristiwa di hari terakhir itu dengan lebih saksama”

“Kami akan mencoba Kiai. Tetapi apakah kami akan dapat melakukannya? Kita masih harus memperhitungkan segala kemungkinan. Yang terjadi diantara kami sendiri, dan yang terjadi di seputar Daruwerdi” jawab Jlitheng.

“Aku akan mengikuti perkembangan keadaan dengan saksama. Meskipun aku tidak akan dapat banyak berbuat, tetapi mungkin aku dapat membantumu dalam saat-saat yang kau perlukan” berkata Kiai Kanthi kemudian.

“Terima kasih Kiai” sahut Jlitheng, “Aku minta diri. Setiap saat aku akan datang”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia masih memberikan sedikit pesan tentang kemungkinan yang paling pahit jika Daruwerdi berkeras hati.

“Jangan kau patahkan kemungkinannya untuk menerima Pangeran itu. Jika terjadi sesuatu atasnya, sehingga ia tidak dapat menerima Pangeran itu, mungkin akan terjadi Perubahan perkembangan keadaan dari yang sudah kalian perhitungkan, sehingga keadaan yang tidak menentu itu akan dapat menyulitkan kalian sendiri”

“Terima kasih Kiai” jawab Jlitheng sambil melangkah meninggalkan gubug Kiai Kanthi.

Namun dalam pada itu, sepeninggal Jlitheng terdengar suara seorang gadis dari balik dinding bambu, “Ayah tidak adil”

“Kau mendengarkannya Swasti?” bertanya ayahnya.

“Ya. Dan ayah telah menyalahkan anak-anak muda Lumban Kulon dan bahkan memberikan petunjuk agar anak Lumban Wetan itu langsung menghadapi Daruwerdi. Apa ayah yakin bahwa Daruwerdi bersalah dan perlu mendapat perlakuan yang demikian?” bertanya Swasti.

“Aku mengikuti perkembangan keadaan di dua Kabuyutan yang semula hanya tunggal itu Swasti. Disamping anak Ki Buyut Lumban Kulon yang keras kepala, maka di Lumban Kulon telah timbul satu kebanggaan dari yang berlebih-lebihan karena mereka menganggap bahwa kemampuan yang mereka miliki melampaui kemampuan anak-anak muda Lumban Wetan. Merasa lebih itulah yang telah mendorong mereka untuk melakukan satu pekerjaan yang tidak terpuji. Mereka berusaha memaksakan kehendaknya atas Lumban Wetan. Padahal yang mereka lakukan itu menyangkut nasib bukan saja anak-anak muda Lumban Wetan sekarang, tetapi nasib anak cucu mereka”

“Tetapi Daruwerdi tidak bersalah. Ia hanya memenuhi permintaan anak-anak Lumban Kulon, dan bahkan dahulu anak-anak Lumban Wetan pun ikut pala berlatih bersama mereka” berkata Swasti.

“Tetapi perkembangan hubungan antara kedua Kabuyutan itu kemudian telah berusaha. Ketamakan mulai menjalari hati anak-anak Lumban Kulon yang dialasi dengan satu kebanggaan, bahwa mereka akan dapat memaksakan kehendak mereka atas anak-anak muda Lumban Wetan”

Swasti yang kemudian duduk di amben bambu bersama ayahnya itupun masih juga menjawab, “Ayah terlalu terpengaruh olah anak muda yang mengaku putera seorang bangsawan tinggi itu. Dengan demikian di dalam pandangan ayah, maka apa yang dikatakan oleh anak itu selalu benar, sementara ayah sejak semula telah dihinggapi perasaan tidak senang terhadap Daruwerdi. karena ayah menganggapnya seorang anak muda yang sombong”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia menjadi cemas bahwa anaknya telah dipengaruhi oleh kedewasaan seorang gadis menghadapi anak-anak muda. Tetapi anak-anak muda itu tidak terlalu dikenalnya. Yang dilihat oleh Swasti hanyalah ujud-ujud lahiriahnya saja. Ia tidak mengetahui tabiat dan watak anak-anak muda yang dikenalnya sepintas itu.

“Mungkin ia masih dipengaruhi oleh sifat-sifat Jlitheng yang terlalu banyak ingin tahu tentang keadaan keluarga kecil ini, dan bahkan Swasti pernah menjajagi kemampuan anak muda yang bernama Jlitheng itu” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya.

Tetapi Kiai Kanthi tidak mengungkapkan dugaannya itu dihadapan anak gadisnya. Jika terjadi salah paham, gadis yang nakal itu akan dapat berbuat sesuatu yang akan menambah kecemasannya.

“Mudah-mudahan dugaanku salah” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya.

Namun demikian, ia tidak dapat begitu saja mengabaikan sikap anak gadisnya. Bahkan untuk menenangkan hatinya ia berkata kepada diri sendiri, “Tentu tidak ada perasaan apa-apa antara anak gadisku dengan Daruwerdi. Jika timbul sepercik perasaan yang tumbuh dari kedewasaannya, maka ia justru akan menjadi malu dan merasa sangat berat untuk sekedar menyebut namanya saja”

Dalam pada itu, maka kedua ayah beranak itu untuk sejenak justru hanya saling berdiam diri saja. Nampaknya mereka sedang bermain bersama angan-angan masing-masing.

Sementara itu Jlitheng pun telah berada kembali di padukuhannya. Diluar pengamatan kawan-kawannya ia telah membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi itu dengan Rahu, Semi dan seorang kawannya.

“Aku sependapat” berkata Semi, “Kita akan datang kepadanya untuk memaksa agar ia tidak berbuat sesuatu jika anak-anak Lumban Wetan mengambil sikap terhadap anak-anak Lumban Kulon”

“Bagaimana jika ia berkeberatan?” bertanya kawan Semi.

“Kita akan mengancamnya untuk bertindak kasar seperti yang dilakukannya tanpa ampun. Ia tentu akan mempertimbangkan, justru saat akhir pekan sudah dekat. Daruwerdi tentu akan mementingkan masalah yang lebih besar itu daripada masalah anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan” jawab Semi.

“Jadi, apakah akan kita biarkan saja anak muda Lumban Kulon itu berkelahi melawan anak-anak muda Lumban Wetan?” desis Rahu, “bukankah dengan demikian akan terjadi pembunuhan dan pembantaian yang tidak terkendali antara dua kelompok anak muda yang sedang marah?”

“Kita akan ikut campur” sahut Jlitheng, “maksudku, tentu bukan aku. Tetapi Semi. Tanpa Daruwerdi, maka anak Lumban Kulon akan mudah dikendalikan”

“Jadi, apa yang baik menurut pertimbanganmu?” bertanya Rahu.

“Seorang melawan Seorang, seperti yang ditawarkan oleh Nugata desis Jlitheng.

“Bagus. Anak muda Lumban Wetan mempunyai seorang yang meyakinkan untuk mewakili mereka” sahut Rahu

“Maksudmu Jlitheng?” bertanya Semi.

“Jangan aku” Jlitheng lah yang menyahut, “Tetapi Semi akan menunjuk seorang yang paling baik dari sepuluh orang terbaik dari anak-anak Lumban Wetan”

Semi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku belum mengetahui kemampuan yang sebenarnya dari anak Ki Buyut Lumban Kulon itu”

Tidak akan terpaut banyak dari anak muda bertubuh raksasa itu” berkata Jlitheng, “karena itu, jika belum kau menganggap bahwa anak muda yang berkelahi di bendungan itu bukan yang terbaik dari sepuluh orang kawan-kawannya, maka kau akan dapat menunjuk seorang yang paling baik dari mereka.”

Akhirnya mereka bersepakat. Dan mereka pun telah menentukan satu sikap, bahwa mereka harus memaksa Daruwerdi untuk tidak mendorong anak-anak Lumban Kulon untuk membusungkan dada mereka dan berusaha memaksakan kehendak mereka atas anak-anak Lumban Wetan.

Dengan demikian, maka anak-anak muda Lumban Wetan pun segera ditemui oleh Semi, terutama sepuluh orang terbaik. Dengan seksama Semi memilih seorang diantara mereka, untuk pada satu saat berhadapan dengan Nugata, anak laki-laki Ki Buyut di Lumban Kulon.

“Apa yang harus kita lakukan?” bertanya anak-anak muda Lumban Wetan.

“Biarkan anak-anak muda Lumban Kulon hari ini meneruskan kerja mereka” berkata Semi.

“Dan kita membiarkan masa depan dari Kabuyutan kita tenggelam?” sahut salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan itu, “Bukankah dengan demikian anak cucu kita kelak akan mengutuk kita, bahwa kita dalam satu tataran keturunan darah Lumban Wetan, sama sekali tidak berbuat sesuatu melihat orang lain, yang meskipun semula mereka adalah cabang dari keturunan yang sama, telah memperkosa hak kita. Bahkan secara adil harus diingat, bahwa Jlitheng dan orang tua di lereng bukit itulah yang telah mengendalikan air, sehingga kita akan dapat memanfaatkannya disini. Dan Jlitheng adalah anak muda dari Lumban Wetan”

Sementara itu yang lain menyahut, “Dan setiap orang yang dengan jujur melihat, siapakah yang telah bekerja untuk mengendalikan air itu. Memecah batu-batu karang, menimbuni lereng-lereng yang terjal dan mengarahkan arus air itu. Tenaga kitalah yang melakukannya. Anak-anak Lumban Wetan. Meskipun ada juga satu dan sebanyak-banyaknya dua orang dari Lumban Kulon, tetapi perbandingan itu sama sekali tidak berarti apa-apa”

Semi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah. Kita tidak akan tinggal diam. Kita memang akan berbuat sesuatu”

“Apa yang akan kita lakukan? Dan kapan?” bertanya beberapa orang hampir bersamaan.

Semi memandang Jlitheng sejenak. Tetapi ia sadar, bahwa dihadapan kawan-kawannya Jlitheng tidak akan menentukan apapun juga Karena itu, maka Semi pun berkata, “Bersiap-siaplah. Kita akan melakukannya dalam waktu yang singkat”

“Berapa panjangnya waktu yang singkat itu” geram salah seorang anak muda Lumban Wetan itu.

Semi menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya, “Kali ini aku memakai takaran waktu seperti kalian. Kita benar-benar akan berbuat sesuatu dalam waktu singkat”

Anak-anak muda Lumban Wetan itu masih tetap memancarkan keragu-raguan pada sorot mata mereka. Namun Semi pun berkata, ”Bersiaplah. Setiap saat, kita akan berbuat sesuatu”

“Tetapi sekarang anak-anak Lumban Kulon berada di bendungan. Mereka membuka pintu air semakin lebar dan mereka menyesuaikan parit induk mereka” seorang anak. muda hampir berteriak.

“Kita akan berbuat seperti yang mereka lakukan. Malam nanti” jawab Semi.

“Malam nanti?” hampir berbareng anak-anak muda Lumban Wetan itu bertanya.

“Ya. Malam nanti. Karena itu bersiaplah” jawab Semi

Sesuatu bergejolak di hati anak-anak muda Lumban Wetan. Rasa-rasanya mereka tidak sabar menunggu malam nanti. Karena itu, salah seorang dari mereka berkata, “Kenapa tidak sekarang?”

Semi mengerutkan keningnya Pertanyaan itu sudah diduganya. Karena itu maka ia pun menjawab, “Masih ada yang perlu diperhitungkan. Jika aku menentukan malam nanti, berarti aku sudah memperhitungkan waktu yang sekejap sekalipun”

Anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi terasa darah mereka mulai bergetar.

“Sekarang pulanglah dan beristirahatlah sebaik-baiknya. Mudah-mudahan kalian tidak usah berbuat terlalu banyak malam nanti” berkata Semi.

Anak-anak muda itu pun segera meninggalkan Semi dan kawan-kawannya. Namun mereka tidak segera pulang dan beristirahat di rumah masing-masing. Tetapi mereka telah bergerombol di sudut-sudut desa, di simpang tiga dan di gardhu-gardhu dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka masih memperbincangkan, apa kira-kira yang akan terjadi dengan mereka dan anak-anak Lumban Kulon”

“Kami tidak perlu gentar” desis salah seorang dari mereka, “meskipun anak-anak Lumban Kulon berlatih lebih lama, tetapi mereka tidak mempergunakan seluruh hari didalam sepekan”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan berlatih sekarang”

Tetapi seorang anak muda yang lebih tua berkata, “Tidak banyak gunanya. Bahkan kau akan kehabisan tenaga jika malam nanti terpaksa terjadi sesuatu yang haru kita hadapi dengan tenaga dan kemampuan”

Demikianlah, anak-anak Lumban Wetan dengan gelisah menunggu langit menjadi merah dan kemudian menjadi kelam. Tetapi rasa-rasanya waktu berjalan terlalu lamban, sementara anak-anak Lumban Kulon telah berhasil membuka pintu air dan menyesuaikan parit induk semakin lebar.

Sehari itu, anak-anak muda Lumban Kulon dapat bekerja tanpa diganggu oleh tatapan mata kemarahan anak-anak Lumban Wetan. Karena itu, maka mereka pun sempat bergurau sambil menikmati kemenangan mereka, bahwa pintu air yang melimpahkan air ke tanah persawahan di Lumban Kulon akan menjadi jauh lebih lebar dari pintu air yang menghadap ke Lumban Wetan.

“Mereka sudah jera” berkata salah seorang dari anak-anak muda Lumban Kulon.

“Mereka mulai menyadari, bahwa kami bersungguh-sungguh” desis yang lain.

Kawan-kawannya tertawa mendengar percakapan itu. Merekapun berbangga bahwa pada tataran mereka, Lumban Kulon telah berhasil berbuat sesuatu yang akan sangat berarti bagi padukuhan mereka. Air.

Ketika senja turun, maka anak-anak muda itupun mulai berkemas. Beberapa orang telah mengumpulkan alat-alat yang mereka pergunakan untuk membawa bekal dan makan mereka selama bekerja. Sementara yang lain telah membersihkan diri di bendungan sambil mencuci alat-alat yang mereka pergunakan.

Dengan hati yang puas, mereka meninggalkan bendungan itu. Nugata yang ada diantara mereka berkata, “Kita tidak akan menemui hambatan apapun lagi. Besok kita akan melanjutkan kerja kita dengan kegembiraan, sehingga dengan demikian maka kerja kita tidak akan terasa berat. Kerja kita yang besar ini akan dapat kita selesaikan dengan baik. Karena yang kita kerjakan ini sebenarnya jauh lebih besar dari apa yang pernah dilakukan orang dengan mengarahkan arus air di bukit itu, karena kerja itu dapat dilakukan oleh anak-anak yang baru pandai merangkak sekalipun”

Anak-anak Lumban Kulon menyambutnya dengan teriakan panjang. Mereka bersorak atas keberhasilan mereka.

Namun satu dua orang anak muda diantara mereka bertanya di dalam hati, “Apakah benar yang dikatakan oleh Nugata itu?”

Dan diantara mereka justru anak muda yang pernah ikut membantu Jlitheng bekerja di lereng bukit kecil itu, berusaha dengan tekun dan hati-hati, untuk menguasai air yang sebelumnya tertumpah tanpa arti ke dalam luweng-luweng yang sangat dalam, kemudian mengalir dengan derasnya di bawah tanah berpadas.

Tetapi dalam gejolak yang demikian, jarang seseorang berani menentang, arus yang deras di seputarnya. Anak muda yang semula ikut membantu Jlitheng dan mengetahui persoalan yang sebenarnya itu pun tidak berbuat demikian. Ia menghanyutkan diri ke dalam arus yang kencang, betapapun ia dibayangi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu telah terdorong untuk berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran kata nuraninya sendiri. Namun dengan sadar ia menempatkan diri ke dalam satu kedudukan yang dapat memberikan keselamatan kepadanya, meskipun ia harus memungkiri perasaannya sendiri.

Sementara anak-anak Lumban Kulon pulang ke Kabuyutan mereka dengan membawa kemenangan, maka anak-anak Lumban Wetan mulai bersiap-siap untuk mengambil satu sikap.

Semi yang berada diantara anak-anak muda Lumban Wetan itupun memberikan beberapa petunjuk apa yang harus mereka lakukan. Betapapun perasaan mereka berbicara, namun mereka harus tetap dapat menahan diri.

“Anak-anak muda Lumban Kulon bukan musuh bagi kalian” berkata Semi.

“Tetapi mereka telah melanggar hak kami” hampir berbareng beberapa orang anak muda Lumban Wetan menyahut.

“Seperti kebiasaan dalam satu keluarga, kadang-kadang kakak beradik sering bertengkar” Jawab Semi, “Tetapi perselisihan diantara saudara sedarah, tidak akan menuntut korban yang berlebihan”

“Tetapi mereka tidak bersikap sebagai seorang saudara. Apalagi saudara kandung. Mereka bersikap seperti musuh bebuyutan yang serakah dan tamak” geram salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan.

“Mungkin” jawab Semi, “Tetapi itu satu kekhilafan, pada suatu saat akan mereka sadari. Bahwa nilai persaudaraan diantara sesama akan jauh lebih tinggi dari nilai apapun yang berujud lahiriah. Juga lebih tinggi dari arus air yang sudah dapat diarahkan itu”

“Itu adalah pikiran orang-orang sehat” jawab yang lain, “Tetapi anak-anak Lumban Kulon berpikir lain”

“Tetapi anak-anak Lumban Wetan tetap mempunyai nalar yang sehat” potong Semi dengan serta merta.

Anak-anak Lumban Wetan itupun terdiam. Bagaimanapun juga mereka masih ingin disebut bernalar sehat. Karena itu. maka mereka tidak membantah lagi.

“Biarlah orang lain kehilangan akal sehatnya” berkata Semi selanjutnya, “Tetapi tidak pada kita. Dan kita akan tetap berpegang pada martabat kemanusiaan kita”

Tetapi seorang anak muda yang tidak sabar lagi berkata, “Baiklah. Tetapi apa yang akan kita kerjakan sekarang?”

Semi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kita pergi ke bendungan. Kita berbuat seperti yang dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon. Kita akan membuka pintu air itu selebar pintu air yang menghadap ke tanah persawahan di Lumban Kulon”

Dengan serta merta anak-anak muda Lumban Wetan itu bersorak. Rasa-rasanya mereka telah tersentuh oleh satu isyarat untuk berbuat sesuatu sebagai seorang laki-laki di Kabuyutannya yang tercinta.

Demikianlah, maka anak-anak muda Lumban Wetan itu bersiap. Sebagian dari mereka justru menjadi kurang senang mendengar pesan Semi yang bagi mereka terasa terlalu banyak. Namun mereka pun menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu tanpa Semi, justru karena di Lumban Kulon ada Daruwerdi.

Ketika semuanya telah siap, alat-alat dan bekal, maka mereka pun segera berangkat. Seperti yang diminta oleh Semi, maka anak-anak muda Lumban Wetan itu sebagian telah membawa obor untuk menerangi bendungan dan tebing sungai.

Ternyata bahwa Semi pun telah berpesan seperti yang dipesan oleh Daruwerdi. Anak-anak muda Lumban Wetan tidak dibenarkan membawa senjata.

Meskipun beberapa orang diantara anak-anak muda itu menjadi kecewa, namun mereka tidak dapat pula menolak pesan itu.

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan telah meninggalkan padukuhan di ujung Kabuyutan Lumban Wetan. Di malam hari, iring-iringan anak muda yang sebagian diantara mereka membawa obor itu. nampaknya seperti sederet kemamang yang berterbangan mencari mangsa.

Tetapi iring-iringan itu tidak banyak menarik perhatian. Sebagian besar dari orang-i ing Lumban Wetan maupun Lumban Kulon sudah berada di dalam rumahnya. Bahkan sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak.

Demikian anak-anak muda Lumban Wetan itu sampai ke bendungan, maka mereka pun segera menancapkan tangkai obor mereka yang panjang. Dengan kemauan yang bergejolak di dalam jantung, maka mereka pun segera melakukan seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda Lumban Kulon. Bahkan anak-anak Lumban Wetan itu telah menutup pintu air yang melimpahkan air ke tanah persawahan di Lumban Kulon seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda Lumban Kulon selama mereka mengerjakan pintu air dan saluran induk.

Dalam pada itu. selagi anak muda Lumban Wetan sibuk dengan pintu air. Daruwerdi keluar dari sebuah padukuhan yang terpisah dari padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon, meskipun tidak begitu jauh.

Namun tiba-tiba saja Daruwerdi telah menghentakkan tali kekang kudanya, sehingga kudanya itupun berpacu lebih cepat, kembali ke padukuhan Lumban.

Ketika Daruwerdi memasuki Kabuyutan Lumban Kulon ia terkejut. Rasa-rasanya Kabuyutan itu terlampau sepi. Gardu-gardu yang dalam saat-saat terakhir banyak berisi anak-anak muda, nampaknya kosong saja.

“Kemana anak-anak ini, “ gumamnya,

Bahkan semakin dalam ia memasuki Kabuyutan Lumban Kulon, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Anak-anak muda Lumban Kulon seakan-akan habis dihisap bumi.

“Apakah mereka sudah menjadi malas dan tidak seorang pun yang keluar dari rumah mereka” gumam Daruwerdi.

Namun dalam pada itu, ia terkejut ketika ia melihat dua orang berdiri di simpang tiga, disamping sebuah gardu yang kosong. Apalagi ketika Daruwerdi menyadari, bahwa yang berdiri di simpang tiga itu adalah pemburu yang berada di Lumban Wetan dan Rahu, kawan Cempaka dari Sanggar Gading.

Dengan jantung yang berdebar-debar Daruwerdi pun turun dari kudanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa kalian berada disini?”

“Aku memang sedang menunggumu Daruwerdi” berkata Semi.

“Apakah kalian sudah saling mengenal?” bertanya Daruwerdi kemudian.

“Kami saling berkenalan kami bersama-sama berada di banjar. Maksudku Banjar Kabuyutan Lumban Wetan di padukuhan induk. Dan kami pun sepakat, bahwa kami akan menemuimu untuk memberi peringatan kepadamu”

“Peringatan apa?” bertanya Daruwerdi.

“Kami mempunyai kepentingan yang sama“ Rahu lah yang menjawab, “Pemburu ini tidak mau terjadi kekacauan antara anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon, sehingga dapat menimbulkan keadaan yang memburuk. Jika terjadi benturan kekerasan diantara mereka, maka akibatnya akan sangat parah bagi kedua Kabuyutan ini. Sementara aku pun tidak mau terjadi keributan disini. Justru pada saat-saat akhir pekan”

“Aku tidak tahu, apa urusannya dengan akhir pekan” sambung Semi, “Tetapi benturan kekerasan dalam jumlah yang banyak, akan dapat menimbulkan akibat yang sangat memelas bagi kedua Kabuyutan yang semula bersumber dari aliran darah yang sama”

Daruwerdi menjadi tegang. Dengan nada datar ia bertanya, “Lalu apa yang kau kehendaki dari aku?”

“Kau dapat mencegah hal itu terjadi. Secepatnya. Jika kau terlambat, maka tidak akan ada gunanya lagi” berkata Semi.

“Apa yang harus aku lakukan?” bertanya Daruwerdi pula.

“Ke bendungan. Cegah anak-anak Lumban Kulon memulai dengan kekerasan” jawab Semi.

“Ke bendungan? Jadi anak-anak muda Lumban Kulon sekarang berada di bendungan?”

Semi memandang Rahu sekilas. Kemudian jawabnya, “Ya. Belum terlalu lama”

“Apa yang telah terjadi di bendungan?” bertanya Daruwerdi seterusnya.

“Kita harus segera berangkat. Jangan terlambat” desis Rahu.

“Bagaimana jika aku tidak bersedia. Biarlah anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan menyelesaikan masalah mereka sendiri” berkata Daruwerdi.

“Aku akan menunda perjanjian yang telah buat” berkata Rahu tiba-tiba, “Aku melaporkan, bahwa keadaan di Kabuyutan di daerah Sepasang Bukit Mati ini tidak memungkinkan”

“Apa yang akan kalian tunda?” bertanya Semi.

“Bukan urusanmu” jawab Rahu, “Kita batasi kepentingan bersama kita. Namun yang menyangkut anak-anak muda yang saling bertengkar itu”

“Gila” geram Daruwerdi, “Apa yang kalian harapkan dari padaku. Bagaimana jika anak-anak muda itu tidak menghiraukan nasehatku”

“Kita akan mencobanya. Aku ingin melihat kau melakukannya dengan bersungguh-sungguh, atau malam ini aku harus melaporkan apa yang terjadi disini” sahut Rahu.

“Jangan mencoba menakut-nakuti aku. Aku tidak peduli, apapun yang akan kau lakukan” jawab Daruwerdi

“Betapapun keras hatimu” Semilah yang berkata kemudian, “Apakah kau akan membiarkan anak-anak muda itu saling membantai? Jika demikian, maka aku pun akan melakukannya. Aku sudah pernah menjajagi kemampuanmu. Dan aku mempunyai seorang kawan yang memiliki ilmu yang seimbang, dengan ilmuku. Apa boleh buat. Kami berdua, tanpa berbicara tentang harga diri, akan dapat membantaimu”

“Aku memerlukan orang ini” potong Rahu

“Aku tidak peduli” sahut Semi.

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Ia harus memper-timbangkan semuanya. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak dapat mengalahkan pemburu itu. Jika ia benar-benar akan datang bersama kawannya, maka ia tentu tidak akan dapat melawannya. Sementara itu, ia sudah hampir sampai pada babak terakhir dari sebuah permainan yang paling gawat yang pernah dilakukannya, dengan menerima penyerahan seorang Pangeran yang akan ditukarnya dengan sebilah pusaka.

“Daruwerdi” berkata Semi, “Kita harus membatasi kemungkinan yang parah yang dapat terjadi antara anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon”

“Apakah kau sudah menemukan satu cara?” bertanya Daruwerdi.

“Jika anak-anak Lumban Kulon ingin memaksakan perkelahian, maka perkelahian itu dapat diwakili. Satu lawan satu. Dan kau pun akan dapat memaksa mereka untuk menerima keadaan itu” berkata Semi.

“Jika mereka memaksa untuk turun seluruhnya kearah perkelahian itu?” bertanya Daruwerdi.

“Terserah, bagaimana caramu untuk mencegahnya. Kau tahu, kami dapat berbuat sesuatu atasmu, ada atau tidak ada hubungannya dengan persoalanmu dan orang ini, yang kalian sebut-sebut dengan persoalan yang akan terjadi di akhir pekan”

Daruwerdi menahan nafasnya sebagaimana ia menahan kemarahan yang terasa mulai menjalari urat darahnya. Tetapi ia masih harus tetap menyadari dirinya. Di akhir pekan, yang akan dapat berarti esok pagi, ia akan menerima apa yang dimintanya. Selambat-lambatnya esok malam. Jika ia terlibat ke dalam yang tidak ada sangkut pautnya dengan usaha besarnya itu, justru hanya karena tingkah laku anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan, maka apa yang dilakukannya itu justru akan sia-sia.

Tetapi sikap pemburu itu benar-benar menyakitkan hatinya. Seolah-olah ia dapat mengancamnya dan memaksakan kehendaknya.

Namun ia harus tetap menahan diri. Yang dikatakan di dalam hatinya dalam gejolak kemarahannya itu adalah, “Jika aku sudah selesai dengan persoalan besarku, aku ingin membuat perhitungan yang tuntas dengan pemburu gila ini”

“Jangan dengan sengaja memperpanjang waktu” geram Semi kemudian, “Jika kita terlambat, dan anak-anak itu sudah berkelahi di bendungan, maka semuanya akan hancur. Lumban Wetan, Lumban Kulon, Bendungan di sungai itu, dan barangkali juga kau dan aku”

Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah gemeretak giginya.

“Pergilah lebih dahulu dengan kudamu” berkata Semi, “kehadiranmu tentu lebih menentukan dari kehadiranku, karena anak-anak Lumban Kulon lah yang selalu memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan. Aku akan segera menyusul”

Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian meloncat ke punggung kudanya. Namun ketika kudanya mulai melangkah ia berkala, “Jangan kau sangka bahwa aku akan selalu memenuhi permintaanmu. Jika aku tidak mengingat anak-anak Lumban yang saling bertentangan ini, maka aku justru ingin menyobek mulutmu”

Semi lah yang kemudian tidak menjawab. Ia sadar, kemarahan yang hampir meledak telah membakar jantung Daruwerdi. Namun karena keadaannya dalam hubungannya dengan orang-orang Sanggar Gading, maka ia terpaksa memenuhi permintaan Semi.

Sejenak kemudian terdengar kaki kuda Daruwerdi itu berderap kembali di jalan padukuhan. Semakin lama semakin cepat menuju ke bendungan. Sementara Itu Rahu dan Semi pun telah menuju ke bendungan pula, melalui pematang dan jalan-jalan memintas.

Sebenarnyalah, bahwa obor anak-anak Lumban Wetan telah terlihat oleh satu dua orang anak-anak muda Lumban Kulon, itu, maka mereka pun segera berkumpul dan menyiapkan kawan-kawannya untuk pergi ke bendungan. Semula mereka memang mencari Daruwerdi untuk diminta pertimbangannya. Tetapi ternyata Daruwerdi tidak ada di pondokannya. Setelah beberapa saat mereka mencari dan tidak menemukannya, maka Nugata lah yang mengambil keputusan untuk datang ke bendungan

Kemarahan anak-anak Lumban Kulon itupun segera memuncak ketika mereka melihat anak-anak Lumban Wetan telah membuka pintu air mereka pula seperti yang dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon.

Karena itu, maka dengan suara lantang Nugata itu pun segera berteriak, “He, anak-anak Lumban Wetan. Apakah kalian sudah menjadi gila, sehingga kalian tidak tahu lagi apa yang kalian lakukan?”

Tetapi Nugata terkejut ketika yang menjawab adalah justru salah seorang dari kedua pemburu yang ada di Lumban Wetan, “Nugata. aku sudah mencoba untuk mencegahnya. Tetapi kesabaran anak-anak muda Lumban Wetan sudah sampai ke batasnya. Yang kalian lakukan sudah terlalu jauh menusuk perasaan saudara-saudaramu dari Lumban Wetan, sehingga akhirnya mereka tidak dapat menahan diri lagi”

“Jangan memutar balikkan keadaan” bantah Nugata, “Tentu bukan karena kemauan anak-anak Lumban Wetan. Mereka menyadari kelemahannya. Jika mereka melakukannya, tentu karena desakanmu atau kawanmu, pemburu yang seorang lagi itu. Meskipun ia tidak nampak hadir disini, tetapi ia tentu terlibat dalam persoalan ini”

“Kau salah mengerti” jawab kawan Semi itu, “bertanyalah kepada anak-anak Lumban Wetan. Mereka ada disini semuanya”

“Ya” tiba-tiba saja salah seorang anak muda Lumban Wetan menyahut, “Kami memang tidak dapat ditahan lagi oleh siapapun juga. Kesabaran kami sudah sampai ke puncak ubun-ubun”

“Persetan” Nugata pun berteriak, “Apakah kalian menyadari, apa yang dapat terjadi atas kalian dengan tingkah laku kalian itu?”

“Kami sadar, seperti kalian pun menyadari apa yang kalian lakukan jawab anak muda Lumban Wetan itu.

“Sudahlah” berkata pemburu kawan Semi itu, “Jangan terlalu dirisaukan. Kau sudah melakukannya. Sekarang giliran anak-anak muda Lumban Wetan melakukannya. Bukankah itu sudah wajar?”

“Itu satu pelanggaran” jawab Nugata hampir berteriak, “kalian tidak berhak berbuat apa-apa atas bendungan ini. Bendungan ini berada di Lumban Kulon, seperti sumber air di bukit itu. Kamilah yang berhak menentukan. Bukan kalian, orang-orang Lumban Wetan. Jika kami sudah berbelas kasihan untuk memberikan air sekadarnya, itu harus kalian terima dengan ucapan terima kasih”

“Jangan begitu” jawab pemburu itu, “anggap sajalah bahwa Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih tetap satu. Biarlah Lumban Wetan menjadi hijau seperti Lumban Kulon. Biarlah anak-anak Lumban Wetan termasuk anak-anak Lumban Kulon kelak berusaha agar air itu menjadi semakin besar dan melimpah ke sawah-sawah yang semakin luas. Aku kira Jlitheng akan dapat melakukannya”

“Aku tidak peduli. Kau sangka hanya Jlitheng saja yang dapat melakukannya?” Nugata menjadi semakin marah.

“Tetapi bukankah kita semuanya tidak akan dapat mengingkari kenyataan yang sama-sama kita ketahui? Siapakah yang telah berbuat atas air di bukit itu? Siapa pula yang telah bekerja keras untuk menyelesaikan bendungan ini?”

“Apa pedulimu” bentak Nugata semakin keras, “sekarang, biarlah kami menyelesaikan persoalan kami dengan anak-anak Lumban Wetan. Aku akan menuntut agar mereka mengembali-kan pintu air seperti semula, sebelum mereka merusaknya”

Namun yang terdengar adalah jawaban dari seorang anak muda Lumban Wetan, “Kami akan memulihkannya, sebagaimana kalian lakukan”

Darah Nugata bagaikan memercik lewat sorot matanya. Selangkah ia maju. Hampir saja ia berteriak kepada kawan-kawannya agar mereka menyerang anak-anak Lumban Wetan. Namun kawan Semi yang mengetahui perasaan Nugata itu mendahului, “Jangan kehilangan akal Nugata. Jangan dengan tergesa-gesa memerintahkan kawan-kawanmu untuk menyerang. Perkelahian memang dapat terjadi. seluruh anak-anak Lumban Kulon melawan seluruh anak-anak Lumban Wetan. Tetapi apa kau sangka perkelahian itu akan dapat menjadi penyelesaian yang baik? Semua anak-anak muda Lumban akan cedera sampai orang yang terakhir. Mungkin justru akan ada korban yang jatuh. Atau lebih tegasnya lagi, akan ada diantara kalian yang terbunuh. Mati. Sedangkan kalian masih terlalu muda untuk mati”

Wajah Nugata semakin menegang. Sementara pemburu itu berkata lebih lanjut, “Sementara dendam itu masih akan tetap menyala di hati kalian. Jika diantara kalian yang cidera itu kemudian sembuh, maka pertentangan dan perkelahian akan dapat timbul lagi setiap saat. Sementara pekerjaan yang kalian lakukan atas bendungan ini akan terbengkelai”

Sejenak Nugata memperhatikan kata-kata itu dan mencoba untuk mencernakannya. Namun kemudian tiba-tiba saja ia berteriak pula, “Jangan coba untuk menahan kami, anak-anak muda Lumban Kulon. Kami akan mempertahankan hak kami atas sungai, bendungan, bukit dan air. Apapun yang akan terjadi, kami akan melakukannya”

“Tunggu” desis pemburu itu. Ia berhenti sejenak. Kemudian sambil maju setapak mendekati Nugata ia berkata perlahan-lahan, “Jangan memaksa aku untuk bertindak lebih jauh Nugata. Aku akan dengan senang hati melibatkan diri”

“Aku tidak peduli” ternyata Nugata tidak menahan suaranya yang lantang, “Aku akan memberitahukannya kepada Daruwerdi. Jika ada orang lain yang ikut campur, maka Daruwerdi pun tentu akan ikut campur pula”

Tetapi pemburu itu tertawa. Katanya, “Apa artinya Daruwerdi seorang diri. Ia tidak akan menang atas kawanku. Sementara aku akan dapat berbuat apa saja atas kalian. Aku akan berada diantara anak-anak muda Lumban Wetan. Satu-satu aku akan dapat membuat anak-anak Lumban Kulon pingsan”

Hati Nugata tergetar pula. Tetapi ketika ia berpaling, dan dilihat jumlah kawan-kawannya yang cukup banyak, maka hatinya telah melonjak lagi. Sekilas dilayangkan pandangannya kearah anak-anak muda Lumban Wetan yang berhenti bekerja, meskipun mereka masih tetap berdiri di tempat masing-masing. Sebagian besar di seberang. Beberapa orang diatas bendungan dan ada satu dua berada di ujung bendungan hampir disebelah Barat sungai termasuk pemburu kawan Semi itu.

“Sudahlah Nugata” berkata pemburu itu, “biarlah anak-anak Lumban Kulon tidak mengganggu apa yang dilakukan oleh anak-anak Lumban Wetan, seperti juga sebaliknya. Bukankah anak-anak muda Lumban Wetan sama sekali tidak mengganggumu hari ini. Jika kemarin ada beberapa orang anak yang menunggui kerja kalian dan itu kalian anggap mengganggu, maka hari ini mereka tidak lagi berbuat demikian”

Terdengar gigi Nugata gemeretak menahan kemarahan yang menghentak dadanya. Namun ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Ia pun mengerti, bahwa Daruwerdi tidak dapat mengalahkan pemburu yang seorang lagi.

Tetapi sudah barang tentu bahwa Nugata tidak akan dapat menerima penghinaan itu. Sekali lagi ia mencoba menimbang-nimbang. Namun iapun kemudian menggeram, “Jika kami terpaksa mempergunakan kekerasan, maka yang bertanggung jawab adalah anak-anak muda Lumban Wetan. Jika mereka tidak melakukan perbuatan yang bodoh itu, maka tidak akan terjadi sesuatu yang dapat menimbulkan penyesalan diantara kita. Sementara kau, pendatang yang telah menghasut anak-anak muda Lumban Wetan jangan kau anggap bahwa kami tidak dapat berbuat apa-apa atasmu. Meskipun kau memiliki ilmu yang tinggi, namun kau tidak akan mampu melawan lima anak muda Lumban Kulon yang terbaik. Jangan menyesal bahwa kalian anak muda itu tidak dapat mengekang dirinya dan memperlakukan kau tidak seperti yang kau inginkan”

Pemburu itu termangu-mangu. Nampaknya Nugata benar-benar telah tidak dapat menahan diri lagi. Pemburu itu sama sekali tidak menjadi cemas bahwa ia harus berkelahi melawan lima atau sepuluh orang sekaligus. Tetapi ia pun masih berharap bahwa kekerasan dapat dihindarkan.

Karena itu, setiap kali ia masih berusaha memperpanjang waktu sambil menunggu Semi dan Rahu yang sedang mencari Daruwerdi untuk membantu meredakan keadaan.

“Cepat ambil sikap” bentak Nugata, “sebelum aku meneriakkan aba-aba”

“Kenapa kau tidak berteriak sekarang” tiba-tiba seorang anak muda Lumban Wetan menyahut. Nampaknya anak-anak muda Lumban Wetan pun sudah tidak dapat menahan hatinya lagi.

“Tunggu” pemburu itulah yang mencegah. Ia benar-benar menjadi cemas bahwa ia tidak akan dapat menahan kedua belah pihak sambil menunggu Daruwerdi seperti yang dipesankan oleh Semi dan Rahu. Sementara Jlitheng yang berada diantara anak-anak muda Lumban Wetan pun tidak dapat berbuat apa-apa.

“Kenapa harus menunggu?” bertanya anak muda justru dari Lumban Wetan.

Dalam pada itu, tiba-tiba mereka yang berada di bendungan itu telah dikejutkan oleh derap seekor kuda. Karena itu, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Namun kemudian, anak-anak Lumban Kulon tiba-tiba saja telah bersorak ketika mereka melihat Daruwerdi lah yang datang dengan tergesa-gesa.

Dengan jantung yang berdebar-debar Daruwerdi melihat anak-anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon sudah siap untuk berkelahi. Anak-anak muda Lumban Wetan telah bergeser mendekati bendungan. Mereka sudah siap berloncatan melintasi sungai, lewat bendungan atau melalui jalan setapak menuruni tebing yang tidak begitu tinggi di bawah bendungan.

Yang semakin mendebarkan jantung Daruwerdi adalah bahwa anak-anak Lumban Kulon ternyata telah membawa senjata, sementara anak-anak Lumban Wetan pun telah siap menghadapi. Meskipun agaknya mereka tidak bersenjata khusus untuk berkelahi, namun mereka telah menggenggam alat-alat mereka yang mirip dengan senjata. Parang, linggis, tangkai obor yang panjang dan masih menyala, serta beberapa macam peralatan yang lain.

Jika perkelahian itu terjadi, maka tentu seperti yang dikatakan oleh Semi dan Rahu, bahwa korban akan berjatuhan tanpa arti sama sekali.

“Kami telah siap” berkata Nugata lantang sambil mendekati Daruwerdi, “berilah kami perintah. Kami akan menghancurkan bendungan itu sama sekali dan anak-anak Lumban Wetan apabila mereka ingin mencegah kami”

“Kami sudah siap” yang lain pun telah berteriak pula.

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Ia melihat pemburu kawan Semi itu telah menunggunya.

“Aku berusaha untuk mencegahnya” berkata pemburu itu kepada Daruwerdi.

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak Lumban Kulon itu ternyata telah menumpukan harapannya kepadanya. Namun, ia tidak akan dapat membiarkan perkelahian itu terjadi. Pembantaian diantara anak-anak muda yang sedang dibakar oleh kemarahan, sementara mereka adalah anak muda dari keturunan darah yang satu pada mulanya.

“Agak berbeda dengan pertempuran antara Sanggar Gading dan orang Pusparuri” berkata Daruwerdi di dalam hatinya, “Jika mereka yang akan bertempur sampai orang terakhir, aku tidak peduli. Itu memang sudah menjadi tekad mereka. Tetapi anak-anak muda ini?”

Karena itu, maka Daruwerdi yang sudah turun dari kudanya itu tiba-tiba berkata lantang, sehingga terutama anak-anak muda Lumban Kulon menjadi terkejut karenanya, “Tidak ada gunanya kalian berkelahi”

Nugata justru mematung sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Apa maksudmu?”

“Kalian tidak perlu berkelahi” ulang Daruwerdi.

“Jadi? Apakah kami harus membiarkan anak-anak Lumban Wetan telah melanggar hak kami? Mereka dengan sangat tidak tahu diri telah merubah pintu air yang telah kami berikan kepada mereka” jawab Nugata.

“Nugata” berkata Daruwerdi kemudian, “perkelahian yang demikian tidak akan ada artinya. Kalian dan kawan-kawan kalian akan mengalami peristiwa yang sangat mengerikan. Bendungan ini akan menjadi merah oleh darah anak-anak muda yang masih memiliki masa depan yang jauh lebih baik dari keadaan kalian sekarang”

“Aku tidak mengerti” berkata Nugata, “Jadi, apakah kami harus membiarkan saja anak-anak Lumban Wetan berbuat sesuka hatinya?”

“Apakah kau tetap tidak rela?” bertanya Daruwerdi.

“Tentu” jawab Nugata.

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Nugata dalam keremangan cahaya obor yang dibawa oleh anak-anak Lumban Wetan itu.

Dalam pada itu, setiap hati telah dicengkam oleh ketegangan. Anak-anak muda dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu terdiam mematung betapapun jantung mereka bergejolak.

Selagi mereka diam dalam ketegangan, dan orang yang berjalan tergesa-gesa telah mendekati bendungan itu. Kedatangan mereka telah membuat anak-anak muda Lumban Kulon semakin berdebar-debar. Ternyata keduanya adalah pemburu yang seorang lagi bersama Rahu, seorang yang telah berada di banjar Kabuyutan Lumban Wetan pula.

Nugata yang sudah dibakar oleh kemarahan yang memuncak itu menjadi semakin marah. Tetapi ia pun tidak dapat mengabaikan kehadiran keduanya, terutama pemburu yang seorang itu.

Daruwerdi sama sekali tidak terkejut melihat kehadirannya. Ia sudah tahu, seperti yang sudah dikatakan oleh Semi, bahwa kedua orang itu akan segera menyusul ke bendungan.

Dalam pada itu, maka Daruwerdi pun berkata kepada Nugata dan anak-anak muda Lumban Kulon, “Dengarlah. Aku tidak berkeberatan kalian menentukan sikap kalian masing-masing. Jika kalian ingin berkelahi, berkelahilah. Aku percaya, bahwa didorong oleh kemudaan kalian, dan keinginan kalian untuk menunjukkan kejantanan kalian, maka kalian telah bertekad untuk berkelahi. Jika kalian menang, maka kalian akan pulang dengan penuh kebanggaan sebagaimana seorang prajurit yang menang perang. Sementara yang kalah akan menjadi berprihatin dan dipanggang oleh api dendam, kalian akan berusaha dengan cara apapun juga untuk menebus kekalahan itu. Demikian berturut-turut, sehingga akan sampai orang yang terakhir. Di Kabuyutan kalian akan terdapat kuburan seluas padukuhan-padukuhan kalian itu, dimana terkubur pahlawan-pahlawan Kabuyutan yang telah berjuang untuk kesejahteraan, mempertahankan hak dan harapan bagi hari depan. Namun sementara itu, bendungan ini akan terbengkelai. Sawah-sawah akan tetap kering, dan ayah serta ibu yang kalian tinggalkan akan menjadi kelaparan”

Wajah anak-anak muda itu menjadi semakin tegang. Mereka tidak begitu mengerti arah pembicaraan Daruwerdi, Namun mereka tersentuh oleh ucapan-ucapannya tentang kuburan seluas Kabuyutan itu sendiri

Dalam kediaman itu terdengar Daruwerdi berkata, “Karena itu, marilah kita mengambil satu cara yang tidak akan mengarah kepada peristiwa yang mengerikan itu. Kita akan melihat, siapakah orang terbaik di Lumban Kulon, dan siapakah orang terbaik di Lumban Wetan. Merekalah yang akan mewakili kawan-kawannya, berkelahi di bendungan ini”

Kedua kelompok anak-anak muda itupun terdiam. Wajah-wajah mereka masih tetap menegang.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Nugata bertanya, “Apakah artinya perkelahian itu bagi bendungan ini. Bagaimana jika anak Lumban Kulon yang menang, dan bagaimana jika anak muda Lumban Wetan”

“Bukankah kalian sedang mempertahankan satu sikap?” bertanya Daruwerdi, “Jika anak Lumban Kulon yang menang, maka sikap dan pendiriannya lah yang berlaku. Tetapi jika anak-anak muda Lumban Wetan yang menang, maka sikap dan pendirian mereka yang akan berlaku. Sementara itu kita semuanya sudah mengetahui sikap apakah yang kalian ambil sehingga sikap itulah yang akan dipertaruhkan. Bukan sikap lain yang akan dapat berkembang tanpa batas”

Nugata termangu-mangu. Dipandanginya Daruwerdi, pemburu-pemburu itu berganti-ganti, dan seorang lagi yang berada di Lumban Wetan.

Ternyata bukan saja Nugata yang termangu-mangu. Juga anak-anak Lumban Wetan menjadi bimbang. Taruhannya terlalu besar. Jika mereka kalah, maka pintu air itu akan tetap tidak berimbang. Pintu air yang membawa air ke Lumban Kulon akan tetap menjadi jauh lebih lebar dari pintu air yang mengalirkan air ke tanah persawahan di Lumban Wetan.

Bukan saja anak-anak Lumban Wetan yang menjadi bimbang. Tetapi ternyata Rahu, Semi dan kawannya pun ragu-ragu, apakah anak Lumban Wetan ada yang dapat mengalahkan Nugata, karena mereka pun yakin, bahwa Nugata lah yang akan memasuki arena sayembara tanding itu.

Karena itu, maka tiba-tiba Semi pun berkata untuk mendapat satu keyakinan dan kepastian bahwa keadilan akan berlaku, “Yang akan terjadi adalah sayembara tanding berantai”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti maksud Semi. Namun kemudian Semi menjelaskan, “Jika seseorang, apakah ia dari Lumban Wetan atau dari Lumban Kulon telah kalah, maka selelah beristirahat sejenak, maka seorang yang lain, yang. merasa memiliki kemampuan dapat tampil ke arena melawan yang menang. Tetapi jika sudah tidak ada seorang pun yang merasa memiliki kemampuan itu. maka yang menang terakhirlah yang dianggap dapat menentukan. Untuk menghindari kecurangan, kemenangan yang tidak wajar karena kelelahan, maka seorang dari Lumban Wetan atau Lumban Kulon yang menang tiga kali berturut-turut, maka ia dianggap telah memenangkan sayembara tanding ini”

Daruwerdi menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak mengerti dengan pasti maksud pemburu itu. Namun karena persoalannya telah berkisar baginya, bahwa ia telah terpaksa melakukan itu karena tekanan Semi dan Rahu, yang menghubungkan masalahnya dengan akhir pekan seperti yang dijanjikan oleh orang-orang Sanggar Gading, maka ia tidak terlalu banyak mempersoalkannya. Karena itu, maka iapun sama sekali tidak mengajukan keberatan apa-apa.

Rahu pun segera mengetahui maksud Semi. Rahu tahu. bahwa di Lumban Wetan ada Jlitheng. Dalam keadaan terpaksa, jika keadilan menuntut untuk ditegakkan, maka mau tidak mau Jlitheng harus tampil dan memenangkan perkelahian melawan anak Lumban Kulon yang manapun juga.

Jlitheng yang mengikuti pembicaraan itu diantara anak-anak muda Lumban Wetan pun menarik nafas dalam-dalam. Iapun mengerti maksud Semi. Dan ia pun tidak akan ingkar, jika keadilan memang menuntut kepadanya untuk berbuat sesuatu. Sebenarnyalah bahwa ia pun mencemaskan sayembara tanding itu, jika benar-benar Nugata tidak terkalahkan oleh kawan-kawannya dari Lumban Wetan, karena Jlitheng yang telah berbuat terlalu banyak itu akan melepaskan air kearah yang tidak sewajarnya.

Namun demikian, Jlitheng itu berkata di dalam hatinya, “Mudah-mudahan hal itu tidak perlu. Aku akan kehilangan sebagian dari ruang gerakku. Mungkin Daruwerdi menjadi curiga, meskipun ia tidak akan banyak mendapat kesempatan bergerak, karena ia sudah akan segera sampai kepada akhir pekan yang baginya sangat penting itu”

Tetapi ternyata tanggapan Nugata diluar dugaan. Ia sama sekali tidak berkeberatan Menurut perhitungannya, di Lumban Wetan hanya ada sepuluh orang anak muda yang memiliki ilmu kanuragan yang sudah pantas untuk dipasang dalam arena sayembara tanding. Dan nampaknya ia pun merasa, bahwa ia akan dapat mengalahkan sepuluh orang anak muda itu berturut-turut. Apalagi jika hanya tiga orang. Karena itu. maka dengan keyakinan yang besar, dan bahkan dengan satu keinginan untuk menjajagi sebagian dari kawan-kawannya di Lumban Kulon dan Lumban Wetan, ia setuju dengan permainan yang akan sangat menarik itu.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku terima syarat itu. Kita akan membuat arena. Kita akan mulai dengan anak-anak muda yang bagi Lumban Kulon bukan orang-orang terbaik. Pada saatnya akulah yang akan tampil jika keadaan memang menjadi gawat. Tetapi jika kawan-kawanku telah berhasil, maka aku akan menjadi penonton saja malam ini”

Demikianlah, maka anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan itu segera mempersiapkan sayembara tanding. Mereka membuat lingkaran. Separo lingkaran terdiri dari anak-anak muda Lumban Kulon dan yang separo adalah anak-anak muda Lumban Wetan. Sementara itu, yang akan menjadi penengah adalah Daruwerdi, yang ditunjuk oleh anak-anak muda Lumban Kulon dan Semi yang ditunjuk oleh anak-anak muda Lumban Wetan.

Ketika semua persiapan sudah selesai, dan obor telah ditancapkan di seputar arena, maka sayembara tanding untuk memperebutkan keputusan atas bendungan itupun segera dimulai.

Ternyata Lumban Kulon dan Lumban Wetan tidak melepaskan orang-orangnya yang terbaik. Mereka mulai dengan anak-anak muda yang meskipun tergolong kuat, namun belum pada tataran tertinggi.

Lumban Wetan lah yang harus dengan serta merta menentukan sikap. Mereka telah terlanjur memilih satu saja orang terbaik. Tetapi mereka harus melepaskan orangnya yang lain.

Yang pertama tampil ke arena, justru orang yang ditunjuk oleh pemburu kawan Semi itu. Bukan yang terbaik dari yang sepuluh, tetapi yang termasuk tataran terbaik dari antara anak-anak muda yang berlatih padanya, tidak kepada Semi.

Sejenak kemudian, maka dua orang anak muda telah berhadap-hadapan.

Ketika sorak anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bagaikan memecahkan langit, maka perkelahian itupun segera dimulai.
Anak muda Lumban Kulon yang sedang berkelahi itu telah mendapat dasar-dasar kemampuan membela dirinya dari Daruwerdi, sementara anak Lumban Wetan itu belajar pada kawan Semi.

Agaknya keduanya ternyata memiliki kemampuan yang seimbang. Keduanya telah memahami dasar-dasar dari ilmu masing-masing.

Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda Lumban Kulon tidak menyangka, bahwa anak-anak muda Lumban Wetan itu mampu mengimbangi kemampuan mereka . Anak-anak muda Lumban Kulon merasa, bahwa mereka mendapat kesempatan berlatih untuk waktu yang lebih lama. Namun mereka tidak menyadari bahwa anak-anak muda Lumban Wetan telah mempergunakan seluruh waktu terluang mereka selama itu setiap hari. Dengan demikian maka mereka telah berhasil menyusul tingkat kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon.

Demikianlah perkelahian yang terjadi itu semakin lama menjadi semakin seru. Anak-anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon yang ada di seputar arena itu pun bersorak-sorak dengan riuhnya. Sementara Daruwerdi dan Semi mengawasi perkelahian itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Beberapa saat kemudian keduanya telah basah oleh keringat. Butir-butir pasir tepian sungai melekat pada tubuh mereka yang basah. Setiap kali salah seorang dari mereka, atau keduanya berguling di tanah, maka tubuh dan pakaian mereka pun bagaikan dilumuri oleh pasir dan tanah yang basah.

Dalam pada itu, Jlitheng pun telah memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Ada semacam kegelisahan di dalam hatinya. Jika dua kali berturut-turut anak muda Lumban Wetan tidak dapat mengalahkan seseorang, maka orang ketiga itu tentulah dirinya, untuk menjaga agar tidak terjadi kesewenang-wenangan sikap anak-anak muda Lumban Kulon, karena apabila mereka memenangkan perkelahian, berarti bahwa apa yang mereka kehendaki akan terjadi. Dengan demikian maka Lumban Wetan tidak akan berani melepaskan orang lain dengan akibat yang paling pahit itu. Apalagi bagi Jlitheng sendiri yang telah bekerja keras bersama kakek d atas bukit itu untuk menghijaukan sawah yang terhampar disela-sela padukuhan-padukuhan di Lumban yang gersang dan kemerah-merahan.

Tetapi Jlitheng pun sadar, bahwa apabila ia melakukannya, maka akan timbul banyak sekali tanggapan dan bahkan kecurigaan kepadanya. Ia tidak termasuk yang sepuluh orang yang dianggap anak-anak muda terbaik di Lumban Wetan. Jika ia memaksa diri untuk memasuki arena sayembara tanding itu, maka ia telah melanggar tataran yang dianggap ada diantara anak-anak muda Lumban Wetan sendiri.

Namun ia tidak akan rela melihat ketidak adilan itu akan berlaku.

“Meskipun jika hal itu harus terjadi, tanggapan anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan berbeda dan berubah, tetapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menegakkan keadilan itu” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Sementara itu perkelahian masih berlangsung terus. Anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan masih berteriak-teriak dengan riuhnya. Mereka dengan gairahnya telah berusaha memberikan dorongan kepada kawan masing-masing untuk memenangkan perkelahian itu.

Namun sejenak kemudian, setelah keduanya mengerahkan segenap kemampuan masing-masing, maka mulailah nampak, bahwa anak muda Lumban Wetan itu memiliki pernafasan yang lebih baik. Meskipun sebenarnya ia tidak mempunyai ilmu yang dapat dianggap lebih tinggi dari lawannya, namun ternyata bahwa kelelahan lah yang telah membuat lawannya itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Pada saat-saat terakhir, dimana tenaga keduanya sudah susut, anak muda Lumban Wetan itu masih sempat menyerang lawannya yang telah kelelahan sehingga lawannya itumpun terhuyung-huyung dan jatuh berguling diatas pasir. Ketika lawannya itu berusaha untuk bangkit, maka dengan sisa tenaga yang masih ada, anak muda Lumban Wetan itu menyerang langsung menghantam dadanya dengan kakinya.

Ternyata serangan ku telah mengakhiri perkelahian. Anak muda Lumban Kulon itu jatuh sekali lagi terlentang. Namun ia tidak lagi mempunyai sisa tenaga untuk bangkit.

“Cukup, “ Semilah yang menghentikan perkelahian itu.

Anak muda Lumban Wetan itu pun berdiri dengan nafas terengah-engah. Dipandanginya lawannya yang terbaring diam meskipun ia tidak pingsan. Tetapi nafasnya rasa-rasanya telah terputus di kerongkongan, sementara tubuhnya rasa-rasanya menjadi remuk,

“Ya cukup” sahut Daruwerdi, “Kita semuanya menyaksikan, bahwa anak muda Lumban Kulon ini telah kalah”

Nugata menggeram. Katanya, “Akan maju lagi seorang dari antara kami. Ia akan meremukkan tulang-tulang anak Lumban Wetan yang sombong itu”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga hatinya pun tersentuh oleh kekalahan itu. Meskipun dengan tidak langsung, setiap orang akan segera menghubungkan kekalahan itu dengan dirinya dan dengan pemburu yang berada di Lumban Wetan itu, karena kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon bersumber dari Daruwerdi sementara anak-anak muda Lumban Wetan bersumber dari pemburu yang seolah-olah telah menetap di Lumban Wetan itu.

Nugata yang marah pun segera menunjuk orang kedua. Katanya, “Kau hancurkan kesombongan anak muda itu”

Seorang anak muda yang berkulit agak kehitam-hitaman mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Katanya, “Senang sekali sempat bermain-main dengan anak-anak muda Lumban Wetan. Tetapi yang terjadi itu tidak masuk akal. Bahwa anak muda Lumban Kulon telah dikalahkan oleh anak muda Lumban Wetan, jika tidak karena kawan kami dari Lumban Kulon ini tidak sedang pada tataran kemampuannya yang sebenarnya. Mungkin ia terlalu banyak kerja siang tadi, sehingga tenaganya sudah jauh susut”

“Ya” potong Nugata, “Dan tugasmu sekarang, mematahkan kesombongan itu. Bukan sekedar berbicara tanpa ujung pangkal”

Anak muda yang berkulit agak kehitam-hitaman itupun segera membenahi dirinya, sementara kawan-kawannya yang lain telah mengangkat anak muda Lumban Kulon yang tidak dapat bangkit lagi di arena itu.

“Kita beristirahat sebentar” berkata Semi kemudian, “ biarlah yang baru memenangkan perkelahian ini sempat beristirahat.

“Kelemahan dapat saja dipakai alasan jika ia kalah nanti” geram Nugata, “Tetapi jangan pedulikan” pesannya kepada kawannya yang akan memasuki arena, “kalahkan anak itu meskipun ia akan mengelak dengan seribu alasan”

Semi tidak menanggapinya. Kepada anak-anak muda Lumban Wetan ia berkata, “Carikan air bening. Biarlah ia minum sebelum anak itu harus menghadapi lawannya yang kedua”

Beberapa orang anak muda Lumban Wetan segera berlari-larian. Mereka mencari sesobek daun pisang diantara rumpun-rumpun pisang yang tumbuh liar di lereng-lereng tebing. Kemudian dengan daun itu mereka membawa air dari belik di tebing pula.

Tetapi, anak Lumban Wetan itu benar-benar telah kelelahan seakan-akan nafasnya sudah hampir terputus pula. Meskipun seteguk air itu dapat menyegarkan tubuhnya, tetapi untuk berkelahi lagi rasa-rasanya sudah tidak dapat lagi dilakukan.

Namun ia terikat pada ketentuan, bahwa ia harus menerima lawan kedua.

Dalam pada itu, pemburu yang seorang lagi dengan diam-diam mendekatinya sambil berbisik, “Jangan memaksa diri. Jika kau memang kalah, menyerah sajalah meskipun tidak dengan semata-mata. Kau dapat menjatuhkan dirimu dan tidak bangun lagi sampai kau digotong keluar arena. Orang berikutnya yang akan mengalahkan lawanmu itu”

Anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Namun ia pun akhirnya mengangguk-angguk mengerti.

Sejenak kemudian maka Nugata lah yang berteriak, “Cepat. Kita akan melihat perkelahian berikutnya”

Anak muda dari Lumban Kulon yang berkulit agak kehitam-hitaman itu pun segera melangkah maju. Langkahnya tetap dan tegap. Sementara itu, anak muda Lumban Wetan yang sudah kelelahan itu berusaha untuk tetap berdiri tegak pula. Air yang beberapa teguk itu memang telah membuatnya agak segar, sementara tubuhnya pun telah diusapnya dengan beberapa titik air yang sejuk.

Sementara itu, bintang-bintang telah bergeser semakin ke Barat. Angin malam mengayun nyala obor yang dibawa oleh anak-anak muda Lumban Wetan yang telah ditancapkan di seputar arena.

Dua orang anak muda sudah berdiri tegak ditengah-tengah arena. Namun demikian, baik Semi maupun Daruwerdi sudah melihat, bahwa perkelahian itu sama sekali tidak akan seimbang. Meskipun demikian mereka tidak akan dapat merubah peraturan yang sudah dibuat.

Sejenak kemudian maka Daruwerdi dan Semi pun memberikan isyarat bahwa sebentar lagi perkelahian akan dapat dimulai. Keduanya diminta untuk segera bersiap-siap.

Dengan menghitung sampai tiga kali, maka Daruwerdi membuka perkelahian itu. Ternyata anak muda Lumban Kulon itu terlalu garang bagi lawannya yang kelelahan. Demikian isyarat hitungan diucapkan pada hitungan ke tiga. maka anak muda berkulit kehitam-hitaman itu telah meloncat menyerang dengan dahsyatnya. Tanpa memberi kesempatan sama sekali kepada lawannya, maka serangannya yang beruntun benar-benar telah melemparkan anak muda Lumban Wetan itu.

Terasa kemarahan yang luar biasa telah menghentak jantungnya. Namun serangan yang beruntun itu benar-benar telah merampas segenap kekuatannya untuk dapat bangkit lagi.

Anak Lumban Wetan itu menyeringai menahan sakit di tubuhnya. Namun agaknya anak muda Lumban Kulon itu benar-benar anak muda yang keras hati. Dengan tangkasnya ia meloncat. Tangannya tiba-tiba saja telah meraih rambut lawannya dan menariknya. Meskipun lawannya sudah terlampau payah, tetapi anak muda Lumban Kulon itu telah memukul wajah anak muda itu dengan kerasnya.

Anak muda Lumban Wetan yang sudah tidak dapat melawan lagi itu mengaduh tertahan. Kepalanya terdorong dengan kerasnya. Untunglah bahwa kepalanya itu membentur tanah berpasir sehingga dengan demikian kepalanya tidak ter-luka karenanya.

Ketika anak muda Lumban Kulon itu sekali lagi mengulurkan tangannya, hampir berbareng Semi dan Daruwerdi melancarkan sambil berteriak, “Cukup”

Anak muda Lumban Kulon itu mengurungkan niatnya. Namun ia masih menjawab, “Aku belum meremukkan kepalanya”

“Itu tidak perlu” Daruwerdi hampir membentak, “perkelahian ini hanya sampai pada satu keadaan, dimana kita dapat menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang”

“Apakah anak itu sudah kalah?” bertanya anak muda Lumban Kulon itu.

Daruwerdi mengerutkan keningya Namun nampak bahwa hatinya tidak senang melihat sikap anak muda Lumban Kulon yang licik itu.

Anak-anak muda Lumban Wetan benar-benar merasa tersinggung karenanya. Hampir serentak mereka berteriak mengumpat. Tetapi Semilah yang kemudian menenangkan mereka. Katanya, “Bawalah ia menepi. Ambil air dan rawatlah sebaik-baiknya. Usap wajahnya dengan air. Tetapi hati-hatilah.

Beberapa orang anak muda melangkah memasuki arena. Betapa kemarahan nampak di wajah mereka. Namun anak Lumban Kulon benar-benar tidak merasa melakukan satu kesalahan. Mereka justru bersorak-sorak melihat kemenangan kawannya.

Dalam pada itu. kemarahan benar-benar telah menghentak anak-anak muda Lumban Wetan. Anak muda yang berkumis tipis menggeram, “Biarlah aku yang menyelesaikannya”

“Jangan tergesa-gesa” Jlitheng yang selama itu hanya dapat menggeretakkan giginya itupun berkata, “Bukankah permainan ini baru dimulai.

“Tetapi mereka telah berbuat curang” jawab kawannya.

“Percayakan kepada pemburu itu” sahut Jlitheng.

Anak-anak Lumban Wetan yang marah itupun akhirnya mulai membuat pertimbangan-pertimbangan lagi. Mereka mulai dapat menilai, apa yang sedang mereka hadapi. Baru dua orang anak muda Lumban Kulon yang tampil. Mungkin dalam perkelahian ini beberapa anak muda yang lain harus tampil seorang demi seorang. Jika mereka tidak menghiraukan kemungkinan-kemungkinan dalam jenjang kemampuan mereka, maka mungkin sekali mereka akan kehabisan orang yang akan dapat tampil disaat-saat terakhir.

Karena itulah, maka Lumban Wetan pun menampilkan seorang anak muda yang lain. Tetapi mereka sudah mulai memasuki seorang dari sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan. Karena menurut perhitungan mereka perkelahian selanjutnya tidak akan lebih dari sepuluh orang lagi.

Atas persetujuan pemburu kawan Semi itu, maka seorang anak muda bertubuh sedang, berkulit kuning telah melangkah memasuki arena. Anak itu memang termasuk satu dari sepuluh orang terbaik di Lumban Wetan. Tetapi menurut penilaian kawan Semi, anak muda berkumis tipis itu memiliki kelebihan meskipun hanya selapis.

Yang kemudian berdiri di arena adalah anak muda Lumban Kulon yang berkulit kehitam-hitaman berhadapan dengan anak muda Lumban Wetan yang berkulit kuning.

Sejenak mereka saling memandang. Keduanya adalah kawan yang sebelumnya termasuk kawan yang baik. Namun demikian air dari bukit itu mengaliri sawah mereka, hubungan mereka justru menjadi semakin renggang.

Semi yang melihat salah seorang dari sepuluh anak muda terbaik yang mengikuti latihan-latihannya, menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak muda Lumban Wetan benar-benar tidak dapat menahan diri lagi. Sekilas dipandanginya pemburu kawannya yang berdiri di pinggir arena. Kemudian dilihatnya Jlitheng diantara kawan-kawannya. Sementara itu Rahu duduk terkantuk-kantuk seakan-akan tidak menghiraukan apa yang terjadi disekitarnya.

“Kita akan segera dapat mulai dengan putaran ketiga ini” berkata Daruwerdi kemudian.

Semi mengangguk-angguk. Sentuhan yang tajam terasa di jantungnya. Yang dilakukan itu benar-benar berbahaya. Yang memasuki arena itu bukan sekedar seekor ayam jantan. Tatapi mereka adalah anak-anak muda.

Namun Semi tidak dapat berbuat lain. Yang terjadi itu adalah kemungkinan yang paling baik yang dapat diusahakan. Jika hal itu tidak dikehendaki oleh anak-anak muda Lumban maka yang terjadi adalah perkelahian antara mereka semuanya, yang tentu akan sangat sukar dikendalikan.

Dalam pada itu. Daruwerdi lah yang kemudian memberikan aba-aba. Demikian ia menghitung sampai tiga. maka kedua anak muda itupun segera bersiap.

Namun anak muda Lumban Kulon nampaknya ingin mengulangi caranya. Dengan serta merta, iapun telah meloncat langsung menyerang dengan dahsyatnya.

Anak muda Lumban Wetan itu terkejut. Tetapi ia masih sempat bergeser menghindar. Namun lawannya tidak memberinya kesempatan. Ketika serangannya yang pertama gagal, maka tiba-tiba saja iapun berputar pada tumit. Kakinya terangkat dan berputar mendatar.

Serangan beruntun itu benar-benar tidak terduga akan terjadi pada langkah pertama. Karena itu. maka anak muda Lumban Wetan itu tidak sempat lagi mengelak. Namun demikian ia masih berusaha untuk menangkis serangan itu.

Tetapi serangan itu demikian keras dan cepat. Karena itulah, maka ketika kedua tangan anak muda Lumban Wetan itu membentur kaki lawannya, maka ia telah terdorong beberapa langkah surut.

Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh anak muda Lumban Kulon yang berkulit kehitam-hitaman itu. Selagi anak muda Lumban Wetan itu belum dapat memperbaiki keadaannya, maka anak muda Lumban Kulon itu telah menyerangnya sekali lagi. Dengan loncatan panjang, tangannya telah terjulur menghantam dada.

Anak muda Lumban Wetan itu pun masih sempat menangkis. Tetapi ternyata bahwa kekuatan serangan lawannya yang menghentak itu benar-benar telah melemparkannya sehingga ia pun kemudian jatuh terguling diatas tanah berpasir.

Sorak anak-anak Lumban Kulon bagikan meledak. Mereka melihat bagaimana anak muda Lumban Wetan itu terguling. Sementara itu anak muda Lumban Kulon itupun sama sekali tidak membuang waktu lagi. Dengan sepenuh hati ia pun memburu lawannya yang berguling.

Tetapi anak muda Lumban Wetan itu menyadari keadaannya. Ia sejak benturan pertama dari perkelahian itu telah dikejutkan oleh serangan yang tiba-tiba dan serta merta, sehingga ia sama sekali belum sempat membalasnya. Karena itu, maka sambil berguling ia berusaha untuk membuat perhitungan-perhitungan. Ia sempat melihat lawannya memburunya. Namun dengan sengaja ia tidak segera meloncat berdiri, karena ia pun sadar, bahwa jika ia berbuat demikian, maka demikian ia tegak, serangan berikutnya akan melemparkannya sekali lagi.

Karena itu, ia justru menunggu. Ia bersiap menghadapi segala kemungkinan sambil berbaring di tanah berpasir.

Lawannya yang menunggu anak muda Lumban Wetan itu meloncat bangkit menjadi agak kecewa. Tetapi nafsunya untuk segera ia mengalahkan lawannya telah membakar jantungnya. Karena itu, ia tidak sempat berpikir terlalu panjang.

Karena lawannya masih saja terbaring di tanah, maka tiba-tiba saja iapun meloncat sambil menjulurkan kakinya untuk menginjak dada anak muda Lumban Wetan itu.

Serangan itulah yang ditunggu. Anak muda Lumban Wetan itu sudah bersiap untuk beringsut. Demikian kaki itu terjulur, maka ia pun segera beringsut dan dengan cepat menangkap pergelangan kaki lawannya.

Sebuah putaran yang keras telah memutar tubuh anak muda Lumban Kulon itu pula. Demikian cepatnya, sehingga anak muda Lumban Kulon itupun telah terbanting jatuh pula diatas tanah berpasir.

Namun dengan serta merta, ia pun segera berguling sambil merenggut kakinya dengan satu hentakan. Kaki itu memang terlepas. Namun dengan demikian, anak muda Lumban Wetan itupun telah mendapat waktu untuk melenting berdiri bersama-sama dengan anak muda Lumban Kulon, sehingga iapun telah bersiap sepenuhnya ketika lawannya berdiri tegak sambil menggeletakkan kakinya.

Keduanya kemudian berhadapan. Namun keduanya sama-sama bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan, sehingga anak muda Lumban Wetan itu tidak akan lengah lagi dan kehilangan kesempatan untuk menghindari serangan-serangan itu akan datang membadai seperti yang telah terjadi.

Semi yang telah menahan nafas untuk beberapa saat, sempat menarik nafas panjang. Seolah-olah ia sendirilah yang telah mendapat kesempatan yang sama dengan lawannya yang garang itu.

Sejenak keduanya berdiri tegak saling berpandangan. Mata mereka bagaikan membara, dan tangan mereka rasa-rasanya menjadi gatal. Namun di wajah anak muda Lumban Kulon itu nampak betapa ia menjadi kecewa bahwa lawannya sempat memperbaiki keadaannya, sehingga ia tidak dapat mengalahkan-nya dengan segera. Jika ia berhasil mengalahkannya dalam waktu dekat, berarti bahwa ia sudah memenangkan dua perkelahian. Jika ia masih harus berhadapan dengan orang ketiga, maka tenaganya masih cukup segar, sehingga mungkin ia akan dapat memenangkannya sekali lagi. Jika demikian, maka perkelahian itupun sudah berakhir. Lumban Kulon sudah dapat dinyatakan menang dan dapat menentukan kehendak mereka atas bendungan dan air dari bukit sebelah.

Tetapi ia telah salah langkah karena ketergesa-gesaannya sehingga lawannya itu seolah-olah telah berhasil lepas dari tangannya yang sudah membelit leher. Dan kini anak muda Lumban Wetan itu berdiri tegak menghadapinya.

Tetapi mereka berdua tidak terlalu lama berdiri berhadap-hadapan. Sejenak kemudian, keduanya sudah siap untuk menentukan akhir dari perkelahian itu.

Anak muda Lumban Kulon dan anak muda Lumban Wetan itu bergeser setapak-setapak. Mereka beringsut sambil menunggu kesempatan. Dan sekejap kemudian, anak muda Lumban Kulon itu telah bertindak lebih dahulu dari lawannya.

Tetapi keadaan memang sudah berubah. Anak muda Lumban Wetan yang hampir saja dikalahkannya itu benar-benar telah bersiap. Karena itu maka iapun sempat bergeser menghindar. Demikian kaki lawannya mematuk dadanya, ia memiringkan tubuhnya sambil bergeser. Dengan sekuat tenaganya ia sempat memukul kaki lawannya yang terjulur itu.

Namun lawannya telah memperhitungkannya. Karena itu,. maka secepatnya kaki itu ditariknya. Meskipun demikian, tangan anak muda Lumban Wetan itu masih juga menyinggung kaki lawannya. Kaki itu memang terdorong, sehingga anak muda Lumban Kulon itu terputar sedikit. Tetapi sama sekali tidak mempengaruhinya. Dengan demikian ketika anak muda Lumban Wetan itu menyerangnya dengan satu langkah kedepan dan tangan kanan terjulur menghantam kening, anak muda Lumban Kulon itu masih sempat meloncat kesamping, sehingga tangan lawannya sama sekali tidak menyentuhnya.

Demikian perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Namun akhirnya, anak muda Lumban Wetan yang termasuk salah seorang dari sepuluh orang terbaik itu nampak semakin berhasil menguasai lawannya. Perlahan-lahan tetapi pasti, ia akan dapat mengalahkan lawannya. Betapapun lawannya mengerahkan segenap kemampuannya, namun anak muda Lumban Wetan itu memiliki ketrampilan dan ketahanan tubuh yang lebih tinggi dari anak muda Lumban Kulon itu.

Tetapi anak muda Lumban Kulon itupun telah bertahan dengan sejauh-jauh sisa kemampuannya. Meskipun pada saat terakhir ia menjadi kehilangan keseimbangan, tetapi anak muda Lumban Wetan itupun telah memeras segenap kemampuannya pula, sehingga seperti yang pernah terjadi atas kawannya. Ia berhasil mengalahkan lawannya, namun tenaganya benar-benar telah terperas habis.

Yang telah terjadi itu pun terulang kembali. Semi dan Daruwerdi melihat peristiwa seperti yang pertama terulang. Ketika muncul anak muda berikutnya dari Lumban Kulon, maka anak muda Lumban Wetan itu sama sekali tidak mampu melawannya lagi. Ia harus menyerah, dan membiarkan dirinya dibanting diatas tanah berpasir tanpa sempat melawan. Jika Semi dan Daruwerdi tidak cepat mencegahnya, maka ia pun akan mengalami nasib buruk karena tingkah laku anak muda Lumban Kulon.

Dengan demikian, maka anak muda Lumban Wetan harus menurunkan anak muda berikutnya. Dan yang terjadi itupun telah terulang kembali seperti yang terdahulu.

Ketika hal itu terulang sampai lima kali, maka Nugata menjadi tidak telaten lagi, Sementara langit pun menjadi semakin merah. Jika perkelahian yang demikian itu berlangsung terus menerus, maka akibatnya masalahnya tidak akan terpecahkan.

Tetapi pada perkelahian yang keenam, ternyata telah terjadi sedikit perbedaan. Anak muda Lumban Wetan, orang kelima dari sepuluh orang terbaik, telah berhasil memenangkan perkelahian dengan tenaga yang masih cukup segar. Lawannya, anak muda Lumban Kulon yang bertubuh lebih besar daripadanya dapat dikalahkan dengan mudah tanpa menghabiskan tenaga seperti kawan-kawannya yang terdahulu. Karena itu, maka ia siap menghadapi lawan berikutnya dengan kemampuan yang masih utuh.

Nugata menjadi berdebar-debar. Jika anak muda Lumban Wetan itu menang, berarti ia telah memenangkan dua kali perkelahian. Maka perkelahian berikutnya akan sangat menentukan.

Karena itu, maka anak muda Lumban Kulon yang turun ke arena adalah anak muda yang dianggap memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak muda yang telah dikalahkan itu. Karena itulah, maka dengan wajah tengadah ia maju ke arena. Sebelum ia meloncat menyerang, ia masih sempat berkata, “Ingatlah, bahwa aku dapat berbuat apa saja atasmu. Mengalahkanmu selagi kekuatanmu masih segar, atau dengan kemampuanku, aku mengalahkanmu dengan akibat yang paling parah”

Anak muda Lumban Wetan tidak menjawab. Tetapi ia bersiap sebaik-baiknya.

Bersambung ke jilid 7

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

3 Tanggapan

  1. Rame tenan di MAdBB-12 tapi begitu nuju ke MAdBB-13 mandek ga iso dibuka nasib-nasib kok angel temen wkwkwkwk…..

  2. Rame tenan di MAdBB-12 tapi begitu nuju ke MAdBB-13 mandek ga iso dibuka nasib-nasib kok angel temen wkwkwkwk…..sabar nunggu 2 hari lagi

    • 😛
      he he he …, enak mana ya, sabar menunggu 2 hari (biar ajeg dan bisa ditunggu dengan pasti) atau, tiap hari di hari sabtu, minggu dan senin (mungkin), kemudian istirahat selama seminggu menunggu sabtu berukutnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s