MAdBB-10


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 10

kembali | lanjut

cover madbb-10AKU akan berada di daerah Sepasang Bukit Mati itu” jawab Jlitheng, “Aku akan melihat, apakah yang akan terjadi dengan Pangeran yang aku yakin akan dibawa ke daerah itu”

“Kau tentu mengenal dan mempunyai kepentingan dengan Sepasang Bukit Mati pula, seperti juga orang-orang Sanggar Gading. Tetapi kau tentu tidak seperti orang-orang Sanggar Gading, bahwa kau akan dapat mengorbankan orang lain tanpa alasan yang tidak terelakkan” berkata Rahu, “Dan agaknya aku percaya kepadamu”

“Terima kasih. Jika demikian. Kita akan berpisah. Mudah-mudahan kau tetap mendapat kepercayaan Cempaka, sehingga kau akan datang pula ke daerah Bukit Mati, menyerahkan Pangeran itu. Mudah-mudahan kita akan dapat bekerja bersama lagi, bagaimanapun bentuknya” berkat Jlitheng.

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia terpaling kepada Semi, nampak ketegangan pada wajah anak muda itu. Namun kemudian Rahu berkata, “Kita dapat mempercayainya. Aku percaya bahwa Bantaradi adalah Candra Sangkaya, Dan aku percaya, bahwa ia tidak menyimpang dari jejer seorang kesatria keturunan Majapahit”

Semi mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan bertemu di daerah Sepasang Bukit Mati. Marilah kita akan hadir dalam ujud yang berbeda-beda, tetapi kita akan melibat apa yang akan terjadi di daerah itu. Aku pun sudah mendengar beberapa hal tentang keterlibatan beberapa orang di daerah itu. Dan aku pun harus mempersiapkan diri untuk mengamati tingkah laku orang-orang dari padepokan-padepokan lain. mungkin orang-orang Pusparuri, mungkin orang-orang Gunung Kunir atau pihak manapun juga. Jika pada suatu saat, Pangeran yang malang itu sampai jatuh ke tangan pihak lain, maka keadaan kita akan menjadi semakin, sulit. Tetapi menurut pengamatanku, agaknya Sanggar Gading adalah kelompok yang terkuat diantara kelompok-kelompok yang lain”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah tidak ada petugas-petugas sandi di lingkungan mereka?”

“Kadang-kadang sulit untuk menempatkan seseorang diantara sekelompok orang yang mempunyai lingkungan tersendiri. Kita harus menunggu kesempatan. Pada suatu saat secara kebetulan kesempatan itu datang sendiri. Tanpa unsur kebetulan, kita harus bekerja keras dan mungkin memerlukan waktu yang sangat lama” jawab Rahu.

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Jadi, apakah kalian berhasil menempatkan orang itu atau tidak?”

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Namun Semi lah yang menjawab, “Kita masih berusaha. Tetapi kita belum berhasil. Kesalahan kita adalah, bahwa kita hanya menganggap Sanggar Gading sajalah lingkungan, yang berbahaya. Karena itu, maka pusat perhatian kita ada pada Sanggar Gading. Dan Sanggar Gading lah lingkungan yang pertama-tama kami masuki”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia masih merasa ada jarak antara dirinya dan Rahu serta Semi. Tetapi ia dapat mengerti, karena bagaimanapun juga, tentu ada rahasia, yang tidak dapat mereka katakan”

Sejenak kemudian, maka Jlitheng pun minta diri kepada keduanya. Ia ingin memisahkan diri, untuk mendahului kembali ke daerah berbukit gundul dan daerah berbukit kecil yang ditumbuhi oleh hutan yang lebat dan masih dihuni oleh binatang-binatang buas.

“Berhati-hatilah” pesan Rahu, “mungkin kedatanganmu akan menarik perhatian setelah kau pergi untuk waktu yang agak lama”

“Belum terlalu lama. Mudah-mudahan aku dapat diterima seperti saat aku pergi tanpa prasangka dan curiga” jawab Jlitheng.

“Tugas kita masih banyak. Apa yang akan terjadi, dan apa yang telah dilakukan oleh Pangeran itu, merupakan beban yang harus kita uraikan” berkata Rahu kemudian, “Selamat jalan. Mudah-mudahan kita semuanya selamat dan dapat menunaikan tugas kita masing-masing dengan sebaik-baiknya”

Jlitheng pun kemudian memisahkan diri. Ia sadar, bahwa kepentingannya itu akan merupakan beban tersendiri bagi Rahu. Mungkin Rahu akan dicurigai. Mungkin bahkan akan mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan. Tetapi mungkin pula tidak, karena Cempaka tetap mempercayainya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk selalu mengawasi keadaan Pangeran yang malang itu.

Namun tiba-tiba Jlitheng berkata di dalam hatinya, “Tetapi apakah mungkin bahwa Pangeran itu benar-benar pernah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan orang lain, atau hal serupa itu?”

Namun Jlitheng tidak dapat mencari jawabnya. Ia masih harus banyak mengamati keadaan di daerah Bukit Gundul itu.

Untuk beberapa saat Jlitheng berpacu seorang diri. Ia mengambil jalan yang tidak terlalu ramai, agar ia tidak bertemu dengan orang-orang yang mungkin mengenalnya sebagai Jlitheng, anak padepokan yang bodoh dan lemah. Sementara ia menyadari, bahwa tugasnya akan menjadi semakin berat, karena agaknya orang-orang Sanggar Gading akan segera menghubungi Daruwerdi untuk menyerahkan Pangeran yang akan ditukar dengan pusaka yang menjadi rebutan beberapa pihak itu.

Karena itu maka Jlitheng tidak singgah ke rumah Sri Panular. Ia tidak ingin terlambat. Meskipun mungkin perjalanannya hanya tertunda satu hari, tetapi jika Sanggit Raina bertindak cepat, ia akan dapat terlambat.

Apalagi Jlitheng tidak dapat datang ke padukuhannya langsung diatas seekor kuda. Jika ia berbuat demikian, persoalannya akan dapat merubah sikap Daruwerdi.

Karena itu, Jlitheng masih akan melakukan seperti yang dilakukannya dengan baik. Yang sudah terlalu banyak membantunya. Ia akan singgah di rumah seorang saudagar yang dikenalnya dengan haik. Yang sudah terlalu banyak, membantunya dan memberikan pertolongan kepadanya. Kemudian ia masih harus singgah pula di tempat yang hanya dikenalnya tanpa pernah disentuh orang lain. Ia harus menyimpan pakaiannya dan senjata-senjatanya.

Tetapi Jlitheng mulai bimbang dengan keadaan yang semakin panas di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Jika ia terpisah dari senjata-senjatanya, maka untuk mengatasi peristiwa yang tiba-tiba, ia akan mengalami kesulitan.

“Apakah aku harus berlari-lari mengambil pedang dan paser-paser itu lebih dahulu, sementara peristiwa yang terjadi telah terjadi” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

“Aku akan membawa senjataku pulang dan menyembunyikannya sebaik-baiknya” berkata Jlitheng kepada diri sendiri.

Seperti yang direncanakan, maka Jlitheng pun telah singgah di rumah seorang saudagar yang mengenalnya dengan baik. Ia pun kemudian menitipkan kudanya dan seperti biasanya, ia selalu mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang ditawarkan kepadanya.

“Pada suatu saat, aku tentu memerlukan bantuan paman” berkata Jlitheng kepada saudagar itu,

Jlitheng yang kemudian berjalan kala kembali ke padukuhannya, telah memilih waktu yang sebaik-baiknya. Ia memperhitungkan saat yang tepat, sehingga ia akan memasuki padukuhannya menjelang dini hari. Ia akan membawa senjatanya bersamanya dan menyembunyikan di rumahnya. Setiap saat senjata itu akan dipergunakannya.

Karena itu, maka Jlitheng tidak perlu terlalu tergesa-gesa berjalan ke padukuhan Lumban. Namun ia merasa bahwa ia harus tetap berhati-hati. Ia tidak ingin bertemu dengan seorang pun. Ia akan langsung pulang dan tidur di kandang sampai saatnya biyungnya bangun dan terkejut melihat ia telah datang, dalam keadaan seperti saat ia berangkat.

Sementara itu, di Sanggar Gading, Rahu telah dipanggil oleh Sanggit Raina bersama Cempaka, ia harus mempertanggung jawabkan bahwa orang yang berada di bawah pengawasannya tidak kembali lagi ke Sanggar Gading justru dalam saat yang paling gawat.

“Kita tidak boleh terlambat” berkata Sanggit Raina, “Kita akan segera berangkat ke Sepasang Bukit Mati itu untuk bertemu dengan Daruwerdi. Berita hilangnya Pangeran itu tentu belum tersebar luas, sehingga orang-orang dari padepokan yang lain belum sempat memutuskan untuk mengambil satu sikap yang tepat. Tetapi pada saat semacam ini seorang diantara kita telah pergi”

“Tidak hanya seorang” jawab Rahu, “Tetapi lima orang”

Sanggit Raina mengerutkan keningnya. Dipandanginya Cempaka sekilas. Dan sebelum Sanggit Raina bertanya sesuatu, Cempaka sudah mendahuluinya, “Aku yakin bahwa Nrangsarimpat tidak akan berkhianat dalam arti yang khusus. Ia tidak lagi lari dari Sanggar Gading dan menjerumuskan Sanggar Gading ke dalam kesulitan. Tetapi aku belum yakin terhadap Bantaradi”

“Aku sudah mengemukakan persoalannya” berkata Rahu.

“Aku juga sudah mengatakannya kepada kakang Sanggit Raina. Tetapi kau harus langsung melaporkannya selengkapnya, juga sehubungan dengan Bantaradi yang tidak datang bersamamu” sahut Cempaka.

Rahu menarik nafas panjang. Kemudian ia pun mulai melaporkan segala sesuatu tentang terbunuhnya Nrangsarimpat. Ia sudah mendapat ijin dan akan dipertanggung jawabkan oleh Cempaka apabila terjadi sesuatu. Ternyata bahwa lima orang diantara mereka yang bertempur telah terbunuh.

“Kau hanya berdua?” bertanya Sanggit Raina.

“Ya bersama Bantaradi. Aku tidak mengira bahwa Nrangsarimpat ternyata membawa tiga orang kawannya. Aku kira ia akan datang sendiri dan membawa puteri itu” jawab Rahu.

“Anak yang malang” desis Cempaka, “Ternyata Bantaradi adalah murid yang paling singkat tinggal di Sanggar Gading. Ia telah berhasil melampaui padang perburuan. Tetapi ia terbunuh dalam tugas yang sebenarnya bukan tugas pokok kita”

“Ia anak yang luar biasa. Ia mati bersama dua orang lawannya. Dan aku terpaksa membunuh dua orang yang lain” desis Rahu.

Sanggit Raina mengangguk-angguk. Katanya, “Kita terpaksa mengorbankan lima orang yang terbaik diantara kita. Tetapi jika tidak demikian, mungkin tingkah laku Nrangsarimpat akan dapat merusak seluruh rencana kita”

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia tidak dihadapkan pada kesulitan yang gawat karena ia tidak datang bersama Bantaradi. Agaknya kematian Nrangsarimpat, yang termasuk seorang murid terbaik itu tidak membuatnya ia terlalu kecewa.

“Kita bersiap sekarang” berkata Sanggit Raina.

“Sekarang?” bertanya Cempaka.

“Apalagi yang kita tunggu? Orang-orang Pusparuri atau kelompok-kelompok yang lain?” bertanya Sanggit Raina pula.

Cempaka tidak menjawab. Ia memang menyadari, bahwa segalanya harus berjalan cepat. Dan balikan Cempaka pun menyadari, bahwa yang akan dilakukannya bersama Sanggit Raina adalah suatu langkah rahasia. Bukan saja bagi kelompok-kelompok lain, tetapi bagi kelompok Sanggar Gading sendiri.

“Siapakah yang akan turut pergi ke bukit gundul itu?” bertanya Cempaka tiba-tiba.

“Jangan terlalu banyak. Kita akan pergi bersama beberapa orang, untuk melindungi Pangeran itu di perjalanan. Tetapi hanya dua orang sajalah yang akan ikut mendekati bukit gundul itu” berkata Sanggit Raina.

Cempaka mengangguk-angguk. Meskipun tidak dikatakan, tetapi ia tahu benar rencana kakak kandungnya itu. Berdua mereka harus dapat melakukan tugas besar, Tugas besar bagi Sanggar Gading, namun juga tugas besar bagi mereka sendiri.

Karena itulah, maka Cempaka pun segera mempersiapkan segala sesuatu. Mereka akan segera menempuh sebuah perjalanan lain untuk membawa Pangeran yang sedang sakit itu ke Bukit Gundul di padukuhan Lumban.

Sementara itu Rahu pun menjadi berdebar-debar. Meskipun ia mengerti sebagian rencana Cempaka atas Pangeran itu untuk membawanya ke Bukit Gundul, di Lumban, namun ia tidak mengetahui rencana Cempaka seluruhnya, di daerah Sepasang Bukit Mati.

Namun sudah dapat diharapkan bahwa Pangeran yang sedang sakit itu tentu akan menjadi semacam korban bagi satu kepentingan. Tetapi bagaimana dan cara yang akan dipakai oleh Cempaka itulah yang harus diperhatikannya.

Sementara Sanggar Gading sedang mempersiapkan diri menghadapi tugasnya, dan Sanggit Raina yang menghadap langsung pemimpin tertinggi Sanggar Gading, Rahu pun mempersiapkan rencananya. Ia tahu pasti bahwa Semi dan seorang kawannya yang akan ditunjukkan, telah bersiap pula untuk mendahului perjalanan orang-orang Sanggar Gading, sementara anak muda yang dikenalnya sebagai putra Pangeran Surya Sangkaya pun akan berada di tempat yang gawat itu.

Namun Rahu itu pun menjadi berdebar-debar ketika tiba-tiba saja Cempaka menariknya dengan wajah yang tegang, katanya, “Kita harus menghadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading sekarang”

“Apakah ada sesuatu yang gawat atau perubahan dari segala rencana yang sudah tersusun?” bertanya Rahu.

“Tidak ada yang tahu. Sikapnya kali ini mengejutkan. Juga kakang Sanggit Raina tidak mengetahui” jawab Cempaka.

Sikap Yang Mula itu benar-benar membuat Rahu menjadi cemas. Jika ada perubahan sikap Yang Mulia itu, maka ia akan menemui kesulitan. Bahkan mungkin akan membawa Pangeran yang malang itu ke dalam keadaan yang sangat pahit.

“Semi tidak akan membawa pasukan” berkata Rahu di dalam hatinya, “agar nasib Pangeran yang malang itu tidak menjadi sangat buruk. Tetapi jika ada sikap yang lain dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, maka tidak akan ada kesempatan untuk memberitahukan kepadanya”

Dengan hati yang berdebar-debar, maka, Rahu pun memasuki sanggar bersama beberapa orang yang telah dipanggil pula oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading.

Sejenak mereka menunggu. Kehadiran Yang Mula membuat jantung Rahu seolah-olah berdetak lebih cepat.

Agak berbeda dengan sikapnya yang nampak pada hari-hari yang lewat. Yang Mulia nampak bersungguh-sungguh dan tegang. Dengan suara yang lantang ia berkata, “Aku sendiri akan mengantarkan Pangeran itu ke Sepasang Bukit Mati”

Wajah Rahu menjadi semakin tegang. Adalah diluar dugaan, bahwa Yang Mulia itu akan pergi secara pribadi. Biasanya ia mempercayakan segala tugas-tugas yang penting dan berat di medan, kepada Sanggit Raina yang masih muda.

Cempaka dan Sanggit Raina sendiri terkejut mendengar keputusan itu. Seperti Rahu mereka pun tidak menduga bahwa Yang Mulia akan mengambil keputusan yang demikian.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya dapat mendengarkan keterangan Yang Mulia Penembahan Wukir Gading itu selanjutnya, “Perjalanan ke Sepasang Bukit Mati adalah perjalanan yang tidak terlalu panjang, tetapi terlalu berat. Apalagi kita akan membawa seorang Pangeran yang sedang sakit. Jika aku kali ini akan pergi bersama kalian bukan karena aku tidak percaya lagi kepada kalian. Tetapi justru karena aku menyadari, bahwa tugas ini adalah tugas yang sangat berat Aku tidak dapat sekedar duduk merenung sambil makan dan minum di padepokan, sementara anak-anakku berjuang menempuh bahaya yang setiap saat dapat menyita nyawanya”

Cempaka dan Sanggit Raina saling berpandangan sejenak.

Sementara Yang Mulia itu meneruskan, “Yang tidak kalah gawatnya adalah sikap kelompok-kelompok yang selama ini memusuhi kita, karena mereka pun mempunyai kepentingan yang sama. Jadi kalian bertemu dengan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Pusparuri atau kelompok-kelompok yang lain yang ingin merampas Pangeran itu dari tangan kalian, maka seharusnya aku berada di tengah-tengah kalian. Jika pemimpin tertinggi mereka pun menyertai anak-anaknya, maka aku akan berdosa kepada kalian, jika aku tetap duduk termenung di padepokan ini, karena bagaimanapun juga maka ilmu kalian adalah ilmu yang permulaan sekali bagi para pemimpin kelompok yang telah mencapai tingkat yang hampir sempurna.

Sanggit Raina memandang Yang Mulia Panembahan itu dengan wajah semakin tegang. Ia tidak pernah mendengar Yang Mulia itu mengatakan, betapa rendahnya tingkat ilmu kanuragan bagi orang-orang Sanggar Gading.

Rahu yang duduk diam seperti patung, sempat berkata di dalam batinnya, “Alasan yang dikemukakan oleh Yang Mulia, itu nampaknya wajar sekali. Bahkan telah menunjukkan sikap kebapaan dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, yang tidak sampai hati melepaskan anak-anaknya menempuh perjalanan yang sangat berbahaya”

Namun demikian kepergian Yang, Mulia itu tentu membawa akibat yang lain bagi setiap, rencana yang ada di kepala mereka yang ikut serta dalam kelompok itu dengan tujuan dan kepentingan mereka masing-masing. Sementara setiap orang pun tidak akan terlepas dari satu keyakinan bahwa orang yang menyebut dirinya Yang Mulia itu tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkan.

Ketika Yang Mulia itu kemudian memberikan beberapa penjelasan yang lain, maka rasa-rasanya dada Sanggit Raina dan Cempaka menjadi semakin sesak. Rencana mereka bagi diri mereka berdua menjadi kabur. Tetapi agaknya keduanya tidak akan menyerah kepada perubahan keadaan, Mereka masih tetap berpegang pada tujuan, meskipun jalan yang harus mereka tempuh akan menjadi semakin panjang, semakin sulit dan rumpil.

Tetapi dihadapan sidang yang menentukan perjalanan menuju ke Bukit Gundul itu Sanggit Raina dan Cempaka tidak memberikan tanggapan yang dapat menumbuhkan persoalan tersendiri. Mereka memaksa diri untuk menerima segala perintah Yang Mulia yang akan memimpin langsung perjalanan ke Bukit Gundul, menyerahkan Pangeran yang malang itu kepada seseorang yang sanggup menukarnya dengan sebuah pusaka yang sangat berharga.

“Aku harus membicarakannya dengan Cempaka sesudah sidang ini” berkata Sanggit Raina di dalam hatinya.

Demikianlah, maka Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu telah menentukan, bahwa ia akan pergi bersama beberapa orang pengawal terpercaya. Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu termasuk orang-orang yang akan dibawanya serta.

“Masih ada kemungkinan pahit di perjalanan” berkata Yang Mulia, “karena itu kalian harus bersiap menghadapi kemungkin-an keadaan yang gawat di perjalanan. Bersiaplah dengan senjata yang paling baik. Mungkin hanya separo dari kata akan sampai ke bukit mati, sedangkan yang separo akan mati di perjalanan. Kita mungkin, harus berhadapan dengan orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih atau orang-orang dari kelompok yang lain. Berita hilangnya Pangeran itu tentu tidak akan dapat tertahan untuk waktu yang lama di dalam dinding istana kepangeranan. Berita itu tentu akan menembus gerbang betapapun rapatnya sehingga akhirnya akan sampai juga kepada orang-orang dari kelompok yang lain, yang juga menginginkan pusaka itu. Sementara itu, agaknya orang yang sekarang menguasai pusaka itu akan menuntut imbalan yang sama seperti yang dimintanya kepada kita. Dengan demikian maka nilai Pangeran yang sakit-sakitan itu akan sama dengan nilai pusaka itu sendiri”

Dada Sanggit Raina dan Cempaka menjadi semakin bergejolak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu di dalam bidang itu.

Rasa-rasanya sidang itu berlangsung sedemikian lamanya, sehingga Sanggit Raina dan Cempaka menjadi lebih letih sekali. Kepala mereka justru menjadi pening. Mereka ingin pertemuan itu segera selesai, sehingga mereka berdua dapat membicarakan apa yang sebaiknya akan mereka lakukan.

Tetapi akhirnya sidang itu pun selesai juga. Demikian Yang Mulia meninggalkan sidang, maka Sanggit Raina dan Cempaka pun segera memisahkan diri dari kawan-kawannya. Mereka ingin berbicara tentang rencana Yang Mulia untuk pergi sendiri ke daerah Sepasang Bukit Mati itu.

“Kita akan mengalami kesulitan” berkata Sanggit Raina.

“Pusaka itu akan diterima langsung oleh Yang Mulia sehingga kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari padanya” berkata Sanggit Raina, “lalu apakah artinya kita selama ini berada di sanggar ini, sebagai budak yang tidak berarti apa-apa” namun kemudian ia berkata, “Tetapi tentu masih ada cara. Lambat atau cepat, pusaka itu akan jatuh ke tanganku. Bukan hanya pusaka itu, tetapi dalam artinya yang lebih luas daripada tuahnya saja”

Cempaka menganguk-angguk. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan kakang? Apakah kita akan dapat mengimbangi kemampuan Yang Mulia. Apalagi jika para pengawal yang lain akan berpihak kepadanya”

“Jangan bodoh. Kita akan memperhitungkan setiap keadaan yang akan berkembang kemudian” jawab Sanggit Raina, “Yang Mulia itu pun manusia juga seperti kita yang terdiri dari tulang dan daging. Betapapun tinggi ilmunya, pada suatu saat, ia akan dapat kita cari kelemahannya”

Cempaka mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berdesis, “Mudah-mudahan kelemahan itu dapat kita temukan sehingga kita tidak akan sia-sia berada di Sanggar Gading untuk waktu yang lama”

“Tetapi berhati-hatilah. Jika benar perhitungan Yang Mula, bahwa diantara kita yang akan sampai ke daerah Sepasang Bukit Mati itu hanya separo saja, hendaknya dari yang separo itu terdapat kita berdua”

“Aku akan berhati-hati kakang” jawab Cempaka, “ada beberapa orang yang kemampuannya tidak melampaui kemampuanku. Mereka tentu akan menjadi korban-korban yang pertama. Selebihnya, jumlah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi pada padepokan Pusparuri dan Kendali Putih memang tidak terlalu banyak. Tetapi kita masih belum mendapat keterangan yang pasti tentang orang-orang Gunung Kunir”

“Bawalah, senjata yang dapat diandalkan. Mudah-mudahan Rahu pun tetap dapat kita percaya. Sayang, Bantaradi terbunuh ketika ia berkelahi melawan Nrangsarimpat dan kawan-kawannya. Nampaknya ia termasuk anak muda yang memiliki kemampuan yang cukup dan kurang pandai mempergunakan otaknya, sehingga orang-orang seperti Bantaradi itu akan dapat menjadi kawan yang sangat baik” desis Sanggit Raina.

“Ya. Ia termasuk anak muda yang menuruti perasaannya saja tanpa pertimbangan akal yang mapan. Sejak ia melibatkan diri dalam perkelahian yang tidak dimengertinya, maka aku sudah tertarik kepadanya. Tetapi aku pun sudah menilai bahwa orang-orang yang demikian umurnya tidak akan cukup panjang. Ia akan melibatkan diri ke dalam kesulitan yang akan dapat membunuhnya meskipun sebenarnya ia dapat menghindarinya. Seandainya ia tidak tertarik kepada persoalan. Nrangsarimpat yang memang bukan tanggung jawabnya, ia tentu tidak akan terbunuh. Tetapi ia benar-benar tidak dapat mengekang diri untuk berkelahi melawan siapa saja” desis Cempaka.

“Berhati-hatilah Cempaka” berkata kakaknya, “Ternyata kita masih harus mengatasi banyak kesulitan. Tetapi kita tidak akan berputus asa, karena taruhannya pun memadai Seandainya harus kita perebutkan dengan mengorbankan nyawa kita sekalipun, maka kita tidak akan menyesal sama sekali

“Aku mengerti kakang. Dan aku pun akan berusaha tidak mati tanpa arti, seandainya kita bertemu dengan orang-orang Kendali Putih, atau orang-orang manapun juga yang akan mengambil Pangeran itu, atau kemudian mengambil pusaka itu seandainya mereka memilih jalan itu” geram Cempaka.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa bagaimanapun juga orang-orang di istana Pangeran yang malang itu berusaha untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, dengan harapan bahwa keselamatan Pangeran itu tidak terancam, namun heran tentang hilangnya Pangeran itupun telah menembus dinding halaman dan terdengar oleh orang-orang diluar istana kepangeranan itu.

Bahkan berita itupun semakin lama menjadi semakin meluas, meskipun sebagian dari mereka yang mendengar masih ragu-ragu.

Akhirnya berita itu didengar oleh seorang Senapati Prajurit Demak sehingga demikian seseorang berkata kepadanya bahwa ada berita tentang hilangnya seorang Pangeran, maka serta merta iapun meloncat ke punggung kuda dan berpacu ke istana Pangeran yang malang itu.

Kedatangannya membuat para pengawal terkejut. Tetapi karena mereka mengenal Senapati itu, maka mereka tidak dapat menolak ketika senapati Itu memaksa untuk memasuki istananya.

Di ruang dalam ia bertemu dengar puteri yang berduka itu. Dua orang pengawalnya duduk sambil menunduk di belakang puteri yang wajahnya selalu basah.

“Katakan, apa yang telah terjadi sebenarnya puteri” desis Senapati itu.

Puteri yang berduka itu ragu-ragu.

“Jangan ragu-ragu. Mungkin puteri telah mendapat ancaman. Tetapi puteri tahu siapa aku. Aku mempunyai kewajiban menjaga keselamatan setiap rakyat Demak, karena itu memang kewajiban setiap prajurit. Apalagi berita yang mungkin kau maksud untuk menyimpannya saja di dalam lingkungan istana ini telah menembus keluar, sehingga justru karena pendengaran orang-orang Demak yang tidak bersumber dari yang benar-benar mengetahui hal itu, berita tentang hilangnya ayahanda puteri menjadi simpang siur. Bahkan mungkin ada yang dapat merugikan keselamatan Pangeran”

Puteri itu masih ragu-ragu. Tetapi ia memang mengenal dengan baik. Senapati yang datang kepadanya untuk menawarkan perlindungan itu adalah Senapati yang dekat dengan ayahnya.

“Paman” berkata puteri itu kemudian, “Tetapi apakah dengan demikian jiwa ayah tidak terancam”

“Tetapi kita harus berbuat sesuatu puteri. Kita tidak dapat membiarkan ayahanda puteri hilang tanpa berbuat sesuatu” jawab Senapati itu. Lalu, “Kita tidak mempunyai jalan lain. Jika kita diam saja, maka Pangeran itu akan hilang seperti asap dihembus angin. Tetapi jika kita berbuat sesuatu, kita masih mempunyai dua kemungkinan. Pangeran akan tetap hilang, atau kita akan dapat menemukannya sekaligus menghancurkan segerombolan orang yang ingin berbuat jahat, yang tentu tidak hanya kepada ayahanda puteri sendiri. Mungkin di kesempatan lain ia akan berbuat jahat pula kepada orang-orang lain”

Puteri itu masih nampak ragu-ragu. Namun akhirnya ia bertanya kepada pengawalnya, “Apakah yang sebaiknya aku lakukan paman?”

Pengawalnya itupun menjawab, “Puteri. Berita tentang hilangnya ayahanda puteri agaknya memang sudah didengar oleh satu dua orang di luar istana ini. Namun yang kemudian meluas dalam ujud dan bentuk yang berbeda-beda. Agaknya memang ada baiknya jika berita yang sebenarnya didengar oleh seorang Senopati prajurit Demak, sehingga akan dapat dinilai dengan pasti, apa yang telah terjadi”

Puteri itu pun kemudian tidak menyembunyikan keadaan ayahandanya keadaannya. Kepada Senapati itu ia mengatakan apa yang diketahui dan apa yang didengarnya. Bahkan ia pun menceriterakan pula apa yang terjadi kemudian atas dirinya.

Senapati itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Tentu bukan sekelompok penjahat kebanyakan, seperti sekelompok penyamun yang mencegat korbannya di bulak-bulak panjang. Bukan pula sekelompok perampok yang sekedar mencari pendok dan timang emas”

“Mereka sama sekali tidak mengambil apapun dari istana ini” berkata salah seorang pengawalnya.

“Ya” sahut Senapati itu, “apakah setelah terjadi peristiwa berikutnya. Agaknya kelompok itu mempunyai ikatan paugeran yang kuat. Ternyata bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka berakibat maut”

“Ya” sahut seorang pengawal itu, “hukuman itu dilakukan tanpa ragu-ragu”

Senapati itu pun kemudian berkata, “Maaf puteri aku terpaksa membawa masalah ini ke dalam lingkungan yang lebih luas. Mungkin pimpinan keprajuritan Demak mengambil satu sikap”

“Tetapi jangan membuat sesuatu yang dapat mengancam jiwa ayahanda”

Puteri itu mulai menyeka air matanya yang sudah mulai mengembang di pelupuk matanya.

“Kami akan mempertimbangkan segala kemungkinan. Dan kami pun akan melakukan yang paling baik yang dapat kami pilih diantara beberapa kemungkinan yang ada” jawab Senapati itu, “Tetapi sudah barang tentu bahwa kami tidak akan dapat berdiam diri”

“Jika paman akan mencari, kemana atau gerombolan manakah yang dapat paman duga membawa ayahanda?” bertanya puteri itu.

“Memang tidak begitu mudah untuk mengetahui puteri. Tetapi kami akan mulai melaksanakannya, itu akan jauh lebih baik daripada kami harus menunggu” jawab Senapati itu.

Puteri itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang buram menjadi buram.

Tetapi puteri itu kemudian berdesis lambat, “Semuanya terserah kepada paman. Tetapi aku mohon, hendaknya paman dapat menyelamatkan jiwa ayahanda”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu, Kami prajurit Demak akan berusaha sejauh dapat kami lakukan. Percayalah kepada kami puteri”

Setitik air mata telah mengalir di pipi puteri yang berduka itu. Tetapi dia kemudian berkata, “Aku percaya kepada paman”

Senapati itu pun kemudian mohon diri, ia mendapat beberapa petunjuk yang semakin jelas langsung dari mereka yang menyaksikan peristiwa itu.

Namun demikian, bagian yang didapat oleh Senapati itu masih terlalu sedikit untuk langsung dapat mengetahui, dimanakah Pangeran yang hilang itu berada. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa prajurit Demak dapat mencuci tangan dan membiarkan hal itu berlalu tanpa berbuat sesuatu.

Karena itulah, maka Demak telah menugaskan beberapa orang petugas sandi untuk mencari jejak hilangnya Pangeran yang malang itu.

Namun demikian, persoalan hilangnya Pangeran itupun masih diusahakan oleh para petugas yang menangani agar persoalannya masih tetap terbatas pada orang-orang tertentu saja.

Dalam pada itu, para petugas sandi Demak, yang kemudian memencar ke beberapa tempat, dengan sungguh-sungguh telah berusaha mencari jejak Pangeran yang hilang itu. Namun nampaknya kerja mereka adalah kerja yang tidak akan dapat mereka selesaikan dalam waktu yang dekat.

Para pemimpin dari petugas sandi di Demak, telah berusaha mencari nama-nama petugasnya yang telah mendapat perintah bekerja di luar lingkungan, untuk mendapat sumber keterangan tentang Pangeran yang hilang itu.

Namun sampai demikian jauh, agaknya semuanya masih serba gelap bagi para prajurit Demak.

Sementara, itu, Jlitheng telah berada kembali ke dalam lingkungannya. Ia telah berada kembali diantara anak-anak muda di padukuhan Lumban. Dengan hati-hati dia telah membuat cerita perjalanannya selama ia tidak berada di padukuhannya.

Dalam pada itu, agaknya kawan-kawannya tidak mencurigai-nya. Mereka percaya kepada cerita yang telah dibuat oleh Jlitheng tentang dirinya. Karena anak-anak muda itu sama sekali tidak pernah membayangkan persoalan-persoalan yang rumit yang pernah dialami oleh Jlitheng dalam perjalanannya.

Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika pada saat ia duduk sendiri. Daruwerdi telah datang mendekatinya.

“Jlitheng” desis Daruwerdi yang kemudian duduk di sebelahnya, di atas batu padas di pinggir padukuhan, “Kau belum menceriterakan, apakah perjalananmu berhasil?”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berdesis, “Persoalan ini adalah persoalan yang sangat pribadi, Daruwerdi”

Daruwerdi tertawa. Katanya, “Dahulu kau juga berkata demikian. Tetapi aku sebagai seorang kawan yang dekat, tentu ingin mendengar, apakah kau merasa bahagia?”

“Mungkin demikian, Daruwerdi, tetapi mungkin tidak” jawab Jlitheng.

“Bagaimana?” desak Daruwerdi.

Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan ia merasa ragu-ragu, apakah Daruwerdi bertanya sebenarnya, atau ia justru mulai mencurigainya.

Namun demikian Jlitheng menjawab, “Aku tidak dapat mengatakannya Daruwerdi. Setiap kali akan hanya dapat mengatakan bahwa persoalannya adalah persoalan keluarga. Persoalan yang terbatas sekali”

Daruwerdi tertawa. Tetapi ia pun kemudian berdiri sambil menepuk bahu Jlitheng sambil berkata, “Cobalah melihat dirimu, keadaanmu dan masa depanmu sebelum kau terlanjur menginjakkan kakimu ke jenjang perkawinan”

Jlitheng tidak menyahut. Tetapi demikian Daruwerdi meninggalkannya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Mudah-mudahan ia tidak mencurigai aku” desis Jlitheng yang memandang langkah Daruwerdi yang hilang di balik tikungan.

Jlitheng kemudian segera bangkit. Tiba-tiba saja ia ingin pergi ke bukit untuk menemui seseorang yang telah lama tidak dijumpainya. Tetapi rasa-rasanya ia masih ragu-ragu. Ia belum menemukan satu kepastian, apakah yang sebaiknya dikatakan apabila ia bertemu dengan seorang tua yang tinggal di dalam gubugnya di bukit berhutan itu.

Tetapi ada semacam kerinduan yang tidak dapat ditahankannya lagi. Meskipun orang tua itu bukan apa-apa baginya, tetapi ia sudah banyak memberikan petunjuk kepadanya.

Sejenak Jlitheng memandang padukuhannya. Ia tidak melihat kawan-kawannya. Agaknya kawan-kawannya masih belum ingin mengganggunya, karena mereka mengetahui bahwa ia baru saja pulang dari perjalanan yang menurut ceritera yang disampaikan kepada kawan-kawannya adalah perjalanan yang panjang sekali, dan hanya ditempuhnya dengan berjalan kaki.

Ternyata Jlitheng tidak dapat menahan diri lagi. Meskipun ia akan menemui kesulitan untuk membuat ceritera yang harus berbeda dengan ceritera-ceritera yang disampaikan kepada kawan-kawannya.

Sejenak kemudian maka Jlitheng pun segera berjalan bergegas ke bukit yang nampak hijau segar oleh hutan yang tertutup diatasnya. Namun agaknya ia ingin juga. menyelusuri sungai yang telah digarapnya, sehingga airnya tidak lagi hanya setinggi mata kaki.

Di sepanjang perjalanannya ke bukit itu, Jlitheng sempat memperhatikan, bahwa parit telah menjadi semakin terawat. Air pun telah mengalir meskipun masih belum terlalu deras.

“Lumban akan menjadi hijau” desisnya.

Namun ketika ia mulai memasuki lereng bukit berhutan itu, langkahnya tertegun. Ia menjadi ragu-ragu lagi. Apakah yang akan dikatakannya kepada orang tua itu. Apakah ia akan berterus terang. Atau ia harus mengarang ceritera yang lain.

Jlitheng termangu-mangu Katanya di dalam hati, “Seandainya aku mengatakan yang tidak sebenarnya maka jika peristiwa berikutnya akan terjadi disini, apakah hal itu tidak akan menyinggung perasaannya? Apakah orang tua yang telah berbuat banyak kepadaku itu, tidak akan merasa bahwa ia sama sekali tidak mendapat kepercayaanku?”

Jlitheng yang menjadi bimbang itu kemudian duduk diatas sebuah batu. Ia tidak dapat bertanya kepada siapapun juga. apakah yang sebaiknya dilakukannya. Mengatakan seluruhnya, sebagian atau tidak sama sekali.

Tetapi sebenarnyalah Jlitheng tidak dapat memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada orang tua itu. Ia sudah melihat, betapa peliknya persoalan yang menyangkut pusaka yang diperebutkan itu. Ia pun melihat, betapa seorang Pangeran telah dipaksa meninggalkan istananya dalam keadaan sakit karena pusaka itu pula. Ia mengetahui beberapa gerombolan yang saling berebutan. Yang satu mungkin sekali akan membentur yang lain.

“Apakah orang tua itu benar-benar tidak mempunyai sangkut paut dengan pusaka yang hilang itu” desis Jlitheng dalam hatinya.

Namun selagi Jlitheng merenungi kemungkinan yang akan dilakukan apabila ia bertemu dengan Kiai Kanthi, maka tiba-tiba saja ia telah dikejutkan oleh desir lembut di belakangnya.

Karena pengaruh perjalanannya. maka desir yang lembut itu telah mendorongnya untuk meloncat bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar suara lembut

“Kau sudah kembali, ngger?”

Ternyata yang datang, itu adalah Kyai Kanthi. Dan karena itu maka Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia belum menemukan sikap yang paling baik menghadapi orang tua itu tiba-tiba saja ia sudah dihadapkan kepadanya.

Kiai Kanthi kemudian duduk di sebuah batu padas dan bahkan mempersilahkan anak muda itu duduk pula, “Silahkan ngger. Silahkan duduk”

Jlitheng tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian duduk di sebelah Kiai Kanthi dengan hati yang berdebar-debar.

“Kenapa kau duduk sendiri disini ngger?” tiba-tiba saja Kiai Kanthi bertanya. Dan ternyata pertanyaan itu telah membingungkan Jlitheng.

Karena beberapa saat Jlitheng tidak menjawab, maka Kiai Kanthi itupun bertanya pula, “ Apakah kau sudah lupa jalan pulangmu?”

“Ah” Jlitheng berdesah. Tetapi iapun kemudian tertawa.

Namun wajah Jlitheng menjadi kemerah-merahan ketika ia mendengar Kiai Kanthi berkata, “Agaknya kau sedang memikirkan, ceritera apakah yang akan kau sampaikan kepadaku tentang perjalananmu”

Sesaat Jlitheng justru terbungkam. Namun kemudian Katanya, “Mungkin memang demikian Kiai. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku katakan kepala Kiai”

“Karena sebagian dari ceritera itu masih belum sempat kau susun” potong Kiai Kanthi sambi tertawa. Namun orang tua itu pun kemudian berkata, “Angger, Aku tahu bahwa apa yang kau lakukan tidak perlu diketahui oleh banyak orang. Aku pun tahu bahwa kau sedang melakukan satu tugas yang penting, meskipun mungkin tugas itu kau bebankan sendiri diatas pundak, karena tanggung jawabmu atas hubungan antara sesama. Karena itu, marilah datang ke gubugku. Aku tidak akan bertanya tentang perjalananmu, kecuali pada bagian-bagian yang akan kau ceriterakan sendiri, yang tidak akan mengganggu tugasmu untuk seterusnya”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf Kiai. Aku memang sedang dirisaukan oleh persoalan yang tidak akan dapat aku katakan, kepada Kiai, tetapi aku menjadi cemas, bahwa Kiai akan kecewa, atau bahkan marah kepadaku, tidak mempercayai Kiai sama sekali”

“Keterbukaanmu membuat orang lain menghargai sikapmu, ngger. Aku. tidak akan marah, karena aku tahu bahwa yang kau lakukan adalah hal yang sangat wajar dan memang seharusnya, kau lakukan. Siapapun yang berada dalam keadaan seperti keadaanmu sekarang, tentu akan berbuat seperti itu pula” berkata Kiai Kanthi

Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Desisnya, “Aku minta maaf Kiai”

“Kenapa kau harus minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah. Dan aku pun tidak memancing keterangan yang sebenarnya tidak ingin kau katakan dengan cara apapun” jawab Kiai Kanthi.

Jlitheng mengangguk-angguk pula. Katanya, “Terima kasih atas pengertian itu Kiai. Dengan demikian aku tidak dibebani lagi oleh kebingungan, apa yang akan aku katakan kepada Kiai Kanthi, jika aku bertemu. Itulah sebabnya maka baru sekarang aku datang”

“Tentu kau juga baru datang. Jika sekarang kau mengunjungiku, maka itu berarti bahwa perhatianmu atasku cukup besar” jawab Kiai Kanthi, lalu, “sekarang, marilah. Kita pergi ke gubug yang kita buat bersama-sama itu?”

“Apakah selama ini belum ada kemajuan apapun juga di padukuhan Lumban dan pada padepokan Kiai” bertanya Jlitheng.

“Bukankah parit-parit telah menjadi semakin baik. Dalam waktu beberapa hari apa yang dapat kita lakukan?” Kiai Kanthi bertanya.

“Ya” desis Jlitheng. Sebenarnyalah bahwa dia pun tidak cukup lama pergi untuk suatu kesempatan yang cukup bagi perubahan di padukuhannya.

Demikianlah, maka keduanya pun pergi ke gubug Kiai Kanthi yang masih belum mengalami perubahan, kecuali halamannya menjadi bertambah bersih dan beberapa perabot rumah agaknya telah dibuatnya sendiri.

Di pintu gubug itu, Jlitheng melihat Swasti yang bangkit dan beringsut dari ruangan dalam. Tetapi langkahnya terhenti ketika ayahnya berkata, “Swasti, angger Jlitheng telah datang”. Swasti menundukkan kepalanya. Dari sela-sela bibirnya terdengar sapanya pendek, “Selamat datang”

“Terima kasih Swasti” sabut Jlitheng, ”bukankah kau juga selamat selama ini?”

Swasti tidak menjawab, tetapi kepalanya terangguk kecil.

“Jika kau akan ke dapur, pergilah ke dapur” berkata ayahnya kemudian, “rebuslah air, dan barangkali kau mempunyai setandan pisang raja yang telah masak, Rebus pulalah”

“Jangan terlalu sibuk karena kedatanganku” potong Jlitheng

“Tidak. Setiap hari ia juga melakukannya” jawab Kiai Kanthi.

Sepeninggal Swasti maka, Jlitheng pun duduk di amben bambu yang panjang. Kiai Kanthi yang duduk disampingnya berkata, “Nampaknya air itu memberikan harapan yang besar bagi rakyat Lumban. Mereka merasa bahwa sawah mereka akan menjadi sawah yang subur, yang akan dapat memberikan hasil panen padi dua kali setahun. Terutama pada jalur utama parit yang telah diperbaiki itu”

“Ya Kiai. Jika benar-benar dapat terjadi demikian, maka Lumban akan berubah hijau sepanjang tahun” jawab Jlitheng.

“Tetapi ada masalah baru yang kemudian timbul, ngger” desis Kiai Kanthi.

“Masalah baru? Apakah ada hubungannya dengan hijaunya Lumban?”

“Ya, Karena parit dan air. Maka agaknya timbul persoalan pada orang-orang Lumban Kulon dan Lamban Wetan” desis Kiai Kanthi.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Persoalan inilah yang sejak pertama kita cemaskan. Apakah Ki Buyut Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang nampaknya rukun dan baik itu akan sampai hati berselisih karena air”

“Sumbernya bukan pada Ki Buyut Lumban Kulon dan Wetan” sahut Kiai Kanthi

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu iapun kemudian bertanya, “Apakah Daruwerdi?”

Tetapi Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Bukan ngger. Bukan Daruwerdi. Ia nampaknya tidak mengacuhkan sama sekali air yang mengalir di parit-parit itu”

“Siapa?” bertanya Jlitheng.

“Agaknya anak laki-laki kedua Buyut itu mempunyai sifat yang berbeda. Mereka ternyata tidak mewarisi kerukunan ayah mereka” desis Kiai Kanthi.

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sudah mengenal kedua anak muda itu. Dan agaknya mereka mempunyai sifat dan kebiasaan tersendiri sehingga mereka tidak dapat serukun ayah-ayah mereka.

“Anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan berusaha untuk tetap memelihara kerukunan itu” berkata Jlitheng, “Mereka tentu mengakui bahwa aku adalah salah seorang dari mereka yang telah mengarahkan air di bukit itu sehingga dapat dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon”

“Mudah-mudahan ngger. Tetapi jika kau tidak bekerja cepat, maka perpecahan itu akan kian menjalar” tetapi tiba-tiba suara Kiai Kanthi menurun, “namun agaknya kau mempunyai tugas yang penting yang harus kau lakukan disini, sehingga waktumu akan menjadi sangat sempit, jika kau masih harus mengurusi air itu”

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia menjawab, “Kedua-duanya tugas yang penting yang harus aku kerjakan Kiai. Aku tidak akan dapat berdiam diri jika orang-orang Lumban Kulon dan orang-orang Lumban Wetan saling bertengkar karena, air. Dan aku pun tidak akan dapat menanggalkan tugas yang telah aku bebankan pada diriku sendiri”

“Mudah-mudahan kau dapat melakukannya ngger” berkata Kiai Kanthi, “Aku akan membantu apa saja jika kau perlukan”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun kekecewaan yang sangat membayang di wajahnya. Usahanya yang diharapkannya dapat membuat Lumban Wetan dan Lumban Kulon menjadi hijau subur, ternyata justru menimbulkan soal baru yang rumit. Agaknya orang-orang Lumban Kulon dan orang-orang Lumban Wetan telah disentuh oleh perasaan tamak dan dengki. Mereka ingin air yang naik dari sungai kecil itu, hanya untuk mengairi sawah di daerah mereka masing-masing.

“Air itu memang belum mencukupi” desisnya tiba-tiba.

“Ya. Justru karena itu, maka orang-orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan masing-masing ingin bahwa air yang naik itu untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Orang-orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang sawahnya masih belum dialiri air parit itu agaknya telah mendesak, agar cara membagi air dirubah, dan menguntungkan pihak masing-masing” sahut Kiai Kanthi.

“Baiklah Kiai” berkata Jlitheng, “Aku akan menghubungi anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Kepadaku mereka belum mengatakan sesuatu. Mungkin mereka mengerti bahwa aku baru datang dari sebuah perjalanan, sehingga aku tidak akan dapat menanggapinya dengan sebaik-baiknya, atau justru mereka merasa segan mengatakannya kepadaku”

“Mungkin ngger. Tetapi mungkin mereka pun merasa bahwa kau akan bersikap lain dari mereka, sehingga mereka justru sudah berprasangka terhadapmu” berkata Kiai Kanthi kemudian, “karena itu, jika kau masih mempunyai waktu, cobalah menanggapi hal ini. Jika perlu, kau dapat menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon dan Ki Buyut di Lumban Wetan.

Jlitheng mengangguk-angguk. Ternyata ia mendapat beban baru di padukuhan yang semula nampak tenang, meskipun selalu gersang. Justru karena tanah yang kering dan ke kuning-kuningan itu mulai disentuh oleh air, sehingga daun-daun yang semi menjadi hijau, persoalannya justru berkisar menjadi gawat karena ketamakan dan kedengkian.

Tetapi disamping itu, persoalan yang lain tetap menunggunya. Semula ia menganggap persoalan pusaka itu adalah persoalan yang harus mendapat perhatiannya yang utama. Pusaka itu akan menyangkut keselamatan seseorang, keselamatan Pangeran yang malang itu. Bahkan mungkin jika timbul benturan kekuatan antara kelompok-kelompok yang menghendakinya, akan dapat menimbulkan pertempuran yang luas.

Namun, agaknya kini ia tidak dapat mengesampingkan persoalan orang-orang Lumban itu. Jika perselisihan mereka tentang air itu meluas, maka persoalannya akan dapat menjadi gawat pula. Anak laki-laki Ki Buyut Lumban Kulon itu agaknya seorang anak muda yang keras hati dan kurang memperhatikan persoalan yang tumbuh di sekitarnya. Jika ia justru berpendirian keras tentang air. maka perselisihan memang mungkin sekali akan menjadi semakin gawat.

“Tetapi kau tidak perlu tergesa-gesa ngger” berkata Kiai Kanthi, “Bukan berarti bahwa masalahnya tidak harus segera ditangani, tetapi kau harus mengetahui masalahnya dengan baik. Baru kau akan dapat mengambil kesimpulan apakah yang dapat kau lakukan. Tentu saja jangan sampai mengganggu kewajibanmu yang menyangkut masalah yang jauh lebih luas dari masalah kedua padukuhan ini saja”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Kiai Tetapi bantuan Kiai akan sangat berarti bagiku. Bukan saja masalah air yang menjadi sumber persoalan di Lumban ini, tetapi persoalan-persoalan lain yang memang akan menyangkut masalah yang lebih luas seperti yang Kiai katakan itu”

“Sejauh dapat aku lakukan, ngger” jawab Kiai Kanthi sambil mengangguk-angguk.

Demikianlah mereka masih berbicara tentang berbagai macam hal yang menyangkut masalah air, sehingga akhirnya Kiai Kanthi itu bergumam, “Apakah pisang itu belum masak”

Ketika Kiai Kanthi kemudian masuk ke dapur, dilihatnya Swasti sedang mengangkat pisang rebus yang sudah masak dan meletakkannya diatas sebuah irik bambu.

“Dengan demikian maka keduanya kemudian masih sempat berbicara sambil mengunyah pisang rebus yang disediakan oleh Swasti, sementara Jlitheng mendapat gambaran-gambaran yang lebah jelas tentang perselisihan yang mulai membayang di Lumban, antara orang-orang Lumban Kulon dan orang-orang Lamban Wetan.

Setelah beberapa saat ada di gubug Kiai Kanthi maka Jlitheng pun kemudian turun dengan hati yang gelisah, seperti gelisahnya dedaunan yang hijau dihembus angin yang kencang.

Ada semacam penyesalan yang bergejolak di hati Jlitheng. Bahkan ia merasa bahwa orang-orang Lumban sama sekali tidak mengenal terima kasih. Setitik air bagi mereka akan jauh lebih berharga daripada kegersangan yang mencengkam padukuhan itu, lebih-lebih di musim kemarau. Tetapi ketika parit mulai mengalir, meskipun kurang mencukupi, justru menimbulkan persoalan baru pada padukuhan yang mulai nampak hijau itu.

Kegelisahannya itu ternyata dapat dilihat oleh ibu Jlitheng ketika ia sampai di rumahnya. Bagaimanapun juga, Jlitheng adalah pusat perhatian perempuan tua yang menyebut dirinya ibunya yang menganggap Jlitheng seperti anaknya sendiri.

“Apakah kau sakit?” bertanya ibunya.

“Tidak biyung. Aku tidak apa-apa. Mungkin aku masih lelah setelah aku mencoba melihat-lihat berapa luasnya dunia ini” jawab Jlitheng.

Ibunya tidak bertanya lagi. Sambil meninggalkan anak laki-lakinya di dapur ia berkata, “Makanlah dan beristirahatlah”

Tetapi ternyata Jlitheng tidak beristirahat. Ketika malam mulai turun, maka ia pun minta diri kepada ibunya, untuk pergi ke gardu.

“Seharusnya kau banyak beristirahat. Tidur sajalah. Bukankah di gardu sudah banyak ditunggui anak-anak muda?”

“Mungkin aku dapat melupakan kelelahan yang masih tersisa” jawab Jlitheng kemudian, “di gardu aku akan dapat bergurau bersama kawan-kawan”

Ibunya tidak menghalanginya lagi. Bahkan iapun berpikir, bahwa anak itu akan mendapat kesegaran diantara kawan-kawannya.

Ketika Jlitheng berada diantara kawan-kawannya ia tidak segera melihat persoalan yang timbul diantara anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Karena itu, untuk beberapa saat lamanya Jlitheng terlibat dalam pembicaraan yang gembira diantara kawan-kawannya

Namun akhirnya Jlitheng lah yang memancing pendapat kawan-kawannya. Dengan hati-hati ia mulai berbicara tentang sawah, bahkan kemudian air.

“Pekerjaan kita tentu bertambah sekarang” berkata Jlitheng seolah-olah tanpa maksud, “Bukankah ada diantara kita yang harus pergi ke sawah untuk melihat air?”

Ternyata kegelisahan Jlitheng tentang air itu benar-benar membayang diantara sikap dan tingkah laku-laku kawan-kawannya. Ketika Jlitheng mulai menyinggung air, maka kawan-kawannya mulai nampak berubah sikap.

Tetapi seorang yang bertubuh gemuk tiba-tiba saja berkata, “Jlitheng. marilah kita berbicara tentang yang lain. He, bukankah kau datang dari perjalanan yang cukup jauh? Coba, apa yang sudah kau lihat”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ia benar-benar ingin tahu sikap kawan-kawannya tentang air. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Ternyata kita masih jauh ketinggalan dari padukuhan-padukuhan lain yang aku kunjungi. Pada umumnya padukuhan-padukuhan itu telah mempunyai penataan air yang baik dan teratur. Sementara kita disini baru mulai. Tetapi jika kita bekerja dengan tekun dan bersungguh-sungguh, maka kita akan dapat segera mengejar kekurangan kita”

Kawan-kawannya tiba-tiba saja menjadi gelisah. Tetap Jlitheng justru mendesak terus, “Marilah kita bekerja lebih baik untuk mengatur air yang meskipun sedikit tetapi mulai teratur. Sungai itu tidak akan kering di musim kemarau karena sumber air di bukit yang sudah dapat kita arahkan

Kawan-kawannya nampak menjadi semakin gelisah. Namun akhirnya Jlitheng semakin mendesak, “Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian sudah jemu berbicara tentang air? Kita baru mulai, sedangkan kita sudah tertinggal jauh dari padukuhan-padukuhan lain sepanjang perjalananku. Tetapi nampaknya kalian sudah mulai jemu membicarakannya”

Kawan-kawannya saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Jlitheng. Sebenarnya kami tidak ingin membuat kau dan orang tua yang tinggal di bukit itu menjadi kecewa. Kau dan orang tua itu sudah bekerja keras untuk mengarahkan arus air belumbang yang meluap diatas bukit berhutan lebat itu”

Dada Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata yang dikatakan oleh Kiai Kanthi agaknya bukan sekedar prasangka.

“Jlitheng, sebenarnyalah bahwa ada persoalan yang kemudian- timbul di padukuhan ini” berkata kawannya.

“Persoalan apa?” Jlitheng masih bertanya, “Apakah ada kesulitan dengan parit-parit itu?”

“Tidak. Tidak Jlitheng” jawab kawannya itu, “Yang menumbuhkan persoalan bukannya parit dan air itu sendiri”

“Lalu apa?” Jlitheng masih berpura-pura tidak mengetahui persoalannya.

Anak muda itu menarik nafas. Namun kemudian katanya, “Kami ternyata benar-benar telah mengecewakanmu dan mengecewakan orang tua di kaki bukit itu. Pada saat-saat terakhir telah tumbuh semacam perselisihan antara orang-orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan tentang air sungai itu. Kami masing-masing merasa bahwa bagian kami terlalu sedikit. Orang-orang Lumban Kulon menganggap bahwa tanah persawahan di Lumban Kulon lebih tinggi dari tanah persawahan di Lumban Wetan sehingga mereka menuntut cara pembagian yang lain dari yang kita lihat sekarang, karena menurut mereka, air yang naik dari sungai itu lebih banyak mengalir ke Lumban Wetan.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenungi kawan-kawannya yang tertunduk diam, seolah-olah mereka merasa telah bersalah, karena Jlitheng tentu akan menjadi sangat kecewa karenanya.

Baru sejenak kemudian Jlitheng bertanya, “Tetapi apakah menurut kalian, tanah persawahan di Lumban Wetan lebih rendah dari Lumban Kulon?”

“Tidak. Sebagaimana kita lihat. Bukankah dataran diantara sepasang bukit mati ini rata dan tidak miring? Bukankah dengan demikian sawah di Lumban Wetan sama sekali tidak lebih rendah dari Lumban Kulon?”

Jlitheng mengangguk-angguk. Menurut pendapatnya, sawah di Lumban Wetan memang lebih rendah dari sawah di Lumban Kulon.

Namun demikian, Jlitheng tidak menentukan sikap apapun juga. Ia baru mendengar keterangan dari anak-anak Lumban Wetan. Ia masih belum mendengar apa yang dikatakan oleh anak-anak Lumban Kulon.

Namun dalam pada itu kawannya berkata, “Jlitheng. Anak-anak muda Lumban Kulon nampaknya bersikap terlalu keras. Mereka kini melarang kami, anak-anak muda Lumban Wetan ikut berlatih olah kanuragan pada Daruwerdi”

Jlitheng menjadi cemas mendengar keterangan itu. Jika masalahnya menyangkut Daruwerdi, maka persoalannya akan berkembang semakin gawat. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah Daruwerdi sendiri tidak menunjukkan sikap apapun juga?”

“Daruwerdi seolah-olah menjadi acuh tidak acuh. Ketika kami bertanya kepadanya. Kenapa kami dilarang mengikuti latihan olah kanuragan, maka ia tidak memberikan jawaban yang memuaskan” sahut seorang anak muda.

“Apa katanya?” bertanya Jlitheng.

“Katanya, ia tidak menentukan apa-apa. Ia mengajari siapa yang hadir di dekat bukit gundul itu. Sedangkan anak-anak Lumban Kulon menganggap bahwa bukit gundul itu termasuk daerah Lumban Kulon” sahut seorang kawannya.

“Apakah memang demikian?” bertanya Jlitheng.

“Tidak ada yang pernah mengatakan demikian sebelumnya” jawab kawannya.

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Apakah kalian pernah berbicara tentang hal itu dengan Daruwerdi, bahwa sebenarnya kalian masih ingin berlatih kepadanya”

“Ya” seorang kawannya menjawab, “bahkan kami sudah minta agar Daruwerdi bersedia datang ke tempat lain yang khusus bagi anak-anak muda dari Lumban Wetan. Tetapi ia tidak bersedia sama sekali. Katanya, dengan demikian sikapnya itu akan dapat menimbulkan salah paham dengan anak-anak Lumban Kulon. Bahkan mungkin akan memperbesar pemisahan yang sudah mulai tumbuh diantara mereka”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti sikap Daruwerdi. Jika ia bersedia melakukannya, maka perselisihan antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan semakin memuncak.

Tetapi yang belum diyakini oleh Jlitheng, apakah Daruwerdi itu jujur. Jika jawaban itu sekedar cara untuk menolak agar anak-anak muda Lumban Wetan tidak dapat meningkat seimbang dengan anak-anak muda Lumban Kulon justru karena ia telah berpikir, maka akibatnya akan gawat pula.

Karena itu, maka Jlitheng pun bertekad untuk bertemu dengan anak-anak muda Lumban Kulon. Ia ingin bertanya, bagaimana sikap mereka yang sebenarnya terhadap air yang sudah berhasil diangkat naik dari sungai kecil itu.

“Kau akan mendapat perlakuan yang buruk dari mereka berkata seorang kawannya.

“Apakah sampai demikian jauh sikap dan tanggapan mereka terhadap anak-anak muda Lumban Wetan?” bertanya Jlitheng.

“Kadang-kadang sikap mereka memang menjengkelkan sekali” desis seorang kawannya.

Tetapi Jlitheng tetap ingin bertemu dengan mereka. Karena itu, maka iapun kemudaan meninggalkan gardunya dan pergi ke Lumban Kulon, meskipun kawan-kawannya mencoba mencegah-nya.

Ketika Jlitheng menyeberangi jalan dan memintas pematang menuju ke padukuhan yang termasuk daerah Lumban Kulon, ia memang menjadi ragu-ragu. Namun ia melangkah terus. Dinginnya malam sama sekali tidak terasa. Bahkan keringat dingin terasa membasah di punggungnya.

Semakin dekat dengan gardu di sudut padukuhan, Jlitheng merasa semakin gelisah, Namun ia bertekad untuk mencari cara yang sebaik-baiknya, agar perselisihan itu tidak justru berkembang.

Anak-anak Lumban Kulon yang berada di gardu terkejut melihat sesosok bayangan mendekati gardunya. Namun mereka pun segera mengenal, ketika cahaya di gardu itu mulai menyentuh wajah Jlitheng.

Anak-anak muda Lumban Kulon itu merasa heran, bahwa Jlitheng telah datang seorang diri. Mereka mengetahui bahwa Jlitheng baru saja kembali dari sebuah perjalanan, dan mereka pun sudah mendengar ceritera yang direka-reka oleh Jlitheng dalam perjalanannya.

“Kau Jlitheng” bertanya seseorang dari antara anak-anak muda Lumban Kulon itu.

“Ya. Apakah aku boleh naik ke gardu” bertanya Jlitheng.

“Marilah Naiklah” jawab salah seorang dari mereka. Jlitheng kemudian duduk bersama anak-anak muda Lumban Kulon. Sejak kedatangannya, Jlitheng sudah merasa, bahwa sikap anak-anak muda Lumban Kulon memang agak lain.

Satu dua orang mencoba bertanya tentang pengalamannya di perjalanannya. Seorang yang bertubuh kurus bertanya, “Ceriteramu belum begitu jelas bagi kami Jlitheng. Barangkali kau masih ingin berceritera tentang pengalamanmu yang aneh-aneh di perjalanan?”

Jlitheng tersenyum. Seperti kepada kawan-kawannya di Lumban Wetan ia berceritera tentang daerah yang pernah dilihatnya. Dan seperti di Lumban Wetan iapun mulai memancing pembicaraan mengenai tanah, sawah dan air.

Agaknya anak-anak Lumban Kulon telah mempunyai prasangka kepadanya Karena itu, maka mereka pun segera mengerti maksud Jlitheng. Seorang yang berkumis tipis kemudian menyahut, “Jlitheng. Agaknya kami dapat meraba, kemana arah pembicaraanmu. Mungkin kau telah mendengar dari kawan-kawanmu di Lumban Wetan, bahwa telah timbul persoalan yang hangat antara kami, anak-anak muda Lumban Kulon dan kawanmu dari Lumban Wetan”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Persoalan itu berkembang demikian cepatnya. Baru beberapa hari yang lalu, kita merasa bersukur bahwa kita telah dapat mengangkat air dari sungai kecil yang menampung air dari bukit berhutan itu. Sekarang kita merasa bahwa telah ada persoalan yang hangat antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan”

“Kami sudah mencoba menahan diri” berkata anak muda yang berkumis tipis. Tetapi kawan-kawanmu dari Lumban Wetan bersikap terlalu mementingkan diri mereka sendiri”

“Apa yang sebenarnya telah mereka lakukan?” bertanya Jlitheng.

“Mereka ingin mendapat air terlalu banyak dari kemampuan air yang dapat kita tampung” sahut seorang anak muda.

“Apa yang telah mereka lakukan?” Jlitheng mengulangi pertanyaannya.

“Mereka ingin membuka parit yang mengalir ke sawah mereka lebih lebar dari parit yang mengalir ke sawah kami” jawab anak muda berkumis tipis, “Tentu saja kami tidak sependapat. Pintu air dari kedua parit yang mengalir ke persawahan di Lumban Wetan dan Lumban Kulon harus sama. Dengan demikian, maka kita akan mendapat pembagian yang adil”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia memang sudah menduga, bahwa keterangan anak-anak muda Lumban Wetan mungkin berbeda dengan keterangan anak-anak muda Lumban Kulon. Namun ia perlu mendengar semuanya, agar ia mendapat bahan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu yang mungkin ada baiknya dibicarakan dengan Kiai Kanthi.

Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Apakah dasarnya bahwa anak-anak Lumban Wetan minta agar pintu air bagi mereka lebih lebar dari pintu air yang akan mengairi ke daerah persawahan di Lumban Kulon?”

“Mereka merasa bahwa mereka mempunyai jasa terlalu banyak. Mereka merasa bahwa parit itu telah mengalir karena kerja anak-anak Lumban Wetan. Terutama kau sendiri” jawab anak muda berkumis tipis.

Namun tiba-tiba seorang anak muda berjambang tebal bertanya kepada Jlitheng, “He, Jlitheng, apakah benar kau merasa bahwa karena jasamu maka parit-parit kita dapat mengalir?”

“Tentu tidak” jawab Jlitheng menghindar. Ia merasa bahwa, orang, berjambang itu hatinya lebih keras dan anak muda berkumis tipis, “Bukan aku. Tetapi orang tua yang tinggal di lereng bukit itu”

“Jadi apa maksudmu datang kemari?”Anak muda berjambang tebal itu bergeser maju, “kau kira kau mempunyai wewenang untuk mengurus air itu?”

“Tidak. Bukan maksudku” Jlitheng beringsut sedikit aku hanya ingin bertanya apakah yang sebenarnya terjadi Aku memang mendengar ceritera kawan-kawanku. Tetapi aku belum yakin akan kebenarannya. Justru karena itu aku ingin mendengar dari kalian”

“Bohong” Anak muda berjambang tebal itu membentak, “aku kira kau ingin memaksakan kehendak anak-anak muda Lumban Wetan. Aku kira kau ingin berceritera tentang jasa-jasamu bahwa kau telah membuka air di belumbang di lereng bukit itu. Kaulah yang telah mengarahkan air itu sehingga masuk kedalam sungai kecil yang kemudian kita angkat bersama”

“Benar. Aku tidak bermaksud demikian. Aku ingin mencari penyelesaian sebaik-baiknya atas persoalan air itu. Sebenarnya-lah Kiai Kanthi menjadi sedih, bahwa air yang diharapkan akan membuat Lumban dalam keseluruhan ini menjadi hijau, ternyata telah menimbulkan persoalan tersendiri yang akan dapat meretakkan hubungan kedua kebuyutan yang semula memang hanya satu” berkata Jlitheng.

“Jika benar kau tidak akan membuat kisruh dengan memaksakan pendapat orang-orang Lumban Wetan, maka kau harus bersedia mengatakan kepada anak-anak muda Lumban Wetan, bahwa mereka tidak mempunyai hak lebih dari kami” Orang berjambang itu menggeram.

Namun anak muda yang berkumis- tapis, yang agaknya hatinya lebih lembut itu berkata, “Sudahlah Jlitheng, sebenarnya kami tidak ingin terlibat ke dalam perselisihan. Katakan kepada kawan-kawanmu”

“Tetapi jika mereka mulai apaboleh buat” Anak muda berjambang itu memotong, “karena itu, katakan, bahwa jasamu tidak berarti apa-apa bagi kami”

“Baiklah, aku akan mengatakan kepada mereka” desis Jlitheng, “Tetapi aku minta, bahwa kita masing-masing akan dapat menahan diri sehingga dengan demikian persoalan ini tidak akan berkembang jadi semakin buruk”

“He, kau kira kami disini tidak menahan diri?” Anak muda berjambang itu bergeser maju lagi, sehingga Jlitheng pun telah beringsut pula, “jika kami anak-anak muda Lumban Kulon tidak menahan diri, maka anak-anak muda Lumban Wetan telah kami lemparkan ke bendungan. Apalagi kini anak-anak muda Lumban Wetan menjadi malas dan tidak lagi mau berprihatin barang sedikit untuk mempelajari olah kanuragan”

“O. Apakah begitu?” desis Jlitheng, “Jika demikian biarlah besok aku akan mengajak mereka”

“Itu tidak perlu” Anak muda berjambang itu hampir berteriak, “Daruwerdi sudah kehabisan kesabaran. Beberapa kali mereka datang. Dan itu akan sangat mengganggu perkembangan kita semuanya. Karena itu, mereka yang telah ketinggalan tidak akan diperbolehkan ikut serta”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun anak muda berkumis tipis itu berkata, “Mungkin mereka akan mendapat kesempatan berikutnya, Jlitheng. Setelah kelompok ini meningkat, maka akan disusul oleh kelompok berikutnya”

Jlitheng menganguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kesempatan itu masih terbuka”

“Kau sendiri misalnya” Anak muda berjambang itu masih saja berbicara dengan nada yang keras, “Sudah berapa kali hari latihan kau tidak datang. Apakah kau sekarang tiba-tiba saja akan berlatih bersama kami? Tentu kau hanya akan mengganggu kami dan menghambat perkembangan kami”

Jlitheng masih mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan minta diri. Aku akan berkata kepada kawan-kawanku, agar mereka tidak minta yang berlebih-lebihan, Jadi. kita akan bersepakat, bahwa pintu air yang mengalirkan air ke tanah persawahan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan dibuat sama”

“Mungkin begitu” desis anak muda berkumis tipis.

Namun tiba-tiba seorang anak muda bertubuh kurus berkata, “Tetapi apakah tanah persawahan itu tidak sama, maka pembagian air yang sama bagi kedua belah pihak justru akan menjadi tidak adil?”

“Tanah Persawahan Lumban Kulon lebih luas dari. tanah persawahan Lumban Wetan” beberapa anak muda berdesis.

Anak muda berkumis tipis itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata kepada Jlitheng, “Kembalilah. Kami tidak bermaksud bermusuhan dengan kawan-kawan kami dari Lumban Wetan. Tetapi kami ingin pembagian air yang adil. Hanya itu”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada kawan-kawanku, seperti yang kalian kehendaki. Untuk sementara biarlah kita membuka pintu air yang sama seperti yang kalian kehendaki. Aku menjamin, bahwa anak-anak Lumban Wetan akan menerimanya”

“Sama bagaimana?” Anak muda berjambang itu bertanya dengan keras.

“Sama lebarnya” Anak muda berkumis tipis itulah yang menjawab.

Jlitheng memandang anak muda berkumis tipis itu sekilas. Ia memang mengenal anak itu dengan watak yang berbeda dengan anak berjambang itu.

Namun agaknya arak muda berkumis tipis itu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kawan-kawannya, juga terhadap anak muda berjambang tebal itu, sehingga karena itu, maka anak muda berjambang tebal itu tidak bertanya lebih jauh lagi.

“Sudahlah” berkata Jlitheng, “Aku akan kembali kepada kawan-kawanku. Terima kasih atas segala keterangan dan kesediaan kalian”

Anak muda berkumis tipts itu berkata, “Mudah-mudahan kawan-kawanmu di Lumban Wetan dapat mengerti”

Jlitheng pun kemudian meninggalkan gardu itu. Namun demikian Jlitheng meninggalkan mereka, beberapa anak muda bertanya kepada yang berkumis tipis, “Kau terlalu lunak menghadapi anak-anak muda Lumban Wetan”

“Jlitheng memiliki kelainan dengan anak-anak muda Lumban Wetan yang lain” desis anak muda berkumis tipis itu.

“Apa bedanya? Ia datang untuk menuntut. Mungkin anak-anak. Lumban Wetan angan mempergunakannya. Dikiranya kita, anak-anak muda Lumban Kulon menjadi silau melihatnya” berkata anak muda berjambang itu.

“Tetapi apakah kita akan mengingkari kenyataan?” Anak muda berkumis tipis itu menjawab, “Siapa yang paling banyak berbuat terhadap penguasaan air itu? Katakan, bahwa pikiran ini tumbuh dari orang tua di lereng bukit itu. Tetapi Jlitheng dan anak-anak muda Lumban Wetan menanggapinya dengan cepat. Sedangkan kita? Katakan, apa yang pernah kita lakukan. Mungkin ada seorang atau katakanlah dua orang diantara kita yang ikut membantu orang tua itu mengartikan air, kemudian membuat gubug baginya. Tetapi apakah artinya dibandingkan dengan kerja anak-anak Lumban Wetan”

Kawan-kawannya, termangu-mangu. Namun tidak seorang pun yang menyahut.

Meskipun demikian, hati mereka tetap bergejolak. Mereka tidak ingin melihat Lumban Wetan tumbuh secepat Lumban Kulon. Karena itu, maka mereka tetap tidak akan membiarkan perkembangan Lumban Wetan dalam segala segi. Selain pada kesuburan tanahnya, juga pada kemampuan anak-anak mudanya.

Dalam pada itu, ternyata hal itu telah diberitahukan pula kepada anak-anak laki-laki Ki Buyut di Lumban Kulon.

“Anak itu memang dungu” berkata anak Ki Buyut itu kepada anak muda berjambang lebat

“Ya Nugata. Ia menganggap bahwa Jlitheng memang mempunyai hak untuk menentukan air di sungai itu” berkata anak muda berjambang lebat

“Jangan hiraukan. Aku tetap pada pendirianku. Air itu harus kita kuasai sepenuhnya. Kitalah yang akan memberikan sebagian menurut belas kasihan kita kepada Lumban Wetan, karena sebenarnyalah bendungan itu berada di daerah Lumban Kulon, dan bukit berhutan itupun berada di daerah Lumban Kulon pada saat Lumban dibagi menjadi dua”

Kawan-kawannya termangu-mangu. Mereka belum pernah mendengar sebelumnya, bahwa sungai, bendungan, bukit-bukit itu termasuk daerah Lumban Kulon. Namun ia mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia menganggap bahwa anak Ki Buyut itu tentu lebih banyak mengetahui tentang keadaan Lumban Kulon maupun Lumban Wetan.

Ternyata bahwa sikap Nugata, anak Buyut Lumban Kulon itu menjadi pola pikiran anak-anak muda di Lumban Kulon, Mereka menganggap bahwa sikap itu adalah sikap yang paling baik. Karena itu, maka mereka pun ikut pula berbuat seperti yang dilakukan oleh anak muda yang menjadi pusat perhatian anak-anak muda di seluruh Lumban Kulon.

Sementara itu, Nugata pun sebelumnya telah bertemu dengan Daruwerdi beberapa kali. Ialah yang minta kepada Daruwerdi agar anak-anak Lumban Wetan tidak diperkenankan untuk ikut serta dalam latihan-latihan olah kanuragan.

“Itu adalah persoalan kalian” berkata Daruwerdi, “Aku mengajari siapa saja yang hadir”

“Kami akan melarang, mereka memasuki daerah Lumban Kulon” berkata Nugata.

“Terserah. Aku tidak ikut campur” berkata Daruwerdi setiap kali.

Meskipun demikian Daruwerdi tidak mengambil sikap yang dapat mencegah berkembangnya jarak antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Ia tidak mau menambah persoalan yang baginya sudah cukup rumit, hampir tidak sabar ia menunggu hadirnya seorang Pangeran yang dikehendakinya. Apakah Pangeran itu dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih atau oleh orang-orang Pusparuri.

Karena itu maka ia tidak menghiraukan lagi apakah yang akan terjadi antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan.

“Biar saja kedua daerah ini berbenturan. Aku akan melihat suatu yang permainan yang mengasikkan. Anak-anak muda yang berkelahi tanpa aturan. Dengan liar saling memukul dan menghantam. Mungkin mereka bersenjata tanpa mengenal arti senjata masing-masing” berkata Daruwerdi di dalam hatinya.

Namun Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ia menyadari. bahwa anak-anak Lumban Kulon memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak-anak muda Lumban Wetan, karena meskipun sedikit, tetapi anak-anak muda Lumban Kulon pernah mengikuti latihan-latihan oleh kanuragan.

“Anak-anak muda Lumban Wetan akan terdesak” berkata Daruwerdi di dalam hatinya pula.

Namun tiba-tiba saja timbul pikirannya, “Jika daerah ini diganggu oleh ketegangan dan benturan antara Lamban Wetan dan Lumban Kulon, maka persoalanku akan berbaur tanpa banyak diketahui orang”

Pikiran itulah yang membuat Daruwerdi semakin tidak mengacuhkan alas apa yang terjadi antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ia sama sekali tidak pernah menyatakan keberatannya atas sikap Nugata yang kadang-kadang nampak diwarnai oleh perasaan dengki dan iri hati.

Namun demikian, Daruwerdi memang tidak lagi ingin membuat jarak dengan anak-anak muda Lumban Kulon. Ia tidak ingin anak-anak muda itu dapat mengganggu rencananya. Karena itu, seperti yang sudah dikatakan oleh anak-anak Lumban Wetan, Daruwerdi tidak bersedia untuk memberikan latihan-latihan khusus bagi anak-anak Lumban Wetan. Dengan demikian, anak-anak Lumban Kulon akan marah kepadanya. Meskipun mereka tidak berani berbuat sesuatu tetapi pada suatu saat ia dapat mengganggunya.

Dalam pada itu, Jlitheng yang dengan hati yang gelisah meninggalkan Lumban Kulon, telah kembali kepada kawan-kawannya. Ia mengatakan, sesuai dengan apa yang didengarnya dari anak-anak muda Lumban Kulon. Bahkan anak-anak muda Lumban Kulon sama sekali tidak mempersoalkan tinggi tanah persawahan daerah Lamban Kulon dan Lumban Wetan. Yang mereka minta hanyalah, pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu harus sama.

“Omong kosong” jawab seorang kawannya, “pintu air itu sudah sama sejak semula. He, bukankah kau juga mengetahuinya bahwa pintu air itu sudah sama”

“Ya, aku tahu. Mereka anak-anak Lumban Kulon mempertahankan kesamaan itu, yang mereka sangka, akan dirubah oleh anak-anak Lumban Wetan. Mereka mengatakan, bahwa pembagian itu harus adil. Karena itu, perubahan yang dikehendaki oleh anak-anak muda Lumban Wetan akan merusak keseimbangan itu”

“Dan kau percaya?” tiba-tiba seorang kawannya yang lain bertanya.

“Atau barangkali kau lebih percaya kepada anak-anak Lumban Kulon daripada anak-anak Lumban Wetan sendiri” Yang lain menyambung.

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia tidak mau terjadi salah paham dengan kawan-kawannya. Karena itu, maka iapun segera menjawab, “Bukan begitu. Maksudku aku ingin mendapatkan gambaran yang sebenarnya dari peristiwa yang sedang kita hadapi. Bukankah dengan demikian hanya terjadi salah pengertian diantara kita disini dan anak-anak muda Lumban Kulon. Jika demikian maka tidak perlu timbul pertentangan diantara kita. Jika masalahnya dapat kita pertemukan, maka perselisihan itu akan dapat teratasi”

“Tidak ada salah pengertian dan tidak ada salah paham. Mereka menuntut dengan yakin dan pasti” sahut seorang kawannya

“Ya” Jlitheng mengangguk, “Tetapi bukankah tidak ada salahnya jika ada usaha pendekatan tanpa pengorbanan salah satu pihak”

“Ya Itu dapat saja kau lakukan” seorang yang lebih tua dari mereka tiba-tiba saja menyahut.

Anak-anak muda itu berpaling kepadanya. Dilihatnya orang itu melangkah mendekat dan bahkan kemudian berdiri diantara mereka, “Aku mendengar percakapan kalian. Usaha Jlitheng memang baik. Tetapi jika aku boleh berpendapat, maka masalahnya tidak terlalu mudah. Anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan sebenarnya telah mulai memikirkan masa depan kampung halaman mereka. Mereka telah berusaha untuk membuat padukuhan mereka menjadi sebuah padukuhan yang baik di masa depan. Namun, ternyata bahwa Lumban Kulon tidak mempertimbangkan kepentingan padukuhan tetangganya, bahkan pecahan dan belahan dari satu tubuh”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan tanpa mendapatkan bahan yang lebih banyak lagi. Tetapi agaknya kata-kata orang yang sudah tua dari anak-anak muda yang, berada di gardu Itu dapat dimengerti.

Dalam pada itu, orang yang lebih tua itu berkata selanjutnya, “Tetapi Jlitheng, aku kira, kau dapat saja melanjutkan usahamu. Kami dan mungkin juga anak-anak Lumban Kulon harus mengakui, bahwa kau sudah berbuat lebih banyak dari setiap orang diantara kami dan anak-anak muda Lumban Kulon, sehingga air itu dapat kita kuasai”

“Aku akan berusaha” sahut Jlitheng, “Tetapi apa artinya aku seorang diri”

“Kau seorang diri akan lebih baik dari tidak ada seorang pun yang berusaha, mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya. Tetapi jika kau gagal maka kau akan dapat mengambil satu sikap” berkata orang itu.

“Baiklah” jawab Jlitheng, “Aku akan berusaha terus. Tetapi aku minta kalian percaya kepadaku”

“Sebenarnyalah perselisihan ini memang sudah meningkat menjadi pertentangan yang gawat” berkata orang itu, “Mungkin kau akan dapat membayangkan jika anak-anak Lumban Kulon setiap kali mampu meningkatkan pengetahuan mereka tentang, olah kanuragan, maka itu sudah dapat dibayangkan. Sementara kita masih tetap bodoh dan dungu Bukankah dengan demikian, pada suatu saat kita tidak akan dapat berbuat apa-apa, Jika anak-anak Lumban Kulon memaksakan kehendaknya atas kita?. Jika kita menentang kehendak mereka, maka mereka akan bertindak dengan kekerasan”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Mudah-mudahan aku akan dapat mencari jalan untuk menyelesaikan masalah yang gawat Ini”

“Tetapi, hati-hatilah. Jika kau salah langkah, maka kau akan menjadi korban. Mungkin oleh anak-anak Lumban Kulon kau akan mengalami nasib kurang baik. tetapi mungkin justru oleh anak-anak muda Lumban Wetan sendiri”

“Aku mengerti. Tetapi tanpa langkah-langkah yang dapat mendekatkan bubungan yang retak ini. seperti yang kau katakan, mungkin kita akan sampai pada satu sikap kekerasan. Dan ini akan sangat merugikan Lumban Wetan Karena kami tidak akan mampu berbuat banyak”

Jlitheng masih mengangguk-angguk. Katanya, “Kita semuanya harus menyadari bahwa persoalan ini akan berkembang menjadi semakin buruk bagi kita”

Bukan saja Jlitheng, namun anak muda Lamban Wetan itupun menyadari sepenuhnya akan kesulitan yang dapat mereka alami. Tetapi mereka pun tidak akan dapat mengorbankan hari depan padukuhan mereka dengan memberikan air seberapa banyak yang dikehendaki oleh anak-anak muda Lumban Kulon.

Kesulitan yang menghantui mereka adalah, bahwa Daruwerdi tidak bersedia untuk memberikan latihan-latihan kepada anak-anak Lumban Wetan, sehingga keseimbangan diantara kedua padukuhan itu tidak dapat dipertahankan.

“Aku akan menemui Daruwerdi” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “Mudah-mudahan ia mau membantu mempertahankan keseimbangan kekuatan. Dengan demikian, maka masing-masing pihak akan menjadi ragu-ragu untuk mulai dengan tindak kekerasan. Tetapi jika keseimbangan itu bergeser, maka salah satu pihak akan dengan mudah memaksakan kehendaknya atas pihak yang lain.

Tetapi disamping memikirkan pertentangan yang berkembang antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Jlitheng masih harus juga memperhitungkan setiap kemungkinan orang-orang Sanggar Gading akan datang sambil membawa seorang Pangeran yang akan diserahkan kepada Daruwerdi, sebagian alat penukar sebuah pusaka yang diinginkannya.

Diluar sadarnya Jlitheng menggeram, “Anak-anak dungu. Seharusnya aku tidak membantu Kiai Kanthi menguasai itu, atau sebaiknya, aku harus menghalanginya”

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ada terbersit niatnya pula. untuk menghancurkan saja bendungan yang mengangkut air ke sawah. Namun Jlitheng telah berusaha untuk menekan maksudnya itu.

“Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading itu tidak segera datang” berkata, Jlitheng di dalam hatinya, “sementara itu aku mendapat kesemutan untuk menyelesaikan pertentangan yang terjadi disini. Atau justru sebaliknya, pertentangan itu akan semakin meletus dan menelan kerukunan yang sudah lama menyelubungi dua padukuhan yang semula memang hanya satu”

Demikianlah, di pagi hari berikutnya, Jlitheng dengan ragu-ragu telah pergi menemui Daruwerdi. ia pura-pura tidak mengetahui persoalan anak-anak muda Lumban Kulon ketika ia memasuki padukuban itu. Dengan ramah ia tetap menyapa kawan-kawannya dari Lumban Kulon, yang betapapun juga, oleh sikapnya yang tidak berubah maka anak-anak muda Lumban Kulon pun menjawab pula.

Jlitheng menjumpai Daruwerdi yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sambil menggosok matanya ia menemui Jlitheng di serambi gandok.

“Apakah kau akan berbicara tentang hari-hari perkawinanmu?” Desis Daruwerdi.

“Ah, kau” sahut Jlitheng, “aku akan bicara tentang padukuhan kita. Bukan tentang diriku pribadi”

“Tentang air? Tentang latihan-latihan yang hanya diikuti oleh anak-anak muda Lumban Kulon?” bertanya Daruwerdi

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kalanya, “Daruwerdi, kau dapat membantu anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan untuk meredakan pertentangan diantara mereka”

“Aku sudah memikirkannva. Karena itu, aku berkeberatan untuk mengadakan latihan serupa yang khusus bagi anak-anak muda Lumban Wetan” jawab Daruwerdi.

“Lebih dari itu akan dapat kau lakukan” berkata Jlitheng, “Kau mempunyai pengaruh yang kuat atas anak-anak Lumban Kulon. Jika kau mau, maka kau akan dapat meredakan pertentangan. Anak-anak Lumban Kulon akan selalu mengikuti segala petunjukmu”

Dengan mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Jadi menurut pendapatmu, kesalahan ada pada anak-anak muda Lumban Kulon?”

“Bukan begitu. Aku juga akan berusaha untuk mengendalikan kawan-kawanku. bagaimanapun juga mereka mengakui, bahwa akulah yang pertama-tama membicarakan masalah air itu dengan orang tua yang tinggal di lereng bukit. Karena itu, maka aku mengharap, bahwa anak-anak muda Lumban Wetan akan mendengarkan keteranganku”

Tetapi Daruwerdi menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Jangan ganggu lagi aku dengan persoalan-persoalan semacam itu. Aku tidak sempat memikirkannya. Biar sajalah anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan saling berbenturan. Itu adalah salah mereka sendiri, karena mereka tidak mau berpikir dengan dewasa. Tetapi kesalahan yang terbesar justru ada padamu. Jika kau tidak berbuat apa-apa atas air itu, maka di padukuhan ini akan tetap dapat dipelihara kedamaian dan ketenangan. Sekarang keadaannya justru menjadi semakin buruk setelah kau menyalurkan air itu ke sungai dan yang kemudian diangkat ke sawah”

Jlitheng menjadi sangat kecewa. Namun ia masih mencoba, “Daruwerdi. Coba kau bayangkan. Jika benar-benar terjadi- benturan kekuatan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, apakah yang kira-kira Akan terjadi pada anak-anak Lumban Wetan. Kau telah membuat anak-anak Lumban Kulon kuat dan mampu berkelahi. Sementara anak-anak Lumban Wetan sama sekali tidak memiliki pengetahuan dalam olah kanuragan”

“Ada cara terbaik untuk menghindari benturan itu Jlitheng” berkata Daruwerdi.

“Apa?” bertanya Jlitheng.

“Anak-anak Lumban Wetan jangan berkeras kepala. Turuti saja keinginan anak-anak muda Lumban Kulon” jawab Daruwerdi.

“Itu tidak mungkin Daruwerdi. Jika tuntutan mereka terlalu berat sebelah”

“Jika demikian, terserah kepadamu. Aku tidak tahu. Jangan bicarakan lagi air dan segala macam persoalan yang lain” berkata Daruwerdi kemudian, lalu, “Sudahlah, tidak berarti itu dengan aku. Aku mempunyai pekerjaan yang cukup banyak”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia harus kembali tanpa berhasil mendapat bantuan Daruwerdi untuk meredakan ketegangan yang terasa semakin memuncak.

Namun dalam pada itu, kedatangan Jlitheng dan usaha-usahanya untuk meredakan ketegangan yang ada, justru berakibat sebaliknya. Anak-anak Lumban Kulon yang menganggap usaha Jlitheng itu akan menghambat keinginan mereka, telah bersepakat untuk bertindak lebih jauh. Nugata, anak Ki Buyut di Lumban Kulon telah mengambil sikap lebih keras. Ia tidak ingin Jlitheng berhasil mempengaruhi suasana, seandainya ia pada suatu saat datang kepada ayahnya.

Karena itu. maka sebelum hal itu terjadi, Nugata telah menemui Daruwerdi untuk memberitahukan, bahwa anak-anak Lumban Kulon akan segera membuka pintu air yang memasukkan air ke induk saluran air di daerah Lumban Kulon.

“Kau tergesa-gesa” berkata Daruwerdi.

“Aku tidak senang melihat usaha Jlitheng menemui beberapa pihak. Bukankah ia sudah menemui kau pula?” berkata Nugata.

“Terserah kepadamu. Sudah aku katakan, aku tidak ikut campur” desis Daruwerdi.

Nugata termangu-mangu. Sebenarnya ia ingin membawa Daruwerdi. dengan demikian, maka tidak akan terlalu banyak yang harus dilakukan. Anak-anak muda Lumban Wetan tentu akan menjadi ketakutan dan memenuhi apa saja yang diminta oleh anak-anak muda Lumban Kulon.

Karena itu, maka Nugata pun kemudian berkata, “Daruwerdi. Aku sama sekali tidak berniat untuk memperalat kau. Aku tahu, bahwa kau sadar akan dirimu. Tetapi yang aku inginkan adalah, bahwa pertentangan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, tidak akan terlalu banyak menimbulkan keributan dan apalagi korban. Anak-anak Lumban Wetan nampaknya tidak mau mengakui keinginannya. Bahkan mereka menjadi keras kepala. Kehadiranmu bersama kami tentu akan meluluhkan hati mereka, sehingga dengan demikian akan memungut korban anak-anak muda Lumban Kulon dan terlebih-lebih lagi anak-anak muda Lumban Wetan”

“Apapun alasanmu” jawab Daruwerdi, “itu berarti bahwa kau sudah memperalat aku”

“Sudah aku katakan, maksudku tidak begitu”

“Aku akan memikirkannya. Jangan memaksa aku menjawab sekarang” desis Daruwerdi.

Nugata memang tidak dapat memaksanya, Karena itu, maka ia pun berkata, “Waktunya sangat sempit untuk menyelesaikan urusan ini. Aku harap kau segera mengambil keputusan, sawah masih basah. Dan kesempatan menanam padi masih panjang”

Daruwerdi tidak menjawab. Dibiarkannya Nugata pergi meninggalkannya.

“Aku lebih senang pertentangan ini terjadi berlarut-larut” berkata Daruwerdi di dalam hati, “dengan demikian persoalanku kurang menarik perhatian orang”

Karena itu, maka ketika ia bertemu dengan Nugata lagi, yang disanggupkannya adalah memperbanyak latihan olah kanuragan. Jika perlu setiap hari, pada saat-saat senggang.

“Latihan-latihan itu tentu akan menggetarkan hati anak-anak muda Lumban Wetan” berkata Daruwerdi, “akibatnya tidak akan banyak berbeda dengan keterlibatanku langsung dalam pertentangan itu”

Nugata agak kecewa. Tetapi baginya itu lebih baik dilakukan daripada tidak sama sekali. Sehingga karena itulah, maka Nugata pun segera menghubungi kawan-kawannya untuk melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Daruwerdi.

Sebenarnyalah latihan-latihan yang menjadi semakin sering dan semakin mantap itu telah menggetarkan hati anak-anak Lumban Wetan. Mereka menjadi semakin cemas, bahwa pada suatu hari, mereka akan mengalami kesulitan yang gawat. Apalagi ketika usahanya untuk menghadap Ki Buyut Lumban Kulon telah dihalangi oleh Nugata dan kawan-kawannya.

“Kembali sajalah Jlitheng” ancam Nugata, “Jika kau berkeras kepala, maka kau akan menjadi merah biru di seluruh tubuhmu. Wajahmu .akan menjadi bengkak-bengkak dan kawan-kawanmu di Lumban Wetan akan menjadi semakin ketakutan, karena kami tidak hanya berbicara saja tentang keinginan kami”

Jlitheng tidak dapat memaksa. Ia masih meragukan, apakah dirinya akan mampu mengekang gejolak perasaannya, jika benar-benar anak-anak Lumban Kulon itu memukulinya. Jika demikian, maka ia akan segera diketahui, bahwa kehadirannya di Lumban bukannya tanpa maksud. Bahkan Daruwerdi mungkin akan mengambil sikap lain.

Karena itu ia pun mengurungkan niatnya untuk menemui Ki Buyut di Lumban Kulon. Namun dengan demikian suasana yang panas antara anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat dikendalikan lagi.

Diluar sadarnya, ketika matahari mulai bertengger diatas bukit di ujung Barat, Jlitheng berjalan dengan lesu ke bukit kecil. Ia tidak tahan lagi menyimpan gejolak perasaannya, sehingga ia pun ingin mendapat tempat untuk melupakan bebannya itu.

Ia diterima oleh Kiai Kanthi itu dengan lembut, orang tua itu berkata, “Aku mengerti kesulitanmu ngger”

“Ya Kiai” sahut Jlitheng yang kemudian menceriterakan segala usaha yang nampaknya tidak akan berhasil.

“Kau harus telaten. Bagaimana jika kau dengan diam-diam memasuki Kabuyutan Lumban Kulon langsung menghadap Ki Buyut” berkata Kiai Kanthi.

“Mungkin aku berhasil. Tetapi jika setelah itu, anak-anak Lumban Kulon mendendamku dan seperti yang dikatakan oleh Nugata, mereka beramai-ramai memukuli aku, apakah aku akan dapat berdiam diri?” Jlitheng lah yang kemudian bertanya.
Kiai Kanthi pun termangu-mangu. Pertanyaan itu memang rumit bagi Jlitheng. Agak berbeda jika Jlitheng dengan terus terang menyatakan siapa dirinya dan langsung akan berhadapan dengan Daruwerdi. Karena menurut penilaian Kiai Kanthi, kemampuan Jlitheng tentu tidak berada di bawah kemampuan Daruwerdi.

Dalam pada itu, selagi mereka sibuk berpikir, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda. Tidak banyak. Hanya dua ekor, yang menyusuri jalan setapak di hutan-hutan di lereng bukit itu.

“Siapa Kiai” bertanya Jlitheng.

“Aku tidak tahu ngger” jawab Kiai Kanthi.

Jlitheng pun menjadi ragu-ragu. Namun diluar sadarnya, ia pun segera membenahi pakaiannya. Sementara Swasti yang berada di dapur pun segera melangkah masuk. Bukan karena ia ketakutan. Tetapi ia harus mendapat petunjuk dari ayahnya, apa yang harus dikerjakannya, jika terjadi sesuatu diluar kehendak mereka.

“Duduklah disini Swasti” desis ayahnya, “kita tidak tahu, siapakah mereka dan apakah yang ingin mereka lakukan”

Swasti pun segera duduk di amben, meskipun tidak mengarah kepada Jlitheng. Kiai Kanthi yang melihatnya, menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menegurnya. Bahkan kemudian ia berkata, “Marilah ngger. Kita melihat siapakah yang lewat”

Jlitheng mengikuti Kiai Kanthi yang berdiri di pintu. Tetapi Jlitheng sendiri, berada di bagian dalam pintu yang sedang terbuka itu.

Dengan demikian, maka Jlitheng tidak dapat langsung melihat dan dilihat oleh kedua orang berkuda yang sudah berada beberapa langkah saja dari pintu gubug Kiai Kanthi, dan karena itu mereka pun berhenti, karenanya.

“Ada juga rumah di lereng bukit ini” terdengar salah seorang dari kedua, penunggang kuda itu berkata.

“Ya ngger” sahut Kiai Kanthi, “nampaknya memang agak aneh bahwa aku telah tinggal bersama keluarga kecilku di lereng bukit yang sepi ini. Tetapi agaknya hanya tanah inilah yang dapat menerima aku” Kiai Kanthi berhenti, sejenak, lalu, “Tetapi siapakah angger ini dan apakah maksud angger naik ke lereng bukit ini?”

“Kami berdua adalah pemburu yang menjelajahi hutan demi hutan. Kami mengumpulkan kulit harimau, kulit kijang dan rusa. Bahkan kami pun mengumpulkan kulit buaya yang dapat kami tangkap di kedung-kedung dan rawa-rawa”

“O” Kiai Kanthi mengangguk-angguk, “Dan angger berdua akan berburu di hutan ini”

“Ya. Bukankah di hutan ini masih banyak terdapat binatang buas?” tanya salah seorang dari mereka.

“Masih ada ngger. Tetapi sebenarnya tidak begitu banyak lagi. Binatang buas ada di dataran di puncak bukit ini. Tetapi kadang-kadang seekor harimau juga turun sampai ke lambung bukit itu” jawab Kiai Kanthi.

“Dan kau tidak takut?” bertanya salah sarang dan keduanya”

“Binatang buas itu tidak pernah mengusik kami sekeluarga” desis Kiai Kanthi meskipun agak ragu.

“Dengan siapa kau tinggal disini kek?” salah seorang dari keduanya.

“Dengan anak-anakku. Seorang laki-laki dan seorang perempuan” jawab Kiai Kanthi tanpa berprasangka. Kedua pemburu itu tentu akan segera berlalu Mungkin mereka akan berhenti sebentar memandang Jlitheng dan Swasti. Namun mereka pun akan segera melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan mereka.

Sebenarnyalah maka salah seorang dari mereka berdua yang masih berada diatas punggung kuda itupun berkata, “Baiklah kakek tua, Kami akan melanjutkan perburuan kami Tetapi karena ada gubug di lereng bukit ini, mungkin sekali kami akan singgah satu dua kali. Bahkan mungkin kami akan kerasan berada di lereng bukit ini sampai binatang buas terakhir dapat kami tangkap”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun ia pun berkata, “Terserah kepada angger berdua. Tetapi kami tidak mempunyai tempat untuk mempersilahkan angger berdua memasuki gubug kami”

Kedua orang itu tertawa. Kemudian salah seorang dari mereka tiba-tiba saja bertanya, “Dimana anak-anakmu”

Kiai Kanthi berpaling. Ternyata Jlitheng masih berada di bagian dalam, sementara kedua orang berkuda itu tidak tepat berada, di depan pintu, sehingga keduanya tidak sempat melihat Jlitheng.

“Marilah” berkata Kiai Kanthi kepada Jlitheng, “kedua pemburu itu ingin melihat anakku laki-laki”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Kiai Kanthi telah menyebutnya sebagai anaknya laki-laki. Namun Jlitheng sama sekali tidak berkeberatan, sehingga karena itu, maka ia pun kemudian melangkah maju dan berdiri di sebelah Kiai Kanthi.

“Namun kehadirannya ternyata telah mengejutkan salah seorang dari kedua pemburu itu. Sementara Jlitheng pun terkejut pula melihat kehadirannya. Hampir diluar sadar mereka berdua bersamaan berdesis, “Kau”

Kiai Kanthi menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kalian pernah bertemu?”

“Bantaradi” desis pemburu berkuda yang berada di depan.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Orang itu ternyata mengenalnya. Karena itu ia tidak dapat ingkar lagi. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau Semi. Ternyata kau datang begitu cepat”

“Semuanya akan berlangsung cepat. Tetapi agaknya kau berbuat lebih cepat lagi”

Jlitheng tersenyum. Namun yang kemudian berkata adalah Kiai Kanthi, “Siapakah sebenarnya angger ini?”

Jlitheng memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun kemudian katanya, “Kiai, apakah aku dapat mempersilahkan keduanya untuk masuk dan duduk di dalam”

“Jika kau sudah mengenalnya. silahkan. Tentu aku tidak akan berkeberatan” jawab Kiai Kanthi.

“Bukankah kalian sudah mendengar, bahwa Kiai Kanthi tidak berkeberatan aku mempersilahkan kalian singgah. Marilah. Ini adalah gubug ayah angkatku, Di dalam ada adik perempuanku”

Tetapi Swasti sama sekali tidak berminat menemui tamu-tamu yang dipersilahkan singgah itu. Justru iapun kemudian bangkit dan melangkah ke dapur sebelum kedua orang yang menyebut dirinya pemburu itu turun dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Sesaat kemudian, maka kedua orang yang menyebut dirinya itu pemburu, menambatkan kuda mereka dan memasuki gubug kecil diikuti oleh Kiai Kanthi.

“Silahkan, silahkan” berkata Kiai Kanthi, “perabot rumah memang, hanya sebuah amben itu ngger. Silahkan duduk”

Kedua orang itupun segera duduk pula bersama Kiai Kanthi dan Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itu.

“Aku tidak menyangka, bahwa aku dapat menjumpaimu secepat ini” berkata Semi.

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku pun tidak menyangka bahwa kau akan bertindak secepat ini. Bagaimana dengan kakakmu?”

“Aku belum mendapat petunjuk lebih lanjut” desis Semi.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Kanthi sambil berkata, “Maaf Kiai. Ternyata aku telah bertemu dengan orang yang mempunyai kepentingan sama dengan kehadiranku di daerah ini. Mungkin masalahnya belum begitu jelas bagi Kiai tetapi pada saatnya Kiai akan mengetahui segala-galanya.

Kiai Kanthi tersenyum sambil berkata, “Aku mengerti ngger. Tentu ada persoalan yang aku tidak perlu mengetahui sekarang. Baiklah. Mungkin pada saatnya angger memberi kesempatan aku mengetahuinya”

Namun tiba-tiba saja dari balik dinding terdengar suara Swasti, “Buat apa ayah mengetahuinya? Jika memang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan kita dan kalau menurut pendapat orang lain kita tidak perlu mengetahuinya, biarlah kita tidak mengetahuinya”.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Swasti yang berada di balik dinding tidak mengetahui bahwa Kiai Kanthi tersenyum dan memberi isyarat kepada Jlitheng untuk tidak menanggapinya.

“Siapa?” Semilah yang bertanya.

“Adikku” jawab Jlitheng.

“Sikapmu tidak meyakinkan” terdengar suara Swasti, “sebagaimana kau menyebut ayah tidak sewajarnya sebagai seorang anak”

Jlitheng tertawa. Kiai Kanthi pun tersenyum. Namun mereka berusaha agar Swasti tidak mengerti dan mendengar sikap mereka.

Semi menjadi heran. Namun ia pun kemudian menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Jlitheng adalah orang yang dapat mencala putra mancala putri sehingga ia akan dapat membuat dirinya dalam seribu macam ujud dan sikap. Dengan demikian iapun mengerti, bahwa Jlitheng tentu bukan anak Kiai Kanthi seperti yang dimaksudkannya.

Karena itu, maka ia tidak bertanya lagi tentang gadis yang berada di balik dinding itu.

“Baiklah Semi” berkata Jlitheng kemudian, “Kita akan dapat menentukan langkah-langkah yang dapat kita ambil. Tetapi sudah tentu tidak segera. Kita masih harus melihat perkembang-an keadaan dan adalah satu kebetulan bahwa di daerah ini telah tumbuh satu persoalan tersendiri”

Semi menggangguk-angguk. Lalu katanya, “Kau yang sudah lebih mengenai daerah ini. Kau akan dapat menentukan langkah-langkah yang bagimu dan juga bagiku menguntungkan. Kau dapat melanjutkan perburuanmu. Kau dapat mohon kepada Kiai Kanthi untuk tinggal bersamanya selama kau berada di hutan ini jika Kiai Kanthi tidak berkeberatan” berkata Jlitheng kemudaan.

“Sudah aku katakan” berkata Kiai Kanthi, “Aku tidak akan berkeberatan. Aku akan dapat memberikan apa yang aku punya. Tetapi sudah aku katakan pada bahwa gubug ini terlalu sempit dan perabot yang adapun seperti yang lihat sekarang”

“Itu sudah memadai” berkata Semi, “Aku adalah seorang pemburu yang terbiasa tidur di tempa terbuka berselimutkan embun”

“Jika demikian, terserahlah. Aku bahkan senang sekali menerima angger berdua singgah di gubug kecil ini” berkata Kiai Kanthi pula.

Swasti yang ada di balik dinding bergeremang meskipun hanya didengar sendiri. Katanya, “Dan aku harus tidur di dapur, beralaskan ketepe sehelai, “

Namun Swasti itu pun tersenyum sendiri ketika teringat olehnya bagaimana mereka ia untuk pertama kali berada di tempat itu. Tidur pada rerumputan kering dan di tempat terbuka pula.

Demikianlah, maka setelah beristirahat beberapa lama. Semi pun minta diri untuk mengenal hutan yang akan menjadi medan perburuannya. Bahkan sebenarnyalah bukan saja bukit berhutan itu, tetapi Lumban Wetan dan Lumban Kulon pun akan dijelajahinya menjelang kehadiran orang-orang Sanggar Gading yang akan membawa seorang Pangeran yang sedang sakit.

Dalam pada itu, maka Jlitheng pun telah pergi juga bersama kedua orang pemburu yang menitipkan kuda mereka di gubug Kiai Kanthi itu. Sementara hutan itu pun menjadi semakin kelam. Langit masih nampak semburat merah, namun sebentar kemudian cahaya itupun hilang ditelan oleh kehitaman.

Ketika ketiganya telah berada diantara pepohonan hutan, maka mereka pun segera berhenti dan duduk diatas bebatuan. Karena sebenarnyalah bahwa Semi ingin mendengar beberapa keterangan tentang daerah itu dari Jlitheng.

“Daerah ini sedang bergejolak” berkata Jlitheng.

“Kenapa?” bertanya Semi.

“Mereka telah disibukkan oleh air” sahut Jlitheng yang kemudian menjelaskan persoalan yang kebetulan saja terjadi di Lumban justru pada saat persoalan pusaka yang tersembunyi itu hampir tersingkap.

“Aku tidak dapat berbuat kasar terhadap Daruwerdi” berkata Jlitheng kemudian, ”karena ia memang mengenal aku. sebagai seorang anak petani. Jika pada suatu saat ia mengenali aku sebagai seorang yang lain dari yang dikenalnya sehari-hari, maka sudah tentu bahwa ia akan mengambil satu sikap khusus. Ia akan menghubungkan persoalan yang dihadapinya bersama-sama orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Pusparuri atau orang-orang dari kelompok-kelompok yang lain, dengan kehadiranku yang tersamar disini.”

Semi mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti kesulitan Jlitheng menghadapi persoalan air di Lumban. Ia tidak akan dapat dengan serta merta berdiri diantara anak-anak Lumban Wetan untuk menghadapi anak-anak muda Lumban Kulon, tanpa menarik perhatian Daruwerdi secara khusus.

“Semi” tiba-tiba saja Jlitheng berkata, “kau orang baru sama sekali disini, kau adalah pemburu yang datang dari jauh untuk mencari binatang hutan yang mungkin kulitnya akan kau jual atau alasan-alasan lain. Karena itu kau tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan persoalan Daruwerdi”

“Ya. Jika Daruwerdi merasa, bahwa ada hubungan antara kedatanganku dengan persoalan yang sedang digarapnya, maka itu merupakan pertanda kegagalanku” jawab Semi, yang kemudian bertanya, “Jlitheng, apakah kau yakin bahwa Daruwerdi atau memang sebenarnya hanya seorang diri. Seorang yang berbuat seorang diri bagi dirinya sendiri”

“Sampai saat ini aku berpendapat demikian” berkata Jlitheng, “Tetapi memang tidak mustahil bahwa ada kekuatan lain di belakangnya yang barangkali justru akan dapat mengejutkan”

“Lalu, apa maksudmu dengan kehadiranku sebagai orang baru sama sekali disini?” bertanya Semi.

“Disamping persoalan yang akan menyangkut orang-orang Sanggar Gading, kau dapat berbuat sesuatu yang akan sangat bermanfaat bagi Lumban. Khususnya Lumban Wetan, desis Jlitheng.

Semi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau akan membenturkan aku dengan. Daruwerdi sebelum persoalan yang sebenarnya harus aku lakukan?”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi persoalannya akan terpisah. Dengan demikian Daruwerdi pun akan menghadapi masalah yang tidak dikehendakinya sebelum persoalan yang sebenarnya ditunggunya di sini.”

Semi termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada kawannya, maka kawannya berkata, “Tugas kita bukan tugas yang dapat dikerjakan sambil lalu. Karena itu, sebaiknya kita tidak berbuat sesuatu sebelum kita dapat menyelesaikan tugas yang penting itu”

Semi menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menyahut, Jlitheng berkata, “Semi. Jika kau mau, mungkin kau tidak harus berbuat seperti yang kau cemaskan. Mungkin Daruwerdi akan merubah sikapnya sampai persoalan yang sesungguhnya itu harus kita lakukan”

“Memang ada seribu kemungkinan yang dapat terjadi atas sesuatu masalah Jlitheng” berkata Semi, “Tetapi jika kemungkinan yang terjadi itu justru kemungkinan yang tidak kita kehendaki, maka kita akan mengalami kesulitan”

“Dengarlah” berkata Jlitheng, “Aku hanya mengharap kau hadir di Lumban sebagai seorang pemburu. Yang akan kami minta kepadamu adalah sekedar memberikan latihan kanuragan kepada anak-anak Lumban Wetan seperti yang dilakukan oleh Daruwerdi di Lumban Kulon. Kau dapat menunjukkan beberapa kelebihanmu, sehingga Daruwerdi yakin, setidak-tidaknya membuat satu pertimbangan bahwa melawanmu akan menumbuhkan persoalan tersendiri baginya sebelum ia berhasil berbuat sesuatu dengan orang-orang Sanggar Gading”

Semi masih tetap ragu-ragu. Sementara kawannya berkata, “Apakah keuntungan kita berbuat demikian. Kita adalah petugas yang khusus dalam masalah ini. Jika kita sudah mendapat kesulitan, apalagi justru karena itu tugas kita. akan terhambat, maka kita akan mendapat kesulitan untuk mempertanggung-jawabkannya”

“Kita akan mempunyai beberapa keuntungan” jawab Jlitheng, “terutama bahwa dengan demikian kemungkinan yang dapat timbul antara anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat dihindari atau diperkecil. Seandainya anak-anak Lumban Kulon tetap berniat untuk memaksakan kehendaknya atas Lumban Wetan, namun Daruwerdi sendiri akan membuat perhitungan yang lebih cermat. Seperti kalian, ia justru tidak ingin tugas pokoknya disini terganggu. Apakah tugas itu dibebankan oleh orang lain atau oleh dirinya sendiri”

Semi masih bimbang. Sementara Jlitheng berkala, “Jika pertentangan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu berlangsung juga, maka kita pun akan mengalami kesulitan dalam tugas yang harus kita lakukan. Karena dengan demikian pertentangan itu akan menarik perhatian orang-orang Sanggar Gading, sehingga mungkin mereka akan mengambil satu sikap khusus atas peristiwa itu. Jika mereka salah langkah, kita akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas anak-anak, muda Lumban Kulon atau Lumban Wetan, Lebih dari itu, bukankah kita juga memperhitungkan orang-orang Pusparuri, Kendali Pulih dan mungkin orang-orang Gunung Kunir, atau dari pihak manapun juga. Bahkan mungkin prajurit Demak dalam gelar keprajuritan akan langsung bertindak karena mereka tentu akan mendapat keterangan bahwa seorang Pangeran telah hilang. Tidak mustahil bahwa petugas sandi yang lain yang tidak mempunyai hubungan khusus dengan kau dan Rahu telah mencium jejak Pangeran yang hilang itu”

Semi menjadi bertambah bimbang. Keterangan Jlitheng dapat memberikan gambaran sedikit tentang medan yang lain yang harus diperhatikan.

“Aku memang harus memperhitungkan” berkata Semi kepada kawan-kawannya, “Jika kita akan menghadapi persoalan Sanggar Gading di daerah yang sedang bergejolak ini maka kita harus mempertimbangkan semua persoalan yang tentu akan saling terkait”

“Tetapi bagaimana jika hal itu justru dapat menganggu tugas kita. Seandainya, kita sudah terlalu banyak mengerahkan tenaga sebelumnya, sementara peristiwa dengan orang-orang Sanggar Gading itu terjadi, kita tidak akan dapat berbuat banyak” Sahut kawan Semi.

“Yang kita hadapi bukannya satu hal yang terlepas sama sekali dengan keadaan daerah Sepasang Bukit Mati ini” berkata Semi kemudian, “karena itu, anggaplah apa yang dimaksud Bantaradi ini sebagai satu usaha untuk membersihkan medan. Karena aku dapat mengerti, seandainya Bantaradi sendiri, yang selama ini dapat kita perhitungkan berdiri di pihak kita, maka. mungkin sekali keadaan medan akan berubah”

Kawannya mengangguk-angguk. Meskipun nampaknya ia masih belum puas dengan keterangan Semi, namun agaknya ia mulai mencoba untuk menerima pikiran Jlitheng.

“Kita akan berbuat dengan hati-hati” berkata Semi kemudian.

“Mungkin dapat dicoba. Tetapi jika kita menemui satu peristiwa yang memaksa kita harus bersikap lain aku berharap bahwa kita tidak terikat dengan pekerjaan ini” berkata kawannya.

“Ya. Aku sependapat” sahut Semi.

“Terima kasih” berkata Jlitheng, “Aku harap, kita akan segera mulai. Kehadiranmu di Lumban Wetan aku tunggu. Ingat, namaku Jlitheng. Jangan menyebut nama lain yang dapat mengejutkan anak-anak Lumban”

“Baiklah. Besok pagi-pagi kami akan memasuki Lumban dengan seekor binatang buruan. Mungkin seekor harimau. Jika tidak aku dapatkan seekor harimau, aku akan membawa buruan apa saja yang dapat aku pergunakan sebagai pancatan untuk menunjukkan satu kelebihan”

“Terima kasih” desis Jlitheng.

“Kaulah yang mengajari aku untuk bersikap sombong. Nampaknya kau memang orang berbakat untuk berpura-pura sehingga kau telah membuat aku melakukannya juga” desis Semi.

“Kau aneh. Kau sudah berpura-pura. Bukankah kehadiranmu yang rahasia disini juga satu kepura-puraan. Kenapa kau tidak menyebut dirimu petugas sandi dari Demak” desis Jlitheng.

Semi tersenyum. Jawabnya, “Baiklah. Sepanjang kita masih tetap berbuat sesuatu bagi kepentingan Demak dan rakyatnya. Aku akan mencobanya. Besok pagi aku akan datang sebagai seorang pemburu yang harus dikagumi dan akhirnya menarik perhatian Daruwerdi, agar ia membuat penilaian terhadap sikapnya atas anak-anak muda Lumban”

“Kau sudah memahami maksudku, terima kasih. Sekarang aku akan kembali ke Lumban Wetan. Besok aku akan mengagumi seorang pemburu yang berilmu tinggi, cerdik dan murah hati meskipun agak sombong”

Semi tersenyum. Namun ia masih berkata Tetapi kita harus memperhitungkan akibat yang mungkin timbul dari tingkah laku ini. Jika ternyata akan mempunyai akibat yang kurang baik terhadap tugasku, maka aku akan menghentikannya.

“Terserahlah. Tetapi aku juga mempunyai kepentingan sehingga aku pun akan memperhatikannya” sahut Jlitheng.

“Selama ini aku akan tinggal pada orang tua di lereng bukit itu. Nampaknya ia orang yang dapat dipercaya” desis Semi.

“Ya. Dan kau harus mempelajari banyak hal tentang orang tua itu” jawab Jlitheng, “Tetapi menurut pendapatku ia memang dapat dipercaya”

Demikianlah, maka Jlitheng pun kemudian meninggalkan Semi dan kawannya langsung turun ke padukuhannya. Tetapi ketika ia kemudian berada di gardu perondan bersama beberapa orang kawannya, ia sama sekali tidak mengatakan sesuatu tentang seorang anak muda yang besok akan datang bersama seorang kawannya dengan membawa binatang buruan.

Sebenarnyalah, keadaan anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon menjadi semakin tegang. Jlitheng tidak dapat ingkar lagi terhadap satu kenyataan, bahwa anak-anak muda Lumban Kulon memang ingin memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan. Mereka ternyata merasa jauh lebih kuat, sehingga menurut perhitungan mereka, jika anak-anak Lumban Wetan tidak mau memenuhi tuntutan mereka, maka anak-anak Lumban Kulon akan memaksa dengan kekerasan.

“Tanah persawahan kami lebih luas dan tempatnya lebih tinggi” berkata anak-anak Lumban Kulon, “karena itu, maka pintu air yang menuangkan air ke daerah Lumban Kulon harus lebih lebar. Apalagi bukit berhutan dan bendungan di sungai itu terletak di daerah Lumban Kulon”

Anak-anak Lumban Wetan sama sekali tidak yakin akan kebenarannya pendapat anak-anak Lumban Kulon itu. Tetapi mereka selalu dibayangi oleh kecemasan bahwa anak-anak Lumban Kulon akan mempergunakan kekerasan dan apalagi apabila Daruwerdi ikut campur pula.

“Aku tidak berhasil menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon” berkata Jlitheng kepada kawan-kawannya yang duduk di gardu.

“Bagaimana dengan Ki Buyut di Lumban Wetan” seseorang berdesis.

“Ki Buyut akan bersedih hati” berkata Jlitheng, “apalagi mengingat masa lampau dari Lumban yang sebenarnya hanya satu”

“Kita sudah menyatakan persoalan ini” berkata anak muda yang bertubuh tinggi, “Tetapi agaknya Ki Buyut yang ingin menemui saudara kembarnya itu masih belum berhasil. Bukankah dua orang diantara kita, pernah datang ke Lumban Kulon sebelum Jlitheng melakukannya, untuk minta waktu bagi Ki Buyut yang ingin bertemu dengan saudara kembarnya, tetapi kita tidak berhasil menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon?”

“Aku pun yakin, Ki Buyut di Lumban Kulon tidak mengetahui persoalan yang sedang berkecamuk antara kedua padukuhan ini” berkata Jlitheng.

Tetapi kawan-kawannya hanya dapat menggeleng kepala, “Tidak ada jalan yang dapat kita, lakukan untuk mencegah tingkah laku anak-anak Lumban Kulon. Hadirnya Daruwerdi di Lumban Kulon menambah kesombongan mereka. Seandainya Daruwerdi tidak terlibat langsung dalam persoalan ini, ia sudah melakukan diluar sadarnya, karena ia tetap memberikan latihan olah kanuragan, meskipun .ia mengetahui, bahwa hanya anak-anak Lumban Kulon sajalah yang mengikutinya”

Jlitheng tidak menjawab lagi. Kepalanya terangguk-angguk lemah, sementara jantungnya, terasa berdebaran. Sejak semula ia sudah membayangkan kemungkinan buruk itu. Tetapi tidak begitu cepat dan tidak begitu tajam seperti yang telah terjadi.

“Mudah-mudahan kehadiran Semi dan kawannya akan membuat, anak-anak muda Lumban Kulon harus berpikir ulang” katanya di dalam hati.

Menjelang dini hari, Jlitheng dan dua orang kawannya turun dari gardu dan berjalan menyusuri jalan padukuhan. Rasa-rasanya malam menjadi semakin sepi dan dingin. Ketika Jlitheng memandang bentangan sawah yang disaput oleh warna kelamnya malam, terasa jantungnya berdebaran. Padi yang tumbuh subur kehijauan karena tanah menjadi basah, akan menjadi kuning kemerah-merahan, jika anak-anak Lumban Kulon benar-benar memaksakan kehendaknya, membuka pintu air yang lebih lebar dari pintu air yang menuangkan air ke sawah-sawah di Lumban Wetan, karena jarak capai aliran air di parit-parit akan menjadi semakin pendek. Bagian yang telah menjadi hijau, akan kembali dibayangi oleh warna-warna gersang dan tandus. Hanya sebagian kecil sajalah sawah di Lumban Wetan yang dapat dipertahankan menjadi hijau segar.

“Meskipun yang sedikit itu sudah lebih baik dari tidak sama sekali, tetapi rasa keadilan ini benar-benar telah tersentuh” berkata Jlitheng kepada diri sendiri.

Tidak terasa, Jlitheng dan dua orang kawannya itu telah memutari padukuhan. mereka. Bahkan mereka pun kemudian menyusuri bulak pendek menuju kepadukuhan sebelah, yang masih termasuk daerah Kabuyutan Lumban Wetan.

Gemericik air di parit yang membujur di tepi jalan itu terdengar sangat memelas. Seolah-olah terasa betapa aliran yang kecil itu sedang menjadi persoalan yang gawat. Bahkan mungkin parit itu akan menjadi salah satu jalur yang akan menjadi kering.

“Fajar” desis salah seorang kawan Jlitheng.

“Ya, sebentar lagi, pagi akan datang” sahut yang lain, “Tetapi marilah kita kembali ke gardu. Aku hanya sempat tidur sekejap lewat tengah malam”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Kita tidak mencapai padukuhan sebelah”

“Kita akan kesiangan. Mungkin anak-anak di gardu di ujung padukuhan itupun sudah pulang pula” sahut kawannya.

Mereka bertiga pun kemudian melangkah kembali ke padukuban. Sementara langit menjadi semakin terang oleh cahaya pagi.

Namun langkah mereka terhenti, ketika lamat-lamat mereka mendengar derap kaki kuda. Dalam keheningan pagi derap kaki kuda itu terdengar bagai memutari lembah dan lereng bukit. Jauh namun tiba-tiba terdengar dekat di sekitar mereka.

Jlitheng dan kedua kawannya menjadi gelisah. Derap kaki kuda itu seolah-olah telah menyayat keheningan pagi di daerah yang sedang dipanasi olah ketegangan antara anak-anak mudanya.

“Siapa?” bertanya kawan Jlitheng.

Tetapi Jlitheng justru, mengulangi, “Siapa?”

Yang lain pun semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya suara derap kaki kuda itu semakin lama semakin keras menghentak-hentak dadanya.

“Marilah, kita lari kembali ke padukuhan” ajak kawan Jlitheng.

Jlitheng tidak menjawab. Tetapi iapun sudah siap untuk meloncat berlari.

Tetapi ternyata mereka tidak sempat melakukannya. Sejenak kemudian dari keremangan dini hari mereka melihat dua ekor kuda muncul berlari menuju kearah mereka.

“Tidak ada kesempatan” desis Jlitheng.

Kawannya pun mengurungkan niatnya. Namun dengan suara gemetar ia, berdesis, “Siapa he? Daruwerdi?”

Yang lain berdesis, “Mudah-mudahan”

“Tetapi sepagi ini” Jlitheng ragu.

Tetapi mereka tidak sempat terlalu lama berbincang. Sejenak kemudian dua ekor kuda itu telah mendekat.

Dalam pada itu, ketiga anak muda dari Lumban Wetan itu segera menepi. Rasa-rasanya kaki mereka bergetar oleh kegelisahan dan kecemasan. Apa lagi ketika kedua ekor kuda itu mengurangi kecepatan dan tiba-tiba saja berhenti dihadap an mereka.

“He, siapa kalian?” bertanya salah seorang penunggang kuda itu, Namun keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Jlitheng ada diantara mereka.

“Kami anak-anak dari Lumban Wetan” Jlitheng lah yang menjawab.

“Dari mana atau kemana kalian berada disini di dini hari?” bertanya orang berkuda itu.

“Kami sedang mengelilingi padukuhan yang termasuk dalam daerah Kabuyutan Lumban” jawab Jlitheng.

“Jadi kalian anak-anak dari padukuhan di sekitar tempat ini?” bertanya orang berkuda itu.

“Ya Ki Sanak” suara Jlitheng, bergetar, “Tetapi siapakah kalian berdua”

“Aku pemburu yang mencari buruan di hutan-hutan Malam tadi aku tertarik berburu di hutan yang menyelubungi bukit itu” jawab salah seorang dari keduanya.

“O” Jlitheng mengangguk-angguk. Dipandanginya seekor binatang yang tersangkut dibelakang penunggang yang seorang lagi. Hampir diluar sadarnya Jlitheng bertanya, “Seekor harimau loreng?”

“Ya” jawab penunggang kuda itu, “Kami memerlukan kulitnya. He, apakah orang-orang padukuhanmu dapat membantu kami?”

“Untuk apa?” bertanya Jlitheng.

“Menguliti harimau itu. Lebih baik aku lakukan disini Kemudian aku tinggal membawa kulitnya saja. Aku kira, itu lebih baik daripada aku membawa seekor harimau kembali dan menguliti di rumahku”

Kedua kawan Jlitheng itupun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kedua orang berkuda itu bukan orang-orang jahat yang akan mencelakai mereka. Justru mereka ingin mendapat bantuan orang-orang Lumban.

Karena itu, salah seorang dari kedua, kawan Jlitheng itu berkata, “Kami akan melakukannya dengan senang hati. Marilah silahkan datang ke padukuhan kami”

“Terima kasih. Kemana aku harus datang? Ke rumah Ki Buyut, atau kepada siapa?” bertanya orang berkuda itu.

“Datanglah ke banjar. Kami akan membantu” jawab kawan Jlitheng yang lain, yang sudah berhasil mengatur perasaannya yang gelisah.

“Marilah, kita pergi bersama-sama” berkata orang itu, “aku belum tahu dimana letak banjar padukuhanmu”

“Tetapi kami hanya berjalan-kaki” berkata Jlitheng.

“Biarlah, kami akan menuntun kuda-kuda kami” jawab salah seorang dari kedua penunggang kuda itu, “nampaknya menyenangkan sekali berjalan di dalam kabut yang keputih-putihan di dini hari”

Kedua kawan Jlitheng mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Naik sajalah di punggung kuda”

“Itu tidak sopan” jawab orang berkuda itu sambal meloncat turun, “Kami akan berjalan bersama kalian”

Kawannya pun meloncat turun pula meskipun agak malas. Tetapi mereka pun kemudian berjalan menyusuri jalan bulak yang pendek, langsung menuju ke banjar padukuhan sebelah.

Berita kehadiran kedua orang pemburu dengan seekor harimau itu memang menarik hati beberapa orang anak muda yang telah pulang dari gardu. Mereka yang sedang menyapu halaman, dan melihat harimau itupun bertanya, apa yang telah terjadi. Dengan lagak yang mantap, seolah-olah ia lebih mengetahui dari kedua pemburu itu sendiri. Jlitheng menerangkan segala sesuatu tentang harimau yang mati itu.

Beberapa orang anak muda pun segera berkumpul di banjar. Langit yang buram menjadi semakin merah, dan kabut pagi pun mulai terkuak.

Anak-anak muda Lumban Wetan pun segera memperkenalkan diri kepada kedua anak-anak muda yang menyebut diri mereka pemburu itu. Mereka mengerumuni tubuh harimau yang terkapar di halaman banjar.

“Tidak ada luka-lukanya. Dengan apa kau membunuhnya?” bertanya Jlitheng.

“Dengan tangan” jawab salah seorang dari keduanya seorang anak muda bertubuh kekar dan meyakinkan.

“Bagaimana mungkin” seorang anak muda Lumban Wetan bertanya dengan heran

“Daruwerdi juga pernah melakukan” desis Jlitheng.

“Tetapi ia selalu membawa pisau belati. Dengan belati itu ia membunuh harimau. Tetapi dengan demikian kulit harimau itu berlubang pula karena bekas ujung pisaunya, bahkan di beberapa tempat” desis seorang anak muda.

Pemburu yang masih cukup muda itu tersenyum. Katanya, “Bukan persoalan yang sulit. Aku memang lebih senang mendapat kulit yang utuh. Harganya tentu lebih mahal dari kulit yang sudah berlubang”

Anak-anak muda Lamban itupun mengangguk-angguk. Merekapun tahu, bahwa kulit harimau yang utuh harganya memang lebih mahal, karena kulit itu tidak cacat jika dipergunakan sebagai hiasan rumah orang-orang kaya di kota.

Pagi itu anak-anak muda Lumban membantu kedua orang pemburu itu menguliti seekor harimau loreng yang besar. Tetapi sebenarnya mereka lebih banyak menonton dan justru mengganggu. Namun agaknya kedua pemburu itu sama sekali tidak merasa terganggu. Justru ia dengan gembira berkelakar dengan anak-anak muda Lumban Wetan.

“He, apakah kalau berdua masih akan berburu malam nanti, atau besok atau sampai kapan pun di bukit itu?” tiba-tiba saja Jlitheng bertanya.

“Tidak” jawab pemburu itu.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan nada yang aneh ia bertanya, “Kenapa, tidak?”

“Aku sudah mendapat seekor harimau. Aku akan pulang nanti” jawab pemburu itu.

Jlitheng memandangi wajah pemburu itu dengan tegangnya. Namun dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa kau tidak membawa sekaligus dua atau tiga lembar kulit harimau?”

Pemburu itu tertawa. Katanya, “Apakah kau lebih senang aku tinggal disini untuk satu dua hari?”

Jlitheng mengumpat di dalam hati. Apalagi ketika ia melihat pemburu itu tertawa berkepanjangan.

“Kau Gila” desis Jlitheng yang hanya didengar oleh pemburu itu.

“Jika kalian bersedia memberi tempat penginapan selama aku disini, aku tidak berkeberatan tinggal disini satu dua hari atau lebih. Karena aku tidak mempunyai bekal cakup untuk hidup disini lebih dari dua hari. Jika aku tinggal di gubug orang tua di lereng bukit itu, tentu aku akan menjadi beban yang berat bagi mereka”

“Kami akan mengusahakan” jawab Jlitheng, “kalian akan tinggal di banjar. Kami akan menyediakan makan bagi kalian meskipun hanya sekedarnya, sesuai dengan kebiasaan, kami disini. Nasi, kadang-kadang jagung dengan dedaunan. Jika kalian memerlukan daging, kalian dapat mengambil sendiri di hutan itu” Jlitheng berhenti sejenak, sementara kawan-kawannya tersenyum. Namun Jlitheng masih meneruskan, “Tetapi ada jasa timbal balik. Kau dapat tinggal disini sambil berburu, sementara kami menyediakan makan dan minum bagi kalian. Tetapi kalau pun harus memberikan sesuatu kepada kami”

“Apa?. Harimau, kijang atau kelinci?” bertanya pemburu itu.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya meskipun agak ragu-ragu, “Olah kanuragan. Kalian adalah orang yang mampu membunuh seekor harimau. Tentu kalian memiliki ilmu. Karena itu, kalian wajib mengajari kami selama kalian berada disini”

Tiba-tiba saja, diluar dugaan, anak-anak muda Lumban Wetan yang mendengarkan pembicaraan itupun bersorak sambi berteriak, “Setuju. Kami setuju sekali”

Pemburu itu tersenyum. Dipandanginya anak-anak muda yang dengan serta merta berteriak dengan penuh gairah itu.

Namun akhirnya pemburu itu berkata disela-sela senyumnya, “Aku tidak mau. Kalian akan menjadi sainganku berburu di hutan itu. Jika demikian aku tidak akan mendapat apapun lagi diatas bukit itu kecuali kelinci-kelinci kecil”

“Kami tidak akan menjadi pemburu” salah seorang anak muda tiba-tiba saja berteriak, “Jika kami ingin berburu, kami sudah mempunyai cara sendiri. Kami dapat membuat perangkap dengan memberikan, umpan seekor kambing. Kamipun akan mendapatkan seekor harimau. Bahkan jika perlu harimau itu akan dapat kami tangkap tanpa bekas luka sama sekali. Kami biarkan harimau itu kelaparan di dalam perangkap”

“Jadi untuk apa?” bertanya pemburu itu.

Tidak seorang pun yang segera menjawab. Beberapa orang anak muda saling berpandangan.

Namun akhirnya Jlitheng lah yang menjawab, “Ki Sanak. Sebentar lagi Lumban Wetan dan Lamban Kulon akan menjadi daerah yang subur. Kesejahteraan akan menyelimuti daerah yang sekarang tandus, dan miskin ini. Karena itu, sebelum harapan itu pada suatu saat akan menjadi kenyataan, maka biarlah kami mempersiapkan diri untuk menjadi pengawal yang baik bagi padukuhan ini”

Kedua pemburu itu tertawa. Yang seorang berkata, “Kalian adalah anak-anak muda yang baik. Tetapi bukankah seorang anak muda yang bernama Daruwerdi sudah berada di Lamban Kulon dan memberikan latihan kanuragan”

“Kau kenal dengan Daruwerdi?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Aku hanya mendengar namanya” jawab pemburu itu.

“Tetapi ia hanya bersedia memberikan latihan kepada anak-anak Lumban Kulon saja. Tidak kepada anak-anak Lumban Wetan” sahut anak muda Lumban itu.

“Kenapa?” bertanya pemburu itu.

“Kami tidak tahu” sahut Jlitheng.

“Kami tahu” tiba-tiba saja yang lain memotong, “Ia berpihak kepada anak-anak muda Lumban Kulon”

“Kenapa berpihak?” bertanya pemburu itu.

“Tidak apa-apa” Jlitheng lah yang menyahut, “Mungkin karena ia tinggal disana sehingga hanya orang-orang yang dekat sajalah yang diajarinya dalam olah kanuragan. Mungkin ia agak segan untuk melintas ke Lumban Wetan”

“Kami bersedia datang. Tetapi ia tetap tidak mau” seorang anak muda yang bertubuh gemuk berteriak.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu pemburu itu berkata, “Apakah kalian sedang bermusuhan? Jika demikian, aku tidak mau terlibat ke dalam permusuhan itu”

Anak-anak muda itupun terdiam. Sekali lagi mereka saling berpandangan. Mereka tidak tahu, bagaimana mereka harus menjawab.

Sekali lagi Jlitheng lah yang menjawab. Katanya, “Kami tidak sedang bermusuhan. Tetap kami tidak menyangkal bahwa ada persaingan diantara kami. Tetapi persaingan ini akan memberikan akibat yang baik. Kami akan bersama-sama maju. Jika terjadi sesuatu di padukuhan ini, kami akan dapat berbuat sesuatu”

Pemburu itu tersenyum. Katanya, “Bagus sekali. Jika kalian bersikap demikian, maka kalian benar-benar akan mendapatkan kemajuan yang pesat. Padukuhan kalian akan menjadi subur. Kehidupan rakyatnya akan menjadi sejahtera, sementara anak-anak mudanya akan dapat menjaga dan melindungi apa yang terkandung di dalam Kabuyutan ini”

“Jadi kalian bersedia?” bertanya seorang anak muda.

“Aku akan mencoba” jawab pemburu itu.

Kesanggupan itu telah memberikan kegembiraan pada anak-anak muda di Lumban Wetan. Mereka tidak akan terlalu banyak ketinggalan dari anak-anak muda Lumban Kulon. Meskipun anak-anak muda Lumban Kulon sudah mulai untuk beberapa lama, tetapi anak-anak Lumban Wetan bertekad untuk menyusul kemampuan mereka.

Sejak malam itu, kedua pemburu itu telah berada di Lumban Wetan. Jlitheng telah memberitahukan hal itu kepada kiai Kanthi di lereng bukit.

“Sukurlah” berkata Kiai Kanthi, ”tetapi apakah hal itu tidak akan berakibat sebaliknya? Justru karena kedua belah pihak merasa kuat, maka benturan tidak akan dapat dielakkan lagi?”

“Memang demikian. Tetapi mungkin juga keduanya menjadi ragu-ragu dan-tidak akan bertindak sesuatu”

“Mudah-mudahan, ngger. Mudah-mudahan akibat baiklah yang terjadi” desis Kiai Kanthi kemudian.

Di hari berikutnya kedua pemburu itu mulai dengan kesanggupannya untuk memberikan latihan olah kanuragan. Tetapi pemburu itu tidak melakukannya secara umum. Kepada anak-anak Lumban Wetan ia berkata, “Sambil mengeringkan kulit harimau itu, aku akan memberikan sedikit latihan olah kanuragan. Tetapi aku akan melakukannya dengan caraku. Pada hari-hari pertama, aku akan memilih sepuluh orang saja diantara kalian. Sepuluh orang itu akan mendapat latihan yang lebih berat dari kawan-kawan kalian”

“Jadi bagaimana dengan yang lain?” bertanya seorang anak muda.

“Yang lain juga akan mendapat latihan-latihan kanuragan. Tetapi dilakukan secara terpisah. Kawanku itulah yang akan melatih kalian” jawab pemburu itu.

Bagi anak-anak muda Lumban Wetan, hal itu tidak menjadi persoalan. Namun salah seorang dari mereka masih beritanya, “Bagaimana kalian akan memilih sepuluh orang diantara kami”

“Lihat sajalah, bagaimana aku akan memilih kalian” jawab pemburu itu.

Anak-anak muda Lumban Wetan sudah mulai merasakan kebanggaan sebagai seorang anak muda yang akan dapat mengimbangi anak-anak muda Lumban Kulon. Namun agaknya seperti yang dikatakan oleh Kiai Kanthi, anak-anak muda Lumban Wetan justru merasa lebih kuat untuk mempertahankan agar pintu air sungai itu tetap dipertahankan.

Dihari pertama pemburu itu masih belum melakukan pilihan. Tetapi ia mulai memilih anak-anak muda Lumban Wetan seorang demi seorang. Pada hari pertama anak-anak muda itu harus melakukan gerak yang sederhana tetapi untuk waktu yang lama. Dari pengamatan itu, pemburu itu dapat melihat, siapakah yang memiliki ketahanan pernafasan dan ketahanan tubuh yang paling baik.

Dari mereka, pemburu itu memilih dua puluh lima orang. Mereka harus melakukan latihan-latihan khusus di hari berikutnya. Mereka harus melakukan beberapa macam gerakan untuk melihat selain ketahanan tubuh dan pernafasan, juga ketrampilan dan kemungkinan untuk dapat melakukan gerak yang cepat dan keras.

Akhirnya seperti yang dikatakan, pemburu itu telah memilih sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan. Kesepuluh orang itulah yang kemudian akan, mendapat tempaan khusus.

Tetapi dari kesepuluh orang itu ternyata tidak terpilih anak muda yang benama Jlitheng.

“Aku menyesal sekali” berkata Jlitheng.

“Ya. Kau termasuk orang penting diantara anak-anak muda Lumban Wetan” berkata kawannya.

Tetapi pemburu itu menjawab, “Pernafasannya cukup baik. Tetapi perasaannya kurang peka terhadap perkembangan keadaan. Ia terlalu lambat mengambil sikap, sehingga dalam perkelahian yang cepat, ia akan banyak kehilangan waktu”

Jlitheng mengumpat di dalam hati, apalagi ketika ia melihat pemburu itu tersenyum. Namun Jlitheng tidak membantah, karena ia mengerti maksud dari pemburu yang sudah dikenalnya sebelumnya.

Demikianlah, pada hari berikutnya, anak-anak muda Lumban Wetan mulai dengan latihan-latihan yang sesungguhnya Sepuluh orang diantara mereka telah mencari tempat yang khusus untuk berlatih. Mereka memerlukan waktu yang lebih lama dan tenaga yang jauh lebih banyak. Sementara yang lain telah memperguna-kan halaman banjar untuk melakukan latihan-latihan.

 

Bersambung ke jilid 11

 

 

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s