MAdBB-08


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 8

kembali | lanjut

cover madbb-08JLITHENG mempergunakan setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya. Jika ia gagal pada ujung pertempuran itu, maka ia akan terjerumus ke dalam kesulitan yang mungkin telah dapat diatasinya. Ia akan menjadi sangat lelah dan kehabisan tenaga, sementara nafasnya tentu akan berdesakkan di lubang hidungnya.

Karena itu, Jlitheng benar-benar bertekad untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ia benar-benar tidak mau memberi kesempatan barang sedikit pun. Ia mendesak lawannya dengan garangnya dan memburunya kemana ia pergi untuk menghindar.

Dalam pada itu, lawan Jlitheng itu benar-benar merasa telah kehabisan ruang di padang yang luas. Ia tidak lagi mempunyai tempat untuk berpijak, karena Jlitheng selalu mendesaknya.

Dalam keadaan yang paling sulit, maka orang itu telah kehilangan kesempatan untuk menghindar. Karena itu, maka ketika pedang tipis Jlitheng menyambar keningnya, maka ia pun mengangkat senjatanya untuk menangkisnya.

Yang terjadi kemudian adalah sebuah benturan yang dahsyat. Jlitheng benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya, sehingga segenap tenaganya telah terayun pada pedang tipisnya. Ia percaya bahwa pedangnya adalah pedang yang kuat, sehingga tidak akan patah karenanya.

Ternyata bahwa kekuatan Jlitheng memang melampaui kekuatan lawannya. Benturan itu telah menggetarkan kekuatan orang yang bertubuh kekar itu, sehingga tangannya yang menggenggam, senjata rasa-rasanya bagaikan patah.

Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Jlitheng yang memang ingin menunjukkan kelebihannya itu. Sekali ia menggeser senjatanya dan memutarnya. Sebelum lawannya sempat memperbaiki keadaannya, maka Jlitheng telah menjulurkan pedangnya.

Orang yang bertubuh kekar itu terdorong surut. Terdengar ia mengaduh tertahan. Dengan sisa tenaga yang ada padanya maka ia pun segera berloncatan menghindar.

Dengan garangnya Jlitheng memburunya. Namun ketika ia melihat seleret warna merah di dada lawannya, tiba-tiba saja ia tertegun. Pedangnya yang siap menyambar lawannya bagaikan tertahan sekejap. Namun yang sekejap itu telah memberi kesempatan kepada lawannya untuk menjauhinya.

Namun Jlitheng tidak segera memburunya Ia melihat luka yang menganga di dada lawannya oleh goresan pedangnya.

“Pedang ini memang luar biasa” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “tanganku hampir tidak merasa bahwa ujung pedang ini telah menyobek dadanya”

Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia melihat orang itu mengusap dadanya dengan jari-jarinya. Kemudian wajahnya menjadi membara.

Sementara itu, sekali lagi Jlitheng disambar oleh keragu-raguan. Hampir saja ia menghentikan perkelahian. Namun ketika dengan tidak sengaja ia melihat wajah Rahu, maka tiba-tiba saja hatinya telah bergejolak semakin cepat. Ia tidak boleh ragu-ragu jika ia ingin menjadi penghuni padepokan Sanggar Gading. Apapun yang terjadi atas lawannya, ia tidak boleh menghiraukannya, sehingga mempengaruhinya.

Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk segera mengakhiri pertempuran dalam waktu yang singkat. Dengan pedang gemetar ia siap untuk meloncat menerkamnya.

Meskipun lawannya telah terluka di dada, namun ia masih mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Karena itu ketika Jlitheng mulai bergerak, iapun telah bergerak pula setapak kesamping.

Sejenak kemudian, maka Jlitheng pun telah meloncat dengan pedang terjulur. Namun lawannya masih sempat bergeser meskipun tenaganya menjadi semakin lemah.

Tetapi Jlitheng benar-benar tidak mau melepaskannya. Ia segera menarik pedangnya yang terjulur, kemudian memutarnya dan menebas kesamping. Demikian cepatnya sehingga lawannya harus berloncatan tanpa sempat membuat perhitungan, selain berusaha menjauhi lawannya pada jarak sepanjang dapat dijangkaunya.

Namun Jlitheng masih meloncat memburu. Karena pedangnya yang menebas mendatar tidak menyentuh lawannya, maka iapun segera menarik serangannya. Dengan tangkasnya iapun meloncat memotong loncatan lawannya. Dengan gerak yang cepat sekali, ia pun mengayunkan senjatanya langsung mengarah lambung.

Lawannya masih berusaha menangkis serangannya. Tetapi ternyata bahwa usahanya tidak banyak berhasil. Ketika senjatanya bersentuhan sekali lagi, maka genggamannya yang sudah lemah tidak berhasil menahan senjata lawannya. Bahkan dengan satu hentakan berikutnya, maka senjata itu benar-benar telah terlepas dari tangannya yang tulang-tulangnya bagaikan berpatahan itu.

Tidak ada kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Tiba-tiba saja pedang Jlitheng bergetar. Tajamnya telah menyentuh lambung lawannya, sehingga terdengar ia mengaduh sambil berusaha meloncat kesamping.

Tetapi luka telah menganga lagi di tubuhnya. Dan darah pun menjadi semakin banyak mengalir.

Sepercik keragu-raguan telah menyentuh hati Jlitheng. Tetapi, ia menggeretakkan giginya sambil berkata, “Aku tidak boleh ragu-ragu. Apaboleh buat bahwa ia harus menjadi korban Aku harus memasuki Sanggar Gading dan terlibat dalam usaha memperebutkan pusaka di bukit gundul itu”

Karena itulah, maka Jlitheng pun menggeram. Ia sudah mengangkat pedangnya. Jika ia mengayunkannya tepat menebas leher, maka leher itu tentu akan patah, karena orang itu sama sekali sudah tidak berdaya lagi.

Jlitheng melihat orang itu terhuyung-huyung. Sekilas terbersit niatnya untuk berbuat sesuatu yang lain karena dorongan hati nuraninya setelah ia melihat darah.

Dan yang dilakukan oleh Jlitheng benar-benar cermat, sehingga tidak seorang pun yang mengetahui.

Jlitheng yang sudah siap menebaskan pedangnya itu menunggu sejenak. Namun kemudian pedang itu pun terayun pula dengan derasnya. Tetapi pada saat yang bersamaan, orang itupun terhuyung-huyung jatuh terguling di tanah.

Dengan demikian pedang Jlitheng ternyata tidak menyentuh lawannya. Pedang itu terayun setebal jari diatas tubuh yang terguling itu.

Namun sebenarnyalah bahwa memang Jlitheng tidak ingin membunuh orang itu. Karena itulah, maka yang dilakukan kemudian adalah berdiri dengan kaki renggang. Sebelah tangannya bertolak pinggang, sedang tangannya yang lain berpegangan erat pada hulu pedangnya yang menunduk mengarah ke dada orang itu.

“Aku dapat membunuhnya” teriak Jlitheng.

Cempaka ternyata tidak mencegahnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Itu hakmu. Jika kau ingin membunuhnya, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangimu. Bahkan kedua orang yang telah bertempur dan kau kalahkan itu pun dapat kau bunuh jika kau kehendaki”

Jlitheng menggeram. Sekilas dipandanginya wajah Rahu. Ia mengumpat di dalam hatinya ketika ia melibat Rahu tersenyum. Seolah-olah ia ingin mengatakan, bahwa Jlitheng benar-benar seorang yang terlalu baik buat Sanggar Gading. Ia tidak akan dapat membunuh orang yang telah terkapar di tanah itu.

Jlitheng yang mengerti gerak hati Rahu itupun kemudian berteriak, “Aku ingin membunuhnya. Tetapi apakah ada hukuman yang lebih berat daripada mati?”

“Tidak ada” Cempaka lah yang menyahut.

Tetapi Jlitheng kemudian berkata, “Mati adalah hukuman yang terlalu ringan bagi orang-orang ini. Mati adalah akhir bagi mereka tanpa berkesempatan untuk mengetahui kebodohan yang kekerdilan diri. Karena itu aku tidak akan membunuhnya. Biarlah ia mengerti, bahwa aku adalah orang yang lebih perkasa dari padanya. Biarlah ia melihat, aku akan berada pada kedudukan yang lebih baik daripadanya. Ia harus disiksa oleh pengakuan, betapa lemahnya ilmunya. Beberapa saat saja aku sudah berhasil mengalahkannya. Dan pada sisa hidupnya ia harus selalu berlutut di bawah kakiku. Karena jika ia tidak berbuat demikian, aku akan menginjak kepalanya”

Cempaka mengerutkan keningnya, Sejenak ia memandang Jlitheng dengan sorot mata keheranan. Namun kemudian katanya, “Kau ternyata orang yang paling bengis yang pernah aku kenal. Kau tidak mau mengakhiri hidupnya justru karena kau mempunyai cara yang paling baik untuk membenturkan pengakuannya pada sisa-sisa hidupnya yang tidak berarti lagu”

Jlitheng tertawa. Disarungkannya pedangnya sambil mengguncang tubuh yang terbaring itu dengan kakinya, “Jika kau masih sempat bangun, bangunlah dan nikmatilah kekalahanmu. Jika kau mendendam, maka aku akan menunggumu sampai kau sembuh dan sekali lagi kita akan berkelahi. Aku akan memberimu pelajaran yang lebih menarik lagi dari mati dan siksaan pengakuan atas kedunguanmu. Aku dapat membuatmu cacat sepanjang hidupmu. Dan kau akan menjadi beban orang lain tanpa memiliki kesempatan sama sekali untuk memperbaiki keadaan.

Orang yang terbaring itu sama sekali tidak menjawab. Betapapun gejolak menghantam dinding jantungnya, namun ia sudah tidak berdaya. Ia hanya dapat menggerakkan kelopak matanya dan menggeletakkan giginya. Namun ia pun tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia sudah tidak berdaya lagi

Ia telah dikalahkan dalam waktu yang terhitung sangat singkat Jika mula-mula ia merasa dirinya memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan, maka ia telah dihadapkan pada seorang anak muda yang memiliki kemampuan iblis, melampaui orang yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itu.

Sejenak kemudian, Jlitheng ternyata benar-benar meninggalkannya dalam keadaan yang parah itu. Sekilas ia berpaling kepada dua orang yang telah dikalahkannya lebih dahulu. Katanya, “Kalian berdualah yang menyebabkannya. Jika kalian tidak terlalu dungu, sehingga kalian berdua tidak berkelahi seperti cucurut, maka orang itu tentu tidak akan melibatkan dirinya. Karena itu terserahlah kepadamu kalian. Aku memerlukannya untuk tetap hidup dan menikmati kekalahannya, karena mati baginya adalah hal yang terlalu biasa sehingga tidak dapat memberikan kesan apapun juga. Tetapi kekalahan yang harus disandangnya akan membebaninya sepanjang sisa hidupnya yang tidak berarti lagi. Dan itulah yang aku butuhkan, sehingga apabila kalian tidak dapat merawatnya sampai ia dapat hidup terus, maka kalian akan mengalami perlakuan yang sangat menyedihkan, karena kalian berdua ada di bawah wewenangku sejak kalian aku kalahkan dan aku ampuni karena kemurahan hatiku”

Kedua orang itu menahan gejolak perasaannya yang menggelegar di hatinya. Betapapun juga mereka merasa terhina oleh ancaman yang sangat menyakitkan hati itu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun juga, karena sebenarnya mereka memang sudah dikalahkan.

Cempaka melihat sikap Jlitheng itu dengan senyum di bibirnya. Sekali lagi ia berkata, “Kau memang iblis yang paling licik. Kaulah yang pantas bernama Iblis berjantung Beku. Kau menghina orang-orang Sanggar Gading dengan semena-mena”

“Bukankah itu hakku seperti yang kau katakan?” bertanya Jlitheng

“Ya. Tetapi aku tidak mengira, bahwa kau mampu mengguncang harga diri seluruh isi padepokan Sanggar Gading”

Jlitheng tertawa. Katanya, “Orang-orang Sanggar Gading memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Apakah aku tidak dapat berbuat sebaliknya”

“Baiklah. Memang terserah kepadamu. Tetapi jangan mencoba menghina aku” sahut Cempaka.

“Kaulah yang mengundang aku kemari. Dan aku datang memenuhinya. Mungkin aku akan dapat bertualang bersama orang-orang Sanggar Gading untuk satu saat. Dan itu tentu sangat menarik” jawab Jlitheng.

Cempaka tertawa. Katanya, “Marilah. Ikutilah kami. Kami akan membawamu memasuki Sanggar Gading. Kami memang sudah siap untuk berbuat sesuatu. Mula-mula aku ragu-ragu, apakah kau dapat Ikut bersama kami. Tetapi kau sudah melumpuhkan satu orang yang termasuk dalam tugas ini. Karena itu, maka kau akan dapat menjadi penggantinya. Tetapi jika kau mencoba berkhianat, maka nasibmu menjadi lebih buruk dari padanya”

Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itupun memandang Cempaka sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Kau sudah mulai mengancam tetapi aku tidak berkeberatan. Agaknya memang menarik sekali dapat berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading yang aneh. Di padukuhan tempat tinggal Rahu, aku sudah menjumpai banyak keanehan tingkah laku dan sikap penghuninya. Agaknya Sanggar Gading juga memiliki sesuatu yang menarik lagi”

“Kau akan melihatnya. Tetapi jangan menyesal jika yang kau lihat itu tidak sesuai dengan seleramu” potong Cempaka.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia akan mengucapkan sesuatu Cempaka telah mendahuluinya, “Ikutlah aku”

Namun ternyata Cempaka tidak menunggu Jlitheng. Ia dengan tergesa-gesa menuju ke kudanya dap langsung meloncat naik diikuti oleh seorang pengiringnya.

“Biarlah ia mendahului kita” desis Rahu.

Jlitheng menjadi termangu-mangu. Namun ia, mengikuti petunjuk Rahu dan membiarkan Cempaka berpacu mendahului.

“Kita akan menyusul” desis Rahu.

“Ya. Marilah” sahut Jlitheng,

“Jangan cemas. Aku mengenal daerah ini seperti Cempaka mengenalinya” jawab Rahu.

Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya orang-orang yang terluka. Mereka berusaha untuk saling menolong.

Beberapa saat lamanya Jlitheng memandangi mereka. Di luar sadarnya ia berdesis, “Apakah mereka dapat menyelamatkan diri?”

“Siapa?” bertanya Rahu.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku memerlukan mereka hidup untuk menikmati kekalahan mereka.”

Rahu tertawa. Katanya, “Jangan membohongi aku. Jika aku belum melihat apa yang kau lakukan di padukuhanku, mungkin aku percaya. Tetapi yang terjadi adalah penegasan dari dugaanku. Kau terlalu baik hati dan ragu-ragu untuk memasuki Sanggar Gading yang keras dan buas”

Wajah Jlitheng menegang. Katanya, “Kau mulai mengigau lagi. Sebaiknya jangan menjadi orang pertama yang akan aku bunuh di dalam lingkungan Sanggar Gading”

“Bagus. Jika kau dapat melakukannya, maka itu akan dapat menolongmu dari kecurigaan” desis Rahu.

“Persetan” Jlitheng pun kemudian meloncat pula ke punggung kudanya samba menggeram, “cepat. Kita susul Cempaka”

Rahu masih saja tertawa. Kemudian kepada orang-orang yang terluka ia berteriak, “Berjuanglah untuk hidup. Jika kalian menjadi putus asa, maka kalian akan benar-benar mati”

Orang-orang yang terluka itu tidak menjawab. Tetapi sepercik pertanyaan memang telah mencengkam jantung mereka, “Kenapa kami tidak dibunuhnya. Apapun alasannya, tetapi itu merupakan satu persoalan tersendiri. Mungkin ia benar-benar ingin menghina kami, tetapi mungkin karena alasan lain, karena kami bertiga telah dibebaskan seluruhnya dari kematian”

Sementara itu kuda Jlitheng dan Rata telah berderap membelah padang yang disebut padang perburuan dan yang kadang-kadang juga disebut padang kematian oleh orang-orang Sanggar Gading Padang yang berdebu dan berwarna gersang. Dedaunan yang kuning nampaknya bertambah kering. Angin yang lemah telah melepas tangkai-tangkai daun dan berguguran di tanah berbatu padas dan berdebu.

“Apakah padepokan yang aneh itu masih jauh?” bertanya Jlitheng.

“Tidak. Di seberang padang yang tidak terlalu luas itu, Kita akan menuruni jurang yang dangkal. Kemudian menyeberangi sebuah sungai kecil Barulah kita memasuki daerah padepokan Sanggar Gading yang dikelilingi oleh tanah garapan yang menghasilkan makan kami”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kalian mampu mencari tempat yang benar-benar terasing. He, bagaimana cerita tentang dirimu, sehingga kau berhasil memasuki Sanggar Gading?” tiba-tiba saja ia melontarkan sebuah pertanyaan.

Tanpa diduganya, maka tiba-tiba saja Rahu itu tertawa meledak. Diantara suara tertawanya ia berkata, “Aku sudah mengira bahwa kau akan bertanya demikian”

“He” Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu, “Jika kau sudah mengira sebelumnya, kenapa kau tertawa?”

“Tidak apa-apa. Pertanyaan Itu wajar sekali. Tetapi ketahuilah, bahwa aku berada di Sanggar Gading sejak padepokan itu dibuat. Aku ikut serta membangun padepokan itu, aku adalah salah seorang yang berpengaruh di antara penghuni padepokan itu, karena aku termasuk cikal bakal”

“Bohong. Wajahmu tidak membenarkan kata-katamu dan sikapmu tidak mendukung pernyataan itu sama sekali”

“He, kau belajar kawruh kajiwan sehingga kau dapat menebak isi hati orang? Kau dapat menebak pernyataan wajah dan sikap?” bertanya Rahu.

“Tidak. Tetapi setiap orang dapat melihat kesan yang tersirat pada wajah seseorang jika ia berbohong” bantah Jlitheng.

“Jika demikian tidak akan ada seorang pun yang dapat ditipu oleh orang lain. Jika setiap orang dapat mengetahui orang lain berbohong, maka kita semuanya akan hidup dalam dunia yang lebih baik” desis Rahu kemudian.

Jlitheng memandang wajah Rahu sekilas. Ia menjadi semakin heran melihat sikap orang itu. Namun ia segera melepaskan kesannya dan berkata, “Kau benar. Tetapi bagaimana gambaran-mu tentang dunia yang lebih baik?”

“Pembicaraan kita sudah berkisar. Kau ingin menjajagi sikap dan pandangan hidupku?” beritanya Rahu.

“Kau memang Gila” geram Jlitheng, “Yang pantas bercuriga adalah aku. Bukan kau. Atau memang kita harus saling mencurigai”

Rahu tertawa pula. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan disentuhnya perut kudanya dengan tumitnya, sehingga kudanya berlari semakin kencang. Disusul oleh Jlitheng yang terpaksa menyesuaikan dirinya, berpacu semakin cepat di padang yang berdebu.

Untuk beberapa saat keduanya tidak berbicara. Jlitheng berkuda agak di belakang. Tetapi ia tidak membuat jarak dengan Rahu.

Beberapa saat kemudian, Jlitheng melihat sebuah jurang yang tidak begitu curam dan tidak begitu dalam. Seperti yang dikatakan oleh Rahu, maka mereka akan segera menyeberangi sebuah sungai kecil. Baru kemudian memasuki daerah kekuasaan padepokan Sanggar Gading.

Ketika keduanya sampai ke pinggir jurang yang tidak begitu dalam itu, Rahu memperlambat lari kudanya. Mereka kemudian melihat Cempaka yang sudah naik di tebing seberang sesudah menyeberangi sebuah sungai yang memang tidak begitu besar.

“Kita akan sampai ke sungai yang menjadi urat nadi dan sumber makan bagi padepokan Sanggar Gading” berkata Rahu.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Sungai itu memang tidak begitu lebar dan tidak begitu dalam. Tetapi airnya yang jernih mengalir cukup deras meskipun di musim kering.

“Sungai ini tidak pernah kering di segala musim” berkata Rahu “di beberapa tonggak sebelah atas sungai ini kami membuat bendungan yang mengaliri sawah dan pategalan kami”

“Kalian memang bukan main” desis Jlitheng, “kalian berhasil menemukan tempat yang sangat balik bagi persembunyian sebuah kelompok yang aneh dari orang-orang Sanggar Gading”

“Cempaka sudah mengatakan, bahwa kau mampu menyentuh harga diri kami. Karena itu jangan terlalu sering menghina aku” geram Rahu.

“Aku memuji kalian” sahut Jlitheng dengan serta merta, “tidak banyak orang yang mengira bahwa di seberang padang yang kering itu terdapat sebidang tanah yang subur, yang dialiri oleh sebuah sungai yang tidak pernah kering”

“Kaulah yang bodoh” jawab Rahu, “Jika kau menempuh perjalanan lewat padang yang kering itu, maka kau memang akan menjadi heran, bahwa kau akan menemukan daerah yang subur ini. Tetapi jika perjalananmu menyusur sungai Situ, maka tidak akan terdapat keanehan apapun juga dari tanah orang-orang Sanggar Gading. Karena tanah di sepanjang sungai itu, dari sumbernya sampai mulutnya di pesisir adalah tanah yang subur”

“Tetapi kenapa hanya belahan di seberang saja yang menjadi subur dan tidak sebelah menyebelah sungai?”

“Aku kira kau tidak sebodoh itu. Bukankah itu tergantung dari garapan manusia, kami sudah mengangkat air dari sungai itu. Tetapi kami mengalirkan air itu pada belahan di seberang sungai dan kami sama sekali tidak mengaliri padang ini.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa. Katanya, “Kau benar. Aku memang bodoh”

Ketika mereka kemudian menyeberangi sungai itu, maka mereka berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kuda mereka untuk meneguk air. Betapa segarnya. Namun Jlitheng tidak turun dan mencelupkan kakinya, betapapun ia ingin.

Sejenak kemudian mereka telah melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah padepokan. Jlitheng menebak-nebak di hatinya, apakah kira-kira yang akan dijumpainya di sebuah padepokan yang sulit untuk dibayangkan.

Ketika mereka memanjat tebing di seberang yang tidak terlalu tinggi maka mereka pun mulai memasuki tanah persawahan yang subur. Beberapa tonggak dari tebing, Jlitheng telah melihat sawah yang terhampar. Batang-batang padi yang hijau dan segar. Beberapa puluh tonggak lagi, dilihatnya sebuah padukuhan yang hijau.

“Padukuhan itukah yang kau maksud dengan padepokan Sanggar Gading?” bertanya Jlitheng.

“Ya. Padukuhan itulah padepokan yang terasing, tetapi memiliki cita-cita buat hari depan, melampaui cita-cita orang Demak” desis Rahu.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Sejauh mata memandang, dilihatnya tebaran sawah dan ladang. Di ujung pandangan matanya, ia melihat tegal jagung dan ketela pohon. Agaknya tanah itu tidak begitu banyak berkesempatan mendapat aliran air, sehingga ditanami, jagung dan ketela pohon. Sedang di sebelahnya, yang agaknya lebih jarang lagi disentuh air, terdapat pategalan.

“Kami tidak akan kekurangan makan” berkata Rahu sambil memandang ke sekelilingnya, “sawah ini menghasilkan padi. Ladang itu akan memberikan jagung dan ketela pohon, sedangkan kami dapat memetik buah-buahan dari pategalan. Di sebelah pategalan itu terdapat kebun kelapa yang luas dan sebuah ladang rami yang memberi serat kepada kami.

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun ia menyimpan keheranan di dalam hatinya. Agaknya di padepokan itu memang terdapat satu dua orang yang mampu berpikir tentang masa lampau mereka, masa kini dan masa depan. Sehingga ia dapat mempersiapkan rancangan yang mapan untuk satu perjuangan

“Aku tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya mereka perjuangkan. Namun menilik usaha Cempaka, dengan sungguh-sungguh untuk menguasai pusaka yang tersimpan di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati itu, maka agaknya ada cita-cita dari isi Sanggar Gading untuk menuju ke tahta, Demak” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “Tetapi apakah mereka mempunyai cukup bekal. Mempunyai cukup pengaruh meskipun mereka memiliki pusaka yang manapun juga”

Karena itu, Jlitheng menjadi berdebar-debar. Sebuah pertanyaan telah timbul, “Apakah ada justru orang-orang Demak sendiri yang menjadi penggerak dari Sanggar Gading ini”

Tetapi Jlitheng tidak bertanya sesuatu. Sekilas dikenangnya peristiwa yang pernah terjadi. Dibayangkannya kembali orang-orang Kendali Putih dan orang Pusparuri.

“Memang agak lain” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “agaknya kelompok ini mempunyai beberapa kelebihan dari kelompok lain. Mungkin bukan dari segi kekuatan dan jumlah pengikutnya, tetapi agaknya orang-orang Sanggar Gading lebih banyak berpikir dari pada orang-orang Kendali Putih dan Pusparuri.

Demikianlah mereka berdua itu pun berkuda semakin dekat dengan padepokan Sanggar Gading yang terasing. Yang dibatasi oleh padang yang cukup luas dan buas. Tebing yang meskipun tidak begitu dalam, sebuah sungai dan baru kemudian sebuah bulak panjang.

“Rahu” tiba-tiba Jlitheng bertanya, “Apakah kau dapat mengatakan, apakah yang disebut lembah kematian, atau apapun namanya tempat pembuangan mayat itu?”

Rahu mengerutkan keningnya. Sejenak ia termangu-mangu, Namun kemudian katanya, “Kau sudah menyebutkan. Tempat itu adalah tempat orang-orang Sanggar Gading membuang mayat dari orang-orang yang telah dibunuh di padang perburuan atau yang juga disebut padang kematian itu. Mayat itu dibiarkan membusuk dan menjadi makanan anjing-anjing liar dan burung pemakan bangkai”

“Apakah lembah itu kelanjutan dari lembah dangkal dari sungai yang baru saja kita seberangi?” bertanya Jlitheng pula.

“Bukan. Lembah itu lembah mati. Bukan kelanjutan dari lembah yang manapun juga. Lebih mirip dengan sebuah luweng terbuka yang besar dan dalam” Rahu. berhenti sejenak, lalu, “Kau sudah menunjukkan sifatmu lebih jelas. Kau tentu menjadi cemas bahwa bangkai yang membusuk itu akan mengotori air yang mengalir dari sungai ini. Bukan saja mengotori, tetapi akan dapat menumbuhkan penyakit. Bukankah begitu?”

“Kau memang anak iblis. Kau pantas dibunuh disini. Dan mayatmu pun harus dilempar ke lembah itu pula”

Rahu tertawa. Namun kemudian katanya, “Marilah. Cempaka sudah semakin jauh. Sebaiknya kita masuk regol padepokan bersamanya, agar kita, terutama kau tidak banyak mengalami, kesulitan”

“Persetan. Aku akan membunuh siapa saja yang menghalangi aku” geram Jlitheng.

Tetapi Rahu justru tertawa semakin keras. Katanya, “Kau bukan seorang yang garang seperti yang kau katakan”

“Aku sudah membunuh orang-orang dari Kendali Putih, mungkin juga orang-orang Pusparuri dan sekarang orang Sanggar Gading”

Rahu tidak menjawab. Sambil tertawa ia berkata, “Percepat sedikit lari kudamu”

Keduanya berkuda semakin cepat Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan padepokan Sanggar Gading, sementara jarak mereka dengan Cempaka pun menjadi semakin dekat.

Beberapa puluh langkah dari regol, Rahu dan Jlitheng sudah berada di belakang Cempaka bersama seorang pengiringnya. Karena itu, ketika mereka memasuki regol, mereka tidak mengalami kesulitan.

Ketika penjaga regol itu membentak Jlitheng, maka Cempaka lah yang menjawab, “Buka matamu, ia datang bersama aku. Jika aku, tidak dengan sengaja membawanya masuk, ia sudah aku bunuh di padang perburuan”

Penjaga itu termangu-mangu.

“Minggir, atau aku pecah kepalamu” Cempaka, membentak semakin keras, sementara Rahu tanpa berkata sesuatu, langsung menyentuh kepala orang itu dengan kakinya.

Orang itu terhuyung-huyung. Matanya menyala sementara mulutnya bergerak-gerak. Jlitheng tahu, bahwa orang itu mengumpat, tetapi tidak terucapkan.

Jlitheng tidak berbuat sesuatu. Namun ia berdesis di dalam hatinya, “Inilah gambaran tata kehidupan yang keras, buas dan liar di padepokan Sanggar Gading”

Namun dalam pada itu, Jlitheng mulai membayangkan, tata kehidupan di padepokan-padepokan lain yang tentunya akan terasa lebih kasar, lebih buas dan liar. Kendali Putih, Pusparuri dan kehidupan orang-orang dari padepokan Gunung Kunir.

Tetapi ia tidak dapat merenung lebih lama lagi. Ketika Cempaka memasuki regol bersama pengiringnya, maka Rahu pun mengikutinya pula. Di paling belakang adalah Jlitheng yang ragu-ragu.

Namun dalam pada itu, dendam orang yang bertugas di regol itu ternyata jatuh kepada Jlitheng. Ketika Jlitheng berada di regol, tiba-tiba saja orang itu mencabut pisau kecilnya dan langsung akan menggores kaki Jlitheng pada pahanya.

Untunglah bahwa Jlitheng cukup tangkas melihat bukan saja geraknya, tetapi juga gelagat dan sorot matanya. Karena itu, ketika ia melihat tangan, orang itu bergerak, ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, terjadi peristiwa yang mengejutkan. Cempaka, pengiringnya dan Rata telah tertegun dan berpaling. Mereka masih sempat melihat, pisau itu bergetar di tangan penjaga regol. Namun ia tidak berhasil mengenai paha Jlitheng. Bahkan Jlitheng sempat berkisar, mengangkat kakinya dan sebuah tendangan yang keras mengenai wajah orang itu sehingga terdengar ia mengaduh. Namun sementara itu, Jlitheng tidak puas dengan tendangan kakinya yang mengenai wajah orang itu. Ia masih sempat meloncat turun. Kemudian dengan kedua tangannya ia memukul perut orang itu beberapa kali beruntun. Kemudian dengan garangnya Jlitheng meremas rambut orang itu dan dengan cepat ia membenturkan wajah orang itu pada lututnya.

Ketika Jlitheng melepaskan orang itu, maka orang itu pun terhuyung-huyung dan jatuh di tanah. Sementara Jlitheng masih berdiri tegak sambil memandang beberapa orang penjaga regol yang lain yang menjadi tegang.

“Siapa yang ikut menjadi gila bersama orang itu?”

Tidak ada yang menyahut. Sementara Cempaka dan Rahu tersenyum memandanginya.

“Ia pantas menjadi orang Sanggar Gading” desis Cempaka.

Rahu tidak menyahut. Tetapi ia tertawa di dalam hatinya, karena ia tahu, bahwa Jlitheng melakukan hal itu justru karena ia ingin berbuat sebagai orang-orang Sanggar Gading. Ia ingin menutupi sifat dan wataknya yang sebenarnya.

Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Namun kemudian ia pun melangkah dan meloncat kembali ke punggung kudanya. Ketika Cempaka kemudian memasuki halaman lebih dalam lagi.

Ternyata bahwa orang-orang padepokan Sanggar Gading itu tidak turun dari kudanya ketika mereka melintasi halaman dan kebun disamping rumah induk padepokannya, langsung menuju ke kandang.

“Dimana matamu he?” tiba-tiba saja Cempaka berteriak ketika ia melihat seorang berdiri termangu-mangu, “Kau lihat kami datang”

Orang itupun segera berlari-lari. Ketika Cempaka meloncat turun, maka dengan tergesa-gesa orang itu menerima kendali kudanya. Demikian juga kendali kuda pengiring Cempaka.

“Cepat” Rahu pun membentak pula.

Orang itupun kemudian dengan tergesa-gesa menambatkan kendali kuda itu pada tiang kandang kuda. Sementara ia pun berlari-lari menerima kuda Rahu.

“Layani pula kuda tamuku” perintah Rahu.

Orang itu memandang Jlitheng sejenak. Nampak ia menjadi ragu-ragu sehingga untuk sesaat ia tidak beranjak dari tempatnya.

“Cepat, apakah kau ingin dibantai pula?. Ia sudah berhasil melewati padang pembantaian itu. Dan ia adalah salah seorang keluarga kita yang terhormat” teriak Rahu.

Cempaka yang sudah meninggalkan kandang, tetapi masih belum terlalu jauh itu berpaling. Ia masih melihat orang yang dibentak oleh Rahu itu berlari-lari mendekati kuda Jlitheng.

Setelah menyerahkan kudanya, maka Jlitheng pun menyentuh kepala orang itu sambil berkata, “Rahu sudah memperkenalkan aku. Hati-hatilah, karena mungkin aku akan menjadi orang yang paling buas disini”

Orang itu memandang Jlitheng dengan wajah yang tegang. Tetapi karena Jlitheng pun segera meninggalkannya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Satu lagi orang paling gila di padepokan ini. Begitu ia datang, begitu dia mengusap kepalaku. Besok ia mulai mendorong dahi, dan lusa ia akan meludahi mukaku”

Tetapi Jlitheng dan Rahu tidak mendengarnya, karena mereka pun telah meninggalkan kandang.

Beberapa langkah Jlitheng berjalan di halaman padepokan Sanggar Gading, ia menjadi berdebar-debar. Ia melihat dua orang berdiri di sebuah lesung kayu yang tertelungkup. Keduanya menyilangkan tangannya di dada, seolah-olah mereka berdiri acuh tidak acuh meskipun mereka memandang Jlitheng dan Rahu yang melintas beberapa langkah dihadapan mereka.

“Keduanya kakak beradik” desis Rahu, “ketika aku menyebut diriku Iblis bertangan Petir, maka keduanya telah membuat nama yang tidak kalah garangnya”

“Kalian tidak lebih dari orang-orang berjiwa kerdil sehingga untuk menutupi kekerdilan hati kalian sendiri, maka kalian telah membuat nama yang tidak lebih dari satu kegilaan geram Jlitheng.

Tetapi Rahu, tertawa. Katanya, “Kau jangan mengelabui aku dengan sikap kasarmu. Jika aku membuat nama yang nggegirisi sekedar untuk menutupi kekerdilanku, maka kau berbuat seolah-olah kau seorang yang kasar dan buas untuk menutupi sifat-sifatmu yang tidak sesuai dengan sifat-sifat orang Sanggar Gading”

“Kau memang, pantas dibunuh untuk membukukan bahwa tanganku pun selalu haus darah” desis Jlitheng.

Tetapi Rahu tertawa semakin keras. Cempaka yang berjalan beberapa langkah dihadapannya berpaling lagi. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu kepada Jlitheng.

“Siapa nama mereka?” tiba-tiba Jlitheng bertanya. Sambil tertawa Rahu bertanya, “Kau ingin tahu juga?”

“Persetan”

Sambil masih juga. tertawa, Rahu menjawab, “Yang seorang bernama Elang bersayap Pedang. Sedang yang lain bernama Guntur Geni”

“Gila, aku tidak bertanya istilah-istilah cengeng ini. Aku bertanya siapakah nama mereka?” bentak Jlitheng.

“Kau memang pandai berpura-pura. Kau benar-benar seperti orang marah”

Jlitheng menggeretakkan giginya. Namun akhirnya ia tertawa pula sambil berkata, “Kau benar-benar gila. Tetapi aku berkata sungguh-sungguh Jika kau mengancam keselamatanku dengan kecurigaanmu itu, aku akan membela diri. Kau adalah sumber dari kecurigaan orang-orang Sanggar Gading”

“Jangan takut” berkata Rahu, “Aku tidak akan mengatakan sesuatu. Jika orang-orang Sanggar Gading mencurigaimu, maka itu adalah karena mereka sendiri melihat sesuatu yang asing padamu”

“Kau mulai mencemaskan keselamatanmu sendiri. Kau sudah melihat, bagaimana aku bermain dengan pedang tipisku”

“Kau mulai berpura-pura lagi”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku benar-benar ingin tahu nama kedua orang itu”

Keduanya melangkah terus. Akhirnya mereka mendekati pendapa rumah induk padepokan Sanggar Gading itu Rahu berkata, “Namanya bagus. Yang tua, bernama Buntar Angin. Yang muda namanya Sampar Watang”

“O, nama yang, bagus. Kenapa mereka memilih nama-nama gila seperti kau. Dengar dan perhatikan namamu sendiri, Iblis bertangan Petir. Bukankah terdengar cengeng sekali”

“Aku tidak peduli. Tetapi aku dapat menakut-nakuti orang padukuhanku” ia berhenti sejenak, lalu, “Sudahlah. Kita ikuti Cempaka naik ke pendapa”

Keduanya pun kemudian naik ke pendapa. Ketika mereka sudah duduk diatas tikar pandan yang terhampar, maka Jlitheng masih sempat memandang kedua orang yang berdiri diatas lesung. Buntar Angin dan adiknya Sampar Watang”

“Nampaknya keduanya bukan keturunan orang kebanyakan” gumam Jlitheng di dalam hatinya, namun ia tidak menanyakannya kepada Rahu. Meskipun demikian ia merasa bahwa tatapan mata kedua orang itu seolah-olah telah memperingatkannya. bahwa ia berada di dalam lingkungan Sanggar Gading yang garang, buas dan kasar.

Dalam pada itu, ternyata bahwa di halaman rumah induk itu telah berdiri beberapa orang yang berpencar di sudut-sudut. Lebih dari empat orang. Dan Jlitheng tidak tahu, apakah yang sedang mereka kerjakan. Namun ia merasa, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi segala kemungkinan, karena di tempat itu dapat terjadi beberapa hal yang tidak disangka-sangkanya.

Beberapa saat lamanya keduanya duduk di pendapa. Tetapi tidak ada sesuatu yang mereka lakukan kecuali duduk sambil merenung. Akhirnya Jlitheng tidak tahan lagi. Maka ia pun kemudian bertanya kepada Rahu, “Apa yang akan kita lakukan disini?”

“Duduk sajalah” berkata Rahu, “Kita akan menunggu. Lihat, Cempaka pun duduk menunggu”

“Cempaka berada di rumah sendiri” geram Jlitheng, “Tetapi aku orang lain disini”

“Jangan berbuat aneh-aneh. Tunggu sajalah. Kau akan mengetahui, apa, yang akan kita lakukan disini nanti”

“Sampai kapan aku harus menunggu?” bertanya Jlitheng

Rahu tidak menjawab. Tetapi ia berpaling ketika ia mendengar pintu pringgitan itu berderit.

Ketika pintu terbuka, maka nampak seorang yang cacat kaki dan tangan, keluar beberapa langkah. Kemudian dengan suara yang terbata-bata ia berkata, “Bersiaplah. Yang Mulia sudah hampir siap. Yang sudah ada di padepokan supaya berkumpul di bangsal ini”

Tidak ada yang menjawab. Orang yang cacat kaki dan tangan itu pun kemudian melangkah tertatih-tatih masuk ke ruang dalam. Sejenak kemudian pintu itupun telah tertutup lagi.

“Siapa yang akan hadir di bangsal ini?” bertanya Jlitheng.

“Pemimpin tertinggi dari padepokan kami” jawab Rahu.

“Ya, siapa orang itu?” desak Rahu.

“Tidak seorang pun yang mengetahui siapakah orang itu sebenarnya. Yang aku ketahui, ia adalah pemimpin padepokan ini. Apakah masih perlu dijelaskan, siapakah ia sebenarnya?” sahut Rahu.

Jlitheng tidak menyahut. Tetapi ia mengumpat di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, sebelum orang yang disebut Yang Mulia itu keluar dari pintu pringgitan, seorang yang bertubuh tinggi, kekar dan berkumis lebat naik ke pendapa. Sejenak ia memandang berkeliling Namun kemudian ia berdesis, “Kau sudah ada disitu Cempaka?”

Cempaka acuh tidak acuh saja. Ia masih duduk. Namun iapun menjawab pendek, “Ya”

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian dipandanginya Jlitheng dengan tajamnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Siapa orang itu?”

“Bantaradi” jawab Cempaka.

“O” orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jadi orang inilah yang kau katakan memiliki kemungkinan untuk bersama-sama dengan kita memasuki istana itu? Nampaknya seperti orang sakit-sakitan. Apakah benar ia akan mampu mengimbangi permainan kita?”

Jlitheng menjadi tegang. Ia mengenal serba sedikit tentang keadaan di padepokan itu, Karena itu, maka ia harus menyesuaikan dirinya agar ia tidak menjadi orang yang sangat asing.

Karena itu, maka dengan suara berat ia langsung menjawab, “Kau ingin menjajagi kemampuanku? Di depan bangsal ini terdapat halaman yang luas dan beberapa orang saksi”

Orang itu terkejut. Ia tidak menyangka bahwa orang itu tiba-tiba saja telah langsung menantangnya

Namun justru karena itu, maka untuk sesaat ia terbungkam.

Dalam pada itu Jlitheng yang disebut bernama Bantaradi itu berkata, “jawaban yang paling baik yang dapat aku berikan kepadamu orang yang bertubuh tinggi, adalah kenyataan aku sebagai seorang laki-laki”

Wajah orang itu menjadi merah padam. Belum lagi ia dapat mengatur perasaannya, Jlitheng tiba-tiba telah berdiri. Tetapi ia tertegun karena Rahu menggamitnya sambil bertanya, “Kau mau apa?”

“Orang itu menghinaku” jawab Jlitheng, “Siapa orang ini?”

Cempaka tertawa sambil menyahut, “Jangan menjadi liar disini. Sejak kau mencampuri persoalanku di bulak itu sebelum kau mengetahui persoalannya, telah menumbuhkan dugaan padaku, bahwa kau adalah seorang yang tidak mampu mengendalikan perasaan. Ternyata kini kau benar-benar seorang yang liar”

“Tetapi ia menghinaku. Ia menyebut aku sebagai orang sakit-sakitan. Dan ia pun meragukan, apakah aku mampu mengimbangi kemampuan orang yang sombong itu” jawab Jlitheng.

“Duduklah” desis Cempaka, “sebentar lagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading akan hadir di pendapa ini. Sesudah itu, terserahlah apa yang akan kau lakukan”

Jlitheng termangu-mangu. Ia masih melihat orang bertubuh tinggi kekar dan berkumis lebat itu berdiri.

“Duduklah” desis Cempaka.

“Orang itu masih berdiri” jawab Jlitheng.

“Jangan hiraukan. Ia pun akan duduk nanti. Apalagi jika Yang Mulia Panembahan Wukir Gading hadir di pendapa” desak Cempaka, “Ia tidak akan berbuat apa-apa”

Jlitheng masih ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian duduk di sebelah Rahu sambil berdesis, “Orang-orang sombong itu harus diberi sedikit contoh agar ia dapat sedikit menghormati orang lain”

Rahu tersenyum. Desisnya perlahan-lahan, sehingga hanya. Jlitheng sajalah yang mendengar, “Bagus. Kau lakukan perananmu dengan baik. Kau pantas menjadi orang Sanggar Gading yang kasar, liar dan buas”

“Persetan” geram Jlitheng.

Dalam pada itu, orang bertubuh tinggi, dan berkumis lebat itu masih berdiri termangu-mangu. Ternyata orang yang belum dikenalnya itu adalah seorang yang berhati bara. Karena itu maka ia pun tidak lagi menegurnya, karena orang yang baru pertama kali memasuki Sanggar Gading itu sama sekali tidak menjadi cemas dan apalagi takut menghadapi sifat dan sikap orang-orang padepokan itu.

Sejenak kemudian orang bertubuh tinggi itu pun duduk pula diantara mereka yang sudah ada di pendapa. Bahkan iapun masih dikejutkan oleh pertanyaan Jlitheng yang tiba-tiba, “He, orang tinggi. Siapa namamu”

“Gila” Orang itu mengumpat” bertanyalah dengan baik.

“Aku adalah aku. Aku tidak dapat berpura-pura baik dan sopan menghadapi orang lain. Apalagi menghadapi kau” jawab Jlitheng.

“Anak demit. Namaku Sawunglaga” Orang itu seolah-olah menjawab diluar sadarnya.

“Kau sudah mengenal namaku. Tetapi kau belum mengenal aku sepenuhnya” geram Jlitheng kemudian.

Sawunglaga menggeram. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan wajah yang gelap ia pun kemudian duduk di sebelah Cempaka

“Jangan pikirkan” desis Cempaka, “ia orang baru, Aku memerlukannya”

“Kau bawa orang gila itu kemari” geram Sawunglaga, “Jika bukan karena orang itu kau perlukan, aku bunuh ia disini sekarang juga. Justru aku ingin menunjukkannya kepada Yang Mulia Panembahan Wukir Gading”

Cempaka tersenyum. Desisnya, “Atau justru kaulah yang dibunuhnya, “

“Persetan” Orang itu menggeretakkan gigi, “kau sudah kehilangan pengamatanmu yang selama ini dikagumi orang padepokan ini”

“Justru karena ketajaman pengamatanku itulah, aku dapat mengatakan hal itu kepadamu” sahut Jlitheng.

“Kau juga sudah Gila” Orang itu menggeram sambil bergeser sejengkal menjauhi Cempaka yang justru tertawa karenanya.

Sejenak mereka masih menunggu. Yang hadir kemudian adalah orang bertubuh gemuk agak pendek. Tetapi wajahnya bagaikan wajah serigala kelaparan. Disusul oleh mereka yang semula berdiri di halaman. Sementara kedua kakak beradik yang berdiri dialas lesung itupun telah mendekati pendapa pula.

“O” seorang yang bertubuh kekurus-kurusan dengan kulit kuning dan mata yang bulat berdesis ketika ia naik ke pendapa. Dengan mengangguk dalam-dalam ia berkata kepada Jlitheng, “Selamat datang di pondok kami yang buruk ini Ki Sanak. Menurut pendengaran kami, Ki Sanak adalah seorang pengembara yang bernama Bantaradi”

Jlitheng agak bingung menghadapi orang yang satu itu. Nampaknya ia seorang yang ramah dan sopan. Wajahnya tampan dan cerah. Setiap kali ia melihat senyum membayang di bibirnya.

“Benar Ki Sanak” Jlitheng menjawab sambil mengangguk pula meskipun agak ragu dan kaku. Namun keragu-raguannya itu ternyata telah menumbuhkan kesan yang sejalan dengan sifatnya yang telah dibuatnya menjadi liar dan kasar, “Aku bernama Bantaradi”

“Namaku Nrangsarimpat,” berkata orang itu sebelum Jlitheng bertanya kepadanya, “Aku berasal dari Singasari. Trah Sri Maharaja Kerta Negara”

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya kemudian nampak acuh tidak acuh. Bahkan kemudian ia tidak memperhatikan orang itu lagi.

Tetapi orang yang menyebut dirinya bernama Nrangsarimpat itu berkata sambil tertawa, “Apakah kau belum pernah mendengar kejayaan Singasari. Kau belum pernah mendengar kebangkitan Singasari yang dipimpin oleh seorang anak padesan yang semula bernama Ken Arok? Kemudian dari isterinya yang bernama Ken Dedes ia menurunkan raja-raja besar di negeri yang kaya raya ini”

Jlitheng memandanginya sejenak. Lalu jawabnya, “Aku tidak pernah mendengar dongeng-dongeng semacam itu. Aku lebih menghargai waktuku dengan bermain pedang daripada seperti kanak-kanak yang ingin tidur nyenyak mendengarkan dongeng-dongeng yang tidak berarti”

Tetapi jawaban orang berwajah tampan itu mengejutkan Jlitheng, “Maaf Ki Sanak. Aku tidak ingin mengganggu Ki Sanak. Jika yang aku katakan ini tidak menarik sama sekali, dan bahkan telah mengganggumu, maka sekali lagi aku minta maaf”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia melihat satu wajah yang berbeda dari keseluruhan wajah padepokan Sanggar Gading. Orang yang berwajah tampan dan berkulit kuning dan bermata cerah itu adalah seorang yang mengenal unggah ungguh.

Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia merasa bingung tentang dirinya sendiri. Ia sudah terlanjur bersikap keras, kasar dan bahkan liar untuk menutupi perasaan dan tanggapannya yang sebenarnya atas orang-orang yang berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading. Namun ternyata di dalam padepokan, itu sendiri terdapat juga orang yang bersikap lembut dan ramah mengenal unggah ungguh.

Tetapi Jlitheng tidak sempat memikirkannya lebih lama. Bahkan sebelum ia menjawab, maka semua orang telah bersikap. Agaknya karena mereka mendengar bunyi kelinting di dalami ruang dibalik pintu pringgitan.

“Yang Mula Panembahan Wukir Gading akan hadir” desis Rahu

“O” Jlitheng membenahi dirinya. Bahkan ia telah membenahi perasaannya. Memang mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak diduganya lebih dahulu.

Sejenak kemudian maka pintu pringgitan itu telah terbuka. Orang yang muncul adalah orang yang cacat kaki dan tangannya. Kemudian ia bergeser kesamping pintu dua langkah. Di susul kemudian oleh seorang anak muda yang berwajah keras meskipun tidak nampak kasar. Anak muda yang mengenakan pakaian orang kebanyakan. Seperti juga orang-orang Sanggar Gading yang lain, yang memakai pakaian seperti orang kebanyakan. Meskipun ada satu dua orang yang nampak berpakaian aneh, dan ada juga yang nampak mempergunakan beberapa jenis perhiasan pada timang dan ukiran kerisnya.

“Itulah Yang Mula?” desis Jlitheng perlahan-lahan.

Rahu menggeleng. Desisnya, “Itu adalah puteranya. Putera satu-satunya. Ia tidak mempunyai anak yang lain kecuali anak muda itu”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun ia merasa menjadi semakin tegang.

Yang muncul kemudian adalah seorang tua yang berjalan dengan tongkat ditangan. Ternyata bunyi kelinting itu adalah kelinting yang terikat pada tongkat orang tua itu.

Namun Jlitheng segera menyadari, bahwa orang tua itulah yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Tongkat itu terbuat dari gading sepenuhnya. Dibagian kepala tongkat itu terdapat ukiran emas intan dan berlian.

Jlitheng menjadi semakin yakin ketika ia melihat sikap orang-orang yang berada di pendapa itu. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam untuk menghormat kehadiran orang tua itu.

Sejenak orang tua itu berdiri di depan pintu. Dilihatnya setiap orang yang berada di pendapa itu seorang demi seorang. Baru kemudian ia melangkah mendekati para pengikutnya yang duduk di pendapa.

Pada saat itulah Jlitheng baru melihat bahwa orang tua itu ternyata adalah orang yang timpang Nampaknya ia terlalu payah untuk berjalan, sehingga tanpa tongkat, agaknya ia tidak mampu lagi untuk melangkah.

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika sekilas ia melihat mata orang tua itu tersangkut kepadanya. Ada sesuatu yang terkesan pada tatapan matanya, sehingga karena itu Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar karenanya.

Pendapa rumah induk padepokan Sanggar Gading itu menjadi hening. Semuanya menunggu, apa yang akan dikatakan oleh pemimpin tertinggi dari padepokan itu.

Namun Jlitheng terkejut ketika yang pertama diucapkan oleh orang tua bertongkat gading itu adalah, “Cempaka, apakah anak muda itu yang telah melukai ketiga orang kita di padang perburuan?”

Cempaka mengangkat wajahnya. Namun seolah-olah tidak ada kesan apapun di wajahnya dan pada getar suaranya ia menjawab, “Ya guru. Anak muda yang aku sebut bernama Bantaradi inilah yang melakukannya”

Jlitheng menjadi semakin heran. Ia belum lama sampai di padepokan itu. Namun pemimpin tertinggi padepokan Sanggar Gading itu sudah mendengar peristiwa yang terjadi di padang kematian itu.

Pemimpin tertinggi yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itupun mengangguk-angguk Katanya, “Jika demikian, maka ia sudah melalui hambatan terakhir dari jalan yang menuju ke Sanggar Gading”

“Demikianlah agaknya Yang Mulia” berkata Cempaka.

“Tetapi Yang Mulia” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua kakak beradik itu memotong, “hambatan itu barulah hambatan diperjalanan. Tetapi kesombongannya membuat hati kami menjadi berdebar-debar. Ia sudah melukai penjaga regol, kemudian menghinakan pemelihara kuda di kandang. Apakah dengan demikian kami akan dapat menerima kedatangannya?”

Yang Mulia Panembahan itu kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Itu terserah kepada kalian. Apakah kalian dapat menerimanya atau tidak. Tetapi aku sependapat, bahwa anak muda ini memang sombong. Ia tidak membunuh tiga orang yang sudah dikalahkannya di padang kematian itu?”

“Gila” geram Jlitheng, “agaknya sudah menjadi adat disini, bahwa orang-orang Sanggar Gading tidak mudah dapat menerima orang-orang baru di padepokannya”

“Aku merasa keberatan atas kehadirannya” Sawunglaga tiba-tiba saja bergeser setapak, “Ia sudah melukai perasaanku”

“Itu persoalan kalian” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, “Tetapi siapakah yang akan menanggungnya jika ia bermaksud menghindari kesulitan di padepokan ini.

“Aku Yang Mulia” berkata Cempaka, “akulah yang membawanya kemari. Aku mohon, agar ia dibebaskan dari segala macam permainan yang tidak akan banyak berarti apa-apa, karena semakin banyak, orang yang berusaha mendesak kehadirannya, maka korban akan semakin banyak berjatuhan. Aku sudah dapat menilai kemampuannya. Dan aku pun cukup mengerti tingkat kemampuan orang-orang Sanggar Gading”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Jarang sekali kau mempergunakan akal dan pikiranmu. Ternyata yang kau katakan itu mendapat pertimbangan”

Sebelum Cempaka menjawab lagi, maka orang yang menyebut dirinya bernama Nrangsarimpat itupun berkata, “Aku terima kehadirannya. Menurut pengamatanku, memiliki ujud jasmaniahnya sorot matanya dan tingkah lakunya, aku yakin bahwa hati orang ini bersih. Bahwa orang ini tidak membunuh tiga orang yang sudah dilukainya, bukanlah satu hal yang dapat dipersoalkan karena itu bukan berarti kesombongan”

“O” pemimpin tertinggi itu mengangguk-angguk, “ jadi kau berbeda pendapat dengan beberapa orang lain?”

“Ya, guru” jawab Nrangsarimpat, “Aku mohon maaf Tetapi itu adalah pendapatku. Karena itu, aku sependapat dengan Cempaka, bahwa sebaiknya ia dibebaskan saja dari segala macam tingkah laku yang cengeng itu”

“Gila” geram orang bertubuh pendek dan gemuk, “semuanya omong kosong. Orang itu tidak pantas duduk diantara kita disini. Kami adalah murid-murid Yang Mulya Panembahan Wukir Gading. Tetapi orang itu bukan sama sekali”

“He” potong Nrangsarimpat, “sejak kapan kau menjadi murid Yang Mulia Panembahan, dan sejak kapan Sawunglaga menjadi murid di padepokan ini. Sejak kapan pula aku datang dan hampir saja aku mengurungkan niatku setelah aku mencekik Ular Bertanduk Besi itu sampai mati karena ia berusaha mencegah aku hadir disini. Tetapi kita semuanya kini adalah murid Yang Mulia”

“Aku akan membunuhnya. Nanti malam, atau besok pagi-pagi” desis orang bertubuh pendek itu.

“Sebaiknya kau tutup saja mulutmu” Rahu lah yang kemudian berdesis, “Cempaka membawanya kemari. Bukan tanpa sebab. Kalian sudah tahu, bahwa saat. Cempaka dan aku menjalankan tugas itu. Maka hadirlah orang yang bernama Bantaradi itu”

“Cempaka tidak berhak melindunginya” berkata Sawunglaga, “biarlah ia membuktikan, apakah ia pantas menjadi bagian dari kita disini, atau orang itu harus dilemparkan ke lembah bangkai”

Orang tua bertongkat gading itu tertawa. Katanya, “Aku senang pada anak yang sombong itu. Ia sama sekali tidak berkata sepatah katapun selagi orang-orang sibuk memperbincangkan. Itu pertanda bahwa ia mempunyai kepercayaan yang kuat pada dirinya sendiri. Ia dapat menerima segala akibat yang akan menimpanya. Ia tidak gentar jika ia harus berkelahi. Tetapi ia pun tidak menjadi gembira bila ia kita terima begitu saja”

Orang-orang yang berada di pendapa itupun terdiam.

“Aku terima dia diantara kita” berkata Yang Mulia Panembahan, itu, “Tetapi aku akan memberikan ukuran kemampuan kepadanya. Ia akan menjadi muridku yang ke sembilan puluh enam”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjadi murid Panembahan Wukir Gading. Tetapi jika hal itu menjadi satu-satunya jalan, maka ia tidak akan menolaknya. Ia masih tetap pada tujuannya. Mengetahui orang yang telah disebut-sebut oleh Daruwerdi di Bukit Gundul itu.

Karena itu maka ia masih tetap berdiam diri. Ia ingin segera mengetahui keputusan Panembahan itu tentang usaha mereka menemukan pusaka yang sedang diperebutkan melalui segala macam cara.

Tetapi Jlitheng menjadi kecewa ketika kemudian Panembahan itu berkata, “malam nanti aku akan menerima kalian di sanggar. Kita masih harus mematangkan rencana kita. Kita harus bertindak lebih cepat. Agaknya orang-orang Pusparuri lah yang telah mempersiapkan segalanya, sementara orang-orang lain masih menunggu. Tetapi kita tidak lagi dalam tingkat persiapan dan apalagi menunggu. Kita sudah sampai pada tahap melaksanakan”

“Malam nanti” desis Jlitheng, “sementara masih mungkin terjadi sesuatu atasku”

Namun Jlitheng tidak dapat berbuat lain kecuali menerima segalanya. Orang-orang Sanggar Gading yang lain pun nampaknya tidak mengusulkan sesuatu.

Sementara itu, maka. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu berkata, “Pertemuan ini adalah khusus untuk menerima muridku yang kesembilan puluh enam ini. Ia akan ikut serta dalam pembicaraan malam nanti di sanggar, disamping Cempaka, Nrangsarimpat, Sawunglaga, Rahu dan kakak beradik itu. Pembicaraan itu tidak perlu diikuti oleh banyak orang, sehingga kita akan segera mendapatkan kesimpulan. Yang lain akan menerima perintah dan petunjuk pengarahan bagi tugas besar kalian selanjutnya”

Orang bertubuh gemuk dan agak pendek itu terdengar mengumpat tetapi tidak jelas. Agaknya ia merasa kecewa bahwa ia tidak diperintahkan untuk ikut berbicara di sanggar.

Sejenak kemudian maka Panembahan itu pun bergumam seolah-olah kepada diri sendiri, “Badanku merasa sangat letih. Aku akan beristirahat”

Tidak ada yang menyahut Semuanya duduk dengan tenang seperti saat Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu keluar dari ruang dalam.

Sejenak kemudian, tertatih-tatih Yang Mulia Panembahan itu berdiri. Diikuti oleh anak laki-lakinya. Kemudian tertatih-tatih pula ia berdiri, menuju ke pintu pringgitan. Sementara pengawalnya yang cacat itupun bergeser selangkah, dan kemudian mengikutinya pula masuk ke dalam.

Ketika Yang Mulia itu sudah hilang dibalik pintu, maka masih terdengar suara kelinting yang terikat pada tongkatnya. Suaranya gemlinting dalam irama yang timpang.

Namun telinga Jlitheng yang tajam kemudian tersentuh oleh perubahan irama suara kelinting itu. Meskipun tidak segera dapat membayangkan apa yang terjadi, namun rasa-rasanya ia melihat perubahan sikap dari Panembahan yang cacat kaki itu.

Tetapi Jlitheng tidak bertanya sesuatu. Ia sama sekali dikaburkan oleh sikap dan perbuatan para pengikutnya Panembahan itu. Dengan demikian, ia masih belum menemukan tentang tanggapan yang pasti tentang isi dari padepokan Sanggar Gading itu.

“Kita dapat beristirahat” berkata Rahu kemudian.

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia pun melihat beberapa orang telah bergeser dan meninggalkan pendapa. Satu dua orang diantara mereka memandang Jlitheng dengan sorot mata kedengkian, bahwa orang baru itu telah diperkenankan untuk ikut dalam pembicaraan di dalam sanggar.

“Tetapi ia tidak akan dapat ikut berbicara” gumam orang bertubuh pendek dan agak gemuk itu kepada diri sendiri

Jlitheng melihat sambaran sorot matanya yang membara. Namun ia pun sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Apalagi orang tertinggi di padepokan itu sudah menyatakan, bahwa ia telah diterima di dalam lingkungan Sanggar Gading, meskipun kata-kata Yang Mulia itu masih mendebarkan jantung, bahwa ia akan memberikan ukuran bagi kemampuannya-

“Apakah yang dimaksudkannya?” pertanyaan itu masih saja melekat di dinding jantungnya.

Sementara itu, maka Rahu pun mulai bergeser pula. Jlitheng pun mengikutinya pula turun ke pendapa. Ia masih belum tahu kemana ia harus pergi. Karena itu maka ia pun selalu mengikuti, saja kemana Rahu pergi.

“Kita akan pergi ke barak” berkata Rahu.

“Apakah ada tempati bagiku?” bertanya Jlitheng.

“Kau akan tinggal dalam satu bilik dengan aku. Cempaka sudah menyiapkannya. Meskipun ada kemungkinan bahwa bilik itu tidak akan pernah bertambah dengan penghuni baru dan pembaringan yang sudah disediakan itu tidak akan pernah dipergunakan oleh siapapun” jawab Rahu.

“Kau menganggap bahwa kemungkinan terbesar, aku akan mati sebelum memasuki bilik itu” desis Jlitheng.

Rahu tertawa. Katanya, “Memang mungkin sekali. Tetapi sekarang kita sedang menuju langsung ke bilik di dalam barak itu”

Jlitheng tidak menjawab. Tetapi ia harus berhati-hati. Ia merasa beberapa pasang mata sedang mengikutinya, meskipun ia tidak melihat seseorang dengan jelas.

Tetapi akhirnya keduanya memasuki sebuah barak tanpa kesulitan. Seorang yang bertubuh raksasa yang berdiri di pintu barak itu pun telah bergeser dan memberikan jalan kepada Jlitheng, meskipun nampaknya wajahnya menjadi garang.

“Ia adalah seorang raksasa yang sangat baik” desis Rahu ketika mereka melangkah menuju ke pintu. Namun kemudian berhati-hatilah dengan kancil itu?”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang bertubuh kecil pendek sedang berbaring di sebuah amben yang besar. Tiba-tiba saja ia meloncat berdiri. Sambil tertawa ia berkata lantang, “He kau Rahu. Kau membawa seekor keledai kemari?”

Jlitheng tidak menunggu lebih lama lagi. Pertanyaan itu telah cukup membuatnya marah menurut takaran orang-orang Sanggar Gading yang kasar. Karena itu, ia pun tiba-tiba saja telah meloncat menerkam orang bertubuh kecil dan pendek itu.

Tetapi ternyata orang bertubuh kecil itu sangat tangkas. Sambil tertawa ia berhasil meloncat kesamping menghindari terkaman tangan Jlitheng.

Namun Jlitheng pun lelah mempersiapkannya. Rahu sudah memperingatkan, bahwa ia harus berhati-hati terhadap kancil itu.

Karena itu, demikian Jlitheng gagal menerkam orang itu, maka ia pun segera berputar sambil mengayunkan kakinya mendatar. Demikian cepatnya, sehingga orang bertubuh kecil itu harus meloncat lagi menjauh. Namun Jlitheng tidak melepaskan-nya. Sebuah lontaran panjang menyusul. Demikian cepatnya, sehingga kancil itu benar-benar tidak sempat lagi menghindar. Demikian kakinya melekat lantai, Jlitheng telah menyusulnya dengan sebuah hantaman dengan tumit kakinya, tepat mengenai lambung.

Ternyata bahwa kancil yang cekatan itu tidak memiliki daya tahan yang terlalu kuat. Demikian kaki Jlitheng mengenainya, maka ia pun telah, terlempar dan membentur tiang. Demikian kerasnya, sehingga kancil itu pun kemudian terjatuh di lantai dan langsung menjadi pingsan.

Raksasa yang berdiri di pintu dan memberi jalan kepada Rahu dan Jlitheng memasuki barak itupun melangkah masuk. Dilihatnya kancil jitu terbaring pingsan.

Dengan mata terbelalak ia memandang Jlitheng. Namun Rahu berkata sambil tersenyum, “Salahnya sendiri” Orang bertubuh raksasa ia masih berdiri tegang.

“Rawatlah kancil yang sombong itu. Ia telah diberi sedikit peringatan oleh Bantaradi, tamu Cempaka”

Orang bertubuh raksasa itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan suara rendah, “Jadi orang inikah yang bernama Bantaradi?”

“Ya” jawab Rahu.

Orang bertubuh raksasa itu tidak bertanya lagi. Ia kemudian melangkah mendekati kancil yang pingsan itu. Dengan sekali renggut, maka tubuh kecil itu telah terlempar keatas pembaringannya.

“Ia akan sadar dengan sendirinya” berkata orang bertubuh raksasa itu”

Rahu dan Jlitheng pun kemudian langsung menuju ke biliknya. Ternyata bahwa Jlitheng benar-benar telah mendapat kesempatan untuk tinggal di dalam barak orang-orang Sanggar Gading,

“Kau tidur disini” berkata Rahu.

“Dan malam nanti kau akan membunuhku” geram Jlitheng

Rahu tertawa. Katanya, “Aku tidak dapat lagi membedakan, apakan kau bersungguh-sungguh atau sekedar berpura-pura dan bahkan mungkin kau sedang bergurau”

“Anak iblis” Jlitheng mengumpat. Namun ia tidak menghiraukan Rahu lagi. Dengan serta merta k menjatuhkan dirinya keatas pembaringan.

“Malam nanti kita akan menentukan segala-galanya” berkata Rahu, “diantara kita akan hadir orang yang belum pernah kau kenal?”

“Siapa?” bertanya Jlitheng.

“Penguasa medan dari Sanggar Gading” jawab Rahu.

“Apa artinya penguasa medan?” bertanya Jlitheng.

“Ia adalah orang yang paling berkuasa di medan. Yang Mula Panembahan hanyalah orang yang menentukan dilingkungan Sanggar ini. Anak laki-lakinya hampir tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Sedangkan yang paling berkuasa dalam segala gerakan adalah orang yang belum kau kenal itu”

“Siapa?” bertanya Jlitheng dengan berdebar-debar.

“Sanggit Raina” jawab Rahu.

“Nama apa itu? Sanggit Raina” ulang Jlitheng.

“Namanya yang sebenarnya. Dua orang kakak beradik itu agaknya mempunyai nama yang agak aneh” Rahu menerangkan.

“Kakak beradik siapa?” bertanya Jlitheng

“Orang itu adalah saudara tua Cempaka” jawab Rahu.

Jlitheng mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Itulah sebabnya, Cempaka nampaknya mempunyai pengaruh pula di daerah yang sepanas perapian ini”

“Ya. Pengaruh Sanggit Raina memang besar. Juga pengaruhnya terhadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading.

“Apakah ia murid yang pertama?” bertanya Jlitheng. Rahu menggeleng. Jawabnya, “Ia murid yang ke tujuh puluh tiga”

“Ketujuh puluh tiga” Jlitheng mengulang.

“Ya. Dan Cempaka adalah murid yang ke tujuh puluh sembilan”

Jlitheng mengangguk-angguk. Dengan demikian ia dapat membayangkan, bahwa di padepokan ini terdapat beberapa orang murid sesuai dengan urutan angkanya. Namun Jlitheng pun juga sudah menduga, bahwa tentu ada diantara mereka yang telah meninggalkan padepokan ini

“Berapa orang yang telah pergi?” bertanya Jlitheng,

“Aku tidak ingat lagi” jawab Rahu, “sebagian telah dibunuh oleh yang datang kemudian Cempaka membunuh dua orang saat ia memasuki padepokan ini. Orang keempat dan kelima yang akan membunuhnya, telah mengurungkan niatnya ketika mereka mengetahui bahwa Cempaka adalah adik Sanggit Raina”

“Apakah Sanggit Raina juga membunuh ketika ia datang?”

“Tidak. Ia tidak membunuh seorang pun”

“Demikian saja ia melintasi padang kematian?” Jlitheng menjadi heran.

Ia datang seperti hantu. Itulah yang telah menggemparkan padepokan ini. Tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam bilik Yang Mulia. Sambil mengancam dengan keris ia mendesak, agar ia diperbolehkan tinggal di padepokan ini”

“Yang Mulia takut kepadanya?” bertanya Jlitheng.

“Seharusnya tidak. Tetapi kedatangannya itu sangat menarik perhatiannya Yang Mulia senang sekali melihat kelakuan Sanggit Raina, sehingga ia diangkat menjadi pemimpin disini, disamping Yang Mulia itu sendiri”

Jlitheng mengumpat meskipun orang lain tidak mendengarnya. Dengan suara datar ia bergumam, “Tempat ini benar-benar neraka jahanam yang paling kasar dan liar”

“Dan kau sudah mencoba menyesuaikan dirimu” berkata Rahu,

Jlitheng menarik nafas. Kemudian tiba-tiba saja bertanya, “He, kau murid menurut urutan angka berapa?”

“Delapan puluh satu. Aku datang kemudian dari Cempaka”

“Dan kau membunuh juga di padang kematian?”

“Kebetulan sekali, aku tidak berjumpa dengan siapapun di padang itu. Aku juga tidak membunuh seorang pun”

“Bagaimana mungkin kau dapat memasuki padepokan ini?”

Rahu tertawa. Katanya, “Aku mempunyai cara tersendiri. Aku tidak memasuki regol halaman. Tetapi aku memecahkan dinding dekat disebelah regol tanpa diketahui oleh para penjaga. Mereka menganggap perbuatan itu aneh. Dan aku pun diterima disini. Tetapi selama tiga bulan aku berkelahi hampir setiap hari. Tetapi aku tidak pernah membunuh siapapun juga.

“Gila. Kau sudah gila, Kau menakut-nakuti aku karena aku tidak membunuh. Kau sebut aku orang yang terlalu baik dan pantas dicurigai” geram Jlitheng.

Rahu tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga Jlitheng memukul perutnya Sambil berkata, “Berhentilah”

Rahu mencoba menahan tertawanya, Laki katanya, “Jangan merajuk begitu. Di padang perburuan, hampir setiap orang membunuh korbannya. Tetapi setelah kita berada di padepokan ini, sudah tentu bahwa kita tidak akan membunuh orang-orang yang kita jumpai meskipun kita, berkelahi. Kau juga tidak membunuh penjaga regol itu, demikian pula pekatik di kandang Kancil itu juga tidak kau bunuh?”

“Persetan geram Jlitheng” lalu tiba-tiba, “pada suatu saat apakah adikmu juga akan memasuki padepokan ini, seperti Cempaka menyusul kakaknya?”

“Terserah kepada anak itu. Tetapi aku tidak akan menyuruhnya masuk kemari” jawab Rahu.

Jlitheng tidak menjawab lagi. Ia telah berbaring lagi.

Rahu pun kemudian duduk di sebuah amben bambu didalam bilik itu. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Rahu pun berkata, “Aku akan pergi ke sumur. Tinggal sajalah di dalam bilik ini. Sebaiknya kau tidak membuat persoalan dengan siapapun sampai malam nanti”

“Apa pedulimu” jawab Jlitheng.

Rahu tidak menjawab. Tetapi senyumnya sangat menjengkel-kan Jlitheng sehingga ia berkata, “Jika kau mengejek dengan senyuman semacam itu, aku sobek bibirmu”

“Sudahlah, jika hanya ada aku, kau tidak usah berpura-pura kasar dan liar” jawab Rahu.

“Anak iblis” Jlitheng mengumpat. Namun ia kemudian memiringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.

Sementara itu, Rahu pun telah keluar dari biliknya untuk pergi ke pakiwan. Ketika ia lewat pintu? baraknya, dilihatnya orang bertubuh raksasa itu duduk di sebelah pintu sambil memeluk lututnya. Ia berpaling sejenak ketika ia mendengar langkah kaki Rahu. Tetapi ia tidak menyapanya, dan bahkan sama sekali tidak mengacuhkannya lagi.

Dihadapan ia melihat orang yang disebutnya kancil sedang dikerumuni oleh tiga orang kawannya, Agaknya kancil itu sedang menceritakan, apa yang telah dialaminya dengan orang baru itu.

Tetapi Rahu lah yang kemudian tidak mengacuhkannya, la berjalan saja lewat disebelahnya tanpa berpaling sama sekali. Namun ia berharap bahwa Jlitheng yang dikenalnya ternama Bantaradi itu benar-benar tidak keluar dari biliknya.

Sebenarnyalah Jlitheng memang tidak ingin keluar dari bilik itu. Bagaimanapun juga, ia memperhatikan nasehat-nasehat Rahu, karena ternyata sejak ia bertemu dengan orang itu di padukuhan yang aneh, seaneh padepokan itu, nampaknya Rahu selalu berbuat baik terhadapnya. Ia telah memperingatkannya beberapa kali tentang bahaya yang mungkin dapat menerkamnya Disaat terakhir ia telah memperingatkannya tentang orang yang disebut kancil itu.

Meskipun Jlitheng berbaring, tetapi ia tidak akan dapat tidur nyenyak. Apalagi bukan saatnya orang tidur. Ketika Rahu telah keluar dari bilik itu, maka Jlitheng kembali tidur menelentang. Namun pedang tipisnya tidak terpisah dari padanya, karena setiap saat dapat terjadi sesuatu yang tidak diduganya.

Tetapi tidak seorang pun yang mengusik Jlitheng di dalam bilik itu. Ketika Rahu memasuki bilik itu kembali, maka Jlitheng pun masih tetap berbaring diam.

Rahu sama sekali tidak mengusiknya, ia pun kemudian duduk kembali di amben bambu. Dari geledeg bambu diambilnya sebilah keris. Kemudian dengan angkup nangka ia menggosok wrangka kerisnya dengan hati-hati.

Sementara itu, padepokan itu pun rasa-rasanya menjadi gelisah. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat melihatnya bahwa kegelisahan semacam itu telah berulang kali terjadi, jika ada orang-orang baru memasuki padepokan yang penuh dengan kedengkian, ini dan ketamakan itu.

Namun dalam pada itu, Jlitheng dapat mengetahui, bahwa agaknya sikap orang yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu cukup lunak. Ila memberi banyak kebebasan kepada murid-muridnya. Bahkan kebebasan untuk membunuh atau bahkan terbunuh. Ia pun tidak marah ketika beberapa orang murid langsung menyampaikan sikap dan pendiriannya di pendapa. Dan bahkan ia dengan senang hati menerima orang-orang yang aneh dan melanggar unggah-ungguh menurut ketentuan orang kebanyakan.

Demikianlah, setelah dengan gelisah dan terasa sangat menjemukan, Jlitheng dan Rahu pun sampai pada suatu saat untuk berkumpul di sanggar bersama orang-orang yang telah ditentukan. Bagaimanapun juga hati Jlitheng menjadi sangat berdebar-debar. Ia tidak tahu, apakah sebenarnya ia dapat diterima dan bersama-sama melakukan tugas yang akan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading untuk memenuhi permintaan Daruwerdi. Menangkap seseorang yang disebutnya berkhianat karena telah membunuh ayahnya.

“Apakah sebenarnya yang akan mereka bicarakan?” bertanya Jlitheng kepada Rahu, “Apakah kau mengerti, tugas yang akan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading?”

Rahu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mengetahui bahwa sesuatu yang sangat penting akan kita lakukan. Tetapi yang sangat penting itu tidak aku ketahui dengan pasti”

“Mungkin kau tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi kau tentu dapat merabanya” desis Jlitheng.

“Sepuluh kali aku mencoba meraba tugas yang akan dibebankan kepadaku sebelum ini Tetapi sepuluh kali pula aku keliru. Karena itu, lebih baik kita hadir, mendengarkan dan kemudian melakukan perintah itu dengan sebaik-baiknya.

Jlitheng tidak bertanya lagi. Ia percaya, bahwa Rahu memang belum tahu dengan pasti. Adalah kebetulan sekali ia mendengar pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi, sehingga ia dapat menduga, bahwa tugas itulah yang akan mereka lakukan.

“Tetapi mungkin tugas yang lain pula” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “alangkah menjemukan dan memuakkan sekali, jika aku harus melakukan tugas-tugas lain. Merampok atau menyamun sekedar untuk merampas harta benda, betapapun banyaknya”

Namun seandainya demikian, Jlitheng tidak akan melepaskan kesempatan, bahwa ia telah memasuki Sanggar Gading. Hanya jika sudah pasti bahwa maksudnya memasuki Sanggar itu tidak akan terpenuhi, barulah ia memikirkan cara untuk melepaskan diri.

Dengan hati yang berdebar-debar Jlitheng memasuki Sanggar bersama Rahu. Ketika ia melangkahi, tlundak pintu, di dalam telah hadir beberapa orang yang mendahuluinya. Agak berbeda dengan saat mereka berada di pendapa. Rasa-rasanya di dalam sanggar itu suasananya menjadi lebih bersungguh-sungguh.

Namun dalam pada itu, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading tenyata masih belum hadir. Tetapi di ujung sanggar itu duduk seorang yang masih belum separo baya. Bahkan masih nampak gejolak kemudaannya pada sorot matanya. Sedangkan agak kesamping nampak Cempaka duduk bersandar dinding.

“Siapa orang itu?” bertanya Jlitheng sambil berbisik Rahu memandang Jlitheng sejenak. Kemudian desisnya, “Orang itulah yang aku katakan”

“Kakak kandung Cempaka. Ia lah yang bernama Sanggit Raina. Dan ialah yang sebenarnya memimpin padepokan ini.

Yang Mulia Panembahan Wukir Gading hanya memberinya beberapa petunjuk. Kemudian segalanya terserah kepada Sanggit Raina” berkata Rahu lebih lanjut.

Jlitheng mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia mulai menilai dirinya. Apakah ia mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu di Sanggar Gading. Jika tumbuh persoalan antara dirinya dan pemimpin yang bernama Sanggit Raina itu, apakah ia akan dapat melindungi dirinya.

Tetapi ternyata Sanggit Raina sama sekali tidak memperhatikannya. Ia duduk terpekur seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.

Setelah duduk beberapa saat, maka terdengarlah suara kelinting seperti yang sudah didengar oleh Jlitheng saat ia berada di pendapa. Sejenak kemudian sebuah pintu sanggar itu terbuka. Yang paling dahulu nampak adalah seorang laki-laki yang cacat Kemudian anak muda, anak Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, dan baru dibelakangnya bersandar tongkat gadingnya. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading tertatih-tatih memasuki sanggar itu.

Demikian Panembahan dan puteranya itu masuk, maka suasana sanggar itu menjadi semakin hening.

Namun dalam pada itu, meskipun setiap orang yang berada di dalam sanggar itu duduk diatas tikar, namun orang yang cacat, yang selalu muncul lebih dahulu sebelum Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, ternyata tetap berdiri disebelah pintu.

Sesaat setelah Yang Mulia Panembahan itu duduk dan memandang setiap orang yang hadir, maka mulailah ia berkata, “Pembicaraan ini adalah pembicaraan yang sangat khusus”

Orang-orang yang ada di dalam sanggar, yang namanya telah disebut di pendapa itu pun menjadi semakin bersungguh-sungguh. Mereka mendengarkan dengan saksama, apa yang akan dikatakan oleh Panembahan Wukir Gading itu.

“Kita akan membicarakan tugas yang harus kalian lakukan segera berkata Yang Mulia, “Aku sudah memberikan keterangan terperinci kepada Sanggit Raina. Biarlah ia menjelaskan kepada kalian apa yang harus kalian lakukan”

Semua orang mengangguk-angguk kecil. Mereka tidak terkejut lagi. Sudah terbiasa bahwa segalanya diserahkan kepada Sanggit Raina, meskipun ia bukannya murid yang tertua.

“Katakan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading kepada Sanggit Raina.

Sanggit Raina mengangguk hormat. Kemudian katanya, “Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia”

“Lakukanlah” sahut Yang Mula Panembahan Wukir Gading.

Sanggit Raina bergeser setapak. Kemudian katanya, “Kita akan melakukan tugas penting. Besok, sebelum matahari terbit, kalian harus sudah, siap dengan kuda kalian, dengan senjata kalian dan dengan segenap tekad dan keberanian. Tugas kita kali ini cukup berat. Kita akan berangkat tepat pada saat matahari terbit. Kita akan berpencar dan berkumpul di dekat sendang Gambir. Kita beristirahat sebentar, kemudian kita akan memasuki Kota Raja menjelang malam. Kita akan mengadakan suatu pertemuan dengan seseorang,. Besok adalah saat yang paling tepat”

Tidak seorang pun yang bertanya. Suasananya memang berbeda dengan saat pertemuan di pendapa. Orang-orang yang hadir hanya menundukkan kepalanya mendengar perintah yang keluar dari mulut Sanggit Raina. Tidak ada yang bertanya, apalagi mengemukakan pendapatnya.

Jlitheng pun termangu-mangu. Tetapi ia pun tidak ingin membuat persoalan tersendiri dengan orang yang bernama Sanggit Raina itu, sehingga karena itu, maka ia pun tidak bertanya pula.

“Sekarang kalian boleh meninggalkan ruangan ini” berkata Sanggit Raina kemudian.

Jlitheng terkejut. Diluar sadarnya ia memandang Rahu. Namun agaknya tidak ada kesan apapun di wajah Rahu. Demikian pula pada wajah orang-orang lain yang berada di sanggar itu.

“Apakah artinya pembicaraan penting untuk melaksanakan tugas besar ini. Siapakah yang akan berangkat dan siapakah yang akan memimpin, kelompok demi kelompok atau jika tidak, maka orang-orang lain yang tidak hadir di sini akan menerima perintah dari siapa?” pertanyaan itu bergejolak di hati Jlitheng. Namun ia. tidak mengucapkannya. Meskipun dengan demikian dadanya menjadi sesak karenanya.

Seorang demi seorang, mereka yang berada di dalam bilik itu pun kemudian bangkit dan melangkah keluar lewat pintu yang lain dari pintu yang dipergunakan oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Sementara itu, orang yang cacat itu masih berdiri di sisi pintu, dan bersama Sanggit Raina dan puteranya, maka Yang Mulia itu masih tinggal di sanggarnya.

“Hanya itukah perintahnya?” bertanya Jlitheng kepada Rahu. Setelah mereka berada diluar Sanggar.

“Ya” jawab Rahu.

“Persoalannya penting yang manakah yang dapat dibicarakan dan dapat diurai bersama untuk menghadapi tugas itu?” bertanya Jlitheng pula.

“Apa yang perlu dibicarakan?”

“Perintah sudah jatuh Perintah itu mudah jelas” desis Rahu.

“Hanya bersiap bersama kuda masing-masing menjelang matahari terbit” desak Jlitheng.

“Bukankah itu sudah jelas?” jawab Rahu. Jlitheng mengumpat dengan geramnya, Meskipun tidak terlalu keras tetapi terasa betapa hatinya bergejolak.

“Kalian benar-benar patung-patung yang tidak dapat menyatakan sikap pribadi” geram Jlitheng.

“Apakah kau juga berbuat demikian?” bertanya Rahu.

Sekali lagi Jlitheng mengumpat. Katanya, “Aku orang baru disini Aku masih perlu melihat suasana dan keadaan”

“Alasan yang paling bagus. Tetapi jangan kau pikirkan lagi. Bagiku lebih senang untuk tidak usah memikirkannya. Biarlah orang lain melakukannya, memperhitungkan dan memper-timbangkan. Kita tinggal melaksanakannya” jawab Rahu.

“Tetapi mungkin diantara kita ada yang dapat mengajukan pikiran yang lebih baik dari yang mereka rencanakan” bantah Jlitheng.

“Itu tidak mungkin. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Sanggit Raina dan anak muda putera Yang Mulia itu tentu sudah mampu memikirkan dan merencanakan segala sesuatunya lebih baik dari kita. Mereka mempunyai lebih banyak bahan dari kita, mereka mempunyai lebih banyak pengalaman dan mereka mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari kita”

“Sikapmu adalah sikap seorang budak. Ketika aku berada di pendapa aku merasa agak lapang dada, karena beberapa orang diantara para murid di padepokan ini dapat menyatakan pikirannya. Tetapi ternyata pada saat yang gawat, kalian hanya dapat menunduk dan mengangguk” geram Jlitheng.

Rahu tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan terlalu bersungguh-sungguh. Kau akan cepat menjadi tua”

“Kau gila”

Rahu masih tertawa. Tetapi ia tidak berkata apapun juga.

Keduanya pun kemudian kembali ke dalam bilik mereka. Ketika mereka, melihat orang yang disebut kancil itu, mereka sama sekali tidak menghiraukannya, sementara orang itu pun justru berpaling kearah lain.

Demikianlah, Jlitheng justru menjadi semakin gelisah di dalam biliknya. Pertanyaannya ternyata tidak terjawab. Pertemuan itu tidak memberikan apa-apa baginya, selain perintah yang sangat menjengkelkan.

“Apakah mungkin aku akan terjebak ke dalam tugas-tugas yang tidak ada hubungannya dengan Daruwerdi dan pusaka itu?” pertanyaan itu selalu bergelut di dalam hatinya.

Tetapi Jlitheng tidak ingin melepaskan kesempatan yang sudah dicapainya dengan susah payah, memasuki sarang Serigala yang bernama Padepokan Sanggar Gading itu. Seandainya ia harus mengorbankan harga dirinya dengan melakukan tindakan yang barangkali bertentangan dengan nuraninya, namun masih dalam batas-batas yang dapat dilakukannya, maka ia akan melakukannya meskipun dengan tidak sepenuh hati.

“Tetapi jika aku harus mengorbankan kemanusiaan, tata hubungan antara sesama dalam pengertian yang mendalam, maka aku tentu akan berkeberatan, meskipun akan dapat berakibat gawat” berkata Jlitheng didalam hatinya.

Dalam pada ku, Rahu pun nampaknya sedang merenungi dirinya sendiri. Meskipun tidak begitu jelas, namun Jlitheng pun dapat melihat, bahwa ada juga semacam kegelisahan di hatinya.

Keduanya ternyata tidak banyak berbicara lagi. Meskipun ada juga semacam kecurigaan, namun akhirnya Jlitheng sempat juga memejamkan matanya,

“Jika ia berniat jahat, aku tentu sudah melihat tanda-tandanya” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Tetapi Jlitheng tidak dapat tidur terlalu lama. Ia terbangun sebelum ayam jantan berkokok di akhir malam,

Ketika ia bangkit, maka dilihatnya Rahu masih tidur nyenyak.

Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Tiba-tiba saja ia selalu dibayangi oleh pesan Rahu, agar ia tidak terlalu banyak berada diluar bilik. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu untuk ke pakiwan.

Dengan demikian, maka Jlitheng itu pun menunggu dengan kesal sampai saatnya Rahu bangun. Tetapi akhirnya ia tidak sabar lagi. Dengan sengaja ia mendesak pembaringannya dengan lututnya sehingga berderak membentur dinding meskipun tidak terlalu keras.

Ternyata Rahu cukup tangkas dan berpendengaran tajam. Tiba-tiba saja ia sudah duduk di bibir pembaringannya suap menghadapi segala kemungkinan.

“Kau mengejutkan aku” geram Rahu, “Bukankah masih terlalu malam untuk bangun?”

“Tidak” jawab Jlitheng, “sebentar lagi akan terdengar kokok ayam. Kita harus bersiap sebelum matahari terbit”

“Matahari masih lama terbit”

“Tidak” bantah Jlitheng.

Rahu bangkit sambil menggeliat. Dengan nada dalam ia bergumam, “Ternyata kau adalah seorang penakut. Bukankah maksudmu agar aku mengantarmu ke pakiwan? Disitu tidak ada hantu. Pergilah sendiri”

“Aku sobek bibirmu” geram Jlitheng, “Tetapi sebaiknya kita pergi ke pakiwan sekarang. Kita bersiap paling awal dan kita akan mendapat pujian dari Sanggit Raina”

Rahu menarik nafas sambil berdesis, “Marilah. Meskipun aku masih malas”

Keduanya kemudian keluar dari biliknya. Mereka melihat orang bertubuh raksasa tidur disebelah pintu hanya beralaskan sehelai tikar yang tidak cukup melambari panjang badannya.

“Kenapa ia tidur disitu?” bertanya Jlitheng.

“Itu adalah kegemarannya. Tidak ada orang yang menyuruh-nya berbuat demikian. Sementara kancil itu merasa lebih hangat tidur di dalam amben beralaskan tikar rangkap empat”

Jlitheng berpaling sejenak. Di sudut sebuah ruang yang luas ia melihat orang itu tidak sedang tidur.

Ketika mereka turun ke halaman, maka Jlitheng pun berkata, “Kenapa aku tidak menghubungi Cempaka untuk mengetahui, apakah yang akan kita lakukan sekarang”

Rahu tersenyum. Katanya, “Memang mungkin ia pun mengetahui. Tetapi ia tidak akan mengatakan apapun juga kepadamu”

“Kenapa?” tanya Jlitheng.

“Kau seperti kanak-kanak. Kau terlalu, banyak bertanya”

Jlitheng menggeram. Tetapi ia tidak bertanya. Ia memang menyadari bahwa orang-orang Sanggar Gading tidak akan senang mendengar pertanyaan yang terlalu banyak, yang menyangkut rencana yang mungkin masih dirahasiakan.

Dalam pada itu, Rahu seolah-olah mengetahui perasaan Jlitheng sehingga tiba-tiba saja ia berkata, “Rahasia yang mereka simpan tidak boleh diketahui oleh siapapun. Jika ada diantara kita yang berkhianat, maka segala rencana itu akan gagal. Bahkan mungkin akan dapat jatuh korban yang tidak terduga-duga.

“Aku tahu” potong Jlitheng, “Kau tidak usah mengajari aku”

“O” Rahu mengangguk-angguk, “Jika demikian seharusnya kau diam saja”

“Ya. Ya” geram Keduanya tidak berbicara lagi. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang telah bangun pula.

Demikianlah, persiapan di Sanggar Gading itu berlangsung tanpa kesan yang menarik perhatian. Ternyata Jlitheng melihat betapa orang Sanggar Gading telah terlalu biasa dengan tugas-tugasnya, sehingga segalanya berjalan dengan cepat dan wajar.

“Kita makan pagi” desis Rahu ketika keduanya telah bersiap.

Jlitheng yang belum tahu apa yang harus dilakukan, hanya mengikuti saja, ketika Rahu pergi ke dapur.

Ternyata bahwa di dapur itu telah berkumpul beberapa orang yang akan berangkat bersama mereka menuju ke tugas yang masih belum jelas bagi Jlitheng.

Nrangsarimpat yang melihat kedatangan Jlitheng segera menyambutnya sambil tertawa. Katanya, “Marilah. Makanlah sekenyang-kenyangnya. Mungkin kita tidak akan makan apapun juga sampai malam. Bahkan mungkin sampai saatnya, kita melakukan tugas kita yang sangat penting itu”

“Tugas apa?” tiba-tiba saja Jlitheng bertanya.

Terasa Rahu menggamit lambungnya. Namun kata-kata itu sudah diucapkannya Nrangsarimpat memandang Jlitheng dengan heran. Dengan nada datar ia berkata, “Apakah aku tidak salah dengar. Kau masih bertanya tentang tugas itu”

“Tidak” Jlitheng memotong, “begitu saja kata-kata itu meloncat dari bibirku. Aku tidak bermaksud bertanya. Maksudku, kau tidak usah menyebutnya. Aku sudah tahu”

Nrangsarimpat tertawa. Katanya, “Bagus. Makanlah”

Jlitheng pun kemudian duduk disebelah amben besar bersama-sama dengan orang-orang yang sedang makan. Iapun makan seperti yang dilakukan olah orang Sanggar Gading.

Sejenak kemudian, maka terdengar suara isyarat di halaman depan, Sebuah kentongan kecil dalam nada dara muluk.

“Kita harus bersiap” desis Rahu.

Orang-orang yang berada di dapur itupun kemudian satu demi satu melangkah keluar. Mereka mempersiapkan diri dengan senjata-senjata masing-masing. Sementara Jlitheng telah menyandang pedang tipisnya pula, meskipun dengan pertanyaan yang bergelut di hatinya, “Untuk apa aku membawa pedang ini? Apakah aku akan sampai ke sasaran yang sebenarnya?”

Ketika kemudian terdengar suara kentongan yang kedua dalam irama yang datar mendekati irama titir. maka orang-orang yang telah ditentukan itu pun segera berkumpul di halaman. Masing-masing telah menuntun kudanya dan segala perbekalan yang diperlukan.

Sanggit Raina dan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading telah berada di tangga pendapa padepokan itu. Ternyata bahwa Yang Mulia Panembahan tidak ikut dalam tugas yang beberapa kali mereka sebut sebagai tugas yang penting itu.

“Sanggit Raina akan memimpin kalian” berkata Yang Mulia, “lakukanlah perintahnya seperti kalian melakukan perintahku. Kali ini kalian benar-benar akan memikul tugas yang agak lain dari tugas-tugas kalian sebelumnya, karena tugas kalian kali ini akan menyangkut tugas kalian bagi hari depan”

Tidak banyak pesan-pesan yang diberikan. Sejenak kemudian Sanggit Raina lah yang memegang pimpinan. Katanya, “Kita akan berangkat. Seperti yang aku katakan, kita akan berpencar. Kita akan berkumpul di dekat Sendang Gambir, sebelum kita memasuki Kota Raja. Siapa yang terlambat akan kita tinggalkan”

Tidak ada perintah lain. Sejenak kemudian Sanggit Raina itupun minta diri kepada Yang Mulia Panembahan serta mohon restu bagi semua orang yang ikut dalam perjalanan itu.

Demikian Sanggit Raina meloncat ke punggung kudanya setelah ia berada di depan regol, maka yang lain pun telah berloncatan pula. Tanpa aba-aba apapun juga, maka iring-iringan, itu pun kemudian meninggalkan padepokan Sanggar Gading yang aneh itu.

“Ternyata yang ikut dalam iring-iringan ini lebih banyak dari yang kemarin berada di Sanggar” desis Jlitheng.

“Ya. Nrangsarimpat membawa seorang sahabat paling dekatnya. Sementara yang lain ada pula yang mengajak adiknya yang juga tinggal di padepokan ini. Tetapi kelompok ini dapat dipertanggung-jawabkan. Yang pergi bersama orang-orang yang tidak disebut namanya, atau yang kemarin berada di sanggar, tentu sudah mendapat ijin dari Sanggit Raina” jawab Rahu.

Jlitheng rasa-rasanya menjadi semakin bingung dengan susunan dan urut-urutan kepemimpinan di padepokan Sanggar Gading ini. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

“Kita akan mulai berpencar dimana?” bertanya Jlitheng.

“Di seberang padang kematian. Kita akan memilih jalan kita masing-masing. Kita akan diberi kebebasan untuk melalui jalan yang manapun juga” berkata Rahu.

“Kita dapat berpencar dalam kelompok-kelompok kecil atau seorang demi seorang” bertanya Jlitheng.

“Kita dapat berdua, atau paling banyak bertiga” Rahu berhenti sebentar, lalu iapun bertanya, “Kau akar pergi bersamaku atau bersama Cempaka?”

“Tidak ada bedanya. Hanya kawan dalam perjalanan. Kau pun tidak apa, asal kau tidak melakukan perbuatan tercela di sepanjang jalan” jawab Jlitheng.

Rahu tertawa. Tetapi iapun berkata, “Kau tamu Cempaka disini. Seharusnya kau selalu dekat dengan orang itu”

Jlitheng memandang Rahu dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Jangankan kira aku tidak tahu. Cempaka hampir tidak sempat menghiraukan aku. Dan ia sudah memerintahkan kepadamu untuk selalu mengawasi aku. Karena itu, kau tidak perlu berbicara lagi tentang Cempaka dalam hubunganmu dengan aku”

Rahu masih tertawa Katanya, “Penggraitamu benar-benar tajam. Kau menyadari bahwa aku adalah mata dan telinga Cempaka. He, jika demikian kecurigaanku kepadamu sangat berbahaya bagimu”

“Sama sekali tidak. Aku dapat membunuhmu. Bahkan membunuh Cempaka” jawab Jlitheng.

Rahu tertawa semakin keras. Beberapa orang telah berpaling kepadanya. Juga. Sanggit Raina yang berkuasa di paling depan. Bahkan justru Nrangsarimpat mendekati Rahu sambil bertanya, “Apa yang lucu, atau apa yang salah?”

Rahu masih tertawa. Jawabnya, “Bantaradi ternyata seorang pengecut. Ia sangat takut kepada perempuan yang bakal jadi isterinya”

Nramgsarimpat pun tertawa. Tetapi ia masih juga mengumpat di sela-sela tertawanya, “Anak demit. Aku kira kalian berbicara tentang apa”

Ketika Nrangsarimpat kembali kepada kawan-kawannya maka Jlitheng lah yang mengumpat, “Kau kira aku sudah mempunyai pasangan?”

“Jadi aku harus menjawab apa? Mengatakan bahwa kau merasa dirimu tidak dihiraukan lagi oleh Cempaka meskipun orang itu yang mengundangmu kemari? Atau aku harus menjawab bahwa kau selalu dibayangi oleh kebingungan tentang tugas kita sekarang ini” Rahu pun bertanya pula.

“Kau memang gila” geram Jlitheng.

Namun keduanya tidak berbicara lagi. Mereka sudah mendekati padang yang mereka sebut padang perburuan, tetapi kadang-kadang juga padang kematian. Padang yang seolah-olah merupakan tempat yang tidak dijamah oleh ketentuan dan batasan-batasan tentang hidup dan tata kehidupan manusia. Siapapun dapat berbuat apa saja menurut kehendak dan keinginan mereka sendiri meskipun hal itu akan dapat berarti kesulitan bahkan korban pada pihak lain.

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Sekilas teringat olehnya apa yang telah terjadi di padang itu pada saat ia datang bersama Rahu. Namun selanjutnya ia tidak melihat lagi orang-orang yang pernah dilukainya di padang itu.

“Apakah mereka kemudian tidak lagi tertolong, atau mereka berada di tempat yang kebetulan tidak aku lihat di padepokan” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Namun demikian mendesaknya ingatan itu, sehingga ketika padang itu sudah terbentang dihadapannya, ia bertanya kepada Rahu, “Apa kau tahu, dimana ketiga orang yang aku lukai di padang ini?”

“Mereka sedang dalam tataran penyembuhan” jawab Rahu.

“Jadi mereka tidak mati?”

Rahu tidak menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Jlitheng sambil tersenyum, sehingga Jlitheng tiba-tiba menggeram, “Kau benar-benar anak setan. Kau telah mengumpulkan satu lagi angka kemenanganmu. Kau bertambah curiga lagi kepadaku karena pertanyaan itu”

Rahu menutup mulutnya. Kemudian katanya tertahan-tahan, “Jika aku tertawa lagi, Nrangsarimpat akan bertanya lagi kepadaku. Dan aku tidak akan mempunyai jawaban yang lebih baik dari jawabanku yang pertama”

Jlitheng tidak menyahut. Terdengar ia mengumpat meskipun tidak jelas.

Iring-iringan dari Sanggar Gading itupun kemudian memasuki padang yang gersang. Bukan saja dedaunan yang menjadi kekuning-kuningan, tetapi juga karena di padang itu seolah-olah beribu jiwa melayang-layang karena kematian mereka yang tidak wajar, sehingga mereka masih tetap berkeliaran untuk mencari kesempatan membalas dendam. Kemarahan dan gejolak jiwa mereka itu menambah padang itu semakin gersang dan bagaikan membara.

Tetapi Sanggit Raina sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tidak mengenal lagi kuningnya dedaunan. Dan ia pun tidak menghiraukan lagi berapa banyak jiwa yang telah melayang di padang itu. Bahkan orang-orang tersesat yang sama sekali tidak tahu menahu arti padepokan Sanggar Gading pun telah terbunuh pula di padang yang tandus itu.

Demikianlah, maka seperti iring-iringan untuk mengubur mayat, orang-orang berkuda itu melintasi padang kematian. Hampir tidak ada seorang pun yang berbicara diantara mereka.

Sebenarnyalah bahwa betapapun dalamnya, namun terberat pula ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami di padang itu.

Beberapa saat lamanya mereka melintasi padang itu. Akhirnya mereka pun sampai pada seberang yang lain. Satu dua orang diantara mereka memalingkan wajah mereka untuk memandang padang itu dari sisi yang berseberangan. Namun mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke tugas mereka yang masih belum dapat mereka ketahui dengan pasti.

Beberapa puluh langkah dari padang, Sanggit Raina berkata lantang, “Kita memilih jalan kita sendiri-sendiri. Aku ingin mengingatkan sekali lagi, bahwa kita akan berkumpul kembali untuk satu tugas yang penting, yang mungkin akan membunuh satu dua orang diantara kita, atau bahkan mungkin kita semuanya. Siapa yang terlambat akan kita tinggalkan, dan siapa yang ragu-ragu, aku harap untuk dengan sengaja datang terlambat. Tetapi umur mereka yang terlambat itu pun akan terbatas sampai esok pagi”

Sanggit Raina tidak berbicara terlalu banyak. Dan ia pun sama sekali tidak ingin mendengar sebuah pertanyaan pun. Karena itu, demikian ia selesai berbicara maka ia pun segera menggerakkan tali kekang kudanya. Beberapa langkah kudanya bergerak perlahan-lahan. Namun ketika kaki Sanggit Raina kemudian menyentuh perut kudanya, maka kuda itu pun segera meloncat berlari.

Beberapa orang pun kemudian memacu kudanya pula. Tetapi masih ada beberapa orang yang maju perlahan-lahan. Agaknya mereka sedang berbicara satu dengan yang lain, jalan manakah yang akan mereka tempuh, dan dengan siapakah mereka akan berpencar.

Ternyata Cempaka masih juga menghampiri Jlitheng sambil berkata, “Pergilah bersama Rahu, aku akan menempuh jalan lain sendiri. Aku akan menyusul kakang Sanggit Raina”

Jlitheng termangu-mangu sejenak Kemudian katanya, “Aku datang memenuhi undanganmu. Kau berharap bahwa aku akan dapat melibatkan diri dalam tugas yang penting. Tetapi katakan Cempaka, tugas apa yang sekarang akan kita lakukan?”

“Yang aku ketahui tidak lebih banyak dari yang kau ketahui. Kau mendengar keterangan dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, dan kemudian kau pun mendengar keterangan dari kakang Sanggit Raina sebanyak yang aku dengar” jawab Cempaka.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menahan hatinya agar tidak terloncat dari mulutnya, apa yang pernah didengarnya, pembicaraan antara Cempaka dengan Daruwerdi. Jika yang diketahuinya itu, diluar sadarnya terucapkan, maka mungkin sekali ia akan diseret kembali ke padang kematian oleh beberapa orang yang masih belum berjarak terlalu jauh dan hidupnya pun akan diakhiri.

Tetapi karena Jlitheng tidak bertanya lebih banyak lagi, maka Cempaka pun kemudian berkata, “Kita akan mengetahui dengan pasti, apa yang akan kita lakukan, jika kita sudah berkumpul kembali. Marilah, agar kita tidak terlambat, sehingga kita akan mendapat hukuman dari kakang Sanggit. Riana”

Jlitheng mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku akan menempuh perjalanan ini bersama Rahu, meskipun bagiku Rahu tidak lebih dari momongan”

Cempaka mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Rahu yang nampak menegang. Tetapi Rahu tidak menjawab.

Cempaka pun tidak bertanya sesuatu. ia pun kemudian meninggalkan Rahu dan Jlitheng berdua. Sejenak kemudian iapun sudah berpacu searah dengan jalan yang ditempuh oleh Sanggit Raina.

“Kau memang bodoh sekali” desis Rahu, “Kau kira Cempaka senang mendengar kelakarmu itu? Aku adalah orang yang mendapat kepercayaannya. Gurauanmu dapat menyinggung perasaannya”

Tetapi Jlitheng menjawab, “Aku tidak peduli. Jika ia tersinggung dan marah, aku bunuh ia di padang kematian yang masih belum terlalu jauh kita tinggalkan”

“Ingat” berkata Rahu kemudian, “Jika kau selalu memaksa dirimu untuk bersikap kasar dan sombong, maka pada suatu saat kau akan benar-benar menjadi seorang yang kasar dan sombong. Seandainya pada suatu saat kau meninggalkan padepokan ini, meskipun hal itu akan sulit sekali kau lakukan, maka kau akan menjadi orang yang sangat asing di pergaulan yang sewajarnya”

Jlitheng memandang Rahu dengan kerut di dahinya. Katanya, “Kau mau menggurui aku? Semuanya itu tidak perlu kau katakan. Aku sudah tahu bagaimana mengatur diriku sendiri”

“Tetapi aku bukan orang yang terlalu bodoh seperti yang kau sangka. Jika yang kau lakukan itu sekedar ingin menyesuaikan diri dengan sifat orang-orang Sanggar Gading, maka kau tidak perlu berbuat demikian jika kita hanya berdua saja”

“Kenapa?” bertanya Jlitheng.

“Aku sudah mengetahui sifat-sifatmu yang sebenarnya sejak kau melibatkan diri dalam perkelahian yang terjadi di perjalanan itu. Kau telah dengan sengaja melepaskan lawanmu dan tidak berusaha mengejarnya. Kau pun tidak membunuh di padang kematian itu, seperti yang kau lakukan di padukuhan”

“Cukup” bentak Jlitheng, “Sebenarnya aku Ingin membunuhmu agar kau tidak mengigau saja seperti itu sehingga aku muak mendengarnya. Berapa kali hal itu kau katakan. He, Rahu. Apakah kau bermaksud memerasku?”

“Apa yang dapat aku peras dari padamu? Sudahlah marilah kita menuju, ke tempat yang sudah ditentukan. Sebenarnya jarak itu tidak terlalu jauh, sehingga tidak akan memerlukan waktu yang terlalu panjang. Kita masih mempunyai sisa waktu yang cukup banyak” berkata Rahu kemudian

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah ia memang tidak dapat berpura-pura terlalu lama. Ia menjadi lelah dan selalu dicengkam oleh ketegangan jiwa. Namun untuk berbuat wajar, seperti yang selalu dikatakan oleh Rahu itu, ia pun merasa cemas. Mungkin Rahu sengaja memancing agar ia melihat sifat-sifatnya yang sebenarnya sebelum Rahu mengambil sikap yang pasti.

Karena itu, maka Jlitheng bertekad untuk tetap berbuat seperti yang dilakukannya. Ia sudah terlalu sering berpura-pura. Di padukuhannya pun ia berpura-pura menjadi seorang yang bodoh dan dungu, meskipun kadang-kadang ia menunjukkan juga sikap yang lebih baik, seperti saat-saat ia bersama orang tua di bukit itu, berusaha menyalurkan air ke sungai yang akan dapat mengairi sebagian dari tanah persawahan di padukuhannya.

Keduanya pun kemudian berkuda lebih cepat lagi. Beberapa orang kawan mereka telah menjadi semakin jauh. Namun diantara mereka yang berkuda di depan, ada juga beberapa orang yang nampaknya tidak tergesa-gesa.

“Aku akan singgah sebentar ke rumah” berkata Rahu, “karena tugas ini menurut Sanggit Raina adalah tugas yang berat yang mungkin akan dapat membunuh sebagian dari kita, bahkan mungkin kita semuanya, maka aku akan meninggalkan pesan kepada adikku”

“Apakah kau sudah bermimpi buruk?” bertanya Jlitheng.

Rahu tertawa. Katanya, “Aku sering bermimpi buruk. Aku kira semua orang-orang Sanggar Gading selalu bermimpi buruk, seperti juga orang-orang dari Kendali Putih, orang-orang Pusparuri dan orang-orang dari Gunung Kunir. Meskipun kadang-kadang mimpi kami, orang-orang Sanggar Gading masih juga diwarnai dengan cita-cita yang jauh lebih baik dan padepokan-padepokan yang lain”

Jlitheng tidak menjawab lagi. Mereka kemudian berkuda semakin cepat menuju ke sebuah padukuhan yang memiliki ciri yang tidak jauh berbeda dengan Sanggar Gading. Meskipun ilmu orang-orang Sanggar Gading tentu jauh lebih baik dari orang-orang padukuhan itu, namun kekasaran dan sifat-sifat kediriannya mempunyai banyak persamaan.

Meskipun Jlitheng berusaha utuk tidak terlalu banyak bertanya, namun ada juga satu dua pertanyaan yang dilontarkannya. Bukan saja tentang padukuhan yang aneh itu, tetapi juga tentang sifat-sifat orang Sanggar Gading.

Beberapa saat kemudian, kedua orang itupun menjadi semakin dekat dengan padukuhan tempat tinggal Rahu. Padukuhan yang memiliki ciri-ciri yang sulit dimengerti.

Ketika mereka memasuki daerah persawahan padukuhan itu, maka mereka melihat orang-orang yang bekerja di sawah tanpa menghiraukan siapapun yang lewat di bulak.

“Tidak hanya padukuhanku saja yang memiliki sifat aneh” berkata Rahu kemudian.

“Aku sudah tahu. Tentu satu dua padukuhan yang lain yang berdekatan mempunyai beberapa persamaan meskipun juga beberapa perbedaan” sahut Jlitheng.

“Ya. Agaknya kau mengerti juga” desis Rahu kemudian.

Jlitheng tidak menyahut. Tetapi dahinya berkerut ketika ia melihat dua orang yang, sedang bertengkar tidak terlalu jauh dari jalan yang mereka lalui.

“Apa lagi yang mereka lakukan?” tiba-tiba saja Jlitheng menggeram.

“Itu urusan mereka” desis Rahu.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam Tetapi ia tidak dapat tinggal diam ketika pertengkaran itu menjadi semakin memuncak. Bahkan tiba-tiba yang seorang telah memukul yang lain, sehingga orang yang dipukulnya itu jatuh terjerembab.

“Gila” geram Jlitheng, “agaknya kau yang membuat padukuhan ini menjadi gila”

“Kenapa aku?” bertanya Rahu.

“Kau orang Sanggar Gading. Kau ajari tetangga-tetanggamu hidup dalam suasana gila ini”

Rahu tertawa, Katanya, “Kau jangan menganggap aku dapat berbuat demikian. Aku jarang sekali, berada di padukuhan. Bagaimana mungkin aku dapat melakukannya”

Jlitheng menggeretakkan giginya. Ia melihat sebuah perkelahian yang tidak seimbang. Tetapi orang yang lebih kuat itu justru berbuat sesuka hatinya, sementara orang-orang lain bekerja seperti tidak terjadi sesuatu di dekat mereka.

Tetapi Jlitheng tidak tahan lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat dari punggung kudanya. Kemudian ia pun berteriak, “He orang-orang gila. Aku adalah orang yang pernah berbuat sesuatu yang kalian anggap aneh di padukuhan ini. Sekarang aku pun akan melakukannya pula. Kalian tidak usah turut campur. Aku akan memukuli orang yang menang dalam perkelahian itu nanti.

Kedua orang yang berkelahi itupun berhenti sejenak. Mereka memperhatikan Jlitheng yang berdiri bertolak pinggang. Demikian pula beberapa orang yang bekerja di sawah disekitar kedua orang itu berkelahi.

Kedua orang yang berkelahi itu mengerti, bahwa orang itu adalah orang yang pernah mengalahkan gegedug padukuhannya. Karena itu, bagaimanapun juga mereka pu merasa ngeri melihat orang yang berdiri bertolak pinggang di pinggir jalan, sementara seorang yang mereka kenal dan mereka takuti pula, duduk di punggung kudanya.

Karena itu, maka perkelahian itupun telah terhenti. Orang yang menang dan berbuat sewenang-wenang itu pun telah melepaskan korbannya dan mendorongnya ke dalam lumpur. Namun lawannya yang sudah menjadi sangat lemah itu masih sempat merangkak menjauh.

“Jika perkelahian itu terulang lagi, kalian akan tahu akibatnya. Aku pun dapat membunuh tanpa sebab” desis Jlitheng.

Kedua orang yang berkelahi itu pun tidak menjawab. Yang lain pun kembali ke pekerjaannya, sementara yang telah menjadi bengkak-bengkak wajahnya dengan susah payah meninggalkan arena itu.

“Kegilaanmu itu memang harus dihentikan” berkata Rahu kepada Jlitheng setelah orang-orang yang berkelahi itu beranjak.

“Apa maksudmu?” bertanya Jlitheng.

“Kau telah terlalu banyak membuat kesalahan disini Karena itu kesalahanmu harus diakhiri. Jika kau tetap keras kepala, maka kau akan dapat aku bunuh disini, tidak di padang kematian” geram Rahu.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Nampaknya Rahu bersungguh-sungguh. Ia tidak melihat senyum di bibir orang itu. Bahkan yang nampak adalah kerut-merut di dahinya.

Tetapi Jlitheng justru menjawab, “Kenapa tidak kau lakukan sekarang? Aku sudah gatal untuk sekali-kali mencoba, apakah kau tidak hanya pandai berbicara”

Rahu tidak menjawab. Tetapi iapun segera menyentuh perut kudanya dengan tumitnya.

Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia pun segera meloncat ke punggung kudanya mengikuti Rahu yang berada beberapa langkah di depannya.

Sambil menyusul Jlitheng menggeram, “Kau jangan banyak tingkah Rahu. Apa maumu sebenarnya. Aku memang sudah menduga, bahwa kau sedang menunggu saat yang tepat untuk berbuat sesuatu, yang tentu akan berarti suatu pengkhianatan. Tetapi jangan kau kira bahwa aku takut menghadapi peng-khianatanmu itu”

Rahu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba kudanya berpacu semakin cepat, sehingga Jlitheng pun diluar sadarnya telah mengikutinya pula mempercepat langkah kudanya.

Tetapi keduanya tidak berbicara apapun lagi. Kuda mereka menjadi semakin cepat berlari menuju ke rumah Rahu di padukuhan yang aneh itu.

Jlitheng yang menjadi berdebar-debar melihat sikap Rahu itu pun berusaha untuk berkuda disamping Rahu sambil berkata, “O, aku tahu. Kau tentu ingin segera sampai ke rumahmu. Kau ingin berkelahi berpasangan dengan adikmu. Baiklah Aku tidak takut melawan siapapun juga, dan meskipun kau mengerahkan semua gegedug di padukuhan ini”

“Jangan banyak bicara” geram Rahu kemudian, “Kau benar-benar memuakkan. Aku sudah berulang kali memberimu peringatan. Di hadapanku kau jangan selalu berpura-pura. Aku menjadi jemu dan muak. Karena itu aku telah mengambil keputusan lain tentang dirimu, “

“Persetan” Jlitheng hampir berteriak, “berhentilah. Kita menentukan siapa yang lebih baik diantara kita”

Rahu sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia berkuda terus memasuki padukuhannya. Sementara Jlitheng masih mengikuti-nya meskipun sambil mengumpat-umpat.

“Rahu, apakah maksudmu sebenarnya? Jika kau menantang aku berkelahi melawan kau berdua dengan adikmu, katakanlah” geram Jlitheng.

Tetapi Rahu tidak menjawab. Ia justru berpacu lebih cepat, sementara Jlitheng mengikutinya terus.

Akhirnya keduanya memasuki halaman rumah Rahu di ujung padukuhan. Rumah yang terhitung bersih dan rapi. Halamannya pun nampak bersih ditanami dengan jenis-jenis tanaman yang sejuk.

“Ikatkan kudamu” berkata Rahu, “disini kita mendapat tempat untuk berbuat apa saja tanpa ada yang mengganggu”

Wajah Jlitheng menjadi tegang.

“Sudah waktunya bagiku untuk mengatakan kepadamu, bahwa kau sangat memuakkan bagiku. Kau memang perlu sedikit petunjuk, bagaimana kau harus bersikap diantara orang sanggar Gading. Bukan sekedar menunjukkan kekasaran dan keliaran yang gila” geram Rahu.

Jlitheng menjadi semakin tegang. Namun iapun kemudian meloncat turun pula dari kudanya seperti juga Rahu. Keduanya kemudian mengikat kuda masing-masing di tepi halaman itu.

Tiba-tiba saja Rahu berteriak, “Semi. Semi”

Seorang laki-laki yang bertubuh raksasa keluar dari rumah itu lewat pintu samping. Kemudian berdiri dengan ragu-ragu memandang sikap kakaknya dan sikap Jlitheng yang dikenalnya bernama Bantaradi

“Kau menjadi saksi” kata Rahu kemudian, “Aku akan mengajari anak ini untuk berlaku sedikit sopan kepadaku”

“Gila” geram Jlitheng, “Aku akan membunuhmu”

“Meskipun orang-orang padukuhan ini tidak akan menghiraukan kita, tetapi aku tantang kau berkelahi di longkangan di belakang seketeng”

“Persetan” jawab Jlitheng dimanapun aku dapat membunuhmu”

Rahu pun kemudian berjalan mendahului Jlitheng memasuki longkangan lewat seketeng kiri, sambil berkata kepada adiknya, “Kau, jangan mengganggu kami, apapun yang terjadi. Aku hanya mempunyai sedikit waktu sebelum aku harus berkumpul bersama kawan-kawan dari Sanggar Gading, agar aku tidak dianggap bersalah oleh Sanggit Raina”

“Jangan banyak bicara” Jlitheng lah yang memotong.

Rahu tidak menjawab. Tetapi Jlitheng menjadi termangu-mangu ketika ia melihat Rahu melepaskan pedangnya, dan melemparkannya kepada adiknya.

Kemudian ia pun melepaskan beberapa pisau kecilnya yang terselip di ikat pinggangnya, yang terakhir Rahu melepaskan, seuntai rantai yang membelit pinggangnya dengan bandul sebuah bola besi kecil yang bergerigi sebesar buah salak.

“Senjata-senjata ini dapat berbahaya bagimu. Kadang-kadang aku tidak sengaja telah .mempergunakannya” berkata Rahu.

“Kau takut aku membunuhmu jika kita bertemu dengan senjata? bertanya Jlitheng.

“Jika kau akan mempergunakan pedang tipismu pergunakanlah. Atau barangkali kau mempunyai senjata lain?”

“Persetan” sahut Jlitheng, “Aku tidak akan mempergunakan senjataku. Aku dapat membunuhmu, tanpa senjata. Tetapi aku tidak akan terpancing menyerahkan senjataku kepada orang lain.

Rahu menarik nafas panjang. Katanya, “Bagus. Apapun yang akan kau lakukan, lakukanlah. Aku adalah Iblis bertangan Petir yang dapat memperlakukan apa saja terhadap seseorang dengan tanganku”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia meraba ikat pinggangnya. Iapun mempunyai pisau-pisau kecil atau lebih tepat dapat disebut semacam paser-paser kecil yang dapat dipergunakan untuk bertempur dengan jarak yang lebih panjang.

Tetapi agaknya ia benar-benar tidak akan mempergunakan senjatanya.

Meskipun demikian, Jlitheng menggantungkan senjatanya lebih tinggi, ia sadar bahwa ia akan bertempur dengan tangannya, beradu kekuatan ketrampilan dan kecepatan bergerak. Karena itu, maka pedangnya tidak boleh mengganggunya.

“Apakah kau sudah siap?” tiba-tiba saja Rahu bertanya.

“Aku sudah siap sejak aku memasuki padang kematian, di saat aku menuju ke Sanggar Gading” sahut Jlitheng.

“Baiklah. Pandanglah langit dan tataplah bumi. Mungkin kau tidak akan sempat memperhatikannya lagi.

Jlitheng menggeram. Tetapi ia terpaksa menilai lawannya dengan hati-hati. Ia pernah melihat Rahu bertempur sebagai pengiring Cempaka di bulak panjang, saat ia melibatkan diri tanpa diminta, justru karena ia ingin berhubungan dengan Cempaka, Kemudian Rahu pun telah melibat, bagaimana ia mengalahkan beberapa orang Sanggar Gading di padang perburuan itu.

Dengan demikian, jika Rahu itu kemudian menantangnya, maka ia tentu mempunyai penilaian tersendiri atas kemampuannya.

“Mungkin ia akan memanfaatkan kemampuan adiknya” berkata Jlitheng di dalam hati. Bahkan kemudian, “Atau secara sandi ia menyuruh adiknya melakukannya dengan memberikan senjata-senjatanya kepada orang bertubuh raksasa itu”

Tetapi Jlitheng sudah bersiap menghadapi apapun juga, Jika terjadi sesuatu, adalah akibat yang wajar dari perjuangannya memasuki Sanggar Gading yang memang berbahaya. Sejak semula ia sudah diperingatkan, bahwa memasuki Sanggar Gading sama artinya dengan memasuki sarang serigala yang buas dan licik.

Sejenak Jlitheng memperhatikan lawannya. Ketika Rahu mulai bergeser setapak, maka iapun bergeser pula.

Tetapi Rahu tidak menunggunya lagi. Tiba-tiba saja ia lelah meloncat menerkam. Geraknya cepat dan mantap. Sehingga jantung Jlitheng pun berdesir karenanya.

Namun Jlitheng pun mampu bergerak cepat pula. Ia sempat menghindar selangkah kesamping. Bahkan dengan cepatnya pula, ia telah menyerang Rahu dengan kakinya.

Tetapi Rahu cepat berkisar. Serangan Jlitheng pun tidak menyentuhnya pula.

Sejenak kemudian maka kedua orang itu telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Keduanya memiliki kemampuan bertempur yang tinggi, sehingga benturan kekuatan yang terjadi apabila salah seorang dari kedua orang itu tidak sempat mengelakkan serangan, seakan-akan telah menggetarkan udara di seputarnya. Bahkan dinding rumah Rahu itupun seolah-olah telah terguncang.

Jlitheng yang sebenarnya tidak mempunyai niat yang mendalam untuk berkelahi melawan Rahu yang dianggapnya mempunyai sifat yang disebut oleh seribu macam pertanyaan itu, terpaksa mengerahkan segenap kemampuannya, karena Rahu semakin lama telah semakin mendesaknya.

“Jangan takut bahwa aku akan melibatkan adikku” berkata Rahu sambil meloncat menyerang.

“Persetan. Jika kau ingin berkelahi berpasangan, lakukanlah” geram Jlitheng.

Tetapi dengan serta merta, Jlitheng harus meloncat surut Serangan Rahu bagaikan badai.

Dalam beberapa saat, Jlitheng harus sudah mandi keringat la menyadari bahwa ia tidak boleh mengerahkan segenap kemampuannya tanpa memperhitungkan waktu. Meskipun Jlitheng pun sadar, bahwa waktu mereka tidak terlalu banyak, karena mereka harus segera berkumpul sesuai dengan waktu yang diberikan oleh Sanggit Raina.

Namun dalam pada itu, Jlitheng mulai dijalari oleh pertanyaan yang semakin rumit tentang orang yang menyebut dirinya bernama Rahu itu. Ketika ia sempat melihat kemampuan bertempur orang itu di bulak panjang, pada saat Rahu itu mengiringi Cempaka, maka ia tidak akan menduga, bahwa Rahu dalam beberapa saat sudah berhasil mendesaknya.

“Orang ini benar-benar Gila” desah Jlitheng di dalami hatinya. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng memang sudah berpura-pura dalam hubungannya dengan orang-orang Sanggar Gading. Tetapi ia tidak mengira, bahwa Rahu telah benar-benar marah kepadanya, dan menantangnya berkelahi. Apalagi bahwa ternyata kemampuan orang itu jauh melampaui kemampuan seperti yang dilihatnya di bulak panjang.

Beberapa saat kemudian, Jlitheng merasa semakin terdesak. Ia sudah mulai mengerahkan tenaga cadangan yang ada di dalami dirinya. Bahkan ia sudah mulai mendekati ilmu puncaknya. Namun Rahu benar-benar seorang yang pilih tanding, yang memiliki kemampuan mengherankan.

“Apakah dengan demikian Cempaka memiliki ilmu yang tidak terkalahkan, apabila Rahu yang dianggap berada pada tataran dibawahnya memiliki ilmu yang luar biasa” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Tetapi sebenarnyalah bahwa. Jlitheng memang belum sampai pada puncak tertinggi dari ilmunya. Namun ketika Rahu menjadi semakin mendesaknya, maka hampir diluar sadarnya, maka ilmu Jlitheng pun merangkak ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga akhirnya, Jlitheng benar-benar telah berada pada puncak tertinggi dari ilmunya.

Dengan demikian maka yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang dahsyat, melampaui kedahsyatan pertempuran di padang kematian. Jlitheng yang sudah berada pada puncak tertinggi dari ilmunya, benar-benar merupakan seorang anak muda yang luar biasa. Latihan-latihan yang pernah diakukan pancingan yang pernah didapatkannya tanpa disadarinya untuk mempercepat gerak kakinya diatas bebatuan sungai, petunjuk-petunjuk dari orang-orang tua yang pernah dikenalnya, telah membuatnya menjadi seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tidak ada taranya

Namun ternyata berhadapan dengan Rahu, yang semula tidak terlalu menarik perhatian Jlitheng itu, ia mulai mengalami kesulitan.

“Aku terlalu meremehkannya” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “Mungkin ada kesengajaan padanya, untuk menunjukkan bahwa kemampuannya tidak begitu tinggi. Tetapi dengan demikian, maka sikap itu tentu bukannya tidak mempunyai maksud tertentu”

Karena itu, maka Jlitheng harus menjadi semakin berhati-hati. Selama ia bergaul dengan Rahu, ia memang telah berpura-pura. Tetapi ia menganggap bahwa Rahu merasa dirinya berada di bawah tataran anak muda yang diketahuinya bernama Bantaradi itu. Karena anak muda itu adalah tamu dan tentu dianggapnya memiliki ilmu setingkat dengan Cempaka.

Tetapi yang dihadapinya adalah lain. Rahu semakin lama telah semakin mendesaknya. Hanya dalam waktu yang terhitung, singkat. Betapapun Jlitheng mengerahkan kemampuannya pada puncak ilmunya, namun ia tidak dapat mengatasi desakan kekuatan lawannya.

Tiba-tiba saja Jlitheng menjadi gelisah. Mungkin Rahu mempunyai rencana tersendiri dengan sikapnya. Bahwa mungkin Rahu benar-benar ingin mencelakainya dengan tujuan yang tidak diketahuinya. Bahwa Rahu telah melepaskan senjatanya, Jlitheng memang menjadi berteka-teki. Tetapi agaknya Rahu benar-benar akan menunjukkan kepadanya, bahwa ia akan dapat membunuhnya tanpa senjata.

Tetapi Jlitheng tidak menyerah pada keadaan. Ia pun kemudaan menghentakkan kemampuannya, menyerang dengan cepat pada saat Rahu justru berusaha mendesaknya.

Sikap itu agaknya tidak diperhitungkan oleh Rahu. Karena itu maka iapun agak terkejut karenanya. Dengan demikian, ia tidak sempat menghindari tangan Jlitheng yang terjulur lurus, dengan hentakkan selangkah maju langsung mengarah ke dadanya.

Tetapi ternyata Rahu berusaha melindungi dadanya dengan tangannya. Ia menangkis serangan Itu dengan mengangkat tangan Jlitheng pada lengannya. Dengan demikian justru lambung Jlitheng telah terbuka, Dengan kuatnya Rahu lah kemudian melangkah maju sambil menghantam lambung.

Namun Jlitheng melihat serangan itu. Dengan serta merta ia menarik tangannya dan bergeser selangkah kesamping pada setengah putaran. Dengan demikian, maka serangan Rahu itu tidak menyentuhnya sama sekali,

Dengan cepatnya, Jlitheng lah yang justru kemudian menyerangnya. Selagi Rahu masih menjulurkan tangannya. Jlitheng mengayunkan kakinya menghantam lambung.

Sekali lagi Rahu tidak menghindar. Tetapi ia menggeser kakinya selangkah dan menekuk lututnya merendah. Dengan sikunya ia menangkis serangan kaki Jlitheng yang keras.

Benturan yang terjadi ternyata mengejutkan Jlitheng. Ia telah terdorong surut. Bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.

Pada saat yang demikian, Rahu memburunya. Sebuah serangan pada dada Jlitheng, telah mendorong Jlitheng jatuh berguling. Namun dengan tangkasnya ia melenting berdiri.

Tetapi Rahu pun meloncat dengan cepatnya. Demikian Jlitheng berdiri, Rahu telah menjulurkan tangannya menghantam perut anak muda itu. Demikian kerasnya, sehingga Jlitheng terbungkuk sambil berdesis.

Rahu tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga ia menekan kepala, Jlitheng dan membenturkannya dengan lututnya.

Tetapi Jlitheng tidak menyerah. Sebelum kepalanya membentur lutut Rahu ia justru mendorong perut Rahu dengan kepalanya, sehingga Rahu yang sudah siap mengangkat sebelah kakinya, terdorong jatuh. Tetapi karena Rahu tidak melepaskan tangannya yang memegangi kepala Jlitheng maka keduanya pun telah jatuh terguling di tanah.

Hampir berbareng pula keduanya melenting berdiri Adalah kebetulan sekali, bahwa keduanya pun berbareng telah meloncat menyerang, sehingga kekuatan keduanya sekali lagi berbenturan.

Kedua orang yang memiliki kemampuan yang tinggi itupun telah terdorong beberapa langkah surut. Jlitheng lah yang terhuyung-huyung. Tetapi ia cepat dapat memperbaiki keadaan-nya, sehingga ia pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Kedua orang itupun telah berdiri dengan kaki renggang, sedikit merendah pada lututnya. Tangan mereka pun telah bersiap, menyerang atau menangkis serangan.

Pada saat-saat yang demikian, Jlitheng harus mengakui bahwa Rahu bukannya orang yang dapat dianggap lemah, meskipun ia murid yang tidak terlalu dekat dengan gurunya, Agak berbeda pula kedudukannya dengan Cempaka, apalagi Sanggit Raina. Bahkan nampaknya Rahu tidak lebih baik kedudukannya di Sanggar Gading dari Nrangsarimpat. Namun karena Rahu agaknya bersahabat baik dengan Cempaka, maka setiap kesempatan yang didapat oleh Cempaka. Rahu pun akan dibawanya pula.

Dalam pada itu. untuk beberapa saat kedua orang itu berdiri tegak dengan kesiagaan mereka menghadapi segala kemungkin-an. Jlitheng yang merasa terdesak, lebih baik menunggu apa yang akan dilakukan oleh lawannya, sekaligus mempergunakan kesempatan itu untuk mengatur pernafasannya yang mulai berdesakan.

Adik Rahu yang bertubuh raksasa, yang berdiri di dekat arena perkelahian itu pun menunggu dengan tegangnya. Iapun dapat menilai bahwa perkelahian itu ternyata seimbang, meskipun Rahu mempunyai kesempatan lebih baik. Tetapi jika pertempuran itu berlangsung terus, belum berarti bahwa Rahu akan dapat menang. Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi.

Namun sampai saat keduanya berhenti dan berdiri berhadapan dengan tegangnya Rahu telah berhasil mendesak lawannya.

Untuk beberapa saat keduanya masih saling berdiam diri. Keduanya tidak bergerak, tidak berbicara dan seolah-olah keduanya telah menjadi patung yang mati.

Ketegangan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara Rahu, “Bantaradi. Kenapa kau tidak menarik pedangmu membela dirimu dengan senjata, karena tanpa senjata kau tidak akan mampu berbuat sesuatu atasku. Sudah dapat dipastikan, bahwa akhir dari perkelahian ini adalah kematianmu”

“Jangan banyak bicara” jawab Jlitheng, “lakukanlah apa yang ingin kau lakukan jika kau mampu. Bahkan jika kau ingin mempergunakan senjatamu, pergunakanlah”

“Jangan berpura-pura pula dalam keadaan yang gawat ini. Kau harus menyadari, bahwa kau bukan orang yang memiliki keajaiban sehingga tidak akan dapat terkalahkan” berkata Rahu dengan garangnya.

“Aku tidak merasa bahwa aku tidak dapat dikalahkan” jawab Jlitheng, “Tetapi aku akan mempertahankan hidupku dengan cara apapun juga. Bahkan jika terpaksa, aku memang dapat membunuh”

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau sudah mulai mempergunakan kalimatmu sendiri”

“Gila. Aku tidak tahu maksudmu” Jlitheng hampir berteriak.

Tiba-tiba Rahu tersenyum. Katanya, “Kau memang hanya membunuh jika terpaksa. Jangan selalu mengatakan bahwa kau akan membunuh”

“Aku memang akan membunuhmu” teriak Jlitheng.

 

Bersambung ke jilid 9

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

3 Tanggapan

  1. sampai jilid 8 aja ga bs buka selanjutnya, mohon sedekahnya gan

    Sampai hari ini, Selasa 22 April, memang baru sampai jilid 8, jilid selanjutnya menunggu waktu uploadnya.
    Kami memerlukan waktu untuk editing kisanak, sehingga sampai jilid 9 yang rencana akan diupload Rabu 23 April kecepatan upload 3 hari sekali.
    Mulai jilid 10 Insya Allah akan diupload dua hari sekali.
    Mohon bersabar nggih

  2. sampai jilid 8 aja ga bs buka selanjutnya, mohon sedekahnya dan mohon pencerahanya gan

  3. sulit untk melangkah ke MAdBB 10 mohon bantuan ki nuwun

    gampang kok, tapi nunggu lusa (Jumat 25 april) nggih.
    he he he ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s