MAdBB-07


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 7

kembali | lanjut

cover madbb-07SEMENTARA itu, Jlitheng pun telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan selanjutnya. Ia sadar, bahwa untuk selanjutnya ia akan berhadapan dengan ketiga orang gegedug itu bersama-sama.

Ternyata pula, bahwa sejenak kemudian ketiga orang itu telah bersiap. Gegedug yang berwajah tampan, yang baru saja terbanting jatuh itu telah berusaha memperbaiki keadaannya. Namun dengan demikian dia sadar, bahwa yang dapat dilakukan itu bukannya satu kemenangan. Ternyata ia hanya dapat mengejutkan orang yang tidak dikenalnya itu. Tetapi selanjutnya, ia tidak dapat berbuat lebih banyak lagi.

Tetapi bertiga, maka ia mempunyai pertimbangan lain. Bagaimanapun juga, mereka bertiga adalah orang-orang yang ditakuti bukan saja di padukuhannya. Tetapi sampai kepadukuh-an sekitarnya. Tidak lebih dari enam orang yang mempunyai nama dan kedudukan seperti mereka. Jika tiga diantaranya telah bersedia bekerja bersama, maka mereka tentu akan merupakan kekuatan yang luar biasa.

“Orang ini memang luar biasa” ketiga gegedug itu mengakui di dalam hati. Tetapi mereka pun menganggap diri mereka luar biasa pula. Apalagi bertiga bersama-sama.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah melangkah maju mendekati Jlitheng dari arah yang berbeda. Mereka telah bersiap untuk menyerang dan kemudian menghancurkannya. Terhadap tetangga sendiri, mereka tidak memaafkan setiap yang dianggapnya salah. Apalagi terhadap orang lain. Maka mereka tidak akan mengenal belas kasihan.

Orang berwajah tampan itu tidak lagi nampak tersenyum-senyum. Wajahnya yang tampan itu bagaikan disaput oleh warna merah, sehingga wajah itu seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang kehausan melihat darah yang merah segar. Sementara isu ditanganinya telah tergenggam sebilah keris yang besar dan panjang,

Jlitheng berdiri tegak seperti batu karang yang tidak terguncang oleh badai dan prahara. Ia berusaha untuk dapat melihat dan mengerti apa yang akan diakukan oleh ketiga lawannya.

Sesaat kemudian, maka ia pun mulai bergeser ketika lawannya telah bersiap untuk menyerang. Sementara ia masih mendengar orang berwajah tampan itu menggeram, “Kau memang tidak tahu diri. Kau merasa bahwa yang kau lakukan itu dapat menakuti aku? Justru yang kau lakukan itu telah mendesakmu ke dalam keadaan yang paling gawat”

Jlitheng yang memang sudah marah tidak menunggu lebih lama lagi. Sebelum orang itu selesai berbicara, maka ia pun telah meloncat menyerang dengan kecepatan yang tidak kasat mata.

Serangan itu demikian tiba-tiba, sehingga orang berwajah tampan itu tidak menduga. Jika semula ia berhasil mengejutkan Jlitheng, namun ternyata kemudian, bahwa ia pun telah terkejut sekali mendapatkan serangan itu. Demikian cepat dan derasnya, sehingga orang berwajah tampan itu tidak mendapat kesempatan untuk mengelakkan diri.

Karena itu, maka dia pun telah berusaha menangkis serangan-serangan Jlitheng yang mengarah ke dadanya.

Namun ternyata sekali lagi, bahwa kekuatan Jlitheng tidak dapat diimbanginya. Dengan derasnya Jlitheng telah menyerang-nya pula. Tidak dengan senjatanya, tetapi dengan kakinya. Yang terjadi sekali lagi telah melemparkannya beberapa langkah surut dan bahkan kemudian orang berwajah tampan itu sekali lagi kehilangan keseimbangannya dan jatuh terlentang.

Tetapi Jlitheng tidak sempat memburunya. Kedua orang lawannya yang lain pun telah menyerangnya pula hampir bersamaan.

Dengan loncatan pendek Jlitheng dapat melepaskan diri dari garis serangan keduanya. Ia masih mampu mengambil jarak, dan dengan tangkasnya, ia telah membalas serangan itu dengan serangan mendatar mengarah ke lambung orang yang bertubuh agak pendek.

Tetapi gegedug bertubuh pendek itu sempat menggeliat, sehingga serangan Jlitheng tidak mengenai sasaran. Sementara Singkir yang sudah sempat beristirahat itu telah menyerangnya pula dengan sepenuh kemampuannya justru dengan senjatanya.

Namun Jlitheng pun masih sempat meloncat. Tetapi demikian kakinya menjejak tanah, maka ia pun telah melenting menyerang. Tidak menyerang orang bertubuh agak pendek, dan tidak pula menyerang Singkir, tetapi serangannya diluar dugaan telah menghantam orang berwajah tampan yang baru saja berhasil berdiri tegak itu dengan kakinya tidak dengan tajam senjatanya.

Orang itu belum bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang menghantam lambung, ia terpaksa sekali lagi tidak sempat untuk melindungi lambungnya.

Tetapi kekuatan kaki Jlitheng sekali lagi telah mendorongnya. Justru semakin keras, sehingga orang itu terpental beberapa langkah dan langsung terbanting jatuh di tanah.

Sambil menyeringai menahan sakit, orang itu mengumpat sejadi-jadinya, sementara kedua orang lawannya yang lain telah menyerang Jlitheng hampir bersamaan, meskipun anak muda itu masih sempat menghindarinya.

Pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang berwajah tampan itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Serangan-serangan Jlitheng berikutnya seolah olah selalu memburunya. Namun demikian kedua orang kawannya yang lain pun telah menjadi sasarannya pula.

Dalam pada itu orang yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Kawan Cempaka yang melibat Jlitheng marah itupun masih sempat memperhatikan, betapa Jlitheng masih berusaha menghindari pembunuhan. Pedang tipisnya seolah-olah tidak dipergunakan sepenuhnya, selain untuk menangkis dan melindungi dirinya dari senjata lawan-lawannya. Sementara itu ia lebih banyak mempergunakan kakinya untuk menghantam lawan-lawannya terutama yang berwajah tampan itu.

Jlitheng pun kemudian meloncat mundur. Ketiga orang lawannya memegang senjata yang berbeda-beda. Singkir yang bersenjata tombak berdiri dengan tegang memandang kawannya yang menggenggam keris yang besar dan panjang, ia sudah sering melihat orang berwajah tampan itu membawa kerisnya kesana-kemari dengan penuh kebanggaan. Iapun pernah melihat senjata itu dipergunakan. Tetapi kini ia harus bertempur bersama orang berwajah tampan itu. Sementara gegedug yang bertubuh pendek itu menggenggam golok yang besar dan berat

“Tidak ada ampun lagi bagimu orang yang tidak tahu diri” geram orang berwajah tampan itu.

Jlitheng memandang keris itu sejenak. Kemudian katanya, “Aku masih dapat menahan diri dengan tidak menyobek dadamu. Semula aku lelah cukup menyatakan bahwa aku bukan sekedar sebatang pohon pisang yang dapat kau perlakukan kehendakmu. Bahkan aku pun dengan bangga dapat menunjukkan, bahwa tenagaku, tanpa senjata ini, dapat merobohkan mu. Tetapi kini kita akan terlibat dalam perang senjata seperti dengan kawan-kawanmu. Bedanya orang-orang ini belum menyakitiku seperti yang kau lakukan dengan tiba-tiba tanpa peringatan apapun lebih dahulu” Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Kita sekarang sudah bersenjata semuanya. Pedangku tentu akan aku pergunakan sebaik-baiknya, tidak justru selalu menggangguku”

Kata-kata Jlitheng itu benar-benar mendebarkan jantung. Meskipun demikian ketiga orang itu tidak mengurungkan niatnya. Mereka mendesak maju dan bersiaga sepenuhnya.

Kawan Cempaka yang berdiri beberapa langkah dari arena itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu, karena ia sudah pernah melihat Jlitheng bertempur. Sebenarnya bertempur.

Sejenak kemudian, orang bersenjata keris itu telah meloncat menyerang dengan garangnya. Kerisnya yang besar dan panjang itu menebas langsung mengarah ke kening.

Jlitheng yang masih saja tersinggung karena serangan-serangan pertama orang itu yang berhasil menjatuhkannya, dengan sengaja tidak menghindar, ia ingin membenturkan pedang tipisnya dengan keris yang agaknya juga sebilah keris pusaka yang mempunyai nilai tinggi.

Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras antara pedang tipis Jlitheng dengan keris yang besar dan panjang itu. Demikian kerasnya sehingga bunga-bunga api berloncatan di udara, menebar seperti kunang-kunang kecil yang berterbangan.

Namun dalam pada itu, sekali lagi orang berwajah tampan itu terkejut. Benturan itu benar-benar telah menggetarkan jantungnya. Tangannya yang menggenggam keris itu menjadi pedih. Hampir saja kerisnya telah terlepas dari tangannya.

Dalam kesulitan itu, orang berwajah tampan itupun tidak dapat berbuat lain kecuali meloncat surut. Dalam pada itu ketika Jlitheng ingin memburunya, maka kedua orang lawannya yang lain pun telah meloncat menyerangnya hampir bersamaan.

Jlitheng masih sempat mengelak. Bahkan kemudian ia tidak ragu-ragu mempergunakan senjatanya, setelah ketiga orang lawannya menyerangnya dengan tiga pucuk senjata pala.

Sejenak kemudian pertempuran senjata pun telah berlangsung dengan sengitnya. Ketiga orang gegedug itu menyerang Jlitheng berganti-ganti, berurutan seperti banjir yang mengalir menghantam tebing. Namun kadang-kadang mereka bertiga bersama-sama menyerang dari arah yang berbeda, seolah-olah Jlitheng tidak akan dapat lagi lolos dari ketiga ujung senjata lawannya.

Namun ternyata Jlitheng benar-benar mampu bergerak seperti seekor burung sikatan. Ia masih selalu dapat menyusup diantara senjata lawannya. Bahkan sekali-kali ia dengan sengaja membenturkan senjatanya untuk mengguncang hati lawannya karena tangan mereka tentu akan terasa menjadi sakit

Betapapun juga Jlitheng berusaha untuk menguasai kemarahannya yang membakar jantung, namun melawan tiga senjata Jlitheng tidak dapat terlalu banyak menahan geraknya. Meskipun dalam kemarahan yang memuncak Jlitheng masih sadar, bahwa membunuh bukanlah tujuannya, namun ia pun tidak mau mati dihadapan para gegedug yang tidak tahu adat itu. Bahkan seandainya ia tidak mampu mengatasi lawannya maka orang yang dengan lemahnya bersandar dinding batu itu pun akan dicekik sampai mati pula, oleh gegedug-gegedug itu.

Karena itu, ketika ketiga orang lawannya bertempur semakin garang, maka Jlitheng pun harus mengimbanginya. Ia tidak mau berkisar menghindar, menangkis dan menyerang dengan hati-hati. Karena dengan demikian, maka semakin lama ia justru merasa semakin terdesak

Namun dalam pada itu, lawannya merasa benar-benar menguasai orang yang tidak mereka kenal itu. Keragu-raguan Jlitheng mempergunakan senjatanya, membuat lawannya semakin berbesar hati.

“Masalahnya adalah masalah seorang perempuan” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “Jika kemudian timbul kematian, apakah hal itu, sudah seimbang. Apakah justru, dengan demikian, sebuah nyawa akan menjadi sangat tidak berharga”

Jlitheng dapat menghargai kesetiaan cinta laki-laki terhadap seorang perempuan dan sebaliknya, yang bersedia mengorban-kan nyawanya. Tetapi tidak untuk seorang perempuan yang berdiri bertolak pinggang dengan wajah iblis itu.

Dengan demikian, maka kemarahan Jlitheng sebagian telah tertumpah kepada perempuan itu pula. Meskipun perempuan itu tidak ikut bertempur mengeroyoknya, tetapi ia justru merupakan sumber dari peristiwa yang keras, kasar dan liar itu.

Sejenak Jlitheng masih sekedar bertahan sambil membuat pertimbangan-pertimbangan yang paling baik menurut sikap dan pendiriannya.

Namun dalam pada itu, ketiga lawannya menyangka, bahwa Jlitheng benar-benar tidak mampu lagi berbuat sesuatu selain bertahan. Dengan demikian, maka orang berwajah tampan itupun berkata sambi tertawa, “Nah, sekarang kau mulai menyesal bahwa kau sudah mencampuri persoalan yang timbul di padukuhan iri. Karena itu, maka pergunakan saat-saat terakhir ini untuk memandang terangnya hari dan hijaunya dedaunan”

Kata-kata itu hampir tidak dapat diselesaikan. Jlitheng tiba-tiba saja dengan garang menyerangnya. Demikian cepatnya, sehingga orang berwajah tampan itu tidak sempat menghindar. Tetapi ia sempat menangkis dengan senjatanya.

Tetapi benturan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah membuat orang berwajah tampan itu terkejut. Sejenak ia kehilangan akal ketika terasa tangannya bergetar dan senjatanya tiba-tiba saja telah terlepas dari tangannya.

Untunglah bahwa kedua kawannya sempat menolongnya. Keduanya telah menyerang Jlitheng dari dua arah, sehingga Jlitheng harus menghindar sambil menangkis kedua serangan itu.

Orang berwajah tampan itu sempat mengambil senjatanya. Namun pada saat itu, Jlitheng telah menyerang kedua lawannya berturut-turut. Demikian cepatnya, sehingga keduanya berloncatan menghindar.

Pada saat itulah, Jlitheng yang marah itu telah menentukan sikap. Kemarahannya yang sebagian tertuju kepada perempuan itu, telah mendorongnya berbuat sesuatu.

Selagi ketiga lawannya berloncatan menghindari serangannya, maka tiba-tiba saja Jlitheng pun meloncat pula. Tidak memburu keduanya, tetapi ia telah meloncat kearah perempuan yang berdiri bertolak pinggang. Demikian cepatnya, sehingga tidak seorang pun mampu mencegahnya.

Jlitheng yang menganggap perempuan itu sebagai sumber bencana dan yang hampir saja membunuh suaminya, tiba-tiba saja telah menangkap perempuan itu. Dengan sekali renggut rambut perempuan itu terurai. Tidak ada waktu untuk berbuat sesuatu. Yang terjadi kemudian telah mencengkam ketegangan setiap orang yang. menyaksikan.

Sekejap kemudian perempuan itu telah memekik tinggi. Sejenak kemudian ia pun telah terduduk dengan lemahnya. Sementara ditangan Jlitheng tergenggam segenggam rambut perempuan yang telah dipotongnya dengan pedang tipisnya, hampir di kulit kepalanya.

Ketiga orang yang bertempur melawannya itu berdiri, termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa Jlitheng telah berbuat demikian. Karena itu, untuk sesaat mereka justru berdiri dalam kebingungan.

“Lihat” Jlitheng kemudian berkata lantang, “kalian telah dijerat oleh rambut yang panjang dan ikal dari seorang perempuan cantik. Tetapi perempuan ini berhati iblis. Ia telah menjerumuskan seorang gegedug yang ditakuti untuk membunuh seorang yang tidak berdaya sama sekali. Karena perempuan ini maka ia telah kehilangan sifat kemanusiaannya. Ia juga bukan lagi seorang laki-laki jantan. Kali ini ia, akan membunuh seorang yang tidak berdaya. Tetapi pada kesempatan lain, kalian akan bertempur dengan dahsyatnya memperebutkannya. Kalian, diantara laki-laki, terpilih dari padukuhan ini”

Sejenak ketiga laki-laki itu terdiam. Namun sejenak kemudian, Singkir yang merasa berhak atas perempuan itu menggeram dengan marahnya, “Anak setan. Kau, telah menghina kami”

“Bukan aku” sahut Jlitheng, “kalian telah” menghina martabat kalian sendiri”

“Bunuh orang itu” teriak yang agak pendek. Sementara yang berwajah tampan, yang telah menggenggam kerisnya kembali berkata diantara gemeretak giginya, “Kau memang harus mati”

“Bunuh orang gila itu” teriak perempuan yang, kehilangan rambutnya, “Bunuh orang dan bantai sampai lumat.

Singkir lah yang pertama-tama meloncat dengan penuh kemarahan. Tombaknya mematuk langsung ke arah jantung. Disusul dengan kedua orang kawannya dengan senjata masing-masing.

Tetapi Jlitheng pun telah bersiaga sepenuhnya. Ia sadar, bahwa yang dilakukan itu akan dapat membakar pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Namun ia. sudah sengaja melakukan-nya. Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya.

Karena itu, ketika serangan lawannya menjadi semakin dahsyat, maka perlawanan Jlitheng pun menjadi semakin garang pula. Ia tidak lagi menahan diri. Pedang tipisnya menyambar-nyambar diantara ayunan senjata lawannya. Semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian pedang tipisnya berhasil menyusup diantara senjata lawannya menyentuh kulit orang berwajah tampan itu.

Terdengar orang itu berdesah tertahan. Beberapa langkah ia meloncat mundur.

Namun dalam pada itu, orang bertubuh agak pendek itu pun telah menyeringai pula. Meskipun tidak terkoyak cukup dalam, namun pundaknya telah menitikkan darah pula.

Sejenak ketiga orang lawannya termangu-mangu, Singkir yang seakan-akan telah kehabisan tenaga, berusaha untuk menghentakkan sisa kemampuannya. Dengan tombaknya ia meloncat menyerang, selagi Jlitheng berusaha memburu laki-laki bertubuh agak pendek.

Namun malang bagi Singkir. Dengan sentuhan yang sederhana, tombaknya telah lepas dari sasaran. Bahkan dengan demikian dadanya telah terbuka. Sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, maka pedang Jlitheng telah tergores didadanya. Seleret luka melintang. Meskipun juga tidak begitu dalam namun luka itu telah membuatnya menjadi gugup.

Sesaat Jlitheng mempersiapkan serangan berikutnya, maka tiba-tiba saja ia tertegun. Ia mendengar kawan Cempaka yang oleh tetangga-tetangganya disebut Iblis bertangan Petir tertawa.

Orang-orang yang terlibat ke dalam pertempuran itu serentak berpaling kearah suara tertawa itu. Mereka melihat orang yang tertawa itu melangkah mendekati dua orang yang berdiri termangu-mangu.

“He, kalian mau apa?” bertanya orang yang tertawa itu.

Kedua orang itu menjadi tegang. Salah seorang dari kedua orang yang ternyata kakak beradik itu menjawab, “Tingkah orang yang tidak kita kenal itu telah menyinggung perasaan kami”

“Kalian mau ikut campur seperti mereka yang telah terluka itu?” desak kawan Cempaka.

“Persoalannya sudah menyangkut kami” jawab yang seorang lagi.

“Kenapa? Apakah kau mempunyai hubungan juga dengan perempuan itu?” bertanya kawan Cempaka itu pula.

“Tidak. Tetapi yang dilakukannya langsung atau tidak langsung akan mencemarkan wibawa kami. Jika kami tidak berhasil membunuh orang itu, maka nama kami akan direndahkan oleh orang-orang yang semula takut kepada kami”

Kawan Cempaka itu tertawa pula. Katanya, “Kalian akan menjadi lebih terhina lagi jika jumlah kalian menjadi semakin banyak, tetapi kalian tidak dapat mengalahkannya”

Kedua orang itu termangu-mangu. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu berkata selanjutnya, “Kau seharusnya melihat, bahwa orang itu tidak berusaha membunuh ketiga orang lawannya. Jika hal itu ingin dilakukan, maka ketiga orang itu sudah mati. Sementara kau berdua pun akan mati pula”

Kedua orang itu menjadi tegang, sementara Jlitheng masih berdiri tegak, meskipun ia selalu siap menghadapi segala kemungkinan.

“Karena itu, jangan ikut campur” berkata kawan Cempaka itu kemudian.

Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Sejenak mereka saling berpandangan. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu mengulangi, “Jangan ikut campur. Jika kalian memaksa, aku pun akan melibatkan diri. Aku tahu, kalian berdua adalah dua orang kakak beradik yang ditakuti. Seperti juga ketiga orang yang tidak berdaya itu. Tetapi kalian masih terlalu muda itu mati atau menjadi cacat. Tetapi jika kalian memaksa, lebih baik akulah yang melawanmu. Mungkin aku masih dapat bersikap lebih baik dari orang yang menyebut dirinya Bantaradi itu”

Kedua kakak beradik itu menjadi bingung. Tetapi ternyata bahwa orang yang menjadi anggauta kelompok Sanggar Gading itu memang disegani. Ternyata kedua orang itu mengurungkan niatnya dan melangkah surut.

Dalam pada itu, ketiga orang gegedug yang sudah terlanjur melawan Jlitheng dan yang telah dilukainya itupun menjadi ragu-ragu. Mereka kemudian melihat orang yang mereka sebut Iblis bertangan Petir itu melangkah mendekati arena. Sambil tertawa ia bertanya, “Bagaimana saudara-saudaraku, Apakah kalian masih ingin meyakinkan diri, apakah orang yang kalian hadapi itu akan mampu membunuh kalian? Jika demikian, agaknya akan terlambat. Karena dalam mati kalian tidak akan dapat melihat kematian kalian sendiri”

Ketiga orang yang sudah terluka itu termangu-mangu. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu melangkah semakin dekat. Iapun kemudian berdiri di sisi Jlitheng sambil berkata, “Orang ini adalah orang yang luar biasa. Tetapi ia membawa kebiasaan dan adat yang dikenalnya diluar padukuhan ini. Karena itu, ia telah mencampuri persoalan yang terjadi pada suami isteri itu. Meskipun demikian, maka baginya kepuasan bukanlah derita yang paling pahit bagi lawannya. Karena jitu ia tidak dengan sungguh-sungguh berusaha membunuh kalian. Atau membuat kalian cacat atau menderita lebih parah dari luka-luka yang tidak berarti”

Orang-orang yang sudah terlukai itu berdiri diam. Namun di dalam jantungnya berdeburan gejolak dan kegelisahan.

“Apakah kalian tidak percaya kepadaku?” bertanya orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu. Lalu, “Aku di padukuhan ini disebut Iblis bertangan Petir. Meskipun aku sendirilah mula-mula yang menyebut diriku sendiri demikian. Tetapi akhirnya kalian mengakui dan menyebutku demikian pula. Namun aku masih harus berpikir dua tiga kali untuk berani menghadapi Bantaradi”

Ketiga orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Dalam pada itu Iblis bertangan Petir itu berkata pula, “Pikirlah. Ada kesempatan bagi kalian untuk meninggalkan arena. Aku berdiri disini, sehingga orang yang tidak kalian kenal, tetapi aku kenal ini akan menyetujuinya”

Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun kemudian perlahan-lahan ketiganya hampir berbareng melangkah surut. Meskipun masih terbayang dendam di mata mereka, namun mereka harus melihat kenyataan yang telah terjadi dihadapan mereka.

Sementara itu, Singkir lah yang lebih dahulu meninggalkan arena. Ia segera masuk ke dalam regol rumahnya dan sekaligus melintang sehingga pintu regol itu tidak dapat dibuka lagi dari luar.

Dalam pada itu, perempuan yang rambutnya telah dirampas oleh Jlitheng itu tiba-tiba saja berdiri dan berlari ke regol. Tetapi regol sudah tertutup. Dengan sepenuh tenaganya ia meng-guncang regol itu sambil berteriak memanggil. Tetapi Singkir seolah-olah tidak mendengarnya lagi.

“Kakang, kakang” teriak perempuan itu, “bukakan pintu. Bukakan pintunya”

Betapapun ia mengetuk pintu itu dengan tinjunya, namun pintu itu seakan-akan tidak terdengar sama sekai.

Yang terdengar kemudian adalah suara tangis yang memekik. Perempuan itu menjatuhkan diri di muka pintu yang tertutup sambil menangis sejadi-jadinya.

Beberapa orang yang menyaksikan perempuan itu menangis tertegun sejenak. Perempuan cantik yang rambutnya telah terpotong oleh pedang Jlitheng itu menghentak-hentak pintu sejadi-jadinya. Tetapi pintu regol itu memang sudah tertutup rapat baginya.

Dalam pada itu, kedua orang lawan Jlitheng yang lain pun selangkah demi selangkah menjauhi arena. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu masih berdiri sambil memandangi keduanya berganti-ganti.

Ternyata peristiwa itu telah merubah kebiasaan yang berlaku di padukuhan itu. Orang-orang yang acuh tidak acuh, dan mereka yang saling tidak mempedulikan, tidak saling mencampuri persoalan orang lain meskipun akan mengancam jiwa seseorang, tiba-tiba saja telah saling melibatkan diri. Orang yang disebut Bantaradi itulah yang pertama-tama telah mencampuri persoalan orang lain. Tetapi iapun akan mampu mengatasi akibat yang kemudian timbul karenanya.

Sementara, itu, perempuan yang rambutnya telah terpotong itu masih menangis sejadi-jadinya. Tetapi seolah-olah tidak seorang pun yang menghiraukannya. Kedua orang yang bertempur bersama Singkir itupun akhirnya telah meninggalkan arena dan hilang di balik tikungan. Sementara orang-orang lain yang melihat peristiwa itu dari kejauhan pun telah menyingkir pula. Mereka takut menghadapi kemungkinan para gegedug yang dikalahkan dan bahkan terluka itu akan menumbuhkan kemarahannya kepada mereka yang tidak tahu menahu persoalannya.

Dalam pada itu, Iblis bertangan Petir itulah yang mendekati perempuan itu sambil berkata, “Nah, tidak ada kesulitan apapun juga untuk membunuhmu sekarang. Tidak ada seorang laki-laki pun yang bersedia menjadi pelindungmu. Lihat, suamimu sudah mulai bangkit. Ia akan mengambil parang dan kemudian menyobek lehermu. Kau akan mati dan terkapar di tengah jalan, sampai datang anjing-anjing liar untuk merobek kulit dan dagingmu”

“Jangan, jangan” teriak perempuan itu, “Jangan bunuh aku”

“Setiap orang mengalami ketakutan di saat-saat bahaya maut mengancamnya. Suamimu pun mengalami perasaan takut dan ngeri ketika kau berteriak-teriak agar laki-laki itu membunuh-nya” sahut Jlitheng.

“Tetapi jangan bunuh aku” perempuan itu masih menangis.

“Kematian biasanya memang tidak dikehendaki. Tetapi jika ia datang, sulit untuk dapat dihindari, “

Perempuan itu menangis semakin keras. Bahkan kemudian memekik-mekik. Beberapa orang yang sudah berada di balik pintu rumahnya, tidak dapat mencegah keinginan mereka untuk mengetahui apakah yang telah terjadi.

Namun ternyata mereka tidak melihat seseorang berbuat sesuatu atas perempuan itu. Yang mereka lihat adalah orang yang disebut Iblis bertangan Petir dan orang yang bernama Bantaradi itu berdiri tanpa berbuat apa-apa. Tetapi mereka tidak mendengar kata-kata yang telah diucapkan oleh orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu.

Namun, ternyata bahwa akhirnya hati Jlitheng menjadi cair juga melihat perempuan itu menjerit-jerit. Dengan nada yang merendah ia bertanya, “Kenapa kau menangis?”

Perempuan itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Seolah-olah orang yang disebut Bantaradi itu tidak melihat apa yang telah terjadi.

Namun dalam pada itu Jlitheng bertanya lebih lanjut, “Seharusnya kau menangisi keadaanmu. Bukan karena kau telah tidak dihiraukan lagi oleh orang di dalam regol itu, tetapi seharusnya kau menguasai sifat-sifatmu. Kau benar-benar seorang perempuan yang tidak berhati dan tidak berjantung. Kau sudah mempunyai seorang suami. Tetapi kau lari kepada laki-laki lain. Itu pun masih dapat dimengerti, karena mungkin kau memerlukan sesuatu yang tidak ada pada suamimu. Tetapi yang paling gila adalah pikiranmu untuk membunuh suamimu yang sudah tidak berdaya”

“Ia juga akan membunuhku” tangis perempuan itu.

“Itu karena kau akan meninggalkannya”

“Sebelumnya ia sudah berulang kali mengancam akan membunuhku. Ia terlalu kasar dan selalu menyakitiku setiap hari”

“Tetapi ia tidak benar-benar membunuhmu. Sedangkan kau benar-benar mendorong laki-laki yang tidak tahu diri itu untuk membunuh”

Perempuan itu menunduk dalam-dalam.

“Lihatlah masa lalumu. Yang cacat dan yang bernoda, ingat-ingatlah. Kau tidak akan mengulanginya lagi” Jlitheng berdesis sambil berpaling kepada laki-laki yang tersandar dinding, namun yang perlahan-lahan mulai mencoba untuk bangkit dan duduk dengan tegak.

“Ia mulai menyadari dirinya” berkata Jlitheng, “Yang baik, kenanglah agar kau dapat menemukan suasana itu kembali”

Perempuan itu memandang laki-laki yang mulai duduk sambil mengusap titik darah di mulutnya.

“Laki-laki itu adalah suamimu” berkata Jlitheng.

Perempuan itu masih termangu-mangu. Sementara Iblis bertangan Petir itu berdesis, “Tidak pernah terjadi peristiwa semacam ini sebelum kau menginjakkan kakimu disini Bantaradi”

“Kalian sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam adat dan kebiasaan yang buram” lalu katanya kepada perempuan itu, “He, apakah kau tidak ingat bahwa laki-laki itu adalah suamimu?. Suamimu yang kesakitan dan terlepas dari bahaya maut? Betapa buruknya laki-laki itu, tetapi tentu pernah terjadi suatu masa yang memberimu kebanggaan”

Perempuan itu masih termangu-mangu. Sementara Jlitheng berkata kepada laki-laki itu dengan lantang, “Terimalah perempuan itu kembali sebagai isterimu. Ia tetap cantik. Rambutnya akan segera tumbuh lagi. Tetapi sifat-sifat kalian pun harus berganti seperti rambut perempuan itu. Yang buruk harus kalian potong sampai ke pangkalnya. Carilah bentuk kehidupan yang baik”

Laki-laki itu termangu-mangu. Namun perempuan yang menangis itu tiba-tiba saja bangkit sambil berkata, “Apakah aku dapat kembali kepadanya?”

Jlitheng memandang perempuan itu sejenak. Kemudian iapun berpaling kepada laki-laki yang mulai dapat duduk dengan tegak itu. Katanya, “He, bukankah kau mengerti maksudku?”

Laki-laki itu memandang Jlitheng sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk.

“Nah” berkata Jlitheng, “kalian adalah penganten baru. Kalian harus mulai dengan kehidupan yang lain dari yang pernah kalian lakukan”

Perempuan itu menunduk. Namun ia pun kemudian melangkah mendekati suaminya. Perlahan-lahan dan ragu-ragu ia berjongkok disampingnya. Namun kemudian iapun mencoba membantu laki-laki itu berdiri.

Dengan susah payah laki-laki itu berdiri berpegangan tangan isterinya. Kemudian mereka pun melangkah selangkah demi selangkah kembali ke rumah mereka. Perlahan-lahan sekali, karena suami itu masih terlalu lemah.

Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa melihat kedua orang itu. Kemudian dengan nada datar ia berkata kepada Jlitheng, “Kau memang orang luar biasa. Kau dapat mengalahkan tiga orang gegedug yang tidak ada bandingannya di daerah ini meskipun mereka bertempur bersama-sama”

Jlitheng tersenyum sambil bertanya, “Bagaimana dengan kau?”

“Aku termasuk salah seorang yang disegani. Tetapi tentu tidak untuk melawan tiga orang sekaligus. Mungkin aku masih bersedia mencoba untuk melawan dua orang. Tidak lebih”

Jlitheng tertawa. Katanya, “Kau selalu merendahkan dirimu”

“Sifatmu itulah yang meragukan” tiba-tiba, saja orang itu berkata dengan sungguh-sungguh.

Jlitheng terkejut, sehingga iapun bertanya, “Apa yang meragukan padaku?”

“Kau tidak sesuai bekerja bersama orang-orang Sanggar Gading. Kau terlalu baik hati. Itulah yang sejak semula menjadi persoalan bagi kami. Di perjalanan, ketika kau membantu Cempaka bertempur, sebenarnya kau dapat membunuh lawanmu. Tetapi itu tidak kau lakukan. Kau biarkan beberapa orang itu melarikan diri. Sekarang, dugaan itu semakin jelas. Seharusnya kau bunuh ketiga orang itu sekaligus dan kau ambil perempuan itu, meskipun kelak akan kau lemparkan kembali”

Wajah Jlitheng menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Kau juga hidup dalam dunia yang hitam itu?”

Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Sanggar Gading adalah tempat orang-orang yang bertindak dengan tegas tanpa ampun. Jika kami masih dihinggapi rasa ragu-ragu, maka tugas kami tidak akan selesai”

“Tetapi sikapmu dalam persoalan perempuan ini meragukan. Kau tidak tegas-tegas mengatakan, bahwa mereka harus mati. Justru kata-katamu agak miring pula bagiku” desis Jlitheng.

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku sudah terpengaruh oleh sikapmu Biasanya sikap yang baik itu tidak mudah menjalar. Tetapi sifat-sifat buruk dengan cepatnya merambat dari satu orang kepada orang lain”

“Kau sadari keadaanmu sepenuhnya”

Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Jangan mengira bahwa aku tidak mengerti buruk dan baik. Jangan menganggap aku orang yang tidak mengenal batas-batas kehidupan”

“Jadi apa yang sudah kau lakukan selama ini?”

“Aku sudah memilih. Dan aku mengerti, bahwa yang aku lakukan itu tidak disukai oleh banyak orang, karena mereka menganggap bahwa yang aku lakukan bukanlah yang baik. Aku dan orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang yang tetap pada pendirian dan sikap. Tegas dalam perbuatan dan tidak pernah ragu-ragu. Apakah ia akan membunuh atau akan melakukan perbuatan-perbuatan lain, apakah perbuatan itu haik atau buruk”

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia sudah melakukan kesalahan, justru karena ia berhasil menolong seseorang dan karena ia telah mengembalikan perempuan yang hilang itu kepada suaminya,

“Ki Sanak” berkata orang itu kemudian, “Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading mempunyai penilaian lain terhadapmu dengan penilaian mereka terhadap orang-orang Sanggar Gading sendiri. Mudah-mudahan kebaikan dan keragu-raguanmu tidak menumbuhkan persoalan tersendiri di kalangan kami, seperti kau sudah menumbuhkan persoalan baru bagi orang-orang padukuhan ini”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Betapa dadanya terasa bergejolak, namun ia masih berusaha menjaga perasaannya.

“Ki Sanak” berkata Jlitheng kemudian, “perbuatan itu bukan ukuran. Yang aku lakukan adalah bukan persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Sanggar Gading. Aku tidak tahu, apakah orang-orang Sanggar Gading menganggap aku seorang yang ragu-ragu atau orang yang tidak bersikap, tetapi ajakan Cempaka telah menarik perhatianku. Dalam keadaan yang gawat, aku pun tidak akan sempat berpikir panjang dan ragu-ragu”

Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa. Katanya, “Marilah. Singgahlah di rumahku barang sejenak. Kita akan bersama-sama pergi ke Sanggar Gading”

Jlitheng menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapakah namamu. Apakah aku juga harus memanggilmu Iblis bertangan Petir?”

Orang itu tertawa pula. Jawabnya, “Namaku Rahu. Aku tidak tahu kenapa orang tuaku menamakan aku Rahu. Nama yang kurang aku senangi. Karena itu, aku memakai gelar atas keinginanku sendiri Iblis bertangan Petir”

“Kau tahu gambaran orang tentang iblis?” bertanya Jlitheng.

“Tahu pasti. Dan itulah yang aku kehendaki”

“Kau suka menakut-nakuti orang lain. Namamu memang menakutkan, seolah-olah kau adalah mahluk yang luar biasa. Yang mempunyai kekuasaan tanpa banding, sementara dari tanganku dapat menjulur lidah api”

Rahu, yang disebut iblis bertangan Petir itu tertawa semakin lama justru menjadi semakin keras.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya Jlitheng.

“Menarik sekali. Mungkin kau benar. Aku ingin membuat kesan, seakan-akan diriku adalah orang yang paling berkuasa, menakutkan dan mampu melepaskan lidah api dari tanganku” ia berhenti sejenak, lalu, “Kau memang lucu. Tetapi jangan terlalu keras. Meskipun orang-orang yang menonton pertunjukan ulangan dengan kedua suami isteri itu sebagai pusat perhatian telah pergi, tetapi jika masih ada yang mendengar kata-katamu itu, maka nilai dari gelar itu akan susut”

“Apakah mula-mula orang di padukuhan ini percaya, bahwa kau mendapat gelar itu karena sesuatu kelebihan yang ada padamu?”

“Ya. Dan sampai sekarang mereka menganggap aku orang yang memiliki kelebihan di padukuhan ini sesuai dengan namaku”

Jlitheng lah yang kemudian tertawa. Katanya, “Apakah aku perlu membuat nama yang lebih mengerikan dari namamu?”

Iblis bertangan Petir itu tertawa semakin keras. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ketika suara tertawanya sudah mereda ia berkata, “Marilah ke rumahku. Besok kita melanjutkan tugas kita yang lebih berarti daripada permainan gila ini”

“Besok kita pergi ke Sanggar Gading?” bertanya Jlitheng.

“Ya. Besok kita akan berkumpul untuk menentukan saat-saat yang gawat. Semua harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Kewajiban yang akan kita lakukan adalah kewajiban yang lain dari yang pernah kira lakukan sebelumnya”

“Apa sebenarnya yang akan kita lakukan besok?” bertanya Jlitheng tiba-tiba.

“Kau sudah membuat dua kesalahan. Kau sudah membuat orang-orang Sanggar Gading menjadi ragu-ragu” sahut Rahu.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Terlalu dicari-cari. Aku tahu bahwa aku telah salah ucap. Tetapi itu adalah dorongan sifat ingin tahu seseorang. Karena itu, tiba-tiba saja aku bertanya tugas kita besok, yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Sedang kesalahanku yang lain sudah kau katakan, aku tidak membunuh orang-orang yang dapat aku bunuh. Agak berbeda dengan yang aku katakan pertama. Ketegasan memang tidak sama dengan pembunuhan”

“Disinilah letaknya. Bukan pada perbuatan tidak membunuh itu sendiri. Tetapi pada sikap dan pendirianmu yang goyah”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Terserah kepadamu. Kau dapat mengatakan apa saja besok kepada pimpinan Sanggar Gading tentang aku. Kau tentu lebih dipercaya dari aku. Karena itu, kau dapat membuat aku menjadi hitam atau merah”

Rahu yang disebut Iblis bertangan Petir tertawa pula. Katanya, “Jangan merajuk. Sifat-sifatmu menarik perhatian. Disamping meragukan, kau terbuka dan berani. Karena itu maka agaknya kau masih mempunyai kesempatan”

Jlitheng pun kemudian tertawa. Katanya, “Aku tidak tahu, apakah aku akan dapat mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya”

“Marilah” potong Rahu itu kemudian, “Kau tentu ingin melihat rumahku. Kau perlu minum dan makan. Nanti malam kau akan tidur nyenyak. Kau tidak usah curiga, bahwa nanti malam perutmu akan ditusuk dengan parang selagi kau tidur”

Jlitheng tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau memang suka menakut-nakuti orang. Bukan saja dengan pilihan namamu yang mengerikan itu, Tetapi dalam kelakar pun kau adalah seorang yang tepat dalam kedudukanmu”

“Apa kedudukanku?”

Jlitheng terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun ia pun kemudian menjawab, “Bukankah kau orang Sanggar Gading.

“Ya. Lalu apa artinya jika aku orang Sanggar Gading dengan kedudukan yang kau maksud?”

“Tidak apa-apa” jawab Jlitheng.

Tetapi orang itu berkata, “Aku tahu. Kau menganggap namaku sesuai dengan kedudukanku yang kau sangka tentu seorang penjahat, seorang perampok, penyamun dan sebangsanya seperti orang-orang Kendali Putih atau orang-orang Pusparuri”

“Jika dugaanmu benar, maka akulah yang akan bertanya, apakah orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri masih sempat juga melakukan hal seperti itu”

“Betapa mereka mencuci tangan mereka, tetapi mereka sudah melakukan kejahatan seperti itu”

“Dan orang-orang Sanggar Gading?” potong Jlitheng.

Rahu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Orang-orang Sanggar Gading tidak melakukannya. Kami adalah kelompok orang-orang bercita-cita”

“Tetapi dari mana orang-orang Sanggar Gading memenuhi kebutuhan hidup mereka”

“Kau semakin mencurigakan bagiku, Tetapi seperti yang aku katakan, kau masih mempunyai kesempatan. Tetapi jika kecurigaanku semakin bertambah, mungkin aku akan bersikap lain”

“Apa yang akan kau lakukan? Kau mengakui seperti yang kau katakan sendiri, bahwa kau tidak mempunyai kemampuan seperti yang aku miliki”

“Kau bukan saja mencurigakan, tetapi juga sombong” Rahu berhenti sejenak, lalu, “Marilah. Singgah di pondokku”

Jlitheng tidak menjawab. Ia pun kemudian mengikuti Rahu yang bergelar Iblis bertangan Petir itu ke pondoknya. Sebuah pondok yang cukup besar terletak di ujung padukuhan agak menjorok keluar, seakan-akan merupakan halaman yang menempel pada sebuah padukuhan induk.

Ketika Jlitheng masuk ke dalam pondok itu, ia mendapat kesan yang aneh. Pondok itu, termasuk pondok yang bersih dan terawat. Meskipun tidak memiliki perabot yang baik dan bernilai tinggi, namun pondok itu memberikan kesan yang menyenang-kan.

Jlitheng yang sedang memandangi keadaan sekelilingnya dengan ragu-ragu terkejut ketika ia mendengar Rahu bertanya

“Apa yang kau perhatikan di dalam rumah yang kosong ini?”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian Tidak apa-apa. Aku biasa berusaha mengenal sesuatu yang baru pertama kali aku lihat. Bukan saja rumah ini, tetapi juga padukuhan ini”

“Barangkali kau sedang memperhitungkan kemungkinan, lewat pintu mana kau akan melarikan diri jika kau terjebak di dalam rumah ini” berkata Rahu pula.

Jlitheng tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

“Duduklah. Yang ada hanyalah amben bambu” Iblis bertangan Petir itu mempersilahkan.

Jlitheng pun kemudian duduk di amben bambu yang besar. Sementara Rahu berkata, “Aku akan menjamumu sebelum besok kita bersama-sama pergi ke Padepokan Sanggar Gading. Jangan takut, kudamu pun tidak akan kekurangan makan. Disini banyak rumput yang hijau segar. Orangku akan menyabit rumput buat kudamu melebihi kudaku sendiri.

Jlitheng tidak menjawab. Ketika Rahu masuk ke ruang dalam, maka ia pun sekali lagi memperhatikan ruangan itu dengan saksama.

Ruangan itu nampak bersih. Tidak ada sarang laba-laba di sudut-sudutnya. Dindingnya pun nampak terawat, sementara diatas amben bambu itu terbentang selembar tikar yang putih.

Lantai tanah di bawah amben itu sudah mengeras. Agaknya setiap hari lantai itu disiram dengan air, dan kemudian di sapunya hingga bersih. Di sudut nampak sebuah geledeg kecil dengan sebuah ajug-ajug disampingnya. Cangkul, parang kapak dan beberapa jenis alat pertanian tersimpan dengan rapi di geledeg itu.

Jlitheng semakin angin mengetahui lebih banyak dari pondok yang termasuk agak besar di padukuhan itu.

Sejenak ia berdiri di pintu yang menyekat ruangan itu dengan sebuah pendapa kecil di bagian depan. Pendapa yang kosong itu pun nampak bersih. Lantainya gilar-gilar seperti juga halamannya

Ternyata Jlitheng mempunyai gambaran yang keliru tentang orang-orang Sanggar Gading. Agaknya orang-orang Sanggar Gading memang berbeda dengan orang-orang Kendali Putih dan Pusparuri.

“Tetapi aku mungkin akan salah pula menilai orang-orang Kendali Putih, Pusparuri dan mungkin padepokan-padepokan yang lain lagi” berkata Jlitheng di dalam hati.

Jlitheng berpaling ketika ia mendengar langkah dari ruang belakang lewat pintu samping. Dilihatnya Rahu datang membawa dua mangkuk minuman.

“Kenapa kau berdiri disitu?” Ia bertanya.

“Rumahmu memang menarik. Bersih meskipun sederhana. Halamanmu cukup luas meskipun pendapamu termasuk kecil”

Rahu tertawa. Katanya, “Adikku tidak mempunyai pekerjaan apapun juga kecuali mengurusi sawah. Di saat-saat senggang, ia sibuk dengan rumah ini. Halamannya, pendapa kecil itu, ruang ini dan seolah-olah ia mengisi kejemuannya dengan kerja-kerja kecil yang tidak berarti” Rahu berhenti sejenak, lalu sambil tersenyum ia berkata, “hanya di hari-hari terakhir ia mempunyai kerja sambilan. Jika aku tidak berada di gardu itu, maka adikku itulah yang berada di gardu itu”

“Apakah, adikmu juga disegani orang disini?” bertanya Jlitheng.

“Adikku seorang anak yang dungu. Tetapi kadang-kadang ia dapat juga berbuat kasar sehingga orang-orang lain harus berpikir untuk mengganggunya”

Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara Rahu duduk di amben sambil meletakkan mangkuknya, “Minumlah. Air legen”

Jlitheng. termangu-mangu. Ketika ia pun kemudian duduk pula, dipandanginya air legen di dalam mangkuk itu.

“Air legen baru. Bukan air legen yang sudah menjadi tuak dan dapat membuatmu mabuk” berkata Rahu sambil tertawa. Katanya selanjutnya, “kau mencurigai segala-galanya. Rumah ini, halaman, legen dan barangkali jika aku menjamumu makan, kau akan menunggu aku makan lebih dahulu”

“Kau yang mencurigai aku, sehingga apapun yang aku lakukan kau sangka menyelidikinya” sahut Jlitheng.

Rahu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Sudah aku katakan. Aku memang mencurigaimu. Sikapmu terlalu baik dan pernyataan-pernyataanmu terdengar aneh dan mengarah”

“Kau kira aku tidak curiga terhadapmu? Kau kira kau dapat meyakinkan aku?” sahut Jlitheng.

“He” Rahu terkejut, “Kau tidak dapat mencurigai aku. Orang-orang Sanggar Gading percaya sepenuhnya kepadaku. Bagaimana mungkin kau mencurigai aku?”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Sambil memandang berkeliling ia kemudian berkata, “Rumahmu terawat baik dan terlalu bersih buatmu, “

“O” Rahu tertawa semakin keras. Katanya, “Aku mengerti. Kau masih saja menganggap aku seorang penjahat yang kotor, kasar dan liar. Seharusnya rumahku adalah rumah yang berserakan, penuh dengan berjenis-jenis senjata pembunuh. Debu yang melekat di setiap perabot dan sarang laba-laba yang bergayutan di setiap sudut”

Jlitheng mengangguk sambil menjawab, “Sebenarnya begitu. Aku tidak akan ingkar. Tetapi yang aku lihat justru berbeda sekali”

“Kau harus yakin, bahwa Sanggar Gading bukan sarang penjahat. Kita adalah orang yang bercita-cita meskipun untuk mencapai cita-cita itu kita kadang-kadang harus membunuh” desis Rahu bersungguh-sungguh.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Perbedaannya hanya pada tingkat dan landasan. Tetapi baiklah, aku tidak akan bertanya lebih banyak lagi, sehingga akan dapat menambah kecurigaanmu saja”

“Sekarang minumlah” Rahu mempersilahkan.

Jlitheng memandang Rahu yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itu sejenak. Namun kemudian diangkatnya mangkuk berisi legen itu dan oleh perasaan haus, maka legen itupun diminumnya seteguk demi seteguk, sehingga hampir separo telah dihabiskannya.

Rahu yang kemudian duduk pula disamping Jlitheng itu pun berkata, “Istirahatlah sebaik-baiknya disini. Besok kita akan memasuki Sanggar Gading. Mungkin kau belum mengenal sikap dan sifat orang-orang Sanggar Gading terhadap orang-orang yang baru dikenalnya. Mereka membenci orang-orang yang lemah dan berjiwa kerdil. Mereka membenci keragu-raguan. Dan mereka pun mempunyai ukuran bagi pendatang-pendatang di padepokan kami”

“Apa yang kau maksud?” bertanya Jlitheng.

“Beberapa orang kadang-kadang tidak yakin akan kemampuan orang-orang baru yang datang ke padepokannya. Ada semacam keinginan untuk menjajagi mereka yang baru dikenal itu”

“Apakah itu akan berlaku juga terhadapku?” bertanya Jlitheng.

“Mungkin sekali” jawab Rahu.

“Cempaka dan kau pernah melihat, bahwa aku mempunyai kemampuan yang cukup” berkata Jlitheng kemudian.

“Aku dan Cempaka yang sudah melihatnya. Tetapi yang lain belum. Aku tidak tahu, apakah Cempaka pernah mengatakan kepada mereka, bahwa kau mempunyai beberapa kelebihan. Tetapi jika ia tidak mengatakan apa-apa, maka kau akan mengalami”

Jlitheng tertawa Katanya, “Apapun yang akan aku alami, aku tidak peduli Aku adalah seorang petualang yang menyenangi pengalaman, yang aneh-aneh di dalam hidup ini. Tetapi yang perlu kalian ketahui, aku tidak ingin bergabung dengan orang-orang Sanggar Gading. Jika aku datang maka aku adalah Bantaradi. Aku yang tetap berdiri atas kehendak dan kepribadianku sendiri”

Rahu tertawa. Katanya, “Kau benar-benar orang aneh. Sombong, tetapi ragu”

Jlitheng tertawa pula. Jawabnya, “Kau mempunyai penilaian yang salah terhadapku. He, apakah kau juga ingin menjajagi kemampuanku”

“Sebenarnya begitu. Aku ingin melakukannya. Tetapi diluar rencanaku, aku sudah menyaksikan lebih jelas dan meyakinkan dari yang aku lihat di malam hari itu. Kau sudah melawan tiga orang gegedug di padukuhan ini, meskipun dengan penuh keragu-raguan”

“Karena sumber persoalannya adalah seorang perempuan” jawab Jlitheng.

Pembicaraan mereka terputus, ketika seorang laki-laki muda masuk lewat pintu butulan. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, berdada bidang dan berpandangan sangat tajam.

“Ini adikku” berkata Rahu sambil menunjuk anak muda yang berhenti sebentar, mengangguk sambil tersenyum. Namun kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah bilik di ruang dalam itu.

“Luar biasa” desis Jlitheng, “adikmu mempunyai tubuh seorang raksasa. Wajahnya mempunyai kesan tersendiri, ia tentu seorang yang cukup cerdas”

“Kau memuji. Tetapi aku kira ia tidak lebih muda dari kau sendiri Bantaradi?”

Jlitheng menarik nafas sambil memandang pintu bilik yang masih terbuka. Tetapi ia tidak melihat anak muda bertubuh raksasa itu.

“Apakah adikmu juga mempunyai sangkut paut dengan orang-orang Sanggar Gading?” bertanya Jlitheng.

“Sudah tentu. Tetapi tidak langsung. Orang-orang Sanggar Gading mempunyai ikatan yang sangat ketat, sehingga tidak seorang pun diantara kami yang dapat melepaskan diri dari ikatan, apabila kami sudah memasukinya, maka adikku pun telah terpercik pula pengamatan yang ketat, sehingga ia tidak akan dapat membocorkan rahasia yang diketahuinya, karena ia adalah adikku”

“Siapakah yang dapat mengawasinya? Ia berada di tempat yang terpisah dari padepokan Sanggar Gading”

“Aku adalah pengawasnya yang paling cermat”

Jlitheng mengerutkan keningnya sejenak. Lalu, “Keluarga ini memang aneh. He, apakah kau mempunyai anak isteri?”

“Tidak. Aku tidak mempunyai keluarga lain kecuali adikku”

“Ia tidak pantas menjadi adikmu”

Sebelum Jlitheng melanjutkan, Rahu telah memotongnya, “Kau mulai curiga lagi. Kau dapat berbicara tentang apa saja. Tentang kebiasaanku, tentang rumahku dan tentang adikku. Tetapi jika hal itu kau katakan diantara orang-orang Sanggar Gading yang tidak pernah menghiraukan hal itu, mereka akan mulai berpikir. Mereka akan mulai mencari-cari sebab dan mereka akan mencurigaiku lebih dari kecurigaanmu”

“Apakah ini satu permintaan?” bertanya Jlitheng.

“Tidak. Seperti kau juga tidak minta agar aku tidak mengata-kan kecurigaan-kecurigaanku terhadapmu. Kau menyerahkan hal itu kepadaku. Aku pun tidak akan mencegah apa yang akan kau katakan kepada orang-orang lain di Sanggar Gading itu”

Jlitheng tertawa berkepanjangan. Bahkan ia pun kemudian berdiri dan melangkah mondar mandir. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat adik Rahu itu keluar dari biliknya dan berdiri di muka pintu setelah sekali lagi ia mengangguk hormat.

“Siapakah namamu?” bertanya Jlitheng kepada adik Rahu itu.

Anak muda itu memandang kakaknya sejenak. Ketika kakaknya mengangguk iapun menjawab, “Namaku Rahsa Semi”

“He, “ Jlitheng mengerutkan keningnya, “Rahsa Semi. Nama yang aneh”

Sekali lagi Rahu memotong, “Jauh berbeda dengan namaku. Dan kau mencurigainya lagi. Tetapi aku dapat menjelaskan, orang tuaku memang sesukanya saja mengambil nama tanpa pertimbangan-pertimbangan apapun juga. Dan nama itu memang aneh-aneh, seperti namaku juga. Sehingga aku lebih senang memakai nama yang lain”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian ter senyum. Katanya, “Nama yang bagus sekali”

Tetapi Rahu masih saja berkata, “Apapun dapat kau curigai disini. Nama, keadaan. dan isi rumah, sikap dan kenapa kau tidak, mempersoalkan, kenapa adikku bertubuh tinggi besar melampaui kebanyakan orang, sementara aku sendiri tidak?”

Jlitheng tertawa. Ia melihat adik Rahu yang bernama Rahsa Semi itu juga tersenyum. Namun ia pun kemudian berkata, “Maaf, aku harus pergi ke sawah”

Ketika anak muda bertubuh raksasa itu telah keluar dari ruangan, maka Jlitheng pun berkata, “Bukan mencurigai, tetapi aku benar-benar heran melihat sikap adikmu. Ia adalah anak muda yang sopan. Jauh berbeda dengan isi padukuhan ini dalam keseluruhan, termasuk kau sendiri”

Rahu akan menjawab. Tetapi ia sudah tertawa lebih dahulu. Di sela-sela tertawanya ia berkata, “Baiklah, apapun nampak aneh dalam pandangan matamu. Sekarang, lupakan semuanya. Kau adalah tamuku. Besok kita akan bersama-sama pergi ke padepokan Sanggar Gading. Tetapi sebelum kau terperosok ke dalamnya, biarlah aku memberi tahukan kepadamu, bahwa orang-orang yang sudah ada di dalam dinding padepokan, sukar untuk dapat keluar lagi”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Aku seorang petualang. Aku sudah banyak dan masih selalu ingin mengalami peristiwa yang dapat mengisi hidup ini dengan pengalaman-pengalaman yang menarik”

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Jika kau merasa letih, beristirahatlah. Marilah, aku tunjukkan bilik untukmu”

Jlitheng tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti Rahu ke gandok sebelah kiri, yang disekat oleh sebuah longkangan kecil dengan rumah induk.

“Beristirahatlah. Nanti, saatnya makan, kau akan aku beritahu. Sekarang biarlah aku menyediakannya untukmu. Adikku tentu sudah masak” berkata Rahu.

“Ternyata adikmu orang luar biasa. Ia pandai juga masak, selain agaknya pandai juga dalam olah senjata” sahut Jlitheng.

“Kami hanya berdua. Kami harus dapat melakukan apa saja. Sementara aku lebih banyak berada di padepokan Sanggar Gading daripada di rumah ini” jawab Rahu, lalu, “Beristirahatlah. Aku pun akan beristirahat setelah melakukan kerja yang sangat menjemukan. Menunggumu di gardu itu”

Ketika Rahu kemudian meninggalkan Jlitheng seorang diri, maka Jlitheng pun mulai melihat-lihat isi bilik yang diperuntuk-kan baginya. Ia masih saja merasa heran, bahwa rumah itu nampak bersih dan teratur. Perabot-perabotnya nampak terawat dan mapan. Ia sama sekali telah membuat bayangan yang salah tentang orang yang bernama Rahu itu. Ketika orang itu mengajaknya singgah, maka yang terbayang adalah sebuah rumah yang kotor dam perabot yang kasar, serta berbagai macam senjata melekat di dinding silang melintang.

Tetapi yang dijumpainya adalah rumah yang lain sama sekali.

“Rumah ini benar-benar mencurigakan” katanya di dalam hati adiknya pun mencurigakan. Kecuali nama maka kedua orang itu sama sekali tidak mempunyai persamaan ujud dan bentuk”

Namun akhirnya Jlitheng tidak menghiraukannya lagi. Ia memang merasa lelah, setelah bertempur melawan tiga orang yang dianggap orang-orang terbaik dari padukuhan yang aneh itu.

Karena itu, maka ia pun kemudian melepas pedangnya dan meletakkan di pembaringan ketika ia pun kemudian berbaring juga. Tetapi Jlitheng sama sekali tidak ingin tidur. Ia merasa tempat itu sebagai tempat yang aneh. Tempat yang nyaman, tenang dan sejuk, tetapi justru karena itu, tempat itu merupakan tempat yang mencurigakan.

Untuk beberapa saat Jlitheng berbaring diam. Namun angan-angannya sajalah yang mengembara ke tempat yang jauh. Kadang-kadang kembali ke Bukit Gundul yang selalu diawasi oleh Daruwerdi. Bukit berhutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak perempuannya. Seorang gadis yang aneh juga menurut pandangan Jlitheng. Seorang gadis yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang dapat mengimbangi ilmunya sendiri.

“Mungkin akulah yang masih jauh ketinggalan dari antara orang-orang yang disebut berilmu” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “karena itu, agaknya bekalku masih kurang sekali untuk melakukan tugas yang berat ini”

Kebanggaan-kebanggaan kecil dari kemenangan-kemenangan-nya atas orang-orang yang tidak berarti, tidak dapat memberinya takaran tentang kemampuannya. Orang-orang Kendali Putih, orang-orang padukuhan itu, dan mungkin beberapa orang yang lain justru akan dapat memberikan takaran semu tentang dirinya sendiri.

Diluar sadarnya, Jlitheng meraba ikat pinggangnya. Ia mempunyai sejenis senjata yang dapat dipergunakannya untuk melindungi dirinya jika ia terpaksa melawan beberapa orang sekaligus. Paser-paser kecil yang dibawanya itu mempunyai arti tersendiri baginya, disamping pedang tipisnya yang mempunyai kemampuan tidak kalah dengan segala jenis pedang. Bukan saja tajamnya yang mampu menebas putus kapas yang mengapung di udara dengan ayunan lamban, tetapi pedang itu juga merupakan pedang yang kuat sekali.

“Aku akan memasuki daerah pengalaman yang mendebarkan” berkata Jlitheng kemudian, “Tetapi aku tidak boleh melepaskan kesempatan ini. Mungkin jalan ini akan membawa aku kembali ke bukit gundul itu, dan menghadapi persoalan-persoalan baru yang mendebarkan, tetapi yang dapat memberikan jalan menuju ke sasaran”

Jlitheng bangkit dan duduk di bibir ambennya ketika ia mendengar langkah mendekati pintu. Ketika kemudian pintu bergerit, dilihatnya Rahu berdiri sambil tersenyum. Katanya, “Makanlah. Jangan takut bahwa aku akan meracunmu”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia membenahi pakaiannya, ikat kepalanya dan dipungutnya pedangnya dan dikenakannya di lambungnya.

“Kau seperti akan berangkat ke medan perang” berkata Rahu.

“Inilah sikap seorang petualang sejati” jawab Jlitheng

Rahu tertawa. Dipandanginya Jlitheng dari ujung kakinya sampai ke ujung ikat kepalanya. Katanya, “Kau seorang petualang sejati. Seorang petualang yang sangat berhati-hati menghadapi keadaan yang tidak kau kenal dengan baik”

“Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa aku seorang pengecut?” bertanya Jlitheng.

Rahu tertawa semakin keras. Jawabnya, “Kau mudah tersinggung. Seorang yang senang berkelakar tidak boleh mudah tersinggung. Ada bedanya antara seorang pengecut, seorang penakut dan seorang yang berhati-hati. Dan kau termasuk orang yang sangat berhati-hati. Bukan seorang pengecut atau penakut”

Jlitheng tidak menjawab. Tetapi iapun tersenyum pula.

“Marilah. Adikku lah yang masak hari ini Aku hanya menyiapkan saja di amben dalam”

Jlitheng yang dikenal oleh Rahu bernama Bantaradi itupun kemudian mengikutinya melintasi longkangan sempit menuju ke ruang dalam.

Diatas sebuah amben yang lebar telah terhidang nasi dan lauk pauknya. Di dalam sebuah tenong yang tidak begitu berat terdapat berbagai macam lauk kering. Ikan air yang digoreng dengan tepung beras. Kacang dan kedele hitam. Sedang di dalam mangkuk terdapat sayur basah kacang panjang dan seonggok kulupan dedaunan.

“Makanlah. Adikku yang tidak setiap hari dapat masak, telah menyediakan lauk yang dapat disimpan sampai sepekan” berkata Rahu sambil menunjuk tenangnya.

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia tidak mau mengecewakan Rahu. Karena itu, maka ia pun makan seperti Rahu. Lahap sekali. Apalagi ketika Rahu kemudian berkata, “Jika kau ragu-ragu, biarlah aku mengambil dahulu”

Jlitheng hanya tersenyum saja. Sementara itu tangannya menyuapi mulutnya tiada henti-hentinya. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng yang letih itu juga lapar. Karena itu, maka nasi hangat itu telah menumbuhkan seleranya.

Malam itu, Jlitheng bermalam di rumah Rahu. Ketika ia kemudian kembali ke biliknya, ia masih mendengar suara Rahu yang bercakap-cakap dengan adiknya tentang air di sawah. Kemudian tentang rumput bagi kuda di kandang, termasuk kuda Jlitheng.

Lamat-lamat Jlitheng masih mendengar Rahu berkata, “Siapkan makan kami pagi-pagi benar. Kami. akan berangkat sebelum matahari terbit”

“Ya kakang” jawab Semi.

“Anak muda yang baik” berkata Jlitheng di dalam batinnya. Namun kemudian, “Tetapi aku tidak boleh terperdaya melihat sikapnya dan melihat keadaan rumah ini. Mungkin rumah ini bukan rumah Rahu yang sebenarnya. Mungkin di belakang keduanya ada orang lain yang menyiapkan segala sesuatu”

Ternyata bahwa Jlitheng tidak dapat melepaskan diri dari kecurigaannya. Karena itu, maka ketika ia akan membaringkan dirinya dipembaringan, ia pun telah menyelarak pintu biliknya. Kemudian memperhatikan setiap sudut bilik itu. Namun menurut pengamatannya, tidak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam bilik itu.

Karena itu maka Jlitheng pun kemudan membaringkan dirinya. Tetapi pedangnya tetap di sisinya, demikian pala ikat pinggangnya yang digantungi dengan paser-paser kecil.

Ternyata malam itu dilaluinya tanpa terjadi sesuatu. Orang-orang padukuhan itu tidak mendendamnya dan tidak beramai-ramai mengepung rumah Rahu yang termasuk orang yang disegani pala. Rahu yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir dan adiknya itu pun tidak berbuat apa-apa pula atasnya. –

Menjelang dini hari, Jlitheng sudah bangun. Setelah memperhatikan keadaan dengan seksama, maka iapun kemudian keluar sambil menjinjing pedangnya langsung menuju ke pakiwan. Ketika ia keluar dari pakiwan ia melihat Rahu berjongkok sambil berselimut kain panjang.

“Kau sudah mandi?” bertanya Rahu,

“Bukankah kita berangkat pagi-pagi sebelum matahari terbit?” sahut Jlitheng.

“Aku bermaksud demikian” Rahu mengangguk-angguk, “tetapi ini masih sangat pagi”

“Lebih baik bersiap lebih awal” sahut Jlitheng.

Namun ia pun kemudian merasa bahwa Rahu tersenyum-senyum sambil memandang pedangnya. Tetapi Jlitheng tidak peduli. Ia berjalan menuju gandok sambil menjinjing pedangnya itu.

Di gandok, ia pun segera berpakaian selengkapnya. Pedang di lambung dan diperiksanya sekali lagi paser-paser kecilnya Ternyata tidak ada sebuah pun yang kurang.

Sambil memperhatikan keadaan di sekeliling ia bergumam di dalam hati, “Tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam bilik ini ketika aku di pakiwan”

Setelah selesai berkemas maka Jlitheng pun duduk di amben pembaringannya sambil menunggu. Ia tahu bahwa Rahu akan memanggilnya, makan pagi dan kemudian baru berangkat, karena ia mendengar percakapan Rahu dengan adiknya semalam.

Ternyata dugaannya benar. Sejenak kemudian, maka Rahu pun memanggilnya. Dipersilahkannya ia makan bersama Rahu. Kemudian bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan padukuhan yang aneh itu.

Di halaman dua ekor kuda sudah siap. Namun Jlitheng masih memeriksa kudanya dengan teliti. Dilihatnya telapak di kakí kudanya dan ditelitinya pelananya. Baru kemudian ia berkata kepada Rahu, “Aku sudah siap”

“Kita akan segera berangkat” berkata Rahu. Lalu katanya kepada adiknya, “Kau di rumah saja. Jaga rumah ini baik-baik. Jangan terlalu banyak berhubungan dengan orang-orang padukuhan. Tetapi terserah kepadamu jika kau pada suatu saat dipaksa untuk menjaga harga diri atau bahkan keadaanmu dalam keseluruhan”

Adiknya mengangguk. Anak muda bertubuh raksasa itu nampak kokoh kuat. Agaknya ia pun seorang yang trampil dan trengginas, meskipun tubuhnya tinggi dan besar.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Jlitheng dan Rahu pun meninggalkan rumahnya menjelang matahari terbit di ujung Timur.

Ketika Rahu dan Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itu menyusuri jalan-jalan padepokan, beberapa orang sudah berada di halaman meskipun masih remang-remang. Suara sapu lidi terdengar di sebelah menyebelah jalan. Dalam keadaan yang demikian, padukuhan itu tidak ada bedanya dengan padukuhan-padukuhan lain yang pernah dikenal oleh Jlitheng. Desir sapu lidi, derik senggot timba dan sekali-kali tangis anak-anak mencari ibunya yang sedang ke pakiwan, memberikan kesan yang tenang. Namun jika matahari telah naik, maka padukuhan itu akan disibukkan oleh perselisihan-perselisihan yang kadang-kadang berkepanjangan tanpa arti sama sekali.

“Padukuhan ini adalah padukuhan yang paling gila yang pernah aku lihat” desis Jlitheng tiba-tiba, “Tetapi ada juga orang yang kerasan tinggal disini. Bahkan, ada orang dari tempat lain justru memilih tinggal di tempat yang gila ini”

Rahu tersenyum. Katanya, “Kau akan dapat merasakan kesenangan tersendiri disini. Apalagi kau yang memiliki kemampuan melampaui kebanyakan orang. Bahkan tiga orang gegedug yang bertempur bersama-sama tidak mampu mengalahkanmu”

“He, begitukah sikap dan pandangan kalian terhadap kehidupan? Siapa yang menang akan memiliki peluang yang banyak untuk berbuat apa saja, termasuk merebut istri orang?”

Rahu tertawa. Katanya, “Tidak seluruhnya gambaranmu benar. Tetapi sebagian memang demikian”

“Jika demikian, kenapa kau tidak mencari perempuan yang paling cantik dan kau jadikan isterimu?” bertanya Jlitheng.

Rahu tertawa semakin keras. Katanya, “Mungkin aku akan dapat berbuat demikian. Tetapi apakah artinya seorang perempuan yang berada di rumahku hanya wadagnya saja, tanpa hatinya? Selebihnya, aku tidak ingin dikisruhkan dengan tanggungan-tanggungan semacam itu. Aku lebih senang sendiri. Sementara adikku dapat mengurus dirinya sendiri”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Sikap itu pun aneh bagi Jlitheng. Seorang yang hidup dalam lingkungan yang aneh itu masih juga berpikir tentang hati seorang perempuan. Bukan wadagnya.

Tanggapan Jlitheng terhadap Rahu menjadi semakin banyak memberikan teka-teki kepadanya. Ada beberapa hal yang sama sekali tidak sesuai bahkan bertentangan dengan dugaannya sebelumnya. Namun demikian ia tidak ingin menunjukkan kecurigaannya yang menjadi semakin besar.

Demikianlah mereka meneruskan perjalanan mereka. Di ujung padukuhan seorang yang berpapasan dengan keduanya sama sekali tidak berpaling kearah mereka.

“Inilah sikap yang sebenarnya dari orang-orang padukuhan ini. Mungkin sama sekali tidak acuh terhadap orang lain. Tetapi mungkin juga karena tatapan mata sudah cukup alasan untuk dianggap ikut campur dalam persoalan orang lain” desis Jlitheng.

Rahu mengangguk. Katanya, “Kau cepat mengenali sifat orang-orang padukuhan ini. Mereka mencoba menentang sifat manusiawi yang ingin saling berhubungan dan saling memerlukan”

“Dan kau tertarik juga untuk melakukannya” sahut Jlitheng.

Rahu mengangguk lagi. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan iapun kemudian berkata, “Lupakan orang-orang padukuhan itu. Kau harus mulai memperhitungkan langkahmu di padepokan Sanggar Gading”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Aku sudah siap, meskipun seandainya Sanggar Gading itu merupakan sarang serigala yang paling buas. Satu dari isi Sanggar Gading sudah aku kenal. Jika orang-orang Sanggar Gading itu pada umumnya seperti kau, maka aku akan memasuki padepokan yang nyaman, bersih dan damai, karena isinya akan selalu berbicara tentang hati. Bukan tentang wadag”

“Ah, kau selalu mengada-ada” potong Rahu, “Aku mencoba berbuat baik karena, aku adalah tuan rumah. Tetapi di padepokan, aku adalah orang yang lain dari yang Kau kenal di rumahku. Dan kau pun akan menjumpai tata kehidupan yang asing, seperti kau menjumpai tata kehidupan di padukuhanku, meskipun dalam bentuk yang berbeda”

Jlitheng. mengerutkan keningnya. Ia harus memperhatikan peringatan itu dengan sungguh-sungguh. Ia harus mempersiap-kan dirinya, memasuki sarang serigala liar yang setiap saat akan dapat menerkamnya dari segala penjuru.

“Tetapi aku sudah bertekad untuk memasukinya” berkata Jlitheng di dalam hati.

Namun seolah-olah Rahu itu mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, sehingga orang yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itupun berkata, “Sekali lagi aku memperingatkan, orang-orang Sanggar Gading bukan orang yang ragu-ragu. Bukan orang yang penuh dengan belas kasihan dan kasih sayang. Tetapi kami bukan segerombolan perampok dan penyamun tataran sepanjang jalan sepi dan rumah-rumah saudagar. Kami adalah orang-orang yang bercita-cita”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Itulah agaknya maka orang-orang Sanggar Gading berkeras untuk mendapatkan pusaka yang diduga berada ditangan Daruwerdi yang menuntut nilai tukar yang tinggi. Yang agaknya akan dipenuhi oleh orang-orang Sanggar Gading, apapun akibatnya.

Tetapi Jlitheng tidak menyahut. Ia mulai merenungi perjalanan yang sedang dilakukannya. Bahkan kemudaan ia bertanya, “Apakah padepokan itu masih jauh?”

“Jangan bertanya begitu. Kau tentu mengenal jalan ke padepokan Sanggar Gading”

“Aku tidak tahu”

“Kau tentu dapat mengenal ciri-ciri jalur jalan menuju ke sebuah padepokan. Apalagi samar-samar kau pernah mendapat petunjuk, dan kau telah menemukan padukuhan pula”

“Aku malas berpikir dan mengenali tanda-tanda yang samar karena ada kau. Aku lebih mudah bertanya kepadamu dari pada aku harus mengamati setiap batang pohon dan jejak di jalur jalan ini”

Rahu tertawa berkepanjangan Katanya, “Kau memang orang yang aneh. Seorang petualang sejati, tetapi juga seorang pemalas sejati”

“Aku mengikut kau saja sampai dimanapun” desis Jlitheng.

Rahu masih saja tertawa. Dengan nada datar ia berkata, “Seandainya aku pergi kearah yang salah, yang dapat menyesat-kanmu ke tempat berbahaya?”

“Aku bunuh kau. Bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa aku mempunyai kelebihan darimu. Aku dapat melawan tiga orang gegedug, sedang kau hanya mampu mengimbangi sebanyak-banyaknya dua orang saja” jawab Jlitheng.

Rahu masih tertawa. Jawaban Jlitheng terdengar lucu di-telinganya.

Demikianlah, maka keduanya berpacu menyusuri jalan-jalan di tengah-tengah bulak yang panjang. Namun tanah nampaknya tidak tergarap dengan baik. Parit-parit telah kering dan tanggul-tanggulnya pun telah banyak yang rusak. Sementara daerah yang kering nampak gersang dan kekuning kuningan.

Hampir diluar sadarnya Jlitheng bertanya, “Apakah daerah ini juga memiliki keanehan seperti padukuhanmu?”

“Ada tiga empat padukuhan yang memiliki persamaan sifat. Sebentar lagi kita akan keluar dari daerah yang kau anggap aneh itu dan memasuki daerah yang hampir tidak berpenghuni. Daerah yang kering dan tandus” jawab Rahu.

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia memang melihat di depannya daerah yang menjadi semakin gersang. Rasa-rasanya gerumbul-gerumbul yang tumbuh disebelah menyebelah jalan menjadi kuning terbakar oleh panas matahari di siang yang terik, dan kedinginan oleh titik-titik embun di malam hari. Namun titik-titik embun itu tidak dapat menyegarkan dedaunan yang semakin kuning dan akhirnya runtuh mengotori jalan yang semakin sempit pula, Beberapa dahan yang kering gundul bagaikan menggapai-gapai kepanasan dan menggigil kedinginan di malam hari.

“Kita memasuki daerah terpencil” berkata Rahu, “Bukankah kau sudah memperhitungkannya?”

Jlitheng memandang jauh kedepan. Padang perdu yang terbentang dihadapannya memberikan kesan yang tersendiri pula, sesudah ia keluar dari padukuhan yang aneh itu.

“Kenapa padepokan Sanggar Gading memilih tempat seperti ini?” bertanya Jlitheng kemudian.

“Kita belum sampai ke padepokan Sanggar Gading” jawab Rahu, namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah sudah wajar, bahwa kelompok-kelompok yang hidup dengan cara dan cita-citanya yang tersendiri, memilih tempat yang tersendiri pula. Kau tentu dapat membayangkan bahwa dengan demikian kita sudah jauh mengurangi kemungkinan pergeseran dan benturan yang dapat terjadi dengan susunan masyarakat yang sewajarnya. Bukankah kau juga dapat membayangkan, bahwa orang-orang Kendali Putih, orang-orang. Pusparuri dan padepokan di Gunung Kunir juga terpisah dari susunan masyarakat sewajarnya?”

Jlitheng mengangguk. Jawabnya, “Ya, ya. Aku mengerti. Bukan saja kalian tetapi banyak pula terdapat padepokan yang terasing, karena penghuninya tidak lagi ingin berhubungan terlalu banyak dengan unsur-unsur duniawi. Beberapa orang menganggap dirinya sudah waktunya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga mereka memilih suasana yang sepi dan tenang”

Rahu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau sengaja ingin mengatakan bahwa yang kami lakukan adalah sebaliknya?”

“Jika tanggapanmu demikian, terserahlah” jawab Jlitheng tanpa berpaling.

Rahu tidak menjawab. Namun nampak bibirnya tersenyum. Senyum yang tidak dapat dimengerti.

Keduanya pun kemudian memasuki daerah gersang itu semakin dalam. Mereka melintasi padang yang ditumbuhi dengan gerumbul-gerumbul perdu yang ke kuning-kuningan. Sekali-kali mereka, melihat seekor dua ekor burung terbang. Namun nampak betapa lesunya.

Demikianlah, semakin tinggi matahari naik di langit, maka panasnya pun menjadi semakin terik. Perjalanan Jlitheng dan Rahu telah sampai ke daerah yang gersang sama sekali. Batu-batu padas berserakan disebelah menyebelah jalan setapak. Bahkan yang, mereka jumpai kemudian adalah ranting-ranting perdu yang tidak berdaun lagi.

“Tetapi perdu itu tidak mati” tiba-tiba saja Rahu berkata seolah-olah ia, mengetahui apa, yang terpikir oleh Jlitheng. Lalu, “Jika hujan mulai jatuh, ranting-ranting itu akan bersemi dan dedaunan akan tumbuh hijau segar. Pada saatnya dedaunan itu akan menguning dan runtuh di musim kering”

“Daerah yang benar-benar terasing” berkata Jlitheng, “jalan ini tentu jarang sekali dilalui orang. Kecuali orang-orang yang tersesat, atau orang-orang Sanggar Gading”

“Ya” jawab Rahu, “Dan kau sudah memasuki daerah kuasa orang-orang Sanggar Gading. Kau harus mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Padepokan itu sendiri masih jauh. Mungkin menjelang senja kita baru akan sampai. Tetapi di perjalanan ini, kau mungkin sekali akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, justru karena kau orang yang belum dikenal disini. Meskipun Cempaka pernah mengatakan, bahwa ada satu kemungkinan, seseorang akan hadir, dan bahkan menyuruh aku menunggumu di padukuhanku, namun tidak semua orang Sanggar Gading senang akan kedatanganmu. Mereka mencurigaimu dan mungkin mereka tidak yakin, bahwa kau dapat dijadikan lawan yang seimbang, atau kecurigaan-kecurigaan yang lain”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Nampaknya Rahu tidak sedang berkelakar. Tetapi ia berkata dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, Jlitheng memang harus berhati-hati. Ia tidak melihat seseorang di padang perdu yang gersang itu. Tetapi peringatan itu agaknya berlaku untuk waktu yang tidak lama lagi. Jika kuda mereka memasuki daerah itu semakin dalam, maka kemungkinan-kemungkinan itu akan dapat terjadi.

Terik matahari terasa semakin membakar tengkuk. Tetapi mereka masih melanjutkan perjalanan. Di bawah sebatang perdu yang masih berdaun cukup lebat, meskipun sudah menjadi kekuning-kuningan, keduanya berhenti untuk memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka beristirahat.

“Bantaradi” tiba-tiba saja Rahu berdesis sambil duduk bersandar pohon itu, “Aku tidak tahu, kenapa kau tertarik memasuki padepokan Sanggar Gading”

Jlitheng pun kemudian duduk pula. Pertanyaan itu terdengar aneh di telinganya. Karena itu, maka iapun bertanya pula, “Kenapa kau bertanya demikian? Bukankah aku seorang petualang yang seperti aku katakan, ingin melihat segala ini dunia ini meskipun kadang-kadang harus menempuh bahaya? Yang akan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading agaknya akan sangat menarik. Karena itu, aku ingin mengalaminya meskipun yang akan terjadi itu dapat berbahaya bagi keselamatanku”

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berkata dengan sungguh-sungguh, “Jika kau terjerat oleh padepokan itu, maka kau harus menghentikan petualanganmu karena kau akan menjadi salah satu dari patung-patung hidup yang berada di padepokan itu. Kau tidak akan sempat lagi berpikir dan memikirkan rencana-rencanamu lebih jauh. Kau akan menjadi salah seorang dari mereka yang tinggal melaksanakan perintah tanpa mengetahui sebab dan akibatnya. Kecuali Jika kau langsung dapat berdiri pada sederet tataran dengan para pemimpinnya”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Apakah kau juga tidak sempat berpikir dan berbuat tanpa sadar, sesuai dengan perintah yang kau terima?”

“Aku beruntung untuk mendapat sedikit kepercayaan dari pimpinan Sanggar Gading” jawab Rahu.

Jlitheng tertawa. Katanya, “Pengalaman yang menarik sekali. Aku ingin menguji ketahanan akal dan perasaanku. Jika pada suatu saat aku terperosok ke dalam lingkungan yang demikian apakah aku tidak kehilangan kepribadianku”

“Jika ternyata kemudian kau tidak lagi mengerti tentang dirimu sendiri?” bertanya Rahu.

“Jika terjadi demikian, ternyata bahwa akal dan perasaanku tidak ada artinya lagi. Dan aku memang sepantasnya menjadi budak-budak yang tidak mengerti akan dirinya sendiri” jawab Jlitheng,

Rahu mengangguk-angguk, Katanya, “Kau memang keras kepala. Tetapi aku sudah banyak memberikan keterangan kepadamu,

“Terima kasih. Tetapi aku tidak tahu, apakah kau sedang menilai kemantapanku, atau karena kau benar-benar ingin menunjukkan isi dari padepokanmu. Aku menganggap hal itu agak mustahil, apalagi jika kau termasuk salah seorang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin di Sanggar Gading” berkata Jlitheng kemudian.

Wajah Rahu menegang. Katanya, “Sikapmu bukan sikap orang-orang Sanggar Gading. Tetapi pada suatu saat, aku adalah salah seorang pemimpin dari Sanggar Gading itu, sehingga aku pun dapat bertindak tegas terhadapmu”

Jlitheng mulai tertawa lagi sambil berkata, “jika demikian, ada kemungkinan yang lain. Kau menjadi cemas, bahwa aku akan dapat menggeser kedudukanmu. Karena itu, kau memberikan kesan yang buruk terhadap Sanggar Gading agar aku mengurungkan niatku untuk datang dan menemui Cempaka”

Rahu menegang sejenak. Namun kemudian iapun tertawa, “Tepat. Kau memang memiliki tanggapan sangat tajam. Tetapi yang penting bukan kecemasanku tentang kedudukanku. Aku yakin bahwa aku akan dapat mempertahankannya. Jika kau mengira bahwa aku benar-benar dapat kau kalahkan maka kau keliru. Aku kadang-kadang memang merasa perlu untuk merendahkan diri”

“Untuk apa?” bertanya Jlitheng.

“Sekedar untuk menyenangkan orang lain. Apalagi petualang yang masih memiliki jiwa kekanak-kanakan seperti kau, yang masih merasa senang dan bangga jika disanjung”

Tetapi Jlitheng pun tertawa. Katanya, “Kau mempunyai bakat untuk menakut-nakuti orang. Ternyata caramu memilih gelar dan sikapmu yang tertutup. Tetapi aku tidak dapat kau takut-takuti dengan cara itu”

“Masih ada kesempatan untuk mengetahui, siapakah diantara kita yang memiliki kelebihan sebelum kita memasuki Sanggar Gading” gumam Rahu.

“O, jadi kaulah orang yang pertama akan menjajagi kemampuanku. Baiklah. Aku kira, aku tidak berkeberatan” jawab Jlitheng.

Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Berhati-hatilah. Aku terpaksa memperingatkanmu sekali lagi. Aku melihat bayangan maut merundukmu. Bukan, sekedar mengancam dan menakut-nakuti. Sebenarnya aku tidak berkepentingan sama sekali seandainya mayatmu terkapar disini menjadi makanan burung-burung pemakan bangkai”

“Aku tidak mengerti” gumam Jlitheng.

Rahu tidak menyahut. Tetapi sekilas pandangan matanya menyambar seonggok batu padas beberapa puluh langkah dari tempatnya berhenti.

Diluar sadarnya Jlitheng pun ikut memandang kearah batu padas itu. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang. Ia melihat sekilas ujung tombak mencuat dibalik batu padas itu. Namun kemudian ujung tombak itu segera lenyap.

“Apakah artinya?” desis Jlitheng.

“Kau sudah tahu” jawab Rahu.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Rahu benar-benar bermaksud baik terhadapnya. Namun karena itu, ia menjadi semakin heran, terhadap orang aneh itu.

Tetapi ia tidak sempat memikirkannya lebih panjang. Sementara itu ia mendengar Rahu bergumam hampir berbisik, “Orang di balik batu itu memberi isyarat agar aku menjauhimu. Berhati-hatilah”

Jlitheng menjadi semakin tegang. Sementara itu ia melihat Rahu berdiri dan berjalan mendekati kudanya yang sedang beristirahat di bawah bayangan dedaunan meskipun sudah mulai menguning.

“Dengarkan kata-kataku” desis Rahu kemudian tanpa memperhatikan Jlitheng yang menegang.

Sementara itu, dari arah batu-batu padas yang berserakan, dua orang merunduk mendekati Jlitheng. Salah seorang dari keduanya tiba-tiba saja meloncat berdiri di arah belakang Jlitheng. Dengan serta merta ia telah melontarkan tombaknya mengarah ke punggung Jlitheng.

“Awas, dari arah belakangmu” desis Rahu sambil mengusap leher kudanya. Seolah-olah ia sama sekali tidak menghiraukan apa yang bakal terjadi atas Jlitheng.

Jlitheng mendengar peringatan Rahu. Dengan serta merta ia pun segera berpaling. Hampir saja ia terlambat, karena tombak itu meluncur demikian cepatnya. Untunglah bahwa Jlitheng masih mempunyai waktu sekejap untuk menjatuhkan diri. Namun segera ia pun melenting berdiri menghadap kepada orang yang telah melemparkan tombaknya.

“Pengecut” geram Jlitheng, kemudian katanya lantang, “Jika kalian mempunyai harga diri, marilah. Jangan membunuh dari arah belakang”

Tetapi orang yang melemparkan tombak itu tertawa. Katanya, “Padang ini adalah padang perburuan. Siapapun boleh memburu lawannya. Lawan yang dikehendakinya meskipun tanpa sebab. Kemudian membunuhnya dan melemparkannya ke sela-sela batu padas di lereng terjal sebelah untuk menjadi makanan burung-burung pemakan bangkai atau anjing-anjing liar yang berkeliaran”

“Aku tahu” jawab Jlitheng, “padang ini adalah padang kematian. Tetapi jika kalian jantan, kita akan berhadapan”

Seorang yang lain, yang masih berada dibalik batu padas, segera meloncat pula sambil berteriak, “Jangan banyak cakap. Kematianmu akan segera tiba tanpa ada yang menyesalinya. Iblis bertangan Petir telah membawamu ke padang kematian ini. Dan itu berarti bahwa kau adalah orang yang tidak berharga untuk tetap hidup”

Jlitheng memandang Rahu sejenak. Tetapi orang itu masih saja mengusap leher kudanya. Agaknva ia sama sekali tidak tertarik pada pertentangan yang sedang terjadi.

“Gila” desis Jlitheng. Tetapi dalam pada itu Jlitheng pun mengetahui bahwa sebenarnya Rahu telah berusaha menyelamatkannya, meskipun ia bertanya di dalam hati, “Apakah ada jalan lain. yang lebih baik daripada daerah yang disebut padang kematian ini? Atau ada rencana-rencana khusus dari orang yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itu?”

Ketika Jlitheng sedang termangu-mangu, maka kedua orang yang semula bersembunyi dibalik batu-batu padas itu pun melangkah mendekat. Yang telah melemparkan tombaknya, telah menggenggam pedang di tangannya.

“Ki Sanak” berkata Jlitheng kemudian, “Aku tidak mengerti. Apakah kalian bersungguh-sungguh atau sekedar ingin menjajagi kemampuanku saja?”

Terdengar keduanya tertawa meledak. Salah seorang dari keduanya berkata, “Kau memang gila. Tidak ada harapan bagimu untuk keluar dari daerah kematian ini. Kami tidak pernah untuk tidak bersungguh-sungguh. Kami akan membunuhmu”

Jlitheng berpaling sejenak memandang Rahu yang masih sibuk dengan kudanya. Dengan suara bergetar ia bertanya kepadanya, “Rahu. Apakah seharusnya aku membunuh di sini?”

“Itu urusanmu” berkata Rahu.

Jlitheng menjadi- semakin gelisah. Tetapi ia sadar, bahwa ia akan dapat benar-benar mati menghadapi kedua orang itu. Ketika salah seorang dari keduanya melemparkan tombaknya, itu bukan sekedar menjajagi. Tetapi tombak itu benar-benar akan dapat mencabut nyawanya, jika Rahu tidak memberinya isyarat.

Sekilas terdengar kembali kata-kata Rahu, “Orang-orang Sanggar Gading tidak pernah ragu-ragu”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Sanggar Gading memang tempat orang-orang gila, Kedua orang itu agaknya memang bersungguh-sungguh ingin membunuhnya.

Jlitheng tidak sempat berangan-angan terlalu lama tentang orang-orang Sanggar Gading. Kedua orang yang menggenggam senjata itu semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan tombak yang belum dilemparkan itu sudah merunduk mengarah ke dadanya.

“Jangan menyesal” geram salah seorang dari mereka, “Kau akan mati. Benar-benar akan mati. Kami tidak ingin melihat orang-orang baru memasuki daerah kami. Yang selama ini apa yang kami dapatkan sudah berangsur susut. Jika padepokan kami masih bertambah-tambah dengan orang-orang baru yang tidak berarti, itu hanya akan menyusutkan bagian kami”

“Bagian apa yang kau maksud?” bertanya Jlitheng tiba-tiba.

“Setiap orang dari padepokan kami akan menjadi seorang Adipati. Menurut perhitungan kami, daerah yang akan kami kuasai sudah terlalu sempit. Apalagi jika masih saja ada orang-orang baru yang datang ke padepokan kami Maka daerah kekuasaan kami tidak akan lebih dari satu padukuhan kecil”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “He, apakah kalian sedang bermimpi atau sedang bermain seperti kanak-kanak di terang bulan. Adipati apakah yang kalian maksud?”

“Kau memang dungu. Sebelum mati, ketahuilah bahwa Demak akan segera jatuh. Pemimpin kami akan merajai negeri ini. Kami semuanya akan menjadi Adipati dari bang Wetan sampai bang Kulon. Dari Pesisir Kidul sampai Pesisir Lor”

Jlitheng tiba-tiba saja tertawa. Ia tidak dapat menahan geli di hatinya. Katanya disela-sela derai tertawanya, “Kalian benar-benar pemimpi yang menggelikan. Apakah kalian dapat membayangkan daerah seluas Demak sekarang ini?

“Kenapa tidak” jawab salah seorang dari mereka, “meskipun tidak seluas Majapahit, tetapi Demak masih mempunyai kekuasaan sampai ke ujung Timur Pulau ini. Mungkin daerah di seberang lautan masih harus dinilai kembali. Tetapi angkatan laut Demak harus bangkit sebesar kekuatan armada Majapahit. Kebulatan yang pecah disaat-saat akhir kekuasaan Majapahit tidak boleh terulang kembali”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian dengan nada dalam, “Darimana kalian mendengar semuanya itu?”

“Jangan memperbodoh kami. Aku adalah putera Sanggapurana, salah seorang prajurit di masa kejayaan Majapahit. Aku tahu apa yang aku lakukan sekarang ini”

Jlitheng terkejut mendengar jawaban itu. sehingga tanpa disadarinya ia berdesis, “Kau putera seorang prajurit dari kerajaan Majapahit akhir? Jika demikian, kenapa kau tersesat sampai ke padepokan ini?”

“Siapa yang tersesat? Persetan. Jangan banyak bicara. Kau harus mati dan tidak mengotori padepokan kami”

Jlitheng termangu-mangu Sekali lagi ia berpaling kepala Rahu. Namun orang itu sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Seolah-olah disekitar Rahu itu sama sekali tidak terjadi sesuatu yang dapat menegangkan urat syarafnya.

Dengan demikian Jlitheng tidak lagi dapat mengharapkan pertimbangannya. Ia harus mengambil sikap menghadapi kedua orang itu. yang seorang diantaranya mengaku putera seorang prajurit yang bernama Sanggapurana.

Namun dalam pada itu, yang diingat oleh Jlitheng adalah kata-kata Rahu, bahwa tidak seorang pun dari lingkungan Padepokan Sanggar Gading yang ragu-ragu. Ketika ia tidak membunuh gegedug yang merebut istri orang, Rahu mengatakan kepadanya, bahwa ia adalah seorang yang terlalu baik dan ragu-ragu bagi Sanggar Gading.

Dan saat itu, Jlitheng telah berhadapan dengan dua orang yang agaknya benar-benar ingin membunuhnya.

“Aku tidak boleh ragu-ragu” berkata Jlitheng di dalam hatinya, “Dan aku tidak perlu berbaik hati kepada mereka”

Karena itu, maka Jlitheng pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Pedang tipisnya digenggam-nya. Wajahnya nampak tegang, sedangkan sorot matanya bagaikan menembus dada kedua orang lawannya berganti-ganti untuk melihat isi hati yang sebenarnya dari keduanya.

“Apakah mereka sekedar ingin menjajagi, atau benar-benar akan membunuhku, “sekali-kali keraguan itu masih saja tumbuh. Namun kemudian tetapi aku tidak boleh ragu-ragu.

“Bersiaplah untuk mati karena kebodohanmu. Kau Sudah memasuki daerah yang tidak kau kenal, dan kini berada di padang perburuan yang juga disebut padang kematian” geram orang berpedang yang menyebut dirinya putera Sanggapurana.

“Aku sudah bersiap” jawab Jlitheng. Namun ia masih ingin mencoba berbicara, “Apakah kalian pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Cempaka, tentang aku? Kedatanganku adalah karena undangannya”

“Persetan” geram orang itu, “Cempaka tidak akan berbuat apa-apa terhadapku. Dan kau lihat, bahwa Rahu yang dekat dengan Cempaka dalam banyak hal, sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika kau sudah berhadapan dengan maut”

“Siapa yang berhadapan dengan maut?” tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. Katanya di dalam hati, “Aku harus mengimbangi sikap mereka” Kemudian dengan lantang ia berkata, “Jika kalian memang tidak mau mendengarkan kesempatan belas kasihanku, marilah. Kita akan mulai. Padang kematian memang setiap kali harus disiram dengan darah. Bukan saja darah para pendatang yang kalian anggap akan mendesak kedudukan kalian, tetapi juga darah orang-orang lama yang sudah tidak berarti lagi untuk diganti dengan mereka yang lebih baik dan berilmu”

Kedua orang itu tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja orang berpedang itu meloncat menyerangnya. Pedangnya terayun mendatar menebas lambung.

Tetapi Jlitheng pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia masih sempat meloncat surut. Namun demikian ia berjejak diatas tanah, maka ia harus meloncat sekali lagi, karena ujung tombak lawannya yang lain telah mengejarnya.

Namun ketika, serangan berikutnya mematuk dadanya. Jlitheng telah siap untuk menangkis, bahkan dengan satu putaran ia lah yang kemudian meloncat menjulurkan ujung pedang tipisnya.

Tetapi lawannya pun cukup cepat. Ia sempat menghindar. Ketika Jlitheng siap memburunya, lawannya yang lain telah menyerangnya dari arah lambung. Setapak Jlitheng bergeser. Dengan tangkas ia memukul senjata lawannya, sehingga arahnya pun telah meleset jauh dari tubuhnya.

Pada pertempuran yang terjadi, seperti juga yang pernah dilakukan, Jlitheng merasa sangat berterima kasih, bahwa ia telah mendapatkan sebilah pedang tipis. Pedang yang ringan, tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Sementara ketajamannya tidak kalah dengan pedang yang manapun juga.

Dalam pada itu, maka pertempuran di padang kematian itupun semakin lama meningkat semakin sengit. Kedua orang yang berusaha untuk membunuh Jlitheng itupun ternyata memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Namun ternyata mereka menghadapi anak-anak muda yang benar-benar telah bersiap melakukan petualangan yang sudah diperhitungkan akan sangat berbahaya bagi dirinya.

Dalam pada itu, ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, Rahu ternyata tertarik juga untuk menyaksikannya. Ia pun kemudian duduk bersandar sebuah batu padas yang besar sambil menilai keadaan.

Sejenak wajahnya menjadi tegang. Namun kadang-kadang dampak ia tersenyum cemas. Bahkan kadang-kadang ia menghentakkan jari-jarinya pada lututnya. Agaknya ia benar-benar telah dicengkam oleh peristiwa yang dihadapinya.

Ternyata bahwa kedua orang Sanggar Gading itu benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Seperti yang dikatakan olah Rahu, maka orang-orang Sanggar Gading benar-benar bukan orang yang banyak mempunyai pertimbangan. Mereka sama sekali tidak ragu. Senjata mereka menyerang silih berganti, seperti datangnya ombak di pesisir. Susul menyusul tidak henti-hentinya”

Namun Jlitheng pun memiliki kemampuan bergerak seperti burung sikatan. Kakinya semakin lama menjadi semakin ringan. Bahkan ketika ia sudah sampai ke puncak kemampuannya, maka kakinya itupun seolah-olah tidak lagi berjejak dialas tanah. Tubuhnya seakan-akan tidak lagi dibebani oleh berat yang menggantunginya.

“Bukan main” desis Rahu di tempat duduknya, “anak muda itu memiliki kelebihan dari orang-orang yang pernah akui kenal”

Sebenarnyalah bahwa latihan-latihan, yang berat telah membuat Jlitheng menjadi anak muda yang berilmu tinggi. Ia pernah membunuh sengaja atau tidak sengaja, orang-orang yang dengan maksud jahat telah datang ke sekitar Sepasang Bukit Mati. Dan kini ia berhadapan dengan dua orang dari Sanggar Gading.

Rahu yang duduk menyaksikan pertempuran itu semakin lama menjadi semakin tegang. Ia tahu, bahwa kedua orang kawannya tidak akan dikekang oleh keragu-raguan. Bagi orang-orang Sanggar Gading, maka para pendatang yang tidak dapat menembus kedengkian hati beberapa orang diantara mereka, memang tidak pantas untuk memasuki padepokannya. Orang yang demikian memang lebih baik mati dan dibuang di lembah kerangka yang terletak di ujung padang kematian itu.

Namun Rahu pun menjadi berdebar-debar ketika ia melihat sikap Jlitheng dalam perkelahian itu. Agaknya anak muda mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak pernah ragu-ragu menghunjamkan senjatanya. Ternyata bahwa Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itupun nampaknya sama sekali tidak ragu-ragu lagi.

Sebenarnyalah Jlitheng yang harus bertempur melawan dua orang itu tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha mengurangi tekanan lawan. Karena itu, maka iapun telah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk melumpuhkan lawannya, seorang demi seorang. Itulah sebabnya, maka Jlitheng telah memilih orang yang paling lemah dari keduanya,

Jlitheng telah mempergunakan setiap kesempatan untuk mengarahkan senjatanya kepada orang yang lebih lemah. Orang yang masih menggenggam tombaknya. Kadang-kadang orang itu menjadi bingung menghadapi kecepatan bergerak Jlitheng. Jika kawannya terlambat menolongnya dengan serangan-serangan yang gawat maka nampak orang itu mengalami kesulitan untuk menangkis atau menghindari serangan Jlitheng yang datang bagaikan badai.

Dalam pada itu, Rahu menjadi semakin berdebar-debar. Ia sudah pernah mengatakan kepada orang yang dikenalnya bernama Bantaradi itu, bahwa orang Sanggar Gading selalu bertindak tegas, tidak ragu-ragu dan tidak akan berbaik hati terhadap lawan-lawannya.

“Anak muda itu memang anak yang luar biasa” desisnya. Dan ia pun mulai membayangkan, bahwa kedua orang itu pada akhirnya tentu akan menjadi korban kedengkiannya sendiri.

Yang dilakukan oleh kedua orang itu bukannya untuk yang pertama. Bahkan masih ada beberapa orang dengan alasan, agar Sanggar Gading tidak menjadi sarang betina, telah melakukan pencegatan bagi orang-orang yang akan memasuki Sanggar Gading. Karena hal itu tidak pernah di persoalkan, maka mereka menganggap hal itu adalah hal yang sangat wajar.

Ketika perkelahian itu meningkat semakin seru, maka tiba-tiba saja Rahu mengerutkan keningnya. Ia melihat seekor kuda berpacu melalui jalan setapak di padang yang gersang itu. Debu yang kelabu terlempar di belakang kaki kuda itu membubung ke udara. Namun angin yang lemah telah meniupnya sehingga pecah berpencar bersama endeg pangamun-amun.

Rahu mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang lagi dari orang-orang Sanggar Gading yang datang. Seorang yang memiliki kelebihan dari beberapa orang kawannya.

“Jika ia langsung melibatkan diri, keadaannya tidak akan berimbang” berkata Rahu di dalam hatinya. Dan ia pun tidak ingin terjadi pembantaian di padang kematian itu Jika setiap pendatang harus melawan orang yang tidak dibatasi jumlahnya, maka yang terjadi bukannya pendadaran. Tetapi benar-benar pembunuhan oleh dengki dan kecemasan bahwa kedudukan mereka di Sanggar Gading akan terdesak atau kecemasan bahwa kemungkinan bagi setiap orang yang semakin dipersempit.

“Dan yang terjadi hampir seluruhnya tidak dapat dibenarkan” berkata Rahu di dalam hatinya.

Meskipun Rahu sendiri tidak pernah melakukan pencegatan dan pencegahan bagi orang-orang baru yang akan memasuki Sanggar Gading, namun ia sudah sering melihat kegagalan beberapa orang yang ingin menyatakan dirinya bergabung dengan orang-orang Sanggar Gading.

“Tetapi kebanyakan dari mereka, pada lapis yang pertama dari kedengkian itu, mereka sudah runtuh” berkata Rahu. di dalam hatinya. Kemudian sambil melihat Jlitheng ia berkata, “tetapi anak ini agak lain. Kedua orang itu akan menyesal atas sikapnya.

Namun demikian orang yang datang berkuda itu sangat mencemaskannya. Rahu tidak dapat berdiam diri jika tiba-tiba saja orang itu langsung melibatkan diri bersama kedua orang yang terdahulu. Jika demikian, maka Jlitheng pun tentu akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Cempaka,

Karena itu, maka Rahu pun segera berusaha menarik perhatian orang berkuda itu. Ia pun kemudian bangkit, berdiri sambil menggeliat dengan mengangkat kedua tangannya.

Ternyata orang berkuda ini melihatnya. Karena itu, iapun tertarik untuk mendekatinya sebelum ia langsung menuju ke arena.

Derap kaki kuda itu berhenti beberapa langkah di sebelah Rahu. Penunggangnya, seorang yang bertubuh kekar meskipun tidak terlalu tinggi, meloncat turun sambil berdesis, “Siapa yang memasuki daerah maut itu?”

“Orang yang diundang oleh Cempaka” sahut Rahu.

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Tetapi ia telah mengalami pendadaran. Apakah kedua orang itu tidak tahu. bahwa orang itu diundang oleh Cempaka”

“Mereka mengetahuinya. Tetapi seperti yang selalu mereka lakukan” jawab Rahu.

“Jika ia bukan tamu Cempaka, aku akan membunuhnya”

Orang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia memperhatikan perkelahian itu. Namun kemudian Katanya, “Gila. Orang itu memiliki kelebihan dari kita semuanya. He, apakah kau melihatnya?”

“Bukan orang itu yang memiliki kelebihan, tetapi kedua kawan kita memang tidak lebih dari kelinci-kelinci tidak berarti” jawab Rahu.

Orang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Dan kau-sejak tadi berada disini?”

“Aku datang bersama orang yang bernama Bantaradi itu” jawab Rahu, “Aku diperintahkan oleh Cempaka untuk menunggunya di padukuhanku, diluar padang kematian ini”

“Tentu maksudnya agar kau membawanya menyeberang dengan selamat sampai ke padepokan”

Rahu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ada orang yang dapat mencegah apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang dengki dan iri hati itu. Biarlah mereka mengalami seperti yang pernah dialami olah orang-orang yang memasuki daerah ini”

“Maksudmu?” bertanya orang berkuda itu.

“Bukan hanya orang-orang yang tidak berguna yang ingin memasuki daerah ini sajalah yang sebaiknya disingkirkan ke lembah kerangka, tetapi penghuni Sanggar Gading yang tidak berarti itupun perlu disingkirkan”

“Rahu, apakah kau sudah mulai dihinggapi penyakit gila? Kau kira apa yang dilakukan oleh orang-orang itu sekedar kedengkian dan iri hati? Tidak. Aku pun akan melakukannya. Bukan karena kedengkian dan iri hati. Tetapi aku memang tidak ingin melihat orang-orang tidak berarti memasuki padepokan kami. Mereka hanya akan memenuhi setiap ruangan tanpa memberikan arti apa-apa”

“Aku mengerti. Kau menolak anggapan itu karena kau juga selalu melakukannya. Tetapi baiklah, seandainya yang kalian lakukan itu benar-benar bukan karena kedengkian dan iri hati. Tetapi benar-benar ingin mengurangi jumlah orang-orang yang tidak berarti. Kenapa kau tidak pernah memikirkan untuk melakukannya pula atas orang-orang yang sudah menjadi penghuni Sanggar Gading”

“Kau benar-benar sudah menjadi gila. Bukankah mereka sudah ikut serta dalam suka dan duka selama bertahun-tahun. Seandainya mereka tidak berarti sama sekalipun, mereka harus kita anggap sebagai orang-orang yang berarti bagi kita”

Rahu tertawa. Katanya, “Itu pikiran kerdil. Sejak kapan kau menjadi seorang yang mengenal budi. Aku tidak menghiraukan-nya lagi. Yang masih perlu kita pergunakan, marilah kita pergunakan. Yang akan mati biarlah mati dalam ketiadaan arti. Seperti kedua orang yang telah mencegat Bantaradi itu. Merekapun akan mati. Dan aku tidak berkeberatan, karena keduanya memang tidak berarti”

“Kau sudah kehilangan akal. Keduanya orang-orang yang pernah berbuat sesuatu bagi Sanggar Gading. Keduanya adalah orang yang berani dan mempunyai arti yang besar bagi kita”

“Tetapi kalau mereka terbunuh oleh Bantaradi, itu berarti bahwa Bantaradi adalah orang yang lebih berarti bagi kita”

Orang bertubuh kekar itu menggeram. Katanya, “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Kau sudah bingung dan tidak mengenal lagi kawan-kawan kita sendiri”

“Jangan hiraukan. Biarlah yang terjadi itu terjadi” Orang bertubuh kekar yang datang berkuda itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang medan yang menjadi semakin baur oleh debu yang berhamburan. Ternyata perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru.

“Orang itu memang luar biasa. Ia mampu melawan kedua orang itu dengan sangat meyakinkan. Aku kira ia akan menang”

“Biarlah ia menikmati kemenangannya. Biarlah ia memasuki Sanggar Gading dan menemui Cempaka”

Orang yang datang berkuda itu termangu-mangu. Wajahnya menjadi tegang, dan kadang-kadang ia menggeretakkan giginya melihat perkelahian yang semakin sengit

Dalam pada itu, Jlitheng benar-benar telah berhasil mendesak kedua orang lawannya. Meskipun ia masih harus selalu berhati-hati, tetapi ia melihat kemungkinan telah terbuka baginya. Kedua orang lawannya telah kehilangan banyak tenaga, sehingga perlawanan mereka telah menyusut. Yang dapat mereka lakukan, sebagian terbesar hanyalah bergeser sambil meloncat menjauh Tetapi mereka tidak mampu lagi menyerang dengan garang. Meskipun kadang-kadang masih terdengar keduanya berteriak nyaring, tetapi teriakan-teriakan itu sama sekali sudah tidak berarti. Jlitheng bertempur semakin garang. Pedangnya yang ringan itu menyambar-nyambar di seputar kedua lawannya, seakan-akan mengejar mereka kemanapun mereka pergi, meskipun keduanya sudah berusaha berpencar.

Sementara itu, orang yang datang berkuda itu pun menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian seolah-olah diluar sadarnya ia bergumam, “Orang itu memang harus dibunuh”

“Kau sudah kehilangan nalar. Bukan aku. Jika niat mereka untuk mencegah orang-orang yang tidak berarti memasuki Sanggar Gading, maka orang itu bukannya orang yang dimaksud. Ia dapat bertahan dan menjaga dirinya. Karena itu ia berhak memasuki Sanggar Gading dan bertemu dengan Cempaka”

Orang bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau mendapat pesan dari Cempaka untuk menyelamatkannya?”

“Tidak, ia telah menyelamatkan dirinya sendiri. Dan karena itu ia berhak memasuki Sanggar Gading” jawab Rabu.

Orang itu termangu-mangu. Wajahnya menjadi semakin tegang ketika ia melihat kedua orang Sanggar Gading itu hanya dapat meloncat-loncat. Bahkan seolah-olah mereka sudah mulai mengambil jarak untuk lari.

Orang bertubuh kekar itu nampaknya menjadi gatal. Ia tidak dapat menahan dirinya untuk melibatkan diri. Yang dilakukan oleh Jlitheng seolah-olah merupakan tantangan dan bahkan penghinaan baginya.

“Kau diam saja?” bertanya orang itu kepada Rahu.

“Aku yang membawanya kemari”

“Setan” geramnya,

Sementara itu, Jlitheng benar-benar telah menguasai lawannya. Pedang tipisnya terayun tidak lagi terkendali. Ketika ia menggeram sambil meloncat maju. maka ujung pedang tipisnya telah menyentuh pundak salah seorang lawannya.

Akibatnya mengejutkan. Tiba-tiba saja luka yang panjang telah menganga di pundak orang itu. karena pedang Jlitheng adalah pedang yang sangat tajam.

“Gila” geram orang bertubuh kekar itu ketika ia melihat darah mulai mengalir.

Sementara itu, lawan Jlitheng yang tergores, pedangnya itu pun meloncat surut Sambil menyeringai ia mengusap pundaknya dengan tangannya. Ketika ia melihat tangannya menjadi merah oleh darah, maka iapun menggeram, “Anak setan. Kau memang benar-benar harus mati”

Jlitheng yang melihat darah meleleh di pundak lawannya, menjadi termangu-mangu sejenak. Namun sekilas ia teringat kata-kata Rabu. Karena Itu maka katanya, “Kenapa kau masih berkata demikian? Apakah sejak semula kau tidak akan membunuhku? Lakukanlah apa yang akan kau lakukan. Tidak ada tempat disini bagi mereka yang ragu-ragu dan terlalu baik hati”

Kata-kata itu ternyata telah mendebarkan hati mereka yang mendengarnya. Rahu pun menjadi berdebar-debar pula. Ia tahu, bahwa yang di katakan oleh orang yang dikenalnya bernama Bantaradi itu adalah kata-kata yang pernah diucapkannya sendiri kepada Bantaradi itu.

Dalam pada itu, kedua orang yang bertempur melawan Jlitheng itupun telah mempersiapkan dirinya pula untuk mulai lagi dengan serangan-serangannya. Tetapi karena seorang dari mereka telah terluka, maka bagi Jlitheng, kekuatan mereka pun tentu sudah berkurang.

“Jika kalian tidak membunuhku, akulah yang akan membunuh kalian” teriak Jlitheng tiba-tiba.

Kedua orang itu tidak menjawab. Namun mereka segera bersiap. Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncat menyerang mereka dengan garangnya, seperti angin prahara.

Pertempuran itu pun segera meningkat lagi menjadi semakin sengit. Tetapi Jlitheng telah mulai tersenyum ketika ia melihat lawannya yang terluka itu menjadi semakin lemah.

“Aku harus melukai yang lain pula” desis Jlitheng di dalam hatinya.

Karena itu, maka serangan-serangannya kemudian sebagian besar tertuju kepada lawannya yang lain, yang masih belum tersentuh oleh senjatanya.

Ternyata lawannya menjadi semakin lama semakin terdesak. Yang terluka menjadi semakin lemah, sedangkan kawannya bagaikan selalu dikejar oleh pedang tipis Jlitheng yang berputar.

Rahu yang menyaksikan pertempuran itu menjadi semakin tegang. Ia melihat kemungkinan yang segera akan terjadi. Jika Jlitheng benar-benar ingin berbuat seperti yang dikatakannya, maka kedua orang itu tentu akan dibunuhnya dan dilemparkannya ke dalam lembah yang disebut lembah kerangka, karena mayat-mayat dari mereka yang terbunuh di padang perburuan itu selalu dilemparkannya ke dalam lembah dan menjadi makanan anjing-anjing liar dan burung-burung pemakan bangkai

Dalam pada itu, orang bertubuh kekar itu pun menggeretakkan giginya. Katanya, “Meskipun orang itu tamu Cempaka, tetapi sebaiknya kita mencegah pembunuhan yang akan dilakukannya”

“Kau akan berdiri dipihak kedua orang itu?” bertanya Rahu.

Orang itu menjadi ragu-ragu. Ia mengerti, siapakah Cempaka itu di dalam tataran para penghuni padepokan Sanggar Gading. Namun rasa-rasanya pembunuhan yang akan dilakukan itu telah mencemarkan nama Sanggar Gading pula, seolah-olah Sanggar Gading itu adalah sarang orang-orang kerdil yang tidak berarti apa-apa.

“Rahu” berkata orang itu, “Aku tahu siapa orang itu. Aku mengerti, bahwa aku tidak perlu mengganggu kepentingan Cempaka dengan orang itu. Tetapi aku tidak mau memberi kesempatan kepadanya menghina orang-orang Sanggar Gading seperti itu”

“Itu adalah salah kita sendiri. Kita yang merasa diri kita tidak terkalahkan dengki dan iri hati, sehingga setiap orang harus dibunuh agar penghuni Sanggar Gading tidak bertambah lagi. Aku pun tidak berkeberatan jika penghuni Sanggar Gading justru menjadi susut”

“Kau memang sudah gila” geram orang itu, “biarlah aku akan menunjukkan kepada orang itu, bahwa isi Sanggar Gading bukannya kedua orang dungu itu. Aku akan menundukkannya dan memaksanya mengakui, bahwa ia bukan orang yang luar biasa. Bahkan ia harus berlutut dan mohon maaf akan penghinaannya atas orang-orang Sanggar Gading”

“Kau seharusnya dapat mengurai persoalan dengan nalar. Kau benar-benar tidak dapat menghubungkan peristiwa dengan akibatnya”

“Apa maksudmu?”

“Jika orang itu tidak berusaha mengalahkan lawannya, maka ia akan mati, sengaja atau tidak sengaja menghinakan Sanggar Gading. Jika ia ingin tetap hidup, ia harus berjuang dan membunuh lawannya yang menurut pengertianmu adalah suatu penghinaan bagi Sanggar Gading. Apakah menurut jalan pikiranmu, agar orang itu tidak kau anggap menghina Sanggar Gading, ia harus membiarkan dirinya dibunuh oleh kedua orang itu. Benar-benar dibunuh sampai mati dan dilemparkan ke lembah kerangka?”

Orang itu menggeretakkan giginya. Katanya, “Aku tidak peduli. Aku akan memaksa orang itu mengakui kebesaran nama Sanggar Gading”

Rabu menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menjawab, hatinya berdesir melihat Jlitheng berhasil melukai lawannya yang seorang lagi. Bahkan kemudian serangannya datang bagaikan banjir bandang menghantam kedua lawannya berturutan. Ketika kedua lawannya berloncatan surut, maka Jlitheng tidak mau melepaskannya. Dengan tangkasnya ia meloncat memburu. Pedangnya terjulur mengarah ke lambung salah seorang lawannya yang membawa tombak. Dengan sisa-sisa tenaganya orang itu berusaha menangkis serangan Jlitheng. Tetapi dengan cepat Jlitheng menarik pedangnya, dan justru kemudian diputarnya memukul landean tombak lawannya.

Demikian kerasnya, sehingga tangan orang yang sudah menjadi semakin lemah itu tidak lagi mampu bertahan. Tombak itu telah terlepas pada satu pegangan tangannya. Namun sentuhan berikutnya telah melepaskan tombak itu sama sekali.

Ternyata kawannya yang melihat kesulitan itu. Karena itu, maka ia pun dengan serta merta telah menyerang Jlitheng untuk menggeser perhatiannya. Bahkan senjatanya benar-benar mengarah ke punggung Jlitheng yang sedang berusaha melepaskan senjata lawannya.

Namun Jlitheng benar-benar seorang anak muda yang tangkas. Ia sempat mengelak, justru setelah ia telah berhasil memukul senjata lawannya yang seorang sehingga terlepas.

Rahu menahan nafasnya. Nampaknya orang yang dikawalnya bernama Bantaradi itu benar-benar tidak ragu-ragu Demikian senjata lawannya terlepas, maka iapun berusaha memburunya sambil memutar senjatanya.

Dengan loncatan panjang, lawannya menjauhinya, sementara yang seorang lagi berusaha untuk menahan Jlitheng. Tetapi karena keduanya sudah terluka dan yang seorang sudah tidak bersenjata lagi, maka bagi Jlitheng sebenarnya sudah tidak ada kesulitan apapun untuk dengan segera mengalahkan mereka.

Namun dalam pada itu, orang yang datang berkuda, yang kemudian berdiri dengan tegangnya di sisi Rahu itu pun menggeram, “Aku tidak peduli. Tidak ada orang yang pernah menghukum salah seorang dari kita yang membunuh dipadang kematian ini. Cempaka pun tidak akan berbuat demikian, karena ia pun ingin mengetahui tingkat ilmu tamu-tamunya. Sekarang, akulah yang akan membunuhnya. Jika tidak, biarlah aku yang dibunuhnya”

“Jangan tergesa-gesa” tahan Rahu.

Tetapi orang itu sudah tidak menghiraukannya lagi. Sambil berteriak ia melangkah maju. Katanya, “He, orang gila. Kau sangka bahwa yang kau lakukan itu menyenangkan hati kami. Aku tahu kau adalah tamu yang diundang oleh Cempaka. Tetapi jika kau tidak mempunyai tataran ilmu setinggi aku, maka tidak ada gunanya kau memasuki Sanggar Gading”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Kemudian katanya sambil menunjuk dengan pedangnya kearah dua orang itu, “Dua orang kawanmu telah aku lumpuhkan. Aku tinggal membunuhnya dan melemparkannya ke lembah yang disebutnya kerangka, meskipun aku belum tahu letaknya”

“Setan. Kau menghina orang-orang Sanggar Gading”

“Kau sendiri telah menghina kedua orang kawanmu. Biarlah ia menemui kematian seperti ia melihat orang lain mati di padang perburuan ini”

“Persetan. Aku yang akan membunuhmu dan membawa kepalamu kepada Cempaka untuk mengatakan kepadanya, bahwa kau tidak pantas mengunjunginya”

Wajah Jlitheng menjadi tegang. Ia tahu, bahwa orang ini tentu merasa dirinya lebih baik dari kedua orang yang telah dikalahkannya itu. Sehingga dengan demikian, maka ia benar-benar akan bertempur dengan segenap kemampuan yang ada. Apalagi nampaknya orang itu adalah orang yang benar-benar berdiri Sanggar Gading. Tanpa ragu-ragu dan tidak mengenal kebaikan hati.

Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Sekilas dilihatnya kedua orang yang sudah dilukainya. Agaknya karena darah yang terlalu banyak mengalir, maka keduanya menjadi semakin lemah, sehingga keduanya tidak akan banyak berpengaruh lagi seandainya keduanya akan ikut pula bertempur bersama orang baru itu.

Sementara orang itu menjadi semakin dekat, maka mereka telah dikejutkan pula oleh derap kaki kuda. Sejenak kemudian dari arah orang yang berhadapan dengan Jlitheng itu datang, telah datang pula dua orang penunggang kuda.

Sejenak orang-orang yang ada di padang itu termangu-mangu. Namun sejenak kemudian orang yang sudah siap untuk bertempur dengan Jlitheng itu berdesis, “Setan. Cempaka telah datang. Aku kehilangan kesempatan untuk membunuhnya jika Cempaka curang”

“Kenapa, ia curang?” tiba-tiba saja Jlitheng bertanya.

“Seharusnya, ia membiarkan apa yang dapat aku lakukan atasmu dalam kesempatan yang sama” geram orang itu.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu, apa yang kira-kira akan dilakukan oleh Cempaka jika ia datang mendekat.

Sejenak mereka menunggu. Rahu yang berdiri beberapa langkah dari arena perkelahian itu pun kemudian beringsut menyongsong Cempaka yang justru langsung menuju kepadanya.

“Apa yang terjadi?” bertanya Cempaka kepada Rahu.

“Kami ingin mengetahui, apakah orang ini pantas memasuki Sanggar Gading” Orang yang siap bertempur melawan Jlitheng itulah yang mendahului menjawab.

Cempaka mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku mengundangnya”

“Tetapi ia harus meyakinkan kami”

Cempaka termenung sejenak. Lalu katanya, “Bagus. Jika kau tidak yakin siapakah orang bernama Bantaradi itu, lakukanlah” ia berhenti sejenak, lalu, “Kenapa yang dua orang itu?”

Rahu lah yang menjawab, “Merekalah yang mula-mula ingin menahan Bantaradi. Tetapi keduanya telah terluka. Ketika Bantaradi siap membunuh mereka, maka ia harus mendapat lawan yang baru”

Cempaka tertawa. Katanya, “Sebenarnya yang kita lakukan selama ini bukanlah untuk mengetahui tingkat kemampuan orang-orang baru yang datang. Dengan cara demikian, apalagi tiga empat orang bersama-sama bertempur untuk menjajagi kemampuan orang lain, adalah sama artinya dengan pembantaian tanpa mengetahui takaran yang sebenarnya”

“Kenapa baru sekarang hal itu kau katakan” geram orang yang sudah siap untuk bertempur.

“Biasanya aku tidak berkepentingan. Sekarang aku berkepentingan dengan orang itu. Tetapi jika kau anggap perlu untuk menjajagi kemampuannya, lakukanlah. Seorang melawan seorang, meskipun tamuku telah berhasil mengalahkan dua orang bersama-sama”

“Tetapi kedua orang itu adalah tikus-tikus yang besar kepala”

“Dan kau adalah kelinci yang besar telinga” Orang itu menjadi merah. Tetapi ia menggeram, “Kita akan melihat. Jika kepala orang itu terkapar di padang ini, maka ia tidak berhak sama sekali menyentuh padepokan Sanggar Gading, siapapun yang mengundangnya”

“Bagus, “ Jlitheng menjawab, “Tetapi jika kepalamu yang terpenggal berarti bahwa Sanggar Gading sudah melepaskan orang yang tidak berhak tinggal lebih lama lagi. Aku akan menggantikanmu dalam kedudukan yang lebih kuat, karena aku berhasil membunuhmu dan sekaligus memotong lehermu”

“Gila” Orang itu menggeram.

Sementara Cempaka berkata, “Marilah kita melihat Siapakah yang hanya besar mulutnya saja”

Orang yang sudah siap melawan Jlitheng itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak ingin melangkah mundur lagi. Apalagi Cempaka membiarkannya untuk berkelahi melawan orang yang dipanggilnya memasuki padepokan Sanggar Gading itu.

Sementara itu Jlitheng pun sudah siap pula. Ia sadar, jika tidak dilakukan saat itu, maka meskipun ia sudah berada di dalam lingkungan Sanggar Gading, namun tentu masih saja ada orang yang ingin menjajagi ilmunya.

Karena itu, maka Jlitheng benar-benar tidak dipengaruhi lagi oleh keragu-raguan. Ia pun benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia bukan saja harus mempertahankan dirinya karena lawannya agaknya benar-benar ingin membunuhnya, tetapi iapun harus mampu memberikan kesan bahwa ia memang seorang yang pantas berada diantara para pemimpin Sanggar Gading. Kemudian ikut bersama mereka menyelesaikan tugas yang berat dalam jalur usahanya untuk memecahkan teka-teki pusaka yang tersimpan di sekitar bukit gundul yang merupakan bagian dari Sepasang Bukit Mati.

“Tanpa meyakinkan mereka bahwa aku mampu berbuat sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading, maka aku tidak akan dapat menyertai mereka. Aku harus tahu, orang yang dimaksud oleh Daruwerdi. Orang yang telah menjadi sasaran dendamnya” berkata Jlitheng di dalam hatinya.

Karena itulah, maka Jlitheng sudah bertekad untuk bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya dihadapan Cempaka.

Sejenak kemudian kedua orang itu sudah berhadapan. Cempaka yang kemudian diikuti oleh orang yang datang bersama serta Rahu, melangkah maju mendekat. Agaknya mereka ingin menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang cukup jelas.

Kepada kedua orang yang telah terluka itu Cempaka berkata, “Minggirlah. Kalian sudah tidak berharga lagi”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun ketika Cempaka memandang mereka dengan tajamnya, maka keduanya pun melangkah surut

“Jika kalian masih ikut campur, maka akulah yang akan membunuh kalian” geram Cempaka.

Kedua orang itu tidak menjawab. Yang terjadi saat itu memang agak berbeda dengan yang pernah dan bahkan beberapa kali terjadi. Biasanya orang-orang yang melintasi padang itu, sengaja atau tidak sengaja pergi ke Sanggar Gading atau sekedar lewat, telah menjadi sasaran kebencian orang-orang Sanggar Gading. Mereka membunuh orang-orang yang mereka jumpai. Jika seorang dari mereka tidak mampu melakukannya, maka yang lain datang membantu, seperti yang dilakukan oleh orang yang datang berkuda yang pertama. Tetapi agaknya Cempaka telah ikut campur, dan bahkan menunggui pertempuran yang bakal datang.

“Cepat” teriak Cempaka yang tidak sabar lagi menunggu, “Siapa yang mampu membunuh, cepatlah membunuh”

Orang Sanggar Gading yang sudah berhadapan dengan Jlitheng itu pun maju selangkah. Ia mulai menggerakkan senjatanya, sementara Jlitheng telah bersiap pula. Kakinya melenggang setengah langkah, sambil sedikit merendah pada lututnya, sementara senjatanya pun mulai bergetar.

Sejenak kemudian, maka orang Sanggar Gading itu telah mulai meloncat menyerang. Demikian cepatnya, sehingga orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar.

Tetapi Jlitheng yang telah bersiaga sepenuhnya itu sempat berkisar. Ujung senjata lawannya sama sekali1 tidak menggores kulitnya.

Namun dengan demikian Jlitheng dapat menduga betapa lawannya mampu bergerak demikian cepatnya. Jika kakinya telah basah oleh keringat, maka ia tentu akan mampu bertempur lebih garang lagi.

Dalam pada itu, Jlitheng yang ingin menunjukkan kelebihannya, karena ia mempunyai pamrih khusus untuk dapat ikut serta dalam tugas yang bakal dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading, telah membuat perhitungan tertentu. Ia harus dapat memberikan kesan, bahwa ia memang seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, melampaui orang yang sedang berusaha membunuhnya itu.

Dengan demikian, maka pada langkah berikutnya, Jlitheng tidak mau menyia-nyiakan waktu. Tiba-tiba saja ia telah membalas setiap serangan dengan serangan. Segenap kemampuannya telah dikerahkannya pada tingkat pertama dari pertempuran itu, dengan kesadaran sepenuhnya, jika ia gagal mengalahkan lawannya dengan segera, maka ia akan mengalami kesulitan, karena tenaganya telah terperas dan nafasnya tentu akan ikut mengganggunya.

Tetapi pada langkah-langkah berikutnya, Jlitheng mulai mempunyai harapan bahwa cara yang ditempuhnya tidak akan jauh meleset.

Dengan segenap kemampuan dan ilmunya, Jlitheng bagaikan berloncatan memutari lawannya. Pedang tipisnya bergetar dan mematuk dari segenap arah. Seolah-olah lawannya sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerangnya pula.

“Gila” geram lawannya

Sementara Cempaka yang berdiri beberapa langkah dari arena, mengerutkan keningnya dengan hati yang tegang.

“Luar biasa” desisnya.

Rabu mendengar desis itu. Tetapi ia menahan senyumnya agar tidak menumbuhkan kesan yang khusus di hati Cempaka.

Dalam pada itu, dalam waktu yang terhitung singkat, Jlitheng telah berhasil mendesak lawannya. Lawan yang merasa dirinya memiliki kelebihan dari dua orang kawannya yang dapat dikalahkan oleh Jlitheng. Tetapi orang itu sama sekali tidak menduga, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan yang sangat mengejutkan.

Tetapi orang itu tidak segera menjadi putus asa. Ia pun memiliki pengalaman yang luas menghadapi berbagai macam keadaan. Karena itulah maka ia berusaha untuk mengenal kelemahan lawannya.

Namun Jlitheng sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya. Setiap saat dipergunakannya sebaik-baiknya. Sehingga dengan demikian, beberapa kali lawannya hanya dapat berloncatan surut tanpa dapat memberikan perlawanan yang berarti.

“Anak iblis” Orang itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Seolah-olah semuanya demikian cepatnya terjadi.

Bersambung ke jilid 8

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com

oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s