MAdBB-04


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 4

kembali | lanjut

cover madbb-04SAMBIL menepuk punggung anaknya Kiai Kanthi. berkata, “Sudahlah Swasti. Beristirahatlah. Kau sudah menyelesaikan tugasmu dengan baik, meskipun bukan yang terbaik, karena kedua lawanmu telah kau bunuh.”

Swasti tidak menjawab. Ketika ayahnya kemudian memegang pundaknya dan mendorongnya duduk dibawah sebatang pohon besar, Swasti seolah-olah tidak mempunyai sikap lagi menghadapi kenyataan itu.

“Beristirahatlah Swasti. Kau tentu lelah.”

Swasti mengangguk. Sementara ia melihat ayahnya telah memungut pisau belatinya dari tubuh lawannya, dan menusukkan ke tanah beberapa kali, sehingga darah yang melekat telah menjadi bersih karenanya.

“Inilah senjatamu. Nanti, kau dapat mencucinya di parit dibawah telaga itu,” desis ayahnya.

Swasti hanya mengangguk saja. Namun ia masih gemetar seperti juga nafasnya masih saling memburu di lubang hidungnya.

“Kau dapat mengatur pernafasanmu. Kau harus menjadi tenang dan mengerti seluruhnya atas peristiwa yang baru saja kau alami,” berkata ayahnya.

Swasti mengangguk. Dicobanya untuk menguasai pernafasannya dan mengaturnya perlahan-lahan.

Akhirnya Swasti berhasil menenangkan dirinya. Nafasnya mulai teratur dan detak jantungnya pun mulai menurun.

Namun dalam pada itu. selagi ia duduk tenang dan menguasai diri sepenuhnya, perasaannya telah terganggu oleh suara dikejauhan. Lamat-lamat Swasti mulai mendengar lagi suara kentongan dalam irama yang tidak teratur.

“Suara kentongan itu ayah,” desis Swasti.

Ayahnya mengerutkan keningnya. Katanya, “Agaknya anak yang dicari itu masih belum diketemukan. Dan mereka akan tetap mencari meskipun sampai tiga hari tiga malam. Baru setelah tiga hari tiga malam mereka tidak menemukannya, maka mereka akan menganggap anak itu benar hilang. Dan mereka pun akan melakukan upacara seolah-olah anak itu sudah meninggal.”

“Ayah,” tiba-tiba saja Swasti bangkit, “apakah mereka mencari anak itu?”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Dipandanginya anak muda yang terbaring. Tetapi ia tidak pingsan lagi. ia tertidur karena sentuhan tangan Kiai Kanthi sebelum ia mengerti apakah yang telah terjadi atasnya.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin. Mungkin anak itulah yang dicarinya.”

“Jadi, apakah kita akan mengatakannya kepada mereka, bahwa kita telah menemukannya disini?”

Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu. Kemudian katanya, “Jika demikian, maka akan timbul banyak pertanyaan tentang anak itu. Jika anak itu sadar, ia akan mengatakan, bahwa ia telah dibawa oleh dua orang Pusparuri. Dan orang-orang padukuhan itu pun akan mengusut pula, dimana kedua orang Pusparuri itu. Terutama Daruwerdi. Agaknya ia memang mempunyai hubungan dengan pimpinan perguruan Pusparuri meskipun tidak diketahui sepenuhnya oleh orang-orang Pusparuri sendiri.”

“Jadi apakah yang sebaiknya kita lakukan dengan anak muda itu, ayah?” bertanya Swasti.

Tiba-tiba wajah Kiai Kanthi menjadi cerah. Sambil tersenyum ia berkata, “Marilah kita bermain-main dengan orang-orang padukuhan Lumban. Kita akan menghilangkan jejak yang dapat menumbuhkan kecurigaan orang-orang padukuhan. Kita akan membawa anak muda itu dan menyerahkan kembali kepada orang-orang Lumban tanpa menampakkan diri.”

“Maksud ayah?”

“Kita bawa anak muda itu dan kita letakkan di bawah pohon randu alas di ujung padukuhan sebelah Utara, di batas hutan perdu. Kita akan dengan mudah bersembunyi agar tidak dilihat oleh orang-orang Lumban yang sedang mencari anak itu.”

“Bagaimana jika mereka tidak mencarinya ke randu alas itu ?”

“Aku akan membawa titikan dan membuat api. Dengan sepercik belerang, maka api emput itu akan menyala seperti jika kita menyalakan perapian. Api belerang yang kebiru-biruan itu akan mengundang perhatian mereka.”

“Apakah mereka akan melihat api belerang yang kecil itu?”

“Mudah-mudahan. Aku mengira, bahwa mereka masih akan berputar-putar di seluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon serta sekitarnya. Pada suatu saat tentu ada sekelompok dari mereka yang akan lewat didekat randu alas itu meskipun sudah empat lima kali mereka lewati.”

Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah kita coba ayah. Tetapi bagaimana membawa anak muda itu ?”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Nampaknya iapun mulai memikirkan bagaimana membawa anak yang tertidur itu. Tentu tidak mungkin untuk menyadarkannya, kemudian mengajaknya turun. Dengan demikian, ia tentu akan bercerita tentang hutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak gadisnya.

“Swasti,” berkata ayahnya, “meskipun aku sudah menjadi semakin tua, tetapi agaknya aku masih kuat mengangkatnya turun sampai ke ujung padukuhan itu.”

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Aku tentu juga dapat membantu ayah. Agaknya aku-pun kuat mengangkatnya diatas bahu.”

“Tetapi itu tidak pantas. Ia seorang anak muda.”

“Ah,” Swasti berdesah.

Sejenak kemudian. Kiai Kanthi pun mencoba mengangkat anak muda itu di atas pundaknya. Kemudian membawanya melangkah beberapa langkah.

“Tidak terlalu berat Swasti. Agaknya aku akan dapat membawanya turun tanpa kesulitan.”

Swasti memandang ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

Keduanya pun kemudian menuruni tebing pegunungan yang sudah tidak begitu tinggi meskipun kadang-kadang curam, tetapi kadang-kadang bagaikan sudah disediakan tangga-tangga batu padas. Tetapi keduanya dapat memilih jalan yang tidak terlalu sulit untuk mencapai dataran dibawah.

Ternyata bahwa Kiai Kanthi yang tua itu masih cukup kuat dan tangkas. Bagaimanapun juga ia adalah seorang yang mumpuni. Seorang yang memiliki kekuatan melampaui kekuatan orang kebanyakan Dan iapun mempunyai daya tahan melampaui orang kebanyakan pula.

Tanpa mengalami kesulitan. Kiai Kanthi dan Swasti pun kemudian telah berada di dataran dibawah butut. Kemudan dengan hati-hati mereka membawa anak yang tertidur nyenyak itu kebawah sebatang randu alas yang besar dan berdaun rimbun.

“Letakkan di gerumbul dibawah pohon itu ayah,” desis Swasti.

“Mudah-mudahan anak itu tidak dipatuk ular.”

“Ia tidak bergerak-gerak, tentu ia tidak akan dipatuk ular.”

“Jadi, apakah ia akan kita biarkan tidur terus, dan tidak ada yang akan dapat membangunkannya?”

“Aku kira, Jlitheng yang sombong itu akan dapat membangunkannya.”

“Tetapi biarlah kita menunggu sampai kita yakin akan diketemukan. Kemudian kita bangunkan anak itu, sementara itu kita bersembunyi baik-baik.”

“Terserah saja kepada ayah,” desis Swasti.

Kiai Kanthi pun kemudian meletakkan tubuh Kuncung didalam gerumbul yang tidak terlalu rimbun. Dengan sengaja ia membiarkan kaki anak muda itu terjulur.

“Kita menunggu. Aku yakin, bahwa salah satu kelompok dari mereka yang mencari anak yang hilang itu akan datang lagi kebawah pohon randu alas yang besar ini.”

“Tetapi, bagaimanakah jika yang sebenarnya mereka cari bukan anak ini ayah?” bertanya Swasti.

“Siapapun juga. tetapi kita telah mengembalikan anak yang malang ini kepada keluarganya, sementara kita masih mempunyai pekerjaan mengubur dua sosok mayat yang kita tinggalkan di hutan itu.”

Swasti mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan kelompok yang kita dengar suara kentongan dan tetabuhannya itu menuju kemari.”

Beberapa saat lamanya keduanya menunggu. Tetapi ternyata kelompok pertama dari orang-orang yang mencari anak yang diculik hantu itu tidak lewat dibawah pohon randu alas itu.

Namun beberapa saat kemudian kelompok yang lain telah mendekat pula.

“Suaranya ribut sekali ayah,” desis Swasti.

“Ya.” Mereka memukul apa saja yang mereka dapat. Kentongan, tambir, tampah dan mungkin potongan-potongan besi dan senjata. Mereka membunyikan asal saja membunyikan tanpa irama tertentu.”

“Nah, kalau kelompok yang kemudian ini nampaknya benar-benar akan melalui jalan ini.” gumam Swasti.

Untuk sesaat lagi mereka menunggu. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa buah obor muncul dari padukuhan. Mereka melalui jalan bulak yang semakin lama menjadi semakin dekat dengan pohon randu alas itu.

“Aku akan menyalakan api yang berwarna biru agar mereka tertarik dan datang kemari,” berkata Kiai Kanthi.

Kiai Kanthi pun kemudian menyalakan api dengan titikan dan seperingkil belerang. Api yang berwarna kebiru-biruan telah menyala. Dengan menggerakkan api itu, maka Kiai Kanthi mengharap, bahwa api itu akan menarik perhatian.

“Mereka akan mengira, api ini kemamang yang terbang mengitari pohon randu alas ini,” desis Kiai Kanthi.

“Jika demikian mereka akan takut mendekat,” desis Swasti.

“Tidak. Jika mereka seorang-seorang, mereka memang akan takut mendekat. Tetapi bersama-sama mereka akan merupakan kelompok pemberani yang justru akan datang untuk melihat, apakah yang terdapat dibawah pohon randu alas ini.”

Ternyata beberapa orang yang berjalan di bulak itu, benar-benar melihat sepercik api berwarna kebiru-biruan. Api yang seolah-olah terbang berputaran mengelilingi pohon randu alas, karena Kiai Kanthi memang membawa api diatas sebuah kulit kayu mengelilingi pohon randu alas itu. Api yang tidak begitu besar. Tidak lebih dari sekepalan tangan. Namun dapat dilihat dari bulak yang pendek, yang tidak begitu jauh dari pohon randu alas itu, dan api itu mempunyai warna yang khusus.

Karena itu, maka seperti yang diharapkan, maka nyata api yang kebiru-biruan itu benar-benar telah menarik perhatian.

“He, kau lihat api dibawah pohon randu alas itu,” desis seseorang yang sedang memukul sepotong besi dengan potongan besi yang lain.

Seorang yang memukul kentongan disebelahnya mengerutkan keningnya. Iapun telah melihat api yang kebiru-biruan itu. Maka katanya, “Ya. Api itu agak aneh. Apakah api itu mempunyai arti yang khusus.”

“Mungkin. Mungkin sekali,” sahut yang lain.

Api belerang itu akhirnya telah menarik perhatian seluruh kelompok pencari anak yang hilang itu. Seorang yang berambut putih berdesis, “Menarik sekali. Apakah benar cahaya yang kebiru-biruan itu mempunyai arti khusus ?”

“Mungkin sekali,” sahut yang lain.

“Marilah kita lihat,” berkata orang tua itu lebih lanjut.

Sejenak kawan-kawannya saling berdiam diri. Tetabuhannya pun terdiam beberapa saat.

“Marilah,” orang tua itu mendesak.

Kawan-kawannya masih ragu-ragu. Namun akhirnya orang tua itu berkata, “Aku akan berdiri di paling muka. Berikan obor itu kepadaku.”

Seorang anak muda yang pucat memberikan obor kepada erang berambut putih itu. Kemudian, beriringan mereka menuju ke pohon randu alas yang diputari oleh semacam cahaya yang berwarna kebiru-biruan.

Kiai Kanthi telah memperhitungkan, pada jarak yang mana ia harus bersembunyi. Sehingga karena itulah, maka kelompok-kelompok orang-orang itu tertegun ketika mereka melihat tiba-tiba saja api yang berwarna kebiru-biruan itu hilang.

Meskipun demikian, orang berambut putih itu berkata, “Kita akan membuktikannya kebawah randu alas itu. Pukul semua alat yang ada pada kita sekeras-kerasnya. Jika ada hantu di randu alas itu, biarlah mereka menyingkir karena telinga mereka menjadi sakit oleh suara ini.”

Dengan demikian, maka tetabuhan pun menjadi semakin keras. Perlahan-lahan iring-iringan itu maju meskipun dengan hati yang berdebar-debar.

Ketika mereka mendekati pohon randu alas yang besar itu, mereka sama sekali tidak melihat sesuatu. Mereka tidak melihat cahaya yang kebiru-biruan. Mereka tidak melihat seseorang dan tidak melihat apapun juga.

“Tidak ada apa-apa,” desis seseorang.

“Ya. Tidak ada,” sahut yang lain.

Tetapi orang berambut putih itu berkata, “Kita akan mencari di sekeliling randu alas ini. Bunyikan tetabuhan itu sekeras-kerasnya.”

Sekali lagi orang-orang dalam kelompok itu memukul benda-benda yang mereka bawa sekeras-kerasnya. Bunyinya benar-benar memekakkan telinga, sehingga jika mereka berbicara diantara sesama mereka, maka mereka pun harus berteriak sekeras-kerasnya pula.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka menjerit. Suaranya melengking mengatasi suara tetabuhan yang hiruk pikuk.

“Ada apa?” bertanya seorang kawannya yang juga menjadi pucat.

“Ya Ada apa?” desak yang lain.

Orang itu menjadi gagap. Sambil menunjuk ke sebuah gerumbul di tepi jalan, dibawah randu alas itu ia berkata terputus-putus, “Itu, itu. Lihat.”

Semua orang berpaling kearah gerumbul yang ditunjuk. Merekapun terperanjat ketika mereka melihat dua batang kaki yang terulur dari gerumbul itu.

Belum lagi jantung mereka mereda, mereka telah dikejutkan lagi oleh suara yang mengerikan, yang telah mendirikan bulu tengkuk mereka.

Suara itu adalah suara perempuan. Tetapi suara tertawa perempuan itu benar-benar suara tertawa hantu yang menakutkan. Suara tertawa yang bagaikan menghentak jantung setiap orang yang berada dibawah pohon randu alas itu.

“Itu adalah iblis betina,” berkata setiap orang didalam hati mereka masing-masing.

Suara tertawa itu semakin lama terdengar semakin keras, Dan suara tertawa itu bagaikan meretakkan dada mereka.

Setiap orang telah melepaskan benda-benda ditangannya. Mereka menutupi telinga mereka dengan kedua telapak tangan. Bahkan ada diantara mereka yang terduduk lemah tidak berdaya.

“Aku kembalikan anak itu kepada kalian orang-orang Lumban yang dungu,” terdengar suara yang tidak jelas sumbernya, “aku tidak memerlukan anak yang bodoh dan penakut. Ambillah salah seorang anakmu ke orang-orang Lumban. Untuk beberapa saat ia akan tetap tertidur. Tetapi ia akan bangun pada saatnya. Mungkin untuk sehari dua hari ingatannya belum pulih. Tetapi itu bukan salahnya.”

Orang-orang dibawah pohon randu alas itu menjadi gemetar.

“Ambillah. Aku akan pergi,” terdengar suara itu melanjutkan. Disusul oleh suara tertawa berkepanjangan. Semakin lama semakin jauh dan akhirnya hilang ditelan desau angin malam yang dingin.

Beberapa saat lamanya orang-orang Lumban itu masih dicengkam ketakutan. Namun kemudian orang yang berambut putih dan menggenggam obor ditangannya itu berkata, “Anak itu sudah diserahkannya. Marilah, kita mengambilnya. Kita tidak bersalah dan kata tidak akan dikutuknya, karena yang terjadi adalah oleh kehendak iblis betina itu sendiri.”

Beberapa orang masih ragu-ragu. Namun akhirnya mereka pun mendekati gerumbul dibawah pohon randu atas itu. Mereka masih melihat dua batang kaki yang terjulur.

“Itu tentu kaki Kuncung,” berkata orang berambut putih itu.

Kemudian dibantu oleh beberapa orang yang masih berdebar-debar, mereka menarik kaki yang mereka lihat.

“Kuncung, benar-benar-Kuncung,” desis beberapa orang.

Orang-orang yang kemudian mengerumuninya menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah menemukan anak yang mereka cari. Tetapi ternyata bahwa Kuncung masih berdiam diri. Ia masih tetap tidur nyenyak.

“Ia mati,” desis seseorang.

“Tidak, Ia tidur seperti yang dikatakan oleh iblis betina itu. ia masih tetap bernafas,” sahut orang berambut putih.

“Marilah kita bawa kembali kepadukuhan,” berkata yang lain.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun kemudian beramai-ramai menggotong Kuncung yang masih tertidur nyenyak dengan nafas yang mengalir teratur dari lubang hidungnya.

Ketika anak itu dibawa masuk ke padukuhan, maka gemparlah padukuhan induk Lumban Wetan. Setiap orang telah keluar dari rumahnya untuk melihat Kuncung yang baru saja dicuri oleh hantu betina.

Sementara itu, Jlitheng yang kebingungan, seolah-olah telah kehilangan akal. Kemana ia harus mencari Kuncung yang hilang itu. Seluruh daerah Lumban dan sekitarnya telah dijelajahinya Namun ia tidak menemukannya. Bahkan kemudian mulai tumbuh di pikirannya, “Apakah Kuncung benar-benar dibawa hantu?”

Dalam kebingungan itu tiba-tiba saja ia teringat kepada Daruwerdi yang berada di bukit gundul. Nampaknya ia memang menunggu seseorang.

“Apakah tidak ada sekelompok orang yang mencari ke bukit itu?” bertanya Jlitheng kepada diri sendiri.

Tetapi Jlitheng menggelengkan kepalanya. Bukit itu benar-benar gundul, sehingga orang-orang Lumban tentu menganggap bahwa tidak mungkin Kuncung disembunyikan ditempat itu.

Namun Jlitheng lah yang kemudaan berlari-lari ke bukit gundul itu. Ia ingin mengetahui, apakah yang dilakukan oleh Daruwerdi jika orang yang ditunggunya itu sudah datang. Apakah ada hubungannya dengan hilangnya Jlitheng atau tidak.

Tetapi ia menggeram ketika ternyata Daruwerdi telah tidak ada di bukit gundul itu. Sambil menghentakkan tangannya Jlitheng bergumam, “Gila. Aku kehilangan semuanya. Aku tidak menemukan Kuncung, sementara aku juga kehilangan Daruwerdi dan orang yang disebutnya Cempaka itu.”

Sejenak Jlitheng justru termangu-mangu. Rasa-rasanya rahasia yang meliputi padepokan Lumban Wetan dan Lumban Kulon justru menjadi semakin tebal.

Namun dalam pada itu Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara kentongan dalam nada dara-muluk. Diluar sadarnya ia bergumam, “Syukurlah. Anak itu sudah dapat diketemukan.” Namun tiba-tiba wajahnya menegang, “Tetapi hidup atau mati.”

Dengan serta merta Jlitheng pun telah meloncat berlari dengan sekencang-kencangnya lewat pematang dan jalan-jalan sempit yang memintas, langsung menuju ke induk padukuhannya.

Dengan nafas terengah-engah ia menemukan banyak orang yang berkerumun di banjar. Orang tua Kuncung duduk disamping anaknya yang terbujur diam sambil menangis.

“Ia kehilangan jiwanya, meskipun tidak nyawanya,” desis beberapa orang.

Kuncung memang masih tertidur nyenyak. Nafasnya mengalir dengan teratur. Tetapi tidak seorang pun yang dapat membangunkannya.

Untuk sesaat Jlitheng termangu-mangu. Seorang kawannya yang melihatnya berlari-lari bertanya, “Kemana kau selama ini Jlitheng ?”

“Aku ikut mencarinya. Tetapi aku tersesat. Seolah-olah jalan menjadi asing. Untunglah aku masih mendengar suara kentongan dan suara hiruk pikuk orang-orang yang mencari Kuncung,” jawabnya.

“O, agaknya kau pun hampir disambarnya,” desis kawannya yang lain.

Dari kawan-kawannya Jlitheng mendengar, bagaimana Kuncung itu diketemukan. Ketika sekelompok orang-orang Lumban lewat didekat randu alas, mereka telah melihat seekor kemamang berwarna kebiru-biruan terbang mengelilingi batang randu alas itu. Ketika kemudian mereka mendekat, mereka menemukan Kuncung, setelah lebih dahulu mereka mendengar suara hantu betina itu.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Mengerikan sekali. He, bagaimana jika aku juga dibawa oleh hantu betina itu?” desis Jlitheng.

“Kau akan pingsan untuk waktu yang lama, atau barangkali, yang sudah dikembalikan baru tubuhnya, belum jiwanya,” sahut kawannya.

Sejenak Jlitheng terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan melihat, apakah Kuncung terluka atau tidak.”

“Tidak. Tidak ada tanda-tanda luka padanya,” sahut kawannya.

Namun Jlitheng mendesaknya. Ketika ia menyibakkan beberapa orang, maka orang-orang itu membentaknya, “He, apa yang akan kau lakukan Jlitheng ?”

Jlitheng memandang berkeliling. Dilihatnya wajah-wajah yang tegang dan gelisah.

“Aku hanya ingin melihat saja,” desisnya.

“Jangan kau ganggu. Kita menunggu ia terbangun.”

“Apakah tidak dapat dibangunkan seperti membangunkan orang tidur nyenyak?” beritanya Jlitheng.

“Kau memang dungu. Ia tidak tidur sewajarnya tidur.” sahut salah seorang tua.

“Tetapi nampaknya benar-benar seperti tidur,” Jlitheng membantah.

Tanpa menghiraukan orang-orang yang memandanginya dengan marah, Jlitheng mendekati tubuh Kuncung yang terbujur. Kemudian dirabanya seluruh tubuh itu.

“Jlitheng, jika kau membuatnya celaka, maka kau akan dihukum oleh orang-orang di seluruh padukuhan,” desis seorang bertubuh tinggi besar, “kita sedang menunggu Ki Buyut di Lumban Wetan. Sentuhan tanganmu mungkin akan menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki.”

Jlitheng memandang orang itu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah aku boleh mengguncangnya seperti mengguncang orang tidur?”

“Jangan,” teriak seseorang.

Tetapi Jlitheng sudah melakukannya. Perlahan-lahan diguncangnya kaki Kuncung yang tertidur nyenyak itu.

Tidak seorang pun yang melihat, Jlitheng telah menyentuh tengkuk Kuncung disaat ia meraba-raba tubuh anak itu. Nampaknya Jlitheng menjadi curiga bahwa keadaan Kuncung disebabkan oleh kemampuan ilmu yang dapat membuatnya tidur.

Ternyata yang dilakukan Jlitheng itu telah mengejutkan orang-orang yang berkerumun. Mereka hanya melihat Jlitheng mengguncang kaki Kuncung. Namun kemudian mereka melihat Kuncung itu perlahan-lahan mulai bergerak dan membuka matanya.

“He, anak itu bangun,” tiba-tiba saja Jlitheng berteriak.

Setiap orang terguncang hatinya. Ternyata mereka benar-benar melihat Kuncung bergerak dan membuka matanya. Kemudian terdengar anak muda itu merintih.

Dengan cemas orang tua Kuncung bergeser mendekat. Diusapnya keningnya anaknya yang basah oleh keringat sambil menyebut namanya, “Supada, ngger Supada.”

Tetapi ayahnya kemudian memanggil dengan nama panggilannya sehari-hari “Cung, Kuncung.”

Namun itu lebih tajam menyentuh perasaannya, sehingga karena itu, maka ia pun mencoba untuk bangkit.

Dengan gemetar ayahnya membantunya mengangkat kepalanya. Kemudian membantunya pula duduk diantara orang-orang Lumban yang mengerumuninya.

Sejenak Kuncung kebingungan. Dipandanginya orang-orang yang mengerumuninya. Kemudian terdengar ia bertanya, “Dimanakah aku sekarang?”

“Kau berada di banjar ngger. Banjar padukuhan kita sendiri,” sahut ayahnya.

Tetapi nampaknya Kuncung masih bingung. Bahkan tiba-tiba saja ia bertanya, “Dimanakah kedua orang yang mengerikan itu sekarang?”

“Siapa ?” bertanya beberapa orang-orang Lumban hampir berbareng.

Kuncung menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi mereka telah membawa aku naik ke bukit itu. Mereka memaksa aku menceritakan sesuatu yang tidak aku ketahui.”

“Apa yang harus kau ceritakan?”

Kuncung menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang kemudian berusaha untuk mengatur diri, sehingga orang-orang yang mengerumuni Kuncung dapat melihat dan mendengar ia berceritera.

Kuncung pun kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Sejak ia kembali dari sungai yang hampir kering itu. Bagaimana ia bertemu dengan dua orang yang garang dan membawanya pergi. Iapun menceritakan apa yang ditanyakan oleh kedua orang itu kepadanya dan bagaimana ia mulai memukulnya.

Orang-orang Lumban itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan tegang. Bahkan mereka pun menjadi ngeri mendengarnya, seolah-olah mereka melihat dan mengalami apa yang telah dialami olah anak muda itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar seseorang tertawa. Ketika orang-orang Lumban itu berpaling, mereka melihat Jlitheng berusaha menahan tertawanya.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya beberapa orang hampir bersamaan.

Jlitheng terkejut ketika ia menyadari bahwa semua orang memperhatikannya Dengan gagap iapun menjawab, “Aku geli mendengar ceritera seseorang yang baru saja dibawa hantu betina. He, bukankah Kuncung diculik wewe dan dikembalikan dibawah pohon randu alas ?”

Kata-kata itu telah memperingatkan orang-orang Lumban, bagaimana mereka menemukan Kuncung. Karena itu, maka orang-orang Lumban itupun mengangguk-angguk sambil berkata kepada diri sendiri,” ia benar-benar kehilangan ingatan. Yang diceriterakan itu tentu bayangan yang dibuat oleh hantu betina itu.”

Namun tiba-tiba saja salah seorang dara mereka yang mengerumuni Kuncung itu bertanya, “Jlitheng, jika yang terjadi itu sekedar khayalan, maka kenapa hal itu pernah terjadi juga atasmu. Dan itu tentu bukan khayalan karena banyak orang yang melihat, bagaimana kau dibawa oleh dua orang yang garang, tepat seperti yang dikatakan oleh Kuncung.”

“Itulah yang menggelikan,” jawab Jlitheng, “ia pernah mendengar atau melihat dua orang yang membawa aku. Dalam ketidak sadarannya, karena ia dibawa oleh hantu betina, maka ingatan itu muncul seolah-olah terjadi atas dirinya. Dibantu oleh bayangan semu yang memang dibangunkan oleh iblis betina itu, maka seolah-olah yang terjadi adalah benar-benar telah terjadi.”

Orang-orang Lumban mengangguk-angguk kecil. Penjelasan Jlitheng memang masuk akal. Bahkan seorang tua berkata, “Darimana kau mendapatkan pengertian itu Jlitheng?”

Pertanyaan itu telah mengejutkan Jlitheng. Namun ia berusaha menjawab, “Mungkin kek. Mungkin demikian. Aku hanya menduga-duga.”

Tetapi orang-orang Lumban itu semakin mempercayai Jlitheng karena Kuncung kemudian tidak dapat menjelaskan, bagaimana mungkin ia berada dibawah pohon randu alas itu. Bahkan tertidur nyenyak seperti orang yang sedang pingsan.”

Dalam pada itu, ketika Ki Buyut Lumban Wetan datang ke banjar, maka orang yang mengerumuni Kuncung itupun menyibak. Dihadapan Ki Buyut, Kuncung menceriterakan kembali apa yang pernah diceriterakan.

Sementara itu, ketika perhatian setiap orang tertuju kepada Ki Buyut dan Kuncung, maka Jlitheng berbisik kepada kawannya yang duduk disebelahnya, “Aku akan ke sungai.”

“Kenapa ?” bertanya kawannya heran.

“Perutku sakit sekali.”

“He, kau dapat dibawa wewe seperti Kuncung.”

“Sedangkan Kuncung saja telah dikembalikannya. Ia tentu tidak memerlukan orang lain lagi. Setidak-tidaknya untuk sisa malam ini.”

Kawannya tidak mencegahnya. Sementara yang lain tidak memperhatikannya, ketika Jlitheng kemudian meninggalkan banjar.

Tetapi demikian ia sampai ke tempat yang sepi maka ia pun segera berlari sekencang-kencangnya. Bahkan ia telah mengerahkan kemampuan ilmunya untuk mendorong kekuatan kakinya, sehingga anak muda itupun kemudian telah berlari kencang sekali menuju ke bukit yang berhutan lebat.

Dengan tangkasnya anak muda itu meloncati batu-batu padas di lereng yang gelap. Di dataran-dataran sempit, pepohonan tumbuh hampir pepat. Tetapi Jlitheng yang nampaknya sudah terbiasa itu, dapat menempuhnya dengan cepat seolah-olah ia sedang berjalan di jalan yang datar dan rata.

Ketika ia sampai ke tempat Kiai Kanthi, dilihatnya orang tua itu duduk merenungi perapian yang kecil. Ia berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang mendekati. Namun Kiai Kanthi seolah-olah sudah mengetahui, bahwa yang datang itu adalah Jlitheng.

Karena itu, maka ia sama sekali tidak bergeser. Hanya wajahnya sajalah yang bergerak sambil tersenyum.

“Marilah ngger. Silahkan. Aku sudah menduga, bahwa kau akan datang kemari,” berkata Kiai Kanthi.

Jlitheng masih berdiri tegak. Nafasnya terasa memburu.

“Duduklah,” sambung Kiai Kanthi.

“Dimana Swasti, Kiai?” bertanya Jlitheng.

“Baru mandi dibalik gerumbul itu. Untunglah kau mengambil jalan ini. Jika kau mengambil sebelah, Swasti akan terpaksa membenamkan dirinya,” jawab orang tua itu.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun duduk disamping Kiai Kanthi. Sejenak ia mengatur pernafasannya.

“Kiai,” katanya kemudian, “aku sudah menduga, bukankah Kiai sudah mengembalikan seorang anak muda Lumban di bawah pohon randu alas?”

Kiai Kanthi tidak menyangkal. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya ngger. Aku sudah bingung, bagaimana caranya mengembalikan anak itu tanpa menumbuhkan kecurigaan. Aku sudah membunuh dua orang di lereng bukit itu. Tepatnya, Swasti lah yang sudah melakukannya.”

“Aku sudah menduga, bahwa Kuncung tentu dibawa oleh orang-orang yang asing bagi kami. Siapakah kedua orang itu Kiai?” beritanya Jlitheng.

Kiai Kanthi pun kemudian menceriterakan apa yang dilihat dan didengarnya. Dari awal sampai akhir.

“Jadi keduanya orang Pusparuri?”

Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Menurut tangkapanku, keduanya memang orang-orang Pusparuri. Mudah-mudahan mereka tidak sedang menyelubungi diri dengan sikap dan sebutan itu.”

“Dimana keduanya sekarang ?”

“Aku mengubur mereka dibawah pohon nyamplung yang besar itu.”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Swasti menyibak gerumbul dan berjalan melintas. Seperti biasanya gadis itu tidak mau duduk bersamanya. Ia duduk beberapa langkah dibelakang ayahnya, bersandar sebatang pohon menghadap kedalam gelapnya malam.

“Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “nampaknya daerah ini menjadi semakin banyak didatangi oleh orang-orang yang sebenarnya asing bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

“Termasuk kami berdua,” tiba-tiba saja Swasti memotong.

“Ya,” jawab Jlitheng, “juga termasuk aku dan Daruwerdi. Bahkan ketika aku mengikuti Daruwerdi ke bukit gundul, ketika kami sedang kebingungan mencari Kuncung, Daruwerdi sudah menyebut satu nama lagi. Cempaka. Mungkin nama sebenarnya, tetapi mungkin juga sekedar sebulan seperti Ular Sanca itu.”

“Dan apakah angger melihat orang yang disebut Cempaka?” bertanya Kiai Kanthi.

“Tidak Kiai. Aku lebih berat mencari Kuncung daripada menunggui Daruwerdi yang sedang menunggu Cempaka, Ketika kemudian aku kembali ke bukit gundul itu, Daruwerdi sudah tidak ada lagi.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia berdesah, “Nasibku agaknya memang kurang baik. Aku telah memasuki daerah yang sedang bergejolak.”

Jlitheng tidak menyahut. Namun Swasti lah yang kemudian berkata, “Sudah aku katakan ayah. Apakah tidak sebaiknya kita mencari tempat tinggal yang lain. Yang tidak dibayangi oleh kecurigaan dari segala pihak dan tidak selalu dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa seperti yang baru saja terjadi. Kita berusaha menolong seseorang. Tetapi kita tidak dapat menyatakan diri kita dengan terus terang.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang tempat ini dapat menumbuhkan ketegangan di hati. Tetap aku belum memastikan bahwa tempat ini tidak akan dapat menjadi tempat yang baik Swasti.”

“Dugaan-dugaan yang mengandung banyak kemungkinan itu memang dapat saja kita lakukan. Tetapi kita tidak akan dapat hidup dengan tenang dalam bayangan kegelisahan seperti sekarang,” Swasti berhenti sejenak, lalu, “yang baru saja kita lakukan telah membuat kita sangat lelah. Bukan saja badan kita, tetapi perasaan kita. Suaraku hampir menjadi serak sama sekali, karena aku harus berteriak-teriak menirukan suara hantu betina yang belum pernah aku dengar. Kemudian kita berlari-lari bersembunyi, justru karena kita sudah menolong seseorang.”

“Swasti,” berkata ayahnya dengan sareh, “aku masih berharap untuk menemukan hari kemudian yang baik disini.”

“Bukan itu,” bantah Swasti, “aku tahu, justru keadaan yang menegangkan itulah yang sudah menarik hati ayah.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah hanya aku saja yang sudah tertarik? Seandainya aku mengiakan permintaanmu untuk meninggalkan tempat ini dan aku benar berangkat esok pagi, apakah kira-kira kau akan mengikuti aku atau kau justru akan tetap tinggal disini?”

“Ah,” Swasti berdesah. Sementara ayahnya tersenyum. Katanya, “Swasti. Aku mengenalmu sejak kau masih bayi. Aku tahu sifat dan watakmu.”

“Ayah selalu berkata begitu,” Swasti berdesis.

Tetapi ayahnya masih saja tersenyum. Bahkan Jlitheng-pun tersenyum pula. Katanya, “Kiai, daerah seperti ini memang menjemukan, tetapi sekaligus sangat menarik untuk diperhatikan. Adalah wajar bahwa kita yang sudah terlanjur mengetahui serba sedikit bayangan-bayangan yang rahasia di daerah ini, ingin melihat kelanjutan dan apabila mungkin penyelesaian dari peristiwa ini.”

“Sifat ingin tahu seseorang adalah wajar sekali ngger. Tetapi mungkin diantara kita ada beberapa perbedaan. Jika kami benar-benar hanya didorong oleh sekedar ingin tahu. Mungkin kau mempunyai kepentingan yang lain,” berkata Kiai Kanthi.

“Atau sebaliknya Kiai. Setidak-tidaknya kita masing-masing mempunyai kepentingan yang beralasan sudut penglihatan kita masing-masing,” sahut Jlitheng.

“Itulah ujud kecurigaan yang dikatakan oleh Swasti. Tetapi itu pun wajar. Dan kadang-kadang saling mencurigai adalah menarik sekali,” sahut Kiai Kanthi.

Jlitheng tertawa. Namun kemudian katanya, “Ah, sudahlah Kiai. Aku hanya ingin meyakinkan, apakah dugaanku benar. Aku menjadi geli mendengar, bagaimana orang-orang Lumban menceriterakan tentang hantu betina yang tertawa terkekeh-kekeh saat ia mengembalikan Kuncung.”

“Tetapi suaraku hampir putus karena aku harus berteriak keras-keras,” tiba-tiba saja Swasti menyahut hampir diluar sadarnya.

Jlitheng tertawa tertahan, sementara Kiai Kanthi tersenyum sambil berkata, “Kami sadar apa yang kami lakukan. Kami-pun memang berharap bahwa angger dapat membangunkan anak yang tertidur itu meskipun kami agak cemas, bahwa yang menjumpai keadaan anak itu justru adalah angger Daruwerdi.”

“Aku masih harus menemukan anak muda itu,” berkata Jlitheng, “tetapi tentu aku sudah kehilangan orang yang disebutnya bernama Cempaka. Mudah-mudahan pada saat yang lain aku akan dapat menemukannya dalam keadaan yang bagaimanapun juga,” Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “sudahlah Kiai. Aku minta diri. Mungkin masih ada yang harus aku lakukan. Jika kawan-kawanku tidak lelah karena hampir semalam suntuk mereka harus mencari Kuncung, maka aku akan kembali bersama mereka untuk meneruskan kerja kita, membuka padepokan kecil itu.”

Ketika Jlitheng turun dari bukit itu dengan hati-hati. karena ia masih memperhitungkan kemungkinan hadirnya Daruwerdi, maka langit disebelah Timur pun mulai dibayangi oleh warna merah. Karena itu, maka ketika ia sudah yakin bahwa seorang pun yang melihatnya, maka iapun segera berlari-lari menuju ke padukuhannya.

Ternyata banjar padukuhan Lumban Wetan telah sepi ketika ia datang memasuki regolnya. Hanya tiga orang anak muda yang sedang berbaring di gardu. Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja melihat seseorang berdiri dimuka gardu.

“Anak setan,” desis salah seorang dari mereka, “kau mengejutkan kami Jlitheng.”

Jlitheng pun kemudian duduk diantara mereka sambil bertanya, “Apakah Kuncung sudah pulang?”

“Ya. Ia masih saja mengigau tentang dua orang yang berwajah mengerikan,” jawab salah seorang dari mereka.

Namun yang lain menyahut, “tetapi ada bekas biru-biru pengab di wajahnya. Jika ia tidak berkata sebenarnya, bahwa kedua orang itu telah memukulnya, maka apakah bekas biru-biru itu benar-benar akan terdapat di wajahnya.”

“Kau memang bodoh,” jawab Jlitheng, “setan betina itu tentu tidak berhati-hati. Ketika ia membawa Kuncung, mungkin wajah anak itu telah membentur pepohonan atau mungkin batu atau apapun, sehingga wajah itu telah menjadi merah biru.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Sudahlah. Aku akan tidur. Semalam suntuk aku tidak tidur sama sekali. Menjelang pagi aku masih mempunyai waktu. Mudah-mudahan tidak lambat bangun sehingga orang-orang yang- pulang dari pasar lewat jalan ini akan membangunkan aku.”

“Dan mudah-mudahan kau tidak dibawa hantu betina,” desis Jlitheng.

Tentu saat begini anak muda itu sambil membenahi selimutnya.

Jlitheng tidak lama berada di gardu itu. Iapun kemudian bangkit dan melangkah pulang kerumahnya.

Tetapi biyungnya tidak gelisah meskipun semalam suntuk Jlitheng tidak pulang, karena ia sudah mendengar dari seseorang, bahwa Jlitheng telah berada di Banjar.

“Orang sudah lama pulang,” berkata ibunya, “apa kerjamu di Banjar?”

“Menemani kawan-kawan yang bertugas di gardu,” jawab Jlitheng singkat, “dan aku pergi ke sungai barang sebentar.”

Ibunya tidak bertanya lagi. Sementara Jlitheng pun kemudian pergi ke pakiwan, mengisi jambangan dan kemudian mandi untuk menghapus keringat dan kotoran yang melekat di tubuhnya.

Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak dapat melepaskan ingatannya kepada peristiwa yang baru saja terjadi. Dua orang Pusparuri yang terbunuh. Sayang, bahwa mayatnya telah dikuburkan dan ia malas untuk membuka kembali. Jika belum terlanjur, maka ia akan dapat memastikan dari ciri-cirinya, apakah kedua orang itu benar-benar orang-orang Pusparuri, karena banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin orang-orang Kendali Putih yang menyebut dirinya sebagai orang-orang Pusparuri, atau mungkin justru pihak lain sama sekali, atau bahkan kawan-kawan Daruwerdi.

Sehari itu Jlitheng tidak meninggalkan rumahnya. Siang hari ia berbaring dibelakang dapur, dibawah sebatang pohon yang rimbun, diatas sehelai ketepe daun kelapa yang dianyam. Sambil memandangi dedaunan yang bergetar ditiup angin, ia telah mencoba mengurai peristiwa yang telah terjadi di padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon selama ini, sampai pada saat terakhir. Bahkan sepercik-percik masih juga membersit kecurigaannya kepada Kiai Kanthi dan anak gadisnya, Swasti.

“Tetapi nampaknya mereka adalah orang-orang yang jujur dan sederhana dalam sikap,” berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “meskipun keduanya ternyata mewarisi cabang ilmu kanuragan yang luar biasa.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya kedua orang ayah dan anak itu telah merupakan pesona yang tidak dapat dilupakannya, sehingga setiap saat, rasa-rasanya ia angin pergi ke hutan itu seperti ia ingin pulang ke rumah sendiri.

Tetapi hari itu Jlitheng tidak dapat mengajak kawan-kawannya untuk pergi ke bukit, karena Jlitheng mengetahui bahwa kebanyakan kawan-kawannya lelah dan mengantuk, karena hampir semalam suntuk mereka telah mencari Kuncung. Sementara Jlitheng sendiri juga ingin beristirahat setelah semalam-malaman berlari-lari menyusuri bulak dan lereng bukit. Dari bukit gundul sampai ke bukit yang berhutan lebat.

Hari itu setiap mulut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih membicarakan bagaimana seorang anak muda telah hilang di culik iblis betina. Dari pintu ke pintu orang-orang Lumban membicarakannya, bahkan ceritera itupun telah mekar dan menjadi semakin mengerikan.

“Kuncung menjadi seperti orang gila. Ia mengigau tentang dua orang yang bertubuh tinggi kekar bermata merah dan bersenjata pedang yang besar sekali,” berkata seseorang diantara kawan-kawannya.

“Ia memerlukan waktu dua tiga hari untuk dapat pulih kembali kesadarannya,” sahut yang lain.

“Tetapi Kuncung dapat menceriterakan dengan pasti, apa yang terjadi atasnya berhubungan dengan dua orang yang dikatakannya itu,” yang lain menyambung.

Seorang tua yang berambut putih memotong pembicaraan itu, “Biasanya memang demikian. Seseorang yang dibawa oleh hantu perempuan, ia merasa mengalami sesuatu seperti benar-benar telah terjadi.”

Orang-orang yang mendengarkan ceritera itu mengangguk-angguk. Mereka percaya kepada orang tua yang mereka anggap, mempunyai banyak pengalaman itu.

Namun dalam pada itu, disaat orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon sibuk berbicara tentang hantu perempuan yang membawa Kuncung, Daruwerdi mencoba merenungi ceritera itu dari sudut yang lain. Ia tertarik kepada ceritera Kuncung tentang dua orang yang datang kepadanya dan membawanya pergi ke bukit.

Karena itu, maka Daruwerdi telah memerlukan datang ke rumah Kuncung untuk mendengar sendiri, apakah yang dialaminya, yang menurut orang banyak hanyalah sekedar bayangan yang tumbuh di kepalanya karena ia pernah melihat atau mendengar peristiwa serupa yang terjadi atas Jlitheng. Sehingga hantu perempuan itu tinggal mempertajam angan-angan itu, sehingga seolah-olah telah terjadi sebenarnya atasnya.

Ceritera Kuncung memang menarik perhatian Daruwerdi. Meskipun ada juga kebimbangan, bahwa mungkin yang dikatakan oleh orang-orang Lumban itu benar, namun ada juga sepercik dugaan, bahwa sebenarnya yang diceriterakannya itu telah terjadi.

“Dua orang itu benar-benar datang ke Lumban dan membawa Kuncung ke bukit. Kemudian memaksa Kuncung berbicara sehingga anak itu menjadi ketakutan. Ketika orang-orang itu mulai memukulnya, maka ia menjadi pingsan. “ Daruwerdi mencoba mencari kesimpulan “baru ketika Kuncung ditinggalkan, terjadilah sesuatu yang aneh itu. Yang tidak dapat aku jajagi dengan nalar, bagaimana mungkin ia dapat sampai kebawah pohon randu alas.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menganggap bahwa hantu betina itu telah menemukan Kuncung. Tetapi ia kecewa bahwa anak itu seolah-olah tidak dapat berbuat apa-apa, justru karena ia pingsan. Karena hantu betina itu mengetahui bahwa orang-orang Lumban mencari seseorang maka hantu yang baik itu telah mengembalikan Kuncung kepada orang-orang Lumban.

“Persetan,” tiba-tiba Daruwerdi menggeram aku tidak peduli tentang hantu itu. Tetapi dua orang itu benar-benar menarik perhatian, setelah dua orang yang terdahulu datang menangkap Jlitheng.”

Diperjalanan kembali ke pondoknya, Daruwerdi menegang ketika ia teringat seorang gadis yang berada di lereng bukit itu. Ia mulai curiga sejak kedua perantau itu memilih tempat tinggal yang aneh tanpa mengenal takut terhadap binatang-binatang buas. Padahal mereka berdua hampir saja telah diterkam oleh seekor harimau.

“Apakah ada hubungannya antara hantu betina itu dengan gadis perantau itu?” pertanyaan itu mulai membersit di hatinya.

Tetapi Daruwerdi belum dapat mengambil kesimpulan. Ia masih harus banyak melihat dan mendengar, apa yang terjadi di Lumban.

Dalam pada itu, di hari-hari berikutnya, orang-orang Lumban sudah mulai melupakan peristiwa yang menggemparkan itu. Mereka tidak banyak lagi membicarakan hilangnya Kuncung, meskipun satu dua orang masih menggelengkan kepalanya apabila mereka bertemu dengan Kuncung di jalan-jalan padukuhan atau di sawah. Karena setiap kali mereka berbicara, Kuncung masih tetap yakin, bahwa yang dialaminya dengan dua orang yang garang itu bukan sekedar bayangan. Tetapi benar-benar telah terjadi atasnya. Namun ia tetap tidak dapat mengatakan, kenapa tiba-tiba saja ia sudah berada dibawah pohon randu alas.

Sementara itu, Jlitheng telah mulai sibuk pula membantu Kiai Kanthi bersama beberapa orang kawannya. Mereka telah membuka sebuah dataran sempit di lereng bukit itu. Merekapun mulai mempersiapkan membuat sebuah gubug kecil untuk tempat tinggal Kiai Kanthi dengan anak gadisnya.

Disamping itu, maka Jlitheng tidak henti-hentinya memperhatikan arus air yang meluap dari belumbang di lereng bukit itu. Ia mulai membicarakan, kemana air itu akan diarahkan.

Jlitheng dan Kiai Kanthi bersepakat, bahwa mereka tidak akan membuat parit yang khusus di lereng bukit. Mereka akan mengarahkan air itu ke sebuah lekuk yang akan mengalirkan air itu turun sampai ke tempat yang mereka kehendaki.

“Setelah air itu berada di dataran, barulah kita akan membuat saluran seperti yang kita rencanakan,” berkata Kiai Kanthi, “selebihnya, sisa air itu akan sangat berguna pula.”

“Untuk sementara kita akan mengalirkan air itu ke sungai. Dengan demikian kita tidak perlu membuat saluran induk yang panjang. Apalagi sungai itu mengalir dekat perbatasan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Bahkan kadang-kadang sungai itu berada di daerah Lumban Wetan, tetapi di bagian yang lain sungai itu menjorok masuk kedaerah Lumban Kulon,” sahut Jlitheng.

“Tetapi, di wilayah manakah sungai itu memasuki daerah Lumban ngger?” bertanya Kiai Kanthi.

“Sungai itu memasuki daerah Lumban di Lumban Wetan Kiai. Katakanlah bahwa bukit dan dataran dibawah bukit yang menghadap kepadukuhan itu adalah daerah Lumban Wetan. Tetapi di sisi yang lain, dataran itu adalah tlatah Lumban Kulon, meskipun mereka seakan-akan tidak menghiraukannya karena sampai saat ini tanah itu tidak pernah digarap.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Jlitheng yang agaknya mengetahui perasaan Kiai Kanthi berkata, “Kiai, terlalu memikirkan masa yang jauh didepan. Tetapi orang Lumban sendiri kurang memperhatikan batas antara dua kabuyutan itu.”

Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Ya ngger. Sejak ayunan cangkul yang pertama kita harus sudah mulai memikirkan. Jika sungai itu mengalirkan air yang lebih banyak, maka mulailah timbul persoalan antara Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang sampai saat ini nampaknya tidak pernah berselisih. Air itu akan memancing masalah, karena jika air itu mengalir menyusuri sungai itu, maka kedua padukuhan itu tentu akan segera berpikir untuk memanfaatkannya. Mereka tentu ingin mengaliri sawah mereka yang kering seperti yang akan kita lakukan dibawah bukit ini.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Kedua daerah itu akan dapat membicarakannya dengan baik. Mereka akan membendung sungai itu dan menaikkan airnya ke kedua arah. Satu parit itu akan menyusuri bulak-bulak di Lumban Wetan dan satu lagi. kearah Lumban Kulon.”

“Demikianlah menurut nalar. Tetapi kadang-kadang akan timbul perasaan yang dapat mengaburkan nalar yang bening. Iri, dengki dan barangkali juga ketamakan dari satu dua orang di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon. Jika demikian halnya, maka mulailah persoalan yang tidak diharapkan itu,” berkata Kiai Kanthi.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita berdoa Kiai. Mudah-mudahan tidak akan timbul persoalan yang demikian di padukuhan ini.”

“Mudah-mudahan ngger. Tetapi kita harus sudah berjaga-jaga, apakah yang sebaiknya dilakukan. Meskipun air itu masih kurang.”

“Mudah-mudahan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat mengatasi masalahnya. Keduanya sudah tahu, bahwa Kiai akan membangun padepokan disini,” desis Jlitheng.

Demikianlah maka mereka semakin hari menjadi semakin gairah bekerja. Meskipun kawan-kawan Jlitheng tidak banyak, tetapi mereka senang melakukan pekerjaan itu, Disaat mereka tidak mempunyai pekerjaan di sawah, mereka menemukan cara untuk mengisi waktu di lereng bukit itu.

Sementara itu, Jlitheng sudah menelusuri lekuk-lekuk batu padas yang akan dapat dipergunakannya untuk menguasai arus air. Beberapa tempat, ia masih harus menimbuninya dengan tanah yang cukup banyak agar arah air itu tidak terbagi. Sedangkan di bagian lain, lekuk-lekuk padas itu sudah merupakan parit yang dibuat oleh arus air hujan di musim basah.

Ketika dataran sempit dan gubug kecil itu baru dikerjakan oleh anak-anak muda Lumban Wetan, Jlitheng dan Kiai Kanthi justru mulai menggarap saluran induk. Mereka menutup lekuk-lekuk yang tidak perlu, tetapi juga mengeduk batu-batu padas yang membatasi lekuk yang satu dengan lekuk yang lain, yang sesuai dengan arah yang dikehendaki oleh Kiai Kanthi dan Jlitheng.

Dengan demikian, maka kerja itu merupakan kerja yang menjadi semakin besar. Tetapi Jlitheng tidak ingin banyak menarik perhatian, sehingga hanya kawan-kawannya yang terdekat sajalah yang ikut membantunya, seolah-olah yang mereka kerjakan sama sekali tidak berarti apa-apa.

Ketika anak-anak muda itu sibuk bekerja, maka Swasti-pun sibuk menyiapkan minum dan makanan apa saja yang ada. Kadang-kadang seekor binatang buruan. Tetapi kadang-kadang hanya beberapa buah gayam dan ikan air panggang.

“Pada saatnya, kita akan dapat makan jagung disini,” berkata Kiai Kanthi, “aku sudah menanamnya di lereng yang agak terbuka itu. Nampaknya benih itu sudah tumbuh.”

Tetapi Jlitheng sambil tertawa menjawab, “Berapa bulan lagi jagung itu akan berbuah Kiai? Apakah kira-kira saluran itu masih belum siap seumur jagung itu ?”

Kiai Kanthi pun tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun betapapun Jlitheng membatasi kerja itu, tetapi hal itu sangat menarik perhatian Daruwerdi. Karena itu, maka ia pun memerlukan naik ke lereng bukit untuk menyaksikan sendiri, apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kehadirannya di lereng bukit itu telah mengejutkan Swasti yang baru sibuk memasak. Karena itu, sejenak ia tergagap. Namun kemudian ia mencoba untuk menguasai perasaannya.

“Dimana ayahmu?” bertanya Daruwerdi.

“Mereka sedang bekerja dibawah,” jawab Swasti.

“Apakah kau tidak takut berada disini sendiri?”

“Kenapa takut? Bukankah sekarang siang hari? Dimalam hari aku disini bersama ayah.”

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia memandang gadis perantau yang berpakaian kusut itu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata didalam hati, “Gadis kumal ini berwajah cantik juga. Jika saja ia sempat merawat tubuhnya, maka ia akan menjadi seorang gadis yang tidak ada tandingnya di Lumban.”

Swasti yang merasa dipandang oleh Daruwerdi dengan tajamnya, wajahnya menjadi merah. Selangkah ia beringsut. Tanpa disengaja maka iapun berjongkok dimuka perapian dan melemparkan pandang matanya ke api yang menyala.

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah ia maju mendekat. Katanya, “Kenapa kau lebih senang tinggal disini daripada di padukuhan?”

Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika ia mendengar langkah Daruwerdi yang mendekat. Tetapi Swasti tidak-berani memalingkan wajahnya.

Sebagai seorang gadis yang jarang bergaul dengan orang lain, maka sikap Daruwerdi benar-benar membuat jantungnya bagaikan semakin cepat berdetak didalam dadanya.

“Kenapa he?” Daruwerdi mendesak.

Swasti menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia menjawab, “Semuanya terserah kepada ayah. Ayah memilih tempat ini. Dan aku pun hanya mengikuti saja.”

“Tetapi kau berhak untuk mengajukan pendapatmu. Katakan kepada ayahmu, bahwa kau takut berada disini seorang diri meskipun siang hari. Jika harimau itu datang kemari, maka kau akan dapat diterkamnya.”

“Aku dapat memanjat,” jawab Swasti tiba-tiba.

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Katanya, “Menarik sekali. He, cobalah memanjat. Anggaplah aku seekor harimau yang akan menerkammu.”

Adalah diluar dugaan sama sekali, bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi itupun berjongkok disampingnya.

Swasti adalah seorang gadis yang memiliki keberanian yang melampaui orang kebanyakan. Ia berani melawan Jlitheng dan bahkan ia telah mengalahkan dan membunuh dua orang yang mengaku dari perguruan Pusparuri. Tetapi demikian seorang anak muda berjongkok disampingnya, maka tubuhnya tiba-tiba saja telah menjadi gemetar.

“Swasti. Namamu Swasti bukan?” panggil Daruwerdi. Swasti menjadi semakin gelisah. Keringat dingin telah mengalir di seluruh batang tubuhnya, sehingga rasa-rasanya seluruh badannya menjadi basah.

“Swasti,” ulang Daruwerdi, “sebaiknya kau minta dengan sangat kepada ayahmu. Daripada ia membuat gubug di lereng bukit ini, aku kira ia lebih baik membuat gubug di padukuhan Lumban. Sementara gubug itu belum siap, maka kau dan ayahmu dapat tinggal di pondokku.”

Swasti masih gemetar. Sejengkal ia bergeser. Kemudian katanya, “Semuanya terserah kepada ayah.”

“Ah, tentu tidak. Kau adalah anak gadisnya. Kau bahkan mungkin satu-satunya anak. Karena itu, permintaanmu tentu didengarkannya,” berkata Daruwerdi.

Swasti tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Keringatnya masih saja mengalir di tubuhnya. Sementara Daruwerdi berkata selanjutnya, “Kau tidak boleh menyia-nyiakan umurmu sekarang ini. Nampaknya kau sudah meningkat dewasa. Dan jika kau sadar, maka kau berwajah cantik.”

“Ah,” tubuh Swasti tiba-tiba saja telah meremang. Ia hampir tidak pernah sempat menilai dirinya. Jika sekali-kali ia bercermin di wajah air telaga yang bening meskipun kotor, ia tidak berani menyebut wajahnya sendiri, apakah ia seorang gadis yang cantik.

“Aku tidak berbohong,” desis Daruwerdi, “hanya karena kau tidak sempat merias diri, maka kau tidak menyadari bahwa kau mempunyai bekal yang paling bernilai bagi seorang perempuan.”

“Ah,” sekali lagi Swasti berdesis, “aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menilai diriku sendiri.”

Daruwerdi tertawa pendek. Katanya, “Mulailah sekarang. Dan mulailah hidup dalam suatu lingkungan masyarakat yang barangkali jauh lebih baik dari pada hidup memencilkan diri. Aku bersedia menolongmu. Aku mempunyai pengaruh yang khusus di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kedua Buyut padukuhan Lumban itu serta anak-anaknya menaruh hormat kepadaku, sedangkan anak-anak muda di Lumban Wetan dan Lumban Kulon telah memohon agar aku memberikan tuntunan kanuragan kepada mereka. Karena itu, maka apa yang akan aku katakan, orang-orang Lumban tentu akan melakukannya. Apalagi orang-orang Lumban termasuk orang yang baik dan ramah. Mereka tentu dengan senang hati menerimamu.”

Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Ketika Daruwerdi bergeser sejengkal mendekat, maka Swasti pun telah bergeser setapak menjauh.

“Pikirkan,” tiba-tiba Daruwerdi berdiri, “sebelum kau dikoyak harimau. Sekarang aku akan menemui ayahmu dan anak-anak Lumban Wetan yang membantunya. Sebenarnya perbuatan itu adalah perbuatan yang bodoh sekali. Tetapi juga mencurigakan.”

Wajah Swasti menegang sejenak. Tetapi ia tidak menjawab. Baru ketika Daruwerdi melangkah meninggalkannya, ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan, diam-diam ia masih saja memperhatikan anak muda itu hilang dibalik gerumbul-gerumbul yang padat.

Ketika Daruwerdi tidak nampak lagi, maka Swasti pun menjadi gelisah. Ia tidak tahu, perasaan apa yang tumbuh di hatinya. Ia menjadi jengkel atas sikap anak muda itu, sehingga ia menjadi gemetar. Tetapi ia tidak marah karenanya, meskipun ia tidak begitu senang karena sikap itu.

“Hanya karena sikapnya?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah tumbuh di hati Swasti. Tetapi Swasti tidak berani memikirkannya lebih jauh. Bahkan ia berusaha untuk membatasi perasaannya yang menerawang mengikuti anak muda yang bernama Daruwerdi itu.

“Ah, aku harus menyiapkan makanan ini,” Swasti berdesah. Dicobanya untuk memusatkan perhatiannya kepada kerjanya. Namun kadang-kadang ia masih saja merenung tanpa ujung dan pangkal.

Bahkan kadang-kadang ia menyesali sikap ayahnya. Pendapat anak muda yang bernama Daruwerdi itu ada baiknya juga. Ia dapat tinggal di padukuhan, meskipun mungkin di paling ujung yang berbatasan dengan pategalan atau hutan perdu yang tidak tergarap.

“Tetapi ayah lebih senang menunggui belumbang ini,” desisnya.

Dalam pada itu, Kiai Kanthi dibantu oleh Jlitheng dan beberapa orang kawannya, masih saja bekerja keras. Mereka telah membuka beberapa bagian dari dataran yang sempit di lereng bukit. Sementara Kiai Kanthi sendiri dan Jlitheng telah selesai menyiapkan saluran yang akan dilalui air jika air itu sudah diarahkan menuju ke lereng yang berhadapan dengan padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Dibawah bukit itu akan dibuka tanah persawahan yang akan digarap oleh Kiai Kanthi dengan anak gadisnya.

Namun yang penting bahwa air itu akan dapat disalurkan kedaerah persawahan milik orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Meskipun tidak akan mencukupi untuk seluruh tanah persawahan, tetapi yang sebagian itu tentu akan memberikan banyak perubahan.

Dengan tekun Jlitheng telah berbuat sejauh dapat dilakukan. Kiai Kanthi yang memiliki pengalaman lebih banyak, bahkan agaknya juga berpengalaman menguasai air, telah menanam patok-patok pada lereng-lereng padas yang akan menjadi saluran induk. Kadang-kadang Jlitheng harus menimbuni sebuah lekuk yang dalam, agar arus air tidak terlalu deras, sehingga dapat merusakkan tanggulnya sendiri. Namun kadang-kadang ia harus memecah padas yang keras untuk menghubungkan saluran-saluran yang akan dipergunakannya.

Orang-orang yang bekerja di lereng bukit itu terkejut ketika mereka melihat Daruwerdi muncul dari balik gerumbul perdu. Dengan tatapan mata yang tajam ia memandangi keadaan sekelilingnya. Dalam waktu yang tidak terlalu panjang, maka telah terjadi perubahan yang besar di lereng bukit itu. Bukan hasil pekerjaan yang sudah hampir rampung tetapi Daruwerdi menjadi berdebar-debar melihat jiwa dari rencana itu. Dengan ketajaman nalarnya, ia segera dapat mengerti, apa yang akan terjadi.

Karena itu, maka Daruwerdi menjadi berdebar-debar. sekilas terbayang hasil pekerjaan yang akan merubah tatanan kehidupan di padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

“Inilah yang telah mengikat orang tua itu disini,” berkata Daruwerdi didalam hatinya, “bukan karena ia segan tinggal di padukuhan seperti yang pernah dikatakannya, tetapi ternyata di kepala orang tua itu terbersit rencana yang besar.”

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun ia menjadi semakin kagum akan rencana itu. Meskipun kemudian ia mencoba memperkecil arti kerja orang tua itu, “Mungkin yang dipikirkannya adalah sekedar air bagi tanah yang akan dibuka untuk dirinya sendiri, tanpa menyadari kegunaannya yang besar bagi Lumban.”

Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat beberapa orang Lumban yang membantunya. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda dari Lumban Wetan. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seorang anak muda dari Lumban Kulon ikut pula diantara mereka.

“Artinya, bahwa kerja ini dilakukan oleh orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon meskipun dalam perbandingan yang tidak seimbang,” berkata Daruwerdi didalam hatinya.

“Marilah ngger,” Kiai Kanthi pun kemudian mempersilahkan-nya, “ini adalah sekedar pikiran orang tua dan anak-anak muda yang sederhana. Mungkin yang kami lakukan mempunyai arti dan bahkan tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi nampaknya sangat menyenangkan hati.”

Daruwerdi melangkah mendekat. Ketika ia memandang Jlitheng, maka Jlitheng itupun tersenyum sambil berkata, “Sekedar mengisi waktu karena tidak ada kerja di sawah Daruwerdi.”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya, “Apa rencana Kiai sebenarnya?”

“Ah, sekedar membuat tempat tinggal dan sebidang tanah untuk mencari makan ngger,” jawab Kiai Kanthi.

“Untuk itu Kiai telah bekerja begitu keras?”

“Tanpa bekerja keras, aku tidak akan memiliki apa-apa, ngger. Dengan bantuan beberapa anak muda ini, aku akan mempunyai sebuah pondok kecil dan secabik tanah untuk menyebar benih jagung.”

“Dan apakah yang lakukan dengan jalur-jalur air hujan itu?” Daruwerdi mendesak.

“Untuk mengalirkan air ke sebidang tanah itu ngger,” jawab Kiai Kanthi.

“Jika demikian, aku mempunyai pikiran,” berkata Daruwerdi. Namun Jlitheng telah menyahut, “Itulah Daruwerdi. Tetapi air itu tidak akan kering di kotak-kotak pertama tanah Kiai Kanthi. Jika air itu tersisa, maka air itu tentu dapat dipergunakan oleh orang-orang Lumban.”

“Itulah yang aku katakan. Hal itulah yang ada di benakku. Justru karena aku mengerti kepentingan orang-orang Lumban,” berkata Daruwerdi.

“Dan kami sudah mengerjakannya,” sahut Jlitheng, “meskipun sangat lamban.”

Wajah Daruwerdi menegang. Ia merasa seolah-olah Jlitheng tidak mau mendengar tanggapannya atas air yang melimpah, atau karena Jlitheng merasa telah memikirkannya terlebih dahulu.

Namun dalam pada itu Jlitheng berkata, “Tetapi, apa yang kami kerjakan ini bukanlah pikiran kami. Kiai Kanthi lah yang mula-mula menyebutnya. Ia melihat air yang melimpah tanpa dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban. Karena keinginannya untuk membuat sebuah padepokan, maka kami anak-anak Lumban dapat saling mengambil manfaat. Kami membantu Kiai Kanthi, tetapi kami pun akan mendapatkan air yang sangat berharga bagi Lumban.”

Daruwerdi memandang Jlitheng dengan tajamnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ditempat itu terdapat beberapa orang saksi atas pembicaraan mereka, sehingga orang-orang itu tahu benar, bahwa ia tidak akan dapat mengatakan bahwa pikiran untuk mengalirkan air ke sawah orang-orang Lumban itu adalah karena pikirannya. Anak-anak muda Lumban itu memang sudah mengerjakannya bersama Kiai Kanthi, perantau yang aneh itu.

Sejenak Daruwerdi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Siapapun yang memikirkannya, tetapi air itu memang diperlukan oleh orang-orang Lumban. Karena itu, kalian harus berbuat sebaik-baiknya, sehingga air itu tidak justru menjadi larut kedalam jalur-jalur air hujan dan hilang kedalam tanah.”

“Demikianlah yang terjadi sekarang, Daruwerdi,” jawab Jlitheng, “air belumbang yang melimpah itu mengalir ke lubang-lubang dan meresap kedalam tanah. Tetapi air itu tidak membuat tanah di Lumban menjadi basah, karena air itu mengalir dengan derasnya dibawah tanah.”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat membantah.

“Lakukanlah kerja ini sebaik-baiknya,” berkata Daruwerdi kemudian, “aku akan memberikan petunjuk-petunjuk kelak jika air itu sudah mulai mengalir ke dataran.”

Jlitheng menegang sejenak. Tetapi ia segera berusaha menghapus kesan itu di wajahnya. Bahkan kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Daruwerdi. Kami tentu akan memerlukan petunjuk dari banyak pihak. Mungkin kau mempunyai pengetahuan yang cukup banyak tentang jalur-jalur air di tanah persawahan. Dan kami pun tentu akan minta petunjuk Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon.”

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan wajah yang berkerut ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Meskipun belum ada ujud, tetapi ia sudah dapat membayangkan, bahwa di dataran sempit itu akan dibangun sebuah gubug sesuai dengan patok kayu yang nampak di empat sudutnya. Tidak terlalu jauh dari gubug itu, akan mengalir air dari belumbang yang melimpah. Sedikit lebih tinggi, dari gubug itu, akan terdapat sebuah gerojogan air yang kemudian merambat menuruni lereng sampai ke dataran. Di dataran itu kelak akan terdapat kotak-kotak sawah yang tidak akan pernah kering di segala musim. Lumpur yang basah terbentang diantara kotak-kotak pematang.

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari keterlambatannya. Selama ia berada di Lumban, ia tidak pernah memikirkan perubahan yang dapat dilakukan atas padukuhan itu, sehingga akan dapat menambah besar pengaruhnya atas orang-orang Lumban.

“Aku lebih banyak berpikir tentang masalah-masalah yang besar,” katanya didalam hati. “Namun air itu bagi orang-orang Lumban akan menjadi masalah yang jauh lebih besar, meskipun bagiku hanyalah masalah yang kecil.”

Untuk beberapa saat Daruwerdi masih memperhatikan dataran sempit itu. Beberapa orang, anak muda yang sedang bekerja di lereng itupun berhenti sejenak memperhatikan, apakah yang akan dilakukan oleh Daruwerdi.

Tetapi Daruwerdi tidak menemukan sesuatu yang dapat di lakukan sebagai imbangan kekecewaan hatinya. Ia tidak dapat menemukan sesuatu yang akan dapat dianggap pikiran baru yang bermanfaat bagi Lumban.

“Masih banyak waktu,” katanya kemudian didalam hati, “aku akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi padukuhan itu, sehingga mereka akan tetap menganggap aku orang terpenting di padukuhan ini.”

Dengan demikian, maka Daruwerdi tidak berada terlalu lama di lereng bukit itu. Sekali lagi ia masih mencoba untuk menyarankan agar Kiai Kanthi dan anaknya tinggal di padukuhan. Tetapi dengan nada dalam Kiai Kanthi menjawab, “Terima kasih ngger. Aku sudah mulai dengan pekerjaan ini dibantu oleh anak-anak muda dari Lumban.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku pernah mengatakan kepadamu Kiai. Kau adalah orang yang mementingkan dirimu sendiri. Seharusnya kau memperhatikan anak gadismu yang malang itu. Mungkin kau ingin mendapat sebutan cikal bakal, atau orang yang babad-babad sebuah padepokan yang tentu kau harap akan dapat terkenal kelak. Tetapi ketenaran namamu itu kau tebus dengan mengorbankan anak gadismu. Bukan saja jasmani, tetapi juga jiwani. Ia akan menjadi gadis yang dungu dan bebal. Gadis yang tidak akan pernah mendapatkan jodohnya dimasa mendatang, meskipun ia sudah lama melampaui masa remajanya.”

Kata-kata itu telah menyentuh perasaan Kiai Kanthi, sehingga terasa dadanya bergetar. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Anakku yang malang. Tetapi apakah memang nasib telah membawanya ke tempat yang sepi dan terasing? Anakmas, meskipun aku akan membangun sebuah gubug disini, aku akan berusaha untuk memberikan kesempatan anakku bergaul dengan orang-orang padukuhan. Ia akan ikut serta bertanam padi bersama gadis-gadis Lumban jika diperkenankan. Ia akan ikut menuai dan melakukan kerja yang lain. Jika air itu sudah turun ke dalam parit, maka sawah akan terbentang semakin luas, dan kesempatan ikut menggarap sawah bagi gadis-gadis pun akan bertambah.”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata. “Agaknya kau memang orang yang keras hati, meskipun tanpa perhitungan. Itu terserah kepadamu. Anak itu adalah anakmu. Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kau dan anakmu.”

Daruwerdi tidak menunggu jawaban lagi. Dengan kesan yang buram ia melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak-anak muda yang sedang bekerja di lereng bukit untuk membuat sebuah gubug kecil bagi tempat tinggal Kiai Kanthi dan anaknya. Tetapi kerja yang lebih besar dari itu adalah usaha mereka untuk menguasai arus air dari belumbang yang melimpah itu.

Di lereng yang menurun Daruwerdi menghentakkan tangannya dengan geram. Namun ia pun kemudian bergumam, “Persetan dengan orang-orang Lumban. Aku tidak peduli. Biar tanahnya menjadi kering dan gersang. Atau Jlitheng akan diangkat menjadi pahlawan. Aku bukan orang Lumban, dan aku tidak akan tinggal di Lumban terlalu lama.”

Dengan wajah yang gelap Daruwerdi menuruni tebing semakin cepat. Dengan tangkas ia meloncat dari batu ke batu padas yang lain, tanpa berpaling lagi.

Sementara itu, Kiai Kanthi dan beberapa anak muda dari Lumban itupun telah melanjutkan kerja mereka. Dua orang diantara mereka telah memotong beberapa batang kayu yang akan dipergunakan sebagai tiang gubug kecil yang akan dibangun, sementara yang lain masih menebangi pohon-pohon yang tidak diperlukan di dataran sempit itu. Sedangkan Kiai Kanthi, Jlitheng dengan satu dua orang lainnya, masih saja sibuk membenahi saluran air yang juga ingin segera diselesaikan.

Dalam pada itu, jauh dari daerah Lumban, di sebuah padepokan yang besar, tidak jauh dari pusat Kota Demak, seseorang sedang duduk dihadap oleh dua orang lainnya. Seorang yang berwajah bulat, bermata terang dan tajam. Meskipun beberapa helai rambutnya telah putih, tetapi nampak betapa tubuhnya yang kekar itu menyimpan kemampuan tiada taranya.

Sedangkan kedua orang lainnya, masih nampak lebih muda. Wajah mereka nampak keras dan bersungguh-sungguh. Seorang dari mereka berkumis lebat, sedangkan yang lain berwajah halus dan tampan.

Dengan sungguh-sungguh ketiganya sedang membicarakan teka-teki yang sedang mereka hadapi. Seolah-olah teka-teki yang tidak terpecahkan.

“Mereka tidak pernah kembali,” desis yang berkumis lebat.

“Dua orang yang menyusul itu pun tidak kembali,” sahut yang lain.

Orang yang berwajah bulat itu pun mengerutkan keningnya. Katanya, “Kedua orang itu tidak tahu, apakah yang telah dilakukan oleh Ular Sanca itu.”

“Tidak Kiai,” jawab orang berkumis lebat, “kami hanya memerintahkannya untuk menyusul kedaerah Lumban. Mereka harus mencari keterangan, dimanakah Ular Sanca itu, atau mendengarkan kabar, apakah sebenarnya yang telah terjadi di daerah Lumban. Tetapi mereka tidak pernah kembali.”

“Apakah menurut dugaanmu, Daruwerdi yang bergelar Padmasana itu berbuat curang? Ia telah melepaskan perjanjian diantara kita dan mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau bahkan ingin memilikinya sendiri, karena pusaka itu akan dapat membuatnya menjadi seorang prajurit pinunjul?”

“Kiai Pusparuri,” berkata orang berkumis lebat itu, “aku tidak dapat mengatakannya demikian. Menurut pengamatanku, ia adalah seorang anak muda yang keras hati, tetapi juga memegang teguh janji yang telah disepakati.”

“Siapa tahu, bahwa ketamakan yang tumbuh di hatinya karena keinginannya untuk menanjak jauh lebih cepat, telah merubah sifat-sifat yang kau kenal itu,” sahut kawannya yang berwajah bersih.

“Aku yakin,” bantah orang berkumis. Namun kemudian suaranya menurun, “tetapi banyak kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Jadi apakah yang baik menurut pertimbanganmu Sentika?” bertanya orang berwajah bulat itu.

Orang berkumis lebat itu termangu-mangu. Dipandanginya orang berwajah bersih itu sejenak. Namun karena orang itu menunduk, maka ia tidak mendapatkan kesan apapun.

“Kiai,” berkata orang berkumis itu, “sulit untuk mengatakannya sekarang. Agaknya daerah Lumban merupakan rahasia yang harus dijajagi sendiri. Aku akan menemui Daruwerdi untuk menuntut pertanggungan jawab atas persetujuan yang sudah kita buat.”

“Apa pendapatmu Laksita?” bertanya orang berwajah bulat itu kepada yang berwajah bersih.

“Kita kurang terbuka Kiai. Kita tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orang yang kita perintahkan untuk menyusul Ular Sanca. Dengan demikian, mereka tidak mudah untuk mendapatkan keterangan tentang Daruwerdi dan Ular Sanca itu. Mereka hanya tahu, bahwa salah seorang dari kita telah pergi ke Lumban dan tidak pernah kembali.”

“Jadi, apakah sebaiknya yang kita lakukan menurut pendapatmu?”

“Aku kira, masih belum perlu kita atau salah seorang dari kita untuk pergi ke Lumban. Kita akan dapat memerintahkan satu dua orang yang dapat kita percaya, tetapi dengan keterangan yang jelas. Mereka harus mengetahui dengan pasti, apakah yang seharusnya mereka lakukan.”

“Bagaimana jika orang-orang itu bertemu dengan orang-orang Gunung Kunir atau orang-orang Kendali Putih atau perguruan-perguruan yang lain? Jika nasib mereka buruk, maka mereka akan dapat diperas dan dipaksa untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak mereka mengerti,” sahut orang berkumis lebat itu.

“Jadi menurut kakang Sentika, orang-orang Gunung Kunir dan Kendali Putih masih belum mengetahui sama sekali tentang pusaka-pusaka itu?” bertanya Laksita.

Orang berkumis itu termangu-mangu.

“Kita mendengar hal itu dari seorang perwira yang bertugas di Gedung perbendaharaan pusaka. Kemudian kita mendengar jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti. Pengawalnya masih melihat pusaka itu sebelum Pangeran Pracimasanti dalam perjalanan jauhnya melewati daerah yang disebut Sepasang Bukit Mati. Yang satu bukit gundul dan yang lain berhutan lebat dan dihuni oleh binatang-binatang buas. Sehingga hutan itu disebut hutan yang paling wingit, karena setiap orang yang menyentuhkan kakinya, akan mati ditelan binatang buas.”

Kiai Pusparuri mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun memotong, “Kita sudah mendengar semuanya tentang hal itu. Tetapi bagaimana dengan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Gunung Kunir, orang-orang yang menyebut dirinya perguruan Putih dari aliran Gatra Bantala yang mempunyai ciri-ciri yang gila itu?”

Laksita termangu-mangu sejenak. Namun iapun menjawab, “Dugaanku justru yang menggelisahkan kita semuanya disini. Merekapun tentu sudah mendengar seperti yang kita dengar. Orang-orang dari Gedung Perbendaharaan Pusaka itu bukan orang-orang yang pandai menyimpan rahasia. Tetapi mungkin mereka belum mendengar jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti yang melalui Sepasang Bukit Mati itu.”

Kiai Pusparuri mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan segera mengambil sikap. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Pusaka itu akan memberikan pengaruh yang besar pada siapapun yang memilikinya. Orang itu akan mempunyai kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya dalam olah kanuragan, dan pada pusaka itu sendiri tersimpan kekuatan gaib yang tidak ada duanya.”

Sentika dan Laksita hanya mengangguk-angguk saja. Mereka tahu, bahwa yang akan mereka hadapi adalah tugas-tugas yang berat untuk memperebutkan sebuah pusaka seperti dongeng-dongeng yang sudah banyak mereka dengar. Pusaka ditangan seseorang pada umumnya justru tidak memberikan derajat, pangkat atau semat, tetapi malahan telah merampas nyawa mereka, karena diantara para sakti telah terjadi saling berebutan dengan taruhan yang paling mahal, ialah nyawanya.

“Mustahil bahwa Kiai Pusparuri tidak memperhitungkan hal itu,” berkata Sentika didalam hatinya.

Tetapi Laksita berkata lain didalam dirinya, “Tentu bukan kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya atau kekuatan gaib yang tersimpan didalam pusaka itu. Tentu karena Kiai Pusparuri mengetahui bahwa pada wrangka atau ukiran pusaka yang sedang dicari itu atau pada peti atau kain pembungkusnya, terdapat keterangan tentang harta yang tidak ternilai harganya, yang disimpan oleh Pangeran Pracimasanti sebagai bekal untuk membangun kembali kekuasaan Keturunan Raden Wijaya. Tetapi sebelum hal itu sempat dilakukan. Pangeran Pracimasanti telah dipanggil kembali menghadap penciptanya tanpa diketahui oleh siapapun kecuali oleh seorang hambanya yang paling setia, tetapi buta dan tuli.”

Namun Laksita tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Tidak pula kepada Sentika. Ia menyimpan hal itu didalam dirinya. Tetapi seperti bara didalam sekam, pengertian itu telah membakar jantungnya perlahan-lahan. Keinginan yang serupa untuk memiliki pusaka itu telah menghanguskan nalarnya, sehingga akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menemukan pusaka itu. Mengambil keterangan yang diperlukan, kemudian membiarkan pusaka itu diketemukan oleh orang lain.

Tetapi seperti yang dikatakan, Laksita memang mencemaskan orang-orang dari perguruan lain. Jika ia berkesempatan mendengar hal itu, maka adalah tidak mustahil bahwa orang lain pun kesempatan yang sama. Bahkan mungkin mereka pun dapat mendengarnya lebih banyak lagi tentang Pangeran Pracimasanti atau tentang pusaka itu sendiri.

Dalam pada itu. Kiai Pusparuri pun berkata, “Santika dan Laksita. Cobalah kau jajagi sampai dimana pendengaran orang-orang kita sendiri. Pelajari, apakah untung dan ruginya jika kita memberikan perintah terbuka untuk mencari orang-orang kita yang telah pergi kedaerah Sepasang Gunung Mati itu.”

Sentika dan Laksita mengangguk dalam-dalam.

“Baiklah Kiai,” berkata Santika yang berkumis lebat itu, “kami akan melakukannya.”

“Waktu kalian tidak panjang. Aku akan segera mengambil keputusan yang menentukan.”

“Baiklah Kiai,” Laksita lah yang kemudian menjawab, “aku memang menganggap bahwa kami berdua belum perlu turun ke medan perburuan pusaka itu. Tetapi jika perlu dan keadaan memaksa, maka sudah barang tentu, kami berdua tidak akan berpangku tangan. Apalagi kami mengetahui, bahwa pusaka itu mempunyai arti yang sangat besar bagi seseorang yang memilikinya.”

“Terima kasih. Tetapi lakukanlah perintahku yang pertama,” sahut Kiai Pusparuri.

“Ya Kiai,” hampir berbareng keduanya menjawab.

Kemudian Sentika dan Laksita pun minta diri dari hadapan Kiai Pusparuri. Mereka ingin segera mengetahui, apakah medan yang mereka hadapi merupakan medan yang sulit dan berat, bahkan tidak akan terseberangi.

Di halaman padepokan, dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka sempat berbincang sejenak, apakah yang sebaiknya akan mereka lakukan.

“Kita masuki barak anak-anak itu. Kita bertanya, apakah yang mereka ketahui tentang Pangeran Pracimasanti,” desis Sentika.

“Terlalu langsung,” sahut Laksita, “kita mencoba berbelit-belit sejenak. Mengucapkan kata-kata yang sulit mereka mengerti. Kemudian baru kita akan sampai pada pokok masalahnya, sehingga seolah-olah yang kita tanyakan itu bukannya pokok persoalan yang sebenarnya. Dengan demikian mereka tidak akan terpancang pada persoalan itu saja. Kepada orang lain pun mereka tidak akan memperbincangkannya lagi.”

“Kau selalu cerdik. Aku setuju. Karena itu, kau sajalah yang mula-mula berbicara. Sedikit berbelit-belit dan tidak mereka ketahui. Kemudian baru kau bertanya sambil lalu. Dan dengan acuh tidak acuh, apakah diantara mereka mengetahui serba sedikit tentang Pangeran Pracimasanti.”

“Jika tidak seorang pun yang tahu, kita mundur sedikit. Kita bertanya tentang Sepasang Bukit Mati. Jika mereka tidak mengerti, kita bertanya tentang yang lain lagi. Tentang Lumban dan sekitarnya dan tentang Ular Sanca dan kedua orang kita yang tidak kembali itu.”

Sentika mengangguk-angguk, ia memang menganggap Laksita cerdik dan pandai berbicara. Karena itu, maka diserahkannya soal itu kepada Laksita untuk menyampaikannya kepada orang-orangnya. Orang-orang padepokan Pusparuri yang terikat kepada suatu anggapan, bahwa Kiai Pusparuri, guru mereka adalah orang yang paling mumpuni di seluruh muka bumi. Dengan demikian, maka apa yang dikatakan, apa yang diperintahkan dan apa yang diputuskan, adalah ketentuan yang tidak dapat diganggu gugat lagi.

Ketika kemudian Sentika dan Laksita berdiri diantara orang-orang perguruan Pusparuri. seperti biasanya keduanya disambut dengan hati yang berdebar-debar dari orang-orang yang selalu siap menunggu perintah.

Dengan caranya Laksita memberikan sesorah singkat, ia mengucapkan kata-kata yang muluk dan sulit dimengerti. Menyinggung mengenai masa depan dan harapan-harapan bagi setiap orang yang patuh. Namun akhirnya ia sampai juga pada maksudnya. Sambil lalu ia bertanya, “apakah ada diantara mereka yang pernah mendengar nama Pangeran Pracimasanti.”

Ternyata tidak seorang pun yang pernah mendengarnya. Ketika kemudian Laksita bertanya tentang Sepasang Bukit Mati pun tidak ada yang pernah mengetahuinya pula. Sedangkan ketika Laksita terpaksa menyebut padukuhan Lumban. maka beberapa orang diantara mereka menyatakan bahwa mereka memang pernah mendengarnya.

“Tidak ada gunanya kita berbicara dengan mereka,” berkata Laksita di telinga Sentika, “mereka adalah kerbau-kerbau dungu yang hanya dapat diperintah dan dibentak.”

“Jadi?”

Laksita mengangkat pundaknya, Katanya, “Aku tidak melihat jalan lain. Akhirnya kita juga yang harus berbuat sesuatu untuk menemukannya.”

“Kau tadi yang mengatakan bahwa kita belum perlu untuk pergi ke Lumban mencari keterangan tentang pusaka itu. Apakah kau mempunyai pertimbangan lain sekarang ?”

“Aku mempunyai pertimbangan lain setelah aku melihat kenyataan ini.”

“Apa?”

Laksita tidak menjawab. Dipandanginya beberapa orang yang termangu-mangu memperhatikannya dengan saksama.

“Nanti sajalah,” desis Laksita.

Seperti biasa Sentika tidak membantah. Ia terlalu percaya kepada kecerdikan Laksita, sehingga karena itu, maka iapun mengangguk-angguk diam.

Sementara ku, maka Laksita pun segera menutup pertemuan itu. Dengan lantang ia berkata, “Bersiaplah. Mungkin dalam waktu dekat kalian akan mendapat tugas khusus. Mungkin dua atau tiga orang. Tetapi mungkin delapan atau sepuluh.”

Wajah-wajah yang mendengar perintah itu menegang sejenak. Namun mereka pun segera mengangguk-angguk. Ada diantara mereka yang merasa lebih senang berada di arena tugas betapapun beratnya. Kadang-kadang didalam tugas mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yang tidak diketahui oleh orang lain, sehingga dapat dimilikinya sendiri. Satu dua orang diantara mereka telah pernah mendapatkan keris atau timang dari emas. Kadang-kadang sebentuk cincin atau kadang-kadang mereka sempat merampas perhiasan yang sedang dipakai oleh seseorang. Atau dengan berdebar-debar menyempatkan diri berbuat kasar terhadap perempuan dan gadis-gadis.

Ketika orang-orang itu telah meninggalkan Sentika dan Laksita, maka mulailah Laksita menjelaskan, “Tidak ada harapan. Aku masih berharap bahwa mereka dapat mengerti serba sedikit. Tetapi ternyata mereka memang terlalu bodoh dan dungu. Untuk melakukan kekerasan, mereka adalah orang-orang yang memang pilihan. Tetapi untuk menentukan sikap, memang seharusnya bukan mereka. Aku tadi keliru menilai.”

“Jadi menurut pendapatmu, kita berdua lebih baik pergi ke Lumban untuk menangani masalah ini secara langsung?”

Laksita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kita berdua, atau salah seorang dari kita. Atau kita bersama-sama mencari keterangan dengan sasaran yang berbeda agar kita dapat membagi tenaga dan kesempatan, tidak harus langsung ke Lumban.”

“Jika demikian, kita akan menyampaikan kepada Kiai Pusparuri. Aku memang condong berbuat demikian sejak semula untuk mempercepat penyelesaian. Bagiku lebih cepat lebih baik. Korban akan dapat dikurangi.”

“Kita mendapat waktu satu hari satu malam untuk menyampaikan gagasan kita,” desis Laksita.

“Aku condong untuk segera menyampaikannya, agar kita segera dapat berbuat sesuatu.”

“Jangan tergesa-gesa. Kita menunggu semalam. Mungkin kita masing-masing menemukan sesuatu yang lebih baik dari yang kita pikirkan sekarang ini.”

Sentika mengangguk-angguk. “Baiklah. Aku akan menyabar-kan diri semalam ini. Aku akan tidur di rumah isteriku yang ke tiga. Ia memerlukan aku malam ini, karena sudah dua hari ia sakit panas.”

“Persetan dengan isterimu yang ketiga, keempat atau ketigapuluh sembilan. Masalah yang kita hadapi adalah masalah yang gawat. Dengan pusaka itu ditangan, Kiai Pusparuri akan mempergunakan segala pengaruh dan wibawa yang ada untuk mempengaruhi pimpinan pemerintahan. Sementara Kiai Pusparuri sedang memperhitungkan setiap langkah, bagaimana ia dapat menyelusuri jalan yang licin disela-sela kuasa para Adipati dan pimpinan tanah Perdikan diluar istana, dan para Bupati dan Nayaka serta para Panglima didalam istana, kau ribut dengan isterimu yang tidak terhitung jumlahnya itu.”

“Bukan maksudku. Memang mereka tidak penting. Tetapi bagaimanapun juga merupakan sebagian dari hidupku.”

“Besok pagi-pagi kita bertemu. Kita akan menentukan langkah yang paling baik menghadapi masalah yang gawat ini. Kita masih harus memikirkan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Gunung Kunir dan iblis-iblis dari Sanggar Gading,” berkata Laksita sambil menghentakkan tangannya.

Dalam pada itu, di daerah Lumban, anak-anak muda masih saja bernafsu untuk mendapatkan pengetahuan olah kanuragan dari Daruwerdi. Ketika senja mulai turun, maka, latihan yang diadakan didekat bukit gundul itu berakhir. Sekelompok-sekelompok anak-anak muda dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon meninggalkan bukit gundul itu kembali kepadukuhan. Tidak ada diantara mereka yang berani seorang diri singgah di sungai. Karena itulah, maka sebagian anak-anak muda itu bersama-sama dalam kelompok yang besar turun dan mandi bersama-sama. Meskipun demikian, ketika warna merah di langit menjadi buram kehitam-hitaman maka dengan tergesa-gesa mereka berpakaian dan berlari-lari naik keatas tanggul.

“Tunggu, he tunggu,” teriak seorang anak muda yang gemuk.

“Cepat,” sahut kakaknya, “jika kau ketinggalan, maka kau akan disergap hantu.”

“Jangan sebut,” anak gemuk itu semakin ketakutan, “tunggu aku.”

Tetapi justru karena ia menjadi semakin ketakutan, maka kakinya menjadi gemetar. Beberapa kali ia tergelincir ketika ia memanjat tebing.

“Tunggu, hei, tunggu,” kakaknya pun berteriak.

Beberapa orang anak muda berhenti. Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang kawannya sedang menolong adiknya yang gemuk naik keatas tanggul.

“Cepat,” teriak salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Tunggulah sebentar.”

Jlitheng yang ada diantara mereka kemudian berkata, “Kita menunggu mereka sebentar.”

“Sebentar lagi gelapnya menjadi semakin pekat,” desis seorang kawannya.

“Tetapi kita tidak sendiri. Kita akan dapat saling menolong. Hantu itu tidak akan berani mengganggu kita berenam.”

Kawan-kawannya berhenti juga meskipun gelisah. Yang lain telah menjadi semakin jauh dan hilang dibalik gerumbul perdu.

Sejenak kemudian kedua kakak beradik itu telah menyusul. Merekapun semuanya bergegas menyusul kawan-kawannya yang telah menjadi semakin jauh.

Namun dalam pada itu, yang menjadi perhatian Jlitheng sama sekali bukan gelapnya malam dan hantu-hantu yang mulai berkeliaran. Tetapi ia menjadi curiga, bahwa Daruwerdi masih berada di bukit gundul ketika anak-anak muda dari Lumban sudah meninggalkannya.

“Apakah ia mempunyai rencana tersendiri?” berkata Jlitheng didalam hatinya.

Tetapi bersama-sama dengan beberapa kawannya Jlitheng kembali kepadukuhan Lumban Wetan agar tidak menarik perhatian mereka. Apalagi kawan-kawannya yang di siang hari ikut serta membantunya membuat gubug di lereng bukit berhutan, sebelum mereka pergi ke bukit gundul mengikuti latihan yang diselenggarakan oleh Daruwerdi.

“Pikiran orang tua itu ternyata akan sangat bermanfaat,” desis seorang kawannya yang bersama Jlitheng kembali kepadukuhan.

“Kita akan segera menyelesaikannya,” sahut Jlitheng, “jika air itu sudah mengalir, maka akan terbukalah hati setiap orang di padukuhan ini,” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan memberikan harapan yang berlebih-lebihan kepada sanak kadang. Jika kerja ini meleset, mereka akan menjadi sangat kecewa.”

“Ah, tentu tidak,” jawab kawan Jlitheng, “aku belum mengatakan kepada siapapun.”

“Kemarin aku dengar kau berceritera tentang air kepada pamanmu,” tiba-tiba kawannya menyahut.

“O, ya. Baru kepada paman,” jawab anak muda itu.

“Kepada Ki Lengit di sudut padukuhan, kau juga mengatakannya.”

“O ya. Hanya kepada paman dan Ki Lengit.”

“Aku mendengar kau berceritera tentang kerja di lereng bukit itu kepada Jinten, gadis berambut jagung itu.”

“Ah. Ya, ya. Baru kepadanya.”

“Baru kepada satu, dua, tiga, sepuluh, duapuluh orang.” Kawan-kawannya tertawa. Sementara Jlitheng sambil tersenyum menengahi, “sudahlah. Tetapi untuk seterusnya, jangan kau ceriterakan lagi.”

Anak muda itu mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu. ketika anak-anak muda dari Lumban Wetan yang pulang bersama Jlitheng itu satu-satu sudah masuk kedalam rumahnya, maka Jlitheng pun dengan tergesa-gesa pulang pula kerumahnya. Tetapi ia hanya sekedar minta ijin kepada ibunya. Kepada perempuan tua itu ia berkata, bahwa ia akan berada di gardu, karena ada masalah yang akan dibicarakan dengan kawan-kawannya.

Tetapi kemudian dengan tergesa-gesa. Jlitheng telah pergi ke bukit gundul. Seperti yang pernah dilakukannya, maka dengan sangat berhati-hati ia mencoba untuk mengintai, apa yang terjadi diatas bukit padas itu.

Beberapa saat lamanya, Jlitheng bersembunyi dibalik gerumbul dibawah bukit. Jika ia mulai memanjat, maka ia tidak akan dapat mencari perlindungan dedaunan lagi. Ia hanya dapat berlindung diantara batu-batu padas yang mencuat dan lekuk-lekuk yang digoreskan oleh air hujan.

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat bayangan dalam kegelapan. Tidak jauh dari tempatnya bersembunyi. Bayangan itu melintas ke kakí bukit. Namun kemudian nampak ia duduk diatas batu padas.

“Bukan Daruwerdi,” desis Jlitheng didalam hatinya.

Namun Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Menurut perhitungannya, tentu Daruwerdi akan segera datang. Padahal, ketika anak-anak muda Lumban meninggalkan tempat itu, ia masih tetap duduk diatas batu padas beberapa langkah dari orang asing itu duduk.

Karena itu, maka Jlitheng harus berhati-hati. Jika ia bernasib baik, maka ia akan mendengar beberapa masalah yang selama ini masih tetap gelap baginya meskipun pokok-pokok persoalannya telah pernah didengarnya.

Jlitheng menjadi gelisah, karena nampaknya orang itu masih tetap duduk dengan tenang. Sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan seseorang yang sedang menunggu.

Jlitheng lah yang kemudian menjadi berdebar-debar. Ia hampir tidak sabar lagi melihat sikap orang itu, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan di sekelilingnya.

“Mungkin waktunya memang belum sampai,” desis Jlitheng.

Tetapi ia harus menahan nafas ketika ia kemudian melihat bayangan yang lain. Bayangan seseorang yang mendekati orang yang telah duduk menunggunya.

“Akhirnya kau datang juga Cempaka,” desis orang yang baru datang.

Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Orang itu adalah Cempaka, yang namanya pernah didengarnya beberapa saat yang lampau.

“Aku sudah mengirimkan pesan itu Daruwerdi,” jawab Cempaka, “apakah kau tidak menerima?”

“Ya. Tetapi aku terlambat menerima pesanmu. Karena itu, aku menunggumu ditempat ini untuk waktu yang sangat lama. Bersamaan dengan peristiwa yang sebenarnya sangat menarik, yang telah terjadi di padukuhan Lumban.”

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Cempaka.

“Seorang anak muda yang dibawa oleh hantu,” jawab Daruwerdi.

“Wewe?”

“Mungkin.”

Orang disebut Cempaka itu tertawa. Katanya, “Memang sangat menarik. Sayang, aku tidak dapat datang pada waktu itu. Apakah kau tidak berusaha mencari keterangan yang lebih mendalam?”

“Aku terikat disini. Sebenarnya aku juga ingin mencari anak itu,” jawab Daruwerdi yang kemudian menceriterakan serba sedikit tentang hilangnya Kuncung untuk hampir semalam suntuk.

Cempaka tertawa semakin keras. Katanya, “Daerah ini memang penuh dengan rahasia. Aku sudah mendengar, orang-orang Kendali Putih itu hilang di daerah ini. Kemudian orang-orang Pusparuri juga tidak pernah kembali ke padepokannya. Aku memang mencurigaimu.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Berapa orang menurut pendengaranmu yang telah hilang di daerah ini?”

“Tiga orang Pusparuri dan empat orang Kendali Putih,” jawab Cempaka.

Daruwerdi tertawa. Katanya, “Ceritera yang sangat menarik.”

“Kau yang membunuhnya?” bertanya Cempaka.

Daruwerdi memandang wajah Cempaka yang bersungguh-sungguh. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Kau bersungguh-sungguh dengan kecurigaanmu itu?”

“Tentu. Apakah kau dapat menyebut orang lain kecuali kau?”

“Aku tidak ingkar. Tetapi jumlahnya agak berbeda. Ketika aku berjanji untuk menerima Ular Sanca, maka dua orang Kendali Putih telah ikut campur dengan membunuhnya. Karena keduanya memaksa aku untuk berbicara tentang pusaka itu, maka aku tidak dapat menahan kesabaranku lagi sehingga keduanya telah aku bunuh. Tetapi hanya itu.”

Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceritera itu sudah berkembang, atau kau sudah ingkar.”

“Kau kenal aku Cempaka. Buat apa aku ingkar? Kau kira aku takut terhadap orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri seandainya mereka mengetahui bahwa aku yang melakukannya?”

Cempaka mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku mengerti. Kau tidak pernah takut terhadap siapapun juga. Tetapi ceritera itu memang aneh.”

“Ceritera itu agaknya memang sudah berkembang. Tetapi bahwa ada dua orang Kendali Putih yang pernah datang, memang mungkin sekali. Seorang anak muda dari Lumban Wetan mengaku pernah diseret oleh dua orang yang tidak dikenal. Tetapi ia tetap hidup.”

Cempaka mengerutkan keningnya. Katanya, “Daerah yang disebut Bukit Mati ini memang daerah yang aneh. Mungkin memang benar bahwa Sepasang bukit ini adalah bukit yang tidak dapat dijamah oleh manusia. Siapa yang bermain-main dengan Sepasang Bukit ini akan mati karenanya.”

“Kau mulai mempercayainya?” bertanya Daruwerdi.

Cempaka tertawa. Katanya, “Dan kau masih juga belum mati sampai hari ini. Tetapi memang mungkin akan terjadi besok atau lusa.”

“Dan kau pun mulai bermain dengan Sepasang Bukit Mati itu pula,” jawab Daruwerdi

Keduanya tertawa. Sementara Jlitheng menahan nafasnya. Ia sadar bahwa kedua orang di bukit gundul itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga jika ia tidak berhati-hati, maka ia akan terjebak dalam kesulitan.

Sementara itu, Cempaka berkata, “Sudahlah Daruwerdi. Biarlah aku mencari keterangan yang lebih banyak tentang orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang hilang itu. Meskipun aku sudah berpesan kepada murid-murid Sanggar Gading, bahwa jika aku juga tidak kembali, maka aku telah ditelan oleh Sepasang Bukit Mati.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau bergurau. Tetapi mungkin itu mempunyai kepentingan dengan kau.”

“Baiklah,” jawab Cempaka “tetapi bagaimana dengan persoalan kita? Aku tahu bahwa kau sudah mempunyai sikap yang pernah kau tawarkan kepada orang-orang Pusparuri. Tetapi mungkin kau mempunyai pertimbangan lain tentang pusaka itu?”

“Sudah pernah aku katakan. Aku sudah berjanji dengan orang-orang Pusparuri. Kecuali jika pihak lain dapat menunjukkan bukti bahwa mereka lebih berkepentingan dengan pusaka itu daripada Kiai Pusparuri sendiri.”

“Bukti itu pernah aku tawarkan. Bukan aku sendiri. Tetapi seseorang yang mempunyai derajat yang sesuai dengan pusaka itu. Jika ia memiliki pusaka itu, maka ia akan menjadi seorang yang berderajat sesuai dengan derajatnya yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak ingin merampas kemukten dengan memiliki tahta. Tetapi ia ingin menggenggam hakekat dari kekuasaan yang sebenarnya, yaitu pada inti kekuatan. Dengan kekuatan itu ia akan dapat berbuat apa saja bagi kebahagiaan hidup umat manusia.”

Daruwerdi tidak segera menjawab. Agaknya ia sedang merenungi kata-kata Cempaka. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah maksudnya? Apakah ia ingin menjadi Senapati Agung yang pengaruhnya akan melampaui pengaruh Raja justru karena ia menguasai prajurit?”

Cempaka memandang Daruwerdi dengan tajam. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Begitulah. Dengan kekuasaan yang benar-benar berlandaskan kekuatan ia akan dapat berbuat banyak. Ia dapat memperbaiki segala kesalahan dan kekurangan yang ada, yang nampaknya tidak terjadi secara kebetulan.”

Daruwerdi terdiam sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya Cempaka.

Daruwerdi berusaha untuk menahan tertawanya. Disela-sela suara tertawanya yang tertahan-tahan ia berkata, “Aneh sekali. Tetapi memang mungkin sekali hal itu dapat dilakukan. Setelah mempunyai pengaruh yang sangat besar maka ia akan mengusir raja yang sedang berkuasa.”

Cempaka termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Jangan terlalu bodoh. Orang yang aku katakan itu, bukan orang yang berpikiran kerdil. Ia sadar tentang apa yang dilakukan.”

Tetapi suara tertawa Daruwerdi justru meledak.

“Daruwerdi, apakah kau sudah menjadi gila?”

“Cempaka,” berkata Daruwerdi diantara gelak tertawanya yang semakin menurun, “kau jangan mengira akulah yang terlalu bodoh atau yang berpikiran kerdil. He, kau kira orang yang kau katakan itu benar-benar ingin mendapatkan pusaka itu karena pengaruh gaibnya? Karena dengan memiliki pusaka itu ia akan mendapatkan kekuasaan dan derajat?”

“Daruwerdi,” Cempaka memotong, “kau mulai mengigau. Coba katakan, jika kau mengerti, apakah yang sebenarnya?”

“Tidak. Aku tidak mengerti. Bertanyalah kepada orang yang kau sebut itu. Apakah benar seperti yang aku duga? Atau benar-benar pengertiannya memang sangat kerdil?”

Cempaka menjadi semakin tegang. Dengan nada dalam ia bertanya, “Kau membuat aku semakin bingung. Daruwerdi. coba katakan, apakah yang kau maksud sebenarnya.”

“Aku tidak tahu Cempaka. Tetapi baiklah kau sampaikan kepada orang yang kau maksud. Selebihnya, aku akan berusaha untuk menemukan pusaka itu secepatnya berdasarkan keterangan yang kuterima. Setiap orang tentu mengira bahwa akulah orang yang memiliki keterangan terbanyak tentang pusaka itu, karena akulah orang yang dapat bertemu dan berhubungan dengan pengiring Pangeran yang terusir dan telah meninggal itu. Meskipun pengiring itu tua dan cacat.”

Cempaka menggeram. Katanya, “Kau memang iblis Daruwerdi. Tetapi berhati-hatilah sedikit dengan sikapmu itu. Mungkin kau memang seorang yang pilih tanding. Tetapi tentu ada orang yang melampaui kemampuanmu dan dapat mencekikmu sampai mati jika kau tidak mau menyebut rahasia itu.”

“Siapapun dapat memaksa aku membuka rahasia. Tidak usah dengan mencekikku. Tetapi aku minta seperti yang pernah aku katakan,” jawab Daruwerdi.

“Kau memang orang gila. Kau minta yang sulit dilakukan. He, apakah kau kira permintaanmu itu wajar?” bertanya Cempaka.

Daruwerdi tertawa kecil. Katanya, “Orang-orang Pusparuri telah menyanggupinya. Tetapi itu tidak terlalu mengikat bagiku. Jika pihak lain dapat menemukan orang itu lebih dahulu, maka aku akan mengatakan kepadanya, sejauh yang aku ketahui tentang pusaka itu.”

“Kenapa kau sendiri tidak melakukannya Daruwerdi? Jika kau merasa seorang yang pinunjul, tentu kau akan berani datang ke istana Kapangeranan dan menantangnya perang tanding.”

“Pertanyaan semacam itu sudah aku dengar beberapa puluh kali. Orang-orang lain juga bertanya seperti itu kepadaku. Dan jawabku selalu tidak berubah. Aku harus mengerti tentang diriku sendiri. Aku tidak akan mampu melawan para pengawalnya yang jumlahnya jauh melampaui jumlah pengawal Senapati Agung. Tetapi aku tidak akan dapat melupakan dendamku kepadanya, karena ia telah membunuh ayahku,” jawab Daruwerdi.

“Kau merasa dirimu terlalu lemah. Tetapi kau memang keras kepala. Bagaimana jika terjadi sekelompok kekuatan menangkapmu dan memeras keterangan dari mulutmu dengan kekerasan.”

“Adakah kelompok yang akan berbuat demikian? Aku adalah orang yang mudah mati. Jika aku ditangkap oleh sekelompok yang manapun juga, maka rahasia tentang pusaka itu tidak akan terungkapkan. Kelompok-kelompok yang sedang memburu pusaka itu akan mendendam terhadap siapapun yang berani membunuhku. Dengan demikian, maka kelompok itu tentu akan musna.”

“Kau kira tidak ada kekuatan yang dapat menangkapmu tanpa diketahui oleh orang lain? Sekarang misalnya. Aku akan dapat menangkapmu dan membawamu ke padepokan tanpa diketahui oleh orang lain. Dengan satu isyarat, maka orang-orangku akan datang dengan tali yang tidak akan dapat kau putuskan.”

“He, kau kira aku juga sendiri, sehingga kau dapat berbuat curang begitu?” bertanya Daruwerdi.

“Anak iblis,” geram Cempaka, “aku tahu, kau hanya menggertakku.”

“Kalau begitu lakukanlah yang ingin kau lakukan itu. Tetapi jangan menyesal bahwa padepokanmu akan menjadi karang abang. Orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan orang yang mana lagi. akan bersatu dan menghancurkan padepokanmu yang sombong itu.”

“Gila. Kau sungguh-sungguh gila. Tetapi baiklah, aku akan mempertimbangkan kemungkinan yang kau kehendaki.”

“Kau mempunyai sepasukan pengikut seperti orang-orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih. Kau dapat menyerbu ke istana Pangeran yang tamak itu dan kemudian menangkapnya dan menyeretnya kepadaku. Aku akan membunuhnya perlahan-lahan meskipun ia akan merengek minta maaf kepadaku. Aku tidak gentar berperang tanding. Tetapi ia sangat curang, sehingga aku tidak akan dapat mempercayai kejantanannya dengan datang ke istananya dan menantangnya perang tanding, ia tidak akan segan-segan menggerakkan pengawalnya untuk membunuhku dengan licik.”

“Persetan. Aku tidak perlu ceriteramu yang sombong itu. Katakanlah bahwa kau tidak mampu menghadapinya. Aku akan melakukannya. Tetapi jika kau ingkar tentang pusaka itu. maka kau akan mengalami nasib yang paling buruk yang pernah terjadi atas seseorang.”

Daruwerdi tertawa. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan pandangan yang kecut.

“Jangan mengancam. Belum tentu bahwa kaulah yang akan dapat membawa pangeran itu kepadaku. Mungkin orang-orang Pusparuri. Mungkin dari pihak lain. Aku akan memberikan penawaran terbuka kepada siapapun. Hanya orang-orang Kendali Putih lah yang bodoh, yang ingin memaksakan kehendaknya tanpa melalui pembicaraan yang baik. Karena itu mereka tidak akan pernah kembali kepadepokannya.”

“Dan kau telah melakukan sampai dua rambahan. Dua orang yang kau bunuh terdahulu. Kemudian dua orang lagi. Sedangkan yang terakhir adalah dua orang Pusparuri.”

“Itu ceritera yang sangat gila. Kau sengaja membuat ceritera semacam itu agar orang-orang Kendali Putih dan Pusparuri mendendamku. Tetapi jika mereka membunuh aku, maka kau pun kehilangan kesempatan sama sekali untuk memiliki pusaka itu.”

Orang yang disebut Cempaka itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ternyata aku berhadapan dengan orang yang paling licik yang pernah aku kenal. Daruwerdi, aku kira bahwa kau adalah seorang laki-laki jantan dan berpegang teguh pada setiap janji yang kau ucapkan. Tetapi sekarang, kau sudah berubah sama sekali. Kau bukan lagi Padmasana yang aku kenal. Setelah kau memasang gelar yang asing itu, kau benar-benar menjadi orang asing bagiku.”

“Mungkin,” jawab Daruwerdi, “tetapi itu bukan terjadi dengan tiba-tiba dan dengan sendirinya. Ada sebab yang menyebabkan aku berubah jika dugaanmu benar.”

“Kematian ayahmu ?” bertanya Cempaka.

“Ya. Kematian ayahku telah membuat aku lupa segala-galanya. Aku lupa akan diriku sendiri disaat yang lampau. Lupa akan sifat dan watak itu. Yang aku inginkan kemudian hanyalah membalas dendam. Itu saja. Dan bagi mereka yang dapat menolongku, aku menyediakan imbalan yang tidak ternilai harganya, meskipun belum sepadan dengan nilai ayahku itu.”

“Kau memang anak iblis. Tetapi baiklah, aku akan melakukannya. Berapa hari kau memberi aku waktu?”

“Lebih cepat lebih baik,” jawab Daruwerdi.

“Dan pusaka itu kini sudah di tanganmu?” bertanya orang itu.

“Pertanyaanmu juga gila. Aku tidak dapat menjawab. Tetapi demikian orang yang aku maksud itu kau serahkan kepadaku, maka imbalan itupun akan kalian terima.”

“Perubahan sifat dan watakmu membuat aku ragu-ragu.”

“Terserah kepadamu,” jawab Daruwerdi.

Cempaka pun kemudian bangkit dan berjalan selangkah maju. Katanya, “Aku akan melakukannya. Bukan saja karena pusaka itu. Tetapi aku menjadi kasihan melihat seorang anak muda yang pernah dipuji karena kejantanannya, tiba-tiba telah menjadi licik dan pengecut.”

Tiba-tiba saja Daruwerdi tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan mencoba menyinggung harga diriku. Aku sudah tidak mempunyai harga diri lagi. Kau boleh menghina aku. Kau boleh mengumpat tanpa kendali. Apa saja yang kau katakan tentang diriku tidak akan aku hiraukan. Bagiku, orang itu dapat kau bawa kemari.”

Terdengar Cempaka menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih berjalan mondar-mandir.

“Sudahlah Cempaka,” berkata Daruwerdi kemudian, “aku tidak dapat terlalu lama disini. Aku akan pergi ke gardu ronda. Aku senang berada di gardu bersama anak-anak muda yang bodoh dan dungu. Yang hanya tahu merebus ketela pohon sambil berkelakar tanpa arti. Jika kau perlukan aku, hubungi aku. Aku akan sangat bergembira jika kau segera datang dengan orang yang aku inginkan itu.”

Cempaka menggeram. Tetapi ia tidak menjawab.

Daruwerdi lah yang kemudian meninggalkan tempat itu lebih dahulu, sambil berpesan, “Jika kau terlambat, maka pusaka itu akan jatuh ke tangan orang lain, dan kau akan kehilangan kesempatan tanpa batas kemungkinan.”

“Gila,” geram Cempaka sambil menghentakkan tangannya. Tetapi Daruwerdi justru tertawa sambil meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal Daruwerdi, Cempaka masih duduk beberapa saat sambil merenungi kata-kata Daruwerdi. Sekali-kali masih terdengar ia menggeram dengan kesal.

Dalam pada itu, Jlitheng yang merasa tidak perlu lagi menunggui Cempaka yang sedang merenung itupun kemudian beringsut. Ia akan segera meninggalkan tempat itu, menemui kawan-kawannya di gardu. Jika ia terlalu lama tidak nampak, mungkin kawan-kawannya akan mencarinya. Apalagi jika mereka tidak menemukannya di rumah. Maka tentu akan timbul berbagai macam dugaan. Mungkin justru ada yang menyangka bahwa ia telah dibawa hantu seperti Kuncung.

Tetapi malang bagi Jlitheng. Diluar sadarnya, betapapun ia berhati-hati, namun seekor burung gemak yang bersembunyi di gerumbul pula, telah terkejut dan meloncat berlari sambil memekik-mekik karena tersentuh kakinya.

“Gila,” geram Jlitheng didalam hatinya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan lagi. Cempaka ternyata seorang yang tangkas dan cepat menanggapi keadaan. Demikian ia mendengar gemerasak dedaunan yang tersibak oleh burung gemak itu, maka iapun telah meloncat berdiri sambil menggeram, “Siapa yang telah jemu memandang bintang di langit ?”

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak ingin menanggapi orang itu. Ia masih harus tetap merahasiakan dirinya sejauh dapat dilakukan. Jika ia tidak menghindar, maka berarti bahwa ia harus bertempur. Pilihannya adalah dibunuh atau membunuh. Jika ia mati, maka tugasnya akan selesai tanpa arti sama sekali. Tetapi jika ia membunuh, maka ia tidak akan dapat mengikuti perkembangan persoalan yang telah didengarnya. Kematian Cempaka akan menutup penyelidikannya, karena Daruwerdi akan segera berhubungan dengan orang lain yang tidak dikenalnya, dan yang masih harus diselidikinya sejak permulaan sekali.

Tetapi Jlitheng tidak banyak mendapat kesempatan. Cempaka yang telah berdiri, telah maju selangkah dengan penuh kewaspadaan.

Untuk sesaat Jlitheng masih tetap berada ditempatnya yang terlindung oleh rimbunnya dedaunan. Namun ia telah bersiap untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya paling baik yang diketemukan dalam waktu pendek itu.

Dalam pada itu, Cempaka yang bergeser mendekat menggeram, “Keluarlah dari persembunyian itu. Marilah kita berhadapan dengan jantan. Apakah kau orang yang disebut kawan Daruwerdi yang mengawasinya jika terjadi sesuatu ?”

Jlitheng tidak menjawab. Ia masih berdiri diam.

“Cepat, sebelum aku mengambil sikap yang mungkin tidak akan menyenangkan bagimu,” suara Cempaka menjadi semakin keras.

Karena Jlitheng tidak menjawab dan sama sekali tidak berbuat sesuatu, maka Cempaka pun melangkah semakin dekat. Dengan suara yang gemetar oleh kemarahan, ia berkata, “He, apakah kau seorang pengecut atau seorang yang gila.”

Memang tidak senang disebut sebagai seorang pengecut. Tetapi Jlitheng masih tetap mengendalikan dirinya. Ia tidak akan melayani orang itu dalam satu pertengkaran jasmaniah. Ia tidak mau dibunuh, tetapi terhadap orang itu, ia tidak ingin membunuh.

“Jika kau tetap tidak mau keluar, aku akan. mengeluarkanmu dari gerumbul itu,” agaknya kemarahan orang itu tidak terkendali lagi.

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Cempaka itu memungut batu padas sebesar genggaman tangannya. Kemudian ia memusatkan pendengarannya untuk mengetahui dimanakah arah yang paling tepat dari orang yang bersembunyi dibalik gerumbul itu.

Jlitheng yang berada dibalik gerumbul dapat melihat dari sela-sela dedaunan, apa yang akan dilakukan oleh Cempaka. Nampaknya memang sederhana sekali. Cempaka akan melemparkan sebuah batu padas kedalam gerumbul itu. Namun Jlitheng pun sadar, bahwa kekuatan lontar orang yang bernama Cempaka itu tentu bukanlah kekuatan orang kebanyakan. Karena itulah, maka iapun telah mempersiapkan dirinya pula.

Seperti yang diduganya, maka sejenak kemudian, Cempaka telah melemparkan batu padas itu dengan sekuat tenaganya. Seperti yang diperhitungkan, maka kekuatan lontarannya benar-benar mengerikan.

Yang terdengar kemudian adalah suara gemerasak, bagaikan angin prahara. Batu yang hanya segenggam tangan itu telah melanda gerumbul tempat Jlitheng bersembunyi, bagaikan sebuah pisau yang terbang menebas dedaunan pada gerumbul itu. Ranting-ranting pun berpatahan dan desir anginnya bukan saja menggugurkan daun-daun yang sudah menjadi kuning, tetapi gerumbul itu bagaikan disapu menjadi gundul.

Namun dalam pada itu, orang yang bernama Cempaka itu sempat melihat, bayangan hitam yang bagaikan angin, terlontar dari balik gerumbul yang dihantamnya itu ke balik gerumbul yang lain, sehingga karena itu, kemarahannya pun telah menjadi semakin menyala di hatinya.

“Siapa kau he? Siapa? Jika kau pengikut Daruwerdi, katakanlah. Aku tidak akan membunuhmu, meskipun yang kau lakukan atas perintahnya itu sangat menjengkelkan.”

Jlitheng tidak menjawab. Tetapi seolah-olah ia tidak berani berkedip, karena Cempaka telah memungut batu padas sebesar genggaman tangannya pula.

“Kau harus mengerti, dengan siapa kau berhadapan,” geram Cempaka.

Jlitheng telah bersiap-siap menghadapi prahara yang luar biasa itu. Jika sekali lagi Cempaka melemparkan batunya, maka iapun harus segera bergeser ke balik gerumbul berikutnya.

Tetapi apakah ia akan berbuat demikian sampai tiga empat kali? Jika akhirnya ia tidak sempat lagi berpindah gerumbul-gerumbul yang akan menjadi gundul, maka dia harus menghadapi orang itu.

Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Cempaka bersiap untuk mengayunkan batu itu. Dengan sungguh-sungguh Jlitheng memperhatikan, apa yang akan terjadi kemudian.

Akhirnya Jlitheng memutuskan untuk meninggalkan saja tempat itu selagi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu belum melihat wajah dan ujudnya. Selain malam yang buram, juga karena Jlitheng tidak pernah dengan terang-terangan menghadapinya.

Karena itu, ketika sekali lagi Cempaka melontarkan batu padas ditangannya bagaikan hembusan badai yang dahsyat, Jlitheng tidak lagi meloncat dan bersembunyi ke gerumbul yang lain. Tetapi iapun kemudian meloncat berlari meninggalkan tempat itu.

“Pengecut,” Cempaka berteriak ketika ia melihat bayangan yang dengan tangkas meloncat menghindari lontaran batu padasnya. Bukan saja bersembunyi dibalik gerumbul yang lain seperti yang telah dilakukan, tetapi bayangan itupun berlari dengan cepatnya meninggalkan kaki bukit gundul itu tanpa menghiraukan gerumbul yang bagaikan dihantam amukan badai yang mengerikan, hanya oleh sebutir batu padas yang besarnya tidak lebih dari genggaman tangannya, namun yang lontarannya dilambari oleh kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Agaknya Cempaka tidak mau melepaskan orang yang telah mengganggunya itu begitu saja. Karena itu, maka iapun segera meloncat mengejarnya. Cempaka merasa bahwa ia akan dapat menyalurkan, kemampuannya pada lontaran kakinya untuk mempercepat larinya, sehingga ia akan segera dapat menangkap orang yang telah membuatnya marah itu.
Sejenak kemudian maka Cempaka telah berlari seperti angin. Ia menyalurkan kemampuannya yang luar biasa tidak lagi pada ayunan tangannya yang melontarkan batu padas itu. Tetapi pada ayunan kakinya untuk segera menangkap Jlitheng.

Tetapi Cempaka terkejut melihat orang yang dikejarnya. Ternyata orang yang dikejarnya itupun mampu berlari sangat cepat. Seperti yang dilakukannya.

“Gila,” geramnya, “sejak aku melihat ia berhasil menghindari lemparanku, aku sudah curiga, bahwa ia bukannya orang yang tidak berilmu.”

Karena itu, maka Cempaka pun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Ia tidak mau kehilangan orang yang telah mengintipnya dan mendengarkan segala pembicaraannya, meskipun orang itu memang mungkin sekali diperintahkan oleh Daruwerdi.

Dalam pada itu, Jlitheng pun mengumpat didalam hatinya. Ternyata orang yang menyebut dirinya Cempaka itu benar-benar orang yang luar biasa, sehingga ia tidak dapat memperpanjang jarak antara dirinya dengan orang yang mengejarnya itu.

Tetapi Jlitheng tidak mau tertangkap. Karena itu ia pun berusaha mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak. Bahkan kemudian iapun memotong arah, melintasi pematang dan meloncati parit-parit.

Jlitheng pun kemudian sadar, bahwa ia tidak akan dapat berlari lebih cepat lagi. Dan iapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan orang yang mengejarnya. Karena itu, maka yang dilakukannya adalah memilih jalan yang mungkin dapat mengurangi kecepatan laju langkah orang yang mengejarnya, karena Jlitheng merasa, bahwa ia lebih mengenal jalan-jalan sempit, pematang-pematang, tanggul parit dan bahkan menyusup diantara gerumbul-gerumbul perdu.

Tetapi betapapun juga, Jlitheng masih sempat membuat pertimbangan. Ia tidak mau memberikan kesan, bahwa ia adalah orang dari Lumban Wetan. Iapun tidak mau memberikan kesan, bahwa ia tinggal diatas bukit berhutan, karena dengan demikian akan dapat menuntun perhitungan Daruwerdi atas dirinya yang tinggal di Lumban Wetan, atau mereka yang menghuni bukit berhutan itu.

Karena itu, Jlitheng justru berlari kearah yang lain sama sekali. Iapun juga tidak berlari menuju ke Lumban Kulon, karena dengan demikian ia akan menyusul Daruwerdi yang tentu berjalan tidak secepat ia berlari.

Sambil berlari orang yang menyebut dirinya Cempaka itu-pun mencoba untuk menebak. Namun ia sama sekali tidak dapat menduga-duga, siapa orang itu, jika ia bukan pengikut Daruwerdi.

“Jika benar ia pengikut Daruwerdi, maka pantaslah jika orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang pernah datang kemarin tidak akan pernah kembali,” berkata Cempaka itu didalam hatinya.

Karena pikiran itulah, maka ia mulai menimbang-nimbang. Ia mulai membayangkan, apakah memang begini cara Daruwerdi membinasakan lawannya. Ia memancing orang yang tidak disukainya dengan cara seperti yang sedang terjadi itu. Kemudian dengan licik membinasakan mereka.

“Persetan,” geram Cempaka, “aku bukan orang yang hanya setingkat dengan budak-budak dari Kendali Putih dan budak-budak Pusparuri. Aku tidak peduli siapakah orang itu. Aku harus menangkapnya dan kemudian memaksanya berbicara.

Tetapi setiap kali orang yang menyebut dirinya Cempaka itu tanya dapat mengumpat, karena ia tidak dapat segera menangkap lawannya.

Sebenarnyalah bahwa diantara kedua orang itu telah terjadi pertempuran yang aneh. Mereka tidak mengadu ketangkasan, kecepatan bergerak dalam tata kanuragan, tidak pula mengadu ilmu pedang dan membenturkan kekuatan. Tetapi mereka sedang berlomba kecepatan berlari dan daya ketahanan mereka. Mereka harus mengatur pernafasan mereka sebaik-baiknya agar mereka tidak segera diburu oleh desah nafas di lubang hidung. Mereka pun harus tetap mempertahankan kecepatan ayunan kaki mereka, agar mereka setidak-tidaknya dapat mempertahankan jarak antara keduanya.

Demikianlah, maka keduanya telah berlari seperti angin didalam gelapnya malam. Jlitheng lah seolah-olah yang telah memilih jalan yang akan mereka lalui. Kesempatan memilih dan pengenalan atas daerah yang menjadi arena pertarungan itulah agaknya yang memberikan keuntungan kepadanya, ia dapat dengan tiba-tiba berbelok karena ia memang mengenal jalur jalan itu dengan baik. ia dengan tangkasnya meloncati parit yang cukup lebar meskipun tidak berair di musim kering, ia dapat berlalu seperti angin di pematang yang sempit, karena ia mengerti, dimanakah tanah yang keras dan dimanakah yang gembur atau licin.

Karena itulah, maka jarak yang semula bagaikan telah ditentukan itu semakin lama menjadi semakin panjang. Jlitheng perlahan-lahan dapat menjauhi orang yang mengejarnya

“Persetan,” geram Cempaka, “orang gila itu harus dibunuh biar pun ia pengikut Daruwerdi.”

Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena orang yang dikejarnya seolah-olah menjadi semakin jauh. Setiap kali ia mengatur keseimbangan selagi berlari di pematang yang sempit apalagi kadang-kadang licin dan miring, sehingga kecepatannya harus dikuranginya.

“O, gila.” ia menggeram. Tetapi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Justru yang terjadi adalah, bahwa jarak mereka semakin lama menjadi semakin panjang.

Kenyataan itu memang sangat menyakitkan hati. Tetapi ia tidak dapat mengingkarinya. Dengan kemarahan yang menghentak jantung, ia melihat orang yang dikejarnya semakin lama menjadi semakin jauh menusuk ke pusat kegelapan.

“Berhenti pengecut,” oleh kemarahan yang memuncak, maka iapun telah berteriak sekuat-kuatnya. Apalagi Cempaka menyadari, bahwa mereka sedang berada di bulak yang panjang, sehingga tidak akan ada orang yang mendengarnya. Mungkin ada satu dua orang yang berada di sawahnya dimalam hari, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu atau memberikan keterangan suatu apapun tentang suaranya.

Tetapi Jlitheng sama sekali tidak berhenti. Ia tidak dapat menuruti perasaannya yang sakit oleh teriakan-teriakan orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan mengumpatinya sebagai seorang pengecut.

Tetapi iapun tidak dapat melepaskan perhitungannya untuk waktu yang cukup panjang dalam tugasnya.

Karena itulah, Jlitheng masih berlari terus, Ia sudah mengelilingi beberapa padukuhan di Lumban Wetan dan Lumban Kulon lewat bulak-bulak panjang. Bahkan kadang-kadang ia sudah terdorong ke tempat yang agak jauh dari padukuhan Lumban. Namun Jlitheng setiap kali telah melingkar kembali mendekati bukit gundul itu.

Akhirnya Cempaka pun harus mengakui, bahwa ia tidak akan dapat mengejar orang yang telah bersembunyi dan mendengarkan percakapannya dengan Daruwerdi. Namun dugaannya pun kuat, bahwa orang itu adalah pengikut Daruwerdi yang mendapat tugas daripadanya untuk mengamati keadaan, seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi sendiri.

Ada keinginannya untuk menemui Daruwerdi dan mengumpatinya, karena kecurigaannya. Tetapi iapun sudah terlanjur mengatakan kepada Daruwerdi bahwa dengan isyarat, ia akan dapat memanggil orang-orangnya untuk datang ke bukit gundul dan menangkap Daruwerdi.

Karena itu, niatnya untuk bertemu dengan Daruwerdi itu-pun diurungkannya. Lebih baik baginya untuk meninggalkan tempat itu, dan mempersiapkan diri menghadapi tugas-tugas berikutnya sehubungan dengan permintaan Daruwerdi untuk menangkap seseorang yang pernah membunuh ayahnya.

Tetapi Cempaka tidak dapat tergesa-gesa berbuat demikian, karena ia masih harus melaporkan hasil pembicaraannya dengan Daruwerdi dan merencanakan langkah-langkah berikutnya yang mapan.

Dalam pada itu, Jlitheng masih saja berlari. Baru ketika ia yakin bahwa orang yang menyebut dirinya Cempaka sudah tidak mengejarnya terus, ia memilih arah yang sebenarnya.

Hampir diluar sadarnya, maka iapun telah melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke bukit berhutan. Seolah-olah ada keharusan baginya untuk datang dan menceriterakan apa yang terjadi kepada orang tua yang bernama Kiai Kanthi itu.

Ketika Jlitheng mendekati tempat yang dihuni oleh Kiai Kanthi, malam telah menjadi semakin kelam. Namun agaknya Kiai Kanthi masih belum tidur menunggui anak gadisnya yang nyenyak. Karena itu, maka iapun mendengar desir halus mendekati tempatnya.

“Aku Kiai,” desis Jlitheng sebelum Kiai Kanthi meloncat berdiri.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu ada ceritera yang menarik.”

“Apakah Kiai sudah mengetahuinya?” bertanya Jlitheng.

Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Belum ngger. Tetapi menilik nafasmu yang berkejaran, maka kau tentu sedang dalam ketegangan. Dan mungkin kau sudah melakukan sesuatu yang telah memeras tenagamu.”

Jlitheng pun kemudian duduk disamping Kiai Kanthi diatas anyaman ilalang. Sejenak ia mengatur pernafasannya. Baru kemudian ia mulai berceritera.

“Aku tidak tahu Kiai apakah Kiai terlibat didalam masalah ini atau tidak. Seandainya Kiai akut serta dalam perebutan pusaka itu, maka aku telah terjebak disini,” berkata Jlitheng.

“Kau masih saja ragu-ragu ngger,” berkata Kiai Kanthi, “tetapi aku pun menyadari bahwa hal itu wajar sekali. Namun jika masih ada sedikit kepercayaan, biarlah sekali lagi aku menegaskan, bahwa aku telah mengungsi dari padepokanku yang hancur oleh banjir, gempa dan tanah longsor.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku percaya Kiai.”

Namun tiba-tiba saja terdengar Swasti yang masih memejamkan matanya menyahut, “Percaya atau tidak percaya, itu bukan persoalan kita ayah, seperti juga kita dapat percaya atau tidak percaya. Karena sebenarnyalah bahwa kadang-kadang orang yang menginginkan sendiri, selalu mempersoalkan niat orang lain.”

“Ah,” desis Kiai Kanthi, “jika kau masih tidur, tidur sajalah. Jangan separo tertidur, separo ikut dalam pembicaraan ini, sehingga kata-katamu tidak ubahnya seperti orang yang sedang mengigau didalam tidur.”

“Aku tidak tidur ayah,” jawab Swasti. Tetapi ia tidak bangkit.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak banyak menghiraukan gadis itu. Setelah beberapa kali ia bertemu maka iapun mulai mengenal sifat gadis itu.

Tetapi tiba-tiba saja Swasti bertanya masih sambil berbaring dibelakang pohon, “Kenapa Daruwerdi harus dicurigai dan dibayangi?”

Kiai Kanthi menarik nafas pula. Katanya, “Seperti yang selalu aku katakan Swasti, pendatang di daerah ini tentu akan saling mencurigai.”

“Tetapi Daruwerdi tidak mencurigai siapapun disini,” berkata Swasti kemudian.

Kiai Kanthi tersenyum. Katanya, “Ia terlalu banyak bertanya dan banyak memperhatikan kita. Apakah itu salah satu bentuk kecurigaan atau bukan, aku tidak dapat mengatakannya.”

Swasti mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Jlitheng yang termangu-mangu pun kemudian berkata, “Kiai. Besok aku dan beberapa orang kawan akan melanjutkan kerja ini. Mudah-mudahan air itu cepat dapat dikendalikan. Besok kita akan mencoba, mengalirkan sebagian kecil dari arusnya, apakah air itu dapat mengalir seperti yang kita kehendaki.”

“Baiklah ngger. Aku kira besok kita sudah dapat melakukannya. Kita membuka sedikit tebing arus air yang mengalir ke luweng dibawah tanah itu. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan menentukan kerja kita seterusnya.”

“Sementara yang lain mulai menaikkan tulang-tulang atap gubug Kiai itu,” desis Jlitheng kemudian.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Alangkah senangnya tinggal dibawah atap, meskipun atap ilalang.”

“Beberapa saat lagi, padepokan Kiai akan siap di lereng bukit ini. Bukan sekedar rumah beratap ilalang. Jika orang-orang Lumban dapat memetik hasil jerih payah Kiai dengan mempergunakan air itu, maka mereka akan membantu dengan senang hati.”

Kiai Kanthi tertawa. Desisnya, “Mudah-mudahan ngger.”

Jlitheng pun kemudian minta diri. Ia harus segera kembali kepada kawan-kawannya. Jika ada kecurigaan Daruwerdi dan mencarinya, maka tugasnya akan bertambah sulit.

Dihari berikutnya, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah mulai bekerja pula membantu Kiai Kanthi di lereng bukit berhutan itu. Salah satu dari yang disebut Sepasang Bukit Mati.

Selagi beberapa orang sibuk memasang tulang-tulang rumah gubug Kiai Kanthi, maka Jlitheng dan Kiai Kanthi sendiri dengan sungguh-sungguh sedang memperhitungkan kemungkinan arus air yang akan mulai dialirkan sedikit demi sedikit lewat saluran yang sudah disiapkannya.

“Kita akan menyobek tebing saluran air itu sedikit,” berkata Kiai Kanthi. “Dengan demikian, kita akan mengetahui apakah jalur air itu sudah benar.”

“Kita akan memecah batu padas itu Kiai, agar alirannya tidak cepat membesar karena pintu airnya juga dengan cepat membesar,” berkata Jlitheng.

“Bagus ngger. Bagus. Kita akan membuat pintu air justru pada batu padas yang keras,” sahut Kiai Kanthi.

Kedua orang itupun kemudian memilih tempat yang paling baik, sesuai dengan jalur parit yang sudah tersedia. Dengan hati-hati mereka memecah tanggul yang terjadi dari batu-batu padas yang keras.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka ketika pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi itu cukup dalam, air yang bergejolak didalam jalurnya menuju ke luweng dibawah tanah itu pun mulai meluap. Sedikit demi sedikit, lewat pintu pada batu padas yang cukup keras.

“Sudah cukup Kiai,” berkata Jlitheng kemudian.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya air yang meluap dan kemudian menjalar menyusuri jalur jalan yang memang sudah disediakan, menuruni tebing bukit berhutan itu.

“Kita akan melihat, apakah air itu dapat terkendali sampai kebawah bukit Kiai,” berkata Jlitheng, “dan kita akan mengikuti, apakah luapan air itu akan benar-benar masuk kedalam sungai.”

“Jadi?” bertanya Kiai Kanthi.

“Kita akan turun. Aku akan minta agar kawan-kawan meneruskan kerja mereka, sementara kita turun,” jawab Jlitheng.

Keduanya pun kemudian berlari-lari menuruni tebing, setelah mereka berpesan kepada anak-anak muda yang lain, yang sibuk dengan gubug Kiai Kanthi. Mereka seolah-olah berlomba dengan ujung arus air yang menuruni jalurnya. Kadang-kadang Jlitheng memotong arah, memintas sehingga ia dapat mendahului arus air yang cukup cepat, meskipun tidak terlalu deras, karena pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi memang belum terlalu besar.

Ketika mereka sampai dibawah bukit, mereka masih sempat melihat ujung air itu meleleh dan masuk kedalam parit yang sudah tersedia. Lewat parit itu, maka air pun menuju ke padang perdu, menyusup disela-sela gerumbul-gerumbul liar menuju ke sungai yang hampir tidak berair di musim kering.

“Kita akan segera dapat membuktikan Kiai,” berkata Jlitheng sambil tersenyum, “orang-orang padukuhan Lumban tidak akan segan berbuat sesuatu bagi Kiai, yang akan membangun sebuah padepokan. Mungkin padang perdu ini akan segera berubah menjadi tanah persawahan dan pategalan yang subur, yang basah di segala musim.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati yang berdebar-debar Kiai Kanthi melihat, air yang masih terlalu sedikit itu akhirnya tumpah kedalam sungai seperti yang mereka kehendaki.

“Kerja kita sudah selesai Kiai, pada tahap pertama,” berkata Jlitheng kemudian.

“Ya. Kita akan dapat mengatur, seberapa banyak air yang akan kita sadap dari belumbang itu,” sahut Kiai Kanthi.

“Seluruhnya Kiai. Bukankah itu lebih baik daripada air itu hilang ditelan tanah ?”

Tetapi wajah Kiai Kanthi nampaknya dibayangi oleh keragu-raguan, sehingga Jlitheng pun bertanya, “Apa Kiai mempunyai pendapat lain?”

 

Bersambung ke jilid 5

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com
oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Matur sanget nuwun kangmas, anggenipun nglajengaken ceritanipun.

    Nggih adimas (he he he ….)
    hari ini sudah diupload jilid 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s