MAdBB-02


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 2

kembali | lanjut

cover madbb-02HE,” Jlitheng lah yang justru terkejut, “maksud Kiai?”

“Mungkin ada kecurigaan padamu ngger, bahwa aku mempunyai hubungan dengan peristiwa itu. Aku sadar, bahwa setiap orang baru yang datang ke tempat yang kebetulan mempunyai persoalannya tersendiri, akan sangat menarik perhatian. Meskipun sekali lagi, hanya kebetulan saja.”

Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Ternyata aku tidak dapat bersembunyi lagi dihadapan Kiai. Banyak hal yang Kiai ketahui dari keinginan yang sebenarnya masih tersimpan di hati. Kali ini pun Kiai ternyata dapat membaca perasaanku.”

Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Baiklah Kiai. Terus terang aku memang agak curiga terhadap kedatangan Kiai padi saat-saat ini. Aku ragu-ragu apakah benar-benar Kiai datang dari padepokan yang hancur karena tanah yang longsor, gempa, banjir dan angin pusaran. Apakah kedatangan Kiai kemari bukannya karena Kiai mempunyai hubungan dengan salah satu dari kedua perguruan itu. Pusparuri atau Kendali Putih. Atau Kiai adalah salah seorang yang mempunyai kepentingan yang sama dengan perguruan-perguruan itu, tetapi Kiai mempunyai pihak tersendiri.”

Jlitheng terkejut ketika ternyata Swasti lah yang menjawab lantang, “Kami pun sudah mengetahui bahwa kau mencurigai kami. Kesediaanmu menolong kami hanyalah karena kau ingin menjajagi kemampuan kami. Sekarang kau tahu, bahwa aku mampu melakukan apa yang dapat kau lakukan.”

“Swasti,” potong ayahnya.

“Kamipun tahu,” Swasti meneruskan tanpa menghiraukan kata-kata ayahnya, “kau menunjukkan tempat ini semata-mata karena kau ingin mengikat kami di tempat yang kau ketahui dengan pasti. Setiap saat kau ingin mengamati kami, maka kau tidak usah mencari kami di seluruh hutan ini.”

“Ah,” desah Kiai Kanthi, “jangan berprasangka terlalu jauh Swasti.”

Swasti memandang bayangan ayahnya dan Jlitheng didalam kegelapan. Namun iapun kemudian terdiam.

Jlitheng mengangguk-angguk sambil bergumam, “Aku mohon maaf Kiai, bahwa sikapku agaknya telah menyakiti hati anak gadis Kiai.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengira bahwa Jlitheng sama sekali tidak tersinggung oleh kata-kata Swasti, bahkan ia masih sempat minta maaf kepadanya.

“Sebenarnyalah bahwa dalam keadaan seperti ini di daerah terpencil seperti padukuhan Lumban ini. banyak mengundang prasangka buruk.” Jlitheng meneruskan.

“Itu bukan salahmu ngger,” berkata Kiai Kanthi, “tentu diantara kita masing-masing ada perasaan curiga karena kita masing-masing belum mengenal lahir dan batin. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita masing-masing sudah melakukan kesalahan.”

“Baiklah Kiai. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Kita masih akan saling membuktikan tentang diri kita masing-masing. Tetapi jika benar Kiai tidak bersentuhan dengan perguruan Pusparuri dan Kendali Putih? maka yang aku ceriterakan itu hendaknya menjadi bahan perhitungan Kiai menghadapi masa mendatang di padukuhan Lumban ini.”

“Terima kasih ngger. Sebenarnyalah bahwa aku sudah mendengar serba sedikit tentang perguruan itu. Tetapi isinya aku sama sekali tidak mengerti. Apalagi hubungannya dengan angger Daruwerdi.”

“Baiklah Kiai. Aku akan minta diri. Kita sudah saling mengerti bahwa kita masih selalu dibelit oleh pertanyaan tentang orang-orang yang sedang kita hadapi.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng melanjutkan, “Kiai. Sebagaimana Kiai yang berselubung kepapaan seorang perantau, maka terhadap siapa pun aku mohon Kiai untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kemungkinan-kemungkinan yang Kiai anggap ada padaku. Terutama apabila pada suatu saat Kiai bertemu dengan Daruwerdi.”

Kiai Kanthi tertawa kecil. Jawabnya, “Aku sudah menduga ngger. Sejak semula aku sudah tidak dapat mengerti, bahwa angger ini bernama Jlitheng anak seorang janda miskin dari padukuhan Lumban Wetan. Tetapi aku pun tidak akan bertanya siapakah angger sebenarnya, karena angger tentu akan berusaha menyembunyikan diri.”

Jlitheng pun tersenyum. Katanya, “Untuk sementara kita dapat mengetahui menurut batas-batas yang kita buat sendiri diantara kita. Tetapi aku masih tetap akan membantu Kiai mendirikan sebuah gubug di pinggir hutan ini.”

“Terima kasih ngger. Tetapi jangan lupa, besok aku memerlukan belanga dan tempayan.”

Jlitheng tertawa. Ia pun kemudian minta diri kepada Swasti.

“Silahkan,” jawab Swasti pendek.

Jlitheng tersenyum. Katanya kepada Kiai Kanthi, “Aku kira Swasti tidak menganggap aneh sikap kita masing-masing, karena ia pun telah terlibat kedalamnya. Jika ia bersikap tegang, mungkin karena aku benar-benar telah menyinggung perasaannya. Sekali lagi aku mohon maaf Kiai.”

“Tidak ngger. Anak gadisku tidak apa-apa. Itu memang sudah menjadi sifatnya. Swasti memang jarang bergaul sejak di padepokan kami yang lama, yang agaknya kurang angger percaya itu.”

Jlitheng tertawa semakin keras. Namun ia pun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi dengan anaknya didalam gelapnya malam.

“Anak itu terlalu kasar,” gumam Swasti.

Kiai Kanthi menggeleng lemah. Katanya, “Tidak Swasti. Ia tidak terlalu kasar. Tetapi ia diliputi oleh kecurigaan. Mungkin ia pun mengemban suatu tugas yang memaksanya bersikap demikian.”

Swasti tidak menyahut. Tetapi terdengar ia berdesah.

“Kita memang tidak dapat menghindarkan diri dari sikap-sikap demikian. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang di padukuhan Lumban.”

“Kenapa kita memilih tempat ini ayah,” berkata Swasti kemudian, “mumpung kita belum terlanjur mulai dengan membuat sebuah padepokan, sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Kita mencari tempat yang jauh dari persoalan-persoalan yang menegangkan seperti ini.”

Kiai Kanthi menggeleng lemah. Jawabnya, “Tidak Swasti. Dimanapun juga hidup mempunyai tantangannya masing-masing. Mungkin berbeda dalam ujud, tetapi semuanya memerlukan kesediaan untuk mengatasinya. Kita sudah bergulat dengan tanah longsor, banjir dan angin pusaran serta gempa. Disini ternyata kita menghadapi tantangan yang berbeda.”

Swasti masih tetap berdiam diri.

“Apalagi setelah aku mendengar nama perguruan-perguruan itu disebut Swasti. Perguruan Pusparuri, aku belum banyak mengerti. Tetapi perguruan Kendali Putih, aku sudah mendengarnya. Mungkin sekali-kali aku pernah menyinggungnya.”

Swasti tidak segera menjawab. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang pernah diceriterakan oleh ayahnya tentang perguruan Kendali Putih.

“Apakah kau masih ingat Swasti, aku pernah mengatakan kepadamu, bahwa perguruan Kendali Putih adalah sarang dari orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Di perguruan itu berkumpul orang-orang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Tetapi hidup mereka justru mereka habiskan untuk meneguk kepuasan duniawi. Mereka tidak segan membunuh untuk sekedar mendapatkan sekeping emas atau sebutir berlian,” berkata ayahnya sambil memandang wajah anak gadisnya yang menegang.

Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku ingat ayah.”

“Ternyata sekarang orang-orang Kendali Putih itu telah menjamah padukuhan yang terpencil ini justru karena disini ada angger Daruwerdi.” sambung Kiai Kanthi.

“Namun dengan demikian, kita harus mencari keterangan, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu ayah. Seperti Jlitheng, ia tentu mempunyai latar belakang kehidupan yang jauh berbeda dengan orang-orang Lumban itu sendiri. Bahkan menurut dugaanku, maka Lumban justru telah menjadi korban hadirnya Daruwerdi.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku belum dapat mengambil kesimpulan apapun juga Swasti. Untuk sementara kita masih tidak akan terlibat. Kita akan melakukan seperti yang kita rencanakan. Membuat sebuah tempat tinggal yang kecil, namun dapat memberikan pegangan hidup. Bukan saja buat aku yang sudah semakin tua ini, tetapi juga buatmu di masa yang masih panjang.”

Swasti tidak menyahut. Ia pun sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar.

“Nah,” berkata ayahnya kemudian, “sekarang giliranmu untuk tidur. Aku akan berjaga-jaga. Mudah-mudahan tidak ada binatang buas yang tersesat sampai ke tempat ini.”

Swasti tidak menjawab. Ia pun kemudian bersandar pada sebatang pohon sambil memejamkan matanya, sementara ayahnya duduk sambil berselimut kain panjangnya.

Dalam pada itu, padukuhan Lumban pun sedang ditelan oleh kesenyapan malam. Beberapa orang anak muda yang sedang ronda di gardu dengan gelisah menunggu Jlitheng yang terlalu lama pergi.

“Anak malas itu tentu sibuk dengan pematangnya yang pecah,” desis yang seorang.

Sedang yang lain menyahut, “Ia terlalu bodoh untuk mengerti.”

Kawan-kawannya tertawa. Namun suara tertawa itu terputus ketika salah seorang melihat Jlitheng melangkah mendekat sambil memegang perutnya. Dalam cahaya obor didepan gardu itu, kawan-kawannya melihat wajah Jlitheng yang tegang.

“Kenapa perutmu ?” bertanya seorang kawannya.

“Sakit,” sahut Jlitheng yang langsung membaringkan dirinya di gardu yang sempit itu.

Kawan-kawannya membiarkannya meskipun salah seorang dari mereka bergumam, “Kau sita tempat yang hanya sempit itu untuk dirimu sendiri.”

Jlitheng tidak menyahut. Bahkan ia pun melingkar sambil menyelubungi seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya.

Namun dalam pada itu, seisi gardu itupun terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda memecah sepinya malam. Sejenak anak-anak muda itu tercengkam. Namun kemudaan mereka mulai berdesak-desakan sambil gemetar.

“Kau dengar suara kaki kuda itu?” desis seseorang.

Kawannya yang sudah gemetar menggeram, “Hanya orang tuli sajalah yang tidak mendengar suara derap kaki itu.”

Yang lain pun terdiam. Namun salah seorang dari mereka tiba-tiba mengguncang kaki Jlitheng sambil berdesis, “Jlitheng, bangun. Ada seekor kuda datang.”

Jlitheng tidak bergerak. Nampaknya ia sudah tertidur nyenyak.

“Jlitheng, Jlitheng,” yang lain ikut mengguncang.

“O,” Jlitheng tiba-tiba mengeluh, “perutku sakit.”

“Bangun. Kau dengar derap kaki kuda yang semakin dekat itu?”

“Peduli dengan seekor kuda.”

“Gila,” kawannya yang bertubuh tinggi menjadi jengkel, “jika kau dicekiknya, terserah. Kamipun tidak peduli.”

Tiba-tiba Jlitheng bangkit. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Apa yang terjadi ? Apa ?”

“Diamlah, Kuda itu sudah dekat.”

Jlitheng tidak sempat menjawab. Ketika ia turun dari gardu, ternyata yang dilihatnya mendekat bukannya seekor kuda, tetapi dua ekor kuda.

Penunggang-penunggang kuda itu telah menarik kendali kuda masing-masing ketika mereka melihat beberapa orang anak muda berdiri dimuka gardu, sehingga kedua ekor kuda itu berhenti beberapa langkah saja dihadapan anak-anak muda itu.

Anak-anak muda itu menjadi gemetar ketika mereka melihat dalam cahaya obor dua wajah yang garang memandang mereka dengan tegang. Dada mereka bagaikan retak ketika salah seorang dari keduanya tiba-tiba saja membentak, “He. kalian anak-anak Lumban?”

Tidak ada yang dapat segera menjawab. Mulut-mulut menjadi bagaikan membeku.

“He, apakah semuanya tuli,” yang lain hampir berteriak.

Jantung anak-anak muda itu bagaikan rontok. Apalagi ketika salah seorang dari kedua orang berkuda itu meloncat turun.

“He, kalian bisu atau tuli ? Jawab, bukankah ini padukuhan Lumban?”

Anak muda yang bertubuh tinggi, yang kebetulan berdiri di paling depan terpaksa berusaha untuk menjawab, “Ya Ki Sanak.”

Orang itu tiba-tiba tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau anak berani. Kemarilah.”

Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi semakin gemetar. Sedangkan orang itu masih saja tertawa sambil berkata, “Kemarilah anak muda. Kau nampaknya anak muda yang paling berani diantara semua kawan-kawanmu.”

Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi semakin gemetar.

“Kenapa kau diam saja?” orang berwajah garang itu bertanya. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.”

Anak muda itu bagaikan menjadi lumpuh. Karena itu ia sama sekali tidak bergeser.

“Baiklah. Jika kau tidak mau mendekat, akulah yang akan mendekat. Tetapi setidak-tidaknya kau tidak bisu dan tidak tuli.”

Ketika orang berwajah garang itu maju selangkah, diluar sadarnya anak-anak muda Lumban Wetan itu bergeser mundur. Karena itulah maka orang itu pun tertawa semakin keras. Katanya, “Lumban memang aneh. Ternyata anak-anak mudanya tidak lebih dari seekor cacing.”

Anak-anak muda itu menjadi semakin gemetar.

Nyawa mereka rasa-rasanya telah terloncat dari ubun-ubun ketika tiba-tiba saja orang itu membentak, “He, siapa diantara kalian yang melihat dua orang kawanku yang datang ke padukuhan ini he ?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan.

“Kalian menjadi bisu lagi. He, kau yang paling berani yang tidak bisu dan tidak tuli. Jawab pertanyaanku.”

Tetapi anak muda yang bertubuh tinggi itu benar-benar telah terbungkam. Keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya, namun badannya terasa menjadi sangat dingin seperti air wayu sewindu.

Orang bertubuh kekar dan berwajah garang itu maju lagi selangkah. Sekali lagi ia berteriak, “Siapa yang melihat dua orang kawanku datang ke padukuhan ini ? Ia tidak kembali pada waktu yang sudah di tentukan. Dan aku pasti bahwa keduanya telah sampai kepadukuhan ini. Tetapi aku tidak dapat menjumpainya di tempat yang sudah di tentukan.”

Anak-anak muda itu benar-benar menggigil. Mereka segera mengetahui bahwa yang dimaksud tentu dua orang yang telah dibunuh oleh Daruwerdi di sebelah bukit, yang kemudian dikuburkan bersama seorang yang lain yang menurut keterangan justru kawan Daruwerdi sendiri yang mati dibunuh oleh dua orang yang kemudian terbunuh pula itu.

Tetapi tidak ada mulut yang dapat mengatakannya. Bahkan untuk menyebut bahwa kedua orang itu berurusan dengan orang-orang Lumban Kulon pun tidak ada yang dapat mengucapkannya.

“He, cepat. Apakah kau merahasiakannya? Apakah terjadi sesuatu dengan kawan-kawanku itu? Katakan. Jika kalian mengetahui sesuatu tentang mereka.”

Kediaman anak-anak muda Lumban Wetan itu justru telah menumbuhkan kecurigaan pada kedua orang berwajah garang itu. Yang masih duduk di punggung kuda tiba-tiba saja berteriak, “Cepat, sebut apa yang terjadi. Kalian tentu mengetahui sesuatu yang kalian tidak dapat mengatakannya. Tetapi jika kalian tidak mau mengatakan, maka kami akan mengambil sikap. Kami akan memaksa kalian untuk mengatakannya.”

Darah di setiap tubuh rasa-rasanya telah berhenti mengalir. Wajah-wajah garang itu bagaikan menyala. Orang yang sudah turun dari kudanya itu pun menggeram, “Kalian tentu mengetahui. Setiap peristiwa akan segera diketahui oleh setiap orang di padukuhan ini.”

Anak-anak muda dimuka gardu itu seolah-olah telah menjadi patung yang beku. Nafas pun rasa-rasanya tidak lagi dapat mengalir sewajarnya, sehingga dada mereka merasa sesak, dan kepala mereka menjadi pening.

“Cepat,” tiba-tiba saja orang itu berteriak, “di padukuhan seperti ini tidak ada yang dapat dirahasiakan. Juga tentang kedua orang kawanku itu. Aku berjanji untuk tidak berbuat sesuatu atas kalian jika kalian mengatakannya, dan jika kalian tidak terlibat dalam persoalan dengan mereka.”

Tetapi mulut-mulut bagaikan tersumbat.

“Aku tidak telaten,” berkata orang yang sudah turun dari kudanya, “aku akan mengambil seorang dari mereka dan memaksanya untuk berbicara. Jika mulutnya tidak mau terbuka, maka aku akan memeras darahnya sampai kering.”

Seorang anak muda yang kurus berwajah pucat tiba-tiba saja telah terjatuh dan menjadi pingsan. Namun tidak seorang pun yang berani bergerak untuk menolongnya.

Ketika orang yang berwajah, garang itu melangkah maju sambil memandangi setiap wajah untuk menemukan seseorang yang akan diperasnya, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang merintih.

Orang berwajah garang itu tertegun. Dengan tegang ia memperhatikan suara itu.

“He, kenapa kau,” tiba-tiba orang itu berteriak.

“Perutku sakit,” yang menjawab adalah Jlitheng sambil memegangi perutnya yang sakit. “Apakah aku boleh pergi ke sungai?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan. Bukan saja kedua orang berwajah garang itu, tetapi kawan-kawan Jlitheng pun terkejut. Pertanyaan itu akan dapat mencelakakannya.

Ternyata dugaan kawan-kawannya itu benar. Orang berwajah garang yang sudah tidak lagi berada di punggung kudanya itu benar-benar merasa tersinggung oleh pertanyaan Jlitheng. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tetapi senyumnya itu nampaknya seperti senyum iblis yang melihat sesosok mayat yang baru diletakkan di lubang kuburnya.

“Kemarilah cah bagus,” desis orang berwajah garang itu.

Tetapi panggilan itu rasa-rasanya bagaikan sembilu yang menggores setiap jantung.

“Alangkah bodohnya Jlitheng”, kawan-kawannya menyesalinya. Tetapi tidak seorang pun yang berani menolongnya.

Tetapi Jlitheng memang seorang anak yang dungu dihadapan kawan-kawannya. Ia melangkah maju sambil terbungkuk-bungkuk.

“Perutku sakit sekali,” ia masih berdesis.

“Baiklah. Marilah. Aku antar kau ke sungai. Apakah kau dapat naik seekor kuda?”

Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak dapat naik kuda.”

“Kalau begitu marilah. Aku jaga agar kau tidak terjatuh.”

“Tetapi sungai itu tidak begitu jauh,” jawab Jlitheng.

Orang itu tersenyum. Dibelainya kepala Jlitheng sambil berkata, “Meskipun tidak jauh, biarlah kami berdua mengantarmu cah bagus.”

Ketika Jlitheng mendekati orang itu, kawan-kawannya menjadi semakin berdebar-debar.

“Alangkah bodohnya,” kawan-kawannya berteriak didalam hati. Rasa-rasanya mereka ingin menggapai Jlitheng dan menariknya, agar ia tidak mendekati orang berwajah garang itu. Tetapi mereka pun telah membeku oleh ketakutan dan kecemasan.

Tetapi Jlitheng melangkah terus sambil memegangi perutnya.

“Terima kasih,” desis Jlitheng.

Orang berwajah garang itu pun kemudian meloncat ke punggung kudanya. Di cahaya obor yang kemerah-merahan masih nampak ia tersenyum sambil berkata, “Kemarilah. Aku tolong kau naik kuda bersamaku.”

Anak-anak muda itu menggigil ketika mereka melihat Jlitheng mendekati orang berkuda itu.

Namun yang terdengar kemudian adalah keluhan yang panjang. Tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Jlitheng dan menariknya dengan semena-mena.

“Cepat anak gila. Kau harus menunjukkan kepadaku, dimana kedua orang kawanku itu.” bentak orang itu dengan kasar.

“Aku akan pergi ke sungai,” Jlitheng mulai berteriak.

“Tutup mulutmu. Aku bunuh kau,” senyum di wajah orang itu sudah lenyap. Yang nampak kemudian adalah kegarangan wajah yang mengerikan.

Kawan-kawannya hanya dapat memandang dengan tegang saat kuda-kuda itu mulai bergerak. Mereka melihat Jlitheng meronta. Tetapi tangan orang berwajah kasar itu bagaikan tanggem baja.

Sejenak kemudian kuda itu telah berderap masuk kedalam kegelapan. Namun hati anak-anak muda itu bagaikan teriris ketika mereka mendengar suara teriakan Jlitheng yang tertinggal, disela-sela derap kaki-kaki kuda itu.

Ketika kemudian Jlitheng hilang didalam kelam, maka anak-anak muda itu mulai saling berpandangan. Satu dua diantara mereka menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk berdesis, “Kasihan Jlitheng yang dungu itu.”

Kawan-kawannya masih menggigil. Namun salah seorang dari mereka mulai melangkah mendekati kawannya yang pingsan.

“Bawa ia naik ke gardu,” desisnya.

Beramai-ramai anak muda itu diangkat untuk dibaringkannya didalam gardu. Satu dua diantara mereka mulai memijat-mijat keningnya, sedang yang lain masih saja berdiri kebingungan.

“Marilah kita pulang,” tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis, “bagaimana jika mereka kembali lagi kemari ?”

“Ya. Kita pulang saja.”

Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Seorang yang paling tua berkata, “Mereka tidak akan kembali lagi. Kita menunggu sejenak, apa yang terjadi dengan Jlitheng.”

Anak-anak muda itu menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang meninggalkan gardu. Hati mereka benar-benar menjadi kecut, sehingga mereka kebingungan, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Sementara itu, beberapa orang yang tinggal di sebelah-menyebelah gardu itu terkejut mendengar keributan yang terjadi. Mereka mendengar beberapa orang berteriak. Membentak, tetapi juga mengaduh.

Satu dua orang laki-laki telah keluar dari rumahnya. Dengan hati-hati mereka mulai mengintip. Ketika mereka masih melihat obor di gardu menyala, dan mereka masih melihat anak-anak muda dimuka gardu itu, maka mereka pun segera mendekat.

Mereka hanya dapat mendengar apa yang telah terjadi dengan Jlitheng.

“Kasihan janda itu,” desis seseorang, “anak itu hilang sejak kanak-kanak. Belum lama ia kembali. Kini ia mengalami bencana.”

“Ya,” sahut yang lain, “begitu lama anak itu pergi, sehingga kita yang tua ini tidak lagi dapat mengingat bahwa janda itu mempunyai anak laki-laki. Agaknya kini ia harus kehilangan untuk yang kedua kalinya.”

“Apakah kita akan memberitahukan kepadanya?” bertanya seorang anak muda.

Seorang laki-laki tua maju selangkah. Dengan sareh ia berkata, “Jangan tergesa-gesa. Kita akan menunggu perkembangan dari peristiwa ini. Jika sekarang kita datang kerumahnya dan memberitahukannya kepada ibunya, maka perempuan itu akan pingsan. Bahkan mungkin mati.”

Yang lain mengangguk-angguk Seorang anak muda berkata, “Baiklah. Kita menunggu perkembangannya. Besok pagi-pagi kita akan menelusuri jalan-jalan di Lumban Wetan dan kalau perlu di Lumban Kulon. Mungkin kita dapat menemukannya.”

Anak muda itu tidak meneruskannya. Tetapi yang lain menyahut, “Menemukannya hidup atau mati.”

Seorang tua menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita akan mengatakannya kepada Daruwerdi. Apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

“Ya. Besok kita menemui Daruwerdi di Lumban Kulon,” hampir berbareng beberapa orang menjawab.

Sejenak kemudian, maka orang-orang tua itu pun minta diri, kembali ke rumah masing-masing, sedang beberapa orang anak muda masih tetap berada di gardu. Namun tidak seorang pun yang berani membaringkan dirinya. Jika mereka mendengar derap kaki kuda, maka mereka sudah siap menghambur melarikan diri.

Sementara itu, kedua ekor kuda dengan penunggangnya telah berderap keluar padukuhan dengan membawa Jlitheng yang meronta-ronta. Namun himpitan tangan orang berwajah garang itu semakin lama menjadi semakin kuat mencengkam lengan Jlitheng.

“Aku akan pergi ke sungai,” teriak Jlitheng.

“Tutup mulutmu, atau aku bunuh kau.” bentak orang berwajah garang itu, “sekarang tunjukkan, dimana kau melihat kedua orang kawanku. Dengan siapa mereka berhubungan, dan apakah yang sudah terjadi.”

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu,” Jlitheng masih berteriak.

“Jika kau tidak mau diam, aku cekik kau sampai mati,” geram orang berwajah garang itu.

Sejenak Jlitheng terdiam. Yang terdengar di kesunyian malam hanyalah derap kaki kuda yang berlari kencang di bulak panjang itu.

Namun ketika mereka sudah sampai ditengah-tengah bulak, maka kuda itu pun berjalan semakin lambat. Bahkan akhirnya berhenti sama sekali.

Jlitheng masih tetap berada di punggung kuda. Orang berwajah garang yang memeganginya berdesis, “Kita berada di tengah-tengah bulak anak manis.”

Jlitheng tidak menjawab.

“Nah, sekarang katakan kepadaku, apa yang kau ketahui tentang kedua orang kawanku yang sudah mendahului aku datang ke padukuhan Lumban,” bertanya orang berwajah garang itu, “akan dapat berbaik hati kepadamu. Tetapi aku juga dapat berbuat sesuatu yang barangkali belum pernah kau bayangkan.”

Jlitheng masih tetap diam.

“Misalnya,” orang itu melanjutkan kata-katanya, “mengikatmu dan menarik di belakang kaki kuda. Atau mengikatmu erat-erat dan menelungkupkan tubuhmu di parit yang airnya hanya mengalir sedalam mata kaki, dengan sebuah batu besar di punggung. Atau cara lain yang lain yang barangkali lebih menarik.”

Jlitheng sama sekali tidak menjawab.

“He,” orang itu mulai kehilangan kesabaran,” jawab pertanyaanku.”

Adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Jlitheng justru tertawa. Bahkan kemudian dengan tangkasnya ia turun ajari punggung kudanya sebelum orang yang berwajah garang itu sempat menyadari keadaannya. Pegangan tangannya yang agak mengendor telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Jlitheng, sehingga dengan mudah ia melepaskan diri bahkan orang itu hampir jatuh karenanya.

Sejenak kemudian Jlitheng telah berdiri beberapa langkah dari orang berwajah garang yang membawanya sambil bertolak pinggang.

Sikap Jlitheng itu benar-benar telah mengejutkan orang-orang dari perguruan Kendali Putih itu. Sesaat mereka bagaikan terpukau sehingga keduanya justru membeku di punggung kudanya.

“Nah Ki Sanak,” berkata Jlitheng dengan suara yang jauh berbeda dengan lengkingan-lengkingan ketakutan disaat ia meninggalkan gardu, “marilah kita berbicara dengan baik. Kau dapat bertanya dengan sopan, dan aku akan menjawab dengan wajar.”

Yang terdengar kemudian adalah geram yang melontarkan kemarahan. Orang yang membawa Jlitheng bersamanya di satu punggung kuda itu pun bertanya dengan suara bergetar, “Apakah kau sudah menjadi gila karena ketakutan ?”

“Tidak Ki Sanak,” jawab Jlitheng sareh, “aku memang ingin berbicara di tempat yang sepi seperti sekarang ini agar tidak menakut-nakuti kawan-kawanku yang berada di gardu. Apalagi ketika aku menyadari, bahwa aku berhadapan dengan orang-orang dari perguruan Kendali Putih.”

“Persetan,” geram orang dari Kendali Putih yang seorang lagi, “jawablah. Dimana kedua kawan-kawanku yang telah datang lebih dahulu di padukuhan ini.”

“Mereka telah mati,” jawab Jlitheng pendek.

Jawaban Jlitheng itu terdengar bagaikan ledakan petir di telinga mereka. Hampir berbareng keduanya telah meloncat turun dari kuda mereka.

Sejenak keduanya memandang Jlitheng dengan tanpa berkedip. Mereka telah menyadari, bahwa yang berdiri di hadapannya itu tentu bukannya anak Lumban yang pingsan karena ketakutan seperti yang terjadi, di gardu. Namun bagaimanapun juga bagi kedua orang Kendali Putih itu, Lumban adalah padukuhan yang tidak berarti apa-apa bagi mereka.

Karena itu, salah seorang dari keduanya membentak dengan kasarnya, “Anak setan. Katakan, apakah yang telah terjadi.”

Jlitheng memandang kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian katanya, “Aku melihat semua dua orang Kendali Putih yang datang kepadukuhan Lumban Kulon. Keduanya telah melukai seorang dari perguruan Pusparuri dan berusaha untuk menipu Daruwerdi. Tetapi rahasia kawan-kawanmu itu dapat diketahui, karena mereka tidak mampu menjawab istilah sandi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Daruwerdi dengan perguruan Pusparuri. Dan itu adalah kebodohan yang menentukan bagi kedua kawan-kawanmu itu.”

“Gila,” geram kedua orang Kendali Putih itu, “siapakah kau sebenarnya? Apakah kau yang bernama Daruwerdi ?”

“Bukan aku. Aku hanya melihat bagaimana Daruwerdi membunuh kedua orang kawanmu.”

“Bohong. Tentu dua puluh atau tiga puluh orang Lumban telah beramai-ramai mengepung dan mengeroyoknya. Mungkin diantaranya terdapat Daruwerdi dan kau sendiri.”

“Aku berkata sebenarnya,” jawab Jlitheng, “bukankah aku sudah berjanji untuk menjawab dengan wajar?”

“Tidak ada orang yang dapat mengalahkan murid-murid dari perguruan Kendali Putih,” teriak salah seorang dari mereka.

“Ada. Daruwerdi. Kau dengar. Namanya Daruwerdi. Rumahnya Lumban Kulon. Ia seorang diri telah membunuh kedua orang kawan-kawanmu. Kau dengar.”

Kata-kata Jlitheng itu membuat kedua orang Kendali Putih itu menjadi semakin marah. Dengan garangnya salah seorang dari keduanya membentak, “Jangan mengigau. Aku dapat membunuhmu.”

Jlitheng termangu-mangu. Ia bergeser setapak ketika ia melihat salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Bahkan yang seorang pun telah berbuat serupa pula.

Jlitheng sadar, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Tetapi ia sudah melakukannya dengan sengaja dan telah memperhitungkan akibatnya pula.

“He anak gila,” salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu menggeram, “kau belum mengenal kami berdua. Kau belum mengenal perguruan Kendali Putih. Karena itu, nampaknya kau menganggap kami berdua seperti anak-anak yang merengek minta makanan. Cobalah kau menyadari keadaanmu. Agaknya kau belum terlambat minta ampun kepada kami dan mengatakan sebenarnya seperti yang kami inginkan.”

“Ki Sanak,” jawab Jlitheng, “aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Kedua orang Kendali Putih yang datang untuk mencari keterangan tentang pusaka yang tidak aku ketahui namanya, telah terbuka rahasianya sehingga kemudian telah dibunuh oleh Daruwerdi, anak muda dari Lumban Kulon, setelah kedua orang Kendali Putih itu berhasil membunuh seorang dari perguruan Pusparuri yang seharusnya mendapat keterangan dari Daruwerdi,”

Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak. Jika kau bertanya sekali lagi, maka jawabku akan sama pula dengan jawabku itu dan jawaban-jawabanku sebelumnya. Karena itu, jangan bertanya lagi tentang kedua orang kawanmu. Mungkin kau lebih baik bertanya siapakah Daruwerdi dan dimanakah rumahnya.”

Kedua orang itu tidak lagi dapat mengendalikan kemarahannya. Karena itu tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah mengayunkan tangannya menampar kening Jlitheng.

Tetapi orang itu terkejut. Ternyata tangannya tidak menyentuh anak muda itu, meskipun Jlitheng tidak bergeser dari tempatnya. Ia hanya menarik kepalanya sambil memiringkan wajahnya. Kemudian seolah-olah seperti tidak terjadi sesuatu ia berkata, “Jangan cepat marah. Jika kau ingin bertemu dengan Daruwerdi, marilah. Mungkin kalian berdua juga akan dibunuhnya seperti kedua kawanmu yang telah mati itu.”

Keduanya tidak dapat menahan diri lagi. Salah seorang dari mereka berkata kasar, “Setan alas. Aku akan membunuhmu dengan caraku. Baru kemudian aku akan mencari Daruwerdi yang kau katakan itu. Tetapi aku tidak percaya bualanmu, seolah-olah anak muda dari Lumban mampu membunuh orang-orang Kendali Putih, apalagi seorang Daruwerdi melawan dua orang kawan-kawanku.”

“Kenapa kau tidak percaya bahwa anak muda Lumban mampu mempertahankan dirinya meskipun ia berhadapan dengan orang-orang Kendali Putih?”

Pertanyaan itu benar-benar tantangan dan penghinaan bagi kedua orang Kendali Putih itu. Karena itu, maka yang seorang dari keduanya segera meloncat menerkam kepala Jlitheng sambil berteriak, “Aku bunuh kau perlahan-lahan didalam parit itu.”

Tetapi tangannya juga tidak menyentuh sehelai rambut-pun. Jlitheng mampu menghindar secepat terkaman orang Kendali Putih itu.

“Gila,” geram orang itu, “kau akan menyesal dengan sikapmu.”

Orang itu tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba saja terasa lambungnya bagaikan meledak. Kaki Jlitheng telah terjulur menghantam lambung tanpa diduga-duga.

Orang itu terdorong selangkah. Terdengar ia menyeringai menahan sakit. Namun sekali lagi terjadi yang tidak terduga-duga pula. Bagaikan terbang Jlitheng meloncat menyerangnya.

Orang itu tidak sempat menghindar. Karena itu, ia telah menyilangkan tangannya menahan serangan kaki Jlitheng yang terjulur lurus. Tetapi karena ia belum mapan pada keseimbangan seutuhnya, maka dorongan kaki lawannya telah melemparkan-nya, sehingga ia jatuh terguling di tanah.

Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga murid Kendali Putih yang seorang lagi itu sejenak justru bagaikan tercengkam oleh keheranannya. Namun ketika ia melihat kawannya jatuh berguling, maka dengan serta merta iapun meloncat menerkam Jlitheng pada tengkuknya.

Tetapi Jlitheng sempat menghindar. Seolah-olah di tengkuknya itu terdapat sepasang mata yang melihat tangan lawannya itu terjulur ke arahnya. Bahkan dengan serta merta ia sempat memutar tubuhnya dan dengan tangannya menghantam dada.

Lawannya ternyata cukup tangkas. Ia meloncat mundur selangkah, sehingga tangan Jlitheng tidak menyentuhnya.

Pada saat Jlitheng siap untuk meloncat memburu, langkahnya terhenti. Lawannya yang seorang ternyata telah melenting berdiri dan siap untuk menyerangnya pula.

Jlitheng mempersiapkan diri menghadapi kedua lawannya. Ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi orang-orang Kendali Putih. Di pinggir hutan ia melihat, bagaimana orang-orang Kendali Putih itu bertempur. Dan iapun melihat, seorang dari perguruan Pusparuri telah terluka arang kranjang.

Ternyata kemarahan kedua orang Kendali Putih itu tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika keduanya sadar, bahwa anak muda yang dihadapinya itu benar-benar memiliki bekal untuk melawan mereka.

“Gila. Ternyata anak-anak muda Lumban memang harus dimusnakan,” geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu.

“Aku bukan anak muda dari Lumban,” jawab Jlitheng, “Daruwerdi juga bukan anak Lumban. Jika orang-orang Kendali Putih mendendam anak-anak Lumban, maka itu adalah suatu kebodohan. Anak-anak muda Lumban adalah anak-anak muda yang hanya mengenal cangkul untuk bekerja di sawah. Itulah sebabnya, aku merasa wajib untuk melindungi mereka.”

Kedua orang lawannya menggeram. Salah seorang dari kedua lawannya bertanya dengan nada melengking, “Siapakah kau sebenarnya anak iblis? Apakah kau juga yang membunuh kedua orang kawanku.”

“Jangan terlampau dungu. Aku sudah menyebut beberapa kali. Yang membunuh kawanmu adalah Daruwerdi. Dan aku bukan Daruwerdi. Aku Jlitheng. Meskipun aku tinggal di Lumban, tetapi jangan salahkan anak-anak muda Lumban. Kalian, perguruan Kendali Putih hanya berurusan dengan Daruwerdi dan aku, Jlitheng.”

“Persetan,” orang-orang Kendali Putih itu menggeram. Yang seorang berteriak, “akan aku musnahkan seluruh isi padukuhan Lumban.”

“Ki Sanak,” berkata Jlitheng, “aku tahu, bahwa kau berdua tentu akan mencari kesempatan untuk melepaskan dendammu atas kematian kawan-kawanmu. Karena itu, kalian merupakan bahaya yang sungguh-sungguh bagi Lumban. Agar anak-anak harimau tidak dibiarkan menjadi besar dan menerkam, maka anak-anak harimau itu harus dimusnakan.”

Kemarahan telah memuncak karena sikap Jlitheng. Karena itu maka sejenak kemudian perkelahian itu pun telah menyala kembali dengan dahsyatnya. Kedua orang Kendali Putih itu tidak lagi telaten bertempur dengan tangan. Apalagi ketika terasa bahwa Jlitheng justru telah berhasil membuat keduanya berkeringat.

Sejenak kemudian, kedua orang Kendali Putih itu telah mencabut senjata mereka. Yang seorang telah menggenggam sebuah golok yang besar, sedangkan yang lain telah menarik pedang panjangnya.

“Kau akan kami cincang menjadi sayatan-sayatan daging dan potongan tulang,” geram salah seorang dari keduanya.

Jlitheng meloncat surut. Sekilas diperhatikannya senjata-senjata yang garang itu. Apalagi senjata-senjata itu berada di tangan orang-orang Kendali Putih.

“Aku tidak boleh lengah,” berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “dan aku tidak perlu berpura-pura. Aku harus melawan mereka dengan senjata pula.”

Karena itulah, maka Jlitheng pun kemudian menggeram, “Ki Sanak. Senjata kalian adalah ciri kekerasan dari perguruan Kendali Putih. Kalian benar-benar ingin menyelesaikan setiap persoalan dengan kematian. Sikap kalian telah mendorong aku untuk berbuat serupa.”

Kedua orang itu tidak menghiraukannya. Hampir berbareng mereka meloncat menyerang dengan senjata terjulur.

Jlitheng sekali lagi meloncat agak jauh surut. Ia berusaha mendapat kesempatan untuk mengurai senjatanya. Senjata yang agak asing bagi lawan-lawannya.

Dari bawah kain panjangnya yang kusut, Jlitheng mengurai sehelai ikat pinggang yang dibuatnya dari anyaman serat sehingga menyerupai sehelai tampar yang lemas. Tetapi karena didalam anyaman itu terdapat beberapa helai serat lulup kayu dadap cendana abang, serta tiga helai janget yang tipis, maka tampar yang lemas itu merupakan tampar yang kuat sekali.

Sejenak kemudian, sehelai dadung ditangan Jlitheng itu telah berputar. Suaranya berdesing seperti sendaren yang terbang di udara.

Kedua orang Kendali Putih itu terkejut melihat senjata lawannya. Apalagi setelah mereka mendengar suara berdesing bagaikan suara sendaren.

Sejenak keduanya termangu-mangu. Dalam gelapnya malam mereka melihat sesuatu yang di ujung dadung ditangan Jlitheng itu.

Ujung tampar yang berkilat-kilat itu bagaikan seekor lalat yang berterbangan di seputar kedua lawannya. Jika sekali benda itu hinggap di tubuh, maka tubuh mereka tentu akan tersobek melintang.

Karena itu, maka kedua orang Kendali Putih itu menjadi semakin hati-hati. Mereka berloncatan menghindar dan sekali-kali menyerang dengan garangnya. Mereka mencoba memecah perhatian Jlitheng pada dua sisi yang berlawanan.

Namun Jlitheng benar-benar seorang yang sangat tangkas. Kakinya bagaikan kaki kijang, sementara tangannya dengan senjatanya bagaikan sayap seekor burung raksasa yang mengembang menyebarkan maut.

Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Jlitheng pun harus bekerja bersungguh-sungguh. Seperti kedua orang itupun semakin lama menjadi semakin kasar.

Jlitheng harus bekerja keras menghindari benturan-benturan kekerasan yang tidak perlu. Apalagi karena ia harus bertempur melawan dua orang.

Namun sejenak kemudian, Jlitheng berhasil menguasai lawannya. Bukan saja karena ia telah menemukan kelemahan-kelemahan lawannya, namun justru karena lawannya telah terlalu banyak memeras tenaga mereka.

Dengan garangnya Jlitheng memutar senjatanya. Sekali-kali ia masih harus meloncat menghindari ujung senjata kedua orang Kendali Putih itu. Namun kemudian, kedua orang itu telah berada dalam libatan tampar Jlitheng yang berdesing seperti sendaren. Benda yang tersangkut di ujung dadung itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan tubuh lawannya.

Sejenak kemudian, terdengar sebuah keluhan tertahan. Ternyata bahwa Jlitheng telah berhasil menyentuh punggung lawannya dengan ujung senjatanya.

“Gila,” geram orang itu. Lukanya telah mengalirkan darah, sementara perasaan pedih rasa-rasanya menggigit sampai ke tulang.

Ternyata luka itu telah membuatnya seperti orang gila. Orang yang bersenjata golok yang besar itu bertempur semakin garang dan kasar. Namun dalam pada itu, semakin jelas bagi Jlitheng, bahwa tenaganya telah menjadi semakin susut karenanya.

Saat-saat selanjutnya sudah tidak terlampau berat lagi bagi Jlitheng. Luka di punggung salah seorang lawannya itu, seolah-olah telah menyusut separo dari segenap kemampuannya. Kecuali perasaan sakit yang menyengat, tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah dan seolah-olah telah kehabisan tenaga.

Jlitheng tidak mau melepaskan setiap kesempatan. Ia tidak mau membiarkan kesulitan akan berlarut-larut mencengkam padukuhan Lumban, setidak-tidaknya Lumban Wetan. Ia berharap bahwa Daruwerdi akan bertanggung jawab bagi keselamatan anak-anak muda di Lumban Kulon, karena ia memang tinggal di padukuhan itu. Apalagi bahwa sumber persoalan ini sebenarnya terletak padanya.

Jika ia tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang dari berbagai perguruan. maka Lumban akan tetap menjadi padukuhan yang damai. Yang perlu dilakukan bagi padukuhan itu adalah sekedar meningkatkan tata kehidupan mereka tanpa mengaduknya dengan kegelisahan dan kecemasan.

“Sebenarnya yang mereka perlukan adalah sebuah parit induk,” berkata Jlitheng didalam hatinya, “bukan titik-titik darah seperti yang telah terjadi di pinggir hutan, dan sekarang terpaksa disini.”

Tetapi Jlitheng tidak dapat ingkar. Ia harus menyelesaikan tugas yang dipetiknya sendiri. Kedua orang itu harus dapat dihapuskannya tanpa bekas, sehingga persoalannya tidak akan berkepanjangan.

“Untuk itu aku terpaksa membunuh mereka,” geram Jlitheng didalam hatinya.

Dengan demikian maka Jlitheng pun bertempur semakin cepat dan garang. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran itu sebelum berkembang menjadi semakin buruk, karena ada pihak-pihak lain yang terlibat. Apalagi Jlitheng sendiri masih merasa perlu untuk menyelubungi dirinya dengan sikap yang lain dari kenyataan yang sebenarnya.

Karena itulah, maka benda yang berkilat-kilat di ujung dadung yang dipergunakan oleh Jlitheng sebagai senjatanya itu, berputar semakin cepat. Benda itu mulai menyengat-nyengat di tubuh lawannya. Di pundak, kemudian di bahu dan bahkan kening.

Kedua lawannya yang menjadi semakin lemah karena tenaganya yang terperas habis, darahnya pun mengalir semakin banyak. Perlahan-lahan mereka mulai kehilangan kemampuan perlawanannya, sehingga luka di tubuh mereka pun menjadi semakin banyak.

Dalam keadaan yang tidak lagi dapat diatasi, salah seorang dari kedua orang itu menggeram, “Anak gila. Sebutkan, siapakah kau sebenarnya. Senjatamu dan sikapmu mengingatkan aku kepada sebuah perguruan yang hampir dilupakan.”

Jlitheng meloncat surut. Namun tiba-tiba sebuah serangan yang dahsyat telah melibat kedua lawannya. Betapapun kedua orang itu berusaha, namun senjata anak muda itu telah menghantam punggung dan dada, sehingga nafas mereka bagaikan terputus karenanya.

Keduanya telah terhuyung-huyung hampir bersamaan. Senjata mereka perlahan-lahan terlepas pula, karena tangan mereka tidak lagi dapat menggenggam.

Pada saat terakhir itulah maka Jlitheng yang berdiri tegak dengan senjatanya ditangan berkata dengan nada berat, “Ki Sanak. Aku tidak mempunyai pilihan lain bagi orang-orang Kendali Putih. Aku kenal perguruan Kendali Putih dan telah ditegaskan pula oleh sikap kedua kawanmu yang dibunuh oleh Daruwerdi. Dan yang terakhir adalah sikap kalian berdua. Karena itu, bagi keselamatan orang-orang Lumban, aku telah mengambil keputusan untuk membunuh kalian.”

“Persetan,” geram salah seorang dari orang-orang Kendali Putih, “kami tahu, kami akan mati.”

“Yang penting bagiku, bukan kematianmu. Tetapi kecemasanku melihat nasib anak-anak muda Lumban.”

“Siapa kau?” suara orang Kendali Putih itu semakin lambat.

“Namaku Arya Baskara, murid dari perguruan yang memang sudah dilupakan sepeninggal Guruku, Kiai Baskara.”

“Namamu nunggak semi nama gurumu. Jadi kau murid Baskara dari perguruan Rasa Jati yang sudah punah itu ?”

“Ya. Aku satu-satunya murid dari perguruan Rasa Jati yang masih tinggal.”

“O,” orang Kendali Putih itu mengeluh, “kau memang gila. Gurumu menurut pendengaranku juga orang gila. Siapa namamu?”

Jlitheng memandang kedua orang yang semakin lemah itu. Selangkah ia mendekat. Kemudian katanya, “Namaku sendiri adalah Arya Candra Sangkaya.”

“He,” wajah kedua orang yang sudah tidak berdaya itu bagaikan menyala, “kau jangan mengigau. Apakah kau senang menyebut nama-nama orang yang disegani waktu itu? Candra Sangkaya adalah nama seorang Pangeran keturunan Perabu Majapahit terakhir.”

“Bukan Candra Sangkaya. Namanya Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Raden Kuda Surya Anggama. Salah seorang Senapati yang gagal mempertahankan Kota Raja Majapahit dan gugur di medan. Usianya masih muda, meskipun waktu itu ia sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Akulah Candra Sangkaya yang jika aku mau, aku dapat mempergunakan gelarku meskipun aku buat sendiri, Jlitheng.”

Kedua orang itu masih menggeram. Tetapi keduanya sudah menjadi semakin lemah. Namun salah seorang dari keduanya masih berkata, “Aku akan mati dengan senang hati, karena yang membunuhku adalah murid yang tersisa dari perguruan Rasa Jati. Mungkin aku akan tersiksa disaat terakhir, jika kau mengatakan bahwa kau adalah benar-benar anak Lumban. Tetapi kau adalah orang yang memang pantas membunuhku.” ia berhenti sejenak, nafasnya sudah menjadi semakin sendat, “tetapi siapakah Daruwerdi? Apakah ia orang dari perguruan Pusparuri ?”

“Pasti bukan orang Pusparuri. Tetapi aku tidak tahu. Mungkin nama Daruwerdi itu pun bukan namanya.”

“Orang-orang gila. Kalian lebih senang bersembunyi dibalik nama yang aneh-aneh itu,” nafasnya menjadi semakin lambat.

Bahkan ketika Jlitheng melangkah semakin dekat, ia melihat yang seorang dari kedua lawannya itu benar-benar sudah tidak bernafas lagi.

“Kawanmu sudah mati,” desis Jlitheng.

Orang Kendali Putih yang masih hidup itu berdesah. Katanya, “Kau cerdik. Kau berusaha menghilangkan jejakmu dengan membunuh kami berdua. Tetapi Kendali Putih tentu akan melacak perjalananku, karena mereka tahu. bahwa dua orang yang kau katakan dibunuh oleh Daruwerdi itu dan kami berdua, telah pergi kepadukuhan ini.”

“Apapun yang akan terjadi. Inilah yang paling baik aku lakukan saat ini untuk kepentingan orang-orang Lumban.”

Orang Kendali Putih itu termangu-mangu didalam saat-saat yang paling gawat. Dilihatnya Jlitheng mendekatinya. Namun matanya semakin lama menjadi semakin kabur. Meskipun demikian, disaat terakhir itu, masih terucapkan betapapun lirihnya, “Jadi kau anak Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana itu?”

“Ya. Mungkin aku bukan berparas bangsawan, karena ibuku benar-benar seorang pidak pedarakan. Tetapi ibuku bukan seorang selir. Ibuku adalah isteri Pangeran Kuda Surya Anggana. Aku bangga atas ayahku yang berani menentang arus, kawin dengan seorang perempuan kecil, meskipun ia harus mengorbankan perasaan untuk waktu yang lama. Tetapi disaat-saat Majapahit memerlukan kepemimpinannya sebagai seorang Senapati, maka kedudukan ayahku telah pulih kembali.”

Jlitheng masih akan berbicara tentang ayahnya, meskipun sebenarnya hal itu lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri. Tetapi ditelannya kata-katanya itu kembali. Bahkan ia pun segera berjongkok disamping orang Kendali Putih itu. Namun ia sudah mati.

“Aku memerlukan kau,” desis Jlitheng, “sekali-kali aku ingin juga menumpahkan beban yang tersumbat di hati. Hanya kepada orang-orang mati sajalah aku dapat mengatakannya, setidak-tidaknya untuk sementara.”

Tetapi Jlitheng tidak dapat berceritera terus tentang dirinya sendiri. Ia harus menghapus jejak. Karena itu, maka ia pun segera mengangkat kedua orang yang terbunuh itu ke punggung kuda mereka masing-masing dan menuntun kuda itu ke kuburan.

Jlitheng yang sebenarnya bernama Arya Candra Sangkaya itu harus bekerja keras untuk menggali sebuah lubang yang besar dan mengubur kedua orang itu kedalamnya.

“Bagaimana dengan kedua ekor kuda ini?” ia bergumam.

Akhirnya Jlitheng telah melepas pelana dan rerakit pakaian kuda itu seluruhnya dan menguburnya pula di sudut kuburan itu. Kemudian dituntunnya kedua ekor kuda itu dan menghadapkannya kearah yang tidak banyak dilalui orang, bahkan menuju ke hutan.

“Hiduplah bebas kuda-kuda manis,” gumamnya, “meskipun mungkin pada suatu saat kau akan menemukan jalan pulang ke kandangmu.”

Kemudian dilecutnya kedua ekor kuda itu, sehingga keduanya berlari seperti dikejar hantu menuju kedaerah yang tidak dikenalinya.

Jlitheng yang berdiri di depan sebuah kuburan yang dipergunakan oleh orang-orang Lumban itu memandang kekejauhan. Didalam keremangan malam, ia mencoba untuk melihat bukit padas yang gundul. Namun yang nampak hanyalah bayangan kehitam-hitaman yang tidak jelas.

Baru sejenak kemudian ia menyadari keadaannya. Tubuhnya tentu kotor dan bahkan bernoda darah. Karena itu, maka ia pun segera berlari-lari kecil pergi ke sungai. Meskipun dimalam yang dingin, ia memaksa diri untuk mandi dam mencuci pakaiannya. Tetapi ia tidak dapat menunggu pakaiannya kering. Dengan pakaian yang basah ia berjalan kembali ke padukuhannya.

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika menengadahkan wajahnya. Langit telah menjadi merah. Sebentar lagi fajar akan segera menyingsing.

“Aku bekerja lamban sekali,” ia bergumam, “hari sudah pagi. Mungkin anak-anak muda itu telah memberitahukan kepada ibuku bahwa aku telah hilang dibawa oleh orang-orang Kendali Putih itu.”

Jlitheng tidak singgah lagi di gardu. Ia langsung pulang kerumahnya.

Ketika ia sampai di pintu dapur, matahari sudah mulai menjenguk di ujung Timur. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ibunya sedang sibuk menghembus bara di perapian untuk menyalakan api.

“Biarlah aku saja yang menyalakan biyung,” berkata Jlitheng dari pintu.

Ibunya terkejut. Ketika ia berpaling dilihatnya Jlitheng yang basah kuyup, “He, darimana kau? Apakah kau kehujanan?”

“Tidak biyung, aku telah tergelincir di sungai ketika aku sedang mencuci muka.”

“Anak bengal. Berhati-hatilah. Cepat, ganti pakaianmu agar kau tidak menjadi sakit.”

Jlitheng pun segera pergi ke biliknya. Ternyata ibunya belum mengetahui peristiwa yang terjadi di gardu perondan itu.

“Tetapi sebentar lagi tentu ada seseorang yang datang untuk memberitahukan hal itu,” berkata Jlitheng didalam hatinya.

Ternyata bahwa dugaan Jlitheng tidak keliru. Baru saja ia selesai berganti pakaian, maka ia sudah mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya.

Jlitheng tidak mau terlambat. Jika ibunya membuka pintu, maka ia akan segera mendengar peristiwa yang telah terjadi. Sehingga karena itu, maka ia pun tergesa-gesa pergi ke ruang depan untuk membuka pintu rumahnya yang masih tertutup.

Seperti yang diduganya, yang datang adalah seorang kawannya diantar oleh seseorang yang telah berusia separo baya.

Alangkah terkejutnya kedua orang itu ketika mereka melihat Jlitheng lah yang telah membuka pintu untuk mereka, sehingga untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu.

“Marilah, silahkan masuk,” Jlitheng mempersilahkan.

Orang yang telah berusia separo baya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah aku melihat Jlitheng yang sebenarnya?”

“Ya paman. Aku memang Jlitheng. Aku tahu, bahwa paman tentu terkejut melihat bahwa aku sudah berada di rumah. Karena itu silahkan duduk, aku akan berceritera sedikit tentang peristiwa yang baru saja terjadi atasku. Tetapi aku mohon, paman jangan berceritera kepada biyung yang sudah tua dan sakit-sakitan itu.”

“Yang terjadi seperti sekedar mimpi,” gumam kawan Jlitheng.

“Duduklah.”

“Terima kasih. Lebih baik kita duduk di serambi saja,” berkata orang yang sudah berusia separo baya.

Ketiganya pun kemudian duduk di sebuah dingklik bambu di serambi. Hampir tidak sabar lagi kawannya bertanya, “Jlitheng, apakah yang sudah terjadi. Kami semuanya menjadi gelisah. Bahkan kami sudah mencoba mencarimu di bulak-bulak dan ke sungai. Kami sudah berpikir buruk sekali.”

“Aku mengerti,” jawab Jlitheng, “aku pun sudah menduga, bahwa aku akan dicekiknya dan mayatku akan dilemparkannya ke sungai.”

“Tetapi kau masih segar,” berkata orang yang separo baya.

“Ya paman. Ternyata aku masih segar.”

“Mulailah berceritera,” kawannya mendesak.

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia harus berhati-hati agar ceriteranya tidak menumbuhkan persoalan yang dapat mempersulit anak-anak muda Lumban. Ia sadar, bahwa ceritanya tentu akan segera tersebar. Bukan saja di Lumban Wetan, tetapi tentu akan didengar oleh anak-anak muda Lumban Kulon, dan barangkali juga Daruwerdi. Dengan demikian maka tidak mustahil bahwa orang-orang Kendali Putih pun akan dapat menyadap keterangan yang akan dikatakannya itu.

“He, kenapa kau diam saja?” kawannya benar-benar tidak sabar lagi.

“Baiklah,” berkata Jlitheng, “aku sudah hampir pingsan saat aku dibawa oleh kedua orang yang menyebut dirinya murid-murid dari perguruan Kendali Putih.”

“Ya, kami sudah melihat,” kawannya tidak sabar.

Jlitheng tersenyum. Kemudian iapun melanjutkannya, “Ditengah bulak aku dipaksa untuk berceritera. Dan aku pun tidak dapat ingkar, bahwa telah terjadi peristiwa seperti yang sudah kita ketahui di pinggir hutan itu.”

“Kau menceriterakannya?” bertanya kawannya, “apakah itu bukan berarti bahaya bagi Daruwerdi?”

“Aku tidak dapat berbuat lain.”

Kawannya dan orang yang separo baya itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa apabila Jlitheng tidak mau mengatakannya, ia sendiri akan dapat dibunuh oleh kedua orang itu.

“Lalu?” kawannya mendesak lagi.

“Orang-orang itu memang gila,” berkata Jlitheng kemudian, “sebelum aku dilepaskannya, maka aku telah dicekiknya. seolah-olah mereka benar-benar ingin membunuhku. Kemudian aku pun dibenamkannya didalam parit yang airnya hanya setinggi mata kaki. Tetapi ternyata mereka tidak membunuhku. Mereka meninggalkan aku yang gemetar kedinginan dan ketakutan didalam parit. Tetapi aku tidak berceritera kepada biyung. Aku mengatakan kepadanya, bahwa aku tergelincir di sungai sehingga pakaianku basah kuyup.”

Kedua orang yang datang kepadanya itu mengangguk-angguk. Yang separo baya kemudian bergumam, “Bersukurlah bahwa kau masih tetap hidup.”

“Ya, aku masih beruntung bahwa aku dapat kembali kepada ibuku.”

“Tetapi kami seisi gardu menjadi gelisah. Ketika fajar mulai membayang, kami mencoba mencarimu di bulak. Tetapi kami tidak menemukan tanda-tanda apapun, sehingga akhirnya aku berdua telah diserahi tugas oleh kawan-kawan untuk memberitahukan kepada ibumu, bahwa kau telah hilang dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.”

“Aku tidak dapat kembali ke gardu dengan pakaian yang kotor dan basah. Aku ingin berganti pakaian. Baru kemudian menemui kalian.”

Kedua kawannya itu pun kemudian memberikan beberapa pesan, agar Jlitheng tidak keluar saja dahulu dari padukuhan. Mungkin yang terjadi itu masih akan mempunyai akibat yang berkepanjangan.

“Jika mereka kemudian mencari Daruwerdi, apakah kira-kira nasib mereka akan seperti kedua orang kawannya yang datang terdahulu?” tiba-tiba saja kawannya bertanya.

Jlitheng menggeleng lemah. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan apa yang aku ketahui tanpa memperhitung-kan apapun juga.”

Akhirnya kedua orang kawannya itupun meninggalkan Jlitheng yang nampak ketakutan. Tetapi yang dapat dilakukan oleh kedua orang itu hanyalah beberapa pesan yang tidak berarti.

Sepeninggal kedua kawannya Jlitheng pun segera pergi ke dapur. Kepada ibunya yang bertanya tentang tamunya, Jlitheng hanya mengatakan, bahwa keduanya menanyakan tentang air di parit yang rusak di ujung bulak, karena anak-anak kecil yang kurang berhati-hati saat-saat mereka menggembalakan kerbau dan menggiringnya ke sungai untuk dimandikan.

Sementara itu, seperti yang diduga oleh Jlitheng, maka ceritera yang dibuatnya itu segera tersebar di seluruh padukuhan. Bahkan ceritera itupun telah didengar pula oleh anak-anak muda Lumban Kulon.

“Daruwerdi akan mendengarnya juga,” berkata Jlitheng didalam hatinya, “ia akan datang kepadaku dan bertanya, apakah yang sebenarnya telah terjadi.”

Dugaan Jlitheng itupun tepat. Demikian berita tentang Jlitheng itu sampai ke telinga Daruwerdi, maka ia pun dengan tergesa-gesa telah pergi ke Lumban Wetan untuk bertemu dengan Jlitheng.

“Ceriterakan,” berkata Daruwerdi.

Jlitheng menceritakan peristiwa itu seperti yang diceriterakan kepada dua orang Lumban Wetan yang datang kepadanya.

“Jadi kau dilepaskan begitu saja ?” bertanya Daruwerdi.

“Tidak. Aku telah dibenamkan didalam parit.”

“Maksudku, kau tidak dibunuhnya.”

“Tentu tidak. Seperti yang kau lihat, aku masih hidup. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia menahan kejengkelannya atas kebodohan Jlitheng. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kau sadar, bahwa dengan demikian kau sudah menghadapkan aku kepada kedua orang itu ?”

“Aku tidak mempunyai pilihan lain. Jika aku tidak mengatakannya aku dicekiknya sampai mati.”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Jlitheng. Itu memang bukan salahmu. Seandainya bukan kau namun tentu akan ada pula orang lain yang menceritakan apa yang telah terjadi di pinggir hutan itu. Dan aku pun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Daruwerdi. Apakah yang kira-kira akan kau lakukan jika pada suatu saat orang-orang yang mengatakan dirinya murid dari Kendali Putih itu datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak?”

Daruwerdi memandang wajah Jlitheng yang cemas. Namun kemudian anak muda itu justru tertawa. Katanya, “Bersembunyi. Bukankah itu cara yang paling baik untuk melawan mereka yang berjumlah melampaui kekuatan dan kemampuan?”

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya lagi, “Mungkin kau berhasil bersembunyi. Namun agaknya orang-orang Kendali Putih itu adalah orang-orang yang kasar dan jahat. Bagaimanakah jika seandainya ia melepaskan dendamnya kepada kami, anak-anak Lumban yang tidak dapat membela diri ?”

Jawab Daruwerdi benar-benar diluar dugaan. Suara tertawanya masih terdengar. Katanya, “Itu adalah nasib. Nasib mereka yang menjadi sasaran itulah yang agaknya terlampau malang.”

Sejenak Jlitheng terdiam. Wajahnya menegang. Namun katanya kemudian, “Daruwerdi. Kami, setidak-tidaknya aku sendiri, merasa sangat cemas. Aku merasa tidak tenteram lagi karena peristiwa yang berurutan telah terjadi itu. Jika benar katamu, maka ada kemungkinan besok atau lusa, Lumban akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang Kendali Putih.”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya. Aku akan berusaha agar orang-orang Kendali Putih hanya mendendam kepadaku.”

“Kau dapat menjamin?”

Jawabnya pun sangat mendebarkan. “Aku hanya dapat berusaha. Sebaiknya kalian jangan tergantung sekali dengan usahaku itu.”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Daruwerdi yang berdiri tegak dengan wajah yang sedikit terangkat, di wajahnya sama sekali tidak membayang kecemasan dan kekhawatiran tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa dirinya.

“Tetapi,” Jlitheng pun kemudian berkata, “kami hanya dapat menyandarkan keselamatan kami kepadamu. Ternyata kau adalah satu-satunya orang yang dapat melawan penjahat-penjahat seperti yang telah kau bunuh itu.”

“Jlitheng,” jawab Daruwerdi, “seharusnya akulah yang menuntut perlindungan anak-anak muda Lumban. Bukankah kau yang telah membuka rahasia pembunuhan itu? Meskipun sudah aku katakan itu bukan salahmu, dan sudah aku katakan, bahwa siapapun akan dapat menyebutnya demikian. Namun karena itu, jangan kau menyalahkan aku pula bahwa aku sudah terlibat kedalam suatu keadaan yang sebenarnya tidak aku kehendaki pula. Juga apabila hal ini akan menyentuh anak-anak muda Lumban.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Jika demikian, apakah kau mempunyai cara yang akan dapat membantu kami menghindarkan diri dari bencana ini ?”

“Jlitheng,” jawab Daruwerdi, “nampaknya memang aneh, dan barangkali tidak pernah terpikir oleh kalian. Bagaimana jika kalian bersikap seperti seorang laki-laki. Bukankah kalian mempunyai tenaga dan pikiran? Kenapa kalian tidak berusaha melindungi diri kalian sendiri?”

“Kami tidak terbiasa berkelahi. Kami tidak mempunyai bekal apapun untuk melawan langsung kepada orang-orang yang garang itu.”

“Aku akan mengajari kalian untuk sekedar dapat membela diri. Mungkin seorang-seorang kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena untuk mencapai tingkatan orang-orang Kendali Putih kalian memerlukan waktu satu atau dua tahun, bahkan lebih. Tetapi jumlah kalian yang banyak itupun mempunyai pengaruh pula. Dua atau tiga orang Kendali Putih tentu tidak akan mampu melawan kalian seluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

Jlitheng memandang Daruwerdi sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Kau mau mengajar kami untuk membela diri?”

Sekali lagi Daruwerdi menegaskan, “Ya. Ajaklah kawan-kawanmu. Kita akan segera mulai. Selain hal itu akan dapat melindungi kalian dan padukuhan Lumban, maka aku pun akan mempunyai kawan untuk mempertahankan diri, jika pada suatu saat orang-orang Kendali Putih datang lagi kepadukuhan ini.”

Kesanggupan Daruwerdi itu pun kemudian telah diceriterakan oleh Jlitheng kepada kawan-kawannya. Bahkan Jlitheng telah menambahnya dengan beberapa harapan dan kemungkinan yang dikarangnya sendiri.

“Kita akan menjadi pengawal padukuhan kita seperti seorang prajurit mengawal Kota Raja,” katanya.

“Kau pernah melihat seorang prajurit mengawal Kota Raja?” bertanya kawannya.

Jlitheng ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu.

Jlitheng lah yang kemudian menjadi penghubung antara anak-anak muda yang ingin mempelajari olah kanuragan dengan Daruwerdi. Pada hari itu juga, Jlitheng telah memberitahukan beberapa nama kepada Daruwerdi.

“Kami siap, kapan pun akan dimulai,” berkata Jlitheng.

Daruwerdi tersenyum. Katanya kepada Jlitheng, “Aku bangga atas kalian. Tetapi sayang. Agaknya kesediaan kalian untuk cepat-cepat memiliki kemampuan kanuragan itu karena didesak oleh perasaan takut.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum sambil menjawab, “Mungkin kau benar Daruwerdi. Kami menjadi sangat ketakutan. Siang malam kami merasa tidak tenteram.”

“Peristiwa itu baru semalam terjadi. Tetapi kau sudah merasa sangat tersiksa.”

“Karena itu, kami cepat-cepat ingin memiliki bekal betapapun kecilnya.”

“Baik. Aku akan menyediakan sekedar waktu. Setiap sore kalian harus datang ke padang ilalang di sebelah bukit padas yang gundul itu.”

“Bukit padas?” diluar sadarnya Jlitheng bertanya.

“Ya. Aku kira tempat itu adalah tempat yang paling baik. Cukup luas dan tidak akan terganggu. Jauh dari padukuhan, sehingga anak-anak kecil tidak akan berkerumun seperti nonton wayang beber.”

“Terima kasih,” Jlitheng mengangguk-angguk.

Dengan tergesa-gesa ia pun segera menemui kawan-kawannya. Baik dari Lumban Wetan maupun dari Lumban Kulon. Setiap sore mereka harus berkumpul di padang ilalang di sebelah bukit padas. Mereka akan mendapat latihan membela diri jika benar-benar terjadi kerusuhan di padukuhan itu.

Kesediaan Daruwerdi itu pun segera menjadi pusat pembicaraan. Setiap orang merasa wajib mengikutinya. Seperti dikatakan oleh Daruwerdi, dorongan yang paling kuat dari diri mereka sebenarnya adalah perasaan takut.

Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak melupakan Kiai Kanthi yang berada di bukit sebelah. Rasa-rasanya ia sudah terikat pada suatu kewajiban untuk datang dan melaporkan apa yang telah terjadi. Seolah-olah orang tua di bukit itu mempunyai pengaruh yang kuat atas darinya tanpa dapat dihindari.

Karena itulah, maka ketika malam menjadi gelap, Jlitheng dengan diam-diam telah pergi ke bukit sambil membawa sebuah belanga dan sebuah kelenting seperti yang dipesankan oleh Kiai Kanthi.

Namun dalam pada itu, Jlitheng merasa heran kepada dirinya sendiri. Setelah pertanyaan tiba-tiba saja timbul, “Apakah yang aku lakukan ini sekedar didorong oleh belas kasihan, atau perikemanusiaan. atau karena orang tua itu melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginanku untuk membuat saluran air yang dapat bermanfaat bagi sawah dan ladang di padukuhan Lumban, atau sebab-sebab lain?”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Sebenarnya aku belum tahu pasti, apakah sudah sewajarnya aku menempatkan diriku dibawah pengaruh wibawanya. Aku harus tahu pasti, bahwa ia benar-benar seorang tua yang pantas dihormati. Bukan sekedar seorang perantau yang mencari tempat sandaran bagi hidupnya. Atau bahkan meyakinkan bahwa ia bukan orang-orang Kendali Putih.”

Jlitheng tiba-tiba saja mempercepat langkahnya. Sekilas terbayang, betapa orang tua itu berusaha menahan anak gadisnya, saat mereka bertemu dengan seekor harimau. Mereka menyatakan diri mereka sebagai perantau yang perlu dikasihani. Saat itu Kiai Kanthi tentu mengetahui bahwa Daruwerdi ada disekitar mereka dan berusaha untuk tidak memberikan kesan bahwa mereka memiliki ilmu. Kiai Kanthi sempat menekan pusat syaraf anaknya, sehingga anaknya tidak dapat berbuat apa-apa.

“Tetapi apakah benar mereka memiliki kemampuan yang berlebih-lebihan. Apa salahnya jika aku mengetahui lebih jauh. Bukan sekedar mengenal ketahanan jasmaniah orang itu dan anaknya itu saat mereka mendaki bukit melalui tebing-tebing padas yang sulit.”

Jlitheng telah benar-benar meng ambil keputusan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Jlitheng telah berada di dekat sumber air di bukit itu. Ia pun mulai mempersiapkan rencananya.

Kedatangan Jlitheng seperti biasa disambut oleh Kiai Kanthi dengan gembira. Sebagaimana seseorang yang terpisah dari lingkungannya, maka setiap kunjungan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, karena memang pada kodratnya, seharusnya manusia hidup didalam suatu lingkungan bersama diantara mereka.

“Aku membawa belanga dan kelenting Kiai,” berkata Jlitheng.

“O, terima kasih ngger. Terima kasih,” berkata Kiai Kanthi sambil menerima benda-benda itu, “dengan benda-benda ini kami akan dapat menyiapkan makanan kami lebih baik lagi, jauh lebih baik.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas dilihatnya Swasti duduk bersandar sebatang pohon, menghadap kearah lain, seolah-olah sedang menikmati kelamnya hutan di lereng bukit itu.

“Ia sama sekali tidak mengacuhkan kedatanganku,” gumam Jlitheng didalam hatinya, “seandainya ia tidak menghiraukan aku, apakah ia tidak merasa senang, bahwa aku telah membawa belanga dan kelenting baginya ?”

Jlitheng sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia merasa tersinggung. Sikap itu adalah sikap Swasti sejak ia bertemu pertama kali. Gadis itu memang tidak pernah mengacuhkan kehadirannya. Bahkan kadang-kadang justru berlindung dibalik batang-batang pohon.

Perasaan itu, telah membuat sikap Jlitheng agak berbeda. Peristiwa yang terjadi di Lumban pun agaknya telah berpengaruh pula atasnya.

Kiai Kanthi ternyata memiliki ketajaman penglihatan.

Bukan saja atas sikap Jlitheng yang nampak, namun orang itu seolah-olah dapat membaca kerut di kening anak muda itu.

Tetapi Kiai Kanthi bersikap hati-hati. Tentu ada sesuatu yang telah terjadi sehingga mempengaruhi sikap anak muda itu. Meskipun demikian Kiai Kanthi tidak menanyakannya. Dipersilahkannya anak muda itu duduk diatas sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun ilalang.

“Terima kasih Kiai,” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun sambil duduk ia berkata, “aku ingin berceritera tentang sesuatu yang telah terjadi di Lumban, Kiai.”

“Apakah ada peristiwa lain yang telah terjadi ngger?” bertanya Kiai Kanthi.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mulai berceritera tentang dua orang Kendali Putih yang mencari keterangan tentang kedua kawannya yang hilang.

“Tidak ada pilihan lain kecuali membunuh mereka,” berkata Jlitheng.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Jlitheng telah dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, sehingga tidak banyak kesempatan baginya untuk memikirkan tindakan yang lebih tepat dari membunuh mereka.

Tetapi Kiai Kanthi terkejut ketika Jlitheng kemudian bertanya, “Kiai, apakah benar Kiai tidak mengerti apa yang telah terjadi di Lumban itu.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak tahu maksudmu ngger. Bagaimana aku dapat mengetahui peristiwa itu, karena setiap saat siang dan malam aku menunggui anakku disini. Sekali-kali aku mengejar seekor binatang buruan atau mengail di telaga itu.”

Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu, “tetapi memang sudah terpikir olehku, bahwa aku tidak akan dapat berada ditempat ini seperti orang yang sedang bersembunyi untuk waktu yang terlalu lama. Persediaan garam yang aku bawa pun telah tinggal sedikit, sehingga pada suatu saat, aku tentu akan datang ke Lumban.”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah orang tua itu sejenak. Dalam cahaya perapian yang kemerah-merahan Jlitheng memang melihat, kerut-kerut keheranan di wajah orang tua itu

Tetapi Jlitheng sudah bertekat untuk meyakinkan, apakah orang tua itu pantas dicurigai atau tidak. Selebihnya, apakah benar seperti yang diduganya sejak ia melihat orang tua itu untuk pertama kali, bahwa ia memang memiliki ilmu yang dapat dibanggakan sehingga sudah sepantasnya ia menghormatinya seperti seharusnya diberikan kepada orang-orang tua dan orang-orang berilmu.

Jlitheng pun sadar, bahwa keinginannya untuk mengetahui ilmu orang tua itu, juga didorong oleh suatu kerinduan kepada gurunya. Sejak ia terpisah dari gunung, maka rasa-rasanya ia memang memerlukan seseorang yang dapat dianggapnya sebagai gurunya dan lebih-lebih lagi sebagai ayahnya yang juga sudah tidak ada lagi.

“Tetapi tidak semua orang dapat aku anggap sebagai guru dan orang tuaku,” anak muda itu menggeram didalam hatinya.

Karena itu, maka tiba-tiba saja sikap Jlitheng telah benar berubah. Dengan suara yang lantang dan kata-kata yang agak keras ia berkata, “Kiai, lelucon yang Kiai buat disini seharusnya sudah berakhir. Sejak kedatangan Kiai dan anak gadis yang Kiai katakan anak Kiai itu, Lumban bagaikan diguncang oleh gempa. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang terjadi. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Lumban telah dijamah orang-orang Kendali Putih dan orang Pusparuri. Sementara itu, Kiai yang berpura-pura sebagai seorang perantau telah berada pula di tempat ini.”

“Angger,” Kiai Kanthi memotong dengan wajah yang tegang, “kenapa tiba-tiba saja angger menuduh aku seperti itu?”

Jlitheng seolah-olah tidak mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan ia menambahkannya, “Semula aku percaya dan bahkan mengagumi rencana Kiai untuk membuka sebuah padepokan, justru didekat mata air di bukit itu. Tetapi ternyata kedatangan Kiai telah diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang menumbuhkan korban jiwa.”

Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wajah anak muda itu, seolah-olah ia ingin melihat, apakah yang tersirat pada kata-katanya itu.

“Angger,” berkata Kiai Kanthi sareh, “sebagai orang tua, aku mencoba untuk mengerti apakah yang angger maksud sebenarnya dibalik kata-kata dan terlebih-lebih lagi sikap angger. Mungkin angger benar-benar mencurigai kami. Tetapi mungkin angger mempunyai maksud-maksud lain tertentu dengan sikap itu.”

“Apapun tanggapan Kiai, tetapi aku akan tetap pada sikapku. Aku ingin membawa Kiai dan perempuan yang Kiai sebut sebagai anak gadis Kiai itu ke Lumban. Kalian berdua harus dihadapkan kepada kedua Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

“Jangan begitu anakmas,” berkata Kiai Kanthi, “kau belum dapat membuktikan bahwa kami berdua berbuat salah. Adalah tidak adil bahwa angger akan menangkap kami dan membawa kami menghadap Ki Buyut. Memang kami sudah berniat untuk menghadap Ki Buyut dan menyatakan niat kami membuka sebuah padepokan. Tetapi bukan sebagai dua orang tawanan. Kami akan menghadap sebagai manusia yang bebas dan dapat menentukan sikap menurut keinginan kami.”

“Jangan membantah Kiai. Aku dapat memaksa Kiai. Jika perlu aku akan minta bantuan kepada Daruwerdi. Aku sendiri dapat membunuh dua orang murid perguruan terkenal Kendali Putih, dan Daruwerdi pun dapat melakukannya pula. Karena itu, tidak ada kesempatan bagi Kiai untuk melawan kehendakku.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau memang aneh ngger. Malam ini kau membawa belanga dan kelenting kepada kami. Tetapi tiba-tiba saja kau bermaksud menangkap kami. Jika demikian maka belanga dan kelenting ini tidak akan ada artinya.”

Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga-duga oleh Jlitheng. Karena itu maka untuk sesaat ia justru terdiam. Dipandanginya belanga dan kelenting yang dibawanya dengan diam-diam dari padukuhan. Namun ternyata bahwa perasaannya telah digeluti oleh berbagai macam tanggapan atas orang tua itu, sehingga ia telah mengambil sikap untuk meyakinkan siapakah sebenarnya yang telah dihadapinya itu. Apakah ia hanya sekedar seorang perantau, seorang yang benar-benar mencari daerah baru, atau seseorang yang memang mempunyai niat yang kurang baik seperti orang-orang Kendali Putih dan mungkin juga seperti orang-orang Pusparuri, meskipun dengan gaya yang berbeda-beda.

Namun dalam pada itu, selagi Jlitheng merenungi pertanyaan Kiai Kanthi. tiba-tiba telah terdengar suara dari kegelapan, “Ayah, kenapa ayah masih juga belum berbuat apa-apa.”

Jlitheng berpaling. Dilihatnya Swasti tidak lagi duduk bersandar sebatang pohon di arah yang berseberangan, namun ia telah berdiri tegak dengan sorot mata yang membara.

“Ayah,” berkata Swasti, “aku tahu. Kita berdua dianggapnya seperti orang-orang Kendali Putih. Atau setidak-tidaknya kita mempunyai hubungan dengan mereka. Jika memang anak muda itu berniat menangkap kami, maka ia harus membuktikan, bahwa ia memang mampu melakukannya.”

Kiai Kanthi menegang sejenak. Namun kemudian ia melangkah mendekati anak gadisnya sambil berkata, “Sabarlah Swasti. Kita harus mengerti, bahwa kecurigaan yang demikian, dapat saja timbul di hati siapapun juga. Angger Jlitheng telah didorong oleh keadaan, sehingga ia telah berubah sikap. Semula ia menerima kedatangan kami dengan baik. Itu adalah nuraninya yang sebenarnya. Perubahan yang timbul itu tentu ada sebabnya.”

“Apapun sebabnya, tetapi aku tidak akan bersedia datang kepada siapapun sebagai seorang tangkapan,” geram Swasti.

“Aku sedang mencoba menjelaskan kepadanya.”

Namun yang menjawab adalah Jlitheng, “Bersedia atau tidak bersedia. Aku mempunyai alasan untuk memaksa kalian. Pertama, karena aku adalah anak muda Lumban yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketenangan padukuhanku. Kedua, karena aku memang memiliki kemampuan untuk menangkap kalian berdua.”

“Anakmas,” berkata Kiai Kanthi, “sikap anakmas memang sangat meragukan. Tentu anakmas tidak akan dapat berkata kepada Ki Buyut Lumban Wetan apalagi Lumban Kulon, bahwa kaulah yang telah menangkap kami karena Jlitheng adalah sekedar anak seorang janda miskin di Lumban Wetan. Seorang anak muda yang dungu dan sedikit malas. Seorang pemimpi yang berangan-angan tentang air yang mengalir di parit meskipun di musim kemarau. Tidak ngger. Tidak akan ada seorang pun yang mempercayaimu.”

Wajah Jlitheng benar-benar menjadi tegang. Namun wajah itu bertambah tegang ketika Swasti meloncat maju sambil berkata lantang, “Ayah jangan bersikap terlalu lunak. Memang kita adalah orang-orang yang aneh. Kadang-kadang kita merasa perlu untuk hidup dan lingkungan sesama. Tetapi kita adalah orang-orang yang telah diracuni oleh kecurigaan dan permusuhan. Karena itu, biarlah ia memuaskan dirinya dengan sikapnya. Aku akan membuktikan, bahwa ia tidak mempunyai kesempatan apapun untuk menangkap kita. Apalagi ayah, sementara aku akan membela diriku dengan kekerasan jika ia akan memaksa dengan kekerasan pula.”

“Swasti,” potong Kiai Kanthi.

Tetapi Swasti sudah melangkah maju mendekati Jlitheng. Sikapnya pun telah berubah, seperti sikap Jlitheng yang berubah pula. Gadis itu tidak lagi berlindung dibalik sebatang pohon, seakan-akan untuk menyembunyikan diri dari tatapan mata anak muda yang belum banyak dikenalnya itu. Tetapi kini ia melangkah maju dan berhenti tidak lebih dari dua langkah dihadapannya. Dengan tajamnya ia menatap mata Jlitheng yang hitam pekat tanpa ragu-ragu.

Ternyata dada Jlitheng menjadi berdebar-debar melihat sikap gadis yang mantap itu. Ia baru mengetahui, bahwa gadis itu mampu mengikutinya meloncat batu-batu padas di tebing pegunungan saat mereka mendaki mencari belumbang yang berair melimpah itu.

Terasa kulitnya meremang ketika Jlitheng mendengar gadis itu berkata kepadanya, “Ki Sanak. Sekarang apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Jika kau memang mampu mengalahkan kami, seperti kau mengalahkan orang-orang Kendali Putih, terserahlah apa yang akan kau lakukan. Mungkin kau merasa perlu membunuh kami seperti kau membunuh orang-orang Kendali Putih, mengubur mayat kami didekat belumbang itu atau membiarkan mayat kami menjadi makanan binatang buas. Kemudian, kau akan mengendalikan air belumbang itu sebagai seorang pahlawan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon, untuk merebut perhatian rakyatnya yang kini tertuju kepada Daruwerdi.”

Dada Jlitheng tergetar. Ia tidak menduga bahwa Swasti akan menghadapinya dengan tabah tanpa gentar sama sekali, meskipun ia sudah menceriterakan tentang dua orang Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Sehingga dengan demikian, maka Jlitheng mulai menjajagi kemampuan gadis itu menurut sikap dan tanggapannya.

Karena itu, Jlitheng pun menjadi semakin berhati-hati. Namun demikian ia harus selalu menyadari, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan atas kedua orang itu. Ia tidak boleh terdorong sehingga yang terjadi kemudian akan menumbuhkan penyesalan di hatinya.

Yang ingin dilakukan adalah sekedar meyakinkan diri, siapakah yang sebenarnya sedang dihadapinya, sehingga ia akan dapat menempatkan diri dengan tepat sebaik-baiknya. Kecuali jika kemudian ternyata bahwa keduanya adalah orang-orang yang bersangkut paut dengan perguruan Kendali Putih atau perguruan lain yang mempunyai kepentingan dengan Daruwerdi dan bersikap seperti orang-orang Kendali Putih itu.

Namun kini agaknya Swasti lah yang berdiri dihadapannya. Bukan Kiai Kanthi. Apalagi ketika ternyata bahwa Kiai Kanthi agaknya membiarkan anak gadisnya itu menghadapinya.

Bagaimanapun juga ternyata bahwa Jlitheng agak tersinggung. Dengan demikian Kiai Kanthi menempatkannya dalam tataran anak gadisnya, sehingga orang tua itu menganggap bahwa Swasti akan dapat menyelesaikan persoalannya.

“Aku telah membunuh dua orang murid dari Kendali Putih. Apakah orang tua itu tidak dapat mengerti, tataran kemampuan seseorang yang telah berhasil membunuh dua orang murid dari perguruan Kendali Putih?”

Tetapi Jlitheng tidak dapat berpikir lebih lama lagi. Swasti benar-benar telah bersikap untuk melawannya. Bahkan kemudian gadis itu berkata, “Ki Sanak. Jangan menunggu lagi. Sebelum matahari terbit, kita harus sudah dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan masing-masing. Kau sudah mengambil jalan yang paling dekat untuk mengetahui siapakah kami. Aku dan ayah. Dan aku pun akan memilih jalan serupa untuk menyatakan diri kami.”

Jlitheng tidak dapat menarik diri dari persoalan yang sudah dimulainya. Karena itu, maka katanya kepada Kiai Kanthi, “Kiai. Apakah Kiai sudah mempertimbangkan, bahwa Swasti lah yang harus berdiri didepan, karena tersinggung mendengar kata-kataku?”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Dengan nada yang datar ia menjawab, “Jangan bertanya begitu ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawabnya. Bukankah angger dapat menjajagi maksudku seperti aku dapat menjajagi maksud angger ?” Karena itu, yang akan terjadi biarlah terjadi seperti yang kau hadapi tanpa keterangan apapun.”

Debar jantung didalam dada Jlitheng terasa semakin cepat berdetak. Tetapi ia benar-benar tidak dapat mengurungkan niatnya.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah Kiai. Jika hal ini harus terjadi tanpa keterangan apapun juga.”

Swasti yang tidak sabar lagi berkata, “Apapun yang kau sebutkan dengan peristiwa ini, bagiku jelas.”

Jlitheng pun segera mempersiapkan diri. Dadanya menjadi semakin terguncang ketika ia melihat Swasti mulai bersikap. Ternyata bahwa gadis itu mengenakan pakaian rangkap sehingga ia telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Namun Jlitheng masih saja ragu-ragu menghadapi gadis itu. Meskipun menilik sikapnya, Swasti tentu memiliki bekal yang cukup. Apalagi gadis itu sudah mendengar, bahwa Jlitheng baru saja membunuh dua orang dari perguruan Kendali Putih.

Karena Jlitheng masih ragu-ragu, Swasti yang tidak sabar lagi telah memancing perkelahian. Dengan tangannya ia menyerang kening meskipun tidak bersungguh-sungguh, karena ia pun sadar, bahwa Jlitheng telah bersiap sepenuhnya.

Meskipun demikian Jlitheng harus mengelak. Ia bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya.

Namun tidak diduganya, bahwa tiba-tiba saja Swasti telah menyerang dengan kakinya langsung ke lambung anak muda itu.

Serangan itu telah mengejutkan Jlitheng. Namun ia pun mampu bergerak cepat, sehingga iapun telah meloncat surut. Tetapi Swasti tidak membiarkannya. Dengan cepat ia memburu. Serangan berikutnya datang beruntun. Kakinya berputar mendatar.

Sekali lagi Jlitheng terpaksa bergeser. Namun yang terjadi telah menggetarkan dadanya. Ternyata Swasti benar-benar memiliki kelincahan bergerak dan tenaga yang besar. Jlitheng sadar, bahwa pada bagian-bagian pertama dari perkelahian itu, Swasti tentu masih belum mempergunakan segenap kekuatan dan kemampuannya. Namun telah terasa desir angin yang menyentuh tubuhnya, saat-saat serangan Swasti menyambarnya.

Jlitheng tidak dapat merenungi saja serangan-serangan Swasti. Ia merasa perlu untuk memperkecil kemungkinan yang dapat menjadi gawat baginya.

Karena itu maka Jlitheng pun bukan saja harus menghindar terus-menerus. Tetapi ketika ia mendapat kesempatan, maka ia pun mulai menyerang pula.

Sejenak kemudian, perkelahian itu pun meningkat semakin cepat dan keras. Masing-masing telah dibumbui oleh kehangatan darah mudanya yang mulai menggelegak.

Meskipun sejak semula Jlitheng telah menyangka bahwa Swasti memiliki kemampuan yang cukup, namun ketika keduanya mulai membenturkan ilmunya, barulah Jlitheng menyadari, bahwa yang dihadapinya bukannya sekedar murid-murid dari Kendali Putih. Meskipun ia harus melawan dua orang murid perguruan Kendali Putih yang sudah banyak dikenal itu, namun ia merasa, bahwa seorang gadis yang bernama Swasti itu memiliki kemampuan yang lebih besar. Meskipun gadis itu berasal dari daerah yang dimusnakan oleh tanah longsor, gempa dan banjir menurut pengakuannya, namun ia menyimpan ilmu yang luar biasa dari perguruan yang belum dimengertinya.

Dalam pada itu, perkelahian diantara kedua anak-anak muda itu semakin lama menjadi semakin sengit. Jlitheng terdorong oleh kecepatan gerak lawannya telah mengerahkan kemampuannya pula untuk mengimbanginya. Bahkan ternyata. bahwa, kekuatan gadis itu pun telah memeras kekuatannya pula.

Ketika mula-mula ia menjajagi kekuatan serangan Swasti dengan menangkis serangannya, terasa bahwa tangannya telah tergetar. Meskipun saat itu Jlitheng belum mempergunakan segenap kekuatannya namun ia pun menyadari, bahwa Swasti-pun masih lebih banyak menjajaginya pula.

Tetapi semakin lama, kedua anak-anak muda itu tidak lagi sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Tenaga mereka perlahan-lahan telah tersalur semakin besar, sehingga akhirnya, keduanya tidak lagi mampu menahan diri dengan memper-hitungkan hentakan-hentakan tenaga masing-masing.

Kiai Kanthi memperhatikan perkelahian itu dengan dada yang berdebar. Sejak Swasti meningkat semakin besar menjelang remaja, ia sudah membuat gadis itu menyimpang dari kebanyakan kawan-kawannya. Mula-mula Swasti merasakan tekanan ayahnya yang memaksanya untuk memisahkan waktu bermainnya dengan tingkah laku yang tidak disukainya. Bersembunyi ditempat yang tidak disentuh kaki manusia di balik rimbunnya hutan di lereng pegunungan sebelum gempa dan tanah longsor yang dahsyat menghancurkan hutan kecil itu, dengan latihan-latihan yang mula-mula terasa menjemukan.

Namun perlahan-lahan Swasti ternyata tertarik juga pada olah kanuragan yang diajarkan oleh ayahnya.

Ketika ia menginjak usia remajanya, maka Swasti telah memiliki dasar-dasar ilmu yang sudah jarang dikenal orang, meskipun ada juga beberapa perguruan lain yang memiliki persamaan. Tetapi ada ciri-ciri yang memberikan warna tersendiri bagi ilmu Kiai Kanthi yang diturunkannya kepada anak gadisnya.

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya ketika ia melihat gadisnya terpaksa menghindar, dua langkah surut. Namun dengan serta merta Swasti meloncat sambil menjulurkan kakinya lurus menyamping. Tetapi ternyata bahwa ia tidak benar-benar ingin menyerang dengan kakinya. Sebuah putaran telah mendorongnya ke sampimg. Dengan lincahnya ia melenting dengan tangan terjulur lurus.

Jlitheng sempat mengelak meskipun desir angin yang lembut telah menyentuh wajahnya. Hampir saja keningnya disambar tangan Swasti.

Betapapun gelapnya malam, dan betapapun kecil api perapian yang menerangi arena perkelahian itu, namun Jlitheng mulai melihat ciri-ciri yang khusus pada lawannya. Ia melihat Swasti dalam sikap yang menumpukan kekuatan pada hentakan-hentakan yang cepat.

Semula Jlitheng mengira bahwa sikap itu sesuai dengan unsur keperempuanannya Swasti yang lebih sesuai dengan penempaan diri dalam kecepatan bergerak daripada penyusunan kekuatan wadag. Namun ternyata dugaannya salah. Meskipun Swasti seorang gadis, tetapi kekuatan tubuhnya benar-benar mengagumkan.

Pengenalan Jlitheng pada unsur gerak Swasti yang lain adalah, bahwa Swasti selalu membuka jari-jari tangannya. Dalam keadaan yang tiba-tiba, serangannya lebih banyak tertuju kepada bagian yang lemah dengan mempergunakan ibu jarinya. Bukan jari-jari yang lain. Ketika Jlitheng agak terlambat mengelak, maka lehernya telah tersentuh ibu jari Swasti tepat mengenai sasarannya, maka perlawanannya tentu akan terhenti. Mungkin ia akan menjadi lemas dan pernafasannya bagaikan tersekat di kerongkongan.

Selain serangan-serangan tangannya yang cepat dan berbahaya, kaki Swasti pun merupakan bahaya yang setiap saat dapat melumpuhkannya. Nampaknya Swasti terlalu percaya kepada tumitnya.

Sementara itu, Swasti pun telah menilai unsur-unsur gerak lawannya pula. Seperti Jlitheng, iapun melihat beberapa kekuatan pada tata gerak Jlitheng. Jlitheng bergerak lebih mantap. Menurut pengamatan Swasti. Jlitheng banyak mempergunakan sikunya, bukan saja untuk menangkis, tetapi juga untuk menyerang.

Tetapi lebih dari ujud dan gerak masing-masing, maka Jlitheng maupun Swasti telah menilai lawannya lewat sifat dan watak gerak masing-masing. Betapapun cepatnya dan berbahayanya ibu jari Swasti, namun menurut Jlitheng, watak ilmu gadis itu bukannya ilmu yang garang dan kasar. Ada beberapa dasar tata gerak yang langsung melumpuhkan lawan, tetapi bukannya serangan yang ganas dan langsung mematikan. Kecepatan bergerak Swasti adalah ujud dari percikan watak ilmunya yang lebih banyak menghindari benturan-benturan. Namun ternyata bahwa jika benturan itu harus terjadi, Swasti telah mempersiapkan diri dengan kekuatan yang dapat diandalkan.

Swasti pun melihat, bahwa Jlitheng bukan saja bertempur dengan kekuatannya. Tetapi ia bertempur dengan lebih banyak mempergunakan otaknya. Geraknya kadang-kadang tidak dapat diduganya terlebih dahulu. Namun terasa, bahwa perhitungannya yang tepat, membuat lawannya kadang-kadang bingung dan dihadapkan kepada keadaan yang tidak terduga.

Jika kedua, orang yang bertempur itu berusaha menilai kekuatan dan kelemahan masing-masing, maka Kiai Kanthi mendapat kesempatan yang cukup untuk melihat ciri-ciri gerak dan watak kedua ilmu yang saling berbenturan itu. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk lemah.

Tetapi Kiai Kanthi tidak menjadi cemas. Nampaknya keduanya masih saling menjajagi. Dari unsur gerak yang paling sederhana, sampai kepada ketepatan gerak dan arah yang rumit. Sentuhan-sentuhan kecil sampai benturan-benturan yang dahsyat dengan mengerahkan segenap kekuatan wadag.

Namun demikian, perlahan-lahan pertempuran itupun meningkat semakin seru. Bukan saja benturan-benturan wadag dengan sepenuh kekuatan, namun ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, dan jantung mereka berdentang semakin cepat, maka sadar atau tidak sadar, mulai mengalirlah kekuatan cadangan pada loncatan-loncatan yang cepat dan benturan-benturan yang keras.

Kiai Kanthi yang berdiri diluar lingkaran pertempuran mengerutkan keningnya. Ia harus semakin berhati-hati menyaksikan pertempuran yang semakin meningkat itu. Bukan saja benturan kekuatan wajar, tetapi penyaluran kekuatan cadangan yang mulai bersentuhan, memberikan pertanda, bahwa keduanya semakin dalam dicengkam oleh perasaan daripada nalar. Apalagi keduanya masih dialiri darah kemudaan mereka yang panas dan cepat mendidih didalam jantung masing-masing.

Meskipun demikian, Kiai Kanthi masih membiarkan keduanya bertempur. Dalam kegelapan ia menyaksikan pertempuran itu dengan saksama. Tetapi ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Apabila sesuatu terjadi pada salah seorang dari keduanya, maka ia akan dibebani oleh tanggung jawab, yang akan dapat membuatnya menyesal di sepanjang hidupnya.

Tetapi, sifat ingin tahunya pun telah mengekangnya pula untuk memisahkan keduanya, ia ingin lalui lebih jauh, betapa tinggi ilmu yang telah dikuasai oleh anak muda yang mengaku bernama Jlitheng itu.

Karena itu, maka orang tua itu masih berdiri diam. Ia melihat Jlitheng menjadi semakin mantap dan Swasti pun bergerak semakin cepat.

Namun benturan-benturan yang kemudian terjadi telah mendebarkan jantungnya. Kedua anak muda itu telah tidak lagi sekedar mempercayakan dirinya pada kekuatan wajarnya.

Dengan tegang Kiai Kanthi melihat Jlitheng yang terdesak surut, telah menghentakkan kakinya diatas tanah yang lembab. Kiai Kanthi sadar, bahwa Jlitheng telah menghentakkan kekuatan cadangannya pula lewat serangannya yang kemudian menyusul dengan cepat dan keras. Sambil menggeram anak muda itu menyerang dengan menjulurkan tangannya. Jari-jarinya nampak berkembang, seolah-olah ingin menerkam wajah lawannya.

Tetapi Swasti yang menyadari keadaannya pun telah menyalurkan kekuatan cadangannya pula. Kakinya menjadi semakin cepat, sehingga gadis itu seolah-olah tidak berjejak diatas tanah. Tangannya yang kadang-kadang mengembang, membuatnya bagaikan terbang berputaran.

Dengan tangkasnya ia menghindari serangan Jlitheng. Sambil merendahkan dirinya ia sempat menyentuh tangan lawannya kesamping. Hampir diluar pengamatan mata wadag, kakinya telah terjulur menyerang lambung lawannya yang terbuka.

Jlitheng tidak sempat mengelak. Tetapi ia tidak membiarkan lambungnya dihantam tumit Swasti. Meskipun kaki Swasti meluncur dengan cepat, namun Jlitheng masih sempat melindungi lambungnya dengan sikunya.

Yang terjadi kemudian adalah suatu benturan kekuatan. Ketika keduanya tergetar dan terdorong selangkah surut, keduanya menyadari bahwa keduanya telah mulai mempergunakan kekuatan melampaui kekuatan wadag mereka yang sewajarnya.

“Pantas anak ini dapat membunuh dua orang murid Kendali Putih,” desis Kiai Kanthi yang hanya didengarnya sendiri. Ia yakin bahwa Jlitheng masih akan meningkatkan perlawanannya. Demikian pula Swasti, sehingga pada suatu saat mereka akan sampai pada tingkat yang membahayakan.

Karena itu, maka ia pun kemudian melangkah maju. Dengan nada tinggi ia berkata, “Swasti, sudahlah. Bukan caranya demikian untuk menyelesaikan masalah. Angger Jlitheng, sudahlah. Kita akan berbicara dengan baik. Kita sudah dapat mengetahui, siapakah sebenarnya kita masing-masing.”

Tetapi jantung Kiai Kanthi berdentangan semakin cepat ketika ia mendengar Swasti menjawab, “Bukan salahku ayah. Aku hanya melayaninya. Aku hanya membela diri dengan cara yang sama seperti yang dipilihnya.”

“Angger Jlitheng” berkata Kiai Kanthi yang terputus oleh jawaban anak muda itu, “aku ingin membuktikan kata-kataku. Bahwa aku akan berhasil menangkap kalian berdua.”

“Tidak ngger. Aku tahu, bukan itulah maksudmu yang sebenarnya.”

Jlitheng tidak menjawab. Justru Swasti menyerang semakin cepat. Karena itu, maka Jlitheng pun bergerak semakin cepat pula.

“Ngger. Kau tentu hanya akan meyakinkan, siapakah yang kau hadapi sekarang ini. Yang kau lakukan sudah cukup. Bahkan sudah berlebihan.”

Jlitheng tidak menjawab. Persoalan yang bergejolak di hatinya telah bergeser. Bukan saja keinginannya untuk menjajagi dan meyakinkan siapakah yang sedang dihadapi, namun harga dirinya sebagai seorang anak muda sudah tersinggung. Swasti adalah seorang gadis. Umurnya tidak akan lebih tua daripadanya.

Sebagai seorang laki-laki yang pernah membunuh dua orang murid perguruan Kendali Putih, apakah ia akan membiarkan dirinya diletakkan dalam tataran yang setingkat dengan seorang gadis perantau yang umurnya lebih muda daripadanya?

Tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. Dengan tegang ia memandang ke dirinya sendiri sambil berkata didalam hati, “He, apakah kau akan menyerah terhadap seorang gadis kecil yang dungu dan binal itu?”

Karena itulah, maka Jlitheng justru semakin mengerahkan tenaganya. Tenaga cadangannya yang mempunyai kekuatan berlipat dari tenaga wajarnya. Bukan lagi seperti niatnya semula, tetapi semata-mata karena ia seorang laki-laki, sedang Swasti adalah seorang gadis yang lebih muda daripadanya.

Tetapi ternyata bahwa Swasti pun mampu pula berbuat serupa. Gadis itu tidak lagi sekedar bertumpu kepada kekuatan wajarnya, ia tidak lebih dari seorang gadis yang menurut kodratnya tidak akan melebihi kekuatan seorang laki-laki. Tetapi Swasti ternyata memiliki kelebihan dari gadis-gadis kebanyakan. Ia mampu mengungkap kekuatan yang tersembunyi didalam dirinya, yang hanya dapat nampak dengan sikap dan laku yang khusus, yang memerlukan waktu dan kemampuan untuk mempelajarinya.

Karena itu, betapapun Jlitheng mengerahkan kekuatan dan ilmunya, yang wajar maupun yang tersembunyi, ternyata bahwa Swasti mampu mengimbanginya. Kecepatan bergerak dari kaki gadis itu kadang-kadang membuat Jlitheng kehilangan sasaran. Meskipun ia pun mampu melakukannya pula apabila Swasti menyerangnya.

Kedua anak muda itu bertempur semakin dahsyat. Mereka tidak lagi dua orang yang bergerak dan berbenturan dalam keadaan wajar, sehingga karena itu, maka pertempuran itupun telah membuat suasana yang lain di hutan itu. Pepohonan berguncang bagaikan diputar oleh angin pusaran. Gerumbul-gerumbul berserakan dan dahan-dahan berpatahan. Batu-batu padas pecah dan terlempar berhamburan.

Kiai Kanthi semakin lama menjadi semakin cemas. Ia melihat perkelahian itu berkembang semakin dahsyat. Bahkan kemudian nampaknya kedua anak muda itu benar-benar telah kehilangan kendali.

Dengan hati-hati Kiai Kanthi mendekat. Sekali lagi ia mencoba berteriak menghentikan pertempuran yang semakin dahsyat itu. Tetapi suaranya bagaikan hilang ditelan oleh gemuruhnya angin yang timbul karena ayunan kekuatan yang terungkap dari kekuatan cadangan yang justru jauh lebih dahsyat dari kekuatan wajar kedua anak muda yang sedang bertempur itu.

“Angger Jlitheng,” teriak Kiai Kanthi, “hentikan, hentikan.”

“Aku bukan laki-laki cengeng yang menyerah kepada perempuan,” geram Jlitheng.

Kiai Kanthi menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar bahwa yang kemudian bergejolak, di dada Jlitheng adalah harga dirinya sebagai laki-laki.

Karena itu, maka iapun mencoba menghentikan Swasti. Teriaknya, “Berhentilah Swasti. Marilah kita bicara.”

Tetapi Swasti pun berteriak tidak kalah lantangnya, “Aku bukan perampok yang mengulurkan kedua tangan dan kaki untuk diikat dan diseret kehadapan siapapun.”

“Kita dapat berbicara dengan baik,” Kiai Kanthi pun berteriak pula.

“Bukan aku yang mulai,” jawab Swasti.

“Siapapun yang mulai, hentikanlah.”

“Bukan aku yang harus menghentikan lebih dahulu.”

Kiai Kanthi menjadi bingung. Persoalannya sudah jauh bergeser, sehingga justru akan sangat sulit baginya untuk menghentikannya, karena yang berbicara di hati kedua anak-anak muda itu adalah perasaannya, bukan lagi nalarnya.

Dalam pada itu, ternyata keduanya telah memeras segala kemampuan dan kekuatan. Swasti menyambar-nyambar seperti seekor burung lawet di udara, sementara Jlitheng mengimbangi kecepatan itu dengan sikap yang kuat dan tangguh seperti seekor burung elang. Tetapi sentuhan ujung jarinya akan mampu mematahkan tulang dan menyobek kulit daging.

Semakin lama libatan serangan masing-masing tidak semuanya dapat dielakkan dan ditangkis. Satu-satu tubuh mereka telah tersentuh oleh kekuatan tenaga lawan yang dahsyat. Namun daya tahan tubuh mereka masing-masing pun melampaui daya tahan orang kebanyakan.

Tetapi perasaan sakit dan nyeri telah merambati tubuh mereka. Benturan dan sentuhan semakin sering terjadi. Sekali-kali terdengar salah seorang diantara mereka berdesis tertahan. Namun kadang-kadang terdengar juga hentakkan yang keras.

Kiai Kanthi menjadi semakin bingung. Nampaknya keduanya telah kehilangan kesadaran dan pertimbangan.

“Aku harus menghentikannya,” gumam orang tua itu.

Karena itu maka Kiai Kanthi pun justru menjauhi beberapa langkah. Sekilas ia masih sempat melihat dedaunan yang bergetar. Yang tidak mampu lagi berpegang pada ranting-rantingnya, telah runtuh berjatuhan diantara semak-semak yang hancur berserakan.

“Sekali lagi aku memperingatkan,” teriak Kiai Kanthi.

Tetapi kedua anak-anak muda itu tidak menghiraukannya.

Kiai Kanthi yang cemas itu tidak dapat menunda lagi. Ia mulai melihat sentuhan-sentuhan yang berbahaya dari keduanya. Salah seorang dari kedua anak muda itu kadang-kadang terlempar jatuh. Meskipun ia segera melenting bangun, tetapi benturan-benturan berikutnya segera menyusul dengan dahsyatnya.

Sejenak Kiai Kanthi termenung. Nampak ia masih tetap ragu-ragu. Namun kemudian ia menyilangkan tangannya didadanya. Dengan tajamnya dipandanginya kedua anak muda yang sedang bergulat dengan ilmunya masing-masing untuk mempertahankan harga dirinya.

Kiai Kanthi tidak berteriak lagi. Perlahan-lahan bibirnya bergerak, “Cukup, berhentilah. Berhentilah.”

Suaranya tidak terlalu keras. Tetapi berbareng dengan lontaran kata-kata itu, seolah-olah angin prahara telah bertiup. Di telinga kedua anak muda yang sedang bertempur itu, suara Kiai Kanthi bagaikan ledakan seribu guruh di langit.

Sesaat kedua anak muda itu masih bertahan. Mereka masih terlempar oleh ilmu masing-masing dalam benturan yang dahsyat. Namun ketika Kiai Kanthi mengulangi kata-katanya maka mereka pun bagaikan lumpuh. Suara itu menggelegar didalam dada mereka, seolah-olah meruntuhkan hati dan jantungnya.

Ketika sekali lagi Kiai Kanthi bergumam, maka keduanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Keduanya pun diluar sadar, telah menutup telinga masing-masing sambil menyeringai menahan nyeri di jantungnya.

“Berhentilah,” Kiai Kanthi masih bergumam.

“Cukup ayah. Cukup,” teriak Swasti.

“Ampun Kiai, aku akan berhenti,” sambung Jlitheng.

Kiai Kanthi masih berdiri ditempatnya. Dipandanginya kedua anak muda yang memegangi telinga mereka, seolah-olah kata-kata yang dilontarkan oleh Kiai Kanthi itu menyusup kedalam dada mereka lewat getaran selaput telinga.

Tetapi bagaimanapun juga mereka menyumbat telinga mereka, namun suara itu tetap menghentak-hentak jantung, seolah-olah hendak merontokkannya.

Namun perlahan-lahan hentakkan suara yang bergulung-gulung didalam dada bagaikan amuk prahara itu, semakin mereda. Semakin lama menjadi semakin lunak dan seolah-olah lenyap ditelan kesepian.

Kembali hutan di lereng gunung itu menjadi senyap. Yang terdengar kemudian adalah gemerisik air dari belumbang yang berair melimpah, disisipi oleh desir angin lembut di dedaunan.

“Angger Jlitheng,” terdengar suara Kiai Kanthi dengan nada dalam, suara wajarnya, “aku tidak mempunyai cara lain untuk menghentikan kalian yang seolah-olah menjadi wuru karena terlalu banyak minum tuak. Kalian seolah-olah tidak mendengar suaraku lagi, atau kalian benar-benar telah kehilangan nalar. Angger Jlitheng tersinggung karena kau seorang laki-laki, sedang lawanmu adalah seorang perempuan. Sedangkan Swasti tersinggung karena kau akan ditangkap dan dibawa menghadap Ki Buyut Lumban Wetan atau Lumban Kulon.”

Kedua anak muda itu kemudian duduk tepekur. Ternyata perkelahian yang baru saja terakhir itu telah menghisap sebagian besar tenaga mereka. Tenaga wajar dan tenaga yang tersimpan didalam diri sebagai tenaga cadangan, sehingga keduanya menjadi sangat letih. Nafas mereka berkejaran bagaikan berebut dahulu lewat di lubang hidung. Dengan susah payah mereka mencoba mengendalikan pernafasan mereka dan menguasai keletihan yang terjadi pada tubuh masing-masing.

“Yang ingin aku tanyakan, apakah yang kau dapatkan dengan perkelahian itu? Harga diri?”

Kedua anak muda itu masih duduk tepekur. Tetapi perlahan-lahan pernafasan mereka menjadi semakin teratur.

“Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “aku mohon maaf. Semula aku sama sekali tidak ingin berkelahi karena harga diri. Aku sebenarnya ingin menjajagi, siapakah sebenarnya Kiai Kanthi. Tetapi yang berhadapan dengan aku kemudian ternyata adalah Swasti.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tidak mengatakan demikian, sehingga Swasti lah yang mula-mula tampil. Tetapi jika memang benar-benar kau kehendaki ingin menjajagi dan mengetahui siapakah sebenarnya aku dengan caramu ngger, marilah. Kau tidak akan lagi dibayangi oleh harga diri karena kau seorang laki-laki. Mungkin yang akan membayangi kemudian adalah karena kau masih muda sehingga sepantasnyalah bahwa kau harus dapat mengalahkan orang tua. Apakah begitu?”

“Tidak Kiai. Aku tidak akan berani lagi melakukannya. Aku sudah dapat mengetahui dengan bekal ilmuku yang sedikit. Jika aku tidak dapat melampaui kemampuan Swasti, serta jika isi dadaku bagaikan rontok mendengar suara Kiai, apakah aku masih akan mencoba menjajagi kemampuan Kiai?”

“Mungkin saja ngger. Mungkin kau menganggap bahwa dengan demikian kau akan mengetahui, perguruan manakah yang sedang kau hadapi, seperti aku kini mengetahui, bahwa aku sedang berhadapan dengan, perguruan Risang Alit.”

“Kiai,” Jlitheng terkejut sehingga ia tergeser selangkah, “darimana Kiai mengetahui?”

Kiai Kanthi tersenyum. Ia pun kemudian duduk pula bersama kedua anak muda yang kelelahan itu. Dihadapannya bara perapian telah padam dan berserakan.

Tangan Kiai Kanthi yang sudah mulai dilukisi dengan kerut-kerut tahun itupun kemudian mengumpulkan beberapa potong dahan dan sisa-sisa bara yang masih hangat.

“Perapian ini padam karena tanah dan padas yang berserakan oleh kaki kalian yang sedang berkelahi tanpa pengendalian diri.”

Jlitheng dan Swasti tidak menyahut.

Sejenak Kiai Kanthi sibuk dengan dahan-dahan yang tinggal sepotong-potong sisa api. Dikumpulkannya sisa api itu diatas bekas perapian yang hangat.

“Apakah Kiai akan menyalakan perapian itu? Sebentar lagi fajar akan menyingsing,” bertanya Jlitheng.

“Dinginnya bukan main. Angger yang baru saja berkelahi mungkin tidak merasa dinginnya udara.”

“Apakah Kiai membawa titikan?” bertanya Jlitheng pula, “biarlah aku saja yang menyalakan.”

Kiai Kanthi tidak menjawab. Namun Jlitheng dan Swasti melihat orang tua itu menggeserkan dahan-dahan kering itu dengan tangannya.

Sejenak kemudian Jlitheng sekali lagi tersentak, ia melihat bara mulai memerah dihadapannya, diantara dahan-dahan kayu sisa perapian itu.

“Siapakah sebenarnya orang tua ini?” pertanyaan itu bergetar di hatinya. Sejak semula ia memang ingin memastikan, apakah sudah sepantasnya ia berada dibawah pengaruh wibawanya. Namun kini Jlitheng jadi yakin, bahwa ia memang sudah seharusnya menghormati orang tua itu seperti gurunya sendiri. Apalagi karena orang tua itu telah mengetahui bahwa ia berasal dari ilmu keturunan yang diwariskan oleh perguruan Risang Alit.

“Kiai,” Jlitheng pun kemudian bertanya dengan nada yang dalam, “pertanyaanku semula belum Kiai jawab. Darimana Kiai mengetahui bahwa aku adalah pewaris ilmu dari perguruan Risang Alit?”

“Ah, kau masih pura-pura tidak tahu ngger. Bukankah kau sudah melepaskan hampir semua unsur gerak dari perguruanmu? Aku tidak tahu pasti, siapakah yang langsung menjadi gurumu, sehingga kau memiliki ilmu dari perguruan Risang Alit itu. Perguruan yang sudah tidak banyak disebut orang lagi. Tetapi itu bukan berarti bahwa kelebihan ilmu dari perguruan Risang Alit itu berkurang.”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun dihadapan orang tua itu ia tidak merasa perlu untuk berahasia lagi. Karena itu katanya, “Aku adalah murid Kiai Baskara yang lebih senang menyebut padepokannya dengan nama Rasa Jati.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Jadi kau menerima warisan ilmu Risang Alit lewat Kiai Baskara? Jika demikian, wajarlah jika kau mampu membunuh dua orang murid Kendali Putih.”

Jlitheng memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun diluar sadarnya ia berpaling kearah Swasti sambil berkata didalam hatinya, “Tetapi ilmuku tidak lebih dari ilmu gadis itu. jika Swasti bertemu dengan kedua orang Kendali Putih itu, ia pun tentu akan dapat mengalahkan mereka.”

“Angger Jlitheng,” berkata Kiai Kanthi kemudian, “jika kau ternyata murid Kiai Baskara. maka apakah salahnya jika kau mengatakan, siapakah sebenarnya kau ini. Kau tentu bukan anak seorang janda miskin yang merantau kemudian kembali pulang setelah kau sedikit menerima ilmu dari seseorang.”

Jlitheng ragu-ragu sejenak, sekali lagi ia memandang Swasti yang nampaknya masih acuh tidak acuh saja. Dalam keremangan malam ia melihat Swasti memandang justru kearah kegelapan yang pekat.

“Kiai,” berkata Jlitheng, “jika aku tidak melihat betapa tingginya ilmu Kiai, maka aku tentu tidak akan mau mengatakannya. Meskipun aku pernah juga menyebut namaku, tetapi dihadapan orang-orang Kendali Putih yang aku yakin akan dapat aku selesaikan itu.”

“Jika kau tidak berkeberatan, sebutlah namamu, keturunanmu dan barangkali sesuatu yang harus angger lakukannya dan asalnya seperti yang pernah dikatakan.”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengatakan serba sedikit tentang dirinya. Namanya, orang tuanya kepada murid-murid Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Namun demikian, Jlitheng tidak mengatakan apakah tugas yang harus dilakukannya di Lumban itu.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ketika Jlitheng menyebut namanya, orang tua itu melihat anak gadisnya tergeser setapak. Agaknya nama itu telah menarik perhatiannya. Tetapi sejenak kemudian, pandangannya telah terlempar kembali ke gelapnya di hutan itu.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hatinya, “Swasti adalah gadis yang sangat angkuh. Tetapi agaknya sikapnya yang berlebihan itu disebabkan oleh perasaan rendah diri menghadapi seseorang yang meskipun seorang yang sederhana pula seperti Jlitheng.”

Namun Kiai Kanthi tidak dapat menyalahkan anak gadisnya. Ia memang melihat pakaian yang melekat pada anak gadisnya yang meningkat dewasa, sehingga ia tidak akan dapat berbangga dengan perkembangan wadagnya sebagai seorang gadis remaja. Itulah agaknya yang telah membuatnya menjadi seorang gadis yang mudah tersinggung. Menuruti perasaan rendah dirinya dengan sikap yang keras dan harga diri yang berlebih-lebihan.

“Kasihan anakku itu,” tiba-tiba saja perasaan ibanya lelah melonjak didalam hatinya, “aku akan berusaha, agar ia dapat hidup seperti gadis-gadis sebayanya. Bergaul dengan kawan-kawannya dan bekerja bersama-sama di sawah atau ladang. Ikut serta dalam kesibukan peralatan bersama kawan-kawan gadis yang lain dan ikut berdesak-desakan menonton wayang beber atau pertunjukkan tari, berlari-larian bersama gadis-gadis sebayanya di pematang disaat padi sedang berbunga serta mencuci pakaian di sungai sambil berdendang.

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Swasti tidak pernah terlibat dalam nafas kehidupan sewajarnya. Sekali-kali ia bergaul juga dengan gadis-gadis padukuhan yang lenyap dilanda banjir bandang dan gempa bumi serta tertimbun tanah longsor itu. Tetapi hanya-sesaat-saat, karena hidupnya sebagian besar telah dirampas oleh sebuah sanggar untuk menekuni olah kanuragan.

“Swasti berhasil menjadi seorang gadis yang luar biasa. Ia dapat mengimbangi seorang anak muda dari perguruan yang pernah menggemparkan seluruh Majapahit. Perguruan yang dipimpin oleh Risang Alit, yang mempunyai ciri yang khusus, lewat seorang yang mengagumkan pula, Kiai Baskara. Apalagi anak muda itu adalah putera Pangeran yang dipercaya untuk menjadi salah seorang Senapati pada saat Majapahit mengalami kesulitan. Namun ia telah gugur di medan perang,” berkata Kiai Kanthi didalam hatinya. Namun kemudian, “Tetapi Swasti menjadi besar dengan sifat-sifatnya yang khusus pula. Ia merasa rendah diri dihadapan kawan-kawannya dan apalagi dihadapan anak-anak muda. Untuk mengisi perasaan itu, ia menjadi cepat tersinggung dan keras hati.

Sementara itu Jlitheng sendiri menjadi termangu-mangu. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Kanthi setelah orang tua itu mendengar ceritera tentang dirinya.

“Angger,” berkata Kiai Kanthi, “aku percaya sepenuhnya apa yang angger ceriterakan itu. Aku melihat kejujuran memancar di sorot mata angger. Selebihnya, meskipun angger tidak mengatakannya, aku dapat meraba, apakah yang harus angger lakukan disini.”

“Tidak ada yang harus aku lakukan Kiai. Aku memang seorang perantau yang senang menjelajahi desa, gunung dan ngarai.”

Tetapi Kiai Kanthi justru tersenyum. Sambil mengangguk angguk ia kemudian berkata, “Baiklah ngger. Tetapi masih selalu menjadi pertanyaan di hatiku, apakah hubunganmu yang sebenarnya dengan Daruwerdi. Apakah kalian telah bekerja bersama untuk suatu tugas tertentu, atau kalian ternyata justru saling mencurigai dan saling mengawasi, atau karena hubungan yang lain ?”

Jlitheng. mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Tidak ada hubungan apapun Kiai.”

Kiai Kanthi pun tertawa. Katanya, “Baiklah ngger. Adalah suatu kebodohan jika aku mendesak terus, agar angger mengatakan apa yang tidak ingin angger katakan. Tetapi bagiku, yang angger sebutkan sudah cukup banyak, sehingga aku dapat mengenal angger yang sebenarnya.”

“Sudahlah Kiai. Yang penting kemudian adalah bagaimana kita akan menguasai air yang melimpah ini. Aku akan membantu apa saja yang Kiai perintahkan. Dengan tulus aku menempatkan diri sebagai seorang yang akan tunduk kepada segala perintah apapun juga.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melihat lebih dalam lagi, apakah yang sedang dilakukan oleh Jlitheng di padukuhan Lumban, sedangkan di padukuhan itu juga hadir Daruwerdi.

“Baiklah ngger,” berkata Kiai Kanthi kemudian, “aku sependapat, bahwa sebaiknya kita membicarakan bagaimana kita menguasai air yang tentu akan sangat bermanfaat itu. Sedangkan masalah-masalah lainnya, mungkin akan dapat aku dengar dari angger Daruwerdi sendiri.”

Wajah Jlitheng menegang sejenak. Tetapi kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Mungkin itu lebih baik Kiai. Tetapi aku mohon, agar Kiai sama sekali tidak menyebut tentang Kiai Baskara dan tentang sumber ilmu yang mengalir dari perguruan Risang Alit. Aku kira itu tidak perlu bagi Daruwerdi.”

Kiai Kanthi tertawa pendek. Katanya, “Aku orang tua ngger. Aku tidak akan mengatakan apapun juga. Tetapi pesan angger itu bagiku merupakan keterangan, bahwa angger dan Daruwerdi tidak sedang bekerja bersama untuk suatu tugas, namun angger justru sedang mengawasi angger Daruwerdi karena sesuatu yang tidak dapat angger katakan kepada siapapun juga.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengangguk kecil sambil menyahut, “Mungkin Kiai benar.”

Kiai Kanthi tidak menjawab lagi. Diangkatnya kedua tangannya di atas perapian yang hangat.

“Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “baiklah aku mohon diri. Aku sudah terlalu lama pergi. Jika biyung mengetahui aku tidak ada di rumah, ia akan menjadi gelisah.”

Kiai Kanthi memandang Jlitheng sejenak. Nampak wajah anak muda itu bersungguh-sungguh. Karena itu, maka katanya, “Silahkan ngger. Tetapi jika angger ingin lekas mengendalikan air belumbang yang melimpah itu, sebaiknya kita segera membicarakan, apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

“Baiklah Kiai. Tentu Kiai tidak akan betah tinggal di sini tanpa berbuat sesuatu.”

“Itu sudah aku kehendaki ngger. Aku akan melakukan apa saja. Tetapi adalah lebih baik jika yang aku lakukan itu berguna bukan hanya bagi aku dan anakku sendiri.”

“Ya, ya Kiai. Aku mengerti,” sahut Jlitheng cepat. Lalu, “Sekarang aku mohon diri Kiai. Aku akan berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak dan keinginan Kiai.”

“Datanglah secepatnya ngger.”

“Tentu Kiai,” Jlitheng pun kemudian berdiri. Dipandanginya Swasti yang duduk sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Namun dengan ragu2 Jlitheng berkata, “Aku minta diri Swasti. Aku minta maaf jika aku telah melakukan sesuatu yang tidak kau kehendaki.”

Swasti sama sekali tidak bergerak.

“Swasti,” desis ayahnya, “kau harus menjawab. Dan seterusnya kita akan mulai dengan suatu pergaulan baru di padukuhan Lumban. Kita harus bergaul sebagaimana orang-orang Lumban bergaul diantara mereka.”

Tetapi diluar dugaan Swasti menjawab, “Anak muda itu bukan anak Lumban.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tetapi ia sudah menempatkan diri seperti anak muda dari Lumban.”

Swasti terdiam. Tetapi terdengar nafasnya mengalir semakin cepat, seperti pada saat-saat ia memusatkan ilmunya didalam pertempuran yang dahsyat.

Sebenarnyalah terjadi ketegangan didalam jiwa gadis itu. Ia mencoba untuk mengerti keterangan ayahnya bahwa ia harus mulai dengan tata pergaulan baru. Tetapi, ia tidak cukup berani untuk menghadapi tantangan hubungan baru dengan Jlitheng setelah mereka bertempur dengan segenap kemampuan. Tetapi terlebih-lebih lagi, Swasti memang tidak terbiasa bergaul dengan anak muda sejak ia berada di padukuhannya yang lama.

“Swasti,” ayahnya mendesak, “kau jangan berkeras hati.”

Swasti mengangkat wajahnya. Dipandanginya ayahnya sejenak. Kemudian hampir diluar sadarnya, ia terpaling kearah anak muda yang termangu-mangu.

Terasa dada Swasti bergetar. Cepat-cepat ia melemparkan pandangan matanya kekegelapan. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir, melampaui saat-saat ia berada, di puncak ketegangan pertempuran.

“Swasti,” ayahnya berdesis sekali lagi.

Swasti tidak dapat mengelak lebih lama. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan mendesaknya terus sampai ia mengucapkan sepatah dua patah kata. Karena itu, maka katanya, “Biarlah ia meninggalkan kita dan melupakan apa yang telah terjadi ayah.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Bukan kepadaku. Kepada angger Jlitheng.”

Swasti ingin menjerit. Tetapi dipaksanya mulutnya berkata, “Aku juga minta maaf.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku sudah merasa ringan, bahwa aku sudah dimaafkan meskipun dengan istilah apapun juga. Aku mohon diri sebelum pagi.”

“Ya. ya ngger. Kembalilah kepada biyungmu. Tetapi kita sudah bersepakat untuk segera mulai dengan kerja kita. Membuat sebuah padepokan, menguasai air dan memberikan suasana yang lebih baik bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

Jlitheng pun kemudian melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya. Ketika diluar sadarnya ia berpaling, maka dilihatnya Swasti cepat-cepat memalingkan wajahnya. Agaknya ia pun sedang menatap langkah Jlitheng yang masuk kedalam kelamnya gerumbul-gerumbul liar didalam hutan di sisa malam yang sepi.

Sejenak kemudian Jlitheng pun bagaikan ditelan oleh kegelapan. Yang tinggal kemudian adalah Swasti dan Kiai Kanthi. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Kiai Kanthi berkata, “Beristirahatlah Swasti. Kau tentu letih.”

Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian bangkit sambil mengibaskan pakaiannya yang lungset.

“Aku akan mandi. Aku tidak akan dapat tidur. Pakaianku basah oleh keringat dan kotor oleh debu yang melekat.”

“Jika kau masih basah oleh keringat, jangan mandi dahulu,” cegah ayahnya.

“Keringatku sudah kering. Tetapi pakaianku sangat kotor.”

Kiai Kanthi tidak mencegah lagi. Dibiarkannya Swasti pergi ke parit di sebelah belumbang. Parit yang mengalirkan air yang melimpah itu tanpa terarah, sehingga air yang mengalir itu menyusup ke celah-celah batu padas dan hilang ditelan tanah.

Ketika Swasti tidak nampak lagi, Kiai Kanthi mengelus dadanya sambil menghela nafas dalam sekali. Anak gadisnya hanya mempunyai selembar ganti pakaian. Jika ia mandi, ia sekaligus mencuci pakaiannya yang kotor, untuk nanti dipakai jika ia mandi dan mencuci pakaiannya yang selembar lagi. Namun disamping pakaiannya sebagai seorang gadis, Swasti mempunyai sepengadeg pakaian yang khusus, yang tidak dipunyai oleh gadis-gadis lain. Pakaian yang dipakainya dalam olah kanuragan, yang mirip dengan pakaian seorang laki-laki.

Ketika Swasti kembali dari balik gerumbul-gerumbul yang rimbun, dilihatnya ayahnya duduk di pinggir belumbang sambil memegangi walesan kail. Ketika seekor ikan terkait pada mata kailnya, ia berkata, “Swasti, kita sekarang sudah mempunyai belanga dan kelenting. Kita akan dapat memasak lebih baik dari saat-saat sebelumnya. Kita dapat merebus gayam dan dedaunan.”

Swasti memandangi belanga dan kelenting yang dibawa oleh Jlitheng sebelum ia berkelahi. Sejenak ia merenung, mencari makna dari peristiwa yang baru saja terjadi.

“Anak muda itu tentu tidak bersungguh-sungguh ingin menangkap kami,” katanya didalam hati setelah tubuhnya menjadi segar dan hatinya agak tenang, “jika demikian, ia tidak akan bersusah payah membawa belanga dan kelenting.”

Tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi, sehingga ia sudah terlibat dalam perkelahian yang sengit, bukan saja mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi sudah jauh daripada itu.

Ketika kemudian matahari terbit, Swasti duduk dimuka perapian sebagai seorang gadis yang sedang menunggui masakannya. Beberapa ekor ikan yang didapat oleh ayahnya dengan kail dipanggangnya diatas api, sedang dengan belanganya ia merebus beberapa buah gayam yang sudah tua.

Diluar sadarnya, Swasti menengadahkan wajahnya. Selembar awan hanyut dihembus oleh angin yang lembut mengalir ke Utara.

Namun Swasti mulai berpikir, “Jika awan itu menjadi semakin banyak dan berwarna kelabu, maka itu adalah pertanda hujan akan turun. Dalam keadaan seperti ini, jika hujan turun, maka aku akan kedinginan sepanjang hari dan mungkin sepanjang malam, karena pakaianku akan menjadi basah semuanya.”

Tetapi Swasti tidak mengatakannya kepada ayahnya, ia tahu, bahwa ayahnya pun sudah memikirkannya.

Dalam pada itu, Jlitheng yang sampai kerumahnya menjelang pagi, langsung menuju ke sumur untuk menimba air. Untunglah bahwa ibunya masih belum bangun, sehingga ia tidak digelisahkan oleh kepergiannya semalam suntuk.

Sambil menarik senggot, Jlitheng masih saja berpikir tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang aneh. Tetapi ia tidak ragu-ragu lagi, bahwa keduanya adalah orang-orang yang luar biasa. Gadis yang sedang meningkat dewasa, yang tentu masih lebih muda daripadanya itu, ternyata memiliki kemampuan yang sama sekali tidak diduganya. Jika saat keduanya datang, dan dibawanya naik ke lereng bukit lewat batu-batu padas yang bergumpal-gumpal, ia sudah menjadi heran, bahwa Swasti dapat juga berloncatan mengikutinya. Apalagi ketika ia sudah mengalami perkelahian yang hampir saja lepas dari kekangan nalarnya.

Sementara itu, Jlitheng mulai mendengarkan ibunya bekerja di dapur. Seperti biasanya merebus air dan ketela pohon.

Jlitheng tidak langsung masuk ke dapur. Setelah pakiwannya penuh, maka ia pun segera pergi kehalaman depan sambil membawa sapu lidinya.

Sehari itu, Jlitheng tidak banyak berkumpul dengan kawan-kawannya. Di siang hari ia berbaring dibelakang lumbung yang kosong. Apalagi jika paceklik panjang mencengkam padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Maka hampir setiap lumbung di padukuhan itu menjadi kosong.

Hanya orang-orang yang terhitung kecukupan sajalah yang masih menyimpan beberapa ikat padi, sisa panen di musim basah. Di musim kering orang-orang Lumban hanya dapat menanam palawija yang tidak begitu banyak menghasilkan meskipun dapat juga dipakai untuk menyambung hidup mereka sampai musim basah mendatang.

“Aku harus segera berbuat sesuatu,” berkata Jlitheng.

Tetapi ia masih ragu-ragu. Apakah sebaiknya ia mengatakannya lebih dahulu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan atau Lumban Kulon atau ia lebih dahulu membantu Kiai Kanthi membuat gubug kecil sebelum dapat dibangun sebuah padepokan yang memadai buat orang yang luar biasa itu bersama anak gadisnya.

Akhirnya Jlitheng mengambil keputusan untuk menyampaikannya saja lebih dahulu kepada Ki Buyut. Jika ia membuat sebuah gubug kecil di pinggir hutan itu, maka akan dapat menumbuhkan salah paham dan kecurigaan. Karena itu sebaiknya hal itu diberitahukannya lebih dahulu kepada Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

“Tetapi aku tidak akan memberitahukannya kepada biyung,” desis Jlitheng yang kemudian menggeliat bangkit.

Kepada ibunya Jlitheng minta diri untuk pergi ke gardu menemui kawan-kawannya, ia sama sekali tidak menyebut rencananya untuk menghadap Ki Buyut, agar ibunya tidak digelisahkan oleh persoalan-persoalan yang tidak diketahuinya.

Yang mula-mula akan didatangi adalah Ki Buyut Lumban Wetan, karena ia berada di daerah Lumban Wetan itu pula.

Sebagai seorang anak janda miskin yang tidak banyak dikenal, Jlitheng memang tidak terbiasa menghadap Ki Buyut atau bebahu padukuhan yang lain. Namun Jlitheng termasuk seorang anak-muda yang disukai oleh kawan-kawannya, karena ia suka membantu kawan-kawannya yang sedang mengalami kesulitan atau sedang melakukan pekerjaan yang agak berat. Ia sering membantu kawan-kawannya yang sedang memperbaiki dinding halaman, atau memperbaiki lumbung yang miring, atau kerja-kerja lainnya. Bahkan ia rela membantu kawan-kawannya dengan meminjamkan miliknya yang sedikit apabila diperlukan.

Karena itu, ketika kawan-kawannya melihat ia menyusuri jalan padukuhan untuk pergi ke rumah Ki Buyut, maka beberapa orang kawannya menyertainya dan bertanya di sepanjang jalan, apakah keperluannya.

“Aku menemukan dua orang perantau di hutan itu,” berkata Jlitheng.

“Bagaimana kau menemukannya ?” bertanya kawannya.

“Ketika aku sedang mencari kayu.”

Kawan-kawannya tertarik akan ceritera itu. Mereka tahu bahwa Jlitheng memang sering mencari kayu ke hutan di lereng bukit.

“Aku merasa kasihan kepada mereka,” berkata Jlitheng setelah ia menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya.

“Kasihan. Lalu apakah yang mereka makan di hutan itu?” bertanya yang lain.

“Kiai Kanthi menangkap binatang-binatang kecil dan memetik buah gayam yang banyak terdapat di hutan itu.”

Demikian pandainya Jlitheng menyusun ceriteranya sehingga kawan-kawannya benar-benar menjadi iba mendengarnya.

“Lalu, apakah yang ingin kau dapatkan dari Ki Buyut?” bertanya salah seorang kawannya.

“Aku hanya akan minta ijin untuk membuat sebuah gubug kecil di pinggir hutan itu.”

“Kenapa di pinggir hutan?” yang lain memotong, “biarlah ia tinggal di padukuhan ini. Apa salahnya?”

“Aku sudah mengatakannya. Tetapi agaknya perantau itu mempunyai harga diri juga. Ia tidak mau mengganggu orang lain. Di pinggir hutan itu ia akan mencoba menghidupi diri mereka sendiri dengan hasil yang dapat mereka petik dari hutan yang luas itu. Mungkin buah-buahan, mungkin dedaunan atau binatang-binatang buruan yang kecil-kecil saja.”

“Jika seekor harimau datang merunduk mereka, apalagi anaknya yang kau katakan seorang gadis.”

“Mereka berkeras hati. Nampaknya harimau yang tidak begitu banyak terdapat di hutan itu, tidak ingin mengganggu mereka.”

“Omong kosong. Darimana kau tahu? Aku kira masalahnya hanyalah waktu. Pada suatu saat akan datang seekor harimau yang akan menerkam salah seorang dari keduanya.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia menjadi sulit untuk mengatakan bahwa keduanya sama sekali tidak takut terhadap harimau yang paling garang sekalipun.

Akhirnya ia menjawab, “Masih banyak binatang buruan bagi harimau di hutan itu, sehingga mereka tidak akan menerkam seseorang. Harimau yang berani menerkam seseorang, akan tersisih dari pergaulannya, karena hal itu tidak disukai oleh lingkungan mereka.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun pernah mendengar ceritera tentang seekor harimau yang akhirnya membunuh diri karena terpisah dari masyarakatnya. Satu kesalahan telah dilakukannya, yaitu menerkam seorang petani yang sedang bekerja di sawah.

“Hanya harimau yang tua dan lemah sajalah yang karena terpaksa menghindari kelaparan telah berani menerkam seseorang,” desis salah seorang dari mereka.

Dalam pada itu, Jlitheng bersama beberapa orang kawannya menjadi semakin dekat dengan rumah Ki Buyut di Lumban Wetan. Satu dua orang yang ingin tahu telah mengikutinya dan bertanya-tanya diantara mereka.

Dimuka regol halaman rumah Ki Buyut Jlitheng berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Karena itu sejenak ia berdiri saja termangu-mangu.

“Apakah Ki Buyut ada di rumah?” tiba-tiba ia bergumam.

“Marilah kita coba untuk menanyakannya,” berkata seorang kawannya.

Namun ternyata kedatangan mereka telah dilihat oleh seorang anak muda yang bertubuh sedang, berkulit kekuning-kuningan, yang berdiri di tangga pendapa.

“Itu, kau lihat anak K i Buyut?” desis seorang kawannya.

“Ya. Marilah kita temui saja Kumbara agar ia menyampaikan kepada ayahnya bahwa kita akan menghadap,” gumam Jlitheng.

Kawan-kawannya mengangguk. Hampir berbareng mereka pun melangkah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut.

Anak muda yang berdiri di tangga pendapa itu termangu-mangu. Ia melihat beberapa orang anak muda mendatanginya, sehingga dahinya telah berkerut. Bahkan dadanya pun menjadi berdebar-debar, karena agaknya anak-anak muda itu mempunyai keperluan yang cukup penting.

“Ada apa?” Kumbara tidak sabar menunggu.

Jlitheng lah yang menyahut, “Maaf Kumbara. Mungkin kedatangan kami telah mengejutkan kau dan barangkali Ki Buyut. Tetapi kami tidak mempunyai kepentingan yang dapat menggelisahkan. Kami hanya datang untuk menyampaikan sebuah ceritera. Barangkali Ki Buyut sempat mendengarkannya.”

Kumbara termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. “Aku akan menyampaikannya kepada ayah. Duduklah.”

Ketika Kumbara kemudian masuk kentang dalam, maka anak-anak muda itupun duduk diatas tikar yang sudah terbentang dipendapa. Sejenak mereka menunggu. Sementara Kumbara menyampaikan maksud anak-anak muda itu kepada Ki Buyut.

Ternyata Ki Buyut pun tidak berkeberatan. Ia mengenal Jlitheng dan anak-anak muda padukuhannya sebagai anak-anak muda yang baik, yang tidak pernah menimbulkan kesulitan bagi padukuhan dan tetangga-tetangga mereka.

Bersambung ke jilid 3

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com
oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Maturnuwun sanget tulisan dipun lanjutaken, bade tanglet saben setunggal jilid pinten dinten mas?, nuwun.

    sementara ditetapkan upload 3 hari sekali Om
    kalau bakup banyak bisa dua hari sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s